Golden Triangle Yang Bukan Di Jakarta


Entah kenapa saya merasa memiliki sayap dan terbang di antara gedung-gedung tinggi di Jakarta. Di atas kawasan prestisius, yang terhubung oleh Jalan Sudirman – Jalan Thamrin – Jalan Rasuna Said dan Jalan Gatot Subroto. Gedung-gedung tinggi itu bahkan mengalahkan ketinggian tiga patung yang menjadi titik dari sebuah kawasan berbentuk segitiga, Patung Pemuda di Senayan, Patung Arjuna di dekat Bundaran Air Mancur Bank Indonesia dan Patung Dirgantara di Pancoran. Kawasan bisnis Golden Triangle yang ada di Jakarta. Gedung-gedung mewah nan tinggi itu begitu familiar meskipun terlihat kelabu yang semakin memutih samar. Dan tiba-tiba saya terguncang, semua gedung tinggi itu mendadak hilang berganti wajah…

Guncangan itu terjadi karena roda pesawat berbadan lebar itu menyentuh landasan. Rupanya saya tertidur dengan pikiran yang masih mencengkeram kuat istilah Golden Triangle. Pikiran bawah sadar itu membawa saya ke alam mimpi tentang kawasan Golden Triangle di Jakarta, meskipun destinasi saat itu bukanlah Golden Triangle yang ada di Jakarta.


Seperti umumnya maskapai nasional yang mendapat prioritas di setiap bandara, pesawat Royal Thai yang kami naiki itu juga mendapat tempat terbaik untuk parkir. Tak lama kami telah menjejak gedung terminal kedatangan Bandara Chiang Rai. Siang itu situasi bandara ramai, meskipun tidak seramai Suvarnabhumi di Bangkok tempat kami lepas landas satu setengah jam sebelumnya.

Setelah pengambilan bagasi, saya menuju tempat penyewaan mobil. Sebenarnya saya agak sedikit cemas dengan perjalanan kali itu. Bukan karena saya baru pertama kali ke Chiang Rai, melainkan karena “bersama siapa” saya melakukan perjalanan itu. Rasanya agak terbebani.

Bermula dengan rencana selesainya acara kantor di Bangkok pada hari Sabtu sebelumnya, bersama seorang teman, saya mengajukan perpanjangan 1 hari agar kami bisa ke Chiang Rai sementara kolega yang lain kembali ke Jakarta. Rencana kami melakukan get-lost di Chiang Rai disetujui dan mendadak yang memberi persetujuan itu juga mau ikut ke Chiang Rai. Dan kepastian beliau ikut, termasuk mendadak. Boss ikut? Rasanya saya langsung terjun bebas bolak-balik...

Meskipun beliau tidak menuntut yang aneh-aneh, tetap saja anak buah yang merasa tidak enak hati. Saya dan teman saya bisa mengambil gaya backpacking tetapi gaya itu tidak mungkin diterapkan untuk si boss kan? Tetapi di sisi lain, tidak mungkin juga menyamakan ke kelas si boss kan? Kantong bisa bolong langsung! Akhirnya sebisa-bisanya kami saja untuk mengambil jalan tengah, yang cukup layak baginya namun juga tidak memberatkan kami secara budget.

Itulah sebabnya kami memilih menyewa mobil dengan kelas yang lebih tinggi. Dan mobil yang datang adalah mobil sedan yang biasa dipakai menteri jaman Pak Harto berkuasa. Volvo!

Dengan volvo bergaya menteri itu kami menuju kota lalu check-in di hotel yang sederhana untuk ukuran si boss tapi termasuk mewah bagi kami. Kemudian tanpa membuang waktu, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Golden Triangle yang memakan waktu sekitar 90 menit.

Herannya, entah mata saya yang kurang berfungsi baik atau memang nyatanya jarang, kami sama sekali tidak menemukan rumah makan di sepanjang jalan menuju Golden Triangle. Saat itu saya merindukan jalur ke Puncak yang berjejer rumah makan sepanjang jalan. Akhirnya kami berhenti sejenak di sebuah minimarket yang menjual makan siang siap saji, seperti nasi ayam atau mie udang. Makannya pun sambil berdiri. Entah apa yang ada dalam benak si boss. Pasti seumur-umur beliau tidak pernah makan nasi ayam atau nasi udang sambil berdiri, di minimarket lagi!

Mentari siang itu terasa seperti membakar kulit ketika akhirnya kami sampai di Golden Triangle, sebuah kawasan pertemuan Sungai Mekong dan Sungai Ruak yang menjadi batas negara Myanmar, Thailand dan Laos. Sebuah patung Buddha dalam posisi duduk yang berkilau kuning emas tampak memenuhi pandangan. Buddha sepertinya diharapkan dapat memberi perlindungan kepada tempat itu, meskipun tidak jauh dari sungai di negara yang berbeda terdapat kasino tempat orang menghamburkan uang panas mereka.

Golden Triangle View Point
Golden Triangle

Saya tersenyum dalam hati meski tak ingin menghakimi. Entah siapa atau dari negara mana pengunjung kasino itu. Apakah warga Thailand sama sekali tidak ada yang pergi kasino? Atau hanya karena tidak terlihat saja? Rasanya tidak mungkin masyarakat Thailand bisa mengabaikan kasino yang ada di depan hidung mereka.

Meski terkenal notorious sebagai tempat produksi opium (candu) dan berbagai jenis narkotika berbahaya lainnya serta tersedianya kasino, Golden Triangle menyediakan pemandangan yang cukup menarik. Paling tidak bagi turis yang tidak berhubungan dengan aktivitas yang amat berisiko itu, masih bisa menikmati pemandangan, berperahu di sepanjang sungai Mekong, mampir ke desa pinggir sungai di negeri yang berbeda atau hanya sekedar foto-foto di view-point, yang seperti kami lakukan.

Sinar mentari terasa terik setelah kami setuju untuk menaiki boat yang cukup menampung kami bertiga. Meskipun salah waktu, perjalanan dengan perahu itu menyenangkan juga. Berkali-kali saya terkena percikan air sungai. Saat itu sih senang-senang saja, tidak sadar kami pergi dengan seseorang yang jika ada apa-apa kami bisa digantung orang sekantor 😀

Pemandangan dari Sungai Mekong berbeda dengan pemandangan di darat. Meskipun konon Myanmar termasuk negara yang miskin, saya melihat ada bangunan yang teramat cantik namun megah dengan arsitektur tradisional di sisi sungai di bagian Myanmar. Paradise Resort Golden Triangle. Tidak mungkin bersandar di sana karena bisa langsung berhubungan dengan tentara Myanmar yang pastinya tidak ramah. Konon hanya warganegara Thailand atau Myanmar yang bisa menginap di hotel megah namun sepi itu.

Paradise Resort At Myanmar side

Seperti langit dan bumi, di seberang sisi Myanmar yang ada hotel megah itu adalah sisi Laos yang tidak ada apa-apa. Hanya ada sebuah desa kecil bernama Don Sao. Di desa ini masyarakat lokal menjual beberapa souvenir khas Laos. Di tempat yang ‘menyedihkan’ ini kami bersandar sebentar. Hanya untuk menginjak bumi Laos yang dihiasi dengan bendera negara tanpa menggunakan Paspor. Kami tak bisa jalan lebih jauh dari desa Don Sao itu. Tetapi momen itu penting karena jika kami ditanya sudah pernah ke Laos, maka dengan pasti kami akan mengiyakan 😀

Beberapa biksu remaja terlihat di sekitar warung-warung yang menjual minuman dan souvenir. Kehadiran biksu di sekitar warung menunjukkan adanya kuil di sekitar desa itu. Bisa jadi kuil didirikan sebagai penetral aura atas tanah yang ‘panas’ tempat berdirinya Jungle Casino yang tak jauh dari Don Sao. Saya hanya merasa miris, di dekat kasino tempat orang menghamburkan uang panas, ada desa yang penduduknya serba kekurangan.

Ticket to Hall of Opium, Golden Triangle, Chiang Rai, Thailand

Kami tak lama di bumi Laos, karena hari semakin habis. Sekembali kami ke wilayah Thailand, langsung saja kami ke Hall of Opium. Sayang sekali tidak diperkenankan berfoto didalamnya. Tetapi di dalamnya dikisahnya sejarah opium, sebaran tanamannya, kisah-kisah pengguna opium sejak jaman dulu dan perdagangan opium. Meskipun tak bisa memiliki foto di sana, saya menikmati sekali berjalan-jalan di Hall of Opium ini, karena adem dan penerangan yang lembut. Asli membuat diri ini merindukan kasur 😀

Tak lengkap rasanya jika kita ke Chiang Rai tetapi tidak mengunjungi desa-desa dari etnis Karen yang terus menghidupkan tradisi mengenakan gelang-gelang pada lehernya sehingga lehernya menjadi panjang. Mobil Volvo berhenti di pinggir jalan lalu kami harus berjalan kaki menuju desa di atas.

The traditional dance in Chiang Rai

Kami disambut oleh tarian tradisional yang membuat kami merasa terhormat sekali. Siapalah kami ini kok sampai disambut dengan tarian? Tetapi usut punya usut, tarian untuk menyambut kami ini tidak gratis 😀 Setelahnya ada tempat donasi yang harus segera diisi. Kasihan juga, mereka menjadi salah satu wisata untuk Thailand tapi mungkin kehidupannya tak pernah lebih baik. Bahkan konon, sejarah mereka lebih banyak kelamnya.

Tak lama, kami sampai di rumah perempuan-perempuan yang bergelang di leher dan kakinya itu. Awalnya takjub sekali karena tak terbayangkan mengenakan gelang-gelang itu dalam waktu yang lama. Kami berkesempatan bicara dengan mereka dan setelah chit-chat itulah sebagai perempuan, saya merasa sedikit miris terhadap mereka yang sangat friendly terhadap tamu.

Karen long neck ladies

Tradisi yang mereka hidupkan selama ini, meskipun menjadi sebuah kekhususan, tetap saja melemahkan fisik kaum perempuan itu. Saya harus mendengarkan dengan seksama jika mereka bicara karena suara yang keluar sangat lirih dan halus, hampir tak terdengar. Tak heran, keberadaan gelang-gelang itu pastinya menekan pita suara atau struktur leher mereka. Leher mereka tak lagi kuat untuk menahan kepala mereka sendiri karean otot leher telah digantikan oleh gelang-gelang itu dalam waktu yang lama. Meskipun katanya, perempuan bergelang-gelang itu menjadi cantik, bagi saya mereka telah merusakkan tubuh aslinya.

Saya tidak pernah tahu apakah 300 bath sebagai biaya untuk masuk itu dikembalikan untuk kehidupan mereka. Karena tetap saja kehidupan mereka memedihkan.

Hari semakin sore, kami kembali ke Chiang Rai dan menikmati makan malam di sebuah restoran yang bisa ditempuh jalan kaki dari hotel. Rasanya terlalu singkat perjalanan kali ini, belum menikmati semuanya kami harus kembali ke Bangkok lalu ke Jakarta.

Tapi perjalanan kali itu memastikan saya pribadi untuk berencana menginjak kembali tanah Myanmar dan Laos secara resmi, dengan cap di paspor tentunya, yang Alhamdulillah bisa terwujud sebulan kemudian. Hanya satu bulan setelah menginjak Don Sao dan mengamati Paradise Resort di bumi Myanmar dari Sungai Mekong di kawasan Golden Triangle, saya kembali berkunjung ke Myanmar dan Laos dari pintu yang berbeda.

Chiang Rai Airport

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-38 bertema Triangle agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Yang Besar di Negeri Gajah Putih


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Thailand, sejak dulu bahkan sampai sekarang, saya masih saja mudah terpesona dengan apa yang ditawarkan Negeri Gajah Putih itu. Tidak hanya penduduknya yang ramah dan makanannya termasuk ramah di perut saya, obyek-obyek wisatanya selalu menarik.

Masih teringat saat itu, ketika pertama kali melakukan perjalanan sebagai female solo-traveller, saya memiliki kesan teramat manis akan Wat Pho. Kuil Buddha yang di dalamnya terdapat Patung Buddha Berbaring yang amat besar itu, mempesonakan saya. Seumur-umur saya belum pernah melihat patung Buddha sebesar itu dan sebagus itu. Tak heran, saya berlama-lama di sana.

watpho
Reclining Buddha in Wat Pho
head
The Head of Buddha

Dan itulah enaknya berjalan secara independen, saya yang menentukan sendiri bagaimana dan berapa lama saya berada di sebuah tempat. Tanpa harus bergegas di tempat yang saya suka, namun saya bisa cepat pergi jika tempatnya tidak menyenangkan. Di Wat Pho, saya begitu menikmati tempat dan suasananya. Menikmati suara ritmis denting koin-koin yang dijatuhkan pengunjung ke dalam pot donasi. Rasa nyamannya benar-benar mengesankan saya. Bisa jadi karena ruangannya yang amat tinggi dan besar untuk bisa menampung patung Buddha berukuran panjang hampir 50 meter itu.

Kesan besar dan indah dari Wat Pho itu sangat menyerap dalam ingatan saya. Meskipun setelah perjalanan itu saya berkesempatan pergi ke Myanmar dan menemukan begitu banyak patung Buddha Berbaring dengan ukuran raksasa yang jauh lebih besar daripada Wat Pho, bagi saya kerennya Wat Pho masih nomor satu.

Atau karena Wat Pho saya kunjungi dalam perjalanan perdana sebagai solo-traveller? 😀 (sebab kata orang semua yang pertama kali itu selalu berkesan)

Tapi faktanya, keterpesonaan saya tak berhenti di situ. Dalam kesempatan lain ke Thailand, kali itu saya bisa ke Ayyuthaya, -bertahun-tahun setelah perjalanan pertama ke Wat Pho itu-, di sana saya terpesona di Kuil Wat Phanan Choeng Worawihan.

Saat itu, saya melakukan perjalanan perdana ke Ayyuthaya sebelum melanjutkan ke Sukhothai pada hari berikutnya. Karena tidak menginap di Ayyuthaya, saya memanfaatkan waktu semaksimal mungkin dari siang hingga malam untuk menjelajah kawasan yang pernah menjadi pusat kerajaan Thai berabad-abad lalu itu dan malamnya kembali ke stasiun kereta api untuk melanjutkan perjalanan ke Sukhothai. Baca kisahnya 3 Hari 2 Malam Bangkok – Ayyuthaya – Sukhothai sebagai cara untuk berhemat biaya penginapan.

Di dalam Wat Phanan Choeng Worawihan siang jelang sore itu, saya terpesona dengan apa yang saya saksikan di depan mata. Jika di Wat Pho terdapat Reclining Buddha yang berlapis keemasan maka di Wat Phanan Choeng Worawihan terdapat patung Buddha duduk (Seated Buddha) yang berlapis emas dan ukurannya termasuk yang salah satu terbesar di Thailand. Tidak kira-kira tingginya, hampir 20 meter! Kira-kira setinggi gedung 5 lantai. Jadi kebayang besar kuil yang menampungnya, kan?

IMG_6428
Buddha in Wat Phanan Choeng Worawihan, Ayyuthaya
IMG_6423
Buddha in Wat Phanan Choeng Worawihan, Ayyuthaya
IMG_6422
See the men

Saat itu saya bergabung dengan para Buddhist duduk di area tengah. Bukan untuk mengikuti ibadah melainkan untuk mengambil foto patung Buddha yang dipercaya merupakan salah satu patung tertua berukuran besar dari Sang Buddha yang berada di dalam bangunan tertutup. Konon patung itu dibangun pada tahun 1324 meskipun belum ada bukti yang benar-benar mendukung.

Saya mengamati patung teramat besar yang mengenakan jubah berwarna saffron itu. Bersih dan berkilau. Baru saya menyadari bahwa saat itu, patung Buddha sedang dibersihkan oleh sejumlah pria dewasa. Besarnya ukuran patung itu membuat pria-pria dewasa yang sedang membersihkan terlihat seperti anak-anak kecil. Tinggi mereka sebagai manusia dewasa terlihat masih lebih pendek daripada tinggi jari tangan Sang Buddha yang saat itu mengambil pose tangan Bhumisparsha mudra (tangan kanan menyentuh bumi). Terbayang kan, kalau tinggi orang hanya setinggi jari tangan, betapa tinggi patung Buddha di Wat Phanan Choeng Worawihan itu.

Uniknya, patung Buddha yang kini berlokasi di dekat pertemuan Sungai Chao Phraya dan Sungai Pa Sak, dipercaya penduduk lokal memiliki kisah mistis. Konon, saat negeri Burma menyerang Ayyuthaya di akhir abad-18, patung Buddha ini sempat meneteskan airmata! Mendengar kisah ini, saya tak ingin bereaksi, karena sepanjang pengetahuan saya justru urban-legend itu bertolak belakang dengan filosofi Buddha. Ah, bisa saja saya yang sotoy…

Terlepas dari kisah lokal itu, saya juga memiliki kesan lain di Wat Phanan Choeng Worawihan. Dijudesin oleh perempuan!

Jadi ceritanya, saat itu saya tak tahu apakah di sana memotret Buddha itu merupakan pelanggaran atau tidak. Seorang teman Buddhist pernah menyampaikan secara halus bahwa sebaiknya tidak dilakukan karena katanya tak akan pernah sempurna hasilnya. Tapi mengingat saat itu saya masih pejalan novice, maka suaranya masih terabaikan.

Nah, mungkin karena suara dari shutter kamera membuat seorang perempuan melihat saya dengan wajah yang teramat judes sebagai simbol: DILARANG FOTO DI SINI!!! Dasar saya masih belum puas dengan besarnya Sang Buddha, dengan cueknya saya melanjutkan foto sekali dua kali. Setelah itu, tanpa sadar saya menoleh lagi kepada perempuan itu. Duh, terlihat seperti ada api neraka di wajahnya. Kalau saja di kuil itu boleh melabrak dengan berapi-api, mungkin dia akan melabrak saya seperti naga raksasa yang menyemburkan api. Syereeemmm!

Meskipun saat itu saya tak menyadari kesalahan, untuk menjaga ketentraman batin dia dan saya, lebih baik saya keluar dari kuil. Lagi pula saya tak ingin mengganggu ibadah mereka. Yang jelas, pengalaman dijudesin oleh orang lain itu sangat membekas, membuat saya semakin bertindak hati-hati di rumah ibadah lain.

Selepas menjelajah Ayyuthaya, dengan kereta api saya merambah lebih Utara menuju Sukhothai, tempat yang dipercaya pemerintahan Di kawasan bersejarah itu saya menyewa sepeda, sebuah keputusan yang sepertinya tidak tepat. Meskipun tidak seluas Angkor Archaelogical Park, bagi saya mengelilingi kawasan di Sukhothai dengan menggowes sepeda itu cukup membuat saya gempor. Sok tahu siih…

Setelah satu persatu bangunan candi di Sukhothai itu didatangi, sampai juga akhirnya saya di Wat Si Chum, salah satu landmark-nya Sukhothai. Dan seperti biasa, saya terpesona dengan keluarbiasaan yang ditawarkan Wat Si Chum ini.

IMG_6721
Wat Si Chum, Sukhothai

Jika di Wat Phanan Choeng Worawihan, patung Buddha berlapis emas, di Wat Si Chum ini patung Buddha-nya dibiarkan apa adanya. Tetapi bukan berarti tak terawat. Bahkan dalam kondisi apa-adanya, tanpa lapis emas, Patung Buddha yang dikenal dengan Phra Achana ini sudah menjadi landmark dan tempat yang harus dikunjungi saat ke Sukhothai. Ukurannya tak beda jauh dengan Wat Phanan Choeng Worawihan sekitar 15 meter, tetapi tetap saja besaaaaarrrr!

Wat Si Chum merupakan salah satu kuil terbesar yang dipercaya dibangun pada abad-13 serta konon, paling misterius di Sukhothai. Patung Buddha Phra Achana di tempat ini dikelilingi empat dinding tinggi 15 meter dalam jarak yang sempit yang menyerupai sebuah mandapa. Konon, mandapa itu dulunya tertutup atap meskipun tak dapat dipastikan bentuknya.

Selain ukurannya yang besar, masih ada dua hal yang misterius dari Wat Si Chum ini. Konon, di bawah kuil ini ditemukan sebuah lorong bawah tanah yang ujungnya entah dimana karena aksesnya ditutup demi perlindungan terhadap kawasan bersejarah. Selain itu, ada tangga-tangga sempit mengarah ke atas yang tujuan penggunaannya juga belum diketahui. Sayangnya semua akses itu tertutup untuk publik. Biar para ahli arkaeologi yang mempelajari dan mencarinya, sebagai pejalan saya hanya bisa menikmati keindahan dan keluarbiasaannya.

Jelang sore, pelan-pelan saya menggowes sepeda sewaan untuk mengembalikannya lalu kembali ke stasiun kereta di Phitsanulok. Apa yang saya saksikan di Bangkok, Ayyuthaya dan Sukhothai, memiliki kemiripan. Penduduk Negeri Gajah Putih ini tak segan mendirikan bangunan dengan patung Buddha dengan ukuran yang teramat besar, tidak beda dengan beberapa negeri Buddha lain di Asia. Kata teman saya, semakin besar ungkapan rasa terima kasih kepada Sang Buddha, maka semakin besar dan bernilai pula ia persembahkan.

Mendadak sebuah kesadaran membukakan pikiran. Bagaimana dengan saya? Sebagai ungkapan terima kasih dan syukur, seberapa besar yang saya persembahkan kepada Sang Pemberi Hidup?

 


This post was written in response to the weekly challenge from Celina’s Blog, Srei’s Notes, Cerita Riyanti, and also A Rhyme In My Heart, -similar to the old Weekly Photo Challenge from WordPress-, which is the 29th week of 2020 has the theme of  Big, so we are encouraged ourselves to write articles weekly. If you are interested to take part in this challenge, we welcome you… and of course we will be very happy!

Ketika Semua Terasa Sempurna di Bangkok


Bagi saya pribadi, Bangkok selalu menjadi salah satu kota untuk recharge mood. Bukan saja karena selalu ada yang bisa dinikmati di kota itu, tetapi Bangkok merupakan destinasi solo-trip pertama saya bertahun-tahun lalu. Pengalaman pertama jalan sendiri dengan segala rasa campur aduk cemas, kuatir,  optimis, waspada, deg-degan, ingin tahu, gembira dan bahagia yang menjadi satu, selalu menimbulkan kesan tersendiri yang tak terlupakan. Sehingga di kala mood berada di level rendah, kembali ke Bangkok jadi salah satu cara untuk lebih hidup.

Dan demikianlah, setelah terus menerus berada di rumah sakit untuk perawatan ibu yang patah bonggol sendi pinggul serta drama tak penting yang terjadi belakangan ini, saya memutuskan kembali ke Bangkok untuk mencari pembenaran saya perlu liburan 😀

Bangkok with the BTS

Sebenarnya rencana akan dilakukan sekitar pertengahan November, tetapi gara-gara bisikan jiwa :-), saya memajukan ke awal bulan November. Itupun tiket pesawat baru dibeli H-1 dan hotelnya dipesan pada hari H. Tetapi seperti kata Carl Jung, In all chaos there is a cosmos, in all disorder a secret order, maka saya pun menari bahagia dalam kekacauan itu dan mendapatkan keindahan yang bagi saya terwakili oleh satu kata: sempurna!

Sejatinya saya tidak mengerti 100%, mengapa tiba-tiba mengubah perjalanan ini. Terbersit harga tiket pastilah mahal, tetapi lagi-lagi saya dapat harga yang pantas (tidak murah juga sih) tetapi minimal masih memadai untuk ukuran mendadak. Dan pada saat web check-in saya sudah siap menerima penempatan kursi yang diatur acak. Tetapi ternyata baik penerbangan pergi maupun pulang saya dapat window-seat, tanpa beli bahkan kursi sebelah kosong pada penerbangan pulang! Aha, tangan-tangan tak terlihat bekerja keras untuk saya rupanya.

Pada hari-H selepas imigrasi bandara, saya masih memikirkan kepastian penginapan di Bangkok karena reservasi sebelumnya selalu gagal. Sebagai pejalan yang tidak pernah mau mengisi asal-asalan alamat pada kartu kedatangan (di negara manapun sih), saya menghargai  aturan keimigrasian Thailand atau dimanapun destinasinya.  Apalagi, -karena sesama ASEAN-, Thailand memberi visa exemption ke pemegang paspor Indonesia.

Jadi saya coba reservasi lagi hotel yang semalam gagal, namun tetap saja gagal walaupun kamar masih tersedia. Aneh! Namun mengingat suami minta untuk menginap di hotel yang baik, akhirnya saya memesan hotel lain yang sejak dulu ingin sekali saya coba walaupun harganya mahal (untungnya kali ini suami tercinta berkenan menambah dana :p ). Dalam sekali reservasi, pemesanan hotel lain itu berhasil. Yaaiy!

Lalu ketika boarding, saya sudah mempersiapkan diri tidak ada tempat sisa di kabin atas karena diambil penumpang lain dan benarlah! Saya tidak mau pusing dengan kebiasaan penumpang lain itu, maka saya jejalkan saja ransel ke bawah kursi lalu bersiap tidur. Dan berulang untuk kesekian kalinya, saya jatuh tertidur dan terbangun lagi, pesawat masih dalam antrian mendapatkan ijin lepas landas. Tertidur lagi, terbangun lagi, entah kapan terbangnya.

Bahkan mata saya terus terasa lengket selama tiga jam penerbangan ke Bangkok untuk menggantikan kekurangan jam tidur sebelumnya hingga saat roda pesawat menyentuh landasan bandara Don Mueang. Rasanya saya masih mengumpulkan nyawa saat pesawat akhirnya berhenti, lalu tontonan itu langsung terpampang jelas. Hampir semua orang langsung sigap membuka sabuk keselamatan walaupun lampu tandanya masih menyala, lalu berdiri membuka kabin atas dengan tangan-tangan bersliweran di atas kepala mengambil tas-tasnya tanpa peduli kepala-kepala yang dilewati. Kebanyakan ingin menjadi nomor satu keluar dari pesawat seakan-akan bisa dapat piala untuk itu. Bahkan prosedur buka pintu pesawat pun belum dimulai, tetapi lorong telah penuh orang yang tak sabar, mengabaikan aturan untuk tetap duduk, tak sedikit yang berisik, kadang tetap merangsek ke belakang untuk mengambil tas memaksa melewati orang lain, entah berapa nilai ketertiban kita dari skala 10.

Menjejak kembali di Bangkok, saya menuju pintu keluar nomor 6 lalu menaiki bus A1 berwarna kuning yang menuju Stasiun BTS Mo Chit dengan tiket seharga 30THB, kemudian melanjutkan perjalanan dengan BTS ke Siam. Ah, kembali ke kota yang penuh senyum!

Dan akhirnya saya paham mengapa gagal terus di pemesanan hotel sebelumnya yang membingungkan itu. Karena pada saat saya check-in, manajer hotel itu berkenan upgrade kamar saya. Saya tak percaya! Benar-benar luar biasa! Hadiah! Saya gagal reservasi di hotel pertama yang cukup baik, tetapi Pemilik Semesta berkenan memberikan kesempatan menginap di hotel lain, hotel idaman saya, bahkan di kelas yang lebih tinggi, di lantai-lantai teratas. Ah, rejeki memang bisa datang dari mana saja. Sesuatu yang tidak dapat diraih, digantikan dengan hadiah yang lebih baik. Keajaiban itu berulang. Lagi! Dia yang selalu memenuhi janji, yang selalu setia…

Di kamar, saya beristirahat sambil memesan room service karena lapar namun terlalu malas untuk keluar. Jauh-jauh ke Thailand dengan begitu banyak makanan enak, saya tetap saja memesan Nasi Goreng Indonesia 😀 tetapi memang kali ini berbeda dengan biasanya karena saya ingin menikmati liburan singkat tanpa dikejar target destinasi.

Tetapi setelah ‘diingatkan’ akan tujuan awal ke Bangkok, dengan menggunakan tuktuk saya menuju Sanam Luang, tempat kremasi mendiang Raja Bhumibol Adulyadej yang telah dilakukan bulan Oktober lalu. Saya turun di kawasan Grand Palace. Lagi-lagi saya beruntung karena tidak ada antrian disitu. Paspor yang sudah disiapkan ternyata tidak diperiksa sama sekali oleh polisi. Bisa jadi karena wajah saya mirip lokal 🙂

Grand Palace at Sunset

Matahari yang telah condong ke Barat memburatkan sinar keemasan menjadikan kawasan Grand Palace semakin cantik dengan bentuk atap tradisionalnya yang khas. Saya masih menikmati situasi hampir senja ketika tiba-tiba petugas-petugas berseragam menyebar menyuruh publik mengosongkan jalan dan berkumpul di trotoar. Tanpa disuruh dua kali saya mengikuti semua orang melipir dan duduk di trotoar seperti orang lokal tanpa mengetahui yang akan terjadi.

Hebatnya rakyat Thailand, mereka duduk diam hingga saya mengikutinya. Hening, sama sekali tidak bicara. Tiba-tiba seorang petugas di belakang saya meminta seorang laki-laki, -bergaya turis-, yang sedang berdiri untuk duduk. Turis itu bersikukuh untuk tetap berdiri. Wajah-wajah lokal mulai memperhatikannya sehingga petugas itu perlu menjelaskan bahwa Raja akan lewat sehingga seluruh yang hadir diminta untuk melakukan penghormatan.

Saya tersenyum terhenyak mendengar penjelasan itu. Yang Mulia Raja Maha Vajiralongkorn atau Rama X akan lewat! Saya langsung terdiam menyusuri lorong kalbu, berterimakasih akan setiap kesempatan dan ‘hadiah’ yang dilimpahkan serta mencoba memahami alasan saya di’undang’ secara mendadak pada akhir pekan ini dan bukan pada jadwal yang saya rencanakan. Tidak semua orang bisa berada di waktu tepat dan diantara masyarakat lokal saat Raja mereka lewat. Ini kesekian kalinya saya berkesempatan melihat rombongan Raja, setelah bertahun-tahun lalu beberapa kali berkesempatan serupa di Kamboja.

Tanpa terasa mata mengabur haru. Dia Yang Maha Baik melimpahkan begitu banyak kejutan manis dalam keseharian saya, juga menyerakkan hikmah dan makna seseorang yang akan lewat, seorang Raja yang memiliki tanggung jawab besar sejak dilahirkan agar bisa mengayomi seluruh aspek kehidupan di negerinya. Pembelajaran singkat itu, -dan karena hanya ada seorang Raja di Thailand diantara sekian puluh juta rakyatnya-, membuat saya yang duduk bersimpuh di trotoar turut mengatupkan kedua tangan di depan wajah sebagai penghormatan kepada Raja ketika rombongan lewat. Semua bersikap sama, tanpa ada yang berupaya mengambil foto, paling tidak itu yang terjadi di sekitar saya.

The Crematorium

Setelah rombongan Raja berlalu, barulah saya mengikuti ratusan orang lokal berbondong-bondong menuju pintu masuk, menerima minuman kemasan yang dibagikan gratis, ikut tergopoh-gopoh dalam antrian, kadang saya dirangkul seorang ibu dengan senyuman, lalu duduk menunggu di tempat yang disediakan, padahal tak ada satupun kata yang saya mengerti. Namun semuanya tertib, sehingga tak lama setelahnya saya sudah berada di dalam area Phra Merumas (Krematorium Kerajaan).

Saya hanya bisa terpana dengan yang ada di depan mata. Megah dan luar biasa cantik. Tidak percaya, karena semua kemegahan ini hanyalah sementara. Bagi mereka yang percaya, semegah apapun, namun membiarkan tempat perabuan tetap berdiri akan membawa ketidakbaikan. Bukankah hidup ini hanyalah sementara? Awalnya pada akhir bulan November seluruh bangunan utama krematorium dan bangunan pendukungnya akan dirobohkan, tetapi akhirnya Raja memberi ijin untuk memperpanjang hingga akhir tahun ini.

Tradisi mendirikan tempat perabuan untuk para bangsawan (Phra Merumas), -yang menempati dua pertiga luas Sanam Luang ini-, konon dimulai sejak periode Ayutthaya. Karena mereka percaya Raja merupakan Dewa maka tempat perabuannya perlu mengadopsi filosofi Gunung Sumeru sebagai pusat semesta kosmologi Buddha, bercampur dengan pengaruh Thailand kuno, Hindu dan aliran kepercayaan lainnya. Maka akhirnya di Phra Merumas ini semua diwujudkan.

Tetapi siapa yang melihatnya sebagai sesuatu yang temporer belaka? Bangunan-bangunan berkilau keemasan ini terlihat begitu megah walaupun sebenarnya hanya terbuat dari kayu bertulang besi dengan atap tradisional bertingkat. Bangunan utama keemasan sebagai pusat tempat perabuan dengan tiga permukaan lantai terletak di tengah-tengah, memiliki pelindung putih sembilan tingkat di puncak atapnya, dengan ketinggian total mencapai 50 meter.

Berbatas dengan area pengunjung terlihat kolam yang diibaratkan sebagai kolam surgawi, menempati empat sisinya dan berhiaskan patung-patung suci seperti gajah, kuda, sapi dan singa, termasuk patung-patung makhluk mitos yang konon hidup dalam hutan di Gunung Sumeru.

Bisa dilihat juga di tiap sudut bangunan utama terdapat patung-patung penjaga dunia yang disebut Thao Chatulokkaban. Dan pada level berikutnya terdapat patung-patung Garuda (Phra Khrut Pha), -yang menjadi lambang negara Thailand-, dan dalam konsep Hindu, Garuda merupakan kendaraan Dewa Vishnu yang salah satu titisannya adalah Rama (Raja-raja Thailand bergelar Rama). Kemudian di lantai ketiga terdapat tempat di setiap sudut untuk para bhiksu melantunkan puji-pujian atau membaca Sutra. Yang saya sukai di pelataran utama banyak dihiasi dengan tanaman bunga berwarna kuning sebagai warna hari Senin, hari lahirnya mendiang Raja Bhumibol.

Sambil menyusuri museum yang memajang semua peninggalan mendiang Raja Bhumibol, saya mengambil foto yang menarik hati, seperti foto bersama Presiden Soekarno saat berkunjung ke Indonesia. Juga pandangannya sebagai Raja yang harus mengayomi seluruh rakyatnya. Di dekat pintu keluar, saya tidak mampu berlama-lama menyaksikan video mangkatnya yang diiringi musik indah, karena begitu menyayat hati melihat duka rakyatnya.

Malampun semakin pekat walau bulan tampak terang diantara puncak-puncak lancip Phra Merumas. Saya meninggalkan kawasan Sanam Luang dengan satu rasa, betapa mendiang Raja Bhumibol dicintai rakyatnya. Sempurna.

Catatan.

Royal Crematorium dibuka 2 November – 31 December 2017 pk 06.00 – 22.00. Dress code seperti ke Grand Palace, dilarang mengenakan celana pendek, kaos tanpa lengan/tanktop dan sandal jepit. Semua pengumuman disampaikan dalam bahasa Thai, penggunaan bahasa Inggeris terbatas.

Grand Palace at night

 

WPC – A Temporary Splendor in Bangkok


The Crematorium

Always bringing back the good memories of my first solo-trip, I love to travel to Bangkok. Therefore, last week I made an unplanned weekend getaway back to the city that recently held a cremation ceremony for the late King Bhumibol Adulyadej.

I was amazed when arrived at the cremation area which is located in Sanam Luang, -usually just a field park-, adjacent to the Grand Palace complex. All temporary structures there are so amazing, with the shiny golden royal crematorium and supplementary structures that cover almost two-thirds of the 30-acre ground.

This magnificent Royal Crematorium is modeled after the imaginary of Mount Sumeru, the center of the universe in Buddhist cosmology and was influenced by Hinduism as deeply rooted in the ancient Thai kingdom for centuries. In the center, the height of main structure is about 50 meters from the ground, usually made of wood with steel structure inside. The myth heavenly pond is found around the base of royal crematorium and decorated with many mythical creatures and auspicious animals, namely elephants, horses, cows, and lions.

I know the it is subject to change but this grandeur Royal Crematorium and other components will be scheduled to completely dismantled in the end of November 2017.

Temporary Surround Building

Temporary

WPC – A Temple’s Corner


Wat Phra That Nong Bua

A couple years ago I had a chance to visit Ubon Ratchathani, a nice border city in North-Eastern Thailand. And one of the sacred landmarks in Ubon Ratchathani is Wat Phra That Nong Bua, a must-see Buddhist temple. The gleaming gold and white chedi at this temple loosely resembles the Mahaboddhi stupa in Bodhgaya, India.

The temple is the place where Buddha relics are housed in the 55meter height square-based stupa and stands in the middle of a marble slabs, with smaller stupas at each corner in the inner yard. The people seem to keep the inner yard clean from the falling leaves of the trees surrounding the complex.

I took off my shoes to explore this beautiful temple which was built in 1956 to honor of 2500 years of Buddhism. I noticed in each corner of the main temple, there was decorated with a serpent with seven heads.

As other Buddhist temples in Thailand, I feel like the other visitors who can come at anytime, pay respect and experience peaceful nice environment.

Stupa in the corner of inner yard

Wat Phra That Nong Bua

 

 

 

 

 

 

Melintas Perbatasan Chong Mek Thailand ke Vangtao Laos Selatan


Mendung masih menyelimuti langit Ubon walaupun matahari sudah terbit dari tadi, tetapi saya sudah siap meninggalkan penginapan. Saya merasa terlambat, seharusnya saya sudah di jalan menuju perbatasan. Untung saja sudah ada petugas di balik konter penginapan itu. Sambil memproses check-out saya minta bantuannya untuk mencarikan tuktuk agar bisa sampai ke terminal bus yang akan membawa saya ke Pakse di Laos.

Entah kenapa saya terpikir untuk mempercepat perjalanan ke perbatasan ini. Bus internasional yang akan melintas perbatasan baru akan berangkat dari terminal Ubon Ratchathani sekitar pukul 08.30, artinya saya harus menunggu dua jam lebih demi membayar 200baht ke Pakse. Padahal dalam dua jam itu saya sudah bisa melampaui perbatasan. Hmm… saya berpikir keras dan menimbang-nimbang karena tidak yakin ada kendaraan umum yang bisa non-stop dari Ubon Ratchathani ke perbatasan di Chong Mek, selain taksi. Bus ada, tetapi pasti lama karena sering berhenti di banyak tempat. Pilihan lain adalah naik Songthaew, sejenis angkot yang lebih besar, tetapi biasanya gonta-ganti yang tak jelas di Phibun Mangsahan, kota kecil diantara Ubon Ratchathani dan Chong Mek. Bus atau Songthaew pasti lebih murah dari 200Baht tetapi waktu jadi tak pasti. Padahal saya sedang berlomba dengan waktu untuk mencapai Wat Phou di Champasak, hari ini.

Demi cinta (uhuk!) saya bersedia merogoh kantong lebih dalam. Saya memutuskan untuk naik taksi demi sebuah Wat Phou yang kian jelas memanggil dari Champasak. 1000Baht! Itu artinya lima kali bolak-balik Ubon – Pakse naik bus internasional.

Akhirnya saya batalkan pesanan tuktuk dan minta dicarikan taksi yang bersedia ke Chong Mek di pagi hari itu dan keberuntungan selalu datang buat siapa saja yang bangun pagi. Seorang pemuda yang sepertinya masih relasi dari pemilik hotel yang sedang membersihkan kendaraan, bersedia mengantar ke perbatasan. Jadilah saya naik Honda city dari Ubon Ratchathani ke Chong Mek sepanjang 90km.

Jalan-jalan luar kota di Thailand lebar dan tertata rapi. Beruntunglah saya bisa naik mobil menikmati perjalanan darat yang menyenangkan. Sebuah kemewahan tersendiri, bisa lancar melalui jalan lingkar kota Phibun Mangsahan. Pemuda baik hati itu juga melambatkan laju kendaraan agar saya bisa mengambil foto waduk Sirindhorn yang terlihat dari jalan.

Sekitar satu jam saya telah sampai di Chong Mek. Pengennya sih bisa berteriak, Borderrrr…!!!

Immigration Building in Chong Mek, Thailand
Immigration Building in Chong Mek, Thailand

Sepanjang perjalanan saya selama ini, selain Singapore – Johor Bahru di Malaysia dengan kereta api, dan Lowu di Hong Kong dengan Shenzhen di China, saya belum pernah melintas perbatasan via darat. Dan hari ini pengalaman pertama saya melintas perbatasan dua negara via darat dengan berjalan kaki. Dengan jantung berdebar-debar, saya bersiap menghadapi pengalaman itu sendiri.

Pemuda baik hati itu melepas saya tepat di depan gedung imigrasi. Saya bukannya langsung menuju gedung imigrasi melainkan menyeberang kearah toko 7-11 untuk mengabadikan situasi perbatasan Thailand. Dan sebagai isteri dan ibu yang baik, hihihi, saya mengirim pesan ke keluarga mengatakan saya sedang di perbatasan. Sekalian menulis status tak bermutu bernada pamer sambil check-in di Facebook, halah! 😀 😀 😀

Petugas imigrasi Thailand sudah siap di belakang konter. Lagi-lagi saya diajak berbahasa Thai karena wajah ‘Thai palsu’ yang saya miliki. Karena saya bengong sambil memperlihatkan paspor Garuda di tangan, petugas itu dengan ramah meminta saya pindah ke konter khusus ASEAN karena saya salah masuk ke jalur lokal.

Paspor saya telah dicap keluar dari Thailand dan belum masuk ke Negara tujuan (Lao PDR). Dan inilah saya yang sedang berjalan kaki memasuki daerah tak jelas (no man’s land). Ah, mungkin saya yang kebanyakan nonton film Hollywood yang selalu heboh mengerikan penuh drama di wilayah no-man’s land 😀 😀 😀

Saya menuruni tangga menuju terowongan bawah tanah berjeruji yang terbagi dua arah dan menghubungkan Thailand dan Lao PDR, tak beda sama sekali dengan tikus putih percobaan yang dipaksa berjalan mengikuti arah yang sudah ditentukan.

Dan eng-ing-eng…. Di ujung akhir tangga naik terowongan, saya muncul di wilayah yang seharusnya menjadi bagian dari gedung imigrasi Laos, tetapi ini tidak. Saya sampai di sebuah tempat terbuka setelah melewati kios kecil berbendera Lao PDR. Bebas mau melangkah kemana saja. Free…

The End of Tunnel - Small Kiosk wih Lao Flag
The End of Tunnel – Small Kiosk with Lao Flag

Mana gedung imigrasi untuk cap paspor? Ya cari sendiri, usahaaaa… sodara-sodara…

Jantung berdegup lebih kencang menyadari situasi laissez faire di depan mata (Tiba-tiba saya terpikir untuk melakukan perjalanan melintas perbatasan Indonesia di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur serta Nusa Tenggara Timur dan Papua, hanya untuk sebuah perbandingan situasi…)

Where's the Immigration Building?
Where’s the Immigration Building? The White Building??? It’s not….

Saya berbalik arah menanyakan kepada petugas perempuan yang ada di dalam kios kecil itu. Dia hanya menunjuk tak jelas, kearah bangunan besar di depan mata. White building, katanya. Saya mengangguk mengucapkan terima kasih lalu berjalan kearah gedung tadi.

Angin ribut lokal pun menyambut

Tiba-tiba angin terasa kuat berhembus datang dari arah kiri saya. Suaranya menderu dan tak menyenangkan, debu-debu di jalan yang lama tak kena hujan terbang seketika ke atas, daun-daun yang jatuh, sampah-sampah dan benda ringan lainnya seketika terbang terbawa angin. Saya sempat melihat dua orang yang sedang berjalan ke arah Thailand langsung menutup wajah untuk menghindari debu yang terbang liar. Saya sudah terjebak di tengah-tengah angin ribut lokal ini. Dengan mata yang terpicing, saya sempat melihat barang-barang konstruksi seperti potongan lembaran seng bergoyang-goyang. Alarm tubuh langsung berdering menandakan situasi yang harus diwaspadai. Saya cepat mencari gundukan besar dekat jalan tanah merah yang belum beraspal namun memungkinkan untuk berbaring disitu jika alam semakin tak bersahabat. Saya berdoa dalam hati agar senantiasa dilindungi dari marabahaya sambil tetap berjalan cepat kesana, tetapi itu artinya saya menjauhi the white building yang ditunjukkan petugas perempuan tadi. Terasa lembaran sisa surat kabar yang terbang terbawa angin dengan keras mengenai sisi kiri saya. Terpaksa dengan mata memicing saya melangkah lebar-lebar mencoba menghindari terkena barang-barang yang terbang, mencoba mengalahkan angin. Syukurlah semakin dekat ke gedung, angin semakin terasa tertinggal di belakang. Sebagaimana tiba-tiba ia datang, secepat itu pula ia pergi. Ah, saya tersadar… Itu sebuah sambutan buat saya di Laos! 😀

Dan… baru terlihat jelas gedung yang dikatakan petugas tadi masih belum selesai pembangunannya. Hah? Jika bukan gedung putih yang ini, jadi dimana untuk imigrasi ? Helloooo… paspor ini belum dicap masuk!

Saat ini saya masih dalam keadaan tak jelas, sudah tercatat keluar dari Thailand tetapi belum masuk Laos. Jika tanah ini bukan tanah siapa-siapa, artinya masih adakah hukum disini jika something’s going wrong? Namun jika ini tanah Laos, saya masih berjalan sebagai illegal alien… pendatang haram…

Saya melihat seorang perempuan berseragam dinas berjalan melintas sekitar seratus meter di depan. Melihat sebuah kesempatan baik, saya langsung mengejar dan bertanya padanya. Untunglah ia berkenan mengantarkan saya langsung ke gedung imigrasi karena ia juga menuju tempat yang sama, sambil menjelaskan nomor konter ASEAN yang harus saya masuki. Alhamdulillah… Ternyata gedung yang dimaksud terletak di sebelah gedung yang ditunjuk petugas perempuan yang pertama tadi. Adanya angin ribut lokal menyebabkan saya melangkah ke arah yang salah.

Finally the Counter for ASEAN
Finally the Counter for ASEAN

Saya mengikuti sarannya dan mengambil kartu kedatangan lalu mengisinya kemudian menyetorkan ke lubang di bawah jendela.

Saya ditanya asal negara yang saya jawab sambil jengkel (saat itu tidak ada orang lain alias sendirian dan dia memegang paspor saya yang sudah jelas tertulis Republik Indonesia, masih ditanya lagi!) Ujung-ujungnya adalah 10000Kip. Masalahnya saya tidak punya Kip, tidak punya Bath kecil. Untung saja saya selalu bawa uang US$1 sisa dari Kamboja, saya sodorkan dua lembar dan mereka tersenyum menyerahkan kembali paspor saya yang sudah bercap Vangtao, Lao PDR. Ini sesuai dengan apa yang diceritakan di internet bahwa di perbatasan Laos, imigrasinya selalu meminta uang 10000Kip sebagai processing fee. Hah?? Kalau warganegara asing yang perlu VOA okelah, tapi kalau ASEAN yang hanya tinggal cap, apa lagi yang diproses? Ya sudahlah… apalagi saat itu akhir minggu… (eh, eh…… whaaattt???)

Saya baru ingat hari ini adalah akhir pekan. Bank tutup! Saya di tanah Laos dan tidak punya uang. Celaka dua belas! Dengan memegang paspor saya keliling mencari money changer dan semuanya tutup Saudara-saudara… Saya melangkah ke ATM Laos, keren nih, bisa tarik uang melalui jaringan internasional. Tetapi ada orang yang mencobanya dan gagal… Bahkan ia memperlihatkan kepada saya layar yang bertulisan Out of Service. Metooong!!! Saya iseng melangkah ke Bank di seberang jalan hanya untuk membaca tulisan yang tergantung di pintu, Closed. Bagus sekali!

Saya kembali kearah ATM tadi tak henti berharap palsu. Tadaaaa… saya mendapat berkah lagi, ATM sekarang berfungsi, mungkin tadi sistemnya belum siap. Sukses mengambil uang dan merasa ‘kaya’ dengan Kip Laos, saya melanjutkan perjalanan. Saya kan harus ke Pakse!

Lagi-lagi saya bertanya kepada seseorang yang berseragam dinas dan diantarkan ke tempat ojek agar bisa diantar ke tempat minivan. Begitu banyak orang baik! Di tempat saya turun dari ojek, dua orang mendekati saya. Satu menawarkan mobil langsung ke penginapan saya di Pakse dan satu lagi naik minivan yang berakhir di terminal. Ini pilihan dengan negosiasi seru penuh tawa karena saya menggunakan jari-jari untuk menawar termasuk merajuk jika terasa mahal. Akhirnya setelah berkomunikasi bahasa tarzan dengan warga lokal itu, saya dapat mobil privat langsung ke Pakse dengan harga sedikit lebih tinggi daripada harga minivan. Great!

Saya meninggalkan perbatasan Vangtao dan menempuh 1 jam perjalanan lagi ke Pakse. Kali ini jalur lalu lintas Laos berada di sebelah kanan dengan jalan yang relatif mulus namun berdebu yang kadang dihiasi dengan rombongan sapi yang menyeberang tanpa lihat mobil berkecepatan tinggi sedang melaju. Tak hanya sekali sang pengemudi menginjak rem secara mendadak dan para sapi itu hanya bisa nyengir… dan saya terus bergumam dalam hati… Wat Phou, I’m on the way…

Ada Apa dengan Ubon di Thailand Timur?


Mendarat transit di Don Muang Bangkok (on the way ke Thailand Timur dan Laos) memberi kenangan tersendiri bagi saya, memunculkan kembali rasa sentimentil. Sama seperti dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di Bangkok untuk 1st solo-trip, saat bandara Suvarnabhumi belum berfungsi dan Don Muang masih menjadi satu-satunya bandara internasional di Bangkok. Segala sesuatu yang pertama kali memang berkesan manis. Bahkan kekumuhan Don Muang yang dulu tetap saya suka. Berkali-kali ke Bangkok baik bisnis maupun terbang bersama keluarga kebanyakan mendarat di Suvarnabhumi, sampai akhirnya penerbangan berbiaya rendah memindahkan operasinya ke Don Muang dan baru kali ini saya mendarat lagi di Don Muang. Sendiri. Rasanya sama, déjà vu, penuh keluarbiasaan…

Apalagi dalam trip kali ini, tak sedikit yang “untuk pertama kalinya”

Saya selalu teringat pertanyaan retorik yang memecut agar keluar dari comfort zone dan bisa terus bertumbuh, When was the last time you did something for the first time?

Ah, mungkin terasa sebagai alasan…  Memang saya pernah ke Bangkok, tetapi bukankah ini kali pertama saya pergi ke Ubon Ratchathani dengan maskapai yang baru pertama kali saya gunakan?

Penerbangan Nok-Air selama satu jam ke Ubon Ratchathani atau biasa disingkat Ubon berlangsung nyaman, termasuk diberikan kue dan air kemasan mangkuk kecil. Beberapa saat setelah mendarat di bandara Ubon Ratchathani, -karena menggunakan SIM card TrueMove unlimited-, notifikasi Facebook mengingatkan tepat empat tahun lalu saya sedang berada di Chiang Rai, Thailand Utara, daerah yang terkenal dengan nama The Golden Triangle wilayah dengan tiga perbatasan, yaitu Laos, Myanmar dan Thailand. Dan kini saya dalam perjalanan memasuki The Emerald Triangle, wilayah dengan tiga perbatasan lainnya yaitu Laos, Cambodia dan Thailand. Tapi semoga empat tahun lagi saya sedang tidak berada di Bermuda Triangle hehehe…

Saya ikut antrian penumpang yang menanti taksi bandara. Udara akhir bulan April yang panas terasa menerpa wajah. Sungguh waktu yang tidak tepat untuk berkunjung ke Thailand ataupun Laos karena masih termasuk bulan panas terik. Tetapi apa sih yang bisa mengalahkan kegembiraan bisa jalan walau terik sekalipun?

Wat Ban Na Muang

Berdekatan dengan bandara Ubon, saya mampir sebentar untuk melihat keindahan kompleks kuil yang disebut juga dengan Wat Sa Prasan Suk ini. Kompleks ini terkenal dengan replika kuil kerajaan diatas perahu panjang, baik yang dibangun diatas kolam maupun yang diatas daratan. Saya terkagum dengan gerbangnya berupa seseorang yang mengendarai gajah berkepala tiga, yang biasa dikenal di Thailand sebagai Erawan. Hmm, saya terpikir percampuran manis Hindu dalam praktek Buddha yang terjadi di Thailand ini, karena yang terlintas dalam benak adalah dewa Indra sedang menaiki Airawatha dalam filosofi Hindu.

The Main 'Barge' of Wat Ban Na Muang, Ubon Ratchathani
The Main ‘Barge’ of Wat Ban Na Muang, Ubon Ratchathani

Saya disambut dengan kemegahan perahu panjang penuh ukiran yang sangat indah dan detail. Jika diperhatikan dengan seksama, bisa dilihat badan ular berkepala tujuh keluar dari mulut Naga sebagai batas dari replika perahu panjang lengkap dengan bangunan kuil di tengah-tengah dan patung para pendayung dan penjaganya.

Tak jauh dari replika perahu panjang, terdapat patung Buddha keemasan yang cukup besar dengan sebuah patung biksu yang lebih kecil berada di depan Buddha di atas sebuah pelataran. Tetapi terik matahari cukup membuat keringat mengucur sehingga membatalkan saya untuk menjelajah pelataran atas itu.

Big Buddha on Wat Ban Na Muang, Ubon
Big Buddha on Wat Ban Na Muang, Ubon

Sebuah bangunan dengan bentuk atap cantik khas Thailand didirikan didekatnya untuk meletakkan genta-genta. Latar yang bagus sekali walaupun panas menyelimuti kompleks ini. Hanya ada sesuatu yang sedikit mengganggu diantara keindahan kompleks yaitu adanya beberapa makam yang tepat berada di dekat bangunan-bangunan indah itu. Meskipun keadaan makam terawat dengan baik, tetap saja terlihat janggal.

Melangkah mendekati kolam dengan air yang sedikit menyejukkan udara sekitar, terlihat lagi sebuah bangunan semen berbentuk perahu panjang dengan kuil kecil khas Thailand di tengahnya. Di ujungnya berhias Naga berkepala tujuh. Pernah lihat yang berkepala sembilan atau sebelas?

Matahari mulai tergelincir meninggalkan ketinggiannya, saya harus bergegas ke destinasi berikutnya karena waktu saya di Ubon hanya setengah hari ini.

Wat Phra That Nong Bua

Setelah berberes sebentar di penginapan, saya bergegas lagi menuju salah satu landmark suci kota Ubon yang must-see karena menyerupai Kuil Mahabodhi di Bodhgaya, India. Saya naik tuktuk kesana tetapi karena masalah bahasa, saya diturunkan di pasar dekat kuil. Ya sudahlah, untung saja puncak bangunan terlihat dari pasar sehingga saya bisa berjalan kaki kesitu. Coba kalau puncaknya tak terlihat, apa yang akan terjadi?

Sekelompok orang sedang melakukan persiapan doa di pelataran luar, sehingga saya melipir kearah lain untuk mengambil foto. Setiap sudut diberi stupa berbentuk serupa hingga menambah manis taman yang tertata dengan apiknya di halaman dalam. Seorang petugas tampak tak henti membersihkan pelataran dari daun-daun yang jatuh. Tak jauh dari saya berdiri, dua perempuan muda duduk di halaman dengan buku di pangkuan sepertinya sedang belajar dan seperti umumnya monasteries dimanapun, suasana hening dan damai juga terasa di sini.

Nice inner yard of Wat Phra That Nong Bua, Ubon
Nice inner yard of Wat Phra That Nong Bua, Ubon

Dengan melepas alas kaki saya mengelilingi bangunan kuil yang dibangun tahun 1956 ini. Empat pintu berukir di tiap sisi diapit empat patung Buddha berdiri pada tiap sisi di kanan kiri pintu. Panel-panel cerita Jataka, -cerita kehidupan Buddha-, menghiasi tiap sisi bangunan dengan indahnya dengan hiasan naga berkepala tujuh di tiap sudutnya.

Masuk ke bangunan utama, saya terpesona melihat isinya yang serba keemasan. Empat Patung Buddha berlapis emas menghadap tiap pintu, -menggambarkan Kelahiran, Mendapatkan Pencerahan, Pemberian Wejangan dan Saat Mangkat dari Buddha Gautama-, keempatnya membelakangi stupa Mahabodhi berlapis emas yang lebih kecil dan mengerucut ke atas yang menyimpan relic. Langit-langit tinggi menjulang dengan penyangga berhias berwarna merah. Dengan penerangan dari lampu chandelier yang cantik menambah rasa mewah tempat ibadah ini. Dua orang bersimpuh dalam hening di depan Buddha, seperti tak peduli akan kehadiran turis disitu.

Keluar meninggalkan bangunan utama, saya melangkah ke bangunan lain berbentuk bangsal besar yang sunyi di halaman sebelah. Di sisi depan terdapat patung Buddha yang cukup besar dengan patung Buddha Berbaring di belakang atasnya. Sepinya terasa menggigit sehingga saya cepat-cepat meninggalkan ruangan itu setelah mengambil foto. Apakah ini tempat untuk…? Hmmm… mungkin saja!

Inside of A Building in Wat Phra That Nong Bua, Ubon
Inside of A Building in Wat Phra That Nong Bua, Ubon

Di halaman luarnya terdapat karya seni berhias khas Thailand yang mengambil kisah-kisah epos Ramayana, termasuk pertempuran Garuda dan Naga yang dibuat dengan sangat indah. Saya menyelami keindahan Theravada Buddha yang dianut oleh masyarakat Thailand ini. Buddha yang khas, seperti juga di Laos dan Cambodia, praktek Buddha disini diwarnai oleh pengaruh Hindu, bercampur dalam damai. Bagaimana mungkin saya mengabaikan pengaruh Hindu yang kuat jika Raja-raja Thailand bermula dengan nama-nama Rama dan berlanjut saat ini dengan dinasti MahaChakri juga nama Ayutthaya yang konon berakar dari kata Ayodya?

Saya meninggalkan Wat Phra That Nong Bua sebelum gelap karena saya tak mengenal wilayah sekitar itu. 500 meter berjalan kaki menuju jalan besar, saya tak menemui halte bus atau tuktuk. Celaka dua belas. Ini terlalu jauh jika jalan kaki ke penginapan. Tapi tak ada cara lain, tetap harus jalan kaki. Sebuah mal cukup besar terlihat di depan mata, saya menggembirakan hati paling tidak jarak 2 kilometer masih bisa dijalani. Pasti ada kendaraan umum disana. Semangat saya bergerak kearah mal, tapi bukan untuk belanja 🙂

Taman Thung Si Meuang

Sebisa mungkin saya mengeringkan keringat yang mengucur sebelum naik taksi, tetapi metabolisme tubuh saya luar biasa, tubuh ini masih saja mengucurkan keringat walaupun sudah duduk beberapa menit di teras luar mal. Tak mau berlama-lama, dengan setengah berkeringat saya naik taksi menuju taman Thung Si Meuang, taman kota Ubon Ratchathani. Semoga pak sopir tidak pingsan karena mencium keringat saya 😀 namun syukurlah… ternyata jauh juga kalau harus jalan kaki hehehe…

Di Taman kota Thung Si Meuang terdapat dua ikon kota yang menarik, Salah satunya adalah monumen lilin raksasa keemasan yang berukir dalam sebuah wahana yang diujungnya terdapat Garuda dengan sayap terkembang. Dengan latar senja jelang malam, ikon kota Ubon Ratchathani itu terlihat berkilau. Cantik sekali. Monumen lilin raksasa ini ditempatkan di ujung sebuah tanah lapang yang saat saya datang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berolahraga. Saya tak dapat membayangkan bagaimana penuhnya tempat ini setiap bulan Juli karena menjadi pusat Festival Lilin. Tertarik untuk datang untuk meramaikan festival Lilin ini?

Giant Candle and Garuda in Thung Si Muang Park, Ubon
Giant Candle and Garuda in Thung Si Muang Park, Ubon

Melangkah sedikit ke Selatan, saya duduk di pinggir kolam sambil melihat Bilik Puja (Shrine) yang berisikan Pilar kota. Sayangnya ketika itu Pilar Kota cukup dipenuhi orang sehingga saya hanya bisa mengabadikan dari jauh.

Saya bergerak kembali seperti malam yang merangkak naik, tampak kesibukan di bagian jalan yang membelah taman Thung Si Meuang ini. Sepertinya ada gelaran pasar malam jelang akhir minggu. Saya hanya melihat-lihat sebentar sambil melangkah menuju penginapan sekalian mencari-cari makanan yang terlihat menarik. Akhirnya nasi goreng udang khas Thailand ditenteng ke penginapan yang tak jauh lagi. Setelah mandi keringat karena berjalan cukup jauh dari Wat Phra That Nong Bua hingga Mal, saya perlu berlama-lama menikmati mandi yang menyegarkan.

Meskipun hanya tersedia waktu setengah hari bagi saya untuk menjelajah Ubon Ratchathani, saya telah meninggalkan jejak di kota yang berada di Thailand Timur ini. Memang masih banyak tempat cantik yang bisa dikunjungi tetapi lagi-lagi waktu bukanlah milik saya. Besok perjalanan menanti dengan keseruan lainnya. Lintas batas Negara menanti. Ini pasti lebih adventurous

Laos Selatan – Sebuah Pendahuluan


Setelah tahun 2012 saya mengunjungi kota Luang Prabang yang terkenal sebagai UNESCO World Heritage City dan Vientiane, ibukota negara Lao PDR, yang keduanya terletak di bagian Utara, saya masih meninggalkan satu UNESCO World Heritage Site di Laos, yaitu Wat Phou yang terletak di propinsi Champasak di bagian Selatan bumi Laos. Wat Phou inilah yang kerap memanggil saya untuk datang menjejakkan kaki. Sebagai penggemar candi, apalagi yang masih berkerabat dengan candi Angkorian atau Champa, by any means, dengan segala cara akan saya upayakan datang hehehe…

IMG_1069
One of the galleries of Wat Phou Champasak, Southern Lao PDR

Karena lokasi Wat Phou cukup remote, seakan berada di negeri antah berantah, dan agak jauh dari kota-kota besar maka saya harus melakukan persiapan perjalanan dengan lebih baik. Tetapi herannya sebaik apapun persiapan perjalanan saya, selalu saja pada kenyataannya bisa berbeda dan bagi saya itu semua yang memberi warna dalam sebuah perjalanan. Atau mungkin saya sendiri yang memang pada dasarnya tidak suka terlalu terpaku pada itinerary…

Tetapi yang pasti setelah mengalah terhadap undangan dan panggilan tak henti dari Wat Phou itu, saya mulai serius mempersiapkan perjalanan itu. Paling tidak saya bisa menyelinap pergi kesana sepanjang akhir pekan dengan tambahan satu atau dua hari cuti. Laos bukan negeri jauh, masih di kawasan Asia Tenggara yang relatif dekat dengan Indonesia tercinta. Tinggal mengatur bagaimana cara saya sampai ke Wat Phou itu…

Dan satu roti pun cukup sebagai makan siang demi berkencan dengan simbah gugel untuk perjalanan ini…

Pakse, ibukota propinsi Champasak di Laos Selatan merupakan kota terdekat untuk mencapai Wat Phou dan saya menandai sebagai base sementara saya di Laos. Paling tidak untuk contingency atau emergency, di Pakse terdapat bandara internasional (hehehe… ini kebiasaan mencari escape point)

Sedikit lebih jauh dengan Laos atau secara resmi disebut dengan Lao People’s Democratic Republic (Lao PDR)  merupakan negara yang landlocked, yaitu negara yang seluruh perbatasannya dengan negara lain hanya berupa daratan dengan kondisi sungai dianggap sebagai bagian dari daratan. Laos sendiri berbatas  dengan Myanmar dan China (di Barat Laut), Vietnam (di Timur), Cambodia (di Selatan) dan Thailand (di Barat). Untuk mudahnya membayangkan, jika Vietnam sepanjang pesisir Indochina yang melekuk seksi dan Thailand dan Cambodia yang berada di bagian dalam teluk, maka Laos merupakan negara yang terjepit diantara ketiganya. Kalau masih belum bisa membayangkan, ya… buka petanya saja, yang pasti Laos bukan berada di Afrika atau di Amerika, tetapi laos suka ada di dapur sih

P1040501
Dusk in Pakse, Southern Lao PDR

Bagaimana cara mencapai Pakse?

Pilihan terbang yang merogoh kantong lebih dalam memang berat namun hampir selalu menjadi pilihan bagi saya yang masih jadi karyawan fakir cuti. Terbang dengan rute internasional ke Pakse bisa dari HCMC (Vietnam), Siem Reap (Cambodia) dan Bangkok (Thailand) dan dengan rute domestik tentu saja bisa dilakukan dari Vientiane (ibukota Lao PDR). Jangan tanya harganya… mahal booo’

Dengan beranggapan biasanya rute domestik lebih murah, awalnya saya ingin terbang dari Vientiane ke Pakse, tetapi setelah mengetahui harga tiketnya sekitar 1 jutaan sekali terbang, -yang artinya sama dengan rute terbang internasional dari Siem Reap maupun HCMC ke Pakse-, saya mencoret pilihan terbang ini. Kan saya harus menghitung dana untuk terbang dari Jakarta ke kota-kota hub itu juga kan?

Pertimbangan lain, berdasarkan pengalaman sebelumnya, penerbangan domestik di Laos biasanya menggunakan jenis pesawat ATR72, pesawat baling-baling. Demikian juga penerbangan dari Siem Reap yang juga menggunakan tipe pesawat ATR72 yang walaupun termasuk baru, buat saya tetap tidak sreg. Dan yang lebih memastikan saya mencoret pilihan terbang ini adalah karena setahun atau dua tahun lalu pernah terjadi insiden pesawat jatuh dan tenggelam di Sungai Mekong saat landing ke Pakse walaupun itu lebih disebabkan karena faktor alam.  Lhaaa… Pakse itu di pinggir Sungai Mekong Saudara-saudara…

Via Ubon Ratchathani

Dan tanpa disangka sepotong roti bekal makan siang membuahkan hasil, simbah gugel memberi link untuk terbang ke Ubon Ratchathani, sebuah kota cukup besar di Timur Thailand, dekat perbatasan dengan Laos dan dari sana bisa melanjutkan perjalanan dengan bus sampai Pakse. This is awesome…

IMG_1061
Thung Si Muang – City Landmark of Ubon Ratchathani, Thailand

Inilah makna jika sudah berkehendak baik, Semesta pun mendukung… Ke Ubon Ratchathani (atau biasa disingkat dengan Ubon) bisa menggunakan berbagai moda transportasi, pesawat terbang, kereta, bus (termasuk sleeper bus), kendaraan pribadi, bersepeda atau jalan kaki hehehe…

Ah saya bisa kembali ke Bangkok, kota pertama solo-trip saya bertahun-tahun lalu, kota gemerlap yang membuat degup jantung lebih kencang karena adrenalin yang mengalir (solo-traveler pasti mengenal rasa ini saat pertama kali jalan). Dan saya tidak pernah menyelesaikan semua tempat-tempat wisata di Bangkok, agar saya bisa kembali lagi ke kota ini… Dan saya pasti kembali ke Bangkok dalam perjalanan saya ke Wat Phou kali ini..

Jika hendak terbang dari Bangkok ke Ubon bisa menggunakan yang low-cost Air Asia, Nok Air, Thai Lion Air, Thai Smile (dibawah manajemen Royal Thai Airways) dan lain-lain… Harga promo terbang sekitar 700 Baht. Mau menghemat Baht? Ya bisa menggunakan kereta api. Berangkatnya dari Hua Lamphong, dengan jadwal pagi, senja dan malam, ditempuh dalam waktu 9-12 jam, tergantung pilihan jenis keretanya dengan harga sekitaran 100 ribu hingga 400 ribu Rupiah tergantung kelas tempat duduknya. Pilihan menarik lainnya dengan bus VIP. Berangkat dari terminal Morchit dengan jadwal pagi, sore dan malam, lama perjalanan sekitar 9 jam dengan harga sekitar 200 ribuan Rupiah.

Kalau saya memilih menggunakan pesawat terbang, hanya karena pertimbangan waktu. Saya berangkat dari Jakarta ke Bangkok dengan pesawat pertama dan langsung lanjut ke Ubon sehingga saya bisa menjelajah kota Ubon dari siang hingga malam sehingga paginya bisa langsung ke perbatasan. Saya memilih menggunakan Nok-Air yang juga berangkat dari Don Muang namun berbeda terminal dan 1 jam perjalanan ke Ubon itu saya diberikan snack dan air kemasan kecil. Sangat lumayan dengan harga yang beda sedikit dengan 2nd class sleeper train atau Bus VIP 32 kursi.

Saya belum pernah ke Ubon Ratchathani sehingga saya ingin tahu juga bagaimana kondisi kota yang sebalah timur Thailand yang dekat perbatasan dengan Laos itu.

Melintas Batas Negara Sesuai Keinginan

Sepotong roti bekal makan siang waktu itu yang membawa saya bisa ke Pakse via Ubon Ratchathani masih meninggalkan godaan. Ah, saya memang mudah tergoda untuk hal-hal yang bisa mendesirkan adrenalin lebih cepat…

Sebenarnya ada bus VIP Internasional yang berangkat dari Ubon ke Pakse dan sebaliknya, non-stop, cepat dan ringkat, berangkat dari terminal bus di utara kota Ubon pada pk 08.30 dan sampai ke perbatasan sekitar satu jam kemudian, lalu menunggu seluruh penumpang memproses keimigrasian sekitar 30 menit sampai 1 jam dan melanjutkan perjalanan ke Pakse untuk satu jam selanjutnya. Mudah sekali kan? Saya sebagai penumpang tinggal duduk hingga perbatasan, lalu mengurus keimigrasian untuk keluar dari Thailand dan masuk ke Laos kemudian duduk cantik lagi di bus hingga Pakse. Dan tiket bus itu 200 Baht (sekitar 75ribu Rupiah).

Nah yang membuat saya tergoda adalah saya harus menunggu hingga pukul 8.30 lalu sekitar 3 jam perjalanan menjadikan saya baru sampai di Pakse sekitar tengah hari, padahal saya ingin sekali bisa berlama-lama di Wat Phou. Belum lagi dari Pakse ke Wat Phou yang perlu waktu 40 menit sampai 1 jam naik kendaraan umum. Bisa-bisa saya hanya secepat angin berada di Wat Phou…

Jika saya bisa berangkat jam enam pagi dari Ubon, by any means, ke perbatasan lalu secepat kilat mengurus imigrasi karena sebagai penduduk ASEAN kita hanya perlu kurang dari 5 menit untuk cap-cap pada paspor, kemudian berangkat lagi ke Pakse, lagi-lagi by any means… saya pasti lebih cepat mencapai Pakse. Saya tahu ada harga pengorbanan yang harus dibayar, tetapi ketika bicara soal kecintaan pada World Heritage Site tentu akan saya pertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Mungkinkah Semesta mendukung agar saya bisa sampai menjejak di Wat Phou lebih cepat…?

peta
From Ubon to Thai-Laos Border, to Pakse to Wat Phu Champasak

Bisa pergi tapi pulangnya…?

Lalu sampai Pakse apakah masalahnya sudah selesai? Ternyata belum… Untuk ke Wat Phou harus naik bus ke Champasak, sebuah kota kecil dengan satu jalan besar, lalu dilanjutkan naik tuktuk ke Wat Phou. Yang seru, dari Pakse ke Champasak tersedia bus umum namun jadwalnya hanya ada dua kali sehari, pagi dan siang! Demikian juga di Champasak. Akibatnya, kalau terlambat sampai Champasak dari Wat Phou, pilihannya tinggal dua: silakan jalan kaki kembali ke Pakse atau menginap di Champasak! Waaks!

Oh Tuhan, ini di luar dugaan sama sekali. Saya terbiasa dengan banyaknya moda transportasi di wilayah destinasi, kali ini benar-benar di luar perhitungan saya. Bisa pergi, tetapi tidak bisa kembali…?  Luar biasa

Masalah sebenarnya bisa diatasi dengan menyewa motor sekitar 50000 Kips per hari (sekitar US$7) di Pakse, tetapi saya tidak berani mengendarai motor dari Pakse hingga Wat Phou dengan kondisi jalan di kanan dan panaaaaasss luar biasa, juga karena saya sama sekali tidak mengenal wilayah itu sama sekali. Tetapi selalu ada berita baik ketika semua jalan terlihat buntu.  Saya mendapat kabar bahwa kita bisa menyewa tuktuk seharian untuk keperluan itu. Wow… Amazing. Lagi-lagi impian saya terlihat semakin nyata.

Penginapan

Seperti biasanya jika di sebuah kota dekat dengan sebuah World Heritage Site, pastilah di kota itu tersedia hotel berbintang dari yang mahal hingga penginapan murah meriah. Saya selalu memilih penginapan yang memiliki review bagus di dekat pusat keramaian. Tidak terlalu mahal, tapi juga tidak murah juga, dengan demikian saya akan mudah mencari makan atau sekedar jalan-jalan keliling kota.

Tetapi entah kenapa kali ini saya juga menambahkan pencarian apakah penginapan yang saya pesan itu termasuk ghost hotel atau bukan. Bisa jadi karena saya membaca ada sebuah hotel terkenal di Pakse yang dibangun sejak berakhirnya kerajaan di Laos dan ditinggalkan begitu saja dan sekarang digunakan sebagai hotel. Hahaha… mungkin saya salah ya, tetapi segala sesuatu bisa terjadi kan? Benar-benar tidak lucu kan kalau sampai terbangun malam-malam karena melihat yang datang dari alam lain hehehe…

Cerita detail tentang perjalanan di Laos Selatan menyusul ya…