Ketika Semua Terasa Sempurna di Bangkok


Bagi saya pribadi, Bangkok selalu menjadi salah satu kota untuk recharge mood. Bukan saja karena selalu ada yang bisa dinikmati di kota itu, tetapi Bangkok merupakan destinasi solo-trip pertama saya bertahun-tahun lalu. Pengalaman pertama jalan sendiri dengan segala rasa campur aduk cemas, kuatir,  optimis, waspada, deg-degan, ingin tahu, gembira dan bahagia yang menjadi satu, selalu menimbulkan kesan tersendiri yang tak terlupakan. Sehingga di kala mood berada di level rendah, kembali ke Bangkok jadi salah satu cara untuk lebih hidup.

Dan demikianlah, setelah terus menerus berada di rumah sakit untuk perawatan ibu yang patah bonggol sendi pinggul serta drama tak penting yang terjadi belakangan ini, saya memutuskan kembali ke Bangkok untuk mencari pembenaran saya perlu liburan 😀

Bangkok with the BTS

Sebenarnya rencana akan dilakukan sekitar pertengahan November, tetapi gara-gara bisikan jiwa :-), saya memajukan ke awal bulan November. Itupun tiket pesawat baru dibeli H-1 dan hotelnya dipesan pada hari H. Tetapi seperti kata Carl Jung, In all chaos there is a cosmos, in all disorder a secret order, maka saya pun menari bahagia dalam kekacauan itu dan mendapatkan keindahan yang bagi saya terwakili oleh satu kata: sempurna!

Sejatinya saya tidak mengerti 100%, mengapa tiba-tiba mengubah perjalanan ini. Terbersit harga tiket pastilah mahal, tetapi lagi-lagi saya dapat harga yang pantas (tidak murah juga sih) tetapi minimal masih memadai untuk ukuran mendadak. Dan pada saat web check-in saya sudah siap menerima penempatan kursi yang diatur acak. Tetapi ternyata baik penerbangan pergi maupun pulang saya dapat window-seat, tanpa beli bahkan kursi sebelah kosong pada penerbangan pulang! Aha, tangan-tangan tak terlihat bekerja keras untuk saya rupanya.

Pada hari-H selepas imigrasi bandara, saya masih memikirkan kepastian penginapan di Bangkok karena reservasi sebelumnya selalu gagal. Sebagai pejalan yang tidak pernah mau mengisi asal-asalan alamat pada kartu kedatangan (di negara manapun sih), saya menghargai  aturan keimigrasian Thailand atau dimanapun destinasinya.  Apalagi, -karena sesama ASEAN-, Thailand memberi visa exemption ke pemegang paspor Indonesia.

Jadi saya coba reservasi lagi hotel yang semalam gagal, namun tetap saja gagal walaupun kamar masih tersedia. Aneh! Namun mengingat suami minta untuk menginap di hotel yang baik, akhirnya saya memesan hotel lain yang sejak dulu ingin sekali saya coba walaupun harganya mahal (untungnya kali ini suami tercinta berkenan menambah dana :p ). Dalam sekali reservasi, pemesanan hotel lain itu berhasil. Yaaiy!

Lalu ketika boarding, saya sudah mempersiapkan diri tidak ada tempat sisa di kabin atas karena diambil penumpang lain dan benarlah! Saya tidak mau pusing dengan kebiasaan penumpang lain itu, maka saya jejalkan saja ransel ke bawah kursi lalu bersiap tidur. Dan berulang untuk kesekian kalinya, saya jatuh tertidur dan terbangun lagi, pesawat masih dalam antrian mendapatkan ijin lepas landas. Tertidur lagi, terbangun lagi, entah kapan terbangnya.

Bahkan mata saya terus terasa lengket selama tiga jam penerbangan ke Bangkok untuk menggantikan kekurangan jam tidur sebelumnya hingga saat roda pesawat menyentuh landasan bandara Don Mueang. Rasanya saya masih mengumpulkan nyawa saat pesawat akhirnya berhenti, lalu tontonan itu langsung terpampang jelas. Hampir semua orang langsung sigap membuka sabuk keselamatan walaupun lampu tandanya masih menyala, lalu berdiri membuka kabin atas dengan tangan-tangan bersliweran di atas kepala mengambil tas-tasnya tanpa peduli kepala-kepala yang dilewati. Kebanyakan ingin menjadi nomor satu keluar dari pesawat seakan-akan bisa dapat piala untuk itu. Bahkan prosedur buka pintu pesawat pun belum dimulai, tetapi lorong telah penuh orang yang tak sabar, mengabaikan aturan untuk tetap duduk, tak sedikit yang berisik, kadang tetap merangsek ke belakang untuk mengambil tas memaksa melewati orang lain, entah berapa nilai ketertiban kita dari skala 10.

Menjejak kembali di Bangkok, saya menuju pintu keluar nomor 6 lalu menaiki bus A1 berwarna kuning yang menuju Stasiun BTS Mo Chit dengan tiket seharga 30THB, kemudian melanjutkan perjalanan dengan BTS ke Siam. Ah, kembali ke kota yang penuh senyum!

Dan akhirnya saya paham mengapa gagal terus di pemesanan hotel sebelumnya yang membingungkan itu. Karena pada saat saya check-in, manajer hotel itu berkenan upgrade kamar saya. Saya tak percaya! Benar-benar luar biasa! Hadiah! Saya gagal reservasi di hotel pertama yang cukup baik, tetapi Pemilik Semesta berkenan memberikan kesempatan menginap di hotel lain, hotel idaman saya, bahkan di kelas yang lebih tinggi, di lantai-lantai teratas. Ah, rejeki memang bisa datang dari mana saja. Sesuatu yang tidak dapat diraih, digantikan dengan hadiah yang lebih baik. Keajaiban itu berulang. Lagi! Dia yang selalu memenuhi janji, yang selalu setia…

Di kamar, saya beristirahat sambil memesan room service karena lapar namun terlalu malas untuk keluar. Jauh-jauh ke Thailand dengan begitu banyak makanan enak, saya tetap saja memesan Nasi Goreng Indonesia 😀 tetapi memang kali ini berbeda dengan biasanya karena saya ingin menikmati liburan singkat tanpa dikejar target destinasi.

Tetapi setelah ‘diingatkan’ akan tujuan awal ke Bangkok, dengan menggunakan tuktuk saya menuju Sanam Luang, tempat kremasi mendiang Raja Bhumibol Adulyadej yang telah dilakukan bulan Oktober lalu. Saya turun di kawasan Grand Palace. Lagi-lagi saya beruntung karena tidak ada antrian disitu. Paspor yang sudah disiapkan ternyata tidak diperiksa sama sekali oleh polisi. Bisa jadi karena wajah saya mirip lokal 🙂

Grand Palace at Sunset

Matahari yang telah condong ke Barat memburatkan sinar keemasan menjadikan kawasan Grand Palace semakin cantik dengan bentuk atap tradisionalnya yang khas. Saya masih menikmati situasi hampir senja ketika tiba-tiba petugas-petugas berseragam menyebar menyuruh publik mengosongkan jalan dan berkumpul di trotoar. Tanpa disuruh dua kali saya mengikuti semua orang melipir dan duduk di trotoar seperti orang lokal tanpa mengetahui yang akan terjadi.

Hebatnya rakyat Thailand, mereka duduk diam hingga saya mengikutinya. Hening, sama sekali tidak bicara. Tiba-tiba seorang petugas di belakang saya meminta seorang laki-laki, -bergaya turis-, yang sedang berdiri untuk duduk. Turis itu bersikukuh untuk tetap berdiri. Wajah-wajah lokal mulai memperhatikannya sehingga petugas itu perlu menjelaskan bahwa Raja akan lewat sehingga seluruh yang hadir diminta untuk melakukan penghormatan.

Saya tersenyum terhenyak mendengar penjelasan itu. Yang Mulia Raja Maha Vajiralongkorn atau Rama X akan lewat! Saya langsung terdiam menyusuri lorong kalbu, berterimakasih akan setiap kesempatan dan ‘hadiah’ yang dilimpahkan serta mencoba memahami alasan saya di’undang’ secara mendadak pada akhir pekan ini dan bukan pada jadwal yang saya rencanakan. Tidak semua orang bisa berada di waktu tepat dan diantara masyarakat lokal saat Raja mereka lewat. Ini kesekian kalinya saya berkesempatan melihat rombongan Raja, setelah bertahun-tahun lalu beberapa kali berkesempatan serupa di Kamboja.

Tanpa terasa mata mengabur haru. Dia Yang Maha Baik melimpahkan begitu banyak kejutan manis dalam keseharian saya, juga menyerakkan hikmah dan makna seseorang yang akan lewat, seorang Raja yang memiliki tanggung jawab besar sejak dilahirkan agar bisa mengayomi seluruh aspek kehidupan di negerinya. Pembelajaran singkat itu, -dan karena hanya ada seorang Raja di Thailand diantara sekian puluh juta rakyatnya-, membuat saya yang duduk bersimpuh di trotoar turut mengatupkan kedua tangan di depan wajah sebagai penghormatan kepada Raja ketika rombongan lewat. Semua bersikap sama, tanpa ada yang berupaya mengambil foto, paling tidak itu yang terjadi di sekitar saya.

The Crematorium

Setelah rombongan Raja berlalu, barulah saya mengikuti ratusan orang lokal berbondong-bondong menuju pintu masuk, menerima minuman kemasan yang dibagikan gratis, ikut tergopoh-gopoh dalam antrian, kadang saya dirangkul seorang ibu dengan senyuman, lalu duduk menunggu di tempat yang disediakan, padahal tak ada satupun kata yang saya mengerti. Namun semuanya tertib, sehingga tak lama setelahnya saya sudah berada di dalam area Phra Merumas (Krematorium Kerajaan).

Saya hanya bisa terpana dengan yang ada di depan mata. Megah dan luar biasa cantik. Tidak percaya, karena semua kemegahan ini hanyalah sementara. Bagi mereka yang percaya, semegah apapun, namun membiarkan tempat perabuan tetap berdiri akan membawa ketidakbaikan. Bukankah hidup ini hanyalah sementara? Awalnya pada akhir bulan November seluruh bangunan utama krematorium dan bangunan pendukungnya akan dirobohkan, tetapi akhirnya Raja memberi ijin untuk memperpanjang hingga akhir tahun ini.

Tradisi mendirikan tempat perabuan untuk para bangsawan (Phra Merumas), -yang menempati dua pertiga luas Sanam Luang ini-, konon dimulai sejak periode Ayutthaya. Karena mereka percaya Raja merupakan Dewa maka tempat perabuannya perlu mengadopsi filosofi Gunung Sumeru sebagai pusat semesta kosmologi Buddha, bercampur dengan pengaruh Thailand kuno, Hindu dan aliran kepercayaan lainnya. Maka akhirnya di Phra Merumas ini semua diwujudkan.

Tetapi siapa yang melihatnya sebagai sesuatu yang temporer belaka? Bangunan-bangunan berkilau keemasan ini terlihat begitu megah walaupun sebenarnya hanya terbuat dari kayu bertulang besi dengan atap tradisional bertingkat. Bangunan utama keemasan sebagai pusat tempat perabuan dengan tiga permukaan lantai terletak di tengah-tengah, memiliki pelindung putih sembilan tingkat di puncak atapnya, dengan ketinggian total mencapai 50 meter.

Berbatas dengan area pengunjung terlihat kolam yang diibaratkan sebagai kolam surgawi, menempati empat sisinya dan berhiaskan patung-patung suci seperti gajah, kuda, sapi dan singa, termasuk patung-patung makhluk mitos yang konon hidup dalam hutan di Gunung Sumeru.

Bisa dilihat juga di tiap sudut bangunan utama terdapat patung-patung penjaga dunia yang disebut Thao Chatulokkaban. Dan pada level berikutnya terdapat patung-patung Garuda (Phra Khrut Pha), -yang menjadi lambang negara Thailand-, dan dalam konsep Hindu, Garuda merupakan kendaraan Dewa Vishnu yang salah satu titisannya adalah Rama (Raja-raja Thailand bergelar Rama). Kemudian di lantai ketiga terdapat tempat di setiap sudut untuk para bhiksu melantunkan puji-pujian atau membaca Sutra. Yang saya sukai di pelataran utama banyak dihiasi dengan tanaman bunga berwarna kuning sebagai warna hari Senin, hari lahirnya mendiang Raja Bhumibol.

Sambil menyusuri museum yang memajang semua peninggalan mendiang Raja Bhumibol, saya mengambil foto yang menarik hati, seperti foto bersama Presiden Soekarno saat berkunjung ke Indonesia. Juga pandangannya sebagai Raja yang harus mengayomi seluruh rakyatnya. Di dekat pintu keluar, saya tidak mampu berlama-lama menyaksikan video mangkatnya yang diiringi musik indah, karena begitu menyayat hati melihat duka rakyatnya.

Malampun semakin pekat walau bulan tampak terang diantara puncak-puncak lancip Phra Merumas. Saya meninggalkan kawasan Sanam Luang dengan satu rasa, betapa mendiang Raja Bhumibol dicintai rakyatnya. Sempurna.

Catatan.

Royal Crematorium dibuka 2 November – 31 December 2017 pk 06.00 – 22.00. Dress code seperti ke Grand Palace, dilarang mengenakan celana pendek, kaos tanpa lengan/tanktop dan sandal jepit. Semua pengumuman disampaikan dalam bahasa Thai, penggunaan bahasa Inggeris terbatas.

Grand Palace at night

 

Ke Jepang Bersama Keluarga: Belajar Dalam Perjalanan


Yang bersilang jalan

Walaupun diiringi semangat menyambut hari karena semalam sebelumnya telah merasakan nyamannya tidur di hotel berbintang di bandara, kami tetap merasa terganggu dengan udara lembab saat berdiri di dekat pintu keluar. Karena akan mengurus perjalanan, saya meminta suami dan anak-anak ke arah yang lebih sejuk sementara saya sendiri masuk ke dalam antrian di depan konter JR di kiri pintu keluar untuk membeli tiket monorail ke Tokyo sekaligus membeli kartu one day pass, kartu yang cocok buat saya si pemalas mikir untuk menggunakan transportasi apa, dan yang jika salah arah pun tinggal balik lagi. Sambil mengipas, saya mendengar orang bercakap dalam bahasa Indonesia hingga saya melongokkan kepala ke depan, mencari tahu. Sepertinya dua atau tiga orang di depan saya. Tetapi belum sempat menyapa, penutur bahasa Ibu itu telah meninggalkan antrian tanpa melepas ponselnya.

Antrian lama tak bergerak ditambah AC yang tak mampu menyejukkan udara membuat saya terus mengipas. Seorang pria kulit putih berbadan besar di depan saya mengusap keringat di dahi dan lehernya. Kemejanya sebagian basah. Dia berbalik meminta maaf karena telah berkeringat banyak. Memaklumi karena merasakan panas yang sama, kami berdua malah terlibat dalam percakapan menyenangkan.

Tokyo International Forum

Berawal dari pertanyaan standar ‘dari mana’ dalam bahasa Inggeris, kami tergelak karena bisa menyapa sedikit dalam bahasa ibu lawan bicaranya masing-masing begitu mengetahui asal negaranya. Sepotong sapa dari Jerman  ‘Guten Morgen, Wie geht es Ihnen?’, berbalas dengan ‘Selamat Pagi, Apa Kabar’. Ah, ternyata dia pernah menjelajah dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali beberapa tahun lalu. Kemampuan bahasa Indonesianya tak tertandingi dengan kemampuan bahasa Jerman saya yang kebanyakan sudah hilang dari ingatan. Senangnya dapat bertukar sapa saat menunggu. Bahkan ketika saya masih di depan petugas tiket JR di konter, dengan ramahnya dia berpamitan kepada saya untuk langsung ke Tokyo karena sudah selesai urusannya. Indahnya sebuah perkenalan tanpa perlu tahu namanya.

Sejenak saya tertegun, dalam waktu yang hampir bersamaan, ada seorang warganegara Indonesia yang secara fisik cukup dekat dengan saya tetapi tak sempat bertegur sapa dan di sisi lain, ada seseorang yang berbeda kebangsaan bisa bertegur sapa dengan asiknya, juga dalam bahasa Indonesia. Memang dalam perjalanan hidup ini, kita sering bertemu, bersilangan jalan, bertegursapa, bertukar kebaikan mungkin tanpa perlu tahu nama dan pribadi lebih jauh. Kita memang tak pernah tahu dengan siapa kita akan bersilang jalan.

Berbekal one day pass di tangan dan tiket monorail ke Hamamatsucho, kami meninggalkan bandara Haneda untuk menjelajah Tokyo dengan semangat45. Sebenarnya bisa naik kereta langsung ke Asakusa, tetapi saya kalah melawan tiga suara yang meminta naik monorail saja. Saya memahami perasaan mereka yang hendak memanjakan mata dengan keajaiban-keajaiban Jepang yang selama ini hanya didengar, sama seperti saya ketika pertama kali ke Jepang. Kekagumannya terlihat dari mata yang tak berkedip melihat bersihnya air sungai, highway yang rapi, lalu lintas yang tak padat dan semua yang serba teratur walaupun huruf Kanji bertebaran dimana-mana. Seketika terasa keharuan menyelimuti kalbu melihat mata bahagia mereka. That’s priceless.

Hotel atau Hostel?

Setelah cukup membiarkan perjalanan rasa sebagai orang yang pertama kali ke Jepang, saya mengajak untuk segera check-in di hostel. Kali ini, setelah memberi kejutan semalam tidur di hotel berbintang di Haneda, mereka akan tidur di tempat dengan gaya yang berbeda.

Setelah proses check-in yang efisien, kami langsung menuju kamar. Begitu pintu dibuka, tadaaa… terlihat susunan tempat tidur bertirai berjajar di depan mata. Saya sengaja memilih kamar dormitory dengan nomor tempat tidur yang saling berhadapan. Mereka tertawa lebar karena akan tidur di tempat dengan gaya yang sama sekali berbeda dengan malam sebelumnya.

Bukan tanpa alasan saya memilih dormitory, selain harga tentunya hahaha… Saya hanya ingin berbagi kepada mereka mengenai gaya jalan solo setiap melakukan perjalanan, bahwa kita bisa berbagi kamar, berbagi kamar mandi serta saling bertoleransi, sebagai bekal untuk mereka saat melakukan perjalanan solo di kemudian hari.

Mereka menerima tantangan dengan gembira bahkan sangat senang. Bagi mereka mengalami sesuatu untuk pertama kalinya selalu menyenangkan. Seperti mengurus semua keperluan pribadinya diatas kasurnya sendiri, apalagi bisa kedunia maya dengan kecepatan luar biasa dan memiliki privasi dalam ruang lingkup kecilnya itu sangat luar biasa (tidak ada orang –baca:ibunya– yang bakal ngomel-ngomel berantakan hahaha…)

Saya hanya menyampaikan etika tinggal di dorm, -seperti dimana-mana yang bukan rumah sendiri-, agar selalu menurunkan volume suara saat di dalam, tidak menggunakan pengering rambut di malam hari karena suaranya bisa terdengar sampai kamar, juga menghindari pemakaian kantong kresek yang berisik serta selalu memeriksa keamanan barang-barang pribadi. Bagaimanapun disini merupakan tempat bersama. (Belakangan setelah sampai di Jakarta, mereka mengatakan bahwa pengalaman tidur di dormitory itu jauh lebih mengasyikkan daripada tidur di hotel berbintang yang begitu serius!)

Yang Sesungguhnya Bersilang Jalan

Tak mudah berwisata di cuaca yang kurang tepat, walaupun kami sudah mempersiapkan diri. Tetapi persiapan kami pada kemungkinan hujan bukan pada suhu yang sangat lembab. Bukan sebuah kegagalan sih tetapi lebih kepada jalan-jalan yang tidak optimal. Tempat-tempat must-see di Tokyo yang biasanya sangat menarik, pada situasi liburan ini menjadi tempat yang biasa-biasa saja. Sepertinya tempat-tempat umum yang ada di  Jakarta juga, seperti mal atau toko-toko ber-AC menjadi lebih menarik 😀

Di Kuil Sensoji yang merupakan salah satu kuil tertua di Jepang, wajah orang-orang tercinta kusut kepanasan, bahkan es krim pun tak mampu menyingkirkan wajah suntuk karena tergerus panas. Sensoji yang mengesankan bagi saya, tidak demikian halnya bagi mereka yang lebih memilih tempat yang teduh. Teduh pun terasa gerah! Bahkan di area Skytree kami berlama-lama di area mal daripada berjalan-jalan di pelatarannya. Juga ketika berada di lantai observasi gedung Tokyo Metropolitan Government kami sengaja berlama-lama untuk menikmati sejuknya udara. Sambil menertawai diri sendiri, termasuk adik dan orangtuanya, si sulung berkata, “kita ini ke Tokyo tetapi malah ngadem di mal, kalo nge-mal sih di Jakarta banyak!“ Saya tertohok, jadi mungkin saya yang manja tidak mau bergerah-gerah, bukan mereka! 😀

Memang saya mengajukan banyak pilihan wisata yang berada diluar ruang, karena bukankah Jepang memang banyak menarik untuk aktivitas di luar ruangan? Sekalian saja saya mengajak ke sebuah keramaian. Shibuya Crossing. Kali ini saya membiarkan mereka merasa heboh dengan ‘kegilaan’ banyak orang yang menyeberang dalam waktu yang bersamaan tanpa menabrak satu sama lain. Saya biarkan mereka merekam, membuat heboh di snapchat. Masing-masing punya kehebohannya sendiri-sendiri. Sedangkan saya? Melihat mereka dalam kegembiraan sudah membuat saya senang.

“Get Lost”

Malam baru saja datang saat kami kembali ke kamar, rehat sejenak di antara kedua bunkbed yang saling berhadapan. Saya memperhatikan hostel baru dengan review yang tinggi ini kelihatannya belum banyak dikenal orang. Hanya ada satu orang di sudut kamar yang berbelok, sebuah kemewahan bagi kami bisa serasa memiliki kamar mandi sendiri. Dan waktunya memberi kejutan lain untuk mereka yang tercinta, kali ini tentunya setelah mendapatkan persetujuan dari suami.

Mumpung di Tokyo dan kalian masih kuat jalan, mau keliling berdua gak? Papa mama di sini saja.

Kedua wajah remaja kakak beradik itu saling berpandangan, matanya berbinar. Saya tahu jawabannya.

Mereka tak perlu berpikir panjang lagi untuk langsung bersiap-siap. Berbekal modem WIFI, -sementara hostel juga menyediakan WIFI-, sehingga kami bisa terus berkomunikasi, lalu tiket terusan subway dan sedikit Yen sebagai pegangan, sebagai orangtua saya membiarkan mereka mendapatkan pengalaman get-lost di Tokyo, mencoba berani melawan kegamangan berada di Negara asing, tempat yang bukan rumah. Dengan mencari jalan sendiri, mencari rute kereta, -mungkin tersesat di rute kereta Jepang yang seperti spaghetti-, mereka bisa berjalan menyusuri di Asakusa, Harajuku, Omotesando atau Ginza, merajut imajinasi.

Belajar hidup sesungguhnya…

*

Sensoji at Night
The Famous Kaminarimon, Sensoji

Makna Hikmah Terserak di Perjalanan Korea


Ketika saya baru kembali dari Korea, seorang atasan menanyakan tentang perjalanan saya di Korea. Karena tahu beliau tidak berbasa-basi, saya yang masih gres dengan semua peristiwa yang dialami, menjawab dengan ringan bahwa ternyata di Korea Selatan yang maju itu tidak banyak orang bisa berbahasa Inggris sehingga banyak peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi hanya karena faktor bahasa. Dan Jleb! Saya takkan pernah lupa akan tanggapannya. Time is healing, yang tidak menyenangkan akan berubah menjadi momen-momen yang berkesan mendalam, kata beliau.

Bagaimana mungkin sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan menjadi memorable moments? Saat itu karena masih penuh dengan kesan tak nyaman selama di Korea, saya tak menerimanya begitu saja, tetapi karena menghormatinya, saya membiarkan hal itu mengendap di dalam hati.

*

Perjalanan ke Korea saat itu memang impulsif, karena masih tersisa cuti banyak (baca cerita lengkap alasan saya pergi ke Korea disini) dan mungkin juga karena trip ke Korea sebelumnya sempat dibatalkan. Saat saya ke Jepang sebelumnya di tahun yang sama, seharusnya lanjut ke Korea tetapi situasi politik di semenanjung Korea saat itu tidak mendukung sehingga trip itu dibatalkan. Padahal saat itu tiket sudah ditangan bahkan sudah memesan beberapa hotel. Pembatalan itu sepertinya berubah menjadi keingintahuan yang besar itu yang mungkin menjadi trigger keputusan untuk pergi ke Korea di musim gugur. Namun pada dasarnya saya tidak tahu apa-apa tentang Korea, saya bukan penggemar K-pop, K-drama, bukan juga penggemar kuliner Korea, tidak bisa baca Hangeul, tidak tahu banyak sejarah Korea. Hanya karena ada Samsung, LG dan cerita kondisi alamnya yang cantik. Itu saja!

Berbekal itu, saya mengurus sendiri pembuatan visa (baca soal pembuatan visa disini) yang sampai sekarang terus menjadi salah satu top-posting di blog ini, sampai akhirnya dengan sangat menyesal kolom komentar saya tutup karena menjurus yang aneh-aneh dan tidak mutu 😀 (Saya kan bukan agen tenaga kerja juga bukan agen pencari bakat untuk K-pop, juga bukan agen untuk operasi plastik kan… 😀 )

Ketika semua orang memulai perjalanan ke Korea dengan masuk melalui Seoul, saya justru masuk melalui Busan (baca:  Berkenalan dengan Busan disini). Mendarat pagi-pagi saat jam kerja normal belum dimulai merupakan masalah tersendiri. Apalagi saya tidak bisa baca karakter Hangeul yang mendominasi dimana-mana. Bertemu wajah tak bersahabat di hari pertama, bertanya pada seseorang tapi dijawab dengan gelengan atau muka lempeng. Bahkan untuk mencari lokasi hotel pun saya harus mengerahkan kreativitas. Kekuatiran dan kecemasan bisa survive di Korea mulai menemani di hari pertama perjalanan. Lalu apakah saya akan menyerah di hari pertama?

Namun bukankah jika kuatir dan cemas dipelihara terus, kita tidak akan pernah pergi kemana-mana? Saya mencoba mengatasinya, saya percaya masih ada orang baik di sekitar kita. Pergeseran titik pandang, -dari penerima negativeness menjadi pemberi positiveness-, terbukti benar. Saya menurunkan harapan tinggi tentang Korea dan memilih lebih percaya kepada orang lokal dan orang baik pun mulai muncul di hadapan (Baca disini saat Jelajah Busan). Saya bersyukur bisa merambah mengelilingi pantai Haeundae, ke Museum Seni Busan, ke Mal yang segede gaban, menikmati Jembatan Gwangan di kegelapan malam. Paling tidak masih ada pengalaman yang cukup menyenangkan.

Kemudian keesokan harinya saat akan berpindah kota, saya harus jujur bahwa keteledoran juga menjadi faktor mengapa banyak hal buruk terjadi pada saya. Jika saya teledor membaca peta sehingga salah stasiun dan kehilangan waktu, janganlah situasi eksternal yang disalahkan. Juga kalau teledor meletakkan tiket jangan salahkan faktor luar kan ya? Tetapi terlepas dari dua faktor itu, saya menyadari sepenuhnya memang perjalanan dari Busan ke Gyeongju itu penuh drama hanya karena faktor bahasa (baca cerita Menuju Gyeongju disini). Tetapi saya belum mau menyerah secepat itu…

Gyeongju, -kota cantik 1 jam berkendara dari Busan-, memiliki banyak tempat publik yang luar biasa walaupun bagi saya dihiasi rasa antara cemas, takut dan ingin tahu yang besar (baca cerita Ruang Publik Gyeongju disini). Sebagai solo-traveller perempuan, saya harus mampu mengatasi rasa gamang tidak mengenali siapapun dan juga tidak bisa berkomunikasi karena keterbatasan bahasa. Namun segala yang tidak menyenangkan itu bisa diseimbangkan ketika menjejak Bulguksa Temple. Sebuah keluarbiasaan bisa sampai di tempat World Heritage ini. Mungkin karena beberapa kejadian sebelumnya yang tidak menyenangkan, bisa sampai ke destinasi ini rasanya seperti mendapat durian runtuh, rasanya seperti mencium bau surga (baca cerita Bulguksa Temple). Tapi sayang, setelah meninggalkan Bulguksa, kembali saya berteman dengan sepi bersama benda-benda bersejarah yang berserakan disana hingga malam hari, paling tidak itulah hal yang saya dapat nikmati di Gyeongju (Baca disini: Malam di Gyeongju)

Tetapi ketidaknyamanan trip di Korea belumlah mencapai puncak. Ketika akan meninggalkan kota Gyeongju, begitu banyak rasa tak bersahabat menghampiri saya, tak ada yang bisa membantu menjawab pertanyaan saat saya ingin naik bus sampai akhirnya saya memilih taksi namun ternyata ditolak oleh sopir taksi dengan berbagai alasan. Tidak bisa naik kereta karena jadwalnya tidak cocok akhirnya saya menuju terminal bus, -satu-satunya lokasi yang saya tahu-, dengan berjalan kaki walau cukup jauh ditambah menggendong ransel berat. Saya tak berpikir jauh, setiap masalah yang ada di depan mata saya hadapi satu persatu. Meskipun pelan, saya tetap bergerak maju. Saya seakan sedang ujian, kesabaran dan kekuatan saya diuji, sejauh apa keseriusan saya untuk mencapai tujuan dan untuk Korea ini, ada sebuah tempat yang menjadi destinasi utama yang ingin saya capai, Kuil Haeinsa di tengah hutan taman Nasional Gayasan.

Sungguh, keberanian dan kekuatan saya diuji saat menuju dan sepulangnya dari Kuil Haeinsa. Di tengah jalan bus terjebak dalam kemacetan parah dan harus berhenti sebelum mencapai terminal Haeinsa dan mengharuskan saya turun di tempat yang bagi saya adalah in the middle of nowhere. Saya mengalami disorientasi, tanpa teman, tanpa orang yang bisa diajak bicara atau tanya, dan situasi antara pulang dan lanjut sama tak pastinya, apakah saya harus menyerah? Tetapi menangis tak akan menyelesaikan masalah (Baca disini Ujian dalam Perjalanan)

Dan bagai sebuah siklus kehidupan dengan roda di bawah kemudian berputar ke atas, perjalanan tak mudah ke Haeinsa itu terbayar dengan keindahan Kuil Haeinsa dengan begitu banyak simbol-simbol kehidupan (baca soal simbol-simbol kehidupan di Haeinsa Temple) dan tentu saja Mahakarya kayu ratusan tahun yang dijaga didalamnya (baca hebatnya Mahakarya Kayu). Tetapi ujian bagi saya rupanya belum berakhir karena kegembiraan bisa mencapai Haeinsa hanya terasa sekejap saja bagi saya, setelahnya saya kembali harus menapak perjalanan yang tak mudah.

Tanpa tahu arah terminal bus, dari Kuil Haeinsa saya mengikuti intuisi sendirian menuruni jalan setapak di tengah hutan Nasional dalam keremangan jelang gelap dan dinginnya udara pegunungan, hanya berpegang pada percaya dan yakin akan pertolonganNya. Saya seperti bergantung di ujung tali, airmata ini hampir pecah, tetapi saya tak boleh menyerah. Dua kali mencoba mencari bantuan, tak ada satu pun orang muncul di hadapan. Kali ketiga, bak malaikat penjaga, dua orang lanjut usia muncul di pintu sebuah kios memberi arah tempat bus kembali ke Daegu. Saya tahu saya boleh menangis penuh syukur saat itu karena lulus dari ujian. Setelahnya didepan mata saya hadir para sahabat seperjalanan tanpa perlu tahu nama-namanya.

Hari-hari selanjutnya perjalanan menjadi lebih mudah karena puncak ketidaknyamanan telah terlewati. Saya meneruskan perjalanan menuju Seoul dengan menggunakan KTX (baca disini: Kereta Super Cepat KTX). Bahkan waktupun bersahabat sehingga saya menyempatkan diri berjalan ke Hwaseong Fortress (baca disini Hwaseong Fortress).

Perjalanan tak mudah menuju ke Mt. Seorak (baca trip ke Seoraksan disini), -yang menjadi salah satu tujuan utama wisatawan Indonesia-, terasa manis ketika saya mendapat apresiasi dari seorang tour guide lokal yang membawa rombongan Indonesia karena berani ke Seoraksan sendiri tanpa mengerti bahasa Korea. Bagi saya, perjalanan ke Seoraksan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua kesulitan di Haeinsa. Bahkan di Seoraksan ini, Tuhan pun mengirimkan seorang sahabat seperjalanan tanpa perlu bicara, tanpa perlu bersalaman. Hanya sebuah anggukan dan senyum karena sama-sama menempuh perjalanan yang searah. Saya memungut hikmah, bahwa diantara wajah-wajah yang serupa, saya mendapatkan hati yang penuh senyum. Seorang saja cukup untuk menenteramkan hati.

Trip Korea yang penuh ketidaknyamanan ini membaik saat berjalan di Seoul, menjelajah hingga kaki lelah di istana-istananya yang cantik seperti Istana Deoksugung (baca: Istana Deoksugung) maupun Istana Changdeokgung (baca: Istana Changdeokgung). Bahkan lagi-lagi Tuhan mengirimkan sahabat seperjalanan untuk berbagi cerita di Secret Garden Istana Changdeokgung dalam rombongan berbahasa Korea dalam hujan musim gugur yang basah (baca Secret Garden). Dan malamnya kaki dibawa hingga kebatas lelahnya dengan menyusuri Cheonggyecheon Stream untuk menyaksikan festival Lentera (baca Lantern Festival disini).

Namun Yang Kuasa sepertinya menitip pesan penutup di akhir trip Korea dengan membiarkan saya berlari-lari di luasnya bandara Incheon di hari kepulangan karena ceroboh tak mengukur jarak Incheon dengan Seoul (baca hebohnya Lari di Incheon). Semuanya bukan kebetulan, saya dibiarkan untuk lari sehingga tak mengenali bandara Incheon di dalam waktu yang sangat pas agar tak tertinggal pesawat. Semua pasti ada alasannya…

Tetapi dasar manusia yang lebih banyak dan lebih cepat mengingat buruknya, demikian pula saya yang pulang ke tanah air, lebih banyak mengingat ketidaknyamanan daripada semua yang menyenangkan selama melakukan perjalanan ke Korea.

*

Waktu pun berjalan, time is healing.  Benar kata atasan saya. Setelah sekian lama, trip Korea ini berubah menjadi perjalanan yang memiliki memorable moments, yang sangat tidak menyenangkan pun menjadi sebuah keluarbiasaan yang selalu saya syukuri. Jika tidak ada semua faktor yang tidak menyenangkan itu, sejatinya saya tak akan memahami makna setiap detik kehidupan dariNya. Jadi janganlah takut jika mengalami hal yang tidak menyenangkan selama melakukan perjalanan karena sebagaimana hal menyenangkan, hal yang tidak menyenangkan pun akan memperkaya jiwa…

Korea: Menapak Huwon, The Secret Garden


Walaupun belum puas berkeliling Istana Changdeokgung, tetapi waktu untuk mengikuti tour Huwon tinggal beberapa saat lagi sehingga saya bergegas menuju titik pertemuan di Hamnyangmun, gerbang masuk Huwon, the Secret Garden yang berada di belakang Istana Changdeokgung. Peraturan sangat ketat untuk Huwon, tak seorangpun diperkenankan memasuki kawasan Huwon bila tidak dalam rombongan yang memiliki pemandu resmi. Lagi-lagi karena kemalasan saya yang tidak mencari tahu jadwal tour berbahasa Inggeris sehingga saya tertinggal karena jadwalnya sudah terlewat. Walaupun begitu, saya nekad mengikuti rombongan berikutnya yang berbahasa Korea yang tidak saya mengerti. Daripada tidak bisa masuk sama sekali kan…?

Melewati gerbang Hamnyangmun, saya berjalan pelan di buntut rombongan sambil mengabadikan Huwon yang dikenal sebagai tempat istirahat raja-raja Dinasti Joseon dengan tamannya yang memiliki pohon raksasa berusia ratusan tahun. (Betapa bangsa Korea ini sangat menghargai pepohonan karena saya langsung teringat akan pohon pertama yang ditanam di Kuil Haeinsa yang telah tinggal sisa, -karena terkena petir-, masih tetap dipelihara dengan baik). Sambil melangkah, mata dan jiwa rasanya sangat dimanjakan oleh pemandangan dedaunan yang sedang berganti warna, rasanya seperti sedang melangkah di negeri dongeng.

Starting the tour, leaving the gate of Huwon
Starting the tour, leaving the gate of Huwon

Huwon, sejatinya berarti Taman Belakang, mengambil lahan seluas 32 hektar di belakang Istana Changdeokgung dan Istana Changgyeonggung yang berada disisinya. Namun siapa yang sangka, taman yang dibangun saat Raja Taejong berkuasa pada awalnya dikhususkan untuk keluarga kerajaan dan para perempuan Istana, kini menyimpan banyak cerita di sudut-sudutnya? Setiap pondok kecil, tempat-tetirah, kolam teratai dan pepohonan yang berjumlah 26.000 spesies, tampaknya hanya bisa berdiam diri selama ratusan tahun menyimpan rahasia para manusia yang pernah hidup di dekatnya.

Bahkan pernah suatu masa hanya Raja yang bisa memasukinya, hingga taman itu dinamakan Geumwon (Taman Terlarang). Jangan masyarakat biasa, petinggi-petinggi Istana hanya bisa memasukinya bila mendapat izin dari Raja sendiri. Waktu pun berjalan lambat hingga taman indah itu berganti nama menjadi Naewon yang berarti Taman Dalam, maksudnya mungkin taman dalam lingkungan Istana. Belakangan masyarakat Korea Selatan menamakannya dengan nama Biwon (Taman Rahasia) sesuai nama kantor yang ada di tempat itu pada abad-19. Namun hingga kini, taman itu dikembalikan dengan nama Huwon, -sesuai namanya semasa dinasti Joseon yang membangunnya-, walaupun untuk kepentingan pariwisata, Huwon diterjemahkan sebagai The Secret Garden.

Secret Garden in Autumn
Secret Garden in Autumn

Berjalan kaki di Secret Garden saat musim gugur memang seperti memasuki negeri dongeng yang banyak tergambar dalam lukisan. Indah. Mungkin karena dibangun mengikuti topografi alamnya dengan menekan sesedikit mungkin pembuatan taman buatan. Taman-taman yang lebih kecil dibuat lebih intim dengan tambahan kolam teratai seperti yang terlihat di Buyongji, Aeryeonji dan Gwallamji serta jeram kecil Ongnyucheon yang semuanya mengikuti aliran air yang ada di Secret Garden. Puncak Bukit Maebong yang berada di belakang Secret Garden menambah keharmonisan dengan alam sekitarnya. Siapa yang mau menolak merasakan sendiri sensasi rasa, -sebuah perjalanan waktu-, saat Secret Garden masih digunakan sebagai tempat menulis puisi-puisi indah, bermeditasi atau perjamuan kerajaan bahkan sampai latihan panah yang disaksikan Raja?

Tetapi walaupun keindahannya di depan mata, rasanya saya masih ingin mengetahui sesuatu yang terus mengganjal di pikiran. Apa yang rahasia? Apakah karena tersembunyi di belakang Istana hingga tak langsung terlihat? Ataukah ada kegiatan rahasia yang dilakukan di taman ini? Bisa jadi, karena ada sebuah bangunan yang didirikan sebagai tempat diskusi politik yang hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu yang dipercaya oleh Raja. Bukankah itu sesuatu yang rahasia? Masih ada alternatif lain. Bisa jadi karena aktivitas kalangan Istana yang tak pantas terlihat oleh mata masyarakat umum, seperti Raja yang memancing di Buyongji, atau Raja dan Permaisuri yang giat berkebun dan beternak ulat sutra. Atau mungkinkah ada kisah-kisah romantis yang terlarang di tempat ini yang tak pernah terungkap? Semua bisa terjadi… tetapi saya hanya mendengar desir angin dari antara pepohonan.

Buyongjeong Pavillion
Buyongjeong Pavillion

Buyongjeong

Saya tertinggal beberapa meter saat rombongan telah berhenti mendengarkan cerita si pemandu di dekat Kolam Buyongji dan Bangunan Juhamnnu, yang merupakan tempat belajar dan pelatihan diri dari anggota keluarga Istana. Perpustakaan kerajaan yang dikenal dengan nama Gyujanggak dan Seohyanggak juga didirikan di wilayah ini. Namun tak itu saja, di depan Yeonghwadang sering kali acara perjamuan kerajaan diselenggarakan, termasuk ujian Negara yang disaksikan oleh Raja! Entah apa rasanya mengerjakan ujian Negara disaksikan Raja.

Buyongjeong yang menghadap kolam teratai Buyongji dan berada di seberang Juhamnu memang sangat tepat digunakan sebagai tempat bermeditasi dari anggota keluarga kerajaan. Saya beruntung karena pondokan Buyongjeong sudah dibuka kembali setelah direstorasi selama setahun. Bangunan cantik dua lantai Juhamnu dibangun di bagian atas yang dapat dicapai setelah melalui gerbang Eosumun. Dan konon di tempat ini Raja sering membaca sambil melihat-lihat keadaan sekitar yang tentu saja indah. Jika musim gugur dihiasi dengan dedaunan penuh warna, musim dingin dengan salju putih yang memukau namum misterius dan tentu saat musim semi harum bunga menyerbak kemana-mana.

Two stories Juhamnu and the gate Eosomun
Two stories Juhamnu and the gate Eosomun
Yeonghwadang for the banquet
Yeonghwadang for the banquet

Berjalan sendiri di tempat yang indah seperti di Secret Garden ini, saya merasa ada yang kurang sehingga saya mendekati seseorang yang juga berjalan sendiri untuk berkenalan dan berbagi keindahan. Dia seorang female solo traveler yang menyenangkan dari  Philippines. Akhirnya saya bisa bicara banyak dengan seseorang di Seoul! Kami berdua, -sampai akhir perjalanan di Secret Garden- saling berbagi pujian keindahan dan bertukar cerita tanpa perlu menanyakan nama dan latar belakang. Sepertinya situasi kami sama, hanya merindukan orang lain agar bisa berkomunikasi normal. Saat itu hanya kami yang berbicara dalam bahasa Inggeris. Di Korea Selatan, jauh dari negeri sendiri, saya mendapat pembelajaran, betapa berharganya, -sebuah berkah luar biasa-, bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sama, untuk bisa saling memahami, walaupun tengah berada diantara kerumunan manusia.

Aeryeonjeong

Pemandangan pepohonan dengan daun warna-warni terus berlangsung sampai di area Aeryeonjeong yang dibangun saat Raja Sukjong berkuasa pada akhir abad-17. Aeryeonjeong sepertinya merupakan area memorial karena Putra Mahkota Hyomyeong, anak pertama dari Raja Sunjo, -yang berbakat luar biasa dan telah dipercaya mengurus tata Negara atas nama Raja Sunjo sejak usia 18 tahun-, hanya berkesempatan hidup sebentar, hingga berusia 22 tahun. Dengan bakatnya, ia telah membangun banyak fasilitas di wilayah ini. Melalui gerbang Bulromun yang terasa magis, saya menyaksikan tempat belajarnya yang dikenal dengan nama Uiduhap, yang dibangun sangat sederhana tanpa dekorasi dan merupakan satu-satunya bangunan yang menghadap Utara sehingga sangat tepat untuk membaca dan bermeditasi. Lengkap dengan kolam teratainya, dan tentu saja karena sedang musim gugur ini, keadaan sekitarnya begitu indah.

Alam yang sedang tampil indah di Secret Garden sepertinya masih mau mempercantik dirinya dengan menurunkan rintik hujan. Lengkap sudah, alam yang cantik, rintik hujan dan udara dingin. Sempurna.

Saya pun bergegas membeli payung di sebuah toko cinderamata lalu bersama teman perempuan Philippines itu, kami mengejar rombongan sambil menatap hujan. Seandainya bisa, kami ingin menari di bawah hujan di tengah Taman Rahasia ini…

Ongnyucheon

Tempat ini terkenal dengan kolam dengan jeram kecilnya yang indah terbuat dari batu pualam dengan beberapa pondokan menghiasi pinggirannya sehingga menjadikannya tempat terbaik untuk menulis puisi. Romantisnya sangat terasa, apalagi di saat hujan seperti ini. Dan sementara yang lain sibuk berfoto dengan pasangan masing-masing, saya memilih mengabadikan dedaunan merah, oranye, kuning yang tertimpa rintik hujan.

Saya terpukau dengan bentuk Gwallamjeong, sebuah pondokan yang dibangun di situ. Walaupun sekilas terlihat seperti umumnya bangunan tradisional Korea, namun jika diperhatikan lebih jauh, bagian dasarnya dibangun menyerupai bentuk kipas yang tentu saja jadi terasa berbeda, apalagi jika diperbolehkan duduk di tempat itu. Ah, pikiran saya terbang liar, siapa ya yang pernah duduk menitikkan air mata yang mengalir seperti aliran jeram di tempat itu?

Jongdeokjeong juga merupakan pondokan yang didirikan di wilayah Ongnyucheon. Dibangun dengan pilar-pilar kayu di enam sisi, pondokan paling tua ini terlihat cantik dengan bentuk atap dua tingkat khas Korea yang cantik. Apalagi dengan latar belakang cantik warna-warni musim gugur. Tak salah memang, perjalanan di Secret Garden ini mata dimanjakan dengan keindahan dan imajinasi bisa liar menari. Lagi-lagi saya bertanya dengan diri sendiri, adakah kisah cinta yang terjadi di sudut ini?

Walau pelan kaki melangkah, akhirnya saya sampai juga di ujung perjalanan. Saya akan mengucapkan selamat berpisah kepada Huwon, The Secret Garden yang membentuk harmoni dengan lingkungan alam sekitar, yang pastinya tak akan mudah hilang dari ingatan. Sudut-sudutnya yang diam menyimpan begitu banyak kisah rahasia. Indah, romantis sekaligus misterius.

Akses

  • Subway
    • Jongno 3 (sam)-ga Station (Line 1, 3 or 5), Exit 6. Jalan 10 menit, atau
    • Anguk Station (Line 3), Exit 3. Jalan lurus ke Timur selama 5 menit
  • Bus
    • 7025, 151, 162, 171, 172, 272 atau 601 turun di halte Istana Changdeokgung

Tutup : Setiap Senin

Jam Buka

  • Feb-Mei, Sep-Okt 09:00-18:00 / Jun-Ags 09:00-18:30 / Nov-Jan 09:00-17:30
  • Tiket terakhir dijual 1 jam sebelum tutup.
  • Akses Huwon, hanya melalui tur yang dipandu selama 90 menit, dijual secara terbatas maksimal untuk 100 orang (online 50 orang, sisanya dapat dibeli di tempat)

Harga Tiket

Dewasa                Istana 3,000 won / Huwon 5,000 won
Anak-anak          Istana 1,500 won / Huwon 2,500 won

Nepal – Sampai Kita Berjumpa Lagi, Himalaya…


Dalam postingan sebelumnya, ada peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi, tetapi bagaimanapun tetap terjadi. Banyak barang basah terkena air dalam perjalanan menuju bandara saat mau pulang ke tanah air. Untuk lengkapnya bisa dibaca di post ini cerita tentang Nagarkot

Dengan celana yang setengah basah dan ‘rempong’ dengan tas-tas dan barang yang juga basah, saya tergopoh-gopoh melangkah memasuki ruangan keberangkatan namun dicegat oleh seorang petugas karena salah terminal. Setengah jengkel dengan kebodohan diri sendiri, saya keluar lagi menyusuri pinggir bangunan untuk menuju ruang keberangkatan untuk Air Asia. Sebelum masuk saya masih sempat menoleh ke tempat drop-off. Mobilnya sudah tidak ada disana, tetapi rasa bersalah saya tak mau hilang. Semoga Tuhan memberi banyak keberkahan untuknya.

Setelah boarding pass dipegang di tangan, saya menarik nafas penuh kelegaan. Masih ada waktu untuk membereskan segala kekacauan yang sebenarnya tak perlu terjadi ini. Saya memutar pandangan dan menemukan sebuah bangku kosong yang sempurna untuk repacking.

I will be back...
I will be back…

Saya mencari handuk kecil yang selalu saya simpan di ransel dan tentu saja beberapa tas plastik. Kebiasaan menyisipkan beberapa tas plastik untuk sesuatu yang penting kini terlihat manfaatnya. Saya mengeringkan sebisa mungkin lalu memasukkan barang-barang yang terasa masih lembab ke dalam beberapa kantong plastik. Kemudian saya keluarkan daypack yang kering dari ransel untuk menggantikan tas tangan yang basah kuyup di bagian bawahnya.

Selagi sibuk dengan mengeringkan dan memindahkan barang, dua turis remaja perempuan berwajah Oriental mengambil tempat di sebelah saya untuk menata ulang kopernya. Namun lebih-lebih dari saya, mereka menghamparkan hampir semua barangnya lalu dipaksakan masuk ke dalam kopernya. Jika saja mereka mengerjakan dengan diam, tentu saja saya tak keberatan. Tetapi mereka melakukannya seakan di rumah sendiri dengan suara keras sambil tertawa-tawa. Dengan mood yang masih tak tentu, situasi saat itu sungguh menyebalkan. Tetapi bagaimana pun ruang saya duduk merupakan ruang publik, lebih baik saya memperpanjang sabar.

Saya masih mengeringkan barang-barang basah ketika melihat petugas dan anjing terlatihnya mendekati saya. Mereka mendekat secara khusus sampai pada jarak yang saya kira terlalu dekat ke barang-barang yang saya letakkan di sekitar. Tak perlu berpikir dua kali, -ketika saya melihat si anjing terlatih itu mengendus dari jarak tertentu-, saya langsung mendekatkan barang-barang yang agak tersebar. Damn… Darah mendesir kencang, pikiran saya langsung bekerja cepat, saat itu pastilah saya ditandai sebagai seseorang yang mungkin sedang melakukan pekerjaan haram, mungkin seperti kurir narkotik yang memindahtangankan dengan kedua perempuan muda yang ada di sebelah saya.

Bukankah anjing terlatih itu diarahkan untuk mendatangi dan mengendus di dekat barang-barang saya? Bukankah ada dua perempuan muda di sebelah yang juga sedang membongkar tasnya dengan menghamparkan barangnya dekat dengan barang-barang saya? Bukankah barang haram itu bisa dipindahtangankan dalam situasi seperti ini, dengan skenario seakan-akan sedang merapikan barang dalam koper? Bukankah saya dalam situasi yang sangat memungkinkan dituduh sebagai kurir barang haram? Bukankah bisa saja barang haram itu diletakkan di antara barang-barang saya dan barang orang lain yang terserak dan bisa dijadikan bukti kepemilikan? Saya bergidik terhadap kemungkinan itu… Hiiii…

Ada sesuatu yang berjalan tidak pada tempatnya… ada yang tak seimbang, ada yang tak sesuai…

Saat menunggu keberangkatan, sepenggal rasa bersalah masih bertengger di hati, ditambah dengan sejumput ingatan ketika si anjing mendengus dekat barang-barang saya. Rasanya terbeban. Saya mengingat seluruh kenangan yang menyenangkan sejak perjalanan dimulai agar beban bisa terangkat sedikit. Ketika melihat Everest dan barisan Himalaya, ketika bisa berlama-lama bertatapan dengan Dewi Kumari the Living Goddess di Kathmandu Durbar Square, ketika mendapat berkat Hariboddhi Ekadashi di Kuil Changu Narayan, saat mendapat sunrise luarbiasa di Pokhara, saat mendapat Khata dari Bhiksu di bawah pohon Boddhi di Lumbini, pagi yang indah di Nagarkot dan begitu banyak kemudahan di semua tempat yang saya datangi… dan di ujung akhir perjalanan semua berbalik arah. Kesalahan apa yang telah saya lakukan?

Ketika boarding, orang yang duduk di belakang kursi saya memasang dan menggunakan speaker dari music playernya, seakan di rumahnya sendiri dan seakan semua senang dengan lagunya. Saya tahu telah berada di ambang batas sabar sehingga saya sampaikan keluhan kepada pramugari yang bertugas karena saya telah membayar mahal untuk tempat duduk yang berada di quiet-zone yang seharusnya senyap agar bisa beristirahat. Bahkan kejengkelan dan ketidaksabaran saya masih bisa merangkak keluar.

Tribhuvan International Airport, Kathmandu
Tribhuvan International Airport, Kathmandu

Sebelum semuanya menjadi tak terkendali, lebih baik melakukan refleksi ke dalam, menenangkan diri, memohon bantuan kepadaNya.

Ketika pesawat bergerak perlahan untuk meninggalkan bumi Nepal, saya menoleh keluar jendela, ke langit yang biru, ke pegunungan yang berjejer. Dengan menempelkan tangan pada jendela, selarik bisikan berupa ucapan terima kasih keluar dari bibir. Dan seketika pula permintaan maaf mengalir keluar atas apapun kesalahan saya selama di bumi Nepal, membuat pandangan buram karena airmata menggenangi pelupuk mata…

Saya teringat kembali kepada dia, pengemudi yang pendiam dan selalu tersenyum terhadap apapun yang saya lakukan. Saya diserang ingatan betapa buruk perlakuan saya terhadapnya. Menganggapnya tidak mengerti, mengabaikan harkat kemanusiaannya bahwa setiap orang ingin dihargai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia diam, tetapi bukankah saat itu ada musik sayup serupa Om Mani Padme Hum yang memungkinkan dia mengemudi dengan pikiran yang meditatif? Atau mungkin ia memang pendiam dan juga pemalu, sebuah kombinasi sempurna untuk ‘tidak dianggap’ dan saya memperlakukannya tanpa perasaan. Lalu bukankah setelah itu ada air yang tiba-tiba menggenang? Saya bergidik sendiri, menyadari telah menjadi seburuk-buruknya manusia. Tak heran, jika semua ini terjadi.

Luruskan pikiranmu, begitu teguran Sang Maha Cinta untuk saya dengan tetap melimpahkan kasih sayang berupa air yang menggenangi tas. Dengan begitu banyak berkah yang saya terima selama perjalanan di Nepal mengapa saya mengakhirinya dengan mengabaikan nilai seorang manusia?

Lalu bukankah hanya air? Dan air hanya membasahi barang-barang tak penting? Bukankah bisa lebih mengerikan, bisa lebih buruk, tapi karena CintaNya, hanya ada air? Lalu bukankah bisa saja ada barang haram di antara barang-barang saya saat merapikan kembali? Tetapi yang terjadi sebuah teguran kasih sayang berupa dengusan anjing sebagai pengingat? Bukankah bisa terjadi yang lebih buruk dan lebih mengerikan? Tapi saya dihindarkan dari yang lebih buruk dan yang lebih mengerikan…

Air mata mengalir membasahi pipi, saya menggigit bibir menyadari kesalahan. Sebuah pembelajaran yang check-mate. Teguran yang keras, tetapi tersampaikan dengan sangat lembut dan tidak menyakitkan. Begitu indah, betapa Dia mencintai saya… Bahkan dalam salahpun saya masih dilimpahkan berkah kebaikan dan kasih sayang.

Dan Dia tak pernah putus memberi anugerahNya…

Can't take my eyes off of you, Himalaya
Can’t take my eyes off of you, Himalaya

Saya melihat keluar jendela melihat jelas barisan pegunungan Himalaya yang berpuncak salju berjejer seakan memberi salam perpisahan kepada saya yang terbang kembali menuju tanah air. Dan sang komandan dari barisan pegunungan cantik itu ada di sebelah kanan, terlihat sebagai puncak tertinggi, Sagarmatha yang agung. Everest!

Saya teringat ketika melakukan Everest experience mountain flight, saya hanya diberi kesempatan melihat setitik puncak dari jarak terdekatnya. Dan kini dalam perjalan pulang, siapa yang menyangka gunung tertinggi di dunia itu menampakkan keagungan dirinya di hadapan mata saya. Sagarmatha yang luar biasa indahnya, Everest…

I see you...
I see you…

Bahkan dalam salahpun saya masih diberikan anugerah terindah, di ujung akhir perjalanan di Nepal.

Sejuta rasa berkecamuk di dalam jiwa. Inilah pencucian jiwa. Saya telah menerima anugerah tak henti sejak berangkat dan saya nodai dengan keangkuhan diri, namun semuanya tak menghentikan dari limpahan anugerah. Alangkah tak beruntungnya saya jika tak bersyukur… Bukankah perjalanan ini diatur dariNya langsung? Bukankah susunan itinerary yang telah saya buat itu akhirnya tertinggal di Jakarta lalu digantikan semua dariNya? Bukankah tak banyak orang yang berkesempatan melihat pegunungan Himalaya dan juga Gunung Everest secara jelas?

Saya tetap manusia yang menyadari ketidakmampuan melepas kecantikan pegunungan bertudung salju itu. Saya tak ikhlas, tak rela melepas pandang. Saya memutar badan, lebih baik duduk dengan setengah bokong bertumpu pada satu kaki daripada harus kehilangan pandangan dari Himalaya. Mata saya lekat pada barisan itu. Gunung-gunung yang tampak berbaris gagah itu semakin mengecil, semakin tak terlihat, sampai akhirnya saat dataran India dengan sungai besarnya yang terlihat, mau tak mau, ikhlas saya melepasnya dalam bisikan, terima kasih Ya Allah, terima kasih Nepal, sampai kita berjumpa lagi, Himalaya…

Suatu saat saya pasti kembali, ini sebuah janji…

When will I see you again?
When will I see you again?
It's not a Goodbye, Just Au Revoir
It’s not a Goodbye, Just Au Revoir

<><><>

Dan enam bulan setelah perjalanan saya, sebuah gempa besar meluluhlantakkan Nepal. Saya terguncang hebat. Semua kenangan tempat-tempat indah dengan segenap keajaiban-keajaiban yang pernah mewarnai perjalanan saya itu bergerak bagai film di benak, silih berganti dengan tempat-tempat yang rusak dan yang luluh lantak. Tetapi sebagaimana pengalaman perjalanan saya, -bahkan dalam salah pun saya diberi anugerah-, demikian juga Nepal… Dalam titik rendah kehancurannya, Pemilik Semesta tak pernah sedikitpun meninggalkan ciptaanNya.

*

Baca rangkuman dan cerita seri perjalanan di Nepal : Nepal – Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Nepal – Nagarkot : Kisah Makhluk Ajaib dan Lembah Halimun


Setelah berjam-jam terkurung dalam mobil kecil dari Lumbini Ke Kathmandu, bersama Santa yang jeda bicaranya sedikit ditambah dengan gempitanya musik pop berbahasa Hindi, rasanya lega sekali berada di kendaraan lain yang membawa saya ke Nagarkot. Sebelumnya, Santa telah mengatakan bahwa ia tak memahami jalan ke Nagarkot sehingga ia akan digantikan oleh pengemudi lain yang lebih mengenal daerah itu. Tentu saja saya tak keberatan selama tujuan sampai di hotel bisa tercapai. Begitulah ceritanya hingga saya duduk di mobil Honda baru yang terasa mewah ini.

Wangi khas mobil baru yang tercium lekat di hidung menunjukkan mobil ini belum lama keluar dari dealer. Semuanya terasa masih brand new. Bisa jadi ini mobil pemiliknya, bukan untuk disewakan. Beruntunglah saya bisa mencobanya…

Early Bird and The Misty Valley
Early Bird and The Misty Valley

Cool but…

Kemudian datanglah laki-laki pengganti itu lalu menyalami saya selayaknya orang yang saling berkenalan. Ada senyum tipis di wajah Orientalnya. Wajah campuran yang umum terlihat di sekitar Nepal dan Tibet. Cool… Menarik, seperti magnet. Keren abis… *anakdansuamibawakatapel

Tak cuma sekali saya melirik mengamati caranya mengemudikan kendaraan di perbukitan menuju Nagarkot, terlihat sangat trampil namun santai. Bahkan saya mendengar musik meditatif yang menenangkan seperti Om Mani Padme Hum, dipasang dengan volume kecil tapi terdengar. Di langit luar bulan terlihat begitu terang, supermoon yang waktunya telah dekat, seakan menemani perjalanan saya menuju Club Himalaya Resort untuk menghabiskan malam terakhir perjalanan saya di Nepal. Berdua menembus malam di Lembah Kathmandu *katanenekberbahaya

Namun ada yang salah. Situasinya terlalu hening. Seperti pasangan yang ngambeg. Saya teringat Santa yang hampir tak pernah diam, sementara makhluk di sebelah saya ini terlalu pendiam. Jika ia tak mengemudi, mungkin saya pikir dia patung. Bahkan saya tak ingat namanya. Mungkin dia tadi menyebutkan, mungkin juga tidak, tapi yang pasti saya tak menyukai keheningan ini.

Saya ingin memecahkan keheningan ini dan melihat lampu-lampu desa di puncak bukit.

“Is that Nagarkot?“ sambil menunjukkan lampu-lampu di atas bukit

Kepalanya menggeleng, “No”

Di mobil seperti ada setan lewat karena begitu hening, kecuali suara sayup musik… sepi…

“So where is Nagarkot?”

Dia tersenyum dalam gelap, hanya menunjuk kearah yang berbeda, tanpa bicara, lalu wajahnya ke jalan lagi… Damn!

Karena melihat penampilannya yang rapi seperti pemilik mobil, saya iseng bertanya kepadanya lagi,

“Is this your own car?”

“No”

Entah benar atau tidak, sama nilai kemungkinannya. Kembali senyap.

Bisa jadi dia penganut fanatik ‘jangan ganggu pengemudi yang sedang mengemudikan kendaraan’. Baiklah, I do it my way. My Kejahilan 😀 Saya memutar tubuh lalu memandang langsung ke wajahnya. Bukan manusia jika intuisinya tak memberitahu ada mata yang memandangnya. Dan BERHASIL, ia jengah ditatap lalu menoleh dengan ekspresi stress berada di dekat perempuan 😀 Yang bisa sukses dilakukannya adalah menetralkan suasana. Tersenyum manis. LOL

“Where are you from”, tanyanya basa-basi

Ahaa, daripada diam seperti patung, lebih baik berbasa-basi. Saya memutar tubuh kembali menghadap  depan sambil menertawakan dirinya yang tak tahan diperhatikan seorang perempuan dan menjawab singkat seakan tak peduli, “Indonesia”

Dan hening lagi seperti di kuburan. Cape deh…

Saya mengalah padanya dan pada situasi serta tak berharap ada komunikasi yang lancar. Benar, dia hanya menjawab Yes atau No, walaupun selalu ada senyum di latar belakangnya.

“You drive so well, when and how did you learn to drive?”

“Yes”

Saya tak peduli dijawab demikian olehnya, tetapi kali ini benar-benar hmmm… apa yaa… makhluk di sebelah saya ini, -walaupun cool menarik seperti magnet-, something is very wrong with him… 😀

Walaupun bukan urusan saya, namun saya ingin tahu apa yang dia lakukan setelah menurunkan saya di Nagarkot karena dia akan kembali mengantar saya ke bandara keesokan harinya.

“Where do you stay tonight?” (belakangan baru sadar, pertanyaan ini bisa diartikan berbeda, kalau ia mengerti)

“Yes”

Gggggrrrrr…*siapsiapambilpacul

Saya mengerutkan kening, mencoba menyederhanakan kalimat saya.

“Here at Nagarkot?”, sambil memperagakan tidur.

“Yes”

“Where”

“Yes” Dia tersenyum, tanpa rasa salah…

Bruuuk… Saya seperti menabrak tembok. Whatever, saya menyerah. Makhluk laki-laki di sebelah saya ini sesungguhnya keren, tetapi sama sekali ga nyambung. Ya sudahlah, lebih baik saya mengambil langkah seperti dia, senyum terus sampai hotel. Senyum dibalas senyum sama dengan damai. 😀

Akhirnya sampai juga di Club Himalaya Resort dan dengan berbagai cara dia mengupayakan agar saya memahami bahwa dia akan menunggu besok pagi jam sembilan di tempat parkir. Sebenarnya saya sudah mengerti, tetapi saya membiarkan dia untuk berlama-lama berbahasa tubuh. Hahaha…

The Misty Valley, Nagarkot
The Misty Valley, Nagarkot

Lembah Halimun

Lelah karena berjam-jam melakukan perjalanan dari Lumbini dan ditambah keharusan menghadapi makhluk ajaib serta mengantri menunggu check-in yang lama, saya langsung terlelap begitu selesai membersihkan diri. Sebenarnya rencana awal adalah menikmati sunset di Nagarkot dan berjalan-jalan di lembah yang terkenal penuh dengan kabut itu. Tetapi apa daya, saya datang saat malam sudah datang dan Dia Yang Penuh Kasih Sayang telah menghapus rencana menikmati malam terakhir di Nepal dengan memberikan saya tidur yang amat nyenyak.

About Sunrise in Nagarkot
About Sunrise in Nagarkot

Esoknya saya terbangun sebelum matahari terbit lalu bergegas menyelesaikan kewajiban pribadi. Udara dingin terasa memeluk pagi. Saya menyibak gorden di jendela. Di luar masih gelap, tetapi saya tak mau melewatkan hari terakhir di Nepal begitu saja. Inilah tujuan saya menginap di Nagarkot, menyambut matahari pagi.

Tak lama terdengar suara kepak sayap burung-burung pagi yang telah meninggalkan sarang, mencari makan, yang suaranya datang dari teras balkon. Saya membuka pintu, udara dingin lembah langsung menerpa wajah. Jauh di horison, pegunungan Himalaya tampak kecil berjejer dengan puncaknya yang tertutup salju. Ufuk Timur mulai berpendar kuning keemasan, tanda Sang Surya beranjak bangun dari tidur. Lembah Nagarkot di hadapan berselimut halimun. Indah. Walau tak seluarbiasa sunrise di Raniban Retreat di Pokhara, keindahan Nagarkot ini tetap menimbulkan rasa haru. Indah dan rasanya berbeda.

Pelan-pelan pagi merekah menyibakkan halimun yang menyelimuti lembah. Sinar matahari sejenak memantulkan cahaya keemasan dari puncak-puncak gunung yang tertutup salju lalu berlomba dengan awan yang bergerak cepat hendak menyelimuti puncak-puncak itu. Pagi yang indah itu tak lama, tetapi birunya langit tetap mewarnai keindahan pagi di Nagarkot.

Saya menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar halaman hotel, menikmati pagi terakhir di bumi Nepal. Rasanya langkah ini adalah langkah menjauh dari bumi Nepal karena waktunya akan tiba dalam beberapa jam lagi. Dan waktu pun terus berjalan, tak peduli apapun, tanpa belas kasihan. Akhirnya datang juga waktu untuk melambaikan tangan kepada kamar di Nagarkot. Belum juga 24 jam, saya sudah harus meninggalkan tempat indah ini. Tepat jam 9, saya pun turun dari lobby menuju tempat parkir.

Dibanjur Air

Dia yang tidak-saya-ketahui-namanya, si makhluk ajaib, berdiri setengah bersandar di depan kap mobil. Tersenyum.

Setelah basa-basi menanyakan kabar, dia membukakan pintu untuk saya. Duh seperti tuan puteri. Teringat berbagai peristiwa komunikasi gagal di malam sebelumnya, saya tak berharap banyak. Seandainya nyambung tentunya sangat menyenangkan berkendara dengannya di pagi yang indah ini.

Pagi itu saya baru melihat keindahan lembah Nagarkot dengan hutan pinusnya yang cantik yang semalam sebelumnya hanya gelap menyelimuti. Keajaiban bertambah karena kali ini dia memulai pembicaraan.

“It’s beautiful…” katanya sambil menunjuk sinar matahari yang menyeruak lembut dari balik pohon-pohon pinus.

Bukannya menanggapi, saya hanya mengangguk tak memperhatikan karena sibuk mengambil foto-foto hutan. Rasanya malas memulai ‘pembicaraan’ tak berujung sehingga saya hanya melempar pertanyaan mudah dan bisa dijawab Yes atau No tanpa perlu berpanjang cerita. Tanpa disadari, saya sudah menjadi seperti dia semalam.

The Pines of Nagarkot
The Pines of Nagarkot

Dan… dalam waktu singkat, bandara Tribhuvan International Airport di Kathmandu sudah di depan mata. Saat bersiap-siap, saya mengangkat tas tangan yang diletakkan di kaki. Tapi… What! Ada air menggenangi tas tangan. Tak berpikir panjang, -karena didalamnya ada tas kamera-, saya langsung angkat tas tangan ke pangkuan yang serta merta membuat celana panjang saya basah. Secepat kilat saya keluarkan tas kamera dan tas kecil untuk paspor, uang dan tiket. Dan terlihatlah biang keroknya. Botol minum plastik yang masih tertutup tetapi isinya tinggal setengah. Pasti tutupnya tidak 100% menutup.

Saya tahu pada saat mencoba menyelamatkan tas tangan dari air yang menggenang dekat kaki, makhluk ajaib di sebelah saya itu tahu something wrong has happened tapi tidak tahu persisnya. Ia kesulitan bertanya. Mencoba memahaminya, saya menjelaskan dengan mengatakan Water! sambil menunjuk ke bawah. Tanpa melepas tangan dari kemudi, ia mencoba melihatnya dari tempat duduknya.

Di tempat drop-off bandara, saya memandangnya dengan perasaan bersalah. Air yang menggenang karpet mobil itu akan menimbulkan bau tak sedap jika tidak langsung dikeringkan dan divacum. Wangi baru dari mobil pasti akan sirna. Tetapi dia berkali-kali tersenyum sambil berkata, it’s Okay, no problem.

Dia, si makhluk ajaib, memiliki hati yang sungguh baik…

Saya turun dengan celana bagian paha basah kuyup dan kedua tangan terasa penuh memegang tas-tas kecil berisi barang penting yang basah terkena air. Dengan hati yang tak enak dan campur aduk ditambah rasa bersalah, saya memandang makhluk ajaib itu turun mengatasi masalah yang saya timbulkan. Tapi saya tak mampu berbuat lebih, karena harus bergegas menuju ruang keberangkatan.

Setelah begitu banyak anugerah berlimpah selama di Nepal ini, di hari terakhir ini rasanya saya dibanjur air (sedikit banyak dalam arti yang sebenarnya!). Dengan pakaian basah, tangan penuh barang setengah basah, saya melangkah ke dalam. Peristiwa ini, sepertinya sebuah tanda… Apa artinya belum bisa saya pahami sekarang, tetapi pasti ada maknanya. Dan tentu saja peristiwa itu bukanlah sebuah kebetulan…

*

Baca rangkuman dan seri perjalanan di Nepal : Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Nepal – Overland (Again), Lumbini – Chitwan – Kathmandu


Gerbang Lumbini yang baru saja dilewati, -satu lagi destinasi yang berhasil ditandai-, kini semakin kecil tertinggal di belakang.  Tanpa sadar saya menyentuh Khata, -syal putih yang didapat dari Biksu di bawah pohon Boddhi di Kuil Mayadevi, Lumbini, tempat kelahiran Sang Buddha-;  yang kini melingkar di leher dan telah membuat saya sangat terharu.  Menyentuh kain halus yang kontras dengan blus biru saya ini terasa menenteramkan, seakan memastikan bahwa kebahagiaan akan terus menemani dalam perjalanan ini, kembali ke Kathmandu.

Begitu memasuki wilayah Siddharthanagar, mobil yang saya naiki, Hyundai Atoz mulai bersaing dengan  truk-truk besar. Udara Terai terasa semakin panas saat berada dalam antrian lambat kendaraan-kendaraan besar itu. Kebanyakan dari truk-truk itu mengarah ke India melalui Belahiya (Nepal) lalu masuk ke Sunauli (India) dan selanjutnya ke Gorakhpur, -kota terdekat dengan stasiun kereta-, atau ke kota-kota lain di India. Perbatasan yang buka 24 jam ini  juga sering dilalui turis yang melakukan perjalanan darat dari Varanasi, Sarnath atau Kushinagar menuju Lumbini, Kathmandu atau Pokhara, demikian pula sebaliknya. Saya diam-diam mencatat situasinya dalam hati, siapa tahu saya melakukan cross-border disini.

Namun belum bergerak jauh dari simpang perbatasan Nepal – India tadi, Santa menghentikan kendaraan di sebuah bukit lalu memberitahu bahwa hamparan dataran rendah yang sangat luas didepan mata itu adalah dataran India. Negara impian untuk didatangi kembali, yang menyimpan begitu banyak cerita namun belum sempat mendapat prioritas, terlihat jauh sekaligus dekat. Sepertinya hanya selemparan batu dari bukit ini…

Tetapi yang benar-benar selemparan batu adalah warung makan tanpa nama yang begitu mengundang. Matahari yang belum tegak diatas kepala sepertinya menertawakan saya yang terpaksa mengikuti kebiasaan penduduk Nepal untuk makan siang sebelum tengah hari. Tak berapa lama, sepiring Dal Bhat terhidang di meja yang langsung saya lahap dengan penuh syukur. Rejeki dari Pemilik Semesta berupa hidangan, apapun rasanya, tak boleh ditolak karena bukankah masih banyak manusia tak bisa makan di bumi ini…

Waktu berjalan lambat saat mobil meluncur kembali ke jalan yang berkelok menembus perbukitan. Kini pemandangan meranggas telah berubah warna dengan hijaunya pepohonan yang menyelimuti bukit-bukit. Hingga kami mendekati sebuah jalan yang dipisahkan oleh batuan gunung besar yang seakan dibelah secara rapi, -entah oleh alam atau teknologi-, walaupun saya lebih cenderung pada kemungkinan yang terakhir. Saya mengabadikan ‘batu segede gaban‘ yang terbelah dengan keren  itu sambil mengingat jalan-jalan tol di Jawa yang juga dipotong rapi dari gunung-gunung yang menghalangi pembangunan jalan walaupun rasanya tidak ada yang seperti di Nepal ini yang dipenuhi tumbuhan di atasnya.

Namanya overland itu, kecuali sendirian, yaaa perlu juga toleransi. Perjalanan yang tadinya diisi musik top40 kini berganti musik pop berbahasa Hindi. Walaupun ada yang menyenangkan, tapi entah kenapa langsung mengingatkan saya akan momen “cinta pohon atau tiang” dari film-film Bollywood. Santa kadang bernyanyi mengikuti musik yang membuat telinga rasanya gatal mendadak, tetapi demi sebuah perjalanan yang menyenangkan, saya melebarkan batas toleransi lagipula pemandangan di luar menarik hati. …. kya karoon hayee, Kuch Kuch Hota Hai…. 😀 😀 (artinya pas gak ya?)

Sekitar satu jam kemudian, mata saya menangkap rombongan perempuan dalam balutan sari merah yang sedang berjalan sambil ngobrol. Pasti ada kuil di sekitar sini yang sedang ramai dengan perayaan atau mungkin juga pasar rakyat. Bukankah ibu-ibu dimanapun tak jauh dari Sale dan diskonan?

Women around Narayangarh, Nepal
Women around Narayangarh, Nepal

Dan benarlah di depan ada sebuah jembatan panjang yang membentang di atas Sungai Seti Gandaki, yang suci dan telah memberi banyak manfaat bagi penduduk di sepanjang alirannya. Sungai yang mengarah ke Selatan ini merupakan gabungan dari Sungai Kali Gandaki dan Sungai Trishuli, sungai lainnya yang juga dianggap suci. Bukankah nama-nama sungainya bermakna dalam? Dan sebagaimana biasa, di bantaran sungai Seti Gandaki ini dibangun sebuah kuil yang didedikasikan untuk Dewi Durga, mendampingi kuil lain yang pasti ada di dekatnya yaitu Kuil Shiva, yang saat itu penuh hiasan merah. Selain itu dari atas jembatan, terlihat seperti ada pasar rakyat dengan begitu banyak kegembiraan bercampur dengan mereka yang melakukan puja.

Seti Gandaki River
Seti Gandaki River

Di ujung jembatan panjang tadi, sebuah kota yang disebut dengan Narayangarh atau Narayanghat menyambut kami. Keberadaan kota kecil yang terletak di pinggir sungai suci ini telah menjelaskan arti nama kotanya tanpa perlu berpanjang cerita. Ghar atau Ghat berarti sebuah tangga turun ke sungai untuk ritual bersuci. Dan Narayan, sudah tak asing bagi di kalangan Hindu, yang dikenal sebagai Yang Maha Kuasa. Entah kenapa, mengetahui nama kota yang dilewati dengan kedalaman maknanya, saya langsung teringat pada kota-kota yang namanya bermakna indah, Madinah atau al-Madīnah l-Munawwarah, bermakna kota cahaya penerang iman; Los Angeles adalah kota malaikat; atau Krung Thep alias Bangkok adalah kota para bidadari dan makhluk abadi dan masih banyak lainnya. Dan tak luput Las Vegas, yang paling terang, penuh cahaya terlihat dari langit. (tapi yang terakhir ini duniawi sekali ya… 😀 )

The City of Narayangarh, Nepal
The City of Narayangarh, Nepal

Melintasi Narayangarh ini mata saya menikmati situasi setiap sudut kotanya, dengan hotel, bank dengan ATM, toko-toko atau penarik becak seperti yang ada di Lumbini. Kota kecil ini hidup dan langsung saya tersadarkan, tentu saja hidup, sebab tak jauh dari tempat wisata terkenal, Taman Nasional Chitwan, yang terdaftar sebagai salah satu kawasan UNESCO World Heritage Site.

Dalam hitungan menit selepas Narayangarh terbentang jalan membelah kawasan hutan yang tertata. Di pinggirnya sempat terlihat gambar hewan mungkin kawasan konservasinya. Jantung ini berdegup lebih kuat, seandainya saya terbang, tak pernah saya alami ini. Memang saya tak bisa menapakinya langsung, atau berpelukan dengan gajah dan hewan-hewan disana tetapi saya diberi kesempatan untuk membaui sejenak harumnya udara Chitwan yang terkenal dan menyaksikan kawasan hutan pendukungnya. Lagi-lagi saya bersyukur telah berlimpah anugerah dari sebuah kegagalan tidak mendapat penerbangan. Jadi mengapa harus menyesal dengan satu rencana yang gagal?

The Forest in Chitwan National Park, Nepal
The Forest in Chitwan National Park, Nepal

Akhirnya di simpang tiga itu, saya melambaikan tangan kepada Chitwan National Park. Setiap pertemuan memiliki perpisahan. Walaupun sejenak, walaupun hanya membauinya saja, saya bersyukur berkesempatan, daripada tidak sama sekali. Dan kini waktunya meneruskan perjalanan dengan pemandangan lembah-lembah sempit, tebing tinggi dengan sungai kehijauan yang kondisinya tak jauh beda saat melakukan perjalanan dari Pokhara ke Lumbini kemarin. Beberapa kali mata saya juga menangkap bebatuan yang terlihat longgar, yang dalam sekejap bisa longsor menimpa kendaraan-kendaraan di bawahnya. Ngeri untuk membayangkan.

Beautiful Trishuli River, Way to Mugling, Nepal
Beautiful Trishuli River, Way to Mugling, Nepal

Hari beranjak sore, diantara lembah sempit, dengan cahaya langit luar biasa menerpa punggung bukit dan ditemani Sungai Trishuli yang mengalir kehijauan di bawah membuat hati tersenyum. Siapa yang tak kagum dengan lukisan alam yang indah terjadi di depan mata?

Kemudian kurang dari satu jam berikutnya, kami sampai di pertigaan Mugling yang menyatukan kendaraan dari Lumbini dan Chitwan dengan kendaraan dari Pokhara yang semuanya menuju Kathmandu. Walau tak sampai menimbulkan kemacetan seperti di pertigaan Jomin saat mudik jaman dulu, terasa sekali lalu lintas semakin padat. Kini bus-bus semakin terlihat. Jalan nasional Prithvi Highway yang menghubungkan Kathmandu dan Pokhara ini telah dilewati oleh jutaan turis yang bolak-balik antara kedua kota terkenal di Nepal ini.

Sekitar lima kilometer dari pertigaan Mugling, kami mampir sebentar di Kurintar, stasiun kereta gantung satu-satunya yang ada di Nepal yang berasal dari Austria dengan keamanan bergaransi 100%. Sebenarnya menaiki kereta gantung ini sangat menyenangkan, karena bergerak sepanjang 3 km lintasan kabel  antara Kurintar dan Kuil Manakamana dengan ketinggian 1300 mdpl di puncak bukit yang ditempuh dalam waktu 10 menit dengan pemandangan lembah cantik dengan Sungai Trishuli yang berkelok-kelok. Sayangnya saat saya berkunjung tempat itu sudah hampir tutup sementara antrian pengunjung masih mengular panjang. Selain itu ongkosnya tak murah juga, sekitar USD20 per turis. Mungkin lain kali.

Setelah menyeruput segelas kopi, perjalanan dilanjutkan kembali karena Kathmandu masih sekitar 3 jam di depan. Pemandangan masih cantik dengan semakin turunnya matahari. Namun padatnya lalu lintas yang bergerak tak henti, -walau di tengah cahaya lembut sunset-, telah membaurkan udara dengan debu. Tak mungkin berhenti barang sejenak di sepanjang jalan yang berpinggir jurang, lagi pula pastilah membuat kemacetan panjang jika dipaksakan.

Trishuli River and the Mountains
Trishuli River and the Mountains

Hari perlahan berganti wajah menjadi malam. Jalan-jalan masih berkelok dalam gelap kecuali ada penerangan dari kendaraan atau dari bangunan dan billboard di pinggir jalan. Hingga di suatu kelokan bukit, sebuah bundaran besar bercahaya terlihat di antara pepohonan. Saya tertarik mengamati bundaran besar itu, seakan magnet yang sangat kuat. Benda apakah itu… Mata saya terus mengikutinya sementara kendaraan bergerak tanpa henti. Saya terus menatap benda itu mencari tahu sampai akhirnya saya tertawa sendiri. Itu Bulan, satelitnya Bumi yang terlihat sangat besar. Supermoon. Belum pernah saya melihat Bulan sebesar itu saat terbit, benar-benar beruntung saya bisa menyaksikan cantiknya Bulan di langit Nepal. Tetapi saya tak beruntung mengabadikannya, mungkin Pemilik Semesta hanya mengijinkan mata dan pikiran saya untuk melihat dan merekam kecantikan alam itu tanpa bisa mengabadikannya. Sungguh sebuah malam yang luar biasa…

Akhirnya Alhamdulillah, setelah berjam-jam berkendara, sampai juga di kantor penyewaan mobil di Kathmandu. Saya berterima kasih kepada Santa untuk dua hari perjalanan darat yang luar biasa dari Pokhara – Lumbini hingga Kathmandu dan mobil Hyundai Atoz itu kini bisa parkir semalam untuk kembali besok ke Pokhara, sementara saya langsung berganti kendaraan dengan sebuah mobil Honda putih yang wangi barunya masih sangat gres. Aaargh, malam-malam terang bulan begini menuju ke sebuah resort di Nagarkot, dengan mobil keren baru, dengan pengemudi pengganti yang duduk di sebelah saya, yang… ‘keceh‘ dan menarik 100% serta ‘seksih’… Ampuuuunnnn… 😀 😀 😀

bersambung…

Baca Rangkuman dan seri perjalanan Nepal lainnya:

Nepal – Menapak Pagi di Kawasan Monastik Lumbini


Every morning we are born again. What we do today is what matters most – Buddha

Mengutip selarik kata bijaksana dari Sang Buddha di tempat kelahirannya membuat pikiran saya bekerja cukup dalam sambil melangkah meninggalkan kamar menuju lobby untuk check-out. Walaupun hanya bisa sepenggal pagi hari berada di Lumbini, saya akan memanfaatkan kesempatan baik ini semaksimal mungkin untuk berkeliling di kawasan Monastik Lumbini dan tentu saja mengunjungi Kuil Mayadevi, tempat kelahiran Sang Buddha karena setiap detik yang begitu berharga.

Setelah menitipkan ransel di hotel, saya berjalan kaki menuju gerbang Barat, tempat Santa menunggu. Ya memang masih ada Santa hari ini karena kemarin, akhirnya saya memutuskan untuk memperpanjang sewa mobil sampai ke Kathmandu yang tentu saja disambut Santa dengan senyum yang sangat lebar. Sambil berjalan saya menanyakan kabar istirahat malamnya yang langsung dipotong sambil menggerutu, banyak nyamuk di Terai. Saya terbahak mengingat gurauan yang absurd, Terai bukanlah wilayah Nepal…

Santa menghentikan langkah saya dan tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, ia menawar sebuah rickshaw serupa becak untuk berkeliling kawasan monastik Lumbini. Inisiatifnya ternyata tepat, dalam waktu singkat jika harus berkeliling di kawasan itu dengan berjalan kaki, yang akan didapat hanya kelelahan tanpa mengetahui tempat-tempat bagus di kawasan ini.

Gerah udara pagi Terai tetap terasa walaupun saya hanya duduk manis di becak ala Nepal ini. Saya menyaksikan sendiri betapa kawasan seluas ratusan hektar yang dikelilingi oleh jalan Vishnupura ini merupakan kawasan internasional. Negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha pastilah memiliki vihara di kawasan ini. Dan bentuknya? Pasti disesuaikan dengan ciri khas dari Negara-negara itu. Sebut saja Negara-negaranya, pasti ada…

Becak ala Nepal itu melewati jalan ‘tikus’ untuk sampai ke tengah kawasan melewati petak-petak tanah yang tak terpelihara. Ada sejumput rasa prihatin merambat di dalam hati. Untuk sebuah kawasan yang telah menorehkan tinta emas pada sejarah dunia dan sedikit banyak telah memberi warna perdamaian pada kemanusiaan, kawasan Lumbini ini sepertinya masih jauh dari kondisi yang seharusnya. Entah apa kabarnya dengan mega proyek pengembangan kawasan Lumbini yang telah di-gong-kan hampir empat puluh tahun lalu. Bahkan pencatatan Lumbini sebagai kawasan UNESCO World Heritage Site di tahun 1997 juga belum cukup mampu mengangkat kawasan itu nyaman terlihat di mata.

Dari balik rimbunnya petak-petak yang terabaikan itu saya sempat melihat puncak keemasan stupa Myanmar yang menyerupai Pagoda Shwedagon di Yangon, yang belakangan saya ketahui bernama Pagoda Lokamani. Tanpa masuk ke dalamnya, saya bisa membayangkan vihara Myanmar itu seperti bunga lotus yang hidup di air yang keruh.

From the mud of adversity grows the lotus of joy – Carolyn Marsden

Tepat setelah pagar batas dari vihara Myanmar itu, agak menjorok dari pinggir jalan saya menangkap dinding pagar keliling dengan ciri khas Kamboja seperti yang terlihat pada bangunan-bangunan candi di kompleks Angkor. Terlihat sepertinya masih dalam tahap penyelesaian akhir, ditambah dengan keberadaannya yang agak tersembunyi diantara petak-petak tanah yang terabaikan, membuat kompleks vihara Kamboja semakin tak terlihat. Entah mengapa pikiran saya melayang pada lembaran-lembaran uang yang tak kunjung terbang ke Lumbini.

The Royal Thai Monastery

Akhirnya becak à la Nepal berbelok memasuki kawasan vihara Thailand yang tentu saja didukung secara penuh oleh pemerintah Kerajaan Thailand. Walaupun bentuknya tak serupa, namun karena warna putihnya yang mencolok mata, bangunan vihara ini mengingatkan saya pada Wat Rong Khun (White Temple) di Chiang Rai. Pagi itu, bangunan vihara berlapis marmer berwarna putih terlihat sangat kontras dengan langit biru yang melatarinya. Walaupun ketika mendekat, tertangkap pula di mata saya beberapa bagian yang perlu direnovasi lagi. Ah, tetapi keadaan itu tak mengganggu kecantikan bangunan secara keseluruhan.

Royal Thai Monastery, Lumbini
Royal Thai Monastery, Lumbini

Becak pun terus dikayuh ke Utara menyusuri kolam buatan yang membelah kawasan Monastik menjadi dua bagian. Bagian Timur dari Kawasan Monastik Lumbini adalah vihara-vihara Buddha yang beraliran Theravada dan bagian Barat dari kolam buatan diidirikan vihara-vihara Buddha yang beraliran Mahayana dan Vajrayana.

Dan tepat di bagian Utara, -setelah menyeberang jalan Taulihawa-, terdapat World Peace Pagoda yang melengkapi World Peace Stupa (Shanti Stupa) yang ada di Pokhara. Keduanya, -merupakan bagian dari World Peace Pagoda di seluruh dunia-, didukung penuh oleh Nipponzan – Myohoji, salah satu aliran Buddha dari Jepang yang juga mendukung aliran anti kekerasan dari Mahatma Gandhi.

Setelah berputar di ujung kolam bagian Utara, saya memasuki kawasan vihara dengan aliran Mahayana. Terlihat bangunan cantik berbentuk stupa besar bergaya oriental yang sayangnya tidak diketahui namanya. Di dekatnya terdapat halaman yang tertata rapi namun sayangnya lagi-lagi tidak ada informasi asal Negaranya, walaupun orang lokal mengatakan vihara itu berasal dari Perancis.

Sebelum memasuki vihara yang ada disebelahnya, saya menyempatkan diri untuk menikmati kolam buatan yang terasa meneduhkan udara Terai yang gerah. Vihara modern di seberang kolam tampak seperti dipeluk kabut. Menenangkan sekali.

A Monastery near the pond, Lumbini
A Monastery near the pond, Lumbini

The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa

Setelah melepas alas kaki, saya memasuki vihara yang didukung oleh Yayasan Tara dari Jerman, sehingga public sering menyebutnya Vihara Jerman (rasanya saya hampir saja tak percaya bahwa umat Buddhist di Jerman cukup banyak hingga dapat mendanai pendirian dan pemeliharaan vihara yang tak kecil). Bangunan ini dipelihara dengan sangat cantik dengan taman-taman yang tertata dan benda-benda yang berhubungan dengan ritual diletakkan di seluruh penjuru arah sebagai penguat tata letak. Jika saja pengunjung disana dapat lebih menahan diri tak bersuara, keheningan suasana ditempat ini membuat suasana meditatif kian terasa. Tak lupa di depan bangunan utama terdapat kolam yang ditengahnya terdapat Buddha Kecil, dengan tangan kanan menunjuk ke atas dan tangan kiri menunjuk ke bawah (bumi).

The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa
The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa

Pada ruang dalamnya penuh dengan hiasan kehidupan Buddha yang dilukis baik pada dinding maupun pada langit-langitnya dengan warna-warna terang seperti merah dan kuning keemasan selain warna-warna biru muda yang meneduhkan.

Sekeluarnya dari vihara Jerman, saya menyusuri kolam buatan yang airnya sangat tenang sehingga menampilkan refleksi dari bangunan yang berada di pinggir kolam. Melewati sebuah bangunan bergaya Oriental dengan pagar tertutup tinggi, tak terasa langkah kaki membawa ke sebuah gedung berwarna putih pucat, yang sayangnya lagi-lagi tak memiliki petunjuk yang jelas. Sekelompok orang berwajah Hindustan tampak keluar dari gedung itu, entah usai beribadah atau sekedar melihat-lihat.

Monasteries near the ponc
Monasteries near the pond

Melewati sebuah gedung megah yang dari pagar hanya terlihat stupa besar dengan ciri khas Nepal, -memiliki mata seperti Bouddhanath dan Swayambhunath-, sang pengemudi becak ala Nepal telah menunggu kami untuk dikayuh kembali kearah vihara Zhong Hua dari China.

Vihara Zhong Hua

Saya melepas alas kaki untuk memasuki vihara berarsitektur China yang didominasi dengan warna merah ini. Dibandingkan dengan kuil atau vihara yang saya lihat sebelumnya, Vihara Zhong Hua ini sangat megah dan luas. Empat patung Dewa penjaga tampak gagah menghias area gerbang. Halaman bagian dalam tertata cantik yang mengarah ke gedung utama dengan Buddha berlapis emas yang duduk di altar. Secara keseluruhan seluruh bangunan yang ada di kompleks vihara ini dihubungkan dengan lorong terbuka beratap dengan pemandangan halaman taman yang cantik.

Zhong Hua Chinese Monastery, Lumbini
Zhong Hua Chinese Monastery, Lumbini

Vihara Korea

Tepat di depan Vihara Zhong Hua dari China berdirilah vihara Korea yang pada saat saya berkunjung sedang direnovasi. Melihat bangunannya, saya sampai berpikir di Lumbini tempat kelahiran Buddha yang mengajarkan kerendahhatian, entah kenapa saya merasa tetap saja ada upaya berlomba untuk menunjukkan vihara yang terbesar dan termegah. Jika sebuah negara sudah membangun vihara yang besar, ternyata ada negara lain yang membangunnya lebih besar, lebih megah. Lomba kedigdayaan? Entah…

Korean Monastery, Lumbini - under renovation
Korean Monastery, Lumbini – under renovation

Saya kembali berbecak menyusuri kanal di tengah untuk menuju Kuil Mayadevi, sejatinya tempat kelahiran Sang Buddha. Pengemudi becak ala Nepal itu menyelesaikan pekerjaannya di ujung kanal tempat nyalanya Api Perdamaian Abadi, Eternal Peace Flame, yang dinyalakan oleh Pangeran Gyanendra Bir Bikram Shah di tahun 1986. Dari posisi Api Perdamaian Abadi itu, saya melihat lurus ke Utara, terlihat samar warna putih Stupa dari World Peace Pagoda.

Berbalik badan menghadap arah Mayadevi temple, terhampar di depan mata jalan pelintasan panjang seakan membelah udara panas wilayah Terai. Terbayang gerah dipanggang oleh udara, tetapi sungguh dapat dimengerti, inilah wilayah yang begitu berharga bagi dunia, sejatinya seseorang yang telah mengubah warna dunia lahir di wilayah ini hingga tentu saja saya bersedia berjalan kaki untuk mencapainya walau panas sekalipun.

Sekitar 100 meter berjalan saya tiba di sebuah bundaran kecil yang ditengahnya terdapat patung Buddha kecil, dengan telunjuk kanan mengarah ke langit dan telunjuk kiri mengarah ke bumi, seperti kisah yang tertulis pada sutra mengenai tujuh langkah yang dilakukan oleh Buddha setelah kelahirannya.

Masih berselimutkan gerahnya udara pagi Terai, kaki terus melangkah menuju Mayadevi Temple, seakan mengetahui akan adanya keajaiban lain yang telah menunggu disana…  (baca kisahnya  Khata – Syal Putih dari Lumbini)

*

Ketinggalan cerita? coba cek disini – Rangkuman dan series cerita perjalanan di Nepal