Korea – Warna-Warni Istana Deoksugung


Sebenarnya masih ingin berlama-lama di balik selimut. Saya ini kan sedang liburan, bukan dikejar target destinasi. Apalagi pagi di awal bulan November di Seoul itu sungguh dingin. Walaupun katanya 11°C tetapi menurut saya rasanya lebih dingin dari 7°C di Tokyo yang pernah saya alami di musim semi. Rencananya hari ini saya akan mengelilingi Seoul walaupun sedikit menyesal karena hari ini diramalkan akan hujan. Mengingat akan hujan itulah yang membuat saya bergegas walaupun tahu hari telah terlambat untuk dimulai.

Akhirnya saya melambaikan tangan pada penginapan itu, berjanji akan kembali untuk mengambil ransel pada sore harinya. Kamarnya yang modern, nyaman untuk solo-traveler seperti saya, tidak gaduh dan lokasinya di seberang Exit Seoul Station membuat saya mudah kemana-mana. Hari ini saya akan mengunjungi Istana Deoksugung, satu diantara empat istana yang terkenal di Seoul.

Deoksugung dapat dicapai dengan mengendarai subway line 1 dari Seoul Station dan turun di City Hall, Exit-2. Petunjuk arah jelas dengan karakter latin selain karakter Hangeul. Seandainya seluruh destinasi wisata di luar kota Seoul juga sejelas ini, tentu perjalanan saya ke provinsi-provinsi di Korea Selatan tidak seheboh itu.

Prosesi Penggantian Penjaga Istana

Tak perlu lama berjalan dari Exit-2, saya sudah di depan gerbang Daehanmun. Ketika melihat sebuah drum berlukis indah di pelataran di depan gerbang, saya menjadi ragu untuk langsung menjelajahi ke dalam istana. Benarlah, petugas tiket membenarkan bahwa prosesi penggantian penjaga istana akan dimulai tepat pk 11.00 Tak mungkin dalam waktu kurang dari 1 jam saya menjelajah istana yang luas ini, sehingga saya memilih untuk menanti prosesi itu.

Prosesi penggantian penjaga Istana yang menyerupai prosesi  di Istana Buckingham di London itu diwujudkan kembali sejak tahun 1996 setelah melalui riset mendalam dan komprehensif oleh para ahli sejarah Korea. Memang segala sesuatu yang terjadi di balik tembok Istana atau yang berkaitan dengan Kerajaan selalu menarik perhatian kaum kebanyakan, bisa jadi karena tidak semua orang beruntung terlahir dalam kalangan Istana Kerajaan.

Seperti makan obat, prosesi itu memiliki jadwal tiga kali sehari (pk 11:00, 14:00 dan 15:30) dan berlangsung selama 30 menit serta selalu mengikuti aturan baku. Dimulai dengan iringan musik tradisional, pasukan penjaga berpakaian indah penuh warna-warni berjalan dalam barisan rapi lalu komandan pasukan pengganti menemui komandan pasukan yang sedang berjaga untuk saling bertukar password sebagai verifikasi dan memastikan keaslian penugasan. Kemudian dilanjutkan dengan penggantian posisi penjaga dan diakhiri dengan prosesi barisan. Bagi saya, tanpa mengerti prosedurnya, acara itu sudah sangat menarik karena keindahan warna pakaian tradisionalnya. Ada yang seperti Lee Min-ho gak yaaa? Hehehe…

Istana Deoksugung

Selesai prosesi di depan gerbang, saya pelan-pelan menyusuri jalan yang di pinggirnya tumbuh pepohonan maple yang sedang berganti warna dari hijau menjadi kuning. Kadang dedaunan itu gugur terbang terbawa angin. Indah…

Dan seperti kebanyakan nasib istana-istana yang menjadi saksi diam atas perubahan peta kekuasaan baik secara terhormat maupun secara paksa yang menyedihkan, demikian juga kisah dari Istana Deoksugung ini. Istana ini sebenarnya dibangun untuk digunakan sebagai kediaman Pangeran Wolsandaegun, kakak dari Raja terkenal Seongjong dari Dinasti Joseon di abad-16, dan bukan menjadi Istana utama Raja, namun sejarah bisa bercerita lain.

Melalui sebuah gerbang dalam, saya berjalan menuju Junghwajeon, -bangunan ruang tahta yang direkonstruksi pada tahun 1906 setelah terbakar di tahun 1904-, yang terlihat megah berdiri di tengah-tengah ruang terbuka. Jalan pelintasannya dibuat dengan indah dengan kolom-kolom kecil sepanjang jalan menuju ruang tahta. Di bagian depan terdapat prasasti batu berhias yang tampaknya sangat bernilai karena diberi pagar pelindung. Sejarah mencatat dua Raja keturunan Dinasti Joseon naik tahta di istana ini yang salah satunya adalah Raja Gwanghaegun yang mengganti nama istana ini menjadi Gyeongungung.

Ketika melihat ke dalam ruang tahta, -yang merupakan pusat diskusi politik yang hangat antara pejabat tinggi pemerintahan selama periode Daehanjeguk yang dideklarasikan oleh Raja Gojong dan membawa Korea ke abad 20-, terlihat dekorasi sepasang naga yang menghiasi kanopi di atas tahta. Hiasan berbentuk Naga yang terlihat juga di langit-langit merupakan hiasan khas dari Istana Deoksugung.

Bersebelahan dengan ruang tahta Junghwajeon adalah Hamnyeongjeon, wilayah pribadi Sang Raja dan Ratu yang sangat luas. Jadi berbeda dengan kaum kebanyakan yang hanya memiliki satu ruang tidur untuk suami isteri, Raja maupun Ratu memiliki bangunan pribadinya sendiri-sendiri. Dan tentu saja, walaupun berjabatan sebagai Ratu, tetap saja memiliki prosedur yang harus dilakukan agar bisa bertemu suaminya, Sang Raja. Jadi siapa bilang nyaman jadi Ratu atau Raja?

Hamnyeongjeon, private residential area
Hamnyeongjeon, private residential area

Jeonggwanheon, -terletak di atas bukit kecil di bagian belakang menghadap istana-, merupakan bangunan dengan campuran gaya Barat dan Korea yang pertama kali dibangun pada tahun 1900 oleh arsitek Rusia, A I Sabatin. Walaupun menurut saya, bangunan itu sedikit mengganggu harmoni arsitektur tradisional Korea secara keseluruhan, tetapi siapa yang bisa mengerti jalan pemikiran Raja yang berkuasa saat itu? Entah apa yang ada dalam pikiran Raja Gojong saat menghabiskan waktu luang di tempat ini yang memang merupakan kebiasaannya. Dibangun sebagai tempat rehat dan bersukacita, bangunan ini mungkin juga untuk melupakan peristiwa kematian permaisurinya, Ratu Min, yang terbunuh di usia 43 tahun yang akhirnya membuat Raja Gojong menyelamatkan diri ke Agwan Pacheon yang merupakan gedung Perwakilan Rusia. Ah, saya jadi membuka-buka sejarah dunia…

Jeonggwanheon, designed by Russian Architect
Jeonggwanheon, designed by Russian Architect

Singkat cerita, akibat pembunuhan Ratu Min, -Permaisuri Raja Gojong yang pro China dan Rusia namun sangat anti Jepang-, oleh pasukan Jepang di istana Gyeongbokgung pada tahun 1895, menyebabkan Raja Gojong melarikan diri dari Istananya melalui lorong bawah tanah ke Agwan Pacheon karena keselamatan dirinya terancam. Rusia yang saat itu di pihak yang berseberangan dengan Jepang, mendapat ‘keuntungan’ dari peristiwa pembunuhan itu. Raja Gojong dan Putra Mahkotanya menetap di Agwan Pacheon hingga akhirnya kembali ke Istana Deoksugung pada tahun 1897 untuk menyatakan Kekaisaran Korea.

Lantai batu Istana yang indah lagi-lagi menjadi saksi bisu saat Kaisar Gojong memilih tetap tinggal di Istana Deoksugung setelah dipaksa untuk menyerahkan tahta kepada putranya, -yang akhirnya menjadi Kaisar Sunjong dan dikenal sebagai Kaisar terakhir Korea-, karena desakan Jepang. Pada masa inilah istana ini berganti nama kembali, dari Gyeongungung menjadi Deoksugung, sebagai harapan umur panjang dari (orang-orang) yang berbudi luhur yang menempatinya.

Bangunan Bergaya Barat

Istana Deoksugung yang berusia 5 abad itu itu memang unik. Di dalam kawasan istana dibangun beberapa gedung modern bergaya Barat diantara bangunan-bangunan khas tradisional Korea yang terlihat saling berbenturan gaya, namun ternyata disitulah kekuatan utama istana ini, unik. Dalam posisi tertentu, kita bisa tak yakin berada di kawasan istana di Seoul.

Seokjojeon (yang kini menjadi galeri seni) merupakan bangunan gaya Barat yang dibangun di Deoksugung. Karena Won yang menipis, saya tak masuk ke dalamnya namun bangunan dengan taman cantik berair-mancur inilah yang membuat saya tak percaya dengan mata sendiri, saya ini sedang berada di Seoul atau di Eropa…

Seokjojeon - is it in Seoul or not?
Seokjojeon – is it in Seoul? 🙂

Saya bergegas keluar karena hendak melanjutkan ke istana lain, walau tak yakin bisa memenuhi semua target yang ingin saya kunjungi di Seoul. Daun-daun berwarna kuning itu masih berjatuhan melayang tertiup angin musim gugur, memberi kenangan tersendiri tentang sebuah istana di Seoul.

Seri cerita sebelumnya di Korea:

  1. Ada Bahasa Indonesia di Seoraksan
  2. Hwangseong Fortress: Menjadi Warisan Dunia Karena Sebuah Buku Tua
  3. Menuju Seoul Dengan ‘Shinkansen’-nya Korea
  4. Haeinsa Trip: Beautiful Life Lessons with Ups & Downs
  5. Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-abad
  6. Bercermin Diri dalam Harmoni Kuil Haeinsa

*****

Tambahan info

Buka 09:00 – 21:00 (terakhir pembelian tiket pk. 20:00)

Harga Ticket

  • Dewasa 1,000 won / lebih dari 10: 800 won
  • Remaja 500 won / lebih dari 10: 400 won
  • Gratis bagi anak 6 tahun kebawah, atau Lansia 65 tahun ke atas atau bagi yang mengenakan Hanbok atau setiap hari Budaya (Setiap hari Rabu terakhir setiap bulan)
  • Terusan 10.000 Won mencakup Istana Changdeokgung termasuk Huwon dan Secret Garden, Istana Changgyeonggung, Istana Deoksugung dan Istana Gyeongbokgung serta Jongmyo Shrine, yang dapat digunakan dalam waktu satu bulan setelah pembelian.

Jadwal Tutup

  • Setiap Senin: Istana Changdeokgung, Istana Deoksugung, Istana Changgyeonggung
  • Setiap Selasa: Istana Gyeongbokgung dan Jongmyo Shrine

WPC – Place Where The Heart is


Trees and Ratu Boko Temple, Jogja
Sunset, Trees and Ratu Boko Temple, Jogja

Around two thousands years ago, a Roman philosopher, Gaius Plinius Secundus or known as Pliny the Elder, said short nice words but has deep meaning of a home,

“Home is where the heart is.”

It is not only a place where we’re back after working from day to day. It is more than that. Home is a place that makes us fully recharged and gives us peace. The place that is comforting because we know by heart.

Jogjakarta, or Jogja in short, or some say Yogyakarta, is my second hometown. The place I always be back, the place where I recharge, smell its sweet fragrance and feel its calm ambiance. I can watch sunrise at its beautiful beaches, or get lost into its old market, or wander around the labyrinth of traditional batik makers, visit the palaces and its squares, watch sunset on the hilly places and dine the gudeg, -Jogja’s traditional cuisine- which is offered in every corner of the city. Perhaps I do not know the people, but I can feel the same soul of Jogja in them.

And Ratu Boko’s palace is one of my favorite places in Jogja. Located on a small plateau not far from Prambanan temple, this palace is actually an archaeological site which has many heritage buildings. As a heritage lover I love to be there at different times, but watching sunset there is totally remarkable. From the highest point of this palace, I can see the amazing sunset and the panoramic view of Prambanan temple, and sometimes Mt. Merapi in the background if the weather is clear. Well, everyone knows about sunset, but sunset we watch from the place that is resided in our heart, surely evokes different feeling.

I can sit there in silence, do nothing, just listen to the nature’s voices, smell its calming fragrance, feel the encouraging delight ambiance, harmonize the love of people there and allow all the beauties to color the life. I am part of the amazing local.

Sunset at Ratu Boko, Jogja
Sunset at Ratu Boko, Jogja

Laos – Memenuhi Janji ke Wat Phou


Walaupun sudah berusaha lebih awal, saya sampai di gerbang Wat Phou pada saat matahari membentuk sudut kecil dengan tegaknya di atas kepala. Namun demikian, diiringi panas yang juara, saya berdiri diam dalam haru, setelah sekian lama akhirnya saya bisa menjejak di Wat Phou, kompleks percandian terakhir dari daftar candi yang dianugerahi oleh UNESCO sebagai World Heritage Site sebelum tahun 2014 di kawasan Asia Tenggara. Laksana sebuah pita lebar, pikiran saya terbang dan menalikan Borobudur, Prambanan, Angkor, Preah Vihear, Ayutthaya, Sukhothai, My Son dan kini Wat Phou yang ada di depan saya. Lengkap, 8 situs. Delapan, bentukan angka yang tarikan garisnya lengkung tak berujung.

Dan sebagaimana umumnya UNESCO World Heritage Site, jarak antara gerbang dan lokasi candi pasti masih jauh. Tetapi untunglah pemerintah Laos menyediakan layanan shuttle gratis sejenis golf-car berkursi banyak untuk mengantarjemput pengunjung dari gerbang masuk ke batas awal percandian. Sesuatu yang patut diacungi jempol untuk memajukan industry pariwisatanya. Tak terbayangkan seandainya harus berjalan kaki terpanggang matahari sepanjang hampir satu kilometer…

Kendaraan shuttle itu menyusuri pelan di pinggir baray (kolam buatan) yang airnya memberikan kesejukan di tengah hari yang panas dan menurunkan seluruh pengunjung di sudut Barat Daya baray. Berbeda dengan kebanyakan orang yang lebih memilih berjalan di jalan aspal di samping baray kedua yang telah mengering, saya justru memilih melakukan kunjungan secara ‘resmi’ melalui jalan pelintasan seremonial yang diapit dua baray kedua yang telah mengering.

The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background
The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background

Sebelum melangkah, tanpa menghiraukan terik yang memanggang, saya berdiri dalam hening di awal jalan pelintasan yang terbentang di depan, menatap lurus ke candi yang berada di atas bukit. Seperti juga di tujuh situs sebelumnya, saya selalu menautkan hati dengan bumi yang berada di bawah kaki saya, inilah tempat-tempat yang memiliki keluarbiasaan. Seakan memberi sambutan khusus, sejumput awan bergerak menutup matahari barang sejenak ditambah kesejukan udara dari baray besar tadi yang terasa membelai dari arah belakang. Jalan pelintasan lama ini beralaskan batuan pipih membentang tepat di tengah menuju bangunan candi. Saya memang tengah berdiri di pintu pertama dari jalan pelintasan resmi yang dulu digunakan untuk sebuah prosesi seremonial, jalan yang digunakan para Raja dan kaum bangsawan pada masa keemasannya. Tak heran auranya terasa magis dan suasana alamnya luar biasa…

Inilah candi kuno yang dulu selalu diasosiasikan dengan kota Shrestapura, kota yang terletak di pinggir Sungai Mekong dan berhadapan langsung dengan Gunung Lingaparvata. Dua symbol suci bagi mereka yang percaya, gunung yang berada di ketinggian dan dari namanya saja sudah dapat ditebak merupakan tempat kediaman salah satu dewa dalam Trimurti dan sungai besar yang tentu saja diasosiasikan dengan samudra atau Gangga yang suci. Jelas sekali bahwa Wat Phou ini didedikasikan Shiva, Sang Mahadewa.

Masih berdiri di awal jalan pelintasan, saya menatap pegunungan dengan puncak Lingaparvata yang melatari Wat Phu. Siapa yang mengira saya bisa menjejak di tempat yang berada segaris membagi dua antara Angkor Wat dan My Son, seakan memberi konfirmasi dari inskripsi yang ada bahwa sejak jaman dulu, tempat suci di bumi Laos sekarang ini memang telah memiliki hubungan langsung dengan Kerajaan Champa (sekarang Vietnam) dan juga Kerajaan Chenla (sekarang Kamboja).

Pemikiran itu menggugah senyum dalam hati, membayangkan sebagai bagian rombongan bangsawan melangkah pelan di jalan pelintasan beralas batu dan berhiaskan tonggak setinggi pinggang di kanan kiri. Jika dahulu jalan pelintasan ini terhampar bersih, kini mata perlu jeli agar kaki melangkah tanpa perlu menginjak kotoran binatang yang tertinggal.

Struktur pertama sebelah Utara menarik perhatian saya untuk dijelajahi terlebih dahulu, sementara bagian Selatan mengalami perbaikan di sana sini. Setelah mengambil gambar tampak luar, saya mulai menapaki tangga dan menyusuri dinding-dindingnya. Jendela berteralis batu berulir seperti di Angkor membuat saya lupa sejenak berada di bumi Laos. Memasuki bangunan tanpa atap ini, menjadikan imajinasi bergerak liar. Saya bebas membayangkan ruangan di hadapan ini, pada masanya berlantai kayu yang indah atau dibiarkan terhampar dengan rumput yang terpelihara. Saya juga mengintip dari balik gallery yang biasa tertutup atap lengkung. Disini pastinya sangat menyenangkan, memandang bumi Champasak yang terhampar jauh di hadapan dengan air yang memenuhi baray memberi keteduhan tersendiri.

Bangunan kembar di Selatan dan Utara ini, yang sering disebut sebagai istana, -bisa jadi untuk rehat bagi para bangsawan yang berkunjung-, merupakan bangunan pertama yang ditemui setelah akhir dari jalan pelintasan. Hanya bangunan di Selatan memiliki tambahan Kuil Nandi, bhakta (pemuja) setia Dewa Shiva, selain sebagai kendaraannya. Sayang sekali, di beberapa tempat terserak batu-batu hiasan yang cantik yang bisa jadi masih menunggu dikembalikan ke posisinya.

Kembali ke jalan pelintasan tengah, terlihat permulaan tangga berundak di ujung jalan. Tangga di tengah yang dinaungi pohon kamboja (frangipani) ini tidak dapat dilalui karena telah rusak dimakan usia sehingga pengunjung harus memutar sedikit. Dari sedikit ketinggian, pemandangan sudah terlihat membentang luar biasa.

Saya terus melangkah di jalan pelintasan yang kini menanjak dan berakhir di sebuah tangga berundak lain yang juga dinaungi pohon kamboja yang mengundang saya untuk rehat sejenak di bawahnya sambil mengamati bentuk dekorasi anak tangga dan orang yang melakukan sembah dan doa di depan sebuah patung berdiri berselempang hijau. Patung yang konon disebut dengan Dwarapala ini, bergaya Khmer dan hanya tinggal sendiri.

Setelah air botol habis, saya bergegas menuju kuil utama di atas melalui jalan berbatu yang kini tak lagi rata. Tangga di depan mata ini cukup curam, tak rata dan berdasar sempit dan tentunya tanpa pegangan tangan. Di beberapa tempat tinggi batunya mencapai lutut orang dewasa. Salah langkah disini, glundung sudah pasti.

Dibangun berdasar kosmologi Hindu, Wat Phou merupakan sebuah candi gunung, sebagai representasi gunung suci Meru, pusat alam semesta tempat kediaman para dewa. Dengan demikian, setiap lantai di Wat Phou bertambah tinggi seiring kenaikan levelnya, persis sebuah piramida.

Wat Phou - Central Sanctuary, Champasak, Laos
Wat Phou – Central Sanctuary, Champasak, Laos

Memasuki level teratas, selain menemukan batuan berukir yang terserak menunggu dikembalikan ke posisi sebenarnya, saya juga mengamati bangunan utama. Wilayah ini sudah digunakan sejak abad-5 sebagai tempat suci walaupun struktur yang sekarang berdiri berasal dari abad-11 hingga abad-13. Keindahan bangunan ini dipenuhi dengan hiasan rumit dwarapala dan devata di dinding. Berbagai hiasan di atas pintu seperti saat Krishna mengalahkan ular Kaliya dengan menari di atas kepalanya di atas pintu kiri atau Indra yang sedang menunggang Airvata sang gajah berkepala tiga di pintu tengah, Vishnu dengan mengendarai Garuda menaklukan naga di pintu kanan, Vishvakarma di atas Kala dan dijaga oleh singa.

Indra on Airvatha, Wat Phou
Indra on Airvatha, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou

Sejak abad-13 Wat Phou dialihfungsikan menjadi tempat ibadah Theravadda Buddha tanpa mengubah ornamen dinding namun hanya menambahkan patung Buddha, yang ritual ibadahnya dilakukan hingga kini. Pada altar tengah terdapat Buddha dengan pernak-pernik pemujaan di sekitarnya termasuk gong. Pada meja depan terdapat 3 buah batu yang terlihat cukup berat jika diangkat.

Inside the Sanctuary of Wat Phou
Inside the Sanctuary of Wat Phou

Di halaman sebelah Utara bangunan terdapat patung Boddhisatva yang kondisinya sebagian rusak namun dupa-dupa di depannya menandakan masih dipergunakan. Di belakangnya terpahat pada sebuah batu besar, Trimurti dengan Shiva di tengah, diapit oleh Brahma di sebelah kiri dan Vishnu di kanan.

Wat Phou view from the main sanctuary
Wat Phou view from the main sanctuary

Saya berjalan ke arah tebing di sebelah Utara, pemandangan kearah dataran rendah Laos terlihat semakin luar biasa dari balik pepohonan. Saya melihat banyak tumpukan beberapa batu pipih disusun keatas layaknya sebuah pagoda, yang sering juga saya lihat di Korea, Jepang, maupun di Angkor yang konon merupakan upaya meditasi yang menyusunnya. Selain itu, banyak batuan besar yang terlihat ‘labil’ ,-karena disangga bidang yang lebih kecil-, dipenuhi oleh penyangga kayu-kayu yang sengaja diletakkan pengunjung yang ibadah. Bisa jadi semua dilakukan berdasarkan keikhlasan turut menyangga sesuatu yang bersifat genting dan kritis.

Akhirnya saya mendapatkan Batu yang berpahat gajah itu. Luar biasa sekali. Beberapa saat menikmati batu gajah itu, semilir angin terasa membelai dari belakang. Karena saya tak merasakan kehadiran manusia lain di dekat saya, dan konon, jauh berabad sebelumnya tempat ini dijadikan tempat persembahan manusia, hal itu membuat saya bergegas kembali ke kuil utama.

Di tebing belakang kuil yang merupakan tempat awal kesakralan Wat Phou karena di bawah batu yang terlihat menggantung itu dialirkan air dari mata air melalui saluran berukir yang hingga kini tetap dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari dan ditampung pada tempat yang menyerupai sebuah yoni berongga. Padahal semua itu terdapat di sebuah ruang (ceruk) yang terbentuk di bawah tebing menggantung. Alam menyangganya dengan sangat baik.

Saya melihat dengan penuh ketakjuban, menyadari sangat kecilnya saya dibandingkan tebing batu itu. Kekuatan manusia tak ada apa-apanya. Sekali penyangganya terlepas, manusia lenyap, tak berbekas, penyet…

Udara masih panas, tetapi saya harus melangkah pelan meninggalkan Wat Phou, lokasi terakhir janji saya yang mewujud. Angka delapan itu tak putus, meliuk melingkar hingga suatu saat kita akan berjumpa lagi…

Nepal: Terjebak Lorong Waktu Menuju Dattatreya


Baru saja meninggalkan kamar ketika langkah kaki terhenti sejenak melihat beberapa orang, -sepertinya tetangga sekitar-, melakukan puja dan ibadah pagi di tempat pemujaan kecil yang ada di bagian dalam halaman penginapan. Pikiran langsung melayang pada ritual serupa di tanah air atau juga di banyak tempat. Sepertinya semua agama memiliki keserupaan mengawali hari dengan ibadah, menciptakan hubungan yang amat pribadi antara manusia dengan Sang Khalik Pemilik Semesta. Indah sekali.

 

Tak ingin mengganggu mereka lebih lama, saya melipir dinding kearah luar melalui pintu belakang dan menemukan deretan gerabah tanah liat teronggok begitu saja tanpa ada yang menjaga. Siapa juga yang berniat mengambilnya karena hampir semua sudut dekat penginapan terdapat deretan gerabah serupa. Tak heran Bhaktapur terkenal juga dengan Pottery Square-nya, sebuah tempat yang kemanapun mata memandang terdapat gelaran gerabah yang instagramable. Namun entah kenapa, hal yang menjadi salah satu ikon Bhaktapur itu bukan menjadi fokus saya pagi hari itu, karena kedua kaki ini mengajak kembali menuju Bhaktapur Durbar Square melalui lorong berdinding bata yang menjulang tinggi.

Berada di lorong sempit di antara bangunan tradisional, rasanya seperti menekan tombol mesin waktu ke abad pertengahan. Jarak antar bangunan begitu rapatnya hingga langit hampir tak terlihat karena tertutup sambungan atap dari bangunan yang berseberangan. Beberapa kali saya mendongak ke atas mencari langit sambil mengukur ketinggian jendela-jendela Newari yang menghias dinding. Mau tidak mau saat melihat material dinding, sejumput pikiran teknis yang terinstal di kepala muncul sekejap dalam rasa ngeri, dinding-dinding itu terlihat begitu ringkih, mudah runtuh dan sangat berisiko (dan enam bulan kemudian, Bhaktapur menjadi salah satu kawasan terburuk yang terkena dampak gempa bumi April 2015)

Benar-benar seperti terperangkap dengan apa yang saya lihat dan apa yang saya rasakan di Bhaktapur ini. Mereka meneruskan tradisi hingga sepertinya kesan kuno Bhaktapur tetap terjaga. Mereka tetap menggunakan batu bata dengan perekat lumpur untuk mendirikan atau merenovasi bangunan yang bergaya tradisional di negeri indah ini. Bisa jadi karena bahan konstruksi mahal dan tidak mudah didapat di negeri yang dikelilingi dua negara besar India dan China ini. Ketika melihat semua yang kuno di Bhaktapur ini, tidak hanya sekali saya mencubit diri sendiri, ini bukan mimpi kan? Tapi terasa pedih, ini sungguh nyata, bukan mimpi, saya ada di abad-21!

Akhirnya saya menjejak lagi di alun-alun istana lama itu. Saya terpana dengan pemandangan sekitarnya, -sungguh berbeda dengan keadaan sore sebelumnya yang padat dengan pengunjung-, kali ini hanya ada dua orang di ruang terbuka luas itu diantara burung-burung pagi yang sibuk mencari makanan di pelataran depan kuil Vatsala Durga (yang kini telah rata dengan tanah akibat gempa 2015). Rasanya janggal melihat bangunan-bangunan indah di Bhaktapur Durbar Square itu dibalut kelengangan, seperti masih terlelap dalam pelukan pagi. Sepinya terasa menggigit dan mampu membuat saya terdiam dalam hening, merasa seperti ribuan mata damai tengah memperhatikan. Menyadari hari ini terakhir di Bhaktapur, saya berbisik pamit pada tempat dengan kedamaian pagi yang indah ini. Semoga waktu bisa mempertemukan kita lagi disini.

Saya melanjutkan langkah ke Taumadhi Square, alun-alun kecil lainnya tempat Nyatapola megah berdiri dan hanya berjarak seratus meter dari Bhaktapur Durbar Square. Di balik sebuah panggung batu saya melihat orang-orang menggelar dagangannya di tanah beralaskan plastik lebar. Sayuran, ubi, tomat, labu, bawang merah, bawang putih, buncis, rempah-rempah, paprika, kembang kol, ketimun, dan masih banyak lagi keperluan sehari-hari. Pelan-pelan saya melangkah menikmati situasi, dikelilingi bangunan berusia ratusan tahun dan ditengah pasar dadakan yang penuh dengan orang berbaju tradisional. Rasanya sama seperti terjun  kembali ke abad pertengahan. Lagi-lagi saya berpikir, ini bukan abad-21!

Diterpa keterpanaan menyaksikan semuanya dalam pusaran ‘lorong waktu’ ini, saya terus mengikuti kaki melangkah dan terhenyak saat menyadari sudah berdiri di depan penginapan saya sendiri dari sisi yang berbeda. Ah, kali ini bisa jadi si dua kaki menurut pada si perut yang memerintah 🙂

Dan karena sudah di depan penginapan sendiri, saya sempatkan untuk menikmati sarapan yang tersedia di lantai teratas yang terbuka (rooftop). Kali ini saya merasa kembali ke abad-21 lagi karena makanan yang sedikit internasional walaupun terasa aneh karena sarapan ditemani burung gagak. Bisa jadi terpengaruh cerita-cerita tentang burung gagak… 😀

Selepas sarapan saya melanjutkan jalan-jalan pagi, kali ini lebih mengarah mencari ATM atau money changer untuk menambah lembaran Nepali Rupee yang sudah tinggal satu atau dua sambil, -jika memungkinkan-, menjelajah ke tempat lain.

Kali ini saya mengambil arah lain yang lebih sepi walaupun tetap berhiaskan dinding bata yang menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran rumit pada jendelanya. Angin pagi bulan November terasa lembut menerpa muka. Alunan musik tenang bernada oriental Tibet Om Mani Padme Hum yang mengalun lembut sepanjang toko-toko terdengar menghipnotis di telinga, seakan membawa saya kembali dalam perjalanan waktu. Rasanya memang luar biasa, langkah yang sangat ringan, tak ada beban, terbang melayang…

Hingga sampai pada muara lorong itu…

Tepat di depan sebuah hiti, -tempat pengambilan air- dan di depannya terdapat sebuah panggung kecil dari batu. Saya tersadarkan berada di sebuah square lain dan pastinya dekat dengan sebuah tempat istimewa. Saya masih melangkah, di sebelah kanan saya dinding rumah dengan hiasan rumit yang sangat cantik tapi terawat dengan baik.

Hingga saya berdiri dekat sebuah kolom dan mendongak melihat sesuatu di atas…

Garuda!

Garuda at Dattatreya Temple
Garuda at Dattatreya Temple

Dalam sekejap rasanya seluruh aliran darah meluruh semua ke bawah meruntuhkan kekuatan berdiri begitu menyadari bangunan yang ada di hadapan mata adalah Dattatreya, kuil yang dibangun oleh Raja Yaksha Malla di tahun 1427! Kuil berusia ratusan tahun dan konon dibuat dari satu pohon ini, didedikasikan kepada sosok inkarnasi ketiga dewa utama dalam Hindu, Brahma, Vishnu dan Shiva. Namun dengan empat symbol Vishnu yang ada di depan bangunan, Gada, Cakra, Lotus dan Kerang menyadarkan presentasi reinkarnasi dewa yang lebih diutamakan di kuil ini.

Garuda, Cakra, The Mace, Conch Shell, Lotus in front Dattatreya
Garuda, Cakra, The Mace, Conch Shell, Lotus in front Dattatreya

Saya masih dipenuhi rasa tak percaya mengikuti kaki melangkah hingga ke tempat ini bahkan tanpa peta sekalipun, hanya berdasarkan ingatan bahwa somewhere in Bhaktapur, there is Dattatreya square. Bahkan dalam lorong jalan yang ditempuh tak ada satu pun rambu yang menunjukkan arah ke Dattatreya. Seakan-akan memang saya ‘dibawa terbang’ ke tempat ini menembus lorong waktu untuk sampai ke tempat cantik ini.

Bhimsen Temple in front of a hiti, Dattatreya Square
Bhimsen Temple in front of a hiti, Dattatreya Square

Tengah menikmati situasi sekitar yang aslinya berasal dari abad pertengahan, secara tidak sengaja mata ini tertumbuk pada sebuah proses jual-beli disitu. Mendadak rasa dingin menyerang sekujur tubuh menyadari isi dompet yang telah tipis dan waktu yang berangkat siang. Saya harus segera mencari ATM Internasional atau money changer. Tetapi di Bhaktapur? Di pagi hari seperti ini? Pikiran ini sekejap membolakbalikkan pikiran saya antara abad-21 dan abad pertengahan tepat seperti apa yang saya lihat di depan mata. Ah… saya mungkin gagap waktu!

Dengan miris tak ikhlas, sejumput kata perpisahan kepada Dattatreya saya bisikkan dari dekat kolom Garuda. Alun-alun kecil di Bhaktapur ini telah dengan ajaibnya memberi warna di dalam hati dengan membiarkan ditemukan hanya dari sebuah bimbingan hati. Benar-benar berat untuk melangkah meninggalkan kawasan Dattatreya, tetapi saya sadar waktu tak pernah menunggu. Memutar langkah, saya melangkah kembali, suatu saat kita akan berjumpa kembali…

Menyusuri jalan yang sama, kali ini lorong waktunya lebih cepat berganti ke abad-21, mungkin karena kebutuhan uang yang mendesak. Mata saya lebih tajam mencari logo ATM ataupun Money Changer. Semoga sistem ATM-nya buka 24 jam atau  money changer sudah buka.

Selagi melangkah mencari ATM, di ujung lorong dari sebuah kios yang tersembunyi, mata menangkap rangkaian bulu merak yang dibentuk menjadi sebuah kipas yang tergantung. Sebagai penggemar merak, semua yang berhubungan dengan merak cepat sekali saya kenali. Tentu saja saya ingin membelinya, tetapi tidak punya cukup uang untuk itu. Entah kenapa tetapi situasi ini sepertinya saya kenali, seakan saya sedang diuji… Apakah saya memilih membeli merak dengan lembaran besar USD atau meneruskan langkah untuk mendapatkan Nepali Rupees seperti niat awal sekembalinya dari Dattatreya tadi. Sebuah godaan…

The lane to Dattatreya
The lane to Dattatreya

Saya memilih meneruskan mencari Money Changer dan melepas keinginan membeli kipas merak itu lalu melanjutkan langkah.  Dan benar saja, sekitar 500 meter setelahnya saya melihat tulisan Money Changer yang hanya bisa dilihat dari posisi arah jalan saya. Dan yang terpenting, money changer tersebut telah buka! Ah, lagi-lagi saya mendapatkan berkah keajaiban pagi ini. Setelah sehari sebelumnya mencoba beberapa ATM dan tidak berhasil, sepertinya saya memang ditakdirkan mengalami perjalanan bolak-balik melalui lorong waktu. ATM merupakan teknologi yang sudah umum di abad-21 namun saya tidak berjodoh dengan menggunakan teknologi abad-21 itu di Bhaktapur. Pagi ini di kios Money Changer, saya kembali dihadapkan kepada proses tradisional, yang dilakukan sama berabad lalu, -seperti juga di abad pertengahan-, dalam hal penukaran mata uang asing. Selembar USD tadi telah berubah menjadi NPR, dan lega rasanya membawa kembali NPR di dompet.

Dengan adanya uang di dompet, timbul lagi keinginan kembali ke kios yang menjual kipas bulu merak. Tetapi lagi-lagi ada rasa ragu, entah kenapa, saya ragu tak cukup waktu untuk ke bandara mengejar pesawat. Entahlah, tetapi saya membatalkan untuk kembali ke kios yang menjual kipas merak itu, sebuah keputusan setengah hati yang mungkin saya sesali karena hingga kini saya tidak pernah punya kipas merak! Tetapi, ah, bisa jadi kipas bulu merak yang cantik itu memang bukan jodoh saya, melainkan milik mereka yang ‘terjebak di abad pertengahan’…

Jepang: Toshogu Di Nikko Yang Sarat Makna


Menjejakkan kaki di Stasiun Nikko yang didisain cantik, saya yang dipenuhi rasa haru bergegas membeli tiket bus one day pass yang dapat digunakan untuk mengelilingi seluruh tempat wisata yang ada di kawasan Nikko, walaupun diselimuti sejumput keraguan dapat menyelesaikan kunjungan dalam sehari. Tetapi bagaimana pun saya memulainya dari Toshogu, tempat cerita ini bermula…

View from Omotemon -  See the Torii?
View from Omotemon – See the Torii?

Sambil menanti bus, saya terkadang tersenyum sendiri. Nikko, salah satu kawasan World Heritage Site Jepang yang ditetapkan sejak 1999, merupakan destinasi yang sudah lama saya impikan untuk dikunjungi. Ketika kali pertama ke Jepang, saya mencoret impian ini, karena keterbatasan waktu lalu tahun-tahun selanjutnya berlalu hanya berupa mimpi bisa menjejak di Nikko.

Dan pagi ini, ketika Shinkansen Yamabiko menurunkan saya di Utsunomiya setelah berkereta dari Tokyo, saya berpindah menggunakan Nikko Line, -kereta lokal yang disediakan oleh Japan Rail untuk mencapai Nikko-, sebuah kota kecil berpenduduk puluhan ribu di prefektur Tochigi, 200km Timur Laut Tokyo. Perjalanan kereta selama 45 menit ini seperti perjalanan manis ke Bandung yang melewati pegunungan dan pedesaan dengan pemandangan yang sangat cantik. Saya tak bermimpi! Saya ada di Nikko!

Nikko Station and neighborhood
Nikko Station and neighborhood

Berada di pegunungan sekitar 600meter di atas pemukaan laut, kawasan Nikko lebih dikenal sebagai tempat peninggalan kekayaan budaya dan penguasa jaman Edo dari Keshogunan Tokugawa yang berkuasa turun temurun selama 250 tahun sejak abad-16. Bahkan Shogun Ieyasu Tokugawa sendiri dimakamkan di Nikko, menjadikan tempat ini dihormati secara khusus oleh masyarakat Jepang. Ditambah dengan keberadaan Kuil Toshogu, -sebuah Kuil Shinto yang luar biasa cantiknya-, menjadikan Nikko sebagai tempat yang sesuai artinya dalam bahasa Jepang, Cahaya Matahari. Rasanya tepat sekali kiasan yang mengatakan Nikko adalah Nippon, karena adakah yang mampu memisahkan Cahaya Matahari dari Matahari Terbit?

Setelah bus membawa saya ke lokasi Kuil Toshogu, sambil berjalan menanjak menuju gerbang, pikiran saya dipenuhi sejarah Nikko yang sebenarnya telah terukir lama sebelum ajaran Buddha diperkenalkan di tempat ini. Masyarakat tradisional telah lama melakukan kegiatan pemujaan di Gunung Nantai yang letaknya tak jauh dari Nikko. Kegiatan itu tetap berjalan, walaupun seorang biksu Buddha Shodo Shonin, -penyebar ajaran Buddha yang berkelana ke pedalaman hingga ke Gunung Nantai-, menjadikan Nikko sebagai pusat kegiatan ajaran Buddha di abad-8. Dan demikianlah, ajaran asli Shinto yang telah menyerap di dalam kehidupan masyarakat lokal saat itu, tetap dilaksanakan dalam kehidupan yang harmoni dengan ajaran Buddha, sehingga kuil Buddha dan kuil Shinto tetap berdiri secara berdampingan di Nikko sejak dulu. Ada yang berdenyut di dalam diri ini, seakan menampar wajah sendiri. Toleransi, sebuah kata yang mudah diminta tetapi tak mudah diberi.

View from Omotemon -  See the Torii?
View from Omotemon – See the Torii?

Kaki masih menapaki jalan berkerikil yang menanjak menuju gerbang. Di Nikko inilah tempat pemersatu bangsa Jepang, Shogun Ieyasu Tokugawa (1542-1616) dimakamkan. Bahkan setelah kematiannya, dia berharap tetap dapat melindungi Jepang secara spiritual, dengan menempatkan makamnya di Nikko, yang terletak di Utara pusat wilayahnya (kini Tokyo). Dengan begitu dia bisa menghadang semua iblis dan bentuk kejahatan yang secara tradisional dipercaya datang dari arah Utara. Lagi-lagi saya merasa terjerembab kalah memahami makna totalitas perjuangan, menyadari bedanya orang biasa dengan seorang Shogun, yang tak ingin berhenti berjuang, bahkan berupaya hingga melampaui maut dan waktu, mempersembahkan jiwa raga, melindungi apa yang menjadi tanggung jawabnya termasuk orang-orang yang hidup di dalamnya.  Sedangkan saya? Apa yang telah saya lakukan dalam hidup ini?

Sepeninggal Ieyasu Tokugawa, di tahun 1617 dilakukan pembangunan Kuil Toshogu yang sederhana oleh penerusnya, Shogun Hidetada Tokugawa dan direkonstruksi menyeluruh menjadi sebuah mahakarya, seperti yang dilihat hingga kini oleh Shogun Iemitsu Tokugawa pada tahun 1636 dengan bantuan hampir setengah juta pekerja dan seniman untuk membangun kuil indah yang selesai dalam waktu hampir satu setengah tahun.

Ishidorii - 16c Stone Torii
Ishidorii – 16c Stone Torii

Jantung berdenyut lebih keras saat melalui sebuah Torii dari batu yang dikenal dengan sebutan Ishidorii, yang dipersembahkan tahun 1618 oleh Kuroda Nagamasa, seorang tuan tanah di wilayah Kyushu (sekarang daerah Fukuoka). Torii batu yang terdiri dari 15 buah batu granit besar yang sangat berat itu, dikirimkan dengan kapal dari Kyushu ke Koyama kemudian dikirim melalui darat ke Nikko. Saya terkagum melihat Torii yang luar biasa ini, karena selain besar dan terlihat kuat, torii ini dibangun dengan teknologi anti-gempa. Terbukti Jepang yang telah melalui begitu banyak gempa besar, torii ini tak pernah runtuh sejak dibangun di awal abad-17. Benarlah kata Kahlil Gibran (tentang Pernikahan) agar memberi jarak pada batu kuil agar dalam keadaan terguncang (saat gempa), batu tak akan bisa meruntuhkan.

Gojunoto - Five Stories Pagoda
Gojunoto – Five Stories Pagoda

Setelah melewati torii, di sebelah kiri terlihat Gojunoto, pagoda lima lantai dengan ketinggian 36meter. Didalamnya terdapat Shinbashira, -teknologi anti-gempa berbentuk tiang berdiameter 0.6m yang tergantung dari lantai 4 hingga hampir menyentuh lantai bawah. Dalam keadaan gempa, Shinbashira ini akan menopang rangkaian rangka kayu sehingga tidak akan runtuh. Tetapi memang umumnya pagoda di Jepang bisa selamat dari gempa, tetapi lebih sering hancur karena terbakar. Seperti Gojunoto di Nikko ini, dibangun tahun 1648 oleh Gubernur Sakai Tadakatsu dari Wakasa (sekarang Fukui) namun terbakar di tahun 1815. Yang terlihat sekarang merupakan rekonstruksi di tahun 1818 dengan dua belas lambang Shio tergambar di sekeliling lantai pertama.

Omotemon - The Gate with The fierce guard
Omotemon – The Gate with The fierce guard

Kemudian saya sampai di gerbang depan yang dikenal dengan sebutan Omotemon. Dihiasi dengan dua penjaga berwajah bengis dikenal dengan nama Nio (Vajrapani dalam Sansekerta) setinggi 4meter dan dikawal oleh sepasang singa di sisi lainnya serta gajah-gajah berlapis emas. Bila diperhatikan mulut penjaga yang satu tertutup (Agyo)  dan penjaga lainnya terbuka (Ungyo), konon menyuarakan falsafah dasar mengenai kehidupan, yang hidup pasti mati, setiap awal akan berakhir atau pernah dengar istilah ‘Alpha Omega’ kan?

The imaginary Elephant - BTW see the raven?
The imaginary Elephant – BTW see the raven?
Sanjinko - Three Sacred Store House
Sanjinko – Three Sacred Store House

Setelah melalui gerbang Omotemon dengan takzim, di hadapan saya terlihat tiga Bangunan Suci Penyimpanan, di sebelah kanan dikenal dengan nama Shimojinko (artinya Bawah), Nakajinko (Tengah) dan paling kiri Kamijinko (atas); yang ketiganya lebih dikenal dengan sebutan Sanjinko, yang digunakan untuk menyimpan kostum festival musim semi dan musim gugur serta peralatan pasukan berkuda lengkap dengan panah-panahnya. Menariknya, ada penggambaran dua makhluk serupa gajah di ujung atap Kamijinko yang dikenal dengan ‘gajah imajinasi’. Gajah atau bukan Gajah?

Kemudian saya berbalik dan berhadapan dengan Sanjinko adalah satu-satunya bangunan sederhana yang tak bercat, terkenal dengan nama Shinkyusha (Kandang Kuda Suci). Dan di bagian atas saya berjumpa dengan ukiran tiga kera bijak (Sanzaru) yang telah menggaungkan “hear no evil, see no evil, speak no evil” ke seluruh dunia. Lalu apa hubungannya kera dan kuda? Kenapa ada di kandang kuda? Ternyata sejak dulu telah dipercaya kera merupakan pelindung kuda, dengan demikian kera yang tergambar di sekeliling dinding kandang diharapkan bisa melindungi kuda-kuda suci dari penyakit.

Omizuya for purifying
Omizuya for purifying

Setelah diberi petuah hidup oleh Sanzaru, saya dilepas menuju Omizuya, tempat untuk bersuci lahir batin sebelum memasuki bangunan utama Kuil. Omizuya ini didirikan tahun 1618 oleh Nabeshima Katsushige, seorang Pejabat Daerah dari Kyusu-Saga. Air yang digunakan untuk bersuci, -datangnya dari sungai tak jauh dari situ-, sangat segar dan dingin sekali seperti es walau di musim panas sekalipun. Terdapat 12 pilar granit untuk mendukung atap bergaya China berlapis keemasan yang menggambarkan gelombang dan naga terbang, yang merupakan keindahan seni jaman Momoyama akhir abad-15.

Sayangnya Yomeimon Gate yang luar biasa dan menjadi pusat keindahan Nikko, sedang direnovasi, padahal gerbang itulah yang dijuluki Gerbang Utama Kekaisaran. Gerbang ini dikenal juga sebagai Gerbang Matahari Tenggelam karena konon bisa menyaksikan keindahan matahari seharian tanpa merasa lelah. Tetapi saat melewatinya saya sempat mengabadikan sedikit bagian Gerbang dan itupun sudah mampu membuat nafas berhenti karena indahnya.

The decoration of The Corridor
The decoration of The Corridor

Walaupun gerbang diselubungi, saya bisa menikmati Kairo (Koridor) yang merupakan dinding luar kiri dan kanan dari Gerbang Yomeimon yang dihiasi dengan bunga-bunga dan burung yang luarbiasa indahnya yang merupakan salah satu ukiran terbaik di Jepang. Sebagai penggemar merak, saya gemas sekali melihat begitu banyaknya ukiran merak yang cantik disini.

The White Stories of Karamon
The White Stories of Karamon

Setelah Yomeimon, terdapat gerbang kedua, Karamon, berwarna putih dan dihiasi dengan ukiran cantik yang mengambil kisah legenda orang bijak dari China (Kyoyi dan Shoho) yang beraudiens dengan Kaisar dan beberapa adegan lainnya. Gerbang ini tak bisa dilalui, sehingga pengunjung harus memutarinya namun karena melihat banyaknya antrian orang yang akan beribadah, saya tak menyesal membatalkan untuk masuk ke Gohonsa, ruang utama untuk ibadah. Bukankah niat ibadah jauh lebih penting daripada saya yang hanya untuk melihat-lihat?

Juga jalan menuju Okumiya, makam dari Ieyasu Tokugawa, penuh dengan orang yang akan memberi penghormatan. Saya sempat menapaki setengah hati lalu akhirnya berhenti dan berbalik. Tanjakan panjang masih menanti sedangkan waktu tak mau menunggu. Saya harus kembali ke Tokyo. Semoga saya masih punya kesempatan kembali ke sini meskipun diantara proses renovasi yang dimulai sejak 2007 dan berakhir di tahun 2024, saat peringatan 400 tahunnya Ieyasu Tokugawa.

The Red Shinkyo Bridge
The Red Shinkyo Bridge

Dalam perjalanan kembali ke Tokyo, walaupun saya melewatkan kuil-kuil lainnya, dari jendela bus saya sempat mengabadikan jembatan merah Shinkyo yang terkenal. Jembatan yang merupakan pintu masuk ke Kuil Rinnoji, sering disebut dengan nama Snake Bridge.  Konon, biksu Shodo Shonin yang sedang kesulitan menyeberang sungai Daiya saat menyebarkan kebaikan, mendapat pertolongan dewa yang menjelma menjadi sepasang ular yang membentangkan diri di atas sungai menyerupai jembatan. Tak salah memang, orang baik senantiasa mudah mendapatkan pertolongan.

Hiroshima, Ketika Avalokitesvara Kehilangan Semua Tangannya


6 Agustus 1945 08:15

Bom atom dunia pertama kali dijatuhkan di atas kota Hiroshima,

meledak di ketinggian 600 meter di atas permukaan kota

menimbulkan efek bola api menyerupai mini surya ,

menghempas kuat gelombang panas membara,

merenggut puluhan ribu nyawa, seketika…

lalu ratusan ribu nyawa terenggut dalam hitungan menit, jam, hari, bulan setelahnya

dan kian bertambah akibat radiasi yang ditimbulkan darinya

Kota menjadi rata, bangunan berserak, hewan pun tak ada

Terpisah nyawa dari raga manusia dewasa,

lanjut usia, anak-anak, dan balita…

*

Saya menghentikan langkah sejenak menatap pintu. Sekali masuk tidak ada langkah mundur. Sekilas teringat saat menapaki Museum Genosida Tuol Sleng dan the Killing Fields di Phnom Penh, Kamboja, yang mampu membuat hati dan perasaan saya terkapar, tak mampu lagi menumpahkan airmata. Gambaran pembantaian kemanusiaan yang menghancurkan seluruh rasa. Saya menutup mata. Sungguh sebuah pengalaman rasa yang tak ingin saya ulangi untuk kali kedua di Hiroshima.

Di balik pintu di depan saya adalah Hiroshima Peace Memorial Museum, yang menyimpan kisah bom atom yang mengerikan, menghancurkan yang tak boleh kita lupa. Tak jauh beda dengan apa yang pernah terjadi di Kamboja. Cerita tentang hilangnya kemanusiaan di sebuah negara. Sayangnya Hiroshima tak dekat, tak bisa langsung terbang setiap ingin berjumpa. Dan kini sebuah kesempatan sedang terbuka di depan mata, tersenyum menantang kekuatan rasa. Duhai Engkau Pemilik Segala Kuasa, tolong kuatkan hati saya…

*

Sambutan senyum para penjaga museum yang separuh baya di depan pintu terasa menyejukkan, mereka yang mungkin mendengar cerita langsung dari para korban yang selamat. Senyum yang menguatkan, dari mereka yang telah mengikhlaskan segalanya.

*

Berada di beranda Museum pun, terasa kelamnya Hiroshima dengan ratusan ribu nyawa manusia dan makhluk hidup lainnya yang tak berdosa yang telah terenggut hari itu tujuh puluh satu tahun lalu. Terngiang keras di benak, sebenarnya apa yang telah dilakukan anak-anak dan orang-orang sipil itu terhadap pasukan Amerika yang telah menjatuhkan bom di negeri Sakura? Atau mereka hanya menjadi orang yang berada di tempat yang salah di waktu yang salah? Entahlah, tetapi lantunan suci dalam kitab serta merta memenuhi benak…

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Qs. Al-Ma’idah[5]: 32)

Those who suffered most
Those who suffered most

Bom Hiroshima juga telah mengingatkan saya akan kisah Mahabharata, bagaimana Krishna, -sebagai avatar Dewa Wisnu-, selalu mengupayakan keseimbangan alam, termasuk pengendalian senjata mematikan Brahmastra dan Brahmashirsha yang dimiliki oleh sebagian tokoh-tokoh dalam kisah epik Mahabharata. Senjata-senjata dari Dewa Brahma itu, -yang dipercaya setara dengan senjata nuklir di masa kini-, tidak boleh dilepaskan tanpa disertai pengetahuan dan ketrampilan yang mendalam karena akan menghancurkan dunia dan mengganggu keseimbangan alam.

Namun memang kebanyakan manusia tak belajar dari orang-orang masa sebelumnya.

*

Kaki saya mulai melangkah memasuki lorong sejarah kelam dunia, disambut foto-foto ukuran besar kumpulan awan jamur dari berbagai sisi. Sebuah gambar khas dari ledakan bom nuklir. Gambar yang serupa dengan gambar percobaan nuklir masa kini yang biasa dilakukan di sebuah pulau tak berpenghuni, tetapi foto di depan mata ini, di bawahnya adalah kota Hiroshima berpenduduk sekitar 350.000 jiwa. Foto ledakan bom atom yang dijatuhkan oleh pesawat Pembom B-29 bernama Enola Gay sesuai nama ibu dari sang pilot pesawat, Paul Tibbets.

P1040927
The Mushroom Cloud, Hiroshima 1945

Melanjutkan langkah, ruangan dibuat sendu dengan cahaya temaram sesuai suasana hati pengunjung yang memasukinya. Di tengah ruang terhampar maket kota Hiroshima dengan sebuah bulatan merah di atasnya, begitu jelas penggambaran bom atom yang meledak dan menimbulkan efek bola api serupa matahari kecil dalam bentuk tiga dimensi. Lalu saat menengok ke kanan sebuah ceruk menggambarkan situasi apa adanya setelah bom meledak, lengkap dengan boneka seukuran manusia luka-luka penuh penderitaan dengan pakaian compang-camping berupaya mempertahankan hidup, dengan lingkungan sekitarnya yang telah porak poranda, hitam merah membara. Saya melengos tak ingin memperhatikan lebih detail.

P1040955
Hiroshima and the Atomic Bomb

Banyak peninggalan barang dari orang-orang yang tak bisa selamat dari jatuhnya bom atom itu, yang menjadi saksi kekejaman sebuah bom nuklir. Di sebuah kotak kaca, saya melihat sebuah replika jam saku yang mati dengan jarum menunjukkan tepat pukul 08.15, saat bom itu meledak di atas Hiroshima. Pemakainya tak berhasil selamat. Saya mulai merasa berat, isi perut terasa bergejolak.

pocketwatch
Pocket Watch 08:15

Sebuah meja jati yang tampak berat dan keras dihiasi kaca. Dihiasi? Bukan! Semua kaca yang tertempel di meja itu merupakan pecahan kaca jendela yang menerjang meja saat ledakan terjadi, membuktikan betapa hebatnya tekanan yang terjadi saat itu yang melebihi kecepatan angin. Genteng rumah dan materi lain yang mengalami perubahan bentuk karena terkena gelombang panas yang luar biasa.

The school uniforms of the students, Hiroshima 1945
The school uniforms of the students, Hiroshima 1945

Pakaian yang robek disana-sini, sepatu, tas milik anak-anak yang bersekolah, semua menjadi saksi diam ledakan bom atom. Pemiliknya sendiri, yang terdiri dari daging dan tulang, tak mampu menyelamatkan diri, sama seperti lebih dari 350.000 nyawa yang hilang begitu saja di Hiroshima.

Kotak makan siang yang menghitam meninggalkan kisah getir tentang makanan yang ada di dalamnya. Sang ibu telah menyisipkan kedalam tas sekolah anaknya, namun bekal makan siang itu tertinggal dalam keadaan hitam terpanggang, tak pernah dimakan oleh putranya yang tak selamat dari bom atom itu.

lunchbox
The Lunch Box of A Student, Hiroshima 1945

Bahkan semakin dekat dengan pusat ledakan, situasinya semakin tak terbayangkan dalam pikiran. Kuku manusia yang mengalami deformasi, perubahan bentuk hingga memanjang, bukanlah sesuatu yang mudah dibayangkan sebagai akibat dari ledakan bom atom. Di tempat lain di dekat hypocenter, pusat ledakan, sebuah bayang hitam berbentuk badan manusia yang tertinggal di dinding beton, menunjukkan tubuh ringkih manusia itu menghablur, langsung hilang terpecah menjadi butiran-butiran mikro tak terlihat akibat hempasan tekanan tinggi dan gelombang panas ledakan yang mencapai ribuan derajat Celsius, menempel dan meninggalkan bayang hitam ke dinding beton. Saya menggigit bibir menahan beratnya rasa yang muncul, paling tidak mereka yang berada sangat dekat dengan pusat ledakan, tak pernah merasakan sakit saat maut menjemputnya.

Saya memasuki ruang selanjutnya dan tak menyangka di tempat itu saya mengalami lagi apa yang pernah dialami ketika berada di Kamboja. Rasa so hollow… Bisa jadi seluruh rasa yang membebani itu terhempas begitu saja menjadi serpihan ketika melihat patung Avalokitesvara, -sering dikenal juga dengan sebutan The Goddess of Mercy, Dewi Welas Asih atau Dewi Kwan Im-, yang tidak memiliki tangan lagi. Yang menghempaskan hati ke dasar paling bawah, bisa jadi karena saya melihatnya dalam makna simbolik.

P1040977
Avalokitesvara with no arms

Avalokitesvara tanpa tangan!

Konon, Avalokitesvara bersumpah tidak akan beristirahat ke Nirwana selama masih ada manusia dan makhluk hidup lainnya yang mengalami penderitaan di dunia sehingga ia diberikan ribuan tangan agar dapat menolong semua makhluk hidup yang menderita di dunia.

Namun apa yang terlihat di depan mata, terasa begitu simbolis, sungguh memedihkan. Bom atom yang dijatuhkan pun telah mematahkan seluruh tangan Dewi Welas Asih, The Goddess of Mercy, yang dengan kewelasasihannya, ia gunakan untuk menolong seluruh makhluk hidup yang menderita di dunia. Dan tanggal 6 Agustus 1945 pukul 08.15 ribuan tangannya pun seakan tak diizinkan tetap ada…

Rasanya benar-benar terhempas ke dasar jurang paling dalam, terasa sangat kosong, so hollow

Ketika tak ada lagi kemanusiaan, ketika tak ada lagi tangan kewelasasihan yang bisa menolong, penderitaan hebat di dunia menjadi sesuatu yang sangat nyata.

*

The bomb was not only dropped on the citizens of Hiroshima and Nagasaki. It was dropped on the whole humanity – Satoru Konishi

My Son Yang Kehilangan Nama-Namanya


Setelah meninggalkan Hoi An dengan segala huru hara pagi yang mendebarkan, pengemudi setengah baya yang sama yang menjemput saya dari bandara sehari sebelumnya, kini membawa saya menuju My Son, sebuah kawasan UNESCO World Heritage Site di Vietnam Tengah, yang berjarak sekitar 40 km dari Hoi An. Saya tak mampu menyembunyikan kegembiraan hati, apalagi setelah menemukan rambu penunjuk arah My Son 9 km atau My Son 3 km… Seperti mau bertemu sang kekasih…

Tak menyesal saya menyewa mobil untuk sampai ke My Son, karena sepanjang perjalanan tak banyak terlihat angkutan umum ke tempat itu, apalagi jelang lokasi. Bahkan rambu penunjuk arah juga tak banyak. Sepertinya prioritas My Son sebagai kawasan wisata tak setinggi tempat lainnya. Mungkin karena hanya orang-orang dengan ketertarikan tertentu yang akan mendatangi reruntuhan bebatuan candi. Tiket masuk seharga 100.000VND (sekitar 5USD), -tanpa menghitung pengemudi yang asli Vietnam-, bisa dibeli di museum sekitar 2 km sebelum lokasi. Tak lama setelah mobil menempuh jalan sempit berliku mengikuti liuk pegunungan, saya melanjutkan dengan berjalan kaki mendaki dan menuruni bukit kecil. Dengan hati berdebar dan mata takjub saya berdiri memandangi reruntuhan candi utama di kawasan My Son. Akhirnya…!!!

My Son Sanctuary
My Son Sanctuary

Bercikal bakal dari kerajaan Lin Yi yang tercatat dalam sejarah sejak abad-2, sejumlah peperangan antar suku dan kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Vietnam Tengah modern tak terhindarkan hingga seorang panglima besar bernama Fan Wen berhasil menguasai dan menetapkan batas utara dan selatannya menjelang akhir abad-4. Keberhasilan Fan Wen dilanjutkan oleh penerusnya, Fan Ho atau Fan Huda atau yang dikenal dengan nama Sansekertanya sebagai Raja Bhadravarman yang dipercaya mendirikan candi pertama yang didalamnya terdapat lingga untuk Dewa Siwa di kawasan My Son. Tidak hanya sebuah candi, bahkan Raja Bhadravarman mendedikasikan kawasan lembah My Son sebagai tempat suci untuk Dewa Siwa, -yang dikenal secara lokal sebagai Bhadresvara-, sesuai permintaannya dalam prasasti agar generasi mendatang tidak menghancurkan kawasan itu. Dan ditambahkan, berbasis pemahamannya akan karma, tertuang juga di dalam prasasti sejenis peringatan, jika lokasi itu dihancurkan maka semua amal kebaikan pihak yang menghancurkan akan berpindah ke Bhadravarman dan semua dosa Bhadravarman beralih ke pihak yang menghancurkan. Namun jika kawasan tersebut dipelihara, maka bertambahlah semua kebaikannya pada sang pemelihara. Dan faktanya permintaan itu diikuti oleh penerus Bhadravarman sehingga My Son menjadi kawasan suci berabad lamanya.

Hebatnya, generasi penerus kerajaan pada abad 7 Masehi juga membangun prasasti berharga yang menuangkan sejarah dan silsilah Raja-raja sebelumnya. Siapa yang mengira dari prasasti ini bisa diketahui Kerajaan Champa memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Khmer Isanavarman I dan sebagaimana legenda Raja-raja Khmer, Raja Prakarsadharma juga menuliskan mengenai kisah legenda pasangan brahmana Kaundinya dan putri Naga Soma. Kisah cinta yang diabadikan ke dalam permukaan batu itu ternyata mampu bertahan berabad lamanya, so sweet…

Dari prasasti abad-10 yang ada di kawasan itu juga menjelaskan fungsi My Son, yang ketika itu menjadi wilayah pusat agama dan budaya bagi masyarakat Champa dan bukan merupakan kota pemerintahan yang ketika itu berada di Dong Duong.

Namun kenyataan sebelas abad setelahnya, -sekarang ini-, tak seindah dulu. Saya menggigit bibir merasakan hati yang berdenyut menyaksikan sebuah cekungan besar berjarak hanya selemparan batu dari bangunan candi yang strukturnya terlihat sangat rapuh. Cekungan besar itu merupakan kawah akibat bom yang dijatuhkan oleh pihak Amerika Serikat pada bulan Agustus 1969. Sebuah ‘memorial’ ironis, satu dari begitu banyaknya kawah yang terbentuk akibat bom-bom yang dijatuhkan di sekitar My Son selama perang Vietnam (1955 – 1975), di antara tapak-tapak sisa candi dan di sebelah candi buatan berabad lalu yang hampir runtuh, tepat di kawasan World Heritage. Bahkan, di dalam salah satu Candi yang berfungsi sebagai museum sementara diperlihatkan juga selongsong bom diantara batu-batu peninggalan Champa yang berharga. Absurd dan ironis. Manusia mendirikan bangunan menakjubkan untuk kemudian manusia juga yang menghancurkannya sendiri demi tuntutan perubahan jaman.

Saya mendekati kelompok Candi Utama yang termasuk grup B-C-D yang paling depan dari jalan masuk walaupun hanya memiliki dua candi Utama. Candi pertama, -yang telah kehilangan dinding-dindingnya-, didedikasikan kepada Dewa Siwa yang disimbolkan dengan adanya Lingga. Candi Utama kedua di sebelah Utara berhiaskan dewi-dewi berdiri di atas gajah pada dinding-dinding candi.

Ada yang menarik di dalam salah satu bangunan (C2), terlihat pilar dari batu menempel di sudut seperti memperkuat dugaan adanya perubahan struktur candi dari pilar kayu menjadi bata.

Banyak pengunjung, termasuk saya, terpesona dengan bangunan candi atap pelana yang ikonik (B5). Dibangun pada abad-10, bangunan yang masih berdiri dengan cantik ini dulunya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda ritual dan api suci. Atapnya yang melengkung bagai pelana menarik perhatian siapa saja yang menikmati My Son. Pintu Utama menghadap Utara, arah Dewa Kuwera dengan lengkung di atas jendela yang menggambarkan dua gajah berhadapan yang merupakan simbol dari Dewi Kecantikan dan Kemakmuran, Gaja Laksmi. Dan di sekeliling dindingnya berhiaskan pula perempuan berdiri di atas Gajah.

Candi Beratap Pelana - B5
Candi Beratap Pelana – B5

Diantara bangunan candi yang masih berdiri dalam kelompok B, sebuah candi kecil disiapkan sebagai tempat menyimpan air suci yang diambil dari pegunungan Mahaparvata yang sakral di selatan My Son, sebagai unsur penting dalam ritual upacara. Tempat penyimpan air ini berhiaskan bunga teratai. Selain itu, ada juga 7 candi kecil lainnya yang didedikasikan untuk Tujuh Bintang sebagai Unsur Utama, seperti Matahari, Bulan, Logam, Kayu, Air, Api dan Tanah.

Saya melangkah menuju percandian grup G, menyeberangi jembatan di atas sungai kecil yang membuat udara sejuk di sekitar percandian ditambah sesekali rintik hujan menerpa. Kawasan yang luar biasa. Tak heran, ada seorang turis bule duduk di bawah pohon menikmati ketenangan suasana sambil membaca buku.

The Sanctuary of My Son
The Sanctuary of My Son

Grup G bergaya Binh Dinh dari abad 12 hingga 13 ini terletak di sebuah bukit kecil, menjadikannya berfungsi sebagai candi gunung seperti layaknya konsep candi suci di Kamboja. Bahkan bentuknya pun tidak jauh dari konsep candi gunung. Kompleks candi yang menghadap Barat ini mempunya lima bagian: Candi utama, Gapura, Balai Mandapa, Bangunan Penyimpanan dan Monumen Prasasti. Prasasti yang dibuat oleh Raja Jaya Harivarman ini begitu besar manfaatnya karena menjelaskan proses pembangunan dan tujuannya. Bukit yang dinamakan Vugvan (Alam Pegunungan) ini didedikasikan untuk Dewa Siwa, kedua orang tua dari Raja dan untuk Raja sendiri. Candi Utama memiliki kekhususan karena memiliki dua pintu, -di Utara dan Selatan-, selain pintu utama di bagian Barat, yang berhiaskan Dewi Laksmi. Dan di tiap sudut dihiasi dengan patung singa dengan puluhan Kala yang terbuat dari terakota.

Dari ketinggian grup G, saya melangkah menuju grup A. Berbagai perasaan menyeruak ke atas saat berdiri di hadapan percandian grup A. Dalam benak saya terbayang candi A1 yang merupakan mahakarya abad 10 dari Kerajaan Champa yang berpusat di tengah kawasan My Son. Tingginya yang 28 meter, hampir menyamai Candi Wisnu dan Candi Brahma di Prambanan, tampaknya menjulang sendiri di kawasan ini, satu-satunya yang memiliki pintu Timur dan Barat dan dikelilingi oleh candi-candi mata angin. Dan memiliki lengkung kala makara di bagian bawah seperti candi-candi di Jawa. Sebuah teriakan untuk berselfie dari gadis-gadis lokal membuyarkan imajinasi saya untuk kembali melihat kenyataan yang sebenarnya. Di hadapan saya hanya ada gundukan bata penuh rumput. Perang Agustus 1969 telah menghancurkan mahakarya ini.

Tak beda jauh kondisi candi A10 yang berada di sebelahnya, terbengkalai dipenuhi rumput walaupun dibangun dengan gaya Dong Duong yang penuh hiasan yang cantik, terlihat dari pinggiran yang masih terbuka.

Saya harus berjalan berputar mengelilingi gundukan rumput yang menutupi candi A10 untuk mencapai candi A13 melalui jalan setapak dengan tanaman liar dan rumput setinggi paha di kanan kiri. Saya melangkah cepat menuju A13 karena tak ada manusia di sekitar dan mengambil foto Garuda di sudut atas candi lalu langsung mengambil langkah seribu meninggalkan lokasi. Selain terasa sekali aura mistis di situ, tetapi saya lebih takut ular yang bisa muncul tiba-tiba dari semak-semak.

Seperti biasanya, saya tak ingin bergegas meninggalkan kompleks percandian, tetapi waktu sudah memanggil. Saya teringat pak pengemudi mobil sewaan yang menunggu untuk mengantar saya ke Hue. Berat sekali mengambil langkah untuk meninggalkan tempat luar biasa ini, walaupun  masih bisa mampir ke percandian grup H.

Candi dalam group H dari abad 13 ini hanya meninggalkan sebagian dinding dari candi utama yang terdiri dari empat bangunan yang dulu pernah berdiri dengan anggun di atas sebuah bukit kecil di tempat ini namun telah hancur karena perang. Dan di atas pintu dari dinding ini dahulu terletak hiasan Dewa Siwa Bertangan Delapan yang senyumnya mengingatkan saya pada wajah-wajah di Bayon Temple, Angkor

Dalam perjalanan menuju Hue, saya berbisik dalam hati sambil melambaikan tangan pada lembah My Son yang tertinggal di belakang, Cam on ban, Tam Biet, Hen Gap Lai! Terima kasih, goodbye dan sampai jumpa lagi… (suatu saat kita ketemu lagi ya…)

*

Nepal: Bertabur Legenda di Patan Durbar Square


Mengunjunginya jelang sore, hanya sehari sebelum Haribodhini Ekadashi, -salah satu hari untuk upacara kepada Dewa Wisnu-, Patan Durbar Square dipenuhi oleh warga yang akan beribadah yang saat itu berpusat di bawah tenda di bagian depan. Tapi berada di tengah kota yang punya nama lain Lalitpur, yang artinya Kota yang Cantik ini, memang benar-benar mengesankan walaupun gempa besar berkekuatan 7.8 bulan April 2015, -beberapa bulan setelah perjalanan saya-, telah meluluhlantakkan sebagian besar bangunan utama bersejarah yang tercatat sebagai bagian dari UNESCO World Heritage Site di Lembah Kathmandu itu. Wajah cantik Patan berubah muram karena ribuan nyawa tercabut dalam sekejap dan banyak bangunan bersejarah warisan dunia yang tak ternilai harganya itu tak lagi berdiri di situ.

Patan Durbar Square in the afternoon
Patan Durbar Square in the afternoon

Patan memang merupakan kota kuno, konon sudah dikenal sejak Dinasti Kirat pada abad 3 SM dan dikembangkan oleh Dinasti Licchavi pada abad 6, kemudian dilanjutkan oleh Raja-Raja Malla. Bahkan konon Raja Ashoka dari India, -karena cintanya pada Buddha-, membangun stupa di empat arah mata angin, -simbol dari Dharma Chakra-, masing-masing di wilayah Pulchowk untuk arah Barat, di Ebahi Tol  untuk Timur, di Lagankhel  untuk Selatan dan Teta untuk Utara. Keberadaan semua stupa itu seakan memberi konfirmasi bahwa Patan merupakan salah satu kota tua di Lembah Kathmandu.

Saat saya menjejakkan kaki disitu, mentari jelang sore itu menyinari dengan cantiknya ke seluruh kawasan Patan Durbar Square yang berarsitektur Newari dan berpusat pada bangunan Istana Kerajaan serta berbagai kuil yang bersisian dengan Istana. Cukup membuat gerah, tetapi keindahannya tak mampu membuat saya berpaling dari berpanas-panas demi untuknya.

Kisah Jaya Wijaya dan soal Sati 

Kuil cantik yang disebut Chyasim Deval Krishna ini adalah bangunan pertama yang mengucapkan selamat datang kepada saya setibanya di Patan Durbar Square. Penuh kekaguman saya mengamati kuil yang didirikan puteri Raja Yognarendra Malla pada tahun 1723.  Bentuknya yang oktagonal dan mengerucut ke atas dengan kubah-kubah kecil di sisi simetrisnya, -serupa kuil-kuil Shikara di India-, terlihat sangat berbeda dibandingkan kuil-kuil tradisional yang bergaya Newari, apalagi seluruh kuil yang terdiri dari 3 lantai ini terbuat dari batu. Lantai pertamanya memiliki beranda berkolom lengkung yang mengelilingi kuil. Sungguh cantik!

Di depan kuil cantik ini, duduk dua patung singa penjaga yang dikenal dengan nama Jaya – Wijaya yang langsung mengingatkan saya pada kisah Mahabharata ketika Krishna membunuh Shishupal dengan Cakra Sudharsana-nya dalam acara Rajasuya Yudhistira, sebuah kisah yang memiliki makna dan sudut pandang bertingkat, yang mengajarkan untuk tidak langsung menghakimi secara hitam putih pada sebuah peristiwa.  Adakah yang ingat kaitannya?

Tapi sungguh memilukan! Upacara ritual tidak pernah dilakukan di kuil Krishna ini karena konon dilatari kisah tradisi heroik puluhan perempuan yang memilih melakukan sati atau bakar diri ketika berlangsung kremasi Raja Yognarendra yang mangkat. Mengetahui ini, walau mentari masih terang benderang, saat itu saya langsung bergidik.

Dan hanya beberapa langkah dari kuil Chyasim Deval Krishna, ada sebuah pelataran yang menjadi fondasi dari sebuah genta yang besar, yang disebut Genta Taleju (Taleju’s Bell) dan didirikan pada tahun 1736 oleh Raja Vishnu Malla. Dulu, genta ini dibunyikan saat rakyat ingin mengajukan keluhan kepada Raja, namun sekarang dibunyikan hanya setahun sekali saat festival penting. Dan konon…. saat gempa April lalu genta ini berdentang terus menerus. Bisa jadi karena bumi bergoyang, genta jadi berbunyi atau memang ada orang yang sengaja membunyikannya kan?

Di bagian lain, di sebelah Timur Patan Durbar Square, berdiri Royal Palace yang dindingnya terbuat dari batu bata merah dan bergaya arsitektur Newari serta memiliki pintu-pintu masuk yang berbeda untuk masuk ke halaman-halaman dalam, yang terdiri dari Sundari Chowk, Mul Chowk dan Keshavnarayan Chowk (Chowk adalah halaman dalam). Dan tak beda dengan bangunan serupa di Katmandu, bangunan-bangunan di kompleks Istana Raja yang rata-rata dibangun pada abad 17 ini, memiliki lantai-lantai yang bertingkat sehingga dapat memantau seluruh aktivitas di Durbar Square. Yang terbesar adalah Kuil Degu Taleju dengan lima lantai beratap tiga tingkat yang dihiasi oleh genta-genta kecil di sekeliling pinggiran atap yang berdenting terkena tiupan angin. Di bagian agak dalam berdiri Kuil Taleju yang atapnya menyerupai lingkaran dan juga dihiasi genta-genta kecil di sekeliling pinggiran atap. Entah kenapa, tiba-tiba saya terbayang kalau malam hari yang gelap dan sepi tanpa angin, tiba-tiba ada bebunyian genta-genta, waduuh…

Patan Royal Palace
Patan Royal Palace

Kuil-Kuil Historis Ratusan Tahun

Berseberangan dengan tembok Istana, berdiri kuil Hari Shankar yang kuno berusia lebih dari 300 tahun yang didirikan oleh putri Raja Yognarendra Malla. Kuil penuh ukiran ini merupakan tempat ibadah yang didedikasikan kepada dewa yang diwakili setengah Wisnu dan setengah Siwa. Yang menarik, struktur atap kuil diukir sangat indah walaupun, -menurut beberapa sumber-, penggambarannya berupa penyiksaan makhluk di berbagai tingkat neraka. Hiiii…. Saya cukup menyesal juga tidak memperhatikan dengan lebih teliti karena tidak merasa nyaman dengan mata-mata yang memandang.

Sepasang patung gajah yang sedang duduk menghadap Royal Palace menghiasinya sebagai penjaga gerbang kuil. Saya tak akan pernah lupa keindahan sinar mentari sore yang menerangi kolom-kolom kayu penuh ukiran itu dan tak mampu membayangkan bagaimana cara mengembalikan nilai historis ratusan tahun yang hilang dalam sekejap karena kuil ini telah runtuh, meninggalkan sang gajah di tempatnya.

Sedikit melangkah ke Utara, terdapat Vishnu temple yang dibangun pada akhir abad-16 dari batu bata kokoh berbentuk sikhara yang digunakan untuk melakukan pemujaan terhadap Narasimha, reinkarnasi ke empat Dewa Wisnu sebagai manusia berkepala singa yang membinasakan Hiranyakashipu. Di hadapannya berdiri sebuah kolom yang di puncaknya terdapat patung Raja Yognarendra Malla sedang bersimpuh menghadap Royal Palace dengan perlindungan Naga. Patung Raja tampak berkilau terpapar sinar mentari sore , indah sekali.

Tetapi dalam gonjang-ganjing lapisan tanah akibat gempa besar tahun lalu, Vishnu temple mampu tegar bertahan namun tidak demikian dengan patung Raja Yognarendra Malla yang jatuh tergeletak di permukaan tanah di depan Vishnu Temple.

Selemparan baru darinya, berdiri Kuil Char Narayan atau disebut juga dengan Kuil Jagannarayan yang cantik. Kuil dua lantai yang dibangun pada tahun 1565 ini merupakan kuil tertua di Durbar Square dan penuh ukiran rumit mahakarya perajin Newari. Waktu saya berkunjung ke tempat itu hanya sehari sebelum Haribodhini Ekadashi yang merupakan salah satu hari upacara untuk Dewa Wisnu, sehingga tak heran kuil Char Narayan ini ramai oleh umat yang akan beribadah.

Namun sayang sekali, karena banyak ditopang oleh kayu dengan dasar bata merah, kuil berusia 4,5 abad ini runtuh, rata dengan tanah saat gempa April tahun 2015 lalu. Walaupun nilai historis ratusan tahun hilang dalam sekejap, tetapi berita baik tentang kekuatan budaya Nepal datang dari kuil ini. Dua hari setelah runtuh seluruh benda berharga di dalamnya dapat diselamatkan, kemudian semua reruntuhan dibersihkan dalam seminggu serta sebulan setelah gempa di tempat yang sama telah dapat dilakukan upacara peribadatan (puja) walaupun hanya di tempat terbuka tanpa bangunan pelindung. Bukankah Yang Maha Kuasa menerima semua doa yang disampaikan dengan tulus?

Dari Mimpi Bertemu Dewa Lalu Meraih Kemenangan

Dan serupa dengan kuil Krishna kembarannya di dekat pintu masuk Durbar Square, di sebelah Kuil Char Narayan berdiri  Krishna Mandir, yang tepat di depannya terdapat Garuda sedang duduk bersimpuh di puncak sebuah kolom. Di tahun 1636 Raja Siddhi Narasimha Malla mendirikan kuil yang seluruhnya terbuat dari batu ini, konon berdasarkan mimpi melihat Dewa Krishna berdiri di lokasi tempat kuil berdiri saat ini. Dan tidak hanya itu, legenda tentang kecintaan dan kebaktian Sang Raja terhadap Dewa Krishna kian digaungkan. Sepuluh tahun sejak kuil berdiri, Raja Siddhi Narasimha Malla dapat memenangkan perang melawan kerajaan tetangga karena berseru memanggil nama Dewa Krishna untuk menghabisi musuhnya. Bagi mereka yang percaya, Dewa Krishna merupakan sosok tempat kemenangan selalu berpihak kepadanya.

Terlepas dari cerita itu, kuil yang eye-catching ini memiliki hiasan cerita Mahabharata dan Ramayana.  Di lantai pertama kuil berwarna abu-abu ini bisa dilihat kisah Mahabharata sedangkan cerita Ramayana ada di lantai dua. Dua lapis penjaga gerbang kuil tampak menghiasi bagian pintu masuk, sepasang diantaranya berbentuk singa. Hanya saja kalau mau datang ke kuil ini, perlu diperhatikan waktunya. Jika suka dengan keramaian dan festival, coba datangi saja ketika Janmashtami, yaitu saat peringatan kelahiran Dewa Krishna. Pasti tempat ini penuh dengan manusia yang melakukan persembahan dan perayaan.

Perjalanan menyusuri kuil belum berakhir. Di sebelah Krishna Mandir berdiri Kuil Vishwanath yang dijaga oleh sepasang gajah yang berdiri. Sebagai kuil yang didedikasikan kepada Dewa Siwa, kuil dua lantai ini memiliki lingga di ruang dalam yang hanya bisa disaksikan oleh penganut Hindu yang akan beribadah. Selain itu kuil yang dibangun oleh Raja Siddhinarasimha Malla pada awal abad-17 ini, dihiasi dengan ukiran rumit pada kayu-kayu penyangga yang bernuansa erotis seperti kuil-kuil Siwa di India. Saya malu tapi mau lihat… hihihi…

Dan tentu saja seperti juga Garuda menemani Kuil Dewa Wisnu, pasti ada Nandi yang menemani Kuil Dewa Siwa. Saya menemukan sang bhakta di bagian barat dari kuil, yang menurut mata saya bentuknya tidak serupa dengan yang saya lihat di Indonesia.

Tiga Jendela Emas di Kuil Bhimsen

Terletak pada wilayah ujung Durbar Square, kuil Bhimsen yang terdiri dari 3 lantai dan dijaga sepasang singa berambut ikal ini memiliki tiga jendela berlapis emas yang sangat indah. Mudah sekali ditemukan karena jendela yang saling berhubungan ini dapat dilihat pada dinding yang menghadap timur atau Istana. Kuil yang didirikan oleh Raja Srinivasa Malla tahun 1680 ini, didedikasikan kepada dewa yang mengatur urusan bisnis, perdagangan dan karya seni sesuai tradisi Newari. Uniknya, sesuai peruntukannya, tepat di depan kuil ini terhampar pasar yang menjual berbagai karya seni dan keperluan sehari-hari.

The Golden Windows of Bhimsen Temple
The Golden Windows of Bhimsen Temple

Bersebelahan dengan pasar tadi, masih di seberang kuil Bhimsen terdapat Manga hiti, sebuah tempat kuno pengambilan air yang masih berfungsi hingga kini, yang letaknya satu lantai lebih rendah dari permukaan tanah dan tepat berbatas dinding dengan Bangunan Istana yang kini digunakan sebagai Museum Patan. Penduduk sekitar dapat mengambilnya melalui tiga buah pancuran cantik berhias makara. Sambil beristirahat, saya menyaksikan penduduk lokal maupun turis mengambil air di Manga hiti dari salah satu dari dua buah bangunan yang disebut dengan Mani Mandap, yang terletak di awal tangga turun dan difungsikan untuk memantau proses pengambilan air. Sayang sekali kedua Mani Mandap tempat saya duduk beristirahat ini telah tak ada lagi di tempatnya, runtuh terkena gempa April lalu.

*

Tak sadar waktu berlalu sangat cepat, sore sudah datang dan saya harus melanjutkan kunjungan ke tempat wisata lainnya. Saya mempercepat langkah meninggalkan kawasan cantik itu menuju tempat parkir sambil melongok-longok mencari mobil sewaan saya. Ampuuun… Saya lupa mencatat pelat nomor mobilnya! 🙂