Oh Deer, I Love You So


Sebagai penggemar world heritage, dalam perjalanan perdana ke Jepang tahun 2013 (wow… sudah tujuh tahun lalu!) saya menyempatkan diri ke Nara, sebuah kawasan yang terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site di Prefektur Kansai, Jepang. Nara sendiri pada masa 710 – 784 Masehi menjadi ibukota Jepang sesuai dengan domisili sang Kaisar.

Namun untuk mencapai Nara yang menyimpan banyak hal yang luarbiasa, saya perlu sedikit perhitungan. Sebagai pengguna JR Pass dan terlalu pelit untuk mengeluarkan dana lagi, saya hanya menggunakan kereta JR untuk sampai ke Stasiun Nara lalu jalan kaki sekitar 30 menit dari stasiun kereta hingga ke Kuil Utama Todaiji yang menyimpan Daibutsu (Patung Buddha Raksasa) yang terkenal. Meskipun jelang akhir musim semi yang udaranya masih cukup sejuk, rasanya lelah juga berjalan kaki sejauh lebih dari 5 km bolak-balik itu, sendirian lagi!

Namun selalu ada untungnya. Meskipun jaraknya cukup jauh, di tengah perjalanan pasti saja ada yang menarik untuk dinikmati. Ada kuil Kofukuji yang memiliki Pagoda lima tingkat yang cukup menekan pegalnya kaki. Lalu setelahnya, ada taman dengan begitu banyak pepohonan yang meneduhkan. Di beberapa sudut masih ada daun-daun yang tumbuh salah musim karena berwarna merah dan kuning seperti musim gugur.

Jelang gerbang kuil Todaiji saya disuguhi pemandangan yang membuat saya tersenyum lebar. Nara Park lengkap dengan rusa-rusanya yang bebas berkeliaran. Seperti di Istana Bogor dengan rusa tutulnya. Bedanya, di Nara pengunjung bisa langsung berinteraksi dengan sang rusa tanpa dibatasi pagar pembatas.

Dan di sana saya melihat aliran kasih sayang. Saya mendekat kepadanya.

Beberapa keluarga lengkap dengan anak-anaknya mengelilingi seekor rusa. Begitu dekat, begitu jinak. Bukankah seekor rusa juga memiliki ayah, ibu dan anak-anaknya? bukankah mereka juga makhluk yang memiliki hidup?

Tak lama kemudian seorang laki-laki yang tampaknya adalah sang kepala keluarga terlihat mengarahkan tangan kecil anaknya ke dekat mulut rusa, memberi makan sang rusa yang dengan lembutnya menerima makanan dari tangan si kecil lalu mengunyahnya dengan antusias. Anak-anak lain yang menyaksikan menahan nafas, begitu antusias mengamati pemberian makanan itu kemudian serta merta menjadi gembira dan bahagia ketika sang anak kecil berhasil memberi makan sang rusa. Horee… Ah sepertinya sang rusa juga merasa gembira.

Saya melanjutkan perjalanan tapi tak jauh dari sana pemandangan serupa juga terjadi.

IMG_8395
Here… I give you

Kali ini saya lebih mendekat pada sang rusa dan anak-anak yang berkumpul di dekatnya. Ada seorang dewasa yang memberi contoh memberi makan kepada sang rusa dari arah kanan sang rusa namun pada saat bersamaan ada anak kecil lainnya mengangsurkan makanan di sebelah kiri sang rusa. Ah, sang rusa agak sedikit bingung untuk menyenangkan dua hati yang memberikan makanan kepadanya. Tetapi dari matanya yang melihat ke kiri, sepertinya sang rusa mengetahui ada kebaikan hati di sisi kirinya dan dengan segera ia menoleh ke arah kiri. Bukankah kasih sayang itu harus disambut dengan rasa syukur?

IMG_8397
So close

Dan lihatlah ada tangan lain yang mengangsurkan makanan dan tentu saja sang rusa mendekatinya dan langsung mengambilnya dari telapak tangan pemberinya. Yang memberi dan yang menerima terlihat senang. Dan semua proses itu disaksikan oleh anak-anak yang berdiri sangat dekat dengan sang rusa. Mereka pun belajar untuk bergantian memberi makanan kepada sang rusa, belajar sabar menunggu giliran, satu kebiasaan yang harus dijiwai sejak anak-anak. Mereka, anak-anak calon pemimpin masa depan itu telah berlatih sabar bahwa membiarkan orang lain berbahagia juga akan menularkan rasa bahagia. Bukankah mereka sendiri menyaksikan dan mengalami bahwa ketika kawan mereka memberi makan kepada sang rusa, hal itu akan menggembirakan kawannya juga dan sang rusa itu sendiri? Bukankah semuanya menjadi berbahagia?

IMG_8396
I can lean on you

Dan lihatlah, ada seorang anak yang begitu menyatunya dengan sang rusa. Ia meletakkan tangannya di atas punggung rusa dengan penuh kasih sayang dan percaya penuh. Seakan bulu-bulu lembut sang rusa adalah tempat bersandarnya yang paling nyaman. Sang rusa pun tidak bergerak sedikitpun merasakan tangan dan jemari kecil itu berada di punggungnya. Dia biarkan tangan itu mengelusnya, menepuk-nepuknya dengan penuh kasih sayang.

<>

Ada sejumput rasa yang memenuhi hati menyaksikan semua yang terjadi di hadapan. Sebuah aliran kasih sayang dan makna cinta yang sesungguhnya.

Hanya ada ketulusan.

Love needs no words. It only needs sincere demonstration.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-9 ini bertema Kids agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Light Up The Darkness


Sebagai penggemar segala bentuk cahaya lembut dalam suasana temaram, saya mudah sekali tertarik lalu berhenti untuk mengabadikannya, ataupun kalau situasi tidak memungkinkan, biasanya lampu-lampu itu mampu membuat kepala saya menoleh dengan mata terbuka lebar dan pastinya hatinya melonjak gembira. Entah kenapa, saya benar-benar suka! Kalau malam kepala masih mumet di kantor, salah satu cara efektif menetralkannya adalah mendatangi jendela lalu melihat lampu-lampu mobil yang terjebak kemacetan atau melihat ke gedung-gedung seberang, ke arah lampu-lampu yang menyala. Seakan cahaya-cahaya itu memberi ketenangan dan memberi lambang sebagai harapan dalam kegelapan (hehehe agak lebay kali ya…).

Sampai sekarang, saya sudah bisa terpukau bahagia kalau diajak jalan naik mobil keliling kota hanya untuk menyaksikan keindahan lampu hiasan di jalan. Bahkan lihat lampu-lampu hiasan sesuai tema yang dipasang di mal-mal juga bisa membuat saya terpesona. Apalagi bulan Desember, seperti sekarang, kota-kota biasanya didandani dengan cantik menyambut Natal dan Tahun Baru. Duh, saya jadi suka jalan-jalan untuk melihat-lihat itu. Bahagia itu sederhana ya…

deepavalisg
Little India, Singapore

SINGAPORE

Pernah beberapa tahun lalu, saya mendadak mengambil cuti dua hari ke Singapura pada tengah minggu hanya untuk melihat kemeriahan festival Deepavali di kawasan Little India di negeri singa itu. Dan saya bisa begitu nekadnya untuk mengabadikan hiasan-hiasan itu, hingga saya menyeberang jalan, lalu mengambil foto di tengah jalan sampai lampu lalu linatas berganti hijau (dan sampai diklakson supaya minggir 😀 😀 ) Tidak sendirian sih, karena banyak juga yang segila saya hahaha…

Singapura berhias tak hanya untuk Deepavali Festival, melainkan Natal sampai Tahun Baru pun juga. Salah satunya adalah di Orchard Road yang penuh dengan hiasan-hiasan.

orchard
Orchard Road, Singapore

Tidak hanya di atas jalan, pohon-pohon pun didandani. Dan yang memanjakan mata adalah dandanannya selalu cantik, tidak asal-asalan (karena pernah dulu di dekat Monas, saya pernah melihat hiasan lampu-lampu itu dibuat asal nemplok, sungguh membuat ilfil!) Dan semua itu gratis tanpa dipungut bayar. Syaratnya cuma satu, asal kuat jalan saja hehehe… Lihat saja bagaimana kita bisa menyaksikan keindahan permainan lampu Super Trees di Garden By The Bay. Sambil mendengar musik yang penuh semangat, mata juga dimanjakan. Rasanya bisa dibilang, semua itu menjadi makanan untuk jiwa dan panca indera.

– § –

TOKYO

Tidak jauh berbeda dengan Singapura, Tokyo di Jepang berdandan menyambut kemeriahan Natal dan Tahun Baru. Tetapi entah kenapa, saya merasa hiasan lampu-lampu yang ada di Tokyo itu jauh lebih banyak dan lebih menakjubkan. Bisa jadi karena memang hampir di semua tempat di kota itu didandani dengan hiasan lampu-lampu. Tidak perlu jauh berjalan, pasti ada kawasan cantik yang penuh hiasan, bahkan pedestrian biasa selalu ada spot-spot yang dihias dengan lampu-lampu. Saya sempat berpikir, budget untuk dandanan kota seperti ini pastinya besar karena perlu listrik. Namun rasanya untuk dua kota terkenal yang saya sebutkan di atas, seperti Singapura dan Tokyo, tentu dana tersebut sudah dialokasikan dengan baik. Bagaimana ya di Indonesia? Jangan-jangan kita masih akan sibuk berdebat soal boleh atau tidaknya untuk segala sesuatu, termasuk hiasan-hiasan kota.

Ketika tahun 2016 suami dan saya pergi ke Tokyo untuk honeymoon kesekian kalinya, kami menikmati suasana Tokyo yang sudah berdandan, padahal waktu itu baru awal Desember dan musim gugur belum tuntas berakhir. Dan kami, -sebenarnya saya sih yang lebih terpesona dengan lampu-lampu itu-, menikmati pertunjukkan di Caretta Shiodome yang lagi-lagi gratis.

carettatokyo
Caretta Shiodome, Tokyo

Bagi yang hendak menikmati keindahan malam di Tokyo, puncaknya memang terjadi di minggu-minggu terakhir bulan Desember hingga ke awal bulan Januari. Suasananya sangat menyenangkan, dimana-mana ada aura cinta dan romantisme karena banyak sekali pasangan yang saling bermesraan. Tawa gembira selalu terdengar dimana-mana. Benar kata sebuah lirik lagu, Love is in the air…

Seperti saat ke Blue Cave di Shibuya, Tokyo di kesempatan yang berbeda, di bawah naungan kerlip lampu-lampu  berwarna biru itu, saya secara otomatis dirangkul oleh sang suami, padahal saat itu situasinya padat oleh manusia. Siapa sih yang tidak merasa terpesona berjalan di “terowongan” panjang berpendar warna biru dari hiasan-hiasan yang membalut batang dan ranting pohon? Ah, rasanya saya kembali menjadi remaja… :p

Tapi bagi pecinta hiasan-hiasan cahaya lampu, Blue Cave di Shibuya termasuk salah satu tempat yang harus didatangi saat melakukan perjalanan ke Tokyo. Semakin ke arah depan, sebenarnya semakin indah dengan kolam di tengah efek pantulan. Sayangnya kami saat itu harus kembali.

blue cave shibuya tokyo
Blue Cave at Shibuya, Tokyo

Tidak jauh dari sana, di kawasan Shinjuku yang super sibuk, tetap dihiasi oleh cahaya lampu. Pokoknya kemana-mana pastinya mata ini menangkap hiasan lampu yang cantik. Bahkan kami memilih makan malam di outdoor berpayung langit, -meskipun berbalut jaket karena udara sudah cukup dingin-, sambil menikmati pemandangan indah di kegelapan malam dan mengistirahatkan kaki yang pegal.

Selesai bersantap malam, kami jalan-jalan di antara lampu-lampu itu. Luar biasa, karena lampu-lampu itu diletakkan menghias seluruh gundukan tanah. Rasanya berjalan melayang di dunia mimpi yang magis tak nyata.  Saya sungguh mengagumi para pendekor kota yang benar-benar telah bekerja keras mempercantik kotanya, memberikan cahaya ke sudut-sudut kotanya, memberikan yang terbaik kepada siapapun yang melihatnya, turis maupun orang lokal. 

Bahkan di Yokohama, sekitar 50 menit berkereta dari Tokyo, saya melihat juga lampu-lampu yang memenuhi area serupa sebuah teater yang cekung. Melihat ini saya jadi ingin tahu apa yang sesungguhnya ada di pikiran orang-orang Jepang yang kebagian menghias itu.

Mungkin sedikit gila, dalam artian yang positif. 

Bisa jadi mereka juga sangat malu jika bekerja secara asal-asalan, karena setahu saya, mereka memiliki prinsip untuk mengutamakan orang lain, bukan diri sendiri. Satu prinsip yang sepertinya sudah langka ditemukan di Indonesia.

yokohama
Yokohama

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-49 ini bertema Lamplight agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Gunung Fuji Dalam Angka


Menginap satu hari di Kawaguchiko memang menjadi tujuan kami sekeluarga ketika pergi liburan di Jepang beberapa tahun lalu. Tujuan sebenarnya adalah hendak menikmati pemandangan Gunung Fuji sejak pagi, yang biasanya jernih tanpa tertutup awan. Dan pagi itu, pemandangan cantik gunung yang sering malu-malu bersaput awan itu benar-benar menampakkan keindahannya, apalagi disanding dengan Danau Kawaguchi yang amat tenang sebagai latar depan. Kalau mau cerita lengkapnya, bisa dibaca cerita lengkapnya: Memeluk Indahnya Sepi di Danau Kawaguchiko

IMG_1325
Mt. Fuji from Kawaguchiko

Nah, di dalam kamar penginapan kami, -yang malam sebelumnya membuat saya merasa serem-serem sedap-, ada sebuah informasi yang dibuat menarik, yaitu tentang Gunung Fuji dalam angka. Informasi itu dilaminasi dan dimasukkan ke dalam sebuah folder bersama dengan brosur-brosur pariwisata sekitarnya (dan saya berpikir mengapa pariwisata kita tidak melakukan hal itu ya?)

Informasi itu ditandai oleh icon kategori yang diberikan dalam bentuk gambar/simbol, seperti Informasi Umum, Sejarah, Kondisi Alam, Pendakian, Akses, Harga, Cinderamata dan Trivia. Keren banget kan, jadinya mudah dibaca.

Membacanya saya jadi terbayang proses pendakiannya…

  1. Gunung Fuji (Fujisan) terdaftar di UNESCO World Heritage Site per tanggal 22 Juni 2013. Dengan demikian, bukan hanya negara Jepang yang wajib memeliharanya melainkan seluruh umat manusia yang berbagi di satu dunia ini, apalagi yang mendakinya. Sungguh memalukan kan, bulan Agustus 2014 lalu ada turis yang melakukan vandalisme alias mencoret-coret membuat graffiti di batu besar dengan tulisan CLA-X INDONESIA, yang membuat warga negara Jepang marah sekali. Bagi mereka, Gunung Fuji merupakan gunung suci.
  2. Status Gunung Fuji merupakan situs ke 17 dari semua situs yang dimiliki Jepang yang terdaftar di UNESCO World Heritage Site (Meskipun per tahun 2019 ini sudah mencapai 23 Situs)
  3. Saya sih percaya saja deh, kalau di tabel itu tertulis Gunung Fuji itu memiliki volume sekitar 1400km3, saya juga tidak berminat untuk mengukur kok, sebab terbayang juga sih, kalau 1 km x 1 km x 1 km = 1km3 artinya kan ada 1400 X-nya.
  4. Jumlah danau yang mengelilingi Gunung Fuji ada 5 yaitu Danau Motosu, Danau Shojin, Danau Sai, Danau Kawaguchi dan Danau Tamanaka. Berada di pinggir danau itu sangat tepat untuk menikmati Gunung Fuji.

    IMG_1333
    Mt. Fuji in numbers
  5. Gunung Fuji itu tingginya 3776 meter diukur pada titik tertinggi di Kengamine dan tingkat kecepatan angin yang bertiup di puncaknya rata-rata berkisar 11m/detik. Dan suhu di puncak rata-rata bisa mencapai -6C. (Ah, kira-kira saya kuat gak ya mendaki kesana, sekilas pemikiran saja siii)

  6. Di Gunung Fuji itu tercatat ada 119 species kupu-kupu dan 180 jenis burung liar. Keren ya, sampai tercatat seperti ini.
  7. Musim pendakian Gunung Fuji dimulai dari tanggal 1 Juli hingga minggu pertama September, yang merupakan periode terbaik dengan kemungkinan suhu dan angin yang paling bersahabat. Diluar waktu itu, kondisinya sangat tidak bersahabat dan membahayakan jiwa. Mendaki gunung kan seharusnya untuk memperkaya jiwa bukannya menghilangkannya.
  8. Sudah sejak 2012, dalam setahunnya tercatat lebih dari 25,000 orang kenaikan per tahun, yang menunjukkan semakin tingginya minat orang mendaki gunung suci di Jepang ini.  Rekor terbesar waktu itu sih tanggal 28 Juli 2012 yang mencatatkan ada 11,779 orang pendaki pada satu hari itu. Aduh terbayang jalurnya pasti penuh dan ada antrian ya…
  9. Per tahun 2012 sudah tercatat 318,565 orang telah mendaki Gunung Fuji di ketinggian 3776 Mdpl yang dilakukan melalui 4  jalur, yaitu:
    1. Jalur Yoshida yang paling populer, yang dilakukan oleh 189,771 pendaki, mulai dari ketinggian 2305 Mdpl sepanjang 7.5 km menanjak dalam waktu 6 jam dan 7,6 km saat turun yang bisa dilakukan dalam waktu 3 jam.
    2. Jalur Subashiri, yang dilakukan oleh 35,577 orang, mulai dari ketinggian 1970 Mdpl sepanjang 7,8 km menanjak selama 6.5 jam dan 6,2 km saat turun yang dapat dilakukan dalam 3 jam
    3. Jalur Gotemba, yang dilakukan oleh 15,462 pendaki, mulai dari ketinggian 1440 Mdpl sepanjang 11 km menanjak selama 7,5 jam dan 8,5 km saat turun yang dapat dilakukan dalam 3,5 jam
    4. Jalur Fujinomiya, yang dilakukan oleh 77,755 pendaki, mulai dari ketinggian 2400 Mdpl, sepanjang 5km menanjak selama 5 jam dan 5 km saat turun yang dilakukan dalam 3.5jam
  10. Pada tahun 1832 pertama kalinya seorang pendaki perempuan mencapai Puncak, meskipun saat itu ia berpakaian seakan-akan ia laki-laki karena pada masa itu, perempuan dilarang untuk mendaki gunung. Dan baru 40 tahun kemudian, pada tahun 1872 Gunung Fuji membuka diri untuk didaki oleh perempuan.
  11. Di sepanjang jalur pendakian terdapat penginapan sederhana dengan biaya sekitar 5500 Yen, tidak termasuk makanan. Dan setahu saya dilarang mendirikan tenda dan membuat api. Dan tidak disarankan, demi kesehatan, untuk melakukan pendakian secara cepat dan langsung turun pada hari yang sama tanpa menginap.
  12. Rekor pendaki tertua tercatat umurnya 101 tahun! Hebat ya… Jepang memang merupakan negara yang penduduk usia tuanya masih banyak yang sehat dan terus melakukan aktivitas fisik yang tidak ringan.
  13. Di Puncak Gunung Fuji, harga oksigen ukuran kecil dijual 500 Yen dan ukuran besar dijual 1000 Yen. Semangkuk mie instan harganya 800 Yen dan satu botol air mineral dalam kemasan botol harganya 500 Yen. Dan untuk ke toilet dibebankan 100 – 300 Yen. Hitung saja jika 1 Yen sekarang sekitar 130 Rupiah.
  14. Belum lagi menghitung uang yang harus dikeluarkan untuk transportasi dari 1080 Yen hingga 3300 Yen, tergantung dari lokasi mana dan memilih jalur apa untuk mendakinya.
  15. Informasi lebih lengkapnya mengenai pendakian bisa dilihat di Fujisan Climb Official Website

Ok, saya hanya menuliskan kembali dari apa yang ada di penginapan kami di Kawaguchiko dan sepertinya harus diupdate juga informasinya. Saya tahu bahwa sudah banyak lho pendaki Indonesia yang melakukannya. Kalau sudah, ditunggu ceritanya ya….

-o-


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-43 ini bertema Numbers agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

 

Kyoto, Satu Hari Dalam Musim Gugur


Salah satu musim terbaik untuk mengunjungi Kyoto, Jepang adalah musim gugur, meskipun musim-musim lain tidak kalah menariknya. Tetapi ini soal selera ya, karena saya lebih suka musim gugur daripada musim semi yang juga membuat Kyoto itu sangat cantik luar biasa. Lagi pula udaranya sejuk, belum terlalu dingin.

Jadi awal bulan Desember beberapa tahun lalu, saya mengajak suami, berdua saja, untuk kembali menikmati Jepang. Dan saat menginjak Kyoto, uh, rasanya tidak ingin pulang ke Indonesia. Tentunya pada pagi hari kami mengunjungi Kinkakuji, kuil emas yang sangat terkenal seantero Kyoto dan menjadi icon kota tradisional ini. Dan berkali-kali ke Kinkakuji tidak pernah membuat saya bosan, meskipun tahu tempat ini selalu dipenuhi pengunjung!

IMG_0817
One perfect morning At Kinkakuji

Herannya kalau sedang liburan itu, waktu terasa seperti kilat alias cepat sekali jalannya. Gara-gara waktu yang berjalan cepat ini juga, kami secepat kilat menuju Higashiyama untuk mengunjungi Kiyomizudera, yang sayangnya sebagian tempatnya sedang direnovasi.

Bagi yang pernah ke kuil ini, tentu tahu bahwa Kiyomizudera sangat luas. Dan sang suami tertarik untuk menikmati semua sudutnya. Alhasil kami berdua seperti anak muda yang sedang jatuh cinta, jalan pelan-pelan berdekatan dan setiap tempat yang penuh warna kami berfoto 🙂  (Tapi sudah gak ada gombal-gombalan deh karena semua kartunya dah ketauan  😀 😀 😀 )

Tapi tak ada yang bisa menolak bahwa Kiyomizudera memang sangat cantik saat musim gugur, kontras sekali dengan langit Kyoto yang biru. Meskipun jauh mengelilingi halaman kuil, kami tak merasakan karena banyak berhenti untuk foto. Asli sampai lupa urusan perut sampai tidak diperhatikan.

Akhirnya di ujung pintu keluar, -sebenarnya waktu juga yang mengingatkan karena sudah agak sore-, barulah kami mendengar suara naga di perut kami berdua. Masalahnya lidah kami berdua tidak begitu cocok dengan makanan Jepang. Susah kan… mosok mau makan gudeg di Jepang? Kami menyusuri toko-toko yang sangat khas Jepang, berharap menemukan restoran yang sesuai lidah kami. Dan untunglah, Semesta Mendukung kami menemukan rumah makan yang menyajikan makanan yang sesuai lidah dan perut.

Urusan perut selesai, kami melanjutkan perjalanan lagi dengan berjalan kaki menuju kuil Kodaiji. Di tengah perjalanan, beruntung kami bisa bertemu dengan pengantin yang kelihatannya sedang terburu-buru sambil mengangkat gaun putihnya agar tak terinjak. Tiba-tiba saya tersadarkan, tempat kami berjalan merupakan kawasan untuk pejalan kaki. Jadi kasihan juga pengantin itu, harus turun dari mobil jauh di ujung jalan lalu berjalan ke kuil tempatnya ia menikah. (Betapa nyaman ya menikah di Indonesia, pengantin bisa turun dekat dengan tempat nikahnya!)

Kami juga bertemu dengan perempuan-perempuan yang mengenakan pakaian tradisional Jepang dengan wajah putihnya layaknya geisha. Melihat warna kerahnya, saya menduga mereka adalah turis yang sengaja berdandan seperti maiko atau geiko (geisha). Tetapi mereka sepertinya berkenan menjadi obyek foto dari orang-orang yang terpesona dengan pakaian dan dandanannya, termasuk saya sih hehehe…

Kuil Kodaiji tak jauh lagi. Kuil ini memang salah satu kuil di Kyoto yang must-visit selama musim gugur karena terkenal keindahan iluminasinya. Lampu-lampu diletakkan sedemikian rupa sehingga keindahan warna musim gugur tetap bisa terlihat pada saat malam! Dan beruntung sekali, saat sampai di kuil itu, langit belum gelap namun beberapa lampu telah dinyalakan. Mata kami dimanjakan dengan keindahan saat matahari masih terjaga di Kyoto dan saat matahari telah terbenam. Apalagi ada bulan sabit terbit di langit malam! We’re so blessed!

Jaket mulai dikenakan karena angin malam semakin terasa menusuk. Bersama pengunjung lain, kami mengarah ke tengah taman Kodaiji yang terkenal. Di dekat kolam taman kami terpesona. Airnya yang tenang menjadi pemantul sempurna dari keindahan pohon-pohon warna-warni di atasnya. Masya Allah…

Menyaksikan keindahan itu, terdengar begitu banyak suara shutter kamera, yang bukan hanya dari turis melainkan juga dari masyarakat lokal Jepang yang menyukai keindahan.

IMG_1051

Tanpa terasa malam semakin pekat, seakan mengingatkan kami harus mengakhiri perjalanan hari ini. Kaki kami terasa pegal (tapi bukankah di Jepang, kaki selalu terasa pegal? 😀 ). Namun keindahan kuil Kodaiji belum berakhir.

Meskipun dengan kaki yang mulai terasa berat untuk melangkah, sambil menuju pintu keluar kami menyaksikan hutan bambu seperti di Arashiyama yang diberi pencahayaan ke atas. Wah! Saya pernah membaca bahwa pada musim gugur, hutan bambu Arashiyama diberi lampu yang pasti terlihat magis sekali tetapi sayangnya untuk melihatnya harus menginap di dekatnya karena akses transportasi yang terbatas. Dan di sini, di kuil Kodaiji, kami menemukan pemandangan yang serupa hutan bambu yang diterangi dengan pencahayaan ke atas, -tanpa perlu ke Arashiyama-, tentu hal ini sebuah anugerah luar biasa banget!

Malam itu dengan rasa syukur mendapatkan semua yang begitu indah dalam satu hari, kami kembali ke hotel. Meskipun terseok-seok untuk mencapai hotel dan tidak mau menggunakan taksi mengingat mahalnya, bagi kami berdua hari itu merupakan salah satu hari yang sempurna dalam perjalanan hidup kami.

Ke Kyoto memang tak cukup satu hari!

IMG_1090
Bamboo groves at night in Kodaiji Temple, Kyoto

*


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-38 ini bertema A Day In Life agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Sepenggal Jalan Tanpa Warna



Tokyo, satu hari sebelum Natal 2018

Sebenarnya hari itu adalah ulang tahun saya, tetapi bagi saya hari itu masih tanpa warna meskipun tepat pk. 00.00 malam suami dan anak-anak telah memberi surprise berupa kue ulang tahun di tempat tidur. Saya tahu usaha mereka untuk membuat saya kembali ceria dan saya pun berupaya untuk tegar, meski rasanya sangat tidak mudah mengabaikan rasa bahwa saya masih berduka.

Tiga hari sebelumnya, Papa dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa setelah bertahun-tahun hanya mampu berbaring karena stroke yang dideritanya. Dan karena kakak dan adik seluruhnya ada di Jakarta, dengan persetujuan Mama, kami mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir pada hari yang sama meskipun gelap malam telah menyelimuti. Hari itu semua urusan selesai dengan doa-doa tak putus bagi yang pergi maupun untuk yang ditinggalkan agar ikhlas dan tabah menjalani hari.

Namun bagi saya, itulah hari ketika saya kehilangan warna-warni.

Satu hari setelahnya, saya sekeluarga meninggalkan Jakarta menuju Jepang, meninggalkan keluarga besar dan kerabat yang meriung di rumah Mama merapal ayat-ayat suci dan doa-doa. Sebenarnya rencana pergi ke Jepang sudah hancur berantakan saat mendengar Papa berpulang, tapi di atas pusara malam itu semuanya berubah. Di antara duka yang menyelimuti tergambar di benak kebahagiaan Papa bila saya berangkat ke Jepang mewujudkan impiannya.

Saya seperti ditarik kedua arah yang berlawanan; tinggal bersama mereka berbagi airmata duka dan di sisi lain pergi meninggalkan sekumpulan duka. Padahal Jepang awalnya adalah liburan namun juga menjadi tempat kenangan Papa. Entah kenapa situasi seperti itu, -yang saling berlawanan kutub-, sudah terlalu sering hadir secara bersama-sama dalam keseharian kehidupan saya.

Dan hari itu, tepat hari ulang tahun saya, hati saya masih sama, tanpa warna. 


 

Shinkansen Joetsu dengan kereta bernama Tanigawa itu akhirnya berhenti di Stasiun Gala Yuzawa, setelah sekitar 75 menit meninggalkan Tokyo. Kedatangan kami di stasiun itu disambut dengan serangan udara dingin dan hujan salju tipis! Brrrrr….

Meskipun ingin cepat bermain salju tapi sebagai perempuan tetap saja penampilan dipertimbangkan baik-baik. Alhasil perlu waktu cukup lama untuk urusan sewa menyewa sepatu boot, sarung tangan dan peralatan bermain salju. Rasanya sibuk sekali untuk urusan receh seperti ini. Pantas atau tidak, apakah kebesaran atau kekecilan, apakah ini atau itu… belum lagi ditambah, cantik gak ya nanti… bla-bla-bla… *suami nungguin para perempuan dandan, di pojokan  😃

Tak lama sampailah kami pada awal dari sepenggal jalan tanpa warna itu. Kami berempat harus naik kereta gantung, -disebut Gondola di Gala Yuzawa-, untuk sampai pada tempat bermain salju itu. Antrian naik Gondola tidak panjang dan tak lama kami berempat telah duduk dengan hati berdegup kencang jelang berangkat.

Empat manusia tropis dalam Gondola itu tak berucap satu patah kata pun pada detik pertama kereta gantung meninggalkan stasiun. Yang pasti semuanya, termasuk saya, terpesona menyaksikan alam tertutup salju. Putih semua, hanya menyisakan sedikit warna gelap yang tak dapat dijangkau salju. Titik-titik air yang menempel di kaca Gondola tidak menjadi halangan untuk mengagumi keindahan pemandangan alam.

Saya tersadarkan dan merasa ditegur untuk melihat dan mensyukuri apa yang telah diberikan. Yang Maha Kuasa menghamparkan kado ulang tahun terindah buat saya, pemandangan alam yang sangat cantik, yang luarbiasanya, ternyata senada dan selaras dengan sendu hati saya yang sedang kehilangan Papa tercinta.

DSC06817
The trip to Gala Yuzawa
DSC06822
Raindrop on the window

Kereta gantung atau Gondola membawa kami semakin tinggi, bergulir di kabel yang terentang di antara tiang-tiang yang berdiri dalam diam. Begitu banyak pohon dengan ranting-rantingnya yang terlihat berat oleh salju yang bertumpuk-tumpuk. Melihat pemandangan sekitar, seakan-akan alam pun menyesuaikan dengan perasaan saya yang sesungguhnya. Tanpa warna, kelabu. Putih hitam dengan seluruh nuansa kelabu diantaranya.

Meskipun tak bisa menghilangkan denyut duka dalam hati, saya tetap terpesona dan mengucap syukur atas kado ulang tahun berupa keindahan alam yang terhampar di depan mata. Alam Semesta yang begitu indah, meski tanpa warna. Keindahan yang berbeda, yang tak biasa, seperti dunia mimpi, dunia dongeng yang magis dengan peri-peri yang bersembunyi di balik pohon-pohonnya.

Seakan menjelaskan dalam situasi nuansa hitam putih pun, selalu ada keindahan. Di balik duka itu ada bahagia dalam wajah yang sama.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sepenggal jalan tanpa warna itu hanya berlangsung kurang dari 10 menit, terasa begitu cepat. Pemandangan alam penuh salju, bukan merupakan pemandangan biasa bagi orang-orang tropis seperti kami. Sejauh mata memandang, semua tertutup salju. Belum tentu setahun sekali kami bisa melihatnya dan merasakannya.

Sesampainya di tempat bermain ski, begitu turun dari Gondola, anak-anak langsung menghambur keluar. Ingin langsung merasakan salju di sepatu bootnya, di tangannya, di wajahnya. Rupanya kado ulang tahun saya belum selesai, alam masih menambahkan berupa hujan salju tipis. Membuat mereka semua tertawa bahagia sambil foto-foto untuk Instagramnya. Butir-butir salju jatuh di beanie berjambul dan jaket musim dingin yang mereka kenakan. Saya tahu meskipun airmata di dalam hati belumlah kering, namun Allah Yang Maha Baik selalu bisa menggembirakan dan membahagiakan saya, apalagi pada hari spesial.

Tidak hanya kami, di sana orang-orang dewasa pun tanpa malu-malu melupakan ‘jaim’-nya mereka dengan bermain dan melempar salju, meluncur dari atas bukit dengan luncuran plastik yang kekecilan untuk ukuran tubuhnya dan membiarkan tubuh mereka terlonjak oleh gundukan salju dalam tawa yang tak habis-habis. Di sana, duka bersembunyi, yang ada dimana-mana hanyalah gembira dan tawa. Juga saya yang sedang belajar tertawa bersama mereka semua.

Seperti juga semasa kecil, saat bermain adalah saat-saat paling menyenangkan. Bermain, makan lalu bermain lagi, adalah yang terjadi pada kami semua di Gala Yuzawa. Kami semua tak ingin kesempatan bermain salju cepat berlalu. Apalagi saat winter, hari sangat pendek, matahari terbitnya terlambat namun matahari juga cepat tenggelam, jam 5 sudah gelap. Dan waktu jugalah yang akhirnya menyadarkan kami semua, setiap awalan memiliki akhir.

Dan kami harus menempuh lagi jalan itu, sepenggal jalan tanpa warna. Kali ini menurun menuju lembah. Dari sebuah posisinya yang tertinggi, kami masih tetap saja terkagum-kagum bisa melihat Stasiun Shinkansen jauh di bawah sana, tempat kereta yang akan membawa kami kembali ke Tokyo.

Bagi saya sendiri, perjalanan hari itu merupakan perjalanan penuh rasa yang saling bertolakbelakang namun berada di hati yang sama dan tak terpisahkan, dengan pengelolaan yang seharusnya seimbang pula. Sebuah pembelajaran yang mengingatkan saya kepada Sang Nabi-nya Kahlil Gibran dalam Suka & Duka

Bahwa keduanya tidak terpisahkan.
Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu sendiri bertamu di meja makanmu,
Ingatlah selalu bahwa yang lain sedang ternyenyak di pembaringanmu.

DSC06818

The Gondola of Gala Yuzawa

DSC06819
The valley
DSC06832
Shinkansen Station is down there

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-34 ini bertema Black & White agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Memeluk Indahnya Sepi di Danau Kawaguchi


Dalam liburan musim panas beberapa tahun lalu, Kawaguchiko atau Danau Kawaguchi dipilih menjadi salah satu tempat menginap kami sebelum mengikuti perjalanan Alpine Route keesokan harinya. Alasan utama memasukkan Kawaguchiko sebenarnya ingin menikmati Gunung Fuji tanpa awan yang menyelimuti, karena berkali-kali ke Jepang, Gunung Fuji selalu berhasil sembunyi di balik awan atau kalaupun terlihat, hanya tampak samar. Dengan menginap di Kawaguchiko, -yang berhadapan langsung dengan Gunung Fuji-, harapan bisa melihat gunung simbol Jepang itu dengan jelas  bisa terwujud. Selain itu, akses kereta dari Kawaguchiko ke Matsumoto dan Alpine Route, -yang menjadi rencana kami selanjutnya-, masih bisa dikatakan satu jalur.

Tapi rencana tinggal rencana. Rencana agar sampai ke Kawaguchiko sebelum matahari tenggelam tidak dapat terwujud, karena kami lupa waktu saat berjalan-jalan di Tokyo. Hari sudah berganti gelap saat kereta berhenti di Station akhir Kawaguchiko. Apa mau dikata, liburan harus tetap berjalan dan pengalaman baru tetap harus diukir dalam bahagia, kan?

IMG_1305
Kawaguchiko at night

Dan meskipun mendapat rating bagus, ternyata hotel yang kami pesan terletak sedikit agak jauh dari danau dan bahkan berada di ketinggian punggung bukit. Tidak hanya itu, keadaan kamar terasa agak spooky karena penerangan kamar yang temaram. Ditambah cerita anak saya yang sempat melihat ‘sesuatu’ sekelebat lewat. (Aduh… semoga Sadako tidak mencoba-coba menyelinap ya…. hiiii…). Namun karena ada jeritan sang perut yang protes minta diisi, akhirnya kami pun memilih pergi keluar.

Kami berjalan kaki turun ke tepi danau sambil membayangkan beratnya jalan pulang yang menanjak. Tak banyak pilihan, kami berhenti di restoran pertama yang paling kelihatannya menggoda. Ternyata pilihan restoran itu sangat tepat karena makanannya enak dan harganya terjangkau. Bahkan kami sempat berbincang-bincang akrab dengan sesama warga Indonesia yang juga sedang berkunjung ke Kawaguchiko. Rasanya tanah air yang terpisah ribuan kilometer itu saat itu menjadi sangat dekat.

Perjalanan menanjak kembali ke hotel setelah makan malam itu, dilakukan dengan santai tanpa terlihat ada penduduk lokal. Sepi. Dan seperti biasa, saat jalan menanjak saya selalu memegang posisi juru kunci. Kadang didorong, kadang ditarik. Sepertinya sampai di hotel, mungkin saya akan lapar lagi 😀

Kami tak langsung masuk ke kamar, tetapi mengamati keindahan malam di halaman hotel. Sepi namun terasa damai. Bintang-bintang menghias malam. Angin danau terasa menyapa wajah. Seseorang dari hotel memberitahu kami bahwa kerlip-kerlip yang letaknya tinggi namun bukan di langit itu, adalah lampu-lampu penginapan di sepanjang jalur pendakian Gunung Fuji. Saya terperangah, tak pernah terbayangkan jalur pendakian Gunung Fuji bisa terlihat dengan mata telanjang pada malam hari.

Tak bisa berlama-lama menikmati keindahan malam, kami segera menuju kamar untuk beristirahat karena jadwal yang ketat keesokan harinya. Tetapi saya pribadi, memiliki satu keinginan untuk merasakan hari berganti pagi di Kawaguchiko.

IMG_1327
Mt. Fuji & Kawaguchiko Lake at Summer

Dan pagi pun datang dengan amat manis…

Waktu setempat belum menunjuk ke pukul enam, tetapi pemandangan sekitar sudah begitu indah. Gunung Fuji memenuhi janji untuk tampil apa adanya pada musim panas, begitu gamblang, tanpa bersolek salju pada puncaknya. Tampak sangat berbeda dari tampilannya pada musim-musim lainnya.

Dan keheningan pagi menjadi lebih lengkap dengan keadaan danau yang tenang, tanpa siapapun di sana. Berlatar Gunung Fuji yang puncaknya terpapar matahari yang bergerak naik membuka hari. Tanpa suara menjadikan indahnya sepi yang luar biasa.

Tapi roda kehidupan tak pernah berhenti. Perlahan tapi pasti kehidupan di Kawaguchiko merekah. Rasanya baru sekejap mata saya melepas pandangan dari arah danau untuk menikmati Gunung Fuji, namun dari arah tengah danau tiba-tiba saya melihat sendiri ada sebuah perahu. Entah dari mana datangnya. Bisa jadi saya tak melihat kedatangannya atau suara mesinnya tak sampai di telinga.

Seseorang di dalam perahu. Sendiri, di tengah-tengah danau, di pagi hari.

Entah apa yang dikerjakan, sepertinya penting. Tetapi saya membayangkan betapa indah dan luar biasa rasanya dia di sana. Di tengah luasnya Danau Kawaguchi, dia satu-satunya yang bisa menikmati indahnya riak danau.

Saya tak berani untuk berlaku iri padanya, karena begitu banyak nikmat keindahan yang sudah saya terima pada pagi hari ini.

IMG_1342
Serenity in the middle of the Kawaguchiko lake

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-26 ini bertema Serenity agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Marumado, Jendela Jepang Yang Mempercantik Pandang


Bulan Maret lalu, saya meluangkan waktu jalan-jalan ke Singapura dan berkesempatan melakukan hanami, menonton bunga Sakura mekar di Flower Dome, Garden By The Bay. Sebagai bunga nasional Jepang yang sudah terkenal di seluruh dunia dan saat mekarnya tak lama, menyaksikan sakura-sakura bermekaran itu memang sangat ditunggu-tunggu, termasuk saya. Saya belum beruntung untuk bisa hanami langsung di negeri Sakura-nya sendiri, sehingga ketika Garden By The Bay menampilkan bunga Sakura sebagai tema, langsung saja saya mencari tiket pesawat.

Sesampainya di sana, jangan tanya penuhnya seperti apa. Saya baru menyadari karena saat saya berkunjung merupakan minggu-minggu terakhir sebelum Garden By The Bay mengganti tema dan Sakura merupakan salah satu tema yang paling banyak dinantikan sepanjang tahun. Kapan-kapan saya ceritakan mengenai hanami ini.

Karena padatnya pengunjung, saya mencari jalur yang sedikit agak lebih lega meskipun itu artinya juga masih banyak manusia lho. Tak disangka, saya justru mendapatkan tambahan pengetahuan di jalur ini.

Pernah tahu yang namanya Marumado?

Marumado the circular window of Japanese architecture

Mungkin pernah lihat, tetapi tidak tahu namanya. Marumado adalah jendela lingkar yang ada di dalam arsitektur Jepang, yang memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda. Sebagian dibuat menyatu di dalam dinding. Pada Marumado ada yang memiliki kisi-kisi, sementara yang lain ada yang ditutup dengan shouji (tirai) gantung atau tirai geser (bisa satu panel atau dua panel kiri dan kanan). Sampai disini sepertinya sudah terbayang kan?

Marumado kadang disebut pula yoshinomado, tapi jika diameternya lebih dari 1.5 meter, maka disebut oomarumado. Biasanya dibiarkan terbuka tanpa pendukung dan umumnya digunakan untuk menikmati pemandangan dan pencahayaan bangunan. Marumado biasanya ditemukan di bangunan-bangunan bergaya Shoin dan rumah-rumah untuk minum teh. Rumah bergaya Shoin ini merupakan dasar dari rumah-rumah tradisional Jepang sekarang, yang dulu hanya ada pada rumah pejabat militer,atau petinggi dan bangsawan dan pemuka agama.

Marumado biasanya dibuat untuk menghadirkan sepetak pemandangan yang indah dan terkenal atau yang diinginkan. Tetapi Marumado juga bisa dibuat hanya untuk pencahayaan atau sekedar ventilasi udara.

Marumado with Sakura and neighbors
Marumado with Sakura, Mt. Fuji and Shinkansen

Pada saat menikmati Marumado yang ada di Garden By The Bay ini, meskipun kena sikut sana sini dan cukup lama antri untuk bisa dapat satu foto tanpa manusia lain masuk ke dalam frame, sebisa dan secepat mungkin saya mengambil foto-foto tanpa membuat orang lain melotot tak sabar kepada saya.

Saya hanya membayangkan berada di dalam rumah tradisional Jepang dan menikmati keindahan Sakura melalui sebuah Marumado dengan berbagai latar belakang yang terkenal seperti Gunung Fuji, atau Torii yang berwarna merah menyala, atau Osaka Castle? Atau hanya sekedar Sakura yang berbatas dengan rumah tetangga?

Semua Marumado yang dipamerkan menggunakan bunga Sakura asli yang dibonsai, yang dibuat dengan kecermatan yang amat canggih demi sebuah keindahan yang luar biasa.

Berminat untuk memiliki Marumado di rumah Anda?

Marumado with Sakura & Torii
Marumado from with Sakura in the yard
Marumado with Sakura & Osaka Castle as background

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-20 ini bertema Frame agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Api Perdamaian Di Tengah Hujan


Hiroshima Peace Memorial Park
Hiroshima Peace Memorial Park – Do you see the eternal peace flame?

Saya tidak bisa melupakan momen itu, momen melihat api perdamaian di tengah hujan lebat saat berteduh di bawah Sky Bridge Museum Perdamaian Hiroshima. Antara keringat, -karena berlari dari Gedung Atomic Bomb hingga ke Sky Bridge-, dan basah karena kehujanan serta air tampias membuat saya agak kedinginan di tengah musim panas itu. Angin berhembus cukup kuat di bawah Sky Bridge, tapi saya tetap terpaku pada apa yang saya lihat. Api Perdamaian yang tetap menyala meskipun di tengah hujan lebat, dan bisa terlihat meskipun saya berjarak cukup jauh dari api perdamaian itu.

Hujan membuat saya berpikir lebih dalam di tempat saya berdiri, yang 71 tahun lalu rata dengan tanah karena di bom atom. Disini, di tempat saya berdiri, merupakan ground-zero, tempat yang semuanya pernah musnah dalam sekejap, apalagi manusia yang hidup di dalamnya. Namun dari Hiroshima dan Nagasaki, dunia belajar mengatasi kecintaan manusia kepada kekuasaan, Seperti kata Jimi Hendrix,

When the power of love overcomes the love of power, the world will know peace

Di tempat saya berdiri, empat unsur kehidupan seakan sedang berlomba menunjukkan diri di panggung. Udara yang menyediakan ruangnya, Tanah yang menyediakan tempat berpijaknya, Api yang menyala serta Air hujan yang turun dari langit. Di tempat yang berpuluh-puluh tahun lalu hancur luluh lantak akibat keserakahan manusia dan dunia perlu waktu yang sangat lama (hingga kini masih) untuk bisa mengatasinya. Dan saya terperangah saat mencoba memahami maknanya

Api dan Air, dua elemen kehidupan yang sepertinya berpunggungan. Seperti diri dan bayangan, dua bagian dari yang satu, tapi tetap terpisahkan. Tetapi, kedua unsur itu juga merupakan unsur dinamika, unsur perubahan yang selalu dinamis. Dan bersama elemen lainnya, membuat kehidupan itu bergulir dengan segala bentuk dinamikanya.

Saya terpesona saat Semesta menghamparkan pembelajaran di depan mata. Berpuluh tahun silam, perdamaian diluluhlantakan di ground-zero ini oleh manusia-manusia haus kuasa, memenangkan api dengan menjatuhkan bom atom yang membakar, dan mereka yang sempat tersisa mencoba hidup mencari air yang tinggal sedikit di tengah udara yang tak lagi bersih. Dan bumi menangis.

Dan 71 tahun kemudian, saat saya berdiri di ground-zero itu, Hujan lebat turun dari langit, Alam tak menghendaki api abadi perdamaian itu meredup dan mati, Api itu tetap menyala, sebagai simbol, dua yang satu, yang tidak memenangkan satu unsur terhadap yang lain.

Api yang menyala terus itu simbol perdamaian, salah satu elemen hidup yang sepenting empat unsur lain dalam kehidupan, -Udara, Air, Api, Tanah-, yang seharusnya terus menyala dalam setiap jiwa manusia. Sayangnya, perdamaian merupakan unsur yang paling sering dan paling mudah dirusak manusia.

Peace is one of life’s most vital element that is as important as air, water, fire or earth. Unfortunately, it is the most undermined, but yet inevitable (Ayeni Solomon Ayodele)

Saat itu, sepertinya saya tak ingin hujan berhenti. Rasanya terlalu indah menyaksikan pemandangan api yang terus menyala di tengah hujan lebat. Bagi saya, saat itu sangat menggetarkan jiwa. Bisa jadi karena tempatnya, atau karena momentumnya.

Lalu, seakan ditunaikan, keinginan saya agar hujan tak berhenti langsung diwujudkan dalam penggambaran mini. Di kaki air hujan yang tak tertampung drainase mulai mengalir membasahi area dan membuat genangan kecil. Saya terperanjat, menyadari kesalahan berkeinginan, Air, seperti juga api, bila tak terkendali dalam keseimbangan, bisa sangat merusak.

Dan dalam banyak hal, seringkali manusia penyebabnya.



Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-10 ini bertemakan Hujan agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…