Kamboja, Negeri Penuh Makna


Rasanya masih ingat moment istimewa jelang akhir tahun 2010 itu, saat hendak menentukan mau ke negara mana lagi di kawasan Asia Tenggara. Ketika itu saya memegang buku Lonely Planet Southeast Asia on A Shoestring dan sudah menentukan prioritas, Vietnam berada di peringkat atas dan Kamboja berada paling bawah. Alasannya sederhana. Saya meletakkan Kamboja  paling bawah karena saya takut hantu dari orang-orang yang meninggal tak wajar dan Kamboja bisa dibilang jawaranya, karena belum lama keluar dari masa kelam akibat genosida Khmer Merah itu. Seorang teman yang sering menakut-nakuti selalu bilang, anggaplah 1 persen dari korbannya menjadi hantu, itu artinya 16.000 dan itu banyaaaakkk!

Tetapi faktanya, seperti bumi dan langit. Setelah momen itu, di kuartal pertama tahun berikutnya saya justru mengunjungi Kamboja, bahkan hingga berkali-kali bolak balik ke negeri itu dan Vietnam baru saya kunjungi di penghujung akhir tahun 2015, itu pun hanya satu kali ke Vietnam Tengah yang hingga kini angka itu belum berubah 😀

Lalu apa yang membuat saya ke Kamboja?

Angkor Archaeological Park 

Sebagai penggemar sejarah dan candi-candi Hindu Buddha, bisa dibilang saya ternganga ndhlongop saat pertama kali ke kompleks candi Angkor, yang jumlah bangunannya banyak sekali dan tidak cukup tiga hari dikelilingi. Angkor Wat saja sudah luas sekali, Belum lagi di tambah Phnom Bakheng dan kawasan Angkor Thom yang ada Baphuon, Bayon, kawasan Royal Palace lengkap dengan Phimeanakas, lalu Terrace of The Elephants dan Terrace of the Leper King. Tentu saja dengan ke lima gerbang Angkor Thom yang keren-keren itu. Dan yang pasti Ta Prohm temple yang selalu dihubungkan dengan film Tomb Raider-nya Angelina Jolie. Ada yang sudah pernah ke Preah Khan temple atau Banteay Kdei? Hmmm, bagaimana dengan Ta Som, Neak Pean, East Mebon, Takeo, Pre Rup dan Prasat Kravan serta kompleks candi Roluos atau Banteay Samre dan Banteay Srei?

Bahkan saya tak puas hanya sekali atau dua kali, sehingga setiap ada kesempatan ke Kamboja saya selalu mengupayakan ke Angkor. Tidak heran, hampir semua candi itu sudah saya datangi. Hampir semua, supaya ada alasan untuk kembali lagi!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tidak hanya itu, bisa dibilang saya telah meninggalkan jejak di hampir seluruh kompleks candi di Kamboja, termasuk kompleks candi yang sangat remote. Di Preah Vihear yang di perbatasan dengan Thailand, atau Beng Mealea dan Koh Ker. Bahkan kompleks candi Preah Khan Kp. Svay yang sangat jauh dari perkampungan manusia pun saya kejar. Juga kawasan percandian Sambor Prei Kuk yang belakangan ini mendapat gelar UNESCO World Heritage Site. Selain candi-candi kecil di dekat Battambang atau Phnom Penh, saya mendatangi juga kawasan percandian Banteay Chhmar yang lokasinya dekat dengan Sisophon, tak jauh dari perbatasan Thailand. Dan bagi saya ini, masih banyak tempat yang bisa saya datangi untuk melihat candi.

Jadi kalau ke Kamboja, tidak ke Angkor… itu namanya belum ke Kamboja hehehe…

Tuol Sleng & Choeung Ek

Meskipun saya ini penakut, saya memberanikan diri pergi ke “ground zero“-nya penyiksaan Khmer Merah ini. Kok nekad? Karena saya percaya dengan nasehatnya Nelson Mandela yang mengatakan The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear. Dan mengalahkan ketakutan saya ini membukakan pintu-pintu pemahaman dan makna buat saya.

Bahwa demi ideologi, bagi sebagian manusia, nyawa manusia lainnya menjadi tak berarti hanya karena berbeda.

Di tempat ini saya juga belajar bahwa penggiringan falsafah tanpa keberagaman akan membawa kepada konsep diktator yang merusak tatanan kehidupan. 

Jika datang kedua tempat ini tidak dapat menggerakkan rasa kemanusiaannya, sepertinya diragukan kenormalannya sebagai manusia yang berperasaan hehehe…

IMG_5453

Wajah Maaf & Kebesaran Jiwa

Sebagai akibat peristiwa genosida yang menghabisi satu generasi, tak jarang saya menyaksikan wajah penuh maaf dan toleransi pada penduduk lokal Kamboja, Ketika perang sipil berlangsung dalam waktu yang panjang dan mengakibatkan penderitaan tak berkesudahan, satu-satunya jalan untuk hidup lebih baik adalah pemberian maaf, toleransi dan memiliki kebesaran jiwa. Dendam tak akan pernah membawa kebaikan, kecuali hanya membawa derita. Bagaimana mungkin mendendam kepada orang yang sama-sama menderita, yang mungkin sama-sama dikenal, mungkin sama-sama tetangga di kiri kanan rumah, bahkan mungkin sebagai kerabat. Hanya orang yang memiliki kebesaran jiwa yang bisa keluar seutuhnya dari neraka kemanusiaan yang pernah terjadi di bumi Kamboja.

Jika Anda ke Kamboja dan bisa menjadi saksi wajah maaf dan kebesaran jiwa yang dimiliki sebagian penduduk tua di Kamboja, maka berbahagialah. Sesungguhnya tak mudah menemukan hal itu sekarang.

Kemiripan Budaya 

Saya yang termasuk picky terhadap makanan asing, ternyata lidah saya bisa menerima dengan nyaman makanan dari Kamboja, terutama fish amok yang luar biasa enak itu. Campuran bumbu yang ada di dalamnya membuat lidah saya sepertinya ‘kenal’ dengan yang biasa saya telan di negara sendiri, sehingga saya welcome saja dengan makanan Kamboja. Bisa jadi karena tradisi memasak sesungguhnya berakar dari sumber yang sama yaa… Belum lagi cara mereka membungkus makanan atau kue-kue yang juga menggunakan daun pisang. Tidak jauh beda dengan kita kan?

Saya juga teringat dengan minuman selamat datang yang diberikan hotel saat saya check-in. Saya mengira akan diberikan minuman rasa jeruk, apel atau buah-buahan standar lainnya tetapi mereka justru memberikan saya sereh (lemongrass) yang amat segar. Meskipun berbeda dari biasanya, lidah saya mengenal rasa itu seperti di Indonesia. Saya justru terkejut gembira mendapatkan sesuatu yang familiar seperti di negara sendiri.

Dan selagi di sana, saya biasanya memperhatikan wajah penduduk asli Khmer. Meskipun menurut saya hidung orang Indonesia lebih bagus, wajah penduduk asli Kamboja bisa dibilang lebih mirip dengan kita, dibandingkan dengan Malaysia. Ini menurut saya lho… Dan karena sejalan dengan penyebaran Indianisasi, banyak kata-kata bahasa Khmer yang dari pengucapan bisa dibilang mirip atau tak jauh dengan bahasa Indonesia. Dan mengetahui hal ini, sangat menggembirakan saya dan mencari tahu lebih banyak lagi… Contohnya, Guru dan Krou (dengan huruf o-nya hampir hilang), Kampung dan Kompong, Kerbau dan Krabei (i-nya hampir hilang), Pasar dan psar, Kapal dan Kbal. Muka dan muk. Menarik kan? Ada yang pernah tahu kata-kata apalagi yang mirip?

Kalau bicara seni tradisional, wah bangsa Kamboja juga memiliki pertunjukan wayang, meskipun ukuran wayangnya besar (bisa lebih dari 1 meter) dan dimainkan oleh lebih dari satu orang dan layar putihnya panjang sekali. Saya sendiri menikmati pertunjukan wayang Kamboja ini justru di Jakarta dan belum pernah menyaksikan langsung di tempat asalnya. Malam itu, -disaat semua orang sedunia menyaksikan pernikahan agung Pangeran William dan Kate Middleton di London-, saya justru menikmati cultural performance dari Kamboja di Jakarta, hehehe…

Selain itu di Kamboja juga memiliki tarian tradisional yang dilakukan berpasang-pasangan dengan menggunakan tempurung kelapa yang saling diketok satu sama lain, seperti tarian tempurung di Indonesia. Pernah lihat?

Nah, siapa diantara kita yang suka kerokan ketika sedang ‘masuk angin‘? Kebiasaan turun temurun dari para leluhur yang dikenal dengan sebutan kerokan itu ternyata dikenal juga lho di Kamboja. Meskipun namanya bukan kerokan, melainkan goh kyol.

Dan bertemu teman-teman Indonesia…

Di Kamboja, saya memiliki teman-teman baru yang memiliki keterikatan yang kuat dengan Kamboja. Entah yang seperti saya yang sekedar berkunjung, atau mereka yang bekerja di sana. Apapun itu, mereka adalah orang-orang hebat. Dan bukan di kedutaan kami bertemu, melainkan di sebuah warung. Warung Bali di Phnom Penh, tepatnya. Tempat itu sudah seperti kedutaan Indonesia yang tak resmi, yang berlokasi sangat strategis karena hanya selemparan batu dengan Museum Nasional dan Royal Palace serta tempat hang-out di sekitaran kawasan riverside di Phnom Penh. Dan jika beruntung, kita bisa berdiskusi hangat di sana sambil diselingi humor. Rugilah kalau ke Kamboja tidak sempat mampir ke Warung Bali. Makanannya enak-enak dan lidah bisa istirahat sejenak dari berbahasa Inggeris terus di sana…

Terlepas dari berita-berita negatif tentang Kamboja yang dialami pejalan dari Indonesia, seperti penjambretan tas di tuktuk, atau korupsi kecil-kecilan di perbatasan, atau kesan ‘Kamboja itu gak ada apa-apa’, atau ‘negara miskin’, bagi saya pribadi Kamboja tetap menjadi negara yang akan saya datangi secara rutin di kemudian hari selama Tuhan mengizinkan. Dimanapun kita harus tetap waspada dengan barang-barang kita sendiri. Dan soal korupsi, selama negara sendiri belum bebas sepenuhnya dari kata itu, sebaiknya kita tak menunjuk negara lain, karena meskipun hanya satu noktah, kita terpapar juga.

Lagi pula bagi saya, berkunjung ke negara lain itu untuk mencari makna perjalanannya sendiri dan bersyukur punya negara sendiri serta bukan menjadi sebuah pertandingan untuk banyak-banyakan stamp imigrasi (Lhaa… kalau mau banyak-banyakan, bisa susun itinerary 1 hari 1 negara, atau langsung terbang lagi setelah dapat stamp, sampai mabok! 😀 😀 😀 )


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-31 ini bertema Cambodia agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Blue Sky Over The Stupas


Blue Sky over the Stupas on Shwedagon

Rasanya saya tidak akan lupa momen itu. Momen berakhirnya perjalanan di Myanmar karena sesaat lagi saya harus meninggalkan tempat ini menuju bandara internasional Yangon untuk kembali ke tanah air. Saya ingin memeluk momen indah ini selagi bisa, sampai saatnya tiba untuk melepaskannya…

Meskipun masih banyak tempat menarik di Yangon yang belum sempat saya kunjungi tujuh tahun lalu, tetap saja saya memilih Shwedagon sebagai tempat mengakhiri perjalanan di Myanmar kali ini.

Tujuh tahun lalu saya ke Myanmar, saya menjadikan Shwedagon sebagai destinasi utama, menjadi alasan untuk datang ke Myanmar. Jika ingin tahu alasan utamanya bisa buka link ini. Dan kini, setelah kepergiannya, rasanya saya ingin memeluk kenangan itu selamanya, sepanjang saya bisa untuk berada di tempat yang mampu membahagiakannya.

Bisa jadi saya halu, kata anak-anak jaman now. Biar sajalah, karena bagi saya pribadi melakukan sebuah perjalanan bukanlah untuk berkompetisi dengan orang lain. Saya melakukan perjalanan karena ingin merajut tempat-tempat yang saya kunjungi menjadi rangkaian momen yang indah penuh makna dalam hidup. Juga saat ini, saat memeluk momen untuk mengakhiri sebuah perjalanan.

Ketika dulu, tujuh tahun lalu, saya penuh haru tapi penuh semangat bisa menjejak di tempat saya berdiri ini, kini saya juga diliputi haru namun berat untuk melepas. Sebuah rasa haru yang saling bertolak belakang berada di tempat yang sama.

Dan saat itulah, saya melihat ke puncak-puncak stupa keemasan dengan latar langit biru.

Seketika itu juga saya terperangah, memberikan kesadaran bahwa apa yang saya rasakan dulu dan apa yang saya rasakan sekarang semuanya relatif, namun yang pasti saya tetap sama. Berada di dalam naungan cinta tanpa syarat Sang Pemberi Hidup. Lalu mengapa harus merasa berat?

Ah, sambil tersenyum dengan kesadaran yang membahagiakan itu, saya melangkah ringan meninggalkan tempat itu.

*

By the way, since I’ve uploaded a picture of holy place in Myanmar and today is Vesak Day, let me wish for those who celebrate

Happy Vesak Day

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,

May all beings be well, may all beings be happy and may all beings be free from suffering


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-19 ini bertema Blue Sky agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

What Do You Think About Kyoto Station?


Pertama kali menginjakkan kaki di Kyoto, -setelah sekitar 2,5 jam naik Shinkansen dari Yokohama-, saya benar-benar dibuat terpesona akan kemegahan stasiun di kota yang dulu pernah menjadi ibukota resmi kekaisaran Edo. Awalnya terbayang sesampainya di Kyoto saya akan melihat gedung penuh budaya tradisional Jepang, namun kenyataannya adalah gedung megah multi-level yang menggunakan struktur baja setinggi 60 meter dengan gayanya yang ultra-modern. Asli keren!

Begitu turun dari kereta peluru Shinkansen itu, saya berbaur dengan begitu banyak orang pengguna stasiun kereta yang katanya terbesar nomor 2 setelah Nagoya (Bahkan Tokyo saja kalah, padahal Tokyo Station itu rasanya besaaaarr sekali!) Bahkan tak hanya stasiun, di gedung ini juga terintegrasi hotel, restoran, toko-toko, tempat hiburan, panggung dan banyak fasilitas lain untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.

p1030176
Inside Kyoto Station

Dan ternyata sejarah stasiun ini menarik juga. Gedung stasiun kereta pertama kali dibangun tahun 1877 menggunakan bata merah (saat itu penggunaan bata merah merupakan bahan paling modern) dan berlokasi agak ke Utara dari lokasi sekarang. Bahkan Kaisar Meiji sendiri hadir dalam pembukaan stasiun pertama itu. Hebat ya? Lalu karena semakin banyak orang yang memanfaatkan stasiun, maka stasiun kedua dibangun pada tahun 1914 bertepatan dengan upacara penobatan Kaisar Taisho. Menempati lokasi di gedung saat ini, stasiun kedua itu dibangun menggunakan kayu pohon cemara dengan gaya Renaissance yang menawan dan menjadi kebanggaan perkeretaapian nasional Jepang, sementara stasiun pertama diubah menjadi alun-alun publik. Sayangnya akibat terbakar habis di tahun 1950, stasiun Kyoto dibangun kembali secara terburu-buru dengan menggunakan beton agar fungsinya bisa berlanjut. Baru pada tahun 1990-an untuk memperingati 1200 tahun berdirinya kota Kyoto, setelah musyawarah berkepanjangan selama dua puluh tahun, diadakan kompetisi pembangunan baru dengan melibatkan tujuh arsitek kelas dunia. Akhirnya Hiroshi Hara yang memenangkan kompetisi, dengan menggunakan struktur kaca dan baja yang sangat futuristik. Disain itu mendapat kritikan keras dari masyarakat setempat karena katanya, merusak pemandangan Kyoto sebagai kota tradisional. Tapi bangunan 15 lantai itu selesai juga dalam waktu tiga tahun lebih dan dibuka pada tahun 1997. Walau hingga kini masih menuai kritik, tapi perhatikan saja, banyak wajah yang terkagum-kagum, termasuk saya, melihat kemegahan futuristik Stasiun Kyoto.

Dalam menjelajah Stasiun Kyoto, sambil menunggu jadwal kereta, saya sempat menyaksikan pertunjukan musik Hawaii-an yang mengalun, lengkap dengan ibu-ibu yang tidak muda lagi, menyanyi sambil berlenggak-lenggok. Saya benar-benar terhanyut mendengar musiknya. Selain itu , di lantai paling atas, -The Sky Garden-, kita bisa melihat seantero kota Kyoto. Tapi perlu diingat ya, arsitektur stasiun ini dibuat terbuka sehingga dari ketinggian lantai-lantai atas, kita bisa melihat langsung kesibukan di lantai-lantai bawahnya secara langsung. Bagi yang punya phobia ketinggian, be aware ya!

p1030229
Hawaiian Music… Alohaaa…

img_8229
Kyoto Station from top

Orientasi Arah di Stasiun Kyoto

Untuk mudahnya, stasiun ini bisa dimasuki dari arah Utara dan Selatan. Pintu masuk utama berada di sisi Utara, yang langsung berhadapan dengan stasiun bus dan menara Kyoto (Jadikan menara ini sebagai pegangan agar tidak mudah tersesat). Pintu Utara ini dikenal sebagai Gerbang Chuo atau sering juga disebut Sisi Karasuma (karena jauh di Utaranya terdapat stasiun Subway Karasuma, yang merupakan stasiun interchange untuk kedua jalur subway). Sedangkan sisi selatannya disebut Sisi Hachijo, sesuai nama jalan di depannya, disini terdapat hotel dan mal. Di sisi Selatan ini merupakan peron Shinkansen.

Nah jika masuk dari Pintu Utara mau ke peron Shinkansen yang ada di Selatan, naiklah ke lantai 2 bagian Barat stasiun. Disini ada jalur pejalan kaki yang membentang dari Utara hingga Selatan, melewati pertokoan Isetan, Gerbang Barat untuk Kereta JR dan akhirnya Peron Shinkansen di Selatan (sebenarnya tenggara sih 🙂 ) atau di sebelah kiri dari tempat jalan kaki.

Cara lain, dengan melalui jalur bawah tanah (basement) yang terletak di bagian Timur stasiun dan membentang dari Utara ke Selatan juga, serta menghubungkan ke pintu-pintu masuk JR Lines, Shinkansen maupun Subway. Di Bagian Utara basement terdapat pusat perbelanjaan Porta yang memungkinkan untuk muncul di Stasiun Bus atau bahkan ke Subway.

Jangan takut, semua petunjuk nomor peron terlihat jelas, baik dalam bahasa Inggeris maupun bahasa Jepang (jika bisa baca tulisan Jepang ya)

img_8227
Sky Garden Kyoto Station

Jalur Kereta JR

Bagi pemegang JR Pass untuk pergi ke daerah wisata dari Kyoto, bisanya mengakses kereta-kereta JR melalui nomor peron di bawah ini (karena gratis kan..)

  • Peron 0 untuk kereta Thunderbird Limited Express di Jalur Hokuriku menuju Kanazawa & Toyama (untuk menuju kawasan wisata Shirakawago, Alpine Route dan lain-lain).
  • Peron 4 dan 5: untuk kereta JR Kyoto Line menuju Osaka atau Himeji (terkenal kuil yang berwarna putih sebagai UNESCO World Heritage Site)
  • Peron 6 dan 7: untuk kereta Super Hakuto Limited Express di Jalur Chizukyuko menuju Tottori & Kurayoshi. Juga untuk kereta Kuroshio Limited Express di Jalur JR Kinokuni yang menuju Wakayama (yang terkenal dengan pemandangan airterjun tinggi di sisi kuil merah).
  • Peron 8, 9 dan 10: untuk kereta Jalur JR Nara menuju Inari, Uji & Nara (untuk ke kuil Fushimi Inari yang terkenal dengan ribuan tori dan ke Nara yang terkenal dengan Buddha Raksasa dan kejinakan rusa-rusanya)
  • Peron 30 yang ada di sudut barat laut Stasiun: Untuk kereta Haruka Express Limited, menuju Bandara Internasional Kansai (KIX) di Osaka
  • Peron 31, 32 dan 33 yang juga ada di sudut Barat Laut Stasiun: untuk kereta Jalur JR Sagano menuju Nijo (kastil terkenal), Saga-Arashiyama (untuk ke kawasan hutan bamboo atau kawasan turis yang terkenal keindahannya saat musim gugur atau musim semi)

Shinkansen

Seperti yang sudah saya tulis di atas, peron Shinkansen terletak di sisi Selatan atau persisnya di sisi tenggara Stasiun Kyoto, yang melayani jalur kereta Tokaido Shinkansen antara Tokyo dan Shin-Osaka.

  • Peron 11 dan 12: untuk naik kereta Shinkansen menuju Tokyo atau Nagoya.
  • Peron 13 dan 14: untuk naik kereta Shinkansen menuju Osaka (Stasiun Shinkansen Osaka berada di Shin-Osaka, bukan di Osaka Stasiun ya) dan Fukuoka/Hakata (termasuk ke Okayama, yang terkenal kastilnya atau Hiroshima, kawasan memorial bom atom)

img_8230
From the top corner of Kyoto Station

Kereta Bawah Tanah Kyoto

Jalur Subway Kyoto hanya ada 2, Jalur Karasuma yang membentang dari utara ke selatan melalui pusat kota Kyoto. Jalur ini digunakan untuk pergi dari Stasiun Kyoto ke Kokusaikaikan di Utara atau ke Takeda di Selatan, dan bisa transfer di Karasuma Oike (kearah Utara) untuk mengganti ke subway lain yaitu Jalur Tozai yang membentang dari timur ke barat melalui pusat kota.

Pintu masuk ke Stasiun Subway tersebar di seluruh gedung Stasiun Kyoto, namun yang paling mudah berada di bagian Timur gedung. Atau jika sedang berada di luar Stasiun Kyoto atau di area Stasiun Bus yang berada di bagian Utara, banyak petunjuk arah menuju pusat perbelanjaan bawah tanah Porta, tempat yang memilikii akses langsung ke Stasiun Subway Kyoto.

*

Nah bagi saya, berada di Stasiun Kyoto sudah merupakan kenikmatan tersendiri. Saat menunggu jadwal kereta berikutnya atau ketika ingin sedikit bersantai tanpa mengeluarkan biaya apa-apa, berada di Stasiun Kyoto sudah merupakan kesenangan tersendiri. Apalagi jika lapar, banyak sekali restoran disini, tinggal dipilih….

****

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-3 ini bertemakan Stasiun, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Warna-Warni Rute Subway di Tokyo


Sejak pertama kali menjejak Tokyo bertahun-tahun lalu, selain menggunakan kereta komuter JR Yamamote line yang ada di atas tanah, saya selalu menggunakan kereta bawah tanah (Subway), -yang jaringannya sudah mirip Spaghetti-, untuk mencapai destinasi yang saya inginkan, tentunya dengan bantuan aplikasi juga seperti hyperdia(dot)com dan Tokyo Metro(dot)com juga. Saya ingat, pertama kali memandang peta subway Tokyo ini, saya ngakak abis, sambil geleng-geleng kepala, pasrah menghadapi ruwetnya…

Tetapi saya yakin tak sendirian karena, jangankan turis yang baru pertama kali, orang lokal saja kadang terdiam mengamati papan rute kok. Untungnya (iya, selalu ada untungnya kan?), jalur itu dibuat warna-warni. Selain memudahkan untuk menelusurinya, bagi saya peta itu terlihat indah dengan warna-warni rutenya. Satu jalur satu warna, coba bayangkan bila rute itu hanya dibuat hitam putih! :p

tokyo metro

Terima kasih Wikipedia karena katanya, salah satu jalur subway di Tokyo yaitu Jalur Ginza antara Ueno dan Asakusa sepanjang 2,2 km itu, merupakan jalur subway pertama di Jepang yang dioperasikan untuk publik di tahun 1927. (Duh, Indonesia ketinggalan banget ya, hampir 100 tahun bedanya dengan Jepang, padahal di dunia subway pertama kali berfungsi tahun 1863 di London!).

Sekarang ini, di Tokyo tersedia 13 jalur subway yang terdiri dari 9 jalur yang dikelola oleh Tokyo Metro dan 4 jalur yang dikelola oleh Toei Subway, yang melintasi lorong-lorong bawah tanah Tokyo yang bertingkat-tingkat kedalamannya. Setiap stasiun pasti ada lift untuk mereka yang mendapatkan prioritas seperti para lanjut usia dan anak-anak. Maaf ya, saya kadang mencuri kesempatan naik lift itu karena kaki sudah mau putus rasanya…

Seperti yang dilihat pada gambar di atas itu, jalur-jalur subway di Tokyo mencakup:

Jalur Subway Yang Dikelola oleh Tokyo Metro

  1. Jalur Ginza, yang berwarna oranye, mencakup 19 stasiun dari Stasiun Shibuya hingga Stasiun Asakusa, melewati stasiun-stasiun besar seperti Akasaka, Shimbashi, Ginza, Ueno untuk mencapai tempat-tempat turis yang terkenal dan 16 stasiun diantaranya merupakan stasiun transfer dengan jalur lain. Di Shibuya sendiri, sebagai awalan jalur Ginza dan juga dilewati oleh jalur Yamamote, terkenal dengan Patung anjing setia Hachiko dan Persimpangan Pejalan Kaki (Shibuya Crossing), selain menjadi surga bagi yang suka belanja. Saya termasuk pengguna setia jalur ini karena saya biasanya menginap di daerah Asakusa atau Ueno.
  2. Jalur Marunouchi, yang berwarna merah, mencakup 25 stasiun, dari Ogikubo yang ada di Barat Tokyo hingga Ikebukuro, melewati daerah bisnis Marunouchi yang berada di kawasan Stasiun Tokyo. Uniknya, Jalur Marunouchi ini bercabang, sehingga ada sebagian kereta yang melewati 4 stasiun yang berbeda tapi parallel, di wilayah Suginami dan wilayah Nakano. Rasanya, jalur Marunouchi ini satu-satunya jalur subway yang bisa transfer di Stasiun Tokyo (bukan dengan stasiun lain yang terintegrasi dengan Stasiun Tokyo ya), dengan kereta Shinkansen dan kereta-kereta komuter yang berfungsi di atas permukaan tanah.
  3. Jalur Hibiya, yang berwarna perak abu-abu, mencakup 21 stasiun, dari Naka-Meguro di Barat Daya Tokyo hingga Kita-senju. Bahkan dari stasiun terakhir ini, bisa transfer dengan kereta Tobu-Skytree yang menuju Sky-tree. Jalur Hibiya ini juga melewati daerah Ebisu, Roppongi (dekat Tokyo Tower), Tsukiji (untuk mencapai Tsukiji Fish Market), Ueno (untuk transfer dengan Shinkansen yang ke Utara Jepang).
  4. Jalur Tozai, yang berwarna biru langit, mencakup 23 stasiun dari Nakano hingga Nishi Funabashi. Kereta jalur Tozai ini termasuk kereta cepat (Rapid) karena tidak berhenti di beberapa stasiun setelah Toyocho.
  5. Jalur Chiyoda, yang berwarna hijau, mencakup 20 stasiun dari Yoyogi-uehara hingga Ayase atau Kita-ayase untuk jalur cabangnya dari Ayase. Jalur ini digunakan untuk mencapai Mesjid Tokyo yang terletak tak jauh dari Yoyogi-uehara. Jalur ini juga bisa digunakan untuk menuju Taman Yoyogi (turun di Yoyogi-koen)
  6. Jalur Yurakucho, yang berwarna kuning keemasan, mencakup 24 stasiun dari Wakoshi di wilayah Saitama hingga Stasiun Shin-Kiba di sebelah Timur Tokyo. Lucunya, 9 stasiun pertama dari Wakoshi hingga Ikebukuro, jalur Yurakucho ini berbagi stasiun yang sama dengan jalur Fukutoshin. Akhir dari jalur Yurakucho adalah Shin-Kiba yang merupakan 1 stasiun sebelum Stasiun Maihama yang merupakan stasiun transit menuju Disneyland
  7. Jalur Hanzomon, yang berwarna ungu, mencakup 14 stasiun dari Stasiun Shibuya hingga Stasiun Oshiage, yang keseluruhan stasiunnya merupakan stasiun transit dengan jalur lain, kecuali Hanzomon yang merupakan stasiun untuk menuju Gerbang Barat Imperial Palace yang terkenal sebagai tempat turis di Tokyo. Selain itu, stasiun akhir Oshiage merupakan stasiun terdekat untuk mencapai Skytree.
  8. Jalur Namboku, yang berwarna hijau biru toska, mencakup 19 stasiun dari Meguro di wilayah Shinagawa hingga Stasiun Akabane-iwabuch di wilayah Kita. Sebagai warga Indonesia, jika ingin ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo, turunlah di Stasiun Meguro, dan berjalan kaki sekitar 10 menit. Dari tempat ini juga bisa menuju Mesjid Indonesia SRIT di Tokyo, dengan berjalan kaki sekitar 15 menit (walaupun saya sendiri belum pernah kesana ya)
  9. Jalur Fukutoshin, yang berwarna coklat, mencakup 16 stasiun dari Wakoshi hingga Shibuya, melewati stasiun-stasiun penting untuk mencapai destinasi turis, seperti Ikebukuro, Shinjuku, Harajuku. Serunya, stasiun ini merupakan stasiun terdalam hingga 27 meter ke bawah tanah, bahkan di Higashi Shinjuku mencapai 35meter, kata Wikipedia lho…

Jalur Subway Yang Dikelola oleh Toei Subway,

  1. Jalur Asakusa, yang berwarna pink atau merah jambu, mencakup 20 stasiun dari Nishi Magome di wilayah Ota hingga ke Oshiage di Sumida. Bagi yang menginap di daerah Asakusa atau yang mau ke Sensoji Temple, jalur Asakusa ini pastilah sering digunakan selain Jalur Ginza. Jalur Asakusa ini melewati Daimon yang merupakan stasiun interchange dengan Hamamatsucho, yaitu stasiun yang menghubungkan kereta monorail dari Haneda. Jalur Asakusa ini juga sering saya gunakan.
  2. Jalur Mita, yang berwarna biru, mencakup 27 stasiun dari Meguro di wilayah Shinagawa hingga Nishi-takashimadaira di wilayah Itabashi, merupakan salah satu jalur subway yang paling banyak memiliki stasiun pemberhentian.
  3. Jalur Shinjuku, yang berwarna hijau daun atau hijau muda, mencakup 21 stasiun yang berawal dari Stasiun Shinjuku yang sangat luas itu hingga Stasiun Motoyawata di wilayah Chiba.
  4. Jalur Oedo, yang berwarna ruby atau magenta mencakup 38 stasiun dari Tochomae (aneh ya mulai dari stasiun nomor E28), kemudian Shinjuku Nishiguchi, E01 lalu berputar melalui Lidabashi, Ueno Okachimachi, Tsukijishijo, Shiodome, Daimon, Roppongi, kembali ke Shinjuku lalu tadaaa… kembali ke Tochomae (E28) dan lanjut hingga Hikarigaoka. Stasiun ini merupakan salah satu yang terdalam, sekitar 48 meter di bawah permukaan tanah (source: Wikipedia) termasuk saat melintasi di bawah Sungai Sumida.

JR Pass dan Subway di Tokyo

Banyak orang mengira dengan memiliki JR Pass yang mahal itu maka semua moda transportasi di Jepang seluruhnya sudah tercakup didalamnya, padahal samasekali salah. JR Pass akan sangat efektif bila dipakai untuk transportasi antar kota dengan kereta JR, namun rugi jika hanya dipakai di satu kota. Di Tokyo sendiri, memegang JR Pass berarti hanya bisa naik kereta JR (Yamamote dan Chuo-Sobu). Jalur Yamamote yang memutar Tokyo memang melewati hampir semua tempat-tempat turis. HAMPIR lho… -kecuali mau jalan kaki-, karena masih banyak tempat yang bagus yang lumayan jauh (buat saya) kalau jalan kaki. Jadi mending naik subway! Dan yang  pasti adalah: JR Pass tidak berlaku untuk naik Subway.

Jadi apabila JR Pass masih berlaku dan ingin keliling Tokyo, maka kita harus pandai-pandai mengatur tujuan. Jika tujuannya jauh dari stasiun JR Yamamote (bisa naik Yamamote gratis dengan menunjukkan JR Pass), maka sebaiknya membeli tiket subway. Kalau saya, karena malas berpikir, saya beli saja Subway passes, yang 1 atau 2 atau 3 hari (dengan harga masing-masing 800/1200/1500Yen) selama hari itu akan keluyuran di Tokyo sampai kaki pegal-pegal mau copot!

Jika dibandingkan, antara membeli tiket kereta satu per satu sesuai jarak stasiun yang makin jauh makin mahal, saya memilih tiket harian itu. Karena tiket harian bisa digunakan sampai 24/48/72 jam setelah efektif penggunaan kereta pertama kali. Jika jarak terdekat sudah dihargai 170Yen, rasanya tak mengapa saya membeli Subway Pass. Lagipula, dengan kebiasaan saya yang suka tersesat, rasanya tak perlu menyesal kalau salah arah karena tinggal balik lagi kan? Selain itu, tidak perlu lagi pencet-pencet di mesin tiket, apalagi jika mesin penuh maka harus antri, dan itu artinya buang waktu.

Jika menggunakan PASMO/Suica Card (serupa kartu e-money) untuk naik subway, ya hitung saja secara seksama. Dengan menggunakan kartu-kartu itu, tetap saja harga berkisar tak jauh dari 170Yen hanya kita mendapat diskon. Kalau 10 kali sudah 1700 Yen kan? Padahal dengan harga yang sama, saya bisa mendapat kartu pass subway untuk 3 hari dan masih sisa 200 Yen.

Belinya dimana? Ya di semua stasiun subway melalui vending machine. Jangan takut ada bahasa Inggeris kok di setiap mesin itu.

Oh ya, seluruh operasional kereta di Jepang tidak berfungsi 24 jam lho…, ada sih yang sudah beroperasi dini hari, tetapi biasanya sekitar tengah malam sudah berhenti beroperasi. Jadi jangan ketinggalan kereta ya, gak ada kereta lagi yang akan lewat… 😀

<><><>

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu 1 bertemakan Colourful Everywhere, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

D-5 Trekking di Nepal – Berani Melawan Ketakutan


Alam Chuile membangunkan saya pagi itu, juga suara-suara di dapur, walaupun pagi belum sepenuhnya mulai. Sebagaimana stereotype budaya setempat, pagi itu perempuan-perempuan telah mendominasi dapur, menjerang air dan melakukan persiapan pagi hari untuk keluarganya. Kesibukan itu membuat pikiran saya terbang ke keluarga. Genap dua hari saya tak dapat menghubungi keluarga karena WIFI tidak berfungsi. Sebersit kerinduan menyergap, semoga semuanya baik-baik saja.

DSC00112
The hidden sunrise from Chuile

DSC00151
Guesthouse in Chuile

Pagi yang merekah pelan membuat saya melangkah keluar kamar, ke halaman. Pak Ferry rupanya sudah bangun dan sedang menikmati pemandangan lembah. Sambil teringat insiden semalam soal lintah (baca: disini) saya menghampirinya. Sinar keemasan mentari menerangi langit Timur, menerangi puncak-puncak gunung bersalju itu, memberikan efek dramatis pada gunung favorit saya, Macchapucchare (6993MDPL) yang sering disebut Fish Tail karena bentuk puncaknya yang seperti ekor ikan. Sejak pertama kali menjejak Pokhara di tahun 2014, saya telah jatuh cinta dengan gunung ini dan mampu membuat saya ingin kembali ke Nepal.

Pada kesempatan itu, saya meminta maaf kepada Pak Ferry, karena kondisi saya yang selalu berjalan pelan sehingga waktunya tidak mencukupi untuk trekking ke Annapurna Base Camp. Namun sebelum saya menyelesaikan semua kalimat, Pak Ferry sudah memotongnya, “bukankah perjalanannya yang lebih penting daripada tujuannya? Jadi nikmati saja…”

“The journey itself, not destination”

Saya terdiam, teringat beberapa orang yang sering berkata negatif tentang Pak Ferry, tetapi mana ada orang sempurna? Dibalik ketidaksempurnaannya, saya kian melihat begitu banyak kebaikan humanis yang tidak perlu diumbar namun terlihat saat berjalan berhari-hari bersamanya. Betapa sering manusia memberi label kepada manusia lain, padahal mereka tak pernah tahu bagaimana perjalanan hidupnya. Ah, memang dari sebuah perjalanan, kita lebih mengenal pribadi rekan-rekan seperjalanan. Dan seakan menyelaraskan, keindahan pengertian dan pemahaman di benak pun mengikuti keindahan mentari yang meninggi menyinari puncak-puncak bersalju itu.

DSC00141
Mt Macchapuchhre with The Sun – from Chuile

 

Keberanian itu…

Hari itu, kami melanjutkan perjalanan ke Chhomrong, desa persimpangan menuju dan dari Annapurna Base Camp. Meninggalkan penginapan, perjalanan dimulai dengan turunan curam. Dan seperti biasa untuk turunan, Kedar dan saya melangkah cepat, sedikit berlari menuruni tangga-tangga batu meninggalkan Pak Ferry dan Dipak di belakang lalu menunggu di seberang jembatan gantung. Menit-menit berlalu akhirnya saya melihat Pak Ferry yang merasa jeri berjalan di jembatan gantung yang bergoyang-goyang. Tertegun, teringat bungsu saya, -ia juga memiliki phobia ketinggian-, yang pernah begitu ketakutan berjalan di jembatan gantung walau ia tak berhenti melangkah. Kepada mereka, saya kagum! Itulah makna keberanian yang sesungguhnya, berani memerangi ketakutan mereka sendiri, dengan susah payah, ngeri-ngeri sedap melawan diri sendiri.

DSC00183
Being brave is having that fear but finding a way through it

DSC00185
Never-ending stairs :

Dan setelahnya, giliran saya menjadi buntut karena di depan ada tangga-tangga tinggi lagi. Kali ini, saya setuju dengan Captain Haddock dalam serial komik Tintin, yang bersungut-sungut saat mendaki gunung, “Untuk apa naik gunung kalau nantinya harus turun lagi?” 😀

Tapi ada seribu satu alasan berhenti untuk mengambil nafas, salah satunya memotret pemandangan indah yang kali ini didominasi warna hijau seperti hutan, lembah, pepohonan dan lainnya. Berkali-kali dada terasa penuh menyaksikan pemandangan indah di depan mata. Pemilik Semesta memang sedang tersenyum saat menciptakan bumi Nepal. Tak bosan-bosan saya berhenti untuk menikmati pemandangan.

DSC00204
Green while trekking

DSC00226
Sometimes going down sometimes going up

Hingga suatu saat saya tersadarkan, Dipak sudah tak terlihat dalam jangkauan mata. Dimana dia? Saya mempercepat langkah, tetapi pemandu itu tetap tak terlihat. Saya bertanya dalam hati, apakah saya terlalu egois menikmati pemandangan hingga tidak memperhatikan irama langkah? Atau ‘kesibukan’ mengagumi keindahan alam hingga mengabaikan kehadiran orang lain? Ada rasa yang merayap naik menyadarkan jiwa, selama ini ego diri yang dimenangkan, bukan manusia lain di sekitar. Saya tak enak hati dan mencoba menyusulnya. Tak lama di sebuah tempat istirahat, terlihat Dipak duduk menunggu. Dimatanya sekilas tersirat  ketidaksabaran. Ah, saya harus berani mengaku salah!

Saya meminta maaf kepadanya yang langsung disambut senyum, no problem, katanya. Tetapi sejak itu, ia berjalan di belakang, membiarkan saya berjalan lebih dulu dalam jangkauan pandangan mata dan langkahnya. Baginya, lebih aman ia berjalan di belakang dan bisa menyusul kapan saja daripada harus menunggu saya.

Dan yang tak terduga pun terjadi, dari arah depan saya…

Saat itu, saya berjalan sambil mendengarkan musik untuk menambah semangat. Rasanya menyenangkan kepala dan badan bergoyang menyusuri punggung bukit yang dipenuhi hutan di bagian atas. Tiba-tiba, di suatu tempat sebelum tebing, alarm tubuh saya ‘berdering’ agar waspada. Diantara suara musik, alarm tubuh itu begitu kuat sehingga saya langsung mencabut head-set dari telinga. Dan terdengar dari arah atas,

Dug…. Dug… Dug… Dug… Dug… Dug…

Berikutnya saya terhenyak karena mendengar teriakan Dipak dari arah belakang.

“Riyantiiiiiiiiiiii… Stooooppp………………!”

Badan langsung mengejang, rasa dingin menerjang seluruh permukaan tubuh. Terdiam kaku. Sungguh saya tak tahu ada apa. Tak jelas, tak pasti. Tapi ada bahaya! Waspada! Detik berjalan sangat lambat. Saya kaku, tak bergerak.

Dalam sekejap, Dipak yang berlari kencang langsung menyusul dan berdiri di depan saya, bersikap menghadang sambil melihat ke atas. Antara bingung, kuatir dan rasa aman yang campur aduk, saya bertanya padanya, “What’s happened?

Falling logs…

Blasss… saya ngeri. Suara dug-dug-dug tadi adalah suara gelondong pohon yang entah sengaja ditebang atau rubuh di hutan tepat di bukit di atas kami. Gelondong kayu itu sepertinya menggelinding dari atas menuju kami yang berada di bawah. Masalahnya, kami tak dapat melihat gelondong kayu yang jatuh itu. Hanya suaranya saja yang terdengar mendekat.

Dipak mempelajari situasinya secara cepat di depan saya dan dalam sekejap ia mengajak lari. Tak perlu berpikir atau menunggu aba-aba lagi, langsung saja saya lari secepat mungkin meninggalkan tempat itu, hingga akhirnya suara mengerikan dug… dug… dug… dug… itu tertinggal di belakang.

after the falling logs
After the falling logs

Habis itu, rasanya saya tak mampu lagi berdiri tegak, hanya megap-megap mencari oksigen. Di usia boros ini, ditambah jarang (baca: tidak pernah) olahraga, lari sprint sesaat bisa membuat nafas tinggal satu atau dua. Ditambah kengerian membayangkan gelondong kayu jatuh dari atas. Walaupun akhirnya, -setelah kembali berjalan-, saya tidak pernah tahu apakah benar kayu-kayu itu terus menggelinding melampaui atau bisa berhenti sebelum jalur trekking kami tadi. Lalu apakah kayu itu jatuh karena ditebang atau rapuh, saya juga tak pernah tahu. Saya hanya mengangguk-angguk saat Dipak mengatakan segala sesuatu bisa terjadi saat berkegiatan di alam. Ah, sekali lagi, ia menyelamatkan saya dari situasi mendebarkan hati.

Dan setelah berjalan beberapa saat, saya sampai di sebuah pohon unik yang bentuk dan tempat tumbuhnya membuatnya berbeda. Pohon tanpa daun itu  tumbuh tepat di pinggir tebing di persimpangan jalur. Jika salah langkah saat berfoto, dipastikah akan langsung glundung ke bawah, disambut rangkaian tangga curam ke bawah yang tak habis-habis. Walaupun deg-degan, tetap saja saya bergaya di pohon itu. Mau coba juga?

Setelah melewati tangga-tangga curam itu, desa Chhomrong sudah tak jauh lagi dengan kondisi jalan yang Nepali flat, menanjak landai. Saya melangkah santai menikmati pemandangan indah yang terbentang di depan mata.

animals
Some animals I see during the trekking

 

Sendiri Berkontemplasi

Hingga suatu tempat, jalan saya tertutup oleh kerbau-kerbau yang sedang beristirahat. Saya agak ngeri berjalan diantara mereka yang besar dan hitam dengan tanduk melengkung tajam. Tapi entah mengapa terbersit di benak bahwa mereka juga makhluk seperti manusia, menghuni alam ini dan berhak beristirahat juga. Sebelum pikiran berpindah, mata ini melihat ke pagar batu di pinggir, sekitar 1 meter tinggi dan 30 cm lebarnya sehingga bisa dijejak diatasnya. Dan berjalan di atas pagar, -walaupun ngeri juga karena ada lembah di kanan-, sepertinya win-win solution. Para kerbau bisa tenang melanjutkan istirahat dan saya bisa santai melanjutkan perjalanan. Tetapi ah, seharusnya saya selfie saat berjalan di atas pagar itu, saya lupa! Lagi-lagi saya akui, God is always good, dalam memberi petunjuk, dalam segalanya.

Walaupun trip ini saya lakukan bersama Pak Ferry, kadang melakukan sepenggal perjalanan tetap sendirian. Inilah asiknya ‘solo-trip’. Walau banyak yang bertanya kepada saya, apa enaknya jalan sendiri tanpa kawan. Hmmm… entah ya, tetapi bagi saya, berjalan sendiri artinya berjalan bersamaNya secara intens dan membiarkan sejiwa dengan alam dalam harmoninya. Rasanya? Keluarbiasaan yang tak terjelaskan, ada takut namun keberanian menyeruak juga…

Dan benar saja, di depan mata alam menyuguhkan pemandangan luarbiasa. Sinar mentari yang menembus awan memberi kesan akan sinar Surga. Jika sebelumnya saya melangkah dalam hening mengingatNya, apa yang saya lihat ini seakan menjawab semua permintaan jiwa. Saya meluruh dalam syukur akan jawaban langsung! Kita tak pernah sendirian, Dia yang selalu mencintai kita, yang memperhatikan seakan berjalan bersama. Kesadaran yang memberikan kekuatan ini, sekali lagi membukakan arah jiwa, semua pasti mengarah kepadaNya.

Ray of light to the valley
Ray of light to the valley

Diingatkan akan keindahan tanah air saat melihat keindahan…

Rasa penuh syukur itu membuat saya duduk di batu istirahat. Beberapa menit kemudian dua orang paruh baya datang mendekat, ikut melepas lelah. Dari bahasanya saya mengenali mereka dari Korea. Saya menyapa dengan sepatah kata Korea yang saya bisa, Annyeonghaseyo… Sapa itu mengejutkan mereka dan langsung mengakrabkan kami semua. Dan dengan kalimat-kalimat pendek bahasa Inggris kami berkenalan dan bertukar cerita. Dan bahkan kalimat-kalimat selanjutnya dari dua pak tua membuat giliran saya sedikit ternganga. Dengan penuh keterpesonaan mereka bercerita tentang keindahan Gunung Rinjani karena mereka baru saja kembali dari sana sebelum ke Annapurna Base Camp. Tentu saja saya bangga karena kekaguman mereka sekaligus sangat malu karena saya belum pernah menjejak di Rinjani, walaupun sudah banyak tempat di Lombok sudah saya singgahi. Ah, pertemuan ini pastilah bermakna, karena tidak mungkin hanya sebuah kebetulan belaka.

Kami beranjak melangkah bersama menuju Chhomrong. Sebelum pertigaan, langkah kami terhenti, memberi jalan rombongan keledai dengan bunyi-bunyi khas klenengan yang tergantung di leher. Seakan tersihir bunyi klenengan yang ‘ngangeni’ itu, saya diam tanpa ekspresi melihat Dipak dan Kedar berdiri menanti di ujung seberang. Rasanya saya malah sedikit mellow karena akan berpisah dengan kedua Pak Tua Korea, entah kenapa. Saat keledai terakhir telah lewat, saya menoleh kepada mereka lalu mengucapkan salam perpisahan. Saya percaya, walaupun hanya sebentar saja, pertemuan dengan kedua orang itu, telah memberi warna dan makna dalam kehidupan saya. Siapa sangka ada orang asing yang mengingatkan tentang keindahan Gunung Rinjani di Indonesia di tengah-tengah pemandangan indah di kawasan Annapurna? Rasanya seperti dijewer dengan cinta…

Dan laksana kehidupan, mereka melanjutkan perjalanan mungkin menyampaikan pesan Semesta lainnya, sementara saya mengayunkan langkah ke penginapan dekat pertigaan. Jelang sore itu, pemandangan pegunungan Himalaya bertudung salju disembunyikan dari saya. Tampak awan gelap menyelimuti puncak-puncak gunung dan jalur menuju ABC tampak begitu kelam. Ah, semoga besok pagi saya diberi berkah agar bisa menyaksikan pemandangan indah.

Bersambung…

DSC00230
Heavy clouds on the way to ABC

WPC – Ceremony of Changing Guards


A couple minutes walking from the Exit 2 City Hall Subway Station, finally I stood in front of the Daehanmun Gate of Deoksugung Palace in Seoul, South Korea.  Deoksugung Palace is one of the places where the ceremony of changing Royal Guards will be held first at  11.00 AM. Arrived too early, I preferred to wait the ceremony before exploring the palace, behind the front gate. 

The ceremony of Changing Royal Guards in Deoksugung which is similar to the process at Buckingham Palace in London, was re-established in 1996 after extensive and thorough research by Korean historians.

The ceremony lasts for 30 minutes and always follows the standard rules. Beginning with traditional musical accompaniment, wearing beautifully coloured costumes, the royal guard troops walk in neat rows then the new commander will meet to the other commander who was on-duty to exchange passwords and keys as verification and to ensure the authenticity of the assignment. Then proceed with the changing of the guards position and followed by the rest of troops.

Being there, without any knowledge of the stages and story behind the ceremony of changing royal guards, I had to admit that the ceremony was very interesting because of the beautiful colours of their traditional costumes.

*

Deoksugung Palace in Seoul, South Korea can be reached by taking Subway Line 1 from Seoul Station and get off at City Hall, Exit-2. The signage of direction is clear in English and Hangeul. The schedule of ceremony: 11.00, 14:00 and 15:30

Colorful on Changing of the Royal Guards Ceremony
Colorful on Changing of the Royal Guards Ceremony

The Changing of Royal Guards Ceremony
Ceremony of Changing Royal Guards at Deoksugung

Changing of the Royal Guards Ceremony - Password exchange
Ceremony of Changing Royal Guards at Deoksugung – The Keys and Password Exchange

Leader on the Changing of the Royal Guards Ceremony
Ceremony of Changing Royal Guards at Deoksugung – The Leader

WPC – In or Out of This World?


When I visited this place, –and psssstt don’t tell anybody… actually it is in this world-, what if I let my imagination to fly freely? One thing I could imagine was, -without any knowledge about the place-, I went there with blindfold and then after a while something with robotic voice told me to open the blindfold.

Ok, after I opened the blindfold…

Perhaps, while adjusting my eyes from the blindfold, I stood there and was confused. I saw a strange building in front of me and also near me, I saw a high pole with another strange objects. There were five antenna with horizontal circles in the middle on top of the roof of the building. I’d never seen this kind of antenna, especially on top of a building’s roof. And about the strange objects in the high pole, did those objects have meaning? Where was I actually? Was I still on Earth? Or out of the World? Was I kidnapped by a group of aliens?

Strange objects on top of the roof
Strange objects on top of the roof

*

Ok, I woke up from the day-dreaming and back to the reality. I was in Hong Kong Disneyland, in the area of Tomorrowland. It’s a nice place to play with imagination…

 

WPC – Let Me Be Your Tour Guide


Since I was born and now still living in Jakarta, Indonesia, let me be your tour guide of my hometown.

Starting from the city center of Jakarta, we will see the roundabout with fountain and Welcome Statue at its center. Sometimes political street protest is conducted here by a mass group of people. And then around 2km to the north we will see the National Monument, as the national landmark of Jakarta. It stands in the center of public park and can be seen from the National Palace. The gold atop National Monument represents the flame of our national struggle. But there is a mysterious folklore about this golden flame. If we notice it from the Palace, it shapes like a body of a kneeling woman seen from behind. But honestly until now I don’t know who the woman was…

And then we can stop for a while at National Museum that is located in the western part of the National Monument. We can see a lot of historical evidences here from the ancient Hindu-Buddha kingdoms’ era. Do you notice a Nandi sculpture here? It is related to Shiva, one of the 3 major gods in Hinduism.

We will go around the public park of National Monument and at the North-Eastern direction, we will see the biggest mosque in Indonesia, Mesjid Istiqlal (or Istiqlal Mosque). Do you know the architect of this mosque is Mr. Frederich Silaban who’s a Christian? And to represent the harmony of religious life in Indonesia, we can see The Cathedral which is located directly in front of the great mosque.

From here we drive south, perhaps we will be trapped in several traffic jam on the way to our next destinations. Yes, we cannot avoid the traffic jam in Jakarta, or perhaps Jakarta, -as  Bangkok several years ago-, is always indicated by “Macet”, a Indonesian word for Traffic jam, especially before and after office hours.

We will pass by the Central Business District which is full of modern office buildings and not far from this area, we can see the National Stadium with a nice archer sculpture on top of the gate to the stadium.

We continue to drive to Setu Babakan, a nice Betawi Cultural Village, which is located in Srengseng Sawah. As part of the cultural heritage of Jakarta, Setu Babakan is devoted to the preservation of the indigenous Betawi culture. We can see a traditional Betawi house here. Do you know that Betawi is a derivative word of Batavia, the previous name of Jakarta that was given by the Dutch Colonial Empire?

We can have lunch here with lots of Betawi culinary menu. Then we have to go north again to the old town of Jakarta. We will drive through the outer ring road to avoid the traffic in the city center.

We start from the Sunda Kelapa, the old port of Jakarta. Today Sunda Kelapa, as the old port, only accommodates traditional two-masted wooden ships which are serving inter-island freight service in Indonesia. Although now it is only a minor port, Sunda Kelapa was the origin of Jakarta and has a long significant role in the Jakarta’s development.

Sunda Kelapa - The Old Port of Jakarta
Sunda Kelapa – The Old Port of Jakarta

We continue to explore the old town of Jakarta. A lot of old historical buildings around this area. Unfortunately those important buildings need significant budget to be properly maintained and getting that budget is not so easy for the government. The main points of interest around here is The Fatahillah Museum or the Jakarta History Museum, which was built in 1710 and was functioned as the city hall of Batavia.

The sun will go down to the West. We still have destinations at the beachfront of Jakarta. We can see the luxurious housing complex and apartments or we can just walk on the bridge while enjoying sunset. It is usually full of locals in the weekends, but don’t worry, the wind is always nice.

For ending this city tour, we can have a happy hour at beachfront, we can have also a light meal while listening to the music or watching the performance. It would be nice…

Music Performance Area at Beachfront
Music Performance Area at Beachfront