Jeddah Sekejap Mata


Karena tak pernah menggunakan jasa agen dalam melakukan perjalanan, saya telah berjanji pada diri sendiri untuk ‘patuh’ pada itinerary yang dibuat agen perjalanan ketika berangkat Umroh meskipun pada akhirnya saya sering sekali geleng-geleng kepala dalam perjalanan itu. Takjub, dalam arti yang bukan positif. Bagaimanapun, karena ini adalah perjalanan ibadah, -perjalanan ke relung-relung hati antara manusia dan Tuhannya-, saya menerima semua peristiwa yang terjadi sebagai sesuatu yang memperkaya jiwa.

Semua yang terjadi patut disyukuri, meskipun tidak selalu menggembirakan hati. Karena kenyataan yang paling mendasar bagi saya, perjalanan ini sendiri merupakan sebuah kemewahan yang tak terperi, rejeki yang luar biasa dan semua yang tidak sesuai dengan harapan, tidak mengubah nilai kemewahan dan keluarbiasaan perjalanan ini. Bahkan hal-hal yang tak menggembirakan hati itu pun tak ada artinya sama sekali.

Waktu memang berpacu, hari-hari ibadah di Madinah sudah berlalu dan kini, tak lama lagi kami pun harus mengucap selamat berpisah kepada Mekkah, tempat kami berhari-hari bermuhasabah. Siang atau malam, di kota yang di dalamnya terdapat Ka’bah dengan aliran manusia yang tak pernah berhenti bermunajat kepada Allah, Pemilik Semesta.

Datang juga saatnya. Roda bus bergerak perlahan, seakan mengetahui betapa berat hati kami menjauh dari kawasan Masjidil Haram. Tapi sebagaimana tertulis dalam begitu banyak kitab kebajikan, setiap pertemuan memiliki perpisahan, setiap awal berujung pada akhir. Demikian juga perjalanan indah di Mekkah ini. Kawasan yang begitu bercahaya dan berpatokan pada jam di menara tertingginya, terlihat makin menjauh. Di pagi yang belum datang dan masih berselimut gelap, bus kami telah menyusuri aspal, perlahan meninggalkan kota Mekkah dan membuat mata basah. Kota kecintaan ini akan membuat berjuta rindu, penuh harap akan kesempatan-kesempatan untuk kembali lagi mengunjungi kota yang ada di hati setiap Muslim ini.

Sungguh rasanya tak ingin menengok ke belakang karena cahaya kota Mekkah makin memudar…

Menit-menit berlalu dalam sepi, sesekali terdengar bisik antara anggota rombongan, seakan tak mau mengganggu ketenangan mereka yang kembali terlelap di dalam bus. Saya tak mampu memejamkan mata kembali. Rasa galau berpisah dengan Mekkah itu masih terasa, apalagi di saat yang sama bus ini menuju Jeddah. Sebuah wajah otomatis menyeruak keluar dari dalam jiwa. Jeddah adalah tempat almarhum Papa berpuluh tahun lalu berlabuh, mengantar mereka, -para calon haji-, meraih impian menjejak Tanah Suci untuk menunaikan kewajiban agamanya. Perjalanan yang ditempuh dengan begitu banyak kesulitan dan perjuangan, mengarungi samudera, melawan ombak ganas, -bukan hitungan jam atau hari-, melainkan berminggu-minggu. Menggenggam harap meski derita datang silih berganti.

Perjuangan mereka itu berbanding terbalik dengan apa yang dialami jaman sekarang. Dari Tanah Air tak sampai 12 jam terbang, jamaah bisa sampai di Tanah Suci, dengan segala anugerah makan dan minum yang enak, kendaraan yang nyaman dan semua kenikmatan lainnya. Bagi saya, apalah artinya koper yang hilang (baca di sini kisahnya) dibandingkan dengan segala derita dan perjuangan yang dialami calon Haji pada jaman Almarhum Papa membawanya? Ada rasa syukur yang begitu berlimpah, namun juga bercampur dengan kerinduan yang amat dalam kepada beliau yang telah berpulang setahun yang lalu. Secara otomatis lamat-lamat saya membaca Al Fatihah dan serumpun doa untuk beliau yang tercinta.

Sebuah Bangunan di Jeddah

Tak perlu waktu lama, pijar lampu makin menerangi jalan raya menandai wilayah kota Jeddah telah dimasuki. Bangunan makin padat dan makin terasa internasional. Berbeda dengan Mekkah, Jeddah memang dapat dimasuki oleh semua orang dari berbagai agama, berbagai komunitas.

Masjid Juffali

Subuh masih merayap dalam senyap ketika bus terasa melambat. Ternyata bus meliukkan raga besinya itu ke halaman sebuah Masjid agar kami bisa menunaikan ibadah shalat Subuh. Dari atas bus sudah terlihat Masjid begitu cantik dengan cahayanya, teramat kontras dengan warna Subuh yang masih gelap. Berada di seberang Kantor Urusan Luar Negeri yang terpisah oleh jalan raya, tempat ibadah umat Islam ini rupanya dibangun tahun 1986 oleh seorang saudagar Arab yang amat kaya bernama Syeikh Ibrahim Al Juffali. Tak heran, dengan sentuhan tangan Abdul Wahid al-Wakil, seorang arsitek terkenal berkebangsaan Mesir, masjid ini terlihat menawan dengan 26 kubah kecil-kecil dengan satu menara tinggi di sudut Timur.

Masjid Qisas
Di dalam masjid Qisas ( tempat perempuan)

Namun di balik segala keindahan yang memanjakan mata itu, Masjid itu berselimut peristiwa-peristiwa getir dan muram yang terjadi sejak dulu (dan rupanya hingga kini). Di sebuah pelataran di halaman Masjid ternyata merupakan tempat berlangsungnya hukuman pancung terpidana yang dilakukan oleh seorang algojo. Terdengar begitu menyeramkan dan barbar, namun memang itulah yang terjadi di Masjid Juffali atau bagi Jamaah Indonesia lebih terkenal dengan nama Masjid Qisas.

Qisas sendiri memang merujuk pada istilah dalam hukum Islam yang artinya pembalasan. Dengan kata lain, memberikan hukuman setimpal. Mungkin lebih sering kita mendengar istilah mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa. Begitulah, apabila seseorang terlibat dalam kasus pembunuhan, maka dalam aturan Qisas, keluarga korban memiliki hak untuk meminta hukuman mati kepada pelaku dengan cara dipancung di depan umum dan di bumi Arab ini dilaksanakan seusai shalat Jumat, di pelataran tadi yang berukuran 5 x 5 meter berlantai keramik.

Jangan tanyakan prosesnya karena saya tak pernah (dan takkan mau) menyaksikannya. Konon saat pelaksanaannya, sang Algojo akan berdiri dengan jarak tiga langkah dari terpidana. Keluarga korban ada di bagian depan. Ketika tiba waktunya, Algojo mulai melangkah, langkah pertama, kedua dan ketiga. Jika tidak ada tanda, aba-aba atau pergerakan dari keluarga korban, maka Algojo akan menuntaskan pekerjaannya. Namun jika ada pergerakan berupa tangan atau mulut dari keluarga korban, maka Algojo segera menghentikan esksekusinya. Pergerakan, tanda atau aba-aba dari keluarga korban itulah yang menjadi symbol atau makna bahwa keluarga korban telah memaafkan terpidana.

Membayangkan saja sudah membuat perut terasa mulas, tetapi begitulah… Sengeri itu pelaksanaannya namun sesederhana itu pula pengampunannya.

Namun kelihatannya proses eksekusi ini dinilai ‘setengah hati’. Di satu sisi merupakan penerapan dari sebuah intepretasi hukum Islam dan di sisi lainnya adalah pertimbangan politik negeri itu. Karena tidak sedikit petugas intelijen Kerajaan Arab Saudi diterjunkan di antara massa yang menyaksikan peristiwa eksekusi itu sebagai pengawas untuk memastikan proses eksekusi itu tidak tersebar ke dunia luar. Hukumannya tidak main-main karena kebebasan adalah taruhannya. Seseorang bisa langsung dipenjara jika ketahuan membocorkan peristiwa itu ke dunia luar. Ngeri kan?

Setelah cukup waktu di Masjid Qisas, kami melanjutkan perjalanan menuju bandara internasional King Abdul Aziz. Tetapi sebelumnya bus berhenti sejenak di pinggir jalan agar Pak Ustadz bisa memberitahu secara sekilas. Rupanya kami berhenti di luar pagar dari tempat yang dipercaya sebagai makam dari perempuan pertama yaitu Siti Hawa.

Dari atas bus yang hanya berhenti beberapa detik, apalagi hari masih gelap serta pencahayaan yang temaram, saya hanya bisa melihat permukaan dinding yang panjang. Apakah itu dinding pembatas sebelum masuk ke kawasan makam atau bukan, saya sendiri tak bisa memastikan. Seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, saya hanya bisa menganggguk-angguk pada apa yang saya dengar dari Pak Ustad dan semampunya berdoa dalam hati.

Seperti yang diketahui semua orang, sebagai manusia perempuan pertama, Siti Hawa merupakan istri dari Nabi Adam AS. Saat musim haji, makam Siti Hawa ini merupakan salah satu destinasi yang ramai dikunjungi oleh para peziarah seluruh dunia. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang meragukan kebenaran tempat itu sebagai makam dari ibu seluruh manusia di dunia karena kurangnya bukti.

Mall of Arabia, JEDDAH
Jeddah International Airport

Roda bus bergerak kembali menyusuri jalan-jalan di kota Jeddah. Sebuah bangunan besar terlewati, hmmm… Mall of Arabia, mall yang terbesar di kawasan ini, terlihat sepi. Warna keemasan makin merona di ufuk Timur. Terasa ada denyut dalam hati yang membuat saya menarik napas panjang. Jauh di dalam lubuk hati, saya menggerakkan jemari dan melambaikan tangan ke arah pelabuhan yang telah mengukir jejak almarhum Papa berpuluh tahun silam.

Hati terasa menghangat membisikkan kata, “Saya telah sampai di Jeddah, Pa. Tapi maaf, tak bisa menjejak di pelabuhan, di tempat kapal Papa dulu bersandar. Tapi tidak apa-apa ya Pa, bukankah jejak-jejak kita di kota yang sama selalu bertaut dan menjadi kenangan selamanya?”

Satu tarikan nafas melepas ikhlas. Langit Timur terlihat makin terang, bandara internasional Jeddah di depan mata seakan membuka tangannya menyambut kedatangan kami untuk berhenti sejenak sebelum terbang meninggalkan negeri padang pasir ini. Tak lama lagi, dalam hitungan jam, bibir ini akan berucap, Sampai Jumpa lagi Tanah Suci…

Airport in the morning

Umroh: Manusia Merencana, Pemilik Semesta Menentukan


Setelah hitungan bulan, akhirnya hari ini saya menulis lagi, melanjutkan cerita perjalanan rohani yang dilakukan akhir tahun 2019. Dan tidak ada salahnya untuk membaca tulisan Berserah Bermadah, -sekedar untuk mengingat-, yang merupakan tulisan sebelumnya dari seri perjalanan ibadah ini.

Manusia-manusia yang hampir semuanya berpakaian putih itu tetap menyemut di Masjidil Haram. Di antara mereka saya mendongak ke atas mencari bintang namun tak terlihat satu pun di langit, Ah, bisa jadi karena Masjidil Haram berselimut cahaya yang teramat terang seakan mampu menenggelamkan gulitanya tengah malam dan juga kelip bintang. Masih sekitar tiga jam lagi untuk sampai ke waktu Subuh, tetapi di tempat ini, di tempat yang nilai pahalanya dilipatgandakan hingga seratus ribu kali dari shalat di masjid lainnya, rasanya tak pernah ada waktu yang lengang dari manusia.

Selepas ritual Umroh yang baru saja selesai, memang tak ada agenda khusus. Pak Ustad membolehkan para jamaahnya kembali ke hotel untuk beristirahat namun tak sedikit dari rombongan yang memilih melanjutkan perjalanan batiniah yang teramat intim dengan Sang Pencipta, melakukan muhasabah di Masjid Paling Utama bagi Muslim itu.

Gate at Night

Saya sendiri tak lagi mampu melanjutkan perenungan dan kontemplasi di Masjid. Ada sedikit rasa limbung yang muncul membuat saya harus melihat ke dalam diri sendiri. Ah, bisa jadi karena faktor usia. Dulu ketika muda, begadang dua malam tak jadi masalah. Kini, dua puluh empat jam terjaga membuat mata tak lagi mampu membuka dan kaki terasa tak menjejak dunia. Praktis terjaga sejak kemarin sebelum Subuh di Madinah, lalu khusuk menjalankan ritual pagi dilanjut berkendara berjam-jam menuju Mekkah, dilanjut ritual ibadah Umroh yang tak bisa dianggap enteng dalam menguras stamina. Akibatnya tak heran jika saya merasa limbung, sebuah alert dari raga agar saya beristirahat segera.

Namun hati tak mudah diajak meninggalkan tempat yang selalu dirindukan ini. Ada sejumput rasa berat ketika kaki melangkah meninggalkan Masjid menuju hotel. Apalagi dari arah berlawanan terlihat aliran jamaah tak putus menuju Masjid. Hati memberontak masih ingin menjadi bagian dari mereka, dari banyak manusia yang meninggalkan rasa nyaman pembaringannya hanya untuk mencari kedamaian jiwa di Masjidil Haram, tempat yang diberi jaminan keamanan dan keselamatan oleh Allah sendiri bagi mereka yang memasukinya. Pertentangan di dalam hati sungguh terasa antara berdiam di Masjid dan meninggalkannya. Ada suara keras dari dalam hati Masjid bukanlah tempat untuk merebah mengistirahatkan raga. Jadilah seperti yang tadi dikatakan, satu langkah kaki meninggalkannya, bertambah godam berat yang terasa menggandul jiwa.

Dalam perjalanan, raga yang menjerit lelah mampu mengabaikan terangnya cahaya toko-toko 24 jam yang membuat kawasan sekitar Masjidil Haram tak pernah tidur, toko-toko yang selalu menggoda jamaah dari fokus utamanya. Mungkin seperti serombongan serangga malam yang tertarik pada cahaya lampu atau semut yang tergoda pada gula. Tapi kali itu, raga tak lagi bisa diajak kompromi. Saya hanya ingin segera sampai di kamar. Istirahat cukup agar bisa melakukan Umroh kedua atas nama almarhum Papa, karena itu adalah salah satu keinginan saya saat berada di  Tanah Suci.

Tapi rencana itu tinggal rencana karena tanpa permisi demam menyerang saya pada pagi harinya. Sesuatu yang tak biasa, karena sesungguhnya saya jarang terserang demam. Biasanya dengan istirahat cukup, saya akan kembali bugar namun tidak pada pagi itu. Demam terus menanjak tanpa tedeng aling-aling. Dan ketika demam, saya tak mampu berbuat apa-apa. Saya hanya bisa tergeletak di tempat tidur.

Gegerlah rombongan kami termasuk pak Ustad ketika mengetahui kondisi saya. Lagi-lagi tak biasa, karena umumnya jamaah sakit flu ringan tak sampai demam  dan bisa diatasi dengan minum obat pribadi. Apakah perlu ke dokter atau rumah sakit?

Sebisa mungkin saya menghindari rumah sakit dan mengandalkan antibodi tubuh bekerja semampunya meskipun sempat menitipkan permintaan kepada suami untuk mencari antibiotik. Terlintas tempat obat pribadi yang biasa saya gunakan, sekarang entah dimana karena tempat obat itu ada di koper saya yang hilang (Baca ceritanya di sini). Suami menyanggupi untuk mencari obat meskipun di wajahnya terlihat kekuatiran yang tak bisa disembunyikan karena ia tahu saya jarang sekali demam.

Waktu-waktu shalat berlalu, saya hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur hotel, merenung begitu banyak. Melihat ke dalam diri, memeriksa kembali niat yang sesungguhnya ke Tanah Suci, hendak Umroh atau adakah hal lainnya yang tersembunyi? Lalu apakah ibadah saya sudah benar? Bisa jadi ada begitu banyak tindakan yang melenceng dan saya melakukan pembenaran-pembenaran saja. Bisa jadi saya juga berlaku sombong, riya dan tanpa disadari telah berbangga-bangga. Mungkin juga saya telah merugikan orang lain dan Allah menghentikan saya bertindak buruk lebih jauh, dengan menjadikan saya demam.

Dalam Masjid Al Haram

Tidak bisa melakukan hal lain kecuali mendirikan shalat untuk memohon ampunan, meluruskan niat untuk berserah diri hanya kepada Allah, melepas keinginan-keinginan duniawi kepada Yang Maha Kuasa, memohon kesembuhan dari demam yang saya rasa. Mengucap lebih banyak lagi ungkapan syukur terhadap semua yang dimiliki juga semua peristiwa yang telah saya alami. Tentu saja, semua hikmah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, termasuk demam yang sedang saya alami ini.

Satu hal yang mengganjal hati namun perlu diikhlaskan sepenuhnya bahwa dalam perjalanan ibadah ini saya belum bisa melakukan Umroh kedua untuk Almarhum Papa. Ada kesedihan saat melepas keinginan itu namun saya percaya, InsyaAllah, suatu saat nanti bisa dikerjakan oleh anak-anaknya yang lain. Aamiin.  

Setelah makan malam suami membawakan sebutir antibiotik yang ia dapatkan dari Pak Ustad. Meskipun mengetahui minum antibiotik memiliki aturan khusus, tapi sebutir itu bisa jadi membawa  kesembuhan. Bismillah, saya meminum obat itu dengan doa kesembuhan…

Alhamdulillah Ya Allah, karena keesokan harinya demam itu benar-benar menghilang meskipun saya belum kembali seratus persen fit. Saya masih beristirahat tapi tidak demam lagi. Dalam kondisi yang lebih baik, kembali saya melakukan perjalanan batiniah ke dalam, mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah dalam kondisi apapun. Betapa berharganya nikmat sehat itu. Betapa saya sering mengabaikan nikmat sehat selama ini. Bukankah sehat baru terasa nilai dan maknanya ketika kita sakit?

Taking photo in roof top of Masjid

Seakan diberi kesadaran bahwa sudah sifat langit berhias awan, kadang terlihat indah dengan biru tanpa awan sedikitpun, namun bisa juga tampak begitu menakutkan dengan awan gelap pembawa badai. Langit yang sama. Seperti juga tubuh yang sama, yang biasa sehat tapi bisa berhenti sebentar karena sakit.

Hari itu menjelang Ashar, saya memberanikan diri untuk shalat lagi di Masjidil Haram, melakukan Tawaf meskipun langkahnya tak bisa cepat. Saya menjauh dari kerumunan orang agar tak dipaksa berjalan cepat dari arah belakang, Alhamdulillah semua bisa dikerjakan dengan baik meski lebih lambat. Tak ada yang lebih membahagiakan saat menyadari belum sehat seratus persen, namun bisa menyelesaikan putaran-putaran sebanyak tujuh kali mengelilingi Ka’bah.

Ka’bah December 2019

Bahkan ada kebahagiaan tambahan ketika saya bisa berjalan hingga ke atap Masjidil Haram untuk mengambil foto Ka’bah dari atas. Suasananya tetap ramai tapi menyenangkan. Syukur Alhamdulillah saya bisa menyaksikan semuanya, merasakan semuanya lagi setelah demam yang saya alami.

Saya memang kehilangan banyak momen selama berada di Mekkah terutama di Masjidil Haram namun sepertinya setiap perjalanan rohani seseorang membawa cerita tersendiri baginya dan mungkin berbeda dengan cerita-cerita orang lain. Tetapi sepertinya ada sebuah benang merah yang bisa ditarik saat berada di sebuah tempat suci. Wajah sejati kehidupan yang terlihat senada, hanya ada rendah hati, terbuka tanpa rahasia,-karena ego telah ditanggalkan-, hubungan yang begitu pribadi antara manusia dan Penciptanya

Berserah Bermadah


25 Desember 2019 Malam, Waktu Makkah

Sesegera setelah makan malam kami berkumpul langsung di lobby hotel. Hampir semua jamaah pria menyempurnakan kembali pakaian ihram yang telah dikenakan sejak miqat di Masjid Bir Ali siang tadi. (Baca dulu perjalanan dari Madinah ke Mekkah sebelumnya dengan judul Pilgrimage 4: Menuju Tempat Utama)

Pak Ustadz berdiri paling depan mengawali rombongan kami, -kecuali Nini yang melakukan umroh dengan layanan kursi roda-, kemudian kami berjalan bersama menuju Masjidil Haram sambil melafalkan doa dan kalimat talbiyah. Terasa getar halus yang merambat naik ke seluruh tubuh. Inilah dia, inilah waktunya. Semakin dekat, semakin banyak manusia. Seperti yang Pak Ustadz katakan, Masjidil Haram tak pernah sepi dari manusia, apalagi jelang waktu shalat. Dimana-mana orang akan berusaha mendekat. Merasakannya sendiri, berada diantara ribuan jamaah itu, timbul berbagai rasa dari dalam hati. Merasa kecil tapi sama-sama manusia, syukur bercampur haru, rasa asing, takut, bahagia, ada juga sedikit tak sabar, semua campur aduk menjadi satu, timbul tenggelam.

Di pelataran depan Clock Tower kami berhenti, menunggu rombongan dari hotel bintang lima bergabung. Kesempatan menunggu itu saya gunakan untuk memutar kepala, mengarahkan pandang ke gerbang Masjidil Haram. Ya Allah, begitu terang, begitu bercahaya. Begitu banyak jamaah hilir mudik dalam balutan ihramnya. Saya memindah pandang ke bawah, tak mau yang lain mengetahui airmata yang menetes, mengharu biru. Untunglah bermanja rasa itu tak lama karena harus fokus mengikuti langkah Pak Ustadz agar tak terpisah. Karena berjalan dalam satu rombongan diantara ribuan orang yang berselimut warna putih, tentu tidak semudah bicara. Apalagi di tempat tersuci, semua niat dan perkataan bisa membawa akibat.

Gate at Night

Sebelum melakukan tawaf, kami shalat Jamak Maghrib dan Isya yang diimami oleh Pak Ustadz, karena kami semua ingin melakukannya di Masjidil Haram. Tempat yang dipercaya, sekali shalat disini mendapat ganjaran pahala 100.000 kali di bandingkan shalat di Masjid lain kecuali Masjid Nabawi dan Masjidil Aqso. Dan setelahnya, kami menuju area Mataf, area tempat Ka’bah berdiri

Ritual Umroh

Berjalan menuju Mataf, saya memanjang-manjangkan leher. Sebagai orang yang belum pernah menginjakkan kaki di Masjidil Haram, tentu saja ada keinginan yang amat kuat untuk bisa melihat Ka’bah yang menjadi arah kiblat shalat dengan mata kepala sendiri. Tetapi Masjidil Haram itu amatlah luas dan pak Ustadz dengan mudahnya berjalan seakan-akan kakinya memiliki mata, sementara saya seperti kerbau yang dicocok hidungnya untuk terus mengikutinya. Sampai akhirnya… sepasang mata saya ini melihat Ka’bah untuk pertama kalinya. Masya’Allah

Saya melihatnya sambil berjalan dengan mata tak berkedip. Bangunan yang biasa terlihat di sajadah-sajadah atau hanya bisa disaksikan via media, kini saya bisa melihatnya langsung dengan mata sendiri. Saya berkedip-kedip menahan airmata yang menggenang memenuhi pelupuk. Allah Maha Baik telah memberikan saya kesempatan berkunjung ke tempat yang suci ini. Berkali-kali saya menggigit bibir untuk memastikan saya tak bermimpi.

Sebelum melangkah ke area Mataf yang dipenuhi begitu banyak orang, pak Ustadz mengingatkan kami semua untuk tetap bersama-sama dan tak terpisah dari rombongan. Mendengar itu, langsung saja saya menggamit ujung kain ihram suami yang memang disisakan di bagian pinggang (sang belahan jiwa mengikuti arahan dari Pak Ustadz tentang cara mengenakan kain ihram yang katanya tidak akan melorot dan akan semakin kencang jika bagian sisa itu ditarik). Begitu banyak rasa ketika akhirnya saya benar-benar mengikhlaskan diri, berserah sepenuhnya saat menapakkan kaki untuk pertama kali di area Mataf, pelataran terdekat berlantai putih yang melingkari bangunan dengan sisi sekitar 12 – 13 meter itu. Ada gema khusus dari dalam jiwa saat menjejak lantainya, tak bisa dijelaskan rasanya kecuali rasa haru yang melimpah ruah.

Tawaf

Tawaf

Meski langit malam memayungi kota Mekkah, saat itu saya sama sekali tak merasa gelap karena cahaya lampu begitu terang. Apa yang sering saya lihat di TV atau media sosial lain, kini saya ada di dalamnya, mengikuti langkah-langkah manusia lain yang berserah diri, bermadah dan melantunkan pujian, berharap kasih sayangNya. Meski tawaf dilakukan jelang tengah malam, jumlah jamaah yang melakukannya tak juga menyurut. Udara terasa sejuk meski tak sedingin Madinah. Mungkin itu juga yang menyebabkan jamaah banyak memulai ritual umroh pada malam hari, seperti kami.

Melihat begitu banyaknya orang di area Hajar Aswat, -sebuah sudut berbatu hitam yang segarisnya menandakan awal Tawaf,- saya langsung minder. Apalagi rombongan kami tak ada yang mendekat ke Hajar Aswat. Saya melambaikan tangan sebagai lambang menciumnya lalu melantunkan bacaan dan pujian

Putaran demi putaran tak terasa lelahnya jika puji-pujian dan doa dilantunkan hanya untukNya, kadang ada desakan dan dorongan datang dari rombongan yang baru datang atau juga datang dari rombongan yang telah selesai. Tak ada umpatan, kejengkelan dan kemarahan, semua saling memberi jalan, berhenti sejenak meskipun bisa tergencet karena dorongan dari belakang. Kadang saya terhimpit dari samping oleh badan suami yang terdesak tapi tak pernah lama. Apapun, semua maklum. Hanya ada rasa berserah di RumahNya. Rombongan Indonesia amat mudah dikenali, biasanya banyak, berpakaian sama kecuali para prianya yang berihram biasa. Yang menarik perhatian adalah suara lantunan mereka yang nyaring diawali oleh pembimbingnya. Bisa jadi mereka tak sadar telah bersedekah membantu yang sulit menghafal bacaan doa dan pujian.

Dan saya mendapat keajaiban itu. Saya menyadarinya, meskipun lupa pada hitungan putaran keberapa. Awalnya saya tak percaya, tetapi keadaan itu tak berubah hingga Tawaf selesai. Saya menggigit bibir penuh rasa syukur sambil tak berhenti mengucapkan doa dan puji-pujian. Ya Allah… rasanya tak tertahankan, tak terkatakan… Di tengah padatnya manusia yang sedang berjalan itu, saya menyaksikan sendiri, sekitar semeter setengah lingkaran di depan saya selalu kosong Padahal di luar itu, langsung ada punggung orang lain. Ketika saya mempercepat jalan hingga mendekat ke orang di depan saya, maka orang di depan saya selalu bergerak lebih cepat. Selalu ada ruang sekitar 1 meter di depan saya yang kosong seakan-akan dibukakan jalan agar saya mudah melangkah, berlangsung terus hingga Tawaf selesai. Alhamdulillah.

Ya Allah, saya mengingat anugerah-anugerah penuh keajaiban yang terjadi dalam kehidupan saya, juga dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya. Sungguh saya merasa mendapat berkah yang tak habis-habis. Rasa syukur begitu memenuhi hati seakan hendak meledakkan diri, semua hanya untukNya, Dzat Yang Maha Baik.

Setelah Tawaf, jamaah mendirikan shalat sunnah di belakang maqom Ibrahim. Meskipun diberi tali pembatas, kadang jamaah yang sedang Tawaf membuatnya tergeser sehingga ruang untuk bersujud bagi jamaah yang sedang shalat menjadi lebih sempit. Namun hebatnya para petugas, yang dikenal sebagai Askar, dengan sigap mengembalikan pembatasnya dan meminta jamaah agar shalat di area yang ditentukan. Shalat pertama saya di pelataran Ka’bah membuat rasa begitu membuncah. Luar biasa sekali. Gambaran-gambaran yang begitu sering terlihat di sajadah kini terpampang di hadapan saya. Sebisanya saya merekam dalam ingatan karena lebih banyak doa dilangitkan di tempat yang konon makbul untuk berdoa.

Dalam Masjid Al Haram

Sa’i dan Tahallul

Gelap malam masih meliputi kota Makkah ketika kami berjalan menuju Mas’a, -tempat melakukan Sa’i-, yaitu aktifitas wajib dalam haji dan umrah yang mengharuskan jamaah berjalan (sedikit cepat) dari bukit Shafa menuju Marwah dan sebaliknya sebanyak tujuh kali, untuk mengingat upaya keras Siti Hajar demi putranya, -Nabi Ismail AS yang menangis kehausan-, sehingga Siti Hajar setengah berlari dari Shafa menuju Marwah bolak-balik untuk mendapatkan minum. Akhirnya Allah memancarkan sebuah mata air untuk mereka berdua yang belakangan dikenal Air Zamzam.

Saat itu, seperti juga Tawaf, Sa’i di tengah malam itu tetap padat luar biasa. Kembali saya terpesona, area Mas’a lengkap dengan pendingin udara dan kipas, lebarnya sekitar 20 meter yang terdiri dari dua jalur lebar untuk para pejalan kaki serta dua jalur khusus untuk jamaah difable maupun pengguna kursi roda. Tentu saja kondisi ini teramat jauh berbeda dengan kondisi orisinalnya di jaman dulu. Kini, perjalanan tujuh kali putaran sepanjang total 2,8 kilometer itu pun terasa tak melelahkan, karena sejalan dengan kaki yang melangkah, pikiran diingatkan pada upaya Siti Hajar yang selalu memohon pertolongan Allah dalam menghadapi kesulitan, dan memohon ampunan dari seluruh perbuatan dosa.

Sa’i

Setelah berniat, kami berjalan di antara para jamaah dengan kecepatan rata-rata. Saya, juga para muslimah dalam rombongan kami, mengimbangi kecepatan para jamaah pria yang harus berlari-lari kecil dalam kawasan yang berlampu hijau. Karena sa’i adalah salah satu rukun ibadah yang dilakukan dengan jalan cepat, lebih cepat dari jalan biasa dan lebih lambat dari lari.

Meski dalam ritual ibadah, mata ini tak mampu mengabaikan kemegahan tempat Sa’I, yang dimasukkan ke dalam bagian Masjidil Haram pada tahun 1975 ketika sedang dilakukan perluasan Masjid. Kini, di bangunan dua lantai demi mengakomodasi jumlah jama’ah yang semakin besar tiap tahunnya, kaki jamaah bisa senantiasa bersih karena menapaki lantai marmer putih yang menutupi area hingga ke bukit Shafa dan Marwah. Di bagian ujung, meski hanya sebagian kecil saja, dua puncak bukit tersebut dibiarkan terbuka apa adanya dengan batuan khas Jazirah Arab.

Saat Sa’i, mata ini sempat menangkap pandangan seorang perempuan sepuh berjalan sendiri di pinggir, tertatih dengan ritme kaki yang sudah ringkih. Raga boleh tertatih, namun mungkin baginya iman kepada Allah lebih utama. Bukankah Sa’i sendiri bermakna perjuangan hidup yang pantang menyerah, penuh kesabaran, ketakwaan dan ketawakalan terhadap Allah? Gambaran ibu sepuh tadi berakar kuat di benak, seakan mengingatkan sejatinya Sa’i tak boleh terlalu nyaman dengan lantai marmer ber-AC.

Hampir tiga kilometer ritual Sa’i dilakukan dan ketika selesai di bukit Marwah, rasa syukur lagi-lagi membuncah deras. Di dekat batuan keras bukit Marwah itu, kami semua melakukan tahallul yang ditandai dengan menggunting rambut. Tahallul sendiri menandakan selesainya ibadah umroh. Semua yang haram dilakukan selama Umroh kini telah menjadi halal kembali. Alhamdulillah.


Malam masih menyelimuti bumi Mekah ketika kami melewati sebuah pintu keluar dari area Mas’a. Langit masih gelap meski cahaya lampu bersinar amat terang. Saya melempar pandang, dimana-mana masih terlihat jamaah berpakaian serupa, bernada sama, berserah dan bermadah kepadaNya.

Ka’bah

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 8 dan bertema Puncak agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

Taj Mahal Mini di Jakarta


Dua bulan sebelum pendirinya berpulang, saya mengajak suami untuk berkunjung ke Masjid Ramlie Musofa yang berada di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Memang sudah lama saya ingin ke Masjid ini karena konon, bentuknya menyerupai Taj Mahal, sebuah bangunan indah UNESCO World Heritage Site yang berlokasi di Agra, India. Yah, tidak apa-apa ke Sunter dulu. hitung-hitung menjejak miniaturnya dulu sebelum melihat aslinya yang ada di negeri Shah Jahan itu 😀

Jadilah, jelang waktu Ashar, saya sampai di Masjid yang didominasi warna putih itu. Kesan pertama melihat masjid itu, teramat cantik dan indah. Cukup beruntung saya bisa mendapatkan tempat parkir kendaraan di pinggir jalan tepat di depan Masjid, karena sepertinya lahan untuk parkir tidak terlalu luas (meskipun petugas parkir mempersilakan untuk parkir di halaman dalam Masjid)

Masjid Ramlie Musofa

Berada di seberang Danau Sunter, Masjid Ramlie Musofa ini memang menarik perhatian karena, -selain warna bangunan yang putih mencolok mata-, bangunan ibadah ini berdiri di antara perumahan elite di kawasan Danau Sunter Selatan yang mayoritas penghuninya beretnis Chinese dan umumnya Non-Muslim. Tapi semuanya itu tentu ada kisahnya sendiri…

Tidak seperti umumnya masjid-masjid di Indonesia, nama masjid ini tergolong unik karena namanya diambil dari gabungan dari lima nama orang dalam satu keluarga. Ya, nama Ramlie Musofa merupakan gabungan nama Ram dari Ramli Rasidin, sang pemilik sekaligus pendiri Masjid;, Lie dari Lie Njoek Kim, istri sekaligus sang belahan jiwa; Mu dari Muhammad Rasidin, anak pertama; So dari Sofian Rasidin, anak kedua dan Fa dari Fabianto Rasidin, si bungsu dari keluarga Rasidin. Harapannya tentu teramat baik, sepanjang Masjid difungsikan untuk kepentingan orang banyak dan alam semesta, InsyaAllah pahalanya tetap mengalir kepada keluarga. Namun sebenarnya siapa mereka?

H. Ramli Rasidin merupakan seorang mualaf keturunan China yang lahir di tahun kemerdekaan dan menyatakan syahadat ketika masih belia yakni berumur 19 tahun, di Aceh pada tahun 1964. Dan hampir setengah abad kemudian, ia mendirikan sebuah masjid tiga lantai di atas lahan seluas 2000 meter persegi di kawasan Sunter yang pembangunannya memakan waktu hingga 5 tahun. Keelokan masjid ini bukan kaleng-kaleng, keterkenalannya sebagai bangunan cantik serupa Taj Mahal ini, membuat Imam Besar Masjid Istiqlal sendiri, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, berkenan mendatangi Masjid dan meresmikannya pada bulan Mei 2016. Hebat kan?

Masjid cantik yang menyerupai Taj Mahal ini memang sesungguhnya terinspirasi oleh filosofi bangunan yang terkenal sebagai The Wonders of The World yang berlokasi di Agra, India itu. Jika Taj Mahal yang asli didirikan sebagai persembahan cinta seorang suami terhadap isterinya, seorang Raja Mughal, Shah Jahan, terhadap Mumtaz Mahal, sang belahan jiwa yang telah memberinya 14 orang anak, maka Masjid Ramlie Musofa ini didirikan juga atas dasar cinta, namun bukan sembarang cinta. Masjid ini dibangun atas dasar cinta yang tulus dari seorang Ramli Rasidin terhadap Allah Subhana wa Ta’ala, juga terhadap agama Islam yang dianutnya dan tentunya tak dapat dipisahkan cintanya terhadap keluarga.

From the entrance stairs

Jelang Ashar itu, terik matahari masih terasa memanggang kulit sehingga saya bergegas memasuki halaman Masjid untuk mencari keteduhan di sudut halaman. Dari tempat saya berdiri, rasanya tak bisa dihindari bahwa saya terkagum-kagum melihat keindahan arsitekturnya yang memang menyerupai bangunan utama dari Taj Mahal. Memiliki tiga kubah dengan komposisi letak dan perbandingan yang serupa satu sama lainnya. Lengkap dengan menara-menara kecil yang didirikan mengitari kubah utama dan dua kubah kecil di lantai atap. Seandainya ada empat menara putih tinggi di tiap sudut halamannya, tentunya Masjid ini akan semakin lekat berlabel Taj Mahal mini. Tapi tak ada menara pun rasa Taj Mahal sudah menghampiri hati.

Saya tak bisa berlama-lama memanjakan mata karena panggilan shalat Ashar sudah terdengar. Saya tersenyum penuh syukur dalam hati, ternyata segala kemacetan panjang dari rumah hingga mencapai masjid ini memiliki maknanya sendiri. Sang Pemilik Kehidupan berkenan melimpahkan karuniaNya, menghantarkan saya agar bisa mendirikan shalat Ashar berjamaah di Masjid ini.

Memasuki ruang wudhu untuk wanita yang diletakkan di sisi Barat, membuat saya terperangah dan mambuat hati terasa hangat. Kenangan saat ibadah umroh enam bulan sebelumnya langsung mengisi kalbu. Ruang wudhu perempuan (dan tentunya juga untuk pria) dari Masjid Ramli Musofa tak jauh beda dengan ruang wudhu di masjid-masjid utama di Jazirah Arab dan juga di Palestina. Pada setiap keran yang mengalir disediakan tempat duduk batu sehingga memudahkan jamaah untuk bersuci dan tentunya aman. Setelah ruang berwudhu, terlihat pula area kecil tempat menggantung mukena-mukena bersih yang siap digunakan. Kemudian dilanjut dengan ruang terbuka yang luas dengan hamparan karet. Memang, lantai dasar digunakan sebagai ruang shalat wanita. Ada televisi layar datar yang digunakan sebagai alat monitor kegiatan ibadah Imam yang memimpin shalat. Sebelum memulai shalat, saya mencuri waktu untuk memperhatikan ruangan. Tidak ada yang istimewa kecuali ada pintu langsung ke jalan samping Masjid. Ternyata akses itu diberikan untuk calon pengantin yang akan melakukan proses pernikahan karena memang lantai dasar merupakan tempat pelaksanaan akad nikah.

Selesai shalat saya memanfaatkan waktu untuk berkeliling. Ternyata semakin dijelajahi, semakin terasa kentalnya percampuran tiga budaya yaitu Indonesia, Timur Tengah dan Timur Jauh (Tiongkok). Pada dinding di kanan dan kiri tangga utama dituliskan arti Surat Al Fatihah dalam dua bahasa. Dibuat seperti itu, konon, ditujukan kepada semua yang datang agar membaca, memahami dan memaknai Surat Pembukaan dari Al Qur’an itu. Bagi mereka yang berlatar budaya China tentu akan lebih mudah membaca dan memahaminya dalam karakter Mandarin. Bagi mereka yang hafal surat Pembukaan itu tapi belum memahami artinya, diberikan pula arti dalam bahasa Indonesia. Semua itu ditujukan seraya menaiki tangga utama sebelum menjejak lantai utama yang digunakan sebagai tempat shalat untuk laki-laki. Lalu berada di puncak tangga utama, saya menikmati lengkungan indah di atas pintu. Tak heran, bagian ini mengingatkan akan bangunan Taj Mahal dengan hiasan geometris khas Islam.

Sebelum memasuki ruang utama, saya berjalan mengelilingi selasar luar dan menikmati setiap dekorasi yang ada pada dinding-dinding Masjid hingga sampai di pintu Timur. Dari pintu di bagian Timur terlihat pemandangan di lantai utama sangat indah dengan mihrab tempat Imam memimpin ibadah yang dibuat cantik, lengkap dengan hiasan khas Islam. Sinar matahari menerobos masuk dari jendela-jendela mini di dasar kubah utama, menerangi bagian bawah seperti cahaya surga.

the mihrab in main prayer area

Dari tempat saya berdiri juga bisa terlihat lantai tiga Masjid yang terbuka ke bawah seperti sebuah mezanin. Mungkin digunakan untuk ibadah jika lantai satu tak mampu menampung jamaah yang mau beribadah. Terlihat juga pilar-pilar putih menghiasi bagian dalam masjid.

Saya memahami, waktu bagi saya untuk menikmati Taj Mahal mini di Jakarta hampir habis, sehingga saya mempercepat langkah tanpa melepas untuk mengabadikan spot-spot yang cantik karena ada sebuah bedug terlindung dalam sebuah ruang berkubah yang disokong empat pilar yang diletakkan di sudut Barat Daya.

Sungguh saya bersyukur bisa mewujudkan keinginan untuk menyambangi Masjid yang serupa dengan Taj Mahal bahkan bisa mendirikan shalat berjamaah di dalamnya. Dan meskipun pendiri Masjid Ramlie Musofa,, Haji Ramli Rasidin, telah tutup usia pada akhir bulan Agustus 2020 dalam usia 75 tahun, saya berharap Masjid yang ditinggalkannya bisa tetap bermanfaat bagi masyarakat. Dan tentu saja saya juga berharap semakin banyak muslim dan muslimat yang memakmurkan Masjid cantik ini.

Bagi yang hendak berkunjung ke Masjid Ramlie Musofa, berikut adalah alamat lengkapnya: Jalan Danau Sunter Selatan 1 blok 1/10 Nomor 12C – 14A, RT.13/RW.16, Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14350


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 7 dan bertema Mosque agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

Sebuah Janji Terbang ke Annapurna Base Camp


Sebuah Catatan di Bulan Oktober 2016

Dalam doa, saya tersentak. Benarkah ini? Tak mungkin tak percaya, tak mungkin tak merasa. Karena rasa itu begitu intense. Ada bahagia mendekap rasa, sangat kuat. Rasa yang sama, dalam hari-hari perjalanan luar biasa di Nepal 2014 lalu

Ke Nepal? Lagi? ABC? Annapurna Base Camp? Rasanya tak percaya, tetapi jelas ada rasa yang teramat kuat, sebuah janji yang tak pernah tak ditepati, sehingga tak perlu lagi ada tanya. Saya akan sampai di Annapurna Base Camp!


April 2017

Tak banyak waktu dibuang di Pokhara sekembalinya kami dari Australian Camp yang kisahnya bisa dibaca di sini. Trekking telah selesai tetapi bukan berarti liburan harus ikut selesai. Apalagi udara Pokhara yang nyaman sangat mendukung kami untuk mengeksplorasi kota di pinggir danau Phewa itu. Tentu saja kami harus melakukan apa yang dilakukan orang saat pertama kali ke Pokhara, berperahu keliling danau dan mampir ke Barahi Tal, pulau kecil di tengah danau dengan kuil yang cantik. Sungguh waktu yang menyenangkan untuk berperahu yang kemudian dilanjut acara cicip kuliner di setiap kios makanan di pinggir danau itu terutama bagi kedua sahabat seperjalanan trekking. Saya terheran-heran perut mereka bisa terus dimasukkan makanan sementara saya yang picky ini sangat sulit menelan makanan yang asing. Bisa jadi mereka ‘balas dendam’ terhadap dal bhat yang disantap setiap hari selama trekking.

Kami jalan perlahan kembali menuju hotel, sambil ke ATM untuk tip porter yang harus diselesaikan. Tiba-tiba Pak Ferry menghampiri saya, serius sekali wajahnya.

“Kita sudah sampai di sini, tanggung banget kalau tidak ke ABC. Tadi saya sempat tanya sebelum kita ke Danau, harganya sedikit mahal tapi sepertinya masih terjangkau. Lagi pula, kapan lagi? Mumpung kita di Pokhara”

Sambil berbicara itu, Pak Ferry menunjuk ke sebuah kios di dekat ATM, yang membuat saya berdesir.

Heli tour ke Annapurna Base Camp!

Selagi Pak Ferry bicara, saya berhitung cepat di kepala, menimbang-nimbang apakah saya mau mengeluarkan tiga jutaan lebih untuk ke Annapurna Base Camp. Bayangan indah pegunungan Himalaya menari-nari di benak ditambah pengalaman naik helikopter dan juga pencapaian keinginan ke Annapurna Base Camp sebagai destinasi liburan. Semuanya mendesak tanpa peduli, seakan-akan ada suara, uang bisa dicari lagi tapi kapan lagi bisa naik helikopter ke gunung salju?

Pak Ferry memandang dan menunggu jawaban. Detik-detik berlalu sementara di kepala masih ada pertempuran take it or leave it. Sepersekian detik, terasa lagi rasa yang pernah menghias hati saat berada di persimpangan Chhomrong, Ke kiri ke ABC dan ke kanan kembali ke Pokhara. Melepas tujuan liburan itu sebenarnya tak pernah mudah. Lalu sekarang, ada kesempatan kedua untuk meraih kembali impian. Take it or leave it!

Saya mendadak menggigil karena merasa diberikan kesempatan kedua namun masih terlalu lama berpikir. Ada jalan yang terbuka, sebuah kesempatan yang bisa hilang begitu saja jika saya terus berpikir tanpa kepastian. Bukankah kesempatan ini merupakan sebuah tanda dari Semesta? Kami memang harus ke ATM, yang ternyata berada di depan dari agen heli-tour itu. Bahkan Pak Ferry sudah bertanya-tanya tentang Heli tour itu.

Menyadari bahwa Semesta sedang mencoba berkomunikasi kepada saya, dengan keyakinan penuh saya mengangguk. Lalu kaki terasa ringan saat melangkah ke dalam kantor yang tidak luas itu, lalu melakukan reservasi untuk penerbangan pagi keesokan harinya. Saya menutup mata ketika kartu kredit itu dipakai. Meskipun terasa seperti mimpi, nyatanya semua yang terjadi dimudahkan dalam prosesnya.

Malam hari di kamar hotel, saya mengingat kembali perjalanan hari itu. Pagi hari saya masih sarapan pagi di Australian Camp, lalu menghabiskan trekking Annapurna Conservation Area dan kembali ke Pokhara, menyusuri Danau Phewa yang diakhiri dengan sebuah keputusan yang luar biasa untuk kembali ke Annapura Base Camp. Ingatan ini kembali ke tahun 2014 ketika meninggalkan Nepal dan menyaksikan dengan jelas Mt. Everest dari jendela pesawat, lebih jelas daripada ketika melakukan Mountain Flight. Semesta selalu mendukung perjalanan saya ke Nepal. Dan esok hari sebagai hari terakhir di Pokhara, saya diberikan kesempatan lagi untuk menjejak Annapurna Base Camp dengan segala keindahan puncak-puncak berselimut salju abadi. Malam itu, saya terlelap bahagia.

Keesokan paginya…

Dengan membawa daypack kami berangkat menuju bandara Pokhara. Perasaan kami luar biasa bahagia, seperti orang yang baru pertama kali naik pesawat terbang dengan segala imajinasinya. Tak banyak orang bisa memiliki kesempatan menaiki helikopter untuk ke Himalaya. Pastinya ini gaya Sultan 🙂

Di bandara yang lengang itu, kami tak sabar menunggu. Kami melihat beberapa helikopter di landasan, entah mana yang akan kami naiki. Lalu ketika saat boarding diumumkan setengah berlari kami menuju helikopter itu meski tak lupa instruksi dan SOP untuk menaiki helikopter. Kami semua yang seluruhnya ada 6 orang, seorang perempuan cantik dari Saudi Arabia, sepasang dari Malaysia dan kami bertiga, kembali menjadi seperti anak kecil yang minta berfoto dengan latar helikopter. Tapi acara foto akhirnya harus berhenti karena pilot yang gantengnya setengah mati itu sudah memberi kode untuk naik. Waktunya terbang!

Mesin menyala dan sebelum mengangkasa, pilot melakukan briefing singkat tentang keselamatan terbang yang mungkin hanya didengarkan dengan satu telinga karena ekstasi yang melimpah dari semua penumpang, melupakan bahwa kendaraan yang dinaiki adalah helikopter dan bukan pesawat terbang. Saya yang duduk di pintu di kiri berjendela luas, dapat menyaksikan seluruh penumpang yang sudah tak sabar. Mungkin hati mereka berkata, ayolah bang ganteng, jangan bicara terus, terbang sajalah… (dan asli, pilotnya gagah sekali!)

Lalu satu, dua, tiga dan huuup… heli mulai naik meninggalkan bumi. Pak Ferry yang duduk di depan saya tak berani melihat ke bawah karena sedang mencoba mengatasi phobia ketinggiannya. Saya sendiri berdegup kencang, tak percaya naik heli di Nepal. Sebuah pengalaman baru.

Dalam hitungan menit bangunan-bangunan di kota Pokhara semakin jelas terlihat dari atas dengan Danau Phewa yang menyangganya. Saya seperti menjadi drone yang mengamati bangunan-bangunan kotak di bawahnya, tanah-tanah lapang, jalan-jalan yang dilalui beberapa kendaraan karena hari masih pagi. Terasa sekali kami semua haus dengan pemandangan yang tidak biasa. Ini seperti naik pesawat saat mau mendarat sehingga pemandangan di bawah terlihat dekat dan jelas.

Heli semakin tinggi mengangkasa dan melewati perbukitan serta mendekati Annapurna Conservation Area. Saya terdiam membayangkan trekking kami di hari-hari sebelumnya. Perjalanan panjang berhari-hari itu bisa dipotong begitu cepat dengan terbang. Deru baling-baling atas yang berputar cepat tak menghilangkan kegembiraan kami menuju lembah Annapurna. We’re back! Perasaan kami begitu gempita membuat mata nyalang ke sana sini, berharap bisa merekam semua keindahan di depan mata, melupakan bahwa keindahan itu juga harus diabadikan dalam foto. Ah, rasanya sayang sekali jika keindahan luar biasa ini harus disaksikan lewat lubang kecil kamera. Tapi, kenangan itu harus ada…

Menit-menit berlalu dengan gegap gempita, tak ada yang bicara dalam ruang kabin yang kecil itu karena semua mata memandang keluar dan telinga hanya menangkap suara-suara shutter kamera yang tak putus.

Perbukitan hijau mulai tertinggal di belakang, dan kami rasanya melayang di lembah sempit dengan pegunungan bersalju menanti di depan sana. Hati ini berdenyut-denyut, pemandangan semakin tak terperi indahnya. Tak banyak orang bisa melihat keindahan dari atas ini, teramat berbeda jika kita melangkah melata di jalur-jalur trekking. Tak mampu menandai secara akurat lokasinya, saya hanya bisa memperkirakan bahwa Chhomrong dan Sinuwa sudah tertinggal di belakang dan mungkin sekarang sudah sekitar Bamboo.

Tak lama pemandangan berubah drastis, lembah di bawah melebar dengan segala keindahannya, gunung-gunung bersalju semakin dekat dan semakin jelas. Benar-benar tak bisa berkata-kata, totally speechless. Pilot mengemudikan heli dengan begitu baiknya, saya hanya tergagap ketika merasakan tebing gunung itu semakin dekat, dan menjadi begitu dekat. Saya menyempatkan diri melihat ke kanan, tebing itu juga dekat. Gila, kami benar-benar terbang di antara tebing bercampur salju yang curam dan amat tinggi.

Mata saya membelalak melihat tebing batu yang terasa begitu dekat, sepertinya baling-baling di atas itu akan menyentuhnya. Ngeri. Jika terhempas angin kencang, tebing karang berbercak salju itu siap menerkam kami semua. Manusia dan heli itu apa? Begitu kecil diantara tebing-tebing raksasa ini, rasanya tak ada artinya sama sekali! Kengerian yang hanya bisa dirasa saat terbang di antara tebing. Kengerian yang tak akan pernah terasa oleh mereka yang berjalan melata di jalur trekking yang terpukau indah akan tebing-tebing yang luar biasa tinggi

Dan dalam hitungan detik, di sisi kanan terlihat Mt. Macchapucchre, gunung yang berpuncak seperti ekor ikan itu, menjulang dengan gagahnya. Meski ngeri terbang di antara tebing, saya sempat membisikkan Namaste pada gunung favorit saya dan Mt. Hiunchuli yang ada di sebelah kiri. Lalu pilot heli yang handal itu meliukkan kami semua ke arah kiri. Pasti di bawah sana ada Macchapucchre Base Camp dan saya sedang menuju ke lembah luas yang dikelilingi oleh begitu banyak pegunungan berpuncak salju yang salah satunya adalah Mt. Annapurna South.

Daaan… penginapan ABC beratap biru itu sudah tampak dan pilot menurunkan kecepatan. Saya melihat keluar, orang-orang berjaket tebal di bawah sana memperhatikan kami. Beberapa petugas terlihat menjaga area mendarat dan menyuruh orang membatasi jarak dari tempat heli mendarat. Kami merasakan heli menjejak bumi dengan sukses. Alhamdulillah. Tapi tidak bisa langsung turun. Kami harus menunggu sebentar onboard.

Finally, landing at Annapurna Base Camp

Lalu lari menjauhi area heli dan berjalan menuju penginapan. Ketika membalikkan badan, saya melihat beberapa orang memasukkan barang-barang lalu tak lama kemudian heli pun mengangkasa lagi meninggalkan kami. Hingga heli berikutnya datang adalah waktu yang bisa dipakai kami untuk bersenang-senang di Annapurna Base Camp!

Annapurna Base Camp 360

Saya berdiri dan berputar 360 derajat, rasanya kaki ini begitu tak bertenaga karena rasa syukur penuh haru yang melimpah ruah. Ya Allah, saya ini begitu teramat kecil, tak berarti apa-apa berada di tengah gunung-gunung tinggi berpuncak salju ini. Berhari-hari saya berjalan di kawasan Annapurna Conservation Area hanya bisa menyaksikan keindahan ini dari kejauhan dan kini saya berada di tengah-tengah puncak-puncak gunung ini. Dalam kesendirian mata saya menghangat. Allah Pemilik Semesta selalu baik kepada saya, terlalu baik menganugerahkan begitu banyak keajaiban yang menjadi nyata untuk saya.

Dalam begitu banyak rasa, saya mengabadikan sebanyak-banyaknya yang saya bisa. Puncak Annapurna South (7219 m) berselimut salju terlihat begitu indah berhias sedikit awan dengan latar belakang langit biru. Pemandangan yang sering saya lihat ketika bicara trekking Annapurna. Lalu Machhapuchhre (6993m) terlihat begitu agung dengan bentuk puncaknya yang khas serta Hiunchuli (6441m) yang memiliki punggung gunung yang panjang.

Semuanya luar biasa terlihat dari tempat ini.

Saya mengeluarkan rok lilit batik dan mengenakannya di atas celana trekking dan meminta bantuan Pak Ferry untuk mengabadikan momen ini. Saya geli, rok lilit batik yang ternyata made in Indonesia ini saya temukan di pegunungan Nepal, dan saya kenakan di Annapurna Base Camp meski di baliknya tetap ada celana dan sepatu trekking. Biarkan saja, yang penting ada Batik di Annapurna Base Camp!

Saya tak banyak mengeksplorasi ABC karena naiknya ketinggian yang kami alami dalam waktu singkat. Setiap langkah memiliki risiko karena kadar udara yang lumayan tipis. Meski papan ABC terlihat dekat di bawah, saya tak mau mengambil risiko karena kembalinya bisa melelahkan dan tidak cukup waktu. Saya pun tak ingin meninggalkan tempat di luar penginapan karena ingin menikmati selama mungkin. Tak terasa waktu hampir 1 jam berlalu sangat cepat. Waktunya kembali ke Pokhara

Dari arah MBC saya melihat orang-orang kembali berkerumun di dekat landasan heli. Dan saya mendengar derunya terlebih dahulu daripada kemampuan melihat kedatangan helikopter karena kecilnya. Terlalu kecil untuk ukuran raksasa batu-batuan itu. Setelah mampu menandainya, saya berdiri memandang hingga heli mendarat sempurna. Beberapa orang kembali memasukkan barang lalu mempersilakan penumpang naik kembali. Ada rasa haru meninggalkan ABC, tetapi selalu ada waktu untuk perpisahan atas sebuah pertemuan. Semoga saya bisa kembali ke ABC.

Setelah lengkap semuanya, perlahan-lahan heli naik mengangkasa. Saya membalas lambaian tangan mereka meski tak kenal. Kurang dari 1 jam saya berada di Annapurna Base Camp dan kini harus kembali melakukan penerbangan dengan pacuan adrenalin.

Heli kembali terbang rendah mengarah Macchapucchre Base Camp, yang membuat hati ini rasanya menghilang. Bentuk lembah yang landai berselimut salju membuat bayangan heli itu menukik saat menuju MBC. Saya menahan nafas ketika bangunan biru MBC yang tertutup bayang tebing tinggi itu terlewati. Saya berucap dalam hati, semoga waktu membawa saya kembali ke sini.

The Sun behind Mt. Machhapuchhre or Fish Tail

Tak sampai satu menit setelah menandai MBC, Pilot handal itu meliuk lagi ke kanan meninggalkan MBC dan di depan mata saya terpampang jelas Mt. Macchapucchre dengan matahari yang masih bersembunyi di baliknya! Saya terpesona dengan gambaran epik di depan mata. Tak mudah mendapatkan foto Macchapucchre dari ketinggian, apalagi dengan matahari tersembunyi di baliknya yang menyebarkan sinar-sinarnya di batas-batas gunung. Rupanya gunung favorit saya memberikan wajah terbaiknya pagi itu dan I am so blessed bisa menyaksikan semua keajaiban ini.

Saya menempelkan tangan pada jendela seakan memberi salam perpisahan kepada gunung-gunung di sekitar ABC. Dan Semesta seakan menjawab lagi. Heli mendadak naik dan melewati sebuah punggung gunung yang penuh salju. Semesta seakan tak ingin saya kehilangan momen pergi ke lingkungan bersalju tanpa melihat situasinya. Alam memperlihatkan kecantikannya yang luar biasa pada sisi-sisinya yang berselimut salju. Saya menggigil, lagi-lagi bersyukur dalam hati atas semua karunia yang luar biasa ini.

Detik-detik berlalu, lingkungan berselimut salju tergantikan lagi dengan kehijauan, menandakan kota Pokhara di pinggir danau Phewa sebentar lagi akan menyambut kedatangan kami. Trekking berhari-hari telah kami lewati, menikmati setiap detiknya dengan penuh keringat, lelah namun gembira. Tak sangka, di hari terakhir kami mendapat karunia begitu besar dari Sang Pemilik Semesta membuat kami sampai di destinasi liburan kami.


Jakarta, Mei 2017.

Saya sudah kembali ke Jakarta dan membuka lagi catatan bulan Oktober tahun 2016 itu, yang membuat saya ‘gila’ untuk melakukan perjalanan Dare to Dream ke Annapurna Base Camp, trekking ke Himalaya meski saya bukanlah seorang pendaki gunung. Tulisan seperti puisi itu terpampang di halaman buku kecil bersampul coklat tepat di depan mata.

Ke Nepal? Lagi? ABC? Annapurna Base Camp?

Benarkah kita akan terbang lagi?

Di antara tebing-tebing tinggi ?

Saya menggigil dengan limpahan air mata, di catatan itu, yang tertulis empat bulan sebelum saya menginjak Nepal untuk kedua kalinya, tidak pernah tertulis bahwa saya akan berjalan, tertatih-tatih ke sana. Tidak tertulis saya akan berhari-hari melangkahkan kaki menuju ke Annapurna Base Camp, yang tertulis hanyalah terbang tinggi di antara tebing-tebing tinggi. Logika saya pergi ke ABC hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dalam hitungan hari, namun Sang Pemilik Semesta lebih mengetahui kekuatan saya. Dia akan menerbangkan saya.

Sebuah janji yang menjadi nyata.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 4 dan bertema Fulfillment agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

Menitipkan Doa Pada Angin


Imlek sudah berlalu hampir sebulan dan tentunya Cap Gomeh pun sudah berlalu. Seperti ada yang hilang dari biasanya, suasana kemeriahan yang tak terdengar, tak banyak hiasan. Di mal tempat saya mengitari untuk jalan siang, juga tidak ada keriuhan barongsai yang di tahun-tahun sebelumnya selalu diadakan, juga tak banyak dan tak lama hiasan Imlek dipasang. Lagi pula pengunjung mal jauh lebih sedikit, mal terasa jauh lebih lengang. Suasana yang sama sejak setahun terakhir ini. Di banyak tempat terasa senyap. Nyata sekali Covid-19 mengubah semuanya.

Merah Oriental yang biasa menjadi tema warna Imlek hanya terlihat sebentar di toko-toko. Padahal warna itu secara tak langsung telah membawa semangat bagi yang melihatnya. Tak bisa membohongi diri bahwa saya juga merasakan kehilangan suasana itu. Menyaksikan kelengangan suasana, ada sejumput doa dan harapan yang otomatis keluar dari lubuk hati, semoga pandemi ini segera berlalu, yang terpapar penyakit ini bisa segera sembuh dan semua manusia dikaruniai kesehatan dan perlindungan.

Warna merah yang biasa menjadi dekorasi Imlek sering disebut sebagai Merah Oriental. Warna ini juga sering terlihat mendominasi vihara atau pagoda di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Setiap berkunjung ke klenteng atau vihara baik di Indonesia maupun di negeri-negeri jauh, saya terbiasa mengabadikan sisi merahnya yang pastinya ‘eye-catching‘.

Tetapi mengapa disebut Oriental?

Ternyata istilah Oriental itu ada sejarahnya sendiri. Dari berbagai sumber di internet diketahui bahwa Oriental merupakan sebutan untuk Timur, atau semua yang berkonotasi dengan dunia Timur, yang tentunya dilihat dari kacamata benua Eropa (kalau dunia Barat disebutnya Occident). Arah Timur merupakan tempat matahari terbit, -sesuai asal katanya dari bahasa Latin, Oriens, yang secara harfiah berarti Timur atau bisa juga naik (dalam artian matahari terbit). Secara geografis pengertian dunia Timur mencakup sebagian besar benua Asia, termasuk Asia Barat (yang berdekatan dengan Eropa), wilayah Timur Tengah, juga Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur atau sering juga disebut Timur Jauh.

Entah siapa yang menetapkan garis batas Timur dan Barat itu. Namun konon, istilah Oriens dimulai pada masa Kekaisaran Romawi merujuk kepada Kekaisaran Bizantium yang letaknya di sebelah Timur Kekaisaran Romawi (Kekaisaran Bizantium biasa disebut Romawi Timur). Aslinya garis batas ini berada di pantai Timur Semenanjung Italia yang berhadapan dengan Laut Adriatik namun dengan berjalannya waktu, sekitar 600M garis batas ini dipindah ke kota Roma yang menjadi pusat Kekaisaran Romawi.

Dalam perkembangannya, istilah Oriens atau Oriental, dihasilkan dari pemikiran orang Eropa, akhirnya memiliki konotasi yang diskriminatif ketika merujuk kepada kehidupan masyarakat modern di Asia Timur dan Asia Tenggara. Apalagi, definisi Oriental tidak persis tepat selama berabad-abad dan sesuai perjalanan waktu mengalami pergeseran makna.

Gemasnya, jika Oriental digunakan untuk negeri-negeri sebelah Timurnya Romawi sampai Timur Jauh, istilah kebalikannya Occident, -yang berasal dari kata Latin occidens dan berarti Barat yang merupakan tempat matahari terbenam, tidak digunakan lagi dalam bahasa Inggris, karena berkonotasi negatif dan seperti tidak mendukung “dunia Barat”. Diskriminatif kan?


Terlepas dari rasa diskriminatif itu, warna merah oriental yang biasa terlihat di negeri-negeri Timur sebenarnya memiliki makna harapan untuk bernasib baik, mendapatkan keberuntungan dan keberhasilan serta perlindungan dari semua yang buruk. Warna-warna yang eye-catching itu sebenarnya merupakan sebuah harapan dan doa! Jadi semakin banyak warna merah yang terlihat, maka semakin banyak doa dan harapan yang dilangitkan. Indah kan?

Dan tidak hanya berupa tiang-tiang, patung, guci, lilin-lilin, tempat kue maupun angpao yang berwarna merah. Ketika saya berkunjung ke Vihara Buddhagaya Watugong atau terkenal juga dengan nama Vihara Avalokitesvara yang ada di pinggir jalan utama kota Semarang, saya menyempatkan diri untuk berjalan di bawah pohon Boddhi yang ditanam di halaman vihara tersebut. Saya terpesona dengan pita-pita merah yang bertulisan doa dan harapan dan pita itu diikat di ranting-ranting pohon Boddhi, pohon yang melindungi Sang Buddha saat mendapatkan pencerahan

Prayers on the red ribbon which is tied to the Boddhi tree

Mungkin mereka yang mengikat pita-pita berisi doa ke ranting pohon Boddhi itu berharap doanya bisa dititipkan kepada angin agar sampai kepada Sang Pemilik Semesta. Dengan desir angin yang membuat ranting dan daun bergerak-gerak, pita-pita merah itu ikut melambai. Salah satu yang saya lihat tertulis dalam pita merah itu adalah semoga semua makhluk hidup dalam damai dan harmoni. Saya terhenyak juga, mereka yang mengikat pita merah itu juga berdoa untuk saya… Semoga dia pun hidup berbahagia, berkecukupan dan hidup damai sejahtera.

Menyaksikan pita-pita merah yang terikat pada ranting pohon, menerbangkan ingatan saya ke Nepal, sebuah negeri yang dihiasi barisan gunung-gunung tinggi Himalaya. Di banyak tempat, digantungkan bendera doa warna-warni yang terbuat dari kain. Salah satunya berwarna merah. Tak hanya di tempat-tempat ibadah, bendera doa juga digantungkan di jembatan suspension yang tinggi, juga di tempat-tempat pencapaian seperti puncak gunung atau base camp. Mungkin angin akan membawa doa dan harapan yang tercetak di bendera doa yang terdiri dari warna biru, putih, merah, hijau dan kuning, yang masing-masing mewakili lima elemen. Biru melambangkan langit dan angkasa, putih melambangkan udara dan angin, merah mewakili api, hijau mewakili air dan kuning melambangkan bumi.

Meskipun telah robek diterpa angin dan usia, bendera-bendera doa itu tetap berkibar menerbangkan doa dan harapan ke Alam Semesta. Sebuah keindahan yang hanya ada di Asia, di dunia Timur


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 3 dan bertema Oriental agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

D8 – Trekking Nepal – Berakhir Nyaman


Australian Camp.

Sore belum berakhir ketika kami check-in di hotel Gurans yang ada di kawasan yang lebih sering disebut dengan Australian Camp, yang meskipun namanya camp, tempat ini menyediakan banyak penginapan yang sangat nyaman daripada area untuk camping. Mungkin karena dekat dengan Pokhara, dan sering dijadikan destinasi untuk pengalaman one day trekking.

Hotel Gurans, Australian Camp

Sayang gumpalan awan menghias langit sehingga tak ada sunset indah hari itu, tetapi saya tak menyesal karena bisa menikmati istirahat sore yang teramat menyenangkan, bertukar pesan dengan keluarga tercinta, dengan teman-teman yang lain, melihat-lihat foto dan yang paling penting meluruskan badan yang telah semingguan dihajar trekking. Kenyamanan rebahan membuat tak ingin meninggalkan pembaringan hanya untuk makan malam. Memang sesuai kata orang bijak, berada di comfort zone itu memang berbahaya karena tak ada kemajuan, termasuk berleha-leha dan tak ingin beranjak pergi…

Tapi makan malam tetap harus berlangsung, karena kasihan juga pemandu kami yang sudah bersusah payah mengupayakan kenyamana selama liburan. Lagi pula kami semua telah membayar untuk makan dan tidur selama trekking. Sedikit malas, saya memilih legging hitam terakhir berbalut jacket untuk makan malam di malam terakhir trekking, karena esok kami sudah kembali ke peradaban kota. Obrolan tak berlangsung lama, karena mendadak Pak Ferry minta diri untuk beristirahat di kamarnya setelah makan malam. Tak biasanya beliau begitu, seketika saya menjadi kuatir. Ia merapatkan jaketnya sampai ke leher, tampak kedinginan padahal udara relatif tak dingin.

“Are you alright, Pak Ferry?”, tanya saya prihatin

Ia tak mau menampakkan meskipun saya merasakan keganjilan.

“Saya mau langsung istirahat saja ya mungkin hanya lelah”

Tak bisa menolak, saya menyaksikannya meninggalkan ruang makan untuk kembali ke kamar dengan sejumlah tanya di benak. Semoga ia baik-baik saja, celetuk saya kepada pemandu kami yang ikut meramaikan suasana makan malam itu meskipun hanya sedikit tamu hari itu. 

Apakah karena ia melakukan sejengkal trail-run dalam perjalanan tadi sehingga ia kelelahan sedemikian rupa? Tapi malam itu tak ada jawabannya dan saya membiarkan diri untuk menggantung pertanyaan itu di kepala.

Situasi setelah makan malam menjadi sedikit hambar, saya sendiri tak ingin berlama-lama di ruang makan itu. Masih teringat nyaman dan enaknya rebahan sambil bersantai sejak sore tadi. Akibatnya, saat malam belum terlalu larut saya sudah minta diri untuk berisitrahat. Mungkin baik jika saya beristirahat lebih awal karena siapa tahu sunrise esok pagi akan indah…


Esok hari saya bangun lebih cepat. Bukan apa-apa, saya senantiasa berharap mendapatkan sunrise yang indah. Saya melipat selimut hotel yang sama saja dengan hotel-hotel sebelumnya, cukup tebal untuk menahan udara dingin yang masuk melalui lubang-lubang ventilasi. Setelah urusan rutin pagi selesai, sambil mengenakan jaket, saya keluar kamar.

Pak Ferry rupanya bangun lebih pagi dan telah berdiri di pinggir halaman, menikmati pemandangan cantik. Saya melangkah menujunya, menyapa dan menanyakan kondisinya mengingat semalam tak terlihat cukup baik.

“Selamat Pagi Pak Ferry, Sudah lebih baik sekarang, Pak?”

Dia tersenyum lebar mengiyakan lalu menjelaskan kondisinya semalam. Karena ia sangat mengenal tubuhnya, semalam itu “berdering” alarm tubuh yang mengingatkan dirinya untuk beristirahat dan tentu saja ia mengikuti alarm tubuh itu. Terbukti pagi ini dia merasa lebih fit. Mendengar penjelasannya, saya berpikir tentang orang-orang yang belum mendengarkan alarm tubuh yang memang telah diset teramat baik oleh Sang Maha Pencipta. Ada banyak orang, -mungkin juga termasuk saya-, yang mengabaikan alarm ini, menganggap badannya kuat padahal belum tentu sesehat yang diduga. Alarm tubuh ini mengingatkan untuk beristirahat, untuk keseimbangan tubuh dan mentalnya. Alarm tubuh yang sama, juga mampu mengingatkan pemilik tubuh untuk bergerak dinamis dan bukan hanya berdiam diri atau senantiasa rebahan. Mendadak saya merasa malu, karena lebih sering mengikuti keinginan tubuh untuk rebahan daripada bergerak meskipun alarm sudah berdenting.

Meskipun demikian, saya merasa lega dengan membaiknya Pak Ferry. Pagi itu bersisian kami terpukau dengan pemandangan pagi itu. Udara di Australian Camp masih berkabut tetapi Mt. Annapurna South (7219m) tampil dengan keindahannya dan seakan menyambung dengan punggung bukit yang rata menuju Mt. Hiunchuli (6440m). Puncak-puncaknya yang bersalju tampil lebih terang diterpa sinar matahari yang masih bersembunyi di bawah horison. Di sebelah kanannya, terpisah oleh lembah yang dalam, gunung favorit saya, Mt. Macchapucchre (6993m) si Ekor Ikan menjulang, meski puncaknya yang seperti ekor ikan itu belum terkena sinar matahari pagi. Dan sebagai pelengkap lukisan pagi itu, pohon-pohon hijau menjadi hiasan latar depan. Saya terpana, meskipun telah berhari-hari menikmati pemandangan indah, tetap saja saya terpukau dan langsung mengucap syukur kepada Pemilik Semesta telah diberi kesempatan menyaksikan pemandangan alam yang begitu indah.

View at early morning

Berada di Australian Camp dengan pemandangan indah ini membuat saya teringat kisah asal muasal namanya menjadi Australian Camp. Aslinya desa ini adalah Thulo Kharka yang artinya padang rumput yang luas karena memang dulu tempat ini menjadi tempat penggembalaan hewan-hewan domestik seperti kerbau dari desa Dhampus dan desa-desa sekitarnya. Uniknya, tempat yang memiliki padang rumput yang luas ini kurang dikenal oleh trekker hingga awal tahun 90-an, sementara berjarak hanya sekitar 15 menit berjalan dari sini, yaitu desa Phedi, Pothana, Landruk menjadi desa-desa populer yang masuk dalam jalur trekking menuju Chhomrong jika akan melakukan Annapurna Sanctuary Trek atau Annapurna Base Camp Trekking

Konon di akhir tahun 80-an, ada pengunjung dari Austria datang ke tempat yang memberikan kesan indah begitu dalam ini sehingga mereka mendirikan kemah selama beberapa hari. Bagi mereka tempat ini begitu damai dan tenang menghamparkan keindahan pemandangan gunung-gunung Himalaya. Kesan indah itu mulai menjadi pembicaraan di kalangan trekkers dan mereka menyebutkan tempat ini sebagai Austrian Camp. Sayangnya, Austrian Camp cukup sulit dilafalkan oleh penduduk Nepal dan bagi mereka lebih mudah menyebutkan Australian Camp. Sejak itu, padang rumput yang luas yang dikenal penduduk desa dengan nama Thulo Kharka memiliki nama baru dengan nama sebutan Australian Camp.

Sunrise at Australian Camp, Nepal

Keindahan yang disaksikan pengunjung awal Thulo Kharka bukan sembarang isapan jempol karena memang pemandangannya teramat indah. Pesona sinar matahari menerpa puncak-puncak gunung yang ditutupi salju abadi bahkan sebelum matahari muncul di horison membuktikan semua keindahan Alam Semesta. Lukisan pagi itu yang diwarnai warna kuning keemasan menggantikan warna biru gelap di belahan langit Timur. Lalu perlahan tapi pasti bulatan besar Sang Surya mulai memperlihatkan dirinya di Ufuk Timur. Di tempat saya berdiri, tak ada yang bicara kecuali suara-suara shutter camera yang tak putus. Pak Ferry terdiam mengabadikan. Kami terpesona dengan apa yang terhampar di depan mata.

Rasanya tak ingin melepas pagi yang mempesona itu namun panggilan pemandu kami dari arah belakang membuat kami menoleh. Sepertinya sarapan di tanah lapang itu telah siap. Wow… It’s a wonderful breakfast with a view! Sinar matahari yang lembut menambah kenikmatan sarapan di tempat terbuka itu. Pak Ferry sudah kembali seperti semula, mencoba melhap sarapan gaya lokal di tempat itu, sementara saya tetap konservatif dengan roti dan teman-temannya.

Breakfast with a view
Australian Camp

Selepas sarapan, saya ingin menikmati Australian Camp dengan lebih santai. Saya melangkah menuju tempat ayunan yang saat itu sudah tak digunakan. Rasanya ingin kembali ke masa anak-anak, saat bermain ayunan untuk menaikkan mood atau hanya sekedar ingin menikmati kenyamanan. Mengayun ke depan, seakan saya terbang ke pelukan gunung-gunung berpuncak salju itu lalu seakan bermain, ayunan itu kembali tertolak ke belakang, membiarkan pelukan gunung-gunung melepas saya kembali. Demikian berulang berkali-kali, seakan bermain dengan gunung-gunung Himalaya. Sejatinya, saya menikmati setiap ayunan yang membahagiakan di Australian Camp ini. Nyaman dan tenteram, tak ada beban.

Berat rasanya meninggalkan suasana Australian Camp yang tenteram dengan pemandangan gunung berpuncak salju ini. Suatu tempat yang tak mudah dicapai, -hanya dengan berjam dan bermenit-menit jalan kaki-, tetapi mampu menambahkan energi hidup. Berada di tempat yang tidak terlalu tinggi ini, saya memanfaatkan benar arti kenyamanan di Australian Camp. Inilah liburan yang sesungguhnya, sebanyak-banyaknya menyerap keindahan sebagai kenangan tak terlupakan, merekam semua pengalaman yang menenteramkan sebagai bekal nanti saat kembali ke dunia perkantoran.

Lalu sebagaimana pepatah lama berkata, waktu adalah hakim yang konsisten, setiap ada perjumpaan, sang waktu pasti akan mengakhirkan. Demikian juga kami yang tak ingin berpisah dengan pemandangan indah di depan mata, pemandangan gunung-gunung salju yang memberi kesan teramat dalam. Waktunya telah datang, kami harus melangkah lagi untuk kembali ke Pokhara. Selamat tinggal jalan setapak yang telah memberi kenangan indah…

Dan saat berjalan sendiri, saya seperti terus diingatkan alasan saya melakukan trekking ke Nepal. Saya teringat tentang Annapurna Base Camp. Rasa itu begitu kuat membuat saya menggigil meski udara tak dingin. Saya memang kembali ke Pokhara, tetapi perjalanan ini belum selesai…

Way Back to Pokhara

Catatan. Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan kisah trekking di Nepal sekaligus menjawab tantangan tahun 2021 bulan Februari no. 2 bertema Comfortable

Kapal Dalam Botol


Setiap berkunjung ke rumah Mama, mata saya selalu melirik ke benda itu. Entah mengapa, -selain foto besarnya tentu saja -, benda itu seakan mengingatkan langsung kepada Almarhum Papa, yang telah berpulang dua tahun silam. Tapi namanya juga rumah orangtua, tanpa benda-benda fisik yang bisa dilihatpun, pastinya pikiran ini selalu mengingat kepadanya. Iya kan?

Tapi tidak heran sih, karena benda itu seakan mewakili keahliannya Papa sebagai nakhoda kapal. Jadi bagaimana saya tidak mengingat Almarhum Papa jika ke rumah Mama dan mata ini langsung memandang si benda itu, kapal dalam botol kaca!

Dan tidak hanya satu botol, melainkan dua! Yang satu, kapal dengan tiga tiang tinggi dan yang lainnya, kapal dengan dua tiang tinggi. Keduanya termasuk jenis kapal layar (sejenis phinisi). Terlepas dari dua kapal dalam botol itu, masih ada lagi hiasan patung Buddha yang ada dalam botol kaca yang merupakan cinderamata Papa dari Burma. Untuk yang terakhir ini, sudah ada sejak saya masih kecil dan menjadi salah satu ‘penggoda’ saya untuk bisa sampai ke Burma, seperti yang telah saya ceritakan di Rencana ke Myanmar: Menapak Tilas untuk Sebuah Cinta

Ship in A Bottle & Buddha in A Bottle

Miniatur kapal bertiang tinggi tiga dalam botol itu yang menarik perhatian saya dan membuat saya melirik atau menoleh. Bisa jadi karena botol itu sedikit lebih besar dari pada botol yang berisi kapal bertiang dua itu. Lagipula Mama menempatkannya di bagian depan dan lebih mudah terlihat, sedangkan botol berisi kapal bertiang dua itu diletakkan di lemari kaca yang lebih jarang diakses.

Tapi bukan hanya itu. Kapal layar bertiang tinggi tiga itu bukan miniatur sembarang kapal. Seperti yang terlihat lambung kapal, kapal itu bernama Dewaruci, sebuah nama besar yang disandang oleh sebuah kapal Indonesia.

Kapal Dewaruci

Menurut Wikipedia, kapal yang menjadi satu-satunya berjenis barquentine terbesar di Indonesia, KRI Dewaruci merupakan kapal layar milik dan dioperasikan oleh TNI AL (dulu Angkatan Laut Republik Indonesia). Karena ukurannya yang sangat besar, kapal ini dijadikan tempat pelatihan layar untuk taruna Angkatan Laut. Terbayang kerennya di pelabuhan para taruna gagah itu berdiri di tiang-tiang kapal karena Kapal Dewaruci juga menjadi duta ke seluruh Indonesia dan dunia.

Beberapa sumber mengatakan bahwa Kapal Dewaruci dipesan pembangunannya di galangan H. C. Stülcken Sohn di Steinwerder, Hamburg, Jerman mulai tahun 1932. Sayangnya karena Perang Dunia II, galangan kapal tempat Kapal Dewaruci dibangun rusak parah sehingga pembangunannya tertunda. Dua dekade kemudian, Kapal Dewaruci yang membanggakan itu akhirnya diluncurkan dan selalu berlabuh di Surabaya sejak itu.

Seakan mengikuti para model gagah dan cantik yang selalu laku dalam dunia perfilman, Kapal Dewaruci dipilih oleh Studio Fox 2000 Pictures dalam film Anna and The King yang disutradarai Andy Tennant, dan dibintangi artis terkenal Jodie Foster dan Chow Yun Fat. Meskipun dalam film itu, Kapal Dewaruci disulap sebagai Kapal layar Inggris abad-18, film itu termasuk laku di pasaran dan termasuk dalam nominee Academy Awards 2000.

Mungkin memang karena penampilannya yang luar biasa keren itu, Dewaruci terus berpartisipasi dalam acara-acara rutin kapal tiang tinggi di seluruh dunia. Apalagi Kapal Dewaruci memiliki kelompok marching band sendiri, pastinya menjadi sebuah fitur yang teramat unik seperti yang terjadi di Hartlepool, -sebuah kota pelabuhan di County Durham, Inggris-, saat parade kadet Kapal Tiang Tinggi di tahun 2010. Saat itu kadet Kapal Dewaruci dan marching band-nya mendapat sambutan yang amat meriah dari pengunjung. Keterampilan luar biasa, penuh semangat dan antusiasme tinggi menghasilkan penghargaan dalam kategori kadet terbaik dalam parade. Dengan marching bandnya, para kadet juga tampil di Broadway, Newyork, USA yang mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat yang menyaksikan.

Sayangnya saat ini karena pertimbangan usia yang memasuki usia pensiun untuk ukuran Kapal Layar, Kapal Dewaruci mengurangi perjalanan panjangnya dan lebih banyak berlabuh di pelabuhan. Kini perjalanan Kapal Dewaruci banyak digantikan oleh Kapal Tiang Tinggi lainnya yaitu Kapal Bima Suci.

Bagi saya, nama Kapal Dewaruci lalu dilanjutkan dengan nama Kapal Bima Suci yang berbau pewayangan Indonesia ini memberi perhatian tersendiri. Seperti biasanya, pasti namanya mewakili kebaikan, kebenaran dan keberanian sesuai tujuan mulia kapal itu.

A Three Masts Tall Ship (Dewaruci) in A Bottle

Kisah Bima dan Dewa Ruci

Dalam Mahabharata versi Indonesia, Dewa Ruci adalah dewa mini yang ditemui oleh Bima atau Werkudara, -yang kedua dari Pandawa Lima-, ketika ia mencari air kehidupan Tirta Perwitasari. Kisah Dewa Ruci yang hanya ada di Indonesia ini, menjunjung kesetiaan dan kepatuhan murid terhadap sang guru, tentang perjuangan seseorang menemukan jati dirinya hingga bisa bertindak mandiri menjunjung kebenaran.

Berakar kuat dalam filosofi Jawa terutama mereka yang mendalami aliran kebatinan, mampu mengenal diri sendiri berarti memahami diri sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan pemahaman itu seseorang akan berusaha bertindak selaras dengan kehendakNya. Sebuah filosofi Jawa yang amat terkenal, Manunggaling Kawula Gusti

Kisah Bima mencari Air Kehidupan (Tirta Perwitasari) dimulai ketika Sang Guru, Resi Drona, memberitahu bahwa air kehidupan itu berada di dasar samudera. Sebagai murid yang patuh, tanpa pikir panjang, Bima terjun ke dasar Samudera meskipun ditentang oleh Ibu Kunti dan keempat saudara lainnya karena berpikir, semua itu adalah siasat para Kurawa melalui Resi Drona untuk menghabisi Bima. Karena Bima adalah sosok yang teguh pendirian pada keputusannya, Bima tetap berangkat mencari Air Kehidupan di dasar Samudera itu.

Dalam sekejap Samudera melumat tubuh Bima yang termasuk besar seukuran raksasa. Terhampas oleh ombak besar, seekor naga besar langsung menyambar tubuh Bima dan melilitnya. Berjuang sekuat tenaga, Bima melawan naga tersebut hingga akhirnya dengan kuku saktinya Pancanaka, Bima berhasil merobek leher naga yang berujung pada kematian sang Naga.

Lalu setelah pergumulannya dengan Naga yang cukup menghabiskan kekuatan dirinya, Bima pun menjadi pasrah dengan apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Dengan berserah diri itu, ombak yang awalnya bergejolak menjadi tenang dan tiba-tiba muncul sosok kecil di hadapan diri Bima. Sosok yang hanya sebesar telapak tangannya yang bernama Dew Ruci. Ia minta Bima untuk memasuki dirinya melalui telinga kirinya. Merasa memiliki ukuran sebesar raksasa, awalnya Bima memiliki keraguan untuk memenuhi permintaan Dewa Ruci. Tetapi akhirnya keraguan itu sirna dan Bima memasuki tubuh Dewa Ruci yang kecil itu. Saat itulah Bima melihat dunia yang besar di dalam telinga yang teramat kecil itu, sebuah tempat yang damai. Di dunia itu, Dewa Ruci memberi wejangan akan air kehidupan yang dicari oleh Bima.

Air kehidupan itu ada di dalam diri kita masing-masing. Sebagai manusia, kita bisa melihatnya asalkan kita selalu menjalani hidup sesuai kehendak Sang Illahi. Dalam setiap diri manusia terdapat sebuah Cahaya yang akan menuntun pada kebaikan, hanya saja kekuatiran dan hawa nafsu selalu mencoba menghalangi Cahaya itu. Seperti yang telah dilakukan oleh Bima setelah pergumulannya dengan Naga, sifat berserah diri kepada Sang Maha Kuasa akan menuntun manusia pada jalan kebenaran.

A Two Masts Tall Ship in A Bottle

Nama adalah sebuah doa, sehingga dengan memberi nama kapal dengan nama Dewaruci ataupun Bima Suci, diharapkan pelaut-pelaut yang lahir dari kapal ini akan menemukan jati diri sesungguhnya, -seperti ketika Bima menemukan makna kehidupan dalam diri Dewa Ruci-, sehingga pelaut-pelaut ini akan memiliki karakter yang kuat, trengginas dan tangguh dalam menjaga wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Saya masih memperhatikan miniatur Kapal Dewaruci dalam botol. Kisah perjalanan Kapal Dewaruci yang luar biasa dan membanggakan serta kisah mengenai nama Dewa Ruci itu sendiri yang memiliki makna begitu dalam. Lalu mendadak sebuah kesadaran realistis muncul di hadapan, sesuatu yang rasanya sangat mendasar dan manusiawi. Bagaimana caranya memasukkan miniatur kapal dengan nama besar itu ke dalam botol?

Pertanyaan yang sama juga terlontar untuk hiasan Buddha yang ada dalam botol. Bagaimana bisa? Awalnya saya berpikir bahwa bagian dasar botol masih terpisah saat miniatur kapal dimasukkan lalu dengan teknologi pembakaran kaca, bagian dasar botol ditempelkan ke tubuh botol. Benarkah demikian?

Ternyata bukan begitu. Ternyata memang ada manusia-manusia yang luar biasa ulet dan tangguh serta penuh seni, -seperti Bima-, yang membuat miniatur di ruang kerjanya lalu menambahkan engsel-engsel yang begitu kecil pada miniatur kapalnya sehingga miniatur kapal itu bisa rebah serupa gulungan. Lalu secara perlahan, kapal miniatur yang serupa gulungan itu dimasukkan ke dalam botol melalui kepala botol yang kecil itu. Kemudian Sang Seniman, dengan menggunakan benang dan pinset, akan menarik kapal, meluruskan engsel-engselnya kembali berdiri seperti semula yang berbentuk kapal. Luar biasa kan?

Ternyata sangat tidak mudah membuat kapal atau Buddha atau hiasan apapun di dalam botol.

Buddha in A Bottle

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang pertama dan bertema Glass agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.