Jeddah Sekejap Mata


Karena tak pernah menggunakan jasa agen dalam melakukan perjalanan, saya telah berjanji pada diri sendiri untuk ‘patuh’ pada itinerary yang dibuat agen perjalanan ketika berangkat Umroh meskipun pada akhirnya saya sering sekali geleng-geleng kepala dalam perjalanan itu. Takjub, dalam arti yang bukan positif. Bagaimanapun, karena ini adalah perjalanan ibadah, -perjalanan ke relung-relung hati antara manusia dan Tuhannya-, saya menerima semua peristiwa yang terjadi sebagai sesuatu yang memperkaya jiwa.

Semua yang terjadi patut disyukuri, meskipun tidak selalu menggembirakan hati. Karena kenyataan yang paling mendasar bagi saya, perjalanan ini sendiri merupakan sebuah kemewahan yang tak terperi, rejeki yang luar biasa dan semua yang tidak sesuai dengan harapan, tidak mengubah nilai kemewahan dan keluarbiasaan perjalanan ini. Bahkan hal-hal yang tak menggembirakan hati itu pun tak ada artinya sama sekali.

Waktu memang berpacu, hari-hari ibadah di Madinah sudah berlalu dan kini, tak lama lagi kami pun harus mengucap selamat berpisah kepada Mekkah, tempat kami berhari-hari bermuhasabah. Siang atau malam, di kota yang di dalamnya terdapat Ka’bah dengan aliran manusia yang tak pernah berhenti bermunajat kepada Allah, Pemilik Semesta.

Datang juga saatnya. Roda bus bergerak perlahan, seakan mengetahui betapa berat hati kami menjauh dari kawasan Masjidil Haram. Tapi sebagaimana tertulis dalam begitu banyak kitab kebajikan, setiap pertemuan memiliki perpisahan, setiap awal berujung pada akhir. Demikian juga perjalanan indah di Mekkah ini. Kawasan yang begitu bercahaya dan berpatokan pada jam di menara tertingginya, terlihat makin menjauh. Di pagi yang belum datang dan masih berselimut gelap, bus kami telah menyusuri aspal, perlahan meninggalkan kota Mekkah dan membuat mata basah. Kota kecintaan ini akan membuat berjuta rindu, penuh harap akan kesempatan-kesempatan untuk kembali lagi mengunjungi kota yang ada di hati setiap Muslim ini.

Sungguh rasanya tak ingin menengok ke belakang karena cahaya kota Mekkah makin memudar…

Menit-menit berlalu dalam sepi, sesekali terdengar bisik antara anggota rombongan, seakan tak mau mengganggu ketenangan mereka yang kembali terlelap di dalam bus. Saya tak mampu memejamkan mata kembali. Rasa galau berpisah dengan Mekkah itu masih terasa, apalagi di saat yang sama bus ini menuju Jeddah. Sebuah wajah otomatis menyeruak keluar dari dalam jiwa. Jeddah adalah tempat almarhum Papa berpuluh tahun lalu berlabuh, mengantar mereka, -para calon haji-, meraih impian menjejak Tanah Suci untuk menunaikan kewajiban agamanya. Perjalanan yang ditempuh dengan begitu banyak kesulitan dan perjuangan, mengarungi samudera, melawan ombak ganas, -bukan hitungan jam atau hari-, melainkan berminggu-minggu. Menggenggam harap meski derita datang silih berganti.

Perjuangan mereka itu berbanding terbalik dengan apa yang dialami jaman sekarang. Dari Tanah Air tak sampai 12 jam terbang, jamaah bisa sampai di Tanah Suci, dengan segala anugerah makan dan minum yang enak, kendaraan yang nyaman dan semua kenikmatan lainnya. Bagi saya, apalah artinya koper yang hilang (baca di sini kisahnya) dibandingkan dengan segala derita dan perjuangan yang dialami calon Haji pada jaman Almarhum Papa membawanya? Ada rasa syukur yang begitu berlimpah, namun juga bercampur dengan kerinduan yang amat dalam kepada beliau yang telah berpulang setahun yang lalu. Secara otomatis lamat-lamat saya membaca Al Fatihah dan serumpun doa untuk beliau yang tercinta.

Sebuah Bangunan di Jeddah

Tak perlu waktu lama, pijar lampu makin menerangi jalan raya menandai wilayah kota Jeddah telah dimasuki. Bangunan makin padat dan makin terasa internasional. Berbeda dengan Mekkah, Jeddah memang dapat dimasuki oleh semua orang dari berbagai agama, berbagai komunitas.

Masjid Juffali

Subuh masih merayap dalam senyap ketika bus terasa melambat. Ternyata bus meliukkan raga besinya itu ke halaman sebuah Masjid agar kami bisa menunaikan ibadah shalat Subuh. Dari atas bus sudah terlihat Masjid begitu cantik dengan cahayanya, teramat kontras dengan warna Subuh yang masih gelap. Berada di seberang Kantor Urusan Luar Negeri yang terpisah oleh jalan raya, tempat ibadah umat Islam ini rupanya dibangun tahun 1986 oleh seorang saudagar Arab yang amat kaya bernama Syeikh Ibrahim Al Juffali. Tak heran, dengan sentuhan tangan Abdul Wahid al-Wakil, seorang arsitek terkenal berkebangsaan Mesir, masjid ini terlihat menawan dengan 26 kubah kecil-kecil dengan satu menara tinggi di sudut Timur.

Masjid Qisas
Di dalam masjid Qisas ( tempat perempuan)

Namun di balik segala keindahan yang memanjakan mata itu, Masjid itu berselimut peristiwa-peristiwa getir dan muram yang terjadi sejak dulu (dan rupanya hingga kini). Di sebuah pelataran di halaman Masjid ternyata merupakan tempat berlangsungnya hukuman pancung terpidana yang dilakukan oleh seorang algojo. Terdengar begitu menyeramkan dan barbar, namun memang itulah yang terjadi di Masjid Juffali atau bagi Jamaah Indonesia lebih terkenal dengan nama Masjid Qisas.

Qisas sendiri memang merujuk pada istilah dalam hukum Islam yang artinya pembalasan. Dengan kata lain, memberikan hukuman setimpal. Mungkin lebih sering kita mendengar istilah mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa. Begitulah, apabila seseorang terlibat dalam kasus pembunuhan, maka dalam aturan Qisas, keluarga korban memiliki hak untuk meminta hukuman mati kepada pelaku dengan cara dipancung di depan umum dan di bumi Arab ini dilaksanakan seusai shalat Jumat, di pelataran tadi yang berukuran 5 x 5 meter berlantai keramik.

Jangan tanyakan prosesnya karena saya tak pernah (dan takkan mau) menyaksikannya. Konon saat pelaksanaannya, sang Algojo akan berdiri dengan jarak tiga langkah dari terpidana. Keluarga korban ada di bagian depan. Ketika tiba waktunya, Algojo mulai melangkah, langkah pertama, kedua dan ketiga. Jika tidak ada tanda, aba-aba atau pergerakan dari keluarga korban, maka Algojo akan menuntaskan pekerjaannya. Namun jika ada pergerakan berupa tangan atau mulut dari keluarga korban, maka Algojo segera menghentikan esksekusinya. Pergerakan, tanda atau aba-aba dari keluarga korban itulah yang menjadi symbol atau makna bahwa keluarga korban telah memaafkan terpidana.

Membayangkan saja sudah membuat perut terasa mulas, tetapi begitulah… Sengeri itu pelaksanaannya namun sesederhana itu pula pengampunannya.

Namun kelihatannya proses eksekusi ini dinilai ‘setengah hati’. Di satu sisi merupakan penerapan dari sebuah intepretasi hukum Islam dan di sisi lainnya adalah pertimbangan politik negeri itu. Karena tidak sedikit petugas intelijen Kerajaan Arab Saudi diterjunkan di antara massa yang menyaksikan peristiwa eksekusi itu sebagai pengawas untuk memastikan proses eksekusi itu tidak tersebar ke dunia luar. Hukumannya tidak main-main karena kebebasan adalah taruhannya. Seseorang bisa langsung dipenjara jika ketahuan membocorkan peristiwa itu ke dunia luar. Ngeri kan?

Setelah cukup waktu di Masjid Qisas, kami melanjutkan perjalanan menuju bandara internasional King Abdul Aziz. Tetapi sebelumnya bus berhenti sejenak di pinggir jalan agar Pak Ustadz bisa memberitahu secara sekilas. Rupanya kami berhenti di luar pagar dari tempat yang dipercaya sebagai makam dari perempuan pertama yaitu Siti Hawa.

Dari atas bus yang hanya berhenti beberapa detik, apalagi hari masih gelap serta pencahayaan yang temaram, saya hanya bisa melihat permukaan dinding yang panjang. Apakah itu dinding pembatas sebelum masuk ke kawasan makam atau bukan, saya sendiri tak bisa memastikan. Seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, saya hanya bisa menganggguk-angguk pada apa yang saya dengar dari Pak Ustad dan semampunya berdoa dalam hati.

Seperti yang diketahui semua orang, sebagai manusia perempuan pertama, Siti Hawa merupakan istri dari Nabi Adam AS. Saat musim haji, makam Siti Hawa ini merupakan salah satu destinasi yang ramai dikunjungi oleh para peziarah seluruh dunia. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang meragukan kebenaran tempat itu sebagai makam dari ibu seluruh manusia di dunia karena kurangnya bukti.

Mall of Arabia, JEDDAH
Jeddah International Airport

Roda bus bergerak kembali menyusuri jalan-jalan di kota Jeddah. Sebuah bangunan besar terlewati, hmmm… Mall of Arabia, mall yang terbesar di kawasan ini, terlihat sepi. Warna keemasan makin merona di ufuk Timur. Terasa ada denyut dalam hati yang membuat saya menarik napas panjang. Jauh di dalam lubuk hati, saya menggerakkan jemari dan melambaikan tangan ke arah pelabuhan yang telah mengukir jejak almarhum Papa berpuluh tahun silam.

Hati terasa menghangat membisikkan kata, “Saya telah sampai di Jeddah, Pa. Tapi maaf, tak bisa menjejak di pelabuhan, di tempat kapal Papa dulu bersandar. Tapi tidak apa-apa ya Pa, bukankah jejak-jejak kita di kota yang sama selalu bertaut dan menjadi kenangan selamanya?”

Satu tarikan nafas melepas ikhlas. Langit Timur terlihat makin terang, bandara internasional Jeddah di depan mata seakan membuka tangannya menyambut kedatangan kami untuk berhenti sejenak sebelum terbang meninggalkan negeri padang pasir ini. Tak lama lagi, dalam hitungan jam, bibir ini akan berucap, Sampai Jumpa lagi Tanah Suci…

Airport in the morning

Umroh: Manusia Merencana, Pemilik Semesta Menentukan


Setelah hitungan bulan, akhirnya hari ini saya menulis lagi, melanjutkan cerita perjalanan rohani yang dilakukan akhir tahun 2019. Dan tidak ada salahnya untuk membaca tulisan Berserah Bermadah, -sekedar untuk mengingat-, yang merupakan tulisan sebelumnya dari seri perjalanan ibadah ini.

Manusia-manusia yang hampir semuanya berpakaian putih itu tetap menyemut di Masjidil Haram. Di antara mereka saya mendongak ke atas mencari bintang namun tak terlihat satu pun di langit, Ah, bisa jadi karena Masjidil Haram berselimut cahaya yang teramat terang seakan mampu menenggelamkan gulitanya tengah malam dan juga kelip bintang. Masih sekitar tiga jam lagi untuk sampai ke waktu Subuh, tetapi di tempat ini, di tempat yang nilai pahalanya dilipatgandakan hingga seratus ribu kali dari shalat di masjid lainnya, rasanya tak pernah ada waktu yang lengang dari manusia.

Selepas ritual Umroh yang baru saja selesai, memang tak ada agenda khusus. Pak Ustad membolehkan para jamaahnya kembali ke hotel untuk beristirahat namun tak sedikit dari rombongan yang memilih melanjutkan perjalanan batiniah yang teramat intim dengan Sang Pencipta, melakukan muhasabah di Masjid Paling Utama bagi Muslim itu.

Gate at Night

Saya sendiri tak lagi mampu melanjutkan perenungan dan kontemplasi di Masjid. Ada sedikit rasa limbung yang muncul membuat saya harus melihat ke dalam diri sendiri. Ah, bisa jadi karena faktor usia. Dulu ketika muda, begadang dua malam tak jadi masalah. Kini, dua puluh empat jam terjaga membuat mata tak lagi mampu membuka dan kaki terasa tak menjejak dunia. Praktis terjaga sejak kemarin sebelum Subuh di Madinah, lalu khusuk menjalankan ritual pagi dilanjut berkendara berjam-jam menuju Mekkah, dilanjut ritual ibadah Umroh yang tak bisa dianggap enteng dalam menguras stamina. Akibatnya tak heran jika saya merasa limbung, sebuah alert dari raga agar saya beristirahat segera.

Namun hati tak mudah diajak meninggalkan tempat yang selalu dirindukan ini. Ada sejumput rasa berat ketika kaki melangkah meninggalkan Masjid menuju hotel. Apalagi dari arah berlawanan terlihat aliran jamaah tak putus menuju Masjid. Hati memberontak masih ingin menjadi bagian dari mereka, dari banyak manusia yang meninggalkan rasa nyaman pembaringannya hanya untuk mencari kedamaian jiwa di Masjidil Haram, tempat yang diberi jaminan keamanan dan keselamatan oleh Allah sendiri bagi mereka yang memasukinya. Pertentangan di dalam hati sungguh terasa antara berdiam di Masjid dan meninggalkannya. Ada suara keras dari dalam hati Masjid bukanlah tempat untuk merebah mengistirahatkan raga. Jadilah seperti yang tadi dikatakan, satu langkah kaki meninggalkannya, bertambah godam berat yang terasa menggandul jiwa.

Dalam perjalanan, raga yang menjerit lelah mampu mengabaikan terangnya cahaya toko-toko 24 jam yang membuat kawasan sekitar Masjidil Haram tak pernah tidur, toko-toko yang selalu menggoda jamaah dari fokus utamanya. Mungkin seperti serombongan serangga malam yang tertarik pada cahaya lampu atau semut yang tergoda pada gula. Tapi kali itu, raga tak lagi bisa diajak kompromi. Saya hanya ingin segera sampai di kamar. Istirahat cukup agar bisa melakukan Umroh kedua atas nama almarhum Papa, karena itu adalah salah satu keinginan saya saat berada di  Tanah Suci.

Tapi rencana itu tinggal rencana karena tanpa permisi demam menyerang saya pada pagi harinya. Sesuatu yang tak biasa, karena sesungguhnya saya jarang terserang demam. Biasanya dengan istirahat cukup, saya akan kembali bugar namun tidak pada pagi itu. Demam terus menanjak tanpa tedeng aling-aling. Dan ketika demam, saya tak mampu berbuat apa-apa. Saya hanya bisa tergeletak di tempat tidur.

Gegerlah rombongan kami termasuk pak Ustad ketika mengetahui kondisi saya. Lagi-lagi tak biasa, karena umumnya jamaah sakit flu ringan tak sampai demam  dan bisa diatasi dengan minum obat pribadi. Apakah perlu ke dokter atau rumah sakit?

Sebisa mungkin saya menghindari rumah sakit dan mengandalkan antibodi tubuh bekerja semampunya meskipun sempat menitipkan permintaan kepada suami untuk mencari antibiotik. Terlintas tempat obat pribadi yang biasa saya gunakan, sekarang entah dimana karena tempat obat itu ada di koper saya yang hilang (Baca ceritanya di sini). Suami menyanggupi untuk mencari obat meskipun di wajahnya terlihat kekuatiran yang tak bisa disembunyikan karena ia tahu saya jarang sekali demam.

Waktu-waktu shalat berlalu, saya hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur hotel, merenung begitu banyak. Melihat ke dalam diri, memeriksa kembali niat yang sesungguhnya ke Tanah Suci, hendak Umroh atau adakah hal lainnya yang tersembunyi? Lalu apakah ibadah saya sudah benar? Bisa jadi ada begitu banyak tindakan yang melenceng dan saya melakukan pembenaran-pembenaran saja. Bisa jadi saya juga berlaku sombong, riya dan tanpa disadari telah berbangga-bangga. Mungkin juga saya telah merugikan orang lain dan Allah menghentikan saya bertindak buruk lebih jauh, dengan menjadikan saya demam.

Dalam Masjid Al Haram

Tidak bisa melakukan hal lain kecuali mendirikan shalat untuk memohon ampunan, meluruskan niat untuk berserah diri hanya kepada Allah, melepas keinginan-keinginan duniawi kepada Yang Maha Kuasa, memohon kesembuhan dari demam yang saya rasa. Mengucap lebih banyak lagi ungkapan syukur terhadap semua yang dimiliki juga semua peristiwa yang telah saya alami. Tentu saja, semua hikmah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, termasuk demam yang sedang saya alami ini.

Satu hal yang mengganjal hati namun perlu diikhlaskan sepenuhnya bahwa dalam perjalanan ibadah ini saya belum bisa melakukan Umroh kedua untuk Almarhum Papa. Ada kesedihan saat melepas keinginan itu namun saya percaya, InsyaAllah, suatu saat nanti bisa dikerjakan oleh anak-anaknya yang lain. Aamiin.  

Setelah makan malam suami membawakan sebutir antibiotik yang ia dapatkan dari Pak Ustad. Meskipun mengetahui minum antibiotik memiliki aturan khusus, tapi sebutir itu bisa jadi membawa  kesembuhan. Bismillah, saya meminum obat itu dengan doa kesembuhan…

Alhamdulillah Ya Allah, karena keesokan harinya demam itu benar-benar menghilang meskipun saya belum kembali seratus persen fit. Saya masih beristirahat tapi tidak demam lagi. Dalam kondisi yang lebih baik, kembali saya melakukan perjalanan batiniah ke dalam, mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah dalam kondisi apapun. Betapa berharganya nikmat sehat itu. Betapa saya sering mengabaikan nikmat sehat selama ini. Bukankah sehat baru terasa nilai dan maknanya ketika kita sakit?

Taking photo in roof top of Masjid

Seakan diberi kesadaran bahwa sudah sifat langit berhias awan, kadang terlihat indah dengan biru tanpa awan sedikitpun, namun bisa juga tampak begitu menakutkan dengan awan gelap pembawa badai. Langit yang sama. Seperti juga tubuh yang sama, yang biasa sehat tapi bisa berhenti sebentar karena sakit.

Hari itu menjelang Ashar, saya memberanikan diri untuk shalat lagi di Masjidil Haram, melakukan Tawaf meskipun langkahnya tak bisa cepat. Saya menjauh dari kerumunan orang agar tak dipaksa berjalan cepat dari arah belakang, Alhamdulillah semua bisa dikerjakan dengan baik meski lebih lambat. Tak ada yang lebih membahagiakan saat menyadari belum sehat seratus persen, namun bisa menyelesaikan putaran-putaran sebanyak tujuh kali mengelilingi Ka’bah.

Ka’bah December 2019

Bahkan ada kebahagiaan tambahan ketika saya bisa berjalan hingga ke atap Masjidil Haram untuk mengambil foto Ka’bah dari atas. Suasananya tetap ramai tapi menyenangkan. Syukur Alhamdulillah saya bisa menyaksikan semuanya, merasakan semuanya lagi setelah demam yang saya alami.

Saya memang kehilangan banyak momen selama berada di Mekkah terutama di Masjidil Haram namun sepertinya setiap perjalanan rohani seseorang membawa cerita tersendiri baginya dan mungkin berbeda dengan cerita-cerita orang lain. Tetapi sepertinya ada sebuah benang merah yang bisa ditarik saat berada di sebuah tempat suci. Wajah sejati kehidupan yang terlihat senada, hanya ada rendah hati, terbuka tanpa rahasia,-karena ego telah ditanggalkan-, hubungan yang begitu pribadi antara manusia dan Penciptanya

Berserah Bermadah


25 Desember 2019 Malam, Waktu Makkah

Sesegera setelah makan malam kami berkumpul langsung di lobby hotel. Hampir semua jamaah pria menyempurnakan kembali pakaian ihram yang telah dikenakan sejak miqat di Masjid Bir Ali siang tadi. (Baca dulu perjalanan dari Madinah ke Mekkah sebelumnya dengan judul Pilgrimage 4: Menuju Tempat Utama)

Pak Ustadz berdiri paling depan mengawali rombongan kami, -kecuali Nini yang melakukan umroh dengan layanan kursi roda-, kemudian kami berjalan bersama menuju Masjidil Haram sambil melafalkan doa dan kalimat talbiyah. Terasa getar halus yang merambat naik ke seluruh tubuh. Inilah dia, inilah waktunya. Semakin dekat, semakin banyak manusia. Seperti yang Pak Ustadz katakan, Masjidil Haram tak pernah sepi dari manusia, apalagi jelang waktu shalat. Dimana-mana orang akan berusaha mendekat. Merasakannya sendiri, berada diantara ribuan jamaah itu, timbul berbagai rasa dari dalam hati. Merasa kecil tapi sama-sama manusia, syukur bercampur haru, rasa asing, takut, bahagia, ada juga sedikit tak sabar, semua campur aduk menjadi satu, timbul tenggelam.

Di pelataran depan Clock Tower kami berhenti, menunggu rombongan dari hotel bintang lima bergabung. Kesempatan menunggu itu saya gunakan untuk memutar kepala, mengarahkan pandang ke gerbang Masjidil Haram. Ya Allah, begitu terang, begitu bercahaya. Begitu banyak jamaah hilir mudik dalam balutan ihramnya. Saya memindah pandang ke bawah, tak mau yang lain mengetahui airmata yang menetes, mengharu biru. Untunglah bermanja rasa itu tak lama karena harus fokus mengikuti langkah Pak Ustadz agar tak terpisah. Karena berjalan dalam satu rombongan diantara ribuan orang yang berselimut warna putih, tentu tidak semudah bicara. Apalagi di tempat tersuci, semua niat dan perkataan bisa membawa akibat.

Gate at Night

Sebelum melakukan tawaf, kami shalat Jamak Maghrib dan Isya yang diimami oleh Pak Ustadz, karena kami semua ingin melakukannya di Masjidil Haram. Tempat yang dipercaya, sekali shalat disini mendapat ganjaran pahala 100.000 kali di bandingkan shalat di Masjid lain kecuali Masjid Nabawi dan Masjidil Aqso. Dan setelahnya, kami menuju area Mataf, area tempat Ka’bah berdiri

Ritual Umroh

Berjalan menuju Mataf, saya memanjang-manjangkan leher. Sebagai orang yang belum pernah menginjakkan kaki di Masjidil Haram, tentu saja ada keinginan yang amat kuat untuk bisa melihat Ka’bah yang menjadi arah kiblat shalat dengan mata kepala sendiri. Tetapi Masjidil Haram itu amatlah luas dan pak Ustadz dengan mudahnya berjalan seakan-akan kakinya memiliki mata, sementara saya seperti kerbau yang dicocok hidungnya untuk terus mengikutinya. Sampai akhirnya… sepasang mata saya ini melihat Ka’bah untuk pertama kalinya. Masya’Allah

Saya melihatnya sambil berjalan dengan mata tak berkedip. Bangunan yang biasa terlihat di sajadah-sajadah atau hanya bisa disaksikan via media, kini saya bisa melihatnya langsung dengan mata sendiri. Saya berkedip-kedip menahan airmata yang menggenang memenuhi pelupuk. Allah Maha Baik telah memberikan saya kesempatan berkunjung ke tempat yang suci ini. Berkali-kali saya menggigit bibir untuk memastikan saya tak bermimpi.

Sebelum melangkah ke area Mataf yang dipenuhi begitu banyak orang, pak Ustadz mengingatkan kami semua untuk tetap bersama-sama dan tak terpisah dari rombongan. Mendengar itu, langsung saja saya menggamit ujung kain ihram suami yang memang disisakan di bagian pinggang (sang belahan jiwa mengikuti arahan dari Pak Ustadz tentang cara mengenakan kain ihram yang katanya tidak akan melorot dan akan semakin kencang jika bagian sisa itu ditarik). Begitu banyak rasa ketika akhirnya saya benar-benar mengikhlaskan diri, berserah sepenuhnya saat menapakkan kaki untuk pertama kali di area Mataf, pelataran terdekat berlantai putih yang melingkari bangunan dengan sisi sekitar 12 – 13 meter itu. Ada gema khusus dari dalam jiwa saat menjejak lantainya, tak bisa dijelaskan rasanya kecuali rasa haru yang melimpah ruah.

Tawaf

Tawaf

Meski langit malam memayungi kota Mekkah, saat itu saya sama sekali tak merasa gelap karena cahaya lampu begitu terang. Apa yang sering saya lihat di TV atau media sosial lain, kini saya ada di dalamnya, mengikuti langkah-langkah manusia lain yang berserah diri, bermadah dan melantunkan pujian, berharap kasih sayangNya. Meski tawaf dilakukan jelang tengah malam, jumlah jamaah yang melakukannya tak juga menyurut. Udara terasa sejuk meski tak sedingin Madinah. Mungkin itu juga yang menyebabkan jamaah banyak memulai ritual umroh pada malam hari, seperti kami.

Melihat begitu banyaknya orang di area Hajar Aswat, -sebuah sudut berbatu hitam yang segarisnya menandakan awal Tawaf,- saya langsung minder. Apalagi rombongan kami tak ada yang mendekat ke Hajar Aswat. Saya melambaikan tangan sebagai lambang menciumnya lalu melantunkan bacaan dan pujian

Putaran demi putaran tak terasa lelahnya jika puji-pujian dan doa dilantunkan hanya untukNya, kadang ada desakan dan dorongan datang dari rombongan yang baru datang atau juga datang dari rombongan yang telah selesai. Tak ada umpatan, kejengkelan dan kemarahan, semua saling memberi jalan, berhenti sejenak meskipun bisa tergencet karena dorongan dari belakang. Kadang saya terhimpit dari samping oleh badan suami yang terdesak tapi tak pernah lama. Apapun, semua maklum. Hanya ada rasa berserah di RumahNya. Rombongan Indonesia amat mudah dikenali, biasanya banyak, berpakaian sama kecuali para prianya yang berihram biasa. Yang menarik perhatian adalah suara lantunan mereka yang nyaring diawali oleh pembimbingnya. Bisa jadi mereka tak sadar telah bersedekah membantu yang sulit menghafal bacaan doa dan pujian.

Dan saya mendapat keajaiban itu. Saya menyadarinya, meskipun lupa pada hitungan putaran keberapa. Awalnya saya tak percaya, tetapi keadaan itu tak berubah hingga Tawaf selesai. Saya menggigit bibir penuh rasa syukur sambil tak berhenti mengucapkan doa dan puji-pujian. Ya Allah… rasanya tak tertahankan, tak terkatakan… Di tengah padatnya manusia yang sedang berjalan itu, saya menyaksikan sendiri, sekitar semeter setengah lingkaran di depan saya selalu kosong Padahal di luar itu, langsung ada punggung orang lain. Ketika saya mempercepat jalan hingga mendekat ke orang di depan saya, maka orang di depan saya selalu bergerak lebih cepat. Selalu ada ruang sekitar 1 meter di depan saya yang kosong seakan-akan dibukakan jalan agar saya mudah melangkah, berlangsung terus hingga Tawaf selesai. Alhamdulillah.

Ya Allah, saya mengingat anugerah-anugerah penuh keajaiban yang terjadi dalam kehidupan saya, juga dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya. Sungguh saya merasa mendapat berkah yang tak habis-habis. Rasa syukur begitu memenuhi hati seakan hendak meledakkan diri, semua hanya untukNya, Dzat Yang Maha Baik.

Setelah Tawaf, jamaah mendirikan shalat sunnah di belakang maqom Ibrahim. Meskipun diberi tali pembatas, kadang jamaah yang sedang Tawaf membuatnya tergeser sehingga ruang untuk bersujud bagi jamaah yang sedang shalat menjadi lebih sempit. Namun hebatnya para petugas, yang dikenal sebagai Askar, dengan sigap mengembalikan pembatasnya dan meminta jamaah agar shalat di area yang ditentukan. Shalat pertama saya di pelataran Ka’bah membuat rasa begitu membuncah. Luar biasa sekali. Gambaran-gambaran yang begitu sering terlihat di sajadah kini terpampang di hadapan saya. Sebisanya saya merekam dalam ingatan karena lebih banyak doa dilangitkan di tempat yang konon makbul untuk berdoa.

Dalam Masjid Al Haram

Sa’i dan Tahallul

Gelap malam masih meliputi kota Makkah ketika kami berjalan menuju Mas’a, -tempat melakukan Sa’i-, yaitu aktifitas wajib dalam haji dan umrah yang mengharuskan jamaah berjalan (sedikit cepat) dari bukit Shafa menuju Marwah dan sebaliknya sebanyak tujuh kali, untuk mengingat upaya keras Siti Hajar demi putranya, -Nabi Ismail AS yang menangis kehausan-, sehingga Siti Hajar setengah berlari dari Shafa menuju Marwah bolak-balik untuk mendapatkan minum. Akhirnya Allah memancarkan sebuah mata air untuk mereka berdua yang belakangan dikenal Air Zamzam.

Saat itu, seperti juga Tawaf, Sa’i di tengah malam itu tetap padat luar biasa. Kembali saya terpesona, area Mas’a lengkap dengan pendingin udara dan kipas, lebarnya sekitar 20 meter yang terdiri dari dua jalur lebar untuk para pejalan kaki serta dua jalur khusus untuk jamaah difable maupun pengguna kursi roda. Tentu saja kondisi ini teramat jauh berbeda dengan kondisi orisinalnya di jaman dulu. Kini, perjalanan tujuh kali putaran sepanjang total 2,8 kilometer itu pun terasa tak melelahkan, karena sejalan dengan kaki yang melangkah, pikiran diingatkan pada upaya Siti Hajar yang selalu memohon pertolongan Allah dalam menghadapi kesulitan, dan memohon ampunan dari seluruh perbuatan dosa.

Sa’i

Setelah berniat, kami berjalan di antara para jamaah dengan kecepatan rata-rata. Saya, juga para muslimah dalam rombongan kami, mengimbangi kecepatan para jamaah pria yang harus berlari-lari kecil dalam kawasan yang berlampu hijau. Karena sa’i adalah salah satu rukun ibadah yang dilakukan dengan jalan cepat, lebih cepat dari jalan biasa dan lebih lambat dari lari.

Meski dalam ritual ibadah, mata ini tak mampu mengabaikan kemegahan tempat Sa’I, yang dimasukkan ke dalam bagian Masjidil Haram pada tahun 1975 ketika sedang dilakukan perluasan Masjid. Kini, di bangunan dua lantai demi mengakomodasi jumlah jama’ah yang semakin besar tiap tahunnya, kaki jamaah bisa senantiasa bersih karena menapaki lantai marmer putih yang menutupi area hingga ke bukit Shafa dan Marwah. Di bagian ujung, meski hanya sebagian kecil saja, dua puncak bukit tersebut dibiarkan terbuka apa adanya dengan batuan khas Jazirah Arab.

Saat Sa’i, mata ini sempat menangkap pandangan seorang perempuan sepuh berjalan sendiri di pinggir, tertatih dengan ritme kaki yang sudah ringkih. Raga boleh tertatih, namun mungkin baginya iman kepada Allah lebih utama. Bukankah Sa’i sendiri bermakna perjuangan hidup yang pantang menyerah, penuh kesabaran, ketakwaan dan ketawakalan terhadap Allah? Gambaran ibu sepuh tadi berakar kuat di benak, seakan mengingatkan sejatinya Sa’i tak boleh terlalu nyaman dengan lantai marmer ber-AC.

Hampir tiga kilometer ritual Sa’i dilakukan dan ketika selesai di bukit Marwah, rasa syukur lagi-lagi membuncah deras. Di dekat batuan keras bukit Marwah itu, kami semua melakukan tahallul yang ditandai dengan menggunting rambut. Tahallul sendiri menandakan selesainya ibadah umroh. Semua yang haram dilakukan selama Umroh kini telah menjadi halal kembali. Alhamdulillah.


Malam masih menyelimuti bumi Mekah ketika kami melewati sebuah pintu keluar dari area Mas’a. Langit masih gelap meski cahaya lampu bersinar amat terang. Saya melempar pandang, dimana-mana masih terlihat jamaah berpakaian serupa, bernada sama, berserah dan bermadah kepadaNya.

Ka’bah

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 8 dan bertema Puncak agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

December, The Last One, The Best One


Tanpa sadar, setelah menelan sebelas bulan sebelumnya, Sang Waktu yang konsisten itu pun telah melahap setengah bulan terakhir tahun 2020 ini, meninggalkan manusia-manusia terlena yang mencoba menggenggam momen-momen yang telah terjadi. Sang Waktu tidak peduli dengan mereka, juga dengan momen-momen mereka. Sang Waktu tetap berjalan maju…

Saya termasuk dalam golongan manusia-manusia itu karena tak mampu menjaga konsistensi untuk terus bergerak maju. Dalam banyak kesempatan dalam kehidupan, saya membiarkan diri berlama-lama memeluk momen-momen yang sudah berlalu seakan-akan momen itu pasti setia mengikuti.

Padahal, momen itu akan tertinggal di masa lampau. Sebagai kenangan.


Dan diantara momen-momen yang sering kali saya tengok dan membiarkan diri berlama-lama mengenangnya adalah momen-momen yang terjadi di bulan Desember, bulan terakhir di setiap kalender Masehi. Entah kenapa di bulan ini banyak sekali terjadi momen yang mengisi kehidupan saya, meski di tahun-tahun yang berbeda. Yang indah, yang memilukan hati, semuanya mewarnai kehidupan…

4 Desember – Belajar Ikhlas

Seharusnya hari itu menjadi hari yang menyenangkan. Indeed, memang menyenangkan di awalnya namun berubah menjadi airmata sedih di penghujung hari. Dia yang memiliki wajah menenangkan awalnya mengajak merayakan hari jadian, tepat dua tahun mencoba mengenali masing-masing pribadi agar siap menuju gerbang pernikahan.

Autumn shows us how beautiful it is to let things go

Entah siapa yang memulai, bisa saya, bisa juga dia atau memang jalannya memang harus demikian. Sesuatu yang nyaris tabu dibicarakan diantara dia dan saya, akhirnya terbuka juga. Tentang bedanya jalan iman dia dan saya. Masing-masing pribadi memahami, cepat atau lambat, sekarang atau nanti, waktunya akan datang. Kami berdua harus menghadapinya masing-masing. Siapkah kami untuk melanjutkan perjalanan bersama, dengan segala konsekuensinya. Bagaimana dengan dia, bagaimana dengan saya? Lalu bagaimana dengan keluarga yang telah membesarkan dia dan saya? Bagaimana dengan anak-anak nantinya? Begitu banyak pertanyaan “bagaimana” yang harus saya jawab dengan jelas.

Dipenghujung hari semua menjadi blur dengan air mata. Detik-detik waktu rasanya berjalan sangat lambat, tak mampu membuat jalan kami bertemu. Rasanya ingin dihindari, tetapi baik dia maupun saya sama-sama tahu, semua itu hanya penundaan. Hari itu, atau nanti, segera atau bulan depan pasti akan datang waktu penuh diskusi panjang tak berkesudahan, seperti hari itu.

Sedalam apapun cinta kami berdua, -meski tahu tujuan akhirnya adalah Dia Yang Maha Kasih-, hati ini tetap memilih jalan masing-masing pribadi menuju Sang Pencipta. Dan hari itu, kami sampai di penghujung perjalanan kebersamaan. Hati kami, -meski penuh airmata-, harus saling melepaskan diri. Sebuah keputusan berat dan perlu keikhlasan.

Di tanggal jadian yang sama, kami saling mengikhlaskan untuk bisa menapak perjalanan kehidupan sesuai pilihan iman kami. Sedih, berat, broken-hearted tapi di sisi lain masing-masing ada rasa damai, terang, tenang yang dimenangkan.

15 Desember – Hadiah VersiNya

Bertahun-tahun setelahnya, berulang kali saya gagal mencoba merajut kasih dengan yang satu iman. Rasanya begitu lelah sehingga akhirnya saya menyerah. Seperti ada yang salah. Tak bisa tidak, saya harus melambatkan langkah di antara manusia lain yang seperti berlari. Alih-alih mendekati manusia lain, saya melakukan perjalanan jauh ke dalam diri. Cukup sudah melihat dan berharap dari manusia. Melalui doa-doa panjang penuh harap, melalui puasa dan tahajjud di malam-malam penuh hening, saya tersungkur berserah diri sepenuhnya kepadaNya untuk urusan yang satu ini. Dan tak ada yang terlewatkan olehNya, Dia Yang Senantiasa Memenuhi Janji.

Dia, laki-laki biasa yang juga tak sempurna, dikirim sebagai jawaban doa-doa panjang saya. Ketika telah berserah diri sepenuhnya, suara hati akan menuntun kearahnya. Bagi saya, pertemuan dengannya adalah sebuah keajaiban. Karena tak disangka-sangka Dia Yang Maha Baik mengirimnya melalui sebuah musibah yang harus saya alami. Musibah, yang bagi banyak orang memberi buruknya kenangan, bagi saya membawa kebahagiaan tersendiri. Membawa senyum dan rindu. Kata sahabat saya, jodoh itu serupa rejeki, datangnya bisa dari arah mana saja, tanpa diketahui waktunya. Bila sudah sampai waktunya, apapun yang terjadi, dia akan datang.

A rose, a symbol of true love

Dan di pertengahan bulan Desember, Allah Yang Maha Baik mengirimkan seseorang yang tak sempurna tapi terbaik untuk duduk di pelaminan bersama saya.

Dan bagaimana saya bisa melupakan hari di pertengahan Desember itu? Yang dananya diambil dari tabungan kami berdua, yang dihitung rupiah demi rupiah, yang rasanya mengalir keluar seperti air bah namun masuknya seperti mengharap hujan di musim kemarau. Hingga suatu saat, -seperti juga datangnya pasangan saya itu-, dana bantuan juga datang dari arah yang tak terduga. Membuat saya lagi-lagi terpesona dengan caraNya bekerja. Tak bisa tidak, saya hanya bisa hanyut dalam syukur. Alhamdulillah, Maha Suci Allah, Sang Maha Pemberi Rejeki.

Hal yang serupa dengannya adalah kehadiran seorang anak di dalam keluarga kecil kami yang juga datang di bulan Desember. Setelah keguguran pada kehamilan pertama, saya kembali berdoa sepenuh hati dan berserah diri kepadaNya. Doa-doa panjang, puasa dan tahajjud di malam-malam hening berbuah manis ketika akhirnya seorang anak perempuan yang cantik hadir di antara kami berdua, tiga tahun setelah pernikahan kami.

21 Desember – Yang Berpindah

Dan datang juga momen Desember yang paling mengoyak hati. Hari itu saya kehilangan laki-laki pertama yang mencintai saya. Papa saya. Bertahun-tahun sebelum kepergiannya, beliau hanya bisa berpasrah di kursi roda dan tempat tidurnya karena serangan stroke yang berulang. Kepergiannya meluluhlantakkan saya, meskipun jauh sebelumnya telah menyiapkan hati, namun tetap saja tak akan pernah siap.

Gone, but not forgotten

Jumat siang itu takkan pernah terlupakan. Sejak meninggalkan kantor setelah mendapat kabar dari rumah Papa siang itu, dunia terlihat kabur. Di pembaringannya, saya memeluk tubuh Papa yang rasanya masih hangat dan membisikkan berjuta kata cinta. Tak ada lagi obrolan penuh tawa saat bertukar cerita tentang perjalanan-perjalanan ke negeri jauh. Karena dariny saya berani menjejak di negeri-negeri impian secara independen.

Kematian adalah sesuatu yang mutlak pada semua yang hidup. Meski hal itu dipahami, tetapi ketika datang pada orang tercinta rasanya seperti tersandung batu dan jatuh terjerembab ke tanah, nyata sekali. Tiba-tiba saja, semua hilang, tak bisa lagi melihat, tak bisa lagi dipeluk, tak bisa lagi mendengar suaranya, tak bisa lagi bertukar kisah.

Kenyataan itu begitu pahit rasanya, tetapi tak ada pengalaman yang tak berguna. Sang Waktu yang berjalan konsisten menjadi pelipur dan pembuka mata hati. Bukankah hidup di dunia ini manusia tak pernah memiliki apapun? Bukankah semua itu dititipkan oleh Dia Yang Maha Memiliki? Lalu mengapa ada rasa kehilangan untuk sesuatu yang tak pernah dimiliki?

Sesungguhnya, meskipun hilang dari pandangan, dari pendengaran, dari pembicaraan, dari semua yang bisa disentuh, Papa tak akan bisa hilang dari hati dan pikiran. Selamanya hidup pada hati dan pikiran saya, sebuah tempat yang lagi-lagi dititipkan olehNya.

December 24 – Selamat Ilang Tahun

Bagaimana mungkin saya melupakan Desember, bulan yang memiliki tanggal saat saya dilahirkan ke dunia? Sejak kecil hingga remaja, tanggal itu artinya sebuah acara kumpul keluarga Mama di rumah. Semakin besar usia, ditambah dengan kehadiran sahabat-sahabat dekat. Menyambung silaturahmi dalam sebuah acara. Sesuatu yang terlihat mudah tetapi sejatinya tak mudah diwujudkan, apalagi di jaman ketika teknologi telah membuat manusia merasa tak perlu saling mendekatkan secara fisik (ditambah tahun 2020 ini virus corona semakin membatasi kedekatan fisik antar manusia ini)

White Lily

Sejak berkeluarga, saya tak lagi membuat acara-acara seperti itu mengingat di pihak suami tak pernah ada budaya membuat tanggal kelahiran menjadi lebih spesial dari hari-hari biasanya. Tidak masalah juga, karena tambah usia berarti semakin sedikit waktu tersisa. Persis yang diucapkan oleh seorang kawan setiap tanggal kelahiran saya itu, karena dia tak pernah mengucapkan Selamat Ulang Tahun melainkan Selamat Ilang Tahun.

December 26 – Perjalanan Spiritual

Suasana libur akhir tahun semakin terasa ketika sudah menginjak minggu ketiga di bulan Desember. Dari semua perjalanan yang terjadi di musim libur bulan Desember, rasanya perjalanan ibadah umroh yang paling menawan hati. Rasanya perjalanan itu adalah perjalanan spiritual yang amat indah. Mungkin halu, tetapi rasanya saya hanya dihadapkan pada fakta-fakta duniawi ketika harus berhubungan dengan manusia lain, seperti saat di imigrasi, saat mengurus koper hilang, saat ada pemeriksaan tas di pintu Masjid. Selainnya terasa begitu intim, begitu spesial.

Apalagi bonus-bonus kehidupan yang saya terima dalam perjalanan itu. Bisa berkunjung ketiga Masjid utama dalam Islam, Masjidil Haram, Masjid An Nabawi dan Masjid Al Aqsho dalam sekali perjalanan benar-benar melesatkan makna perjalanan ini ke level tertinggi sepanjang hidup saya.

Telah setahun perjalanan itu berlalu, tetapi hingga sekarang saya masih memeluk rindu terhadapnya. Saya masih berlama-lama memeluk kenangan itu. Rasanya masih lekat dengan suasana damai di Masjid Nabawi, juga pemandangan Ka’bah yang menempel kuat pada ingatan, harumnya udara Masjid dan juga hangatnya pelukan seorang ibu Palestina yang tak pernah terlupakan. Sungguh saya merasakan anugerah yang berlimpah.


Bagaimana bisa saya melupakan Desember, bulan terakhir setiap tahun namun terbaik buat saya? Ada begitu banyak sukacita, meski tak bebas pula dari airmata. Semuanya memberi warna dalam hidup saya, berlimpah makna yang amat luar biasa. Alhamdulillah…

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Colorful flowers

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-49 bertema Memory of December agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Sukacita Menjejak Tempat Suci


Bagi yang mengikuti blog saya ini, telah beberapa kali saya mengungkapkan kegemaran jalan-jalan yang sudah ada sejak saya kecil. Menjejak tempat baru membukakan wawasan namun suka duka perjalanan menuju tempat baru itu membuat saya hidup.

Dan dari begitu banyak destinasi, -kebanyakan berupa tempat-tempat yang memiliki sejarah-, hanya ada beberapa tempat yang berhasil memporak-porandakan rasa dalam jiwa begitu dahsyat. Bisa jadi karena tempat-tempat itu diyakini oleh banyak jiwa sebagai tempat suci keimanan.


Puskarni, The Holy Pond

Meskipun saya telah menuliskan dalam pos Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini namun rasanya kata-kata itu tak pernah bisa terangkai dengan tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami ketika menjejak Kuil Mayadevi di Lumbini. Tempat itu konon, merupakan tempat kelahiran Sang Buddha, lebih dari dua setengah millenium yang lalu.

Kuil yang menurut saya terlalu sederhana untuk sebuah lokasi yang dipercaya merupakan tempat kelahiran seseorang yang telah mengguncang dunia, sesungguhnya hanya sebuah bangunan batu yang menutupi sebidang tanah serupa ekskavasi arkeologis. Tak ada hiasan, tak ada altar, tak ada tanda-tanda pemujaan, namun ketiadaan barang-barang duniawi itu tak mampu menghilangkan rasa sakral yang begitu hebat di dalamnya. Hanya dengan sebuah penanda yang dikenal dengan istilah Marker Stone yang terlindung oleh kaca, banyak pengunjung bisa jatuh bersimpuh di depannya. Itulah tempat yang dipercaya menjadi titik akurat kelahiran Sang Buddha Siddharta Gautama.

Suara sayup genta-genta kecil yang berdenting tertiup angin, juga suara bacaan sutra yang disenandungkan di bawah rimbun pohon Boddhi di luar kuil, menambah suasana sakral di Marker Stone yang letaknya tak jauh dari pintu keluar. Bahkan setelah dua setengah millenium, kesakralan tempat itu tetap masih terasa kuat.

A Monk under a Boddhi Tree

Sebagai non-Buddhist yang bisa sampai di tempat itu, saya merasakan energi yang begitu besar melingkupi tempat itu, membuat rambut halus di sekujur tubuh meremang dan perasaan dari dalam menggelegak keluar. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada saya sebelum ini, Berbagai rasa campur aduk, suka cita, bahagia, keharuan yang dalam silih berganti dengan rasa syukur yang berlimpah, semuanya berlangsung dalam waktu singkat membuat diri ini rasanya akan meledak. Tetapi mengenal diri yang lemah ini, saya harus segera melipir keluar mencegah tangis menjadi tersedu dalam sukacita yang dalam.

Lalu melengkapi keluarbiasaan di tempat suci itu, sebuah khata, -selendang sutra putih pembawa berkah-, yang didapat dari seorang biksu di bawah Pohon Boddhi melingkari leher saya. Dengan khata yang melingkar leher, saya meninggalkan Lumbini masih dengan berbagai rasa dari bersyukur, terpesona, bahagia, haru, merasa beruntung hingga rasa sedikit tak percaya mengalaminya, atas semua kebaikan Sang Pemilik Semesta.


Kemudian bertahun-tahun setelah perjalanan ke Lumbini itu, saya akhirnya berkesempatan melakukan perjalanan ibadah umroh ke Makkah dan Madinah yang tentu saja juga meluluhlantakkan rasa dalam jiwa. Rasanya setiap detiknya memiliki kenangan tersendiri, bagaimana saya bisa menjejakkan kaki sendiri, berdiri dengan tubuh sendiri, bersimpuh lalu bersujud meletakkan kening di masjid Nabi dan juga di hadapan Ka’bah. Seperti kata teman-teman saya yang telah melakukan perjalanan serupa terlebih dahulu, hanya ibadah yang ada dalam pikiran, rasanya ingin bermanja-manja selamanya dalam Kasih SayangNya. Bahkan bangun selepas tengah malam lalu berjalan ke arah Masjid pun dilakukan dengan sukacita. Tak berat sekalipun melangkahkan kaki, bertafakur, melangitkan doa dan pujian serta bersyukur. Bahkan di siang hari, saat matahari terik memanggang bumi, tempat-tempat bersujud dan berdoa itu tetaplah nyaman. Payung-payung terkembang untuk melindungi mereka dari terik matahari, karpet-karpet yang tergelar, bahkan mesin-mesin pendingin udara yang menyemburkan udara sejuk untuk kenyamanan ibadah.

Semua yang menyenangkan itu membuat jatuh tersungkur dalam syukur saat mengingat dan membayangkan berabad-abad lalu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga serta sahabat-sahabatnya melakukan perjuangan Islam yang sangat tidak mudah, dengan kondisi alam di Jazirah Arab yang tak bersahabat serta budaya setempat yang tidak kondusif. Dan membandingkan dengan kenyamanan serta semua yang membuat haru biru di tempat saya bersimpuh dan bersujud, bagaimana mungkin saya mengeluh? Saya tak bisa lain kecuali membiarkan airmata bahagia yang terus turun membasahi pipi.

Dan saat itu saya melihat di sekitaran, di depan, di belakang, kiri maupun kanan, memiliki wajah yang serupa, teduh dalam kebahagiaan beribadah memujiNya. Datang dari berbagai bangsa dan warna kulit serta dari segala penjuru dunia, berbalut pakaian yang bernada sama. Bertasbih, memuji namaNya, membaca kitabNya… menikmati undangan dariNya. Rasanya tidak ada rangkaian kata yang tepat untuk mewakili ungkapan rasa yang saya alami. Takkan pernah ada, takkan pernah cukup…

Saat itu, rasa penuh anugerah yang seperti mau meledak dan mendesak terus dari dalam, setiap detiknya, setiap menitnya itu, sungguh sebuah candu, membuat rindu, yang selalu ditunggu.

Saya pun mengamini apa yang dirasakan oleh teman-teman dan kerabat yang pernah menjalankan ibadah umroh terlebih dahulu bahwa semua kebahagiaan selama berada di Makkah dan Madinah itu selalu ingin diulang. Bahagianya itu seperti orang sedang jatuh cinta, ingin selalu berada berdekatan dan merasakan terus mencintai dan dicintai. Namun berbeda dengan rasa jatuh cinta pada manusia lain yang biasa menimbulkan keegoisan berdua dengan orang yang dicintai, rasa bahagia di Makkah dan Madinah ini tidak ada rasa ingin menguasai, bahkan meningkatkan rasa berbagi dan mengikis rasa mendahulukan kepentingan diri sendiri. Mungkin rasa bahagia itu berada di tingkatan yang lebih tinggi…


Dan yang tak kalah penting di akhir tahun 2019 lalu itu, dengan susah payah saya sungguh menahan airmata bahagia saat bus meninggalkan perbatasan Jordan menuju bumi Palestina. Setelah puluhan tahun memendam impian untuk sampai ke bumi Palestina, akhirnya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri Masjid Al Aqsho, saya berdiri di halamannya, bisa menghirup dan menghembus harum udaranya, juga beribadah di dalamnya. Bumi para Nabi. Bahkan sampai sekarang saja, setiap menuliskannya airmata saya selalu meleleh merasakan betapa besar anugerah yang saya terima. Alhamdulillah…

Jika saja saya bisa, rasanya ingin waktu berhenti agar saya bisa berlama-lama menikmati setiap detil kenangan saat berada di Bumi Palestina. Namun manusia ini serba terbatas, meski keinginan bisa liar tanpa batas. Sebisa mungkin saya merekam semua yang dirasakan berada di tempat yang dipercaya sebagai titik awal peristiwa Isra’ Mi’raj.

Tidak hanya itu, berada di Jerusalem membuat saya juga mengingat kembali kisah-kisah yang pernah didengar semasa mengenyam pendidikan di sekolah Katolik berpuluh tahun lalu. Menyusuri lorong-lorong kota tua Jerusalem tak bisa terhindar dari Via Dolorosa (jalan kesengsaraan yang diyakini dilalui oleh Yesus hingga ke Bukit Golgota). Juga, lalu lalangnya rabbi Yahudi dan banyaknya sinagoga di kota ini membuat kebahagiaan tersendiri. Lagi-lagi saya setengah percaya sedang berada di kota Jerusalem, kota yang menelurkan begitu banyak kisah di kitab-kitab suci tiga agama.

Dome of The Rock, Al Aqsho complex
Al Aqsho’s courtyard

Meskipun saya masih berangan-angan untuk mengunjungi Varanasi yang merupakan salah satu kota suci umat Hindu di India, saya tak kecil hati. Di Kathmandu, Nepal saya juga sempat mengunjungi Pashupatinath, salah satu kuil suci Hindu yang memberikan kebahagiaan tersendiri. Juga mengunjungi kuil Changu Narayan di Kathmandu yang memberikan saya begitu banyak keajaiban yang membahagiakan dan tentu saja ke Muktinath, salah satu kuil Hindu yang sederhana namun menjadi salah satu yang sangat sakral.

Jika saya diberikan umur panjang, sepertinya saya masih berkeinginan untuk mengunjungi tempat-tempat suci di dunia ini. Kebahagiaan berada di tempat-tempat itu tak bisa diabaikan begitu saja. Addictive


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-47 bertema Happiness agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Belajar Menerima Dari Bencana


“Maaf Ma, Pa, air sudah masuk ke rumah, tapi listrik masih nyala…”

Begitu pesan Whatsapp yang saya baca dari anak saya yang berada di rumah sementara kami sedang berada ribuan kilometer dari rumah. Sebanyak apapun pengalaman suami dan saya menghadapi banjir di Jakarta, kami tak bisa berbuat apa-apa di saat tak berada di tempat kejadian. Hati saya terbelah meskipun saat itu saya berada di tempat yang paling saya impikan sejak kecil, Palestina. Berita itu memporakporandakan antusiasme sebuah perjalanan batin, meskipun hari itu adalah hari terakhir menuju pulang ke tanah air.

Transit di Abu Dhabi tidak lagi menggembirakan. Kami ingin cepat sampai di rumah karena rumah adalah base-camp kami. Abu Dhabi bisa didatangi kembali lain waktu tapi rumah tetap prioritas nomor satu.

Tak terbayangkan anak-anak kami yang telah berbuat maksimal menghadapi musibah banjir di rumahnya sendiri, berupaya menyelamatkan barang-barang yang mampu mereka selamatkan. Banjir mereka yang pertama, yang harus dihadapi sendiri tanpa kehadiran orangtua. Banjir yang datang pada malam hari, tanpa mereka sadari, datang menerjang dengan cepat, menggenangi dan terus merambat naik, dalam keadaan listrik yang masih menyala. Ketika pagi datang, mereka tak bisa berbuat banyak kecuali hanya menyaksikan lantai dasar rumahnya telah terendam 70 cm dengan barang-barang yang sudah jungkir balik. Mereka hanya bisa menunggu di lantai dua sampai listrik dimatikan PLN untuk bisa bergerak melakukan penyelamatan terhadap sisa-sisa barang yang bisa diselamatkan. Lalu setelahnya, dengan segala pertimbangan matang, mereka mengirim pesan Whatsapp di atas.

Sekuat apapun kami mempersiapkan hati sesampainya di Jakarta awal Januari 2020 itu, rasanya tetap masygul menyaksikan isi rumah berantakan diterjang banjir. Air memang sudah surut tetapi ada rasa campur aduk melihat apa yang ada dan membayangkan pekerjaan di depan mata yang tak bisa terhindarkan. Rasa syukur berlimpah karena indahnya perjalanan Umroh ditambah kunjungan ke Al Aqsho seharusnya masih tinggi memenuhi dada, meskipun faktanya ada juga rasa sedih dan rasa kehilangan yang menyambangi jiwa.

Beruntung ada ART dan suaminya yang cekatan membersihkan lalu menata kembali seisi rumah, sebisa mereka. Tetapi jejak banjir tak mampu menyembunyikan betapa hebatnya banjir kali ini. Rasanya bagaikan bumi dan langit, keadaan rumah saat kami tinggalkan saat berangkat dan saat kami kembali, apalagi anak-anak sempat mengambil foto saat barang-barang seperti kulkas, lemari telah terhempas dan sofa-sofa mengambang.

Getir memang. Banjir yang ‘numpang lewat’ itu meninggalkan jejak yang tak sedikit. Begitu banyak barang yang harus dibuang, termasuk album-album foto lama yang belum sempat saya digitalkan. Ada banyak buku yang berada di lantai 1 yang harus saya buang. Ada banyak cerita, ada banyak kenangan yang hilang bersama banjir.


Vatsala Devi, 2014
Ruins of Vatsala Devi temple, 2017

Awal November 2014

Saya melakukan perjalanan solo ke Nepal, sebuah perjalanan yang amat mengesankan bertabur keluarbiasaan jika tak boleh dibilang keajaiban. Sebagi orang yang mengagumi sebuah kawasan World Heritage Site, saya terpesona dengan semua Durbar Squares yang ada, dari Kathmandu, Patan hingga Bhaktapur. Bahkan saya sempat berada di dalam keriuhan festival di Kuil Changu Narayan. Juga bisa menyaksikan secara langsung wajah Kumari The Living Goddess, Sang Dewi Hidup dari Kathmandu Durbar Square. Menyaksikan keindahan Himalaya dari jendela pesawat. Begitu indah.

April 2015, Gempa bumi besar melanda Nepal

Hanya berselang enam bulan setelah perjalanan istimewa saya itu, sebagian besar World Heritage Site yang saya saksikan rusak bahkan ada yang runtuh total. Gempa besar yang membuat longsor, menimbun rumah dan makhluk, tanah bergerak membuat manusia berteriak. Begitu banyak rumah dan bangunan yang hancur serta sekitar 9.000 orang melepas nyawa mereka.

Air mata saya jatuh saat membaca berita. Kathmandu Durbar Square yang sebelumnya memiliki kuil-kuil megah, mendadak tinggal undakan-undakannya. Padahal saya begitu terpesona di tempat itu. Juga Kuil Changu Narayan yang disakralkan, tempat saya berbaur dengan para wanita yang berbahagia pada perayaan Ekadhasi, mendadak kuil itu rusak parah terkena gempa bumi. Tak beda di Patan Durbar Square, kuil-kuil berusia ratusan tahun itu runtuh ke tanah. Di Bhaktapur Durbar Square juga tak beda. Kuil-kuil cantik juga runtuh, padahal saya berlama-lama di tempat itu.

Begitu kuat kenangan itu, sehingga saya merasa begitu kehilangan semua keindahan yang pernah saya saksikan enam bulan sebelumnya.

April 2017

Dua tahun setelah gempa besar itu, saya kembali ke Nepal. Gundahnya saya akibat gempa itu membuat saya hanya menyempatkan diri ke sebuah sudut di Bhaktapur Durbar Square. Saya juga tak pergi ke Kathmandu Durbar Square atau Patan Durbar Square. Bisa jadi saya terlalu sedih untuk menyaksikan hilangnya world heritage itu.

Di tahun 2017 itu, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seakan tak menerima kenyataan ketika berada di Vatsala Devi temple yang rata dengan tanah ketika terjadi gempa. Padahal saat 2014 lalu, kuil itu begitu cantik menghias Bhkatapur Durbar Square.

Bhaktapur Durbar Square, 2014
Bhaktapur Durbar Square, 2017

Ada banyak contoh lain dampak sebuah bencana dari yang sebelumnya cantik, bagus, keren, indah dan sebagainya menjadi sebuah yang menakutkan, hancur berantakan, babak belur atau luluh lantak. Ada juga yang namanya penyempurnaan atau perbaikan, Dari yang awalnya kurang baik menjadi lebih baik. Semua bermakna sama: perubahan. Jika hasilnya lebih buruk daripada sebelumnya maka itulah yang disebut bencana. Namun jika hasilnya dianggap lebih baik dari sebelumnya, maka hal itu disebut penyempurnaan, menjadikan sesuatu lebih mendekat pada kesempurnaan,

Padahal rasanya pasti serupa. Saya juga merasa getir dan masygul ketika sampai di rumah menghadapi amukan bencana banjir Januari awal tahun ini. Saya juga tak mampu bahagia melihat kuil cantik yang dahulu ada kini hanya tinggal nama. Rasanya begitu manusiawi memiliki rasa-rasa itu.

Hanya saja, tak baik memeliharanya lama-lama.

Dengan memelihara sedih atau gundah itu bisa bermakna terikat pada sesuatu yang sebelum hilang itu, pada sesuatu yang sebelum hancur.

Padahal hancur juga kan? Hilang juga kan? Jadi sebenarnya untuk apa merasa masygul berkepanjangan? Untuk apa merasa sedih berlama-lama?

Jika bencana itu sudah seharusnya terjadi, maka bencana itu pasti terjadi. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi ketika mengetahui banjir yang cukup dalam menerjang rumah. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali geleng-geleng kepala ketika berdiri di dekat reruntuhan kuil Vatsala karena gempa besar Nepal.

Pada suatu titik, akhirnya kita hanya bisa menerima.

Seperti seorang bayi yang baru lahir, hanya bisa menerima dan terus belajar menerima lalu bereaksi untuk tumbuh.

Bahkan bencana-bencana itu merupakan pembelajaran yang hebat


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-42 bertema Before & After agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Broken Heart, Hollow Inside Or Change It


Adakah orang yang tak pernah patah hati dalam hidup? Karena patah hati tak melulu karena putus cinta. Lebih luas dari itu. Kita mengalami patah hati, -bukan hati yang patah secara fisik-, sebagai ungkapan akan derita emosi yang amat dalam dirasakan oleh seseorang karena kehilangan orang yang dicintainya, yang bisa datang melalui kematian, perceraian atau putus hubungan, dan berakibat keterpisahan fisik atau penolakan cinta.

Saya juga mengalaminya.

Pohon-pohon tak berdaun

Saya pernah patah hati karena putus cinta. Dia telah memenuhi semua kriteria menjadi calon pendamping hidup dalam pernikahan, tetapi saya mengabaikan satu kriteria yang paling dasar (Mungkin bukan mengabaikan melainkan mencengkeram kuat sebuah harapan). Agama.

Nasehat-nasehat orang lain agar jangan meneruskan hubungan yang tidak seiman, memang saya dengarkan tetapi tidak cukup untuk membubarkan. Saat itu kami belajar melebarkan toleransi terhadap ibadah. Saling mengingatkan, saling menjaga, saling mendukung. Dan rasanya begitu indah.

Hingga satu hari yang paling menyakitkan, tepat dua tahun dari tanggal yang sama kami memulainya. Saya mungkin yang memulainya, bisa juga dia. Rasanya sama, pancaran mata kami sama. ‘Kartu-kartu’ kami dihamparkan di hadapan. Kami berdua menolak fakta, tetapi itu sangat nyata. Di tanggal yang sama, tepat dua tahun setelah kami memulainya, kami sama-sama memegang sebuah bola kristal harapan yang hancur meremuk dengan kepingan yang begitu kecil. Jalan kami berbeda.

Saya hancur, dia juga. Harapan itu sirna mendadak. Tak akan ada pernikahan. Airmata tumpah tak terbendung. Terlalu pahit untuk melepas seseorang yang telah begitu dekat di hati, rasanya seperti palu yang menghantam kesadaran saya. Meski tetap hidup, hari-hari itu terasa kelabu. Tak ingin makan, tak ingin keluar, tak ingin kemana-mana, tak ingin melakukan apa-apa. Saya menangis terus. Hidup rasanya hampa. Kosong. Semua terasa kabur, tak nyata, blurred. Hollow inside.


Dan berpuluh tahun setelah momen patah hati itu, saya mengalaminya lagi. Kepergian Papa hanya tiga hari sebelum ulang tahun saya, membuat saya menjalani momen-momen bahkan hari-hari setelahnya dengan perasaan yang hampa meskipun kalimat-kalimat penghiburan, doa dan atensi terus menerus dilimpahkan kepada saya. Semuanya tak bisa mengisi hati yang sedang terbelah. Bahkan sehari setelah prosesi pemakaman Papa, kepergian saya sekeluarga ke Jepang pun tidak dapat mengisi hati yang terus merembeskan airmata itu. Hati saya patah berkeping-keping, serupa dulu…

Tidak ada kata tepat yang dapat menjelaskan bagaimana perasaan hampa yang saya rasa itu. Hanya saja seperti zombie, bisa bergerak tapi tak sesungguhnya hidup. Mata melihat, namun dengan pikiran yang tidak mengarah kepada apa yang disaksikan. Semua terasa sama, warnanya sama, kelabu samar. Mungkin saya bisa tersenyum, tetapi senyum tak diikuti rasa. Saya mungkin bisa sesaat menikmati perjalanan, tetapi momen berikutnya bisa menggigit bibir bertumpah airmata. Saya ingat saat terbang menuju Tokyo. Mata memang memandang keluar jendela pesawat bersamaan mengalirnya airmata membasahi pipi tanpa dirasa. Tak banyak kata, tak banyak cerita. Saya lebih banyak diam seribu bahasa.

Saat itu saya menangisi kemortalan manusia sebagai makhluk yang bernyawa yang pasti akan mati dan berpisah dunia. Kematian telah memisahkan saya dengannya dan membuat saya patah. Patah yang sesungguhnya. Hancur lebur dan membuat semuanya hilang. Hampa.


Namun tidak pernah ada yang sia-sia begitu saja…

Alam telah memiliki aturan untuk berjalan sedemikian rupa, bahkan saya pun bisa belajar dari sebuah kehampaan. Sebuah kehampaan yang datang dari peristiwa berpindah dunia maupun karena putusnya hubungan cinta.

Dan di setiap momen waktu yang berlalu, ada pilihan-pilihan hidup yang harus diambil oleh seorang manusia. Juga saya, pada saat-saat itu.

Setiap manusia termasuk saya, memiliki pilihan yang sama. Pilihan itu muncul mungkin tanpa disadari sepenuhnya. Selalu ada dua pilihan: Status quo atau berubah.


masih ada sedikit daun untuk bertahan

Dan Sang Pencipta telah memberikan daya dan kekuatan begitu besar kepada manusia untuk menjalani kehidupan ini berdasarkan pilihan-pilihan yang diambilnya.

Juga kepada saya ketika mengalami hati yang terbelah karena putus darinya.

Hanya saja saat itu saya memilih status quo. Saya membiarkan diri berlama-lama dalam rasa yang ‘hampa’ itu. Saya biarkan pembelajaran lain dibelakangnya untuk datang dalam bentuk yang lebih berat untuk dijalani. Hepatitis menghampiri, demam tinggi lalu pingsan tak sadarkan diri. Bolak-balik rumah sakit menjadi sebuah rutinitas karena harus cek lagi dan lagi. Sebuah konsekuensi atas pilihan status quo itu.

Jika saja disadari lebih awal, tentunya saya tak akan memilih status-quo itu karena ternyata berlama-lama menjalani rasa hampa itu tak enak akibatnya. Tetapi Dia Pemilik Waktu selalu menyediakan momen untuk berubah, cepat atau lambat.

Apapun penyebabnya, -kehampaan karena berakhirnya sebuah hubungan atau karena kematian-, suatu saat akan datang kesadaran bahwa sebelum hari kelabu itu pernah datang hari-hari gembira dan ceria, penuh cahaya gemerlap, penuh pelangi warna-warni. Lalu apakah saya mau mempertahankan warna yang kelabu selamanya? Tentu saja, serta merta pilihannya datang kembali, Status quo atau berubah?

Dan selalu ada momen untuk berubah, cepat atau lambat.

Dan saya memilih berubah karena saya ingin hidup saya penuh warna lagi meskipun untuk mencapai itu tidaklah selalu mudah. Tetapi bukankah selalu dikatakan orang, mungkin memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa, bukan?

Seperti segala sesuatu hanya bergantung kepadaNya, demikian pula upaya perubahan yang harus saya jalani. Perpisahan dengannya berpuluh tahun lalu itu memang harus terjadi untuk sesuatu yang lebih baik dalam kehidupan saya dan dia. Memang memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk saya, tetapi kini kami semua telah berbahagia dengan pilihan hidupnya masing-masing. Masing-masing dari kami harus mengalami sesuatu yang tak nyaman, yang tak membahagiakan untuk mendapatkan yang seharusnya.

Demikian juga kepergian Papa yang merupakan keputusanNya yang terbaik bagi kami sekeluarga. Saya belajar dari banyak kejadian yang telah lalu, berlama-lama menangisi hidup tak akan mengubahnya kecuali tersadar dan berani mengambil sebuah pilihan untuk berubah menuju yang lebih baik.

There’s something good appearing

If you want to reach out for something new, you must first let go what’s in your hand

Sonia Choquette

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-39 bertema Empty agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

If Not Now, Then When?


Pertanyaan itu terjadi di tahun lalu, ketika di dalam hati sudah muncul niat yang semakin kuat untuk menjalankan ibadah Umroh. Sang Maha Pencipta telah bertahun-tahun mengetuk pintu hati saya, membangunkan jiwa saya karena Dia tak pernah lelah mengajak saya untuk melakukannya. Dan memang jika waktunya telah tiba, semua akan terjadi … if not now, then when?

Seperti yang dituliskan pada kisah Umroh di postingan Pilgrimage 1: Menuju Kota Cahaya, bisa dibilang perjalanan itu termasuk tiba-tiba. Hanya sekitar dua bulan sebelum keberangkatan, keputusan itu diambil. Meski jauh sebelumnya, tentu saja sudah ada keinginan menjalankan umroh yang bagi saya sifatnya ‘timbul tenggelam’

Ketika teman-teman saya hampir semua telah menjalankan ibadah Umroh dan bahkan telah berhaji bertahun-tahun lalu, saya sendiri lebih sering melanglang buana ke tempat-tempat lain. Sampai akhirnya memang datang waktunya untuk saya menghadapi sendiri panggilan itu.

Pratinjau(buka di tab baru)

Praktis, setelah kepergian Papa saya di bulan Desember 2018 lalu, saya seperti berhenti dalam waktu. Saya lebih banyak berdiam di rumah, tak berencana melakukan perjalanan seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan dalam tahun 2019 itu, saya hanya pergi ke Myanmar dan Singapura, bukan ke negeri-negeri baru yang belum pernah saya datangi, seperti yang biasa saya rencanakan.

Sejak tahun 2019 itu, muncul keinginan untuk melakukan perjalanan ke dalam diri, bukan ke tempat-tempat baru. Hanya ke dalam diri sendiri. Keinginan itu membuat saya lebih memilih di rumah, seakan-akan sebagian hati dan pikiran saya terikat di rumah. Membuat perjalanan di tahun itu, -meskipun tetap menyenangkan-, meninggalkan kesan lelah.

Akhirnya paruh kedua tahun 2019 itu, keinginan menjalankan ibadah Umroh itu semakin kuat. Saya mulai mencari biro-biro perjalanan Haji dan Umroh yang sesuai.

Selain mencarinya via internet yang hasilnya amat membingungkan, saya juga bertanya-tanya via keluarga, kerabat dan teman-teman yang sudah menjalankan ibadah umroh. Paling tidak mereka pasti bisa memberikan rekomendasi. Namun seorang teman secara jujur mengatakan, semua agen perjalanan itu sama saja. Pada akhirnya yang akan beribadah yang menetapkan penyesuaian itu.

Persis seperti melakukan perjalanan ke sebuah destinasi. Begitu banyak jalan yang dapat ditempuh yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Namun semuanya kembali kepada yang akan melakukan perjalanan itu sendiri. Artinya kembali ke saya lagi.

Jadilah, saya mencari jarum dalam tumpukan jerami. Benar, kata teman saya itu, akhirnya saya sendiri yang menentukan penyesuaian dengan kondisi dan situasi saya. Ada biro perjalanan yang diikuti oleh ratusan jemaah, ada yang sedikit, dengan harga yang murah sampai mahal. Semua itu mengerucut ketika saya memfilter ketersediaan paket di akhir bulan Desember sesuai rencana cuti suami dan saya. Rupanya di biro-biro terkenal paket perjalanan umroh akhir bulan Desember sudah penuh karena merupakan paket favorit. Dan karena saya hanya memiliki waktu di akhir bulan Desember, maka paket-paket yang tersedia tinggal sedikit.

Saya sudah menimbang-nimbang untuk memilih salah satu biro perjalanan ketika keinginan sedari kecil tiba-tiba muncul ke permukaan. Mengapa tidak sekalian ke Masjid Al Aqsho?

Selain ibadah ke Makkah dan Madinah, tidak keinginan yang begitu berdiam lama seperti keinginan saya melihat dan beribadah langsung di Masjid Al Aqsho!

Yang terjadi kemudian, keinginan itu meleburkan semua biro perjalanan yang tadinya sudah mengerucut. Saya mulai lagi dari awal. Apakah ada biro perjalanan Umroh plus Al Aqsho di akhir tahun dan masih tersedia kursi? Jawabannya hanya ada beberapa. Dan memang Dia Yang Maha Mengatur telah membukakan jalan bagi saya untuk mewujudkan keinginan yang sudah terpendam begitu lama.

Meskipun demikian, tetap saja saya masih ragu karena harganya relatif mahal. Hampir dua kali lipat dari harga perjalanan umroh biasa. Lalu saya berpikir kembali, apakah saya melakukan umroh saja tanpa Al Aqsho dan merencanakan perjalanan ke Al Aqsho di lain waktu? Lalu apakah saya masih diberikan kesempatan di lain waktu untuk ke Masjid Al Aqsho? Tetapi kapan lagi bisa melakukan perjalanan ibadah ke tiga masjid utama dalam satu kali perjalanan? Dan banyak lagi pertanyaan yang membuat maju mundur…

Saya membiarkan waktu berlalu…

Lalu saat itulah hati saya diketuk if not now, then when?

Diketuk begitu, saya seperti tersadarkan. Sambil menarik nafas panjang, menutup mata, saya memohon kepada Dia Yang Maha Pemilik Kehidupan. Telah datang waktunya untuk berserah diri semuanya kepadaNya. Jalan telah dihamparkan, mengapa harus ada keraguan?

Berapa harga yang bisa saya berikan untuk sebuah perjalanan batin yang pastinya akan indah?

Saat itulah, saya mengambil keputusan untuk berangkat dengan salah satu biro perjalanan untuk menjalankan ibadah umroh plus Aqsho.

If Not Now, Then When?

Kawasan Al Aqsho

Meskipun sampai sekarang saya belum menyelesaikan untuk menuliskan kisah-kisahnya, tetapi bagi saya, saat itu adalah sebuah keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Perjalanan itu dimulai di minggu ketiga bulan Desember 2019 hingga ke minggu pertama tahun 2020. Perjalanan batin yang begitu menggugah dari Masjid An Nabawi, Masjid Al Haram dan berakhir di Masjid Al Aqsho.

Siapa yang sangka bahwa tak lama setelahnya Kerajaan Arab Saudi menutup akses untuk ibadah Umroh karena merebaknya virus COVID-19 yng berkelanjutan dan menimbulkan sebuah pandemi, yang hingga tulisan ini dipublish, belum juga dibuka kembali? Seandainya saat itu saya membiarkan diri untuk terus menunda, pastinya perjalanan indah ketiga Masjid itu belumlah terwujud hingga kini.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-35 bertema Now agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.