Idul Fitri Berselimut Sepi


Dari begitu banyak Idul Fitri yang telah dilewatkan sepanjang hidup, rasanya Idul Fitri 1441 H kemarin yang paling menggugah. Bagaimana tidak? Gema takbir hanya sayup-sayup terdengar di kejauhan, itupun hanya jelang shalat Ied bukan dari selepas maghrib sebelumnya. Lalu pada pagi harinya, tak ada manusia berbondong-bondong menuju tanah lapang untuk mendirikan shalat Iedul Fitri. Semua seperti pagi pada hari-hari biasa di sekitaran kawasan tempat tinggal saya. Sepi, sunyi…

Pandemi COVID-19 memang telah mengubah cara berkehidupan begitu drastis di seluruh dunia. Sesuatu hal yang sama sekali tak pernah terbayangkan kini terjadi di hadapan mata, dimana-mana, di seluruh dunia. Dan, tentu saja termasuk masalah ibadah.

Berpuluh-puluh tahun menikmati Hari Raya setelah sebulan berpuasa itu, selalu dilalui dengan kondisi yang serupa. Sejak buka puasa hari terakhir, terdengar suara takbir dimana-mana, lalu pagi harinya orang berbondong-bondong untuk sholat Ied. Selepasnya, bersalam-salaman, bersilaturahmi, makan ketupat, makan opor berkuah santan kental, rendang, nastar, kastengels, kue lapis, spekkoek, yang rasanya tidak habis-habis sampai seminggu lamanya. Lalu lanjut dari satu Halal bil halal ke Halal bil Halal lainnya… Begitu terus dari tahun ke tahun. Paling tidak, itulah yang saya alami sejak menikah, karena saya mengikuti suami untuk mudik.

DSC09453
Ketupat – Traditional Food on Idul Fitri

Perjalanan mudik itu selalu dilakukan jelang bulan puasa berakhir, meski sekali atau dua kali dilakukan sesudah Hari Raya. Alhasil, berlebaran di Jogja, -tempat asal suami saya-, biasanya perlu energi ekstra. Belum pulih dari lelah akibat kemacetan panjang yang biasa ditemui sepanjang perjalanan mudik (kami biasanya membawa mobil dan lewat jalur Selatan via Nagrek), jelang Hari Raya itu kami selalu bercengkrama dengan seluruh anggota keluarga besar, sampai malam. Lelah? Pasti. Tapi selalu seru karena ada rindu, ada kasih sayang, ada nasehat-nasehat dari alm. Bapak berhias guyonan dari anggota keluarga. Belum lagi, anak-anak saat itu masih kecil-kecil yang perlu penanganan tersendiri. Meski badan kadang terasa lelah, saya selalu menikmati perjalanan mudik untuk berlebaran di Jogja.

Pernah suatu ketika, kami salah perhitungan dalam mengejar Hari Raya di Jogja. Ketika itu kami berhenti bermalam di Purwokerto sebelum melanjut perjalanan ke Jogja keesokan paginya. Ternyata pada pagi harinya, di Purwokerto kebanyakan sudah menggelar shalat Ied sehingga kami mengikutinya. Sepanjang perjalanan ke Jogja, kami menemui kemacetan bukan karena mereka yang mudik melainkan mereka yang sedang bersilaturahmi ke sanak saudara dengan wajah cerah gembira dan baju-baju yang meriah. Hari itu di Jogja, kami tertinggal mengikuti tradisi rutin Hari Raya dalam keluarga besar. suami. Rasanya tak enak, seperti belum berlebaran. Padahal di saat yang sama di Jakarta, banyak dari teman dan keluarga saya yang baru bermalam takbiran untuk menjalankan shalat Ied keesokan harinya!

Melewati Hari Raya jauh dari keluarga besar, baik dari keluarga besar pihak saya maupun dari pihak suami, pernah kami alami saat berlebaran di Jepang. Rasanya itu pertama kalinya saya sekeluarga pergi ke luar negeri dalam libur Lebaran. Hasilnya? Kapok! Karena berbeda dengan situasi kini di Jepang yang lebih Muslim friendly, saat itu masih susah mencari tempat atau informasi terkait ibadah.

Saat itu, Jepang sedang musim panas, artinya memang benar-benar gerah dan panas, apalagi saat itu ada dampak badai yang membuat aliran hawa panas ke Jepang. Musim panas berarti siangnya lebih panjang dan kami puasa. Subuh sekitar jam 3 pagi waktu setempat dan maghrib sekitar jam 7 atau 8. Klenger deh! Mana harus banyak jalan!

Lalu paginya saat Hari Raya, kami tidak dapat menemukan tempat untuk shalat Ied. Sok taunya saya menganggap bahwa di KBRI selalu ada masjid yang mengadakan shalat Ied. Ternyata di Tokyo, masjidnya berbeda lokasi dengan KBRI dengan jarak cukup jauh. Kalau saya tahu lebih awal, tentu saya memilih menginap dekat masjid Camii. Tetapi segala sesuatu yang terjadi menjadi pembelajaran yang amat berharga buat saya. Sekali itu saya pribadi sungguh-sungguh merasa kehilangan rasa berlebaran, berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga besar. Seakan kehilangan ‘roh’-nya. Kapok!

DSC09457
Ketupat as Traditional Food on Hari Raya Idul Fitri

Lalu datang momen Hari Raya Idul Fitri yang baru saja lewat seminggu lalu…

Karena upaya pencegahan Covid-19, Shalat Iedul Fitri dilakukan di rumah, dengan suami sebagai imam dan saya serta anak-anak menjadi makmumnya. Tak ada orang lain, hanya kami sekeluarga. Juga bukan di tanah lapang, melainkan di dalam rumah. Tahun ini sungguh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tak ada gema takbir dari Masjid dekat rumah, Sepi, sunyi…

Lalu setelah tradisi Hari Raya di keluarga inti selesai, saya dan suami pergi ke rumah Mama. Di sana, dengan protokol kesehatan yang ketat, kami semua, -kakak dan adik dengan istri masing-masing-, saling bersilaturahmi. Tak ada sentuhan fisik, tak ada jabat tangan, apalagi peluk dan cium, sesuatu yang umum di keluarga besar saya. Duduk yang saling berjauhan, bukan di dalam rumah melainkan di teras luar, tanpa menikmati makan atau minum. Dan tak lama, tak lebih dari 30 menit.

Rasanya seperti bukan berada di rumah orangtua tempat saya dibesarkan. Rasanya seperti sedang bertamu. Aneh dan asing. Ada sejumput rasa sedih, tapi itulah yang harus dijalankan.

Apapun yang terjadi, yang ada di hadapan, harus disyukuri. Bersyukur bahwa saya masih bisa melihat dan bertemu mama, kakak dan adik benar-benar secara nyata dan bukan virtual. Sesuatu yang amat mahal saat ini.

Setelah kurang dari 30 menit di rumah Mama yang terasa hanya ‘sekejap’ itu, dalam perjalanan pulang menuju rumah, hati saya melanglang buana. Melihat sang suami yang duduk sendirian di depan sementara saya duduk sendiri di kursi belakang, saling berjauhan berhias masker, kita semua dihadapkan pada situasi yang semakin ‘sepi’ dengan adanya jarak antar manusia. Masing-masing manusia terpisah jarak. Sendiri-sendiri.

Pada akhirnya manusia akan sendirian.

Mungkin kita semua diberi kesempatan mencicipi sedikit rasa saat menghadapi Hari Akhir, saat kita sendirian, -hanya ada diri sendiri dan tanpa bantuan orang lain-, saat harus mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan di dunia.

§


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-21 bertema Eid Mubarak agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Batu-Batu Pembuat Takjub


Ada seorang teman sekolah yang mengatakan bahwa saya penyuka batu. Mendengar itu saya hanya bisa mengangkat alis, karena, -meskipun terdengar aneh-, saya tidak bisa mengabaikan kenyataan itu. Benar juga sih. Karena saya memang menyukai batu. Bukan batu-batu permata yang dulu pernah heboh, melainkan batu-batu yang memiliki makna, batu alam yang membuat takjub, atau batu-batu yang tersusun menjadi bangunan candi, batu-batu kecil yang berbentuk aneh. Ah, rasanya saya memang mudah tertarik oleh penampakan batu yang ‘menghebohkan’. Aneh juga ya?

Namun bagi mereka yang mengenal saya, atau mengikuti perjalanan saya melalui blog ini, tentu mengetahui bahwa saya sedikit ‘gila’ terhadap candi-candi Hindu/Buddha yang umumnya tersusun dari batu. Bahkan saya ‘kejar’ kegilaan saya akan batu itu sampai ke luar negeri. Meskipun, jujur deh, masih sangat banyak tempat di Indonesia yang belum saya kunjungi dan semuanya terkait dengan batu. 😀

Ketika berkesempatan pergi ke Jepang untuk pertama kalinya, di Osaka Castle saya terpaku di depan sebuah batu utuh yang amat besar, yang menjadi bagian dari dinding pelindung halaman dalam yang dikenal dengan nama Masugata Square. Batu yang disebut dengan Tako-ishi atau harafiahnya berarti Batu Gurita (karena ada gambar gurita di kiri bawahnya) memang luar biasa besar. Beratnya diperkirakan  108 ton, berukuran panjang 11.7 meter dan tingginya 5.5 meter (atau lebih dari saya ditumpuk tiga ke atas 😀 ). Satu batu utuh yang termasuk megalith dan terbesar di Osaka Castle ini bisa disaksikan tak jauh dari Gerbang Sakura.

Konon, dinding batu yang terbuat dari batu-batu amat besar ini dibuat pada awal periode Edo, yaitu sekitar tahun 1624 oleh Tadao Ikeda, Bangsawan besar dari Okayama yang diperintahkan oleh Shogun Tokugawa. Selain, Takoishi sebagai yang terbesar, tepat di sebelahnya terdapat batu yang merupakan ketiga terbesar di Osaka Castle, yang dikenal dengan nama Furisodeishi atau harafiahnya berarti batu lengan panjang kimono. Mungkin karena bentuknya seperti lengan kimono.

Saya sendiri belum sempat menelaah lebih lanjut tempat pembuatan Tako-ishi itu, apakah memang dibuat di Osaka atau di Okayama, tempatnya Tadao Ikeda menjabat. Jika benar di Okayama, saya tak pernah membayangkan pengirimannya. Padahal jarak Osaka ke Okayama itu sekitar 170 km. Lalu bagaimana pengirimannya pada masanya ya?

Stone1-Takoishi
Takoishi – The Largest Stonewall in Osaka Castle

– § –

Berbeda dengan batu yang ada di Jepang, dalam perjalanan saya ke Cambodia, -tentu saja selain Angkor Wat dan kuil-kuil lainnya yang mempesonakan-, saya juga terpesona dengan Reclining Buddha raksasa yang terbuat dari batu utuh yang berlokasi di kompleks Preah Ang Tom di Phnom Kulen, sekitar 50 km di utara kompleks percandian Angkor.

Dengan panjang sekitar 17 meter, Reclining Buddha dari abad ke-16 ini, dibangun di atas batu setinggi 8 meter sehingga saya harus menaiki tangga untuk mencapainya. Meskipun ukurannya kalah jauh dari Wat Pho di Bangkok atau bahkan Reclining Buddha di Mojokerto apalagi jika dibandingkan panjang patung-patung serupa di Myanmar, saya merasa amat unik dengan apa yang saya lihat di Preah Ang Tom ini.

Tidak seperti biasanya di negara-negara Buddhist yang pada umumnya Reclining Buddha dalam posisi Parinirvana (perjalanan menuju Nirvana setelah kematiannya) dibuat dengan kepala di sebelah kiri, Reclining Buddha yang ada di Phnom Kulen ini, kepala Sang Buddha berada di sebelah kanan. Terlebih lagi, konon sudah amat tua, hampir empat abad keberadaannya dan dibuat diatas batuan pegunungan! Bahkan setelah saya browsing, hanya ada tiga Reclining Buddha dalam posisi ini, dua di Thailand dan di Preah Ang Tom ini.

Stone2-PhnomKulen
Reclining Buddha at Phnom Kulen, Cambodia

– § –

Bicara soal usia batu, saya jadi teringat batu yang ditemui saat melakukan trekking ke Muktinath di kawasan Lower Mustang, Nepal. Tak jauh dari kuil Muktinath yang dipercaya oleh penganut Hindu Vaishnavas sebagai salah satu tempat yang paling sakral, terdapat sebuah patung Buddha sebagai penghormatan kepadan Guru Rinpoche yang konon pernah ke sana. Di bawahnya diberi hiasan batu-batu asli, yang diambil dari Sungai Kali Gandaki. Batu-batu asli ini namanya Shaligram.

Shaligram ini sangat khas. Meski kecil, tidak lebih besar dari telapak tangan-, batu ini luar biasa unik karena memiliki motif kerang yang terbentuk secara alamiah. Konon terbentuk sebagai fosil sejenis kerang yang ada sekitar ratusan juta tahun lalu!

Yang membuat saya terpesona adalah kenyataan bahwa batu kerang sebagai binatang laut yang sudah memfosil itu bisa ditemukan di dasar atau pinggir sungai Kali Gandaki yang berair tawar di sekitaran kawasan Himalaya yang tinggi gunungnya beribu-ribu meter ke atas. Mungkin saja, pikiran saya terlalu terbatas untuk bisa membayangkan yang terjadi di alam ini selama ratusan juta tahun yang lalu, ketika jaman es masih menutupi planet bumi tercinta ini. 

Menyaksikan sendiri fakta alam yang begitu dekat dan bisa dipegang, rasanya amat luar biasa. Namun sayang sekali, ada saja manusia-manusia yang tak bertanggung jawab yang mencungkilnya untuk dijadikan sesembahan.

DSC06048
Shaligram of Muktinath, Nepal

– § –

Batu-batu lain yang membuat saya takjub adalah batu-batu yang berdiri dalam posisi amat kritis. Salah satu batu yang membuat saya terkagum-kagum adalah The Golden Rock, yang ada di Myanmar, sekitar 5 – 6 jam perjalanan dengan bus dari Yangon. Hingga kini, Golden Rock menjadi tempat sakral bagi umat Buddha Myanmar sehingga banyak didatangi peziarah dari segala penjuru Myanmar.

Bagi saya, The Golden Rock bisa mewakili semua posisi batu yang disangga batu lainnya meskipun dengan posisi yang teramat kritis dan tetap dalam keseimbangan selama berabad-abad. Mungkin tingkat kekritisannya bisa dibandingkan dengan The Krishna’s Butter Ball yang ada di Mahablipuram, India (Semoga saya diberikan kesempatan untuk berkunjung kesana!) atau batu-batu lainnya yang serupa.

Di dekat Wat Phu, Laos Selatan, saya melihat celah sempit di bawah batu cadas (rocks) dan digunakan untuk tempat persembahyangan. Juga di Golden Rock, saya melihat banyak orang bersembahyang di bawah batu tersebut. Entah kenapa melihat semua itu, selalu terlintas di pikiran, bagaimana jika terjadi gempa bumi yang membuat posisi batu menjadi tak seimbang dan batu itu ‘glundung‘ jatuh ke bawah? Bukankah apapun bisa terjadi?

DSC07435
Critical Point of The Golden Rock, Myanmar

– § –

Tetapi, dari banyak tempat yang pernah saya kunjungi, mungkin Petra di Jordan menjadi juaranya terkait batu yang membuat saya terkagum-kagum. Kekaguman saya akan tingginya celah ngarai yang teramat sempit yang dikenal dengan nama The Siq, juga bentukan-bentukan alam serta olahan tangan dari bangsa Nabatean jaman dahulu terhadap kawasan berbatu cadas itu. Sang Pemilik Semesta telah menciptakan kawasan Petra begitu berbatu yang tanpa sentuhan manusia pun sudah begitu mempesonakan, namun bangsa Nabatean dengan kemampuan artistiknya membuatnya semakin menarik.

Menuju The Treasury, saya melewati daerah yang disebut dengan Djinn blocks. Isinya batu-batu yang berbentuk kubus, nyaris sempurna. Saat mengetahui namanya, konotasi saya langsung mengarah ke tempat-tempat jin (asal katanya ya memang itu kan), namun konon bentukan kubus itu merupakan tempat peristirahatan (tapi entah peristirahatan dalam artian makam atau memang tempat beristirahat dalam perjalanan karena ada juga yang mengartikan ‘tempat air’ yang biasanya menjadi tempat pemberhentian pengelana)

Tetapi tetap saja, batu-batuan di Petra ini, dalam kondisi aslinya atau telah menerima sentuhan manusia, tetap mempesona. Yang pasti, saya ingin kembali lagi kesana, menjelajah lebih lama, lebih santai…

DSC00469
Other angle of Djinn Blocks
DSC00466
Djinn Blocks, Petra
DSC00496
Elephant, Fish or Aliens?

– § –

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-20 bertema Stone agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Pasangan Sakral Rama dan Sita


Ketika sahabat saya melempar ide dengan topik Couple sebagai bahan tulisan minggu ini, terus terang saya bingung hendak menuliskan apa. Rasanya tidak mudah menuliskan tentang pasangan (couple) dalam blog yang sebagian besar isinya tentang cerita perjalanan ini, meskipun belakangan isinya banyak juga cerita yang bukan tentang perjalanan 😀 Tapi itulah tantangannya kan?


Setelah cerita perjalanan ke sebuah kota di Nepal bagian Timur yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Sita (di Indonesia biasa disebut dengan Dewi Sinta) dalam legenda Ramayana dan juga sebagai tempat pertemuan pertama kalinya dengan Rama, tempat pernikahan sekaligus tempat kembalinya dari pengasingan, -yang semuanya dapat dibaca di link berikut ini: Gema Cinta dari Janakpur-, rasanya tidak salah bila saya menambahkan sedikit lagi tentang pasangan sakral ini.

Sepanjang sepengetahuan saya di dalam Hindu, Rama merupakan avatar dari Dewa Vishnu, bahkan istrinya Dewi Lakshmi, juga menitis kepada Sita yang merupakan pasangan dari Rama. Di Kuil Janaki yang ada di Janakpur, -tempat yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Sita-, banyak terdapat lukisan-lukisan gaya India tentang Rama dan Sita. Bahkan di Janaki Mandap (Vivaha Mandap) yang dipercaya sebagai tempat pernikahan Rama dan Sita didirikan patung pasangan sakral ini.

Meskipun lukisan-lukisan yang indah ini tidak memiliki informasi dalam bahasa Inggeris (semua tertulis dengan karakter Nepali), saya hanya bisa mengira-ngira kisahnya dengan memperhatikan apa yang digambarkan. Seperti tokoh yang digambarkan memiliki kulit berwarna biru, saya memperkirakan bahwa dia adalah Rama dan perempuan di sampingnya adalah Sita.

Kisah Ramayana yang aslinya dari India ini, memang telah lama dekat di kalangan orang Indonesia, terutama di Jawa dan Bali. Biasanya ditampilkan dalam bentuk pertunjukan wayang atau sendratari yang cukup lama. Salah satu pertunjukan tari yang mengambil adegan Ramayana yang amat mengesankan bagi saya adalah tari kecak yang diselenggarakan di kawasan Pura Uluwatu jelang matahari terbenam.

Sebagai penggemar tari Bali, saya begitu menikmati pertunjukan itu apalagi menggunakan api sebagai penerang di saat sudah gelap. Api yang sama digunakan sebagai lambang peperangan Rama dibantu oleh Hanuman melawan Rahvana yang menculik Sinta. Magis!

uluwatu
Sita & The Golden Deer in Uluwatu, Bali

Selain di Bali, -terkait dengan pasangan sakral dalam Ramayana ini-, saya bersyukur mendapat satu kali kesempatan menyaksikan pertunjukannya secara gratis. Sebenarnya kejadiannya tidak disengaja. Ketika itu, saya dan keluarga menginap di sebuah kotel di Jogjakarta, yang pada malam harinya diselenggarakan pertunjukan sendratari Ramayana di pelataran restoran. Sebagai tamu hotel, saya memang dapat menyaksikannya, meskipun harus berdiri sepanjang pertunjukan karena hanya tamu yang memesan makan malam yang mendapat privilege tempat duduk. 

Menyaksikan pertunjukan Ramayana versi Jawa ketika itu, saya perlu waktu untuk mencerna adegan-adegan dalam pertunjukan karena, -seperti juga di dalam pertunjukan wayang-, Ramayana versi Jawa ini memiliki adegan yang cukup banyak. Bisa jadi saya terbiasa melihat pertunjukan Ramayana versi singkat sehingga terlupakan adegan-adegan yang memang ada dalam Ramayana. Tetapi paling tidak, saya bisa menangkap maksud tarian.

Ada upaya gagah berani dari Burung Jatayu untuk menyelamatkan Sita, tetapi gagal hingga Jatayu pun harus kehilangan nyawanya. Rahvana kembali melarikan Sita dan menyembunyikannya. Hingga datang utusan dari Rama, yang bernama Hanuman. Dia membawa cincin Rama, sebagai tanda valid sebagai utusan Rama. Melalui pertempuran-pertempuran Rama melawan Rahvana yang dibantu pasukan Hanuman, akhirnya Rama dan Sita bisa kembali bersatu.

Malam itu, pertunjukan berakhir dengan happy-ending, dengan pasangan yang akhirnya berbahagia berkumpul kembali.

Meskipun saya lupa, apakah waktu itu sempat ada adegan pengujian kesucian Sita melalui api. Adegan terakhir ini selalu membuat saya terbelah rasa. Rasanya masygul juga merasa tak sesuai dengan penggambaran sikap ksatria Rama.

DSC05397
The Happy Couple – Rama & Sita

D6-Trekking Nepal – Di Simpang Jalan


Catatan. Meskipun perjalanannya ini terjadi tiga tahun lalu tapi rasanya sayang kalau tidak dilanjutkan cerita saat trekking di Nepal. Untuk mengingat kembali silakan baca kisah trekking hari -hari sebelumnya di tautan berikut ini: Dare to Dream Trip, Ke Kathmandu, Tangga-Tangga Uleri, Menuju Ghorepani, Poonhill, Didera Hujan Es, Gurung Hill dan Melawan Takut. Apalagi, tantangan menulis mingguan yang diangkat oleh Sahabat saya, Srei’s Notes, bertopik tentang Road alias Jalanan untuk minggu ini. 


 

Chhomrong, minggu ketiga April 2017

Mentari belum juga terbit namun saya telah keluar kamar penginapan yang langsung disambut udara dingin Himalaya. Meskipun sudah jauh di bawah Poonhill atau Deurali Pass yang berada di ketinggian 3100-an meter, berdiri pagi-pagi di Chhomrong yang berada di ketinggian 2170 meter ini tetap saja terasa dingin. Tetapi, pagi adalah waktu yang tepat untuk melihat keindahan Himalaya.

1
Annapurna South, Hiunchuli, Macchapucchre before sunrise
1a
Sunshine over Mt. Macchapucchre (Fish Tail)

Dan benarlah, ketika menatap ke arah pegunungan, saya yang pendaki abal-abal tapi nekad menjelajah di Himalaya disuguhi pemandangan alam yang spektakuler. Puncak Annapurna South (7219m) berjajar dengan Hiunchuli  (6441m) lalu terpisah oleh lembah dalam, gunung favorit saya, Macchapucchre (6993m) berdiri dengan gagahnya. Semua puncak dan punggungnya tertutup salju abadi yang memperlihatkan keindahannya.

Sinar mentari pagi mulai menerpa puncak ketiga gunung tinggi itu dan memberi warna keemasan pada salju abadi yang menyelimutinya. Bahkan sinar matahari yang melewati puncak Gunung Macchapucchre, -yang dikenal juga sebagai Fish Tail karena puncaknya yang menyerupai ekor ikan-, memberikan efek dramatis bergaris pada langit.  Pagi datang berkunjung dengan keajaiban yang membuat saya menarik nafas panjang, tak habis-habisnya mengucap syukur. Sang Pemilik Semesta telah memberikan kesempatan kepada saya berjalan di bumi yang indah ini. 

Setelah mengabadikan pemandangan indah ini, saya berjalan ke arah persimpangan desa tak jauh dari penginapan. Ternyata Pak Ferry, my travel buddy, sudah berada di sana terlebih dahulu. Langsung saja kami saling bergantian mengambilkan foto sebagai kenang-kenangan meskipun dengan wajah apa adanya (Di gunung siapa sih yang mau mandi dua kali sehari dan dandan cantik? 😀 )

Rasanya mata tak ingin melepas pemandangan indah yang tak bisa dilihat di Indonesia ini, saya ingin berlama-lama meskipun tahu akan ada yang namanya perpisahan. Di sini, di desa Chhomrong ini merupakan tempat terakhir kami untuk merasa terdekat dengan rangkaian pegunungan Himalaya. Karena setelah ini, kami akan menjauh darinya. Ada sedikit rasa sesal mengapa cuti terlalu singkat dan mengapa saya tak mempersiapkan fisik yang lebih baik untuk trip ini. Tetapi, bagaimanapun semua harus dihadapi dan diterima.

Dengan pikiran yang masih menggantung kepada keindahan puncak bersalju itu, Pak Ferry dan saya berjalan pelan kembali ke penginapan, untuk sarapan dan packing. Sarapan yang serupa, roti dan selai ditambah kopi atau teh. Tetapi yang paling mengerutkan hati saat sarapan itu, ketika saya harus menyaksikan dua perempuan muda berpamitan dan melangkah gembira menuju Bamboo, desa berikutnya untuk menuju Annapurna Base Camp. Arah yang pastinya berbeda dengan tujuan saya hari ini. Meskipun mendoakan mereka untuk keberhasilannya, saya tak bisa mengingkari terselip sedikit rasa iri akan kemudaan dan semangat mereka.

Tak perlu lama kami semua telah siap, di simpang desa itu kami melanjutkan perjalanan. Bukan ke atas menuju Annapurna melainkan menuju pulang. Sedih? Tentu saja, karena harus melepas tujuan dan harapan. Tetapi saya juga meyakini, segala peristiwa memiliki alasan dibaliknya sehingga harus diterima dengan ikhlas. Dan bagi saya yang sebelumnya tak pernah mendaki gunung, apalagi sudah tak lagi muda dan tak pernah olahraga, bisa mencapai 3120 meter saja sudah luar biasa!

4
Clouds started to cover
4a
ABC or Home?

Sejenak saya menatap Annapurna, Hiunchuli dan Macchapuchhre dari jarak terdekat yang pernah saya jejaki sebelum akhirnya saya melepas pandang. Seakan tahu rasa apa yang tersembunyi di dalam hati, Semesta membantu mulai mengirim awan untuk menyelimuti puncak gunung-gunung itu. One day, saya akan kembali. Kemudian saya melangkah pergi menuju Landruk, pemberentian kami berikutnya.

Not the destination, but the journey…

Itu kata orang bijak, meskipun perlu keikhlasan yang amat tidak mudah. Tetapi ada banyak bantuan bagi orang yang mau bersungguh-sungguh. Saya merasakan bahwa alam memberikan suhu yang amat nyaman untuk berjalan. Sinar matahari tidak terik melainkan hangat. Ada berbagai kerindangan disana-sini dan tentu saja pemandangan bukit-bukit yang indah. Semuanya teramat sayang jika dilewatkan begitu saja hanya gara-gara terpaku pada tujuan Annapurna yang harus dilepas. Ah, saya belajar banyak dalam perjalanan ini, belajar untuk mengucap syukur pada setiap keindahan yang saya terima dalam setiap detik di depan mata, bukan yang telah lewat.

PerlindunganNya

Urutan trekking masih tetap sama seperti hari-hari sebelumnya, sang porter muda yang handsome yang namanya Kedar, berada paling depan, lalu pak Ferry kemudian saya dan Dipak, –trekking guide-, semuanya dalam jangkauan jarak pandang. Dua yang terakhir lebih sering bertukar tempat terutama jika jalan menanjak meski tak lagi berat. 

Meski dalam melakukan trekking saya tidak sendirian,  namun nyatanya saya lebih banyak berjalan tanpa banyak bicara (atau mungkin alasan saja untuk mengatur nafas ya 😀 ) Tetapi, rasanya memang menyenangkan bisa berjalan “sendiri” meskipun sesungguhnya ada dalam kelompok. Rasanya seperti diberi waktu untuk kontemplasi. 

7
Forests

Entah telah berapa lama saya berjalan, hingga suatu saat saya berada di sepenggal jalan setapak yang amat sempit, dengan jurang di kiri dan tebing tanah bercampur batu di kanan. Trekking guide kami, Dipak, yang tadinya tak jauh di belakang saya, mendadak dari arah belakang berlari menuju saya dengan wajah was-was, dan belum sempat bertanya kepadanya, pada saat yang sama saya mengetahui dan mendengar apa yang dia cemaskan. Langkah kuda yang sedang berlari kencang sedang mendekat dari arah belakang!

Serta merta mata saya membelalak. What to do? 

Tidak ada ruang untuk mengalah membiarkan si kuda lewat. Pilih mana? Lari melebihi kecepatan kuda di jalur sempit atau lompat ke jurang? Semua pilihan yang tidak mungkin!

Sepersekian detik yang paling menakutkan.

Dipak mengambil keputusan lebih cepat daripada saya, Ia menyuruh saya untuk lompat ke kanan, ke arah tebing tanah bercampur batu itu. Tanpa pikir panjang, saya mengikuti sarannya, melompat ke kanan dengan trekking pole yang masih terikat di pergelangan dan mencari batu terkuat sebagai pegangan. Sebisa-bisanya saya bertengger memeluk tebing bumi. Detik-detik yang amat menegangkan bagi saya. Menunggu si kuda lewat.

Lalu tanpa rasa bersalah, si kuda berlari cepat dikendalikan oleh penunggangnya di jalan sempit itu, yang setelahnya membuat Dipak mengeluarkan serangkaian kata-kata Nepali dengan nada yang lumayan tinggi kepada penunggang kuda itu. Saya tak mengerti artinya, tetapi sepertinya ia meminta orang itu berhati-hati berkuda apalagi di jalur trekking yang bisa berakibat fatal.

Meskipun jengkel juga dengan si penunggang kuda, saya turun dari tebing tanah itu dengan tanah menempel di muka dan pakaian, masih terasa deg-degan bercampur lega dari sebuah peristiwa yang menegangkan. Jika tak segera melompat ke arah kanan untuk menyelamatkan diri, bisa jadi saya ditabrak dari belakang dan jatuh ke jurang. Hiiii…

Alhamdulillah, saya masih dilindungi olehNya.

Beberapa saat kemudian, setelah menepis debu dan tanah yang menempel serta berterima kasih kepada Dipak yang telah menyelamatkan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini dia berada tepat di belakang saya.

Tapi tak lama!

Mendadak ia bertanya kepada saya, apakah saya mampu berjalan sendirian karena ia harus menyusul Pak Ferry yang ada di depan. Ia juga mengatakan bahwa jalan yang akan saya tempuh landai.  Saya menganggukkan kepala lalu dalam sekejap ia berlari ke depan. Menyusul Pak Ferry.

Aduh, ada apa lagi di depan? 

Saya terus berjalan. Dipak benar, jalannya menanjak landai, teduh pula. Nyaman untuk berjalan meski matahari mulai tinggi. Lalu, di sebuah lengkung jalan yang menanjak, saya melihat Dipak menunggu di puncak tanjakan sementara saya masih di bawah. Baiklah, setelah dihajar tangga-tangga Ulleri, tanjakan ini sama sekali tidak ada apa-apanya. Tak lama, saya berhasil sampai di tempat Dipak menunggu dan terbelalak melihat apa yang ada di depan saya.

Sepenggal jalan longsor!

Di kiri longsoran ke bawah yang berakhir di sungai dan di sebelah kanan tebing yang longsor. Diantaranya hanya ada jalan setapak…

5
Trekking path across the landslide

Langsung saja saya mengerti mengapa tadi Dipak berlari mengejar Pak Ferry. Ia pasti bermaksud menolong Pak Ferry yang memiliki phobia ketinggian untuk mampu melewati jalan setapak longsor itu. Bagi orang yang phobia ketinggian, berjalan di jalan sempit yang di kirinya longsor jauh ke bawah dan berakhir di sungai, tentu tak mudah.

Sejenak saya melihat ke atas, ke arah tebing yang longsor itu. Meski kelihatannya sudah lama terjadi longsornya, saya tetap memperhitungkan segala kemungkinan. Longsor memang sering terjadi di Nepal, tetapi tebing longsor di depan saya ini bukan sepenuhnya tanah, melainkan batu-batu kecil, pasir dan kerikil. Ah, saya segera menggelengkan kepala, sebagai tindakan tak sadar untuk menghapus pikiran buruk yang muncul dan berawalan dengan kata bagaimana seandainya…

Meninggalkan longsoran di belakang, saya melanjutkan jalan. Melewati hutan, desa dan melangkahi jembatan kayu kecil di atas batu-batu sungai yang airnya sedikit. Meski sedikit, airnya bening dan dingin. Kebahagiaan berjalan di bagian pegunungan yang sudah lebih rendah. Meski udara terasa lebih hangat, tetapi air lebih mudah didapat. Ah, saya membayangkan mandi enak di pemberhentian berikutnya.

Sebelum sampai ke Landruk, -tempat menginap berikutnya-, kami harus melewati jembatan kayu gantung yang terlihat sudah rapuh. Untuk melewatinya saya harus mengukur kekuatan kayu landasannya apakah mampu menahan beban saya yang bongsor ini. Apalagi saya harus berhenti ditengah-tengah. Karena ada air terjun bertingkat yang tersembunyi yang hanya bisa dilihat dari tengah jembatan itu. Bukankah kita harus berani mengambil risiko?

Setelah membatalkan trekking lanjutan ke Annapurna Base Camp (ABC), perjalanan setiap harinya menjadi lebih nyaman karena tanpa target waktu. Termasuk hari itu yang memang tak lama. Setelah makan siang yang kenyang dan lama di tengah lembah, akhirnya kami sampai di Landruk jelang sore. Lumayan bisa beristirahat sore hari dan mandiiiii! Saya pun bisa santai meluruskan kaki yang pegal  sambil menunggu malam.

Ini namanya benar-benar liburan… 

 

(bersambung)

 

Pesona Bumi Di Tujuh Tempat


Ada banyak cara untuk memperingati hari Bumi, yang secara internasional ditetapkan setiap tanggal 22 April, yang untuk tahun 2020 ini, merupakan peringatan yang ke-50 tahun. Saya memang belum ada apa-apanya sama sekali dalam hal keterlibatan penyelamatan lingkungan hidup di Bumi dan tidak mau muluk-muluk juga, namun paling tidak saya menjaga kebersihan lingkungan di tempat saya berada atau paling tidak menghemat penggunaan energi.

Tetapi yang pasti, saya tidak pernah mengabaikan keindahan bumi, setiap lekuknya, setiap konturnya. Apalagi dinikmati dari ketinggian saat saya terbang dengan pesawat, atau dari jendela bus. Sampai-sampai saya bingung mana yang lebih baik karena semua rasanya terbaik. Tidak ada yang lebih indah dari lainnya karena semua memiliki keindahan dengan ciri masing-masing.

Pantai Selatan Lombok

Indonesia memang salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di bumi dan tentu saja artinya memiliki begitu banyak pantai yang indah. Meskipun saya tidak begitu suka pantai (karena panasnya bisa membuat saya sakit kepala), sepanjang hidup baru menginjak pantai yang paling indah ketika berada di kawasan selatan pulau Lombok. Putihnya pantai yang panjang dan amat lebar serta birunya laut serta langit membuat saya serasa di surga, apalagi tak ada orang selain kakak dan saya. Karena masih jaman dulu, saya pun tak punya foto digital pantai itu. Itu pun sisa dari yang terselamatkan dari banjir-banjir di Jakarta. Hasil scan sudah pasti tidak bagus ya, tetapi daripada tidak ada…

*

Himalaya & Everest

Pertama kali ke Nepal 6 tahun yang lalu, saya begitu terpesona dengan keindahan lekuk bumi yang membentuk Himalaya dengan titik tertingginya di Everest yang saya lihat melalui jendela pesawat. Jajaran gunung-gunung tinggi yang diselimuti salju sepanjang abad itu teramat indah, teramat memukaukan. Perjalanan Mountain flight yang memakan waktu satu jam itu benar-benar layak dilakukan dan saya tak pernah menyesal mengambilnya.

Sebagai penduduk negara tropis yang tak pernah merasakan adanya salju, melihat Himalaya dengan saljunya yang tak pernah mencair di puncak-puncaknya, membuat mata ini tak bisa lepas. Sang Pencipta sungguh amat baik terhadap saya memberi kesempatan melihat dan menyaksikan sendiri betapa tinggi gunung-gunung di Himalaya baik dari sisi jendela pesawat maupun menjejaki sendiri kaki pegunungan itu.

Dari ketinggian saya bisa melihat jelas lekuk-lekuk permukaan bumi yang menghias bumi, namun dari tanah tempat saya berjalan berhari-hari, saya menyaksikan keindahan yang berbeda. Rasanya lebih dekat, bersentuhan dan memeluk langsung dengan keindahan itu, bisa membaui harumnya udara pegunungan yang berselimut kabut.

mteverest
Himalaya and Mt. Everest
Gurung Hill
View From Gurung Hill, Nepal

*

Jalur Siq, Petra

Untuk mencapai Petra, -sebuah kota tua dari suku Nabatean yang mendiami lima abad sebelum Masehi-, harus melalui jalur tebing karang yang amat sempit yang dikenal dengan nama The Siq sepanjang 1,2 km. Bagi saya, berjalan di jalur The Siq ini benar-benar mempesonakan. Tebingnya beratus meter meninggi keatas, hampir tegak lurus, berkelok-kelok, berwarna tanah gurun kemerahan, benar-benar membuat saya merasa kecil.

Lekuk alam yang dibuat oleh Sang Pencipta teramat cantik namun sekaligus menyimpan kekuatan dahsyatnya, Meskipun hanya 1,2 km panjangnya, The Siq juga mewakili alam yang bisa bergerak sesuai hukumnya. Saya tak pernah terbayangkan jika batuan tebing itu runtuh, siapapun yang ada di antaranya akan hilang tak bersisa.

*

Raniban, Nepal

Ah, bisa jadi memang saya jatuh cinta akan alam Nepal. Saat pertama kali berkunjung ke Nepal, saya menyempatkan untuk tinggal di sebuah tempat di puncak bukit Raniban. Di tempat itu, saya menjadi saksi keindahan alam luar biasa. Bisa dibilang saya berada di atas bukit dengan pemandangan indah selebar 360 derajat.

Matahari terbit di ufuk Timur dengan sinar lembutnya menerpa lautan awan sepanjang mata memandang, dengan hiasan World Peace Stupa yang berselimut kabut di puncak bukit seberang. Saya menjadi saksi World Peace Stupa yang awalnya terlihat jelas menjadi kabut, karena kabut-kabut dari bawah naik ke atas punggung bukit dan memeluk Stupa.

Saya tak bisa melupakan jauh di sebelah kiri saya berdiri terpampang malu-malu Gunung Macchapucchre yang tingginya hampir 7000 meter berpuncak salju abadi yang sebagian tubuhnya bersembunyi di balik awan.

Siapa sangka di bawah lautan awan yang terhampar luas itu terdapat kota Pokhara yang berada di pinggir danau Phewa yang menjadi landmark kota itu. Alam menunjukkan keindahan pagi hari yang tak terlupakan bagi saya.

raniban11
Sunrise at Raniban

*

Mustang

Ketika orang mendengar Nepal dan Himalaya, yang terbayang adalah salju. Tetapi siapa sangka di bumi yang sama itu, di daerah Mustang, terdapat “calon gurun” karena teramat kering tanpa tumbuhan hijau dan hanya berupa gundukan tinggi batuan dan pasir serta sungai lebar membawa sedimen pasir. Meskipun demikian, saya terpesona dengan keindahan struktur lapisan tanah yang membentuknya.

Jika tak berjalan dengan kaki sendiri, saya pun tak akan percaya bahwa daerah tanah kering berbatu coklat kemerahan tanpa tumbuhan rindang itu bertetangga dengan Himalaya yang masih menunjukkan keindahan gunung-gunung bersaljunya. Tetapi kawasan kering berangin ini, memiliki keindahannya tersendiri. Saya berhenti berkali-kali ketika melakukan trekking di sana, hanya untuk menikmati keindahannya. 

mustang1
Mustang, Nepal
mustang2
Mustang And Kali Gandaki River

*

Burung Terbang Rendah di Danau Inle

Memiliki waktu untuk menikmati keindahan danau Inle saja sudah merupakan kebahagiaan tersendiri, apalagi melewati waktu-waktu magisnya seperti matahari terbit atau terbenam. Bonus tambahan yang luar biasa bagi saya saat berkunjung ke sana tahun lalu adalah menikmati burung-burung kuntul yang terbang rendah, tak jauh dari perahu saya. Mereka menjejak memulai terbangnya dari tumbuhan-tumbuhan yang mengapung di danau. Peristiwa alam yang tak selalu bisa saya dapatkan di kehidupan perkotaan.

Berada di waktu yang tepat di Danau Inle saat itu, dengan burung-burung yang memenuhi tumbuhan yang mengapung kemudian mereka terbang, membuat saya bersyukur karena mendapatkan anugerah begitu banyak. Tak semua orang bisa menyaksikan dari tempat saya berada, begitu dekat, begitu mempesonakan. Bersama dengan makhluk-makhluk yang hidup bersamanya, alam memperlihatkan keindahannya.

inle1
The birds at Inle Lake

*

Laut Mati

Bisa berdiri dengan kaki sendiri di atas tanah yang berada 400 meter di bawah permukaan laut, di pinggir “laut” yang sesungguhnya danau itu, rasanya luar biasa sekali. Menujunya saya merasakan proses menurun yang tak habis-habis hingga membuat telinga sedikit tak nyaman. Tetapi itulah kenyataannya. Bumi yang indah itu memiliki celah yang begitu dalam dan menyimpan air yang terjebak di dalamnya dengan tingkat keasaman yang amat tinggi. Dimana lagi yang bisa menandinginya?

Apalagi ditambah dengan menyaksikan sore yang amat indah dengan sinar matahari yang tenggelam meninggalkan langit berwarna kuning keemasan. Lagi-lagi saya mendapatkan anugerah yang banyak bisa berada di tempat yang menakjubkan ini.

DSC00436
Sunset at Dead Sea

*

Bumi kita memang luar biasa keindahannya.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-16 bertema Beautiful Places On Earth agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. 

Senyum Seorang Pejuang


Sudah lama, -sekitar dua tahun memendamnya-,  saya ingin bercerita tentang dia, tentang perjuangannya yang luar biasa di usia yang masih amat belia. Tentang perjuangan yang tak mudah namun perlu dijalaninya. Perjuangannya membuat saya bercampur aduk rasa, termasuk, tentu saja bangga sekali kepadanya.

Dia, Husna, begitu saya memanggilnya, adalah keponakan dari belahan jiwa saya. Ayahnya adalah adik laki-laki satu-satunya dari suami saya. Otomatis Husna menjadi keponakan saya juga dan memanggil saya Bude (meskipun membuat saya merasa gede beneran secara fisik 😀 )

Berbeda dengan keluarga saya yang dibesarkan di kota secara Barat dan cenderung hedonis, suami saya berasal dari keturunan keluarga Jawa yang kehidupannya sederhana dan bersahaja. Kecuali suami yang berpindah ke Jakarta dan seorang kakak perempuan yang mengikuti suaminya, seluruh kakak dan adiknya masih menetap di Jogja, termasuk ayah dari Husna.

Ayah Husna seorang guru tetap, yang pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo akhirnya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ia harus menghidupi seluruh anggota keluarganya, termasuk Husna tentunya, dengan gaji seadanya yang diterimanya. Meskipun demikian, adik suami saya ini selalu berucap syukur atas pendapatannya itu.

Ibu Husna, hmm… Allah lebih mencintainya daripada ia menemani keluarganya di dunia. Setelah perjuangan bertahun-tahun dari penyakit kanker yang menyerangnya, mba Yati, begitu saya memanggilnya, akhirnya dipanggil pulang ke haribaanNya sekitar tiga atau empat tahun lalu. 

Ibu Husna juga seorang pejuang. Ia menjalankan proses kemoterapi yang berat secara disiplin. Kanker otak tak membuatnya kalah. Ia sukses menjalankan seluruh prosesnya. Tapi ternyata takdir berkata lain. Kanker di otak yang telah berhasil diobati, ternyata menyebar ke paru-paru pada saat ia kontrol berobat. Kali ini, tubuhnya yang telah ringkih karena pengobatan kemoterapi sebelumnya, tak mampu mengulang keberhasilan pengobatan berikutnya. Ia berpulang, meluruhkan seluruh sakitnya.

Meskipun diliput berbagai rasa antara sedih dan ikhlas atas kepergian mba Yati ini, saya selalu mengangkat topi kebanggaan untuknya. Ia merupakan teladan seorang penderita kanker untuk terus berjuang dalam hidup. Sesuatu yang dia turunkan untuk anaknya, Husna.

DSC05633
The brave girl

Husna sendiri menderita skoliosis atau tulang belakang bengkok sejak kecil. Dan skoliosis ini menganggu aktivitasnya. Tidak jarang, ia merasa sesak nafas karena bentuk skoliosis yang dideritanya semakin menekan paru-paru. Namun, belia yang baru saja lulus SMP itu tak mau mengalah dari ketidaksempurnaan tubuhnya. Dia tetap berjuang, sepertinya bundanya, untuk menikmati hidup.

Lalu, tepat permulaan tahun ajaran baru tahun 2018 lalu, dia mendapat jatah operasi dari BPJS setelah menunggu lama.

Lagi-lagi, antara gembira, takut, cemas, berharap saat mendengar berita Husna akan dioperasi tulang belakangnya. Bagi saya yang awam akan tindakan medis, operasi yang akan dijalankan oleh Husna ini bukan sembarang operasi, ini pastilah operasi besar yang amat berisiko. Dari sekolah dulu, saya belajar bahwa tulang belakang merupakan tempat syaraf-syaraf dari otak, lalu jika tulang ini diatur kembali, berarti termasuk syaraf-syarafnya kan? Saya langsung mules membayangkannya… (teringat waktu sesak nafas saat akan menjalankan operasi sesar saja saya sudah senewen, apalagi ini..)

Jadilah, Husna menjalankan operasi berjam-jam di Jogja dan Alhamdulillah berjalan lancar. Hanya sayangnya saya dan suami tidak dapat menjenguk setelah ia operasi.

Sebagai seorang ibu, dari jauh saya mendoakan khusus untuknya, untuk seseorang yang menjalankan tindakan medis yang berisiko tanpa kehadiran ibu kandungnya. Saya tak bisa membayangkan situasinya yang tanpa ibu disampingnya saat ia sadar meskipun seluruh keluarga besar mendukungnya. Dan nyatanya ia seorang pejuang seperti bundanya! Ia kuat, ia berani, ia berjuang…

Secara bergantian, kakak dan adik serta ayahnya menjaganya, melawan rasa nyeri dan kesulitan bergerak di rumah sakit selama masa pemulihan hingga akhirnya ia diperbolehkan pulang ke rumahnya.

DSC05636
The Smile

Pada kesempatan pertama bisa menjenguknya, suami dan saya terbang ke Jogja. Meskipun saya melarangnya untuk keluar kamar, ia berkeras lalu berjalan pelan untuk duduk di kursi yang agak tinggi. Ia harus bersikap tegak karena ada alat penyangga yang dikenakan di balik pakaian longgarnya. Ia tetap tersenyum menampakkan kemudaannya.

Sambil senyum malu-malu, ia bercerita diselingi kakak dan adiknya. Bercerita tentang nyeri setelah operasi tetapi didukung penuh oleh keluarga besarnya, bercerita tentang semangatnya untuk sembuh dan kembali bersekolah. Bercerita banyak hal tentang keberanian, tentang keikhlasan dan berserah kepadaNya, tentang tetap positif terhadap semua yang terjadi. Juga tentang bersyukur atas begitu banyaknya perhatian dan bantuan kepadanya. Semuanya membuat hati saya mengerut bahagia. Orangtuanya telah berhasil memperkaya jiwa dan hatinya. Saya sama sekali bukan apa-apanya.

Ia tak gentar, untuk kembali dibonceng naik motor meski katanya, minta jalan pelan-pelan saat melewati polisi tidur karena rasanya nyeri sekali. Ia juga berjanji kepada gurunya untuk berusaha mengejar pelajarannya, meski ia mendapat keringanan untuk belajar sekuatnya, sepanjang ia bisa duduk tegak. Tetapi pernahkah kita membayangkan berdiri, duduk dan melakukan apapun dengan punggung lurus? Berapa lama kita mampu melakukannya dalam sehari? Bagaimana jika ditambah dengan rasa nyeri yang teramat sangat? Husna telah melaluinya, sebagai warna dari kehidupannya.

Percaya tidak, dia telah membuat saya menggeleng-gelengkan kepala mengaguminya ketika saya tanya apa yang menyenangkannya setelah operasi.

Husna tersenyum menjawab sambil melirik kakak perempuannya,

“Sekarang aku tidak kalah tinggi dari dia.”

Itu senyum kemenangan atas perjuangannya.

DSC05635
Husna (left) & her sister, Fi’a

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-15 bertema Smile agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. 

Mewujudkan Angan, Melatih Tangan


Sejak kecil, tangan saya ini tidak terlalu trampil untuk pekerjaan-pekerjaan tangan. Bisa jadi otot motorik halusnya tidak berkembang dengan baik. Mungkin memang bentuk tangan saya yang cenderung gempal, jari-jarinya pendek dan gendut. Pastinya bukan tangan untuk pemain piano atau pemain gitar. Pasti panjang jarinya tidak lulus untuk dua ketrampilan itu.

Meskipun begitu, sejak kecil saya bisa menari, meskipun jemari saya tidak masuk kategori jari penari. Bukankah jari penari itu panjang dan lentik, sedangkan jemari saya pendek dan gendut? Tapi saya berpedoman, anjing menggonggong, kafilah berlalu. Saya terus saja menari meskipun jari saya sebenarnya menggemaskan 😀 😀 😀 karena jika diperhatikan tangan saya ini seperti tangan balita, yang panjang jari sama dengan panjang telapaknya.

Nah, bisa jadi karena itu pula, nilai-nilai prakarya, kerajinan tangan, melukis dan semua hal terkait ketrampilan jari tangan selama sekolah tidak pernah outstanding. Biasanya “B aja“, kata kalangan millenial sekarang.

Tetapi saya bersyukur memiliki jari tangan balita itu, karena saya tetap bisa bekerja dengan baik hingga kini. Saya sendiri tidak mempermasalahkan dengan jari tangan balita ini. Bahkan kadang, kalau iseng, saya sering menertawakan penuh cinta terhadap tangan saya. Lucu dan menggemaskan!

Terlepas dari ketidakmampuan saya membuat karya-karya yang menggunakan otot motorik halus, belakangan ini, entah kenapa saya kembali menghidupkan angan-angan untuk bisa menghasilkan sesuatu dari tangan sendiri. Mewujudkan sesuatu. Bisakah?

Merajut.

Merajut adalah salah satu ketrampilan tangan yang ilmunya saya dapatkan dari almarhumah Oma (nenek) saya karena memang di masa kecil saya dititipkan pada Oma karena orangtua bekerja. Saya hanya bisa menggunakan alat hakpen untuk merajut (crochetting) meskipun Oma juga mengajarkan untuk merajut dengan dua tangkai (knitting). Untuk yang terakhir ini saya menyerah, karena benangnya selalu lepas dari tangkainya.

Meskipun merajut ada sedikit hitung-hitungannya, saya tidak pernah menggunakannya. Dulu saat di sekolah saya merajut mengandalkan rasa saja dan tak pernah menghitung. Alhasil, taplak bundar saya selalu bergelombang penuh lipit meskipun saya tidak terlalu memperdulikannya. Bahkan tarikannya pun saya tidak peduli, kadang lebar, kadang ketat. Akibatnya yaaa… bisa dilihat ada lubang yang besar dan ada yang kecil. Dan jika hasil karya itu dibalik, bagian belakangnya lebih kacau lagi. Dan tentu saja guru saya punya pertimbangan sendiri untuk bilang hasil kerajinan tangan saya tidak sempurna! Bandelnya, bagi saya merajut itu proses senang-senang dan proses kreatif. Saya ingin bebas dan tidak mau ribet dengan hitungan, saya tidak mau ribet dengan tarikan. Saya ingin menghasilkan dengan tangan yang bergerak tanpa saya perintah-perintah. Perintah untuk stop, untuk pelan-pelan, untuk dihitung, atau dibatalkan jika salah.

Dan sayangnya kebiasaan itu terbawa hingga kini. Almarhumah Oma pasti jengkel melihat kesewenang-wenangan saya merajut. 😀

Kesewenang-wenangan saya yang lain terkait merajut adalah tidak sabar dan tidak tekun. Akibatnya, jika saya sudah jenuh, saya tinggalkan dan lupakan. Angan-angan sih membuat taplak meja bundar yang cukup besar. Tapi hasilnya kebanyakan hanya satu alas selebar tatakan gelas!

Mengenal kelemahan saya itu, maka saya meninggalkan angan-angan untuk merajut. Merasa bisa dan tahu ilmunya tapi malas menghasilkan. Sombong banget kan…

Nah sekitar setahun lalu, ada kawan saya yang memberi tas tangan dan topi rajutan. Dari dialah mulai timbul lagi angan untuk merajut. Berhasil! Tapi hanya berhasil beli benang dan hakpen (karena seluruh peralatan merajut saya sudah entah kemana!). Itupun benang coba-coba dan hakpen ukuran besar. Setahun lalu itu, dengan segala motivasi, akhirnya saya mulai lagi merajut meskipun, lagi-lagi, tanpa hitungan. Suka-suka saja. Hasilnya tatakan gelas lagi! 😀 😀 😀

Desember lalu, sebelum umroh, lagi-lagi saya mencoba mewujudkan angan, masak sih saya tidak bisa menghasilkan rajutan selain tatakan gelas? Kali ini saya serius menantang diri. Harus bisa, hasilnya harus lain. Begitu jadi bundaran setatakan gelas, saya naikkan barisnya yang akhirnya membentuk mangkok. Ah saya gembira juga, meskipun masih menggunakan gaya suka-suka.

Sepulang Umroh, lalu dengan kesibukan kerja, pekerjaan rajutan saya terbengkalai begitu saja, Kemudian tiba-tiba dunia dihebohkan dengan penyebaran virus corona, kegiatan WFH diberlakukan sehingga membuat saya memiliki waktu lebih banyak. Saya merajut lagi. Dan akhirnya jadi sebuah tempat tumbler lho. Tanpa pola, tanpa hitung-hitungan.

Horeee… berhasil  juga jadi tempat tumbler, bukan tatakan gelas… 😀 😀 😀

Dan semoga saja, saya berhasil menyelesaikan lagi masker rajut yang baru saya mulai kemarin.

rajut
A Tumbler holder

Menjahit.

Serupa dengan merajut, proses ketrampilan menjahit saya tidak maju-maju dan selalu meninggalkan hasil karya yang tidak selesai. Untuk melanjutkannya, sungguh malas. Ada di tempat jahitan, mukena yang tidak selesai, rok yang tidak selesai, blus yang tidak selesai. Lucunya, duluuuuu jaman masih kuliah dan pastinya belum punya mesin jahit, saya bisa menyelesaikan celana panjang kerut yang saya selesaikan dengan jahitan tangan. Tapi itu duluuuu….

Dan kemarin, gara-gara persediaan masker sudah menipis, akhirnya saya mengambil keputusan untuk menjahit masker sendiri. Sayangnya, tempat peralatan jahit yang kecil kompak dan lengkap itu ada di koper saya yang hilang dalam perjalanan Umroh lalu. Yang tertinggal sekarang hanya pelengkap. Saya bongkar-bongkar, ternyata masih ada kain sisa yang bisa dibuat masker. Apalagi masih ada kain katun putih yang bisa digunakan sebagai pelapis. Lengkap juga bahannya.

selfmade mask
The process to make a face mask

Alhasil, dalam sehari saya sibuk berkutat dengan jarum dan kain. Tadinya saya siap menggunakan mesin jahit. Tetapi akhirnya saya lebih memilih menjahit dengan tangan. Meskipun masih berantakan disana-sini, masker muka 3 lapis untuk saya selesai juga. Bahkan anak-anak minta dibuatkan. Duh, gak tau ya mamanya dengan susah payah membangun motivasi!

Mudah-mudahan dengan selesainya masker itu, selesai juga masker yang dikerjakan dengan mesin jahit, selesai juga mukena, selesai juga rok dan blusnya. (Duh yang pakai hitung-hitungan pasti belakangan banget deh!)

my handmade mask
My self hand made mask

Merangkai manik-manik

Rasanya pekerjaan kerajinan tangan yang paling mudah bagi saya adalah merangkai manik-manik. Dasarnya mungkin karena saya suka gelang. Saya punya cukup banyak koleksi gelang dari manik-manik yang warnanya bisa disesuaikan dengan warna pakaian. Meskipun pada akhirnya biasanya saya lebih suka mengenakan warna yang standar, hitam, merah, biru atau silver.

Kegemaran saya merangkai manik-manik bertambah dengan adanya koleksi dari Mama karena dulu orangtua sempat dinas beberapa waktu di Kalimantan Selatan dekat dengan Banjarmasin. Jadi koleksi manik-manik Mama sebagian besar diberikan kepada saya (secara saya anak perempuan satu-satunya deh!)

Tak hanya Mama. Pernah sekali waktu ada seorang teman memberikan saya gelang manik-manik merah dan hitam yang bentuknya “bukan saya banget”, meskipun bentuk manik-maniknya cukup cantik tapi sayang rangkaiannya “mengerikan”. Akhirnya sesampainya di rumah, saya gunting gelang pemberian itu lalu saya rangkai ulang sesuai dengan gaya saya. Teman saya yang memberikan tidak pernah sadar gelangnya sudah berubah bentuk hehehe..

Sekarang ini, berhubung masih musim penyebaran virus corona yang bisa menempel di berbagai perhiasan, jadi untuk sementara waktu saya tidak mengenakan aneka gelang manik-manik itu. Mungkin nanti jika virusnya sudah lebih bisa dikendalikan.

my beadscraft
some of my beadscraft

*

Hmmm…. Setelah dipikir-pikir, tahun ini rasanya saya sedikit naik tingkat dalam hal kerajinan tangan, yaitu bisa menghasilkan sesuatu. Menjadikan sesuatu menjadi ada. Angan-angan sederhana yang menjadi nyata, meskipun melewati puluhan tahun waktunya.

Ah, tidak apa-apa kan… Bukankah semua itu ada waktunya? Yang penting kita mulai saja, kadang memang terlambat lamaaa sekali, tetapi pasti ada pembelajarannya kan?

Yuk… let’s do it

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-13 ini bertema Handicraft agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Siapa Dia Yang Berjemur Di Depan Gua


Saya baru saja meninggalkan pintu gua Ashabul Kahfi yang terletak sekitar 10 km sebelah Timur kota Amman, -ibukota Jordan-, dan masih terpesona dengan kawasan bersejarah yang kisahnya terabadikan di kitab suci Al Qur’an dalam Surat Al Kahfi itu, surat yang biasa dibaca umat Muslim setiap hari Jumat itu. Rasanya belum mau melepas pandang dari pintu gua seukuran badan manusia yang baru saja saya tinggalkan itu. Entah kenapa saya jadi teringat saat berada di kawasan Lumbini enam tahun lalu.

Ada kesamaan di antara keduanya yakni berupa reruntuhan peradaban yang masih terpelihara hingga kini, melewati masa ratusan tahun hingga milenia. Seakan alam menjaganya, melindunginya dari prahara-prahara dunia yang tak pernah berhenti. Persis seperti permata berharga yang tak lekang oleh masa. Ada aura khas yang  menggetarkan rasa. Seperti menguarkan atmosfir adanya kehidupan yang menjadi sejarah di antara batu-batu kuno itu.

Ashabul Kahfi sendiri mengisahkan tentang tujuh pemuda yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tertidur lelap di dalam gua selama 309 tahun menurut kalender hijriah. Konon ketujuh pemuda yang taat mempertahankan keimanannya itu melarikan diri dari kekejaman Raja Dakyanus yang saat itu berkuasa dan telah menjatuhkan hukuman mati kepada siapapun yang menentang dirinya, termasuk ke tujuh pemuda itu karena senantiasa mempertahankan keimanannya. Dan ketika mereka terbangun 309 tahun setelahnya, mereka terkejut karena keadaan telah berubah sama sekali dan tidak ada lagi pasukan Raja Dakyanus yang mengejar mereka. 

Saat itu, rasanya saya masih terpukau dengan peninggalan-peninggalan sejarah pada dinding dekat pintu gua, yang dihiasi oleh simbol-simbol Romawi. Sungguh saya belum puas menikmati keluarbiasaan itu ketika terdengar arahan dari tour leader kami untuk segera berpindah menuju Masjid yang ada di dalam kawasan yang sama untuk melaksanakan kewajiban ibadah agar bisa melanjutkan perjalanan (Suatu saat nanti, InsyaAllah, saya akan menuliskan kisah perjalanan di Amman ini)

Saat itulah saya melihatnya. Hewan berbulu di depan gua. Cantik.

Meskipun matahari telah condong ke Barat, panasnya tak lagi gahar. Bisa jadi suhu udara kota Amman dua hari jelang Tahun Baru 2020 itu memang teramat sejuk. Hewan berbulu, -yang oleh sebagian teman-teman penggemar biasa disebut Anbul, alias Anak Bulu-, duduk di atas bebatuan, menghadap ke Barat.

DSC00392

Salahnya dia duduk menghadap ke Barat sehingga ia teramat silau terpapar sinar matahari jelang sore. Ia memicingkan matanya, tak bisa membuka mata lebar-lebar karena sinar matahari terlalu terang. Tapi entahlah, bisa jadi ia justru memilih posisi duduk menghadap Barat. Sepertinya terasa hangat. Sepertinya ia memang mencari matahari. Kasarnya, berjemur sore.

Saya bukanlah seorang penggemar kucing, bukan juga pembencinya. Tetapi ketika melihat seekor kucing yang “kesilauan” dan bersikap santai tak peduli dengan lingkungan lainnya, duduk di atas batu di kawasan wisata bersejarah, terus terang saja saya merasa terbawa oleh sikapnya yang menyenangkan. Entah kenapa, saya teringat turis-turis kulit putih yang sering berjemur di pantai mencari sinar matahari agar kulitnya lebih tanned.

Warna kulit si Kucing Cantik ini tak terlalu jauh dari warna-warna batuan yang menjadi latar belakangnya. Tetapi bagaimana pun sikapnya yang “kesilauan” itu menggugah rasa gembira saya. Lucu sekali, karena seumur-umur saya tak pernah melihat seekor kucing menantang matahari dan kesilauan sendiri. (Ah, kamu Cing, harusnya pakai kacamata cengdem!)

Saya tidak bisa berlama-lama menatap si Kucing Cantik ini karena tour leader lagi-lagi mengingatkan untuk melanjutkan perjalanan.

Meskipun masih gemas dengan sikap si Kucing Cantik ini, saya harus melepaskan pandangan darinya.

Sampai bertemu lagi, Cing…

Sambil melangkah saya terpikir, apakah si Kucing Cantik itu juga merasakan aura bersejarah dari Gua Ashabul Kahfi seperti yang saya rasakan tadi? Siapa sebenarnya si Kucing ini?

Ah, jangan-jangan si Kucing Cantik ini….

Segera saja saya membuang pikiran nyeleneh yang muncul dan bergegas menyusul rombongan.


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-12 ini bertema Kucing (Cat) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…