December, The Last One, The Best One


Tanpa sadar, setelah menelan sebelas bulan sebelumnya, Sang Waktu yang konsisten itu pun telah melahap setengah bulan terakhir tahun 2020 ini, meninggalkan manusia-manusia terlena yang mencoba menggenggam momen-momen yang telah terjadi. Sang Waktu tidak peduli dengan mereka, juga dengan momen-momen mereka. Sang Waktu tetap berjalan maju…

Saya termasuk dalam golongan manusia-manusia itu karena tak mampu menjaga konsistensi untuk terus bergerak maju. Dalam banyak kesempatan dalam kehidupan, saya membiarkan diri berlama-lama memeluk momen-momen yang sudah berlalu seakan-akan momen itu pasti setia mengikuti.

Padahal, momen itu akan tertinggal di masa lampau. Sebagai kenangan.


Dan diantara momen-momen yang sering kali saya tengok dan membiarkan diri berlama-lama mengenangnya adalah momen-momen yang terjadi di bulan Desember, bulan terakhir di setiap kalender Masehi. Entah kenapa di bulan ini banyak sekali terjadi momen yang mengisi kehidupan saya, meski di tahun-tahun yang berbeda. Yang indah, yang memilukan hati, semuanya mewarnai kehidupan…

4 Desember – Belajar Ikhlas

Seharusnya hari itu menjadi hari yang menyenangkan. Indeed, memang menyenangkan di awalnya namun berubah menjadi airmata sedih di penghujung hari. Dia yang memiliki wajah menenangkan awalnya mengajak merayakan hari jadian, tepat dua tahun mencoba mengenali masing-masing pribadi agar siap menuju gerbang pernikahan.

Autumn shows us how beautiful it is to let things go

Entah siapa yang memulai, bisa saya, bisa juga dia atau memang jalannya memang harus demikian. Sesuatu yang nyaris tabu dibicarakan diantara dia dan saya, akhirnya terbuka juga. Tentang bedanya jalan iman dia dan saya. Masing-masing pribadi memahami, cepat atau lambat, sekarang atau nanti, waktunya akan datang. Kami berdua harus menghadapinya masing-masing. Siapkah kami untuk melanjutkan perjalanan bersama, dengan segala konsekuensinya. Bagaimana dengan dia, bagaimana dengan saya? Lalu bagaimana dengan keluarga yang telah membesarkan dia dan saya? Bagaimana dengan anak-anak nantinya? Begitu banyak pertanyaan “bagaimana” yang harus saya jawab dengan jelas.

Dipenghujung hari semua menjadi blur dengan air mata. Detik-detik waktu rasanya berjalan sangat lambat, tak mampu membuat jalan kami bertemu. Rasanya ingin dihindari, tetapi baik dia maupun saya sama-sama tahu, semua itu hanya penundaan. Hari itu, atau nanti, segera atau bulan depan pasti akan datang waktu penuh diskusi panjang tak berkesudahan, seperti hari itu.

Sedalam apapun cinta kami berdua, -meski tahu tujuan akhirnya adalah Dia Yang Maha Kasih-, hati ini tetap memilih jalan masing-masing pribadi menuju Sang Pencipta. Dan hari itu, kami sampai di penghujung perjalanan kebersamaan. Hati kami, -meski penuh airmata-, harus saling melepaskan diri. Sebuah keputusan berat dan perlu keikhlasan.

Di tanggal jadian yang sama, kami saling mengikhlaskan untuk bisa menapak perjalanan kehidupan sesuai pilihan iman kami. Sedih, berat, broken-hearted tapi di sisi lain masing-masing ada rasa damai, terang, tenang yang dimenangkan.

15 Desember – Hadiah VersiNya

Bertahun-tahun setelahnya, berulang kali saya gagal mencoba merajut kasih dengan yang satu iman. Rasanya begitu lelah sehingga akhirnya saya menyerah. Seperti ada yang salah. Tak bisa tidak, saya harus melambatkan langkah di antara manusia lain yang seperti berlari. Alih-alih mendekati manusia lain, saya melakukan perjalanan jauh ke dalam diri. Cukup sudah melihat dan berharap dari manusia. Melalui doa-doa panjang penuh harap, melalui puasa dan tahajjud di malam-malam penuh hening, saya tersungkur berserah diri sepenuhnya kepadaNya untuk urusan yang satu ini. Dan tak ada yang terlewatkan olehNya, Dia Yang Senantiasa Memenuhi Janji.

Dia, laki-laki biasa yang juga tak sempurna, dikirim sebagai jawaban doa-doa panjang saya. Ketika telah berserah diri sepenuhnya, suara hati akan menuntun kearahnya. Bagi saya, pertemuan dengannya adalah sebuah keajaiban. Karena tak disangka-sangka Dia Yang Maha Baik mengirimnya melalui sebuah musibah yang harus saya alami. Musibah, yang bagi banyak orang memberi buruknya kenangan, bagi saya membawa kebahagiaan tersendiri. Membawa senyum dan rindu. Kata sahabat saya, jodoh itu serupa rejeki, datangnya bisa dari arah mana saja, tanpa diketahui waktunya. Bila sudah sampai waktunya, apapun yang terjadi, dia akan datang.

A rose, a symbol of true love

Dan di pertengahan bulan Desember, Allah Yang Maha Baik mengirimkan seseorang yang tak sempurna tapi terbaik untuk duduk di pelaminan bersama saya.

Dan bagaimana saya bisa melupakan hari di pertengahan Desember itu? Yang dananya diambil dari tabungan kami berdua, yang dihitung rupiah demi rupiah, yang rasanya mengalir keluar seperti air bah namun masuknya seperti mengharap hujan di musim kemarau. Hingga suatu saat, -seperti juga datangnya pasangan saya itu-, dana bantuan juga datang dari arah yang tak terduga. Membuat saya lagi-lagi terpesona dengan caraNya bekerja. Tak bisa tidak, saya hanya bisa hanyut dalam syukur. Alhamdulillah, Maha Suci Allah, Sang Maha Pemberi Rejeki.

Hal yang serupa dengannya adalah kehadiran seorang anak di dalam keluarga kecil kami yang juga datang di bulan Desember. Setelah keguguran pada kehamilan pertama, saya kembali berdoa sepenuh hati dan berserah diri kepadaNya. Doa-doa panjang, puasa dan tahajjud di malam-malam hening berbuah manis ketika akhirnya seorang anak perempuan yang cantik hadir di antara kami berdua, tiga tahun setelah pernikahan kami.

21 Desember – Yang Berpindah

Dan datang juga momen Desember yang paling mengoyak hati. Hari itu saya kehilangan laki-laki pertama yang mencintai saya. Papa saya. Bertahun-tahun sebelum kepergiannya, beliau hanya bisa berpasrah di kursi roda dan tempat tidurnya karena serangan stroke yang berulang. Kepergiannya meluluhlantakkan saya, meskipun jauh sebelumnya telah menyiapkan hati, namun tetap saja tak akan pernah siap.

Gone, but not forgotten

Jumat siang itu takkan pernah terlupakan. Sejak meninggalkan kantor setelah mendapat kabar dari rumah Papa siang itu, dunia terlihat kabur. Di pembaringannya, saya memeluk tubuh Papa yang rasanya masih hangat dan membisikkan berjuta kata cinta. Tak ada lagi obrolan penuh tawa saat bertukar cerita tentang perjalanan-perjalanan ke negeri jauh. Karena dariny saya berani menjejak di negeri-negeri impian secara independen.

Kematian adalah sesuatu yang mutlak pada semua yang hidup. Meski hal itu dipahami, tetapi ketika datang pada orang tercinta rasanya seperti tersandung batu dan jatuh terjerembab ke tanah, nyata sekali. Tiba-tiba saja, semua hilang, tak bisa lagi melihat, tak bisa lagi dipeluk, tak bisa lagi mendengar suaranya, tak bisa lagi bertukar kisah.

Kenyataan itu begitu pahit rasanya, tetapi tak ada pengalaman yang tak berguna. Sang Waktu yang berjalan konsisten menjadi pelipur dan pembuka mata hati. Bukankah hidup di dunia ini manusia tak pernah memiliki apapun? Bukankah semua itu dititipkan oleh Dia Yang Maha Memiliki? Lalu mengapa ada rasa kehilangan untuk sesuatu yang tak pernah dimiliki?

Sesungguhnya, meskipun hilang dari pandangan, dari pendengaran, dari pembicaraan, dari semua yang bisa disentuh, Papa tak akan bisa hilang dari hati dan pikiran. Selamanya hidup pada hati dan pikiran saya, sebuah tempat yang lagi-lagi dititipkan olehNya.

December 24 – Selamat Ilang Tahun

Bagaimana mungkin saya melupakan Desember, bulan yang memiliki tanggal saat saya dilahirkan ke dunia? Sejak kecil hingga remaja, tanggal itu artinya sebuah acara kumpul keluarga Mama di rumah. Semakin besar usia, ditambah dengan kehadiran sahabat-sahabat dekat. Menyambung silaturahmi dalam sebuah acara. Sesuatu yang terlihat mudah tetapi sejatinya tak mudah diwujudkan, apalagi di jaman ketika teknologi telah membuat manusia merasa tak perlu saling mendekatkan secara fisik (ditambah tahun 2020 ini virus corona semakin membatasi kedekatan fisik antar manusia ini)

White Lily

Sejak berkeluarga, saya tak lagi membuat acara-acara seperti itu mengingat di pihak suami tak pernah ada budaya membuat tanggal kelahiran menjadi lebih spesial dari hari-hari biasanya. Tidak masalah juga, karena tambah usia berarti semakin sedikit waktu tersisa. Persis yang diucapkan oleh seorang kawan setiap tanggal kelahiran saya itu, karena dia tak pernah mengucapkan Selamat Ulang Tahun melainkan Selamat Ilang Tahun.

December 26 – Perjalanan Spiritual

Suasana libur akhir tahun semakin terasa ketika sudah menginjak minggu ketiga di bulan Desember. Dari semua perjalanan yang terjadi di musim libur bulan Desember, rasanya perjalanan ibadah umroh yang paling menawan hati. Rasanya perjalanan itu adalah perjalanan spiritual yang amat indah. Mungkin halu, tetapi rasanya saya hanya dihadapkan pada fakta-fakta duniawi ketika harus berhubungan dengan manusia lain, seperti saat di imigrasi, saat mengurus koper hilang, saat ada pemeriksaan tas di pintu Masjid. Selainnya terasa begitu intim, begitu spesial.

Apalagi bonus-bonus kehidupan yang saya terima dalam perjalanan itu. Bisa berkunjung ketiga Masjid utama dalam Islam, Masjidil Haram, Masjid An Nabawi dan Masjid Al Aqsho dalam sekali perjalanan benar-benar melesatkan makna perjalanan ini ke level tertinggi sepanjang hidup saya.

Telah setahun perjalanan itu berlalu, tetapi hingga sekarang saya masih memeluk rindu terhadapnya. Saya masih berlama-lama memeluk kenangan itu. Rasanya masih lekat dengan suasana damai di Masjid Nabawi, juga pemandangan Ka’bah yang menempel kuat pada ingatan, harumnya udara Masjid dan juga hangatnya pelukan seorang ibu Palestina yang tak pernah terlupakan. Sungguh saya merasakan anugerah yang berlimpah.


Bagaimana bisa saya melupakan Desember, bulan terakhir setiap tahun namun terbaik buat saya? Ada begitu banyak sukacita, meski tak bebas pula dari airmata. Semuanya memberi warna dalam hidup saya, berlimpah makna yang amat luar biasa. Alhamdulillah…

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Colorful flowers

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-49 bertema Memory of December agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Sukacita Menjejak Tempat Suci


Bagi yang mengikuti blog saya ini, telah beberapa kali saya mengungkapkan kegemaran jalan-jalan yang sudah ada sejak saya kecil. Menjejak tempat baru membukakan wawasan namun suka duka perjalanan menuju tempat baru itu membuat saya hidup.

Dan dari begitu banyak destinasi, -kebanyakan berupa tempat-tempat yang memiliki sejarah-, hanya ada beberapa tempat yang berhasil memporak-porandakan rasa dalam jiwa begitu dahsyat. Bisa jadi karena tempat-tempat itu diyakini oleh banyak jiwa sebagai tempat suci keimanan.


Puskarni, The Holy Pond

Meskipun saya telah menuliskan dalam pos Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini namun rasanya kata-kata itu tak pernah bisa terangkai dengan tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami ketika menjejak Kuil Mayadevi di Lumbini. Tempat itu konon, merupakan tempat kelahiran Sang Buddha, lebih dari dua setengah millenium yang lalu.

Kuil yang menurut saya terlalu sederhana untuk sebuah lokasi yang dipercaya merupakan tempat kelahiran seseorang yang telah mengguncang dunia, sesungguhnya hanya sebuah bangunan batu yang menutupi sebidang tanah serupa ekskavasi arkeologis. Tak ada hiasan, tak ada altar, tak ada tanda-tanda pemujaan, namun ketiadaan barang-barang duniawi itu tak mampu menghilangkan rasa sakral yang begitu hebat di dalamnya. Hanya dengan sebuah penanda yang dikenal dengan istilah Marker Stone yang terlindung oleh kaca, banyak pengunjung bisa jatuh bersimpuh di depannya. Itulah tempat yang dipercaya menjadi titik akurat kelahiran Sang Buddha Siddharta Gautama.

Suara sayup genta-genta kecil yang berdenting tertiup angin, juga suara bacaan sutra yang disenandungkan di bawah rimbun pohon Boddhi di luar kuil, menambah suasana sakral di Marker Stone yang letaknya tak jauh dari pintu keluar. Bahkan setelah dua setengah millenium, kesakralan tempat itu tetap masih terasa kuat.

A Monk under a Boddhi Tree

Sebagai non-Buddhist yang bisa sampai di tempat itu, saya merasakan energi yang begitu besar melingkupi tempat itu, membuat rambut halus di sekujur tubuh meremang dan perasaan dari dalam menggelegak keluar. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada saya sebelum ini, Berbagai rasa campur aduk, suka cita, bahagia, keharuan yang dalam silih berganti dengan rasa syukur yang berlimpah, semuanya berlangsung dalam waktu singkat membuat diri ini rasanya akan meledak. Tetapi mengenal diri yang lemah ini, saya harus segera melipir keluar mencegah tangis menjadi tersedu dalam sukacita yang dalam.

Lalu melengkapi keluarbiasaan di tempat suci itu, sebuah khata, -selendang sutra putih pembawa berkah-, yang didapat dari seorang biksu di bawah Pohon Boddhi melingkari leher saya. Dengan khata yang melingkar leher, saya meninggalkan Lumbini masih dengan berbagai rasa dari bersyukur, terpesona, bahagia, haru, merasa beruntung hingga rasa sedikit tak percaya mengalaminya, atas semua kebaikan Sang Pemilik Semesta.


Kemudian bertahun-tahun setelah perjalanan ke Lumbini itu, saya akhirnya berkesempatan melakukan perjalanan ibadah umroh ke Makkah dan Madinah yang tentu saja juga meluluhlantakkan rasa dalam jiwa. Rasanya setiap detiknya memiliki kenangan tersendiri, bagaimana saya bisa menjejakkan kaki sendiri, berdiri dengan tubuh sendiri, bersimpuh lalu bersujud meletakkan kening di masjid Nabi dan juga di hadapan Ka’bah. Seperti kata teman-teman saya yang telah melakukan perjalanan serupa terlebih dahulu, hanya ibadah yang ada dalam pikiran, rasanya ingin bermanja-manja selamanya dalam Kasih SayangNya. Bahkan bangun selepas tengah malam lalu berjalan ke arah Masjid pun dilakukan dengan sukacita. Tak berat sekalipun melangkahkan kaki, bertafakur, melangitkan doa dan pujian serta bersyukur. Bahkan di siang hari, saat matahari terik memanggang bumi, tempat-tempat bersujud dan berdoa itu tetaplah nyaman. Payung-payung terkembang untuk melindungi mereka dari terik matahari, karpet-karpet yang tergelar, bahkan mesin-mesin pendingin udara yang menyemburkan udara sejuk untuk kenyamanan ibadah.

Semua yang menyenangkan itu membuat jatuh tersungkur dalam syukur saat mengingat dan membayangkan berabad-abad lalu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga serta sahabat-sahabatnya melakukan perjuangan Islam yang sangat tidak mudah, dengan kondisi alam di Jazirah Arab yang tak bersahabat serta budaya setempat yang tidak kondusif. Dan membandingkan dengan kenyamanan serta semua yang membuat haru biru di tempat saya bersimpuh dan bersujud, bagaimana mungkin saya mengeluh? Saya tak bisa lain kecuali membiarkan airmata bahagia yang terus turun membasahi pipi.

Dan saat itu saya melihat di sekitaran, di depan, di belakang, kiri maupun kanan, memiliki wajah yang serupa, teduh dalam kebahagiaan beribadah memujiNya. Datang dari berbagai bangsa dan warna kulit serta dari segala penjuru dunia, berbalut pakaian yang bernada sama. Bertasbih, memuji namaNya, membaca kitabNya… menikmati undangan dariNya. Rasanya tidak ada rangkaian kata yang tepat untuk mewakili ungkapan rasa yang saya alami. Takkan pernah ada, takkan pernah cukup…

Saat itu, rasa penuh anugerah yang seperti mau meledak dan mendesak terus dari dalam, setiap detiknya, setiap menitnya itu, sungguh sebuah candu, membuat rindu, yang selalu ditunggu.

Saya pun mengamini apa yang dirasakan oleh teman-teman dan kerabat yang pernah menjalankan ibadah umroh terlebih dahulu bahwa semua kebahagiaan selama berada di Makkah dan Madinah itu selalu ingin diulang. Bahagianya itu seperti orang sedang jatuh cinta, ingin selalu berada berdekatan dan merasakan terus mencintai dan dicintai. Namun berbeda dengan rasa jatuh cinta pada manusia lain yang biasa menimbulkan keegoisan berdua dengan orang yang dicintai, rasa bahagia di Makkah dan Madinah ini tidak ada rasa ingin menguasai, bahkan meningkatkan rasa berbagi dan mengikis rasa mendahulukan kepentingan diri sendiri. Mungkin rasa bahagia itu berada di tingkatan yang lebih tinggi…


Dan yang tak kalah penting di akhir tahun 2019 lalu itu, dengan susah payah saya sungguh menahan airmata bahagia saat bus meninggalkan perbatasan Jordan menuju bumi Palestina. Setelah puluhan tahun memendam impian untuk sampai ke bumi Palestina, akhirnya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri Masjid Al Aqsho, saya berdiri di halamannya, bisa menghirup dan menghembus harum udaranya, juga beribadah di dalamnya. Bumi para Nabi. Bahkan sampai sekarang saja, setiap menuliskannya airmata saya selalu meleleh merasakan betapa besar anugerah yang saya terima. Alhamdulillah…

Jika saja saya bisa, rasanya ingin waktu berhenti agar saya bisa berlama-lama menikmati setiap detil kenangan saat berada di Bumi Palestina. Namun manusia ini serba terbatas, meski keinginan bisa liar tanpa batas. Sebisa mungkin saya merekam semua yang dirasakan berada di tempat yang dipercaya sebagai titik awal peristiwa Isra’ Mi’raj.

Tidak hanya itu, berada di Jerusalem membuat saya juga mengingat kembali kisah-kisah yang pernah didengar semasa mengenyam pendidikan di sekolah Katolik berpuluh tahun lalu. Menyusuri lorong-lorong kota tua Jerusalem tak bisa terhindar dari Via Dolorosa (jalan kesengsaraan yang diyakini dilalui oleh Yesus hingga ke Bukit Golgota). Juga, lalu lalangnya rabbi Yahudi dan banyaknya sinagoga di kota ini membuat kebahagiaan tersendiri. Lagi-lagi saya setengah percaya sedang berada di kota Jerusalem, kota yang menelurkan begitu banyak kisah di kitab-kitab suci tiga agama.

Dome of The Rock, Al Aqsho complex
Al Aqsho’s courtyard

Meskipun saya masih berangan-angan untuk mengunjungi Varanasi yang merupakan salah satu kota suci umat Hindu di India, saya tak kecil hati. Di Kathmandu, Nepal saya juga sempat mengunjungi Pashupatinath, salah satu kuil suci Hindu yang memberikan kebahagiaan tersendiri. Juga mengunjungi kuil Changu Narayan di Kathmandu yang memberikan saya begitu banyak keajaiban yang membahagiakan dan tentu saja ke Muktinath, salah satu kuil Hindu yang sederhana namun menjadi salah satu yang sangat sakral.

Jika saya diberikan umur panjang, sepertinya saya masih berkeinginan untuk mengunjungi tempat-tempat suci di dunia ini. Kebahagiaan berada di tempat-tempat itu tak bisa diabaikan begitu saja. Addictive


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-47 bertema Happiness agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Belajar Menerima Dari Bencana


“Maaf Ma, Pa, air sudah masuk ke rumah, tapi listrik masih nyala…”

Begitu pesan Whatsapp yang saya baca dari anak saya yang berada di rumah sementara kami sedang berada ribuan kilometer dari rumah. Sebanyak apapun pengalaman suami dan saya menghadapi banjir di Jakarta, kami tak bisa berbuat apa-apa di saat tak berada di tempat kejadian. Hati saya terbelah meskipun saat itu saya berada di tempat yang paling saya impikan sejak kecil, Palestina. Berita itu memporakporandakan antusiasme sebuah perjalanan batin, meskipun hari itu adalah hari terakhir menuju pulang ke tanah air.

Transit di Abu Dhabi tidak lagi menggembirakan. Kami ingin cepat sampai di rumah karena rumah adalah base-camp kami. Abu Dhabi bisa didatangi kembali lain waktu tapi rumah tetap prioritas nomor satu.

Tak terbayangkan anak-anak kami yang telah berbuat maksimal menghadapi musibah banjir di rumahnya sendiri, berupaya menyelamatkan barang-barang yang mampu mereka selamatkan. Banjir mereka yang pertama, yang harus dihadapi sendiri tanpa kehadiran orangtua. Banjir yang datang pada malam hari, tanpa mereka sadari, datang menerjang dengan cepat, menggenangi dan terus merambat naik, dalam keadaan listrik yang masih menyala. Ketika pagi datang, mereka tak bisa berbuat banyak kecuali hanya menyaksikan lantai dasar rumahnya telah terendam 70 cm dengan barang-barang yang sudah jungkir balik. Mereka hanya bisa menunggu di lantai dua sampai listrik dimatikan PLN untuk bisa bergerak melakukan penyelamatan terhadap sisa-sisa barang yang bisa diselamatkan. Lalu setelahnya, dengan segala pertimbangan matang, mereka mengirim pesan Whatsapp di atas.

Sekuat apapun kami mempersiapkan hati sesampainya di Jakarta awal Januari 2020 itu, rasanya tetap masygul menyaksikan isi rumah berantakan diterjang banjir. Air memang sudah surut tetapi ada rasa campur aduk melihat apa yang ada dan membayangkan pekerjaan di depan mata yang tak bisa terhindarkan. Rasa syukur berlimpah karena indahnya perjalanan Umroh ditambah kunjungan ke Al Aqsho seharusnya masih tinggi memenuhi dada, meskipun faktanya ada juga rasa sedih dan rasa kehilangan yang menyambangi jiwa.

Beruntung ada ART dan suaminya yang cekatan membersihkan lalu menata kembali seisi rumah, sebisa mereka. Tetapi jejak banjir tak mampu menyembunyikan betapa hebatnya banjir kali ini. Rasanya bagaikan bumi dan langit, keadaan rumah saat kami tinggalkan saat berangkat dan saat kami kembali, apalagi anak-anak sempat mengambil foto saat barang-barang seperti kulkas, lemari telah terhempas dan sofa-sofa mengambang.

Getir memang. Banjir yang ‘numpang lewat’ itu meninggalkan jejak yang tak sedikit. Begitu banyak barang yang harus dibuang, termasuk album-album foto lama yang belum sempat saya digitalkan. Ada banyak buku yang berada di lantai 1 yang harus saya buang. Ada banyak cerita, ada banyak kenangan yang hilang bersama banjir.


Vatsala Devi, 2014
Ruins of Vatsala Devi temple, 2017

Awal November 2014

Saya melakukan perjalanan solo ke Nepal, sebuah perjalanan yang amat mengesankan bertabur keluarbiasaan jika tak boleh dibilang keajaiban. Sebagi orang yang mengagumi sebuah kawasan World Heritage Site, saya terpesona dengan semua Durbar Squares yang ada, dari Kathmandu, Patan hingga Bhaktapur. Bahkan saya sempat berada di dalam keriuhan festival di Kuil Changu Narayan. Juga bisa menyaksikan secara langsung wajah Kumari The Living Goddess, Sang Dewi Hidup dari Kathmandu Durbar Square. Menyaksikan keindahan Himalaya dari jendela pesawat. Begitu indah.

April 2015, Gempa bumi besar melanda Nepal

Hanya berselang enam bulan setelah perjalanan istimewa saya itu, sebagian besar World Heritage Site yang saya saksikan rusak bahkan ada yang runtuh total. Gempa besar yang membuat longsor, menimbun rumah dan makhluk, tanah bergerak membuat manusia berteriak. Begitu banyak rumah dan bangunan yang hancur serta sekitar 9.000 orang melepas nyawa mereka.

Air mata saya jatuh saat membaca berita. Kathmandu Durbar Square yang sebelumnya memiliki kuil-kuil megah, mendadak tinggal undakan-undakannya. Padahal saya begitu terpesona di tempat itu. Juga Kuil Changu Narayan yang disakralkan, tempat saya berbaur dengan para wanita yang berbahagia pada perayaan Ekadhasi, mendadak kuil itu rusak parah terkena gempa bumi. Tak beda di Patan Durbar Square, kuil-kuil berusia ratusan tahun itu runtuh ke tanah. Di Bhaktapur Durbar Square juga tak beda. Kuil-kuil cantik juga runtuh, padahal saya berlama-lama di tempat itu.

Begitu kuat kenangan itu, sehingga saya merasa begitu kehilangan semua keindahan yang pernah saya saksikan enam bulan sebelumnya.

April 2017

Dua tahun setelah gempa besar itu, saya kembali ke Nepal. Gundahnya saya akibat gempa itu membuat saya hanya menyempatkan diri ke sebuah sudut di Bhaktapur Durbar Square. Saya juga tak pergi ke Kathmandu Durbar Square atau Patan Durbar Square. Bisa jadi saya terlalu sedih untuk menyaksikan hilangnya world heritage itu.

Di tahun 2017 itu, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seakan tak menerima kenyataan ketika berada di Vatsala Devi temple yang rata dengan tanah ketika terjadi gempa. Padahal saat 2014 lalu, kuil itu begitu cantik menghias Bhkatapur Durbar Square.

Bhaktapur Durbar Square, 2014
Bhaktapur Durbar Square, 2017

Ada banyak contoh lain dampak sebuah bencana dari yang sebelumnya cantik, bagus, keren, indah dan sebagainya menjadi sebuah yang menakutkan, hancur berantakan, babak belur atau luluh lantak. Ada juga yang namanya penyempurnaan atau perbaikan, Dari yang awalnya kurang baik menjadi lebih baik. Semua bermakna sama: perubahan. Jika hasilnya lebih buruk daripada sebelumnya maka itulah yang disebut bencana. Namun jika hasilnya dianggap lebih baik dari sebelumnya, maka hal itu disebut penyempurnaan, menjadikan sesuatu lebih mendekat pada kesempurnaan,

Padahal rasanya pasti serupa. Saya juga merasa getir dan masygul ketika sampai di rumah menghadapi amukan bencana banjir Januari awal tahun ini. Saya juga tak mampu bahagia melihat kuil cantik yang dahulu ada kini hanya tinggal nama. Rasanya begitu manusiawi memiliki rasa-rasa itu.

Hanya saja, tak baik memeliharanya lama-lama.

Dengan memelihara sedih atau gundah itu bisa bermakna terikat pada sesuatu yang sebelum hilang itu, pada sesuatu yang sebelum hancur.

Padahal hancur juga kan? Hilang juga kan? Jadi sebenarnya untuk apa merasa masygul berkepanjangan? Untuk apa merasa sedih berlama-lama?

Jika bencana itu sudah seharusnya terjadi, maka bencana itu pasti terjadi. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi ketika mengetahui banjir yang cukup dalam menerjang rumah. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali geleng-geleng kepala ketika berdiri di dekat reruntuhan kuil Vatsala karena gempa besar Nepal.

Pada suatu titik, akhirnya kita hanya bisa menerima.

Seperti seorang bayi yang baru lahir, hanya bisa menerima dan terus belajar menerima lalu bereaksi untuk tumbuh.

Bahkan bencana-bencana itu merupakan pembelajaran yang hebat


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-42 bertema Before & After agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Broken Heart, Hollow Inside Or Change It


Adakah orang yang tak pernah patah hati dalam hidup? Karena patah hati tak melulu karena putus cinta. Lebih luas dari itu. Kita mengalami patah hati, -bukan hati yang patah secara fisik-, sebagai ungkapan akan derita emosi yang amat dalam dirasakan oleh seseorang karena kehilangan orang yang dicintainya, yang bisa datang melalui kematian, perceraian atau putus hubungan, dan berakibat keterpisahan fisik atau penolakan cinta.

Saya juga mengalaminya.

Pohon-pohon tak berdaun

Saya pernah patah hati karena putus cinta. Dia telah memenuhi semua kriteria menjadi calon pendamping hidup dalam pernikahan, tetapi saya mengabaikan satu kriteria yang paling dasar (Mungkin bukan mengabaikan melainkan mencengkeram kuat sebuah harapan). Agama.

Nasehat-nasehat orang lain agar jangan meneruskan hubungan yang tidak seiman, memang saya dengarkan tetapi tidak cukup untuk membubarkan. Saat itu kami belajar melebarkan toleransi terhadap ibadah. Saling mengingatkan, saling menjaga, saling mendukung. Dan rasanya begitu indah.

Hingga satu hari yang paling menyakitkan, tepat dua tahun dari tanggal yang sama kami memulainya. Saya mungkin yang memulainya, bisa juga dia. Rasanya sama, pancaran mata kami sama. ‘Kartu-kartu’ kami dihamparkan di hadapan. Kami berdua menolak fakta, tetapi itu sangat nyata. Di tanggal yang sama, tepat dua tahun setelah kami memulainya, kami sama-sama memegang sebuah bola kristal harapan yang hancur meremuk dengan kepingan yang begitu kecil. Jalan kami berbeda.

Saya hancur, dia juga. Harapan itu sirna mendadak. Tak akan ada pernikahan. Airmata tumpah tak terbendung. Terlalu pahit untuk melepas seseorang yang telah begitu dekat di hati, rasanya seperti palu yang menghantam kesadaran saya. Meski tetap hidup, hari-hari itu terasa kelabu. Tak ingin makan, tak ingin keluar, tak ingin kemana-mana, tak ingin melakukan apa-apa. Saya menangis terus. Hidup rasanya hampa. Kosong. Semua terasa kabur, tak nyata, blurred. Hollow inside.


Dan berpuluh tahun setelah momen patah hati itu, saya mengalaminya lagi. Kepergian Papa hanya tiga hari sebelum ulang tahun saya, membuat saya menjalani momen-momen bahkan hari-hari setelahnya dengan perasaan yang hampa meskipun kalimat-kalimat penghiburan, doa dan atensi terus menerus dilimpahkan kepada saya. Semuanya tak bisa mengisi hati yang sedang terbelah. Bahkan sehari setelah prosesi pemakaman Papa, kepergian saya sekeluarga ke Jepang pun tidak dapat mengisi hati yang terus merembeskan airmata itu. Hati saya patah berkeping-keping, serupa dulu…

Tidak ada kata tepat yang dapat menjelaskan bagaimana perasaan hampa yang saya rasa itu. Hanya saja seperti zombie, bisa bergerak tapi tak sesungguhnya hidup. Mata melihat, namun dengan pikiran yang tidak mengarah kepada apa yang disaksikan. Semua terasa sama, warnanya sama, kelabu samar. Mungkin saya bisa tersenyum, tetapi senyum tak diikuti rasa. Saya mungkin bisa sesaat menikmati perjalanan, tetapi momen berikutnya bisa menggigit bibir bertumpah airmata. Saya ingat saat terbang menuju Tokyo. Mata memang memandang keluar jendela pesawat bersamaan mengalirnya airmata membasahi pipi tanpa dirasa. Tak banyak kata, tak banyak cerita. Saya lebih banyak diam seribu bahasa.

Saat itu saya menangisi kemortalan manusia sebagai makhluk yang bernyawa yang pasti akan mati dan berpisah dunia. Kematian telah memisahkan saya dengannya dan membuat saya patah. Patah yang sesungguhnya. Hancur lebur dan membuat semuanya hilang. Hampa.


Namun tidak pernah ada yang sia-sia begitu saja…

Alam telah memiliki aturan untuk berjalan sedemikian rupa, bahkan saya pun bisa belajar dari sebuah kehampaan. Sebuah kehampaan yang datang dari peristiwa berpindah dunia maupun karena putusnya hubungan cinta.

Dan di setiap momen waktu yang berlalu, ada pilihan-pilihan hidup yang harus diambil oleh seorang manusia. Juga saya, pada saat-saat itu.

Setiap manusia termasuk saya, memiliki pilihan yang sama. Pilihan itu muncul mungkin tanpa disadari sepenuhnya. Selalu ada dua pilihan: Status quo atau berubah.


masih ada sedikit daun untuk bertahan

Dan Sang Pencipta telah memberikan daya dan kekuatan begitu besar kepada manusia untuk menjalani kehidupan ini berdasarkan pilihan-pilihan yang diambilnya.

Juga kepada saya ketika mengalami hati yang terbelah karena putus darinya.

Hanya saja saat itu saya memilih status quo. Saya membiarkan diri berlama-lama dalam rasa yang ‘hampa’ itu. Saya biarkan pembelajaran lain dibelakangnya untuk datang dalam bentuk yang lebih berat untuk dijalani. Hepatitis menghampiri, demam tinggi lalu pingsan tak sadarkan diri. Bolak-balik rumah sakit menjadi sebuah rutinitas karena harus cek lagi dan lagi. Sebuah konsekuensi atas pilihan status quo itu.

Jika saja disadari lebih awal, tentunya saya tak akan memilih status-quo itu karena ternyata berlama-lama menjalani rasa hampa itu tak enak akibatnya. Tetapi Dia Pemilik Waktu selalu menyediakan momen untuk berubah, cepat atau lambat.

Apapun penyebabnya, -kehampaan karena berakhirnya sebuah hubungan atau karena kematian-, suatu saat akan datang kesadaran bahwa sebelum hari kelabu itu pernah datang hari-hari gembira dan ceria, penuh cahaya gemerlap, penuh pelangi warna-warni. Lalu apakah saya mau mempertahankan warna yang kelabu selamanya? Tentu saja, serta merta pilihannya datang kembali, Status quo atau berubah?

Dan selalu ada momen untuk berubah, cepat atau lambat.

Dan saya memilih berubah karena saya ingin hidup saya penuh warna lagi meskipun untuk mencapai itu tidaklah selalu mudah. Tetapi bukankah selalu dikatakan orang, mungkin memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa, bukan?

Seperti segala sesuatu hanya bergantung kepadaNya, demikian pula upaya perubahan yang harus saya jalani. Perpisahan dengannya berpuluh tahun lalu itu memang harus terjadi untuk sesuatu yang lebih baik dalam kehidupan saya dan dia. Memang memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk saya, tetapi kini kami semua telah berbahagia dengan pilihan hidupnya masing-masing. Masing-masing dari kami harus mengalami sesuatu yang tak nyaman, yang tak membahagiakan untuk mendapatkan yang seharusnya.

Demikian juga kepergian Papa yang merupakan keputusanNya yang terbaik bagi kami sekeluarga. Saya belajar dari banyak kejadian yang telah lalu, berlama-lama menangisi hidup tak akan mengubahnya kecuali tersadar dan berani mengambil sebuah pilihan untuk berubah menuju yang lebih baik.

There’s something good appearing

If you want to reach out for something new, you must first let go what’s in your hand

Sonia Choquette

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-39 bertema Empty agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

If Not Now, Then When?


Pertanyaan itu terjadi di tahun lalu, ketika di dalam hati sudah muncul niat yang semakin kuat untuk menjalankan ibadah Umroh. Sang Maha Pencipta telah bertahun-tahun mengetuk pintu hati saya, membangunkan jiwa saya karena Dia tak pernah lelah mengajak saya untuk melakukannya. Dan memang jika waktunya telah tiba, semua akan terjadi … if not now, then when?

Seperti yang dituliskan pada kisah Umroh di postingan Pilgrimage 1: Menuju Kota Cahaya, bisa dibilang perjalanan itu termasuk tiba-tiba. Hanya sekitar dua bulan sebelum keberangkatan, keputusan itu diambil. Meski jauh sebelumnya, tentu saja sudah ada keinginan menjalankan umroh yang bagi saya sifatnya ‘timbul tenggelam’

Ketika teman-teman saya hampir semua telah menjalankan ibadah Umroh dan bahkan telah berhaji bertahun-tahun lalu, saya sendiri lebih sering melanglang buana ke tempat-tempat lain. Sampai akhirnya memang datang waktunya untuk saya menghadapi sendiri panggilan itu.

Pratinjau(buka di tab baru)

Praktis, setelah kepergian Papa saya di bulan Desember 2018 lalu, saya seperti berhenti dalam waktu. Saya lebih banyak berdiam di rumah, tak berencana melakukan perjalanan seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan dalam tahun 2019 itu, saya hanya pergi ke Myanmar dan Singapura, bukan ke negeri-negeri baru yang belum pernah saya datangi, seperti yang biasa saya rencanakan.

Sejak tahun 2019 itu, muncul keinginan untuk melakukan perjalanan ke dalam diri, bukan ke tempat-tempat baru. Hanya ke dalam diri sendiri. Keinginan itu membuat saya lebih memilih di rumah, seakan-akan sebagian hati dan pikiran saya terikat di rumah. Membuat perjalanan di tahun itu, -meskipun tetap menyenangkan-, meninggalkan kesan lelah.

Akhirnya paruh kedua tahun 2019 itu, keinginan menjalankan ibadah Umroh itu semakin kuat. Saya mulai mencari biro-biro perjalanan Haji dan Umroh yang sesuai.

Selain mencarinya via internet yang hasilnya amat membingungkan, saya juga bertanya-tanya via keluarga, kerabat dan teman-teman yang sudah menjalankan ibadah umroh. Paling tidak mereka pasti bisa memberikan rekomendasi. Namun seorang teman secara jujur mengatakan, semua agen perjalanan itu sama saja. Pada akhirnya yang akan beribadah yang menetapkan penyesuaian itu.

Persis seperti melakukan perjalanan ke sebuah destinasi. Begitu banyak jalan yang dapat ditempuh yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Namun semuanya kembali kepada yang akan melakukan perjalanan itu sendiri. Artinya kembali ke saya lagi.

Jadilah, saya mencari jarum dalam tumpukan jerami. Benar, kata teman saya itu, akhirnya saya sendiri yang menentukan penyesuaian dengan kondisi dan situasi saya. Ada biro perjalanan yang diikuti oleh ratusan jemaah, ada yang sedikit, dengan harga yang murah sampai mahal. Semua itu mengerucut ketika saya memfilter ketersediaan paket di akhir bulan Desember sesuai rencana cuti suami dan saya. Rupanya di biro-biro terkenal paket perjalanan umroh akhir bulan Desember sudah penuh karena merupakan paket favorit. Dan karena saya hanya memiliki waktu di akhir bulan Desember, maka paket-paket yang tersedia tinggal sedikit.

Saya sudah menimbang-nimbang untuk memilih salah satu biro perjalanan ketika keinginan sedari kecil tiba-tiba muncul ke permukaan. Mengapa tidak sekalian ke Masjid Al Aqsho?

Selain ibadah ke Makkah dan Madinah, tidak keinginan yang begitu berdiam lama seperti keinginan saya melihat dan beribadah langsung di Masjid Al Aqsho!

Yang terjadi kemudian, keinginan itu meleburkan semua biro perjalanan yang tadinya sudah mengerucut. Saya mulai lagi dari awal. Apakah ada biro perjalanan Umroh plus Al Aqsho di akhir tahun dan masih tersedia kursi? Jawabannya hanya ada beberapa. Dan memang Dia Yang Maha Mengatur telah membukakan jalan bagi saya untuk mewujudkan keinginan yang sudah terpendam begitu lama.

Meskipun demikian, tetap saja saya masih ragu karena harganya relatif mahal. Hampir dua kali lipat dari harga perjalanan umroh biasa. Lalu saya berpikir kembali, apakah saya melakukan umroh saja tanpa Al Aqsho dan merencanakan perjalanan ke Al Aqsho di lain waktu? Lalu apakah saya masih diberikan kesempatan di lain waktu untuk ke Masjid Al Aqsho? Tetapi kapan lagi bisa melakukan perjalanan ibadah ke tiga masjid utama dalam satu kali perjalanan? Dan banyak lagi pertanyaan yang membuat maju mundur…

Saya membiarkan waktu berlalu…

Lalu saat itulah hati saya diketuk if not now, then when?

Diketuk begitu, saya seperti tersadarkan. Sambil menarik nafas panjang, menutup mata, saya memohon kepada Dia Yang Maha Pemilik Kehidupan. Telah datang waktunya untuk berserah diri semuanya kepadaNya. Jalan telah dihamparkan, mengapa harus ada keraguan?

Berapa harga yang bisa saya berikan untuk sebuah perjalanan batin yang pastinya akan indah?

Saat itulah, saya mengambil keputusan untuk berangkat dengan salah satu biro perjalanan untuk menjalankan ibadah umroh plus Aqsho.

If Not Now, Then When?

Kawasan Al Aqsho

Meskipun sampai sekarang saya belum menyelesaikan untuk menuliskan kisah-kisahnya, tetapi bagi saya, saat itu adalah sebuah keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Perjalanan itu dimulai di minggu ketiga bulan Desember 2019 hingga ke minggu pertama tahun 2020. Perjalanan batin yang begitu menggugah dari Masjid An Nabawi, Masjid Al Haram dan berakhir di Masjid Al Aqsho.

Siapa yang sangka bahwa tak lama setelahnya Kerajaan Arab Saudi menutup akses untuk ibadah Umroh karena merebaknya virus COVID-19 yng berkelanjutan dan menimbulkan sebuah pandemi, yang hingga tulisan ini dipublish, belum juga dibuka kembali? Seandainya saat itu saya membiarkan diri untuk terus menunda, pastinya perjalanan indah ketiga Masjid itu belumlah terwujud hingga kini.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-35 bertema Now agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Cherish Simple Little Things


Ketika membaca sebuah berita tentang adanya penemuan bayi malang yang telah disia-siakan oleh orangtuanya, sering saya terpikir bagaimana kelanjutan hidup si bayi itu. Bagaimana ia dibesarkan. Jika saja ia dibesarkan oleh orang yang menemukannya, -meski dengan penuh keterkejutan pastinya-, kemudian mencintainya dan membesarkan tanpa pamrih, alangkah indahnya kehidupan si bayi.

Mungkin awalnya seperti kisah burung yang membawa bayi dalam paruhnya lalu meletakkannya di depan pintu rumah pasangan yang belum memiliki keturunan. Terbayang bagaimana terkejutnya pasangan yang menemukannya…

Entah itu doa yang dikabulkan atau ada rencana lain dari Sang Pemilik Semesta… Namun, pastinya selalu baik. 

Hal yang serupa ternyata menyambangi saya juga. Tentu saja saya terkejut dengan apa yang terlihat di teras depan rumah. Tentu saja bukan bayi manusia, melainkan induk kucing dan seekor anaknya 😀 😀 😀

Ya Tuhan, saya ini sudah kapok mengadopsi makhluk bernyawa sebagai pet entah anjing, kelinci atau ikan. Saya sudah tidak mau merasakan kembali pedihnya hati merasa kehilangan. Duluuuu ketika anjing saya mati, saya menangis seminggu. Rasa kehilangan yang amat pedih juga saya rasakan ketika kelinci atau ikan peliharaan mati. Jadi, no more pet di rumah saya!

Tapi bukan berarti saya tidak bisa merasakan bahagianya melihat tingkah laku hewan domestik itu karena saya follow akun-akun di Instagram tentang kucing atau anjing yang memposting semua tingkahnya yang lucu-lucu. Tak perlu memeliharanya namun bisa merasakan bahagianya.

 

Dan ujug-ujug Tuhan mengirimkan induk dan anaknya ke teras rumah saya! 😀

6

Jadilah dua minggu terakhir ini saya mendadak punya kesibukan baru, browsing tentang kucing. Dalam seminggu saya beberapa kali membeli makanan kucing dalam kemasan, baik yang kering maupun basah. Lucunya semua penghuni rumah mendadak ikut sibuk dengan si kucing melihat aktivitas saya.

Pagi sebelum ke kantor saya pasti melihat kucing dan memberinya makan ditambah susu. Dan ada tambahan pekerjaan untuk suami yaitu buka kap mesin dan melihat kolong mobil karena si anak kucing lincahnya bukan main dan sering masuk ke mesin mobil. Lucunya, kita jadi bermain cilukba dengan si anak kucing. Kami pelan-pelan membuka kap mesin dan baaaa…. si anak kucing sedang duduk anteng di atas mesin, dia kaget sedikit melihat kami berdua hahaha… dan langsung lompat ke bawah, lari lagi ke induknya. By the way, tempat sembunyi si anak kucing itu ada di mesin motor yang memang saya parkirkan di atas teras rumah. Bagus banget kan dia memilih tempat sembunyi? 😀 😀 😀

5

Dan karena masih kecil, saya sibuk menyuapi si anak kucing. Lucu sekali, seperti punya anak bayi lagi hahaha… Anak saya yang phobia dengan kucing bahkan melihat juga (dari jauh tapi 😀 )

Setelah makan, biasanya saya menggoda si anak kucing untuk bermain dengan lidi yang diujungnya digantungkan kain perca. Dia mengejar, mencoba menangkap kain yang memantul-mantul. Kelihatan sekali gemasnya karena gagal menangkap. Dia melompat setinggi-tingginya, kadang duduk di atas kaki belakangnya sampai terjerembab ke belakang. Dan kalau sudah jengkel, dia lari ke induk atau ke motor. ‘Jual mahal‘ terhadap saya tetapi tetap saja dia mengintip-intip. 😀

Selagi saya bermain dengan anaknya, si induk kucing goleran di teras dengan mata kreyep-kreyep. Mungkin tahu anaknya aman bersama saya.

Senangnya saya tiba-tiba mendapat kelucuan di depan mata setiap hari. Ada saja kelakuan si anak kucing kecil yang menyenangkan terjadi setiap hari.

Tetapi mereka, -si induk dan anak kucing-, tetap bebas menempati teras rumah yang dari sana bisa berjalan kemana saja. Saya berkali-kali mengatakan kepada diri sendiri bahwa mereka datang karena rencanaNya dan suatu saat mereka juga akan pergi meninggalkan teras karena rencanaNya juga.

Kucing memang sering terlihat di Indonesia, berjalan di antara kaki kita, atau di rumah-rumah yang mengadopsinya, di pinggir jalan, di pasar. Kucing jalanan memang tak jarang mengais tempat sampah atau mendadak menyeberang jalan. Tak jarang manusia overlooked terhadap mereka, melihat tapi dianggap tak ada.

Ada, tapi tak ada. Just little things…

Dan jangan terkejut jika tiba-tiba Pemilik Semesta mengirimkan mereka…

1

Cherish simple things such as family, friends and love, because great things appear simple from far away. Place your simple things in the best light; there’s enough sunshine for all of them ― Val Uchendu


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-31 bertema Simple Things agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu.

Pilgrimage 4: Menuju Tempat Utama


25 Desember 2019

Insya Allah, ini harinya, nanti malam…

Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka

madinah3
Masjid Nabawi Yang Selalu Dirindukan

Setelah hari-hari sebelumnya saya menikmati ibadah di Masjid Nabawi dan menyempatkan juga berkeliling kota Madinah, maka tiba hari setelah waktu dzuhur akan meninggalkan kota Cahaya, kota yang telah membuat saya jatuh hati. Kenyataan yang membuat hati langsung mengerut, saya akan meninggalkan Masjid Nabi, sebuah tempat yang selalu menenteramkan jiwa. Dan waktunya melanjutkan menuju yang utama. Di antara kerinduan melihat Ka’bah, terselip juga rasa cemas. Kecemasan manusiawi dari diri yang telah bergelimang dosa. Ya Allah, ampuni kami…

Saya mencoba menghilangkan kecemasan itu dengan membantu suami mengenakan pakaian ihramnya. Untung saya sempat mengabadikan Pak Ustadz yang mencontohkan prosesnya waktu manasik. Tips-tipsnya amat berguna (mungkin kapan-kapan akan saya tuliskan cara mengenakan pakaian ihram agar tidak melorot meskipun tanpa sabuk).

Sesaat sebelum meninggalkan kamar, sebersit rasa menyeruak keluar. Ya Allah, ada kerinduan untuk tinggal di Madinah tapi undangan berumroh tak kalah kuatnya. Ada saat datang, ada saat pergi…

Di lobby hotel, tampak orang berkerumun dari beberapa grup travel. Ada yang baru check-in dan ada pula yang check-out seperti kami. Bisnis hotel di Madinah ini berjalan luar biasa, meskipun menurut saya, frontliners hotel ini tidak menerapkan service excellence.

Saya mendekat ke rombongan kami dan disambut oleh wajah-wajah cerah dari para ibu.

Ya ampun Bu, gamisnya bagus sekali, putih bersih… Keren“, kata mereka melihat pakaian yang saya kenakan. Saya tersipu menjelaskan bahwa saya membelinya di toko yang ada di lorong-lorong dekat Masjid. Saya tahu, mereka amat prihatin dengan belum ditemukannya koper saya. Dan mereka ikut gembira dan bahagia melihat saya tampil serupa dengan mereka.

Yang penting, putih dan bersih”, lanjut saya tersenyum lebar.

Teringat ketika membelinya, sepulang dari Mesjid. Suami dan saya secara tak sengaja menemukan lorong yang mengarah ke toko-toko yang mengingatkan saya akan Tanah Abang atau ITC di Jakarta. Saya amat terbantukan oleh mereka yang berjualan dan membolehkan kami membayar dengan uang Rupiah bahkan komunikasinya juga dilakukan dalam bahasa Indonesia. Rasanya tak berada jauh dari tanah air. Bahkan sekilas terlihat baju-baju gamis dan khimar (jilbab panjang) yang dipajang tidak jauh beda dengan yang biasa terlihat di toko-toko di Tanah Abang atau ITC-ITC di Jakarta. 

Setelah diperbolehkan untuk naik ke bus, sang suami mengajak saya segera ke bus. Ia memastikan koper kami yang tinggal satu itu masuk ke dalam ruang bagasi bus. Lalu di atas bus, dengan setengah bercanda saya mengatakan kepadanya bahwa saya kasihan terhadap koper suami yang sendirian tak punya teman. Karena pasangan suami isteri dalam rombongan selalu memiliki dua koper sedang kami hanya punya satu, karena koper saya sedang jalan-jalan sendiri entah kemana. Tanpa berkata suami yang telah mengenakan pakaian ihram itu menepuk-nepuk tangan saya agar tak berpikir lagi mengenai koper.

Tapi saya tidak berpikir soal koper, melainkan analoginya. Bukankah tadi saya berkata tentang koper pasangan ada dua dan yang satu jalan-jalan entah kemana? Bukankah tadi saya mengasihani koper suami? Bisa jadi rasa iba saya tadi menjadi wakil dari rasa iba banyak orang, melihat seringnya suami bersama anak-anak ditinggal saya yang pergi jalan-jalan sendiri (solo-travelling). 

Saya terdiam menggigit bibir mengikuti alur pikiran sendiri, melempar sebuah pertanyaan main-stream yang tak mudah dijawab, apakah memang demikian pandangan banyak orang melihat seorang isteri yang melakukan solo-travelling? Saya sendiri tak mampu berkata setuju maupun tidak, namun hanya bisa menyimpan pemikiran ini ke dalam hati sebagai masukan yang indah.

madinah1
Gedung-gedung di dekat Masjid Nabawi, Madinah

Dari atas bus, kami masih menunggu mereka yang belum check-out sambil menyaksikan denyut nadi kota Madinah yang kebanyakan berlalu-lalang dari dan ke Masjid. Kota yang selalu diberkahi Allah, entah kapan saya bisa kembali ke kota ini. Ah, saya pasti merindukan kota yang damai ini.

Setelah semua lengkap, bus beranjak pelan menuju hotel bintang lima untuk menjemput sebagian dari rombongan kami. Menjemput mereka yang tinggal di tempat yang lebih mahal ini, membuat saya teringat sesuatu. Meskipun mereka memilih hotel yang lebih mahal, bukan berarti mereka tak bisa menunjukkan kebaikan dan ketulusan hati. Salah seorang dari merekalah yang memberi tahu saya pertama kali untuk urusan yang amat krusial. Tempat mencari pakaian dalam!

Di Saudi Arabia, paling tidak di semua pertokoan yang saya masuki, tidak pernah terlihat perempuan yang menjaga toko. Semuanya laki-laki. Sehingga tidak mungkin saya menanyakan apakah mereka menjual pakaian dalam perempuan. Lalu, seandainya ada, bagaimana saya harus menjawab bila mereka menanyakan ukurannya? Tidak, saya memang kehilangan koper, tetapi saya tidak kehilangan kewarasan untuk mengobral hal-hal yang amat personal itu.

Lalu pertolongan itu datang dari seorang ibu yang menginap di hotel berbintang lima itu. Dia berbisik agar saya mencoba melihat-lihat di sebuah supermarket di dekat Masjid. Jika memang tidak ada, maka harus cari di mal yang untuk mencapainya perlu naik taxi. Saya percaya pertolongan itu datang dari arah mana saja. Dan benarlah, saya menemukan beberapa pakaian dalam yang cocok tanpa harus bertanya-tanya dengan laki-laki kemudian meminta suami yang membayarnya ketika berada di kasir. Selesai urusan.

Mengingat peristiwa itu, saya tersenyum mengangguk kepadanya ketika melihat mereka sekeluarga naik ke atas bus. Mata yang berbicara, sama-sama mengerti dan saling memahami satu sama lain.

Bus bergerak terus meninggalkan kota Madinah. Saya menguatkan hati dan janji untuk memenuhi panggilanMu ya Allah…

madinah2
Gedung-gedung di Kota Madinah

Dzul Hulaifah (Bir Ali) 

Dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah meninggalkan Madinah, sampailah kami di Dzul Hulaifah atau kini lebih dikenal dengan nama Masjid Bir Ali, tempat kami mengambil miqot (batas/awalan memulai ibadah utama Umroh dan mengucap niat Umroh). Pak Ustadz mengingatkan bahwa di Masjid ini selalu padat dipenuhi Jamaah sehingga jamaah harus hati-hati dan ingat arah ke titik kumpulnya.

Langit terlihat amat biru di Dzul Hulaifah, teramat kontras dengan warna putih dinding Masjid. Segera saja kami semua melaksanakan shalat sunnah 2 raka’at dan mengucap niat Umroh. Kemudian saya menunggu di titik kumpul. Sejauh mata memandang hampir semua jamaah diliputi pakaian ihram putih. Membuat berdegup saat terlintas bayangan akan manusia di padang mahsyar.

birali2
Biru Langit di atas Masjid Bir Ali

Setelah beberapa saat bus melanjutkan perjalanan lagi menuju Mekkah Al Mukarramah yang memakan waktu sekitar enam jam. Tepat sebelum berangkat Pak Ustadz mengulang mengucapkan niat Umroh yang diikuti jamaah lalu kalimat-kalimat talbiyah dikumandangkan lagi.

Saya memandang ke jalan di luar yang lebar, halus dan penuh rambu. Enam jam perjalanan dengan bus yang dilengkapi pendingin udara. Duduk di atas reclining seat dan tersedia makan serta minum. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di luar jendela terpampang alam yang kering dan tandus dengan gurun batu di sana sini membuat saya membayangkan perjalanan Rasulullah bersama para sahabat dan keluarganya empat belas abad yang lalu saat melakukan ibadah dari Madinah ke Mekkah. Dulu tak ada jalan rata yang mulus dan lebar. Tak ada kendaraan yang sejuk, bahkan tak ada bangunan batu ber-AC untuk beristirahat. Begitu sulit, begitu banyak kendala dan hambatan alam. Perjalanan hanya bisa dilakukan dengan menggunakan unta atau kuda, atau bahkan berjalan kaki. Berhari-hari, melewati malam yang kering dan siang yang amat terik.

Ya Rasul, Ya Nabi, begitu lama jaraknya, baru bisa kuikuti jejakmu…

Mekkah Al Mukarramah

Waktu terus berjalan, gelap mulai menyelimuti. Pak Ustadz bercerita banyak hal namun kemudian ia berkata, “Alhamdulillah kita telah sampai di batas kota Mekkah”.

Saya melihat perubahan pemandangan di luar jendela, karena sudah banyak bangunan yang menunjukkan sebuah kota. Lampu-lampu jalan yang terang.

Setelah beberapa menit, pak Ustadz kembali berkata,”perhatikan sebelah kiri…”

Otomatis semua jamaah menoleh ke kiri ke luar jendela. Terlihat ada yang terang dan tinggi di kegelapan malam. Pak Ustadz melanjutkan, “ke sanalah tujuan kita semua. Itulah jam yang ada di Masjidil Haram”.

Saya menggigit bibir, terasa sakit. Saya benar-benar berada di Mekkah! 

Mata tak terasa menjadi basah. Allah telah menggenapi janjiNya sehingga saya bisa sampai ke kota Mekkah setelah sekian puluh tahun hidup sebagai manusia. Saya juga menggenapi janji kepada ayah mertua untuk sampai ke Mekkah sepeninggalnya, meskipun perlu waktu bertahun-tahun. Juga janji kepada almarhum Papa bahwa saya bisa sampai ke Mekkah. Kepada almarhum Opa dan almarhumah Oma yang meneladani saya semasa kecil tentang menjalankan shalat. Dan Mama, yang telah terlebih dahulu berhaji dan menceritakan keindahan dan keajaiban Tanah Suci. Airmata saya meleleh tanpa bisa dihentikan.

Saya tak menyadari arahnya bus berjalan, karena masih terpesona dengan bayangan jam di Masjidil Haram. Tapi mendadak bus memasuki terowongan yang menutupi semua pemandangan. Rupanya rombongan yang menginap di hotel bintang lima diturunkan lebih dahulu. Keluar dari terowongan yang terlihat hanyalah manusia dimana-mana berjalan kaki. Kepadatannya melebihi apa yang saya lihat di Madinah. Luar biasa.

Dan sampailah kami di hotel, yang juga penuh dengan manusia. Tidak heran, karena bulan Desember merupakan peak season untuk melakukan umroh. Pembagian kamar dilakukan dengan cepat lalu dilanjut dengan makan malam.

Setelah makan malam itu, kami semua akan berjalan kaki menuju Baitullah.

Waktunya tiba untuk Umroh!

DSC00341
Clock Tower

 

Pilgrimage 3: Kenangan di Sudut-Sudut Madinah


Diantara waktu-waktu wajib untuk mendirikan shalat dan ibadah sunnah lainnya, masih tersisa waktu bagi kami para jamaah umroh untuk mengunjungi tempat-tempat yang menggenggam cerita perjuangan Rasulullah dan para Sahabat pada masanya yang terletak tak jauh dari sudut-sudut kota Madinah, Seperti pagi itu, setelah semua menyelesaikan sarapan, dengan menggunakan bus kami meninggalkan hotel menuju tempat-tempat yang penuh makna itu.

Tetapi entah mengapa, saya pribadi masih merasa tak bisa melepas hati yang tertinggal di Masjid Nabawi. Meskipun sempat berada hanya berpuluh meter dari makam Rasul untuk bisa berkunjung dan berdoa, saya masih belum berkesempatan bersimpuh dan berdoa di depan kuburnya dan juga Taman Nabi. Juga saya belum berkesempatan melangitkan doa di Baqi, tempat para syuhada menghabiskan tidur panjangnya. Seakan-akan kaki saya terikat pada keadaan di dalam Masjid dengan mata yang terpesona akan keindahannya saat-saat shalat dan tak bisa pergi dari situ. Meskipun badan ini berada di dalam bus yang tengah bergerak ke arah Selatan kota menuju Masjid Quba…

Quba
Masjid Quba

Pak Ustadz menjelaskan tentang Masjid Quba yang dulu dibangun oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam satu tahun setelah Hijrah dan disebut dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 108 sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa dan didalamnya terdapat orang-orang yang membersihkan diri. Konon Rasulullah sering mendirikan sholat di Masjid ini, sehingga dalam rangka meneladaninya jamaah Umroh biasanya sholat dua raka’at di Masjid Quba ini.

Bus berhenti tak jauh dari Masjid, lalu kami bergegas turun dan berjanji berkumpul lagi di dekat gerbang depan setelah selesai. 

Sebagai muslimah, saya mengikuti arah para muslimah lainnya menuju tempat wudu. Terperangah juga saya karena toilet dan ruang wudu terdekat amat penuh. Tetapi dasar rejeki anak sholeh 😀 saya seperti ditunjukkan untuk terus berjalan ke ujung yang di sana tidak terlalu padat. Alhamdulillah. Saya sampai tidak habis pikir mengapa banyak orang tidak mau berjalan sedikit lebih jauh untuk mendapat keleluasaan?  Lalu setelah selesai berwudu, saya menengok kiri dan kanan, tidak ada satu pun teman segrup di sekitar saya padahal ketika perginya masih berombongan. Waduh!

Karena telah terpisah dari rombongan, saya berjalan mengikuti arah pintu masuk khusus perempuan. Namun di depan pintu saya harus berhenti dan menunggu antrian shalat. Sedetik dua detik menunggu, tak diduga mata saya bertubrukan dengan petugas yang meminta saya segera bergerak ke kanan yang lebih sepi! Segera saja saya ikuti arahnya dan benar! Saya langsung mendapat tempat shalat yang amat nyaman paling depan. Alhamdulillah, segala puja dan puji bagiMu Ya Allah, begitu banyak saya mendapatkan kemudahan…

Di Masjid Quba ini, -menurut satu riwayat, shalat dua raka’at di Masjid ini mendapat ganjaran pahala setingkat umroh-, saya hanya menikmati sesaat saja untuk bersimpuh dan bersujud di hadapanNya untuk memohon ampunan dari segala kesalahan dan dosa, karena tahu ada begitu banyak jamaah lain yang mengantri. Masjid Quba memang salah satu Masjid favorit yang must visit bagi jamaah Umroh, sehingga memang biasanya padat. Termasuk, kata pak Ustadz dan juga pengalaman teman-teman, sikap agresif dari para pedagang yang berjualan di sekitar Masjid, yang membuat jamaah harus hati-hati dan waspada. Namun Alhamdulillah, kami segrup sama sekali tidak bersinggungan dengan para pedagang yang agresif.

Tak lama kemudian, di dekat gerbang banyak dari kami saling berfoto sambil menunggu kawan-kawan lain yang belum selesai. Saat itu, saya menengadah menikmati langit di atas Masjid Quba yang amatlah biru. Sangat kontras dengan warna putih dari Masjid. Apalagi berhias pepohonan kurma, Masjid Quba ini terlihat amat cantik.

DSC00323e
The Dates Farm

Setelah mengambil foto group, perjalanan kami dilanjutkan ke Kebun Kurma, yang katanya merupakan tujuan favorit jamaah dari Indonesia. Apalagi jika bukan berbelanja kurma! Saya terhenyak dengan apa yang terlihat di hadapan. Kurma-kurma berbagai jenis disusun rapi di atas rak dan para pedagang langsung saja merayu calon pembeli dalam bahasa Indonesia saat mereka mengetahui pengunjungnya adalah dari Indonesia. Saya tertawa bersama suami mendengar fasihnya mereka berbahasa Indonesia, rasanya seperti negeri sendiri.

Sayang bagi mereka karena saya tak suka berbelanja, meskipun kawan-kawan segrup berlomba untuk membeli kurma. Saya hanya mencicipi sedikit lalu jalan-jalan di kebunnya. Kebun kurma terlihat tak cukup indah karena panen sudah lewat. Meskipun demikian, salah satu dari mereka sempat memperagakan keahlian menaiki pohon kurma.

Setelah lama menunggu, -karena kawan-kawan segrup kami suka sekali berbelanja-, akhirnya bus berangkat lagi menuju sisi lain dari Madinah, menuju Jabal Uhud. Sebuah tempat yang penuh makna namun memedihkan hati.

DSC00315e
Uhud from the bus

Sejalan dengan cerita yang disampaikan Pak Ustadz, pikiran saya terbang mengingat kisah pedih Perang Uhud. Sebuah perang perjuangan Rasulullah dan para Sahabat untuk memenangkan Islam di muka bumi tiga tahun setelah Hijrahnya, melawan pasukan kaum Quraisy yang datang dari Mekkah sebagai penyembah berhala yang tidak bersedia ritual keyakinannya digantikan. Setelah perang hampir dimenangkan oleh Pasukan Islam, hanya karena tergoda oleh rasa kemenangan yang belum sampai di tangan, tergiur akan harta rampasan perang serta ketidakpatuhan kepada perintah pemimpin, akhirnya banyak pasukan Islam syahid terbunuh oleh Pasukan Quraisy yang memanfaatkan situasi sehingga kemenangan berhasil berbalik menjadi milik Pasukan Quraisy. Saya membayangkan para Sahabat dengan gagah berani berjihad sebisa mungkin menghalau pasukan Quraisy sekaligus melindungi Rasulullah ketika kemenangan sudah lepas dari Pasukan Islam. Sebuah kisah yang amat memedihkan, karena dalam perang yang sama Hamzah, Paman Rasulullah sebagai Pejuang Islam yang dikenal sebagai Singa Padang Pasir itu terbunuh teramat keji dan tak manusiawi.

Tapiiiii….

Saya yang sedang terguncang rasa karena teringat kisah heroik yang sangat luar biasa ini menyadari bahwa bus yang saya tumpangi ini berjalan terus dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Otomatis saya memandang Pak Ustadz di bagian depan Bus, dan mendengar penjelasannya bahwa memang bus ini hanya melewati saja dan tidak berhenti. Bahkan melewatkan juga pemakaman 70 syuhada perang Uhud… Dalam hati saya berteriak tak bisa menerima bus tidak berhenti di tempat bersejarah ini namun bersamaan waktunya kesadaran saya muncul bahwa akan lebih baik saya berdoa untuk mereka saat melewati pemakamannya.

Rasanya hati ini tersayat perih menyadari saya tak memiliki kesempatan menjejak di Bukit Uhud tempat Rasulullah pernah berjuang. Sudah begitu dekat…

Saya seperti anak kecil yang merajuk, memandang sedih Bukit Uhud yang semakin menjauh, one day, one day InsyaAllah… demikian getir hati berkata.

Lalu bus berjalan terus melalukan perasaan kecewa menuju sebuah tempat yang mungkin membawa sedikit ceria. Percetakan Al Quran Terbesar di Dunia, King Fahd Glorious Quran Printing.

Meskipun dari bus terlihat antrian masuk yang begitu panjang, bersama ibu-ibu lain saya turun juga. Namun begitu berada di ujung antrian, ternyata antrian untuk muslimah tidak begitu panjang dan saya bisa dengan cepat berjalan ke depan. Dan begitu sampai di dalamnya saya terpesona juga, begitu luas dan hebat percetakannya yang mampu menghasilkan 10 juta Al Qur’an setiap tahunnya.

Hingga kini, Percetakan Al Quran terbesar di dunia yang mempekerjakan lebih dari 1700 karyawan ini telah memproduksi ratusan juta Al Qur’an termasuk menerjemahkannya ke dalam puluhan bahasa dan karakter penulisan. Tidak hanya dalam bentuk hardcopy, melainkan dapat dibaca juga dalam bentuk digital. Untuk terjemahan dalam bahasa Indonesia bisa dilihat: Terjemah Al Qur’an dalam Bahasa Indonesia

Setelah puas menyaksikan kertas-kertas hasil cetakan itu menjadi kitab-kitab suci yang dimuliakan dan didistribusikan dengan menggunakan kendaraan khusus yang hilir mudik, saya meninggalkan tempat itu dan mendapat sebuah Al Qur’an yang diberikan secara cuma-cuma. Alhamdulillah, sebuah Al Qur’an asli dari Madinah.

Al Quran Madinah
Al Quran – Not For Sale

Karena waktu sholat sudah mendekat, tentu saja kami semua lebih memilih kembali ke Masjid Nabawi daripada mengunjungi tempat-tempat lain yang bersejarah. 

Dan berulang kembali sesuatu yang membuat hati miris, karena saya hanya bisa menyaksikan Masjid Qiblatain, -masjid dengan dua kiblat-, dari bus yang berjalan terus. Padahal Masjid Qiblatain itu memiliki kisah yang amat erat dengan Rasulullah dalam hal mengarahkan shalat dan berpindah kiblat dari Baitul Maqdis di Jerusalem menjadi Ka’abah di Mekkah. Sebuah tempat yang menjadi saksi bisu dari apa yang tertulis dalam surat Al Baqarah ayat 144. Saya hanya mampu menggigit bibir. Mungkin bagi kawan-kawan segrup yang telah berulang kali melakukan perjalanan umroh, tak merugi jika tidak turun di Masjid Qiblatain karena mereka sudah pernah. Tetapi saya dan beberapa orang yang belum pernah, tentunya ada rasa ingin shalat di dalamnya, menjejak buminya, bersimpuh dan bersujud serta menyentuh udara perpindahan kiblat itu. Tetapi lagi-lagi, kesempatan itu bukan milik saya… Ada rasa getir yang muncul di hati melihat Masjid Qiblatain semakin menjauh.

DSC00337e
Qiblatain Mosque from the bus

Tak berhenti disitu saja karena dari atas bus, saya juga hanya bisa memandang dengan sebersit keinginan untuk bisa menapaki Masjid Khandaq yang menjadi saksi bisu perang parit (Khandaq, dalam Bahasa Arab) yang terjadi pada tahun ke lima setelah Hijrah.

Pasukan Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah memiliki jumlah pejuang yang jauh lebih sedikit daripada Pasukan Quraisy, namun tetap saja Rasulullah dan pasukannya mampu mempertahankan Madinah karena adanya parit lebar dan panjang yang digali oleh pejuang muslim di sekeliling Madinah. Pembangunan parit sebagai pelindung sebelumnya tidak dikenal dalam pertempuran di jazirah Arab, namun karena peran Salman Al Farisi yang berasal dari Persia, membuat Pasukan Islam bisa menggegapgempitakan Allahu Akbar sebagai lambang kemenangan.

Sekali lagi di dalam hati ada suara, one day, one day InsyaAllah… meskipun tidak bisa shalat di Masjid Khandaq ataupun masjid Qiblatain, saya bersyukur sudah bisa begitu dekat. Sudah melihatnya meski dari jauh, meski dari atas bus. Saya sudah berkeliling dan membiarkan mata untuk melihatnya sebagai nikmat tak terhingga. Alhamdulillah…

Karena ada banyak manusia lain yang belum mendapat kesempatan untuk mendirikan shalat di Masjid Nabawi di Kota Penuh Cahaya ini, kota dengan sudut-sudutnya menerbangkan kenangan dan kerinduan…