Museum of Champ Sculpture, Da Nang


Hanya beberapa jam untuk menikmati kota Da Nang sebelum kembali ke Tanah Air saat solo-travelling ke Vietnam Tengah, saya menyempatkan diri berkunjung ke Museum of Champa Sculpture, yang lokasinya hanya selemparan batu dari tempat saya menginap. Museum yang menyimpan banyak sekali artefak kerajaan Champa ini memang menjadi tujuan utama saya di kota Da Nang, sebagai pelengkap kunjungan ke My Son, tempat reruntuhan kerajaan negeri Champa berabad lalu.

Sayangnya seperti juga di Indonesia, museum yang menyimpan banyak sejarah kejayaan Vietnam jaman dulu ini tampaknya belum menjadi tujuan wisata dari orang lokal maupun turis asing karena dalam dua setengah jam saya berada di sana, belum banyak orang yang datang berkunjung.

Meskipun akhir pekan, -mungkin saya yang kepagian, namun hingga sampai pulang pun-, sepertinya bukan merupakan waktu berkunjung yang nyaman untuk ke museum. Yang pasti saya memang pengunjung pertama, yang menunggu sejenak hingga gerbang dibuka lalu membayar sekitar 40000 VND untuk masuk.

Ketika masuk ke dalam ruangan, patung batu dewa-dewa utama Hindu beserta pasangannya, Dewa Siwa, Brahma, Wisnu serta Uma, Saraswati dan Laksmi seakan-akan menyambut kedatangan saya (Lhaaa… pikiran saya jadi lari ke film Night in The Museum, yang penghuninya menjadi hidup sepanjang malam)

Sebenarnya kata Champa tidak terlalu asing untuk telinga orang Indonesia, karena dalam pelajaran sejarah saat sekolah dulu (entah sekarang masih diberikan di sekolah atau tidak), kita pernah dengar kisah mengenai Putri Campa yang cantik menikah dengan Raja Jawa. Ada yang masih ingat?

Ada begitu banyak peninggalan Champa yang disimpan di Museum ini, tidak hanya dari reruntuhan My Son, tetapi juga di tempat-tempat lain (dan uuh, akhirnya mampu menimbulkan keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat itu suatu saat nanti)

Bagi saya yang merupakan penggemar candi, membayangkan keindahan seni pada bangunan candi pada masanya memang menyenangkan. Jika di kompleks Angkor Wat ada penggambaran apsara yang sedang menari, di sini terlihat bentuk-bentuk serupa seperti apsara meski berbeda posenya. Saya berlama-lama di tempat ini karena amat menikmati bentuknya yang sedang meliuk-liuk menari itu. Hiasan pada tubuhnya, serta mahkotanya amat menarik hati.

Tak hanya makhluk-makhluk kayangan yang memenuhi museum ini, melainkan ada juga penggambaran kehidupan masyarakat biasa yang sepertinya menggunakan kereta beroda dan juga hewan-hewan yang hidup bersama dalam masyarakat. Ketika melihat sebuah kereta beroda yang amat jelas penggambaran rodanya, saya amat terpesona. Terbayang pada masa itu, roda-roda itu amatlah membantu pergerakan masyarakat.

Lalu melihat adanya sapi, gajah yang tak berhiasan, kuda yang juga ada di antara kereta beroda itu, burung-burung serta kera, seakan memberi konfirmasi ke jaman sekarang bahwa hewan-hewan itu dapat hidup secara baik di antara masyarakat Champa pada saat itu.

Tidak hanya penggambaran hewan-hewan yang hidup secara baik di dalam masyarakat, namun juga mahkluk-makhluk mitos yang dikategorikan suci atau hewan yang digunakan oleh kalangan atas yang tak terjangkau oleh masyarakat biasa. Seperti gajah yang biasa digunakan untuk Raja atau kaum bangsawan biasanya dihias dengan indah, seakan tak akan kalah dengan yang menungganginya. Juga hiasan-hiasan pada sudut bangunan yang biasanya diisi oleh sejenis burung mitos atau singa yang juga dihias dengan indah, dengan hiasan leher yang berumbai. Dan sesuai dengan kepercayaan pada waktu itu, Naga berkepala angka ganjil (lima, tujuh atau sembilan) senantiasa ada pada bangunan-bangunan suci.

Dan saya mencari Garuda, -hewan yang memuja dan menjadi tunggangan Dewa Wisnu-, karena ingin mengetahui bagaimana bentuknya. (Saya jadi terkenang akan Garuda yang dibuat amat indah di dekat kuil Narayan di Kathmandu, Nepal).

Garuda, lengkap dengan detil bulu-bulu dibuat cukup baik. Paling tidak saya bisa menebak dengan benar tanpa melihat informasi yang ada di sebelahnya. Meskipun tak terlalu jelas, Garuda masih tampak mengenakan hiasan-hiasan pada kepala, telinga, leher hingga dada dan pinggulnya. Adanya hiasan-hiasan itu seakan-akan menunjukkan ketinggian tingkatannya.

Di bagian lain, saya juga bisa menikmati penggambaran dengan detil yang menarik. Seakan-akan seseorang yang dihormati sedang menari. Saya hanya bisa menduga, namun tak bisa menyakinkan diri bahwa penggambaran itu adalah The Dancing Shiva.

Selain itu, juga terdapat relief Dewa Wisnu yang sedang duduk di atas Anantasesha dan dipayungi oleh kepala-kepalanya. Uniknya dalam penggambaran ini, Ananta berkepala sebelas, yang biasanya hanya lima atau tujuh.

Saya begitu menikmati semua peninggalan yang ada di Museum ini meskipun informasi yang menyertainya bisa dibilang minim. Tetapi tak mengapa, kadang dengan keterbatasan informasi ini membuat saya lebih tertantang untuk selalu bertanya, siapakah dia, apakah ini, apakah itu dan sebagainya.

Selanjutnya di ruangan tengah, terdapat sekumpulan batuan besar yang dibentuk dengan tatahan yang amat rumit dan agaknya menjadi bagian dari sebuah bangunan suci. Saya bisa melihat gerbang lengkap dengan hiasan melengkung serta dua penjaga gerbangnya. Relief yang amat indah yang menceritakan kehidupan saat itu.  Sayang saya tak bisa berlama-lama menikmatinya karena keterbatasan waktu padahal sangat menarik…

Meneruskan langkah, sampailah saya di sebuah patung perempuan yang dipercaya sebagai Dewi Tara dan tak jauh darinya terdapat patung seorang dewa yang mendapat pencahayaan khusus di sebuah ruangan. Sayangnya saya tidak mengetahui lebih jauh tentang mereka. Pastinya mereka amat dihormati dan amat bernilai dilihat dari pencahayaan dan penyimpanan yang khusus.

Tidak terasa saya sudah sampai di penghujung waktu yang bisa digunakan karena harus segera check-out dari hotel dan kembali ke Tanah Air. Rasanya selalu sama, enggan untuk meninggalkan tempat yang penuh dengan batu-batuan yang dibentuk dengan indah dan penuh makna, padahal waktu tak lagi bersahabat.

Kunjungan ke Museum of Champ Sculpture ini mengakhiri perjalanan saya di Vietnam Tengah dan meninggalkan banyak tempat yang masih harus dikunjungi di Vietnam ini, Na Trang masih menggoda, Vietnam Utara dengan campuran budayanya yang khas… ah, semakin banyak tempat yang belum dikunjungi tapi waktu ini amat terbatas.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-7 ini bertema Museum agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Ketika Rasa Kehilangan Mendera


 


November 2013 di Gayasan National Park, Korea Selatan 

Di musim gugur malam datang lebih cepat. Saya melangkah pulang mengikuti jalan setapak yang masih menanjak di tengah hutan, sendirian dalam kelam dan dingin. Manusia-manusia lain sudah lenyap dari pandangan, langsung masuk ke rumah setelah gelap datang. Apalagi mereka hampir semua tak bisa berbahasa Inggris. Saya hanya bisa mengira-ngira arah pulang ke terminal bus karena sebelumnya, seperti penumpang lain, diturunkan di tengah jalan dan bukan di terminal karena macet total akhir pekan. Saya menepis rasa takut yang terus menyerang, menahan airmata yang hampir jatuh, mencoba fokus dari kebingungan yang mendera. Praktis saya di ujung putus asa karena kehilangan arah

Akhir Tahun 2014 di Macau 

Di depan konter check-in hotel itu, muka saya langsung pias, -tak bisa melakukan open-deposit-, karena tak menemukan dompet di dalam tas meskipun isinya sudah dikeluarkan semua. Dompet saya hilang! Paniknya tak dapat dirangkai dalam kata-kata. Masih untung perempuan cantik di balik konter itu membolehkan saya sekeluarga memasuki kamar karena semua sudah dibayar lunas. Di dompet yang hilang itu tersimpan semua lembaran uang dengan nominal besar dan kartu-kartu kredit yang menjadi andalan kami untuk berlibur akhir tahun. Dan seketika liburan itu berada di ujung tanduk…

Desember 2015 di Hoi An, Vietnam

Pagi itu di tempat tidur seperti ada yang membangunkan saya untuk memeriksa kembali isi tas. Ketika saya melakukannya, saya tidak dapat menemukan paspor di tempatnya ataupun di tas lainnya! Seketika rasa dingin menyerang ke seluruh permukaan kulit. Setahun lalu dompet, kini paspor! Saya panik tapi mencoba berpikir dengan begitu intens. Membuat rencana. Siapa tahu paspor jatuh di jalan sepanjang malam sebelumnya, harus ke kantor polisi untuk melaporkannya, harus terbang ke Hanoi untuk laporan kehilangan paspor di Kedutaan Besar Indonesia, harus menyiapkan uang tambahan untuk penginapan di Hanoi dan yang pasti sisa liburan pasti berantakan hanya karena paspor tidak ada di tas! Saya mandi yang tak terasa mandi, rasanya lunglai tak berenergi…

 

Siapapun tak ingin menghadapi halangan saat melakukan perjalanan, apalagi saat bepergian ke luar negeri. Namun tak pernah ada perjalanan yang selalu sempurna tanpa halangan. Seperti yang saya alami di atas, mau tidak mau tiga situasi karena rasa kehilangan di atas dan penuh kebingungan harus saya hadapi.

P1030976e
Sign to Haeinsa

Seperti saat hendak pulang di Gayasan National Park, -setelah selesai berkunjung ke Kuil Haeinsa-, saya hanya bisa berjalan berdasarkan intuisi, -sungguh seperti meraba-raba dalam gelap-, berjalan terus tidak tahu apakah benar atau salah arahnya. Saya benar-benar di ujung rasa putus asa namun saya tak mau menangis dan menyerah kalah. Menangis tidak menyelesaikan masalah bahkan memperlemah diri di saat harus tegar menghadapi kebingungan. Saya harus kuat dan hanya bisa terus berdoa untuk ditunjukkan jalan.

Bagi yang pernah membaca Ziarah (The Pilgrimage) atau juga Brida, novel-novel karangan Paulo Coelho, rasanya saya menapaki apa yang disebut di buku itu sebagai Malam Kelam. Dan saya hanya bergantung perlindungan dan kasih sayang kepadaNya. Sungguh saya belajar sungguh-sungguh bergantung total kepadaNya, berserahdiri secara total kepadaNya, memohon pertolongan. Dan apa yang terjadi?

Dan kemudian Dia mengirimkan pertolongan melalui dua orang lanjut usia di sebuah pondok yang saya temui akhirnya di ujung jalan setapak yang saya lalui. Tanpa perlu mengerti bahasa Inggeris, mereka menangkap maksud “bus” yang saya ungkapkan. Mereka berdua, dalam udara dingin, berjalan sebentar lalu menunjukkan arah lampu untuk naik bus berada tempat yang saya harus ikuti (kata terminal itu misleading karena tidak ada bus, kalaupun ada hanya 1 bus). Bagaimanapun, kedua orang lanjut usia yang membantu saya adalah malaikat dalam wujud manusia yang saya temui di ujung rasa putus asa karena kehilangan arah.

*

Situasi serupa penuh dengan kebingungan terulang di Macau. Kali ini saya bertanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh keluarga juga. Di kamar saya diam seribu bahasa dengan tensi yang meningkat karena situasi yang dihadapi. Saya hanya minta bantuan kepada keluarga untuk mencari tahu nomor telepon hotel di Hong Kong yang pagi harinya kami keluar, nomor kapal ferry yang kami gunakan dari Hong Kong ke Macau, nomor masing-masing pelabuhan hingga nomor taxi yang kami gunakan di Macau.

wallet1

Tanpa menghitung biaya roaming, satu per satu saya menghubungi mereka semua dan semuanya mengatakan tidak ada dompet hitam milik saya. Ada yang penuh empati ingin membantu dengan memberikan nomor telepon tempat yang terkait, tetapi hasilnya sama saja. Tidak ada!

Situasinya sangat serupa, saya mencoba terus tanpa henti hingga ke titik ujung usaha dan akan masuk ke dalam situasi ‘lepaskan atau terjebak pada penghambaan benda’. Seakan diingatkan akan batas ini, saya meluruh dan akhirnya berserah diri. Jika benda itu memang ditakdirkan dipinjamkan kepada saya, ia akan kembali. Bila tidak, biarlah saya menghadapi situasi lain yang berbeda yang memang harus saya hadapi. Saat itu, saya memohon izin untuk satu kali lagi menelepon sebagai upaya terakhir kalinya sebelum saya lepaskan semuanya. Terakhir!

Di Macau itu, saya tak tahu harus menangis atau bahagia ketika suara di ujung telepon mengabarkan dia, petugas tiket ferry di Hong Kong, menemukan dompet dengan ciri-ciri yang sama dengan dompet saya!

*

Saya ingat pagi di Hoi An, Vietnam itu setelah mengubek-ubek isi tas dan mengitari kamar hotel tanpa menemukan paspor dimana-mana. Lenyap dari tempatnya. Rasa dingin seperti tahun lalu kembali menjalar ke seluruh tubuh. Saya duduk di tempat tidur, lunglai dan bertanya dalam hati kepada Dia. Sungguhkah ini? Mengapa Engkau senang sekali bergurau kepada diri ini? Jika setahun lalu dompet, kini paspor.

passport1

Saat itu, meskipun kehilangan paspor, meskipun rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh dan memiliki plan A, plan B, plan C dan seterusnya untuk mengatasi situasi yang saya hadapi saat itu, ada rasa yang sangat berbeda! Jauh di dalam sana, saya merasa dicintaiNya, saya merasa disayang olehNya, saya berlimpah Kasih SayangNya. Ada ketenangan. Saya hanya diminta untuk percaya dan bersabar akan pertolonganNya. Sebuah rasa yang muncul dalam jiwa. Tidak pernah ada yang hilang, Dia menyimpannya untuk saya.

Tapi saya tetap manusia yang penuh tarik ulur yang hebat, yang merasa mampu mendapatkan hasil dari rencana-rencana yang dibuat. Dengan perang antara logika dan rasa, saya berangkat meninggalkan kamar dengan segudang rencana namun tetap percaya PertolonganNya akan datang. Help is on the way!

Berharap mendapat pertolongan pertama dari konter depan, saya mengungkapkan kehilangan paspor sambil mengatakan hendak check-out. Petugas itu lebih concern dengan informasi kehilangan paspor daripada proses check-out. Ia tampak berpikir sebentar, lalu berbalik mencari dokumen menginap di balik konter. Ia berbalik kembali menghadap saya sambil memperlihatkan folder transparan dengan paspor saya di dalam folder itu!

***

Siapapun tak ada yang suka mendapatkan halangan dalam perjalanan. Namun halangan ada, bukan tanpa tujuan. Halangan itu ada untuk kebaikan kita sendiri dan dapat menyempurnakan perjalanan, termasuk perjalanan hidup. Seperti musuh, dari halangan dan kesulitan, kita bisa belajar sangat banyak untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Yang kita perlukan hanya satu, berpegang pada Dia yang selalu ada untuk kita dimanapun kita berada, kapanpun. Selalu dan selamanya.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-36 ini bertema The Invisible Hand agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

WPC – The Not-So-Rounded Lanterns


Hoi An, a small city in Central Vietnam, gave me a wonderful impression. One night a couple years ago, I walked through the small lanes of the city which is listed as a UNESCO World Heritage City. A series of beautiful  paper lanterns with various colours and shapes were lit across the lanes above the head of people. And the drizzle of the night emphasized the lovely situation, bringing a romantic atmosphere in the air. Umbrella was wide opened with two bodies of a couple under it, close to each other. I smiled to myself, thinking of  my loved ones…

But as the wise said and I believe…

Always believe that something magical is about to happen

Hoi An Lanterns
Hoi An Lanterns

 

Hoi An Lanterns

Rounded

WPC – The Curves At Night


Colorful Hanging Lamps
Colorful Hanging Lamps
The hanging lamps on streets
The hanging lamps on streets
Bamboo Lamps
Bamboo Lamps
Lamps in Hoi An
Lamps in Hoi An

Walking around at night with a steady drizzle in the old town of Hoi An, Central Vietnam gave me a feeling of romance. The lovely atmosphere -with faintly music coming from the cafés along the small streets -, was decorated with the hanging beautiful curves just above the heads, many more were displayed inside the kiosks. At that time and situation, I could not avoid my feeling that I missed my family, thousands kilometers across the ocean and hoped that they’re always alright. And thinking of my beloved ones made me smiling; because of them and remember a nice word

A smile is the curve that sets everything straight.

Inspired by the The Daily Post Weekly Photo Challenge with Curve as the topic of this week.

WPC – Spare Spot to Illuminate


IMG_0699
An Old Stone Lamp

During a trip in Central Vietnam, I took a full day river cruise on the lovely Perfume River which flows through the city of Huế. At first, we stopped on the bank of the river at a traditional Vietnam house which welcome us with twigs of leafless frangipani trees planted on its spare yard and a central pond with lotus leaves floating. Heavy clouds seen in the sky and to emphasize the gloomy atmosphere, the drizzle decorated the late morning.

But the traditional house we visited was built in the modern era. Beside several bulbs of lamps on its roof and two standing electric fans on the corner, my eyes caught a beautiful old stone lamp in the yard as spare spot for candles or natural torch to illuminate the dark nights. It might not be used anymore but its existence there made me thinking. It could beautify the garden at night if we put the candle in the stone lamp during nights…

And I was thinking further… Like that stone lamp, sometimes we forgot the use of it as time goes by although we’re passing by every day. It’s only standing there, watching us coming and going. Perhaps there are some spare places, deep in our hearts, but we treated those places like the stone lamp. It’s only needed one action to beautify our life. Just ignite it.

In response to the Daily Post Weekly Photo Challenge with the topics of Spare

WPC – Admiration of the Asian Heritages


Been to lots of historical temples in my country since I was kid, made me admiring of the heritage sites, especially temples. When I was in a temple as a kiddie tourist, my mind was full of imagination of the life of people, the communities, their culture and the kingdoms around that time, and the relationships between the kingdoms as well…

As time go by, I can’t help myself not to go to the heritage sites in neighboring countries. With the same curiosity and eagerness seeing the temples, finally I visited to the heritage sites of the related kingdoms in South East Asia. And there I was still imagining the life of people and their culture during the temples’ golden era.

From Indonesia, the Borobudur…

IMG_5394
A guy performs a Pradaksina, the rite of clockwise circumambulating in Borobudur, World Heritage Site in Indonesia

to Cambodia, the Angkor Wat…

IMG_0223e
Sunrise at Angkor Wat – World Heritage Site in Cambodia

Also Preah Vihear, a world heritage temple in Cambodia, near the border to Thailand…

P1020784
Preah Vihear, World Heritage Site in Cambodia

Then to Thailand, the kingdom of Ayutthaya

IMG_7391
Ayutthaya at Night, World Heritage Site in Thailand

Also Sukhothai in Thailand

IMG_6621
Sukhothai – World Heritage Site in Thailand

And to temples of Bagan in Myanmar…

IMG_3370a
Beautiful Heritage Site in Bagan, Myanmar

Then the unforgotten My Son Champa ruins in Central Vietnam

P1030780
My Son, Champa ruins – World Heritage Site in Vietnam

And recently, last week exactly… Wat Phou in Lao PDR

IMG_1172
Wat Phou Champasak, World Heritage Site in Lao PDR

In response to the Daily Post Weekly Photo Challenge with the topic of Admiration

My Son Yang Kehilangan Nama-Namanya


Setelah meninggalkan Hoi An dengan segala huru hara pagi yang mendebarkan, pengemudi setengah baya yang sama yang menjemput saya dari bandara sehari sebelumnya, kini membawa saya menuju My Son, sebuah kawasan UNESCO World Heritage Site di Vietnam Tengah, yang berjarak sekitar 40 km dari Hoi An. Saya tak mampu menyembunyikan kegembiraan hati, apalagi setelah menemukan rambu penunjuk arah My Son 9 km atau My Son 3 km… Seperti mau bertemu sang kekasih…

Tak menyesal saya menyewa mobil untuk sampai ke My Son, karena sepanjang perjalanan tak banyak terlihat angkutan umum ke tempat itu, apalagi jelang lokasi. Bahkan rambu penunjuk arah juga tak banyak. Sepertinya prioritas My Son sebagai kawasan wisata tak setinggi tempat lainnya. Mungkin karena hanya orang-orang dengan ketertarikan tertentu yang akan mendatangi reruntuhan bebatuan candi. Tiket masuk seharga 100.000VND (sekitar 5USD), -tanpa menghitung pengemudi yang asli Vietnam-, bisa dibeli di museum sekitar 2 km sebelum lokasi. Tak lama setelah mobil menempuh jalan sempit berliku mengikuti liuk pegunungan, saya melanjutkan dengan berjalan kaki mendaki dan menuruni bukit kecil. Dengan hati berdebar dan mata takjub saya berdiri memandangi reruntuhan candi utama di kawasan My Son. Akhirnya…!!!

My Son Sanctuary
My Son Sanctuary

Bercikal bakal dari kerajaan Lin Yi yang tercatat dalam sejarah sejak abad-2, sejumlah peperangan antar suku dan kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Vietnam Tengah modern tak terhindarkan hingga seorang panglima besar bernama Fan Wen berhasil menguasai dan menetapkan batas utara dan selatannya menjelang akhir abad-4. Keberhasilan Fan Wen dilanjutkan oleh penerusnya, Fan Ho atau Fan Huda atau yang dikenal dengan nama Sansekertanya sebagai Raja Bhadravarman yang dipercaya mendirikan candi pertama yang didalamnya terdapat lingga untuk Dewa Siwa di kawasan My Son. Tidak hanya sebuah candi, bahkan Raja Bhadravarman mendedikasikan kawasan lembah My Son sebagai tempat suci untuk Dewa Siwa, -yang dikenal secara lokal sebagai Bhadresvara-, sesuai permintaannya dalam prasasti agar generasi mendatang tidak menghancurkan kawasan itu. Dan ditambahkan, berbasis pemahamannya akan karma, tertuang juga di dalam prasasti sejenis peringatan, jika lokasi itu dihancurkan maka semua amal kebaikan pihak yang menghancurkan akan berpindah ke Bhadravarman dan semua dosa Bhadravarman beralih ke pihak yang menghancurkan. Namun jika kawasan tersebut dipelihara, maka bertambahlah semua kebaikannya pada sang pemelihara. Dan faktanya permintaan itu diikuti oleh penerus Bhadravarman sehingga My Son menjadi kawasan suci berabad lamanya.

Hebatnya, generasi penerus kerajaan pada abad 7 Masehi juga membangun prasasti berharga yang menuangkan sejarah dan silsilah Raja-raja sebelumnya. Siapa yang mengira dari prasasti ini bisa diketahui Kerajaan Champa memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Khmer Isanavarman I dan sebagaimana legenda Raja-raja Khmer, Raja Prakarsadharma juga menuliskan mengenai kisah legenda pasangan brahmana Kaundinya dan putri Naga Soma. Kisah cinta yang diabadikan ke dalam permukaan batu itu ternyata mampu bertahan berabad lamanya, so sweet…

Dari prasasti abad-10 yang ada di kawasan itu juga menjelaskan fungsi My Son, yang ketika itu menjadi wilayah pusat agama dan budaya bagi masyarakat Champa dan bukan merupakan kota pemerintahan yang ketika itu berada di Dong Duong.

Namun kenyataan sebelas abad setelahnya, -sekarang ini-, tak seindah dulu. Saya menggigit bibir merasakan hati yang berdenyut menyaksikan sebuah cekungan besar berjarak hanya selemparan batu dari bangunan candi yang strukturnya terlihat sangat rapuh. Cekungan besar itu merupakan kawah akibat bom yang dijatuhkan oleh pihak Amerika Serikat pada bulan Agustus 1969. Sebuah ‘memorial’ ironis, satu dari begitu banyaknya kawah yang terbentuk akibat bom-bom yang dijatuhkan di sekitar My Son selama perang Vietnam (1955 – 1975), di antara tapak-tapak sisa candi dan di sebelah candi buatan berabad lalu yang hampir runtuh, tepat di kawasan World Heritage. Bahkan, di dalam salah satu Candi yang berfungsi sebagai museum sementara diperlihatkan juga selongsong bom diantara batu-batu peninggalan Champa yang berharga. Absurd dan ironis. Manusia mendirikan bangunan menakjubkan untuk kemudian manusia juga yang menghancurkannya sendiri demi tuntutan perubahan jaman.

Saya mendekati kelompok Candi Utama yang termasuk grup B-C-D yang paling depan dari jalan masuk walaupun hanya memiliki dua candi Utama. Candi pertama, -yang telah kehilangan dinding-dindingnya-, didedikasikan kepada Dewa Siwa yang disimbolkan dengan adanya Lingga. Candi Utama kedua di sebelah Utara berhiaskan dewi-dewi berdiri di atas gajah pada dinding-dinding candi.

Ada yang menarik di dalam salah satu bangunan (C2), terlihat pilar dari batu menempel di sudut seperti memperkuat dugaan adanya perubahan struktur candi dari pilar kayu menjadi bata.

Banyak pengunjung, termasuk saya, terpesona dengan bangunan candi atap pelana yang ikonik (B5). Dibangun pada abad-10, bangunan yang masih berdiri dengan cantik ini dulunya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda ritual dan api suci. Atapnya yang melengkung bagai pelana menarik perhatian siapa saja yang menikmati My Son. Pintu Utama menghadap Utara, arah Dewa Kuwera dengan lengkung di atas jendela yang menggambarkan dua gajah berhadapan yang merupakan simbol dari Dewi Kecantikan dan Kemakmuran, Gaja Laksmi. Dan di sekeliling dindingnya berhiaskan pula perempuan berdiri di atas Gajah.

Candi Beratap Pelana - B5
Candi Beratap Pelana – B5

Diantara bangunan candi yang masih berdiri dalam kelompok B, sebuah candi kecil disiapkan sebagai tempat menyimpan air suci yang diambil dari pegunungan Mahaparvata yang sakral di selatan My Son, sebagai unsur penting dalam ritual upacara. Tempat penyimpan air ini berhiaskan bunga teratai. Selain itu, ada juga 7 candi kecil lainnya yang didedikasikan untuk Tujuh Bintang sebagai Unsur Utama, seperti Matahari, Bulan, Logam, Kayu, Air, Api dan Tanah.

Saya melangkah menuju percandian grup G, menyeberangi jembatan di atas sungai kecil yang membuat udara sejuk di sekitar percandian ditambah sesekali rintik hujan menerpa. Kawasan yang luar biasa. Tak heran, ada seorang turis bule duduk di bawah pohon menikmati ketenangan suasana sambil membaca buku.

The Sanctuary of My Son
The Sanctuary of My Son

Grup G bergaya Binh Dinh dari abad 12 hingga 13 ini terletak di sebuah bukit kecil, menjadikannya berfungsi sebagai candi gunung seperti layaknya konsep candi suci di Kamboja. Bahkan bentuknya pun tidak jauh dari konsep candi gunung. Kompleks candi yang menghadap Barat ini mempunya lima bagian: Candi utama, Gapura, Balai Mandapa, Bangunan Penyimpanan dan Monumen Prasasti. Prasasti yang dibuat oleh Raja Jaya Harivarman ini begitu besar manfaatnya karena menjelaskan proses pembangunan dan tujuannya. Bukit yang dinamakan Vugvan (Alam Pegunungan) ini didedikasikan untuk Dewa Siwa, kedua orang tua dari Raja dan untuk Raja sendiri. Candi Utama memiliki kekhususan karena memiliki dua pintu, -di Utara dan Selatan-, selain pintu utama di bagian Barat, yang berhiaskan Dewi Laksmi. Dan di tiap sudut dihiasi dengan patung singa dengan puluhan Kala yang terbuat dari terakota.

Dari ketinggian grup G, saya melangkah menuju grup A. Berbagai perasaan menyeruak ke atas saat berdiri di hadapan percandian grup A. Dalam benak saya terbayang candi A1 yang merupakan mahakarya abad 10 dari Kerajaan Champa yang berpusat di tengah kawasan My Son. Tingginya yang 28 meter, hampir menyamai Candi Wisnu dan Candi Brahma di Prambanan, tampaknya menjulang sendiri di kawasan ini, satu-satunya yang memiliki pintu Timur dan Barat dan dikelilingi oleh candi-candi mata angin. Dan memiliki lengkung kala makara di bagian bawah seperti candi-candi di Jawa. Sebuah teriakan untuk berselfie dari gadis-gadis lokal membuyarkan imajinasi saya untuk kembali melihat kenyataan yang sebenarnya. Di hadapan saya hanya ada gundukan bata penuh rumput. Perang Agustus 1969 telah menghancurkan mahakarya ini.

Tak beda jauh kondisi candi A10 yang berada di sebelahnya, terbengkalai dipenuhi rumput walaupun dibangun dengan gaya Dong Duong yang penuh hiasan yang cantik, terlihat dari pinggiran yang masih terbuka.

Saya harus berjalan berputar mengelilingi gundukan rumput yang menutupi candi A10 untuk mencapai candi A13 melalui jalan setapak dengan tanaman liar dan rumput setinggi paha di kanan kiri. Saya melangkah cepat menuju A13 karena tak ada manusia di sekitar dan mengambil foto Garuda di sudut atas candi lalu langsung mengambil langkah seribu meninggalkan lokasi. Selain terasa sekali aura mistis di situ, tetapi saya lebih takut ular yang bisa muncul tiba-tiba dari semak-semak.

Seperti biasanya, saya tak ingin bergegas meninggalkan kompleks percandian, tetapi waktu sudah memanggil. Saya teringat pak pengemudi mobil sewaan yang menunggu untuk mengantar saya ke Hue. Berat sekali mengambil langkah untuk meninggalkan tempat luar biasa ini, walaupun  masih bisa mampir ke percandian grup H.

Candi dalam group H dari abad 13 ini hanya meninggalkan sebagian dinding dari candi utama yang terdiri dari empat bangunan yang dulu pernah berdiri dengan anggun di atas sebuah bukit kecil di tempat ini namun telah hancur karena perang. Dan di atas pintu dari dinding ini dahulu terletak hiasan Dewa Siwa Bertangan Delapan yang senyumnya mengingatkan saya pada wajah-wajah di Bayon Temple, Angkor

Dalam perjalanan menuju Hue, saya berbisik dalam hati sambil melambaikan tangan pada lembah My Son yang tertinggal di belakang, Cam on ban, Tam Biet, Hen Gap Lai! Terima kasih, goodbye dan sampai jumpa lagi… (suatu saat kita ketemu lagi ya…)

*

Uji Nyali di Pagi Hari Yang Indah


The Hanging Lanterns
The Hanging Lanterns

Pagi hari masih berada di atas tempat tidur di kamar yang hening sambil melihat kembali foto-foto kota kuno Hoi An yang indah dengan kerlap-kerlip lampion warna warni di kamera, rasanya menyenangkan sekali. Apalagi hari ini akan mengunjungi My Son, destinasi percandian yang sudah lama diimpikan. Nikmatnya My Me-Time yang sudah kesekian kali ini, memang membuat ketagihan karena rasanya seperti mencapai langit ketujuh, bisa merasa begitu dekat dengan Pemilik Semesta. Ketika segala topeng di wajah tak perlu dikenakan, ketika segala takut dan cemas bisa ditinggalkan di belakang, ketika airmata bisa mengalir kapan saja tanpa rasa dihakimi, ketika bahagia dan syukur bisa dilantunkan penuh pujian tanpa putus, ketika tak perlu merasa malu karena tak mampu dan masih banyak ketika-ketika lain yang semuanya satu. Sejatinya manusia.

Dan saat seperti ini, kejernihan suara hati lebih sering tampil ke permukaan. Tetapi apakah didengarkan atau diabaikan, semua itu tergantung dari situasi yang dihadapi. Juga pagi itu.

Sejak mendarat di Vietnam tak cuma sekali suara hati itu berusaha menggapai kesadaran saya untuk memeriksa cap paspor setelah melewati imigrasi Vietnam. Hanya sekedar mendengar, tetapi tidak bertindak, karena tidak ada negara baru yang didatangi sepanjang tahun 2015. Sebuah kebiasaan buruk sebenarnya, karena sebaiknya kita memeriksa paspor sendiri saat melewati imigrasi, mungkin kecuali Hong Kong dan Macau ya, karena dua tempat itu sudah tidak cap paspor lagi (Teringat dulu ketika naik KTM dari Singapura ke Malaysia saya tidak tahu bahwa paspor tidak dicap masuk oleh imigrasi Malaysia, sehingga harus gelagapan menunjukkan tiket pergi KTM, -yang untungnya masih disimpan-, di imigrasi Malaysia saat keluar untuk pulang ke Jakarta).

20160106_140824ee

Nah, saat leyeh-leyeh di tempat tidur itulah suara hati itu kembali mengguncang kesadaran dan akhirnya berhasil membuat saya ingin melihat bentuk cap dan warna imigrasi Vietnam. Artinya harus mengambil paspor yang ada di dompet hijau.

Sejak kehilangan dompet uang (dan Alhamdulillah ketemu lagi) ketika melakukan perjalanan ke Hong Kong – Macau di akhir tahun 2013 lalu, kini tersedia dua dompet yang berbeda untuk  uang dan kartu-kartu. Pengalaman itu luar biasa sekali stressnya. Bayangkan ada paspor, tetapi tidak punya cukup dana untuk seluruh keluarga untuk sampai ke tanggal pulang. Sejak itu, keberadaan dompet mendapat perhatian lebih. Dompet berwarna hijau dipakai untuk menyimpan paspor, dua kartu dan uang sehari-hari, dan dompet hitam yang tidak pernah dikeluarkan dari ransel kecuali sangat diperlukan.

Karena dompet hijau itu bisa dibilang nyawa perjalanan, maka selalu berada dalam jangkauan mata dan tangan serta biasanya diletakkan berdekatan dengan ponsel. Pagi itu dompet hijau berada di atas meja dekat kaki tempat tidur. Dengan sedikit malas, saya mengarah ke meja dan mengambil dompet hijau itu.

Segera saya buka ritsletingnya dan… Ya Tuhan… Paspor TIDAK ADA!!!

Mengedip sekali tak percaya, terlintas di benak kemungkinan paspor terselip di kantong sebelahnya… Langsung saja saya buka ritsleting satunya lagi…. TIDAK ADA JUGA!!!

Sepersekian detik kemudian, semua isi dompet hijau itu sudah berserakan di atas tempat tidur, uang, kartu kredit, kartu debit, lembar pesanan hotel dan boarding-pass penerbangan pulang, serta nota-nota tak penting lainnya… semua lengkap, KECUALI PASPOR!!! Huuuuaaaaaaaa…

PASS-E1

Ada rasa terkejut menyergap ke seluruh tubuh, lalu berusaha mengingat-ingat dimana dan kapan terakhir saya memegang paspor. Satu detik, dua detik dalam diam, meyakinkan diri untuk tidak panik. Harus bisa berpikir tenang agar dapat mengingat kronologis perjalanan.

Sambil tetap berusaha mengingat-ingat dan berusaha tenang, ransel daypack yang digunakan semalam untuk jalan keliling Hoi An, saya bongkar seluruh isinya dan sama seperti dompet hijau, isinya tertumpah semua ke tempat tidur. Tetapi si buku kecil bersampul hijau itu tetap lenyap tak terlihat.

Yang pasti, waktu hilangnya antara check-in kemarin hingga pagi ini, karena tidak mungkin tidak menyerahkan paspor saat check-in bukan?  Tetapi sejak saat itu hingga pagi ini, artinya bisa dimana saja, di ribuan tempat walau hanya di kota kuno Hoi An. Masih bersyukur bisa menentukan tempat dan waktunya sehingga ada batas yang jelas (tapi jelas atau tidak, paspor tetap lenyap…).

Teringat peristiwa tahun lalu, tepat perjalanan akhir tahun, sama seperti sekarang. Bedanya waktu itu bersama keluarga, kali ini sendirian. Waktu itu terbantu oleh dukungan orang-orang tercinta, kali ini tidak ada mereka disini. Situasinya hampir sama, kehilangan “Nyawa Perjalanan”, kalau tahun lalu seluruh dompet beserta isinya, kalau tahun ini PASPOR!

Walaupun memaksa diri untuk tetap tenang, ada sejumput rasa tegang yang naik dengan cepat ke permukaan tubuh. Hanya sejumput! Karenanya, saya cukup heran dengan diri sendiri, tidak ada kepanikan. Bisa dibilang tenang, bahkan terlalu tenang untuk ukuran masalahnya. Tetapi itu SAMA seperti tahun lalu, saat menyadari berada di negara orang dan tanpa uang, saat itu saya tenang, bahkan terlalu tenang. Apakah ini sebuah pertanda?

Ya Tuhan, ada apa lagi kali ini… Ada tarik ulur yang hebat antara logika dan rasa. Yang satu berkata harus cepat karena berlomba dengan waktu, yang satu berkata nikmatilah bersama sang waktu, yang satu bicara soal yang nyata yang lain lebih pada jiwa. Akhirnya saya menyerah, karena yang mendominasi rasa berserah. Ya, saya hanya perlu pasrah, percaya sepenuhnya padaNya bahwa semua akan baik-baik saja. Sabar dan tenang. (Walau tak bisa dibohongi, rasa panik mulai naik menyerang ketenangan itu…)

Bagaimana bisa tenang…???

Tetapi kesadaran saya masih berfungsi baik. Kepanikan yang tidak perlu harus diatasi sebelum menjadi liar. Panik tidak akan menyelesaikan masalah. Harus ada solusi. Jadi what’s next? First thing first!

Mandi!

Ternyata tenang itu memang bermanfaat. Asli, saya bisa meletakkan masalah kehilangan itu di depan pintu kamar mandi lalu berpikir dan menetapkan langkah berikutnya secara detail sambil browsing yang diperlukan selama duduk di kloset. Yang pasti, harus kerjasama dengan pihak hotel terutama ketika berhubungan dengan pihak berwenang (polisi setempat), lalu menapak tilas rute semalam dalam satu jam karena siapa tahu ada yang berbaik hati mengembalikan paspor, lalu mengurus surat kehilangan dipastikan harus selesai hari itu, kemudian terbang ke Hanoi untuk langsung mengurus ke KBRI (karena hari itu adalah hari Jumat) dan ucapkan selamat tinggal pada liburan karena tentu saja harus langsung pulang setelah mengurus SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor). Untunglah semua dokumen penting sudah disimpan ke cloud, jadi tinggal dicetak. Tak boleh lupa harus menyediakan dana untuk hidup di Hanoi. Ketika permasalahan sudah diidentifikasi batas-batasnya, rasanya semakin tenang. Kalau pun ada rasa tidak nyaman, harusnya normal, karena berpergian dengan satu kondisi yang tidak menyenangkan. Tetapi selalu ada alasan positif kan? Bukankah saya belum pernah ke Hanoi? Pemikiran itu membuat saya mandi dengan nyaman dan sempat keramas dulu walau lebih cepat dari biasanya, hehehe…

Barang-barang telah rapi tetapi sebelum ke lobby untuk melakukan langkah pertama, saya sisihkan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia Pemilik Semesta. Dan setelah kewajiban selesai, saya masih bersimpuh dalam diam, tak terasa airmata jatuh. Hanya ada satu kata. Pasrah. Menerima yang harus dijalani, karena saya sedang diuji. Tepat seperti tahun lalu, Desember yang sama, seakan diminta untuk Percaya, untuk Yakin, untuk Sabar akan pertolonganNya.

Satu airmata jatuh lagi, bukan karena sedih, melainkan merasa tak berdaya dengan serupanya ujian dalam selang waktu tepat satu tahun.

Namun di balik rasa tak berdaya, entah kenapa terasa bahwa Dia Yang Maha Kuasa sedang menyelipkan rasa bahagia. Saya mengenalinya melalui ketenangan itu. Setahun lalu dengan ketenangan yang sama. Tidak ada yang hilang, Dia menyimpannya dan saya harus Percaya dan Sabar. Itu saja.

Pasrah. Percaya dan Sabar. Help is on the way…

Tersentak karena tiba-tiba terlintas di benak pengalaman serupa untuk bergantung sepenuhnya padaNya, -percaya dan sabar-, ketika kehilangan arah dan kemalaman di tengah-tengah Gayasan National Park di Korea Selatan dulu… (Klik disini untuk baca ceritanya)

Bismillah.

Tetapi dasar manusia. Walaupun diupayakan tenang, kecemasan dan kepanikan mulai menghajar diri sepanjang langkah menuju lobby. Bagaimana kalau benar-benar harus ke Hanoi? Bisakah mengingat rute semalam? Bagaimana kalau nanti… Bagaimana kalau…dan banyak lagi ‘bagaimana’

Sampai di depan konter hotel, lagi-lagi saya terdiam sebentar menarik nafas sementara petugas laki-laki berwajah ramah itu tersenyum menyapa dengan standar layanan lalu menunggu.

Mmm… err…. (mulai panik)…. Hmm… I think… (bingung mau mulai dari mana dan bagaimana) I think… hmm… my passport is lost… perhaps it fell somewhere on the ancient city last night…

Dia mendengarkan seksama dan terkejut. Matanya membelalak.

“Do you mean, hmmm… err… lost? Your passport is lost?”

Saya mengangguk pasrah. Ya Tuhan… tolong saya…

Tiba-tiba petugas hotel itu diam, tampak terpikir sesuatu.

“Hold on… wait… wait… It’s lost … or we still keep it”, nada kalimatnya bertanya, mungkin ke diri sendiri.

WHAAAT??? – Tentu saja ekspresi dengan tiga tanda tanya ini hanya ada di pikiran.

Petugas hotel itu berbalik badan dan dengan cepat dia memeriksa dokumen-dokumen di balik konter dan mengambil satu folder plastik transparan. Sedetik kemudian, dia membalik dan mengangkat folder plastik tadi ke hadapannya.

Dia tak perlu membukanya karena terlihat si buku kecil berwarna hijau kebiruan di folder plastik itu!

“Yessss…that’s my passport!!!”, teriakan saya cetar membahana. Dua wajah tersenyum lebar.

20160113_071709E1

Dalam sekejap mata sekujur badan rasanya disiram air dingin. Hati yang cemas, langsung hilang. (Lagi-lagi teringat rasa yang sama setahun lalu, ketika suara di ujung telepon mengatakan bahwa dia menemukan sebuah dompet hitam di depan konternya). Rasa dingin yang mengguyur, sama rasa, tak beda.

Jadiiiii…. Selama ini mereka belum mengembalikan? Mereka menyimpannya. Mengapa tidak mengatakannya? (Lalu mengapa saya tak ingat paspor belum dikembalikan? Sedetik kemudian teringat kembali saat check-in, ada dua petugas yang melayani, -yang memberikan welcome drink dan merekomendasikan rencana tur serta yang melakukan registrasi-, berada di dua meja yang berbeda. A distraction!

Walau tak ada maaf telah memisahkan paspor dengan pemiliknya, petugas hotel itu segera menyerahkan paspor yang tentu saja diterima dengan bahagia luar biasa. Saya ciumi buku kecil itu dan ditempelkan ke dada seakan kekasih yang tak boleh lepas lagi. Sekujur tubuh tersenyum penuh rasa syukur yang tak henti. Bayangan kesulitan menghadapi polisi dan keterpaksaan terbang ke Hanoi langsung memudar dan berganti dengan gambar candi-candi kerajaan Champa di My Son. Ah, liburan kini bisa dilanjutkan lagi. Tubuh bergegas untuk sarapan yang tadinya hampir saja dilewatkan.

Sekali lagi saya diberikan kesempatan merasakan Cinta yang luar biasa, begitu lengkap, begitu dekat dan tak terbandingkan, tak terdefinisikan… I am so blessed.