Nepal – Annapurna Base Camp, A Dare to Dream Trip


Satu tengah malam di bulan Oktober 2016.

Saya tersentak dalam doa. Benarkah ini? Saya tak mungkin tak percaya, tak mungkin tak merasa. Karena rasa itu begitu intens. Ada bahagia mendekap rasa, sangat kuat. Rasa yang sama, persis ketika melakukan perjalanan luar biasa di Nepal 2014 lalu.

Ke Nepal?

Lagi?

ABC? Annapurna Base Camp?

Rasanya tak percaya, tetapi jelas ada senyum disana, sehingga tak perlu lagi ada tanya.

Saya hanya mampu menutup mata, bahagia tapi bercampur banyak rasa, tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, masih tak percaya. Saat itu saya setuju walau berhias sejumput ragu untuk mengukir impian menjejak disana. Di ABC, di kaki Annapurna, salah satu dari gunung-gunung tinggi Himalaya.

Annapurna Base Camp

*

Saya bukanlah seorang pendaki gunung, apalagi sampai empat ribuan meter. Itu lebih tinggi dari Gunung Semeru di Jawa, atau Gunung Rinjani di Lombok bahkan Gunung Kerinci di Sumatera yang mencapai 3805 meter. Terlebih lagi saya belum pernah sekalipun mendaki gunung, dimanapun, di Indonesia apalagi di luar negeri. Dan mau mencapai Annapurna Base Camp yang berada di 4130 meter di atas laut?

Bila dipikir-pikir, that’s insane…

Entahlah, saya hanya bisa terdiam dulu walau tetap berpegang pada rasa percaya. Jawabannya pasti ada.

Di sebuah siang, televisi kabel di hadapan menampilkan acara kuliner. Tiba-tiba iklan menghapus tayangan tadi. Di depan mata terpampang jelas pemandangan yang saya hafal luar kepala. Saya kenal tempat itu. Lokasi yang hancur lebur saat gempa enam bulan setelah saya meninggalkan tempat itu. Kathmandu di Nepal. Terlihat bangunan Istana di Kathmandu Durbar Square, lalu Patan Durbar Square lalu puncak-puncak bersalju Himalaya. Darah saya berdesir kencang. Saya yang jarang menonton televisi di ruang keluarga ini, tiba-tiba ada iklan yang menggambarkan Kathmandu dan sepenggal Himalaya tepat di depan mata saya siang itu. Bukan tempat lain, melainkan Nepal! (Satu!)

Di siang yang lain, tiba-tiba FB Messenger berdenting, saya membaca. Seorang kawan Nepali bertanya kabar karena sudah dua tahun saya meninggalkan Nepal. Lagi-lagi darah saya berdesir kencang, kawan tadi hanya sekedar bertanya kapan kembali ke Nepal padahal dia sudah lama sekali tak menghubungi saya. Lalu mengapa siang itu ia tiba-tiba menanyakan kapan kembali ke Nepal?  (Dua!)

Saya sudah bertahun-tahun tidak menonton film di bioskop, bahkan ketika heboh film James Bond Skyfall, saat itu pun saya sudah tak menonton bioskop. Dan tiba-tiba di suatu siang di bulan November, sebuah notifikasi kanal medsos muncul di ponsel dengan tulisan ‘Dr Strange’. Ketakmengertian saya akan tulisan itu seketika lenyap dan tergantikan dengan darah yang lagi-lagi berdesir kencang saat membaca hasil google. Dr. Strange adalah sebuah film yang lokasi pembuatannya di Kathmandu, Nepal! Dan entah kenapa, semuanya menjadi mudah untuk mengembalikan saya ke bioskop lagi. Dan benarlah, dengan mata mengabur sambil menggigit bibir, saya mengenali banyak lokasi adegan di dalam film itu. Lagi-lagi terkait Nepal! (Tiga!)

Kemudian beberapa malam setelah kejadian nonton film itu, di kamar saya duduk santai menatap TV lalu sembarang menekan tombol yang membawa saya ke saluran HBO. Dalam sekejap kembali darah saya berdesir sangat kencang mengetahui bahwa yang terpampang di depan mata saya adalah film Everest. Lagi-lagi sebuah kisah di Nepal. Apalagi ini cerita Himalaya di Nepal! (Empat!)

*

Jelang dini hari saya meluangkan lebih lama untuk berdoa, berbincang dengan Pemilik Semesta. Melihat semua peristiwa yang terjadi belakangan ini, rasanya menyesakkan memenuhi dada. Berbagai peristiwa tampaknya “kebetulan”, – sesuatu yang tak pernah saya percayai-, terus menerus silih berganti terjadi. Dan semuanya memiliki relasi pada hal yang sama, Nepal. Inikah jawab atas sejumput ragu yang masih menyelinap di tengah rasa? Saya tak bisa menolak saat menalikan kembali rasa percaya, satu dua air mata menetes saat berserah kepadaNya. Jika memang saya harus pergi ke sana, maka tolonglah saya, mudahkanlah jalannya.

Lalu, sekembalinya dari sebuah trip menuju Jakarta, ternyata saya duduk dalam satu baris dengan co-founder Air Asia, Mr. Tony Fernandes. Kesempatan langka tersebut saya gunakan langsung untuk meminta darinya sebuah note dan tandatangannya serta juga berselfie dengannya. Kesempatan ekstra jarang itu saja sudah sangat membahagiakan, apalagi membaca note dari beliau yang sungguh membuat darah saya berdesir sangat dahsyat. Beliau menuliskan untuk saya… Dare to dream! (Lima!)

Ini dia! Bagi saya, jawaban pengukuhan dariNya bisa datang dari arah mana saja. Bisa dari orang-orang sekitar atau dari alam sekalipun. Tetapi jika datang melalui orang yang sangat menginspirasi, selevel Mr. Tony Fernandes, tentu hal itu merupakan bonus berkah buat saya. Alhamdulillah.

*

Dua setengah tahun lalu saya menjejak ke Nepal dan mengalami begitu banyak keberuntungan dan kebahagiaan selama menjelajah tempat-tempat wisata, kuil-kuil peninggalan yang menjadi World Heritage Sites dan melihat budaya lokal yang luar biasa. Bisa berlama-lama bertatap mata, bertukar bahasa tanpa aksara dengan Kumari, The Living Goddess di jendela Istananya, bisa terlibat dalam keramaian Hariboddhi Ekadashi di kuil Changu Narayan yang sakral, bisa melihat setitik puncak Everest saat melakukan penerbangan mountain flight dengan dua jendela besar, bisa menjejak di Lumbini tempat kelahiran Sang Buddha Gautama dan masih banyak cerita lain penuh rasa. Selama perjalanan di Nepal itu, tak hanya sekali saya terpesona melihat orang-orang, pria dan wanita, memanggul ransel untuk melakukan trekking di Nepal. Bagi saya saat itu sangat jelas, trekking merupakan kegiatan yang berada diluar kemampuan saya. Beyond my capabilities.

Jika saja tak ada ‘undangan’ untuk mencoba berani bermimpi sampai ke batas limit ini…

Karena ketika datang sebuah undangan untuk kembali berkomunikasi mesra dan intens denganNya selama berhari-hari perjalanan, sambil menyaksikan keajaiban-keajaiban ciptaanNya yang sangat indah, untuk merasakan Cinta dan Kasih SayangNya di setiap detik waktu yang sangat berharga, di setiap langkah kaki yang diayunkan, dan ke setiap arah pandang yang memperlihatkan semua kebesaranNya, adakah orang yang tak ingin melakukannya walau harus berpeluh penat?

Guesthouse with Mountains View

Saya tahu bahwa trip ini akan memaksa kekuatan diri, mental dan fisik. Tetapi sebagaimana yang sering kali terjadi dalam perjalanan, saya hanya perlu percaya lalu melakukannya sebaik mungkin, sisanya saya serahkan kembali kepada Pemilik Semesta. Saya akan menikmati setiap langkah dalam keindahanNya, karena perjalanan ini masuk kategori Once in A Lifetime, sebuah perjalanan yang dilakukan minimal sekali dalam hidup ini.

Telah banyak orang yang menjejak disana, apapun alasannya, tetapi bagi saya pribadi, perjalanan ke Annapurna Base Camp ini bukanlah sebuah perjalanan hura-hura, juga bukan sebuah tempat tujuan untuk diberi tanda check atau bahkan sebuah penaklukan, sungguh jauh kata itu darinya. Karena sejatinya perjalanan ini akan menjadi perjalanan intim milik pribadi yang kisahnya senantiasa berbeda di setiap jiwa. Sebuah cerita dari hati.

*

Akhirnya minggu terakhir bulan lalu saya memulai langkah ke negeri di atas awan itu mewujudkan my ‘Dare to Dream’ trip. Terima kasih banyak kepada teman-teman blogger dan grup facebook yang sudah memberi semangat, inspirasi dan berkenan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, juga kepada mas Bartian Rachmat Bartzap –yang tahun lalu solo trekking ke ABC dan sekarang ini, baru saja selesai melakukan solo-trekking ke Everest Base Camp-; kepada Bang Tri Asmeli Sembiring Wanderlust Never Fails yang menceritakan kisah luarbiasanya setiap hari menuju ABC tahun lalu, juga mba Santi Santi’s Corner yang belum pernah mendaki gunung tapi sukses mencapai Poonhill tahun lalu dan Maret lalu juga ke ABC, juga mba Maia Syafni yang inspiratif sekali melakukan trekking sendiri ke ABC yang sekaligus merupakan perjalanan pertamanya kali keluar negeri. Juga kepada my dear friend Igna Celina yang tak berhenti memberi semangat dan tentu saja teman-teman lainnya yang telah berkenan menuliskan komentar dalam tulisan-tulisan saya selama ini, yang tentu saja kali ini hanya sebagai pengantar cerita selama trekking di Nepal…

Iklan

32 pemikiran pada “Nepal – Annapurna Base Camp, A Dare to Dream Trip

  1. Bener-bener mestakung ini namanya, semesta mendukung! Saya pernah beberapa kali mengalami kejadian mirip gini sih, tapi biasanya cuma mentok di dua sinyal, belum pernah sampai empat. Gara-gara itu juga seringkali akhirnya saya ganti destinasi. Ditunggu cerita selanjutnya Mbak Riyanti. Btw Doctor Strange itu memang bikin berdesir pas liat bangunan-bangunan khas Newari di Kathmandu dan Patan!

    Disukai oleh 1 orang

    • Wah mas Bama, mungkin aku emang sensitif ya terhadap hal-hal begitu soalnya relatif sering ngalami. Sampai jelang ke ABC aku bisa seyakin-yakinnya cuaca akan clear dan benar hahaha… Asal jangan tanya togel ya 😆😆😆
      BTW, kemaren aku ke dattatreya dan mesem-mesem sendiri inget mas Bama disana… 😂😂😂 kapan2 aku masih mau ke kirtipur, bandipur, janakpur dan pir pur lainnya…

      Suka

      • Mbak, waktu mesam mesem di Dattatreya gak ada yang nyamperin kan? Nah, Janakpur itu saya juga pengen mbak. Penasaran kayak apa suasana kota di Nepal yang deket sama India.

        Disukai oleh 1 orang

        • Hahaha ada yang datengin mas… temen nawarin Jujudhau lagiiiiii langsung abis 3 atau 4 cups hahaha… rakus banget deh.
          Mudah2an kesampaian aja bisa balik trus ke Janakpur…
          Lumbini/Kapilavastu kan juga dekat India dan panaaaassss banget. Udah kesana belum mas? Lgs nyebrang India deh..

          Suka

        • Tetapi beneran lho mas Bama, kemaren itu aku ke Bhaktapur memang demi si Jujudhau itu. Bener-bener dibela-belain, gak papa ga ketempat2 yg belum didatengin, tapi ga bisa ga dateng ke Bhaktapur lagiiiii… demi Jujudhau.

          Suka

  2. Aku ikut senang akhirnya mbak Riyanti berkesempatan juga menjejakkan kaki di Himalaya, bahkan hingga ke Annapurna Base Campe, meskipun dengan cara yang agak sedikit berbeda. Tapi seperti jalinan kisah yang mbak ceritakan di atas, kurang lebihnya seperti itulah ‘Himalaya memanggil’. Jangan kaget, kalau tiba-tiba ke sana lagi lho mbak 🙂

    Btw, terimakasih karena sudah me-mention blog ku juga di bagian akhir tulisan ini. Sekali lagi aku ikut senang, karena bisa ikut ‘berperan serta’ dalam once in a lifetime trip mu ini.

    Aku tunggu kisah-kisah selanjutnya ya mbak 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    • Aduh, maaf ya Mas Bart, kok komentar ini belum dibalas, rasanya udah waktu itu hahaha (mimpi kali ya sayaaa! :D) Seperti yang dikatakan olehmu soal ‘panggilan Himalaya’ itu, saya sudah terpanggil lagi dan lagi dan lagi hahaha… bahkan waktu senggang sedikitpun sekarang lagi dibela-belain mau kesana lagi (InshaaAllah…)
      Masalah utamanya itu mas Bart, saya jadi galoooon, gagal move on untuk ke negeri lainnya yang sudah semakin berderet… gimana dong???

      Suka

    • Aduh, sori dori mori yaaa telat banget balas komennya, kelewat kayaknya niii hahahaha….
      thanks yaaa…. emang semua orang pengen kesana dan ceritanya masih berlanjut hanya saja prioritasnya pindah…

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s