Menjejak Kembali Langkahmu


Sadly missed along life’s way, quietly remembered everyday…

No longer in our life to share, but in our hearts you’re always there

-Unknown

Ketika seorang sahabat mengajak untuk menuliskan cerita tentang menapak tilas, pikiran ini langsung terbang ke sebagian perjalanan-perjalanan yang saya lakukan selama ini. Perjalanan-perjalanan menapak tilas seseorang yang selalu ada dalam jiwa,dan sebagian besarnya sudah saya tuliskan di blog ini. Bagi saya pribadi hanya ada satu perjalanan menapak tilas, yaitu menapak tilas perjalanan almarhum Papa. Tapi ah, bisa jadi, saya sudah terlalu lelah untuk membongkar ruang-ruang hati dan ingatan mencari tahu perjalanan lain yang berupa menapak tilas.

Meskipun kamus rujukan mendeskripsikan menapak tilas adalah melakukan perjalanan dengan menelusuri tempat-tempat yang pernah didatangi dan dilalui oleh seseorang pada jaman dahulu untuk menghidupkan kenangan atau sejarah, saya sendiri mengartikannya secara bebas. Karena menapak tilas bagi saya pribadi mencakup juga kegiatan mendatangi kota-kota yang pernah didatangi atau ditinggali oleh seseorang yang berarti. Dan itu artinya adalah Papa!


Saya telah menjejak Hong Kong, negeri tempat Papa dan Mama menikmati honeymoon yang ke sekian kali. Merasakan gempitanya Kowloon, melihat kerlap-kerlip lampu kota seperti yang Papa Mama ceritakan. Dan saya ceritakan pula kepada mereka tentang sudah adanya jalan mobil dan kereta yang menghubungkan tempat-tempat yang terpisahkan oleh laut meskipun saya tetap mencoba menaiki ferry yang sangat khas itu. Tak lupa saya ceritakan bandara yang tak lagi di Kaitak sehingga saya tak bisa lagi merasakan debaran jantung saat mendarat karena dekatnya dengan perairan. Hong Kong yang modern telah jauh berbeda dengan Hong Kong yang dulu Papa Mama datangi, berpuluh tahun silam. Meskipun demikian, jauhnya perbedaan itu tetap tak mampu menghilangkan kenangan yang terpaut di dalamnya.

Tak lupa, saya pun telah menjejak langkah Papa di Jepang, termasuk di Kamakura, berfoto di Daibutsu, patung Buddha yang besar itu. Bahkan saya sempat menginap satu malam di Yokohama, kota pelabuhan tempat kapal Papa dulu berlabuh. Malam itu, saya berjalan sendiri sekitaran Yokohama, menghirup harumnya udara laut sambil mengenang langkah-langkah Papa. Dan yang paling meninggalkan kesan ketika saya bisa berpose serupa foto Papa di depan Gedung A-Dome di Hiroshima. Dan semua pengalaman itu telah saya ceritakan kepadanya ketika Papa masih terbaring tak berdaya karena stroke yang menyerangnya. Meski demikian, kegembiraan dan semangat selalu terpancar pada raut wajahnya saat kami bertukar cerita tentang Jepang.

Saya sendiri mengalami rasa emosi yang menggelegak saat berdiri di depan Shwedagon Paya, Myanmar. Karena saya mengenal nama pagoda besar di Myanmar itu sejak masih teramat kecil. Buat seusia itu, mengucapkan Shwedagon teramat susah, apalagi membayangkan letaknya. Namun nama itu begitu kuat menempel di benak sehingga tercetus, one day saya akan sampai ke sana. Dan benarlah saya bisa menjejak ke tempat itu, ke tempat Papa dulu juga berfoto. Sepulangnya saya dari Myanmar, cerita tentang itu teramat membahagiakan Papa. Cerita itu bagaikan tak berakhir, menjadi penyemangat Papa di kala sakit mendera, sesemangat saya menceritakan kepadanya.


Akhir Desember 2019

Dalam bus yang bergerak meninggalkan kota Mekkah setelah melakukan ibadah Umroh, saya diliputi berbagai rasa. Ada kesedihan meninggalkan kota Mekkah, ada juga kegembiraan karena kami sedang menuju Palestina. Dan diantara rasa-rasa yang bercampur aduk itu, di salah satu sudut ruang hati ada denyutan yang teramat pribadi. Yang mungkin tidak terasakan oleh rombongan kami, namun hanya saya sendiri yang merasakan.

Denyut itu begitu kecil tapi jelas, laksana genta-genta yang digoyangkan oleh biksu penjaga kuil yang menghasilkan denting indah yang merambat jauh. Dan denyut itu terjadi karena bus sedang menuju kota yang pernah disinggahi Papa. Jeddah!

Berpuluh tahun silam ketika penerbangan merupakan transportasi termahal sehingga biayanya tak terjangkau bagi kalangan biasa untuk menunaikan ibadah haji, para jamaah hanya memiliki pilihan menggunakan kapal laut. Berminggu hingga berbulan lamanya dari Indonesia untuk mencapai Mekkah dan selama itu kehidupan berjalan tak mudah bagi yang tak biasa. Ombak mengayunkan manusia-manusia yang berjalan, titik keseimbangan raga tak pernah tetap. Bagi yang tak tahan, kepala pusing bahkan sampai mengeluarkan isi perut merupakan peristiwa yang terlalu sering terjadi sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan. Dan para jamaah tamu Allah yang kebanyakan telah lanjut usia itu bertahan semampunya. Bahkan kota-kota yang disinggahi pun tak terlihat menarik lagi karena Jeddah merupakan kota pelabuhan terakhir sebelum akhirnya para jamaah berduyun memasuki Mekkah, kota kecintaan mereka. Tak semua bisa mencapainya, karena sebagian darinya telah syahid dalam perjalanan haji mereka. Dan sesuai protokol yang ada dalam setiap perjalanan di laut, bagi mereka yang dipanggil pulang ke HadiratNya dan freezer tak mampu menampung lagi, satu-satunya jalan adalah mengembalikan jasad yang telah kaku itu ke alam semesta melalui pelarungan.

Saya telah mendengar kisah itu sejak kecil dari bibir almarhum Papa, termasuk manusia-manusia tak sabar yang menyangka pelabuhan-pelabuhan sebelumnya yang disinggahi adalah Jeddah. Mereka sudah tak lagi sabar, ingin segera turun, bersujud mencium harumnya Bumi Mekkah.

Kisah-kisah tentang Jeddah semakin cepat silih berganti menghias benak saya ketika bus mendekati kota yang menimbulkan kenangan itu. Ada sejentik air yang mengembang di sudut mata, sejumput doa terucap dari hati yang paling dalam. Saya menarik nafas panjang untuk menguatkan jiwa. Kali ini, tak ada lagi telinga Papa yang siap mendengar cerita-cerita saya saat mengunjungi kota yang pernah ia singgahi dalam perjalanan dengan kapalnya. Papa telah dipanggil pulang dua tahun lalu.

Masjid Qisas, Jeddah

Meski Jeddah semakin dekat, saya tahu takkan bisa mengunjungi pelabuhannya karena tak pernah ada dalam itinerary. Namun, bisa mencapai kotanya saja, bisa menjejak di bumi Jeddah dan bisa mencium harum udaranya, saya sudah sangat bersyukur. Tak ada waktu untuk singgah kecuali melihat dari atas bus, juga pelabuhannya yang hanya bisa terlihat dari kejauhan. Seperti biasa di bus, saya menempelkan telapak tangan di jendela untuk menyapa tempat-tempat yang mampu mengaitkan kenangan dan juga membisikkan kata dalam jiwa. Dan ketika menjejak bandara Jeddah, pikiran saya terbang ke pelabuhan Jeddah somewhere out there,

Saya telah sampai di Jeddah, Pa, di kota tempat Papa dulu pernah melangkahkan kaki.

Berjuta cerita ingin saya sampaikan kepadanya, karena saya begitu beruntung bisa sampai ke Mekkah dan selepasnya bisa melewati Jeddah dengan sangat cepat, hanya belasan jam penerbangan dan juga dengan bus yang nyaman melalui jalan bebas hambatan. Sungguh tak perlu seperti mereka yang dulu ikut dalam kapal Papa, yang begitu lengkap deritanya, yang begitu panjang perjuangannya.

Ya Allah, begitu banyak saya ingin bercerita kepadanya…


April 2019

Saya memang terlambat melakukan perjalanan ke Mawlamyine (sebuah kota yang diminta Papa untuk saya datangi, ketika kami bertukar cerita tentang Shwedagon). Mawlamyine merupakan kota pelabuhan yang pernah disinggahi Papa dulu. Saya melakukannya 102 hari setelah Papa meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Setelah sore yang mengharu biru (jika berkenan, baca kisahnya Hadiah Manis di Mawlamyine), keesokan paginya saya berjalan kaki menyusuri sungai lebar di depan hotel itu, melepas semua rasa yang ada, membiarkan angin menunjukkan arah kaki melangkah. Sunset yang rupawan sore kemarin tak menyediakan tempat bagi sunrise untuk bertanding dengannya. Kapal tambang yang terbengkalai namun tertambat di pinggir, menambahkan kerak yang tak enak dilihat. Air keruh sungai juga tak mengubah keadaan menjadi manis. Satu-satunya yang mampu melipur jiwa adalah kabut yang melingkupi sebagian dari jembatan membuat pemandangan terlihat magis karena sebagian jembatan seperti hilang ditelan kabut.

Meski tak mengerti banyak hal, saya mencoba memahami denyut kota pelabuhan Mawlamyine itu. Papa tak pernah mengatakan kepada saya secara langsung apa yang menarik dari kota itu sehingga saya harus menemukannya sendiri. Dan setelah mendapatkan hadiah manis seperti yang saya ceritakan pada link di atas, pagi ini saya harus menemukannya kembali. Apakah kabut magis yang menutupi sebagian jembatan itu atau bukan, saya hanya bisa menduga-duga.

Dan langkah-langkah pagi itu membukakan mata saya. Di sepanjang jalan yang disusuri, saya menemukan banyak masjid bahkan Masjid Sunni dan Syiah berdekatan. Di hari itu saya juga berkeliling kota sunset itu. Begitu banyak gereja Kristen maupun Katolik dan aliran lain didirikan di kota Mawlamyine. Bahkan di negeri yang mayoritas penduduknya menganut Buddha ini, saya juga menemukan kuil Hindu yang luas. Dan tentu saja ada banyak kuil Buddha yang amat indah dengan stupa-stupanya yang berlapis emas.

Perlahan saya memahami, mungkin ini yang dimaksud Papa mengenai keindahan Mawlamyine. Kehidupan beragama mereka begitu penuh toleransi. Sebuah teladan yang selalu Papa ajarkan kepada saya, kepada seluruh anaknya. Dan Papa meminta saya untuk ke Mawlamyine, untuk menemukannya. Sebuah keindahan yang saya saksikan namun tak bisa lagi saya ceritakan kepadanya. Saya 102 hari terlambat mengunjungi Mawlamyine…

Terlalu banyak kenangan manis di Myanmar terkait dengannya.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 5 dan bertema Napak Tilas agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

Sebuah Janji Terbang ke Annapurna Base Camp


Sebuah Catatan di Bulan Oktober 2016

Dalam doa, saya tersentak. Benarkah ini? Tak mungkin tak percaya, tak mungkin tak merasa. Karena rasa itu begitu intense. Ada bahagia mendekap rasa, sangat kuat. Rasa yang sama, dalam hari-hari perjalanan luar biasa di Nepal 2014 lalu

Ke Nepal? Lagi? ABC? Annapurna Base Camp? Rasanya tak percaya, tetapi jelas ada rasa yang teramat kuat, sebuah janji yang tak pernah tak ditepati, sehingga tak perlu lagi ada tanya. Saya akan sampai di Annapurna Base Camp!


April 2017

Tak banyak waktu dibuang di Pokhara sekembalinya kami dari Australian Camp yang kisahnya bisa dibaca di sini. Trekking telah selesai tetapi bukan berarti liburan harus ikut selesai. Apalagi udara Pokhara yang nyaman sangat mendukung kami untuk mengeksplorasi kota di pinggir danau Phewa itu. Tentu saja kami harus melakukan apa yang dilakukan orang saat pertama kali ke Pokhara, berperahu keliling danau dan mampir ke Barahi Tal, pulau kecil di tengah danau dengan kuil yang cantik. Sungguh waktu yang menyenangkan untuk berperahu yang kemudian dilanjut acara cicip kuliner di setiap kios makanan di pinggir danau itu terutama bagi kedua sahabat seperjalanan trekking. Saya terheran-heran perut mereka bisa terus dimasukkan makanan sementara saya yang picky ini sangat sulit menelan makanan yang asing. Bisa jadi mereka ‘balas dendam’ terhadap dal bhat yang disantap setiap hari selama trekking.

Kami jalan perlahan kembali menuju hotel, sambil ke ATM untuk tip porter yang harus diselesaikan. Tiba-tiba Pak Ferry menghampiri saya, serius sekali wajahnya.

“Kita sudah sampai di sini, tanggung banget kalau tidak ke ABC. Tadi saya sempat tanya sebelum kita ke Danau, harganya sedikit mahal tapi sepertinya masih terjangkau. Lagi pula, kapan lagi? Mumpung kita di Pokhara”

Sambil berbicara itu, Pak Ferry menunjuk ke sebuah kios di dekat ATM, yang membuat saya berdesir.

Heli tour ke Annapurna Base Camp!

Selagi Pak Ferry bicara, saya berhitung cepat di kepala, menimbang-nimbang apakah saya mau mengeluarkan tiga jutaan lebih untuk ke Annapurna Base Camp. Bayangan indah pegunungan Himalaya menari-nari di benak ditambah pengalaman naik helikopter dan juga pencapaian keinginan ke Annapurna Base Camp sebagai destinasi liburan. Semuanya mendesak tanpa peduli, seakan-akan ada suara, uang bisa dicari lagi tapi kapan lagi bisa naik helikopter ke gunung salju?

Pak Ferry memandang dan menunggu jawaban. Detik-detik berlalu sementara di kepala masih ada pertempuran take it or leave it. Sepersekian detik, terasa lagi rasa yang pernah menghias hati saat berada di persimpangan Chhomrong, Ke kiri ke ABC dan ke kanan kembali ke Pokhara. Melepas tujuan liburan itu sebenarnya tak pernah mudah. Lalu sekarang, ada kesempatan kedua untuk meraih kembali impian. Take it or leave it!

Saya mendadak menggigil karena merasa diberikan kesempatan kedua namun masih terlalu lama berpikir. Ada jalan yang terbuka, sebuah kesempatan yang bisa hilang begitu saja jika saya terus berpikir tanpa kepastian. Bukankah kesempatan ini merupakan sebuah tanda dari Semesta? Kami memang harus ke ATM, yang ternyata berada di depan dari agen heli-tour itu. Bahkan Pak Ferry sudah bertanya-tanya tentang Heli tour itu.

Menyadari bahwa Semesta sedang mencoba berkomunikasi kepada saya, dengan keyakinan penuh saya mengangguk. Lalu kaki terasa ringan saat melangkah ke dalam kantor yang tidak luas itu, lalu melakukan reservasi untuk penerbangan pagi keesokan harinya. Saya menutup mata ketika kartu kredit itu dipakai. Meskipun terasa seperti mimpi, nyatanya semua yang terjadi dimudahkan dalam prosesnya.

Malam hari di kamar hotel, saya mengingat kembali perjalanan hari itu. Pagi hari saya masih sarapan pagi di Australian Camp, lalu menghabiskan trekking Annapurna Conservation Area dan kembali ke Pokhara, menyusuri Danau Phewa yang diakhiri dengan sebuah keputusan yang luar biasa untuk kembali ke Annapura Base Camp. Ingatan ini kembali ke tahun 2014 ketika meninggalkan Nepal dan menyaksikan dengan jelas Mt. Everest dari jendela pesawat, lebih jelas daripada ketika melakukan Mountain Flight. Semesta selalu mendukung perjalanan saya ke Nepal. Dan esok hari sebagai hari terakhir di Pokhara, saya diberikan kesempatan lagi untuk menjejak Annapurna Base Camp dengan segala keindahan puncak-puncak berselimut salju abadi. Malam itu, saya terlelap bahagia.

Keesokan paginya…

Dengan membawa daypack kami berangkat menuju bandara Pokhara. Perasaan kami luar biasa bahagia, seperti orang yang baru pertama kali naik pesawat terbang dengan segala imajinasinya. Tak banyak orang bisa memiliki kesempatan menaiki helikopter untuk ke Himalaya. Pastinya ini gaya Sultan 🙂

Di bandara yang lengang itu, kami tak sabar menunggu. Kami melihat beberapa helikopter di landasan, entah mana yang akan kami naiki. Lalu ketika saat boarding diumumkan setengah berlari kami menuju helikopter itu meski tak lupa instruksi dan SOP untuk menaiki helikopter. Kami semua yang seluruhnya ada 6 orang, seorang perempuan cantik dari Saudi Arabia, sepasang dari Malaysia dan kami bertiga, kembali menjadi seperti anak kecil yang minta berfoto dengan latar helikopter. Tapi acara foto akhirnya harus berhenti karena pilot yang gantengnya setengah mati itu sudah memberi kode untuk naik. Waktunya terbang!

Mesin menyala dan sebelum mengangkasa, pilot melakukan briefing singkat tentang keselamatan terbang yang mungkin hanya didengarkan dengan satu telinga karena ekstasi yang melimpah dari semua penumpang, melupakan bahwa kendaraan yang dinaiki adalah helikopter dan bukan pesawat terbang. Saya yang duduk di pintu di kiri berjendela luas, dapat menyaksikan seluruh penumpang yang sudah tak sabar. Mungkin hati mereka berkata, ayolah bang ganteng, jangan bicara terus, terbang sajalah… (dan asli, pilotnya gagah sekali!)

Lalu satu, dua, tiga dan huuup… heli mulai naik meninggalkan bumi. Pak Ferry yang duduk di depan saya tak berani melihat ke bawah karena sedang mencoba mengatasi phobia ketinggiannya. Saya sendiri berdegup kencang, tak percaya naik heli di Nepal. Sebuah pengalaman baru.

Dalam hitungan menit bangunan-bangunan di kota Pokhara semakin jelas terlihat dari atas dengan Danau Phewa yang menyangganya. Saya seperti menjadi drone yang mengamati bangunan-bangunan kotak di bawahnya, tanah-tanah lapang, jalan-jalan yang dilalui beberapa kendaraan karena hari masih pagi. Terasa sekali kami semua haus dengan pemandangan yang tidak biasa. Ini seperti naik pesawat saat mau mendarat sehingga pemandangan di bawah terlihat dekat dan jelas.

Heli semakin tinggi mengangkasa dan melewati perbukitan serta mendekati Annapurna Conservation Area. Saya terdiam membayangkan trekking kami di hari-hari sebelumnya. Perjalanan panjang berhari-hari itu bisa dipotong begitu cepat dengan terbang. Deru baling-baling atas yang berputar cepat tak menghilangkan kegembiraan kami menuju lembah Annapurna. We’re back! Perasaan kami begitu gempita membuat mata nyalang ke sana sini, berharap bisa merekam semua keindahan di depan mata, melupakan bahwa keindahan itu juga harus diabadikan dalam foto. Ah, rasanya sayang sekali jika keindahan luar biasa ini harus disaksikan lewat lubang kecil kamera. Tapi, kenangan itu harus ada…

Menit-menit berlalu dengan gegap gempita, tak ada yang bicara dalam ruang kabin yang kecil itu karena semua mata memandang keluar dan telinga hanya menangkap suara-suara shutter kamera yang tak putus.

Perbukitan hijau mulai tertinggal di belakang, dan kami rasanya melayang di lembah sempit dengan pegunungan bersalju menanti di depan sana. Hati ini berdenyut-denyut, pemandangan semakin tak terperi indahnya. Tak banyak orang bisa melihat keindahan dari atas ini, teramat berbeda jika kita melangkah melata di jalur-jalur trekking. Tak mampu menandai secara akurat lokasinya, saya hanya bisa memperkirakan bahwa Chhomrong dan Sinuwa sudah tertinggal di belakang dan mungkin sekarang sudah sekitar Bamboo.

Tak lama pemandangan berubah drastis, lembah di bawah melebar dengan segala keindahannya, gunung-gunung bersalju semakin dekat dan semakin jelas. Benar-benar tak bisa berkata-kata, totally speechless. Pilot mengemudikan heli dengan begitu baiknya, saya hanya tergagap ketika merasakan tebing gunung itu semakin dekat, dan menjadi begitu dekat. Saya menyempatkan diri melihat ke kanan, tebing itu juga dekat. Gila, kami benar-benar terbang di antara tebing bercampur salju yang curam dan amat tinggi.

Mata saya membelalak melihat tebing batu yang terasa begitu dekat, sepertinya baling-baling di atas itu akan menyentuhnya. Ngeri. Jika terhempas angin kencang, tebing karang berbercak salju itu siap menerkam kami semua. Manusia dan heli itu apa? Begitu kecil diantara tebing-tebing raksasa ini, rasanya tak ada artinya sama sekali! Kengerian yang hanya bisa dirasa saat terbang di antara tebing. Kengerian yang tak akan pernah terasa oleh mereka yang berjalan melata di jalur trekking yang terpukau indah akan tebing-tebing yang luar biasa tinggi

Dan dalam hitungan detik, di sisi kanan terlihat Mt. Macchapucchre, gunung yang berpuncak seperti ekor ikan itu, menjulang dengan gagahnya. Meski ngeri terbang di antara tebing, saya sempat membisikkan Namaste pada gunung favorit saya dan Mt. Hiunchuli yang ada di sebelah kiri. Lalu pilot heli yang handal itu meliukkan kami semua ke arah kiri. Pasti di bawah sana ada Macchapucchre Base Camp dan saya sedang menuju ke lembah luas yang dikelilingi oleh begitu banyak pegunungan berpuncak salju yang salah satunya adalah Mt. Annapurna South.

Daaan… penginapan ABC beratap biru itu sudah tampak dan pilot menurunkan kecepatan. Saya melihat keluar, orang-orang berjaket tebal di bawah sana memperhatikan kami. Beberapa petugas terlihat menjaga area mendarat dan menyuruh orang membatasi jarak dari tempat heli mendarat. Kami merasakan heli menjejak bumi dengan sukses. Alhamdulillah. Tapi tidak bisa langsung turun. Kami harus menunggu sebentar onboard.

Finally, landing at Annapurna Base Camp

Lalu lari menjauhi area heli dan berjalan menuju penginapan. Ketika membalikkan badan, saya melihat beberapa orang memasukkan barang-barang lalu tak lama kemudian heli pun mengangkasa lagi meninggalkan kami. Hingga heli berikutnya datang adalah waktu yang bisa dipakai kami untuk bersenang-senang di Annapurna Base Camp!

Annapurna Base Camp 360

Saya berdiri dan berputar 360 derajat, rasanya kaki ini begitu tak bertenaga karena rasa syukur penuh haru yang melimpah ruah. Ya Allah, saya ini begitu teramat kecil, tak berarti apa-apa berada di tengah gunung-gunung tinggi berpuncak salju ini. Berhari-hari saya berjalan di kawasan Annapurna Conservation Area hanya bisa menyaksikan keindahan ini dari kejauhan dan kini saya berada di tengah-tengah puncak-puncak gunung ini. Dalam kesendirian mata saya menghangat. Allah Pemilik Semesta selalu baik kepada saya, terlalu baik menganugerahkan begitu banyak keajaiban yang menjadi nyata untuk saya.

Dalam begitu banyak rasa, saya mengabadikan sebanyak-banyaknya yang saya bisa. Puncak Annapurna South (7219 m) berselimut salju terlihat begitu indah berhias sedikit awan dengan latar belakang langit biru. Pemandangan yang sering saya lihat ketika bicara trekking Annapurna. Lalu Machhapuchhre (6993m) terlihat begitu agung dengan bentuk puncaknya yang khas serta Hiunchuli (6441m) yang memiliki punggung gunung yang panjang.

Semuanya luar biasa terlihat dari tempat ini.

Saya mengeluarkan rok lilit batik dan mengenakannya di atas celana trekking dan meminta bantuan Pak Ferry untuk mengabadikan momen ini. Saya geli, rok lilit batik yang ternyata made in Indonesia ini saya temukan di pegunungan Nepal, dan saya kenakan di Annapurna Base Camp meski di baliknya tetap ada celana dan sepatu trekking. Biarkan saja, yang penting ada Batik di Annapurna Base Camp!

Saya tak banyak mengeksplorasi ABC karena naiknya ketinggian yang kami alami dalam waktu singkat. Setiap langkah memiliki risiko karena kadar udara yang lumayan tipis. Meski papan ABC terlihat dekat di bawah, saya tak mau mengambil risiko karena kembalinya bisa melelahkan dan tidak cukup waktu. Saya pun tak ingin meninggalkan tempat di luar penginapan karena ingin menikmati selama mungkin. Tak terasa waktu hampir 1 jam berlalu sangat cepat. Waktunya kembali ke Pokhara

Dari arah MBC saya melihat orang-orang kembali berkerumun di dekat landasan heli. Dan saya mendengar derunya terlebih dahulu daripada kemampuan melihat kedatangan helikopter karena kecilnya. Terlalu kecil untuk ukuran raksasa batu-batuan itu. Setelah mampu menandainya, saya berdiri memandang hingga heli mendarat sempurna. Beberapa orang kembali memasukkan barang lalu mempersilakan penumpang naik kembali. Ada rasa haru meninggalkan ABC, tetapi selalu ada waktu untuk perpisahan atas sebuah pertemuan. Semoga saya bisa kembali ke ABC.

Setelah lengkap semuanya, perlahan-lahan heli naik mengangkasa. Saya membalas lambaian tangan mereka meski tak kenal. Kurang dari 1 jam saya berada di Annapurna Base Camp dan kini harus kembali melakukan penerbangan dengan pacuan adrenalin.

Heli kembali terbang rendah mengarah Macchapucchre Base Camp, yang membuat hati ini rasanya menghilang. Bentuk lembah yang landai berselimut salju membuat bayangan heli itu menukik saat menuju MBC. Saya menahan nafas ketika bangunan biru MBC yang tertutup bayang tebing tinggi itu terlewati. Saya berucap dalam hati, semoga waktu membawa saya kembali ke sini.

The Sun behind Mt. Machhapuchhre or Fish Tail

Tak sampai satu menit setelah menandai MBC, Pilot handal itu meliuk lagi ke kanan meninggalkan MBC dan di depan mata saya terpampang jelas Mt. Macchapucchre dengan matahari yang masih bersembunyi di baliknya! Saya terpesona dengan gambaran epik di depan mata. Tak mudah mendapatkan foto Macchapucchre dari ketinggian, apalagi dengan matahari tersembunyi di baliknya yang menyebarkan sinar-sinarnya di batas-batas gunung. Rupanya gunung favorit saya memberikan wajah terbaiknya pagi itu dan I am so blessed bisa menyaksikan semua keajaiban ini.

Saya menempelkan tangan pada jendela seakan memberi salam perpisahan kepada gunung-gunung di sekitar ABC. Dan Semesta seakan menjawab lagi. Heli mendadak naik dan melewati sebuah punggung gunung yang penuh salju. Semesta seakan tak ingin saya kehilangan momen pergi ke lingkungan bersalju tanpa melihat situasinya. Alam memperlihatkan kecantikannya yang luar biasa pada sisi-sisinya yang berselimut salju. Saya menggigil, lagi-lagi bersyukur dalam hati atas semua karunia yang luar biasa ini.

Detik-detik berlalu, lingkungan berselimut salju tergantikan lagi dengan kehijauan, menandakan kota Pokhara di pinggir danau Phewa sebentar lagi akan menyambut kedatangan kami. Trekking berhari-hari telah kami lewati, menikmati setiap detiknya dengan penuh keringat, lelah namun gembira. Tak sangka, di hari terakhir kami mendapat karunia begitu besar dari Sang Pemilik Semesta membuat kami sampai di destinasi liburan kami.


Jakarta, Mei 2017.

Saya sudah kembali ke Jakarta dan membuka lagi catatan bulan Oktober tahun 2016 itu, yang membuat saya ‘gila’ untuk melakukan perjalanan Dare to Dream ke Annapurna Base Camp, trekking ke Himalaya meski saya bukanlah seorang pendaki gunung. Tulisan seperti puisi itu terpampang di halaman buku kecil bersampul coklat tepat di depan mata.

Ke Nepal? Lagi? ABC? Annapurna Base Camp?

Benarkah kita akan terbang lagi?

Di antara tebing-tebing tinggi ?

Saya menggigil dengan limpahan air mata, di catatan itu, yang tertulis empat bulan sebelum saya menginjak Nepal untuk kedua kalinya, tidak pernah tertulis bahwa saya akan berjalan, tertatih-tatih ke sana. Tidak tertulis saya akan berhari-hari melangkahkan kaki menuju ke Annapurna Base Camp, yang tertulis hanyalah terbang tinggi di antara tebing-tebing tinggi. Logika saya pergi ke ABC hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dalam hitungan hari, namun Sang Pemilik Semesta lebih mengetahui kekuatan saya. Dia akan menerbangkan saya.

Sebuah janji yang menjadi nyata.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 4 dan bertema Fulfillment agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

Menitipkan Doa Pada Angin


Imlek sudah berlalu hampir sebulan dan tentunya Cap Gomeh pun sudah berlalu. Seperti ada yang hilang dari biasanya, suasana kemeriahan yang tak terdengar, tak banyak hiasan. Di mal tempat saya mengitari untuk jalan siang, juga tidak ada keriuhan barongsai yang di tahun-tahun sebelumnya selalu diadakan, juga tak banyak dan tak lama hiasan Imlek dipasang. Lagi pula pengunjung mal jauh lebih sedikit, mal terasa jauh lebih lengang. Suasana yang sama sejak setahun terakhir ini. Di banyak tempat terasa senyap. Nyata sekali Covid-19 mengubah semuanya.

Merah Oriental yang biasa menjadi tema warna Imlek hanya terlihat sebentar di toko-toko. Padahal warna itu secara tak langsung telah membawa semangat bagi yang melihatnya. Tak bisa membohongi diri bahwa saya juga merasakan kehilangan suasana itu. Menyaksikan kelengangan suasana, ada sejumput doa dan harapan yang otomatis keluar dari lubuk hati, semoga pandemi ini segera berlalu, yang terpapar penyakit ini bisa segera sembuh dan semua manusia dikaruniai kesehatan dan perlindungan.

Warna merah yang biasa menjadi dekorasi Imlek sering disebut sebagai Merah Oriental. Warna ini juga sering terlihat mendominasi vihara atau pagoda di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Setiap berkunjung ke klenteng atau vihara baik di Indonesia maupun di negeri-negeri jauh, saya terbiasa mengabadikan sisi merahnya yang pastinya ‘eye-catching‘.

Tetapi mengapa disebut Oriental?

Ternyata istilah Oriental itu ada sejarahnya sendiri. Dari berbagai sumber di internet diketahui bahwa Oriental merupakan sebutan untuk Timur, atau semua yang berkonotasi dengan dunia Timur, yang tentunya dilihat dari kacamata benua Eropa (kalau dunia Barat disebutnya Occident). Arah Timur merupakan tempat matahari terbit, -sesuai asal katanya dari bahasa Latin, Oriens, yang secara harfiah berarti Timur atau bisa juga naik (dalam artian matahari terbit). Secara geografis pengertian dunia Timur mencakup sebagian besar benua Asia, termasuk Asia Barat (yang berdekatan dengan Eropa), wilayah Timur Tengah, juga Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur atau sering juga disebut Timur Jauh.

Entah siapa yang menetapkan garis batas Timur dan Barat itu. Namun konon, istilah Oriens dimulai pada masa Kekaisaran Romawi merujuk kepada Kekaisaran Bizantium yang letaknya di sebelah Timur Kekaisaran Romawi (Kekaisaran Bizantium biasa disebut Romawi Timur). Aslinya garis batas ini berada di pantai Timur Semenanjung Italia yang berhadapan dengan Laut Adriatik namun dengan berjalannya waktu, sekitar 600M garis batas ini dipindah ke kota Roma yang menjadi pusat Kekaisaran Romawi.

Dalam perkembangannya, istilah Oriens atau Oriental, dihasilkan dari pemikiran orang Eropa, akhirnya memiliki konotasi yang diskriminatif ketika merujuk kepada kehidupan masyarakat modern di Asia Timur dan Asia Tenggara. Apalagi, definisi Oriental tidak persis tepat selama berabad-abad dan sesuai perjalanan waktu mengalami pergeseran makna.

Gemasnya, jika Oriental digunakan untuk negeri-negeri sebelah Timurnya Romawi sampai Timur Jauh, istilah kebalikannya Occident, -yang berasal dari kata Latin occidens dan berarti Barat yang merupakan tempat matahari terbenam, tidak digunakan lagi dalam bahasa Inggris, karena berkonotasi negatif dan seperti tidak mendukung “dunia Barat”. Diskriminatif kan?


Terlepas dari rasa diskriminatif itu, warna merah oriental yang biasa terlihat di negeri-negeri Timur sebenarnya memiliki makna harapan untuk bernasib baik, mendapatkan keberuntungan dan keberhasilan serta perlindungan dari semua yang buruk. Warna-warna yang eye-catching itu sebenarnya merupakan sebuah harapan dan doa! Jadi semakin banyak warna merah yang terlihat, maka semakin banyak doa dan harapan yang dilangitkan. Indah kan?

Dan tidak hanya berupa tiang-tiang, patung, guci, lilin-lilin, tempat kue maupun angpao yang berwarna merah. Ketika saya berkunjung ke Vihara Buddhagaya Watugong atau terkenal juga dengan nama Vihara Avalokitesvara yang ada di pinggir jalan utama kota Semarang, saya menyempatkan diri untuk berjalan di bawah pohon Boddhi yang ditanam di halaman vihara tersebut. Saya terpesona dengan pita-pita merah yang bertulisan doa dan harapan dan pita itu diikat di ranting-ranting pohon Boddhi, pohon yang melindungi Sang Buddha saat mendapatkan pencerahan

Prayers on the red ribbon which is tied to the Boddhi tree

Mungkin mereka yang mengikat pita-pita berisi doa ke ranting pohon Boddhi itu berharap doanya bisa dititipkan kepada angin agar sampai kepada Sang Pemilik Semesta. Dengan desir angin yang membuat ranting dan daun bergerak-gerak, pita-pita merah itu ikut melambai. Salah satu yang saya lihat tertulis dalam pita merah itu adalah semoga semua makhluk hidup dalam damai dan harmoni. Saya terhenyak juga, mereka yang mengikat pita merah itu juga berdoa untuk saya… Semoga dia pun hidup berbahagia, berkecukupan dan hidup damai sejahtera.

Menyaksikan pita-pita merah yang terikat pada ranting pohon, menerbangkan ingatan saya ke Nepal, sebuah negeri yang dihiasi barisan gunung-gunung tinggi Himalaya. Di banyak tempat, digantungkan bendera doa warna-warni yang terbuat dari kain. Salah satunya berwarna merah. Tak hanya di tempat-tempat ibadah, bendera doa juga digantungkan di jembatan suspension yang tinggi, juga di tempat-tempat pencapaian seperti puncak gunung atau base camp. Mungkin angin akan membawa doa dan harapan yang tercetak di bendera doa yang terdiri dari warna biru, putih, merah, hijau dan kuning, yang masing-masing mewakili lima elemen. Biru melambangkan langit dan angkasa, putih melambangkan udara dan angin, merah mewakili api, hijau mewakili air dan kuning melambangkan bumi.

Meskipun telah robek diterpa angin dan usia, bendera-bendera doa itu tetap berkibar menerbangkan doa dan harapan ke Alam Semesta. Sebuah keindahan yang hanya ada di Asia, di dunia Timur


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 3 dan bertema Oriental agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

D8 – Trekking Nepal – Berakhir Nyaman


Australian Camp.

Sore belum berakhir ketika kami check-in di hotel Gurans yang ada di kawasan yang lebih sering disebut dengan Australian Camp, yang meskipun namanya camp, tempat ini menyediakan banyak penginapan yang sangat nyaman daripada area untuk camping. Mungkin karena dekat dengan Pokhara, dan sering dijadikan destinasi untuk pengalaman one day trekking.

Hotel Gurans, Australian Camp

Sayang gumpalan awan menghias langit sehingga tak ada sunset indah hari itu, tetapi saya tak menyesal karena bisa menikmati istirahat sore yang teramat menyenangkan, bertukar pesan dengan keluarga tercinta, dengan teman-teman yang lain, melihat-lihat foto dan yang paling penting meluruskan badan yang telah semingguan dihajar trekking. Kenyamanan rebahan membuat tak ingin meninggalkan pembaringan hanya untuk makan malam. Memang sesuai kata orang bijak, berada di comfort zone itu memang berbahaya karena tak ada kemajuan, termasuk berleha-leha dan tak ingin beranjak pergi…

Tapi makan malam tetap harus berlangsung, karena kasihan juga pemandu kami yang sudah bersusah payah mengupayakan kenyamana selama liburan. Lagi pula kami semua telah membayar untuk makan dan tidur selama trekking. Sedikit malas, saya memilih legging hitam terakhir berbalut jacket untuk makan malam di malam terakhir trekking, karena esok kami sudah kembali ke peradaban kota. Obrolan tak berlangsung lama, karena mendadak Pak Ferry minta diri untuk beristirahat di kamarnya setelah makan malam. Tak biasanya beliau begitu, seketika saya menjadi kuatir. Ia merapatkan jaketnya sampai ke leher, tampak kedinginan padahal udara relatif tak dingin.

“Are you alright, Pak Ferry?”, tanya saya prihatin

Ia tak mau menampakkan meskipun saya merasakan keganjilan.

“Saya mau langsung istirahat saja ya mungkin hanya lelah”

Tak bisa menolak, saya menyaksikannya meninggalkan ruang makan untuk kembali ke kamar dengan sejumlah tanya di benak. Semoga ia baik-baik saja, celetuk saya kepada pemandu kami yang ikut meramaikan suasana makan malam itu meskipun hanya sedikit tamu hari itu. 

Apakah karena ia melakukan sejengkal trail-run dalam perjalanan tadi sehingga ia kelelahan sedemikian rupa? Tapi malam itu tak ada jawabannya dan saya membiarkan diri untuk menggantung pertanyaan itu di kepala.

Situasi setelah makan malam menjadi sedikit hambar, saya sendiri tak ingin berlama-lama di ruang makan itu. Masih teringat nyaman dan enaknya rebahan sambil bersantai sejak sore tadi. Akibatnya, saat malam belum terlalu larut saya sudah minta diri untuk berisitrahat. Mungkin baik jika saya beristirahat lebih awal karena siapa tahu sunrise esok pagi akan indah…


Esok hari saya bangun lebih cepat. Bukan apa-apa, saya senantiasa berharap mendapatkan sunrise yang indah. Saya melipat selimut hotel yang sama saja dengan hotel-hotel sebelumnya, cukup tebal untuk menahan udara dingin yang masuk melalui lubang-lubang ventilasi. Setelah urusan rutin pagi selesai, sambil mengenakan jaket, saya keluar kamar.

Pak Ferry rupanya bangun lebih pagi dan telah berdiri di pinggir halaman, menikmati pemandangan cantik. Saya melangkah menujunya, menyapa dan menanyakan kondisinya mengingat semalam tak terlihat cukup baik.

“Selamat Pagi Pak Ferry, Sudah lebih baik sekarang, Pak?”

Dia tersenyum lebar mengiyakan lalu menjelaskan kondisinya semalam. Karena ia sangat mengenal tubuhnya, semalam itu “berdering” alarm tubuh yang mengingatkan dirinya untuk beristirahat dan tentu saja ia mengikuti alarm tubuh itu. Terbukti pagi ini dia merasa lebih fit. Mendengar penjelasannya, saya berpikir tentang orang-orang yang belum mendengarkan alarm tubuh yang memang telah diset teramat baik oleh Sang Maha Pencipta. Ada banyak orang, -mungkin juga termasuk saya-, yang mengabaikan alarm ini, menganggap badannya kuat padahal belum tentu sesehat yang diduga. Alarm tubuh ini mengingatkan untuk beristirahat, untuk keseimbangan tubuh dan mentalnya. Alarm tubuh yang sama, juga mampu mengingatkan pemilik tubuh untuk bergerak dinamis dan bukan hanya berdiam diri atau senantiasa rebahan. Mendadak saya merasa malu, karena lebih sering mengikuti keinginan tubuh untuk rebahan daripada bergerak meskipun alarm sudah berdenting.

Meskipun demikian, saya merasa lega dengan membaiknya Pak Ferry. Pagi itu bersisian kami terpukau dengan pemandangan pagi itu. Udara di Australian Camp masih berkabut tetapi Mt. Annapurna South (7219m) tampil dengan keindahannya dan seakan menyambung dengan punggung bukit yang rata menuju Mt. Hiunchuli (6440m). Puncak-puncaknya yang bersalju tampil lebih terang diterpa sinar matahari yang masih bersembunyi di bawah horison. Di sebelah kanannya, terpisah oleh lembah yang dalam, gunung favorit saya, Mt. Macchapucchre (6993m) si Ekor Ikan menjulang, meski puncaknya yang seperti ekor ikan itu belum terkena sinar matahari pagi. Dan sebagai pelengkap lukisan pagi itu, pohon-pohon hijau menjadi hiasan latar depan. Saya terpana, meskipun telah berhari-hari menikmati pemandangan indah, tetap saja saya terpukau dan langsung mengucap syukur kepada Pemilik Semesta telah diberi kesempatan menyaksikan pemandangan alam yang begitu indah.

View at early morning

Berada di Australian Camp dengan pemandangan indah ini membuat saya teringat kisah asal muasal namanya menjadi Australian Camp. Aslinya desa ini adalah Thulo Kharka yang artinya padang rumput yang luas karena memang dulu tempat ini menjadi tempat penggembalaan hewan-hewan domestik seperti kerbau dari desa Dhampus dan desa-desa sekitarnya. Uniknya, tempat yang memiliki padang rumput yang luas ini kurang dikenal oleh trekker hingga awal tahun 90-an, sementara berjarak hanya sekitar 15 menit berjalan dari sini, yaitu desa Phedi, Pothana, Landruk menjadi desa-desa populer yang masuk dalam jalur trekking menuju Chhomrong jika akan melakukan Annapurna Sanctuary Trek atau Annapurna Base Camp Trekking

Konon di akhir tahun 80-an, ada pengunjung dari Austria datang ke tempat yang memberikan kesan indah begitu dalam ini sehingga mereka mendirikan kemah selama beberapa hari. Bagi mereka tempat ini begitu damai dan tenang menghamparkan keindahan pemandangan gunung-gunung Himalaya. Kesan indah itu mulai menjadi pembicaraan di kalangan trekkers dan mereka menyebutkan tempat ini sebagai Austrian Camp. Sayangnya, Austrian Camp cukup sulit dilafalkan oleh penduduk Nepal dan bagi mereka lebih mudah menyebutkan Australian Camp. Sejak itu, padang rumput yang luas yang dikenal penduduk desa dengan nama Thulo Kharka memiliki nama baru dengan nama sebutan Australian Camp.

Sunrise at Australian Camp, Nepal

Keindahan yang disaksikan pengunjung awal Thulo Kharka bukan sembarang isapan jempol karena memang pemandangannya teramat indah. Pesona sinar matahari menerpa puncak-puncak gunung yang ditutupi salju abadi bahkan sebelum matahari muncul di horison membuktikan semua keindahan Alam Semesta. Lukisan pagi itu yang diwarnai warna kuning keemasan menggantikan warna biru gelap di belahan langit Timur. Lalu perlahan tapi pasti bulatan besar Sang Surya mulai memperlihatkan dirinya di Ufuk Timur. Di tempat saya berdiri, tak ada yang bicara kecuali suara-suara shutter camera yang tak putus. Pak Ferry terdiam mengabadikan. Kami terpesona dengan apa yang terhampar di depan mata.

Rasanya tak ingin melepas pagi yang mempesona itu namun panggilan pemandu kami dari arah belakang membuat kami menoleh. Sepertinya sarapan di tanah lapang itu telah siap. Wow… It’s a wonderful breakfast with a view! Sinar matahari yang lembut menambah kenikmatan sarapan di tempat terbuka itu. Pak Ferry sudah kembali seperti semula, mencoba melhap sarapan gaya lokal di tempat itu, sementara saya tetap konservatif dengan roti dan teman-temannya.

Breakfast with a view
Australian Camp

Selepas sarapan, saya ingin menikmati Australian Camp dengan lebih santai. Saya melangkah menuju tempat ayunan yang saat itu sudah tak digunakan. Rasanya ingin kembali ke masa anak-anak, saat bermain ayunan untuk menaikkan mood atau hanya sekedar ingin menikmati kenyamanan. Mengayun ke depan, seakan saya terbang ke pelukan gunung-gunung berpuncak salju itu lalu seakan bermain, ayunan itu kembali tertolak ke belakang, membiarkan pelukan gunung-gunung melepas saya kembali. Demikian berulang berkali-kali, seakan bermain dengan gunung-gunung Himalaya. Sejatinya, saya menikmati setiap ayunan yang membahagiakan di Australian Camp ini. Nyaman dan tenteram, tak ada beban.

Berat rasanya meninggalkan suasana Australian Camp yang tenteram dengan pemandangan gunung berpuncak salju ini. Suatu tempat yang tak mudah dicapai, -hanya dengan berjam dan bermenit-menit jalan kaki-, tetapi mampu menambahkan energi hidup. Berada di tempat yang tidak terlalu tinggi ini, saya memanfaatkan benar arti kenyamanan di Australian Camp. Inilah liburan yang sesungguhnya, sebanyak-banyaknya menyerap keindahan sebagai kenangan tak terlupakan, merekam semua pengalaman yang menenteramkan sebagai bekal nanti saat kembali ke dunia perkantoran.

Lalu sebagaimana pepatah lama berkata, waktu adalah hakim yang konsisten, setiap ada perjumpaan, sang waktu pasti akan mengakhirkan. Demikian juga kami yang tak ingin berpisah dengan pemandangan indah di depan mata, pemandangan gunung-gunung salju yang memberi kesan teramat dalam. Waktunya telah datang, kami harus melangkah lagi untuk kembali ke Pokhara. Selamat tinggal jalan setapak yang telah memberi kenangan indah…

Dan saat berjalan sendiri, saya seperti terus diingatkan alasan saya melakukan trekking ke Nepal. Saya teringat tentang Annapurna Base Camp. Rasa itu begitu kuat membuat saya menggigil meski udara tak dingin. Saya memang kembali ke Pokhara, tetapi perjalanan ini belum selesai…

Way Back to Pokhara

Catatan. Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan kisah trekking di Nepal sekaligus menjawab tantangan tahun 2021 bulan Februari no. 2 bertema Comfortable

Kapal Dalam Botol


Setiap berkunjung ke rumah Mama, mata saya selalu melirik ke benda itu. Entah mengapa, -selain foto besarnya tentu saja -, benda itu seakan mengingatkan langsung kepada Almarhum Papa, yang telah berpulang dua tahun silam. Tapi namanya juga rumah orangtua, tanpa benda-benda fisik yang bisa dilihatpun, pastinya pikiran ini selalu mengingat kepadanya. Iya kan?

Tapi tidak heran sih, karena benda itu seakan mewakili keahliannya Papa sebagai nakhoda kapal. Jadi bagaimana saya tidak mengingat Almarhum Papa jika ke rumah Mama dan mata ini langsung memandang si benda itu, kapal dalam botol kaca!

Dan tidak hanya satu botol, melainkan dua! Yang satu, kapal dengan tiga tiang tinggi dan yang lainnya, kapal dengan dua tiang tinggi. Keduanya termasuk jenis kapal layar (sejenis phinisi). Terlepas dari dua kapal dalam botol itu, masih ada lagi hiasan patung Buddha yang ada dalam botol kaca yang merupakan cinderamata Papa dari Burma. Untuk yang terakhir ini, sudah ada sejak saya masih kecil dan menjadi salah satu ‘penggoda’ saya untuk bisa sampai ke Burma, seperti yang telah saya ceritakan di Rencana ke Myanmar: Menapak Tilas untuk Sebuah Cinta

Ship in A Bottle & Buddha in A Bottle

Miniatur kapal bertiang tinggi tiga dalam botol itu yang menarik perhatian saya dan membuat saya melirik atau menoleh. Bisa jadi karena botol itu sedikit lebih besar dari pada botol yang berisi kapal bertiang dua itu. Lagipula Mama menempatkannya di bagian depan dan lebih mudah terlihat, sedangkan botol berisi kapal bertiang dua itu diletakkan di lemari kaca yang lebih jarang diakses.

Tapi bukan hanya itu. Kapal layar bertiang tinggi tiga itu bukan miniatur sembarang kapal. Seperti yang terlihat lambung kapal, kapal itu bernama Dewaruci, sebuah nama besar yang disandang oleh sebuah kapal Indonesia.

Kapal Dewaruci

Menurut Wikipedia, kapal yang menjadi satu-satunya berjenis barquentine terbesar di Indonesia, KRI Dewaruci merupakan kapal layar milik dan dioperasikan oleh TNI AL (dulu Angkatan Laut Republik Indonesia). Karena ukurannya yang sangat besar, kapal ini dijadikan tempat pelatihan layar untuk taruna Angkatan Laut. Terbayang kerennya di pelabuhan para taruna gagah itu berdiri di tiang-tiang kapal karena Kapal Dewaruci juga menjadi duta ke seluruh Indonesia dan dunia.

Beberapa sumber mengatakan bahwa Kapal Dewaruci dipesan pembangunannya di galangan H. C. Stülcken Sohn di Steinwerder, Hamburg, Jerman mulai tahun 1932. Sayangnya karena Perang Dunia II, galangan kapal tempat Kapal Dewaruci dibangun rusak parah sehingga pembangunannya tertunda. Dua dekade kemudian, Kapal Dewaruci yang membanggakan itu akhirnya diluncurkan dan selalu berlabuh di Surabaya sejak itu.

Seakan mengikuti para model gagah dan cantik yang selalu laku dalam dunia perfilman, Kapal Dewaruci dipilih oleh Studio Fox 2000 Pictures dalam film Anna and The King yang disutradarai Andy Tennant, dan dibintangi artis terkenal Jodie Foster dan Chow Yun Fat. Meskipun dalam film itu, Kapal Dewaruci disulap sebagai Kapal layar Inggris abad-18, film itu termasuk laku di pasaran dan termasuk dalam nominee Academy Awards 2000.

Mungkin memang karena penampilannya yang luar biasa keren itu, Dewaruci terus berpartisipasi dalam acara-acara rutin kapal tiang tinggi di seluruh dunia. Apalagi Kapal Dewaruci memiliki kelompok marching band sendiri, pastinya menjadi sebuah fitur yang teramat unik seperti yang terjadi di Hartlepool, -sebuah kota pelabuhan di County Durham, Inggris-, saat parade kadet Kapal Tiang Tinggi di tahun 2010. Saat itu kadet Kapal Dewaruci dan marching band-nya mendapat sambutan yang amat meriah dari pengunjung. Keterampilan luar biasa, penuh semangat dan antusiasme tinggi menghasilkan penghargaan dalam kategori kadet terbaik dalam parade. Dengan marching bandnya, para kadet juga tampil di Broadway, Newyork, USA yang mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat yang menyaksikan.

Sayangnya saat ini karena pertimbangan usia yang memasuki usia pensiun untuk ukuran Kapal Layar, Kapal Dewaruci mengurangi perjalanan panjangnya dan lebih banyak berlabuh di pelabuhan. Kini perjalanan Kapal Dewaruci banyak digantikan oleh Kapal Tiang Tinggi lainnya yaitu Kapal Bima Suci.

Bagi saya, nama Kapal Dewaruci lalu dilanjutkan dengan nama Kapal Bima Suci yang berbau pewayangan Indonesia ini memberi perhatian tersendiri. Seperti biasanya, pasti namanya mewakili kebaikan, kebenaran dan keberanian sesuai tujuan mulia kapal itu.

A Three Masts Tall Ship (Dewaruci) in A Bottle

Kisah Bima dan Dewa Ruci

Dalam Mahabharata versi Indonesia, Dewa Ruci adalah dewa mini yang ditemui oleh Bima atau Werkudara, -yang kedua dari Pandawa Lima-, ketika ia mencari air kehidupan Tirta Perwitasari. Kisah Dewa Ruci yang hanya ada di Indonesia ini, menjunjung kesetiaan dan kepatuhan murid terhadap sang guru, tentang perjuangan seseorang menemukan jati dirinya hingga bisa bertindak mandiri menjunjung kebenaran.

Berakar kuat dalam filosofi Jawa terutama mereka yang mendalami aliran kebatinan, mampu mengenal diri sendiri berarti memahami diri sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan pemahaman itu seseorang akan berusaha bertindak selaras dengan kehendakNya. Sebuah filosofi Jawa yang amat terkenal, Manunggaling Kawula Gusti

Kisah Bima mencari Air Kehidupan (Tirta Perwitasari) dimulai ketika Sang Guru, Resi Drona, memberitahu bahwa air kehidupan itu berada di dasar samudera. Sebagai murid yang patuh, tanpa pikir panjang, Bima terjun ke dasar Samudera meskipun ditentang oleh Ibu Kunti dan keempat saudara lainnya karena berpikir, semua itu adalah siasat para Kurawa melalui Resi Drona untuk menghabisi Bima. Karena Bima adalah sosok yang teguh pendirian pada keputusannya, Bima tetap berangkat mencari Air Kehidupan di dasar Samudera itu.

Dalam sekejap Samudera melumat tubuh Bima yang termasuk besar seukuran raksasa. Terhampas oleh ombak besar, seekor naga besar langsung menyambar tubuh Bima dan melilitnya. Berjuang sekuat tenaga, Bima melawan naga tersebut hingga akhirnya dengan kuku saktinya Pancanaka, Bima berhasil merobek leher naga yang berujung pada kematian sang Naga.

Lalu setelah pergumulannya dengan Naga yang cukup menghabiskan kekuatan dirinya, Bima pun menjadi pasrah dengan apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Dengan berserah diri itu, ombak yang awalnya bergejolak menjadi tenang dan tiba-tiba muncul sosok kecil di hadapan diri Bima. Sosok yang hanya sebesar telapak tangannya yang bernama Dew Ruci. Ia minta Bima untuk memasuki dirinya melalui telinga kirinya. Merasa memiliki ukuran sebesar raksasa, awalnya Bima memiliki keraguan untuk memenuhi permintaan Dewa Ruci. Tetapi akhirnya keraguan itu sirna dan Bima memasuki tubuh Dewa Ruci yang kecil itu. Saat itulah Bima melihat dunia yang besar di dalam telinga yang teramat kecil itu, sebuah tempat yang damai. Di dunia itu, Dewa Ruci memberi wejangan akan air kehidupan yang dicari oleh Bima.

Air kehidupan itu ada di dalam diri kita masing-masing. Sebagai manusia, kita bisa melihatnya asalkan kita selalu menjalani hidup sesuai kehendak Sang Illahi. Dalam setiap diri manusia terdapat sebuah Cahaya yang akan menuntun pada kebaikan, hanya saja kekuatiran dan hawa nafsu selalu mencoba menghalangi Cahaya itu. Seperti yang telah dilakukan oleh Bima setelah pergumulannya dengan Naga, sifat berserah diri kepada Sang Maha Kuasa akan menuntun manusia pada jalan kebenaran.

A Two Masts Tall Ship in A Bottle

Nama adalah sebuah doa, sehingga dengan memberi nama kapal dengan nama Dewaruci ataupun Bima Suci, diharapkan pelaut-pelaut yang lahir dari kapal ini akan menemukan jati diri sesungguhnya, -seperti ketika Bima menemukan makna kehidupan dalam diri Dewa Ruci-, sehingga pelaut-pelaut ini akan memiliki karakter yang kuat, trengginas dan tangguh dalam menjaga wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Saya masih memperhatikan miniatur Kapal Dewaruci dalam botol. Kisah perjalanan Kapal Dewaruci yang luar biasa dan membanggakan serta kisah mengenai nama Dewa Ruci itu sendiri yang memiliki makna begitu dalam. Lalu mendadak sebuah kesadaran realistis muncul di hadapan, sesuatu yang rasanya sangat mendasar dan manusiawi. Bagaimana caranya memasukkan miniatur kapal dengan nama besar itu ke dalam botol?

Pertanyaan yang sama juga terlontar untuk hiasan Buddha yang ada dalam botol. Bagaimana bisa? Awalnya saya berpikir bahwa bagian dasar botol masih terpisah saat miniatur kapal dimasukkan lalu dengan teknologi pembakaran kaca, bagian dasar botol ditempelkan ke tubuh botol. Benarkah demikian?

Ternyata bukan begitu. Ternyata memang ada manusia-manusia yang luar biasa ulet dan tangguh serta penuh seni, -seperti Bima-, yang membuat miniatur di ruang kerjanya lalu menambahkan engsel-engsel yang begitu kecil pada miniatur kapalnya sehingga miniatur kapal itu bisa rebah serupa gulungan. Lalu secara perlahan, kapal miniatur yang serupa gulungan itu dimasukkan ke dalam botol melalui kepala botol yang kecil itu. Kemudian Sang Seniman, dengan menggunakan benang dan pinset, akan menarik kapal, meluruskan engsel-engselnya kembali berdiri seperti semula yang berbentuk kapal. Luar biasa kan?

Ternyata sangat tidak mudah membuat kapal atau Buddha atau hiasan apapun di dalam botol.

Buddha in A Bottle

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang pertama dan bertema Glass agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

D7-Trekking Nepal – Berita Baik


Jika belum baca cerita trekking sebelumnya, bisa baca di sini D6-Trekking Nepal – Di Simpang Jalan

Tidak terasa sudah seminggu kurang sehari kami sudah berkeliaran naik turun di perbukitan tinggi yang masuk ke dalam Area Konservasi Annapurna. Negeri ini memang ‘gila’ soal kontur bumi. Tidak usah heranlah, di negeri ini ada 8 gunung yang memiliki ketinggian di atas 8000 mdpl yang mengisi ranking gunung-gunung tertinggi dunia. Dengan kondisi demikian, jelas juga kalau yang namanya perbukitan di Nepal yang amat banyak itu, bisa memiliki ketinggian di atas 3000 meter di atas permukaan laut! Sehingga saat berada di Landruk yang memiliki ketinggian sekitar 1600 mdpl, saya merasa sudah berada di “dataran rendah”. Padahal jika berada di Indonesia, sudah termasuk tinggi juga.

Morning view at Landruk, Nepal

Kamar saya yang luas dan menghadap lembah dengan taman cantik sebenarnya menyenangkan tetapi saat itu saya lebih memilih untuk bersantai di kamar sebelum menikmati mandi yang paling enak sedunia (setelah berkeringat sepanjang hari). Lagipula update status lebih menyenangkan 😀 😀 😀

Kami berkumpul lagi saat makan malam. Saat itu kami berempat merupakan tamu satu-satunya di penginapan, bisa jadi karena trekkers lebih banyak memilih rute lain daripada Landruk atau sudah tak menjadikan Landruk sebagai tempat menginap karena berjalan sedikit lagi sudah bisa mencapai tempat jeep untuk kembali ke Pokhara.

Karena kangen, saya buka WA keluarga. Apa yang tampil di layar membuat saya menjerit kecil. Yaaaayyyy…. Alhamdulillah… Pak Ferry dan Dipak langsung mengangkat kepala dari ponsel mereka masing-masing, menunggu…

Melupakan Dipak yang tak memahami bahasa Indonesia, saya langsung berkata dalam bahasa ibu,

“Anakku diterima di SNMPTN”

Pak Ferry tersenyum lebar dan langsung menyorongkan tangan, memberi selamat

“Selamat ya mba…”

Saya yang teramat gembira, langsung menghubungi yang tercinta jauh di seberang lautan itu, melupakan kawan-kawan yang sedang menunggu datangnya makanan. Sayup terdengar Pak Ferry menjelaskan alasan mengapa saya berbahagia itu kepada Dipak.

Berita gembira itu benar-benar membahagiakan saya, terbayang wajah anak saya yang selama ini belajar tanpa henti mengikuti bimbingan baik di sekolah maupun di luar sekolah agar bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Awalnya ia memilih jurusan komunikasi namun sekolahnya menyarankan agar ia mengambil jurusan Psikologi. Dan berdasarkan sejarah tahun-tahun sebelumnya, rekomendasi dari sekolahnya selalu lolos seleksi. Tak dinyana, berdasarkan hasil report sekolahnya, dia berhasil diterima di pilihan jurusannya berdasarkan undangan. Alhamdulillah, Allah Pemilik Semesta menghadiahkan sebuah berita gembira di saat saya rindu mereka.


Keesokan paginya, gunung berpuncak salju itu berhias awan, seakan-akan tak ingin bersaing memenangkan rasa sukacita yang masih membalut saya karena ada berita gembira dari tanah air. Saya tak merasa bersalah karena tak banyak mengabadikan gunung berhias awan itu. Lagipula kami harus cepat bersiap-siap.

Meninggalkan penginapan dengan formasi yang sama, Kedar di paling depan, pak Ferry menyusul di belakangnya lalu saya dan Dipak. Belum apa-apa jalan sudah menanjak membuat semangat langsung mengendur apalagi jalan ini menuju berakhirnya trekking. Masih 1 malam menginap di Australian Camp sebelum kembali ke Pokhara.

Seperti biasa, saya mengalihkan jalan menanjak itu dengan menikmati pemandangan di kiri kanan jalan. Sayangnya hanya ada sepasang kerbau yang memenuhi kandang. Seandainya mereka bisa berpikir, mungkin mereka akan menilai saya sebagai manusia yang manja karena berjalan lambat dengan nafas yang sudah terengah padahal masih baru start dan hanya menggendong daypack. Saya melangkah pelan sambil mengomel dalam hati, mengapa yang namanya pulang dari gunung itu harus naik perbukitan yang tingginya gak kira-kira?

Menuju tempat yang lebih rendah ketinggiannya, sinar matahari semakin terasa memanggang apalagi pemandangan tak lagi memanjakan mata. Yang tampak hanyalah jalan berkelok menyusuri punggung bukit. Langkah saya melambat bukan karena jalan menanjak melainkan panas yang membuat keringat mengucur hebat. Untung saja, saya bertemu rombongan kambing yang digembalakan oleh seorang ibu. Rombongan hewan yang jumlahnya sekitar dua puluh itu memberikan kesan tersendiri. Bahkan di saat suasana terik yang memanggang jalan tanah berkerikil dengan tebing dan jurang, rombongan yang punya bau yang khas itu, -bau kambing-, bisa menyenangkan hati. Menyadari hawa panas, Dipak mengajak saja melanjutkan perjalanan sambil mengatakan tempat istirahat sudah dekat dan ada minuman segar di sana.

Herd of Goats, Landruk, Nepal

Benar, setelah beberapa waktu, saya melihat pak Ferry dan Kedar sedang duduk istirahat. Di dekatnya ada warung yang menjual lemonade yang langsung saja saya pesan. Meskipun agak lebay, saya merasa seperti sedang jalan di gurun yang membuat dahaga luar biasa, dan minum lemonade itu rasanya seperti memiliki surga dunia 😀 Segarnya langsung terasa dan memberi efek semangat ke badan (meskipun saya harus hati-hati karena teringat jaman dulu saat panas-panas dan kehausan, minum cocacola dingin membuat suara saya langsung hilang!).

Setelah meneguk habis minuman yang membuat yang ‘lupa diri‘ itu, baru kemudian saya pelan-pelan menikmati isi gelas kedua dan membiarkan seluruh rongga mulut menyesapnya. Seteguk dua teguk, mata saya tertarik dengan pemandangan di bukit seberang yang dibatasi oleh lembah yang luas. Bukit itu seperti digaris-garis miring seperti simbol kilat yang berulang.

Road to Ghandruk, viewed from Landruk
Closer : Dangerous road to Ghandruk and Matkyu

What’s that?“, akhirnya pertanyaan yang muncul di benak saya terlontar juga kepada Dipak

New Road“, jawabnya santai setelah memperhatikan apa yang saya tunjuk.

To Ghandruk?”

Dipak mengangguk singkat, seperti tak berkenan. Mungkin ia tak suka jalur-jalur trekking di pegunungan Himalaya berubah menjadi jalan mobil atau bus karena berdampak langsung terhadap pekerjaannya sebagai seorang pemandu trekking (dan setelah dua tahun baru saya menyadari bahwa jalan yang saya lihat itu merupakan jalan jeep atau bus dari Nayapool ke Matkyu, -sebuah desa kecil setelah Ghandruk-, yang bisa menghemat sehari untuk ke Annapurna Base Camp karena cukup sehari untuk mencapai Chhomrong dari yang biasanya dua hari)

Tanpa sadar saya mengangkat bahu, merasa jeri. Teringat perjalanan menuju Hille (baca disini Nepal – Trekking Hari Pertama Menuju Ulleri) dengan insiden yang cukup mengerikan, roda jeep terjebak dalam kubangan di jalan sempit, dengan jurang dalam di kiri dan tebing tinggi di kanan. Jalan menuju Ghandruk itu pasti tak jauh beda. Entahlah, semoga suatu saat nanti saya bisa melakukan trekking lagi ke ABC yang mungkin saja akan melewati jalan itu

Lemonade saya sudah tinggal sedikit, dengan sekali teguk gelas minuman dari kaca itu menjadi kosong. Tapi semangat melanjutkan perjalanan muncul segera. Australian Camp, -destinasi hari itu-, sedang menanti kami.

Langkah saya belum terlalu banyak ketika kegilaan trekking dimulai. Pak Ferry mengajak Dipak lari di gunung. What? Di ketinggian ini, mau trail-run? Keduanya tertawa-tawa tapi bukan berarti tak menjalankan. Saya menjadi saksi mereka berdua seperti boys yang tak mau kalah. Meski bukan lari sprint, mereka berdua benar-benar lari sambil memanggul ransel. Tak jauh memang, tetapi bagi saya, -yang jalan saja melelahkan apalagi lari-, mereka sudah “tidak waras”. Di batas kelokan jalan, mereka tertawa-tawa puas sambil menunggu saya yang datang dengan geleng-geleng kepala. Sambil tertawa-tawa, pak Ferry mengatakan bahwa saya boleh memberitakan ‘kegilaan’ mereka melakukan sepenggal Himalaya trail-run.

Wanna run here?

Kadang-kadang saya tak habis pikir, jika urusannya sudah tantang menantang, pria-pria yang tak muda lagi dan sudah berbuntut banyak itu bisa lupa diri dan kembali dengan jiwa mereka yang masih boyish. Tetapi dengan menyaksikan itu, kok saya jadi merasa tua banget yaa… 😀 😀 😀

Siang itu, setelah makan siang yang lagi-lagi dal bhat atau mie instan yang hambar (saya kangen sekali indomie kalau saya makan mie instan di Nepal), saya sempat membeli selembar rok lilit panjang berwarna biru di kios souvenir yang sederhana. Rok lilit itu serupa kain yang ada talinya di bagian atas sehingga tinggal dipakai seperti kain lalu diikat di pinggang. Entah kenapa, mungkin saya merasa iba dengan bapak tua penjualnya sekaligus saya merasa begitu familiar dengan motif bahan rok itu sehingga saya memilihnya (dan keesokan paginya di kamar penginapan di Australian Camp, saya tertawa ngakak sendirian di kamar, karena di pinggir rok panjang lilit yang saya beli itu bertuliskan “Batik Halus Royal Peach by Legenda Mas”. Pagi itu sambil tertawa sendiri, saya menyadari alasan memilih rok panjang itu. Rupanya pikiran bawah sadar saya memilih motif megamendung yang sudah dikenal lama di dunia perbatikan. Tapi siapa sih yang akan berpikir ada kios yang menjual kain batik Indonesia dengan motif megamendung di desa nun jauh di sana, di sudut terpencil bukit di Nepal? Bukan di Kathmandu sebagai ibukotanya, bukan juga di Pokhara, kota terdekatnya, bukan di desa terbesar di jalur trekking, melainkan di kios sangat sederhana di gunung!)

Batik Megamendung from Indonesia bought in Nepal 😀

Nantinya, saya akan sangat mensyukuri telah membeli rok lilit panjang yang ternyata bertuliskan “Batik Halus Royal Peach by Legenda Mas” di tempat antah berantah yang nun jauh di sana dan tak terduga itu, karena bagi saya hal itu bukanlah sebuah kebetulan. Tapiiii, entahlah… yang pasti kain itu hanya satu dan saya seperti dituntun untuk berjalan ke kios yang sederhana itu dan melihat motif itu! Bagi yang mengenal saya pasti tahu, saya paling malas belanja, apalagi souvenir.

Kaki kami terus menapaki jalan yang menanjak landai atau sering disebut “Nepali flat” (nanjak “sedikit” bagi warga Nepal masih dalam kategori rata) 😀 hingga saya melihat sebuah suspension bridge pendek yang sudah sangat rapuh, kayunya lapuk, lubang di sana-sini dan baja-bajanya sudah termakan karat. Jembatan itu sudah tidak dipergunakan lagi karena ada jalan yang sedikit memutar (mending memutar daripada ambrol ke bawah!). Tapi bagi saya, jembatan itu keren sekali.

Old Bridge

Setelah berfoto sejenak dengan latar belakang jembatan, Dipak mengajak agak bergegas karena kami harus mendaki bukit lagi sementara cuaca mulai mendung. Semangat saya langsung surut dengan kenyataan yang ada di depan itu. Saya mulai lagi berjalan menghitung sepuluh langkah dalam bahasa Nepal, ek, dui, tin, char, panch, cha, sat, ath, nau, das… atau kadang ganti menggunakan bahasa leluhur saya, een, twee, drie, vier, vijf, zes, zeven, acht, negen, tien. Atau menyeberang sedikit ke Jerman dan kalau lagi “kumat” ya, pakai bahasa Khmer meski hafalnya sampai lima saja moui, phi, bai, boun, pram 😀

Sampai di puncak bukit tersedia semacam shelter sehingga kami bisa beristirahat sejenak. Dari tempat itu, Dipak memberitahu bahwa lagi-lagi di arah ABC cuacanya tak begitu baik karena salju telah turun di bawah ketinggian biasanya. Itu tak biasa. Saya terdiam mengucap syukur dalam hati, batalnya kami untuk melanjutkan trekking ke arah Base Camp bisa jadi karena mendapat perlindungan dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Hanya beberapa menit, pemandangan gunung bersalju itu telah hilang berganti dengan awan hujan kelabu.

Sebenarnya di tempat kami belum hujan, tetapi Dipak menyarankan agar menunggu hingga hujannya lewat. Benarlah, tak berapa lama hujannya sampai di shelter itu dan turun sangat lebat. Kami menunggu sampai hujan berhenti, sementara ada beberapa trekkers lain melanjutkan perjalanan menembus hujan.

Matahari langsung bersinar ketika hujan berhenti. Kami melanjutkan perjalanan. kali ini lebih menyenangkan karena landai dan teduh. Seperti jalan di Taman Nasional, tak ada target, kecuali menikmati perjalanan dalam liburan.

Beautiful View on the way to Australian Camp

Hari masih sore ketika kami sampai di checkpoint di Lwang, sebelum akhirnya menjejak Australian Camp. Meskipun namanya camp, tetapi di tempat ini lebih banyak menyediakan penginapan yang nyaman daripada area untuk camping.

Australian Camp, tempat yang mudah dicapai dari Pokhara dan sering dijadikan destinasi untuk pengalaman trekking sehari di Nepal. Ada yang pernah ke sini juga?

Bersambung…


Catatan. Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan kisah trekking di Nepal sekaligus menjawab tantangan mingguan tahun 2020 minggu ke-50 bertema News

December, The Last One, The Best One


Tanpa sadar, setelah menelan sebelas bulan sebelumnya, Sang Waktu yang konsisten itu pun telah melahap setengah bulan terakhir tahun 2020 ini, meninggalkan manusia-manusia terlena yang mencoba menggenggam momen-momen yang telah terjadi. Sang Waktu tidak peduli dengan mereka, juga dengan momen-momen mereka. Sang Waktu tetap berjalan maju…

Saya termasuk dalam golongan manusia-manusia itu karena tak mampu menjaga konsistensi untuk terus bergerak maju. Dalam banyak kesempatan dalam kehidupan, saya membiarkan diri berlama-lama memeluk momen-momen yang sudah berlalu seakan-akan momen itu pasti setia mengikuti.

Padahal, momen itu akan tertinggal di masa lampau. Sebagai kenangan.


Dan diantara momen-momen yang sering kali saya tengok dan membiarkan diri berlama-lama mengenangnya adalah momen-momen yang terjadi di bulan Desember, bulan terakhir di setiap kalender Masehi. Entah kenapa di bulan ini banyak sekali terjadi momen yang mengisi kehidupan saya, meski di tahun-tahun yang berbeda. Yang indah, yang memilukan hati, semuanya mewarnai kehidupan…

4 Desember – Belajar Ikhlas

Seharusnya hari itu menjadi hari yang menyenangkan. Indeed, memang menyenangkan di awalnya namun berubah menjadi airmata sedih di penghujung hari. Dia yang memiliki wajah menenangkan awalnya mengajak merayakan hari jadian, tepat dua tahun mencoba mengenali masing-masing pribadi agar siap menuju gerbang pernikahan.

Autumn shows us how beautiful it is to let things go

Entah siapa yang memulai, bisa saya, bisa juga dia atau memang jalannya memang harus demikian. Sesuatu yang nyaris tabu dibicarakan diantara dia dan saya, akhirnya terbuka juga. Tentang bedanya jalan iman dia dan saya. Masing-masing pribadi memahami, cepat atau lambat, sekarang atau nanti, waktunya akan datang. Kami berdua harus menghadapinya masing-masing. Siapkah kami untuk melanjutkan perjalanan bersama, dengan segala konsekuensinya. Bagaimana dengan dia, bagaimana dengan saya? Lalu bagaimana dengan keluarga yang telah membesarkan dia dan saya? Bagaimana dengan anak-anak nantinya? Begitu banyak pertanyaan “bagaimana” yang harus saya jawab dengan jelas.

Dipenghujung hari semua menjadi blur dengan air mata. Detik-detik waktu rasanya berjalan sangat lambat, tak mampu membuat jalan kami bertemu. Rasanya ingin dihindari, tetapi baik dia maupun saya sama-sama tahu, semua itu hanya penundaan. Hari itu, atau nanti, segera atau bulan depan pasti akan datang waktu penuh diskusi panjang tak berkesudahan, seperti hari itu.

Sedalam apapun cinta kami berdua, -meski tahu tujuan akhirnya adalah Dia Yang Maha Kasih-, hati ini tetap memilih jalan masing-masing pribadi menuju Sang Pencipta. Dan hari itu, kami sampai di penghujung perjalanan kebersamaan. Hati kami, -meski penuh airmata-, harus saling melepaskan diri. Sebuah keputusan berat dan perlu keikhlasan.

Di tanggal jadian yang sama, kami saling mengikhlaskan untuk bisa menapak perjalanan kehidupan sesuai pilihan iman kami. Sedih, berat, broken-hearted tapi di sisi lain masing-masing ada rasa damai, terang, tenang yang dimenangkan.

15 Desember – Hadiah VersiNya

Bertahun-tahun setelahnya, berulang kali saya gagal mencoba merajut kasih dengan yang satu iman. Rasanya begitu lelah sehingga akhirnya saya menyerah. Seperti ada yang salah. Tak bisa tidak, saya harus melambatkan langkah di antara manusia lain yang seperti berlari. Alih-alih mendekati manusia lain, saya melakukan perjalanan jauh ke dalam diri. Cukup sudah melihat dan berharap dari manusia. Melalui doa-doa panjang penuh harap, melalui puasa dan tahajjud di malam-malam penuh hening, saya tersungkur berserah diri sepenuhnya kepadaNya untuk urusan yang satu ini. Dan tak ada yang terlewatkan olehNya, Dia Yang Senantiasa Memenuhi Janji.

Dia, laki-laki biasa yang juga tak sempurna, dikirim sebagai jawaban doa-doa panjang saya. Ketika telah berserah diri sepenuhnya, suara hati akan menuntun kearahnya. Bagi saya, pertemuan dengannya adalah sebuah keajaiban. Karena tak disangka-sangka Dia Yang Maha Baik mengirimnya melalui sebuah musibah yang harus saya alami. Musibah, yang bagi banyak orang memberi buruknya kenangan, bagi saya membawa kebahagiaan tersendiri. Membawa senyum dan rindu. Kata sahabat saya, jodoh itu serupa rejeki, datangnya bisa dari arah mana saja, tanpa diketahui waktunya. Bila sudah sampai waktunya, apapun yang terjadi, dia akan datang.

A rose, a symbol of true love

Dan di pertengahan bulan Desember, Allah Yang Maha Baik mengirimkan seseorang yang tak sempurna tapi terbaik untuk duduk di pelaminan bersama saya.

Dan bagaimana saya bisa melupakan hari di pertengahan Desember itu? Yang dananya diambil dari tabungan kami berdua, yang dihitung rupiah demi rupiah, yang rasanya mengalir keluar seperti air bah namun masuknya seperti mengharap hujan di musim kemarau. Hingga suatu saat, -seperti juga datangnya pasangan saya itu-, dana bantuan juga datang dari arah yang tak terduga. Membuat saya lagi-lagi terpesona dengan caraNya bekerja. Tak bisa tidak, saya hanya bisa hanyut dalam syukur. Alhamdulillah, Maha Suci Allah, Sang Maha Pemberi Rejeki.

Hal yang serupa dengannya adalah kehadiran seorang anak di dalam keluarga kecil kami yang juga datang di bulan Desember. Setelah keguguran pada kehamilan pertama, saya kembali berdoa sepenuh hati dan berserah diri kepadaNya. Doa-doa panjang, puasa dan tahajjud di malam-malam hening berbuah manis ketika akhirnya seorang anak perempuan yang cantik hadir di antara kami berdua, tiga tahun setelah pernikahan kami.

21 Desember – Yang Berpindah

Dan datang juga momen Desember yang paling mengoyak hati. Hari itu saya kehilangan laki-laki pertama yang mencintai saya. Papa saya. Bertahun-tahun sebelum kepergiannya, beliau hanya bisa berpasrah di kursi roda dan tempat tidurnya karena serangan stroke yang berulang. Kepergiannya meluluhlantakkan saya, meskipun jauh sebelumnya telah menyiapkan hati, namun tetap saja tak akan pernah siap.

Gone, but not forgotten

Jumat siang itu takkan pernah terlupakan. Sejak meninggalkan kantor setelah mendapat kabar dari rumah Papa siang itu, dunia terlihat kabur. Di pembaringannya, saya memeluk tubuh Papa yang rasanya masih hangat dan membisikkan berjuta kata cinta. Tak ada lagi obrolan penuh tawa saat bertukar cerita tentang perjalanan-perjalanan ke negeri jauh. Karena dariny saya berani menjejak di negeri-negeri impian secara independen.

Kematian adalah sesuatu yang mutlak pada semua yang hidup. Meski hal itu dipahami, tetapi ketika datang pada orang tercinta rasanya seperti tersandung batu dan jatuh terjerembab ke tanah, nyata sekali. Tiba-tiba saja, semua hilang, tak bisa lagi melihat, tak bisa lagi dipeluk, tak bisa lagi mendengar suaranya, tak bisa lagi bertukar kisah.

Kenyataan itu begitu pahit rasanya, tetapi tak ada pengalaman yang tak berguna. Sang Waktu yang berjalan konsisten menjadi pelipur dan pembuka mata hati. Bukankah hidup di dunia ini manusia tak pernah memiliki apapun? Bukankah semua itu dititipkan oleh Dia Yang Maha Memiliki? Lalu mengapa ada rasa kehilangan untuk sesuatu yang tak pernah dimiliki?

Sesungguhnya, meskipun hilang dari pandangan, dari pendengaran, dari pembicaraan, dari semua yang bisa disentuh, Papa tak akan bisa hilang dari hati dan pikiran. Selamanya hidup pada hati dan pikiran saya, sebuah tempat yang lagi-lagi dititipkan olehNya.

December 24 – Selamat Ilang Tahun

Bagaimana mungkin saya melupakan Desember, bulan yang memiliki tanggal saat saya dilahirkan ke dunia? Sejak kecil hingga remaja, tanggal itu artinya sebuah acara kumpul keluarga Mama di rumah. Semakin besar usia, ditambah dengan kehadiran sahabat-sahabat dekat. Menyambung silaturahmi dalam sebuah acara. Sesuatu yang terlihat mudah tetapi sejatinya tak mudah diwujudkan, apalagi di jaman ketika teknologi telah membuat manusia merasa tak perlu saling mendekatkan secara fisik (ditambah tahun 2020 ini virus corona semakin membatasi kedekatan fisik antar manusia ini)

White Lily

Sejak berkeluarga, saya tak lagi membuat acara-acara seperti itu mengingat di pihak suami tak pernah ada budaya membuat tanggal kelahiran menjadi lebih spesial dari hari-hari biasanya. Tidak masalah juga, karena tambah usia berarti semakin sedikit waktu tersisa. Persis yang diucapkan oleh seorang kawan setiap tanggal kelahiran saya itu, karena dia tak pernah mengucapkan Selamat Ulang Tahun melainkan Selamat Ilang Tahun.

December 26 – Perjalanan Spiritual

Suasana libur akhir tahun semakin terasa ketika sudah menginjak minggu ketiga di bulan Desember. Dari semua perjalanan yang terjadi di musim libur bulan Desember, rasanya perjalanan ibadah umroh yang paling menawan hati. Rasanya perjalanan itu adalah perjalanan spiritual yang amat indah. Mungkin halu, tetapi rasanya saya hanya dihadapkan pada fakta-fakta duniawi ketika harus berhubungan dengan manusia lain, seperti saat di imigrasi, saat mengurus koper hilang, saat ada pemeriksaan tas di pintu Masjid. Selainnya terasa begitu intim, begitu spesial.

Apalagi bonus-bonus kehidupan yang saya terima dalam perjalanan itu. Bisa berkunjung ketiga Masjid utama dalam Islam, Masjidil Haram, Masjid An Nabawi dan Masjid Al Aqsho dalam sekali perjalanan benar-benar melesatkan makna perjalanan ini ke level tertinggi sepanjang hidup saya.

Telah setahun perjalanan itu berlalu, tetapi hingga sekarang saya masih memeluk rindu terhadapnya. Saya masih berlama-lama memeluk kenangan itu. Rasanya masih lekat dengan suasana damai di Masjid Nabawi, juga pemandangan Ka’bah yang menempel kuat pada ingatan, harumnya udara Masjid dan juga hangatnya pelukan seorang ibu Palestina yang tak pernah terlupakan. Sungguh saya merasakan anugerah yang berlimpah.


Bagaimana bisa saya melupakan Desember, bulan terakhir setiap tahun namun terbaik buat saya? Ada begitu banyak sukacita, meski tak bebas pula dari airmata. Semuanya memberi warna dalam hidup saya, berlimpah makna yang amat luar biasa. Alhamdulillah…

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Colorful flowers

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-49 bertema Memory of December agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Sedikit Bingung di Budhanilkantha


Dalam salah satu perjalanan ke Nepal, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah situs suci yang tak jauh dari Kathmandu. Namanya Budhanilkantha, yang terletak di kaki Bukit Shivapuri, sekitar 10 km dari pusat kota Kathmandu. Tempat ini menarik karena letaknya di luar jalur turis asing sehingga aura tradisional lebih mengisi suasana tempat yang sebagian besar hanya didatangi oleh penduduk lokal.

Awalnya, saat pertama kali mendengar namanya yang mengandung kata Budha, saya mengira tempat ini merupakan situs suci umat Buddha. Apalagi di Nepal, kehidupan umat Buddha dan Hindu berjalan berdampingan secara harmonis. Tapi ternyata saya salah seratus persen karena Budhanilkantha sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama Buddha. Situs ini justru merupakan situs suci agama Hindu.

Budhanilkantha

Jadi sebenarnya Budhanilkantha merupakan tempat pemujaan suci yang berisi patung Dewa Wisnu berbaring sebagai Narayan di atas gelungan ShesaNag (Naga/Ular kosmik berkepala banyak) yang berada di permukaan air kolam sepanjang 13 meter, seakan-akan air itu adalah lautan kosmik. Pahatan patung yang terbuat dari batu basalt utuh berwarna hitam ini merupakan pahatan terbesar dan terindah di seluruh Nepal. Uniknya, -dan cukup membingungkan-, konon patung dari batu basalt hitam itu dipercaya dibuat dari abad ke-7 atau 8 meskipun tempat asalnya tak pernah pasti. Bisa jadi, batu itu didatangkan dari luar Kathmandu Valley karena tak mungkin sebuah batu terpahat indah itu tiba-tiba muncul di tempatnya, kan?

Sore itu ketika sampai di Budhanilkantha, saya terpesona dengan keindahan pahatannya meskipun saya menyaksikan dari bagian luar pagar yang mengelilingi kolam (hanya mereka yang beragama Hindu dan akan melakukan persembahan atau pemujaan yang bisa menyentuh patung atau ke altar). Patung itu sungguh besar, sekitar 5 meter panjangnya, hampir mencapai setengah ukuran kolam yang panjangnya sekitar 13 meter. Sebuah payung segi empat berwarna kuning berumbai tampak menutupi tempat pemujaan itu dari hujan.

Patung Dewa Wisnu sebagai Narayan itu berbaring membujur ke arah Barat dengan kaki bersilang. Mahkotanya berwarna putih silver dipasangkan menindih mahkota asli hasil pahatan pada batu. Ke empat tangannya menggenggam semua benda perlambang kedewaannya. Cakra yang mewakili pikiran, cangkang keong laut yang mewakili empat elemen utama, bunga lotus membulat yang mewakili alam semesta yang terus bergerak dan gada yang mewakili pengetahuan purba. Dan sebagai pemuja setianya, SeshaNag atau kadang disebut juga Ananta Sesha, – sang Naga kosmik berkepala banyak-, menggelungkan tubuhnya menjadi tempat pembaringan Dewa Wisnu dan kepalanya yang berjumlah sebelas itu tampak memayungi kepala Dewa Wisnu. Selembar kain berwarna kuning menutupi tubuh patung Dewa Wisnu dengan berbagai rangkaian bunga marigold sebagai persembahan pemuja yang diletakkan diatasnya.

Sleeping Vishnu on Ananta Shesha
Budhanilkantha, from diffent angle

Tempat pemujaan ini memang keren, tetapi tidak bisa menghilangkan berbagai pertanyaan yang membingungkan di benak saya. Baiklah, ini bukan tempat suci Buddha, melainkan Hindu. Tetapi mengapa namanya Budhanilkantha? Apakah karena Buddha yang dipercaya oleh sebagian umat Hindu merupakan reinkarnasi Dewa Wisnu? Lalu mengapa di sini tempat pemujaan Dewa Wisnu dan bukan Dewa Siwa yang biasa dikenal sebagai Sang Nilakantha? Namanya sungguh membingungkan!

Ternyata, Budhanilkantha secara harfiahnya berarti “tenggorokan biru yang tua” (budha, -bukan buddha-, berarti tua) dan nilkantha (atau nilakantha, -sebuah gelar yang mengacu kepada Dewa Siwa-, telah disandangkan di tempat ini untuk Dewa Wisnu. Bisa jadi karena dalam banyak periode masyarakat Nepal merupakan pemuja Dewa Wisnu sebagai Dewa Utamanya.

Ternyata menarik juga untuk mengetahui legendanya, apalagi kalau sampai tambah membingungkan 😀 😀 😀

Mitos nilkantha atau tenggorokan biru Dewa Siwa merupakan kisah favorit di Nepal. Ingat dong kisah Samudra Manthana atau The churning of The Ocean of Milk, saat para dewa mengaduk lautan yang secara tidak sengaja mengeluarkan racun yang bisa menghancurkan dunia. Mereka memohon kepada Dewa Siwa untuk menyelamatkan dari kesalahan yang fatal ini, dan pada akhirnya Dewa Siwa menyanggupi dengan meminum racun itu. Dewa Siwa yang sangat kesakitan karena tenggorokannya terbakar oleh racun itu, pergi ke pegunungan di utara Kathmandu. Lalu dengan trisulanya, Dewa Siwa menghantam lereng gunung yang menghasilkan sebuah danau. Air dari danau itu, Danau Gosainkund, menjadi obat atau pendingin pada tenggorokannya sehingga penderitaannya berakhir kecuali sebuah bercak biru menghias di tenggorokannya (nilakantha).

Dan kaitana Budhanilkantha dengan mitos itu, ternyata air yang berada di kolam tempat Dewa Wisnu berbaring ini diyakini berasal dari Danau Gosainkund yang terletak di ketinggian 4380 mdpl itu (Danau suci ini merupakan salah satu pemandangan terindah jika melakukan Gosainkund trekking). Tetapi saya tak bisa mengabaikan, jarak Budhanilkantha dan Danau Gosainkund itu jauh sekali dan melewati bukit. Jadi bagaimana air Danau Gosainkund bisa sampai ke Budhanilkantha ya? Pemikiran yang mempertanyakan ini menambah kebingungan saja 😀 😀

Dan konon, image Dewa Siwa berbaring dapat disaksikan di bawah air saat festival tahunan Dewa Siwa! Meskipun ada legenda lain yang mengatakan bahwa patung Dewa Siwa yang serupa Dewa Wisnu ada di bagian bawah patung. Mana yang lebih bisa diterima akal? Tetapi yang pasti saya menelan saja dua legenda itu, daripada tambah bingung kan… 🙂

Lalu ada lagi kisah asal patung Budhanilkantha….

Kisah versi pertama, konon, patung itu dipahat lalu dibawa (lagi-lagi tidak jelas, apakah oleh para pemuja Dewa Wisnu atau oleh para budak) ke tempat sekarang ini di Lembah Kathmandu, pada abad ke-7 ketika lembah Kathmandu di bawah kekuasaan raja dari wangsa Licchavi yaitu Bhimarjunadev.

Dan versi yang lain mengisahkan, seorang petani dan istrinya yang memiliki sebidang pertanian, suatu hari sedang mengolah tanah mereka termasuk mencangkul tanahnya. Tanpa sengaja alat yang digunakan mereka menumbuk sebuah batu yang diikuti oleh keluarnya darah dari tanah. Kegemparan itu bertambah karena akhirnya diketahui bahwa patung Dewa Budhanilkantha yang hilang telah ditemukan kembali lalu ditempatkan di lokasi yang seharusnya.

Jadi patung itu asalnya dari mana? Mungkin jawaban pastinya adalah… entahlah… 😀

Dan masih ada cerita yang agak klenik dan supranatural lho…

Raja-raja Nepal, terutama dari Dinasti Malla setelah abad ke-14 memulai klaim diri sebagai reinkarnasi dari Dewa Wisnu dan berlanjut terus. Bahkan di abad 17, Raja Pratap Malla yang konon memiliki kemampuan supranatural dan sering mendapatkan penglihatan, memberitakan sesuatu yang meyakinkan namun sedikit mengerikan, yaitu jika Raja Nepal mengunjungi kuil Budhanilkantha, maka setelah meninggalkan Budhanilkantha, kematian segera menyongsong! Serem banget kan??? Oleh karena itu, hingga berakhirnya penganugerahan gelar sebagai Raja, Raja Nepal yang beragama Hindu tidak pernah mengunjungi kuil Budhanilkantha tersebut, apapun alasannya. Daripada terlalu cepat mangkat padahal masih banyak yang harus dinikmati, mungkin begitu pemikirannya…

Hari semakin sore ketika saya selesai mengelilingi tempat pemujaan yang berpagar tembok sebagian itu. Pikiran saya melayang-layang. Sebagai tempat suci Hindu, apalagi dengan keutamaan Dewa Wisnu yang berbaring, tentu Budhanilkantha sangat ramai saat perayaan Haribodhini Ekadashi (yang merayakan kebangkitan Dewa Wisnu dari tidur panjangnya, yang biasa dirayakan antara bulan Oktober – November). Saya ingat keramaian itu yang pernah saya tulis di Nepal: Kalung Bunga Cinta di Haribodhini Ekadashi dan Nepal: Bertemu Guardian Angels di Changu Narayan. Jika kuil Changu Narayan sudah penuh sesak seperti itu, apalagi di Budhanilkantha ini!

Pelan-pelan saya tinggalkan Budhanilkantha, sebuah tempat pemujaan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Buddha, lalu membawa pergi segala macam pertanyaan dalam benak. Tidak apa-apa sedikit bingung, tapi yang pasti Buddhanilkantha… checked! (pakai gaya bicara anak-anak sekarang) 😀 😀 😀


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-48 bertema Symbol agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.