Nepal – Sampai Kita Berjumpa Lagi, Himalaya…


Dalam postingan sebelumnya, ada peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi, tetapi bagaimanapun tetap terjadi. Banyak barang basah terkena air dalam perjalanan menuju bandara saat mau pulang ke tanah air. Untuk lengkapnya bisa dibaca di post ini cerita tentang Nagarkot

Dengan celana yang setengah basah dan ‘rempong’ dengan tas-tas dan barang yang juga basah, saya tergopoh-gopoh melangkah memasuki ruangan keberangkatan namun dicegat oleh seorang petugas karena salah terminal. Setengah jengkel dengan kebodohan diri sendiri, saya keluar lagi menyusuri pinggir bangunan untuk menuju ruang keberangkatan untuk Air Asia. Sebelum masuk saya masih sempat menoleh ke tempat drop-off. Mobilnya sudah tidak ada disana, tetapi rasa bersalah saya tak mau hilang. Semoga Tuhan memberi banyak keberkahan untuknya.

Setelah boarding pass dipegang di tangan, saya menarik nafas penuh kelegaan. Masih ada waktu untuk membereskan segala kekacauan yang sebenarnya tak perlu terjadi ini. Saya memutar pandangan dan menemukan sebuah bangku kosong yang sempurna untuk repacking.

I will be back...

I will be back…

Saya mencari handuk kecil yang selalu saya simpan di ransel dan tentu saja beberapa tas plastik. Kebiasaan menyisipkan beberapa tas plastik untuk sesuatu yang penting kini terlihat manfaatnya. Saya mengeringkan sebisa mungkin lalu memasukkan barang-barang yang terasa masih lembab ke dalam beberapa kantong plastik. Kemudian saya keluarkan daypack yang kering dari ransel untuk menggantikan tas tangan yang basah kuyup di bagian bawahnya.

Selagi sibuk dengan mengeringkan dan memindahkan barang, dua turis remaja perempuan berwajah Oriental mengambil tempat di sebelah saya untuk menata ulang kopernya. Namun lebih-lebih dari saya, mereka menghamparkan hampir semua barangnya lalu dipaksakan masuk ke dalam kopernya. Jika saja mereka mengerjakan dengan diam, tentu saja saya tak keberatan. Tetapi mereka melakukannya seakan di rumah sendiri dengan suara keras sambil tertawa-tawa. Dengan mood yang masih tak tentu, situasi saat itu sungguh menyebalkan. Tetapi bagaimana pun ruang saya duduk merupakan ruang publik, lebih baik saya memperpanjang sabar.

Saya masih mengeringkan barang-barang basah ketika melihat petugas dan anjing terlatihnya mendekati saya. Mereka mendekat secara khusus sampai pada jarak yang saya kira terlalu dekat ke barang-barang yang saya letakkan di sekitar. Tak perlu berpikir dua kali, -ketika saya melihat si anjing terlatih itu mengendus dari jarak tertentu-, saya langsung mendekatkan barang-barang yang agak tersebar. Damn… Darah mendesir kencang, pikiran saya langsung bekerja cepat, saat itu pastilah saya ditandai sebagai seseorang yang mungkin sedang melakukan pekerjaan haram, mungkin seperti kurir narkotik yang memindahtangankan dengan kedua perempuan muda yang ada di sebelah saya.

Bukankah anjing terlatih itu diarahkan untuk mendatangi dan mengendus di dekat barang-barang saya? Bukankah ada dua perempuan muda di sebelah yang juga sedang membongkar tasnya dengan menghamparkan barangnya dekat dengan barang-barang saya? Bukankah barang haram itu bisa dipindahtangankan dalam situasi seperti ini, dengan skenario seakan-akan sedang merapikan barang dalam koper? Bukankah saya dalam situasi yang sangat memungkinkan dituduh sebagai kurir barang haram? Bukankah bisa saja barang haram itu diletakkan di antara barang-barang saya dan barang orang lain yang terserak dan bisa dijadikan bukti kepemilikan? Saya bergidik terhadap kemungkinan itu… Hiiii…

Ada sesuatu yang berjalan tidak pada tempatnya… ada yang tak seimbang, ada yang tak sesuai…

Saat menunggu keberangkatan, sepenggal rasa bersalah masih bertengger di hati, ditambah dengan sejumput ingatan ketika si anjing mendengus dekat barang-barang saya. Rasanya terbeban. Saya mengingat seluruh kenangan yang menyenangkan sejak perjalanan dimulai agar beban bisa terangkat sedikit. Ketika melihat Everest dan barisan Himalaya, ketika bisa berlama-lama bertatapan dengan Dewi Kumari the Living Goddess di Kathmandu Durbar Square, ketika mendapat berkat Hariboddhi Ekadashi di Kuil Changu Narayan, saat mendapat sunrise luarbiasa di Pokhara, saat mendapat Khata dari Bhiksu di bawah pohon Boddhi di Lumbini, pagi yang indah di Nagarkot dan begitu banyak kemudahan di semua tempat yang saya datangi… dan di ujung akhir perjalanan semua berbalik arah. Kesalahan apa yang telah saya lakukan?

Ketika boarding, orang yang duduk di belakang kursi saya memasang dan menggunakan speaker dari music playernya, seakan di rumahnya sendiri dan seakan semua senang dengan lagunya. Saya tahu telah berada di ambang batas sabar sehingga saya sampaikan keluhan kepada pramugari yang bertugas karena saya telah membayar mahal untuk tempat duduk yang berada di quiet-zone yang seharusnya senyap agar bisa beristirahat. Bahkan kejengkelan dan ketidaksabaran saya masih bisa merangkak keluar.

Tribhuvan International Airport, Kathmandu

Tribhuvan International Airport, Kathmandu

Sebelum semuanya menjadi tak terkendali, lebih baik melakukan refleksi ke dalam, menenangkan diri, memohon bantuan kepadaNya.

Ketika pesawat bergerak perlahan untuk meninggalkan bumi Nepal, saya menoleh keluar jendela, ke langit yang biru, ke pegunungan yang berjejer. Dengan menempelkan tangan pada jendela, selarik bisikan berupa ucapan terima kasih keluar dari bibir. Dan seketika pula permintaan maaf mengalir keluar atas apapun kesalahan saya selama di bumi Nepal, membuat pandangan buram karena airmata menggenangi pelupuk mata…

Saya teringat kembali kepada dia, pengemudi yang pendiam dan selalu tersenyum terhadap apapun yang saya lakukan. Saya diserang ingatan betapa buruk perlakuan saya terhadapnya. Menganggapnya tidak mengerti, mengabaikan harkat kemanusiaannya bahwa setiap orang ingin dihargai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia diam, tetapi bukankah saat itu ada musik sayup serupa Om Mani Padme Hum yang memungkinkan dia mengemudi dengan pikiran yang meditatif? Atau mungkin ia memang pendiam dan juga pemalu, sebuah kombinasi sempurna untuk ‘tidak dianggap’ dan saya memperlakukannya tanpa perasaan. Lalu bukankah setelah itu ada air yang tiba-tiba menggenang? Saya bergidik sendiri, menyadari telah menjadi seburuk-buruknya manusia. Tak heran, jika semua ini terjadi.

Luruskan pikiranmu, begitu teguran Sang Maha Cinta untuk saya dengan tetap melimpahkan kasih sayang berupa air yang menggenangi tas. Dengan begitu banyak berkah yang saya terima selama perjalanan di Nepal mengapa saya mengakhirinya dengan mengabaikan nilai seorang manusia?

Lalu bukankah hanya air? Dan air hanya membasahi barang-barang tak penting? Bukankah bisa lebih mengerikan, bisa lebih buruk, tapi karena CintaNya, hanya ada air? Lalu bukankah bisa saja ada barang haram di antara barang-barang saya saat merapikan kembali? Tetapi yang terjadi sebuah teguran kasih sayang berupa dengusan anjing sebagai pengingat? Bukankah bisa terjadi yang lebih buruk dan lebih mengerikan? Tapi saya dihindarkan dari yang lebih buruk dan yang lebih mengerikan…

Air mata mengalir membasahi pipi, saya menggigit bibir menyadari kesalahan. Sebuah pembelajaran yang check-mate. Teguran yang keras, tetapi tersampaikan dengan sangat lembut dan tidak menyakitkan. Begitu indah, betapa Dia mencintai saya… Bahkan dalam salahpun saya masih dilimpahkan berkah kebaikan dan kasih sayang.

Dan Dia tak pernah putus memberi anugerahNya…

Can't take my eyes off of you, Himalaya

Can’t take my eyes off of you, Himalaya

Saya melihat keluar jendela melihat jelas barisan pegunungan Himalaya yang berpuncak salju berjejer seakan memberi salam perpisahan kepada saya yang terbang kembali menuju tanah air. Dan sang komandan dari barisan pegunungan cantik itu ada di sebelah kanan, terlihat sebagai puncak tertinggi, Sagarmatha yang agung. Everest!

Saya teringat ketika melakukan Everest experience mountain flight, saya hanya diberi kesempatan melihat setitik puncak dari jarak terdekatnya. Dan kini dalam perjalan pulang, siapa yang menyangka gunung tertinggi di dunia itu menampakkan keagungan dirinya di hadapan mata saya. Sagarmatha yang luar biasa indahnya, Everest…

I see you...

I see you…

Bahkan dalam salahpun saya masih diberikan anugerah terindah, di ujung akhir perjalanan di Nepal.

Sejuta rasa berkecamuk di dalam jiwa. Inilah pencucian jiwa. Saya telah menerima anugerah tak henti sejak berangkat dan saya nodai dengan keangkuhan diri, namun semuanya tak menghentikan dari limpahan anugerah. Alangkah tak beruntungnya saya jika tak bersyukur… Bukankah perjalanan ini diatur dariNya langsung? Bukankah susunan itinerary yang telah saya buat itu akhirnya tertinggal di Jakarta lalu digantikan semua dariNya? Bukankah tak banyak orang yang berkesempatan melihat pegunungan Himalaya dan juga Gunung Everest secara jelas?

Saya tetap manusia yang menyadari ketidakmampuan melepas kecantikan pegunungan bertudung salju itu. Saya tak ikhlas, tak rela melepas pandang. Saya memutar badan, lebih baik duduk dengan setengah bokong bertumpu pada satu kaki daripada harus kehilangan pandangan dari Himalaya. Mata saya lekat pada barisan itu. Gunung-gunung yang tampak berbaris gagah itu semakin mengecil, semakin tak terlihat, sampai akhirnya saat dataran India dengan sungai besarnya yang terlihat, mau tak mau, ikhlas saya melepasnya dalam bisikan, terima kasih Ya Allah, terima kasih Nepal, sampai kita berjumpa lagi, Himalaya…

Suatu saat saya pasti kembali, ini sebuah janji…

When will I see you again?

When will I see you again?

It's not a Goodbye, Just Au Revoir

It’s not a Goodbye, Just Au Revoir

<><><>

Dan enam bulan setelah perjalanan saya, sebuah gempa besar meluluhlantakkan Nepal. Saya terguncang hebat. Semua kenangan tempat-tempat indah dengan segenap keajaiban-keajaiban yang pernah mewarnai perjalanan saya itu bergerak bagai film di benak, silih berganti dengan tempat-tempat yang rusak dan yang luluh lantak. Tetapi sebagaimana pengalaman perjalanan saya, -bahkan dalam salah pun saya diberi anugerah-, demikian juga Nepal… Dalam titik rendah kehancurannya, Pemilik Semesta tak pernah sedikitpun meninggalkan ciptaanNya.

*

Baca rangkuman dan cerita seri perjalanan di Nepal : Nepal – Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Iklan

14 pemikiran pada “Nepal – Sampai Kita Berjumpa Lagi, Himalaya…

        • Walaupun gak mau generalisir, tapi banyak banget travelers dan orang2 lokal yang sy temui mengeluh hal yang sama lho. Yaa either mereka masih kurang piknik atau aslinya emang dah begitu ya dari ‘sono’nya. Saya baca sampai pemerintahnya juga turun tangan ngasih ‘briefing’ soal ini sebelum ke negara orang.

          Disukai oleh 1 orang

  1. Tak apa-apa, tak apa-apa. Selalu ada hikmah yang bisa diambil dari setiap kejadian. Saya rasa Mbak sudah dapat menarik makna dari semua kejadian ini dengan sangat baik, dan saya yakin tujuan Tuhan mempertemukan Mbak dengan semua kejadian itu sudah tercapai dengan sempurna: bahwa Mbak menjadi insan yang lebih belajar dan lebih baik daripada sebelum memulai perjalanan ke sana, hehe.
    Saya membayangkan lambang Yin dan Yang saat membaca cerita ini. Ada titik hitam di tengah sesuatu yang putih, ada titik putih di tengah sesuatu yang hitam. Melambangkan absolutisme homogenitas itu tidak akan pernah ada karena selalu ada hal yang bertentangan di dalam hal yang bahkan dipaksakan homogen sekalipun, hehe. Saya mungkin pernah pula mengalami bagaimana liburan yang saya anggap sempurna ternoda di akhir-akhir dengan sesuatu yang tak terlupakan, tapi yah… selalu ada maksud di balik semua ini. Untuk kasus Mbak, bukankah artinya Mbak bisa menyelami keindahan Sagarmatha dengan lebih membekas karena ada nilai di balik semua kejadian?

    Saya doakan semoga Mbak bisa segera kembali ke sana. Pun ketika ada kejadian gempa, saya yakin itu sudah digariskan dan dimaksudkan, hehe. Mohon maaf kalau komentar saya terlalu panjang, hehe.

    Disukai oleh 1 orang

    • Senangnya membaca komentar darimu Gara.
      Dihajar skak-mat dengan sebuah pembelajaran itu memang tak enak tapi pasti efeknya pasti daleeem banget. Tetapi karena penyampaian yang indah saya melihatnya sebagai sebuah anugerah yang luar biasa juga. Seperti anak yang berbuat salah lalu ditegur dengan kasih sayang berlimpah kan jadinya bukan seperti hukuman, melainkan sebuah pemahaman baru.
      Seperti naik kelas, Gara, dengan hal-hal baru yang ditemui setelah itu.
      Karena rasanya tidak mungkin saya menuliskan semuanya dalam tulisan karena bisa panjang banget. Bisa jadi saya melewatkan sesuatu dalam penyederhanaannya, dan biarlah itu menjadi salah saya. Maafkan ya.
      Saya mengamini doa baikmu Gara. Semoga saya bisa ke Nepal lagi 🙂 Thank you for your kind words of encouragement, Gara.

      Disukai oleh 1 orang

  2. Memang cakep nggak ada duanya Himalaya. Bersyukur mbak bisa menjejak kaki kesana, walaupun dibelakang ada bumbu rada nggak enakin. Semua dienjoykan aja #duh,akusoksokan
    Tapi beneran, aku ngiri sama sampean soalnya belum bisa sampe kesana, semoga bisa kesana Next year #ngumpulinreceh

    Disukai oleh 1 orang

    • Beneran trip Nepal ini luar biasa banget buat saya bahkan yg ga enakin aja tetap sebuah berkah yg sangat berkesan. Jadinya ga ada yg ga enak lhooo… semoga dirimu bisa menjejak disana ya. Awas lhoò Nepal itu nagiiiih kayak candu hahaha…

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s