Myanmar – Mereka Yang Bersilang Jalan


7

One of the great things about travel is that you find out how many good, kind people there are – Edith Wharton

Matahari telah tinggi saat saya meninggalkan penginapan di Golden Rock menuju terminal truk dan saya cukup kaget mengetahui ternyata rute truk dari Golden Rock tidak melulu ke Kinpun! Uh, betapa naïve-nya saya! Mana dimana-mana tulisannya meliuk-liuk seperti cacing, saya hanya bisa berdiri pasrah melihat orang lalu lalang. Bisa jadi karena akhir pekan, suasana terminal bisa dibilang padat. Seketika saya melipir mengamati situasi dan Alhamdulillah, mata ini menangkap orang yang kelihatannya merupakan pengatur perjalanan truk. Semoga ia bisa membantu saya.

Saya mendatanginya lalu bertanya, “Kinpun?”

Seperti pria Myanmar lainnya, ia mengenakan longjyi lalu sekilas memperhatikan saya dan menyimpulkan saya turis. Tak banyak kata, ia menunjuk tempat truk yang ke Kinpun dan meminta saya berjalan memutar supaya bisa naik tangga. Untunglah, truk sudah hampir penuh dan saya masih bisa duduk menyempil di pinggir bersebelahan dengan ibu-ibu berbadan besar.

Tak lama, dimulailah perjalanan menuruni gunung. Kali ini terasa lebih mengerikan dibandingkan ketika berangkat, mungkin karena gravitasi sehingga kendaraan terasa lebih cepat, atau bisa juga karena jurang dan tikungan seperti huruf U itu lebih terlihat saat jalan menurun. Saya hanya bisa berdoa semoga rem truk berfungsi baik dan cepat sampai ke Kinpun karena saya lebih sering tergencet oleh ibu-ibu sebelah saat truk berbelok di tikungan…dan saya teringat ayam penyet! 😀

Perjalanan menuju Kinpun lebih cepat daripada ketika berangkat, tapi jangan harap berhenti di terminal truk seperti saat berangkat. Itu masih beberapa ratus meter! Jadi saya harus clingak-clinguk mencari tempat bus parkir. Asli, bus kalau sedang dicari tak pernah nampak hidungnya! Saya jalan lurus saja padahal tak tahu arah. Jika tersesat ya balik lagi! Lagi-lagi saya tersenyum sendiri, siap menerima semua kejutan yang terjadi hari ini.

Rupanya kedua kaki ini mengarahkan tepat menuju terminal bus dan ternyata memang ada bus yang siap berangkat. Dan pastinya lewat Kyaikto. Horeee! Sambil membeli tiket ke Kyaikto, saya mencoba peruntungan tiket bus lanjutan ke Hpa’an. Ternyata petugas tiket bisa mengaturnya. Tambah horeee… Tidak ragu saya langsung naik ke bus yang termasuk kategori bus scania (double deck) yang lumayan bagus.

kinpuntokyaikto-e
Scania Bus (Double Deck) from Kinpun to Kyaikto

Perjalanan dari Kinpun menuju Kyaikto tidak sampai 1 jam. Kenek bus memberitahu saya saat harus turun di Kyaikto! Benar-benar turun di pinggir jalan, -bukan di halte atau terminal-, dan harus menunggu bus yang lewat untuk ke Hpa’an. Mau komplain? Tidak! Ini seru!!!

Di tempat saya diturunkan itu, -katakanlah halte dadakan-, ada seorang anak muda yang melayani penumpang yang diturunkan seperti saya ini. Selain saya, ada 3 orang lainnya yang merupakan orang lokal dan mereka berceloteh dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Tiba-tiba anak muda itu menyodorkan kursi kepada saya untuk duduk. Aduh, saya terharu dengan pelayanannya.

Tetapi pelayanan itu masih harus dibuktikan dengan adanya bus ke Hpa’an, kan? Mata saya tak mau lepas dari si anak muda, satu-satunya orang yang tahu saya sudah bayar transportasi untuk ke Hpa’an. Dan apa yang saya takutkan terjadi juga. Setelah ketiga orang lokal itu mendapat busnya, si anak muda pun ikut kabur naik motornya. What? Lalu saya gimanaaaaa..?

Bahkan saya tak sempat berdiri untuk mengejarnya. Alih-alih ngomel berkepanjangan, secara intuitif saya mencoba sabar dan mengamati situasi. Tiiiing! Saya tersadar beberapa kali mengalami hal serupa ini dalam hidup, sebuah situasi ‘chaos’ lalu diikuti oleh “kunci penjelasan”. Hanya dengan duduk diam mengamati situasi setelah chaos terjadi. Menunggu “sang kunci” datang. Satu, dua, tiga menit berlalu, rasanya lama sekali, seperti menunggu kekasih datang! Dan menit ke lima, kesabaran saya berbuah hasil, si anak muda datang kembali bersama motornya.

Ketika ia sudah memarkir motor, saya langsung mendatanginya dan mengingatkan bahwa saya belum mendapat bus ke Hpa’an. Ia mengangguk memahami dan saya membayangkan dia bicara, don’t worry, the bus will come  😀

Entah berapa lama saya menunggu di bawah pohon di depan sebuah kios, akhirnya dengan tergopoh-gopoh dia mendatangi dan meminta saya bersiap-siap. Saya langsung berdiri menyambar ransel lalu mengejar dia yang secepat kilat sudah berada di tengah jalan! Untung tidak ada lalu lintas sehingga saya bisa langsung menyeberang.

Bus jenis scania itu berhenti di pinggir seberang, pemuda tadi bertransaksi dengan orang yang sepertinya kenek bus. Sambil melambaikan tangan mengucapkan terima kasih, saya naik ke dalam bus, berdiri di depan menghadap para penumpang hanya untuk melihat tidak ada satupun kursi yang kosong! Celaka! Bagaimana ini? Apakah saya harus duduk di bangku ‘baso’, seperti yang sering terjadi di Myanmar?

Kenek yang tadi bertransaksi dengan si pemuda, berbicara tak jelas dalam bahasa Myanmar dan setengah memaksa saya untuk berjalan lebih ke dalam lalu ia membuka lipatan yang ada di bagian luar lengan kursi lorong. Itu dia bangku ‘baso’-nya! Bukan seperti bangku baso yang ada di Indonesia yang terbuat dari plastik dan tidak nyaman, bangku ‘baso’ di bus ini empuk. Jadi sambil memeluk ransel, sekarang saya bisa duduk enak dan nyaman di tengah. Sebagai turis, -apalagi mengenakan topi genit-, saya tahu saya sedang menjadi pusat rasa ingin tahu dari banyak penumpang lain, tapi dengan santainya saya mengabadikan situasi tempat duduk yang menurut saya hanya ada di Myanmar! Hehehe…

Bus berjalan lagi melewati desa demi desa, satu persatu penumpang naik dan mengisi tempat duduk tambahan di depan saya. Lalu setelah beberapa lama, penumpang di belakang saya hendak turun dan seluruh penumpang kursi tengah yang duduk sepanjang lorong harus berdiri memberi jalan. Baiklah, harus bagaimana lagi?

Tapi percayalah, sebagai traveler kita selalu mendapat kebaikan dari orang-orang lokal. Sebagai orang asing, -dianggap sebagai tamu sesuai adat ketimuran-, saya dicarikan tempat duduk yang bukan di kursi tambahan. Meskipun saya sendiri tidak masalah duduk di kursi tambahan, namun sepertinya mereka ingin memberikan yang terbaik. Penumpang yang lebih muda diminta mengalah untuk duduk di kursi tambahan itu. Tidak ada yang protes, semua senang, apalagi saya. Tapi saya ditempatkan di sebelah laki-laki muda.

Saya ragu-ragu untuk mendudukinya mengingat adat dan tradisi yang berlaku, karena di Myanmar biasanya perempuan dan pria yang tidak saling kenal duduk terpisah lorong dan tidak bersebelahan. Tetapi sang pemuda sepertinya tidak keberatan, ia sedikit bergerak memberikan keleluasaan untuk saya. Saya tersenyum padanya sambil mengatakan terima kasih.

Bus bergerak lagi. Di barisan belakang ada seorang isteri yang kelihatannya mabuk. Tak henti-hentinya ia berusaha mengeluarkan angin dari dalam tubuhnya dan sekali-sekali memuntahkan isi perutnya. Baunya ya… seperti biasa, menyebar ke seluruh bus. Mau complain? Duh, rasanya mendadak di hadapan muncul Guru Tak Kasat Mata memberi wejangan tentang pembuktian compassion kepada yang sedang menderita! 😀

Sambil mengisi waktu, saya melihat-lihat kembali foto-foto yang ada di kamera dan senyum-senyum sendiri mengingat setiap peristiwanya. Pemuda di sebelah saya sepertinya mengintip juga lalu membuka pembicaraan yang akhirnya kami ngobrol panjang lebar. Juga ibu-ibu yang ada di seberang lorong. Wah saya punya teman ngobrol banyak. Semuanya ingin tahu, mengapa saya melakukan perjalanan sendiri, sudah kemana saja, soal keluarga, dimana mereka, dan banyak lagi. Wajah mereka semakin cerah dengan mata berbinar ketika mereka tahu saya mengunjungi Myanmar bukan yang pertama. Rasanya bukan mereka saja yang gembira karena saya juga gembira bercerita tentang pengalaman saat kunjungan pertama dan melihat perkembangannya yang baik pada kunjungan kali ini. Siapa sih yang tidak senang mendengar kisah perkembangan yang baik?

Dan bahkan pemuda tidak diketahui namanya itu, juga memberitahu saya untuk mencari tahu lokasi terdekat dengan hostel untuk turun dari bus karena bus tidak akan masuk ke terminal Hpa’an. Ia juga membantu saya mencarinya melalui google maps-nya. Dan 5 menit sebelum berhenti, saya mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang menjadi teman baru selama perjalanan ke Hpa’an dan berjalan mendekat ke pengemudi. Lagi-lagi saya turun di pinggir jalan. Semoga google-maps benar!

Saya berdiri sejenak menunggu bus berlalu dan berpikir, ini kiri atau kanan? Sambil melakukan positioning arah saya melihat sekitarnya dan voilaaa…! Itu dia hostel boutique yang cantik, tempat saya menginap di Hpa’an.

Tak sampai 80meter berjalan, saya memasuki hostel dan disambut oleh perempuan bertubuh kecil yang bicaranya cepat, dan tidak begitu ramah. Ah, rupanya dia yang ditandai oleh beberapa tamu yang memiliki kesan yang sama, bicara cepat, efisien, informatif namun tidak begitu ramah. Bagi saya, dia seorang perempuan yang sedang bekerja untuk hidupnya dengan muka datar, tak perlu basa-basi. Itu pilihannya. Namun jika saya boleh memilih, kelihatannya resepsionis yang berdiri di sebelahnya lebih menyimpan perhatian. Dari sorot matanya, saya tahu dia bisa diandalkan.

*

Di hostel kecil yang cantik ini saya memesan kamar privat yang mungil dan bercitarasa tinggi meskipun jendelanya kecil dan pemandangannya secuil sungai. Semua sudah sempurna, lagi pula hanya sehari di sini dan lebih banyak keluar. Saya membersihkan diri sejenak lalu menatap keluar jendela. Matahari masih terang benderang sehingga punya banyak waktu untuk mengunjungi beberapa tempat wisata Hpa’an.

Saya merebahkan diri sejenak, bersyukur telah sampai di Hpa’an sambil berpikir mau kemana dan mengingat kembali orang-orang yang telah bersilang jalan dalam kehidupan saya hari itu. Tapi merebahkan diri itu tindakan salah besar karena udara sejuk dari AC mendinginkan badan yang membuat saya tertidur lelap… Ampun!

Nepal – Berteman Sakit, Menjejak Poonhill


Melanjutkan kisah trekking di Nepal (kisah sebelumnya bisa dibaca disini)

Dingin masih menusuk tulang walaupun selimut tebal sudah menutup badan yang berlapis pakaian. Suara-suara riuh itu terdengar lagi, terdengar dekat dan tidak bisa diabaikan. Mau tidak mau saya membuka mata dan menemukan kegelapan dimana-mana. Suara itu tidak jauh, bahkan dekat sekali… Dari balik selimut… Dari perut saya! Seketika itu juga terasa perut yang memberontak minta isinya segera dikeluarkan. Duh tengah malam begini? Gelap lagi!

Akibat Memenangkan Nafsu

Sambil meraba-raba headlamp dan kantong peralatan mandi, semakin terasa yang di dalam perut tak dapat ditahan lagi. Harus cepat. Aduh, mengapa kunci pintu guesthouse ini sulit sekali dibuka pada saat harus bergegas? Saya tak peduli untuk menguncinya kembali dari luar, terlalu sulit. Saya hanya menutupnya lalu setengah berlari kearah toilet yang untungnya tidak jauh dari kamar sambil membiasakan mata melihat dengan cahaya headlamp. Setelah menggantung kantong peralatan mandi, membuka lapisan-lapisan pakaian secara cepat, saya langsung duduk di kloset. Tak peduli dengan suara-suara ajaib yang menyertai keluar serta hawa dingin yang menyeruak dari sela-sela toilet serta dinginnya air seperti es saat membersihkan, saya hanya ingin pemberontakan isi perut ini cepat selesai lalu melanjutkan tidur di balik selimut hangat. Namun rasa sakit melilit di perut ini membuat saya harus sedikit berlama-lama dalam kegelapan, membuat hantu-hantu Nepal sepertinya terbahak senang melihat saya menderita.

Acara ke toilet dalam kegelapan selesai juga akhirnya walaupun yaa… begitulah. Dengan tertatih saya kembali ke kamar dan langsung masuk ke balik selimut. Mencoba tidur kembali meskipun masih terasa sisa-sisa pemberontakan dari dalam perut. Dan rasanya baru terlelap sebentar, saya harus bangun lagi karena pemberontakan dari dalam perut kembali tak tertahankan. Berulang! Sekitar dua jam dari kali yang pertama saya kembali berada di toilet yang sama, kembali menderita dengan ‘keharuman’ bekas saya juga. Uh! Saya menyumpah-nyumpah nafsu minum dua cangkir susu coklat sebelum tidur. Walaupun hangat dan enak, jika tahu akan begini, tidak akan saya minum setegukpun!

Berteman Sakit Menuju Poonhill

Setelah kembali ke kamar dan menegak imodium, rasanya baru tertidur sesaat, Dipak sudah mengetuk kamar, membangunkan, agar bersiap-siap berangkat ke Poonhill menyaksikan matahari terbit. Dengan malas saya menjawab, lalu terhuyung dengan mata panda menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka. Mandi? Lupakan dulu!

Mengenakan down jacket karena udara dingin terasa menggigit, saya merasa suara-suara gila dari dalam perut sudah berkurang banyak walaupun belum hilang sepenuhnya. Imodium itu bekerja cepat, berhasil membentengi kebocoran tapi menyisakan rasa tak enak dalam perut. Saya kemudian cerita kepada Dipak mengenai masalah perut ini. Keprihatinan tampak menghias wajahnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya karena saya merupakan titik terlemah dalam rombongan dan kini harus ditambah dengan penyakit yang menggerus daya tahan.

Steep stonestairs on the way to Poonhill
Steep stone stairs on the way to Poonhill

Perjalanan menuju Poonhill dalam kegelapan itu dimulai dengan tanjakan tajam kemudian berlanjut dengan tangga-tangga lagi. Diterangi cahaya dari headlamp, berkali-kali saya menepi memberi jalan rombongan lain yang menyusul sambil mengambil kesempatan mengatur nafas. Suara-suara mereka dalam berbagai bahasa yang tadinya terdengar di belakang sekarang semakin menghilang menandakan mereka telah jauh di depan. Saya menyesalkan latihan fisik yang tetap saja terasa tidak cukup, karena tanjakan-tanjakan tanpa jeda itu rasanya terus menertawakan saya hingga semburat cahaya menghias arah Timur. Fisik benar-benar terasa diuji, tidak mudah trekking dengan kondisi perut melilit. Konsentrasi buyar blasss, bingung menentukan prioritas antara perut dan mengatur nafas.

Dipak masih menemani walau kadang ia berjalan di depan lalu menanti dengan sisa kesabarannya. Untuk kesekian kalinya, saya berhenti, tak mau memaksakan diri. Saya pernah blackout di tangga Bromo ketika memaksa diri naik saat tidak sehat, dan rasanya tak ingin mengulang kejadian itu, karena saat ini tak ada suami yang mendampingi. Saya hanya menuruti alarm tubuh, berhenti pada saat harus berhenti.

A Lovely Memorial
A Lovely Memorial

Langit semakin terang walaupun awan tebal menutupi jajaran Himalaya. Melihat awan-awan itu saya ge-er seakan alam turut iba terhadap saya. Tak mau menyerah begitu saja, saya mencoba memotret keadaan sekitar yang berawan namun menyembunyikan keindahan. Di sebuah tempat memorial saya membaca dan ikut mendoakan dia yang telah pergi. Sebuah ‘pembenaran’ untuk berhenti dan mengatur nafas, tetapi sesungguhnya, jauh di dalam diri terjadi pertempuran sengit antara menyerah pulang atau melanjutkan bersama ketidaknyamanan perut. Saya cenderung memilih yang terakhir karena perjalanan ini telah dimulai dan harus diselesaikan. Dan kecenderungan itu mendapat dukunga karena beberapa meter di atas terlihat Pak Ferry melambai sambil memberi tanda di tempatnya pemandangannya jauh lebih indah.

Akhirnya sampai juga saya di tempat Pak Ferry tadi melambai, yang tak jauh lagi dari puncak Poonhill.. Semua senang saya akhirnya menjejak tempat itu, sementara saya tak merasa gembira, entah kenapa. Orang-orang yang tadi menyusul saya kini telah turun dari puncak Poonhill. Saya tergelak dalam hati, sementara saya belum sampai ke Poonhill, mereka sudah turun.

A Glimpse of Mt. Dhaulagiri
A Glimpse of Mt. Dhaulagiri
The Beautiful Annapurna
The Beautiful Annapurna

 

Poonhill – 3210mdpl

Momen matahari terbit, -yang sayangnya sejak awal sudah tertutup awan-, memang sudah lewat ketika akhirnya saya sampai juga di puncak Poonhill. Semua sahabat menyalami atas pencapaian ini. Menjejak 3210 meter di atas permukaan laut, di ketinggian tertinggi sepanjang hidup yang saya capai dengan kaki sendiri, -tanpa pernah sekali pun mendaki gunung dimanapun-, di sini,  di bumi Nepal tempat  gunung-gunung tinggi dunia bersemayam. Saya berdiri di tempat itu dengan seribu satu rasa. Yang pasti sedikit sekali rasa bangga, banyak malunya karena untuk mencapainya lebih banyak rasa lelah, rasa mual hendak muntah, sakit melilit dan ingin tidur… Ah, saya tak ingin berpikir lebih jauh soal sakit ini.

No view at Poonhill
No view at Poonhill
Mountain Map
The mountains we should see at Poonhill

Teh hangat yang tersedia sangat membantu menghangatkan tubuh. Sambil duduk menghadap pemandangan putih yang seharusnya indah, saya hanya bisa tersenyum lebar melihat warna putih yang menghiasi pandang. Apa yang indah dari pegunungan Himalaya yang tertutup kabut dan awan tebal? Dua gadis pejalan duduk bersila berbicara keras kepada alam, memohon awan menyibak dan memperlihatkan keindahan gunung. Ah, semua orang disini pasti berharap sama, termasuk saya.

Saya duduk dalam diam, berharap sejenak bisa melihat gunung berpuncak salju di Poonhill. Tak mungkin berlama-lama disitu karena jika perut memburuk, toilet tidak menyediakan air. Sejumput doa untuk melihat keindahan alam itu terucap dalam hati, sambil meringis merasakan perut yang kembali melilit.

Dalam hitungan menit setelah doa yang terucap itu, awan-awan sedikit menyibak membuat lubang dan memperlihatkan puncak gunung bersalju yang disembunyikan dibaliknya. Saya benar-benar terkesima dengan apa yang terpampang di depan mata. Pemandangan indah itu hanya sesaat tak sempat diabadikan. Kedua gadis langsung berteriak memohon agar awan kian menyibak hingga menampakkan seluruh gunung. Rasa tak enak di badan langsung menghilang. Ini hadiah! Saya meremang, merasakan berada dalam pusaran anugerah yang datang tiba-tiba itu. Saya tahu, ini hanya sesaat, hanya sebagai tanda Kebaikan dari Pemilik Semesta dengan hikmah yang terserak.  Hanya sesaat saja, sehingga ketika awan kembali menutupinya, saya hanya bisa meluruh meraba-raba memaknai hikmah dari yang terjadi.

Saya merasa ditegur dengan keras. Bukankah ketika sampai di Puncak Poonhill, saya tak banyak bersyukur pada tubuh yang telah bekerja keras? Saya yang berharap tinggi untuk melihat pemandangan terbaik di Poonhill padahal sepanjang perjalanan banyak keindahan lainnya. Seperti di pelataran di bawah Puncak Poonhill, -tempat Pak Ferry sebelumnya melambai-, juga indah bahkan jauh lebih indah dan lebih lama memperlihatkan pegunungan bersalju dibandingkan puncak Poonhill. Saya juga mengabaikan keindahan kabut yang menari-nari di lembah-lembah.

Above the clouds
Above the clouds
Serene morning on the way to Poonhill
Serene morning on the way to Poonhill

Saya hanya berfokus memanjakan pada melilitnya perut, bukan pada keindahan yang terpampang sepanjang perjalanan. Saya telah lalai. Tetapi karena Kasih SayangNya, alam pun berbaik hati memperlihatkan apa yang seharusnya dilihat di Poonhill walaupun sekejap, -sebagai pengingat-, bahwa sesungguhnya ketika manusia meminta akan dijawab langsung.

Sambil mengerjap-ngerjapkan panasnya mata, saya paham arahnya. Perjalanan ini selalu memperkaya jiwa. Lagi-lagi diingatkan bahwa destinasi perjalanan bukanlah segalanya. Saya terdiam, menyadari kelalaian dan ikhlas menerima apapun yang akan terjadi dalam hari-hari ke depan ini.

Menit-menit berlalu dan waktu juga yang membuat kami akhirnya memutuskan turun. Kali ini saya menikmati perjalanan turun yang terasa sangat cepat untuk sampai ke hotel. Entah kenapa perasaan saya berdesir kencang saat melihat tumpukan-tumpukan batu yang disusun rapi di beberapa tempat. Ketika sampai hotel saya googling mengenai tumpukan batu ini, -yang pernah juga saya lihat di Angkor Wat, Jepang, Laos, dll.-, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Cairns,

Cairns represent a trail marker that guides one through uncertain areas in life.
They provide guidance, hope, balance, continuity and confidence on the journey down the path of life – (John P Kraemer)

P1050683
Found many cairns on the way to Poonhill

 

Di Simpang Perjalanan

Sambil mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan, di hotel pikiran saya berkecamuk. Membaca wajah Dipak sepanjang perjalanan Poonhill pulang pergi, sepertinya ada keraguan khususnya terhadap kekuatan saya untuk pergi ke Annapurna Base Camp, apalagi itinerary yang disusun sangat ketat. Ketika ada kesempatan, saya langsung menanyakan kepadanya dan ia meminta saya untuk melihat perkembangan perjalanan hingga ke Chhomrong walaupun sempat ia mengatakan bahwa perjalanan ke depan tidak bisa dibilang mudah. Saya tersenyum mendengar jawaban tak langsungnya yang tidak merekomendasi saya untuk ke ABC.

Namun bersamaan dengan itu, perasaan saya berdesir halus merambat jiwa. Saya teringat pada tumpukan batu (cairns) yang sejak pagi menarik perhatian mata dan terus menari-nari di benak. Dipak tak tahu mengenai hal ini, tidak ada seorangpun yang tahu undangan untuk melakukan perjalanan ke ABC ini. Tumpukan batu itu sepertinya penanda agar tetap yakin dan percaya.

Ini adalah perjalanan saya dan akan sampai ke sana, bagaimanapun caranya.

Dari jendela lebar di hotel Sunny Ghorepani, saya melempar pandang ke arah pegunungan yang tertutup awan. Perjalanan ini sudah dimulai dan saya hanya perlu percaya saja.

Seperti dulu, seperti yang sudah-sudah…

(bersambung)

—-

Masih ada kejadian seru lagi di cerita berikutnya, semoga saja gak ada prioritas lain yang menyalip 😀

Nepal – Berlimpah Anugerah Menuju Pokhara


Begitu menutup pintu mobil, taksi mungil itu langsung melesat meninggalkan Bhaktapur menuju bandara Tribuvan seakan tak memberikan kesempatan kepada saya untuk mengucapkan “Sampai Jumpa Lagi” kepada kawasan yang telah menorehkan pengalaman penuh bahagia ini. Saya memejamkan mata, sesaat saja, membiarkan diri memeluk rasa bahagia pernah begitu menyatu di Bhaktapur, lalu rasa itu harus saya lepaskan kepada pemiliknya. Saya juga dimakan Sang Waktu yang tak pernah berjalan mundur.

Kali ini tidak seperti déjà vu, karena saya memang kembali ke Bandara Tribhuvan di Kathmandu, seperti saat melakukan Everest experience flight kemarin. Tiga hari berturut-turut berada di bandara yang sama, hanya beda terminal, mungkin bisa disebut dengan frequent-flier in 3 days! Saya turun dengan ransel di punggung menuju gedung terminal yang masih direnovasi lalu  secepatnya melakukan check-in. Berbeda dengan kemarin saat melakukan kesalahan hingga ditegur para laki-laki, kali ini saya memasukkan tas tangan ke jalur perempuan lalu mencari tempat duduk di ruang tunggu. Saya menunggu hingga waktunya boarding namun tidak ada penjelasan hingga akhirnya pengumuman itu keluar. Penerbangan ditunda 1 jam! Lalu 30 menit lagi… Tetapi ah, saya sedang dalam perjalanan hati. Apapun yang terjadi harus diterima dengan keterbukaan. Siapa tahu saya diselamatkan dari keburukan. Hanya perlu menambah sabar kan?

ktm-airport
Tribhuvan Airport, Domestic Terminal, Kathmandu

Ruang tunggu bandara itu penuh, kebanyakan terdiri dari penumpang lokal walaupun disana-sini ada tubuh tinggi berambut pirang dengan penampilan yang siap menjelajah gunung-gunung tinggi yang bertebaran di Nepal. Kebanyakan mereka ke Lukla, sebagai awal langkah menuju Everest. Tak banyak turis yang memilih terbang ke Pokhara, mereka biasanya telah terangkut di dalam bus-bus turis yang berangkat pagi dari Kathmandu.

Lamanya perjalanan dari Kathmandu ke Pokhara melalui jalan darat, -walaupun katanya pemandangan alamnya indah sekali-, membuat saya mengambil keputusan untuk terbang. Menghemat waktu adalah penting bagi saya sehingga waktu cuti dapat dimanfaatkan secara maksimal, walaupun untuk itu saya harus merogoh kocek lebih dalam.

Panggilan boarding yang ditungu-tunggu akhirnya terdengar juga. Seluruh penumpang terlihat lega dan bergegas menuju bus pengangkut yang membawa ke pesawat ATR72 Buddha Air itu. Pesawat bermesin baling-baling itu dimasuki dari belakang sehingga saya yang mendapatkan tempat duduk di lorong bagian depan, harus mengantri dengan sabar, mendahulukan para penumpang bisnis yang duduk di bagian belakang yang saat itu kebanyakan terisi oleh kelompok tinggi besar berambut pirang dan para pebisnis Nepal.

Setelah menempati tempat duduk, penumpang yang duduk di depan saya membuat sedikit kegaduhan. Mereka mendapat nomor terpisah dan ingin bertukar tempat duduk karena merupakan pasangan suami isteri. Sang suami mendapat nomor jendela tepat di sebelah saya dan sang isteri tidak bersedia duduk bersebelahan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Saya sekilas melihat pria yang telah bersedia memberikan tempat duduknya demi pasangan suami isteri itu, beliau tak lagi muda tapi ada keramahan diparasnya. Kegaduhan di depan saya menyurut namun beliau tetap berdiri di lorong.

Dengan sedikit ragu, pak tua berwajah ramah itu menyapa saya, meminta maaf.

“Could you do a favor for me? I could not sit there, on the window-seat; I prefer on the aisle”

Saya melihat cepat kepadanya, entah apa, ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan, sesuatu yang ditutupi. Hanya saja beliau tetap tak bersedia untuk menempati tempat duduk yang ada di jendela. Sementara saya yang sudah benar dengan nomor tempat duduk tiba-tiba menjadi pusat perhatian karena ada penumpang yang masih berdiri dan melihat saya. Seakan-akan saya salah menempati tempat duduk.

Kejadian begitu cepat, saya harus mengambil keputusan. Saya tak meminta nomor lorong, bahkan sebenarnya di hati terdalam, saya menginginkan nomor jendela. Dan kini nomor itu diberikan kepada saya, lalu mengapa saya harus berpikir dua kali?

Tetapi begitu naïve-nya saya, saya masih bertanya meminta persetujuan kepada orang itu sambil tangan menunjuk ke samping, “so, is it okay if I take the window seat?”

Dia tak menjawab tapi ada senyum lebar berkembang menghias wajahnya. Ada semacam kelegaan besar. Tak sampai sedetik saya langsung bergerak berpindah. Rejeki tak boleh ditampik! Tempat duduk di jendela dengan pemandangan pegunungan Himalaya bertudung salju sepanjang penerbangan! Diberikan gratis lagi!

p1010595
Himalaya

Selagi pesawat melakukan persiapan lepas landas, saya terdiam dalam hening. Anugerah lagi. Memang terbersit keinginan untuk duduk di kursi dekat jendela karena saya suka dengan pemandangan Nepal, tetapi jika tak bisa ya tidak mengapa. Lalu mengapa ada pasangan yang terpisah tempat duduk dan ngotot ingin duduk bersama lalu ada orang baik hati yang bersedia bertukar tempat dan apapun alasannya dia bahkan memberikan kursi jendelanya kepada saya. Ah, Tuhan Yang Maha Baik memang selalu punya caraNya sendiri untuk melimpahkan anugerah kepada yang diinginkan walau harus melalui beberapa orang lainnya. Mereka telah menjadi saluran berkah untuk saya. Semoga hidupnya berlimpah kebaikan…

Di atas lembah Kathmandu, bapak tua baik hati di sebelah saya itu membuka percakapan awal. Ternyata beliau bukan orang sembarangan, beliau seorang pensiunan tentara Inggris yang selama ini ditempatkan di banyak negara persemakmuran di Asia. Dan alangkah terkejutnya saya, ketika ia mengetahui saya berasal dari Indonesia, ia membuka percakapan dalam bahasa Indonesia dengan sedikit dialek Melayu.

“Apa kabar. Maaf bahasa Indonesia saya tidak baik, banyak sudah lupa”

Saya tersenyum lebar, tidak setuju dengannya karena menurut saya, bahasa Indonesianya bagus. Saya terkejut, sekaligus bangga dan kagum, rasanya aneh, campur aduk. Siapa sangka, di ketinggian dua puluhan ribu kaki di atas kawasan Himalaya yang jauh dari Indonesia, saya diajak berbicara dalam bahasa Indonesia oleh penutur asing, bukan penutur asli. Bahasa Indonesia campur dialek Melayu dan bukan bahasa Inggeris! Kemungkinan terjadinya sangat amat kecil sekali dan tentu saja, saya merasa sangat  berbahagia bisa mendapatkan kesempatan itu. Sungguh tak terduga. Lagi-lagi, Dia Yang Maha Baik telah melimpahkan anugerah kepada saya berupa kemudahan berbahasa ibu. Bisa jadi Dia menginginkan agar saya merasa kenyamanan berada di rumah. At Home… Bukankah ada pepatah Home is where the heart is..?

Perjalanan ini sungguh memperkaya jiwa, Oh I’m so blessed…

p1010605
Himalaya with Clouds

Namun pembicaraan tetap saja memiliki jeda sehingga memungkinkan bagi saya untuk menikmati pemandangan diluar jendela, barisan pegunungan berselimut salju abadi yang tadinya terlihat samar kini seluruhnya telah tertutup awan. Hanya puncak tinggi dengan salju abadinya terlihat serupa dengan awan-awan putih tebal yang memenuhi pandangan mata. Di bagian depan, deretan pegunungan yang menjadi pagar dari pegunungan Himalaya atau dikenal dengan Mahabharat Range itu mengumbar keindahan lembahnya yang meliuk-liuk. Sepertinya Dia Yang Maha Kuasa sedang tersenyum ketika menciptakan bumi Nepal hingga kontur permukaan bumi terlihat begitu indahnya.

Tak lama kemudian terasa pesawat menurunkan ketinggiannya secara perlahan. Danau Phewa sudah terlihat, itu artinya Pokhara sudah di depan mata. Saya memperhatikan keadaan danau. Inilah wajah lain dari Nepal. Jika Kathmandu penuh dengan budaya tradisional, Pokhara mengumbar janji dengan kegiatan outdoor yang menantang adrenalin. Di kota ini saya tak punya banyak rencana kecuali untuk beristirahat di tempat yang indah. Saya tak punya target khusus, saya biarkan itinerary dari Yang Maha Kuasa terjadi pada hari-hari saya di Pokhara.

Semakin dekat ke Pokhara, saya terpikir kembali mengenai transportasi dari bandara ke penginapan. Walaupun telah saya kabarkan soal penundaan penerbangan sejak dari Kathmandu tadi, saya tak yakin pesannya sampai. Berdasarkan pengalaman sebelumnya saat baru sampai di Kathmandu dan ternyata pesanan taksi saya tak muncul batang hidungnya, saya skeptis untuk mendapatkan layanan antar di Pokhara ini. Tetapi biarlah, apapun yang terjadi pasti ada jalan keluarnya. Semoga.

Bahkan saat akan meninggalkan tempat duduk,  the old Brit yang baik hati itu mengucapkan salam perpisahan dalam bahasa Indonesia, seakan tahu hal-hal yang bisa menentramkan dan menenangkan hati. Sampai jumpa lagi…

Bandara Pokhara kecil, -dalam arti yang sebenarnya-. Gedung terminalnya hanya berupa sebuah ruangan berkaca dan seluruh bagasi yang sebelumnya ada di perut pesawat diserahterimakan ke penumpang melalui sebuah jendela yang bisa disaksikan langsung oleh pemilik bagasi. Setelah mengambil ransel, saya keluar gedung tanpa ekspektasi dijemput.

p1010610
Pokhara Airport

Tetapi saya membaca nama saya di kertas yang dipegang oleh seseorang. Rasanya tak percaya, tetapi benar. Itu nama saya! Saya dijemput! Saya masih ditunggu, walaupun penerbangannya ditunda lama. Lagi! AnugerahMu yang berlimpah, yang tak putus.

Saya meminta maaf kepadanya sekaligus sangat berterima kasih karena telah bersedia menunggu lama. Sang pengemudi yang tak muda lagi itu tersenyum ramah. Tak perlu berpanjang kata, dia mempersilakan saya masuk dan menjalankan mobilnya, menyusuri danau dan perlahan meninggalkan pusat kota. Walaupun tahu penginapan saya itu jauh dari kota, tetapi saya tidak menyangka sejauh ini. Terpencil bahkan harus memasuki daerah perbukitan dengan jalan yang tak lagi beraspal. Seandainya saya tak ditunggu olehnya, apakah taksi biasa mengetahui dan mau mengantar hingga ke tempat ini?

p1010620
On the way to Hotel, Pokhara

Saya menggigit bibir, perjalanan kali ini benar-benar berlimpah anugerah dariNya. Benar-benar tak henti, terus-menerus sampai dada terasa sesak. Semuanya serba luar biasa… Dari Bhaktapur yang penuh kenangan, mendapat tempat duduk jendela sehingga bisa menikmati pemandangan Himalaya yang berselimut salju, diajak berkomunikasi dalam bahasa ibu oleh penutur asing di ketinggian Himalaya, tetap dijemput taksi yang bersedia menunggu walaupun penerbangan mengalami penundaan dan kini terhampar pemandangan indah…

Maka Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Then which of the favors of your Lord will you deny?