Mimpi Dulu, Jalan Kemudian


Duluuu, setelah beberapa kali melakukan perjalanan ke Negara tetangga secara independen dan memiliki sedikit keleluasaan untuk membeli barang-barang yang saya suka, barulah saya mencicil membeli buku-buku panduan perjalanan yang harganya mahal itu. Alhasil sepanjang istirahat siang, biasanya saya habiskan di toko buku Kinokuniya di mall dekat kantor melihat-lihat buku yang menjadi target dibeli berikutnya. Sampai sekarang pun, saya masih suka kluyuran di tempat yang sama meskipun membatasi diri untuk membeli buku.

Saat itu, saya merasa sangat gembira ketika saya bisa membeli buku panduan travelling Lonely Planet’s South East Asia On A Shoestring – Big Trips on Small Budgets. Sangking gembiranya, saya menunjukkan buku itu ke Mama yang merupakan salah satu pendukung saya untuk melakukan travelling. Saya ingat beliau tertawa lebar ketika saya bilang, shoestring, Ma… alias ngirit banget, backpacking.

sealp2
Southeast Asia on a soestring

Buku 1004 halaman itu memberikan panduan cukup lengkap untuk melakukan perjalanan ke negara-negar di Asia Tenggara, yang mencakup Brunei Darussalam, Cambodia, East Timor (Timor Leste), Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippines, Singapore, Thailand dan Vietnam. Destinasi-destinasi yang ditulis dalam buku ini termasuk yang must-see, sehingga buku ini sangat berguna sebagai referensi jika saya sedang tidak ada waktu untuk riset perjalanan. Memang saat ini, buku saya itu sudah ketinggalan jaman dengan semakin banyaknya destinasi-destinasi baru di Negara-negara Asia Tenggara, tetapi bagi saya destinasi yang ditulis di buku itu tidak pernah habis dikunjungi.

Tidak hanya destinasinya, di dalam buku itu juga tersedia rekomendasi hotel, tempat makan beserta perkiraan harganya. Tapi biasanya, hotel-hotel atau rumah makan yang sudah tertulis di buku Lonely Planet ini, ketika didatangi harganya telah naik karena banyaknya peminat.

Ada salah satu yang saya suka dalam buku ini, di bagian belakang, selalu dijelaskan bahasa lokal masing-masing negara yang akan lebih baik dikuasai oleh si traveller untuk memudahkan relasi di tempat tujuan. Jadi buat saya, belajar satu dua kata setempat selalu bisa memenangkan hati penduduk dari negara yang saya kunjungi.

Kemudian, dengan semakin seringnya saya mengulang mendatangi negara-negara yang sudah pernah saya datangi sebelumnya, akhirnya saya membeli buku-buku perjalanan yang lebih spesifik pada Negaranya. Tidak hanya dari Lonely Planet, saya pun membeli dari DK Eyewitness Travel. Buku-buku panduan yang diterbitkan DK Eyewitness Travel ini tidak seperti Lonely Planet yang padat dengan tulisan, melainkan penuh gambar-gambar yang indah dan informatif, sehingga saya bisa lebih membayangkan bentuk dan situasi yang akan dihadapi nantinya. Bahkan di tempat-tempat tertentu yang memiliki banyak item-item yang harus dilihat, misalnya museum atau istana, diberikan ilustrasi lengkap dan informatif di setiap levelnya sehingga kita dapat menuju ke tempatnya dengan benar. Atau di dalam buku juga diberikan misalnya, rute jalan kaki dalam satu periode waktu, lengkap dengan tempat-tempat yang harus dilihat tanpa terlewatkan.

dklist
DK Eyewithness book list

Tetapi, saat saya berkeliling rak buku, tak jarang saya mengambil buku panduan perjalanan yang sama sekali saya belum tahu kapan akan perginya. Jika demikian, saya sedang menabung impian terlebih dahulu agar bisa jalan kemudian. Bagi saya, memiliki impian dan memelihara impian itu agar bisa bepergian, menjadi dasar terpeliharanya spirit jalan-jalan saya selama ini.

Tidak apa-apa belum bisa bepergian, yang penting mimpi dulu, jalan-jalan kemudian!

Jika saya belum sempat menginjakkan kaki ke Negara itu, minimal saya bisa corat-coret membuat itinerarynya. Biasanya saya memanfaatkan buku panduan perjalanan itu dan juga riset melalui google. Bagi saya, proses membuat itinerary sudah setengah melakukan perjalanan. Membayangkan keindahan tempat-tempatnya, mencari tiket termurah, membandingkan satu dengan yang lain, mencari penginapan dengan segala macam filter, mengalami euphoria akan bepergian, sibuk mengatur kecukupan uang, sibuk mencari transportasi dan seterusnya. Belum lagi rencana packing baju-baju, atau adrenaline rush yang mendadak timbul gegara travel buddies mendadak mundur satu per satu.

Ketika saya berkunjung ke Nepal pertama kali, itinerary yang sudah tersusun rapi per harinya malah tertinggal di Jakarta dan setiap harinya saya hanya berjalan berdasarkan ingatan saja, padahal Nepal terutama di Kathmandu, Patan dan Bhaktapur itu sangat luas dan cantik untuk wisata budayanya (sebelum gempa besar 2015). Berbeda dengan kejadian di Nepal, untuk bepergian di Myanmar dan Laos saat pertama kalinya, saya memang tidak menyusun itinerary yang detail melainkan secara garis besar dan kasar per hari saja.

lplist
Lonely Planet’s book list

Tetapi buku-buku panduan itu biasanya tidak pernah saya bawa saat travelling. Selain berat, buku itu menjadi distracting factor pada saat menikmati destinasi. Untuk apa baca buku di destinasi? Baca buku itu bisa di penginapan atau di pesawat atau bahkan baca sebelum pergi saja… Iya kan?

Dan seperti buku panduan Cambodia, meskipun saya sudah berkali-kali pergi ke sana, membaca lagi buku panduan itu bagi saya rasanya seperti menyiram bensin kepada api yang berkobar, selalu menambah semangat travelling. Dan itu menyenangkan dan menggembirakan.

Jadi, setiap pagi, saya senantiasa membuka satu atau dua halaman di buku panduan perjalanan yang selalu ada di dekat saya setiap pagi. Seakan menguatkan impian-impian untuk bepergian. Karena memiliki impian itu penting, sepenting melakukan perjalanannya.

Jadi kemana kita berikutnya?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-23 ini bertema Bookworm agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Iklan