WPC – The Dearly Beloved


The Statue of Mother and Child in the Storm
The Statue of Mother and Child in the Storm, Hiroshima, Japan

Visiting Peace Memorial Park in Hiroshima, Japan a couple years ago, I could not avoid to see a silent but strong message that is shown in a sculpture. The Statue of ‘Mother and Child in the Storm’ which stands in front of the beautiful fountain at the southern edge of the Peace Memorial Park,

Since history has been made, the impact of a war is imposed at most on women and children. It happened also in Hiroshima, Japan, -after the A-Bomb dropped on August 6, 1945-, when the survivors struggled horribly for a living in the devastated city.

Fifteen years after that, in 1960 the Hiroshima Municipal Federation of Women’s Associations started to set up a monument which was highly expressing the human love to remind this situation.

“A mother cradles her baby tightly in her right arm. With her left arm she tries to lift another child, clinging to her, onto her back. She stands in the eye of a storm, taking a strong step forward as her upper body leans down. Her muscular body signifies the power of a mother’s love”

As a mother, I got the silent but strong message of the image of a mother who is trying to overcome the difficulties to keep struggling and living for the dearly beloved, her children, no matter what.

And every August 6, women of Hiroshima gather in front of the 1.4 meters high and 1.8 meters wide sculpture, -which was created by Shin Hongo, a sculpturist from Sapporo, in 1953-, and vow to make efforts to distribute the world peace by eliminating nuclear weapons.

Iklan

Nepal – Menapak Pagi di Kawasan Monastik Lumbini


Every morning we are born again. What we do today is what matters most – Buddha

Mengutip selarik kata bijaksana dari Sang Buddha di tempat kelahirannya membuat pikiran saya bekerja cukup dalam sambil melangkah meninggalkan kamar menuju lobby untuk check-out. Walaupun hanya bisa sepenggal pagi hari berada di Lumbini, saya akan memanfaatkan kesempatan baik ini semaksimal mungkin untuk berkeliling di kawasan Monastik Lumbini dan tentu saja mengunjungi Kuil Mayadevi, tempat kelahiran Sang Buddha karena setiap detik yang begitu berharga.

Setelah menitipkan ransel di hotel, saya berjalan kaki menuju gerbang Barat, tempat Santa menunggu. Ya memang masih ada Santa hari ini karena kemarin, akhirnya saya memutuskan untuk memperpanjang sewa mobil sampai ke Kathmandu yang tentu saja disambut Santa dengan senyum yang sangat lebar. Sambil berjalan saya menanyakan kabar istirahat malamnya yang langsung dipotong sambil menggerutu, banyak nyamuk di Terai. Saya terbahak mengingat gurauan yang absurd, Terai bukanlah wilayah Nepal…

Santa menghentikan langkah saya dan tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, ia menawar sebuah rickshaw serupa becak untuk berkeliling kawasan monastik Lumbini. Inisiatifnya ternyata tepat, dalam waktu singkat jika harus berkeliling di kawasan itu dengan berjalan kaki, yang akan didapat hanya kelelahan tanpa mengetahui tempat-tempat bagus di kawasan ini.

Gerah udara pagi Terai tetap terasa walaupun saya hanya duduk manis di becak ala Nepal ini. Saya menyaksikan sendiri betapa kawasan seluas ratusan hektar yang dikelilingi oleh jalan Vishnupura ini merupakan kawasan internasional. Negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha pastilah memiliki vihara di kawasan ini. Dan bentuknya? Pasti disesuaikan dengan ciri khas dari Negara-negara itu. Sebut saja Negara-negaranya, pasti ada…

Becak ala Nepal itu melewati jalan ‘tikus’ untuk sampai ke tengah kawasan melewati petak-petak tanah yang tak terpelihara. Ada sejumput rasa prihatin merambat di dalam hati. Untuk sebuah kawasan yang telah menorehkan tinta emas pada sejarah dunia dan sedikit banyak telah memberi warna perdamaian pada kemanusiaan, kawasan Lumbini ini sepertinya masih jauh dari kondisi yang seharusnya. Entah apa kabarnya dengan mega proyek pengembangan kawasan Lumbini yang telah di-gong-kan hampir empat puluh tahun lalu. Bahkan pencatatan Lumbini sebagai kawasan UNESCO World Heritage Site di tahun 1997 juga belum cukup mampu mengangkat kawasan itu nyaman terlihat di mata.

Dari balik rimbunnya petak-petak yang terabaikan itu saya sempat melihat puncak keemasan stupa Myanmar yang menyerupai Pagoda Shwedagon di Yangon, yang belakangan saya ketahui bernama Pagoda Lokamani. Tanpa masuk ke dalamnya, saya bisa membayangkan vihara Myanmar itu seperti bunga lotus yang hidup di air yang keruh.

From the mud of adversity grows the lotus of joy – Carolyn Marsden

Tepat setelah pagar batas dari vihara Myanmar itu, agak menjorok dari pinggir jalan saya menangkap dinding pagar keliling dengan ciri khas Kamboja seperti yang terlihat pada bangunan-bangunan candi di kompleks Angkor. Terlihat sepertinya masih dalam tahap penyelesaian akhir, ditambah dengan keberadaannya yang agak tersembunyi diantara petak-petak tanah yang terabaikan, membuat kompleks vihara Kamboja semakin tak terlihat. Entah mengapa pikiran saya melayang pada lembaran-lembaran uang yang tak kunjung terbang ke Lumbini.

The Royal Thai Monastery

Akhirnya becak à la Nepal berbelok memasuki kawasan vihara Thailand yang tentu saja didukung secara penuh oleh pemerintah Kerajaan Thailand. Walaupun bentuknya tak serupa, namun karena warna putihnya yang mencolok mata, bangunan vihara ini mengingatkan saya pada Wat Rong Khun (White Temple) di Chiang Rai. Pagi itu, bangunan vihara berlapis marmer berwarna putih terlihat sangat kontras dengan langit biru yang melatarinya. Walaupun ketika mendekat, tertangkap pula di mata saya beberapa bagian yang perlu direnovasi lagi. Ah, tetapi keadaan itu tak mengganggu kecantikan bangunan secara keseluruhan.

Royal Thai Monastery, Lumbini
Royal Thai Monastery, Lumbini

Becak pun terus dikayuh ke Utara menyusuri kolam buatan yang membelah kawasan Monastik menjadi dua bagian. Bagian Timur dari Kawasan Monastik Lumbini adalah vihara-vihara Buddha yang beraliran Theravada dan bagian Barat dari kolam buatan diidirikan vihara-vihara Buddha yang beraliran Mahayana dan Vajrayana.

Dan tepat di bagian Utara, -setelah menyeberang jalan Taulihawa-, terdapat World Peace Pagoda yang melengkapi World Peace Stupa (Shanti Stupa) yang ada di Pokhara. Keduanya, -merupakan bagian dari World Peace Pagoda di seluruh dunia-, didukung penuh oleh Nipponzan – Myohoji, salah satu aliran Buddha dari Jepang yang juga mendukung aliran anti kekerasan dari Mahatma Gandhi.

Setelah berputar di ujung kolam bagian Utara, saya memasuki kawasan vihara dengan aliran Mahayana. Terlihat bangunan cantik berbentuk stupa besar bergaya oriental yang sayangnya tidak diketahui namanya. Di dekatnya terdapat halaman yang tertata rapi namun sayangnya lagi-lagi tidak ada informasi asal Negaranya, walaupun orang lokal mengatakan vihara itu berasal dari Perancis.

Sebelum memasuki vihara yang ada disebelahnya, saya menyempatkan diri untuk menikmati kolam buatan yang terasa meneduhkan udara Terai yang gerah. Vihara modern di seberang kolam tampak seperti dipeluk kabut. Menenangkan sekali.

A Monastery near the pond, Lumbini
A Monastery near the pond, Lumbini

The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa

Setelah melepas alas kaki, saya memasuki vihara yang didukung oleh Yayasan Tara dari Jerman, sehingga public sering menyebutnya Vihara Jerman (rasanya saya hampir saja tak percaya bahwa umat Buddhist di Jerman cukup banyak hingga dapat mendanai pendirian dan pemeliharaan vihara yang tak kecil). Bangunan ini dipelihara dengan sangat cantik dengan taman-taman yang tertata dan benda-benda yang berhubungan dengan ritual diletakkan di seluruh penjuru arah sebagai penguat tata letak. Jika saja pengunjung disana dapat lebih menahan diri tak bersuara, keheningan suasana ditempat ini membuat suasana meditatif kian terasa. Tak lupa di depan bangunan utama terdapat kolam yang ditengahnya terdapat Buddha Kecil, dengan tangan kanan menunjuk ke atas dan tangan kiri menunjuk ke bawah (bumi).

The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa
The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa

Pada ruang dalamnya penuh dengan hiasan kehidupan Buddha yang dilukis baik pada dinding maupun pada langit-langitnya dengan warna-warna terang seperti merah dan kuning keemasan selain warna-warna biru muda yang meneduhkan.

Sekeluarnya dari vihara Jerman, saya menyusuri kolam buatan yang airnya sangat tenang sehingga menampilkan refleksi dari bangunan yang berada di pinggir kolam. Melewati sebuah bangunan bergaya Oriental dengan pagar tertutup tinggi, tak terasa langkah kaki membawa ke sebuah gedung berwarna putih pucat, yang sayangnya lagi-lagi tak memiliki petunjuk yang jelas. Sekelompok orang berwajah Hindustan tampak keluar dari gedung itu, entah usai beribadah atau sekedar melihat-lihat.

Monasteries near the ponc
Monasteries near the pond

Melewati sebuah gedung megah yang dari pagar hanya terlihat stupa besar dengan ciri khas Nepal, -memiliki mata seperti Bouddhanath dan Swayambhunath-, sang pengemudi becak ala Nepal telah menunggu kami untuk dikayuh kembali kearah vihara Zhong Hua dari China.

Vihara Zhong Hua

Saya melepas alas kaki untuk memasuki vihara berarsitektur China yang didominasi dengan warna merah ini. Dibandingkan dengan kuil atau vihara yang saya lihat sebelumnya, Vihara Zhong Hua ini sangat megah dan luas. Empat patung Dewa penjaga tampak gagah menghias area gerbang. Halaman bagian dalam tertata cantik yang mengarah ke gedung utama dengan Buddha berlapis emas yang duduk di altar. Secara keseluruhan seluruh bangunan yang ada di kompleks vihara ini dihubungkan dengan lorong terbuka beratap dengan pemandangan halaman taman yang cantik.

Zhong Hua Chinese Monastery, Lumbini
Zhong Hua Chinese Monastery, Lumbini

Vihara Korea

Tepat di depan Vihara Zhong Hua dari China berdirilah vihara Korea yang pada saat saya berkunjung sedang direnovasi. Melihat bangunannya, saya sampai berpikir di Lumbini tempat kelahiran Buddha yang mengajarkan kerendahhatian, entah kenapa saya merasa tetap saja ada upaya berlomba untuk menunjukkan vihara yang terbesar dan termegah. Jika sebuah negara sudah membangun vihara yang besar, ternyata ada negara lain yang membangunnya lebih besar, lebih megah. Lomba kedigdayaan? Entah…

Korean Monastery, Lumbini - under renovation
Korean Monastery, Lumbini – under renovation

Saya kembali berbecak menyusuri kanal di tengah untuk menuju Kuil Mayadevi, sejatinya tempat kelahiran Sang Buddha. Pengemudi becak ala Nepal itu menyelesaikan pekerjaannya di ujung kanal tempat nyalanya Api Perdamaian Abadi, Eternal Peace Flame, yang dinyalakan oleh Pangeran Gyanendra Bir Bikram Shah di tahun 1986. Dari posisi Api Perdamaian Abadi itu, saya melihat lurus ke Utara, terlihat samar warna putih Stupa dari World Peace Pagoda.

Berbalik badan menghadap arah Mayadevi temple, terhampar di depan mata jalan pelintasan panjang seakan membelah udara panas wilayah Terai. Terbayang gerah dipanggang oleh udara, tetapi sungguh dapat dimengerti, inilah wilayah yang begitu berharga bagi dunia, sejatinya seseorang yang telah mengubah warna dunia lahir di wilayah ini hingga tentu saja saya bersedia berjalan kaki untuk mencapainya walau panas sekalipun.

Sekitar 100 meter berjalan saya tiba di sebuah bundaran kecil yang ditengahnya terdapat patung Buddha kecil, dengan telunjuk kanan mengarah ke langit dan telunjuk kiri mengarah ke bumi, seperti kisah yang tertulis pada sutra mengenai tujuh langkah yang dilakukan oleh Buddha setelah kelahirannya.

Masih berselimutkan gerahnya udara pagi Terai, kaki terus melangkah menuju Mayadevi Temple, seakan mengetahui akan adanya keajaiban lain yang telah menunggu disana…  (baca kisahnya  Khata – Syal Putih dari Lumbini)

*

Ketinggalan cerita? coba cek disini – Rangkuman dan series cerita perjalanan di Nepal

Laos – Memenuhi Janji ke Wat Phou


Walaupun sudah berusaha lebih awal, saya sampai di gerbang Wat Phou pada saat matahari membentuk sudut kecil dengan tegaknya di atas kepala. Namun demikian, diiringi panas yang juara, saya berdiri diam dalam haru, setelah sekian lama akhirnya saya bisa menjejak di Wat Phou, kompleks percandian terakhir dari daftar candi yang dianugerahi oleh UNESCO sebagai World Heritage Site sebelum tahun 2014 di kawasan Asia Tenggara. Laksana sebuah pita lebar, pikiran saya terbang dan menalikan Borobudur, Prambanan, Angkor, Preah Vihear, Ayutthaya, Sukhothai, My Son dan kini Wat Phou yang ada di depan saya. Lengkap, 8 situs. Delapan, bentukan angka yang tarikan garisnya lengkung tak berujung.

Dan sebagaimana umumnya UNESCO World Heritage Site, jarak antara gerbang dan lokasi candi pasti masih jauh. Tetapi untunglah pemerintah Laos menyediakan layanan shuttle gratis sejenis golf-car berkursi banyak untuk mengantarjemput pengunjung dari gerbang masuk ke batas awal percandian. Sesuatu yang patut diacungi jempol untuk memajukan industry pariwisatanya. Tak terbayangkan seandainya harus berjalan kaki terpanggang matahari sepanjang hampir satu kilometer…

Kendaraan shuttle itu menyusuri pelan di pinggir baray (kolam buatan) yang airnya memberikan kesejukan di tengah hari yang panas dan menurunkan seluruh pengunjung di sudut Barat Daya baray. Berbeda dengan kebanyakan orang yang lebih memilih berjalan di jalan aspal di samping baray kedua yang telah mengering, saya justru memilih melakukan kunjungan secara ‘resmi’ melalui jalan pelintasan seremonial yang diapit dua baray kedua yang telah mengering.

The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background
The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background

Sebelum melangkah, tanpa menghiraukan terik yang memanggang, saya berdiri dalam hening di awal jalan pelintasan yang terbentang di depan, menatap lurus ke candi yang berada di atas bukit. Seperti juga di tujuh situs sebelumnya, saya selalu menautkan hati dengan bumi yang berada di bawah kaki saya, inilah tempat-tempat yang memiliki keluarbiasaan. Seakan memberi sambutan khusus, sejumput awan bergerak menutup matahari barang sejenak ditambah kesejukan udara dari baray besar tadi yang terasa membelai dari arah belakang. Jalan pelintasan lama ini beralaskan batuan pipih membentang tepat di tengah menuju bangunan candi. Saya memang tengah berdiri di pintu pertama dari jalan pelintasan resmi yang dulu digunakan untuk sebuah prosesi seremonial, jalan yang digunakan para Raja dan kaum bangsawan pada masa keemasannya. Tak heran auranya terasa magis dan suasana alamnya luar biasa…

Inilah candi kuno yang dulu selalu diasosiasikan dengan kota Shrestapura, kota yang terletak di pinggir Sungai Mekong dan berhadapan langsung dengan Gunung Lingaparvata. Dua symbol suci bagi mereka yang percaya, gunung yang berada di ketinggian dan dari namanya saja sudah dapat ditebak merupakan tempat kediaman salah satu dewa dalam Trimurti dan sungai besar yang tentu saja diasosiasikan dengan samudra atau Gangga yang suci. Jelas sekali bahwa Wat Phou ini didedikasikan Shiva, Sang Mahadewa.

Masih berdiri di awal jalan pelintasan, saya menatap pegunungan dengan puncak Lingaparvata yang melatari Wat Phu. Siapa yang mengira saya bisa menjejak di tempat yang berada segaris membagi dua antara Angkor Wat dan My Son, seakan memberi konfirmasi dari inskripsi yang ada bahwa sejak jaman dulu, tempat suci di bumi Laos sekarang ini memang telah memiliki hubungan langsung dengan Kerajaan Champa (sekarang Vietnam) dan juga Kerajaan Chenla (sekarang Kamboja).

Pemikiran itu menggugah senyum dalam hati, membayangkan sebagai bagian rombongan bangsawan melangkah pelan di jalan pelintasan beralas batu dan berhiaskan tonggak setinggi pinggang di kanan kiri. Jika dahulu jalan pelintasan ini terhampar bersih, kini mata perlu jeli agar kaki melangkah tanpa perlu menginjak kotoran binatang yang tertinggal.

Struktur pertama sebelah Utara menarik perhatian saya untuk dijelajahi terlebih dahulu, sementara bagian Selatan mengalami perbaikan di sana sini. Setelah mengambil gambar tampak luar, saya mulai menapaki tangga dan menyusuri dinding-dindingnya. Jendela berteralis batu berulir seperti di Angkor membuat saya lupa sejenak berada di bumi Laos. Memasuki bangunan tanpa atap ini, menjadikan imajinasi bergerak liar. Saya bebas membayangkan ruangan di hadapan ini, pada masanya berlantai kayu yang indah atau dibiarkan terhampar dengan rumput yang terpelihara. Saya juga mengintip dari balik gallery yang biasa tertutup atap lengkung. Disini pastinya sangat menyenangkan, memandang bumi Champasak yang terhampar jauh di hadapan dengan air yang memenuhi baray memberi keteduhan tersendiri.

Bangunan kembar di Selatan dan Utara ini, yang sering disebut sebagai istana, -bisa jadi untuk rehat bagi para bangsawan yang berkunjung-, merupakan bangunan pertama yang ditemui setelah akhir dari jalan pelintasan. Hanya bangunan di Selatan memiliki tambahan Kuil Nandi, bhakta (pemuja) setia Dewa Shiva, selain sebagai kendaraannya. Sayang sekali, di beberapa tempat terserak batu-batu hiasan yang cantik yang bisa jadi masih menunggu dikembalikan ke posisinya.

Kembali ke jalan pelintasan tengah, terlihat permulaan tangga berundak di ujung jalan. Tangga di tengah yang dinaungi pohon kamboja (frangipani) ini tidak dapat dilalui karena telah rusak dimakan usia sehingga pengunjung harus memutar sedikit. Dari sedikit ketinggian, pemandangan sudah terlihat membentang luar biasa.

Saya terus melangkah di jalan pelintasan yang kini menanjak dan berakhir di sebuah tangga berundak lain yang juga dinaungi pohon kamboja yang mengundang saya untuk rehat sejenak di bawahnya sambil mengamati bentuk dekorasi anak tangga dan orang yang melakukan sembah dan doa di depan sebuah patung berdiri berselempang hijau. Patung yang konon disebut dengan Dwarapala ini, bergaya Khmer dan hanya tinggal sendiri.

Setelah air botol habis, saya bergegas menuju kuil utama di atas melalui jalan berbatu yang kini tak lagi rata. Tangga di depan mata ini cukup curam, tak rata dan berdasar sempit dan tentunya tanpa pegangan tangan. Di beberapa tempat tinggi batunya mencapai lutut orang dewasa. Salah langkah disini, glundung sudah pasti.

Dibangun berdasar kosmologi Hindu, Wat Phou merupakan sebuah candi gunung, sebagai representasi gunung suci Meru, pusat alam semesta tempat kediaman para dewa. Dengan demikian, setiap lantai di Wat Phou bertambah tinggi seiring kenaikan levelnya, persis sebuah piramida.

Wat Phou - Central Sanctuary, Champasak, Laos
Wat Phou – Central Sanctuary, Champasak, Laos

Memasuki level teratas, selain menemukan batuan berukir yang terserak menunggu dikembalikan ke posisi sebenarnya, saya juga mengamati bangunan utama. Wilayah ini sudah digunakan sejak abad-5 sebagai tempat suci walaupun struktur yang sekarang berdiri berasal dari abad-11 hingga abad-13. Keindahan bangunan ini dipenuhi dengan hiasan rumit dwarapala dan devata di dinding. Berbagai hiasan di atas pintu seperti saat Krishna mengalahkan ular Kaliya dengan menari di atas kepalanya di atas pintu kiri atau Indra yang sedang menunggang Airvata sang gajah berkepala tiga di pintu tengah, Vishnu dengan mengendarai Garuda menaklukan naga di pintu kanan, Vishvakarma di atas Kala dan dijaga oleh singa.

Indra on Airvatha, Wat Phou
Indra on Airvatha, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou

Sejak abad-13 Wat Phou dialihfungsikan menjadi tempat ibadah Theravadda Buddha tanpa mengubah ornamen dinding namun hanya menambahkan patung Buddha, yang ritual ibadahnya dilakukan hingga kini. Pada altar tengah terdapat Buddha dengan pernak-pernik pemujaan di sekitarnya termasuk gong. Pada meja depan terdapat 3 buah batu yang terlihat cukup berat jika diangkat.

Inside the Sanctuary of Wat Phou
Inside the Sanctuary of Wat Phou

Di halaman sebelah Utara bangunan terdapat patung Boddhisatva yang kondisinya sebagian rusak namun dupa-dupa di depannya menandakan masih dipergunakan. Di belakangnya terpahat pada sebuah batu besar, Trimurti dengan Shiva di tengah, diapit oleh Brahma di sebelah kiri dan Vishnu di kanan.

Wat Phou view from the main sanctuary
Wat Phou view from the main sanctuary

Saya berjalan ke arah tebing di sebelah Utara, pemandangan kearah dataran rendah Laos terlihat semakin luar biasa dari balik pepohonan. Saya melihat banyak tumpukan beberapa batu pipih disusun keatas layaknya sebuah pagoda, yang sering juga saya lihat di Korea, Jepang, maupun di Angkor yang konon merupakan upaya meditasi yang menyusunnya. Selain itu, banyak batuan besar yang terlihat ‘labil’ ,-karena disangga bidang yang lebih kecil-, dipenuhi oleh penyangga kayu-kayu yang sengaja diletakkan pengunjung yang ibadah. Bisa jadi semua dilakukan berdasarkan keikhlasan turut menyangga sesuatu yang bersifat genting dan kritis.

Akhirnya saya mendapatkan Batu yang berpahat gajah itu. Luar biasa sekali. Beberapa saat menikmati batu gajah itu, semilir angin terasa membelai dari belakang. Karena saya tak merasakan kehadiran manusia lain di dekat saya, dan konon, jauh berabad sebelumnya tempat ini dijadikan tempat persembahan manusia, hal itu membuat saya bergegas kembali ke kuil utama.

Di tebing belakang kuil yang merupakan tempat awal kesakralan Wat Phou karena di bawah batu yang terlihat menggantung itu dialirkan air dari mata air melalui saluran berukir yang hingga kini tetap dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari dan ditampung pada tempat yang menyerupai sebuah yoni berongga. Padahal semua itu terdapat di sebuah ruang (ceruk) yang terbentuk di bawah tebing menggantung. Alam menyangganya dengan sangat baik.

Saya melihat dengan penuh ketakjuban, menyadari sangat kecilnya saya dibandingkan tebing batu itu. Kekuatan manusia tak ada apa-apanya. Sekali penyangganya terlepas, manusia lenyap, tak berbekas, penyet…

Udara masih panas, tetapi saya harus melangkah pelan meninggalkan Wat Phou, lokasi terakhir janji saya yang mewujud. Angka delapan itu tak putus, meliuk melingkar hingga suatu saat kita akan berjumpa lagi…

Berjumpa Kera Bijak di Nikko


3 Wise Monkeys - Poem
3 Wise Monkeys – Poem

Di depan kandang kuda di kompleks Kuil Toshogu di Nikko itu berjumpalah saya dengan ketiga kera bijak yang mengingatkan kembali tentang nilai-nilai universal kehidupan. Rasa syukur terucap dari dalam diri, perjalanan ini tak hanya mampu memberikan keindahan tempatnya, namun juga menyediakan begitu banyak makna untuk meniti hidup.

Ketiga kera bijak yang telah berdiam berabad lamanya itu tidak hanya sendirian, masih ada panel-panel lain yang semuanya merupakan sebuah kesatuan kebijaksanaan menjalani hidup sejak kecil hingga dewasa dan memiliki keturunan. Dan saya membiarkan diri ini hanyut dalam penasehatan delapan panel ukiran yang filosofis itu.

*

Baby monkey grows in a family, with love and care of the parents, and preparing for the future of her child.
Baby monkey grows in a family, with love and care of the parents, and preparing for the future of her child.

Panel #1. menggambarkan dengan seekor induk kera bersama anaknya duduk di antara pepohonan hijau. Sang Induk kera dengan penuh cinta memeluk anaknya dengan satu tangan sementara tangan lainnya berada di atas matanya melihat jauh ke arah depan.

Panel ini mengisahkan kewajiban orangtua untuk membesarkan anak keturunannya dengan penuh kasih sayang, mempersiapkan kehidupan sang anak yang akan menjalani kehidupannya sendiri di masa mendatang. Kehidupan masa depan yang tidak lagi menjadi milik orangtua melainkan sang anak.

*

Sanzaru - Three Wise Monkeys
Sanzaru – Three Wise Monkeys

Panel #2. Diwakilkan oleh ketiga kera bijak yang paling terkenal gaungnya hingga ke seluruh dunia. Nasehat utama yang diperlukan bagi sang anak untuk menjalankan hidupnya sendiri See no evil, Hear no evil, Speak no evil – dengan benih kebaikan anak akan mengembangkan pemahaman dan pemikiran yang baik. Dengan tidak mengizinkan diri untuk melihat sesuatu yang bertentangan dengan kebaikan dan kepantasan, dengan tidak mengizinkan diri untuk mendengar sesuatu yang bertentangan dengan kebaikan dan kepantasan dan dengan tidak mengizinkan diri untuk berbicara yang bertentangan dengan kebaikan dan kepantasan.

Tampaknya apa yang terukir di panel merupakan kebijaksanaan kuno yang telah ada sejak jaman dahulu kala yang mengajarkan kebenaran untuk kehidupan manusia di masa dulu, kini dan masa depan. Kebijaksanaan ini sangat sederhana, berawal dari pemikiran baik, berkata-kata baik, akan menghasilkan perbuatan baik sehingga menjadikan kehidupan berjalan baik.  

*

When you're alone, be smart & careful. Search for the way to follow
When you’re alone, be smart & careful. Search for the way to follow

Panel #3. Menggambarkan seekor kera yang duduk sendiri diantara pepohonan yang terlihat lebih dominan dan menekan.

Dalam perjalanan hidup seringkali hanya sendirian menghadapi berbagai situasi dan kondisi yang terlihat menekan dan membingungkan. Dalam keadaan seperti itu perlulah memperhatikan keadaan sekitarnya dengan cermat dan hati-hati serta penuh kesadaran kemudian carilah arah yang sesuai dengan tujuan kehidupan.

*

The higher one seeks the more he wants. Know when to stop wanting beyond the needs.
The higher one seeks the more he wants. Know when to stop wanting beyond the needs.

Panel #4. Menggambarkan dua ekor kera, yang satu tampak senang bergayut memeluk cabang pohon sementara yang lainnya duduk mendongak ke atas.

Petuah bijak pada panel ini menasehatkan bahwa semakin tinggi seseorang yang terus mencari, maka semakin banyak pula yang dia inginkan. Kenali saat untuk berhenti menginginkan sesuatu yang melampaui apa yang sesungguhnya ia butuhkan. Atau sederhananya, berhentilah saat cukup.

*

Be kind and considerate to those less fortunate then you are
Be kind and considerate to those less fortunate then you are

Panel #5. Menggambarkan dua ekor kera yang sedang bersedih sementara seekor kera lainnya duduk diam seakan merasakan kesedihan kedua kera tadi.

Petuah bijak didalamnya mengajak untuk bersikap baik kepada siapapun dan apapun. Sudah sewajarnya untuk senantiasa bersyukur dengan apa yang telah dimiliki. Berhati peka untuk memikirkan dan mempertimbangkan mereka yang kurang beruntung.

*

Marriage - Understanding - Next Generation
Marriage – Understanding – Next Generation

Panel #6. Dua ekor kera tampak memperhatikan dan memegang ukiran gelombang.

Adanya sahabat hati atau pasangan yang menjadi tempat berbagi dapat membantu menjalani dan menikmati hidup bersama-sama walaupun harus diingat hidup itu tidak selamanya manis seperti madu.

*

Panel #7. Dua ekor kera yang satu bergayut pada pepohonan menunjukkan punggung, sementara yang lain duduk bersila dengan wajah tak suka

Dalam kehidupan keseharian suami isteri yang bahagia biasa diwarnai pula dengan perselisihan yang tak menyenangkan, menunjukkan dinamika hidup yang turun naik bagaikan gelombang, namun tetap dapat dilalui dengan damai apabila pasangan suami isteri dapat saling mengerti, saling memahami, bekerjasama satu sama lain dengan baik.

*

Panel #8. Menampilkan induk kera berperut besar yang sedang mengandung bayinya, berjalan sambil melihat ke depan.

Kedatangan generasi baru membuktikan cinta kasih Tuhan untuk alam semesta, mengembangkan cinta kasih yang ada di dalam keluarga dan kasih sayang anak kepada orangtua dan keluarganya. Dalam waktu tak lama, bayi kera akan disambut dengan kegembiraan dan dibesarkan dalam keluarga kera yang penuh cinta kasih…

Dan perputaran itu berulang kembali…

***

Jepang: Toshogu Di Nikko Yang Sarat Makna


Menjejakkan kaki di Stasiun Nikko yang didisain cantik, saya yang dipenuhi rasa haru bergegas membeli tiket bus one day pass yang dapat digunakan untuk mengelilingi seluruh tempat wisata yang ada di kawasan Nikko, walaupun diselimuti sejumput keraguan dapat menyelesaikan kunjungan dalam sehari. Tetapi bagaimana pun saya memulainya dari Toshogu, tempat cerita ini bermula…

View from Omotemon -  See the Torii?
View from Omotemon – See the Torii?

Sambil menanti bus, saya terkadang tersenyum sendiri. Nikko, salah satu kawasan World Heritage Site Jepang yang ditetapkan sejak 1999, merupakan destinasi yang sudah lama saya impikan untuk dikunjungi. Ketika kali pertama ke Jepang, saya mencoret impian ini, karena keterbatasan waktu lalu tahun-tahun selanjutnya berlalu hanya berupa mimpi bisa menjejak di Nikko.

Dan pagi ini, ketika Shinkansen Yamabiko menurunkan saya di Utsunomiya setelah berkereta dari Tokyo, saya berpindah menggunakan Nikko Line, -kereta lokal yang disediakan oleh Japan Rail untuk mencapai Nikko-, sebuah kota kecil berpenduduk puluhan ribu di prefektur Tochigi, 200km Timur Laut Tokyo. Perjalanan kereta selama 45 menit ini seperti perjalanan manis ke Bandung yang melewati pegunungan dan pedesaan dengan pemandangan yang sangat cantik. Saya tak bermimpi! Saya ada di Nikko!

Nikko Station and neighborhood
Nikko Station and neighborhood

Berada di pegunungan sekitar 600meter di atas pemukaan laut, kawasan Nikko lebih dikenal sebagai tempat peninggalan kekayaan budaya dan penguasa jaman Edo dari Keshogunan Tokugawa yang berkuasa turun temurun selama 250 tahun sejak abad-16. Bahkan Shogun Ieyasu Tokugawa sendiri dimakamkan di Nikko, menjadikan tempat ini dihormati secara khusus oleh masyarakat Jepang. Ditambah dengan keberadaan Kuil Toshogu, -sebuah Kuil Shinto yang luar biasa cantiknya-, menjadikan Nikko sebagai tempat yang sesuai artinya dalam bahasa Jepang, Cahaya Matahari. Rasanya tepat sekali kiasan yang mengatakan Nikko adalah Nippon, karena adakah yang mampu memisahkan Cahaya Matahari dari Matahari Terbit?

Setelah bus membawa saya ke lokasi Kuil Toshogu, sambil berjalan menanjak menuju gerbang, pikiran saya dipenuhi sejarah Nikko yang sebenarnya telah terukir lama sebelum ajaran Buddha diperkenalkan di tempat ini. Masyarakat tradisional telah lama melakukan kegiatan pemujaan di Gunung Nantai yang letaknya tak jauh dari Nikko. Kegiatan itu tetap berjalan, walaupun seorang biksu Buddha Shodo Shonin, -penyebar ajaran Buddha yang berkelana ke pedalaman hingga ke Gunung Nantai-, menjadikan Nikko sebagai pusat kegiatan ajaran Buddha di abad-8. Dan demikianlah, ajaran asli Shinto yang telah menyerap di dalam kehidupan masyarakat lokal saat itu, tetap dilaksanakan dalam kehidupan yang harmoni dengan ajaran Buddha, sehingga kuil Buddha dan kuil Shinto tetap berdiri secara berdampingan di Nikko sejak dulu. Ada yang berdenyut di dalam diri ini, seakan menampar wajah sendiri. Toleransi, sebuah kata yang mudah diminta tetapi tak mudah diberi.

View from Omotemon -  See the Torii?
View from Omotemon – See the Torii?

Kaki masih menapaki jalan berkerikil yang menanjak menuju gerbang. Di Nikko inilah tempat pemersatu bangsa Jepang, Shogun Ieyasu Tokugawa (1542-1616) dimakamkan. Bahkan setelah kematiannya, dia berharap tetap dapat melindungi Jepang secara spiritual, dengan menempatkan makamnya di Nikko, yang terletak di Utara pusat wilayahnya (kini Tokyo). Dengan begitu dia bisa menghadang semua iblis dan bentuk kejahatan yang secara tradisional dipercaya datang dari arah Utara. Lagi-lagi saya merasa terjerembab kalah memahami makna totalitas perjuangan, menyadari bedanya orang biasa dengan seorang Shogun, yang tak ingin berhenti berjuang, bahkan berupaya hingga melampaui maut dan waktu, mempersembahkan jiwa raga, melindungi apa yang menjadi tanggung jawabnya termasuk orang-orang yang hidup di dalamnya.  Sedangkan saya? Apa yang telah saya lakukan dalam hidup ini?

Sepeninggal Ieyasu Tokugawa, di tahun 1617 dilakukan pembangunan Kuil Toshogu yang sederhana oleh penerusnya, Shogun Hidetada Tokugawa dan direkonstruksi menyeluruh menjadi sebuah mahakarya, seperti yang dilihat hingga kini oleh Shogun Iemitsu Tokugawa pada tahun 1636 dengan bantuan hampir setengah juta pekerja dan seniman untuk membangun kuil indah yang selesai dalam waktu hampir satu setengah tahun.

Ishidorii - 16c Stone Torii
Ishidorii – 16c Stone Torii

Jantung berdenyut lebih keras saat melalui sebuah Torii dari batu yang dikenal dengan sebutan Ishidorii, yang dipersembahkan tahun 1618 oleh Kuroda Nagamasa, seorang tuan tanah di wilayah Kyushu (sekarang daerah Fukuoka). Torii batu yang terdiri dari 15 buah batu granit besar yang sangat berat itu, dikirimkan dengan kapal dari Kyushu ke Koyama kemudian dikirim melalui darat ke Nikko. Saya terkagum melihat Torii yang luar biasa ini, karena selain besar dan terlihat kuat, torii ini dibangun dengan teknologi anti-gempa. Terbukti Jepang yang telah melalui begitu banyak gempa besar, torii ini tak pernah runtuh sejak dibangun di awal abad-17. Benarlah kata Kahlil Gibran (tentang Pernikahan) agar memberi jarak pada batu kuil agar dalam keadaan terguncang (saat gempa), batu tak akan bisa meruntuhkan.

Gojunoto - Five Stories Pagoda
Gojunoto – Five Stories Pagoda

Setelah melewati torii, di sebelah kiri terlihat Gojunoto, pagoda lima lantai dengan ketinggian 36meter. Didalamnya terdapat Shinbashira, -teknologi anti-gempa berbentuk tiang berdiameter 0.6m yang tergantung dari lantai 4 hingga hampir menyentuh lantai bawah. Dalam keadaan gempa, Shinbashira ini akan menopang rangkaian rangka kayu sehingga tidak akan runtuh. Tetapi memang umumnya pagoda di Jepang bisa selamat dari gempa, tetapi lebih sering hancur karena terbakar. Seperti Gojunoto di Nikko ini, dibangun tahun 1648 oleh Gubernur Sakai Tadakatsu dari Wakasa (sekarang Fukui) namun terbakar di tahun 1815. Yang terlihat sekarang merupakan rekonstruksi di tahun 1818 dengan dua belas lambang Shio tergambar di sekeliling lantai pertama.

Omotemon - The Gate with The fierce guard
Omotemon – The Gate with The fierce guard

Kemudian saya sampai di gerbang depan yang dikenal dengan sebutan Omotemon. Dihiasi dengan dua penjaga berwajah bengis dikenal dengan nama Nio (Vajrapani dalam Sansekerta) setinggi 4meter dan dikawal oleh sepasang singa di sisi lainnya serta gajah-gajah berlapis emas. Bila diperhatikan mulut penjaga yang satu tertutup (Agyo)  dan penjaga lainnya terbuka (Ungyo), konon menyuarakan falsafah dasar mengenai kehidupan, yang hidup pasti mati, setiap awal akan berakhir atau pernah dengar istilah ‘Alpha Omega’ kan?

The imaginary Elephant - BTW see the raven?
The imaginary Elephant – BTW see the raven?
Sanjinko - Three Sacred Store House
Sanjinko – Three Sacred Store House

Setelah melalui gerbang Omotemon dengan takzim, di hadapan saya terlihat tiga Bangunan Suci Penyimpanan, di sebelah kanan dikenal dengan nama Shimojinko (artinya Bawah), Nakajinko (Tengah) dan paling kiri Kamijinko (atas); yang ketiganya lebih dikenal dengan sebutan Sanjinko, yang digunakan untuk menyimpan kostum festival musim semi dan musim gugur serta peralatan pasukan berkuda lengkap dengan panah-panahnya. Menariknya, ada penggambaran dua makhluk serupa gajah di ujung atap Kamijinko yang dikenal dengan ‘gajah imajinasi’. Gajah atau bukan Gajah?

Kemudian saya berbalik dan berhadapan dengan Sanjinko adalah satu-satunya bangunan sederhana yang tak bercat, terkenal dengan nama Shinkyusha (Kandang Kuda Suci). Dan di bagian atas saya berjumpa dengan ukiran tiga kera bijak (Sanzaru) yang telah menggaungkan “hear no evil, see no evil, speak no evil” ke seluruh dunia. Lalu apa hubungannya kera dan kuda? Kenapa ada di kandang kuda? Ternyata sejak dulu telah dipercaya kera merupakan pelindung kuda, dengan demikian kera yang tergambar di sekeliling dinding kandang diharapkan bisa melindungi kuda-kuda suci dari penyakit.

Omizuya for purifying
Omizuya for purifying

Setelah diberi petuah hidup oleh Sanzaru, saya dilepas menuju Omizuya, tempat untuk bersuci lahir batin sebelum memasuki bangunan utama Kuil. Omizuya ini didirikan tahun 1618 oleh Nabeshima Katsushige, seorang Pejabat Daerah dari Kyusu-Saga. Air yang digunakan untuk bersuci, -datangnya dari sungai tak jauh dari situ-, sangat segar dan dingin sekali seperti es walau di musim panas sekalipun. Terdapat 12 pilar granit untuk mendukung atap bergaya China berlapis keemasan yang menggambarkan gelombang dan naga terbang, yang merupakan keindahan seni jaman Momoyama akhir abad-15.

Sayangnya Yomeimon Gate yang luar biasa dan menjadi pusat keindahan Nikko, sedang direnovasi, padahal gerbang itulah yang dijuluki Gerbang Utama Kekaisaran. Gerbang ini dikenal juga sebagai Gerbang Matahari Tenggelam karena konon bisa menyaksikan keindahan matahari seharian tanpa merasa lelah. Tetapi saat melewatinya saya sempat mengabadikan sedikit bagian Gerbang dan itupun sudah mampu membuat nafas berhenti karena indahnya.

The decoration of The Corridor
The decoration of The Corridor

Walaupun gerbang diselubungi, saya bisa menikmati Kairo (Koridor) yang merupakan dinding luar kiri dan kanan dari Gerbang Yomeimon yang dihiasi dengan bunga-bunga dan burung yang luarbiasa indahnya yang merupakan salah satu ukiran terbaik di Jepang. Sebagai penggemar merak, saya gemas sekali melihat begitu banyaknya ukiran merak yang cantik disini.

The White Stories of Karamon
The White Stories of Karamon

Setelah Yomeimon, terdapat gerbang kedua, Karamon, berwarna putih dan dihiasi dengan ukiran cantik yang mengambil kisah legenda orang bijak dari China (Kyoyi dan Shoho) yang beraudiens dengan Kaisar dan beberapa adegan lainnya. Gerbang ini tak bisa dilalui, sehingga pengunjung harus memutarinya namun karena melihat banyaknya antrian orang yang akan beribadah, saya tak menyesal membatalkan untuk masuk ke Gohonsa, ruang utama untuk ibadah. Bukankah niat ibadah jauh lebih penting daripada saya yang hanya untuk melihat-lihat?

Juga jalan menuju Okumiya, makam dari Ieyasu Tokugawa, penuh dengan orang yang akan memberi penghormatan. Saya sempat menapaki setengah hati lalu akhirnya berhenti dan berbalik. Tanjakan panjang masih menanti sedangkan waktu tak mau menunggu. Saya harus kembali ke Tokyo. Semoga saya masih punya kesempatan kembali ke sini meskipun diantara proses renovasi yang dimulai sejak 2007 dan berakhir di tahun 2024, saat peringatan 400 tahunnya Ieyasu Tokugawa.

The Red Shinkyo Bridge
The Red Shinkyo Bridge

Dalam perjalanan kembali ke Tokyo, walaupun saya melewatkan kuil-kuil lainnya, dari jendela bus saya sempat mengabadikan jembatan merah Shinkyo yang terkenal. Jembatan yang merupakan pintu masuk ke Kuil Rinnoji, sering disebut dengan nama Snake Bridge.  Konon, biksu Shodo Shonin yang sedang kesulitan menyeberang sungai Daiya saat menyebarkan kebaikan, mendapat pertolongan dewa yang menjelma menjadi sepasang ular yang membentangkan diri di atas sungai menyerupai jembatan. Tak salah memang, orang baik senantiasa mudah mendapatkan pertolongan.

WPC – Some Details on Haeinsa Temple


There are lots of intricate colorful design on Haeinsa Temple, a religious place where Tripitaka Koreana, -the whole of Buddhist Scriptures carved onto 81.350 wooden printing-blocks since 1398-,  are enshrined. Located on a mountain as part of the Gayasan National Park, near the city of Daegu, South Korea, this beautiful temple is one of the UNESCO World Heritage Sites in South Korea.

The buildings in the temple complex are amazing, the colors are so vibrant. I looked up at the roof and got a surprise, the details on it were totally stunning. And I thought about the people, the monks behind the art-work. It should not be just an art, but a way of life.

And if I notice further, on the design I could see a bird or a wing at least, a hand with an arrow and flowers, of course. Could you see those as well?

 

A corner of temple's roof
A corner of temple’s roof
Could you see an arrow?
Could you see an arrow?

As my entry for the Daily Post Weekly Photo Challenge with the topic of Detail

Arigatou Gozaimasu Japan…


“It’s time to say beautiful goodbye to Shinkansen”, demikian kata saya pada kedua anak saya, -si kakak dan si adik-, sambil menempelkan telapak tangan secara cepat pada badan kereta berwarna putih itu sebagai sentuhan perpisahan saya saat melangkah keluar dari bullet train di Stasiun Shin-Osaka. Beberapa saat kemudian kereta berhidung panjang itu lembut meninggalkan kami yang berdiri melambaikan tangan perpisahan hingga kereta hilang dari pandangan.

“Gak mau pulang, Ma…” mereka merajuk. Ah, saya tahu semua hati tercinta, bahkan saya sendiri tak mampu membohongi diri, mereka juga saya, tak ingin liburan berakhir. Kami ingin tetap berada di Jepang. Selalu demikian, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menginjak kaki di Jepang.

Berat memang meninggalkan negeri indah ini, berapa lama pun kami berada disana.

View from Tokyo Metropolitan Gov. Building - Mode Gakuen Cocoon Tower
View from Tokyo Metropolitan Gov. Building – Mode Gakuen Cocoon Tower

Walaupun waktu kami saat menjelajah Jepang bukan waktu yang terbaik, bukan waktu ketika Sakura sedang mekar, bukan waktu ketika salju menutupi permukaan buminya, bukan waktu ketika daun-daun berubah menjadi warna-warni, melainkan ketika panas menyengat kulit, awan tebal menggantung di langit dan menurunkan hujan berkepanjangan yang memberi suasana sendu dan kelabu. Namun dalam waktu yang tidak tepat pun, pergi berwisata ke Jepang mampu memberikan kami kegembiraan…

Dimulai dari bandara Haneda yang bermandikan cahaya di seluruh permukaannya memantulkan terang hingga ke langit, yang terlihat sebelum pesawat menyentuh landasan lalu para penumpang langsung disambut oleh petugas-petugas imigrasi yang bekerja sigap dan cekatan. Hanya lima belas menit sejak memasuki antrian imigrasi, kami telah diberi izin untuk memasuki wilayah Jepang padahal kami termasuk penumpang yang paling akhir keluar dari pesawat.

A building in Sensoji Temple, Tokyo
A building in Sensoji Temple, Tokyo

Pada hari berikutnya wajah kami berhiaskan kekaguman berkeliling Tokyo, merasakan sendiri menaiki monorail, -yang di Jakarta tidak jelas kelanjutan proyeknya-, hingga merasakan sesaknya berada di keramaian para pekerja yang berpakaian senada berwarna gelap. Masyarakat yang katanya banyak bergantung pada teknologi robotik, kami lihat masih meluangkan waktu untuk berdoa dan memohon keberkahan di kuil-kuil yang tersebar di seantero Tokyo. Bahkan kuil Sensoji yang berlatarkan puncak Skytree di Asakusa pun tak henti padatnya oleh pengunjung lokal yang berdoa. Juga di Shibuya, -hanya hitungan langkah dari persimpangan jalan tersibuk di dunia-, masyarakat Jepang yang katanya begitu intim dengan teknologi tetap mendirikan sebuah memorial untuk Hachiko, seekor anjing yang melambangkan kesetiaan.

Kami begitu nyaman melangkahkan kaki pada terowongan-terowongan bawah tanah yang menyediakan travelator seperti di bandara ditambah semburan-semburan angin sejuk. Iri rasanya terhadap masyarakat Jepang yang pajaknya terwujud nyata dalam fasilitas publik yang hebat. Bahkan kami bisa mencapai lantai tertinggi gedung pemerintahan daerah agar dapat melihat seantero Tokyo. Tanpa dikenakan biaya sedikitpun alias gratis. Atau bisa menikmati bentuk-bentuk bangunan yang secara arsitektur nyaman dilihat, menarik untuk diabadikan. Sungguh iri, teringat bagaimana susahnya mengabadikan modernitas dan arsitektur gedung-gedung di Jakarta tanpa diikuti tatapan atau bahkan teguran penuh curiga dari petugas-petugas angkuh penjaga wibawa.

Inside Tokyo International Forum
Inside Tokyo International Forum

Perjalanan kami ke lokasi yang terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site di Nikko, sebelah utara Tokyo dipenuhi dengan kekaguman oleh semangat masyarakat Jepang untuk memelihara nilai bangunan sejarah. Kuil kuno itu dipelihara dalam lingkungan hutan yang terjaga tanpa mengurangi kenyamanan pengunjung mencapainya. Semuanya dengan cantik tertata, lengkap dengan petunjuk yang terlihat jelas termasuk akses untuk para disabilitas. Bahkan dengan semua petunjuk arah yang sudah jelas itu pun, apabila masih belum dimengerti juga, masyarakat Jepang mau membantu dengan senang hati hingga penanya memahami secara tuntas. Adakah yang tak menyenangkan daripada dilayani nomor satu?

Pagoda in Nikko
Pagoda in Nikko

Meskipun tujuh puluh satu tahun lalu, dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, hancur karena bom atom. Menyaksikan sisa-sisanya, memorialnya, sungguh memedihkan rasa. Kubah bangunan yang tinggal kerangka, sisa pakaian korban yang robek disana sini, pecahan kaca yang tertanam dalam meja jati yang keras akibat gelombang kejut, legamnya tempat makan terbuat dari besi, lelehan kuku manusia akibat panas tak terkira, bayang hitam tubuh manusia yang tertinggal pada batu karena langsung musnah, semuanya menunjukkan kengerian bencana yang diciptakan manusia demi sebuah kemenangan. Lalu siapakah yang menang ketika kisah pedih burung-burung kertas (paper cranes origami) terbang mengarungi dunia menyuarakan perdamaian dari seorang gadis kecil yang terpapar radiasi dari bom yang dijatuhkan?

Atomic Bomb Dome or Genbaku Dōmu, Hiroshima
Atomic Bomb Dome or Genbaku Dōmu, Hiroshima

Meskipun Negara cantik itu sering diluluhlantakkan oleh gempa bumi. Tokyo yang hancur lebur akibat gempa di tahun 1923, atau gempa besar serupa yang terjadi di Kobe dua puluh tahun lalu atau tsunami yang menyusul gempa terbesar sepanjang sejarah Jepang yang bermagnitudo 9 yang terjadi lima tahun lalu, semuanya tak mampu menjatuhkan Jepang dalam kehancuran melainkan mereka bangkit kembali. Seperti yang selalu digaungkan oleh orang bijak, bila jatuh delapan kali, bangkitlah sembilan kali. Menatap Kobe dari atas bukit, yang ada hanyalah kota yang cantik yang terus membangun seperti juga di Osaka yang memiliki Umeda Sky Building, tempat kami melihat kota Osaka dari ketinggian.

The Escalator at Umeda Sky Building, Osaka
The Escalator at Umeda Sky Building, Osaka

Dalam perjalanan kami menjadi saksi dari kegempitaan gedung-gedung yang menjulang tinggi di Osaka lalu menghitung langkah dalam lengkung rangkaian tori berwarna cerah di Fushimi Inari disambung dengan menyusuri hutan-hutan bambu yang terpelihara indah di Arashiyama untuk selanjutnya merehat sejenak di kuil dengan taman indah yang menerapkan teknik Shakkei, -menempatkan taman buatan bersisian dengan alam sekitarnya sehingga tercipta harmoni-.

The Torii of Fushimi Inari, Kyoto
The Torii of Fushimi Inari, Kyoto
Arashiyama Bamboo Grove, Kyoto
Arashiyama Bamboo Grove, Kyoto

Seakan Yang Maha Kuasa menciptakan Jepang dalam bahagia dan senyumNya hingga tercipta alam yang cantik, manusia-manusia yang siap menjaga alam serta mewariskan budaya dan sejarah dengan hormat. Kastil-kastil indah sebagai tempat penguasa sejarah berabad lalu di berbagai tempat tetap terpelihara dengan sangat baik, menimbulkan imajinasi tersendiri di kepala pengunjung.

Beautiful Matsumoto Castle
Beautiful Matsumoto Castle

Kemudian terbersit ungkapan syukur berbalut pertanyaan tak percaya, apakah doa-doa kami terkabulkan karena kerucut sempurna Gunung Fuji yang sakral tergambar indah di hadapan kami di pinggir danau Kawaguchiko? Bahkan dalam malam pekat itu pun kami bisa melihat kerlip cahaya lampu sepanjang punggung gunung menuju puncak bertabur ribuan bintang yang menghias angkasa. Limpahan rasa syukur menatapi keindahan itu. Luar biasa hadiah buat kami dalam perjalanan ini.

Fujisan at Summer, Lake Kawaguchiko
Fujisan at Summer, Lake Kawaguchiko

Keindahan Jepang bukan hanya ada di Tokyo, Kyoto maupun Osaka saja. Pegunungan dengan puncak berhias salju putih juga menjadi tujuan perjalanan kami bahkan pada musim panas sekalipun. Perjalanan menembus pegunungan yang sering disebut sebagai Alpine Route itu, membuat kami mendecak penuh kagum. Pembuatan jalan di bibir tebing berhias kolom-kolom beton memberikan hiasan cahaya di kala siang. Sungguh mengagumkan. Tatanan lingkungan yang terjaga dengan pembatasan akses kendaraan berbahan bakar fosil untuk menembus gunung melalui terowongan panjang berkilo-kilometer yang sudah ada sejak perang dunia kedua, membuat saya tersenyum dalam hati, mungkin bagi mereka terowongan MRT di sepanjang jalan Sudirman Jakarta yang kini sedang dikerjakan sangat tak berarti.

Dari ketinggian kami menyaksikan waduk dengan air berwarna turquoise yang keluar berkubik-kubik tak henti memendarkan pelangi ganda, bahkan memungkinkan untuk berjalan kaki di bibir waduk dengan pegunungan yang mengapit indah kemudian dilanjutkan dengan berwisata dengan bus di jalan berliku di wilayah hutan pinus yang senantiasa berselimutkan kabut. Sungguh indra penglihatan dan rasa dimanjakan sepenuhnya sebagai hadiah terindah dari Pemilik Semesta.

Sepuluh hari yang dipinjamkan oleh Pemilik Waktu kepada kami untuk menikmati Jepang terasa terbang secepat kilat, secepat mata memejam saat istirahat di atas futon dalam ruang-ruang tertutup ryokan ataupun hotel, selekas hidangan manis penutup makan malam yang menghilang tanpa bekas tertelan ke dalam perut, sekejap udara yang dihembuskan oleh kereta Shinkansen berhidung mancung yang kerap mengantar kami ke banyak kota di Jepang.

*

Awan gelap menggantung tebal di langit Osaka, satu persatu titik air jatuh membasahi bumi membuat suasana semakin kelabu, serupa air yang merabun pada kelopak mata, serupa suasana hati kami saat pesawat bergerak pelan meninggalkan terminal. Bahkan kesempatan menginap semalam di hotel berbintang pun tak menyurutkan kemuraman hati, tak ingin melepas keluarbiasaan negeri Sakura yang indah.

Namun bukanlah hidup jika tak berjalan maju… Suatu ketika kita akan kembali bersua…

Bagi kami, liburan ke Jepang kali ini, -meskipun bukan di waktu terbaiknya-, sungguh menorehkan kenangan bertinta emas di hati kami, secantik cinderamata yang dikemas hati-hati oleh tangan gemulai berkimono warna-warni. Seiring pesawat terbang memasuki awan, serasa kami turut membungkukkan tubuh, mengikuti tradisi Jepang yang biasa dilakukan disana sambil bergumam Arigatou gozaimasu…

Laos Selatan – Sebuah Pendahuluan


Setelah tahun 2012 saya mengunjungi kota Luang Prabang yang terkenal sebagai UNESCO World Heritage City dan Vientiane, ibukota negara Lao PDR, yang keduanya terletak di bagian Utara, saya masih meninggalkan satu UNESCO World Heritage Site di Laos, yaitu Wat Phou yang terletak di propinsi Champasak di bagian Selatan bumi Laos. Wat Phou inilah yang kerap memanggil saya untuk datang menjejakkan kaki. Sebagai penggemar candi, apalagi yang masih berkerabat dengan candi Angkorian atau Champa, by any means, dengan segala cara akan saya upayakan datang hehehe…

IMG_1069
One of the galleries of Wat Phou Champasak, Southern Lao PDR

Karena lokasi Wat Phou cukup remote, seakan berada di negeri antah berantah, dan agak jauh dari kota-kota besar maka saya harus melakukan persiapan perjalanan dengan lebih baik. Tetapi herannya sebaik apapun persiapan perjalanan saya, selalu saja pada kenyataannya bisa berbeda dan bagi saya itu semua yang memberi warna dalam sebuah perjalanan. Atau mungkin saya sendiri yang memang pada dasarnya tidak suka terlalu terpaku pada itinerary…

Tetapi yang pasti setelah mengalah terhadap undangan dan panggilan tak henti dari Wat Phou itu, saya mulai serius mempersiapkan perjalanan itu. Paling tidak saya bisa menyelinap pergi kesana sepanjang akhir pekan dengan tambahan satu atau dua hari cuti. Laos bukan negeri jauh, masih di kawasan Asia Tenggara yang relatif dekat dengan Indonesia tercinta. Tinggal mengatur bagaimana cara saya sampai ke Wat Phou itu…

Dan satu roti pun cukup sebagai makan siang demi berkencan dengan simbah gugel untuk perjalanan ini…

Pakse, ibukota propinsi Champasak di Laos Selatan merupakan kota terdekat untuk mencapai Wat Phou dan saya menandai sebagai base sementara saya di Laos. Paling tidak untuk contingency atau emergency, di Pakse terdapat bandara internasional (hehehe… ini kebiasaan mencari escape point)

Sedikit lebih jauh dengan Laos atau secara resmi disebut dengan Lao People’s Democratic Republic (Lao PDR)  merupakan negara yang landlocked, yaitu negara yang seluruh perbatasannya dengan negara lain hanya berupa daratan dengan kondisi sungai dianggap sebagai bagian dari daratan. Laos sendiri berbatas  dengan Myanmar dan China (di Barat Laut), Vietnam (di Timur), Cambodia (di Selatan) dan Thailand (di Barat). Untuk mudahnya membayangkan, jika Vietnam sepanjang pesisir Indochina yang melekuk seksi dan Thailand dan Cambodia yang berada di bagian dalam teluk, maka Laos merupakan negara yang terjepit diantara ketiganya. Kalau masih belum bisa membayangkan, ya… buka petanya saja, yang pasti Laos bukan berada di Afrika atau di Amerika, tetapi laos suka ada di dapur sih

P1040501
Dusk in Pakse, Southern Lao PDR

Bagaimana cara mencapai Pakse?

Pilihan terbang yang merogoh kantong lebih dalam memang berat namun hampir selalu menjadi pilihan bagi saya yang masih jadi karyawan fakir cuti. Terbang dengan rute internasional ke Pakse bisa dari HCMC (Vietnam), Siem Reap (Cambodia) dan Bangkok (Thailand) dan dengan rute domestik tentu saja bisa dilakukan dari Vientiane (ibukota Lao PDR). Jangan tanya harganya… mahal booo’

Dengan beranggapan biasanya rute domestik lebih murah, awalnya saya ingin terbang dari Vientiane ke Pakse, tetapi setelah mengetahui harga tiketnya sekitar 1 jutaan sekali terbang, -yang artinya sama dengan rute terbang internasional dari Siem Reap maupun HCMC ke Pakse-, saya mencoret pilihan terbang ini. Kan saya harus menghitung dana untuk terbang dari Jakarta ke kota-kota hub itu juga kan?

Pertimbangan lain, berdasarkan pengalaman sebelumnya, penerbangan domestik di Laos biasanya menggunakan jenis pesawat ATR72, pesawat baling-baling. Demikian juga penerbangan dari Siem Reap yang juga menggunakan tipe pesawat ATR72 yang walaupun termasuk baru, buat saya tetap tidak sreg. Dan yang lebih memastikan saya mencoret pilihan terbang ini adalah karena setahun atau dua tahun lalu pernah terjadi insiden pesawat jatuh dan tenggelam di Sungai Mekong saat landing ke Pakse walaupun itu lebih disebabkan karena faktor alam.  Lhaaa… Pakse itu di pinggir Sungai Mekong Saudara-saudara…

Via Ubon Ratchathani

Dan tanpa disangka sepotong roti bekal makan siang membuahkan hasil, simbah gugel memberi link untuk terbang ke Ubon Ratchathani, sebuah kota cukup besar di Timur Thailand, dekat perbatasan dengan Laos dan dari sana bisa melanjutkan perjalanan dengan bus sampai Pakse. This is awesome…

IMG_1061
Thung Si Muang – City Landmark of Ubon Ratchathani, Thailand

Inilah makna jika sudah berkehendak baik, Semesta pun mendukung… Ke Ubon Ratchathani (atau biasa disingkat dengan Ubon) bisa menggunakan berbagai moda transportasi, pesawat terbang, kereta, bus (termasuk sleeper bus), kendaraan pribadi, bersepeda atau jalan kaki hehehe…

Ah saya bisa kembali ke Bangkok, kota pertama solo-trip saya bertahun-tahun lalu, kota gemerlap yang membuat degup jantung lebih kencang karena adrenalin yang mengalir (solo-traveler pasti mengenal rasa ini saat pertama kali jalan). Dan saya tidak pernah menyelesaikan semua tempat-tempat wisata di Bangkok, agar saya bisa kembali lagi ke kota ini… Dan saya pasti kembali ke Bangkok dalam perjalanan saya ke Wat Phou kali ini..

Jika hendak terbang dari Bangkok ke Ubon bisa menggunakan yang low-cost Air Asia, Nok Air, Thai Lion Air, Thai Smile (dibawah manajemen Royal Thai Airways) dan lain-lain… Harga promo terbang sekitar 700 Baht. Mau menghemat Baht? Ya bisa menggunakan kereta api. Berangkatnya dari Hua Lamphong, dengan jadwal pagi, senja dan malam, ditempuh dalam waktu 9-12 jam, tergantung pilihan jenis keretanya dengan harga sekitaran 100 ribu hingga 400 ribu Rupiah tergantung kelas tempat duduknya. Pilihan menarik lainnya dengan bus VIP. Berangkat dari terminal Morchit dengan jadwal pagi, sore dan malam, lama perjalanan sekitar 9 jam dengan harga sekitar 200 ribuan Rupiah.

Kalau saya memilih menggunakan pesawat terbang, hanya karena pertimbangan waktu. Saya berangkat dari Jakarta ke Bangkok dengan pesawat pertama dan langsung lanjut ke Ubon sehingga saya bisa menjelajah kota Ubon dari siang hingga malam sehingga paginya bisa langsung ke perbatasan. Saya memilih menggunakan Nok-Air yang juga berangkat dari Don Muang namun berbeda terminal dan 1 jam perjalanan ke Ubon itu saya diberikan snack dan air kemasan kecil. Sangat lumayan dengan harga yang beda sedikit dengan 2nd class sleeper train atau Bus VIP 32 kursi.

Saya belum pernah ke Ubon Ratchathani sehingga saya ingin tahu juga bagaimana kondisi kota yang sebalah timur Thailand yang dekat perbatasan dengan Laos itu.

Melintas Batas Negara Sesuai Keinginan

Sepotong roti bekal makan siang waktu itu yang membawa saya bisa ke Pakse via Ubon Ratchathani masih meninggalkan godaan. Ah, saya memang mudah tergoda untuk hal-hal yang bisa mendesirkan adrenalin lebih cepat…

Sebenarnya ada bus VIP Internasional yang berangkat dari Ubon ke Pakse dan sebaliknya, non-stop, cepat dan ringkat, berangkat dari terminal bus di utara kota Ubon pada pk 08.30 dan sampai ke perbatasan sekitar satu jam kemudian, lalu menunggu seluruh penumpang memproses keimigrasian sekitar 30 menit sampai 1 jam dan melanjutkan perjalanan ke Pakse untuk satu jam selanjutnya. Mudah sekali kan? Saya sebagai penumpang tinggal duduk hingga perbatasan, lalu mengurus keimigrasian untuk keluar dari Thailand dan masuk ke Laos kemudian duduk cantik lagi di bus hingga Pakse. Dan tiket bus itu 200 Baht (sekitar 75ribu Rupiah).

Nah yang membuat saya tergoda adalah saya harus menunggu hingga pukul 8.30 lalu sekitar 3 jam perjalanan menjadikan saya baru sampai di Pakse sekitar tengah hari, padahal saya ingin sekali bisa berlama-lama di Wat Phou. Belum lagi dari Pakse ke Wat Phou yang perlu waktu 40 menit sampai 1 jam naik kendaraan umum. Bisa-bisa saya hanya secepat angin berada di Wat Phou…

Jika saya bisa berangkat jam enam pagi dari Ubon, by any means, ke perbatasan lalu secepat kilat mengurus imigrasi karena sebagai penduduk ASEAN kita hanya perlu kurang dari 5 menit untuk cap-cap pada paspor, kemudian berangkat lagi ke Pakse, lagi-lagi by any means… saya pasti lebih cepat mencapai Pakse. Saya tahu ada harga pengorbanan yang harus dibayar, tetapi ketika bicara soal kecintaan pada World Heritage Site tentu akan saya pertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Mungkinkah Semesta mendukung agar saya bisa sampai menjejak di Wat Phou lebih cepat…?

peta
From Ubon to Thai-Laos Border, to Pakse to Wat Phu Champasak

Bisa pergi tapi pulangnya…?

Lalu sampai Pakse apakah masalahnya sudah selesai? Ternyata belum… Untuk ke Wat Phou harus naik bus ke Champasak, sebuah kota kecil dengan satu jalan besar, lalu dilanjutkan naik tuktuk ke Wat Phou. Yang seru, dari Pakse ke Champasak tersedia bus umum namun jadwalnya hanya ada dua kali sehari, pagi dan siang! Demikian juga di Champasak. Akibatnya, kalau terlambat sampai Champasak dari Wat Phou, pilihannya tinggal dua: silakan jalan kaki kembali ke Pakse atau menginap di Champasak! Waaks!

Oh Tuhan, ini di luar dugaan sama sekali. Saya terbiasa dengan banyaknya moda transportasi di wilayah destinasi, kali ini benar-benar di luar perhitungan saya. Bisa pergi, tetapi tidak bisa kembali…?  Luar biasa

Masalah sebenarnya bisa diatasi dengan menyewa motor sekitar 50000 Kips per hari (sekitar US$7) di Pakse, tetapi saya tidak berani mengendarai motor dari Pakse hingga Wat Phou dengan kondisi jalan di kanan dan panaaaaasss luar biasa, juga karena saya sama sekali tidak mengenal wilayah itu sama sekali. Tetapi selalu ada berita baik ketika semua jalan terlihat buntu.  Saya mendapat kabar bahwa kita bisa menyewa tuktuk seharian untuk keperluan itu. Wow… Amazing. Lagi-lagi impian saya terlihat semakin nyata.

Penginapan

Seperti biasanya jika di sebuah kota dekat dengan sebuah World Heritage Site, pastilah di kota itu tersedia hotel berbintang dari yang mahal hingga penginapan murah meriah. Saya selalu memilih penginapan yang memiliki review bagus di dekat pusat keramaian. Tidak terlalu mahal, tapi juga tidak murah juga, dengan demikian saya akan mudah mencari makan atau sekedar jalan-jalan keliling kota.

Tetapi entah kenapa kali ini saya juga menambahkan pencarian apakah penginapan yang saya pesan itu termasuk ghost hotel atau bukan. Bisa jadi karena saya membaca ada sebuah hotel terkenal di Pakse yang dibangun sejak berakhirnya kerajaan di Laos dan ditinggalkan begitu saja dan sekarang digunakan sebagai hotel. Hahaha… mungkin saya salah ya, tetapi segala sesuatu bisa terjadi kan? Benar-benar tidak lucu kan kalau sampai terbangun malam-malam karena melihat yang datang dari alam lain hehehe…

Cerita detail tentang perjalanan di Laos Selatan menyusul ya…