WPC – A Tunnel Of Dense Plants


Tunnel of a dense plants

Being born and living in most of my life with Asian culture, I did not have many high expectations when I took a half day tour using a dragon shaped boat in Perfume river that crosses the city of Huế, Central Vietnam. Especially when the tour guide said that we would stop at a typical house of Vietnamese in the bank of the river. What would I see from a traditional house in Vietnam? It would not have significant differences to other houses in Asia. Perhaps it was one of my judging assumptions after being a victim of several low categorized scams during my trip in Vietnam.

But, I was totally wrong!

The entrance of the house made me amazed. It was a lane through a tunnel made by dense plumeria trees that welcomed me before stepping further into the inner yard of the house. A green tunnel of plants’ leaves is common but what I saw was a tunnel made of the trees’ branches and twigs with no leaves. Something rare but worth to be seen which left a nice mark in my heart.

It was a lesson learnt for me not to judge a destination whatever I have experienced previously. Live the present moment! And perhaps the following words will be perfect for that circumstance,

There is no darkness so dense, so menacing or so difficult that is cannot be overcome by light – Vern P Stanfill

 

Makna Hikmah Terserak di Perjalanan Korea


Ketika saya baru kembali dari Korea, seorang atasan menanyakan tentang perjalanan saya di Korea. Karena tahu beliau tidak berbasa-basi, saya yang masih gres dengan semua peristiwa yang dialami, menjawab dengan ringan bahwa ternyata di Korea Selatan yang maju itu tidak banyak orang bisa berbahasa Inggris sehingga banyak peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi hanya karena faktor bahasa. Dan Jleb! Saya takkan pernah lupa akan tanggapannya. Time is healing, yang tidak menyenangkan akan berubah menjadi momen-momen yang berkesan mendalam, kata beliau.

Bagaimana mungkin sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan menjadi memorable moments? Saat itu karena masih penuh dengan kesan tak nyaman selama di Korea, saya tak menerimanya begitu saja, tetapi karena menghormatinya, saya membiarkan hal itu mengendap di dalam hati.

*

Perjalanan ke Korea saat itu memang impulsif, karena masih tersisa cuti banyak (baca cerita lengkap alasan saya pergi ke Korea disini) dan mungkin juga karena trip ke Korea sebelumnya sempat dibatalkan. Saat saya ke Jepang sebelumnya di tahun yang sama, seharusnya lanjut ke Korea tetapi situasi politik di semenanjung Korea saat itu tidak mendukung sehingga trip itu dibatalkan. Padahal saat itu tiket sudah ditangan bahkan sudah memesan beberapa hotel. Pembatalan itu sepertinya berubah menjadi keingintahuan yang besar itu yang mungkin menjadi trigger keputusan untuk pergi ke Korea di musim gugur. Namun pada dasarnya saya tidak tahu apa-apa tentang Korea, saya bukan penggemar K-pop, K-drama, bukan juga penggemar kuliner Korea, tidak bisa baca Hangeul, tidak tahu banyak sejarah Korea. Hanya karena ada Samsung, LG dan cerita kondisi alamnya yang cantik. Itu saja!

Berbekal itu, saya mengurus sendiri pembuatan visa (baca soal pembuatan visa disini) yang sampai sekarang terus menjadi salah satu top-posting di blog ini, sampai akhirnya dengan sangat menyesal kolom komentar saya tutup karena menjurus yang aneh-aneh dan tidak mutu 😀 (Saya kan bukan agen tenaga kerja juga bukan agen pencari bakat untuk K-pop, juga bukan agen untuk operasi plastik kan… 😀 )

Ketika semua orang memulai perjalanan ke Korea dengan masuk melalui Seoul, saya justru masuk melalui Busan (baca:  Berkenalan dengan Busan disini). Mendarat pagi-pagi saat jam kerja normal belum dimulai merupakan masalah tersendiri. Apalagi saya tidak bisa baca karakter Hangeul yang mendominasi dimana-mana. Bertemu wajah tak bersahabat di hari pertama, bertanya pada seseorang tapi dijawab dengan gelengan atau muka lempeng. Bahkan untuk mencari lokasi hotel pun saya harus mengerahkan kreativitas. Kekuatiran dan kecemasan bisa survive di Korea mulai menemani di hari pertama perjalanan. Lalu apakah saya akan menyerah di hari pertama?

Namun bukankah jika kuatir dan cemas dipelihara terus, kita tidak akan pernah pergi kemana-mana? Saya mencoba mengatasinya, saya percaya masih ada orang baik di sekitar kita. Pergeseran titik pandang, -dari penerima negativeness menjadi pemberi positiveness-, terbukti benar. Saya menurunkan harapan tinggi tentang Korea dan memilih lebih percaya kepada orang lokal dan orang baik pun mulai muncul di hadapan (Baca disini saat Jelajah Busan). Saya bersyukur bisa merambah mengelilingi pantai Haeundae, ke Museum Seni Busan, ke Mal yang segede gaban, menikmati Jembatan Gwangan di kegelapan malam. Paling tidak masih ada pengalaman yang cukup menyenangkan.

Kemudian keesokan harinya saat akan berpindah kota, saya harus jujur bahwa keteledoran juga menjadi faktor mengapa banyak hal buruk terjadi pada saya. Jika saya teledor membaca peta sehingga salah stasiun dan kehilangan waktu, janganlah situasi eksternal yang disalahkan. Juga kalau teledor meletakkan tiket jangan salahkan faktor luar kan ya? Tetapi terlepas dari dua faktor itu, saya menyadari sepenuhnya memang perjalanan dari Busan ke Gyeongju itu penuh drama hanya karena faktor bahasa (baca cerita Menuju Gyeongju disini). Tetapi saya belum mau menyerah secepat itu…

Gyeongju, -kota cantik 1 jam berkendara dari Busan-, memiliki banyak tempat publik yang luar biasa walaupun bagi saya dihiasi rasa antara cemas, takut dan ingin tahu yang besar (baca cerita Ruang Publik Gyeongju disini). Sebagai solo-traveller perempuan, saya harus mampu mengatasi rasa gamang tidak mengenali siapapun dan juga tidak bisa berkomunikasi karena keterbatasan bahasa. Namun segala yang tidak menyenangkan itu bisa diseimbangkan ketika menjejak Bulguksa Temple. Sebuah keluarbiasaan bisa sampai di tempat World Heritage ini. Mungkin karena beberapa kejadian sebelumnya yang tidak menyenangkan, bisa sampai ke destinasi ini rasanya seperti mendapat durian runtuh, rasanya seperti mencium bau surga (baca cerita Bulguksa Temple). Tapi sayang, setelah meninggalkan Bulguksa, kembali saya berteman dengan sepi bersama benda-benda bersejarah yang berserakan disana hingga malam hari, paling tidak itulah hal yang saya dapat nikmati di Gyeongju (Baca disini: Malam di Gyeongju)

Tetapi ketidaknyamanan trip di Korea belumlah mencapai puncak. Ketika akan meninggalkan kota Gyeongju, begitu banyak rasa tak bersahabat menghampiri saya, tak ada yang bisa membantu menjawab pertanyaan saat saya ingin naik bus sampai akhirnya saya memilih taksi namun ternyata ditolak oleh sopir taksi dengan berbagai alasan. Tidak bisa naik kereta karena jadwalnya tidak cocok akhirnya saya menuju terminal bus, -satu-satunya lokasi yang saya tahu-, dengan berjalan kaki walau cukup jauh ditambah menggendong ransel berat. Saya tak berpikir jauh, setiap masalah yang ada di depan mata saya hadapi satu persatu. Meskipun pelan, saya tetap bergerak maju. Saya seakan sedang ujian, kesabaran dan kekuatan saya diuji, sejauh apa keseriusan saya untuk mencapai tujuan dan untuk Korea ini, ada sebuah tempat yang menjadi destinasi utama yang ingin saya capai, Kuil Haeinsa di tengah hutan taman Nasional Gayasan.

Sungguh, keberanian dan kekuatan saya diuji saat menuju dan sepulangnya dari Kuil Haeinsa. Di tengah jalan bus terjebak dalam kemacetan parah dan harus berhenti sebelum mencapai terminal Haeinsa dan mengharuskan saya turun di tempat yang bagi saya adalah in the middle of nowhere. Saya mengalami disorientasi, tanpa teman, tanpa orang yang bisa diajak bicara atau tanya, dan situasi antara pulang dan lanjut sama tak pastinya, apakah saya harus menyerah? Tetapi menangis tak akan menyelesaikan masalah (Baca disini Ujian dalam Perjalanan)

Dan bagai sebuah siklus kehidupan dengan roda di bawah kemudian berputar ke atas, perjalanan tak mudah ke Haeinsa itu terbayar dengan keindahan Kuil Haeinsa dengan begitu banyak simbol-simbol kehidupan (baca soal simbol-simbol kehidupan di Haeinsa Temple) dan tentu saja Mahakarya kayu ratusan tahun yang dijaga didalamnya (baca hebatnya Mahakarya Kayu). Tetapi ujian bagi saya rupanya belum berakhir karena kegembiraan bisa mencapai Haeinsa hanya terasa sekejap saja bagi saya, setelahnya saya kembali harus menapak perjalanan yang tak mudah.

Tanpa tahu arah terminal bus, dari Kuil Haeinsa saya mengikuti intuisi sendirian menuruni jalan setapak di tengah hutan Nasional dalam keremangan jelang gelap dan dinginnya udara pegunungan, hanya berpegang pada percaya dan yakin akan pertolonganNya. Saya seperti bergantung di ujung tali, airmata ini hampir pecah, tetapi saya tak boleh menyerah. Dua kali mencoba mencari bantuan, tak ada satu pun orang muncul di hadapan. Kali ketiga, bak malaikat penjaga, dua orang lanjut usia muncul di pintu sebuah kios memberi arah tempat bus kembali ke Daegu. Saya tahu saya boleh menangis penuh syukur saat itu karena lulus dari ujian. Setelahnya didepan mata saya hadir para sahabat seperjalanan tanpa perlu tahu nama-namanya.

Hari-hari selanjutnya perjalanan menjadi lebih mudah karena puncak ketidaknyamanan telah terlewati. Saya meneruskan perjalanan menuju Seoul dengan menggunakan KTX (baca disini: Kereta Super Cepat KTX). Bahkan waktupun bersahabat sehingga saya menyempatkan diri berjalan ke Hwaseong Fortress (baca disini Hwaseong Fortress).

Perjalanan tak mudah menuju ke Mt. Seorak (baca trip ke Seoraksan disini), -yang menjadi salah satu tujuan utama wisatawan Indonesia-, terasa manis ketika saya mendapat apresiasi dari seorang tour guide lokal yang membawa rombongan Indonesia karena berani ke Seoraksan sendiri tanpa mengerti bahasa Korea. Bagi saya, perjalanan ke Seoraksan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua kesulitan di Haeinsa. Bahkan di Seoraksan ini, Tuhan pun mengirimkan seorang sahabat seperjalanan tanpa perlu bicara, tanpa perlu bersalaman. Hanya sebuah anggukan dan senyum karena sama-sama menempuh perjalanan yang searah. Saya memungut hikmah, bahwa diantara wajah-wajah yang serupa, saya mendapatkan hati yang penuh senyum. Seorang saja cukup untuk menenteramkan hati.

Trip Korea yang penuh ketidaknyamanan ini membaik saat berjalan di Seoul, menjelajah hingga kaki lelah di istana-istananya yang cantik seperti Istana Deoksugung (baca: Istana Deoksugung) maupun Istana Changdeokgung (baca: Istana Changdeokgung). Bahkan lagi-lagi Tuhan mengirimkan sahabat seperjalanan untuk berbagi cerita di Secret Garden Istana Changdeokgung dalam rombongan berbahasa Korea dalam hujan musim gugur yang basah (baca Secret Garden). Dan malamnya kaki dibawa hingga kebatas lelahnya dengan menyusuri Cheonggyecheon Stream untuk menyaksikan festival Lentera (baca Lantern Festival disini).

Namun Yang Kuasa sepertinya menitip pesan penutup di akhir trip Korea dengan membiarkan saya berlari-lari di luasnya bandara Incheon di hari kepulangan karena ceroboh tak mengukur jarak Incheon dengan Seoul (baca hebohnya Lari di Incheon). Semuanya bukan kebetulan, saya dibiarkan untuk lari sehingga tak mengenali bandara Incheon di dalam waktu yang sangat pas agar tak tertinggal pesawat. Semua pasti ada alasannya…

Tetapi dasar manusia yang lebih banyak dan lebih cepat mengingat buruknya, demikian pula saya yang pulang ke tanah air, lebih banyak mengingat ketidaknyamanan daripada semua yang menyenangkan selama melakukan perjalanan ke Korea.

*

Waktu pun berjalan, time is healing.  Benar kata atasan saya. Setelah sekian lama, trip Korea ini berubah menjadi perjalanan yang memiliki memorable moments, yang sangat tidak menyenangkan pun menjadi sebuah keluarbiasaan yang selalu saya syukuri. Jika tidak ada semua faktor yang tidak menyenangkan itu, sejatinya saya tak akan memahami makna setiap detik kehidupan dariNya. Jadi janganlah takut jika mengalami hal yang tidak menyenangkan selama melakukan perjalanan karena sebagaimana hal menyenangkan, hal yang tidak menyenangkan pun akan memperkaya jiwa…

Nepal – Sampai Kita Berjumpa Lagi, Himalaya…


Dalam postingan sebelumnya, ada peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi, tetapi bagaimanapun tetap terjadi. Banyak barang basah terkena air dalam perjalanan menuju bandara saat mau pulang ke tanah air. Untuk lengkapnya bisa dibaca di post ini cerita tentang Nagarkot

Dengan celana yang setengah basah dan ‘rempong’ dengan tas-tas dan barang yang juga basah, saya tergopoh-gopoh melangkah memasuki ruangan keberangkatan namun dicegat oleh seorang petugas karena salah terminal. Setengah jengkel dengan kebodohan diri sendiri, saya keluar lagi menyusuri pinggir bangunan untuk menuju ruang keberangkatan untuk Air Asia. Sebelum masuk saya masih sempat menoleh ke tempat drop-off. Mobilnya sudah tidak ada disana, tetapi rasa bersalah saya tak mau hilang. Semoga Tuhan memberi banyak keberkahan untuknya.

Setelah boarding pass dipegang di tangan, saya menarik nafas penuh kelegaan. Masih ada waktu untuk membereskan segala kekacauan yang sebenarnya tak perlu terjadi ini. Saya memutar pandangan dan menemukan sebuah bangku kosong yang sempurna untuk repacking.

I will be back...
I will be back…

Saya mencari handuk kecil yang selalu saya simpan di ransel dan tentu saja beberapa tas plastik. Kebiasaan menyisipkan beberapa tas plastik untuk sesuatu yang penting kini terlihat manfaatnya. Saya mengeringkan sebisa mungkin lalu memasukkan barang-barang yang terasa masih lembab ke dalam beberapa kantong plastik. Kemudian saya keluarkan daypack yang kering dari ransel untuk menggantikan tas tangan yang basah kuyup di bagian bawahnya.

Selagi sibuk dengan mengeringkan dan memindahkan barang, dua turis remaja perempuan berwajah Oriental mengambil tempat di sebelah saya untuk menata ulang kopernya. Namun lebih-lebih dari saya, mereka menghamparkan hampir semua barangnya lalu dipaksakan masuk ke dalam kopernya. Jika saja mereka mengerjakan dengan diam, tentu saja saya tak keberatan. Tetapi mereka melakukannya seakan di rumah sendiri dengan suara keras sambil tertawa-tawa. Dengan mood yang masih tak tentu, situasi saat itu sungguh menyebalkan. Tetapi bagaimana pun ruang saya duduk merupakan ruang publik, lebih baik saya memperpanjang sabar.

Saya masih mengeringkan barang-barang basah ketika melihat petugas dan anjing terlatihnya mendekati saya. Mereka mendekat secara khusus sampai pada jarak yang saya kira terlalu dekat ke barang-barang yang saya letakkan di sekitar. Tak perlu berpikir dua kali, -ketika saya melihat si anjing terlatih itu mengendus dari jarak tertentu-, saya langsung mendekatkan barang-barang yang agak tersebar. Damn… Darah mendesir kencang, pikiran saya langsung bekerja cepat, saat itu pastilah saya ditandai sebagai seseorang yang mungkin sedang melakukan pekerjaan haram, mungkin seperti kurir narkotik yang memindahtangankan dengan kedua perempuan muda yang ada di sebelah saya.

Bukankah anjing terlatih itu diarahkan untuk mendatangi dan mengendus di dekat barang-barang saya? Bukankah ada dua perempuan muda di sebelah yang juga sedang membongkar tasnya dengan menghamparkan barangnya dekat dengan barang-barang saya? Bukankah barang haram itu bisa dipindahtangankan dalam situasi seperti ini, dengan skenario seakan-akan sedang merapikan barang dalam koper? Bukankah saya dalam situasi yang sangat memungkinkan dituduh sebagai kurir barang haram? Bukankah bisa saja barang haram itu diletakkan di antara barang-barang saya dan barang orang lain yang terserak dan bisa dijadikan bukti kepemilikan? Saya bergidik terhadap kemungkinan itu… Hiiii…

Ada sesuatu yang berjalan tidak pada tempatnya… ada yang tak seimbang, ada yang tak sesuai…

Saat menunggu keberangkatan, sepenggal rasa bersalah masih bertengger di hati, ditambah dengan sejumput ingatan ketika si anjing mendengus dekat barang-barang saya. Rasanya terbeban. Saya mengingat seluruh kenangan yang menyenangkan sejak perjalanan dimulai agar beban bisa terangkat sedikit. Ketika melihat Everest dan barisan Himalaya, ketika bisa berlama-lama bertatapan dengan Dewi Kumari the Living Goddess di Kathmandu Durbar Square, ketika mendapat berkat Hariboddhi Ekadashi di Kuil Changu Narayan, saat mendapat sunrise luarbiasa di Pokhara, saat mendapat Khata dari Bhiksu di bawah pohon Boddhi di Lumbini, pagi yang indah di Nagarkot dan begitu banyak kemudahan di semua tempat yang saya datangi… dan di ujung akhir perjalanan semua berbalik arah. Kesalahan apa yang telah saya lakukan?

Ketika boarding, orang yang duduk di belakang kursi saya memasang dan menggunakan speaker dari music playernya, seakan di rumahnya sendiri dan seakan semua senang dengan lagunya. Saya tahu telah berada di ambang batas sabar sehingga saya sampaikan keluhan kepada pramugari yang bertugas karena saya telah membayar mahal untuk tempat duduk yang berada di quiet-zone yang seharusnya senyap agar bisa beristirahat. Bahkan kejengkelan dan ketidaksabaran saya masih bisa merangkak keluar.

Tribhuvan International Airport, Kathmandu
Tribhuvan International Airport, Kathmandu

Sebelum semuanya menjadi tak terkendali, lebih baik melakukan refleksi ke dalam, menenangkan diri, memohon bantuan kepadaNya.

Ketika pesawat bergerak perlahan untuk meninggalkan bumi Nepal, saya menoleh keluar jendela, ke langit yang biru, ke pegunungan yang berjejer. Dengan menempelkan tangan pada jendela, selarik bisikan berupa ucapan terima kasih keluar dari bibir. Dan seketika pula permintaan maaf mengalir keluar atas apapun kesalahan saya selama di bumi Nepal, membuat pandangan buram karena airmata menggenangi pelupuk mata…

Saya teringat kembali kepada dia, pengemudi yang pendiam dan selalu tersenyum terhadap apapun yang saya lakukan. Saya diserang ingatan betapa buruk perlakuan saya terhadapnya. Menganggapnya tidak mengerti, mengabaikan harkat kemanusiaannya bahwa setiap orang ingin dihargai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia diam, tetapi bukankah saat itu ada musik sayup serupa Om Mani Padme Hum yang memungkinkan dia mengemudi dengan pikiran yang meditatif? Atau mungkin ia memang pendiam dan juga pemalu, sebuah kombinasi sempurna untuk ‘tidak dianggap’ dan saya memperlakukannya tanpa perasaan. Lalu bukankah setelah itu ada air yang tiba-tiba menggenang? Saya bergidik sendiri, menyadari telah menjadi seburuk-buruknya manusia. Tak heran, jika semua ini terjadi.

Luruskan pikiranmu, begitu teguran Sang Maha Cinta untuk saya dengan tetap melimpahkan kasih sayang berupa air yang menggenangi tas. Dengan begitu banyak berkah yang saya terima selama perjalanan di Nepal mengapa saya mengakhirinya dengan mengabaikan nilai seorang manusia?

Lalu bukankah hanya air? Dan air hanya membasahi barang-barang tak penting? Bukankah bisa lebih mengerikan, bisa lebih buruk, tapi karena CintaNya, hanya ada air? Lalu bukankah bisa saja ada barang haram di antara barang-barang saya saat merapikan kembali? Tetapi yang terjadi sebuah teguran kasih sayang berupa dengusan anjing sebagai pengingat? Bukankah bisa terjadi yang lebih buruk dan lebih mengerikan? Tapi saya dihindarkan dari yang lebih buruk dan yang lebih mengerikan…

Air mata mengalir membasahi pipi, saya menggigit bibir menyadari kesalahan. Sebuah pembelajaran yang check-mate. Teguran yang keras, tetapi tersampaikan dengan sangat lembut dan tidak menyakitkan. Begitu indah, betapa Dia mencintai saya… Bahkan dalam salahpun saya masih dilimpahkan berkah kebaikan dan kasih sayang.

Dan Dia tak pernah putus memberi anugerahNya…

Can't take my eyes off of you, Himalaya
Can’t take my eyes off of you, Himalaya

Saya melihat keluar jendela melihat jelas barisan pegunungan Himalaya yang berpuncak salju berjejer seakan memberi salam perpisahan kepada saya yang terbang kembali menuju tanah air. Dan sang komandan dari barisan pegunungan cantik itu ada di sebelah kanan, terlihat sebagai puncak tertinggi, Sagarmatha yang agung. Everest!

Saya teringat ketika melakukan Everest experience mountain flight, saya hanya diberi kesempatan melihat setitik puncak dari jarak terdekatnya. Dan kini dalam perjalan pulang, siapa yang menyangka gunung tertinggi di dunia itu menampakkan keagungan dirinya di hadapan mata saya. Sagarmatha yang luar biasa indahnya, Everest…

I see you...
I see you…

Bahkan dalam salahpun saya masih diberikan anugerah terindah, di ujung akhir perjalanan di Nepal.

Sejuta rasa berkecamuk di dalam jiwa. Inilah pencucian jiwa. Saya telah menerima anugerah tak henti sejak berangkat dan saya nodai dengan keangkuhan diri, namun semuanya tak menghentikan dari limpahan anugerah. Alangkah tak beruntungnya saya jika tak bersyukur… Bukankah perjalanan ini diatur dariNya langsung? Bukankah susunan itinerary yang telah saya buat itu akhirnya tertinggal di Jakarta lalu digantikan semua dariNya? Bukankah tak banyak orang yang berkesempatan melihat pegunungan Himalaya dan juga Gunung Everest secara jelas?

Saya tetap manusia yang menyadari ketidakmampuan melepas kecantikan pegunungan bertudung salju itu. Saya tak ikhlas, tak rela melepas pandang. Saya memutar badan, lebih baik duduk dengan setengah bokong bertumpu pada satu kaki daripada harus kehilangan pandangan dari Himalaya. Mata saya lekat pada barisan itu. Gunung-gunung yang tampak berbaris gagah itu semakin mengecil, semakin tak terlihat, sampai akhirnya saat dataran India dengan sungai besarnya yang terlihat, mau tak mau, ikhlas saya melepasnya dalam bisikan, terima kasih Ya Allah, terima kasih Nepal, sampai kita berjumpa lagi, Himalaya…

Suatu saat saya pasti kembali, ini sebuah janji…

When will I see you again?
When will I see you again?
It's not a Goodbye, Just Au Revoir
It’s not a Goodbye, Just Au Revoir

<><><>

Dan enam bulan setelah perjalanan saya, sebuah gempa besar meluluhlantakkan Nepal. Saya terguncang hebat. Semua kenangan tempat-tempat indah dengan segenap keajaiban-keajaiban yang pernah mewarnai perjalanan saya itu bergerak bagai film di benak, silih berganti dengan tempat-tempat yang rusak dan yang luluh lantak. Tetapi sebagaimana pengalaman perjalanan saya, -bahkan dalam salah pun saya diberi anugerah-, demikian juga Nepal… Dalam titik rendah kehancurannya, Pemilik Semesta tak pernah sedikitpun meninggalkan ciptaanNya.

*

Baca rangkuman dan cerita seri perjalanan di Nepal : Nepal – Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Uji Nyali di Pagi Hari Yang Indah


The Hanging Lanterns
The Hanging Lanterns

Pagi hari masih berada di atas tempat tidur di kamar yang hening sambil melihat kembali foto-foto kota kuno Hoi An yang indah dengan kerlap-kerlip lampion warna warni di kamera, rasanya menyenangkan sekali. Apalagi hari ini akan mengunjungi My Son, destinasi percandian yang sudah lama diimpikan. Nikmatnya My Me-Time yang sudah kesekian kali ini, memang membuat ketagihan karena rasanya seperti mencapai langit ketujuh, bisa merasa begitu dekat dengan Pemilik Semesta. Ketika segala topeng di wajah tak perlu dikenakan, ketika segala takut dan cemas bisa ditinggalkan di belakang, ketika airmata bisa mengalir kapan saja tanpa rasa dihakimi, ketika bahagia dan syukur bisa dilantunkan penuh pujian tanpa putus, ketika tak perlu merasa malu karena tak mampu dan masih banyak ketika-ketika lain yang semuanya satu. Sejatinya manusia.

Dan saat seperti ini, kejernihan suara hati lebih sering tampil ke permukaan. Tetapi apakah didengarkan atau diabaikan, semua itu tergantung dari situasi yang dihadapi. Juga pagi itu.

Sejak mendarat di Vietnam tak cuma sekali suara hati itu berusaha menggapai kesadaran saya untuk memeriksa cap paspor setelah melewati imigrasi Vietnam. Hanya sekedar mendengar, tetapi tidak bertindak, karena tidak ada negara baru yang didatangi sepanjang tahun 2015. Sebuah kebiasaan buruk sebenarnya, karena sebaiknya kita memeriksa paspor sendiri saat melewati imigrasi, mungkin kecuali Hong Kong dan Macau ya, karena dua tempat itu sudah tidak cap paspor lagi (Teringat dulu ketika naik KTM dari Singapura ke Malaysia saya tidak tahu bahwa paspor tidak dicap masuk oleh imigrasi Malaysia, sehingga harus gelagapan menunjukkan tiket pergi KTM, -yang untungnya masih disimpan-, di imigrasi Malaysia saat keluar untuk pulang ke Jakarta).

20160106_140824ee

Nah, saat leyeh-leyeh di tempat tidur itulah suara hati itu kembali mengguncang kesadaran dan akhirnya berhasil membuat saya ingin melihat bentuk cap dan warna imigrasi Vietnam. Artinya harus mengambil paspor yang ada di dompet hijau.

Sejak kehilangan dompet uang (dan Alhamdulillah ketemu lagi) ketika melakukan perjalanan ke Hong Kong – Macau di akhir tahun 2013 lalu, kini tersedia dua dompet yang berbeda untuk  uang dan kartu-kartu. Pengalaman itu luar biasa sekali stressnya. Bayangkan ada paspor, tetapi tidak punya cukup dana untuk seluruh keluarga untuk sampai ke tanggal pulang. Sejak itu, keberadaan dompet mendapat perhatian lebih. Dompet berwarna hijau dipakai untuk menyimpan paspor, dua kartu dan uang sehari-hari, dan dompet hitam yang tidak pernah dikeluarkan dari ransel kecuali sangat diperlukan.

Karena dompet hijau itu bisa dibilang nyawa perjalanan, maka selalu berada dalam jangkauan mata dan tangan serta biasanya diletakkan berdekatan dengan ponsel. Pagi itu dompet hijau berada di atas meja dekat kaki tempat tidur. Dengan sedikit malas, saya mengarah ke meja dan mengambil dompet hijau itu.

Segera saya buka ritsletingnya dan… Ya Tuhan… Paspor TIDAK ADA!!!

Mengedip sekali tak percaya, terlintas di benak kemungkinan paspor terselip di kantong sebelahnya… Langsung saja saya buka ritsleting satunya lagi…. TIDAK ADA JUGA!!!

Sepersekian detik kemudian, semua isi dompet hijau itu sudah berserakan di atas tempat tidur, uang, kartu kredit, kartu debit, lembar pesanan hotel dan boarding-pass penerbangan pulang, serta nota-nota tak penting lainnya… semua lengkap, KECUALI PASPOR!!! Huuuuaaaaaaaa…

PASS-E1

Ada rasa terkejut menyergap ke seluruh tubuh, lalu berusaha mengingat-ingat dimana dan kapan terakhir saya memegang paspor. Satu detik, dua detik dalam diam, meyakinkan diri untuk tidak panik. Harus bisa berpikir tenang agar dapat mengingat kronologis perjalanan.

Sambil tetap berusaha mengingat-ingat dan berusaha tenang, ransel daypack yang digunakan semalam untuk jalan keliling Hoi An, saya bongkar seluruh isinya dan sama seperti dompet hijau, isinya tertumpah semua ke tempat tidur. Tetapi si buku kecil bersampul hijau itu tetap lenyap tak terlihat.

Yang pasti, waktu hilangnya antara check-in kemarin hingga pagi ini, karena tidak mungkin tidak menyerahkan paspor saat check-in bukan?  Tetapi sejak saat itu hingga pagi ini, artinya bisa dimana saja, di ribuan tempat walau hanya di kota kuno Hoi An. Masih bersyukur bisa menentukan tempat dan waktunya sehingga ada batas yang jelas (tapi jelas atau tidak, paspor tetap lenyap…).

Teringat peristiwa tahun lalu, tepat perjalanan akhir tahun, sama seperti sekarang. Bedanya waktu itu bersama keluarga, kali ini sendirian. Waktu itu terbantu oleh dukungan orang-orang tercinta, kali ini tidak ada mereka disini. Situasinya hampir sama, kehilangan “Nyawa Perjalanan”, kalau tahun lalu seluruh dompet beserta isinya, kalau tahun ini PASPOR!

Walaupun memaksa diri untuk tetap tenang, ada sejumput rasa tegang yang naik dengan cepat ke permukaan tubuh. Hanya sejumput! Karenanya, saya cukup heran dengan diri sendiri, tidak ada kepanikan. Bisa dibilang tenang, bahkan terlalu tenang untuk ukuran masalahnya. Tetapi itu SAMA seperti tahun lalu, saat menyadari berada di negara orang dan tanpa uang, saat itu saya tenang, bahkan terlalu tenang. Apakah ini sebuah pertanda?

Ya Tuhan, ada apa lagi kali ini… Ada tarik ulur yang hebat antara logika dan rasa. Yang satu berkata harus cepat karena berlomba dengan waktu, yang satu berkata nikmatilah bersama sang waktu, yang satu bicara soal yang nyata yang lain lebih pada jiwa. Akhirnya saya menyerah, karena yang mendominasi rasa berserah. Ya, saya hanya perlu pasrah, percaya sepenuhnya padaNya bahwa semua akan baik-baik saja. Sabar dan tenang. (Walau tak bisa dibohongi, rasa panik mulai naik menyerang ketenangan itu…)

Bagaimana bisa tenang…???

Tetapi kesadaran saya masih berfungsi baik. Kepanikan yang tidak perlu harus diatasi sebelum menjadi liar. Panik tidak akan menyelesaikan masalah. Harus ada solusi. Jadi what’s next? First thing first!

Mandi!

Ternyata tenang itu memang bermanfaat. Asli, saya bisa meletakkan masalah kehilangan itu di depan pintu kamar mandi lalu berpikir dan menetapkan langkah berikutnya secara detail sambil browsing yang diperlukan selama duduk di kloset. Yang pasti, harus kerjasama dengan pihak hotel terutama ketika berhubungan dengan pihak berwenang (polisi setempat), lalu menapak tilas rute semalam dalam satu jam karena siapa tahu ada yang berbaik hati mengembalikan paspor, lalu mengurus surat kehilangan dipastikan harus selesai hari itu, kemudian terbang ke Hanoi untuk langsung mengurus ke KBRI (karena hari itu adalah hari Jumat) dan ucapkan selamat tinggal pada liburan karena tentu saja harus langsung pulang setelah mengurus SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor). Untunglah semua dokumen penting sudah disimpan ke cloud, jadi tinggal dicetak. Tak boleh lupa harus menyediakan dana untuk hidup di Hanoi. Ketika permasalahan sudah diidentifikasi batas-batasnya, rasanya semakin tenang. Kalau pun ada rasa tidak nyaman, harusnya normal, karena berpergian dengan satu kondisi yang tidak menyenangkan. Tetapi selalu ada alasan positif kan? Bukankah saya belum pernah ke Hanoi? Pemikiran itu membuat saya mandi dengan nyaman dan sempat keramas dulu walau lebih cepat dari biasanya, hehehe…

Barang-barang telah rapi tetapi sebelum ke lobby untuk melakukan langkah pertama, saya sisihkan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia Pemilik Semesta. Dan setelah kewajiban selesai, saya masih bersimpuh dalam diam, tak terasa airmata jatuh. Hanya ada satu kata. Pasrah. Menerima yang harus dijalani, karena saya sedang diuji. Tepat seperti tahun lalu, Desember yang sama, seakan diminta untuk Percaya, untuk Yakin, untuk Sabar akan pertolonganNya.

Satu airmata jatuh lagi, bukan karena sedih, melainkan merasa tak berdaya dengan serupanya ujian dalam selang waktu tepat satu tahun.

Namun di balik rasa tak berdaya, entah kenapa terasa bahwa Dia Yang Maha Kuasa sedang menyelipkan rasa bahagia. Saya mengenalinya melalui ketenangan itu. Setahun lalu dengan ketenangan yang sama. Tidak ada yang hilang, Dia menyimpannya dan saya harus Percaya dan Sabar. Itu saja.

Pasrah. Percaya dan Sabar. Help is on the way…

Tersentak karena tiba-tiba terlintas di benak pengalaman serupa untuk bergantung sepenuhnya padaNya, -percaya dan sabar-, ketika kehilangan arah dan kemalaman di tengah-tengah Gayasan National Park di Korea Selatan dulu… (Klik disini untuk baca ceritanya)

Bismillah.

Tetapi dasar manusia. Walaupun diupayakan tenang, kecemasan dan kepanikan mulai menghajar diri sepanjang langkah menuju lobby. Bagaimana kalau benar-benar harus ke Hanoi? Bisakah mengingat rute semalam? Bagaimana kalau nanti… Bagaimana kalau…dan banyak lagi ‘bagaimana’

Sampai di depan konter hotel, lagi-lagi saya terdiam sebentar menarik nafas sementara petugas laki-laki berwajah ramah itu tersenyum menyapa dengan standar layanan lalu menunggu.

Mmm… err…. (mulai panik)…. Hmm… I think… (bingung mau mulai dari mana dan bagaimana) I think… hmm… my passport is lost… perhaps it fell somewhere on the ancient city last night…

Dia mendengarkan seksama dan terkejut. Matanya membelalak.

“Do you mean, hmmm… err… lost? Your passport is lost?”

Saya mengangguk pasrah. Ya Tuhan… tolong saya…

Tiba-tiba petugas hotel itu diam, tampak terpikir sesuatu.

“Hold on… wait… wait… It’s lost … or we still keep it”, nada kalimatnya bertanya, mungkin ke diri sendiri.

WHAAAT??? – Tentu saja ekspresi dengan tiga tanda tanya ini hanya ada di pikiran.

Petugas hotel itu berbalik badan dan dengan cepat dia memeriksa dokumen-dokumen di balik konter dan mengambil satu folder plastik transparan. Sedetik kemudian, dia membalik dan mengangkat folder plastik tadi ke hadapannya.

Dia tak perlu membukanya karena terlihat si buku kecil berwarna hijau kebiruan di folder plastik itu!

“Yessss…that’s my passport!!!”, teriakan saya cetar membahana. Dua wajah tersenyum lebar.

20160113_071709E1

Dalam sekejap mata sekujur badan rasanya disiram air dingin. Hati yang cemas, langsung hilang. (Lagi-lagi teringat rasa yang sama setahun lalu, ketika suara di ujung telepon mengatakan bahwa dia menemukan sebuah dompet hitam di depan konternya). Rasa dingin yang mengguyur, sama rasa, tak beda.

Jadiiiii…. Selama ini mereka belum mengembalikan? Mereka menyimpannya. Mengapa tidak mengatakannya? (Lalu mengapa saya tak ingat paspor belum dikembalikan? Sedetik kemudian teringat kembali saat check-in, ada dua petugas yang melayani, -yang memberikan welcome drink dan merekomendasikan rencana tur serta yang melakukan registrasi-, berada di dua meja yang berbeda. A distraction!

Walau tak ada maaf telah memisahkan paspor dengan pemiliknya, petugas hotel itu segera menyerahkan paspor yang tentu saja diterima dengan bahagia luar biasa. Saya ciumi buku kecil itu dan ditempelkan ke dada seakan kekasih yang tak boleh lepas lagi. Sekujur tubuh tersenyum penuh rasa syukur yang tak henti. Bayangan kesulitan menghadapi polisi dan keterpaksaan terbang ke Hanoi langsung memudar dan berganti dengan gambar candi-candi kerajaan Champa di My Son. Ah, liburan kini bisa dilanjutkan lagi. Tubuh bergegas untuk sarapan yang tadinya hampir saja dilewatkan.

Sekali lagi saya diberikan kesempatan merasakan Cinta yang luar biasa, begitu lengkap, begitu dekat dan tak terbandingkan, tak terdefinisikan… I am so blessed.

Nepal: Pemandu, Warna Lain di Kuil Pashupatinath


“Be sure you put your feet in the right place, then stand firm” – Abraham Lincoln

Dalam sebuah perjalanan, bersamaan waktu ketika saya mendapatkan pembelajaran tentang Kematian Yang Membahagiakan di Kuil Pashupatinath, sejatinya saya perlu menebusnya berupa pemberian pembelajaran dalam bentuknya yang lain kepada seorang pemandu. Suatu kesempatan yang memiliki multi aspek pembelajaran yang begitu indah.

Tak jauh sebelum sampai di kuil Pashupatinath, saya bertemu dengan seorang pemuda. Jelas ia  menawarkan menjadi pemandu, namun dengan halus saya menolaknya. Walaupun tak mudah menyerah, ia tetap mendesak dan -ia memberi diskon untuk pelayanannya-, saya tetap menolaknya. Bukan apa-apa, saya hanya ingin menikmati mengikuti arah suara hati yang menuntun tanpa harus menuruti seseorang. Ia memahami dan pergi meninggalkan saya yang melangkah menuju wajah-wajah ilusif.

Hiasan berwajah di bagian atas rumah puja
Hiasan berwajah di bagian atas rumah puja

Tetapi kesendirian saya tak lama karena seorang pemuda seusia mahasiswa mendekati dengan senyumnya yang lebar. Tak perlu lama mengetahui bahwa dia seorang pemandu wisata di Kuil Pashupatinath. Saya menolaknya. Tetapi sama seperti yang sebelumnya, ia tak mudah menyerah dan terus menawarkan jasanya dengan lebih intens ditambah berbagai rayuan sambil menghadang langkah saya. Saya terhenyak, tapi masih tersenyum sambil menggelengkan kepala. Memberikannya toleransi, memohon pengertian.

Detik berjalan lambat, sang pemandu muda itu tetap diam menghalangi jalan hingga saya bergeser ke samping. Namun saat melangkah, secepat itu pula dia bergerak mengikuti langkah saya dan lagi-lagi menghalangi jalan di depan saya. Terpana akan tindakannya, mengakibatkan saya menatapnya langsung di matanya, mencari maksud tindakannya. Sungguh tak terlihat kejahatan, melainkan sebersit keangkuhan bercampur ketakpedulian khas kebeliaan usia yang kemudian diperkuat dengan kata-katanya sendiri.

“Anda tidak perlu membayar saya, Anda hanya perlu mendengarkan saya karena saya sangat mengetahui seluk beluk kuil ini dan saya suka bercerita tentang kuil ini”

Saya memicingkan mata tak percaya dengan apa yang saya dengar. Benarkah? Saya baru saja hendak menanggapi apa yang dia katakan itu, namun dia telah mengulang pernyataannya bahkan tak memberi ruang dan waktu bagi saya untuk membantunya atau sekedar mengingatkan akan risiko ucapannya. Dia benar-benar tak peduli dan sepertinya beranggapan saya telah ditaklukkan hingga mulai menggiring dalam jaring persepsinya sendiri. Dia yang terpenjara

Mereka yang terpenjara
Mereka yang terpenjara

Dan saya yang tak sekalipun setuju dengannya, tetap menjejak di  alam senyata-nyatanya sekaligus memutuskan untuk mengikutinya selama sesuai dengan minat saya sambil berharap semoga ia mendapat pembelajaran.

Bahkan ia tak menjelaskan apapun mengenai latar belakang deretan rumah puja yang cantik di bukit di atas Kuil Pashupatinath atau pun tak sukarela menjadi penerjemah dari para Sadhu. Ia hanya mengobrol sesaat dengan para Yogi itu dalam bahasa Nepal berharap saya bertanya kepada para Sadhu itu agar ada ada lembaran uang yang berpindah tangan.

Saya tak ingin mengikutinya menuju puncak bukit. Selain tak ada obyek menarik, saya tak suka mengeluarkan energi mendaki bukit saat tubuh sedang lelah. Tetapi akhirnya ia berhasil membuat saya mengikutinya ke puncak bukit karena saya ingin melihat keseluruhan Kuil Pashupatinath dari tempat yang tinggi.

Ternyata benar, hanya dengan sedikit pemandangan Kuil Pashupatinath, -karena tertutup pepohonan-, dan sebuah kandang berpagar untuk rusa totol seperti di Bogor, saya semakin merasa tak nyaman berada di puncak bukit yang sepi. Hanya beberapa menit saya berada di atas lalu melangkah turun kembali yang membuat wajahnya seperti menyesal karena tidak bisa berlama-lama di atas.

Kathmandu from Pashupatinath Hill
Kathmandu from Pashupatinath Hill

Perempuan memiliki intuisi lebih untuk bisa mendeteksi sesuatu yang berjalan tidak pada tempatnya. Demikian pula keberadaan pemuda itu. Dan saya masih memberi toleransi terhadap denting dari dalam kalbu sampai batasnya yang terakhir. Lagi-lagi ia berupaya untuk mendekat secara fisik kepada saya dan beruntungnya saya mendapat celah untuk mengalihkan pembicaraan.

Karena sedang berada di kuil tempat kremasi, pembicaraan mengarah pada hal-hal yang berbau spiritual dan dengan idealisme kemudaannya ia bercerita dengan penuh semangat bahwa ia tak percaya pada dewa-dewa Hindu yang jumlahnya ribuan itu, ia tak percaya pada agama. Ia lebih menitikberatkan pada pandangan untuk menikmati hidup saat sekarang. Menikmati kebebasan kemudaan. Waktu yang tak akan kembali lagi. Tak ingin menghakimi, saya membiarkan cerita itu mengalir tertelan waktu.

A Tree that has lost its leaves
A Tree that has lost its leaves

Waktu terus melangkah. Intuisi saya bekerja baik. Sesuatu berjalan tidak pada tempatnya. Sebagai perempuan independen yang datang sendiri ke kuil, ketika berjalan dekat dengan yang berlawanan jenis, secara otomatis kewaspadaan saya tingkatkan walau tetap percaya akan perlindungan Yang Kuasa. Diantara lisannya yang cenderung tak terkendali sesekali terucap nyata upaya pendekatannya sementara dia dibatasi keraguan oleh fisiknya. Terima kasih kepada Yang Membukakan Jalan karena perjalanan hidup telah membuat mampu melihat semua itu seperti membaca buku yang terbuka.

Sambil melangkah turun ke arah sungai, dia bertanya balik kepada saya apakah saya mempercayai Yang Kuasa Pemilik Semesta? Saya tidak ragu dalam menjawab tetapi sempat terpikir bahwa Dia Yang Penuh Cinta sedang memberi makna kepada saya. Oleh karenanya sambil melangkah, saya bercerita singkat tapi penuh rasa syukur bahwa saya termasuk orang yang senantiasa mendapat perlindungan dari orang-orang yang berniat buruk kepada saya. Ada tangan-tangan yang tak terlihat menjaga saya. Kadang dalam waktu singkat diperlihatkan karakter asli mereka yang berniat buruk, tak jarang keburukan menimpa kehidupannya. Sambil lalu tak serius saya katakan kepadanya bahwa malaikat penjaga saya sepertinya merupakan sosok pekerja keras yang penuh kekuatan. Dan setelah ucapan itu dari ekor mata saya terlihat si pemuda menghentikan langkah secara mendadak dan memperhatikan saya. Saya tak tahu kenapa.

Lalu dekat kuil kecil yang pada panelnya dihiasi Kamasutra, ia menceritakan beberapa posisi yang ada di panel sambil tertawa-tawa dengan nada yang mengarah tak senonoh. Saya mengabaikan apa yang terdengar di telinga. Saya lebih mengingat penjelasan seorang pemandu yang lebih bijak saat Meniti Jalan Cinta di Durbar Square Kathmandu

Perlu lewat tempat orang-orang yang telah makan asam garam kehidupan
Perlu lewat tempat orang-orang yang telah makan asam garam kehidupan

Sejak awal tak ada kesepakatan dengan pemuda itu dan saya pun tak merasa terikat dengannya hingga saya melanjutkan langkah ke kuil-kuil lain di situ. Sejenak saya bisa menikmati karena ia tak terlihat mengikuti saya, namun saat hendak melangkah mengikuti jalan keluar, si pemuda tadi entah dari mana muncul kembali bersama ranselnya. Tanpa ditanya, ia bercerita bahwa sesaat dia menghilang karena mengambil ransel yang dititipkan di salah satu kios. Saya mengangkat bahu sambil mengira-ngira kemana arah bicaranya.

Saya terus melangkah mengikuti jalan keluar menuju tempat parkir. Jalan ini bukan jalan keluar yang umum bagi warga lokal sepertinya. Sudah waktunya untuk memastikan. Saya berhenti dan menyatakan waktu berpisah sudah tiba karena saya akan melanjutkan perjalanan ke Bouddhanath.

Tapi secepat kilat, tanpa tedeng aling-aling ia mengatakan, karena rumahnya dekat dengan Bouddhanath, ia bisa mengantar dan memandu kunjungan saya di Bouddhanath. Dan tidak selesai sampai di situ. Dengan nada penuh rayuan ia melanjutkan,

“…Setelah Bouddhanath kita minum bersama dalam happy hours…”

<Plaaak… Tangan saya melayang ke wajahnya. Kurang ajar!>

Walaupun adegan menampar itu hanya khayalan saya saja, kegeraman saya tak terhindarkan. That’s it. Saya tak nyaman bahkan terganggu dengan nada dan lisannya. Tak ada sedikitpun nada kesopanan.

Waktunya menarik garis batas. A moment of truth.

A symbol of truth
A symbol of truth

Saya menolak dengan tegas termasuk menolak dirinya menumpang di taksi yang telah saya sewa seharian sambil mengucapkan terima kasih kepadanya selama di Kuil Pashupatinath itu lalu melangkah pergi meninggalkannya.

Sesaat berlalu, sepertinya ia tersadar belum dapat jasa pemanduan lalu mencoba mengejar dan berhenti di depan saya. Mencoba meminta apa yang dia pikir menjadi haknya. Saya menggelengkan kepala, tidak mau mengeluarkan lembaran uang sepeserpun. Dia mengubah ekspresi wajahnya sebagai orang yang menderita, kali ini ada nada memohon (sejak tadi kemana?). Saya tetap menggelengkan kepala. Dia mengubah caranya lagi. Dia mengatakan bukankah dia telah banyak bercerita di Kuil Pashupatinath ini…

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, saya memotongnya dengan tegas dan tak memberinya ruang, menatap matanya langsung. Bukankah sejak awal dia sendiri yang mengatakan, bahwa saya tidak perlu membayarnya, saya diminta untuk mendengarkannya saja karena dia sangat mengetahui seluk beluk kuil dan dia suka bercerita tentang kuil ini. Saya mengulanginya dengan perlahan, saya hanya diminta mendengarkan dan telah saya lakukan. Saya mendengarkan ceritanya tanpa perlu membayar! Karena itu sesuai perkataannya sendiri.

Dia terpana.

Saya menatap tajam kearah matanya, membiarkan dia menyaksikan ketegasan dan keseriusan yang ada dalam lisan. Satu kali menelan obat pahit, selamanya akan menjadi anti-body.

Kemudian saya melangkah pergi meninggalkan dia dan Kuil Pashupatinath yang indah dengan semilir angin jelang malam. Si pemandu tak pernah tahu jatahnya bicara telah tersalurkan di kotak yang disediakan untuk para lanjut usia di saat dia mengambil ransel.

Ada Cerita Menyebalkan di atas Kursi Pesawat


Dalam setiap penerbangan tidak jarang terjadi hal-hal tak terduga saat duduk di kursi pesawat yang membawa kita terbang yang mungkin sangat menjengkelkan hingga rasanya berada di tepi jurang kesabaran. Susahnya, di kala badan sudah lelah karena perjalanan, biasanya tepi kesabaran cepat sekali terjangkaunya dan terjadilah hal-hal ‘ajaib’ yang memalukan saat kejengkelan atau kemarahan menguasai diri. Tetapi serunya, setelah beberapa waktu, kejadian itu berubah, bisa jadi terlihat sebagai sesuatu yang lucu untuk dikenang, sebagai warna indah perjalanan itu sendiri….

Nomorku, nomormu…

Di hampir setiap penerbangan budget, saya membeli nomor kursi dengan alasan khusus dan tentu saja uang yang tidak sedikit. Kebanyakan window seat jika saya mau tidur sepanjang perjalanan atau justru sedang ingin mengambil foto luar. Kadang kala saya memilih bagian lorong karena ingin kemudahan akses untuk bisa cepat turun dari pesawat atau akses toilet.

P1000046-1

Namun karena saya selalu punya alasan untuk duduk di kursi itu maka saya akan sangat cepat sampai pada tepi kesabaran jika ada orang hendak merampasnya. Karena saya sangat tidak toleran untuk hal ini. Pernah suatu ketika, seorang ibu ngotot menduduki kursi saya dan berusaha negosiasi karena ingin berdekatan dengan anaknya. Biar terbang sampai bulan pun, saya tidak akan memberikan kursi saya 😀 kecuali dia kasih tiket gratis ke destinasi lain… Tetapi untuk beli kursinya sendiri saja sudah tak bersedia apalagi kasih tiket gratis kan?

Ada kejadian mirip, kali ini seorang pramugari yang langsung meminta saya menunjukkan boarding pass karena seorang ibu berkata bahwa saya duduk di kursinya sementara saya sudah pasti menduduki sesuai nomor kursi yang ada pada boarding pass. Jengkel, saya membongkar tas tangan mencari boarding pass hanya untuk menunjukkan bahwa si pramugrasi itu tidak memeriksa lebih dulu boarding pass si ibu yang baru datang dan yang nyata-nyatanya bingung menbaca nomor kursi di boarding passnya sendiri. Seandainya ada interface langsung dari pikiran saya ke film komik, mungkin terlihat di layar saya sedang menggepengkan si pramugari bertampang lempeng itu pakai mesin giling.

Lain lagi ceritanya ketika berada di sebuah penerbangan pulang menuju Kuala Lumpur, saya membeli kursi di jendela dalam area quiet zone karena berkeinginan untuk istirahat. Quiet zone merupakan wilayah yang tenang, tidak diperuntukkan untuk anak dan bayi dan jika bicara harus dalam volume rendah. Malangnya di belakang saya duduklah seseorang yang mendapat kursi tanpa mengetahui peruntukan dari area kursi tersebut. Sejak take off, mungkin karena kebeliaannya, tanpa peduli ia memasang music hip-hop dari negaranya melalui speaker dari music playernya. Sebenarnya saya penyuka segala macam musik, tetapi saat itu kondisi tubuh benar-benar lelah ingin beristirahat dan menginginkan suasana tenang seperti yang dijanjikan oleh maskapai. Saya yang telah membayar mahal untuk kursi itu, pada awalnya mencoba untuk mengabaikan musik yang dipasang pada volume cukup keras itu. Tetapi pramugari tak juga memberitahu pemuda itu, bisa jadi ia sejenis yang sungkan atau bisa juga yang tidak mau tahu, sehingga saya memanggil pramugari dan bertanya apakah memang kursi yang saya dan orang itu duduki itu termasuk wilayah quiet zone. Pramugari itu mengiyakan. Saya sampai mengulang jawabannya supaya pasti dan karenanya saya minta dia untuk membicarakan hal itu kepada penumpang di belakang saya. (Sabar dimanakah kamu???)

Pada saat saya bicarakan dengan pramugari itu, karena saya duduk di dekat jendela, maka saya harus melampaui dua orang. Orang yang duduk di bagian lorong pasti mendengar pembicaraan saya dan sepertinya ia berasal dari Negara yang sama dengan pemuda itu. Hebatnya, saat turun di Kuala Lumpur, ransel saya diambilkan olehnya, mungkin sebagai penebusan atas apa yang dilakukan salah satu bangsanya (mungkin juga karena dia memang baik hati!) dan akibatnya gantian saya yang merasa tidak enak hati karena mendapat perlakuan baik dari orang.

Tetapi pernah juga ada orang yang menduduki kursi saya dan ketika saya bertanya padanya, bahkan dia tidak tahu cara membaca informasi di boarding pass dan ia menganggap bisa duduk dimana saja. Melihat dirinya yang lusuh dan sepertinya baru kali pertama naik pesawat terbang, akhirnya saya serahkan dia ke Pramugari untuk mencari tempat duduknya yang ada di bagian depan, padahal saat itu saya mendapat tempat di bagian belakang. Tidak terbayangkan dia harus berjalan melawan arah menembus barisan orang yang tidak sabar untuk mencapai tempat duduknya masing-masing.

Menendang Kursi di Depannya

Sudah sewajarnya orang duduk manis di kursi sepanjang perjalanan dan menghargai orang lain yang duduk di kursi yang lain. Tetapi tak jarang, ada orang yang tak betah duduk lama lalu merasa duduk di bale-balenya sendiri dengan lutut atau telapak kaki menekan kursi di depannya. Alhasil saya yang duduk di depannya serasa ditendang-tendang. Bagaimanapun seperti orang bijak bilang, to err is human, to forgive divine… sehingga walaupun itu penyebabnya kaki anak kecil, biasanya saya akan memohon pengertian dari keluarga atau orang dewasa yang ada didekatnya. Anak kecil mungkin tidak mengetahui atau tidak dididik oleh keluarganya untuk duduk manis, tetapi paling tidak orang dewasa yang mendidiknya seharusnya mengerti kesopanan. Lagi pula bagaimana bisa tidur jika kepala atau punggung  jadi terpental-pental? Sekali lagi, si sabar bersembunyi entah dimana…

Jempolnya nyelonong…

Saat itu saya dalam penerbangan dengan menggunakan pesawat ATR72 di Myanmar. Pesawat itu memang dibuat bukan untuk penumpang-penumpang bertubuh tinggi, sehingga tentu saja bagi mereka sangat kesulitan meletakkan kakinya yang panjang. Karena ransel saya tidak muat di kabin atas, saya jejalkan di bawah, di dekat kaki. Saat itu kursi di sebelah saya kosong. Setelah terbang beberapa menit, saya terkejut setengah mati karena melihat jempol kaki yang besar tak beralas nyelonong di bawah kursi sebelah saya.

P1020441

Beruntung hidung saya saat itu sedang tidak sensitif mencium  bau jempol, tetapi karena jarang mengalami hal itu, saya mengabadikan si jempol itu sambil senyum-senyum membayangkan seandainya ada jarum gede tentu akan saya tusuk jempol itu seperti penyihir yang menusukkan jarum ke boneka voodoo-nya. Bayangan dia akan menarik kakinya hingga lutut dan kakinya terbentur kursi besi karena ditusuk jarum itu sangat komikal membuat saya tersenyum lebar penuh kejahilan …

Siapa Tahu Dia Mengerti…

Bersama teman, -yang juga kawan satu sekolah dulu-, saat melakukan perjalanan bersama sudah sepakat untuk tidak membicarakan orang dalam satu pesawat. Selain karena tak baik secara moral, kami sangat mengingat cerita guru sekolah kami, yang ceritanya waktu itu sedang antri dan entah bagaimana terdorong orang di belakangnya. Karena sedang di Belanda dan menganggap tidak ada yang memahami bahasa Jawa, beliau sedikit mengomel dalam bahasa Jawa yang kurang lebihnya berarti, dasar orang bule tidak sabar, pasti udelnya bodong. Tak dinyana, bule yang tak sengaja mendorongnya itu langsung meminta maaf berkali-kali dalam bahasa Jawa Halus, sambil mengatakan bahwa udelnya tidak bodong (bodong: pusar yang muncul keluar) !!!

Lagi-lagi soal bahasa yang dipahami, siapa yang sangka saya diajak bicara oleh seorang bule totok dari Inggris dalam bahasa Indonesia bercampur Melayu di dalam pesawat ATR berbaling-baling di Nepal? Berapa nilai kemungkinan orang asing yang bisa berbicara dalam bahasa Indonesia di pesawat berpenumpang 60-an itu?

Bagaimana Kalau Ada Sepuluh?

Masih ada cerita lain… Dalam sebuah penerbangan saya duduk di belakang ibu yang memiliki bayi. Saya sudah bersiap-siap untuk menutup telinga jika si bayi menangis sepanjang perjalanan. Tetapi si ibu sepertinya santai saja. Dan benarlah, adegan bayi menangis sudah dimulai sejak pesawat menuju run-way dan semakin keras dan semakin keras. Suara bayi menangis menyaingi deru pesawat yang terbang melesat mencapai ketinggian. Kondisi penumpang yang tidak diperbolehkan bangun membuat seisi pesawat menikmati irama tangis si bayi. Tetapi hingga tanda sabuk pengaman dipadamkan, si bayi tidak berhenti menangisnya. Orang-orang mulai menoleh memberi wajah tak senang kepada sang ibu. Saya teringat ketika membawa terbang anak saya yang ketika itu berusia 11 bulan. Persiapan matang saya lakukan, dari mainan-mainan, botol susu, botol air putih, hingga konsultasi dulu ke dokter untuk tips terbangnya. Sehingga bayi saya tidak mengganggu orang lain. Namun tak semua orang bisa sempat melakukan persiapan untuk bayinya saat terbang. Bahkan saya sempat melihat sang ibu hanya pasrah tak tahu apa yang dilakukan bahkan menyuruh nanny-nya untuk menenangkan si bayi. Tak hanya itu, saya sempat mendengar seorang laki-laki muda di seberang lorong memanggil pramugari untuk meminta sang ibu menenangkan anak itu, dan jika tidak bisa diam, dia minta dipindahkan ke belakang padahal pesawat penuh. Saya tersenyum mendengarnya, dia mungkin belum memiliki anak. Lagi-lagi saya hanya berpatokan cerita orang bijak. Bagaimana kalau ada 10 bayi menangis bersamaan? 😀

Lain lagi ceritanya ketika saya dalam perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Kathmandu, di sebelah saya duduklah seseorang yang tampaknya baru selesai buang hajat besarnya saat di Kuala Lumpur. Bisa jadi dia tidak membersihkan dirinya dengan baik atau tak sadar bahwa bau buangannya menempel di pakaiannya. Empat jam lebih sejak take off dari Kuala Lumpur hingga mendarat di Kathmandu saya tak bergerak di kursi menikmati ‘harum’nya itu. Melihat dia sepertinya sebagai pekerja migran, hati saya tersentuh. Bisa jadi dia pulang demi keluarganya yang sudah lama tak dilihatnya. Tetapi empat jam lebih dengan bau-bauan seperti itu? Saya berhasil bertahan melewati empat jam itu tanpa ekspresi, tanpa muntah atau menutup hidung secara terang-terangan yang akan menyakitinya. Saya mengatasinya hanya dengan mengingat cerita orang bijak. Untung satu orang, bagaimana jika depan, belakang dan sekeliling saya dipenuhi orang dengan bau seperti itu? Satu orang jauh lebih baik daripada 10 orang! Dan bukankah hanya sekali dalam perjalanan ini?

Kursi-kursi pesawat itu punya cerita masing-masing.

Tak luput saya menyaksikan orang yang tadinya duduk di depan saya, saat baru beberapa detik berdiri antri di lorong tiba-tiba jatuh pingsan menimpa orang di belakangnya, yang akhirnya mengacaukan antrian keluar pesawat.

Atau mana yang lebih menyebalkan saat tidak bisa tidur, mendengar pertengkaran sepasang kekasih dengan volume rendah tetapi kasar hingga si gadis menangis lalu mendadak berdiri lari ke toilet mungkin karena tidak tahan lagi, ataukah suara kecup-kecup mesra berkepanjangan di tengah keremangan terbang malam? *cari tutup kuping

Bagaimana dengan Anda, punya cerita juga saat berada di kursi pesawat?

Dompetku Hilang di Luar Negeri…!!!


A Lesson with Love
A Lesson with Love

Macau, hari ketiga liburan akhir tahun 2014.

Saat check-in, Customer Service Hotel di Macau itu menunggu saya membongkar tas mencari dompet. Dan isi tas telah tumpah ruah tapi dompet isi kartu kredit dan uang tunai tidak ada wujudnya sama sekali. Hilang! Dompet saya hilang! Dan saya di Macau!!

Tetapi tetap saja saya orang Indonesia yang masih beruntung! Untung kamar sudah dibayar lunas sehingga kunci kamar bisa diserahkan tanpa harus deposit. Petugas itu mungkin kasihan terhadap saya, atau bisa juga supaya saya cepat menyingkir karena antriannya sudah panjang.

Di kamar, saya terduduk di karpet di depan jendela besar selebar kamar, membiarkan pikiran kacau balau berkecamuk dengan segala macam rasa, -galau, jengkel, takut, panik, kalut, cemas, dan segala macam rasa negatif lainnya yang menjadikan jantung berdebar, nyawa serasa hilang-, dalam diam. Segala imajinasi buruk tergambar di benak. Tidak ada cukup uang untuk beli tiket kembali ke Hong Kong. Tidak ada cukup uang untuk hotel bila mau menunggu tanggal pulang, kalau pulang sekarang, tidak cukup untuk beli tiket, belum lagi soal makan. Semua kartu kredit, kartu ATM, KTP, uang! Dompet yang lain hanya ada kurang 200 HKD. Terbayang jelas, liburan yang baru 3 hari dijalani sudah hancur lebur. Sungguh semua bayangan buruk yang mengerikan hilir mudik di benak laksana film.

Saya menarik nafas panjang untuk berpikir lebih tenang dan fokus pada apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Saya harus menelusuri ke belakang sampai saat terakhir yakin masih memegangnya.

Saya merasa yakin masih memegangnya saat check-out hotel di Tsim Sha Tsui siangnya. Lalu apakah jatuh di hotel?  Paling tidak hotel itulah saya harus hubungi pertama kali. Dengan gemetar saya meneleponi hotel di Hong Kong itu. Saya jelaskan masalahnya dan untunglah petugas cukup ramah menanggapi serta meminta saya menelepon kembali setelah 10 menit. Ah, waktu berjalan seperti kura-kura, lama sekali rasanya!

Setelah 10 menit penuh kecemasan, saat menelepon kembali terdengar suara ramah yang terasa menusuk hati ketika mereka menyampaikan penyesalan dompet hitam tidak ditemukan di lobby maupun di kamar. Tak percaya begitu saja, saya tanya lagi dan lagi, mungkin disana atau disitu. Tetapi jawaban tetap sama. Tidak ada. Menyesal, mereka menutup telepon. Satu tempat sudah saya coret. Tak ada dompet saya di sana! Woaah…

Saya kembali mengingat-ingat, tidak mungkin selama di MTR, karena saya menggunakan kartu Octopus dan tidak pernah membuka dompet. Apakah dicopet? Mungkinkah di Hong Kong ada copet??

Lost wallet
Lost wallet

Berikutnya tempat membeli tiket ferry dari Hong Kong ke Macau. Saya tidak yakin tetapi sepertinya memang saya mengeluarkan dompet hitam selain dompet paspor yang juga terselip uang untuk membeli tunai. Dompet paspor memang sengaja saya pisahkan dengan dompet uang.

Dengan bergegas saya mencari potongan tiket ferry Turbojet Hong Kong – Macau untuk mendapatkan nomor teleponnya. Berhasil. Lalu dengan berdebar saya menghubungi nomor telepon di Hong Kong itu dan beruntung ditanggapi baik oleh pihak TurboJet selaku operator Ferry dan seperti yang sebelumnya ia meminta saya waktu 15 menit untuk pemeriksaan.

Lagi-lagi saya mengalami penyiksaan waktu yang terasa berjalan sangat lambat. Dan ketika saya meneleponnya kembali, ia memberitahu bahwa baik di ferry maupun di wilayah layanan TurboJet tidak ditemukan dompet saya. Saya seperti jatuh terkapar, semakin panik dan tak mau percaya begitu saja dan saya minta mereka memeriksa di toilet karena saya sempat ke kamar kecil itu. Tetapi dengan saya minta itu, mereka justru meminta saya menghubungi gedung terminal ferry karena toilet berada di luar wilayah operator ferry. Kali ini saya terhempas seperti memasuki ruang hampa, melayang tak jelas arah! Saya di Macau, dan saya tidak tahu dompet itu apakah ada di Hong Kong atau di mana dan jika memang benar, itu artinya cross border atau melewati imigrasi… Whoaaaaa……

Saya menutup mata memohon kekuatan Ilahi. Hanya dariNya saya mendapatkan kekuatan. Dari google saya mendapatkan nomor telepon terminal ferry di Hong Kong dan langsung menghubunginya. Petugas perempuan itu ramah dan meminta waktu 15 menit untuk memeriksa. Tetapi lagi-lagi, dompet saya tak ada disana baik di ruang tunggu maupun di toilet. Saya terpuruk lagi.

Where's my wallet?
Where’s my wallet?

Pertolongan Tuhan itu datang melalui manusia lain. Sebelum menutup telepon, petugas penuh empati itu menjelaskan mengenai wilayah tanggung jawab. Jika jatuh di ferry maka itu menjadi tanggung jawab operator ferry, jika jatuh di ruang tunggu sebelum boarding atau setelah imigrasi di terminal, maka itu menjadi tanggung jawab terminal ferry. Saya bertanya bagaimana jika jatuh saat membeli tiket? Dia menjawab dengan yakin bahwa itu menjadi tanggung jawab Operator Ferry. Entah kenapa, rasanya seperti mendapatkan segelas air di gurun pasir, kali ini rasa dingin yang menguatkan.

Saya menghubungi kembali Operator Ferry TurboJet di Hong Kong. Dengan bermuka tembok walaupun dipingpong terus, saya tidak berhenti. Petugas TurboJet sepertinya jengkel dan setengah hati menjelaskan tidak ada dompet yang ditemukan di sana. Saya tidak peduli dengan nada suaranya dan ngotot minta mereka memeriksa area tempat saya membeli tiket. Dan entahlah, mungkin karena kesal menghadapi saya yang tak mau menerima kenyataan atau gembira karena bisa melemparkan tanggung jawab ke orang lain, petugas operator ferry itu menyarankan untuk langsung menelepon konter tiket. Entah mengapa, ada lagi rasa dingin yang terasa menguatkan mendapatkan informasi itu walaupun saya harus setengah mati memahami omongan angka dalam bahasa Inggeris dengan lidahnya yang penuh aksen Mandarin. My last resort!

Tetapi apapun kondisinya, dompet saya tetap lenyap. Saya tahu harus segera melakukan pemblokiran, tetapi entah kenapa seperti ada bisikan untuk tidak melakukannya dulu.

Tanpa sadar saya sudah duduk di karpet itu sepanjang siang dan sore. Hati terasa amat lelah. Saya kembali mencari kekuatan dariNya dengan refleksi diri, melihat kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Sebuah déjà vu, seperti pernah mengalaminya, dan semuanya karena saya melakukan kesalahan!

Tersadarkan bahwa saya sudah menjadi orang yang sangat berduri saat ini, yang menyakiti siapapun yang mendekat. Saya melihat kepada orang-orang tercinta dan tumpah memeluk mereka semua. Memohon maaf atas apapun yang saya lakukan. Kepada mereka saya katakan harus mengikhlaskan dompet yang hilang dan berharap mereka juga bisa menerima dengan ikhlas pula situasi liburan yang harus disesuaikan dengan kejadian ini.

Ya Tuhan, saya sudah ikhlas dengan kehilangan ini…

Saya memeluk mereka semua, mengikhlaskan apapun yang terjadi…

Pelukan penuh cinta itu menguatkan. Saya katakan akan menghubungi nomor telepon ini sebagai langkah terakhir. Saya akan terus berupaya selagi masih ada jalan, saya percaya pada pepatah ‘take an extra mile further while the others had already stopped’. Namun tetap berdasar pada keikhlasan. Jika dompet itu memang tidak ada, itulah yang terbaik!

The brighter side
The brighter side

Sebelumnya saya mengerahkan jiwa raga berdoa dengan khusuk, -seperti dulu ketika sudah malam dan saya masih belum bisa menemukan jalan pulang dari Gayasan National Park di Korea Selatan-. Kali ini saya menceritakan kepadaNya betapa dompet itu berarti untuk mendukung liburan yang kali ini saya dedikasikan untuk keluarga. Jauh di lubuk hati saya meminta pengampunan dan menerima semua pembelajaran ini karena saya percaya Tuhan Maha Kasih, Maha Baik. Di hadapanNya, saya serahkan semua padaNya.

Lalu dengan mengucapkan namaNya, saya menghubungi nomor telepon Hong Kong itu sebagai langkah terakhir upaya saya menemukan dompet hitam saya yang hilang. Dengan sopan saya jelaskan kasus yang saya alami kepada suara laki-laki diujung telepon. Dan seperti biasa, ia menanyakan ciri-ciri dompet yang hilang itu. Ia juga menanyakan asal negara saya dan nomor yang bisa ia hubungi. Saya berikan semua yang dia minta.

“Indonesia?”, ia mengulang pertanyaan itu sedikit ragu yang terasa di telepon. Tanpa sadar saya mengangguk mengiyakan.  Lalu dengan sedikit bergumam, ia menceritakan bahwa ia menyimpan sebuah benda hitam yang di dalamnya terdapat kartu identitas dari Indonesia, kartu kredit dan uang tunai. Saya terkesiap, dan tak menunggu dia menyelesaikan kalimatnya dan memotongnya, ‘Sorry, it means… did you keep my wallet?”

Dia tidak menjawab langsung dan mengingatkan saya tetap harus menunjukkan identitas sebagai pemilik sah dompet tersebut. Dan menegaskan ia akan menyimpannya sehingga saya tidak perlu cemas. Dia juga minta maaf karena telah memeriksa dompet dan menemukan kartu kredit dan kartu identitas Indonesia dan beberapa bank notes. Saya sebutkan bank notes yang ada di dompet dan ia membenarkan. Kali ini saya benar-benar seperti terlontar setinggi-tingginya ke angkasa. Dompet saya ada padanya. Ya Tuhan… saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar.

Walaupun belum 100%, intuisi terdalam telah memastikan memang itu dompet saya! Saya seperti terbang dengan daya maksimum yang tak terbayangkan. Sepersekian detik itu saya rasa Tuhan sedang tersenyum lebar saat orang-orang tercinta termasuk saya berteriak bersama-sama dalam kegembiraan dan kebahagiaan, “Ketemuuuuuu…..!”

Dia Yang Maha Kasih selalu punya cara yang ajaib untuk melimpahkan anugerah penuh berkah kepada saya, kadang teguran cintaNya membuat haru biru tak karu-karuan. Rasa syukur saya tak bisa disampaikan dengan kata-kata. Saya memahami pembelajarannya. Kali ini dompet saya dikembalikan sebagai pembelajaran agar lebih berhati-hati menjaga semua yang berharga. Airmata bahagia untukNya. Terima kasih Tuhan walau ungkapan terima kasih itu tidak akan pernah cukup…

Ada yang pernah mengalami hal serupa?

<><><> 

Dan untuk kembali ke Hong Kong, Alhamdulillah suami ternyata membawa kartu ATM yang jarang sekali dibawanya saat liburan. Dan dengan uang itu keesokan harinya kami kembali ke Hong Kong untuk menjemput sang dompet yang telah terpisah denganku selama 24 jam. Dan kami bisa melanjutkan liburan akhir tahun…

Nepal 6 Bulan Lalu, Nepal Kini, Tetap Di Hati


Akhir pekan lalu adalah pertama kalinya saya kembali menulis mengenai Nepal setelah gempa dahsyat meluluhlantakkan negeri indah itu tiga minggu lalu, dan lagi, seminggu lalu. Gamang sekali memulai sesuatu dari sebuah kehancuran, tetapi saya percaya ada saat untuk bangkit, apapun rasanya. Ini adalah waktunya.

Sebelumnya saya tak bisa menyentuh tulisan yang belum selesai, apalagi melanjutkannya. Bahkan tak mampu menyentuh buku perjalanan Nepal tanpa airmata yang deras mengalir. Bisa jadi saya terlalu emosional, tetapi itulah yang dirasakan, rasa yang persis sama, dengan hati yang sama, ketika berada di Nepal enam bulan lalu.

Sebelum akhir pekan lalu, raga saya berada di sini, di dunia nyata, tetapi hati dan pikiran saya berada jauh di sudut-sudut Lembah Kathmandu yang magis yang kini luluh lantak dan hati saya pun seperti terkubur didalamnya, terpana tak percaya akan peristiwa tercabutnya sebuah cinta, seakar-akarnya. Meninggalkan lubang hampa. Kosong. Musnah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saya bertanya-tanya kepada diri sendiri, pembelajaran apa yang sedang diberikan untuk saya dengan peristiwa ini. Karena saya percaya, sebuah peristiwa yang memiliki makna bagi banyak orang diturunkan untuk menjadi pembelajaran bagi dunia, bagi banyak orang juga bagi orang-orang yang terkait di dalamnya dari sudut-sudut personalnya yang mungkin sangat pribadi. Termasuk saya.

Tetapi Tuhan selalu baik, memberi saya ruang dan waktu untuk menangis sedih, untuk tak percaya akan peristiwa itu, untuk menjadi manusia dengan segala keterbatasannya, untuk merasa boleh mempertanyakanNya. Dan Dia, selalu menjadi tempat tumpuan dari segala ketakpastian, selalu menjadi the solid ground, yang dengan sabar menunggu saya sampai saatnya tiba. Di saat terendah ketika tak ada jalan lain lagi selain jalan naik. Waktunya bangkit. Saat rebound.

Malam-malam duka penuh airmata, ketika kali pertama mendengar bencana itu, ketika angka kematian terus merangkak naik melampaui angka 8000-an orang dan terus bertambah lagi untuk gempa besar yang kedua, ketika melihat detik-detik luluh lantaknya bangunan-bangunan bersejarah itu, ketika mendengar longsor di perbukitan menelan banyak penginapan dan rumah-rumah beserta penghuni di dalamnya, ketika mendengar avalanche di pegunungan Himalaya itu mengubur para pendaki dan trekkers…

Dan semua yang mengharubiru itu tak begitu saja terbentuk. Enam bulan lalu selama saya menghirup udara Nepal, begitu banyak airmata tumpah karena rasa syukur atas semua keberkahan yang melimpah tak putus-putus. Membuat ikatan kuat dengan Nepal, yang mungkin makin memperkuat ikatan yang tak sadar telah terukir indah di hati berpuluh tahun sebelumnya.

Dan ribuan orang yang tak terselamatkan itu adalah bagian dari orang-orang yang saya lihat dalam keseharian di sana, yang penuh senyum, yang masih hidup dalam tradisinya, yang mencoba bertahan dalam kerasnya hidup. Mereka, yang tak terselamatkan itu, mungkin pernah bertemu saya dalam persimpangan hidup di Thamel, atau di Bhaktapur, atau di Lalitpur, atau di Kathmandu, di Nagarkot atau selama perjalanan saya di Nepal. Mereka, yang bisa jadi hanya berbilang beberapa senti dari keberadaan kita, yang tidak pernah kita sadari, yang tidak pernah kita ketahui, seandainya saja waktu dapat diputar kembali.

Dan semua airmata tumpah itu karena ikatan yang sangat dalam dengan apa yang menjadi kekuatan Nepal. Salah satu alasan saya datang ke Nepal adalah untuk mengagumi bangunan-bangunan bersejarah yang termasuk dalam World Heritage Sites itu. Dan ketika saya berada di sana, enam bulan lalu, saya masuk ke dalamnya, menyentuhnya langsung, mengelilinginya, mengamati semua mahakarya itu seakan waktu berhenti bersama saya, bahkan saya duduk di bawahnya, terlibat dalam keriuhan festival yang terjadi hari itu. Saya tak akan pernah lupa saat saya duduk di dekatnya, mengambil foto dengan segala cara untuk mendapat sudut terbaik, menunggu sampai sepi. Saya tak pernah lupa saat saya tersenyum sendiri karena tak menemukan ukiran erotis kamasutra yang biasa ditampilkan pada panel atau langit-langitnya, saya tak pernah lupa ketika saya duduk nyaman untuk rehat dari terik matahari dan pegalnya kaki menyaksikan banyak orang lalu lalang tak henti. Saya juga tak pernah lupa ketika seorang freelance guide yang baik hati, seorang Nepali pengagum Soekarno, meminta saya berpose dan dia mengambil foto untuk kamera saya, hanya karena saya sedang berjalan sendiri. Katanya, semua orang harus berbahagia dan punya kenangan manis saat berada di Nepal.

Dan bagaimana hati saya tak langsung luluh lantak ketika mendengar bangunan-bangunan besar di Durbar Square itu runtuh. Tak ada lagi Trilokya Mohan Narayan dan Maju Dega. Dan ketika saya dengar kerusakan besar juga terjadi di Changu Narayan, tempat saya mendapatkan keberuntungan yang tak biasa, airmata saya tak henti mengalir. Tak ada lagi Laksmi Temple yang di sudut, tak ada lagi bangunan-bangunan penyangga yang kala itu penuh lautan manusia dan bunga, bahkan Kuil utama Narayana temple telah rusak berat disudut-sudutnya yang sangat riskan pada guncangan gempa besar lanjutan. Di Lalitpur atau Patan, tak ada lagi Hari Shankar Temple, tak ada lagi kuil yang penuh ukiran kuno ratusan tahun itu. Semua lenyap. Semua yang telah saya sentuh, semua yang saya datangi dan saya cintai dengan sepenuh hati, semua tempat hati saya tertambat itu, sudah lenyap rata dengan tanah, musnah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bangunan-bangunan itu konon dibangun atas dasar cinta, atas dasar ibadah, atas dasar komitmen, rasa ikhlas dan dijaga dengan sepenuh jiwa sejak ratusan tahun lalu. Didatangi dan dipelihara, doa-doa dan puji-pujian dilantunkan didalamnya, sejak ratusan tahun lamanya. Dan kini musnah. Nilai dan makna sejatinya, hilang musnah dalam sekian menit getaran lapisan kulit bumi, meninggalkan tumpukan batu usang berdebu.

Dan tidak hanya itu keterikatan saya dengan Nepal yang saya tinggalkan enam bulan lalu. Pegunungan Mahabharat Range yang menjadi pagar dari barisan pegunungan dibaliknya, turut bergetar beresonansi mengakibatkan longsor yang meruntuhkan rumah-rumah yang dibangun di lerengnya. Rumah-rumah di pegunungan yang menjadi saksi keindahan matahari yang terbit dan terbenam berbalut kabut. Rumah-rumah yang menjadi saksi akan halimun menyelimuti lembah setiap pagi. Dan rumah itu ikut bergoyang dan terkubur, bersama penghuninya. Dan saya pernah berada dalam salah satu rumah yang berada di pegunungan itu. Merasakan harus mendakinya dan menuruninya, merasakan dan menyaksikan halimun yang menyelimuti lembahnya, memandang keajaiban matahari terbit berlantai hamparan kabut dan kini banyak rumah itu runtuh terkubur dalam hening, membawa hati saya terhanyut di dalamnya.

Lalu tak berhenti disitu, pegunungan berselimut salju itu, Sang Himalaya yang gagah, tak ayal ikut bergerak meruntuhkan salju yang telah tertimbun ribuan tahun, mengubur langsung pendaki dan trekkers, yang datang mencari keindahan dan keanggunannya maupun yang mencari uang karenanya. Menyatukannya kedalam ketakberdayaan manusia. Pasrah pada alam yang bergetar menyesuaikan keseimbangan baru. Saya yang enam bulan lalu, melihat sendiri keindahan salju abadi yang menutupi puncak-puncak Himalaya, yang melihat keindahan salju di Langtang, di Khumbu, di Sagarmatha. Puncak-puncak yang sama, yang seandainya bisa bicara, mungkin lebih memilih untuk menyatukan para pendaki dan trekkers dalam keabadian cinta bersamanya. Puncak-puncak Himalaya yang sama yang saya lihat dalam baluran airmata bahagia, karena pada akhirnya saya bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Sang Himalaya yang juga tak mampu berbuat lain kecuali mengikuti hukum alamNya.

Dan lagi, seminggu lalu, gempa baru dengan kekuatan besar terjadi lagi. Yang sebelumnya telah ringkih, kini hancur. Gempa lanjutan ataupun gempa baru yang biasa mengikuti gempa-gempa besar memang terus terjadi, setiap hari, setiap saat, dari skala 4, 5 atau 6 dan bahkan 7. Dan ketika gempa baru dengan skala tinggi itu terulang lagi, saya menutup mata yang telah berair, bergetar meminta Wahai Engkau Yang Maha Perkasa, bolehkah saya memohon Kasih Sayang dan KelemahlembutanMu terhadap alam dan semua makhluk yang berada di Nepal?

Saya hanya bisa jatuh terduduk, tersungkur dan menangis. Tak lagi berdaya. Hanya MilikMu…

Hening.

Dan sampailah saat untuk mengakui pada diri sendiri, bahwa ikatan dengan Nepal ini sangat kuat, luar biasa kuat. Saya mencintai Nepal dengan segala yang ada padanya, dengan segala yang saya alami di dalamnya. Dan berlebihan.

Kemudian bagaikan sebuah kilat yang datang di tengah awan badai, seperti itu pula saya disadarkan. Cepat, sekilas dan terang. To the point. Tak ada yang abadi di dunia ini dan tak boleh ada yang ‘terlalu’.

Sejentik itu pulalah yang membukakan mata dan menyembuhkan luka. Seberkas cahaya yang menguatkan dan membangkitkan. Tak hanya sekali ini saya mendapat pembelajaran yang sangat berharga, yang sangat menorehkan rasa. Pembelajaran yang maknanya saya dapat setelah selesai masa berjalan disana .

Cinta itu tak melekatkan. Cinta itu membebaskan. Cinta itu membawa kebaikan.

Sedalam apapun cinta saya kepada bangunan-bangunan bersejarah, saya harus melepaskannya dalam keruntuhan, melepas nilai berharganya menjadi milik keabadian. Sedalam apapun cinta saya kepada penduduk Nepal dengan segala tradisi yang dilakukannya dalam keseharian, saya harus serahkan kepada Yang Maha Mengatur. Apapun yang terjadi menjadi bagian dari Rencana IndahNya. Sedalam apapun cinta saya terhadap alam pegunungan yang indah, terhadap barisan pegunungan berpuncak salju, tetaplah saya harus melepaskannya dalam kuasa yang telah ditentukan. Untuk selalu menjadi lebih baik, dan karena masih banyak yang lebih baik

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dan sebagaimana sebuah cinta yang membebaskan, apapun yang terjadi, enam bulan lalu ataupun kini, semua itu menjadi sebuah kenangan yang indah, kenangan yang selalu manis, yang terpatri dalam sebuah ruang khusus di dalam hati bernama Nepal.

Yang bisa saya kunjungi kapan saja, turut mempercantiknya tanpa perlu terlekat padanya.

Dan saya pun diminta untuk melanjutkan perjalanan…

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal