Pinus, Menenteramkan, Mengenangkan


Rasanya satu-satunya keharuman yang berakar kuat dalam pikiran saya adalah harumnya pinus. Bisa jadi karena sejak kecil, saya sering diajak pergi ke Bandung, ke Gunung Tangkuban Perahu dan berhenti sejenak di pinggir jalan sekitar Cikole, tempat dimana hutan pinus tumbuh di kanan kiri jalan. Kebiasaan sejak kecil untuk berhenti sejenak di pinggir jalan, ternyata diturunkan juga kepada anak-anak saya. Hanya untuk sejenak melapangkan pernafasan dengan wangi pinus yang sangat khas.

hutan pinus cikole
Pine trees near Bandung

Bagi saya pribadi, wangi pinus itu menenteramkan, hijau daunnya menenangkan hati, rasanya damai berada di tengah hutan pinus. Wanginya khas dan kadang ‘musik alam’ dari hutan pinus itu terasa seperti mendayu-dayu, gesekan puncak-puncaknya yang terbawa angin seperti mengajak berdansa dengan irama alam.

Harum pinus juga membawa kenangan, karena setiap berada di sana, saya senantiasa teringat almarhum ayah yang pertama kali memperkenalkan wangi pinus ke hidung saya. Dan kini, dimanapun ada pinus dengan keharumannya yang khas itu, rasanya seperti diselimuti kedamaian sekaligus kerinduan terhadap almarhum Papa.

Tidak heran, minyak pinus itu (pine oil) itu memang salah satu minyak atsiri (essential oil) yang produksinya terbanyak di dunia, karena diakui mampu memberikan rasa nyaman dan damai dalam berbagai situasi. Sebagai minyak aromatik, di tempat aslinya Pine oil sudah dikenal lama dalam pengobatan tradisional ayurveda untuk mengatasi stress.

Kesempatan untuk mengendalikan stress juga saya ambil ketika mampir sejenak ke hutan pinus Pengger di kawasan Bantul, Jogjakarta, setelah menengok keponakan yang selesai operasi skoliosis (tulang belakang belakang yang bengkok). Situasi harap-harap cemas akan keberhasilan operasi besar itu, dan ditambah si ponakan itu belum lama ditinggal ibunya karena kanker otak, terasa cukup menekan perasaan. Karenanya sang suami berkenan mengantar saya mampir sejenak ke tempat yang dia tahu saya menyukainya. Saya berdiri sedikit di atas ketinggian, dalam hening. Membiarkan harumnya melapangkan jalan napas dan menenteramkan. Pikiran yang saat itu tertambat di rumah sakit, perlahan pergi melayang. Saya tahu dia akan baik-baik saja…

Jenis pohon yang sama, harum yang sama, yang mengingatkan saya saat beristirahat dari tanjakan-tanjakan terjal menjelang desa Namche Bazaar di kawasan Everest, Nepal. Meskipun lelah, saya seakan mendapat energi tambahan berada di dalam rangkulan hutan pinus itu. Menatap batang pohonnya yang menjulang, mendengarkan musik alam dari desir puncaknya yang tertiup angin. Mereka seakan berbaris menjadi pintu-pintu, membukakan jalan ke kehidupan baru yang menjanjikan. Harumnya yang menyegarkan membuat saya kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan. Saya melihat ke atas, puncaknya melenting ke kiri dan ke kanan. Tetap kuat dan tangguh meskipun digoyang angin. Siapa sangka tak jauh dari sana, masih di antara batang-batang langsing yang tinggi itu memberikan pemandangan penuh janji akan keindahan Gunung Everest yang tertinggi di dunia?

Intimnya saya dengan pohon pinus kembali terjadi saat silaturahmi dengan keluarga besar yang dilakukan di Bandung Utara. Setelah acara selesai, esok paginya saya berjalan kaki sendiri ke arah lapangan golf. Seperti doggie, berdasarkan kekuatan hidung, saya berjalan menuju harumnya pinus yang khas itu dan berlama-lama berdiri di bawahnya. Membiarkan harumnya menyebar melalui hidung ke seluruh sel dalam tubuh.

Harumnya yang dikenal sejak kecil ternyata menjejak lama dalam diri, tak pernah lupa akan rasanya yang menenangkan, menenteramkan dan mengenangkan semua cinta…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-41 ini bertema The Scent agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Iklan

Wayang dan Museumnya


 

Terik matahari sudah berkurang meskipun belum sepenuhnya reda. Dengan bergegas karena takut segera tutup, saya meninggalkan rumah makan di kawasan kota tua itu lalu menuju Museum Wayang karena lokasinya hanya selemparan batu dari situ.

Setelah membeli tiket yang harganya hanya Rp 5000,00 saya masuk ke dalam tanpa lupa bertanya jam tutupnya. Petugas menjawabnya seperti asal saja, yang katanya hingga pengunjung terakhir keluar. Entah apa maksudnya, apakah dia sungguh-sungguh mau menunggu hingga pengunjung terakhir keluar, -hal itu bisa jadi bumerang baginya sebab siapa tahu pengunjungnya adalah penggila wayang yang mau berjam-jam di sana-. Ataukah karena sangat sedikit pengunjung museum sehingga ia yakin dan tahu pasti bahwa pada jam tertentu akhirnya tidak akan ada pengunjung baru. Kok saya miris ya?

DSC09052
Baratayudha – The War

Meskipun tidak dibesarkan dalam keluarga yang suka nonton wayang, saya cukup mengenal kisah-kisahnya. Kisahnya ya, bukan wayangnya. Di Indonesia pertunjukan wayang biasanya mengambil kisah-kisah dari epos Ramayana atau Mahabharata dengan tambahan ciri khas masing-masing daerah meskipun ada juga yang mengambil kisah sehari-hari. Jadi, entah itu wayang dari Jawa atau Sunda atau Bali, apabila membicarakan Dewi Sinta, itu artinya ya istrinya Rama. Atau, jika bicara Drona ya artinya gurunya Pandawa dan Kurawa. Sesederhana itukah?

Ternyata tidak! Dari kunjungan ini, saya tahu bahwa saya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang wayang, juga kisahnya! Yang saya tahu hanya sebagian kecil saja dari begitu banyak variasi wayang yang ada di Indonesia ini.

Dengan bermodal ilmu kira-kira, saya disambut wayang segede gaban di dekat pintu masuk lalu lorong panjang yang memamerkan banyak wayang. Di sini lebih banyak dipamerkan wayang golek Bandung yang memang terlihat kualitasnya yang terpelihara dengan baik.

DSC09006
Wayang Golek Bandung

Ups, saya baru sadar bahwa Museum Wayang ini dulunya adalah gereja tua yang sekaligus menjadi tempat prasastinya Jan Pieterson Coen dan masih banyak prasasti-prasasti lain yang mengingatkan saya bahwa disana dibaringkan tubuh-tubuh mereka. Hmmm… mengapa auranya menjadi mistis begini yaaa… lalu kemana semua orang yang tadi ada? Mendadak saya berasa lebih dingin dan saya cepat-cepat pergi dari situ.

Ruangan selanjutnya membuat saya lebih tak nyaman. Ada boneka Sigale, yang secara tradisi katanya, sering digunakan juga untuk memanggil arwah. Boneka Sigale yang ada di balik ruang kaca ini, apakah juga dulu pernah dijadikan sebagai media pemanggilan arwah? Uuuh… kenapa sih pakaiannya harus putih begitu?  Tadinya saya mau upload fotonya, tapi setelah dipikir-pikir nanti malah takut, jadi saya batalkan uploadnya. Dan tak jauh dari boneka Sigale, juga ada boneka Si Manis, -dengan kisah horornya-, yang tentunya menambah suasana tak nyaman di sana. Ini kenapa Museum Wayang yang tempatnya udah berbau horor juga mengoleksi item yang horor-horor?

Tak luput dipamerkan pula boneka dengan Kisah Si Pitung (Sudah datang ke rumahnya? Saya sudah!) Jadi ingat, bukankah kisah Si Pitung juga penuh kontroversi dan katanya, punya daya sakti yang membuat Belanda gagal terus menangkapnya?

Seingat saya setiap pertunjukan wayang pasti dimulai dengan ditampilkannya gunungan dan biasanya gunungan itu cantik-cantik. Dan saya selalu kagum dengan gunungan-gunungan yang ada di Museum Wayang. Dan di museum ini saya baru tau makna-makna di hampir setiap sudut wayang kulit. Wow, ini beneran setiap sudutnya memiliki arti. Tidak heran semua penggemar wayang yang sejati langsung mengenal sebuah wayang ditunjukkan padanya. Tidak seperti saya. Saya hanya kenal punakawan, meskipun sering juga terbalik antara Bagong dan Semar.

Dari kisah-kisahnya yang mengambil dari Mahabharata, saya sebagai penggemar Kresna hanya tersenyum-senyum sendiri ketika melihat wayang Kresna yang sedang melakukan Triwikrama, yang ditampilkan seperti raksasa. Jadi inilah penggambaran Triwikarma dalam tradisi wayang tersebut.

DSC09063
Trivikarma of Krishna

Saya masih berkeliling dan menemukan boneka-boneka yang digunakan dalam sebuah pertunjukan tradisional seperti dari Malaysia, Vietnam, Kamboja, Russia, China dan lain-lain.

Tapi yang membuat saya terpesona adalah banyaknya versi wayang yang ditampilkan di Museum ini. Bahkan wayang kulit pun ada kategorinya, ada yang berukuran normal maupun berukuran lebih kecil yang akan dimainkan oleh anak-anak yang memiliki bakat sebagai dalang. Jika saya disodorkan wayang, saya tak pernah tahu bahwa ukuran yang satu lebih kecil dengan wayang yang lain.

Ada juga wayang lidi! wayang yang terbuat dari lidi yang diambil dari pohon kelapa itu. Hebatnya bisa dianyam sehingga membentuk wayang. Uh, jika saya yang membuat, lidinya pasti sudah patah dimana-mana. Sungguh, saya terkagum-kagum dengan wayang ini. Kagum dengan cara membuatnya!

DSC09162
Wayang Lidi

Dari ilmu sejarah yang saya dapat disekolah, dulu wayang juga merupakan alat syiar agama Islam di dalam masyarakat meskipun berkembang pula wayang wahyu, yaitu wayang yang digunakan untuk menyebarkan agama Nasrani. Pernah lihat wayang wahyu? Lihat gambarnya saja sudah dapat diidentifikasi. Dan tidak untuk syiar saja, untuk membangkitkan semangat juang, juga menggunakan wayang. Makanya ada yang namanya wayang revolusi! Asyik kan?

Dan wayang memang pantas mendapat gelar sebagai salah satu dari The Masterpieces of Oral and Intangible Cultural Heritage, -yang diberikan UNESCO pada tanggal 7 November 2003. Karena memang wayang ada di sudut-sudut Indonesia. Ada wayang dari Palembang, Bali, Lombok dan lain-lain selain Jawa dan Sunda yang lebih sering dikenal.

Jadi seru juga datang ke Museum Wayang. Selain ada rasa ngeri-ngeri sedap gitu, ada juga pengetahuan tentang wayang dari berbagai tempat. Belum lagi topeng-topengnya atau perangkat gamelannya.

Ayooo… agendakan akhir pekan ini ke Museum Wayang di Kota Tua, Jakarta…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-36 ini bertema Traditional agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A Dose of Vitamin Sea


Salt water heals. Sweat, Tears and Sea. So don’t wait, let’s have some dose of Vitamin Sea

Mungkin juga tidak berlaku untuk sebagian orang, tetapi bagi saya, di saat stress melanda begitu menekan, -baik di lingkungan kantor ataupun pribadi-,  Vitamin Sea merupakan salah satu terapi yang lumayan ampuh untuk dijalankan. Memang tidak menghilangkan sama sekali, tetapi minimal bisa mengangkat mood menjadi lebih baik.

Seperti duluuu… ketika saya sekeluarga melakukan perjalanan mudik Lebaran melalui jalur Selatan menuju Jogjakarta dan terjebak di perjalanan hingga belasan jam, suami saya yang menyetir malah melakukan detour sebentar ke pantai selatan. Bisa jadi dia sudah jengkel melihat antrian kendaraan di Jalur Selatan yang tidak habis-habis itu dan ingin mengistirahatkan matanya sejenak dengan melihat laut.

IMG_4930
Southern Beach before Sunset

Saya sekeluarga menjejak pantai pada sore hari, kurang dari dua jam sebelum matahari terbenam. Suara deru ombak yang berkejaran menenangkan hati. Badan yang lelah terjebak dalam kendaraan selama berjam-jam mendadak bebas bergerak, sangat menyenangkan rasanya. Saya memandang ke laut lepas, mengagumi lembutnya sinar mentari sore yang tak lagi menyilaukan dan membiarkan air laut yang asin itu menyentuh kaki. Rasanya ingin berlama-lama menceburkan diri main air jika saja tak ingat harus melanjutkan perjalanan segera. Rehat itu hanya sejenak, namun sentuhan air itu cukup menularkan semangat bertahan untuk meneruskan perjalanan ke Jogja.

*

Tetapi dari pinggir laut saya juga mendapatkan pengalaman lain yang penuh makna. Saat itu masih di pantai selatan Jogjakarta, meskipun pada kesempatan yang berbeda. Saatnya sama, jelang matahari terbenam juga, tetapi situasinya sama sekali tak serupa. Tak ada rasa hangat saat itu, tak ada rasa ingin bermain di pantai saat itu. Jauh dari semua rasa itu.

Awan gelap menggantung di atas saya meskipun sedikit terang di horison. Sebuah kapal terlihat jauh di batas pandang, seakan meninggalkan saya yang terjebak di bawah awan badai. Ombak datang lebih cepat, lebih menderu yang bagi saya, terasa mengancam. Hempasannya tak main-main. Seakan berkata tanpa satu pilihan, jangan mendekat atau kamu akan disikat.

Anger is like Gasoline. If you spray it around and somebody lights a match, you’ve got an inferno. But if you can put it inside the engine, it can drive you forward.

Begitu juga Vitamin Sea, jika dilakukan bukan pada waktu yang tepat dan tidak sesuai dengan dosisnya, maka Vitamin Sea itu bisa berbalik arah menjadi sebuah ancaman yang membahayakan. Pada akhirnya manusia seharusnya yang belajar memahami alam dan tidak menantangnya.

Karena alam memiliki aturannya sendiri yang sudah jelas. Sebagian manusia dengan segala kepandaiannya justru kadang tak mampu menjaga alam. Alam yang terlahir cantik dengan keindahan luar biasa justru mendapatkan upaya penghancuran dari manusia-manusianya.

Akankah kita mampu menjaga keindahannya? Menjaga kebersihan pantai dan laut dari sampah, menjaga kelestarian biota laut? Saya seringkali gemas dan miris melihat foto-foto orang yang menginjak terumbu karang, atau mengangkat bintang laut ke udara tanpa rasa salah atau merasa lucu saat menduduki penyu yang sedang menuju laut. Apakah manusia-manusia itu pernah merasakan dipisah paksa dari lingkungan hidupnya yang utama, apakah mereka pernah dipaksa berada dalam ruang tanpa oksigen? Apakah mereka pernah diinjak dengan beban berlebih hanya untuk mendapatkan sebuah kesenangan?

Padahal keindahan pantai dan laut bisa membuat hati menjadi lebih nyaman, stress bisa terkendali. Rasanya luar biasa jika bisa melihat pantai pasir putih yang panjang dan bersih serta warna biru lautannya, apalagi jika air laut yang jernih. Indah sekali tentunya.

P1000693
Dreamland Beach in Bali

Atau seperti di pantai Kuta di Bali atau pantai-pantai indah lainnya yang menghadap Barat saat mentari terbenam mampu memberikan suasana romantis. Saat bola matahari itu perlahan-lahan ditelan horison, memberikan pendar warna kuning keemasan di langit Barat, siapa yang tak suka? Apalagi disaksikan bersama orang tercinta…

Jangan seperti saya yang pernah datang sendiri untuk menyaksikan matahari terbenam di Pantai Kuta tapi menjadi ingin menimpuk sepasang kekasih yang duduk di depan saya karena mereka saling berciuman tepat setelah matahari hilang dari horison. Bikin iri kan? 😀 😀

P1000475
Sunset in Kuta, Bali

Tidak bisa disanggah, berada di pantai memandang lautan dan mendengar deru ombak yang saling berkejaran memang sebuah terapi yang ampuh untuk mengendalikan stress seakan ombak membawa pergi semua masalah yang sedang dihadapi sehingga kita menjadi lebih jernih dalam berpikir.

Bayangkan saja, saat saya di Korea Selatan, saya menyempatkan diri ke Pantai Haeundae, padahal waktu itu musim gugur dan tentu saja udara serta air lautnya dingin sekali. Meskipun begitu, saya senang sekali menyaksikan sekumpulan anak-anak TK bersama gurunya menari di pantai dengan iringan lagu Gangnam Style yang waktu itu sedang ngetop sedunia. Lucu sekali!

Juga saat berkendara dari Danang menuju Hue di Vietnam Tengah, saya sempat mengambil foto pantai yang menggoda saya untuk singgah. Deburan ombaknya itu benar-benar sangat menggoda dan jika saja sopir mobil yang saya sewa itu tak menyebalkan, tentu waktu itu sudah saya sempatkan berhenti di pantai. Just to take a Vitamin Sea!

Sampai sekarang saya tak pernah lupa pengalaman berada hanya berdua dengan suami di Pantai Selong Belanak di Lombok Selatan yang berpasir putih sangat panjang hingga menyilaukan. Benar-benar seperti pantai pribadi!

Soal Vitamin Sea, Indonesia selalu di hati!


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-33 ini bertema Vitamin Sea agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Taman Burung, Santainya Kita Penjaranya Mereka


Give your stress wings and let it fly away – Terri Guiletmets

Taman Burung di Taman Mini Indonesia Indah merupakan salah satu tempat saya melarikan diri di akhir minggu di kala kepenatan hidup sehari-hari dirasa terlalu menekan. Tetapi bisa jadi karena saya penggemar merak dan saya hanya tahu di Taman Burung itulah saya bisa melihat merak yang hidup (meskipun kadangkala otak kartun saya yang sering tidak berperikebinatangan ini tak jarang membayangkan mencabut bulu merak dalam keadaan hidup saat saya sedang jengkel banget! Sadis ya… )

Tetapi di Taman Burung itu tidak hanya ada merak. Masih banyak jenis burung lain yang sangat menarik. Saya bersyukur sekali hidup di Indonesia yang memang sangat kaya dengan begitu banyak variasi jenis burung. Tanpa perlu menghafal nama-nama latin yang sulit dari Kingdom Animalia berkelas Aves ini, paling sedikit kita hanya perlu duduk diam mensyukuri dan menikmati keindahan keberagaman makhluk ciptaan Tuhan ini.

Jadi, beberapa waktu lalu, bersama suami, saya berangkat ke Taman Mini, hanya untuk menikmati merak yang berjalan bebas hilir mudik.

DSC06660
Peacock

Dan tetap saja pikiran ‘gila’ saya mengamati keindahan bulunya dan membayangkan seandainya satu bulunya bisa saya bawa pulang ke rumah!

Tidak hanya itu, segera setelah pintu masuk, kita dapat berfoto bersama burung Kakaktua berbulu hitam, burung Nuri (macaw) yang berbulu biru dengan dada kuning dan burung Enggang. Saya sempat berfoto dengan mereka dan merasakan cakar-cakarnya menekan permukaan kulit lengan. Rasanya geli menggemaskan ketika mereka berjalan di lengan saya! Bahkan jam tangan saya pun disangka makanan dan dipatuk-patuk (untung saja saat itu saya menggunakan jam tangan outdoor yang tahan banting).

Selepas merasakan dijelajahi cakar-cakar burung, saya santai berjalan dan menyaksikan si burung botak yang kelihatannya ringkih sedang berjalan juga. Melihatnya, mengingatkan saya akan burung serupa, –yang termasuk keluarga bangau ini-, yang pernah saya lihat di Danau Tonle Sap di Kamboja. Namun jika diperhatikan secara seksama, mukanya terlihat tidak bersahabat dan terkesan galak 😀 Akhirnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pelan-pelan saya bergerak menjauhinya pada saat ia terlihat mendekati saya, alias kabur pelan-pelan…

Langkah saya membawa ke sangkar burung hantu yang sedang bertengger tak bergeming. Saya harus memutar otak untuk memotretnya karena jeruji sangkarnya dibuat sangat rapat dan dia bertengger cukup tinggi. Burung hantu memiliki bentuk wajah yang menurut saya sangat eksotis, gelap dan misterius. Kemampuan dirinya untuk bertengger diam untuk waktu yang cukup lama tak mengherankan. Benar-benar ‘tekun’ untuk berdiam diri. Tak aneh, jika dalam fabel biasanya ia menjadi menjadi sumber pengetahuan.

DSC06654
Owl

Langkah kaki membawa saya ke wilayah si merak. Dia sibuk hilir mudik mematuk-matuk sesuatu. Mungkin berharap ada makanan tersebar di sekitar dirinya. Ah, kelihatannya dia sedang enggan memekarkan ekornya yang cantik itu. Ya sudahlah, saya juga tidak berharap banyak kepadanya sehingga saya meneruskan langkah.

Di sekitarnya banyak burung yang sepertinya masih keluarga si merak. Mereka bergerak bebas, ada juga yang berada di kandangnya. Seperti umumnya merak, ada yang memiliki bulu berwarna biru kehitaman yang sangat menarik dan sepertinya glossy. Tak jauh dari situ, ada seekor burung juga masih keluarga si merak yang sedang menyembunyikan kepalanya. Ah, ia seperti hanya seonggok daging tak berbentuk dengan bulu yang indah. Bisa jadi dia malu terhadap saya! 🙂

Selesai tersenyum-senyum melihat lagak si merak, saya melanjutkan langkah ke sebuah sangkar besar. Dan mendadak saya merasa stress yang dirasakan seminggu bekerja ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang diterima makhluk di depan saya ini.

Elang!

Bertengger dengan gagah, mata tajamnya berkedip sesekali, selaras gerak kepalanya yang mencari bunyi-bunyian dari shutter kamera. Saya sungguh tidak tega. Saya mengenal elang sebagai burung yang mampu terbang sangat tinggi dan jauh. Dan kini ia terpenjara dalam sangkarnya yang tidak sebanding dengan kualitas kemampuan seekor elang. Ia tak bebas lagi terbang tinggi. Tanpa salah, ia menjadi tak beda seperti seorang penjahat yang terpenjara. Hanya untuk menyenangkan hati dan memuaskan rasa ingin tahu manusia-manusia seperti saya.

Kenyataan di hadapan ini membukakan mata, bahwa saya selama ini memiliki andil tak langsung memenjarakan si gagah elang, alih-alih membiarkannya bebas terbang di alam. Bagaimana rasanya kalau kita terpenjara meskipun tak bersalah? Saya menggigit bibir memikirkan keadilan baginya. Dan dalam sekejap mata, saya pun disergap oleh sebuah pemahaman. Sebuah keikhlasan.

Si gagah elang telah menerima takdirnya mengorbankan kehidupan bebasnya untuk begitu banyak manusia. Rasanya saya tertampar sangat keras menyadarinya. Sebuah pertanyaan terasa menggaung di telinga hati. Seberapa besar pengorbanan kenikmatanmu untuk manusia lain? Apakah seluruh sisa hidupmu?

DSC06680
Eagle

Saya mendadak kehilangan mood untuk berjalan-jalan lebih jauh. Mendadak saya ingin mengakhiri kunjungan ke Taman Burung ini tetapi pintu keluar masih jauh di depan. Saya mempercepat langkah menuju danau buatan, yang di dekatnya terlihat seekor pelikan dan angsa hitam yang sedang bermain air mendinginkan tubuh.

Di dekatnya, dalam gua buatan yang memiliki terowongan, terdapat burung-burung dengan bulu warna-warni. Sepertinya mereka dijadikan obyek foto bagi pengunjung.

Sambil bergerak menuju pintu keluar saya melihat burung-burung besar seperti kasuari. Melihat burung-burung ini hanya bisa bergerak hingga ke batas pagar-pagarnya, saya semakin gundah, apalagi ia menyelipkan kepalanya diantara besi pagar untuk menoleh ke kiri dan ke kanan, entah mengapa.

Saya menarik nafas setelah melewati pintu keluar. Baru kali ini, saya meninggalkan Taman Burung dengan berbagai rasa yang saling bertentangan. Mereka, -ciptaan Tuhan yang juga mendiami bumi ini-, dengan ikhlas menerima takdirnya untuk kehilangan kehidupan bebasnya, untuk hidup terpenjara demi ‘kelanjutan’ kehidupan manusia yang semakin berpengetahuan yang mengembangkan peradaban. Dari Taman Burung kali ini saya menerima sebuah pembelajaran tentang keikhlasan dan pengorbanan dari makhluk yang tunduk pada hukumNya.

Lalu bagaimana dengan kita…?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-24 ini bertema Animalia agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Kebaikan Hati Itu Tak Pernah Ragu


A kind heart is a fountain of gladness, making everything in its vicinity freshen into smiles

(Washington Irving)

Sudah kesekian kali kami sekeluarga kembali ke hotel itu, baik ketika mudik maupun sekedar libur biasa. Memang bisa dibilang menguras kantong setiap menginap di sana, tetapi sikap santun dan kebaikan hati para pegawainya yang luar biasa membuat kami, terutama saya, terpesona dan jatuh hati untuk selalu kembali ke sana. Tidak hanya para pegawai yang berhubungan langsung dengan tamu, melainkan mereka yang berada di semua level, termasuk dari tingkat yang umumnya tak terlihat oleh tamu hotel.

Sejak pertama kali menginap di sana hingga kemarin ketika mudik, kualitas layanan para pegawainya tak berubah bahkan pada saat-saat ‘genting’ sekalipun. Seperti pada saat Hari Raya, ketika tingkat penghunian kamar hotel berada di level sangat tinggi dan situasi ‘genting’ pelayanan laksana ujian terjadi ketika sarapan pagi. Hampir semua tamu secara bersamaan, -terutama setelah selesai shalat Ied-, datang tumplek blek di restoran, menuntut hak perut mereka, dan termasuk saya. 😀 Sambil meminta maaf, tamu-tamu yang belum mendapatkan meja diarahkan ke meja-meja sementara di halaman luar yang didekorasi dengan cantik dekat kolam renang. Senyum mereka tak pernah lepas dari wajah. Tulus, tidak dibuat-buat hanya demi kenyamanan tamu.

Ketulusan dan kebaikan hati ini mengingatkan saya sebuah momen beberapa tahun sebelumnya, ketika saya ‘tertangkap’ oleh salah seorang dari mereka sedang dalam posisi memotret landscape luar yang cantik dari jendela lorong. Meskipun tak ingin mengganggu ‘kesibukan’ saya, dengan santun ia mengucapkan salam dan menunggu sejenak hingga saya selesai. Kemudian…

“Karena kelihatannya Ibu suka memotret, apakah Ibu sudah ke lantai Panorama?”

“Apa itu, Mas?”

“Tempat teratas sehingga Ibu bisa memotret 360 derajat pemandangan dari atas, tanpa halangan.”

“Sungguhkah?” Saya terbelalak karena tidak menyangka mendapatkan informasi singkat yang berguna.

“Jika sekarang Ibu sedang luang, saya bisa mengantarkan”

“Wah, tentu saja saya bisa, terima kasih banyak mas”

Bersamanya kami naik lift ke lantai teratas tempat orang-orang prioritas menginap lalu melalui naik tangga satu lantai sehingga kami sampai di rooftop. Saya terpukau dengan keberadaan tempat terbuka yang juga ditata manis dengan berbagai tumbuhan bunga.

Merapi berselimut awan dengan latar bougainville

Rasa terima kasih saya kepadanya sepertinya tak cukup, karena ia telah membagikan informasi yang sama sekali tak saya duga. Ia bisa saja berdiam diri melihat saya sedang memotret di lorong, atau ia bisa saja hanya menyapa lalu memberi salam untuk saya pagi itu. Itu sudah cukup dalam penyelesaian tugasnya terhadap tamu. Namun dengan kebaikan hati dan kesantunan, ia mengutamakan kepuasan tamu tanpa ragu. Sebagai sesama pemegang status sebagai pegawai perusahaan, belum tentu saya berada dalam nilai profesionalisme yang sama, dibandingkan dengannya.

Dan sejak itu, setiap menginap di sana, saya selalu menyempatkan diri ke lantai Panorama itu. Kadang hanya melihat-lihat pemandangan sekitar atau bisa juga memotret pemandangan yang sama. Berada di sana, rasanya saya selalu teringat akan kebaikan hati yang tercetus begitu saja, tanpa sebuah keraguan dan hal itu membuat saya tersenyum sendiri. Namun sayangnya, di sana saya belum pernah mendapatkan foto pemandangan Gunung Merapi yang jelas, karena lebih sering ia bersaput kabut, malu-malu bersembunyi di balik awan. Ah sepertinya Gunung Merapi mau bergaya laksana Gunung Fuji di Jepang, hanya orang-orang beruntung yang bisa menyaksikannya dengan jelas.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-22 ini bertema Unexpected Information agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Landmark Negeri di Hati


Diantara kehebohan rencana untuk mudik sekeluarga sebagai tradisi tahunan dalam keluarga kami, tetap saja saya harus menyetor tulisan ke dalam blog setiap minggu. Dan ketika sahabat saya itu mengangkat tema Landmark untuk cerita minggu ini, rasanya landmark dari beberapa negeri yang sudah saya datangi langsung berlomba menari di benak. Saya tak dapat memilih salah satu dari sekian itu, belum lagi landmark dari negeri sendiri yang bagi saya bukan tandingan.

Pura Ulun Danu

Pura Ulun Danu Beratan di Bali, bagi saya pribadi, sampai sekarang masih memiliki ranking teratas sebagai landmark Bali dan Indonesia. Buat saya pribadi lho… Tempat yang bagi saya sangat magical ini benar-benar mengisi ruang hati.

Dulu ketika saya sedang berada di level rendah dalam roda kehidupan, -meskipun berada di Jakarta-, saya mengangankan berada di sebuah tempat yang begitu magical sehingga saya bisa melakukan kontemplasi yang dalam. Dan yang selalu muncul di benak adalah Pura Ulun Danu Beratan! Percaya tidak, pertama kali saya ke tempat itu ketika saya masih kecil yang belum tahu apa-apa dan saya kembali ke sana bertahun-tahun setelah kontemplasi itu dengan sebuah keterkejutan: apa yang tergambar dalam benak mengenai Pura Ulun Danu Beratan tidak banyak berubah.

Dan setiap ke sana, saya tersenyum mengingat kembali bagaimana tempat ini menjadi sebuah penanda dalam kehidupan pribadi saya, membantu membuat saya kuat melewati masa-masa penuh tantangan, bahkan tanpa perlu saya datangi.

Kecuali Angkor Wat, bagaimana mungkin saya membandingkan Pura Ulun Danu Beratan yang berada di tepi Danau Beratan ini dengan landmark dari negeri-negeri yang telah saya kunjungi, meskipun bagus dan merupakan yang must-see di negeri itu?

Sunrise at Angkor Wat
Landmark of the countries

Rasanya tetap tak bisa membandingkan meskipun saya menyukai kerlip cahaya lampu di Hong Kong, atau pancuran air yang tak pernah habis dari si Merlion. Juga meskipun saya harus setengah tiduran saat mengambil foto Petronas Tower di Kuala Lumpur.

Bagaimana mungkin saya melupakan Wat Arun yang memukau saat senja memenuhi langit Bangkok saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Thailand itu? Atau monumen Pha That Luang di Vientienne? Sama tidak mungkinnya saya melupakan Shwedagon di Myanmar yang selalu berhasil membuat saya terharu-biru.

Mampukah saya melupakan keindahan luar biasa Kinkakuji di Kyoto saat musim semi? Rasanya akan sama tak mampunya saya untuk mengabaikan begitu saja ketika Gunung Everest yang tertinggi di dunia itu menampilkan magical moment dalam penerbangan pulang dari Nepal.

Semua landmark itu memiliki tempat khusus di hati saya. Bisa jadi hanya Angkor Wat, yang mampu membuat saya ‘gila’ karena pernah kembali ke tempat itu empat kali dalam setahun!

Dua landmark negeri yang begitu kuat terpatri dalam hati, meskipun berbeda dalam kekuatan daya tariknya. Yang satu begitu kuat tanpa perlu hadir, yang lain begitu kuat dan memanggil kembali.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-21 ini bertema Landmark agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Main Ke Rumah Si Pitung Di Marunda


 

Rumah Si Pitung

Siapa orang Betawi yang tidak kenal si Pitung? Dialah Sang Legenda Robin Hood dari Betawi pada akhir abad 19 yang telah berhasil mempermalukan Kepala Polisi Batavia dan meresahkan pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera pada masanya.

Selama delapan tahun, 1886 – 1894, Si Pitung melakukan aksi perampokan uang dan emas permata yang bernilai tinggi terhadap saudagar-saudagar kaya yang dinilainya bersekutu dengan Belanda lalu konon ia membagikan rampasannya kepada orang-orang miskin, namun selalu berhasil lolos dari kejaran polisi. Sempat sekali tertangkap, tapi seperti belut, dengan mudahnya Si Pitung yang bernama asli Salihun ini melarikan diri dari penjara Meester Cornelis di tahun 1891. Dan tidak tanggung-tanggung Sang Jawara ini mempermalukan Pemerintah Hindia Belanda karena ia bisa hilir mudik dengan kereta api tepat di depan hidung Sang Kepala Polisi. Dan bukannya mereda, Si Pitung bahkan berhasil membinasakan Demang Kebayoran yang memusuhi petani-petani serta tak henti-hentinya meresahkan pemerintah kolonial saat itu.

Tak terbayangkan gusar dan marahnya Penasehat Pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera yang bernama Snouck Hurgronje kepada Kepala Polisi Batavia, Schout Hijne, yang selalu gagal menangkap satu orang Bumiputera yang bernama Si Pitung ini. Pelecehan jabatan yang dilakukan Si Pitung terhadap Schout Hijne ini membuat Sang Kepala Polisi menghalalkan segala cara untuk menangkapnya, termasuk mendatangi dukun untuk mencari penawar jimat keberuntungan Si Pitung. Tindakan ini makin membuat Snouck Hurgronje hilang akal karena yang dilakukan Sang Kepala Polisi dianggap sangat memalukan dan tidak terpelajar. Tetapi kegagalan terus menyelimuti penguasa saat itu, karena ketika menggerebek rumah Si Pitung di Rawa Belong, mereka hanya menemukan uang 2.5 sen pada tiang bambu. Bahkan kabar kematiannya tetap tak jelas, apalagi keberadaan makamnya.

Dan legenda jawara itu tetap memenuhi pikiran masyarakat Betawi dengan penuh kebanggaan

*

Museum Rumah Si Pitung

Sebenarnya sudah lama saya ingin ‘main’ ke rumah Si Pitung, tetapi baru empat hari jelang puasa niat mengenal legenda Sang Robin Hood Betawi itu bisa terlaksana. Saya sengaja mengambil cuti untuk main ke rumah Sang Legenda yang kini menjadi museum di Marunda. Sebuah pertanyaan menari-nari di benak sepanjang perjalanan, rumah masa kecilnya di Rawa Belong (dekat Palmerah) dan konon makamnya ada di Sukabumi Utara, yang tak jauh dari Rawa Belong. Lalu mengapa museumnya ada di Marunda yang sangat jauh? Saya tak punya jawaban pasti, kecuali hanya untuk menenangkan pikiran. Sebagai buronan kelas kakap, sewajarnya ia tak pernah menetap dan selalu berpindah…

Untuk mencapai rumah Si Pitung di Marunda atau House of Si Pitung di Google Maps, saya menggunakan aplikasi Travi untuk membantu perjalanan dengan bus TransJakarta. Saya naik bus Transjakarta Koridor 1 menuju Kota lalu turun untuk transit di Monas, dan menunggu bus Koridor 2 yang menuju Pulo Gadung. Setelah melewati sekian banyak halte, saya turun di Cempaka Timur. Tanpa keluar dari area bayar, saya menyusuri jembatan penghubung ke Cempaka Mas 2 untuk lanjut dengan bus TransJakarta Koridor 10 menuju Tanjung Priok dan turun di halte Enggano. Di Halte TransJakarta Enggano ini saya harus menunggu agak lama bus ukuran ¾  jurusan Marunda, dan turun di Pertigaan Rumah Si Pitung. Dari sini saya harus jalan kaki lagi sekitar 200 meter untuk sampai ke Rumah Si Pitung. Meskipun jauh banget, perjalanan dengan bus TransJakarta sangat mudah dan murah, hanya Rp 3.500,- atau sekali tap, tanpa tersesat.

Perjalanan panjang dan lama, -yang kalau naik mobil pribadi bisa sampai Bandung itu saat tol Cikampek bebas macet-, membuahkan hasil meskipun cuaca agak kurang bersahabat. Udara pantai utara Jakarta yang panas membuat keringat mengalir dengan cepat, meskipun ada kolam-kolam bakau yang mampu meredam sedikit panas. Setelah membayar Rp. 3.000 untuk tiket masuk, akhirnya saya bisa berdiri di halaman Rumah Si Pitung, Legenda Jawara terkenal dari Betawi.

Rumahnya yang kini jadi museum tak beda dengan rumah-rumah Betawi pesisir pada umumnya yang berbentuk rumah panggung. Saat saya berkunjung sama sekali tak ada orang, bisa jadi karena saya datang pada hari kerja dan bukan akhir minggu.

Saya menaiki tangga sempit itu dengan hati-hati dan langsung terkejut ketika sampai di anak tangga paling atas. Di sudut teras depan, sebuah patung tak berwajah mengenakan pakaian jawara. Meskipun tak berwajah, saya merasa tak nyaman dengan patung setinggi manusia itu. Ah, saya mungkin lebih terbiasa dengan manekin yang benar-benar terlihat sebagai patung daripada sesuatu berbentuk tubuh manusia tapi tak berwajah. Hitam lagi… Meskipun siang, tetap serem ‘kan?

Kemudian saya melangkah masuk ke ruang tamu melalui pintu yang ketinggiannya rendah. Panas matahari di luar rasanya terjebak di dalam sini, membuat saya seperti kehabisan nafas. Tanpa angin meskipun jendela terbuka. Gerah! Di dalam ruang ini terdapat seperangkat kursi tamu lengkap dengan toples-toplesnya, menggenapi yang ada di teras depan. Lukisan Si Pitung bersama seorang perempuan dan sebuah lampu teplok menghiasi dinding. Sebenarnya ruangan ini bagus, tetapi pengelolanya tak memiliki rasa estetika sama sekali karena kabel listrik yang putih bersama stopkontaknya tidak disembunyikan dan terlihat sangat jelas, merusak penataan warna kayu yang telah dibuat senada.

Lalu ruang berikutnya adalah kamar tidur Si Pitung yang berisi ranjang berkelambu. Saya hanya bisa mengambil foto dari batas pintu karena ada pembatas akses. Jika dalam beberapa sumber dikatakan Si Pitung melajang seumur hidupnya untuk mempertahankan kekuatan jawaranya, maka kondisi kamar yang memiliki ranjang double bertiang dan berkelambu serta meja rias perempuan, menjadikannya bertolak-belakang. Apalagi di lukisan pada ruang sebelumnya terdapat penggambaran Si Pitung bersama seorang perempuan. Adakah yang tahu kisah cinta Si Pitung ini? Siapakah perempuan pendamping legenda Betawi ini?

Saya masih melangkah terus ke belakang. Rasanya saya menjadi pemilik rumah karena menjadi satu-satunya pengunjung saat itu. Ruang berikutnya adalah ruang makan dengan seperangkat meja makan dengan kendi dan lampu gantung berhias. Melihat kendi itu, tergambar dalam benak jawara-jawara meminum air yang mengucur langsung dari kendi ke mulutnya tanpa menggunakan gelas. Kadang kala untuk menyegarkan wajah juga.

Kemudian di sudut ruang terdapat lemari bercermin dengan tikar di hadapannya dan sebuah kayu permainan congklak. Sepertinya bayangan Si Pitung bermain congklak terasa absurd pada benak saya, seharusnya perempuan muda yang melakukan permainan ini. Adakah perempuan-perempuan muda atau anak-anak di sekeliling Jawara Betawi ini? Atau benda ini hanya sekedar benda budaya yang tak terkait dengan Si Pitung? Entahlah… karena tak ada informasi pendukung di sekitar benda ini.

Di sudut seberangnya terdapat bale-bale dengan setumpuk peti yang entah untuk apa kegunaannya. Bisa jadi sebagai tempat menyimpan sementara harta rampasan sebelum dibagikan kepada yang membutuhkan. Selain itu juga terdapat satu set rebana dan alat musik tradisional Betawi. Sayangnya tidak ada penjelasan sama sekali, kecuali larangan-larangan. Bisa jadi pengelola menganggap semua pengunjung sudah tahu mengenai Si Pitung dan budaya Betawi. Padahal di luar negeri untuk museum spesifik seperti ini, selalu disertai informasi yang lengkap, jika perlu ditambahkan hal-hal lain yang bisa mengundang pengunjung datang lagi. Informasi yang ada justru membuat saya bertanya-tanya, -karena diinformasikan peti-peti itu adalah koleksi seseorang-, lalu hubungannya apa dengan sejarah Si Pitung?

Dapur dan Peralatan Masak

Ruang berikutnya adalah dapur dengan sebuah bale-bale dan seperangkat peralatan masak diletakkan diatasnya. Bukankah akan menarik bila dipresentasikan bagaimana cara memasak secara tradisional pada abad 19 itu? Belum tentu semua anak millenial jaman now bisa mengetahui nama-nama alat masak tradisional itu. Tetapi sayang, tidak ada informasi pendukungnya.

Di arah belakang terdapat pintu menuju teras belakang yang tersedia juga sebuah bale-bale yang kelihatannya enak sekali untuk bersantai tidur-tiduran sambil minum kopi. Sekali lagi, sayang tak ada informasi pendukung yang menjelaskan. Jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesia saja tidak ada. Selain itu, lagi-lagi si kabel putih merusak semua pemandangan. Mungkin memang museum ini tidak ditujukan untuk pasar turis asing. Sayang ya?

Saya kembali ke teras depan, menikmati sedikit angin di situ. Menatap ke luar, seakan-akan ke halaman tetangga, tetapi apa daya, terlihat kabel-kabel listrik bergantungan tak beraturan. Gemas rasanya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditata dengan lebih baik.

Balkon di Teras Depan

Mentari semakin terik, saya turun mencari tempat teduh di halaman sambil menikmati Rumah Jawara Betawi ini. Seekor kucing tiba-tiba datang melingkari kaki saya, ingin bermanja-manja rupanya. Hati ini miris, masyarakat Indonesia belum banyak yang mencintai museum. Bahkan bisa jadi pengelolanya pun masih beranggapan museum adalah tempat membuang benda-benda tua yang tidak diperlukan lagi, yang tak jauh beda dengan gudang. Tanpa perlu informasi pendukung, meskipun sebenarnya banyak cerita sejarah berada di balik benda-benda berharga yang dipamerkan itu. Ah, jika manusia belum mencintai sejarahnya, bagaimana ia bisa menghargai masa depan bangsanya?

Saya meninggalkan museum Rumah Si Pitung dengan perasaan sedikit masygul. Apalagi bus TransJakarta melewati saya begitu saja tanpa berhenti di halte yang sama tempat saya turun sebelumnya. Kali ini karena tak tahan panas untuk menunggu lagi, langsung saja saya mengorder babang Ojol untuk kembali ke halte Enggano. Meskipun setelah itu saya agak menyesal karena rupanya babang Ojol itu nekad menerobos sempitnya jalan di antara truk-truk peti kemas segede gaban tanpa peduli saya yang senewen tak terbiasa dan terus komat-kamit berdoa. Saya hanya membayangkan wajah suami yang ngomel karena saya nekad naik ojek diantara truk-truk peti kemas itu. Bisa-bisa ijin jalan-jalan ditarik… uugh..

Sebuah Refleksi Hati Di Museum MACAN


Dalam sebuah ruang tepatnya bersebelahan jalur masuk Museum Of Modern And Contemporary Art in Nusantara (MACAN) terdapat instalasi karya Yayoi Kusama yang sangat populer, yang berjudul Infinity Mirrored Room – Brilliance of the Souls. Instalasi yang menjadi koleksi Museum ini, sekarang ditampilkan permanen dan sepertinya menjadi icon dari Museum MACAN. Atau pengunjung yang datang hanya untuk berfoto dalam ruang ini? Bisa jadi…

Yayoi Kusama’s Infinity Mirror – Museum of Modern And Contemporary Art in Nusantara, Jakarta

Instalasi dalam ruang gelap ini penuh polka dot ini, awalnya hanya dihadirkan sementara dalam pameran perdana museum dan juga pameran retrospektif seniman unik itu yang berjudul Life is The Heart of A Rainbow. Siapa nyana, akhirnya yang sementara itu sekarang menjadi permanen sejak 26 Maret 2019 lalu?

Di Museum MACAN, pengunjung hanya bisa memasuki ruang Infinity Mirrored Room – Brilliance of the Souls setelah berkeliling museum dan ikut dalam antrian. Tidak bisa lama di dalam, hanya 30 detik! Bahkan bisa lebih cepat dari angka itu jika antriannya panjang. Apa pesonanya?

Jangankan saya, selebriti dunia seperti Katy Perry saja melakukan selfie didalamnya. Ya, karena instalasi polkadot warna warni itu dalam ruang gelap penuh cermin yang disinari memang sangat indah, menarik sekaligus menyimpan misterinya sendiri.

Namun terlepas dari kekaguman saya akan hasil karya dan kece-nya Infinity Mirrored Room itu, saya juga tak bisa lepas dari rasa prihatin yang dalam kepada sang artist. Sesungguhnya ruang gelap dan bentuk polkadot warna-warni yang terlihat terhampar tanpa batas karena refleksi cermin itu merupakan halusinasi dan ekspressi dari mental illness yang ditanggung oleh perempuan Jepang kelahiran tahun 1929 itu sejak usia 10 tahun. Kemampuan membelokkannya menjadi seni yang begitu indah, telah menyelamatkan hidupnya dari upaya bunuh diri.

Sungguh saat saya meninggalkan ruang Infinity Mirrored Room itu, saya merasa seperti ‘bukan gegar otak melainkan gegar rasa’ bahwa sebuah kekurangan manusia, sebuah mental illness, dapat menjadi sebuah berkah luar biasa yang bila dikenali dan disalurkan kearah yang positif, bisa berubah menjadi sebuah kelebihan. Sebuah gangguan kejiwaan yang di dunia sering dikategorikan negatif bisa menghasilkan karya positif yang dicari banyak orang, -dan orang yang memahami bersedia membayar mahal untuk bisa mengagumi karyanya-, serta menjadi trademark bagi Yayoi Kusama.

Bagi saya pribadi, merasakan sendiri berada di dalam Infinity Mirrored Room itu benar-benar ‘makjleb

***

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-18 ini bertemakan Reflection agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…