WPC – The Not-So-Rounded Lanterns


Hoi An, a small city in Central Vietnam, gave me a wonderful impression. One night a couple years ago, I walked through the small lanes of the city which is listed as a UNESCO World Heritage City. A series of beautiful  paper lanterns with various colours and shapes were lit across the lanes above the head of people. And the drizzle of the night emphasized the lovely situation, bringing a romantic atmosphere in the air. Umbrella was wide opened with two bodies of a couple under it, close to each other. I smiled to myself, thinking of  my loved ones…

But as the wise said and I believe…

Always believe that something magical is about to happen

Hoi An Lanterns
Hoi An Lanterns

 

Hoi An Lanterns

Rounded

WPC – A Tunnel Of Dense Plants


Tunnel of a dense plants

Being born and living in most of my life with Asian culture, I did not have many high expectations when I took a half day tour using a dragon shaped boat in Perfume river that crosses the city of Huế, Central Vietnam. Especially when the tour guide said that we would stop at a typical house of Vietnamese in the bank of the river. What would I see from a traditional house in Vietnam? It would not have significant differences to other houses in Asia. Perhaps it was one of my judging assumptions after being a victim of several low categorized scams during my trip in Vietnam.

But, I was totally wrong!

The entrance of the house made me amazed. It was a lane through a tunnel made by dense plumeria trees that welcomed me before stepping further into the inner yard of the house. A green tunnel of plants’ leaves is common but what I saw was a tunnel made of the trees’ branches and twigs with no leaves. Something rare but worth to be seen which left a nice mark in my heart.

It was a lesson learnt for me not to judge a destination whatever I have experienced previously. Live the present moment! And perhaps the following words will be perfect for that circumstance,

There is no darkness so dense, so menacing or so difficult that is cannot be overcome by light – Vern P Stanfill

 

WPC – The Curves At Night


Colorful Hanging Lamps
Colorful Hanging Lamps
The hanging lamps on streets
The hanging lamps on streets
Bamboo Lamps
Bamboo Lamps
Lamps in Hoi An
Lamps in Hoi An

Walking around at night with a steady drizzle in the old town of Hoi An, Central Vietnam gave me a feeling of romance. The lovely atmosphere -with faintly music coming from the cafés along the small streets -, was decorated with the hanging beautiful curves just above the heads, many more were displayed inside the kiosks. At that time and situation, I could not avoid my feeling that I missed my family, thousands kilometers across the ocean and hoped that they’re always alright. And thinking of my beloved ones made me smiling; because of them and remember a nice word

A smile is the curve that sets everything straight.

Inspired by the The Daily Post Weekly Photo Challenge with Curve as the topic of this week.

WPC – Spare Spot to Illuminate


IMG_0699
An Old Stone Lamp

During a trip in Central Vietnam, I took a full day river cruise on the lovely Perfume River which flows through the city of Huế. At first, we stopped on the bank of the river at a traditional Vietnam house which welcome us with twigs of leafless frangipani trees planted on its spare yard and a central pond with lotus leaves floating. Heavy clouds seen in the sky and to emphasize the gloomy atmosphere, the drizzle decorated the late morning.

But the traditional house we visited was built in the modern era. Beside several bulbs of lamps on its roof and two standing electric fans on the corner, my eyes caught a beautiful old stone lamp in the yard as spare spot for candles or natural torch to illuminate the dark nights. It might not be used anymore but its existence there made me thinking. It could beautify the garden at night if we put the candle in the stone lamp during nights…

And I was thinking further… Like that stone lamp, sometimes we forgot the use of it as time goes by although we’re passing by every day. It’s only standing there, watching us coming and going. Perhaps there are some spare places, deep in our hearts, but we treated those places like the stone lamp. It’s only needed one action to beautify our life. Just ignite it.

In response to the Daily Post Weekly Photo Challenge with the topics of Spare

My Son Yang Kehilangan Nama-Namanya


Setelah meninggalkan Hoi An dengan segala huru hara pagi yang mendebarkan, pengemudi setengah baya yang sama yang menjemput saya dari bandara sehari sebelumnya, kini membawa saya menuju My Son, sebuah kawasan UNESCO World Heritage Site di Vietnam Tengah, yang berjarak sekitar 40 km dari Hoi An. Saya tak mampu menyembunyikan kegembiraan hati, apalagi setelah menemukan rambu penunjuk arah My Son 9 km atau My Son 3 km… Seperti mau bertemu sang kekasih…

Tak menyesal saya menyewa mobil untuk sampai ke My Son, karena sepanjang perjalanan tak banyak terlihat angkutan umum ke tempat itu, apalagi jelang lokasi. Bahkan rambu penunjuk arah juga tak banyak. Sepertinya prioritas My Son sebagai kawasan wisata tak setinggi tempat lainnya. Mungkin karena hanya orang-orang dengan ketertarikan tertentu yang akan mendatangi reruntuhan bebatuan candi. Tiket masuk seharga 100.000VND (sekitar 5USD), -tanpa menghitung pengemudi yang asli Vietnam-, bisa dibeli di museum sekitar 2 km sebelum lokasi. Tak lama setelah mobil menempuh jalan sempit berliku mengikuti liuk pegunungan, saya melanjutkan dengan berjalan kaki mendaki dan menuruni bukit kecil. Dengan hati berdebar dan mata takjub saya berdiri memandangi reruntuhan candi utama di kawasan My Son. Akhirnya…!!!

My Son Sanctuary
My Son Sanctuary

Bercikal bakal dari kerajaan Lin Yi yang tercatat dalam sejarah sejak abad-2, sejumlah peperangan antar suku dan kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Vietnam Tengah modern tak terhindarkan hingga seorang panglima besar bernama Fan Wen berhasil menguasai dan menetapkan batas utara dan selatannya menjelang akhir abad-4. Keberhasilan Fan Wen dilanjutkan oleh penerusnya, Fan Ho atau Fan Huda atau yang dikenal dengan nama Sansekertanya sebagai Raja Bhadravarman yang dipercaya mendirikan candi pertama yang didalamnya terdapat lingga untuk Dewa Siwa di kawasan My Son. Tidak hanya sebuah candi, bahkan Raja Bhadravarman mendedikasikan kawasan lembah My Son sebagai tempat suci untuk Dewa Siwa, -yang dikenal secara lokal sebagai Bhadresvara-, sesuai permintaannya dalam prasasti agar generasi mendatang tidak menghancurkan kawasan itu. Dan ditambahkan, berbasis pemahamannya akan karma, tertuang juga di dalam prasasti sejenis peringatan, jika lokasi itu dihancurkan maka semua amal kebaikan pihak yang menghancurkan akan berpindah ke Bhadravarman dan semua dosa Bhadravarman beralih ke pihak yang menghancurkan. Namun jika kawasan tersebut dipelihara, maka bertambahlah semua kebaikannya pada sang pemelihara. Dan faktanya permintaan itu diikuti oleh penerus Bhadravarman sehingga My Son menjadi kawasan suci berabad lamanya.

Hebatnya, generasi penerus kerajaan pada abad 7 Masehi juga membangun prasasti berharga yang menuangkan sejarah dan silsilah Raja-raja sebelumnya. Siapa yang mengira dari prasasti ini bisa diketahui Kerajaan Champa memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Khmer Isanavarman I dan sebagaimana legenda Raja-raja Khmer, Raja Prakarsadharma juga menuliskan mengenai kisah legenda pasangan brahmana Kaundinya dan putri Naga Soma. Kisah cinta yang diabadikan ke dalam permukaan batu itu ternyata mampu bertahan berabad lamanya, so sweet…

Dari prasasti abad-10 yang ada di kawasan itu juga menjelaskan fungsi My Son, yang ketika itu menjadi wilayah pusat agama dan budaya bagi masyarakat Champa dan bukan merupakan kota pemerintahan yang ketika itu berada di Dong Duong.

Namun kenyataan sebelas abad setelahnya, -sekarang ini-, tak seindah dulu. Saya menggigit bibir merasakan hati yang berdenyut menyaksikan sebuah cekungan besar berjarak hanya selemparan batu dari bangunan candi yang strukturnya terlihat sangat rapuh. Cekungan besar itu merupakan kawah akibat bom yang dijatuhkan oleh pihak Amerika Serikat pada bulan Agustus 1969. Sebuah ‘memorial’ ironis, satu dari begitu banyaknya kawah yang terbentuk akibat bom-bom yang dijatuhkan di sekitar My Son selama perang Vietnam (1955 – 1975), di antara tapak-tapak sisa candi dan di sebelah candi buatan berabad lalu yang hampir runtuh, tepat di kawasan World Heritage. Bahkan, di dalam salah satu Candi yang berfungsi sebagai museum sementara diperlihatkan juga selongsong bom diantara batu-batu peninggalan Champa yang berharga. Absurd dan ironis. Manusia mendirikan bangunan menakjubkan untuk kemudian manusia juga yang menghancurkannya sendiri demi tuntutan perubahan jaman.

Saya mendekati kelompok Candi Utama yang termasuk grup B-C-D yang paling depan dari jalan masuk walaupun hanya memiliki dua candi Utama. Candi pertama, -yang telah kehilangan dinding-dindingnya-, didedikasikan kepada Dewa Siwa yang disimbolkan dengan adanya Lingga. Candi Utama kedua di sebelah Utara berhiaskan dewi-dewi berdiri di atas gajah pada dinding-dinding candi.

Ada yang menarik di dalam salah satu bangunan (C2), terlihat pilar dari batu menempel di sudut seperti memperkuat dugaan adanya perubahan struktur candi dari pilar kayu menjadi bata.

Banyak pengunjung, termasuk saya, terpesona dengan bangunan candi atap pelana yang ikonik (B5). Dibangun pada abad-10, bangunan yang masih berdiri dengan cantik ini dulunya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda ritual dan api suci. Atapnya yang melengkung bagai pelana menarik perhatian siapa saja yang menikmati My Son. Pintu Utama menghadap Utara, arah Dewa Kuwera dengan lengkung di atas jendela yang menggambarkan dua gajah berhadapan yang merupakan simbol dari Dewi Kecantikan dan Kemakmuran, Gaja Laksmi. Dan di sekeliling dindingnya berhiaskan pula perempuan berdiri di atas Gajah.

Candi Beratap Pelana - B5
Candi Beratap Pelana – B5

Diantara bangunan candi yang masih berdiri dalam kelompok B, sebuah candi kecil disiapkan sebagai tempat menyimpan air suci yang diambil dari pegunungan Mahaparvata yang sakral di selatan My Son, sebagai unsur penting dalam ritual upacara. Tempat penyimpan air ini berhiaskan bunga teratai. Selain itu, ada juga 7 candi kecil lainnya yang didedikasikan untuk Tujuh Bintang sebagai Unsur Utama, seperti Matahari, Bulan, Logam, Kayu, Air, Api dan Tanah.

Saya melangkah menuju percandian grup G, menyeberangi jembatan di atas sungai kecil yang membuat udara sejuk di sekitar percandian ditambah sesekali rintik hujan menerpa. Kawasan yang luar biasa. Tak heran, ada seorang turis bule duduk di bawah pohon menikmati ketenangan suasana sambil membaca buku.

The Sanctuary of My Son
The Sanctuary of My Son

Grup G bergaya Binh Dinh dari abad 12 hingga 13 ini terletak di sebuah bukit kecil, menjadikannya berfungsi sebagai candi gunung seperti layaknya konsep candi suci di Kamboja. Bahkan bentuknya pun tidak jauh dari konsep candi gunung. Kompleks candi yang menghadap Barat ini mempunya lima bagian: Candi utama, Gapura, Balai Mandapa, Bangunan Penyimpanan dan Monumen Prasasti. Prasasti yang dibuat oleh Raja Jaya Harivarman ini begitu besar manfaatnya karena menjelaskan proses pembangunan dan tujuannya. Bukit yang dinamakan Vugvan (Alam Pegunungan) ini didedikasikan untuk Dewa Siwa, kedua orang tua dari Raja dan untuk Raja sendiri. Candi Utama memiliki kekhususan karena memiliki dua pintu, -di Utara dan Selatan-, selain pintu utama di bagian Barat, yang berhiaskan Dewi Laksmi. Dan di tiap sudut dihiasi dengan patung singa dengan puluhan Kala yang terbuat dari terakota.

Dari ketinggian grup G, saya melangkah menuju grup A. Berbagai perasaan menyeruak ke atas saat berdiri di hadapan percandian grup A. Dalam benak saya terbayang candi A1 yang merupakan mahakarya abad 10 dari Kerajaan Champa yang berpusat di tengah kawasan My Son. Tingginya yang 28 meter, hampir menyamai Candi Wisnu dan Candi Brahma di Prambanan, tampaknya menjulang sendiri di kawasan ini, satu-satunya yang memiliki pintu Timur dan Barat dan dikelilingi oleh candi-candi mata angin. Dan memiliki lengkung kala makara di bagian bawah seperti candi-candi di Jawa. Sebuah teriakan untuk berselfie dari gadis-gadis lokal membuyarkan imajinasi saya untuk kembali melihat kenyataan yang sebenarnya. Di hadapan saya hanya ada gundukan bata penuh rumput. Perang Agustus 1969 telah menghancurkan mahakarya ini.

Tak beda jauh kondisi candi A10 yang berada di sebelahnya, terbengkalai dipenuhi rumput walaupun dibangun dengan gaya Dong Duong yang penuh hiasan yang cantik, terlihat dari pinggiran yang masih terbuka.

Saya harus berjalan berputar mengelilingi gundukan rumput yang menutupi candi A10 untuk mencapai candi A13 melalui jalan setapak dengan tanaman liar dan rumput setinggi paha di kanan kiri. Saya melangkah cepat menuju A13 karena tak ada manusia di sekitar dan mengambil foto Garuda di sudut atas candi lalu langsung mengambil langkah seribu meninggalkan lokasi. Selain terasa sekali aura mistis di situ, tetapi saya lebih takut ular yang bisa muncul tiba-tiba dari semak-semak.

Seperti biasanya, saya tak ingin bergegas meninggalkan kompleks percandian, tetapi waktu sudah memanggil. Saya teringat pak pengemudi mobil sewaan yang menunggu untuk mengantar saya ke Hue. Berat sekali mengambil langkah untuk meninggalkan tempat luar biasa ini, walaupun  masih bisa mampir ke percandian grup H.

Candi dalam group H dari abad 13 ini hanya meninggalkan sebagian dinding dari candi utama yang terdiri dari empat bangunan yang dulu pernah berdiri dengan anggun di atas sebuah bukit kecil di tempat ini namun telah hancur karena perang. Dan di atas pintu dari dinding ini dahulu terletak hiasan Dewa Siwa Bertangan Delapan yang senyumnya mengingatkan saya pada wajah-wajah di Bayon Temple, Angkor

Dalam perjalanan menuju Hue, saya berbisik dalam hati sambil melambaikan tangan pada lembah My Son yang tertinggal di belakang, Cam on ban, Tam Biet, Hen Gap Lai! Terima kasih, goodbye dan sampai jumpa lagi… (suatu saat kita ketemu lagi ya…)

*

Ketika Si Cantik Hoi An Menghadirkan Cinta


Walaupun cuaca diprakirakan berhias hujan rintik sepanjang hari, -apalagi badai di atas laut China Selatan tak juga berkurang-, saya tak dapat menunggu lebih lama agar mendung berpindah dari langit kota yang telah saya jejakkan pertama kali di siang itu. Tak ada jalan lain kecuali menembus dan menari diantara rintik hujan karena tak tersedia waktu yang cukup bagi saya untuk berdiam diri menanti hujan berhenti.

Si cantik Hoi An menawarkan begitu banyak keindahan hingga UNESCO tak ragu menganugerahinya sebagai World Heritage City, seperti juga Luang Prabang atau Melaka. Dan karena begitu banyak sudut kecantikannya, saya memulai dari An Hoi Sculpture Park, -sebuah taman karya seni-, yang tepat berada di pinggir sungai yang selemparan batu dengan penginapan saya. Rintik hujan membuat suasana menjadi lebih intim walau tak ada informasi tentang karya-karya indah di taman yang relatif mini ini selain untuk dinikmati dengan latar belakang sungai dan rumah-rumah kuno Hoi An. Di beberapa tempat tersedia kursi yang lebih banyak diisi oleh manusia yang sedang jatuh cinta. Tetapi bukankah si cantik Hoi An memang menawarkan cinta di sudut-sudut keindahannya?

Saya berjalan kaki sambil beberapa kali melompati genangan basah, lalu  menyeberangi jembatan yang tiang-tiangnya berhias lampion merah yang cantik. Becak wisata, sepeda yang disewa turis, sepeda penduduk lokal, pejalan kaki yang berjas hujan transparan atau berpayung warna warni tumplek blek memenuhi jembatan yang menghubungkan saya ke jantung kota tua. Hati terasa berdenyut lebih kuat, merasakan kenyamanan suasana kota heritage dunia yang segala sesuatunya memanjakan mata dan memikat rasa.

Pelan-pelan saya melangkah menyusuri pinggir sungai hingga sampai di sebuah landmark kota Hoi An yang terkenal yaitu Japanese Bridge. Jembatan lengkung berbentuk lorong tertutup yang dibangun tahun 1593 oleh komunitas pedagang Jepang itu sebenarnya memiliki nama lokal Lai Vien Kieu atau Bridge from Afar. Beberapa bagian pada dindingnya berhias keramik biru dengan ukiran atap yang sangat memikat hati. Pengunjung yang datang begitu dimanjakan dengan bisa menyaksikan dan menikmati keindahan jembatan dari samping kanan, atau dari jembatan kecil di seberangnya, atau bahkan dari jalan yang menembus lorongnya, yang semuanya memiliki keindahannya masing-masing. Apalagi ketika malam telah datang memeluk, lampu-lampu temaram yang menerangi lembut sang landmark seakan melengkapi kecantikan Hoi An.

The Famous Japanese Bridge at Night
The Famous Japanese Bridge at Night

Terpisah satu blok melewati beragam façade kuno yang cantik dari berbagai café dan toko, saya sampai pada tempat yang dikenal dengan nama Quang Dong yang bergapura merah berukir. Bangunan cantik dengan gaya campuran China Kanton dan tradisional Hoi An ini, dibangun sekitar tahun 1786 oleh etnis China Kanton yang datang ke Hoi An dan merupakan tempat berkumpulnya sekaligus menjadi kuil untuk pemujaan bagi  warga etnis China Kanton. Terdapat dua patung sejenis burung dengan ukiran yang sangat rumit dengan kaki langsing yang berdiri di atas kura-kura, menjadi penjaga pintu kuil. Dan di halaman dalam kuil di bagian tengah terdapat karya seni di atas kolam berupa patung naga dan ikan yang sangat indah.

Ah, si Cantik Hoi An ini, tanpa menjadi seorang ahli sejarah pun, pengunjung benar-benar dimanjakan dengan pernik-pernik menggemaskan dan kerling manis lampion-lampion warna warni yang tergantung cantik di jalan atau beranda toko maupun rumah makan. Cinta memang hadir menggoda di kota cantik ini dan menyelimuti setiap hati yang datang. Rintik hujan yang menghilang tak membuat kedekatan kepala-kepala pasangan menjauh, bahkan tangan-tangan mereka semakin erat menggenggam, mendekatkan bahu yang sudah bersentuhan, mencoba mengalahkan dinginnya udara saat itu.

Jemari kaki yang dingin karena hanya berlapis sandal membuat saya melangkah masuk ke sebuah rumah tua yang terpelihara dan tampak sangat mengundang. Rumah toko Quan Thang, merupakan salah satu rumah tertua dan tercantik di Hoi An. Dibangun oleh seorang pedagang makmur China di akhir abad-17, bangunan ini menjadi contoh terbaik dari rumah toko satu lantai yang memiliki dua muka di jalan yang berbeda. Rumah tua Quan Thang ini juga memiliki berbagai corak arsitektur yang saling mendukung sehingga memberi kesan luas dan sangat nyaman ditinggali. Dan berdasarkan perabot antik yang ada dan masih terpelihara serta tata cara penghuni rumah menjalani hidup selama enam generasi, menunjukkan betapa makmur para keluarga pedagang China dan juga kota Hoi An lama pada masanya sebagai kota pelabuhan dan perdagangan. Terbayang langsung di benak betapa si Cantik Hoi An menjaga keindahan rupa dari kemakmuran para penghuninya.

Tidak itu saja, kecantikan Hoi An terlihat pula dari eratnya hubungan komunitas pedagang China di kota lama itu. Seperti yang dapat disaksikan di bangunan Chinese Assembly Hall, Lop Hoa Van Le Nghia, yang merupakan tempat berkumpulnya para pedagang China dari berbagai etnis, saling bertukar cerita dagang, saling bantu sekaligus melakukan pemujaan untuk keselamatan dan keberuntungan serta meneruskan tradisi yang telah berakar. Bangunan yang berada di pertigaan ini, memiliki relief burung phoenix di kedua dinding dekat pintu, yang menjadi symbol keabadian. Dan seakan ingin menjadikan sebuah misteri yang abadi, si Cantik Hoi An tidak serta merta memberikan informasi mengenai sejarah dari bangunan ini.

Meninggalkan Chinese Assembly Hall dan berpapasan dengan deretan becak-becak wisata yang tak putus serta para turis penyewa sepeda, membuat saya berdiri menunggu di seberang bangunan menarik lainnya yaitu Chua Phuc Kien, sebuah kuil cantik yang didedikasikan kepada Thien Hau, sang dewi laut yang merupakan pelindung para pelaut. Bangunan yang didirikan jelang akhir abad-17 oleh pedagang China yang meninggalkan negeri sejalan dengan runtuhnya kekuasaan dinasti Ming di China ini, merupakan kuil yang lebih banyak melayani etnis Fukien karena etnis ini menjadi mayoritas di kota Hoi An lama. Dan sebagai kota pelabuhan yang mempertemukan banyak pasangan, ternyata kuil ini juga merupakan salah satu tempat pemujaan untuk mendapatkan berkah keturunan.

Melanjutkan langkah kaki pada suasana kota yang semakin temaram dengan hujan rintik yang kembali membasahi bumi, akhirnya saya sampai di Cho Hoi An, pasar induk di Hoi An. Awalnya saya bertahan dengan menggunakan tudung jaket untuk menari di bawah hujan sepanjang jalan di Hoi An, ternyata hujan semakin deras yang memaksa saya harus berteduh, tepat di depan gerbang pasar. Pasar yang terkenal hingga sekarang ini merupakan tempat berkumpul dari para pedagang untuk menjual keperluan sehari-hari.

Ketika hujan telah berkurang derasnya, saya meninggalkan pasar menuju Japanese Bridge melalui jalan yang berbeda. Rintik hujan ditengah udara malam yang dingin, lampion-lampion yang menyala temaram di atas beranda toko dan rumah makan termasuk yang tergantung melintang di atas jalan, menambah aura mesra di sepanjang jalan yang basah. Tak sedikit terlihat payung yang terkembang dengan dua tubuh merapat di bawahnya membuat iri bagi siapa saja yang menyaksikan. Hati saya berdenyut tersenyum merasakan kehadiran cinta di kota Hoi An ini.

Malam merambat naik, saya melewati saja Museum Folklor yang bermandi cahaya dan the Old House of Tan Ky karena sudah tutup serta Museum Keramik karena ada yang bermain genderang di perut saya, tanda pemberontakan minta diisi. Walaupun beberapa kali berhenti untuk memotret, akhirnya saya  berhenti pada seorang ibu di pinggir jalan yang menjual kue moci dan membiarkan kue moci dan uang Vietnam Dong saling bertukar tempat. Lalu saya melanjutkan langkah kembali sambil memindahkan kue moci itu ke mulut hingga akhirnya saya sampai kembali ke pinggir sungai.

Terfokus pada Japanese Bridge yang terlihat sungguh cantik karena bermandi cahaya, saya tak segera melihat ada pasangan calon pengantin di atas perahu kecil yang sedang berfoto di dekat tempat saya berdiri. Cinta yang hadir disitu merekatkan dua hati, membuat saya tersenyum lagi, siapa yang bisa mengabaikan suasana penuh romansa dari si Cantik Hoi An?

Setelah berfoto dengan latar Jembatan Jepang, kedua calon pengantin itu melarungkan lilin dalam wadah kertas berbentuk mahkota, -yang setahu saya di Thailand disebut krathong-, sebagai lambang melepas semua yang berbau negatif saat hendak memasuki kehidupan baru. Tetapi melarungkan lilin dalam wadah itu tidak hanya milik kedua calon pengantin itu saja, karena banyak pengunjung melakukannya. Melarung, bisa jadi merupakan sebuah terapi untuk melepas semua yang tidak menyenangkan, semua yang menyedihkan dan berbagai rasa negative lainnya yang terjadi di masa lalu untuk dikembalikan kepada Sang Pemilik Alam.

Saya melangkah pelan menyusuri sungai untuk kembali ke penginapan, terdiam dalam hening menyaksikan lilin-lilin dalam wadah berbentuk mahkota itu bergerak perlahan-lahan, terombang-ambing mengikuti arus di permukaan Sungai Thu Bon. Walau lilin dalam wadah itu kecil, tetapi terlihat begitu terang, kontras dengan warna gelap permukaan sungai. Seperti juga dalam kehidupan, bintang-bintang ataupun lilin-lilin yang terlihat kecil, namun terangnya mampu memberi petunjuk arah.

Ah, lagi-lagi keindahan di depan mata itu terasa seperti sebuah sindiran penuh cinta dari si Cantik Hoi An, agar kita senantiasa menjadi pelita penunjuk arah dalam perjalanan hidup…

Hoi An and Thu Bon River at Night
Hoi An and Thu Bon River at Night

WPC – Weight(less) To Let Go Anger and Hatred


Weightless small crown-shaped containers with a candle inside
Weightless small crown-shaped containers with a candle inside

At that night in the end of my walk in the ancient city of Hoi An, Vietnam, I stood on a small bridge across the famous Japanese Bridge when I saw a happy couple, the happy bride-and-groom-to-be taking their pre-wedding photos.

A lovely moment I saw when they launched to float small crown-shaped containers with a candle inside into the river, as a symbol to let go of their anger, hatred, defilement and all past transgressions. A moment later the falling-in-love couple stood with holding hands to each other. Silently they watched their weightless crown-shaped containers with candle inside moving slowly through the darkness of the night, bobbing on the surface of the Thu Bon River and took their weigh-burden away.

Letting go of the past is like lifting a heavy weight off your shoulder
Letting go of the past is like lifting a heavy weight off your shoulder

Letting go of the past is like lifting a heavy weight off your shoulder. It allows you to finally move on and start a new life.

*

As a response to the Daily Post’s Weekly Photo Challenge: Weight(less)

Perjalanan Menuju Tanah Champa


Penerbangan AirAsia ke Kuala Lumpur Rabu malam itu didelay 1 jam, padahal beberapa kali menggunakan penerbangan jam yang sama jarang sekali mengalami penundaan selama itu, bahkan beberapa minggu sebelumnya saat hendak ke Siem Reap saya merasakan bahwa waktu boarding-nya dipercepat. Tetapi, dibalik sebuah delay selalu terdapat situasi yang indah, paling tidak saya bisa lebih menikmati makan malam di bandara itu walau hanya ditemani ponsel dan orang-orang di sekitar yang tidak saya kenal 🙂

Kemudian dalam waktu yang tak lama, di tempat pemeriksaan barang jelang memasuki ruang tunggu langkah kaki saya terhenti oleh rombongan yang sepertinya akan melakukan ibadah umroh. Hampir 15 menit rombongan, -yang kebanyakan terdiri dari para lanjut usia-, membukakan mata hati saya untuk mendahulukan mereka agar tak terlepas dari rangkaian rombongannya, memasukkan semua barang bawaannya ke mesin pendeteksi, termasuk jaket, ikat pinggang, dompet, tas tangan, tas plastik kresek juga nasi kotak beserta kemasan air di dalamnya, yang menimbulkan kehebohan di ujung mesin dari para petugas avsec yang mengatur mereka dengan tingkat kesabaran yang tinggi.

Menyaksikan situasi di hadapan mata itu, benak saya dipenuhi binar berbagai pandang: para lanjut usia yang didampingi pasangannya yang sama tuanya, melakukan perjalanan dengan transit di berbagai kota, untuk bersimpuh di rumah Tuhan yang penuh keberkahan, dengan segala keterbatasan mereka dan di sisi lain kerasnya peraturan, kondisi alam dan berbedanya budaya dari negeri-negeri yang harus mereka lewati. Mereka-lah, pejalan yang sesungguhnya, yang penuh keikhlasan dan kesabaran, untuk sebuah tujuan yang jelas.

Saya tertegun dengan apa yang terjadi di hadapan mata sebelum melakukan perjalanan ke negeri Champa. Namun sayangnya pembelajaran awal penuh hikmah itu sepertinya terabaikan dalam perjalanan saya kali ini, tenggelam oleh antusiasme merambah sebuah negara lagi.

Hoi An Riverside - the Destination
Hoi An Riverside – the Destination

Sesaat kemudian setelah terjerembab kembali ke alam nyata jelang pemeriksaan mesin deteksi, saya tersenyum penuh pengertian kepada petugas avsec perempuan, memberinya semangat untuk tetap bersabar karena sungguh tak mudah menjadi orang di garis depan untuk pengamanan sekaligus memberikan pelayanan yang tinggi.

Setelah boarding pun saya seharusnya lebih banyak bersyukur karena beruntung mendapat kursi di barisan nomor 3, -baris hot-seat yang berharga mahal-, tanpa harus membelinya. Lalu seperti biasa para kru kabin sibuk membantu penumpang yang memenuhi lorong dengan berbagai barang di tangan untuk mendapat ruang di bagasi atas dan menjejalkan badannya di kursinya masing-masing. Kali ini tampaknya semua kursi terisi penuh.

Dan dalam setiap perjalanan pasti memiliki sebuah cerita. Dari hal-hal kecil, yang mungkin terlihat tak penting tetapi berserak banyak makna. Seperti, terbang di bulan Desember yang penuh awan hujan menyebabkan penerbangan yang memakan waktu sekitar 2 jam itu dihiasi dengan turbulensi yang tak sedikit. Walaupun sering terbang, saya tetap kuatir dengan turbulensi di udara dan langsung diam dalam doa memohon keselamatan terhadap ujian dalam perjalanan ini.

Ada yang tak biasa saat mendarat di KLIA2 ketika waktu menunjukkan lebih dari tengah malam sebagai akibat dari delay. Penumpang bisa turun melalui garbarata namun pintu terminal bandara masih tertutup dan perlu persetujuan dari pihak berwenang. Walau tak lama mengantri menunggu akses, saya tersadarkan bahwa bagaimanapun terminal bandara adalah salah satu pintu masuk ke sebuah negeri.

Selepas pintu terminal yang akhirnya dapat dibuka itu, saya berjalan menuju imigrasi yang lagi-lagi menghentikan langkah saya. Orang di depan saya bermasalah entah apa sehingga diproses lama sekali. Dan akhirnya ketika merebahkan tubuh di hotel bandara itu, saya hanya punya waktu 3 jam kurang untuk bersiap dan meneruskan penerbangan ke tanah Champa.

Walau lelah dan mengantuk, saya tak lupa akan kejadian yang saya hadapi sebelumnya: delay, rombongan umroh, turbulensi, pintu terminal yang tertutup, imigrasi yang lama… Sebuah pertanyaan yang dibawa ke dunia lelap, nilai dan makna apa yang sedang disiapkan untuk saya dalam perjalanan kali ini?

*

Esok paginya semangat baru menghiasi jiwa mengawali sebuah hari dan perjalanan baru ke tanah Champa, menenggelamkan tanya di benak pada malam sebelumnya. Saya berjalan menuju gerbang ruang tunggu yang penuh dan terlihat hanya beberapa wisatawan Barat diantara penumpang Asia. Telinga menangkap alun bahasa yang saya tak pahami dan sedikit banyak meredupkan semangat menjelajah. Tetapi dari hati terdengar bukankah semua perjalanan diawali dengan sebuah ketidaktahuan?

Saya terbang ke Ho Chi Minh City dan mendapat kursi di bagian belakang. Di belakang saya duduk seseorang yang terus menerus bicara dan seakan tak sadar mengetuk-ngetuk kursi saya sehingga kepala saya jadi terpental-pental, yang lucu jika dikartunkan. Sekali dua kali saya biarkan, lama-lama timbul kejengkelan di hati. Namun saya meredamnya karena ini adalah perjalanan ke negeri baru dengan sosial budaya yang berbeda yang sedang saya masuki dan sesuaikan. Saya mencoba menahan diri dengan tidak bersandar lalu mencoba membaca buku, sekaligus mencoba mendengarkan gaya bicara mereka. Walau tak 100% akurat, saya sampai pada kesimpulan bahwa mereka yang duduk di belakang saya tak paham bagaimana cara bersikap yang baik di pesawat. Bisa jadi terbang adalah pengalaman baru bagi mereka dan mungkin juga saya merasa waktu yang terlalu berharga untuk dibuang demi menegur mereka yang tak beradab.

Tak itu saja, setelah mendarat saat pesawat masih bergerak menuju terminal, ada beberapa penumpang yang sontak berdiri hingga ditegur oleh kru pesawat. Saya sering mendengar orang menyalakan ponsel sebelum sampai di terminal, tetapi penumpang berdiri saat pesawat masih bergerak menuju terminal, baru saya temukan di Vietnam ini, setelah dulu di Kamboja beberapa tahun lalu.

Tan Son Nhat Airport - Ho Chi Minh City
Tan Son Nhat Airport – Ho Chi Minh City

Melangkah di bandara internasional Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, saya perlu membuka mata lebih lebar karena informasi dalam bahasa lokal jauh lebih banyak daripada bahasa Inggeris. Dan karena akan melanjutkan perjalanan ke Da Nang, saya bertanya kepada petugas di booth Transfer. Sebagai jawabannya dia hanya menempelkan stiker Transit di baju saya lalu meminta saya mengantri di imigrasi yang antriannya mengular panjang di hampir semua konter. Membuat saya tersadar untuk selalu waspada dan terjaga, segala sesuatu datang tak mudah karena petugas pun tak banyak membantu.

Ho Chi Minh City from Above
Ho Chi Minh City from Above

Bermenit-menit antri dan akhirnya terbebas dari imigrasi, memaksa saya bertanya di bagian informasi tentang penerbangan domestik ke Da Nang. Petugas yang melayani benar-benar efisien dalam menjawab juga tanpa senyum, “go out, turn right, then walk, you’ll find the domestic building”. Ah, dia tak perlu cerita tentang cuaca kan?

Mengikuti sarannya, begitu keluar pintu terminal, saya terhenyak mendapati kerumunan ratusan layanan penjemputan dengan papan nama masing-masing, belum lagi wajah-wajah pengemudi taksi yang menawarkan ke pusat kota, seakan konfirmasi ketidakteraturan layanan taksi bandara di HCMC. Hampir semua orang yang saya kenal mengatakan jangan pernah mengambil taksi langsung di bandara HCMC, atau pesanlah layanan antar-jemput di HCMC. Bahkan ada yang merekomendasi agar cek kebenaran nama dan foto pengemudi ke pusat layanan atau hotel. Taksi bandara HCMC ini memang terkenal parah, bahkan ada yang berpengalaman diketok hingga jutaan VND. Menyaksikan pemandangan ini, saya bersyukur bisa mengetahui besar massanya tanpa perlu berkutat dengan mereka lalu melanjutkan jalan kaki ke terminal domestik yang memang tak jauh.

Setelah check-in di Vietnam Airlines yang penerbangannya direschedule 30menit, saya bergegas menuju ruang tunggu walaupun waktu boarding masih lama. Sambil berjalan menuju gerbang, saya memperhatikan suasana terminal domestik yang jauh lebih tenang daripada terminal internasional yang riuh. Suasana yang tenang membuat saya nyaman berjalan-jalan menanti penerbangan selanjutnya jelang tengah hari. Bahkan saya sempat makan siang lebih awal di sebuah gerai cepat saji sambil menikmati internet yang cepat dan gratis! Ini yang saya suka dari Vietnam 🙂

Penerbangan ke Da Nang dengan Vietnam Airlines berjalan menyenangkan. Kondisi pesawat tak terlalu baru, tetapi nyaman dengan ruang kaki yang lebih luas, yang rasanya lebih luas daripada Garuda. Duduk di kursi berjendela memungkinkan saya menikmati pemandangan pegunungan dan kota-kota di daratan walaupun sempat juga saya terlelap.

Dan setelah 1 jam penerbangan akhirnya saya menjejak di tanah Champa! Yeay…!

Da Nang International Airport
Da Nang International Airport

Bandara Da Nang relatif sepi untuk sebuah bandara internasional. Saya berjalan di gedung yang cukup megah dan luas lalu menuju pintu keluar. Tak seperti di HCMC, layanan antar-jemput masih terlihat normal dan saya mulai membaca nama di papan penjemputan. Aah, nama saya ada di ujung kanan.

Seorang pengemudi yang sudah paruh baya menjemput saya di bandara Da Nang dan siap mengantar ke Hoi An dengan sebuah mini-van. Dengan bahasa Inggerisnya yang terbatas, ia tetap memberikan layanan luar biasa, berhenti di kawasan pembuatan patung-patung Buddha dan di sebuah lokasi untuk memotret Marble Mountain. Bahkan ia memilih untuk memutar jalan, melalui jembatan-jembatan yang megah dan indah di Da Nang daripada langsung menuju Hoi An. Hati ini penuh rasa syukur merasakan sambutan yang baik dari tanah Champa.

Tak beda jauh dengan di Indonesia, di Da Nang jalan sejajar pantai tertutup oleh pengembang kawasan hotel bintang lima yang nama-namanya terkenal di dunia lengkap dengan segala hiburannya, membuat saya hanya bisa berimajinasi akan keindahan pantai pasir putih dengan kebiruan air laut di balik kemegahan gerbang dan bangunan hotel-hotel berbintang itu. Sebuah tanya terukir di benak, apakah penduduk lokal pernah merindukan pantai-pantai indah itu?

Tak sampai satu jam perjalanan suasana kota terlihat kembali, sebuah tanda bahwa batas kota sudah dilalui dan saya telah sampai di Hoi An. Dan akhirnya, ketika jalan semakin sempit dengan berbagai distro dan toko cantik menghiasi kiri kanan jalan tanpa kehilangan bentuk asli bangunannya yang sudah berabad usia, saya sadar telah berada di kawasan kota tua, the Ancient City of Hoi An.

A Monument in Hoi An
A Monument in Hoi An

Sejumput rasa haru dan romantis menyeruak di dada, saya ada di kota tua dalam rintik hujan. Wish you’re here…

Dalam hitungan menit, minivan itu berhenti di sebuah penginapan cantik di depan sungai Thu Bon di dalam kawasan kota tua Hoi An yang basah. Saya disambut oleh dua orang yang menangani proses check-in yang salah satunya memberikan minuman segar selamat datang. Bahkan di kamar tersedia juga dua buah mangga manis yang dalam sekejap mata masuk ke perut.

Begitu merasakan kecantikan kota Hoi An, sebuah UNESCO World Heritage City, saya tak lagi mengingat penghalang-penghalang yang meminta kesabaran dalam perjalanan sebelum sampai ke kota ini. Saya telah diberikan hadiah untuk dinikmati, yang tentu saja diterima dengan penuh bahagia.

*