Menyambut Tahun Baru Dalam Hujan


Karena ingin merasakan kembali kehebohan malam tahun baru seperti di Hong Kong tahun 2015 dengan kembang api warna-warni dan kerlip kota, maka pada akhir tahun 2017 kami mengunjungi Singapura. Tujuan utamanya hanya satu, menyaksikan malam pergantian tahun dengan pertunjukan kembang api.

Apakah berhasil?

Iya, berhasil, tapi pakai hujan! 😀

Malam itu, sengaja kami datang lebih awal agar bisa dapat tempat duduk terbaik sambil berdoa khusuk karena melihat awan gelap menggantung rendah di atas langit Singapura. Turun di stasiun MRT Bayfront, kami berjalan mengikuti kerumunan orang yang semakin padat menuju arena The Float at Marina Bay. Pernah terbayang gak sih kalau The Helix Bridge itu padat sekali dengan manusia? Situasinya benar-benar padat merayap, melangkah pelan karena kadang harus berhenti dan berdiri diam beberapa saat hehehe…

Beruntung sekali saya sudah membeli tiket secara online untuk menyaksikan kembang api dari The Float at Marina Bay, karena malam itu untuk masuk dengan tiket di tangan saja sudah antri panjang, apalagi kalau belum memiliki tiket yang antriannya mengular tersendiri. Lagi pula beli tiket on the spot itu lebih mahal.

DSC03059
The Crowd in Marina Bay

By the way, saya beli tiket masuk SGD 5.5 per orang secara online melalui Klook, kalau on the spot SGD 8.00. Itu tahun 2017 yaaa dan tahun selanjutnya saya heran kenapa bisa langsung naik 10 kali lipat!

Lalu mengapa saya beli tiket masuk padahal bisa menyaksikan dari pinggir jalan? Sederhana saja sih, saya mau santai dan tidak rebutan cari tempat terbaik dalam menyaksikan pertunjukan kembang api dan tidak harus menduduki tempat itu sejak pagi. Lagi pula, tempat-tempat strategis untuk menyaksikan pertunjukan kembang api itu sudah dipagari. Ah, tempat-tempat terbaik memang ada harganya! Selain itu, saya tidak tinggal di hotel-hotel sekitar Marina Bay yang harga akhir tahunnya bikin pingsan!

Jadilah setelah melalui pemeriksaan ketat untuk barang-barang bawaan, duduklah kami semua di  tribun atas The Float. Sementara manusia-manusia penggemar kembang api terus memadati arena, saya sekeluarga mengamati pemandangan malam. Asyik sih melihat pemandangan Marina Bay-Sands, Art Science Museum yang khas dan tentu saja gedung-gedung tinggi di kawasan bisnis Singapura.

Dan di sana, doa kami semua tak terkabul. Saya mulai merasakan satu demi satu titik air yang ditumpahkan dari langit. Gerimis. Payung-payung warna-warni mulai terkembang. Belum juga jam 11 malam, titik-titik air yang jatuh tidak konsisten, kadang deras, kadang berhenti sesaat. Akhirnya karena merasa terganggu dengan harus memegang payung berlama-lama, anak-anak turun ke panitia untuk membeli jas hujan transparan tipis.

Seperti juga di Indonesia (kebiasaan lihat TV kali ya… yang mengucapkan Selamat Tahun Baru untuk warga Wilayah Indonesia Timur, kemudian untuk warga Indonesia Tengah dan puncaknya di Wilayah Indonesia bagian Barat), maka di Singapura itu sejak pk. 22.00 sudah dimulai pertunjukan kembang api setiap jamnya meskipun sebentar.

Hujan sepertinya ingin hadir malam itu, atau juga mungkin pawang hujannya kurang ahli 😀 sehingga berbalut jas hujan transparan kami sekeluarga duduk santai menikmati musik dan pertunjukan. Banyak pasangan yang berdekatan, semakin deras hujannya semakin dekat mereka berdekatan di bawah payung. Tidak jarang, balon-balon yang mereka pegang terlepas atau sengaja dilepaskan. Bisa jadi sebagai tanda melepas segala kepahitan yang telah terjadi dan membiarkan harapan-harapan baru menjunjung ke langit tinggi.

Dan detik terus mendekat ke pukul 00.00 di tahun yang baru.

Ketika akhirnya countdown dimulai, semua yang hadir berteriak beramai-ramai…

Ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one… Happy New Year!!!

Pertunjukan kembang api mencapai puncaknya, berlangsung lama dari menit ke menit, tanpa henti sama sekali. Luar biasa! Ledakan kembang api ditambah gemuruh manusia-manusia yang berbahagia, berpelukan saling mengucapkan selamat tahun baru, mengabaikan payung-payung dan basah hujan yang di kawasan itu.

DSC03195
Happy New Year

Seperti juga banyak orang lain, tak lupa kami melakukan wefie dengan ucapan selamat tahun baru untuk dikirimkan kepada kerabat dan keluarga tercinta di Indonesia, meskipun mengenakan jas hujan transparan dan rambut basah. Kami memilih foto awal tahun baru yang paling bagus di antara yang berantakan karena rupa yang bisa dibilang ‘hancur lebur’ karena basah. Tapi yang penting adalah ekspresi bahagianya kan?

Pesta di Marina Bay berlanjut, musik hingar bingar dengan ritme yang mengundang untuk menggoyangkan tubuh terus berlangsung. Suara MC terus berkumandang mengajak membeli makanan dan minuman serta ajakan untuk berpesta. Meskipun demikian, kami semua memilih kembali ke hotel karena kami akan terbang ke Jakarta pada siang harinya.

Sambil jalan kaki menuju hotel mengikuti kerumunan orang, alangkah senangnya kami mengetahui tidak perlu jalan kaki jauh karena masih ada MRT yang beroperasi pada tahun baru itu. Sungguh sebuah layanan terbaik dari MRT Singapura. Jam operasional MRT diperpanjang khusus pada hari itu, meskipun hanya untuk rute tertentu.

Dalam keadaan basah, -meskipun orang lain tak jauh beda kondisinya-, sebelum naik kereta, kami dan juga orang lain mencoba mengeringkan badan dan melipat jas hujan serta memasukkan yang basah ke dalam tas. Sehingga di kereta terlihat cukup rapi dan terjaga kebersihannya.

Tahun baru, belum lama berganti angka, kebiasaan-kebiasaan baik bisa kita mulai saat itu juga. Tahun baru biasanya berlimpah dengan harapan-harapan baru, dengan sejumlah resolusi yang indah. Tapi untuk apa harapan-harapan baru bila tidak disertai dengan adanya tindakan-tindakan?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-35 ini bertema New Year agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

The Eye Catching Haji Lane


Meskipun bersih, aman, tertib dan hal-hal positif lainnya, bayangkan saja kalau saya mendatangi tempat itu pada saat siang hari bolong yang terik, tanpa angin sedikitpun dan gerah dengan kelembaban maksimum… Aduh, benar-benar saya ingin ngadem di tempat yang ada AC-nya. Ada sih tempat ber-AC tapi harus mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu di tempat itu dan saya ‘kikir‘ untuk itu. 😁

Saya sendiri merupakan tipe yang cepat berkeringat bila bergerak sedikit, apalagi jika kepanasan. Belum lagi baju kaos yang saya kenakan ini bukan tipe dry-fit yang biasa dipakai jika sedang travelling. Jadi rasanya seperti tikus kejebur got. Basah kuyup dari ujung rambut merata ke permukaan kulit. Dan baunya menyebalkan!

Dalam kondisi seperti itu, saya selalu mencoba berjalan melipir di bawah keteduhan bayang-bayang gedung. Tapi di Haji Lane, sebuah area di antara kawasan Kampong Glam dan Arab Street, Singapura, rasanya tidak tepat jika berjalan melipir karena kekuatan dari area Haji Lane ini adalah keindahan seni di seluruh toko-toko di kawasan itu. Jadi seharusnya kita sebagai turis, jalan di tengah dan tinggal menengok kiri atau kanan untuk menikmati mural yang cantik serta artistiknya penataan toko.

 

Saya masih kepanasan sehingga menyempatkan berteduh sesaat di beranda depan sebuah toko. Namun dari tempat berdiri, tak ada satu pun yang tak menarik. Semuanya terlihat asri dan memanjakan mata. Sebuah instalasi gajah putih dengan cat hiasan berada di depan toko yang berarti gajah. Cara jitu agar pengunjung langsung mengetahui lokasinya tanpa perlu membaca. Cari saja yang ada gajahnya, demikian mungkin pesan pemilik toko itu 🙂

DSC07021

Berbelok di sebuah sudut, saya mendapati mural-mural yang menarik. Mural wajah-wajah pada dinding lebar yang membuat saya berpikir apa kira-kira yang ada dalam pikiran pembuatnya sehingga ia menciptakan karya seni seperti ini. Wajah seorang tua yang telah menelan asam garam kehidupan dan wajah seorang gadis yang misterius.

Hanya perlu selemparan batu, saya sampai pada mural lain yang juga menarik. Kali ini juga dilengkapi dengan tambahan manekin-manekin berhias di atap. Saya tidak mau mengintepretasikan maknanya dan membiarkan rasa keindahan memasuki rasa. Saya bukanlah seorang ahli terhadap hal-hal seni seperti ini, sehingga yang bisa saya lakukan adalah menikmatinya saja. Bahkan tempat gas pun tak lepas dari hiasan.

DSC07036eDSC07036e1

Saya mendekat pada tempat pelindung gas. Di sisi pelindung itu ada peringatan agar bertindak hati-hati. Hati menjadi kecut juga saat membaca peringatan lebih lanjut. LPG Highly Flammable, No Smoking, No naked lights. Padahal di dekatnya ada meja dan kursi untuk pengunjung. Aduh, membaca ini, -meskipun jauh berbeda penyebabnya-, entah kenapa mengingatkan saya pada kejadian bom Bali dulu, musibah yang datangnya dari ledakan di antara pengunjung.

Tapi siapa sangka yang cantik dan indah itu didalamnya terdapat hal yang sangat berbahaya dan bisa meledak jika tidak dirawat dengan baik?

Saya masih melanjutkan jalan kaki cantik di kawasan yang termasuk kota tua Singapura tersebut. Di ujung jalan masih ada dinding lebar yang penuh dengan mural warna-warni yang menyolok. Keren sekali.

Akhirnya karena tak tahan kegerahan, saya memaksa diri untuk mengikhlaskan hati mengeluarkan uang lalu mampir ke salah satu kafe kecil untuk menikmati es krim segar sekaligus mendinginkan tubuh. Nikmatnya luar biasa, meskipun agak sebal saat melihat tagihan di kasir 🙂

Akhirnya, meskipun kepanasan karena berkunjung pada waktu yang tidak tepat, saya tetap merasa senang jalan-jalan cantik di kawasan Haji Lane ini, yang dipenuhi pemandangan artistik yang memanjakan mata dan juga toko-toko kecil yang lucu serta kafe untuk sekedar melepas lelah. Akomodasinya pun tersedia banyak di sekitar Haji Lane dan Kampung Glam. Apalagi transportasi publiknya yang selalu tersedia. Satu-satunya yang kurang hanya satu, Singapura semakin menguras isi kantong 😀 Itu menurut saya siih…

DSC07012DSC07047DSC07028


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-32 ini bertema Eye Catching agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Marumado, Jendela Jepang Yang Mempercantik Pandang


Bulan Maret lalu, saya meluangkan waktu jalan-jalan ke Singapura dan berkesempatan melakukan hanami, menonton bunga Sakura mekar di Flower Dome, Garden By The Bay. Sebagai bunga nasional Jepang yang sudah terkenal di seluruh dunia dan saat mekarnya tak lama, menyaksikan sakura-sakura bermekaran itu memang sangat ditunggu-tunggu, termasuk saya. Saya belum beruntung untuk bisa hanami langsung di negeri Sakura-nya sendiri, sehingga ketika Garden By The Bay menampilkan bunga Sakura sebagai tema, langsung saja saya mencari tiket pesawat.

Sesampainya di sana, jangan tanya penuhnya seperti apa. Saya baru menyadari karena saat saya berkunjung merupakan minggu-minggu terakhir sebelum Garden By The Bay mengganti tema dan Sakura merupakan salah satu tema yang paling banyak dinantikan sepanjang tahun. Kapan-kapan saya ceritakan mengenai hanami ini.

Karena padatnya pengunjung, saya mencari jalur yang sedikit agak lebih lega meskipun itu artinya juga masih banyak manusia lho. Tak disangka, saya justru mendapatkan tambahan pengetahuan di jalur ini.

Pernah tahu yang namanya Marumado?

Marumado the circular window of Japanese architecture

Mungkin pernah lihat, tetapi tidak tahu namanya. Marumado adalah jendela lingkar yang ada di dalam arsitektur Jepang, yang memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda. Sebagian dibuat menyatu di dalam dinding. Pada Marumado ada yang memiliki kisi-kisi, sementara yang lain ada yang ditutup dengan shouji (tirai) gantung atau tirai geser (bisa satu panel atau dua panel kiri dan kanan). Sampai disini sepertinya sudah terbayang kan?

Marumado kadang disebut pula yoshinomado, tapi jika diameternya lebih dari 1.5 meter, maka disebut oomarumado. Biasanya dibiarkan terbuka tanpa pendukung dan umumnya digunakan untuk menikmati pemandangan dan pencahayaan bangunan. Marumado biasanya ditemukan di bangunan-bangunan bergaya Shoin dan rumah-rumah untuk minum teh. Rumah bergaya Shoin ini merupakan dasar dari rumah-rumah tradisional Jepang sekarang, yang dulu hanya ada pada rumah pejabat militer,atau petinggi dan bangsawan dan pemuka agama.

Marumado biasanya dibuat untuk menghadirkan sepetak pemandangan yang indah dan terkenal atau yang diinginkan. Tetapi Marumado juga bisa dibuat hanya untuk pencahayaan atau sekedar ventilasi udara.

Marumado with Sakura and neighbors
Marumado with Sakura, Mt. Fuji and Shinkansen

Pada saat menikmati Marumado yang ada di Garden By The Bay ini, meskipun kena sikut sana sini dan cukup lama antri untuk bisa dapat satu foto tanpa manusia lain masuk ke dalam frame, sebisa dan secepat mungkin saya mengambil foto-foto tanpa membuat orang lain melotot tak sabar kepada saya.

Saya hanya membayangkan berada di dalam rumah tradisional Jepang dan menikmati keindahan Sakura melalui sebuah Marumado dengan berbagai latar belakang yang terkenal seperti Gunung Fuji, atau Torii yang berwarna merah menyala, atau Osaka Castle? Atau hanya sekedar Sakura yang berbatas dengan rumah tetangga?

Semua Marumado yang dipamerkan menggunakan bunga Sakura asli yang dibonsai, yang dibuat dengan kecermatan yang amat canggih demi sebuah keindahan yang luar biasa.

Berminat untuk memiliki Marumado di rumah Anda?

Marumado with Sakura & Torii
Marumado from with Sakura in the yard
Marumado with Sakura & Osaka Castle as background

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-20 ini bertema Frame agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

The Helix, Love Is In The Air…


P1020079

Meskipun punya banyak foto jembatan, entah mengapa, jembatan favorit saya selalu kembali kepada The Helix yang ada di kawasan Marina Bay, Singapura. Bisa jadi karena saya menjadi saksi before and after kawasan itu atau memang kesan pertama yang begitu dalam sehingga timbul rasa romantisme khusus terhadap jembatan itu (hahaha ini apa yaa? 😀 😀 )

Bertahun-tahun sebelum jembatan itu jadi, -saat ke Singapura dan berfoto di area Merlion-, saya tidak bisa membayangkan bagaimana kawasan di seberang saya berdiri itu bisa menjadi kawasan yang begitu terkenal seantero dunia, yang membuat semua turis tumplek blek ke tempat itu. Rasanya masih ingat di benak, ucapan seorang kawan asli Singapura yang mengatakan bahwa nanti di tempat itu akan menjadi hotel besar lengkap dengan kasinonya. Dan kini, perkataannya menjadi nyata. Tempat itu menjadi sebuah landmark, yang ibaratnya, jika belum kesana berarti belum ke Singapura. Meskipun terdengar hedonis sekali, namun tak bisa dipungkiri kawasan Marina Bay yang dekat dengan Hotel Marina Bay-Sands itu memang menjadi magnet yang sangat kuat bagi pariwisata Singapura.

Setelah kawasan itu terbentuk, dalam rangka urusan kantor saya berkesempatan berkunjung lagi ke Singapura dan beruntung bisa menginap di salah satu hotel berbintang di kawasan Marina Center. Dan dasar saya yang tidak bisa lepas dari jalan-jalan, saat perjalanan bisnis pun saya pakai juga buat jalan-jalan meskipun hanya bisa dilakukan pada malam hari. Inilah salah satu yang saya suka di Singapura, saya selalu merasa aman berjalan sendiri di malam hari bahkan sampai tengah malam sekalipun. Bisa jadi, karena penduduknya sudah serius melek hukum dan tidak mau berhadapan dengan sanksinya.

Malam itu saya berjalan-jalan hingga ke Esplanade, dan kembali lagi menuju The Helix untuk melanjutkan jalan-jalan malam ke Marina Bay-Sands sebelum kembali ke hotel. Saat melintasi The Helix, -yang secara resmi dibuka penuh pada tanggal 18 Juli 2010-, jembatan ini dipenuhi oleh orang-orang yang juga menikmati malam. Mungkin sama seperti saya, hanya ingin menikmati rasanya melintasi jembatan terkenal yang dulu dikenal dengan nama Double Helix Bridge. Saya sendiri hingga kini masih terkagum-kagum, ada jembatan yang dibangun sebagai penjabaran sains.

Sejak pertama kali menapaki jembatan malam itu, saya sudah suka bentuknya yang menyerupai rangkaian DNA, spiral melingkar, dengan pada lantainya terdapat lampu-lampu kecil yang menyorot ke atas, berpasangan, yang belakangan saya tahu bahwa lampu itu menjadi ciri khas The Helix. Dari Wikipedia, lampu-lampu itu memang mewakili struktur DNA. Coba deh kalau kesana lagi, perhatikan ada pasangan lampu yang berwarna ‘c’ dan ‘g’ serta ‘a’ dan ‘t’, berwarna hijau dan merah, mewakili cytosine, guanine, adenine dan thymine yang merupakan empat dasar DNA. Bingung ya? Sama dong dengan saya… 😀 Tidak usah dibahas ya, biar Google saja yang menyimpan lengkap informasi itu 😀 😀

P1020088
The Helix – Green and Red

Tetapi saya merasa indah saja, bahwa sesuatu yang sangat ilmiah dan sangat mendasar dalam tubuh makhluk hidup dijabarkan dengan begitu kerennya dalam sebuah karya yang berfungsi sebagai sebuah jembatan. Tidak heran, jika akhirnya The Helix, yang panjangnya sekitar 280meter ini mendapat penghargaan The World’s Best Transport Building di tahun 2010 dan Building & Construction Authority’s Design & Engineering Safety Excellence di tahun 2011.

Malam itu dan pada malam-malam lainnya saat menapaki The Helix, saya selalu menikmati lampu-lampu redup itu, mengamati orang-orang yang melaluinya, menikmati pemandangan indah kota Singapura, meskipun sekali-sekali terlintas juga bahwa saya sedang menembus model struktur DNA makhluk hidup. Dan kalau sudah terpikir itu, biasanya saya seperti diingatkan tentang Sang Pencipta…

P1020090
The Helix -from the viewing platform

Terlepas dari bentuknya yang keren, secara fisik sebenarnya The Helix terbuat dari besi dan kaca yang saling terkait. Bahkan jembatan ini disesuaikan dengan kondisi cuaca setempat yang hanya kenal hujan dan panas, sehingga dilengkapi kanopi supaya pelintasnya terlindung dari panas dan hujan meskipun tidak utuh. Keunikan lainnya yang saya suka dari The Helix karena jembatan ini memiliki tempat khusus untuk melihat-lihat pemandangan kearah kota, terutama saat malam pemandangannya sangat cantik. Meskipun katanya bisa menampung hingga 100 orang, platform untuk melihat-lihat ini tentunya menjadi tempat favorit untuk melihat pertunjukan keren di langit seperti kembang api. Tapi sepertinya harus lebih awal booking tempat, karena tempat ini sangat-sangat padat waktu Tahun Baru. Pengalaman bermalam tahun baru di Singapura, berjalan kaki melalui The Helix saja macet! 😀

Mungkin karena frekuensi saya berjalan sendiri melaluinya, jauh lebih banyak daripada bersama orang-orang yang saya kenal, membuat saya seperti punya rasa tersendiri dengan jembatan itu. Seperti biasa, jika pergi sendiri, saya biasa melakukan pembicaraan dengan hati saat berjalan. Juga saat menapaki The Helix. Dan oleh karenanya saya merasa tak pernah kesepian, meskipun tengah malam dan tidak ada orang di samping. Seperti saat kembali ke hotel, saat itu sebagian lampu The Helix telah dimatikan, saya menyaksikan satu pasangan berjalan mesra di depan saya. Melihat mereka, saya ikut berbahagia. ikut merasakan romansanya, kemesraan mereka yang penuh cinta dan bahagia itu menular… Kata orang sana, Love is in the air…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-13 ini bertemakan Jembatan agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

WPC – The Beauty in Silence and Darkness


A few years ago I made time to walk around Marina Bay, Singapore, just before midnight. I wanted to see and feel the atmosphere of the modern never-sleep city. I was amazed; for a moment I felt silence filled up the air. The area which is normally full of visitors during the day seems so empty, nobody’s there. The colorful lights on the Helix bridge had been turned off and it was illuminated by minimal lights. There was only a couple walking through the iconic bridge in Singapore. I followed them to cross the bridge and hope to find more people that night, but I saw nobody until the end of the bridge.

I felt the emptiness of the night, but at the same time I felt the beauty filling up the air. Yes, I saw the buildings in the business center across the area I was standing were still full of lights, but for a moment I felt the city of Singapore was so beautiful. In its silence and darkness, the city still looked so mesmerizing, just like Hellen Keller said,

There is beauty in everything, even in silence and darkness

******

Where is the people?
Where is the people?

Lights on but the water was calm
Lights on but the water was calm

WPC – A Structure At Night


Garden By The Bay, Singapore

 

Walking out of the grand dome gave me continuously pleasant experiences. My admiration for the beautiful gardens in it, -the flower and the cloud forest dome-, also the structure of the dome itself which is composed of steels, glass and concretes, continued as I stepped out of it at night.

My eyes were spoiled by the mesmerized beauty of Singapore at night, the strength of the building’s structure with dimmed lights, colorful lights at Singapore Flyer, -the big Ferris Wheel in Singapore-, and some of the skyscrapers as the backdrop at the distance. Ah, I did not feel my tired legs while walking to the MRT station although it’s far enough 🙂

Beauty is like moon, looks much better at night

In response to the Daily Post Weekly Photo Challenge with Structure as the theme.

 

 

WPC – A Relaxing Place For The Mind


Lotus pond
Lotus pond

As a modern hectic city, Singapore is also famous as an international hub city for the travelers. Despite the fact that it has so many intimidating skyscrapers which seem having no mercy to the people who lost in life competition, Singapore provides places for relaxing the mind.

One of these places is the lotus pond that is located adjacent to the Art & Science museum in Marina Bay area. When I took this photo, many people, -perhaps workers-, were standing there and taking a break from their hectic day. It was shown on their faces that they needed the break for relaxing the mind and the lotus pond became the perfect place for that.

A simple lotus pond with its coolness gives a total fresh atmosphere around. A perfect place for taking a brief relax to regain the strength.

As Bryant McGill once said,

Your calm mind is the ultimate weapon against your challenges. So relax.

Bersama Hujan Mencicipi Rasa India di Singapura


Keinginan untuk pergi ke India lagi, -setelah dulu hanya sesaat ke Mumbai untuk urusan pekerjaan-, belum juga terpenuhi hingga kini. Alasan penyebabnya bisa dibuat seribu satu, tetapi sejujurnya itu hanya urutan prioritas saja. Budaya India, termasuk peninggalan sejarahnya yang mampu membuat saya menangis guling-guling ingin pergi, hingga kini hanya tinggal keinginan belaka. Akhirnya, daripada tidak sama sekali, November lalu saya membohongi diri sendiri untuk mencicipi rasa budaya India di Singapura. Jadilah, dengan berbekal cuti dua hari di tengah minggu, -yang membuat orang bertanya-tanya karena tak biasa untuk ukuran saya-, saya terbang ke Changi dengan penerbangan pertama.

Hari masih relatif pagi ketika mendarat di Changi dan menyambut saya dengan sebuah rangoli besar yang cantik, sebagai ucapan selamat datang dan berharap keberuntungan akan melimpahi saya (Amin 🙂 ) dan hal itu menandakan sedang ada festival, yaitu Deepavali di Singapura. Rangoli, merupakan seni tradisional dari India yang biasanya dibentuk dari bubuk, pasir atau bunga berupa lingkaran sebagai lambang waktu yang tak putus atau bunga lotus sebagai lambang dari Dewi Lakshmi, dewi kemakmuran dan keberuntungan, yang biasanya diletakkan di dekat pintu masuk untuk menyambut tamu.

Deepavali atau Diwali adalah hari raya di India, -yang juga dirayakan di Singapura karena banyaknya warga keturunan India di negeri Singa itu-, untuk memperingati kembalinya Rama dan istrinya Sita (Sinta) serta Lakshmana ke Ayodya dari pengasingannya yang berlangsung selama 14 tahun dengan memberinya lampu-lampu penerang di sepanjang jalan kembalinya sang pahlawan, yang secara simbolik dimaknai sebagai kemenangan terhadap kegelapan, kemenangan kebaikan terhadap kejahatan. Dan mungkin juga demikian harapan saya dalam perjalanan singkat kali ini. Semoga saja saya dapat menangani ‘kegelapan-kegelapan’ dalam diri ini :p

Berjalan kaki menuju kerumunan dan sebuah pembelajaran

Rintik hujan bulan November tak menghalangi keinginan saya untuk berjalan kaki menuju Serangoon Road dari kawasan Kp. Glam, tempat saya menginap. Jarak lebih dari 3 kilometer itu tidak saya tempuh dengan menggunakan MRT atau bus, melainkan jalan kaki melalui pedestrian Singapura yang lebar dan menyenangkan. Dan akhirnya saat menjejakkan kaki di ujung jalan Serangoon Rd, saya tersenyum sendiri melihat wajah-wajah India ke semua arah mata memandang.

Awan yang menggantung menyembunyikan terik matahari hingga saya bisa menikmati hiasan-hiasan di sepanjang Serangoon Rd, sambil berjanji kepada diri sendiri untuk kembali mendatangi Little India di malam hari karena cahaya lampu-lampunya menjadi kekuatan utama saat perayaan Deepavali. Pasti sangat indah.

Decoration at Serangoon Rd
Decoration at Serangoon Rd

Tiba-tiba terdengar denting halus dari dalam diri, dan seperti tersadarkan dari koma, saya baru memperhatikan sekeliling yang hampir semuanya pria keturunan India yang tak terhitung banyaknya. Keberadaan seorang perempuan sendirian di antara kerumunan yang kebanyakan pria menjadikannya sebuah perbedaan yang sangat menyolok. Tak heran alarm diri berdenting agar saya menyadari situasi. Lalu, -seakan memperburuk situasi-, alam pun menurunkan hujan deras secara tiba-tiba sehingga memaksa kerumunan orang di jalan bubar dan mencari tempat berteduh, termasuk saya. Bahkan kini, situasinya menjadi lebih ekstrim karena jarak fisik semakin dekat.

Tetapi sebuah peristiwa terjadi bukanlah secara kebetulan. Dalam situasi seperti itu, Dia yang selalu baik menghentikan saya untuk berteduh dengan aman di beranda sebuah kios lukisan dan hiasan-hiasan dinding agar saya bisa berpikir. Di dekat saya tentu saja banyak pria keturunan India yang juga berteduh, hanya satu dua perempuan yang lewat diantara puluhan pria. Sambil berdiri dalam diam menunggu hujan saya memperhatikan hiasan dinding yang ada di kios itu seperti kehidupan Buddha, kehidupan Krishna kecil, Ganesha, dan hiasan-hiasan budaya India lainnya yang cantik dan menyenangkan untuk dilihat, termasuk menatap titik-titik hujan yang jatuh lalu mengalir ke saluran drainase…

Lagi-lagi saya tersadarkan, segala ketidaknyamanan seorang perempuan yang menjadi obyek tatapan mata yang tak sebentar diantara begitu banyak pria itu, sesungguhnya karena ketidaksadaran saya. Siapapun, apalagi perempuan, sudah sewajarnya selalu sadar akan lingkungan dimanapun, kapanpun. Bukankah saya sendiri yang hendak jalan kaki menuju Little India yang memang merupakan kawasan keturunan India dengan gaya sosial budaya mereka yang khas? Bukankah seharusnya saya menyadari saat hari libur (Deepavali merupakah hari libur nasional di Singapura), kawasan Little India akan penuh dengan kerumunan orang?

Mempertahankan kesadaran dan bersikap waspada bukan berarti tidak peduli dengan orang lain atau mengabaikan tatapan mata orang. Meskipun kini saya tengah berada di Singapura yang terkenal keras dengan sanksinya yang melindungi kaum perempuan dari gangguan sekecil apapun terkait perlakuan terhadap lawan jenis yang salah-salah bisa berakhir dengan denda yang sangat mahal. Saya seharusnya secara terus menerus aktif mengukur tingkat keamanan diri berada di tempat itu, bahkan dimanapun. Bukan take it for granted

Dia Yang Selalu Baik dan selalu melindungi saya…

Memang tak nyaman ditatap seakan hendak ditelan bulat-bulat, namun bukankah saya tak kehilangan satu apapun? Hanya diperlukan kesadaran setiap saat. Ah, hujan yang turun selalu membawa berkah dan hari inipun memberi kesempatan pada saya untuk belajar…

Shri Lakshminarayan Temple dan Sri Veeramakaliamman Temple

Tak lama kemudia hujan pun mereda. Saya melanjutkan langkah ke Kuil Laksmi dan Kuil Sri Veeramakaliamman yang tak jauh dari situ, karena disana pastilah banyak perempuan yang melakukan pemujaan, paling tidak berada dekat perempuan saya dapat menenangkan hati. Melihat pintunya yang masih tertutup, saya teringat akan kunjungan saya ke dalam kuil itu setahun lalu

Shri Srinivasa Perumal Temple

Titik hujan terasa lagi sehingga saya mempercepat langkah menyusuri Serangoon Rd menuju kuil Shri Srinivasa Perumal, yang didedikasikan untuk Dewa Wisnu dan termasuk kuil tertua di Singapura. Gapuranya dipenuhi penggambaran 10 reinkarnasi Dewa Wisnu. Saya selamat sampai ke kuil itu sebelum hujan, tetapi belum selesai menikmati keindahan penggambaran relief kuil, lagi-lagi hujan turun dengan derasnya membuat saya berlari sebelum basah kuyup sepenuhnya menuju pintu masuk kuil. Ada rasa geli di hati kali ini hujan terasa menjadi air yang mensucikan sebelum masuk kuil…

Gopuram of Shri Srinivasa Perumal Temple
Gopuram of Shri Srinivasa Perumal Temple

Di dalam kuil ini tidak sulit untuk mengidentifikasi 10 avatar Dewa Wisnu, seperti Rama dengan busurnya, Krishna dengan serulingnya. Saat saya di dalam, tak sedikit umat yang beribadah yang membuat saya terpesona melihat cara sebagian dari mereka yang melakukan ritual sembah hingga tiarap.

Malam Deepavali di Little India

Saya meninggalkan kuil sebelum sore berakhir dan kembali ke hostel untuk beristirahat sejenak hingga malam tiba. Kali ini saya menggunakan MRT untuk kembali ke hostel dan kembali lagi ke Little India pada malam harinya.

Beautiful decor at Serangoon Rd at night
Beautiful decor at Serangoon Rd at night

Sesampainya di kawasan Little India, kali ini memelihara kesadaran pada lingkungan yang isinya hampir semua pria berwajah India Selatan dan rata-rata berkulit gelap itu. Saya kembali menuju ujung jalan Serangoon dan ternyata cukup banyak turis Barat yang ingin berada di Little India saat Deepavali, mungkin untuk merasakan keriuhan hari besar di India itu.

Saya berdiri di ujung bawah lampu lalulintas menunggu lampu penyeberangan berubah hijau. Bahkan dari pinggir jalan, banyak orang mengabadikan cahaya lampu yang menghiasi jalan Serangoon itu. Saat lampu berubah hijau berbondong-bondong orang, termasuk saya, bergerak ke tengah jalan dan memotret dari tengah jalan. Semua orang sepertinya sepikiran. Memotret dari tengah jauh lebih baik, walaupun jalan Serangoon itu sedang macet. Dan herannya, bahkan sampai lampu penyeberangan telah berganti merah, tak sedikit orang masih berdiri di tengah jalan. Kali ini klakson mobil silih berganti berbunyi menambah keriuhan di wilayah itu.

Serangoon Rd on Deepavali
Serangoon Rd on Deepavali

Beautiful Serangoon Rd at Night
Beautiful Serangoon Rd at Night

Kemudian kaki membawa saya ke arah bazaar yang menjual berbagai keperluan puja untuk umat Hindu. Berbagai ukuran kalungan bunga warna warni, genta, buah, lampion, kalung-kalung berkilauan, bubuk warna, patung-patung dewa, bulu merak, tampat puja, lampu-lampu dan macam-macam barang lainnya, semuanya dijual diantara suara-suara pedagang dan pembeli yang menghebohkan.

Menyadari dimana-mana penuh orang dan saya termasuk orang yang tidak cukup kuat berlama-lama di kawasan padat orang, setelah dirasakan cukup dengan keriuhan Deepavali, saya mengakhiri perjalanan hari itu dan kembali ke hostel.

Sri Mariamman Temple

Esok harinya, kembali saya merasakan rintik hujan saat menuju Kuil Hindu tertua di Singapura yaitu Kuil Sri Mariamman yang kini menjadi salah satu monumen nasional di Singapura dan berlokasi di kawasan China Town. Kuil yang dibangun pada tahun 1827 oleh para immigran dari Tamil Nadu di India Selatan ini didedikasikan kepada Dewi Mariamman yang terkenal akan kekuatan penyembuhannya. Gapura masuknya terdiri dari enam tingkat yang dipenuhi patung-patung dewa-dewi, orang-orang suci dan makhluk mitos lainnya. Sayang sekali saya tak sempat melihat upacara jalan diatas api yang biasanya dilakukan secara tahunan sekitar seminggu sebelum Deepavali.

Entrance of Sri Mariamman Temple
Entrance of Sri Mariamman Temple

Pintunya seperti kuil-kuil Hindu lainnya, terbuat dari kayu yang terlihat berat dan langit-langitnya berhiaskan mandala-mandala yang cantik. Pada saat saya datang, sedang berlangsung upacara khusus membersihkan patung di altar utama sehingga umat yang hadir memperhatikan dengan takzim selama prosesi dilakukan diiringi bunyi-bunyian tradisional yang sangat meriah. Sungguh kuil ini penuh dengan penggambaran dewa dewi dengan ukiran detail yang indah.

Waktu berjalan cepat, saya harus memperhitungkan kembali ke Bandara tanpa terlambat. Walaupun bersama hujan saya menikmati mencicipi rasa India di Singapura pada saat Deepavali, saya masih meninggalkan beberapa tempat yang masih bersentuhan dengan budaya India, yang belum sempat saya kunjungi. Tetapi bukankah semua itu bisa menjadi alasan untuk kembali?