Belajar Dari Tempat Simbol Perdamaian


Menapakkan kaki di tempat yang memiliki simbol perdamaian itu memiliki daya lenting yang baik. Banyak orang telah menjejakkan kakinya di tempat-tempat seperti itu, jauh lebih banyak dari pada saya yang hanya menjejak ke beberapa tempat. Tempat yang di atasnya didirikan bangunan atau tanda sebagai simbol perdamaian. Dan tentunya saat menjejakkan kaki di sana, saat itu, selalu mampu menggetarkan rasa yang luar biasa.

Seperti ketika berada di Hiroshima, Jepang, saat mengunjungi Peace Park, saat itu perasaan dibawa naik turun sedemikian rupa. Bagaimana mungkin saya tak tergugah saat membaca peristiwa kelam bagi kemanusiaan yang sangat menghancurkan hati yang pernah terjadi tepat di bawah kaki berpijak? Ratusan ribu atau jutaan nyawa hilang dalam sekejap dan berpuluh tahun berikutnya akibat dampak buruk yang ditimbulkannya.

Dan bagaimana mungkin rasa saya tak terkoyak ketika berada di monumen yang mengisahkan perjuangan seorang gadis kecil yang terpapar radiasi akibat bom atom yang dijatuhkan di kotanya? Bagaimana mungkin saya tidak teringat kepadanya setiap saya melipat origami burung kertas, sebuah cara si gadis kecil untuk tetap memiliki harapan hidup? Bagaimana mungkin saya tidak tertampar rasa saat menyaksikan api perdamaian yang terus menyala meskipun saat itu hujan turun dengan derasnya?

Dan di tempat lain, sedikit di luar kota Phnom Penh, Kamboja. Bagaimana mungkin saya tidak hancur rasa saat berkunjung ke Choeung Ek, Ladang Pembantaian manusia (The Killing Fields) yang terjadi selama Khmer Merah berkuasa di Kamboja? Begitu banyak pertanyaan tergambar di benak. Bagaimana mungkin orang bisa sekejam itu, membunuh karena berbeda ideoologi? Atau hanya karena ia berkacamata dan dianggap pandai? Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membantai manusia lainnya dan memperlakukan lebih buruk daripada hewan ternak? Bagaimana mungkin orang bisa membunuh seorang ibu dengan bayinya? Dan bagaimana mungkin seorang manusia bisa membunuh bayi-bayi dengan membenturkannya ke pohon?

IMG_2393
Cheoung Ek Monument, Phnom Penh, Cambodia

Memang saat saya berada di tempat-tempat itu, perasaan saya berkecamuk hebat. Begitu banyak pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” silih berganti muncul terus di kepala, meskipun peristiwa-peristiwa itu nyatanya sudah terjadi di masa lalu.

Tempat-tempat yang kelam dan dari sana kita bisa banyak belajar…

*

Di sisi yang berbeda, di tempat-tempat denting-denting kedamaian dibunyikan dan diingatkan kepada kita…

Seperti ketika berada di Nepal, melakukan perjalanan darat dari Pokhara hingga Lumbini, dengan mengunjungi tempat-tempat yang menjadi simbol perdamaian. World Peace Pagoda yang berada di atas bukit di pinggir kota Pokhara, menjadi landmark bagi siapapun yang ke Pokhara. Hampir semua turis menyempatkan waktu untuk berkunjung ke sana.

Juga saat berada di Lumbini, tempat kelahiran Sang Buddha, saya menyaksikan nyala api perdamaian di pintu masuk taman perdamaian, tempat yang menjadi saksi kelahiran Sang Buddha hampir tiga millenium lalu. Bahkan tak jauh dari sana terdapat papan yang bertuliskan ajaran Buddha yang penuh damai.

Juga saat berada di Vientiane, Laos, saya terkagum kepada gema perdamaian dunia dalam bentuk Gong yang disampaikan dari Indonesia untuk di tempatkan di dekat kolam yang segaris lurus dengan Patuxai, monumen negeri Laos yang menyerupai Arc de Triomphe di Paris.

*

Dua sisi yang berbeda, menggaungkan gema yang sama, kata yang sama, Perdamaian. 

Tak bisa dipungkiri bahwa damai di mulai dari diri sendiri, namun apakah kita semua mampu berteguh hati mengupayakan rasa damai laksana Mahatma Gandhi, pahlawan India yang memilih jalan anti kekerasan dalam perjuangannya? Kata-katanya amatlah jelas di sisi mana ia berdiri.

Peace is not the absence of conflict but the ability to cope with it – Gandhi

Tentu tak mudah, mungkin memang sangat tidak mudah, untuk diterapkan, apalagi kita, manusia-manusia yang hidup di peradaban sekarang dengan segala kenikmatan duniawi, terlalu sering, bahkan terbiasa untuk memenangkan ego dan tidak menahan diri terhadap batas kebutuhan orang lain. Ego kita senantiasa dimenangkan dalam banyak masa.

Ah, bisa jadi saya terlalu menggeneralisasi, tetapi jika kita mau menengok sejenak ke berbagai konflik yang terjadi belakangan ini di sekitar kita. Apapun alasannya yang menjadi pencetus, -yang paling sering adalah masalah suku, agama, ras dan antar-golongan-, belum lagi bicara ideologi, membuat kita semua, mau tidak mau, terjebak pada terbukanya konflik. Dari yang kecil hingga besar. Yang mungkin awalnya hanya sebuah noktah friksi mini yang tak berarti, namun seakan mendapat bahan bakar yang mampu meledakkan dan membesarkannya menjadi musibah dan bencana.

Mahatma Gandhi masih mengukirkan banyak kalimat bijaksana dalam perjuangannya yang anti kekerasan dalam memelihara kedamaian. Darinya sudah sewajarnya kita mengambil pembelajaran agar kita semakin berpikir,

I object to violence because when it appears to do good, the good is only temporary; the evil it does is permanent

Bukankah para leluhur telah memperkenalkan kata itu, agar kita selalu sadar dan waspada. Eling. Karena sisi buruk itu selalu mahir menggoda, merayu dan menantang. Dan ia tak pernah berhenti. Membuat kita selalu berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan fragile, untuk jatuh ke kubangan kekerasan, kekejian, kejahatan, keburukan dan serupanya.

Bukankah ‘lebih benar’, ‘lebih baik’, ‘lebih suci’, ‘lebih modern’, ‘lebih kaya’, ‘lebih tinggi’, ‘lebih sukses’ dan serupanya, terselip rasa yang amat menggoda?

Teringat saya pada Rumi, penyair sufi yang sangat terkenal dan berlimpah kata-kata bijaksana, juga kepada seorang guru yang mengagumi Rumi. Mereka berbicara hal yang serupa, mengenai ego untuk memelihara damai.

When you step down in the path of ego, means you step up in the path of God

Ah, kalimatnya amat jelas, semoga saja kita bisa belajar.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-39 ini bertema Peace agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Ketika Rasa Kehilangan Mendera


 


November 2013 di Gayasan National Park, Korea Selatan 

Di musim gugur malam datang lebih cepat. Saya melangkah pulang mengikuti jalan setapak yang masih menanjak di tengah hutan, sendirian dalam kelam dan dingin. Manusia-manusia lain sudah lenyap dari pandangan, langsung masuk ke rumah setelah gelap datang. Apalagi mereka hampir semua tak bisa berbahasa Inggris. Saya hanya bisa mengira-ngira arah pulang ke terminal bus karena sebelumnya, seperti penumpang lain, diturunkan di tengah jalan dan bukan di terminal karena macet total akhir pekan. Saya menepis rasa takut yang terus menyerang, menahan airmata yang hampir jatuh, mencoba fokus dari kebingungan yang mendera. Praktis saya di ujung putus asa karena kehilangan arah

Akhir Tahun 2014 di Macau 

Di depan konter check-in hotel itu, muka saya langsung pias, -tak bisa melakukan open-deposit-, karena tak menemukan dompet di dalam tas meskipun isinya sudah dikeluarkan semua. Dompet saya hilang! Paniknya tak dapat dirangkai dalam kata-kata. Masih untung perempuan cantik di balik konter itu membolehkan saya sekeluarga memasuki kamar karena semua sudah dibayar lunas. Di dompet yang hilang itu tersimpan semua lembaran uang dengan nominal besar dan kartu-kartu kredit yang menjadi andalan kami untuk berlibur akhir tahun. Dan seketika liburan itu berada di ujung tanduk…

Desember 2015 di Hoi An, Vietnam

Pagi itu di tempat tidur seperti ada yang membangunkan saya untuk memeriksa kembali isi tas. Ketika saya melakukannya, saya tidak dapat menemukan paspor di tempatnya ataupun di tas lainnya! Seketika rasa dingin menyerang ke seluruh permukaan kulit. Setahun lalu dompet, kini paspor! Saya panik tapi mencoba berpikir dengan begitu intens. Membuat rencana. Siapa tahu paspor jatuh di jalan sepanjang malam sebelumnya, harus ke kantor polisi untuk melaporkannya, harus terbang ke Hanoi untuk laporan kehilangan paspor di Kedutaan Besar Indonesia, harus menyiapkan uang tambahan untuk penginapan di Hanoi dan yang pasti sisa liburan pasti berantakan hanya karena paspor tidak ada di tas! Saya mandi yang tak terasa mandi, rasanya lunglai tak berenergi…

 

Siapapun tak ingin menghadapi halangan saat melakukan perjalanan, apalagi saat bepergian ke luar negeri. Namun tak pernah ada perjalanan yang selalu sempurna tanpa halangan. Seperti yang saya alami di atas, mau tidak mau tiga situasi karena rasa kehilangan di atas dan penuh kebingungan harus saya hadapi.

P1030976e
Sign to Haeinsa

Seperti saat hendak pulang di Gayasan National Park, -setelah selesai berkunjung ke Kuil Haeinsa-, saya hanya bisa berjalan berdasarkan intuisi, -sungguh seperti meraba-raba dalam gelap-, berjalan terus tidak tahu apakah benar atau salah arahnya. Saya benar-benar di ujung rasa putus asa namun saya tak mau menangis dan menyerah kalah. Menangis tidak menyelesaikan masalah bahkan memperlemah diri di saat harus tegar menghadapi kebingungan. Saya harus kuat dan hanya bisa terus berdoa untuk ditunjukkan jalan.

Bagi yang pernah membaca Ziarah (The Pilgrimage) atau juga Brida, novel-novel karangan Paulo Coelho, rasanya saya menapaki apa yang disebut di buku itu sebagai Malam Kelam. Dan saya hanya bergantung perlindungan dan kasih sayang kepadaNya. Sungguh saya belajar sungguh-sungguh bergantung total kepadaNya, berserahdiri secara total kepadaNya, memohon pertolongan. Dan apa yang terjadi?

Dan kemudian Dia mengirimkan pertolongan melalui dua orang lanjut usia di sebuah pondok yang saya temui akhirnya di ujung jalan setapak yang saya lalui. Tanpa perlu mengerti bahasa Inggeris, mereka menangkap maksud “bus” yang saya ungkapkan. Mereka berdua, dalam udara dingin, berjalan sebentar lalu menunjukkan arah lampu untuk naik bus berada tempat yang saya harus ikuti (kata terminal itu misleading karena tidak ada bus, kalaupun ada hanya 1 bus). Bagaimanapun, kedua orang lanjut usia yang membantu saya adalah malaikat dalam wujud manusia yang saya temui di ujung rasa putus asa karena kehilangan arah.

*

Situasi serupa penuh dengan kebingungan terulang di Macau. Kali ini saya bertanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh keluarga juga. Di kamar saya diam seribu bahasa dengan tensi yang meningkat karena situasi yang dihadapi. Saya hanya minta bantuan kepada keluarga untuk mencari tahu nomor telepon hotel di Hong Kong yang pagi harinya kami keluar, nomor kapal ferry yang kami gunakan dari Hong Kong ke Macau, nomor masing-masing pelabuhan hingga nomor taxi yang kami gunakan di Macau.

wallet1

Tanpa menghitung biaya roaming, satu per satu saya menghubungi mereka semua dan semuanya mengatakan tidak ada dompet hitam milik saya. Ada yang penuh empati ingin membantu dengan memberikan nomor telepon tempat yang terkait, tetapi hasilnya sama saja. Tidak ada!

Situasinya sangat serupa, saya mencoba terus tanpa henti hingga ke titik ujung usaha dan akan masuk ke dalam situasi ‘lepaskan atau terjebak pada penghambaan benda’. Seakan diingatkan akan batas ini, saya meluruh dan akhirnya berserah diri. Jika benda itu memang ditakdirkan dipinjamkan kepada saya, ia akan kembali. Bila tidak, biarlah saya menghadapi situasi lain yang berbeda yang memang harus saya hadapi. Saat itu, saya memohon izin untuk satu kali lagi menelepon sebagai upaya terakhir kalinya sebelum saya lepaskan semuanya. Terakhir!

Di Macau itu, saya tak tahu harus menangis atau bahagia ketika suara di ujung telepon mengabarkan dia, petugas tiket ferry di Hong Kong, menemukan dompet dengan ciri-ciri yang sama dengan dompet saya!

*

Saya ingat pagi di Hoi An, Vietnam itu setelah mengubek-ubek isi tas dan mengitari kamar hotel tanpa menemukan paspor dimana-mana. Lenyap dari tempatnya. Rasa dingin seperti tahun lalu kembali menjalar ke seluruh tubuh. Saya duduk di tempat tidur, lunglai dan bertanya dalam hati kepada Dia. Sungguhkah ini? Mengapa Engkau senang sekali bergurau kepada diri ini? Jika setahun lalu dompet, kini paspor.

passport1

Saat itu, meskipun kehilangan paspor, meskipun rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh dan memiliki plan A, plan B, plan C dan seterusnya untuk mengatasi situasi yang saya hadapi saat itu, ada rasa yang sangat berbeda! Jauh di dalam sana, saya merasa dicintaiNya, saya merasa disayang olehNya, saya berlimpah Kasih SayangNya. Ada ketenangan. Saya hanya diminta untuk percaya dan bersabar akan pertolonganNya. Sebuah rasa yang muncul dalam jiwa. Tidak pernah ada yang hilang, Dia menyimpannya untuk saya.

Tapi saya tetap manusia yang penuh tarik ulur yang hebat, yang merasa mampu mendapatkan hasil dari rencana-rencana yang dibuat. Dengan perang antara logika dan rasa, saya berangkat meninggalkan kamar dengan segudang rencana namun tetap percaya PertolonganNya akan datang. Help is on the way!

Berharap mendapat pertolongan pertama dari konter depan, saya mengungkapkan kehilangan paspor sambil mengatakan hendak check-out. Petugas itu lebih concern dengan informasi kehilangan paspor daripada proses check-out. Ia tampak berpikir sebentar, lalu berbalik mencari dokumen menginap di balik konter. Ia berbalik kembali menghadap saya sambil memperlihatkan folder transparan dengan paspor saya di dalam folder itu!

***

Siapapun tak ada yang suka mendapatkan halangan dalam perjalanan. Namun halangan ada, bukan tanpa tujuan. Halangan itu ada untuk kebaikan kita sendiri dan dapat menyempurnakan perjalanan, termasuk perjalanan hidup. Seperti musuh, dari halangan dan kesulitan, kita bisa belajar sangat banyak untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Yang kita perlukan hanya satu, berpegang pada Dia yang selalu ada untuk kita dimanapun kita berada, kapanpun. Selalu dan selamanya.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-36 ini bertema The Invisible Hand agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

What Will Your Legacy Be?


What we do for ourselves dies with us. What we do for others and the world remains and is immortal – Albert Pike

IMG_0192
White Lily

Mendadak belakangan ini saya digugah berulang kali oleh sepenggal kalimat yang dulu saya dapatkan dari seorang trainer. Sepenggal kalimat itu yang kini menjadi judul tulisan kali ini. What will your legacy be? 

Dan tepat sekali ketika sahabat saya mengangkat tema Bunga untuk tantangan Satu Foto Sejuta Cerita minggu ini. Karena apa yang menggugah saya belakangan ini, mengingatkan saya akan momen bunga itu. Bunga yang sebelumnya sama sekali tidak pernah saya tahu.

Saya tidak pernah lupa akan momen bunga itu. Dalam tidur, saya mendadak terbangun karena begitu jelas gambaran yang muncul di mimpi. Bunga itu, -yang belakangan saya tahu namanya adalah lily putih-, berada di atas peti mati coklat kehitaman! 

Seram kan? Jangan tanya peti mati siapa, karena saat itu saya sudah keburu bangun dan saya juga tidak mau tahu itu siapa. Tetapi bukan peti matinya yang begitu menarik perhatian, melainkan setangkai bunganya. Hanya setangkai bunga!

Dan akibatnya saya langsung mencari tahu tentang bunga itu, dan kini, saya tidak bisa menghindarinya. Setiap melihat bunga itu, -meskipun bunga itu cantik sekali-, saya selalu mengasosiasikan kepada sebuah kematian dan demikian pula sebaliknya.  

Nah kembali kepada yang menggugah saya belakangan ini, tentu saja berhubungan dengan yang namanya kematian. What will your legacy be? Dengan cara apa atau bagaimana sih kita ingin dikenang setelah kita mati? Uuugh…

Karena sesuai kata-kata Albert Pike di atas, apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri akan menghilang saat kita meninggal nanti, tetapi apa yang kita lakukan untuk orang lain, untuk masyarakat kebanyakan atau terlebih lagi untuk dunia, akan tetap tinggal dan tetap hidup meskipun kita sendiri telah meninggal dunia. Itulah legacy.

Terus terang apa yang saya lakukan masih terasa banyak sekali yang hanya ‘untuk saya’ atau paling tidak untuk orang-orang terdekat, dan bukan untuk masyarakat kebanyakan apalagi dunia. Dan meskipun kita semua memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari, tetapi rasanya saya semakin kehabisan waktu. Saya masih banyak berhutang hidup.

Setiap hari, setiap detiknya, sadar atau tidak, kita semua sedang menuliskannya, dan bukankah setiap kali kita merayakan ulang tahun, sebenarnya waktu kita berkurang, semakin sempit untuk mengerjakan hal-hal yang harusnya kita lakukan agar terpenuhi keinginan itu sebelum sampai ke deadline.

Tapi biasanya kita berpikir… ah masih jauh, masih lama…

Padahal kita tidak pernah tahu kapan waktunya. Bisa memang masih lama, tetapi bisa juga setahun lagi, atau enam bulan lagi, atau bulan depan, atau bahkan lusa, bisa besok, atau bahkan bisa sejam lagi… Dan bahkan mungkin kita masih belum sempat berpikir bagaimana kita ingin dikenang setelah kematian kita, Malaikat Maut telah menghampiri kita.

Alangkah baiknya, selagi memikirkan bagaimana caranya kita ingin dikenang setelah kematian kita, kita bisa hidup dan mengisi hari-hari dengan berada di jalan atau melalui cara-cara yang kita ingin dikenang oleh mereka. Live the way you want to be remembered.

Mungkin juga seperti kita semua, paling tidak saya juga ingin dikenang baik, oleh karenanya saya berusaha hidup dengan baik, meskipun saya banyak kekurangan di sana-sini, namun saya berusaha selalu berbuat kebaikan.

Jadi, What will your legacy be? 

IMG_0111
White Flowers

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-26 ini bertema Flower agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Blue Sky Over The Stupas


Blue Sky over the Stupas on Shwedagon

Rasanya saya tidak akan lupa momen itu. Momen berakhirnya perjalanan di Myanmar karena sesaat lagi saya harus meninggalkan tempat ini menuju bandara internasional Yangon untuk kembali ke tanah air. Saya ingin memeluk momen indah ini selagi bisa, sampai saatnya tiba untuk melepaskannya…

Meskipun masih banyak tempat menarik di Yangon yang belum sempat saya kunjungi tujuh tahun lalu, tetap saja saya memilih Shwedagon sebagai tempat mengakhiri perjalanan di Myanmar kali ini.

Tujuh tahun lalu saya ke Myanmar, saya menjadikan Shwedagon sebagai destinasi utama, menjadi alasan untuk datang ke Myanmar. Jika ingin tahu alasan utamanya bisa buka link ini. Dan kini, setelah kepergiannya, rasanya saya ingin memeluk kenangan itu selamanya, sepanjang saya bisa untuk berada di tempat yang mampu membahagiakannya.

Bisa jadi saya halu, kata anak-anak jaman now. Biar sajalah, karena bagi saya pribadi melakukan sebuah perjalanan bukanlah untuk berkompetisi dengan orang lain. Saya melakukan perjalanan karena ingin merajut tempat-tempat yang saya kunjungi menjadi rangkaian momen yang indah penuh makna dalam hidup. Juga saat ini, saat memeluk momen untuk mengakhiri sebuah perjalanan.

Ketika dulu, tujuh tahun lalu, saya penuh haru tapi penuh semangat bisa menjejak di tempat saya berdiri ini, kini saya juga diliputi haru namun berat untuk melepas. Sebuah rasa haru yang saling bertolak belakang berada di tempat yang sama.

Dan saat itulah, saya melihat ke puncak-puncak stupa keemasan dengan latar langit biru.

Seketika itu juga saya terperangah, memberikan kesadaran bahwa apa yang saya rasakan dulu dan apa yang saya rasakan sekarang semuanya relatif, namun yang pasti saya tetap sama. Berada di dalam naungan cinta tanpa syarat Sang Pemberi Hidup. Lalu mengapa harus merasa berat?

Ah, sambil tersenyum dengan kesadaran yang membahagiakan itu, saya melangkah ringan meninggalkan tempat itu.

*

By the way, since I’ve uploaded a picture of holy place in Myanmar and today is Vesak Day, let me wish for those who celebrate

Happy Vesak Day

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,

May all beings be well, may all beings be happy and may all beings be free from suffering


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-19 ini bertema Blue Sky agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Momen Bertemu Kepala Negara


Hingga usia yang sudah boros ini, bisa dibilang saya memiliki kesempatan bisa bertemu dengan beberapa Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan. Tentunya bukan pertemuan resmi, karena siapalah saya ini. Tentunya hanya sebuah kebetulan, karena waktunya bersamaan, di satu tempat yang sama. Tapi, benarkah kebetulan? Karena sesungguhnya tidak pernah ada kebetulan kan? There is no coincidence, everything happens for a reason… 🙂

3 Juli 2011.

Saya bertemu pertama kali dengan Raja Kamboja, His Majesty Norodom Sihamoni, dalam kesempatan peresmian Candi Baphuon setelah proses restorasi yang sangat lama.

IMG_4408e1
The King of Cambodia and The Prime Minister of France

Oleh karena proses restorasi itu Kamboja mendapat banyak bantuan dan dukungan dari Perancis, maka pada kesempatan yang sama itu, hadir pula Perdana Menteri Perancis, Mr. Francois Fillon yang bersama-sama Raja Kamboja menggunting pinta peresmian Candi Baphuon. Saat itu, saya sedang mengunjungi kompleks Angkor Thom dan akhirnya bisa berada di antara tamu resmi, penduduk asli dan pengunjung Candi Baphuon.

IMG_4499
Seconds after the moment

Bahkan saya mendapat kesempatan bisa berdiri di barisan terdepan dan langsung melihat Sang Raja yang membuka jendela mobilnya dengan jarak tak kurang dari 1.5 meter. Mungkin saya terlalu egois membiarkan mata saya sendiri yang menikmatinya dan baru mengabadikannya melalui kamera setelah Sang Raja melewati saya. Tetapi yang jelas rasa syukur saya, bisa bertemu dengan dua orang pemimpin negara dalam satu kesempatan itu, rasanya tak habis-habis.

30 Oktober 2011

Saya kembali ke Kamboja. Kali ini membaur bersama rakyat Kamboja di Phnom Penh dalam rangka peringatan ulang tahun Bapak Raja Norodom Sihanouk (saat itu adalah penampilan terakhirnya di muka publik sebelum mangkat setahun setelahnya pada tanggal 15 Oktober 2012).

 

IMG_0260
The King, King Father, The Queen

Dalam kesempatan pagi itu, saya dapat melihat langsung (meskipun dari jauh karena protokoler) Raja Kamboja Norodom Sihamoni, Bapak Raja Norodom Sihanouk dan Ratu Monineath serta Perdana Menteri Hun Sen dan hampir seluruh bangsawan dan petinggi pemerintahan Kamboja berada di panggung. Kesempatan pertama kali dapat melihat para bangsawan dan petinggi pemerintahan itu bagi saya sangat luar biasa, karena tidak semua rakyat Kamboja bisa mendapatkan kesempatan itu, apalagi orang asing seperti saya. Apalagi, ketika mengetahui bahwa saat itulah penampilan publik terakhir bagi Bapak Raja Norodom Sihanouk, yang dulu sangat dekat dengan Proklamator Indonesia, Bung Karno.

4 November 2017

Saya bertemu pertama kali dengan Raja Thailand Maha Vajiralongkorn, yang menggantikan Raja Thailand sebelumnya, Raja Bhumibol Adulyadej yang mangkat pada tahun 2016.

Kesempatan ini saya dapatkan ketika saya pergi ke Bangkok, dalam rangka melihat keindahan tempat kremasi Raja Bhumibol Adulyadej yang telah mangkat. Sore itu, saya dihentikan di trotoar sehingga tidak bisa masuk ke kawasan kremasi karena Raja Maha Vajiralongkorn masih berada di dalam. Bersama masyarakat lokal, saya ikut bersimpuh di trotoar jalan menunggu Sang Raja meninggalkan kawasan kremasi. Sayang, saya tidak punya fotonya karena protokoler di Thailand lebih keras daripada di Kamboja. Semua harus duduk di trotoar dan tidak boleh ada kamera mengarah pada Raja.

20 April 2019.

Sebagai warga negara Indonesia, seumur-umur saya belum pernah melihat Presiden secara langsung. Rasanya, selain tidak ada kepentingan, tentunya protokoler istana sangat membatasi. Tetapi sejak era Presiden Joko Widodo, yang dikenal sangat merakyat dan senang ‘blusukan’, sepertinya kesempatan untuk bertemu Presiden menjadi besar.

 

jokowi1

Kesempatan itu sampai juga, tanpa sengaja dan tanpa diniatkan. Saat itu kami sedang berjalan-jalan di Grand Indonesia dan mendadak di lantai di bawah kami terjadi keriuhan. Saya bertanya kepada pramusaji yang berada di dekat kami dan dia mengatakan bahwa RI-1 sedang berkunjung. Dan langsung saja saya sebisa-bisanya mendekat.

Saya melihatnya langsung, di antara ratusan orang yang begitu dekat kepadanya, meminta kesempatan berswafoto, di antara keriuhan namanya yang dielu-elukan. Situasi politik hari-hari belakangan setelah Pemilihan Umum 2019 memang saling bertolak belakang sehingga mungkin kehadiran Presiden di tengah rakyat membuat suasana yang berbeda, yang membuat nyaman dan aman serta adanya kepastian bagi sebagian orang.

*

Bagi saya, momen pertama kali melihat Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan secara langsung, selalu memiliki sebuah kesan tersendiri. Jabatan mereka masing-masing melekat padanya dan tak bisa dilepaskan, tetapi ia tetap sebagai manusia biasa, yang tentunya ingin bersosialisasi dengan manusia lainnya, menganggap manusia lain penting dalam mengisi kehidupan pribadinya.

Sebagai pemimpin sebuah negara, baik dipilih rakyat atau karena garis darahnya, tentunya ia berharap bisa memberikan yang terbaik kepada rakyatnya, meskipun diantaranya pasti ada yang tidak suka atau juga mungkin karena batasan yang terbentuk karena jabatannya. Jika berpikir dari sisinya, meskipun batasan itu dihilangkan, bukankah kita tidak bisa memaksa orang lain selalu suka pada kita, kan? Tetapi apakah karena itu ia harus bertindak tidak adil? Sungguh tidak mudah untuk menjadi seperti mereka dengan tanggung jawab yang luar biasa besar terhadap kehidupan rakyat dengan begitu banyak keragaman.

Terlepas dari itu, selepas bertemu dengan Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan, rasanya tak habis rasa ungkapan syukur saya kepada Yang Maha Kuasa. Mungkin tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu lalu berpikir itu. Jika sekali adalah sebuah keberuntungan, lalu apa artinya bila bisa mengalaminya berkali-kali. Saya memang tidak hanya beruntung, I’m blessed…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-13 ini bertemakan First Time agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Kemudian Wajah Kita Menjadi Asing Satu Sama Lain…


IMG_0548

It is not our differences that divide us. It is our inability to recognize, accept, and celebrate those differences

(Audre Lordes)

Sejak tahun lalu, gejolak api untuk berseberangan pilihan semakin membesar. Padahal hari besar itu sesungguhnya merupakan sebuah pesta, sebuah perayaan akan kemampuan kita berdemokrasi. Semua dari kita yang memenuhi syarat, akan menentukan pilihan lalu menerima apapun hasilnya. Benarkah kita mampu menerima apapun hasilnya? Benarkah kita mampu menerima perbedaan?

Sejak tahun lalu, gejolak api untuk pilihan yang saling berseberangan semakin dikobarkan diantara kita, sehingga banyak dari kita ikut terbakar. Dalam pergaulan, tak jarang terjadi peristiwa yang begitu menyesakkan dan mengagetkan.

Rasanya saya tidak sendirian, karena saya percaya banyak terjadi juga dalam lingkup pergaulan kita semua. Seperti saya yang tergabung dalam sebuah WAG (WhatsApp Group) teman sekolah semasa kecil (SD dan SMP), -yang semuanya saya kenal sejak mereka kecil, masih menggunakan celana pendek, masih malu-malu ketika berdekatan dengan lawan jenis dan masih polos pemikirannya-, salah satu dari teman masa kecil ini mendadak left group karena merasa tidak sejalan lagi dengan teman-temannya semasa kecilnya itu. Hanya karena sebuah pilihan.

Dan tidak berhenti disana, ia pun meninggalkan group dengan kata-kata yang menghenyakkan. Hanya karena salah satu dari anggota group posting yang mendukung salah satu calon presiden. Namun ia telah menyamaratakan semua anggota group, yang mengenalnya sejak kecil. Bukan kata-katanya yang memedihkan hati, melainkan kepergiannya dari kami semua. Hanya karena sebuah pilihan.

Tetapi bisa jadi aktivitas di dunia maya membuat dirinya merasa tersudutkan. Ketika saya menjumpainya saat pemakaman Papa beberapa bulan setelah peristiwa left group itu, saya berhambur memeluknya, paham bahwa ia tak pernah meninggalkan saya.  Tapi bisa jadi, tak banyak yang seperti dia.

Karena di dunia nyata tidak jauh berbeda dengan dunia maya untuk masalah pilihan ini. Salah satu teman main semasa SMA, mendadak menjadi pendukung fanatik seseorang dari tim pemenangan salah satu calon presiden. Mendadak kami sebagai teman-temannya, -yang mengenalnya begitu dekat sejak masa sekolah, yang menjadi tempat curhatnya saat dia mengalami masalah dalam pernikahannya-, ditinggalkan olehnya demi seseorang yang baru ia kenal. Dia menjadi seseorang yang sangat berbeda, menjadi seseorang yang tidak kami kenal, seseorang dengan wajah asing. Bahkan kini, demi seseorang dari tim pemenangan salah satu calon presiden, dia kini menetapkan garis batas yang membedakan, yang memberi jarak antara kami dan dia.

Di lingkungan tempat bekerja,- meskipun pekerjaan berjalan biasa-, tetapi jika melihat dalam-dalam ke dunia media sosial dari rekan-rekan kerja, betapa berkobar api berseberangannya. Hanya karena sebuah pilihan.

Sekali lagi saya percaya, saya tidak sendirian. Bahkan di media massa pun berkisah, ada banyak dari keluarga yang seperti terperangkap oleh api pertengkaran. Ada banyak persoalan yang dihadapi teman-teman sekolah, ada banyak masalah baru ditimbulkan dalam lingkungan kerja, hanya karena sebuah pilihan.

Hanya karena sebuah pilihan, masing-masing dari kita menjadi begitu berbeda, menjadi seseorang dengan wajah asing, wajah yang seakan-akan tidak pernah dikenal.

Tanggal 17 April 2019 semakin dekat, semoga menjadi titik balik agar kembali seperti semula. Kita sesungguhnya hanya bisa berharap semua akan kembali damai, tanpa api yang membakar satu sama lain.

Namun, setelah banyak dari kita mengalami sendiri fenomena ini, sebuah pertanyaan muncul di benak apakah benar wajah kita masing-masing menjadi asing satu sama lain?

Ataukah mungkin,

Kita yang belum sungguh-sungguh mengenal diri sendiri sehingga tidak mampu menerima makna perbedaan?

*


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-13 ini bertemakan Stranger agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Pindah, dari Akhir ke Awal


Life begins at the end of your comfort zone. – Neale Donald Walsch

30 Maret 2019, hari ke-100.

Masih jelas dalam benak momen itu, saya hanya bisa diam mematung, tak bisa bicara. Lagi pula tak guna lagi bicara, karena semua ada waktunya. Seperti sebuah potongan puzzle yang tepat menempati posisinya yang terbuka. Ini sudah jalannya.

Saat itu,

Semua orang sibuk, lalu lalang berbisik di belakang saya, entah untuk apa. Sebuah tangan terasa menepuk lembut di pundak, seakan memberi kekuatan jiwa. Tapi rasanya semua berupa maya.

Entah mengapa saya hanya diam dalam hening, hanya bisa menyadari situasi di muka. Entah siapa lagi yang sesungguhnya sadar situasi yang ada.

Akhir dari sebuah perjalanan dan sebuah perjalanan baru bermula.

Yang ada di depan saya hanya sebuah sisa, dari sebuah akhir.

Sebuah milestone, sebuah gerbang telah terlewati

Sebuah awalan baru, bermula

*

Hingga kini, saya tak lupa momen itu.

Saat itu, hanya sebuah momen yang menggegarkan jiwa. Bagi yang menyadarinya, ada momen mikro yang serupa sepanjang masa, hanya bagi yang menyadarinya. Sebuah awalan yang memiliki akhir dan sebuah akhir yang bermula.

Dengan keterbatasan kemanusiaan saya, hanya bisa diam mematung menghadap sisa. Suatu saat nanti, saya, juga Anda, akan menjadi sisa, sama seperti dia.

Hari ini, keseratus kali sang surya membuka cerita.

Sebuah akhir, sebuah awal, sebuah akhir, sebuah awal…

Kita sesungguhnya senantiasa berpindah.

Al Fatihah.

jerpur


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-12 ini bertemakan Berpindah agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Spring, A New Beginning


Spring is a time to find out where we are, who we are and move toward where we are going to.

DSC07104
Colorful flowers in spring time

Memaksakan menggenggam sesuatu yang seharusnya dilepas, akan membuat diri kita menderita. Karena Semesta menginginkan kita memiliki hal lain, yang mungkin hanya bisa didapat jika kita melangkah ke depan, berpindah tempat dari posisi sekarang. Kita akan menjadi terbarukan yang lebih baik daripada sekarang.

Dan apa yang kita genggam itu, bisa jadi Semesta juga akan membarukannya, menjadikannya lebih baik. Jika memang demikian, kita telah berbuat jahat jika kita menggenggamnya terus. Lagi pula, bagaimana kita bisa menggengam yang baru jika kita masih menggenggam yang lama?

Dan pastilah kita akan menderita jika memaksakan diri menggenggam sesuatu yang seharusnya dilepas. Karena semuanya yang berada dalam genggaman merupakan pinjaman, yang sepenuhnya bukan milik kita, yang suatu saat harus dikembalikan kepada Pemiliknya. Lalu apa sebutannya bila kita memaksa diri untuk memiliki yang bukan lagi dipinjamkan untuk kita?

Musim semi, atau yang sering kita kenal dengan spring, adalah waktu yang tepat semua awalan baru, meskipun kita berada di tempat yang tidak mengenal musim semi. Mulai melangkah menuju yang yang lebih baik merupakan sebuah kesadaran, mulai melepas sesuatu yang berada dalam genggaman agar semuanya menjadi lebih baik, merupakan sebuah kesadaran.

Melepas dan melakukan langkah pertama itu tidak mudah, tidak semudah berbicara. Namun bila kita terus berpikir bahwa semua ini untuk kebaikan semua pihak, yang berasal dariNya, kita akan dibantu olehNya. Bukankah, kupu-kupu indah berasal dari ulat yang berdiam lama dalam kepompong lalu mengalami kesulitan ketika keluar dari kepompong itu?

Dan perjalanan singkat akhir pekan kemarin di musim semi, -yang tidak dikenal di Indonesia-, bagi saya merupakan sebuah perjalanan melepas, sebuah awalan baru, sebuah langkah baru.

Ke arah yang lebih baik.

Singapore, 24 Maret 2019.

Every new beginning comes from some other beginning’s end. (Seneca)

 

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-11 ini bertemakan Spring agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…