Nepal – Annapurna Trekking, Menuju Ghorepani


Duhai Pemilik Keindahan, demi Keagungan NamaMu, benarkah yang kulihat melalui kedua biji mata ini?

Setelah kemarin berlelah-lelah, hari ini dengan tak berkedip saya membiarkan mata bermanja-manja memandang datangnya pagi bersama seluruh keindahannya melalui jendela kaca penginapan sederhana itu. Di tempat ini, fasilitas hotel bintang lima ataupun penginapan sederhana, semuanya luruh tak bermakna, terbanting oleh pemandangan indah yang terhampar di depan mata. Saya menggigil dengan sendirinya, relung bukit hijau (yang kalau di Indonesia sudah disebut gunung) yang berjajar tinggi membentuk lembah sempit sebagai latar depan dengan gunung berpuncak salju tepat di tengahnya. Melihat ini dari penginapan sederhana membuat mata terasa panas. Terundang untuk menyaksikan keindahan ini, saya merasa sangat beruntung.

Selesai bersiap dengan mandi secepat kilat menggunakan air sedingin es, pemandangan gunung berpuncak salju telah hilang tertutup awan. Saya tak menyesalinya karena tahu di sisi lain dari penginapan ini masih menyimpan pemandangan indah. Lagi-lagi ada semburan rasa syukur yang melesak dari dalam. Bumi tercipta dengan amat indah di setiap sudutnya, hanya manusia dengan keserakahan dan kesombongan kerap membuat buruk wajahnya.

Pagi itu saya menikmati sarapan dengan keindahan wajah bumi yang berlalu perlahan setiap detiknya. Undangan perjalanan ini sungguh meluluhlantakkan rasa, sering tak sadar saya menggeleng-gelengkan kepala seakan tak percaya sampai sejauh ini hanya menggunakan kaki sendiri. Lalu dengan kaki yang sama, trekking menuju Ghorepani akan dilanjutkan, entah kejutan apalagi dalam perjalanan hari ini.

Belum lama berjalan meninggalkan Pratap Guesthouse, di ujung sebuah pendakian saya melihat seorang perempuan paruh baya duduk di kios sederhana, tempat donasi pendidikan yang bangunan sekolahnya tampak lebih bawah dari jalur trekking. Saya merasa tertampar di hati. Ketika saya mampu mengeluarkan sekian juta Rupiah untuk ke Nepal, adakah bagian untuk masyarakat lokal yang menjadi haknya, apalagi setelah dihajar gempa yang meluluhlantakkan negeri indah ini? Bukankah semua manusia berhak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik?

Started from dooooown there

Saya tak menyesal perjalanan terhenti beberapa saat, bahkan saya mendapat sebuah khata (selendang putih) dan tika di dahi. Melihat itu, Dipak tersenyum sambil berkata, “you got the blessings for this trip”. Ah, entah kenapa tiba-tiba saya merinding tak jelas (setelahnya baru saya tahu saat bertemu Pak Ferry yang berjalan sekian menit di depan saya, -yang merasa surprise melihat tika di dahi dan khata yang melingkar di leher saya-, karena ia merasa tak melihat atau melalui kios sederhana itu!). Dia mungkin tak melihatnya dan saya hanya beruntung bisa berkesempatan, seperti dua tahun lalu saat menerima khata putih di Lumbini. Bukankah tidak ada peristiwa yang kebetulan?

Saya kembali melangkah sambil memperhatikan hewan-hewan jinak di rumah penduduk. Ada ayam yang terlihat sangat montok bertengger di atas pagar. Matanya melirik saya seakan memamerkan tubuhnya yang diatas rata-rata. Saya terkesima, entahlah, mungkin Pemilik Semesta memberi penglihatan tentang keindahan makhluk yang kehilangan nyawa karena sering saya santap (dan benarlah, setelahnya hingga kini setiap saya makan ayam, saya jadi teringat si montok yang pamer tubuh itu).

Baru melangkah tak jauh dari si montok, saya sampai di sebuah bangunan sederhana di sudut jalan. Saya terkesima lagi, di Nepal saya tak akan heran melihat rumah ibadah Hindu atau Buddha di banyak tempat, tetapi menemukan sebuah gereja di desa kecil yang terpencil di pelosok pegunungan merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan. Saya terbayang para misionaris yang membangunnya dan memelihara komunitasnya yang tentu bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Tetapi semua yang tampak tak mungkin bagi manusia, sama sekali bukan hal yang mustahil bagi Pemilik Kuasa. Pastilah karena kekuatan dan semangat iman, bangunan sederhana ini bisa berdiri. Sayangnya karena pagar terkunci, Pak Ferry hanya bisa melakukan ritual singkat dari luar pagar.

The Church

Tak terasa rumah-rumah mulai tertinggal di belakang dan jalan setapak itu semakin menanjak. Tangga batu pun mulai terbentang panjang di depan mata, seakan menertawai saya yang langsung patah semangat. Keindahan pagi dalam sekejap mata memudar tergantikan oleh bayangan kehabisan nafas lagi seperti kemarin! Uh, ujian fisik lagi.

Lalu seakan menghibur untuk memberi semangat baru kepada saya, alam menunjukkan kasih sayangnya dengan menurunkan gerimis kecil. Saya terpesona dengan berkat ini, seperti yang sering terjadi dalam kehidupan saya sehari-hari, awan yang tiba-tiba menutup jalur matahari saat saya berjalan di panas terik atau angin yang berhembus lembut saat saya kegerahan. Tanpa sadar saya tersenyum merasakan titik-titik air yang menerpa kulit dan membuat lebih nyaman berjalan. I’m so blessed.

Gerimis semakin terasa sehingga Dipak menyarankan untuk memasang rain cover pada semua ransel lalu melanjutkan perjalanan yang naik, naik, naik lagi… Melihat saya yang mulai kehabisan nafas, Pak Ferry mengusulkan untuk ‘tea-break’ yang tentu saja disambut gembira oleh saya. Apalagi warung tea-break ini menyediakan menu yang saya rindukan, sejenis mie kuah dicampur telur. Walaupun tidak bisa menyamai kenikmatan makan indomi telur di Indonesia, saya bisa menyantap mie hangat versi Nepal di antara dinginnya udara.

Setelah mendapat asupan mie hangat, kami berlanjut melewati Banthanti, desa tempat seharusnya kami menginap semalam.  Kondisi jalan setapak menjadi lebih bersahabat, entah karena efek mie hangat tadi atau memang jalannya tidak sekejam sebelumnya. Yang pasti dikenal sebagai Nepali flat, bagi orang Nepal jalan yang menanjak landai itu dibilang datar, walaupun bagi orang kota seperti saya tetap saja menanjak yang membuat menderasnya keringat. Tetapi lagi-lagi saya mendapat berkah karena berada di hutan yang melindungi dari panas terik. Gemericik air sungai dan cantiknya bunga Rhododendron walaupun musim berkembangnya sudah berakhir, membuat saya merasa lebih dekat dengan alam.

Selepas hutan, saya berhenti sejenak di dekat sebuah bangunan kayu, karena ada kepala kambing melongok keluar dari celahnya. Ah, kambingpun ingin melihat pemandangan indah. Bahkan seekor kepik berwarna cantik terlihat berjalan pelan di atas batu gunung yang sangat besar. Tiba-tiba saya menyadari begitu banyak makhluk yang jarang saya lihat di kota menjadi terlihat di depan mata. Bahkan kupu-kupu, kadang lebah dan serangga-serangga kecil lainnya entah karena pengaruh keringat atau apa, selalu mendekat dan terbang di dekat wajah saya. Beberapa kali saya mengibas gemas dan mencoba menghindarinya, namun akhirnya menyerah dan membiarkan mereka terbang lalu lalang di dekat wajah. Kalaupun terlalu dekat, saya mengibas penuh sayang, everything likes me, included the insects!

Memasuki hutan lagi. Kini suara gemericik air semakin kuat. Sebuah air terjun kecil terlihat di ujung jalan yang berpagar besi melindungi pengunjung yang menikmati pemandangan. Walaupun indah dan menyegarkan, kami tak bisa lama menikmati karena gerimis turun lagi. Kami mempercepat langkah untuk sampai ke Nangenthanti, tempat untuk makan siang. Walaupun akhirnya kami berhamburan lari ke rumah makan terdekat ketika hujan menderas. Untung sudah dekat dan dari dalam rumah makan kami lihat hujan turun semakin tak terkendali diiringi suara ribut. Baru saya sadari itu bukan hujan biasa melainkan hujan es. Benar, hujan es! Tidak besar, tetapi cukup terlihat.

Menyaksikan turunnya hujan es dari dalam rumah membuat atmosfer terasa sendu. Fisikpun tergerus habis, selera makan turun drastis. Sebagai guide, Dipak meminta saya makan lebih banyak untuk menghindari AMS (Altitude Mountains Sickness). Masalahnya saya termasuk orang yang tidak suka makan ketika melakukan perjalanan. Merasakan makanan lokal bukan bagian (mungkin belum) dari gaya travelling saya karena termasuk pemilih makanan. Jika lidah ini tidak sesuai, sampai kapanpun makanan itu akan sulit masuk ke dalam perut saya. Makanan tradisional Nepal, dal bhat, yang saya cicipi saat perjalanan pertama termasuk lezat sekali sehingga ketika dal bhat berikutnya tidak cukup lezat, lidah saya menolak untuk memakannya. Saya tahu risiko yang dihadapi sehingga harus makan dan siang itu hanya berhasil makan setengah porsi saja. Untuk melupakan nafsu makan yang menghilang, saya sengaja mengunyah sambil melihat keluar, ke arah trekkers yang menembus hujan es. Uh, pasti dingin sekali berhujan-hujan es. Pasti mereka lapar…

Waktu tak mengijinkan untuk berlama-lama istirahat untuk mengejar sampai ke Ghorepani. Hujan es telah berhenti walaupun awan dan udara dingin masih menyelimuti. Dan alampun tanpa henti memberikan kasih sayangnya kepada saya. Seekor anjing putih yang entah dari mana, -sayapun lupa mulai kapan-, menemani langkah-langkah saya. Ia memandu, berjalan di muka lalu berhenti sebentar untuk memeriksa apakah saya masih di belakangnya. Ia pun berhenti pada tempat-tempat yang berbahaya, menunjukkan langkah-langkah kecilnya agar saya mengikuti pijakan kakinya dan ia pun berhenti saat saya berhenti istirahat. Hingga suatu saat di suatu tempat, ia berhenti. Mukanya memandang saya. Entahlah, seakan ia berbicara pemanduannya hanya sampai di situ dan sampai jumpa lagi. Sebagai pemilik anjing di masa kecil, saya masih mengenali gerakan-gerakan hewan yang sering menjadi simbol setia itu. Matanya sedikit sendu dengan kepalanya yang sedikit miring membuat hati ini terasa teriris. Mengeraskan hati, saya menghentikan langkah sejenak untuknya, berterima kasih atas kebaikan hatinya menemani dan menjaga saya. Beberapa langkah setelahnya, saya menoleh ke belakang melihat ia berjalan kembali dengan langkah-langkah kecilnya. Apakah ia seorang pemandu dalam kehidupan sebelumnya, entahlah, yang jelas  ia telah mewarnai kehidupan saya hari ini.

Akhirnya gerbang Ghorepani terlihat di depan mata. Kami mempercepat langkah untuk berfoto di tempat yang iconic itu. Hampir setiap trekker yang baru pertama kali ke Ghorepani berfoto di tempat itu. Sepertinya saya masih tak percaya, Ghorepani yang berada pada ketinggian 2850m akhirnya bisa juga dijejaki oleh seorang yang belum pernah naik gunung sekalipun.

Selagi Dipak mengurus semua pemeriksaan di check-point Ghorepani, rasanya saya berada di surga, bisa duduk meluruskan kaki yang sudah berjalan berkilo-kilo meter, menanjak dan menuruni lembah yang rasanya tak habis-habis itu. Dan malangnya, ternyata gerbang Ghorepani itu benar-benar sebuah PHP, Pemberi Harapan Palsu, karena kami harus mendaki lagi. Penginapan kami berada di Upper Ghorepani sementara gerbang tadi berada di Lower Ghorepani. Serangkaian tangga batu pun menyambut kami, seakan menertawakan penuh kebahagiaan telah berhasil menipu saya yang beranggapan telah sampai di tujuan.

Dipak dan Pak Ferry terus memberi semangat kepada saya untuk menapak tangga-tangga yang rasanya tak berujung itu, sampai akhirnya sampai juga di Sunny Hotel, tempat kami menginap di Ghorepani. Saya mendapat kamar berjendela lebar menghadap pegunungan berpuncak salju dengan tempat tidur besar. “Khusus untuk saya”, kompak kata para pria teman seperjalanan itu. Penginapan yang seharusnya berpemandangan langsung pada jajaran Himalaya sore itu hanya berhias kabut putih dimana-mana juga saat sunset yang seharusnya indah. Tetapi entahlah, kali ini saya lebih tertarik pada tempat tidur untuk merebahkan badan bukan pada pemandangan indah. Selalu terbaik untuk situasi saya. Ketika benar-benar membutuhkan istirahat, saya diberikan kesempatan tidur di tempat tidur besar yang nyaman tanpa perlu indahnya pemandangan.

Istirahat sebentar cukup mengembalikan stamina tubuh saat dipanggil untuk makan malam di tengah udara dingin itu. Kami semua duduk dekat tungku pemanas untuk menghangatkan badan dan setelah makan malam, saya memesan coklat panas. Tak cukup satu, saya minta tambahan segelas lagi untuk memuaskan kerinduan akan susu coklat hangat. Walau cuaca muram dan dingin malam itu, harapan kami semua yang hadir di ruang makan itu sama, berharap cuaca akan membaik sehangat susu coklat yang saya minum dan menampilkan keindahan Himalaya esok hari.

Wifi yang berfungsi normal membuat kegembiraan tersendiri, masing-masing dari kami sibuk dengan ponselnya entah untuk menghubungi orang-orang yang tercinta atau posting di media sosial. Semangat timbul kembali hingga kembali ke kamar masing-masing karena sekitar pukul 10 malam kegelapan akan menyelimuti semua kamar demi efisiensi listrik. Saya memang langsung terlelap begitu merebahkan badan tapi rasanya tak lama hingga saat suara-suara itu terdengar riuh membangunkan saya…. Aduh!

(bersambung)

11 tanggapan untuk “Nepal – Annapurna Trekking, Menuju Ghorepani

  1. Ikut capek sekaligus merinding bacanya mbak. Duh si gerbang Ghorepani itu bener-bener deh, saya kalau jadi Mbak Riyanti juga pasti agak setengah jengkel kok bisa-bisanya udah capek terus di-PHP-in. 😀 Btw mi berkuah itu thukpa kah? Soalnya saya waktu di Pokhara sempat beberapa kali makan thukpa yang lumayan mengobati kekangenan akan mi instan Indonesia.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ghorephani itu mewakili sekian banyak desa besar di pegunungan yg wilayahnya mengikuti kontur bumi. Jadi ya ada sih penginapan di Lower Ghorepani tp kalo mau lanjut perjalanannya ya mendingan ke Upper soalnya exitnya yaa di Upper gitu, kecuali kalo ngambeg balik badan trus pulang😂
      Mie kuah itu aku malah gak tau namanya, sangking kangen makan mi instan… Thukpa ya namanya?? Lucu namanya…. hihihi…
      BTW, merinding kenapa mas Bama??

      Suka

    1. Hahaha ceritanya emang masih berlanjut dan susahnya aku lg sibuk banget jd gak bisa cepet nulisnya.
      Kalau soal anjing, gak cuma si putih itu aja… ada juga anjing lain sih yg manduin trekkers lain sehingga aku suka senyum2 sendiri menyaksikan alam itu berinteraksi.
      Kalo aku dan guideku jauh trus aku melihat sekitarnya pasti ada aja deh yg menemani. Seringnya sih kupu2. Luar biasa banget rasanya Na.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Mba.. it’s a sign from the universe yaa.. Kupu-kupu itu juga loh.. ngga biasa2nya aku peka dengan makhluk yg namanya kupu-kupu.. Tapi beneran di tripku yg terakhir aku ngerasa makhluk cantik ini ga hanya cantik.. tapi juga misterius.. hehehee

        Disukai oleh 1 orang

        1. Bener Na, kalo kupu2 emang aku tau dah lama… tp kan biasanya kita gak sadar ujug2 dia nongol gitu kan… tp waktu trip terakhir itu aku sampai bisa minta ditemani dan dikabulkan. Sampe aku mlongo pas liatnya, gak percaya juga tapi ya didepan mata… bener katamu Na… misteri yang sangat indah.

          Disukai oleh 2 orang

  2. Hi mbak.. ceritanya keren sekaki. Ga sabar nunggu lanjutannya. Kalau boleh di share juga brp habis biayanya dan brp lama soalnya temen2 ada yg ngajakin nih cuma ya itu.. mikirnya panjanggggg, hehehe
    Tetap semangat untuk melanjutkan critanya ya

    Disukai oleh 1 orang

    1. Duh maaf ya telat balasnya niih, biaya sih tergantung dari gaya jalan dan berapa lamanya rata2 dari 600$ smp 1000$ biasanya 8 sampai 10 harian. Ada yg rutenya muter ada yg langsung, ada yg pake porter+guide ada yg bawa sendiri. Kalo saya, karena kebanyakan gaya jadinya mahal hahaha…

      Suka

  3. wah saya oktober 2018 ksana mbak insyaAllah kl ngk ad halangan, kl buat ukuran orang jarang naik gunung capek ngk mbak? ini saya udah mulai latihan jalan kaki sih

    Disukai oleh 1 orang

    1. Oktober itu peak season untuk trekking, udara lebih banyak cerahnya. Kalau mau latihan, harus mampu jalan atau lari 10km per hari, latihan naik tangga di gedung2 tinggi misal ke lt 20. Itungannya kan satu lantai +/- 20 anak tangga nah itu baru 400… padahal disana 3000an.

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.