D7-Trekking Nepal – Berita Baik


Jika belum baca cerita trekking sebelumnya, bisa baca di sini D6-Trekking Nepal – Di Simpang Jalan

Tidak terasa sudah seminggu kurang sehari kami sudah berkeliaran naik turun di perbukitan tinggi yang masuk ke dalam Area Konservasi Annapurna. Negeri ini memang ‘gila’ soal kontur bumi. Tidak usah heranlah, di negeri ini ada 8 gunung yang memiliki ketinggian di atas 8000 mdpl yang mengisi ranking gunung-gunung tertinggi dunia. Dengan kondisi demikian, jelas juga kalau yang namanya perbukitan di Nepal yang amat banyak itu, bisa memiliki ketinggian di atas 3000 meter di atas permukaan laut! Sehingga saat berada di Landruk yang memiliki ketinggian sekitar 1600 mdpl, saya merasa sudah berada di “dataran rendah”. Padahal jika berada di Indonesia, sudah termasuk tinggi juga.

Morning view at Landruk, Nepal

Kamar saya yang luas dan menghadap lembah dengan taman cantik sebenarnya menyenangkan tetapi saat itu saya lebih memilih untuk bersantai di kamar sebelum menikmati mandi yang paling enak sedunia (setelah berkeringat sepanjang hari). Lagipula update status lebih menyenangkan 😀 😀 😀

Kami berkumpul lagi saat makan malam. Saat itu kami berempat merupakan tamu satu-satunya di penginapan, bisa jadi karena trekkers lebih banyak memilih rute lain daripada Landruk atau sudah tak menjadikan Landruk sebagai tempat menginap karena berjalan sedikit lagi sudah bisa mencapai tempat jeep untuk kembali ke Pokhara.

Karena kangen, saya buka WA keluarga. Apa yang tampil di layar membuat saya menjerit kecil. Yaaaayyyy…. Alhamdulillah… Pak Ferry dan Dipak langsung mengangkat kepala dari ponsel mereka masing-masing, menunggu…

Melupakan Dipak yang tak memahami bahasa Indonesia, saya langsung berkata dalam bahasa ibu,

“Anakku diterima di SNMPTN”

Pak Ferry tersenyum lebar dan langsung menyorongkan tangan, memberi selamat

“Selamat ya mba…”

Saya yang teramat gembira, langsung menghubungi yang tercinta jauh di seberang lautan itu, melupakan kawan-kawan yang sedang menunggu datangnya makanan. Sayup terdengar Pak Ferry menjelaskan alasan mengapa saya berbahagia itu kepada Dipak.

Berita gembira itu benar-benar membahagiakan saya, terbayang wajah anak saya yang selama ini belajar tanpa henti mengikuti bimbingan baik di sekolah maupun di luar sekolah agar bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Awalnya ia memilih jurusan komunikasi namun sekolahnya menyarankan agar ia mengambil jurusan Psikologi. Dan berdasarkan sejarah tahun-tahun sebelumnya, rekomendasi dari sekolahnya selalu lolos seleksi. Tak dinyana, berdasarkan hasil report sekolahnya, dia berhasil diterima di pilihan jurusannya berdasarkan undangan. Alhamdulillah, Allah Pemilik Semesta menghadiahkan sebuah berita gembira di saat saya rindu mereka.


Keesokan paginya, gunung berpuncak salju itu berhias awan, seakan-akan tak ingin bersaing memenangkan rasa sukacita yang masih membalut saya karena ada berita gembira dari tanah air. Saya tak merasa bersalah karena tak banyak mengabadikan gunung berhias awan itu. Lagipula kami harus cepat bersiap-siap.

Meninggalkan penginapan dengan formasi yang sama, Kedar di paling depan, pak Ferry menyusul di belakangnya lalu saya dan Dipak. Belum apa-apa jalan sudah menanjak membuat semangat langsung mengendur apalagi jalan ini menuju berakhirnya trekking. Masih 1 malam menginap di Australian Camp sebelum kembali ke Pokhara.

Seperti biasa, saya mengalihkan jalan menanjak itu dengan menikmati pemandangan di kiri kanan jalan. Sayangnya hanya ada sepasang kerbau yang memenuhi kandang. Seandainya mereka bisa berpikir, mungkin mereka akan menilai saya sebagai manusia yang manja karena berjalan lambat dengan nafas yang sudah terengah padahal masih baru start dan hanya menggendong daypack. Saya melangkah pelan sambil mengomel dalam hati, mengapa yang namanya pulang dari gunung itu harus naik perbukitan yang tingginya gak kira-kira?

Menuju tempat yang lebih rendah ketinggiannya, sinar matahari semakin terasa memanggang apalagi pemandangan tak lagi memanjakan mata. Yang tampak hanyalah jalan berkelok menyusuri punggung bukit. Langkah saya melambat bukan karena jalan menanjak melainkan panas yang membuat keringat mengucur hebat. Untung saja, saya bertemu rombongan kambing yang digembalakan oleh seorang ibu. Rombongan hewan yang jumlahnya sekitar dua puluh itu memberikan kesan tersendiri. Bahkan di saat suasana terik yang memanggang jalan tanah berkerikil dengan tebing dan jurang, rombongan yang punya bau yang khas itu, -bau kambing-, bisa menyenangkan hati. Menyadari hawa panas, Dipak mengajak saja melanjutkan perjalanan sambil mengatakan tempat istirahat sudah dekat dan ada minuman segar di sana.

Herd of Goats, Landruk, Nepal

Benar, setelah beberapa waktu, saya melihat pak Ferry dan Kedar sedang duduk istirahat. Di dekatnya ada warung yang menjual lemonade yang langsung saja saya pesan. Meskipun agak lebay, saya merasa seperti sedang jalan di gurun yang membuat dahaga luar biasa, dan minum lemonade itu rasanya seperti memiliki surga dunia 😀 Segarnya langsung terasa dan memberi efek semangat ke badan (meskipun saya harus hati-hati karena teringat jaman dulu saat panas-panas dan kehausan, minum cocacola dingin membuat suara saya langsung hilang!).

Setelah meneguk habis minuman yang membuat yang ‘lupa diri‘ itu, baru kemudian saya pelan-pelan menikmati isi gelas kedua dan membiarkan seluruh rongga mulut menyesapnya. Seteguk dua teguk, mata saya tertarik dengan pemandangan di bukit seberang yang dibatasi oleh lembah yang luas. Bukit itu seperti digaris-garis miring seperti simbol kilat yang berulang.

Road to Ghandruk, viewed from Landruk
Closer : Dangerous road to Ghandruk and Matkyu

What’s that?“, akhirnya pertanyaan yang muncul di benak saya terlontar juga kepada Dipak

New Road“, jawabnya santai setelah memperhatikan apa yang saya tunjuk.

To Ghandruk?”

Dipak mengangguk singkat, seperti tak berkenan. Mungkin ia tak suka jalur-jalur trekking di pegunungan Himalaya berubah menjadi jalan mobil atau bus karena berdampak langsung terhadap pekerjaannya sebagai seorang pemandu trekking (dan setelah dua tahun baru saya menyadari bahwa jalan yang saya lihat itu merupakan jalan jeep atau bus dari Nayapool ke Matkyu, -sebuah desa kecil setelah Ghandruk-, yang bisa menghemat sehari untuk ke Annapurna Base Camp karena cukup sehari untuk mencapai Chhomrong dari yang biasanya dua hari)

Tanpa sadar saya mengangkat bahu, merasa jeri. Teringat perjalanan menuju Hille (baca disini Nepal – Trekking Hari Pertama Menuju Ulleri) dengan insiden yang cukup mengerikan, roda jeep terjebak dalam kubangan di jalan sempit, dengan jurang dalam di kiri dan tebing tinggi di kanan. Jalan menuju Ghandruk itu pasti tak jauh beda. Entahlah, semoga suatu saat nanti saya bisa melakukan trekking lagi ke ABC yang mungkin saja akan melewati jalan itu

Lemonade saya sudah tinggal sedikit, dengan sekali teguk gelas minuman dari kaca itu menjadi kosong. Tapi semangat melanjutkan perjalanan muncul segera. Australian Camp, -destinasi hari itu-, sedang menanti kami.

Langkah saya belum terlalu banyak ketika kegilaan trekking dimulai. Pak Ferry mengajak Dipak lari di gunung. What? Di ketinggian ini, mau trail-run? Keduanya tertawa-tawa tapi bukan berarti tak menjalankan. Saya menjadi saksi mereka berdua seperti boys yang tak mau kalah. Meski bukan lari sprint, mereka berdua benar-benar lari sambil memanggul ransel. Tak jauh memang, tetapi bagi saya, -yang jalan saja melelahkan apalagi lari-, mereka sudah “tidak waras”. Di batas kelokan jalan, mereka tertawa-tawa puas sambil menunggu saya yang datang dengan geleng-geleng kepala. Sambil tertawa-tawa, pak Ferry mengatakan bahwa saya boleh memberitakan ‘kegilaan’ mereka melakukan sepenggal Himalaya trail-run.

Wanna run here?

Kadang-kadang saya tak habis pikir, jika urusannya sudah tantang menantang, pria-pria yang tak muda lagi dan sudah berbuntut banyak itu bisa lupa diri dan kembali dengan jiwa mereka yang masih boyish. Tetapi dengan menyaksikan itu, kok saya jadi merasa tua banget yaa… 😀 😀 😀

Siang itu, setelah makan siang yang lagi-lagi dal bhat atau mie instan yang hambar (saya kangen sekali indomie kalau saya makan mie instan di Nepal), saya sempat membeli selembar rok lilit panjang berwarna biru di kios souvenir yang sederhana. Rok lilit itu serupa kain yang ada talinya di bagian atas sehingga tinggal dipakai seperti kain lalu diikat di pinggang. Entah kenapa, mungkin saya merasa iba dengan bapak tua penjualnya sekaligus saya merasa begitu familiar dengan motif bahan rok itu sehingga saya memilihnya (dan keesokan paginya di kamar penginapan di Australian Camp, saya tertawa ngakak sendirian di kamar, karena di pinggir rok panjang lilit yang saya beli itu bertuliskan “Batik Halus Royal Peach by Legenda Mas”. Pagi itu sambil tertawa sendiri, saya menyadari alasan memilih rok panjang itu. Rupanya pikiran bawah sadar saya memilih motif megamendung yang sudah dikenal lama di dunia perbatikan. Tapi siapa sih yang akan berpikir ada kios yang menjual kain batik Indonesia dengan motif megamendung di desa nun jauh di sana, di sudut terpencil bukit di Nepal? Bukan di Kathmandu sebagai ibukotanya, bukan juga di Pokhara, kota terdekatnya, bukan di desa terbesar di jalur trekking, melainkan di kios sangat sederhana di gunung!)

Batik Megamendung from Indonesia bought in Nepal 😀

Nantinya, saya akan sangat mensyukuri telah membeli rok lilit panjang yang ternyata bertuliskan “Batik Halus Royal Peach by Legenda Mas” di tempat antah berantah yang nun jauh di sana dan tak terduga itu, karena bagi saya hal itu bukanlah sebuah kebetulan. Tapiiii, entahlah… yang pasti kain itu hanya satu dan saya seperti dituntun untuk berjalan ke kios yang sederhana itu dan melihat motif itu! Bagi yang mengenal saya pasti tahu, saya paling malas belanja, apalagi souvenir.

Kaki kami terus menapaki jalan yang menanjak landai atau sering disebut “Nepali flat” (nanjak “sedikit” bagi warga Nepal masih dalam kategori rata) 😀 hingga saya melihat sebuah suspension bridge pendek yang sudah sangat rapuh, kayunya lapuk, lubang di sana-sini dan baja-bajanya sudah termakan karat. Jembatan itu sudah tidak dipergunakan lagi karena ada jalan yang sedikit memutar (mending memutar daripada ambrol ke bawah!). Tapi bagi saya, jembatan itu keren sekali.

Old Bridge

Setelah berfoto sejenak dengan latar belakang jembatan, Dipak mengajak agak bergegas karena kami harus mendaki bukit lagi sementara cuaca mulai mendung. Semangat saya langsung surut dengan kenyataan yang ada di depan itu. Saya mulai lagi berjalan menghitung sepuluh langkah dalam bahasa Nepal, ek, dui, tin, char, panch, cha, sat, ath, nau, das… atau kadang ganti menggunakan bahasa leluhur saya, een, twee, drie, vier, vijf, zes, zeven, acht, negen, tien. Atau menyeberang sedikit ke Jerman dan kalau lagi “kumat” ya, pakai bahasa Khmer meski hafalnya sampai lima saja moui, phi, bai, boun, pram 😀

Sampai di puncak bukit tersedia semacam shelter sehingga kami bisa beristirahat sejenak. Dari tempat itu, Dipak memberitahu bahwa lagi-lagi di arah ABC cuacanya tak begitu baik karena salju telah turun di bawah ketinggian biasanya. Itu tak biasa. Saya terdiam mengucap syukur dalam hati, batalnya kami untuk melanjutkan trekking ke arah Base Camp bisa jadi karena mendapat perlindungan dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Hanya beberapa menit, pemandangan gunung bersalju itu telah hilang berganti dengan awan hujan kelabu.

Sebenarnya di tempat kami belum hujan, tetapi Dipak menyarankan agar menunggu hingga hujannya lewat. Benarlah, tak berapa lama hujannya sampai di shelter itu dan turun sangat lebat. Kami menunggu sampai hujan berhenti, sementara ada beberapa trekkers lain melanjutkan perjalanan menembus hujan.

Matahari langsung bersinar ketika hujan berhenti. Kami melanjutkan perjalanan. kali ini lebih menyenangkan karena landai dan teduh. Seperti jalan di Taman Nasional, tak ada target, kecuali menikmati perjalanan dalam liburan.

Beautiful View on the way to Australian Camp

Hari masih sore ketika kami sampai di checkpoint di Lwang, sebelum akhirnya menjejak Australian Camp. Meskipun namanya camp, tetapi di tempat ini lebih banyak menyediakan penginapan yang nyaman daripada area untuk camping.

Australian Camp, tempat yang mudah dicapai dari Pokhara dan sering dijadikan destinasi untuk pengalaman trekking sehari di Nepal. Ada yang pernah ke sini juga?

Bersambung…


Catatan. Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan kisah trekking di Nepal sekaligus menjawab tantangan mingguan tahun 2020 minggu ke-50 bertema News

Berperahu Naga Sepanjang Sungai Parfum


Kota Huế – Vietnam Tengah di bulan Desember

Setelah semalam berkeliling kota Huế dengan menggunakan becak, pagi ini saya menyempatkan diri melakukan tour berperahu sepanjang Sungai Parfum, sungai yang berlimpah bunga di hulu selama musim gugur sehingga konon menjadi harum baunya (tapi saya tidak membauinya lho 🙂 )

Perfume River from my hotel in Hue

Kota Huế di Vietnam Tengah yang memiliki tingkat hujan yang lumayan tinggi di bulan Desember ini, pagi itu tampak berawan, muram dan gloomy, tak beda jauh dengan situasi kota Hoi An yang telah saya tinggalkan sehari sebelumnya. Tetapi saya tak ingin terbawa suasana yang menggiring untuk berlama-lama di balik selimut. Setelah bersiap dan sarapan, segera saja saya menuju tempat perahu bersandar yang tak jauh dari hotel.

Sambil menunggu waktu keberangkatan, saya mengamati perahu wisata yang akan saya naiki. Bentuknya lucu, seperti ada dua kepala Naga di depan. Jika perahu Naga yang asli, kepala Naga benar-benar menyatu dengan badan perahu sedangnya versi KW ini kepala Naganya hanya berupa hiasan. Bagi saya hiasan ini malah menarik perhatian. Siapa sih yang memperhatikan asli atau tidak? Bukankah jika dilihat dari jauh tetap terlihat seperti perahu Naga? 😀

The Dragon Boat

Pada jam yang ditentukan seluruh peserta tur berkumpul, termasuk beberapa turis kulit putih. Kemudian perahu wisata berkepala Naga itu mulai bergerak menyusuri Sungai Perfume yang membelah kota Huế. Tak lama pemandu tur yang berusia tiga puluhan itu mulai mengeluarkan jurusnya bercerita tentang perjalanan hari itu. Sedikit berbeda dengan gaya ngebolang sebelumnya, saya tidak melakukan persiapan dan riset tentang tempat-tempat yang akan dikunjungi. Kali ini, sekali-sekali saya menjadi turis yang nurut pada omongan pemandu, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

Dalam hitungan menit perahu melaju ke pinggiran kota Huế, kepadatan kota terasa berkurang dan berganti dengan hijaunya pepohonan serta coklatnya Sungai Parfum. Pikiran saya melayang ke pengalaman di Bangkok, ketika menyusuri sungai Mae Chao Phraya, hanya beda pemandangan. Selagi masih menikmati pemandangan sekitar sungai, mendadak saya merasa perahu mengarah ke kanan dan melambat. Pasti ini pemberhentian pertama.

Rumah Taman An Hiên (Nhà vườn An Hiên)

Setelah turun dari perahu dengan melewati sedikit belukar, kami sampai di gerbang rumah An Hiên. Gerbang rumah dengan lengkung kuno ini terlihat lembab dan memudar meskipun masih terdapat jejak indahnya. Di bagian atas, terdapat hiasan berupa karakter China yang mungkin berarti An Hien dan di bawah lengkung terdapat hiasan bersulur.

Melewati gerbang, terhampar jalan setapak menuju rumah dengan dahan dan ranting-ranting tanpa daun, melengkung membentuk terowongan panjang. Cantik sekaligus menimbulkan misteri. Dan di ujung terowongan itu terdapat pagar berdinding yang sedikit berlumut dengan lubang lingkaran yang membentuk simbol kata Mandarin yang biasanya bernada kebaikan.

Berbelok di ujung jalan, terdapat pintu untuk masuk ke halaman rumah yang penuh dengan tanaman. Sebuah kolam ikan dibuat di bagian depan rumah mungkin bertujuan untuk mendinginkan dan menyegarkan suasana rumah.

Rumah Taman An Hiên yang sudah berusia lebih dari seabad ini relatif masih cukup bagus, pintu dan tiang-tiang kayu di bagian depan cukup baik (meskipun saya teringat rumah-rumah kuno di daerah pecinan yang serupa dan terpelihara dengan lebih baik). Hiasan atapnya cukup menarik perhatian saya. Dan seperti juga turis-turis lain, saat memasuki rumah itu, saya melihat ada altar lengkap dengan foto-fotonya, seperangkat alat minum teh, ruang-ruang kosong berisi tempat tidur kayu. Sayangnya sama sekali tidak ada penjelasan apapun bahkan pemandu tur entah dimana 😀 Saya hanya merasa di negeri antah berantah…

Belakangan baru diketahui, konon, putri ke-18 dari Kaisar Duc-Duc, –yang kontroversial karena penobatannya tak selesai dan hanya memerintah selama 3 hari, 20 – 23 July 1883-, menempati rumah An Hiên sampai tahun 1895, lalu setelah beberapa kali berpindah kepemilikan, akhirnya tahun 1938 rumah ini menjadi milik Nguyen Dinh Chi, seorang kepala daerah setingkat provinsi. Istrinya, Dao Thi Yen, terus merawat rumah ini bahkan mempelopori gerakan melawan kolonialisme Perancis yang terjadi saat itu di Vietnam. Bisa dikatakan rumah An Hiên ini menjadi saksi bisu kegiatan aktivis nasional Vietnam terutama yang berkontribusi besar untuk kota Huế.

Tidak banyak mendapatkan informasi tentang isi rumah, saya kembali ke halaman lagi. Meskipun tidak sempat memperhatikan keberadaannya, konon di halaman ini terdapat berbagai bunga, seperti anggrek dan mawar impor dari Eropa serta berbagai pohon buah seperti manggis, durian, lengkeng dan kesemek langka Tien Dien yang istimewa karena lezat dan tanpa biji. Buah kesemek ini khusus dibawa dari wilayah Nghi Xuan oleh cicit penyair besar Nguyen Du sebagai hadiah untuk keluarga Nguyen Dinh Chi.

Rasanya tak ada yang istimewa saat berkunjung ke rumah Taman An Hiên ini. Mungkin saja rumah ini memiliki nilai historis bagi penduduk Vietnam tapi sayangnya ketiadaan informasi yang melatari rumah ini, membuat pengunjung non-lokal seperti kehilangan spirit dan nilainya (Meskipun saya jadi introspeksi diri, apakah tempat-tempat wisata di Indonesia serupa rumah An Hien ini sudah memberikan informasi cukup dalam bahasa Inggris mengenai tempatnya?)


Setelah semua berkumpul kembali di perahu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Perfume. Pemandangan yang menarik membuat saya meninggalkan tempat duduk dan melangkah keluar menuju area kepala Naga tempat turis mengabadikan pemandangan sekitar.

Seseorang di antara mereka, -kelihatannya cukup berumur-, menghampiri saya dan mengajak ngobrol mengenai wisata menyusuri sungai ini. Mendengar ceritanya, saya sebagai frequent-traveler ke Cambodia merasa terhenyak juga mengetahui ia baru saja melakukan perjalanan wisata sungai dari Tonle Sap hingga ke Phnom Penh Cambodia, sebuah perjalanan yang masih menjadi impian saya. Ceritanya menginspirasi untuk segera mewujudkan perjalanan itu. Obrolan kami terhenti karena perahu berhenti di sudut sungai yang agak lebih tinggi. Saya terpesona dengan apa yang saya lihat, ada pagoda tua di antara rimbunnya pohon.

Thien Mu Pagoda

Thien Mu Pagoda

Sebagai tempat ibadah kuno berarsitektur indah, tak heran jika Kuil Thien Mu selalu menjadi tempat wisata yang didatangi wisatawan saat berkunjung ke Huế. Pagoda yang juga terkenal dengan nama Heaven Fairy Lady Pagoda itu terletak di Ha Khe Hill, desa Huong Long, di pinggir sungai Perfume atau bisa juga berkendara sekitar 5 km dari Huế.

Pagoda ini memiliki keunikan sendiri karena ada legenda yang menyelimutinya. Dahulu kala, seorang wanita tua muncul di bukit tempat lokasi pagoda sekarang, memberitahu penduduk setempat bahwa seseorang yang sangat berkuasa akan datang dan membangun Pagoda Buddha untuk kemakmuran negara. Waktu berlalu dan legenda tetap menyelimuti kawasan itu. Kemudian, karena legenda itu juga sang pendiri dinasti Nguyen, Lord Nguyen Hoang, -saat itu beliau gubernur provinsi Thuan Hoa (sekarang Hue)-, pada tahun 1601 memerintahkan pembangunan pagoda Thiên Mụ (atau disebut juga Linh Mụ) dan faktanya setelah itu memang membawa kemakmuran bagi negara. Bisa jadi legendanya misterius, tapi tak bisa diabaikan bahwa pagoda selalu dikunjungi orang, dari dalam dan luar negeri. Entah memang untuk melihat pagoda atau untuk membuktikan legenda itu sendiri.

Thien Mu Pagoda

Tentu saja seperti turis lainnya, saya tertarik untuk melihat lebih dekat menara pagoda yang menjulang tinggi. Menara ini dikenal dengan nama Phuoc Duyen, sesuai nama personal dari pendirinya, Kaisar Thieu Tri, dan telah menjadi simbol tidak resmi dari kota Hue. Menara segi delapan yang memiliki tujuh lantai ini menjadi bangunan serupa stupa yang tertinggi di Vietnam, bahkan biasa diasosiasikan (meski tak resmi) dengan ibukota kekaisaran yang berpusat di Hue.

Di dekatnya ada beberapa bangunan lain yang tak kalah menarik, seperti tempat yang menyimpan Dai Hong Chung, sebutan untuk genta sangat besar dari Lord Nguyen Phuc Chu, sejak tahun 1710 yang berukuran 2.5 meter dan beratnya lebih dari 3 ton. Tak jauh juga ada prasasti dari tahun 1715 yang dibuat berdiri di punggung kura-kura marmer besar yang menjadi lambang umur panjang. Saya juga menyempatkan memasuki Aula utama Dai Hung yang megah dan terlihat modern. Isinya barang-barang antik yang amat berharga.

Sambil menunggu peserta tur kembali, saya sedikit googling mengenai sejarah Thien Mu dan terkejut juga membaca hasilnya. Rupanya tak hanya kecantikan arsitekturnya, tetapi ada nilai historis kental dimiliki Pagoda Thien Mu ini yang membuat semangat kebuddhaan di tempat ini tetap terjaga.

Tahun 1963, Hue bergolak. Kebanyakan rakyatnya yang menganut Buddha melayangkan protes anti pemerintahan. Saat itu, Presiden Ngo Dinh Diem, yang naik ke tingkat kekuasaan tertinggi sejak tahun 1955, diduga telah menunjukkan perilaku diskriminasi. Konon, sebagai presiden, ia cenderung memprioritaskan umat Katolik dan melakukan diskriminasi terhadap umat Buddha di bidang ketentaraan dan pelayanan publik serta distribusi bantuan, yang membuat sebagian rakyat Vietnam tidak puas.

Ketidakpuasan akhirnya meledak di Hue di dalam musim panas tahun itu karena terhitung sembilan penganut Buddha tewas oleh tentara dan polisi dari Presiden Ngo Dinh Diem, yang malangnya terjadi pada hari Waisak, hari lahir Sang Buddha Gautama. Protes itu menyebar ke seluruh negeri dan membesar. Dan pusat gerakan umat Buddhist semasa bersejarah itu berada di Pagoda Thien Mu, dalam bentuk mogok makan, tempat barikade manusia dan protes damai.

Tetapi hari itu, saat saya menapaki kawasan Pagoda Thien Mu, rasanya sungguh damai dan tenang karena tempat itu ditata dengan indah, banyak bunga dan pepohonan. Bahkan di bagian belakang taman, terdapat hutan pinus yang wanginya terasa sampai ke tempat saya berdiri. Sungguh tak meninggalkan jejak sama sekali bahwa pernah terjadi gerakan karena sebuah tragedi di tempat yang indah itu.

Waktu berlalu, kami harus melanjutkan perjalanan berperahu. Sayang tak bisa menyaksikan rombongan biksu beribadah saat matahari tenggelam yang konon amat indah di sini. Tapi ah, hari itu, suasananya masih gloomy


Temple of Literature

Meninggalkan Thien Mu, perahu kami melaju melewati Temple of Literature yang lokasinya hanya 1 km dari Pagoda Thien Mu. Pagoda yang juga dikenal dengan nama Van Mieu Hue or Van Thanh ini merupakan tempat untuk pembelajaran ajaran Confusius yang terkenal di China, Korea, Jepang dan Vietnam.

Sayang karena waktu yang terbatas, kami tidak dapat mampir di tempat terkenal yang didirikan pada tahun 1908 semasa pemerintahan Kaisar Gia Long.

Perahu terus melaju menyusuri Sungai Perfume di hari yang berawan. Tak terlihat lagi rumah-rumah penduduk, yang ada hanyalah pepohonan dan perbukitan di kejauhan. Di beberapa pinggir sungai terlihat tempat penangkapan ikan. Serupa di negara-negara lain, sungai merupakan salah satu tempat mata pencaharian yang bisa diandalkan seperti perikanan.

Setelah beberapa lama, akhirnya perahu melambat dan berhenti pada sebuah kaki bukit. Inilah persinggahan terakhir dalam perjalanan dengan perahu. Sebuah kuil kecil yang cantik di antara rimbun pohon.


Hon Chen Temple

Berada di tepian sungai sekitar 10 kilometer dari kota Hue, Kuil Hon Chen merupakan obyek wisata yang terkenal di Hue.

Saya tersenyum saat menjejak di tempat ini karena sehari sebelumnya telah berkeliling My Son, sebuah kompleks percandian Kerajaan Champa. Seperti ada benang merah mengunjungi My Son dan ke Kuil Hon Chen, yang keduanya terkait pada etnis Champa.

Hon Chen Temple
Hon Chen Temple

Dan sebagai tempat ibadah Po Nagar, -junjungan yang dipercaya oleh etnis minoritas Champa-, Kuil Hon Chen menarik untuk didatangi. Karena menurut legenda etnis Champa, Po Nagar adalah putra Raja yang diutus ke bumi untuk menciptakan bumi dan segala jenis kayu dan beras.

Etnis Champa percaya bahwa kuil ini sudah dibangun di lokasinya sekarang berabad-abad lalu dalam bentuk yang paling sederhana namun mengalami penyesuaian dan adaptasi dari waktu ke waktu sesuai perkembangan jaman. Tak heran Hon Chen menjadi tempat untuk recharge kehidupan spiritual dan budaya masyarakat setempat.

Rasanya tak cukup waktu untuk mengabadikan setiap detil yang indah di tempat yang tidak luas namun cantik ini. Apalagi gerimis turun menghiasi hari. Dan si pemandu tur pun sudah memanggil-manggil…

Meski berperahu naga di sepanjang Sungai Parfum telah berakhir di Kuil Hon Chen ini, tur sehari di Hue ini masih berlanjut… Sayangnya suasana masih gloomy


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-46 bertema Sepanjang agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Myanmar – Mereka Yang Bersilang Jalan


7

One of the great things about travel is that you find out how many good, kind people there are – Edith Wharton

Matahari telah tinggi saat saya meninggalkan penginapan di Golden Rock menuju terminal truk dan saya cukup kaget mengetahui ternyata rute truk dari Golden Rock tidak melulu ke Kinpun! Uh, betapa naïve-nya saya! Mana dimana-mana tulisannya meliuk-liuk seperti cacing, saya hanya bisa berdiri pasrah melihat orang lalu lalang. Bisa jadi karena akhir pekan, suasana terminal bisa dibilang padat. Seketika saya melipir mengamati situasi dan Alhamdulillah, mata ini menangkap orang yang kelihatannya merupakan pengatur perjalanan truk. Semoga ia bisa membantu saya.

Saya mendatanginya lalu bertanya, “Kinpun?”

Seperti pria Myanmar lainnya, ia mengenakan longjyi lalu sekilas memperhatikan saya dan menyimpulkan saya turis. Tak banyak kata, ia menunjuk tempat truk yang ke Kinpun dan meminta saya berjalan memutar supaya bisa naik tangga. Untunglah, truk sudah hampir penuh dan saya masih bisa duduk menyempil di pinggir bersebelahan dengan ibu-ibu berbadan besar.

Tak lama, dimulailah perjalanan menuruni gunung. Kali ini terasa lebih mengerikan dibandingkan ketika berangkat, mungkin karena gravitasi sehingga kendaraan terasa lebih cepat, atau bisa juga karena jurang dan tikungan seperti huruf U itu lebih terlihat saat jalan menurun. Saya hanya bisa berdoa semoga rem truk berfungsi baik dan cepat sampai ke Kinpun karena saya lebih sering tergencet oleh ibu-ibu sebelah saat truk berbelok di tikungan…dan saya teringat ayam penyet! 😀

Perjalanan menuju Kinpun lebih cepat daripada ketika berangkat, tapi jangan harap berhenti di terminal truk seperti saat berangkat. Itu masih beberapa ratus meter! Jadi saya harus clingak-clinguk mencari tempat bus parkir. Asli, bus kalau sedang dicari tak pernah nampak hidungnya! Saya jalan lurus saja padahal tak tahu arah. Jika tersesat ya balik lagi! Lagi-lagi saya tersenyum sendiri, siap menerima semua kejutan yang terjadi hari ini.

Rupanya kedua kaki ini mengarahkan tepat menuju terminal bus dan ternyata memang ada bus yang siap berangkat. Dan pastinya lewat Kyaikto. Horeee! Sambil membeli tiket ke Kyaikto, saya mencoba peruntungan tiket bus lanjutan ke Hpa’an. Ternyata petugas tiket bisa mengaturnya. Tambah horeee… Tidak ragu saya langsung naik ke bus yang termasuk kategori bus scania (double deck) yang lumayan bagus.

kinpuntokyaikto-e
Scania Bus (Double Deck) from Kinpun to Kyaikto

Perjalanan dari Kinpun menuju Kyaikto tidak sampai 1 jam. Kenek bus memberitahu saya saat harus turun di Kyaikto! Benar-benar turun di pinggir jalan, -bukan di halte atau terminal-, dan harus menunggu bus yang lewat untuk ke Hpa’an. Mau komplain? Tidak! Ini seru!!!

Di tempat saya diturunkan itu, -katakanlah halte dadakan-, ada seorang anak muda yang melayani penumpang yang diturunkan seperti saya ini. Selain saya, ada 3 orang lainnya yang merupakan orang lokal dan mereka berceloteh dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Tiba-tiba anak muda itu menyodorkan kursi kepada saya untuk duduk. Aduh, saya terharu dengan pelayanannya.

Tetapi pelayanan itu masih harus dibuktikan dengan adanya bus ke Hpa’an, kan? Mata saya tak mau lepas dari si anak muda, satu-satunya orang yang tahu saya sudah bayar transportasi untuk ke Hpa’an. Dan apa yang saya takutkan terjadi juga. Setelah ketiga orang lokal itu mendapat busnya, si anak muda pun ikut kabur naik motornya. What? Lalu saya gimanaaaaa..?

Bahkan saya tak sempat berdiri untuk mengejarnya. Alih-alih ngomel berkepanjangan, secara intuitif saya mencoba sabar dan mengamati situasi. Tiiiing! Saya tersadar beberapa kali mengalami hal serupa ini dalam hidup, sebuah situasi ‘chaos’ lalu diikuti oleh “kunci penjelasan”. Hanya dengan duduk diam mengamati situasi setelah chaos terjadi. Menunggu “sang kunci” datang. Satu, dua, tiga menit berlalu, rasanya lama sekali, seperti menunggu kekasih datang! Dan menit ke lima, kesabaran saya berbuah hasil, si anak muda datang kembali bersama motornya.

Ketika ia sudah memarkir motor, saya langsung mendatanginya dan mengingatkan bahwa saya belum mendapat bus ke Hpa’an. Ia mengangguk memahami dan saya membayangkan dia bicara, don’t worry, the bus will come  😀

Entah berapa lama saya menunggu di bawah pohon di depan sebuah kios, akhirnya dengan tergopoh-gopoh dia mendatangi dan meminta saya bersiap-siap. Saya langsung berdiri menyambar ransel lalu mengejar dia yang secepat kilat sudah berada di tengah jalan! Untung tidak ada lalu lintas sehingga saya bisa langsung menyeberang.

Bus jenis scania itu berhenti di pinggir seberang, pemuda tadi bertransaksi dengan orang yang sepertinya kenek bus. Sambil melambaikan tangan mengucapkan terima kasih, saya naik ke dalam bus, berdiri di depan menghadap para penumpang hanya untuk melihat tidak ada satupun kursi yang kosong! Celaka! Bagaimana ini? Apakah saya harus duduk di bangku ‘baso’, seperti yang sering terjadi di Myanmar?

Kenek yang tadi bertransaksi dengan si pemuda, berbicara tak jelas dalam bahasa Myanmar dan setengah memaksa saya untuk berjalan lebih ke dalam lalu ia membuka lipatan yang ada di bagian luar lengan kursi lorong. Itu dia bangku ‘baso’-nya! Bukan seperti bangku baso yang ada di Indonesia yang terbuat dari plastik dan tidak nyaman, bangku ‘baso’ di bus ini empuk. Jadi sambil memeluk ransel, sekarang saya bisa duduk enak dan nyaman di tengah. Sebagai turis, -apalagi mengenakan topi genit-, saya tahu saya sedang menjadi pusat rasa ingin tahu dari banyak penumpang lain, tapi dengan santainya saya mengabadikan situasi tempat duduk yang menurut saya hanya ada di Myanmar! Hehehe…

Bus berjalan lagi melewati desa demi desa, satu persatu penumpang naik dan mengisi tempat duduk tambahan di depan saya. Lalu setelah beberapa lama, penumpang di belakang saya hendak turun dan seluruh penumpang kursi tengah yang duduk sepanjang lorong harus berdiri memberi jalan. Baiklah, harus bagaimana lagi?

Tapi percayalah, sebagai traveler kita selalu mendapat kebaikan dari orang-orang lokal. Sebagai orang asing, -dianggap sebagai tamu sesuai adat ketimuran-, saya dicarikan tempat duduk yang bukan di kursi tambahan. Meskipun saya sendiri tidak masalah duduk di kursi tambahan, namun sepertinya mereka ingin memberikan yang terbaik. Penumpang yang lebih muda diminta mengalah untuk duduk di kursi tambahan itu. Tidak ada yang protes, semua senang, apalagi saya. Tapi saya ditempatkan di sebelah laki-laki muda.

Saya ragu-ragu untuk mendudukinya mengingat adat dan tradisi yang berlaku, karena di Myanmar biasanya perempuan dan pria yang tidak saling kenal duduk terpisah lorong dan tidak bersebelahan. Tetapi sang pemuda sepertinya tidak keberatan, ia sedikit bergerak memberikan keleluasaan untuk saya. Saya tersenyum padanya sambil mengatakan terima kasih.

Bus bergerak lagi. Di barisan belakang ada seorang isteri yang kelihatannya mabuk. Tak henti-hentinya ia berusaha mengeluarkan angin dari dalam tubuhnya dan sekali-sekali memuntahkan isi perutnya. Baunya ya… seperti biasa, menyebar ke seluruh bus. Mau complain? Duh, rasanya mendadak di hadapan muncul Guru Tak Kasat Mata memberi wejangan tentang pembuktian compassion kepada yang sedang menderita! 😀

Sambil mengisi waktu, saya melihat-lihat kembali foto-foto yang ada di kamera dan senyum-senyum sendiri mengingat setiap peristiwanya. Pemuda di sebelah saya sepertinya mengintip juga lalu membuka pembicaraan yang akhirnya kami ngobrol panjang lebar. Juga ibu-ibu yang ada di seberang lorong. Wah saya punya teman ngobrol banyak. Semuanya ingin tahu, mengapa saya melakukan perjalanan sendiri, sudah kemana saja, soal keluarga, dimana mereka, dan banyak lagi. Wajah mereka semakin cerah dengan mata berbinar ketika mereka tahu saya mengunjungi Myanmar bukan yang pertama. Rasanya bukan mereka saja yang gembira karena saya juga gembira bercerita tentang pengalaman saat kunjungan pertama dan melihat perkembangannya yang baik pada kunjungan kali ini. Siapa sih yang tidak senang mendengar kisah perkembangan yang baik?

Dan bahkan pemuda tidak diketahui namanya itu, juga memberitahu saya untuk mencari tahu lokasi terdekat dengan hostel untuk turun dari bus karena bus tidak akan masuk ke terminal Hpa’an. Ia juga membantu saya mencarinya melalui google maps-nya. Dan 5 menit sebelum berhenti, saya mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang menjadi teman baru selama perjalanan ke Hpa’an dan berjalan mendekat ke pengemudi. Lagi-lagi saya turun di pinggir jalan. Semoga google-maps benar!

Saya berdiri sejenak menunggu bus berlalu dan berpikir, ini kiri atau kanan? Sambil melakukan positioning arah saya melihat sekitarnya dan voilaaa…! Itu dia hostel boutique yang cantik, tempat saya menginap di Hpa’an.

Tak sampai 80meter berjalan, saya memasuki hostel dan disambut oleh perempuan bertubuh kecil yang bicaranya cepat, dan tidak begitu ramah. Ah, rupanya dia yang ditandai oleh beberapa tamu yang memiliki kesan yang sama, bicara cepat, efisien, informatif namun tidak begitu ramah. Bagi saya, dia seorang perempuan yang sedang bekerja untuk hidupnya dengan muka datar, tak perlu basa-basi. Itu pilihannya. Namun jika saya boleh memilih, kelihatannya resepsionis yang berdiri di sebelahnya lebih menyimpan perhatian. Dari sorot matanya, saya tahu dia bisa diandalkan.

*

Di hostel kecil yang cantik ini saya memesan kamar privat yang mungil dan bercitarasa tinggi meskipun jendelanya kecil dan pemandangannya secuil sungai. Semua sudah sempurna, lagi pula hanya sehari di sini dan lebih banyak keluar. Saya membersihkan diri sejenak lalu menatap keluar jendela. Matahari masih terang benderang sehingga punya banyak waktu untuk mengunjungi beberapa tempat wisata Hpa’an.

Saya merebahkan diri sejenak, bersyukur telah sampai di Hpa’an sambil berpikir mau kemana dan mengingat kembali orang-orang yang telah bersilang jalan dalam kehidupan saya hari itu. Tapi merebahkan diri itu tindakan salah besar karena udara sejuk dari AC mendinginkan badan yang membuat saya tertidur lelap… Ampun!

Nepal – Berteman Sakit, Menjejak Poonhill


Melanjutkan kisah trekking di Nepal (kisah sebelumnya bisa dibaca disini)

Dingin masih menusuk tulang walaupun selimut tebal sudah menutup badan yang berlapis pakaian. Suara-suara riuh itu terdengar lagi, terdengar dekat dan tidak bisa diabaikan. Mau tidak mau saya membuka mata dan menemukan kegelapan dimana-mana. Suara itu tidak jauh, bahkan dekat sekali… Dari balik selimut… Dari perut saya! Seketika itu juga terasa perut yang memberontak minta isinya segera dikeluarkan. Duh tengah malam begini? Gelap lagi!

Akibat Memenangkan Nafsu

Sambil meraba-raba headlamp dan kantong peralatan mandi, semakin terasa yang di dalam perut tak dapat ditahan lagi. Harus cepat. Aduh, mengapa kunci pintu guesthouse ini sulit sekali dibuka pada saat harus bergegas? Saya tak peduli untuk menguncinya kembali dari luar, terlalu sulit. Saya hanya menutupnya lalu setengah berlari kearah toilet yang untungnya tidak jauh dari kamar sambil membiasakan mata melihat dengan cahaya headlamp. Setelah menggantung kantong peralatan mandi, membuka lapisan-lapisan pakaian secara cepat, saya langsung duduk di kloset. Tak peduli dengan suara-suara ajaib yang menyertai keluar serta hawa dingin yang menyeruak dari sela-sela toilet serta dinginnya air seperti es saat membersihkan, saya hanya ingin pemberontakan isi perut ini cepat selesai lalu melanjutkan tidur di balik selimut hangat. Namun rasa sakit melilit di perut ini membuat saya harus sedikit berlama-lama dalam kegelapan, membuat hantu-hantu Nepal sepertinya terbahak senang melihat saya menderita.

Acara ke toilet dalam kegelapan selesai juga akhirnya walaupun yaa… begitulah. Dengan tertatih saya kembali ke kamar dan langsung masuk ke balik selimut. Mencoba tidur kembali meskipun masih terasa sisa-sisa pemberontakan dari dalam perut. Dan rasanya baru terlelap sebentar, saya harus bangun lagi karena pemberontakan dari dalam perut kembali tak tertahankan. Berulang! Sekitar dua jam dari kali yang pertama saya kembali berada di toilet yang sama, kembali menderita dengan ‘keharuman’ bekas saya juga. Uh! Saya menyumpah-nyumpah nafsu minum dua cangkir susu coklat sebelum tidur. Walaupun hangat dan enak, jika tahu akan begini, tidak akan saya minum setegukpun!

Berteman Sakit Menuju Poonhill

Setelah kembali ke kamar dan menegak imodium, rasanya baru tertidur sesaat, Dipak sudah mengetuk kamar, membangunkan, agar bersiap-siap berangkat ke Poonhill menyaksikan matahari terbit. Dengan malas saya menjawab, lalu terhuyung dengan mata panda menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka. Mandi? Lupakan dulu!

Mengenakan down jacket karena udara dingin terasa menggigit, saya merasa suara-suara gila dari dalam perut sudah berkurang banyak walaupun belum hilang sepenuhnya. Imodium itu bekerja cepat, berhasil membentengi kebocoran tapi menyisakan rasa tak enak dalam perut. Saya kemudian cerita kepada Dipak mengenai masalah perut ini. Keprihatinan tampak menghias wajahnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya karena saya merupakan titik terlemah dalam rombongan dan kini harus ditambah dengan penyakit yang menggerus daya tahan.

Steep stonestairs on the way to Poonhill
Steep stone stairs on the way to Poonhill

Perjalanan menuju Poonhill dalam kegelapan itu dimulai dengan tanjakan tajam kemudian berlanjut dengan tangga-tangga lagi. Diterangi cahaya dari headlamp, berkali-kali saya menepi memberi jalan rombongan lain yang menyusul sambil mengambil kesempatan mengatur nafas. Suara-suara mereka dalam berbagai bahasa yang tadinya terdengar di belakang sekarang semakin menghilang menandakan mereka telah jauh di depan. Saya menyesalkan latihan fisik yang tetap saja terasa tidak cukup, karena tanjakan-tanjakan tanpa jeda itu rasanya terus menertawakan saya hingga semburat cahaya menghias arah Timur. Fisik benar-benar terasa diuji, tidak mudah trekking dengan kondisi perut melilit. Konsentrasi buyar blasss, bingung menentukan prioritas antara perut dan mengatur nafas.

Dipak masih menemani walau kadang ia berjalan di depan lalu menanti dengan sisa kesabarannya. Untuk kesekian kalinya, saya berhenti, tak mau memaksakan diri. Saya pernah blackout di tangga Bromo ketika memaksa diri naik saat tidak sehat, dan rasanya tak ingin mengulang kejadian itu, karena saat ini tak ada suami yang mendampingi. Saya hanya menuruti alarm tubuh, berhenti pada saat harus berhenti.

A Lovely Memorial
A Lovely Memorial

Langit semakin terang walaupun awan tebal menutupi jajaran Himalaya. Melihat awan-awan itu saya ge-er seakan alam turut iba terhadap saya. Tak mau menyerah begitu saja, saya mencoba memotret keadaan sekitar yang berawan namun menyembunyikan keindahan. Di sebuah tempat memorial saya membaca dan ikut mendoakan dia yang telah pergi. Sebuah ‘pembenaran’ untuk berhenti dan mengatur nafas, tetapi sesungguhnya, jauh di dalam diri terjadi pertempuran sengit antara menyerah pulang atau melanjutkan bersama ketidaknyamanan perut. Saya cenderung memilih yang terakhir karena perjalanan ini telah dimulai dan harus diselesaikan. Dan kecenderungan itu mendapat dukunga karena beberapa meter di atas terlihat Pak Ferry melambai sambil memberi tanda di tempatnya pemandangannya jauh lebih indah.

Akhirnya sampai juga saya di tempat Pak Ferry tadi melambai, yang tak jauh lagi dari puncak Poonhill.. Semua senang saya akhirnya menjejak tempat itu, sementara saya tak merasa gembira, entah kenapa. Orang-orang yang tadi menyusul saya kini telah turun dari puncak Poonhill. Saya tergelak dalam hati, sementara saya belum sampai ke Poonhill, mereka sudah turun.

A Glimpse of Mt. Dhaulagiri
A Glimpse of Mt. Dhaulagiri

The Beautiful Annapurna
The Beautiful Annapurna

 

Poonhill – 3210mdpl

Momen matahari terbit, -yang sayangnya sejak awal sudah tertutup awan-, memang sudah lewat ketika akhirnya saya sampai juga di puncak Poonhill. Semua sahabat menyalami atas pencapaian ini. Menjejak 3210 meter di atas permukaan laut, di ketinggian tertinggi sepanjang hidup yang saya capai dengan kaki sendiri, -tanpa pernah sekali pun mendaki gunung dimanapun-, di sini,  di bumi Nepal tempat  gunung-gunung tinggi dunia bersemayam. Saya berdiri di tempat itu dengan seribu satu rasa. Yang pasti sedikit sekali rasa bangga, banyak malunya karena untuk mencapainya lebih banyak rasa lelah, rasa mual hendak muntah, sakit melilit dan ingin tidur… Ah, saya tak ingin berpikir lebih jauh soal sakit ini.

No view at Poonhill
No view at Poonhill

Mountain Map
The mountains we should see at Poonhill

Teh hangat yang tersedia sangat membantu menghangatkan tubuh. Sambil duduk menghadap pemandangan putih yang seharusnya indah, saya hanya bisa tersenyum lebar melihat warna putih yang menghiasi pandang. Apa yang indah dari pegunungan Himalaya yang tertutup kabut dan awan tebal? Dua gadis pejalan duduk bersila berbicara keras kepada alam, memohon awan menyibak dan memperlihatkan keindahan gunung. Ah, semua orang disini pasti berharap sama, termasuk saya.

Saya duduk dalam diam, berharap sejenak bisa melihat gunung berpuncak salju di Poonhill. Tak mungkin berlama-lama disitu karena jika perut memburuk, toilet tidak menyediakan air. Sejumput doa untuk melihat keindahan alam itu terucap dalam hati, sambil meringis merasakan perut yang kembali melilit.

Dalam hitungan menit setelah doa yang terucap itu, awan-awan sedikit menyibak membuat lubang dan memperlihatkan puncak gunung bersalju yang disembunyikan dibaliknya. Saya benar-benar terkesima dengan apa yang terpampang di depan mata. Pemandangan indah itu hanya sesaat tak sempat diabadikan. Kedua gadis langsung berteriak memohon agar awan kian menyibak hingga menampakkan seluruh gunung. Rasa tak enak di badan langsung menghilang. Ini hadiah! Saya meremang, merasakan berada dalam pusaran anugerah yang datang tiba-tiba itu. Saya tahu, ini hanya sesaat, hanya sebagai tanda Kebaikan dari Pemilik Semesta dengan hikmah yang terserak.  Hanya sesaat saja, sehingga ketika awan kembali menutupinya, saya hanya bisa meluruh meraba-raba memaknai hikmah dari yang terjadi.

Saya merasa ditegur dengan keras. Bukankah ketika sampai di Puncak Poonhill, saya tak banyak bersyukur pada tubuh yang telah bekerja keras? Saya yang berharap tinggi untuk melihat pemandangan terbaik di Poonhill padahal sepanjang perjalanan banyak keindahan lainnya. Seperti di pelataran di bawah Puncak Poonhill, -tempat Pak Ferry sebelumnya melambai-, juga indah bahkan jauh lebih indah dan lebih lama memperlihatkan pegunungan bersalju dibandingkan puncak Poonhill. Saya juga mengabaikan keindahan kabut yang menari-nari di lembah-lembah.

Above the clouds
Above the clouds

Serene morning on the way to Poonhill
Serene morning on the way to Poonhill

Saya hanya berfokus memanjakan pada melilitnya perut, bukan pada keindahan yang terpampang sepanjang perjalanan. Saya telah lalai. Tetapi karena Kasih SayangNya, alam pun berbaik hati memperlihatkan apa yang seharusnya dilihat di Poonhill walaupun sekejap, -sebagai pengingat-, bahwa sesungguhnya ketika manusia meminta akan dijawab langsung.

Sambil mengerjap-ngerjapkan panasnya mata, saya paham arahnya. Perjalanan ini selalu memperkaya jiwa. Lagi-lagi diingatkan bahwa destinasi perjalanan bukanlah segalanya. Saya terdiam, menyadari kelalaian dan ikhlas menerima apapun yang akan terjadi dalam hari-hari ke depan ini.

Menit-menit berlalu dan waktu juga yang membuat kami akhirnya memutuskan turun. Kali ini saya menikmati perjalanan turun yang terasa sangat cepat untuk sampai ke hotel. Entah kenapa perasaan saya berdesir kencang saat melihat tumpukan-tumpukan batu yang disusun rapi di beberapa tempat. Ketika sampai hotel saya googling mengenai tumpukan batu ini, -yang pernah juga saya lihat di Angkor Wat, Jepang, Laos, dll.-, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Cairns,

Cairns represent a trail marker that guides one through uncertain areas in life.
They provide guidance, hope, balance, continuity and confidence on the journey down the path of life – (John P Kraemer)

P1050683
Found many cairns on the way to Poonhill

 

Di Simpang Perjalanan

Sambil mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan, di hotel pikiran saya berkecamuk. Membaca wajah Dipak sepanjang perjalanan Poonhill pulang pergi, sepertinya ada keraguan khususnya terhadap kekuatan saya untuk pergi ke Annapurna Base Camp, apalagi itinerary yang disusun sangat ketat. Ketika ada kesempatan, saya langsung menanyakan kepadanya dan ia meminta saya untuk melihat perkembangan perjalanan hingga ke Chhomrong walaupun sempat ia mengatakan bahwa perjalanan ke depan tidak bisa dibilang mudah. Saya tersenyum mendengar jawaban tak langsungnya yang tidak merekomendasi saya untuk ke ABC.

Namun bersamaan dengan itu, perasaan saya berdesir halus merambat jiwa. Saya teringat pada tumpukan batu (cairns) yang sejak pagi menarik perhatian mata dan terus menari-nari di benak. Dipak tak tahu mengenai hal ini, tidak ada seorangpun yang tahu undangan untuk melakukan perjalanan ke ABC ini. Tumpukan batu itu sepertinya penanda agar tetap yakin dan percaya.

Ini adalah perjalanan saya dan akan sampai ke sana, bagaimanapun caranya.

Dari jendela lebar di hotel Sunny Ghorepani, saya melempar pandang ke arah pegunungan yang tertutup awan. Perjalanan ini sudah dimulai dan saya hanya perlu percaya saja.

Seperti dulu, seperti yang sudah-sudah…

(bersambung)

—-

Masih ada kejadian seru lagi di cerita berikutnya, semoga saja gak ada prioritas lain yang menyalip 😀

Nepal – Berlimpah Anugerah Menuju Pokhara


Begitu menutup pintu mobil, taksi mungil itu langsung melesat meninggalkan Bhaktapur menuju bandara Tribuvan seakan tak memberikan kesempatan kepada saya untuk mengucapkan “Sampai Jumpa Lagi” kepada kawasan yang telah menorehkan pengalaman penuh bahagia ini. Saya memejamkan mata, sesaat saja, membiarkan diri memeluk rasa bahagia pernah begitu menyatu di Bhaktapur, lalu rasa itu harus saya lepaskan kepada pemiliknya. Saya juga dimakan Sang Waktu yang tak pernah berjalan mundur.

Kali ini tidak seperti déjà vu, karena saya memang kembali ke Bandara Tribhuvan di Kathmandu, seperti saat melakukan Everest experience flight kemarin. Tiga hari berturut-turut berada di bandara yang sama, hanya beda terminal, mungkin bisa disebut dengan frequent-flier in 3 days! Saya turun dengan ransel di punggung menuju gedung terminal yang masih direnovasi lalu  secepatnya melakukan check-in. Berbeda dengan kemarin saat melakukan kesalahan hingga ditegur para laki-laki, kali ini saya memasukkan tas tangan ke jalur perempuan lalu mencari tempat duduk di ruang tunggu. Saya menunggu hingga waktunya boarding namun tidak ada penjelasan hingga akhirnya pengumuman itu keluar. Penerbangan ditunda 1 jam! Lalu 30 menit lagi… Tetapi ah, saya sedang dalam perjalanan hati. Apapun yang terjadi harus diterima dengan keterbukaan. Siapa tahu saya diselamatkan dari keburukan. Hanya perlu menambah sabar kan?

ktm-airport
Tribhuvan Airport, Domestic Terminal, Kathmandu

Ruang tunggu bandara itu penuh, kebanyakan terdiri dari penumpang lokal walaupun disana-sini ada tubuh tinggi berambut pirang dengan penampilan yang siap menjelajah gunung-gunung tinggi yang bertebaran di Nepal. Kebanyakan mereka ke Lukla, sebagai awal langkah menuju Everest. Tak banyak turis yang memilih terbang ke Pokhara, mereka biasanya telah terangkut di dalam bus-bus turis yang berangkat pagi dari Kathmandu.

Lamanya perjalanan dari Kathmandu ke Pokhara melalui jalan darat, -walaupun katanya pemandangan alamnya indah sekali-, membuat saya mengambil keputusan untuk terbang. Menghemat waktu adalah penting bagi saya sehingga waktu cuti dapat dimanfaatkan secara maksimal, walaupun untuk itu saya harus merogoh kocek lebih dalam.

Panggilan boarding yang ditungu-tunggu akhirnya terdengar juga. Seluruh penumpang terlihat lega dan bergegas menuju bus pengangkut yang membawa ke pesawat ATR72 Buddha Air itu. Pesawat bermesin baling-baling itu dimasuki dari belakang sehingga saya yang mendapatkan tempat duduk di lorong bagian depan, harus mengantri dengan sabar, mendahulukan para penumpang bisnis yang duduk di bagian belakang yang saat itu kebanyakan terisi oleh kelompok tinggi besar berambut pirang dan para pebisnis Nepal.

Setelah menempati tempat duduk, penumpang yang duduk di depan saya membuat sedikit kegaduhan. Mereka mendapat nomor terpisah dan ingin bertukar tempat duduk karena merupakan pasangan suami isteri. Sang suami mendapat nomor jendela tepat di sebelah saya dan sang isteri tidak bersedia duduk bersebelahan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Saya sekilas melihat pria yang telah bersedia memberikan tempat duduknya demi pasangan suami isteri itu, beliau tak lagi muda tapi ada keramahan diparasnya. Kegaduhan di depan saya menyurut namun beliau tetap berdiri di lorong.

Dengan sedikit ragu, pak tua berwajah ramah itu menyapa saya, meminta maaf.

“Could you do a favor for me? I could not sit there, on the window-seat; I prefer on the aisle”

Saya melihat cepat kepadanya, entah apa, ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan, sesuatu yang ditutupi. Hanya saja beliau tetap tak bersedia untuk menempati tempat duduk yang ada di jendela. Sementara saya yang sudah benar dengan nomor tempat duduk tiba-tiba menjadi pusat perhatian karena ada penumpang yang masih berdiri dan melihat saya. Seakan-akan saya salah menempati tempat duduk.

Kejadian begitu cepat, saya harus mengambil keputusan. Saya tak meminta nomor lorong, bahkan sebenarnya di hati terdalam, saya menginginkan nomor jendela. Dan kini nomor itu diberikan kepada saya, lalu mengapa saya harus berpikir dua kali?

Tetapi begitu naïve-nya saya, saya masih bertanya meminta persetujuan kepada orang itu sambil tangan menunjuk ke samping, “so, is it okay if I take the window seat?”

Dia tak menjawab tapi ada senyum lebar berkembang menghias wajahnya. Ada semacam kelegaan besar. Tak sampai sedetik saya langsung bergerak berpindah. Rejeki tak boleh ditampik! Tempat duduk di jendela dengan pemandangan pegunungan Himalaya bertudung salju sepanjang penerbangan! Diberikan gratis lagi!

p1010595
Himalaya

Selagi pesawat melakukan persiapan lepas landas, saya terdiam dalam hening. Anugerah lagi. Memang terbersit keinginan untuk duduk di kursi dekat jendela karena saya suka dengan pemandangan Nepal, tetapi jika tak bisa ya tidak mengapa. Lalu mengapa ada pasangan yang terpisah tempat duduk dan ngotot ingin duduk bersama lalu ada orang baik hati yang bersedia bertukar tempat dan apapun alasannya dia bahkan memberikan kursi jendelanya kepada saya. Ah, Tuhan Yang Maha Baik memang selalu punya caraNya sendiri untuk melimpahkan anugerah kepada yang diinginkan walau harus melalui beberapa orang lainnya. Mereka telah menjadi saluran berkah untuk saya. Semoga hidupnya berlimpah kebaikan…

Di atas lembah Kathmandu, bapak tua baik hati di sebelah saya itu membuka percakapan awal. Ternyata beliau bukan orang sembarangan, beliau seorang pensiunan tentara Inggris yang selama ini ditempatkan di banyak negara persemakmuran di Asia. Dan alangkah terkejutnya saya, ketika ia mengetahui saya berasal dari Indonesia, ia membuka percakapan dalam bahasa Indonesia dengan sedikit dialek Melayu.

“Apa kabar. Maaf bahasa Indonesia saya tidak baik, banyak sudah lupa”

Saya tersenyum lebar, tidak setuju dengannya karena menurut saya, bahasa Indonesianya bagus. Saya terkejut, sekaligus bangga dan kagum, rasanya aneh, campur aduk. Siapa sangka, di ketinggian dua puluhan ribu kaki di atas kawasan Himalaya yang jauh dari Indonesia, saya diajak berbicara dalam bahasa Indonesia oleh penutur asing, bukan penutur asli. Bahasa Indonesia campur dialek Melayu dan bukan bahasa Inggeris! Kemungkinan terjadinya sangat amat kecil sekali dan tentu saja, saya merasa sangat  berbahagia bisa mendapatkan kesempatan itu. Sungguh tak terduga. Lagi-lagi, Dia Yang Maha Baik telah melimpahkan anugerah kepada saya berupa kemudahan berbahasa ibu. Bisa jadi Dia menginginkan agar saya merasa kenyamanan berada di rumah. At Home… Bukankah ada pepatah Home is where the heart is..?

Perjalanan ini sungguh memperkaya jiwa, Oh I’m so blessed…

p1010605
Himalaya with Clouds

Namun pembicaraan tetap saja memiliki jeda sehingga memungkinkan bagi saya untuk menikmati pemandangan diluar jendela, barisan pegunungan berselimut salju abadi yang tadinya terlihat samar kini seluruhnya telah tertutup awan. Hanya puncak tinggi dengan salju abadinya terlihat serupa dengan awan-awan putih tebal yang memenuhi pandangan mata. Di bagian depan, deretan pegunungan yang menjadi pagar dari pegunungan Himalaya atau dikenal dengan Mahabharat Range itu mengumbar keindahan lembahnya yang meliuk-liuk. Sepertinya Dia Yang Maha Kuasa sedang tersenyum ketika menciptakan bumi Nepal hingga kontur permukaan bumi terlihat begitu indahnya.

Tak lama kemudian terasa pesawat menurunkan ketinggiannya secara perlahan. Danau Phewa sudah terlihat, itu artinya Pokhara sudah di depan mata. Saya memperhatikan keadaan danau. Inilah wajah lain dari Nepal. Jika Kathmandu penuh dengan budaya tradisional, Pokhara mengumbar janji dengan kegiatan outdoor yang menantang adrenalin. Di kota ini saya tak punya banyak rencana kecuali untuk beristirahat di tempat yang indah. Saya tak punya target khusus, saya biarkan itinerary dari Yang Maha Kuasa terjadi pada hari-hari saya di Pokhara.

Semakin dekat ke Pokhara, saya terpikir kembali mengenai transportasi dari bandara ke penginapan. Walaupun telah saya kabarkan soal penundaan penerbangan sejak dari Kathmandu tadi, saya tak yakin pesannya sampai. Berdasarkan pengalaman sebelumnya saat baru sampai di Kathmandu dan ternyata pesanan taksi saya tak muncul batang hidungnya, saya skeptis untuk mendapatkan layanan antar di Pokhara ini. Tetapi biarlah, apapun yang terjadi pasti ada jalan keluarnya. Semoga.

Bahkan saat akan meninggalkan tempat duduk,  the old Brit yang baik hati itu mengucapkan salam perpisahan dalam bahasa Indonesia, seakan tahu hal-hal yang bisa menentramkan dan menenangkan hati. Sampai jumpa lagi…

Bandara Pokhara kecil, -dalam arti yang sebenarnya-. Gedung terminalnya hanya berupa sebuah ruangan berkaca dan seluruh bagasi yang sebelumnya ada di perut pesawat diserahterimakan ke penumpang melalui sebuah jendela yang bisa disaksikan langsung oleh pemilik bagasi. Setelah mengambil ransel, saya keluar gedung tanpa ekspektasi dijemput.

p1010610
Pokhara Airport

Tetapi saya membaca nama saya di kertas yang dipegang oleh seseorang. Rasanya tak percaya, tetapi benar. Itu nama saya! Saya dijemput! Saya masih ditunggu, walaupun penerbangannya ditunda lama. Lagi! AnugerahMu yang berlimpah, yang tak putus.

Saya meminta maaf kepadanya sekaligus sangat berterima kasih karena telah bersedia menunggu lama. Sang pengemudi yang tak muda lagi itu tersenyum ramah. Tak perlu berpanjang kata, dia mempersilakan saya masuk dan menjalankan mobilnya, menyusuri danau dan perlahan meninggalkan pusat kota. Walaupun tahu penginapan saya itu jauh dari kota, tetapi saya tidak menyangka sejauh ini. Terpencil bahkan harus memasuki daerah perbukitan dengan jalan yang tak lagi beraspal. Seandainya saya tak ditunggu olehnya, apakah taksi biasa mengetahui dan mau mengantar hingga ke tempat ini?

p1010620
On the way to Hotel, Pokhara

Saya menggigit bibir, perjalanan kali ini benar-benar berlimpah anugerah dariNya. Benar-benar tak henti, terus-menerus sampai dada terasa sesak. Semuanya serba luar biasa… Dari Bhaktapur yang penuh kenangan, mendapat tempat duduk jendela sehingga bisa menikmati pemandangan Himalaya yang berselimut salju, diajak berkomunikasi dalam bahasa ibu oleh penutur asing di ketinggian Himalaya, tetap dijemput taksi yang bersedia menunggu walaupun penerbangan mengalami penundaan dan kini terhampar pemandangan indah…

Maka Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Then which of the favors of your Lord will you deny?