Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini


Pagi belum terlalu tinggi saat rickshaw serupa becak yang saya tumpangi berhenti di batas wilayah yang diperbolehkan dekat Api Perdamaian Abadi. Begitu turun, terhampar di depan mata trotoar panjang seakan membelah udara panas wilayah Terai. Terbayang gerah dipanggang oleh udara, tetapi sungguh dapat dimengerti, inilah wilayah yang begitu berharga bagi dunia, -tahun 1997 UNESCO menetapkan sebagai World Heritage Site– dan tentu saja saya bersedia berjalan kaki untuk mencapainya walau panas sekalipun.

Lima ratus meter berjalan kaki dalam udara panas melewati Peace Garden, akhirnya saya sampai di gerbang utama Taman Lumbini Yang Sakral, -pembuka jalan menuju Kuil Mayadevi-, lokasi yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Sang Buddha Gautama. Adanya CCTV dan metal detector yang harus dilalui oleh semua pengunjung seakan memastikan bahwa Lumbini memang bukan tempat wisata biasa. Bahkan batas suci tempat ini sudah dimulai sejak pintu gerbang dan sungguh saya tak keberatan berjalan tanpa alas kaki seperti pengunjung lainnya dan meninggalkan sepatu di sebuah rak yang tersedia di sebelah kanan gerbang.

Selepas metal detector itu, saya pelan melanjutkan langkah dalam diam memasuki  Taman Lumbini yang luasnya tak kurang dari 3 hektar itu. Hati saya menghangat, karena akhirnya bisa menjejak di tempat sakral ini. Saya mengingat seluruh perjalanan ke negara-negara yang mayoritas penduduknya mengikuti ajaran Buddha dan kini saya berada di tempat kelahiran Sang Buddha itu sendiri.

Bagi saya yang non Buddhist, menjejak di tempat kelahiran Sang Buddha terasa begitu monumental, begitu personal. Bukan pada sisi kebaikan-kebaikan hidup yang senantiasa digaungkan, tetapi lebih pada kenangan indah semasa kecil yang mewujud, dari sebuah keingintahuan atas imajinasi  cerita dari ayah yang berkunjung ke negara-negara yang penduduknya kebanyakan beragama Buddha, melihat Buddha dalam botol souvenir, dalam foto kenang-kenangan, dalam stupa Borobudur dan relief lainnya sejak masa kanak-kanak. Entah kenapa saya kecil senantiasa merasakan wajah damai Buddha dan rasa damai itu tetap terbawa dalam perjalanan hidup. Dan kini  saya menjejak di tempat lahirnya bersama semua kenangan semasa kecil yang masih murni, terlepas dari semua topeng diri…

Taman Suci Lumbini ini tertata apik, hamparan luas rerumputan hijau dengan pagar tanaman berwarna kuning dengan satu atau dua pohon rindang di tengahnya berada di kanan kiri jalan setapak menuju Kuil Mayadevi.

Mayadevi Temple

Mayadevi Temple

Dan di hadapan mata berdiri Kuil Mayadevi itu sendiri, sebuah bangunan sederhana nyaris tanpa hiasan, tak mencerminkan kemegahan. Bangunan yang hanya berupa kotak berjendela di bagian atas ini merupakan bangunan yang relatif baru dibandingkan dengan tumpukan melingkar dari batubata yang menyerupai stupa yang ada di sekitarnya. Siapa yang bisa menduga bangunan sederhana ini melindungi sesuatu yang sakral di dalamnya, yang dipercaya dan telah dibuktikan secara ilmiah merupakan tempat kelahiran Sang Buddha lebih dari 2600 tahun yang lalu?

Melangkah pelan dengan kaki telanjang menikmati atmosfer luar biasa, saya merasakan aura yang tak terjelaskan menyelimuti tempat ini, seperti rasa kasih dan damai yang sangat besar. Dan seakan menjelaskan apa yang saya rasakan, sebuah tiang lampu penerang menggantungkan kata-kata Sang Buddha:

Hatred never ceases by hatred, Hatred ceases through love. This is an unalterable law – Buddha

Welas asih! Kecintaan pada semua makhluk, itulah yang menyelimuti tempat ini.

Langkah kaki membawa saya semakin dekat dengan Kuil Mayadevi. Melihat kamera yang saya pegang dan seakan memastikan gambar-gambar larangan yang ada di dekatnya, seorang petugas di depan pintu memberitahukan bahwa tidak boleh memotret di dalam kuil. Saya tidak mengeluh, justru bersyukur karena lebih banyak pengelola tempat suci lain yang memilih untuk melarang penganut agama lain untuk masuk. Disini saya bebas masuk dan tentu saja itu sebuah kemewahan.

Satu langkah melewati pintu membuat saya berdiri dalam diam. Bagi yang mengharapkan sesuatu yang megah pasti kecewa karena kenyataannya di depan mata terhampar tempat ekskavasi arkeologis, sisa-sisa tapak bangunan dalam galian yang geometris berbentuk persegi-persegi dengan lantai kayu selebar 1.5 meter yang mengelilingi pinggiran tiga dinding Kuil Mayadewi itu. Praktis tidak ada apa-apa, tidak ada Buddha, tidak ada kemegahan. Yang terlihat hanya batu bata dan tanah.

Dalam bangunan ini sepertinya hanya bisa dilihat dengan hati… dengan rasa… dengan Cinta. Sesuatu yang sangat intangible.

Berjalan perlahan di atas lantai kayu itu, menikmati setiap langkah, mencoba merekam sebaik-baiknya semua rasa yang ada.

Jika bisa saya ingin menempelkan telinga pada bata-bata yang bicara, atau bahkan merebah raga di lubang tanah galian yang terbuka, mencoba mendengar cerita mereka tentang suka duka menjadi mata dan telinga pada masa dunia menerima kelahiran Sang Buddha. Sudah dua jelang tiga milenia mereka terdiam dalam bahagia, menyembunyikan makna bagi yang tak punya rasa. Dan hanya ada sebuah tanya pada mereka, masih samakah doa manusia mengharap damai dan sejahtera bagi dunia?

Tak jelas apa saya harus menangis atau bahagia, karena bisa mengayun langkah di kuil milik dunia hingga bisa menatap dengan mata kepala sebuah tempat pasti kelahiran Sang Buddha, dia yang mampu mengguncang seisi dunia. Sungguh saya tak percaya. Namun airmata di pelupuk mata membuat percaya semua nyata adanya. Tepat di hadapan saya, di titik itu, disanalah tempatnya.

Duhai dinding bata dan tanah-tanah yang terbuka, betapa bahagia menjadi saksi utama sebuah peristiwa milik dunia.

Benar-benar sebuah tempat yang luar biasa, saya jadi teringat akan sebuah quote:

A mystery is something that can’t be explained but can only be experienced

Beruntunglah saya di pintu masuk telah melepas keterikatan dengan kamera sehingga saya benar-benar bisa menikmati setiap momen rasa yang ada.

Jelang akhir perjalanan di atas lantai kayu saya sampai pada lokasi pasti Sang Buddha dilahirkan, yang ditandai oleh sebuah batu yang dikenal sebagai Marker Stone. Penanda dari Batu ini diberi penerangan dan dilindungi kaca.

Bersama kenangan masa kecil yang mewujud, saya memandang Marker Stone dengan berbagai rasa. Sungguh saya bisa memahami para Biksu dan pengunjung Buddhist yang langsung bersimpuh di dekat Marker Stone karena apa yang saya rasa mungkin tak beda jauh dengan mereka. Ada keagungan, kemuliaan dan kesederhanaan yang begitu terasa yang mampu menggetarkan kekuatan kaki.

Dimana-mana sama, di semua tempat suci, tempat-tempat kesakralan pernah terjadi, mampu membuyarkan isi hati, menggetarkan kaki. Cerita-cerita yang sama, dari ajaran maupun tradisi, ketika kemuliaan hadir, manusia tak lagi mampu berdiri. Dan buat saya hingga kini, tiap  dahi bersentuh bumi

Melengkapi Marker Stone, di dinding bagian atas terdapat Nativity Sculpture, relief abad 11 dari batu yang dipasang oleh Raja Malla, yang menggambarkan kelahiran Sang Buddha dengan tangan kanan Permaisuri Mayadevi, -ibu dari Siddharta Gautama-, memegang erat cabang pohon Shorea (sejenis Meranti).

Inside Mayadevi temple – Nativity Sculpture & Birth Marker Stone Picture creditted to 3(dot)bp(dot)blogspot(dot)

Picture creditted to 3(dot)bp(dot)blogspot(dot)com

Rasanya tak rela harus cepat meninggalkan Marker Stone dan Nativity Sculpture, tetapi tak mungkin menguasai tempat itu karena ada rombongan di belakang yang ingin menyaksikan sambil melantunkan mantra-mantra suci. Sudah sewajarnya saya memberi tempat kepada yang lebih berhak. Sambil melangkah keluar saya menyentuh bata terdekat. Terima kasih atas cerita-cerita tak terucapkan itu.

Di depan  pintu keluar terhampar reruntuhan bangunan dari batu bata, ciri khas kuil berabad lalu. Ada yang melingkar membentuk stupa yang kini tinggal dasarnya saja. Namun tak dapat dipungkiri Lumbini memang menjadi tempat ziarah sejak lama. Bahkan di tahun  2013 di bawah galian dalam Kuil Mayadevi, berdasarkan penelitian ditemukan jejak keberadaan kuil dari kayu sebagai tempat ziarah yang lebih tua dari kelahiran Sang Buddha sendiri.

Melewati ratusan kain-kain bendera Buddha dan bendera doa berbagai ukuran yang terikat pada tali, saya melipir ke sisi Barat untuk melihat Pillar of Ashoka, salah satu dari sekian banyak pilar yang didirikan oleh Raja Ashoka di abad 2 SM di sekeliling India hingga Pakistan dan Afghanistan sekarang, namun kini hanya tinggal belasan. Pilar Ashoka yang ada di Lumbini, -yang serial TVnya saat ini bisa disaksikan di Indonesia-, didirikan tahun 249 SM untuk menandakan tempat kelahiran Sang Buddha, sesuai inskripsi yang tertulis.

King Piyadasi (Asoka), the beloved of the Gods, in the twentieth year of his reign, himself made a royal visit. Sakyamuni Buddha was born here, therefore the birth spot marker stone was worshipped and a stone pillar was erected. The lord having been born here, the tax of the Lumbini village was reduced to the eight part (only)

Saya melihat Pilar Ashoka yang ada di depan mata dan membayangkan patung kuda yang seharusnya ada di puncak pilar tetapi kini telah hancur  terkena petir. Dua millenia lebih pilar ini bertahan.

Pillar of Ashoka

Pillar of Ashoka

Kemudian kaki membawa saya menuju kolam suci tak jauh dari Kuil Mayadevi yang disebut Puskarni, yang merupakan tempat Permaisuri Maya Devi melakukan upacara suci mandi sebelum proses kelahiran dan juga tempat bayi Siddharta Gautama melakukan upacara suci mandi pertama kalinya.

Air! Tirta! Unsur untuk memurnikan, membersihkan, untuk kembali suci di ajaran dan tradisi manapun

Puskarni, The Holy Pond

Puskarni, The Holy Pond

Tak jauh dari Puskarni ada rombongan yang sedang melantunkan doa dan membaca sutra di tengah ketenangan suasana taman yang membuat tempat ini begitu syahdu. Air dari kolam suci Puskarni terasa mendinginkan udara. Di tempat lain seorang Bhiksu sedang membaca Sutra dengan penuh kedamaian di bawah kerindangan pohon Boddhi. Bahkan kera-kera juga tak ingin kehilangan kesempatan menikmati ketenangan dan kedamaian di atas reruntuhan kuil.

Hanya berjarak selemparan batu dari kolam Puskarni, saya rehat sejenak sambil duduk di bawah pohon Boddhi yang rindang. Dari pohon Boddhi ini terhubung ke beberapa tempat dengan tali-tali yang penuh dengan ikatan berbagai bendera doa dan bendera Buddha. Seorang Bhiksu tampak memimpin upacara doa di bawah pohon dan saya yang duduk tak jauh darinya, juga menyaksikan prosesi itu.

Berada di bawah pohon Boddhi yang dianggap suci di tempat kelahiran Buddha, sekali lagi saya teringat teman-teman Buddhist yang saya kenal yang ada di Indonesia dan di negara-negara yang pernah saya kunjungi. Saya menelusuri ruang-ruang di hati yang berisikan banyak nama, terutama yang Buddhist, agar mereka bisa berkesempatan ke tempat ini dalam hidupnya, juga nama-nama yang selalu dekat di hati, dimana pun mereka berada agar selalu penuh kedamaian seperti situasi damai yang terasa di taman ini.

Rasanya sesak dan haru mendapati saya bisa menjejak di tempat ini, di bawah pohon Boddhi di Lumbini, di tempat kelahiran Sang Buddha. Seperti yang saya ketahui dari Wiki, dikatakan dalam Parinibbana Sutta, Sang Buddha sendiri mengatakan untuk mengunjungi Lumbini, sebagai salah satu dari empat tempat yang perlu dikunjungi oleh setiap Buddhist dalam masa hidupnya (tempat kelahirannya di Lumbini, tempat pencerahannya di Bodh Gaya, tempat pertama kali berkhotbah di Sarnath dan tempat mangkatnya di Kushinagar).

Waktu beranjak siang, terpikir entah kapan saya bisa kembali ke sini lagi. Melihat kondisi setempat saat ini yang menurut saya tak sebanding dengan sejarah yang sedemikian bermaknanya bagi dunia, tak mungkin saya berlalu begitu saja seperti tak tahu terima kasih pada apa yang telah banyak diberikan. Setelah meletakkan sedikit dana di tempatnya, saya beranjak melangkah tetapi saat itulah Biksu berwajah damai itu sambil tersenyum memberikan saya sebuah syal putih. Dalam sekejap saya tak tahu apa yang harus dilakukan. Seorang kawan memberi tanda pada saya untuk menerima. Sambil menangkupkan tangan di depan dada, saya berbicara lirih Dhan’yabad (terima kasih). Sang Bhiksu tak putus senyumnya melihat syal yang ia berikan melingkar pada leher saya.

The White Khata I got

The White Khata I got

Khata! Saya mendapat sebuah khata berwarna putih dari seorang Bhiksu di bawah pohon Boddhi di Lumbini!

Sekali lagi, seperti juga di kuil utama Changu Narayan ketika Hariboddhini Ekadashi yang mendapat kalungan bunga, di tempat ini, di bawah pohon Boddhi di tempat lahirnya Sang Buddha, saya mendapat khata, syal berwarna putih dari seorang Bhiksu. Keajaiban ini terjadi lagi, saya luar biasa terharu hingga tak mampu berkata-kata, bersyukur atas karunia yang tak habis-habis sambil berbisik, semoga semua makhluk berbahagia…

Iklan

21 pemikiran pada “Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini

  1. Memang semua sesuatu yang dimulai dengan niat yang suci akan selalu dapat hadiah yang sangat tak terduga, tapi hadiahnya juga sangat memuaskan. Beruntungnya dirimu Mbak :hehe, ceritanya sangat personal dan menyentuh dan mungkin getaran jiwa yang Mbak rasakan di tempat itu entah bagaimana didengar oleh angin dan sampai pada Dia yang dituju, sehingga Ia memberi kenangan sebagai ucapan terima kasih karena sudah bisa menyatu dalam level yang jauh lebih dalam ketimbang sebagian besar orang yang ada di muka bumi :)).

    Disukai oleh 1 orang

  2. Mbak…aku ikutan merinding baca kisah ini.. melihat wajah Buddha saja selalu membuatku takjub dan damai..apalagi menjejakkan kaki di tempat kelahiran Beliau ya…
    Dan perjalanan mbak selalu ajaib yaa… bener bange ya ketika kuta membuka hati atas segala hal yang akan terjadi dalam perjalanan kita, keajaiban itu akan datang dengan sendirinya…

    Disukai oleh 1 orang

    • Iya Na, aku bersyukur banget banyak mengalami hal-hal yang tidak semua orang mengalaminya dan makin memperkaya makna perjalananku. Memang benar Na kalau kita membuka hati pada kebaikan yang ada di sekitar kita, pastilah akan kembali lagi ke diri kita.
      Anyway, terima kasih banyak ya Na…

      Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s