Wisata 24 Jam Di Hpa’an


Hpa’an atau kalau susah bacanya, bisa disebut dengan Pa’an, merupakan ibukota dari Kayin State yang didominasi oleh etnis Karen. Meskipun merupakan ibu kota, tetapi entah mengapa saya merasa Hpa’an merupakan kota kecil. Bisa jadi karena saya tidak menjelajah semua sudut kotanya dan hanya berada di bagian kota yang berada di pinggir sungai Than Lwin yang lebar.

Sebagai kawasan yang banyak didominasi keindahan alam karstnya, Hpa’an memiliki banyak tempat wisata yang sayangnya masih kalah pamor dibandingkan dengan Bagan, Yangon, Mandalay atau Inle Lake. Tetapi sungguh saya tak menyesal telah menjejak di tempat ini, karena memang Hpa’an membuat saya terpesona dan hari itu saya mulai dari…

Gua Kawgun

Pak Ojek yang terlihat sudah setengah baya mengantar saya pertama-tama ke Gua Kawgun yang letaknya tidak begitu jauh dari kota. Bapak Ojek itu seperti pria Myanmar lainnya, mengenakan longjyi saat mengendarai motor. Meskipun memiliki bahasa Inggeris yang terbatas, ia mampu menjadi pemandu untuk semua tempat yang saya kunjungi. Walaupun kadangkala yaa jadi joko sembung alias gak nyambung. Namun saya amat menghargai upayanya untuk memberi penjelasan dan menunjukkan hal-hal yang spesial di setiap tempat.

Sebuah awal yang menyenangkan seperti ice breaker terjadi, ketika sampai di Gua Kawgun.  Jadi, begitu berhenti di tempat parkir motor, saya turun dan langsung nyelonong hendak masuk tanpa melepas helm, yang membuat Pak Ojek itu tersenyum lebar sambil meminta helmnya. Saya ikut menertawakan diri sendiri karena merasa kartun banget 🙂

Dengan donasi 3000 Kyat, saya memasuki Gua Kawgun yang konon ditemukan sejak abad-13. Begitu melewati pembatasnya, saya berdecak kagum, luar biasa sekali. Bayangkan saja, sebelum pintu gua dan juga didalamnya, hampir seluruh dinding tebing yang menjulang itu dipenuhi dengan tatahan relief Buddha images kecil-kecil yang banyak sekali! Dinding sebelum gua itu saja sekitar 30 meter panjangnya dan 15 meter tingginya, belum di dalam guanya.

Saya jadi membayangkan orang yang membuatnya di tebing-tebing itu. Apakah mereka menggunakan tali dan bergantung di dinding tebing? Saya juga membayangkan bagaimana orang yang membuatnya di atas langit-langit gua. Apakah dia mendongak terus menerus atau tiduran? Kalau tiduran bagaimana alasnya? Benar-benar pekerjaan yang tidak mudah.

Belum lagi Patung Buddhanya yang sangat khas Myanmar, sangat besar, lengkap dengan berbagai posisi Sang Buddha,  duduk, berdiri dan berbaring. Ukurannya pasti lebih dari 10 meter! Bayangkan saja, di kota kecil Hpa’an banyak patung-patung berukuran besar, bagaimana dengan kota-kota yang lebih besar?

Tidak hanya menunjukkan tempat-tempat bagusnya, pemandu dadakan saya juga menunjukkan patung-patung kuno yang kelihatannya merupakan patung Hindu dan tersimpan dalam pagar terkunci. Jika saya tak salah mengerti ucapannya, ia mengatakan bahwa semua itu adalah patung-patung kerajaan yang menurut sumber-sumber dari internet, adalah patung-patung Hindu yang masih perlu ditelusuri kebenarannya. Saya agak setengah hati saat meninggalkan Gua Kawgun ini menuju obyek wisata selanjutnya, mungkin karena masih terpesona dengan tatahan relief Buddha yang mencengangkan itu

∞∞♦∞∞

Gua Ya Thay Pyan (Ya Thea Pyan)

Sebenarnya Gua Kawgun dan Gua Ya Thay Pyan bersebelahan bukit, namun tidak ada jalan potong untuk sampai ke sana. Sehingga diperlukan jalan memutar untuk ke Gua Ya Thay Pyan padahal saat itu mentari sudah condong ke Barat. Tetapi justru itu kekuatannya. Perjalanan itu luar biasa dengan pemandangan perbukitan karstnya, yang membentuk gundukan-gundukan tinggi penuh lekuk di hamparan tanah yang datar yang dipenuhi sawah hijau. Cantik!

Rasanya sejuk disambut kolam di depan gua, -yang letaknya agak lebih tinggi-, apalagi Gua Ya Thay Pyan yang dikenal juga sebagai Gua Pertapa itu menghadap Timur. Pelan-pelan saya menaiki tangga yang terbuat dari semen dan menjumpai banyak patung Buddha diantara pohon-pohon berbunga cantik.

Di muka gua banyak tempat dijadikan tempat ibadah dengan patung Buddha dari berbagai ukuran hasil donasi umat Buddha sejak abad-17. Cahaya yang semakin sedikit saat menjelajah makin ke dalam badan gua, membuat saya cukup kesulitan mengambil gambar. Namun makin ke dalam makin seru bentuknya, karena dalam jutaan tahun alam membentuk stalagtit dan stalagmit yang menarik hati. Di beberapa tempat terdapat tatahan Buddha kecil-kecil pada dinding seperti di gua Kawgun, yang menunjukkan gua ini sudah lama dieksplorasi manusia. Sayangnya saya tak dapat menemukan Buddha Image yang dipercaya berasal dari abad-13.

Manusia memang tak terduga ya karena saya sampai harus mengerjapkan mata menembus kegelapan saat pemandu menunjukkan adanya orang yang duduk sendirian di hamparan cairns (tumpukan batu pipih). Meskipun pengemudi ojek yang sekaligus jadi pemandu mengatakan orang itu hilang ingatan, saya memilih untuk berpikir dia sedang meditasi (dan terus berpikir dia manusia juga 😀 )

Banyak penduduk lokal yang mengeksplorasi gua seperti saya, termasuk rombongan laki-laki yang tampak seperti model dan  selalu riuh saat berfoto. Meskipun penampilannya bagus, bagi saya cuma satu: Brisik! Benar-benar membuat ilfil.

Saya terus berjalan dengan kaki telanjang (karena gua ini dianggap suci, jadi harus lepas sepatu) dengan cahaya dari lampu listrik yang dipasang dalam jarak tertentu. Hingga suatu saat mulai terasa terang yang berasal dari sinar matahari. Waw, ternyata gua ini memiliki dua muka yang tembus ke belakang dan pemandangannya indah sekali dengan hamparan sawah hijau. Mulut gua sebenarnya tinggi dari permukaan tanah sehingga dibuat jembatan setapak yang terbuat dari besi yang mengarah kepada  sebuah pelataran dengan patung Buddha hitam di tengahnya. Meskipun pemandangannya indah, saya tak bisa lama-lama di sana, karena sinar matahari terasa memanggang luar biasa.

Tak tahan akan panasnya, saya langsung kembali setelah puas memandangi pemandangan dari ujung gua. Belum lama berjalan, mendadak listrik padam membuat kegelapan total di depan. Saya langsung berhenti dan memilih kembali ke arah sedikit terang di belakang. Tak mungkin melanjutkan perjalanan dalam gelap. Tak mungkin juga menggunakan senter ponsel karena batere yang sudah sekarat. Saya tertawa menikmati suasana gelap bersama pemandu saya. Bau kotoran kelelawar memenuhi hidung. Ugh, mudah-mudahan mereka tetap diam menggantung di atas. Semenit… Lima menit… sepuluh menit, menunggu itu memang tak menyenangkan…

Sejenak saya berdoa agar listrik dapat berfungsi kembali dengan cepat dan Tuhan Yang Maha Baik mengabulkan doa saya karena tak lama kemudian listrik menyala kembali. Sesaat saya menyadari sesuatu tentang diri sendiri bahwa sebenarnya saya takut gelap. Momen sesaat itu mengingatkan dan membuat keputusan rasanya cukup untuk mengeksplorasi gua-gua di Myanmar. Tapi bagaimana mungkin? Wisata utama Hpa’an adalah gua dan saya tak bisa lari dari kenyataan itu. Saat menunggu dalam gelap itu, terlintas juga pikiran buruk bagaimana seandainya petugas yang mengurus listrik itu memilih pulang lebih cepat karena hari sudah sore dan membiarkan saya semalaman dalam gelap di gua? Hiii…

Pengalaman menunggu dalam temaram di gua itu membuat saya hampir menolak untuk berkunjung ke destinasi berikutnya, tapi…

∞∞♦∞∞

Kyauk Ka Lat (Kyauk Kalap) Pagoda

Pemandangan menuju Kyauk Kalap Pagoda sangat memanjakan mata dengan hijaunya pemandangan sawah. Duh, sebersit rindu muncul tiba-tiba akan hamparan sawah di tanah air! Lalu suasana jelang sunset semakin jelas. Ah, sepertinya tak akan bisa mengejar sunset di Kyauk Kalap, yang terkenal indah. Pak Ojek menghentikan motornya sejenak agar saya bisa menikmati matahari menghilang di balik bukit dari pinggir jalan.

DSC07757
Sunset – Hpa’an
DSC07774
The view over the Bridge – Hpa’an

Setelah melewati jembatan di atas Sungai Than Lwin dengan langit keemasan itu, akhirnya saya sampai di Kyauk Kalap Pagoda yang bentuknya sangat mencengangkan. Seandainya hari belum gelap, saya tentu bersedia untuk naik ke atas Pagoda yang berada di puncak batu limestone yang tegak menjulang itu. Pasti keren berada di atas, meskipun katanya, jalan naiknya agak mengerikan…

Matahari belum lama tenggelam kan, jadi pantulan lampu dan warna langit masih cantik, membuat saya merasa nyaman berada di sana. Rasanya indah berada pada waktu yang tepat dengan segala keindahan.

Dan untuk menghemat waktu, saya berjalan menuju kuil baru yang ada di sebelahnya. Bentuk atapnya sangat indah seperti pura di Bali. Tak jauh dari altar utama yang berisikan patung Buddha yang besar, ada sebuah tempat yang juga penuh bunga-bunga persembahan dengan sebuah patung berjubah maroon di dalamnya. Pastinya orang penting semasa hidupnya. Pak Ojek berusaha memberi tahu saya siapa dia, namun kali ini sepertinya jadi Jaka Sembung, alias gak nyambung… karena ia mengatakan dalam bahasa seadanya dan saya mengartikan bahwa patung itu adalah patung Raja Thailand Bhumibol Adulyadej yang baru saja mangkat. Ah, bisa benar, bisa salah… meskipun memang saya melihat ada banyak tulisan Thai di sana. Benar atau Salah ya?

Sayangnya, karena hari sudah terlalu gelap, saya memilih kembali ke penginapan untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

∞∞♦∞∞

Mahar Saddan Cave

Keesokan harinya, belum terlalu siang ketika saya sampai di Saddan Cave, gua terbesar yang ada di daerah Hpa’an. Perjalanan yang cukup menyenangkan untuk sampai ke tempat ini yang memerlukan waktu sekitar 1 jam dengan motor melalui jalan yang beraspal dan jalan tanah yang dikeraskan. Gua Mahar Saddan ini dipercaya oleh orang lokal memiliki legenda suci tentang kehidupan Raja Gajah sampai mangkatnya dan menerima karma dengan ikhlas (baca post saya sebelumnya tentang Kisah Raja Gajah Di Gua Saddan)

Setelah membayar donasi 4000 Kyat, saya mulai naik tangga (dan setiap naik tangga yang lumayan tinggi untuk sampai ke monastery, saya selalu teringat tangga-tangga jahanam di Annapurna! 😀 ). Namun begitu masuk di mulut gua, wuih saya senang sekali karena melihat patung merak! Sebagai penggemar merak, tentu tak boleh dilewatkan. Gua Saddan ini memiliki rongga yang sangat besar dan sejuk! Benar-benar menyenangkan apalagi tidak begitu banyak orang.

Pada dindingnya ada tatahan Buddha kecil-kecil yang membentuk gambar katak, gajah dan lain-lain. Di sudut lainnya terdapat Buddha Berbaring. Tampak beberapa orang sedang beribadah di sana.

Saya meneruskan perjalanan yang semakin menanjak. Di gua ini dipasang lampu-lampu listrik sebagai penerangan. Jadi lumayan enak meskipun terasa aneh karena kehilangan rasa alamnya. Dan sedihnya lampu kelap-kelip itu membuat suasana seperti di pasar malam.

Setelah berjalan beberapa lama, di beberapa tempat terdapat mulut-mulut gua yang menurut legenda dilubangi oleh Thaw Note Ta Ra atau Sonuttara, yang sesuai kisah legenda Raja Gajah Chaddanta. Ah, mendadak kunjungan ke gua ini terasa manis dengan adanya kisah tentang karma. Dari kisah-kisah Hindu atau Buddha, cerita mengenai karma ini mengesankan hati saya karena menggambarkan keikhlasan hati menerima akibat semua perbuatan.

Terlepas dari legenda yang melingkupi gua ini, saya suka dengan alur-alur yang dibuat alam di dalam gua ini. Jelas sekali batas air yang membentuk gua dengan indahnya. Stalagmit dan Stalagtit yang besar-besar dan indah menunjukkan kehebatan alam dalam berproses secara konsisten. Di ujung gua terdapat danau yang katanya bisa digunakan untuk berperahu namun saya memilih jalan kaki kembali sambil berdoa agar listrik berfungsi baik. Benar-benar saya tak ingin pengalaman kemarin terulang.

DSC07879
Saddan Cave

Meninggalkan Saddan Cave, saya kembali menikmati perjalanan menuju gua yang lain lagi. Sambil berpanas-panas menyusuri jalan aspal, meskipun tidak begitu lama akhirnya saya sampai di gua berikutnya.

∞∞♦∞∞

Gua Kaw Ka Thaung 

Di dalam gua ini sebenarnya tidak terlalu spesial karena lebih diutamakan sebagai tempat ibadah dengan berbagai patung Buddha dengan lantai keramik. Hanya saja gua ini dikenal dengan relikui tulang-nya yang sangat disakralkan. Sebenarnya ada beberapa jalan ke gua lain, namun menurut buku Lonely Planet yang saya baca, ada satu jalan yang ditutup karena seorang biksu menemukan kond*m bekas di gua lanjutan ini! Padahal tempat ini masih harus lepas sepatu lho, yang tentunya artinya masih area tempat suci! Ampuuun…

Di dinding gua juga terdapat tatahan Buddha yang kecil-kecil menghias penuh. Saya terkagum-kagum dengan orang yang membuatnya, yang pasti dengan sabar.

Di luar gua terdapat taman asli lengkap dengan patung-patung Nat dan Patung Buddha dalam berbagai posisi termasuk dalam keadaan pindapatta dengan pengikutnya yang turun dari atas bukit. Namun di luar pagar monastery, pemandangannya lebih cantik, karena terdapat banyak sekali patung pengikut Buddha yang didirikan berderet panjang sekali sepanjang jalan. Saya minta kepada Pak Ojek untuk mengantar saya sampai ke ujung akhir barisan itu, hanya ingin tahu saja siiih…

∞∞♦∞∞

Gua Kaw Ka Thaung ini menjadi gua terakhir yang saya kunjungi di kawasan Hpa’an. Sepertinya waktu berkunjung di Hpa’an sudah berakhir. Saat itu sudah tengah hari, waktunya untuk melanjutkan perjalanan ke Mawlamyine. Saya belum tahu harus naik apa, mungkin naik bus lagi karena tak mungkin naik public boat yang biasanya berangkat pagi. Perjalanan penuh kejutan pasti menanti di depan…

Reclining Buddha Win Sein Taw Ya Yang Mencengangkan


DSC08117
Reclining Buddha Win Sei Taw Ya

Patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya yang ada di selatan Mawlamyine, akhirnya menjadi nomor dua terbesar di dunia setelah dikalahkan oleh patung serupa yang dibangun di Yiyang, Jianxi,  China (yang belakangan ini tidak tanggung-tanggung untuk menjadi nomor satu, karena patung Reclining Buddha ini dibentuk mengikuti kontur bukit!). Meskipun demikian, Reclining Buddha Win Sei Taw Ya berhasil membuat saya benar-benar tercengang.

Memiliki ketinggian sekitar 30 meter dengan panjang 180 meter, rasanya mal Plasa Senayan yang sudah khatam saya kelilingi saja masih lebih kecil dari patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini. Juga karena besarnya, saya teringat akan patung-patung serupa yaitu The Shwethalyaung Buddha (55 meter) dan Naung Daw Gyi Mya Tha Lyaung (75 meter) yang ada di Bago (baca: trip saya di Bago). Bandingkan dengan Wat Pho yang ada di Bangkok yang memiliki panjang 46 meter.

Untuk sampai ke sini, saya menyewa tuk-tuk dari Mawlamyine. Sebenarnya bisa juga naik bus dari Mawlamyine jurusan Mudon, namun harus jalan kaki lagi dari pinggir jalan raya ke arah monastery ini sekitar 20 menitan. Terus terang saya malas, karena matahari bulan April gaharnya setengah mati dan tidak ada keteduhan sepanjang jalan menuju patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya. Untungnya jika jalan kaki, bisa menikmati lebih lama puluhan patung pengikut Buddha yang didirikan berbaris panjang sekali di pinggir jalan.

DSC08128
Patung-patung biksu sepanjang jalan

Memasuki kawasan monastery, saya bisa melihat patung besar lainnya di kejauhan yang nantinya saya lihat juga dari pelataran atas patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini. Selain sebuah tempat ibadah lain yang dindingnya berwarna hijau tampak menyambut di kawasan ini.

Untunglah pengemudi tuktuk yang saya sewa dari Mawlamyine, menurunkan saya di dekat pintu masuk Patung Reclining Buddha itu karena matahari terik bukan main. Saya hanya perlu menaiki sejumlah tangga untuk memulai perjalanan ke dalam tubuh patung itu, yang semoga saja cukup sejuk. Paling tidak saya tidak terpanggang di bawah matahari bulan April.

Tentu saja kawasan ini adalah kawasan tempat ibadah sehingga langsung saja sepatu masuk kantong dan disimpan ke ransel selama berkeliling di dalam bangunan patung.

Saya belum masuk ke bagian Kepala dari Buddha, tetapi dari tempat ini sudah terasa tinggi. Ada lubang-lubang ventilasi melengkung untuk melihat-lihat keluar. Pemandangannya lumayan cantik (seandainya tidak begitu terik, pastilah pemandangannya sangat indah). Sambil tersenyum, saya juga bisa melihat patung besar di kejauhan yang tadi dilihat ketika datang. Di Myanmar memang banyak sekali patung-patung Buddha yang sangat besar, seakan menunjukkan betapa besar cinta mereka kepada Sang Buddha.

Saya menaiki tangga dan melewatkan sebuah altar yang cukup besar dan sedang digunakan untuk beribadah. Seperti biasa, di belakang kepala Sang Buddha dipasang lampu berkelip-kelip yang penuh makna. Tak ingin mengganggu mereka yang sedang beribadah, saya melangkah ke pelataran. Kali ini saya terkejut lagi.

Saya berada di alas kepala atau sekitar telinga Sang Buddha yang lekukannya saja sebesar bak mobil pickup, namun bukan itu yang mengejutkan saya. Di seberang patung yang saya naiki ini terdapat patung serupa yang besarnya juga serupa namun sayangnya keadaannya sudah terbengkalai. Sayang ya… Seakan dibuat untuk ditinggalkan, mungkin karena keterbatasan dana. Saya membayangkan seandainya patung itu jadi, tentu amat menarik. Dua patung Reclining Buddha yang sangat besar saling berhadapan!

DSC08095
Unfinished Reclining Buddha

Puas memandangi sekitarnya, saya melanjutkan mengeksplorasi bagian dalam tubuh yang berisikan serangkaian kisah-kisah Sang Buddha dalam bentuk patung-patung seukuran manusia. Sayangnya sama sekali tidak ada penjelasan, bahkan penjelasan dalam bahasa Myanmar pun jarang. Bisa jadi karena dianggapnya penduduk lokal memahami langsung saat melihat patungnya.

Sebagai non-Buddhist saya hanya bisa mengenal beberapa adegan saja, itupun pakai ilmu ajib dari jaman dulu: ilmu kira-kira nan duga-duga. Seperti adegan ketika ibunda Siddharta Gautama memegang dahan pohon Shala saat melahirkan pangerannya yang akhirnya nanti menjadi Sang Buddha. Juga saat Sang Buddha kecil menunjuk ke atas yang melambangkan kehadiran Yang Tercerahkan. Ada lagi patung yang mengisahkan saat Buddha bermeditasi. Di tempat ini saya agak ragu apakah Sang Buddha sedang digoda atau memang diberi makanan oleh pengikut setianya.

Masih banyak patung-patung lain seukuran manusia dalam ruang-ruang yang dibuat agak bersekat. Masih banyak yang belum selesai pengerjaannya sebagaimana bangunan patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini juga masih terus disempurnakan. Di beberapa tempat saya harus berhati-hati karena proses konstruksi masih berjalan, seperti tangga yang belum dipasang pegangannya, atau lantai yang belum dipasang ubinnya, pintu yang belum terpasang, atau steger (scaffolding) yang masih terpasang pada dinding dll. Bau cat juga tercium dimana-mana dan kaki kadang terasa sakit karena tertusuk kerikil-kerikil semen yang mengeras.

Bahkan kadang-kadang saya agak seram juga karena sendirian dalam ruangan hanya ditemani patung-patung seukuran manusia. Kalau sudah begitu biasanya saya cepat-cepat berpindah ruangan. Lhah kalau matanya mendadak bergerak bagaimana? Hiiiii…. Kan di tempat itu dipajang juga segala macam makhluk-makhluk pengganggu manusia yang seram bentuknya…

Makin ke arah kaki, bangunannya semakin tak jelas dan terus dalam proses pembangunan. Patung-patungnya pun sudah terbentuk tapi belum diwarnai. Saya sempat melihat posisi Buddha Parinirvana yang belum selesai.

Merasa sudah melihat isi tubuh dari bangunan patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya secara maksimal, mulailah saya mencari jalan keluar. Masalahnya tidak ada rambu EXIT atau tanda-tanda jalan keluar. Yang pasti tidak sama dengan jalan masuknya. Lagi pula saya ingin sekali mengambil foto patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya secara utuh dari depan. Saya menggunakan metode yang selalu sukses: Mengikuti orang lokal. Kali ini juga berhasil meskipun saya harus melompati bambu yang dipasang melintang di pintu setinggi satu meter! 😀 😀

Saya menyeberang turun untuk mencapai ujung jembatan. Saya berhenti sebentar di sana memperhitungkan panasnya lantai jembatan yang telah dipanggang matahari bulan April. Lalu secepat kilat saya berlari menuju ujung jembatan di seberang. Telapak kaki terasa terbakar.

Sambil mendinginkan rasa terbakar pada telapak kaki, di ujung jembatan saya mengambil foto. Wah, ternyata bulu mata Sang Buddha dibuat sangat jelas dan lentik. Mendadak saya terpikir jika mata Sang Buddha terbuka dengan bulu mata yang lentik berarti posisi ini menunjukkan Buddha sedang istirahat, bukan parinirvana. Ah sepertinya saya ini sotoy banget…

Dari tempat yang sama saya bisa juga melihat jari-jari kaki Sang Buddha yang kukunya dicat berwarna pink. Saya langsung mengingat-ingat apakah patung serupa di Bago juga memiliki kuku berwarna merah muda. Tetapi mungkin saja, warna ini memiliki nilai atau makna tersendiri. Tetapi dari sini dapat dibandingkan besarnya kaki patung Buddha dengan rumah ukuran normal.

 

Matahari belum juga mereda mempertunjukkan kekuatan panasnya sehingga saya memutuskan menyelesaikan kunjungan. Masih ada tempat-tempat lain di Mawlamyine yang harus dikunjungi.  Saya melepas pemandangan dari atas. Meskipun panas, pemandangan dari tempat saya berdiri tetap mengesankan. Sambil menuruni tangga pulang, saya kembali menoleh ke arah patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya memberi salam perpisahan.

Sampai ketemu lagi, kapan-kapan…

DSC08116
The View

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-46 ini bertema Huge agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Kisah Raja Gajah Di Gua Saddan


Salah satu gua yang saya kunjungi selama di Hpa’an, Myanmar adalah gua Saddan atau kadang disebut juga Mahar Saddan. Gua ini merupakan gua terbesar di Kayin State dan nomor 5 terbesar di Myanmar. Tidak heran, karena Hpa’An merupakan kawasan wisata yang terkenal karena pemandangan alamnya yang unik akibat bentukan bukit-bukit karst. Dan namanya gua di Myanmar, biasanya digunakan juga sebagai tempat ibadah sehingga kita harus lepas sepatu, bahkan saat menjelajah gua yang sepanjang 800 meter yang juga dihuni oleh kelelawar dan segala macam makhluk hidup penghuni gua. Terbayang kan bagaimana jalan di dalam gua tanpa alas kaki?

Gua Saddan, -artinya gajah dalam bahasa lokal-, dinamai demikian karena ternyata memiliki kisah penuh makna dibaliknya. Tentu saja seperti yang biasa terjadi  di negara mayoritas Buddhist ini, kisahnya selalu dikaitkan dengan kehidupan Buddha atau pengikut utamanya.

DSC07835
The Hole drilled by Sonuttara, Saddan Cave, Hpa’an, Myanmar
DSC07855
The Hole of Saddan Cave, Hpa’an, Myanmar

Alkisah di tempat ini berkuasalah Raja Gajah Chaddanta Jataka, yang dipercaya merupakan satu dari kehidupan Buddha sebelumnya. Gajah Chaddanta merupakan salah satu ras yang paling langka dan dianggap oleh banyak orang sebagai kelas gajah tertinggi. Gajah-gajah ini memiliki penampilan yang amat unik, dengan tubuh yang berwarna putih murni disertai kaki dan wajah berwarna merah tua dan memiliki dengan enam gading. Disebutkan pula Raja Gajah Chaddanta memiliki dua ratu gajah, yang masing-masing bernama Mahasubhadda dan Chullasubhadda.

Suatu hari, Raja Gajah Chanddanta ingin memberikan bunga kepada para ratu gajah, namun tanpa diketahui Sang Raja, dalam bunga yang diberikan kepada Chullasubhadda terdapat semut merah, yang akhirnya menggigit Ratu Gajah itu. Oleh karena gigitan semut merah itu, Chullasubhadda terkejut dan bergerak, akibatnya seluruh daun kering, ranting dan semut merah yang berasal dari pohon semuanya menimpa Chullasubhadda. Berbeda dengan yang dialami oleh Chullasubhadda, bunga-bunga indah dan serbuk sari dari bunga memenuhi Mahasubhadda, Ratu Gajah yang lain. Melihat perbedaan itu, Chullasubhadda menjadi sangat marah dan bersumpah untuk membalas dendam pada Raja Gajah Chaddanta.

Waktu berlalu tanpa kejadian berarti yang menimpa Raja Gajah Chaddanta. Namun setelah Chullasubhadda meninggal, dia bereinkarnasi menjadi seorang putri raja yang akhirnya dipinang oleh seorang Raja dan iapun menjadi seorang ratu. Takdir berjalan sesuai waktunya sehingga pada suatu hari Sang Ratu mengajukan permohonan yang tidak biasa. Ia menginginkan gading Raja Gajah Chaddanta. Karena cintanya, Sang Raja mengirim Pembantu Utamanya yang bernama Thaw Note Ta Ra atau Sonuttara untuk mencari gading tersebut. Karena ia sangat patuh kepada Rajanya, Sonuttara berangkat sendiri dan mencari Gajah Chaddanta. Ia sendiri memerlukan waktu hingga tujuh tahun untuk menemukan Raja Gajah Chaddanta.

Setelah menemukannya, Sonuttara menyusun rencana dengan menggali lubang di sebelah gua yang didiami oleh Chaddanta. Lubang galian itu dikamuflasekan dengan cara menutupinya dengan ranting-ranting dan daun kering serta cabang-cabang kecil lainnya. Kemudian Sonuttara bersembunyi di dalam lubang dan menunggu.

Hingga suatu saat, Raja Gajah Chaddanta menerobos lubang yang dibuat oleh Sonuttara sehingga tanpa ragu Sonuttara langung memanah Raja Gajah Chaddanta dengan anak panah yang beracun. Sambil menahan sakit akibat racun anak panah, Raja Gajah Chaddanta mencari orang yang memanahnya dan ketika ia menemukan Sonuttara, Raja Gajah Chaddanta pun mengangkat Sonuttara dengan belalainya. Kemudian Raja Gajah itu bertanya mengapa Sonuttara melakukan hal keji ini. Ditanya demikian, Sonuttara menjelaskan ia harus mematuhi perintah Rajanya, karena Sang Raja ingin sekali memenuhi permintaan Sang Ratu.

Sambil tercenung, Raja Gajah Chaddanta menyadari bahwa hal ini merupakan bentuk nyata dari sumpah Chullasubhadda atas insiden semasa hidupnya dulu. Raja Gajah Chaddanta memahami bahwa waktunya telah tiba untuk mati. Ia pun rela memberikan gadingnya kepada Sonuttara untuk kemudian menyerahkannya kepada Raja dan Ratu.

Duh, saya jadi ikut melow dengan akhir ceritanya…

Bisa jadi karena saya selalu terkesan pada kisah-kisah orang yang menerima semua akibat perbuatannya dengan ikhlas dan rela. Meskipun tidak sengaja atau tidak berniat (tetapi bukankah semua peristiwa terjadi bukan karena kebetulan?). Bagi saya sih pembelajarannya, sebaiknya kita tidak berlaku tak adil kepada orang lain dan berbuat sebaik mungkin, meskipun kita tak pernah bisa menyenangkan semua orang.

Selain itu, pelajaran penting lainnya sih hanya satu yaitu jangan menyakiti hati perempuan di luar batasnya, ketika ia patah dan bersumpah pasti akan terjadi ! 🙂

Anyway, menjelajahi gua Saddan tetap menyenangkan meskipun harus telanjang kaki sepanjang perjalanan yang kadang-kadang menginjak juga yang lembut-lembut atau kerikil yang tajam-tajam. Saya tidak mau berpikir lebih jauh tentang apa itu….

DSC07860
The end of Saddan Cave, Myanmar

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-43 ini bertema Lubang agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Myanmar – Mereka Yang Bersilang Jalan


7

One of the great things about travel is that you find out how many good, kind people there are – Edith Wharton

Matahari telah tinggi saat saya meninggalkan penginapan di Golden Rock menuju terminal truk dan saya cukup kaget mengetahui ternyata rute truk dari Golden Rock tidak melulu ke Kinpun! Uh, betapa naïve-nya saya! Mana dimana-mana tulisannya meliuk-liuk seperti cacing, saya hanya bisa berdiri pasrah melihat orang lalu lalang. Bisa jadi karena akhir pekan, suasana terminal bisa dibilang padat. Seketika saya melipir mengamati situasi dan Alhamdulillah, mata ini menangkap orang yang kelihatannya merupakan pengatur perjalanan truk. Semoga ia bisa membantu saya.

Saya mendatanginya lalu bertanya, “Kinpun?”

Seperti pria Myanmar lainnya, ia mengenakan longjyi lalu sekilas memperhatikan saya dan menyimpulkan saya turis. Tak banyak kata, ia menunjuk tempat truk yang ke Kinpun dan meminta saya berjalan memutar supaya bisa naik tangga. Untunglah, truk sudah hampir penuh dan saya masih bisa duduk menyempil di pinggir bersebelahan dengan ibu-ibu berbadan besar.

Tak lama, dimulailah perjalanan menuruni gunung. Kali ini terasa lebih mengerikan dibandingkan ketika berangkat, mungkin karena gravitasi sehingga kendaraan terasa lebih cepat, atau bisa juga karena jurang dan tikungan seperti huruf U itu lebih terlihat saat jalan menurun. Saya hanya bisa berdoa semoga rem truk berfungsi baik dan cepat sampai ke Kinpun karena saya lebih sering tergencet oleh ibu-ibu sebelah saat truk berbelok di tikungan…dan saya teringat ayam penyet! 😀

Perjalanan menuju Kinpun lebih cepat daripada ketika berangkat, tapi jangan harap berhenti di terminal truk seperti saat berangkat. Itu masih beberapa ratus meter! Jadi saya harus clingak-clinguk mencari tempat bus parkir. Asli, bus kalau sedang dicari tak pernah nampak hidungnya! Saya jalan lurus saja padahal tak tahu arah. Jika tersesat ya balik lagi! Lagi-lagi saya tersenyum sendiri, siap menerima semua kejutan yang terjadi hari ini.

Rupanya kedua kaki ini mengarahkan tepat menuju terminal bus dan ternyata memang ada bus yang siap berangkat. Dan pastinya lewat Kyaikto. Horeee! Sambil membeli tiket ke Kyaikto, saya mencoba peruntungan tiket bus lanjutan ke Hpa’an. Ternyata petugas tiket bisa mengaturnya. Tambah horeee… Tidak ragu saya langsung naik ke bus yang termasuk kategori bus scania (double deck) yang lumayan bagus.

kinpuntokyaikto-e
Scania Bus (Double Deck) from Kinpun to Kyaikto

Perjalanan dari Kinpun menuju Kyaikto tidak sampai 1 jam. Kenek bus memberitahu saya saat harus turun di Kyaikto! Benar-benar turun di pinggir jalan, -bukan di halte atau terminal-, dan harus menunggu bus yang lewat untuk ke Hpa’an. Mau komplain? Tidak! Ini seru!!!

Di tempat saya diturunkan itu, -katakanlah halte dadakan-, ada seorang anak muda yang melayani penumpang yang diturunkan seperti saya ini. Selain saya, ada 3 orang lainnya yang merupakan orang lokal dan mereka berceloteh dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Tiba-tiba anak muda itu menyodorkan kursi kepada saya untuk duduk. Aduh, saya terharu dengan pelayanannya.

Tetapi pelayanan itu masih harus dibuktikan dengan adanya bus ke Hpa’an, kan? Mata saya tak mau lepas dari si anak muda, satu-satunya orang yang tahu saya sudah bayar transportasi untuk ke Hpa’an. Dan apa yang saya takutkan terjadi juga. Setelah ketiga orang lokal itu mendapat busnya, si anak muda pun ikut kabur naik motornya. What? Lalu saya gimanaaaaa..?

Bahkan saya tak sempat berdiri untuk mengejarnya. Alih-alih ngomel berkepanjangan, secara intuitif saya mencoba sabar dan mengamati situasi. Tiiiing! Saya tersadar beberapa kali mengalami hal serupa ini dalam hidup, sebuah situasi ‘chaos’ lalu diikuti oleh “kunci penjelasan”. Hanya dengan duduk diam mengamati situasi setelah chaos terjadi. Menunggu “sang kunci” datang. Satu, dua, tiga menit berlalu, rasanya lama sekali, seperti menunggu kekasih datang! Dan menit ke lima, kesabaran saya berbuah hasil, si anak muda datang kembali bersama motornya.

Ketika ia sudah memarkir motor, saya langsung mendatanginya dan mengingatkan bahwa saya belum mendapat bus ke Hpa’an. Ia mengangguk memahami dan saya membayangkan dia bicara, don’t worry, the bus will come  😀

Entah berapa lama saya menunggu di bawah pohon di depan sebuah kios, akhirnya dengan tergopoh-gopoh dia mendatangi dan meminta saya bersiap-siap. Saya langsung berdiri menyambar ransel lalu mengejar dia yang secepat kilat sudah berada di tengah jalan! Untung tidak ada lalu lintas sehingga saya bisa langsung menyeberang.

Bus jenis scania itu berhenti di pinggir seberang, pemuda tadi bertransaksi dengan orang yang sepertinya kenek bus. Sambil melambaikan tangan mengucapkan terima kasih, saya naik ke dalam bus, berdiri di depan menghadap para penumpang hanya untuk melihat tidak ada satupun kursi yang kosong! Celaka! Bagaimana ini? Apakah saya harus duduk di bangku ‘baso’, seperti yang sering terjadi di Myanmar?

Kenek yang tadi bertransaksi dengan si pemuda, berbicara tak jelas dalam bahasa Myanmar dan setengah memaksa saya untuk berjalan lebih ke dalam lalu ia membuka lipatan yang ada di bagian luar lengan kursi lorong. Itu dia bangku ‘baso’-nya! Bukan seperti bangku baso yang ada di Indonesia yang terbuat dari plastik dan tidak nyaman, bangku ‘baso’ di bus ini empuk. Jadi sambil memeluk ransel, sekarang saya bisa duduk enak dan nyaman di tengah. Sebagai turis, -apalagi mengenakan topi genit-, saya tahu saya sedang menjadi pusat rasa ingin tahu dari banyak penumpang lain, tapi dengan santainya saya mengabadikan situasi tempat duduk yang menurut saya hanya ada di Myanmar! Hehehe…

Bus berjalan lagi melewati desa demi desa, satu persatu penumpang naik dan mengisi tempat duduk tambahan di depan saya. Lalu setelah beberapa lama, penumpang di belakang saya hendak turun dan seluruh penumpang kursi tengah yang duduk sepanjang lorong harus berdiri memberi jalan. Baiklah, harus bagaimana lagi?

Tapi percayalah, sebagai traveler kita selalu mendapat kebaikan dari orang-orang lokal. Sebagai orang asing, -dianggap sebagai tamu sesuai adat ketimuran-, saya dicarikan tempat duduk yang bukan di kursi tambahan. Meskipun saya sendiri tidak masalah duduk di kursi tambahan, namun sepertinya mereka ingin memberikan yang terbaik. Penumpang yang lebih muda diminta mengalah untuk duduk di kursi tambahan itu. Tidak ada yang protes, semua senang, apalagi saya. Tapi saya ditempatkan di sebelah laki-laki muda.

Saya ragu-ragu untuk mendudukinya mengingat adat dan tradisi yang berlaku, karena di Myanmar biasanya perempuan dan pria yang tidak saling kenal duduk terpisah lorong dan tidak bersebelahan. Tetapi sang pemuda sepertinya tidak keberatan, ia sedikit bergerak memberikan keleluasaan untuk saya. Saya tersenyum padanya sambil mengatakan terima kasih.

Bus bergerak lagi. Di barisan belakang ada seorang isteri yang kelihatannya mabuk. Tak henti-hentinya ia berusaha mengeluarkan angin dari dalam tubuhnya dan sekali-sekali memuntahkan isi perutnya. Baunya ya… seperti biasa, menyebar ke seluruh bus. Mau complain? Duh, rasanya mendadak di hadapan muncul Guru Tak Kasat Mata memberi wejangan tentang pembuktian compassion kepada yang sedang menderita! 😀

Sambil mengisi waktu, saya melihat-lihat kembali foto-foto yang ada di kamera dan senyum-senyum sendiri mengingat setiap peristiwanya. Pemuda di sebelah saya sepertinya mengintip juga lalu membuka pembicaraan yang akhirnya kami ngobrol panjang lebar. Juga ibu-ibu yang ada di seberang lorong. Wah saya punya teman ngobrol banyak. Semuanya ingin tahu, mengapa saya melakukan perjalanan sendiri, sudah kemana saja, soal keluarga, dimana mereka, dan banyak lagi. Wajah mereka semakin cerah dengan mata berbinar ketika mereka tahu saya mengunjungi Myanmar bukan yang pertama. Rasanya bukan mereka saja yang gembira karena saya juga gembira bercerita tentang pengalaman saat kunjungan pertama dan melihat perkembangannya yang baik pada kunjungan kali ini. Siapa sih yang tidak senang mendengar kisah perkembangan yang baik?

Dan bahkan pemuda tidak diketahui namanya itu, juga memberitahu saya untuk mencari tahu lokasi terdekat dengan hostel untuk turun dari bus karena bus tidak akan masuk ke terminal Hpa’an. Ia juga membantu saya mencarinya melalui google maps-nya. Dan 5 menit sebelum berhenti, saya mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang menjadi teman baru selama perjalanan ke Hpa’an dan berjalan mendekat ke pengemudi. Lagi-lagi saya turun di pinggir jalan. Semoga google-maps benar!

Saya berdiri sejenak menunggu bus berlalu dan berpikir, ini kiri atau kanan? Sambil melakukan positioning arah saya melihat sekitarnya dan voilaaa…! Itu dia hostel boutique yang cantik, tempat saya menginap di Hpa’an.

Tak sampai 80meter berjalan, saya memasuki hostel dan disambut oleh perempuan bertubuh kecil yang bicaranya cepat, dan tidak begitu ramah. Ah, rupanya dia yang ditandai oleh beberapa tamu yang memiliki kesan yang sama, bicara cepat, efisien, informatif namun tidak begitu ramah. Bagi saya, dia seorang perempuan yang sedang bekerja untuk hidupnya dengan muka datar, tak perlu basa-basi. Itu pilihannya. Namun jika saya boleh memilih, kelihatannya resepsionis yang berdiri di sebelahnya lebih menyimpan perhatian. Dari sorot matanya, saya tahu dia bisa diandalkan.

*

Di hostel kecil yang cantik ini saya memesan kamar privat yang mungil dan bercitarasa tinggi meskipun jendelanya kecil dan pemandangannya secuil sungai. Semua sudah sempurna, lagi pula hanya sehari di sini dan lebih banyak keluar. Saya membersihkan diri sejenak lalu menatap keluar jendela. Matahari masih terang benderang sehingga punya banyak waktu untuk mengunjungi beberapa tempat wisata Hpa’an.

Saya merebahkan diri sejenak, bersyukur telah sampai di Hpa’an sambil berpikir mau kemana dan mengingat kembali orang-orang yang telah bersilang jalan dalam kehidupan saya hari itu. Tapi merebahkan diri itu tindakan salah besar karena udara sejuk dari AC mendinginkan badan yang membuat saya tertidur lelap… Ampun!

Keikhlasan Dalam Lemari Kaca di Sudut Sepi Pagoda


Pagoda Phaung Daw Oo memang terkenal di Danau Inle, Myanmar. Hampir semua turis yang menyempatkan diri mengelilingi Danau Inle, biasanya berhenti di Pagoda ini. Termasuk saya, yang tidak hanya mengunjungi Pagoda  pinggir danau yang hingga kini menyimpan 5 buah Buddha Image berlapis emas, tetapi juga sempat-sempatnya mengambil uang melalui ATM di sini (kebayang kan, di Myanmar, lalu kota  pinggir danau itu hanya kota kecil, dan untuk sampai ke Pagoda harus menyeberangi danau besar itu sampai ke desa, nah itu lokasi ATM-nya!)

DSC08379
Phaung Daw Oo Pagoda, Inle Lake, Myanmar

Ketika hampir semua pengunjung berada di tengah Pagoda yang menyimpan Buddha Image dalam bentuk batu berlapis emas gold leaf yang ditempelkan oleh para pria, saya malah melipir ke sisi yang sepi dan agak remang setelah selesai mengelilingi bagian tengah. Para pengunjung, -lebih banyak yang beribadah daripada sekedar berkunjung seperti saya-, tampak memusatkan pandangan ke lima buah batu lapis emas yang dipercaya sebagai Buddha Image, yang bagi saya pribadi bentuknya seperti kanak-kanak yang menggemaskan dan lucu (maaf). Baru di tempat ini saya melihat Buddha Image yang berbeda, sama sekali tidak sama dengan Buddha Image yang umumnya duduk bersila, berdiri, berjalan atau berbaring.

Tapi ada hal yang menarik lainnya di Pagoda ini…

Di sudut sepi yang saya datangi ini terdapat sebuah lemari kaca yang kelihatannya tak menarik dan sedikit kusam. Namun ketika saya mendekat untuk melihat lebih jelas ke dalamnya, mengamati isi di balik kacanya, saya terperanjat. Oh, lemari berkaca kusam itu berisikan uang dan perhiasan.

Lemari penyimpan uang-uang dan perhiasan persembahan dari pengunjung di seluruh dunia.

Ada juga uang Thailand sebesar 20 Bath, dan di baliknya ada lembar US Dollar sebesar $100! Di sekitarnya ada uang Korea sebesar 1000 Won, juga lembar uang Vietnam sebesar 50.000 Dong, lembar Euro yang tidak terlihat nominalnya, uang Afrika, dan tentu saja lembaran-lembaran uang Myanmar dengan nominal 100, 200 dan 500.

Saya juga melihat kalung mutiara, cincin batu permata, perhiasan telinga dan jam tangan serta nota-nota pengantar semua benda dan uang itu. Ah, indah sekali.

DSC08388
Money from the World
DSC08387
Different Bank Notes

Dan ada uang Rupiah! Wow!

Saya sempat melihat lembaran Rp. 1.000,- dan lembaran Rp. 20.000,- Bisa jadi, pengunjung yang melihat akan berpikir, betapa orang Indonesia itu kaya dan baik hati, mau mendonasikan uangnya dengan nilai yang sangat besar, yang angka nolnya berbaris panjang.

Tetapi entah bagaimana, tiba-tiba saya merasa dicubit dari dalam diri. Ini adalah lemari persembahan! Jangan dilihat dari nilai nominalnya, bukan kuantitasnya, bukan banyaknya, bukan nilai duniawinya… melainkan apa yang ada di balik semuanya.

Keikhlasan.

Tersadarkan bahwa saya sama sekali tak boleh menilai atas apapun yang ada di dalam lemari kaca itu. Sepotong berlian atau batu permata terindah sekalipun, atau uang atau benda tua yang paling lusuh yang dipersembahkan kepadaNya, hanya Dia yang memiliki keputusan bernilai atau tidak, dan bukan atas benda-bendanya

Apa jadinya bila benda-benda itu diselimuti dengan kesombongan ‘ingin diperlihatkan’ atau ‘ingin terlihat berbeda’ terhadap manusia lain oleh orang yang memberikan? Lalu apa jadinya, bila benda itu merupakan satu-satunya yang dimiliki oleh pemberinya dan dipersembahkan laksana jiwanya sendiri  yang dipersembahkan kepadaNya?

Your greatness is not what you have, it’s what you give

Namun, bukankah benda-benda material itu bersifat relatif bagi manusia satu dengan manusia yang lainnya? Selembar uang atau sebentuk perhiasan bagi seseorang bisa begitu sangat berharga, namun bagi orang lainnya mungkin hanya sekedar lewat untuk sesuatu hal yang tidak bermanfaat. Dan ketika benda-benda material itu dijadikan pemberian, apalagi sebagai sebuah persembahan, sesungguhnya ada hal yang menyelimuti pemberian itu.

Dan sesungguhnya kita sama sekali tidak memiliki kewenangan untuk menilai hubungan manusia lain dengan TuhanNya.

***


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-26 ini bertema Money agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Myanmar2 – Menikmati Golden Rock


Setelah terik matahari di Mon State ini terasa mereda, saya mulai melangkah keluar hotel dan berjalan kaki menuju lokasi Golden Rock yang letaknya hanya selemparan batu. Jalannya cukup bagus, tetapi yang membuat saya terpana saat berada di luar adalah banyaknya orang yang akan beribadah. Selalu seperti inikah? Saya bertanya-tanya dalam hati, teringat juga penuhnya Shwedagon saat saya ke sana tujuh tahun yang lalu. Golden Rock, serupa dengan Shwedagon, merupakan salah satu dari kuil-kuil sakral di Myanmar. Tetapi aduh, kepadatan ini, pastinya menjadi tantangan tersendiri untuk memotret di Golden Rock.

DSC07515
The Gate and The Chinthe

Saya sampai di gerbang dengan sepasang chinthe besar, -patung menyerupai singa-, yang dibuat indah sebagai penjaga kesucian kawasan. Seingat saya, kisah klasik tentang chinthe berawal dari Mahavamsa, sebuah epos dari Sri Lanka.

Konon, seorang Putra dilahirkan dari pasangan putri bangsawan dan seekor singa. Namun sejak ditinggalkan selama bertahun-tahun, singa menjadi marah dan menyebar terror ke seluruh negeri. Sang Putra maju untuk menghentikan terror dan berhasil membunuh singa itu. Sesampainya di rumah sambil mempertontonkan singa yang berhasil dibunuhnya itu, barulah Sang Putra tahu sesungguhnya singa itu adalah ayahnya sendiri. Dengan penyesalan yang sangat dalam, Sang Putra lalu membangun patung singa untuk menjaga kuil sebagai penebusan dosanya.

Keberadaan Chinthe menunjukkan batas suci, sehingga saya harus menanggalkan alas kaki dan tentunya berpakaian sopan, sesuai peribahasa kita, Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Melangkah tanpa alas kaki sudah menjadi pemandangan biasa di Myanmar, meskipun kuil yang akan dijelajahi itu luas sekali.

StoneBoatPagoda
Kyaukthanban Pagoda or the Stone Boat Pagoda

Belum lama berjalan, saya sudah sampai pada Stupa Kyaukthanban atau yang dikenal dengan nama Stupa Perahu Batu. Berbentuk perahu di atas sebuah batu besar, batu ini memiliki kaitan dengan kisah legenda Golden Rock. Menariknya, selain bisa melihat Golden Rock dalam jarak 300 meter, di bawah batu besar ini terdapat beberapa stupa mini yang sepertinya diletakkan oleh para peziarah, yang membuat saya mengingat kembali kisah legenda Golden Rock.

GoldenRockFar
Golden Rock from a far

Konon, Buddha memberikan sejumput rambutnya kepada seorang pertapa bernama Taik Tha. Sang pertapa, yang telah menyelipkan rambut Buddha di kepalanya, kemudian memberikannya kepada Raja, untuk disimpan dalam sebuah batu emas yang berbentuk seperti kepala pertapa itu. Sang Raja yang memiliki kekuatan gaib warisan dari ayahnya yang bernama Zawgyi, seorang ahli alkimia, dan ibunya yang merupakan seorang putri naga ular, menemukan batu yang dimaksud di dasar laut. Dengan bantuan Raja Surga dalam kosmologi Buddhis, batu itu bisa ditempatkan secara sempurna di Kyaiktiyo untuk selanjutnya dibangunlah sebuah Pagoda. Menurut legenda, sejumput rambut itulah yang menjaga agar batu tak terguling dari bukit. Dan perahu yang digunakan untuk mengangkut Golden Rock, juga telah berubah menjadi batu. Batu berbentuk perahu inilah yang kini dikenal dengan Stupa Kyaukthanban atau stupa perahu batu, terletak 300 meter dari posisi Golden Rock.

Menjelang Golden Rock itu sendiri, terdapat bangunan-bangunan yang mungkin merupakan rumah-rumah ibadah dan tempat tinggal dari para monk. Bangunan-bangunan itu terlihat sangat menawan, apalagi warna-warnanya kontras dengan birunya langit. Saya suka dengan ornamen-ornamen yang ada.

Setelah mengambil foto bangunan-bangunan itu, selagi melanjutkan langkah ke Golden Rock yang berada 1100 meter (3615 ft) di atas permukaan laut, saya melihat patung-patung yang –maaf-, sepertinya tidak senada dengan kompleks beribadatan, seperti laki-laki kekar layaknya Indian, laki-laki pemburu. Entahlah, namun bisa jadi semua ini merupakan hiasan perjalanan dan impian masyarakat sekitar.

Tak lama saya sampai pada sebuah pelataran yang diatasnya terdapat beberapa genta yang umum ada di kawasan pagoda Buddha. Genta itu diberi sentuhan tradisional sehingga terlihat keren. Jelang sore itu Golden Rock semakin berkilau, juga perbukitan yang berada di kejauhan tampil berlapis-lapis dan sangat indah.

Buildings
The Buildings In Golden Rock Pagoda complex

Saya semakin dekat dengan Golden Rock. Peziarah terlihat semakin menyemut ke arah Golden Rock. Tak heran, dalam hal kesakralan Golden Rock menempati urutan ketiga setelah Shwedagon di Yangon dan Mahamuni di Mandalay. Karena banyaknya peziarah, untuk sampai ke pelataran tempat Golden Rock berada, saya harus bergiliran. Uh, rasanya tak mungkin mengambil foto Golden Rock yang bersih tanpa manusia dalam frame.

Selain jam besar hasil pemberian perusahaan Jepang, di pelataran terbuka juga terdapat monumen tinggi yang menjulang sebagaimana biasa di kawasan pagoda di Asia Tenggara. Namun di Golden Rock ini, bagian dasarnya dihiasi empat patung Nat (spirit pelindung khas Myanmar). Dan tak heran bila di dekatnya juga terdapat pohon Boddhi yang rindang. Melihat pohon Boddhi ini, saya teringat saat diberi selendang oleh Biksu di Lumbini, tepat di bawah pohon Boddhi juga.

MalePrayers
Only Male Worshipper can touch the Golden Rock
FemalePrayers
Female Prayers

Pelan-pelan saya mendekat ke Golden Rock yang tingginya sekitar 7 meter itu. Sesuai namanya, batu besar itu benar-benar dilapisi lembar emas (gold leaf) yang ditempelkan hanya oleh peziarah laki-laki. Perempuan dilarang, karena dalam tradisi Buddhist, perempuan tidak boleh menyentuh biksu laki-laki, dan sesuai legendanya, Golden Rock ini dipercaya sebagai kepala biksu (meskipun rasanya saya tak pernah melihat perempuan menempelkan goldleaf di pagoda-pagoda dimanapun di Myanmar). Perempuan yang berziarah hanya dapat beribadah di tempat yang disediakan di bagian bawah atau di pelataran atas.

Tanpa ingin mengganggu mereka yang ingin beribadah, saya melipir ke pinggir. Sebenarnya saya ingin tahu posisi kritis Golden Rock yang terdiri dari dua batu besar yang saling independen itu dan ketika menemukannya, saya terpesona juga. Sekitar setengah bagian dasar Golden Rock itu sebenarnya menggantung dari batu alasnya yang permukaannya miring. Dan luarbiasanya, dari tempat saya berdiri terlihat betapa kecilnya luas batu yang menahan batu besar di atasnya dengan bidang kontak yang miring. Benar-benar awesome jika dilihat dari sisi gravitasi bumi. Pikiran melenceng yang selintas lewat ‘seandainya ada gempa besar’ cepat-cepat saya hapus…

DSC07435
Can You See the Critical Area?

Sebagai turis mata saya terpusat pada Golden Rock itu dan mengamati, tetapi saya harus minta maaf karena tak mampu melihat kemiripan Batu dengan bentuk kepala. Karena sesuai legenda, Kyaiktiyo itu berarti pagoda diatas kepala biksu, (kyaik berarti pagoda, yo berarti membawa di atas kepala dan ithi berarti Biksu).  Entahlah, mungkin saya saja yang bukan pemerhati serius…

GoldenRockDiffloc
Golden Rock on different angle

Saya menikmati sekali berada di kawasan Golden Rock yang batu alasnya dihias serupa bunga lotus meskipun sebagai perempuan akses saya terbatas. Golden Rock merupakan area terbatas dan hanya bisa diakses oleh laki-laki dengan seorang penjaga yang berwajah tegas dan siap mengusir siapapun yang bisa membatalkan kesucian tempat sakral itu. Saya melipir ke tempat-tempat yang diperbolehkan, menyaksikan para penziarah menyalakan lilin, memberikan persembahan, membaca doa dan melantunkan sutra.

Sebuah pemandangan yang menghangatkan hati saat melihat peziarah begitu khusuk berdoa dengan mata tertutup dan penuh pengharapan, tua muda, laki dan perempuan, yang tak berpunya maupun yang berkecukupan. Dan tetap saja ada pemandangan yang menggemaskan ketika biksu-biksu kecil berdoa tanpa bisa melepaskan sifat kanak-kanak mereka yang menyelipkan kesempatan untuk bermain dan bercanda. Pemandangan yang meluluhkan hati.

Worship
An Old Lady’s Offerings
LittleMonks
Little monks

Karena matahari hampir tenggelam, sebisanya saya mengambil tempat terbaik dengan Latar depan Golden Rock dan posisi matahari di sebelahnya. Meskipun saya tak bisa mengambil perbukitan yang berlapis-lapis di bawahnya.

GoldenRockAtDusk
Golden Rock at Sunset

Luar biasa memang sunset di tempat ini.

Setelahnya, saya berkeliling kompleks lagi. Peziarah bukannya semakin sedikit, malah semakin padat. Rupanya mereka menginap di pelataran dan tidur beralaskan tikar berlangitkan bintang-bintang yang sangat indah. Tadinya saya berpikir akan bisa memiliki foto Golden Rock yang sepi, tetapi ternyata saya salah. Wisma, restoran, toko-toko semua penuh peziarah.

DSC07492
Golden Rock At Night

Saya mulai lelah dan ingin beristirahat. Sekali lagi saya membuat foto Golden Rock saat malam dari berbagai sudut. Suasananya memang magis dengan langit kelam dan batu emas yang sangat kontras serta lilin-lilin dan asap dupa yang naik ke udara.

Karena tahu tidak bisa mengabadikan situasi yang hening dan sepi di Golden Rock, saya berjalan balik ke hotel untuk kembali ke Golden Rock esok pagi.

Crowded
From The Afternoon, Evening, Night and Morning, there’s a non-stop crowd

Namun malam itu, melihat kepadatan manusia di pelataran Golden Rock, saya sedikit kehilangan mood untuk keluar melihat matahari terbit keesokan harinya. Meskipun tetap berharap bahwa rombongan peziarah akan pulang sehingga kepadatannya akan berkurang pada pagi harinya. Harapan saya tidak terjadi, yang datang dan yang pergi sama banyaknya. Luar biasa sekali. Sepertinya mereka datang tumplek blek ke Golden Rock dari segala penjuru Myanmar.

Meskipun demikian, saya tetap kembali ke pelataran dan tersenyum pahit melihat banyaknya peziarah yang melantunkan doa dengan khusuk atau hanya sekedar berdoa sambil lalu. Pasrah, akhirnya saya membuat beberapa foto lagi sebelum saya meninggalkan Golden Rock.

DSC07517
Sunrise at Golden Rock’s valleys
Pindapatta
Pindapatta in the morning

Sebelum meninggalkan kawasan, saya melihat ke perbukitan yang ada di bawah. Uh, saya tak terbayangkan melakukan trekking 11 km dari desa terdekat Kinpun ke Golden Rock, yang katanya, jika dilakukan tiga kali dalam setahun akan mendapat berkat kaya dan kehormatan. Dari beberapa blog yang saya baca, kelihatannya jalur trekking yang ada cukup terjal dan berbahaya, meskipun sekarang banyak kuil baru sehingga bisa menjadi alternatif kunjungan. Tetapi, faktor keselamatannya rasanya tidak janji.

Saya kembali ke hotel untuk berberes. Hari ini saya melanjutkan ke Hpa’An dan belum tahu bagaimana saya menuju ke sana, termasuk belum beli tiket. Hari ini pasti seru… dan nyatanya memang begitu…

 

Myanmar 1 – Menuju Golden Rock


Love recognizes no barriers. It jumps hurdles, leaps fences, penetrates walls to arrive at its destination full of hope ~ Maya Angelou

Bisa jadi quote Maya Angelou di atas mewakili rasa perjalanan saya kembali ke Myanmar setelah tujuh tahun. Untuk pertama kalinya saya memilih terbang tengah malam dengan AirAsia ke Yangon via Kuala Lumpur dengan harapan bisa mengejar bus pagi agar sampai di Golden Rock sebelum matahari terbenam. Memang sedikit melelahkan bepergian dari tengah malam hingga jelang malam berikutnya, tapi cinta pada perjalanan sepertinya mampu mengalahkan semua hambatannya. Lagipula saya bisa istirahat di pesawat dan di bus, serta tentu saja menghemat hotel, makan serta kemungkinan belanja karena toko masih tutup ‘kan?

Namun kenyataannya, sayapun terjatuh pada ‘kerikil’ perjalanan. Kesombongan mencintai perjalanan diuji saat boarding tengah malam itu. Tanpa periksa lagi, saya bersikap angkuh, dengan nada tinggi menuntut hak kursi di jendela 16F kepada orang yang sudah setengah tertidur menduduki kursi. Nada tinggi saya membangunkannya dan dengan sebalnya akhirnya ia menunjukkan boarding passnya yang bernomor 17F! Woilaaaa…. Langit rasanya runtuh… ternyata kursi saya terlewati dan kursi saya itu ada didepannya dan kosong!!! Malunya disaksikan satu pesawat itu tak tertahankan! Tanpa pikir panjang saya duduk, menutupi muka dengan jaket lalu pura-pura tidur… 😀

7
Do you see the Cable Cars?

Penerbangan berjalan lancar hingga mendarat di KLIA2. Masih setengah mengantuk, saya menyusuri travelator menuju ruang transfer antar bangsa untuk kemudian melihat gate penerbangan selanjutnya. Sambil berjalan menuju gate saya tersenyum melihat banyak orang tidur meringkuk di sudut-sudut nyaman lantai bandara yang berkarpet atau di kursi-kursi panjang. KLIA2 memang termasuk bandara yang nyaman untuk tidur overnight. Tersedia air panas untuk minum atau sekedar pelarut makanan instan dan yang paling penting bagi saya adalah kamar mandi, yang semuanya gratis.

Tidak ada yang menarik dalam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Yangon, kecuali kebanyakan saya tertidur dan baru terjaga jelang mendarat. Dan ketika akhirnya roda pesawat menyentuh runway dengan mulus, sekelumit rasa haru meliputi saya. Akhirnya saya bisa kembali ke negeri ini, Pa dan nanti saya akan ke tempat itu…

Rasa haru itu tak lama karena saya terpesona ketika memasuki terminal kedatangan. Bandara ini telah berubah banyak dalam tujuh tahun dan tidak kalah hebatnya dengan bandara-bandara internasional lainnya, bahkan tidak perlu lagi arrival card untuk imigrasi yang layanannya juga cepat. Ah, tiba-tiba saya teringat tujuh tahun lalu harus bolak-balik mengurus visa ke Kedutaan Myanmar di Jakarta dan kini saya melenggang masuk, melewati ban-ban berjalan itu karena saya tidak membawa bagasi.

Dalam sekejap pemandangan laki-laki berlongjyi dan perempuan berkain yang telah begitu lama tidak saya lihat, kini terhampar di depan mata, dimana-mana. Kenangan tujuh tahun lalu menari-nari di benak yang dengan cepat saya hilangkan karena perlu segera ambil uang via ATM yang terletak dekat KFC. Dengan salah satu kartu Bank Swasta Nasional kita, uang dengan mudah keluar. Tujuh tahun lalu, saya harus ketar-ketir menjaga kecukupan Bank Notes USD yang harus keluaran terbaru dan licin karena belum ada jaringan ATM Internasional. Belum lagi money changer terpercaya yang hanya terbatas, kalaupun ada yang lain, nilai tukarnya mengerikan. Betapa sekarang semakin mudah!

Setelah memegang uang lokal Kyat atau MMK, saya menuju konter taksi dan petugasnya langsung memberi harga standar US$ 7 atau 10000 MMK untuk tujuan ke terminal bus Aung Mingalar, yang menurut saya seharusnya bisa lebih murah untuk jarak itu. Tapi sudahlah, bukankah itu juga bagian dari peristiwa-peristiwa yang ada dalam perjalanan?

Karena telah memegang tiket bus Win Express menuju Kinpun yang dipesan online seminggu sebelumnya sebesar US$7.6, pengemudi taksi menurunkan tepat di depan bus dan tempat tunggunya. Saya tak lama menunggu di konter itu karena setelah beberapa menit bus berangkat menempuh perjalanan panjang sekitar 6 jam.

Saya memilih bus Win Express sesuai rekomendasi sahabat Celina yang pernah ke Golden Rock sebelumnya. Menurut penuturannya, banyak turis sebenarnya mau ke Golden Rock tapi mengatakannya ke Mt. Kyaikto, karena memang Golden Rock itu berlokasi di Mt. Kyaikto. Masalahnya, Kyaikto sendiri merupakan sebuah kota kecil yang masih cukup jauh dari Golden Rock dan harus naik bus lagi melalui desa Kinpun untuk mencapai Golden Rock. Sehingga kata kuncinya adalah Golden Rock bukan Mt. Kyaikto untuk menghindari salah komunikasi, atau bisa juga Kinpun.

Nah, meskipun banyak bus lain menawarkan harga yang lebih murah, tapi tidak sedikit yang hanya sampai Kyaikto saja dan cari sendiri transportasi lain ke Kinpun. Bus Win Express ini langsung berangkat dari Yangon ke Kinpun serta jadwalnya sesuai waktu yang saya rencanakan. Menyenangkan kan? Apalagi terus mendapatkan kemudahan hingga bisa berada dalam bus menuju Golden Rock itu, benar-benar anugerah ya…

Tetapi selalu ada kerikil lagi…

Rencana saya untuk melanjutkan tidur di bus langsung batal karena saya lupa beli SIM lokal untuk ponsel. Aduh, dasar saya yang suka lupa umur, pikirannya langsung ke pertanyaan bagaimana agar bisa tetap eksis dan nampang di medsos 😀 😀 😀 Tetapi, ya ampuuun… ketika mengakses aplikasi MyTelkomsel untuk membeli paket roaming, transaksi gagal. Serta merta saya seperti diguyur air es, panik! Dengan hati berat saya ON-kan roaming untuk minta pertolongan dari Indonesia, tetapi semua tidak berhasil. Saya mulai berpikir untuk offline selama perjalanan kecuali ada WIFI. Huaaaa…. :”(

Tetapi saya belum putus asa, mencoba lagi dengan cara lama sebelum adanya apps yaitu dengan cara Unstructured Supplementary Service Data (USSD). Dan… horeee…. Berhasil!!! *Dansa-dansa duluuu… Akhirnya tidak jadi komplen ke provider, yang penting bisa online, kan?

Setelah itu, baru saya memperhatikan keadaan bus yang lay-out kursinya dua-dua ini, ditambah AC yang cukup dingin menjadikan perjalanan selama 6 jam menjadi lebih nyaman. Di tengah perjalanan saat 30 menit break makan siang, saya menuju kios sebelah untuk membeli keripik kentang dan minuman botol. Meskipun terkendala bahasa, transaksi bisa berjalan baik, uang dan barang saling bertukar tempat ditambah senyum lebar tanda saling memahami. Inilah salah satu yang saya sukai dalam sebuah perjalanan, hubungan antar manusia itu tetap bisa terjalin meskipun beda bicara. Dengan saling melempar senyum, berprasangka baik diiringi hati yang terbuka. Indahnya dunia…

1
Lunch Break on the way to Golden Rock

Saat berhenti itu pula saya gunakan untuk toilet break yang mengesankan, karena pintu di toilet perempuan tidak dapat ditutup sempurna sehingga saya cukup was-was saat melakukan ritual itu. Entah apa jadinya jika tiba-tiba pintu dibuka dari luar 😀 Untunglah tak terjadi.

Setelah semua penumpang lengkap, bus melanjutkan perjalanan menuju Kinpun.

Ketika sampai di Kinpun, ternyata bus itu berhenti bukan di terminal melainkan di hotel yang menjadi grupnya. Bersama penumpang lainnya, saya turun dan berjalan kembali ke terminal keberangkatan truk. Truk? Iya, truk yang bagian bak belakangnya dimodifikasi dengan diberi besi-besi melintang ditambah bantalan sebagai dudukan sehingga banyak orang bisa duduk. Penumpang harus naik dulu ke platform tinggi bertangga seperti layaknya mau naik gajah wisata.

Dan jangan salah, di terminal itu jalur truknya tidak hanya ke Golden Rock tetapi banyak juga ke tempat lain dan jangan harap ada tulisan latin! Wajah saya menunjukkan kebingungan tapi banyak juga orang yang mau menolong. Sekali bertanya, saya langsung ditunjukkan truk yang akan ke Golden Rock. Alhamdulillah!

Saya harus membayar 2000MMK atau 2000 Kyat untuk ke Golden Rock karena dengan lembaran uang 5000MMK yang saya berikan, kondekturnya mengembalikan 3000MMK. Saya duduk di pinggir dengan ransel di antara kaki.

2
Onboard the Truck to Golden Rock
3
From Kinpun to Golden Rock
4
From Kinpun to Golden Rock with Sharp Turn

Perjalanan truk ke Golden Rock cukup membuat deg-degan apalagi duduk di pinggir. Saya lebih banyak melihat jurang daripada tanah yang datar. Terutama kalau jalannya menanjak tinggi atau berbentuk tikungan tajam. Saya hanya bisa berdoa, karena tak yakin apakah ada asuransi yang bersedia mencover dengan menaiki truk modifikasi ini. Saya tidak berani membayangkan truk ini terguling. Uh, amit-amit. Tetapi setahu saya, insiden seperti ini rendah sekali atau nyaris tidak ada (meskipun mungkin tidak pernah di-publish atau juga karena saya tidak bisa baca tulisan mereka).

Di tengah perjalanan, truk berhenti di sebuah tempat yang ternyata merupakan tempat minta donasi. Ada lebih dari satu orang laki-laki di bagian depan bicara dengan seru, kelihatannya sedang memberikan penasehatan iman (meskipun pendengarnya banyak yang mengabaikan dan ngobrol sendiri, tapi pada akhirnya mengulurkan juga donasinya). Saya tersenyum sendiri, karena sering melihat peristiwa serupa dengan latar agama yang berbeda.

Truk berjalan lagi melintasi jalan yang berkelok-kelok hingga satu tempat agak terbuka, saya terpesona juga dengan apa yang saya lihat. Ada kereta gantung di Myanmar! Dan truk pun pergi menuju stasion awal kereta gantung itu untuk memberi kesempatan turun bagi penumpang yang ingin menaiki kereta gantung itu. Sebenarnya saya ingin turun tetapi saya tidak tahu tujuan akhirnya. Jadi saya diam saja di truk. Melihat perkembangan transportasi ini, saya merasa sedikit kontradiktif. Di Myanmar ini, sementara saya berada di bagian belakang truk yang dimodifikasi sederhana, ada juga transportasi kereta gantung yang memerlukan teknologi dan pengamanan tinggi.

5
Cable Car view from the Truck

Tak lama kemudian bus melanjutkan perjalanan menuju Golden Rock. Dan setelah beberapa kali badan ini terhimpit oleh ibu-ibu di sebelah saya karena tikungan-tikungan tajam, akhirnya sampai juga saya di terminal akhir Golden Rock. Dengan intuisi seadanya, saya mengikuti saja jalannya penduduk lokal karena seharusnya mereka akan Pagoda juga kan? Sebenarnya nekad juga ya… tetapi entah kenapa saya meyakininya. Dan benarlah, karena kemudian saya mengenali situasi seperti yang saya lihat di google street dan youtube. Horeee…

Setelah beberapa langkah, saya sampai pada tempat tiket masuk. Sebagai foreigner, saya dikenakan 10000MMK untuk masuk ke pelataran Golden Rock lalu diberikan kalung bertanda tamu asing yang sampai pulang saya tidak kenakan. 🙂 🙂 Bagi penduduk lokal, tidak dikenakan biaya masuk.

Tidak jauh dari tempat tiket, sampailah saya pada hotel yang telah saya pesan. Sebenarnya bisa saja tidak menginap di Golden Rock, tetapi buat saya, menyaksikan matahari tenggelam di Golden Rock itu must-see dan jika memungkinkan juga saat matahari terbit. Lagi pula, truk terakhir turun jam 5 atau 6 sore sehingga dengan menginap saya memiliki kebebasan untuk menjelajah sepuas hati.

Setahu saya hanya ada tiga hotel di sekitaran Golden Rock yaitu Mountain Top Hotel, Kyaikhto Hotel dan Yoe Yoe Lay Hotel dan semuanya terasa kemahalan untuk fasilitas yang disediakan. Tetapi tidak bisa mengajukan complaint karena mahalnya itu disebabkan oleh nilai dekatnya jarak dengan Golden Rock. Jika tidak mau mengeluarkan uang, mungkin bisa saja tidur di lantai pelataran pagoda 🙂 Tetapi maaf ya, saya tidak tahu pasti apakah foreigner boleh tidur di pelataran pagoda seperti penduduk lokal. Bagaimanapun menginap kemahalan di salah satu hotel itu pasti ujung-ujungnya adalah ada harga, ada barang ‘kan? Sunset, bintang bertaburan saat malam dan sunrise, serta kebebasan untuk menjelajah… mungkin bagi saya menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikanbegitu saja…

<Bersambung>

Blue Sky Over The Stupas


Blue Sky over the Stupas on Shwedagon

Rasanya saya tidak akan lupa momen itu. Momen berakhirnya perjalanan di Myanmar karena sesaat lagi saya harus meninggalkan tempat ini menuju bandara internasional Yangon untuk kembali ke tanah air. Saya ingin memeluk momen indah ini selagi bisa, sampai saatnya tiba untuk melepaskannya…

Meskipun masih banyak tempat menarik di Yangon yang belum sempat saya kunjungi tujuh tahun lalu, tetap saja saya memilih Shwedagon sebagai tempat mengakhiri perjalanan di Myanmar kali ini.

Tujuh tahun lalu saya ke Myanmar, saya menjadikan Shwedagon sebagai destinasi utama, menjadi alasan untuk datang ke Myanmar. Jika ingin tahu alasan utamanya bisa buka link ini. Dan kini, setelah kepergiannya, rasanya saya ingin memeluk kenangan itu selamanya, sepanjang saya bisa untuk berada di tempat yang mampu membahagiakannya.

Bisa jadi saya halu, kata anak-anak jaman now. Biar sajalah, karena bagi saya pribadi melakukan sebuah perjalanan bukanlah untuk berkompetisi dengan orang lain. Saya melakukan perjalanan karena ingin merajut tempat-tempat yang saya kunjungi menjadi rangkaian momen yang indah penuh makna dalam hidup. Juga saat ini, saat memeluk momen untuk mengakhiri sebuah perjalanan.

Ketika dulu, tujuh tahun lalu, saya penuh haru tapi penuh semangat bisa menjejak di tempat saya berdiri ini, kini saya juga diliputi haru namun berat untuk melepas. Sebuah rasa haru yang saling bertolak belakang berada di tempat yang sama.

Dan saat itulah, saya melihat ke puncak-puncak stupa keemasan dengan latar langit biru.

Seketika itu juga saya terperangah, memberikan kesadaran bahwa apa yang saya rasakan dulu dan apa yang saya rasakan sekarang semuanya relatif, namun yang pasti saya tetap sama. Berada di dalam naungan cinta tanpa syarat Sang Pemberi Hidup. Lalu mengapa harus merasa berat?

Ah, sambil tersenyum dengan kesadaran yang membahagiakan itu, saya melangkah ringan meninggalkan tempat itu.

*

By the way, since I’ve uploaded a picture of holy place in Myanmar and today is Vesak Day, let me wish for those who celebrate

Happy Vesak Day

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,

May all beings be well, may all beings be happy and may all beings be free from suffering


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-19 ini bertema Blue Sky agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…