Berperahu Naga Sepanjang Sungai Parfum


Kota Huế – Vietnam Tengah di bulan Desember

Setelah semalam berkeliling kota Huế dengan menggunakan becak, pagi ini saya menyempatkan diri melakukan tour berperahu sepanjang Sungai Parfum, sungai yang berlimpah bunga di hulu selama musim gugur sehingga konon menjadi harum baunya (tapi saya tidak membauinya lho 🙂 )

Perfume River from my hotel in Hue

Kota Huế di Vietnam Tengah yang memiliki tingkat hujan yang lumayan tinggi di bulan Desember ini, pagi itu tampak berawan, muram dan gloomy, tak beda jauh dengan situasi kota Hoi An yang telah saya tinggalkan sehari sebelumnya. Tetapi saya tak ingin terbawa suasana yang menggiring untuk berlama-lama di balik selimut. Setelah bersiap dan sarapan, segera saja saya menuju tempat perahu bersandar yang tak jauh dari hotel.

Sambil menunggu waktu keberangkatan, saya mengamati perahu wisata yang akan saya naiki. Bentuknya lucu, seperti ada dua kepala Naga di depan. Jika perahu Naga yang asli, kepala Naga benar-benar menyatu dengan badan perahu sedangnya versi KW ini kepala Naganya hanya berupa hiasan. Bagi saya hiasan ini malah menarik perhatian. Siapa sih yang memperhatikan asli atau tidak? Bukankah jika dilihat dari jauh tetap terlihat seperti perahu Naga? 😀

The Dragon Boat

Pada jam yang ditentukan seluruh peserta tur berkumpul, termasuk beberapa turis kulit putih. Kemudian perahu wisata berkepala Naga itu mulai bergerak menyusuri Sungai Perfume yang membelah kota Huế. Tak lama pemandu tur yang berusia tiga puluhan itu mulai mengeluarkan jurusnya bercerita tentang perjalanan hari itu. Sedikit berbeda dengan gaya ngebolang sebelumnya, saya tidak melakukan persiapan dan riset tentang tempat-tempat yang akan dikunjungi. Kali ini, sekali-sekali saya menjadi turis yang nurut pada omongan pemandu, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

Dalam hitungan menit perahu melaju ke pinggiran kota Huế, kepadatan kota terasa berkurang dan berganti dengan hijaunya pepohonan serta coklatnya Sungai Parfum. Pikiran saya melayang ke pengalaman di Bangkok, ketika menyusuri sungai Mae Chao Phraya, hanya beda pemandangan. Selagi masih menikmati pemandangan sekitar sungai, mendadak saya merasa perahu mengarah ke kanan dan melambat. Pasti ini pemberhentian pertama.

Rumah Taman An Hiên (Nhà vườn An Hiên)

Setelah turun dari perahu dengan melewati sedikit belukar, kami sampai di gerbang rumah An Hiên. Gerbang rumah dengan lengkung kuno ini terlihat lembab dan memudar meskipun masih terdapat jejak indahnya. Di bagian atas, terdapat hiasan berupa karakter China yang mungkin berarti An Hien dan di bawah lengkung terdapat hiasan bersulur.

Melewati gerbang, terhampar jalan setapak menuju rumah dengan dahan dan ranting-ranting tanpa daun, melengkung membentuk terowongan panjang. Cantik sekaligus menimbulkan misteri. Dan di ujung terowongan itu terdapat pagar berdinding yang sedikit berlumut dengan lubang lingkaran yang membentuk simbol kata Mandarin yang biasanya bernada kebaikan.

Berbelok di ujung jalan, terdapat pintu untuk masuk ke halaman rumah yang penuh dengan tanaman. Sebuah kolam ikan dibuat di bagian depan rumah mungkin bertujuan untuk mendinginkan dan menyegarkan suasana rumah.

Rumah Taman An Hiên yang sudah berusia lebih dari seabad ini relatif masih cukup bagus, pintu dan tiang-tiang kayu di bagian depan cukup baik (meskipun saya teringat rumah-rumah kuno di daerah pecinan yang serupa dan terpelihara dengan lebih baik). Hiasan atapnya cukup menarik perhatian saya. Dan seperti juga turis-turis lain, saat memasuki rumah itu, saya melihat ada altar lengkap dengan foto-fotonya, seperangkat alat minum teh, ruang-ruang kosong berisi tempat tidur kayu. Sayangnya sama sekali tidak ada penjelasan apapun bahkan pemandu tur entah dimana 😀 Saya hanya merasa di negeri antah berantah…

Belakangan baru diketahui, konon, putri ke-18 dari Kaisar Duc-Duc, –yang kontroversial karena penobatannya tak selesai dan hanya memerintah selama 3 hari, 20 – 23 July 1883-, menempati rumah An Hiên sampai tahun 1895, lalu setelah beberapa kali berpindah kepemilikan, akhirnya tahun 1938 rumah ini menjadi milik Nguyen Dinh Chi, seorang kepala daerah setingkat provinsi. Istrinya, Dao Thi Yen, terus merawat rumah ini bahkan mempelopori gerakan melawan kolonialisme Perancis yang terjadi saat itu di Vietnam. Bisa dikatakan rumah An Hiên ini menjadi saksi bisu kegiatan aktivis nasional Vietnam terutama yang berkontribusi besar untuk kota Huế.

Tidak banyak mendapatkan informasi tentang isi rumah, saya kembali ke halaman lagi. Meskipun tidak sempat memperhatikan keberadaannya, konon di halaman ini terdapat berbagai bunga, seperti anggrek dan mawar impor dari Eropa serta berbagai pohon buah seperti manggis, durian, lengkeng dan kesemek langka Tien Dien yang istimewa karena lezat dan tanpa biji. Buah kesemek ini khusus dibawa dari wilayah Nghi Xuan oleh cicit penyair besar Nguyen Du sebagai hadiah untuk keluarga Nguyen Dinh Chi.

Rasanya tak ada yang istimewa saat berkunjung ke rumah Taman An Hiên ini. Mungkin saja rumah ini memiliki nilai historis bagi penduduk Vietnam tapi sayangnya ketiadaan informasi yang melatari rumah ini, membuat pengunjung non-lokal seperti kehilangan spirit dan nilainya (Meskipun saya jadi introspeksi diri, apakah tempat-tempat wisata di Indonesia serupa rumah An Hien ini sudah memberikan informasi cukup dalam bahasa Inggris mengenai tempatnya?)


Setelah semua berkumpul kembali di perahu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Perfume. Pemandangan yang menarik membuat saya meninggalkan tempat duduk dan melangkah keluar menuju area kepala Naga tempat turis mengabadikan pemandangan sekitar.

Seseorang di antara mereka, -kelihatannya cukup berumur-, menghampiri saya dan mengajak ngobrol mengenai wisata menyusuri sungai ini. Mendengar ceritanya, saya sebagai frequent-traveler ke Cambodia merasa terhenyak juga mengetahui ia baru saja melakukan perjalanan wisata sungai dari Tonle Sap hingga ke Phnom Penh Cambodia, sebuah perjalanan yang masih menjadi impian saya. Ceritanya menginspirasi untuk segera mewujudkan perjalanan itu. Obrolan kami terhenti karena perahu berhenti di sudut sungai yang agak lebih tinggi. Saya terpesona dengan apa yang saya lihat, ada pagoda tua di antara rimbunnya pohon.

Thien Mu Pagoda

Thien Mu Pagoda

Sebagai tempat ibadah kuno berarsitektur indah, tak heran jika Kuil Thien Mu selalu menjadi tempat wisata yang didatangi wisatawan saat berkunjung ke Huế. Pagoda yang juga terkenal dengan nama Heaven Fairy Lady Pagoda itu terletak di Ha Khe Hill, desa Huong Long, di pinggir sungai Perfume atau bisa juga berkendara sekitar 5 km dari Huế.

Pagoda ini memiliki keunikan sendiri karena ada legenda yang menyelimutinya. Dahulu kala, seorang wanita tua muncul di bukit tempat lokasi pagoda sekarang, memberitahu penduduk setempat bahwa seseorang yang sangat berkuasa akan datang dan membangun Pagoda Buddha untuk kemakmuran negara. Waktu berlalu dan legenda tetap menyelimuti kawasan itu. Kemudian, karena legenda itu juga sang pendiri dinasti Nguyen, Lord Nguyen Hoang, -saat itu beliau gubernur provinsi Thuan Hoa (sekarang Hue)-, pada tahun 1601 memerintahkan pembangunan pagoda Thiên Mụ (atau disebut juga Linh Mụ) dan faktanya setelah itu memang membawa kemakmuran bagi negara. Bisa jadi legendanya misterius, tapi tak bisa diabaikan bahwa pagoda selalu dikunjungi orang, dari dalam dan luar negeri. Entah memang untuk melihat pagoda atau untuk membuktikan legenda itu sendiri.

Thien Mu Pagoda

Tentu saja seperti turis lainnya, saya tertarik untuk melihat lebih dekat menara pagoda yang menjulang tinggi. Menara ini dikenal dengan nama Phuoc Duyen, sesuai nama personal dari pendirinya, Kaisar Thieu Tri, dan telah menjadi simbol tidak resmi dari kota Hue. Menara segi delapan yang memiliki tujuh lantai ini menjadi bangunan serupa stupa yang tertinggi di Vietnam, bahkan biasa diasosiasikan (meski tak resmi) dengan ibukota kekaisaran yang berpusat di Hue.

Di dekatnya ada beberapa bangunan lain yang tak kalah menarik, seperti tempat yang menyimpan Dai Hong Chung, sebutan untuk genta sangat besar dari Lord Nguyen Phuc Chu, sejak tahun 1710 yang berukuran 2.5 meter dan beratnya lebih dari 3 ton. Tak jauh juga ada prasasti dari tahun 1715 yang dibuat berdiri di punggung kura-kura marmer besar yang menjadi lambang umur panjang. Saya juga menyempatkan memasuki Aula utama Dai Hung yang megah dan terlihat modern. Isinya barang-barang antik yang amat berharga.

Sambil menunggu peserta tur kembali, saya sedikit googling mengenai sejarah Thien Mu dan terkejut juga membaca hasilnya. Rupanya tak hanya kecantikan arsitekturnya, tetapi ada nilai historis kental dimiliki Pagoda Thien Mu ini yang membuat semangat kebuddhaan di tempat ini tetap terjaga.

Tahun 1963, Hue bergolak. Kebanyakan rakyatnya yang menganut Buddha melayangkan protes anti pemerintahan. Saat itu, Presiden Ngo Dinh Diem, yang naik ke tingkat kekuasaan tertinggi sejak tahun 1955, diduga telah menunjukkan perilaku diskriminasi. Konon, sebagai presiden, ia cenderung memprioritaskan umat Katolik dan melakukan diskriminasi terhadap umat Buddha di bidang ketentaraan dan pelayanan publik serta distribusi bantuan, yang membuat sebagian rakyat Vietnam tidak puas.

Ketidakpuasan akhirnya meledak di Hue di dalam musim panas tahun itu karena terhitung sembilan penganut Buddha tewas oleh tentara dan polisi dari Presiden Ngo Dinh Diem, yang malangnya terjadi pada hari Waisak, hari lahir Sang Buddha Gautama. Protes itu menyebar ke seluruh negeri dan membesar. Dan pusat gerakan umat Buddhist semasa bersejarah itu berada di Pagoda Thien Mu, dalam bentuk mogok makan, tempat barikade manusia dan protes damai.

Tetapi hari itu, saat saya menapaki kawasan Pagoda Thien Mu, rasanya sungguh damai dan tenang karena tempat itu ditata dengan indah, banyak bunga dan pepohonan. Bahkan di bagian belakang taman, terdapat hutan pinus yang wanginya terasa sampai ke tempat saya berdiri. Sungguh tak meninggalkan jejak sama sekali bahwa pernah terjadi gerakan karena sebuah tragedi di tempat yang indah itu.

Waktu berlalu, kami harus melanjutkan perjalanan berperahu. Sayang tak bisa menyaksikan rombongan biksu beribadah saat matahari tenggelam yang konon amat indah di sini. Tapi ah, hari itu, suasananya masih gloomy


Temple of Literature

Meninggalkan Thien Mu, perahu kami melaju melewati Temple of Literature yang lokasinya hanya 1 km dari Pagoda Thien Mu. Pagoda yang juga dikenal dengan nama Van Mieu Hue or Van Thanh ini merupakan tempat untuk pembelajaran ajaran Confusius yang terkenal di China, Korea, Jepang dan Vietnam.

Sayang karena waktu yang terbatas, kami tidak dapat mampir di tempat terkenal yang didirikan pada tahun 1908 semasa pemerintahan Kaisar Gia Long.

Perahu terus melaju menyusuri Sungai Perfume di hari yang berawan. Tak terlihat lagi rumah-rumah penduduk, yang ada hanyalah pepohonan dan perbukitan di kejauhan. Di beberapa pinggir sungai terlihat tempat penangkapan ikan. Serupa di negara-negara lain, sungai merupakan salah satu tempat mata pencaharian yang bisa diandalkan seperti perikanan.

Setelah beberapa lama, akhirnya perahu melambat dan berhenti pada sebuah kaki bukit. Inilah persinggahan terakhir dalam perjalanan dengan perahu. Sebuah kuil kecil yang cantik di antara rimbun pohon.


Hon Chen Temple

Berada di tepian sungai sekitar 10 kilometer dari kota Hue, Kuil Hon Chen merupakan obyek wisata yang terkenal di Hue.

Saya tersenyum saat menjejak di tempat ini karena sehari sebelumnya telah berkeliling My Son, sebuah kompleks percandian Kerajaan Champa. Seperti ada benang merah mengunjungi My Son dan ke Kuil Hon Chen, yang keduanya terkait pada etnis Champa.

Hon Chen Temple
Hon Chen Temple

Dan sebagai tempat ibadah Po Nagar, -junjungan yang dipercaya oleh etnis minoritas Champa-, Kuil Hon Chen menarik untuk didatangi. Karena menurut legenda etnis Champa, Po Nagar adalah putra Raja yang diutus ke bumi untuk menciptakan bumi dan segala jenis kayu dan beras.

Etnis Champa percaya bahwa kuil ini sudah dibangun di lokasinya sekarang berabad-abad lalu dalam bentuk yang paling sederhana namun mengalami penyesuaian dan adaptasi dari waktu ke waktu sesuai perkembangan jaman. Tak heran Hon Chen menjadi tempat untuk recharge kehidupan spiritual dan budaya masyarakat setempat.

Rasanya tak cukup waktu untuk mengabadikan setiap detil yang indah di tempat yang tidak luas namun cantik ini. Apalagi gerimis turun menghiasi hari. Dan si pemandu tur pun sudah memanggil-manggil…

Meski berperahu naga di sepanjang Sungai Parfum telah berakhir di Kuil Hon Chen ini, tur sehari di Hue ini masih berlanjut… Sayangnya suasana masih gloomy


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-46 bertema Sepanjang agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

6 tanggapan untuk “Berperahu Naga Sepanjang Sungai Parfum

    1. Iya asiiiik banget karena berbeda dari biasanya, dan karena jalan2nya pas hujan2 gerimis gitu jadinya yaaa berasa romantis padahal yaaa sendirian hihihi… tapi emang bener budayanya memang terasa sangat China…

      Suka

  1. Saya mampir ke Hue juga pas bulan Desember, Mbak. Sore-malam, kalau nggak hujan, ya, gerimis. 😀 Suasananya jadi gloomy gitu. Kayaknya kapan-kapan mesti coba ke Hue pas musim kering. 😀

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.