D8 – Trekking Nepal – Berakhir Nyaman


Australian Camp.

Sore belum berakhir ketika kami check-in di hotel Gurans yang ada di kawasan yang lebih sering disebut dengan Australian Camp, yang meskipun namanya camp, tempat ini menyediakan banyak penginapan yang sangat nyaman daripada area untuk camping. Mungkin karena dekat dengan Pokhara, dan sering dijadikan destinasi untuk pengalaman one day trekking.

Hotel Gurans, Australian Camp

Sayang gumpalan awan menghias langit sehingga tak ada sunset indah hari itu, tetapi saya tak menyesal karena bisa menikmati istirahat sore yang teramat menyenangkan, bertukar pesan dengan keluarga tercinta, dengan teman-teman yang lain, melihat-lihat foto dan yang paling penting meluruskan badan yang telah semingguan dihajar trekking. Kenyamanan rebahan membuat tak ingin meninggalkan pembaringan hanya untuk makan malam. Memang sesuai kata orang bijak, berada di comfort zone itu memang berbahaya karena tak ada kemajuan, termasuk berleha-leha dan tak ingin beranjak pergi…

Tapi makan malam tetap harus berlangsung, karena kasihan juga pemandu kami yang sudah bersusah payah mengupayakan kenyamana selama liburan. Lagi pula kami semua telah membayar untuk makan dan tidur selama trekking. Sedikit malas, saya memilih legging hitam terakhir berbalut jacket untuk makan malam di malam terakhir trekking, karena esok kami sudah kembali ke peradaban kota. Obrolan tak berlangsung lama, karena mendadak Pak Ferry minta diri untuk beristirahat di kamarnya setelah makan malam. Tak biasanya beliau begitu, seketika saya menjadi kuatir. Ia merapatkan jaketnya sampai ke leher, tampak kedinginan padahal udara relatif tak dingin.

“Are you alright, Pak Ferry?”, tanya saya prihatin

Ia tak mau menampakkan meskipun saya merasakan keganjilan.

“Saya mau langsung istirahat saja ya mungkin hanya lelah”

Tak bisa menolak, saya menyaksikannya meninggalkan ruang makan untuk kembali ke kamar dengan sejumlah tanya di benak. Semoga ia baik-baik saja, celetuk saya kepada pemandu kami yang ikut meramaikan suasana makan malam itu meskipun hanya sedikit tamu hari itu. 

Apakah karena ia melakukan sejengkal trail-run dalam perjalanan tadi sehingga ia kelelahan sedemikian rupa? Tapi malam itu tak ada jawabannya dan saya membiarkan diri untuk menggantung pertanyaan itu di kepala.

Situasi setelah makan malam menjadi sedikit hambar, saya sendiri tak ingin berlama-lama di ruang makan itu. Masih teringat nyaman dan enaknya rebahan sambil bersantai sejak sore tadi. Akibatnya, saat malam belum terlalu larut saya sudah minta diri untuk berisitrahat. Mungkin baik jika saya beristirahat lebih awal karena siapa tahu sunrise esok pagi akan indah…


Esok hari saya bangun lebih cepat. Bukan apa-apa, saya senantiasa berharap mendapatkan sunrise yang indah. Saya melipat selimut hotel yang sama saja dengan hotel-hotel sebelumnya, cukup tebal untuk menahan udara dingin yang masuk melalui lubang-lubang ventilasi. Setelah urusan rutin pagi selesai, sambil mengenakan jaket, saya keluar kamar.

Pak Ferry rupanya bangun lebih pagi dan telah berdiri di pinggir halaman, menikmati pemandangan cantik. Saya melangkah menujunya, menyapa dan menanyakan kondisinya mengingat semalam tak terlihat cukup baik.

“Selamat Pagi Pak Ferry, Sudah lebih baik sekarang, Pak?”

Dia tersenyum lebar mengiyakan lalu menjelaskan kondisinya semalam. Karena ia sangat mengenal tubuhnya, semalam itu “berdering” alarm tubuh yang mengingatkan dirinya untuk beristirahat dan tentu saja ia mengikuti alarm tubuh itu. Terbukti pagi ini dia merasa lebih fit. Mendengar penjelasannya, saya berpikir tentang orang-orang yang belum mendengarkan alarm tubuh yang memang telah diset teramat baik oleh Sang Maha Pencipta. Ada banyak orang, -mungkin juga termasuk saya-, yang mengabaikan alarm ini, menganggap badannya kuat padahal belum tentu sesehat yang diduga. Alarm tubuh ini mengingatkan untuk beristirahat, untuk keseimbangan tubuh dan mentalnya. Alarm tubuh yang sama, juga mampu mengingatkan pemilik tubuh untuk bergerak dinamis dan bukan hanya berdiam diri atau senantiasa rebahan. Mendadak saya merasa malu, karena lebih sering mengikuti keinginan tubuh untuk rebahan daripada bergerak meskipun alarm sudah berdenting.

Meskipun demikian, saya merasa lega dengan membaiknya Pak Ferry. Pagi itu bersisian kami terpukau dengan pemandangan pagi itu. Udara di Australian Camp masih berkabut tetapi Mt. Annapurna South (7219m) tampil dengan keindahannya dan seakan menyambung dengan punggung bukit yang rata menuju Mt. Hiunchuli (6440m). Puncak-puncaknya yang bersalju tampil lebih terang diterpa sinar matahari yang masih bersembunyi di bawah horison. Di sebelah kanannya, terpisah oleh lembah yang dalam, gunung favorit saya, Mt. Macchapucchre (6993m) si Ekor Ikan menjulang, meski puncaknya yang seperti ekor ikan itu belum terkena sinar matahari pagi. Dan sebagai pelengkap lukisan pagi itu, pohon-pohon hijau menjadi hiasan latar depan. Saya terpana, meskipun telah berhari-hari menikmati pemandangan indah, tetap saja saya terpukau dan langsung mengucap syukur kepada Pemilik Semesta telah diberi kesempatan menyaksikan pemandangan alam yang begitu indah.

View at early morning

Berada di Australian Camp dengan pemandangan indah ini membuat saya teringat kisah asal muasal namanya menjadi Australian Camp. Aslinya desa ini adalah Thulo Kharka yang artinya padang rumput yang luas karena memang dulu tempat ini menjadi tempat penggembalaan hewan-hewan domestik seperti kerbau dari desa Dhampus dan desa-desa sekitarnya. Uniknya, tempat yang memiliki padang rumput yang luas ini kurang dikenal oleh trekker hingga awal tahun 90-an, sementara berjarak hanya sekitar 15 menit berjalan dari sini, yaitu desa Phedi, Pothana, Landruk menjadi desa-desa populer yang masuk dalam jalur trekking menuju Chhomrong jika akan melakukan Annapurna Sanctuary Trek atau Annapurna Base Camp Trekking

Konon di akhir tahun 80-an, ada pengunjung dari Austria datang ke tempat yang memberikan kesan indah begitu dalam ini sehingga mereka mendirikan kemah selama beberapa hari. Bagi mereka tempat ini begitu damai dan tenang menghamparkan keindahan pemandangan gunung-gunung Himalaya. Kesan indah itu mulai menjadi pembicaraan di kalangan trekkers dan mereka menyebutkan tempat ini sebagai Austrian Camp. Sayangnya, Austrian Camp cukup sulit dilafalkan oleh penduduk Nepal dan bagi mereka lebih mudah menyebutkan Australian Camp. Sejak itu, padang rumput yang luas yang dikenal penduduk desa dengan nama Thulo Kharka memiliki nama baru dengan nama sebutan Australian Camp.

Sunrise at Australian Camp, Nepal

Keindahan yang disaksikan pengunjung awal Thulo Kharka bukan sembarang isapan jempol karena memang pemandangannya teramat indah. Pesona sinar matahari menerpa puncak-puncak gunung yang ditutupi salju abadi bahkan sebelum matahari muncul di horison membuktikan semua keindahan Alam Semesta. Lukisan pagi itu yang diwarnai warna kuning keemasan menggantikan warna biru gelap di belahan langit Timur. Lalu perlahan tapi pasti bulatan besar Sang Surya mulai memperlihatkan dirinya di Ufuk Timur. Di tempat saya berdiri, tak ada yang bicara kecuali suara-suara shutter camera yang tak putus. Pak Ferry terdiam mengabadikan. Kami terpesona dengan apa yang terhampar di depan mata.

Rasanya tak ingin melepas pagi yang mempesona itu namun panggilan pemandu kami dari arah belakang membuat kami menoleh. Sepertinya sarapan di tanah lapang itu telah siap. Wow… It’s a wonderful breakfast with a view! Sinar matahari yang lembut menambah kenikmatan sarapan di tempat terbuka itu. Pak Ferry sudah kembali seperti semula, mencoba melhap sarapan gaya lokal di tempat itu, sementara saya tetap konservatif dengan roti dan teman-temannya.

Breakfast with a view
Australian Camp

Selepas sarapan, saya ingin menikmati Australian Camp dengan lebih santai. Saya melangkah menuju tempat ayunan yang saat itu sudah tak digunakan. Rasanya ingin kembali ke masa anak-anak, saat bermain ayunan untuk menaikkan mood atau hanya sekedar ingin menikmati kenyamanan. Mengayun ke depan, seakan saya terbang ke pelukan gunung-gunung berpuncak salju itu lalu seakan bermain, ayunan itu kembali tertolak ke belakang, membiarkan pelukan gunung-gunung melepas saya kembali. Demikian berulang berkali-kali, seakan bermain dengan gunung-gunung Himalaya. Sejatinya, saya menikmati setiap ayunan yang membahagiakan di Australian Camp ini. Nyaman dan tenteram, tak ada beban.

Berat rasanya meninggalkan suasana Australian Camp yang tenteram dengan pemandangan gunung berpuncak salju ini. Suatu tempat yang tak mudah dicapai, -hanya dengan berjam dan bermenit-menit jalan kaki-, tetapi mampu menambahkan energi hidup. Berada di tempat yang tidak terlalu tinggi ini, saya memanfaatkan benar arti kenyamanan di Australian Camp. Inilah liburan yang sesungguhnya, sebanyak-banyaknya menyerap keindahan sebagai kenangan tak terlupakan, merekam semua pengalaman yang menenteramkan sebagai bekal nanti saat kembali ke dunia perkantoran.

Lalu sebagaimana pepatah lama berkata, waktu adalah hakim yang konsisten, setiap ada perjumpaan, sang waktu pasti akan mengakhirkan. Demikian juga kami yang tak ingin berpisah dengan pemandangan indah di depan mata, pemandangan gunung-gunung salju yang memberi kesan teramat dalam. Waktunya telah datang, kami harus melangkah lagi untuk kembali ke Pokhara. Selamat tinggal jalan setapak yang telah memberi kenangan indah…

Dan saat berjalan sendiri, saya seperti terus diingatkan alasan saya melakukan trekking ke Nepal. Saya teringat tentang Annapurna Base Camp. Rasa itu begitu kuat membuat saya menggigil meski udara tak dingin. Saya memang kembali ke Pokhara, tetapi perjalanan ini belum selesai…

Way Back to Pokhara

Catatan. Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan kisah trekking di Nepal sekaligus menjawab tantangan tahun 2021 bulan Februari no. 2 bertema Comfortable

Kapal Dalam Botol


Setiap berkunjung ke rumah Mama, mata saya selalu melirik ke benda itu. Entah mengapa, -selain foto besarnya tentu saja -, benda itu seakan mengingatkan langsung kepada Almarhum Papa, yang telah berpulang dua tahun silam. Tapi namanya juga rumah orangtua, tanpa benda-benda fisik yang bisa dilihatpun, pastinya pikiran ini selalu mengingat kepadanya. Iya kan?

Tapi tidak heran sih, karena benda itu seakan mewakili keahliannya Papa sebagai nakhoda kapal. Jadi bagaimana saya tidak mengingat Almarhum Papa jika ke rumah Mama dan mata ini langsung memandang si benda itu, kapal dalam botol kaca!

Dan tidak hanya satu botol, melainkan dua! Yang satu, kapal dengan tiga tiang tinggi dan yang lainnya, kapal dengan dua tiang tinggi. Keduanya termasuk jenis kapal layar (sejenis phinisi). Terlepas dari dua kapal dalam botol itu, masih ada lagi hiasan patung Buddha yang ada dalam botol kaca yang merupakan cinderamata Papa dari Burma. Untuk yang terakhir ini, sudah ada sejak saya masih kecil dan menjadi salah satu ‘penggoda’ saya untuk bisa sampai ke Burma, seperti yang telah saya ceritakan di Rencana ke Myanmar: Menapak Tilas untuk Sebuah Cinta

Ship in A Bottle & Buddha in A Bottle

Miniatur kapal bertiang tinggi tiga dalam botol itu yang menarik perhatian saya dan membuat saya melirik atau menoleh. Bisa jadi karena botol itu sedikit lebih besar dari pada botol yang berisi kapal bertiang dua itu. Lagipula Mama menempatkannya di bagian depan dan lebih mudah terlihat, sedangkan botol berisi kapal bertiang dua itu diletakkan di lemari kaca yang lebih jarang diakses.

Tapi bukan hanya itu. Kapal layar bertiang tinggi tiga itu bukan miniatur sembarang kapal. Seperti yang terlihat lambung kapal, kapal itu bernama Dewaruci, sebuah nama besar yang disandang oleh sebuah kapal Indonesia.

Kapal Dewaruci

Menurut Wikipedia, kapal yang menjadi satu-satunya berjenis barquentine terbesar di Indonesia, KRI Dewaruci merupakan kapal layar milik dan dioperasikan oleh TNI AL (dulu Angkatan Laut Republik Indonesia). Karena ukurannya yang sangat besar, kapal ini dijadikan tempat pelatihan layar untuk taruna Angkatan Laut. Terbayang kerennya di pelabuhan para taruna gagah itu berdiri di tiang-tiang kapal karena Kapal Dewaruci juga menjadi duta ke seluruh Indonesia dan dunia.

Beberapa sumber mengatakan bahwa Kapal Dewaruci dipesan pembangunannya di galangan H. C. Stülcken Sohn di Steinwerder, Hamburg, Jerman mulai tahun 1932. Sayangnya karena Perang Dunia II, galangan kapal tempat Kapal Dewaruci dibangun rusak parah sehingga pembangunannya tertunda. Dua dekade kemudian, Kapal Dewaruci yang membanggakan itu akhirnya diluncurkan dan selalu berlabuh di Surabaya sejak itu.

Seakan mengikuti para model gagah dan cantik yang selalu laku dalam dunia perfilman, Kapal Dewaruci dipilih oleh Studio Fox 2000 Pictures dalam film Anna and The King yang disutradarai Andy Tennant, dan dibintangi artis terkenal Jodie Foster dan Chow Yun Fat. Meskipun dalam film itu, Kapal Dewaruci disulap sebagai Kapal layar Inggris abad-18, film itu termasuk laku di pasaran dan termasuk dalam nominee Academy Awards 2000.

Mungkin memang karena penampilannya yang luar biasa keren itu, Dewaruci terus berpartisipasi dalam acara-acara rutin kapal tiang tinggi di seluruh dunia. Apalagi Kapal Dewaruci memiliki kelompok marching band sendiri, pastinya menjadi sebuah fitur yang teramat unik seperti yang terjadi di Hartlepool, -sebuah kota pelabuhan di County Durham, Inggris-, saat parade kadet Kapal Tiang Tinggi di tahun 2010. Saat itu kadet Kapal Dewaruci dan marching band-nya mendapat sambutan yang amat meriah dari pengunjung. Keterampilan luar biasa, penuh semangat dan antusiasme tinggi menghasilkan penghargaan dalam kategori kadet terbaik dalam parade. Dengan marching bandnya, para kadet juga tampil di Broadway, Newyork, USA yang mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat yang menyaksikan.

Sayangnya saat ini karena pertimbangan usia yang memasuki usia pensiun untuk ukuran Kapal Layar, Kapal Dewaruci mengurangi perjalanan panjangnya dan lebih banyak berlabuh di pelabuhan. Kini perjalanan Kapal Dewaruci banyak digantikan oleh Kapal Tiang Tinggi lainnya yaitu Kapal Bima Suci.

Bagi saya, nama Kapal Dewaruci lalu dilanjutkan dengan nama Kapal Bima Suci yang berbau pewayangan Indonesia ini memberi perhatian tersendiri. Seperti biasanya, pasti namanya mewakili kebaikan, kebenaran dan keberanian sesuai tujuan mulia kapal itu.

A Three Masts Tall Ship (Dewaruci) in A Bottle

Kisah Bima dan Dewa Ruci

Dalam Mahabharata versi Indonesia, Dewa Ruci adalah dewa mini yang ditemui oleh Bima atau Werkudara, -yang kedua dari Pandawa Lima-, ketika ia mencari air kehidupan Tirta Perwitasari. Kisah Dewa Ruci yang hanya ada di Indonesia ini, menjunjung kesetiaan dan kepatuhan murid terhadap sang guru, tentang perjuangan seseorang menemukan jati dirinya hingga bisa bertindak mandiri menjunjung kebenaran.

Berakar kuat dalam filosofi Jawa terutama mereka yang mendalami aliran kebatinan, mampu mengenal diri sendiri berarti memahami diri sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan pemahaman itu seseorang akan berusaha bertindak selaras dengan kehendakNya. Sebuah filosofi Jawa yang amat terkenal, Manunggaling Kawula Gusti

Kisah Bima mencari Air Kehidupan (Tirta Perwitasari) dimulai ketika Sang Guru, Resi Drona, memberitahu bahwa air kehidupan itu berada di dasar samudera. Sebagai murid yang patuh, tanpa pikir panjang, Bima terjun ke dasar Samudera meskipun ditentang oleh Ibu Kunti dan keempat saudara lainnya karena berpikir, semua itu adalah siasat para Kurawa melalui Resi Drona untuk menghabisi Bima. Karena Bima adalah sosok yang teguh pendirian pada keputusannya, Bima tetap berangkat mencari Air Kehidupan di dasar Samudera itu.

Dalam sekejap Samudera melumat tubuh Bima yang termasuk besar seukuran raksasa. Terhampas oleh ombak besar, seekor naga besar langsung menyambar tubuh Bima dan melilitnya. Berjuang sekuat tenaga, Bima melawan naga tersebut hingga akhirnya dengan kuku saktinya Pancanaka, Bima berhasil merobek leher naga yang berujung pada kematian sang Naga.

Lalu setelah pergumulannya dengan Naga yang cukup menghabiskan kekuatan dirinya, Bima pun menjadi pasrah dengan apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Dengan berserah diri itu, ombak yang awalnya bergejolak menjadi tenang dan tiba-tiba muncul sosok kecil di hadapan diri Bima. Sosok yang hanya sebesar telapak tangannya yang bernama Dew Ruci. Ia minta Bima untuk memasuki dirinya melalui telinga kirinya. Merasa memiliki ukuran sebesar raksasa, awalnya Bima memiliki keraguan untuk memenuhi permintaan Dewa Ruci. Tetapi akhirnya keraguan itu sirna dan Bima memasuki tubuh Dewa Ruci yang kecil itu. Saat itulah Bima melihat dunia yang besar di dalam telinga yang teramat kecil itu, sebuah tempat yang damai. Di dunia itu, Dewa Ruci memberi wejangan akan air kehidupan yang dicari oleh Bima.

Air kehidupan itu ada di dalam diri kita masing-masing. Sebagai manusia, kita bisa melihatnya asalkan kita selalu menjalani hidup sesuai kehendak Sang Illahi. Dalam setiap diri manusia terdapat sebuah Cahaya yang akan menuntun pada kebaikan, hanya saja kekuatiran dan hawa nafsu selalu mencoba menghalangi Cahaya itu. Seperti yang telah dilakukan oleh Bima setelah pergumulannya dengan Naga, sifat berserah diri kepada Sang Maha Kuasa akan menuntun manusia pada jalan kebenaran.

A Two Masts Tall Ship in A Bottle

Nama adalah sebuah doa, sehingga dengan memberi nama kapal dengan nama Dewaruci ataupun Bima Suci, diharapkan pelaut-pelaut yang lahir dari kapal ini akan menemukan jati diri sesungguhnya, -seperti ketika Bima menemukan makna kehidupan dalam diri Dewa Ruci-, sehingga pelaut-pelaut ini akan memiliki karakter yang kuat, trengginas dan tangguh dalam menjaga wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Saya masih memperhatikan miniatur Kapal Dewaruci dalam botol. Kisah perjalanan Kapal Dewaruci yang luar biasa dan membanggakan serta kisah mengenai nama Dewa Ruci itu sendiri yang memiliki makna begitu dalam. Lalu mendadak sebuah kesadaran realistis muncul di hadapan, sesuatu yang rasanya sangat mendasar dan manusiawi. Bagaimana caranya memasukkan miniatur kapal dengan nama besar itu ke dalam botol?

Pertanyaan yang sama juga terlontar untuk hiasan Buddha yang ada dalam botol. Bagaimana bisa? Awalnya saya berpikir bahwa bagian dasar botol masih terpisah saat miniatur kapal dimasukkan lalu dengan teknologi pembakaran kaca, bagian dasar botol ditempelkan ke tubuh botol. Benarkah demikian?

Ternyata bukan begitu. Ternyata memang ada manusia-manusia yang luar biasa ulet dan tangguh serta penuh seni, -seperti Bima-, yang membuat miniatur di ruang kerjanya lalu menambahkan engsel-engsel yang begitu kecil pada miniatur kapalnya sehingga miniatur kapal itu bisa rebah serupa gulungan. Lalu secara perlahan, kapal miniatur yang serupa gulungan itu dimasukkan ke dalam botol melalui kepala botol yang kecil itu. Kemudian Sang Seniman, dengan menggunakan benang dan pinset, akan menarik kapal, meluruskan engsel-engselnya kembali berdiri seperti semula yang berbentuk kapal. Luar biasa kan?

Ternyata sangat tidak mudah membuat kapal atau Buddha atau hiasan apapun di dalam botol.

Buddha in A Bottle

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang pertama dan bertema Glass agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Shibuya Crossing


Siapa yang tak mengenal Simpang Shibuya (Shibuya Crossing) yang terkenal dengan situasi scramble pada saat lampu lalu lintas bagi pejalan kaki berubah menjadi hijau? Di sana semua kendaraan berhenti dan pejalan kaki diperbolehkan menyeberang dalam marka pejalan kaki, ke jalan di sampingnya dan juga jalan di depannya atau bahkan ke arah diagonal dari kotak persimpangan. Rasanya sebuah situasi yang sangat familiar melihat gambar atau video di Jepang ini karena memperlihatkan begitu banyak orang melintasi sebuah persimpangan dalam satu waktu.

Shibuya Crossing

Bermula dari kemenangan menghadang penjahat yang melakukan penyerbuan ke Imperial Palace di Kyoto jelang akhir periode Heian (sekitar abad ke-11), Kaisar menganugerahkan gelar Shibuya menjadi nama keluarga kepada seorang ksatria yang telah berjasa menjaga eksistensi istana kerajaan itu. Lalu sesuai dengan rencana strategis kekaisaran untuk menjadikan Edo sebagai ibukota Timur (yang saat ini dikenal sebagai Tokyo), sang ksatria membangun kediamannya yang lokasinya tak jauh dari Edo, sebelah barat daya ibukota baru itu. Dan kastil Shibuya itu yang mampu bertahan lebih dari setengah millenium telah menjadikan daerah sekitarnya menjadi sebuah kawasan pedesaan yang kian ramai.

Keramaian sejak berabad lalu itu menunjukkan perkembangan selanjutnya. Tahun 1885 Shibuya menjadi sebuah stasiun kereta di jalur Akabane – Shibuya, yang dalam perkembangan di jaman modern menjadi jalur JR Yamamote line yang terkenal sebagai jalur kereta yang melingkari Tokyo. Di abad ke-19 itu pula karena banyak pabrik bermunculan, pembangunan rumah juga meningkat. Apalagi setelah gempa besar yang melanda Tokyo dan juga kebakaran besar akibat Perang Dunia II, Shibuya tidak turun pamornya sebagai pusat kegiatan masyarakat. Bahkan saat itu Shibuya menjadi lebih terkenal, karena pasar gelapnya mengingat masyarakat perlu menghidupi diri mereka sendiri terutama di masa ekonomi yang suram. Waktu berjalan terus dan sejalan dengan membaiknya perekonomian Jepang, Shibuya semakin menancapkan kukunya sebagai pusat kegiatan perekonomian di Tokyo. Toko dan pusat-pusat perbelanjaan megah, perkantoran, stasiun kereta yang semakin besar dan terintegrasi dibangun di Shibuya.


Beberapa kali melakukan perjalanan ke Tokyo, biasanya saya menyempatkan diri ke distrik Shibuya yang sibuk itu. Tentunya saya naik kereta dan berhenti di Stasiun Shibuya legendaris yang konon memiliki banyak pintu keluar. Tapi tentu saja, paling sering saya keluar melalui Gerbang Hachiko karena melaluinya saya bisa mencapai banyak destinasi. Lewat gerbang Hachiko ini, -selain menemui patung anjing Hachiko yang terkenal sebagai simbol kesetiaan-, saya bisa secara cepat mencapai Shibuya Crossing yang terkenal seantero dunia itu. Rasanya memang menarik melihat situasi “scramble” dari pejalan kaki. Bayangkan saja, dalam satu hari lebih dari ratusan ribu orang bisa melintasi penyeberangan itu dari segala arah menuju tujuannya masing-masing. Luar biasa kan? Benar-benar sebuah kawasan yang hectic di negeri Sakura itu.

Tak jauh dari Patung Hachiko, biasanya saya berdiri di sudut Shibuya Crossing dan menyaksikan keluarbiasaan di depan mata. Seperti melakukan countdown saat pergantian tahun baru, para pejalan kaki berdiri di pinggir jalan sambil menghitung dalam hati lampu lalu lintas berubah hijau untuk pejalan kaki. Begitu banyak manusia berdiri di sudut-sudut jalan menanti lampu berubah menjadi hijau lalu serta merta pejalan kaki tu memenuhi ruang dalam persimpangan. Seperti ratusan lebah yang terbang karena sarangnya dirusak, semua pejalan kaki yang tadinya berdiri di pinggir jalan tiba-tiba bergerak cepat menyeberang tanpa menabrak satu sama lain. Pemandangan yang luar biasa! Seakan memastikan bahwa Shibuya memang sebuah hub sejak berabad-abad lalu.

Ada banyak turis di dalam ratusan orang yang menyeberang dalam satu kesatuan waktu itu, berbaur bersama orang-orang lokal yang benar-benar membutuhkan simpang Shibuya itu. Turis lebih banyak terjun ke “kolam penyeberangan” hanya untuk merasakan sensasi berada di Shibuya Crossing. Mereka menyeberang dan kembali lagi, melakukan selfi atau wefie. Tidak jarang membuat video proses scramble itu dengan berbagai efek, termasuk efek Boomerang-nya Instagram. Pokoknya eksis di Shibuya 😀 😀 😀

Waiting for the green light
A shuttle bus passing by…

Apalagi dengar-dengar katanya Stasiun Shibuya akan direvitalisasi, pastinya akan lebih megah dan tentunya berakibat Shibuya Crossing akan semakin hectic. Dengan semakin banyak gedung pencakar langit yang berisi perkantoran, mal dan tempat belanja eksklusif di sana, tidak heran Shibuya semakin ramai. Sekarang saja, amat mudah menemukan orang yang berbelanja di Shibuya 109, mal 10 lantai yang populer di kalangan perempuan muda. Termasuk bangunan baru Shibuya Stream yang memiliki 35 lantai yang penuh dengan toko, restoran, dan kafe.

Memang, Shibuya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dan akan terus menjadi primadona sebagai destinasi utama di Tokyo!


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-51 bertema Hectic agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

D7-Trekking Nepal – Berita Baik


Jika belum baca cerita trekking sebelumnya, bisa baca di sini D6-Trekking Nepal – Di Simpang Jalan

Tidak terasa sudah seminggu kurang sehari kami sudah berkeliaran naik turun di perbukitan tinggi yang masuk ke dalam Area Konservasi Annapurna. Negeri ini memang ‘gila’ soal kontur bumi. Tidak usah heranlah, di negeri ini ada 8 gunung yang memiliki ketinggian di atas 8000 mdpl yang mengisi ranking gunung-gunung tertinggi dunia. Dengan kondisi demikian, jelas juga kalau yang namanya perbukitan di Nepal yang amat banyak itu, bisa memiliki ketinggian di atas 3000 meter di atas permukaan laut! Sehingga saat berada di Landruk yang memiliki ketinggian sekitar 1600 mdpl, saya merasa sudah berada di “dataran rendah”. Padahal jika berada di Indonesia, sudah termasuk tinggi juga.

Morning view at Landruk, Nepal

Kamar saya yang luas dan menghadap lembah dengan taman cantik sebenarnya menyenangkan tetapi saat itu saya lebih memilih untuk bersantai di kamar sebelum menikmati mandi yang paling enak sedunia (setelah berkeringat sepanjang hari). Lagipula update status lebih menyenangkan 😀 😀 😀

Kami berkumpul lagi saat makan malam. Saat itu kami berempat merupakan tamu satu-satunya di penginapan, bisa jadi karena trekkers lebih banyak memilih rute lain daripada Landruk atau sudah tak menjadikan Landruk sebagai tempat menginap karena berjalan sedikit lagi sudah bisa mencapai tempat jeep untuk kembali ke Pokhara.

Karena kangen, saya buka WA keluarga. Apa yang tampil di layar membuat saya menjerit kecil. Yaaaayyyy…. Alhamdulillah… Pak Ferry dan Dipak langsung mengangkat kepala dari ponsel mereka masing-masing, menunggu…

Melupakan Dipak yang tak memahami bahasa Indonesia, saya langsung berkata dalam bahasa ibu,

“Anakku diterima di SNMPTN”

Pak Ferry tersenyum lebar dan langsung menyorongkan tangan, memberi selamat

“Selamat ya mba…”

Saya yang teramat gembira, langsung menghubungi yang tercinta jauh di seberang lautan itu, melupakan kawan-kawan yang sedang menunggu datangnya makanan. Sayup terdengar Pak Ferry menjelaskan alasan mengapa saya berbahagia itu kepada Dipak.

Berita gembira itu benar-benar membahagiakan saya, terbayang wajah anak saya yang selama ini belajar tanpa henti mengikuti bimbingan baik di sekolah maupun di luar sekolah agar bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Awalnya ia memilih jurusan komunikasi namun sekolahnya menyarankan agar ia mengambil jurusan Psikologi. Dan berdasarkan sejarah tahun-tahun sebelumnya, rekomendasi dari sekolahnya selalu lolos seleksi. Tak dinyana, berdasarkan hasil report sekolahnya, dia berhasil diterima di pilihan jurusannya berdasarkan undangan. Alhamdulillah, Allah Pemilik Semesta menghadiahkan sebuah berita gembira di saat saya rindu mereka.


Keesokan paginya, gunung berpuncak salju itu berhias awan, seakan-akan tak ingin bersaing memenangkan rasa sukacita yang masih membalut saya karena ada berita gembira dari tanah air. Saya tak merasa bersalah karena tak banyak mengabadikan gunung berhias awan itu. Lagipula kami harus cepat bersiap-siap.

Meninggalkan penginapan dengan formasi yang sama, Kedar di paling depan, pak Ferry menyusul di belakangnya lalu saya dan Dipak. Belum apa-apa jalan sudah menanjak membuat semangat langsung mengendur apalagi jalan ini menuju berakhirnya trekking. Masih 1 malam menginap di Australian Camp sebelum kembali ke Pokhara.

Seperti biasa, saya mengalihkan jalan menanjak itu dengan menikmati pemandangan di kiri kanan jalan. Sayangnya hanya ada sepasang kerbau yang memenuhi kandang. Seandainya mereka bisa berpikir, mungkin mereka akan menilai saya sebagai manusia yang manja karena berjalan lambat dengan nafas yang sudah terengah padahal masih baru start dan hanya menggendong daypack. Saya melangkah pelan sambil mengomel dalam hati, mengapa yang namanya pulang dari gunung itu harus naik perbukitan yang tingginya gak kira-kira?

Menuju tempat yang lebih rendah ketinggiannya, sinar matahari semakin terasa memanggang apalagi pemandangan tak lagi memanjakan mata. Yang tampak hanyalah jalan berkelok menyusuri punggung bukit. Langkah saya melambat bukan karena jalan menanjak melainkan panas yang membuat keringat mengucur hebat. Untung saja, saya bertemu rombongan kambing yang digembalakan oleh seorang ibu. Rombongan hewan yang jumlahnya sekitar dua puluh itu memberikan kesan tersendiri. Bahkan di saat suasana terik yang memanggang jalan tanah berkerikil dengan tebing dan jurang, rombongan yang punya bau yang khas itu, -bau kambing-, bisa menyenangkan hati. Menyadari hawa panas, Dipak mengajak saja melanjutkan perjalanan sambil mengatakan tempat istirahat sudah dekat dan ada minuman segar di sana.

Herd of Goats, Landruk, Nepal

Benar, setelah beberapa waktu, saya melihat pak Ferry dan Kedar sedang duduk istirahat. Di dekatnya ada warung yang menjual lemonade yang langsung saja saya pesan. Meskipun agak lebay, saya merasa seperti sedang jalan di gurun yang membuat dahaga luar biasa, dan minum lemonade itu rasanya seperti memiliki surga dunia 😀 Segarnya langsung terasa dan memberi efek semangat ke badan (meskipun saya harus hati-hati karena teringat jaman dulu saat panas-panas dan kehausan, minum cocacola dingin membuat suara saya langsung hilang!).

Setelah meneguk habis minuman yang membuat yang ‘lupa diri‘ itu, baru kemudian saya pelan-pelan menikmati isi gelas kedua dan membiarkan seluruh rongga mulut menyesapnya. Seteguk dua teguk, mata saya tertarik dengan pemandangan di bukit seberang yang dibatasi oleh lembah yang luas. Bukit itu seperti digaris-garis miring seperti simbol kilat yang berulang.

Road to Ghandruk, viewed from Landruk
Closer : Dangerous road to Ghandruk and Matkyu

What’s that?“, akhirnya pertanyaan yang muncul di benak saya terlontar juga kepada Dipak

New Road“, jawabnya santai setelah memperhatikan apa yang saya tunjuk.

To Ghandruk?”

Dipak mengangguk singkat, seperti tak berkenan. Mungkin ia tak suka jalur-jalur trekking di pegunungan Himalaya berubah menjadi jalan mobil atau bus karena berdampak langsung terhadap pekerjaannya sebagai seorang pemandu trekking (dan setelah dua tahun baru saya menyadari bahwa jalan yang saya lihat itu merupakan jalan jeep atau bus dari Nayapool ke Matkyu, -sebuah desa kecil setelah Ghandruk-, yang bisa menghemat sehari untuk ke Annapurna Base Camp karena cukup sehari untuk mencapai Chhomrong dari yang biasanya dua hari)

Tanpa sadar saya mengangkat bahu, merasa jeri. Teringat perjalanan menuju Hille (baca disini Nepal – Trekking Hari Pertama Menuju Ulleri) dengan insiden yang cukup mengerikan, roda jeep terjebak dalam kubangan di jalan sempit, dengan jurang dalam di kiri dan tebing tinggi di kanan. Jalan menuju Ghandruk itu pasti tak jauh beda. Entahlah, semoga suatu saat nanti saya bisa melakukan trekking lagi ke ABC yang mungkin saja akan melewati jalan itu

Lemonade saya sudah tinggal sedikit, dengan sekali teguk gelas minuman dari kaca itu menjadi kosong. Tapi semangat melanjutkan perjalanan muncul segera. Australian Camp, -destinasi hari itu-, sedang menanti kami.

Langkah saya belum terlalu banyak ketika kegilaan trekking dimulai. Pak Ferry mengajak Dipak lari di gunung. What? Di ketinggian ini, mau trail-run? Keduanya tertawa-tawa tapi bukan berarti tak menjalankan. Saya menjadi saksi mereka berdua seperti boys yang tak mau kalah. Meski bukan lari sprint, mereka berdua benar-benar lari sambil memanggul ransel. Tak jauh memang, tetapi bagi saya, -yang jalan saja melelahkan apalagi lari-, mereka sudah “tidak waras”. Di batas kelokan jalan, mereka tertawa-tawa puas sambil menunggu saya yang datang dengan geleng-geleng kepala. Sambil tertawa-tawa, pak Ferry mengatakan bahwa saya boleh memberitakan ‘kegilaan’ mereka melakukan sepenggal Himalaya trail-run.

Wanna run here?

Kadang-kadang saya tak habis pikir, jika urusannya sudah tantang menantang, pria-pria yang tak muda lagi dan sudah berbuntut banyak itu bisa lupa diri dan kembali dengan jiwa mereka yang masih boyish. Tetapi dengan menyaksikan itu, kok saya jadi merasa tua banget yaa… 😀 😀 😀

Siang itu, setelah makan siang yang lagi-lagi dal bhat atau mie instan yang hambar (saya kangen sekali indomie kalau saya makan mie instan di Nepal), saya sempat membeli selembar rok lilit panjang berwarna biru di kios souvenir yang sederhana. Rok lilit itu serupa kain yang ada talinya di bagian atas sehingga tinggal dipakai seperti kain lalu diikat di pinggang. Entah kenapa, mungkin saya merasa iba dengan bapak tua penjualnya sekaligus saya merasa begitu familiar dengan motif bahan rok itu sehingga saya memilihnya (dan keesokan paginya di kamar penginapan di Australian Camp, saya tertawa ngakak sendirian di kamar, karena di pinggir rok panjang lilit yang saya beli itu bertuliskan “Batik Halus Royal Peach by Legenda Mas”. Pagi itu sambil tertawa sendiri, saya menyadari alasan memilih rok panjang itu. Rupanya pikiran bawah sadar saya memilih motif megamendung yang sudah dikenal lama di dunia perbatikan. Tapi siapa sih yang akan berpikir ada kios yang menjual kain batik Indonesia dengan motif megamendung di desa nun jauh di sana, di sudut terpencil bukit di Nepal? Bukan di Kathmandu sebagai ibukotanya, bukan juga di Pokhara, kota terdekatnya, bukan di desa terbesar di jalur trekking, melainkan di kios sangat sederhana di gunung!)

Batik Megamendung from Indonesia bought in Nepal 😀

Nantinya, saya akan sangat mensyukuri telah membeli rok lilit panjang yang ternyata bertuliskan “Batik Halus Royal Peach by Legenda Mas” di tempat antah berantah yang nun jauh di sana dan tak terduga itu, karena bagi saya hal itu bukanlah sebuah kebetulan. Tapiiii, entahlah… yang pasti kain itu hanya satu dan saya seperti dituntun untuk berjalan ke kios yang sederhana itu dan melihat motif itu! Bagi yang mengenal saya pasti tahu, saya paling malas belanja, apalagi souvenir.

Kaki kami terus menapaki jalan yang menanjak landai atau sering disebut “Nepali flat” (nanjak “sedikit” bagi warga Nepal masih dalam kategori rata) 😀 hingga saya melihat sebuah suspension bridge pendek yang sudah sangat rapuh, kayunya lapuk, lubang di sana-sini dan baja-bajanya sudah termakan karat. Jembatan itu sudah tidak dipergunakan lagi karena ada jalan yang sedikit memutar (mending memutar daripada ambrol ke bawah!). Tapi bagi saya, jembatan itu keren sekali.

Old Bridge

Setelah berfoto sejenak dengan latar belakang jembatan, Dipak mengajak agak bergegas karena kami harus mendaki bukit lagi sementara cuaca mulai mendung. Semangat saya langsung surut dengan kenyataan yang ada di depan itu. Saya mulai lagi berjalan menghitung sepuluh langkah dalam bahasa Nepal, ek, dui, tin, char, panch, cha, sat, ath, nau, das… atau kadang ganti menggunakan bahasa leluhur saya, een, twee, drie, vier, vijf, zes, zeven, acht, negen, tien. Atau menyeberang sedikit ke Jerman dan kalau lagi “kumat” ya, pakai bahasa Khmer meski hafalnya sampai lima saja moui, phi, bai, boun, pram 😀

Sampai di puncak bukit tersedia semacam shelter sehingga kami bisa beristirahat sejenak. Dari tempat itu, Dipak memberitahu bahwa lagi-lagi di arah ABC cuacanya tak begitu baik karena salju telah turun di bawah ketinggian biasanya. Itu tak biasa. Saya terdiam mengucap syukur dalam hati, batalnya kami untuk melanjutkan trekking ke arah Base Camp bisa jadi karena mendapat perlindungan dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Hanya beberapa menit, pemandangan gunung bersalju itu telah hilang berganti dengan awan hujan kelabu.

Sebenarnya di tempat kami belum hujan, tetapi Dipak menyarankan agar menunggu hingga hujannya lewat. Benarlah, tak berapa lama hujannya sampai di shelter itu dan turun sangat lebat. Kami menunggu sampai hujan berhenti, sementara ada beberapa trekkers lain melanjutkan perjalanan menembus hujan.

Matahari langsung bersinar ketika hujan berhenti. Kami melanjutkan perjalanan. kali ini lebih menyenangkan karena landai dan teduh. Seperti jalan di Taman Nasional, tak ada target, kecuali menikmati perjalanan dalam liburan.

Beautiful View on the way to Australian Camp

Hari masih sore ketika kami sampai di checkpoint di Lwang, sebelum akhirnya menjejak Australian Camp. Meskipun namanya camp, tetapi di tempat ini lebih banyak menyediakan penginapan yang nyaman daripada area untuk camping.

Australian Camp, tempat yang mudah dicapai dari Pokhara dan sering dijadikan destinasi untuk pengalaman trekking sehari di Nepal. Ada yang pernah ke sini juga?

Bersambung…


Catatan. Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan kisah trekking di Nepal sekaligus menjawab tantangan mingguan tahun 2020 minggu ke-50 bertema News

Sedikit Bingung di Budhanilkantha


Dalam salah satu perjalanan ke Nepal, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah situs suci yang tak jauh dari Kathmandu. Namanya Budhanilkantha, yang terletak di kaki Bukit Shivapuri, sekitar 10 km dari pusat kota Kathmandu. Tempat ini menarik karena letaknya di luar jalur turis asing sehingga aura tradisional lebih mengisi suasana tempat yang sebagian besar hanya didatangi oleh penduduk lokal.

Awalnya, saat pertama kali mendengar namanya yang mengandung kata Budha, saya mengira tempat ini merupakan situs suci umat Buddha. Apalagi di Nepal, kehidupan umat Buddha dan Hindu berjalan berdampingan secara harmonis. Tapi ternyata saya salah seratus persen karena Budhanilkantha sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama Buddha. Situs ini justru merupakan situs suci agama Hindu.

Budhanilkantha

Jadi sebenarnya Budhanilkantha merupakan tempat pemujaan suci yang berisi patung Dewa Wisnu berbaring sebagai Narayan di atas gelungan ShesaNag (Naga/Ular kosmik berkepala banyak) yang berada di permukaan air kolam sepanjang 13 meter, seakan-akan air itu adalah lautan kosmik. Pahatan patung yang terbuat dari batu basalt utuh berwarna hitam ini merupakan pahatan terbesar dan terindah di seluruh Nepal. Uniknya, -dan cukup membingungkan-, konon patung dari batu basalt hitam itu dipercaya dibuat dari abad ke-7 atau 8 meskipun tempat asalnya tak pernah pasti. Bisa jadi, batu itu didatangkan dari luar Kathmandu Valley karena tak mungkin sebuah batu terpahat indah itu tiba-tiba muncul di tempatnya, kan?

Sore itu ketika sampai di Budhanilkantha, saya terpesona dengan keindahan pahatannya meskipun saya menyaksikan dari bagian luar pagar yang mengelilingi kolam (hanya mereka yang beragama Hindu dan akan melakukan persembahan atau pemujaan yang bisa menyentuh patung atau ke altar). Patung itu sungguh besar, sekitar 5 meter panjangnya, hampir mencapai setengah ukuran kolam yang panjangnya sekitar 13 meter. Sebuah payung segi empat berwarna kuning berumbai tampak menutupi tempat pemujaan itu dari hujan.

Patung Dewa Wisnu sebagai Narayan itu berbaring membujur ke arah Barat dengan kaki bersilang. Mahkotanya berwarna putih silver dipasangkan menindih mahkota asli hasil pahatan pada batu. Ke empat tangannya menggenggam semua benda perlambang kedewaannya. Cakra yang mewakili pikiran, cangkang keong laut yang mewakili empat elemen utama, bunga lotus membulat yang mewakili alam semesta yang terus bergerak dan gada yang mewakili pengetahuan purba. Dan sebagai pemuja setianya, SeshaNag atau kadang disebut juga Ananta Sesha, – sang Naga kosmik berkepala banyak-, menggelungkan tubuhnya menjadi tempat pembaringan Dewa Wisnu dan kepalanya yang berjumlah sebelas itu tampak memayungi kepala Dewa Wisnu. Selembar kain berwarna kuning menutupi tubuh patung Dewa Wisnu dengan berbagai rangkaian bunga marigold sebagai persembahan pemuja yang diletakkan diatasnya.

Sleeping Vishnu on Ananta Shesha
Budhanilkantha, from diffent angle

Tempat pemujaan ini memang keren, tetapi tidak bisa menghilangkan berbagai pertanyaan yang membingungkan di benak saya. Baiklah, ini bukan tempat suci Buddha, melainkan Hindu. Tetapi mengapa namanya Budhanilkantha? Apakah karena Buddha yang dipercaya oleh sebagian umat Hindu merupakan reinkarnasi Dewa Wisnu? Lalu mengapa di sini tempat pemujaan Dewa Wisnu dan bukan Dewa Siwa yang biasa dikenal sebagai Sang Nilakantha? Namanya sungguh membingungkan!

Ternyata, Budhanilkantha secara harfiahnya berarti “tenggorokan biru yang tua” (budha, -bukan buddha-, berarti tua) dan nilkantha (atau nilakantha, -sebuah gelar yang mengacu kepada Dewa Siwa-, telah disandangkan di tempat ini untuk Dewa Wisnu. Bisa jadi karena dalam banyak periode masyarakat Nepal merupakan pemuja Dewa Wisnu sebagai Dewa Utamanya.

Ternyata menarik juga untuk mengetahui legendanya, apalagi kalau sampai tambah membingungkan 😀 😀 😀

Mitos nilkantha atau tenggorokan biru Dewa Siwa merupakan kisah favorit di Nepal. Ingat dong kisah Samudra Manthana atau The churning of The Ocean of Milk, saat para dewa mengaduk lautan yang secara tidak sengaja mengeluarkan racun yang bisa menghancurkan dunia. Mereka memohon kepada Dewa Siwa untuk menyelamatkan dari kesalahan yang fatal ini, dan pada akhirnya Dewa Siwa menyanggupi dengan meminum racun itu. Dewa Siwa yang sangat kesakitan karena tenggorokannya terbakar oleh racun itu, pergi ke pegunungan di utara Kathmandu. Lalu dengan trisulanya, Dewa Siwa menghantam lereng gunung yang menghasilkan sebuah danau. Air dari danau itu, Danau Gosainkund, menjadi obat atau pendingin pada tenggorokannya sehingga penderitaannya berakhir kecuali sebuah bercak biru menghias di tenggorokannya (nilakantha).

Dan kaitana Budhanilkantha dengan mitos itu, ternyata air yang berada di kolam tempat Dewa Wisnu berbaring ini diyakini berasal dari Danau Gosainkund yang terletak di ketinggian 4380 mdpl itu (Danau suci ini merupakan salah satu pemandangan terindah jika melakukan Gosainkund trekking). Tetapi saya tak bisa mengabaikan, jarak Budhanilkantha dan Danau Gosainkund itu jauh sekali dan melewati bukit. Jadi bagaimana air Danau Gosainkund bisa sampai ke Budhanilkantha ya? Pemikiran yang mempertanyakan ini menambah kebingungan saja 😀 😀

Dan konon, image Dewa Siwa berbaring dapat disaksikan di bawah air saat festival tahunan Dewa Siwa! Meskipun ada legenda lain yang mengatakan bahwa patung Dewa Siwa yang serupa Dewa Wisnu ada di bagian bawah patung. Mana yang lebih bisa diterima akal? Tetapi yang pasti saya menelan saja dua legenda itu, daripada tambah bingung kan… 🙂

Lalu ada lagi kisah asal patung Budhanilkantha….

Kisah versi pertama, konon, patung itu dipahat lalu dibawa (lagi-lagi tidak jelas, apakah oleh para pemuja Dewa Wisnu atau oleh para budak) ke tempat sekarang ini di Lembah Kathmandu, pada abad ke-7 ketika lembah Kathmandu di bawah kekuasaan raja dari wangsa Licchavi yaitu Bhimarjunadev.

Dan versi yang lain mengisahkan, seorang petani dan istrinya yang memiliki sebidang pertanian, suatu hari sedang mengolah tanah mereka termasuk mencangkul tanahnya. Tanpa sengaja alat yang digunakan mereka menumbuk sebuah batu yang diikuti oleh keluarnya darah dari tanah. Kegemparan itu bertambah karena akhirnya diketahui bahwa patung Dewa Budhanilkantha yang hilang telah ditemukan kembali lalu ditempatkan di lokasi yang seharusnya.

Jadi patung itu asalnya dari mana? Mungkin jawaban pastinya adalah… entahlah… 😀

Dan masih ada cerita yang agak klenik dan supranatural lho…

Raja-raja Nepal, terutama dari Dinasti Malla setelah abad ke-14 memulai klaim diri sebagai reinkarnasi dari Dewa Wisnu dan berlanjut terus. Bahkan di abad 17, Raja Pratap Malla yang konon memiliki kemampuan supranatural dan sering mendapatkan penglihatan, memberitakan sesuatu yang meyakinkan namun sedikit mengerikan, yaitu jika Raja Nepal mengunjungi kuil Budhanilkantha, maka setelah meninggalkan Budhanilkantha, kematian segera menyongsong! Serem banget kan??? Oleh karena itu, hingga berakhirnya penganugerahan gelar sebagai Raja, Raja Nepal yang beragama Hindu tidak pernah mengunjungi kuil Budhanilkantha tersebut, apapun alasannya. Daripada terlalu cepat mangkat padahal masih banyak yang harus dinikmati, mungkin begitu pemikirannya…

Hari semakin sore ketika saya selesai mengelilingi tempat pemujaan yang berpagar tembok sebagian itu. Pikiran saya melayang-layang. Sebagai tempat suci Hindu, apalagi dengan keutamaan Dewa Wisnu yang berbaring, tentu Budhanilkantha sangat ramai saat perayaan Haribodhini Ekadashi (yang merayakan kebangkitan Dewa Wisnu dari tidur panjangnya, yang biasa dirayakan antara bulan Oktober – November). Saya ingat keramaian itu yang pernah saya tulis di Nepal: Kalung Bunga Cinta di Haribodhini Ekadashi dan Nepal: Bertemu Guardian Angels di Changu Narayan. Jika kuil Changu Narayan sudah penuh sesak seperti itu, apalagi di Budhanilkantha ini!

Pelan-pelan saya tinggalkan Budhanilkantha, sebuah tempat pemujaan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Buddha, lalu membawa pergi segala macam pertanyaan dalam benak. Tidak apa-apa sedikit bingung, tapi yang pasti Buddhanilkantha… checked! (pakai gaya bicara anak-anak sekarang) 😀 😀 😀


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-48 bertema Symbol agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Sukacita Menjejak Tempat Suci


Bagi yang mengikuti blog saya ini, telah beberapa kali saya mengungkapkan kegemaran jalan-jalan yang sudah ada sejak saya kecil. Menjejak tempat baru membukakan wawasan namun suka duka perjalanan menuju tempat baru itu membuat saya hidup.

Dan dari begitu banyak destinasi, -kebanyakan berupa tempat-tempat yang memiliki sejarah-, hanya ada beberapa tempat yang berhasil memporak-porandakan rasa dalam jiwa begitu dahsyat. Bisa jadi karena tempat-tempat itu diyakini oleh banyak jiwa sebagai tempat suci keimanan.


Puskarni, The Holy Pond

Meskipun saya telah menuliskan dalam pos Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini namun rasanya kata-kata itu tak pernah bisa terangkai dengan tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami ketika menjejak Kuil Mayadevi di Lumbini. Tempat itu konon, merupakan tempat kelahiran Sang Buddha, lebih dari dua setengah millenium yang lalu.

Kuil yang menurut saya terlalu sederhana untuk sebuah lokasi yang dipercaya merupakan tempat kelahiran seseorang yang telah mengguncang dunia, sesungguhnya hanya sebuah bangunan batu yang menutupi sebidang tanah serupa ekskavasi arkeologis. Tak ada hiasan, tak ada altar, tak ada tanda-tanda pemujaan, namun ketiadaan barang-barang duniawi itu tak mampu menghilangkan rasa sakral yang begitu hebat di dalamnya. Hanya dengan sebuah penanda yang dikenal dengan istilah Marker Stone yang terlindung oleh kaca, banyak pengunjung bisa jatuh bersimpuh di depannya. Itulah tempat yang dipercaya menjadi titik akurat kelahiran Sang Buddha Siddharta Gautama.

Suara sayup genta-genta kecil yang berdenting tertiup angin, juga suara bacaan sutra yang disenandungkan di bawah rimbun pohon Boddhi di luar kuil, menambah suasana sakral di Marker Stone yang letaknya tak jauh dari pintu keluar. Bahkan setelah dua setengah millenium, kesakralan tempat itu tetap masih terasa kuat.

A Monk under a Boddhi Tree

Sebagai non-Buddhist yang bisa sampai di tempat itu, saya merasakan energi yang begitu besar melingkupi tempat itu, membuat rambut halus di sekujur tubuh meremang dan perasaan dari dalam menggelegak keluar. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada saya sebelum ini, Berbagai rasa campur aduk, suka cita, bahagia, keharuan yang dalam silih berganti dengan rasa syukur yang berlimpah, semuanya berlangsung dalam waktu singkat membuat diri ini rasanya akan meledak. Tetapi mengenal diri yang lemah ini, saya harus segera melipir keluar mencegah tangis menjadi tersedu dalam sukacita yang dalam.

Lalu melengkapi keluarbiasaan di tempat suci itu, sebuah khata, -selendang sutra putih pembawa berkah-, yang didapat dari seorang biksu di bawah Pohon Boddhi melingkari leher saya. Dengan khata yang melingkar leher, saya meninggalkan Lumbini masih dengan berbagai rasa dari bersyukur, terpesona, bahagia, haru, merasa beruntung hingga rasa sedikit tak percaya mengalaminya, atas semua kebaikan Sang Pemilik Semesta.


Kemudian bertahun-tahun setelah perjalanan ke Lumbini itu, saya akhirnya berkesempatan melakukan perjalanan ibadah umroh ke Makkah dan Madinah yang tentu saja juga meluluhlantakkan rasa dalam jiwa. Rasanya setiap detiknya memiliki kenangan tersendiri, bagaimana saya bisa menjejakkan kaki sendiri, berdiri dengan tubuh sendiri, bersimpuh lalu bersujud meletakkan kening di masjid Nabi dan juga di hadapan Ka’bah. Seperti kata teman-teman saya yang telah melakukan perjalanan serupa terlebih dahulu, hanya ibadah yang ada dalam pikiran, rasanya ingin bermanja-manja selamanya dalam Kasih SayangNya. Bahkan bangun selepas tengah malam lalu berjalan ke arah Masjid pun dilakukan dengan sukacita. Tak berat sekalipun melangkahkan kaki, bertafakur, melangitkan doa dan pujian serta bersyukur. Bahkan di siang hari, saat matahari terik memanggang bumi, tempat-tempat bersujud dan berdoa itu tetaplah nyaman. Payung-payung terkembang untuk melindungi mereka dari terik matahari, karpet-karpet yang tergelar, bahkan mesin-mesin pendingin udara yang menyemburkan udara sejuk untuk kenyamanan ibadah.

Semua yang menyenangkan itu membuat jatuh tersungkur dalam syukur saat mengingat dan membayangkan berabad-abad lalu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga serta sahabat-sahabatnya melakukan perjuangan Islam yang sangat tidak mudah, dengan kondisi alam di Jazirah Arab yang tak bersahabat serta budaya setempat yang tidak kondusif. Dan membandingkan dengan kenyamanan serta semua yang membuat haru biru di tempat saya bersimpuh dan bersujud, bagaimana mungkin saya mengeluh? Saya tak bisa lain kecuali membiarkan airmata bahagia yang terus turun membasahi pipi.

Dan saat itu saya melihat di sekitaran, di depan, di belakang, kiri maupun kanan, memiliki wajah yang serupa, teduh dalam kebahagiaan beribadah memujiNya. Datang dari berbagai bangsa dan warna kulit serta dari segala penjuru dunia, berbalut pakaian yang bernada sama. Bertasbih, memuji namaNya, membaca kitabNya… menikmati undangan dariNya. Rasanya tidak ada rangkaian kata yang tepat untuk mewakili ungkapan rasa yang saya alami. Takkan pernah ada, takkan pernah cukup…

Saat itu, rasa penuh anugerah yang seperti mau meledak dan mendesak terus dari dalam, setiap detiknya, setiap menitnya itu, sungguh sebuah candu, membuat rindu, yang selalu ditunggu.

Saya pun mengamini apa yang dirasakan oleh teman-teman dan kerabat yang pernah menjalankan ibadah umroh terlebih dahulu bahwa semua kebahagiaan selama berada di Makkah dan Madinah itu selalu ingin diulang. Bahagianya itu seperti orang sedang jatuh cinta, ingin selalu berada berdekatan dan merasakan terus mencintai dan dicintai. Namun berbeda dengan rasa jatuh cinta pada manusia lain yang biasa menimbulkan keegoisan berdua dengan orang yang dicintai, rasa bahagia di Makkah dan Madinah ini tidak ada rasa ingin menguasai, bahkan meningkatkan rasa berbagi dan mengikis rasa mendahulukan kepentingan diri sendiri. Mungkin rasa bahagia itu berada di tingkatan yang lebih tinggi…


Dan yang tak kalah penting di akhir tahun 2019 lalu itu, dengan susah payah saya sungguh menahan airmata bahagia saat bus meninggalkan perbatasan Jordan menuju bumi Palestina. Setelah puluhan tahun memendam impian untuk sampai ke bumi Palestina, akhirnya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri Masjid Al Aqsho, saya berdiri di halamannya, bisa menghirup dan menghembus harum udaranya, juga beribadah di dalamnya. Bumi para Nabi. Bahkan sampai sekarang saja, setiap menuliskannya airmata saya selalu meleleh merasakan betapa besar anugerah yang saya terima. Alhamdulillah…

Jika saja saya bisa, rasanya ingin waktu berhenti agar saya bisa berlama-lama menikmati setiap detil kenangan saat berada di Bumi Palestina. Namun manusia ini serba terbatas, meski keinginan bisa liar tanpa batas. Sebisa mungkin saya merekam semua yang dirasakan berada di tempat yang dipercaya sebagai titik awal peristiwa Isra’ Mi’raj.

Tidak hanya itu, berada di Jerusalem membuat saya juga mengingat kembali kisah-kisah yang pernah didengar semasa mengenyam pendidikan di sekolah Katolik berpuluh tahun lalu. Menyusuri lorong-lorong kota tua Jerusalem tak bisa terhindar dari Via Dolorosa (jalan kesengsaraan yang diyakini dilalui oleh Yesus hingga ke Bukit Golgota). Juga, lalu lalangnya rabbi Yahudi dan banyaknya sinagoga di kota ini membuat kebahagiaan tersendiri. Lagi-lagi saya setengah percaya sedang berada di kota Jerusalem, kota yang menelurkan begitu banyak kisah di kitab-kitab suci tiga agama.

Dome of The Rock, Al Aqsho complex
Al Aqsho’s courtyard

Meskipun saya masih berangan-angan untuk mengunjungi Varanasi yang merupakan salah satu kota suci umat Hindu di India, saya tak kecil hati. Di Kathmandu, Nepal saya juga sempat mengunjungi Pashupatinath, salah satu kuil suci Hindu yang memberikan kebahagiaan tersendiri. Juga mengunjungi kuil Changu Narayan di Kathmandu yang memberikan saya begitu banyak keajaiban yang membahagiakan dan tentu saja ke Muktinath, salah satu kuil Hindu yang sederhana namun menjadi salah satu yang sangat sakral.

Jika saya diberikan umur panjang, sepertinya saya masih berkeinginan untuk mengunjungi tempat-tempat suci di dunia ini. Kebahagiaan berada di tempat-tempat itu tak bisa diabaikan begitu saja. Addictive


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-47 bertema Happiness agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Berperahu Naga Sepanjang Sungai Parfum


Kota Huế – Vietnam Tengah di bulan Desember

Setelah semalam berkeliling kota Huế dengan menggunakan becak, pagi ini saya menyempatkan diri melakukan tour berperahu sepanjang Sungai Parfum, sungai yang berlimpah bunga di hulu selama musim gugur sehingga konon menjadi harum baunya (tapi saya tidak membauinya lho 🙂 )

Perfume River from my hotel in Hue

Kota Huế di Vietnam Tengah yang memiliki tingkat hujan yang lumayan tinggi di bulan Desember ini, pagi itu tampak berawan, muram dan gloomy, tak beda jauh dengan situasi kota Hoi An yang telah saya tinggalkan sehari sebelumnya. Tetapi saya tak ingin terbawa suasana yang menggiring untuk berlama-lama di balik selimut. Setelah bersiap dan sarapan, segera saja saya menuju tempat perahu bersandar yang tak jauh dari hotel.

Sambil menunggu waktu keberangkatan, saya mengamati perahu wisata yang akan saya naiki. Bentuknya lucu, seperti ada dua kepala Naga di depan. Jika perahu Naga yang asli, kepala Naga benar-benar menyatu dengan badan perahu sedangnya versi KW ini kepala Naganya hanya berupa hiasan. Bagi saya hiasan ini malah menarik perhatian. Siapa sih yang memperhatikan asli atau tidak? Bukankah jika dilihat dari jauh tetap terlihat seperti perahu Naga? 😀

The Dragon Boat

Pada jam yang ditentukan seluruh peserta tur berkumpul, termasuk beberapa turis kulit putih. Kemudian perahu wisata berkepala Naga itu mulai bergerak menyusuri Sungai Perfume yang membelah kota Huế. Tak lama pemandu tur yang berusia tiga puluhan itu mulai mengeluarkan jurusnya bercerita tentang perjalanan hari itu. Sedikit berbeda dengan gaya ngebolang sebelumnya, saya tidak melakukan persiapan dan riset tentang tempat-tempat yang akan dikunjungi. Kali ini, sekali-sekali saya menjadi turis yang nurut pada omongan pemandu, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

Dalam hitungan menit perahu melaju ke pinggiran kota Huế, kepadatan kota terasa berkurang dan berganti dengan hijaunya pepohonan serta coklatnya Sungai Parfum. Pikiran saya melayang ke pengalaman di Bangkok, ketika menyusuri sungai Mae Chao Phraya, hanya beda pemandangan. Selagi masih menikmati pemandangan sekitar sungai, mendadak saya merasa perahu mengarah ke kanan dan melambat. Pasti ini pemberhentian pertama.

Rumah Taman An Hiên (Nhà vườn An Hiên)

Setelah turun dari perahu dengan melewati sedikit belukar, kami sampai di gerbang rumah An Hiên. Gerbang rumah dengan lengkung kuno ini terlihat lembab dan memudar meskipun masih terdapat jejak indahnya. Di bagian atas, terdapat hiasan berupa karakter China yang mungkin berarti An Hien dan di bawah lengkung terdapat hiasan bersulur.

Melewati gerbang, terhampar jalan setapak menuju rumah dengan dahan dan ranting-ranting tanpa daun, melengkung membentuk terowongan panjang. Cantik sekaligus menimbulkan misteri. Dan di ujung terowongan itu terdapat pagar berdinding yang sedikit berlumut dengan lubang lingkaran yang membentuk simbol kata Mandarin yang biasanya bernada kebaikan.

Berbelok di ujung jalan, terdapat pintu untuk masuk ke halaman rumah yang penuh dengan tanaman. Sebuah kolam ikan dibuat di bagian depan rumah mungkin bertujuan untuk mendinginkan dan menyegarkan suasana rumah.

Rumah Taman An Hiên yang sudah berusia lebih dari seabad ini relatif masih cukup bagus, pintu dan tiang-tiang kayu di bagian depan cukup baik (meskipun saya teringat rumah-rumah kuno di daerah pecinan yang serupa dan terpelihara dengan lebih baik). Hiasan atapnya cukup menarik perhatian saya. Dan seperti juga turis-turis lain, saat memasuki rumah itu, saya melihat ada altar lengkap dengan foto-fotonya, seperangkat alat minum teh, ruang-ruang kosong berisi tempat tidur kayu. Sayangnya sama sekali tidak ada penjelasan apapun bahkan pemandu tur entah dimana 😀 Saya hanya merasa di negeri antah berantah…

Belakangan baru diketahui, konon, putri ke-18 dari Kaisar Duc-Duc, –yang kontroversial karena penobatannya tak selesai dan hanya memerintah selama 3 hari, 20 – 23 July 1883-, menempati rumah An Hiên sampai tahun 1895, lalu setelah beberapa kali berpindah kepemilikan, akhirnya tahun 1938 rumah ini menjadi milik Nguyen Dinh Chi, seorang kepala daerah setingkat provinsi. Istrinya, Dao Thi Yen, terus merawat rumah ini bahkan mempelopori gerakan melawan kolonialisme Perancis yang terjadi saat itu di Vietnam. Bisa dikatakan rumah An Hiên ini menjadi saksi bisu kegiatan aktivis nasional Vietnam terutama yang berkontribusi besar untuk kota Huế.

Tidak banyak mendapatkan informasi tentang isi rumah, saya kembali ke halaman lagi. Meskipun tidak sempat memperhatikan keberadaannya, konon di halaman ini terdapat berbagai bunga, seperti anggrek dan mawar impor dari Eropa serta berbagai pohon buah seperti manggis, durian, lengkeng dan kesemek langka Tien Dien yang istimewa karena lezat dan tanpa biji. Buah kesemek ini khusus dibawa dari wilayah Nghi Xuan oleh cicit penyair besar Nguyen Du sebagai hadiah untuk keluarga Nguyen Dinh Chi.

Rasanya tak ada yang istimewa saat berkunjung ke rumah Taman An Hiên ini. Mungkin saja rumah ini memiliki nilai historis bagi penduduk Vietnam tapi sayangnya ketiadaan informasi yang melatari rumah ini, membuat pengunjung non-lokal seperti kehilangan spirit dan nilainya (Meskipun saya jadi introspeksi diri, apakah tempat-tempat wisata di Indonesia serupa rumah An Hien ini sudah memberikan informasi cukup dalam bahasa Inggris mengenai tempatnya?)


Setelah semua berkumpul kembali di perahu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Perfume. Pemandangan yang menarik membuat saya meninggalkan tempat duduk dan melangkah keluar menuju area kepala Naga tempat turis mengabadikan pemandangan sekitar.

Seseorang di antara mereka, -kelihatannya cukup berumur-, menghampiri saya dan mengajak ngobrol mengenai wisata menyusuri sungai ini. Mendengar ceritanya, saya sebagai frequent-traveler ke Cambodia merasa terhenyak juga mengetahui ia baru saja melakukan perjalanan wisata sungai dari Tonle Sap hingga ke Phnom Penh Cambodia, sebuah perjalanan yang masih menjadi impian saya. Ceritanya menginspirasi untuk segera mewujudkan perjalanan itu. Obrolan kami terhenti karena perahu berhenti di sudut sungai yang agak lebih tinggi. Saya terpesona dengan apa yang saya lihat, ada pagoda tua di antara rimbunnya pohon.

Thien Mu Pagoda

Thien Mu Pagoda

Sebagai tempat ibadah kuno berarsitektur indah, tak heran jika Kuil Thien Mu selalu menjadi tempat wisata yang didatangi wisatawan saat berkunjung ke Huế. Pagoda yang juga terkenal dengan nama Heaven Fairy Lady Pagoda itu terletak di Ha Khe Hill, desa Huong Long, di pinggir sungai Perfume atau bisa juga berkendara sekitar 5 km dari Huế.

Pagoda ini memiliki keunikan sendiri karena ada legenda yang menyelimutinya. Dahulu kala, seorang wanita tua muncul di bukit tempat lokasi pagoda sekarang, memberitahu penduduk setempat bahwa seseorang yang sangat berkuasa akan datang dan membangun Pagoda Buddha untuk kemakmuran negara. Waktu berlalu dan legenda tetap menyelimuti kawasan itu. Kemudian, karena legenda itu juga sang pendiri dinasti Nguyen, Lord Nguyen Hoang, -saat itu beliau gubernur provinsi Thuan Hoa (sekarang Hue)-, pada tahun 1601 memerintahkan pembangunan pagoda Thiên Mụ (atau disebut juga Linh Mụ) dan faktanya setelah itu memang membawa kemakmuran bagi negara. Bisa jadi legendanya misterius, tapi tak bisa diabaikan bahwa pagoda selalu dikunjungi orang, dari dalam dan luar negeri. Entah memang untuk melihat pagoda atau untuk membuktikan legenda itu sendiri.

Thien Mu Pagoda

Tentu saja seperti turis lainnya, saya tertarik untuk melihat lebih dekat menara pagoda yang menjulang tinggi. Menara ini dikenal dengan nama Phuoc Duyen, sesuai nama personal dari pendirinya, Kaisar Thieu Tri, dan telah menjadi simbol tidak resmi dari kota Hue. Menara segi delapan yang memiliki tujuh lantai ini menjadi bangunan serupa stupa yang tertinggi di Vietnam, bahkan biasa diasosiasikan (meski tak resmi) dengan ibukota kekaisaran yang berpusat di Hue.

Di dekatnya ada beberapa bangunan lain yang tak kalah menarik, seperti tempat yang menyimpan Dai Hong Chung, sebutan untuk genta sangat besar dari Lord Nguyen Phuc Chu, sejak tahun 1710 yang berukuran 2.5 meter dan beratnya lebih dari 3 ton. Tak jauh juga ada prasasti dari tahun 1715 yang dibuat berdiri di punggung kura-kura marmer besar yang menjadi lambang umur panjang. Saya juga menyempatkan memasuki Aula utama Dai Hung yang megah dan terlihat modern. Isinya barang-barang antik yang amat berharga.

Sambil menunggu peserta tur kembali, saya sedikit googling mengenai sejarah Thien Mu dan terkejut juga membaca hasilnya. Rupanya tak hanya kecantikan arsitekturnya, tetapi ada nilai historis kental dimiliki Pagoda Thien Mu ini yang membuat semangat kebuddhaan di tempat ini tetap terjaga.

Tahun 1963, Hue bergolak. Kebanyakan rakyatnya yang menganut Buddha melayangkan protes anti pemerintahan. Saat itu, Presiden Ngo Dinh Diem, yang naik ke tingkat kekuasaan tertinggi sejak tahun 1955, diduga telah menunjukkan perilaku diskriminasi. Konon, sebagai presiden, ia cenderung memprioritaskan umat Katolik dan melakukan diskriminasi terhadap umat Buddha di bidang ketentaraan dan pelayanan publik serta distribusi bantuan, yang membuat sebagian rakyat Vietnam tidak puas.

Ketidakpuasan akhirnya meledak di Hue di dalam musim panas tahun itu karena terhitung sembilan penganut Buddha tewas oleh tentara dan polisi dari Presiden Ngo Dinh Diem, yang malangnya terjadi pada hari Waisak, hari lahir Sang Buddha Gautama. Protes itu menyebar ke seluruh negeri dan membesar. Dan pusat gerakan umat Buddhist semasa bersejarah itu berada di Pagoda Thien Mu, dalam bentuk mogok makan, tempat barikade manusia dan protes damai.

Tetapi hari itu, saat saya menapaki kawasan Pagoda Thien Mu, rasanya sungguh damai dan tenang karena tempat itu ditata dengan indah, banyak bunga dan pepohonan. Bahkan di bagian belakang taman, terdapat hutan pinus yang wanginya terasa sampai ke tempat saya berdiri. Sungguh tak meninggalkan jejak sama sekali bahwa pernah terjadi gerakan karena sebuah tragedi di tempat yang indah itu.

Waktu berlalu, kami harus melanjutkan perjalanan berperahu. Sayang tak bisa menyaksikan rombongan biksu beribadah saat matahari tenggelam yang konon amat indah di sini. Tapi ah, hari itu, suasananya masih gloomy


Temple of Literature

Meninggalkan Thien Mu, perahu kami melaju melewati Temple of Literature yang lokasinya hanya 1 km dari Pagoda Thien Mu. Pagoda yang juga dikenal dengan nama Van Mieu Hue or Van Thanh ini merupakan tempat untuk pembelajaran ajaran Confusius yang terkenal di China, Korea, Jepang dan Vietnam.

Sayang karena waktu yang terbatas, kami tidak dapat mampir di tempat terkenal yang didirikan pada tahun 1908 semasa pemerintahan Kaisar Gia Long.

Perahu terus melaju menyusuri Sungai Perfume di hari yang berawan. Tak terlihat lagi rumah-rumah penduduk, yang ada hanyalah pepohonan dan perbukitan di kejauhan. Di beberapa pinggir sungai terlihat tempat penangkapan ikan. Serupa di negara-negara lain, sungai merupakan salah satu tempat mata pencaharian yang bisa diandalkan seperti perikanan.

Setelah beberapa lama, akhirnya perahu melambat dan berhenti pada sebuah kaki bukit. Inilah persinggahan terakhir dalam perjalanan dengan perahu. Sebuah kuil kecil yang cantik di antara rimbun pohon.


Hon Chen Temple

Berada di tepian sungai sekitar 10 kilometer dari kota Hue, Kuil Hon Chen merupakan obyek wisata yang terkenal di Hue.

Saya tersenyum saat menjejak di tempat ini karena sehari sebelumnya telah berkeliling My Son, sebuah kompleks percandian Kerajaan Champa. Seperti ada benang merah mengunjungi My Son dan ke Kuil Hon Chen, yang keduanya terkait pada etnis Champa.

Hon Chen Temple
Hon Chen Temple

Dan sebagai tempat ibadah Po Nagar, -junjungan yang dipercaya oleh etnis minoritas Champa-, Kuil Hon Chen menarik untuk didatangi. Karena menurut legenda etnis Champa, Po Nagar adalah putra Raja yang diutus ke bumi untuk menciptakan bumi dan segala jenis kayu dan beras.

Etnis Champa percaya bahwa kuil ini sudah dibangun di lokasinya sekarang berabad-abad lalu dalam bentuk yang paling sederhana namun mengalami penyesuaian dan adaptasi dari waktu ke waktu sesuai perkembangan jaman. Tak heran Hon Chen menjadi tempat untuk recharge kehidupan spiritual dan budaya masyarakat setempat.

Rasanya tak cukup waktu untuk mengabadikan setiap detil yang indah di tempat yang tidak luas namun cantik ini. Apalagi gerimis turun menghiasi hari. Dan si pemandu tur pun sudah memanggil-manggil…

Meski berperahu naga di sepanjang Sungai Parfum telah berakhir di Kuil Hon Chen ini, tur sehari di Hue ini masih berlanjut… Sayangnya suasana masih gloomy


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-46 bertema Sepanjang agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Bersama Berbagi Jalan


Awal November 2014

Rupanya delay penerbangan dari Kathmandu ke Pokhara ketika saya melakukan perjalanan pertama kali ke Nepal di tahun 2014, memberi sebuah kebaikan. Saya jadi lebih memperhatikan rombongan trekkers yang siap trekking, lengkap dengan celana dan sepatu boot yang keren. Saat itu, tentu saja trekking bukan pilihan saya untuk berlibur di Nepal, karena saya tahu diri dengan fisik yang tak terlatih. Meskipun demikian, saya selalu terpesona dengan penampilan para trekkers itu. Sepertinya keren sekali!

Tetapi siapa sangka, ketidakyakinan akan kekuatan diri itu justru bertindak sebaliknya. Karena dua tahun setelah perjalanan pertama ke Nepal, saya mulai mencari informasi mengenai trekking di Nepal, termasuk mencari teman seperjalanan. Meski saya tahu ada banyak orang melakukan solo-trekking di Nepal, bagi saya hal itu bukan opsi untuk pengalaman pertama. Akan lebih baik saya berjalan dalam kelompok apalagi saya bukan pendaki.

Dan dari informasi yang tersebar di internet, saya juga mengetahui mengenai rombongan hewan yang sering ditemui oleh para trekkers di sepanjang jalur trekking. Sepertinya menyenangkan sekali berbagi tawa dan rasa ingin tahu bersama teman-temen serombongan ketika bertemu dengan rombongan hewan itu. Itulah salah satu imajinasi saya tentang trekking di gunung-gunung tinggi Himalaya. Sebahagia itukah jika saya trekking?


Minggu ketiga April 2017

Saya kembali ke Kathmandu, kali ini untuk tujuan trekking. Namun dalam perjalanan kali ini saya tak sendiri, melainkan bersama seorang teman. Impian bisa trekking dalam rombongan yang lebih banyak anggotanya belum bisa terwujud. Meskipun demikian, saya masih bersyukur masih ada yang berkenan bergabung dengan saya, -yang pastinya secara fisik paling tidak kuat dan paling lambat-, untuk trekking di Himalaya.

Kawan saya itu, -saya memanggilnya Pak Ferry-, bergabung bersama saya untuk trekking ke Himalaya juga sesuatu yang tiba-tiba. Sore itu entah angin apa yang membawanya, tiba-tiba saja dia menanyakan kemungkinan jalan ke Nepal (Dia tahu saya pernah ke Nepal). Satu pertanyaan yang membuat saya terkejut saat itu karena sesungguhnya saya sedang mencari teman jalan ke Nepal. Inikah yang namanya Law of Attraction? Tak perlu banyak pertimbangan lagi untuk mengambil keputusan untuk segera Berangkat!

Dan bersama seorang tour guide asli Nepal dan seorang porter, kami berempat menjadi rombongan kecil yang lumayan aneh, yang satu (saya) tidak kuat nanjak dan yang satu lagi (Pak Ferry) cemas jika berada di tempat-tempat tinggi. Tetapi kami berjalan bersama, berbagi bahagia…


Di hari pertama trekking di kawasan Annapurna, rasanya belum lama meninggalkan Tikhedunga, -desa berikutnya setelah diturunkan dari jeep yang membawa dari Pokhara-, kami bertemu juga dengan rombongan keledai atau mungkin juga mule. Saya sendiri tak dapat membedakan antara mule dan keledai, mungkin karena saya tak terlalu memperhatikan mereka. Yang pasti lebih mirip keledai namun posturnya lebih besar. Mule merupakan campuran dari keledai dan kuda.

Pasukan keledai alias mule itu mendekat dengan membawa keriuhan klenengan yang tergantung di lehernya. Mereka semua adalah penolong manusia untuk membawa barang-batang yang super berat. Yang amat meninggalkan kesan adalah bunyi klenengannya yang terdengar dari jauh. Dan ternyata bunyi khas itu membuat rindu. Percaya deh.

Karena hari itu, baru kali pertama bertemu dengan rombongan mule,, saya ingin mengabadikannya lebih dekat, tetapi tak sadar saya berdiri di jalur jalannya. Ia mendatangi saya yang terlihat semakin jelas dan besar dari jendela bidik kamera. Menyadari kesalahan melihat bibir dan wajah keledai yang semakin besar di kamera, saya langsung balik badan lalu berusaha menjauh untuk menghindarinya. Sayangnya, tidak ada jalan setapak di depan. Tanpa pikir panjang, saya melompat ke samping ke tempat aman. Pemandu kami sampai terbahak menyaksikan saya melompat menyelamatkan diri seperti dikejar keledai. Awkward banget…

Menariknya, rombongan mule itu tertib dalam berjalannya. Yang satu mengikuti mule yang di depannya. Jika di depannya mendadak berhenti, mule itu hanya melengos sedikit dan ikut berhenti. Kecuali disuruh lebih cepat oleh gembalanya, kecepatan langkah hewan-hewan itu bisa dibilang sama. 

Biasanya kami berhenti sejenak saat bertemu dengan rombongan mule, memberi jalan untuk mereka. Saat itulah saya memperhatikan. Kasihan juga karena beban yang dibawanya tidak ringan. Klenengan yang bergantung di lehernya dan berbunyi teramat khas itu melengkapi peristiwa bertemu dengan mereka, meninggalkan kesan yang dalam dan mengendap dalam kenangan. Membius menjadi sesuatu yang dirindukan.

Saya tenggelam dalam imajinasi, membayangkan menggiring hewan-hewan pengangkut yang sudah berlangsung berabad-abad melewati gunung-gunung salju, membuat rute-rute perdagangan. Barang-barang yang diperjualbelikan melewati batas negara dari Timur sampai Barat dan sebaliknya. Mule terakhir yang lewat di depan saya segera menyadarkan kembali, mereka telah berjalan di depan dan kini saya melanjutkan perjalanan kembali. 

Tidak hanya mule atau keledai, dalam trekking di Annapurna itu kami menjumpai rombongan hewan seperti kerbau, yang karena badannya besar saat beristirahat di tengah jalan, membuat jalan setapak itu setengah tertutup oleh mereka. Saya agak ngeri melewati kerbau-kerbau yang besar-besar itu,. Tapi bagaimana lagi? Kadang saya berjalan di antara mereka dengan baca doa agar mereka tetap diam. Ngeri juga kan kalau mereka mendadak mengamuk? Pernah sekali waktu saya memilih meniti pagar tembok kecil karena takutnya dengan mereka (padahal di sebelah tembok itu lembah yang cukup dalam).

Tidak hanya mule dan kerbau, dalam akhir trekking kami juga menjumpai rombongan kambing yang lebih banyak dan sangat khas baunya… bau kambing 😀 😀 😀

 

Tak beda jauh dengan yang dijumpai saat trekking di Annapurna, kami berjumpa pula dengan rombongan kerbau saat saya melakukan trekking ke Namche Bazaar di kawasan Everest. Lucunya, saya biasa mengikuti jejak hewan-hewan pengangkut itu karena lebih landai di tanjakan meski harus berjalan zig-zag. Kata pemandu saya, selalu ada dua opsi untuk melangkah saat trekking: mengikuti jalur manusia atau yaks/kerbau. Dan sebagian besar saya memilih yang terakhir 😀 Sayangnya saja, kalau mengikuti jejak mereka, harus berhati-hati karena ranjau yang mereka lepaskan secara sembarangan dan ukurannya itu besar dan banyaaaaakk… Dari yang sudah kering sampai yang fresh baru keluar huuueeeekkk….

Bertemu dengan rombongan hewan itu mempunyai himbauan tersendiri. Jika bertemu dengan mereka, usahakan kita sebagai manusia berada di sisi tebing dan membiarkan mereka berjalan di sebelah yang ada jurang. Jangan terbalik, risiko bisa fatal jika hewan-hewan itu lepas kendali. Meskipun selama ini saya tak pernah melihat hewan-hewan itu lepas kendali. Kelihatannya satu sama lain mereka saling terhubung dan orang yang mengatur perjalanan mereka sangat memahami hewan-hewan itu. 

Juga di jembatan gantung. Seperti perempuan di dunia manusia dengan istilahnya ladies first, untuk di jembatan gantung ladies first itu tidak berlaku. Pernah saya masih di tengah jembatan suspension sementara dari depan sudah terdengar klenengannya yang semakin cepat. Pemandu saya memaksa setengah lari agar kami tidak terjebak bersama kerbau atau yaks itu di tengah jembatan. Alhasil saya mendadak menjadi pelari berharap rombongan hewan itu tidak memasuki jembatan terlebih dahulu. Kebayang kan lari di jembatan suspension yang bergoyang-goyang itu? 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-41 bertema Group agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.