Laos – Memenuhi Janji ke Wat Phou


Walaupun sudah berusaha lebih awal, saya sampai di gerbang Wat Phou pada saat matahari membentuk sudut kecil dengan tegaknya di atas kepala. Namun demikian, diiringi panas yang juara, saya berdiri diam dalam haru, setelah sekian lama akhirnya saya bisa menjejak di Wat Phou, kompleks percandian terakhir dari daftar candi yang dianugerahi oleh UNESCO sebagai World Heritage Site sebelum tahun 2014 di kawasan Asia Tenggara. Laksana sebuah pita lebar, pikiran saya terbang dan menalikan Borobudur, Prambanan, Angkor, Preah Vihear, Ayutthaya, Sukhothai, My Son dan kini Wat Phou yang ada di depan saya. Lengkap, 8 situs. Delapan, bentukan angka yang tarikan garisnya lengkung tak berujung.

Dan sebagaimana umumnya UNESCO World Heritage Site, jarak antara gerbang dan lokasi candi pasti masih jauh. Tetapi untunglah pemerintah Laos menyediakan layanan shuttle gratis sejenis golf-car berkursi banyak untuk mengantarjemput pengunjung dari gerbang masuk ke batas awal percandian. Sesuatu yang patut diacungi jempol untuk memajukan industry pariwisatanya. Tak terbayangkan seandainya harus berjalan kaki terpanggang matahari sepanjang hampir satu kilometer…

Kendaraan shuttle itu menyusuri pelan di pinggir baray (kolam buatan) yang airnya memberikan kesejukan di tengah hari yang panas dan menurunkan seluruh pengunjung di sudut Barat Daya baray. Berbeda dengan kebanyakan orang yang lebih memilih berjalan di jalan aspal di samping baray kedua yang telah mengering, saya justru memilih melakukan kunjungan secara ‘resmi’ melalui jalan pelintasan seremonial yang diapit dua baray kedua yang telah mengering.

The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background
The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background

Sebelum melangkah, tanpa menghiraukan terik yang memanggang, saya berdiri dalam hening di awal jalan pelintasan yang terbentang di depan, menatap lurus ke candi yang berada di atas bukit. Seperti juga di tujuh situs sebelumnya, saya selalu menautkan hati dengan bumi yang berada di bawah kaki saya, inilah tempat-tempat yang memiliki keluarbiasaan. Seakan memberi sambutan khusus, sejumput awan bergerak menutup matahari barang sejenak ditambah kesejukan udara dari baray besar tadi yang terasa membelai dari arah belakang. Jalan pelintasan lama ini beralaskan batuan pipih membentang tepat di tengah menuju bangunan candi. Saya memang tengah berdiri di pintu pertama dari jalan pelintasan resmi yang dulu digunakan untuk sebuah prosesi seremonial, jalan yang digunakan para Raja dan kaum bangsawan pada masa keemasannya. Tak heran auranya terasa magis dan suasana alamnya luar biasa…

Inilah candi kuno yang dulu selalu diasosiasikan dengan kota Shrestapura, kota yang terletak di pinggir Sungai Mekong dan berhadapan langsung dengan Gunung Lingaparvata. Dua symbol suci bagi mereka yang percaya, gunung yang berada di ketinggian dan dari namanya saja sudah dapat ditebak merupakan tempat kediaman salah satu dewa dalam Trimurti dan sungai besar yang tentu saja diasosiasikan dengan samudra atau Gangga yang suci. Jelas sekali bahwa Wat Phou ini didedikasikan Shiva, Sang Mahadewa.

Masih berdiri di awal jalan pelintasan, saya menatap pegunungan dengan puncak Lingaparvata yang melatari Wat Phu. Siapa yang mengira saya bisa menjejak di tempat yang berada segaris membagi dua antara Angkor Wat dan My Son, seakan memberi konfirmasi dari inskripsi yang ada bahwa sejak jaman dulu, tempat suci di bumi Laos sekarang ini memang telah memiliki hubungan langsung dengan Kerajaan Champa (sekarang Vietnam) dan juga Kerajaan Chenla (sekarang Kamboja).

Pemikiran itu menggugah senyum dalam hati, membayangkan sebagai bagian rombongan bangsawan melangkah pelan di jalan pelintasan beralas batu dan berhiaskan tonggak setinggi pinggang di kanan kiri. Jika dahulu jalan pelintasan ini terhampar bersih, kini mata perlu jeli agar kaki melangkah tanpa perlu menginjak kotoran binatang yang tertinggal.

Struktur pertama sebelah Utara menarik perhatian saya untuk dijelajahi terlebih dahulu, sementara bagian Selatan mengalami perbaikan di sana sini. Setelah mengambil gambar tampak luar, saya mulai menapaki tangga dan menyusuri dinding-dindingnya. Jendela berteralis batu berulir seperti di Angkor membuat saya lupa sejenak berada di bumi Laos. Memasuki bangunan tanpa atap ini, menjadikan imajinasi bergerak liar. Saya bebas membayangkan ruangan di hadapan ini, pada masanya berlantai kayu yang indah atau dibiarkan terhampar dengan rumput yang terpelihara. Saya juga mengintip dari balik gallery yang biasa tertutup atap lengkung. Disini pastinya sangat menyenangkan, memandang bumi Champasak yang terhampar jauh di hadapan dengan air yang memenuhi baray memberi keteduhan tersendiri.

Bangunan kembar di Selatan dan Utara ini, yang sering disebut sebagai istana, -bisa jadi untuk rehat bagi para bangsawan yang berkunjung-, merupakan bangunan pertama yang ditemui setelah akhir dari jalan pelintasan. Hanya bangunan di Selatan memiliki tambahan Kuil Nandi, bhakta (pemuja) setia Dewa Shiva, selain sebagai kendaraannya. Sayang sekali, di beberapa tempat terserak batu-batu hiasan yang cantik yang bisa jadi masih menunggu dikembalikan ke posisinya.

Kembali ke jalan pelintasan tengah, terlihat permulaan tangga berundak di ujung jalan. Tangga di tengah yang dinaungi pohon kamboja (frangipani) ini tidak dapat dilalui karena telah rusak dimakan usia sehingga pengunjung harus memutar sedikit. Dari sedikit ketinggian, pemandangan sudah terlihat membentang luar biasa.

Saya terus melangkah di jalan pelintasan yang kini menanjak dan berakhir di sebuah tangga berundak lain yang juga dinaungi pohon kamboja yang mengundang saya untuk rehat sejenak di bawahnya sambil mengamati bentuk dekorasi anak tangga dan orang yang melakukan sembah dan doa di depan sebuah patung berdiri berselempang hijau. Patung yang konon disebut dengan Dwarapala ini, bergaya Khmer dan hanya tinggal sendiri.

Setelah air botol habis, saya bergegas menuju kuil utama di atas melalui jalan berbatu yang kini tak lagi rata. Tangga di depan mata ini cukup curam, tak rata dan berdasar sempit dan tentunya tanpa pegangan tangan. Di beberapa tempat tinggi batunya mencapai lutut orang dewasa. Salah langkah disini, glundung sudah pasti.

Dibangun berdasar kosmologi Hindu, Wat Phou merupakan sebuah candi gunung, sebagai representasi gunung suci Meru, pusat alam semesta tempat kediaman para dewa. Dengan demikian, setiap lantai di Wat Phou bertambah tinggi seiring kenaikan levelnya, persis sebuah piramida.

Wat Phou - Central Sanctuary, Champasak, Laos
Wat Phou – Central Sanctuary, Champasak, Laos

Memasuki level teratas, selain menemukan batuan berukir yang terserak menunggu dikembalikan ke posisi sebenarnya, saya juga mengamati bangunan utama. Wilayah ini sudah digunakan sejak abad-5 sebagai tempat suci walaupun struktur yang sekarang berdiri berasal dari abad-11 hingga abad-13. Keindahan bangunan ini dipenuhi dengan hiasan rumit dwarapala dan devata di dinding. Berbagai hiasan di atas pintu seperti saat Krishna mengalahkan ular Kaliya dengan menari di atas kepalanya di atas pintu kiri atau Indra yang sedang menunggang Airvata sang gajah berkepala tiga di pintu tengah, Vishnu dengan mengendarai Garuda menaklukan naga di pintu kanan, Vishvakarma di atas Kala dan dijaga oleh singa.

Indra on Airvatha, Wat Phou
Indra on Airvatha, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou

Sejak abad-13 Wat Phou dialihfungsikan menjadi tempat ibadah Theravadda Buddha tanpa mengubah ornamen dinding namun hanya menambahkan patung Buddha, yang ritual ibadahnya dilakukan hingga kini. Pada altar tengah terdapat Buddha dengan pernak-pernik pemujaan di sekitarnya termasuk gong. Pada meja depan terdapat 3 buah batu yang terlihat cukup berat jika diangkat.

Inside the Sanctuary of Wat Phou
Inside the Sanctuary of Wat Phou

Di halaman sebelah Utara bangunan terdapat patung Boddhisatva yang kondisinya sebagian rusak namun dupa-dupa di depannya menandakan masih dipergunakan. Di belakangnya terpahat pada sebuah batu besar, Trimurti dengan Shiva di tengah, diapit oleh Brahma di sebelah kiri dan Vishnu di kanan.

Wat Phou view from the main sanctuary
Wat Phou view from the main sanctuary

Saya berjalan ke arah tebing di sebelah Utara, pemandangan kearah dataran rendah Laos terlihat semakin luar biasa dari balik pepohonan. Saya melihat banyak tumpukan beberapa batu pipih disusun keatas layaknya sebuah pagoda, yang sering juga saya lihat di Korea, Jepang, maupun di Angkor yang konon merupakan upaya meditasi yang menyusunnya. Selain itu, banyak batuan besar yang terlihat ‘labil’ ,-karena disangga bidang yang lebih kecil-, dipenuhi oleh penyangga kayu-kayu yang sengaja diletakkan pengunjung yang ibadah. Bisa jadi semua dilakukan berdasarkan keikhlasan turut menyangga sesuatu yang bersifat genting dan kritis.

Akhirnya saya mendapatkan Batu yang berpahat gajah itu. Luar biasa sekali. Beberapa saat menikmati batu gajah itu, semilir angin terasa membelai dari belakang. Karena saya tak merasakan kehadiran manusia lain di dekat saya, dan konon, jauh berabad sebelumnya tempat ini dijadikan tempat persembahan manusia, hal itu membuat saya bergegas kembali ke kuil utama.

Di tebing belakang kuil yang merupakan tempat awal kesakralan Wat Phou karena di bawah batu yang terlihat menggantung itu dialirkan air dari mata air melalui saluran berukir yang hingga kini tetap dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari dan ditampung pada tempat yang menyerupai sebuah yoni berongga. Padahal semua itu terdapat di sebuah ruang (ceruk) yang terbentuk di bawah tebing menggantung. Alam menyangganya dengan sangat baik.

Saya melihat dengan penuh ketakjuban, menyadari sangat kecilnya saya dibandingkan tebing batu itu. Kekuatan manusia tak ada apa-apanya. Sekali penyangganya terlepas, manusia lenyap, tak berbekas, penyet…

Udara masih panas, tetapi saya harus melangkah pelan meninggalkan Wat Phou, lokasi terakhir janji saya yang mewujud. Angka delapan itu tak putus, meliuk melingkar hingga suatu saat kita akan berjumpa lagi…

Iklan

Melintas Perbatasan Chong Mek Thailand ke Vangtao Laos Selatan


Mendung masih menyelimuti langit Ubon walaupun matahari sudah terbit dari tadi, tetapi saya sudah siap meninggalkan penginapan. Saya merasa terlambat, seharusnya saya sudah di jalan menuju perbatasan. Untung saja sudah ada petugas di balik konter penginapan itu. Sambil memproses check-out saya minta bantuannya untuk mencarikan tuktuk agar bisa sampai ke terminal bus yang akan membawa saya ke Pakse di Laos.

Entah kenapa saya terpikir untuk mempercepat perjalanan ke perbatasan ini. Bus internasional yang akan melintas perbatasan baru akan berangkat dari terminal Ubon Ratchathani sekitar pukul 08.30, artinya saya harus menunggu dua jam lebih demi membayar 200baht ke Pakse. Padahal dalam dua jam itu saya sudah bisa melampaui perbatasan. Hmm… saya berpikir keras dan menimbang-nimbang karena tidak yakin ada kendaraan umum yang bisa non-stop dari Ubon Ratchathani ke perbatasan di Chong Mek, selain taksi. Bus ada, tetapi pasti lama karena sering berhenti di banyak tempat. Pilihan lain adalah naik Songthaew, sejenis angkot yang lebih besar, tetapi biasanya gonta-ganti yang tak jelas di Phibun Mangsahan, kota kecil diantara Ubon Ratchathani dan Chong Mek. Bus atau Songthaew pasti lebih murah dari 200Baht tetapi waktu jadi tak pasti. Padahal saya sedang berlomba dengan waktu untuk mencapai Wat Phou di Champasak, hari ini.

Demi cinta (uhuk!) saya bersedia merogoh kantong lebih dalam. Saya memutuskan untuk naik taksi demi sebuah Wat Phou yang kian jelas memanggil dari Champasak. 1000Baht! Itu artinya lima kali bolak-balik Ubon – Pakse naik bus internasional.

Akhirnya saya batalkan pesanan tuktuk dan minta dicarikan taksi yang bersedia ke Chong Mek di pagi hari itu dan keberuntungan selalu datang buat siapa saja yang bangun pagi. Seorang pemuda yang sepertinya masih relasi dari pemilik hotel yang sedang membersihkan kendaraan, bersedia mengantar ke perbatasan. Jadilah saya naik Honda city dari Ubon Ratchathani ke Chong Mek sepanjang 90km.

Jalan-jalan luar kota di Thailand lebar dan tertata rapi. Beruntunglah saya bisa naik mobil menikmati perjalanan darat yang menyenangkan. Sebuah kemewahan tersendiri, bisa lancar melalui jalan lingkar kota Phibun Mangsahan. Pemuda baik hati itu juga melambatkan laju kendaraan agar saya bisa mengambil foto waduk Sirindhorn yang terlihat dari jalan.

Sekitar satu jam saya telah sampai di Chong Mek. Pengennya sih bisa berteriak, Borderrrr…!!!

Immigration Building in Chong Mek, Thailand
Immigration Building in Chong Mek, Thailand

Sepanjang perjalanan saya selama ini, selain Singapore – Johor Bahru di Malaysia dengan kereta api, dan Lowu di Hong Kong dengan Shenzhen di China, saya belum pernah melintas perbatasan via darat. Dan hari ini pengalaman pertama saya melintas perbatasan dua negara via darat dengan berjalan kaki. Dengan jantung berdebar-debar, saya bersiap menghadapi pengalaman itu sendiri.

Pemuda baik hati itu melepas saya tepat di depan gedung imigrasi. Saya bukannya langsung menuju gedung imigrasi melainkan menyeberang kearah toko 7-11 untuk mengabadikan situasi perbatasan Thailand. Dan sebagai isteri dan ibu yang baik, hihihi, saya mengirim pesan ke keluarga mengatakan saya sedang di perbatasan. Sekalian menulis status tak bermutu bernada pamer sambil check-in di Facebook, halah! 😀 😀 😀

Petugas imigrasi Thailand sudah siap di belakang konter. Lagi-lagi saya diajak berbahasa Thai karena wajah ‘Thai palsu’ yang saya miliki. Karena saya bengong sambil memperlihatkan paspor Garuda di tangan, petugas itu dengan ramah meminta saya pindah ke konter khusus ASEAN karena saya salah masuk ke jalur lokal.

Paspor saya telah dicap keluar dari Thailand dan belum masuk ke Negara tujuan (Lao PDR). Dan inilah saya yang sedang berjalan kaki memasuki daerah tak jelas (no man’s land). Ah, mungkin saya yang kebanyakan nonton film Hollywood yang selalu heboh mengerikan penuh drama di wilayah no-man’s land 😀 😀 😀

Saya menuruni tangga menuju terowongan bawah tanah berjeruji yang terbagi dua arah dan menghubungkan Thailand dan Lao PDR, tak beda sama sekali dengan tikus putih percobaan yang dipaksa berjalan mengikuti arah yang sudah ditentukan.

Dan eng-ing-eng…. Di ujung akhir tangga naik terowongan, saya muncul di wilayah yang seharusnya menjadi bagian dari gedung imigrasi Laos, tetapi ini tidak. Saya sampai di sebuah tempat terbuka setelah melewati kios kecil berbendera Lao PDR. Bebas mau melangkah kemana saja. Free…

The End of Tunnel - Small Kiosk wih Lao Flag
The End of Tunnel – Small Kiosk with Lao Flag

Mana gedung imigrasi untuk cap paspor? Ya cari sendiri, usahaaaa… sodara-sodara…

Jantung berdegup lebih kencang menyadari situasi laissez faire di depan mata (Tiba-tiba saya terpikir untuk melakukan perjalanan melintas perbatasan Indonesia di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur serta Nusa Tenggara Timur dan Papua, hanya untuk sebuah perbandingan situasi…)

Where's the Immigration Building?
Where’s the Immigration Building? The White Building??? It’s not….

Saya berbalik arah menanyakan kepada petugas perempuan yang ada di dalam kios kecil itu. Dia hanya menunjuk tak jelas, kearah bangunan besar di depan mata. White building, katanya. Saya mengangguk mengucapkan terima kasih lalu berjalan kearah gedung tadi.

Angin ribut lokal pun menyambut

Tiba-tiba angin terasa kuat berhembus datang dari arah kiri saya. Suaranya menderu dan tak menyenangkan, debu-debu di jalan yang lama tak kena hujan terbang seketika ke atas, daun-daun yang jatuh, sampah-sampah dan benda ringan lainnya seketika terbang terbawa angin. Saya sempat melihat dua orang yang sedang berjalan ke arah Thailand langsung menutup wajah untuk menghindari debu yang terbang liar. Saya sudah terjebak di tengah-tengah angin ribut lokal ini. Dengan mata yang terpicing, saya sempat melihat barang-barang konstruksi seperti potongan lembaran seng bergoyang-goyang. Alarm tubuh langsung berdering menandakan situasi yang harus diwaspadai. Saya cepat mencari gundukan besar dekat jalan tanah merah yang belum beraspal namun memungkinkan untuk berbaring disitu jika alam semakin tak bersahabat. Saya berdoa dalam hati agar senantiasa dilindungi dari marabahaya sambil tetap berjalan cepat kesana, tetapi itu artinya saya menjauhi the white building yang ditunjukkan petugas perempuan tadi. Terasa lembaran sisa surat kabar yang terbang terbawa angin dengan keras mengenai sisi kiri saya. Terpaksa dengan mata memicing saya melangkah lebar-lebar mencoba menghindari terkena barang-barang yang terbang, mencoba mengalahkan angin. Syukurlah semakin dekat ke gedung, angin semakin terasa tertinggal di belakang. Sebagaimana tiba-tiba ia datang, secepat itu pula ia pergi. Ah, saya tersadar… Itu sebuah sambutan buat saya di Laos! 😀

Dan… baru terlihat jelas gedung yang dikatakan petugas tadi masih belum selesai pembangunannya. Hah? Jika bukan gedung putih yang ini, jadi dimana untuk imigrasi ? Helloooo… paspor ini belum dicap masuk!

Saat ini saya masih dalam keadaan tak jelas, sudah tercatat keluar dari Thailand tetapi belum masuk Laos. Jika tanah ini bukan tanah siapa-siapa, artinya masih adakah hukum disini jika something’s going wrong? Namun jika ini tanah Laos, saya masih berjalan sebagai illegal alien… pendatang haram…

Saya melihat seorang perempuan berseragam dinas berjalan melintas sekitar seratus meter di depan. Melihat sebuah kesempatan baik, saya langsung mengejar dan bertanya padanya. Untunglah ia berkenan mengantarkan saya langsung ke gedung imigrasi karena ia juga menuju tempat yang sama, sambil menjelaskan nomor konter ASEAN yang harus saya masuki. Alhamdulillah… Ternyata gedung yang dimaksud terletak di sebelah gedung yang ditunjuk petugas perempuan yang pertama tadi. Adanya angin ribut lokal menyebabkan saya melangkah ke arah yang salah.

Finally the Counter for ASEAN
Finally the Counter for ASEAN

Saya mengikuti sarannya dan mengambil kartu kedatangan lalu mengisinya kemudian menyetorkan ke lubang di bawah jendela.

Saya ditanya asal negara yang saya jawab sambil jengkel (saat itu tidak ada orang lain alias sendirian dan dia memegang paspor saya yang sudah jelas tertulis Republik Indonesia, masih ditanya lagi!) Ujung-ujungnya adalah 10000Kip. Masalahnya saya tidak punya Kip, tidak punya Bath kecil. Untung saja saya selalu bawa uang US$1 sisa dari Kamboja, saya sodorkan dua lembar dan mereka tersenyum menyerahkan kembali paspor saya yang sudah bercap Vangtao, Lao PDR. Ini sesuai dengan apa yang diceritakan di internet bahwa di perbatasan Laos, imigrasinya selalu meminta uang 10000Kip sebagai processing fee. Hah?? Kalau warganegara asing yang perlu VOA okelah, tapi kalau ASEAN yang hanya tinggal cap, apa lagi yang diproses? Ya sudahlah… apalagi saat itu akhir minggu… (eh, eh…… whaaattt???)

Saya baru ingat hari ini adalah akhir pekan. Bank tutup! Saya di tanah Laos dan tidak punya uang. Celaka dua belas! Dengan memegang paspor saya keliling mencari money changer dan semuanya tutup Saudara-saudara… Saya melangkah ke ATM Laos, keren nih, bisa tarik uang melalui jaringan internasional. Tetapi ada orang yang mencobanya dan gagal… Bahkan ia memperlihatkan kepada saya layar yang bertulisan Out of Service. Metooong!!! Saya iseng melangkah ke Bank di seberang jalan hanya untuk membaca tulisan yang tergantung di pintu, Closed. Bagus sekali!

Saya kembali kearah ATM tadi tak henti berharap palsu. Tadaaaa… saya mendapat berkah lagi, ATM sekarang berfungsi, mungkin tadi sistemnya belum siap. Sukses mengambil uang dan merasa ‘kaya’ dengan Kip Laos, saya melanjutkan perjalanan. Saya kan harus ke Pakse!

Lagi-lagi saya bertanya kepada seseorang yang berseragam dinas dan diantarkan ke tempat ojek agar bisa diantar ke tempat minivan. Begitu banyak orang baik! Di tempat saya turun dari ojek, dua orang mendekati saya. Satu menawarkan mobil langsung ke penginapan saya di Pakse dan satu lagi naik minivan yang berakhir di terminal. Ini pilihan dengan negosiasi seru penuh tawa karena saya menggunakan jari-jari untuk menawar termasuk merajuk jika terasa mahal. Akhirnya setelah berkomunikasi bahasa tarzan dengan warga lokal itu, saya dapat mobil privat langsung ke Pakse dengan harga sedikit lebih tinggi daripada harga minivan. Great!

Saya meninggalkan perbatasan Vangtao dan menempuh 1 jam perjalanan lagi ke Pakse. Kali ini jalur lalu lintas Laos berada di sebelah kanan dengan jalan yang relatif mulus namun berdebu yang kadang dihiasi dengan rombongan sapi yang menyeberang tanpa lihat mobil berkecepatan tinggi sedang melaju. Tak hanya sekali sang pengemudi menginjak rem secara mendadak dan para sapi itu hanya bisa nyengir… dan saya terus bergumam dalam hati… Wat Phou, I’m on the way…

Laos Selatan – Sebuah Pendahuluan


Setelah tahun 2012 saya mengunjungi kota Luang Prabang yang terkenal sebagai UNESCO World Heritage City dan Vientiane, ibukota negara Lao PDR, yang keduanya terletak di bagian Utara, saya masih meninggalkan satu UNESCO World Heritage Site di Laos, yaitu Wat Phou yang terletak di propinsi Champasak di bagian Selatan bumi Laos. Wat Phou inilah yang kerap memanggil saya untuk datang menjejakkan kaki. Sebagai penggemar candi, apalagi yang masih berkerabat dengan candi Angkorian atau Champa, by any means, dengan segala cara akan saya upayakan datang hehehe…

IMG_1069
One of the galleries of Wat Phou Champasak, Southern Lao PDR

Karena lokasi Wat Phou cukup remote, seakan berada di negeri antah berantah, dan agak jauh dari kota-kota besar maka saya harus melakukan persiapan perjalanan dengan lebih baik. Tetapi herannya sebaik apapun persiapan perjalanan saya, selalu saja pada kenyataannya bisa berbeda dan bagi saya itu semua yang memberi warna dalam sebuah perjalanan. Atau mungkin saya sendiri yang memang pada dasarnya tidak suka terlalu terpaku pada itinerary…

Tetapi yang pasti setelah mengalah terhadap undangan dan panggilan tak henti dari Wat Phou itu, saya mulai serius mempersiapkan perjalanan itu. Paling tidak saya bisa menyelinap pergi kesana sepanjang akhir pekan dengan tambahan satu atau dua hari cuti. Laos bukan negeri jauh, masih di kawasan Asia Tenggara yang relatif dekat dengan Indonesia tercinta. Tinggal mengatur bagaimana cara saya sampai ke Wat Phou itu…

Dan satu roti pun cukup sebagai makan siang demi berkencan dengan simbah gugel untuk perjalanan ini…

Pakse, ibukota propinsi Champasak di Laos Selatan merupakan kota terdekat untuk mencapai Wat Phou dan saya menandai sebagai base sementara saya di Laos. Paling tidak untuk contingency atau emergency, di Pakse terdapat bandara internasional (hehehe… ini kebiasaan mencari escape point)

Sedikit lebih jauh dengan Laos atau secara resmi disebut dengan Lao People’s Democratic Republic (Lao PDR)  merupakan negara yang landlocked, yaitu negara yang seluruh perbatasannya dengan negara lain hanya berupa daratan dengan kondisi sungai dianggap sebagai bagian dari daratan. Laos sendiri berbatas  dengan Myanmar dan China (di Barat Laut), Vietnam (di Timur), Cambodia (di Selatan) dan Thailand (di Barat). Untuk mudahnya membayangkan, jika Vietnam sepanjang pesisir Indochina yang melekuk seksi dan Thailand dan Cambodia yang berada di bagian dalam teluk, maka Laos merupakan negara yang terjepit diantara ketiganya. Kalau masih belum bisa membayangkan, ya… buka petanya saja, yang pasti Laos bukan berada di Afrika atau di Amerika, tetapi laos suka ada di dapur sih

P1040501
Dusk in Pakse, Southern Lao PDR

Bagaimana cara mencapai Pakse?

Pilihan terbang yang merogoh kantong lebih dalam memang berat namun hampir selalu menjadi pilihan bagi saya yang masih jadi karyawan fakir cuti. Terbang dengan rute internasional ke Pakse bisa dari HCMC (Vietnam), Siem Reap (Cambodia) dan Bangkok (Thailand) dan dengan rute domestik tentu saja bisa dilakukan dari Vientiane (ibukota Lao PDR). Jangan tanya harganya… mahal booo’

Dengan beranggapan biasanya rute domestik lebih murah, awalnya saya ingin terbang dari Vientiane ke Pakse, tetapi setelah mengetahui harga tiketnya sekitar 1 jutaan sekali terbang, -yang artinya sama dengan rute terbang internasional dari Siem Reap maupun HCMC ke Pakse-, saya mencoret pilihan terbang ini. Kan saya harus menghitung dana untuk terbang dari Jakarta ke kota-kota hub itu juga kan?

Pertimbangan lain, berdasarkan pengalaman sebelumnya, penerbangan domestik di Laos biasanya menggunakan jenis pesawat ATR72, pesawat baling-baling. Demikian juga penerbangan dari Siem Reap yang juga menggunakan tipe pesawat ATR72 yang walaupun termasuk baru, buat saya tetap tidak sreg. Dan yang lebih memastikan saya mencoret pilihan terbang ini adalah karena setahun atau dua tahun lalu pernah terjadi insiden pesawat jatuh dan tenggelam di Sungai Mekong saat landing ke Pakse walaupun itu lebih disebabkan karena faktor alam.  Lhaaa… Pakse itu di pinggir Sungai Mekong Saudara-saudara…

Via Ubon Ratchathani

Dan tanpa disangka sepotong roti bekal makan siang membuahkan hasil, simbah gugel memberi link untuk terbang ke Ubon Ratchathani, sebuah kota cukup besar di Timur Thailand, dekat perbatasan dengan Laos dan dari sana bisa melanjutkan perjalanan dengan bus sampai Pakse. This is awesome…

IMG_1061
Thung Si Muang – City Landmark of Ubon Ratchathani, Thailand

Inilah makna jika sudah berkehendak baik, Semesta pun mendukung… Ke Ubon Ratchathani (atau biasa disingkat dengan Ubon) bisa menggunakan berbagai moda transportasi, pesawat terbang, kereta, bus (termasuk sleeper bus), kendaraan pribadi, bersepeda atau jalan kaki hehehe…

Ah saya bisa kembali ke Bangkok, kota pertama solo-trip saya bertahun-tahun lalu, kota gemerlap yang membuat degup jantung lebih kencang karena adrenalin yang mengalir (solo-traveler pasti mengenal rasa ini saat pertama kali jalan). Dan saya tidak pernah menyelesaikan semua tempat-tempat wisata di Bangkok, agar saya bisa kembali lagi ke kota ini… Dan saya pasti kembali ke Bangkok dalam perjalanan saya ke Wat Phou kali ini..

Jika hendak terbang dari Bangkok ke Ubon bisa menggunakan yang low-cost Air Asia, Nok Air, Thai Lion Air, Thai Smile (dibawah manajemen Royal Thai Airways) dan lain-lain… Harga promo terbang sekitar 700 Baht. Mau menghemat Baht? Ya bisa menggunakan kereta api. Berangkatnya dari Hua Lamphong, dengan jadwal pagi, senja dan malam, ditempuh dalam waktu 9-12 jam, tergantung pilihan jenis keretanya dengan harga sekitaran 100 ribu hingga 400 ribu Rupiah tergantung kelas tempat duduknya. Pilihan menarik lainnya dengan bus VIP. Berangkat dari terminal Morchit dengan jadwal pagi, sore dan malam, lama perjalanan sekitar 9 jam dengan harga sekitar 200 ribuan Rupiah.

Kalau saya memilih menggunakan pesawat terbang, hanya karena pertimbangan waktu. Saya berangkat dari Jakarta ke Bangkok dengan pesawat pertama dan langsung lanjut ke Ubon sehingga saya bisa menjelajah kota Ubon dari siang hingga malam sehingga paginya bisa langsung ke perbatasan. Saya memilih menggunakan Nok-Air yang juga berangkat dari Don Muang namun berbeda terminal dan 1 jam perjalanan ke Ubon itu saya diberikan snack dan air kemasan kecil. Sangat lumayan dengan harga yang beda sedikit dengan 2nd class sleeper train atau Bus VIP 32 kursi.

Saya belum pernah ke Ubon Ratchathani sehingga saya ingin tahu juga bagaimana kondisi kota yang sebalah timur Thailand yang dekat perbatasan dengan Laos itu.

Melintas Batas Negara Sesuai Keinginan

Sepotong roti bekal makan siang waktu itu yang membawa saya bisa ke Pakse via Ubon Ratchathani masih meninggalkan godaan. Ah, saya memang mudah tergoda untuk hal-hal yang bisa mendesirkan adrenalin lebih cepat…

Sebenarnya ada bus VIP Internasional yang berangkat dari Ubon ke Pakse dan sebaliknya, non-stop, cepat dan ringkat, berangkat dari terminal bus di utara kota Ubon pada pk 08.30 dan sampai ke perbatasan sekitar satu jam kemudian, lalu menunggu seluruh penumpang memproses keimigrasian sekitar 30 menit sampai 1 jam dan melanjutkan perjalanan ke Pakse untuk satu jam selanjutnya. Mudah sekali kan? Saya sebagai penumpang tinggal duduk hingga perbatasan, lalu mengurus keimigrasian untuk keluar dari Thailand dan masuk ke Laos kemudian duduk cantik lagi di bus hingga Pakse. Dan tiket bus itu 200 Baht (sekitar 75ribu Rupiah).

Nah yang membuat saya tergoda adalah saya harus menunggu hingga pukul 8.30 lalu sekitar 3 jam perjalanan menjadikan saya baru sampai di Pakse sekitar tengah hari, padahal saya ingin sekali bisa berlama-lama di Wat Phou. Belum lagi dari Pakse ke Wat Phou yang perlu waktu 40 menit sampai 1 jam naik kendaraan umum. Bisa-bisa saya hanya secepat angin berada di Wat Phou…

Jika saya bisa berangkat jam enam pagi dari Ubon, by any means, ke perbatasan lalu secepat kilat mengurus imigrasi karena sebagai penduduk ASEAN kita hanya perlu kurang dari 5 menit untuk cap-cap pada paspor, kemudian berangkat lagi ke Pakse, lagi-lagi by any means… saya pasti lebih cepat mencapai Pakse. Saya tahu ada harga pengorbanan yang harus dibayar, tetapi ketika bicara soal kecintaan pada World Heritage Site tentu akan saya pertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Mungkinkah Semesta mendukung agar saya bisa sampai menjejak di Wat Phou lebih cepat…?

peta
From Ubon to Thai-Laos Border, to Pakse to Wat Phu Champasak

Bisa pergi tapi pulangnya…?

Lalu sampai Pakse apakah masalahnya sudah selesai? Ternyata belum… Untuk ke Wat Phou harus naik bus ke Champasak, sebuah kota kecil dengan satu jalan besar, lalu dilanjutkan naik tuktuk ke Wat Phou. Yang seru, dari Pakse ke Champasak tersedia bus umum namun jadwalnya hanya ada dua kali sehari, pagi dan siang! Demikian juga di Champasak. Akibatnya, kalau terlambat sampai Champasak dari Wat Phou, pilihannya tinggal dua: silakan jalan kaki kembali ke Pakse atau menginap di Champasak! Waaks!

Oh Tuhan, ini di luar dugaan sama sekali. Saya terbiasa dengan banyaknya moda transportasi di wilayah destinasi, kali ini benar-benar di luar perhitungan saya. Bisa pergi, tetapi tidak bisa kembali…?  Luar biasa

Masalah sebenarnya bisa diatasi dengan menyewa motor sekitar 50000 Kips per hari (sekitar US$7) di Pakse, tetapi saya tidak berani mengendarai motor dari Pakse hingga Wat Phou dengan kondisi jalan di kanan dan panaaaaasss luar biasa, juga karena saya sama sekali tidak mengenal wilayah itu sama sekali. Tetapi selalu ada berita baik ketika semua jalan terlihat buntu.  Saya mendapat kabar bahwa kita bisa menyewa tuktuk seharian untuk keperluan itu. Wow… Amazing. Lagi-lagi impian saya terlihat semakin nyata.

Penginapan

Seperti biasanya jika di sebuah kota dekat dengan sebuah World Heritage Site, pastilah di kota itu tersedia hotel berbintang dari yang mahal hingga penginapan murah meriah. Saya selalu memilih penginapan yang memiliki review bagus di dekat pusat keramaian. Tidak terlalu mahal, tapi juga tidak murah juga, dengan demikian saya akan mudah mencari makan atau sekedar jalan-jalan keliling kota.

Tetapi entah kenapa kali ini saya juga menambahkan pencarian apakah penginapan yang saya pesan itu termasuk ghost hotel atau bukan. Bisa jadi karena saya membaca ada sebuah hotel terkenal di Pakse yang dibangun sejak berakhirnya kerajaan di Laos dan ditinggalkan begitu saja dan sekarang digunakan sebagai hotel. Hahaha… mungkin saya salah ya, tetapi segala sesuatu bisa terjadi kan? Benar-benar tidak lucu kan kalau sampai terbangun malam-malam karena melihat yang datang dari alam lain hehehe…

Cerita detail tentang perjalanan di Laos Selatan menyusul ya…

WPC – Admiration of the Asian Heritages


Been to lots of historical temples in my country since I was kid, made me admiring of the heritage sites, especially temples. When I was in a temple as a kiddie tourist, my mind was full of imagination of the life of people, the communities, their culture and the kingdoms around that time, and the relationships between the kingdoms as well…

As time go by, I can’t help myself not to go to the heritage sites in neighboring countries. With the same curiosity and eagerness seeing the temples, finally I visited to the heritage sites of the related kingdoms in South East Asia. And there I was still imagining the life of people and their culture during the temples’ golden era.

From Indonesia, the Borobudur…

IMG_5394
A guy performs a Pradaksina, the rite of clockwise circumambulating in Borobudur, World Heritage Site in Indonesia

to Cambodia, the Angkor Wat…

IMG_0223e
Sunrise at Angkor Wat – World Heritage Site in Cambodia

Also Preah Vihear, a world heritage temple in Cambodia, near the border to Thailand…

P1020784
Preah Vihear, World Heritage Site in Cambodia

Then to Thailand, the kingdom of Ayutthaya

IMG_7391
Ayutthaya at Night, World Heritage Site in Thailand

Also Sukhothai in Thailand

IMG_6621
Sukhothai – World Heritage Site in Thailand

And to temples of Bagan in Myanmar…

IMG_3370a
Beautiful Heritage Site in Bagan, Myanmar

Then the unforgotten My Son Champa ruins in Central Vietnam

P1030780
My Son, Champa ruins – World Heritage Site in Vietnam

And recently, last week exactly… Wat Phou in Lao PDR

IMG_1172
Wat Phou Champasak, World Heritage Site in Lao PDR

In response to the Daily Post Weekly Photo Challenge with the topic of Admiration

Luang Prabang: Temple Tour (Part-2)

Wat Sene

Jika dalam cerita Temple Tour di Luang Prabang part-1 saya menggunakan tuk-tuk agar bisa mengunjungi sebagian besar vihara dan kuil yang letaknya agak berjauhan sebelum malam datang menjelang, maka untuk bagian kedua ini, saya hanya berjalan kaki karena memang letaknya saling berdekatan yaitu di pusat kota tua Luang Prabang atau lebih ke wilayah semenanjung).

Main Building of Wat Xieng Thong
Main Building of Wat Xieng Thong

1. Wat Xieng Thong

Wat Xieng Thong merupakan salah satu kuil Buddha yang tertua dan terindah di Luang Prabang, karena tepi atap berjenjangnya yang merendah dengan dekorasi dinding interior dan eksterior yang sangat artistik. Tidak salah memang jika Wat Xieng Thong, yang berarti Kuil Kota Emas, dijadikan sebagai referensi kompleks peribadatan dengan arsitektur klasik gaya Luang Prabang.

Kompleks kuil Buddha yang cantik dan terletak di sisi pertemuan Sungai Mekong dan Sungai Nam Khan ini, dibangun sekitar tahun 1559 – 1560 oleh Raja Laos yang bernama Setthathirath dan merupakan kuil tempat semua Raja Laos ditahbiskan. Kedekatan Wat Xieng Thong dengan kalangan istana terus berlangsung karena hingga tahun 1975 kuil ini tetap dikelola oleh keluarga istana.

Ada legenda yang melatari kuil Xieng Thong ini, bermula dari cerita dua orang pertapa yang menetapkan kuil ini sebagai batas kota, dengan titik acuan sebuah pohon flamboyan berbunga merah yang tumbuh di dekat kuil dan hingga sekarang kita dapat melihat lukisan pohon flamboyan yang penuh sejarah ini pada bidang dinding bagian belakang bangunan utama. Konon, lokasi kuil ini dibangun bertetangga dengan rumah dua ekor naga yang dipercaya menjadi penguasa wilayah pertemuan dua sungai yang ada di Luang Prabang.

Saya melangkahkan kaki mendekati bangunan utama memiliki pintu kayu berukir berlapis emas yang menggambarkan kehidupan Sang Buddha. Plafonnya penuh dengan lukisan yang menceritakan tentang roda dharma, yaitu siklus kehidupan sesuai ajaran Buddha dan reinkarnasi. Sedangkan dinding bagian luar menceritakan legenda-legenda Laos dalam bentuk hiasan mosaik kaca. Hiasan mosaik yang indah ini yang menjadi ciri khas dari kuil-kuil di Luang Prabang. Di dalamnya kolom-kolom berdekorasi cantik. Hanya ada satu kata untuk itu: Indah.

Di dalam kompleks peribadatan ini, tak jauh dari bangunan utama, terdapat bangunan yang biasa disebut dengan Library, dan berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan dan mempelajari Kitab Tripitaka. Sebuah bangunan lain di dekatnya difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan semacam bedug (Tabuh), penanda waktu dalam proses ritual agama Buddha.

Langkah kaki saya berlanjut ke sebelah bangunan utama. Disitu terdapat bangunan kecil, -yang ternyata suci-, yang dinding luarnya juga berhiaskan mosaik. Bangunan kecil ini, dikenal sebagai Ruang Merah, dan di dalamnya terdapat patung Buddha berbaring yang ukurannya tidak besar tetapi terkenal suci karena dipercaya sudah ada sejak pembangunan Kuil.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selepas menyaksikan Ruang Merah, kaki saya melangkah ke dekat gerbang Timur. Disitu terdapat sebuah bangunan yang pintu dan jendelanya memiliki ukiran yang sangat indah. Berwarna merah keemasan. Setelah mengambil foto pintu dan jendela yang berukir indah itu, saya kemudian melongok ke dalam dan mulai melangkah untuk melihat lebih dekat. Tidak ada orang satu pun, hanya barang-barang. Bentuknya seperti kendaraan berkepala Naga, guci-guci dan tempat pelindungnya dari berbagai ukuran, yang semuanya berlapis keemasan, serta patung-patung Buddha berdiri seperti di Wat Visoun. Semakin besar ukurannya, semakin rumit ukirannya dan semakin indah. Entah kenapa, saya merasa dalan ruangan itu udaranya semakin dingin dan terasa lembab, dan tiba-tiba seakan terhenyak, saya menyadari fungsi semua barang dalam ruangan. Pastilah semua ini dipakai untuk mengarak dalam upacara penguburan kalangan kerajaan! Hiiii… saya tahu mengapa saya hanya sendirian disitu…

Selain terkenal karena keindahannya, Wat Xieng Thong memiliki sejarah yang menarik. Kuil ini selamat dari pembumihangusan Luang Prabang pada tahun 1887 ketika terjadi perang Haw. Konon, karena Đèo Văn Tri, salah satu tokoh terkenal Haw, pernah menjadi biksu di kuil ini dan menjadikannya sebagai markas kekuatannya selama perang berlangsung.

Kuil cantik ini dibuka setiap hari dari pk 06.00 pagi hingga pk 18.00. Tiket masuk 20,000 kip.  Pengunjung dapat memasuki melalui 2 pintu masuk yang tersedia, dari arah Sungai Mekong dan dari lorong kecil yang ada di jalan utama kota Luang Prabang.

2. Wat Pak Khan

Meninggalkan Wat Xieng Thong, saya menuju kompleks kuil yang berada di dekat sungai. Jelas sekali bangunan ini terlihat tua namun tetap terpelihara cukup baik. Sesuai namanya, yang berarti kuil di ujung sungai Nam Khan, memang menunjukkan lokasi yang sesungguhnya. Kuil Pak Khan ini memang berada di tepi ujung sungai Nam Khan, ujung kota tua Luang Prabang.

Karena berdekatan dengan sungai, kuil ini teduh. Sepertinya atmosfir kesejukan dari Sungai Nam Khan terangkat hingga ke kuil ini.

Melihat gaya arsitekturnya, kuil ini tampaknya dibangun pada jaman awal pembangunan kuil-kuil tua di Luang Prabang. Wat Pak Khan lebih menyerupai Wat Visoun atau Wat That Luang karena tidak memiliki beranda sisi dan tepi atapnya tidak merendah. Selain itu, jika dilihat lebih dalam, pada bagian muka di atas pintu depan tidak ada hiasan atap, yang menjadi ciri khas dari bangunan kuil gaya Luang Prabang. Dan pada jendela-jendelanya terdapat kisi-kisi kayu berulir, yang juga ada pada Wat Visoun.

Tidak ada ketentuan tiket masuk di kompleks kuil ini, mungkin karena saya tidak melihatnya atau memang tidak ada, karena jarang turis mengunjunginya. Namun saya menyukai keteduhan dan atmosfer sungai yang merebak naik ke kompleks Wat Pak Khan ini.

3. Wat Khili

Kembali ke jalan utama Luang Prabang, kaki saya melangkah ke kompleks Wat Khili yang berada di pinggir jalan. Bernama resmi Wat Souvanna Khili atau berarti Vihara Gunung Emas, kuil ini konon, dibangun oleh Pangeran Chao Kham Sattha dengan tujuan untuk membawa rasa persahabatan dengan penguasa Luang Prabang saat itu, karena sebenarnya wat ini berasal dari wilayah Xieng Khuang (seperti halnya Wat Xieng Thong).

Dan seperti dengan Wat Xieng Thong, pada bidang muka bagian atas pintu depan juga dipenuhi dengan dekorasi mosaik yang menceritakan tentang Pohon Kehidupan. Saya membayangkan betapa tekunnya para biksu yang melakukan proses pengerjaan dekorasi kuil ini.

Kompleks kuil ini cukup unik karena didalamnya terdapat gedung dua tingkat dari beton bergaya kolonial namun  beratapkan tradisional Laos. Kemungkinan gedung ini dibangun dalam masa kolonial Perancis sehingga pengaruh arsitekturnya ditambahkan namun tidak ingin kehilangan nilai-nilai tradisional Laos yang diungkapkan dalam bentuk atap tradisionalnya. Aneh, tetapi tetap menarik.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

4. Wat Si Boun Houang

Menyusuri jalan raya Luang Prabang, sampailah saya pada Wat Si Boun Houang yang berbentuk umum seperti wat lainnya di Luang Prabang. Bagi saya, tidak ada yang spesifik dari kuil yang juga mengambil gaya yang sama. Atap tradisionalnya berjenjang dua, dan memiliki hiasan atap tengah (dok so faa) yang klasik.

Konon kuil ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Sotika Kuman pada pertengahan abad 18. Wat Si Boun Houang memiliki empat kolom pada beranda depan. Bagian atas pintu depan berhiaskan Dharmachakra atau Roda Kehidupan, yang menekankan pada kekuatan Dharma dan proses reinkarnasi dalam siklus kehidupan.

5. Wat Siri Mungkhun

Saya melanjutkan menyusuri kuil-kuil di sepanjang jalan raya di Luang Prabang dan sampailah saya di Wat Siri Mungkhun. Kuil kecil ini lebih sering dilewati begitu saja daripada dikunjungi secara khusus oleh turis, mungkin karena ukurannya yang tidak besar dan tidak ada yang spesifik. Saya pun hampir melanjutkan perjalanan tanpa mampir ke kuil ini. Namun entah kenapa saya masuk juga ke halamannya.

Atap tradisionalnya berjenjang dua, uniknya tanpa dilengkapi hiasan tengah (Dok So Faa) namun memiliki hiasan sudut berbentuk naga yang klasik. Berandanya berkolom empat dengan hiasan keemasan. Wat Siri Mungkhun memiliki beranda samping, namun hanya ada satu yaitu pada sisi kanan.

Saya melihat salah satu keunikan dari kuil ini yang terdapat di bagian depan beranda. Kuil memiliki sepasang patung penjaga kuil yang berwujud hewan mitos, yang saya lihat lebih menyerupai singa.

6. Ban Phon Heuang

Melanjutkan perjalanan ke arah Barat, saya melewati Ban Phon Heuang. Tempat ini menarik karena tanpa harus memasuki halaman tempat ibadah, -hanya dari luar pagar, di area trotoar jalan raya-, terlihat penataan tanaman yang baik di tempat ini sehingga terasa berbeda dengan kebanyakan kuil lain di Luang Prabang yang halamannya disemen.

Di tengah-tengah halaman terdapat bangunan mungil berisikan patung Buddha keemasan dalam posisi duduk. Warna Buddha yang keemasan dengan kombinasi tanaman yang dibiarkan tumbuh memberikan komposisi yang menarik hati. Berbagai tanaman hias seperti Bougainvillea, bunga kamboja, palem tumbuh dengan indah, memberi kesejukan dan warna tersendiri pada tempat ibadah ini.

Bagi turis yang berjalan di sepanjang jalan raya di Luang Prabang, biasanya berhenti sejenak, menoleh untuk menikmati Ban Phon Heuang.

7. Wat Sop Sickharam

Kuil berikutnya yang saya kunjungi adalah Wat Sop Sickharam atau biasa disebut dengan Wat Sop. Biasanya pengunjung mendatangi kuil ini karena berhenti pada Stupa yang terletak di depan. Memang Stupa Wat Sop Sickharam ini lebih menarik perhatian karena berada sangat dekat dengan jalan raya, dan juga berwarna hijau bercampur emas yang membuatnya sangat ‘eye-catching’. Puncaknya yang meruncing tinggi membuat wisatawan menghentikan langkah untuk mengambil gambar stupa cantik ini.

Bangunan utamanya sendiri berada di samping stupa, terlihat sangat sederhana dibandingkan dengan kecantikan Stupa di halaman depan. Memiliki atap tradisional khas Luang Prabang, tepinya merendah dan berjenjang dua. Dan tidak berbeda dengan kuil yang lain, Wat Sop juga memiliki beranda.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

8. Wat Sene or Wat Sene Souk Haram

Kuil yang terakhir saya kunjungi sepanjang jalan raya di Luang Prabang ini adalah Wat Sene Souk Haram atau lebih dikenal dengan Wat Sene. Kuil ini merupakan salah satu yang tercantik karena warnanya yang merah keemasan yang tentu saja sangat ‘eye-catching’ bagi para pejalan ataupun yang melintas di jalan raya. Menurut sejarah, kuil ini dibangun pada tahun 1714 dan direstorasi kembali pada tahun 1957 saat perayaan peringatan 2500 tahun Buddha.

Kuil dengan gaya Thailand yang memiliki bidang muka berwarna merah keemasan ini mempunyai nama yang unik. Dinamakan Wat Sene, karena bermula dari donasi awal untuk memulai pembangunan kuil sebesar 100.000 Kip (atau disebut dengan Sene dalam bahasa Laos). Sejak itulah kuil ini disebut dengan Wat Sene.

Di dalam kompleks ini, selain bangunan utama, terdapat pula bangunan yang lebih kecil sebagai tempat untuk Patung Buddha berdiri, dan juga sebuah semacam bedug (Tabuh) dan Genta yang kesemuanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses ritual agama Buddha

Wat Sene ini termasuk kuil yang besar di Luang Prabang karena mampu menampung perahu  panjang yang paling menarik perhatian, juga yang terbesar, yang digunakan pada perayaan tahunan Suang Heua, sebuah festival air yang terkenal di Laos.

***

Saya mengakhiri temple tour ini di Wat Sene karena penginapan saya sudah terlihat dan itu tandanya saya harus segera packing untuk pindah ke kota lain. Saya masih meninggalkan banyak destinasi di Laos, khususnya Luang Prabang, untuk dikunjungi di lain kesempatan. Selalu… bukankah dengan demikian jadi ada seribu satu alasan agar bisa datang lagi ke Luang Prabang?

Luang Prabang: Temple Tour (Part-1)

Wat Haw Pha Bang

Wat Haw Pha Bang
Wat Haw Pha Bang

Gelar UNESCO World Heritage Site kepada kota Luang Prabang ini memang sudah sepantasnya, karena memang seisi kota penuh dengan keluarbiasaan budaya dan nilai sejarah yang terjaga dengan baik. Apalagi didukung pula dengan suasana kota yang nyaman dan bersih, orang-orang yang ramah, prasarana yang baik, menjadikan atmosfer yang menyenangkan. Saya menikmati sekali perjalanan ke daerah wisata, termasuk temple tour di Luang Prabang ini. Jika Anda pernah ke Luang Prabang pasti setuju dengan saya…

1. Wat Visounnarath

Sopir tuktuk membawa saya ke Kuil Buddha tertua di Luang Prabang. Kuil yang sering disebut juga dengan Wat Wisunalat, Vixoun, Visounnarath, Vixunhalat atau Wisunarat, -sesuai pendirinya Raja Visounarat-, ini dari jauh tampak kuno tak menarik tetapi sebenarnya menyembunyikan cerita luar biasa.

Berbeda dengan struktur kuil lainnya di Luang Prabang, atap paling atasnya ditinggikan pada struktur penunjangnya dan ditopang pula dengan 12 pilar yang tinggi. Jendela-jendelanya berkisi kayu berukir yang mengingatkan saya pada Angkor Wat dan pintu-pintunya diukir indah bercerita tentang dewa-dewi yang terlibat dalam perang epik Ramayana. Dan tentu saja dilengkapi hiasan atap yang disebut dengan Dok So Faa (hiasan tengah atap) dan So Faa yang berada di tiap sudut yang konon merupakan motif pelindung dan biasanya berbentuk Naga, sehingga disebut juga Nak Naga.

Sebagai salah satu bangunan suci, di dalam Wat ini terdapat Patung Buddha bersila ukuran besar dan juga patung-patung Buddha berdiri yang terbuat dari perunggu dan kayu polos yang telah berusia ratusan tahun. Ada yang penuh ukiran dan ada yang tidak. Di Kuil ini saya belajar mengenali perbedaan patung Buddha gaya Khmer dan gaya Laos, hanya dari sisi posisi tangan di sisi badan. Mau tau bedanya? Lebih seru kalau temukan jawabannya sendiri di Wat Visounnarath… 🙂

Dan cerita luar biasanya, ternyata di Wat Visounnarat inilah, Prabang yang Suci, Patung Buddha yang dipercaya sebagai pelindung kota Luang Prabang, disimpan sejak tahun 1513 selama hampir dua ratus tahun!

Kemudian yang unik lagi dengan kompleks kuil ini, di halaman depan terdapat Stupa berbentuk setengah bola seperti buah Semangka sehingga penduduk lokal sering menyebutnya dengan That Mak Mo (Stupa Semangka). Stupa ini resminya disebut dengan That Pathum, atau Stupa Lotus (Teratai), mungkin karena disudut-sudutnya terdapat hiasan kuncup Teratai (Lotus). Bentuk stupa yang bulat ini unik, karena memang tidak umum dalam wilayah Laos atau Indochina lainnya. Yang memberi ciri khas lainnya adalah mahkota Usnisa bergaya Buddha Laos pada puncak stupa.

Konon, pada tahun 1914 stupa ini terkena petir yang membuka selubung bahwa didalamnya terdapat lapisan emas, perunggu dan Buddha dari kristal yang luput dari serangan dan perampokan dahsyat beberapa waktu sebelumnya. Benar tidaknya, entah yaa…

Kuil ini dibuka setiap hari dari pk. 08.00 – pk. 17.30, dengan tiket masuk sebesar 10.000 Kip atau US$2.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

2. Wat Aham

Saya melanjutkan perjalanan keliling wat ini ke Wat Aham yang terletak di sebelah Wat Visounnarat melalui pintu samping diantaranya. Sejalan dengan makna namanya, Wihara Hati yang Terbuka, kuil ini tenang, cocok bagi para pendeta Buddha untuk bermeditasi. Dua buah pohon beringin besar yang merupakan simbol Yang Tercerahkan dari ajaran Buddha tumbuh rindang di depan kuil ini. Tapi bagi sebagian masyarakat yang masih percaya animisme, dua pohon beringin ini konon merupakan rumah dari para arwah penjaga kota, yang bernama Phu Noe dan Na Noe. Tidak heran, Wat Aham sejak dulu menjadi saksi sejarah penting dengan kombinasinya antara pengaruh animisme dan agama Buddha.

Sebenarnya Wat Aham memiliki sejarah yang menarik karena berfungsi sebagai tempat penyimpanan Sangkhalat, atau Dasar-dasar Agama Buddha Laos pada awal abad 19. Dan boleh jadi karena fungsi itulah, di Wat Aham ini terdapat patung penjaga Kuil yang diambil dari Ramayana, yaitu Rahwana dan Hanuman, di sisi patung harimau serta tokoh lokal Phalok Phalam yang menghiasi wilayah pintu masuk.

Kuil yang dibangun pada 1818 ini, kini tidak lagi menjadi sentra kegiatan agama Buddha di Luang Prabang. Tampilannya memang sederhana, cenderung sedikit terabaikan, mungkin karena keterbatasan dana pemeliharaan. Atapnya berjenjang tiga, dua jenjang diatas atap utama. Dan serupa dengan Wat Visounnarat, bpintu depannya berukir keemasan yang mengambil tokoh cerita Ramayana dan bidang dinding bagian belakang dilukiskan tentang kehidupan Sang Buddha.

3. Prabang Buddha Temple (Wat Haw Pha Bang)

Inside Wat Haw Pha Bang
Inside Wat Haw Pha Bang

Kemudian saya menyusuri jalan Sisavang Vong untuk menuju Wat Haw Pha Bang. Bangunan Prabang Buddha ini sangat ‘eye-catching’, karena baru selesai renovasi. Berlokasi di pinggir jalan Sisavang Vong, tepatnya di dalam kompleks Royal Palace yang sekarang menjadi Museum Nasional, dan tampil lebih menarik daripada ex-Royal Palace-nya sendiri.

Berhiaskan balustrada pada tangga masuk dan ujungnya terdapat kepala Naga. Di dalam ruangan utama warna merah keemasan terasa mendominasi, dengan hiasan hingga ke langit-langit dengan penggambaran tentang roda kehidupan dan karma.

Phabang, yang tersimpan baik di tempat ini, tingginya sekitar 83cm, berupa patung Buddha berlapis emas berdiri dengan kedua telapak tangan diatas dada menghadap depan, yang merupakan simbol pelindung dari bencana, bala dan semua yang berbau kejahatan. Patung ini diberikan oleh Raja Khmer kepada Raja Fa Ngum, pendiri kerajaan Lan Xang, cikal bakal Laos sekarang, karena terlibat dalam menyebarkan agama Buddha pada abad 14. Dari kata Phabang inilah nama kota Luang Prabang berasal, dan bahkan dipercaya sebagai simbol spiritual pelindung nasional negeri Laos. Menurut legenda, patung Phabang telah berpindah tangan dua kali ke kerajaan Thailand dan akhirnya dikembalikan ke Laos.

Karena berada di dalam kompleks Museum Nasional, Kuil ini dibuka mengikuti sesuai jadwalnya, setiap hari, kecuali Selasa, pk. 08.00–11.30 dan 13.30–16.00. Tiket dijual hingga 30 menit sebelum tutup, dengan harga 30.000 kip (Non Laos) dan 5.000 Kip (warga Laos).

4. Wat Choum Khong Sourin Tahrame

Temple Tour di Luang Prabang saya lanjutkan ke Wat Choum Khong Sourin Tahrame, yang tidak jauh dari Royal Palace. Wat ini dibangun tahun 1843 semasa pemerintahan Raja Sukaseum (1836 – 1851) dan terletak di sebelah kompleks Wat Xieng Mouan. Kuil ini telah direnovasi berulang kali setelah pembangunan awalnya, kebanyakan melalui bantuan dari para calon biksu dari Wat Xieng Mouan. Konon nama kuil ini diambil dari kissah pembuatan patung Buddha dari sebuah genta yang ada di kuil ini (genta dalam bahasa lokal disebut ‘Khong’)

Hal yang menarik dari kuil ini, adanya kelas-kelas pembuatan patung Buddha yang dilakukan di bawah kerimbunan pepohonan yang berlangsung hingga kini. Tidak hanya posisi Buddha yang klasik, tetapi juga lebih modern dengan mengambil berbagai bentuk posisi tangan (mudra). Oleh karena itu, di halaman kuil ini banyak sekali patung Buddha dalam berbagai posisi.

Bangunan utamanya sendiri memiliki gaya arsitektur khas Luang Prabang, dengan atap berjenjangnya yang rendah dan dipenuhi hiasan keemasan walaupun dari kejauhan terlihat kuno.

Di depannya terdapat dua patung batu berukir khas China. Konon, kedua patung tadi dipersembahkan kepada Raja Chantharath (1850-1872) oleh Duta Besar Cina yang datang ke Luang Prabang. Kedua patung itu mewakili dua Boddhisattva China yaitu Vajra, Sang Petir mewakili unsur maskulin, dan Ghanta, Sang Genta mewakili unsur feminin. Yin dan Yang. Namun sepertinya makna yang terakhir yang lebih dekat dengan penamaan kuil.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

5. Wat Xieng Muan

Dengan jalan kaki melalui pintu di antara Kuil yang saling bersebelahan, saya memasuki Wat Xieng Muan. Kuil ini berlokasi strategis karena berada di antara pertokoan dan restoran di pusat kota lama Luang Prabang dengan Sungai Mekong, dan karena itu para turis sering menjadikannya jalan tembus untuk mencapai kedua destinasi itu.

Yang menarik dari kuil ini adalah lukisan-lukisan detail yang memenuhi bidang dinding depan yang menceritakan tentang kehidupan Sang Buddha, bahkan pintu pun juga diukir dengan halus berwarna keemasan.

Kuil ini, dengan dukungan UNESCO, merupakan tempat utama pelatihan ketrampilan semua yang berhubungan dengan seni rupa tradisional Laos, termasuk membangun atap berukir dan berjenjang khas Laos.

6. Wat Manorom

Melanjutkan perjalanan temple tour di Luang Prabang, supir tuktuk mengantar saya ke kuil yang terkenal dengan nama Wat Mano atau Manolom ini. Kuil ini terletak sedikit di luar sisa-sisa dinding kota tua Luang Prabang. Walaupun demikian, kuil ini tetap dianggap penting karena konon, banyak yang percaya bahwa Wat Mano ini dibangun pada area asli pembangunan kuil oleh Raja Fa Ngum, pendiri dinasti Lan Xang, cikal bakal Laos.

Dan kesakralan kuil semakin tinggi karena ternyata disini merupakan lokasi pertama penyimpanan Patung Buddha Phabang hingga 11 tahun sejak 1502-1513 untuk selanjutnya dipindahkan ke Wat Visoun.

Walaupun kuil ini sudah didirikan sejak abad 14, bangunan utama baru dibangun kembali pada tahun 1818 dan hancur lagi ketika terjadi pembumihangusan Luang Prabang tahun 1887. Selanjutnya bangunan utama direstorasi pada tahun 1972 dan memiliki ukiran indah pada pintu utaranya yang dijaga oleh sepasang patung singa.

Di dalam bangunan utama terdapat patung Buddha bertelinga panjang yang bergaya Thai-Sukhothai. Tangan Sang Buddha berada dalam posisi Bhumisparsha Mudra, Bumi menjadi saksi kemenangan atas Mara. Patung ini terbuat dari perunggu setinggi 6 Meter dengan berat sekitar 2 ton, yang pada awalnya rusak sama sekali sebagai akibat serangan dari Chinese Black Flag Haw pada tahun 1887. Patung yang konon berasal sejak tahun 1370, menjadi titik utama peribadatan hingga kini dan tetap menjadi dasar yang penting dari seni patung Laos. Hingga kini, patung ini menjadi yang tertua di Luang Prabang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

7. Wat That Luang (built 1818)

Wat berikutnya yang saya kunjungi adalah Wat That Luang (Tat Luang) Rasamahavihane atau dikenal dengan Wat That atau That Luang, yang sudah dari dulu dikenal sebagai Vihara Royal Stupa, karena memang di tempat ini terdapat Stupa dari Raja-raja. Biasanya segala sesuatu mengenai kerajaan membawa cerita yang menarik, juga tempat ini. Jauh sebelum pembangunan kuil ini, walaupun belum ada bukti-bukti kuat yang mendukung, konon disinilah tempat pertama pembangunan biara oleh biksu-biksu Buddha yang dikirim oleh Asoka, Raja terkenal dari India 3 abad SM. Memang menurut sejarah Luang Prabang, kuil-kuil pertama yang didirikan di Luang Prabang berada di daerah ini, sesuai dengan temuan relic (peninggalan Sang Buddha).

Bangunan utama dibangun di atas sebuah bukit kecil di selatan kota, semasa pemerintahan Raja Manthaturat (1817-1836). Gaya pembangunannya lebih mirip Wat Visoun karena tidak memiliki beranda sisi dan atapnya tidak merendah. Di dalam ruang utama terdapat Patung Buddha berukuran cukup besar, dengan berat sekitar 600 kg.

Di halaman terdapat 2 stupa besar, yang di depan adalah Raja terakhir dari Laos yaitu Raja Sisivang Vong, berwarna keemasan dan Stupa yang lebih besar yang berada di belakang dari kuil utama adalah Stupa Besar yang bertanggal tahun 1818. Konon didalamnya menyimpan relic Sang Buddha. Ada beberapa stupa yang lebih kecil sebagai tempat penyimpanan abu dari raja-raja dan anggota keluarga kerajaan dan bangsawan-bangsawan keturunannya.

Hingga kini Wat That Luang menjadi tempat untuk menyelenggarakan ritual penting dalam tradisional rakyat Laos, seperti upacara-upacara adat ataupun kerajaan. Seperti yang luar biasa terjadi pada tahun 1896 saat kremasi Raja Oun Kham. Tradisinya tumpukan kayu pembakaran harus dipercik dengan api yang berasal dari ibukota negeri, yang tentu saja Laos sebagai koloni Perancis saat itu, maka api harus didatangkan dari Paris. Dan teknologi baru diterapkan dalam upacara adat ini. Sebuah generator dipasang untuk siap menerima api dari percikan api kabel telegraf yang terhubung ke Paris! Dan hal ini disaksikan langsung! Sungguh luar biasa.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

8. Wat Pha Baht Tai

Sopir tuk-tuk mengajak saya mengunjungi Wat terakhir untuk sore hari itu yaitu Wat Pha Baht Tai atau sering juga disebut dengan Pha Phutthabaht atau Phutthabat Tai atau Tha Pha Hak. Kuil yang ada di sebelah ujung Barat dari Luang Prabang ini bisa dikatakan unik, sedikit norak menurut saya, karena gaya yang dipakai untuk renovasi bangunan yang campur aduk. Jelas sekali ada unsur Laosnya, tetapi tidak sedikit unsur Thailand, Vietnam dan sedikit karakter bangunan Eropa.

Konon, kuil aslinya dibangun pada masa pemerintahan Raja Samsenthai pada abad 14, yang berada di wilayah Raja Naga Chai Chamnong, tokoh mitos Pelindung wilayah Kota dan Sungai. Ketika saat itu ditemukan jejak kaki Sang Buddha disitu, hal ini membuktikan Sang Tokoh pun memberikan keleluasaan untuk mendirikan vihara diatas tanahnya. Hingga kini, di vihara ini tetap melindungi jejak kaki dari Sang Buddha.

Ketika modernitas sudah merebak di wilayah ini, mulailah dibangunlah sebuah kuil yang awalnya terbuat dari kayu dan terus direnovasi hingga kini dengan teknologi yang makin modern. Dalam pembangunan dan pemeliharaannya hingga kini, komunitas Vietnam dan China yang paling banyak berkontribusi merenovasi bangunan sejak tahun 1950an.

Laos, Negeri Tak Berbatas Laut


Rombongan turis Barat itu terlihat terhenyak ragu menyaksikan pesawat mungil ATR72 baling-baling yang akan mengangkut mereka. Keraguannya seperti menanti suara tokek berikutnya, mmmaju, mundur, mmmmaju, mundur, mmmm… Akhirnya terlepas sebuah tawa miris penuh kepasrahan, saling berpandangan, apa boleh buat…. mereka melangkah maju… (Hampir pasti keselamatan menjadi kata yang terus muncul dalam benaknya 🙂 )

Pha That Luang
Pha That Luang

Itulah yang terjadi pada rombongan tepat di depan saya ketika hendak boarding menuju Laos. Saya mungkin yang paling memahami mereka karena mengalami hal yang serupa dalam perjalanan sebelumnya di Burma, penuh imajinasi ngeri ketika akan boarding ke pesawat ATR72, yang ternyata salah 100%. Ternyata penerbangan Lao Airlines dengan ATR72 selama 2 jam itu cukup menyenangkan. Seluruh penumpang yang jumlahnya tidak lebih dari 25 itu dilayani oleh dua pramugari cantik berbusana khas Laos. Tampak di bawah jendela pesawat, pemandangan dataran rendah yang cukup membosankan pada awal-awal penerbangan dan menjelang akhir guratan pegunungan mulai menghiasi pemandangan.

Laos, atau secara resminya negara itu disebut dengan Lao People’s Democratic Republik (Lao PDR) merupakan salah satu anggota negara ASEAN yang tidak berbatas dengan laut. Vietnam menghadangnya dari sebelah Timur, Cambodia di sebelah selatan tenggara, Thailand di sebelah Barat dan tentu saja, Myanmar dan China membatasinya di sebalah Utara. Uniknya lagi, negara yang total jumlah penduduknya masih kalah dari Jakarta, hanya 6.6 juta jiwa, tapi sejumlah itu memiliki 49 etnis yang berbeda.

Ketika itu saya terbang menuju salah kota kecil di utara Laos, yaitu Luang Prabang, sebuah kota yang diyakini menjadi sentra budaya dan tradisi masyarakat Laos hingga kini. Kota yang terletak di pinggir Sungai Mekong yang terkenal kedahsyatannya saat musim penghujan itu, merupakan World Heritage City sejak tahun 1995. Inilah alasan utama saya untuk mengunjungi Luang Prabang, karena pastilah cantik nilai sejarah budayanya serta kehidupan sehari-harinya

Dan memang demikianlah yang terjadi di Luang Prabang.

Lanjutkan membaca “Laos, Negeri Tak Berbatas Laut”