Nepal – Jalan-Jalan di Pokhara, The Lakeside City


Sepertinya belum rela melepas pemandangan indah di Raniban Retreat sejak pagi, tetapi Ganga, –tour guide ‘dadakan’ yang juga manajer hotel merangkap kawan baru-, setengah memaksa saya untuk melakukan trekking sangat singkat ke World Peace Pagoda lalu berkeliling kota Pokhara sambil mengunjungi tempat-tempat menarik. Baru kali ini rasanya saya setengah hati pergi menjelajah sebuah kota yang belum dikenal karena, lagi-lagi jelas alasannya, saya tak ingin meninggalkan pemandangan gunung Macchapuchhare atau sering dikenal dengan Fish Tail dalam bahasa Nepal dan pemandangan puncak-puncak Annapurna yang mempesona. Ganga tertawa lebar mengetahui alasan saya, dia katakan bahwa gunung-gunung itu masih berada di tempatnya semula setelah kita kembali. Saya setengah mendelik kepadanya 🙂 Tentu saja dia bisa bilang begitu karena dia sudah bertahun-tahun tinggal di tempat indah ini, tetapi tidak bagi saya yang baru sehari semalam dibuat terpukau. Namun bagaimanapun Ganga telah berupaya banyak, mengatur ini dan itu, lagipula mau tak mau saya harus mulai melepas keterikatan dengan pemandangan mempesona puncak-puncak gunung berselimut salju itu.

Annapurna Range with Mt. Macchapuchhre (Fish Tail) (center)

Annapurna Range with Mt. Macchapuchhre (Fish Tail) (center)

Shanti Stupa (World Peace Pagoda)

Shanti Stupa –yang artinya Perdamaian dalam bahasa Sanskrit- berada di puncak bukit Ananda, 1100mdpl di wilayah Kaski yang menjadi bagian dari kota Pokhara. Karena lokasinya yang lebih rendah dari Raniban Hill tempat hotel Raniban Retreat berada, maka saya menyanggupi ajakan Ganga untuk melakukan trekking sangat singkat yang kurang dari 1 jam ke Shanti Stupa. Karena katanya kalau di Nepal belum melakukan trekking, namanya bukan ke Nepal! Saya juga bersedia trekking singkat, bukan trekking yang serius karena saya hanya membawa satu-satunya sepatu yang kini dipakai, sepasang flat shoes yang ditertawakan oleh si tour-guide ‘dadakan’ itu karena katanya sungguh tidak tepat untuk trekking menembus alam. Ya iyalaaah….

Dan tentu saja yang namanya trekking itu jarang sekali hanya jalan datar saja. Setelah jalan menurun yang nyaman menembus hutan dengan melompati satu dua pohon yang tumbang, saya mulai menapaki jalan mendaki yang cukup membuat keringat keluar apalagi saat itu harus memutar lebih jauh karena longsor di beberapa tempat. Saya benar-benar mengangkat topi untuk stamina para trekkers dan pendaki gunung 😀

Ketika akhirnya bisa menjejak di area Shanti Stupa, saya dibuat kagum dengan ukurannya yang sangat besar. Tingginya saja mencapai 35 meter. Monumen dunia yang memiliki relics Buddha didasarnya namun memiliki latar belakang penuh drama sejak pendirian di tahun 1973 ini, akhirnya diresmikan di tahun 1992 dan kini menjadi salah satu spot turis terkenal di Pokhara, apalagi berlatar pegunungan Himalaya yang puncak-puncaknya berselimut salju. Di keempat arah mata angin, stupa dua tingkat ini berhiaskan empat patung Buddha yang didonasikan dari Jepang, Sri Lanka, Thailand dan Nepal yang menggambarkan periode-periode penting dalam kehidupan Buddha, sejak kelahiran, mendapatkan pencerahan, pengajaran pertama dan kepergiannya ke Nirwana. Berada di sini yang hening penuh damai, saya teringat ketika pagi tadi Shanti Stupa diselimuti kabut yang tentu saja sangat luar biasa bila mengalaminya sendiri di tempat ini. Pasti amazing. Sayang sekali dari tempat saya berdiri tak nampak pemandangan pegunungan bersalju itu, lagi-lagi tampaknya mereka sedang sembunyi di balik awan.

Shanti Stupa - World Peace Pagoda, Pokhara

Shanti Stupa – World Peace Pagoda, Pokhara

Buddha Images at Shanti Stupa, Pokhara

Buddha Images at Shanti Stupa, Pokhara – Birth – Enlightenment – First Sermon – Parinirvana

Gua Gupteshwor Mahadev

Kemudian dengan menggunakan taxi hotel yang telah menunggu di halaman parkir Shanti Stupa, Ganga dan saya melanjutkan perjalanan ke gua Gupteshwor Mahadev yang konon merupakan gua terpanjang di Nepal. Tak lama kemudian taksi berhenti di tempat seperti pasar. Sebelum saya sempat bertanya, Ganga telah menjelaskan bahwa jalan menuju Gua Gupteshwor Mahadev memang melalui kios-kios.

Setelah membeli tiket seharga 100NPR, saya melintas gerbang masuk. Sesuai namanya Gua Gupteshwor Mahadev -yang berarti Dewa yang bersembunyi-, letaknya berada di bawah permukaan tanah, sehingga kami perlu menuruni tangga semen yang melingkar berhias berbagai pahatan dewa-dewi sepanjang dinding yang masih dalam tahap penyelesaian. Udara lembab langsung menerpa hidung saat memasuki mulut gua. Dan saya harus melangkah hati-hati karena selain penerangan yang seadanya, saya bisa terpeleset karena licin.

Di tempat yang agak datar dan terbuka, selain terlihat cukup banyak stalagmit yang dipercaya sebagai Lingga Shiva, ada sebuah tempat puja yang mendapat banyak kunjungan dari orang yang hendak menghaturkan sembah dan puja-puji. Ganga memberi tanda bahwa yang berlama-lama di tempat ini hanya yang mau beribadah sehingga saya kembali mengikutinya untuk melanjutkan perjalanan.

Di ujung sebuah lorong sempit yang mengharuskan jalan bergantian, kami memberi waktu kepada seorang perempuan tua bersari merah berjalan tertatih-tatih sambil mendaraskan puji-pujian kepada Dewa. Saya tersadarkan, tempat saya berdiri dan berjalan dipercaya sebagai tempat suci, tak heran bila banyak orang datang kesini untuk beribadah. Bukan seperti saya, yang berkunjung untuk melihat-lihat.

Kami masih terus berjalan dengan hati-hati hingga beberapa menit kemudian Ganga tiba-tiba berhenti. Berada tepat di belakangnya, saya langsung memahami mengapa dia berhenti. Pasti dia ingin menunjukkan udara pengap gua yang tiba-tiba berubah menjadi angin sejuk sehingga tubuh terasa segar dan nyaman. Pikiran saya langsung bekerja, pasti ada lubang udara di sekitar sini. Ketika saya bertanya padanya, ia tidak menjawab melainkan mengajak terus berjalan menuruni tangga hingga ke sebuah titik yang letaknya dekat sekali di atas aliran air.

Water From Davis Fall to Gupteshwor Mahadev Cave

Water From Davis Fall to Gupteshwor Mahadev Cave

Saya terpana, ada aliran air di bawah permukaan tanah. Dan berjarak sekitar 30 meter dari tempat saya berdiri terlihat celah karang yang memperlihatkan terangnya situasi di luar disertai suara gemuruh air. Sambil menunjuk celah karang tersebut dan mencoba mengalahkan suara gemuruh, Ganga mengatakan bahwa air dan suara itu berasal dari Davis Falls. Saya hanya mengangguk membayangkan air terjun di luar sana. Tak hanya itu, Ganga pun menunjuk air yang ada di sekitar kami. Tidak seperti umumnya air yang membentuk sebuah aliran. Di sekitar kami hanya ada permukaan air tanpa arah aliran, seperti hanya berputar-putar. Ganga tersenyum lebar menunjukkan ‘keajaiban’ itu walaupun secara ilmiah saya tahu pasti ada banyak celah sempit di antara batu-batu karang di bawah tempat saya berdiri yang mengalirkan air. Alam bekerja dengan sangat teratur kan?

Davis Falls (Devi’s Falls)

Bermodal tiket masuk seharga 20NPR, setelah dari gua Gupteshwor Mahadev saya masih membayangkan air terjun yang akan saya lihat itu seperti air terjun di Tawangmangu atau Sipiso-piso yang tinggi sehingga ketika sampai di Davis Falls saya hanya bisa tersenyum menyadari imajinasi di benak hancur berkeping-keping. Tetapi bagaimanapun tak pernah ada kunjungan yang membuat saya menyesal.

Davis Falls punya cerita sedih di balik namanya. Orang Nepal sendiri menyebutnya Patale Chhango, yang artinya air terjun di bawah tanah. Tetapi tempat ini lebih dikenal dengan Davis Falls, karena sebenarnya di tahun 1961 seorang turis perempuan Swiss bernama Davis tenggelam di tempat aliran air terjun yang memiliki beberaa jeram ini dan jasadnya ditemukan di sungai Phusre 3 hari kemudian. Kejadian itulah membuat air terjun yang berjeram ini dinamakan Davis Falls.

Davis Falls, Pokhara

Davis Falls, Pokhara

Entah karena cara pengucapannya atau hal lain, penamaan air terjun ini berkembang menjadi Devi’s Falls, air terjun Dewi, yang memang setelah jatuh airnya menghilang ke bawah tanah setelah melalui celah karang yang dapat dilihat dari gua Gupteshwor Mahadev, yang memang letaknya hanya berseberangan jalan dari Davis Falls. Mau disebut Davis Falls atau Devi’s Falls atau aslinya Patale Chhango, bukankah masing-masing memiliki cerita sendiri-sendiri?

Saat saya berkunjung, bunyi air di jeramnya cukup keras, tak heran jika saat musim hujan dengan volume air yang melimpah, konon bunyi air di jeramnya sangat memekakkan telinga.

Davis Falls, Pokhara

Davis Falls, Pokhara

Danau Phewa / Fewa

Tentu saja Ganga mengajak saya naik perahu di Danau Phewa, danau kedua terbesar di Nepal setelah Danau Rara yang berada di Barat Laut Nepal. Berperahu di Danau Phewa ini memang merupakan kegiatan yang direkomendasikan untuk turis karena memang pemandangannya indah dan sangat menentramkan. Suasananya tenang dengan sekali-sekali dayung meriakkan air permukaan danau. Dengan hanya 50NPR saya bisa menyeberang ke pulau di tengah danau dengan menggunakan doonga atau perahu yang dicat dengan warna menyolok, sangat kontras dengan hijaunya air danau dan langit biru serta awan putih yang berarak. Sayang sekali pegunungan berpuncak salju itu lagi-lagi sedang bersembunyi. Saya membayangkan, air danau yang tenang itu tentu bisa menjadi cermin pemandangan yang luar biasa.

The Doongas, Colorful boats at Phewa Lake

The Doongas, Colorful boats at Phewa Lake

Dari perahu yang bergerak pelan, Ganga menunjuk hotel kami dan juga Shanti Stupa yang berada jauh di atas puncak bukit. Saya terbelalak juga, membayangkan orang-orang yang melakukan trekking kesitu. Lumayan juga tingginya…

Phewa Lake, Pokhara - Can you find Shanti Stupa on top of the hill?

Phewa Lake, Pokhara – Can you find Shanti Stupa on top of the hill?

Varahi Temple

Kuil bertingkat dua yang didedikasikan untuk Vishnu itu berada di sebuah pulau kecil di tengah Danau Phewa dan menjadi tujuan kami berperahu. Kuil yang didirikan pada abad-18 ini menjadi kuil utama Pokhara. Ketika kami sampai, terlihat banyak orang mengunjungi kuil ini untuk beribadah sehingga saya menunggu beberapa saat dari pinggir ditemani oleh burung-burung merpati yang jinak. Saya jadi teringat di seluruh Durbar Square yang ada di Kathmandu yang selalu dipenuhi dengan burung merpati. Selain burung merpati, Ganga juga mengajak saya melihat ke pinggir pulau tempat ikan-ikan memperebutkan makanan yang diberikan pengunjung. Saya menghargai usahanya, tetapi –mungkin karena panggilan perut-, melihat ikan-ikan itu saya justru teringat saat makan di saung dengan mulut-mulut ikan mas dan gurame yang menganga dan menutup sehingga berbunyi plop-plop-plop… (dan di benak langsung terbayang gurame bakar madu…)

Varahi Temple, Phewa Lake, Pokhara

Varahi Temple, Phewa Lake, Pokhara

*

Jelang sore, setelah menikmati makan siang Dal Bhat di sebuah restoran tepi sungai, saya meninggalkan Pokhara kembali ke hotel di wilayah hutan Raniban. Kembali saya kehabisan nafas menapaki 500 anak tangga sambil berharap pegunungan berpuncak salju itu tak malu lagi memperlihatkan pesonanya…

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal

Iklan

13 pemikiran pada “Nepal – Jalan-Jalan di Pokhara, The Lakeside City

  1. Ngomong-ngomong di Kuil Varahi itu apa ada objek pemujaan atau apa pun yang rupanya babi hutan, Mbak? Penasaran saja, hehe. Yang air terjun dan gua itu jadi air terjunnya masuk ke dalam gua? Atau air dari dalam gua yang berubah jadi air terjun? Habisnya air terjunnya itu punya jeram yang deras banget. Nepal memang kaya banget dengan Hindu dan Buddha dalam versinya yang benar-benar otentik dari Asia Selatan. Foto terbaik menurut saya itu perahu-perahu di Danau Phewa–meskipun airnya tampak hijau tapi pas banget berpadu dengan warna-warna perahu.

    Disukai oleh 1 orang

    • Di Kuil Varahi saya hanya di luaran saja, as usual saya sungkan mengganggu mereka soalnya hehe. Memang demikian karena kuil itu didedikasikan untuk Dewa Wisnu yang berinkarnasi sebagai Boar ya.. Gara pasti lebih tau-lah. Masalahnya saya ga sempat perhatikan ada image babi hutan di dekatnya, bisa jadi karena memang ga terperhatikan oleh saya.
      Air-nya dari air terjun itu masuk ke gua via celah yang kliatan di foto, lalu ilang bebatuan di bawah kaki saya (ga kliatan kemana). Terima kasih masukannya ya Gara, kayaknya benar soalnya sepertinya saat-saat itu mood motonya agak turun. Kangen Angkor kali Gar… hahahaha…

      Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s