Kamboja, Negeri Penuh Makna


Rasanya masih ingat moment istimewa jelang akhir tahun 2010 itu, saat hendak menentukan mau ke negara mana lagi di kawasan Asia Tenggara. Ketika itu saya memegang buku Lonely Planet Southeast Asia on A Shoestring dan sudah menentukan prioritas, Vietnam berada di peringkat atas dan Kamboja berada paling bawah. Alasannya sederhana. Saya meletakkan Kamboja  paling bawah karena saya takut hantu dari orang-orang yang meninggal tak wajar dan Kamboja bisa dibilang jawaranya, karena belum lama keluar dari masa kelam akibat genosida Khmer Merah itu. Seorang teman yang sering menakut-nakuti selalu bilang, anggaplah 1 persen dari korbannya menjadi hantu, itu artinya 16.000 dan itu banyaaaakkk!

Tetapi faktanya, seperti bumi dan langit. Setelah momen itu, di kuartal pertama tahun berikutnya saya justru mengunjungi Kamboja, bahkan hingga berkali-kali bolak balik ke negeri itu dan Vietnam baru saya kunjungi di penghujung akhir tahun 2015, itu pun hanya satu kali ke Vietnam Tengah yang hingga kini angka itu belum berubah 😀

Lalu apa yang membuat saya ke Kamboja?

Angkor Archaeological Park 

Sebagai penggemar sejarah dan candi-candi Hindu Buddha, bisa dibilang saya ternganga ndhlongop saat pertama kali ke kompleks candi Angkor, yang jumlah bangunannya banyak sekali dan tidak cukup tiga hari dikelilingi. Angkor Wat saja sudah luas sekali, Belum lagi di tambah Phnom Bakheng dan kawasan Angkor Thom yang ada Baphuon, Bayon, kawasan Royal Palace lengkap dengan Phimeanakas, lalu Terrace of The Elephants dan Terrace of the Leper King. Tentu saja dengan ke lima gerbang Angkor Thom yang keren-keren itu. Dan yang pasti Ta Prohm temple yang selalu dihubungkan dengan film Tomb Raider-nya Angelina Jolie. Ada yang sudah pernah ke Preah Khan temple atau Banteay Kdei? Hmmm, bagaimana dengan Ta Som, Neak Pean, East Mebon, Takeo, Pre Rup dan Prasat Kravan serta kompleks candi Roluos atau Banteay Samre dan Banteay Srei?

Bahkan saya tak puas hanya sekali atau dua kali, sehingga setiap ada kesempatan ke Kamboja saya selalu mengupayakan ke Angkor. Tidak heran, hampir semua candi itu sudah saya datangi. Hampir semua, supaya ada alasan untuk kembali lagi!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tidak hanya itu, bisa dibilang saya telah meninggalkan jejak di hampir seluruh kompleks candi di Kamboja, termasuk kompleks candi yang sangat remote. Di Preah Vihear yang di perbatasan dengan Thailand, atau Beng Mealea dan Koh Ker. Bahkan kompleks candi Preah Khan Kp. Svay yang sangat jauh dari perkampungan manusia pun saya kejar. Juga kawasan percandian Sambor Prei Kuk yang belakangan ini mendapat gelar UNESCO World Heritage Site. Selain candi-candi kecil di dekat Battambang atau Phnom Penh, saya mendatangi juga kawasan percandian Banteay Chhmar yang lokasinya dekat dengan Sisophon, tak jauh dari perbatasan Thailand. Dan bagi saya ini, masih banyak tempat yang bisa saya datangi untuk melihat candi.

Jadi kalau ke Kamboja, tidak ke Angkor… itu namanya belum ke Kamboja hehehe…

Tuol Sleng & Choeung Ek

Meskipun saya ini penakut, saya memberanikan diri pergi ke “ground zero“-nya penyiksaan Khmer Merah ini. Kok nekad? Karena saya percaya dengan nasehatnya Nelson Mandela yang mengatakan The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear. Dan mengalahkan ketakutan saya ini membukakan pintu-pintu pemahaman dan makna buat saya.

Bahwa demi ideologi, bagi sebagian manusia, nyawa manusia lainnya menjadi tak berarti hanya karena berbeda.

Di tempat ini saya juga belajar bahwa penggiringan falsafah tanpa keberagaman akan membawa kepada konsep diktator yang merusak tatanan kehidupan. 

Jika datang kedua tempat ini tidak dapat menggerakkan rasa kemanusiaannya, sepertinya diragukan kenormalannya sebagai manusia yang berperasaan hehehe…

IMG_5453

Wajah Maaf & Kebesaran Jiwa

Sebagai akibat peristiwa genosida yang menghabisi satu generasi, tak jarang saya menyaksikan wajah penuh maaf dan toleransi pada penduduk lokal Kamboja, Ketika perang sipil berlangsung dalam waktu yang panjang dan mengakibatkan penderitaan tak berkesudahan, satu-satunya jalan untuk hidup lebih baik adalah pemberian maaf, toleransi dan memiliki kebesaran jiwa. Dendam tak akan pernah membawa kebaikan, kecuali hanya membawa derita. Bagaimana mungkin mendendam kepada orang yang sama-sama menderita, yang mungkin sama-sama dikenal, mungkin sama-sama tetangga di kiri kanan rumah, bahkan mungkin sebagai kerabat. Hanya orang yang memiliki kebesaran jiwa yang bisa keluar seutuhnya dari neraka kemanusiaan yang pernah terjadi di bumi Kamboja.

Jika Anda ke Kamboja dan bisa menjadi saksi wajah maaf dan kebesaran jiwa yang dimiliki sebagian penduduk tua di Kamboja, maka berbahagialah. Sesungguhnya tak mudah menemukan hal itu sekarang.

Kemiripan Budaya 

Saya yang termasuk picky terhadap makanan asing, ternyata lidah saya bisa menerima dengan nyaman makanan dari Kamboja, terutama fish amok yang luar biasa enak itu. Campuran bumbu yang ada di dalamnya membuat lidah saya sepertinya ‘kenal’ dengan yang biasa saya telan di negara sendiri, sehingga saya welcome saja dengan makanan Kamboja. Bisa jadi karena tradisi memasak sesungguhnya berakar dari sumber yang sama yaa… Belum lagi cara mereka membungkus makanan atau kue-kue yang juga menggunakan daun pisang. Tidak jauh beda dengan kita kan?

Saya juga teringat dengan minuman selamat datang yang diberikan hotel saat saya check-in. Saya mengira akan diberikan minuman rasa jeruk, apel atau buah-buahan standar lainnya tetapi mereka justru memberikan saya sereh (lemongrass) yang amat segar. Meskipun berbeda dari biasanya, lidah saya mengenal rasa itu seperti di Indonesia. Saya justru terkejut gembira mendapatkan sesuatu yang familiar seperti di negara sendiri.

Dan selagi di sana, saya biasanya memperhatikan wajah penduduk asli Khmer. Meskipun menurut saya hidung orang Indonesia lebih bagus, wajah penduduk asli Kamboja bisa dibilang lebih mirip dengan kita, dibandingkan dengan Malaysia. Ini menurut saya lho… Dan karena sejalan dengan penyebaran Indianisasi, banyak kata-kata bahasa Khmer yang dari pengucapan bisa dibilang mirip atau tak jauh dengan bahasa Indonesia. Dan mengetahui hal ini, sangat menggembirakan saya dan mencari tahu lebih banyak lagi… Contohnya, Guru dan Krou (dengan huruf o-nya hampir hilang), Kampung dan Kompong, Kerbau dan Krabei (i-nya hampir hilang), Pasar dan psar, Kapal dan Kbal. Muka dan muk. Menarik kan? Ada yang pernah tahu kata-kata apalagi yang mirip?

Kalau bicara seni tradisional, wah bangsa Kamboja juga memiliki pertunjukan wayang, meskipun ukuran wayangnya besar (bisa lebih dari 1 meter) dan dimainkan oleh lebih dari satu orang dan layar putihnya panjang sekali. Saya sendiri menikmati pertunjukan wayang Kamboja ini justru di Jakarta dan belum pernah menyaksikan langsung di tempat asalnya. Malam itu, -disaat semua orang sedunia menyaksikan pernikahan agung Pangeran William dan Kate Middleton di London-, saya justru menikmati cultural performance dari Kamboja di Jakarta, hehehe…

Selain itu di Kamboja juga memiliki tarian tradisional yang dilakukan berpasang-pasangan dengan menggunakan tempurung kelapa yang saling diketok satu sama lain, seperti tarian tempurung di Indonesia. Pernah lihat?

Nah, siapa diantara kita yang suka kerokan ketika sedang ‘masuk angin‘? Kebiasaan turun temurun dari para leluhur yang dikenal dengan sebutan kerokan itu ternyata dikenal juga lho di Kamboja. Meskipun namanya bukan kerokan, melainkan goh kyol.

Dan bertemu teman-teman Indonesia…

Di Kamboja, saya memiliki teman-teman baru yang memiliki keterikatan yang kuat dengan Kamboja. Entah yang seperti saya yang sekedar berkunjung, atau mereka yang bekerja di sana. Apapun itu, mereka adalah orang-orang hebat. Dan bukan di kedutaan kami bertemu, melainkan di sebuah warung. Warung Bali di Phnom Penh, tepatnya. Tempat itu sudah seperti kedutaan Indonesia yang tak resmi, yang berlokasi sangat strategis karena hanya selemparan batu dengan Museum Nasional dan Royal Palace serta tempat hang-out di sekitaran kawasan riverside di Phnom Penh. Dan jika beruntung, kita bisa berdiskusi hangat di sana sambil diselingi humor. Rugilah kalau ke Kamboja tidak sempat mampir ke Warung Bali. Makanannya enak-enak dan lidah bisa istirahat sejenak dari berbahasa Inggeris terus di sana…

Terlepas dari berita-berita negatif tentang Kamboja yang dialami pejalan dari Indonesia, seperti penjambretan tas di tuktuk, atau korupsi kecil-kecilan di perbatasan, atau kesan ‘Kamboja itu gak ada apa-apa’, atau ‘negara miskin’, bagi saya pribadi Kamboja tetap menjadi negara yang akan saya datangi secara rutin di kemudian hari selama Tuhan mengizinkan. Dimanapun kita harus tetap waspada dengan barang-barang kita sendiri. Dan soal korupsi, selama negara sendiri belum bebas sepenuhnya dari kata itu, sebaiknya kita tak menunjuk negara lain, karena meskipun hanya satu noktah, kita terpapar juga.

Lagi pula bagi saya, berkunjung ke negara lain itu untuk mencari makna perjalanannya sendiri dan bersyukur punya negara sendiri serta bukan menjadi sebuah pertandingan untuk banyak-banyakan stamp imigrasi (Lhaa… kalau mau banyak-banyakan, bisa susun itinerary 1 hari 1 negara, atau langsung terbang lagi setelah dapat stamp, sampai mabok! 😀 😀 😀 )


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-31 ini bertema Cambodia agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

What Do You Think About Kyoto Station?


Pertama kali menginjakkan kaki di Kyoto, -setelah sekitar 2,5 jam naik Shinkansen dari Yokohama-, saya benar-benar dibuat terpesona akan kemegahan stasiun di kota yang dulu pernah menjadi ibukota resmi kekaisaran Edo. Awalnya terbayang sesampainya di Kyoto saya akan melihat gedung penuh budaya tradisional Jepang, namun kenyataannya adalah gedung megah multi-level yang menggunakan struktur baja setinggi 60 meter dengan gayanya yang ultra-modern. Asli keren!

Begitu turun dari kereta peluru Shinkansen itu, saya berbaur dengan begitu banyak orang pengguna stasiun kereta yang katanya terbesar nomor 2 setelah Nagoya (Bahkan Tokyo saja kalah, padahal Tokyo Station itu rasanya besaaaarr sekali!) Bahkan tak hanya stasiun, di gedung ini juga terintegrasi hotel, restoran, toko-toko, tempat hiburan, panggung dan banyak fasilitas lain untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.

p1030176
Inside Kyoto Station

Dan ternyata sejarah stasiun ini menarik juga. Gedung stasiun kereta pertama kali dibangun tahun 1877 menggunakan bata merah (saat itu penggunaan bata merah merupakan bahan paling modern) dan berlokasi agak ke Utara dari lokasi sekarang. Bahkan Kaisar Meiji sendiri hadir dalam pembukaan stasiun pertama itu. Hebat ya? Lalu karena semakin banyak orang yang memanfaatkan stasiun, maka stasiun kedua dibangun pada tahun 1914 bertepatan dengan upacara penobatan Kaisar Taisho. Menempati lokasi di gedung saat ini, stasiun kedua itu dibangun menggunakan kayu pohon cemara dengan gaya Renaissance yang menawan dan menjadi kebanggaan perkeretaapian nasional Jepang, sementara stasiun pertama diubah menjadi alun-alun publik. Sayangnya akibat terbakar habis di tahun 1950, stasiun Kyoto dibangun kembali secara terburu-buru dengan menggunakan beton agar fungsinya bisa berlanjut. Baru pada tahun 1990-an untuk memperingati 1200 tahun berdirinya kota Kyoto, setelah musyawarah berkepanjangan selama dua puluh tahun, diadakan kompetisi pembangunan baru dengan melibatkan tujuh arsitek kelas dunia. Akhirnya Hiroshi Hara yang memenangkan kompetisi, dengan menggunakan struktur kaca dan baja yang sangat futuristik. Disain itu mendapat kritikan keras dari masyarakat setempat karena katanya, merusak pemandangan Kyoto sebagai kota tradisional. Tapi bangunan 15 lantai itu selesai juga dalam waktu tiga tahun lebih dan dibuka pada tahun 1997. Walau hingga kini masih menuai kritik, tapi perhatikan saja, banyak wajah yang terkagum-kagum, termasuk saya, melihat kemegahan futuristik Stasiun Kyoto.

Dalam menjelajah Stasiun Kyoto, sambil menunggu jadwal kereta, saya sempat menyaksikan pertunjukan musik Hawaii-an yang mengalun, lengkap dengan ibu-ibu yang tidak muda lagi, menyanyi sambil berlenggak-lenggok. Saya benar-benar terhanyut mendengar musiknya. Selain itu , di lantai paling atas, -The Sky Garden-, kita bisa melihat seantero kota Kyoto. Tapi perlu diingat ya, arsitektur stasiun ini dibuat terbuka sehingga dari ketinggian lantai-lantai atas, kita bisa melihat langsung kesibukan di lantai-lantai bawahnya secara langsung. Bagi yang punya phobia ketinggian, be aware ya!

p1030229
Hawaiian Music… Alohaaa…
img_8229
Kyoto Station from top

Orientasi Arah di Stasiun Kyoto

Untuk mudahnya, stasiun ini bisa dimasuki dari arah Utara dan Selatan. Pintu masuk utama berada di sisi Utara, yang langsung berhadapan dengan stasiun bus dan menara Kyoto (Jadikan menara ini sebagai pegangan agar tidak mudah tersesat). Pintu Utara ini dikenal sebagai Gerbang Chuo atau sering juga disebut Sisi Karasuma (karena jauh di Utaranya terdapat stasiun Subway Karasuma, yang merupakan stasiun interchange untuk kedua jalur subway). Sedangkan sisi selatannya disebut Sisi Hachijo, sesuai nama jalan di depannya, disini terdapat hotel dan mal. Di sisi Selatan ini merupakan peron Shinkansen.

Nah jika masuk dari Pintu Utara mau ke peron Shinkansen yang ada di Selatan, naiklah ke lantai 2 bagian Barat stasiun. Disini ada jalur pejalan kaki yang membentang dari Utara hingga Selatan, melewati pertokoan Isetan, Gerbang Barat untuk Kereta JR dan akhirnya Peron Shinkansen di Selatan (sebenarnya tenggara sih 🙂 ) atau di sebelah kiri dari tempat jalan kaki.

Cara lain, dengan melalui jalur bawah tanah (basement) yang terletak di bagian Timur stasiun dan membentang dari Utara ke Selatan juga, serta menghubungkan ke pintu-pintu masuk JR Lines, Shinkansen maupun Subway. Di Bagian Utara basement terdapat pusat perbelanjaan Porta yang memungkinkan untuk muncul di Stasiun Bus atau bahkan ke Subway.

Jangan takut, semua petunjuk nomor peron terlihat jelas, baik dalam bahasa Inggeris maupun bahasa Jepang (jika bisa baca tulisan Jepang ya)

img_8227
Sky Garden Kyoto Station

Jalur Kereta JR

Bagi pemegang JR Pass untuk pergi ke daerah wisata dari Kyoto, bisanya mengakses kereta-kereta JR melalui nomor peron di bawah ini (karena gratis kan..)

  • Peron 0 untuk kereta Thunderbird Limited Express di Jalur Hokuriku menuju Kanazawa & Toyama (untuk menuju kawasan wisata Shirakawago, Alpine Route dan lain-lain).
  • Peron 4 dan 5: untuk kereta JR Kyoto Line menuju Osaka atau Himeji (terkenal kuil yang berwarna putih sebagai UNESCO World Heritage Site)
  • Peron 6 dan 7: untuk kereta Super Hakuto Limited Express di Jalur Chizukyuko menuju Tottori & Kurayoshi. Juga untuk kereta Kuroshio Limited Express di Jalur JR Kinokuni yang menuju Wakayama (yang terkenal dengan pemandangan airterjun tinggi di sisi kuil merah).
  • Peron 8, 9 dan 10: untuk kereta Jalur JR Nara menuju Inari, Uji & Nara (untuk ke kuil Fushimi Inari yang terkenal dengan ribuan tori dan ke Nara yang terkenal dengan Buddha Raksasa dan kejinakan rusa-rusanya)
  • Peron 30 yang ada di sudut barat laut Stasiun: Untuk kereta Haruka Express Limited, menuju Bandara Internasional Kansai (KIX) di Osaka
  • Peron 31, 32 dan 33 yang juga ada di sudut Barat Laut Stasiun: untuk kereta Jalur JR Sagano menuju Nijo (kastil terkenal), Saga-Arashiyama (untuk ke kawasan hutan bamboo atau kawasan turis yang terkenal keindahannya saat musim gugur atau musim semi)

Shinkansen

Seperti yang sudah saya tulis di atas, peron Shinkansen terletak di sisi Selatan atau persisnya di sisi tenggara Stasiun Kyoto, yang melayani jalur kereta Tokaido Shinkansen antara Tokyo dan Shin-Osaka.

  • Peron 11 dan 12: untuk naik kereta Shinkansen menuju Tokyo atau Nagoya.
  • Peron 13 dan 14: untuk naik kereta Shinkansen menuju Osaka (Stasiun Shinkansen Osaka berada di Shin-Osaka, bukan di Osaka Stasiun ya) dan Fukuoka/Hakata (termasuk ke Okayama, yang terkenal kastilnya atau Hiroshima, kawasan memorial bom atom)
img_8230
From the top corner of Kyoto Station

Kereta Bawah Tanah Kyoto

Jalur Subway Kyoto hanya ada 2, Jalur Karasuma yang membentang dari utara ke selatan melalui pusat kota Kyoto. Jalur ini digunakan untuk pergi dari Stasiun Kyoto ke Kokusaikaikan di Utara atau ke Takeda di Selatan, dan bisa transfer di Karasuma Oike (kearah Utara) untuk mengganti ke subway lain yaitu Jalur Tozai yang membentang dari timur ke barat melalui pusat kota.

Pintu masuk ke Stasiun Subway tersebar di seluruh gedung Stasiun Kyoto, namun yang paling mudah berada di bagian Timur gedung. Atau jika sedang berada di luar Stasiun Kyoto atau di area Stasiun Bus yang berada di bagian Utara, banyak petunjuk arah menuju pusat perbelanjaan bawah tanah Porta, tempat yang memilikii akses langsung ke Stasiun Subway Kyoto.

*

Nah bagi saya, berada di Stasiun Kyoto sudah merupakan kenikmatan tersendiri. Saat menunggu jadwal kereta berikutnya atau ketika ingin sedikit bersantai tanpa mengeluarkan biaya apa-apa, berada di Stasiun Kyoto sudah merupakan kesenangan tersendiri. Apalagi jika lapar, banyak sekali restoran disini, tinggal dipilih….

****

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-3 ini bertemakan Stasiun, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Nepal DTD Trip, Memulai Perjalanan Dengan Kesabaran


I am perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness and beautiful in my own way, because God is on my side.

Minggu ketiga di bulan Januari 2017, tiga bulan sebelum tanggal keberangkatan, akhirnya saya memesan tiket pesawat setelah paspor pak Ferry, –my travel buddy-, selesai diperpanjang. Harga tiket sudah naik 200 ribu, tetapi masih jauh lebih murah daripada maskapai lain yang mematok harga hingga 7 juta pp. Nilai setengah dari maskapai lain itu memang menggiurkan tetapi jika di-blacklist karena suka delay, bagaimana ya? Pemikiran yang datang tiba-tiba itu langsung diabaikan karena tergerus harga yang sangat menggoda. Bukankah Malindo merupakan maskapai campuran dari Lion Group Malaysia? Dengan harapan manajemen Malaysia lebih baik dari Lion Indonesia, akhirnya saya memesan tiket untuk Jakarta – Kuala Lumpur – Kathmandu. Dan cerita perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness pun dimulai…

Expectation Vs. Reality

Dan dua bulan sebelum keberangkatan, datanglah email pemberitahuan dari maskapai yang grupnya itu sering dihinadina oleh para pejalan itu. Isinya jelas, penerbangan saya mengalami penjadwalan ulang. Mengutip sumpah serapah komik jaman muda dulu, seribu setan belang, saya mulai mengomel berkepanjangan. Bagaimana tidak, saya memilih penerbangan paling pagi dari Jakarta ke Kuala Lumpur lalu transit sebentar lalu terbang lagi ke Kathmandu sehingga bisa mendarat di Negeri di atas awan itu jelang sore. Itu memang tujuan saya, mengambil penerbangan ke Kathmandu sore hari, demi melihat jajaran pegunungan bertudung salju yang sangat indah. Dalam perjalanan pertama ke Nepal dua tahun lalu, saya duduk di jendela sebelah kanan menikmati keindahan itu. Tentu saja saya ingin mengalaminya lagi. Normal kan? Lagi pula sampai di Kathmandu sore akan lebih baik daripada malam, paling tidak bisa belanja melengkapi trekking gears.

Flight Reschedule

Tetapi memang dasar setan belang, semua bermula dari jadwal penerbangan Kuala Lumpur ke Kathmandu dimajukan semena-mena dan tidak dapat dikejar oleh penerbangan dari Jakarta. Akibatnya, secara sepihak seluruh penerbangan saya dimundurkan semua. Penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur dipindahkan ke tengah hari dan penerbangan ke Kathmandu dipindahkan ke sore hari yang otomatis sampai sana jam 8 malam! Bagaimana mau melihat pegunungan berpuncak salju pada malam hari? Lalu dengan memperhitungkan proses visa dan bagasi yang lama, apakah masih ada toko yang buka pada malam hari? Dan pastinya rencana jalan-jalan di obyek wisata Kathmandu berantakan semua! Dasar setan belang…!

Siang itu juga saya langsung berdiskusi dengan pak Ferry mencari solusi namun pertimbangan uang tetap menjadi primadona karena tidak mau rugi dua kali. Selama masih di tanggal yang sama hanya beda jam kelihatannya masih bisa diterima. Oh, I am perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness…

Selesai…?

Belum!

Beberapa minggu sebelum keberangkatan, saya masuk ke situs Traveloka dan mencoba mencetak ulang tiket dengan jadwal baru, namun hasilnya masih jadwal lama! Lhah, apa lagi ini??! Sampai saya harus memeriksa ke situs Malindo untuk memastikan kami terdaftar sebagai penumpang dalam penerbangan siang dari Jakarta – Kuala Lumpur – Kathmandu itu dan untung saja kami memang terdaftar dengan jadwal baru. Berbagai cara ditempuh tetap tidak bisa mencetak jadwal baru melalui Traveloka, lalu akhirnya saya nekad akan pergi pada hari keberangkatan menuju bandara berbekal informasi terkini di ponsel. Paling-paling berurusan dengan petugas pintu masuk yang mungkin mencegat saya masuk. Jadi harus siap-siap sabar!

Belum lagi soal packing ransel. Karena belum terbiasa menata di Osprey 36L, saya perlu waktu hingga seminggu karena banyak barang sesuai ceklist yang tidak bisa masuk. Hal remeh ini melelahkan fisik dan memerlukan pengorbanan untuk bisa meninggalkan barang-barang kesayangan yang tidak perlu dalam trip ini.

Dan akhirnya sampai juga di hari keberangkatan untuk perjalanan Dare To Dream ini! Bismillah…

Di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta saya menunggu Pak Ferry di depan pintu masuk. Saya merasa tidak pede karena sudah mengenakan pakaian trekking lengkap dengan carrier di punggung, daypack di depan dan sepatu trekking, hanya untuk mengirit tempat! Agak saltum di bandara Jakarta yang lebih cocok dengan pakaian casual atau business. Tapi tak lama kemudian datanglah travel buddy yang juga lengkap dengan pakaian trekking, ransel dan sepatunya. Dua orang saltum di bandara Soekarno-Hatta 😀

Berhasil melewati petugas depan yang tidak memperhatikan jam berangkat, kami langsung membungkus carrier dengan plastik agar aman sebagai bagasi. Lalu melangkah pasti menuju konter Malindo untuk check-in. Tapi ternyata kami ditolak karena terlalu awal! Duh… sistemnya pasti masih kuno sehingga tidak bisa check-in sebelum waktunya. Hallooooo… Malindo, sekarang sudah tahun 2017!

Check-in

Satu jam menunggu konter check-in buka, kami kembali berdiri di antrian konter. Satu orang dilayani lebih dari 15 menit. Lalu terlihat Sang Supervisor bolak-balik antar konter dengan muka kusut, memberikan tanda-tanda buruk. Apalagi petugasnya sering memanjangkan leher melihat ke konter sebelahnya, sambil bertanya-tanya. Adegan itu tak berkesudahan. Alamak! Dan akhirnya penumpang di depan konter selesai dan meninggalkan konter sambil bersungut-sungut mengomel. Di depan saya masih tiga orang dengan kecepatan proses yang tidak beda dengan sebelumnya! Sabar… tapi dimana Sabar??? Saya menggoyangkan kepala laksana boneka India sambil bertanya dalam hati, masih mau menggunakan maskapai ini? Rasanya saat itu saya melimpah rindu kepada maskapai apapun yang proses check-innya mudah dan cepat!

Ternyata kegaduhan sejak proses check-in yang lama itu rupanya berlanjut. Cepatnya imigrasi yang bertolak belakang dengan layanan check-in itu, membuat kami punya waktu untuk makan roti sejenak walaupun setelahnya tergopoh-gopoh juga ke pintu keberangkatan karena waktunya tak lama lagi. Namun, di ruang tunggu itu, kami menanti si pesawat yang tak kunjung tiba. Setelah memanjang-panjangkan leher, pesawat itu tak muncul juga. Dan dimulailah dramanya. Tapi supaya singkat, setelah ditunda sekali, ditunda dua kali, ditunda lagi…. dan lagi, hufft… akhirnya kami boarding juga. Ada kelegaan…

Selesai?

Belum!

Setelah sikut kiri, sikut kanan, tidak mau antri saat boarding, ditambah berebut ruang bagasi atas, akhirnya semua penumpang duduk di kursinya masing-masing. Sepuluh menit…, lima belas menit…, setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda pesawat bergerak. Tanpa ada pemberitahuan. Saya yang jatuh tertidur sampai bangun lagi, pesawat juga belum bergerak. Hedeeew… ada apa ini?

Dan setelah sekian lama, akhirnya pilot bicara meminta maaf dan bla-bla-bla…, lalu pesawatpun bergerak. Itu pun masih masuk antrian ketiga untuk dapat clearance terbang. Dan saat itu sudah 2 jam tertunda dari jadwal seharusnya, padahal waktu transit di Kuala Lumpur untuk penerbangan selanjutnya ke Kathmandu hanya beda 2 jam!

Tidaaaaakkkk…!

Di pesawat saya diskusi dengan Pak Ferry seandainya tidak bisa mengejar penerbangan ke Kathmandu, what’s next? Rupanya Pak Ferry sama seperti saya yang tidak terlalu menetapkan target. Dengan santai dia mengatakan untuk memotong jalur ABC tanpa lewat Poonhill. Saya setuju. Paling tidak saya bisa bersyukur lega karena travel buddy bisa sangat fleksibel (diluar sana lebih banyak orang yang kaku dan ngotot!)

Pasrah dengan penerbangan dengan jadwal suka-suka ini, saya mencoba tidur kembali selagi bisa dan menikmati makanan gratis yang ternyata rasanya lumayan. Ah, bukankah ada nilai-nilai yang patut disyukuri dalam setiap keadaan? Iya siiih, tetapi….

Singkat cerita… setelah mendarat di KLIA, pada saat pesawat baru saja berhenti dan membuka pintu di garbarata, pada jam itulah saya seharusnya terbang ke Kathmandu! Dalam hati saya hanya bisa menjerit galau, masih mau pakai maskapai ini? Oh, I am perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness…

Berbeda dengan terminal KLIA2 yang sudah familiar karena biasa menggunakan AirAsia, saya tak kenal dengan terminal KLIA yang sering digunakan oleh maskapai-maskapai non-budget. Saya tak tahu lokasi transfer dan gerbang-gerbangnya. Perlu waktu untuk membiasakan dan kali ini tidak ada waktu untuk membiasakan! Matek!

Antrian keluar dari pesawat terasa sangat lama sehingga ketika menjejak kaki di gedung terminal, Pak Ferry dan saya langsung tergopoh-gopoh lari menuju papan informasi untuk memeriksa gerbang keberangkatan dengan harap-harap cemas pesawat belum berangkat. Oh My God, help us…

Dan wow!!! PertolonganNya selalu datang tepat pada waktunya. Di papan jelas tercetak nomor penerbangan kami dengan status Boarding! Aha, baru kali ini saya suka dengan pesawat yang delay! 🙂

Boarding

Tak perlu perintah dua kali, Pak Ferry dan saya lari lagi menuju gerbang menggunakan feeling. Semoga benar! And God is on my side, jalurnya benar! Tapi di depan gerbang, saya tertahan, tidak boleh masuk. Aduh, botol minuman masih berisi air yang harus dibuang. Saya menoleh ke kiri kanan mencari tempat pembuangan air atau tempat sampah. Tidak ada sama sekali, sehingga dengan terpaksa saya lari lagi ke toilet untuk membuang air kemudian lari kembali ke gerbang untuk langsung boarding.

Hah…hah…hah…. Nafas rasanya mau putus…

Boarding berjalan lancar dan tempat duduk di sekitar saya lebih banyak kosong sehingga terasa agak lega. Tetapi menit demi menit berlalu, pesawat pun juga tak jelas kapan terbangnya. Ditambah dengan antrian clearance terbang. Aduh… masa’ pengalaman di Jakarta berulang? Ampuuun…

Hanya bisa berbekal sabar dan harap, akhirnya pesawat terbang juga meniti waktu, jam demi jam menuju Kathmandu. Saya lebih banyak tidur membayangkan jauh di sebelah kanan seharusnya mulai terlihat pegunungan tinggi berpuncak salju yang kini tak mungkin terlihat karena hanya kegelapan yang menghias jendela. Tapi bukankah saya telah menerima perubahan jadwal ini dengan segala konsekuensinya? Menyesali tak akan mengubah apapun. Saya menerima apapun yang terjadi…

Benar. Apapun yang terjadi, saya telah berani melangkah dalam perjalanan menuju impian yang mewujud.

Japan – Osaka, Kobe and Tanabata


Perjalanan kemarin di Hiroshima, walaupun penuh kenangan akan Papa, tetapi kunjungan ke tempat-tempat memorial masih meninggalkan sisa emosi yang redup, mungkin seperti awan yang terus menggantung di langit Osaka ini. Walaupun mendung, hari ini jadwal kami berkeliling wilayah Osaka.

Kami meninggalkan penginapan yang tidak jauh dari Shin-Osaka Station. Sengaja saya memilih semua penginapan yang tak jauh dari stasiun kereta agar memudahkan mobilitas kami. Tetapi dasar kami berpegang pada filosofi ‘sedang liburan’, kehilangan momen untuk pergi ke suatu tempat yang menarik tidak sampai menimbulkan kejengkelan. Bahkan mereka terlihat santai saja tidak bisa Osaka Castle, yang menjadi salah satu landmark Osaka, hanya gara-gara hujan! Memang hujan di tengah udara lembab itu sangat menyebalkan, terutama saat liburan. Rasanya tetap gerah walaupun hujan.

Saat berkunjung ke Osaka tiga tahun lalu di akhir musim semi, saya mendatangi Osaka Castle dan menikmati selama berkeliling halamannya dari sore hingga malam hari. Pengalaman itu membuat  saya bisa membayangkan betapa tidak menyenangkannya berkunjung ke Osaka Castle saat hujan karena keindahannya justru terlihat dari taman-tamannya yang luas. Begitu banyak pemandangan yang cantik, dulu… dan mungkin sampai sekarang…

Osaka Castle in the afternoon
Osaka Castle in the afternoon

Terbangun dari kenangan indah tiga tahun lalu, saya kemudian bertanya kepada keluarga apakah mereka masih mau berkunjung ke Osaka Castle di tengah hujan. Namun dari paras wajah mereka yang ‘lempeng’, lebih baik saya mencari destinasi lain yang tidak terkait dengan sejarah. Langsung saja saya mengajak mereka naik Shinkansen lagi dan ekspresi kegembiraan langsung tergambar di wajah mereka. Mereka bersemangat sekali untuk naik Shinkansen, walaupun sudah menempuh perjalanan dari Tokyo ke Osaka hingga Hiroshima dan balik lagi ke Osaka dengan menaiki Shinkansen, mereka masih belum bosan naik kereta super ekspress berhidung panjang itu. Ah, saya sama sekali tidak salah menggunakan JRPass karena kegemaran mereka naik kereta.

Berbagai  kesan mereka yang disampaikan kepada saya mengenai naik kereta super cepat berhidung panjang itu. Katanya keretanya ada yang bagus sampai bagus banget tentu saja lengkap stopkontak untuk charge ponsel/laptop, dan ada juga gerbong yang dilengkapi toilet dan ruang dandan yang mewah, pintu yang serba otomatis membuka dan menutup tanpa suara, gerbong yang walaupun penuh orang tapi senyap mungkin karena orang-orang Jepang itu sangat menjaga privasi. Mereka juga terkesan dengan kebiasaan hebat orang Jepang untuk langsung menegakkan posisi kursi saat meninggalkannya dan tentu saja waktu yang sangat tepat bagi kereta untuk sampai dan berangkat lagi serta tentu saja luar biasa bersih. Uh, saya membayangkan bagaimana peluang kita mengejar budaya orang Jepang yang super duper soal kebersihan itu.

Shinkansen
Shinkansen

Kobe

Dari stasion Shin-Osaka, saya mengajak mereka ke jalur Shinkansen apapun yang kearah Barat Daya, -kecuali Nozomi yang tidak bisa kami naiki-, karena semua kereta Shinkansen akan berhenti di Shin-Kobe, satu stasion setelah Shin-Osaka. Kobe merupakan salah satu destinasi yang muncul di benak untuk menggantikan Osaka Castle, karena untuk menuju destinasinya kami tak perlu berkeringat banyak di tengah udara lembab seperti ini.

Perjalanan sepanjang 37 km itu hanya memerlukan waktu selama 13 menit dari Shin-Osaka menuju Shin-Kobe dengan menggunakan Shinkansen yang bergerak dengan kecepatan biasa. Dinginnya udara di dalam gerbong membuat perjalanan kami terasa lebih nyaman daripada harus bergerah-gerah di luar.

Tidak lama menjelang stasion Shin-Kobe, terdengar pemberitahuannya dalam bahasa Inggeris yang mengakibatkan kami bergegas mengantri ke pintu keluar. Kereta hanya berhenti sebentar, mungkin tak lebih dari 1 menit. Dan udara gerah langsung terasa begitu keluar di peron stasion. Sebenarnya kami bisa berkeliling kota Kobe, tetapi lagi-lagi udara gerah menjadi 1001 alasan untuk tidak berjalan di tengah udara seperti itu. Benar-benar kami turis super manja  😀 😀 😀

Akhirnya kami menuju Nunobiki Herb Park yang hanya 5 menit jalan dari Stasion Shin-Kobe. Kami tinggal menyusuri stasion Shin-Kobe lalu menembus sebuah pertokoan yang tidak terlalu besar lalu naik tangga sedikit untuk sampai di stasion kereta gantung. Sangat minimal untuk mengalami kegerahan di tengah udara lembab kali ini. Bahkan saat kami datang, tidak ada orang yang mengantri di depan konter. Senangnya.

Dan kali ini di kereta gantung, si bungsu duduk di sebelah kakaknya. Dia menolak ketika diajak duduk di sebelah saya. Sambil tersenyum menguatkan, saya tahu dia terus mencoba mengatasi rasa takut ketinggian yang masih tersisa pada dirinya. Ia memang memilikinya sejak kecil. Saya teringat ketika semasa batita ia menjerit menangis sambil merangkul leher saya dengan sangat kuat, minta turun saat naik kincir ria (ferris wheel) di Ancol dan untung saja saya berhasil menenangkan saat itu. Sejak itu, saya selalu mendampinginya untuk mengatasi fobia ini secara bertahap termasuk membicarakan dengan gurunya karena mungkin bagi anak lain sangat mudah untuk berjalan di atas balok keseimbangan tapi sangat menakutkan bagi anak yang mengalami fobia ketinggian ini.  Tetapi semakin besar ia semakin baik, dia mulai berani naik lift kaca walau berjarak tertentu dari pinggir, atau berani semakin dekat dengan pagar pembatas tembus pandang di lantai-lantai atas Mal, sampai berani naik kereta gantung walau dengan syarat tidak boleh ada orang berpindah kursi atau bergerak-gerak! Seperti saat di Kobe ini, untuk menenangkan saya katakan padanya bahwa kereta ini tidak setinggi Ngong Ping di Hong Kong. Ia memahami dan mencoba menikmati pemandangan dari kereta gantung yang memang sangat indah dengan keseluruhan kota Kobe terpampang di depan mata.

View of Kobe - from the Cable Car
View of Kobe – from the Cable Car

Kobe, -kota yang pernah dilanda gempa besar berkekuatan 7.3 SR di tahun 1995 dan menelan korban lebih dari 6000 orang ini, memang menimbulkan kenangan bagi saya pribadi. Lagi-lagi karena cerita Papa yang sering sekali bolak-balik ke kota ini, nama Kobe sudah terukir dalam ingatan saya sejak kecil.  Kota pelabuhan Jepang yang terkenal sejak dulu ini, bagaikan gadis cantik yang memperlihatkan sejumput keelokannya. Semakin diselami, semakin indah. Seandainya ada waktu lain kali, rasanya saya sendiri masih ingin berjalan berlama-lama menapaktilas perjalanan Papa di kota ini.

Tidak lama kemudian, kami sampai di Nunobiki Herb Park yang merupakan tempat rehat yang menyenangkan. Kami menikmati es krim melingkar tinggi di tempat ini karena gerahnya udara, setelah melihat-lihat cantiknya bunga-bunga di taman. Di musim semi atau musim gugur yang udaranya lebih bersahabat, biasanya orang Jepang tidak menggunakan kereta gantung melainkan mendakinya sendiri melalui jalan setapak yang kanan kirinya dipenuhi pepohonan herbal.

Nunobiki Herb Park
Nunobiki Herb Park
The parks below - from Cable Car
The parks below – from Cable Car

Umeda Sky Building

Sekembali ke Osaka, kami mengarah ke Umeda Sky Building, gedung ke 19 tertinggi di Osaka yang dibangun tahun 1988. Banyak yang lebih tinggi, tetapi gedung Umeda ini sangat menarik dengan dua tower 40 lantai yang terhubung di atasnya dengan jembatan dan eskalator berjendela lebar. Bahkan masih bisa naik lagi ke lantai tertingginya dan memasuki pelataran atas yang terbuka. Tapi jangan bayangkan mau lompat bunuh diri disini ya 😀

Osaka from Umeda
Osaka from Umeda

Sebelum meninggalkan Umeda Building, kami menyempatkan diri jalan-jalan di halaman sekitarnya. Beberapa hiasan tampak tergantung yang menunjukkan Tanabata Festival sedang menjelang. Festival ini, dikenal sebagai festival Bintang yang biasanya diadakan pada hari ke 7 bulan ke 7, yang menurut legenda Qixi dari China, kedua bintang Altair dan Vega bisa saling berjumpa dari situasi umum yang biasa terpisah dalam galaksi Bima Sakti. Yang umum terlihat dalam Festival Tanabata ini adalah seseorang menuliskan harapannya pada secarik kertas lalu menggantungkannya di pohon bambu yang didirikan secara khusus agar harapannya dapat terkabul.

Kami tak lama berkeliling Osaka, karena telah berjanji dengan pengelola guesthouse di Kyoto untuk check-in sebelum malam. Walaupun Osaka mungkin merupakan kota yang menarik bagi banyak orang, hari itu kami meninggalkannya lebih cepat karena udara yang tidak begitu bersahabat. Rasanya kami lebih senang memilih naik kereta Shinkansen lagi walaupun hanya 15 menit ke Kyoto daripada harus berlama-lama di Osaka yang gerah. Lagipula saya masih menyimpan kejutan rahasia lagi di Osaka ini, sebagai kota yang mengakhiri masa liburan kami, tetapi itu nanti karena liburan belum selesai 😀

Welcoming Tanabata Festival
Welcoming Tanabata Festival
Decoration in Mall
Decoration in Mall
Tanabata Festival's Wishes
Tanabata Festival’s Wishes
The Love's Padlocks at Umeda
The Love’s Padlocks at Umeda

Tempat Wisata Gratis di Kawasan Stasiun Tokyo dan Asakusa


Tokyo memang magnet kuat buat wisatawan karena sepertinya masyarakat Jepang tahu persis bagaimana memanjakan para wisatawan yang datang ke negerinya itu. Dengan penataan yang menawan hati dan nyaman untuk dikunjungi serta diberikan informasi yang jelas, wisatawan mana yang tidak tertarik untuk berkunjung ke Jepang, lagi dan lagi…

Dan meskipun Tokyo termasuk kota termahal di dunia, sesungguhnya tidak sedikit tempat wisata tersebar seantero Tokyo yang dapat dikunjungi tanpa biaya masuk alias gratis, tis, tis… Sepanjang kaki masih kuat menapaki tangga dari stasiun kereta atau subway yang menjadi transportasi publik yang dapat diandalkan di Jepang, kita bisa mendatangi tempat-tempat wisata yang terkenal. Apalagi jika kita memiliki kartu pass Tokyo, yang bisa mengakses subway, metro atau kereta loop-line Yamamote.

Karena banyaknya tempat wisata yang masuk dalam kategori ini di Tokyo, saya menuliskannya dalam dua tulisan. Bagian pertama mencakup kawasan Tokyo Station dan Asakusa lalu dilanjutkan pada bagian kedua yang mencakup kawasan Shinjuku dan Shibuya. Tentu saja masih banyak tempat terkenal dan gratis yang belum dimasukkan disini, supaya nanti bisa jadi tulisan yang lain kan…

Tokyo Station

Selesai dibangun pada tahun 1914, bangunan bergaya Renaissance dengan batu bata merah ini awalnya direstorasi menjadi gedung stasiun kereta dua lantai saja setelah perang, tetapi pada tahun 2012 akhirnya pemerintah Jepang merekonstruksinya kembali sesuai bangunan awal.

Selain memang aslinya menjadi pusat stasiun kereta, bangunan ini juga menyediakan fasilitas belanja dan makan. Untuk sekedar tahu saja Stasiun Tokyo ini sangat luas karena memiliki interchange dengan jalur kereta lainnya yang terbanyak di Tokyo, jadi perhatikan arahnya dengan cermat, jangan sampai tersesat! (berbagi pengalaman pribadi karena lupa letak locker sehingga harus berputar-putar lama di Stasiun ini 😀 )

Saya menyempatkan diri untuk menikmati façade dari Tokyo Station, karena biasanya saya dan pengunjung lainnya hanya bertukar kereta di dalam stasiun dan tidak keluar untuk menikmati gedung-gedung di luarnya. Tetapi sempatkan untuk menikmati kubah yang indah di dalam Tokyo Station , di dekat pintu keluar ke arah jalan raya.

Akses: Exit Marunouchi Tokyo Station

*

Tokyo International Forum

Dari nama, bentuk dan lokasinya, kelihatannya tempat ini sangat business-like padahal tidak selalu demikian. Tokyo International Forum merupakan kawasan untuk konser musik, pameran dan event internasional lainnya. Yang menarik tempat ini adalah dinding luarnya terbuat dari bahan kaca tembus pandang dan pengunjung dapat menikmatinya hingga ke lantai-lantai atas tanpa biaya, termasuk berjalan-jalan di jembatan-jembatan penghubungnya asalkan tidak takut ketinggian. Sungguh, saya jealous dengan kemerdekaan dan kenyamanan disini untuk menikmati gedung-gedung cantik tanpa bayar dan tanpa tatapan mata penuh curiga. Kapan ya di Indonesia bisa seperti ini?

Pada halaman depan gedung ini, pengunjung pada malam hari bisa berjalan diatas lantai yang diterangi lampu dari bawah sehingga menciptakan silhouette yang cantik. Berada di tempat ini seakan-akan mengajak imajinasi berlompatan dengan liar tanpa batas yang sangat menggembirakan.

Buka setiap hari, pk. 07:00-23:00

Akses: Yurakucho St. dengan JR Yamamote atau Subway (Y18). Atau jalan kaki saja dari Tokyo Station, nyaman kok sambil menikmati pemandangan kota.

*

Ginza

Dari Tokyo International Forum kita dapat berjalan kaki menuju kawasan Ginza walaupun lebih enak 🙂 kalau naik subway dan langsung muncul di kawasan Ginza. Disini tempatnya untuk window-shopping merk dunia yang terkenal (dan tentu saja boleh membeli bila memang ada dananya) seperti Channel, Gucci, Cartier dan lain-lain yang bersanding pula dengan Uniqlo, Zara dan merk-merk terkini lainnya. Harganya jangan tanya ya… tak jauh melangkah pasti terlihat Gedung De Beers yang berlekuk tampil dengan sangat unik, mungkin memang sesuai tujuannya, bukankah hampir semua orang (baca: perempuan) tertarik untuk memperhatikan berlian?

Akses: Stop di Stasiun Ginza – (G09, H08, M16 bila menggunakan jalur Subway)

*

Imperial Palace dan Jembatan Nijubashi

Sebagai Edo Castle yang dulunya merupakan kediaman keluarga dinasti Tokugawa, kini lebih terkenal dengan nama Imperial Palace dan dijadikan sebagai kediaman resmi Kaisar Jepang, yang memindahkan istananya dari Kyoto ke Tokyo setelah Restorasi Meiji. Hanya di bagian timur dari Istana ini yang dibuka untuk publik dan dikenal Taman Timur (East Park) lengkap dengan jembatan di depannya yang sangat terkenal dengan nama Nijubashi.

Walaupun tak masuk ke dalam kawasan istana, berjalan kaki di sepanjang trotoar di pinggir kanal lebar yang tertata apik dan mengelilingi istana ini, cukup menyenangkan. Mungkin karena bersih dan memanjakan mata, saya jadi menyukai kawasan ini meskipun kaki rasanya sudah tak sangggup untuk melangkah…

Akses: Nijubashimae Subway Stasiun (C10) atau Hibiya Subway St. (I08), (C09), (H07), Buka setiap hari.

*

Tokyo Stock Exchange

Jepang merupakan negara yang ekonominya selalu mendapat sorotan di dunia, salah satunya pergerakan bursa sahamnya. Nah, ketika ke Jepang, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kawasan pusat finansial ini, hitung-hitung mengingat rekan-rekan yang sedang bekerja keras di kantor saat saya sedang menikmati liburan 😀 Menyenangkan juga memiliki foto luar dari gedung Tokyo Stock Exchange. Apalagi berjalan kaki di kawasan ini bisa berkesempatan melihat nama-nama besar perusahaan sekuritas dunia yang menempati gedung di sekitar Tokyo Stock Exchange, atau siapa tahu bisa bertemu dengan investor galau yang sedang rugi besar atau bahkan yang sedang tertawa-tawa karena untung berlipat?

Akses: St. Kayabacho (H12 Hibiya line atau T11 Tozai line Subway)

Akihabara

Jalan-jalan di kawasan ini hanya untuk merasakan nuansa lost-in-translation saja karena banyaknya neon-sign dalam bentuk tulisan kanji Jepang. Namun perlu hati-hati juga jika Anda membawa anggota keluarga yang masih kecil, karena diantara yang tertulis itu sering terselip iklan sensasional dari perempuan-perempuan yang berpakaian seadanya. Tidak perlu lama-lama disini, luangkan waktu secukupnya saja untuk merasakan nuansa tulisan kanji yang menghiasi gedung-gedung, kecuali memang Anda mau membeli barang-barang elektronik disini ya.

Akses: Stop Akihabara St dengan JR Yamamote line atau di H15 bila menggunakan Hibiya line Subway.

*

Sensoji Temple

Terletak di kawasan Asakusa yang lebih bersahabat, kuil Sensoji merupakan salah satu kuil tertua di Tokyo yang katanya dibangun pada tahun 628. Terkenal dengan gerbangnya yang dikenal dengan nama Kaminarimon yang ditengahnya tergantung lentera raksasa berwarna merah.

Kuil ini biasanya dipenuhi oleh penduduk Tokyo yang berharap berkah sebelum berangkat bekerja, selain menjadi tempat favorit turis. Sayangnya per awal Juli 2016 kemarin, Pagoda 5 tingkat sedang direnovasi sehingga bagian luarnya ditutup, padahal Pagoda itu salah satu bangunan menarik di kawasan Asakusa. Selain itu, jika tak sempat berkunjung ke Sky Tree, bisa saja mengabadikan pemandangan SkyTree dari Sensoji. Namun agar lebih nyaman menikmati kunjungan ke Sensoji, sebaiknya datang pagi-pagi atau pada malam hari saat pengunjung tidak terlalu banyak. Pasti tidak menyesal karena pemandangan Sensoji di waktu malam sangat impresif. Apalagi jika Ada menginap di sekitar Sensoji.

Selain berkunjung ke Sensoji, jika punya uang berlebih, bisa berbelanja berbagai cinderamata atau pernak-pernik di Nakamise Shopping Street yang berlokasi di sepanjang 200meter dari arah Kaminarimon (gerbang pertama) sampai ke gerbang Hozomon (gerbang kedua) di depan kuil Sensoji.

Akses: Stop di Asakusa St. Buka setiap hari dari pk. 06.00 – 17:00, kecuali bulan Oktober hingga Maret dibuka pk. 06.30.

*

Kawasan Skytree

Meskipun bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 1 km dari Asakusa sambil menikmati sungai Sumida dan pemandangan sekitarnya, kita bisa mencapai SkyTree dengan naik Tobu Skytree Line dari Asakusa St. dan berhenti di Tokyo SkyTree Town yang merupakan kawasan wisata dengan tower Tokyo Skytree, mall, akuarium, planetarium, perkantoran dan lainnya. Tanpa harus naik ke atas yang berbayar, jalan-jalan di sekitar kawasan ini sudah cukup menggembirakan.

Jika ingin melihat daerah Tokyo dengan lebih jelas, bisa naik ke lantai pengamatan di ketinggian 350m dan 450m yang dibuka pk. 08:00 – 22:00. Jika udara cerah dan Anda sedang beruntung, dapat melihat keindahan Gunung Fuji dari tempat ini, tetapi untuk ini harus bayar ya…

*

Nah… kaki masih kuat berjalan? Masih banyak lho tempat-tempat yang bisa kita datangi hanya bermodal tiket kereta saja, seperti taman Ueno, jalan-jalan cantik di sepanjang pinggir sungai atau boulevard yang penuh pemandangan indah, museum, berbagai kuil lainnya dan masih banyak lainnya lagi. Jadi pasti asyiklah…

Jangan lupa baca lanjutannya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata gratis di daerah Shinjuku dan Shibuya…

Arigatou Gozaimasu Japan…


“It’s time to say beautiful goodbye to Shinkansen”, demikian kata saya pada kedua anak saya, -si kakak dan si adik-, sambil menempelkan telapak tangan secara cepat pada badan kereta berwarna putih itu sebagai sentuhan perpisahan saya saat melangkah keluar dari bullet train di Stasiun Shin-Osaka. Beberapa saat kemudian kereta berhidung panjang itu lembut meninggalkan kami yang berdiri melambaikan tangan perpisahan hingga kereta hilang dari pandangan.

“Gak mau pulang, Ma…” mereka merajuk. Ah, saya tahu semua hati tercinta, bahkan saya sendiri tak mampu membohongi diri, mereka juga saya, tak ingin liburan berakhir. Kami ingin tetap berada di Jepang. Selalu demikian, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menginjak kaki di Jepang.

Berat memang meninggalkan negeri indah ini, berapa lama pun kami berada disana.

View from Tokyo Metropolitan Gov. Building - Mode Gakuen Cocoon Tower
View from Tokyo Metropolitan Gov. Building – Mode Gakuen Cocoon Tower

Walaupun waktu kami saat menjelajah Jepang bukan waktu yang terbaik, bukan waktu ketika Sakura sedang mekar, bukan waktu ketika salju menutupi permukaan buminya, bukan waktu ketika daun-daun berubah menjadi warna-warni, melainkan ketika panas menyengat kulit, awan tebal menggantung di langit dan menurunkan hujan berkepanjangan yang memberi suasana sendu dan kelabu. Namun dalam waktu yang tidak tepat pun, pergi berwisata ke Jepang mampu memberikan kami kegembiraan…

Dimulai dari bandara Haneda yang bermandikan cahaya di seluruh permukaannya memantulkan terang hingga ke langit, yang terlihat sebelum pesawat menyentuh landasan lalu para penumpang langsung disambut oleh petugas-petugas imigrasi yang bekerja sigap dan cekatan. Hanya lima belas menit sejak memasuki antrian imigrasi, kami telah diberi izin untuk memasuki wilayah Jepang padahal kami termasuk penumpang yang paling akhir keluar dari pesawat.

A building in Sensoji Temple, Tokyo
A building in Sensoji Temple, Tokyo

Pada hari berikutnya wajah kami berhiaskan kekaguman berkeliling Tokyo, merasakan sendiri menaiki monorail, -yang di Jakarta tidak jelas kelanjutan proyeknya-, hingga merasakan sesaknya berada di keramaian para pekerja yang berpakaian senada berwarna gelap. Masyarakat yang katanya banyak bergantung pada teknologi robotik, kami lihat masih meluangkan waktu untuk berdoa dan memohon keberkahan di kuil-kuil yang tersebar di seantero Tokyo. Bahkan kuil Sensoji yang berlatarkan puncak Skytree di Asakusa pun tak henti padatnya oleh pengunjung lokal yang berdoa. Juga di Shibuya, -hanya hitungan langkah dari persimpangan jalan tersibuk di dunia-, masyarakat Jepang yang katanya begitu intim dengan teknologi tetap mendirikan sebuah memorial untuk Hachiko, seekor anjing yang melambangkan kesetiaan.

Kami begitu nyaman melangkahkan kaki pada terowongan-terowongan bawah tanah yang menyediakan travelator seperti di bandara ditambah semburan-semburan angin sejuk. Iri rasanya terhadap masyarakat Jepang yang pajaknya terwujud nyata dalam fasilitas publik yang hebat. Bahkan kami bisa mencapai lantai tertinggi gedung pemerintahan daerah agar dapat melihat seantero Tokyo. Tanpa dikenakan biaya sedikitpun alias gratis. Atau bisa menikmati bentuk-bentuk bangunan yang secara arsitektur nyaman dilihat, menarik untuk diabadikan. Sungguh iri, teringat bagaimana susahnya mengabadikan modernitas dan arsitektur gedung-gedung di Jakarta tanpa diikuti tatapan atau bahkan teguran penuh curiga dari petugas-petugas angkuh penjaga wibawa.

Inside Tokyo International Forum
Inside Tokyo International Forum

Perjalanan kami ke lokasi yang terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site di Nikko, sebelah utara Tokyo dipenuhi dengan kekaguman oleh semangat masyarakat Jepang untuk memelihara nilai bangunan sejarah. Kuil kuno itu dipelihara dalam lingkungan hutan yang terjaga tanpa mengurangi kenyamanan pengunjung mencapainya. Semuanya dengan cantik tertata, lengkap dengan petunjuk yang terlihat jelas termasuk akses untuk para disabilitas. Bahkan dengan semua petunjuk arah yang sudah jelas itu pun, apabila masih belum dimengerti juga, masyarakat Jepang mau membantu dengan senang hati hingga penanya memahami secara tuntas. Adakah yang tak menyenangkan daripada dilayani nomor satu?

Pagoda in Nikko
Pagoda in Nikko

Meskipun tujuh puluh satu tahun lalu, dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, hancur karena bom atom. Menyaksikan sisa-sisanya, memorialnya, sungguh memedihkan rasa. Kubah bangunan yang tinggal kerangka, sisa pakaian korban yang robek disana sini, pecahan kaca yang tertanam dalam meja jati yang keras akibat gelombang kejut, legamnya tempat makan terbuat dari besi, lelehan kuku manusia akibat panas tak terkira, bayang hitam tubuh manusia yang tertinggal pada batu karena langsung musnah, semuanya menunjukkan kengerian bencana yang diciptakan manusia demi sebuah kemenangan. Lalu siapakah yang menang ketika kisah pedih burung-burung kertas (paper cranes origami) terbang mengarungi dunia menyuarakan perdamaian dari seorang gadis kecil yang terpapar radiasi dari bom yang dijatuhkan?

Atomic Bomb Dome or Genbaku Dōmu, Hiroshima
Atomic Bomb Dome or Genbaku Dōmu, Hiroshima

Meskipun Negara cantik itu sering diluluhlantakkan oleh gempa bumi. Tokyo yang hancur lebur akibat gempa di tahun 1923, atau gempa besar serupa yang terjadi di Kobe dua puluh tahun lalu atau tsunami yang menyusul gempa terbesar sepanjang sejarah Jepang yang bermagnitudo 9 yang terjadi lima tahun lalu, semuanya tak mampu menjatuhkan Jepang dalam kehancuran melainkan mereka bangkit kembali. Seperti yang selalu digaungkan oleh orang bijak, bila jatuh delapan kali, bangkitlah sembilan kali. Menatap Kobe dari atas bukit, yang ada hanyalah kota yang cantik yang terus membangun seperti juga di Osaka yang memiliki Umeda Sky Building, tempat kami melihat kota Osaka dari ketinggian.

The Escalator at Umeda Sky Building, Osaka
The Escalator at Umeda Sky Building, Osaka

Dalam perjalanan kami menjadi saksi dari kegempitaan gedung-gedung yang menjulang tinggi di Osaka lalu menghitung langkah dalam lengkung rangkaian tori berwarna cerah di Fushimi Inari disambung dengan menyusuri hutan-hutan bambu yang terpelihara indah di Arashiyama untuk selanjutnya merehat sejenak di kuil dengan taman indah yang menerapkan teknik Shakkei, -menempatkan taman buatan bersisian dengan alam sekitarnya sehingga tercipta harmoni-.

The Torii of Fushimi Inari, Kyoto
The Torii of Fushimi Inari, Kyoto
Arashiyama Bamboo Grove, Kyoto
Arashiyama Bamboo Grove, Kyoto

Seakan Yang Maha Kuasa menciptakan Jepang dalam bahagia dan senyumNya hingga tercipta alam yang cantik, manusia-manusia yang siap menjaga alam serta mewariskan budaya dan sejarah dengan hormat. Kastil-kastil indah sebagai tempat penguasa sejarah berabad lalu di berbagai tempat tetap terpelihara dengan sangat baik, menimbulkan imajinasi tersendiri di kepala pengunjung.

Beautiful Matsumoto Castle
Beautiful Matsumoto Castle

Kemudian terbersit ungkapan syukur berbalut pertanyaan tak percaya, apakah doa-doa kami terkabulkan karena kerucut sempurna Gunung Fuji yang sakral tergambar indah di hadapan kami di pinggir danau Kawaguchiko? Bahkan dalam malam pekat itu pun kami bisa melihat kerlip cahaya lampu sepanjang punggung gunung menuju puncak bertabur ribuan bintang yang menghias angkasa. Limpahan rasa syukur menatapi keindahan itu. Luar biasa hadiah buat kami dalam perjalanan ini.

Fujisan at Summer, Lake Kawaguchiko
Fujisan at Summer, Lake Kawaguchiko

Keindahan Jepang bukan hanya ada di Tokyo, Kyoto maupun Osaka saja. Pegunungan dengan puncak berhias salju putih juga menjadi tujuan perjalanan kami bahkan pada musim panas sekalipun. Perjalanan menembus pegunungan yang sering disebut sebagai Alpine Route itu, membuat kami mendecak penuh kagum. Pembuatan jalan di bibir tebing berhias kolom-kolom beton memberikan hiasan cahaya di kala siang. Sungguh mengagumkan. Tatanan lingkungan yang terjaga dengan pembatasan akses kendaraan berbahan bakar fosil untuk menembus gunung melalui terowongan panjang berkilo-kilometer yang sudah ada sejak perang dunia kedua, membuat saya tersenyum dalam hati, mungkin bagi mereka terowongan MRT di sepanjang jalan Sudirman Jakarta yang kini sedang dikerjakan sangat tak berarti.

Dari ketinggian kami menyaksikan waduk dengan air berwarna turquoise yang keluar berkubik-kubik tak henti memendarkan pelangi ganda, bahkan memungkinkan untuk berjalan kaki di bibir waduk dengan pegunungan yang mengapit indah kemudian dilanjutkan dengan berwisata dengan bus di jalan berliku di wilayah hutan pinus yang senantiasa berselimutkan kabut. Sungguh indra penglihatan dan rasa dimanjakan sepenuhnya sebagai hadiah terindah dari Pemilik Semesta.

Sepuluh hari yang dipinjamkan oleh Pemilik Waktu kepada kami untuk menikmati Jepang terasa terbang secepat kilat, secepat mata memejam saat istirahat di atas futon dalam ruang-ruang tertutup ryokan ataupun hotel, selekas hidangan manis penutup makan malam yang menghilang tanpa bekas tertelan ke dalam perut, sekejap udara yang dihembuskan oleh kereta Shinkansen berhidung mancung yang kerap mengantar kami ke banyak kota di Jepang.

*

Awan gelap menggantung tebal di langit Osaka, satu persatu titik air jatuh membasahi bumi membuat suasana semakin kelabu, serupa air yang merabun pada kelopak mata, serupa suasana hati kami saat pesawat bergerak pelan meninggalkan terminal. Bahkan kesempatan menginap semalam di hotel berbintang pun tak menyurutkan kemuraman hati, tak ingin melepas keluarbiasaan negeri Sakura yang indah.

Namun bukanlah hidup jika tak berjalan maju… Suatu ketika kita akan kembali bersua…

Bagi kami, liburan ke Jepang kali ini, -meskipun bukan di waktu terbaiknya-, sungguh menorehkan kenangan bertinta emas di hati kami, secantik cinderamata yang dikemas hati-hati oleh tangan gemulai berkimono warna-warni. Seiring pesawat terbang memasuki awan, serasa kami turut membungkukkan tubuh, mengikuti tradisi Jepang yang biasa dilakukan disana sambil bergumam Arigatou gozaimasu…

Ketika Si Cantik Hoi An Menghadirkan Cinta


Walaupun cuaca diprakirakan berhias hujan rintik sepanjang hari, -apalagi badai di atas laut China Selatan tak juga berkurang-, saya tak dapat menunggu lebih lama agar mendung berpindah dari langit kota yang telah saya jejakkan pertama kali di siang itu. Tak ada jalan lain kecuali menembus dan menari diantara rintik hujan karena tak tersedia waktu yang cukup bagi saya untuk berdiam diri menanti hujan berhenti.

Si cantik Hoi An menawarkan begitu banyak keindahan hingga UNESCO tak ragu menganugerahinya sebagai World Heritage City, seperti juga Luang Prabang atau Melaka. Dan karena begitu banyak sudut kecantikannya, saya memulai dari An Hoi Sculpture Park, -sebuah taman karya seni-, yang tepat berada di pinggir sungai yang selemparan batu dengan penginapan saya. Rintik hujan membuat suasana menjadi lebih intim walau tak ada informasi tentang karya-karya indah di taman yang relatif mini ini selain untuk dinikmati dengan latar belakang sungai dan rumah-rumah kuno Hoi An. Di beberapa tempat tersedia kursi yang lebih banyak diisi oleh manusia yang sedang jatuh cinta. Tetapi bukankah si cantik Hoi An memang menawarkan cinta di sudut-sudut keindahannya?

Saya berjalan kaki sambil beberapa kali melompati genangan basah, lalu  menyeberangi jembatan yang tiang-tiangnya berhias lampion merah yang cantik. Becak wisata, sepeda yang disewa turis, sepeda penduduk lokal, pejalan kaki yang berjas hujan transparan atau berpayung warna warni tumplek blek memenuhi jembatan yang menghubungkan saya ke jantung kota tua. Hati terasa berdenyut lebih kuat, merasakan kenyamanan suasana kota heritage dunia yang segala sesuatunya memanjakan mata dan memikat rasa.

Pelan-pelan saya melangkah menyusuri pinggir sungai hingga sampai di sebuah landmark kota Hoi An yang terkenal yaitu Japanese Bridge. Jembatan lengkung berbentuk lorong tertutup yang dibangun tahun 1593 oleh komunitas pedagang Jepang itu sebenarnya memiliki nama lokal Lai Vien Kieu atau Bridge from Afar. Beberapa bagian pada dindingnya berhias keramik biru dengan ukiran atap yang sangat memikat hati. Pengunjung yang datang begitu dimanjakan dengan bisa menyaksikan dan menikmati keindahan jembatan dari samping kanan, atau dari jembatan kecil di seberangnya, atau bahkan dari jalan yang menembus lorongnya, yang semuanya memiliki keindahannya masing-masing. Apalagi ketika malam telah datang memeluk, lampu-lampu temaram yang menerangi lembut sang landmark seakan melengkapi kecantikan Hoi An.

The Famous Japanese Bridge at Night
The Famous Japanese Bridge at Night

Terpisah satu blok melewati beragam façade kuno yang cantik dari berbagai café dan toko, saya sampai pada tempat yang dikenal dengan nama Quang Dong yang bergapura merah berukir. Bangunan cantik dengan gaya campuran China Kanton dan tradisional Hoi An ini, dibangun sekitar tahun 1786 oleh etnis China Kanton yang datang ke Hoi An dan merupakan tempat berkumpulnya sekaligus menjadi kuil untuk pemujaan bagi  warga etnis China Kanton. Terdapat dua patung sejenis burung dengan ukiran yang sangat rumit dengan kaki langsing yang berdiri di atas kura-kura, menjadi penjaga pintu kuil. Dan di halaman dalam kuil di bagian tengah terdapat karya seni di atas kolam berupa patung naga dan ikan yang sangat indah.

Ah, si Cantik Hoi An ini, tanpa menjadi seorang ahli sejarah pun, pengunjung benar-benar dimanjakan dengan pernik-pernik menggemaskan dan kerling manis lampion-lampion warna warni yang tergantung cantik di jalan atau beranda toko maupun rumah makan. Cinta memang hadir menggoda di kota cantik ini dan menyelimuti setiap hati yang datang. Rintik hujan yang menghilang tak membuat kedekatan kepala-kepala pasangan menjauh, bahkan tangan-tangan mereka semakin erat menggenggam, mendekatkan bahu yang sudah bersentuhan, mencoba mengalahkan dinginnya udara saat itu.

Jemari kaki yang dingin karena hanya berlapis sandal membuat saya melangkah masuk ke sebuah rumah tua yang terpelihara dan tampak sangat mengundang. Rumah toko Quan Thang, merupakan salah satu rumah tertua dan tercantik di Hoi An. Dibangun oleh seorang pedagang makmur China di akhir abad-17, bangunan ini menjadi contoh terbaik dari rumah toko satu lantai yang memiliki dua muka di jalan yang berbeda. Rumah tua Quan Thang ini juga memiliki berbagai corak arsitektur yang saling mendukung sehingga memberi kesan luas dan sangat nyaman ditinggali. Dan berdasarkan perabot antik yang ada dan masih terpelihara serta tata cara penghuni rumah menjalani hidup selama enam generasi, menunjukkan betapa makmur para keluarga pedagang China dan juga kota Hoi An lama pada masanya sebagai kota pelabuhan dan perdagangan. Terbayang langsung di benak betapa si Cantik Hoi An menjaga keindahan rupa dari kemakmuran para penghuninya.

Tidak itu saja, kecantikan Hoi An terlihat pula dari eratnya hubungan komunitas pedagang China di kota lama itu. Seperti yang dapat disaksikan di bangunan Chinese Assembly Hall, Lop Hoa Van Le Nghia, yang merupakan tempat berkumpulnya para pedagang China dari berbagai etnis, saling bertukar cerita dagang, saling bantu sekaligus melakukan pemujaan untuk keselamatan dan keberuntungan serta meneruskan tradisi yang telah berakar. Bangunan yang berada di pertigaan ini, memiliki relief burung phoenix di kedua dinding dekat pintu, yang menjadi symbol keabadian. Dan seakan ingin menjadikan sebuah misteri yang abadi, si Cantik Hoi An tidak serta merta memberikan informasi mengenai sejarah dari bangunan ini.

Meninggalkan Chinese Assembly Hall dan berpapasan dengan deretan becak-becak wisata yang tak putus serta para turis penyewa sepeda, membuat saya berdiri menunggu di seberang bangunan menarik lainnya yaitu Chua Phuc Kien, sebuah kuil cantik yang didedikasikan kepada Thien Hau, sang dewi laut yang merupakan pelindung para pelaut. Bangunan yang didirikan jelang akhir abad-17 oleh pedagang China yang meninggalkan negeri sejalan dengan runtuhnya kekuasaan dinasti Ming di China ini, merupakan kuil yang lebih banyak melayani etnis Fukien karena etnis ini menjadi mayoritas di kota Hoi An lama. Dan sebagai kota pelabuhan yang mempertemukan banyak pasangan, ternyata kuil ini juga merupakan salah satu tempat pemujaan untuk mendapatkan berkah keturunan.

Melanjutkan langkah kaki pada suasana kota yang semakin temaram dengan hujan rintik yang kembali membasahi bumi, akhirnya saya sampai di Cho Hoi An, pasar induk di Hoi An. Awalnya saya bertahan dengan menggunakan tudung jaket untuk menari di bawah hujan sepanjang jalan di Hoi An, ternyata hujan semakin deras yang memaksa saya harus berteduh, tepat di depan gerbang pasar. Pasar yang terkenal hingga sekarang ini merupakan tempat berkumpul dari para pedagang untuk menjual keperluan sehari-hari.

Ketika hujan telah berkurang derasnya, saya meninggalkan pasar menuju Japanese Bridge melalui jalan yang berbeda. Rintik hujan ditengah udara malam yang dingin, lampion-lampion yang menyala temaram di atas beranda toko dan rumah makan termasuk yang tergantung melintang di atas jalan, menambah aura mesra di sepanjang jalan yang basah. Tak sedikit terlihat payung yang terkembang dengan dua tubuh merapat di bawahnya membuat iri bagi siapa saja yang menyaksikan. Hati saya berdenyut tersenyum merasakan kehadiran cinta di kota Hoi An ini.

Malam merambat naik, saya melewati saja Museum Folklor yang bermandi cahaya dan the Old House of Tan Ky karena sudah tutup serta Museum Keramik karena ada yang bermain genderang di perut saya, tanda pemberontakan minta diisi. Walaupun beberapa kali berhenti untuk memotret, akhirnya saya  berhenti pada seorang ibu di pinggir jalan yang menjual kue moci dan membiarkan kue moci dan uang Vietnam Dong saling bertukar tempat. Lalu saya melanjutkan langkah kembali sambil memindahkan kue moci itu ke mulut hingga akhirnya saya sampai kembali ke pinggir sungai.

Terfokus pada Japanese Bridge yang terlihat sungguh cantik karena bermandi cahaya, saya tak segera melihat ada pasangan calon pengantin di atas perahu kecil yang sedang berfoto di dekat tempat saya berdiri. Cinta yang hadir disitu merekatkan dua hati, membuat saya tersenyum lagi, siapa yang bisa mengabaikan suasana penuh romansa dari si Cantik Hoi An?

Setelah berfoto dengan latar Jembatan Jepang, kedua calon pengantin itu melarungkan lilin dalam wadah kertas berbentuk mahkota, -yang setahu saya di Thailand disebut krathong-, sebagai lambang melepas semua yang berbau negatif saat hendak memasuki kehidupan baru. Tetapi melarungkan lilin dalam wadah itu tidak hanya milik kedua calon pengantin itu saja, karena banyak pengunjung melakukannya. Melarung, bisa jadi merupakan sebuah terapi untuk melepas semua yang tidak menyenangkan, semua yang menyedihkan dan berbagai rasa negative lainnya yang terjadi di masa lalu untuk dikembalikan kepada Sang Pemilik Alam.

Saya melangkah pelan menyusuri sungai untuk kembali ke penginapan, terdiam dalam hening menyaksikan lilin-lilin dalam wadah berbentuk mahkota itu bergerak perlahan-lahan, terombang-ambing mengikuti arus di permukaan Sungai Thu Bon. Walau lilin dalam wadah itu kecil, tetapi terlihat begitu terang, kontras dengan warna gelap permukaan sungai. Seperti juga dalam kehidupan, bintang-bintang ataupun lilin-lilin yang terlihat kecil, namun terangnya mampu memberi petunjuk arah.

Ah, lagi-lagi keindahan di depan mata itu terasa seperti sebuah sindiran penuh cinta dari si Cantik Hoi An, agar kita senantiasa menjadi pelita penunjuk arah dalam perjalanan hidup…

Hoi An and Thu Bon River at Night
Hoi An and Thu Bon River at Night

Perjalanan Menuju Tanah Champa


Penerbangan AirAsia ke Kuala Lumpur Rabu malam itu didelay 1 jam, padahal beberapa kali menggunakan penerbangan jam yang sama jarang sekali mengalami penundaan selama itu, bahkan beberapa minggu sebelumnya saat hendak ke Siem Reap saya merasakan bahwa waktu boarding-nya dipercepat. Tetapi, dibalik sebuah delay selalu terdapat situasi yang indah, paling tidak saya bisa lebih menikmati makan malam di bandara itu walau hanya ditemani ponsel dan orang-orang di sekitar yang tidak saya kenal 🙂

Kemudian dalam waktu yang tak lama, di tempat pemeriksaan barang jelang memasuki ruang tunggu langkah kaki saya terhenti oleh rombongan yang sepertinya akan melakukan ibadah umroh. Hampir 15 menit rombongan, -yang kebanyakan terdiri dari para lanjut usia-, membukakan mata hati saya untuk mendahulukan mereka agar tak terlepas dari rangkaian rombongannya, memasukkan semua barang bawaannya ke mesin pendeteksi, termasuk jaket, ikat pinggang, dompet, tas tangan, tas plastik kresek juga nasi kotak beserta kemasan air di dalamnya, yang menimbulkan kehebohan di ujung mesin dari para petugas avsec yang mengatur mereka dengan tingkat kesabaran yang tinggi.

Menyaksikan situasi di hadapan mata itu, benak saya dipenuhi binar berbagai pandang: para lanjut usia yang didampingi pasangannya yang sama tuanya, melakukan perjalanan dengan transit di berbagai kota, untuk bersimpuh di rumah Tuhan yang penuh keberkahan, dengan segala keterbatasan mereka dan di sisi lain kerasnya peraturan, kondisi alam dan berbedanya budaya dari negeri-negeri yang harus mereka lewati. Mereka-lah, pejalan yang sesungguhnya, yang penuh keikhlasan dan kesabaran, untuk sebuah tujuan yang jelas.

Saya tertegun dengan apa yang terjadi di hadapan mata sebelum melakukan perjalanan ke negeri Champa. Namun sayangnya pembelajaran awal penuh hikmah itu sepertinya terabaikan dalam perjalanan saya kali ini, tenggelam oleh antusiasme merambah sebuah negara lagi.

Hoi An Riverside - the Destination
Hoi An Riverside – the Destination

Sesaat kemudian setelah terjerembab kembali ke alam nyata jelang pemeriksaan mesin deteksi, saya tersenyum penuh pengertian kepada petugas avsec perempuan, memberinya semangat untuk tetap bersabar karena sungguh tak mudah menjadi orang di garis depan untuk pengamanan sekaligus memberikan pelayanan yang tinggi.

Setelah boarding pun saya seharusnya lebih banyak bersyukur karena beruntung mendapat kursi di barisan nomor 3, -baris hot-seat yang berharga mahal-, tanpa harus membelinya. Lalu seperti biasa para kru kabin sibuk membantu penumpang yang memenuhi lorong dengan berbagai barang di tangan untuk mendapat ruang di bagasi atas dan menjejalkan badannya di kursinya masing-masing. Kali ini tampaknya semua kursi terisi penuh.

Dan dalam setiap perjalanan pasti memiliki sebuah cerita. Dari hal-hal kecil, yang mungkin terlihat tak penting tetapi berserak banyak makna. Seperti, terbang di bulan Desember yang penuh awan hujan menyebabkan penerbangan yang memakan waktu sekitar 2 jam itu dihiasi dengan turbulensi yang tak sedikit. Walaupun sering terbang, saya tetap kuatir dengan turbulensi di udara dan langsung diam dalam doa memohon keselamatan terhadap ujian dalam perjalanan ini.

Ada yang tak biasa saat mendarat di KLIA2 ketika waktu menunjukkan lebih dari tengah malam sebagai akibat dari delay. Penumpang bisa turun melalui garbarata namun pintu terminal bandara masih tertutup dan perlu persetujuan dari pihak berwenang. Walau tak lama mengantri menunggu akses, saya tersadarkan bahwa bagaimanapun terminal bandara adalah salah satu pintu masuk ke sebuah negeri.

Selepas pintu terminal yang akhirnya dapat dibuka itu, saya berjalan menuju imigrasi yang lagi-lagi menghentikan langkah saya. Orang di depan saya bermasalah entah apa sehingga diproses lama sekali. Dan akhirnya ketika merebahkan tubuh di hotel bandara itu, saya hanya punya waktu 3 jam kurang untuk bersiap dan meneruskan penerbangan ke tanah Champa.

Walau lelah dan mengantuk, saya tak lupa akan kejadian yang saya hadapi sebelumnya: delay, rombongan umroh, turbulensi, pintu terminal yang tertutup, imigrasi yang lama… Sebuah pertanyaan yang dibawa ke dunia lelap, nilai dan makna apa yang sedang disiapkan untuk saya dalam perjalanan kali ini?

*

Esok paginya semangat baru menghiasi jiwa mengawali sebuah hari dan perjalanan baru ke tanah Champa, menenggelamkan tanya di benak pada malam sebelumnya. Saya berjalan menuju gerbang ruang tunggu yang penuh dan terlihat hanya beberapa wisatawan Barat diantara penumpang Asia. Telinga menangkap alun bahasa yang saya tak pahami dan sedikit banyak meredupkan semangat menjelajah. Tetapi dari hati terdengar bukankah semua perjalanan diawali dengan sebuah ketidaktahuan?

Saya terbang ke Ho Chi Minh City dan mendapat kursi di bagian belakang. Di belakang saya duduk seseorang yang terus menerus bicara dan seakan tak sadar mengetuk-ngetuk kursi saya sehingga kepala saya jadi terpental-pental, yang lucu jika dikartunkan. Sekali dua kali saya biarkan, lama-lama timbul kejengkelan di hati. Namun saya meredamnya karena ini adalah perjalanan ke negeri baru dengan sosial budaya yang berbeda yang sedang saya masuki dan sesuaikan. Saya mencoba menahan diri dengan tidak bersandar lalu mencoba membaca buku, sekaligus mencoba mendengarkan gaya bicara mereka. Walau tak 100% akurat, saya sampai pada kesimpulan bahwa mereka yang duduk di belakang saya tak paham bagaimana cara bersikap yang baik di pesawat. Bisa jadi terbang adalah pengalaman baru bagi mereka dan mungkin juga saya merasa waktu yang terlalu berharga untuk dibuang demi menegur mereka yang tak beradab.

Tak itu saja, setelah mendarat saat pesawat masih bergerak menuju terminal, ada beberapa penumpang yang sontak berdiri hingga ditegur oleh kru pesawat. Saya sering mendengar orang menyalakan ponsel sebelum sampai di terminal, tetapi penumpang berdiri saat pesawat masih bergerak menuju terminal, baru saya temukan di Vietnam ini, setelah dulu di Kamboja beberapa tahun lalu.

Tan Son Nhat Airport - Ho Chi Minh City
Tan Son Nhat Airport – Ho Chi Minh City

Melangkah di bandara internasional Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, saya perlu membuka mata lebih lebar karena informasi dalam bahasa lokal jauh lebih banyak daripada bahasa Inggeris. Dan karena akan melanjutkan perjalanan ke Da Nang, saya bertanya kepada petugas di booth Transfer. Sebagai jawabannya dia hanya menempelkan stiker Transit di baju saya lalu meminta saya mengantri di imigrasi yang antriannya mengular panjang di hampir semua konter. Membuat saya tersadar untuk selalu waspada dan terjaga, segala sesuatu datang tak mudah karena petugas pun tak banyak membantu.

Ho Chi Minh City from Above
Ho Chi Minh City from Above

Bermenit-menit antri dan akhirnya terbebas dari imigrasi, memaksa saya bertanya di bagian informasi tentang penerbangan domestik ke Da Nang. Petugas yang melayani benar-benar efisien dalam menjawab juga tanpa senyum, “go out, turn right, then walk, you’ll find the domestic building”. Ah, dia tak perlu cerita tentang cuaca kan?

Mengikuti sarannya, begitu keluar pintu terminal, saya terhenyak mendapati kerumunan ratusan layanan penjemputan dengan papan nama masing-masing, belum lagi wajah-wajah pengemudi taksi yang menawarkan ke pusat kota, seakan konfirmasi ketidakteraturan layanan taksi bandara di HCMC. Hampir semua orang yang saya kenal mengatakan jangan pernah mengambil taksi langsung di bandara HCMC, atau pesanlah layanan antar-jemput di HCMC. Bahkan ada yang merekomendasi agar cek kebenaran nama dan foto pengemudi ke pusat layanan atau hotel. Taksi bandara HCMC ini memang terkenal parah, bahkan ada yang berpengalaman diketok hingga jutaan VND. Menyaksikan pemandangan ini, saya bersyukur bisa mengetahui besar massanya tanpa perlu berkutat dengan mereka lalu melanjutkan jalan kaki ke terminal domestik yang memang tak jauh.

Setelah check-in di Vietnam Airlines yang penerbangannya direschedule 30menit, saya bergegas menuju ruang tunggu walaupun waktu boarding masih lama. Sambil berjalan menuju gerbang, saya memperhatikan suasana terminal domestik yang jauh lebih tenang daripada terminal internasional yang riuh. Suasana yang tenang membuat saya nyaman berjalan-jalan menanti penerbangan selanjutnya jelang tengah hari. Bahkan saya sempat makan siang lebih awal di sebuah gerai cepat saji sambil menikmati internet yang cepat dan gratis! Ini yang saya suka dari Vietnam 🙂

Penerbangan ke Da Nang dengan Vietnam Airlines berjalan menyenangkan. Kondisi pesawat tak terlalu baru, tetapi nyaman dengan ruang kaki yang lebih luas, yang rasanya lebih luas daripada Garuda. Duduk di kursi berjendela memungkinkan saya menikmati pemandangan pegunungan dan kota-kota di daratan walaupun sempat juga saya terlelap.

Dan setelah 1 jam penerbangan akhirnya saya menjejak di tanah Champa! Yeay…!

Da Nang International Airport
Da Nang International Airport

Bandara Da Nang relatif sepi untuk sebuah bandara internasional. Saya berjalan di gedung yang cukup megah dan luas lalu menuju pintu keluar. Tak seperti di HCMC, layanan antar-jemput masih terlihat normal dan saya mulai membaca nama di papan penjemputan. Aah, nama saya ada di ujung kanan.

Seorang pengemudi yang sudah paruh baya menjemput saya di bandara Da Nang dan siap mengantar ke Hoi An dengan sebuah mini-van. Dengan bahasa Inggerisnya yang terbatas, ia tetap memberikan layanan luar biasa, berhenti di kawasan pembuatan patung-patung Buddha dan di sebuah lokasi untuk memotret Marble Mountain. Bahkan ia memilih untuk memutar jalan, melalui jembatan-jembatan yang megah dan indah di Da Nang daripada langsung menuju Hoi An. Hati ini penuh rasa syukur merasakan sambutan yang baik dari tanah Champa.

Tak beda jauh dengan di Indonesia, di Da Nang jalan sejajar pantai tertutup oleh pengembang kawasan hotel bintang lima yang nama-namanya terkenal di dunia lengkap dengan segala hiburannya, membuat saya hanya bisa berimajinasi akan keindahan pantai pasir putih dengan kebiruan air laut di balik kemegahan gerbang dan bangunan hotel-hotel berbintang itu. Sebuah tanya terukir di benak, apakah penduduk lokal pernah merindukan pantai-pantai indah itu?

Tak sampai satu jam perjalanan suasana kota terlihat kembali, sebuah tanda bahwa batas kota sudah dilalui dan saya telah sampai di Hoi An. Dan akhirnya, ketika jalan semakin sempit dengan berbagai distro dan toko cantik menghiasi kiri kanan jalan tanpa kehilangan bentuk asli bangunannya yang sudah berabad usia, saya sadar telah berada di kawasan kota tua, the Ancient City of Hoi An.

A Monument in Hoi An
A Monument in Hoi An

Sejumput rasa haru dan romantis menyeruak di dada, saya ada di kota tua dalam rintik hujan. Wish you’re here…

Dalam hitungan menit, minivan itu berhenti di sebuah penginapan cantik di depan sungai Thu Bon di dalam kawasan kota tua Hoi An yang basah. Saya disambut oleh dua orang yang menangani proses check-in yang salah satunya memberikan minuman segar selamat datang. Bahkan di kamar tersedia juga dua buah mangga manis yang dalam sekejap mata masuk ke perut.

Begitu merasakan kecantikan kota Hoi An, sebuah UNESCO World Heritage City, saya tak lagi mengingat penghalang-penghalang yang meminta kesabaran dalam perjalanan sebelum sampai ke kota ini. Saya telah diberikan hadiah untuk dinikmati, yang tentu saja diterima dengan penuh bahagia.

*