Penuh Kain Kampuh di Candi Cetho


Sudah lama saya memendam keinginan untuk bisa pergi ke Candi Sukuh dan Candi Ceto, dua kompleks candi Hindu abad-15 yang saling berdekatan di ketinggian lereng seribuan meter Gunung Lawu, gunung yang ada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun keinginan-keinginan itu tetap menjadi keinginan saja karena terlibas oleh seribu satu alasan lain yang bagi saya lebih prioritas. Lalu kesempatan itu datang begitu saja, ketika kami memiliki satu hari kosong dalam libur lebaran beberapa waktu lalu.

Jadilah dengan berkendara pribadi, berjuang mengatasi jalan yang meliuk-liuk menanjak amat curam dan sempit, sampailah kami di Candi Cetho. Sengaja kami melewatkan dulu Candi Sukuh dengan pertimbangan akan mengunjunginya setelah kembali dari Candi Cetho.

Sebelum memasuki area parkir yang tidak cukup luas, saya sudah melihat sekumpulan orang memenuhi sekitar pintu masuk namun saya menganggap itu hal biasa. Namanya juga liburan, pasti banyak orang. Dan setelahnya, saya bergegas ke loket tiket masuk lalu mengantri giliran dibantu untuk mengenakan kain kampuh, kain putih berkotak hitam seperti papan catur yang biasa terlihat di Bali.

Kain kampuh yang melingkari pinggang hingga ke paha itu sejatinya biasa digunakan oleh umat Hindu saat sembahyang ke Candi Cetho yang hingga kini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah. Dan untuk menjaga kesucian tempat ibadah dan menghormati sebuah budaya, hingga kini seluruh pengunjung baik Hindu maupun Non-Hindu wajib mengenakan kain kampuh itu, karena dengannya diharapkan pengunjung dapat menjaga kebersihan jiwa raga, lahir batin saat berada di area Candi Cetho,

Terlepas dari dalamnya makna kain kampuh itu, saya melihat sesuatu yang menarik melihat semua pengunjung seragam mengenakan kain kotak-kotak hitam putih itu. Keren juga sebagai penanda. Tapi sekali lagi, perasaan akan ‘keren’ itu sepertinya terlalu cepat.

Saya menikmati udara yang terasa sejuk. Candi Cetho memang berlokasi di sekitaran 1500 meter di atas permukaan laut, jadi lebih tinggi letaknya dari pada Candi Sukuh. Hebatnya lagi, Candi Cetho memiliki 13 teras yang semakin meninggi ke arah puncak yang poros tengahnya memiliki gapura-gapura, demikian yang saya ingat dalam beberapa foto teman yang sudah pernah ke tempat ini. 

Saya menaiki tangga untuk melalui gerbang gapura pertama dan drama kekagetan saya dimulai.

Dimana-mana ada orang, anak-anak dan orang dewasa yang mengenakan kain kampuh kotak-kotak hitam putih itu. Bahkan di dalam taman yang tertata indah dengan rumputnya yang telah susah payah dipelihara. Petugas yang selalu menjaga keindahan taman bisa jadi akan merasa masygul melihat kaki-kaki yang tak mengindahkan rumput-rumput yang juga memiliki kehidupan. Apakah dengan tanaman pembatas yang pendek menjadi alasan untuk melanggar batas dan menginjak-injak rumput selayaknya lapangan bola? Saya sungguh prihatin.

Dan saya hanya melihat bokong-bokong yang berbalut kain kampuh di jalur tangga menuju teras berikutnya. Saya memahami jika mereka terus berjalan atau hanya sebentar untuk pengambilan foto, tetapi kebanyakan dari mereka lupa akan orang lain yang ingin juga berdiri di sana dan berfoto. Mereka hanya tertawa-tawa tidak peduli, menguasai waktu dan areanya seperti miliknya sendiri. Keinginan saya menikmati Candi Cetho langsung lenyap…

Tetapi saya mencoba bersabar…

Candi Cetho dikenal sebagai tempat suci untuk melakukan ruwatan atau pembebasan jiwa dari kutukan, karena simbol-simbolnya yang jelas terpampang,

Di sebuah teras terbuka tersusun batu-batuan datar yang membentuk burung garuda yang sedang mengembangkan sayap dan di atasnya terdapat susunan batu berbentuk kura-kura, yang menurut informasi yang terpampang di sana menceritakan bagian dari kisah mengenai Samudramathana atau Churning of the ocean of milk atau biasa dikenal sebagai kisah Pengadukan Lautan Susu. Kisah dalam agama Hindu ini menceritakan mengenai perebutan terus menerus antara Dewa yang menjadi simbol dari sisi baik melawan Asura yang menjadi simbol dari sisi buruk, untuk mendapatkan air keabadian.

Burung Garuda dan Kura-kura, keduanya merupakan simbol-simbol yang terkait dengan Dewa Wisnu dalam agama Hindu. Dewa Wisnu sendiri menjadi seekor kura-kura untuk menopang Gunung Mandara dalam kisah Samudramathana tersebut. Dan diujung bentuk burung Garuda dan kura-kura terdapat penggambaran yang cukup erotis, seperti phallus yang bersentuhan dengan penggambaran vagina yang menjadi lambang penciptaan atau kelahiran kembali setelah terbebas dari kutukan.

IMG_0390
Selalu ada Manusia
IMG_0395
Garuda & Turtle – Cetho Temple

Di sekitaran teras tersebut, sekumpulan manusia yang datang berkunjung tak pernah sebentar. Amat mudah terlihat, kain kampuh dimana-mana. Saya seperti menjadi sang pungguk yang merindukan bulan, karena berharap terus manusia-manusia itu akan menghilang dari frame foto. Orang-orang itu memang pergi tetapi yang datang lebih banyak, bisa jadi sampai waktu berkunjung habis…

Saya memahami saat kunjungan itu saya tidak akan mendapatkan foto bersih tanpa manusia dalam frame, karena keadaan yang tidak memungkinkan. Akhirnya sebisa mungkin saya mengambil foto-foto yang penuh makna di Candi Cetho itu.

Karena belum sampai di teras tertinggi, saya menaiki tangga-tangga yang penuh dengan orang itu. Menjengkelkan sekali karena mereka berdiri dan bergaya menghalangi lalu lintas orang. Sungguh tak peduli dengan pengunjung lain yang mau turun atau naik, Kesabaran saya semakin tipis terhadap pengunjung yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kadang saya berpikir, apakah mereka tidak pernah diajarkan oleh orangtuanya untuk memikirkan orang lain? 

Setelah berjuang melewati pengunjung-pengunjung lainnya yang menghalangi jalan, sampai juga saya di teras teratas, tempat yang paling sakral dan suci dari Candi Cetho yang merupakan tempat umat Hindu biasa beribadah,  Bagi saya, Candi Cetho yang dipercaya dibangun pada abad-15 merupakan salah satu warisan nenek moyang kita yang amat berharga dan wajib dijaga kelestariannya. Selain itu, sebagaimana tempat ibadah lainnya, bagian puncak Candi Cetho sewajarnya memiliki batas suci. Artinya, hanya boleh dimasuki atau dinaiki oleh orang-orang yang akan beribadah saja,

IMG_0479
Cetho Temple – Main Area on the highest

Sayangnya tidak ada informasi mengenai batas suci, atau tidak ada larangan untuk menaiki tangga untuk sampai ke pelataran suci. Yang ada hanya larangan masuk yang dipasang di pintu masuk yang tertutup. Dan karenanya, saya benar-benar jengkel maksimal!

Karena tidak ada larangan, maka pengunjung mungkin merasa bebas untuk menaiki pelataran atas itu untuk duduk-duduk, bersandar dan berfoto. Berombongan! Hitung saja, jika mereka berbobot rata-rata 40 kg, maka pelataran atas itu sudah menerima beban tambahan sekitar 400 kg jika dinaiki oleh 10 orang bersamaan. Padahal di salah satu sisi bangunan puncak yang menyerupai piramid itu batu-batunya sudah sedikit ambrol. Saat itu saya sungguh senewen dengan rombongan pengunjung yang tanpa rasa bersalah turun naik untuk berfoto secara berombongan di tempat yang paling suci.

Ketika saya mengambil foto sambil memutari bangunan puncak, saya mendapati beberapa pasangan menduduki pelataran atas bagian belakang untuk berdua-duan. Tepok jidat deh saya!!!

IMG_0465
Please don’t do that

Bahkan ada yang lebih gila lagi karena ada empat atau lima remaja yang berfoto sambil meloncat! Berulang-ulang. Rasanya saya ingin menangis melihat tindakan ugal-ugalan mereka terhadap candi abad-15 di pelataran yang paling suci! Sepertinya petugas yang ada di sana sudah kewalahan juga untuk memberi teguran.

Saya benar-benar kehilangan mood. Saya merasa tak minat untuk tinggal lebih lama. Kain kampuh kotak-kotak hitam putih yang digunakan pengunjung dengan harapan agar bersih lahir batin dan penuh kesadaran memasuki tempat suci, sudah kehilangan maknanya. Kain kampuh hari itu, hanya menjadi penanda saja

Saya turun melalui gapura-gapuranya yang cantik namun sepanjang jalannya dipenuhi pengunjung yang mengenakan kain kampuh tanpa menyadari makna yang amat dalam yang ada padanya.

Rasanya amat miris, masih banyak pengunjung Indonesia yang belum mampu menunjukkan sikap untuk menjaga dan memelihara peninggalan kuno bangsa sendiri yang amat berharga.

Hari itu, saya membatalkan kunjungan Candi Sukuh karena sepulangnya dari Candi Cetho, di gerbang terlihat banyak sekali pengunjung yang tak jauh beda seperti di Candi Cetho. Saya kehilangan mood. Lebih baik saya menyimpan keinginan ke Candi Sukuh dan membiarkan gambaran baik tentangnya dalam benak, daripada mengingat hal yang kurang menyenangkan seperti yang terjadi di Candi Cetho.

Pembelajaran pentingnya: jangan ke tempat wisata saat libur lebaran!

IMG_0486
The Gapuras

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-10 ini bertema Kotak-Kotak agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Aksen Lengkung Di Situs Warung Boto


Saat ke Jogja tahun lalu, -setelah urusan keluarga selesai-, bersama suami saya menyempatkan diri mengunjungi Situs Warungboto atau kadang disebut juga dengan Pesanggrahan Rejawinangun yang terletak di Jalan Veteran No.77, Warungboto, Umbulharjo, Jogja. Situs yang belakangan mulai terkenal sebagai salah satu destinasi di Jogja ini, -bisa jadi karena Putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu bersama Bobby Nasution melakukan foto pre-wedding di sini-, merupakan salah satu bangunan cagar budaya berupa sebuah pesanggrahan dan pemandian yang sekilas menyerupai Taman Sari. 

DSC00132
Situs Warungboto

Sayangnya saya berkunjung ke Situs Warungboto ini tepat tengah hari yang tentu saja keringat langsung deras mengucur dan panas menerpa kulit. Hebatnya lagi, di lokasi ini tidak ada tempat yang cukup rindang kecuali di dalam ruangan-ruangannya yang berada di tingkat atas. Sungguh, terik matahari ini membuat mood saya langsung jatuh ke level terendah. Mungkin akan lebih baik jika berkunjung ke sini pagi-pagi atau sore hari ketika matahari sudah tidak begitu gahar.

Gara-gara terik matahari itu, saya tidak ingin berlama-lama di sana dan hanya berada di sekitar kolam pemandian dan bangunan yang mengelilinginya. Itupun sebisa mungkin berdiri di bawah bayangan. Bisa jadi ada bangunan lain yang menarik berada di pelataran atas, tetapi uh, maaf seribu maaf, kali ini saya takluk oleh sinar matahari yang langsung membuat sakit kepala. Apalagi, di Situs Warungboto ini saya harus menaiki tangga-tangga untuk memasuki bangunan utama. Lengkap sudah, terik matahari dan tangga, dua hal yang tidak saya sukai dalam berwisata 😀

Situs Warungboto yang dindingnya menggunakan batu bata dan dilepo ini terdaftar dalam pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini, seperti juga Benteng Keliling Keraton atau Taman Sari-nya Keraton Yogyakarta, memiliki dinding yang amat tebal.  

Jadilah siang itu, pelan-pelan saya menaiki tangga untuk ke bagian yang tidak terpelihara dan kelihatannya masih asli. Lorong pintu-pintunya mempunyai aksen lengkung. Sayang sekali tangan-tangan tak bertanggung jawab telah mengotorinya dengan coretan grafiti yang merusak keindahan situs.

Kemudian tanpa tergesa saya melipir mengikuti bayangan untuk memasuki ruangan-ruangan yang ketinggian lantainya tidak sama (multi-level). Saya langsung merasa adem meski sedikit lembab. Entah kenapa rasanya déjà vu dengan situasi Taman Sari yang memang mirip. Dengan struktur yang berdinding tebal, -melalui pintu dan jendela layaknya dalam sebuah benteng-, saya bisa melihat ke arah kolam pemandian yang saling berhubungan yang konon airnya berasal dari sebuah mata air. Tiba-tiba saja saya teringat akan kisah-kisah jaman dulu yang selalu menjadikan sebuah mata air sebagai tempat yang suci dan sakral.

Saya turun lagi ke bawah menuju kolam pemandian dan memperhatikan bentuknya yang unik.

Kolam pertama berbentuk lingkaran dengan dinding melengkung seperti cawan atau mangkuk besar, yang memiliki diameter sekitar 4 meter dan di bagian tengahnya dibuat bentukan seperti helai-helai bunga yang merupakan tempat air yang memancar keluar (umbul). Konon, disanalah sumber mata airnya.

DSC00136
The Spring Pool

Kolam kedua berbentuk persegi panjang yang memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebarnya sekitar 4 meter dengan dinding kolam yang sedikit miring (tidak tegak). Mungkin dinding yang melengkung dan tidak tegak ini memang merupakan disain awal yang membuatnya berbeda dari kolam-kolam pemandian lainnya.

Menariknya, kedua kolam itu terhubung oleh sebuah bentukan terbuka yang menyerupai undakan simetris di kanan kiri dan juga memiliki dinding melengkung ke arah kolam kedua. Artistik.

Dari seberang pintu yang memiliki aksen lengkung, saya mengamati bentuk kedua kolam itu. Entah kenapa saya memiliki pemikiran yang agak melenceng saat mengamati bentuk kedua kolam dari ketinggian. Kolam yang melingkar lalu dihubungkan dengan sebuah bentukan yang agak panjang dan berakhir membuka pada kolam kedua itu, kok seperti sebuah gua garba (rahim) yang merupakan simbol dari awal terciptanya kemanusiaan dan kebudayaan. Entahlah, karena sama sekali tidak ada informasi mengenai makna bentuk kedua kolam itu.

DSC00132
Situs Warungboto
DSC00139
Two empty pools

Yang ada hanya sejarahnya, yang berdasarkan informasi di sebuah papan, Situs Warungboto merupakan sebuah tempat peristirahatan (petilasan) yang pembangunannya dimulai semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I dan dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Bisa jadi kondisi asli bangunan Situs Warungboto, masih seperti yang saya saksikan di tempat yang pertama kali saya datangi, meskipun hanya berupa reruntuhannya yang tidak terpelihara dengan menyisakan dinding tebal  yang tak bisa diragukan.

Konon, sejak tidak digunakan oleh pihak Kraton hingga tahun 1935, tempat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya karena terdapat sumber air. Namun setelah Indonesia merdeka, tempat ini seperti terlupakan. Bisa jadi karena letaknya jauh dari keraton atau sumber airnya sudah tak berfungsi lagi.

Apapun kondisinya kini, setelah mengalami pemugaran, Situs Warungboto menjadi lebih baik dan dapat dijadikan sebagai alternatif berkunjung di Jogja. Meskipun tidak sebesar Taman Sari, dengan kondisi sekarang ini rasanya situs Warungboto memiliki kemegahan dan kecantikannya sendiri.

DSC00126
Warungboto

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-8 ini bertema Curve agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Berhak Bahagia Kala Petang Datang


Every sunset is an opportunity to reset, so take a seat and calm down…

Entah sejak kapan saya menyukai waktu jelang senja menatap laut yang sepertinya tak berbatas, menikmati riak-riaknya, angin yang menerpa wajah, gemericik atau debur gelombangnya serta harum laut yang sangat khas. Rasanya, dengan berada di pinggir laut, mengarah kemanapun, -apalagi yang menghadap matahari tenggelam ataupun kadang matahari terbit-, bisa membantu menenangkan hati dan menyeimbangkan jiwa. Dengan memelihara hati yang tenang, paling tidak stress lebih bisa dikendalikan. 

Tidak sulit sebenarnya untuk mencapai pinggir laut Jakarta, hanya perlu ke arah Utara saja. Masalahnya, tidak banyak tempat-tempat yang relatif nyaman. Lebih seringnya, bising, gaduh atau tempatnya sendiri yang memiliki kategori “lebih baik tidak kesana” 🙂

Di utara Jakarta, selain Ancol, saya lebih menyukai datang sore-sore ke Pantai Mutiara yang ada di kawasan Pluit. Berbeda dengan Ancol, untuk masuk ke kawasan ini sama sekali tidak dipungut bayaran. Bisa jadi karena kawasan ini sebenarnya merupakan area perumahan. Dan tidak tanggung-tanggung, kawasan perumahan kelas atas banget. Memiliki rumah di kawasan ini berarti memiliki mobil-mobil mewah di garasinya dan di bagian belakang rumah terdapat dermaga kecil sebagai tempat parkir kapal-kapal yacht mereka, atau setidaknya jetski.

Biasanya ketika sampai di kawasan Pantai Mutiara ini, keluarga kami menjalankan mobil pelan-pelan dengan jendela terbuka lebar agar suasana pinggir lautnya terasa (meskipun agak panas ya 😀 ) dan bisa mengintip ke garasi-garasi yang menyimpan mobil-mobil mewah. Paling tidak kelasnya Porsche, Lamborghini Aventador, atau Ferrari 458 yang harganya bisa sampai dua digit milyaran Rupiah. Dan jika beruntung, diantara rumah-rumah besar itu, bisa terlihat kapal-kapal yacht mereka yang ada di bagian belakang rumah. Jangan tanya harga kapal-kapal yacht itu, sepertinya bisa empat atau lima kali harga mobil mewah mereka. Uh, rasanya  saya mimpi pun tak sampai ke tingkat itu. 

Tetapi dengan melihat secuil saja sudah cukup membahagiakan.

Menyusuri jalan yang berbatas laut hingga ke ujung Pantai Mutiara tempat berdirinya bangunan ikonik yaitu Apartment Regatta yang bentuk bangunannya seperti layar yang sedang terkembang. Saya sering menandainya dari pesawat saat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Dan saya membayangkan betapa asiknya punya ruang keluarga atau kamar yang bisa memandang ke laut lepas. Ah… meskipun cuma membayangkan saja, tetapi sudah bisa membuat saya tersenyum bahagia.

Kalau belum puas jalan-jalan sore sambil intip sana-sini di sekitar kawasan Pluit Mutiara, biasanya saya berhenti di Jetski Café. Waktu paling tepat ke sini memang ketika sore hari jelang matahari tenggelam. Meskipun awalnya sinar matahari terasa menyilaukan, pengunjung bisa memesan meja di bagian dalam Café terlebih dahulu sebelum nantinya pindah ke bagian luar yang berbatas laut (meskipun meja-meja outdoor yang berada di pinggir laut itu sangat diminati dan seringnya sudah fully reserved). Apalagi akhir pekan, wuiih susah!

jetski2
A bit back light but it’s the view in the afternoon

Terakhir kami ke tempat ini, sekitar bulan November 2019 yang lalu. Ketika itu saya mengajak Mama, yang akhirnya bersedia ikut setelah dibujuk-bujuk karena hampir setahun mengurung diri di rumah sepeninggal Papa menghadap Ilahi. Meskipun saya agak sedikit cemas, -takut Mama terkenang kembali bersama Papa karena mereka pernah saya ajak ke tempat ini sebelumnya-, saya berharap angin laut yang segar dan suasana yang berbeda bisa menggembirakan hati Mama. Alhamdulillah, ternyata memang benar, Mama terlihat gembira dengan suasana yang berbeda dari situasi sehari-hari dirumahnya.

Sepertinya kegemaran saya berada di tempat-tempat yang berbatas laut itu menurun dari Papa Mama. Saat itu, Mama terlihat terpukau senang melihat keindahan warna sore dan mentari yang pelan-pelan menghilang di balik gedung meninggalkan warna kuning keemasan di langit Barat.

jetski1
Live music

Live music yang memang selalu ada pada setiap akhir pekan menambah suasana lebih hangat. Meskipun volume suara musik cukup nyaring, Mama tak terganggu bahkan mengatakan kepada saya jika Papa masih ada, pastilah Papa ikut menyanyi di panggung. 😀 Saya tersenyum mengingat kegemaran Papa untuk tampil menyanyi dimana saja yang memungkinkan, meskipun lagu-lagunya sangat klasik (baca: jadul)! Bahkan tak jarang di panggung Papa memainkan organ sambil bernyanyi…

Mentari semakin turun. Saya menawarkan pindah ke meja luar tetapi Mama lebih menyukai di bagian dalam Cafe karena masih mau menyantap makanan yang ada. Hati di dalam ini langsung meluruh, biasanya Mama makan tak begitu banyak sejak kepergian Papa tetapi kali ini saya melihat Mama menikmati makanannya lebih lahap. Rasanya langsung makjleb… saya ditegur keras oleh Sang Pemilik Cinta agar supaya bisa lebih memperhatikan sisi batin Mama yang kini tinggal sendiri.

Warna keemasan masih menghias langit Barat, ketika saya menatap permukaan laut yang tak pernah berhenti bergerak, seperti juga stress kehidupan. Selalu ada, namun bukan berarti tidak bisa dikendalikan.

Sisa sinar matahari jatuh lembut ke wajah Mama yang telah dimakan usia. Garis-garis kerutnya tergambar di wajahnya dengan jejak airmata kehilangan Papa yang belum sepenuhnya sirna.

Biasanya saya ke Pantai Mutiara hanya untuk mendapatkan kenyamanan rasa diri sendiri. Tetapi kala petang hari itu, bisa mengajak mama ke tempat itu, melihat Mama bisa makan dengan lahap dan melihatnya terkagum atas pemandangan yang indah, semuanya menjadi jauh amat berharga dan amat bermakna daripada warna keemasan yang menghias langit Barat.

Seperti mengingatkan bahwa bahagia itu memang sederhana…

jetski3
About Sunset

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-5 ini bertema Petang agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Cerahnya Klenteng Tek Hay Kiong


Sungguh tak menyangka saya bisa mampir dan menikmati sejenak keindahan klenteng Tek Hay Kiong, -yang arsitekturnya dipercaya masih asli-, ketika melakukan perjalanan singkat bersama kawan-kawan kantor ke Gunung Guci beberapa waktu lalu.

Menariknya Klenteng Tek Hay Kiong yang berada di Jalan Gurami, Kota Tegal ini, terdaftar sebagai bangunan pusaka daerah, karena menjadi saksi sejarah akan keberadaan komunitas Tionghoa yang sudah mendiami kawasan kota Tegal sejak masa kolonial Belanda. Tidak bisa dipungkiri karena bagaimanapun komunitas Tionghoa selalu berpusat pada sebuah Klenteng yang umumnya menyediakan catatan orang-orang yang (pernah) tergabung dalam komunitasnya sejak awal pendirian. Catatan-catatan inilah yang menjadi sumber informasi berharga atas sejarah sebuah kawasan yang diatasnya terdapat sebuah klenteng. Demikian juga untuk Klenteng Tek Hay Kiong.

P1010147
Dari gerbang Klenteng Tek Hay Kiong

Di salah satu sudut terdapat inskripsi tentang sejarah klenteng ini yang tertulis dalam aksara aslinya dan dipahat di atas kayu jati. Tidak hanya mengenai sejarah pendiriannya di tahun 1837 oleh Kapitan Tionghoa Tan Koen Hay dan dukungan umat serta tokoh-tokoh kota lain yang mendukung pembangunan klenteng saat itu, di klenteng ini juga menyimpan papan-papan arwah yang berisikan catatan-catatan nama, asal muasalnya, pasangan hidup dan anak cucunya. Dari papan-papan arwah ini bisa ditarik benang merah sejarah bahwa kapitan pertama yang memimpin komunitas Tionghoa di Tegal adalah Souw Tjwan Heng (1699 – 1770) bergelar Kapitan Souw Pek Gwan. Artinya komunitas Tionghoa di Tegal sudah ada sejak 320 tahun lalu bahkan mungkin lebih dari itu. Hebat kan?

Warna merahnya yang umum mendominasi Klenteng terlihat sangat eye-catching sehingga memudahkan orang untuk mampir. Apalagi ditambah warna kuning keemasan di beberapa tempat, memberi rasa kontras pada Klenteng Tek Hay Kiong ini. Dua warna, merah dan kuning (mewakili warna emas) memang secara tradisional menjadi warna klenteng.

Warna merah sendiri, yang merupakan unsur dari “Yang” memiliki arti kebahagiaan, keberuntungan, kesenangan, keberhasilan, keselamatan dan pembawa nasib baik. Sehingga dengan adanya warna merah di Klenteng diharapkan agar seluruh kesedihan dan kegelapan akan sirna dan digantikan dengan kebahagiaan dan kebaikan. Warna merah juga mewakili kebenaran, kebaikan dan ketulusan hati. Bukankah orang beribadah ke Klenteng berharap bisa mendapatkan kebaikan dan kebenaran?

Tidak begitu berbeda dengan warna merah, warna kuning atau keemasan juga dianggap sebagai lambang kemakmuran, kehangatan, kekayaan, kesejahteraan dan bisa membawa aura positif. Konon sesuai pepatah kuno Tiongkok, warna kuning sebagai pengganti warna emas dipercaya sebagai warna yang paling indah karena kuning menghasilkan Yin dan Yang. Menjadi pusat dari segala hal. Tidak heran, warna kuning menjadi warna untuk Kaisar. Saya jadi teringat istana-istana Kaisar Tiongkok pastilah memiliki warna kuning keemasan. Dan juga pakaian kebesaran Sang Kaisar, selalu berwarna kuning keemasan.

Dua warna yang mendominasi sebuah Klenteng memang memiliki makna dan harapan yang amat baik bagi mereka yang bersembahyang di sana.

P1010152
Klenteng Tek Hay Kiong

Sekarang ini, Klenteng Tek Hay Kiong di Tegal lebih menjadi tempat ibadah daripada menjadi pusat kegiatan komunitas Tionghoa seperti pada jaman kolonial dulu. Kendati demikian, rasanya tak salah bila kita mengunjungi tempat bersejarah ini, asalkan tidak mengganggu aktivitas peribadatan yang berlangsung. Bukankah dengan mengunjunginya, -meskipun bukan untuk beribadah-, kita bisa membuktikan kekuatan kebhinekaan negeri tercinta ini?

Apalagi, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, seharusnya kita bisa membanggakan sebuah bangunan yang telah ditetapkan sebagai bagian dari sejarah kota dan turut serta menjaga dan memeliharanya. Paling tidak, kita bisa mengunjunginya dan menikmati keindahannya. Dan bisa menambah pengetahuan!

Jadi, tidak ada salahnya menjadikan Klenteng Tek Hay Kiong ini menjadi destinasi wisata saat sedang berlibur bersama keluarga atau teman.

Dan saya membayangkan kemeriahan perayaan Imlek kemarin di Klenteng Tek Hay Kiong ini.  Pasti seru banget…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-4 ini bertema Red & Yellow agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Sepenggal Jakarta Jaman Dulu Dari Puncak Monas


Gara-gara tantangan dari sahabat saya untuk postingan minggu ini yang bertemakan Old Age, saya jadi membongkar album-album foto lama saat berada di rumah ibunda tercinta kemarin. Tapi ternyata dengan perbuatan membongkar album-album lama, akhirnya ibu saya yang sudah sepuh itu menceritakan banyak hal kepada cucu-cucunya.

Dan sementara sang cucu-cucu bisa mendadak jejeritan gembira melihat fashion foto omanya di jaman tahun 60-an, -yang menurut omanya sangat biasa, tapi bagi mereka sangat fashionable-, saya hanya bisa tertawa melihat situasi yang agak awkward yang sekarang banyak terjadi: generation gap yang ekstrim antara dunia sang oma dan dunia anak millenial.

Obrolan masa lalu itu membawa saya langsung ke jaman-jaman yang menyenangkan dan penuh kenangan. Termasuk jaman Jakarta masih lengang. Lengang dalam arti, tidak penuh sesak dengan kendaraan ataupun gedung-gedung tinggi. Pemandangan Jakarta kala itu serupa: lebih banyak datarnya.

Jaman saya masih kecil itu, -jaman Ali Sadikin atau dulu terkenal dengan nama Bang Ali sebagai gubernur Jakarta-, dari puncak bukit yang di belakang rumah orang tua saya (sebenarnya jalan menanjak sedikit sih), waktu itu saya masih melihat gedung-gedung tinggi yang ada di kawasan Thamrin, termasuk Monas. Hal yang tak mungkin bisa dilihat sekarang ini, karena pasti sudah tertutup oleh tingginya rumah tetangga, gedung-gedung tinggi yang lebih dekat dan kabut polusi yang membatasi penglihatan.

Pernah pada suatu akhir pekan, orangtua saya mengajak kakak dan saya ke Monumen Nasional. Tidak hanya ke kawasannya, melainkan juga mengeksplorasi diorama-diorama di dalam cawannya termasuk ke puncaknya yang tepat berada di bawah emas yang katanya berbentuk seksi itu (tetapi jaman itu saya belum tahu yang namanya seksi-seksi lho hehehe…). Rasanya happy sekali, karena jaman itu jarang sekali yang bisa berkunjung ke puncak Monas.

Perjalanan naik lift ke puncak rasanya sangaaaat lama, mungkin karena saya sudah tak sabar ingin melihat dari Jakarta dari atas. Dan ketika sampai di lantai atas itu, alangkah sebalnya saya, karena ternyata tinggi saya belum cukup untuk bisa melihat dengan nyaman. Saya harus jinjit dengan ujung kaki seperti penari balet untuk bisa melihat dan hal itu ternyata sangat menyakitkan dan melelahkan!

Meskipun demikian, dalam banyak hal selalu saja saya ditolong supaya bisa menikmati pemandangan dari atas….


jakarta istiqlal
Jakarta Dari Monas – Sudut Istiqlal

Benar kan Jakarta masih terlihat rata? Taman Merdeka sekeliling Monas masih terlihat gersang, belum sehijau sekarang. Dan tentu saja, tak ada pagar yang mengelilingi Taman Merdeka. (Tetapi Monasnya sendiri saya ingat sudah berpagar, yang kata pemandu tour Jakarta waktu itu jumlah tiangnya 1945, saya percaya saja karena tidak mau menghitung tiang pagar hehehe).

Kubah Mesjid Istiqlal yang putih itu sangat terlihat ya? Juga menara dan air mancurnya… Kalau dilihat lebih teliti, terlihat juga dua menara gereja Katedral dan Monumen Pembebasan Irian Barat yang ada di Lapangan Banteng. Fotonya sudah tak jelas, tetapi saya masih bisa melihatnya.

Oh ya, perhatikan rel kereta api yang ke Gambir? Tidak kelihatan sih di fotonya, tetapi bisa dibayangkan kan? ada rel kereta api yang masih dibuat diatas jalan raya dan tentu saja belum dibangun rel kereta yang melayang (dibatasi oleh dua dinding putih di sebelah kanan bawah)

Yang hebat menurut saya waktu itu, saya masih bisa melihat pinggir laut Jakarta dari Puncak Monas. Kelihatan kan batas laut?

***

jakarta istana
Jakarta Dari Monas – Sudut Istana

Foto yang di atas ini memperlihatkan situasi Istana Merdeka di tahun 70-an. Terlihat bendera berkibar di tiangnya. Dari sini kelihatan kawasan kota belum ada apa-apa ya? Meskipun kepadatannya sudah terlihat.

Dari posisi ini saya baru lihat bahwa dulu taman yang mengelilingi Monas itu sebenarnya cantik bila dilihat dari atas, meskipun masih gersang dan jarang pepohonan yang rindang. Hebat juga ya…

***

jakarta bi
Jakarta Dulu Dari Monas – Sudut BI

Dan foto di atas ini, menunjukkan sudut Bank Indonesia dan Air Mancur. Tampak Gedung lama Bank Indonesia yang hingga kini masih dipertahankan bentuknya. Kelihatan juga Wisma Nusantara yang merupakan gedung tertinggi di Indonesia saat itu. Bisa mengenali gedung Sarinah? Itu lho… gedung yang berada di tengah-tengah.

Lihat banyak mobil parkir di jalan? Kalau tidak salah, dulu di situ ada bioskop Eldorado. Namun saya tidak pernah nonton di sana, karena masih terlalu kecil dan seingat saya, bioskop itu lebih sering mempertunjukkan film dewasa.

Oh ya, di sudut ini, dulu selalu Pekan Raya Jakarta diadakan (Jakarta Fair). Saya termasuk cukup sering untuk datang ke Jakarta Fair itu untuk mendapatkan donatnya saja. Dulu donatnya itu top banget dan menjadi icon dari Jakarta Fair. Jadi kalau tidak beli donat Jakarta Fair, rasanya belum ke sana.

Kawasan sebelahnya merupakan kawasan wisata yang terkenal dengan Taman Ria. Bahagia sekali kalau bisa ke Taman Ria, karena bisa naik komidi putar dan merasakan kebahagiaan anak kecil seperti kalau ada di Dufan sekarang ini hehehe. Jadi ingat, dulu Jakarta sudah punya monorail lho… ya tapi hanya ada di Taman Ria saja hehehe…

***

jakarta thamrin
Jalan MH Thamrin – Juli 1973

Dan foto yang terakhir ini adalah foto yang diambil dari Jembatan Penyeberangan, yang seingat saya sih di depan Sarinah. Coba perhatikan, tidak banyak gedung tinggi setelah Tugu Selamat Datang ke arah Selatan. Memang Jakarta belum banyak gedung tinggi pada saat itu.

Ada jalur lambat yang seringnya dilalui oleh sepeda, becak atau dokar (dulu semua boleh melintas meskipun ada jalurnya masing-masing). Halte bus ada pedestrian, antara jalur lambat dan jalur cepat. Dan di Jalur cepat itu mobil, bus, sepeda motor, truk bisa sama-sama melewatinya. Dan asiknya, tidak ada kepadatan lalu lintas kan?

Saya ingat waktu itu, jalan-jalan ke arah Monas lalu balik lagi sudah merupakan kemewahan dan kebahagiaan tersendiri.

Bahagia itu memang sederhana.

Anyway, menuliskan semua ini mengingatkan diri sendiri bahwa saya sudah tua 😀 😀 😀

Catatan: Semua foto-foto di atas adalah koleksi pribadi.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-47 ini bertema Old Age agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Halamannya Memanjakan Rasa


DSC09696
Morning view

Hampir dua atau tiga tahun terakhir ini, kami selalu memilih menginap di sini saat berkunjung ke Jogja. Meskipun ada begitu banyak pilihan hotel di Jogja, -dari yang mahal sekali hingga yang murah, dari yang mewah sampai yang sederhana, dari yang layanannya masuk kategori “perlu training lagi” hingga yang prima-, suara dari anggota keluarga saya selalu bulat. Kembali ke hotel ini, hotel favorit kami di Jogja.

Hyatt Regency Yogyakarta

Namun sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa pos ini saya tulis bukan untuk iklan atau review hotel. Bukan sama sekali. Saya menuliskan ini menanggapi tantangan dari sahabat saya yang temanya sesuai dengan apa yang ada di hotel favorit kami. Jadi, sekali lagi, ini bukan iklan karena saya menyampaikan apa yang saya rasa…

Sebenarnya masing-masing anggota keluarga saya punya tambahan preferensi terhadap hotel ini, -ada yang suka kolam renangnya, atau variasi makanannya, atau layanannya-, tapi semuanya langsung mengangkat tangan tanda setuju ketika saya bilang bahwa saya menyukai halamannya yang lebih luas dari lapangan bola, yang nyaman, hijau, tertata rapi dan asik. Iyalah, karena hotel ini memiliki halaman berupa lapangan golf, mana mungkin tidak keren sih?

from the top
Mt. Merapi From The Roof Top

Awalnya saya menginap di Hyatt untuk urusan bisnis dan merasa senang menginap di Hyatt. Kemudian pada liburan berikutnya saya ajak sekeluarga menginap di hotel yang letaknya tak jauh dari Monumen Jogja Kembali (Monjali) di Utara Jogja ini. Karena saya yakin mereka pasti juga menyukai menginap di sini dan ternyata memang benar 😀

Namun perlu diketahui bagi yang ke Jogja hanya untuk berwisata, mengingat jarak dengan obyek-obyek wisata di pusat kota Jogjakarta, lokasi hotel ini kurang tepat. Bagi kami, hal ini justru menjadi strategis, karena kami sekeluarga bukan turis di Jogja dan selalu menghindari tempat-tempat turis (seperti Malioboro, Kraton dan sebagainya). Kami selalu menjauh dari tempat-tempat turis itu (masak sudah sehari-hari terkena macet Jakarta, pada saat liburan dan silaturahmi dengan keluarga besar harus kena macet juga di Malioboro dan sekitarnya?) 😀

Dulu, saya berpikir Hyatt Regency ini memiliki tingkat harga yang di luar jangkauan alias kemahalan. Namun kenyataannya tidak demikian lho. Meskipun soal harga itu sangat relatif bagi semua orang, dengan pertimbangan fasilitas dan layanan kelas bintang lima, harga Hyatt Regency masih sangat bersaing dalam kelasnya, karena masih banyak hotel yang lebih mahal. Lagi pula dengan semua kebutuhan yang terpenuhi khususnya untuk keluarga kami, rasanya hingga saat ini belum ada yang mampu memindahkan saya ke lain hati untuk urusan inap-menginap di Jogjakarta.

Nah, apa ya yang menarik dari Hyatt Regency Yogyakarta itu?

Bagi saya pribadi yang suka jalan pagi-, Hyatt Yogyakarta bisa mencuri hati karena tersedianya fasilitas yang amat bagus untuk menjalankan kegemaran saya itu. Bisa dibilang, sejak pertama kali menginap hingga libur Lebaran lalu, saya terus melakukan kegemaran jalan kaki setiap pagi dengan rute yang saya serahkan kepada kaki 😀

Mengelilingi halamannya dengan arah suka-suka, yang penting jalan!

Halamannya itu lho, luas banget dan serunya saya menemukan banyak keindahan sepanjang kaki melangkah.

beranda depan
Terrace
DSC09693
in front of the terrace

Untuk berjalan kaki, dari lobby hotel yang berada di dalam gedung, biasanya saya melewati teras hotel, yang kalau duduk di sana rasanya tenteram dan nyaman karena suara gemericik air kolam yang penuh ikan-ikan hilir mudik, bunga-bunga teratai dan tumbuhan air lainnya ditambah hiasan-hiasan stupa. Saya pernah berlama-lama di pinggir kolam hanya untuk memperhatikan bunga teratai dan ikan-ikan yang seakan bercanda. Rasanya stress hilang seketika…

Setelah teras dan beberapa koridor ruang serba guna yang ditata cantik, di ujung jalan itu adalah lapangan golfnya.  Artinya, benar-benar kita bisa menjejak lapangan golf meskipun tidak berniat main golf. Namun tentu saja ada larangannya karena kita tidak diperbolehkan memasuki lapangan jika tidak bermain golf, apalagi tidak menggunakan sepatu yang tepat untuk golf. Merawat rumputnya mehong boo…

Saya sadar diri hanya bersneaker biasa, lagi pula tidak bisa main golf juga deh. Jadi saya hanya melipir di pinggirannya di atas jalur jalan setapak yang disediakan.

Dari lapangan golf itu, langsung disodori pemandangan indah Gunung Merapi, jika udara cerah lho. Bila ingin mengitari bangunan hotel, maka saya harus berjalan sepanjang jogging track ke arah Barat, mendekati kawasan kolam renang, Secret Garden, hingga ke tempat drop off, pintu gerbang masuk dan kembali ke arah Timur hotel, lalu bisa sampai ke lapangan golf dan bisa diteruskan hingga ke ujung dekat perbatasan kompleks perumahan. Dan sepanjang jalan, mata ini sangat dimanjakan dengan keindahan. Lapangan golf yang tertata rapi, hijau dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang sebagai aksen.

DSC09699
Another View
DSC09718
Golf Course

Kadang kala saya bertemu dengan bapak-bapak yang menata taman, yang bekerja sambil berkisah tentang perjalanan bekerjanya bersama Hyatt. Sayang sekali saya lupa menanyakan namanya. Tetapi mendengarkan ia bercerita saja sudah menghangatkan hati. Di kesempatan lain, saya sempat bertegur sapa dengan seorang ibu penyapu lapangan golf yang dengan ikhlasnya menyapu semua dedaunan yang jatuh memenuhi area kerjanya. Tapi luasnya area yang harus disapu tak mengendurkan semangatnya untuk melempar senyum dan sapa kepada saya. Betapa saya beruntung bisa bertemu dengan para pegawai hotel yang luar biasa, mereka yang bukan berada di balik meja dengan dasi dan wangi melainkan mereka yang berpeluh tapi tetap menebar senyum. Dan bukankah saya sudah bercerita juga di pos sebelumnya bagaimana mereka memberikan layanan terbaiknya untuk tamu dengan segala kerendahan hati yang sangat memikat (baca: Kebaikan Hati Itu Tak Pernah Ragu)

Bahkan ketika saya ingin beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan sekitar, di beberapa tempat di pinggir jalur setapak itu disediakan ayunan. Bayangkan saja, pagi yang tenang dengan pemandangan indah, bisa disaksikan sambil berayun pelan. Waktu seakan berhenti untuk menikmati semua keindahan alam. Mungkin jika disediakan bantal-bantal empuk saya bisa tertidur di ayunan itu 🙂

secret garden
Secret Garden of Hyatt Regency

Tak jarang saya mendapatkan momen-momen indah seperti sinar mentari pagi yang hangat dan membias di antara daun dan pohon. Cahayanya, rimbun hijaunya terasa membawa damai.

Ah, saya sungguh beruntung pagi-pagi mendapatkan berkah begitu banyak. Seperti batere ponsel yang 100% full. Siap menyongsong hari…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-45 ini bertema Hijau agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Kemajemukan Yang Indah


Melihat Pelangi seperti melihat bangsa kita sendiri, banyak warnanya dan indah

rainbow
Rainbow in the sky

Sebagai anak yang terlahir dari keluarga berdarah majemuk, sejak kecil saya selalu terdiam kebingungan ketika ditanya orang lain, -yang saat itu selalu orang dewasa-, “aslinya dari mana?”. Errrr… yang bertanya mungkin basa-basi namun biasanya hanya menginginkan satu jawaban pendek saja, misalnya, Jawa, Minang, Batak, Bali dan seterusnya. Sesungguhnya saya tak pernah yakin, apakah ia menginginkan jawaban saya yang panjang lebar.

Karena saya selalu harus memulainya begini…

Ibu dari Papa saya berasal dari Sunda, itu pun tidak seratus persen Sunda. Lalu, Papa dari Papa saya berasal dari Jawa Tengah, itu pun tidak seratus persen asli Jawa. Papa saya sendiri lahir di Palembang. Jadi mungkin dari Papa, saya bisa dibilang ada darah Jawa dan Sunda. Itu dari Papa.

Nah dari jalur Mama, ayahnya dari Minang, itu pun tidak murni seratus persen Minang. Kemudian ibu dari Mama saya, ada darah Belanda, Ambon, Cina, Arab dan entah apa lagi. Mama sendiri dilahirkan di kota kecil di Papua. Jadi, kalau dari keturunan Mama, saya bisa dibilang ada darah Minang, Ambon, Belanda, Cina.

Saya sendiri lahir dan dibesarkan di Jakarta dan tidak bisa satu pun bahasa daerah yang darahnya ada dalam tubuh saya. Mengerti mungkin bisa meskipun sedikit, tetapi jangan disuruh bicara ya.

Jadi bila ada yang menanyakan asal-usul, saya selalu menjawab, Saya Indonesia!

Karena memenangkan salah satu suku, rasanya seperti mengkhianati darah suku lain yang lebih banyak berdiam di dalam saya.

Dan selalu terjadi keseruan ketika kumpul keluarga.

Karena keluarga dari  garis keturunan Mama bisa dibilang lebih akrab satu sama lain, tak heran saya bisa berlama-lama bercengkrama dengan keluarga Ambon, lengkap dengan bahasa yang penuh irama naik turun itu… dan tentu saja, termasuk menikmati makanan yang enak-enak itu.

Tak kurang serunya bila keluarga Minang sedang kumpul, paling tidak saat Lebaran atau Halal bil Halal. Namun semua sama, ketika mereka berbicara bahasa Minang kepada saya, langsung saya tertawa lebar mengakui ketidakmampuan saya 😀

Meskipun tidak seakrab seperti yang terjadi pada keluarga dari garis keturunan Mama, saya selalu senang-senang saja bila berkumpul dengan pihak keluarga Papa. Apalagi jika sedang ke kampung halaman, di kawasan Banyumas. Bahasa Jawa khas Tegal, Banyumas dan sekitarnya itu selalu berhasil membuat saya tergelak meskipun tidak mengerti seratus persen.

Dan jangan salah, saking banyaknya garis darah keturunan, saya sendiri sering kehilangan jejak. Kerabat Mama dari sisi Minang, saya anggap dari keluarga Papa yang dari Jawa. Lhaaaa… susah lhooo mengenal semuanya, mana orang dulu kan anaknya banyak!


Bicara soal agama dalam keluarga besar, menjadi keindahan tersendiri. Meskipun Islam menjadi mayoritas dalam keluarga besar saya, ada juga kerabat yang convert ke Kristen Protestan karena pernikahan. Belakangan setelah menikah, saya juga memiliki kerabat yang berdiam di Bali dan memilih menganut Hindu. Masih ada kerabat yang lain lagi yang memilih menganut Aliran Kepercayaan dengan berbagai versi, ada yang memilih dengan pengaruh Indianya yang sangat kuat dan ada juga yang memilih Kejawen.

Dan seperti yang sering saya ceritakan di blog, sejak kecil saya justru lebih banyak mengunjungi candi-candi Hindu Buddha yang bertebaran di banyak tempat di Jawa. Oh ya, biar tambah seru soal kemajemukan ini, perlu ditulis di sini bahwa saya belajar hampir dua belas tahun di sekolah Katolik dan tiga tahun terakhirnya di sekolah yang isinya perempuan semua!

Dan Islam, sebagai agama mayoritas dianut dalam keluarga besar, tentu saja memiliki ‘bandwidth’ yang paling lebar. Ada yang berprinsip Salafi dan berniqab bagi seluruh anggota keluarga yang perempuan, ada yang biasa-biasa saja, ada yang moderat, ada juga keluarga yang hanya tertawa mesem sambil menunjukkan KTP-nya untuk jika ditanya soal agama! Masalah? Tidak sama sekali!

Dan selalu ada keseruan makan-makan jika ada hari keagamaan tentu saja diluar ritual ibadah masing-masing.

Keindahan dan kebahagiaan yang sama ketika saya harus menyambut keluarga yang datang dari Belanda atau Jerman, meskipun kulit mereka lebih putih, mata yang lebih biru dan hidung yang lebih bangir atau meskipun mereka menggunakan bahasa yang berbeda. Bukankah mereka tetap memiliki jalinan kekerabatan yang sama dengan saya?

Jika memang demikian, mampukah kita memperlakukan orang lain seperti kerabat kita sendiri yang memang masih bertautan darah sejak penciptaan?


Dan setiap terjadi konflik di antara bangsa kita sendiri, saya merasa amat sangat sedih sekali. Tak berlebihan, bila saya mengasumsikan diri ini adalah Indonesia mini. Mana mungkin dalam satu tubuh ini saling menyakiti? Jika tangan kanan tanpa sengaja melukai tangan kiri, sakitnya terasa ke seluruh tubuh. Jika di perut terasa sakit, seluruh tubuh ini otomatis menjadi tidak enak. Jika kaki saya pegal, tangan kanan dan kiri juga otomatis memijat untuk meredakan rasa pegal itu. Bagaimana mungkin bagian yang satu lebih baik daripada yang lain, atau bagian yang satu lebih rendah nilainya dari yang lain? Apakah saya tetap menjadi saya bila dipecah-pecah menjadi beberapa bagian?

Apalagi tahun-tahun belakangan ini, saat pemilihan kepala daerah maupun saat pemilihan presiden beberapa waktu lalu, saya sungguh tak nyaman, serasa tak hidup. Bagaimana mungkin ada kelompok-kelompok yang mempermainkan SARA untuk kepentingan kekuasaannya sendiri?

*

Ah, memang tidak semua orang beruntung dan mendapat berkah bisa dilahirkan dalam kemajemukan seperti saya dan tidak semua orang beruntung bisa memahami indahnya kemajemukan sejak masih kecil.

Dan banyak juga dari kita yang “bersedia” dibelah-belah demi kepentingan orang lain dan tak menyadari bahwa dengan begitu mereka kehilangan jati dirinya sendiri. Padahal kemajemukan membawa kekuatan.

Bukankah mematahkan sepotong lidi yang berdiri sendiri lebih mudah daripada mematahkan lidi-lidi yang terikat kuat dalam kesatuan sapu lidi?

Sesungguhnya saya tak pernah berhenti berharap Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 itu bisa berakar kuat dalam setiap manusia Indonesia, -tidak hanya dihafalkan-, melainkan sadar sepenuhnya, menjiwai dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-42 ini bertema Unity agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Pinus, Menenteramkan, Mengenangkan


Rasanya satu-satunya keharuman yang berakar kuat dalam pikiran saya adalah harumnya pinus. Bisa jadi karena sejak kecil, saya sering diajak pergi ke Bandung, ke Gunung Tangkuban Perahu dan berhenti sejenak di pinggir jalan sekitar Cikole, tempat dimana hutan pinus tumbuh di kanan kiri jalan. Kebiasaan sejak kecil untuk berhenti sejenak di pinggir jalan, ternyata diturunkan juga kepada anak-anak saya. Hanya untuk sejenak melapangkan pernafasan dengan wangi pinus yang sangat khas.

hutan pinus cikole
Pine trees near Bandung

Bagi saya pribadi, wangi pinus itu menenteramkan, hijau daunnya menenangkan hati, rasanya damai berada di tengah hutan pinus. Wanginya khas dan kadang ‘musik alam’ dari hutan pinus itu terasa seperti mendayu-dayu, gesekan puncak-puncaknya yang terbawa angin seperti mengajak berdansa dengan irama alam.

Harum pinus juga membawa kenangan, karena setiap berada di sana, saya senantiasa teringat almarhum ayah yang pertama kali memperkenalkan wangi pinus ke hidung saya. Dan kini, dimanapun ada pinus dengan keharumannya yang khas itu, rasanya seperti diselimuti kedamaian sekaligus kerinduan terhadap almarhum Papa.

Tidak heran, minyak pinus itu (pine oil) itu memang salah satu minyak atsiri (essential oil) yang produksinya terbanyak di dunia, karena diakui mampu memberikan rasa nyaman dan damai dalam berbagai situasi. Sebagai minyak aromatik, di tempat aslinya Pine oil sudah dikenal lama dalam pengobatan tradisional ayurveda untuk mengatasi stress.

Kesempatan untuk mengendalikan stress juga saya ambil ketika mampir sejenak ke hutan pinus Pengger di kawasan Bantul, Jogjakarta, setelah menengok keponakan yang selesai operasi skoliosis (tulang belakang belakang yang bengkok). Situasi harap-harap cemas akan keberhasilan operasi besar itu, dan ditambah si ponakan itu belum lama ditinggal ibunya karena kanker otak, terasa cukup menekan perasaan. Karenanya sang suami berkenan mengantar saya mampir sejenak ke tempat yang dia tahu saya menyukainya. Saya berdiri sedikit di atas ketinggian, dalam hening. Membiarkan harumnya melapangkan jalan napas dan menenteramkan. Pikiran yang saat itu tertambat di rumah sakit, perlahan pergi melayang. Saya tahu dia akan baik-baik saja…

Jenis pohon yang sama, harum yang sama, yang mengingatkan saya saat beristirahat dari tanjakan-tanjakan terjal menjelang desa Namche Bazaar di kawasan Everest, Nepal. Meskipun lelah, saya seakan mendapat energi tambahan berada di dalam rangkulan hutan pinus itu. Menatap batang pohonnya yang menjulang, mendengarkan musik alam dari desir puncaknya yang tertiup angin. Mereka seakan berbaris menjadi pintu-pintu, membukakan jalan ke kehidupan baru yang menjanjikan. Harumnya yang menyegarkan membuat saya kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan. Saya melihat ke atas, puncaknya melenting ke kiri dan ke kanan. Tetap kuat dan tangguh meskipun digoyang angin. Siapa sangka tak jauh dari sana, masih di antara batang-batang langsing yang tinggi itu memberikan pemandangan penuh janji akan keindahan Gunung Everest yang tertinggi di dunia?

Intimnya saya dengan pohon pinus kembali terjadi saat silaturahmi dengan keluarga besar yang dilakukan di Bandung Utara. Setelah acara selesai, esok paginya saya berjalan kaki sendiri ke arah lapangan golf. Seperti doggie, berdasarkan kekuatan hidung, saya berjalan menuju harumnya pinus yang khas itu dan berlama-lama berdiri di bawahnya. Membiarkan harumnya menyebar melalui hidung ke seluruh sel dalam tubuh.

Harumnya yang dikenal sejak kecil ternyata menjejak lama dalam diri, tak pernah lupa akan rasanya yang menenangkan, menenteramkan dan mengenangkan semua cinta…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-41 ini bertema The Scent agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…