Berjuta Rasa di Masjid Al Aqsa


Mendadak saya membuka mata, setengah terjaga dan bermimpi karena merasa seakan Cinta berbisik halus di telinga, seperti biasa ketika membangunkan di akhir malam. Sekarang waktunya, bukankah impian itu perlu diwujudkan? Meski mata masih terasa lengket, ini bukan mimpi karena saya telah dihadapkan pada pilihan antara meneruskan tidur untuk memanjakan raga atau melompat bangun untuk bisa mendirikan shalat di Masjid Al Aqsa? Ah, pilihan yang sangat menggoda.

Tapi dalam sepersekian detik, gambaran keemasan kawasan Masjid Al Aqsa di kegelapan malam langsung bertengger kuat di benak (baca cerita sebelumnya di post: Al Aqsa, Ikon Keemasan Dalam Kegelapan Malam). Cinta telah berhasil membuat saya terjaga sepenuhnya karena Al Aqsa sama sekali bukan lagi pilihan, melainkan sebuah tujuan dan alasan utama saya berada di tempat ini, bisa menginjakkan kaki di Masjid Al Aqsa dan mendirikan shalat didalamnya.

Bersabarlah, sebentar lagi, sebentar lagi… kata-kata ajaib itu selalu bertalu, yang meskipun rasanya terdengar terlalu nyaring di benak namun tetap berhasil menyeimbangkan desakan keinginan yang menggebu. Saya menarik nafas panjang. Inilah waktunya…

Tanpa perlu perintah, saya bersiap dan turun segera ke lobby bergabung dengan rombongan yang berbalut jaket tebal. Suhu udara Jerusalem di hari-hari terakhir bulan Desember memang cukup dingin menggigit, apalagi jelang subuh ketika suhu udara mencapai titik terendahnya.

Dan begitu pintu depan hotel terbuka, angin dingin langsung menerpa wajah yang mengingatkan situasi serupa ketika di Madinah. Segera saya melangkah keluar menyusuri trotoar, tersenyum sendiri menyadari jiwa petualang yang melesak ingin menikmati kota Jerusalem modern. Maafkan Cinta, dua bola mata ini bergerak melihat kesana kemari, mencoba menyerap sebanyak-banyaknya situasi meski hanya di sepenggal jalan Jerusalem.

Lalu di depan mata menjulang Gerbang Herod yang terbilang paling muda usianya, -aksesnya dibuka sekitar abad ke-16. Saya hanya perlu menyeberang jalan dan Alhamdulillah Ya Allah, saya sampai juga di gerbang kota tua tiga agama ini! 

Gerbang Herod

Begitu banyak rasa yang membuncah memenuhi jiwa saat saya melangkah melalui gerbang Herod yang tebal dan kokoh serta mampu membuat kepala saya berputar menengadah. Membayangkan keadaan di masa silam, ketika sudah menjadi hal yang lumrah sebuah kota terkenal memiliki benteng keliling yang kokoh untuk menghindari serangan musuh.h

Termasuk Jerusalem.

Entahlah sudah berapa ratusan atau ribuan kali benteng itu menjadi saksi bisu kota Jerusalem dikepung, diserang, diduduki dan dihancurkan, dibangun kembali, oleh orang-orang dengan nama besar. Jerusalem seperti gadis cantik yang terus menggoda untuk ditaklukan. Bahkan hingga kini pun, Jerusalem terus menjadi wilayah yang tak pernah damai dalam waktu lama. Benar-benar kota dengan dinamika yang dahsyat. Kini, saksi bisu itu masih utuh berdiri dengan delapan gerbang, -tujuh gerbang terbuka dan satu gerbang yang masih ditutup-, yang menjadi akses bagi masyarakat sekitar dan penghuninya untuk memasuki kota tua Jerusalem yang terbagi menjadi empat kawasan utama yaitu Kawasan Muslim, Kristen, Yahudi dan Armenia. Dan Gerbang Herod adalah salah satu gerbang yang digunakan untuk memasuki Kawasan Muslim.

Gerbang Herod belum lama tertinggal di belakang, suasana masih relatif sepi, -mungkin karena kota tua ini belum sepenuhnya terjaga-, meskipun di balik pintu dan jendela yang tertutup tak jarang terdengar kesibukan, menandakan manusia di dalamnya sudah bersiap menyambut hari. Makin jauh saya meninggalkan gerbang Herod, makin banyak pintu-pintu rumah sejenak terbuka dan sejumlah laki-laki berbalut jaket melangkah keluar dan bergabung bersama menuju Masjid Al Aqsa.

Assalamu’alaikum… Ah, merdunya suara sapa sesama saudara. 

Jalan menuju Masjid Al Aqsa itu sejatinya bisa disebut lorong atau gang karena membelah rumah-rumah padat penduduk yang kebanyakan dari Bangsa Palestina itu. Uniknya lorong itu kadang menanjak atau menurun mengikuti kontur alam Jerusalem yang berbukit, bisa menggunakan anak-anak tangga yang landai atau bisa juga melangkah di jalanan yang dibentuk dari lempengan batu yang rata. Hanya saja, pilihan terakhir ini kadang harus bersaing dengan kendaraan kecil beroda pengangkut barang. 

Kaki terus melangkah dan ketika sampai di sebuah persimpangan, saya membaca nama jalannya, Via Dolorosa. Pikiran ini otomatis melesat ke jaman sekolah dulu. Sebagai orang yang pernah belajar di sekolah Katolik bertahun-tahun, saya cukup paham bahwa nama jalan ini akan menggugah rasa dari kawan-kawan Kristiani. Jalan ini, lebih dari dua ribu tahun lalu,  dipercaya digunakan oleh Yesus memanggul salibnya dengan penuh penderitaan. Duh, saya tak terbayangkan bagaimana rasa mereka apabila sampai ke lokasi ini. Melakukan Jalan Salib di tempat aslinya, merasakan sendiri bisa berdiri dan berjalan di tempat yang sama, menapak tilas sebuah penderitaan yang tak terperi, tentu bisa mencuci jiwa, memperkuat rasa percaya.

Lorong masih terasa temaram ketika telinga mendengar adzan yang dilantunkan dari Masjid Al Aqsa. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Rasanya ingin terbang segera sampai di pintu Masjid…

Otomatis saya bergegas, mungkin karena terbiasa di Indonesia jarak waktu antara adzan dan iqomah (dimulainya shalat) sangatlah sempit. Tentu saja saya tak ingin tertinggal shalat di Masjid Al Aqsa yang menjadi destinasi impian selama ini. Sudah sejauh ini, sudah melewati tantangan dan hambatan, mana mau saya tertinggal? 

Jaraknya tak lagi jauh, tetapi mata saya bisa menangkap paling tidak ada dua orang tentara Israel dengan senjata lengkap berjaga di puncak tanjakan landai. Hati saya berdesir, sepagi ini mereka sudah bersiaga. Ah saya terlupa, 24 jam mereka berjaga, tak pernah kosong dan karenanya segala sesuatu bisa terjadi. Saya mengikhlaskan segala rencana kepadaNya. Meskipun tinggal beberapa langkah bisa masuk ke kawasan Masjid, tetap saja saya berdoa agar bisa mendapat kesempatan mendirikan shalat di Masjid Al Aqsa. Bersabarlah, sebentar lagi, sebentar lagi… 

Saya menyiapkan paspor, jika mereka memintanya. Tetapi, Alhamdulillah Ya Allah, mereka melewatkan rombongan semua sambil sesekali melirik sekilas dan melanjutkan bicara di antara mereka. Sekali lagi saya mendengar bahasa yang terasa asing di telinga, sama seperti di perbatasan waktu itu (bisa dibaca di pos Kebat-Kebit di Perbatasan Israel). Saya tahu, meskipun mereka terlihat mengobrol santai di antara mereka, sikap siaga lengkap dengan senjata menunjukkan mereka sesungguhnya tidak sedang bersantai. Dalam hitungan detik mereka bisa berubah dan bersikap keji. Memang terlihat santai tetapi mereka sangat terlatih melihat gerakan kecil yang mencurigakan dan berpotensi mengubah keadaan dari aman-aman saja menjadi peristiwa mengerikan. Rasanya hanya satu, tidak nyaman berjalan di dekat mereka. 

Tetapi biarlah rasa itu berlalu karena kaki ini telah melangkah menuju pintu hijau yang tidak selamanya terbuka itu. 

Pintu menuju kawasan Masjid Al Aqsa!

Kebun Zaitun

Dan laksana melewati sebuah portal, saya berpindah ke kondisi rasa yang jauh berbeda. Saat kaki ini menginjak tanah kawasan Al Aqsa, hati ini luluh lunglai, tunduk sepenuhnya dalam genangan haru. Alhamdulillah Ya Allah tanah seluas 144.000 meter persegi itu sungguh tak mudah didatangi, namun diri ini berkesempatan menginjak dan berjalan di atasnya. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala tak percaya. Sungguh nyatakah ini? 

Saya berjalan melintasi kebun zaitun dengan bergegas. Dan tampaklah kubah keemasan itu. Masjid Kubah Batu (Qubattus As Shakhrah) atau lebih dikenal dengan Dome of The Rock yang berwarna keemasan itu menerangi langit Jerusalem yang masih gelap. 

Saya tidak bisa berlama-lama menatap keindahannya karena harus segera melangkahkan kaki ke Masjid Jami Al Aqsa atau sering disebut dengan Masjid Al Qibli, yang berada di sebelah Selatan dari Masjid Kubah Batu. Mesjid ini dan juga masjid Al Qibli, sering menjadi simbol penyempitan arti dari Masjid Al Aqsa yang sebenarnya. Sejatinya Al Aqsa atau disebut juga Baitul Maqdis mencakup kawasan seluas 144.000 meter persegi yang di dalamnya terdapat tujuh buah Masjid dan semuanya berada di tanah yang suci, yang bahkan dalam beberapa tulisan menyatakan bahwa Al Aqsa berdiri di atas tanah haram yang berarti tidak diperbolehkan adanya pertumpahan darah di atasnya. Wallahu’alam. 

Pandangan saya terus terpaku di kubah keemasan Dome of the Rock sementara kaki melangkah. Mata belum puas, betapa ingin saya mengelilingi bangunan berkubah emas itu namun untuk sementara hati diluruskan pada niat untuk mendirikan shalat Subuh. Sungguh saya tak percaya bisa melewati bangunan Masjid Kubah Batu begitu saja, padahal selama ini foto-foto tentang bangunan ini memenuhi database di ponsel dan notebook. Tetapi itulah hidup, karena ada begitu banyak prioritas yang harus didahulukan. Seperti saat ini, saya sudah melewati sebuah lingkaran tempat wudhu yang terbuka, dan di hadapan mata terdapat pintu-pintu Masjid Al Qibli yang berkubah perak keabuan. 

Di pintu masuk lagi-lagi saya menggigit bibir untuk memastikan saya tak sedang bermimpi.  Alhamdulillah ya Allah, saya benar-benar bisa berdiri di tempat ini, di tempat yang saya inginkan sejak lama. Betapa besar anugerah yang Engkau limpahkan. Saya menutup mata, menyembunyikan airmata yang merebak di kelopak. 

Karpet merah yang menghampar di depan mata, tidak akan pernah saya lupakan. Karpet merah ini yang berkali-kali dinodai oleh sepatu-sepatu boot tentara Israel yang menerabas, mencoba mengatasi pertikaian tak berkesudahan antara Palestina dan Israel. 

Tanpa ragu saya menginjak karpet merah yang terasa sangat lembut di kaki. Kelembutannya tak terlupakan. Saya mengagumi semua yang ada di hadapan sehingga berjanji pada diri sendiri untuk meluangkan waktu menikmatinya. Namun kali ini, shalat dulu…

Tempat shalat untuk perempuan berada di sebelah kanan dari arah pintu masuk. Tak begitu luas, mungkin hanya sekitar seperdelapan bagian dari luas lantai, namun cukup untuk menguarkan aura penuh keakraban. Dimana-mana perempuan selalu sama, hubungan antara satu perempuan dengan lainnya cepat terjalin. Saling senyum, anggukan, mengucap salam dan doa, berbagi buah dan kue. Bahkan mata pun bisa mengungkapkan rasa penerimaan sebagai saudara. Rasanya sungguh tak terlupakan. 

Di atas karpet yang lembut ini, saya menarik nafas panjang, mengingat kembali dahulu Rasulullah melakukan Mi’raj dari kawasan ini dalam peristiwa Isra Mi’raj dan tempat ini juga menjadi kiblat shalat sebelum dipindahkan ke arah Ka’bah. Sungguh membukakan hati dan pikiran bahwa Masjid Al Aqsa bukan tempat yang biasa-biasa saja. 

Kemudian saya berdiri untuk menunaikan shalat sunnah sebelum Subuh. Semua terasa normal, kecuali rasa yang teramat berat ketika akan bangun dari sujud. Pujian kepada Allah Yang Maha Tinggi langsung bersambung doa tentang tempat ini. Tanah yang jauh dari Mekkah dan Madinah, tanah  yang selalu dipertikaikan, yang tak jarang memberitakan hilangnya nyawa para syuhada penjaga tanah yang suci ini. Ya Allah… sungguh hati ini, jiwa ini, berserah kepadaMu untuk semua yang terjadi di tanah ini.  

Belum lama selesai shalat sunnah, terdengar alunan Iqomah yang berarti Shalat Subuh segera dimulai. Kami semua berdiri, bersiap bersama menjalankan kewajiban sebagai Muslim. Shalat wajib pertama di Masjid yang luar biasa ini, shalat yang dilengkapi dengan doa Qunut yang dahsyat dan dilantunkan oleh Imam Masjid Al Aqsa langsung dari Bumi Palestina. Allahu Akbar 

Dome of the Rock Masjid Kubah Batu

Al Aqsa, Ikon Keemasan Dalam Kegelapan Malam


Seperti orang dahaga mendapatkan air, kelegaan itu terasa sekali saat melangkah keluar dari bangunan yang merupakan pos perbatasan Israel di Allenby Bridge ini (baca posnya disini: Kebat-Kebit di Pos Perbatasan Israel). Sama sekali tak perlu berpura-pura bego, sama sekali tak perlu berpura-pura tak bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggeris. Mereka sama saja seperti petugas imigrasi di negara lainnya, ketika pekerjaan melakukan verifikasi terhadap seseorang selesai, mereka ingin orang itu berlalu sesegera mungkin dari hadapannya. Apapun yang menyebabkan kami serombongan tertahan lama di tempat ini, biarkan menjadi rahasia mereka

Langkah demi langkah menuju bus semakin mendekatkan saya kepada Tanah Impian. Saya menggigit bibir merasakan getar halus dalam dada. Sebentar lagi, sebentar lagi, impian itu menjadi nyata.

Sayangnya, malam telah tiba saat kami melanjutkan perjalanan menuju Jerusalem. Saya tak bisa memanjakan mata melihat pemandangan keluar jendela bus karena kegelapan telah memeluknya. Hanya saja terasa mesin bus menderu ketika roda-roda bus menapaki aspal jalan. Sungguh, semuanya seperti yang telah digariskan terjadi pada hari itu. Setelah berjuang memperpanjang sabar dalam situasi harap-harap cemas di pos perbatasan Israel, Dia Yang Maha Kuasa seakan sengaja memberi kesempatan kepada kami semua untuk rehat menutup mata untuk menit-menit ke depan, membiarkan angan berdansa dan rindu memenuhi kalbu. Save the best for last…

After Prayers at Qubbat As Shakrah

Bus terus bergerak dengan situasi didalamnya yang terasa hening, bahkan mungkin terlalu hening yang tak biasa. Entahlah, rasa yang terlalu hening tak biasa itu mampu membuat saya membuka mata. Kegelapan di luar jendela masih tak beda dari sebelumnya, namun kini bus terasa makin melambatkan kecepatan hingga akhirnya berhenti sejenak di tempat seperti gardu tol. 

Tapi, nyatanya tempat bus berhenti ini bukan gardu tol, melainkan titik pemeriksaan keamanan. Sebuah pos check-point. Ke Israel memang membawa risiko harus bersedia melalui pos-pos check-point yang sejatinya sangat menyesakkan hati. Tempat serupa gerbang tol ini menjadi saksi pemaksaan keterbatasan gerak terhadap bangsa Palestina yang dahulunya justru menempati tanah negeri ini.

Saya yang baru saja terjaga, dalam sekejap merasa nyerinya hati manusia-manusia yang diatur pergerakannya oleh manusia-manusia lain merasa lebih berhak dan lebih memiliki tanah bumi ini. Di tempat yang sama itu, saya hanya bisa mengamati dengan teramat prihatin, bagaimana orang dari bangsa Yahudi bisa bebas melenggang di jalur-jalur lain yang terbuka luas sementara orang non-Yahudi, apalagi bangsa Palestina, perlu melewati proses pemeriksaan. Cek ini, cek itu, cek lagi dan lagi, kalau perlu turun dari kendaraan untuk diverifikasi. Hati saya benar-benar berdenyut merasakan aura diskriminasi. 

Di negeri ini memang sengaja dibuat peraturan agar bangsa Palestina tidak bebas bergerak. Di tanah bumi tempat mereka dilahirkan ini, mereka perlu berbagai surat izin untuk bisa berpindah ke daerah-daerah lain, yang meskipun ada, belum tentu semulus yang diharapkan. Bangsa Palestina, seperti sekawanan domba yang hanya diperbolehkan hidup di wilayah sempit dan makin sempit. Tak peduli apakah wilayah itu layak huni atau tidak. Hanya domba yang ditandai khusus yang dapat keluar masuk wilayah itupun tidak semuanya wilayah!

(Entahlah, bisa jadi salah, namun pikiran saya sejenak terbang melayang ke kawasan-kawasan reservasi yang diatur sebagai tempat berkehidupan suku bangsa Indian di benua Amerika sana)

Dalam sekejap saya tersadarkan, di check-point ini, pemandu kami perlu menyelesaikan urusan sejenak dengan petugas, hanya karena dia bagian dari bangsa Palestina. Ugh, apa yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri ini seakan sebuah konfirmasi akan pembatasan pergerakan Bangsa Palestina di negeri ini. Sekali lagi, saya merasakan denyut yang amat memedihkan.  Di satu tempat yang sama, hukum dunia telah membedakan perlakuan dua manusia yang berbeda bangsa padahal mereka mendiami wilayah dan bumi yang sama.

Terbayangkah kita bila suku bangsa Jawa tidak boleh berpindah ke tempat lain di Indonesia tanpa surat-surat resmi yang mengurusnya pun sulit dan dipersulit? Atau suku bangsa Batak hanya boleh berada di Sumatera Utara, Bugis hanya boleh berdiam di Sulawesi Selatan? Hiiii membayangkan saja sudah bergidik….

Setelah momen pedih yang terjadi di depan mata itu, terasa bus melanjutkan perjalanan kembali di atas aspal yang mulus. Bagusnya kualitas jalan bisa dimengerti. Tidak sedikit yang bersedia membantu Israel membangun negeri yang mereka percaya sebagai Tanah Perjanjian. Bantuan datang dari negeri-negeri adidaya tempat banyak keturunan Israel hidup dan mencari penghidupan Bisa juga datang dari mereka yang percaya bahwa negeri Israel harus berdiri.  Israel makin berkembang. Sebuah ironi yang sungguh dahsyat, sementara bantuan datang untuk kemajuan Israel dari negeri-negeri yang menjunjung tinggi persamaan hak dan kebebasan sementara terlihat di depan mata, pembedaan perlakuan manusia satu dengan lainnya. 

Pikiran saya mengayun sejalan dengan pergerakan bus menuju kota Jerusalem. Semakin dekat kota, titik-titik cahaya kota semakin terlihat. Akhirnya lampu-lampu bus dinyalakan. Kami semua terjaga sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Hasan, pemandu kami menyampaikan bahwa kita sudah sampai di tepi kota Jerusalem dan juga mengingatkan agar kami semua melihat ke sisi kiri setelah keluar dari terowongan panjang yang berlimpah cahaya. 

Detik-detik itu terasa lambat, terowongan terasa amat panjang…

Akhirnya terowongan mencapai ujungnya. Berbalut kegelapan malam itu, untuk pertama kali mata saya menangkap gemilangnya cahaya keemasan kubah As-Shakhrah atau Kubah Batu yang lebih terkenal secara internasional dengan nama Dome of The Rock, yang terkena cahaya lampu. MasyaAllah indahnya…

source: dome of the rock – wikimedia commons

Berbagai rasa bercampur aduk memenuhi kalbu, melesak keluar memaksa saya untuk langsung berkali-kali mengerjapkan kelopak mata yang berair. Berpuluh tahun saya memiliki impian untuk bisa mengunjungi Masjid Al Aqsa, masjid yang terjauh jika berpatokan pada jarak Mekkah dan Madinah. Bagi saya, Masjid Al Aqsa adalah mesjid utama yang berdiri di atas negeri yang bersimbah airmata dan darah karena konflik berkepanjangan.

Dan kini dengan mata kepala sendiri, saya menyaksikannya. Indah, luar biasa indahnya!

Seperti anak kecil yang tak mau melepas mainannya, saya juga tak ingin melepas pandangan dari kubah keemasan yang berada di dalam Kota Tua Yerusalem itu. Disanalah destinasi saya selama puluhan tahun ini, meskipun bentuk jalan yang berbukit membuatnya perlahan hilang dari pandangan karena bus yang tetap begerak perlahan. Mungkin karena begitu terpesonanya, saya sampai lupa mengambil foto.

Kehilangan pandangan akan destinasi impian, membuat saya terduduk menyandar ke belakang, seakan mengumpulkan kesadaran penuh, Saya benar-benar berada di Palestina! Pikiran saya berdansa kembali.

Masjid Al Aqsa, berdiri di atas tanah yang tak biasa, meski bentuknya tetap seperti tanah dimanapun di dunia ini. Tanah ini telah bersimbah darah dan airmata, berselimut aura pertempuran tak berkesudahan, tanah yang menjadi saksi atas penderitaan manusia yang kehilangan rumah dan tempat berpijaknya, tanah yang menjadi saksi akan sepak terjang sang penguasa yang silih berganti. Begitu pilunya tanah ini berhias derita.

Bus bergerak lambat karena berada di jalan-jalan sempit yang berkelok dan naik turun. Kontur kota tua Jerusalem memang berbukit. Lalu tak lama bus berhenti di depan hotel kecil kami yang tak jauh dari gerbang Herod. Begitu turun dari bus rasanya ingin langsung ke Masjid Al Aqsa, namun pemandu kami menyampaikan bahwa Masjid telah ditutup setelah shalat Isya. Menyadari keinginan kuat kami, dia meminta kami untuk bersabar beberapa jam. Lagi pula, perjalanan panjang hari itu telah menguras tenaga kami semua ditambah olahraga hati di pos perbatasan Israel tadi.

Kami semua memahami dan menahan keinginan. Bagi saya, tertunda waktu sekian jam untuk ke Masjid Al Aqsa itu tidak masalah, karena saya telah menunggu sekian puluh tahun. Seharusnya saya bersyukur karena telah bisa melihat Masjid Al Aqsa berbalut malam dengan mata kepala sendiri. Sedikit gontai kami semua memasuki hotel untuk beristirahat dan mungkin tidak hanya saya yang kala itu tak sabar akan datangnya subuh…

Dome of The Rock or Qubbat As Shakrah

Kebat-Kebit di Pos Perbatasan Israel


Wajah-wajah mereka serupa, dingin tanpa ekspresi, kebanyakan tanpa senyum, pandangan mata acuh tak acuh, seakan bisa menutup keahlian mereka menyelidik dalam hitungan detik. Tak banyak beda, mereka laksana hakim di garis depan sebuah negeri dengan keputusan-keputusannya yang mutlak antara ya dan tidak, penentu sebuah perjalanan menjadi terealisasi atau gigit jari. Mereka, para petugas imigrasi.

Meski sudah berulang kali melewati konter mereka di berbagai negara, -selama ini tak pernah ada masalah dan semoga selanjutnya selalu demikian-, entah mengapa saya selalu merasa tidak nyaman jelang pemeriksaan di semua pos perbatasan. Selalu saja jantung jadi berdenyut lebih cepat, pemikiran negatif “bagaimana jika” dengan nakalnya melompat-lompat di benak. Apalagi tak jarang saya saksikan ketika mengantri, ada saja yang diproses lebih lama, mendapat banyak pertanyaan penuh selidik, bahkan ditolak karena berbagai alasan. Semuanya itu seakan menihilkan kelegaan atas keberhasilan melewati pos imigrasi pada pengalaman-pengalaman sebelumnya. Sampai-sampai saya menyimpulkan sendiri bahwa setiap melangkah sampai ke pos mereka adalah sebuah pengalaman yang selalu unik, yang tak pernah sama dari sebelumnya. Dan saya tak pernah tahu apa yang akan terjadi ketika benar-benar berdiri di hadapan mereka. Seperti sedang menunggu vonis hakim, antara boleh atau ditolak masuk.

Bisa jadi rasa itu muncul karena teringat kalimat pernyataan yang pernah saya baca di lembar persetujuan visa ke Jepang dulu, yang membuat saya selalu berpikir petugas imigrasi itu memang punya kewenangan lebih. Di situ tertulis, meskipun visa telah disetujui, keputusan petugas imigrasi lebih menentukan pada saat kedatangan. Artinya, meski visa telah disetujui, belum tentu bisa masuk ke Jepang, karena alasan yang hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Tak heran, saya selalu tak nyaman jelang pemeriksaan imigrasi, dimanapun.

Apalagi kali ini, saya harus melewati konter imigrasi di perbatasan Israel!

((( I S R A E L )))

Mendengar namanya saja, sudah langsung terbayang negeri yang penuh kekerasan dalam waktu yang panjang, banyak polisi bersenjata lengkap dimana-mana, suasana yang rasanya jauh dari kedamaian.

Tetapi bagaimana lagi? Hanya dengan melalui negeri itu, saya bisa mewujudkan sebuah impian yang terpendam sangat lama di dalam jiwa.

Masjid Al Aqsa di Jerusalem memang menduduki puncak bucket list saya sepanjang masa. Hanya saja, bagi saya, tak mungkin mengunjungi Al Aqsa jika belum ke Mekkah dan Madinah. Masalahnya, selama ini saya merasa belum pantas mengunjungi dua tempat suci bagi umat Muslim itu. Entahlah, mungkin Allah memberi saya kesempatan menjejak tempat-tempat luar biasa seperti Lumbini dan Himalaya serta tempat-tempat extra-ordinary lainnya yang membukakan mata hati, -mungkin sebagai the connecting dots of my life-, sebelum mengundang saya ke Mekkah dan Madinah.

Lalu peristiwa berpulangnya ayah mertua dan Papa tercinta serta turun drastisnya keinginan saya untuk travelling ke negeri-negeri jauh, seakan mengerucutkan jalan itu. Disadari atau tidak, saya banyak berdiam di rumah, melakukan perjalanan-perjalanan ke dalam diri, menelusuri kalbu, membuka ruang-ruang kosong dalam hati dan menghiasinya dengan makna-makna perjalanan yang pernah dilakukan.

Memang tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, karena semua ada alasan yang melatarinya, ada rencana indah untuk setiap manusia. Termasuk saya.

Dan datanglah waktunya. Impian yang telah lama bertengger di puncak bucket list saya itu, seakan dibukakan jalannya sekaligus datangnya undangan jiwa menuju Mekkah dan Madinah. Hanya sekitar dua atau tiga bulan sebelum keberangkatan, saya mengambil sebuah keputusan sederhana untuk melakukan perjalanan spiritual sekaligus ke tiga kota suci, Mekkah, Madinah dan Jerusalem di Palestina.

Sebuah keputusan yang amat sederhana namun berdampak besar dalam keseharian saya selanjutnya. Seakan-akan membuktikan kalimat bijak dari Paulo Coelho yang ditulis dalam bukunya yang terkenal, The Alchemist, When you want something, the whole universe conspires in order for you to achieve it.

Sungguh, semuanya berjalan mengerucut mendukung keputusan itu. Semesta mendukungnya. Keleluasaan pekerjaan, keuangan, waktu dan yang lainnya. Saya masih ingat betul, setiap kemudahan yang datang itu menimbulkan sensansi luar biasa di tubuh, bulu-bulu halus di sekujur tubuh lebih cepat bereaksi, airmata penuh rasa syukur lebih mudah merebak.

Termasuk pengurusan visa Israel yang lumayan mahal dan memakan waktu pemrosesan 40 hari!

<><><>

Di malam sebelum check-out hotel di Amman, Jordan, kami repacking koper. Sebagian pakaian dimasukkan ke ransel dan meninggalkan yang tidak perlu di koper. Memang sejak dari Jakarta kami diwanti-wanti agar menggunakan ransel saja saat ke Palestina, karena kami hanya beberapa hari saja di sana. Koper-koper akan dititip di Jordan yang akan diambil lagi saat kami kembali dari Palestina. Sayangnya, ransel Nike kesayangan, harus direlakan karena tersimpan di koper yang hilang saat tiba di Madinah (baca ceritanya di link berikut ini Pilgrimage 1: Menuju Kota Cahaya) Jadi saya menitip pakaian yang hanya satu dua itu di dalam ransel suami.

Keesokan harinya itu saya mengatur hati, menjaga ekspektasi, bahwa setiap jengkal langkah adalah mendekatkan kepada impian itu. Karena setelah Madinah dan Mekkah, masih ada satu tempat yang menjadi destinasi hati, Sebelum benar-benar menjejak di sana, segala sesuatu bisa terjadi.

The Border is Jordan River

Sebenarnya dari Amman ke Jerusalem tidak jauh hanya sekitar 70 km, tetapi karena kami setengah memaksa untuk ke Petra (baca link ini: Petra Yang Tak Direncanakan), maka baru menjelang malam, kami sampai di King Hussein Bridge Border Crossing atau lebih dikenal dengan Allenby Bridge, jembatan di atas Sungai Jordan yang menghubungkan Jordan dan Tepi Barat Israel. Sebelum melintas, pemandu kami selama di Jordan berpamitan lalu turun dari bus. Sepertinya kami semua terhenyak tak menyangka, tetapi begitulah kehidupan orang keturunan Palestina di Jordan. Ia bahkan dipersulit sampai nihil kesempatan untuk kembali ke negerinya. Seperti perjalanan satu arah yang tak pernah ada jalan berbalik. Selepas pamitan itu, bus melanjutkan perjalanan hingga berhenti di sebuah bangunan, Pos Perbatasan Israel.

Saya teringat ucapan dari agen perjalanan yang tak hanya sekali keluar dari mulutnya. Pura-puralah tidak bisa bahasa Inggris, pura-puralah bodoh, Jika akhirnya ditanya petugas imigrasi Israel di perbatasan jawablah yes atau no. Jangan cerita banyak, Kalau perlu pakai bahasa Indonesia. Dan masih banyak lagi permintaannya yang terdengar tak umum di telinga saya.

Diminta demikian, karena konon makin banyak omongan di depan petugas, mereka akan makin detil bertanya untuk mengorek informasi karena kecurigaan mereka yang sangat besar. Sampai sekarang, memang Indonesia belum membuka hubungan diplomatik dengan Israel, karena terkait Palestina. Mungkin bagi mereka, pendatang dari negara yang lebih pro Palestina, -bagi mereka sering membuat ulah-, perlu lebih dicurigai.

Aduh! Di depan petugas Imigrasi diminta berpura-pura? Selama ini, sudah bersikap jujur dan apa adanya saja sudah keringat dingin apalagi kali ini disuruh berpura-pura! Tetapi demi kelancaran perjalanan agar bisa melewati pos perbatasan ini, bisa jadi cara ini yang harus dilakukan.

Source of Image : Google Map of King Hussein Border Control

Suasana tak nyaman langsung menyergap setelah melewati pintu masuk. Langsung terlihat security gate terpasang dalam jarak yang berdekatan padahal ruangannya tak terlalu besar. Semua diperiksa untuk masuk ruangan. Entah saya yang paranoid atau mereka, namun saya merasa begitu banyak mata memperhatikan kami, mungkin karena terlihat sejumlah kamera CCTV.

Kami berada di ruang tengah dengan para petugas Israel yang hilir mudik, saling bicara cukup lantang dalam bahasa yang terdengar sangat asing di telinga. Dokumen diserahkan dan dibawa masuk ke ruangan lain yang lebih luas.

Setelah sekian putaran menit, seorang petugas keluar dari ruang dalam itu dan kepala rombongan bergegas menghampirinya (seperti adegan dokter keluar dari kamar operasi dan kepala keluarga bergegas mendatanginya menanyakan tentang si sakit). Saya melihat rona kebingungan mewarnai wajah kepala rombongan yang sudah cukup sepuh itu. Suaranya lirih tetapi dampaknya bagai halilintar yang menggelegar.

Duuuuaaaarrrrrr..! Nama kami semua belum ada di dalam sistem mereka! Ya Allah…

Rasanya terhempas keras, jatuh dari ketinggian harap dan langsung segala rasa bercampur aduk.

Saya sendiri tidak memahami bagaimana proses pengajuan visanya karena diurus oleh agen perjalanan. Kami hanya diberitahu secara lisan bahwa visa Israel kami semua sudah disetujui, namun saya tak yakin pernah melihatnya langsung karena kertas dipegang oleh kepala rombongan. Dan kini, di perbatasan Israel, -negeri yang sering terdengar tak bersahabat dengan Palestina yang menjadi tujuan perjalanan-, kami terkendala karena nama-nama kami belum ada di sistemnya.

Tak mau menerima begitu saja, kami sepakat manjadikan selembar kertas yang berisi nama-nama kami menjadi bukti bahwa sebelum meninggalkan Indonesia, visa kami sudah disetujui. Saya melihat ada sejumput keraguan pada wajah petugas Israel itu. Artinya, upaya kami cukup membuatnya berpikir. Sejumput harap merambat naik ketika melihat petugas tadi masuk kembali ke ruangan mereka. Semoga mereka mau memeriksa ulang, semoga tak ada arogansi pada mereka. Tak bisa lain, kami kembali menunggu dengan harap-harap cemas.

Menunggu dalam ketidakpastian itu sungguh tidak menyenangkan. Apalagi di negara asing yang sering muncul di berita karena konflik dengan bangsa Palestina yang sering disebut sebagai penjaga Masjid Al Aqsa, tempat suci ketiga umat Muslim. Dan kini rombongan kami yang berniat mengunjungi Masjid Al Aqsa tertahan dalam ketidakpastian dalam sebuah ruang kecil di bawah otoritas Israel.

Berpuluh menit berlalu kami semua masih sama, tercenung dalam pikiran dan harapan masing-masing. Kebat-kebit hati menunggu kabar baik dari petugas yang masuk ke dalam tadi, berjalan beriringan dengan doa dan dzikir dalam hati. Sesekali saya mengamati mereka yang mengenakan topi kippah khas Yahudi di puncak kepala atau rambut cambang mereka yang disebut peyot yang bergerak seperti pegas. Meskipun kebanyakan mereka tak peduli dengan kehadiran kami, tak hanya sekali saya menangkap pandangan mereka terhadap kami dengan dagu yang terangkat tinggi. Sekali lagi, saya dibuat kebat-kebit tersadarkan bahwa saat ini nasib perjalanan kami semua berada di bawah otoritas mereka.

Akhirnya petugas yang tadi berbicara dengan kepala rombongan kami, keluar dari ruangannya. Tentu saja kepala rombongan kami bergegas mendekatinya. Tak perlu lama petugas tadi menyebut beberapa nama dalam rombongan kami yang bisa lanjut ke ruangan berikutnya. Rasa lega terasa di antara kami sambil mengucap Alhamdulillah. Saya termasuk yang belum disebut oleh petugas tadi, tetapi tak mengapa karena hal ini hanyalah masalah antrian belaka, seperti yang disampaikan petugas tadi.

A piece of paper of Stay Permit

Suami dan saya kembali duduk, kali ini sudah lebih tenang. Dan seperti yang sudah diduga, beberapa waktu kemudian, kemi berdua dipanggil untuk diverifikasi. Kami mendapat secarik kertas permission untuk memasuki Israel. Tidak ada cap stamp di Paspor, hanya secarik kertas itu.

Ketika berjalan melalui pintu dan gerbang keluar menuju bus, saya merasa sesak penuh haru. Meski tertahan beberapa jam, -mungkin sebagai ujian dariNya untuk tetap bersabar dan berharap hanya kepadaNya-, langkah ini makin mendekatkan pada impian yang mewujud nyata.

Tetapi sekali lagi saya tersadarkan, dengan visa di tangan belum tentu semua urusan masuk ke sebuah negara bisa lancar jaya, karena segala sesuatu bisa saja terjadi, in the last minute… dengan alasan yang hanya mereka yang tahu. Jadi, selalulah menjaga ekspektasi.

Sejumput Malam di Makam Nabi Syu’aib


Sekembalinya dari Kawasan Wisata Laut Mati, -ceritanya bisa dibaca dalam tulisan Senja di Laut Mati, Terendah Di Muka Bumi sebelum ini-, tanpa perlu dikomando lagi seisi bus duduk dalam diam. Tak ada celoteh atau suara pemandu karena temaramnya lampu di dalam bus membuat kantuk menyerang. Apalagi jalan yang mulus tanpa kemacetan membuat perjalanan menjadi nyaman. Namun bisa jadi karena kami semua sudah lelah menjalani hari yang panjang sejak meninggalkan Jeddah pagi tadi lalu terbang ke Jordan, yang dilanjut dengan perjalanan ke Laut Mati dan kini yang dirindukan mungkin hanya pembaringan.

Demikian pula keadaan saya, dengan mata yang setengah mengantuk, kadang terbuka dan kadang terlelap, saya berusaha sebisanya mengikuti perjalanan. Rasanya sayang sekali jika terlelap di negeri yang baru pertama kali saya kunjungi.

Ketika melihat banyak lampu di luar jendela bus, saya berpikir sudah sampai di Amman. Ternyata dugaan saya salah. Saat itu kami masih sekitar tiga puluh menit lagi ke kota Amman. Saya hanya ingat bus berbelok lalu bergerak lagi untuk beberapa saat lalu akhirnya berhenti di sebuah tanjakan yang disusul dengan dinyalakannya sebagian lampu dalam bus.  Lalu suara pemandu terdengar memecah keheningan. Sayangnya saya tak mendengar jelas informasi yang disampaikan. Saya hanya melihat sebuah mesjid yang terlihat indah jika difoto dengan lampu kehijauan di menaranya. Rasanya tak banyak rumah ataupun toko di sekitarnya karena terlihat kegelapan menyelimuti. Masjid itupun terang karena lampu di halamannya. Seperti berada di tempat terpencil di perbukitan yang jauh dari pemukiman.

Prophet Syu’aib Mosque and Shrine, Jordan at night

Di dalam bus, -mungkin karena lelah-, tidak ada perempuan lain yang turun dari bus kecuali saya. Yang laki-laki pun bisa dihitung tak melebihi dari jumlah jari dalam satu tangan. Saya mengambil beberapa foto di halaman Masjid lalu mendekat ke sebuah pintu. Di situ baru saya memahami, betapa beruntungnya saya mengikuti hati untuk turun dari bus karena di dekat pintu tertulis dengan sangat jelas: Makam dan Masjid Nabi Syu’aib Alaihissalam. Bukankah kita sangat beruntung bisa menjejakkan kaki di tempat orang-orang sholeh berbaring di peristirahatan terakhirnya?

Entah kenapa, saya agak takut untuk mendekat. Rasanya aura kesholehannya tetap menguar dan meliputi seluruh ruangan itu. Saya menjadi begitu insecure berada di dekat makam orang yang selama hidupnya begitu sholeh dan menjadi utusan Allah kepada orang-orang Madyan dan Ashabul Aikah. Tanpa sadar saya mundur selangkah sambil menundukkan kepala, menyadari banyaknya khilaf yang dibuat hingga kini. Rasanya tak pantas untuk mendekat, seakan bisa menjadi noda atas kesucian auranya.

Terpampang jelas di depan mata, makam Nabi Syu’aib Alaihissalam yang terletak di tengah ruangan berlangit-langit tinggi dan lantainya berkarpet tebal, diselimuti dengan kain beludru berwarna hijau berhiaskan benang emas sebagai penutup yang indah. Lalu dari tempat saya berdiri, yang berjarak hanya beberapa langkah dari makam Nabi Syuáib Alaihissalam, saya mengangkat tangan dan melangitkan doa.

Makam Nabi Syu’aib, Jordan

Sebelum meninggalkan ruangan, saya membiarkan ingatan menari-nari, mengingat kisah hidup Nabi Syu’aib Alaihissalam. Sebagai orang yang diutus Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kaum Madyan dan Ashabul Aikah, tantangan yang dihadapi Nabi Syu’aib Alaihissalam sangatlah besar. Kaum Madyan merupakan kaum yang menguasai jalur perdagangan di wilayah sekitar Laut Mati sedangkan Ashabul Aikah merupakan sekelompok orang yang percaya kepada pepohonan bahkan mereka menyembahnya. Kaum Madyan terkenal sebagai pedagang yang ulet dan banyak diantara mereka yang sukses dan berlimpah kekayaan. Sayangnya, dalam menjalankan perdagangan, mereka seringkali tak jujur dan licik. Ketidakjujurannya terlihat saat bertransaksi jual beli, mereka suka mengurangi ukuran dan timbangan. Gandum yang seharusnya ditimbang 1 kilogram dikurangi dan dijual dengan harga untuk 1 kilogram, sehingga mereka mendapatkan keuntungan dari cara tak jujur tersebut. Selain itu, seperti juga Ashabul Aikah, Kaum Madyan lebih percaya pada hal-hal selainNya yang membuat mereka hidup berlimpah harta dan bisa menguasai jalur perdagangan.

Nabi Syu’aib mengetahui hal itu dan memperingatkan mereka akan hukuman atas perbuatan kaum Madyan dan Ashabul Aikah yang tidak benar itu. Namun, bukannya berterima kasih, mau memahami dan bertobat, mereka justru makin menentangnya. Bahkan mereka mengusir Nabi Syu’aib Alaihissalam dan semua pengikutnya untuk keluar dari kota itu. Ah, sepertinya saat itu mereka berpandangan sebagai mayoritas di kota itu dan jumlahnya lebih banyak maka apa yang mereka lakukan adalah benar. Lebih benar daripada Nabi Syu’aib Alaihissalam dan pengikutnya yang menjadi kelompok minoritas karena jumlahnya sedikit.

Bagaimanapun Kebenaran hanyalah milik Yang Maha Kuasa,

Lalu, terjadilah bencana di tempat kaum Madyan bermukim. Gempa hebat terjadi di tempat itu dan meluluhlantakkan pemukiman mereka hingga tak bersisa satupun. Kaum Madyan meregang nyawa terjebak di rumah mereka sendiri.

Sedangkan bencana yang menimpa Ashabul Aikah adalah serangan udara yang sangat panas dan membakar kulit. Tentunya sangat jauh lebih panas daripada gelombang panas yang sering terjadi belakangan ini di negeri-negeri jauh. Tidak ada lagi bangunan dan pohon yang dapat dijadikan tempat berteduh dari udara yang mematikan itu. Kemudian di langit muncul segerombolan awan hitam dan berat, awan yang membawa petir dengan suaranya yang sangat keras menggelegar. Mereka tak dapat lagi menghindarkan diri dari bencana yang mengerikan itu.

Tentu saja kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam yang diutus kepada mereka yang membuat kerusakan di muka bumi ini, dapat dibaca dalam Al Qurán. Tetapi mengingat kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam di depan makamnya di Jordan ini, tentu jauh berbeda rasanya. Gambar-gambar imajinasi mengenai kisah itu bergerak sendiri seperti menonton sebuah film di benak, menjadikan sebuah peringatan yang menyesakkan. Sebuah pembelajaran teramat penting yang dapat diambil dari kaum terdahulu.

Keheningan berada di depan Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam pecah saat datang pengunjung lain. Saya meninggalkan ruangan dan mengambil foto di halaman. Sayang sekali, Masjid Syu’aib yang ada di kompleks itu pintunya terkunci, padahal konon sangat indah. Pintu Masjid berada tak jauh dari bangunan kecil berkubah emas yang ada di tengah-tengah pelataran halaman dalam.

A nice place for taking the ablution, Mosque of Prophet Syuaib, Jordan

Tak banyak yang bisa diabadikan kecuali bangunan kecil berkubah emas tadi yang terbuka pada sebagian dindingnya yang tampaknya merupakan tempat mengambil air wudhu, terlihat dengan keran air dan tempat duduk batu yang melingkarinya.

Setelah puas mengambil foto yang tak seberapa, saya berbalik ke arah bus berhenti. Dalam beberapa saat saya akan meninggalkan salah satu tempat yang diklaim sebagai Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ini. Selain di Jordan di tempat saya berdiri ini, ada juga yang mengatakan bahwa makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di Galilea Hilir, Israel. Selain itu ada yang mengatakan makamnya ada di Guriyeh, Iran. Bahkan tak sedikit yang berpendapat makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di sebelah Barat Ka’bah, Mekkah. Sementara yang lain berpandangan makamnya ada di Jabal Nabi Syu’aib di Yaman. Mana yang benar? Wallahu a’lam bishawab.

Saya melangkah kembali ke dalam bus, lalu pintu-pintu bus ditutup. Roda bus mulai bergerak pelan meninggalkan kegelapan perbukitan di belakang, lampu-lampu dalam bus kembali temaram. Meski badan terasa lelah, saya merasa sangat beruntung dapat menjejak sebentar di tempat yang baru saja ditinggalkan dengan hikmah yang terserak begitu banyak. Dan kini, sepertinya saya menyerah pada dunia, hanya pembaringan yang saya rindukan…

From the courtyard of Prophet Syuaib Mosque

Menjejak Jordan, Mengintip Cave of Seven Sleepers


Lamat-lamat dalam hati saya mendaraskan doa dalam penerbangan menuju Amman yang baru saja meninggalkan bandara internasional King Abdul Azis, Jeddah. Tidak lain kecuali harapan bisa kembali lagi ke Tanah Suci. Sebuah rasa yang sejak dulu saya selalu skeptis kini benar-benar menguasai hati. Dulu, saya tak pernah mengerti mengapa orang berkali-kali mengerjakan umroh dan berhaji, bukankah ibadah itu cukup sekali saja? Kini, setelah mengalami sendiri, saya paham bahwa rasa ingin berada di Tanah Suci itu yang begitu intim, begitu personal, begitu menyenangkan, semua itu seperti minum di saat dahaga dengan damai memenuhi jiwa. 

Kesadaran berada di pesawat yang sedang mengangkasa, melahirkam setitik rasa tak rela meninggalkan bumi tempat Tanah Suci berada. Saya menarik nafas panjang, tanpa membuka mata pun saya memahami diri ini dihadapkan langsung oleh hukum kefanaan. Tidak pernah ada yang abadi, sebuah awal senantiasa memiliki akhir, sebuah perjumpaan senantiasa berujung pada perpisahan. Dan ini saatnya…

Bersamaan dengan rasa yang keluar, jauh di sudut jiwa, serangkaian kata bijak dari Jalaluddin Rumi terasa mendenting-denting di benak seakan mengingatkan. Bukankah perpisahan hanya untuk orang-orang yang mencintai dengan matanya? Bukankah untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak akan pernah ada kata perpisahan? Sekali lagi saya menarik nafas panjang, melepas dengan ikhlas, menyambut rasa yang memberi semangat baru.

Setelah dua jam penerbangan Saudi Arabian Airlines dengan pesawat A320 itu akhirnya bandara megah Internasional Queen Alia, kota Amman, Jordan menyambut kami semua. Sebagai bandara terbesar di Jordan, kemegahannya langsung terasa apalagi tak banyak orang berlalu lalang. Entahlah, bisa jadi kelengangannya lebih terasa karena saya baru datang dari Jeddah yang kerap didatangi manusia dari berbagai negara. 

Belum cukup lama mengagumi bandara megah kota Amman, kami sudah diarahkan segera keluar bangunan indah ini. Yah, seperti umumnya perjalanan yang diatur oleh sebuah agen, tidak ada istilah santai selepas imigrasi Jordan. Bersamaan dengan koper-koper yang dimasukkan ke dalam bagasi, kami pun segera menaiki bus untuk kemudian bergerak menuju tempat-tempat wisata di Jordan. 

Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Dari balik jendela bus, saya mengamati pemandangan gurun yang kering kecoklatan menghias perjalanan, yang sesekali disela oleh suara pemandu wisata. Kami memang menuju Gua Ashabul Kahfi yang terletak di Abu Alanda, dekat kawasan Raqim, sekitar 30 menit berkendara dari bandara. Konon, di sana merupakan tempat yang melatari kisah yang tertulis dalam kitab suci Al Quran. Kisah tentang Ashabul Kahfi atau dikenal juga The Seven Sleepers

Kawasan Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Meski masih diperdebatkan keakuratannya, gua Ashabul Kahfi atau tertulis di gerbang dengan nama Cave of Seven Sleepers yang berlokasi di Jordan ini tetap berhasil membuat saya kagum. Gerbangnya sendiri melengkung cantik, menandakan adanya campur tangan dari dunia modern. Saya tersenyum dalam hati, Jordan tidak sendirian mengklaim memiliki gua Ashabul Kahfi karena Turki pun melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari satu tempat (Ephesus, Afsin dan Tarsus). Bagaimanapun, saya sebagai pencinta segala sesuatu yang berbau sejarah kuno, bisa merasakan Ashabul Kahfi di Jordan ini begitu menguarkan rasa ancient. Rasanya hidung saya otomatis bergerak-gerak membaui batu-batunya, temboknya, suasananya, lalu membiarkan imajinasi menari lincah membayangkan tempat yang seakan terperangkap dalam waktu itu. 

Otomatis saya teringat perjalanan ke Lumbini, Nepal beberapa tahun lalu (baca tulisan saya tentang Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini). Lumbini yang dipercaya sebagai tempat lahir Sang Buddha lebih dari dua millenium lalu, memiliki situasi struktur bebatuan serupa dengan yang terhampar di Ashabul Kahfi ini. Rasanya tak jauh beda. Tanpa perlu mengetahui secara ilmiah, dari rupa bebatuannya saja sudah terasa goresan sejarah besar kehidupan berabad-abad lalu di tempat saya berpijak.  

Di depan mata terhampar kawasan selayaknya sebuah situs purbakala yang sedang diekskavasi, dengan jalan setapak yang lebarnya hanya bisa dilalui oleh manusia. Bisa jadi dulu tanah ini juga dijejaki oleh tentara Romawi yang mencari ketujuh pemuda yang menolak perintah Raja itu. Ada yang masih ingat kisah Ashabul Kahfi ini? 

Gate of Ashabul Kahfi area

Tertulis dalam kitab suci, Ashabul Kahfi atau Tujuh Pemuda Yang Tertidur merupakan kisah manis tentang kekuatan iman dari tujuh pemuda penganut agama samawi yang konon terjadi beberapa abad sebelum kedatangan Nabi Isa ‘Alaihissalam

Kala itu, penguasa (ada yang menyebutnya Raja Decius dan juga Gubernur Daqyanus) dikenal sebagai orang-orang yang dzalim dan penyembah berhala. Dengan kekuasaannya, mereka bisa memaksa siapapun dan dengan cara apapun untuk menanggalkan iman akan Dia Yang Maha Esa untuk kembali menyembah berhala. Tak heran, kemarahan penguasa langsung saja  berkobar ketika mengetahui ada tujuh pemuda yang menolak perintahnya, meski salah satu diantara tujuh orang itu adalah kerabatnya.. Akibatnya tidak tanggung-tanggung, hukuman mati atas ketujuh pemuda itu menanti apabila dalam waktu dua hari mereka tidak mau mengubah keyakinannya. 

>Ketujuh pemuda itu tetap menolak dan memutuskan melarikan diri dan bersembunyi dalam sebuah gua di kawasan pegunungan. Seperti juga kisahnya, nama ketujuh pemuda itupun senantiasa diperdebatkan, termasuk apakah ada anjing yang konon bernama Qithmir dan bertugas menjaga pintu gua. Apapun itu, nyatanya ketujuh pemuda terselamatkan dari hukuman yang keji itu. Dia, Pemilik Semesta ini menunjukkan kuasaNya dengan membuat mereka tertidur selama 300 tahun Masehi atau 309 tahun Hijriah. 

Terbangun karena rasa lapar, ketujuh pemuda ini menyangka terlelap hanya sehari. Namun, ketika salah satu pemuda itu pergi ke kota untuk mencari makanan, alangkah terkejutnya dia karena kota sudah sangat berbeda. Selain itu, uang peraknya sudah tidak berlaku untuk membayar. Serta merta seisi kota gempar mendengar ceritanya karena dia adalah salah satu dari tujuh pemuda yang telah menghilang selama tiga abad. Penduduk kota ingat betul akan kisah turun temurun tentang tujuh pemuda yang menghilang karena tidak ikhlas menjual agama kepada penguasa dzalim penyembah berhala. Dan hari itu, salah satu dari ketujuh pemuda itu berdiri di antara mereka.

Sontak saja, berita kembalinya ketujuh pemuda itu tersiar seantero negeri. Raja yang berkuasa saat itu dan penduduk negeri menyambut mereka dengan meriah dan meminta mereka tinggal di kota. Namun mereka menolak dan tetap memilih kembali ke gua. Konon, sesampainya di gua, mereka bersujud dan memohon agar Pemilik Segala Kuasa bisa menurunkan rahmatNya dan mengizinkan mereka meninggalkan dunia fana. Tak ada yang mustahil bagi Pemilik Semesta. 

Tubuh mereka dikuburkan di dalam gua, yang bisa disaksikan adanya tujuh makam batu di dalam gua. Namun kini semua tulang yang tersisa ditempatkan di salah satu makam batu, yang di satu bagiannya diberi kaca tembus pandang, agar kita bisa melihat ke dalamnya.

-o- 

Tampak depan Gua Ashabul Kahfi, pintunya rendah & ceruk gaya Romawi, di bagian atas ada reruntuhan bekas mihrab masjid
Tempat tidur sekaligus makam batu dalam gua
Hiasan dinding di dalam gua
Showcase of artefacts in the cave.

Dengan berhias ceruk khas Romawi di dekat pintu gua yang rendah, udara lembab gua yang minim sirkulasi langsung menyergap hidung ketika saya melangkah memasukinya. Gua itu tak luas, tapi cukup untuk dihuni tujuh orang. Ada bagian depan gua dan di bagian belakangnya dengan level yang lebih rendah merupakan kubur batunya. Saya mengintip ke lubang kaca, serupa tulang masih terkumpul di dalam sana dan sebuah showcase tampak diletakkan di sana untuk menyimpan segala macam artefak pendukung kisah. Entahlah, bisa jadi hanya tiruan, mungkin juga asli… Rasanya semua isi kisah terasa jumpalitan di benak. Otak ilmiah yang bertumbuk dengan kisah reliji ini bermuara pada selarik pemahaman, bisa jadi sebidang tempat ini memang terlipat dalam waktu. Wallahualam bissawab. Kebenaran hanyalah milik Allah.

Saya tidak lama berada dalam gua karena ingin melihat bagian luar yang juga terlihat menarik. Selain kucing cantik berbulu lebat yang sedang berjemur, yang terhampar hanyalah bebatuan belaka. Namun bukan sekedar bebatuan tanpa kisah karena awalnya dulu di atas gua konon dibangun sebuah gereja kecil. Bisa jadi demikian karena ada perkembangan kependudukan di wilayah yang kini masuk ke negeri Jordan itu. Tetapi pada akhirnya, seperti umumnya perjalanan waktu di negeri-negeri Timur Tengah, gereja kecil tadi dikonversi menjadi masjid. Menariknya, mihrab masjid tepat tepat di atas pintu depan untuk masuk ke gua, yang tentunya menghadap kiblat.

Meninggalkan bebatuan kuno itu, saya melangkah menuju Masjid Al Kahfi, yang didirikan di kawasan yang sama yang letaknya lebih atas. Kompleks Masjid itu sangat megah dan sangat kontras dengan lingkungan kuno Gua Ashabul Kahfi. Seperti bumi dan langit, yang satu menunjukkan modernitas, lainnya merujuk pada kekuatan alam. 

Setelah mendirikan shalat di Masjid itu, kami melangkah keluar menikmati sesaat waktu bebas untuk mengabadikan tempat bersejarah sekaligus tempat ibadah yang tak kalah indah. Sayangnya, lagi-lagi tak bisa lama, karena bus telah menunggu kami menuju persinggahan berikutnya…

Tempat terendah di muka bumi.

Masjid di atas kawasan Ashabul Kahfi
Pemandangan dari arah Masjid ke lembah

Jeddah Sekejap Mata


Karena tak pernah menggunakan jasa agen dalam melakukan perjalanan, saya telah berjanji pada diri sendiri untuk ‘patuh’ pada itinerary yang dibuat agen perjalanan ketika berangkat Umroh meskipun pada akhirnya saya sering sekali geleng-geleng kepala dalam perjalanan itu. Takjub, dalam arti yang bukan positif. Bagaimanapun, karena ini adalah perjalanan ibadah, -perjalanan ke relung-relung hati antara manusia dan Tuhannya-, saya menerima semua peristiwa yang terjadi sebagai sesuatu yang memperkaya jiwa.

Semua yang terjadi patut disyukuri, meskipun tidak selalu menggembirakan hati. Karena kenyataan yang paling mendasar bagi saya, perjalanan ini sendiri merupakan sebuah kemewahan yang tak terperi, rejeki yang luar biasa dan semua yang tidak sesuai dengan harapan, tidak mengubah nilai kemewahan dan keluarbiasaan perjalanan ini. Bahkan hal-hal yang tak menggembirakan hati itu pun tak ada artinya sama sekali.

Waktu memang berpacu, hari-hari ibadah di Madinah sudah berlalu dan kini, tak lama lagi kami pun harus mengucap selamat berpisah kepada Mekkah, tempat kami berhari-hari bermuhasabah. Siang atau malam, di kota yang di dalamnya terdapat Ka’bah dengan aliran manusia yang tak pernah berhenti bermunajat kepada Allah, Pemilik Semesta.

Datang juga saatnya. Roda bus bergerak perlahan, seakan mengetahui betapa berat hati kami menjauh dari kawasan Masjidil Haram. Tapi sebagaimana tertulis dalam begitu banyak kitab kebajikan, setiap pertemuan memiliki perpisahan, setiap awal berujung pada akhir. Demikian juga perjalanan indah di Mekkah ini. Kawasan yang begitu bercahaya dan berpatokan pada jam di menara tertingginya, terlihat makin menjauh. Di pagi yang belum datang dan masih berselimut gelap, bus kami telah menyusuri aspal, perlahan meninggalkan kota Mekkah dan membuat mata basah. Kota kecintaan ini akan membuat berjuta rindu, penuh harap akan kesempatan-kesempatan untuk kembali lagi mengunjungi kota yang ada di hati setiap Muslim ini.

Sungguh rasanya tak ingin menengok ke belakang karena cahaya kota Mekkah makin memudar…

Menit-menit berlalu dalam sepi, sesekali terdengar bisik antara anggota rombongan, seakan tak mau mengganggu ketenangan mereka yang kembali terlelap di dalam bus. Saya tak mampu memejamkan mata kembali. Rasa galau berpisah dengan Mekkah itu masih terasa, apalagi di saat yang sama bus ini menuju Jeddah. Sebuah wajah otomatis menyeruak keluar dari dalam jiwa. Jeddah adalah tempat almarhum Papa berpuluh tahun lalu berlabuh, mengantar mereka, -para calon haji-, meraih impian menjejak Tanah Suci untuk menunaikan kewajiban agamanya. Perjalanan yang ditempuh dengan begitu banyak kesulitan dan perjuangan, mengarungi samudera, melawan ombak ganas, -bukan hitungan jam atau hari-, melainkan berminggu-minggu. Menggenggam harap meski derita datang silih berganti.

Perjuangan mereka itu berbanding terbalik dengan apa yang dialami jaman sekarang. Dari Tanah Air tak sampai 12 jam terbang, jamaah bisa sampai di Tanah Suci, dengan segala anugerah makan dan minum yang enak, kendaraan yang nyaman dan semua kenikmatan lainnya. Bagi saya, apalah artinya koper yang hilang (baca di sini kisahnya) dibandingkan dengan segala derita dan perjuangan yang dialami calon Haji pada jaman Almarhum Papa membawanya? Ada rasa syukur yang begitu berlimpah, namun juga bercampur dengan kerinduan yang amat dalam kepada beliau yang telah berpulang setahun yang lalu. Secara otomatis lamat-lamat saya membaca Al Fatihah dan serumpun doa untuk beliau yang tercinta.

Sebuah Bangunan di Jeddah

Tak perlu waktu lama, pijar lampu makin menerangi jalan raya menandai wilayah kota Jeddah telah dimasuki. Bangunan makin padat dan makin terasa internasional. Berbeda dengan Mekkah, Jeddah memang dapat dimasuki oleh semua orang dari berbagai agama, berbagai komunitas.

Masjid Juffali

Subuh masih merayap dalam senyap ketika bus terasa melambat. Ternyata bus meliukkan raga besinya itu ke halaman sebuah Masjid agar kami bisa menunaikan ibadah shalat Subuh. Dari atas bus sudah terlihat Masjid begitu cantik dengan cahayanya, teramat kontras dengan warna Subuh yang masih gelap. Berada di seberang Kantor Urusan Luar Negeri yang terpisah oleh jalan raya, tempat ibadah umat Islam ini rupanya dibangun tahun 1986 oleh seorang saudagar Arab yang amat kaya bernama Syeikh Ibrahim Al Juffali. Tak heran, dengan sentuhan tangan Abdul Wahid al-Wakil, seorang arsitek terkenal berkebangsaan Mesir, masjid ini terlihat menawan dengan 26 kubah kecil-kecil dengan satu menara tinggi di sudut Timur.

Masjid Qisas
Di dalam masjid Qisas ( tempat perempuan)

Namun di balik segala keindahan yang memanjakan mata itu, Masjid itu berselimut peristiwa-peristiwa getir dan muram yang terjadi sejak dulu (dan rupanya hingga kini). Di sebuah pelataran di halaman Masjid ternyata merupakan tempat berlangsungnya hukuman pancung terpidana yang dilakukan oleh seorang algojo. Terdengar begitu menyeramkan dan barbar, namun memang itulah yang terjadi di Masjid Juffali atau bagi Jamaah Indonesia lebih terkenal dengan nama Masjid Qisas.

Qisas sendiri memang merujuk pada istilah dalam hukum Islam yang artinya pembalasan. Dengan kata lain, memberikan hukuman setimpal. Mungkin lebih sering kita mendengar istilah mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa. Begitulah, apabila seseorang terlibat dalam kasus pembunuhan, maka dalam aturan Qisas, keluarga korban memiliki hak untuk meminta hukuman mati kepada pelaku dengan cara dipancung di depan umum dan di bumi Arab ini dilaksanakan seusai shalat Jumat, di pelataran tadi yang berukuran 5 x 5 meter berlantai keramik.

Jangan tanyakan prosesnya karena saya tak pernah (dan takkan mau) menyaksikannya. Konon saat pelaksanaannya, sang Algojo akan berdiri dengan jarak tiga langkah dari terpidana. Keluarga korban ada di bagian depan. Ketika tiba waktunya, Algojo mulai melangkah, langkah pertama, kedua dan ketiga. Jika tidak ada tanda, aba-aba atau pergerakan dari keluarga korban, maka Algojo akan menuntaskan pekerjaannya. Namun jika ada pergerakan berupa tangan atau mulut dari keluarga korban, maka Algojo segera menghentikan esksekusinya. Pergerakan, tanda atau aba-aba dari keluarga korban itulah yang menjadi symbol atau makna bahwa keluarga korban telah memaafkan terpidana.

Membayangkan saja sudah membuat perut terasa mulas, tetapi begitulah… Sengeri itu pelaksanaannya namun sesederhana itu pula pengampunannya.

Namun kelihatannya proses eksekusi ini dinilai ‘setengah hati’. Di satu sisi merupakan penerapan dari sebuah intepretasi hukum Islam dan di sisi lainnya adalah pertimbangan politik negeri itu. Karena tidak sedikit petugas intelijen Kerajaan Arab Saudi diterjunkan di antara massa yang menyaksikan peristiwa eksekusi itu sebagai pengawas untuk memastikan proses eksekusi itu tidak tersebar ke dunia luar. Hukumannya tidak main-main karena kebebasan adalah taruhannya. Seseorang bisa langsung dipenjara jika ketahuan membocorkan peristiwa itu ke dunia luar. Ngeri kan?

Setelah cukup waktu di Masjid Qisas, kami melanjutkan perjalanan menuju bandara internasional King Abdul Aziz. Tetapi sebelumnya bus berhenti sejenak di pinggir jalan agar Pak Ustadz bisa memberitahu secara sekilas. Rupanya kami berhenti di luar pagar dari tempat yang dipercaya sebagai makam dari perempuan pertama yaitu Siti Hawa.

Dari atas bus yang hanya berhenti beberapa detik, apalagi hari masih gelap serta pencahayaan yang temaram, saya hanya bisa melihat permukaan dinding yang panjang. Apakah itu dinding pembatas sebelum masuk ke kawasan makam atau bukan, saya sendiri tak bisa memastikan. Seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, saya hanya bisa menganggguk-angguk pada apa yang saya dengar dari Pak Ustad dan semampunya berdoa dalam hati.

Seperti yang diketahui semua orang, sebagai manusia perempuan pertama, Siti Hawa merupakan istri dari Nabi Adam AS. Saat musim haji, makam Siti Hawa ini merupakan salah satu destinasi yang ramai dikunjungi oleh para peziarah seluruh dunia. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang meragukan kebenaran tempat itu sebagai makam dari ibu seluruh manusia di dunia karena kurangnya bukti.

Mall of Arabia, JEDDAH
Jeddah International Airport

Roda bus bergerak kembali menyusuri jalan-jalan di kota Jeddah. Sebuah bangunan besar terlewati, hmmm… Mall of Arabia, mall yang terbesar di kawasan ini, terlihat sepi. Warna keemasan makin merona di ufuk Timur. Terasa ada denyut dalam hati yang membuat saya menarik napas panjang. Jauh di dalam lubuk hati, saya menggerakkan jemari dan melambaikan tangan ke arah pelabuhan yang telah mengukir jejak almarhum Papa berpuluh tahun silam.

Hati terasa menghangat membisikkan kata, “Saya telah sampai di Jeddah, Pa. Tapi maaf, tak bisa menjejak di pelabuhan, di tempat kapal Papa dulu bersandar. Tapi tidak apa-apa ya Pa, bukankah jejak-jejak kita di kota yang sama selalu bertaut dan menjadi kenangan selamanya?”

Satu tarikan nafas melepas ikhlas. Langit Timur terlihat makin terang, bandara internasional Jeddah di depan mata seakan membuka tangannya menyambut kedatangan kami untuk berhenti sejenak sebelum terbang meninggalkan negeri padang pasir ini. Tak lama lagi, dalam hitungan jam, bibir ini akan berucap, Sampai Jumpa lagi Tanah Suci…

Airport in the morning

Sukacita Menjejak Tempat Suci


Bagi yang mengikuti blog saya ini, telah beberapa kali saya mengungkapkan kegemaran jalan-jalan yang sudah ada sejak saya kecil. Menjejak tempat baru membukakan wawasan namun suka duka perjalanan menuju tempat baru itu membuat saya hidup.

Dan dari begitu banyak destinasi, -kebanyakan berupa tempat-tempat yang memiliki sejarah-, hanya ada beberapa tempat yang berhasil memporak-porandakan rasa dalam jiwa begitu dahsyat. Bisa jadi karena tempat-tempat itu diyakini oleh banyak jiwa sebagai tempat suci keimanan.


Puskarni, The Holy Pond

Meskipun saya telah menuliskan dalam pos Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini namun rasanya kata-kata itu tak pernah bisa terangkai dengan tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami ketika menjejak Kuil Mayadevi di Lumbini. Tempat itu konon, merupakan tempat kelahiran Sang Buddha, lebih dari dua setengah millenium yang lalu.

Kuil yang menurut saya terlalu sederhana untuk sebuah lokasi yang dipercaya merupakan tempat kelahiran seseorang yang telah mengguncang dunia, sesungguhnya hanya sebuah bangunan batu yang menutupi sebidang tanah serupa ekskavasi arkeologis. Tak ada hiasan, tak ada altar, tak ada tanda-tanda pemujaan, namun ketiadaan barang-barang duniawi itu tak mampu menghilangkan rasa sakral yang begitu hebat di dalamnya. Hanya dengan sebuah penanda yang dikenal dengan istilah Marker Stone yang terlindung oleh kaca, banyak pengunjung bisa jatuh bersimpuh di depannya. Itulah tempat yang dipercaya menjadi titik akurat kelahiran Sang Buddha Siddharta Gautama.

Suara sayup genta-genta kecil yang berdenting tertiup angin, juga suara bacaan sutra yang disenandungkan di bawah rimbun pohon Boddhi di luar kuil, menambah suasana sakral di Marker Stone yang letaknya tak jauh dari pintu keluar. Bahkan setelah dua setengah millenium, kesakralan tempat itu tetap masih terasa kuat.

A Monk under a Boddhi Tree

Sebagai non-Buddhist yang bisa sampai di tempat itu, saya merasakan energi yang begitu besar melingkupi tempat itu, membuat rambut halus di sekujur tubuh meremang dan perasaan dari dalam menggelegak keluar. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada saya sebelum ini, Berbagai rasa campur aduk, suka cita, bahagia, keharuan yang dalam silih berganti dengan rasa syukur yang berlimpah, semuanya berlangsung dalam waktu singkat membuat diri ini rasanya akan meledak. Tetapi mengenal diri yang lemah ini, saya harus segera melipir keluar mencegah tangis menjadi tersedu dalam sukacita yang dalam.

Lalu melengkapi keluarbiasaan di tempat suci itu, sebuah khata, -selendang sutra putih pembawa berkah-, yang didapat dari seorang biksu di bawah Pohon Boddhi melingkari leher saya. Dengan khata yang melingkar leher, saya meninggalkan Lumbini masih dengan berbagai rasa dari bersyukur, terpesona, bahagia, haru, merasa beruntung hingga rasa sedikit tak percaya mengalaminya, atas semua kebaikan Sang Pemilik Semesta.


Kemudian bertahun-tahun setelah perjalanan ke Lumbini itu, saya akhirnya berkesempatan melakukan perjalanan ibadah umroh ke Makkah dan Madinah yang tentu saja juga meluluhlantakkan rasa dalam jiwa. Rasanya setiap detiknya memiliki kenangan tersendiri, bagaimana saya bisa menjejakkan kaki sendiri, berdiri dengan tubuh sendiri, bersimpuh lalu bersujud meletakkan kening di masjid Nabi dan juga di hadapan Ka’bah. Seperti kata teman-teman saya yang telah melakukan perjalanan serupa terlebih dahulu, hanya ibadah yang ada dalam pikiran, rasanya ingin bermanja-manja selamanya dalam Kasih SayangNya. Bahkan bangun selepas tengah malam lalu berjalan ke arah Masjid pun dilakukan dengan sukacita. Tak berat sekalipun melangkahkan kaki, bertafakur, melangitkan doa dan pujian serta bersyukur. Bahkan di siang hari, saat matahari terik memanggang bumi, tempat-tempat bersujud dan berdoa itu tetaplah nyaman. Payung-payung terkembang untuk melindungi mereka dari terik matahari, karpet-karpet yang tergelar, bahkan mesin-mesin pendingin udara yang menyemburkan udara sejuk untuk kenyamanan ibadah.

Semua yang menyenangkan itu membuat jatuh tersungkur dalam syukur saat mengingat dan membayangkan berabad-abad lalu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga serta sahabat-sahabatnya melakukan perjuangan Islam yang sangat tidak mudah, dengan kondisi alam di Jazirah Arab yang tak bersahabat serta budaya setempat yang tidak kondusif. Dan membandingkan dengan kenyamanan serta semua yang membuat haru biru di tempat saya bersimpuh dan bersujud, bagaimana mungkin saya mengeluh? Saya tak bisa lain kecuali membiarkan airmata bahagia yang terus turun membasahi pipi.

Dan saat itu saya melihat di sekitaran, di depan, di belakang, kiri maupun kanan, memiliki wajah yang serupa, teduh dalam kebahagiaan beribadah memujiNya. Datang dari berbagai bangsa dan warna kulit serta dari segala penjuru dunia, berbalut pakaian yang bernada sama. Bertasbih, memuji namaNya, membaca kitabNya… menikmati undangan dariNya. Rasanya tidak ada rangkaian kata yang tepat untuk mewakili ungkapan rasa yang saya alami. Takkan pernah ada, takkan pernah cukup…

Saat itu, rasa penuh anugerah yang seperti mau meledak dan mendesak terus dari dalam, setiap detiknya, setiap menitnya itu, sungguh sebuah candu, membuat rindu, yang selalu ditunggu.

Saya pun mengamini apa yang dirasakan oleh teman-teman dan kerabat yang pernah menjalankan ibadah umroh terlebih dahulu bahwa semua kebahagiaan selama berada di Makkah dan Madinah itu selalu ingin diulang. Bahagianya itu seperti orang sedang jatuh cinta, ingin selalu berada berdekatan dan merasakan terus mencintai dan dicintai. Namun berbeda dengan rasa jatuh cinta pada manusia lain yang biasa menimbulkan keegoisan berdua dengan orang yang dicintai, rasa bahagia di Makkah dan Madinah ini tidak ada rasa ingin menguasai, bahkan meningkatkan rasa berbagi dan mengikis rasa mendahulukan kepentingan diri sendiri. Mungkin rasa bahagia itu berada di tingkatan yang lebih tinggi…


Dan yang tak kalah penting di akhir tahun 2019 lalu itu, dengan susah payah saya sungguh menahan airmata bahagia saat bus meninggalkan perbatasan Jordan menuju bumi Palestina. Setelah puluhan tahun memendam impian untuk sampai ke bumi Palestina, akhirnya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri Masjid Al Aqsho, saya berdiri di halamannya, bisa menghirup dan menghembus harum udaranya, juga beribadah di dalamnya. Bumi para Nabi. Bahkan sampai sekarang saja, setiap menuliskannya airmata saya selalu meleleh merasakan betapa besar anugerah yang saya terima. Alhamdulillah…

Jika saja saya bisa, rasanya ingin waktu berhenti agar saya bisa berlama-lama menikmati setiap detil kenangan saat berada di Bumi Palestina. Namun manusia ini serba terbatas, meski keinginan bisa liar tanpa batas. Sebisa mungkin saya merekam semua yang dirasakan berada di tempat yang dipercaya sebagai titik awal peristiwa Isra’ Mi’raj.

Tidak hanya itu, berada di Jerusalem membuat saya juga mengingat kembali kisah-kisah yang pernah didengar semasa mengenyam pendidikan di sekolah Katolik berpuluh tahun lalu. Menyusuri lorong-lorong kota tua Jerusalem tak bisa terhindar dari Via Dolorosa (jalan kesengsaraan yang diyakini dilalui oleh Yesus hingga ke Bukit Golgota). Juga, lalu lalangnya rabbi Yahudi dan banyaknya sinagoga di kota ini membuat kebahagiaan tersendiri. Lagi-lagi saya setengah percaya sedang berada di kota Jerusalem, kota yang menelurkan begitu banyak kisah di kitab-kitab suci tiga agama.

Dome of The Rock, Al Aqsho complex
Al Aqsho’s courtyard

Meskipun saya masih berangan-angan untuk mengunjungi Varanasi yang merupakan salah satu kota suci umat Hindu di India, saya tak kecil hati. Di Kathmandu, Nepal saya juga sempat mengunjungi Pashupatinath, salah satu kuil suci Hindu yang memberikan kebahagiaan tersendiri. Juga mengunjungi kuil Changu Narayan di Kathmandu yang memberikan saya begitu banyak keajaiban yang membahagiakan dan tentu saja ke Muktinath, salah satu kuil Hindu yang sederhana namun menjadi salah satu yang sangat sakral.

Jika saya diberikan umur panjang, sepertinya saya masih berkeinginan untuk mengunjungi tempat-tempat suci di dunia ini. Kebahagiaan berada di tempat-tempat itu tak bisa diabaikan begitu saja. Addictive


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-47 bertema Happiness agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

How Are You, Hong Kong?


IMG_0084

Waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin kami sekeluarga merayakan tahun baru di Hong Kong, padahal peristiwa itu terjadi lima tahun yang lalu! Dan saat itu merupakan kali terakhir kami ke Hong Kong. Padahal sebelumnya, Hong Kong selalu menduduki peringkat atas dalam hal destinasi liburan keluarga kami, terutama bagi saya yang sering menggunakan hak veto 😀

Mungkin karena ada alasan romantisme tersendiri dengan Hong Kong. Karena kota ini begitu sering disebut dalam pembicaraan Papa Mama semasa kecil saya. Ke kota inilah mereka berdua menghabiskan waktu berbulan-bulan meski harus menitipkan kakak dan saya di Balikpapan di Opa Oma (dalam kehidupan keluarga yang ditinggal berlayar berbulan-bulan, bagi Mama, -sebagai isteri-, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bisa ikut dalam sebuah pelayaran panjang ke Hong Kong). Selain itu, pembicaraan tentang Kowloon, tentang airport Kaitak (bandara lama sebelum bandara Bandara Chek Lap Kok) yang seperti ‘mau nyemplung’ ke laut kalau mendarat, kapal-kapal ferry dan pelabuhan yang sibuk, senantiasa mewarnai pembicaraan tentang Hong Kong. Mungkin tanpa sadar kisah-kisah yang diceritakan berulang-ulang itu seperti menyerap ke alam bawah sadar saya tentang kehebohan Hong Kong. Hingga saya berucap dalam hati, one day saya akan pergi ke Hong Kong!

Juga kisah sahabat saya yang lebih dahulu berwisata ke Hong Kong dan menyarankan saya untuk bisa ke kota metropolitan yang termasuk wilayah administrasi khusus China itu. Katanya, saya pasti suka! Tanpa perlu visa, di luar Asia Tenggara, modern, dan cukup mudah orientasinya karena banyak petunjuk bahasa Inggris.

Dan benarlah, akhirnya saya menaikkan prioritas untuk bisa pergi ke Hong Kong. Bahkan untuk trip pertama kali saya melakukannya secara backpacking dengan memboyong kedua putri saya tanpa sang suami. Nekad memang, tetapi penuh keseruan. Tujuan utamanya hanya satu: ke Disneyland! 

Gilanya, karena begitu senang bisa berlibur bertiga, ada hal yang teramat penting yang saya anggap enteng. Saya gagal booking hotel untuk hari pertama dan tanpa sadar saya melangkah terus melewati konter pemesanan hotel di bandara yang letaknya sebelum pintu keluar dan nyelonong keluar tanpa rasa bersalah!

Apapun alasannya, ketika sudah berada di area publik dari terminal kedatangan, saya langsung sadar dan panik. Celaka dua belas! Saya tak bisa masuk lagi ke dalam, padahal deretan konter hotel itu ada di dalam. Akhirnya, saya nekad menemui petugas di pintu keluar tadi dan memohon ijin untuk masuk lagi untuk memesan hotel di konter dekat dengan pintu keluar. Awalnya petugas itu dengan keras menolak, namun saya kekeuh memohon sambil menunjukkan muka memelas, menunjuk hari sudah malam dan mengatakan ada anak-anak. Meskipun mukanya bersungut-sungut, akhirnya dengan sedikit kesal ia membiarkan saya masuk lagi. Sejak itu saya kapok! Saya pasti sudah selesai booking tempat penginapan untuk hari pertama.

Meskipun demikian, saya tetap menyukai kota ini dan salah satu yang saya suka di Hong Kong adalah transportasi umumnya. Bisa dibilang hampir semua tempat wisata bisa dijangkau dengan transportasi umum, baik kereta, tram, taksi, ferry atau bus. Dan tentu saja pembayarannya mudah sekali dengan menggunakan kartu Octopus. Begitu sering kami ke Hong Kong dalam periode yang tidak terlalu lama (duluuu lho), masing-masing dari kami punya kartu Octopus.

Saat kami ke Disneyland, kami menggunakan kereta, meskipun harus mengatur jadwal agar bisa sampai lebih awal dan pulangnya tidak tertinggal kereta terakhir karena kami tak mau melewatkan pertunjukan kembang api di Disneyland yang amat indah. Dan rasanya seperti Disneyland dimana-mana, keretanya selalu lucu. Di Hong Kong keretanya berjendela Mickey Mouse. Cute kan?

IMG_3301e

Berkunjung ke Hong Kong belum bermakna bila belum mencoba langsung Star-ferry legendarisnya yang menghubungkan tempat-tempat di sekitar Victoria Harbour dan Kowloon. Bukan masalah cepatnya karena sekarang sudah bisa menggunakan MTR atau mobil melalui terowongan bawah laut, melainkan merasakan segarnya aroma dan angin laut Hong Kong dan utamanya merasakan transportasi berusia seabad lebih itu.

Selain Star-ferry, Hong Kong juga punya tram legendaris yang bolak-balik di kawasan Central hingga Causeway Bay. Melihatnya saja menarik, apalagi jika mengetahui nama favoritnya yaitu Ding-Ding 😀 Murah, meriah dan lucu… Saya jadi teringat di pelajaran sejarah bahwa Jakarta dulu juga memiliki tram. Bisa dihidupkan lagi gak ya???

Belajar dari kesalahan pertama yang menggunakan taksi dari bandara ke hotel, akhirnya saya begitu jatuh hati dengan kereta bandara Hong Kong yang cepat dan mewah. Dari bandara Hong Kong yang keren itu, saya bisa langsung turun di Kowloon atau di Hong Kong Station. Jadi hemat waktu. Selain itu, pemandangannya indah! Meskipun setelah turun di stasiun Hong Kong, yaa… pernah juga tersesat di dalamnya 😀 (stasiun ini merupakan salah satu yang terbesar di Hong Kong karena terintegrasi dengan stasiun Central).

Pernah sekali waktu saya pergi bersama anak bungsu secara backpacking dan mencoba cross-border ke Shenzhen karena tujuan kami ke Window Of the World. Kami berangkat dari hotel lalu menaiki MTR ke Stasiun Tsim Sha Tsui lalu jalan kaki lagi ke Stasiun East Tsim Sha Tsui. Dari sana kami naik kereta menuju Hung Hom dan berganti kereta untuk menuju Lo Wu. Sampai terkantuk-kantuk kami berdua menyaksikan penumpang yang awalnya sedikit lalu menjadi banyak hingga kembali sedikit selama perjalanan dari Hung Hom sampai Lo Wu yang lamaaaaa sekali. Tidak heran, namanya saja perjalanan kereta dari stasiun awal hingga stasiun akhir. Namun perjalanan panjang itu berbuah manis karena kami bisa menikmati Window of The World di Shenzhen, meskipun kaki terasa pegal…

By the way, siapa yang pernah ke Hong Kong dan merasa pegal karena jalan kaki? Bagi saya dan anak-anak, jalan kaki di Hong Kong merupakan salah satu jalan kaki yang ‘bikin kaki rasanya mau potek‘ 😀 apalagi jika ditambah momen tersesat, momen belanja, momen mau ngirit dan seterusnya… 😀 😀 😀

Bicara soal tram, rasanya tidak lengkap jika tidak mencoba tram yang mengangkut pengunjung ke The Peak, tempat populer untuk melihat keindahan panorama Hong Kong di waktu malam. Tapi untuk sampai ke The Peak, pengalaman naik tram itu sendiri lebih menegangkan dan seru. Dengan naik hingga hampir 400 meter ketinggiannya, kemiringan yang terjadi luar biasa curam, begitu menyeramkan karena rasanya kuatir tram ‘tidak kuat’ lalu menggelinding jatuh! Benar-benar tak terlupakan!

Lucunya pada kesempatan berbeda ketika saya berdua suami ke Hong Kong hendak ke The Peak, mendadak saya memperlambat langkah menuju stasiun The Peak Lower Terminus itu. Ada kerumunan cukup banyak orang di sekitarnya dan beberapa petugas bersiaga. Saya agak cemas dengan situasinya sehingga saya berdiri agak jauh di seberangnya sambil mengamati situasi. Tiba-tiba saya tersadarkan ketika menyadari bahwa kerumunan itu adalah buruh migran yang sedang menyampaikan unjuk rasa mengenai kenaikan BBM mengingat saat itu Bapak Presiden SBY sedang berada di Hong Kong. Jauh-jauh ke Hong Kong, eh masih ketemu unjuk rasa warga sebangsa di negeri orang…

Hong Kong masih menyisakan cerita mengesankan ketika saya dan anak-anak menaiki kereta gantung Ngong Ping 360  menuju Patung Buddha Tian Tan di Lantau Island. Pemandangan lepas ke arah laut dari ketinggian itu teramat cantik meskipun bagi anak bungsu saya hal itu sangat menyebalkan. Ia memunggungi arah laut sambil sedikit mengancam jika kakaknya atau saya bergerak-gerak atau berpindah tempat duduk. Saya tersenyum lebar memahaminya lalu merangkulnya untuk menenteramkan. Sebagai anak yang terus mencoba untuk berani menghadapi phobia ketinggiannya, dia telah begitu hebat untuk bisa sampai di level sekarang, bisa naik di kereta gantung yang amat tinggi ini.  Di tengah perjalanan kereta yang berayun-ayun itu, meskipun tahu jawaban akan ditolak saya, dia santai menchallenge mamanya, “pulangnya bisa gak sih kalau gak pake cable car ini?” 🙂 🙂 🙂

Hong Kong tetap menjadi tempat yang menyenangkan pada saat itu, berjalan bergandengan tangan di Avenue of the Stars sambil menikmati laut atau memajang senyum lebar melihat antrian para warga +62 saat SALE produk-produk branded yang dijual di sekitaran Tsim Sha Tsui, mengunjungi museum-museum yang banyak tersebar atau mencoba panjangnya The Escalator yang terkenal itu yang menghubungkan Central dan wilayah Barat.  Atau ke Hong Kong Sky100, yaitu naik ke lantai 100 dari gedung International Commerce Centre dan melihat panorama 360 derajat Hong Kong dari ketinggian gedung. Dan tidak boleh dilupakan melihat patung-patung orang terkenal di Museum Madame Tusaud.

P1020161
Hong Kong From Sky100

Dan saya begitu trenyuh melihat mereka para buruh migran yang menikmati akhir pekannya dengan bercengkrama bersama teman-temannya di Victoria Park atau taman-taman sekitarnya. Melihat perjuangan mereka, -sang pahlawan devisa-, yang berbulan-bulan jauh dari keluarga, bahkan mungkin menjadi tulang punggung bagi keluarganya, mereka tidak jarang malah dipandang sebelah mata oleh sebagian bangsanya sendiri.

Di Hong Kong juga, hanya berdua dengan suami, saya menikmati honey-moon yang kesekian kalinya, di tengah udara sejuk Hong Kong. Tapi ‘pacaran’-nya pun tetap meluangkan waktu melihat sibuknya kegiatan bisnis di sana, menyaksikan para investor saham di bursa Hang Seng yang terkenal, mencari Bull sculpture yang maunya sedang bullish yang biasanya berada di antara skyscrappers finansial dan investasi dengan berbagai brand dunia.

Hong Kong itu selalu meninggalkan kesan yang menyenangkan bagi kami sekeluarga. Terakhir kami ke Hong Kong sengaja menggabungkan diri dalam lautan manusia yang merayakan malam tahun baru, ikut bersama-sama berteriak untuk count-down lalu menikmati sajian kembang api yang berlangsung lama. Teramat cantik menghias langit Hong Kong.

Saat merayakan tahun baru itu, percaya tidak, bahwa pada hari sebelumnya dunia saya terbolak-balik karena kehilangan dompet berisi uang dan kartu kredit, yang disadari ketika berada di Macau. Kemudian bagai kesetanan saya tracking back, menelepon semua orang di tempat-tempat yang saya datangi, memohon-mohon dan menggantung harapan pada orang terakhir yang bisa saya hubungi. Kisah serunya bisa dibaca di tautan berikut ini: Dompetku Hilang di Luar Negeri…!!!

Apapun yang belakangan mewarnai Hong Kong, yang sebelumnya penuh dengan unjuk rasa yang sepertinya tidak pernah berhenti, rasanya saya tetap menyukai kota Hong Kong dengan segala dinamikanya. Walaupun saya merasakan keramahannya menjadi sedikit berkurang, hanya sedikit saja…

Semoga Hong Kong senantiasa baik-baik saja…

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-32 bertema City agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.