Belajar Menerima Dari Bencana


“Maaf Ma, Pa, air sudah masuk ke rumah, tapi listrik masih nyala…”

Begitu pesan Whatsapp yang saya baca dari anak saya yang berada di rumah sementara kami sedang berada ribuan kilometer dari rumah. Sebanyak apapun pengalaman suami dan saya menghadapi banjir di Jakarta, kami tak bisa berbuat apa-apa di saat tak berada di tempat kejadian. Hati saya terbelah meskipun saat itu saya berada di tempat yang paling saya impikan sejak kecil, Palestina. Berita itu memporakporandakan antusiasme sebuah perjalanan batin, meskipun hari itu adalah hari terakhir menuju pulang ke tanah air.

Transit di Abu Dhabi tidak lagi menggembirakan. Kami ingin cepat sampai di rumah karena rumah adalah base-camp kami. Abu Dhabi bisa didatangi kembali lain waktu tapi rumah tetap prioritas nomor satu.

Tak terbayangkan anak-anak kami yang telah berbuat maksimal menghadapi musibah banjir di rumahnya sendiri, berupaya menyelamatkan barang-barang yang mampu mereka selamatkan. Banjir mereka yang pertama, yang harus dihadapi sendiri tanpa kehadiran orangtua. Banjir yang datang pada malam hari, tanpa mereka sadari, datang menerjang dengan cepat, menggenangi dan terus merambat naik, dalam keadaan listrik yang masih menyala. Ketika pagi datang, mereka tak bisa berbuat banyak kecuali hanya menyaksikan lantai dasar rumahnya telah terendam 70 cm dengan barang-barang yang sudah jungkir balik. Mereka hanya bisa menunggu di lantai dua sampai listrik dimatikan PLN untuk bisa bergerak melakukan penyelamatan terhadap sisa-sisa barang yang bisa diselamatkan. Lalu setelahnya, dengan segala pertimbangan matang, mereka mengirim pesan Whatsapp di atas.

Sekuat apapun kami mempersiapkan hati sesampainya di Jakarta awal Januari 2020 itu, rasanya tetap masygul menyaksikan isi rumah berantakan diterjang banjir. Air memang sudah surut tetapi ada rasa campur aduk melihat apa yang ada dan membayangkan pekerjaan di depan mata yang tak bisa terhindarkan. Rasa syukur berlimpah karena indahnya perjalanan Umroh ditambah kunjungan ke Al Aqsho seharusnya masih tinggi memenuhi dada, meskipun faktanya ada juga rasa sedih dan rasa kehilangan yang menyambangi jiwa.

Beruntung ada ART dan suaminya yang cekatan membersihkan lalu menata kembali seisi rumah, sebisa mereka. Tetapi jejak banjir tak mampu menyembunyikan betapa hebatnya banjir kali ini. Rasanya bagaikan bumi dan langit, keadaan rumah saat kami tinggalkan saat berangkat dan saat kami kembali, apalagi anak-anak sempat mengambil foto saat barang-barang seperti kulkas, lemari telah terhempas dan sofa-sofa mengambang.

Getir memang. Banjir yang ‘numpang lewat’ itu meninggalkan jejak yang tak sedikit. Begitu banyak barang yang harus dibuang, termasuk album-album foto lama yang belum sempat saya digitalkan. Ada banyak buku yang berada di lantai 1 yang harus saya buang. Ada banyak cerita, ada banyak kenangan yang hilang bersama banjir.


Vatsala Devi, 2014
Ruins of Vatsala Devi temple, 2017

Awal November 2014

Saya melakukan perjalanan solo ke Nepal, sebuah perjalanan yang amat mengesankan bertabur keluarbiasaan jika tak boleh dibilang keajaiban. Sebagi orang yang mengagumi sebuah kawasan World Heritage Site, saya terpesona dengan semua Durbar Squares yang ada, dari Kathmandu, Patan hingga Bhaktapur. Bahkan saya sempat berada di dalam keriuhan festival di Kuil Changu Narayan. Juga bisa menyaksikan secara langsung wajah Kumari The Living Goddess, Sang Dewi Hidup dari Kathmandu Durbar Square. Menyaksikan keindahan Himalaya dari jendela pesawat. Begitu indah.

April 2015, Gempa bumi besar melanda Nepal

Hanya berselang enam bulan setelah perjalanan istimewa saya itu, sebagian besar World Heritage Site yang saya saksikan rusak bahkan ada yang runtuh total. Gempa besar yang membuat longsor, menimbun rumah dan makhluk, tanah bergerak membuat manusia berteriak. Begitu banyak rumah dan bangunan yang hancur serta sekitar 9.000 orang melepas nyawa mereka.

Air mata saya jatuh saat membaca berita. Kathmandu Durbar Square yang sebelumnya memiliki kuil-kuil megah, mendadak tinggal undakan-undakannya. Padahal saya begitu terpesona di tempat itu. Juga Kuil Changu Narayan yang disakralkan, tempat saya berbaur dengan para wanita yang berbahagia pada perayaan Ekadhasi, mendadak kuil itu rusak parah terkena gempa bumi. Tak beda di Patan Durbar Square, kuil-kuil berusia ratusan tahun itu runtuh ke tanah. Di Bhaktapur Durbar Square juga tak beda. Kuil-kuil cantik juga runtuh, padahal saya berlama-lama di tempat itu.

Begitu kuat kenangan itu, sehingga saya merasa begitu kehilangan semua keindahan yang pernah saya saksikan enam bulan sebelumnya.

April 2017

Dua tahun setelah gempa besar itu, saya kembali ke Nepal. Gundahnya saya akibat gempa itu membuat saya hanya menyempatkan diri ke sebuah sudut di Bhaktapur Durbar Square. Saya juga tak pergi ke Kathmandu Durbar Square atau Patan Durbar Square. Bisa jadi saya terlalu sedih untuk menyaksikan hilangnya world heritage itu.

Di tahun 2017 itu, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seakan tak menerima kenyataan ketika berada di Vatsala Devi temple yang rata dengan tanah ketika terjadi gempa. Padahal saat 2014 lalu, kuil itu begitu cantik menghias Bhkatapur Durbar Square.

Bhaktapur Durbar Square, 2014
Bhaktapur Durbar Square, 2017

Ada banyak contoh lain dampak sebuah bencana dari yang sebelumnya cantik, bagus, keren, indah dan sebagainya menjadi sebuah yang menakutkan, hancur berantakan, babak belur atau luluh lantak. Ada juga yang namanya penyempurnaan atau perbaikan, Dari yang awalnya kurang baik menjadi lebih baik. Semua bermakna sama: perubahan. Jika hasilnya lebih buruk daripada sebelumnya maka itulah yang disebut bencana. Namun jika hasilnya dianggap lebih baik dari sebelumnya, maka hal itu disebut penyempurnaan, menjadikan sesuatu lebih mendekat pada kesempurnaan,

Padahal rasanya pasti serupa. Saya juga merasa getir dan masygul ketika sampai di rumah menghadapi amukan bencana banjir Januari awal tahun ini. Saya juga tak mampu bahagia melihat kuil cantik yang dahulu ada kini hanya tinggal nama. Rasanya begitu manusiawi memiliki rasa-rasa itu.

Hanya saja, tak baik memeliharanya lama-lama.

Dengan memelihara sedih atau gundah itu bisa bermakna terikat pada sesuatu yang sebelum hilang itu, pada sesuatu yang sebelum hancur.

Padahal hancur juga kan? Hilang juga kan? Jadi sebenarnya untuk apa merasa masygul berkepanjangan? Untuk apa merasa sedih berlama-lama?

Jika bencana itu sudah seharusnya terjadi, maka bencana itu pasti terjadi. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi ketika mengetahui banjir yang cukup dalam menerjang rumah. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali geleng-geleng kepala ketika berdiri di dekat reruntuhan kuil Vatsala karena gempa besar Nepal.

Pada suatu titik, akhirnya kita hanya bisa menerima.

Seperti seorang bayi yang baru lahir, hanya bisa menerima dan terus belajar menerima lalu bereaksi untuk tumbuh.

Bahkan bencana-bencana itu merupakan pembelajaran yang hebat


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-42 bertema Before & After agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Broken Heart, Hollow Inside Or Change It


Adakah orang yang tak pernah patah hati dalam hidup? Karena patah hati tak melulu karena putus cinta. Lebih luas dari itu. Kita mengalami patah hati, -bukan hati yang patah secara fisik-, sebagai ungkapan akan derita emosi yang amat dalam dirasakan oleh seseorang karena kehilangan orang yang dicintainya, yang bisa datang melalui kematian, perceraian atau putus hubungan, dan berakibat keterpisahan fisik atau penolakan cinta.

Saya juga mengalaminya.

Pohon-pohon tak berdaun

Saya pernah patah hati karena putus cinta. Dia telah memenuhi semua kriteria menjadi calon pendamping hidup dalam pernikahan, tetapi saya mengabaikan satu kriteria yang paling dasar (Mungkin bukan mengabaikan melainkan mencengkeram kuat sebuah harapan). Agama.

Nasehat-nasehat orang lain agar jangan meneruskan hubungan yang tidak seiman, memang saya dengarkan tetapi tidak cukup untuk membubarkan. Saat itu kami belajar melebarkan toleransi terhadap ibadah. Saling mengingatkan, saling menjaga, saling mendukung. Dan rasanya begitu indah.

Hingga satu hari yang paling menyakitkan, tepat dua tahun dari tanggal yang sama kami memulainya. Saya mungkin yang memulainya, bisa juga dia. Rasanya sama, pancaran mata kami sama. ‘Kartu-kartu’ kami dihamparkan di hadapan. Kami berdua menolak fakta, tetapi itu sangat nyata. Di tanggal yang sama, tepat dua tahun setelah kami memulainya, kami sama-sama memegang sebuah bola kristal harapan yang hancur meremuk dengan kepingan yang begitu kecil. Jalan kami berbeda.

Saya hancur, dia juga. Harapan itu sirna mendadak. Tak akan ada pernikahan. Airmata tumpah tak terbendung. Terlalu pahit untuk melepas seseorang yang telah begitu dekat di hati, rasanya seperti palu yang menghantam kesadaran saya. Meski tetap hidup, hari-hari itu terasa kelabu. Tak ingin makan, tak ingin keluar, tak ingin kemana-mana, tak ingin melakukan apa-apa. Saya menangis terus. Hidup rasanya hampa. Kosong. Semua terasa kabur, tak nyata, blurred. Hollow inside.


Dan berpuluh tahun setelah momen patah hati itu, saya mengalaminya lagi. Kepergian Papa hanya tiga hari sebelum ulang tahun saya, membuat saya menjalani momen-momen bahkan hari-hari setelahnya dengan perasaan yang hampa meskipun kalimat-kalimat penghiburan, doa dan atensi terus menerus dilimpahkan kepada saya. Semuanya tak bisa mengisi hati yang sedang terbelah. Bahkan sehari setelah prosesi pemakaman Papa, kepergian saya sekeluarga ke Jepang pun tidak dapat mengisi hati yang terus merembeskan airmata itu. Hati saya patah berkeping-keping, serupa dulu…

Tidak ada kata tepat yang dapat menjelaskan bagaimana perasaan hampa yang saya rasa itu. Hanya saja seperti zombie, bisa bergerak tapi tak sesungguhnya hidup. Mata melihat, namun dengan pikiran yang tidak mengarah kepada apa yang disaksikan. Semua terasa sama, warnanya sama, kelabu samar. Mungkin saya bisa tersenyum, tetapi senyum tak diikuti rasa. Saya mungkin bisa sesaat menikmati perjalanan, tetapi momen berikutnya bisa menggigit bibir bertumpah airmata. Saya ingat saat terbang menuju Tokyo. Mata memang memandang keluar jendela pesawat bersamaan mengalirnya airmata membasahi pipi tanpa dirasa. Tak banyak kata, tak banyak cerita. Saya lebih banyak diam seribu bahasa.

Saat itu saya menangisi kemortalan manusia sebagai makhluk yang bernyawa yang pasti akan mati dan berpisah dunia. Kematian telah memisahkan saya dengannya dan membuat saya patah. Patah yang sesungguhnya. Hancur lebur dan membuat semuanya hilang. Hampa.


Namun tidak pernah ada yang sia-sia begitu saja…

Alam telah memiliki aturan untuk berjalan sedemikian rupa, bahkan saya pun bisa belajar dari sebuah kehampaan. Sebuah kehampaan yang datang dari peristiwa berpindah dunia maupun karena putusnya hubungan cinta.

Dan di setiap momen waktu yang berlalu, ada pilihan-pilihan hidup yang harus diambil oleh seorang manusia. Juga saya, pada saat-saat itu.

Setiap manusia termasuk saya, memiliki pilihan yang sama. Pilihan itu muncul mungkin tanpa disadari sepenuhnya. Selalu ada dua pilihan: Status quo atau berubah.


masih ada sedikit daun untuk bertahan

Dan Sang Pencipta telah memberikan daya dan kekuatan begitu besar kepada manusia untuk menjalani kehidupan ini berdasarkan pilihan-pilihan yang diambilnya.

Juga kepada saya ketika mengalami hati yang terbelah karena putus darinya.

Hanya saja saat itu saya memilih status quo. Saya membiarkan diri berlama-lama dalam rasa yang ‘hampa’ itu. Saya biarkan pembelajaran lain dibelakangnya untuk datang dalam bentuk yang lebih berat untuk dijalani. Hepatitis menghampiri, demam tinggi lalu pingsan tak sadarkan diri. Bolak-balik rumah sakit menjadi sebuah rutinitas karena harus cek lagi dan lagi. Sebuah konsekuensi atas pilihan status quo itu.

Jika saja disadari lebih awal, tentunya saya tak akan memilih status-quo itu karena ternyata berlama-lama menjalani rasa hampa itu tak enak akibatnya. Tetapi Dia Pemilik Waktu selalu menyediakan momen untuk berubah, cepat atau lambat.

Apapun penyebabnya, -kehampaan karena berakhirnya sebuah hubungan atau karena kematian-, suatu saat akan datang kesadaran bahwa sebelum hari kelabu itu pernah datang hari-hari gembira dan ceria, penuh cahaya gemerlap, penuh pelangi warna-warni. Lalu apakah saya mau mempertahankan warna yang kelabu selamanya? Tentu saja, serta merta pilihannya datang kembali, Status quo atau berubah?

Dan selalu ada momen untuk berubah, cepat atau lambat.

Dan saya memilih berubah karena saya ingin hidup saya penuh warna lagi meskipun untuk mencapai itu tidaklah selalu mudah. Tetapi bukankah selalu dikatakan orang, mungkin memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa, bukan?

Seperti segala sesuatu hanya bergantung kepadaNya, demikian pula upaya perubahan yang harus saya jalani. Perpisahan dengannya berpuluh tahun lalu itu memang harus terjadi untuk sesuatu yang lebih baik dalam kehidupan saya dan dia. Memang memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk saya, tetapi kini kami semua telah berbahagia dengan pilihan hidupnya masing-masing. Masing-masing dari kami harus mengalami sesuatu yang tak nyaman, yang tak membahagiakan untuk mendapatkan yang seharusnya.

Demikian juga kepergian Papa yang merupakan keputusanNya yang terbaik bagi kami sekeluarga. Saya belajar dari banyak kejadian yang telah lalu, berlama-lama menangisi hidup tak akan mengubahnya kecuali tersadar dan berani mengambil sebuah pilihan untuk berubah menuju yang lebih baik.

There’s something good appearing

If you want to reach out for something new, you must first let go what’s in your hand

Sonia Choquette

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-39 bertema Empty agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Cherish Simple Little Things


Ketika membaca sebuah berita tentang adanya penemuan bayi malang yang telah disia-siakan oleh orangtuanya, sering saya terpikir bagaimana kelanjutan hidup si bayi itu. Bagaimana ia dibesarkan. Jika saja ia dibesarkan oleh orang yang menemukannya, -meski dengan penuh keterkejutan pastinya-, kemudian mencintainya dan membesarkan tanpa pamrih, alangkah indahnya kehidupan si bayi.

Mungkin awalnya seperti kisah burung yang membawa bayi dalam paruhnya lalu meletakkannya di depan pintu rumah pasangan yang belum memiliki keturunan. Terbayang bagaimana terkejutnya pasangan yang menemukannya…

Entah itu doa yang dikabulkan atau ada rencana lain dari Sang Pemilik Semesta… Namun, pastinya selalu baik. 

Hal yang serupa ternyata menyambangi saya juga. Tentu saja saya terkejut dengan apa yang terlihat di teras depan rumah. Tentu saja bukan bayi manusia, melainkan induk kucing dan seekor anaknya 😀 😀 😀

Ya Tuhan, saya ini sudah kapok mengadopsi makhluk bernyawa sebagai pet entah anjing, kelinci atau ikan. Saya sudah tidak mau merasakan kembali pedihnya hati merasa kehilangan. Duluuuu ketika anjing saya mati, saya menangis seminggu. Rasa kehilangan yang amat pedih juga saya rasakan ketika kelinci atau ikan peliharaan mati. Jadi, no more pet di rumah saya!

Tapi bukan berarti saya tidak bisa merasakan bahagianya melihat tingkah laku hewan domestik itu karena saya follow akun-akun di Instagram tentang kucing atau anjing yang memposting semua tingkahnya yang lucu-lucu. Tak perlu memeliharanya namun bisa merasakan bahagianya.

 

Dan ujug-ujug Tuhan mengirimkan induk dan anaknya ke teras rumah saya! 😀

6

Jadilah dua minggu terakhir ini saya mendadak punya kesibukan baru, browsing tentang kucing. Dalam seminggu saya beberapa kali membeli makanan kucing dalam kemasan, baik yang kering maupun basah. Lucunya semua penghuni rumah mendadak ikut sibuk dengan si kucing melihat aktivitas saya.

Pagi sebelum ke kantor saya pasti melihat kucing dan memberinya makan ditambah susu. Dan ada tambahan pekerjaan untuk suami yaitu buka kap mesin dan melihat kolong mobil karena si anak kucing lincahnya bukan main dan sering masuk ke mesin mobil. Lucunya, kita jadi bermain cilukba dengan si anak kucing. Kami pelan-pelan membuka kap mesin dan baaaa…. si anak kucing sedang duduk anteng di atas mesin, dia kaget sedikit melihat kami berdua hahaha… dan langsung lompat ke bawah, lari lagi ke induknya. By the way, tempat sembunyi si anak kucing itu ada di mesin motor yang memang saya parkirkan di atas teras rumah. Bagus banget kan dia memilih tempat sembunyi? 😀 😀 😀

5

Dan karena masih kecil, saya sibuk menyuapi si anak kucing. Lucu sekali, seperti punya anak bayi lagi hahaha… Anak saya yang phobia dengan kucing bahkan melihat juga (dari jauh tapi 😀 )

Setelah makan, biasanya saya menggoda si anak kucing untuk bermain dengan lidi yang diujungnya digantungkan kain perca. Dia mengejar, mencoba menangkap kain yang memantul-mantul. Kelihatan sekali gemasnya karena gagal menangkap. Dia melompat setinggi-tingginya, kadang duduk di atas kaki belakangnya sampai terjerembab ke belakang. Dan kalau sudah jengkel, dia lari ke induk atau ke motor. ‘Jual mahal‘ terhadap saya tetapi tetap saja dia mengintip-intip. 😀

Selagi saya bermain dengan anaknya, si induk kucing goleran di teras dengan mata kreyep-kreyep. Mungkin tahu anaknya aman bersama saya.

Senangnya saya tiba-tiba mendapat kelucuan di depan mata setiap hari. Ada saja kelakuan si anak kucing kecil yang menyenangkan terjadi setiap hari.

Tetapi mereka, -si induk dan anak kucing-, tetap bebas menempati teras rumah yang dari sana bisa berjalan kemana saja. Saya berkali-kali mengatakan kepada diri sendiri bahwa mereka datang karena rencanaNya dan suatu saat mereka juga akan pergi meninggalkan teras karena rencanaNya juga.

Kucing memang sering terlihat di Indonesia, berjalan di antara kaki kita, atau di rumah-rumah yang mengadopsinya, di pinggir jalan, di pasar. Kucing jalanan memang tak jarang mengais tempat sampah atau mendadak menyeberang jalan. Tak jarang manusia overlooked terhadap mereka, melihat tapi dianggap tak ada.

Ada, tapi tak ada. Just little things…

Dan jangan terkejut jika tiba-tiba Pemilik Semesta mengirimkan mereka…

1

Cherish simple things such as family, friends and love, because great things appear simple from far away. Place your simple things in the best light; there’s enough sunshine for all of them ― Val Uchendu


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-31 bertema Simple Things agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu.

Expect Nothing, Appreciate Everything


 

Rasanya hampir setiap orang, -bahkan mungkin semua orang-, pernah merasakan kecewa karena memiliki harapan akan sesuatu yang tidak berjalan semestinya. Alih-alih mendapat apa yang menjadi harapannya, namun kenyataan yang diterimanya adalah zonk. Hati ambyar seketika dan dampaknya bisa terasa seharian atau bahkan lebih lama.

Hal yang sama bisa terjadi saat melakukan perjalanan.

Bertahun-tahun yang lalu, ketika melakukan perjalanan ke Korea Selatan, saya memiliki harapan yang amat tinggi terhadap negara itu. Bagi saya saat itu, Korea Selatan merupakan negara yang sudah maju di Asia. Dalam pikiran saya, tidak berbeda jauh dengan Jepang. Apalagi dalam perjalanan ke Jepang, -sebelum travelling ke Korea Selatan-, saya mengalami perjalanan yang amat berkesan dengan berbagai kemudahan, kenyamanan dan keramahan orang Jepang.

The pond near Bulguksa temple
The pond near Bulguksa temple, Gyeongju

Kenyataannya di Busan, -kota pertama di Korea Selatan saat memulai perjalanan-, saya mengalami kejutan-kejutan yang cukup menimbulkan rasa cemas di hati (baca cerita lengkapnya di pos dengan judul Berkenalan dengan Busan). Semua berawal dari tingginya ekspektasi saya terhadap negeri penghasil ginseng itu sebagai negara maju yang sudah siap menerima turis mancanegara. Saya sama sekali tidak menduga bahwa jarang tulisan latin dan penduduk lokal banyak yang tidak bisa bahasa Inggeris! Kecemasan saya berkelanjutan sesuai rute trip hingga ke Seoul, seperti saat ke Gyeongju, juga saat ke Haeinsa Temple yang hampir membuat saya menyerah. Praktis saya pulang ke Indonesia dengan membawa pengalaman perjalanan yang amat melelahkan jiwa raga.

Tetapi seperti yang saya tulis kemudian dalam Hikmah terserak di Perjalanan Korea, semua peristiwa yang terjadi seharusnya dapat lebih dikendalikan jika saja saya tak memiliki harapan terlalu tinggi akan kemudahan dan kenyamanan perjalanan di Korea Selatan serta mau mensyukuri apapun yang terjadi.

Dengan tidak memiliki pengharapan, artinya saya menerima apapun yang terjadi sebagai sebuah keunikan negeri yang dikunjungi. Seharusnya tidak akan timbul kekecewaan jika saya bisa menerimanya sebagai sebuah keunikan.

But there are no mistakes, only lessons.

Saya belajar dari perjalanan Korea itu, sebuah pembelajaran yang amat besar. Untuk tidak memiliki ekspektasi atau pengharapan dalam sebuah perjalanan dan bisa menerima segala sesuatu yang terjadi sebagai berkah. Jadi sejak itu, sebisa mungkin sebelum melakukan perjalanan ke sebuah tempat, saya mereset pengharapan atas tempat tujuan (meskipun kadang lupa juga hehehe)

*

IMG_0175
Expect Nothing, Appreciate Everything

Sebenarnya hal yang sama bisa dilakukan pula terhadap makhluk lain yang namanya manusia. 🙂 Dalam berinteraksi dengan orang lain, tanpa sadar kita telah menetapkan standar harapan terlalu tinggi kepada seseorang dan merasakan kecewa, marah, ilfil jika orang tersebut tidak bisa memenuhi level harapan kita.

Contohnya sangat mudah dicari. Paling gampang ya pengalaman saya sendiri dulu saat masih pacaran dan belum ada ponsel yaa…

Rasanya jengkel sekali jika mantan pacar yang sekarang jadi suami saya itu, tidak memberi kabar seharian. Saya bukannya hendak memonopolinya, tetapi saya cemas jika terjadi apa-apa padanya. Seperti kebanyakan perempuan lain, bisa jadi saya kebanyakan berpikir, tapi sungguh rasanya tidak enak sekali jika dia tidak menghubungi saya seharian. Akhirnya ketika dia menghubungi saya, ujung-ujungnya bertengkar.

Sementara saya berharap dia menghubungi saya barang semenit dua menit, dia sama sekali tidak tahu kalau saya memiliki pengharapan itu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa tidak memberi kabar seharian itu memberi dampak cemas di saya. Dia tidak tahu karena saya tidak mengungkapkan ke dia dan saya berharap dia bisa memahami apa yang saya rasakan. Bisa jadi saat itu dia sama seperti laki-laki lain yang sering pusing dan bingung menghadapi sikap perempuan. 

Saat itu saya memiliki ekspektasi kepada dia untuk mengerti dan bisa membaca perasaan saya yang akhirnya membuat saya kecewa, marah karena dia tidak bisa memenuhi harapan saya itu. Belakangan saya sadar telah salah (tapi gengsi untuk mengakui hihihi…) dan geli sendiri saat mengingat wajahnya yang ‘pasrah dan bingung’ atas kesalahannya tidak memberi kabar seharian! Seharusnya saya menerima kondisi dia tidak menghubungi sebagai sebuah berkah untuk dimanfaatkan yang positif dan menerima saat dia menghubungi berikutnya sebagai sebuah berkah.

Kita yang memiliki pengharapan kepada orang lain, lalu kita yang jengkel, kecewa atau marah karena dia tidak bisa memenuhi apa yang menjadi harapan kita kepadanya. Kan dia tidak bisa baca pikiran dan perasaan kita ya? Lagi pula pengharapan itu ada pada kontrol kita kan? Bisa dikendalikan kan?

Coba dibalik situasinya.

Bagaimana seandainya dia marah atau jengkel atau mendadak diam seribu bahasa, hanya karena kita tidak bisa memenuhi harapannya. Bingung dan jengkel juga kan? Memangnya kita bisa baca pikiran dan harapannya kalau tidak diungkapkan?

*

Tetapi memang tidak mudah untuk mereset ekspektasi, apalagi menerima segala sesuatu sebagai berkah. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, paling tidak mulai belajar dilakukan.

Jadi, mau travelling kemanapun, atau kepada orang lain, termasuk keluarga, pacar, calon pacar, rekan kerja, sahabat, teman perjalanan, saya sih merekomendasi untuk expect nothing, appreciate everything. Hidup akan berjalan terasa lebih nyaman dan membahagiakan, jauh dari rasa kecewa.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-3 ini bertema Rekomendasi agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Belajar Dari Tempat Simbol Perdamaian


Menapakkan kaki di tempat yang memiliki simbol perdamaian itu memiliki daya lenting yang baik. Banyak orang telah menjejakkan kakinya di tempat-tempat seperti itu, jauh lebih banyak dari pada saya yang hanya menjejak ke beberapa tempat. Tempat yang di atasnya didirikan bangunan atau tanda sebagai simbol perdamaian. Dan tentunya saat menjejakkan kaki di sana, saat itu, selalu mampu menggetarkan rasa yang luar biasa.

Seperti ketika berada di Hiroshima, Jepang, saat mengunjungi Peace Park, saat itu perasaan dibawa naik turun sedemikian rupa. Bagaimana mungkin saya tak tergugah saat membaca peristiwa kelam bagi kemanusiaan yang sangat menghancurkan hati yang pernah terjadi tepat di bawah kaki berpijak? Ratusan ribu atau jutaan nyawa hilang dalam sekejap dan berpuluh tahun berikutnya akibat dampak buruk yang ditimbulkannya.

Dan bagaimana mungkin rasa saya tak terkoyak ketika berada di monumen yang mengisahkan perjuangan seorang gadis kecil yang terpapar radiasi akibat bom atom yang dijatuhkan di kotanya? Bagaimana mungkin saya tidak teringat kepadanya setiap saya melipat origami burung kertas, sebuah cara si gadis kecil untuk tetap memiliki harapan hidup? Bagaimana mungkin saya tidak tertampar rasa saat menyaksikan api perdamaian yang terus menyala meskipun saat itu hujan turun dengan derasnya?

Dan di tempat lain, sedikit di luar kota Phnom Penh, Kamboja. Bagaimana mungkin saya tidak hancur rasa saat berkunjung ke Choeung Ek, Ladang Pembantaian manusia (The Killing Fields) yang terjadi selama Khmer Merah berkuasa di Kamboja? Begitu banyak pertanyaan tergambar di benak. Bagaimana mungkin orang bisa sekejam itu, membunuh karena berbeda ideoologi? Atau hanya karena ia berkacamata dan dianggap pandai? Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membantai manusia lainnya dan memperlakukan lebih buruk daripada hewan ternak? Bagaimana mungkin orang bisa membunuh seorang ibu dengan bayinya? Dan bagaimana mungkin seorang manusia bisa membunuh bayi-bayi dengan membenturkannya ke pohon?

IMG_2393
Cheoung Ek Monument, Phnom Penh, Cambodia

Memang saat saya berada di tempat-tempat itu, perasaan saya berkecamuk hebat. Begitu banyak pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” silih berganti muncul terus di kepala, meskipun peristiwa-peristiwa itu nyatanya sudah terjadi di masa lalu.

Tempat-tempat yang kelam dan dari sana kita bisa banyak belajar…

*

Di sisi yang berbeda, di tempat-tempat denting-denting kedamaian dibunyikan dan diingatkan kepada kita…

Seperti ketika berada di Nepal, melakukan perjalanan darat dari Pokhara hingga Lumbini, dengan mengunjungi tempat-tempat yang menjadi simbol perdamaian. World Peace Pagoda yang berada di atas bukit di pinggir kota Pokhara, menjadi landmark bagi siapapun yang ke Pokhara. Hampir semua turis menyempatkan waktu untuk berkunjung ke sana.

Juga saat berada di Lumbini, tempat kelahiran Sang Buddha, saya menyaksikan nyala api perdamaian di pintu masuk taman perdamaian, tempat yang menjadi saksi kelahiran Sang Buddha hampir tiga millenium lalu. Bahkan tak jauh dari sana terdapat papan yang bertuliskan ajaran Buddha yang penuh damai.

Juga saat berada di Vientiane, Laos, saya terkagum kepada gema perdamaian dunia dalam bentuk Gong yang disampaikan dari Indonesia untuk di tempatkan di dekat kolam yang segaris lurus dengan Patuxai, monumen negeri Laos yang menyerupai Arc de Triomphe di Paris.

*

Dua sisi yang berbeda, menggaungkan gema yang sama, kata yang sama, Perdamaian. 

Tak bisa dipungkiri bahwa damai di mulai dari diri sendiri, namun apakah kita semua mampu berteguh hati mengupayakan rasa damai laksana Mahatma Gandhi, pahlawan India yang memilih jalan anti kekerasan dalam perjuangannya? Kata-katanya amatlah jelas di sisi mana ia berdiri.

Peace is not the absence of conflict but the ability to cope with it – Gandhi

Tentu tak mudah, mungkin memang sangat tidak mudah, untuk diterapkan, apalagi kita, manusia-manusia yang hidup di peradaban sekarang dengan segala kenikmatan duniawi, terlalu sering, bahkan terbiasa untuk memenangkan ego dan tidak menahan diri terhadap batas kebutuhan orang lain. Ego kita senantiasa dimenangkan dalam banyak masa.

Ah, bisa jadi saya terlalu menggeneralisasi, tetapi jika kita mau menengok sejenak ke berbagai konflik yang terjadi belakangan ini di sekitar kita. Apapun alasannya yang menjadi pencetus, -yang paling sering adalah masalah suku, agama, ras dan antar-golongan-, belum lagi bicara ideologi, membuat kita semua, mau tidak mau, terjebak pada terbukanya konflik. Dari yang kecil hingga besar. Yang mungkin awalnya hanya sebuah noktah friksi mini yang tak berarti, namun seakan mendapat bahan bakar yang mampu meledakkan dan membesarkannya menjadi musibah dan bencana.

Mahatma Gandhi masih mengukirkan banyak kalimat bijaksana dalam perjuangannya yang anti kekerasan dalam memelihara kedamaian. Darinya sudah sewajarnya kita mengambil pembelajaran agar kita semakin berpikir,

I object to violence because when it appears to do good, the good is only temporary; the evil it does is permanent

Bukankah para leluhur telah memperkenalkan kata itu, agar kita selalu sadar dan waspada. Eling. Karena sisi buruk itu selalu mahir menggoda, merayu dan menantang. Dan ia tak pernah berhenti. Membuat kita selalu berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan fragile, untuk jatuh ke kubangan kekerasan, kekejian, kejahatan, keburukan dan serupanya.

Bukankah ‘lebih benar’, ‘lebih baik’, ‘lebih suci’, ‘lebih modern’, ‘lebih kaya’, ‘lebih tinggi’, ‘lebih sukses’ dan serupanya, terselip rasa yang amat menggoda?

Teringat saya pada Rumi, penyair sufi yang sangat terkenal dan berlimpah kata-kata bijaksana, juga kepada seorang guru yang mengagumi Rumi. Mereka berbicara hal yang serupa, mengenai ego untuk memelihara damai.

When you step down in the path of ego, means you step up in the path of God

Ah, kalimatnya amat jelas, semoga saja kita bisa belajar.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-39 ini bertema Peace agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Ketika Rasa Kehilangan Mendera


 


November 2013 di Gayasan National Park, Korea Selatan 

Di musim gugur malam datang lebih cepat. Saya melangkah pulang mengikuti jalan setapak yang masih menanjak di tengah hutan, sendirian dalam kelam dan dingin. Manusia-manusia lain sudah lenyap dari pandangan, langsung masuk ke rumah setelah gelap datang. Apalagi mereka hampir semua tak bisa berbahasa Inggris. Saya hanya bisa mengira-ngira arah pulang ke terminal bus karena sebelumnya, seperti penumpang lain, diturunkan di tengah jalan dan bukan di terminal karena macet total akhir pekan. Saya menepis rasa takut yang terus menyerang, menahan airmata yang hampir jatuh, mencoba fokus dari kebingungan yang mendera. Praktis saya di ujung putus asa karena kehilangan arah

Akhir Tahun 2014 di Macau 

Di depan konter check-in hotel itu, muka saya langsung pias, -tak bisa melakukan open-deposit-, karena tak menemukan dompet di dalam tas meskipun isinya sudah dikeluarkan semua. Dompet saya hilang! Paniknya tak dapat dirangkai dalam kata-kata. Masih untung perempuan cantik di balik konter itu membolehkan saya sekeluarga memasuki kamar karena semua sudah dibayar lunas. Di dompet yang hilang itu tersimpan semua lembaran uang dengan nominal besar dan kartu-kartu kredit yang menjadi andalan kami untuk berlibur akhir tahun. Dan seketika liburan itu berada di ujung tanduk…

Desember 2015 di Hoi An, Vietnam

Pagi itu di tempat tidur seperti ada yang membangunkan saya untuk memeriksa kembali isi tas. Ketika saya melakukannya, saya tidak dapat menemukan paspor di tempatnya ataupun di tas lainnya! Seketika rasa dingin menyerang ke seluruh permukaan kulit. Setahun lalu dompet, kini paspor! Saya panik tapi mencoba berpikir dengan begitu intens. Membuat rencana. Siapa tahu paspor jatuh di jalan sepanjang malam sebelumnya, harus ke kantor polisi untuk melaporkannya, harus terbang ke Hanoi untuk laporan kehilangan paspor di Kedutaan Besar Indonesia, harus menyiapkan uang tambahan untuk penginapan di Hanoi dan yang pasti sisa liburan pasti berantakan hanya karena paspor tidak ada di tas! Saya mandi yang tak terasa mandi, rasanya lunglai tak berenergi…

 

Siapapun tak ingin menghadapi halangan saat melakukan perjalanan, apalagi saat bepergian ke luar negeri. Namun tak pernah ada perjalanan yang selalu sempurna tanpa halangan. Seperti yang saya alami di atas, mau tidak mau tiga situasi karena rasa kehilangan di atas dan penuh kebingungan harus saya hadapi.

P1030976e
Sign to Haeinsa

Seperti saat hendak pulang di Gayasan National Park, -setelah selesai berkunjung ke Kuil Haeinsa-, saya hanya bisa berjalan berdasarkan intuisi, -sungguh seperti meraba-raba dalam gelap-, berjalan terus tidak tahu apakah benar atau salah arahnya. Saya benar-benar di ujung rasa putus asa namun saya tak mau menangis dan menyerah kalah. Menangis tidak menyelesaikan masalah bahkan memperlemah diri di saat harus tegar menghadapi kebingungan. Saya harus kuat dan hanya bisa terus berdoa untuk ditunjukkan jalan.

Bagi yang pernah membaca Ziarah (The Pilgrimage) atau juga Brida, novel-novel karangan Paulo Coelho, rasanya saya menapaki apa yang disebut di buku itu sebagai Malam Kelam. Dan saya hanya bergantung perlindungan dan kasih sayang kepadaNya. Sungguh saya belajar sungguh-sungguh bergantung total kepadaNya, berserahdiri secara total kepadaNya, memohon pertolongan. Dan apa yang terjadi?

Dan kemudian Dia mengirimkan pertolongan melalui dua orang lanjut usia di sebuah pondok yang saya temui akhirnya di ujung jalan setapak yang saya lalui. Tanpa perlu mengerti bahasa Inggeris, mereka menangkap maksud “bus” yang saya ungkapkan. Mereka berdua, dalam udara dingin, berjalan sebentar lalu menunjukkan arah lampu untuk naik bus berada tempat yang saya harus ikuti (kata terminal itu misleading karena tidak ada bus, kalaupun ada hanya 1 bus). Bagaimanapun, kedua orang lanjut usia yang membantu saya adalah malaikat dalam wujud manusia yang saya temui di ujung rasa putus asa karena kehilangan arah.

*

Situasi serupa penuh dengan kebingungan terulang di Macau. Kali ini saya bertanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh keluarga juga. Di kamar saya diam seribu bahasa dengan tensi yang meningkat karena situasi yang dihadapi. Saya hanya minta bantuan kepada keluarga untuk mencari tahu nomor telepon hotel di Hong Kong yang pagi harinya kami keluar, nomor kapal ferry yang kami gunakan dari Hong Kong ke Macau, nomor masing-masing pelabuhan hingga nomor taxi yang kami gunakan di Macau.

wallet1

Tanpa menghitung biaya roaming, satu per satu saya menghubungi mereka semua dan semuanya mengatakan tidak ada dompet hitam milik saya. Ada yang penuh empati ingin membantu dengan memberikan nomor telepon tempat yang terkait, tetapi hasilnya sama saja. Tidak ada!

Situasinya sangat serupa, saya mencoba terus tanpa henti hingga ke titik ujung usaha dan akan masuk ke dalam situasi ‘lepaskan atau terjebak pada penghambaan benda’. Seakan diingatkan akan batas ini, saya meluruh dan akhirnya berserah diri. Jika benda itu memang ditakdirkan dipinjamkan kepada saya, ia akan kembali. Bila tidak, biarlah saya menghadapi situasi lain yang berbeda yang memang harus saya hadapi. Saat itu, saya memohon izin untuk satu kali lagi menelepon sebagai upaya terakhir kalinya sebelum saya lepaskan semuanya. Terakhir!

Di Macau itu, saya tak tahu harus menangis atau bahagia ketika suara di ujung telepon mengabarkan dia, petugas tiket ferry di Hong Kong, menemukan dompet dengan ciri-ciri yang sama dengan dompet saya!

*

Saya ingat pagi di Hoi An, Vietnam itu setelah mengubek-ubek isi tas dan mengitari kamar hotel tanpa menemukan paspor dimana-mana. Lenyap dari tempatnya. Rasa dingin seperti tahun lalu kembali menjalar ke seluruh tubuh. Saya duduk di tempat tidur, lunglai dan bertanya dalam hati kepada Dia. Sungguhkah ini? Mengapa Engkau senang sekali bergurau kepada diri ini? Jika setahun lalu dompet, kini paspor.

passport1

Saat itu, meskipun kehilangan paspor, meskipun rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh dan memiliki plan A, plan B, plan C dan seterusnya untuk mengatasi situasi yang saya hadapi saat itu, ada rasa yang sangat berbeda! Jauh di dalam sana, saya merasa dicintaiNya, saya merasa disayang olehNya, saya berlimpah Kasih SayangNya. Ada ketenangan. Saya hanya diminta untuk percaya dan bersabar akan pertolonganNya. Sebuah rasa yang muncul dalam jiwa. Tidak pernah ada yang hilang, Dia menyimpannya untuk saya.

Tapi saya tetap manusia yang penuh tarik ulur yang hebat, yang merasa mampu mendapatkan hasil dari rencana-rencana yang dibuat. Dengan perang antara logika dan rasa, saya berangkat meninggalkan kamar dengan segudang rencana namun tetap percaya PertolonganNya akan datang. Help is on the way!

Berharap mendapat pertolongan pertama dari konter depan, saya mengungkapkan kehilangan paspor sambil mengatakan hendak check-out. Petugas itu lebih concern dengan informasi kehilangan paspor daripada proses check-out. Ia tampak berpikir sebentar, lalu berbalik mencari dokumen menginap di balik konter. Ia berbalik kembali menghadap saya sambil memperlihatkan folder transparan dengan paspor saya di dalam folder itu!

***

Siapapun tak ada yang suka mendapatkan halangan dalam perjalanan. Namun halangan ada, bukan tanpa tujuan. Halangan itu ada untuk kebaikan kita sendiri dan dapat menyempurnakan perjalanan, termasuk perjalanan hidup. Seperti musuh, dari halangan dan kesulitan, kita bisa belajar sangat banyak untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Yang kita perlukan hanya satu, berpegang pada Dia yang selalu ada untuk kita dimanapun kita berada, kapanpun. Selalu dan selamanya.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-36 ini bertema The Invisible Hand agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

What Will Your Legacy Be?


What we do for ourselves dies with us. What we do for others and the world remains and is immortal – Albert Pike

IMG_0192
White Lily

Mendadak belakangan ini saya digugah berulang kali oleh sepenggal kalimat yang dulu saya dapatkan dari seorang trainer. Sepenggal kalimat itu yang kini menjadi judul tulisan kali ini. What will your legacy be? 

Dan tepat sekali ketika sahabat saya mengangkat tema Bunga untuk tantangan Satu Foto Sejuta Cerita minggu ini. Karena apa yang menggugah saya belakangan ini, mengingatkan saya akan momen bunga itu. Bunga yang sebelumnya sama sekali tidak pernah saya tahu.

Saya tidak pernah lupa akan momen bunga itu. Dalam tidur, saya mendadak terbangun karena begitu jelas gambaran yang muncul di mimpi. Bunga itu, -yang belakangan saya tahu namanya adalah lily putih-, berada di atas peti mati coklat kehitaman! 

Seram kan? Jangan tanya peti mati siapa, karena saat itu saya sudah keburu bangun dan saya juga tidak mau tahu itu siapa. Tetapi bukan peti matinya yang begitu menarik perhatian, melainkan setangkai bunganya. Hanya setangkai bunga!

Dan akibatnya saya langsung mencari tahu tentang bunga itu, dan kini, saya tidak bisa menghindarinya. Setiap melihat bunga itu, -meskipun bunga itu cantik sekali-, saya selalu mengasosiasikan kepada sebuah kematian dan demikian pula sebaliknya.  

Nah kembali kepada yang menggugah saya belakangan ini, tentu saja berhubungan dengan yang namanya kematian. What will your legacy be? Dengan cara apa atau bagaimana sih kita ingin dikenang setelah kita mati? Uuugh…

Karena sesuai kata-kata Albert Pike di atas, apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri akan menghilang saat kita meninggal nanti, tetapi apa yang kita lakukan untuk orang lain, untuk masyarakat kebanyakan atau terlebih lagi untuk dunia, akan tetap tinggal dan tetap hidup meskipun kita sendiri telah meninggal dunia. Itulah legacy.

Terus terang apa yang saya lakukan masih terasa banyak sekali yang hanya ‘untuk saya’ atau paling tidak untuk orang-orang terdekat, dan bukan untuk masyarakat kebanyakan apalagi dunia. Dan meskipun kita semua memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari, tetapi rasanya saya semakin kehabisan waktu. Saya masih banyak berhutang hidup.

Setiap hari, setiap detiknya, sadar atau tidak, kita semua sedang menuliskannya, dan bukankah setiap kali kita merayakan ulang tahun, sebenarnya waktu kita berkurang, semakin sempit untuk mengerjakan hal-hal yang harusnya kita lakukan agar terpenuhi keinginan itu sebelum sampai ke deadline.

Tapi biasanya kita berpikir… ah masih jauh, masih lama…

Padahal kita tidak pernah tahu kapan waktunya. Bisa memang masih lama, tetapi bisa juga setahun lagi, atau enam bulan lagi, atau bulan depan, atau bahkan lusa, bisa besok, atau bahkan bisa sejam lagi… Dan bahkan mungkin kita masih belum sempat berpikir bagaimana kita ingin dikenang setelah kematian kita, Malaikat Maut telah menghampiri kita.

Alangkah baiknya, selagi memikirkan bagaimana caranya kita ingin dikenang setelah kematian kita, kita bisa hidup dan mengisi hari-hari dengan berada di jalan atau melalui cara-cara yang kita ingin dikenang oleh mereka. Live the way you want to be remembered.

Mungkin juga seperti kita semua, paling tidak saya juga ingin dikenang baik, oleh karenanya saya berusaha hidup dengan baik, meskipun saya banyak kekurangan di sana-sini, namun saya berusaha selalu berbuat kebaikan.

Jadi, What will your legacy be? 

IMG_0111
White Flowers


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-26 ini bertema Flower agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Blue Sky Over The Stupas


Blue Sky over the Stupas on Shwedagon

Rasanya saya tidak akan lupa momen itu. Momen berakhirnya perjalanan di Myanmar karena sesaat lagi saya harus meninggalkan tempat ini menuju bandara internasional Yangon untuk kembali ke tanah air. Saya ingin memeluk momen indah ini selagi bisa, sampai saatnya tiba untuk melepaskannya…

Meskipun masih banyak tempat menarik di Yangon yang belum sempat saya kunjungi tujuh tahun lalu, tetap saja saya memilih Shwedagon sebagai tempat mengakhiri perjalanan di Myanmar kali ini.

Tujuh tahun lalu saya ke Myanmar, saya menjadikan Shwedagon sebagai destinasi utama, menjadi alasan untuk datang ke Myanmar. Jika ingin tahu alasan utamanya bisa buka link ini. Dan kini, setelah kepergiannya, rasanya saya ingin memeluk kenangan itu selamanya, sepanjang saya bisa untuk berada di tempat yang mampu membahagiakannya.

Bisa jadi saya halu, kata anak-anak jaman now. Biar sajalah, karena bagi saya pribadi melakukan sebuah perjalanan bukanlah untuk berkompetisi dengan orang lain. Saya melakukan perjalanan karena ingin merajut tempat-tempat yang saya kunjungi menjadi rangkaian momen yang indah penuh makna dalam hidup. Juga saat ini, saat memeluk momen untuk mengakhiri sebuah perjalanan.

Ketika dulu, tujuh tahun lalu, saya penuh haru tapi penuh semangat bisa menjejak di tempat saya berdiri ini, kini saya juga diliputi haru namun berat untuk melepas. Sebuah rasa haru yang saling bertolak belakang berada di tempat yang sama.

Dan saat itulah, saya melihat ke puncak-puncak stupa keemasan dengan latar langit biru.

Seketika itu juga saya terperangah, memberikan kesadaran bahwa apa yang saya rasakan dulu dan apa yang saya rasakan sekarang semuanya relatif, namun yang pasti saya tetap sama. Berada di dalam naungan cinta tanpa syarat Sang Pemberi Hidup. Lalu mengapa harus merasa berat?

Ah, sambil tersenyum dengan kesadaran yang membahagiakan itu, saya melangkah ringan meninggalkan tempat itu.

*

By the way, since I’ve uploaded a picture of holy place in Myanmar and today is Vesak Day, let me wish for those who celebrate

Happy Vesak Day

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,

May all beings be well, may all beings be happy and may all beings be free from suffering


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-19 ini bertema Blue Sky agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…