Mewujudkan Angan, Melatih Tangan


Sejak kecil, tangan saya ini tidak terlalu trampil untuk pekerjaan-pekerjaan tangan. Bisa jadi otot motorik halusnya tidak berkembang dengan baik. Mungkin memang bentuk tangan saya yang cenderung gempal, jari-jarinya pendek dan gendut. Pastinya bukan tangan untuk pemain piano atau pemain gitar. Pasti panjang jarinya tidak lulus untuk dua ketrampilan itu.

Meskipun begitu, sejak kecil saya bisa menari, meskipun jemari saya tidak masuk kategori jari penari. Bukankah jari penari itu panjang dan lentik, sedangkan jemari saya pendek dan gendut? Tapi saya berpedoman, anjing menggonggong, kafilah berlalu. Saya terus saja menari meskipun jari saya sebenarnya menggemaskan 😀 😀 😀 karena jika diperhatikan tangan saya ini seperti tangan balita, yang panjang jari sama dengan panjang telapaknya.

Nah, bisa jadi karena itu pula, nilai-nilai prakarya, kerajinan tangan, melukis dan semua hal terkait ketrampilan jari tangan selama sekolah tidak pernah outstanding. Biasanya “B aja“, kata kalangan millenial sekarang.

Tetapi saya bersyukur memiliki jari tangan balita itu, karena saya tetap bisa bekerja dengan baik hingga kini. Saya sendiri tidak mempermasalahkan dengan jari tangan balita ini. Bahkan kadang, kalau iseng, saya sering menertawakan penuh cinta terhadap tangan saya. Lucu dan menggemaskan!

Terlepas dari ketidakmampuan saya membuat karya-karya yang menggunakan otot motorik halus, belakangan ini, entah kenapa saya kembali menghidupkan angan-angan untuk bisa menghasilkan sesuatu dari tangan sendiri. Mewujudkan sesuatu. Bisakah?

Merajut.

Merajut adalah salah satu ketrampilan tangan yang ilmunya saya dapatkan dari almarhumah Oma (nenek) saya karena memang di masa kecil saya dititipkan pada Oma karena orangtua bekerja. Saya hanya bisa menggunakan alat hakpen untuk merajut (crochetting) meskipun Oma juga mengajarkan untuk merajut dengan dua tangkai (knitting). Untuk yang terakhir ini saya menyerah, karena benangnya selalu lepas dari tangkainya.

Meskipun merajut ada sedikit hitung-hitungannya, saya tidak pernah menggunakannya. Dulu saat di sekolah saya merajut mengandalkan rasa saja dan tak pernah menghitung. Alhasil, taplak bundar saya selalu bergelombang penuh lipit meskipun saya tidak terlalu memperdulikannya. Bahkan tarikannya pun saya tidak peduli, kadang lebar, kadang ketat. Akibatnya yaaa… bisa dilihat ada lubang yang besar dan ada yang kecil. Dan jika hasil karya itu dibalik, bagian belakangnya lebih kacau lagi. Dan tentu saja guru saya punya pertimbangan sendiri untuk bilang hasil kerajinan tangan saya tidak sempurna! Bandelnya, bagi saya merajut itu proses senang-senang dan proses kreatif. Saya ingin bebas dan tidak mau ribet dengan hitungan, saya tidak mau ribet dengan tarikan. Saya ingin menghasilkan dengan tangan yang bergerak tanpa saya perintah-perintah. Perintah untuk stop, untuk pelan-pelan, untuk dihitung, atau dibatalkan jika salah.

Dan sayangnya kebiasaan itu terbawa hingga kini. Almarhumah Oma pasti jengkel melihat kesewenang-wenangan saya merajut. 😀

Kesewenang-wenangan saya yang lain terkait merajut adalah tidak sabar dan tidak tekun. Akibatnya, jika saya sudah jenuh, saya tinggalkan dan lupakan. Angan-angan sih membuat taplak meja bundar yang cukup besar. Tapi hasilnya kebanyakan hanya satu alas selebar tatakan gelas!

Mengenal kelemahan saya itu, maka saya meninggalkan angan-angan untuk merajut. Merasa bisa dan tahu ilmunya tapi malas menghasilkan. Sombong banget kan…

Nah sekitar setahun lalu, ada kawan saya yang memberi tas tangan dan topi rajutan. Dari dialah mulai timbul lagi angan untuk merajut. Berhasil! Tapi hanya berhasil beli benang dan hakpen (karena seluruh peralatan merajut saya sudah entah kemana!). Itupun benang coba-coba dan hakpen ukuran besar. Setahun lalu itu, dengan segala motivasi, akhirnya saya mulai lagi merajut meskipun, lagi-lagi, tanpa hitungan. Suka-suka saja. Hasilnya tatakan gelas lagi! 😀 😀 😀

Desember lalu, sebelum umroh, lagi-lagi saya mencoba mewujudkan angan, masak sih saya tidak bisa menghasilkan rajutan selain tatakan gelas? Kali ini saya serius menantang diri. Harus bisa, hasilnya harus lain. Begitu jadi bundaran setatakan gelas, saya naikkan barisnya yang akhirnya membentuk mangkok. Ah saya gembira juga, meskipun masih menggunakan gaya suka-suka.

Sepulang Umroh, lalu dengan kesibukan kerja, pekerjaan rajutan saya terbengkalai begitu saja, Kemudian tiba-tiba dunia dihebohkan dengan penyebaran virus corona, kegiatan WFH diberlakukan sehingga membuat saya memiliki waktu lebih banyak. Saya merajut lagi. Dan akhirnya jadi sebuah tempat tumbler lho. Tanpa pola, tanpa hitung-hitungan.

Horeee… berhasil  juga jadi tempat tumbler, bukan tatakan gelas… 😀 😀 😀

Dan semoga saja, saya berhasil menyelesaikan lagi masker rajut yang baru saya mulai kemarin.

rajut
A Tumbler holder

Menjahit.

Serupa dengan merajut, proses ketrampilan menjahit saya tidak maju-maju dan selalu meninggalkan hasil karya yang tidak selesai. Untuk melanjutkannya, sungguh malas. Ada di tempat jahitan, mukena yang tidak selesai, rok yang tidak selesai, blus yang tidak selesai. Lucunya, duluuuuu jaman masih kuliah dan pastinya belum punya mesin jahit, saya bisa menyelesaikan celana panjang kerut yang saya selesaikan dengan jahitan tangan. Tapi itu duluuuu….

Dan kemarin, gara-gara persediaan masker sudah menipis, akhirnya saya mengambil keputusan untuk menjahit masker sendiri. Sayangnya, tempat peralatan jahit yang kecil kompak dan lengkap itu ada di koper saya yang hilang dalam perjalanan Umroh lalu. Yang tertinggal sekarang hanya pelengkap. Saya bongkar-bongkar, ternyata masih ada kain sisa yang bisa dibuat masker. Apalagi masih ada kain katun putih yang bisa digunakan sebagai pelapis. Lengkap juga bahannya.

selfmade mask
The process to make a face mask

Alhasil, dalam sehari saya sibuk berkutat dengan jarum dan kain. Tadinya saya siap menggunakan mesin jahit. Tetapi akhirnya saya lebih memilih menjahit dengan tangan. Meskipun masih berantakan disana-sini, masker muka 3 lapis untuk saya selesai juga. Bahkan anak-anak minta dibuatkan. Duh, gak tau ya mamanya dengan susah payah membangun motivasi!

Mudah-mudahan dengan selesainya masker itu, selesai juga masker yang dikerjakan dengan mesin jahit, selesai juga mukena, selesai juga rok dan blusnya. (Duh yang pakai hitung-hitungan pasti belakangan banget deh!)

my handmade mask
My self hand made mask

Merangkai manik-manik

Rasanya pekerjaan kerajinan tangan yang paling mudah bagi saya adalah merangkai manik-manik. Dasarnya mungkin karena saya suka gelang. Saya punya cukup banyak koleksi gelang dari manik-manik yang warnanya bisa disesuaikan dengan warna pakaian. Meskipun pada akhirnya biasanya saya lebih suka mengenakan warna yang standar, hitam, merah, biru atau silver.

Kegemaran saya merangkai manik-manik bertambah dengan adanya koleksi dari Mama karena dulu orangtua sempat dinas beberapa waktu di Kalimantan Selatan dekat dengan Banjarmasin. Jadi koleksi manik-manik Mama sebagian besar diberikan kepada saya (secara saya anak perempuan satu-satunya deh!)

Tak hanya Mama. Pernah sekali waktu ada seorang teman memberikan saya gelang manik-manik merah dan hitam yang bentuknya “bukan saya banget”, meskipun bentuk manik-maniknya cukup cantik tapi sayang rangkaiannya “mengerikan”. Akhirnya sesampainya di rumah, saya gunting gelang pemberian itu lalu saya rangkai ulang sesuai dengan gaya saya. Teman saya yang memberikan tidak pernah sadar gelangnya sudah berubah bentuk hehehe..

Sekarang ini, berhubung masih musim penyebaran virus corona yang bisa menempel di berbagai perhiasan, jadi untuk sementara waktu saya tidak mengenakan aneka gelang manik-manik itu. Mungkin nanti jika virusnya sudah lebih bisa dikendalikan.

my beadscraft
some of my beadscraft

*

Hmmm…. Setelah dipikir-pikir, tahun ini rasanya saya sedikit naik tingkat dalam hal kerajinan tangan, yaitu bisa menghasilkan sesuatu. Menjadikan sesuatu menjadi ada. Angan-angan sederhana yang menjadi nyata, meskipun melewati puluhan tahun waktunya.

Ah, tidak apa-apa kan… Bukankah semua itu ada waktunya? Yang penting kita mulai saja, kadang memang terlambat lamaaa sekali, tetapi pasti ada pembelajarannya kan?

Yuk… let’s do it

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-13 ini bertema Handicraft agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Siapa Dia Yang Berjemur Di Depan Gua


Saya baru saja meninggalkan pintu gua Ashabul Kahfi yang terletak sekitar 10 km sebelah Timur kota Amman, -ibukota Jordan-, dan masih terpesona dengan kawasan bersejarah yang kisahnya terabadikan di kitab suci Al Qur’an dalam Surat Al Kahfi itu, surat yang biasa dibaca umat Muslim setiap hari Jumat itu. Rasanya belum mau melepas pandang dari pintu gua seukuran badan manusia yang baru saja saya tinggalkan itu. Entah kenapa saya jadi teringat saat berada di kawasan Lumbini enam tahun lalu.

Ada kesamaan di antara keduanya yakni berupa reruntuhan peradaban yang masih terpelihara hingga kini, melewati masa ratusan tahun hingga milenia. Seakan alam menjaganya, melindunginya dari prahara-prahara dunia yang tak pernah berhenti. Persis seperti permata berharga yang tak lekang oleh masa. Ada aura khas yang  menggetarkan rasa. Seperti menguarkan atmosfir adanya kehidupan yang menjadi sejarah di antara batu-batu kuno itu.

Ashabul Kahfi sendiri mengisahkan tentang tujuh pemuda yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tertidur lelap di dalam gua selama 309 tahun menurut kalender hijriah. Konon ketujuh pemuda yang taat mempertahankan keimanannya itu melarikan diri dari kekejaman Raja Dakyanus yang saat itu berkuasa dan telah menjatuhkan hukuman mati kepada siapapun yang menentang dirinya, termasuk ke tujuh pemuda itu karena senantiasa mempertahankan keimanannya. Dan ketika mereka terbangun 309 tahun setelahnya, mereka terkejut karena keadaan telah berubah sama sekali dan tidak ada lagi pasukan Raja Dakyanus yang mengejar mereka. 

Saat itu, rasanya saya masih terpukau dengan peninggalan-peninggalan sejarah pada dinding dekat pintu gua, yang dihiasi oleh simbol-simbol Romawi. Sungguh saya belum puas menikmati keluarbiasaan itu ketika terdengar arahan dari tour leader kami untuk segera berpindah menuju Masjid yang ada di dalam kawasan yang sama untuk melaksanakan kewajiban ibadah agar bisa melanjutkan perjalanan (Suatu saat nanti, InsyaAllah, saya akan menuliskan kisah perjalanan di Amman ini)

Saat itulah saya melihatnya. Hewan berbulu di depan gua. Cantik.

Meskipun matahari telah condong ke Barat, panasnya tak lagi gahar. Bisa jadi suhu udara kota Amman dua hari jelang Tahun Baru 2020 itu memang teramat sejuk. Hewan berbulu, -yang oleh sebagian teman-teman penggemar biasa disebut Anbul, alias Anak Bulu-, duduk di atas bebatuan, menghadap ke Barat.

DSC00392

Salahnya dia duduk menghadap ke Barat sehingga ia teramat silau terpapar sinar matahari jelang sore. Ia memicingkan matanya, tak bisa membuka mata lebar-lebar karena sinar matahari terlalu terang. Tapi entahlah, bisa jadi ia justru memilih posisi duduk menghadap Barat. Sepertinya terasa hangat. Sepertinya ia memang mencari matahari. Kasarnya, berjemur sore.

Saya bukanlah seorang penggemar kucing, bukan juga pembencinya. Tetapi ketika melihat seekor kucing yang “kesilauan” dan bersikap santai tak peduli dengan lingkungan lainnya, duduk di atas batu di kawasan wisata bersejarah, terus terang saja saya merasa terbawa oleh sikapnya yang menyenangkan. Entah kenapa, saya teringat turis-turis kulit putih yang sering berjemur di pantai mencari sinar matahari agar kulitnya lebih tanned.

Warna kulit si Kucing Cantik ini tak terlalu jauh dari warna-warna batuan yang menjadi latar belakangnya. Tetapi bagaimana pun sikapnya yang “kesilauan” itu menggugah rasa gembira saya. Lucu sekali, karena seumur-umur saya tak pernah melihat seekor kucing menantang matahari dan kesilauan sendiri. (Ah, kamu Cing, harusnya pakai kacamata cengdem!)

Saya tidak bisa berlama-lama menatap si Kucing Cantik ini karena tour leader lagi-lagi mengingatkan untuk melanjutkan perjalanan.

Meskipun masih gemas dengan sikap si Kucing Cantik ini, saya harus melepaskan pandangan darinya.

Sampai bertemu lagi, Cing…

Sambil melangkah saya terpikir, apakah si Kucing Cantik itu juga merasakan aura bersejarah dari Gua Ashabul Kahfi seperti yang saya rasakan tadi? Siapa sebenarnya si Kucing ini?

Ah, jangan-jangan si Kucing Cantik ini….

Segera saja saya membuang pikiran nyeleneh yang muncul dan bergegas menyusul rombongan.


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-12 ini bertema Kucing (Cat) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Belajar dari Mendung


Bisa jadi banyak dari kita yang baru bisa menghargai sesuatu yang kita miliki setelah sesuatu itu hilang. Atau mungkin lebih tepatnya kita memang menyadari memiliki sesuatu itu namun tak pernah menyangka akan hilang. Take it for granted, kata orang bule.

Seperti sekarang ini, saat Covid-19 merajalela hampir seluruh dunia menerapkan begitu banyak batasan sehingga kita terhenyak. Begitu banyak kebebasan dan kenikmatan yang telah kita rasakan selama ini dan kini, blassss… tiba-tiba semua berbatas.

Tiba-tiba kebebasan kita berdekatan dengan orang-orang tersayang menjadi sesuatu yang mahal karena mencegah penularannya. Kebebasan kita ngobrol, chit-chat, berdekat-dekat, berpelukan, bersalaman menjadi berjarak. Bahkan berkumpul untuk menyerukan puji-pujian kepadaNya, berdoa ditiadakan sementara waktu. Kenikmatan kita bersosialisasi menyambung silaturahmi mendadak berjarak bahkan sampai tak ada tatap muka secara fisik. Makhluk sosial itu kini menjadi berjarak.

Mungkin lebih dari trilyunan virus corona merambah ke hampir setiap negeri di bumi ini, menyerang satu lalu menjalar kemana-mana, menulari yang bersentuhan, menyerang apa yang menjadi dasar kehidupan manusia di bumi ini. Manusia sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan satu sama lain. Seakan memaksa manusia menjadi makhluk anti sosial jika tidak ingin terpapar COVID-19.

Tak ada lagi istilah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Yang belakangan muncul adalah bersatu kita runtuh, menjauh kita utuh. COVID-19 memaksa kita menjadi makhluk berjarak dengan manusia lain. Virus yang ukurannya kecil banget sekitar seratusan nanometer ini pelan-pelan berhasil menjadi penjajah baru akan kehidupan manusia dengan menerapkan, devide et impera versi terkini antara manusia satu dengan yang lain. Bayangkan, sebagai penyerang, virus corona bisa jadi memang punya tujuan hanya dua, menjarakkan manusia, kalau memang manusia tidak mau mati. Begitu berat pilihannya!

Langsung saja saya teringat kisah tentang kekuatan mematahkan sapulidi. Kita akan lebih mudah mematahkan batang-batang lidi yang terlepas satu sama lain daripada mematahkan seikat sapu lidi yang terikat kuat.

Bukankah sekarang ini kita seperti sapu lidi yang terlepas ikatannya agar selamat tidak terpapar virus COVID-19?

Ah saya teringat lagi, jaman dulu ketika virus komputer baru muncul dan bisa menyerang melalui jaringan komputer. Salah satu jalan goblok-goblokan yang bisa dilakukan untuk mengatasi virus yang merusak file itu adalah dengan melepaskan komputer dari jaringan, membuatnya menjadi stand-alone lalu diobati dengan anti-virus.

Dengan situasi sekarang ini, kita tak ubahnya seperti komputer-komputer stand-alone dan harap-harap cemas dengan keefektifan obat yang diberikan atau mencoba bertahan dengan isolasi mandiri, sambil berdoa semoga COVID-19 ini tidak semakin menyerang bagian tubuh kita yang sudah lemah karena penyakit bawaan.

Covid-19 ini sungguh seperti awan hitam gelap yang menggantung. Menakutkan.

 

mendung1
Heavy Clouds over The Beach

Namun yang pasti, manusia hidup itu bukan hanya fisik saja!

Bukankah kita memiliki kehidupan batiniah di dalamnya? Ada pikiran, ada rasa, ada jiwa dan ada ruh di dalam setiap diri manusia. Dan tentu saja COVID-19 tidak bisa menyerang secara langsung di bagian ini kecuali, disadari atau tidak, manusia sendirilah yang membuatnya terserang.

Jika saja kita hidup dengan keseimbangan raga, pikiran, rasa dan kehidupan spiritual, rasanya Covid-19 bisa menjadi tak berdaya. Bukankah seorang manusia itu diciptakan dengan sistem daya tahan yang begitu hebat? Tak jarang rasanya kita mendengar berita gembira tentang kesembuhan seseorang dari sakitnya yang tak terperikan hanya karena semangat sembuh yang begitu luar biasa? Tidak sedikit teman saya yang masuk ke dalam kategori ini, yang membuat saya menarik nafas panjang mengaguminya. Namun di sisi lain, dengan tak seimbangnya raga, pikiran, rasa dan kehidupan spiritual, bukankah kita juga sering mendengar cerita orang benar-benar menjadi sakit meskipun tak ada satu pun penyakit ditemukan dalam tubuhnya melainkan hanya dari sikap paranoidnya?

Hebatnya manusia dengan akal pikiran yang diberikan kepadanya. Manusia mampu mengatasi jarak fisik yang tiba-tiba diberlakukan itu. Meskipun kini berjauhan, ada saja cara untuk mengatasinya. Dengan saling menghibur di masing-masing balkon seperti yang terjadi di Italy atau dengan teknologi. Karena dengan teknologi, kehidupan sosial manusia tetap bisa berlangsung meskipun tidak sempurna. Rasanya aneh, tidak nyata, tak sama, tak tergantikan dengan fakta sesungguhnya. Namun paling tidak, manusia tidak kehilangan esensinya untuk saling berhubungan satu sama lain, meski tak saling menyentuh.

Kini baru kita sadari, betapa besar nilai bisa berkumpul, berdekatan bahkan bersentuhan antar manusia tercinta. Lalu, dengan COVID-19 ini, bukankah kita disadarkan akan pentingnya hal itu?

Pada akhirnya, seorang manusia dalam kesendiriannya dalam jarak-jarak yang diberlakukan terhadapnya, membuat ia kembali kepada fitrahnya, antara manusia dan Penciptanya, Sang Penguasa Kehidupan. Belajar menghargai setiap nikmat yang ada dalam kehidupannya, hal-hal kecil yang dulu ada dan berkelimpahan, kini sedang dibatasi. Nikmat yang ditunda.

Kini kita belajar berpuasa atas segala nikmat yang telah diberikan olehNya dan belajar bersyukur atas semua yang masih diberikan olehNya.

Bisa jadi memang sudah sifatnya manusia yang harus mengalami ‘kegelapan’ hidup terlebih dahulu agar bisa menghargai semua hal-hal yang terlihat kecil namun mendasar, yang selama ini diperlakukan oleh manusia dengan cara take it for granted

Bukankah dari keganasan penyebaran virus itu kita dipaksa menerima kondisi apapun? Bukankah di tengah wabah yang terus menyerang tanpa henti itu, dalam kesendirian dalam jarak-jarak ini, kita bisa bersimpuh, bersujud memohon ampun kepadaNya atas segala kelalaian untuk tetap bersyukur terhadap nikmat yang diberikan olehNya?

Seperti yang dialami hampir di seluruh dunia, awan mendung COVID-19, meski kecil dan tak terlihat oleh mata, kini menjadi pengingat akan nilai kehidupan yang sesungguhnya. Dan seperti semua hal fana lainnya, serbuan Covid-19 pun memiliki akhir. Kita harus terus memperpanjang sabar, memperkukuh iman tanpa lepas ikhtiar semaksimal mungkin hingga habis waktunya untuk COVID-19 dan obat pemusnahnya ditemukan.

Laksana awan gelap menaungi bumi, wabah penyakit COVID-19 perlahan akan menghilang dan CahayaNya yang tak pernah berhenti menyinari kehidupan manusia akan menembus awan gelap itu dan membuat terang kembali tempat-tempat yang sebelumnya berbayang gelap.

Just keep the faith! This too shall pass

Hope is a ray of sunshine breaking through the clouds after the storm.

Faith is knowing there are more where that one came from.

Mendung2
It will be a brighter day

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-11 ini bertema Cloudy Sky agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Penuh Kain Kampuh di Candi Cetho


Sudah lama saya memendam keinginan untuk bisa pergi ke Candi Sukuh dan Candi Ceto, dua kompleks candi Hindu abad-15 yang saling berdekatan di ketinggian lereng seribuan meter Gunung Lawu, gunung yang ada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun keinginan-keinginan itu tetap menjadi keinginan saja karena terlibas oleh seribu satu alasan lain yang bagi saya lebih prioritas. Lalu kesempatan itu datang begitu saja, ketika kami memiliki satu hari kosong dalam libur lebaran beberapa waktu lalu.

Jadilah dengan berkendara pribadi, berjuang mengatasi jalan yang meliuk-liuk menanjak amat curam dan sempit, sampailah kami di Candi Cetho. Sengaja kami melewatkan dulu Candi Sukuh dengan pertimbangan akan mengunjunginya setelah kembali dari Candi Cetho.

Sebelum memasuki area parkir yang tidak cukup luas, saya sudah melihat sekumpulan orang memenuhi sekitar pintu masuk namun saya menganggap itu hal biasa. Namanya juga liburan, pasti banyak orang. Dan setelahnya, saya bergegas ke loket tiket masuk lalu mengantri giliran dibantu untuk mengenakan kain kampuh, kain putih berkotak hitam seperti papan catur yang biasa terlihat di Bali.

Kain kampuh yang melingkari pinggang hingga ke paha itu sejatinya biasa digunakan oleh umat Hindu saat sembahyang ke Candi Cetho yang hingga kini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah. Dan untuk menjaga kesucian tempat ibadah dan menghormati sebuah budaya, hingga kini seluruh pengunjung baik Hindu maupun Non-Hindu wajib mengenakan kain kampuh itu, karena dengannya diharapkan pengunjung dapat menjaga kebersihan jiwa raga, lahir batin saat berada di area Candi Cetho,

Terlepas dari dalamnya makna kain kampuh itu, saya melihat sesuatu yang menarik melihat semua pengunjung seragam mengenakan kain kotak-kotak hitam putih itu. Keren juga sebagai penanda. Tapi sekali lagi, perasaan akan ‘keren’ itu sepertinya terlalu cepat.

Saya menikmati udara yang terasa sejuk. Candi Cetho memang berlokasi di sekitaran 1500 meter di atas permukaan laut, jadi lebih tinggi letaknya dari pada Candi Sukuh. Hebatnya lagi, Candi Cetho memiliki 13 teras yang semakin meninggi ke arah puncak yang poros tengahnya memiliki gapura-gapura, demikian yang saya ingat dalam beberapa foto teman yang sudah pernah ke tempat ini. 

Saya menaiki tangga untuk melalui gerbang gapura pertama dan drama kekagetan saya dimulai.

Dimana-mana ada orang, anak-anak dan orang dewasa yang mengenakan kain kampuh kotak-kotak hitam putih itu. Bahkan di dalam taman yang tertata indah dengan rumputnya yang telah susah payah dipelihara. Petugas yang selalu menjaga keindahan taman bisa jadi akan merasa masygul melihat kaki-kaki yang tak mengindahkan rumput-rumput yang juga memiliki kehidupan. Apakah dengan tanaman pembatas yang pendek menjadi alasan untuk melanggar batas dan menginjak-injak rumput selayaknya lapangan bola? Saya sungguh prihatin.

Dan saya hanya melihat bokong-bokong yang berbalut kain kampuh di jalur tangga menuju teras berikutnya. Saya memahami jika mereka terus berjalan atau hanya sebentar untuk pengambilan foto, tetapi kebanyakan dari mereka lupa akan orang lain yang ingin juga berdiri di sana dan berfoto. Mereka hanya tertawa-tawa tidak peduli, menguasai waktu dan areanya seperti miliknya sendiri. Keinginan saya menikmati Candi Cetho langsung lenyap…

Tetapi saya mencoba bersabar…

Candi Cetho dikenal sebagai tempat suci untuk melakukan ruwatan atau pembebasan jiwa dari kutukan, karena simbol-simbolnya yang jelas terpampang,

Di sebuah teras terbuka tersusun batu-batuan datar yang membentuk burung garuda yang sedang mengembangkan sayap dan di atasnya terdapat susunan batu berbentuk kura-kura, yang menurut informasi yang terpampang di sana menceritakan bagian dari kisah mengenai Samudramathana atau Churning of the ocean of milk atau biasa dikenal sebagai kisah Pengadukan Lautan Susu. Kisah dalam agama Hindu ini menceritakan mengenai perebutan terus menerus antara Dewa yang menjadi simbol dari sisi baik melawan Asura yang menjadi simbol dari sisi buruk, untuk mendapatkan air keabadian.

Burung Garuda dan Kura-kura, keduanya merupakan simbol-simbol yang terkait dengan Dewa Wisnu dalam agama Hindu. Dewa Wisnu sendiri menjadi seekor kura-kura untuk menopang Gunung Mandara dalam kisah Samudramathana tersebut. Dan diujung bentuk burung Garuda dan kura-kura terdapat penggambaran yang cukup erotis, seperti phallus yang bersentuhan dengan penggambaran vagina yang menjadi lambang penciptaan atau kelahiran kembali setelah terbebas dari kutukan.

IMG_0390
Selalu ada Manusia
IMG_0395
Garuda & Turtle – Cetho Temple

Di sekitaran teras tersebut, sekumpulan manusia yang datang berkunjung tak pernah sebentar. Amat mudah terlihat, kain kampuh dimana-mana. Saya seperti menjadi sang pungguk yang merindukan bulan, karena berharap terus manusia-manusia itu akan menghilang dari frame foto. Orang-orang itu memang pergi tetapi yang datang lebih banyak, bisa jadi sampai waktu berkunjung habis…

Saya memahami saat kunjungan itu saya tidak akan mendapatkan foto bersih tanpa manusia dalam frame, karena keadaan yang tidak memungkinkan. Akhirnya sebisa mungkin saya mengambil foto-foto yang penuh makna di Candi Cetho itu.

Karena belum sampai di teras tertinggi, saya menaiki tangga-tangga yang penuh dengan orang itu. Menjengkelkan sekali karena mereka berdiri dan bergaya menghalangi lalu lintas orang. Sungguh tak peduli dengan pengunjung lain yang mau turun atau naik, Kesabaran saya semakin tipis terhadap pengunjung yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kadang saya berpikir, apakah mereka tidak pernah diajarkan oleh orangtuanya untuk memikirkan orang lain? 

Setelah berjuang melewati pengunjung-pengunjung lainnya yang menghalangi jalan, sampai juga saya di teras teratas, tempat yang paling sakral dan suci dari Candi Cetho yang merupakan tempat umat Hindu biasa beribadah,  Bagi saya, Candi Cetho yang dipercaya dibangun pada abad-15 merupakan salah satu warisan nenek moyang kita yang amat berharga dan wajib dijaga kelestariannya. Selain itu, sebagaimana tempat ibadah lainnya, bagian puncak Candi Cetho sewajarnya memiliki batas suci. Artinya, hanya boleh dimasuki atau dinaiki oleh orang-orang yang akan beribadah saja,

IMG_0479
Cetho Temple – Main Area on the highest

Sayangnya tidak ada informasi mengenai batas suci, atau tidak ada larangan untuk menaiki tangga untuk sampai ke pelataran suci. Yang ada hanya larangan masuk yang dipasang di pintu masuk yang tertutup. Dan karenanya, saya benar-benar jengkel maksimal!

Karena tidak ada larangan, maka pengunjung mungkin merasa bebas untuk menaiki pelataran atas itu untuk duduk-duduk, bersandar dan berfoto. Berombongan! Hitung saja, jika mereka berbobot rata-rata 40 kg, maka pelataran atas itu sudah menerima beban tambahan sekitar 400 kg jika dinaiki oleh 10 orang bersamaan. Padahal di salah satu sisi bangunan puncak yang menyerupai piramid itu batu-batunya sudah sedikit ambrol. Saat itu saya sungguh senewen dengan rombongan pengunjung yang tanpa rasa bersalah turun naik untuk berfoto secara berombongan di tempat yang paling suci.

Ketika saya mengambil foto sambil memutari bangunan puncak, saya mendapati beberapa pasangan menduduki pelataran atas bagian belakang untuk berdua-duan. Tepok jidat deh saya!!!

IMG_0465
Please don’t do that

Bahkan ada yang lebih gila lagi karena ada empat atau lima remaja yang berfoto sambil meloncat! Berulang-ulang. Rasanya saya ingin menangis melihat tindakan ugal-ugalan mereka terhadap candi abad-15 di pelataran yang paling suci! Sepertinya petugas yang ada di sana sudah kewalahan juga untuk memberi teguran.

Saya benar-benar kehilangan mood. Saya merasa tak minat untuk tinggal lebih lama. Kain kampuh kotak-kotak hitam putih yang digunakan pengunjung dengan harapan agar bersih lahir batin dan penuh kesadaran memasuki tempat suci, sudah kehilangan maknanya. Kain kampuh hari itu, hanya menjadi penanda saja

Saya turun melalui gapura-gapuranya yang cantik namun sepanjang jalannya dipenuhi pengunjung yang mengenakan kain kampuh tanpa menyadari makna yang amat dalam yang ada padanya.

Rasanya amat miris, masih banyak pengunjung Indonesia yang belum mampu menunjukkan sikap untuk menjaga dan memelihara peninggalan kuno bangsa sendiri yang amat berharga.

Hari itu, saya membatalkan kunjungan Candi Sukuh karena sepulangnya dari Candi Cetho, di gerbang terlihat banyak sekali pengunjung yang tak jauh beda seperti di Candi Cetho. Saya kehilangan mood. Lebih baik saya menyimpan keinginan ke Candi Sukuh dan membiarkan gambaran baik tentangnya dalam benak, daripada mengingat hal yang kurang menyenangkan seperti yang terjadi di Candi Cetho.

Pembelajaran pentingnya: jangan ke tempat wisata saat libur lebaran!

IMG_0486
The Gapuras

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-10 ini bertema Kotak-Kotak agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Oh Deer, I Love You So


Sebagai penggemar world heritage, dalam perjalanan perdana ke Jepang tahun 2013 (wow… sudah tujuh tahun lalu!) saya menyempatkan diri ke Nara, sebuah kawasan yang terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site di Prefektur Kansai, Jepang. Nara sendiri pada masa 710 – 784 Masehi menjadi ibukota Jepang sesuai dengan domisili sang Kaisar.

Namun untuk mencapai Nara yang menyimpan banyak hal yang luarbiasa, saya perlu sedikit perhitungan. Sebagai pengguna JR Pass dan terlalu pelit untuk mengeluarkan dana lagi, saya hanya menggunakan kereta JR untuk sampai ke Stasiun Nara lalu jalan kaki sekitar 30 menit dari stasiun kereta hingga ke Kuil Utama Todaiji yang menyimpan Daibutsu (Patung Buddha Raksasa) yang terkenal. Meskipun jelang akhir musim semi yang udaranya masih cukup sejuk, rasanya lelah juga berjalan kaki sejauh lebih dari 5 km bolak-balik itu, sendirian lagi!

Namun selalu ada untungnya. Meskipun jaraknya cukup jauh, di tengah perjalanan pasti saja ada yang menarik untuk dinikmati. Ada kuil Kofukuji yang memiliki Pagoda lima tingkat yang cukup menekan pegalnya kaki. Lalu setelahnya, ada taman dengan begitu banyak pepohonan yang meneduhkan. Di beberapa sudut masih ada daun-daun yang tumbuh salah musim karena berwarna merah dan kuning seperti musim gugur.

Jelang gerbang kuil Todaiji saya disuguhi pemandangan yang membuat saya tersenyum lebar. Nara Park lengkap dengan rusa-rusanya yang bebas berkeliaran. Seperti di Istana Bogor dengan rusa tutulnya. Bedanya, di Nara pengunjung bisa langsung berinteraksi dengan sang rusa tanpa dibatasi pagar pembatas.

Dan di sana saya melihat aliran kasih sayang. Saya mendekat kepadanya.

Beberapa keluarga lengkap dengan anak-anaknya mengelilingi seekor rusa. Begitu dekat, begitu jinak. Bukankah seekor rusa juga memiliki ayah, ibu dan anak-anaknya? bukankah mereka juga makhluk yang memiliki hidup?

Tak lama kemudian seorang laki-laki yang tampaknya adalah sang kepala keluarga terlihat mengarahkan tangan kecil anaknya ke dekat mulut rusa, memberi makan sang rusa yang dengan lembutnya menerima makanan dari tangan si kecil lalu mengunyahnya dengan antusias. Anak-anak lain yang menyaksikan menahan nafas, begitu antusias mengamati pemberian makanan itu kemudian serta merta menjadi gembira dan bahagia ketika sang anak kecil berhasil memberi makan sang rusa. Horee… Ah sepertinya sang rusa juga merasa gembira.

Saya melanjutkan perjalanan tapi tak jauh dari sana pemandangan serupa juga terjadi.

IMG_8395
Here… I give you

Kali ini saya lebih mendekat pada sang rusa dan anak-anak yang berkumpul di dekatnya. Ada seorang dewasa yang memberi contoh memberi makan kepada sang rusa dari arah kanan sang rusa namun pada saat bersamaan ada anak kecil lainnya mengangsurkan makanan di sebelah kiri sang rusa. Ah, sang rusa agak sedikit bingung untuk menyenangkan dua hati yang memberikan makanan kepadanya. Tetapi dari matanya yang melihat ke kiri, sepertinya sang rusa mengetahui ada kebaikan hati di sisi kirinya dan dengan segera ia menoleh ke arah kiri. Bukankah kasih sayang itu harus disambut dengan rasa syukur?

IMG_8397
So close

Dan lihatlah ada tangan lain yang mengangsurkan makanan dan tentu saja sang rusa mendekatinya dan langsung mengambilnya dari telapak tangan pemberinya. Yang memberi dan yang menerima terlihat senang. Dan semua proses itu disaksikan oleh anak-anak yang berdiri sangat dekat dengan sang rusa. Mereka pun belajar untuk bergantian memberi makanan kepada sang rusa, belajar sabar menunggu giliran, satu kebiasaan yang harus dijiwai sejak anak-anak. Mereka, anak-anak calon pemimpin masa depan itu telah berlatih sabar bahwa membiarkan orang lain berbahagia juga akan menularkan rasa bahagia. Bukankah mereka sendiri menyaksikan dan mengalami bahwa ketika kawan mereka memberi makan kepada sang rusa, hal itu akan menggembirakan kawannya juga dan sang rusa itu sendiri? Bukankah semuanya menjadi berbahagia?

IMG_8396
I can lean on you

Dan lihatlah, ada seorang anak yang begitu menyatunya dengan sang rusa. Ia meletakkan tangannya di atas punggung rusa dengan penuh kasih sayang dan percaya penuh. Seakan bulu-bulu lembut sang rusa adalah tempat bersandarnya yang paling nyaman. Sang rusa pun tidak bergerak sedikitpun merasakan tangan dan jemari kecil itu berada di punggungnya. Dia biarkan tangan itu mengelusnya, menepuk-nepuknya dengan penuh kasih sayang.

<>

Ada sejumput rasa yang memenuhi hati menyaksikan semua yang terjadi di hadapan. Sebuah aliran kasih sayang dan makna cinta yang sesungguhnya.

Hanya ada ketulusan.

Love needs no words. It only needs sincere demonstration.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-9 ini bertema Kids agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Aksen Lengkung Di Situs Warung Boto


Saat ke Jogja tahun lalu, -setelah urusan keluarga selesai-, bersama suami saya menyempatkan diri mengunjungi Situs Warungboto atau kadang disebut juga dengan Pesanggrahan Rejawinangun yang terletak di Jalan Veteran No.77, Warungboto, Umbulharjo, Jogja. Situs yang belakangan mulai terkenal sebagai salah satu destinasi di Jogja ini, -bisa jadi karena Putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu bersama Bobby Nasution melakukan foto pre-wedding di sini-, merupakan salah satu bangunan cagar budaya berupa sebuah pesanggrahan dan pemandian yang sekilas menyerupai Taman Sari. 

DSC00132
Situs Warungboto

Sayangnya saya berkunjung ke Situs Warungboto ini tepat tengah hari yang tentu saja keringat langsung deras mengucur dan panas menerpa kulit. Hebatnya lagi, di lokasi ini tidak ada tempat yang cukup rindang kecuali di dalam ruangan-ruangannya yang berada di tingkat atas. Sungguh, terik matahari ini membuat mood saya langsung jatuh ke level terendah. Mungkin akan lebih baik jika berkunjung ke sini pagi-pagi atau sore hari ketika matahari sudah tidak begitu gahar.

Gara-gara terik matahari itu, saya tidak ingin berlama-lama di sana dan hanya berada di sekitar kolam pemandian dan bangunan yang mengelilinginya. Itupun sebisa mungkin berdiri di bawah bayangan. Bisa jadi ada bangunan lain yang menarik berada di pelataran atas, tetapi uh, maaf seribu maaf, kali ini saya takluk oleh sinar matahari yang langsung membuat sakit kepala. Apalagi, di Situs Warungboto ini saya harus menaiki tangga-tangga untuk memasuki bangunan utama. Lengkap sudah, terik matahari dan tangga, dua hal yang tidak saya sukai dalam berwisata 😀

Situs Warungboto yang dindingnya menggunakan batu bata dan dilepo ini terdaftar dalam pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini, seperti juga Benteng Keliling Keraton atau Taman Sari-nya Keraton Yogyakarta, memiliki dinding yang amat tebal.  

Jadilah siang itu, pelan-pelan saya menaiki tangga untuk ke bagian yang tidak terpelihara dan kelihatannya masih asli. Lorong pintu-pintunya mempunyai aksen lengkung. Sayang sekali tangan-tangan tak bertanggung jawab telah mengotorinya dengan coretan grafiti yang merusak keindahan situs.

Kemudian tanpa tergesa saya melipir mengikuti bayangan untuk memasuki ruangan-ruangan yang ketinggian lantainya tidak sama (multi-level). Saya langsung merasa adem meski sedikit lembab. Entah kenapa rasanya déjà vu dengan situasi Taman Sari yang memang mirip. Dengan struktur yang berdinding tebal, -melalui pintu dan jendela layaknya dalam sebuah benteng-, saya bisa melihat ke arah kolam pemandian yang saling berhubungan yang konon airnya berasal dari sebuah mata air. Tiba-tiba saja saya teringat akan kisah-kisah jaman dulu yang selalu menjadikan sebuah mata air sebagai tempat yang suci dan sakral.

Saya turun lagi ke bawah menuju kolam pemandian dan memperhatikan bentuknya yang unik.

Kolam pertama berbentuk lingkaran dengan dinding melengkung seperti cawan atau mangkuk besar, yang memiliki diameter sekitar 4 meter dan di bagian tengahnya dibuat bentukan seperti helai-helai bunga yang merupakan tempat air yang memancar keluar (umbul). Konon, disanalah sumber mata airnya.

DSC00136
The Spring Pool

Kolam kedua berbentuk persegi panjang yang memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebarnya sekitar 4 meter dengan dinding kolam yang sedikit miring (tidak tegak). Mungkin dinding yang melengkung dan tidak tegak ini memang merupakan disain awal yang membuatnya berbeda dari kolam-kolam pemandian lainnya.

Menariknya, kedua kolam itu terhubung oleh sebuah bentukan terbuka yang menyerupai undakan simetris di kanan kiri dan juga memiliki dinding melengkung ke arah kolam kedua. Artistik.

Dari seberang pintu yang memiliki aksen lengkung, saya mengamati bentuk kedua kolam itu. Entah kenapa saya memiliki pemikiran yang agak melenceng saat mengamati bentuk kedua kolam dari ketinggian. Kolam yang melingkar lalu dihubungkan dengan sebuah bentukan yang agak panjang dan berakhir membuka pada kolam kedua itu, kok seperti sebuah gua garba (rahim) yang merupakan simbol dari awal terciptanya kemanusiaan dan kebudayaan. Entahlah, karena sama sekali tidak ada informasi mengenai makna bentuk kedua kolam itu.

DSC00132
Situs Warungboto
DSC00139
Two empty pools

Yang ada hanya sejarahnya, yang berdasarkan informasi di sebuah papan, Situs Warungboto merupakan sebuah tempat peristirahatan (petilasan) yang pembangunannya dimulai semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I dan dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Bisa jadi kondisi asli bangunan Situs Warungboto, masih seperti yang saya saksikan di tempat yang pertama kali saya datangi, meskipun hanya berupa reruntuhannya yang tidak terpelihara dengan menyisakan dinding tebal  yang tak bisa diragukan.

Konon, sejak tidak digunakan oleh pihak Kraton hingga tahun 1935, tempat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya karena terdapat sumber air. Namun setelah Indonesia merdeka, tempat ini seperti terlupakan. Bisa jadi karena letaknya jauh dari keraton atau sumber airnya sudah tak berfungsi lagi.

Apapun kondisinya kini, setelah mengalami pemugaran, Situs Warungboto menjadi lebih baik dan dapat dijadikan sebagai alternatif berkunjung di Jogja. Meskipun tidak sebesar Taman Sari, dengan kondisi sekarang ini rasanya situs Warungboto memiliki kemegahan dan kecantikannya sendiri.

DSC00126
Warungboto

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-8 ini bertema Curve agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Museum of Champ Sculpture, Da Nang


Hanya beberapa jam untuk menikmati kota Da Nang sebelum kembali ke Tanah Air saat solo-travelling ke Vietnam Tengah, saya menyempatkan diri berkunjung ke Museum of Champa Sculpture, yang lokasinya hanya selemparan batu dari tempat saya menginap. Museum yang menyimpan banyak sekali artefak kerajaan Champa ini memang menjadi tujuan utama saya di kota Da Nang, sebagai pelengkap kunjungan ke My Son, tempat reruntuhan kerajaan negeri Champa berabad lalu.

Sayangnya seperti juga di Indonesia, museum yang menyimpan banyak sejarah kejayaan Vietnam jaman dulu ini tampaknya belum menjadi tujuan wisata dari orang lokal maupun turis asing karena dalam dua setengah jam saya berada di sana, belum banyak orang yang datang berkunjung.

Meskipun akhir pekan, -mungkin saya yang kepagian, namun hingga sampai pulang pun-, sepertinya bukan merupakan waktu berkunjung yang nyaman untuk ke museum. Yang pasti saya memang pengunjung pertama, yang menunggu sejenak hingga gerbang dibuka lalu membayar sekitar 40000 VND untuk masuk.

Ketika masuk ke dalam ruangan, patung batu dewa-dewa utama Hindu beserta pasangannya, Dewa Siwa, Brahma, Wisnu serta Uma, Saraswati dan Laksmi seakan-akan menyambut kedatangan saya (Lhaaa… pikiran saya jadi lari ke film Night in The Museum, yang penghuninya menjadi hidup sepanjang malam)

Sebenarnya kata Champa tidak terlalu asing untuk telinga orang Indonesia, karena dalam pelajaran sejarah saat sekolah dulu (entah sekarang masih diberikan di sekolah atau tidak), kita pernah dengar kisah mengenai Putri Campa yang cantik menikah dengan Raja Jawa. Ada yang masih ingat?

Ada begitu banyak peninggalan Champa yang disimpan di Museum ini, tidak hanya dari reruntuhan My Son, tetapi juga di tempat-tempat lain (dan uuh, akhirnya mampu menimbulkan keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat itu suatu saat nanti)

Bagi saya yang merupakan penggemar candi, membayangkan keindahan seni pada bangunan candi pada masanya memang menyenangkan. Jika di kompleks Angkor Wat ada penggambaran apsara yang sedang menari, di sini terlihat bentuk-bentuk serupa seperti apsara meski berbeda posenya. Saya berlama-lama di tempat ini karena amat menikmati bentuknya yang sedang meliuk-liuk menari itu. Hiasan pada tubuhnya, serta mahkotanya amat menarik hati.

Tak hanya makhluk-makhluk kayangan yang memenuhi museum ini, melainkan ada juga penggambaran kehidupan masyarakat biasa yang sepertinya menggunakan kereta beroda dan juga hewan-hewan yang hidup bersama dalam masyarakat. Ketika melihat sebuah kereta beroda yang amat jelas penggambaran rodanya, saya amat terpesona. Terbayang pada masa itu, roda-roda itu amatlah membantu pergerakan masyarakat.

Lalu melihat adanya sapi, gajah yang tak berhiasan, kuda yang juga ada di antara kereta beroda itu, burung-burung serta kera, seakan memberi konfirmasi ke jaman sekarang bahwa hewan-hewan itu dapat hidup secara baik di antara masyarakat Champa pada saat itu.

Tidak hanya penggambaran hewan-hewan yang hidup secara baik di dalam masyarakat, namun juga mahkluk-makhluk mitos yang dikategorikan suci atau hewan yang digunakan oleh kalangan atas yang tak terjangkau oleh masyarakat biasa. Seperti gajah yang biasa digunakan untuk Raja atau kaum bangsawan biasanya dihias dengan indah, seakan tak akan kalah dengan yang menungganginya. Juga hiasan-hiasan pada sudut bangunan yang biasanya diisi oleh sejenis burung mitos atau singa yang juga dihias dengan indah, dengan hiasan leher yang berumbai. Dan sesuai dengan kepercayaan pada waktu itu, Naga berkepala angka ganjil (lima, tujuh atau sembilan) senantiasa ada pada bangunan-bangunan suci.

Dan saya mencari Garuda, -hewan yang memuja dan menjadi tunggangan Dewa Wisnu-, karena ingin mengetahui bagaimana bentuknya. (Saya jadi terkenang akan Garuda yang dibuat amat indah di dekat kuil Narayan di Kathmandu, Nepal).

Garuda, lengkap dengan detil bulu-bulu dibuat cukup baik. Paling tidak saya bisa menebak dengan benar tanpa melihat informasi yang ada di sebelahnya. Meskipun tak terlalu jelas, Garuda masih tampak mengenakan hiasan-hiasan pada kepala, telinga, leher hingga dada dan pinggulnya. Adanya hiasan-hiasan itu seakan-akan menunjukkan ketinggian tingkatannya.

Di bagian lain, saya juga bisa menikmati penggambaran dengan detil yang menarik. Seakan-akan seseorang yang dihormati sedang menari. Saya hanya bisa menduga, namun tak bisa menyakinkan diri bahwa penggambaran itu adalah The Dancing Shiva.

Selain itu, juga terdapat relief Dewa Wisnu yang sedang duduk di atas Anantasesha dan dipayungi oleh kepala-kepalanya. Uniknya dalam penggambaran ini, Ananta berkepala sebelas, yang biasanya hanya lima atau tujuh.

Saya begitu menikmati semua peninggalan yang ada di Museum ini meskipun informasi yang menyertainya bisa dibilang minim. Tetapi tak mengapa, kadang dengan keterbatasan informasi ini membuat saya lebih tertantang untuk selalu bertanya, siapakah dia, apakah ini, apakah itu dan sebagainya.

Selanjutnya di ruangan tengah, terdapat sekumpulan batuan besar yang dibentuk dengan tatahan yang amat rumit dan agaknya menjadi bagian dari sebuah bangunan suci. Saya bisa melihat gerbang lengkap dengan hiasan melengkung serta dua penjaga gerbangnya. Relief yang amat indah yang menceritakan kehidupan saat itu.  Sayang saya tak bisa berlama-lama menikmatinya karena keterbatasan waktu padahal sangat menarik…

Meneruskan langkah, sampailah saya di sebuah patung perempuan yang dipercaya sebagai Dewi Tara dan tak jauh darinya terdapat patung seorang dewa yang mendapat pencahayaan khusus di sebuah ruangan. Sayangnya saya tidak mengetahui lebih jauh tentang mereka. Pastinya mereka amat dihormati dan amat bernilai dilihat dari pencahayaan dan penyimpanan yang khusus.

Tidak terasa saya sudah sampai di penghujung waktu yang bisa digunakan karena harus segera check-out dari hotel dan kembali ke Tanah Air. Rasanya selalu sama, enggan untuk meninggalkan tempat yang penuh dengan batu-batuan yang dibentuk dengan indah dan penuh makna, padahal waktu tak lagi bersahabat.

Kunjungan ke Museum of Champ Sculpture ini mengakhiri perjalanan saya di Vietnam Tengah dan meninggalkan banyak tempat yang masih harus dikunjungi di Vietnam ini, Na Trang masih menggoda, Vietnam Utara dengan campuran budayanya yang khas… ah, semakin banyak tempat yang belum dikunjungi tapi waktu ini amat terbatas.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-7 ini bertema Museum agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Menikmati Sakura Di Singapura


Ketika pertama kali ke Jepang jelang musim semi berakhir pada tahun 2013 yang lalu, saya merasa sedikit menyesal melihat bunga-bunga Sakura telah rontok karena waktu mekarnya sudah lewat. Saat itu, saya hanya mendapati satu atau dua pohon yang masih berbunga di Kyoto, itu pun amat sedikit. Meskipun saat itu berhanami, -melihat keindahan bunga Sakura-, bukan menjadi tujuan utama saya di Jepang, entah kenapa saya menyimpan keinginan untuk suatu saat bisa melakukannya.

Tahun-tahun berlalu, saya pun sudah bolak-balik ke Jepang, tetapi tidak satu pun datang kesempatan bagi saya untuk melakukan hanami pada musimnya. Padahal teman-teman lain telah memamerkan foto-foto bersama Sakura di taman-taman di Jepang. Saya hanya bisa menggigit jari. Tiket pesawat ke Jepang bisa dibilang mahal saat musim Sakura, selain itu, sayang sekali ke Jepang jika hanya sebentar.

Siapa sangka, berdasarkan foto seorang teman dengan latar belakang bunga Sakura di Garden By The Bay, Singapura di tahun 2018 membuat saya mencatatnya di dalam hati untuk mengikuti langkahnya.

Jadilah di bulan Maret 2019 lalu, akhirnya saya bisa berhanami, -menyaksikan keindahan bunga-bunga Sakura yang bermekaran-, di Singapura. Meskipun bukan di negeri asalnya, saya tetap berbahagia dan bersyukur sekali bisa menikmati kecantikan bunga-bunga yang menjadi simbol negara Jepang itu.

Meskipun hanya bisa menikmati keindahan Sakura tanpa tahu jenis-jenisnya, suasana indah yang penuh bunga itu memang bisa membuat senyum terus tersungging di wajah. Bagaimana tidak, begitu sampai di depan pelataran Flower Dome, saya melihat payung merah dan sepasang patung manusia bergaya Jepang dengan pakaian dari bunga.

Dan Torii!

Bagi saya, tidak ada Jepang tanpa Torii yang berwarna merah itu. Jika ada Torii dan Sakura, aaah, artinya saya mendapat bonus. Dan di tempat itu, Torii yang didirikan tidak hanya satu, tetapi dibuat berjajar-jajar. Serupa yang ada di Fushimi Inari, Kyoto atau seperti juga di Hie Jinja di Tokyo.

Tidak hanya itu, saya juga melihat jembatan melengkung berwarna merah, lagi-lagi simbol yang banyak terlihat di Jepang. di tengah-tengah pelataran, didirikan bangunan menyerupai beranda rumah yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara minum teh. Belum lagi saya melihat beberapa pengunjung perempuan mengenakan kimono meskipun wajah dan pembawaan tubuhnya tak menunjukkan jati diri orang Jepang.

Bahkan di bagian belakang, tak jauh dari ujung Torii terdapat Marumado, jendela-jendela khas Jepang yang membuat orang berfokus pada apa yang ingin dilihatnya. Sungguh saya merasa seakan-akan berada di Jepang dengan suasana yang dibentuk sesuai yang ada di negeri Sakura itu.

Tetapi bagaimanapun, bunga Sakura adalah primadona dari pameran ini. Dari yang berwarna putih, juga merah jambu yang amat muda hingga yang berwarna pink, hingga warna pink yang bercampur merah. Bisa dinikmati juga bunga yang bentuknya bergerombol atau yang sedikit kelopak bunganya, ada yang masih kuncup bersaing indah dengan yang telah mekar. Ada yang tergantung dan ada pula yang mekar sendirian… Semua satu rasa… Indah.

 

Sesaat, saya sampai memperhatikan dengan seksama, apakah pohon ini asli atau tiruan, Namun berdasarkan informasi yang disampaikan, semua bunga yang ditampilkan adalah asli, bukan bunga palsu, karena dibawa langsung dari Jepang, sepohon-pohonnya. Dan karena bunga Sakura ini sangat rentan terhadap suhu dan angin, maka Kubah Bunga (Flower Dome) yang besar itu disesuaikan dengan kebutuhan bunga Sakura.

Di dalam Flower Dome itu, bisa jadi saya termasuk orang yang ditandai petugas karena berlama-lama di Kubah Bunga itu dan tidak keluar-keluar hingga malam datang. Bagaimana saya bisa bosan dengan seluruh keindahan bunga yang terhampar? Mata seakan-akan bersih tanpa noda dimanjakan dengan keindahan ini. Belum lagi, bunga-bunga selain Sakura, yang juga indah, ditampilkan dengan penataan yang amat cantik.

DSC07305
Sakura Matsuri

Rasanya, memang setiap tahun Garden By The Bay di Singapura memamerkan bunga Sakura dalam kegiatan tahunannya yang biasanya disebut Sakura Matsuri. Jadi jika mau melakukan hanami, menikmati bunga-bunga Sakura yang mekar juga menikmati bunga-bunga indah lainnya, datang saja ke Garden By The Bay.

Untuk tahun 2020 ini, Sakura Matsuri di Garden By The Bay akan berlangsung dari tanggal 6 Maret 2020 (hari Jumat) sampai dengan 29 Maret 2020 (hari Minggu), buka dari jam 09.00 – 21.00 ada di Flower Dome, Garden By The Bay, Singapura.

Ini linknya: Sakura Matsuri Floral Display 2020

Catatan. Hingga tulisan ini dipublish, situasi dan kondisi akibat virus COVID-19 (Corona virus) di Singapura dimonitor secara ketat, mengikuti petunjuk dari Kementerian Kesehatan Singapura. Jadi mohon terus dipantau ya, jika memang mau berkunjung ke Singapura.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-6 ini bertema Pink agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…