Pinus, Menenteramkan, Mengenangkan


Rasanya satu-satunya keharuman yang berakar kuat dalam pikiran saya adalah harumnya pinus. Bisa jadi karena sejak kecil, saya sering diajak pergi ke Bandung, ke Gunung Tangkuban Perahu dan berhenti sejenak di pinggir jalan sekitar Cikole, tempat dimana hutan pinus tumbuh di kanan kiri jalan. Kebiasaan sejak kecil untuk berhenti sejenak di pinggir jalan, ternyata diturunkan juga kepada anak-anak saya. Hanya untuk sejenak melapangkan pernafasan dengan wangi pinus yang sangat khas.

hutan pinus cikole
Pine trees near Bandung

Bagi saya pribadi, wangi pinus itu menenteramkan, hijau daunnya menenangkan hati, rasanya damai berada di tengah hutan pinus. Wanginya khas dan kadang ‘musik alam’ dari hutan pinus itu terasa seperti mendayu-dayu, gesekan puncak-puncaknya yang terbawa angin seperti mengajak berdansa dengan irama alam.

Harum pinus juga membawa kenangan, karena setiap berada di sana, saya senantiasa teringat almarhum ayah yang pertama kali memperkenalkan wangi pinus ke hidung saya. Dan kini, dimanapun ada pinus dengan keharumannya yang khas itu, rasanya seperti diselimuti kedamaian sekaligus kerinduan terhadap almarhum Papa.

Tidak heran, minyak pinus itu (pine oil) itu memang salah satu minyak atsiri (essential oil) yang produksinya terbanyak di dunia, karena diakui mampu memberikan rasa nyaman dan damai dalam berbagai situasi. Sebagai minyak aromatik, di tempat aslinya Pine oil sudah dikenal lama dalam pengobatan tradisional ayurveda untuk mengatasi stress.

Kesempatan untuk mengendalikan stress juga saya ambil ketika mampir sejenak ke hutan pinus Pengger di kawasan Bantul, Jogjakarta, setelah menengok keponakan yang selesai operasi skoliosis (tulang belakang belakang yang bengkok). Situasi harap-harap cemas akan keberhasilan operasi besar itu, dan ditambah si ponakan itu belum lama ditinggal ibunya karena kanker otak, terasa cukup menekan perasaan. Karenanya sang suami berkenan mengantar saya mampir sejenak ke tempat yang dia tahu saya menyukainya. Saya berdiri sedikit di atas ketinggian, dalam hening. Membiarkan harumnya melapangkan jalan napas dan menenteramkan. Pikiran yang saat itu tertambat di rumah sakit, perlahan pergi melayang. Saya tahu dia akan baik-baik saja…

Jenis pohon yang sama, harum yang sama, yang mengingatkan saya saat beristirahat dari tanjakan-tanjakan terjal menjelang desa Namche Bazaar di kawasan Everest, Nepal. Meskipun lelah, saya seakan mendapat energi tambahan berada di dalam rangkulan hutan pinus itu. Menatap batang pohonnya yang menjulang, mendengarkan musik alam dari desir puncaknya yang tertiup angin. Mereka seakan berbaris menjadi pintu-pintu, membukakan jalan ke kehidupan baru yang menjanjikan. Harumnya yang menyegarkan membuat saya kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan. Saya melihat ke atas, puncaknya melenting ke kiri dan ke kanan. Tetap kuat dan tangguh meskipun digoyang angin. Siapa sangka tak jauh dari sana, masih di antara batang-batang langsing yang tinggi itu memberikan pemandangan penuh janji akan keindahan Gunung Everest yang tertinggi di dunia?

Intimnya saya dengan pohon pinus kembali terjadi saat silaturahmi dengan keluarga besar yang dilakukan di Bandung Utara. Setelah acara selesai, esok paginya saya berjalan kaki sendiri ke arah lapangan golf. Seperti doggie, berdasarkan kekuatan hidung, saya berjalan menuju harumnya pinus yang khas itu dan berlama-lama berdiri di bawahnya. Membiarkan harumnya menyebar melalui hidung ke seluruh sel dalam tubuh.

Harumnya yang dikenal sejak kecil ternyata menjejak lama dalam diri, tak pernah lupa akan rasanya yang menenangkan, menenteramkan dan mengenangkan semua cinta…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-41 ini bertema The Scent agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Iklan

Sepasang Mata Di Bouddhanath


Pertama kali ke Nepal tahun 2014 lalu, saya hanya sekejap berada di Bouddhanath, itu pun hanya malam hari. Rasanya seperti mengalami amnesia sementara, saya merasa pernah berada di sana namun hanya samar-samar. Lucunya, photo yang diambil tidak begitu bagus hasilnya, mungkin karena kurang cahaya. Oleh karena itu, saya telah berjanji akan kembali ke Bouddhanath dan menikmatinya lebih lama.

Saya memang kembali lagi ke Nepal untuk melakukan trekking tetapi kesempatan itu tidak bisa membuat saya kembali mendatangi Bouddhanath. Bagaimanapun semua memang ada waktunya dan tahun 2018 lalu akhirnya saya kembali menjejak di Bouddhanath.

Bouddhanath merupakan salah satu dari tempat suci Buddhist yang terbesar di Nepal dan bersama dengan kuil-kuil bersejarah lain di kawasan lembah Kathmandu, Bouddhanath mendapat gelar UNESCO World Heritage Site sejak tahun 1979 (itu artinya 12 tahun lebih dulu daripada penganugerahan pertama kali gelar yang sama ke Borobudur di Indonesia).

Dalam gempa besar tahun 2015 lalu yang meluluhlantakkan Nepal, Bouddhanath juga terkena dampaknya dan termasuk parah. Seluruh struktur utama yang paling suci, -konon merupakan tempat menyimpan relikui Buddha-, yang terletak di puncak lengkung stupa harus dipindahkan selama Stupa mengalami perbaikan. Meskipun hingga kini, banyak kuil-kuil lain di kawasan Lembah Kathmandu masih terus dalam proses restorasi sejak gempa terjadi, Bouddhanath termasuk salah satu tempat pertama yang diprioritaskan diperbaiki. Dan dalam waktu satu setengah tahun sejak gempa terjadi, Bouddhanath bisa dibuka kembali secara normal.

DSC03504
Bouddhanath with the lights

Meskipun berada sekitar 7km dari pusat kota, Bouddhanath tetap ramai dikunjungi oleh penganut Buddha dari segala penjuru Nepal dan juga dari negara-negara lain yang kebanyakan penduduknya beragama Buddha. Ditambah dengan para wisatawan mancanegara,  hampir semuanya, baik yang Buddhist maupun yang non-Buddhist, berjalan melakukan sirkumambulasi atau kadang juga disebut pradaksina yaitu berjalan mengelilingi Stupa searah jarum jam.

Hari pada saat saya kembali ke Nepal itu, dari bandara saya langsung menuju kawasan Bouddhanath yang letaknya tak begitu jauh dari bandara. Alasan itu juga yang saya gunakan untuk menginap di kawasan Bouddhanath, karena keesokan harinya saya akan terbang ke kota lain sehingga tak mau jauh-jauh dari bandara tetapi keinginan saya tetap tercapai. Jadilah saya menginap di Bouddhanath dan tidak tanggung-tanggung karena saya menginap dengan hotel yang menghadap Bouddhanath.

Saya hanya ingin menatap Stupa besar kebanggaan orang Nepal itu dengan santai.

Dan sejak matahari tenggelam hingga waktu makan malam tiba, saya sengaja mengambil tempat di pelataran luar hotel dan langsung menatap Buddhanath yang cantik berhiaskan lampu-lampu.

DSC03508
Bouddhanath at Night

Dari tempat duduk saya di pelataran hotel, saya menyaksikan bahwa diameter terjauh Bouddhanath hanya sekitar 100meter dengan tinggi hingga ke puncaknya sekitar 36meter. Bisa jadi tidak terlalu besar jika dibandingkan Borobudur ya, tetapi bangunan ini terkenal sekali di Nepal dan stupa ini mengisi langit Nepal di malam hari.

Tentu saja bagi saya, yang paling menarik dari Bouddhanath adalah Lukisan Mata yang mengisi empat sisi puncak stupa itu. Mata itu merupakan representasi mata Sang Buddha yang melihat ke segala penjuru dunia. Dan lukisan yang bentuknya seperti tanda tanya, sebenarnya merupakan karakter Nepali untuk angka 1, yang merupakan simbol dari Kesatuan (unity) dan Satu Jalan menuju pencerahan yakni melalui ajaran Sang Buddha. Lebih jauh lagi, di atas lukisan mata itu terdapat Mata Ketiga, -tersembunyi di balik rumbaian kain penutup-, merupakan simbol Kebajikan Sang Buddha.

DSC03503
The Buddha Eyes

Angin musim dingin hampir berakhir meskipun masih terasa sejuknya. Angin itu terasa kuat membuat ikatan bendera doa yang warna-warni itu berkibar-kibar. Konon dipercaya, kibaran bendera doa akibat angin itu akan menerbangkan doa dan mantra ke seluruh penjuru alam semesta. Ditambah orang-orang yang tidak berhenti melakukan sirkumambulasi (pradaksina) sambil merapal doa dan mantra, tentunya memperkuat getaran doa untuk sampai ke seluruh penjuru alam semesta. Ah, indahnya saya berada di tempat yang begitu sakral…

Saya puas menatap orang-orang yang mengelilingi Stupa, puas menyaksikan Stupa besar semalaman dan juga esok paginya. Rasa damai dengan getar nada mantra Avalokitesvara, Om Mani Padme Hum yang sayup terdengar di sekitar saya, membuat saya betah berlama-lama di tempat itu.

Menatap mata yang tergambar di Stupa di hadapan, membuat saya merenung. Bahkan dalam ajaran Buddha pun diajarkan bahwa ada Mata yang terus melihat ke seluruh penjuru dunia. Dan sepertinya mengerucut juga karena saya percaya Allah Yang Maha Kuasa yang juga Maha Melihat semua aktivitas kita.

Kita hanya perlu terus menyadarinya.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-40 ini bertema Eye(s) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Kyoto, Satu Hari Dalam Musim Gugur


Salah satu musim terbaik untuk mengunjungi Kyoto, Jepang adalah musim gugur, meskipun musim-musim lain tidak kalah menariknya. Tetapi ini soal selera ya, karena saya lebih suka musim gugur daripada musim semi yang juga membuat Kyoto itu sangat cantik luar biasa. Lagi pula udaranya sejuk, belum terlalu dingin.

Jadi awal bulan Desember beberapa tahun lalu, saya mengajak suami, berdua saja, untuk kembali menikmati Jepang. Dan saat menginjak Kyoto, uh, rasanya tidak ingin pulang ke Indonesia. Tentunya pada pagi hari kami mengunjungi Kinkakuji, kuil emas yang sangat terkenal seantero Kyoto dan menjadi icon kota tradisional ini. Dan berkali-kali ke Kinkakuji tidak pernah membuat saya bosan, meskipun tahu tempat ini selalu dipenuhi pengunjung!

IMG_0817
One perfect morning At Kinkakuji

Herannya kalau sedang liburan itu, waktu terasa seperti kilat alias cepat sekali jalannya. Gara-gara waktu yang berjalan cepat ini juga, kami secepat kilat menuju Higashiyama untuk mengunjungi Kiyomizudera, yang sayangnya sebagian tempatnya sedang direnovasi.

Bagi yang pernah ke kuil ini, tentu tahu bahwa Kiyomizudera sangat luas. Dan sang suami tertarik untuk menikmati semua sudutnya. Alhasil kami berdua seperti anak muda yang sedang jatuh cinta, jalan pelan-pelan berdekatan dan setiap tempat yang penuh warna kami berfoto 🙂  (Tapi sudah gak ada gombal-gombalan deh karena semua kartunya dah ketauan  😀 😀 😀 )

Tapi tak ada yang bisa menolak bahwa Kiyomizudera memang sangat cantik saat musim gugur, kontras sekali dengan langit Kyoto yang biru. Meskipun jauh mengelilingi halaman kuil, kami tak merasakan karena banyak berhenti untuk foto. Asli sampai lupa urusan perut sampai tidak diperhatikan.

Akhirnya di ujung pintu keluar, -sebenarnya waktu juga yang mengingatkan karena sudah agak sore-, barulah kami mendengar suara naga di perut kami berdua. Masalahnya lidah kami berdua tidak begitu cocok dengan makanan Jepang. Susah kan… mosok mau makan gudeg di Jepang? Kami menyusuri toko-toko yang sangat khas Jepang, berharap menemukan restoran yang sesuai lidah kami. Dan untunglah, Semesta Mendukung kami menemukan rumah makan yang menyajikan makanan yang sesuai lidah dan perut.

Urusan perut selesai, kami melanjutkan perjalanan lagi dengan berjalan kaki menuju kuil Kodaiji. Di tengah perjalanan, beruntung kami bisa bertemu dengan pengantin yang kelihatannya sedang terburu-buru sambil mengangkat gaun putihnya agar tak terinjak. Tiba-tiba saya tersadarkan, tempat kami berjalan merupakan kawasan untuk pejalan kaki. Jadi kasihan juga pengantin itu, harus turun dari mobil jauh di ujung jalan lalu berjalan ke kuil tempatnya ia menikah. (Betapa nyaman ya menikah di Indonesia, pengantin bisa turun dekat dengan tempat nikahnya!)

Kami juga bertemu dengan perempuan-perempuan yang mengenakan pakaian tradisional Jepang dengan wajah putihnya layaknya geisha. Melihat warna kerahnya, saya menduga mereka adalah turis yang sengaja berdandan seperti maiko atau geiko (geisha). Tetapi mereka sepertinya berkenan menjadi obyek foto dari orang-orang yang terpesona dengan pakaian dan dandanannya, termasuk saya sih hehehe…

Kuil Kodaiji tak jauh lagi. Kuil ini memang salah satu kuil di Kyoto yang must-visit selama musim gugur karena terkenal keindahan iluminasinya. Lampu-lampu diletakkan sedemikian rupa sehingga keindahan warna musim gugur tetap bisa terlihat pada saat malam! Dan beruntung sekali, saat sampai di kuil itu, langit belum gelap namun beberapa lampu telah dinyalakan. Mata kami dimanjakan dengan keindahan saat matahari masih terjaga di Kyoto dan saat matahari telah terbenam. Apalagi ada bulan sabit terbit di langit malam! We’re so blessed!

Jaket mulai dikenakan karena angin malam semakin terasa menusuk. Bersama pengunjung lain, kami mengarah ke tengah taman Kodaiji yang terkenal. Di dekat kolam taman kami terpesona. Airnya yang tenang menjadi pemantul sempurna dari keindahan pohon-pohon warna-warni di atasnya. Masya Allah…

Menyaksikan keindahan itu, terdengar begitu banyak suara shutter kamera, yang bukan hanya dari turis melainkan juga dari masyarakat lokal Jepang yang menyukai keindahan.

IMG_1051

Tanpa terasa malam semakin pekat, seakan mengingatkan kami harus mengakhiri perjalanan hari ini. Kaki kami terasa pegal (tapi bukankah di Jepang, kaki selalu terasa pegal? 😀 ). Namun keindahan kuil Kodaiji belum berakhir.

Meskipun dengan kaki yang mulai terasa berat untuk melangkah, sambil menuju pintu keluar kami menyaksikan hutan bambu seperti di Arashiyama yang diberi pencahayaan ke atas. Wah! Saya pernah membaca bahwa pada musim gugur, hutan bambu Arashiyama diberi lampu yang pasti terlihat magis sekali tetapi sayangnya untuk melihatnya harus menginap di dekatnya karena akses transportasi yang terbatas. Dan di sini, di kuil Kodaiji, kami menemukan pemandangan yang serupa hutan bambu yang diterangi dengan pencahayaan ke atas, -tanpa perlu ke Arashiyama-, tentu hal ini sebuah anugerah luar biasa banget!

Malam itu dengan rasa syukur mendapatkan semua yang begitu indah dalam satu hari, kami kembali ke hotel. Meskipun terseok-seok untuk mencapai hotel dan tidak mau menggunakan taksi mengingat mahalnya, bagi kami berdua hari itu merupakan salah satu hari yang sempurna dalam perjalanan hidup kami.

Ke Kyoto memang tak cukup satu hari!

IMG_1090
Bamboo groves at night in Kodaiji Temple, Kyoto

*


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-38 ini bertema A Day In Life agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Wayang dan Museumnya


 

Terik matahari sudah berkurang meskipun belum sepenuhnya reda. Dengan bergegas karena takut segera tutup, saya meninggalkan rumah makan di kawasan kota tua itu lalu menuju Museum Wayang karena lokasinya hanya selemparan batu dari situ.

Setelah membeli tiket yang harganya hanya Rp 5000,00 saya masuk ke dalam tanpa lupa bertanya jam tutupnya. Petugas menjawabnya seperti asal saja, yang katanya hingga pengunjung terakhir keluar. Entah apa maksudnya, apakah dia sungguh-sungguh mau menunggu hingga pengunjung terakhir keluar, -hal itu bisa jadi bumerang baginya sebab siapa tahu pengunjungnya adalah penggila wayang yang mau berjam-jam di sana-. Ataukah karena sangat sedikit pengunjung museum sehingga ia yakin dan tahu pasti bahwa pada jam tertentu akhirnya tidak akan ada pengunjung baru. Kok saya miris ya?

DSC09052
Baratayudha – The War

Meskipun tidak dibesarkan dalam keluarga yang suka nonton wayang, saya cukup mengenal kisah-kisahnya. Kisahnya ya, bukan wayangnya. Di Indonesia pertunjukan wayang biasanya mengambil kisah-kisah dari epos Ramayana atau Mahabharata dengan tambahan ciri khas masing-masing daerah meskipun ada juga yang mengambil kisah sehari-hari. Jadi, entah itu wayang dari Jawa atau Sunda atau Bali, apabila membicarakan Dewi Sinta, itu artinya ya istrinya Rama. Atau, jika bicara Drona ya artinya gurunya Pandawa dan Kurawa. Sesederhana itukah?

Ternyata tidak! Dari kunjungan ini, saya tahu bahwa saya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang wayang, juga kisahnya! Yang saya tahu hanya sebagian kecil saja dari begitu banyak variasi wayang yang ada di Indonesia ini.

Dengan bermodal ilmu kira-kira, saya disambut wayang segede gaban di dekat pintu masuk lalu lorong panjang yang memamerkan banyak wayang. Di sini lebih banyak dipamerkan wayang golek Bandung yang memang terlihat kualitasnya yang terpelihara dengan baik.

DSC09006
Wayang Golek Bandung

Ups, saya baru sadar bahwa Museum Wayang ini dulunya adalah gereja tua yang sekaligus menjadi tempat prasastinya Jan Pieterson Coen dan masih banyak prasasti-prasasti lain yang mengingatkan saya bahwa disana dibaringkan tubuh-tubuh mereka. Hmmm… mengapa auranya menjadi mistis begini yaaa… lalu kemana semua orang yang tadi ada? Mendadak saya berasa lebih dingin dan saya cepat-cepat pergi dari situ.

Ruangan selanjutnya membuat saya lebih tak nyaman. Ada boneka Sigale, yang secara tradisi katanya, sering digunakan juga untuk memanggil arwah. Boneka Sigale yang ada di balik ruang kaca ini, apakah juga dulu pernah dijadikan sebagai media pemanggilan arwah? Uuuh… kenapa sih pakaiannya harus putih begitu?  Tadinya saya mau upload fotonya, tapi setelah dipikir-pikir nanti malah takut, jadi saya batalkan uploadnya. Dan tak jauh dari boneka Sigale, juga ada boneka Si Manis, -dengan kisah horornya-, yang tentunya menambah suasana tak nyaman di sana. Ini kenapa Museum Wayang yang tempatnya udah berbau horor juga mengoleksi item yang horor-horor?

Tak luput dipamerkan pula boneka dengan Kisah Si Pitung (Sudah datang ke rumahnya? Saya sudah!) Jadi ingat, bukankah kisah Si Pitung juga penuh kontroversi dan katanya, punya daya sakti yang membuat Belanda gagal terus menangkapnya?

Seingat saya setiap pertunjukan wayang pasti dimulai dengan ditampilkannya gunungan dan biasanya gunungan itu cantik-cantik. Dan saya selalu kagum dengan gunungan-gunungan yang ada di Museum Wayang. Dan di museum ini saya baru tau makna-makna di hampir setiap sudut wayang kulit. Wow, ini beneran setiap sudutnya memiliki arti. Tidak heran semua penggemar wayang yang sejati langsung mengenal sebuah wayang ditunjukkan padanya. Tidak seperti saya. Saya hanya kenal punakawan, meskipun sering juga terbalik antara Bagong dan Semar.

Dari kisah-kisahnya yang mengambil dari Mahabharata, saya sebagai penggemar Kresna hanya tersenyum-senyum sendiri ketika melihat wayang Kresna yang sedang melakukan Triwikrama, yang ditampilkan seperti raksasa. Jadi inilah penggambaran Triwikarma dalam tradisi wayang tersebut.

DSC09063
Trivikarma of Krishna

Saya masih berkeliling dan menemukan boneka-boneka yang digunakan dalam sebuah pertunjukan tradisional seperti dari Malaysia, Vietnam, Kamboja, Russia, China dan lain-lain.

Tapi yang membuat saya terpesona adalah banyaknya versi wayang yang ditampilkan di Museum ini. Bahkan wayang kulit pun ada kategorinya, ada yang berukuran normal maupun berukuran lebih kecil yang akan dimainkan oleh anak-anak yang memiliki bakat sebagai dalang. Jika saya disodorkan wayang, saya tak pernah tahu bahwa ukuran yang satu lebih kecil dengan wayang yang lain.

Ada juga wayang lidi! wayang yang terbuat dari lidi yang diambil dari pohon kelapa itu. Hebatnya bisa dianyam sehingga membentuk wayang. Uh, jika saya yang membuat, lidinya pasti sudah patah dimana-mana. Sungguh, saya terkagum-kagum dengan wayang ini. Kagum dengan cara membuatnya!

DSC09162
Wayang Lidi

Dari ilmu sejarah yang saya dapat disekolah, dulu wayang juga merupakan alat syiar agama Islam di dalam masyarakat meskipun berkembang pula wayang wahyu, yaitu wayang yang digunakan untuk menyebarkan agama Nasrani. Pernah lihat wayang wahyu? Lihat gambarnya saja sudah dapat diidentifikasi. Dan tidak untuk syiar saja, untuk membangkitkan semangat juang, juga menggunakan wayang. Makanya ada yang namanya wayang revolusi! Asyik kan?

Dan wayang memang pantas mendapat gelar sebagai salah satu dari The Masterpieces of Oral and Intangible Cultural Heritage, -yang diberikan UNESCO pada tanggal 7 November 2003. Karena memang wayang ada di sudut-sudut Indonesia. Ada wayang dari Palembang, Bali, Lombok dan lain-lain selain Jawa dan Sunda yang lebih sering dikenal.

Jadi seru juga datang ke Museum Wayang. Selain ada rasa ngeri-ngeri sedap gitu, ada juga pengetahuan tentang wayang dari berbagai tempat. Belum lagi topeng-topengnya atau perangkat gamelannya.

Ayooo… agendakan akhir pekan ini ke Museum Wayang di Kota Tua, Jakarta…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-36 ini bertema Traditional agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketika Rasa Kehilangan Mendera


 


November 2013 di Gayasan National Park, Korea Selatan 

Di musim gugur malam datang lebih cepat. Saya melangkah pulang mengikuti jalan setapak yang masih menanjak di tengah hutan, sendirian dalam kelam dan dingin. Manusia-manusia lain sudah lenyap dari pandangan, langsung masuk ke rumah setelah gelap datang. Apalagi mereka hampir semua tak bisa berbahasa Inggris. Saya hanya bisa mengira-ngira arah pulang ke terminal bus karena sebelumnya, seperti penumpang lain, diturunkan di tengah jalan dan bukan di terminal karena macet total akhir pekan. Saya menepis rasa takut yang terus menyerang, menahan airmata yang hampir jatuh, mencoba fokus dari kebingungan yang mendera. Praktis saya di ujung putus asa karena kehilangan arah

Akhir Tahun 2014 di Macau 

Di depan konter check-in hotel itu, muka saya langsung pias, -tak bisa melakukan open-deposit-, karena tak menemukan dompet di dalam tas meskipun isinya sudah dikeluarkan semua. Dompet saya hilang! Paniknya tak dapat dirangkai dalam kata-kata. Masih untung perempuan cantik di balik konter itu membolehkan saya sekeluarga memasuki kamar karena semua sudah dibayar lunas. Di dompet yang hilang itu tersimpan semua lembaran uang dengan nominal besar dan kartu-kartu kredit yang menjadi andalan kami untuk berlibur akhir tahun. Dan seketika liburan itu berada di ujung tanduk…

Desember 2015 di Hoi An, Vietnam

Pagi itu di tempat tidur seperti ada yang membangunkan saya untuk memeriksa kembali isi tas. Ketika saya melakukannya, saya tidak dapat menemukan paspor di tempatnya ataupun di tas lainnya! Seketika rasa dingin menyerang ke seluruh permukaan kulit. Setahun lalu dompet, kini paspor! Saya panik tapi mencoba berpikir dengan begitu intens. Membuat rencana. Siapa tahu paspor jatuh di jalan sepanjang malam sebelumnya, harus ke kantor polisi untuk melaporkannya, harus terbang ke Hanoi untuk laporan kehilangan paspor di Kedutaan Besar Indonesia, harus menyiapkan uang tambahan untuk penginapan di Hanoi dan yang pasti sisa liburan pasti berantakan hanya karena paspor tidak ada di tas! Saya mandi yang tak terasa mandi, rasanya lunglai tak berenergi…

 

Siapapun tak ingin menghadapi halangan saat melakukan perjalanan, apalagi saat bepergian ke luar negeri. Namun tak pernah ada perjalanan yang selalu sempurna tanpa halangan. Seperti yang saya alami di atas, mau tidak mau tiga situasi karena rasa kehilangan di atas dan penuh kebingungan harus saya hadapi.

P1030976e
Sign to Haeinsa

Seperti saat hendak pulang di Gayasan National Park, -setelah selesai berkunjung ke Kuil Haeinsa-, saya hanya bisa berjalan berdasarkan intuisi, -sungguh seperti meraba-raba dalam gelap-, berjalan terus tidak tahu apakah benar atau salah arahnya. Saya benar-benar di ujung rasa putus asa namun saya tak mau menangis dan menyerah kalah. Menangis tidak menyelesaikan masalah bahkan memperlemah diri di saat harus tegar menghadapi kebingungan. Saya harus kuat dan hanya bisa terus berdoa untuk ditunjukkan jalan.

Bagi yang pernah membaca Ziarah (The Pilgrimage) atau juga Brida, novel-novel karangan Paulo Coelho, rasanya saya menapaki apa yang disebut di buku itu sebagai Malam Kelam. Dan saya hanya bergantung perlindungan dan kasih sayang kepadaNya. Sungguh saya belajar sungguh-sungguh bergantung total kepadaNya, berserahdiri secara total kepadaNya, memohon pertolongan. Dan apa yang terjadi?

Dan kemudian Dia mengirimkan pertolongan melalui dua orang lanjut usia di sebuah pondok yang saya temui akhirnya di ujung jalan setapak yang saya lalui. Tanpa perlu mengerti bahasa Inggeris, mereka menangkap maksud “bus” yang saya ungkapkan. Mereka berdua, dalam udara dingin, berjalan sebentar lalu menunjukkan arah lampu untuk naik bus berada tempat yang saya harus ikuti (kata terminal itu misleading karena tidak ada bus, kalaupun ada hanya 1 bus). Bagaimanapun, kedua orang lanjut usia yang membantu saya adalah malaikat dalam wujud manusia yang saya temui di ujung rasa putus asa karena kehilangan arah.

*

Situasi serupa penuh dengan kebingungan terulang di Macau. Kali ini saya bertanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh keluarga juga. Di kamar saya diam seribu bahasa dengan tensi yang meningkat karena situasi yang dihadapi. Saya hanya minta bantuan kepada keluarga untuk mencari tahu nomor telepon hotel di Hong Kong yang pagi harinya kami keluar, nomor kapal ferry yang kami gunakan dari Hong Kong ke Macau, nomor masing-masing pelabuhan hingga nomor taxi yang kami gunakan di Macau.

wallet1

Tanpa menghitung biaya roaming, satu per satu saya menghubungi mereka semua dan semuanya mengatakan tidak ada dompet hitam milik saya. Ada yang penuh empati ingin membantu dengan memberikan nomor telepon tempat yang terkait, tetapi hasilnya sama saja. Tidak ada!

Situasinya sangat serupa, saya mencoba terus tanpa henti hingga ke titik ujung usaha dan akan masuk ke dalam situasi ‘lepaskan atau terjebak pada penghambaan benda’. Seakan diingatkan akan batas ini, saya meluruh dan akhirnya berserah diri. Jika benda itu memang ditakdirkan dipinjamkan kepada saya, ia akan kembali. Bila tidak, biarlah saya menghadapi situasi lain yang berbeda yang memang harus saya hadapi. Saat itu, saya memohon izin untuk satu kali lagi menelepon sebagai upaya terakhir kalinya sebelum saya lepaskan semuanya. Terakhir!

Di Macau itu, saya tak tahu harus menangis atau bahagia ketika suara di ujung telepon mengabarkan dia, petugas tiket ferry di Hong Kong, menemukan dompet dengan ciri-ciri yang sama dengan dompet saya!

*

Saya ingat pagi di Hoi An, Vietnam itu setelah mengubek-ubek isi tas dan mengitari kamar hotel tanpa menemukan paspor dimana-mana. Lenyap dari tempatnya. Rasa dingin seperti tahun lalu kembali menjalar ke seluruh tubuh. Saya duduk di tempat tidur, lunglai dan bertanya dalam hati kepada Dia. Sungguhkah ini? Mengapa Engkau senang sekali bergurau kepada diri ini? Jika setahun lalu dompet, kini paspor.

passport1

Saat itu, meskipun kehilangan paspor, meskipun rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh dan memiliki plan A, plan B, plan C dan seterusnya untuk mengatasi situasi yang saya hadapi saat itu, ada rasa yang sangat berbeda! Jauh di dalam sana, saya merasa dicintaiNya, saya merasa disayang olehNya, saya berlimpah Kasih SayangNya. Ada ketenangan. Saya hanya diminta untuk percaya dan bersabar akan pertolonganNya. Sebuah rasa yang muncul dalam jiwa. Tidak pernah ada yang hilang, Dia menyimpannya untuk saya.

Tapi saya tetap manusia yang penuh tarik ulur yang hebat, yang merasa mampu mendapatkan hasil dari rencana-rencana yang dibuat. Dengan perang antara logika dan rasa, saya berangkat meninggalkan kamar dengan segudang rencana namun tetap percaya PertolonganNya akan datang. Help is on the way!

Berharap mendapat pertolongan pertama dari konter depan, saya mengungkapkan kehilangan paspor sambil mengatakan hendak check-out. Petugas itu lebih concern dengan informasi kehilangan paspor daripada proses check-out. Ia tampak berpikir sebentar, lalu berbalik mencari dokumen menginap di balik konter. Ia berbalik kembali menghadap saya sambil memperlihatkan folder transparan dengan paspor saya di dalam folder itu!

***

Siapapun tak ada yang suka mendapatkan halangan dalam perjalanan. Namun halangan ada, bukan tanpa tujuan. Halangan itu ada untuk kebaikan kita sendiri dan dapat menyempurnakan perjalanan, termasuk perjalanan hidup. Seperti musuh, dari halangan dan kesulitan, kita bisa belajar sangat banyak untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Yang kita perlukan hanya satu, berpegang pada Dia yang selalu ada untuk kita dimanapun kita berada, kapanpun. Selalu dan selamanya.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-36 ini bertema The Invisible Hand agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Menyambut Tahun Baru Dalam Hujan


Karena ingin merasakan kembali kehebohan malam tahun baru seperti di Hong Kong tahun 2015 dengan kembang api warna-warni dan kerlip kota, maka pada akhir tahun 2017 kami mengunjungi Singapura. Tujuan utamanya hanya satu, menyaksikan malam pergantian tahun dengan pertunjukan kembang api.

Apakah berhasil?

Iya, berhasil, tapi pakai hujan! 😀

Malam itu, sengaja kami datang lebih awal agar bisa dapat tempat duduk terbaik sambil berdoa khusuk karena melihat awan gelap menggantung rendah di atas langit Singapura. Turun di stasiun MRT Bayfront, kami berjalan mengikuti kerumunan orang yang semakin padat menuju arena The Float at Marina Bay. Pernah terbayang gak sih kalau The Helix Bridge itu padat sekali dengan manusia? Situasinya benar-benar padat merayap, melangkah pelan karena kadang harus berhenti dan berdiri diam beberapa saat hehehe…

Beruntung sekali saya sudah membeli tiket secara online untuk menyaksikan kembang api dari The Float at Marina Bay, karena malam itu untuk masuk dengan tiket di tangan saja sudah antri panjang, apalagi kalau belum memiliki tiket yang antriannya mengular tersendiri. Lagi pula beli tiket on the spot itu lebih mahal.

DSC03059
The Crowd in Marina Bay

By the way, saya beli tiket masuk SGD 5.5 per orang secara online melalui Klook, kalau on the spot SGD 8.00. Itu tahun 2017 yaaa dan tahun selanjutnya saya heran kenapa bisa langsung naik 10 kali lipat!

Lalu mengapa saya beli tiket masuk padahal bisa menyaksikan dari pinggir jalan? Sederhana saja sih, saya mau santai dan tidak rebutan cari tempat terbaik dalam menyaksikan pertunjukan kembang api dan tidak harus menduduki tempat itu sejak pagi. Lagi pula, tempat-tempat strategis untuk menyaksikan pertunjukan kembang api itu sudah dipagari. Ah, tempat-tempat terbaik memang ada harganya! Selain itu, saya tidak tinggal di hotel-hotel sekitar Marina Bay yang harga akhir tahunnya bikin pingsan!

Jadilah setelah melalui pemeriksaan ketat untuk barang-barang bawaan, duduklah kami semua di  tribun atas The Float. Sementara manusia-manusia penggemar kembang api terus memadati arena, saya sekeluarga mengamati pemandangan malam. Asyik sih melihat pemandangan Marina Bay-Sands, Art Science Museum yang khas dan tentu saja gedung-gedung tinggi di kawasan bisnis Singapura.

Dan di sana, doa kami semua tak terkabul. Saya mulai merasakan satu demi satu titik air yang ditumpahkan dari langit. Gerimis. Payung-payung warna-warni mulai terkembang. Belum juga jam 11 malam, titik-titik air yang jatuh tidak konsisten, kadang deras, kadang berhenti sesaat. Akhirnya karena merasa terganggu dengan harus memegang payung berlama-lama, anak-anak turun ke panitia untuk membeli jas hujan transparan tipis.

Seperti juga di Indonesia (kebiasaan lihat TV kali ya… yang mengucapkan Selamat Tahun Baru untuk warga Wilayah Indonesia Timur, kemudian untuk warga Indonesia Tengah dan puncaknya di Wilayah Indonesia bagian Barat), maka di Singapura itu sejak pk. 22.00 sudah dimulai pertunjukan kembang api setiap jamnya meskipun sebentar.

Hujan sepertinya ingin hadir malam itu, atau juga mungkin pawang hujannya kurang ahli 😀 sehingga berbalut jas hujan transparan kami sekeluarga duduk santai menikmati musik dan pertunjukan. Banyak pasangan yang berdekatan, semakin deras hujannya semakin dekat mereka berdekatan di bawah payung. Tidak jarang, balon-balon yang mereka pegang terlepas atau sengaja dilepaskan. Bisa jadi sebagai tanda melepas segala kepahitan yang telah terjadi dan membiarkan harapan-harapan baru menjunjung ke langit tinggi.

Dan detik terus mendekat ke pukul 00.00 di tahun yang baru.

Ketika akhirnya countdown dimulai, semua yang hadir berteriak beramai-ramai…

Ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one… Happy New Year!!!

Pertunjukan kembang api mencapai puncaknya, berlangsung lama dari menit ke menit, tanpa henti sama sekali. Luar biasa! Ledakan kembang api ditambah gemuruh manusia-manusia yang berbahagia, berpelukan saling mengucapkan selamat tahun baru, mengabaikan payung-payung dan basah hujan yang di kawasan itu.

DSC03195
Happy New Year

Seperti juga banyak orang lain, tak lupa kami melakukan wefie dengan ucapan selamat tahun baru untuk dikirimkan kepada kerabat dan keluarga tercinta di Indonesia, meskipun mengenakan jas hujan transparan dan rambut basah. Kami memilih foto awal tahun baru yang paling bagus di antara yang berantakan karena rupa yang bisa dibilang ‘hancur lebur’ karena basah. Tapi yang penting adalah ekspresi bahagianya kan?

Pesta di Marina Bay berlanjut, musik hingar bingar dengan ritme yang mengundang untuk menggoyangkan tubuh terus berlangsung. Suara MC terus berkumandang mengajak membeli makanan dan minuman serta ajakan untuk berpesta. Meskipun demikian, kami semua memilih kembali ke hotel karena kami akan terbang ke Jakarta pada siang harinya.

Sambil jalan kaki menuju hotel mengikuti kerumunan orang, alangkah senangnya kami mengetahui tidak perlu jalan kaki jauh karena masih ada MRT yang beroperasi pada tahun baru itu. Sungguh sebuah layanan terbaik dari MRT Singapura. Jam operasional MRT diperpanjang khusus pada hari itu, meskipun hanya untuk rute tertentu.

Dalam keadaan basah, -meskipun orang lain tak jauh beda kondisinya-, sebelum naik kereta, kami dan juga orang lain mencoba mengeringkan badan dan melipat jas hujan serta memasukkan yang basah ke dalam tas. Sehingga di kereta terlihat cukup rapi dan terjaga kebersihannya.

Tahun baru, belum lama berganti angka, kebiasaan-kebiasaan baik bisa kita mulai saat itu juga. Tahun baru biasanya berlimpah dengan harapan-harapan baru, dengan sejumlah resolusi yang indah. Tapi untuk apa harapan-harapan baru bila tidak disertai dengan adanya tindakan-tindakan?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-35 ini bertema New Year agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Sepenggal Jalan Tanpa Warna



Tokyo, satu hari sebelum Natal 2018

Sebenarnya hari itu adalah ulang tahun saya, tetapi bagi saya hari itu masih tanpa warna meskipun tepat pk. 00.00 malam suami dan anak-anak telah memberi surprise berupa kue ulang tahun di tempat tidur. Saya tahu usaha mereka untuk membuat saya kembali ceria dan saya pun berupaya untuk tegar, meski rasanya sangat tidak mudah mengabaikan rasa bahwa saya masih berduka.

Tiga hari sebelumnya, Papa dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa setelah bertahun-tahun hanya mampu berbaring karena stroke yang dideritanya. Dan karena kakak dan adik seluruhnya ada di Jakarta, dengan persetujuan Mama, kami mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir pada hari yang sama meskipun gelap malam telah menyelimuti. Hari itu semua urusan selesai dengan doa-doa tak putus bagi yang pergi maupun untuk yang ditinggalkan agar ikhlas dan tabah menjalani hari.

Namun bagi saya, itulah hari ketika saya kehilangan warna-warni.

Satu hari setelahnya, saya sekeluarga meninggalkan Jakarta menuju Jepang, meninggalkan keluarga besar dan kerabat yang meriung di rumah Mama merapal ayat-ayat suci dan doa-doa. Sebenarnya rencana pergi ke Jepang sudah hancur berantakan saat mendengar Papa berpulang, tapi di atas pusara malam itu semuanya berubah. Di antara duka yang menyelimuti tergambar di benak kebahagiaan Papa bila saya berangkat ke Jepang mewujudkan impiannya.

Saya seperti ditarik kedua arah yang berlawanan; tinggal bersama mereka berbagi airmata duka dan di sisi lain pergi meninggalkan sekumpulan duka. Padahal Jepang awalnya adalah liburan namun juga menjadi tempat kenangan Papa. Entah kenapa situasi seperti itu, -yang saling berlawanan kutub-, sudah terlalu sering hadir secara bersama-sama dalam keseharian kehidupan saya.

Dan hari itu, tepat hari ulang tahun saya, hati saya masih sama, tanpa warna. 


 

Shinkansen Joetsu dengan kereta bernama Tanigawa itu akhirnya berhenti di Stasiun Gala Yuzawa, setelah sekitar 75 menit meninggalkan Tokyo. Kedatangan kami di stasiun itu disambut dengan serangan udara dingin dan hujan salju tipis! Brrrrr….

Meskipun ingin cepat bermain salju tapi sebagai perempuan tetap saja penampilan dipertimbangkan baik-baik. Alhasil perlu waktu cukup lama untuk urusan sewa menyewa sepatu boot, sarung tangan dan peralatan bermain salju. Rasanya sibuk sekali untuk urusan receh seperti ini. Pantas atau tidak, apakah kebesaran atau kekecilan, apakah ini atau itu… belum lagi ditambah, cantik gak ya nanti… bla-bla-bla… *suami nungguin para perempuan dandan, di pojokan  😃

Tak lama sampailah kami pada awal dari sepenggal jalan tanpa warna itu. Kami berempat harus naik kereta gantung, -disebut Gondola di Gala Yuzawa-, untuk sampai pada tempat bermain salju itu. Antrian naik Gondola tidak panjang dan tak lama kami berempat telah duduk dengan hati berdegup kencang jelang berangkat.

Empat manusia tropis dalam Gondola itu tak berucap satu patah kata pun pada detik pertama kereta gantung meninggalkan stasiun. Yang pasti semuanya, termasuk saya, terpesona menyaksikan alam tertutup salju. Putih semua, hanya menyisakan sedikit warna gelap yang tak dapat dijangkau salju. Titik-titik air yang menempel di kaca Gondola tidak menjadi halangan untuk mengagumi keindahan pemandangan alam.

Saya tersadarkan dan merasa ditegur untuk melihat dan mensyukuri apa yang telah diberikan. Yang Maha Kuasa menghamparkan kado ulang tahun terindah buat saya, pemandangan alam yang sangat cantik, yang luarbiasanya, ternyata senada dan selaras dengan sendu hati saya yang sedang kehilangan Papa tercinta.

DSC06817
The trip to Gala Yuzawa
DSC06822
Raindrop on the window

Kereta gantung atau Gondola membawa kami semakin tinggi, bergulir di kabel yang terentang di antara tiang-tiang yang berdiri dalam diam. Begitu banyak pohon dengan ranting-rantingnya yang terlihat berat oleh salju yang bertumpuk-tumpuk. Melihat pemandangan sekitar, seakan-akan alam pun menyesuaikan dengan perasaan saya yang sesungguhnya. Tanpa warna, kelabu. Putih hitam dengan seluruh nuansa kelabu diantaranya.

Meskipun tak bisa menghilangkan denyut duka dalam hati, saya tetap terpesona dan mengucap syukur atas kado ulang tahun berupa keindahan alam yang terhampar di depan mata. Alam Semesta yang begitu indah, meski tanpa warna. Keindahan yang berbeda, yang tak biasa, seperti dunia mimpi, dunia dongeng yang magis dengan peri-peri yang bersembunyi di balik pohon-pohonnya.

Seakan menjelaskan dalam situasi nuansa hitam putih pun, selalu ada keindahan. Di balik duka itu ada bahagia dalam wajah yang sama.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sepenggal jalan tanpa warna itu hanya berlangsung kurang dari 10 menit, terasa begitu cepat. Pemandangan alam penuh salju, bukan merupakan pemandangan biasa bagi orang-orang tropis seperti kami. Sejauh mata memandang, semua tertutup salju. Belum tentu setahun sekali kami bisa melihatnya dan merasakannya.

Sesampainya di tempat bermain ski, begitu turun dari Gondola, anak-anak langsung menghambur keluar. Ingin langsung merasakan salju di sepatu bootnya, di tangannya, di wajahnya. Rupanya kado ulang tahun saya belum selesai, alam masih menambahkan berupa hujan salju tipis. Membuat mereka semua tertawa bahagia sambil foto-foto untuk Instagramnya. Butir-butir salju jatuh di beanie berjambul dan jaket musim dingin yang mereka kenakan. Saya tahu meskipun airmata di dalam hati belumlah kering, namun Allah Yang Maha Baik selalu bisa menggembirakan dan membahagiakan saya, apalagi pada hari spesial.

Tidak hanya kami, di sana orang-orang dewasa pun tanpa malu-malu melupakan ‘jaim’-nya mereka dengan bermain dan melempar salju, meluncur dari atas bukit dengan luncuran plastik yang kekecilan untuk ukuran tubuhnya dan membiarkan tubuh mereka terlonjak oleh gundukan salju dalam tawa yang tak habis-habis. Di sana, duka bersembunyi, yang ada dimana-mana hanyalah gembira dan tawa. Juga saya yang sedang belajar tertawa bersama mereka semua.

Seperti juga semasa kecil, saat bermain adalah saat-saat paling menyenangkan. Bermain, makan lalu bermain lagi, adalah yang terjadi pada kami semua di Gala Yuzawa. Kami semua tak ingin kesempatan bermain salju cepat berlalu. Apalagi saat winter, hari sangat pendek, matahari terbitnya terlambat namun matahari juga cepat tenggelam, jam 5 sudah gelap. Dan waktu jugalah yang akhirnya menyadarkan kami semua, setiap awalan memiliki akhir.

Dan kami harus menempuh lagi jalan itu, sepenggal jalan tanpa warna. Kali ini menurun menuju lembah. Dari sebuah posisinya yang tertinggi, kami masih tetap saja terkagum-kagum bisa melihat Stasiun Shinkansen jauh di bawah sana, tempat kereta yang akan membawa kami kembali ke Tokyo.

Bagi saya sendiri, perjalanan hari itu merupakan perjalanan penuh rasa yang saling bertolakbelakang namun berada di hati yang sama dan tak terpisahkan, dengan pengelolaan yang seharusnya seimbang pula. Sebuah pembelajaran yang mengingatkan saya kepada Sang Nabi-nya Kahlil Gibran dalam Suka & Duka

Bahwa keduanya tidak terpisahkan.
Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu sendiri bertamu di meja makanmu,
Ingatlah selalu bahwa yang lain sedang ternyenyak di pembaringanmu.

DSC06818

The Gondola of Gala Yuzawa

DSC06819
The valley
DSC06832
Shinkansen Station is down there

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-34 ini bertema Black & White agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Myanmar – Mereka Yang Bersilang Jalan


7

One of the great things about travel is that you find out how many good, kind people there are – Edith Wharton

Matahari telah tinggi saat saya meninggalkan penginapan di Golden Rock menuju terminal truk dan saya cukup kaget mengetahui ternyata rute truk dari Golden Rock tidak melulu ke Kinpun! Uh, betapa naïve-nya saya! Mana dimana-mana tulisannya meliuk-liuk seperti cacing, saya hanya bisa berdiri pasrah melihat orang lalu lalang. Bisa jadi karena akhir pekan, suasana terminal bisa dibilang padat. Seketika saya melipir mengamati situasi dan Alhamdulillah, mata ini menangkap orang yang kelihatannya merupakan pengatur perjalanan truk. Semoga ia bisa membantu saya.

Saya mendatanginya lalu bertanya, “Kinpun?”

Seperti pria Myanmar lainnya, ia mengenakan longjyi lalu sekilas memperhatikan saya dan menyimpulkan saya turis. Tak banyak kata, ia menunjuk tempat truk yang ke Kinpun dan meminta saya berjalan memutar supaya bisa naik tangga. Untunglah, truk sudah hampir penuh dan saya masih bisa duduk menyempil di pinggir bersebelahan dengan ibu-ibu berbadan besar.

Tak lama, dimulailah perjalanan menuruni gunung. Kali ini terasa lebih mengerikan dibandingkan ketika berangkat, mungkin karena gravitasi sehingga kendaraan terasa lebih cepat, atau bisa juga karena jurang dan tikungan seperti huruf U itu lebih terlihat saat jalan menurun. Saya hanya bisa berdoa semoga rem truk berfungsi baik dan cepat sampai ke Kinpun karena saya lebih sering tergencet oleh ibu-ibu sebelah saat truk berbelok di tikungan…dan saya teringat ayam penyet! 😀

Perjalanan menuju Kinpun lebih cepat daripada ketika berangkat, tapi jangan harap berhenti di terminal truk seperti saat berangkat. Itu masih beberapa ratus meter! Jadi saya harus clingak-clinguk mencari tempat bus parkir. Asli, bus kalau sedang dicari tak pernah nampak hidungnya! Saya jalan lurus saja padahal tak tahu arah. Jika tersesat ya balik lagi! Lagi-lagi saya tersenyum sendiri, siap menerima semua kejutan yang terjadi hari ini.

Rupanya kedua kaki ini mengarahkan tepat menuju terminal bus dan ternyata memang ada bus yang siap berangkat. Dan pastinya lewat Kyaikto. Horeee! Sambil membeli tiket ke Kyaikto, saya mencoba peruntungan tiket bus lanjutan ke Hpa’an. Ternyata petugas tiket bisa mengaturnya. Tambah horeee… Tidak ragu saya langsung naik ke bus yang termasuk kategori bus scania (double deck) yang lumayan bagus.

kinpuntokyaikto-e
Scania Bus (Double Deck) from Kinpun to Kyaikto

Perjalanan dari Kinpun menuju Kyaikto tidak sampai 1 jam. Kenek bus memberitahu saya saat harus turun di Kyaikto! Benar-benar turun di pinggir jalan, -bukan di halte atau terminal-, dan harus menunggu bus yang lewat untuk ke Hpa’an. Mau komplain? Tidak! Ini seru!!!

Di tempat saya diturunkan itu, -katakanlah halte dadakan-, ada seorang anak muda yang melayani penumpang yang diturunkan seperti saya ini. Selain saya, ada 3 orang lainnya yang merupakan orang lokal dan mereka berceloteh dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Tiba-tiba anak muda itu menyodorkan kursi kepada saya untuk duduk. Aduh, saya terharu dengan pelayanannya.

Tetapi pelayanan itu masih harus dibuktikan dengan adanya bus ke Hpa’an, kan? Mata saya tak mau lepas dari si anak muda, satu-satunya orang yang tahu saya sudah bayar transportasi untuk ke Hpa’an. Dan apa yang saya takutkan terjadi juga. Setelah ketiga orang lokal itu mendapat busnya, si anak muda pun ikut kabur naik motornya. What? Lalu saya gimanaaaaa..?

Bahkan saya tak sempat berdiri untuk mengejarnya. Alih-alih ngomel berkepanjangan, secara intuitif saya mencoba sabar dan mengamati situasi. Tiiiing! Saya tersadar beberapa kali mengalami hal serupa ini dalam hidup, sebuah situasi ‘chaos’ lalu diikuti oleh “kunci penjelasan”. Hanya dengan duduk diam mengamati situasi setelah chaos terjadi. Menunggu “sang kunci” datang. Satu, dua, tiga menit berlalu, rasanya lama sekali, seperti menunggu kekasih datang! Dan menit ke lima, kesabaran saya berbuah hasil, si anak muda datang kembali bersama motornya.

Ketika ia sudah memarkir motor, saya langsung mendatanginya dan mengingatkan bahwa saya belum mendapat bus ke Hpa’an. Ia mengangguk memahami dan saya membayangkan dia bicara, don’t worry, the bus will come  😀

Entah berapa lama saya menunggu di bawah pohon di depan sebuah kios, akhirnya dengan tergopoh-gopoh dia mendatangi dan meminta saya bersiap-siap. Saya langsung berdiri menyambar ransel lalu mengejar dia yang secepat kilat sudah berada di tengah jalan! Untung tidak ada lalu lintas sehingga saya bisa langsung menyeberang.

Bus jenis scania itu berhenti di pinggir seberang, pemuda tadi bertransaksi dengan orang yang sepertinya kenek bus. Sambil melambaikan tangan mengucapkan terima kasih, saya naik ke dalam bus, berdiri di depan menghadap para penumpang hanya untuk melihat tidak ada satupun kursi yang kosong! Celaka! Bagaimana ini? Apakah saya harus duduk di bangku ‘baso’, seperti yang sering terjadi di Myanmar?

Kenek yang tadi bertransaksi dengan si pemuda, berbicara tak jelas dalam bahasa Myanmar dan setengah memaksa saya untuk berjalan lebih ke dalam lalu ia membuka lipatan yang ada di bagian luar lengan kursi lorong. Itu dia bangku ‘baso’-nya! Bukan seperti bangku baso yang ada di Indonesia yang terbuat dari plastik dan tidak nyaman, bangku ‘baso’ di bus ini empuk. Jadi sambil memeluk ransel, sekarang saya bisa duduk enak dan nyaman di tengah. Sebagai turis, -apalagi mengenakan topi genit-, saya tahu saya sedang menjadi pusat rasa ingin tahu dari banyak penumpang lain, tapi dengan santainya saya mengabadikan situasi tempat duduk yang menurut saya hanya ada di Myanmar! Hehehe…

Bus berjalan lagi melewati desa demi desa, satu persatu penumpang naik dan mengisi tempat duduk tambahan di depan saya. Lalu setelah beberapa lama, penumpang di belakang saya hendak turun dan seluruh penumpang kursi tengah yang duduk sepanjang lorong harus berdiri memberi jalan. Baiklah, harus bagaimana lagi?

Tapi percayalah, sebagai traveler kita selalu mendapat kebaikan dari orang-orang lokal. Sebagai orang asing, -dianggap sebagai tamu sesuai adat ketimuran-, saya dicarikan tempat duduk yang bukan di kursi tambahan. Meskipun saya sendiri tidak masalah duduk di kursi tambahan, namun sepertinya mereka ingin memberikan yang terbaik. Penumpang yang lebih muda diminta mengalah untuk duduk di kursi tambahan itu. Tidak ada yang protes, semua senang, apalagi saya. Tapi saya ditempatkan di sebelah laki-laki muda.

Saya ragu-ragu untuk mendudukinya mengingat adat dan tradisi yang berlaku, karena di Myanmar biasanya perempuan dan pria yang tidak saling kenal duduk terpisah lorong dan tidak bersebelahan. Tetapi sang pemuda sepertinya tidak keberatan, ia sedikit bergerak memberikan keleluasaan untuk saya. Saya tersenyum padanya sambil mengatakan terima kasih.

Bus bergerak lagi. Di barisan belakang ada seorang isteri yang kelihatannya mabuk. Tak henti-hentinya ia berusaha mengeluarkan angin dari dalam tubuhnya dan sekali-sekali memuntahkan isi perutnya. Baunya ya… seperti biasa, menyebar ke seluruh bus. Mau complain? Duh, rasanya mendadak di hadapan muncul Guru Tak Kasat Mata memberi wejangan tentang pembuktian compassion kepada yang sedang menderita! 😀

Sambil mengisi waktu, saya melihat-lihat kembali foto-foto yang ada di kamera dan senyum-senyum sendiri mengingat setiap peristiwanya. Pemuda di sebelah saya sepertinya mengintip juga lalu membuka pembicaraan yang akhirnya kami ngobrol panjang lebar. Juga ibu-ibu yang ada di seberang lorong. Wah saya punya teman ngobrol banyak. Semuanya ingin tahu, mengapa saya melakukan perjalanan sendiri, sudah kemana saja, soal keluarga, dimana mereka, dan banyak lagi. Wajah mereka semakin cerah dengan mata berbinar ketika mereka tahu saya mengunjungi Myanmar bukan yang pertama. Rasanya bukan mereka saja yang gembira karena saya juga gembira bercerita tentang pengalaman saat kunjungan pertama dan melihat perkembangannya yang baik pada kunjungan kali ini. Siapa sih yang tidak senang mendengar kisah perkembangan yang baik?

Dan bahkan pemuda tidak diketahui namanya itu, juga memberitahu saya untuk mencari tahu lokasi terdekat dengan hostel untuk turun dari bus karena bus tidak akan masuk ke terminal Hpa’an. Ia juga membantu saya mencarinya melalui google maps-nya. Dan 5 menit sebelum berhenti, saya mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang menjadi teman baru selama perjalanan ke Hpa’an dan berjalan mendekat ke pengemudi. Lagi-lagi saya turun di pinggir jalan. Semoga google-maps benar!

Saya berdiri sejenak menunggu bus berlalu dan berpikir, ini kiri atau kanan? Sambil melakukan positioning arah saya melihat sekitarnya dan voilaaa…! Itu dia hostel boutique yang cantik, tempat saya menginap di Hpa’an.

Tak sampai 80meter berjalan, saya memasuki hostel dan disambut oleh perempuan bertubuh kecil yang bicaranya cepat, dan tidak begitu ramah. Ah, rupanya dia yang ditandai oleh beberapa tamu yang memiliki kesan yang sama, bicara cepat, efisien, informatif namun tidak begitu ramah. Bagi saya, dia seorang perempuan yang sedang bekerja untuk hidupnya dengan muka datar, tak perlu basa-basi. Itu pilihannya. Namun jika saya boleh memilih, kelihatannya resepsionis yang berdiri di sebelahnya lebih menyimpan perhatian. Dari sorot matanya, saya tahu dia bisa diandalkan.

*

Di hostel kecil yang cantik ini saya memesan kamar privat yang mungil dan bercitarasa tinggi meskipun jendelanya kecil dan pemandangannya secuil sungai. Semua sudah sempurna, lagi pula hanya sehari di sini dan lebih banyak keluar. Saya membersihkan diri sejenak lalu menatap keluar jendela. Matahari masih terang benderang sehingga punya banyak waktu untuk mengunjungi beberapa tempat wisata Hpa’an.

Saya merebahkan diri sejenak, bersyukur telah sampai di Hpa’an sambil berpikir mau kemana dan mengingat kembali orang-orang yang telah bersilang jalan dalam kehidupan saya hari itu. Tapi merebahkan diri itu tindakan salah besar karena udara sejuk dari AC mendinginkan badan yang membuat saya tertidur lelap… Ampun!