Nepal – Menapak Pagi di Kawasan Monastik Lumbini


Every morning we are born again. What we do today is what matters most – Buddha

Mengutip selarik kata bijaksana dari Sang Buddha di tempat kelahirannya membuat pikiran saya bekerja cukup dalam sambil melangkah meninggalkan kamar menuju lobby untuk check-out. Walaupun hanya bisa sepenggal pagi hari berada di Lumbini, saya akan memanfaatkan kesempatan baik ini semaksimal mungkin untuk berkeliling di kawasan Monastik Lumbini dan tentu saja mengunjungi Kuil Mayadevi, tempat kelahiran Sang Buddha karena setiap detik yang begitu berharga.

Setelah menitipkan ransel di hotel, saya berjalan kaki menuju gerbang Barat, tempat Santa menunggu. Ya memang masih ada Santa hari ini karena kemarin, akhirnya saya memutuskan untuk memperpanjang sewa mobil sampai ke Kathmandu yang tentu saja disambut Santa dengan senyum yang sangat lebar. Sambil berjalan saya menanyakan kabar istirahat malamnya yang langsung dipotong sambil menggerutu, banyak nyamuk di Terai. Saya terbahak mengingat gurauan yang absurd, Terai bukanlah wilayah Nepal…

Santa menghentikan langkah saya dan tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, ia menawar sebuah rickshaw serupa becak untuk berkeliling kawasan monastik Lumbini. Inisiatifnya ternyata tepat, dalam waktu singkat jika harus berkeliling di kawasan itu dengan berjalan kaki, yang akan didapat hanya kelelahan tanpa mengetahui tempat-tempat bagus di kawasan ini.

Gerah udara pagi Terai tetap terasa walaupun saya hanya duduk manis di becak ala Nepal ini. Saya menyaksikan sendiri betapa kawasan seluas ratusan hektar yang dikelilingi oleh jalan Vishnupura ini merupakan kawasan internasional. Negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha pastilah memiliki vihara di kawasan ini. Dan bentuknya? Pasti disesuaikan dengan ciri khas dari Negara-negara itu. Sebut saja Negara-negaranya, pasti ada…

Becak ala Nepal itu melewati jalan ‘tikus’ untuk sampai ke tengah kawasan melewati petak-petak tanah yang tak terpelihara. Ada sejumput rasa prihatin merambat di dalam hati. Untuk sebuah kawasan yang telah menorehkan tinta emas pada sejarah dunia dan sedikit banyak telah memberi warna perdamaian pada kemanusiaan, kawasan Lumbini ini sepertinya masih jauh dari kondisi yang seharusnya. Entah apa kabarnya dengan mega proyek pengembangan kawasan Lumbini yang telah di-gong-kan hampir empat puluh tahun lalu. Bahkan pencatatan Lumbini sebagai kawasan UNESCO World Heritage Site di tahun 1997 juga belum cukup mampu mengangkat kawasan itu nyaman terlihat di mata.

Dari balik rimbunnya petak-petak yang terabaikan itu saya sempat melihat puncak keemasan stupa Myanmar yang menyerupai Pagoda Shwedagon di Yangon, yang belakangan saya ketahui bernama Pagoda Lokamani. Tanpa masuk ke dalamnya, saya bisa membayangkan vihara Myanmar itu seperti bunga lotus yang hidup di air yang keruh.

From the mud of adversity grows the lotus of joy – Carolyn Marsden

Tepat setelah pagar batas dari vihara Myanmar itu, agak menjorok dari pinggir jalan saya menangkap dinding pagar keliling dengan ciri khas Kamboja seperti yang terlihat pada bangunan-bangunan candi di kompleks Angkor. Terlihat sepertinya masih dalam tahap penyelesaian akhir, ditambah dengan keberadaannya yang agak tersembunyi diantara petak-petak tanah yang terabaikan, membuat kompleks vihara Kamboja semakin tak terlihat. Entah mengapa pikiran saya melayang pada lembaran-lembaran uang yang tak kunjung terbang ke Lumbini.

The Royal Thai Monastery

Akhirnya becak à la Nepal berbelok memasuki kawasan vihara Thailand yang tentu saja didukung secara penuh oleh pemerintah Kerajaan Thailand. Walaupun bentuknya tak serupa, namun karena warna putihnya yang mencolok mata, bangunan vihara ini mengingatkan saya pada Wat Rong Khun (White Temple) di Chiang Rai. Pagi itu, bangunan vihara berlapis marmer berwarna putih terlihat sangat kontras dengan langit biru yang melatarinya. Walaupun ketika mendekat, tertangkap pula di mata saya beberapa bagian yang perlu direnovasi lagi. Ah, tetapi keadaan itu tak mengganggu kecantikan bangunan secara keseluruhan.

Royal Thai Monastery, Lumbini
Royal Thai Monastery, Lumbini

Becak pun terus dikayuh ke Utara menyusuri kolam buatan yang membelah kawasan Monastik menjadi dua bagian. Bagian Timur dari Kawasan Monastik Lumbini adalah vihara-vihara Buddha yang beraliran Theravada dan bagian Barat dari kolam buatan diidirikan vihara-vihara Buddha yang beraliran Mahayana dan Vajrayana.

Dan tepat di bagian Utara, -setelah menyeberang jalan Taulihawa-, terdapat World Peace Pagoda yang melengkapi World Peace Stupa (Shanti Stupa) yang ada di Pokhara. Keduanya, -merupakan bagian dari World Peace Pagoda di seluruh dunia-, didukung penuh oleh Nipponzan – Myohoji, salah satu aliran Buddha dari Jepang yang juga mendukung aliran anti kekerasan dari Mahatma Gandhi.

Setelah berputar di ujung kolam bagian Utara, saya memasuki kawasan vihara dengan aliran Mahayana. Terlihat bangunan cantik berbentuk stupa besar bergaya oriental yang sayangnya tidak diketahui namanya. Di dekatnya terdapat halaman yang tertata rapi namun sayangnya lagi-lagi tidak ada informasi asal Negaranya, walaupun orang lokal mengatakan vihara itu berasal dari Perancis.

Sebelum memasuki vihara yang ada disebelahnya, saya menyempatkan diri untuk menikmati kolam buatan yang terasa meneduhkan udara Terai yang gerah. Vihara modern di seberang kolam tampak seperti dipeluk kabut. Menenangkan sekali.

A Monastery near the pond, Lumbini
A Monastery near the pond, Lumbini

The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa

Setelah melepas alas kaki, saya memasuki vihara yang didukung oleh Yayasan Tara dari Jerman, sehingga public sering menyebutnya Vihara Jerman (rasanya saya hampir saja tak percaya bahwa umat Buddhist di Jerman cukup banyak hingga dapat mendanai pendirian dan pemeliharaan vihara yang tak kecil). Bangunan ini dipelihara dengan sangat cantik dengan taman-taman yang tertata dan benda-benda yang berhubungan dengan ritual diletakkan di seluruh penjuru arah sebagai penguat tata letak. Jika saja pengunjung disana dapat lebih menahan diri tak bersuara, keheningan suasana ditempat ini membuat suasana meditatif kian terasa. Tak lupa di depan bangunan utama terdapat kolam yang ditengahnya terdapat Buddha Kecil, dengan tangan kanan menunjuk ke atas dan tangan kiri menunjuk ke bawah (bumi).

The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa
The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa

Pada ruang dalamnya penuh dengan hiasan kehidupan Buddha yang dilukis baik pada dinding maupun pada langit-langitnya dengan warna-warna terang seperti merah dan kuning keemasan selain warna-warna biru muda yang meneduhkan.

Sekeluarnya dari vihara Jerman, saya menyusuri kolam buatan yang airnya sangat tenang sehingga menampilkan refleksi dari bangunan yang berada di pinggir kolam. Melewati sebuah bangunan bergaya Oriental dengan pagar tertutup tinggi, tak terasa langkah kaki membawa ke sebuah gedung berwarna putih pucat, yang sayangnya lagi-lagi tak memiliki petunjuk yang jelas. Sekelompok orang berwajah Hindustan tampak keluar dari gedung itu, entah usai beribadah atau sekedar melihat-lihat.

Monasteries near the ponc
Monasteries near the pond

Melewati sebuah gedung megah yang dari pagar hanya terlihat stupa besar dengan ciri khas Nepal, -memiliki mata seperti Bouddhanath dan Swayambhunath-, sang pengemudi becak ala Nepal telah menunggu kami untuk dikayuh kembali kearah vihara Zhong Hua dari China.

Vihara Zhong Hua

Saya melepas alas kaki untuk memasuki vihara berarsitektur China yang didominasi dengan warna merah ini. Dibandingkan dengan kuil atau vihara yang saya lihat sebelumnya, Vihara Zhong Hua ini sangat megah dan luas. Empat patung Dewa penjaga tampak gagah menghias area gerbang. Halaman bagian dalam tertata cantik yang mengarah ke gedung utama dengan Buddha berlapis emas yang duduk di altar. Secara keseluruhan seluruh bangunan yang ada di kompleks vihara ini dihubungkan dengan lorong terbuka beratap dengan pemandangan halaman taman yang cantik.

Zhong Hua Chinese Monastery, Lumbini
Zhong Hua Chinese Monastery, Lumbini

Vihara Korea

Tepat di depan Vihara Zhong Hua dari China berdirilah vihara Korea yang pada saat saya berkunjung sedang direnovasi. Melihat bangunannya, saya sampai berpikir di Lumbini tempat kelahiran Buddha yang mengajarkan kerendahhatian, entah kenapa saya merasa tetap saja ada upaya berlomba untuk menunjukkan vihara yang terbesar dan termegah. Jika sebuah negara sudah membangun vihara yang besar, ternyata ada negara lain yang membangunnya lebih besar, lebih megah. Lomba kedigdayaan? Entah…

Korean Monastery, Lumbini - under renovation
Korean Monastery, Lumbini – under renovation

Saya kembali berbecak menyusuri kanal di tengah untuk menuju Kuil Mayadevi, sejatinya tempat kelahiran Sang Buddha. Pengemudi becak ala Nepal itu menyelesaikan pekerjaannya di ujung kanal tempat nyalanya Api Perdamaian Abadi, Eternal Peace Flame, yang dinyalakan oleh Pangeran Gyanendra Bir Bikram Shah di tahun 1986. Dari posisi Api Perdamaian Abadi itu, saya melihat lurus ke Utara, terlihat samar warna putih Stupa dari World Peace Pagoda.

Berbalik badan menghadap arah Mayadevi temple, terhampar di depan mata jalan pelintasan panjang seakan membelah udara panas wilayah Terai. Terbayang gerah dipanggang oleh udara, tetapi sungguh dapat dimengerti, inilah wilayah yang begitu berharga bagi dunia, sejatinya seseorang yang telah mengubah warna dunia lahir di wilayah ini hingga tentu saja saya bersedia berjalan kaki untuk mencapainya walau panas sekalipun.

Sekitar 100 meter berjalan saya tiba di sebuah bundaran kecil yang ditengahnya terdapat patung Buddha kecil, dengan telunjuk kanan mengarah ke langit dan telunjuk kiri mengarah ke bumi, seperti kisah yang tertulis pada sutra mengenai tujuh langkah yang dilakukan oleh Buddha setelah kelahirannya.

Masih berselimutkan gerahnya udara pagi Terai, kaki terus melangkah menuju Mayadevi Temple, seakan mengetahui akan adanya keajaiban lain yang telah menunggu disana…  (baca kisahnya  Khata – Syal Putih dari Lumbini)

*

Ketinggalan cerita? coba cek disini – Rangkuman dan series cerita perjalanan di Nepal

Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini


Pagi belum terlalu tinggi saat rickshaw serupa becak yang saya tumpangi berhenti di batas wilayah yang diperbolehkan dekat Api Perdamaian Abadi. Begitu turun, terhampar di depan mata trotoar panjang seakan membelah udara panas wilayah Terai. Terbayang gerah dipanggang oleh udara, tetapi sungguh dapat dimengerti, inilah wilayah yang begitu berharga bagi dunia, -tahun 1997 UNESCO menetapkan sebagai World Heritage Site– dan tentu saja saya bersedia berjalan kaki untuk mencapainya walau panas sekalipun.

Lima ratus meter berjalan kaki dalam udara panas melewati Peace Garden, akhirnya saya sampai di gerbang utama Taman Lumbini Yang Sakral, -pembuka jalan menuju Kuil Mayadevi-, lokasi yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Sang Buddha Gautama. Adanya CCTV dan metal detector yang harus dilalui oleh semua pengunjung seakan memastikan bahwa Lumbini memang bukan tempat wisata biasa. Bahkan batas suci tempat ini sudah dimulai sejak pintu gerbang dan sungguh saya tak keberatan berjalan tanpa alas kaki seperti pengunjung lainnya dan meninggalkan sepatu di sebuah rak yang tersedia di sebelah kanan gerbang.

Selepas metal detector itu, saya pelan melanjutkan langkah dalam diam memasuki  Taman Lumbini yang luasnya tak kurang dari 3 hektar itu. Hati saya menghangat, karena akhirnya bisa menjejak di tempat sakral ini. Saya mengingat seluruh perjalanan ke negara-negara yang mayoritas penduduknya mengikuti ajaran Buddha dan kini saya berada di tempat kelahiran Sang Buddha itu sendiri.

Bagi saya yang non Buddhist, menjejak di tempat kelahiran Sang Buddha terasa begitu monumental, begitu personal. Bukan pada sisi kebaikan-kebaikan hidup yang senantiasa digaungkan, tetapi lebih pada kenangan indah semasa kecil yang mewujud, dari sebuah keingintahuan atas imajinasi  cerita dari ayah yang berkunjung ke negara-negara yang penduduknya kebanyakan beragama Buddha, melihat Buddha dalam botol souvenir, dalam foto kenang-kenangan, dalam stupa Borobudur dan relief lainnya sejak masa kanak-kanak. Entah kenapa saya kecil senantiasa merasakan wajah damai Buddha dan rasa damai itu tetap terbawa dalam perjalanan hidup. Dan kini  saya menjejak di tempat lahirnya bersama semua kenangan semasa kecil yang masih murni, terlepas dari semua topeng diri…

Taman Suci Lumbini ini tertata apik, hamparan luas rerumputan hijau dengan pagar tanaman berwarna kuning dengan satu atau dua pohon rindang di tengahnya berada di kanan kiri jalan setapak menuju Kuil Mayadevi.

Mayadevi Temple
Mayadevi Temple

Dan di hadapan mata berdiri Kuil Mayadevi itu sendiri, sebuah bangunan sederhana nyaris tanpa hiasan, tak mencerminkan kemegahan. Bangunan yang hanya berupa kotak berjendela di bagian atas ini merupakan bangunan yang relatif baru dibandingkan dengan tumpukan melingkar dari batubata yang menyerupai stupa yang ada di sekitarnya. Siapa yang bisa menduga bangunan sederhana ini melindungi sesuatu yang sakral di dalamnya, yang dipercaya dan telah dibuktikan secara ilmiah merupakan tempat kelahiran Sang Buddha lebih dari 2600 tahun yang lalu?

Melangkah pelan dengan kaki telanjang menikmati atmosfer luar biasa, saya merasakan aura yang tak terjelaskan menyelimuti tempat ini, seperti rasa kasih dan damai yang sangat besar. Dan seakan menjelaskan apa yang saya rasakan, sebuah tiang lampu penerang menggantungkan kata-kata Sang Buddha:

Hatred never ceases by hatred, Hatred ceases through love. This is an unalterable law – Buddha

Welas asih! Kecintaan pada semua makhluk, itulah yang menyelimuti tempat ini.

Langkah kaki membawa saya semakin dekat dengan Kuil Mayadevi. Melihat kamera yang saya pegang dan seakan memastikan gambar-gambar larangan yang ada di dekatnya, seorang petugas di depan pintu memberitahukan bahwa tidak boleh memotret di dalam kuil. Saya tidak mengeluh, justru bersyukur karena lebih banyak pengelola tempat suci lain yang memilih untuk melarang penganut agama lain untuk masuk. Disini saya bebas masuk dan tentu saja itu sebuah kemewahan.

Satu langkah melewati pintu membuat saya berdiri dalam diam. Bagi yang mengharapkan sesuatu yang megah pasti kecewa karena kenyataannya di depan mata terhampar tempat ekskavasi arkeologis, sisa-sisa tapak bangunan dalam galian yang geometris berbentuk persegi-persegi dengan lantai kayu selebar 1.5 meter yang mengelilingi pinggiran tiga dinding Kuil Mayadewi itu. Praktis tidak ada apa-apa, tidak ada Buddha, tidak ada kemegahan. Yang terlihat hanya batu bata dan tanah.

Dalam bangunan ini sepertinya hanya bisa dilihat dengan hati… dengan rasa… dengan Cinta. Sesuatu yang sangat intangible.

Berjalan perlahan di atas lantai kayu itu, menikmati setiap langkah, mencoba merekam sebaik-baiknya semua rasa yang ada.

Jika bisa saya ingin menempelkan telinga pada bata-bata yang bicara, atau bahkan merebah raga di lubang tanah galian yang terbuka, mencoba mendengar cerita mereka tentang suka duka menjadi mata dan telinga pada masa dunia menerima kelahiran Sang Buddha. Sudah dua jelang tiga milenia mereka terdiam dalam bahagia, menyembunyikan makna bagi yang tak punya rasa. Dan hanya ada sebuah tanya pada mereka, masih samakah doa manusia mengharap damai dan sejahtera bagi dunia?

Tak jelas apa saya harus menangis atau bahagia, karena bisa mengayun langkah di kuil milik dunia hingga bisa menatap dengan mata kepala sebuah tempat pasti kelahiran Sang Buddha, dia yang mampu mengguncang seisi dunia. Sungguh saya tak percaya. Namun airmata di pelupuk mata membuat percaya semua nyata adanya. Tepat di hadapan saya, di titik itu, disanalah tempatnya.

Duhai dinding bata dan tanah-tanah yang terbuka, betapa bahagia menjadi saksi utama sebuah peristiwa milik dunia.

Benar-benar sebuah tempat yang luar biasa, saya jadi teringat akan sebuah quote:

A mystery is something that can’t be explained but can only be experienced

Beruntunglah saya di pintu masuk telah melepas keterikatan dengan kamera sehingga saya benar-benar bisa menikmati setiap momen rasa yang ada.

Jelang akhir perjalanan di atas lantai kayu saya sampai pada lokasi pasti Sang Buddha dilahirkan, yang ditandai oleh sebuah batu yang dikenal sebagai Marker Stone. Penanda dari Batu ini diberi penerangan dan dilindungi kaca.

Bersama kenangan masa kecil yang mewujud, saya memandang Marker Stone dengan berbagai rasa. Sungguh saya bisa memahami para Biksu dan pengunjung Buddhist yang langsung bersimpuh di dekat Marker Stone karena apa yang saya rasa mungkin tak beda jauh dengan mereka. Ada keagungan, kemuliaan dan kesederhanaan yang begitu terasa yang mampu menggetarkan kekuatan kaki.

Dimana-mana sama, di semua tempat suci, tempat-tempat kesakralan pernah terjadi, mampu membuyarkan isi hati, menggetarkan kaki. Cerita-cerita yang sama, dari ajaran maupun tradisi, ketika kemuliaan hadir, manusia tak lagi mampu berdiri. Dan buat saya hingga kini, tiap  dahi bersentuh bumi

Melengkapi Marker Stone, di dinding bagian atas terdapat Nativity Sculpture, relief abad 11 dari batu yang dipasang oleh Raja Malla, yang menggambarkan kelahiran Sang Buddha dengan tangan kanan Permaisuri Mayadevi, -ibu dari Siddharta Gautama-, memegang erat cabang pohon Shorea (sejenis Meranti).

Inside Mayadevi temple – Nativity Sculpture & Birth Marker Stone Picture creditted to 3(dot)bp(dot)blogspot(dot)

Picture creditted to 3(dot)bp(dot)blogspot(dot)com

Rasanya tak rela harus cepat meninggalkan Marker Stone dan Nativity Sculpture, tetapi tak mungkin menguasai tempat itu karena ada rombongan di belakang yang ingin menyaksikan sambil melantunkan mantra-mantra suci. Sudah sewajarnya saya memberi tempat kepada yang lebih berhak. Sambil melangkah keluar saya menyentuh bata terdekat. Terima kasih atas cerita-cerita tak terucapkan itu.

Di depan  pintu keluar terhampar reruntuhan bangunan dari batu bata, ciri khas kuil berabad lalu. Ada yang melingkar membentuk stupa yang kini tinggal dasarnya saja. Namun tak dapat dipungkiri Lumbini memang menjadi tempat ziarah sejak lama. Bahkan di tahun  2013 di bawah galian dalam Kuil Mayadevi, berdasarkan penelitian ditemukan jejak keberadaan kuil dari kayu sebagai tempat ziarah yang lebih tua dari kelahiran Sang Buddha sendiri.

Melewati ratusan kain-kain bendera Buddha dan bendera doa berbagai ukuran yang terikat pada tali, saya melipir ke sisi Barat untuk melihat Pillar of Ashoka, salah satu dari sekian banyak pilar yang didirikan oleh Raja Ashoka di abad 2 SM di sekeliling India hingga Pakistan dan Afghanistan sekarang, namun kini hanya tinggal belasan. Pilar Ashoka yang ada di Lumbini, -yang serial TVnya saat ini bisa disaksikan di Indonesia-, didirikan tahun 249 SM untuk menandakan tempat kelahiran Sang Buddha, sesuai inskripsi yang tertulis.

King Piyadasi (Asoka), the beloved of the Gods, in the twentieth year of his reign, himself made a royal visit. Sakyamuni Buddha was born here, therefore the birth spot marker stone was worshipped and a stone pillar was erected. The lord having been born here, the tax of the Lumbini village was reduced to the eight part (only)

Saya melihat Pilar Ashoka yang ada di depan mata dan membayangkan patung kuda yang seharusnya ada di puncak pilar tetapi kini telah hancur  terkena petir. Dua millenia lebih pilar ini bertahan.

Pillar of Ashoka
Pillar of Ashoka

Kemudian kaki membawa saya menuju kolam suci tak jauh dari Kuil Mayadevi yang disebut Puskarni, yang merupakan tempat Permaisuri Maya Devi melakukan upacara suci mandi sebelum proses kelahiran dan juga tempat bayi Siddharta Gautama melakukan upacara suci mandi pertama kalinya.

Air! Tirta! Unsur untuk memurnikan, membersihkan, untuk kembali suci di ajaran dan tradisi manapun

Puskarni, The Holy Pond
Puskarni, The Holy Pond

Tak jauh dari Puskarni ada rombongan yang sedang melantunkan doa dan membaca sutra di tengah ketenangan suasana taman yang membuat tempat ini begitu syahdu. Air dari kolam suci Puskarni terasa mendinginkan udara. Di tempat lain seorang Bhiksu sedang membaca Sutra dengan penuh kedamaian di bawah kerindangan pohon Boddhi. Bahkan kera-kera juga tak ingin kehilangan kesempatan menikmati ketenangan dan kedamaian di atas reruntuhan kuil.

Hanya berjarak selemparan batu dari kolam Puskarni, saya rehat sejenak sambil duduk di bawah pohon Boddhi yang rindang. Dari pohon Boddhi ini terhubung ke beberapa tempat dengan tali-tali yang penuh dengan ikatan berbagai bendera doa dan bendera Buddha. Seorang Bhiksu tampak memimpin upacara doa di bawah pohon dan saya yang duduk tak jauh darinya, juga menyaksikan prosesi itu.

Berada di bawah pohon Boddhi yang dianggap suci di tempat kelahiran Buddha, sekali lagi saya teringat teman-teman Buddhist yang saya kenal yang ada di Indonesia dan di negara-negara yang pernah saya kunjungi. Saya menelusuri ruang-ruang di hati yang berisikan banyak nama, terutama yang Buddhist, agar mereka bisa berkesempatan ke tempat ini dalam hidupnya, juga nama-nama yang selalu dekat di hati, dimana pun mereka berada agar selalu penuh kedamaian seperti situasi damai yang terasa di taman ini.

Rasanya sesak dan haru mendapati saya bisa menjejak di tempat ini, di bawah pohon Boddhi di Lumbini, di tempat kelahiran Sang Buddha. Seperti yang saya ketahui dari Wiki, dikatakan dalam Parinibbana Sutta, Sang Buddha sendiri mengatakan untuk mengunjungi Lumbini, sebagai salah satu dari empat tempat yang perlu dikunjungi oleh setiap Buddhist dalam masa hidupnya (tempat kelahirannya di Lumbini, tempat pencerahannya di Bodh Gaya, tempat pertama kali berkhotbah di Sarnath dan tempat mangkatnya di Kushinagar).

Waktu beranjak siang, terpikir entah kapan saya bisa kembali ke sini lagi. Melihat kondisi setempat saat ini yang menurut saya tak sebanding dengan sejarah yang sedemikian bermaknanya bagi dunia, tak mungkin saya berlalu begitu saja seperti tak tahu terima kasih pada apa yang telah banyak diberikan. Setelah meletakkan sedikit dana di tempatnya, saya beranjak melangkah tetapi saat itulah Biksu berwajah damai itu sambil tersenyum memberikan saya sebuah syal putih. Dalam sekejap saya tak tahu apa yang harus dilakukan. Seorang kawan memberi tanda pada saya untuk menerima. Sambil menangkupkan tangan di depan dada, saya berbicara lirih Dhan’yabad (terima kasih). Sang Bhiksu tak putus senyumnya melihat syal yang ia berikan melingkar pada leher saya.

The White Khata I got
The White Khata I got

Khata! Saya mendapat sebuah khata berwarna putih dari seorang Bhiksu di bawah pohon Boddhi di Lumbini!

Sekali lagi, seperti juga di kuil utama Changu Narayan ketika Hariboddhini Ekadashi yang mendapat kalungan bunga, di tempat ini, di bawah pohon Boddhi di tempat lahirnya Sang Buddha, saya mendapat khata, syal berwarna putih dari seorang Bhiksu. Keajaiban ini terjadi lagi, saya luar biasa terharu hingga tak mampu berkata-kata, bersyukur atas karunia yang tak habis-habis sambil berbisik, semoga semua makhluk berbahagia…

Nepal: Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa


Keindahan awan putih berkelompok memberi warna kontras di langit biru tak lagi mampu menyembunyikan gelegak perasaan yang menyeruak keluar saat akhirnya saya mengetahui bahwa yang tampak terlihat jauh di horison bukanlah kelompok awan lain melainkan barisan pegunungan Himalaya yang bertudung salju. Seakan tidak percaya akan penglihatan yang ada di hadapan, saya mengerjapkan mata yang tiba-tiba terasa hangat dan mengabur oleh air mata. Terima kasih Tuhan telah berikan aku kesempatan terbang ke tempat indah ini…

Telah lama terbit keinginan untuk bisa melihat barisan pegunungan tertinggi di dunia yang selalu tertutup salju itu. Dengan melihat saja sudah cukup bagi saya karena kata Himalaya selalu membuat saya tercekat. Bertahun sudah saya membuat rencana untuk bisa melihatnya, merencanakan melihatnya melalui Leh, Ladakh atau melalui Lhasa, Tibet. Semuanya tidak pernah terwujud. Dan akhirnya, melalui Kathmandu, Nepal, impian sejak kecil itu menjadi senyata-nyatanya di hadapan.

Inilah sebuah perjalanan pulang, perjalanan panjang dan memabukkan ke dalam diri, perjalanan yang dipenuhi oleh ekstasi syukur yang tak habis-habis atas anugerah yang mengucur deras dariNya. Ketika kaki telah menginjak bumi Nepal, telapak tangan pun tak mau kalah hendak merasakan hangatnya bumi seribu kuil ini – sebuah kebiasaan menyentuhkan telapak tangan pada bumi yang baru pertama saya datangi.

Pegunungan Himalaya Bertudung Salju
Pegunungan Himalaya Bertudung Salju

Dan untuk mengikatkan jiwa pada yang hanya ada di Nepal, saya menyediakan dana untuk mengikuti Everest Experience Flight, sebuah kegiatan wisata terbang mengikuti jalur pegunungan Himalaya selama hampir 60 menit. Sebuah pengalaman tak terlupakan penuh gejolak emosi bagi saya yang tak memiliki cukup waktu luang untuk menapaki lereng-lereng pegunungan yang selalu tertutup salju itu. Untunglah saya mendapat tempat duduk paling belakang sehingga tak ada yang melihat bagaimana airmata ini cukup deras mengalir keluar. Dan entah kenapa, sebersit keinginan mendadak menyeruak, apakah saya bisa mendapatkan kesempatan bermalam di Everest Base Camp? Apakah saya bisa memiliki kesempatan melangkahkan kaki di Sagarmatha National Park? Ah semoga saja…

Dan tak lengkap rasanya mengunjungi Nepal tanpa menapaki tujuh lokasi di Kathmandu Valley yang telah dianugerahkan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO: Kathmandu, Patan, Bhaktapur, Swayambunath, Bouddhanath, Pasupathinath dan Changu Narayan. Dan ketika keajaiban-keajaiban menyertai langkah-langkah saya di lokasi itu, seperti melihat Dewi Kumari the Living Goddess, tubuh ini gemetar, dada ini sesak, lidah ini kelu. Sampai perlu menggigit bibir dan mengerjapkan mata yang panas. Tak terhingga bilangan syukur dari hati yang tersungkur atas kebesaran anugerah yang tercurah. Bukankah tidak ada peristiwa yang kebetulan? Apalagi hingga berturut-turut dan berkelanjutan.

Agaknya Yang Maha Kasih kali ini memang sengaja mengajak saya terbang dalam kebahagiaan perjalanan yang selalu dimudahkan olehNya. Walaupun jam tangan memilih waktu yang salah untuk mati karena habis baterenya dan itinerary yang sudah lengkap terupdate ternyata lebih memilih tertinggal di Jakarta, saya terus dapat menikmati setiap perjalanan indah ini. Ternyata Yang Maha Kasih memilihkan itinerary yang lebih cantik daripada yang telah saya buat.

Saya bisa mencapai Pokhara, kota tepi danau yang cantik dengan menggunakan pesawat terbang yang tiketnya baru saya dapatkan dari sebuah kemudahan, karena pada peak season biasanya sangatlah sulit mendapat tiket pesawat dalam waktu singkat. Dan lagi-lagi rangkaian keajaiban menyertai saya, Atas permintaan penumpang lain yang ingin bersama pasangannya, tempat duduk saya dipindahkan dan mendapat tempat duduk di jendela sehingga bisa menyaksikan pegunungan berselimut putih sepanjang penerbangan walaupun saya tidak memesannya. Ditambah pula dengan seorang teman yang bertukar sapa, dia seorang pensiunan tentara Inggeris yang bisa berbahasa Melayu. Siapa sangka di atas langit Nepal, saya tidak usah menggunakan bahasa Inggeris?

Mentari Terbit Menerangi Stupa
Mentari Terbit Menerangi Stupa

Dan di Pokhara, lagi-lagi jiwa saya tersungkur dalam rasa syukur yang tak terhingga karena diberikan kesempatan melihat pemandangan dunia ciptaanNya yang sungguh menggetarkan hati. Saya menyaksikan matahari terbit dengan seakan berada di atas hamparan awan yang menutupi danau, dengan latar belakang pegunungan bertudung salju yang malu-malu mengintip dari balik awan dan di sebelah kanan tampak bangunan stupa di atas puncak bukit berselimut kabut pagi. Kali ini saya biarkan airmata jatuh. Yang terhampar di depan mata adalah negeri khayangan. Inilah surga di bumi.

Rangkaian keajaiban dalam perjalanan untuk saya belumlah putus. Dalam perjalanan menuju Lumbini yang menurut rencana saya lakukan dengan penerbangan, ternyata direalisasikan melalui jalan darat. Yang Maha Mengetahui memang tahu benar kecintaan saya terhadap perjalanan darat. Saya menikmati setiap perjalanan melalui kota-kota dan desa-desa, dengan meliuk-liuk mengitari pegunungan dengan tebing yang sangat tinggi dan lembah serta jurang yang sangat dalam, yang kadang disertai dengan sedikit longsoran disana sini. Cukup mengerikan. Tetapi tak terbantahkan keindahannya, tiba-tiba ada air terjun di pinggir tebing atau sungai yang terlihat jauh di bawah sana meliuk-liuk dengan air yang berwarna tosca kehijauan. Sesuatu yang tidak akan bisa saya lihat bila menggunakan pesawat terbang.

Dan Lumbini, tempat kelahiran seorang Siddharta Gautama yang telah mengubah wajah dunia hingga kini, tetap memberikan keajaiban kepada saya. Hati kembali bergejolak berada langsung di tempat yang dipercaya sebagai lokasi akurat kelahiran Sang Buddha ribuan tahun lalu dan semua itu masih seperti apa adanya. Suara semilir angin terasa membelah kedamaian diantara kelompok peziarah yang sedang mendendangkan kidung puji dan doa di bawah pohon Boddhi. Dan lagi-lagi rasa syukur terucapkan begitu saja ketika saya diberi kesempatan terpercik keajaiban dari kekuatan doa-doa yang dipanjatkan di tempat sakral itu.

Oleh karena itinerary yang datang dari Yang Maha Kuasa ini, maka saya diberi kesempatan untuk mencium harumnya suasana Chitwan National Park dalam perjalanan kembali dari Lumbini ke ibukota. Padahal sama sekali tidak terbayangkan walaupun hanya mencium wanginya saja. Tidak mampir, hanya merasakan sentuhan akan keberadaannya dan itu pun telah saya syukuri dengan sepenuh hati. Juga tempat antara Pokhara dan Kathmandu yang pada awalnya saya ingin datangi tetapi karena keterbatasan waktu, saya harus mencoretnya dari daftar dan Yang Maha Kuasa sungguh memberikan anugerah pada saya untuk merasakan denyut tempat itu, walau hanya sekejap.

Nagarkot, sebuah tempat di puncak bukit di dekat kota Kathmandu, juga menjadi bagian dari perjalanan cinta penuh keajaiban ke Nepal ini. Lembah-lembah berselimut kabut menjadi saksi ketika sang mentari terbit membuka lembaran hari baru. Dan lagi-lagi pegunungan bertudung salju hanya tersenyum simpul dari balik awan.

Dan ketika akhirnya ketika saatnya tiba, ketika pesawat menerbangkanku kembali ke tanah air, rasanya tak ingin saya melepas pandangan dari pegunungan berpuncak putih itu. Walaupun sudah tinggi di atas dataran India, tetap saja saya ingin menghadap belakang. Sepertinya ada yang tak ingin saya lepaskan, belum ikhlas melepas. Saya meyakini, ada perjalanan ke tempat-tempat yang membuat saya merasa nyaman di hati seperti pulang ke rumah dan Nepal adalah salah satunya. Saya telah mengambil keputusan, bahkan sebelum saya sampai ke tanah air, bahwa suatu saat nanti, saya akan kembali ke Nepal. Pasti.

Ya Allah, terima kasih atas perjalanan luar biasa yang Engkau rancangkan untuk saya. Sungguh kurasakan kehadiranMu di tiap saatnya.

<><><><>

Tulisan ini merupakan rangkuman perjalanan saya sebagai female solo-traveler ke Nepal awal bulan November 2014 ini, yang akan saya bagi menjadi ke banyak tulisan, termasuk berbagai peristiwa yang mengetarkan jiwa yang saya alami disana sehingga saya memasukkannya sebagai keajaiban-keajaiban perjalanan.

Seri Perjalanan Nepal

  1. Namaste Nepal, Dhanyabaad
  2. Salam Perkenalan Pertama di Kathmandu
  3. Suatu Malam di Swayambhunath
  4. Kuliner Nepal de Lezatos Dal Bhaat
  5. Everest Mountain Flight – Memeluk Himalaya dari Jendela (1)
  6. Everest Mountain Flight – Ketika Setitik Puncak Everest Tersibak Untukku (2)
  7. Meniti Jalan Cinta di Durbar Square Kathmandu
  8. Memandang Dewi Kumari The Living Goddess di Jendelanya
  9. Bertemu Pengagum Soekarno di Basantapur
  10. Bertabur Legenda di Patan Durbar Square
  11. Kematian Yang Membahagiakan di Pashupatinath
  12. Pemandu, Warna Lain di Kuil Pashupatinath
  13. Bertemu Guardian Angels di Changu Narayan
  14. Kalung Bunga Cinta di Haribodhini Ekadashi
  15. Menyapa Sore di Bhaktapur Durbar Square
  16. Menyambut Malam di Taumadhi Square
  17. Terjebak Lorong Waktu Menuju Dattatreya
  18. Berlimpah Anugerah Menuju Pokhara
  19. Merasakan Rehat di Surga Bumi
  20. Jalan-jalan di Pokhara, The Lakeside City
  21. Pokhara to Lumbini Overland
  22. Menapak Pagi di Kawasan Monastik Lumbini
  23. Khata – Syal Putih dari Lumbini
  24. Overland (Again), Lumbini – Chitwan – Kathmandu
  25. Nagarkot – Kisah Makhluk Ajaib dan Lembah Halimun
  26. Sampai Kita Berjumpa Lagi, Himalaya