Sepenggal Jakarta Jaman Dulu Dari Puncak Monas


Gara-gara tantangan dari sahabat saya untuk postingan minggu ini yang bertemakan Old Age, saya jadi membongkar album-album foto lama saat berada di rumah ibunda tercinta kemarin. Tapi ternyata dengan perbuatan membongkar album-album lama, akhirnya ibu saya yang sudah sepuh itu menceritakan banyak hal kepada cucu-cucunya.

Dan sementara sang cucu-cucu bisa mendadak jejeritan gembira melihat fashion foto omanya di jaman tahun 60-an, -yang menurut omanya sangat biasa, tapi bagi mereka sangat fashionable-, saya hanya bisa tertawa melihat situasi yang agak awkward yang sekarang banyak terjadi: generation gap yang ekstrim antara dunia sang oma dan dunia anak millenial.

Obrolan masa lalu itu membawa saya langsung ke jaman-jaman yang menyenangkan dan penuh kenangan. Termasuk jaman Jakarta masih lengang. Lengang dalam arti, tidak penuh sesak dengan kendaraan ataupun gedung-gedung tinggi. Pemandangan Jakarta kala itu serupa: lebih banyak datarnya.

Jaman saya masih kecil itu, -jaman Ali Sadikin atau dulu terkenal dengan nama Bang Ali sebagai gubernur Jakarta-, dari puncak bukit yang di belakang rumah orang tua saya (sebenarnya jalan menanjak sedikit sih), waktu itu saya masih melihat gedung-gedung tinggi yang ada di kawasan Thamrin, termasuk Monas. Hal yang tak mungkin bisa dilihat sekarang ini, karena pasti sudah tertutup oleh tingginya rumah tetangga, gedung-gedung tinggi yang lebih dekat dan kabut polusi yang membatasi penglihatan.

Pernah pada suatu akhir pekan, orangtua saya mengajak kakak dan saya ke Monumen Nasional. Tidak hanya ke kawasannya, melainkan juga mengeksplorasi diorama-diorama di dalam cawannya termasuk ke puncaknya yang tepat berada di bawah emas yang katanya berbentuk seksi itu (tetapi jaman itu saya belum tahu yang namanya seksi-seksi lho hehehe…). Rasanya happy sekali, karena jaman itu jarang sekali yang bisa berkunjung ke puncak Monas.

Perjalanan naik lift ke puncak rasanya sangaaaat lama, mungkin karena saya sudah tak sabar ingin melihat dari Jakarta dari atas. Dan ketika sampai di lantai atas itu, alangkah sebalnya saya, karena ternyata tinggi saya belum cukup untuk bisa melihat dengan nyaman. Saya harus jinjit dengan ujung kaki seperti penari balet untuk bisa melihat dan hal itu ternyata sangat menyakitkan dan melelahkan!

Meskipun demikian, dalam banyak hal selalu saja saya ditolong supaya bisa menikmati pemandangan dari atas….


jakarta istiqlal
Jakarta Dari Monas – Sudut Istiqlal

Benar kan Jakarta masih terlihat rata? Taman Merdeka sekeliling Monas masih terlihat gersang, belum sehijau sekarang. Dan tentu saja, tak ada pagar yang mengelilingi Taman Merdeka. (Tetapi Monasnya sendiri saya ingat sudah berpagar, yang kata pemandu tour Jakarta waktu itu jumlah tiangnya 1945, saya percaya saja karena tidak mau menghitung tiang pagar hehehe).

Kubah Mesjid Istiqlal yang putih itu sangat terlihat ya? Juga menara dan air mancurnya… Kalau dilihat lebih teliti, terlihat juga dua menara gereja Katedral dan Monumen Pembebasan Irian Barat yang ada di Lapangan Banteng. Fotonya sudah tak jelas, tetapi saya masih bisa melihatnya.

Oh ya, perhatikan rel kereta api yang ke Gambir? Tidak kelihatan sih di fotonya, tetapi bisa dibayangkan kan? ada rel kereta api yang masih dibuat diatas jalan raya dan tentu saja belum dibangun rel kereta yang melayang (dibatasi oleh dua dinding putih di sebelah kanan bawah)

Yang hebat menurut saya waktu itu, saya masih bisa melihat pinggir laut Jakarta dari Puncak Monas. Kelihatan kan batas laut?

***

jakarta istana
Jakarta Dari Monas – Sudut Istana

Foto yang di atas ini memperlihatkan situasi Istana Merdeka di tahun 70-an. Terlihat bendera berkibar di tiangnya. Dari sini kelihatan kawasan kota belum ada apa-apa ya? Meskipun kepadatannya sudah terlihat.

Dari posisi ini saya baru lihat bahwa dulu taman yang mengelilingi Monas itu sebenarnya cantik bila dilihat dari atas, meskipun masih gersang dan jarang pepohonan yang rindang. Hebat juga ya…

***

jakarta bi
Jakarta Dulu Dari Monas – Sudut BI

Dan foto di atas ini, menunjukkan sudut Bank Indonesia dan Air Mancur. Tampak Gedung lama Bank Indonesia yang hingga kini masih dipertahankan bentuknya. Kelihatan juga Wisma Nusantara yang merupakan gedung tertinggi di Indonesia saat itu. Bisa mengenali gedung Sarinah? Itu lho… gedung yang berada di tengah-tengah.

Lihat banyak mobil parkir di jalan? Kalau tidak salah, dulu di situ ada bioskop Eldorado. Namun saya tidak pernah nonton di sana, karena masih terlalu kecil dan seingat saya, bioskop itu lebih sering mempertunjukkan film dewasa.

Oh ya, di sudut ini, dulu selalu Pekan Raya Jakarta diadakan (Jakarta Fair). Saya termasuk cukup sering untuk datang ke Jakarta Fair itu untuk mendapatkan donatnya saja. Dulu donatnya itu top banget dan menjadi icon dari Jakarta Fair. Jadi kalau tidak beli donat Jakarta Fair, rasanya belum ke sana.

Kawasan sebelahnya merupakan kawasan wisata yang terkenal dengan Taman Ria. Bahagia sekali kalau bisa ke Taman Ria, karena bisa naik komidi putar dan merasakan kebahagiaan anak kecil seperti kalau ada di Dufan sekarang ini hehehe. Jadi ingat, dulu Jakarta sudah punya monorail lho… ya tapi hanya ada di Taman Ria saja hehehe…

***

jakarta thamrin
Jalan MH Thamrin – Juli 1973

Dan foto yang terakhir ini adalah foto yang diambil dari Jembatan Penyeberangan, yang seingat saya sih di depan Sarinah. Coba perhatikan, tidak banyak gedung tinggi setelah Tugu Selamat Datang ke arah Selatan. Memang Jakarta belum banyak gedung tinggi pada saat itu.

Ada jalur lambat yang seringnya dilalui oleh sepeda, becak atau dokar (dulu semua boleh melintas meskipun ada jalurnya masing-masing). Halte bus ada pedestrian, antara jalur lambat dan jalur cepat. Dan di Jalur cepat itu mobil, bus, sepeda motor, truk bisa sama-sama melewatinya. Dan asiknya, tidak ada kepadatan lalu lintas kan?

Saya ingat waktu itu, jalan-jalan ke arah Monas lalu balik lagi sudah merupakan kemewahan dan kebahagiaan tersendiri.

Bahagia itu memang sederhana.

Anyway, menuliskan semua ini mengingatkan diri sendiri bahwa saya sudah tua 😀 😀 😀

Catatan: Semua foto-foto di atas adalah koleksi pribadi.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-47 ini bertema Old Age agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Wisata 24 Jam Di Hpa’an


Hpa’an atau kalau susah bacanya, bisa disebut dengan Pa’an, merupakan ibukota dari Kayin State yang didominasi oleh etnis Karen. Meskipun merupakan ibu kota, tetapi entah mengapa saya merasa Hpa’an merupakan kota kecil. Bisa jadi karena saya tidak menjelajah semua sudut kotanya dan hanya berada di bagian kota yang berada di pinggir sungai Than Lwin yang lebar.

Sebagai kawasan yang banyak didominasi keindahan alam karstnya, Hpa’an memiliki banyak tempat wisata yang sayangnya masih kalah pamor dibandingkan dengan Bagan, Yangon, Mandalay atau Inle Lake. Tetapi sungguh saya tak menyesal telah menjejak di tempat ini, karena memang Hpa’an membuat saya terpesona dan hari itu saya mulai dari…

Gua Kawgun

Pak Ojek yang terlihat sudah setengah baya mengantar saya pertama-tama ke Gua Kawgun yang letaknya tidak begitu jauh dari kota. Bapak Ojek itu seperti pria Myanmar lainnya, mengenakan longjyi saat mengendarai motor. Meskipun memiliki bahasa Inggeris yang terbatas, ia mampu menjadi pemandu untuk semua tempat yang saya kunjungi. Walaupun kadangkala yaa jadi joko sembung alias gak nyambung. Namun saya amat menghargai upayanya untuk memberi penjelasan dan menunjukkan hal-hal yang spesial di setiap tempat.

Sebuah awal yang menyenangkan seperti ice breaker terjadi, ketika sampai di Gua Kawgun.  Jadi, begitu berhenti di tempat parkir motor, saya turun dan langsung nyelonong hendak masuk tanpa melepas helm, yang membuat Pak Ojek itu tersenyum lebar sambil meminta helmnya. Saya ikut menertawakan diri sendiri karena merasa kartun banget 🙂

Dengan donasi 3000 Kyat, saya memasuki Gua Kawgun yang konon ditemukan sejak abad-13. Begitu melewati pembatasnya, saya berdecak kagum, luar biasa sekali. Bayangkan saja, sebelum pintu gua dan juga didalamnya, hampir seluruh dinding tebing yang menjulang itu dipenuhi dengan tatahan relief Buddha images kecil-kecil yang banyak sekali! Dinding sebelum gua itu saja sekitar 30 meter panjangnya dan 15 meter tingginya, belum di dalam guanya.

Saya jadi membayangkan orang yang membuatnya di tebing-tebing itu. Apakah mereka menggunakan tali dan bergantung di dinding tebing? Saya juga membayangkan bagaimana orang yang membuatnya di atas langit-langit gua. Apakah dia mendongak terus menerus atau tiduran? Kalau tiduran bagaimana alasnya? Benar-benar pekerjaan yang tidak mudah.

Belum lagi Patung Buddhanya yang sangat khas Myanmar, sangat besar, lengkap dengan berbagai posisi Sang Buddha,  duduk, berdiri dan berbaring. Ukurannya pasti lebih dari 10 meter! Bayangkan saja, di kota kecil Hpa’an banyak patung-patung berukuran besar, bagaimana dengan kota-kota yang lebih besar?

Tidak hanya menunjukkan tempat-tempat bagusnya, pemandu dadakan saya juga menunjukkan patung-patung kuno yang kelihatannya merupakan patung Hindu dan tersimpan dalam pagar terkunci. Jika saya tak salah mengerti ucapannya, ia mengatakan bahwa semua itu adalah patung-patung kerajaan yang menurut sumber-sumber dari internet, adalah patung-patung Hindu yang masih perlu ditelusuri kebenarannya. Saya agak setengah hati saat meninggalkan Gua Kawgun ini menuju obyek wisata selanjutnya, mungkin karena masih terpesona dengan tatahan relief Buddha yang mencengangkan itu

∞∞♦∞∞

Gua Ya Thay Pyan (Ya Thea Pyan)

Sebenarnya Gua Kawgun dan Gua Ya Thay Pyan bersebelahan bukit, namun tidak ada jalan potong untuk sampai ke sana. Sehingga diperlukan jalan memutar untuk ke Gua Ya Thay Pyan padahal saat itu mentari sudah condong ke Barat. Tetapi justru itu kekuatannya. Perjalanan itu luar biasa dengan pemandangan perbukitan karstnya, yang membentuk gundukan-gundukan tinggi penuh lekuk di hamparan tanah yang datar yang dipenuhi sawah hijau. Cantik!

Rasanya sejuk disambut kolam di depan gua, -yang letaknya agak lebih tinggi-, apalagi Gua Ya Thay Pyan yang dikenal juga sebagai Gua Pertapa itu menghadap Timur. Pelan-pelan saya menaiki tangga yang terbuat dari semen dan menjumpai banyak patung Buddha diantara pohon-pohon berbunga cantik.

Di muka gua banyak tempat dijadikan tempat ibadah dengan patung Buddha dari berbagai ukuran hasil donasi umat Buddha sejak abad-17. Cahaya yang semakin sedikit saat menjelajah makin ke dalam badan gua, membuat saya cukup kesulitan mengambil gambar. Namun makin ke dalam makin seru bentuknya, karena dalam jutaan tahun alam membentuk stalagtit dan stalagmit yang menarik hati. Di beberapa tempat terdapat tatahan Buddha kecil-kecil pada dinding seperti di gua Kawgun, yang menunjukkan gua ini sudah lama dieksplorasi manusia. Sayangnya saya tak dapat menemukan Buddha Image yang dipercaya berasal dari abad-13.

Manusia memang tak terduga ya karena saya sampai harus mengerjapkan mata menembus kegelapan saat pemandu menunjukkan adanya orang yang duduk sendirian di hamparan cairns (tumpukan batu pipih). Meskipun pengemudi ojek yang sekaligus jadi pemandu mengatakan orang itu hilang ingatan, saya memilih untuk berpikir dia sedang meditasi (dan terus berpikir dia manusia juga 😀 )

Banyak penduduk lokal yang mengeksplorasi gua seperti saya, termasuk rombongan laki-laki yang tampak seperti model dan  selalu riuh saat berfoto. Meskipun penampilannya bagus, bagi saya cuma satu: Brisik! Benar-benar membuat ilfil.

Saya terus berjalan dengan kaki telanjang (karena gua ini dianggap suci, jadi harus lepas sepatu) dengan cahaya dari lampu listrik yang dipasang dalam jarak tertentu. Hingga suatu saat mulai terasa terang yang berasal dari sinar matahari. Waw, ternyata gua ini memiliki dua muka yang tembus ke belakang dan pemandangannya indah sekali dengan hamparan sawah hijau. Mulut gua sebenarnya tinggi dari permukaan tanah sehingga dibuat jembatan setapak yang terbuat dari besi yang mengarah kepada  sebuah pelataran dengan patung Buddha hitam di tengahnya. Meskipun pemandangannya indah, saya tak bisa lama-lama di sana, karena sinar matahari terasa memanggang luar biasa.

Tak tahan akan panasnya, saya langsung kembali setelah puas memandangi pemandangan dari ujung gua. Belum lama berjalan, mendadak listrik padam membuat kegelapan total di depan. Saya langsung berhenti dan memilih kembali ke arah sedikit terang di belakang. Tak mungkin melanjutkan perjalanan dalam gelap. Tak mungkin juga menggunakan senter ponsel karena batere yang sudah sekarat. Saya tertawa menikmati suasana gelap bersama pemandu saya. Bau kotoran kelelawar memenuhi hidung. Ugh, mudah-mudahan mereka tetap diam menggantung di atas. Semenit… Lima menit… sepuluh menit, menunggu itu memang tak menyenangkan…

Sejenak saya berdoa agar listrik dapat berfungsi kembali dengan cepat dan Tuhan Yang Maha Baik mengabulkan doa saya karena tak lama kemudian listrik menyala kembali. Sesaat saya menyadari sesuatu tentang diri sendiri bahwa sebenarnya saya takut gelap. Momen sesaat itu mengingatkan dan membuat keputusan rasanya cukup untuk mengeksplorasi gua-gua di Myanmar. Tapi bagaimana mungkin? Wisata utama Hpa’an adalah gua dan saya tak bisa lari dari kenyataan itu. Saat menunggu dalam gelap itu, terlintas juga pikiran buruk bagaimana seandainya petugas yang mengurus listrik itu memilih pulang lebih cepat karena hari sudah sore dan membiarkan saya semalaman dalam gelap di gua? Hiii…

Pengalaman menunggu dalam temaram di gua itu membuat saya hampir menolak untuk berkunjung ke destinasi berikutnya, tapi…

∞∞♦∞∞

Kyauk Ka Lat (Kyauk Kalap) Pagoda

Pemandangan menuju Kyauk Kalap Pagoda sangat memanjakan mata dengan hijaunya pemandangan sawah. Duh, sebersit rindu muncul tiba-tiba akan hamparan sawah di tanah air! Lalu suasana jelang sunset semakin jelas. Ah, sepertinya tak akan bisa mengejar sunset di Kyauk Kalap, yang terkenal indah. Pak Ojek menghentikan motornya sejenak agar saya bisa menikmati matahari menghilang di balik bukit dari pinggir jalan.

DSC07757
Sunset – Hpa’an
DSC07774
The view over the Bridge – Hpa’an

Setelah melewati jembatan di atas Sungai Than Lwin dengan langit keemasan itu, akhirnya saya sampai di Kyauk Kalap Pagoda yang bentuknya sangat mencengangkan. Seandainya hari belum gelap, saya tentu bersedia untuk naik ke atas Pagoda yang berada di puncak batu limestone yang tegak menjulang itu. Pasti keren berada di atas, meskipun katanya, jalan naiknya agak mengerikan…

Matahari belum lama tenggelam kan, jadi pantulan lampu dan warna langit masih cantik, membuat saya merasa nyaman berada di sana. Rasanya indah berada pada waktu yang tepat dengan segala keindahan.

Dan untuk menghemat waktu, saya berjalan menuju kuil baru yang ada di sebelahnya. Bentuk atapnya sangat indah seperti pura di Bali. Tak jauh dari altar utama yang berisikan patung Buddha yang besar, ada sebuah tempat yang juga penuh bunga-bunga persembahan dengan sebuah patung berjubah maroon di dalamnya. Pastinya orang penting semasa hidupnya. Pak Ojek berusaha memberi tahu saya siapa dia, namun kali ini sepertinya jadi Jaka Sembung, alias gak nyambung… karena ia mengatakan dalam bahasa seadanya dan saya mengartikan bahwa patung itu adalah patung Raja Thailand Bhumibol Adulyadej yang baru saja mangkat. Ah, bisa benar, bisa salah… meskipun memang saya melihat ada banyak tulisan Thai di sana. Benar atau Salah ya?

Sayangnya, karena hari sudah terlalu gelap, saya memilih kembali ke penginapan untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

∞∞♦∞∞

Mahar Saddan Cave

Keesokan harinya, belum terlalu siang ketika saya sampai di Saddan Cave, gua terbesar yang ada di daerah Hpa’an. Perjalanan yang cukup menyenangkan untuk sampai ke tempat ini yang memerlukan waktu sekitar 1 jam dengan motor melalui jalan yang beraspal dan jalan tanah yang dikeraskan. Gua Mahar Saddan ini dipercaya oleh orang lokal memiliki legenda suci tentang kehidupan Raja Gajah sampai mangkatnya dan menerima karma dengan ikhlas (baca post saya sebelumnya tentang Kisah Raja Gajah Di Gua Saddan)

Setelah membayar donasi 4000 Kyat, saya mulai naik tangga (dan setiap naik tangga yang lumayan tinggi untuk sampai ke monastery, saya selalu teringat tangga-tangga jahanam di Annapurna! 😀 ). Namun begitu masuk di mulut gua, wuih saya senang sekali karena melihat patung merak! Sebagai penggemar merak, tentu tak boleh dilewatkan. Gua Saddan ini memiliki rongga yang sangat besar dan sejuk! Benar-benar menyenangkan apalagi tidak begitu banyak orang.

Pada dindingnya ada tatahan Buddha kecil-kecil yang membentuk gambar katak, gajah dan lain-lain. Di sudut lainnya terdapat Buddha Berbaring. Tampak beberapa orang sedang beribadah di sana.

Saya meneruskan perjalanan yang semakin menanjak. Di gua ini dipasang lampu-lampu listrik sebagai penerangan. Jadi lumayan enak meskipun terasa aneh karena kehilangan rasa alamnya. Dan sedihnya lampu kelap-kelip itu membuat suasana seperti di pasar malam.

Setelah berjalan beberapa lama, di beberapa tempat terdapat mulut-mulut gua yang menurut legenda dilubangi oleh Thaw Note Ta Ra atau Sonuttara, yang sesuai kisah legenda Raja Gajah Chaddanta. Ah, mendadak kunjungan ke gua ini terasa manis dengan adanya kisah tentang karma. Dari kisah-kisah Hindu atau Buddha, cerita mengenai karma ini mengesankan hati saya karena menggambarkan keikhlasan hati menerima akibat semua perbuatan.

Terlepas dari legenda yang melingkupi gua ini, saya suka dengan alur-alur yang dibuat alam di dalam gua ini. Jelas sekali batas air yang membentuk gua dengan indahnya. Stalagmit dan Stalagtit yang besar-besar dan indah menunjukkan kehebatan alam dalam berproses secara konsisten. Di ujung gua terdapat danau yang katanya bisa digunakan untuk berperahu namun saya memilih jalan kaki kembali sambil berdoa agar listrik berfungsi baik. Benar-benar saya tak ingin pengalaman kemarin terulang.

DSC07879
Saddan Cave

Meninggalkan Saddan Cave, saya kembali menikmati perjalanan menuju gua yang lain lagi. Sambil berpanas-panas menyusuri jalan aspal, meskipun tidak begitu lama akhirnya saya sampai di gua berikutnya.

∞∞♦∞∞

Gua Kaw Ka Thaung 

Di dalam gua ini sebenarnya tidak terlalu spesial karena lebih diutamakan sebagai tempat ibadah dengan berbagai patung Buddha dengan lantai keramik. Hanya saja gua ini dikenal dengan relikui tulang-nya yang sangat disakralkan. Sebenarnya ada beberapa jalan ke gua lain, namun menurut buku Lonely Planet yang saya baca, ada satu jalan yang ditutup karena seorang biksu menemukan kond*m bekas di gua lanjutan ini! Padahal tempat ini masih harus lepas sepatu lho, yang tentunya artinya masih area tempat suci! Ampuuun…

Di dinding gua juga terdapat tatahan Buddha yang kecil-kecil menghias penuh. Saya terkagum-kagum dengan orang yang membuatnya, yang pasti dengan sabar.

Di luar gua terdapat taman asli lengkap dengan patung-patung Nat dan Patung Buddha dalam berbagai posisi termasuk dalam keadaan pindapatta dengan pengikutnya yang turun dari atas bukit. Namun di luar pagar monastery, pemandangannya lebih cantik, karena terdapat banyak sekali patung pengikut Buddha yang didirikan berderet panjang sekali sepanjang jalan. Saya minta kepada Pak Ojek untuk mengantar saya sampai ke ujung akhir barisan itu, hanya ingin tahu saja siiih…

∞∞♦∞∞

Gua Kaw Ka Thaung ini menjadi gua terakhir yang saya kunjungi di kawasan Hpa’an. Sepertinya waktu berkunjung di Hpa’an sudah berakhir. Saat itu sudah tengah hari, waktunya untuk melanjutkan perjalanan ke Mawlamyine. Saya belum tahu harus naik apa, mungkin naik bus lagi karena tak mungkin naik public boat yang biasanya berangkat pagi. Perjalanan penuh kejutan pasti menanti di depan…

Reclining Buddha Win Sein Taw Ya Yang Mencengangkan


DSC08117
Reclining Buddha Win Sei Taw Ya

Patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya yang ada di selatan Mawlamyine, akhirnya menjadi nomor dua terbesar di dunia setelah dikalahkan oleh patung serupa yang dibangun di Yiyang, Jianxi,  China (yang belakangan ini tidak tanggung-tanggung untuk menjadi nomor satu, karena patung Reclining Buddha ini dibentuk mengikuti kontur bukit!). Meskipun demikian, Reclining Buddha Win Sei Taw Ya berhasil membuat saya benar-benar tercengang.

Memiliki ketinggian sekitar 30 meter dengan panjang 180 meter, rasanya mal Plasa Senayan yang sudah khatam saya kelilingi saja masih lebih kecil dari patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini. Juga karena besarnya, saya teringat akan patung-patung serupa yaitu The Shwethalyaung Buddha (55 meter) dan Naung Daw Gyi Mya Tha Lyaung (75 meter) yang ada di Bago (baca: trip saya di Bago). Bandingkan dengan Wat Pho yang ada di Bangkok yang memiliki panjang 46 meter.

Untuk sampai ke sini, saya menyewa tuk-tuk dari Mawlamyine. Sebenarnya bisa juga naik bus dari Mawlamyine jurusan Mudon, namun harus jalan kaki lagi dari pinggir jalan raya ke arah monastery ini sekitar 20 menitan. Terus terang saya malas, karena matahari bulan April gaharnya setengah mati dan tidak ada keteduhan sepanjang jalan menuju patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya. Untungnya jika jalan kaki, bisa menikmati lebih lama puluhan patung pengikut Buddha yang didirikan berbaris panjang sekali di pinggir jalan.

DSC08128
Patung-patung biksu sepanjang jalan

Memasuki kawasan monastery, saya bisa melihat patung besar lainnya di kejauhan yang nantinya saya lihat juga dari pelataran atas patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini. Selain sebuah tempat ibadah lain yang dindingnya berwarna hijau tampak menyambut di kawasan ini.

Untunglah pengemudi tuktuk yang saya sewa dari Mawlamyine, menurunkan saya di dekat pintu masuk Patung Reclining Buddha itu karena matahari terik bukan main. Saya hanya perlu menaiki sejumlah tangga untuk memulai perjalanan ke dalam tubuh patung itu, yang semoga saja cukup sejuk. Paling tidak saya tidak terpanggang di bawah matahari bulan April.

Tentu saja kawasan ini adalah kawasan tempat ibadah sehingga langsung saja sepatu masuk kantong dan disimpan ke ransel selama berkeliling di dalam bangunan patung.

Saya belum masuk ke bagian Kepala dari Buddha, tetapi dari tempat ini sudah terasa tinggi. Ada lubang-lubang ventilasi melengkung untuk melihat-lihat keluar. Pemandangannya lumayan cantik (seandainya tidak begitu terik, pastilah pemandangannya sangat indah). Sambil tersenyum, saya juga bisa melihat patung besar di kejauhan yang tadi dilihat ketika datang. Di Myanmar memang banyak sekali patung-patung Buddha yang sangat besar, seakan menunjukkan betapa besar cinta mereka kepada Sang Buddha.

Saya menaiki tangga dan melewatkan sebuah altar yang cukup besar dan sedang digunakan untuk beribadah. Seperti biasa, di belakang kepala Sang Buddha dipasang lampu berkelip-kelip yang penuh makna. Tak ingin mengganggu mereka yang sedang beribadah, saya melangkah ke pelataran. Kali ini saya terkejut lagi.

Saya berada di alas kepala atau sekitar telinga Sang Buddha yang lekukannya saja sebesar bak mobil pickup, namun bukan itu yang mengejutkan saya. Di seberang patung yang saya naiki ini terdapat patung serupa yang besarnya juga serupa namun sayangnya keadaannya sudah terbengkalai. Sayang ya… Seakan dibuat untuk ditinggalkan, mungkin karena keterbatasan dana. Saya membayangkan seandainya patung itu jadi, tentu amat menarik. Dua patung Reclining Buddha yang sangat besar saling berhadapan!

DSC08095
Unfinished Reclining Buddha

Puas memandangi sekitarnya, saya melanjutkan mengeksplorasi bagian dalam tubuh yang berisikan serangkaian kisah-kisah Sang Buddha dalam bentuk patung-patung seukuran manusia. Sayangnya sama sekali tidak ada penjelasan, bahkan penjelasan dalam bahasa Myanmar pun jarang. Bisa jadi karena dianggapnya penduduk lokal memahami langsung saat melihat patungnya.

Sebagai non-Buddhist saya hanya bisa mengenal beberapa adegan saja, itupun pakai ilmu ajib dari jaman dulu: ilmu kira-kira nan duga-duga. Seperti adegan ketika ibunda Siddharta Gautama memegang dahan pohon Shala saat melahirkan pangerannya yang akhirnya nanti menjadi Sang Buddha. Juga saat Sang Buddha kecil menunjuk ke atas yang melambangkan kehadiran Yang Tercerahkan. Ada lagi patung yang mengisahkan saat Buddha bermeditasi. Di tempat ini saya agak ragu apakah Sang Buddha sedang digoda atau memang diberi makanan oleh pengikut setianya.

Masih banyak patung-patung lain seukuran manusia dalam ruang-ruang yang dibuat agak bersekat. Masih banyak yang belum selesai pengerjaannya sebagaimana bangunan patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini juga masih terus disempurnakan. Di beberapa tempat saya harus berhati-hati karena proses konstruksi masih berjalan, seperti tangga yang belum dipasang pegangannya, atau lantai yang belum dipasang ubinnya, pintu yang belum terpasang, atau steger (scaffolding) yang masih terpasang pada dinding dll. Bau cat juga tercium dimana-mana dan kaki kadang terasa sakit karena tertusuk kerikil-kerikil semen yang mengeras.

Bahkan kadang-kadang saya agak seram juga karena sendirian dalam ruangan hanya ditemani patung-patung seukuran manusia. Kalau sudah begitu biasanya saya cepat-cepat berpindah ruangan. Lhah kalau matanya mendadak bergerak bagaimana? Hiiiii…. Kan di tempat itu dipajang juga segala macam makhluk-makhluk pengganggu manusia yang seram bentuknya…

Makin ke arah kaki, bangunannya semakin tak jelas dan terus dalam proses pembangunan. Patung-patungnya pun sudah terbentuk tapi belum diwarnai. Saya sempat melihat posisi Buddha Parinirvana yang belum selesai.

Merasa sudah melihat isi tubuh dari bangunan patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya secara maksimal, mulailah saya mencari jalan keluar. Masalahnya tidak ada rambu EXIT atau tanda-tanda jalan keluar. Yang pasti tidak sama dengan jalan masuknya. Lagi pula saya ingin sekali mengambil foto patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya secara utuh dari depan. Saya menggunakan metode yang selalu sukses: Mengikuti orang lokal. Kali ini juga berhasil meskipun saya harus melompati bambu yang dipasang melintang di pintu setinggi satu meter! 😀 😀

Saya menyeberang turun untuk mencapai ujung jembatan. Saya berhenti sebentar di sana memperhitungkan panasnya lantai jembatan yang telah dipanggang matahari bulan April. Lalu secepat kilat saya berlari menuju ujung jembatan di seberang. Telapak kaki terasa terbakar.

Sambil mendinginkan rasa terbakar pada telapak kaki, di ujung jembatan saya mengambil foto. Wah, ternyata bulu mata Sang Buddha dibuat sangat jelas dan lentik. Mendadak saya terpikir jika mata Sang Buddha terbuka dengan bulu mata yang lentik berarti posisi ini menunjukkan Buddha sedang istirahat, bukan parinirvana. Ah sepertinya saya ini sotoy banget…

Dari tempat yang sama saya bisa juga melihat jari-jari kaki Sang Buddha yang kukunya dicat berwarna pink. Saya langsung mengingat-ingat apakah patung serupa di Bago juga memiliki kuku berwarna merah muda. Tetapi mungkin saja, warna ini memiliki nilai atau makna tersendiri. Tetapi dari sini dapat dibandingkan besarnya kaki patung Buddha dengan rumah ukuran normal.

 

Matahari belum juga mereda mempertunjukkan kekuatan panasnya sehingga saya memutuskan menyelesaikan kunjungan. Masih ada tempat-tempat lain di Mawlamyine yang harus dikunjungi.  Saya melepas pemandangan dari atas. Meskipun panas, pemandangan dari tempat saya berdiri tetap mengesankan. Sambil menuruni tangga pulang, saya kembali menoleh ke arah patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya memberi salam perpisahan.

Sampai ketemu lagi, kapan-kapan…

DSC08116
The View

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-46 ini bertema Huge agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Halamannya Memanjakan Rasa


DSC09696
Morning view

Hampir dua atau tiga tahun terakhir ini, kami selalu memilih menginap di sini saat berkunjung ke Jogja. Meskipun ada begitu banyak pilihan hotel di Jogja, -dari yang mahal sekali hingga yang murah, dari yang mewah sampai yang sederhana, dari yang layanannya masuk kategori “perlu training lagi” hingga yang prima-, suara dari anggota keluarga saya selalu bulat. Kembali ke hotel ini, hotel favorit kami di Jogja.

Hyatt Regency Yogyakarta

Namun sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa pos ini saya tulis bukan untuk iklan atau review hotel. Bukan sama sekali. Saya menuliskan ini menanggapi tantangan dari sahabat saya yang temanya sesuai dengan apa yang ada di hotel favorit kami. Jadi, sekali lagi, ini bukan iklan karena saya menyampaikan apa yang saya rasa…

Sebenarnya masing-masing anggota keluarga saya punya tambahan preferensi terhadap hotel ini, -ada yang suka kolam renangnya, atau variasi makanannya, atau layanannya-, tapi semuanya langsung mengangkat tangan tanda setuju ketika saya bilang bahwa saya menyukai halamannya yang lebih luas dari lapangan bola, yang nyaman, hijau, tertata rapi dan asik. Iyalah, karena hotel ini memiliki halaman berupa lapangan golf, mana mungkin tidak keren sih?

from the top
Mt. Merapi From The Roof Top

Awalnya saya menginap di Hyatt untuk urusan bisnis dan merasa senang menginap di Hyatt. Kemudian pada liburan berikutnya saya ajak sekeluarga menginap di hotel yang letaknya tak jauh dari Monumen Jogja Kembali (Monjali) di Utara Jogja ini. Karena saya yakin mereka pasti juga menyukai menginap di sini dan ternyata memang benar 😀

Namun perlu diketahui bagi yang ke Jogja hanya untuk berwisata, mengingat jarak dengan obyek-obyek wisata di pusat kota Jogjakarta, lokasi hotel ini kurang tepat. Bagi kami, hal ini justru menjadi strategis, karena kami sekeluarga bukan turis di Jogja dan selalu menghindari tempat-tempat turis (seperti Malioboro, Kraton dan sebagainya). Kami selalu menjauh dari tempat-tempat turis itu (masak sudah sehari-hari terkena macet Jakarta, pada saat liburan dan silaturahmi dengan keluarga besar harus kena macet juga di Malioboro dan sekitarnya?) 😀

Dulu, saya berpikir Hyatt Regency ini memiliki tingkat harga yang di luar jangkauan alias kemahalan. Namun kenyataannya tidak demikian lho. Meskipun soal harga itu sangat relatif bagi semua orang, dengan pertimbangan fasilitas dan layanan kelas bintang lima, harga Hyatt Regency masih sangat bersaing dalam kelasnya, karena masih banyak hotel yang lebih mahal. Lagi pula dengan semua kebutuhan yang terpenuhi khususnya untuk keluarga kami, rasanya hingga saat ini belum ada yang mampu memindahkan saya ke lain hati untuk urusan inap-menginap di Jogjakarta.

Nah, apa ya yang menarik dari Hyatt Regency Yogyakarta itu?

Bagi saya pribadi yang suka jalan pagi-, Hyatt Yogyakarta bisa mencuri hati karena tersedianya fasilitas yang amat bagus untuk menjalankan kegemaran saya itu. Bisa dibilang, sejak pertama kali menginap hingga libur Lebaran lalu, saya terus melakukan kegemaran jalan kaki setiap pagi dengan rute yang saya serahkan kepada kaki 😀

Mengelilingi halamannya dengan arah suka-suka, yang penting jalan!

Halamannya itu lho, luas banget dan serunya saya menemukan banyak keindahan sepanjang kaki melangkah.

beranda depan
Terrace
DSC09693
in front of the terrace

Untuk berjalan kaki, dari lobby hotel yang berada di dalam gedung, biasanya saya melewati teras hotel, yang kalau duduk di sana rasanya tenteram dan nyaman karena suara gemericik air kolam yang penuh ikan-ikan hilir mudik, bunga-bunga teratai dan tumbuhan air lainnya ditambah hiasan-hiasan stupa. Saya pernah berlama-lama di pinggir kolam hanya untuk memperhatikan bunga teratai dan ikan-ikan yang seakan bercanda. Rasanya stress hilang seketika…

Setelah teras dan beberapa koridor ruang serba guna yang ditata cantik, di ujung jalan itu adalah lapangan golfnya.  Artinya, benar-benar kita bisa menjejak lapangan golf meskipun tidak berniat main golf. Namun tentu saja ada larangannya karena kita tidak diperbolehkan memasuki lapangan jika tidak bermain golf, apalagi tidak menggunakan sepatu yang tepat untuk golf. Merawat rumputnya mehong boo…

Saya sadar diri hanya bersneaker biasa, lagi pula tidak bisa main golf juga deh. Jadi saya hanya melipir di pinggirannya di atas jalur jalan setapak yang disediakan.

Dari lapangan golf itu, langsung disodori pemandangan indah Gunung Merapi, jika udara cerah lho. Bila ingin mengitari bangunan hotel, maka saya harus berjalan sepanjang jogging track ke arah Barat, mendekati kawasan kolam renang, Secret Garden, hingga ke tempat drop off, pintu gerbang masuk dan kembali ke arah Timur hotel, lalu bisa sampai ke lapangan golf dan bisa diteruskan hingga ke ujung dekat perbatasan kompleks perumahan. Dan sepanjang jalan, mata ini sangat dimanjakan dengan keindahan. Lapangan golf yang tertata rapi, hijau dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang sebagai aksen.

DSC09699
Another View
DSC09718
Golf Course

Kadang kala saya bertemu dengan bapak-bapak yang menata taman, yang bekerja sambil berkisah tentang perjalanan bekerjanya bersama Hyatt. Sayang sekali saya lupa menanyakan namanya. Tetapi mendengarkan ia bercerita saja sudah menghangatkan hati. Di kesempatan lain, saya sempat bertegur sapa dengan seorang ibu penyapu lapangan golf yang dengan ikhlasnya menyapu semua dedaunan yang jatuh memenuhi area kerjanya. Tapi luasnya area yang harus disapu tak mengendurkan semangatnya untuk melempar senyum dan sapa kepada saya. Betapa saya beruntung bisa bertemu dengan para pegawai hotel yang luar biasa, mereka yang bukan berada di balik meja dengan dasi dan wangi melainkan mereka yang berpeluh tapi tetap menebar senyum. Dan bukankah saya sudah bercerita juga di pos sebelumnya bagaimana mereka memberikan layanan terbaiknya untuk tamu dengan segala kerendahan hati yang sangat memikat (baca: Kebaikan Hati Itu Tak Pernah Ragu)

Bahkan ketika saya ingin beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan sekitar, di beberapa tempat di pinggir jalur setapak itu disediakan ayunan. Bayangkan saja, pagi yang tenang dengan pemandangan indah, bisa disaksikan sambil berayun pelan. Waktu seakan berhenti untuk menikmati semua keindahan alam. Mungkin jika disediakan bantal-bantal empuk saya bisa tertidur di ayunan itu 🙂

secret garden
Secret Garden of Hyatt Regency

Tak jarang saya mendapatkan momen-momen indah seperti sinar mentari pagi yang hangat dan membias di antara daun dan pohon. Cahayanya, rimbun hijaunya terasa membawa damai.

Ah, saya sungguh beruntung pagi-pagi mendapatkan berkah begitu banyak. Seperti batere ponsel yang 100% full. Siap menyongsong hari…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-45 ini bertema Hijau agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Kisah Raja Gajah Di Gua Saddan


Salah satu gua yang saya kunjungi selama di Hpa’an, Myanmar adalah gua Saddan atau kadang disebut juga Mahar Saddan. Gua ini merupakan gua terbesar di Kayin State dan nomor 5 terbesar di Myanmar. Tidak heran, karena Hpa’An merupakan kawasan wisata yang terkenal karena pemandangan alamnya yang unik akibat bentukan bukit-bukit karst. Dan namanya gua di Myanmar, biasanya digunakan juga sebagai tempat ibadah sehingga kita harus lepas sepatu, bahkan saat menjelajah gua yang sepanjang 800 meter yang juga dihuni oleh kelelawar dan segala macam makhluk hidup penghuni gua. Terbayang kan bagaimana jalan di dalam gua tanpa alas kaki?

Gua Saddan, -artinya gajah dalam bahasa lokal-, dinamai demikian karena ternyata memiliki kisah penuh makna dibaliknya. Tentu saja seperti yang biasa terjadi  di negara mayoritas Buddhist ini, kisahnya selalu dikaitkan dengan kehidupan Buddha atau pengikut utamanya.

DSC07835
The Hole drilled by Sonuttara, Saddan Cave, Hpa’an, Myanmar
DSC07855
The Hole of Saddan Cave, Hpa’an, Myanmar

Alkisah di tempat ini berkuasalah Raja Gajah Chaddanta Jataka, yang dipercaya merupakan satu dari kehidupan Buddha sebelumnya. Gajah Chaddanta merupakan salah satu ras yang paling langka dan dianggap oleh banyak orang sebagai kelas gajah tertinggi. Gajah-gajah ini memiliki penampilan yang amat unik, dengan tubuh yang berwarna putih murni disertai kaki dan wajah berwarna merah tua dan memiliki dengan enam gading. Disebutkan pula Raja Gajah Chaddanta memiliki dua ratu gajah, yang masing-masing bernama Mahasubhadda dan Chullasubhadda.

Suatu hari, Raja Gajah Chanddanta ingin memberikan bunga kepada para ratu gajah, namun tanpa diketahui Sang Raja, dalam bunga yang diberikan kepada Chullasubhadda terdapat semut merah, yang akhirnya menggigit Ratu Gajah itu. Oleh karena gigitan semut merah itu, Chullasubhadda terkejut dan bergerak, akibatnya seluruh daun kering, ranting dan semut merah yang berasal dari pohon semuanya menimpa Chullasubhadda. Berbeda dengan yang dialami oleh Chullasubhadda, bunga-bunga indah dan serbuk sari dari bunga memenuhi Mahasubhadda, Ratu Gajah yang lain. Melihat perbedaan itu, Chullasubhadda menjadi sangat marah dan bersumpah untuk membalas dendam pada Raja Gajah Chaddanta.

Waktu berlalu tanpa kejadian berarti yang menimpa Raja Gajah Chaddanta. Namun setelah Chullasubhadda meninggal, dia bereinkarnasi menjadi seorang putri raja yang akhirnya dipinang oleh seorang Raja dan iapun menjadi seorang ratu. Takdir berjalan sesuai waktunya sehingga pada suatu hari Sang Ratu mengajukan permohonan yang tidak biasa. Ia menginginkan gading Raja Gajah Chaddanta. Karena cintanya, Sang Raja mengirim Pembantu Utamanya yang bernama Thaw Note Ta Ra atau Sonuttara untuk mencari gading tersebut. Karena ia sangat patuh kepada Rajanya, Sonuttara berangkat sendiri dan mencari Gajah Chaddanta. Ia sendiri memerlukan waktu hingga tujuh tahun untuk menemukan Raja Gajah Chaddanta.

Setelah menemukannya, Sonuttara menyusun rencana dengan menggali lubang di sebelah gua yang didiami oleh Chaddanta. Lubang galian itu dikamuflasekan dengan cara menutupinya dengan ranting-ranting dan daun kering serta cabang-cabang kecil lainnya. Kemudian Sonuttara bersembunyi di dalam lubang dan menunggu.

Hingga suatu saat, Raja Gajah Chaddanta menerobos lubang yang dibuat oleh Sonuttara sehingga tanpa ragu Sonuttara langung memanah Raja Gajah Chaddanta dengan anak panah yang beracun. Sambil menahan sakit akibat racun anak panah, Raja Gajah Chaddanta mencari orang yang memanahnya dan ketika ia menemukan Sonuttara, Raja Gajah Chaddanta pun mengangkat Sonuttara dengan belalainya. Kemudian Raja Gajah itu bertanya mengapa Sonuttara melakukan hal keji ini. Ditanya demikian, Sonuttara menjelaskan ia harus mematuhi perintah Rajanya, karena Sang Raja ingin sekali memenuhi permintaan Sang Ratu.

Sambil tercenung, Raja Gajah Chaddanta menyadari bahwa hal ini merupakan bentuk nyata dari sumpah Chullasubhadda atas insiden semasa hidupnya dulu. Raja Gajah Chaddanta memahami bahwa waktunya telah tiba untuk mati. Ia pun rela memberikan gadingnya kepada Sonuttara untuk kemudian menyerahkannya kepada Raja dan Ratu.

Duh, saya jadi ikut melow dengan akhir ceritanya…

Bisa jadi karena saya selalu terkesan pada kisah-kisah orang yang menerima semua akibat perbuatannya dengan ikhlas dan rela. Meskipun tidak sengaja atau tidak berniat (tetapi bukankah semua peristiwa terjadi bukan karena kebetulan?). Bagi saya sih pembelajarannya, sebaiknya kita tidak berlaku tak adil kepada orang lain dan berbuat sebaik mungkin, meskipun kita tak pernah bisa menyenangkan semua orang.

Selain itu, pelajaran penting lainnya sih hanya satu yaitu jangan menyakiti hati perempuan di luar batasnya, ketika ia patah dan bersumpah pasti akan terjadi ! 🙂

Anyway, menjelajahi gua Saddan tetap menyenangkan meskipun harus telanjang kaki sepanjang perjalanan yang kadang-kadang menginjak juga yang lembut-lembut atau kerikil yang tajam-tajam. Saya tidak mau berpikir lebih jauh tentang apa itu….

DSC07860
The end of Saddan Cave, Myanmar

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-43 ini bertema Lubang agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Gunung Fuji Dalam Angka


Menginap satu hari di Kawaguchiko memang menjadi tujuan kami sekeluarga ketika pergi liburan di Jepang beberapa tahun lalu. Tujuan sebenarnya adalah hendak menikmati pemandangan Gunung Fuji sejak pagi, yang biasanya jernih tanpa tertutup awan. Dan pagi itu, pemandangan cantik gunung yang sering malu-malu bersaput awan itu benar-benar menampakkan keindahannya, apalagi disanding dengan Danau Kawaguchi yang amat tenang sebagai latar depan. Kalau mau cerita lengkapnya, bisa dibaca cerita lengkapnya: Memeluk Indahnya Sepi di Danau Kawaguchiko

IMG_1325
Mt. Fuji from Kawaguchiko

Nah, di dalam kamar penginapan kami, -yang malam sebelumnya membuat saya merasa serem-serem sedap-, ada sebuah informasi yang dibuat menarik, yaitu tentang Gunung Fuji dalam angka. Informasi itu dilaminasi dan dimasukkan ke dalam sebuah folder bersama dengan brosur-brosur pariwisata sekitarnya (dan saya berpikir mengapa pariwisata kita tidak melakukan hal itu ya?)

Informasi itu ditandai oleh icon kategori yang diberikan dalam bentuk gambar/simbol, seperti Informasi Umum, Sejarah, Kondisi Alam, Pendakian, Akses, Harga, Cinderamata dan Trivia. Keren banget kan, jadinya mudah dibaca.

Membacanya saya jadi terbayang proses pendakiannya…

  1. Gunung Fuji (Fujisan) terdaftar di UNESCO World Heritage Site per tanggal 22 Juni 2013. Dengan demikian, bukan hanya negara Jepang yang wajib memeliharanya melainkan seluruh umat manusia yang berbagi di satu dunia ini, apalagi yang mendakinya. Sungguh memalukan kan, bulan Agustus 2014 lalu ada turis yang melakukan vandalisme alias mencoret-coret membuat graffiti di batu besar dengan tulisan CLA-X INDONESIA, yang membuat warga negara Jepang marah sekali. Bagi mereka, Gunung Fuji merupakan gunung suci.
  2. Status Gunung Fuji merupakan situs ke 17 dari semua situs yang dimiliki Jepang yang terdaftar di UNESCO World Heritage Site (Meskipun per tahun 2019 ini sudah mencapai 23 Situs)
  3. Saya sih percaya saja deh, kalau di tabel itu tertulis Gunung Fuji itu memiliki volume sekitar 1400km3, saya juga tidak berminat untuk mengukur kok, sebab terbayang juga sih, kalau 1 km x 1 km x 1 km = 1km3 artinya kan ada 1400 X-nya.
  4. Jumlah danau yang mengelilingi Gunung Fuji ada 5 yaitu Danau Motosu, Danau Shojin, Danau Sai, Danau Kawaguchi dan Danau Tamanaka. Berada di pinggir danau itu sangat tepat untuk menikmati Gunung Fuji.

    IMG_1333
    Mt. Fuji in numbers
  5. Gunung Fuji itu tingginya 3776 meter diukur pada titik tertinggi di Kengamine dan tingkat kecepatan angin yang bertiup di puncaknya rata-rata berkisar 11m/detik. Dan suhu di puncak rata-rata bisa mencapai -6C. (Ah, kira-kira saya kuat gak ya mendaki kesana, sekilas pemikiran saja siii)

  6. Di Gunung Fuji itu tercatat ada 119 species kupu-kupu dan 180 jenis burung liar. Keren ya, sampai tercatat seperti ini.
  7. Musim pendakian Gunung Fuji dimulai dari tanggal 1 Juli hingga minggu pertama September, yang merupakan periode terbaik dengan kemungkinan suhu dan angin yang paling bersahabat. Diluar waktu itu, kondisinya sangat tidak bersahabat dan membahayakan jiwa. Mendaki gunung kan seharusnya untuk memperkaya jiwa bukannya menghilangkannya.
  8. Sudah sejak 2012, dalam setahunnya tercatat lebih dari 25,000 orang kenaikan per tahun, yang menunjukkan semakin tingginya minat orang mendaki gunung suci di Jepang ini.  Rekor terbesar waktu itu sih tanggal 28 Juli 2012 yang mencatatkan ada 11,779 orang pendaki pada satu hari itu. Aduh terbayang jalurnya pasti penuh dan ada antrian ya…
  9. Per tahun 2012 sudah tercatat 318,565 orang telah mendaki Gunung Fuji di ketinggian 3776 Mdpl yang dilakukan melalui 4  jalur, yaitu:
    1. Jalur Yoshida yang paling populer, yang dilakukan oleh 189,771 pendaki, mulai dari ketinggian 2305 Mdpl sepanjang 7.5 km menanjak dalam waktu 6 jam dan 7,6 km saat turun yang bisa dilakukan dalam waktu 3 jam.
    2. Jalur Subashiri, yang dilakukan oleh 35,577 orang, mulai dari ketinggian 1970 Mdpl sepanjang 7,8 km menanjak selama 6.5 jam dan 6,2 km saat turun yang dapat dilakukan dalam 3 jam
    3. Jalur Gotemba, yang dilakukan oleh 15,462 pendaki, mulai dari ketinggian 1440 Mdpl sepanjang 11 km menanjak selama 7,5 jam dan 8,5 km saat turun yang dapat dilakukan dalam 3,5 jam
    4. Jalur Fujinomiya, yang dilakukan oleh 77,755 pendaki, mulai dari ketinggian 2400 Mdpl, sepanjang 5km menanjak selama 5 jam dan 5 km saat turun yang dilakukan dalam 3.5jam
  10. Pada tahun 1832 pertama kalinya seorang pendaki perempuan mencapai Puncak, meskipun saat itu ia berpakaian seakan-akan ia laki-laki karena pada masa itu, perempuan dilarang untuk mendaki gunung. Dan baru 40 tahun kemudian, pada tahun 1872 Gunung Fuji membuka diri untuk didaki oleh perempuan.
  11. Di sepanjang jalur pendakian terdapat penginapan sederhana dengan biaya sekitar 5500 Yen, tidak termasuk makanan. Dan setahu saya dilarang mendirikan tenda dan membuat api. Dan tidak disarankan, demi kesehatan, untuk melakukan pendakian secara cepat dan langsung turun pada hari yang sama tanpa menginap.
  12. Rekor pendaki tertua tercatat umurnya 101 tahun! Hebat ya… Jepang memang merupakan negara yang penduduk usia tuanya masih banyak yang sehat dan terus melakukan aktivitas fisik yang tidak ringan.
  13. Di Puncak Gunung Fuji, harga oksigen ukuran kecil dijual 500 Yen dan ukuran besar dijual 1000 Yen. Semangkuk mie instan harganya 800 Yen dan satu botol air mineral dalam kemasan botol harganya 500 Yen. Dan untuk ke toilet dibebankan 100 – 300 Yen. Hitung saja jika 1 Yen sekarang sekitar 130 Rupiah.
  14. Belum lagi menghitung uang yang harus dikeluarkan untuk transportasi dari 1080 Yen hingga 3300 Yen, tergantung dari lokasi mana dan memilih jalur apa untuk mendakinya.
  15. Informasi lebih lengkapnya mengenai pendakian bisa dilihat di Fujisan Climb Official Website

Ok, saya hanya menuliskan kembali dari apa yang ada di penginapan kami di Kawaguchiko dan sepertinya harus diupdate juga informasinya. Saya tahu bahwa sudah banyak lho pendaki Indonesia yang melakukannya. Kalau sudah, ditunggu ceritanya ya….

-o-


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-43 ini bertema Numbers agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

 

Kemajemukan Yang Indah


Melihat Pelangi seperti melihat bangsa kita sendiri, banyak warnanya dan indah

rainbow
Rainbow in the sky

Sebagai anak yang terlahir dari keluarga berdarah majemuk, sejak kecil saya selalu terdiam kebingungan ketika ditanya orang lain, -yang saat itu selalu orang dewasa-, “aslinya dari mana?”. Errrr… yang bertanya mungkin basa-basi namun biasanya hanya menginginkan satu jawaban pendek saja, misalnya, Jawa, Minang, Batak, Bali dan seterusnya. Sesungguhnya saya tak pernah yakin, apakah ia menginginkan jawaban saya yang panjang lebar.

Karena saya selalu harus memulainya begini…

Ibu dari Papa saya berasal dari Sunda, itu pun tidak seratus persen Sunda. Lalu, Papa dari Papa saya berasal dari Jawa Tengah, itu pun tidak seratus persen asli Jawa. Papa saya sendiri lahir di Palembang. Jadi mungkin dari Papa, saya bisa dibilang ada darah Jawa dan Sunda. Itu dari Papa.

Nah dari jalur Mama, ayahnya dari Minang, itu pun tidak murni seratus persen Minang. Kemudian ibu dari Mama saya, ada darah Belanda, Ambon, Cina, Arab dan entah apa lagi. Mama sendiri dilahirkan di kota kecil di Papua. Jadi, kalau dari keturunan Mama, saya bisa dibilang ada darah Minang, Ambon, Belanda, Cina.

Saya sendiri lahir dan dibesarkan di Jakarta dan tidak bisa satu pun bahasa daerah yang darahnya ada dalam tubuh saya. Mengerti mungkin bisa meskipun sedikit, tetapi jangan disuruh bicara ya.

Jadi bila ada yang menanyakan asal-usul, saya selalu menjawab, Saya Indonesia!

Karena memenangkan salah satu suku, rasanya seperti mengkhianati darah suku lain yang lebih banyak berdiam di dalam saya.

Dan selalu terjadi keseruan ketika kumpul keluarga.

Karena keluarga dari  garis keturunan Mama bisa dibilang lebih akrab satu sama lain, tak heran saya bisa berlama-lama bercengkrama dengan keluarga Ambon, lengkap dengan bahasa yang penuh irama naik turun itu… dan tentu saja, termasuk menikmati makanan yang enak-enak itu.

Tak kurang serunya bila keluarga Minang sedang kumpul, paling tidak saat Lebaran atau Halal bil Halal. Namun semua sama, ketika mereka berbicara bahasa Minang kepada saya, langsung saya tertawa lebar mengakui ketidakmampuan saya 😀

Meskipun tidak seakrab seperti yang terjadi pada keluarga dari garis keturunan Mama, saya selalu senang-senang saja bila berkumpul dengan pihak keluarga Papa. Apalagi jika sedang ke kampung halaman, di kawasan Banyumas. Bahasa Jawa khas Tegal, Banyumas dan sekitarnya itu selalu berhasil membuat saya tergelak meskipun tidak mengerti seratus persen.

Dan jangan salah, saking banyaknya garis darah keturunan, saya sendiri sering kehilangan jejak. Kerabat Mama dari sisi Minang, saya anggap dari keluarga Papa yang dari Jawa. Lhaaaa… susah lhooo mengenal semuanya, mana orang dulu kan anaknya banyak!


Bicara soal agama dalam keluarga besar, menjadi keindahan tersendiri. Meskipun Islam menjadi mayoritas dalam keluarga besar saya, ada juga kerabat yang convert ke Kristen Protestan karena pernikahan. Belakangan setelah menikah, saya juga memiliki kerabat yang berdiam di Bali dan memilih menganut Hindu. Masih ada kerabat yang lain lagi yang memilih menganut Aliran Kepercayaan dengan berbagai versi, ada yang memilih dengan pengaruh Indianya yang sangat kuat dan ada juga yang memilih Kejawen.

Dan seperti yang sering saya ceritakan di blog, sejak kecil saya justru lebih banyak mengunjungi candi-candi Hindu Buddha yang bertebaran di banyak tempat di Jawa. Oh ya, biar tambah seru soal kemajemukan ini, perlu ditulis di sini bahwa saya belajar hampir dua belas tahun di sekolah Katolik dan tiga tahun terakhirnya di sekolah yang isinya perempuan semua!

Dan Islam, sebagai agama mayoritas dianut dalam keluarga besar, tentu saja memiliki ‘bandwidth’ yang paling lebar. Ada yang berprinsip Salafi dan berniqab bagi seluruh anggota keluarga yang perempuan, ada yang biasa-biasa saja, ada yang moderat, ada juga keluarga yang hanya tertawa mesem sambil menunjukkan KTP-nya untuk jika ditanya soal agama! Masalah? Tidak sama sekali!

Dan selalu ada keseruan makan-makan jika ada hari keagamaan tentu saja diluar ritual ibadah masing-masing.

Keindahan dan kebahagiaan yang sama ketika saya harus menyambut keluarga yang datang dari Belanda atau Jerman, meskipun kulit mereka lebih putih, mata yang lebih biru dan hidung yang lebih bangir atau meskipun mereka menggunakan bahasa yang berbeda. Bukankah mereka tetap memiliki jalinan kekerabatan yang sama dengan saya?

Jika memang demikian, mampukah kita memperlakukan orang lain seperti kerabat kita sendiri yang memang masih bertautan darah sejak penciptaan?


Dan setiap terjadi konflik di antara bangsa kita sendiri, saya merasa amat sangat sedih sekali. Tak berlebihan, bila saya mengasumsikan diri ini adalah Indonesia mini. Mana mungkin dalam satu tubuh ini saling menyakiti? Jika tangan kanan tanpa sengaja melukai tangan kiri, sakitnya terasa ke seluruh tubuh. Jika di perut terasa sakit, seluruh tubuh ini otomatis menjadi tidak enak. Jika kaki saya pegal, tangan kanan dan kiri juga otomatis memijat untuk meredakan rasa pegal itu. Bagaimana mungkin bagian yang satu lebih baik daripada yang lain, atau bagian yang satu lebih rendah nilainya dari yang lain? Apakah saya tetap menjadi saya bila dipecah-pecah menjadi beberapa bagian?

Apalagi tahun-tahun belakangan ini, saat pemilihan kepala daerah maupun saat pemilihan presiden beberapa waktu lalu, saya sungguh tak nyaman, serasa tak hidup. Bagaimana mungkin ada kelompok-kelompok yang mempermainkan SARA untuk kepentingan kekuasaannya sendiri?

*

Ah, memang tidak semua orang beruntung dan mendapat berkah bisa dilahirkan dalam kemajemukan seperti saya dan tidak semua orang beruntung bisa memahami indahnya kemajemukan sejak masih kecil.

Dan banyak juga dari kita yang “bersedia” dibelah-belah demi kepentingan orang lain dan tak menyadari bahwa dengan begitu mereka kehilangan jati dirinya sendiri. Padahal kemajemukan membawa kekuatan.

Bukankah mematahkan sepotong lidi yang berdiri sendiri lebih mudah daripada mematahkan lidi-lidi yang terikat kuat dalam kesatuan sapu lidi?

Sesungguhnya saya tak pernah berhenti berharap Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 itu bisa berakar kuat dalam setiap manusia Indonesia, -tidak hanya dihafalkan-, melainkan sadar sepenuhnya, menjiwai dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-42 ini bertema Unity agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Pinus, Menenteramkan, Mengenangkan


Rasanya satu-satunya keharuman yang berakar kuat dalam pikiran saya adalah harumnya pinus. Bisa jadi karena sejak kecil, saya sering diajak pergi ke Bandung, ke Gunung Tangkuban Perahu dan berhenti sejenak di pinggir jalan sekitar Cikole, tempat dimana hutan pinus tumbuh di kanan kiri jalan. Kebiasaan sejak kecil untuk berhenti sejenak di pinggir jalan, ternyata diturunkan juga kepada anak-anak saya. Hanya untuk sejenak melapangkan pernafasan dengan wangi pinus yang sangat khas.

hutan pinus cikole
Pine trees near Bandung

Bagi saya pribadi, wangi pinus itu menenteramkan, hijau daunnya menenangkan hati, rasanya damai berada di tengah hutan pinus. Wanginya khas dan kadang ‘musik alam’ dari hutan pinus itu terasa seperti mendayu-dayu, gesekan puncak-puncaknya yang terbawa angin seperti mengajak berdansa dengan irama alam.

Harum pinus juga membawa kenangan, karena setiap berada di sana, saya senantiasa teringat almarhum ayah yang pertama kali memperkenalkan wangi pinus ke hidung saya. Dan kini, dimanapun ada pinus dengan keharumannya yang khas itu, rasanya seperti diselimuti kedamaian sekaligus kerinduan terhadap almarhum Papa.

Tidak heran, minyak pinus itu (pine oil) itu memang salah satu minyak atsiri (essential oil) yang produksinya terbanyak di dunia, karena diakui mampu memberikan rasa nyaman dan damai dalam berbagai situasi. Sebagai minyak aromatik, di tempat aslinya Pine oil sudah dikenal lama dalam pengobatan tradisional ayurveda untuk mengatasi stress.

Kesempatan untuk mengendalikan stress juga saya ambil ketika mampir sejenak ke hutan pinus Pengger di kawasan Bantul, Jogjakarta, setelah menengok keponakan yang selesai operasi skoliosis (tulang belakang belakang yang bengkok). Situasi harap-harap cemas akan keberhasilan operasi besar itu, dan ditambah si ponakan itu belum lama ditinggal ibunya karena kanker otak, terasa cukup menekan perasaan. Karenanya sang suami berkenan mengantar saya mampir sejenak ke tempat yang dia tahu saya menyukainya. Saya berdiri sedikit di atas ketinggian, dalam hening. Membiarkan harumnya melapangkan jalan napas dan menenteramkan. Pikiran yang saat itu tertambat di rumah sakit, perlahan pergi melayang. Saya tahu dia akan baik-baik saja…

Jenis pohon yang sama, harum yang sama, yang mengingatkan saya saat beristirahat dari tanjakan-tanjakan terjal menjelang desa Namche Bazaar di kawasan Everest, Nepal. Meskipun lelah, saya seakan mendapat energi tambahan berada di dalam rangkulan hutan pinus itu. Menatap batang pohonnya yang menjulang, mendengarkan musik alam dari desir puncaknya yang tertiup angin. Mereka seakan berbaris menjadi pintu-pintu, membukakan jalan ke kehidupan baru yang menjanjikan. Harumnya yang menyegarkan membuat saya kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan. Saya melihat ke atas, puncaknya melenting ke kiri dan ke kanan. Tetap kuat dan tangguh meskipun digoyang angin. Siapa sangka tak jauh dari sana, masih di antara batang-batang langsing yang tinggi itu memberikan pemandangan penuh janji akan keindahan Gunung Everest yang tertinggi di dunia?

Intimnya saya dengan pohon pinus kembali terjadi saat silaturahmi dengan keluarga besar yang dilakukan di Bandung Utara. Setelah acara selesai, esok paginya saya berjalan kaki sendiri ke arah lapangan golf. Seperti doggie, berdasarkan kekuatan hidung, saya berjalan menuju harumnya pinus yang khas itu dan berlama-lama berdiri di bawahnya. Membiarkan harumnya menyebar melalui hidung ke seluruh sel dalam tubuh.

Harumnya yang dikenal sejak kecil ternyata menjejak lama dalam diri, tak pernah lupa akan rasanya yang menenangkan, menenteramkan dan mengenangkan semua cinta…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-41 ini bertema The Scent agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…