WPC – Weathered Decoration On The Roof


IMG_0517
Decoration on the Roof of Japanese Covered Bridge at Hoi An

The cool breeze of December, and also the drizzle in that afternoon made the atmosphere in Hoi An’s old town, -an small city in Central Vietnam which is recognized as an exceptionally well-preserved example of a South-East Asian trading port dating from the 15th to 19th century and listed as UNESCO World Heritage Site-, become more tender. I stopped for a while in front of the gate of famous Japanese covered bridge, looked up and was amazed.

Ignoring the dropping drizzle on my face, I could not take my eyes off of the Chinese style decoration on the gate’s rooftop. The weathered decoration could not hide the bright beauty of the blue ceramics which were glued on the decor.

This bridge was one of the famous landmarks in Hoi An and became as a symbolic of Hoi An of its rich mercantile past. It’s believed that this bridge was built in 17th century by the Japanese trading community to link them with the Chinese people in the eastern section of the town.

And I could see the similar beauty on other rooftop’s decoration in a temple in Hoi An…

Although being weathered, it’s still beautiful…

Which one do you prefer?

IMG_0519
The dragon decoration on rooftop of a temple in Hoi An

WPC – The Not-So-Rounded Lanterns


Hoi An, a small city in Central Vietnam, gave me a wonderful impression. One night a couple years ago, I walked through the small lanes of the city which is listed as a UNESCO World Heritage City. A series of beautiful  paper lanterns with various colours and shapes were lit across the lanes above the head of people. And the drizzle of the night emphasized the lovely situation, bringing a romantic atmosphere in the air. Umbrella was wide opened with two bodies of a couple under it, close to each other. I smiled to myself, thinking of  my loved ones…

But as the wise said and I believe…

Always believe that something magical is about to happen

Hoi An Lanterns
Hoi An Lanterns

 

Hoi An Lanterns

Rounded

WPC – The Curves At Night


Colorful Hanging Lamps
Colorful Hanging Lamps
The hanging lamps on streets
The hanging lamps on streets
Bamboo Lamps
Bamboo Lamps
Lamps in Hoi An
Lamps in Hoi An

Walking around at night with a steady drizzle in the old town of Hoi An, Central Vietnam gave me a feeling of romance. The lovely atmosphere -with faintly music coming from the cafés along the small streets -, was decorated with the hanging beautiful curves just above the heads, many more were displayed inside the kiosks. At that time and situation, I could not avoid my feeling that I missed my family, thousands kilometers across the ocean and hoped that they’re always alright. And thinking of my beloved ones made me smiling; because of them and remember a nice word

A smile is the curve that sets everything straight.

Inspired by the The Daily Post Weekly Photo Challenge with Curve as the topic of this week.

Ketika Si Cantik Hoi An Menghadirkan Cinta


Walaupun cuaca diprakirakan berhias hujan rintik sepanjang hari, -apalagi badai di atas laut China Selatan tak juga berkurang-, saya tak dapat menunggu lebih lama agar mendung berpindah dari langit kota yang telah saya jejakkan pertama kali di siang itu. Tak ada jalan lain kecuali menembus dan menari diantara rintik hujan karena tak tersedia waktu yang cukup bagi saya untuk berdiam diri menanti hujan berhenti.

Si cantik Hoi An menawarkan begitu banyak keindahan hingga UNESCO tak ragu menganugerahinya sebagai World Heritage City, seperti juga Luang Prabang atau Melaka. Dan karena begitu banyak sudut kecantikannya, saya memulai dari An Hoi Sculpture Park, -sebuah taman karya seni-, yang tepat berada di pinggir sungai yang selemparan batu dengan penginapan saya. Rintik hujan membuat suasana menjadi lebih intim walau tak ada informasi tentang karya-karya indah di taman yang relatif mini ini selain untuk dinikmati dengan latar belakang sungai dan rumah-rumah kuno Hoi An. Di beberapa tempat tersedia kursi yang lebih banyak diisi oleh manusia yang sedang jatuh cinta. Tetapi bukankah si cantik Hoi An memang menawarkan cinta di sudut-sudut keindahannya?

Saya berjalan kaki sambil beberapa kali melompati genangan basah, lalu  menyeberangi jembatan yang tiang-tiangnya berhias lampion merah yang cantik. Becak wisata, sepeda yang disewa turis, sepeda penduduk lokal, pejalan kaki yang berjas hujan transparan atau berpayung warna warni tumplek blek memenuhi jembatan yang menghubungkan saya ke jantung kota tua. Hati terasa berdenyut lebih kuat, merasakan kenyamanan suasana kota heritage dunia yang segala sesuatunya memanjakan mata dan memikat rasa.

Pelan-pelan saya melangkah menyusuri pinggir sungai hingga sampai di sebuah landmark kota Hoi An yang terkenal yaitu Japanese Bridge. Jembatan lengkung berbentuk lorong tertutup yang dibangun tahun 1593 oleh komunitas pedagang Jepang itu sebenarnya memiliki nama lokal Lai Vien Kieu atau Bridge from Afar. Beberapa bagian pada dindingnya berhias keramik biru dengan ukiran atap yang sangat memikat hati. Pengunjung yang datang begitu dimanjakan dengan bisa menyaksikan dan menikmati keindahan jembatan dari samping kanan, atau dari jembatan kecil di seberangnya, atau bahkan dari jalan yang menembus lorongnya, yang semuanya memiliki keindahannya masing-masing. Apalagi ketika malam telah datang memeluk, lampu-lampu temaram yang menerangi lembut sang landmark seakan melengkapi kecantikan Hoi An.

The Famous Japanese Bridge at Night
The Famous Japanese Bridge at Night

Terpisah satu blok melewati beragam façade kuno yang cantik dari berbagai café dan toko, saya sampai pada tempat yang dikenal dengan nama Quang Dong yang bergapura merah berukir. Bangunan cantik dengan gaya campuran China Kanton dan tradisional Hoi An ini, dibangun sekitar tahun 1786 oleh etnis China Kanton yang datang ke Hoi An dan merupakan tempat berkumpulnya sekaligus menjadi kuil untuk pemujaan bagi  warga etnis China Kanton. Terdapat dua patung sejenis burung dengan ukiran yang sangat rumit dengan kaki langsing yang berdiri di atas kura-kura, menjadi penjaga pintu kuil. Dan di halaman dalam kuil di bagian tengah terdapat karya seni di atas kolam berupa patung naga dan ikan yang sangat indah.

Ah, si Cantik Hoi An ini, tanpa menjadi seorang ahli sejarah pun, pengunjung benar-benar dimanjakan dengan pernik-pernik menggemaskan dan kerling manis lampion-lampion warna warni yang tergantung cantik di jalan atau beranda toko maupun rumah makan. Cinta memang hadir menggoda di kota cantik ini dan menyelimuti setiap hati yang datang. Rintik hujan yang menghilang tak membuat kedekatan kepala-kepala pasangan menjauh, bahkan tangan-tangan mereka semakin erat menggenggam, mendekatkan bahu yang sudah bersentuhan, mencoba mengalahkan dinginnya udara saat itu.

Jemari kaki yang dingin karena hanya berlapis sandal membuat saya melangkah masuk ke sebuah rumah tua yang terpelihara dan tampak sangat mengundang. Rumah toko Quan Thang, merupakan salah satu rumah tertua dan tercantik di Hoi An. Dibangun oleh seorang pedagang makmur China di akhir abad-17, bangunan ini menjadi contoh terbaik dari rumah toko satu lantai yang memiliki dua muka di jalan yang berbeda. Rumah tua Quan Thang ini juga memiliki berbagai corak arsitektur yang saling mendukung sehingga memberi kesan luas dan sangat nyaman ditinggali. Dan berdasarkan perabot antik yang ada dan masih terpelihara serta tata cara penghuni rumah menjalani hidup selama enam generasi, menunjukkan betapa makmur para keluarga pedagang China dan juga kota Hoi An lama pada masanya sebagai kota pelabuhan dan perdagangan. Terbayang langsung di benak betapa si Cantik Hoi An menjaga keindahan rupa dari kemakmuran para penghuninya.

Tidak itu saja, kecantikan Hoi An terlihat pula dari eratnya hubungan komunitas pedagang China di kota lama itu. Seperti yang dapat disaksikan di bangunan Chinese Assembly Hall, Lop Hoa Van Le Nghia, yang merupakan tempat berkumpulnya para pedagang China dari berbagai etnis, saling bertukar cerita dagang, saling bantu sekaligus melakukan pemujaan untuk keselamatan dan keberuntungan serta meneruskan tradisi yang telah berakar. Bangunan yang berada di pertigaan ini, memiliki relief burung phoenix di kedua dinding dekat pintu, yang menjadi symbol keabadian. Dan seakan ingin menjadikan sebuah misteri yang abadi, si Cantik Hoi An tidak serta merta memberikan informasi mengenai sejarah dari bangunan ini.

Meninggalkan Chinese Assembly Hall dan berpapasan dengan deretan becak-becak wisata yang tak putus serta para turis penyewa sepeda, membuat saya berdiri menunggu di seberang bangunan menarik lainnya yaitu Chua Phuc Kien, sebuah kuil cantik yang didedikasikan kepada Thien Hau, sang dewi laut yang merupakan pelindung para pelaut. Bangunan yang didirikan jelang akhir abad-17 oleh pedagang China yang meninggalkan negeri sejalan dengan runtuhnya kekuasaan dinasti Ming di China ini, merupakan kuil yang lebih banyak melayani etnis Fukien karena etnis ini menjadi mayoritas di kota Hoi An lama. Dan sebagai kota pelabuhan yang mempertemukan banyak pasangan, ternyata kuil ini juga merupakan salah satu tempat pemujaan untuk mendapatkan berkah keturunan.

Melanjutkan langkah kaki pada suasana kota yang semakin temaram dengan hujan rintik yang kembali membasahi bumi, akhirnya saya sampai di Cho Hoi An, pasar induk di Hoi An. Awalnya saya bertahan dengan menggunakan tudung jaket untuk menari di bawah hujan sepanjang jalan di Hoi An, ternyata hujan semakin deras yang memaksa saya harus berteduh, tepat di depan gerbang pasar. Pasar yang terkenal hingga sekarang ini merupakan tempat berkumpul dari para pedagang untuk menjual keperluan sehari-hari.

Ketika hujan telah berkurang derasnya, saya meninggalkan pasar menuju Japanese Bridge melalui jalan yang berbeda. Rintik hujan ditengah udara malam yang dingin, lampion-lampion yang menyala temaram di atas beranda toko dan rumah makan termasuk yang tergantung melintang di atas jalan, menambah aura mesra di sepanjang jalan yang basah. Tak sedikit terlihat payung yang terkembang dengan dua tubuh merapat di bawahnya membuat iri bagi siapa saja yang menyaksikan. Hati saya berdenyut tersenyum merasakan kehadiran cinta di kota Hoi An ini.

Malam merambat naik, saya melewati saja Museum Folklor yang bermandi cahaya dan the Old House of Tan Ky karena sudah tutup serta Museum Keramik karena ada yang bermain genderang di perut saya, tanda pemberontakan minta diisi. Walaupun beberapa kali berhenti untuk memotret, akhirnya saya  berhenti pada seorang ibu di pinggir jalan yang menjual kue moci dan membiarkan kue moci dan uang Vietnam Dong saling bertukar tempat. Lalu saya melanjutkan langkah kembali sambil memindahkan kue moci itu ke mulut hingga akhirnya saya sampai kembali ke pinggir sungai.

Terfokus pada Japanese Bridge yang terlihat sungguh cantik karena bermandi cahaya, saya tak segera melihat ada pasangan calon pengantin di atas perahu kecil yang sedang berfoto di dekat tempat saya berdiri. Cinta yang hadir disitu merekatkan dua hati, membuat saya tersenyum lagi, siapa yang bisa mengabaikan suasana penuh romansa dari si Cantik Hoi An?

Setelah berfoto dengan latar Jembatan Jepang, kedua calon pengantin itu melarungkan lilin dalam wadah kertas berbentuk mahkota, -yang setahu saya di Thailand disebut krathong-, sebagai lambang melepas semua yang berbau negatif saat hendak memasuki kehidupan baru. Tetapi melarungkan lilin dalam wadah itu tidak hanya milik kedua calon pengantin itu saja, karena banyak pengunjung melakukannya. Melarung, bisa jadi merupakan sebuah terapi untuk melepas semua yang tidak menyenangkan, semua yang menyedihkan dan berbagai rasa negative lainnya yang terjadi di masa lalu untuk dikembalikan kepada Sang Pemilik Alam.

Saya melangkah pelan menyusuri sungai untuk kembali ke penginapan, terdiam dalam hening menyaksikan lilin-lilin dalam wadah berbentuk mahkota itu bergerak perlahan-lahan, terombang-ambing mengikuti arus di permukaan Sungai Thu Bon. Walau lilin dalam wadah itu kecil, tetapi terlihat begitu terang, kontras dengan warna gelap permukaan sungai. Seperti juga dalam kehidupan, bintang-bintang ataupun lilin-lilin yang terlihat kecil, namun terangnya mampu memberi petunjuk arah.

Ah, lagi-lagi keindahan di depan mata itu terasa seperti sebuah sindiran penuh cinta dari si Cantik Hoi An, agar kita senantiasa menjadi pelita penunjuk arah dalam perjalanan hidup…

Hoi An and Thu Bon River at Night
Hoi An and Thu Bon River at Night

WPC – Weight(less) To Let Go Anger and Hatred


Weightless small crown-shaped containers with a candle inside
Weightless small crown-shaped containers with a candle inside

At that night in the end of my walk in the ancient city of Hoi An, Vietnam, I stood on a small bridge across the famous Japanese Bridge when I saw a happy couple, the happy bride-and-groom-to-be taking their pre-wedding photos.

A lovely moment I saw when they launched to float small crown-shaped containers with a candle inside into the river, as a symbol to let go of their anger, hatred, defilement and all past transgressions. A moment later the falling-in-love couple stood with holding hands to each other. Silently they watched their weightless crown-shaped containers with candle inside moving slowly through the darkness of the night, bobbing on the surface of the Thu Bon River and took their weigh-burden away.

Letting go of the past is like lifting a heavy weight off your shoulder
Letting go of the past is like lifting a heavy weight off your shoulder

Letting go of the past is like lifting a heavy weight off your shoulder. It allows you to finally move on and start a new life.

*

As a response to the Daily Post’s Weekly Photo Challenge: Weight(less)

Perjalanan Menuju Tanah Champa


Penerbangan AirAsia ke Kuala Lumpur Rabu malam itu didelay 1 jam, padahal beberapa kali menggunakan penerbangan jam yang sama jarang sekali mengalami penundaan selama itu, bahkan beberapa minggu sebelumnya saat hendak ke Siem Reap saya merasakan bahwa waktu boarding-nya dipercepat. Tetapi, dibalik sebuah delay selalu terdapat situasi yang indah, paling tidak saya bisa lebih menikmati makan malam di bandara itu walau hanya ditemani ponsel dan orang-orang di sekitar yang tidak saya kenal 🙂

Kemudian dalam waktu yang tak lama, di tempat pemeriksaan barang jelang memasuki ruang tunggu langkah kaki saya terhenti oleh rombongan yang sepertinya akan melakukan ibadah umroh. Hampir 15 menit rombongan, -yang kebanyakan terdiri dari para lanjut usia-, membukakan mata hati saya untuk mendahulukan mereka agar tak terlepas dari rangkaian rombongannya, memasukkan semua barang bawaannya ke mesin pendeteksi, termasuk jaket, ikat pinggang, dompet, tas tangan, tas plastik kresek juga nasi kotak beserta kemasan air di dalamnya, yang menimbulkan kehebohan di ujung mesin dari para petugas avsec yang mengatur mereka dengan tingkat kesabaran yang tinggi.

Menyaksikan situasi di hadapan mata itu, benak saya dipenuhi binar berbagai pandang: para lanjut usia yang didampingi pasangannya yang sama tuanya, melakukan perjalanan dengan transit di berbagai kota, untuk bersimpuh di rumah Tuhan yang penuh keberkahan, dengan segala keterbatasan mereka dan di sisi lain kerasnya peraturan, kondisi alam dan berbedanya budaya dari negeri-negeri yang harus mereka lewati. Mereka-lah, pejalan yang sesungguhnya, yang penuh keikhlasan dan kesabaran, untuk sebuah tujuan yang jelas.

Saya tertegun dengan apa yang terjadi di hadapan mata sebelum melakukan perjalanan ke negeri Champa. Namun sayangnya pembelajaran awal penuh hikmah itu sepertinya terabaikan dalam perjalanan saya kali ini, tenggelam oleh antusiasme merambah sebuah negara lagi.

Hoi An Riverside - the Destination
Hoi An Riverside – the Destination

Sesaat kemudian setelah terjerembab kembali ke alam nyata jelang pemeriksaan mesin deteksi, saya tersenyum penuh pengertian kepada petugas avsec perempuan, memberinya semangat untuk tetap bersabar karena sungguh tak mudah menjadi orang di garis depan untuk pengamanan sekaligus memberikan pelayanan yang tinggi.

Setelah boarding pun saya seharusnya lebih banyak bersyukur karena beruntung mendapat kursi di barisan nomor 3, -baris hot-seat yang berharga mahal-, tanpa harus membelinya. Lalu seperti biasa para kru kabin sibuk membantu penumpang yang memenuhi lorong dengan berbagai barang di tangan untuk mendapat ruang di bagasi atas dan menjejalkan badannya di kursinya masing-masing. Kali ini tampaknya semua kursi terisi penuh.

Dan dalam setiap perjalanan pasti memiliki sebuah cerita. Dari hal-hal kecil, yang mungkin terlihat tak penting tetapi berserak banyak makna. Seperti, terbang di bulan Desember yang penuh awan hujan menyebabkan penerbangan yang memakan waktu sekitar 2 jam itu dihiasi dengan turbulensi yang tak sedikit. Walaupun sering terbang, saya tetap kuatir dengan turbulensi di udara dan langsung diam dalam doa memohon keselamatan terhadap ujian dalam perjalanan ini.

Ada yang tak biasa saat mendarat di KLIA2 ketika waktu menunjukkan lebih dari tengah malam sebagai akibat dari delay. Penumpang bisa turun melalui garbarata namun pintu terminal bandara masih tertutup dan perlu persetujuan dari pihak berwenang. Walau tak lama mengantri menunggu akses, saya tersadarkan bahwa bagaimanapun terminal bandara adalah salah satu pintu masuk ke sebuah negeri.

Selepas pintu terminal yang akhirnya dapat dibuka itu, saya berjalan menuju imigrasi yang lagi-lagi menghentikan langkah saya. Orang di depan saya bermasalah entah apa sehingga diproses lama sekali. Dan akhirnya ketika merebahkan tubuh di hotel bandara itu, saya hanya punya waktu 3 jam kurang untuk bersiap dan meneruskan penerbangan ke tanah Champa.

Walau lelah dan mengantuk, saya tak lupa akan kejadian yang saya hadapi sebelumnya: delay, rombongan umroh, turbulensi, pintu terminal yang tertutup, imigrasi yang lama… Sebuah pertanyaan yang dibawa ke dunia lelap, nilai dan makna apa yang sedang disiapkan untuk saya dalam perjalanan kali ini?

*

Esok paginya semangat baru menghiasi jiwa mengawali sebuah hari dan perjalanan baru ke tanah Champa, menenggelamkan tanya di benak pada malam sebelumnya. Saya berjalan menuju gerbang ruang tunggu yang penuh dan terlihat hanya beberapa wisatawan Barat diantara penumpang Asia. Telinga menangkap alun bahasa yang saya tak pahami dan sedikit banyak meredupkan semangat menjelajah. Tetapi dari hati terdengar bukankah semua perjalanan diawali dengan sebuah ketidaktahuan?

Saya terbang ke Ho Chi Minh City dan mendapat kursi di bagian belakang. Di belakang saya duduk seseorang yang terus menerus bicara dan seakan tak sadar mengetuk-ngetuk kursi saya sehingga kepala saya jadi terpental-pental, yang lucu jika dikartunkan. Sekali dua kali saya biarkan, lama-lama timbul kejengkelan di hati. Namun saya meredamnya karena ini adalah perjalanan ke negeri baru dengan sosial budaya yang berbeda yang sedang saya masuki dan sesuaikan. Saya mencoba menahan diri dengan tidak bersandar lalu mencoba membaca buku, sekaligus mencoba mendengarkan gaya bicara mereka. Walau tak 100% akurat, saya sampai pada kesimpulan bahwa mereka yang duduk di belakang saya tak paham bagaimana cara bersikap yang baik di pesawat. Bisa jadi terbang adalah pengalaman baru bagi mereka dan mungkin juga saya merasa waktu yang terlalu berharga untuk dibuang demi menegur mereka yang tak beradab.

Tak itu saja, setelah mendarat saat pesawat masih bergerak menuju terminal, ada beberapa penumpang yang sontak berdiri hingga ditegur oleh kru pesawat. Saya sering mendengar orang menyalakan ponsel sebelum sampai di terminal, tetapi penumpang berdiri saat pesawat masih bergerak menuju terminal, baru saya temukan di Vietnam ini, setelah dulu di Kamboja beberapa tahun lalu.

Tan Son Nhat Airport - Ho Chi Minh City
Tan Son Nhat Airport – Ho Chi Minh City

Melangkah di bandara internasional Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, saya perlu membuka mata lebih lebar karena informasi dalam bahasa lokal jauh lebih banyak daripada bahasa Inggeris. Dan karena akan melanjutkan perjalanan ke Da Nang, saya bertanya kepada petugas di booth Transfer. Sebagai jawabannya dia hanya menempelkan stiker Transit di baju saya lalu meminta saya mengantri di imigrasi yang antriannya mengular panjang di hampir semua konter. Membuat saya tersadar untuk selalu waspada dan terjaga, segala sesuatu datang tak mudah karena petugas pun tak banyak membantu.

Ho Chi Minh City from Above
Ho Chi Minh City from Above

Bermenit-menit antri dan akhirnya terbebas dari imigrasi, memaksa saya bertanya di bagian informasi tentang penerbangan domestik ke Da Nang. Petugas yang melayani benar-benar efisien dalam menjawab juga tanpa senyum, “go out, turn right, then walk, you’ll find the domestic building”. Ah, dia tak perlu cerita tentang cuaca kan?

Mengikuti sarannya, begitu keluar pintu terminal, saya terhenyak mendapati kerumunan ratusan layanan penjemputan dengan papan nama masing-masing, belum lagi wajah-wajah pengemudi taksi yang menawarkan ke pusat kota, seakan konfirmasi ketidakteraturan layanan taksi bandara di HCMC. Hampir semua orang yang saya kenal mengatakan jangan pernah mengambil taksi langsung di bandara HCMC, atau pesanlah layanan antar-jemput di HCMC. Bahkan ada yang merekomendasi agar cek kebenaran nama dan foto pengemudi ke pusat layanan atau hotel. Taksi bandara HCMC ini memang terkenal parah, bahkan ada yang berpengalaman diketok hingga jutaan VND. Menyaksikan pemandangan ini, saya bersyukur bisa mengetahui besar massanya tanpa perlu berkutat dengan mereka lalu melanjutkan jalan kaki ke terminal domestik yang memang tak jauh.

Setelah check-in di Vietnam Airlines yang penerbangannya direschedule 30menit, saya bergegas menuju ruang tunggu walaupun waktu boarding masih lama. Sambil berjalan menuju gerbang, saya memperhatikan suasana terminal domestik yang jauh lebih tenang daripada terminal internasional yang riuh. Suasana yang tenang membuat saya nyaman berjalan-jalan menanti penerbangan selanjutnya jelang tengah hari. Bahkan saya sempat makan siang lebih awal di sebuah gerai cepat saji sambil menikmati internet yang cepat dan gratis! Ini yang saya suka dari Vietnam 🙂

Penerbangan ke Da Nang dengan Vietnam Airlines berjalan menyenangkan. Kondisi pesawat tak terlalu baru, tetapi nyaman dengan ruang kaki yang lebih luas, yang rasanya lebih luas daripada Garuda. Duduk di kursi berjendela memungkinkan saya menikmati pemandangan pegunungan dan kota-kota di daratan walaupun sempat juga saya terlelap.

Dan setelah 1 jam penerbangan akhirnya saya menjejak di tanah Champa! Yeay…!

Da Nang International Airport
Da Nang International Airport

Bandara Da Nang relatif sepi untuk sebuah bandara internasional. Saya berjalan di gedung yang cukup megah dan luas lalu menuju pintu keluar. Tak seperti di HCMC, layanan antar-jemput masih terlihat normal dan saya mulai membaca nama di papan penjemputan. Aah, nama saya ada di ujung kanan.

Seorang pengemudi yang sudah paruh baya menjemput saya di bandara Da Nang dan siap mengantar ke Hoi An dengan sebuah mini-van. Dengan bahasa Inggerisnya yang terbatas, ia tetap memberikan layanan luar biasa, berhenti di kawasan pembuatan patung-patung Buddha dan di sebuah lokasi untuk memotret Marble Mountain. Bahkan ia memilih untuk memutar jalan, melalui jembatan-jembatan yang megah dan indah di Da Nang daripada langsung menuju Hoi An. Hati ini penuh rasa syukur merasakan sambutan yang baik dari tanah Champa.

Tak beda jauh dengan di Indonesia, di Da Nang jalan sejajar pantai tertutup oleh pengembang kawasan hotel bintang lima yang nama-namanya terkenal di dunia lengkap dengan segala hiburannya, membuat saya hanya bisa berimajinasi akan keindahan pantai pasir putih dengan kebiruan air laut di balik kemegahan gerbang dan bangunan hotel-hotel berbintang itu. Sebuah tanya terukir di benak, apakah penduduk lokal pernah merindukan pantai-pantai indah itu?

Tak sampai satu jam perjalanan suasana kota terlihat kembali, sebuah tanda bahwa batas kota sudah dilalui dan saya telah sampai di Hoi An. Dan akhirnya, ketika jalan semakin sempit dengan berbagai distro dan toko cantik menghiasi kiri kanan jalan tanpa kehilangan bentuk asli bangunannya yang sudah berabad usia, saya sadar telah berada di kawasan kota tua, the Ancient City of Hoi An.

A Monument in Hoi An
A Monument in Hoi An

Sejumput rasa haru dan romantis menyeruak di dada, saya ada di kota tua dalam rintik hujan. Wish you’re here…

Dalam hitungan menit, minivan itu berhenti di sebuah penginapan cantik di depan sungai Thu Bon di dalam kawasan kota tua Hoi An yang basah. Saya disambut oleh dua orang yang menangani proses check-in yang salah satunya memberikan minuman segar selamat datang. Bahkan di kamar tersedia juga dua buah mangga manis yang dalam sekejap mata masuk ke perut.

Begitu merasakan kecantikan kota Hoi An, sebuah UNESCO World Heritage City, saya tak lagi mengingat penghalang-penghalang yang meminta kesabaran dalam perjalanan sebelum sampai ke kota ini. Saya telah diberikan hadiah untuk dinikmati, yang tentu saja diterima dengan penuh bahagia.

*