Gunung Fuji Dalam Angka


Menginap satu hari di Kawaguchiko memang menjadi tujuan kami sekeluarga ketika pergi liburan di Jepang beberapa tahun lalu. Tujuan sebenarnya adalah hendak menikmati pemandangan Gunung Fuji sejak pagi, yang biasanya jernih tanpa tertutup awan. Dan pagi itu, pemandangan cantik gunung yang sering malu-malu bersaput awan itu benar-benar menampakkan keindahannya, apalagi disanding dengan Danau Kawaguchi yang amat tenang sebagai latar depan. Kalau mau cerita lengkapnya, bisa dibaca cerita lengkapnya: Memeluk Indahnya Sepi di Danau Kawaguchiko

IMG_1325
Mt. Fuji from Kawaguchiko

Nah, di dalam kamar penginapan kami, -yang malam sebelumnya membuat saya merasa serem-serem sedap-, ada sebuah informasi yang dibuat menarik, yaitu tentang Gunung Fuji dalam angka. Informasi itu dilaminasi dan dimasukkan ke dalam sebuah folder bersama dengan brosur-brosur pariwisata sekitarnya (dan saya berpikir mengapa pariwisata kita tidak melakukan hal itu ya?)

Informasi itu ditandai oleh icon kategori yang diberikan dalam bentuk gambar/simbol, seperti Informasi Umum, Sejarah, Kondisi Alam, Pendakian, Akses, Harga, Cinderamata dan Trivia. Keren banget kan, jadinya mudah dibaca.

Membacanya saya jadi terbayang proses pendakiannya…

  1. Gunung Fuji (Fujisan) terdaftar di UNESCO World Heritage Site per tanggal 22 Juni 2013. Dengan demikian, bukan hanya negara Jepang yang wajib memeliharanya melainkan seluruh umat manusia yang berbagi di satu dunia ini, apalagi yang mendakinya. Sungguh memalukan kan, bulan Agustus 2014 lalu ada turis yang melakukan vandalisme alias mencoret-coret membuat graffiti di batu besar dengan tulisan CLA-X INDONESIA, yang membuat warga negara Jepang marah sekali. Bagi mereka, Gunung Fuji merupakan gunung suci.
  2. Status Gunung Fuji merupakan situs ke 17 dari semua situs yang dimiliki Jepang yang terdaftar di UNESCO World Heritage Site (Meskipun per tahun 2019 ini sudah mencapai 23 Situs)
  3. Saya sih percaya saja deh, kalau di tabel itu tertulis Gunung Fuji itu memiliki volume sekitar 1400km3, saya juga tidak berminat untuk mengukur kok, sebab terbayang juga sih, kalau 1 km x 1 km x 1 km = 1km3 artinya kan ada 1400 X-nya.
  4. Jumlah danau yang mengelilingi Gunung Fuji ada 5 yaitu Danau Motosu, Danau Shojin, Danau Sai, Danau Kawaguchi dan Danau Tamanaka. Berada di pinggir danau itu sangat tepat untuk menikmati Gunung Fuji.

    IMG_1333
    Mt. Fuji in numbers
  5. Gunung Fuji itu tingginya 3776 meter diukur pada titik tertinggi di Kengamine dan tingkat kecepatan angin yang bertiup di puncaknya rata-rata berkisar 11m/detik. Dan suhu di puncak rata-rata bisa mencapai -6C. (Ah, kira-kira saya kuat gak ya mendaki kesana, sekilas pemikiran saja siii)

  6. Di Gunung Fuji itu tercatat ada 119 species kupu-kupu dan 180 jenis burung liar. Keren ya, sampai tercatat seperti ini.
  7. Musim pendakian Gunung Fuji dimulai dari tanggal 1 Juli hingga minggu pertama September, yang merupakan periode terbaik dengan kemungkinan suhu dan angin yang paling bersahabat. Diluar waktu itu, kondisinya sangat tidak bersahabat dan membahayakan jiwa. Mendaki gunung kan seharusnya untuk memperkaya jiwa bukannya menghilangkannya.
  8. Sudah sejak 2012, dalam setahunnya tercatat lebih dari 25,000 orang kenaikan per tahun, yang menunjukkan semakin tingginya minat orang mendaki gunung suci di Jepang ini.  Rekor terbesar waktu itu sih tanggal 28 Juli 2012 yang mencatatkan ada 11,779 orang pendaki pada satu hari itu. Aduh terbayang jalurnya pasti penuh dan ada antrian ya…
  9. Per tahun 2012 sudah tercatat 318,565 orang telah mendaki Gunung Fuji di ketinggian 3776 Mdpl yang dilakukan melalui 4  jalur, yaitu:
    1. Jalur Yoshida yang paling populer, yang dilakukan oleh 189,771 pendaki, mulai dari ketinggian 2305 Mdpl sepanjang 7.5 km menanjak dalam waktu 6 jam dan 7,6 km saat turun yang bisa dilakukan dalam waktu 3 jam.
    2. Jalur Subashiri, yang dilakukan oleh 35,577 orang, mulai dari ketinggian 1970 Mdpl sepanjang 7,8 km menanjak selama 6.5 jam dan 6,2 km saat turun yang dapat dilakukan dalam 3 jam
    3. Jalur Gotemba, yang dilakukan oleh 15,462 pendaki, mulai dari ketinggian 1440 Mdpl sepanjang 11 km menanjak selama 7,5 jam dan 8,5 km saat turun yang dapat dilakukan dalam 3,5 jam
    4. Jalur Fujinomiya, yang dilakukan oleh 77,755 pendaki, mulai dari ketinggian 2400 Mdpl, sepanjang 5km menanjak selama 5 jam dan 5 km saat turun yang dilakukan dalam 3.5jam
  10. Pada tahun 1832 pertama kalinya seorang pendaki perempuan mencapai Puncak, meskipun saat itu ia berpakaian seakan-akan ia laki-laki karena pada masa itu, perempuan dilarang untuk mendaki gunung. Dan baru 40 tahun kemudian, pada tahun 1872 Gunung Fuji membuka diri untuk didaki oleh perempuan.
  11. Di sepanjang jalur pendakian terdapat penginapan sederhana dengan biaya sekitar 5500 Yen, tidak termasuk makanan. Dan setahu saya dilarang mendirikan tenda dan membuat api. Dan tidak disarankan, demi kesehatan, untuk melakukan pendakian secara cepat dan langsung turun pada hari yang sama tanpa menginap.
  12. Rekor pendaki tertua tercatat umurnya 101 tahun! Hebat ya… Jepang memang merupakan negara yang penduduk usia tuanya masih banyak yang sehat dan terus melakukan aktivitas fisik yang tidak ringan.
  13. Di Puncak Gunung Fuji, harga oksigen ukuran kecil dijual 500 Yen dan ukuran besar dijual 1000 Yen. Semangkuk mie instan harganya 800 Yen dan satu botol air mineral dalam kemasan botol harganya 500 Yen. Dan untuk ke toilet dibebankan 100 – 300 Yen. Hitung saja jika 1 Yen sekarang sekitar 130 Rupiah.
  14. Belum lagi menghitung uang yang harus dikeluarkan untuk transportasi dari 1080 Yen hingga 3300 Yen, tergantung dari lokasi mana dan memilih jalur apa untuk mendakinya.
  15. Informasi lebih lengkapnya mengenai pendakian bisa dilihat di Fujisan Climb Official Website

Ok, saya hanya menuliskan kembali dari apa yang ada di penginapan kami di Kawaguchiko dan sepertinya harus diupdate juga informasinya. Saya tahu bahwa sudah banyak lho pendaki Indonesia yang melakukannya. Kalau sudah, ditunggu ceritanya ya….

-o-


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-43 ini bertema Numbers agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

 

Kyoto, Satu Hari Dalam Musim Gugur


Salah satu musim terbaik untuk mengunjungi Kyoto, Jepang adalah musim gugur, meskipun musim-musim lain tidak kalah menariknya. Tetapi ini soal selera ya, karena saya lebih suka musim gugur daripada musim semi yang juga membuat Kyoto itu sangat cantik luar biasa. Lagi pula udaranya sejuk, belum terlalu dingin.

Jadi awal bulan Desember beberapa tahun lalu, saya mengajak suami, berdua saja, untuk kembali menikmati Jepang. Dan saat menginjak Kyoto, uh, rasanya tidak ingin pulang ke Indonesia. Tentunya pada pagi hari kami mengunjungi Kinkakuji, kuil emas yang sangat terkenal seantero Kyoto dan menjadi icon kota tradisional ini. Dan berkali-kali ke Kinkakuji tidak pernah membuat saya bosan, meskipun tahu tempat ini selalu dipenuhi pengunjung!

IMG_0817
One perfect morning At Kinkakuji

Herannya kalau sedang liburan itu, waktu terasa seperti kilat alias cepat sekali jalannya. Gara-gara waktu yang berjalan cepat ini juga, kami secepat kilat menuju Higashiyama untuk mengunjungi Kiyomizudera, yang sayangnya sebagian tempatnya sedang direnovasi.

Bagi yang pernah ke kuil ini, tentu tahu bahwa Kiyomizudera sangat luas. Dan sang suami tertarik untuk menikmati semua sudutnya. Alhasil kami berdua seperti anak muda yang sedang jatuh cinta, jalan pelan-pelan berdekatan dan setiap tempat yang penuh warna kami berfoto 🙂  (Tapi sudah gak ada gombal-gombalan deh karena semua kartunya dah ketauan  😀 😀 😀 )

Tapi tak ada yang bisa menolak bahwa Kiyomizudera memang sangat cantik saat musim gugur, kontras sekali dengan langit Kyoto yang biru. Meskipun jauh mengelilingi halaman kuil, kami tak merasakan karena banyak berhenti untuk foto. Asli sampai lupa urusan perut sampai tidak diperhatikan.

Akhirnya di ujung pintu keluar, -sebenarnya waktu juga yang mengingatkan karena sudah agak sore-, barulah kami mendengar suara naga di perut kami berdua. Masalahnya lidah kami berdua tidak begitu cocok dengan makanan Jepang. Susah kan… mosok mau makan gudeg di Jepang? Kami menyusuri toko-toko yang sangat khas Jepang, berharap menemukan restoran yang sesuai lidah kami. Dan untunglah, Semesta Mendukung kami menemukan rumah makan yang menyajikan makanan yang sesuai lidah dan perut.

Urusan perut selesai, kami melanjutkan perjalanan lagi dengan berjalan kaki menuju kuil Kodaiji. Di tengah perjalanan, beruntung kami bisa bertemu dengan pengantin yang kelihatannya sedang terburu-buru sambil mengangkat gaun putihnya agar tak terinjak. Tiba-tiba saya tersadarkan, tempat kami berjalan merupakan kawasan untuk pejalan kaki. Jadi kasihan juga pengantin itu, harus turun dari mobil jauh di ujung jalan lalu berjalan ke kuil tempatnya ia menikah. (Betapa nyaman ya menikah di Indonesia, pengantin bisa turun dekat dengan tempat nikahnya!)

Kami juga bertemu dengan perempuan-perempuan yang mengenakan pakaian tradisional Jepang dengan wajah putihnya layaknya geisha. Melihat warna kerahnya, saya menduga mereka adalah turis yang sengaja berdandan seperti maiko atau geiko (geisha). Tetapi mereka sepertinya berkenan menjadi obyek foto dari orang-orang yang terpesona dengan pakaian dan dandanannya, termasuk saya sih hehehe…

Kuil Kodaiji tak jauh lagi. Kuil ini memang salah satu kuil di Kyoto yang must-visit selama musim gugur karena terkenal keindahan iluminasinya. Lampu-lampu diletakkan sedemikian rupa sehingga keindahan warna musim gugur tetap bisa terlihat pada saat malam! Dan beruntung sekali, saat sampai di kuil itu, langit belum gelap namun beberapa lampu telah dinyalakan. Mata kami dimanjakan dengan keindahan saat matahari masih terjaga di Kyoto dan saat matahari telah terbenam. Apalagi ada bulan sabit terbit di langit malam! We’re so blessed!

Jaket mulai dikenakan karena angin malam semakin terasa menusuk. Bersama pengunjung lain, kami mengarah ke tengah taman Kodaiji yang terkenal. Di dekat kolam taman kami terpesona. Airnya yang tenang menjadi pemantul sempurna dari keindahan pohon-pohon warna-warni di atasnya. Masya Allah…

Menyaksikan keindahan itu, terdengar begitu banyak suara shutter kamera, yang bukan hanya dari turis melainkan juga dari masyarakat lokal Jepang yang menyukai keindahan.

IMG_1051

Tanpa terasa malam semakin pekat, seakan mengingatkan kami harus mengakhiri perjalanan hari ini. Kaki kami terasa pegal (tapi bukankah di Jepang, kaki selalu terasa pegal? 😀 ). Namun keindahan kuil Kodaiji belum berakhir.

Meskipun dengan kaki yang mulai terasa berat untuk melangkah, sambil menuju pintu keluar kami menyaksikan hutan bambu seperti di Arashiyama yang diberi pencahayaan ke atas. Wah! Saya pernah membaca bahwa pada musim gugur, hutan bambu Arashiyama diberi lampu yang pasti terlihat magis sekali tetapi sayangnya untuk melihatnya harus menginap di dekatnya karena akses transportasi yang terbatas. Dan di sini, di kuil Kodaiji, kami menemukan pemandangan yang serupa hutan bambu yang diterangi dengan pencahayaan ke atas, -tanpa perlu ke Arashiyama-, tentu hal ini sebuah anugerah luar biasa banget!

Malam itu dengan rasa syukur mendapatkan semua yang begitu indah dalam satu hari, kami kembali ke hotel. Meskipun terseok-seok untuk mencapai hotel dan tidak mau menggunakan taksi mengingat mahalnya, bagi kami berdua hari itu merupakan salah satu hari yang sempurna dalam perjalanan hidup kami.

Ke Kyoto memang tak cukup satu hari!

IMG_1090
Bamboo groves at night in Kodaiji Temple, Kyoto

*


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-38 ini bertema A Day In Life agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Sepenggal Jalan Tanpa Warna



Tokyo, satu hari sebelum Natal 2018

Sebenarnya hari itu adalah ulang tahun saya, tetapi bagi saya hari itu masih tanpa warna meskipun tepat pk. 00.00 malam suami dan anak-anak telah memberi surprise berupa kue ulang tahun di tempat tidur. Saya tahu usaha mereka untuk membuat saya kembali ceria dan saya pun berupaya untuk tegar, meski rasanya sangat tidak mudah mengabaikan rasa bahwa saya masih berduka.

Tiga hari sebelumnya, Papa dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa setelah bertahun-tahun hanya mampu berbaring karena stroke yang dideritanya. Dan karena kakak dan adik seluruhnya ada di Jakarta, dengan persetujuan Mama, kami mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir pada hari yang sama meskipun gelap malam telah menyelimuti. Hari itu semua urusan selesai dengan doa-doa tak putus bagi yang pergi maupun untuk yang ditinggalkan agar ikhlas dan tabah menjalani hari.

Namun bagi saya, itulah hari ketika saya kehilangan warna-warni.

Satu hari setelahnya, saya sekeluarga meninggalkan Jakarta menuju Jepang, meninggalkan keluarga besar dan kerabat yang meriung di rumah Mama merapal ayat-ayat suci dan doa-doa. Sebenarnya rencana pergi ke Jepang sudah hancur berantakan saat mendengar Papa berpulang, tapi di atas pusara malam itu semuanya berubah. Di antara duka yang menyelimuti tergambar di benak kebahagiaan Papa bila saya berangkat ke Jepang mewujudkan impiannya.

Saya seperti ditarik kedua arah yang berlawanan; tinggal bersama mereka berbagi airmata duka dan di sisi lain pergi meninggalkan sekumpulan duka. Padahal Jepang awalnya adalah liburan namun juga menjadi tempat kenangan Papa. Entah kenapa situasi seperti itu, -yang saling berlawanan kutub-, sudah terlalu sering hadir secara bersama-sama dalam keseharian kehidupan saya.

Dan hari itu, tepat hari ulang tahun saya, hati saya masih sama, tanpa warna. 


 

Shinkansen Joetsu dengan kereta bernama Tanigawa itu akhirnya berhenti di Stasiun Gala Yuzawa, setelah sekitar 75 menit meninggalkan Tokyo. Kedatangan kami di stasiun itu disambut dengan serangan udara dingin dan hujan salju tipis! Brrrrr….

Meskipun ingin cepat bermain salju tapi sebagai perempuan tetap saja penampilan dipertimbangkan baik-baik. Alhasil perlu waktu cukup lama untuk urusan sewa menyewa sepatu boot, sarung tangan dan peralatan bermain salju. Rasanya sibuk sekali untuk urusan receh seperti ini. Pantas atau tidak, apakah kebesaran atau kekecilan, apakah ini atau itu… belum lagi ditambah, cantik gak ya nanti… bla-bla-bla… *suami nungguin para perempuan dandan, di pojokan  😃

Tak lama sampailah kami pada awal dari sepenggal jalan tanpa warna itu. Kami berempat harus naik kereta gantung, -disebut Gondola di Gala Yuzawa-, untuk sampai pada tempat bermain salju itu. Antrian naik Gondola tidak panjang dan tak lama kami berempat telah duduk dengan hati berdegup kencang jelang berangkat.

Empat manusia tropis dalam Gondola itu tak berucap satu patah kata pun pada detik pertama kereta gantung meninggalkan stasiun. Yang pasti semuanya, termasuk saya, terpesona menyaksikan alam tertutup salju. Putih semua, hanya menyisakan sedikit warna gelap yang tak dapat dijangkau salju. Titik-titik air yang menempel di kaca Gondola tidak menjadi halangan untuk mengagumi keindahan pemandangan alam.

Saya tersadarkan dan merasa ditegur untuk melihat dan mensyukuri apa yang telah diberikan. Yang Maha Kuasa menghamparkan kado ulang tahun terindah buat saya, pemandangan alam yang sangat cantik, yang luarbiasanya, ternyata senada dan selaras dengan sendu hati saya yang sedang kehilangan Papa tercinta.

DSC06817
The trip to Gala Yuzawa
DSC06822
Raindrop on the window

Kereta gantung atau Gondola membawa kami semakin tinggi, bergulir di kabel yang terentang di antara tiang-tiang yang berdiri dalam diam. Begitu banyak pohon dengan ranting-rantingnya yang terlihat berat oleh salju yang bertumpuk-tumpuk. Melihat pemandangan sekitar, seakan-akan alam pun menyesuaikan dengan perasaan saya yang sesungguhnya. Tanpa warna, kelabu. Putih hitam dengan seluruh nuansa kelabu diantaranya.

Meskipun tak bisa menghilangkan denyut duka dalam hati, saya tetap terpesona dan mengucap syukur atas kado ulang tahun berupa keindahan alam yang terhampar di depan mata. Alam Semesta yang begitu indah, meski tanpa warna. Keindahan yang berbeda, yang tak biasa, seperti dunia mimpi, dunia dongeng yang magis dengan peri-peri yang bersembunyi di balik pohon-pohonnya.

Seakan menjelaskan dalam situasi nuansa hitam putih pun, selalu ada keindahan. Di balik duka itu ada bahagia dalam wajah yang sama.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sepenggal jalan tanpa warna itu hanya berlangsung kurang dari 10 menit, terasa begitu cepat. Pemandangan alam penuh salju, bukan merupakan pemandangan biasa bagi orang-orang tropis seperti kami. Sejauh mata memandang, semua tertutup salju. Belum tentu setahun sekali kami bisa melihatnya dan merasakannya.

Sesampainya di tempat bermain ski, begitu turun dari Gondola, anak-anak langsung menghambur keluar. Ingin langsung merasakan salju di sepatu bootnya, di tangannya, di wajahnya. Rupanya kado ulang tahun saya belum selesai, alam masih menambahkan berupa hujan salju tipis. Membuat mereka semua tertawa bahagia sambil foto-foto untuk Instagramnya. Butir-butir salju jatuh di beanie berjambul dan jaket musim dingin yang mereka kenakan. Saya tahu meskipun airmata di dalam hati belumlah kering, namun Allah Yang Maha Baik selalu bisa menggembirakan dan membahagiakan saya, apalagi pada hari spesial.

Tidak hanya kami, di sana orang-orang dewasa pun tanpa malu-malu melupakan ‘jaim’-nya mereka dengan bermain dan melempar salju, meluncur dari atas bukit dengan luncuran plastik yang kekecilan untuk ukuran tubuhnya dan membiarkan tubuh mereka terlonjak oleh gundukan salju dalam tawa yang tak habis-habis. Di sana, duka bersembunyi, yang ada dimana-mana hanyalah gembira dan tawa. Juga saya yang sedang belajar tertawa bersama mereka semua.

Seperti juga semasa kecil, saat bermain adalah saat-saat paling menyenangkan. Bermain, makan lalu bermain lagi, adalah yang terjadi pada kami semua di Gala Yuzawa. Kami semua tak ingin kesempatan bermain salju cepat berlalu. Apalagi saat winter, hari sangat pendek, matahari terbitnya terlambat namun matahari juga cepat tenggelam, jam 5 sudah gelap. Dan waktu jugalah yang akhirnya menyadarkan kami semua, setiap awalan memiliki akhir.

Dan kami harus menempuh lagi jalan itu, sepenggal jalan tanpa warna. Kali ini menurun menuju lembah. Dari sebuah posisinya yang tertinggi, kami masih tetap saja terkagum-kagum bisa melihat Stasiun Shinkansen jauh di bawah sana, tempat kereta yang akan membawa kami kembali ke Tokyo.

Bagi saya sendiri, perjalanan hari itu merupakan perjalanan penuh rasa yang saling bertolakbelakang namun berada di hati yang sama dan tak terpisahkan, dengan pengelolaan yang seharusnya seimbang pula. Sebuah pembelajaran yang mengingatkan saya kepada Sang Nabi-nya Kahlil Gibran dalam Suka & Duka

Bahwa keduanya tidak terpisahkan.
Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu sendiri bertamu di meja makanmu,
Ingatlah selalu bahwa yang lain sedang ternyenyak di pembaringanmu.

DSC06818

The Gondola of Gala Yuzawa

DSC06819
The valley
DSC06832
Shinkansen Station is down there

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-34 ini bertema Black & White agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Memeluk Indahnya Sepi di Danau Kawaguchi


Dalam liburan musim panas beberapa tahun lalu, Kawaguchiko atau Danau Kawaguchi dipilih menjadi salah satu tempat menginap kami sebelum mengikuti perjalanan Alpine Route keesokan harinya. Alasan utama memasukkan Kawaguchiko sebenarnya ingin menikmati Gunung Fuji tanpa awan yang menyelimuti, karena berkali-kali ke Jepang, Gunung Fuji selalu berhasil sembunyi di balik awan atau kalaupun terlihat, hanya tampak samar. Dengan menginap di Kawaguchiko, -yang berhadapan langsung dengan Gunung Fuji-, harapan bisa melihat gunung simbol Jepang itu dengan jelas  bisa terwujud. Selain itu, akses kereta dari Kawaguchiko ke Matsumoto dan Alpine Route, -yang menjadi rencana kami selanjutnya-, masih bisa dikatakan satu jalur.

Tapi rencana tinggal rencana. Rencana agar sampai ke Kawaguchiko sebelum matahari tenggelam tidak dapat terwujud, karena kami lupa waktu saat berjalan-jalan di Tokyo. Hari sudah berganti gelap saat kereta berhenti di Station akhir Kawaguchiko. Apa mau dikata, liburan harus tetap berjalan dan pengalaman baru tetap harus diukir dalam bahagia, kan?

IMG_1305
Kawaguchiko at night

Dan meskipun mendapat rating bagus, ternyata hotel yang kami pesan terletak sedikit agak jauh dari danau dan bahkan berada di ketinggian punggung bukit. Tidak hanya itu, keadaan kamar terasa agak spooky karena penerangan kamar yang temaram. Ditambah cerita anak saya yang sempat melihat ‘sesuatu’ sekelebat lewat. (Aduh… semoga Sadako tidak mencoba-coba menyelinap ya…. hiiii…). Namun karena ada jeritan sang perut yang protes minta diisi, akhirnya kami pun memilih pergi keluar.

Kami berjalan kaki turun ke tepi danau sambil membayangkan beratnya jalan pulang yang menanjak. Tak banyak pilihan, kami berhenti di restoran pertama yang paling kelihatannya menggoda. Ternyata pilihan restoran itu sangat tepat karena makanannya enak dan harganya terjangkau. Bahkan kami sempat berbincang-bincang akrab dengan sesama warga Indonesia yang juga sedang berkunjung ke Kawaguchiko. Rasanya tanah air yang terpisah ribuan kilometer itu saat itu menjadi sangat dekat.

Perjalanan menanjak kembali ke hotel setelah makan malam itu, dilakukan dengan santai tanpa terlihat ada penduduk lokal. Sepi. Dan seperti biasa, saat jalan menanjak saya selalu memegang posisi juru kunci. Kadang didorong, kadang ditarik. Sepertinya sampai di hotel, mungkin saya akan lapar lagi 😀

Kami tak langsung masuk ke kamar, tetapi mengamati keindahan malam di halaman hotel. Sepi namun terasa damai. Bintang-bintang menghias malam. Angin danau terasa menyapa wajah. Seseorang dari hotel memberitahu kami bahwa kerlip-kerlip yang letaknya tinggi namun bukan di langit itu, adalah lampu-lampu penginapan di sepanjang jalur pendakian Gunung Fuji. Saya terperangah, tak pernah terbayangkan jalur pendakian Gunung Fuji bisa terlihat dengan mata telanjang pada malam hari.

Tak bisa berlama-lama menikmati keindahan malam, kami segera menuju kamar untuk beristirahat karena jadwal yang ketat keesokan harinya. Tetapi saya pribadi, memiliki satu keinginan untuk merasakan hari berganti pagi di Kawaguchiko.

IMG_1327
Mt. Fuji & Kawaguchiko Lake at Summer

Dan pagi pun datang dengan amat manis…

Waktu setempat belum menunjuk ke pukul enam, tetapi pemandangan sekitar sudah begitu indah. Gunung Fuji memenuhi janji untuk tampil apa adanya pada musim panas, begitu gamblang, tanpa bersolek salju pada puncaknya. Tampak sangat berbeda dari tampilannya pada musim-musim lainnya.

Dan keheningan pagi menjadi lebih lengkap dengan keadaan danau yang tenang, tanpa siapapun di sana. Berlatar Gunung Fuji yang puncaknya terpapar matahari yang bergerak naik membuka hari. Tanpa suara menjadikan indahnya sepi yang luar biasa.

Tapi roda kehidupan tak pernah berhenti. Perlahan tapi pasti kehidupan di Kawaguchiko merekah. Rasanya baru sekejap mata saya melepas pandangan dari arah danau untuk menikmati Gunung Fuji, namun dari arah tengah danau tiba-tiba saya melihat sendiri ada sebuah perahu. Entah dari mana datangnya. Bisa jadi saya tak melihat kedatangannya atau suara mesinnya tak sampai di telinga.

Seseorang di dalam perahu. Sendiri, di tengah-tengah danau, di pagi hari.

Entah apa yang dikerjakan, sepertinya penting. Tetapi saya membayangkan betapa indah dan luar biasa rasanya dia di sana. Di tengah luasnya Danau Kawaguchi, dia satu-satunya yang bisa menikmati indahnya riak danau.

Saya tak berani untuk berlaku iri padanya, karena begitu banyak nikmat keindahan yang sudah saya terima pada pagi hari ini.

IMG_1342
Serenity in the middle of the Kawaguchiko lake

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-26 ini bertema Serenity agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Marumado, Jendela Jepang Yang Mempercantik Pandang


Bulan Maret lalu, saya meluangkan waktu jalan-jalan ke Singapura dan berkesempatan melakukan hanami, menonton bunga Sakura mekar di Flower Dome, Garden By The Bay. Sebagai bunga nasional Jepang yang sudah terkenal di seluruh dunia dan saat mekarnya tak lama, menyaksikan sakura-sakura bermekaran itu memang sangat ditunggu-tunggu, termasuk saya. Saya belum beruntung untuk bisa hanami langsung di negeri Sakura-nya sendiri, sehingga ketika Garden By The Bay menampilkan bunga Sakura sebagai tema, langsung saja saya mencari tiket pesawat.

Sesampainya di sana, jangan tanya penuhnya seperti apa. Saya baru menyadari karena saat saya berkunjung merupakan minggu-minggu terakhir sebelum Garden By The Bay mengganti tema dan Sakura merupakan salah satu tema yang paling banyak dinantikan sepanjang tahun. Kapan-kapan saya ceritakan mengenai hanami ini.

Karena padatnya pengunjung, saya mencari jalur yang sedikit agak lebih lega meskipun itu artinya juga masih banyak manusia lho. Tak disangka, saya justru mendapatkan tambahan pengetahuan di jalur ini.

Pernah tahu yang namanya Marumado?

Marumado the circular window of Japanese architecture

Mungkin pernah lihat, tetapi tidak tahu namanya. Marumado adalah jendela lingkar yang ada di dalam arsitektur Jepang, yang memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda. Sebagian dibuat menyatu di dalam dinding. Pada Marumado ada yang memiliki kisi-kisi, sementara yang lain ada yang ditutup dengan shouji (tirai) gantung atau tirai geser (bisa satu panel atau dua panel kiri dan kanan). Sampai disini sepertinya sudah terbayang kan?

Marumado kadang disebut pula yoshinomado, tapi jika diameternya lebih dari 1.5 meter, maka disebut oomarumado. Biasanya dibiarkan terbuka tanpa pendukung dan umumnya digunakan untuk menikmati pemandangan dan pencahayaan bangunan. Marumado biasanya ditemukan di bangunan-bangunan bergaya Shoin dan rumah-rumah untuk minum teh. Rumah bergaya Shoin ini merupakan dasar dari rumah-rumah tradisional Jepang sekarang, yang dulu hanya ada pada rumah pejabat militer,atau petinggi dan bangsawan dan pemuka agama.

Marumado biasanya dibuat untuk menghadirkan sepetak pemandangan yang indah dan terkenal atau yang diinginkan. Tetapi Marumado juga bisa dibuat hanya untuk pencahayaan atau sekedar ventilasi udara.

Marumado with Sakura and neighbors
Marumado with Sakura, Mt. Fuji and Shinkansen

Pada saat menikmati Marumado yang ada di Garden By The Bay ini, meskipun kena sikut sana sini dan cukup lama antri untuk bisa dapat satu foto tanpa manusia lain masuk ke dalam frame, sebisa dan secepat mungkin saya mengambil foto-foto tanpa membuat orang lain melotot tak sabar kepada saya.

Saya hanya membayangkan berada di dalam rumah tradisional Jepang dan menikmati keindahan Sakura melalui sebuah Marumado dengan berbagai latar belakang yang terkenal seperti Gunung Fuji, atau Torii yang berwarna merah menyala, atau Osaka Castle? Atau hanya sekedar Sakura yang berbatas dengan rumah tetangga?

Semua Marumado yang dipamerkan menggunakan bunga Sakura asli yang dibonsai, yang dibuat dengan kecermatan yang amat canggih demi sebuah keindahan yang luar biasa.

Berminat untuk memiliki Marumado di rumah Anda?

Marumado with Sakura & Torii
Marumado from with Sakura in the yard
Marumado with Sakura & Osaka Castle as background

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-20 ini bertema Frame agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Api Perdamaian Di Tengah Hujan


Hiroshima Peace Memorial Park
Hiroshima Peace Memorial Park – Do you see the eternal peace flame?

Saya tidak bisa melupakan momen itu, momen melihat api perdamaian di tengah hujan lebat saat berteduh di bawah Sky Bridge Museum Perdamaian Hiroshima. Antara keringat, -karena berlari dari Gedung Atomic Bomb hingga ke Sky Bridge-, dan basah karena kehujanan serta air tampias membuat saya agak kedinginan di tengah musim panas itu. Angin berhembus cukup kuat di bawah Sky Bridge, tapi saya tetap terpaku pada apa yang saya lihat. Api Perdamaian yang tetap menyala meskipun di tengah hujan lebat, dan bisa terlihat meskipun saya berjarak cukup jauh dari api perdamaian itu.

Hujan membuat saya berpikir lebih dalam di tempat saya berdiri, yang 71 tahun lalu rata dengan tanah karena di bom atom. Disini, di tempat saya berdiri, merupakan ground-zero, tempat yang semuanya pernah musnah dalam sekejap, apalagi manusia yang hidup di dalamnya. Namun dari Hiroshima dan Nagasaki, dunia belajar mengatasi kecintaan manusia kepada kekuasaan, Seperti kata Jimi Hendrix,

When the power of love overcomes the love of power, the world will know peace

Di tempat saya berdiri, empat unsur kehidupan seakan sedang berlomba menunjukkan diri di panggung. Udara yang menyediakan ruangnya, Tanah yang menyediakan tempat berpijaknya, Api yang menyala serta Air hujan yang turun dari langit. Di tempat yang berpuluh-puluh tahun lalu hancur luluh lantak akibat keserakahan manusia dan dunia perlu waktu yang sangat lama (hingga kini masih) untuk bisa mengatasinya. Dan saya terperangah saat mencoba memahami maknanya

Api dan Air, dua elemen kehidupan yang sepertinya berpunggungan. Seperti diri dan bayangan, dua bagian dari yang satu, tapi tetap terpisahkan. Tetapi, kedua unsur itu juga merupakan unsur dinamika, unsur perubahan yang selalu dinamis. Dan bersama elemen lainnya, membuat kehidupan itu bergulir dengan segala bentuk dinamikanya.

Saya terpesona saat Semesta menghamparkan pembelajaran di depan mata. Berpuluh tahun silam, perdamaian diluluhlantakan di ground-zero ini oleh manusia-manusia haus kuasa, memenangkan api dengan menjatuhkan bom atom yang membakar, dan mereka yang sempat tersisa mencoba hidup mencari air yang tinggal sedikit di tengah udara yang tak lagi bersih. Dan bumi menangis.

Dan 71 tahun kemudian, saat saya berdiri di ground-zero itu, Hujan lebat turun dari langit, Alam tak menghendaki api abadi perdamaian itu meredup dan mati, Api itu tetap menyala, sebagai simbol, dua yang satu, yang tidak memenangkan satu unsur terhadap yang lain.

Api yang menyala terus itu simbol perdamaian, salah satu elemen hidup yang sepenting empat unsur lain dalam kehidupan, -Udara, Air, Api, Tanah-, yang seharusnya terus menyala dalam setiap jiwa manusia. Sayangnya, perdamaian merupakan unsur yang paling sering dan paling mudah dirusak manusia.

Peace is one of life’s most vital element that is as important as air, water, fire or earth. Unfortunately, it is the most undermined, but yet inevitable (Ayeni Solomon Ayodele)

Saat itu, sepertinya saya tak ingin hujan berhenti. Rasanya terlalu indah menyaksikan pemandangan api yang terus menyala di tengah hujan lebat. Bagi saya, saat itu sangat menggetarkan jiwa. Bisa jadi karena tempatnya, atau karena momentumnya.

Lalu, seakan ditunaikan, keinginan saya agar hujan tak berhenti langsung diwujudkan dalam penggambaran mini. Di kaki air hujan yang tak tertampung drainase mulai mengalir membasahi area dan membuat genangan kecil. Saya terperanjat, menyadari kesalahan berkeinginan, Air, seperti juga api, bila tak terkendali dalam keseimbangan, bisa sangat merusak.

Dan dalam banyak hal, seringkali manusia penyebabnya.



Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-10 ini bertemakan Hujan agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Red Torii In Tokyo


Siapa yang tidak kenal dengan Fushimi Inari Taisha di Kyoto yang mendunia gara-gara rangkaian ratusan torii merah memikat dan kontras yang didirikan begitu dekat satu sama lain hingga membentuk sebuah terowongan torii?

Nah, saya ini termasuk orang yang sangat suka dengan torii yang warnanya eye-catching itu atau bentuk torii-nya yang tidak biasa. Di gerbang utama Kuil Fushimi Inari Taisha di Kyoto, saya disambut dengan torii merah yang sangat besar dan tentunya di bagian belakang merupakan tempat rangkaian ratusan hingga ribuan torii yang membentuk sebuah terowongan  hingga ke atas bukit.

Tetapi tidak selamanya bisa ke Kyoto, tempat Kuil Fushimi Inari Taisha yang terkenal itu. Beruntung apabila kita mendarat di Osaka, karena jarak Osaka – Kyoto tidak terlalu jauh. Bagaimana jika kita hanya bisa berkelana di Tokyo dan sekitarnya? Dan bukan ke Kyoto yang berjarak lebih dari 500 km dari Tokyo (dan mahal juga kalau mau memaksa pergi ke kota itu, naik shinkansen 2,5 jam saja perlu mengeluarkan uang lebih dari ¥13,000 sekali jalan, kalau naik bus bisa semalaman 10 jam dari ¥4.000 – ¥12,000, apalagi kalau naik pesawat, mau tidak mau harus mendarat di Osaka sehingga perlu mengeluarkan uang lagi untuk ke Kyoto). Lalu apakah di kuil-kuil Tokyo tidak ada rangkaian torii yang membentuk terowongan? Dan karena alasan itulah, akhirnya saya mencari informasi. Dan ketemu…

Di Tokyo, saya menemukan rangkaian torii yang membentuk terowongan itu di Kuil Hie-Jinja di daerah Akasaka. Walaupun tidak sepanjang dan sebanyak torii yang ada di Fushimi Inari Taisha di Kyoto, minimal tempat ini bisa menghibur hati untuk berada di bawah torii merah 🙂

Dari wikipedia, saya juga baru tahu bahwa torii secara harafiah berarti rumah burung (kalau begitu, saya burung dong kalau berada di bawahnya? 😀 )  Namun sesungguhnya, torii adalah gerbang tradisional Jepang yang umum terlihat di Kuil Shinto, -tempat ibadah salah satu agama yang banyak penganutnya di Jepang-, yang merupakan batas antara wilayah umum yang tidak suci dengan wilayah suci kuil.

Nah, dengan informasi itu saya juga baru menyadari, bahwa kalau kita melihat sebuah Torii, -terbuat dari beton atau kayu-, hal itu berarti kita mendekati suatu Kuil Shinto dan bukan Kuil Buddha. Saya jadi mengingat-ingat apakah saya melalui torii saat mengunjungi kuil-kuil Buddha di Jepang. Akhirnya saya memperkirakan, semua itu mungkin hanya penamaan atau bentuknya saja, namun fungsi harusnya tetap sama, sebagai pembatas atau gerbang antara wilayah umum dan wilayah suci. Bukankah di setiap tempat ibadah ada pembatas itu?

Tetapi ternyata torii tidak hanya sebagai pembatas, karena setahu saya, tidak sedikit torii didirikan di kuil-kuil sebagai persembahan rasa syukur dan terima kasih oleh orang-orang atau perusahaan yang sukses. Dan serangkaian torii itu berwarna merah keoranyean itu kini menjadi daya tarik tersendiri di kuil-kuil  bagi para wisatawan, termasuk saya.

IMG_1106
Torii in Hie Jinja Shrine

Aslinya torii terbuat dari kayu dan diberi cat berwarna merah keoranyean (vermilion), kecuali bagian atas (dikenal dengan sebutan kasagi) dan bagian kaki (dikenal dengan sebutan nemaki) dicat warna hitam, walaupun tidak semua torii memiliki bagian atas (kasagi) yang dicat hitam itu.

Dan warna merah pada torii atau dikenal dengan Aka, -walaupun tidak selalu sama tingkatan merahnya-, memiliki tujuan yang sama di semua kuil, yakni sebagai perlindungan dari semua bentuk kejahatan dan musibah. Selain itu warna merah dipercaya menambah kekuatan dari tokoh yang dipuja di kuil tersebut.

Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, saya menemukan rangkaian torii yang membentuk terowongan di kuil Hie Jinja di daerah Akasaka Tokyo, diantara gedung-gedung tinggi. (Sebenarnya ada lagi di Nezu Shrine tak jauh dari Stasiun Subway Nezu. Atau di Kuil Anamori Inari di kota Haneda).

Untuk mencapai Kuil Hie Jinja, sebenarnya tersedia banyak akses, tetapi saya lebih suka turun di Stasiun Akasaka-mitsuke (pakai jalur kereta Ginza G5 atau jalur kereta Marunouchi M11), karena keluar dari stasiun tinggal menyusuri jalan besar hingga mencapai torii batu yang sangat besar lalu berjalan sedikit ke kiri kemudian naik tangga. Jadi saya memasuki wilayah kuil melalui pintu belakang dan dari situ lebih dekat ke rangkaian torii yang menyerupai terowongan itu. Jadi jangan kecil hati kalau hanya bisa berkunjung ke Tokyo namun punya keinginan untuk foto di rangkaian torii.

Dan kalau beruntung bisa juga melihat photo sessions dengan pengantin disini juga lho… atau mau buat photo prewed disini? Silakan…. 😀


Sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-4 ini bertemakan Merah, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Semangat Bushido dan Isagiyosa 47 Ronin di Sengakuji


Hanya dua hari setelah Papa berpulang, dengan berbagai rasa, -antara getir duka kehilangan dan rasa harus bertahan untuk menghidupkan cintanya-, saya menjejak di Sengakuji, sebuah kawasan di Tokyo Selatan yang terkenal sebagai tempat pemakaman 47 Ronin (Masterless Samurai) yang kisahnya telah melegenda.

Sejak pertama kali ke Jepang, saya ingin sekali mengunjungi Sengakuji, tetapi entah kenapa selalu gagal. Dan kali ini, dengan situasi hati yang tidak karuan, saya justru mendapat kesempatan mengunjunginya. Bisa jadi Semesta memang membukakan kesempatan saat ini, tepat sesuai dengan situasi hati.

Begitu memasuki halaman Kuil Sengakuji, saya mendapat hadiah pemandangan pohon berdaun merah khas musim gugur yang sudah jarang terlihat di akhir Desember. Hati terasa menghangat, alam pun serasa mengetahui hati yang berduka dan ingin menghibur dengan menyuguhkan warna musim gugur kesukaan saya diantara pohon-pohon yang tinggal ranting. Sambutan alam yang terasa begitu menenteramkan, begitu luar biasa berada dalam harmoni alam.

Tak seperti biasanya, – karena kuil saya skip-, kali ini saya langsung menuju area pemakaman 47 Ronin yang terletak di tenggara kuil. Sementara kaki melangkah, benak saya seperti memutar kembali film yang dibintangi Keanu Reeves, 47 Ronin, sebuah film yang mengadopsi cerita ‘Insiden Chushingura’ ini yang dipadu paksa dengan fiksi ajaib yang kontras dengan semangat orisinalnya. Meskipun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa film ini juga membantu mengenalkan Sengakuji ke sudut-sudut dunia.

Sesungguhnya Sengakuji, -dengan ‘Insiden Chushingura’ yang membuat terkenal 47 Ronin-, menjadi tempat mengenang berkobarnya Semangat Bushido, yang diteladani hingga kini oleh warga Jepang. Bushido merupakan kode etik atau nilai-nilai moral seorang Samurai Jepang yang mencakup kesederhanaan, kesetiaan, keahlian seni bela diri dan kehormatan.

Kisah Insiden Chushingura

Di tempat ini, di Sengakuji, menjadi saksi nilai-nilai Bushido dari 47 Ronin sebagai Samurai Tak Bertuan (Masterless Samurai) dijunjung tinggi.

Kisahnya berawal dari perintah Shogun Tokugawa ke-5 Tsunayoshi kepada Asano Naganori bergelar Takuminokami Naganori, -seorang daimyo (penguasa) muda wilayah Ako-, untuk menyambut Kira Yoshinaka bergelar Kozukenosuke di Istana Edo tahun 1701. Mungkin merasa lebih senior, -dua kali usianya dari Asano-, dan menganggap penting posisinya sebagai utusan resmi Shogun, Kira Yoshinaka berkali-kali memperlakukan Asano tidak dengan hormat dan merendahkan kehormatan daimyo muda itu. Bisa jadi Asano tidak terima direndahkan dan dihina berulang kali serta mungkin juga tak terbiasa protokol resmi di Istana Edo, sehingga Daimyo muda itu menghunus pedangnya dan melukai Kira walaupun tak sampai menewaskan. Tindakan seperti itu sangat dilarang di dalam Istana Edo pada waktu itu. Akibatnya jelas, Asano ditangkap dan dihukum.

DSC06764
The grave of Asano Naganori

Atas kesalahan Asano, -meskipun tanpa investigasi yang tepat-, serta untuk mengingat kehormatannya sebagai seorang Samurai, Shogun Tokugawa Tsunayoshi menghukum Asano untuk melakukan Seppuku (hara-kiri, sebuah ritual ksatria untuk mengakhiri hidup secara terhormat) di taman, di luar kediaman Tamura Ukyodayu di wilayah Shinbashi. Sesungguhnya saat itu, melakukan seppuku di luar rumah hanya untuk penjahat dan sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang daimyo seperti Asano. Lebih jauh lagi, tanah Asano di Ako disita dan garis keluarganya diturunkan dari jajaran kebangsawanan.

Kemudian masih ditambah dengan adanya keputusan Shogun yang menyatakan klan Ako kehilangan hak untuk membangun kembali struktur kelompoknya. Sungguh kekecewaan memenuhi para samurai pengikut Asano yang kini menjadi Ronin (Samurai Tak Bertuan) setelah Asano melakukan seppuku. Rasa ketidakadilan ini menyebar ke rakyat yang diam-diam mendukung para Ronin. Dukungan tidak bisa terbuka  karena Shogun Tsunayoshi ditakuti atas kerasnya hukuman.

Dan di sisi lain, Kira Yoshinaka, -yang melakukan penghinaan terus menerus terhadap Asano dan penghinaan saat itu juga merupakan tindakan yang dilarang di Istana Edo-, tidak mendapat sanksi apapun dari Shogun. Keputusan Shogun tidak memberi sanksi kepada Kira disinyalir dipengaruhi oleh Yanagisawa Yoshiyasu, salah satu pembantu dekat Shogun yang berkuasa di belakang layar dan memiliki hubungan baik dengan Kira Yoshinaka. Bahkan, satu-satunya hukuman bagi Kira, -jika itu sebuah hukuman-, adalah diperbolehkan pensiun dini. Kemudian ia membangun kediaman baru yang luas di Honjo-Matsuzaka, dekat Istana Edo.

Waktu berjalan terus… Ke-47 Ronin yang kehilangan Asano, tetap menjalani hidup sesuai Bushido, terus menjiwainya, -sederhana, santun menjaga kehormatan, cermat dengan keahlian dan setia-. Dipimpin oleh mantan pemimpin kelompoknya, Oishi Kuranosuke, mereka merencanakan melakukan tindakan balasan terhadap apa yang dilakukan Kira kepada Asano. Berbulan-bulan mereka mengumpulkan informasi mengenai Kira, kediamannya yang berupa benteng, juga menyamar berbagai profesi dan saling bertemu untuk bertukar informasi.

DSC06770
The grave of Oishi Kuranosuke

Lalu tanggal 14 Desember 1702 di Edo yang tertutup salju, setahun setelah kematian Asano, junjungan mereka, terjadi sebuah peristiwa yang meletupkan esensi jiwa Samurai.

Para Ronin dari Ako itu berkumpul dekat kediaman Kira dan memberitahukan rencana penyerangan itu ke Tsuchiya Chikara, -tetangga Kira-, untuk membalaskan tindakan atas Asano dan memohon tidak mencampuri penyerangan ini. Tsuchiya memahami dan menyaksikan penyerangan yang berlangsung 2 jam dan selesai sebelum fajar. Seluruh Ronin selamat dan Kira terbunuh dengan kepala terpenggal, dengan belasan lainnya dari pihak Kira tewas serta puluhan lainnya luka-luka.

Dari rumah Kira, para Ronin berbaris menuju Kuil Sengakuji, tempat Asano dimakamkan dan membawa kepala Kira sebagai persembahan kesetiaan mereka kepada Asano dan pengembalian kehormatan Asano, yang dahulu mengalami penghinaan. Setelah upacara penghormatan di makam Asano di Sengakuji, para Ronin menyerahkan diri secara sukarela dan tertib kepada otoritas Shogun. Berita itu cepat tersebar ke seluruh Edo, termasuk Shogun Tsunayoshi sendiri, yang memuji kesetiaan mereka kepada Asano Naganori.

Meskipun rakyat mendukung untuk tujuan para Ronin serta mendapat simpati dari Shogun, bagaimanapun hukum harus ditegakkan. Sambil menunggu keputusan, para Ronin menjadi tahanan rumah dan ditempatkan di empat kediaman daimyo di luar Istana, yaitu di kediaman Hosokawa Tsunatoshi (dari Kumamoto), di kediaman Matsudaira Sadanao (dari Matsuyama), di kediaman Mori Tsunamoto (dari Choshu) dan di kediaman Mizuno Tadayuki (dari Okazaki).

Sementara di Istana, melalui pertimbangan cermat oleh pejabat senior yang juga mendengar dari Tsuchiya Chikara, -tetangga Kira-, disimpulkan serangan itu ditafsirkan sebagai tindakan berbasis kebenaran, namun sayangnya beralasan pribadi, tanpa persetujuan Shogun. Dengan demikian, untuk tindakan demi kebenaran itu, Shogun memerintahkan mereka melakukan seppuku – tindakan ritual mengakhiri hidup secara ksatria dan terhormat.

Akhirnya, pada tanggal 4 Februari 1703, hampir dua tahun setelah insiden awal, para Ronin serentak mengakhiri hidup mereka masing-masing di kediaman tempat mereka ditampung. Oishi Kuranosuke berusia 45 tahun, sementara putranya, Chikara, yang termuda, berusia 16 tahun. Ronin tertua adalah Horibe Yahei, berusia 77. Tubuh-tubuh mereka diabadikan di samping makam Asano Naganori di halaman Kuil Sengakuji. Dan peristiwa ini diingat sebagai insiden paling sensasional dalam Era Genroku (1688-1704), salah satu masa paling berbudaya di Zaman Edo (1603-1867).

Hukum dan Jalan Kebenaran

Rupanya Instruksi Shogun kepada Ronin untuk menjalankan Seppuku banyak dipengaruhi oleh Ogyu Sorai, seorang filsuf Jepang terkenal saat itu, yang membuat saya menerima sebuah pemahaman di Sengakuji. Bahwa meskipun 47 Ronin telah memilih Jalan Kebenaran dalam jiwanya, bagaimana pun hukum harus berlaku terhadap mereka, -yang tidak berada di atas hukum-, karena hukum merupakan tolok ukur untuk seluruh negeri.

Ada sebuah kalimat yang begitu menyentuh rasa dalam menentukan awal pemikiran tentang hukuman ini dari Ogyu Sorai,

A man controls his heart with decorum and his actions with righteousness

Seorang pria mengendalikan hatinya dengan kesantunan dan tindakannya dengan kebenaran

Para Samurai yang terkait dengan tindakan balas ini menganggap Kira sebagai musuh mereka karena Asano Naganori dihukum karena tindakan tidak terpujinya di Istana Edo dan mereka sengaja merencanakan tindakan pembalasan tanpa persetujuan dari Istana. Dalam hal ini Istana tidak dapat menoleransi tindakan mereka yang berseberangan dengan hukum.

Jika seluruh samurai dinyatakan bersalah dan dihukum untuk melakukan seppuku, -sesuai tradisi samurai-, maka tuntutan keluarga Uesugi (isteri dari Kira) akan terpenuhi dan kehormatan serta kesetiaan para samurai tetap terjaga.

Hal ini harus dilihat sebagai prinsip umum. Jika prinsip umum dikalahkan oleh pengecualian khusus, maka tidak akan ada lagi rasa hormat terhadap hukum di negara ini.

DSC06771
Another angle of the graves of the loyal retainers

Isagiyosa

Sambil melangkah menyusuri satu per satu tonggak nisan mereka, saya mengingat-ingat salah satu aspek yang dikagumi dari para Ronin dari Ako ini. Karena mereka menunjukkan isagiyosa, sebuah kebajikan yang bermakna mampu menyambut kematian dengan ketenangan yang mendalam dan penuh kebanggaan, untuk sebuah akhir yang baik.

Serangan ke rumah Kira itu memang direncanakan cermat, penuh perhitungan, tidak mendadak dan para Ronin tahu bahwa mereka menghadapi kematian. Ketika waktu mereka tiba, mereka melakukannya dengan anggun dengan bangga, sebagai samurai. Mengetahui ini, hati saya langsung meluruh saat itu, mengingat ayah yang baru dua hari sebelumnya berpulang.

Semesta membuat saya yang saat itu sedang berduka untuk menjejak Sengakuji, dengan aliran kisahnya yang begitu mengagumkan, tentang kesetiaan pada kebenaran, keadilan, tentang kesederhanaan dan membela kehormatan serta mengakhiri semuanya dengan ketenangan yang mendalam dan kebanggaan. Fulfilled. Penuh, lengkap. Akhir yang baik… dan saya menitikkan airmata mengingat ayah saya… Semoga ayah mengakhirinya dengan ketenangan dan fulfilled, dengan baik… Seperti para Samurai di Sengakuji ini.

Dan saya terharu lagi saat menuliskan paragraf ini, lagi-lagi karena mengingat ayah saya (maaf ya). Ke-47 Ronin itu serupa bunga Sakura, yang di Jepang menjadi simbol Isagiyosa, sebuah kebajikan yang indah, -anggun namun fana-, sesaat mekar dalam waktunya lalu gugur sesuai takdirnya. Ke-47 Ronin menunjukkan Isagiyosa, mereka merangkul kefanaan dunia. Mereka yang melewati gerbang kematian dengan ketenangan dan kebanggaan atas kebenaran yang diyakininya. Manusia yang menyelesaikan tugasnya dan mengakhirinya dengan baik.

Sungguh Yang Maha Kuasa mempunyai cara yang amat indah menjelaskan berpulangnya ayah saya dan mengapa saya berada disini, di Sengakuji. RencanaNya selalu indah, selalu tepat pada waktunya.

DSC06769
The graves of Loyal Retainers

*****

Sejak kejadian tiga abad lalu hingga kini, berbagai drama populer dan Kabuki dibuat dengan tema mengenai Insiden Chushingura yang menyentuh hati ini. Dan setiap 14 Desember di Sengakuji selalu diadakan 47 Ronin Ako Festival.

Untuk mengakses Sengakuji Temple: Gunakan Jalur Subway Asakusa hingga Stasiun Sengakuji. Dari Stasiun tinggal jalan kaki sekitar 5 menit menanjak landai.

~~~~~~~

Sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-4 ini bertemakan Semangat, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…