Yang Asri Yang Menyamankan Hati


Sebagai penggiat tanaman, salah seorang teman kakak saya pernah mengatakan bahwa ia memiliki beberapa cara untuk mengelola stressnya. Namun salah satu yang paling mudah dilakukannya adalah menyiram tanaman dan hal itu beliau lakukan dua kali sehari, pagi dan sore hari. Awalnya tentu saja saya skeptis, karena amat jarang saya berhubungan langsung dengan tanaman. Lagi pula saya ini benar-benar penikmat keindahan tanaman yang sudah ditata cantik, yang sudah jadi.

Dan memang, segala sesuatu itu ada waktunya…

Ketika saya sudah bisa beli rumah yang kini ditempati, -meskipun halamannya kecil-, suami dan saya menatanya dengan keasriannya sendiri. Memang sebagian besar hanya ditanami rumput dan di sisi tembok samping diberi berbagai tanaman hias. Dasarnya hanya satu, ketika kami duduk di teras depan atau berdiri di foyer, hanya kehijauan asri yang menyamankan mata dan hati.

Dan akhirnya saya mengamini kata-kata teman kakak yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini. Ketika saya menyiram tanaman di pagi atau sore hari, rasanya ada ketentraman tersendiri yang muncul di jiwa. Air yang membasahi tanah memberi efek langsung harumnya petrichor (bau tanah kering saat tertimpa hujan pertama kali) yang memang saya suka. Selain itu muncul juga rasa bahagia menyaksikan tanaman-tanaman kembali segar setelah mendapatkan air sebagai unsur penting dalam kehidupannya. Terbayang betapa semua makhluk berbahagia karena bisa mendapatkan air di kala dahaga datang menyerang. Rasa bahagia yang menenteramkan ini memang bisa menjadi cara untuk mengelola stress sehari-hari.

Tak disadari bahwa faktor kenyamanan yang satu ini, -yang membuat jiwa raga lelah menjadi segar kembali-, menjadi salah satu penentu dalam memilih hotel saat liburan. Setelah berbulan-bulan disesaki oleh pandangan dinding gedung-gedung perkantoran dan hutan beton ditambah dengan pekerjaan yang datang dan pergi, membuat jiwa perlu rehat sejenak.

Kadang bukan di rumah, melainkan di tempat yang berbeda…

Pernah suatu kali saat long weekend, suami mendadak mengajak jalan ke Jogja. Tapi waktunya amat tidak tepat karena pada saat yang sama banyak penduduk Jakarta juga keluar kota membuat jalan bebas hambatan itu padat luar biasa alias macet tak bergerak! Menit-menit berlalu sampai hitungan jam. Akhirnya suami menyerah. Di gerbang keluar yang pertama ditemui, suami memilih keluar dari jalan tol, berputar arah. Dan saya usul bagaimana jika ke Puncak saja? Meski ia setuju, akhirnya bukan Puncak melainkan Rancamaya, dekat Bogor, yang menjadi tempat liburan kami. Dari rencana ke Jogja, lalu berputar ke Puncak, sampainya di Rancamaya!

Tetapi ternyata berlibur mendadak di Rancamaya membawa kejutan yang manis. Hotel yang kami inapi itu memiliki halaman yang amat luas dan hijau sejauh mata memandang. Bahkan dari jendela besar selebar kamar, kami bisa melihat gunung Salak yang menjulang dan kehijauan yang menghampar.

Bahkan saat berjalan pagi di sekitar hotel, saya bisa mendatangi sepetak tanah berpagar yang berisikan hewan-hewan jinak, diantaranya rusa tutul. Semua berada di kawasan hotel. Belum lagi instalasi-instalasi seni yang diletakkan secara harmonis dengan alam sekitar lengkap dengan tempat duduk untuk menikmati semuanya. Rasanya romantis ketika berjalan pagi bersama suami 😀

View at a hotel in Bogor
View at a hotel in Bogor
A tunnel of leaves, Bogor
A tunnel of leaves, Bogor

Lain Rancamaya, lain pula Jogja…

Seperti post sebelumnya yang pernah saya ceritakan tentang pengalaman menyenangkan menginap di hotel di Jogja, kami sekeluarga mempunyai hotel favorit di Jogja karena halamannya yang amat luas. Membuat saya tak bosan untuk berjalan pagi meskipun berkali-kali menempuh rute yang sama. Setiap ke Jogja hampir selalu menginap di tempat yang sama dan berjalan pagi melihat pemandangan yang tidak jauh berbeda. Kadang daunnya rimbun, kadang sebagian ditebang untuk pemeliharaan. Kadang tamannya sudah berganti tema ketika saya menginap di sana lagi. Bahkan pernah sampai seorang resepsionis sedikit terpana mengetahui bahwa saya sudah ‘merambah’ sampai ke sebuah taman yang disebutnya Secret Garden, karena tempat itu memang agak tersembunyi.

Sambil berjalan di halaman hotel yang amat luas itu, kadang saya bertemu dengan mereka yang bertugas. Jika memang tak terganggu, saya mengajaknya berbincang sebentar dan mengucapkan terima kasih sudah melakukan pemeliharaan yang begitu melelahkan. Merawat halaman yang luas kan melelahkan sekali…

Tapi saya tak sendiri, semakin siang biasanya tamu hotel semakin banyak yang berjalan-jalan, termasuk anak-anak yang celoteh riangnya seringkali terdengar. Senyapnya suasana akan hilang jika anak-anak sudah banyak yang bangun dan berjalan-jalan di halaman hotel.

Tetapi apakah hotel selalu harus berbatas dengan lapangan golf?

Mungkin sedikit tak adil, karena dua hotel yang saya sebut lebih dulu itu berbatas langsung dengan lapangan golf. Lalu apakah selalu harus ada lapangan golf untuk memutuskan menginap di sebuah hotel? Tentu tidak!

Hotel yang kami pilih di dekat Ambarawa tidak memiliki lapangan golf, tapi memiliki perkebunan kopi! Tentunya luas juga kan? Saya bisa berjalan kaki dengan santai mengikuti rute yang tak habis-habis. Merasakan aura kolonial dalam area perkebunan berdampingan dengan budaya Jawa yang kental, ditambah dengan hamparan pohon kopi dengan biji-bijinya yang masih tergantung sampai harumnya bubuk dalam kemasannya, semuanya dapat disaksikan dalam kawasan yang sama.

Liburan saat itu merupakan liburan yang amat menyenangkan. Bisa jadi karena saya telah lama bermimpi bisa menginap di sana dan terwujud. Salah satu the dreams come true. Saya tak perlu keluar dari kawasan itu untuk bisa menikmati alam.

Tapi yang meninggalkan kesan yang dalam sepanjang liburan-liburan kami adalah saat kami masih menjadi keluarga muda. Di Jogja kami menginap di sebuah hotel di kawasan Prawirotaman yang memiliki kolam renang di halaman belakangnya. Setiap ke Jogja hampir pasti kami kembali ke hotel itu. Sangking seringnya, pengelolanya mengenal kami sebagai tamu yang loyal dan sudah dianggap VIP. Kami selalu disediakan kamar yang sama, kamar paling belakang, paling bagus dan merupakan kamar yang terdekat dengan kolam renang.

Anak-anak kami tak akan bisa melupakan kolam renang yang ada di halaman belakang itu karena di sana mereka menjadi berani untuk berenang di kedalaman 2 meter, mereka berani memesan makanan sendiri setelah berenang, pokoknya seperti orang dewasa yang sedang berlibur meskipun mereka masih duduk di sekolah dasar. Karena lokasinya, mereka tahu kapan kolam renang kosong dan kapan waktu terbaik untuk berenang.

Sampai sekarang pun kami masih ingat kamar yang paling dekat dengan halaman belakang itu dan mungkin kapan-kapan, kami akan menginap di sana lagi. Sekedar nostalgia.

P1000297
Swimming pool at the backyard of Hotel

-§-

Tapi di antara banyak hotel yang kami inapi di Jogja, ada satu hotel yang kami inapi hanya semalam saja dan tak ingin kembali lagi ke sana. Ceritanya…, waktu itu karena check-in sudah malam, kami tak melihat keluar jendela lagi. Namun saat pagi, saat tirai jendela saya buka dan melihat ke luar halaman, saya baru tahu bahwa malam itu kami menempati kamar yang kavling sebelahnya adalah kuburan! Aaarrgh….

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-30 bertema Courtyard agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu.

Pintu Gebyok Yang Tertutup


Lebaran tahun lalu, saya sempat menginap di sebuah resort bernama Sumber Watu Heritage, di Kecamatan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat yang mungkin lebih dikenal orang sebagai tempat makan dengan nama Abhaya Giri itu memang cukup menguras kantong, namun worth it karena bisa memiliki akses ke seluruh tempat seharian termasuk saat sunset, ketika malam, ketika sunrise dan ketika pagi hari, yang semuanya agak susah didapat jika kita hanya berkunjung ke restoran untuk makan.

Saat jalan pagi, saya berhenti di pendopo utama yang berbentuk rumah joglo. Di dalamnya di sisi selatan terhampar sebuah gebyok yang panjangnya sekitar 8 meter. Langsung saja saya teringat jaman dulu saat mencari dekorasi pelaminan untuk pernikahan saya dan suami. Semakin panjang dan semakin bagus gebyoknya artinya semakin mahal padahal budget kami sangat terbatas.

The GebyokNotice the old style of the tiles, the jars and Loro Blonyo

Saya memutar pandangan seantero rumah joglo itu. Sepertinya area ini biasa menjadi area pelaminan dengan para tamu undangan yang hadir akan menempati kursi-kursi yang melingkari meja yang tersebar di satu level di bawahnya untuk makan. Entah kenapa, berdiri di situ seakan-akan saya mendengar tabuhan Kebo Giro, musik pengiring pernikahan adat Jawa.

Tapi bukan bayangan pernikahan yang ada di benak saya, melainkan gebyok yang panjang itu. Meskipun di dalam saya mengalir darah Jawa, saya tak pernah membayangkan memiliki sebuah gebyok di dalam rumah. Mungkin saya orang Jawa yang tersesat 🙂 atau bisa jadi saya terlalu malas untuk membersihkan ukiran-ukiran yang rumit itu sehingga tidak terbayang punya gebyok di rumah.

Main Hall (Pendopo) with A Gebyok on the Southern side Night View

Gebyok, sejauh pengetahuan saya, sebenarnya merupakan sebuah partisi penyekat ruangan yang amat tradisional namun klasik. Umumnya terbuat dari kayu jati pilihan. Meskipun awalnya berupa partisi ruangan, di jaman modern ini tak jarang kita melihat pintu gebyok yang dipasang di depan rumah sebagai pintu masuk, bahkan bisa dikombinasi dalam rumah dengan gaya minimalis. Duh, membayangkannya saja sudah ruwet dan terasa “berat”

Gebyok yang saya lihat di Pendopo Abhaya Giri ini memiliki ukiran yang amat rumit di bagian atas, termasuk di atas pintu. Pintunya sendiri tidak penuh dengan ukiran kecuali singkatan nama resort yang dibuat di bagian tengah. Saya bertanya-tanya dalam hati apakah orang dulu juga menuliskan singkatan namanya pada pintu gebyok mengingat tidak semua orang bisa memiliki gebyok di rumahnya. Karena tanpa namapun mungkin masyarakat sudah mengenalnya karena gebyok hanya mampu dimiliki oleh orang-orang yang berpenghasilan tinggi dan orang yang terpandang di masyarakat. Mungkin memiliki gebyok di rumah merupakan sebuah prestise tersendiri.

The doors of A Gebyok

Tetapi gebyok yang penuh ukiran ini tidak hanya sekedar penyangga rumah, melainkan memiliki makna spiritual yang dalam bagi pemilik rumah. Konon ukiran-ukiran itu dibuat selaras dengan filosofi tradisional Jawa yang amat dalam tentang cara manusia menyikapi kehidupannya (Sangkan Paraning Dumadi, yang kira-kira berarti dari mana manusia itu berasal dan kemana ia kembali). Hidup itu memiliki tujuan akhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian dalam menjalani kehidupan manusia perlu memegang nilai-nilai luhur ketuhanan.

Namun, pagi itu sungguh saya hanya bisa menduga-duga benang merah antara ukiran pada gebyok dan “makna dalam” dari Sangkan Paraning Dumadi, Apapun itu, saya hanya menggunakan rasa untuk menikmati keindahan gebyok itu, karena memang indah sekali! Seperti ada harmoni didalamnya.

Ukiran yang saya lihat memang cukup mengesankan dan menunjukkan tingkat kemahiran pembuatnya. Bersulur-sulur, ada bentuk seperti buah nanas, bunga-bunga dan dedaunan dengan handle pintu berbentuk ring. Dan bentuk utama di atas pintu yang amat cantik.

Tetapi semakin lama memperhatikan ukiran gebyok, saya mulai terasa mules membayangkan cara perawatan gebyok. Saya bukan tipe orang yang telatan membersihkan ukiran yang meliuk-liuk sampai ke bagian-bagian yang paling dalam dan paling rumit. Rasanya orang-orang dengan ketekunan, ketelitian, kecintaan tinggi yang bisa merawat gebyok. Karena pasti tidak hanya pakai kemoceng saja, mungkin perlu pakai kain khusus atau kuas-kuas kecil. Apalagi kalau daerahnya berdebu ya… Duh, saya langsung terpikir pakai jasa kebersihan online saja, kalau punya…

Saya harus melangkah mundur agak jauh dari gebyok agar dapat mengambil fotonya secara utuh. Saya suka dengan lantai yang membawa saya ke jaman dulu. Juga ada sepasang Loro Blonyo di kanan kiri pintu serta gentong kuning yang terletak lebih dekat ke pintu. Melihatnya secara utuh dari kiri ke kanan, simetri pada pintu gebyok, sesungguhnya kreasi seni di depan mata saya ini merupakan sebuah masterpiece dari sebuah perjalanan waktu yang menggabungkan budaya, agama, tradisi yang sudah sewajarnya kita jaga kelestariannya.

The closed doors of The Gebyok

Sesaat sebelum meninggalkan ruang, entah mengapa saya merasa ada sesuatu yang mengganjal, seperti ada sesuatu yang terlupakan. Saya diam sesaat lalu mata ini tertumbuk pada pintu gebyok yang tertutup. Rasanya seperti ada kilat yang menyambar ketika tersadarkan, mengapa gebyok kebanyakan ditampilkan dengan pintu yang tertutup?

Tak jadi melangkah pergi, saya malah merenungkan sesaat pikiran yang melintas itu. Pintu yang tertutup, bukan berarti tidak bisa dibuka, karena ada handlenya yang berupa dua ring bulat itu. Jika di dalam sebuah gebyok mengandung makna tentang kehidupan, bisa jadi pintu itu juga memiliki simbol-simbolnya.

Berada di depan pintu yang tertutup, -yang berupa simbol-, kita tak pernah tahu situasinya. Bukankah kita melangkah menuju ke depan pintu ini? Tetapi kita tak pernah tahu sebuah pintu itu terkunci atau tidak, jika kita tidak berusaha mengetahuinya. Kita hanya perlu satu tindakan. Memulainya.

Berusaha mengetahuinya.

Mengetuk dahulu, lalu menyampaikan niat yang baik untuk mendapatkan aksesnya.

Karena berupa simbol dan jika pintu itu tidak terkunci, kita hanya perlu mendorongnya, atau mungkin menariknya. Kehidupan telah membawa kita sampai ke depan pintu ini, mungkin memang pintu itu harus dilalui oleh kita. Itu kemungkinan pertama.

Kemungkinan kedua, setelah kita berusaha mendorong atau menariknya tetapi pintu tidak juga terbuka, bisa jadi pintu itu terkunci. Dan mungkin saja kita telah memiliki kuncinya yang didapat dari perjalanan kehidupan menuju ke depan pintu ini. Karena, jika memang kehidupan membawa kita harus melalui pintu ini, maka kunci yang dimiliki adalah kunci yang tepat untuk pintu ini. Dan kita hanya perlu menggunakan kunci untuk membuka pintu, hanya dengan sedikit usaha.

Yang terakhir, jika pintu terkunci dan kita sama sekali tidak memiliki kuncinya selama perjalanan hidup kita sampai ke pintu, bisa jadi kehidupan kita memang tidak akan pernah melewati pintu ini dengan begitu banyak alasan di baliknya. Bisa jadi yang ada di baliknya tidak membaikkan kehidupan kita. Pintu ini bukan untuk kita lalui. Sebuah pesan yang amat berharga untuk dimengerti sepenuhnya.

Karenanya, untuk apa berlama-lama berdiri di depannya? Selain tidak menghargai waktu kehidupan, bisa jadi kita diminta melihat arah lain yang membukakan hal-hal yang baik buat kehidupan kita. Tuhan selalu berbuat baik untuk kita, menunjukkan dan membukakan jalan terbaik untuk kita, lalu mengapa kita tetap bertahan di depan pintu tertutup? Begitu sering kita bersikukuh pada keinginan kita yang sebenarnya tidak membawa kebaikan, dan mengabaikan jalan yang lebih baik yang telah dibukakan untuk kita.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-24 bertema Doors agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Kenangan Mudik Lewat Tol Trans-Java


Kecuali tahun 2020 ini, hampir di setiap liburan Idul Fitri yang panjang itu, kami sekeluarga melakukan mudik ke Jogja dengan menggunakan kendaraan pribadi. Jika biasanya kami mengambil rute Jalur Selatan karena ada keluarga yang tinggal di Ciamis, maka tiga tahun terakhir ini kami mengambil jalur Utara. Pertimbangannya selain keluarga di Ciamis banyak yang pindah ke Jogja, pada tahun 2017 itu juga jalur mudik via tol yang belakangan disebut Tol Trans-Java itu sudah difungsionalkan, meskipun hanya sebagian. Dasar saya penggemar jalan-jalan, tol baru pun saat itu langsung dicoba.

2017

Karena moodnya masih bagus, saya langsung foto-foto sejak berangkat dari Jakarta. Bahkan mall pinggir jalan di kawasan Bekasi pun tak luput saya foto. Dan seperti biasanya keluarga kami mulai menghitung mobil dengan bagasi di atas yang kadang-kadang bagasinya menghebohkan. Tak luput juga pemandangan menarik khas Lebaran seperti anak atau orang yang menggunakan kendaraan bak terbuka ditutup terpal. Kebahagiaan mudik jelas terlihat, tanpa peduli kondisi yang panas bahkan bahaya.

Dan ketika sampai di gerbang awal tol fungsional yang masih dibangun secara darurat secara paralel miring itu, saya bertambah antusias. Apalagi begitu keluar gerbang, kondisi jalan tol yang masih dalam proses konstruksi itu terhampar di depan mata. Cone-cone sebagai rambu sementara diletakkan di tempat-tempat yang perlu mendapat perhatian.

Selain harus menyalakan lampu utama di setiap kendaraan, -meskipun siang hari-, pengguna jalan juga diingatkan untuk menggunakan kecepatan maksimal 40km/jam. Padahal kebanyakan pengguna jalan tol terbiasa menggunakan diatas itu, bahkan ada yang nekad sampai 100km/jam!

Start
2017 Start from Jakarta, common view, tol gate and functional road

Dan mulailah perjalanan di jalan tol yang sebenarnya masih dalam tahap konstruksi namun dapat difungsikan secara hati-hati. Sayangnya tidak semua pengguna jalan darurat ini menghargai upaya pemerintah membuat perjalanan mudik lebih nyaman. Namanya juga jalan tol fungsional, tentunya masih banyak kekurangan.

Diminta kecepatan kendaraan maksimal 40km/jam dan menyalakan lampu, tetapi lebih banyak pengguna yang tidak patuh. Tidak sedikit yang memaksa kendaraan diatas batas kecepatan membuat debu-debu beterbangan ke udara. Melupakan kenyamanan bagi orang yang tak menggunakan AC dalam kendaraannya atau yang tinggal di sekitar jalan tol itu.

Bisa jadi mereka memang tak menghargai kendaraannya sendiri. Jalan beton yang belum berlapis aspal, bisa menjadi jagal maut bagi ban kendaraan. Sepanjang jalan tidak sedikit kami melihat mobil-mobil bagus yang tadinya dikebut, mengalami permasalahan pada bannya. Tidak heran, ban memang bisa robek dihajar tepi bentukan beton yang masih tajam. Tapi bukankah sudah disarankan untuk berjalan maksimal 40 km/jam?

Selain berdebu, keriting, tak mulus, sepanjang jalan tol fungsional banyak pembangunan jembatan-jembatan. Hal ini membuat kami dan pengguna jalan lain harus menanjak curam lalu menurun yang tak kalah curamnya. Bagaimana mungkin ngebut? Apa mobilnya mau terbang kayak di film-film action Hollywood itu?

Belum lagi jembatan-jembatan daruratnya yang lumayan bikin deg-degan. Ada yang alasnya masih berlapis kayu dan mobil harus bergerak satu per satu mengikuti jalurnya. Ada juga yang masih menggunakan lempeng-lempeng baja sehingga berkendara di atasnya menghasilkan suara-suara yang berderit-derit mencekam. Meskipun ada petugas di sana-sini, tetapi tetap serem kan? Dan hampir semua jembatan masih menggunakan railing pembatas samping sementara.

Menggunakan jalan tol fungsional untuk mudik ini membuat saya sibuk dan terjaga terus sepanjang perjalanan. Sebab jarang-jarang kan bisa berkendara di jalan yang masih dalam tahap konstruksi? Kadang jalannya lurus membuat mengantuk, tapi ada juga jalan yang berliku. Kadang membuat saya tersenyum lebar melihat ada tiang listrik berdiri sendiri di atas gundukan tanah yang tidak bisa dipindahkan. Ini masalah umum dimana-mana, koordinasi antar instansi. (Teringat kondisi serupa dekat rumah saya sampai sekarang ada jalan lebar lalu menyempit pada jembatan karena jembatannya tidak bisa diperlebar sebab ada pipa besar di sebelah jembatan itu. Akibatnya jembatan itu jadi bottleneck macet. Ada yang lain lagi, Sebuah jalan yang lebar tapi terhalang masjid, dan sepertinya belum ada perbaikan hingga kini)

Menggunakan jalan tol fungsional harus siap menghadapi segala sesuatu dalam keadaan darurat. Rest-area yang darurat, atau pompa bensin darurat yang mengambil langsung dari mobil tanki Pertamina atau bensin gendong yaitu bensin yang dibawa langsung oleh petugas sesuai permintaan. Tapi yang penting dalam posisi-posisi tertentu harus tampil keren dan sadar kamera setiap saat 😀 😀 karena siapa tahu ada media yang sedang live menyiarkan  berita secara langsung 😀 😀

Lalu apa yang terjadi pada saat balik kembali ke Jakarta? Berbeda dengan saat berangkat yang lancar dan hanya tersendat di beberapa tempat, saat kembali ke Jakarta bertepatan dengan puncak arus balik sehingga mengalami macet tak bergerak, menunggu waktu untuk one way arah Jakarta. Padahal Jakarta masih jauh…

Dan sambil bermacet-macet itu, banyak penduduk lokal yang memanfaatkan kondisi. Dengan sigap mereka berjualan, dari mie instan, kopi, teh dan lain-lain. Ada demand yaaa ada supply dong…

Toll-sellerTrafficJamOnReturn


2018

Perjalanan seperti setahun sebelumnya berulang. Yah, namanya mudik kan pasti sama ya. Ada kebahagiaan tersendiri menuju kampung halaman tercinta meskipun harus melalui kemacetan. Bahkan perjalanan kami pun sudah mulai tersendat dari arah Cikarang. Tapi selalu saja kami beranggapan, kemacetan adalah bagian dari perjalanan mudik. Jadi harus dinikmati.

20180610_122146
Traffic jam

Kebiasaan kami sekeluarga menghitung jumlah kendaraan yang ada bagasinya di atap. Bukan kendaraan dengan roof rack yang mahal itu ya, melainkan bagasi yang dibungkus terpal atau plastik secara darurat. Jumlah hitungan kami, bukanlah tujuan akhir, melainkan kegembiraan melihatnya. Kami membayangkan isinya, kadangkala ada kasur, sepeda roda tiga, kursi roda sampai kardus dan koper. Kami juga memperkirakan jumlah orang yang naik di kendaraan itu hingga tak bisa meletakkan bagasi di dalam mobil, –kadang wajah lelah tapi gembira, kadang ada telapak kaki menempel di kaca belakang, kadang wajah-wajah yang ‘terhimpit’ oleh mereka yang fisiknya lebih besar. Meskipun demikian, ada kesamaan rasa yang bisa kami rasakan. Ada bahagia hendak pulang ke kampung halaman. Walaupun kendaraan terlihat menjadi ‘mblesek‘ karena terlalu berat 😀

Tapi tidak semua kendaraan yang membawa bagasi di atas itu adalah kendaraan-kendaraan yang masuk kategori mobil sejuta umat karena tidak sedikit diantaranya adalah mobil-mobil yang masuk kategori mobil mewah yang harganya mencapai ratusan juta. Dan bagasinya tidak kira-kira tingginya. Ketika kami berada di belakangnya, suara angin menghempas-hempaskan penutupnya itu terdengar menghebohkan, apalagi bentuknya yang terlihat amat besaaaar…

Bagasi
Kendaraan-kendaraan dengan bagasi di atap

Tetapi keseruan khas mudik itu tidak dapat kami nikmati lama-lama karena akhirnya perjalanan memang lancar. Pakai banget. Karena tidak ada lagi jalan tol darurat seperti setahun sebelumnya, tidak ada lagi jembatan sementara yang masih menggunakan alas baja atau kayu, tidak ada lagi jalan yang berdebu dengan kerikil lepas. Praktis kendaraan bisa melaju dengan cepat, wuuuussshh… wuuuussshh… wuuuussshh…

Persimpangan-persimpangan jalan tol terlihat cantik dengan jembatan lebar dan terhampar jelas dari jauh. Ditambah rambu-rambu berwarna hijau yang setahun sebelumnya belum ada.

Simpang
Persimpangan Jalan Tol

Tahun itu kami menginap dulu di Semarang, berwisata kuliner  sebentar di Simpang Lima sebelum melanjutkan ke Solo. Bagi kami, mudik tidak selalu berarti harus langsung sampai ke Jogja secepat mungkin. Kami menikmati perjalanan dengan berhenti di kota-kota yang memang ingin disinggahi.

Saya memang mengatur itinerary seperti itu. Menginap semalam di Cirebon sehingga jika terkena macet pun tidak terlalu melelahkan badan. Menikmati kuliner di Cirebon, jika memungkinkan berkunjung ke tempat-tempat wisata. Yang pasti tempat menginap harus memiliki tempat tidur yang nyaman dan bisa mandi yang enak! Istirahat cukup ditambah badan yang segar, mood pastilah membaik. Iya kan?

Esoknya lanjut ke Semarang lalu besoknya lagi ke Ambarawa lalu ke Solo, ngapain? Ya pengen aja ke tempat-tempat itu! Baru setelah itu ke Jogja. Padahal di kota-kota yang kami inapi semalam-semalam itu tidak ada keluarga. (Sssstttt… sebenarnya, sssst, jangan kasih tau yaa, sebenarnya kami suka hotel-hotelnya) 😀 😀 😀

20180612_133334
Indahnya Perjalanan Darat

Lalu pagi harinya perjalanan dilanjutkan lagi masih melewati jalan tol. Aduh, saya ini mudah sekali terharu. Masak melihat penanda Km.400-an itu saya jadi terharu. Sepanjang hidup saya, dulu menganggap jalan tol Jagorawi ke Bogor dan Ciawi yang 59 km itu luar biasa keren dan panjang karena itu satu-satunya jalan tol bebas hambatan yang ada dan dimiliki Indonesia. Sebelum ada Jagorawi, semasa kecil saya harus melewati Jalan Bogor lama atau via Parung hanya untuk ke Bogor. Dan bahagia sekali ketika merasakan bisa berkendara di Jagorawi.

Lalu ketika ada jalan tol yang menghubungkan Jakarta – Cikampek saya terharu lagi karena mengingat betapa lelahnya keluar dari Jakarta, selalu kena macet di perlintasan-perlintasan kereta api yang saya sebut “pintunya sudah ditutup tapi keretanya masih di Jakarta” sangking lamanya menunggu di perlintasan kereta. Apalagi setelah ada tol Purbaleunyi yang menghubungkan Jakarta – Bandung – Cileunyi sehingga tidak perlu lagi bermacet-macet di Puncak atau di Sadang jika mau ke Bandung. Jalan tol semakin panjang dan semakin menghubungkan banyak kota, sebagai warganegara saya sungguh-sungguh suka dengan perkembangan infrastruktur ini. Sehingga melihat rambu Km.400-an di luar kota Semarang itu, artinya dari Jakarta sudah lebih dari 400 km terhubung dengan jalan tol bebas hambatan. Bayangkan dengan jalan tol pertama, Jagorawi yang hanya 59 km!

20180612_121142
Sudah 422 km dari Jakarta!

Dan jalan tol itu masih belum berakhir…

Kami sekeluarga menikmati perjalan via jalan tol yang indah selepas Semarang. Jalan tol ini seperti di Bandung, menanjak dan menurun serta berliku dengan pemandangan yang amat indah.

Jalan tol yang nantinya disebut Jalan Tol Trans-Java itu memang pada tahun 2018 masih memberlakukan secara fungsional pada ruas Salatiga – Kartosuro. Memang tidak begitu rambu-rambu masih sedikit tetapi jalannya jauh lebih baik daripada jalan tol fungsional pada tahun 2017. Bahkan pada jembatan Kali Kenteng yang dihebohkan media pada waktu itu karena tingkat kecuramannya terasa landai saja. Kadang kala berita-berita hoax itu memang membuat orang menjadi cemas berlebihan. Padahal sih, jika sudah sampai di lokasinya saat itu, tidak ada yang menakutkan. Masih lebih serem melewati jalan nanjak ke Candi Cetho!

KaliKenteng
2018 – Jembatan Kali Kenteng Yang Belum Jadi

Perjalanan mudik tahun 2018 itu amatlah menyenangkan. Bahkan saat kembali ke Jakarta pun tidak mengalami kemacetan seperti pada tahun sebelumnya. Lalu bagaimana di tahun 2019?


2019

Perjalanan mudik di tahun 2019 ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan tahun 2018, terutama di perjalanan kembalinya. Dengan kondisi jalan tol yang sudah lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya tentunya perjalanan seharusnya semakin nyaman. Bahkan bagi pemudik yang langsung ke Semarang, bisa menggunakan jalur one way yang langsung keluar di Gerbang Tol Kali Kangkung. Sedangkan kami, seperti biasa masih senang menginap semalam-semalam di sepanjang jalan tol itu. Tapi tetap saja, meskipun sudah empat lajur terbuka menuju arah Timur, kepadatan lalu lintas tak dapat dihindari jelang Km 180 Cikopo – Palimanan.

DSC09208
Kepadatan Lalu lintas di Cipali

Selepasnya, perjalanan mudik seperti biasa, langsung wush-wush-wush… Jalan terasa lengang, entah kemana mobil-mobil yang lain, Mungkin mereka semua memenuhi rest area untuk beristirahat.

2019 Mudik
Jakarta – Semarang 2019

Dan saya terkesan sekali melihat Jembatan yang keren jelang Semarang, yang dikenal dengan nama Jembatan Kali Kuto. Jembatan ini dikenal sebagai jembatan yang menjadi icon dari Jalan Tol Batang – Semarang.

Sepanjang jalan tol yang lurus itu, warna merah dari lengkung jembatan amat menarik perhatian. Tidak heran kalau pengguna jalan tol akan melambatkan sedikit saat melewati jembatan ini hanya untuk mengabadikan icon unik ini.

DSC09220
Jembatan Merah Kali Kuto

Dan kami masih melanjutkan perjalanan ke Jogja, kali ini tanpa ke Solo dahulu. Sekali lagi kami melewati jalan tol dengan pemandangan indah. Perjalanan sudah lebih baik dari tahun sebelumnya. Sebelum sampai Solo, kami telah keluar gerbang tol menuju Jogja sambil berharap bahwa Jalan tol Solo – Jogja akan terealisasi dalam waktu dekat.

Mudik 2019
Perjalanan Mudik 2019 semakin nyaman

Selesai bersilaturahmi dengan keluarga di Jogja, ada saatnya kami harus kembali ke Jakarta. Dan dalam perjalanan pulangnya, masih sekitar 180 km untuk sampai ke Jakarta, kendaraan langsung mengantri, menjadi semakin padat. Tak ada lagi kebahagiaan dan wajah-wajah senyum sumringah ketika mudik. Kebanyakan berpacu siapa yang paling cepat sampai ke Ibukota.

Masih 180km untuk ke Jakarta, tapi saya biarkan dua foto di bawah ini yang berbicara yaa…

§


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-23 bertema Kendaraan agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Borobudur in Silhouette


Sebagai candi terbesar di Indonesia, Candi Borobudur merupakan magnet yang amat kuat bagi saya untuk dijadikan destinasi. Berpuluh-puluh tahun lalu, bersama orangtua, saya menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di sana. Lalu tahun-tahun berikutnya lagi dan lagi. Saat remaja, lalu ketika honey-moon, kemudian bersama anak-anak saat mereka masih kecil, lalu berulang lagi, tak lupa saat-saat berkunjung berdua saja dengan sang belahan jiwa, tetap saja Borobudur tak pernah absen dikunjungi. Dan jika Tuhan masih memberi saya umur, di masa mendatang pun saya akan ke Borobudur lagi.

Namun di antara semua kunjungan itu, ada satu yang meninggalkan kesan amat dalam. Saat itu terjadi ketika saya meluangkan waktu khusus untuk bisa berada di Borobudur saat sunset dan saat sunrise. Wajah Candi Buddha terbesar di Indonesia ketika terjadi pergantian waktu siang ke malam dan sebaliknya itu, sungguh luar biasa. Bagi saya, suasananya terasa magis apalagi bentuk-bentuk yang terjadi menciptakan siluet yang seakan menyimpan misterinya sendiri.

Memang tidak murah untuk mendapatkan semua pesona itu. Waktu itu saya perlu menginap di Hotel Manohara, sebuah hotel berbintang yang mungkin secara eksklusif mendapatkan pengecualian bisa didirikan di kawasan UNESCO World Heritage Site dengan akses langsung ke Candi Borobudur.

Memang ada hotel-hotel yang lebih ramah di kantong di sekitaran Borobudur. Tidak hanya ada, melainkan banyak sekali, dari guesthouse, hotel melati sampai yang bagus dan mahal juga ada. Tetapi tetap saja, akses masuknya dari gerbang depan. Sedangkan bila kita menginap di Hotel Manohara, ada jalan khusus untuk memasuki Kawasan Candi Borobudur. Tapi mohon jangan tanya harganya ya, karena pasti bikin mules dan jika ada pilihan lain mending dipakai buat beli tiket ke destinasi lain 😀 😀 Tetapi apapun, demi kecintaan bisa diupayakan kan?

Dan jadilah hari itu, saya mendatangi Candi Borobudur untuk kesekian kalinya jelang matahari tenggelam. Jangan ditanya jumlah pengunjung lainnya. Banyaaaak sekali! Bisa jadi karena saat itu bertepatan dengan libur sekolah yang artinya, dimana-mana saya melihat orang lain.

Tidak hanya pengunjung domestik yang memenuhi Candi Borobudur, turis mancanegara pun tak kalah banyak. Semua menanti sang mentari menghilang dari ufuk Barat untuk kembali ke peraduannya.

Tetapi sesuai kata Sang Buddha,

May every sunrise bring you hope. May every sunset bring you peace.

Apapun keadaannya dengan begitu banyak orang, saya berdamai saja dengan situasinya. Bukankah mereka juga sedang menikmati keindahan dengan cara mereka sendiri? Karena pada saat yang sama, matahari menghilang dari pandangan karena harus menyinari bagian bumi yang lain,

IMG_5294
Buddha facing Sunset

Memang menarik menanti sang mentari tenggelam di ufuk Barat. Tetapi masih ada banyak situasi lain yang tak kalah luar biasanya. Saat itu langit sore tampil begitu indah di Borobudur. Saya tak mau melewatkan sedikitpun keindahan itu sehingga saya melipir sedikit, menjauh sisi Barat untuk membuat foto siluet stupa-stupa Borobudur. Sang Buddha yang berada dalam posisi duduk tanpa cungkup stupa, terlihat amat menarik dengan latar langit yang kuning keemasan.

IMG_5263
The Buddha Among the Stupas of Borobudur

IMG_5269
Sunset time in Borobudur Temple

Candi Borobudur yang didirikan abad ke-8 di atas bukit itu oleh Wangsa Syailendra itu memang memukau. Oleh karena strukturnya yang bertingkat-tingkat, tidak pernah ada tempat yang tidak indah untuk difoto, apalagi dengan langit kuning keemasan dan bentuk-bentuk stupa serta dinding candi yang memukau.

Berjalan di tingkat Arupadhatu, saya terpukau dengan seberkas sinar matahari sore yang berhasil menembus lubang salah satu Stupa. Cahayanya berkilau seperti batu permata kualitas prima yang tertimpa cahaya. Warna kuning keemasan menghias langit Barat sementara bentuk siluet hitam Stupa yang mengerucut itu seakan menyembunyikan misterinya sendiri.

IMG_5266
Sunset light through the Stupa of Borobudur

Bahkan setelah sunset pun Candi Borobudur masih meninggalkan keindahan. Sisa-sisa warna kuning keemasan yang masih menghias langit menjadikan perbukitan di sekitar Candi Borobudur sebuah pemandangan luar biasa. Borobudur menjadi saksi bisu keindahan alam sekitarnya, terjadi setiap hari sepanjang usianya.

IMG_5306
A Stupa on top of a gate in Borobudur at Sunset

Mentari telah hilang dari pandangan, pengunjung satu per satu meninggalkan Borobudur karena waktu berkunjung telah usai. Dengan suasana Borobudur yang lebih temaram, saya merasakan kesenyapan Candi Borobudur tanpa suara-suara pengunjung lain. Saya menikmatinya selama mungkin sampai akhirnya seorang petugas menangkap keberadaan saya lalu tersenyum.

Ah, meskipun menginap di Manohara, sudah sewajarnya saya tidak bertindak egois berkeliaran sendirian di candi Buddha terbesar di Indonesia ini. Para petugas juga ingin pulang untuk bercengkrama dengan keluarganya dan mereka tak bisa melakukannya selama masih ada pengunjung di Candi.

Sambil meminta maaf, saya kembali menuju hotel melalui jalan setapak. Ketika sampai di sebuah tanah lapang di dekatnya, sebelum masuk ke halaman hotel, saya berbalik badan, menghadap kembali Candi Borobudur yang kian erat dipeluk malam. Kamera saya masih bisa menangkap siluet Candi Borobudur sebelum lampu-lampu sorot kapasitas besar meneranginya.

IMG_5325
Borobudur Temple from Manohara’s path

-§-

THEN NEXT MORNING… SUNRISE TIME!

Saya sudah tak sabar sejak Subuh. Seperti seorang anak kecil yang mendapatkan hadiah ulang tahunnya, saya langsung saja keluar hotel begitu ada kesempatan pertama. Bahkan langit yang berawan pun saya tak permasalahkan. Lalu apa jadinya sunrise dengan kondisi langit yang berawan? Saya percaya, apapun situasinya pasti ada keindahan.

Bukankah setiap hari baru itu sebuah janji dari Sang Pemilik Semesta?

Each morning we are born again. What we do today is what matters most.

Matahari menyembul keluar dari balik awan pada saat saya berada di belakang sebuah patung Buddha yang menghadap Timur. Begitu tepat waktu, Perfect! Sempurna! Seakan melantunkan adanya harapan-harapan baru yang membias luas di setiap pagi.

IMG_5375
Buddha Image facing Sunrise at Borobudur

Saya melanjutkan langkah, menaiki tangga-tangga menuju lantai Arupadhatu. Sekali lagi siluet-siluet hitam dari Stupa dan bangunan-bangunan khas Candi Borobudur ditimpa cahaya matahari dari Timur membentuk keindahannya sendiri. Puncak stupa yang mengerucut ke atas memiliki harmoni tersendiri.

IMG_5383
Stupas in Borobudur at Sunrise Time

IMG_5384
The Morning Sun and Borobudur Stupas

Sekali lagi saya dibuat terpesona dengan seberkas sinar matahari, -kali ini dari Timur-, yang berhasil menembus lubang Stupa memberikan efek kilau yang luar biasa. Seakan saya melihat sebuah stupa dengan berlian di dalamnya yang berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Ditambah lagi seorang laki-laki yang berjalan mengikuti arah jarum jam tampak mengatupkan tangan di depan dadanya, melangkah dengan pasti mengelilingi lantai Arupadhatu. Meskipun tak lagi menjadi tempat ibadah formal, tentu bagi seorang umat Buddha melihat keberadaan Sang Buddha membuatnya hatinya tergerak untuk beribadah. Sesuatu yang amat manusiawi.

IMG_5395
Morning Sunlight through the Stupa of Borobudur

Mentari semakin meninggi. Sebentar lagi situasi Candi Borobudur akan hangat kembali dengan kehadiran pengunjung-pengunjung. Saya pun tak bisa berlama-lama di lantai Arupadhatu karena harus segera turun ke sudut untuk bisa mendapatkan gambar Candi Borobudur di pagi hari tanpa manusia lain. Sekali lagi, saya merasakan kesenyapan Candi Borobudur tanpa banyak pengunjung. Di sudut tanah lapang itu saya merasakan keanggunan Candi Borobudur, bangunan yang didirikan dua belas abad lalu, tanpa komputer, tanpa teknologi modern namun mampu tetap membuat saya terkagum-kagum.

IMG_5406
Borobudur Silhouette in the Morning

Tak lama saya kembali ke hotel melalui jalan setapak lagi. Sesaat kemudian saya berbalik badan, kembali menghadap Candi Borobudur yang kini telah terang disinari Matahari. Candi Borobudur memang luar biasa.

Indonesia memang indah.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-22 bertema Silhouette agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Penuh Kain Kampuh di Candi Cetho


Sudah lama saya memendam keinginan untuk bisa pergi ke Candi Sukuh dan Candi Ceto, dua kompleks candi Hindu abad-15 yang saling berdekatan di ketinggian lereng seribuan meter Gunung Lawu, gunung yang ada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun keinginan-keinginan itu tetap menjadi keinginan saja karena terlibas oleh seribu satu alasan lain yang bagi saya lebih prioritas. Lalu kesempatan itu datang begitu saja, ketika kami memiliki satu hari kosong dalam libur lebaran beberapa waktu lalu.

Jadilah dengan berkendara pribadi, berjuang mengatasi jalan yang meliuk-liuk menanjak amat curam dan sempit, sampailah kami di Candi Cetho. Sengaja kami melewatkan dulu Candi Sukuh dengan pertimbangan akan mengunjunginya setelah kembali dari Candi Cetho.

Sebelum memasuki area parkir yang tidak cukup luas, saya sudah melihat sekumpulan orang memenuhi sekitar pintu masuk namun saya menganggap itu hal biasa. Namanya juga liburan, pasti banyak orang. Dan setelahnya, saya bergegas ke loket tiket masuk lalu mengantri giliran dibantu untuk mengenakan kain kampuh, kain putih berkotak hitam seperti papan catur yang biasa terlihat di Bali.

Kain kampuh yang melingkari pinggang hingga ke paha itu sejatinya biasa digunakan oleh umat Hindu saat sembahyang ke Candi Cetho yang hingga kini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah. Dan untuk menjaga kesucian tempat ibadah dan menghormati sebuah budaya, hingga kini seluruh pengunjung baik Hindu maupun Non-Hindu wajib mengenakan kain kampuh itu, karena dengannya diharapkan pengunjung dapat menjaga kebersihan jiwa raga, lahir batin saat berada di area Candi Cetho,

Terlepas dari dalamnya makna kain kampuh itu, saya melihat sesuatu yang menarik melihat semua pengunjung seragam mengenakan kain kotak-kotak hitam putih itu. Keren juga sebagai penanda. Tapi sekali lagi, perasaan akan ‘keren’ itu sepertinya terlalu cepat.

Saya menikmati udara yang terasa sejuk. Candi Cetho memang berlokasi di sekitaran 1500 meter di atas permukaan laut, jadi lebih tinggi letaknya dari pada Candi Sukuh. Hebatnya lagi, Candi Cetho memiliki 13 teras yang semakin meninggi ke arah puncak yang poros tengahnya memiliki gapura-gapura, demikian yang saya ingat dalam beberapa foto teman yang sudah pernah ke tempat ini. 

Saya menaiki tangga untuk melalui gerbang gapura pertama dan drama kekagetan saya dimulai.

Dimana-mana ada orang, anak-anak dan orang dewasa yang mengenakan kain kampuh kotak-kotak hitam putih itu. Bahkan di dalam taman yang tertata indah dengan rumputnya yang telah susah payah dipelihara. Petugas yang selalu menjaga keindahan taman bisa jadi akan merasa masygul melihat kaki-kaki yang tak mengindahkan rumput-rumput yang juga memiliki kehidupan. Apakah dengan tanaman pembatas yang pendek menjadi alasan untuk melanggar batas dan menginjak-injak rumput selayaknya lapangan bola? Saya sungguh prihatin.

Dan saya hanya melihat bokong-bokong yang berbalut kain kampuh di jalur tangga menuju teras berikutnya. Saya memahami jika mereka terus berjalan atau hanya sebentar untuk pengambilan foto, tetapi kebanyakan dari mereka lupa akan orang lain yang ingin juga berdiri di sana dan berfoto. Mereka hanya tertawa-tawa tidak peduli, menguasai waktu dan areanya seperti miliknya sendiri. Keinginan saya menikmati Candi Cetho langsung lenyap…

Tetapi saya mencoba bersabar…

Candi Cetho dikenal sebagai tempat suci untuk melakukan ruwatan atau pembebasan jiwa dari kutukan, karena simbol-simbolnya yang jelas terpampang,

Di sebuah teras terbuka tersusun batu-batuan datar yang membentuk burung garuda yang sedang mengembangkan sayap dan di atasnya terdapat susunan batu berbentuk kura-kura, yang menurut informasi yang terpampang di sana menceritakan bagian dari kisah mengenai Samudramathana atau Churning of the ocean of milk atau biasa dikenal sebagai kisah Pengadukan Lautan Susu. Kisah dalam agama Hindu ini menceritakan mengenai perebutan terus menerus antara Dewa yang menjadi simbol dari sisi baik melawan Asura yang menjadi simbol dari sisi buruk, untuk mendapatkan air keabadian.

Burung Garuda dan Kura-kura, keduanya merupakan simbol-simbol yang terkait dengan Dewa Wisnu dalam agama Hindu. Dewa Wisnu sendiri menjadi seekor kura-kura untuk menopang Gunung Mandara dalam kisah Samudramathana tersebut. Dan diujung bentuk burung Garuda dan kura-kura terdapat penggambaran yang cukup erotis, seperti phallus yang bersentuhan dengan penggambaran vagina yang menjadi lambang penciptaan atau kelahiran kembali setelah terbebas dari kutukan.

IMG_0390
Selalu ada Manusia

IMG_0395
Garuda & Turtle – Cetho Temple

Di sekitaran teras tersebut, sekumpulan manusia yang datang berkunjung tak pernah sebentar. Amat mudah terlihat, kain kampuh dimana-mana. Saya seperti menjadi sang pungguk yang merindukan bulan, karena berharap terus manusia-manusia itu akan menghilang dari frame foto. Orang-orang itu memang pergi tetapi yang datang lebih banyak, bisa jadi sampai waktu berkunjung habis…

Saya memahami saat kunjungan itu saya tidak akan mendapatkan foto bersih tanpa manusia dalam frame, karena keadaan yang tidak memungkinkan. Akhirnya sebisa mungkin saya mengambil foto-foto yang penuh makna di Candi Cetho itu.

Karena belum sampai di teras tertinggi, saya menaiki tangga-tangga yang penuh dengan orang itu. Menjengkelkan sekali karena mereka berdiri dan bergaya menghalangi lalu lintas orang. Sungguh tak peduli dengan pengunjung lain yang mau turun atau naik, Kesabaran saya semakin tipis terhadap pengunjung yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kadang saya berpikir, apakah mereka tidak pernah diajarkan oleh orangtuanya untuk memikirkan orang lain? 

Setelah berjuang melewati pengunjung-pengunjung lainnya yang menghalangi jalan, sampai juga saya di teras teratas, tempat yang paling sakral dan suci dari Candi Cetho yang merupakan tempat umat Hindu biasa beribadah,  Bagi saya, Candi Cetho yang dipercaya dibangun pada abad-15 merupakan salah satu warisan nenek moyang kita yang amat berharga dan wajib dijaga kelestariannya. Selain itu, sebagaimana tempat ibadah lainnya, bagian puncak Candi Cetho sewajarnya memiliki batas suci. Artinya, hanya boleh dimasuki atau dinaiki oleh orang-orang yang akan beribadah saja,

IMG_0479
Cetho Temple – Main Area on the highest

Sayangnya tidak ada informasi mengenai batas suci, atau tidak ada larangan untuk menaiki tangga untuk sampai ke pelataran suci. Yang ada hanya larangan masuk yang dipasang di pintu masuk yang tertutup. Dan karenanya, saya benar-benar jengkel maksimal!

Karena tidak ada larangan, maka pengunjung mungkin merasa bebas untuk menaiki pelataran atas itu untuk duduk-duduk, bersandar dan berfoto. Berombongan! Hitung saja, jika mereka berbobot rata-rata 40 kg, maka pelataran atas itu sudah menerima beban tambahan sekitar 400 kg jika dinaiki oleh 10 orang bersamaan. Padahal di salah satu sisi bangunan puncak yang menyerupai piramid itu batu-batunya sudah sedikit ambrol. Saat itu saya sungguh senewen dengan rombongan pengunjung yang tanpa rasa bersalah turun naik untuk berfoto secara berombongan di tempat yang paling suci.

Ketika saya mengambil foto sambil memutari bangunan puncak, saya mendapati beberapa pasangan menduduki pelataran atas bagian belakang untuk berdua-duan. Tepok jidat deh saya!!!

IMG_0465
Please don’t do that

Bahkan ada yang lebih gila lagi karena ada empat atau lima remaja yang berfoto sambil meloncat! Berulang-ulang. Rasanya saya ingin menangis melihat tindakan ugal-ugalan mereka terhadap candi abad-15 di pelataran yang paling suci! Sepertinya petugas yang ada di sana sudah kewalahan juga untuk memberi teguran.

Saya benar-benar kehilangan mood. Saya merasa tak minat untuk tinggal lebih lama. Kain kampuh kotak-kotak hitam putih yang digunakan pengunjung dengan harapan agar bersih lahir batin dan penuh kesadaran memasuki tempat suci, sudah kehilangan maknanya. Kain kampuh hari itu, hanya menjadi penanda saja

Saya turun melalui gapura-gapuranya yang cantik namun sepanjang jalannya dipenuhi pengunjung yang mengenakan kain kampuh tanpa menyadari makna yang amat dalam yang ada padanya.

Rasanya amat miris, masih banyak pengunjung Indonesia yang belum mampu menunjukkan sikap untuk menjaga dan memelihara peninggalan kuno bangsa sendiri yang amat berharga.

Hari itu, saya membatalkan kunjungan Candi Sukuh karena sepulangnya dari Candi Cetho, di gerbang terlihat banyak sekali pengunjung yang tak jauh beda seperti di Candi Cetho. Saya kehilangan mood. Lebih baik saya menyimpan keinginan ke Candi Sukuh dan membiarkan gambaran baik tentangnya dalam benak, daripada mengingat hal yang kurang menyenangkan seperti yang terjadi di Candi Cetho.

Pembelajaran pentingnya: jangan ke tempat wisata saat libur lebaran!

IMG_0486
The Gapuras


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-10 ini bertema Kotak-Kotak agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Aksen Lengkung Di Situs Warung Boto


Saat ke Jogja tahun lalu, -setelah urusan keluarga selesai-, bersama suami saya menyempatkan diri mengunjungi Situs Warungboto atau kadang disebut juga dengan Pesanggrahan Rejawinangun yang terletak di Jalan Veteran No.77, Warungboto, Umbulharjo, Jogja. Situs yang belakangan mulai terkenal sebagai salah satu destinasi di Jogja ini, -bisa jadi karena Putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu bersama Bobby Nasution melakukan foto pre-wedding di sini-, merupakan salah satu bangunan cagar budaya berupa sebuah pesanggrahan dan pemandian yang sekilas menyerupai Taman Sari. 

DSC00132
Situs Warungboto

Sayangnya saya berkunjung ke Situs Warungboto ini tepat tengah hari yang tentu saja keringat langsung deras mengucur dan panas menerpa kulit. Hebatnya lagi, di lokasi ini tidak ada tempat yang cukup rindang kecuali di dalam ruangan-ruangannya yang berada di tingkat atas. Sungguh, terik matahari ini membuat mood saya langsung jatuh ke level terendah. Mungkin akan lebih baik jika berkunjung ke sini pagi-pagi atau sore hari ketika matahari sudah tidak begitu gahar.

Gara-gara terik matahari itu, saya tidak ingin berlama-lama di sana dan hanya berada di sekitar kolam pemandian dan bangunan yang mengelilinginya. Itupun sebisa mungkin berdiri di bawah bayangan. Bisa jadi ada bangunan lain yang menarik berada di pelataran atas, tetapi uh, maaf seribu maaf, kali ini saya takluk oleh sinar matahari yang langsung membuat sakit kepala. Apalagi, di Situs Warungboto ini saya harus menaiki tangga-tangga untuk memasuki bangunan utama. Lengkap sudah, terik matahari dan tangga, dua hal yang tidak saya sukai dalam berwisata 😀

Situs Warungboto yang dindingnya menggunakan batu bata dan dilepo ini terdaftar dalam pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini, seperti juga Benteng Keliling Keraton atau Taman Sari-nya Keraton Yogyakarta, memiliki dinding yang amat tebal.  

Jadilah siang itu, pelan-pelan saya menaiki tangga untuk ke bagian yang tidak terpelihara dan kelihatannya masih asli. Lorong pintu-pintunya mempunyai aksen lengkung. Sayang sekali tangan-tangan tak bertanggung jawab telah mengotorinya dengan coretan grafiti yang merusak keindahan situs.

Kemudian tanpa tergesa saya melipir mengikuti bayangan untuk memasuki ruangan-ruangan yang ketinggian lantainya tidak sama (multi-level). Saya langsung merasa adem meski sedikit lembab. Entah kenapa rasanya déjà vu dengan situasi Taman Sari yang memang mirip. Dengan struktur yang berdinding tebal, -melalui pintu dan jendela layaknya dalam sebuah benteng-, saya bisa melihat ke arah kolam pemandian yang saling berhubungan yang konon airnya berasal dari sebuah mata air. Tiba-tiba saja saya teringat akan kisah-kisah jaman dulu yang selalu menjadikan sebuah mata air sebagai tempat yang suci dan sakral.

Saya turun lagi ke bawah menuju kolam pemandian dan memperhatikan bentuknya yang unik.

Kolam pertama berbentuk lingkaran dengan dinding melengkung seperti cawan atau mangkuk besar, yang memiliki diameter sekitar 4 meter dan di bagian tengahnya dibuat bentukan seperti helai-helai bunga yang merupakan tempat air yang memancar keluar (umbul). Konon, disanalah sumber mata airnya.

DSC00136
The Spring Pool

Kolam kedua berbentuk persegi panjang yang memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebarnya sekitar 4 meter dengan dinding kolam yang sedikit miring (tidak tegak). Mungkin dinding yang melengkung dan tidak tegak ini memang merupakan disain awal yang membuatnya berbeda dari kolam-kolam pemandian lainnya.

Menariknya, kedua kolam itu terhubung oleh sebuah bentukan terbuka yang menyerupai undakan simetris di kanan kiri dan juga memiliki dinding melengkung ke arah kolam kedua. Artistik.

Dari seberang pintu yang memiliki aksen lengkung, saya mengamati bentuk kedua kolam itu. Entah kenapa saya memiliki pemikiran yang agak melenceng saat mengamati bentuk kedua kolam dari ketinggian. Kolam yang melingkar lalu dihubungkan dengan sebuah bentukan yang agak panjang dan berakhir membuka pada kolam kedua itu, kok seperti sebuah gua garba (rahim) yang merupakan simbol dari awal terciptanya kemanusiaan dan kebudayaan. Entahlah, karena sama sekali tidak ada informasi mengenai makna bentuk kedua kolam itu.

DSC00132
Situs Warungboto

DSC00139
Two empty pools

Yang ada hanya sejarahnya, yang berdasarkan informasi di sebuah papan, Situs Warungboto merupakan sebuah tempat peristirahatan (petilasan) yang pembangunannya dimulai semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I dan dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Bisa jadi kondisi asli bangunan Situs Warungboto, masih seperti yang saya saksikan di tempat yang pertama kali saya datangi, meskipun hanya berupa reruntuhannya yang tidak terpelihara dengan menyisakan dinding tebal  yang tak bisa diragukan.

Konon, sejak tidak digunakan oleh pihak Kraton hingga tahun 1935, tempat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya karena terdapat sumber air. Namun setelah Indonesia merdeka, tempat ini seperti terlupakan. Bisa jadi karena letaknya jauh dari keraton atau sumber airnya sudah tak berfungsi lagi.

Apapun kondisinya kini, setelah mengalami pemugaran, Situs Warungboto menjadi lebih baik dan dapat dijadikan sebagai alternatif berkunjung di Jogja. Meskipun tidak sebesar Taman Sari, dengan kondisi sekarang ini rasanya situs Warungboto memiliki kemegahan dan kecantikannya sendiri.

DSC00126
Warungboto

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-8 ini bertema Curve agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Berhak Bahagia Kala Petang Datang


Every sunset is an opportunity to reset, so take a seat and calm down…

Entah sejak kapan saya menyukai waktu jelang senja menatap laut yang sepertinya tak berbatas, menikmati riak-riaknya, angin yang menerpa wajah, gemericik atau debur gelombangnya serta harum laut yang sangat khas. Rasanya, dengan berada di pinggir laut, mengarah kemanapun, -apalagi yang menghadap matahari tenggelam ataupun kadang matahari terbit-, bisa membantu menenangkan hati dan menyeimbangkan jiwa. Dengan memelihara hati yang tenang, paling tidak stress lebih bisa dikendalikan. 

Tidak sulit sebenarnya untuk mencapai pinggir laut Jakarta, hanya perlu ke arah Utara saja. Masalahnya, tidak banyak tempat-tempat yang relatif nyaman. Lebih seringnya, bising, gaduh atau tempatnya sendiri yang memiliki kategori “lebih baik tidak kesana” 🙂

Di utara Jakarta, selain Ancol, saya lebih menyukai datang sore-sore ke Pantai Mutiara yang ada di kawasan Pluit. Berbeda dengan Ancol, untuk masuk ke kawasan ini sama sekali tidak dipungut bayaran. Bisa jadi karena kawasan ini sebenarnya merupakan area perumahan. Dan tidak tanggung-tanggung, kawasan perumahan kelas atas banget. Memiliki rumah di kawasan ini berarti memiliki mobil-mobil mewah di garasinya dan di bagian belakang rumah terdapat dermaga kecil sebagai tempat parkir kapal-kapal yacht mereka, atau setidaknya jetski.

Biasanya ketika sampai di kawasan Pantai Mutiara ini, keluarga kami menjalankan mobil pelan-pelan dengan jendela terbuka lebar agar suasana pinggir lautnya terasa (meskipun agak panas ya 😀 ) dan bisa mengintip ke garasi-garasi yang menyimpan mobil-mobil mewah. Paling tidak kelasnya Porsche, Lamborghini Aventador, atau Ferrari 458 yang harganya bisa sampai dua digit milyaran Rupiah. Dan jika beruntung, diantara rumah-rumah besar itu, bisa terlihat kapal-kapal yacht mereka yang ada di bagian belakang rumah. Jangan tanya harga kapal-kapal yacht itu, sepertinya bisa empat atau lima kali harga mobil mewah mereka. Uh, rasanya  saya mimpi pun tak sampai ke tingkat itu. 

Tetapi dengan melihat secuil saja sudah cukup membahagiakan.

Menyusuri jalan yang berbatas laut hingga ke ujung Pantai Mutiara tempat berdirinya bangunan ikonik yaitu Apartment Regatta yang bentuk bangunannya seperti layar yang sedang terkembang. Saya sering menandainya dari pesawat saat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Dan saya membayangkan betapa asiknya punya ruang keluarga atau kamar yang bisa memandang ke laut lepas. Ah… meskipun cuma membayangkan saja, tetapi sudah bisa membuat saya tersenyum bahagia.

Kalau belum puas jalan-jalan sore sambil intip sana-sini di sekitar kawasan Pluit Mutiara, biasanya saya berhenti di Jetski Café. Waktu paling tepat ke sini memang ketika sore hari jelang matahari tenggelam. Meskipun awalnya sinar matahari terasa menyilaukan, pengunjung bisa memesan meja di bagian dalam Café terlebih dahulu sebelum nantinya pindah ke bagian luar yang berbatas laut (meskipun meja-meja outdoor yang berada di pinggir laut itu sangat diminati dan seringnya sudah fully reserved). Apalagi akhir pekan, wuiih susah!

jetski2
A bit back light but it’s the view in the afternoon

Terakhir kami ke tempat ini, sekitar bulan November 2019 yang lalu. Ketika itu saya mengajak Mama, yang akhirnya bersedia ikut setelah dibujuk-bujuk karena hampir setahun mengurung diri di rumah sepeninggal Papa menghadap Ilahi. Meskipun saya agak sedikit cemas, -takut Mama terkenang kembali bersama Papa karena mereka pernah saya ajak ke tempat ini sebelumnya-, saya berharap angin laut yang segar dan suasana yang berbeda bisa menggembirakan hati Mama. Alhamdulillah, ternyata memang benar, Mama terlihat gembira dengan suasana yang berbeda dari situasi sehari-hari dirumahnya.

Sepertinya kegemaran saya berada di tempat-tempat yang berbatas laut itu menurun dari Papa Mama. Saat itu, Mama terlihat terpukau senang melihat keindahan warna sore dan mentari yang pelan-pelan menghilang di balik gedung meninggalkan warna kuning keemasan di langit Barat.

jetski1
Live music

Live music yang memang selalu ada pada setiap akhir pekan menambah suasana lebih hangat. Meskipun volume suara musik cukup nyaring, Mama tak terganggu bahkan mengatakan kepada saya jika Papa masih ada, pastilah Papa ikut menyanyi di panggung. 😀 Saya tersenyum mengingat kegemaran Papa untuk tampil menyanyi dimana saja yang memungkinkan, meskipun lagu-lagunya sangat klasik (baca: jadul)! Bahkan tak jarang di panggung Papa memainkan organ sambil bernyanyi…

Mentari semakin turun. Saya menawarkan pindah ke meja luar tetapi Mama lebih menyukai di bagian dalam Cafe karena masih mau menyantap makanan yang ada. Hati di dalam ini langsung meluruh, biasanya Mama makan tak begitu banyak sejak kepergian Papa tetapi kali ini saya melihat Mama menikmati makanannya lebih lahap. Rasanya langsung makjleb… saya ditegur keras oleh Sang Pemilik Cinta agar supaya bisa lebih memperhatikan sisi batin Mama yang kini tinggal sendiri.

Warna keemasan masih menghias langit Barat, ketika saya menatap permukaan laut yang tak pernah berhenti bergerak, seperti juga stress kehidupan. Selalu ada, namun bukan berarti tidak bisa dikendalikan.

Sisa sinar matahari jatuh lembut ke wajah Mama yang telah dimakan usia. Garis-garis kerutnya tergambar di wajahnya dengan jejak airmata kehilangan Papa yang belum sepenuhnya sirna.

Biasanya saya ke Pantai Mutiara hanya untuk mendapatkan kenyamanan rasa diri sendiri. Tetapi kala petang hari itu, bisa mengajak mama ke tempat itu, melihat Mama bisa makan dengan lahap dan melihatnya terkagum atas pemandangan yang indah, semuanya menjadi jauh amat berharga dan amat bermakna daripada warna keemasan yang menghias langit Barat.

Seperti mengingatkan bahwa bahagia itu memang sederhana…

jetski3
About Sunset

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-5 ini bertema Petang agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Cerahnya Klenteng Tek Hay Kiong


Sungguh tak menyangka saya bisa mampir dan menikmati sejenak keindahan klenteng Tek Hay Kiong, -yang arsitekturnya dipercaya masih asli-, ketika melakukan perjalanan singkat bersama kawan-kawan kantor ke Gunung Guci beberapa waktu lalu.

Menariknya Klenteng Tek Hay Kiong yang berada di Jalan Gurami, Kota Tegal ini, terdaftar sebagai bangunan pusaka daerah, karena menjadi saksi sejarah akan keberadaan komunitas Tionghoa yang sudah mendiami kawasan kota Tegal sejak masa kolonial Belanda. Tidak bisa dipungkiri karena bagaimanapun komunitas Tionghoa selalu berpusat pada sebuah Klenteng yang umumnya menyediakan catatan orang-orang yang (pernah) tergabung dalam komunitasnya sejak awal pendirian. Catatan-catatan inilah yang menjadi sumber informasi berharga atas sejarah sebuah kawasan yang diatasnya terdapat sebuah klenteng. Demikian juga untuk Klenteng Tek Hay Kiong.

P1010147
Dari gerbang Klenteng Tek Hay Kiong

Di salah satu sudut terdapat inskripsi tentang sejarah klenteng ini yang tertulis dalam aksara aslinya dan dipahat di atas kayu jati. Tidak hanya mengenai sejarah pendiriannya di tahun 1837 oleh Kapitan Tionghoa Tan Koen Hay dan dukungan umat serta tokoh-tokoh kota lain yang mendukung pembangunan klenteng saat itu, di klenteng ini juga menyimpan papan-papan arwah yang berisikan catatan-catatan nama, asal muasalnya, pasangan hidup dan anak cucunya. Dari papan-papan arwah ini bisa ditarik benang merah sejarah bahwa kapitan pertama yang memimpin komunitas Tionghoa di Tegal adalah Souw Tjwan Heng (1699 – 1770) bergelar Kapitan Souw Pek Gwan. Artinya komunitas Tionghoa di Tegal sudah ada sejak 320 tahun lalu bahkan mungkin lebih dari itu. Hebat kan?

Warna merahnya yang umum mendominasi Klenteng terlihat sangat eye-catching sehingga memudahkan orang untuk mampir. Apalagi ditambah warna kuning keemasan di beberapa tempat, memberi rasa kontras pada Klenteng Tek Hay Kiong ini. Dua warna, merah dan kuning (mewakili warna emas) memang secara tradisional menjadi warna klenteng.

Warna merah sendiri, yang merupakan unsur dari “Yang” memiliki arti kebahagiaan, keberuntungan, kesenangan, keberhasilan, keselamatan dan pembawa nasib baik. Sehingga dengan adanya warna merah di Klenteng diharapkan agar seluruh kesedihan dan kegelapan akan sirna dan digantikan dengan kebahagiaan dan kebaikan. Warna merah juga mewakili kebenaran, kebaikan dan ketulusan hati. Bukankah orang beribadah ke Klenteng berharap bisa mendapatkan kebaikan dan kebenaran?

Tidak begitu berbeda dengan warna merah, warna kuning atau keemasan juga dianggap sebagai lambang kemakmuran, kehangatan, kekayaan, kesejahteraan dan bisa membawa aura positif. Konon sesuai pepatah kuno Tiongkok, warna kuning sebagai pengganti warna emas dipercaya sebagai warna yang paling indah karena kuning menghasilkan Yin dan Yang. Menjadi pusat dari segala hal. Tidak heran, warna kuning menjadi warna untuk Kaisar. Saya jadi teringat istana-istana Kaisar Tiongkok pastilah memiliki warna kuning keemasan. Dan juga pakaian kebesaran Sang Kaisar, selalu berwarna kuning keemasan.

Dua warna yang mendominasi sebuah Klenteng memang memiliki makna dan harapan yang amat baik bagi mereka yang bersembahyang di sana.

P1010152
Klenteng Tek Hay Kiong

Sekarang ini, Klenteng Tek Hay Kiong di Tegal lebih menjadi tempat ibadah daripada menjadi pusat kegiatan komunitas Tionghoa seperti pada jaman kolonial dulu. Kendati demikian, rasanya tak salah bila kita mengunjungi tempat bersejarah ini, asalkan tidak mengganggu aktivitas peribadatan yang berlangsung. Bukankah dengan mengunjunginya, -meskipun bukan untuk beribadah-, kita bisa membuktikan kekuatan kebhinekaan negeri tercinta ini?

Apalagi, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, seharusnya kita bisa membanggakan sebuah bangunan yang telah ditetapkan sebagai bagian dari sejarah kota dan turut serta menjaga dan memeliharanya. Paling tidak, kita bisa mengunjunginya dan menikmati keindahannya. Dan bisa menambah pengetahuan!

Jadi, tidak ada salahnya menjadikan Klenteng Tek Hay Kiong ini menjadi destinasi wisata saat sedang berlibur bersama keluarga atau teman.

Dan saya membayangkan kemeriahan perayaan Imlek kemarin di Klenteng Tek Hay Kiong ini.  Pasti seru banget…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-4 ini bertema Red & Yellow agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…