Yang Asri Yang Menyamankan Hati


Sebagai penggiat tanaman, salah seorang teman kakak saya pernah mengatakan bahwa ia memiliki beberapa cara untuk mengelola stressnya. Namun salah satu yang paling mudah dilakukannya adalah menyiram tanaman dan hal itu beliau lakukan dua kali sehari, pagi dan sore hari. Awalnya tentu saja saya skeptis, karena amat jarang saya berhubungan langsung dengan tanaman. Lagi pula saya ini benar-benar penikmat keindahan tanaman yang sudah ditata cantik, yang sudah jadi.

Dan memang, segala sesuatu itu ada waktunya…

Ketika saya sudah bisa beli rumah yang kini ditempati, -meskipun halamannya kecil-, suami dan saya menatanya dengan keasriannya sendiri. Memang sebagian besar hanya ditanami rumput dan di sisi tembok samping diberi berbagai tanaman hias. Dasarnya hanya satu, ketika kami duduk di teras depan atau berdiri di foyer, hanya kehijauan asri yang menyamankan mata dan hati.

Dan akhirnya saya mengamini kata-kata teman kakak yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini. Ketika saya menyiram tanaman di pagi atau sore hari, rasanya ada ketentraman tersendiri yang muncul di jiwa. Air yang membasahi tanah memberi efek langsung harumnya petrichor (bau tanah kering saat tertimpa hujan pertama kali) yang memang saya suka. Selain itu muncul juga rasa bahagia menyaksikan tanaman-tanaman kembali segar setelah mendapatkan air sebagai unsur penting dalam kehidupannya. Terbayang betapa semua makhluk berbahagia karena bisa mendapatkan air di kala dahaga datang menyerang. Rasa bahagia yang menenteramkan ini memang bisa menjadi cara untuk mengelola stress sehari-hari.

Tak disadari bahwa faktor kenyamanan yang satu ini, -yang membuat jiwa raga lelah menjadi segar kembali-, menjadi salah satu penentu dalam memilih hotel saat liburan. Setelah berbulan-bulan disesaki oleh pandangan dinding gedung-gedung perkantoran dan hutan beton ditambah dengan pekerjaan yang datang dan pergi, membuat jiwa perlu rehat sejenak.

Kadang bukan di rumah, melainkan di tempat yang berbeda…

Pernah suatu kali saat long weekend, suami mendadak mengajak jalan ke Jogja. Tapi waktunya amat tidak tepat karena pada saat yang sama banyak penduduk Jakarta juga keluar kota membuat jalan bebas hambatan itu padat luar biasa alias macet tak bergerak! Menit-menit berlalu sampai hitungan jam. Akhirnya suami menyerah. Di gerbang keluar yang pertama ditemui, suami memilih keluar dari jalan tol, berputar arah. Dan saya usul bagaimana jika ke Puncak saja? Meski ia setuju, akhirnya bukan Puncak melainkan Rancamaya, dekat Bogor, yang menjadi tempat liburan kami. Dari rencana ke Jogja, lalu berputar ke Puncak, sampainya di Rancamaya!

Tetapi ternyata berlibur mendadak di Rancamaya membawa kejutan yang manis. Hotel yang kami inapi itu memiliki halaman yang amat luas dan hijau sejauh mata memandang. Bahkan dari jendela besar selebar kamar, kami bisa melihat gunung Salak yang menjulang dan kehijauan yang menghampar.

Bahkan saat berjalan pagi di sekitar hotel, saya bisa mendatangi sepetak tanah berpagar yang berisikan hewan-hewan jinak, diantaranya rusa tutul. Semua berada di kawasan hotel. Belum lagi instalasi-instalasi seni yang diletakkan secara harmonis dengan alam sekitar lengkap dengan tempat duduk untuk menikmati semuanya. Rasanya romantis ketika berjalan pagi bersama suami 😀

View at a hotel in Bogor
View at a hotel in Bogor
A tunnel of leaves, Bogor
A tunnel of leaves, Bogor

Lain Rancamaya, lain pula Jogja…

Seperti post sebelumnya yang pernah saya ceritakan tentang pengalaman menyenangkan menginap di hotel di Jogja, kami sekeluarga mempunyai hotel favorit di Jogja karena halamannya yang amat luas. Membuat saya tak bosan untuk berjalan pagi meskipun berkali-kali menempuh rute yang sama. Setiap ke Jogja hampir selalu menginap di tempat yang sama dan berjalan pagi melihat pemandangan yang tidak jauh berbeda. Kadang daunnya rimbun, kadang sebagian ditebang untuk pemeliharaan. Kadang tamannya sudah berganti tema ketika saya menginap di sana lagi. Bahkan pernah sampai seorang resepsionis sedikit terpana mengetahui bahwa saya sudah ‘merambah’ sampai ke sebuah taman yang disebutnya Secret Garden, karena tempat itu memang agak tersembunyi.

Sambil berjalan di halaman hotel yang amat luas itu, kadang saya bertemu dengan mereka yang bertugas. Jika memang tak terganggu, saya mengajaknya berbincang sebentar dan mengucapkan terima kasih sudah melakukan pemeliharaan yang begitu melelahkan. Merawat halaman yang luas kan melelahkan sekali…

Tapi saya tak sendiri, semakin siang biasanya tamu hotel semakin banyak yang berjalan-jalan, termasuk anak-anak yang celoteh riangnya seringkali terdengar. Senyapnya suasana akan hilang jika anak-anak sudah banyak yang bangun dan berjalan-jalan di halaman hotel.

Tetapi apakah hotel selalu harus berbatas dengan lapangan golf?

Mungkin sedikit tak adil, karena dua hotel yang saya sebut lebih dulu itu berbatas langsung dengan lapangan golf. Lalu apakah selalu harus ada lapangan golf untuk memutuskan menginap di sebuah hotel? Tentu tidak!

Hotel yang kami pilih di dekat Ambarawa tidak memiliki lapangan golf, tapi memiliki perkebunan kopi! Tentunya luas juga kan? Saya bisa berjalan kaki dengan santai mengikuti rute yang tak habis-habis. Merasakan aura kolonial dalam area perkebunan berdampingan dengan budaya Jawa yang kental, ditambah dengan hamparan pohon kopi dengan biji-bijinya yang masih tergantung sampai harumnya bubuk dalam kemasannya, semuanya dapat disaksikan dalam kawasan yang sama.

Liburan saat itu merupakan liburan yang amat menyenangkan. Bisa jadi karena saya telah lama bermimpi bisa menginap di sana dan terwujud. Salah satu the dreams come true. Saya tak perlu keluar dari kawasan itu untuk bisa menikmati alam.

Tapi yang meninggalkan kesan yang dalam sepanjang liburan-liburan kami adalah saat kami masih menjadi keluarga muda. Di Jogja kami menginap di sebuah hotel di kawasan Prawirotaman yang memiliki kolam renang di halaman belakangnya. Setiap ke Jogja hampir pasti kami kembali ke hotel itu. Sangking seringnya, pengelolanya mengenal kami sebagai tamu yang loyal dan sudah dianggap VIP. Kami selalu disediakan kamar yang sama, kamar paling belakang, paling bagus dan merupakan kamar yang terdekat dengan kolam renang.

Anak-anak kami tak akan bisa melupakan kolam renang yang ada di halaman belakang itu karena di sana mereka menjadi berani untuk berenang di kedalaman 2 meter, mereka berani memesan makanan sendiri setelah berenang, pokoknya seperti orang dewasa yang sedang berlibur meskipun mereka masih duduk di sekolah dasar. Karena lokasinya, mereka tahu kapan kolam renang kosong dan kapan waktu terbaik untuk berenang.

Sampai sekarang pun kami masih ingat kamar yang paling dekat dengan halaman belakang itu dan mungkin kapan-kapan, kami akan menginap di sana lagi. Sekedar nostalgia.

P1000297
Swimming pool at the backyard of Hotel

-§-

Tapi di antara banyak hotel yang kami inapi di Jogja, ada satu hotel yang kami inapi hanya semalam saja dan tak ingin kembali lagi ke sana. Ceritanya…, waktu itu karena check-in sudah malam, kami tak melihat keluar jendela lagi. Namun saat pagi, saat tirai jendela saya buka dan melihat ke luar halaman, saya baru tahu bahwa malam itu kami menempati kamar yang kavling sebelahnya adalah kuburan! Aaarrgh….

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-30 bertema Courtyard agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu.

Yang Besar di Negeri Gajah Putih


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Thailand, sejak dulu bahkan sampai sekarang, saya masih saja mudah terpesona dengan apa yang ditawarkan Negeri Gajah Putih itu. Tidak hanya penduduknya yang ramah dan makanannya termasuk ramah di perut saya, obyek-obyek wisatanya selalu menarik.

Masih teringat saat itu, ketika pertama kali melakukan perjalanan sebagai female solo-traveller, saya memiliki kesan teramat manis akan Wat Pho. Kuil Buddha yang di dalamnya terdapat Patung Buddha Berbaring yang amat besar itu, mempesonakan saya. Seumur-umur saya belum pernah melihat patung Buddha sebesar itu dan sebagus itu. Tak heran, saya berlama-lama di sana.

watpho
Reclining Buddha in Wat Pho
head
The Head of Buddha

Dan itulah enaknya berjalan secara independen, saya yang menentukan sendiri bagaimana dan berapa lama saya berada di sebuah tempat. Tanpa harus bergegas di tempat yang saya suka, namun saya bisa cepat pergi jika tempatnya tidak menyenangkan. Di Wat Pho, saya begitu menikmati tempat dan suasananya. Menikmati suara ritmis denting koin-koin yang dijatuhkan pengunjung ke dalam pot donasi. Rasa nyamannya benar-benar mengesankan saya. Bisa jadi karena ruangannya yang amat tinggi dan besar untuk bisa menampung patung Buddha berukuran panjang hampir 50 meter itu.

Kesan besar dan indah dari Wat Pho itu sangat menyerap dalam ingatan saya. Meskipun setelah perjalanan itu saya berkesempatan pergi ke Myanmar dan menemukan begitu banyak patung Buddha Berbaring dengan ukuran raksasa yang jauh lebih besar daripada Wat Pho, bagi saya kerennya Wat Pho masih nomor satu.

Atau karena Wat Pho saya kunjungi dalam perjalanan perdana sebagai solo-traveller? 😀 (sebab kata orang semua yang pertama kali itu selalu berkesan)

Tapi faktanya, keterpesonaan saya tak berhenti di situ. Dalam kesempatan lain ke Thailand, kali itu saya bisa ke Ayyuthaya, -bertahun-tahun setelah perjalanan pertama ke Wat Pho itu-, di sana saya terpesona di Kuil Wat Phanan Choeng Worawihan.

Saat itu, saya melakukan perjalanan perdana ke Ayyuthaya sebelum melanjutkan ke Sukhothai pada hari berikutnya. Karena tidak menginap di Ayyuthaya, saya memanfaatkan waktu semaksimal mungkin dari siang hingga malam untuk menjelajah kawasan yang pernah menjadi pusat kerajaan Thai berabad-abad lalu itu dan malamnya kembali ke stasiun kereta api untuk melanjutkan perjalanan ke Sukhothai. Baca kisahnya 3 Hari 2 Malam Bangkok – Ayyuthaya – Sukhothai sebagai cara untuk berhemat biaya penginapan.

Di dalam Wat Phanan Choeng Worawihan siang jelang sore itu, saya terpesona dengan apa yang saya saksikan di depan mata. Jika di Wat Pho terdapat Reclining Buddha yang berlapis keemasan maka di Wat Phanan Choeng Worawihan terdapat patung Buddha duduk (Seated Buddha) yang berlapis emas dan ukurannya termasuk yang salah satu terbesar di Thailand. Tidak kira-kira tingginya, hampir 20 meter! Kira-kira setinggi gedung 5 lantai. Jadi kebayang besar kuil yang menampungnya, kan?

IMG_6428
Buddha in Wat Phanan Choeng Worawihan, Ayyuthaya
IMG_6423
Buddha in Wat Phanan Choeng Worawihan, Ayyuthaya
IMG_6422
See the men

Saat itu saya bergabung dengan para Buddhist duduk di area tengah. Bukan untuk mengikuti ibadah melainkan untuk mengambil foto patung Buddha yang dipercaya merupakan salah satu patung tertua berukuran besar dari Sang Buddha yang berada di dalam bangunan tertutup. Konon patung itu dibangun pada tahun 1324 meskipun belum ada bukti yang benar-benar mendukung.

Saya mengamati patung teramat besar yang mengenakan jubah berwarna saffron itu. Bersih dan berkilau. Baru saya menyadari bahwa saat itu, patung Buddha sedang dibersihkan oleh sejumlah pria dewasa. Besarnya ukuran patung itu membuat pria-pria dewasa yang sedang membersihkan terlihat seperti anak-anak kecil. Tinggi mereka sebagai manusia dewasa terlihat masih lebih pendek daripada tinggi jari tangan Sang Buddha yang saat itu mengambil pose tangan Bhumisparsha mudra (tangan kanan menyentuh bumi). Terbayang kan, kalau tinggi orang hanya setinggi jari tangan, betapa tinggi patung Buddha di Wat Phanan Choeng Worawihan itu.

Uniknya, patung Buddha yang kini berlokasi di dekat pertemuan Sungai Chao Phraya dan Sungai Pa Sak, dipercaya penduduk lokal memiliki kisah mistis. Konon, saat negeri Burma menyerang Ayyuthaya di akhir abad-18, patung Buddha ini sempat meneteskan airmata! Mendengar kisah ini, saya tak ingin bereaksi, karena sepanjang pengetahuan saya justru urban-legend itu bertolak belakang dengan filosofi Buddha. Ah, bisa saja saya yang sotoy…

Terlepas dari kisah lokal itu, saya juga memiliki kesan lain di Wat Phanan Choeng Worawihan. Dijudesin oleh perempuan!

Jadi ceritanya, saat itu saya tak tahu apakah di sana memotret Buddha itu merupakan pelanggaran atau tidak. Seorang teman Buddhist pernah menyampaikan secara halus bahwa sebaiknya tidak dilakukan karena katanya tak akan pernah sempurna hasilnya. Tapi mengingat saat itu saya masih pejalan novice, maka suaranya masih terabaikan.

Nah, mungkin karena suara dari shutter kamera membuat seorang perempuan melihat saya dengan wajah yang teramat judes sebagai simbol: DILARANG FOTO DI SINI!!! Dasar saya masih belum puas dengan besarnya Sang Buddha, dengan cueknya saya melanjutkan foto sekali dua kali. Setelah itu, tanpa sadar saya menoleh lagi kepada perempuan itu. Duh, terlihat seperti ada api neraka di wajahnya. Kalau saja di kuil itu boleh melabrak dengan berapi-api, mungkin dia akan melabrak saya seperti naga raksasa yang menyemburkan api. Syereeemmm!

Meskipun saat itu saya tak menyadari kesalahan, untuk menjaga ketentraman batin dia dan saya, lebih baik saya keluar dari kuil. Lagi pula saya tak ingin mengganggu ibadah mereka. Yang jelas, pengalaman dijudesin oleh orang lain itu sangat membekas, membuat saya semakin bertindak hati-hati di rumah ibadah lain.

Selepas menjelajah Ayyuthaya, dengan kereta api saya merambah lebih Utara menuju Sukhothai, tempat yang dipercaya pemerintahan Di kawasan bersejarah itu saya menyewa sepeda, sebuah keputusan yang sepertinya tidak tepat. Meskipun tidak seluas Angkor Archaelogical Park, bagi saya mengelilingi kawasan di Sukhothai dengan menggowes sepeda itu cukup membuat saya gempor. Sok tahu siih…

Setelah satu persatu bangunan candi di Sukhothai itu didatangi, sampai juga akhirnya saya di Wat Si Chum, salah satu landmark-nya Sukhothai. Dan seperti biasa, saya terpesona dengan keluarbiasaan yang ditawarkan Wat Si Chum ini.

IMG_6721
Wat Si Chum, Sukhothai

Jika di Wat Phanan Choeng Worawihan, patung Buddha berlapis emas, di Wat Si Chum ini patung Buddha-nya dibiarkan apa adanya. Tetapi bukan berarti tak terawat. Bahkan dalam kondisi apa-adanya, tanpa lapis emas, Patung Buddha yang dikenal dengan Phra Achana ini sudah menjadi landmark dan tempat yang harus dikunjungi saat ke Sukhothai. Ukurannya tak beda jauh dengan Wat Phanan Choeng Worawihan sekitar 15 meter, tetapi tetap saja besaaaaarrrr!

Wat Si Chum merupakan salah satu kuil terbesar yang dipercaya dibangun pada abad-13 serta konon, paling misterius di Sukhothai. Patung Buddha Phra Achana di tempat ini dikelilingi empat dinding tinggi 15 meter dalam jarak yang sempit yang menyerupai sebuah mandapa. Konon, mandapa itu dulunya tertutup atap meskipun tak dapat dipastikan bentuknya.

Selain ukurannya yang besar, masih ada dua hal yang misterius dari Wat Si Chum ini. Konon, di bawah kuil ini ditemukan sebuah lorong bawah tanah yang ujungnya entah dimana karena aksesnya ditutup demi perlindungan terhadap kawasan bersejarah. Selain itu, ada tangga-tangga sempit mengarah ke atas yang tujuan penggunaannya juga belum diketahui. Sayangnya semua akses itu tertutup untuk publik. Biar para ahli arkaeologi yang mempelajari dan mencarinya, sebagai pejalan saya hanya bisa menikmati keindahan dan keluarbiasaannya.

Jelang sore, pelan-pelan saya menggowes sepeda sewaan untuk mengembalikannya lalu kembali ke stasiun kereta di Phitsanulok. Apa yang saya saksikan di Bangkok, Ayyuthaya dan Sukhothai, memiliki kemiripan. Penduduk Negeri Gajah Putih ini tak segan mendirikan bangunan dengan patung Buddha dengan ukuran yang teramat besar, tidak beda dengan beberapa negeri Buddha lain di Asia. Kata teman saya, semakin besar ungkapan rasa terima kasih kepada Sang Buddha, maka semakin besar dan bernilai pula ia persembahkan.

Mendadak sebuah kesadaran membukakan pikiran. Bagaimana dengan saya? Sebagai ungkapan terima kasih dan syukur, seberapa besar yang saya persembahkan kepada Sang Pemberi Hidup?

 


This post was written in response to the weekly challenge from Celina’s Blog, Srei’s Notes, Cerita Riyanti, and also A Rhyme In My Heart, -similar to the old Weekly Photo Challenge from WordPress-, which is the 29th week of 2020 has the theme of  Big, so we are encouraged ourselves to write articles weekly. If you are interested to take part in this challenge, we welcome you… and of course we will be very happy!

Do You Follow The Rule?


You are What You Do, Not What You Say You’ll Do

Carl Gustav Jung

Dalam masa pandemi ini, hampir setiap saat, dimanapun kita berada, terdapat himbauan untuk mengenakan masker. Dari yang berupa informasi saja, atau berupa himbauan dan ajakan, bahkan sampai instruksi yang bisa menimbulkan sanksi. Banyak rambu sebagai pengingat agar tidak lupa mengenakan masker, demi kesehatan bersama.

Lalu apakah kita benar-benar mematuhinya demi kesehatan diri sendiri atau hanya karena takut terhadap sanksinya? Setiap hari, sepanjang perjalanan menuju ke kantor (saya sudah tidak ada lagi WFH), pasti menemukan orang yang tidak mengenakan masker, atau yang mengenakannya di dagu. Saya sendiri tidak mau munafik, kadang saya melepas masker karena saya belum selesai dandan dan dilanjut di mobil 😀 Namun beberapa kali, saya tetap melanjutkan berdandan meski mengenakan masker polkadot merah yang kata anak saya ‘enggak banget‘ dan membuatnya menjauh, ‘pura-pura gak kenal‘. Duh mungkin dia bener-bener kabur kalau melihat saya pakai masker yang blink-blink 😀 😀 😀

Tapi bagi saya, ada rambu atau tidak, saya berusaha menerima kenyataan bahwa masker adalah bagian dari keseharian yang tak bisa terlupakan. Alhasil, saya mulai memasukan masker sebagai bagian dari gaya berbusana. Minimal saya mulai belanja online berbagai warna masker dan motif. Kudu matching kan?

Tapi bisa jadi memang dari gene-nya saya demikian. Duluuuu… atasan lama saya pernah berkata bahwa saya ini tipe orang yang by the book. Jadi selalu mengikuti aturan. Ada benarnya juga, meskipun tidak seratus persen tepat.

A Sign in Royal Palace, Cambodia

Seperti ketika saya melakukan perjalanan ke Istana Kerajaan (Royal Palace) di Phnom Penh, Kamboja. Di halaman istana yang cukup lebar itu, ada bagian yang memang diperbolehkan untuk publik dan bagian lain yang dilarang dimasuki. Sebuah rambu yang dibuat khusus bertuliskan larangan dalam aksara Khmer dan juga dalam bahasa Inggeris.

Karena batasnya amat longgar, saya pernah melihat turis, -mungkin secara sengaja atau mungkin juga pura-pura tak mengerti-, melanggarnya sehingga seorang petugas segera menggiringnya kembali ke wilayah publik. Saat peristiwa itu terjadi banyak orang yang sedang berada di Throne Hall menjadi memperhatikan orang yang dikawal oleh petugas. Hal seperti itulah yang saya hindari. Menjadi perhatian orang karena melakukan pelanggaran. Kalau sudah begitu, rasanya langit runtuh ke atas kepala saya.

No Parking Here

Tapi isi hati orang tidak ada yang pernah tahu. Seperti pada sebuah kejadian saat saya berjalan kaki ke arah pantai di Bali. Meski saat mengambil foto ini, secara tak langsung saya telah menghakimi para pengendara sepeda motor ini, awalnya saya berpikir foto ini mewakili sebuah pesan akan kontradiksi, sebuah pembrontakan, sebuah gaya menantang.

Sudah jelas ada rambu larangan untuk parkir, tetapi paling tidak ada tiga motor parkir di depan rambu tersebut.

Tapi bagaimana seandainya mereka ada sesuatu yang amat mendesak dan dalam situasi darurat tapi tidak ada tempat kosong lagi untuk parkir? Lalu apakah mungkin di tempat parkir yang disediakan sudah terlalu penuh sehingga pengunjung me’lebar’kan wilayah parkirnya dengan cara mereka sendiri?

Kalau begitu, apakah ada rambu larangan yang benar-benar efisien sehingga bisa ditaati tanpa sanksi?

Bisa jadi jika orang sudah taat hukum, rambu-rambu larangan itu membuat kehidupan berjalan biasa, dengan situasi normal dan baik. Atau justru karena orang takut kepada sanksinya, sehingga mau tidak mau orang menaatinya. Terlepas dari benar tidaknya, saya pernah melihat orang-orang, -termasuk saya tentunya-, benar-benar menaati sebuah rambu larangan meskipun tanpa sanksi.

Terjadi di Tuol Sleng Museum of Genocide, di Phnom Penh, Kamboja

Tuol Sleng Museum of Genocide

Di dinding dekat pintu, ada sebuah rambu larangan yang sedikit membingungkan karena berupa wajah dengan mulut membuka lebar yang dicoret garis silang merah. Saya mengartikannya bahwa pengunjung dilarang tertawa-tawa atau bicara dengan suara keras.

Jangankan tertawa-tawa, bicara pun rasanya tak mampu di sana. Menyaksikan tempat, penjara dan alat-alat siksaan yang mengerikan terpampang dengan begitu gamblang di depan mata, lengkap dengan lukisan cara para korban disiksa, dan foto-foto korban sebelum dijemput ajal serta sisa darah korban yang masih menempel di dinding, rasanya melengkapi aura yang amat brutal dan menyeramkan di gedung itu. Secara otomatis, pengunjung hanya bisa diam dalam kengerian menelusuri lorong dan gedung yang pernah menjadi sebuah Kamp Konsentrasi semasa rezim Komunis Khmer Merah yang berkuasa di Kamboja pada tahun 1975 – 1979.

Pengunjung biasanya tergugu, kalaupun hendak bicara biasanya hanya bisik-bisik. Tak sedikit yang termangu, langsung keluar ke halaman, atau bahkan menangis karena tak tahan dengan semua yang disaksikannya.

Satu rambu larangan yang bahkan tak jelas maksudnya, bisa menjadi amat efisien tergantung pada tempatnya.

Masih di Kamboja, tetapi berada di remote area, dekat kuil-kuil indah yang terkenal.

Minefield cleared Map

Sebuah papan informasi yang sebenarnya merupakan sebuah rambu menghias sisi jalan masuk ke arah kuil. Rambu ini mungkin terlewatkan oleh pengunjung yang kurang memperhatikan. Tapi sesungguhnya amat penting.

Di papan informasi ini terdapat peta yang dibuat secara sederhana seadanya tentang wilayah-wilayah yang telah dibebaskan dari ranjau darat!

Meskipun biasanya area kuil telah bersih dari ranjau darat, sebagai pengunjung pastinya tidak ingin kehilangan kaki atau anggota badan atau bahkan nyawa sekalipun saat menjelajah ke kuil-kuil kuno. Maka dari itu, mengetahui informasi tentang wilayah yang telah dibebaskan dari ranjau darat menjadi amat penting. Berani berjalan keluar jalur?

Hingga tahun 2020 ini masih ada lho ledakan dari sisa-sisa perang ini…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-28 bertema Sign agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu.

Cinta Dua Oma Satu Opa


Meskipun judul tulisan ini rasanya sangat berlebihan, seperti menggiring opini ke arah drama-drama murahan, bagi saya sesungguhnya memang begitu kisahnya. Cinta dalam arti yang teramat indah.

Karena memang inilah kisah dari orangtua dari Mama saya yang tercinta, Oma dan opa saya sendiri, yang penggalan akhir dari kehidupan mereka saya alami bersama mereka dan mewarnai kehidupan saya begitu indah.

Pandemi COVID-19 membuat cerita ini terjadi. Sementara perawat Mama mudik sebentar untuk urusan keluarga, Mama tak bersedia pindah ke rumah anak-anaknya. Jadilah anak-anaknya yang kembali ke rumah orangtua, termasuk saya. Dan akhir pekan lalu, beberapa foto tua hitam putih tergeletak di meja, yang langsung membuka ruang penuh kenangan teramat manis dalam hati saya.

Sejak hidup di dunia ini, saya memanggilnya Opa dan Oma kepada mereka yang tercinta itu, bukan Kakek atau Nenek, atau Mbah Kung, Mbah Uti, bukan juga Eyang. Opa, adalah panggilan kepada Papanya Mama, dan panggilan Oma untuk Mamanya Mama.

Oma Ed, & Oma Am

Dan di foto itu, ada wajah Cinta, wajah Oma Ed, yang tak sempat bersimpang jalan dengan kehidupan saya, namun telah menurunkan Mama ke dunia mempertaruhkan nyawa. Beberapa hari setelah melahirkan Mama, ia berserah diri kembali kepada Dia Yang Maha Esa. Kembali kepadaNya masih dalam keadaan nifas, yang InsyaAllah, syahid.

Meninggalkan semua belahan jiwa yang dikasihinya di dunia, pria yang menjadi suaminya, ayah bayinya dan juga si bayi merah yang telah dilahirkannya ke dunia. Meninggalkan Opa dan Mama saya.

Jaman itu, -bahkan negeri ini pun masih berjuang untuk merdeka-, segala sesuatu masih amat terbatas. Apalagi untuk mereka berdua, sepasang suami isteri yang penuh bahagia, -Opa dan Oma saya-, yang berada di Babo, jauh di pelosok negeri, di pinggir hutan Irian (kini Papua), yang hingga kini pun masih susah dijangkau, susah dicapai. Meski saat itu Opa bekerja di sebuah perusahaan eksplorasi minyak yang terkenal dengan segala fasilitas tersedia, tetap saja umur menjadi rahasia besar yang hanya ditentukan olehNya.

Yang pergi telah selesai urusannya di dunia, namun bagaimana yang ditinggalkan? Seorang suami yang usia pernikahannya masih seumur jagung, ditambah dengan kehadiran seorang bayi merah yang saat itu kehilangan kenyamanan dan kehangatan seseorang yang mencintainya sepenuh hati, sebagaimana ia telah tumbuh sembilan bulan lamanya di dalam rahimnya.

Sang bayi merah itu tak pernah tahu apa yang terjadi padanya, belum sampai padanya ilmu untuk memahami apa yang terjadi di dunia yang baru ia jalani dalam hitungan hari. Ia hanya bisa menerima semua yang terjadi.

Lalu bagaimana dengan Opa yang telah kehilangan separuh nyawanya, belahan jiwanya? Seorang pria yang mendadak mendapati dunianya terbolak-balik dengan hadirnya seorang bayi yang telah kehilangan sang bunda. Di sebuah kompleks rumah di pinggir hutan Irian, di tempat yang jauh dari mana-mana, jauh dari kerabat dan keluarga.

Sebuah makam digali hanya untuk sang bunda, di sana, di Babo, di bumi Irian, di pinggir hutan belantara. Hanya untuk Oma Ed tercinta, sebuah wajah yang mungkin tak lekat dalam ingatan Mama saya.

Satu kehidupan telah ditutup, satu kehidupan dimulai.

Jika Dia Yang Maha Kuasa telah berkehendak, maka terjadilah apapun yang seharusnya terjadi.

Sebagai seorang tante bagi sang bayi merah, hatinya tergerak untuk menjaga dan memomong untuk sementara waktu.

Dia adalah Oma Am, adik perempuan Oma Ed.

Manusia bisa jadi memiliki rencana-rencana, tetapi akhirnya Allah juga yang menentukan. Oma Am, yang saat itu masih memiliki kegembiraan dan kebebasan masa remaja, sudah sewajarnya belum mau terikat dengan kehidupan pernikahan. Ia masih ingin bebas merdeka dengan pilihan-pilihan yang ada di tangannya.

Dan Oma Am, yang saat itu masih gadis rupawan, pada akhirnya tak bisa menolak apa yang telah digariskan Allah untuknya. Sekuat apapun ia berencana. Pada akhirnya Oma Am bersanding dengan Opa dalam sebuah pernikahan, yang biasa orang sebut, pernikahan turun ranjang. Seorang suami yang menikahi adik almarhumah isterinya.

Bisa jadi Oma Ed sedikit tenang di alamnya mengingat bayi yang telah ditinggalkan berada pada tangan adiknya sendiri, meskipun mereka berdua berbeda pribadi. Oma Ed yang lebih menyukai kehidupan di dalam rumahtangganya, sedangkan Oma Am lebih suka bersosialisasi keluar dan penuh aktivitas luar.

Meskipun Opa, yang berdarah Minang, menikah dengan Oma Am, yang berdarah campuran Ambon dan etnis luar lainnya serta terpaut cukup jauh usianya dengan Opa (beda 9 tahun), dalam pernikahannya akhirnya berlaku juga witing tresno jalaran suko kulino. Sebuah pepatah Jawa yang bermakna Cinta itu tumbuh karena terbiasa. Dan dalam pernikahan mereka berdua akhirnya lahir adik-adik Mama, satu perempuan dan tiga laki-laki.

Family of Opa Oma

Sebuah pernikahan yang berlangsung cukup lama, sekitar 35 tahun. Dan saya sempat menyaksikannya sejak usia batita. Sebagai cucu perempuan kesayangan Opa, saya selalu menemaninya berjalan pagi untuk menguatkan kaki-kaki Opa setelah diserang stroke, tentunya dengan diiming-imingi sebatang coklat di toko kelontong dekat rumah. Ada begitu banyak kenangan manis bersama Opa dan Oma. Termasuk kata Mama, saya di usia batita yang tak mau kembali ke Mama dan lebih memilih untuk tinggal bersama Oma, sepulangnya perjalanan 3 bulan Papa Mama dari Hong Kong. Saya tinggal bersama Opa Oma, mengamati ibadah mereka yang tak pernah putus, mengagumi disiplinnya Opa, mengagumi keahlian Oma seperti menjahit, memasak bahkan saya belajar merajut darinya. Saya ingat saya sering mendapat baju jahitannya sendiri. Setiap pesta dan perayaan, Omalah yang memasaknya. Semua kegembiraan itu.

Juga hari dukacita itu,

Bahkan saya bersama Oma, di dalam mobil yang sama setelah bepergian sebentar, lalu sepulangnya mendapati rumah Oma yang telah penuh dengan kursi-kursi. Hanya untuk mendapati bahwa Opa tercinta telah berpulang menghadapNya. Tanpa ada keluarga yang mendampinginya. Rasanya masih terngiang jerit memilukan Oma di mobil itu, rasa kehilangan yang begitu dalam. Opa telah menyusul Oma Ed yang telah berpulang puluhan tahun lebih dahulu.

Saya mencium pipi Opa yang telah dingin itu, Perkenalan pertama saya dengan dunia kematian dalam usia yang masih teramat muda. Pipi yang dingin itu benar-benar telah pergi, tak ada lagi gandengan tangan, sambil berusaha berjalan terus, tak mau kalah oleh serangan stroke yang melumpuhkan. Airmata saya jatuh, hari itu saya benar-benar kehilangan Opa, dia yang memiliki ruang spesial di hati saya.

Waktu terus berjalan, Oma Am yang tinggal sendiri tetap menjalani hidup dengan semangat. Saya meneladani sifat dinamisnya, keberaniannya dan kemandiriannya. Sepeninggal Opa, Oma berani melakukan perjalanan ke Eropa sendirian. Berkeliling negeri-negeri Eropa, negeri sahabat-sahabat dan kerabatnya. Pergi menunaikan ibadah Haji selama empat puluh hari. Sekali-sekali masih bermain tennis, satu olah raga yang paling dikuasainya hingga menyandang gelar juara PELTI pada jamannya.

Dalam bertetangga, beliau tak sungkan untuk turun langsung dan aktif di posyandu, ikut heboh dalam menimbang anak-anak balita, meski penampilannya sedikit berbeda dari lingkungan yang ia masuki. Kulit Oma terlalu putih, terlalu tinggi, cara bicaranya mungkin terasa aneh, terlalu ‘Belanda’ untuk lingkungan Betawi. Tapi itulah dia, Oma Am yang luar biasa.

Beliau yang ‘mengantar’ saya menuju pernikahan, seperti juga beliau yang selalu menjaga saya di kala orang tua sedang tidak ada atau bekerja di luar kota. Bahkan saya sempat berfoto dengannya dengan empat perempuan empat generasi: Oma Am, Mama, saya dan puteri saya.

Sang Pemberi Hidup telah memberikan Oma Am kepada kami semua dengan begitu banyak kenangan manis, yang tak terhingga. Yang tak akan habis-habis bila dituliskan dan diceritakan. Oma Am yang telah memberi begitu banyak warna kepada kehidupan orang lain itu, berpulang dalam usia 82 tahun, menyusul sang belahan jiwa dan kakak tercintanya.


Dan saya hanya bisa berdoa untuk mereka yang tercinta, untuk Opa, untuk Oma Ed dan untuk Oma Am. I love you, I miss you all…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-27 bertema Sweet agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu.

Window Seat, Please…


Saat travelling dengan menggunakan pesawat, -tentunya sebelum masa pandemi COVID19-, jika memungkinkan, saya lebih memilih duduk di kursi dekat jendela. Alasannya cuma satu, saya adalah penikmat pemandangan dari jendela.

Pemandangan Bumi dari jendela itu luar biasa, bahkan awan-awan Cumulonimbus yang bertumpuk-tumpuk ke atas juga bisa membuat saya berdecak kagum, apalagi hamparan awan yang lembut, yang bagai kapas. Pemandangan sunset atau sunrise juga tak kalah indahnya. Tak jarang saya memilih penerbangan yang melewati sunset atau sunrise di udara, tentunya dengan di bagian sisi yang tepat.

The Sun & The Clouds

Tak hanya itu, jika terbang malam hari saya pun suka duduk di kursi dekat jendela. Selain lebih luas untuk menyenderkan kepala saat tidur, saya masih suka melihat ke kegelapan malam jauh di bawah sana. Hebatnya, saat melewati kota besar, kerlip-kerlip lampunya membuat saya berpikir tentang luasnya kota. Seandainya pilot tidak memberitahu, saya bisa menduga-duga kota yang baru dilalui. Apalagi jika ada layar yang menunjukkan posisi, itu sangat luarbiasa!

Pernah suatu ketika saya terbang di atas Mumbai saat malam hari. Karena sudah jelang mendarat dan pesawat makin menurunkan ketinggiannya, lagi-lagi saya melongok keluar jendela. Jalan raya penuh lampu terlihat sedikit lengang, bisa jadi karena sudah lewat tengah malam. Tapi mungkin karena waktu itu adalah pertama kali saya ke India, mata saya terbelalak gembira melihat sebuah kompleks kuil dihiasi lampu-lampu. Indah dan terang sekali.

Tidak hanya kuil dan kota yang menarik perhatian saya akan bumi India. Sungai-sungai raksasa yang dimiliki India, yang berhulu di pegunungan Himalaya, dapat disaksikan melalui jendela saat saya terbang ke Nepal. Bentuknya berkelok-kelok dengan cabang-cabangnya, sungguh seakan pembuluh darah bagi bumi dalam memberi air kehidupan. Sungai-sungai itu tentu takkan terlihat besarnya saat mata berada dalam ketinggian semeter atau dua meter dari permukaan tanah.

The Rivers

Dan ketika saya bolak-balik Nepal, saya selalu memilih window seat agar dapat melihat barisan pegunungan Himalaya yang puncak-puncaknya berselimut salju. Tapi ketika hendak mendarat, saya begitu menikmati kontur bumi Nepal yang berbukit tinggi dan berlembah dalam. Bahkan dalam penerbangan dari Jomsom ke Pokhara, sekembali dari trekking di kawasan Lower Mustang di Nepal saya gembira melihat dari atas Sungai Kali Gandaki dan desa Marpha, jalur sungai dan desa yang saya lalui dalam trekking sehari sebelumnya dan juga sempat terhenyak menahan nafas saat melihat kawasan viewpoint Poonhill. Bagaimana tidak, untuk mencapai Poonhill, saya teringat beratnya trekking dengan perut yang sedang tidak bersahabat. Sedangkan dari atas pesawat, tempat itu bisa dibilang tak jauh dari Pokhara.

Lewat jendela pesawat, hingga kini saya selalu terharu biru saat melihat jajaran Himalaya, baik untuk pertama kalinya yang penuh ketakjuban hingga terakhir kemarin ini, juga merasakan kembali rasa melow saat mengucap perpisahan kepada Nepal pertama kalinya serta meninggalkan pemandangan Mt. Everest yang indah, namun juga merasa bahagia tak percaya saat mengingat telah meninggalkan jejak di kawasan Sagarmatha itu.

Himalaya
Above the Clouds

Demikian juga saat jelang mendarat di Changi, Singapura, mata saya selalu mencari landmark negeri singa itu dari balik jendela pesawat, Hotel Marina Bay-Sands yang puncaknya menyerupai wahana Nabi Nuh AS saat banjir besar dulu. Teringat saat menginap di hotel terkenal seantero Singapura itu, saya beruntung mendapatkan kamar dengan jendela besar menghadap kawasan Marina dan pemandangan kota. Tingginya letak kamar, membuat pemandangan malam terasa amat indah.

Tapi Indonesia tak kalah indahnya dari semua cerita itu. Setiap hendak mendarat di bandara Soekarno-Hatta, saya selalu menandai landmark yang ada di Jakarta seperti Ancol, Apartemen Regatta yang sangat iconic dan berada di pinggir pantai Jakarta.

Bagi saya, jelang mendarat dengan pemandangan indah banyak dimiliki bandara-bandara di Indonesia. Siapa yang pernah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau di Padang? Saya teringat saat jelang mendarat itu, garis pantai yang putih memanjang dengan birunya Samudera Indonesia mengawal proses mendarat pesawat yang saya naiki. Karena ponsel dimatikan dan kamera sudah di tas, saya tak sempat mengambil fotonya. Tetapi saya takkan lupa indahnya pemandangan itu.

Detik-detik sebelum mendarat di Bali, saya selalu melepas senyum, melihat hamparan laut menghias pemandangan di luar jendela. Bisa jadi saya sudah terbayangkan keindahan tempat-tempat wisata bahkan sebelum mendarat.

Mountains

Mendarat pagi di bandara lama Adi Sucipto, Yogyakarta memiliki keindahannya sendiri. Saya selalu memilih duduk di window seat bagian kiri agar bisa melihat keindahan gunung-gunung yang berdiri dengan gagahnya dan berhiaskan awan-awan diselingi danau atau waduk. Lalu detik-detik mendarat, Gunung Merapi dan Merbabu senantiasa menghias pemandangan di luar jendela pesawat seakan setia mengawalnya.

Keindahan pemandangan di luar jendela pesawat, bagi saya menjadi mood booster, sehingga saya selalu mengupayakan agar bisa menempati tempat duduk di bagian jendela, Window seat please, begitu kata saya dulu, jika check-in di konter…

Anda juga suka window seat?

Mt. Merapi & Mt.Merbabu

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-26 bertema High agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu.

Merah Putih di Negeri Seberang


Kebanyakan dari kita memang terbiasa take it for granted atas segala sesuatu yang ada di sekitar kita, seakan-akan semua itu ada karena diberikan cuma-cuma. Termasuk hidup di negeri yang indah ini, yang kemerdekaannya diperjuangkan dengan nyawa dan tumpahan darah. Apalagi kita semakin dimanjakan dengan segala hal menyenangkan yang bersifat virtual dan semua yang menembus batas-batas wilayah dan negara. Paling tidak saya merasa begitu.

Tetapi bagaimana pun, pada suatu waktu hati nurani yang paling dalam, yang biasa terabaikan, bisa menyeruak keluar. Seperti waktu itu, saya tak bisa membohongi diri bahwa jauh di dalam jiwa tetap berlaku merah darahku, putih tulangku, apalagi ketika melakukan perjalanan keluar negeri. Tidak bisa dibohongi pada waktu-waktu tertentu, ada rasa rindu, ada rasa nasionalis yang tiba-tiba menggelegak keluar ketika melihat simbol-simbol negeri sendiri, seperti mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya atau melihat bendera Merah Putih berkibar, di negeri-negeri seberang.

Pernah suatu waktu, ketika melakukan jalan santai dengan tim kantor setelah berhari-hari berkutat dengan seminar, saya sempat terpisah dari mereka yang sedang melepas lelah. Saya berjalan di antara bangunan kuil di kawasan Wat Pho dan menyaksikan sendiri bendera Merah Putih berkibar di antara bendera-bendera negara lainnya. Rasanya begitu bahagia hanya melihat selembar kain berwarna merah putih yang memiliki makna yang begitu dalam di hati.

Indonesian Flag at Wat Pho, Bangkok
The Flags at Riverside, Phnom Penh

Tidak hanya itu, dalam kesempatan berbeda saya melihat juga bendera Merah Putih berkibar dengan gagahnya di langit biru di antara berbagai bendera negara lain yang dipajang sepanjang kawasan Riverside, Phnom Penh. Menyaksikan bendera negeri sendiri di negeri seberang, rasanya jauh berbeda daripada melihat bendera Merah Putih di Indonesia. Mungkin mata saya berbinar seperti mata anak-anak yang mendapatkan hadiah atau seperti mata mereka yang gembira bisa menemukan sesuatu yang telah lama dicari. Pernah merasa gembira yang begitu dalam saat melihat bendera Merah Putih?

Dan yang paling mengharukan ketika bisa mengikuti upacara dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang dilakukan di halaman Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh, Kamboja. Airmata mengembang memenuhi pelupuk saat menyanyikan Indonesia Raya sambil menyaksikan bendera Merah Putih pelan-pelan dikerek ke atas. Saya menahan sekuat tenaga agar airmata itu tidak jatuh, tetapi tetap saja gagal.

Indonesian Flag in The Embassy

Selama ini, saya biasa menyaksikan upacara 17 Agustus melalui televisi. Biasanya tak ada yang spesial, tak ada yang menyentuh rasa kecuali kekaguman akan sebuah upacara resmi kenegaraan yang kelihatannya selalu panas dan penuh keringat. Mungkin tamu-tamu yang hadir selalu berpakaian super keren dan berdandan cantik meskipun disertai kipas-kipas yang terus bergerak.

Tetapi sungguh berbeda rasanya bila berada di upacara serupa, jauh dari tanah air, jauh dari Indonesia. Inilah rasanya, –jauh di mata dekat di hati-, dengan menyaksikan sendiri bendera Merah Putih disertai lagu Indonesia Raya, berdiri di negeri seberang, saya merasakan kerinduan akan tanah air Indonesia. Begitu kuat rasanya, Saya Indonesia!

Tempat saya berdiri saat itu, bukan di halaman istana yang megah, melainkan di sebuah halaman gedung kedutaan besar yang tidak terlalu luas namun cukup dihadiri oleh puluhan orang. Tetapi ada rasa megah dalam jiwa, karena kemana mata memandang, di sana ada warna bendera, merah putih.

National Flag

Bendera Merah Putih, yang saat itu perlahan-lahan ditarik ke atas seiring lagu, merupakan simbol kedaulatan sebuah Negara. Apalagi dengan iringan lagu Indonesia Raya, yang secara otomatis akan kita nyanyikan karena tergugah dari nurani yang terdalam. Sekali lagi saat itu, saya tak bisa membohongi diri bahwa merah darahku, putih tulangku.

Saya tak menyangka, pengalaman hadir dalam upacara 17 Agustus di negeri seberang bisa menggugah rasa nasionalis yang begitu hebat di dalam diri. Berdiri dalam upacara peringatan kemerdekaan itu saya merasa jauhnya lokasi secara fisik dengan Indonesia, karena saya harus menempuh perjalanan dengan sekian jam penerbangan dari Jakarta. Saya bukan di negeri sendiri melainkan di negeri seberang! Di luar pagar Kedutaan Besar Republik Indonesia berlaku hukum negara orang. Ketika itu, orang di samping saya, di depan saya, di belakang saya adalah sama-sama warga negara Indonesia yang mungkin tidak saya kenal tetapi dengan mereka saya terikat dalam satu keluarga besar, Indonesia.

Pengalaman itu menyadarkan, saat kita berada jauh dari Indonesia, barulah kita merasakan kekhidmatan sebuah upacara bendera lengkap dengan bendera dan lagu kebangsaan. Sesuatu yang mungkin, -kalau boleh jujur-, sering kita abaikan saat berada di negeri sendiri.

Harapan saya suatu saat nanti, -ketika pandemi COVID-19 ini sudah selesai dan ditemukan vaksinnya-, saya ingin kembali menikmati rasa itu, dengan menghadiri upacara kemerdekaan di negeri-negeri seberang, yang jauh dari Indonesia agar bisa terus menggugah semangat keindonesiaan dalam jiwa. Bukankah biasanya kita baru bisa menghargai sesuatu di saat sesuatu itu telah hilang atau paling tidak terpisah jauh?

Sebagai warga negara Indonesia yang sedang berkunjung ke sebuah negara asing, sejauh pengetahuan saya, Kedutaan Besar Republik Indonesia selalu membuka pintu bagi warganya yang akan ikut dalam upacara 17 Agustus.

Jadiiii…. bagaimana kalau kita jadikan sesuatu yang must-do untuk ikut upacara 17 Agustus saat kita sedang bepergian ke negeri-negeri orang?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-25 bertema Bendera agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Pintu Gebyok Yang Tertutup


Lebaran tahun lalu, saya sempat menginap di sebuah resort bernama Sumber Watu Heritage, di Kecamatan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat yang mungkin lebih dikenal orang sebagai tempat makan dengan nama Abhaya Giri itu memang cukup menguras kantong, namun worth it karena bisa memiliki akses ke seluruh tempat seharian termasuk saat sunset, ketika malam, ketika sunrise dan ketika pagi hari, yang semuanya agak susah didapat jika kita hanya berkunjung ke restoran untuk makan.

Saat jalan pagi, saya berhenti di pendopo utama yang berbentuk rumah joglo. Di dalamnya di sisi selatan terhampar sebuah gebyok yang panjangnya sekitar 8 meter. Langsung saja saya teringat jaman dulu saat mencari dekorasi pelaminan untuk pernikahan saya dan suami. Semakin panjang dan semakin bagus gebyoknya artinya semakin mahal padahal budget kami sangat terbatas.

The GebyokNotice the old style of the tiles, the jars and Loro Blonyo

Saya memutar pandangan seantero rumah joglo itu. Sepertinya area ini biasa menjadi area pelaminan dengan para tamu undangan yang hadir akan menempati kursi-kursi yang melingkari meja yang tersebar di satu level di bawahnya untuk makan. Entah kenapa, berdiri di situ seakan-akan saya mendengar tabuhan Kebo Giro, musik pengiring pernikahan adat Jawa.

Tapi bukan bayangan pernikahan yang ada di benak saya, melainkan gebyok yang panjang itu. Meskipun di dalam saya mengalir darah Jawa, saya tak pernah membayangkan memiliki sebuah gebyok di dalam rumah. Mungkin saya orang Jawa yang tersesat 🙂 atau bisa jadi saya terlalu malas untuk membersihkan ukiran-ukiran yang rumit itu sehingga tidak terbayang punya gebyok di rumah.

Main Hall (Pendopo) with A Gebyok on the Southern side Night View

Gebyok, sejauh pengetahuan saya, sebenarnya merupakan sebuah partisi penyekat ruangan yang amat tradisional namun klasik. Umumnya terbuat dari kayu jati pilihan. Meskipun awalnya berupa partisi ruangan, di jaman modern ini tak jarang kita melihat pintu gebyok yang dipasang di depan rumah sebagai pintu masuk, bahkan bisa dikombinasi dalam rumah dengan gaya minimalis. Duh, membayangkannya saja sudah ruwet dan terasa “berat”

Gebyok yang saya lihat di Pendopo Abhaya Giri ini memiliki ukiran yang amat rumit di bagian atas, termasuk di atas pintu. Pintunya sendiri tidak penuh dengan ukiran kecuali singkatan nama resort yang dibuat di bagian tengah. Saya bertanya-tanya dalam hati apakah orang dulu juga menuliskan singkatan namanya pada pintu gebyok mengingat tidak semua orang bisa memiliki gebyok di rumahnya. Karena tanpa namapun mungkin masyarakat sudah mengenalnya karena gebyok hanya mampu dimiliki oleh orang-orang yang berpenghasilan tinggi dan orang yang terpandang di masyarakat. Mungkin memiliki gebyok di rumah merupakan sebuah prestise tersendiri.

The doors of A Gebyok

Tetapi gebyok yang penuh ukiran ini tidak hanya sekedar penyangga rumah, melainkan memiliki makna spiritual yang dalam bagi pemilik rumah. Konon ukiran-ukiran itu dibuat selaras dengan filosofi tradisional Jawa yang amat dalam tentang cara manusia menyikapi kehidupannya (Sangkan Paraning Dumadi, yang kira-kira berarti dari mana manusia itu berasal dan kemana ia kembali). Hidup itu memiliki tujuan akhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian dalam menjalani kehidupan manusia perlu memegang nilai-nilai luhur ketuhanan.

Namun, pagi itu sungguh saya hanya bisa menduga-duga benang merah antara ukiran pada gebyok dan “makna dalam” dari Sangkan Paraning Dumadi, Apapun itu, saya hanya menggunakan rasa untuk menikmati keindahan gebyok itu, karena memang indah sekali! Seperti ada harmoni didalamnya.

Ukiran yang saya lihat memang cukup mengesankan dan menunjukkan tingkat kemahiran pembuatnya. Bersulur-sulur, ada bentuk seperti buah nanas, bunga-bunga dan dedaunan dengan handle pintu berbentuk ring. Dan bentuk utama di atas pintu yang amat cantik.

Tetapi semakin lama memperhatikan ukiran gebyok, saya mulai terasa mules membayangkan cara perawatan gebyok. Saya bukan tipe orang yang telatan membersihkan ukiran yang meliuk-liuk sampai ke bagian-bagian yang paling dalam dan paling rumit. Rasanya orang-orang dengan ketekunan, ketelitian, kecintaan tinggi yang bisa merawat gebyok. Karena pasti tidak hanya pakai kemoceng saja, mungkin perlu pakai kain khusus atau kuas-kuas kecil. Apalagi kalau daerahnya berdebu ya… Duh, saya langsung terpikir pakai jasa kebersihan online saja, kalau punya…

Saya harus melangkah mundur agak jauh dari gebyok agar dapat mengambil fotonya secara utuh. Saya suka dengan lantai yang membawa saya ke jaman dulu. Juga ada sepasang Loro Blonyo di kanan kiri pintu serta gentong kuning yang terletak lebih dekat ke pintu. Melihatnya secara utuh dari kiri ke kanan, simetri pada pintu gebyok, sesungguhnya kreasi seni di depan mata saya ini merupakan sebuah masterpiece dari sebuah perjalanan waktu yang menggabungkan budaya, agama, tradisi yang sudah sewajarnya kita jaga kelestariannya.

The closed doors of The Gebyok

Sesaat sebelum meninggalkan ruang, entah mengapa saya merasa ada sesuatu yang mengganjal, seperti ada sesuatu yang terlupakan. Saya diam sesaat lalu mata ini tertumbuk pada pintu gebyok yang tertutup. Rasanya seperti ada kilat yang menyambar ketika tersadarkan, mengapa gebyok kebanyakan ditampilkan dengan pintu yang tertutup?

Tak jadi melangkah pergi, saya malah merenungkan sesaat pikiran yang melintas itu. Pintu yang tertutup, bukan berarti tidak bisa dibuka, karena ada handlenya yang berupa dua ring bulat itu. Jika di dalam sebuah gebyok mengandung makna tentang kehidupan, bisa jadi pintu itu juga memiliki simbol-simbolnya.

Berada di depan pintu yang tertutup, -yang berupa simbol-, kita tak pernah tahu situasinya. Bukankah kita melangkah menuju ke depan pintu ini? Tetapi kita tak pernah tahu sebuah pintu itu terkunci atau tidak, jika kita tidak berusaha mengetahuinya. Kita hanya perlu satu tindakan. Memulainya.

Berusaha mengetahuinya.

Mengetuk dahulu, lalu menyampaikan niat yang baik untuk mendapatkan aksesnya.

Karena berupa simbol dan jika pintu itu tidak terkunci, kita hanya perlu mendorongnya, atau mungkin menariknya. Kehidupan telah membawa kita sampai ke depan pintu ini, mungkin memang pintu itu harus dilalui oleh kita. Itu kemungkinan pertama.

Kemungkinan kedua, setelah kita berusaha mendorong atau menariknya tetapi pintu tidak juga terbuka, bisa jadi pintu itu terkunci. Dan mungkin saja kita telah memiliki kuncinya yang didapat dari perjalanan kehidupan menuju ke depan pintu ini. Karena, jika memang kehidupan membawa kita harus melalui pintu ini, maka kunci yang dimiliki adalah kunci yang tepat untuk pintu ini. Dan kita hanya perlu menggunakan kunci untuk membuka pintu, hanya dengan sedikit usaha.

Yang terakhir, jika pintu terkunci dan kita sama sekali tidak memiliki kuncinya selama perjalanan hidup kita sampai ke pintu, bisa jadi kehidupan kita memang tidak akan pernah melewati pintu ini dengan begitu banyak alasan di baliknya. Bisa jadi yang ada di baliknya tidak membaikkan kehidupan kita. Pintu ini bukan untuk kita lalui. Sebuah pesan yang amat berharga untuk dimengerti sepenuhnya.

Karenanya, untuk apa berlama-lama berdiri di depannya? Selain tidak menghargai waktu kehidupan, bisa jadi kita diminta melihat arah lain yang membukakan hal-hal yang baik buat kehidupan kita. Tuhan selalu berbuat baik untuk kita, menunjukkan dan membukakan jalan terbaik untuk kita, lalu mengapa kita tetap bertahan di depan pintu tertutup? Begitu sering kita bersikukuh pada keinginan kita yang sebenarnya tidak membawa kebaikan, dan mengabaikan jalan yang lebih baik yang telah dibukakan untuk kita.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-24 bertema Doors agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Kenangan Mudik Lewat Tol Trans-Java


Kecuali tahun 2020 ini, hampir di setiap liburan Idul Fitri yang panjang itu, kami sekeluarga melakukan mudik ke Jogja dengan menggunakan kendaraan pribadi. Jika biasanya kami mengambil rute Jalur Selatan karena ada keluarga yang tinggal di Ciamis, maka tiga tahun terakhir ini kami mengambil jalur Utara. Pertimbangannya selain keluarga di Ciamis banyak yang pindah ke Jogja, pada tahun 2017 itu juga jalur mudik via tol yang belakangan disebut Tol Trans-Java itu sudah difungsionalkan, meskipun hanya sebagian. Dasar saya penggemar jalan-jalan, tol baru pun saat itu langsung dicoba.

2017

Karena moodnya masih bagus, saya langsung foto-foto sejak berangkat dari Jakarta. Bahkan mall pinggir jalan di kawasan Bekasi pun tak luput saya foto. Dan seperti biasanya keluarga kami mulai menghitung mobil dengan bagasi di atas yang kadang-kadang bagasinya menghebohkan. Tak luput juga pemandangan menarik khas Lebaran seperti anak atau orang yang menggunakan kendaraan bak terbuka ditutup terpal. Kebahagiaan mudik jelas terlihat, tanpa peduli kondisi yang panas bahkan bahaya.

Dan ketika sampai di gerbang awal tol fungsional yang masih dibangun secara darurat secara paralel miring itu, saya bertambah antusias. Apalagi begitu keluar gerbang, kondisi jalan tol yang masih dalam proses konstruksi itu terhampar di depan mata. Cone-cone sebagai rambu sementara diletakkan di tempat-tempat yang perlu mendapat perhatian.

Selain harus menyalakan lampu utama di setiap kendaraan, -meskipun siang hari-, pengguna jalan juga diingatkan untuk menggunakan kecepatan maksimal 40km/jam. Padahal kebanyakan pengguna jalan tol terbiasa menggunakan diatas itu, bahkan ada yang nekad sampai 100km/jam!

Start
2017 Start from Jakarta, common view, tol gate and functional road

Dan mulailah perjalanan di jalan tol yang sebenarnya masih dalam tahap konstruksi namun dapat difungsikan secara hati-hati. Sayangnya tidak semua pengguna jalan darurat ini menghargai upaya pemerintah membuat perjalanan mudik lebih nyaman. Namanya juga jalan tol fungsional, tentunya masih banyak kekurangan.

Diminta kecepatan kendaraan maksimal 40km/jam dan menyalakan lampu, tetapi lebih banyak pengguna yang tidak patuh. Tidak sedikit yang memaksa kendaraan diatas batas kecepatan membuat debu-debu beterbangan ke udara. Melupakan kenyamanan bagi orang yang tak menggunakan AC dalam kendaraannya atau yang tinggal di sekitar jalan tol itu.

Bisa jadi mereka memang tak menghargai kendaraannya sendiri. Jalan beton yang belum berlapis aspal, bisa menjadi jagal maut bagi ban kendaraan. Sepanjang jalan tidak sedikit kami melihat mobil-mobil bagus yang tadinya dikebut, mengalami permasalahan pada bannya. Tidak heran, ban memang bisa robek dihajar tepi bentukan beton yang masih tajam. Tapi bukankah sudah disarankan untuk berjalan maksimal 40 km/jam?

Selain berdebu, keriting, tak mulus, sepanjang jalan tol fungsional banyak pembangunan jembatan-jembatan. Hal ini membuat kami dan pengguna jalan lain harus menanjak curam lalu menurun yang tak kalah curamnya. Bagaimana mungkin ngebut? Apa mobilnya mau terbang kayak di film-film action Hollywood itu?

Belum lagi jembatan-jembatan daruratnya yang lumayan bikin deg-degan. Ada yang alasnya masih berlapis kayu dan mobil harus bergerak satu per satu mengikuti jalurnya. Ada juga yang masih menggunakan lempeng-lempeng baja sehingga berkendara di atasnya menghasilkan suara-suara yang berderit-derit mencekam. Meskipun ada petugas di sana-sini, tetapi tetap serem kan? Dan hampir semua jembatan masih menggunakan railing pembatas samping sementara.

Menggunakan jalan tol fungsional untuk mudik ini membuat saya sibuk dan terjaga terus sepanjang perjalanan. Sebab jarang-jarang kan bisa berkendara di jalan yang masih dalam tahap konstruksi? Kadang jalannya lurus membuat mengantuk, tapi ada juga jalan yang berliku. Kadang membuat saya tersenyum lebar melihat ada tiang listrik berdiri sendiri di atas gundukan tanah yang tidak bisa dipindahkan. Ini masalah umum dimana-mana, koordinasi antar instansi. (Teringat kondisi serupa dekat rumah saya sampai sekarang ada jalan lebar lalu menyempit pada jembatan karena jembatannya tidak bisa diperlebar sebab ada pipa besar di sebelah jembatan itu. Akibatnya jembatan itu jadi bottleneck macet. Ada yang lain lagi, Sebuah jalan yang lebar tapi terhalang masjid, dan sepertinya belum ada perbaikan hingga kini)

Menggunakan jalan tol fungsional harus siap menghadapi segala sesuatu dalam keadaan darurat. Rest-area yang darurat, atau pompa bensin darurat yang mengambil langsung dari mobil tanki Pertamina atau bensin gendong yaitu bensin yang dibawa langsung oleh petugas sesuai permintaan. Tapi yang penting dalam posisi-posisi tertentu harus tampil keren dan sadar kamera setiap saat 😀 😀 karena siapa tahu ada media yang sedang live menyiarkan  berita secara langsung 😀 😀

Lalu apa yang terjadi pada saat balik kembali ke Jakarta? Berbeda dengan saat berangkat yang lancar dan hanya tersendat di beberapa tempat, saat kembali ke Jakarta bertepatan dengan puncak arus balik sehingga mengalami macet tak bergerak, menunggu waktu untuk one way arah Jakarta. Padahal Jakarta masih jauh…

Dan sambil bermacet-macet itu, banyak penduduk lokal yang memanfaatkan kondisi. Dengan sigap mereka berjualan, dari mie instan, kopi, teh dan lain-lain. Ada demand yaaa ada supply dong…

Toll-sellerTrafficJamOnReturn


2018

Perjalanan seperti setahun sebelumnya berulang. Yah, namanya mudik kan pasti sama ya. Ada kebahagiaan tersendiri menuju kampung halaman tercinta meskipun harus melalui kemacetan. Bahkan perjalanan kami pun sudah mulai tersendat dari arah Cikarang. Tapi selalu saja kami beranggapan, kemacetan adalah bagian dari perjalanan mudik. Jadi harus dinikmati.

20180610_122146
Traffic jam

Kebiasaan kami sekeluarga menghitung jumlah kendaraan yang ada bagasinya di atap. Bukan kendaraan dengan roof rack yang mahal itu ya, melainkan bagasi yang dibungkus terpal atau plastik secara darurat. Jumlah hitungan kami, bukanlah tujuan akhir, melainkan kegembiraan melihatnya. Kami membayangkan isinya, kadangkala ada kasur, sepeda roda tiga, kursi roda sampai kardus dan koper. Kami juga memperkirakan jumlah orang yang naik di kendaraan itu hingga tak bisa meletakkan bagasi di dalam mobil, –kadang wajah lelah tapi gembira, kadang ada telapak kaki menempel di kaca belakang, kadang wajah-wajah yang ‘terhimpit’ oleh mereka yang fisiknya lebih besar. Meskipun demikian, ada kesamaan rasa yang bisa kami rasakan. Ada bahagia hendak pulang ke kampung halaman. Walaupun kendaraan terlihat menjadi ‘mblesek‘ karena terlalu berat 😀

Tapi tidak semua kendaraan yang membawa bagasi di atas itu adalah kendaraan-kendaraan yang masuk kategori mobil sejuta umat karena tidak sedikit diantaranya adalah mobil-mobil yang masuk kategori mobil mewah yang harganya mencapai ratusan juta. Dan bagasinya tidak kira-kira tingginya. Ketika kami berada di belakangnya, suara angin menghempas-hempaskan penutupnya itu terdengar menghebohkan, apalagi bentuknya yang terlihat amat besaaaar…

Bagasi
Kendaraan-kendaraan dengan bagasi di atap

Tetapi keseruan khas mudik itu tidak dapat kami nikmati lama-lama karena akhirnya perjalanan memang lancar. Pakai banget. Karena tidak ada lagi jalan tol darurat seperti setahun sebelumnya, tidak ada lagi jembatan sementara yang masih menggunakan alas baja atau kayu, tidak ada lagi jalan yang berdebu dengan kerikil lepas. Praktis kendaraan bisa melaju dengan cepat, wuuuussshh… wuuuussshh… wuuuussshh…

Persimpangan-persimpangan jalan tol terlihat cantik dengan jembatan lebar dan terhampar jelas dari jauh. Ditambah rambu-rambu berwarna hijau yang setahun sebelumnya belum ada.

Simpang
Persimpangan Jalan Tol

Tahun itu kami menginap dulu di Semarang, berwisata kuliner  sebentar di Simpang Lima sebelum melanjutkan ke Solo. Bagi kami, mudik tidak selalu berarti harus langsung sampai ke Jogja secepat mungkin. Kami menikmati perjalanan dengan berhenti di kota-kota yang memang ingin disinggahi.

Saya memang mengatur itinerary seperti itu. Menginap semalam di Cirebon sehingga jika terkena macet pun tidak terlalu melelahkan badan. Menikmati kuliner di Cirebon, jika memungkinkan berkunjung ke tempat-tempat wisata. Yang pasti tempat menginap harus memiliki tempat tidur yang nyaman dan bisa mandi yang enak! Istirahat cukup ditambah badan yang segar, mood pastilah membaik. Iya kan?

Esoknya lanjut ke Semarang lalu besoknya lagi ke Ambarawa lalu ke Solo, ngapain? Ya pengen aja ke tempat-tempat itu! Baru setelah itu ke Jogja. Padahal di kota-kota yang kami inapi semalam-semalam itu tidak ada keluarga. (Sssstttt… sebenarnya, sssst, jangan kasih tau yaa, sebenarnya kami suka hotel-hotelnya) 😀 😀 😀

20180612_133334
Indahnya Perjalanan Darat

Lalu pagi harinya perjalanan dilanjutkan lagi masih melewati jalan tol. Aduh, saya ini mudah sekali terharu. Masak melihat penanda Km.400-an itu saya jadi terharu. Sepanjang hidup saya, dulu menganggap jalan tol Jagorawi ke Bogor dan Ciawi yang 59 km itu luar biasa keren dan panjang karena itu satu-satunya jalan tol bebas hambatan yang ada dan dimiliki Indonesia. Sebelum ada Jagorawi, semasa kecil saya harus melewati Jalan Bogor lama atau via Parung hanya untuk ke Bogor. Dan bahagia sekali ketika merasakan bisa berkendara di Jagorawi.

Lalu ketika ada jalan tol yang menghubungkan Jakarta – Cikampek saya terharu lagi karena mengingat betapa lelahnya keluar dari Jakarta, selalu kena macet di perlintasan-perlintasan kereta api yang saya sebut “pintunya sudah ditutup tapi keretanya masih di Jakarta” sangking lamanya menunggu di perlintasan kereta. Apalagi setelah ada tol Purbaleunyi yang menghubungkan Jakarta – Bandung – Cileunyi sehingga tidak perlu lagi bermacet-macet di Puncak atau di Sadang jika mau ke Bandung. Jalan tol semakin panjang dan semakin menghubungkan banyak kota, sebagai warganegara saya sungguh-sungguh suka dengan perkembangan infrastruktur ini. Sehingga melihat rambu Km.400-an di luar kota Semarang itu, artinya dari Jakarta sudah lebih dari 400 km terhubung dengan jalan tol bebas hambatan. Bayangkan dengan jalan tol pertama, Jagorawi yang hanya 59 km!

20180612_121142
Sudah 422 km dari Jakarta!

Dan jalan tol itu masih belum berakhir…

Kami sekeluarga menikmati perjalan via jalan tol yang indah selepas Semarang. Jalan tol ini seperti di Bandung, menanjak dan menurun serta berliku dengan pemandangan yang amat indah.

Jalan tol yang nantinya disebut Jalan Tol Trans-Java itu memang pada tahun 2018 masih memberlakukan secara fungsional pada ruas Salatiga – Kartosuro. Memang tidak begitu rambu-rambu masih sedikit tetapi jalannya jauh lebih baik daripada jalan tol fungsional pada tahun 2017. Bahkan pada jembatan Kali Kenteng yang dihebohkan media pada waktu itu karena tingkat kecuramannya terasa landai saja. Kadang kala berita-berita hoax itu memang membuat orang menjadi cemas berlebihan. Padahal sih, jika sudah sampai di lokasinya saat itu, tidak ada yang menakutkan. Masih lebih serem melewati jalan nanjak ke Candi Cetho!

KaliKenteng
2018 – Jembatan Kali Kenteng Yang Belum Jadi

Perjalanan mudik tahun 2018 itu amatlah menyenangkan. Bahkan saat kembali ke Jakarta pun tidak mengalami kemacetan seperti pada tahun sebelumnya. Lalu bagaimana di tahun 2019?


2019

Perjalanan mudik di tahun 2019 ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan tahun 2018, terutama di perjalanan kembalinya. Dengan kondisi jalan tol yang sudah lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya tentunya perjalanan seharusnya semakin nyaman. Bahkan bagi pemudik yang langsung ke Semarang, bisa menggunakan jalur one way yang langsung keluar di Gerbang Tol Kali Kangkung. Sedangkan kami, seperti biasa masih senang menginap semalam-semalam di sepanjang jalan tol itu. Tapi tetap saja, meskipun sudah empat lajur terbuka menuju arah Timur, kepadatan lalu lintas tak dapat dihindari jelang Km 180 Cikopo – Palimanan.

DSC09208
Kepadatan Lalu lintas di Cipali

Selepasnya, perjalanan mudik seperti biasa, langsung wush-wush-wush… Jalan terasa lengang, entah kemana mobil-mobil yang lain, Mungkin mereka semua memenuhi rest area untuk beristirahat.

2019 Mudik
Jakarta – Semarang 2019

Dan saya terkesan sekali melihat Jembatan yang keren jelang Semarang, yang dikenal dengan nama Jembatan Kali Kuto. Jembatan ini dikenal sebagai jembatan yang menjadi icon dari Jalan Tol Batang – Semarang.

Sepanjang jalan tol yang lurus itu, warna merah dari lengkung jembatan amat menarik perhatian. Tidak heran kalau pengguna jalan tol akan melambatkan sedikit saat melewati jembatan ini hanya untuk mengabadikan icon unik ini.

DSC09220
Jembatan Merah Kali Kuto

Dan kami masih melanjutkan perjalanan ke Jogja, kali ini tanpa ke Solo dahulu. Sekali lagi kami melewati jalan tol dengan pemandangan indah. Perjalanan sudah lebih baik dari tahun sebelumnya. Sebelum sampai Solo, kami telah keluar gerbang tol menuju Jogja sambil berharap bahwa Jalan tol Solo – Jogja akan terealisasi dalam waktu dekat.

Mudik 2019
Perjalanan Mudik 2019 semakin nyaman

Selesai bersilaturahmi dengan keluarga di Jogja, ada saatnya kami harus kembali ke Jakarta. Dan dalam perjalanan pulangnya, masih sekitar 180 km untuk sampai ke Jakarta, kendaraan langsung mengantri, menjadi semakin padat. Tak ada lagi kebahagiaan dan wajah-wajah senyum sumringah ketika mudik. Kebanyakan berpacu siapa yang paling cepat sampai ke Ibukota.

Masih 180km untuk ke Jakarta, tapi saya biarkan dua foto di bawah ini yang berbicara yaa…

§


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-23 bertema Kendaraan agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu