Sepasang Mata Di Bouddhanath


Pertama kali ke Nepal tahun 2014 lalu, saya hanya sekejap berada di Bouddhanath, itu pun hanya malam hari. Rasanya seperti mengalami amnesia sementara, saya merasa pernah berada di sana namun hanya samar-samar. Lucunya, photo yang diambil tidak begitu bagus hasilnya, mungkin karena kurang cahaya. Oleh karena itu, saya telah berjanji akan kembali ke Bouddhanath dan menikmatinya lebih lama.

Saya memang kembali lagi ke Nepal untuk melakukan trekking tetapi kesempatan itu tidak bisa membuat saya kembali mendatangi Bouddhanath. Bagaimanapun semua memang ada waktunya dan tahun 2018 lalu akhirnya saya kembali menjejak di Bouddhanath.

Bouddhanath merupakan salah satu dari tempat suci Buddhist yang terbesar di Nepal dan bersama dengan kuil-kuil bersejarah lain di kawasan lembah Kathmandu, Bouddhanath mendapat gelar UNESCO World Heritage Site sejak tahun 1979 (itu artinya 12 tahun lebih dulu daripada penganugerahan pertama kali gelar yang sama ke Borobudur di Indonesia).

Dalam gempa besar tahun 2015 lalu yang meluluhlantakkan Nepal, Bouddhanath juga terkena dampaknya dan termasuk parah. Seluruh struktur utama yang paling suci, -konon merupakan tempat menyimpan relikui Buddha-, yang terletak di puncak lengkung stupa harus dipindahkan selama Stupa mengalami perbaikan. Meskipun hingga kini, banyak kuil-kuil lain di kawasan Lembah Kathmandu masih terus dalam proses restorasi sejak gempa terjadi, Bouddhanath termasuk salah satu tempat pertama yang diprioritaskan diperbaiki. Dan dalam waktu satu setengah tahun sejak gempa terjadi, Bouddhanath bisa dibuka kembali secara normal.

DSC03504
Bouddhanath with the lights

Meskipun berada sekitar 7km dari pusat kota, Bouddhanath tetap ramai dikunjungi oleh penganut Buddha dari segala penjuru Nepal dan juga dari negara-negara lain yang kebanyakan penduduknya beragama Buddha. Ditambah dengan para wisatawan mancanegara,  hampir semuanya, baik yang Buddhist maupun yang non-Buddhist, berjalan melakukan sirkumambulasi atau kadang juga disebut pradaksina yaitu berjalan mengelilingi Stupa searah jarum jam.

Hari pada saat saya kembali ke Nepal itu, dari bandara saya langsung menuju kawasan Bouddhanath yang letaknya tak begitu jauh dari bandara. Alasan itu juga yang saya gunakan untuk menginap di kawasan Bouddhanath, karena keesokan harinya saya akan terbang ke kota lain sehingga tak mau jauh-jauh dari bandara tetapi keinginan saya tetap tercapai. Jadilah saya menginap di Bouddhanath dan tidak tanggung-tanggung karena saya menginap dengan hotel yang menghadap Bouddhanath.

Saya hanya ingin menatap Stupa besar kebanggaan orang Nepal itu dengan santai.

Dan sejak matahari tenggelam hingga waktu makan malam tiba, saya sengaja mengambil tempat di pelataran luar hotel dan langsung menatap Buddhanath yang cantik berhiaskan lampu-lampu.

DSC03508
Bouddhanath at Night

Dari tempat duduk saya di pelataran hotel, saya menyaksikan bahwa diameter terjauh Bouddhanath hanya sekitar 100meter dengan tinggi hingga ke puncaknya sekitar 36meter. Bisa jadi tidak terlalu besar jika dibandingkan Borobudur ya, tetapi bangunan ini terkenal sekali di Nepal dan stupa ini mengisi langit Nepal di malam hari.

Tentu saja bagi saya, yang paling menarik dari Bouddhanath adalah Lukisan Mata yang mengisi empat sisi puncak stupa itu. Mata itu merupakan representasi mata Sang Buddha yang melihat ke segala penjuru dunia. Dan lukisan yang bentuknya seperti tanda tanya, sebenarnya merupakan karakter Nepali untuk angka 1, yang merupakan simbol dari Kesatuan (unity) dan Satu Jalan menuju pencerahan yakni melalui ajaran Sang Buddha. Lebih jauh lagi, di atas lukisan mata itu terdapat Mata Ketiga, -tersembunyi di balik rumbaian kain penutup-, merupakan simbol Kebajikan Sang Buddha.

DSC03503
The Buddha Eyes

Angin musim dingin hampir berakhir meskipun masih terasa sejuknya. Angin itu terasa kuat membuat ikatan bendera doa yang warna-warni itu berkibar-kibar. Konon dipercaya, kibaran bendera doa akibat angin itu akan menerbangkan doa dan mantra ke seluruh penjuru alam semesta. Ditambah orang-orang yang tidak berhenti melakukan sirkumambulasi (pradaksina) sambil merapal doa dan mantra, tentunya memperkuat getaran doa untuk sampai ke seluruh penjuru alam semesta. Ah, indahnya saya berada di tempat yang begitu sakral…

Saya puas menatap orang-orang yang mengelilingi Stupa, puas menyaksikan Stupa besar semalaman dan juga esok paginya. Rasa damai dengan getar nada mantra Avalokitesvara, Om Mani Padme Hum yang sayup terdengar di sekitar saya, membuat saya betah berlama-lama di tempat itu.

Menatap mata yang tergambar di Stupa di hadapan, membuat saya merenung. Bahkan dalam ajaran Buddha pun diajarkan bahwa ada Mata yang terus melihat ke seluruh penjuru dunia. Dan sepertinya mengerucut juga karena saya percaya Allah Yang Maha Kuasa yang juga Maha Melihat semua aktivitas kita.

Kita hanya perlu terus menyadarinya.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-40 ini bertema Eye(s) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

It’s Not Me vs. Dare To Dream


If I’m not for myself, who will be for me? If not this way, how? If not now, when? – Primo Levi

Pernah suatu kali saat sedang boarding, -mungkin karena lelah dan sedang bad mood dengan teman perjalanan yang demanding dan arogan-, saya melemparkan kekesalan kepada penumpang lain yang menjajah tempat duduk saya hanya karena ia ingin bersebelahan dengan keluarganya dan beranggapan saya luluh atas dasar kasihan. Saat itu, saya tidak bisa dinegosiasi, lagi pula saya sudah mengeluarkan uang untuk tempat duduk itu. Tambahan lagi, kalau penumpang itu mau dempet-dempet bagaikan kembar siam dengan keluarganya, mengapa tidak beli kursi? Parahnya dia sudah beranggapan saya bisa diatur-atur sekehendaknya dengan bicara seenak-udelnya hanya dengan mempertontonkan rasa iba khas perempuan yang sedang merayu laki-laki untuk mendapatkan yang dia inginkan.

Dia tidak tahu saya lagi bad mood tingkat dewa dan laksana naga, api sudah siap menyembur dari mulut. No way, get the hell out of my way. Saya tidak peduli, saya tidak kasihan terhadap orang yang pelit mengeluarkan uang demi kedekatan keluarga, saya tidak bertoleransi terhadap orang yang selalu minta ditoleransi. Sebagai sama-sama perempuan, bisa jadi dia kaget mendengar ketegasan saya mempertahankan apa yang menjadi hak saya. Untung dia mingkem ditarik keluarganya yang lain sebelum saya ‘menghajar’-nya lebih jauh.

It’s Not Me, It’s Not Me, berkali-kali saya mengatakan itu dalam hati beberapa saat setelahnya, sedikit menyesal. Saya seharusnya tak perlu sebegitu kakunya, saya seharusnya bisa lebih fleksibel, saya seharusnya lebih bersabar… meskipun saya tahu persis, saya tak wajib mengalah untuknya.

Tetapi tetap saja saya merasa ada hal yang kurang dilakukan. Saya meletakkan batas kesabaran saya lebih cepat daripada seharusnya. Saya kurang mengeksplorasi toleransi. Pertempuran dalam hati itu berlangsung terus, rasanya saya melakukan sabotase pada gambaran menjadi orang baik yang selalu saya impikan. Benarkah hal itu merupakan sabotase?


Dalam situasi yang berbeda…

Saat saya ke Nepal pertama kalinya di tahun 2014, saya langsung menggeleng ketika ditanya oleh agen perjalanan apakah saya mau trekking selama saya di sana. Juga pada saat saya berada di bandara domestik Nepal, saya melihat begitu banyak yang sedang menunggu pesawat yang akan membawanya ke destinasi impiannya. Bagi saya saat itu, It’s Not Me banget. Trekking bukan jalan saya, karena saya ini penggemar budaya dan sejarah, paling saya memilih yang aman, yang bisa saya lakukan dengan damai, tidak perlu bersusah- payah mendaki gunung. Saat itu saya penganut filosofi Kapten Haddock, dalam serial komik Tintin karangan Herge, yang katanya, buat apa naik gunung, jika nanti harus turun lagi? 

Dan tiba-tiba di bulan Oktober 2016, tepat dua tahun setelah ke Nepal, tiba-tiba saya mendapat ‘panggilan’ untuk ke Nepal lagi, tetapi kali ini bukan untuk budaya atau sejarah, melainkan untuk trekking! Karena saya lebih sering percaya pada intuisi, saat itulah terjadi pertempuran dalam diri antara meyakini bahwa saya tak mampu karena trekking bukan saya banget (It’s Not Me); dengan adanya keinginan untuk mewujudkan impian berdasarkan intuisi yang datang tiba-tiba itu (Dare to Dream).

Pilih mana, It’s not me atau Dare to dream?

Saya memberanikan diri untuk memilih yang kedua. Bahkan pada saat saya belum tahu apakah ada teman yang mau diajak trekking bersama. Paling buruk adalah solo-trekking! Entah vitamin apa yang saya telan sehingga memiliki kenekadan seperti itu. Tetapi bukankah hal ini merupakan sebuah tantangan yang belum pernah saya lakukan? Saya terus berpegang pada impian itu, membebaskan diri saya dan tidak ingin memberikan batasan pada diri sendiri. Dengan terus membebaskan diri dengan melepas batasan limit, saya tidak mau lagi berpikir it’s not me, minimal saya akan mencobanya, terus dan terus. Karena dengan mencoba saya menjadi tahu hasil akhirnya, daripada diam yang tidak akan pernah membawa saya kemana-mana kecuali mimpi belaka tanpa tahu rasanya.

DSC06115
Lower Mustang, Nepal

Hari demi hari saya sambut dengan berpegang terus pada Dare to dream. Saya mempercayai kebenaran kata-kata Paulo Coelho, When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. Buktinya memang ke arah sana. Bahkan saat bertemu dengan Tony Fernandes, sang co-founder AirAsia, beliau menuliskan hal yang sama di dalam buku catatan saya, Dare to dream!

Dan akhirnya pada bulan April 2017, saya benar-benar menapaki Himalaya di kawasan Annapurna, lalu beberapa bulan setelahnya, saya menapaki jalan-jalan menuju Namche Bazaar di jalur trekking yang menuju Everest Base Camp, dan di tahun 2018, saya merambah untuk trekking ke kawasan Lower Mustang. Semuanya di Nepal.

Hanya dengan menggeser atau mengganti sudut pandang!

Lain kali, saya akan sangat berhati-hati dengan ucapan, It’s Not Me! Karena dengannya saya telah menjadikannya alasan, agar saya percaya bahwa saya tidak mampu. Bukankah dengan berkata itu, saya bahkan memberi energi untuk melakukan sabotase, untuk menggagalkan impian saya sendiri?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-30 ini bertema It’s Not Me agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Look At The Top of The World


Tahun 2014

Sudah lama sekali saya memelihara impian untuk melihat Himalaya, barisan pegunungan berpuncak salju abadi dengan Mt. Everest yang menyandang gelar sebagai gunung tertinggi di dunia. Awalnya saya tak tahu harus bagaimana untuk bisa melihat Himalaya, apakah dari India, China atau Nepal. Telah berulang kali saya browsing untuk ke Leh, Ladakh untuk bisa merealisasikan impian itu, tetapi tidak pernah terjadi. Tetapi akhirnya cerita seorang teman yang terlebih dahulu menjejak di sana, membuat bulat keputusan itu. Saya harus ke Nepal. Sendiri!

Dan November tahun itu juga, impian itu benar-benar mewujud. Sengaja saya memilih kursi jendela di sebelah kanan dalam penerbangan siang. Dan sekitar satu jam jelang sampai, perasaan itu langsung berkecamuk begitu hebatnya, saat mengetahui barisan awan putih di horison sesungguhnya adalah pegunungan Himalaya yang saya rindukan. Saya melihatnya langsung, meskipun kecil, jauh dan bercampur awan. Tetapi awan adalah awan, Himalaya bertudung salju itu ada di sana. Berjajar dengan indahnya. Penguasa Alam Semesta selalu baik.

1IMG_0004
Himalaya and the Clouds at the horizon

Demi melihat Himalaya dari dekat, saat itu saya menabung agar bisa mengambil Mountains Flight, sebuah penerbangan wisata menjajari pegunungan itu dari jarak terdekatnya. Pada harinya, siapa sangka, saya yang check-in sejak pagi ternyata disela oleh banyak turis yang menggunakan jasa tur sehingga akhirnya saya mendapat nomor kursi terakhir? Tapi ah, saya telah banyak belajar untuk bisa menerima setiap peristiwa yang terjadi dengan ikhlas tanpa ekspektasi berlebihan. Namun siapa sangka, kejadian itu merupakan anugerah? Saya mendapatkan nomor terakhir, dengan dua jendela di sebelah kiri dan dua jendela di sebelah kanan karena tempat duduk di sebelah kanan kosong.

Pagi itu saya duduk sendiri menatap keluar jendela ke arah pegunungan Himalaya yang terlihat sangat indah. Rasa syukur saya tak berhenti sepanjang penerbangan hingga berkali-kali saya menghapus airmata bahagia. Alhamdulillah, sungguh saya orang yang paling beruntung di dunia, Begitu banyak anugerah terlimpah buat saya.

Belum selesai mengucap syukur, saya dipanggil pramugari untuk bisa melihat Himalaya dari ruang cockpit. Dan saat itulah saya mendapat anugerah terbesar dalam perjalanan itu. Puncak Mt. Everest yang bersaput awan sesaat menampakkan diri, memperlihatkan setitik puncaknya. Hanya setitik! Oh, betapa saya beruntung karena menjadi satu-satunya dalam penerbangan itu yang melihatnya karena giliran orang lain setelah saya hanya bisa melihat Mt. Everest yang kembali tertutup awan.  

Bahkan setitik puncaknyapun, bagi saya sudah cukup. Itu adalah Mt. Everest, gunung tertinggi di dunia dan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Impian saya begitu lama sudah terealisasi.

Tetapi bisa jadi Semesta tidak menginginkan saya meninggalkan Nepal hanya dengan ingatan Setitik Puncak Gunung Everest. Dalam penerbangan pulang ke Jakarta, kali ini pegunungan Himalaya itu tampak bersih dari awan, dan tentunya Mt. Everest yang memperlihatkan puncak khasnya. Lagi-lagi Himalaya membuat saya terharu-biru. Akankah ada lagi perjalanan ke pegunungan bertudung salju itu untuk saya? Saat itu saya tak pernah tahu.

April 2015

Gempa besar melanda Nepal, termasuk longsoran yang melanda kawasan Everest. Hati saya mengerut dalam doa.

Tahun 2017

Siapa sangka, sekali lagi saya diberikan kesempatan melakukan perjalanan ke Nepal, melakukan trekking di Himalaya dan melakukan mountain flight dan saat itu Mt. Everest benar-benar menampilkan keindahannya. Dengan mata tak berkedip dan tangan menempel di jendela seakan ingin menyentuhnya langsung, saya menyaksikan gunung tertinggi di dunia itu dari pesawat kecil saya. Mungkin banyak orang bermimpi untuk bisa melihat Himalaya dan melihat Everest namun belum mendapatkan kesempatannya, sedangkan saya telah berulang kali dan semakin jelas. Sungguh saya telah banyak menerima anugerahNya. Rasanya bersyukur saja tak akan cukup.

5DSC00640
Everest View From the 2nd Mountain Flight

Dan saya tak pernah bermimpi sekalipun, dalam tahun itu juga, saya bisa menjejak Himalaya lagi. Lebih dekat lagi, bukan dari atas melainkan dari tanah pegunungan yang sama yang menyambung ke Gunung Everest itu, berada di Taman Nasionalnya. Saya berjalan seakan melata di kaki dan punggung bukit-bukitnya untuk menyaksikan langsung dari tanah yang sama. Begitu dekat.

Saya tak pernah tahu adakah kesempatan bagi saya untuk melihatnya lagi dari dekat. Impian itu tetap saya pelihara dalam jiwa sembari terus mengucap syukur atas semua kesempatan menyaksikan keindahan alamnya sejak berupa garis horison tak jelas, lalu setitik puncak, lalu Everest yang semakin jelas, semakin dekat. Terima kasih Ya Allah atas semua anugerah yang berlimpah tak henti.

620170924_082733
Mt. Everest from Everest viewpoint, on the way to Namche Bazaar

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-25 ini bertema A View from The Top agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Adakah Gema Cinta Rama Sita di Janakpur?


Konon dalam periode Ramayana, Raja Janak menguasai wilayah, -yang saat ini bernama Dhanusa di Nepal-. Putrinya, Sita, yang cantik jelita memilih Rama, -yang berhasil mengangkat busur Shiva-, sebagai suaminya dalam sayembara pernikahannya. Upacara pernikahannya konon berlangsung di Vivaha Mandap yang berada di sebelah Kuil Janaki, tak jauh dari tempat Rama melihat Sita untuk kali pertama.

Sejak pertama kali ke Nepal hampir lima tahun lalu, saya sudah menginginkan untuk menginjak Janakpur suatu saat nanti. Alasannya jelas, ada gema cinta di kota wilayah Nepal yang tak jauh dari perbatasan dengan India itu. Konon disanalah untuk kali pertama Rama dan Sita mendentingkan nada cinta dan tentu saja saya suka menelusuri semua yang berbau cinta.

Meskipun Janakpur bukan tempat prioritas untuk dikunjungi di Nepal, -biasanya turis berkunjung ke sekitaran Kathmandu, Pokhara, Lumbini, Chitwan dan trekking ke gunung-gunung tinggi Himalaya-, tetap saja saya menemukan satu dua turis saat berada di sana.

Di bulan cinta, akhirnya saya terbang dari Kathmandu ke Janakpur yang tidak lebih dari satu jam, meskipun delay hingga bisa menghasilkan 1 blogpost 😀 Dan ketika turun dari pesawat ATR72 itu, saya disuguhi pemandangan yang tak biasa. Seseorang berseragam memegang senjata laras panjang tampak siaga di atap terminal sehingga menimbulkan sedikit rasa tak nyaman. Adakah situasi tak aman di kota lambang cinta dari Nepal ini?

Selepas itu, saya berjalan menuju terminal, tetapi jangan bayangkan masuk ke ruangan dingin ber-AC karena saya diminta berdiri diemperannya hingga bagasi datang. Lalu dari bawah pesawat pelan-pelan terlihat dua manusia menghela dan mendorong manual semua bagasi penumpang termasuk ransel saya! Urusan ransel selesai, saya tinggal mencari transportasi ke kota. Tidak ada pilihan lain, kecuali tuktuk karena itulah satu-satunya moda transportasi yang tersedia. Hebatnya, setelah harga disepakati dan saya naik… supir tuktuk berteriak-teriak menawarkan lagi kendaraannya untuk ke kota dan datanglah satu orang laki-laki yang bersedia duduk di samping supir tuktuk. Mendadak saya teringat lagu dan ingin menyanyi…. Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota, naik tuktuk istimewa kududuk dimuka, kududuk samping pak supir yang sedang bekerja, mengendarai tuktuk supaya baik jalannya…

DSC03807
Janaki Temple in Janakpur
DSC03541
Main Shrine in Janaki Temple

Kuil Janaki

Setelah rehat sejenak di penginapan menunggu panas mentari mereda, saya langsung berjalan kaki ke Kuil Janaki yang tak jauh dari tempat saya menginap.  Dan ketika saya melangkah ke halamannya, -tak terlihat tempat jual tiket-, saya seperti tak percaya berada di kuil Hindu yang termasuk dalam daftar Tentative UNESCO World Heritage Site itu. Arsitektur kuil begitu berbeda, tidak seperti yang pernah saya lihat pada bangunan-bangunan kuil di Nepal. Wiki memberitahu bahwa kuil Janaki ini bergaya Mughal Koiri Nepali, yang penuh warna dan kubah. Ini kuil Hindu lho…

Tidak heran, karena kuil yang terletak di distrik Dhanusa, Nepal ini, sangat lekat asosiasinya dalam sepenggal kisah epic Ramayana dan kini didedikasikan kepada Dewi Sita. Hal ini terjadi karena tahun 1657 ditemukan sebuah patung Sita oleh Sannyasi Shurkishordas, pendiri kota Janakpur.

DSC03574
Main Shrine of Janaki Temple
DSC03754
The marble in the Main Shrine

Uniknya, bila disebut bergaya Mughal, di wilayah itu sama sekali tidak tampak peninggalan-peninggalan Kekaisaran Mughal. Bisa jadi merupakan campuran gaya dengan Hindu Koiri Nepali, sehingga kuil ini merupakan landmark paling penting dalam arsitektur Koiri. Keseluruhan bangunan kuil berlantai tiga yang terdiri dari tembok batu dan marmer.

Kuil Janaki juga dikenal dengan nama Nau Lakha Mandir, yang secara harafiah berarti Sembilan Lakh atau Sembilan ratus ribu Rupees, sebagai pengingat nilai uang yang dikeluarkan Ratu Vrisha Bhanu dari Tikamgarh, India untuk mendirikan kuil di tahun 1910, bahkan di lokasi tempat Kuil sekarang ini berdiri,

Entah kenapa saya sedikit masygul karena kebersihan dan perawatan kuil ini tidak begitu terjaga. Kecantikan kuil ini sedikit terganggu oleh kabel-kabel listrik yang menghalangi façade-nya. Kabel yang mempercantik disaat malam, tetapi sungguh merusak foto dikala siang. Dengan melepas alas kaki dan berjalan di lantai yang tidak begitu bersih, saya mulai mengelilingi bagian dalam kuil. Terlihat banyak umat, laki-laki dan perempuan, tua dan muda bersemangat menuju altar. Dari sudut bagian dalam kuil itu, saya terus mengamati keindahannya. Lengkung-lengkungnya sangat menawan meskipun pewarnaan disana-sini terlihat kian memudar.

Di bagian dalam terdapat museum yang bisa dimasuki setelah membayar sejumlah kecil Rupees. Dan ada kisah-kisah Ramayana dalam bentuk diorama. Saya sudah asik membuat satu dua foto ketika tiba-tiba menyadari sebenarnya dilarang untuk mengabadikannya. Saya hanya berani bertanya di dalam hati, mungkin tidak diperbolehkan mengambil foto karena kesakralan tempat ini.

Selain diorama tersebut, banyak lukisan-lukisan dinding khas Hindustan yang kelihatannya mengambil tema Ramayana.  Indah dan penuh warna. Sayang sekali, saya hanya bisa menebak-nebak dari penggambarannya karena tidak ada informasi dalam bahasa Inggris. Saat melangkah ke balkon luar, pemandangan disana tidak kalah indahnya.

Saat keesokan harinya saya kembali ke kuil, saya melihat serombongan pemuja beriringan membawa benda-benda sakral dengan musik yang sangat riuh. Mendengar itu, saya kehilangan rasa romantisme yang tenang ala Rama dan Sita, yang terdengar malah suara yang riuh rendah penuh semangat. Saya hanya membayangkan, saat saya sedang jatuh cinta melihat keindahan wajah seseorang, tiba-tiba terdengar riuh rendah suara genderang dan pukulan-pukulan ritme lainnya, tentu rasa cinta itu langsung menyelinap pergi. Demikian juga saya yang kehilangan rasa, membuat saya pelan-pelan melipir memasuki Taman Janaki Mandap.

Janaki Mandap/Vivaha Mandap

Saya harus membeli tiket yang saya lupa berapa harganya, tetapi tidak seberapa. Dan ketika kaki menjejak Taman ini, saya tersadarkan di tempat inilah konon Rama terpesona melihat kecantikan Sita untuk kali pertama dan disini pulalah mereka berdua mengikat janji serta mengelilingi api suci, setelah Rama berhasil mengangkat busur Shiva yang sakti, yang menjadi syarat sayembara yang ditetapkan oleh Raja Janak, ayah Sita.

Cerita itu sudah lama berada di kepala, walaupun tamannya tak seindah yang dibayangkan, apa yang saya lihat cukup memanjakan rasa meskipun rasa masygul kembali menyerang. Bangunan Janaki Mandap terlihat modern, bahkan terlalu modern untuk ukuran kisah Ramayana, membuat saya kehilangan rasa untuk mengetahui lebih jauh. Sekali lagi saya merasakan benturan modernitas terhadap sesuatu yang melegenda –yang menurut saya sakral-. Saya hanya berjalan mengelilingi, mengintip dari luar.

Gema cinta Rama dan Sita mungkin terdengar sayup disini, tetapi aura ibadah tetap terasa kental. Saya juga berbahagia, karena berkesempatan menyaksikan Sang Surya beranjak turun diantara pepohonan. Pepohonan yang sama yang memperindah Kuil Janaki yang ada di sebelah Mandap ini. Kehilangan rasa gema cinta Rama Sita, saya mendapat anugerah dari Sang Surya. Cinta ada dimana-mana rupanya.

Dan rupanya saya terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang gema cinta Rama Sita, karena dalam perjalanan pulang ke penginapan, langkah saya terhenti oleh rombongan pengantin yang sedang berjalan. Saya melihat pasangan pengantin yang berada dalam satu kerudung itu, saya mendoakan semoga mereka bahagia. Ah… Gema cinta Rama Sita masih nyata adanya…

DSC03732
Facade of Janaki Temple
DSC03595
Janaki Temple from the Mandap
DSC03639
The Bride an The Groom

****

Sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-4 ini bertemakan Cinta (Love), agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

D-5 Trekking di Nepal – Berani Melawan Ketakutan


Alam Chuile membangunkan saya pagi itu, juga suara-suara di dapur, walaupun pagi belum sepenuhnya mulai. Sebagaimana stereotype budaya setempat, pagi itu perempuan-perempuan telah mendominasi dapur, menjerang air dan melakukan persiapan pagi hari untuk keluarganya. Kesibukan itu membuat pikiran saya terbang ke keluarga. Genap dua hari saya tak dapat menghubungi keluarga karena WIFI tidak berfungsi. Sebersit kerinduan menyergap, semoga semuanya baik-baik saja.

DSC00112
The hidden sunrise from Chuile
DSC00151
Guesthouse in Chuile

Pagi yang merekah pelan membuat saya melangkah keluar kamar, ke halaman. Pak Ferry rupanya sudah bangun dan sedang menikmati pemandangan lembah. Sambil teringat insiden semalam soal lintah (baca: disini) saya menghampirinya. Sinar keemasan mentari menerangi langit Timur, menerangi puncak-puncak gunung bersalju itu, memberikan efek dramatis pada gunung favorit saya, Macchapucchare (6993MDPL) yang sering disebut Fish Tail karena bentuk puncaknya yang seperti ekor ikan. Sejak pertama kali menjejak Pokhara di tahun 2014, saya telah jatuh cinta dengan gunung ini dan mampu membuat saya ingin kembali ke Nepal.

Pada kesempatan itu, saya meminta maaf kepada Pak Ferry, karena kondisi saya yang selalu berjalan pelan sehingga waktunya tidak mencukupi untuk trekking ke Annapurna Base Camp. Namun sebelum saya menyelesaikan semua kalimat, Pak Ferry sudah memotongnya, “bukankah perjalanannya yang lebih penting daripada tujuannya? Jadi nikmati saja…”

“The journey itself, not destination”

Saya terdiam, teringat beberapa orang yang sering berkata negatif tentang Pak Ferry, tetapi mana ada orang sempurna? Dibalik ketidaksempurnaannya, saya kian melihat begitu banyak kebaikan humanis yang tidak perlu diumbar namun terlihat saat berjalan berhari-hari bersamanya. Betapa sering manusia memberi label kepada manusia lain, padahal mereka tak pernah tahu bagaimana perjalanan hidupnya. Ah, memang dari sebuah perjalanan, kita lebih mengenal pribadi rekan-rekan seperjalanan. Dan seakan menyelaraskan, keindahan pengertian dan pemahaman di benak pun mengikuti keindahan mentari yang meninggi menyinari puncak-puncak bersalju itu.

DSC00141
Mt Macchapuchhre with The Sun – from Chuile

 

Keberanian itu…

Hari itu, kami melanjutkan perjalanan ke Chhomrong, desa persimpangan menuju dan dari Annapurna Base Camp. Meninggalkan penginapan, perjalanan dimulai dengan turunan curam. Dan seperti biasa untuk turunan, Kedar dan saya melangkah cepat, sedikit berlari menuruni tangga-tangga batu meninggalkan Pak Ferry dan Dipak di belakang lalu menunggu di seberang jembatan gantung. Menit-menit berlalu akhirnya saya melihat Pak Ferry yang merasa jeri berjalan di jembatan gantung yang bergoyang-goyang. Tertegun, teringat bungsu saya, -ia juga memiliki phobia ketinggian-, yang pernah begitu ketakutan berjalan di jembatan gantung walau ia tak berhenti melangkah. Kepada mereka, saya kagum! Itulah makna keberanian yang sesungguhnya, berani memerangi ketakutan mereka sendiri, dengan susah payah, ngeri-ngeri sedap melawan diri sendiri.

DSC00183
Being brave is having that fear but finding a way through it
DSC00185
Never-ending stairs :

Dan setelahnya, giliran saya menjadi buntut karena di depan ada tangga-tangga tinggi lagi. Kali ini, saya setuju dengan Captain Haddock dalam serial komik Tintin, yang bersungut-sungut saat mendaki gunung, “Untuk apa naik gunung kalau nantinya harus turun lagi?” 😀

Tapi ada seribu satu alasan berhenti untuk mengambil nafas, salah satunya memotret pemandangan indah yang kali ini didominasi warna hijau seperti hutan, lembah, pepohonan dan lainnya. Berkali-kali dada terasa penuh menyaksikan pemandangan indah di depan mata. Pemilik Semesta memang sedang tersenyum saat menciptakan bumi Nepal. Tak bosan-bosan saya berhenti untuk menikmati pemandangan.

DSC00204
Green while trekking
DSC00226
Sometimes going down sometimes going up

Hingga suatu saat saya tersadarkan, Dipak sudah tak terlihat dalam jangkauan mata. Dimana dia? Saya mempercepat langkah, tetapi pemandu itu tetap tak terlihat. Saya bertanya dalam hati, apakah saya terlalu egois menikmati pemandangan hingga tidak memperhatikan irama langkah? Atau ‘kesibukan’ mengagumi keindahan alam hingga mengabaikan kehadiran orang lain? Ada rasa yang merayap naik menyadarkan jiwa, selama ini ego diri yang dimenangkan, bukan manusia lain di sekitar. Saya tak enak hati dan mencoba menyusulnya. Tak lama di sebuah tempat istirahat, terlihat Dipak duduk menunggu. Dimatanya sekilas tersirat  ketidaksabaran. Ah, saya harus berani mengaku salah!

Saya meminta maaf kepadanya yang langsung disambut senyum, no problem, katanya. Tetapi sejak itu, ia berjalan di belakang, membiarkan saya berjalan lebih dulu dalam jangkauan pandangan mata dan langkahnya. Baginya, lebih aman ia berjalan di belakang dan bisa menyusul kapan saja daripada harus menunggu saya.

Dan yang tak terduga pun terjadi, dari arah depan saya…

Saat itu, saya berjalan sambil mendengarkan musik untuk menambah semangat. Rasanya menyenangkan kepala dan badan bergoyang menyusuri punggung bukit yang dipenuhi hutan di bagian atas. Tiba-tiba, di suatu tempat sebelum tebing, alarm tubuh saya ‘berdering’ agar waspada. Diantara suara musik, alarm tubuh itu begitu kuat sehingga saya langsung mencabut head-set dari telinga. Dan terdengar dari arah atas,

Dug…. Dug… Dug… Dug… Dug… Dug…

Berikutnya saya terhenyak karena mendengar teriakan Dipak dari arah belakang.

“Riyantiiiiiiiiiiii… Stooooppp………………!”

Badan langsung mengejang, rasa dingin menerjang seluruh permukaan tubuh. Terdiam kaku. Sungguh saya tak tahu ada apa. Tak jelas, tak pasti. Tapi ada bahaya! Waspada! Detik berjalan sangat lambat. Saya kaku, tak bergerak.

Dalam sekejap, Dipak yang berlari kencang langsung menyusul dan berdiri di depan saya, bersikap menghadang sambil melihat ke atas. Antara bingung, kuatir dan rasa aman yang campur aduk, saya bertanya padanya, “What’s happened?

Falling logs…

Blasss… saya ngeri. Suara dug-dug-dug tadi adalah suara gelondong pohon yang entah sengaja ditebang atau rubuh di hutan tepat di bukit di atas kami. Gelondong kayu itu sepertinya menggelinding dari atas menuju kami yang berada di bawah. Masalahnya, kami tak dapat melihat gelondong kayu yang jatuh itu. Hanya suaranya saja yang terdengar mendekat.

Dipak mempelajari situasinya secara cepat di depan saya dan dalam sekejap ia mengajak lari. Tak perlu berpikir atau menunggu aba-aba lagi, langsung saja saya lari secepat mungkin meninggalkan tempat itu, hingga akhirnya suara mengerikan dug… dug… dug… dug… itu tertinggal di belakang.

after the falling logs
After the falling logs

Habis itu, rasanya saya tak mampu lagi berdiri tegak, hanya megap-megap mencari oksigen. Di usia boros ini, ditambah jarang (baca: tidak pernah) olahraga, lari sprint sesaat bisa membuat nafas tinggal satu atau dua. Ditambah kengerian membayangkan gelondong kayu jatuh dari atas. Walaupun akhirnya, -setelah kembali berjalan-, saya tidak pernah tahu apakah benar kayu-kayu itu terus menggelinding melampaui atau bisa berhenti sebelum jalur trekking kami tadi. Lalu apakah kayu itu jatuh karena ditebang atau rapuh, saya juga tak pernah tahu. Saya hanya mengangguk-angguk saat Dipak mengatakan segala sesuatu bisa terjadi saat berkegiatan di alam. Ah, sekali lagi, ia menyelamatkan saya dari situasi mendebarkan hati.

Dan setelah berjalan beberapa saat, saya sampai di sebuah pohon unik yang bentuk dan tempat tumbuhnya membuatnya berbeda. Pohon tanpa daun itu  tumbuh tepat di pinggir tebing di persimpangan jalur. Jika salah langkah saat berfoto, dipastikah akan langsung glundung ke bawah, disambut rangkaian tangga curam ke bawah yang tak habis-habis. Walaupun deg-degan, tetap saja saya bergaya di pohon itu. Mau coba juga?

Setelah melewati tangga-tangga curam itu, desa Chhomrong sudah tak jauh lagi dengan kondisi jalan yang Nepali flat, menanjak landai. Saya melangkah santai menikmati pemandangan indah yang terbentang di depan mata.

animals
Some animals I see during the trekking

 

Sendiri Berkontemplasi

Hingga suatu tempat, jalan saya tertutup oleh kerbau-kerbau yang sedang beristirahat. Saya agak ngeri berjalan diantara mereka yang besar dan hitam dengan tanduk melengkung tajam. Tapi entah mengapa terbersit di benak bahwa mereka juga makhluk seperti manusia, menghuni alam ini dan berhak beristirahat juga. Sebelum pikiran berpindah, mata ini melihat ke pagar batu di pinggir, sekitar 1 meter tinggi dan 30 cm lebarnya sehingga bisa dijejak diatasnya. Dan berjalan di atas pagar, -walaupun ngeri juga karena ada lembah di kanan-, sepertinya win-win solution. Para kerbau bisa tenang melanjutkan istirahat dan saya bisa santai melanjutkan perjalanan. Tetapi ah, seharusnya saya selfie saat berjalan di atas pagar itu, saya lupa! Lagi-lagi saya akui, God is always good, dalam memberi petunjuk, dalam segalanya.

Walaupun trip ini saya lakukan bersama Pak Ferry, kadang melakukan sepenggal perjalanan tetap sendirian. Inilah asiknya ‘solo-trip’. Walau banyak yang bertanya kepada saya, apa enaknya jalan sendiri tanpa kawan. Hmmm… entah ya, tetapi bagi saya, berjalan sendiri artinya berjalan bersamaNya secara intens dan membiarkan sejiwa dengan alam dalam harmoninya. Rasanya? Keluarbiasaan yang tak terjelaskan, ada takut namun keberanian menyeruak juga…

Dan benar saja, di depan mata alam menyuguhkan pemandangan luarbiasa. Sinar mentari yang menembus awan memberi kesan akan sinar Surga. Jika sebelumnya saya melangkah dalam hening mengingatNya, apa yang saya lihat ini seakan menjawab semua permintaan jiwa. Saya meluruh dalam syukur akan jawaban langsung! Kita tak pernah sendirian, Dia yang selalu mencintai kita, yang memperhatikan seakan berjalan bersama. Kesadaran yang memberikan kekuatan ini, sekali lagi membukakan arah jiwa, semua pasti mengarah kepadaNya.

Ray of light to the valley
Ray of light to the valley

Diingatkan akan keindahan tanah air saat melihat keindahan…

Rasa penuh syukur itu membuat saya duduk di batu istirahat. Beberapa menit kemudian dua orang paruh baya datang mendekat, ikut melepas lelah. Dari bahasanya saya mengenali mereka dari Korea. Saya menyapa dengan sepatah kata Korea yang saya bisa, Annyeonghaseyo… Sapa itu mengejutkan mereka dan langsung mengakrabkan kami semua. Dan dengan kalimat-kalimat pendek bahasa Inggris kami berkenalan dan bertukar cerita. Dan bahkan kalimat-kalimat selanjutnya dari dua pak tua membuat giliran saya sedikit ternganga. Dengan penuh keterpesonaan mereka bercerita tentang keindahan Gunung Rinjani karena mereka baru saja kembali dari sana sebelum ke Annapurna Base Camp. Tentu saja saya bangga karena kekaguman mereka sekaligus sangat malu karena saya belum pernah menjejak di Rinjani, walaupun sudah banyak tempat di Lombok sudah saya singgahi. Ah, pertemuan ini pastilah bermakna, karena tidak mungkin hanya sebuah kebetulan belaka.

Kami beranjak melangkah bersama menuju Chhomrong. Sebelum pertigaan, langkah kami terhenti, memberi jalan rombongan keledai dengan bunyi-bunyi khas klenengan yang tergantung di leher. Seakan tersihir bunyi klenengan yang ‘ngangeni’ itu, saya diam tanpa ekspresi melihat Dipak dan Kedar berdiri menanti di ujung seberang. Rasanya saya malah sedikit mellow karena akan berpisah dengan kedua Pak Tua Korea, entah kenapa. Saat keledai terakhir telah lewat, saya menoleh kepada mereka lalu mengucapkan salam perpisahan. Saya percaya, walaupun hanya sebentar saja, pertemuan dengan kedua orang itu, telah memberi warna dan makna dalam kehidupan saya. Siapa sangka ada orang asing yang mengingatkan tentang keindahan Gunung Rinjani di Indonesia di tengah-tengah pemandangan indah di kawasan Annapurna? Rasanya seperti dijewer dengan cinta…

Dan laksana kehidupan, mereka melanjutkan perjalanan mungkin menyampaikan pesan Semesta lainnya, sementara saya mengayunkan langkah ke penginapan dekat pertigaan. Jelang sore itu, pemandangan pegunungan Himalaya bertudung salju disembunyikan dari saya. Tampak awan gelap menyelimuti puncak-puncak gunung dan jalur menuju ABC tampak begitu kelam. Ah, semoga besok pagi saya diberi berkah agar bisa menyaksikan pemandangan indah.

Bersambung…

DSC00230
Heavy clouds on the way to ABC

D-4 Trekking di Nepal – Gurung Hill, Rumah Bumi dan Phobia


The earth has music for those who listen – William Shakespeare

Gurung Hill

Pagi yang cerah, -seakan-akan menggantikan cuaca buruk kemarin (baca ceritanya)-, menjanjikan sebuah keindahan. Dan sesuai janji Dipak, ia akan menunjukkan jalan ke Gurung Hill, -tempat melihat rangkaian puncak bersalju, yang jalannya tepat di depan penginapan. Dan saya sungguh berharap pagi ini bisa melihat pegunungan bersalju sebagai pengganti situasi berawan di Poon Hill sebelumnya (baca ceritanya)

Berbeda dengan jalan ke Poonhill, untuk sampai ke Gurung Hill, saya hanya menanjak sedikit untuk sampai ke sebuah tanah lapang yang menyuguhkan pemandangan pegunungan bersalju yang indah dan didominasi Gunung Dhaulagiri, 8146m.

gurunghill
The view in Gurung Hill
Gradation
Layers of Mountains

Mengingat kondisi habis hujan malam sebelumnya, Dipak meminta saya untuk tidak mendaki lebih dari tanah lapang namun ia membiarkan Pak Ferry dipandu Kedar ke atas. Mungkin ia tidak mau repot dengan perempuan kota melewati tempat becek penuh rintangan. Namun ia konsisten mendampingi di lapangan dan meyakinkan pemandangannya sama. Bedanya hanya ada tower dengan prayer-flags. Dan sebagai penikmat pinggir jurang, saya terpukau melihat pemandangan cantik sambil berjalan jauh ke pinggir sampai Dipak menarik saya menjauh dari tepi jurang yang dalam. Sebenarnya saya masih ingin maju karena posisinya tepat untuk memotret pegunungan berkabut dengan degradasi biru. Tetapi saya memahami concern-nya, bagaimana seandainya jatuh? Bergidik lalu saya mengubah fokus foto ke bunga rhododendron pink berlatar gunung berpuncak salju.

Rasanya waktu berjalan cepat karena tak lama kemudian Pak Ferry dan Kedar sudah terlihat di ujung tanah lapang. Untung saya tidak naik karena Pak Ferry juga menceritakan jalan yang tidak mudah dan becek. Dan sebelum meninggalkan Gurung Hill, sebuah foto persahabatan dibuat mengandalkan kamera yang diletakkan diatas ransel. Hasilnya? Jangan tanya gesture-nya, semuanya aneh.

deurali
Our guesthouse in Deurali

Setelahnya kami kembali ke penginapan bersiap melanjutkan perjalanan hari itu. Saya mencari wajah teman tunawicara namun tak terlihat batang hidungnya. Sampai bertemu lagi, Teman, suatu saat nanti. Lalu timbul sekelumit rasa dan keinginan untuk mengenang Deurali, sehingga saya membeli sebuah gelang biru di lapak depan penginapan. Sebuah pengingat. Memory. Lalu satu lagi foto persahabatan dibuat untuk mengingat pernah menjejak di Deurali. Seribu satu kesan telah terukir. Entah kapan saya kembali…

Jeri Pada Ketinggian

Seperti biasa, Pak Ferry dan Kedar berjalan di depan, Dipak dan saya di belakang. Tetapi yang tidak biasa adalah Pak Ferry berjalan sangat lambat karena jalanan menurun curam. Ia menapak sangat hati-hati sementara saya bisa melangkah cepat. Ternyata Pak Ferry memiliki sedikit masalah ketinggian hingga ia jeri melihat jalan di depannya curam ke bawah. Saya kaget juga karena Pak Ferry telah banyak naik-turun gunung di Indonesia. Walaupun saya penikmat pinggir jurang, kenyataan ini membuat saya berpikir, adakah manusia yang benar-benar bebas dari rasa jeri saat berada di ketinggian?

downhill
Down and down and down

Melihat kenyataan ini, Dipak memutuskan untuk menemani Pak Ferry berjalan dan menyuruh saya ke depan bersama Kedar. Saya telah belajar dari pengalaman sebelumnya ketika menuruni jalan-jalan curam dalam hujan es secara cepat. Dan selanjutnya begitulah, setiap turunan curam, saya berganti pasangan dengan Kedar, porter handsome calon bintang film, kata Pak Ferry. Kedar dengan beban berat di punggungnya selalu tersenyum lebar berjalan cepat bersama saya menuruni lembah. Saya melangkah tak lagi berpikir, hanya mengikuti irama kaki hingga rasanya begitu ringan terbang melayang.

Rumah Bumi

Turunan-turunan curam itu terhenti sejenak pada sebuah pelataran yang dipenuhi cairns, batu-batu yang ditumpuk keatas sebagai lambang keseimbangan. Namun bagi saya, pelataran cairns ini sebagai penanda. Entahlah, mungkin bagi pejalan lain tempat ini hanya berupa pelataran cairns biasa, namun bagi saya sampai di tempat ini seakan diberi pesan berada di tempat dan waktu yang tepat. Bukan hanya jalurnya melainkan waktunya juga tepat. Saya tersenyum sendiri menyaksikan kupu-kupu kuning kembali mendekat. Hati ini tercekat, meluruh bersama Semesta. I’m so blessed…

cairns-on-river
Cairns on the river

 Saat tea-break di Banthanti, kami semua terpesona akan ketrampilan kera-kera menuruni tebing vertikal. Jika saja Ibu pemilik tea-house itu tidak membuat keributan untuk mengusir kera, kami pun tidak menyadari kehadiran hewan-hewan itu di tebing. Bahkan mata yang awas pun harus teliti mencari kera diantara semak di tebing vertikal itu. Adakah yang mampu melawan hukum alam?

monkey
Can you find 2 monkeys here?
forests
The Forest

Setelah rehat menikmati teh hangat, perjalanan dilanjutkan melewati hutan eksotis karena batang-batang pohonnya telah kehilangan kulit. Jalan semakin mudah dengan tanjakan landai dan menghamparkan pemandangan luar biasa. Bukit-bukit penghubung dengan Himalaya itu berjajar indah dengan lembah-lembahnya yang membentuk huruf V. Sambil menggumamkan pujian kepada Pemilik Semesta, selintas terpikir, apakah Tuhan sedang tersenyum saat bumi Nepal terbentuk? Begitu indah sehingga mampu membasahkan mata.

Setelah makan siang kentang goreng di Tadapani, -karena sudah bosan dengan Dal Bhat atau mie-, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini jalannya kembali menanjak landai, -walaupun bagi orang Nepal jalan seperti itu dibilang datar-, sehingga saya tertinggal lagi oleh duo sekawan Pak Ferry dan Kedar. Hingga tiba di satu tempat yang terbuka, saya meminta Dipak untuk berhenti karena saya mendengar suara alam begitu indah. Saya mengamini kata Shakespeare, the earth has music for those who listen. Heningnya alam, hijaunya pepohonan, desir angin, keindahannya terasa seperti musik di telinga, begitu sempurna. Serta merta saya duduk menikmati musik alam dalam keheningan. Perjalanan ini luarbiasa, tanpa diminta, saya mendapat kesempatan untuk menyatu dan menikmati suara alam, tanpa kegaduhan manusia. Inilah Rumah Bumi bagi saya…

home2
Rumah Bumi – where the heart is…

Saya tak bisa berlama-lama di Rumah Bumi karena awan tebal mulai menggantung. Karena mengambil jalan potong, di jalan Dipak dan saya terhalang sebuah pagar besi yang menutupi jalan dan satu-satunya cara untuk melewatinya, dengan mengayunkan tubuh menumpu tiang pagar di sisi jurang. Sempat tergidik saat berpikir bagaimana Kedar dengan beban berat harus mengayun badan diatas jurang. Namun hoplaaa…  saya sukses mengayunkah tubuh yang berlebih ini.

Pak Ferry sudah santai di halaman sambil membaca buku ketika saya mencapai penginapan di desa Chuile yang menghadap lembah dengan sungai jauh di bawahnya. Indah sekali. Dan jahilnya, saya tergerak pamer gaya duduk di pinggir jurang dengan kaki menggantung di jurang yang bisa membuat orang yang phobia ketinggian, senewen. Tapiiiii… ternyata kejahilan itu langsung terbalas!

guesthouse-view
The view of our Guesthouse in Chuile

Law of Attraction

Kaki terasa begitu merdeka, terbebaskan dari sepatu setelah seharian berjalan. Dengan mengenakan sandal, saya ke halaman untuk menikmati kopi sambil melihat pemandangan. Tetapi sayang, berlama-lama menikmati pemandangan bukan rejeki saya sore itu, karena tidak lama kemudian gerimis turun yang semakin deras, membuat semuanya kembali ke kamar. Hujan es lagi! Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali istirahat atau mandi. Pilihan kedua menjadi prioritas karena dalam trekking mandi air hangat sungguh sebuah kemewahan.

Tapi yang terjadi sungguh tak terduga! Baru saja hendak menyabuni kaki ketika saya melihat sekilas ada yang aneh di antara jempol dan telunjuk kaki. Sesuatu yang membuntal gendut seperti tambahan jari. Dan sepersekian detik saya tersadar sepenuhnya, membuat saya menggigil ketakutan. 100% takut dan geli. Lintah!

intheedge
Showing off the shoes in the edge

Sepersekian detik itu, -ketika sadar saya terkena lintah-, tanpa pikir panjang, saya pukul, -entah dengan apa, pokoknya sedapatnya alat ditangan-, sambil jejeritan ketakutan di kamar mandi memukul-mukul si gendut itu hingga lepas. Suatu tindakan yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Tetapi jangan tanya boleh atau tidak, saya tidak berteori lagi, yang penting si gendut itu lepas. Dan setelah lepas, saya mengenakan pakaian secepat kilat lalu lompat-lompat kangguru kembali ke tempat tidur tanpa peduli lantai antara kamar mandi dan tempat tidur dipenuhi bercak darah.

Terduduk lemas gemetaran di tempat tidur, saya langsung membongkar ransel mencari Betadine, lalu menenangkan diri sejenak. Dan setelah membersihkan semua yang berceceran, saya terdiam lalu tersenyum sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala menyadari Pemilik Semesta mengajarkan segala sesuatu dengan caraNya sendiri. Sebuah ketakutan, keberanian atau keterpaksaan menghadapinya sendiri tanpa bantuan, hingga akhirnya sebuah pengertian akan sebuah kejadian.

Jika paham Law of Attraction, maka hati-hatilah dengan ketakutan Anda. Lintah ini contohnya. Sebagai perempuan kota, saya jarang sekali berkegiatan outdoor di Indonesia. Alasannya, karena amat sangat takut (atau lebih tepatnya geli) yang namanya lintah, ulat, cacing, kecoa dan sejenisnya. Anak saya saat balita pernah berbahagia sekali saat ia berlari mengejar ibunya sambil membawa daun berisi ulat yang gendut sementara saya jejeritan. Nah, sebelum trekking, saya google semua yang terkait lintah. Bahkan periode trekking pun disesuaikan supaya tidak dijalankan pada musim lintah. Dan saat trekking, -walau dengan sepatu waterproof-, sebisa mungkin saya menghindari genangan atau tempat yang becek atau lembab. Saya begitu paranoid karena ‘katanya’ lintah bisa jatuh dari pepohonan, bisa masuk saat duduk istirahat, saat menginjak genangan atau tempat becek, bisa ke punggung, bisa menembus sepatu hingga menempel ke kaki, dan seterusnya. Ampun… amit-amit banget dengan lintah… Dan karena ketakutan itulah tanpa sadar saya terus menghadirkan lintah dalam benak. Dan demikianlah Law of Attraction berjalan. Si lintah benar-benar datang dan menempel pada jari saya, satu kejadian yang sama sekali saya takutkan.

Dan cerita tentang penghisap darah itu belum berakhir sampai situ. Setelah makan malam, Pak Ferry, Dipak dan saya ngobrol panjang lebar. Hingga suatu saat, saya melongok ke bawah mencari sandal. Saya terkejut karena, -walaupun temaram-, di bawah meja terlihat cukup banyak tetesan darah dari kaki saya. Pasti kelanjutan akibat si gendut lintah. Otomatis saya mengambil tissue untuk membersihkan lantai dan menekan pendarahan. Namun apa yang saya lakukan membuat kedua sahabat seperjalanan itu terkejut dan langsung sibuk seakan-akan saya terluka parah. Pak Ferry langsung ke kamarnya untuk mengambil peralatan P3K. Namun darah tetap menetes. Akhirnya Dipak mengambil alih. Sebenarnya saya segan seorang laki-laki Nepal memegang jempol kaki, rasanya tidak pantas sekali. Tetapi ia pemandu yang lebih berpengalaman. Saya menurut padanya. Entah apa yang dia lakukan, saya hanya diminta untuk menekan luka lalu melanjutkan obrolan. Hebatnya, tak lama kemudian pendarahannya berhenti. Saya sungguh berterimakasih kepada Dipak dan malam itu saya terpincang-pincang kembali ke kamar menopang mereka berdua sambil menambah gelar Dipak sebagai the leech doctor 😀

 

D-3 Trekking di Nepal – Dihajar Hujan Es


There are no mistakes or failures, only lessons –  Denis Waitley

Setiap langkah trekking membawa saya pada berbagai pembelajaran. Setiap hari bertambah pengalaman yang memperkaya rasa, tentang kekuatan diri, tentang warna orang-orang yang menolong, tentang tanggung jawab, keberanian, juga pembelajaran dari alam, dan tentu saja kebaikan hati.

Menghargai Kekuatan Diri Manusia

Penginapan bertingkat itu sudah sepi ditinggalkan para trekker sejak pagi menyisakan kami yang merupakan rombongan terakhir. Sedikit sendu saya melangkah menuju halaman, meninggalkan tempat yang mengukir kenangan tak terlupa tentang sebuah pemberontakan isi perut (baca cerita soal itu). Saya hanya perlu belajar lebih mengenal diri sendiri. Tidak ada kesalahan atau kenangan buruk, semua akan menjadi cerita indah sebagaimana saya juga siap menerima cerita-cerita lain di tempat baru di hari ketiga trekking ini.

Sambil menunggu Dipak menyelesaikan administrasi, di halaman saya menyaksikan Pak Ferry mencoba menjadi porter seperti Kedar, dengan meletakkan pusat tali yang mengikat tas bagasi besar yang sangat berat itu di kepalanya. Berhasil, bahkan pak Ferry juga berhasil berjalan dari ujung ke ujung halaman. Sebenarnya saya kuatir akan kekuatan leher dan kepalanya. Jika ada apa-apa dengannya, bagaimana saya harus cerita kepada keluarganya?

Try to be a porter
my friend tried to be a porter (photo credit to Pak Ferry’s)

Saya tak menyadari kehadiran Dipak yang tersenyum lebar menyaksikan unjuk kekuatan di halaman itu. Pak Ferry yang mukanya memerah akibat mengangkat tas bagasi, mengakui beratnya tas untuk dibawa orang normal apalagi dengan menggunakan kekuatan otot leher. Ah, sebagai perempuan satu-satunya dalam rombongan kecil, saya menggeleng-gelengkan kepala sambil mencoba memahami apakah semua laki-laki itu perlu kesempatan untuk bisa unjuk kekuatan fisik? 😀

Namun, pertunjukan sesaat itu membuat saya semakin menghargai pekerjaan Kedar, porter kami untuk trekking kali ini. Dia, yang menurut Dipak berasal dari keluarga tak mampu, hanya bisa mengandalkan kekuatan fisiknya untuk berjalan membawa beban mengikuti alur gunung dengan pakaian dan sepatu seadanya, hanya untuk mendapat sedikit uang. Banyak trekker tak ingin menggunakan jasa porter karena merasa tak memerlukannya, padahal dengan menggunakan jasa porter, trekker telah membantu secara langsung sebuah kehidupan di Nepal.

Ketiga sahabat seperjalanan mulai melangkah pergi, saya sejenak menoleh ke belakang, membisikkan kata perpisahan pada tempat yang menjadi saksi diam keindahan Himalaya. Entah kapan saya bisa kembali lagi ke tempat ini.

Dalam beberapa saat kami berjalan mendekati batas desa karena bangunan semakin jarang dan  akhirnya terlihat sebuah gapura. Saya kembali berfoto disitu. Kali ini untuk meninggalkan Ghorepani.

Our Porter waiting in the Ghorepani's Gate
Our Porter waiting in the Ghorepani’s Gate – See You Again…

 Sebuah Tanggung Jawab

 “Where is your trekking pole?”, tanya Dipak mengejutkan setelah berjalan santai sekitar sepuluh menit.

Rasanya seperti ketahuan menyontek saat ujian, saya langsung berdiri diam membeku. Trekking pole merupakan benda pinjaman dari agen trekking dan menjadi tanggung jawab saya selama trekking. Kini benda itu tidak di tangan padahal saya biasa menggunakannya selama berjalan. Untungnya otak masih cukup bagus untuk mengingat tempat terakhir saya meletakkannya. Pasti di sudut kamar. Merasa bersalah, saya katakan tempatnya sambil balik arah untuk mengambilnya tetapi Dipak mencegah. Ia akan mengambilnya dan meminta saya berjalan terus karena ia bisa menyusul. Rasanya saya terjun bebas ke jurang, malu dan tak enak hati, ini benar-benar sebuah keteledoran!

Sambil mengutuk diri, saya terus berjalan menuju rindangnya hutan rhododendron yang berdaun hijau karena musim bunga sudah berlalu. Terlintas di benak anjuran untuk forest bathing, -bukan mandi di tengah hutan-, melainkan menikmati jalan-jalan di hutan yang katanya bisa menurunkan stress. Mungkin benar karena memang nyaman jalan-jalan di hutan. Tapi untuk situasi saya  saat ini? Ugh…

Belum lama berjalan di hutan, Dipak sudah menyusul lalu menyerahkan trekking pole yang tertinggal itu. Malu ditambah rasa bersalah, saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Rasanya seperti menghujam ke inti bumi. Ironis sekali, berada di dalam hutan rindang yang katanya bisa menurunkan stress tapi saya menerima barang, -yang merupakan tanggung jawab saya-, dari seseorang yang bersedia mengambilnya kembali hanya karena saya LUPA! Sepertinya guilty feeling itu menaikkan stress.

A Horse in tranquility
A Horse in tranquility

Kegembiraan trekking

Bagaimanapun semua sudah terjadi dan saya harus meneruskan perjalanan menuju perbukitan yang lebih terbuka. Kami bertemu dengan tiga trekkers yang datang dari arah berlawanan, yang meminta kepastian arah menuju Ghorepani. Wajah mereka bahagia karena jalurnya menurun, berlawanan dengan jalur kami yang masih terus menanjak walaupun lebih landai daripada hari sebelumnya. Dua sahabat seperjalanan, Pak Ferry dan Kedar, terlihat gembira untuk berlomba mencapai puncak bukit, entah siapa yang menang. Saya sendiri, seperti biasa, menjadi buntut. Di sisi kanan, Dipak duduk di batu tampak bahagia bisa menelepon. Bahagia itu memang sederhana…

The trekking path
The trekking path

Sambil mengatur napas karena jalannya menanjak, saya mengerahkan daya untuk merekam suasana sekitar yang menenteramkan ke dalam jiwa. Alam itu sangat indah. Saya melihat Dipak yang sudah menyusul lalu berteriak menyemangati dari puncak bukit. Last Ukalo, katanya, yang berarti tanjakan terakhir. Yeeiy…

Akhirnya di puncak bukit itu saya mendapati Pak Ferry tidur dengan buku menutupi wajahnya. Bahagianya! Kedar dan Dipak mengobrol sambil mengunyah kurma dari Pak Ferry dan membuang bijinya ke semak-semak sekitar. Mungkin sekian tahun lagi akan tumbuh pohon kurma di pegunungan Himalaya 😀

Dihajar Badai dan Hujan Es

Rehat bubar karena kabut turun dengan cepat. Segera saja Kedar dan Pak Ferry tancap gas meninggalkan saya yang menyempatkan mengambil foto kabut menyelimuti kawasan dengan jurang di kanan dan tebing di kiri. Dipak meminta saya bergegas melihat cuaca yang mulai tidak bersahabat. Rasa kuatir di wajahnya membuat saya mematuhinya, mempercepat langkah ke Deurali.

Guntur menggelegar, mengikuti kilat yang datang terlebih dahulu. Jeda diantara keduanya masih cukup jauh, walaupun saya tetap harus waspada berjalan dengan tebalnya kabut. Namun selaras dengan waktu, kilat dan guntur pun semakin sempit jedanya dan semakin sering terdengar dan akhirnya hujan pun jatuh. Cukup deras! Di depan mata hutan kembali menghadang. Aduh…

Walaupun jalannya lebih landai, beberapa kali saya hampir jatuh tersandung akar-akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah. Untung trekking pole cukup kuat menopang saya walaupun di beberapa tempat yang terjal Dipak sampai harus mengulurkan tangan untuk membantu. Dasar saya orang kota, -yang tidak terbiasa jalan di hutan, kehujanan, dingin lagi-, beberapa kali saya ‘telmi’ untuk menapakkan kaki terutama di turunan terjal. Sepertinya saya terlalu banyak berpikir, padahal kaki sudah mengarah yang benar tetapi pikiran saya menghentikannya. Kaki dan pikiran tidak seirama. Pelan-pelan saya mencoba menyelaraskan pikiran dengan irama kaki. Saya belajar untuk mempercayakan keselamatan tubuh kepada irama kaki dan hei… langkah menjadi lebih ringan. Ah, kadangkala alam membiarkan saya belajar pada waktu yang aneh. Hujan-hujan begini, di hutan lagi…

Jas hujan yang menutupi setengah badan, membasahi bagian bawah celana trekking yang baru saja saya ganti di Ghorepani. Untungnya, kaki dalam sepatu tetap kering. Saya teringat saat membeli sepatu beberapa waktu sebelumnya. Penjual sepatu itu menyarankan yang waterproof walaupun tidak keren dan sedikit mahal. Tak sadar saya tersenyum dalam hujan, berterima kasih pada penjual sepatu karena saat ini terbukti ucapannya.

Di hutan yang agak terbuka saya baru tersadar, sebenarnya yang menerpa kami di menit-menit terakhir adalah hujan es, bukan hujan biasa. Ya benar, hujan es! Butiran-butiran es itu terasa saat jatuh di jas hujan. Dalam keadaan itu, saya berhenti sejenak sambil mengangkat lengan ke atas dan menyaksikan butiran es itu jatuh di lengan dan bergulir. Walaupun cukup kedinginan, saya terpesona. HUJAN ES! Dipak tertawa melihat saya seperti anak kecil yang baru pertama kali merasakan nikmatnya mandi hujan.

Deurali Yang Hangat

Tak sampai satu jam, rumah pertama di Deurali, destinasi kami, sudah terlihat. Dan kami berhenti di sebuah penginapan sederhana di tengah desa yang di pintunya berdiri Pak Ferry dan Kedar. Selama kurang dari dua puluh empat jam ke depan, penginapan sederhana ini akan menjadi tempat persinggahan kami.

Penginapan di Deurali ini berpusat di sekitar tungku. Saya meriung bersama sahabat seperjalanan di depan tungku menghangatkan badan. Sepatu, kaos kaki juga berjejer rapi di lantai dekat tungku. Kakek pemilik rumah tampak nyenyak tertidur di pembaringan depan tungku. Saya sedikit iri padanya, bisa terus tidur tanpa terganggu oleh kehadiran kami. Rasanya pasti hangat dan nyaman.

Saat meriung itulah kami berbagi cerita saat melewati hujan es. Ternyata Pak Ferry melewati badai hujan es sendirian. Kedar ternyata tidak dapat dikejar olehnya. Masih beruntung ia berpengalaman menjelajah gunung-gunung di Indonesia dan terus berjalan menembus hutan karena jalan setapak cukup jelas terlihat. Saya menggeleng-gelengkan kepala membayangkan saya sendirian menembus hutan dan kedinginan… hiiii…

Di penginapan sederhana itu, saya juga bertukar ‘sapa’ dengan seorang kerabat pemilik rumah. Walau ia tunawicara, ia sangat baik terhadap saya. Di saat seluruh sahabat seperjalanan harus bergantian charging ponsel di tempat yang terbatas, ia memberi saya secara personal tempat lain yang lebih banyak. Ia tersenyum lebar melihat kegembiraan saya saat ponsel aktif kembali. Tunarungu bukan berarti kehilangan kebaikan, kan?

*

Cuaca hari itu tetap sendu hingga malam, jadi kami hanya bertukar cerita di depan tungku sampai jelang waktu tidur. Di kamar, sebelum terlelap saya merenung hari yang sungguh luar biasa, pengalaman diterpa hujan es, berteman dan ditolong oleh orang-orang luar biasa. Setiap detiknya yang penuh dengan keluarbiasaan. Di tempat-tempat sederhana ini, saya terus diperkenalkan dengan indahnya hidup. Walau jauh dari rumah dan keluarga, di ketinggian pegunungan Himalaya yang dingin, saya aman berada di dalam sebuah rumah yang hangat dengan orang-orang yang memiliki kepribadian hangat. Dia memang tak pernah meninggalkan saya dalam kesendirian, selalu melimpahkan berjuta kebahagiaan…

(bersambung)

WPC – The Place I Left My Heart


Ranibanretreat

Frequently I have difficulties to say goodbye to the city when I have to move on to another city during my travelling, especially when the time comes to go back to my home country and I don’t know when I can visit there again. But among those memorable cities, only a few cities on which I totally left my heart. No matter what, I will do my best to make time to visit these cities again, at least once in a year (last year I did twice 🙂 )

Some of you who follow my blog, will know that I have left my heart on the cities of Nepal. I have a lot of unforgettable memories on my first trip to Nepal four years ago which made me falling in love with Nepal.

One of those memories was in Raniban Retreat, in Pokhara, at the hotel’s rooftop where I can see 360 degree panorama view of the snow-capped Annapurna Range, Phewa Lake, the city of Pokhara and the stunning sunrise above the sea of clouds over the hill with the World Peace Pagoda on top of it. The breathtaking view I can see just standing in one spot! Well, that view had changed me, because for the first time, I extended my stay there. I know the hotel’s rooftop will be my favorite place to recharge my energy. It’s the place where I can just do nothing, just enjoying the view like heaven on earth and feel blessed.

 

p1010641
Morning has broken – the sun over World Peace Pagoda and sea of clouds
p1010627
Phewa Lake and City of Pokhara