Nepal: Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa


Keindahan awan putih berkelompok memberi warna kontras di langit biru tak lagi mampu menyembunyikan gelegak perasaan yang menyeruak keluar saat akhirnya saya mengetahui bahwa yang tampak terlihat jauh di horison bukanlah kelompok awan lain melainkan barisan pegunungan Himalaya yang bertudung salju. Seakan tidak percaya akan penglihatan yang ada di hadapan, saya mengerjapkan mata yang tiba-tiba terasa hangat dan mengabur oleh air mata. Terima kasih Tuhan telah berikan aku kesempatan terbang ke tempat indah ini…

Telah lama terbit keinginan untuk bisa melihat barisan pegunungan tertinggi di dunia yang selalu tertutup salju itu. Dengan melihat saja sudah cukup bagi saya karena kata Himalaya selalu membuat saya tercekat. Bertahun sudah saya membuat rencana untuk bisa melihatnya, merencanakan melihatnya melalui Leh, Ladakh atau melalui Lhasa, Tibet. Semuanya tidak pernah terwujud. Dan akhirnya, melalui Kathmandu, Nepal, impian sejak kecil itu menjadi senyata-nyatanya di hadapan.

Inilah sebuah perjalanan pulang, perjalanan panjang dan memabukkan ke dalam diri, perjalanan yang dipenuhi oleh ekstasi syukur yang tak habis-habis atas anugerah yang mengucur deras dariNya. Ketika kaki telah menginjak bumi Nepal, telapak tangan pun tak mau kalah hendak merasakan hangatnya bumi seribu kuil ini – sebuah kebiasaan menyentuhkan telapak tangan pada bumi yang baru pertama saya datangi.

Pegunungan Himalaya Bertudung Salju

Pegunungan Himalaya Bertudung Salju

Dan untuk mengikatkan jiwa pada yang hanya ada di Nepal, saya menyediakan dana untuk mengikuti Everest Experience Flight, sebuah kegiatan wisata terbang mengikuti jalur pegunungan Himalaya selama hampir 60 menit. Sebuah pengalaman tak terlupakan penuh gejolak emosi bagi saya yang tak memiliki cukup waktu luang untuk menapaki lereng-lereng pegunungan yang selalu tertutup salju itu. Untunglah saya mendapat tempat duduk paling belakang sehingga tak ada yang melihat bagaimana airmata ini cukup deras mengalir keluar. Dan entah kenapa, sebersit keinginan mendadak menyeruak, apakah saya bisa mendapatkan kesempatan bermalam di Everest Base Camp? Apakah saya bisa memiliki kesempatan melangkahkan kaki di Sagarmatha National Park? Ah semoga saja…

Dan tak lengkap rasanya mengunjungi Nepal tanpa menapaki tujuh lokasi di Kathmandu Valley yang telah dianugerahkan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO: Kathmandu, Patan, Bhaktapur, Swayambunath, Bouddhanath, Pasupathinath dan Changu Narayan. Dan ketika keajaiban-keajaiban menyertai langkah-langkah saya di lokasi itu, seperti melihat Dewi Kumari the Living Goddess, tubuh ini gemetar, dada ini sesak, lidah ini kelu. Sampai perlu menggigit bibir dan mengerjapkan mata yang panas. Tak terhingga bilangan syukur dari hati yang tersungkur atas kebesaran anugerah yang tercurah. Bukankah tidak ada peristiwa yang kebetulan? Apalagi hingga berturut-turut dan berkelanjutan.

Agaknya Yang Maha Kasih kali ini memang sengaja mengajak saya terbang dalam kebahagiaan perjalanan yang selalu dimudahkan olehNya. Walaupun jam tangan memilih waktu yang salah untuk mati karena habis baterenya dan itinerary yang sudah lengkap terupdate ternyata lebih memilih tertinggal di Jakarta, saya terus dapat menikmati setiap perjalanan indah ini. Ternyata Yang Maha Kasih memilihkan itinerary yang lebih cantik daripada yang telah saya buat.

Saya bisa mencapai Pokhara, kota tepi danau yang cantik dengan menggunakan pesawat terbang yang tiketnya baru saya dapatkan dari sebuah kemudahan, karena pada peak season biasanya sangatlah sulit mendapat tiket pesawat dalam waktu singkat. Dan lagi-lagi rangkaian keajaiban menyertai saya, Atas permintaan penumpang lain yang ingin bersama pasangannya, tempat duduk saya dipindahkan dan mendapat tempat duduk di jendela sehingga bisa menyaksikan pegunungan berselimut putih sepanjang penerbangan walaupun saya tidak memesannya. Ditambah pula dengan seorang teman yang bertukar sapa, dia seorang pensiunan tentara Inggeris yang bisa berbahasa Melayu. Siapa sangka di atas langit Nepal, saya tidak usah menggunakan bahasa Inggeris?

Mentari Terbit Menerangi Stupa

Mentari Terbit Menerangi Stupa

Dan di Pokhara, lagi-lagi jiwa saya tersungkur dalam rasa syukur yang tak terhingga karena diberikan kesempatan melihat pemandangan dunia ciptaanNya yang sungguh menggetarkan hati. Saya menyaksikan matahari terbit dengan seakan berada di atas hamparan awan yang menutupi danau, dengan latar belakang pegunungan bertudung salju yang malu-malu mengintip dari balik awan dan di sebelah kanan tampak bangunan stupa di atas puncak bukit berselimut kabut pagi. Kali ini saya biarkan airmata jatuh. Yang terhampar di depan mata adalah negeri khayangan. Inilah surga di bumi.

Rangkaian keajaiban dalam perjalanan untuk saya belumlah putus. Dalam perjalanan menuju Lumbini yang menurut rencana saya lakukan dengan penerbangan, ternyata direalisasikan melalui jalan darat. Yang Maha Mengetahui memang tahu benar kecintaan saya terhadap perjalanan darat. Saya menikmati setiap perjalanan melalui kota-kota dan desa-desa, dengan meliuk-liuk mengitari pegunungan dengan tebing yang sangat tinggi dan lembah serta jurang yang sangat dalam, yang kadang disertai dengan sedikit longsoran disana sini. Cukup mengerikan. Tetapi tak terbantahkan keindahannya, tiba-tiba ada air terjun di pinggir tebing atau sungai yang terlihat jauh di bawah sana meliuk-liuk dengan air yang berwarna tosca kehijauan. Sesuatu yang tidak akan bisa saya lihat bila menggunakan pesawat terbang.

Dan Lumbini, tempat kelahiran seorang Siddharta Gautama yang telah mengubah wajah dunia hingga kini, tetap memberikan keajaiban kepada saya. Hati kembali bergejolak berada langsung di tempat yang dipercaya sebagai lokasi akurat kelahiran Sang Buddha ribuan tahun lalu dan semua itu masih seperti apa adanya. Suara semilir angin terasa membelah kedamaian diantara kelompok peziarah yang sedang mendendangkan kidung puji dan doa di bawah pohon Boddhi. Dan lagi-lagi rasa syukur terucapkan begitu saja ketika saya diberi kesempatan terpercik keajaiban dari kekuatan doa-doa yang dipanjatkan di tempat sakral itu.

Oleh karena itinerary yang datang dari Yang Maha Kuasa ini, maka saya diberi kesempatan untuk mencium harumnya suasana Chitwan National Park dalam perjalanan kembali dari Lumbini ke ibukota. Padahal sama sekali tidak terbayangkan walaupun hanya mencium wanginya saja. Tidak mampir, hanya merasakan sentuhan akan keberadaannya dan itu pun telah saya syukuri dengan sepenuh hati. Juga tempat antara Pokhara dan Kathmandu yang pada awalnya saya ingin datangi tetapi karena keterbatasan waktu, saya harus mencoretnya dari daftar dan Yang Maha Kuasa sungguh memberikan anugerah pada saya untuk merasakan denyut tempat itu, walau hanya sekejap.

Nagarkot, sebuah tempat di puncak bukit di dekat kota Kathmandu, juga menjadi bagian dari perjalanan cinta penuh keajaiban ke Nepal ini. Lembah-lembah berselimut kabut menjadi saksi ketika sang mentari terbit membuka lembaran hari baru. Dan lagi-lagi pegunungan bertudung salju hanya tersenyum simpul dari balik awan.

Dan ketika akhirnya ketika saatnya tiba, ketika pesawat menerbangkanku kembali ke tanah air, rasanya tak ingin saya melepas pandangan dari pegunungan berpuncak putih itu. Walaupun sudah tinggi di atas dataran India, tetap saja saya ingin menghadap belakang. Sepertinya ada yang tak ingin saya lepaskan, belum ikhlas melepas. Saya meyakini, ada perjalanan ke tempat-tempat yang membuat saya merasa nyaman di hati seperti pulang ke rumah dan Nepal adalah salah satunya. Saya telah mengambil keputusan, bahkan sebelum saya sampai ke tanah air, bahwa suatu saat nanti, saya akan kembali ke Nepal. Pasti.

Ya Allah, terima kasih atas perjalanan luar biasa yang Engkau rancangkan untuk saya. Sungguh kurasakan kehadiranMu di tiap saatnya.

<><><><>

Tulisan ini merupakan rangkuman perjalanan saya sebagai female solo-traveler ke Nepal awal bulan November 2014 ini, yang akan saya bagi menjadi ke banyak tulisan, termasuk berbagai peristiwa yang mengetarkan jiwa yang saya alami disana sehingga saya memasukkannya sebagai keajaiban-keajaiban perjalanan.

Seri Perjalanan Nepal

  1. Namaste Nepal, Dhanyabaad
  2. Salam Perkenalan Pertama di Kathmandu
  3. Suatu Malam di Swayambhunath
  4. Kuliner Nepal de Lezatos Dal Bhaat
  5. Everest Mountain Flight – Memeluk Himalaya dari Jendela (1)
  6. Everest Mountain Flight – Ketika Setitik Puncak Everest Tersibak Untukku (2)
  7. Meniti Jalan Cinta di Durbar Square Kathmandu
  8. Memandang Dewi Kumari The Living Goddess di Jendelanya
  9. Bertemu Pengagum Soekarno di Basantapur
  10. Bertabur Legenda di Patan Durbar Square
  11. Kematian Yang Membahagiakan di Pashupatinath
  12. Pemandu, Warna Lain di Kuil Pashupatinath
  13. Bertemu Guardian Angels di Changu Narayan
  14. Kalung Bunga Cinta di Haribodhini Ekadashi
  15. Menyapa Sore di Bhaktapur Durbar Square
  16. Menyambut Malam di Taumadhi Square
  17. Terjebak Lorong Waktu Menuju Dattatreya
  18. Berlimpah Anugerah Menuju Pokhara
  19. Merasakan Rehat di Surga Bumi
  20. Jalan-jalan di Pokhara, The Lakeside City
  21. Pokhara to Lumbini Overland
  22. Menapak Pagi di Kawasan Monastik Lumbini
  23. Khata – Syal Putih dari Lumbini
  24. Overland (Again), Lumbini – Chitwan – Kathmandu
  25. Nagarkot – Kisah Makhluk Ajaib dan Lembah Halimun
  26. Sampai Kita Berjumpa Lagi, Himalaya
Iklan

36 pemikiran pada “Nepal: Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s