Batu-Batu Pembuat Takjub


Ada seorang teman sekolah yang mengatakan bahwa saya penyuka batu. Mendengar itu saya hanya bisa mengangkat alis, karena, -meskipun terdengar aneh-, saya tidak bisa mengabaikan kenyataan itu. Benar juga sih. Karena saya memang menyukai batu. Bukan batu-batu permata yang dulu pernah heboh, melainkan batu-batu yang memiliki makna, batu alam yang membuat takjub, atau batu-batu yang tersusun menjadi bangunan candi, batu-batu kecil yang berbentuk aneh. Ah, rasanya saya memang mudah tertarik oleh penampakan batu yang ‘menghebohkan’. Aneh juga ya?

Namun bagi mereka yang mengenal saya, atau mengikuti perjalanan saya melalui blog ini, tentu mengetahui bahwa saya sedikit ‘gila’ terhadap candi-candi Hindu/Buddha yang umumnya tersusun dari batu. Bahkan saya ‘kejar’ kegilaan saya akan batu itu sampai ke luar negeri. Meskipun, jujur deh, masih sangat banyak tempat di Indonesia yang belum saya kunjungi dan semuanya terkait dengan batu. 😀

Ketika berkesempatan pergi ke Jepang untuk pertama kalinya, di Osaka Castle saya terpaku di depan sebuah batu utuh yang amat besar, yang menjadi bagian dari dinding pelindung halaman dalam yang dikenal dengan nama Masugata Square. Batu yang disebut dengan Tako-ishi atau harafiahnya berarti Batu Gurita (karena ada gambar gurita di kiri bawahnya) memang luar biasa besar. Beratnya diperkirakan  108 ton, berukuran panjang 11.7 meter dan tingginya 5.5 meter (atau lebih dari saya ditumpuk tiga ke atas 😀 ). Satu batu utuh yang termasuk megalith dan terbesar di Osaka Castle ini bisa disaksikan tak jauh dari Gerbang Sakura.

Konon, dinding batu yang terbuat dari batu-batu amat besar ini dibuat pada awal periode Edo, yaitu sekitar tahun 1624 oleh Tadao Ikeda, Bangsawan besar dari Okayama yang diperintahkan oleh Shogun Tokugawa. Selain, Takoishi sebagai yang terbesar, tepat di sebelahnya terdapat batu yang merupakan ketiga terbesar di Osaka Castle, yang dikenal dengan nama Furisodeishi atau harafiahnya berarti batu lengan panjang kimono. Mungkin karena bentuknya seperti lengan kimono.

Saya sendiri belum sempat menelaah lebih lanjut tempat pembuatan Tako-ishi itu, apakah memang dibuat di Osaka atau di Okayama, tempatnya Tadao Ikeda menjabat. Jika benar di Okayama, saya tak pernah membayangkan pengirimannya. Padahal jarak Osaka ke Okayama itu sekitar 170 km. Lalu bagaimana pengirimannya pada masanya ya?

Stone1-Takoishi
Takoishi – The Largest Stonewall in Osaka Castle

– § –

Berbeda dengan batu yang ada di Jepang, dalam perjalanan saya ke Cambodia, -tentu saja selain Angkor Wat dan kuil-kuil lainnya yang mempesonakan-, saya juga terpesona dengan Reclining Buddha raksasa yang terbuat dari batu utuh yang berlokasi di kompleks Preah Ang Tom di Phnom Kulen, sekitar 50 km di utara kompleks percandian Angkor.

Dengan panjang sekitar 17 meter, Reclining Buddha dari abad ke-16 ini, dibangun di atas batu setinggi 8 meter sehingga saya harus menaiki tangga untuk mencapainya. Meskipun ukurannya kalah jauh dari Wat Pho di Bangkok atau bahkan Reclining Buddha di Mojokerto apalagi jika dibandingkan panjang patung-patung serupa di Myanmar, saya merasa amat unik dengan apa yang saya lihat di Preah Ang Tom ini.

Tidak seperti biasanya di negara-negara Buddhist yang pada umumnya Reclining Buddha dalam posisi Parinirvana (perjalanan menuju Nirvana setelah kematiannya) dibuat dengan kepala di sebelah kiri, Reclining Buddha yang ada di Phnom Kulen ini, kepala Sang Buddha berada di sebelah kanan. Terlebih lagi, konon sudah amat tua, hampir empat abad keberadaannya dan dibuat diatas batuan pegunungan! Bahkan setelah saya browsing, hanya ada tiga Reclining Buddha dalam posisi ini, dua di Thailand dan di Preah Ang Tom ini.

Stone2-PhnomKulen
Reclining Buddha at Phnom Kulen, Cambodia

– § –

Bicara soal usia batu, saya jadi teringat batu yang ditemui saat melakukan trekking ke Muktinath di kawasan Lower Mustang, Nepal. Tak jauh dari kuil Muktinath yang dipercaya oleh penganut Hindu Vaishnavas sebagai salah satu tempat yang paling sakral, terdapat sebuah patung Buddha sebagai penghormatan kepadan Guru Rinpoche yang konon pernah ke sana. Di bawahnya diberi hiasan batu-batu asli, yang diambil dari Sungai Kali Gandaki. Batu-batu asli ini namanya Shaligram.

Shaligram ini sangat khas. Meski kecil, tidak lebih besar dari telapak tangan-, batu ini luar biasa unik karena memiliki motif kerang yang terbentuk secara alamiah. Konon terbentuk sebagai fosil sejenis kerang yang ada sekitar ratusan juta tahun lalu!

Yang membuat saya terpesona adalah kenyataan bahwa batu kerang sebagai binatang laut yang sudah memfosil itu bisa ditemukan di dasar atau pinggir sungai Kali Gandaki yang berair tawar di sekitaran kawasan Himalaya yang tinggi gunungnya beribu-ribu meter ke atas. Mungkin saja, pikiran saya terlalu terbatas untuk bisa membayangkan yang terjadi di alam ini selama ratusan juta tahun yang lalu, ketika jaman es masih menutupi planet bumi tercinta ini. 

Menyaksikan sendiri fakta alam yang begitu dekat dan bisa dipegang, rasanya amat luar biasa. Namun sayang sekali, ada saja manusia-manusia yang tak bertanggung jawab yang mencungkilnya untuk dijadikan sesembahan.

DSC06048
Shaligram of Muktinath, Nepal

– § –

Batu-batu lain yang membuat saya takjub adalah batu-batu yang berdiri dalam posisi amat kritis. Salah satu batu yang membuat saya terkagum-kagum adalah The Golden Rock, yang ada di Myanmar, sekitar 5 – 6 jam perjalanan dengan bus dari Yangon. Hingga kini, Golden Rock menjadi tempat sakral bagi umat Buddha Myanmar sehingga banyak didatangi peziarah dari segala penjuru Myanmar.

Bagi saya, The Golden Rock bisa mewakili semua posisi batu yang disangga batu lainnya meskipun dengan posisi yang teramat kritis dan tetap dalam keseimbangan selama berabad-abad. Mungkin tingkat kekritisannya bisa dibandingkan dengan The Krishna’s Butter Ball yang ada di Mahablipuram, India (Semoga saya diberikan kesempatan untuk berkunjung kesana!) atau batu-batu lainnya yang serupa.

Di dekat Wat Phu, Laos Selatan, saya melihat celah sempit di bawah batu cadas (rocks) dan digunakan untuk tempat persembahyangan. Juga di Golden Rock, saya melihat banyak orang bersembahyang di bawah batu tersebut. Entah kenapa melihat semua itu, selalu terlintas di pikiran, bagaimana jika terjadi gempa bumi yang membuat posisi batu menjadi tak seimbang dan batu itu ‘glundung‘ jatuh ke bawah? Bukankah apapun bisa terjadi?

DSC07435
Critical Point of The Golden Rock, Myanmar

– § –

Tetapi, dari banyak tempat yang pernah saya kunjungi, mungkin Petra di Jordan menjadi juaranya terkait batu yang membuat saya terkagum-kagum. Kekaguman saya akan tingginya celah ngarai yang teramat sempit yang dikenal dengan nama The Siq, juga bentukan-bentukan alam serta olahan tangan dari bangsa Nabatean jaman dahulu terhadap kawasan berbatu cadas itu. Sang Pemilik Semesta telah menciptakan kawasan Petra begitu berbatu yang tanpa sentuhan manusia pun sudah begitu mempesonakan, namun bangsa Nabatean dengan kemampuan artistiknya membuatnya semakin menarik.

Menuju The Treasury, saya melewati daerah yang disebut dengan Djinn blocks. Isinya batu-batu yang berbentuk kubus, nyaris sempurna. Saat mengetahui namanya, konotasi saya langsung mengarah ke tempat-tempat jin (asal katanya ya memang itu kan), namun konon bentukan kubus itu merupakan tempat peristirahatan (tapi entah peristirahatan dalam artian makam atau memang tempat beristirahat dalam perjalanan karena ada juga yang mengartikan ‘tempat air’ yang biasanya menjadi tempat pemberhentian pengelana)

Tetapi tetap saja, batu-batuan di Petra ini, dalam kondisi aslinya atau telah menerima sentuhan manusia, tetap mempesona. Yang pasti, saya ingin kembali lagi kesana, menjelajah lebih lama, lebih santai…

DSC00469
Other angle of Djinn Blocks
DSC00466
Djinn Blocks, Petra
DSC00496
Elephant, Fish or Aliens?

– § –

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-20 bertema Stone agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

D6-Trekking Nepal – Di Simpang Jalan


Catatan. Meskipun perjalanannya ini terjadi tiga tahun lalu tapi rasanya sayang kalau tidak dilanjutkan cerita saat trekking di Nepal. Untuk mengingat kembali silakan baca kisah trekking hari -hari sebelumnya di tautan berikut ini: Dare to Dream Trip, Ke Kathmandu, Tangga-Tangga Uleri, Menuju Ghorepani, Poonhill, Didera Hujan Es, Gurung Hill dan Melawan Takut. Apalagi, tantangan menulis mingguan yang diangkat oleh Sahabat saya, Srei’s Notes, bertopik tentang Road alias Jalanan untuk minggu ini. 


 

Chhomrong, minggu ketiga April 2017

Mentari belum juga terbit namun saya telah keluar kamar penginapan yang langsung disambut udara dingin Himalaya. Meskipun sudah jauh di bawah Poonhill atau Deurali Pass yang berada di ketinggian 3100-an meter, berdiri pagi-pagi di Chhomrong yang berada di ketinggian 2170 meter ini tetap saja terasa dingin. Tetapi, pagi adalah waktu yang tepat untuk melihat keindahan Himalaya.

1
Annapurna South, Hiunchuli, Macchapucchre before sunrise
1a
Sunshine over Mt. Macchapucchre (Fish Tail)

Dan benarlah, ketika menatap ke arah pegunungan, saya yang pendaki abal-abal tapi nekad menjelajah di Himalaya disuguhi pemandangan alam yang spektakuler. Puncak Annapurna South (7219m) berjajar dengan Hiunchuli  (6441m) lalu terpisah oleh lembah dalam, gunung favorit saya, Macchapucchre (6993m) berdiri dengan gagahnya. Semua puncak dan punggungnya tertutup salju abadi yang memperlihatkan keindahannya.

Sinar mentari pagi mulai menerpa puncak ketiga gunung tinggi itu dan memberi warna keemasan pada salju abadi yang menyelimutinya. Bahkan sinar matahari yang melewati puncak Gunung Macchapucchre, -yang dikenal juga sebagai Fish Tail karena puncaknya yang menyerupai ekor ikan-, memberikan efek dramatis bergaris pada langit.  Pagi datang berkunjung dengan keajaiban yang membuat saya menarik nafas panjang, tak habis-habisnya mengucap syukur. Sang Pemilik Semesta telah memberikan kesempatan kepada saya berjalan di bumi yang indah ini. 

Setelah mengabadikan pemandangan indah ini, saya berjalan ke arah persimpangan desa tak jauh dari penginapan. Ternyata Pak Ferry, my travel buddy, sudah berada di sana terlebih dahulu. Langsung saja kami saling bergantian mengambilkan foto sebagai kenang-kenangan meskipun dengan wajah apa adanya (Di gunung siapa sih yang mau mandi dua kali sehari dan dandan cantik? 😀 )

Rasanya mata tak ingin melepas pemandangan indah yang tak bisa dilihat di Indonesia ini, saya ingin berlama-lama meskipun tahu akan ada yang namanya perpisahan. Di sini, di desa Chhomrong ini merupakan tempat terakhir kami untuk merasa terdekat dengan rangkaian pegunungan Himalaya. Karena setelah ini, kami akan menjauh darinya. Ada sedikit rasa sesal mengapa cuti terlalu singkat dan mengapa saya tak mempersiapkan fisik yang lebih baik untuk trip ini. Tetapi, bagaimanapun semua harus dihadapi dan diterima.

Dengan pikiran yang masih menggantung kepada keindahan puncak bersalju itu, Pak Ferry dan saya berjalan pelan kembali ke penginapan, untuk sarapan dan packing. Sarapan yang serupa, roti dan selai ditambah kopi atau teh. Tetapi yang paling mengerutkan hati saat sarapan itu, ketika saya harus menyaksikan dua perempuan muda berpamitan dan melangkah gembira menuju Bamboo, desa berikutnya untuk menuju Annapurna Base Camp. Arah yang pastinya berbeda dengan tujuan saya hari ini. Meskipun mendoakan mereka untuk keberhasilannya, saya tak bisa mengingkari terselip sedikit rasa iri akan kemudaan dan semangat mereka.

Tak perlu lama kami semua telah siap, di simpang desa itu kami melanjutkan perjalanan. Bukan ke atas menuju Annapurna melainkan menuju pulang. Sedih? Tentu saja, karena harus melepas tujuan dan harapan. Tetapi saya juga meyakini, segala peristiwa memiliki alasan dibaliknya sehingga harus diterima dengan ikhlas. Dan bagi saya yang sebelumnya tak pernah mendaki gunung, apalagi sudah tak lagi muda dan tak pernah olahraga, bisa mencapai 3120 meter saja sudah luar biasa!

4
Clouds started to cover
4a
ABC or Home?

Sejenak saya menatap Annapurna, Hiunchuli dan Macchapuchhre dari jarak terdekat yang pernah saya jejaki sebelum akhirnya saya melepas pandang. Seakan tahu rasa apa yang tersembunyi di dalam hati, Semesta membantu mulai mengirim awan untuk menyelimuti puncak gunung-gunung itu. One day, saya akan kembali. Kemudian saya melangkah pergi menuju Landruk, pemberentian kami berikutnya.

Not the destination, but the journey…

Itu kata orang bijak, meskipun perlu keikhlasan yang amat tidak mudah. Tetapi ada banyak bantuan bagi orang yang mau bersungguh-sungguh. Saya merasakan bahwa alam memberikan suhu yang amat nyaman untuk berjalan. Sinar matahari tidak terik melainkan hangat. Ada berbagai kerindangan disana-sini dan tentu saja pemandangan bukit-bukit yang indah. Semuanya teramat sayang jika dilewatkan begitu saja hanya gara-gara terpaku pada tujuan Annapurna yang harus dilepas. Ah, saya belajar banyak dalam perjalanan ini, belajar untuk mengucap syukur pada setiap keindahan yang saya terima dalam setiap detik di depan mata, bukan yang telah lewat.

PerlindunganNya

Urutan trekking masih tetap sama seperti hari-hari sebelumnya, sang porter muda yang handsome yang namanya Kedar, berada paling depan, lalu pak Ferry kemudian saya dan Dipak, –trekking guide-, semuanya dalam jangkauan jarak pandang. Dua yang terakhir lebih sering bertukar tempat terutama jika jalan menanjak meski tak lagi berat. 

Meski dalam melakukan trekking saya tidak sendirian,  namun nyatanya saya lebih banyak berjalan tanpa banyak bicara (atau mungkin alasan saja untuk mengatur nafas ya 😀 ) Tetapi, rasanya memang menyenangkan bisa berjalan “sendiri” meskipun sesungguhnya ada dalam kelompok. Rasanya seperti diberi waktu untuk kontemplasi. 

7
Forests

Entah telah berapa lama saya berjalan, hingga suatu saat saya berada di sepenggal jalan setapak yang amat sempit, dengan jurang di kiri dan tebing tanah bercampur batu di kanan. Trekking guide kami, Dipak, yang tadinya tak jauh di belakang saya, mendadak dari arah belakang berlari menuju saya dengan wajah was-was, dan belum sempat bertanya kepadanya, pada saat yang sama saya mengetahui dan mendengar apa yang dia cemaskan. Langkah kuda yang sedang berlari kencang sedang mendekat dari arah belakang!

Serta merta mata saya membelalak. What to do? 

Tidak ada ruang untuk mengalah membiarkan si kuda lewat. Pilih mana? Lari melebihi kecepatan kuda di jalur sempit atau lompat ke jurang? Semua pilihan yang tidak mungkin!

Sepersekian detik yang paling menakutkan.

Dipak mengambil keputusan lebih cepat daripada saya, Ia menyuruh saya untuk lompat ke kanan, ke arah tebing tanah bercampur batu itu. Tanpa pikir panjang, saya mengikuti sarannya, melompat ke kanan dengan trekking pole yang masih terikat di pergelangan dan mencari batu terkuat sebagai pegangan. Sebisa-bisanya saya bertengger memeluk tebing bumi. Detik-detik yang amat menegangkan bagi saya. Menunggu si kuda lewat.

Lalu tanpa rasa bersalah, si kuda berlari cepat dikendalikan oleh penunggangnya di jalan sempit itu, yang setelahnya membuat Dipak mengeluarkan serangkaian kata-kata Nepali dengan nada yang lumayan tinggi kepada penunggang kuda itu. Saya tak mengerti artinya, tetapi sepertinya ia meminta orang itu berhati-hati berkuda apalagi di jalur trekking yang bisa berakibat fatal.

Meskipun jengkel juga dengan si penunggang kuda, saya turun dari tebing tanah itu dengan tanah menempel di muka dan pakaian, masih terasa deg-degan bercampur lega dari sebuah peristiwa yang menegangkan. Jika tak segera melompat ke arah kanan untuk menyelamatkan diri, bisa jadi saya ditabrak dari belakang dan jatuh ke jurang. Hiiii…

Alhamdulillah, saya masih dilindungi olehNya.

Beberapa saat kemudian, setelah menepis debu dan tanah yang menempel serta berterima kasih kepada Dipak yang telah menyelamatkan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini dia berada tepat di belakang saya.

Tapi tak lama!

Mendadak ia bertanya kepada saya, apakah saya mampu berjalan sendirian karena ia harus menyusul Pak Ferry yang ada di depan. Ia juga mengatakan bahwa jalan yang akan saya tempuh landai.  Saya menganggukkan kepala lalu dalam sekejap ia berlari ke depan. Menyusul Pak Ferry.

Aduh, ada apa lagi di depan? 

Saya terus berjalan. Dipak benar, jalannya menanjak landai, teduh pula. Nyaman untuk berjalan meski matahari mulai tinggi. Lalu, di sebuah lengkung jalan yang menanjak, saya melihat Dipak menunggu di puncak tanjakan sementara saya masih di bawah. Baiklah, setelah dihajar tangga-tangga Ulleri, tanjakan ini sama sekali tidak ada apa-apanya. Tak lama, saya berhasil sampai di tempat Dipak menunggu dan terbelalak melihat apa yang ada di depan saya.

Sepenggal jalan longsor!

Di kiri longsoran ke bawah yang berakhir di sungai dan di sebelah kanan tebing yang longsor. Diantaranya hanya ada jalan setapak…

5
Trekking path across the landslide

Langsung saja saya mengerti mengapa tadi Dipak berlari mengejar Pak Ferry. Ia pasti bermaksud menolong Pak Ferry yang memiliki phobia ketinggian untuk mampu melewati jalan setapak longsor itu. Bagi orang yang phobia ketinggian, berjalan di jalan sempit yang di kirinya longsor jauh ke bawah dan berakhir di sungai, tentu tak mudah.

Sejenak saya melihat ke atas, ke arah tebing yang longsor itu. Meski kelihatannya sudah lama terjadi longsornya, saya tetap memperhitungkan segala kemungkinan. Longsor memang sering terjadi di Nepal, tetapi tebing longsor di depan saya ini bukan sepenuhnya tanah, melainkan batu-batu kecil, pasir dan kerikil. Ah, saya segera menggelengkan kepala, sebagai tindakan tak sadar untuk menghapus pikiran buruk yang muncul dan berawalan dengan kata bagaimana seandainya…

Meninggalkan longsoran di belakang, saya melanjutkan jalan. Melewati hutan, desa dan melangkahi jembatan kayu kecil di atas batu-batu sungai yang airnya sedikit. Meski sedikit, airnya bening dan dingin. Kebahagiaan berjalan di bagian pegunungan yang sudah lebih rendah. Meski udara terasa lebih hangat, tetapi air lebih mudah didapat. Ah, saya membayangkan mandi enak di pemberhentian berikutnya.

Sebelum sampai ke Landruk, -tempat menginap berikutnya-, kami harus melewati jembatan kayu gantung yang terlihat sudah rapuh. Untuk melewatinya saya harus mengukur kekuatan kayu landasannya apakah mampu menahan beban saya yang bongsor ini. Apalagi saya harus berhenti ditengah-tengah. Karena ada air terjun bertingkat yang tersembunyi yang hanya bisa dilihat dari tengah jembatan itu. Bukankah kita harus berani mengambil risiko?

Setelah membatalkan trekking lanjutan ke Annapurna Base Camp (ABC), perjalanan setiap harinya menjadi lebih nyaman karena tanpa target waktu. Termasuk hari itu yang memang tak lama. Setelah makan siang yang kenyang dan lama di tengah lembah, akhirnya kami sampai di Landruk jelang sore. Lumayan bisa beristirahat sore hari dan mandiiiii! Saya pun bisa santai meluruskan kaki yang pegal  sambil menunggu malam.

Ini namanya benar-benar liburan… 

 

(bersambung)

 

Pilgrimage 4: Menuju Tempat Utama


25 Desember 2019

Insya Allah, ini harinya, nanti malam…

Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka

madinah3
Masjid Nabawi Yang Selalu Dirindukan

Setelah hari-hari sebelumnya saya menikmati ibadah di Masjid Nabawi dan menyempatkan juga berkeliling kota Madinah, maka tiba hari setelah waktu dzuhur akan meninggalkan kota Cahaya, kota yang telah membuat saya jatuh hati. Kenyataan yang membuat hati langsung mengerut, saya akan meninggalkan Masjid Nabi, sebuah tempat yang selalu menenteramkan jiwa. Dan waktunya melanjutkan menuju yang utama. Di antara kerinduan melihat Ka’bah, terselip juga rasa cemas. Kecemasan manusiawi dari diri yang telah bergelimang dosa. Ya Allah, ampuni kami…

Saya mencoba menghilangkan kecemasan itu dengan membantu suami mengenakan pakaian ihramnya. Untung saya sempat mengabadikan Pak Ustadz yang mencontohkan prosesnya waktu manasik. Tips-tipsnya amat berguna (mungkin kapan-kapan akan saya tuliskan cara mengenakan pakaian ihram agar tidak melorot meskipun tanpa sabuk).

Sesaat sebelum meninggalkan kamar, sebersit rasa menyeruak keluar. Ya Allah, ada kerinduan untuk tinggal di Madinah tapi undangan berumroh tak kalah kuatnya. Ada saat datang, ada saat pergi…

Di lobby hotel, tampak orang berkerumun dari beberapa grup travel. Ada yang baru check-in dan ada pula yang check-out seperti kami. Bisnis hotel di Madinah ini berjalan luar biasa, meskipun menurut saya, frontliners hotel ini tidak menerapkan service excellence.

Saya mendekat ke rombongan kami dan disambut oleh wajah-wajah cerah dari para ibu.

Ya ampun Bu, gamisnya bagus sekali, putih bersih… Keren“, kata mereka melihat pakaian yang saya kenakan. Saya tersipu menjelaskan bahwa saya membelinya di toko yang ada di lorong-lorong dekat Masjid. Saya tahu, mereka amat prihatin dengan belum ditemukannya koper saya. Dan mereka ikut gembira dan bahagia melihat saya tampil serupa dengan mereka.

Yang penting, putih dan bersih”, lanjut saya tersenyum lebar.

Teringat ketika membelinya, sepulang dari Mesjid. Suami dan saya secara tak sengaja menemukan lorong yang mengarah ke toko-toko yang mengingatkan saya akan Tanah Abang atau ITC di Jakarta. Saya amat terbantukan oleh mereka yang berjualan dan membolehkan kami membayar dengan uang Rupiah bahkan komunikasinya juga dilakukan dalam bahasa Indonesia. Rasanya tak berada jauh dari tanah air. Bahkan sekilas terlihat baju-baju gamis dan khimar (jilbab panjang) yang dipajang tidak jauh beda dengan yang biasa terlihat di toko-toko di Tanah Abang atau ITC-ITC di Jakarta. 

Setelah diperbolehkan untuk naik ke bus, sang suami mengajak saya segera ke bus. Ia memastikan koper kami yang tinggal satu itu masuk ke dalam ruang bagasi bus. Lalu di atas bus, dengan setengah bercanda saya mengatakan kepadanya bahwa saya kasihan terhadap koper suami yang sendirian tak punya teman. Karena pasangan suami isteri dalam rombongan selalu memiliki dua koper sedang kami hanya punya satu, karena koper saya sedang jalan-jalan sendiri entah kemana. Tanpa berkata suami yang telah mengenakan pakaian ihram itu menepuk-nepuk tangan saya agar tak berpikir lagi mengenai koper.

Tapi saya tidak berpikir soal koper, melainkan analoginya. Bukankah tadi saya berkata tentang koper pasangan ada dua dan yang satu jalan-jalan entah kemana? Bukankah tadi saya mengasihani koper suami? Bisa jadi rasa iba saya tadi menjadi wakil dari rasa iba banyak orang, melihat seringnya suami bersama anak-anak ditinggal saya yang pergi jalan-jalan sendiri (solo-travelling). 

Saya terdiam menggigit bibir mengikuti alur pikiran sendiri, melempar sebuah pertanyaan main-stream yang tak mudah dijawab, apakah memang demikian pandangan banyak orang melihat seorang isteri yang melakukan solo-travelling? Saya sendiri tak mampu berkata setuju maupun tidak, namun hanya bisa menyimpan pemikiran ini ke dalam hati sebagai masukan yang indah.

madinah1
Gedung-gedung di dekat Masjid Nabawi, Madinah

Dari atas bus, kami masih menunggu mereka yang belum check-out sambil menyaksikan denyut nadi kota Madinah yang kebanyakan berlalu-lalang dari dan ke Masjid. Kota yang selalu diberkahi Allah, entah kapan saya bisa kembali ke kota ini. Ah, saya pasti merindukan kota yang damai ini.

Setelah semua lengkap, bus beranjak pelan menuju hotel bintang lima untuk menjemput sebagian dari rombongan kami. Menjemput mereka yang tinggal di tempat yang lebih mahal ini, membuat saya teringat sesuatu. Meskipun mereka memilih hotel yang lebih mahal, bukan berarti mereka tak bisa menunjukkan kebaikan dan ketulusan hati. Salah seorang dari merekalah yang memberi tahu saya pertama kali untuk urusan yang amat krusial. Tempat mencari pakaian dalam!

Di Saudi Arabia, paling tidak di semua pertokoan yang saya masuki, tidak pernah terlihat perempuan yang menjaga toko. Semuanya laki-laki. Sehingga tidak mungkin saya menanyakan apakah mereka menjual pakaian dalam perempuan. Lalu, seandainya ada, bagaimana saya harus menjawab bila mereka menanyakan ukurannya? Tidak, saya memang kehilangan koper, tetapi saya tidak kehilangan kewarasan untuk mengobral hal-hal yang amat personal itu.

Lalu pertolongan itu datang dari seorang ibu yang menginap di hotel berbintang lima itu. Dia berbisik agar saya mencoba melihat-lihat di sebuah supermarket di dekat Masjid. Jika memang tidak ada, maka harus cari di mal yang untuk mencapainya perlu naik taxi. Saya percaya pertolongan itu datang dari arah mana saja. Dan benarlah, saya menemukan beberapa pakaian dalam yang cocok tanpa harus bertanya-tanya dengan laki-laki kemudian meminta suami yang membayarnya ketika berada di kasir. Selesai urusan.

Mengingat peristiwa itu, saya tersenyum mengangguk kepadanya ketika melihat mereka sekeluarga naik ke atas bus. Mata yang berbicara, sama-sama mengerti dan saling memahami satu sama lain.

Bus bergerak terus meninggalkan kota Madinah. Saya menguatkan hati dan janji untuk memenuhi panggilanMu ya Allah…

madinah2
Gedung-gedung di Kota Madinah

Dzul Hulaifah (Bir Ali) 

Dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah meninggalkan Madinah, sampailah kami di Dzul Hulaifah atau kini lebih dikenal dengan nama Masjid Bir Ali, tempat kami mengambil miqot (batas/awalan memulai ibadah utama Umroh dan mengucap niat Umroh). Pak Ustadz mengingatkan bahwa di Masjid ini selalu padat dipenuhi Jamaah sehingga jamaah harus hati-hati dan ingat arah ke titik kumpulnya.

Langit terlihat amat biru di Dzul Hulaifah, teramat kontras dengan warna putih dinding Masjid. Segera saja kami semua melaksanakan shalat sunnah 2 raka’at dan mengucap niat Umroh. Kemudian saya menunggu di titik kumpul. Sejauh mata memandang hampir semua jamaah diliputi pakaian ihram putih. Membuat berdegup saat terlintas bayangan akan manusia di padang mahsyar.

birali2
Biru Langit di atas Masjid Bir Ali

Setelah beberapa saat bus melanjutkan perjalanan lagi menuju Mekkah Al Mukarramah yang memakan waktu sekitar enam jam. Tepat sebelum berangkat Pak Ustadz mengulang mengucapkan niat Umroh yang diikuti jamaah lalu kalimat-kalimat talbiyah dikumandangkan lagi.

Saya memandang ke jalan di luar yang lebar, halus dan penuh rambu. Enam jam perjalanan dengan bus yang dilengkapi pendingin udara. Duduk di atas reclining seat dan tersedia makan serta minum. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di luar jendela terpampang alam yang kering dan tandus dengan gurun batu di sana sini membuat saya membayangkan perjalanan Rasulullah bersama para sahabat dan keluarganya empat belas abad yang lalu saat melakukan ibadah dari Madinah ke Mekkah. Dulu tak ada jalan rata yang mulus dan lebar. Tak ada kendaraan yang sejuk, bahkan tak ada bangunan batu ber-AC untuk beristirahat. Begitu sulit, begitu banyak kendala dan hambatan alam. Perjalanan hanya bisa dilakukan dengan menggunakan unta atau kuda, atau bahkan berjalan kaki. Berhari-hari, melewati malam yang kering dan siang yang amat terik.

Ya Rasul, Ya Nabi, begitu lama jaraknya, baru bisa kuikuti jejakmu…

Mekkah Al Mukarramah

Waktu terus berjalan, gelap mulai menyelimuti. Pak Ustadz bercerita banyak hal namun kemudian ia berkata, “Alhamdulillah kita telah sampai di batas kota Mekkah”.

Saya melihat perubahan pemandangan di luar jendela, karena sudah banyak bangunan yang menunjukkan sebuah kota. Lampu-lampu jalan yang terang.

Setelah beberapa menit, pak Ustadz kembali berkata,”perhatikan sebelah kiri…”

Otomatis semua jamaah menoleh ke kiri ke luar jendela. Terlihat ada yang terang dan tinggi di kegelapan malam. Pak Ustadz melanjutkan, “ke sanalah tujuan kita semua. Itulah jam yang ada di Masjidil Haram”.

Saya menggigit bibir, terasa sakit. Saya benar-benar berada di Mekkah! 

Mata tak terasa menjadi basah. Allah telah menggenapi janjiNya sehingga saya bisa sampai ke kota Mekkah setelah sekian puluh tahun hidup sebagai manusia. Saya juga menggenapi janji kepada ayah mertua untuk sampai ke Mekkah sepeninggalnya, meskipun perlu waktu bertahun-tahun. Juga janji kepada almarhum Papa bahwa saya bisa sampai ke Mekkah. Kepada almarhum Opa dan almarhumah Oma yang meneladani saya semasa kecil tentang menjalankan shalat. Dan Mama, yang telah terlebih dahulu berhaji dan menceritakan keindahan dan keajaiban Tanah Suci. Airmata saya meleleh tanpa bisa dihentikan.

Saya tak menyadari arahnya bus berjalan, karena masih terpesona dengan bayangan jam di Masjidil Haram. Tapi mendadak bus memasuki terowongan yang menutupi semua pemandangan. Rupanya rombongan yang menginap di hotel bintang lima diturunkan lebih dahulu. Keluar dari terowongan yang terlihat hanyalah manusia dimana-mana berjalan kaki. Kepadatannya melebihi apa yang saya lihat di Madinah. Luar biasa.

Dan sampailah kami di hotel, yang juga penuh dengan manusia. Tidak heran, karena bulan Desember merupakan peak season untuk melakukan umroh. Pembagian kamar dilakukan dengan cepat lalu dilanjut dengan makan malam.

Setelah makan malam itu, kami semua akan berjalan kaki menuju Baitullah.

Waktunya tiba untuk Umroh!

DSC00341
Clock Tower

 

Penuh Kain Kampuh di Candi Cetho


Sudah lama saya memendam keinginan untuk bisa pergi ke Candi Sukuh dan Candi Ceto, dua kompleks candi Hindu abad-15 yang saling berdekatan di ketinggian lereng seribuan meter Gunung Lawu, gunung yang ada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun keinginan-keinginan itu tetap menjadi keinginan saja karena terlibas oleh seribu satu alasan lain yang bagi saya lebih prioritas. Lalu kesempatan itu datang begitu saja, ketika kami memiliki satu hari kosong dalam libur lebaran beberapa waktu lalu.

Jadilah dengan berkendara pribadi, berjuang mengatasi jalan yang meliuk-liuk menanjak amat curam dan sempit, sampailah kami di Candi Cetho. Sengaja kami melewatkan dulu Candi Sukuh dengan pertimbangan akan mengunjunginya setelah kembali dari Candi Cetho.

Sebelum memasuki area parkir yang tidak cukup luas, saya sudah melihat sekumpulan orang memenuhi sekitar pintu masuk namun saya menganggap itu hal biasa. Namanya juga liburan, pasti banyak orang. Dan setelahnya, saya bergegas ke loket tiket masuk lalu mengantri giliran dibantu untuk mengenakan kain kampuh, kain putih berkotak hitam seperti papan catur yang biasa terlihat di Bali.

Kain kampuh yang melingkari pinggang hingga ke paha itu sejatinya biasa digunakan oleh umat Hindu saat sembahyang ke Candi Cetho yang hingga kini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah. Dan untuk menjaga kesucian tempat ibadah dan menghormati sebuah budaya, hingga kini seluruh pengunjung baik Hindu maupun Non-Hindu wajib mengenakan kain kampuh itu, karena dengannya diharapkan pengunjung dapat menjaga kebersihan jiwa raga, lahir batin saat berada di area Candi Cetho,

Terlepas dari dalamnya makna kain kampuh itu, saya melihat sesuatu yang menarik melihat semua pengunjung seragam mengenakan kain kotak-kotak hitam putih itu. Keren juga sebagai penanda. Tapi sekali lagi, perasaan akan ‘keren’ itu sepertinya terlalu cepat.

Saya menikmati udara yang terasa sejuk. Candi Cetho memang berlokasi di sekitaran 1500 meter di atas permukaan laut, jadi lebih tinggi letaknya dari pada Candi Sukuh. Hebatnya lagi, Candi Cetho memiliki 13 teras yang semakin meninggi ke arah puncak yang poros tengahnya memiliki gapura-gapura, demikian yang saya ingat dalam beberapa foto teman yang sudah pernah ke tempat ini. 

Saya menaiki tangga untuk melalui gerbang gapura pertama dan drama kekagetan saya dimulai.

Dimana-mana ada orang, anak-anak dan orang dewasa yang mengenakan kain kampuh kotak-kotak hitam putih itu. Bahkan di dalam taman yang tertata indah dengan rumputnya yang telah susah payah dipelihara. Petugas yang selalu menjaga keindahan taman bisa jadi akan merasa masygul melihat kaki-kaki yang tak mengindahkan rumput-rumput yang juga memiliki kehidupan. Apakah dengan tanaman pembatas yang pendek menjadi alasan untuk melanggar batas dan menginjak-injak rumput selayaknya lapangan bola? Saya sungguh prihatin.

Dan saya hanya melihat bokong-bokong yang berbalut kain kampuh di jalur tangga menuju teras berikutnya. Saya memahami jika mereka terus berjalan atau hanya sebentar untuk pengambilan foto, tetapi kebanyakan dari mereka lupa akan orang lain yang ingin juga berdiri di sana dan berfoto. Mereka hanya tertawa-tawa tidak peduli, menguasai waktu dan areanya seperti miliknya sendiri. Keinginan saya menikmati Candi Cetho langsung lenyap…

Tetapi saya mencoba bersabar…

Candi Cetho dikenal sebagai tempat suci untuk melakukan ruwatan atau pembebasan jiwa dari kutukan, karena simbol-simbolnya yang jelas terpampang,

Di sebuah teras terbuka tersusun batu-batuan datar yang membentuk burung garuda yang sedang mengembangkan sayap dan di atasnya terdapat susunan batu berbentuk kura-kura, yang menurut informasi yang terpampang di sana menceritakan bagian dari kisah mengenai Samudramathana atau Churning of the ocean of milk atau biasa dikenal sebagai kisah Pengadukan Lautan Susu. Kisah dalam agama Hindu ini menceritakan mengenai perebutan terus menerus antara Dewa yang menjadi simbol dari sisi baik melawan Asura yang menjadi simbol dari sisi buruk, untuk mendapatkan air keabadian.

Burung Garuda dan Kura-kura, keduanya merupakan simbol-simbol yang terkait dengan Dewa Wisnu dalam agama Hindu. Dewa Wisnu sendiri menjadi seekor kura-kura untuk menopang Gunung Mandara dalam kisah Samudramathana tersebut. Dan diujung bentuk burung Garuda dan kura-kura terdapat penggambaran yang cukup erotis, seperti phallus yang bersentuhan dengan penggambaran vagina yang menjadi lambang penciptaan atau kelahiran kembali setelah terbebas dari kutukan.

IMG_0390
Selalu ada Manusia
IMG_0395
Garuda & Turtle – Cetho Temple

Di sekitaran teras tersebut, sekumpulan manusia yang datang berkunjung tak pernah sebentar. Amat mudah terlihat, kain kampuh dimana-mana. Saya seperti menjadi sang pungguk yang merindukan bulan, karena berharap terus manusia-manusia itu akan menghilang dari frame foto. Orang-orang itu memang pergi tetapi yang datang lebih banyak, bisa jadi sampai waktu berkunjung habis…

Saya memahami saat kunjungan itu saya tidak akan mendapatkan foto bersih tanpa manusia dalam frame, karena keadaan yang tidak memungkinkan. Akhirnya sebisa mungkin saya mengambil foto-foto yang penuh makna di Candi Cetho itu.

Karena belum sampai di teras tertinggi, saya menaiki tangga-tangga yang penuh dengan orang itu. Menjengkelkan sekali karena mereka berdiri dan bergaya menghalangi lalu lintas orang. Sungguh tak peduli dengan pengunjung lain yang mau turun atau naik, Kesabaran saya semakin tipis terhadap pengunjung yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kadang saya berpikir, apakah mereka tidak pernah diajarkan oleh orangtuanya untuk memikirkan orang lain? 

Setelah berjuang melewati pengunjung-pengunjung lainnya yang menghalangi jalan, sampai juga saya di teras teratas, tempat yang paling sakral dan suci dari Candi Cetho yang merupakan tempat umat Hindu biasa beribadah,  Bagi saya, Candi Cetho yang dipercaya dibangun pada abad-15 merupakan salah satu warisan nenek moyang kita yang amat berharga dan wajib dijaga kelestariannya. Selain itu, sebagaimana tempat ibadah lainnya, bagian puncak Candi Cetho sewajarnya memiliki batas suci. Artinya, hanya boleh dimasuki atau dinaiki oleh orang-orang yang akan beribadah saja,

IMG_0479
Cetho Temple – Main Area on the highest

Sayangnya tidak ada informasi mengenai batas suci, atau tidak ada larangan untuk menaiki tangga untuk sampai ke pelataran suci. Yang ada hanya larangan masuk yang dipasang di pintu masuk yang tertutup. Dan karenanya, saya benar-benar jengkel maksimal!

Karena tidak ada larangan, maka pengunjung mungkin merasa bebas untuk menaiki pelataran atas itu untuk duduk-duduk, bersandar dan berfoto. Berombongan! Hitung saja, jika mereka berbobot rata-rata 40 kg, maka pelataran atas itu sudah menerima beban tambahan sekitar 400 kg jika dinaiki oleh 10 orang bersamaan. Padahal di salah satu sisi bangunan puncak yang menyerupai piramid itu batu-batunya sudah sedikit ambrol. Saat itu saya sungguh senewen dengan rombongan pengunjung yang tanpa rasa bersalah turun naik untuk berfoto secara berombongan di tempat yang paling suci.

Ketika saya mengambil foto sambil memutari bangunan puncak, saya mendapati beberapa pasangan menduduki pelataran atas bagian belakang untuk berdua-duan. Tepok jidat deh saya!!!

IMG_0465
Please don’t do that

Bahkan ada yang lebih gila lagi karena ada empat atau lima remaja yang berfoto sambil meloncat! Berulang-ulang. Rasanya saya ingin menangis melihat tindakan ugal-ugalan mereka terhadap candi abad-15 di pelataran yang paling suci! Sepertinya petugas yang ada di sana sudah kewalahan juga untuk memberi teguran.

Saya benar-benar kehilangan mood. Saya merasa tak minat untuk tinggal lebih lama. Kain kampuh kotak-kotak hitam putih yang digunakan pengunjung dengan harapan agar bersih lahir batin dan penuh kesadaran memasuki tempat suci, sudah kehilangan maknanya. Kain kampuh hari itu, hanya menjadi penanda saja

Saya turun melalui gapura-gapuranya yang cantik namun sepanjang jalannya dipenuhi pengunjung yang mengenakan kain kampuh tanpa menyadari makna yang amat dalam yang ada padanya.

Rasanya amat miris, masih banyak pengunjung Indonesia yang belum mampu menunjukkan sikap untuk menjaga dan memelihara peninggalan kuno bangsa sendiri yang amat berharga.

Hari itu, saya membatalkan kunjungan Candi Sukuh karena sepulangnya dari Candi Cetho, di gerbang terlihat banyak sekali pengunjung yang tak jauh beda seperti di Candi Cetho. Saya kehilangan mood. Lebih baik saya menyimpan keinginan ke Candi Sukuh dan membiarkan gambaran baik tentangnya dalam benak, daripada mengingat hal yang kurang menyenangkan seperti yang terjadi di Candi Cetho.

Pembelajaran pentingnya: jangan ke tempat wisata saat libur lebaran!

IMG_0486
The Gapuras

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-10 ini bertema Kotak-Kotak agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Oh Deer, I Love You So


Sebagai penggemar world heritage, dalam perjalanan perdana ke Jepang tahun 2013 (wow… sudah tujuh tahun lalu!) saya menyempatkan diri ke Nara, sebuah kawasan yang terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site di Prefektur Kansai, Jepang. Nara sendiri pada masa 710 – 784 Masehi menjadi ibukota Jepang sesuai dengan domisili sang Kaisar.

Namun untuk mencapai Nara yang menyimpan banyak hal yang luarbiasa, saya perlu sedikit perhitungan. Sebagai pengguna JR Pass dan terlalu pelit untuk mengeluarkan dana lagi, saya hanya menggunakan kereta JR untuk sampai ke Stasiun Nara lalu jalan kaki sekitar 30 menit dari stasiun kereta hingga ke Kuil Utama Todaiji yang menyimpan Daibutsu (Patung Buddha Raksasa) yang terkenal. Meskipun jelang akhir musim semi yang udaranya masih cukup sejuk, rasanya lelah juga berjalan kaki sejauh lebih dari 5 km bolak-balik itu, sendirian lagi!

Namun selalu ada untungnya. Meskipun jaraknya cukup jauh, di tengah perjalanan pasti saja ada yang menarik untuk dinikmati. Ada kuil Kofukuji yang memiliki Pagoda lima tingkat yang cukup menekan pegalnya kaki. Lalu setelahnya, ada taman dengan begitu banyak pepohonan yang meneduhkan. Di beberapa sudut masih ada daun-daun yang tumbuh salah musim karena berwarna merah dan kuning seperti musim gugur.

Jelang gerbang kuil Todaiji saya disuguhi pemandangan yang membuat saya tersenyum lebar. Nara Park lengkap dengan rusa-rusanya yang bebas berkeliaran. Seperti di Istana Bogor dengan rusa tutulnya. Bedanya, di Nara pengunjung bisa langsung berinteraksi dengan sang rusa tanpa dibatasi pagar pembatas.

Dan di sana saya melihat aliran kasih sayang. Saya mendekat kepadanya.

Beberapa keluarga lengkap dengan anak-anaknya mengelilingi seekor rusa. Begitu dekat, begitu jinak. Bukankah seekor rusa juga memiliki ayah, ibu dan anak-anaknya? bukankah mereka juga makhluk yang memiliki hidup?

Tak lama kemudian seorang laki-laki yang tampaknya adalah sang kepala keluarga terlihat mengarahkan tangan kecil anaknya ke dekat mulut rusa, memberi makan sang rusa yang dengan lembutnya menerima makanan dari tangan si kecil lalu mengunyahnya dengan antusias. Anak-anak lain yang menyaksikan menahan nafas, begitu antusias mengamati pemberian makanan itu kemudian serta merta menjadi gembira dan bahagia ketika sang anak kecil berhasil memberi makan sang rusa. Horee… Ah sepertinya sang rusa juga merasa gembira.

Saya melanjutkan perjalanan tapi tak jauh dari sana pemandangan serupa juga terjadi.

IMG_8395
Here… I give you

Kali ini saya lebih mendekat pada sang rusa dan anak-anak yang berkumpul di dekatnya. Ada seorang dewasa yang memberi contoh memberi makan kepada sang rusa dari arah kanan sang rusa namun pada saat bersamaan ada anak kecil lainnya mengangsurkan makanan di sebelah kiri sang rusa. Ah, sang rusa agak sedikit bingung untuk menyenangkan dua hati yang memberikan makanan kepadanya. Tetapi dari matanya yang melihat ke kiri, sepertinya sang rusa mengetahui ada kebaikan hati di sisi kirinya dan dengan segera ia menoleh ke arah kiri. Bukankah kasih sayang itu harus disambut dengan rasa syukur?

IMG_8397
So close

Dan lihatlah ada tangan lain yang mengangsurkan makanan dan tentu saja sang rusa mendekatinya dan langsung mengambilnya dari telapak tangan pemberinya. Yang memberi dan yang menerima terlihat senang. Dan semua proses itu disaksikan oleh anak-anak yang berdiri sangat dekat dengan sang rusa. Mereka pun belajar untuk bergantian memberi makanan kepada sang rusa, belajar sabar menunggu giliran, satu kebiasaan yang harus dijiwai sejak anak-anak. Mereka, anak-anak calon pemimpin masa depan itu telah berlatih sabar bahwa membiarkan orang lain berbahagia juga akan menularkan rasa bahagia. Bukankah mereka sendiri menyaksikan dan mengalami bahwa ketika kawan mereka memberi makan kepada sang rusa, hal itu akan menggembirakan kawannya juga dan sang rusa itu sendiri? Bukankah semuanya menjadi berbahagia?

IMG_8396
I can lean on you

Dan lihatlah, ada seorang anak yang begitu menyatunya dengan sang rusa. Ia meletakkan tangannya di atas punggung rusa dengan penuh kasih sayang dan percaya penuh. Seakan bulu-bulu lembut sang rusa adalah tempat bersandarnya yang paling nyaman. Sang rusa pun tidak bergerak sedikitpun merasakan tangan dan jemari kecil itu berada di punggungnya. Dia biarkan tangan itu mengelusnya, menepuk-nepuknya dengan penuh kasih sayang.

<>

Ada sejumput rasa yang memenuhi hati menyaksikan semua yang terjadi di hadapan. Sebuah aliran kasih sayang dan makna cinta yang sesungguhnya.

Hanya ada ketulusan.

Love needs no words. It only needs sincere demonstration.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-9 ini bertema Kids agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Pilgrimage 3: Kenangan di Sudut-Sudut Madinah


Diantara waktu-waktu wajib untuk mendirikan shalat dan ibadah sunnah lainnya, masih tersisa waktu bagi kami para jamaah umroh untuk mengunjungi tempat-tempat yang menggenggam cerita perjuangan Rasulullah dan para Sahabat pada masanya yang terletak tak jauh dari sudut-sudut kota Madinah, Seperti pagi itu, setelah semua menyelesaikan sarapan, dengan menggunakan bus kami meninggalkan hotel menuju tempat-tempat yang penuh makna itu.

Tetapi entah mengapa, saya pribadi masih merasa tak bisa melepas hati yang tertinggal di Masjid Nabawi. Meskipun sempat berada hanya berpuluh meter dari makam Rasul untuk bisa berkunjung dan berdoa, saya masih belum berkesempatan bersimpuh dan berdoa di depan kuburnya dan juga Taman Nabi. Juga saya belum berkesempatan melangitkan doa di Baqi, tempat para syuhada menghabiskan tidur panjangnya. Seakan-akan kaki saya terikat pada keadaan di dalam Masjid dengan mata yang terpesona akan keindahannya saat-saat shalat dan tak bisa pergi dari situ. Meskipun badan ini berada di dalam bus yang tengah bergerak ke arah Selatan kota menuju Masjid Quba…

Quba
Masjid Quba

Pak Ustadz menjelaskan tentang Masjid Quba yang dulu dibangun oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam satu tahun setelah Hijrah dan disebut dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 108 sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa dan didalamnya terdapat orang-orang yang membersihkan diri. Konon Rasulullah sering mendirikan sholat di Masjid ini, sehingga dalam rangka meneladaninya jamaah Umroh biasanya sholat dua raka’at di Masjid Quba ini.

Bus berhenti tak jauh dari Masjid, lalu kami bergegas turun dan berjanji berkumpul lagi di dekat gerbang depan setelah selesai. 

Sebagai muslimah, saya mengikuti arah para muslimah lainnya menuju tempat wudu. Terperangah juga saya karena toilet dan ruang wudu terdekat amat penuh. Tetapi dasar rejeki anak sholeh 😀 saya seperti ditunjukkan untuk terus berjalan ke ujung yang di sana tidak terlalu padat. Alhamdulillah. Saya sampai tidak habis pikir mengapa banyak orang tidak mau berjalan sedikit lebih jauh untuk mendapat keleluasaan?  Lalu setelah selesai berwudu, saya menengok kiri dan kanan, tidak ada satu pun teman segrup di sekitar saya padahal ketika perginya masih berombongan. Waduh!

Karena telah terpisah dari rombongan, saya berjalan mengikuti arah pintu masuk khusus perempuan. Namun di depan pintu saya harus berhenti dan menunggu antrian shalat. Sedetik dua detik menunggu, tak diduga mata saya bertubrukan dengan petugas yang meminta saya segera bergerak ke kanan yang lebih sepi! Segera saja saya ikuti arahnya dan benar! Saya langsung mendapat tempat shalat yang amat nyaman paling depan. Alhamdulillah, segala puja dan puji bagiMu Ya Allah, begitu banyak saya mendapatkan kemudahan…

Di Masjid Quba ini, -menurut satu riwayat, shalat dua raka’at di Masjid ini mendapat ganjaran pahala setingkat umroh-, saya hanya menikmati sesaat saja untuk bersimpuh dan bersujud di hadapanNya untuk memohon ampunan dari segala kesalahan dan dosa, karena tahu ada begitu banyak jamaah lain yang mengantri. Masjid Quba memang salah satu Masjid favorit yang must visit bagi jamaah Umroh, sehingga memang biasanya padat. Termasuk, kata pak Ustadz dan juga pengalaman teman-teman, sikap agresif dari para pedagang yang berjualan di sekitar Masjid, yang membuat jamaah harus hati-hati dan waspada. Namun Alhamdulillah, kami segrup sama sekali tidak bersinggungan dengan para pedagang yang agresif.

Tak lama kemudian, di dekat gerbang banyak dari kami saling berfoto sambil menunggu kawan-kawan lain yang belum selesai. Saat itu, saya menengadah menikmati langit di atas Masjid Quba yang amatlah biru. Sangat kontras dengan warna putih dari Masjid. Apalagi berhias pepohonan kurma, Masjid Quba ini terlihat amat cantik.

DSC00323e
The Dates Farm

Setelah mengambil foto group, perjalanan kami dilanjutkan ke Kebun Kurma, yang katanya merupakan tujuan favorit jamaah dari Indonesia. Apalagi jika bukan berbelanja kurma! Saya terhenyak dengan apa yang terlihat di hadapan. Kurma-kurma berbagai jenis disusun rapi di atas rak dan para pedagang langsung saja merayu calon pembeli dalam bahasa Indonesia saat mereka mengetahui pengunjungnya adalah dari Indonesia. Saya tertawa bersama suami mendengar fasihnya mereka berbahasa Indonesia, rasanya seperti negeri sendiri.

Sayang bagi mereka karena saya tak suka berbelanja, meskipun kawan-kawan segrup berlomba untuk membeli kurma. Saya hanya mencicipi sedikit lalu jalan-jalan di kebunnya. Kebun kurma terlihat tak cukup indah karena panen sudah lewat. Meskipun demikian, salah satu dari mereka sempat memperagakan keahlian menaiki pohon kurma.

Setelah lama menunggu, -karena kawan-kawan segrup kami suka sekali berbelanja-, akhirnya bus berangkat lagi menuju sisi lain dari Madinah, menuju Jabal Uhud. Sebuah tempat yang penuh makna namun memedihkan hati.

DSC00315e
Uhud from the bus

Sejalan dengan cerita yang disampaikan Pak Ustadz, pikiran saya terbang mengingat kisah pedih Perang Uhud. Sebuah perang perjuangan Rasulullah dan para Sahabat untuk memenangkan Islam di muka bumi tiga tahun setelah Hijrahnya, melawan pasukan kaum Quraisy yang datang dari Mekkah sebagai penyembah berhala yang tidak bersedia ritual keyakinannya digantikan. Setelah perang hampir dimenangkan oleh Pasukan Islam, hanya karena tergoda oleh rasa kemenangan yang belum sampai di tangan, tergiur akan harta rampasan perang serta ketidakpatuhan kepada perintah pemimpin, akhirnya banyak pasukan Islam syahid terbunuh oleh Pasukan Quraisy yang memanfaatkan situasi sehingga kemenangan berhasil berbalik menjadi milik Pasukan Quraisy. Saya membayangkan para Sahabat dengan gagah berani berjihad sebisa mungkin menghalau pasukan Quraisy sekaligus melindungi Rasulullah ketika kemenangan sudah lepas dari Pasukan Islam. Sebuah kisah yang amat memedihkan, karena dalam perang yang sama Hamzah, Paman Rasulullah sebagai Pejuang Islam yang dikenal sebagai Singa Padang Pasir itu terbunuh teramat keji dan tak manusiawi.

Tapiiiii….

Saya yang sedang terguncang rasa karena teringat kisah heroik yang sangat luar biasa ini menyadari bahwa bus yang saya tumpangi ini berjalan terus dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Otomatis saya memandang Pak Ustadz di bagian depan Bus, dan mendengar penjelasannya bahwa memang bus ini hanya melewati saja dan tidak berhenti. Bahkan melewatkan juga pemakaman 70 syuhada perang Uhud… Dalam hati saya berteriak tak bisa menerima bus tidak berhenti di tempat bersejarah ini namun bersamaan waktunya kesadaran saya muncul bahwa akan lebih baik saya berdoa untuk mereka saat melewati pemakamannya.

Rasanya hati ini tersayat perih menyadari saya tak memiliki kesempatan menjejak di Bukit Uhud tempat Rasulullah pernah berjuang. Sudah begitu dekat…

Saya seperti anak kecil yang merajuk, memandang sedih Bukit Uhud yang semakin menjauh, one day, one day InsyaAllah… demikian getir hati berkata.

Lalu bus berjalan terus melalukan perasaan kecewa menuju sebuah tempat yang mungkin membawa sedikit ceria. Percetakan Al Quran Terbesar di Dunia, King Fahd Glorious Quran Printing.

Meskipun dari bus terlihat antrian masuk yang begitu panjang, bersama ibu-ibu lain saya turun juga. Namun begitu berada di ujung antrian, ternyata antrian untuk muslimah tidak begitu panjang dan saya bisa dengan cepat berjalan ke depan. Dan begitu sampai di dalamnya saya terpesona juga, begitu luas dan hebat percetakannya yang mampu menghasilkan 10 juta Al Qur’an setiap tahunnya.

Hingga kini, Percetakan Al Quran terbesar di dunia yang mempekerjakan lebih dari 1700 karyawan ini telah memproduksi ratusan juta Al Qur’an termasuk menerjemahkannya ke dalam puluhan bahasa dan karakter penulisan. Tidak hanya dalam bentuk hardcopy, melainkan dapat dibaca juga dalam bentuk digital. Untuk terjemahan dalam bahasa Indonesia bisa dilihat: Terjemah Al Qur’an dalam Bahasa Indonesia

Setelah puas menyaksikan kertas-kertas hasil cetakan itu menjadi kitab-kitab suci yang dimuliakan dan didistribusikan dengan menggunakan kendaraan khusus yang hilir mudik, saya meninggalkan tempat itu dan mendapat sebuah Al Qur’an yang diberikan secara cuma-cuma. Alhamdulillah, sebuah Al Qur’an asli dari Madinah.

Al Quran Madinah
Al Quran – Not For Sale

Karena waktu sholat sudah mendekat, tentu saja kami semua lebih memilih kembali ke Masjid Nabawi daripada mengunjungi tempat-tempat lain yang bersejarah. 

Dan berulang kembali sesuatu yang membuat hati miris, karena saya hanya bisa menyaksikan Masjid Qiblatain, -masjid dengan dua kiblat-, dari bus yang berjalan terus. Padahal Masjid Qiblatain itu memiliki kisah yang amat erat dengan Rasulullah dalam hal mengarahkan shalat dan berpindah kiblat dari Baitul Maqdis di Jerusalem menjadi Ka’abah di Mekkah. Sebuah tempat yang menjadi saksi bisu dari apa yang tertulis dalam surat Al Baqarah ayat 144. Saya hanya mampu menggigit bibir. Mungkin bagi kawan-kawan segrup yang telah berulang kali melakukan perjalanan umroh, tak merugi jika tidak turun di Masjid Qiblatain karena mereka sudah pernah. Tetapi saya dan beberapa orang yang belum pernah, tentunya ada rasa ingin shalat di dalamnya, menjejak buminya, bersimpuh dan bersujud serta menyentuh udara perpindahan kiblat itu. Tetapi lagi-lagi, kesempatan itu bukan milik saya… Ada rasa getir yang muncul di hati melihat Masjid Qiblatain semakin menjauh.

DSC00337e
Qiblatain Mosque from the bus

Tak berhenti disitu saja karena dari atas bus, saya juga hanya bisa memandang dengan sebersit keinginan untuk bisa menapaki Masjid Khandaq yang menjadi saksi bisu perang parit (Khandaq, dalam Bahasa Arab) yang terjadi pada tahun ke lima setelah Hijrah.

Pasukan Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah memiliki jumlah pejuang yang jauh lebih sedikit daripada Pasukan Quraisy, namun tetap saja Rasulullah dan pasukannya mampu mempertahankan Madinah karena adanya parit lebar dan panjang yang digali oleh pejuang muslim di sekeliling Madinah. Pembangunan parit sebagai pelindung sebelumnya tidak dikenal dalam pertempuran di jazirah Arab, namun karena peran Salman Al Farisi yang berasal dari Persia, membuat Pasukan Islam bisa menggegapgempitakan Allahu Akbar sebagai lambang kemenangan.

Sekali lagi di dalam hati ada suara, one day, one day InsyaAllah… meskipun tidak bisa shalat di Masjid Khandaq ataupun masjid Qiblatain, saya bersyukur sudah bisa begitu dekat. Sudah melihatnya meski dari jauh, meski dari atas bus. Saya sudah berkeliling dan membiarkan mata untuk melihatnya sebagai nikmat tak terhingga. Alhamdulillah…

Karena ada banyak manusia lain yang belum mendapat kesempatan untuk mendirikan shalat di Masjid Nabawi di Kota Penuh Cahaya ini, kota dengan sudut-sudutnya menerbangkan kenangan dan kerinduan…

 

Aksen Lengkung Di Situs Warung Boto


Saat ke Jogja tahun lalu, -setelah urusan keluarga selesai-, bersama suami saya menyempatkan diri mengunjungi Situs Warungboto atau kadang disebut juga dengan Pesanggrahan Rejawinangun yang terletak di Jalan Veteran No.77, Warungboto, Umbulharjo, Jogja. Situs yang belakangan mulai terkenal sebagai salah satu destinasi di Jogja ini, -bisa jadi karena Putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu bersama Bobby Nasution melakukan foto pre-wedding di sini-, merupakan salah satu bangunan cagar budaya berupa sebuah pesanggrahan dan pemandian yang sekilas menyerupai Taman Sari. 

DSC00132
Situs Warungboto

Sayangnya saya berkunjung ke Situs Warungboto ini tepat tengah hari yang tentu saja keringat langsung deras mengucur dan panas menerpa kulit. Hebatnya lagi, di lokasi ini tidak ada tempat yang cukup rindang kecuali di dalam ruangan-ruangannya yang berada di tingkat atas. Sungguh, terik matahari ini membuat mood saya langsung jatuh ke level terendah. Mungkin akan lebih baik jika berkunjung ke sini pagi-pagi atau sore hari ketika matahari sudah tidak begitu gahar.

Gara-gara terik matahari itu, saya tidak ingin berlama-lama di sana dan hanya berada di sekitar kolam pemandian dan bangunan yang mengelilinginya. Itupun sebisa mungkin berdiri di bawah bayangan. Bisa jadi ada bangunan lain yang menarik berada di pelataran atas, tetapi uh, maaf seribu maaf, kali ini saya takluk oleh sinar matahari yang langsung membuat sakit kepala. Apalagi, di Situs Warungboto ini saya harus menaiki tangga-tangga untuk memasuki bangunan utama. Lengkap sudah, terik matahari dan tangga, dua hal yang tidak saya sukai dalam berwisata 😀

Situs Warungboto yang dindingnya menggunakan batu bata dan dilepo ini terdaftar dalam pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini, seperti juga Benteng Keliling Keraton atau Taman Sari-nya Keraton Yogyakarta, memiliki dinding yang amat tebal.  

Jadilah siang itu, pelan-pelan saya menaiki tangga untuk ke bagian yang tidak terpelihara dan kelihatannya masih asli. Lorong pintu-pintunya mempunyai aksen lengkung. Sayang sekali tangan-tangan tak bertanggung jawab telah mengotorinya dengan coretan grafiti yang merusak keindahan situs.

Kemudian tanpa tergesa saya melipir mengikuti bayangan untuk memasuki ruangan-ruangan yang ketinggian lantainya tidak sama (multi-level). Saya langsung merasa adem meski sedikit lembab. Entah kenapa rasanya déjà vu dengan situasi Taman Sari yang memang mirip. Dengan struktur yang berdinding tebal, -melalui pintu dan jendela layaknya dalam sebuah benteng-, saya bisa melihat ke arah kolam pemandian yang saling berhubungan yang konon airnya berasal dari sebuah mata air. Tiba-tiba saja saya teringat akan kisah-kisah jaman dulu yang selalu menjadikan sebuah mata air sebagai tempat yang suci dan sakral.

Saya turun lagi ke bawah menuju kolam pemandian dan memperhatikan bentuknya yang unik.

Kolam pertama berbentuk lingkaran dengan dinding melengkung seperti cawan atau mangkuk besar, yang memiliki diameter sekitar 4 meter dan di bagian tengahnya dibuat bentukan seperti helai-helai bunga yang merupakan tempat air yang memancar keluar (umbul). Konon, disanalah sumber mata airnya.

DSC00136
The Spring Pool

Kolam kedua berbentuk persegi panjang yang memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebarnya sekitar 4 meter dengan dinding kolam yang sedikit miring (tidak tegak). Mungkin dinding yang melengkung dan tidak tegak ini memang merupakan disain awal yang membuatnya berbeda dari kolam-kolam pemandian lainnya.

Menariknya, kedua kolam itu terhubung oleh sebuah bentukan terbuka yang menyerupai undakan simetris di kanan kiri dan juga memiliki dinding melengkung ke arah kolam kedua. Artistik.

Dari seberang pintu yang memiliki aksen lengkung, saya mengamati bentuk kedua kolam itu. Entah kenapa saya memiliki pemikiran yang agak melenceng saat mengamati bentuk kedua kolam dari ketinggian. Kolam yang melingkar lalu dihubungkan dengan sebuah bentukan yang agak panjang dan berakhir membuka pada kolam kedua itu, kok seperti sebuah gua garba (rahim) yang merupakan simbol dari awal terciptanya kemanusiaan dan kebudayaan. Entahlah, karena sama sekali tidak ada informasi mengenai makna bentuk kedua kolam itu.

DSC00132
Situs Warungboto
DSC00139
Two empty pools

Yang ada hanya sejarahnya, yang berdasarkan informasi di sebuah papan, Situs Warungboto merupakan sebuah tempat peristirahatan (petilasan) yang pembangunannya dimulai semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I dan dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Bisa jadi kondisi asli bangunan Situs Warungboto, masih seperti yang saya saksikan di tempat yang pertama kali saya datangi, meskipun hanya berupa reruntuhannya yang tidak terpelihara dengan menyisakan dinding tebal  yang tak bisa diragukan.

Konon, sejak tidak digunakan oleh pihak Kraton hingga tahun 1935, tempat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya karena terdapat sumber air. Namun setelah Indonesia merdeka, tempat ini seperti terlupakan. Bisa jadi karena letaknya jauh dari keraton atau sumber airnya sudah tak berfungsi lagi.

Apapun kondisinya kini, setelah mengalami pemugaran, Situs Warungboto menjadi lebih baik dan dapat dijadikan sebagai alternatif berkunjung di Jogja. Meskipun tidak sebesar Taman Sari, dengan kondisi sekarang ini rasanya situs Warungboto memiliki kemegahan dan kecantikannya sendiri.

DSC00126
Warungboto

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-8 ini bertema Curve agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Pilgrimage 2: Tempat Penuh Rindu


Mau Ibadah atau…

Perjalanan panjang berbelas jam (yang sudah saya tulis sebelumnya), sejak sebelum subuh di Jakarta hingga hampir tengah malam di Madinah cukup menguras tenaga hingga alarm badan pun berbunyi. Mau tak mau saya harus memilih beristirahat di hotel daripada membuatnya lebih buruk karena  perjalanan masih dua belas hari lagi.

Sambil mencoba lelap di pembaringan, pikiran melayang lagi ke koper yang ‘diambil’ kembali olehNya dan mencoba menemukan hikmah di baliknya. Sepertinya saya ditegur untuk urusan niat ke Tanah Suci. Tanpa sadar, demi kenyamanan perjalanan, saya meluangkan waktu jauh lebih banyak untuk urusan duniawi seperti sibuk membeli pakaian dan kerudung yang bisa dipadupadankan, mengatur ini itu dan seterusnya; daripada meluruskan niat ibadah dan memaknai tujuan perjalanan itu sendiri. Bukankah saya telah mengetahui bahwa tak pernah ada kebaikan untuk segala sesuatu yang berlebihan.

Saya ditegur keras, amat keras. Seakan diminta untuk berpikir tentang perjalanan sesungguhnya ke Tanah Suci, tentang orang yang berhaji ataupun saat seorang manusia meninggal dunia, berapa banyak pakaian yang dipakainya untuk ibadah yang utama? Hanya beberapa helai kain tak berjahit!

Sedangkan saya membawa satu koper penuh, masih ditambah tas tangan. Saya ini mau wisata atau mau ibadah?!

Di pembaringan, benak saya penuh dengan bayangan orang-orang sederhana, juga orang-orang jaman dulu, yang hanya berbalut doa dan pengharapan penuh kepadaNya untuk bisa sampai ke Tanah Suci lalu bertahan melalui perjalanan berbulan-bulan penuh kesulitan tiada tara. Dihajar bayangan seperti itu saya seperti jatuh ke dalam lubang hitam raksasa…

∧∨∧∨∧∨∧∨

Dan sungguh saya berdiri di dalamnya…

Gelap malam masih menyelimuti kota Madinah ketika saya berdiri sejenak di depan hotel sebelum berjalan kaki menuju Masjid. Angin dingin Desember di Madinah terasa menusuk tulang membuat saya seakan tak bertulang ditambah beberapa jam sebelumnya dihajar oleh pemahaman makna kehilangan koper. Yang tersisa hanya rasa hampa, tak bisa lagi merasa memiliki sesuatu. Lagi-lagi seperti diingatkan, bukankah semua di dunia ini adalah pinjaman?

Sekitar dua ratus meter melangkah, gerbang Masjid tampak di depan mata. Saya terhenyak akan keindahannya. MasyaAllah… lampu-lampu penuh cahaya itu seakan bintang di langit gelap. Indah, luar biasa indah… Lagi-lagi saya digempur rasa kagum tak terhingga.

madinah1
Masjid An Nabawi, Madinah

Saya meneruskan langkah, Ya Nabi salam ‘alaika. Ya Rasul salam ‘alaika. Ya habib salam alaika salawatullah ‘alaika

Setelah sepakat untuk bertemu lagi di gerbang yang sama, saya melangkah menuju gerbang muslimah sementara sang belahan jiwa mencari tempat terbaiknya bersama ikhwan segrup.

Meskipun terbiasa jalan sendiri dalam banyak perjalanan, di Masjid Nabawi saya merasa sedikit gamang. Mungkin karena suasana kemuliaan yang melingkupinya sekaligus penjagaan yang tak terlihat oleh mata. Selain manusia, bukankah malaikat-malaikat penjaga juga ada di sana?

Di pintu Masjid, saya melepas sandal lalu memasukkannya ke tas tangan dan membiarkan seorang askar berpakaian hitam memeriksanya. Kemudian sambil berdoa saya melewati pintu itu dengan sejuta rasa yang muncul di dada. Masya Allah… Indahnya tak bisa terkatakan. Kalau saja saya tak terdorong oleh jamaah di belakang yang mendesak saya untuk maju, saya masih terpesona di dekat pintu. Saya melangkah sambil membiarkan rasa menggugah jiwa…

madinah2
Inside the Nabawi Mosque (Female Area)

Shaf-shaf depan di atas karpet untuk muslimah sudah penuh, sehingga saya mundur lagi mencari yang masih kosong. Alhamdulillah, ternyata tak sulit untuk mendapatkannya. Dan langsung saja, selagi masih ada waktu sebelum Subuh, shalat-shalat sunat didirikan. Berserah diri jiwa raga dalam kesendirian meski diantara manusia lainnya, membuka hubungan langsung yang amat personal kepadaNya, melangitkan pujian-pujian dan doa.

Baru saja selesai berdoa, terdengar azan yang terdengar amat indah. Rasanya berbeda mendengar azan di Masjid Nabawi ini. Mungkin saya mengada-ada, tetapi sungguh, rasanya mampu meluruhkan semua rasa. Dan saya mengingat kisah tentang Bilal, sang muazin pertama yang membuat mata sayaberkaca-kaca…

Setelah azan yang dilanjut doa, segera saja saya mendirikan shalat sunah sebelum Subuh, seperti juga jamaah lain. Setelahnya, saya duduk melanjut dzikir, tetapi shalat jamaah Subuh tak kunjung didirikan. Saya menunggu melanjutkan dzikir sambil melihat sekeliling.

Di sekeliling saya terlihat berbagai bangsa. Selain wajah Arab dan Indonesia yang mendominasi dalam kelompok-kelompok, terlihat juga wajah-wajah Uzbekistan yang berkulit putih,  Turki, Pakistan atau Bangladesh,  Malaysia. Sempat saya lihat juga wajah Tiongkok yang terlihat dari aksara dalam syalnya.

Melihat wajah-wajah itu, tak terasa dzikir saya bercampur dengan ungkapan syukur. Berbeda bangsa, berbeda warna kulit, berbeda bahasa, namun disatukan dalam ikatan persaudaraan yang sama. Tak ada senyum yang tak berbalas, tak ada salam yang tak berbalas. Di sini, di tempat yang amat mulia ini, semuanya sama. Begitu indah rasanya…

Lalu terdengar azan lagi. Azan, bukan Iqamah.

Saya bertanya-tanya dalam hati, mengira-ngira azan yang saya dengar dan azan yang sebelumnya. Dengan wajah yang masih diliputi keraguan, saya memandang ke kiri dan ke kanan. Dan tiba-tiba perempuan di sebelah saya berbagi kebaikan, -yang ternyata orang Indonesia yang mungkin bekerja atau bersekolah di Arab (sebab tak terlihat sebagai orang yang sedang umroh)-, menjelaskan bahwa di sini selalu ada dua kali azan Subuh. Yang pertama untuk mengingatkan umat untuk Shalat Malam dan yang berikutnya adalah untuk panggilan shalat Subuh. Setelah berterima kasih kepadanya, saya bergegas mendirikan shalat sunnah sebelum Subuh sekali lagi.

Lalu tak lama setelahnya, dalam balutan pakaian yang didominasi putih dan hitam, perempuan-perempuan yang berbeda-beda namun terikat satu persaudaraan itu serentak berdiri, bertujuan sama, memenuhi panggilan untuk shalat. Dan dada saya bergemuruh sangat hebat saat mendirikan shalat wajib pertama secara berjamaah di Masjid Nabawi.

Ya Allah… satu impian terbesar dalam hidup saya telah Engkau kabulkan.

Selesai shalat, ada panggilan lagi. Perempuan di sebelah saya seperti malaikat penolong yang melihat kebingungan saya. Tanpa diminta ia menjelaskan bahwa selalu ada shalat jenazah sehabis shalat fardhu sambil mengingatkan secara cepat tata caranya. Ya Allah, begitu banyak keajaiban di Masjid ini. Semua berbagi kebaikan tanpa diminta, mengalir begitu saja.

Ada rasa haru yang begitu mendesak kalbu saat membayangkan keberuntungan bagi yang meninggal dan dishalatkan di Madinah, dishalatkan oleh begitu banyak orang yang jiwa raganya sedang berfokus kepadaNya, di tempat yang begitu agung penuh keberkahan dan nantinya mereka akan dikubur di Baqi, tempat para keluarga dan sahabat Nabi serta para syuhada dimakamkan. Betapa mulianya mereka…

∧∨∧∨∧∨∧∨

madinah3
Daylight

Pemandangan tentang Cinta

Dan waktu-waktu wajib selanjutnya tak pernah berubah suasananya meskipun setiap waktu berbeda rasa. Desember merupakan bulan yang dingin, membuat shalat Dzuhur di tengah hari pun tak membuat gerah atau Ashar yang memiliki langit sore yang mempesonakan hingga datangnya waktu Maghrib. Semua waktu yang memiliki pesona tersendiri sementara alunan ayat suci senantiasa terdengar. Harum khasnya udara Masjid, semuanya… Suasana Masjid Nabawi inilah yang membuat saya selalu merindu.

Di tempat ini, seperti baru menikah, saya senantiasa berjalan bersama sang belahan jiwa dan berpisah di gerbang yang sama untuk saling menantikan jika telah selesai ibadah. Entah kenapa, rasanya ada romantisme tersendiri di tempat mulia ini.

Di Masjid ini pun, saya melihat begitu banyak kaum pria yang menunggu orang tercintanya, ibu, isteri atau saudara perempuannya di batas gerbang perempuan. Mereka dengan setia menunggu, berkali-kali menoleh, memanjangkan lehernya, memperhatikan dan berharap keluarnya yang tercinta yang berbalut baju dengan warna yang dominan sama, hitam atau putih. Tidak mudah, tetapi mereka tetap setia menunggu hingga bertemu.

Dan setelah berjumpa, mereka menjaga di sampingnya, mendorong kursi roda ibunya atau membantu menuntunnya, atau ada juga langsung meraih menggendong anaknya, tetapi semua menampilkan wajah yang serupa, sumringah, penuh senyum bahagia saat berjumpa dengan mereka yang tercinta. Rasanya tak ada rasa kecewa dan angkara, karena hati dan jiwa mereka semua menuju Yang Maha Kuasa, Yang Selalu Menjaga. Semuanya merupakan pemandangan yang mengharubirukan jiwa. Hanya ada di pintu keluar perempuan, sebuah pemandangan tentang cinta. Inikah Surga di dunia?

∧∨∧∨∧∨∧∨

Tempat terbaik untuk berbuat baik

Salah seorang anggota dalam grup kami sudah lanjut usia, mungkin tak begitu jauh bedanya dari usia Mama. Tak disangka, beliau pun mengalami apa yang dialami Mama. Jatuh di kala usia tak lagi muda sehingga tulang panggulnya retak. Saya memanggilnya Nini (nenek dalam bahasa Sunda) dan menceritakan kepadanya bahwa Mama saya dioperasi untuk mengganti bonggol tulang panggul dan berminggu-minggu beristirahat di tempat tidur untuk bisa kembali berjalan. Cerita tentang Mama, pemahaman akan sakit yang sama, menjadikan kami berdua menjadi dekat satu sama lain, meskipun anak dan mantunya juga ada disana tapi saya sama sekali tak merasa keberatan untuk berjalan bersamanya yang amat pelan melangkah. Saya percaya, semua peristiwa yang saya temui di Tanah Suci ini, bukan sembarang peristiwa, karena semuanya pasti akan menuju kebaikan.

madinah 5
Inside the Mosque (male area) – photo creditted to my hubby

Selagi menuntunnya di sebelah kanan dan menantunya di sebelah kiri, pikiran ini terbang ke Mama berharap, semoga dengan membantu menuntun Nini jalan perlahan di Madinah ini, selalu ada orang yang akan membantu Mama dimanapun ia berada. Saya tahu, setiap langkah yang dilakukan Nini dengan beratnya, itulah juga yang dialami Mama, menahan sakit dan nyeri setiap langkahnya akibat operasi dan osteoporosis pada tulang tua yang semakin menyerang dirinya. Duhai Engkau Yang Maha Mengetahui Semua Rahasia, meskipun secara fisik saya membantu Nini untuk berjalan, tetapi sungguh serasa saya berjalan bersama Mama. Ya Allah, ini luar biasa sekali rasanya.

Bahkan, saat kali pertama dalam antrian ke Raudhah -tempat yang paling mustajab untuk berdoa-, waktunya sungguh tidak tepat. Meski Nini berkeras mampu terjaga, tak dapat ia sembunyikan kelelahan di wajahnya untuk tetap bertahan hingga ke gilirannya yang mungkin lewat tengah malam. Saya mengusulkan untuk mencoba ke Raudhah lebih awal esok harinya. Meskipun artinya, kesempatan saya bisa berdoa di Raudhah akan semakin kecil karena malam itu saya akan mengantarkannya pulang. Tak mengapa, karena tak mungkin saya membiarkan Nini berjalan pulang hanya dengan menantunya. Itu jarak yang amat jauh dari gerbang terdekat Raudhah ke gerbang 15, di larut malam untuk seorang lanjut usia yang berkebutuhan khusus dan hanya ditemani seorang perempuan saja.

Dan satu diantara tiga malam di Masjid Nabawi itu, jelang shalat Isya, menantu Nini dan saya berlari kesana kemari untuk mencari sebuah kursi wakaf, -kursi yang digunakan oleh orang-orang yang menjalankan shalat sambil duduk-, agar Nini bisa shalat dengan nyaman. Tetapi sungguh, di sekitar kami telah habis semua. Menantu Nini sampai harus memohon dengan sangat kepada seseorang akhwat berbadan besar yang di sebelahnya ada kursi tapi tak digunakan. Tapi meskipun menantu Nini sudah memohon, akhwat berbadan besar itu tak memberikannya. Mengetahuinya, hati saya pecah berkeping, tetapi tak mungkin memaksa orang lain untuk bisa berbagi.

Saat itu, kami hanya bisa sampai di pelataran Masjid. Nini memaksa saya untuk segera shalat dan agak setengah hati saya melepas Nini menemukan caranya sendiri untuk bisa beribadah. Dan saya dibuat terkagum akan kekuatan dan keikhlasan Nini untuk tetap shalat sambil berdiri, meskipun harus menahan sakit dan menjaga keseimbangan karena tak mungkin beliau ruku’ dan sujud secara normal. Ketika saya tanya kepada Nini resep bisa selalu bertahan, sambil tersenyum beliau berkata, niatnya ibadah kepada Allah. Mendengarnya, saya merasa terjun bebas lagi ke lubang hitam karena masih belum mampu selalu meluruskan niat.

∧∨∧∨∧∨∧∨

Dan kulepaskan beban itu…

Berada di antara manusia-manusia, tetap saja ada yang membisikkan kata agar tetap menuntut koper yang hilang, yang bagi saya amat kontradiktif dengan suasana ibadah. Tetapi dasar saya masih manusia tempat muasalnya salah dan dosa, saya mendengar bisikan-bisikan itu. Ada rasa gemas yang muncul karena hari demi hari, tak ada kabar dari agen perjalanan tentang koper itu. Sang suami telah bolak balik bandara hanya untuk mendapat berita hampa. Dan biro perjalanan itu hanya berkata, kita coba lagi besok… Berbagai pertanyaan meragukan memenuhi benak, bagaimana mencobanya jika sudah harus meninggalkan Madinah menuju Mekkah sedangkan jika tidak dipaksa suami tak ada perwakilan dari biro perjalanan itu untuk ke Bandara? Dan bahkan saya masih belum memiliki pakaian putih yang disarankan Biro Perjalanan untuk umroh dan mereka tidak membahas kebutuhan ini meskipun tahu saya kehilangan koper. Ah, sepertinya setan pun masih mengipas-ngipasi semua yang bisa terbakar di hati manusia-manusia di Masjid yang suci ini.

madinah4
The Lamps

Terus menerus mendengarkan bisikan-bisikan halus yang menyulut itu membuat saya jengah dan ingin menutup telinga hati serta sementara menjauh dari grup. Lalu melangkah lebih awal ke Masjid sehingga memiliki keleluasaan waktu sebelum shalat wajib tiba. Sendiri, saya mendirikan shalat sunnah. Berupaya mendirikan dinding tinggi yang meniadakan suara-suara dari luar, mengajak jiwa dan raga seutuhnya, hanya memujiMu dalam setiap gerakan shalat yang didirikan, bertasbih beratus kali hanya kepadaMu, tak ada yang lain.

Segera setelah selesai, airmata saya tumpah tak berhenti di tempat ini, di Masjid Nabawi. Beban itu terlepas sudah, ada atau tiada koper itu saya tak lagi terpengaruh. Karena semua ini hanya pinjaman untuk hidup di dunia. Tergambar lagi di benak akan kesederhanaan dua lembar kain putih tak berjahit dan kesederhanaan rumah Nabi pada jamannya. Karena semua ini milikMu, semua hanya untukMu… Sesungguhnya saya tak memiliki apa-apa.

Dan saya selalu akan merindukan tempat ini, tempat saya meluruhkan semuanya di hadapanMu, melepas semua beban…

Bersambung…