Sejumput Malam di Makam Nabi Syu’aib


Sekembalinya dari Kawasan Wisata Laut Mati, -ceritanya bisa dibaca dalam tulisan Senja di Laut Mati, Terendah Di Muka Bumi sebelum ini-, tanpa perlu dikomando lagi seisi bus duduk dalam diam. Tak ada celoteh atau suara pemandu karena temaramnya lampu di dalam bus membuat kantuk menyerang. Apalagi jalan yang mulus tanpa kemacetan membuat perjalanan menjadi nyaman. Namun bisa jadi karena kami semua sudah lelah menjalani hari yang panjang sejak meninggalkan Jeddah pagi tadi lalu terbang ke Jordan, yang dilanjut dengan perjalanan ke Laut Mati dan kini yang dirindukan mungkin hanya pembaringan.

Demikian pula keadaan saya, dengan mata yang setengah mengantuk, kadang terbuka dan kadang terlelap, saya berusaha sebisanya mengikuti perjalanan. Rasanya sayang sekali jika terlelap di negeri yang baru pertama kali saya kunjungi.

Ketika melihat banyak lampu di luar jendela bus, saya berpikir sudah sampai di Amman. Ternyata dugaan saya salah. Saat itu kami masih sekitar tiga puluh menit lagi ke kota Amman. Saya hanya ingat bus berbelok lalu bergerak lagi untuk beberapa saat lalu akhirnya berhenti di sebuah tanjakan yang disusul dengan dinyalakannya sebagian lampu dalam bus.  Lalu suara pemandu terdengar memecah keheningan. Sayangnya saya tak mendengar jelas informasi yang disampaikan. Saya hanya melihat sebuah mesjid yang terlihat indah jika difoto dengan lampu kehijauan di menaranya. Rasanya tak banyak rumah ataupun toko di sekitarnya karena terlihat kegelapan menyelimuti. Masjid itupun terang karena lampu di halamannya. Seperti berada di tempat terpencil di perbukitan yang jauh dari pemukiman.

Prophet Syu’aib Mosque and Shrine, Jordan at night

Di dalam bus, -mungkin karena lelah-, tidak ada perempuan lain yang turun dari bus kecuali saya. Yang laki-laki pun bisa dihitung tak melebihi dari jumlah jari dalam satu tangan. Saya mengambil beberapa foto di halaman Masjid lalu mendekat ke sebuah pintu. Di situ baru saya memahami, betapa beruntungnya saya mengikuti hati untuk turun dari bus karena di dekat pintu tertulis dengan sangat jelas: Makam dan Masjid Nabi Syu’aib Alaihissalam. Bukankah kita sangat beruntung bisa menjejakkan kaki di tempat orang-orang sholeh berbaring di peristirahatan terakhirnya?

Entah kenapa, saya agak takut untuk mendekat. Rasanya aura kesholehannya tetap menguar dan meliputi seluruh ruangan itu. Saya menjadi begitu insecure berada di dekat makam orang yang selama hidupnya begitu sholeh dan menjadi utusan Allah kepada orang-orang Madyan dan Ashabul Aikah. Tanpa sadar saya mundur selangkah sambil menundukkan kepala, menyadari banyaknya khilaf yang dibuat hingga kini. Rasanya tak pantas untuk mendekat, seakan bisa menjadi noda atas kesucian auranya.

Terpampang jelas di depan mata, makam Nabi Syu’aib Alaihissalam yang terletak di tengah ruangan berlangit-langit tinggi dan lantainya berkarpet tebal, diselimuti dengan kain beludru berwarna hijau berhiaskan benang emas sebagai penutup yang indah. Lalu dari tempat saya berdiri, yang berjarak hanya beberapa langkah dari makam Nabi Syuáib Alaihissalam, saya mengangkat tangan dan melangitkan doa.

Makam Nabi Syu’aib, Jordan

Sebelum meninggalkan ruangan, saya membiarkan ingatan menari-nari, mengingat kisah hidup Nabi Syu’aib Alaihissalam. Sebagai orang yang diutus Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kaum Madyan dan Ashabul Aikah, tantangan yang dihadapi Nabi Syu’aib Alaihissalam sangatlah besar. Kaum Madyan merupakan kaum yang menguasai jalur perdagangan di wilayah sekitar Laut Mati sedangkan Ashabul Aikah merupakan sekelompok orang yang percaya kepada pepohonan bahkan mereka menyembahnya. Kaum Madyan terkenal sebagai pedagang yang ulet dan banyak diantara mereka yang sukses dan berlimpah kekayaan. Sayangnya, dalam menjalankan perdagangan, mereka seringkali tak jujur dan licik. Ketidakjujurannya terlihat saat bertransaksi jual beli, mereka suka mengurangi ukuran dan timbangan. Gandum yang seharusnya ditimbang 1 kilogram dikurangi dan dijual dengan harga untuk 1 kilogram, sehingga mereka mendapatkan keuntungan dari cara tak jujur tersebut. Selain itu, seperti juga Ashabul Aikah, Kaum Madyan lebih percaya pada hal-hal selainNya yang membuat mereka hidup berlimpah harta dan bisa menguasai jalur perdagangan.

Nabi Syu’aib mengetahui hal itu dan memperingatkan mereka akan hukuman atas perbuatan kaum Madyan dan Ashabul Aikah yang tidak benar itu. Namun, bukannya berterima kasih, mau memahami dan bertobat, mereka justru makin menentangnya. Bahkan mereka mengusir Nabi Syu’aib Alaihissalam dan semua pengikutnya untuk keluar dari kota itu. Ah, sepertinya saat itu mereka berpandangan sebagai mayoritas di kota itu dan jumlahnya lebih banyak maka apa yang mereka lakukan adalah benar. Lebih benar daripada Nabi Syu’aib Alaihissalam dan pengikutnya yang menjadi kelompok minoritas karena jumlahnya sedikit.

Bagaimanapun Kebenaran hanyalah milik Yang Maha Kuasa,

Lalu, terjadilah bencana di tempat kaum Madyan bermukim. Gempa hebat terjadi di tempat itu dan meluluhlantakkan pemukiman mereka hingga tak bersisa satupun. Kaum Madyan meregang nyawa terjebak di rumah mereka sendiri.

Sedangkan bencana yang menimpa Ashabul Aikah adalah serangan udara yang sangat panas dan membakar kulit. Tentunya sangat jauh lebih panas daripada gelombang panas yang sering terjadi belakangan ini di negeri-negeri jauh. Tidak ada lagi bangunan dan pohon yang dapat dijadikan tempat berteduh dari udara yang mematikan itu. Kemudian di langit muncul segerombolan awan hitam dan berat, awan yang membawa petir dengan suaranya yang sangat keras menggelegar. Mereka tak dapat lagi menghindarkan diri dari bencana yang mengerikan itu.

Tentu saja kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam yang diutus kepada mereka yang membuat kerusakan di muka bumi ini, dapat dibaca dalam Al Qurán. Tetapi mengingat kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam di depan makamnya di Jordan ini, tentu jauh berbeda rasanya. Gambar-gambar imajinasi mengenai kisah itu bergerak sendiri seperti menonton sebuah film di benak, menjadikan sebuah peringatan yang menyesakkan. Sebuah pembelajaran teramat penting yang dapat diambil dari kaum terdahulu.

Keheningan berada di depan Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam pecah saat datang pengunjung lain. Saya meninggalkan ruangan dan mengambil foto di halaman. Sayang sekali, Masjid Syu’aib yang ada di kompleks itu pintunya terkunci, padahal konon sangat indah. Pintu Masjid berada tak jauh dari bangunan kecil berkubah emas yang ada di tengah-tengah pelataran halaman dalam.

A nice place for taking the ablution, Mosque of Prophet Syuaib, Jordan

Tak banyak yang bisa diabadikan kecuali bangunan kecil berkubah emas tadi yang terbuka pada sebagian dindingnya yang tampaknya merupakan tempat mengambil air wudhu, terlihat dengan keran air dan tempat duduk batu yang melingkarinya.

Setelah puas mengambil foto yang tak seberapa, saya berbalik ke arah bus berhenti. Dalam beberapa saat saya akan meninggalkan salah satu tempat yang diklaim sebagai Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ini. Selain di Jordan di tempat saya berdiri ini, ada juga yang mengatakan bahwa makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di Galilea Hilir, Israel. Selain itu ada yang mengatakan makamnya ada di Guriyeh, Iran. Bahkan tak sedikit yang berpendapat makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di sebelah Barat Ka’bah, Mekkah. Sementara yang lain berpandangan makamnya ada di Jabal Nabi Syu’aib di Yaman. Mana yang benar? Wallahu a’lam bishawab.

Saya melangkah kembali ke dalam bus, lalu pintu-pintu bus ditutup. Roda bus mulai bergerak pelan meninggalkan kegelapan perbukitan di belakang, lampu-lampu dalam bus kembali temaram. Meski badan terasa lelah, saya merasa sangat beruntung dapat menjejak sebentar di tempat yang baru saja ditinggalkan dengan hikmah yang terserak begitu banyak. Dan kini, sepertinya saya menyerah pada dunia, hanya pembaringan yang saya rindukan…

From the courtyard of Prophet Syuaib Mosque

Senja di Laut Mati, Terendah di Muka Bumi


Katanya, belum pergi ke Jordan jika belum mengunjungi Petra dan Laut Mati, seakan-akan negeri Jordan itu hanya dikenal karena keberadaan dua tempat itu saja, bukan hal lainnya. Kenyataannya, selain Petra masih ada peninggalan sejarah di Jerash yang indah. Dan Laut Mati itu sesungguhnya tidak dikuasai seluruhnya oleh Jordan melainkan terbagi ke dalam dua kekuasaan, Jordan untuk bagian Timur dan Israel untuk bagian Baratnya. Jadi agak berlebihan juga sih dengan istilah belum ke Jordan jika belum menjejak Laut Mati dan Petra, karena Jordan tidak hanya itu!

Tapi bagaimanapun, karena kami sedang berada di Jordan, mengunjungi Laut Mati sepertinya menjadi agenda yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Jadi selepas kunjungan singkat ke Gua Ashabul Kahfi yang sudah saya tulis sebelumnya, kami semua duduk manis lagi dalam bus sekitar satu jam perjalanan dari kota Amman menuju Laut Mati.

Pinggir Kota Amman

Pemandangan kota Amman melalui jendela bus masih tak jauh berbeda, dengan bukit-bukit gundul serupa gurun berwarna kecoklatan dihiasi bangunan-bangunan kubus yang tumbuh tak beraturan. Jalan di depan mata  bisa dibilang sempurna dengan aspal mulus yang lebar. Kesan saya akan kota Amman bisa saja salah karena saya tidak mengunjungi pusat kota atau pusat bisnisnya. Rasanya tertanam di benak Amman bukanlah kota yang penuh gedung pencakar langit seperti kota-kota dunia lainnya. Ibukota Jordan ini sepertinya hanya menjadi kota tua yang berusia sembilan ribu tahun yang mewarisi sejarah panjang di bumi Timur Tengah.

Pemandangan menuju Laut Mati

Kesan saya bisa sangat salah. Seperti saat kita melihat seseorang lanjut usia yang renta. Meski terlihat tak memanjakan mata, usianya yang tua itu menyimpan banyak asam garam kehidupan. Demikian juga kota Amman, sejarahnya telah teramat panjang dan meninggalkan banyak jejak, dari sejak zaman Neolitikum, periode emasnya Kerajaan Ammon, peradaban Romawi, Byzantium, hingga Persia dan Ottoman. Bahkan alam pun meninggalkan jejaknya di sana dengan banyaknya gempa bumi dan bencana lainnya hingga sempat terabaikan sampai akhirnya ditemukan kembali di zaman modern.

Jika saja, saya memiliki waktu yang lebih panjang di Jordan, mungkin saya akan mendatangi lebih banyak jejak-jejak sejarah yang tertinggal karena pastilah semuanya menarik. Semenarik nama yang pernah disandang kota Amman. Siapa yang sangka nama Philadelphia yang memiliki makna kasih persaudaraan, -kini lebih dikenal sebagai nama kota di Pennsylvania, Amerika Serikat-, pernah disandang oleh kota Amman pada zaman dulu? 🙂 Hmmm… Amman memang bukan sekedar pintu gerbang untuk sampai ke Petra dan Laut Mati.

Menuju Tempat Terendah di Muka Bumi

Kota Amman sudah tertinggal di belakang namun saya masih terpaku melihat pemandangan keluar jendela yang menghilang cepat seirama kecepatan bus. Suara pemandu terdengar samar di antara deru bus namun ia tak bosan menyampaikan himbauan agar kami bersiap-siap menghadapi kemungkinan situasi tak nyaman pada raga. Perjalanan menuju Laut Mati memang bukan perjalanan biasa, karena Laut Mati merupakan tempat terendah di muka bumi. Tidak tanggung-tanggung, pantai Laut Mati itu berada sekitar 400 meter di bawah permukaan laut. Bisa jadi, akibat lokasinya itu, terjadi perbedaan tekanan udara yang mungkin berdampak pada tubuh.

Himbauan pemandu mengembalikan ingatan saya ketika trekking di Himalaya ke tempat-tempat dengan ketinggian di atas 3000 mdpl. Usia yang tidak lagi muda apalagi jarang berolahraga membuat saya mengalami situasi tak nyaman di tubuh. Entah karena perbedaan ketinggian atau memang karena kondisi tubuh yang sedang tidak begitu fit, saat itu saya hanya merasa cepat lelah. Pengalaman itu membuat saya cukup waspada terhadap perbedaan ketinggian tempat. Memang secara teori, makin tinggi sebuah tempat dari permukaan laut, maka tekanan udara di tempat itu makin kecil. Artinya semakin tipis kadar oksigen yang terkandung dalam lapisan udara itu. Sebaliknya semakin rendah sebuah tempat, maka tekanan udaranya akan semakin besar dan kadar oksigennya semakin banyak.

Nah, pantai Laut Mati yang berada 400 meter di bawah permukaan laut, secara teori memiliki tekanan udara lebih besar dari 1 ATM. Dari Google saya mendapatkan Laut Mati memiliki tekanan 1.09 ATM (sementara di ketinggian sekitar 3000 Meter di atas permukaan laut, tekanan udaranya mencapai 0.70 ATM). Membaca angka-angka yang terpampang, saya merasa lebih tenang karena situasi saya ketika berada di Himalaya jauh lebih buruk. Namun bagaimanapun alam tak boleh dianggap enteng.

Bus yang berbelok tajam ke arah kiri menyadarkan bahwa kami telah berkendara beberapa waktu lamanya. Matahari sudah makin condong ke Barat. Di kejauhan tampak sedikit bagian dari Laut Mati. Ah, melihat Laut Mati yang berada di kejauhan itu, saya membayangkan perjalanan masih lama.

Menyusuri Laut Mati dari bus
Some hotels and resorts at Dead Sea

Tapi berbeda dengan jalan sebelumnya yang datar dan lurus, kini bus bergerak menuruni jalan-jalan yang berliku, berbelok-belok seperti layaknya jalan di gunung. Tapi yang pasti hanya satu, berbelok atau lurus, semua jalan menurun tajam dengan sesekali melandai. Turunan-turunan yang tajam itu membuat saya terus berdoa memohon keselamatan karena terasa sekali rem bus bekerja tak henti. Mungkin saya terlalu terpengaruh terhadap berita tentang banyaknya bus di Indonesia yang seringkali masuk jurang atau kecelakaan karena remnya blong. Namun Alhamdulillah, di setiap jalan yang sesekali melandai itu mampu membuat saya menarik sedikit nafas lega.

Berpuluh menit kemudian, perjalanan dengan rasa was-was itu berakhir saat bus berbelok ke sebuah kawasan yang dikenal dengan Pantai Laut Mati. Begitu bus berhenti, tanpa diperintah lagi, kami semua turun dari bus dan menyebar mencari lokasi terbaik untuk berfoto.

Saya sendiri, ketika menjejak tanah, tidak merasakan perbedaan tekanan udara. Rasanya biasa saja, seperti di ruang terbuka dimanapun meskipun jam tangan saya menunjukkan elevasi -439 meter. Mungkin tidak akurat 100% tetapi tetap saja surprise juga melihat angka yang lumayan aneh di jam tangan itu 🙂

Dead Sea altitude at my watch

Berusaha memanfaatkan waktu yang sempit berada di Laut Mati, langsung saja saya menuruni berpuluh anak tangga agar bisa sampai ke tepi pantainya. Terlihat juga di kejauhan hotel dan resort mewah yang berada di pinggir Laut Mati tetapi sepertinya tetap saja harus menuruni banyak anak tangga untuk sampai ke pantainya, seperti di kawasan ini juga. Laut Mati yang sebenarnya danau itu tak memiliki ombak, hanya riak kecil. Saya berjongkok untuk melihat batuan yang ada di pantainya. Bukan kebanyakan pasir seperti umumnya pantai, melainkan batu-batu dan butiran garam yang mengkristal. Airnya sendiri menurut saya cenderung seperti minyak, sedikit lebih pekat atau kental dari air dan licin. Sungguh rasanya aneh saat terkena kulit tangan.

Selagi saya memperhatikan batuan kristal garam itu, datang tiga orang turis yang langsung menceburkan diri untuk berenang dan berfoto. Mau tidak mau saya turut tersenyum memperhatikan mereka yang tertawa lebar karena langsung mengapung tanpa perlu bantuan. Memang, kandungan garam di Laut Mati mencapai 33%, -sebuah angka yang ekstra tinggi dibandingkan dengan rata-rata kandungan garam di laut lainnya yang hanya 3%-, membuat manusia secara otomatis mengapung di Laut Mati.

What we see at Dead Sea Beach
The must taken pose on Dead Sea – floating

Sebuah pertanyaan nakal melintas di benak saat melihat mereka yang mengapung. Jika manusia selalu mengapung, tentunya di Laut Mati selalu aman, tidak pernah ada yang tenggelam. Apakah benar begitu? Pertanyaan itu membuat saya googling dan terkejut juga mendapatkan jawabannya. Ternyata ada kasus ‘tenggelam’ di Laut Mati. Tapi tenggelam di sini tidak seperti tenggelam di perairan biasa, melainkan celaka (yang mungkin menimbulkan kematian) karena kehabisan nafas di dalam air. Faktanya, manusia bisa dengan mudah membalikkan badan, atau dengan bantuan gerakan kaki menghentak dasar di perairan biasa, tetapi di Laut Mati dengan kadar garam 10 kali lipat dari perairan laut normal, hal itu sangat sulit dilakukan dan sangat melelahkan karena kondisi pekatnya perairan. Kondisi manusia yang mengapung dengan posisi tertelungkup sangat berisiko tinggi di Laut Mati. Maka dari itu, di Laut Mati disarankan orang berenang dengan posisi telentang yaitu wajah, dada dan perut menghadap atas.

Selain bisa langsung mengapungkan manusia, konon lumpur Laut Mati merupakan salah satu skincare terbaik. Bisa jadi karena kandungan mineralnya yang jauh lebih tinggi dari perairan biasa. Namun ketika melihat ada teman rombongan yang membeli berbotol-botol ramuan dari Laut Mati sebagai skincare, saya tetap tak tergoda. Selain mahal (mata uang Jordan itu bikin mules kalau dirupiahkan!), saya menggunakan satu rule, jika kulit semua orang lokalnya sebagus yang dipromosikan, mungkin boleh dipertimbangkan untuk dibeli. Tapi, hmm… by the way, yang bernyawa memang tidak bisa hidup di Laut Mati, namun bukan berarti perairan itu bersih dari makhluk yang pernah hidup lalu tidak bisa meninggalkan Laut Mati itu kan…? Lalu, buat skincare di wajah? 🙂

Pemikiran itu terbersit karena mengingat kisah dalam Al Quran tentang peristiwa yang menimpa kaum Nabi Luth Alaihissalam yang konon menempati kota Sodom. Peristiwa itu terjadi karena mereka telah terus menerus melakukan perbuatan maksiat dengan saling menyukai sesama jenisnya. Bahkan tiga orang tamu Nabi Luth Alaihissalam juga menjadi sasaran keinginan mereka padahal ketiga tamu yang berwajah rupawan itu adalah malaikat yang menyamar menjadi manusia.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Al Quran, Surat Hud, ayat 82)

Sejauh yang saya tahu, konon kota Sodom dan Gomorrah itu sudah dimusnahkan hingga tak ada lagi jejaknya. Tetapi tetap saja, ada begitu banyak alasan bagi negeri-negeri untuk bisa mem”bumi”kan kisah yang tertulis di Kitab Suci itu. Ada penelitian yang mengatakan kota Sodom itu berada di wilayah Jordan, ada juga yang mengatakan ada di wilayah Israel. Artinya semuanya ada di sekitar Laut Mati. Bisa jadi karena kisah Sodom dan Gomorrah ini berkategori keburukan, maka tidak banyak negeri yang mau mengklaimnya (Lain halnya kalau bersifat positif dan keren, pastinya banyak negara berlomba-lomba mengklaim). Yang pasti, jika kita membuka Google Map, di bagian Barat Daya Laut Mati, di wilayah Israel, ada tempat yang dinamakan Mt. Sodom yang tak jauh dari pilar garam yang disebut sebagai Statue of Lot Wife. Apakah itu berkaitan dengan peristiwa di Kitab Suci atau tidak, wallahualam.

Saya memang tidak berlama-lama di Pantai Laut Mati, tetapi merasakan berdiri di atas kaki sendiri di tempat yang konon berlatar kisah yang ada di kitab suci itu, memang berbeda. Selain indah, rasanya kita diingatkan tentang kisahnya, tentang konsekuensinya. Juga tentang kekuasaan Allah yang Maha Besar. Berdiri di tempat terendah di muka bumi, membukakan mata hati. Air di depan mata tampak seperti air biasa, padahal tidak. Permukaan air di depan mata dan tanah yang dipijak, seperti tanah biasa, padahal secara sains tempat ini tempat terdalam di muka bumi yang bisa dijejak oleh manusia secara normal. Tentunya tidak banyak manusia yang bisa merasakan berada di tempat yang “ter” di dunia, tentunya di sini maksudnya adalah yang paling rendah.

Apalagi saya bisa menikmati wajah sunset yang indah di Laut Mati. Warna kuning keemasan akibat matahari tenggelam itu sangat luar biasa. Tidak banyak orang yang bisa menikmati sunset dari tempat yang berada di 400 meter di bawah permukaan laut. Dan saya termasuk orang yang sangat beruntung dapat mengalaminya. I am so blessed…

Sunset at Dead Sea, Jordan

Menjejak Jordan, Mengintip Cave of Seven Sleepers


Lamat-lamat dalam hati saya mendaraskan doa dalam penerbangan menuju Amman yang baru saja meninggalkan bandara internasional King Abdul Azis, Jeddah. Tidak lain kecuali harapan bisa kembali lagi ke Tanah Suci. Sebuah rasa yang sejak dulu saya selalu skeptis kini benar-benar menguasai hati. Dulu, saya tak pernah mengerti mengapa orang berkali-kali mengerjakan umroh dan berhaji, bukankah ibadah itu cukup sekali saja? Kini, setelah mengalami sendiri, saya paham bahwa rasa ingin berada di Tanah Suci itu yang begitu intim, begitu personal, begitu menyenangkan, semua itu seperti minum di saat dahaga dengan damai memenuhi jiwa. 

Kesadaran berada di pesawat yang sedang mengangkasa, melahirkam setitik rasa tak rela meninggalkan bumi tempat Tanah Suci berada. Saya menarik nafas panjang, tanpa membuka mata pun saya memahami diri ini dihadapkan langsung oleh hukum kefanaan. Tidak pernah ada yang abadi, sebuah awal senantiasa memiliki akhir, sebuah perjumpaan senantiasa berujung pada perpisahan. Dan ini saatnya…

Bersamaan dengan rasa yang keluar, jauh di sudut jiwa, serangkaian kata bijak dari Jalaluddin Rumi terasa mendenting-denting di benak seakan mengingatkan. Bukankah perpisahan hanya untuk orang-orang yang mencintai dengan matanya? Bukankah untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak akan pernah ada kata perpisahan? Sekali lagi saya menarik nafas panjang, melepas dengan ikhlas, menyambut rasa yang memberi semangat baru.

Setelah dua jam penerbangan Saudi Arabian Airlines dengan pesawat A320 itu akhirnya bandara megah Internasional Queen Alia, kota Amman, Jordan menyambut kami semua. Sebagai bandara terbesar di Jordan, kemegahannya langsung terasa apalagi tak banyak orang berlalu lalang. Entahlah, bisa jadi kelengangannya lebih terasa karena saya baru datang dari Jeddah yang kerap didatangi manusia dari berbagai negara. 

Belum cukup lama mengagumi bandara megah kota Amman, kami sudah diarahkan segera keluar bangunan indah ini. Yah, seperti umumnya perjalanan yang diatur oleh sebuah agen, tidak ada istilah santai selepas imigrasi Jordan. Bersamaan dengan koper-koper yang dimasukkan ke dalam bagasi, kami pun segera menaiki bus untuk kemudian bergerak menuju tempat-tempat wisata di Jordan. 

Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Dari balik jendela bus, saya mengamati pemandangan gurun yang kering kecoklatan menghias perjalanan, yang sesekali disela oleh suara pemandu wisata. Kami memang menuju Gua Ashabul Kahfi yang terletak di Abu Alanda, dekat kawasan Raqim, sekitar 30 menit berkendara dari bandara. Konon, di sana merupakan tempat yang melatari kisah yang tertulis dalam kitab suci Al Quran. Kisah tentang Ashabul Kahfi atau dikenal juga The Seven Sleepers

Kawasan Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Meski masih diperdebatkan keakuratannya, gua Ashabul Kahfi atau tertulis di gerbang dengan nama Cave of Seven Sleepers yang berlokasi di Jordan ini tetap berhasil membuat saya kagum. Gerbangnya sendiri melengkung cantik, menandakan adanya campur tangan dari dunia modern. Saya tersenyum dalam hati, Jordan tidak sendirian mengklaim memiliki gua Ashabul Kahfi karena Turki pun melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari satu tempat (Ephesus, Afsin dan Tarsus). Bagaimanapun, saya sebagai pencinta segala sesuatu yang berbau sejarah kuno, bisa merasakan Ashabul Kahfi di Jordan ini begitu menguarkan rasa ancient. Rasanya hidung saya otomatis bergerak-gerak membaui batu-batunya, temboknya, suasananya, lalu membiarkan imajinasi menari lincah membayangkan tempat yang seakan terperangkap dalam waktu itu. 

Otomatis saya teringat perjalanan ke Lumbini, Nepal beberapa tahun lalu (baca tulisan saya tentang Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini). Lumbini yang dipercaya sebagai tempat lahir Sang Buddha lebih dari dua millenium lalu, memiliki situasi struktur bebatuan serupa dengan yang terhampar di Ashabul Kahfi ini. Rasanya tak jauh beda. Tanpa perlu mengetahui secara ilmiah, dari rupa bebatuannya saja sudah terasa goresan sejarah besar kehidupan berabad-abad lalu di tempat saya berpijak.  

Di depan mata terhampar kawasan selayaknya sebuah situs purbakala yang sedang diekskavasi, dengan jalan setapak yang lebarnya hanya bisa dilalui oleh manusia. Bisa jadi dulu tanah ini juga dijejaki oleh tentara Romawi yang mencari ketujuh pemuda yang menolak perintah Raja itu. Ada yang masih ingat kisah Ashabul Kahfi ini? 

Gate of Ashabul Kahfi area

Tertulis dalam kitab suci, Ashabul Kahfi atau Tujuh Pemuda Yang Tertidur merupakan kisah manis tentang kekuatan iman dari tujuh pemuda penganut agama samawi yang konon terjadi beberapa abad sebelum kedatangan Nabi Isa ‘Alaihissalam

Kala itu, penguasa (ada yang menyebutnya Raja Decius dan juga Gubernur Daqyanus) dikenal sebagai orang-orang yang dzalim dan penyembah berhala. Dengan kekuasaannya, mereka bisa memaksa siapapun dan dengan cara apapun untuk menanggalkan iman akan Dia Yang Maha Esa untuk kembali menyembah berhala. Tak heran, kemarahan penguasa langsung saja  berkobar ketika mengetahui ada tujuh pemuda yang menolak perintahnya, meski salah satu diantara tujuh orang itu adalah kerabatnya.. Akibatnya tidak tanggung-tanggung, hukuman mati atas ketujuh pemuda itu menanti apabila dalam waktu dua hari mereka tidak mau mengubah keyakinannya. 

>Ketujuh pemuda itu tetap menolak dan memutuskan melarikan diri dan bersembunyi dalam sebuah gua di kawasan pegunungan. Seperti juga kisahnya, nama ketujuh pemuda itupun senantiasa diperdebatkan, termasuk apakah ada anjing yang konon bernama Qithmir dan bertugas menjaga pintu gua. Apapun itu, nyatanya ketujuh pemuda terselamatkan dari hukuman yang keji itu. Dia, Pemilik Semesta ini menunjukkan kuasaNya dengan membuat mereka tertidur selama 300 tahun Masehi atau 309 tahun Hijriah. 

Terbangun karena rasa lapar, ketujuh pemuda ini menyangka terlelap hanya sehari. Namun, ketika salah satu pemuda itu pergi ke kota untuk mencari makanan, alangkah terkejutnya dia karena kota sudah sangat berbeda. Selain itu, uang peraknya sudah tidak berlaku untuk membayar. Serta merta seisi kota gempar mendengar ceritanya karena dia adalah salah satu dari tujuh pemuda yang telah menghilang selama tiga abad. Penduduk kota ingat betul akan kisah turun temurun tentang tujuh pemuda yang menghilang karena tidak ikhlas menjual agama kepada penguasa dzalim penyembah berhala. Dan hari itu, salah satu dari ketujuh pemuda itu berdiri di antara mereka.

Sontak saja, berita kembalinya ketujuh pemuda itu tersiar seantero negeri. Raja yang berkuasa saat itu dan penduduk negeri menyambut mereka dengan meriah dan meminta mereka tinggal di kota. Namun mereka menolak dan tetap memilih kembali ke gua. Konon, sesampainya di gua, mereka bersujud dan memohon agar Pemilik Segala Kuasa bisa menurunkan rahmatNya dan mengizinkan mereka meninggalkan dunia fana. Tak ada yang mustahil bagi Pemilik Semesta. 

Tubuh mereka dikuburkan di dalam gua, yang bisa disaksikan adanya tujuh makam batu di dalam gua. Namun kini semua tulang yang tersisa ditempatkan di salah satu makam batu, yang di satu bagiannya diberi kaca tembus pandang, agar kita bisa melihat ke dalamnya.

-o- 

Tampak depan Gua Ashabul Kahfi, pintunya rendah & ceruk gaya Romawi, di bagian atas ada reruntuhan bekas mihrab masjid
Tempat tidur sekaligus makam batu dalam gua
Hiasan dinding di dalam gua
Showcase of artefacts in the cave.

Dengan berhias ceruk khas Romawi di dekat pintu gua yang rendah, udara lembab gua yang minim sirkulasi langsung menyergap hidung ketika saya melangkah memasukinya. Gua itu tak luas, tapi cukup untuk dihuni tujuh orang. Ada bagian depan gua dan di bagian belakangnya dengan level yang lebih rendah merupakan kubur batunya. Saya mengintip ke lubang kaca, serupa tulang masih terkumpul di dalam sana dan sebuah showcase tampak diletakkan di sana untuk menyimpan segala macam artefak pendukung kisah. Entahlah, bisa jadi hanya tiruan, mungkin juga asli… Rasanya semua isi kisah terasa jumpalitan di benak. Otak ilmiah yang bertumbuk dengan kisah reliji ini bermuara pada selarik pemahaman, bisa jadi sebidang tempat ini memang terlipat dalam waktu. Wallahualam bissawab. Kebenaran hanyalah milik Allah.

Saya tidak lama berada dalam gua karena ingin melihat bagian luar yang juga terlihat menarik. Selain kucing cantik berbulu lebat yang sedang berjemur, yang terhampar hanyalah bebatuan belaka. Namun bukan sekedar bebatuan tanpa kisah karena awalnya dulu di atas gua konon dibangun sebuah gereja kecil. Bisa jadi demikian karena ada perkembangan kependudukan di wilayah yang kini masuk ke negeri Jordan itu. Tetapi pada akhirnya, seperti umumnya perjalanan waktu di negeri-negeri Timur Tengah, gereja kecil tadi dikonversi menjadi masjid. Menariknya, mihrab masjid tepat tepat di atas pintu depan untuk masuk ke gua, yang tentunya menghadap kiblat.

Meninggalkan bebatuan kuno itu, saya melangkah menuju Masjid Al Kahfi, yang didirikan di kawasan yang sama yang letaknya lebih atas. Kompleks Masjid itu sangat megah dan sangat kontras dengan lingkungan kuno Gua Ashabul Kahfi. Seperti bumi dan langit, yang satu menunjukkan modernitas, lainnya merujuk pada kekuatan alam. 

Setelah mendirikan shalat di Masjid itu, kami melangkah keluar menikmati sesaat waktu bebas untuk mengabadikan tempat bersejarah sekaligus tempat ibadah yang tak kalah indah. Sayangnya, lagi-lagi tak bisa lama, karena bus telah menunggu kami menuju persinggahan berikutnya…

Tempat terendah di muka bumi.

Masjid di atas kawasan Ashabul Kahfi
Pemandangan dari arah Masjid ke lembah

Jeddah Sekejap Mata


Karena tak pernah menggunakan jasa agen dalam melakukan perjalanan, saya telah berjanji pada diri sendiri untuk ‘patuh’ pada itinerary yang dibuat agen perjalanan ketika berangkat Umroh meskipun pada akhirnya saya sering sekali geleng-geleng kepala dalam perjalanan itu. Takjub, dalam arti yang bukan positif. Bagaimanapun, karena ini adalah perjalanan ibadah, -perjalanan ke relung-relung hati antara manusia dan Tuhannya-, saya menerima semua peristiwa yang terjadi sebagai sesuatu yang memperkaya jiwa.

Semua yang terjadi patut disyukuri, meskipun tidak selalu menggembirakan hati. Karena kenyataan yang paling mendasar bagi saya, perjalanan ini sendiri merupakan sebuah kemewahan yang tak terperi, rejeki yang luar biasa dan semua yang tidak sesuai dengan harapan, tidak mengubah nilai kemewahan dan keluarbiasaan perjalanan ini. Bahkan hal-hal yang tak menggembirakan hati itu pun tak ada artinya sama sekali.

Waktu memang berpacu, hari-hari ibadah di Madinah sudah berlalu dan kini, tak lama lagi kami pun harus mengucap selamat berpisah kepada Mekkah, tempat kami berhari-hari bermuhasabah. Siang atau malam, di kota yang di dalamnya terdapat Ka’bah dengan aliran manusia yang tak pernah berhenti bermunajat kepada Allah, Pemilik Semesta.

Datang juga saatnya. Roda bus bergerak perlahan, seakan mengetahui betapa berat hati kami menjauh dari kawasan Masjidil Haram. Tapi sebagaimana tertulis dalam begitu banyak kitab kebajikan, setiap pertemuan memiliki perpisahan, setiap awal berujung pada akhir. Demikian juga perjalanan indah di Mekkah ini. Kawasan yang begitu bercahaya dan berpatokan pada jam di menara tertingginya, terlihat makin menjauh. Di pagi yang belum datang dan masih berselimut gelap, bus kami telah menyusuri aspal, perlahan meninggalkan kota Mekkah dan membuat mata basah. Kota kecintaan ini akan membuat berjuta rindu, penuh harap akan kesempatan-kesempatan untuk kembali lagi mengunjungi kota yang ada di hati setiap Muslim ini.

Sungguh rasanya tak ingin menengok ke belakang karena cahaya kota Mekkah makin memudar…

Menit-menit berlalu dalam sepi, sesekali terdengar bisik antara anggota rombongan, seakan tak mau mengganggu ketenangan mereka yang kembali terlelap di dalam bus. Saya tak mampu memejamkan mata kembali. Rasa galau berpisah dengan Mekkah itu masih terasa, apalagi di saat yang sama bus ini menuju Jeddah. Sebuah wajah otomatis menyeruak keluar dari dalam jiwa. Jeddah adalah tempat almarhum Papa berpuluh tahun lalu berlabuh, mengantar mereka, -para calon haji-, meraih impian menjejak Tanah Suci untuk menunaikan kewajiban agamanya. Perjalanan yang ditempuh dengan begitu banyak kesulitan dan perjuangan, mengarungi samudera, melawan ombak ganas, -bukan hitungan jam atau hari-, melainkan berminggu-minggu. Menggenggam harap meski derita datang silih berganti.

Perjuangan mereka itu berbanding terbalik dengan apa yang dialami jaman sekarang. Dari Tanah Air tak sampai 12 jam terbang, jamaah bisa sampai di Tanah Suci, dengan segala anugerah makan dan minum yang enak, kendaraan yang nyaman dan semua kenikmatan lainnya. Bagi saya, apalah artinya koper yang hilang (baca di sini kisahnya) dibandingkan dengan segala derita dan perjuangan yang dialami calon Haji pada jaman Almarhum Papa membawanya? Ada rasa syukur yang begitu berlimpah, namun juga bercampur dengan kerinduan yang amat dalam kepada beliau yang telah berpulang setahun yang lalu. Secara otomatis lamat-lamat saya membaca Al Fatihah dan serumpun doa untuk beliau yang tercinta.

Sebuah Bangunan di Jeddah

Tak perlu waktu lama, pijar lampu makin menerangi jalan raya menandai wilayah kota Jeddah telah dimasuki. Bangunan makin padat dan makin terasa internasional. Berbeda dengan Mekkah, Jeddah memang dapat dimasuki oleh semua orang dari berbagai agama, berbagai komunitas.

Masjid Juffali

Subuh masih merayap dalam senyap ketika bus terasa melambat. Ternyata bus meliukkan raga besinya itu ke halaman sebuah Masjid agar kami bisa menunaikan ibadah shalat Subuh. Dari atas bus sudah terlihat Masjid begitu cantik dengan cahayanya, teramat kontras dengan warna Subuh yang masih gelap. Berada di seberang Kantor Urusan Luar Negeri yang terpisah oleh jalan raya, tempat ibadah umat Islam ini rupanya dibangun tahun 1986 oleh seorang saudagar Arab yang amat kaya bernama Syeikh Ibrahim Al Juffali. Tak heran, dengan sentuhan tangan Abdul Wahid al-Wakil, seorang arsitek terkenal berkebangsaan Mesir, masjid ini terlihat menawan dengan 26 kubah kecil-kecil dengan satu menara tinggi di sudut Timur.

Masjid Qisas
Di dalam masjid Qisas ( tempat perempuan)

Namun di balik segala keindahan yang memanjakan mata itu, Masjid itu berselimut peristiwa-peristiwa getir dan muram yang terjadi sejak dulu (dan rupanya hingga kini). Di sebuah pelataran di halaman Masjid ternyata merupakan tempat berlangsungnya hukuman pancung terpidana yang dilakukan oleh seorang algojo. Terdengar begitu menyeramkan dan barbar, namun memang itulah yang terjadi di Masjid Juffali atau bagi Jamaah Indonesia lebih terkenal dengan nama Masjid Qisas.

Qisas sendiri memang merujuk pada istilah dalam hukum Islam yang artinya pembalasan. Dengan kata lain, memberikan hukuman setimpal. Mungkin lebih sering kita mendengar istilah mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa. Begitulah, apabila seseorang terlibat dalam kasus pembunuhan, maka dalam aturan Qisas, keluarga korban memiliki hak untuk meminta hukuman mati kepada pelaku dengan cara dipancung di depan umum dan di bumi Arab ini dilaksanakan seusai shalat Jumat, di pelataran tadi yang berukuran 5 x 5 meter berlantai keramik.

Jangan tanyakan prosesnya karena saya tak pernah (dan takkan mau) menyaksikannya. Konon saat pelaksanaannya, sang Algojo akan berdiri dengan jarak tiga langkah dari terpidana. Keluarga korban ada di bagian depan. Ketika tiba waktunya, Algojo mulai melangkah, langkah pertama, kedua dan ketiga. Jika tidak ada tanda, aba-aba atau pergerakan dari keluarga korban, maka Algojo akan menuntaskan pekerjaannya. Namun jika ada pergerakan berupa tangan atau mulut dari keluarga korban, maka Algojo segera menghentikan esksekusinya. Pergerakan, tanda atau aba-aba dari keluarga korban itulah yang menjadi symbol atau makna bahwa keluarga korban telah memaafkan terpidana.

Membayangkan saja sudah membuat perut terasa mulas, tetapi begitulah… Sengeri itu pelaksanaannya namun sesederhana itu pula pengampunannya.

Namun kelihatannya proses eksekusi ini dinilai ‘setengah hati’. Di satu sisi merupakan penerapan dari sebuah intepretasi hukum Islam dan di sisi lainnya adalah pertimbangan politik negeri itu. Karena tidak sedikit petugas intelijen Kerajaan Arab Saudi diterjunkan di antara massa yang menyaksikan peristiwa eksekusi itu sebagai pengawas untuk memastikan proses eksekusi itu tidak tersebar ke dunia luar. Hukumannya tidak main-main karena kebebasan adalah taruhannya. Seseorang bisa langsung dipenjara jika ketahuan membocorkan peristiwa itu ke dunia luar. Ngeri kan?

Setelah cukup waktu di Masjid Qisas, kami melanjutkan perjalanan menuju bandara internasional King Abdul Aziz. Tetapi sebelumnya bus berhenti sejenak di pinggir jalan agar Pak Ustadz bisa memberitahu secara sekilas. Rupanya kami berhenti di luar pagar dari tempat yang dipercaya sebagai makam dari perempuan pertama yaitu Siti Hawa.

Dari atas bus yang hanya berhenti beberapa detik, apalagi hari masih gelap serta pencahayaan yang temaram, saya hanya bisa melihat permukaan dinding yang panjang. Apakah itu dinding pembatas sebelum masuk ke kawasan makam atau bukan, saya sendiri tak bisa memastikan. Seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, saya hanya bisa menganggguk-angguk pada apa yang saya dengar dari Pak Ustad dan semampunya berdoa dalam hati.

Seperti yang diketahui semua orang, sebagai manusia perempuan pertama, Siti Hawa merupakan istri dari Nabi Adam AS. Saat musim haji, makam Siti Hawa ini merupakan salah satu destinasi yang ramai dikunjungi oleh para peziarah seluruh dunia. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang meragukan kebenaran tempat itu sebagai makam dari ibu seluruh manusia di dunia karena kurangnya bukti.

Mall of Arabia, JEDDAH
Jeddah International Airport

Roda bus bergerak kembali menyusuri jalan-jalan di kota Jeddah. Sebuah bangunan besar terlewati, hmmm… Mall of Arabia, mall yang terbesar di kawasan ini, terlihat sepi. Warna keemasan makin merona di ufuk Timur. Terasa ada denyut dalam hati yang membuat saya menarik napas panjang. Jauh di dalam lubuk hati, saya menggerakkan jemari dan melambaikan tangan ke arah pelabuhan yang telah mengukir jejak almarhum Papa berpuluh tahun silam.

Hati terasa menghangat membisikkan kata, “Saya telah sampai di Jeddah, Pa. Tapi maaf, tak bisa menjejak di pelabuhan, di tempat kapal Papa dulu bersandar. Tapi tidak apa-apa ya Pa, bukankah jejak-jejak kita di kota yang sama selalu bertaut dan menjadi kenangan selamanya?”

Satu tarikan nafas melepas ikhlas. Langit Timur terlihat makin terang, bandara internasional Jeddah di depan mata seakan membuka tangannya menyambut kedatangan kami untuk berhenti sejenak sebelum terbang meninggalkan negeri padang pasir ini. Tak lama lagi, dalam hitungan jam, bibir ini akan berucap, Sampai Jumpa lagi Tanah Suci…

Airport in the morning

Umroh: Manusia Merencana, Pemilik Semesta Menentukan


Setelah hitungan bulan, akhirnya hari ini saya menulis lagi, melanjutkan cerita perjalanan rohani yang dilakukan akhir tahun 2019. Dan tidak ada salahnya untuk membaca tulisan Berserah Bermadah, -sekedar untuk mengingat-, yang merupakan tulisan sebelumnya dari seri perjalanan ibadah ini.

Manusia-manusia yang hampir semuanya berpakaian putih itu tetap menyemut di Masjidil Haram. Di antara mereka saya mendongak ke atas mencari bintang namun tak terlihat satu pun di langit, Ah, bisa jadi karena Masjidil Haram berselimut cahaya yang teramat terang seakan mampu menenggelamkan gulitanya tengah malam dan juga kelip bintang. Masih sekitar tiga jam lagi untuk sampai ke waktu Subuh, tetapi di tempat ini, di tempat yang nilai pahalanya dilipatgandakan hingga seratus ribu kali dari shalat di masjid lainnya, rasanya tak pernah ada waktu yang lengang dari manusia.

Selepas ritual Umroh yang baru saja selesai, memang tak ada agenda khusus. Pak Ustad membolehkan para jamaahnya kembali ke hotel untuk beristirahat namun tak sedikit dari rombongan yang memilih melanjutkan perjalanan batiniah yang teramat intim dengan Sang Pencipta, melakukan muhasabah di Masjid Paling Utama bagi Muslim itu.

Gate at Night

Saya sendiri tak lagi mampu melanjutkan perenungan dan kontemplasi di Masjid. Ada sedikit rasa limbung yang muncul membuat saya harus melihat ke dalam diri sendiri. Ah, bisa jadi karena faktor usia. Dulu ketika muda, begadang dua malam tak jadi masalah. Kini, dua puluh empat jam terjaga membuat mata tak lagi mampu membuka dan kaki terasa tak menjejak dunia. Praktis terjaga sejak kemarin sebelum Subuh di Madinah, lalu khusuk menjalankan ritual pagi dilanjut berkendara berjam-jam menuju Mekkah, dilanjut ritual ibadah Umroh yang tak bisa dianggap enteng dalam menguras stamina. Akibatnya tak heran jika saya merasa limbung, sebuah alert dari raga agar saya beristirahat segera.

Namun hati tak mudah diajak meninggalkan tempat yang selalu dirindukan ini. Ada sejumput rasa berat ketika kaki melangkah meninggalkan Masjid menuju hotel. Apalagi dari arah berlawanan terlihat aliran jamaah tak putus menuju Masjid. Hati memberontak masih ingin menjadi bagian dari mereka, dari banyak manusia yang meninggalkan rasa nyaman pembaringannya hanya untuk mencari kedamaian jiwa di Masjidil Haram, tempat yang diberi jaminan keamanan dan keselamatan oleh Allah sendiri bagi mereka yang memasukinya. Pertentangan di dalam hati sungguh terasa antara berdiam di Masjid dan meninggalkannya. Ada suara keras dari dalam hati Masjid bukanlah tempat untuk merebah mengistirahatkan raga. Jadilah seperti yang tadi dikatakan, satu langkah kaki meninggalkannya, bertambah godam berat yang terasa menggandul jiwa.

Dalam perjalanan, raga yang menjerit lelah mampu mengabaikan terangnya cahaya toko-toko 24 jam yang membuat kawasan sekitar Masjidil Haram tak pernah tidur, toko-toko yang selalu menggoda jamaah dari fokus utamanya. Mungkin seperti serombongan serangga malam yang tertarik pada cahaya lampu atau semut yang tergoda pada gula. Tapi kali itu, raga tak lagi bisa diajak kompromi. Saya hanya ingin segera sampai di kamar. Istirahat cukup agar bisa melakukan Umroh kedua atas nama almarhum Papa, karena itu adalah salah satu keinginan saya saat berada di  Tanah Suci.

Tapi rencana itu tinggal rencana karena tanpa permisi demam menyerang saya pada pagi harinya. Sesuatu yang tak biasa, karena sesungguhnya saya jarang terserang demam. Biasanya dengan istirahat cukup, saya akan kembali bugar namun tidak pada pagi itu. Demam terus menanjak tanpa tedeng aling-aling. Dan ketika demam, saya tak mampu berbuat apa-apa. Saya hanya bisa tergeletak di tempat tidur.

Gegerlah rombongan kami termasuk pak Ustad ketika mengetahui kondisi saya. Lagi-lagi tak biasa, karena umumnya jamaah sakit flu ringan tak sampai demam  dan bisa diatasi dengan minum obat pribadi. Apakah perlu ke dokter atau rumah sakit?

Sebisa mungkin saya menghindari rumah sakit dan mengandalkan antibodi tubuh bekerja semampunya meskipun sempat menitipkan permintaan kepada suami untuk mencari antibiotik. Terlintas tempat obat pribadi yang biasa saya gunakan, sekarang entah dimana karena tempat obat itu ada di koper saya yang hilang (Baca ceritanya di sini). Suami menyanggupi untuk mencari obat meskipun di wajahnya terlihat kekuatiran yang tak bisa disembunyikan karena ia tahu saya jarang sekali demam.

Waktu-waktu shalat berlalu, saya hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur hotel, merenung begitu banyak. Melihat ke dalam diri, memeriksa kembali niat yang sesungguhnya ke Tanah Suci, hendak Umroh atau adakah hal lainnya yang tersembunyi? Lalu apakah ibadah saya sudah benar? Bisa jadi ada begitu banyak tindakan yang melenceng dan saya melakukan pembenaran-pembenaran saja. Bisa jadi saya juga berlaku sombong, riya dan tanpa disadari telah berbangga-bangga. Mungkin juga saya telah merugikan orang lain dan Allah menghentikan saya bertindak buruk lebih jauh, dengan menjadikan saya demam.

Dalam Masjid Al Haram

Tidak bisa melakukan hal lain kecuali mendirikan shalat untuk memohon ampunan, meluruskan niat untuk berserah diri hanya kepada Allah, melepas keinginan-keinginan duniawi kepada Yang Maha Kuasa, memohon kesembuhan dari demam yang saya rasa. Mengucap lebih banyak lagi ungkapan syukur terhadap semua yang dimiliki juga semua peristiwa yang telah saya alami. Tentu saja, semua hikmah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, termasuk demam yang sedang saya alami ini.

Satu hal yang mengganjal hati namun perlu diikhlaskan sepenuhnya bahwa dalam perjalanan ibadah ini saya belum bisa melakukan Umroh kedua untuk Almarhum Papa. Ada kesedihan saat melepas keinginan itu namun saya percaya, InsyaAllah, suatu saat nanti bisa dikerjakan oleh anak-anaknya yang lain. Aamiin.  

Setelah makan malam suami membawakan sebutir antibiotik yang ia dapatkan dari Pak Ustad. Meskipun mengetahui minum antibiotik memiliki aturan khusus, tapi sebutir itu bisa jadi membawa  kesembuhan. Bismillah, saya meminum obat itu dengan doa kesembuhan…

Alhamdulillah Ya Allah, karena keesokan harinya demam itu benar-benar menghilang meskipun saya belum kembali seratus persen fit. Saya masih beristirahat tapi tidak demam lagi. Dalam kondisi yang lebih baik, kembali saya melakukan perjalanan batiniah ke dalam, mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah dalam kondisi apapun. Betapa berharganya nikmat sehat itu. Betapa saya sering mengabaikan nikmat sehat selama ini. Bukankah sehat baru terasa nilai dan maknanya ketika kita sakit?

Taking photo in roof top of Masjid

Seakan diberi kesadaran bahwa sudah sifat langit berhias awan, kadang terlihat indah dengan biru tanpa awan sedikitpun, namun bisa juga tampak begitu menakutkan dengan awan gelap pembawa badai. Langit yang sama. Seperti juga tubuh yang sama, yang biasa sehat tapi bisa berhenti sebentar karena sakit.

Hari itu menjelang Ashar, saya memberanikan diri untuk shalat lagi di Masjidil Haram, melakukan Tawaf meskipun langkahnya tak bisa cepat. Saya menjauh dari kerumunan orang agar tak dipaksa berjalan cepat dari arah belakang, Alhamdulillah semua bisa dikerjakan dengan baik meski lebih lambat. Tak ada yang lebih membahagiakan saat menyadari belum sehat seratus persen, namun bisa menyelesaikan putaran-putaran sebanyak tujuh kali mengelilingi Ka’bah.

Ka’bah December 2019

Bahkan ada kebahagiaan tambahan ketika saya bisa berjalan hingga ke atap Masjidil Haram untuk mengambil foto Ka’bah dari atas. Suasananya tetap ramai tapi menyenangkan. Syukur Alhamdulillah saya bisa menyaksikan semuanya, merasakan semuanya lagi setelah demam yang saya alami.

Saya memang kehilangan banyak momen selama berada di Mekkah terutama di Masjidil Haram namun sepertinya setiap perjalanan rohani seseorang membawa cerita tersendiri baginya dan mungkin berbeda dengan cerita-cerita orang lain. Tetapi sepertinya ada sebuah benang merah yang bisa ditarik saat berada di sebuah tempat suci. Wajah sejati kehidupan yang terlihat senada, hanya ada rendah hati, terbuka tanpa rahasia,-karena ego telah ditanggalkan-, hubungan yang begitu pribadi antara manusia dan Penciptanya

Berserah Bermadah


25 Desember 2019 Malam, Waktu Makkah

Sesegera setelah makan malam kami berkumpul langsung di lobby hotel. Hampir semua jamaah pria menyempurnakan kembali pakaian ihram yang telah dikenakan sejak miqat di Masjid Bir Ali siang tadi. (Baca dulu perjalanan dari Madinah ke Mekkah sebelumnya dengan judul Pilgrimage 4: Menuju Tempat Utama)

Pak Ustadz berdiri paling depan mengawali rombongan kami, -kecuali Nini yang melakukan umroh dengan layanan kursi roda-, kemudian kami berjalan bersama menuju Masjidil Haram sambil melafalkan doa dan kalimat talbiyah. Terasa getar halus yang merambat naik ke seluruh tubuh. Inilah dia, inilah waktunya. Semakin dekat, semakin banyak manusia. Seperti yang Pak Ustadz katakan, Masjidil Haram tak pernah sepi dari manusia, apalagi jelang waktu shalat. Dimana-mana orang akan berusaha mendekat. Merasakannya sendiri, berada diantara ribuan jamaah itu, timbul berbagai rasa dari dalam hati. Merasa kecil tapi sama-sama manusia, syukur bercampur haru, rasa asing, takut, bahagia, ada juga sedikit tak sabar, semua campur aduk menjadi satu, timbul tenggelam.

Di pelataran depan Clock Tower kami berhenti, menunggu rombongan dari hotel bintang lima bergabung. Kesempatan menunggu itu saya gunakan untuk memutar kepala, mengarahkan pandang ke gerbang Masjidil Haram. Ya Allah, begitu terang, begitu bercahaya. Begitu banyak jamaah hilir mudik dalam balutan ihramnya. Saya memindah pandang ke bawah, tak mau yang lain mengetahui airmata yang menetes, mengharu biru. Untunglah bermanja rasa itu tak lama karena harus fokus mengikuti langkah Pak Ustadz agar tak terpisah. Karena berjalan dalam satu rombongan diantara ribuan orang yang berselimut warna putih, tentu tidak semudah bicara. Apalagi di tempat tersuci, semua niat dan perkataan bisa membawa akibat.

Gate at Night

Sebelum melakukan tawaf, kami shalat Jamak Maghrib dan Isya yang diimami oleh Pak Ustadz, karena kami semua ingin melakukannya di Masjidil Haram. Tempat yang dipercaya, sekali shalat disini mendapat ganjaran pahala 100.000 kali di bandingkan shalat di Masjid lain kecuali Masjid Nabawi dan Masjidil Aqso. Dan setelahnya, kami menuju area Mataf, area tempat Ka’bah berdiri

Ritual Umroh

Berjalan menuju Mataf, saya memanjang-manjangkan leher. Sebagai orang yang belum pernah menginjakkan kaki di Masjidil Haram, tentu saja ada keinginan yang amat kuat untuk bisa melihat Ka’bah yang menjadi arah kiblat shalat dengan mata kepala sendiri. Tetapi Masjidil Haram itu amatlah luas dan pak Ustadz dengan mudahnya berjalan seakan-akan kakinya memiliki mata, sementara saya seperti kerbau yang dicocok hidungnya untuk terus mengikutinya. Sampai akhirnya… sepasang mata saya ini melihat Ka’bah untuk pertama kalinya. Masya’Allah

Saya melihatnya sambil berjalan dengan mata tak berkedip. Bangunan yang biasa terlihat di sajadah-sajadah atau hanya bisa disaksikan via media, kini saya bisa melihatnya langsung dengan mata sendiri. Saya berkedip-kedip menahan airmata yang menggenang memenuhi pelupuk. Allah Maha Baik telah memberikan saya kesempatan berkunjung ke tempat yang suci ini. Berkali-kali saya menggigit bibir untuk memastikan saya tak bermimpi.

Sebelum melangkah ke area Mataf yang dipenuhi begitu banyak orang, pak Ustadz mengingatkan kami semua untuk tetap bersama-sama dan tak terpisah dari rombongan. Mendengar itu, langsung saja saya menggamit ujung kain ihram suami yang memang disisakan di bagian pinggang (sang belahan jiwa mengikuti arahan dari Pak Ustadz tentang cara mengenakan kain ihram yang katanya tidak akan melorot dan akan semakin kencang jika bagian sisa itu ditarik). Begitu banyak rasa ketika akhirnya saya benar-benar mengikhlaskan diri, berserah sepenuhnya saat menapakkan kaki untuk pertama kali di area Mataf, pelataran terdekat berlantai putih yang melingkari bangunan dengan sisi sekitar 12 – 13 meter itu. Ada gema khusus dari dalam jiwa saat menjejak lantainya, tak bisa dijelaskan rasanya kecuali rasa haru yang melimpah ruah.

Tawaf

Tawaf

Meski langit malam memayungi kota Mekkah, saat itu saya sama sekali tak merasa gelap karena cahaya lampu begitu terang. Apa yang sering saya lihat di TV atau media sosial lain, kini saya ada di dalamnya, mengikuti langkah-langkah manusia lain yang berserah diri, bermadah dan melantunkan pujian, berharap kasih sayangNya. Meski tawaf dilakukan jelang tengah malam, jumlah jamaah yang melakukannya tak juga menyurut. Udara terasa sejuk meski tak sedingin Madinah. Mungkin itu juga yang menyebabkan jamaah banyak memulai ritual umroh pada malam hari, seperti kami.

Melihat begitu banyaknya orang di area Hajar Aswat, -sebuah sudut berbatu hitam yang segarisnya menandakan awal Tawaf,- saya langsung minder. Apalagi rombongan kami tak ada yang mendekat ke Hajar Aswat. Saya melambaikan tangan sebagai lambang menciumnya lalu melantunkan bacaan dan pujian

Putaran demi putaran tak terasa lelahnya jika puji-pujian dan doa dilantunkan hanya untukNya, kadang ada desakan dan dorongan datang dari rombongan yang baru datang atau juga datang dari rombongan yang telah selesai. Tak ada umpatan, kejengkelan dan kemarahan, semua saling memberi jalan, berhenti sejenak meskipun bisa tergencet karena dorongan dari belakang. Kadang saya terhimpit dari samping oleh badan suami yang terdesak tapi tak pernah lama. Apapun, semua maklum. Hanya ada rasa berserah di RumahNya. Rombongan Indonesia amat mudah dikenali, biasanya banyak, berpakaian sama kecuali para prianya yang berihram biasa. Yang menarik perhatian adalah suara lantunan mereka yang nyaring diawali oleh pembimbingnya. Bisa jadi mereka tak sadar telah bersedekah membantu yang sulit menghafal bacaan doa dan pujian.

Dan saya mendapat keajaiban itu. Saya menyadarinya, meskipun lupa pada hitungan putaran keberapa. Awalnya saya tak percaya, tetapi keadaan itu tak berubah hingga Tawaf selesai. Saya menggigit bibir penuh rasa syukur sambil tak berhenti mengucapkan doa dan puji-pujian. Ya Allah… rasanya tak tertahankan, tak terkatakan… Di tengah padatnya manusia yang sedang berjalan itu, saya menyaksikan sendiri, sekitar semeter setengah lingkaran di depan saya selalu kosong Padahal di luar itu, langsung ada punggung orang lain. Ketika saya mempercepat jalan hingga mendekat ke orang di depan saya, maka orang di depan saya selalu bergerak lebih cepat. Selalu ada ruang sekitar 1 meter di depan saya yang kosong seakan-akan dibukakan jalan agar saya mudah melangkah, berlangsung terus hingga Tawaf selesai. Alhamdulillah.

Ya Allah, saya mengingat anugerah-anugerah penuh keajaiban yang terjadi dalam kehidupan saya, juga dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya. Sungguh saya merasa mendapat berkah yang tak habis-habis. Rasa syukur begitu memenuhi hati seakan hendak meledakkan diri, semua hanya untukNya, Dzat Yang Maha Baik.

Setelah Tawaf, jamaah mendirikan shalat sunnah di belakang maqom Ibrahim. Meskipun diberi tali pembatas, kadang jamaah yang sedang Tawaf membuatnya tergeser sehingga ruang untuk bersujud bagi jamaah yang sedang shalat menjadi lebih sempit. Namun hebatnya para petugas, yang dikenal sebagai Askar, dengan sigap mengembalikan pembatasnya dan meminta jamaah agar shalat di area yang ditentukan. Shalat pertama saya di pelataran Ka’bah membuat rasa begitu membuncah. Luar biasa sekali. Gambaran-gambaran yang begitu sering terlihat di sajadah kini terpampang di hadapan saya. Sebisanya saya merekam dalam ingatan karena lebih banyak doa dilangitkan di tempat yang konon makbul untuk berdoa.

Dalam Masjid Al Haram

Sa’i dan Tahallul

Gelap malam masih meliputi kota Makkah ketika kami berjalan menuju Mas’a, -tempat melakukan Sa’i-, yaitu aktifitas wajib dalam haji dan umrah yang mengharuskan jamaah berjalan (sedikit cepat) dari bukit Shafa menuju Marwah dan sebaliknya sebanyak tujuh kali, untuk mengingat upaya keras Siti Hajar demi putranya, -Nabi Ismail AS yang menangis kehausan-, sehingga Siti Hajar setengah berlari dari Shafa menuju Marwah bolak-balik untuk mendapatkan minum. Akhirnya Allah memancarkan sebuah mata air untuk mereka berdua yang belakangan dikenal Air Zamzam.

Saat itu, seperti juga Tawaf, Sa’i di tengah malam itu tetap padat luar biasa. Kembali saya terpesona, area Mas’a lengkap dengan pendingin udara dan kipas, lebarnya sekitar 20 meter yang terdiri dari dua jalur lebar untuk para pejalan kaki serta dua jalur khusus untuk jamaah difable maupun pengguna kursi roda. Tentu saja kondisi ini teramat jauh berbeda dengan kondisi orisinalnya di jaman dulu. Kini, perjalanan tujuh kali putaran sepanjang total 2,8 kilometer itu pun terasa tak melelahkan, karena sejalan dengan kaki yang melangkah, pikiran diingatkan pada upaya Siti Hajar yang selalu memohon pertolongan Allah dalam menghadapi kesulitan, dan memohon ampunan dari seluruh perbuatan dosa.

Sa’i

Setelah berniat, kami berjalan di antara para jamaah dengan kecepatan rata-rata. Saya, juga para muslimah dalam rombongan kami, mengimbangi kecepatan para jamaah pria yang harus berlari-lari kecil dalam kawasan yang berlampu hijau. Karena sa’i adalah salah satu rukun ibadah yang dilakukan dengan jalan cepat, lebih cepat dari jalan biasa dan lebih lambat dari lari.

Meski dalam ritual ibadah, mata ini tak mampu mengabaikan kemegahan tempat Sa’I, yang dimasukkan ke dalam bagian Masjidil Haram pada tahun 1975 ketika sedang dilakukan perluasan Masjid. Kini, di bangunan dua lantai demi mengakomodasi jumlah jama’ah yang semakin besar tiap tahunnya, kaki jamaah bisa senantiasa bersih karena menapaki lantai marmer putih yang menutupi area hingga ke bukit Shafa dan Marwah. Di bagian ujung, meski hanya sebagian kecil saja, dua puncak bukit tersebut dibiarkan terbuka apa adanya dengan batuan khas Jazirah Arab.

Saat Sa’i, mata ini sempat menangkap pandangan seorang perempuan sepuh berjalan sendiri di pinggir, tertatih dengan ritme kaki yang sudah ringkih. Raga boleh tertatih, namun mungkin baginya iman kepada Allah lebih utama. Bukankah Sa’i sendiri bermakna perjuangan hidup yang pantang menyerah, penuh kesabaran, ketakwaan dan ketawakalan terhadap Allah? Gambaran ibu sepuh tadi berakar kuat di benak, seakan mengingatkan sejatinya Sa’i tak boleh terlalu nyaman dengan lantai marmer ber-AC.

Hampir tiga kilometer ritual Sa’i dilakukan dan ketika selesai di bukit Marwah, rasa syukur lagi-lagi membuncah deras. Di dekat batuan keras bukit Marwah itu, kami semua melakukan tahallul yang ditandai dengan menggunting rambut. Tahallul sendiri menandakan selesainya ibadah umroh. Semua yang haram dilakukan selama Umroh kini telah menjadi halal kembali. Alhamdulillah.


Malam masih menyelimuti bumi Mekah ketika kami melewati sebuah pintu keluar dari area Mas’a. Langit masih gelap meski cahaya lampu bersinar amat terang. Saya melempar pandang, dimana-mana masih terlihat jamaah berpakaian serupa, bernada sama, berserah dan bermadah kepadaNya.

Ka’bah

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 8 dan bertema Puncak agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

Taj Mahal Mini di Jakarta


Dua bulan sebelum pendirinya berpulang, saya mengajak suami untuk berkunjung ke Masjid Ramlie Musofa yang berada di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Memang sudah lama saya ingin ke Masjid ini karena konon, bentuknya menyerupai Taj Mahal, sebuah bangunan indah UNESCO World Heritage Site yang berlokasi di Agra, India. Yah, tidak apa-apa ke Sunter dulu. hitung-hitung menjejak miniaturnya dulu sebelum melihat aslinya yang ada di negeri Shah Jahan itu 😀

Jadilah, jelang waktu Ashar, saya sampai di Masjid yang didominasi warna putih itu. Kesan pertama melihat masjid itu, teramat cantik dan indah. Cukup beruntung saya bisa mendapatkan tempat parkir kendaraan di pinggir jalan tepat di depan Masjid, karena sepertinya lahan untuk parkir tidak terlalu luas (meskipun petugas parkir mempersilakan untuk parkir di halaman dalam Masjid)

Masjid Ramlie Musofa

Berada di seberang Danau Sunter, Masjid Ramlie Musofa ini memang menarik perhatian karena, -selain warna bangunan yang putih mencolok mata-, bangunan ibadah ini berdiri di antara perumahan elite di kawasan Danau Sunter Selatan yang mayoritas penghuninya beretnis Chinese dan umumnya Non-Muslim. Tapi semuanya itu tentu ada kisahnya sendiri…

Tidak seperti umumnya masjid-masjid di Indonesia, nama masjid ini tergolong unik karena namanya diambil dari gabungan dari lima nama orang dalam satu keluarga. Ya, nama Ramlie Musofa merupakan gabungan nama Ram dari Ramli Rasidin, sang pemilik sekaligus pendiri Masjid;, Lie dari Lie Njoek Kim, istri sekaligus sang belahan jiwa; Mu dari Muhammad Rasidin, anak pertama; So dari Sofian Rasidin, anak kedua dan Fa dari Fabianto Rasidin, si bungsu dari keluarga Rasidin. Harapannya tentu teramat baik, sepanjang Masjid difungsikan untuk kepentingan orang banyak dan alam semesta, InsyaAllah pahalanya tetap mengalir kepada keluarga. Namun sebenarnya siapa mereka?

H. Ramli Rasidin merupakan seorang mualaf keturunan China yang lahir di tahun kemerdekaan dan menyatakan syahadat ketika masih belia yakni berumur 19 tahun, di Aceh pada tahun 1964. Dan hampir setengah abad kemudian, ia mendirikan sebuah masjid tiga lantai di atas lahan seluas 2000 meter persegi di kawasan Sunter yang pembangunannya memakan waktu hingga 5 tahun. Keelokan masjid ini bukan kaleng-kaleng, keterkenalannya sebagai bangunan cantik serupa Taj Mahal ini, membuat Imam Besar Masjid Istiqlal sendiri, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, berkenan mendatangi Masjid dan meresmikannya pada bulan Mei 2016. Hebat kan?

Masjid cantik yang menyerupai Taj Mahal ini memang sesungguhnya terinspirasi oleh filosofi bangunan yang terkenal sebagai The Wonders of The World yang berlokasi di Agra, India itu. Jika Taj Mahal yang asli didirikan sebagai persembahan cinta seorang suami terhadap isterinya, seorang Raja Mughal, Shah Jahan, terhadap Mumtaz Mahal, sang belahan jiwa yang telah memberinya 14 orang anak, maka Masjid Ramlie Musofa ini didirikan juga atas dasar cinta, namun bukan sembarang cinta. Masjid ini dibangun atas dasar cinta yang tulus dari seorang Ramli Rasidin terhadap Allah Subhana wa Ta’ala, juga terhadap agama Islam yang dianutnya dan tentunya tak dapat dipisahkan cintanya terhadap keluarga.

From the entrance stairs

Jelang Ashar itu, terik matahari masih terasa memanggang kulit sehingga saya bergegas memasuki halaman Masjid untuk mencari keteduhan di sudut halaman. Dari tempat saya berdiri, rasanya tak bisa dihindari bahwa saya terkagum-kagum melihat keindahan arsitekturnya yang memang menyerupai bangunan utama dari Taj Mahal. Memiliki tiga kubah dengan komposisi letak dan perbandingan yang serupa satu sama lainnya. Lengkap dengan menara-menara kecil yang didirikan mengitari kubah utama dan dua kubah kecil di lantai atap. Seandainya ada empat menara putih tinggi di tiap sudut halamannya, tentunya Masjid ini akan semakin lekat berlabel Taj Mahal mini. Tapi tak ada menara pun rasa Taj Mahal sudah menghampiri hati.

Saya tak bisa berlama-lama memanjakan mata karena panggilan shalat Ashar sudah terdengar. Saya tersenyum penuh syukur dalam hati, ternyata segala kemacetan panjang dari rumah hingga mencapai masjid ini memiliki maknanya sendiri. Sang Pemilik Kehidupan berkenan melimpahkan karuniaNya, menghantarkan saya agar bisa mendirikan shalat Ashar berjamaah di Masjid ini.

Memasuki ruang wudhu untuk wanita yang diletakkan di sisi Barat, membuat saya terperangah dan mambuat hati terasa hangat. Kenangan saat ibadah umroh enam bulan sebelumnya langsung mengisi kalbu. Ruang wudhu perempuan (dan tentunya juga untuk pria) dari Masjid Ramli Musofa tak jauh beda dengan ruang wudhu di masjid-masjid utama di Jazirah Arab dan juga di Palestina. Pada setiap keran yang mengalir disediakan tempat duduk batu sehingga memudahkan jamaah untuk bersuci dan tentunya aman. Setelah ruang berwudhu, terlihat pula area kecil tempat menggantung mukena-mukena bersih yang siap digunakan. Kemudian dilanjut dengan ruang terbuka yang luas dengan hamparan karet. Memang, lantai dasar digunakan sebagai ruang shalat wanita. Ada televisi layar datar yang digunakan sebagai alat monitor kegiatan ibadah Imam yang memimpin shalat. Sebelum memulai shalat, saya mencuri waktu untuk memperhatikan ruangan. Tidak ada yang istimewa kecuali ada pintu langsung ke jalan samping Masjid. Ternyata akses itu diberikan untuk calon pengantin yang akan melakukan proses pernikahan karena memang lantai dasar merupakan tempat pelaksanaan akad nikah.

Selesai shalat saya memanfaatkan waktu untuk berkeliling. Ternyata semakin dijelajahi, semakin terasa kentalnya percampuran tiga budaya yaitu Indonesia, Timur Tengah dan Timur Jauh (Tiongkok). Pada dinding di kanan dan kiri tangga utama dituliskan arti Surat Al Fatihah dalam dua bahasa. Dibuat seperti itu, konon, ditujukan kepada semua yang datang agar membaca, memahami dan memaknai Surat Pembukaan dari Al Qur’an itu. Bagi mereka yang berlatar budaya China tentu akan lebih mudah membaca dan memahaminya dalam karakter Mandarin. Bagi mereka yang hafal surat Pembukaan itu tapi belum memahami artinya, diberikan pula arti dalam bahasa Indonesia. Semua itu ditujukan seraya menaiki tangga utama sebelum menjejak lantai utama yang digunakan sebagai tempat shalat untuk laki-laki. Lalu berada di puncak tangga utama, saya menikmati lengkungan indah di atas pintu. Tak heran, bagian ini mengingatkan akan bangunan Taj Mahal dengan hiasan geometris khas Islam.

Sebelum memasuki ruang utama, saya berjalan mengelilingi selasar luar dan menikmati setiap dekorasi yang ada pada dinding-dinding Masjid hingga sampai di pintu Timur. Dari pintu di bagian Timur terlihat pemandangan di lantai utama sangat indah dengan mihrab tempat Imam memimpin ibadah yang dibuat cantik, lengkap dengan hiasan khas Islam. Sinar matahari menerobos masuk dari jendela-jendela mini di dasar kubah utama, menerangi bagian bawah seperti cahaya surga.

the mihrab in main prayer area

Dari tempat saya berdiri juga bisa terlihat lantai tiga Masjid yang terbuka ke bawah seperti sebuah mezanin. Mungkin digunakan untuk ibadah jika lantai satu tak mampu menampung jamaah yang mau beribadah. Terlihat juga pilar-pilar putih menghiasi bagian dalam masjid.

Saya memahami, waktu bagi saya untuk menikmati Taj Mahal mini di Jakarta hampir habis, sehingga saya mempercepat langkah tanpa melepas untuk mengabadikan spot-spot yang cantik karena ada sebuah bedug terlindung dalam sebuah ruang berkubah yang disokong empat pilar yang diletakkan di sudut Barat Daya.

Sungguh saya bersyukur bisa mewujudkan keinginan untuk menyambangi Masjid yang serupa dengan Taj Mahal bahkan bisa mendirikan shalat berjamaah di dalamnya. Dan meskipun pendiri Masjid Ramlie Musofa,, Haji Ramli Rasidin, telah tutup usia pada akhir bulan Agustus 2020 dalam usia 75 tahun, saya berharap Masjid yang ditinggalkannya bisa tetap bermanfaat bagi masyarakat. Dan tentu saja saya juga berharap semakin banyak muslim dan muslimat yang memakmurkan Masjid cantik ini.

Bagi yang hendak berkunjung ke Masjid Ramlie Musofa, berikut adalah alamat lengkapnya: Jalan Danau Sunter Selatan 1 blok 1/10 Nomor 12C – 14A, RT.13/RW.16, Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14350


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 7 dan bertema Mosque agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

Sebuah Janji Terbang ke Annapurna Base Camp


Sebuah Catatan di Bulan Oktober 2016

Dalam doa, saya tersentak. Benarkah ini? Tak mungkin tak percaya, tak mungkin tak merasa. Karena rasa itu begitu intense. Ada bahagia mendekap rasa, sangat kuat. Rasa yang sama, dalam hari-hari perjalanan luar biasa di Nepal 2014 lalu

Ke Nepal? Lagi? ABC? Annapurna Base Camp? Rasanya tak percaya, tetapi jelas ada rasa yang teramat kuat, sebuah janji yang tak pernah tak ditepati, sehingga tak perlu lagi ada tanya. Saya akan sampai di Annapurna Base Camp!


April 2017

Tak banyak waktu dibuang di Pokhara sekembalinya kami dari Australian Camp yang kisahnya bisa dibaca di sini. Trekking telah selesai tetapi bukan berarti liburan harus ikut selesai. Apalagi udara Pokhara yang nyaman sangat mendukung kami untuk mengeksplorasi kota di pinggir danau Phewa itu. Tentu saja kami harus melakukan apa yang dilakukan orang saat pertama kali ke Pokhara, berperahu keliling danau dan mampir ke Barahi Tal, pulau kecil di tengah danau dengan kuil yang cantik. Sungguh waktu yang menyenangkan untuk berperahu yang kemudian dilanjut acara cicip kuliner di setiap kios makanan di pinggir danau itu terutama bagi kedua sahabat seperjalanan trekking. Saya terheran-heran perut mereka bisa terus dimasukkan makanan sementara saya yang picky ini sangat sulit menelan makanan yang asing. Bisa jadi mereka ‘balas dendam’ terhadap dal bhat yang disantap setiap hari selama trekking.

Kami jalan perlahan kembali menuju hotel, sambil ke ATM untuk tip porter yang harus diselesaikan. Tiba-tiba Pak Ferry menghampiri saya, serius sekali wajahnya.

“Kita sudah sampai di sini, tanggung banget kalau tidak ke ABC. Tadi saya sempat tanya sebelum kita ke Danau, harganya sedikit mahal tapi sepertinya masih terjangkau. Lagi pula, kapan lagi? Mumpung kita di Pokhara”

Sambil berbicara itu, Pak Ferry menunjuk ke sebuah kios di dekat ATM, yang membuat saya berdesir.

Heli tour ke Annapurna Base Camp!

Selagi Pak Ferry bicara, saya berhitung cepat di kepala, menimbang-nimbang apakah saya mau mengeluarkan tiga jutaan lebih untuk ke Annapurna Base Camp. Bayangan indah pegunungan Himalaya menari-nari di benak ditambah pengalaman naik helikopter dan juga pencapaian keinginan ke Annapurna Base Camp sebagai destinasi liburan. Semuanya mendesak tanpa peduli, seakan-akan ada suara, uang bisa dicari lagi tapi kapan lagi bisa naik helikopter ke gunung salju?

Pak Ferry memandang dan menunggu jawaban. Detik-detik berlalu sementara di kepala masih ada pertempuran take it or leave it. Sepersekian detik, terasa lagi rasa yang pernah menghias hati saat berada di persimpangan Chhomrong, Ke kiri ke ABC dan ke kanan kembali ke Pokhara. Melepas tujuan liburan itu sebenarnya tak pernah mudah. Lalu sekarang, ada kesempatan kedua untuk meraih kembali impian. Take it or leave it!

Saya mendadak menggigil karena merasa diberikan kesempatan kedua namun masih terlalu lama berpikir. Ada jalan yang terbuka, sebuah kesempatan yang bisa hilang begitu saja jika saya terus berpikir tanpa kepastian. Bukankah kesempatan ini merupakan sebuah tanda dari Semesta? Kami memang harus ke ATM, yang ternyata berada di depan dari agen heli-tour itu. Bahkan Pak Ferry sudah bertanya-tanya tentang Heli tour itu.

Menyadari bahwa Semesta sedang mencoba berkomunikasi kepada saya, dengan keyakinan penuh saya mengangguk. Lalu kaki terasa ringan saat melangkah ke dalam kantor yang tidak luas itu, lalu melakukan reservasi untuk penerbangan pagi keesokan harinya. Saya menutup mata ketika kartu kredit itu dipakai. Meskipun terasa seperti mimpi, nyatanya semua yang terjadi dimudahkan dalam prosesnya.

Malam hari di kamar hotel, saya mengingat kembali perjalanan hari itu. Pagi hari saya masih sarapan pagi di Australian Camp, lalu menghabiskan trekking Annapurna Conservation Area dan kembali ke Pokhara, menyusuri Danau Phewa yang diakhiri dengan sebuah keputusan yang luar biasa untuk kembali ke Annapura Base Camp. Ingatan ini kembali ke tahun 2014 ketika meninggalkan Nepal dan menyaksikan dengan jelas Mt. Everest dari jendela pesawat, lebih jelas daripada ketika melakukan Mountain Flight. Semesta selalu mendukung perjalanan saya ke Nepal. Dan esok hari sebagai hari terakhir di Pokhara, saya diberikan kesempatan lagi untuk menjejak Annapurna Base Camp dengan segala keindahan puncak-puncak berselimut salju abadi. Malam itu, saya terlelap bahagia.

Keesokan paginya…

Dengan membawa daypack kami berangkat menuju bandara Pokhara. Perasaan kami luar biasa bahagia, seperti orang yang baru pertama kali naik pesawat terbang dengan segala imajinasinya. Tak banyak orang bisa memiliki kesempatan menaiki helikopter untuk ke Himalaya. Pastinya ini gaya Sultan 🙂

Di bandara yang lengang itu, kami tak sabar menunggu. Kami melihat beberapa helikopter di landasan, entah mana yang akan kami naiki. Lalu ketika saat boarding diumumkan setengah berlari kami menuju helikopter itu meski tak lupa instruksi dan SOP untuk menaiki helikopter. Kami semua yang seluruhnya ada 6 orang, seorang perempuan cantik dari Saudi Arabia, sepasang dari Malaysia dan kami bertiga, kembali menjadi seperti anak kecil yang minta berfoto dengan latar helikopter. Tapi acara foto akhirnya harus berhenti karena pilot yang gantengnya setengah mati itu sudah memberi kode untuk naik. Waktunya terbang!

Mesin menyala dan sebelum mengangkasa, pilot melakukan briefing singkat tentang keselamatan terbang yang mungkin hanya didengarkan dengan satu telinga karena ekstasi yang melimpah dari semua penumpang, melupakan bahwa kendaraan yang dinaiki adalah helikopter dan bukan pesawat terbang. Saya yang duduk di pintu di kiri berjendela luas, dapat menyaksikan seluruh penumpang yang sudah tak sabar. Mungkin hati mereka berkata, ayolah bang ganteng, jangan bicara terus, terbang sajalah… (dan asli, pilotnya gagah sekali!)

Lalu satu, dua, tiga dan huuup… heli mulai naik meninggalkan bumi. Pak Ferry yang duduk di depan saya tak berani melihat ke bawah karena sedang mencoba mengatasi phobia ketinggiannya. Saya sendiri berdegup kencang, tak percaya naik heli di Nepal. Sebuah pengalaman baru.

Dalam hitungan menit bangunan-bangunan di kota Pokhara semakin jelas terlihat dari atas dengan Danau Phewa yang menyangganya. Saya seperti menjadi drone yang mengamati bangunan-bangunan kotak di bawahnya, tanah-tanah lapang, jalan-jalan yang dilalui beberapa kendaraan karena hari masih pagi. Terasa sekali kami semua haus dengan pemandangan yang tidak biasa. Ini seperti naik pesawat saat mau mendarat sehingga pemandangan di bawah terlihat dekat dan jelas.

Heli semakin tinggi mengangkasa dan melewati perbukitan serta mendekati Annapurna Conservation Area. Saya terdiam membayangkan trekking kami di hari-hari sebelumnya. Perjalanan panjang berhari-hari itu bisa dipotong begitu cepat dengan terbang. Deru baling-baling atas yang berputar cepat tak menghilangkan kegembiraan kami menuju lembah Annapurna. We’re back! Perasaan kami begitu gempita membuat mata nyalang ke sana sini, berharap bisa merekam semua keindahan di depan mata, melupakan bahwa keindahan itu juga harus diabadikan dalam foto. Ah, rasanya sayang sekali jika keindahan luar biasa ini harus disaksikan lewat lubang kecil kamera. Tapi, kenangan itu harus ada…

Menit-menit berlalu dengan gegap gempita, tak ada yang bicara dalam ruang kabin yang kecil itu karena semua mata memandang keluar dan telinga hanya menangkap suara-suara shutter kamera yang tak putus.

Perbukitan hijau mulai tertinggal di belakang, dan kami rasanya melayang di lembah sempit dengan pegunungan bersalju menanti di depan sana. Hati ini berdenyut-denyut, pemandangan semakin tak terperi indahnya. Tak banyak orang bisa melihat keindahan dari atas ini, teramat berbeda jika kita melangkah melata di jalur-jalur trekking. Tak mampu menandai secara akurat lokasinya, saya hanya bisa memperkirakan bahwa Chhomrong dan Sinuwa sudah tertinggal di belakang dan mungkin sekarang sudah sekitar Bamboo.

Tak lama pemandangan berubah drastis, lembah di bawah melebar dengan segala keindahannya, gunung-gunung bersalju semakin dekat dan semakin jelas. Benar-benar tak bisa berkata-kata, totally speechless. Pilot mengemudikan heli dengan begitu baiknya, saya hanya tergagap ketika merasakan tebing gunung itu semakin dekat, dan menjadi begitu dekat. Saya menyempatkan diri melihat ke kanan, tebing itu juga dekat. Gila, kami benar-benar terbang di antara tebing bercampur salju yang curam dan amat tinggi.

Mata saya membelalak melihat tebing batu yang terasa begitu dekat, sepertinya baling-baling di atas itu akan menyentuhnya. Ngeri. Jika terhempas angin kencang, tebing karang berbercak salju itu siap menerkam kami semua. Manusia dan heli itu apa? Begitu kecil diantara tebing-tebing raksasa ini, rasanya tak ada artinya sama sekali! Kengerian yang hanya bisa dirasa saat terbang di antara tebing. Kengerian yang tak akan pernah terasa oleh mereka yang berjalan melata di jalur trekking yang terpukau indah akan tebing-tebing yang luar biasa tinggi

Dan dalam hitungan detik, di sisi kanan terlihat Mt. Macchapucchre, gunung yang berpuncak seperti ekor ikan itu, menjulang dengan gagahnya. Meski ngeri terbang di antara tebing, saya sempat membisikkan Namaste pada gunung favorit saya dan Mt. Hiunchuli yang ada di sebelah kiri. Lalu pilot heli yang handal itu meliukkan kami semua ke arah kiri. Pasti di bawah sana ada Macchapucchre Base Camp dan saya sedang menuju ke lembah luas yang dikelilingi oleh begitu banyak pegunungan berpuncak salju yang salah satunya adalah Mt. Annapurna South.

Daaan… penginapan ABC beratap biru itu sudah tampak dan pilot menurunkan kecepatan. Saya melihat keluar, orang-orang berjaket tebal di bawah sana memperhatikan kami. Beberapa petugas terlihat menjaga area mendarat dan menyuruh orang membatasi jarak dari tempat heli mendarat. Kami merasakan heli menjejak bumi dengan sukses. Alhamdulillah. Tapi tidak bisa langsung turun. Kami harus menunggu sebentar onboard.

Finally, landing at Annapurna Base Camp

Lalu lari menjauhi area heli dan berjalan menuju penginapan. Ketika membalikkan badan, saya melihat beberapa orang memasukkan barang-barang lalu tak lama kemudian heli pun mengangkasa lagi meninggalkan kami. Hingga heli berikutnya datang adalah waktu yang bisa dipakai kami untuk bersenang-senang di Annapurna Base Camp!

Annapurna Base Camp 360

Saya berdiri dan berputar 360 derajat, rasanya kaki ini begitu tak bertenaga karena rasa syukur penuh haru yang melimpah ruah. Ya Allah, saya ini begitu teramat kecil, tak berarti apa-apa berada di tengah gunung-gunung tinggi berpuncak salju ini. Berhari-hari saya berjalan di kawasan Annapurna Conservation Area hanya bisa menyaksikan keindahan ini dari kejauhan dan kini saya berada di tengah-tengah puncak-puncak gunung ini. Dalam kesendirian mata saya menghangat. Allah Pemilik Semesta selalu baik kepada saya, terlalu baik menganugerahkan begitu banyak keajaiban yang menjadi nyata untuk saya.

Dalam begitu banyak rasa, saya mengabadikan sebanyak-banyaknya yang saya bisa. Puncak Annapurna South (7219 m) berselimut salju terlihat begitu indah berhias sedikit awan dengan latar belakang langit biru. Pemandangan yang sering saya lihat ketika bicara trekking Annapurna. Lalu Machhapuchhre (6993m) terlihat begitu agung dengan bentuk puncaknya yang khas serta Hiunchuli (6441m) yang memiliki punggung gunung yang panjang.

Semuanya luar biasa terlihat dari tempat ini.

Saya mengeluarkan rok lilit batik dan mengenakannya di atas celana trekking dan meminta bantuan Pak Ferry untuk mengabadikan momen ini. Saya geli, rok lilit batik yang ternyata made in Indonesia ini saya temukan di pegunungan Nepal, dan saya kenakan di Annapurna Base Camp meski di baliknya tetap ada celana dan sepatu trekking. Biarkan saja, yang penting ada Batik di Annapurna Base Camp!

Saya tak banyak mengeksplorasi ABC karena naiknya ketinggian yang kami alami dalam waktu singkat. Setiap langkah memiliki risiko karena kadar udara yang lumayan tipis. Meski papan ABC terlihat dekat di bawah, saya tak mau mengambil risiko karena kembalinya bisa melelahkan dan tidak cukup waktu. Saya pun tak ingin meninggalkan tempat di luar penginapan karena ingin menikmati selama mungkin. Tak terasa waktu hampir 1 jam berlalu sangat cepat. Waktunya kembali ke Pokhara

Dari arah MBC saya melihat orang-orang kembali berkerumun di dekat landasan heli. Dan saya mendengar derunya terlebih dahulu daripada kemampuan melihat kedatangan helikopter karena kecilnya. Terlalu kecil untuk ukuran raksasa batu-batuan itu. Setelah mampu menandainya, saya berdiri memandang hingga heli mendarat sempurna. Beberapa orang kembali memasukkan barang lalu mempersilakan penumpang naik kembali. Ada rasa haru meninggalkan ABC, tetapi selalu ada waktu untuk perpisahan atas sebuah pertemuan. Semoga saya bisa kembali ke ABC.

Setelah lengkap semuanya, perlahan-lahan heli naik mengangkasa. Saya membalas lambaian tangan mereka meski tak kenal. Kurang dari 1 jam saya berada di Annapurna Base Camp dan kini harus kembali melakukan penerbangan dengan pacuan adrenalin.

Heli kembali terbang rendah mengarah Macchapucchre Base Camp, yang membuat hati ini rasanya menghilang. Bentuk lembah yang landai berselimut salju membuat bayangan heli itu menukik saat menuju MBC. Saya menahan nafas ketika bangunan biru MBC yang tertutup bayang tebing tinggi itu terlewati. Saya berucap dalam hati, semoga waktu membawa saya kembali ke sini.

The Sun behind Mt. Machhapuchhre or Fish Tail

Tak sampai satu menit setelah menandai MBC, Pilot handal itu meliuk lagi ke kanan meninggalkan MBC dan di depan mata saya terpampang jelas Mt. Macchapucchre dengan matahari yang masih bersembunyi di baliknya! Saya terpesona dengan gambaran epik di depan mata. Tak mudah mendapatkan foto Macchapucchre dari ketinggian, apalagi dengan matahari tersembunyi di baliknya yang menyebarkan sinar-sinarnya di batas-batas gunung. Rupanya gunung favorit saya memberikan wajah terbaiknya pagi itu dan I am so blessed bisa menyaksikan semua keajaiban ini.

Saya menempelkan tangan pada jendela seakan memberi salam perpisahan kepada gunung-gunung di sekitar ABC. Dan Semesta seakan menjawab lagi. Heli mendadak naik dan melewati sebuah punggung gunung yang penuh salju. Semesta seakan tak ingin saya kehilangan momen pergi ke lingkungan bersalju tanpa melihat situasinya. Alam memperlihatkan kecantikannya yang luar biasa pada sisi-sisinya yang berselimut salju. Saya menggigil, lagi-lagi bersyukur dalam hati atas semua karunia yang luar biasa ini.

Detik-detik berlalu, lingkungan berselimut salju tergantikan lagi dengan kehijauan, menandakan kota Pokhara di pinggir danau Phewa sebentar lagi akan menyambut kedatangan kami. Trekking berhari-hari telah kami lewati, menikmati setiap detiknya dengan penuh keringat, lelah namun gembira. Tak sangka, di hari terakhir kami mendapat karunia begitu besar dari Sang Pemilik Semesta membuat kami sampai di destinasi liburan kami.


Jakarta, Mei 2017.

Saya sudah kembali ke Jakarta dan membuka lagi catatan bulan Oktober tahun 2016 itu, yang membuat saya ‘gila’ untuk melakukan perjalanan Dare to Dream ke Annapurna Base Camp, trekking ke Himalaya meski saya bukanlah seorang pendaki gunung. Tulisan seperti puisi itu terpampang di halaman buku kecil bersampul coklat tepat di depan mata.

Ke Nepal? Lagi? ABC? Annapurna Base Camp?

Benarkah kita akan terbang lagi?

Di antara tebing-tebing tinggi ?

Saya menggigil dengan limpahan air mata, di catatan itu, yang tertulis empat bulan sebelum saya menginjak Nepal untuk kedua kalinya, tidak pernah tertulis bahwa saya akan berjalan, tertatih-tatih ke sana. Tidak tertulis saya akan berhari-hari melangkahkan kaki menuju ke Annapurna Base Camp, yang tertulis hanyalah terbang tinggi di antara tebing-tebing tinggi. Logika saya pergi ke ABC hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dalam hitungan hari, namun Sang Pemilik Semesta lebih mengetahui kekuatan saya. Dia akan menerbangkan saya.

Sebuah janji yang menjadi nyata.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 4 dan bertema Fulfillment agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.