Berperahu Naga Sepanjang Sungai Parfum


Kota Huế – Vietnam Tengah di bulan Desember

Setelah semalam berkeliling kota Huế dengan menggunakan becak, pagi ini saya menyempatkan diri melakukan tour berperahu sepanjang Sungai Parfum, sungai yang berlimpah bunga di hulu selama musim gugur sehingga konon menjadi harum baunya (tapi saya tidak membauinya lho 🙂 )

Perfume River from my hotel in Hue

Kota Huế di Vietnam Tengah yang memiliki tingkat hujan yang lumayan tinggi di bulan Desember ini, pagi itu tampak berawan, muram dan gloomy, tak beda jauh dengan situasi kota Hoi An yang telah saya tinggalkan sehari sebelumnya. Tetapi saya tak ingin terbawa suasana yang menggiring untuk berlama-lama di balik selimut. Setelah bersiap dan sarapan, segera saja saya menuju tempat perahu bersandar yang tak jauh dari hotel.

Sambil menunggu waktu keberangkatan, saya mengamati perahu wisata yang akan saya naiki. Bentuknya lucu, seperti ada dua kepala Naga di depan. Jika perahu Naga yang asli, kepala Naga benar-benar menyatu dengan badan perahu sedangnya versi KW ini kepala Naganya hanya berupa hiasan. Bagi saya hiasan ini malah menarik perhatian. Siapa sih yang memperhatikan asli atau tidak? Bukankah jika dilihat dari jauh tetap terlihat seperti perahu Naga? 😀

The Dragon Boat

Pada jam yang ditentukan seluruh peserta tur berkumpul, termasuk beberapa turis kulit putih. Kemudian perahu wisata berkepala Naga itu mulai bergerak menyusuri Sungai Perfume yang membelah kota Huế. Tak lama pemandu tur yang berusia tiga puluhan itu mulai mengeluarkan jurusnya bercerita tentang perjalanan hari itu. Sedikit berbeda dengan gaya ngebolang sebelumnya, saya tidak melakukan persiapan dan riset tentang tempat-tempat yang akan dikunjungi. Kali ini, sekali-sekali saya menjadi turis yang nurut pada omongan pemandu, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

Dalam hitungan menit perahu melaju ke pinggiran kota Huế, kepadatan kota terasa berkurang dan berganti dengan hijaunya pepohonan serta coklatnya Sungai Parfum. Pikiran saya melayang ke pengalaman di Bangkok, ketika menyusuri sungai Mae Chao Phraya, hanya beda pemandangan. Selagi masih menikmati pemandangan sekitar sungai, mendadak saya merasa perahu mengarah ke kanan dan melambat. Pasti ini pemberhentian pertama.

Rumah Taman An Hiên (Nhà vườn An Hiên)

Setelah turun dari perahu dengan melewati sedikit belukar, kami sampai di gerbang rumah An Hiên. Gerbang rumah dengan lengkung kuno ini terlihat lembab dan memudar meskipun masih terdapat jejak indahnya. Di bagian atas, terdapat hiasan berupa karakter China yang mungkin berarti An Hien dan di bawah lengkung terdapat hiasan bersulur.

Melewati gerbang, terhampar jalan setapak menuju rumah dengan dahan dan ranting-ranting tanpa daun, melengkung membentuk terowongan panjang. Cantik sekaligus menimbulkan misteri. Dan di ujung terowongan itu terdapat pagar berdinding yang sedikit berlumut dengan lubang lingkaran yang membentuk simbol kata Mandarin yang biasanya bernada kebaikan.

Berbelok di ujung jalan, terdapat pintu untuk masuk ke halaman rumah yang penuh dengan tanaman. Sebuah kolam ikan dibuat di bagian depan rumah mungkin bertujuan untuk mendinginkan dan menyegarkan suasana rumah.

Rumah Taman An Hiên yang sudah berusia lebih dari seabad ini relatif masih cukup bagus, pintu dan tiang-tiang kayu di bagian depan cukup baik (meskipun saya teringat rumah-rumah kuno di daerah pecinan yang serupa dan terpelihara dengan lebih baik). Hiasan atapnya cukup menarik perhatian saya. Dan seperti juga turis-turis lain, saat memasuki rumah itu, saya melihat ada altar lengkap dengan foto-fotonya, seperangkat alat minum teh, ruang-ruang kosong berisi tempat tidur kayu. Sayangnya sama sekali tidak ada penjelasan apapun bahkan pemandu tur entah dimana 😀 Saya hanya merasa di negeri antah berantah…

Belakangan baru diketahui, konon, putri ke-18 dari Kaisar Duc-Duc, –yang kontroversial karena penobatannya tak selesai dan hanya memerintah selama 3 hari, 20 – 23 July 1883-, menempati rumah An Hiên sampai tahun 1895, lalu setelah beberapa kali berpindah kepemilikan, akhirnya tahun 1938 rumah ini menjadi milik Nguyen Dinh Chi, seorang kepala daerah setingkat provinsi. Istrinya, Dao Thi Yen, terus merawat rumah ini bahkan mempelopori gerakan melawan kolonialisme Perancis yang terjadi saat itu di Vietnam. Bisa dikatakan rumah An Hiên ini menjadi saksi bisu kegiatan aktivis nasional Vietnam terutama yang berkontribusi besar untuk kota Huế.

Tidak banyak mendapatkan informasi tentang isi rumah, saya kembali ke halaman lagi. Meskipun tidak sempat memperhatikan keberadaannya, konon di halaman ini terdapat berbagai bunga, seperti anggrek dan mawar impor dari Eropa serta berbagai pohon buah seperti manggis, durian, lengkeng dan kesemek langka Tien Dien yang istimewa karena lezat dan tanpa biji. Buah kesemek ini khusus dibawa dari wilayah Nghi Xuan oleh cicit penyair besar Nguyen Du sebagai hadiah untuk keluarga Nguyen Dinh Chi.

Rasanya tak ada yang istimewa saat berkunjung ke rumah Taman An Hiên ini. Mungkin saja rumah ini memiliki nilai historis bagi penduduk Vietnam tapi sayangnya ketiadaan informasi yang melatari rumah ini, membuat pengunjung non-lokal seperti kehilangan spirit dan nilainya (Meskipun saya jadi introspeksi diri, apakah tempat-tempat wisata di Indonesia serupa rumah An Hien ini sudah memberikan informasi cukup dalam bahasa Inggris mengenai tempatnya?)


Setelah semua berkumpul kembali di perahu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Perfume. Pemandangan yang menarik membuat saya meninggalkan tempat duduk dan melangkah keluar menuju area kepala Naga tempat turis mengabadikan pemandangan sekitar.

Seseorang di antara mereka, -kelihatannya cukup berumur-, menghampiri saya dan mengajak ngobrol mengenai wisata menyusuri sungai ini. Mendengar ceritanya, saya sebagai frequent-traveler ke Cambodia merasa terhenyak juga mengetahui ia baru saja melakukan perjalanan wisata sungai dari Tonle Sap hingga ke Phnom Penh Cambodia, sebuah perjalanan yang masih menjadi impian saya. Ceritanya menginspirasi untuk segera mewujudkan perjalanan itu. Obrolan kami terhenti karena perahu berhenti di sudut sungai yang agak lebih tinggi. Saya terpesona dengan apa yang saya lihat, ada pagoda tua di antara rimbunnya pohon.

Thien Mu Pagoda

Thien Mu Pagoda

Sebagai tempat ibadah kuno berarsitektur indah, tak heran jika Kuil Thien Mu selalu menjadi tempat wisata yang didatangi wisatawan saat berkunjung ke Huế. Pagoda yang juga terkenal dengan nama Heaven Fairy Lady Pagoda itu terletak di Ha Khe Hill, desa Huong Long, di pinggir sungai Perfume atau bisa juga berkendara sekitar 5 km dari Huế.

Pagoda ini memiliki keunikan sendiri karena ada legenda yang menyelimutinya. Dahulu kala, seorang wanita tua muncul di bukit tempat lokasi pagoda sekarang, memberitahu penduduk setempat bahwa seseorang yang sangat berkuasa akan datang dan membangun Pagoda Buddha untuk kemakmuran negara. Waktu berlalu dan legenda tetap menyelimuti kawasan itu. Kemudian, karena legenda itu juga sang pendiri dinasti Nguyen, Lord Nguyen Hoang, -saat itu beliau gubernur provinsi Thuan Hoa (sekarang Hue)-, pada tahun 1601 memerintahkan pembangunan pagoda Thiên Mụ (atau disebut juga Linh Mụ) dan faktanya setelah itu memang membawa kemakmuran bagi negara. Bisa jadi legendanya misterius, tapi tak bisa diabaikan bahwa pagoda selalu dikunjungi orang, dari dalam dan luar negeri. Entah memang untuk melihat pagoda atau untuk membuktikan legenda itu sendiri.

Thien Mu Pagoda

Tentu saja seperti turis lainnya, saya tertarik untuk melihat lebih dekat menara pagoda yang menjulang tinggi. Menara ini dikenal dengan nama Phuoc Duyen, sesuai nama personal dari pendirinya, Kaisar Thieu Tri, dan telah menjadi simbol tidak resmi dari kota Hue. Menara segi delapan yang memiliki tujuh lantai ini menjadi bangunan serupa stupa yang tertinggi di Vietnam, bahkan biasa diasosiasikan (meski tak resmi) dengan ibukota kekaisaran yang berpusat di Hue.

Di dekatnya ada beberapa bangunan lain yang tak kalah menarik, seperti tempat yang menyimpan Dai Hong Chung, sebutan untuk genta sangat besar dari Lord Nguyen Phuc Chu, sejak tahun 1710 yang berukuran 2.5 meter dan beratnya lebih dari 3 ton. Tak jauh juga ada prasasti dari tahun 1715 yang dibuat berdiri di punggung kura-kura marmer besar yang menjadi lambang umur panjang. Saya juga menyempatkan memasuki Aula utama Dai Hung yang megah dan terlihat modern. Isinya barang-barang antik yang amat berharga.

Sambil menunggu peserta tur kembali, saya sedikit googling mengenai sejarah Thien Mu dan terkejut juga membaca hasilnya. Rupanya tak hanya kecantikan arsitekturnya, tetapi ada nilai historis kental dimiliki Pagoda Thien Mu ini yang membuat semangat kebuddhaan di tempat ini tetap terjaga.

Tahun 1963, Hue bergolak. Kebanyakan rakyatnya yang menganut Buddha melayangkan protes anti pemerintahan. Saat itu, Presiden Ngo Dinh Diem, yang naik ke tingkat kekuasaan tertinggi sejak tahun 1955, diduga telah menunjukkan perilaku diskriminasi. Konon, sebagai presiden, ia cenderung memprioritaskan umat Katolik dan melakukan diskriminasi terhadap umat Buddha di bidang ketentaraan dan pelayanan publik serta distribusi bantuan, yang membuat sebagian rakyat Vietnam tidak puas.

Ketidakpuasan akhirnya meledak di Hue di dalam musim panas tahun itu karena terhitung sembilan penganut Buddha tewas oleh tentara dan polisi dari Presiden Ngo Dinh Diem, yang malangnya terjadi pada hari Waisak, hari lahir Sang Buddha Gautama. Protes itu menyebar ke seluruh negeri dan membesar. Dan pusat gerakan umat Buddhist semasa bersejarah itu berada di Pagoda Thien Mu, dalam bentuk mogok makan, tempat barikade manusia dan protes damai.

Tetapi hari itu, saat saya menapaki kawasan Pagoda Thien Mu, rasanya sungguh damai dan tenang karena tempat itu ditata dengan indah, banyak bunga dan pepohonan. Bahkan di bagian belakang taman, terdapat hutan pinus yang wanginya terasa sampai ke tempat saya berdiri. Sungguh tak meninggalkan jejak sama sekali bahwa pernah terjadi gerakan karena sebuah tragedi di tempat yang indah itu.

Waktu berlalu, kami harus melanjutkan perjalanan berperahu. Sayang tak bisa menyaksikan rombongan biksu beribadah saat matahari tenggelam yang konon amat indah di sini. Tapi ah, hari itu, suasananya masih gloomy


Temple of Literature

Meninggalkan Thien Mu, perahu kami melaju melewati Temple of Literature yang lokasinya hanya 1 km dari Pagoda Thien Mu. Pagoda yang juga dikenal dengan nama Van Mieu Hue or Van Thanh ini merupakan tempat untuk pembelajaran ajaran Confusius yang terkenal di China, Korea, Jepang dan Vietnam.

Sayang karena waktu yang terbatas, kami tidak dapat mampir di tempat terkenal yang didirikan pada tahun 1908 semasa pemerintahan Kaisar Gia Long.

Perahu terus melaju menyusuri Sungai Perfume di hari yang berawan. Tak terlihat lagi rumah-rumah penduduk, yang ada hanyalah pepohonan dan perbukitan di kejauhan. Di beberapa pinggir sungai terlihat tempat penangkapan ikan. Serupa di negara-negara lain, sungai merupakan salah satu tempat mata pencaharian yang bisa diandalkan seperti perikanan.

Setelah beberapa lama, akhirnya perahu melambat dan berhenti pada sebuah kaki bukit. Inilah persinggahan terakhir dalam perjalanan dengan perahu. Sebuah kuil kecil yang cantik di antara rimbun pohon.


Hon Chen Temple

Berada di tepian sungai sekitar 10 kilometer dari kota Hue, Kuil Hon Chen merupakan obyek wisata yang terkenal di Hue.

Saya tersenyum saat menjejak di tempat ini karena sehari sebelumnya telah berkeliling My Son, sebuah kompleks percandian Kerajaan Champa. Seperti ada benang merah mengunjungi My Son dan ke Kuil Hon Chen, yang keduanya terkait pada etnis Champa.

Hon Chen Temple
Hon Chen Temple

Dan sebagai tempat ibadah Po Nagar, -junjungan yang dipercaya oleh etnis minoritas Champa-, Kuil Hon Chen menarik untuk didatangi. Karena menurut legenda etnis Champa, Po Nagar adalah putra Raja yang diutus ke bumi untuk menciptakan bumi dan segala jenis kayu dan beras.

Etnis Champa percaya bahwa kuil ini sudah dibangun di lokasinya sekarang berabad-abad lalu dalam bentuk yang paling sederhana namun mengalami penyesuaian dan adaptasi dari waktu ke waktu sesuai perkembangan jaman. Tak heran Hon Chen menjadi tempat untuk recharge kehidupan spiritual dan budaya masyarakat setempat.

Rasanya tak cukup waktu untuk mengabadikan setiap detil yang indah di tempat yang tidak luas namun cantik ini. Apalagi gerimis turun menghiasi hari. Dan si pemandu tur pun sudah memanggil-manggil…

Meski berperahu naga di sepanjang Sungai Parfum telah berakhir di Kuil Hon Chen ini, tur sehari di Hue ini masih berlanjut… Sayangnya suasana masih gloomy


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-46 bertema Sepanjang agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Kala Hujan Berhenti, Keindahan Sibuk Mengantri


Bahkan ketika hujan baru saja turun, ada keindahan tersendiri yang menghias bumi. Pemilik Semesta telah melimpahkan anugerah pada saat turun hujan. Air, -yang merupakan unsur kehidupan yang utama-, dengan penuh kesegaran dilimpahkan dari langit, berubah dari awan-awan gelap yang menyelimuti, menjadi butir-butir kesegaran. Jatuh ke setiap permukaan bumi, membasahi dan memantulkan pelangi. Sebuah tanda, keindahan-keindahan sedang sibuk menjelma di muka bumi.

Harumnya tanah kering yang tersiram hujan membuat hidung-hidung terangkat menikmati harumnya kesegaran alam. Petrichor, sebuah istilah yang dikenal untuk harum khas tanah saat tersiram oleh hujan. Lalu setelahnya, bersamaan dengan menghilangnya harum petrichor, tatkala bulir-bulir hujan jatuh di kaki langit, alam menerbitkan pelangi, memberi hiasan warna-warni.

Bukankah terbitnya pelangi menjadi sebuah janji yang diberikan Alam Semesta? Pelangi hadir sebagai janji akan datangnya cahaya mentari setelah hujan lebat, juga merupakan sebuah janji akan adanya ketenangan suasana setelah badai yang menakutkan, sebuah suka cita atas rasa sendu yang memeluk, sebuah kedamaian atas nestapa menghampiri hati. Pelangi hadir sebagai janji akan datangnya cinta setelah rasa kehilangan yang menghampakan.

A Rainbow

Bertahun-tahun lalu ketika melakukan perjalanan di Seoul, Korea Selatan, pagi itu saya hampir putus asa melihat mendung tebal menggantung di atas kota. Sepertinya prakiraan cuaca hari itu akan tepat. Hujan akan mengguyur kota Seoul. Dan benar, rintik hujan semakin deras ketika saya berada di Huwon atau Secret Garden-nya Istana Changdeokgung (Baca kisahnya disini: Korea: Menapak Huwon, The Secret Garden). Akibatnya saya harus merogoh dompet lalu mengeluarkan sejumlah Won untuk membeli sebuah payung.

Saat itu warna-warni daun dalam musim gugur terlihat amat indah, apalagi ditambah dengan sejuknya udara Seoul. Saya sungguh tak menyesal menambah tour ke Secret Garden, meskipun harus bergabung dengan rombongan yang berbahasa Korea. Tapi tak perlu paham kata dan bahasa untuk menikmati Secret Garden itu.

Sebagai orang yang besar di negara tropis yang memiliki dua musim saja, pergantian daun dari hijau menjadi kuning atau merah sebelum jatuh ke bumi dengan warna coklat, sungguh menggugah jiwa. Alam memiliki hukumnya sendiri dan dapat menyaksikan keindahan alam yang sedang berganti, rasanya mendapat anugerah tersendiri.

Sejenak saya berhenti di dekat ujung akhir penjelajahan Secret Garden itu untuk memperhatikan daun merah yang basah. Langsung saja aroma lembab menyeruak ke hadapan saat saya mendekatinya. Bahkan sehelai daun yang memiliki warna yang berbeda terlihat begitu luar biasa. Sungguh basahnya daun karena air hujan, terlihat amat indah.

The leaves after the rain

Hal serupa terjadi juga ketika saya melakukan perjalanan bersama anak-anak ke Hong Kong. Perjalanan dengan kereta gantung yang teramat tinggi dalam suasana hujan, cukup membuat hati berdenyut. Apalagi anak bungsu saya termasuk orang yang tak tahan ketinggian. Perjalanan panjang dengan hati berdegup itu akhirnya selesai pada saat kereta berhenti di stasiun tujuan. Hujan pun seakan memahami, sehingga ia berubah menjadi hujan rintik ketika kami menjejak di stasiun tujuan kereta gantung.

Sesaat sebelumnya, kami telah melepas harap. Bagaimana mungkin bisa menuju patung Buddha yang besar itu dalam kondisi hujan dan tak ada payung?

Nyatanya tidak ada yang tak mungkin bagi Pemilik Semesta. Kabut serta merta tersingkir dari hadapan, bahkan jejak langkah kami terhenti sejenak di tempat penjualan souvenir dan saya mendapat kesempatan memiliki CD musik yang hingga kini masih merupakan musik yang paling menenangkan jiwa. Dan tentu saja kami pun punya kesempatan untuk menyaksikan salah satu patung Buddha terbesar di kawasan China.

Buddha Tian Tan, Hong Kong

Tapi rupanya saya tak perlu melakukan perjalanan ke luar negeri untuk melihat keajaiban alam pada saat hujan telah berhenti. Di halaman rumah sendiri, saya begitu terpesona dengan situasi setelah hujan. Kesegaran alam yang saya lihat dan rasakan, menjadi sebuah mood-booster yang tak bisa diabaikan.

Butir-butir air yang tertahan di sepanjang daun palem lalu turun ke pangkal daun seakan-akan menjadi kristal yang menghias jari-jari daun dan menguarkan kesegaran ke alam sekitarnya. Bukankah semua itu keindahan yang patut disyukuri?

Tapi ah, bisa jadi air yang berbutir-butir itu seperti airmata yang menghias wajah di kala duka menyelimuti. Seperti pada umumnya perempuan yang menutupi airmata dukanya di bawah hujan atau di bawah pancuran, seakan-akan bisa menipu dunia tentang isi hatinya. Lalu ketika air hujan atau air pancuran telah bercampur dengan airmata dan membuat lamur di antara keduanya, sebuah janji ketenangan dan kedamaian telah terikrar di alam semesta.

Ketika jalan panjang duka dilewati dengan sepenuh-penuhnya sabar, seperti air hujan yang turun melewati lekuk-lekuk daun menuju pangkalnya, butiran kristal itu memendarkan pelangi. Pelangi kebahagiaan yang penuh semangat sudah terbit laksana datangnya cahaya di ujung terowongan gelap.

Rain drops on palm leaves

Sementara di tempat yang berbeda bisa jadi terjadi hujan badai di malam gelap, yang memunculkan rasa cemas yang menghiasi jiwa. Gelapnya malam menambah rasa tak aman. Suara-suara badai yang memekakkan telinga, ditambah deru angin yang tak ramah dan gemuruh air yang ditumpahkan dari langit. Sebuah gambaran yang mudah dikata, alam sepertinya sedang dalam angkara murka.

Tetapi yang seperti itu, hanya pandangan manusia karena alam memiliki perjalanannya sendiri. Ada hukum yang berjalan di atasnya karena Pemilik Semesta sudah mengaturnya sedemikian rupa. Pada akhirnya hanya kebaikanNya yang terlimpah terhadap alam semesta. Dan ketika datang waktu bagi sang badai untuk berakhir, maka cahaya keindahan akan menghiasi semuanya yang ada di bawah langit.

Hal yang sama terjadi di pusat kota, seakan melupakan yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Yang hadir hanyalah cahaya penuh warna di tengah gelapnya malam. Dan kita semua bisa menyaksikan…

Lights in the city center

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-45 bertema After The Rain agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Yang Unik Di Rumah Mama


“Ma, ini tambah lagi dari Palestina”, kata saya sambil menyorongkannya ke Mama sekitar semingguan sepulangnya saya dari perjalanan ibadah Umroh yang dilanjutkan ke Masjidil Aqsho di Palestina, sebuah negara yang wilayahnya sebagian masuk dalam wilayah pendudukan Israel.

“Asyik, Mama belum punya yang dari sana”, jawab Mama sambil tersenyum lebar memperhatikan oleh-oleh kecil di tangannya.

Yang saya berikan adalah tempelan magnet kulkas. Beberapa saat beliau memperhatikan dengan mata berbinar lalu beliau menyerahkan kembali ke tangan saya yang artinya, harus diletakkan di tempat yang seharusnya. Kemana lagi… ya ke kulkas 🙂

Kulkas yang tinggi itu…

Bagi yang pertama kali ke rumah Mama dan masuk ke ruang makan, biasanya tersenyum lebar atau mungkin bahkan tertawa dan terperangah melihat kulkas yang letaknya tinggi itu. Karena kulkas itu ‘nangkring‘ di atas ambalan batu yang tingginya tak beda jauh dengan tinggi meja makan. Terbayang kan, jika sebuah kulkas dua pintu diletakkan di atas meja makan? Pasti terlihat tinggi sekali… 😀 😀 😀

Kulkas yang tinggi itu

Sudah berpuluh tahun rumah Mama berada di daerah yang sering kebanjiran meskipun tidak selalu. Awal saya remaja, banjir masih semata kaki, lalu tiga tahun berikutnya naik setinggi betis orang dewasa. Saat saya menikah dan sempat tinggal di rumah Mama sementara Mama dan Papa di luar pulau, banjirnya naik setinggi paha. Terus terang saja, selama Pak Ahok jadi Gubernur Jakarta Mama bisa bernafas lega karena tidak pernah kebanjiran. Kali Mampang yang tak jauh dari rumah Mama itu selalu dikeruk dan dijaga.

Banjir terakhir adalah banjir yang terjadi pada awal Januari 2020 lalu. Katanya, di malam pergantian tahun baru 2020 itu, turun hujan besar yang berlangsung lama di hulu dan menyebabkan hampir semua sungai dan kali di Jakarta itu tak dapat menampung airnya lagi sehingga meluap dan menggenangi pemukiman sekitarnya. Apalagi di Jakarta pun hujan deras turun tak berhenti sepanjang malam. Hasilnya bisa diprediksi, banjir besar melanda Jakarta, termasuk rumah Mama saya (dan rumah saya sendiri) 😥 Banjir itu merendam rumah cukup tinggi sehingga Mama harus dievakuasi dan barang-barang penting disimpan di tempat yang tinggi.

Itulah alasan kulkas di rumah Mama itu ditempatkan di meja setinggi meja makan itu.


How many places can you mark ?

Dan di kulkas yang tinggi itu terlihat tempelan-tempelan magnet yang memenuhi pintu dan dinding lemari es seakan-akan menjadi showcase dari hobby Mama yang unik. Mengumpulkan tempelan magnet kulkas silaturahmi.

Mengapa pakai embel-embel silaturahmi?

Berbeda dengan saya yang lebih suka soliter, Mama saya merupakan seorang yang sangat socialized. Dan mereka yang mengenal Mama secara dekat, mengetahui bahwa Mama suka dengan tempelan magnet kulkas. Jadi, ketika mereka pergi travelling, biasanya mereka memberikan langsung oleh-oleh kecil berupa tempelan magnet kulkas kepada Mama saat bersilaturahmi ke rumah. Jadi, meskipun Mama berdiam di rumah, Mama mendengar langsung kisah perjalanan dari orangnya, menyimak kenangan-kenangan mereka, yang tentu saja membuat Mama merasa ikut dalam perjalanan itu. Seru kan…

Tempelan magnet kulkas itu tidak sekedar tempelan biasa, ada nilai yang indah mewakilinya. Mama mengetahui siapa yang memberi dan telah berbagi cerita perjalanan dengannya. Hanya dengan melihatnya, tempelan kulkas yang kecil dan kelihatannya tidak penting itu, Mama bisa mengingat siapa yang telah memberinya, menjalin silaturahmi dengannya. Dan tidak jarang Mama langsung meneleponnya untuk bertukar cerita. Bukankah itu baik adanya?


Dan bagi saya yang merupakan orang yang paling sering berada di depan kulkas tinggi itu, -salah satu yang paling menggoda adalah isi kulkas Mama 😀 yang isinya macam-macam-, berbagai tempelan magnet kulkas itu menciptakan sebuah perjalanan imajinasi tersendiri.

Saya sering tersenyum sendiri ketika melihat tempelan magnet yang berasal dari saya. Diantara semua tempelan magnet kulkas yang lebih banyak berisikan kota-kota impian dan modern di seluruh dunia itu, saya meninggalkan jejak tentang long-neck Karen lady yang menenun, kota-kota kuno di Nepal, puncak-puncak Himalaya, kuil Shwedagon dan tentu saja Angkor Wat. Melihatnya menimbulkan perasaan bahwa perjalanan yang telah saya lakukan selama ini, banyak yang tidak biasa seperti yang dilakukan orang lain.

The places that tell the stories
Have you been to Alcatraz?

Lebih dari yang dibayangkan, karena hanya dari melihat tempelan magnet itu, pikiran saya bisa tiba-tiba melompat-lompat. Seakan-akan undangan yang tak kunjung diam, menguarkan ajakan untuk menjaga impian agar bisa datang ke tempat itu, tetapi ada juga yang membuat senyum karena pernah menjejak di sana.

Bucket list saya memang sudah panjang dan semakin memanggil ketika saya berada di depan kulkas itu, meskipun harus mendongak saat melihat bagian atasnya. Kota-kota impian di Eropa, tempat-tempat indah di Asia yang lebih luas, juga Amerika, Timur Tengah, Afrika… ah, masih begitu banyak…

Tidak hanya itu, kadang kala saya masih harus memutar otak seakan tempelan-tempelan magnet itu menertawakan ketidaktahuan saya. Dimanakah Lanark itu? Dimanakah Riga itu? Apa yang terkenal dari Bratislava? Bagaimana caranya agar bisa sampai ke Alcatraz?

Sebagian dari keluarga, kerabat, sahabat Mama telah sampai ke sana bahkan berbagi cerita dengan Mama dalam pertemuan-pertemuan yang menyenangkan dan meninggalkan jejaknya di hadapan dengan sejuta makna…

Semua tempelan magnet hasil hobby Mama yang unik itu menjadi penggugah untuk selalu kembali melakukan perjalanan, seakan bertanya kapan giliranmu? Dan saya selalu meninggalkannya dengan pelita kecil yang langsung menerangi jiwa, seakan sebuah jawab, one day saya akan sampai ke sana…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-44 bertema Unik agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Ketika Damai Menghampiri Abhaya Giri


Lebaran tahun lalu kami menyempatkan diri menginap satu malam di sebuah peristirahatan yang berada di puncak perbukitan Jogja. Sebuah tempat yang memang menjadi bucket list saya, setelah pernah melewatinya sepulang dari penjelajahan candi di sekitaran Ratu Boko (saat melewatinya, saya langsung mengetahui one day saya harus sampai di sini)

The Abhaya Giri

Keinginan itu terwujud saat akhirnya GPS membawa saya ke gerbang yang sama di ketinggian hampir 200 mdpl itu. Lalu saat beberapa tas diturunkan dari kendaraan, seorang petugas tergopoh-gopoh mendekati dan bertanya menanyakan dengan keramahan yang tak dibuat-buat. Ia melihat tas-tas itu dan berasumsi akan menginap yang tentu saja kami benarkan. Lalu sambil memohon maaf dia menjelaskan bahwa akses kendaraan ke hotel masih terpisah dan jika kami berkenan, dia akan menunjukkan jalannya. Tentu saja kami tidak keberatan, sehingga tas-tas dimuat kembali dan melalui jalan yang sedikit memutar kami sampai di depan pintu hotel.

Penerimaan yang cepat dan ramah. Saya suka!

Tak perlu lama kami telah berada di kamar pesanan yang berhias batik Truntum (simbol cinta yang tulus) dengan pintu dan jendela kaca menghadap taman belakang yang penuh bunga. Tak menyesal saya memesannya meski untuk melihat pemandangan alam dan gunung harus berjalan sedikit. Ternyata hanya dengan jalan kaki selemparan batu kami telah sampai lagi di restoran tempat kami berhenti pertama kali tadi.

Hanya saja, sore itu kami tak beruntung mendapatkan sunset karena seluruh wilayah pandang penuh dengan awan. Tak mengapa, karena ada aura romantis memenuhi suasana restoran yang berada di luar ruang. Kelip-kelip kota Jogja mulai menampakkan keindahannya.

Abhaya Giri view

Mungkin bagi pasangan yang sedang jatuh cinta, santap malam di sini akan melimpahkan banyak kenangan, namun bagi kami sekeluarga yang menjadikan makan malam merupakan sebuah festival urusan perut 🙂 , suasana remang dari cahaya lilin tak banyak membantu. Makanan tak terlihat jelas sehingga berulang kali kami mendekatkan muka ke hidangan yang tersaji di meja. Salah makan cabe kan bisa berabe.


Abhaya Giri At night

Abhaya Giri, memang biasa menjadi opsi melepas penat karena ada teras atau jalan panggung buatan diapit sawah berlampu hias yang cantik. Instagrammable, apalagi di latar belakang dipenuhi kelap-kelip lampu kota, ketika malam datang.

Siang hari pun, -apalagi pagi hari-, pemandangannya tak kalah indah. Sebagian puncak bangunan candi terkenal di Indonesia, Candi Prambanan dan juga candi Sojiwan, terlihat di hamparan, membuat saya benar-benar terpikat. Apalagi, -sebagai penggemar candi dan kuil-, di halaman dalam dari Abhaya Giri juga terdapat Candi Sumberwatu, candi Buddhist yang berbentuk stupa dan mengalami proses restorasi bersamaan dengan pendirian restoran Abhaya Giri.

Pengelola resort memang memanjakan tamu-tamunya agar memiliki kenangan yang indah di Abhaya Giri, baik yang menginap maupun yang bersantap di restoran. Terlihat satu set wayang punakawan sebagai hiasan pada teras untuk memperkuat nilai budaya dan rasa heritage di tempat ini. Semuanya terasa saling melengkapi. Tak jauh dari situ, resort juga menyediakan pakaian tradisional untuk memanah. Menarik kan?

Kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di halaman resort menikmati malam, bahkan di lobby hotel pun disediakan permainan tradisional congklak dan permainan lainnya.

Lelah melakukan perjalanan jauh membuat kami semua terlelap begitu kepala menempel di bantal yang empuk. Bagaimanapun, kenyamanan tidur merupakan nilai yang paling utama pada sebuah peristirahatan. Meskipun hingga saya menginap saat itu, Abhaya Giri belum banyak membuka kamar untuk menginap.


Pagi yang merekah itu membuat saya bergegas keluar untuk berjalan pagi. Karena saat-saat matahari terbit alam melimpahkan berjuta keindahan.

Menjejak jalan kecil yang ditata manis dengan bunga di kiri kanan, saya kembali menuju teras utama.

Sebuah batu vulkanik besar hasil letusan dari Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu diangkut lalu diletakkan di tengah di antara meja makan outdoor. Sebuah plakat peresmian bertandatangan Sultan terlihat di batu besar ini.

From the Pendopo
A beautiful Morning at Abhaya Giri

Pemandangan dari teras atas terasa menenangkan jiwa, di kejauhan Gunung Merapi dengan puncaknya yang tinggi tampak menghias latar belakang, kemudian bangunan utama Candi Prambanan terlihat menarik perhatian, dan hamparan sawah dengan puncak khas dari Candi Sojiwan dan menara masjid yang berdekatan seakan mengingatkan bahwa telah lama kehidupan beragama yang rukun dan penuh toleransi terjadi di bumi Indonesia. Dan semoga demikian juga seterusnya…

Sinar lembut mentari pagi yang baru saja terbit menerpa Candi Sumberwatu yang berbentuk Stupa, yang mungkin bagi sebagian orang yang tak tahu, stupa itu dianggap sebagai sebuah hiasan belaka.

Sunrise at Sumberwatu Temple

Siapa yang menyadari bahwa hingga tahun 2012, Candi Sumberwatu, -dipercaya berdiri pada tahun 700 M-, masih berupa onggokan reruntuhan yang terlupakan? Siapa yang sangka setahun kemudian reruntuhan itu bisa direstorasi hingga berdiri dengan anggun di tempatnya sekarang?

Sejak dulu oleh warga sekitar, sebenarnya Candi Sumberwatu dikenal dengan nama Sumur Bandung, yang merujuk pada tokoh antagonis dalam legenda Roro Jonggrang yaitu Bandung Bondowoso. Legenda ini begitu terkenal di Indonesia, paling tidak versi singkatnya pernah saya tulis di tulisan Mengintip Puncak Merapi dari Balik Legenda Candi Sewu.

Dalam struktur sebuah candi, biasanya terdapat bagian sumuran yang terletak di dalam lapisan kaki candi bagian tengah yang biasanya terbuka bila candi runtuh, termasuk juga Candi Sumberwatu. Di dasar sumuran ini biasanya para arkeolog akan mencari kotak peripih yang umumnya berisi prasasti tentang keberadaan candi. Dari sumuran ini pun Candi Sumberwatu lebih dikenal sebagai Sumur Bandung oleh masyarakat sekitarnya.

Dan seperti lingkungan tempat ibadah Buddha lainnya, tak jauh dari Stupa utama, terdapat kolam yang berisi bunga teratai warna-warni. Sebuah bunga yang menjadi simbol filosofi kehidupan. Jadilah seperti lotus, yang percaya pada Cahaya, yang mampu tumbuh melalui kepekatan lumpur dan percaya pada sebuah awal baru yang indah. Tanpa kehadiran manusia lain di sekitarnya, suasana terasa hening dan damai. Suasana yang serupa ketika saya berada di sebuah kuil. Tiba-tiba saya merindukan bunyi genta yang biasa melengkapi sebuah kehidupan kuil.

Lotus flowes near The Stupa

Tak jauh dari tempat saya berdiri, pengelola resort membuatkan sebuah teater terbuka dengan Candi Sumberwatu sebagai pusatnya. Melihat tempat duduk berundak itu, tidak bisa tidak saya teringat akan teater terbuka gaya Romawi dan langsung membayangkan sebuah pertunjukan kolosal yang luar biasa. Alangkah indahnya bila terselenggara di Abhaya Giri itu. Setidak-tidaknya sebuah resepsi pernikahan yang intim, dengan pengantin yang membaur di antara para undangan yang saling mengenal. Mungkin akan seindah penyelenggaraan sebuah pertunjukan sendratari tradisional.

Saya berhenti sejenak pada tangga yang menuju sebuah pendopo berupa rumah Joglo. Bisa jadi pendopo ini menjadi pusat bila sebuah acara dalam ruang diselenggarakan. Sebuah gebyok panjang yang teramat cantik menghias latar pendopo lengkap dengan ukiran rumit yang menunjukkan ketelatenan perajinnya. Pernah membaca soal gebyok ini? Jika belum, coba klik Pintu Gebyok Yang Tertutup

Meninggalkan Pendopo, kaki saya membawa kembali ke arah teras utama. Sebuah jalan buatan yang diapit oleh sawah yang ditanami padi. Satu dua manusia pagi telah berdiri di sana, mencuri suasana yang hanya hadir beberapa saat setelah matahari terbit. Mereka dan saya, sama-sama memahami, suasana seperti itu hanya sebuah privilege manusia yang bersedia bangun lebih pagi dan bisa menikmatinya dalam hening. Sebuah anugerah hari yang baru.

Kali ini pemandangan yang sama terasa lebih hangat. Mungkin karena sinar mentari pagi baru saja menerpa permukaan bumi. Gunung Merapi masih malu-malu berselimut kabut. Tak ada yang lebih indah daripada menikmati pemandangan gunung dan hamparan sawah serta candi-candi kuno di pagi hari, saat sinar matahari memantulkan cahaya hangat. Pemandangan khas di bumi Indonesia sejak jaman dulu kala.

The wisdom of Humility

Bunga keladi yang merunduk di antara pohon-pohon semak menarik perhatian untuk diabadikan. Beberapa langkah dari situ, sepetak sawah kecil berisikan padi yang menguning. Saya mendekat ke tanaman yang hasilnya bisa menguasai perut manusia Indonesia itu. Terpesona saya mengamati buliran padi yang merunduk. Langsung saja terlintas sebuah ajaran lama dari para leluhur. Ilmu padi, sebuah pemahaman yang teramat dalam tentang kerendahhatian. Di sini, di Abhaya Giri yang menghamparkan kedamaian, alam telah melimpahkan nasehat kehidupan.

Kaki saya melangkah lebih jauh, kini lebih ke Timur, ke arah kolam renang yang dikelilingi oleh rimbunnya pagar tanaman yang tertata indah. Hanya pengunjung restoran yang memiliki mata jeli yang akan memilih duduk dengan pemandangan indah kolam renang yang memantulkan warna biru ini. Bahkan dari tempat ini pun, Gunung Merapi pun masih bisa terlihat.

The Swimming pool
A Koi pond

Waktu berjalan terus, satu persatu pengunjung hotel terlihat memasuki restoran untuk sarapan pagi. Celoteh manusia makin sering terdengar memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti resort itu. Saya melipir ke arah kolam ikan yang bergemericik dengan ikan-ikan yang bergerak hilir mudik memulai kehidupannya.

Pelan-pelan saya melangkah kembali ke arah kamar dan berhenti sejenak di ayunan dengan pemandangan gunung. Pagi telah merangkak naik, hari baru telah dimulai, kesibukan menyambut rejeki telah menghampiri, tetapi rasa damai tetap mengisi hati.

Garden view of the resort’s room

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-43 bertema Indonesia agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Belajar Menerima Dari Bencana


“Maaf Ma, Pa, air sudah masuk ke rumah, tapi listrik masih nyala…”

Begitu pesan Whatsapp yang saya baca dari anak saya yang berada di rumah sementara kami sedang berada ribuan kilometer dari rumah. Sebanyak apapun pengalaman suami dan saya menghadapi banjir di Jakarta, kami tak bisa berbuat apa-apa di saat tak berada di tempat kejadian. Hati saya terbelah meskipun saat itu saya berada di tempat yang paling saya impikan sejak kecil, Palestina. Berita itu memporakporandakan antusiasme sebuah perjalanan batin, meskipun hari itu adalah hari terakhir menuju pulang ke tanah air.

Transit di Abu Dhabi tidak lagi menggembirakan. Kami ingin cepat sampai di rumah karena rumah adalah base-camp kami. Abu Dhabi bisa didatangi kembali lain waktu tapi rumah tetap prioritas nomor satu.

Tak terbayangkan anak-anak kami yang telah berbuat maksimal menghadapi musibah banjir di rumahnya sendiri, berupaya menyelamatkan barang-barang yang mampu mereka selamatkan. Banjir mereka yang pertama, yang harus dihadapi sendiri tanpa kehadiran orangtua. Banjir yang datang pada malam hari, tanpa mereka sadari, datang menerjang dengan cepat, menggenangi dan terus merambat naik, dalam keadaan listrik yang masih menyala. Ketika pagi datang, mereka tak bisa berbuat banyak kecuali hanya menyaksikan lantai dasar rumahnya telah terendam 70 cm dengan barang-barang yang sudah jungkir balik. Mereka hanya bisa menunggu di lantai dua sampai listrik dimatikan PLN untuk bisa bergerak melakukan penyelamatan terhadap sisa-sisa barang yang bisa diselamatkan. Lalu setelahnya, dengan segala pertimbangan matang, mereka mengirim pesan Whatsapp di atas.

Sekuat apapun kami mempersiapkan hati sesampainya di Jakarta awal Januari 2020 itu, rasanya tetap masygul menyaksikan isi rumah berantakan diterjang banjir. Air memang sudah surut tetapi ada rasa campur aduk melihat apa yang ada dan membayangkan pekerjaan di depan mata yang tak bisa terhindarkan. Rasa syukur berlimpah karena indahnya perjalanan Umroh ditambah kunjungan ke Al Aqsho seharusnya masih tinggi memenuhi dada, meskipun faktanya ada juga rasa sedih dan rasa kehilangan yang menyambangi jiwa.

Beruntung ada ART dan suaminya yang cekatan membersihkan lalu menata kembali seisi rumah, sebisa mereka. Tetapi jejak banjir tak mampu menyembunyikan betapa hebatnya banjir kali ini. Rasanya bagaikan bumi dan langit, keadaan rumah saat kami tinggalkan saat berangkat dan saat kami kembali, apalagi anak-anak sempat mengambil foto saat barang-barang seperti kulkas, lemari telah terhempas dan sofa-sofa mengambang.

Getir memang. Banjir yang ‘numpang lewat’ itu meninggalkan jejak yang tak sedikit. Begitu banyak barang yang harus dibuang, termasuk album-album foto lama yang belum sempat saya digitalkan. Ada banyak buku yang berada di lantai 1 yang harus saya buang. Ada banyak cerita, ada banyak kenangan yang hilang bersama banjir.


Vatsala Devi, 2014
Ruins of Vatsala Devi temple, 2017

Awal November 2014

Saya melakukan perjalanan solo ke Nepal, sebuah perjalanan yang amat mengesankan bertabur keluarbiasaan jika tak boleh dibilang keajaiban. Sebagi orang yang mengagumi sebuah kawasan World Heritage Site, saya terpesona dengan semua Durbar Squares yang ada, dari Kathmandu, Patan hingga Bhaktapur. Bahkan saya sempat berada di dalam keriuhan festival di Kuil Changu Narayan. Juga bisa menyaksikan secara langsung wajah Kumari The Living Goddess, Sang Dewi Hidup dari Kathmandu Durbar Square. Menyaksikan keindahan Himalaya dari jendela pesawat. Begitu indah.

April 2015, Gempa bumi besar melanda Nepal

Hanya berselang enam bulan setelah perjalanan istimewa saya itu, sebagian besar World Heritage Site yang saya saksikan rusak bahkan ada yang runtuh total. Gempa besar yang membuat longsor, menimbun rumah dan makhluk, tanah bergerak membuat manusia berteriak. Begitu banyak rumah dan bangunan yang hancur serta sekitar 9.000 orang melepas nyawa mereka.

Air mata saya jatuh saat membaca berita. Kathmandu Durbar Square yang sebelumnya memiliki kuil-kuil megah, mendadak tinggal undakan-undakannya. Padahal saya begitu terpesona di tempat itu. Juga Kuil Changu Narayan yang disakralkan, tempat saya berbaur dengan para wanita yang berbahagia pada perayaan Ekadhasi, mendadak kuil itu rusak parah terkena gempa bumi. Tak beda di Patan Durbar Square, kuil-kuil berusia ratusan tahun itu runtuh ke tanah. Di Bhaktapur Durbar Square juga tak beda. Kuil-kuil cantik juga runtuh, padahal saya berlama-lama di tempat itu.

Begitu kuat kenangan itu, sehingga saya merasa begitu kehilangan semua keindahan yang pernah saya saksikan enam bulan sebelumnya.

April 2017

Dua tahun setelah gempa besar itu, saya kembali ke Nepal. Gundahnya saya akibat gempa itu membuat saya hanya menyempatkan diri ke sebuah sudut di Bhaktapur Durbar Square. Saya juga tak pergi ke Kathmandu Durbar Square atau Patan Durbar Square. Bisa jadi saya terlalu sedih untuk menyaksikan hilangnya world heritage itu.

Di tahun 2017 itu, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seakan tak menerima kenyataan ketika berada di Vatsala Devi temple yang rata dengan tanah ketika terjadi gempa. Padahal saat 2014 lalu, kuil itu begitu cantik menghias Bhkatapur Durbar Square.

Bhaktapur Durbar Square, 2014
Bhaktapur Durbar Square, 2017

Ada banyak contoh lain dampak sebuah bencana dari yang sebelumnya cantik, bagus, keren, indah dan sebagainya menjadi sebuah yang menakutkan, hancur berantakan, babak belur atau luluh lantak. Ada juga yang namanya penyempurnaan atau perbaikan, Dari yang awalnya kurang baik menjadi lebih baik. Semua bermakna sama: perubahan. Jika hasilnya lebih buruk daripada sebelumnya maka itulah yang disebut bencana. Namun jika hasilnya dianggap lebih baik dari sebelumnya, maka hal itu disebut penyempurnaan, menjadikan sesuatu lebih mendekat pada kesempurnaan,

Padahal rasanya pasti serupa. Saya juga merasa getir dan masygul ketika sampai di rumah menghadapi amukan bencana banjir Januari awal tahun ini. Saya juga tak mampu bahagia melihat kuil cantik yang dahulu ada kini hanya tinggal nama. Rasanya begitu manusiawi memiliki rasa-rasa itu.

Hanya saja, tak baik memeliharanya lama-lama.

Dengan memelihara sedih atau gundah itu bisa bermakna terikat pada sesuatu yang sebelum hilang itu, pada sesuatu yang sebelum hancur.

Padahal hancur juga kan? Hilang juga kan? Jadi sebenarnya untuk apa merasa masygul berkepanjangan? Untuk apa merasa sedih berlama-lama?

Jika bencana itu sudah seharusnya terjadi, maka bencana itu pasti terjadi. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi ketika mengetahui banjir yang cukup dalam menerjang rumah. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali geleng-geleng kepala ketika berdiri di dekat reruntuhan kuil Vatsala karena gempa besar Nepal.

Pada suatu titik, akhirnya kita hanya bisa menerima.

Seperti seorang bayi yang baru lahir, hanya bisa menerima dan terus belajar menerima lalu bereaksi untuk tumbuh.

Bahkan bencana-bencana itu merupakan pembelajaran yang hebat


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-42 bertema Before & After agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Bersama Berbagi Jalan


Awal November 2014

Rupanya delay penerbangan dari Kathmandu ke Pokhara ketika saya melakukan perjalanan pertama kali ke Nepal di tahun 2014, memberi sebuah kebaikan. Saya jadi lebih memperhatikan rombongan trekkers yang siap trekking, lengkap dengan celana dan sepatu boot yang keren. Saat itu, tentu saja trekking bukan pilihan saya untuk berlibur di Nepal, karena saya tahu diri dengan fisik yang tak terlatih. Meskipun demikian, saya selalu terpesona dengan penampilan para trekkers itu. Sepertinya keren sekali!

Tetapi siapa sangka, ketidakyakinan akan kekuatan diri itu justru bertindak sebaliknya. Karena dua tahun setelah perjalanan pertama ke Nepal, saya mulai mencari informasi mengenai trekking di Nepal, termasuk mencari teman seperjalanan. Meski saya tahu ada banyak orang melakukan solo-trekking di Nepal, bagi saya hal itu bukan opsi untuk pengalaman pertama. Akan lebih baik saya berjalan dalam kelompok apalagi saya bukan pendaki.

Dan dari informasi yang tersebar di internet, saya juga mengetahui mengenai rombongan hewan yang sering ditemui oleh para trekkers di sepanjang jalur trekking. Sepertinya menyenangkan sekali berbagi tawa dan rasa ingin tahu bersama teman-temen serombongan ketika bertemu dengan rombongan hewan itu. Itulah salah satu imajinasi saya tentang trekking di gunung-gunung tinggi Himalaya. Sebahagia itukah jika saya trekking?


Minggu ketiga April 2017

Saya kembali ke Kathmandu, kali ini untuk tujuan trekking. Namun dalam perjalanan kali ini saya tak sendiri, melainkan bersama seorang teman. Impian bisa trekking dalam rombongan yang lebih banyak anggotanya belum bisa terwujud. Meskipun demikian, saya masih bersyukur masih ada yang berkenan bergabung dengan saya, -yang pastinya secara fisik paling tidak kuat dan paling lambat-, untuk trekking di Himalaya.

Kawan saya itu, -saya memanggilnya Pak Ferry-, bergabung bersama saya untuk trekking ke Himalaya juga sesuatu yang tiba-tiba. Sore itu entah angin apa yang membawanya, tiba-tiba saja dia menanyakan kemungkinan jalan ke Nepal (Dia tahu saya pernah ke Nepal). Satu pertanyaan yang membuat saya terkejut saat itu karena sesungguhnya saya sedang mencari teman jalan ke Nepal. Inikah yang namanya Law of Attraction? Tak perlu banyak pertimbangan lagi untuk mengambil keputusan untuk segera Berangkat!

Dan bersama seorang tour guide asli Nepal dan seorang porter, kami berempat menjadi rombongan kecil yang lumayan aneh, yang satu (saya) tidak kuat nanjak dan yang satu lagi (Pak Ferry) cemas jika berada di tempat-tempat tinggi. Tetapi kami berjalan bersama, berbagi bahagia…


Di hari pertama trekking di kawasan Annapurna, rasanya belum lama meninggalkan Tikhedunga, -desa berikutnya setelah diturunkan dari jeep yang membawa dari Pokhara-, kami bertemu juga dengan rombongan keledai atau mungkin juga mule. Saya sendiri tak dapat membedakan antara mule dan keledai, mungkin karena saya tak terlalu memperhatikan mereka. Yang pasti lebih mirip keledai namun posturnya lebih besar. Mule merupakan campuran dari keledai dan kuda.

Pasukan keledai alias mule itu mendekat dengan membawa keriuhan klenengan yang tergantung di lehernya. Mereka semua adalah penolong manusia untuk membawa barang-batang yang super berat. Yang amat meninggalkan kesan adalah bunyi klenengannya yang terdengar dari jauh. Dan ternyata bunyi khas itu membuat rindu. Percaya deh.

Karena hari itu, baru kali pertama bertemu dengan rombongan mule,, saya ingin mengabadikannya lebih dekat, tetapi tak sadar saya berdiri di jalur jalannya. Ia mendatangi saya yang terlihat semakin jelas dan besar dari jendela bidik kamera. Menyadari kesalahan melihat bibir dan wajah keledai yang semakin besar di kamera, saya langsung balik badan lalu berusaha menjauh untuk menghindarinya. Sayangnya, tidak ada jalan setapak di depan. Tanpa pikir panjang, saya melompat ke samping ke tempat aman. Pemandu kami sampai terbahak menyaksikan saya melompat menyelamatkan diri seperti dikejar keledai. Awkward banget…

Menariknya, rombongan mule itu tertib dalam berjalannya. Yang satu mengikuti mule yang di depannya. Jika di depannya mendadak berhenti, mule itu hanya melengos sedikit dan ikut berhenti. Kecuali disuruh lebih cepat oleh gembalanya, kecepatan langkah hewan-hewan itu bisa dibilang sama. 

Biasanya kami berhenti sejenak saat bertemu dengan rombongan mule, memberi jalan untuk mereka. Saat itulah saya memperhatikan. Kasihan juga karena beban yang dibawanya tidak ringan. Klenengan yang bergantung di lehernya dan berbunyi teramat khas itu melengkapi peristiwa bertemu dengan mereka, meninggalkan kesan yang dalam dan mengendap dalam kenangan. Membius menjadi sesuatu yang dirindukan.

Saya tenggelam dalam imajinasi, membayangkan menggiring hewan-hewan pengangkut yang sudah berlangsung berabad-abad melewati gunung-gunung salju, membuat rute-rute perdagangan. Barang-barang yang diperjualbelikan melewati batas negara dari Timur sampai Barat dan sebaliknya. Mule terakhir yang lewat di depan saya segera menyadarkan kembali, mereka telah berjalan di depan dan kini saya melanjutkan perjalanan kembali. 

Tidak hanya mule atau keledai, dalam trekking di Annapurna itu kami menjumpai rombongan hewan seperti kerbau, yang karena badannya besar saat beristirahat di tengah jalan, membuat jalan setapak itu setengah tertutup oleh mereka. Saya agak ngeri melewati kerbau-kerbau yang besar-besar itu,. Tapi bagaimana lagi? Kadang saya berjalan di antara mereka dengan baca doa agar mereka tetap diam. Ngeri juga kan kalau mereka mendadak mengamuk? Pernah sekali waktu saya memilih meniti pagar tembok kecil karena takutnya dengan mereka (padahal di sebelah tembok itu lembah yang cukup dalam).

Tidak hanya mule dan kerbau, dalam akhir trekking kami juga menjumpai rombongan kambing yang lebih banyak dan sangat khas baunya… bau kambing 😀 😀 😀

 

Tak beda jauh dengan yang dijumpai saat trekking di Annapurna, kami berjumpa pula dengan rombongan kerbau saat saya melakukan trekking ke Namche Bazaar di kawasan Everest. Lucunya, saya biasa mengikuti jejak hewan-hewan pengangkut itu karena lebih landai di tanjakan meski harus berjalan zig-zag. Kata pemandu saya, selalu ada dua opsi untuk melangkah saat trekking: mengikuti jalur manusia atau yaks/kerbau. Dan sebagian besar saya memilih yang terakhir 😀 Sayangnya saja, kalau mengikuti jejak mereka, harus berhati-hati karena ranjau yang mereka lepaskan secara sembarangan dan ukurannya itu besar dan banyaaaaakk… Dari yang sudah kering sampai yang fresh baru keluar huuueeeekkk….

Bertemu dengan rombongan hewan itu mempunyai himbauan tersendiri. Jika bertemu dengan mereka, usahakan kita sebagai manusia berada di sisi tebing dan membiarkan mereka berjalan di sebelah yang ada jurang. Jangan terbalik, risiko bisa fatal jika hewan-hewan itu lepas kendali. Meskipun selama ini saya tak pernah melihat hewan-hewan itu lepas kendali. Kelihatannya satu sama lain mereka saling terhubung dan orang yang mengatur perjalanan mereka sangat memahami hewan-hewan itu. 

Juga di jembatan gantung. Seperti perempuan di dunia manusia dengan istilahnya ladies first, untuk di jembatan gantung ladies first itu tidak berlaku. Pernah saya masih di tengah jembatan suspension sementara dari depan sudah terdengar klenengannya yang semakin cepat. Pemandu saya memaksa setengah lari agar kami tidak terjebak bersama kerbau atau yaks itu di tengah jembatan. Alhasil saya mendadak menjadi pelari berharap rombongan hewan itu tidak memasuki jembatan terlebih dahulu. Kebayang kan lari di jembatan suspension yang bergoyang-goyang itu? 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-41 bertema Group agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Just Sit And Relax


Bertahun-tahun lalu, ada sebuah perusahan furniture yang begitu terkenal dengan slogan iklan mereka yang berbunyi, kalau sudah duduk lupa berdiri. Mungkin karena begitu nyamannya duduk di kursi buatan mereka. Terlepas enak atau tidaknya, setiap saya duduk dan merasa pewe banget maka saya langsung teringat akan slogan itu. Memang manusiawi banget ya… kalau kita sudah duduk dengan nyaman, tentunya malas untuk bangun lagi… 🙂

Bagi saya, sebenarnya apapun tempat duduk yang digunakan, kursi, bangku atau yang lain, bisa membawa kenangan tersendiri saat digunakan. Apalagi jika kaki sudah ngambek, terasa berat untuk melangkah. Saat-saat seperti itu, rasanya bahagia sekali jika bisa menemukan kursi, bangku atau tempat duduk yang masih berfungsi dan kosong, tentunya (karena kadangkala saya masih merasa malu untuk ngedeprok di trotoar) 😀

Anehnya, tanpa sadar saya sering memotret sebuah kursi atau bangku kosong yang ada di taman atau pedestrian. Bisa jadi karena pemandangan sekitarnya yang cantik. Seperti yang saya lakukan ketika sedang jalan kaki pagi seputaran hotel di Jogja. Tidak hanya sekali saya lewat tempat itu sampai akhirnya saya duduk menikmati pemandangan. Just sit and relax…

Iron bench

Sebenarnya Indonesia sudah termasuk negara yang ramah terhadap pejalan yang lelah. Seperti juga negara-negara maju lainnya, mereka menyediakan kursi panjang di sepanjang trotoar lebar atau taman. Di Jakarta dan di beberapa kota lainnya di Indonesia, banyak kursi panjang disediakan bagi siapapun yang ingin meluruskan kaki sejenak. Tak jauh dari kantor saya juga ada. Awalnya saya meragukan keberadaan kursi itu. Saya pikir, paling sebentar lagi juga hilang dicuri. Tapi faktanya, pikiran itu salah! Sampai sekarang kursi panjang itu masih ada di tempatnya dan memberi manfaat bagi orang yang ingin beristirahat sejenak.

Kursi, -kata yang diserap utuh dari bahasa Arab dan bermakna sama dengan aslinya-, memang diharapkan bisa membuat orang rehat meluruskan kaki, Meskipun tidak semuanya bisa memenuhi fungsinya. Sesuai dengan pembuatnya, bisa jadi mengambil standar yang dikenalnya. Kursi untuk pasar Eropa tentu tidak sama tinggi untuk kursi pasar Asia. Mungkin karena secara fisik manusia Asia sedikit lebih kecil dibandingkan orang-orang Eropa.

Seperti yang saya alami ketika melakukan umroh. Penerbangan menuju Madinah menggunakan pesawat baru A380 yang bagi saya tidak begitu nyaman. Karena ukuran tubuh saya yang tidak tinggi, rasanya telapak kaki tidak bisa sepenuhnya menapak lantai jika punggung bersandar. Atau bisa menapak penuh, tetapi membuat tidak sepenuhnya bersandar. Akibatnya lelah sekali untuk penerbangan 9 jam.

Hal yang sama terjadi ketika saya mencoba naik kereta Taksaka luxury ke Jogja. Susah jadi orang pendek 😀 Untungnya kereta yang saya naiki itu merupakan kereta malam sehingga kursinya bisa reclined maksimal dan saya bisa tidur enak. Saya tak perlu lama-lama duduk dengan kaki yang ngatung.

Taksaka Executive

Kursi-kursi dalam perjalanan itu tidak selamanya mewah. Dalam perjalanan saya ke Myanmar tahun lalu, saya juga duduk di kursi “dadakan” di lorong tengah bus. Pada bus yang lebih bagus, kursi itu terlipat ke punggung tangan kursi sebelahnya, tetapi jika busnya yang standar atau kurang, mereka menyediakan bangku baso. Pegal? Tidak juga karena selama travelling, selalu menyenangkan, kan? Apalagi perjalanan menuju Golden Rock, itu hanya sekedar duduk di atas besi dudukan yang melintang di sebuah truk! Baca deh kisahnya di Myanmar 1 – Menuju Golden Rock.

Ketika saya ke Nepal pertama kali, saya sempat mengunjungi Basantapur yang ceritanya bisa dibaca di Nepal: Bertemu Pengagum Soekarno di Basantapur. Meskipun mendapat tour-guide yang baik hati dan ikhlas tanpa diminta, tetap saja saya terpesona melihat Tahta yang dipamerkan di balik kaca. Tahta yang penuh dengan simbol-simbol. Melihat itu, saya langsung berpikir, Sang Raja tentunya tidak bisa sekedar Just Sit and Relax di kursi kebesaran itu karena ia pastinya punya beban berat yang memusingkan kepala tujuh turunan.

The Throne

Bagaimanapun juga, selalu saja ada kisah yang menyenangkan soal kursi. Saat kuliah, pernah saya mengalami yang biasa dipertunjukkan di Srimulat atau pertunjukan humor. Waktu itu saya sedang sibuk dengan satu kelompok dan ada teman lainnya yang saling berpunggungan (dengan saya) sibuk juga dengan kelompoknya. Karena lelah dan saya lihat ada kursi kosong yang siap menerima bokong saya, otomatis saya bergerak untuk duduk. Lalu, tanpa sengaja teman yang berpunggungan itu mengetahui juga ada kursi kosong di dekatnya (kebetulan kursi yang sama yang akan saya duduki). Ia menarik kursi itu untuk dirinya bersamaan dengan bokong saya yang bergerak duduk. Alhasil saya terjungkal kayak lawakan gak mutu 😀 😀 😀 Sakitnya tidak seberapa, malunya itu lhooo…

Lain lagi saat saya di Gyeongju, Korea Selatan. Karena tidak bisa makan makanan Korea, saya hanya bisa makan chicken nugget dan kentang yang saya pesan take-away dari sebuah restoran dan dimakan di sebuah kursi panjang di kegelapan malam. Saat itu sedang musim gugur sehingga udaranya lumayan dingin. Karena laparnya, saya tak sadar bahwa saat itu, malam-malam saya duduk di kursi panjang tak jauh dari tumuli yang ada di belakang saya. Tumuli itu kan tempat pemakaman Raja dan kaum bangsawan! Meskipun dibuat rapi dalam bentuk taman, tetap saja kuburan, kan?

Kadang saat melakukan perjalanan, saya sempatkan ke tempat-tempat yang ada unsur artistiknya, seperti museum kontemporer atau gedung-gedung seni. Biasanya kursinya lucu-lucu dan menarik.

Tapi rasanya yang paling mengesankan itu adalah kisahnya si kursi goyang ya… Siapa sih yang sepemikiran dengan saya, kalau melihat kursi goyang itu agak sedikit takut, apalagi kalau malam dan sendirian.

Jadi ketika saya dapat giliran menjaga Mama, tetap saja saya tidur memunggungi si kursi goyang. Kan gak lucu jika saya menghadapnya lalu kursinya goyang sendiri…. Hiiiiii….

Rocking Chair

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-40 bertema Chair agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Broken Heart, Hollow Inside Or Change It


Adakah orang yang tak pernah patah hati dalam hidup? Karena patah hati tak melulu karena putus cinta. Lebih luas dari itu. Kita mengalami patah hati, -bukan hati yang patah secara fisik-, sebagai ungkapan akan derita emosi yang amat dalam dirasakan oleh seseorang karena kehilangan orang yang dicintainya, yang bisa datang melalui kematian, perceraian atau putus hubungan, dan berakibat keterpisahan fisik atau penolakan cinta.

Saya juga mengalaminya.

Pohon-pohon tak berdaun

Saya pernah patah hati karena putus cinta. Dia telah memenuhi semua kriteria menjadi calon pendamping hidup dalam pernikahan, tetapi saya mengabaikan satu kriteria yang paling dasar (Mungkin bukan mengabaikan melainkan mencengkeram kuat sebuah harapan). Agama.

Nasehat-nasehat orang lain agar jangan meneruskan hubungan yang tidak seiman, memang saya dengarkan tetapi tidak cukup untuk membubarkan. Saat itu kami belajar melebarkan toleransi terhadap ibadah. Saling mengingatkan, saling menjaga, saling mendukung. Dan rasanya begitu indah.

Hingga satu hari yang paling menyakitkan, tepat dua tahun dari tanggal yang sama kami memulainya. Saya mungkin yang memulainya, bisa juga dia. Rasanya sama, pancaran mata kami sama. ‘Kartu-kartu’ kami dihamparkan di hadapan. Kami berdua menolak fakta, tetapi itu sangat nyata. Di tanggal yang sama, tepat dua tahun setelah kami memulainya, kami sama-sama memegang sebuah bola kristal harapan yang hancur meremuk dengan kepingan yang begitu kecil. Jalan kami berbeda.

Saya hancur, dia juga. Harapan itu sirna mendadak. Tak akan ada pernikahan. Airmata tumpah tak terbendung. Terlalu pahit untuk melepas seseorang yang telah begitu dekat di hati, rasanya seperti palu yang menghantam kesadaran saya. Meski tetap hidup, hari-hari itu terasa kelabu. Tak ingin makan, tak ingin keluar, tak ingin kemana-mana, tak ingin melakukan apa-apa. Saya menangis terus. Hidup rasanya hampa. Kosong. Semua terasa kabur, tak nyata, blurred. Hollow inside.


Dan berpuluh tahun setelah momen patah hati itu, saya mengalaminya lagi. Kepergian Papa hanya tiga hari sebelum ulang tahun saya, membuat saya menjalani momen-momen bahkan hari-hari setelahnya dengan perasaan yang hampa meskipun kalimat-kalimat penghiburan, doa dan atensi terus menerus dilimpahkan kepada saya. Semuanya tak bisa mengisi hati yang sedang terbelah. Bahkan sehari setelah prosesi pemakaman Papa, kepergian saya sekeluarga ke Jepang pun tidak dapat mengisi hati yang terus merembeskan airmata itu. Hati saya patah berkeping-keping, serupa dulu…

Tidak ada kata tepat yang dapat menjelaskan bagaimana perasaan hampa yang saya rasa itu. Hanya saja seperti zombie, bisa bergerak tapi tak sesungguhnya hidup. Mata melihat, namun dengan pikiran yang tidak mengarah kepada apa yang disaksikan. Semua terasa sama, warnanya sama, kelabu samar. Mungkin saya bisa tersenyum, tetapi senyum tak diikuti rasa. Saya mungkin bisa sesaat menikmati perjalanan, tetapi momen berikutnya bisa menggigit bibir bertumpah airmata. Saya ingat saat terbang menuju Tokyo. Mata memang memandang keluar jendela pesawat bersamaan mengalirnya airmata membasahi pipi tanpa dirasa. Tak banyak kata, tak banyak cerita. Saya lebih banyak diam seribu bahasa.

Saat itu saya menangisi kemortalan manusia sebagai makhluk yang bernyawa yang pasti akan mati dan berpisah dunia. Kematian telah memisahkan saya dengannya dan membuat saya patah. Patah yang sesungguhnya. Hancur lebur dan membuat semuanya hilang. Hampa.


Namun tidak pernah ada yang sia-sia begitu saja…

Alam telah memiliki aturan untuk berjalan sedemikian rupa, bahkan saya pun bisa belajar dari sebuah kehampaan. Sebuah kehampaan yang datang dari peristiwa berpindah dunia maupun karena putusnya hubungan cinta.

Dan di setiap momen waktu yang berlalu, ada pilihan-pilihan hidup yang harus diambil oleh seorang manusia. Juga saya, pada saat-saat itu.

Setiap manusia termasuk saya, memiliki pilihan yang sama. Pilihan itu muncul mungkin tanpa disadari sepenuhnya. Selalu ada dua pilihan: Status quo atau berubah.


masih ada sedikit daun untuk bertahan

Dan Sang Pencipta telah memberikan daya dan kekuatan begitu besar kepada manusia untuk menjalani kehidupan ini berdasarkan pilihan-pilihan yang diambilnya.

Juga kepada saya ketika mengalami hati yang terbelah karena putus darinya.

Hanya saja saat itu saya memilih status quo. Saya membiarkan diri berlama-lama dalam rasa yang ‘hampa’ itu. Saya biarkan pembelajaran lain dibelakangnya untuk datang dalam bentuk yang lebih berat untuk dijalani. Hepatitis menghampiri, demam tinggi lalu pingsan tak sadarkan diri. Bolak-balik rumah sakit menjadi sebuah rutinitas karena harus cek lagi dan lagi. Sebuah konsekuensi atas pilihan status quo itu.

Jika saja disadari lebih awal, tentunya saya tak akan memilih status-quo itu karena ternyata berlama-lama menjalani rasa hampa itu tak enak akibatnya. Tetapi Dia Pemilik Waktu selalu menyediakan momen untuk berubah, cepat atau lambat.

Apapun penyebabnya, -kehampaan karena berakhirnya sebuah hubungan atau karena kematian-, suatu saat akan datang kesadaran bahwa sebelum hari kelabu itu pernah datang hari-hari gembira dan ceria, penuh cahaya gemerlap, penuh pelangi warna-warni. Lalu apakah saya mau mempertahankan warna yang kelabu selamanya? Tentu saja, serta merta pilihannya datang kembali, Status quo atau berubah?

Dan selalu ada momen untuk berubah, cepat atau lambat.

Dan saya memilih berubah karena saya ingin hidup saya penuh warna lagi meskipun untuk mencapai itu tidaklah selalu mudah. Tetapi bukankah selalu dikatakan orang, mungkin memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa, bukan?

Seperti segala sesuatu hanya bergantung kepadaNya, demikian pula upaya perubahan yang harus saya jalani. Perpisahan dengannya berpuluh tahun lalu itu memang harus terjadi untuk sesuatu yang lebih baik dalam kehidupan saya dan dia. Memang memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk saya, tetapi kini kami semua telah berbahagia dengan pilihan hidupnya masing-masing. Masing-masing dari kami harus mengalami sesuatu yang tak nyaman, yang tak membahagiakan untuk mendapatkan yang seharusnya.

Demikian juga kepergian Papa yang merupakan keputusanNya yang terbaik bagi kami sekeluarga. Saya belajar dari banyak kejadian yang telah lalu, berlama-lama menangisi hidup tak akan mengubahnya kecuali tersadar dan berani mengambil sebuah pilihan untuk berubah menuju yang lebih baik.

There’s something good appearing

If you want to reach out for something new, you must first let go what’s in your hand

Sonia Choquette

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-39 bertema Empty agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.