Sepasang Mata Di Bouddhanath


Pertama kali ke Nepal tahun 2014 lalu, saya hanya sekejap berada di Bouddhanath, itu pun hanya malam hari. Rasanya seperti mengalami amnesia sementara, saya merasa pernah berada di sana namun hanya samar-samar. Lucunya, photo yang diambil tidak begitu bagus hasilnya, mungkin karena kurang cahaya. Oleh karena itu, saya telah berjanji akan kembali ke Bouddhanath dan menikmatinya lebih lama.

Saya memang kembali lagi ke Nepal untuk melakukan trekking tetapi kesempatan itu tidak bisa membuat saya kembali mendatangi Bouddhanath. Bagaimanapun semua memang ada waktunya dan tahun 2018 lalu akhirnya saya kembali menjejak di Bouddhanath.

Bouddhanath merupakan salah satu dari tempat suci Buddhist yang terbesar di Nepal dan bersama dengan kuil-kuil bersejarah lain di kawasan lembah Kathmandu, Bouddhanath mendapat gelar UNESCO World Heritage Site sejak tahun 1979 (itu artinya 12 tahun lebih dulu daripada penganugerahan pertama kali gelar yang sama ke Borobudur di Indonesia).

Dalam gempa besar tahun 2015 lalu yang meluluhlantakkan Nepal, Bouddhanath juga terkena dampaknya dan termasuk parah. Seluruh struktur utama yang paling suci, -konon merupakan tempat menyimpan relikui Buddha-, yang terletak di puncak lengkung stupa harus dipindahkan selama Stupa mengalami perbaikan. Meskipun hingga kini, banyak kuil-kuil lain di kawasan Lembah Kathmandu masih terus dalam proses restorasi sejak gempa terjadi, Bouddhanath termasuk salah satu tempat pertama yang diprioritaskan diperbaiki. Dan dalam waktu satu setengah tahun sejak gempa terjadi, Bouddhanath bisa dibuka kembali secara normal.

DSC03504
Bouddhanath with the lights

Meskipun berada sekitar 7km dari pusat kota, Bouddhanath tetap ramai dikunjungi oleh penganut Buddha dari segala penjuru Nepal dan juga dari negara-negara lain yang kebanyakan penduduknya beragama Buddha. Ditambah dengan para wisatawan mancanegara,  hampir semuanya, baik yang Buddhist maupun yang non-Buddhist, berjalan melakukan sirkumambulasi atau kadang juga disebut pradaksina yaitu berjalan mengelilingi Stupa searah jarum jam.

Hari pada saat saya kembali ke Nepal itu, dari bandara saya langsung menuju kawasan Bouddhanath yang letaknya tak begitu jauh dari bandara. Alasan itu juga yang saya gunakan untuk menginap di kawasan Bouddhanath, karena keesokan harinya saya akan terbang ke kota lain sehingga tak mau jauh-jauh dari bandara tetapi keinginan saya tetap tercapai. Jadilah saya menginap di Bouddhanath dan tidak tanggung-tanggung karena saya menginap dengan hotel yang menghadap Bouddhanath.

Saya hanya ingin menatap Stupa besar kebanggaan orang Nepal itu dengan santai.

Dan sejak matahari tenggelam hingga waktu makan malam tiba, saya sengaja mengambil tempat di pelataran luar hotel dan langsung menatap Buddhanath yang cantik berhiaskan lampu-lampu.

DSC03508
Bouddhanath at Night

Dari tempat duduk saya di pelataran hotel, saya menyaksikan bahwa diameter terjauh Bouddhanath hanya sekitar 100meter dengan tinggi hingga ke puncaknya sekitar 36meter. Bisa jadi tidak terlalu besar jika dibandingkan Borobudur ya, tetapi bangunan ini terkenal sekali di Nepal dan stupa ini mengisi langit Nepal di malam hari.

Tentu saja bagi saya, yang paling menarik dari Bouddhanath adalah Lukisan Mata yang mengisi empat sisi puncak stupa itu. Mata itu merupakan representasi mata Sang Buddha yang melihat ke segala penjuru dunia. Dan lukisan yang bentuknya seperti tanda tanya, sebenarnya merupakan karakter Nepali untuk angka 1, yang merupakan simbol dari Kesatuan (unity) dan Satu Jalan menuju pencerahan yakni melalui ajaran Sang Buddha. Lebih jauh lagi, di atas lukisan mata itu terdapat Mata Ketiga, -tersembunyi di balik rumbaian kain penutup-, merupakan simbol Kebajikan Sang Buddha.

DSC03503
The Buddha Eyes

Angin musim dingin hampir berakhir meskipun masih terasa sejuknya. Angin itu terasa kuat membuat ikatan bendera doa yang warna-warni itu berkibar-kibar. Konon dipercaya, kibaran bendera doa akibat angin itu akan menerbangkan doa dan mantra ke seluruh penjuru alam semesta. Ditambah orang-orang yang tidak berhenti melakukan sirkumambulasi (pradaksina) sambil merapal doa dan mantra, tentunya memperkuat getaran doa untuk sampai ke seluruh penjuru alam semesta. Ah, indahnya saya berada di tempat yang begitu sakral…

Saya puas menatap orang-orang yang mengelilingi Stupa, puas menyaksikan Stupa besar semalaman dan juga esok paginya. Rasa damai dengan getar nada mantra Avalokitesvara, Om Mani Padme Hum yang sayup terdengar di sekitar saya, membuat saya betah berlama-lama di tempat itu.

Menatap mata yang tergambar di Stupa di hadapan, membuat saya merenung. Bahkan dalam ajaran Buddha pun diajarkan bahwa ada Mata yang terus melihat ke seluruh penjuru dunia. Dan sepertinya mengerucut juga karena saya percaya Allah Yang Maha Kuasa yang juga Maha Melihat semua aktivitas kita.

Kita hanya perlu terus menyadarinya.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-40 ini bertema Eye(s) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Look At The Top of The World


Tahun 2014

Sudah lama sekali saya memelihara impian untuk melihat Himalaya, barisan pegunungan berpuncak salju abadi dengan Mt. Everest yang menyandang gelar sebagai gunung tertinggi di dunia. Awalnya saya tak tahu harus bagaimana untuk bisa melihat Himalaya, apakah dari India, China atau Nepal. Telah berulang kali saya browsing untuk ke Leh, Ladakh untuk bisa merealisasikan impian itu, tetapi tidak pernah terjadi. Tetapi akhirnya cerita seorang teman yang terlebih dahulu menjejak di sana, membuat bulat keputusan itu. Saya harus ke Nepal. Sendiri!

Dan November tahun itu juga, impian itu benar-benar mewujud. Sengaja saya memilih kursi jendela di sebelah kanan dalam penerbangan siang. Dan sekitar satu jam jelang sampai, perasaan itu langsung berkecamuk begitu hebatnya, saat mengetahui barisan awan putih di horison sesungguhnya adalah pegunungan Himalaya yang saya rindukan. Saya melihatnya langsung, meskipun kecil, jauh dan bercampur awan. Tetapi awan adalah awan, Himalaya bertudung salju itu ada di sana. Berjajar dengan indahnya. Penguasa Alam Semesta selalu baik.

1IMG_0004
Himalaya and the Clouds at the horizon

Demi melihat Himalaya dari dekat, saat itu saya menabung agar bisa mengambil Mountains Flight, sebuah penerbangan wisata menjajari pegunungan itu dari jarak terdekatnya. Pada harinya, siapa sangka, saya yang check-in sejak pagi ternyata disela oleh banyak turis yang menggunakan jasa tur sehingga akhirnya saya mendapat nomor kursi terakhir? Tapi ah, saya telah banyak belajar untuk bisa menerima setiap peristiwa yang terjadi dengan ikhlas tanpa ekspektasi berlebihan. Namun siapa sangka, kejadian itu merupakan anugerah? Saya mendapatkan nomor terakhir, dengan dua jendela di sebelah kiri dan dua jendela di sebelah kanan karena tempat duduk di sebelah kanan kosong.

Pagi itu saya duduk sendiri menatap keluar jendela ke arah pegunungan Himalaya yang terlihat sangat indah. Rasa syukur saya tak berhenti sepanjang penerbangan hingga berkali-kali saya menghapus airmata bahagia. Alhamdulillah, sungguh saya orang yang paling beruntung di dunia, Begitu banyak anugerah terlimpah buat saya.

Belum selesai mengucap syukur, saya dipanggil pramugari untuk bisa melihat Himalaya dari ruang cockpit. Dan saat itulah saya mendapat anugerah terbesar dalam perjalanan itu. Puncak Mt. Everest yang bersaput awan sesaat menampakkan diri, memperlihatkan setitik puncaknya. Hanya setitik! Oh, betapa saya beruntung karena menjadi satu-satunya dalam penerbangan itu yang melihatnya karena giliran orang lain setelah saya hanya bisa melihat Mt. Everest yang kembali tertutup awan.  

Bahkan setitik puncaknyapun, bagi saya sudah cukup. Itu adalah Mt. Everest, gunung tertinggi di dunia dan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Impian saya begitu lama sudah terealisasi.

Tetapi bisa jadi Semesta tidak menginginkan saya meninggalkan Nepal hanya dengan ingatan Setitik Puncak Gunung Everest. Dalam penerbangan pulang ke Jakarta, kali ini pegunungan Himalaya itu tampak bersih dari awan, dan tentunya Mt. Everest yang memperlihatkan puncak khasnya. Lagi-lagi Himalaya membuat saya terharu-biru. Akankah ada lagi perjalanan ke pegunungan bertudung salju itu untuk saya? Saat itu saya tak pernah tahu.

April 2015

Gempa besar melanda Nepal, termasuk longsoran yang melanda kawasan Everest. Hati saya mengerut dalam doa.

Tahun 2017

Siapa sangka, sekali lagi saya diberikan kesempatan melakukan perjalanan ke Nepal, melakukan trekking di Himalaya dan melakukan mountain flight dan saat itu Mt. Everest benar-benar menampilkan keindahannya. Dengan mata tak berkedip dan tangan menempel di jendela seakan ingin menyentuhnya langsung, saya menyaksikan gunung tertinggi di dunia itu dari pesawat kecil saya. Mungkin banyak orang bermimpi untuk bisa melihat Himalaya dan melihat Everest namun belum mendapatkan kesempatannya, sedangkan saya telah berulang kali dan semakin jelas. Sungguh saya telah banyak menerima anugerahNya. Rasanya bersyukur saja tak akan cukup.

5DSC00640
Everest View From the 2nd Mountain Flight

Dan saya tak pernah bermimpi sekalipun, dalam tahun itu juga, saya bisa menjejak Himalaya lagi. Lebih dekat lagi, bukan dari atas melainkan dari tanah pegunungan yang sama yang menyambung ke Gunung Everest itu, berada di Taman Nasionalnya. Saya berjalan seakan melata di kaki dan punggung bukit-bukitnya untuk menyaksikan langsung dari tanah yang sama. Begitu dekat.

Saya tak pernah tahu adakah kesempatan bagi saya untuk melihatnya lagi dari dekat. Impian itu tetap saya pelihara dalam jiwa sembari terus mengucap syukur atas semua kesempatan menyaksikan keindahan alamnya sejak berupa garis horison tak jelas, lalu setitik puncak, lalu Everest yang semakin jelas, semakin dekat. Terima kasih Ya Allah atas semua anugerah yang berlimpah tak henti.

620170924_082733
Mt. Everest from Everest viewpoint, on the way to Namche Bazaar

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-25 ini bertema A View from The Top agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Adakah Gema Cinta Rama Sita di Janakpur?


Konon dalam periode Ramayana, Raja Janak menguasai wilayah, -yang saat ini bernama Dhanusa di Nepal-. Putrinya, Sita, yang cantik jelita memilih Rama, -yang berhasil mengangkat busur Shiva-, sebagai suaminya dalam sayembara pernikahannya. Upacara pernikahannya konon berlangsung di Vivaha Mandap yang berada di sebelah Kuil Janaki, tak jauh dari tempat Rama melihat Sita untuk kali pertama.

Sejak pertama kali ke Nepal hampir lima tahun lalu, saya sudah menginginkan untuk menginjak Janakpur suatu saat nanti. Alasannya jelas, ada gema cinta di kota wilayah Nepal yang tak jauh dari perbatasan dengan India itu. Konon disanalah untuk kali pertama Rama dan Sita mendentingkan nada cinta dan tentu saja saya suka menelusuri semua yang berbau cinta.

Meskipun Janakpur bukan tempat prioritas untuk dikunjungi di Nepal, -biasanya turis berkunjung ke sekitaran Kathmandu, Pokhara, Lumbini, Chitwan dan trekking ke gunung-gunung tinggi Himalaya-, tetap saja saya menemukan satu dua turis saat berada di sana.

Di bulan cinta, akhirnya saya terbang dari Kathmandu ke Janakpur yang tidak lebih dari satu jam, meskipun delay hingga bisa menghasilkan 1 blogpost 😀 Dan ketika turun dari pesawat ATR72 itu, saya disuguhi pemandangan yang tak biasa. Seseorang berseragam memegang senjata laras panjang tampak siaga di atap terminal sehingga menimbulkan sedikit rasa tak nyaman. Adakah situasi tak aman di kota lambang cinta dari Nepal ini?

Selepas itu, saya berjalan menuju terminal, tetapi jangan bayangkan masuk ke ruangan dingin ber-AC karena saya diminta berdiri diemperannya hingga bagasi datang. Lalu dari bawah pesawat pelan-pelan terlihat dua manusia menghela dan mendorong manual semua bagasi penumpang termasuk ransel saya! Urusan ransel selesai, saya tinggal mencari transportasi ke kota. Tidak ada pilihan lain, kecuali tuktuk karena itulah satu-satunya moda transportasi yang tersedia. Hebatnya, setelah harga disepakati dan saya naik… supir tuktuk berteriak-teriak menawarkan lagi kendaraannya untuk ke kota dan datanglah satu orang laki-laki yang bersedia duduk di samping supir tuktuk. Mendadak saya teringat lagu dan ingin menyanyi…. Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota, naik tuktuk istimewa kududuk dimuka, kududuk samping pak supir yang sedang bekerja, mengendarai tuktuk supaya baik jalannya…

DSC03807
Janaki Temple in Janakpur
DSC03541
Main Shrine in Janaki Temple

Kuil Janaki

Setelah rehat sejenak di penginapan menunggu panas mentari mereda, saya langsung berjalan kaki ke Kuil Janaki yang tak jauh dari tempat saya menginap.  Dan ketika saya melangkah ke halamannya, -tak terlihat tempat jual tiket-, saya seperti tak percaya berada di kuil Hindu yang termasuk dalam daftar Tentative UNESCO World Heritage Site itu. Arsitektur kuil begitu berbeda, tidak seperti yang pernah saya lihat pada bangunan-bangunan kuil di Nepal. Wiki memberitahu bahwa kuil Janaki ini bergaya Mughal Koiri Nepali, yang penuh warna dan kubah. Ini kuil Hindu lho…

Tidak heran, karena kuil yang terletak di distrik Dhanusa, Nepal ini, sangat lekat asosiasinya dalam sepenggal kisah epic Ramayana dan kini didedikasikan kepada Dewi Sita. Hal ini terjadi karena tahun 1657 ditemukan sebuah patung Sita oleh Sannyasi Shurkishordas, pendiri kota Janakpur.

DSC03574
Main Shrine of Janaki Temple
DSC03754
The marble in the Main Shrine

Uniknya, bila disebut bergaya Mughal, di wilayah itu sama sekali tidak tampak peninggalan-peninggalan Kekaisaran Mughal. Bisa jadi merupakan campuran gaya dengan Hindu Koiri Nepali, sehingga kuil ini merupakan landmark paling penting dalam arsitektur Koiri. Keseluruhan bangunan kuil berlantai tiga yang terdiri dari tembok batu dan marmer.

Kuil Janaki juga dikenal dengan nama Nau Lakha Mandir, yang secara harafiah berarti Sembilan Lakh atau Sembilan ratus ribu Rupees, sebagai pengingat nilai uang yang dikeluarkan Ratu Vrisha Bhanu dari Tikamgarh, India untuk mendirikan kuil di tahun 1910, bahkan di lokasi tempat Kuil sekarang ini berdiri,

Entah kenapa saya sedikit masygul karena kebersihan dan perawatan kuil ini tidak begitu terjaga. Kecantikan kuil ini sedikit terganggu oleh kabel-kabel listrik yang menghalangi façade-nya. Kabel yang mempercantik disaat malam, tetapi sungguh merusak foto dikala siang. Dengan melepas alas kaki dan berjalan di lantai yang tidak begitu bersih, saya mulai mengelilingi bagian dalam kuil. Terlihat banyak umat, laki-laki dan perempuan, tua dan muda bersemangat menuju altar. Dari sudut bagian dalam kuil itu, saya terus mengamati keindahannya. Lengkung-lengkungnya sangat menawan meskipun pewarnaan disana-sini terlihat kian memudar.

Di bagian dalam terdapat museum yang bisa dimasuki setelah membayar sejumlah kecil Rupees. Dan ada kisah-kisah Ramayana dalam bentuk diorama. Saya sudah asik membuat satu dua foto ketika tiba-tiba menyadari sebenarnya dilarang untuk mengabadikannya. Saya hanya berani bertanya di dalam hati, mungkin tidak diperbolehkan mengambil foto karena kesakralan tempat ini.

Selain diorama tersebut, banyak lukisan-lukisan dinding khas Hindustan yang kelihatannya mengambil tema Ramayana.  Indah dan penuh warna. Sayang sekali, saya hanya bisa menebak-nebak dari penggambarannya karena tidak ada informasi dalam bahasa Inggris. Saat melangkah ke balkon luar, pemandangan disana tidak kalah indahnya.

Saat keesokan harinya saya kembali ke kuil, saya melihat serombongan pemuja beriringan membawa benda-benda sakral dengan musik yang sangat riuh. Mendengar itu, saya kehilangan rasa romantisme yang tenang ala Rama dan Sita, yang terdengar malah suara yang riuh rendah penuh semangat. Saya hanya membayangkan, saat saya sedang jatuh cinta melihat keindahan wajah seseorang, tiba-tiba terdengar riuh rendah suara genderang dan pukulan-pukulan ritme lainnya, tentu rasa cinta itu langsung menyelinap pergi. Demikian juga saya yang kehilangan rasa, membuat saya pelan-pelan melipir memasuki Taman Janaki Mandap.

Janaki Mandap/Vivaha Mandap

Saya harus membeli tiket yang saya lupa berapa harganya, tetapi tidak seberapa. Dan ketika kaki menjejak Taman ini, saya tersadarkan di tempat inilah konon Rama terpesona melihat kecantikan Sita untuk kali pertama dan disini pulalah mereka berdua mengikat janji serta mengelilingi api suci, setelah Rama berhasil mengangkat busur Shiva yang sakti, yang menjadi syarat sayembara yang ditetapkan oleh Raja Janak, ayah Sita.

Cerita itu sudah lama berada di kepala, walaupun tamannya tak seindah yang dibayangkan, apa yang saya lihat cukup memanjakan rasa meskipun rasa masygul kembali menyerang. Bangunan Janaki Mandap terlihat modern, bahkan terlalu modern untuk ukuran kisah Ramayana, membuat saya kehilangan rasa untuk mengetahui lebih jauh. Sekali lagi saya merasakan benturan modernitas terhadap sesuatu yang melegenda –yang menurut saya sakral-. Saya hanya berjalan mengelilingi, mengintip dari luar.

Gema cinta Rama dan Sita mungkin terdengar sayup disini, tetapi aura ibadah tetap terasa kental. Saya juga berbahagia, karena berkesempatan menyaksikan Sang Surya beranjak turun diantara pepohonan. Pepohonan yang sama yang memperindah Kuil Janaki yang ada di sebelah Mandap ini. Kehilangan rasa gema cinta Rama Sita, saya mendapat anugerah dari Sang Surya. Cinta ada dimana-mana rupanya.

Dan rupanya saya terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang gema cinta Rama Sita, karena dalam perjalanan pulang ke penginapan, langkah saya terhenti oleh rombongan pengantin yang sedang berjalan. Saya melihat pasangan pengantin yang berada dalam satu kerudung itu, saya mendoakan semoga mereka bahagia. Ah… Gema cinta Rama Sita masih nyata adanya…

DSC03732
Facade of Janaki Temple
DSC03595
Janaki Temple from the Mandap
DSC03639
The Bride an The Groom

****

Sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-4 ini bertemakan Cinta (Love), agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

D-4 Trekking di Nepal – Gurung Hill, Rumah Bumi dan Phobia


The earth has music for those who listen – William Shakespeare

Gurung Hill

Pagi yang cerah, -seakan-akan menggantikan cuaca buruk kemarin (baca ceritanya)-, menjanjikan sebuah keindahan. Dan sesuai janji Dipak, ia akan menunjukkan jalan ke Gurung Hill, -tempat melihat rangkaian puncak bersalju, yang jalannya tepat di depan penginapan. Dan saya sungguh berharap pagi ini bisa melihat pegunungan bersalju sebagai pengganti situasi berawan di Poon Hill sebelumnya (baca ceritanya)

Berbeda dengan jalan ke Poonhill, untuk sampai ke Gurung Hill, saya hanya menanjak sedikit untuk sampai ke sebuah tanah lapang yang menyuguhkan pemandangan pegunungan bersalju yang indah dan didominasi Gunung Dhaulagiri, 8146m.

gurunghill
The view in Gurung Hill
Gradation
Layers of Mountains

Mengingat kondisi habis hujan malam sebelumnya, Dipak meminta saya untuk tidak mendaki lebih dari tanah lapang namun ia membiarkan Pak Ferry dipandu Kedar ke atas. Mungkin ia tidak mau repot dengan perempuan kota melewati tempat becek penuh rintangan. Namun ia konsisten mendampingi di lapangan dan meyakinkan pemandangannya sama. Bedanya hanya ada tower dengan prayer-flags. Dan sebagai penikmat pinggir jurang, saya terpukau melihat pemandangan cantik sambil berjalan jauh ke pinggir sampai Dipak menarik saya menjauh dari tepi jurang yang dalam. Sebenarnya saya masih ingin maju karena posisinya tepat untuk memotret pegunungan berkabut dengan degradasi biru. Tetapi saya memahami concern-nya, bagaimana seandainya jatuh? Bergidik lalu saya mengubah fokus foto ke bunga rhododendron pink berlatar gunung berpuncak salju.

Rasanya waktu berjalan cepat karena tak lama kemudian Pak Ferry dan Kedar sudah terlihat di ujung tanah lapang. Untung saya tidak naik karena Pak Ferry juga menceritakan jalan yang tidak mudah dan becek. Dan sebelum meninggalkan Gurung Hill, sebuah foto persahabatan dibuat mengandalkan kamera yang diletakkan diatas ransel. Hasilnya? Jangan tanya gesture-nya, semuanya aneh.

deurali
Our guesthouse in Deurali

Setelahnya kami kembali ke penginapan bersiap melanjutkan perjalanan hari itu. Saya mencari wajah teman tunawicara namun tak terlihat batang hidungnya. Sampai bertemu lagi, Teman, suatu saat nanti. Lalu timbul sekelumit rasa dan keinginan untuk mengenang Deurali, sehingga saya membeli sebuah gelang biru di lapak depan penginapan. Sebuah pengingat. Memory. Lalu satu lagi foto persahabatan dibuat untuk mengingat pernah menjejak di Deurali. Seribu satu kesan telah terukir. Entah kapan saya kembali…

Jeri Pada Ketinggian

Seperti biasa, Pak Ferry dan Kedar berjalan di depan, Dipak dan saya di belakang. Tetapi yang tidak biasa adalah Pak Ferry berjalan sangat lambat karena jalanan menurun curam. Ia menapak sangat hati-hati sementara saya bisa melangkah cepat. Ternyata Pak Ferry memiliki sedikit masalah ketinggian hingga ia jeri melihat jalan di depannya curam ke bawah. Saya kaget juga karena Pak Ferry telah banyak naik-turun gunung di Indonesia. Walaupun saya penikmat pinggir jurang, kenyataan ini membuat saya berpikir, adakah manusia yang benar-benar bebas dari rasa jeri saat berada di ketinggian?

downhill
Down and down and down

Melihat kenyataan ini, Dipak memutuskan untuk menemani Pak Ferry berjalan dan menyuruh saya ke depan bersama Kedar. Saya telah belajar dari pengalaman sebelumnya ketika menuruni jalan-jalan curam dalam hujan es secara cepat. Dan selanjutnya begitulah, setiap turunan curam, saya berganti pasangan dengan Kedar, porter handsome calon bintang film, kata Pak Ferry. Kedar dengan beban berat di punggungnya selalu tersenyum lebar berjalan cepat bersama saya menuruni lembah. Saya melangkah tak lagi berpikir, hanya mengikuti irama kaki hingga rasanya begitu ringan terbang melayang.

Rumah Bumi

Turunan-turunan curam itu terhenti sejenak pada sebuah pelataran yang dipenuhi cairns, batu-batu yang ditumpuk keatas sebagai lambang keseimbangan. Namun bagi saya, pelataran cairns ini sebagai penanda. Entahlah, mungkin bagi pejalan lain tempat ini hanya berupa pelataran cairns biasa, namun bagi saya sampai di tempat ini seakan diberi pesan berada di tempat dan waktu yang tepat. Bukan hanya jalurnya melainkan waktunya juga tepat. Saya tersenyum sendiri menyaksikan kupu-kupu kuning kembali mendekat. Hati ini tercekat, meluruh bersama Semesta. I’m so blessed…

cairns-on-river
Cairns on the river

 Saat tea-break di Banthanti, kami semua terpesona akan ketrampilan kera-kera menuruni tebing vertikal. Jika saja Ibu pemilik tea-house itu tidak membuat keributan untuk mengusir kera, kami pun tidak menyadari kehadiran hewan-hewan itu di tebing. Bahkan mata yang awas pun harus teliti mencari kera diantara semak di tebing vertikal itu. Adakah yang mampu melawan hukum alam?

monkey
Can you find 2 monkeys here?
forests
The Forest

Setelah rehat menikmati teh hangat, perjalanan dilanjutkan melewati hutan eksotis karena batang-batang pohonnya telah kehilangan kulit. Jalan semakin mudah dengan tanjakan landai dan menghamparkan pemandangan luar biasa. Bukit-bukit penghubung dengan Himalaya itu berjajar indah dengan lembah-lembahnya yang membentuk huruf V. Sambil menggumamkan pujian kepada Pemilik Semesta, selintas terpikir, apakah Tuhan sedang tersenyum saat bumi Nepal terbentuk? Begitu indah sehingga mampu membasahkan mata.

Setelah makan siang kentang goreng di Tadapani, -karena sudah bosan dengan Dal Bhat atau mie-, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini jalannya kembali menanjak landai, -walaupun bagi orang Nepal jalan seperti itu dibilang datar-, sehingga saya tertinggal lagi oleh duo sekawan Pak Ferry dan Kedar. Hingga tiba di satu tempat yang terbuka, saya meminta Dipak untuk berhenti karena saya mendengar suara alam begitu indah. Saya mengamini kata Shakespeare, the earth has music for those who listen. Heningnya alam, hijaunya pepohonan, desir angin, keindahannya terasa seperti musik di telinga, begitu sempurna. Serta merta saya duduk menikmati musik alam dalam keheningan. Perjalanan ini luarbiasa, tanpa diminta, saya mendapat kesempatan untuk menyatu dan menikmati suara alam, tanpa kegaduhan manusia. Inilah Rumah Bumi bagi saya…

home2
Rumah Bumi – where the heart is…

Saya tak bisa berlama-lama di Rumah Bumi karena awan tebal mulai menggantung. Karena mengambil jalan potong, di jalan Dipak dan saya terhalang sebuah pagar besi yang menutupi jalan dan satu-satunya cara untuk melewatinya, dengan mengayunkan tubuh menumpu tiang pagar di sisi jurang. Sempat tergidik saat berpikir bagaimana Kedar dengan beban berat harus mengayun badan diatas jurang. Namun hoplaaa…  saya sukses mengayunkah tubuh yang berlebih ini.

Pak Ferry sudah santai di halaman sambil membaca buku ketika saya mencapai penginapan di desa Chuile yang menghadap lembah dengan sungai jauh di bawahnya. Indah sekali. Dan jahilnya, saya tergerak pamer gaya duduk di pinggir jurang dengan kaki menggantung di jurang yang bisa membuat orang yang phobia ketinggian, senewen. Tapiiiii… ternyata kejahilan itu langsung terbalas!

guesthouse-view
The view of our Guesthouse in Chuile

Law of Attraction

Kaki terasa begitu merdeka, terbebaskan dari sepatu setelah seharian berjalan. Dengan mengenakan sandal, saya ke halaman untuk menikmati kopi sambil melihat pemandangan. Tetapi sayang, berlama-lama menikmati pemandangan bukan rejeki saya sore itu, karena tidak lama kemudian gerimis turun yang semakin deras, membuat semuanya kembali ke kamar. Hujan es lagi! Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali istirahat atau mandi. Pilihan kedua menjadi prioritas karena dalam trekking mandi air hangat sungguh sebuah kemewahan.

Tapi yang terjadi sungguh tak terduga! Baru saja hendak menyabuni kaki ketika saya melihat sekilas ada yang aneh di antara jempol dan telunjuk kaki. Sesuatu yang membuntal gendut seperti tambahan jari. Dan sepersekian detik saya tersadar sepenuhnya, membuat saya menggigil ketakutan. 100% takut dan geli. Lintah!

intheedge
Showing off the shoes in the edge

Sepersekian detik itu, -ketika sadar saya terkena lintah-, tanpa pikir panjang, saya pukul, -entah dengan apa, pokoknya sedapatnya alat ditangan-, sambil jejeritan ketakutan di kamar mandi memukul-mukul si gendut itu hingga lepas. Suatu tindakan yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Tetapi jangan tanya boleh atau tidak, saya tidak berteori lagi, yang penting si gendut itu lepas. Dan setelah lepas, saya mengenakan pakaian secepat kilat lalu lompat-lompat kangguru kembali ke tempat tidur tanpa peduli lantai antara kamar mandi dan tempat tidur dipenuhi bercak darah.

Terduduk lemas gemetaran di tempat tidur, saya langsung membongkar ransel mencari Betadine, lalu menenangkan diri sejenak. Dan setelah membersihkan semua yang berceceran, saya terdiam lalu tersenyum sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala menyadari Pemilik Semesta mengajarkan segala sesuatu dengan caraNya sendiri. Sebuah ketakutan, keberanian atau keterpaksaan menghadapinya sendiri tanpa bantuan, hingga akhirnya sebuah pengertian akan sebuah kejadian.

Jika paham Law of Attraction, maka hati-hatilah dengan ketakutan Anda. Lintah ini contohnya. Sebagai perempuan kota, saya jarang sekali berkegiatan outdoor di Indonesia. Alasannya, karena amat sangat takut (atau lebih tepatnya geli) yang namanya lintah, ulat, cacing, kecoa dan sejenisnya. Anak saya saat balita pernah berbahagia sekali saat ia berlari mengejar ibunya sambil membawa daun berisi ulat yang gendut sementara saya jejeritan. Nah, sebelum trekking, saya google semua yang terkait lintah. Bahkan periode trekking pun disesuaikan supaya tidak dijalankan pada musim lintah. Dan saat trekking, -walau dengan sepatu waterproof-, sebisa mungkin saya menghindari genangan atau tempat yang becek atau lembab. Saya begitu paranoid karena ‘katanya’ lintah bisa jatuh dari pepohonan, bisa masuk saat duduk istirahat, saat menginjak genangan atau tempat becek, bisa ke punggung, bisa menembus sepatu hingga menempel ke kaki, dan seterusnya. Ampun… amit-amit banget dengan lintah… Dan karena ketakutan itulah tanpa sadar saya terus menghadirkan lintah dalam benak. Dan demikianlah Law of Attraction berjalan. Si lintah benar-benar datang dan menempel pada jari saya, satu kejadian yang sama sekali saya takutkan.

Dan cerita tentang penghisap darah itu belum berakhir sampai situ. Setelah makan malam, Pak Ferry, Dipak dan saya ngobrol panjang lebar. Hingga suatu saat, saya melongok ke bawah mencari sandal. Saya terkejut karena, -walaupun temaram-, di bawah meja terlihat cukup banyak tetesan darah dari kaki saya. Pasti kelanjutan akibat si gendut lintah. Otomatis saya mengambil tissue untuk membersihkan lantai dan menekan pendarahan. Namun apa yang saya lakukan membuat kedua sahabat seperjalanan itu terkejut dan langsung sibuk seakan-akan saya terluka parah. Pak Ferry langsung ke kamarnya untuk mengambil peralatan P3K. Namun darah tetap menetes. Akhirnya Dipak mengambil alih. Sebenarnya saya segan seorang laki-laki Nepal memegang jempol kaki, rasanya tidak pantas sekali. Tetapi ia pemandu yang lebih berpengalaman. Saya menurut padanya. Entah apa yang dia lakukan, saya hanya diminta untuk menekan luka lalu melanjutkan obrolan. Hebatnya, tak lama kemudian pendarahannya berhenti. Saya sungguh berterimakasih kepada Dipak dan malam itu saya terpincang-pincang kembali ke kamar menopang mereka berdua sambil menambah gelar Dipak sebagai the leech doctor 😀

 

WPC – There’s No Place I’d Rather Be Than Home


DSC00279
A Himalayan view from my guesthouse in Chomrong, during trekking in Annapurna, Nepal

 

There’s no place like home
No place like home
There’s no place I’d rather be than home

(Beth Hart’s No Place Like Home)

*

But what is Home?

Home is not a place, it’s a feeling. It is not where we are from, it is where we belong. Home is where we love… Where our feet may leave, but not our hearts.

Home is where we can look ugly and still enjoy it 🙂 It is where you are loved, no matter what.

Home is where love resides, all memories are created, friends always belong and laughter never ends…

Home is where the heart is. Period.

Nepal – Berteman Sakit, Menjejak Poonhill


Melanjutkan kisah trekking di Nepal (kisah sebelumnya bisa dibaca disini)

Dingin masih menusuk tulang walaupun selimut tebal sudah menutup badan yang berlapis pakaian. Suara-suara riuh itu terdengar lagi, terdengar dekat dan tidak bisa diabaikan. Mau tidak mau saya membuka mata dan menemukan kegelapan dimana-mana. Suara itu tidak jauh, bahkan dekat sekali… Dari balik selimut… Dari perut saya! Seketika itu juga terasa perut yang memberontak minta isinya segera dikeluarkan. Duh tengah malam begini? Gelap lagi!

Akibat Memenangkan Nafsu

Sambil meraba-raba headlamp dan kantong peralatan mandi, semakin terasa yang di dalam perut tak dapat ditahan lagi. Harus cepat. Aduh, mengapa kunci pintu guesthouse ini sulit sekali dibuka pada saat harus bergegas? Saya tak peduli untuk menguncinya kembali dari luar, terlalu sulit. Saya hanya menutupnya lalu setengah berlari kearah toilet yang untungnya tidak jauh dari kamar sambil membiasakan mata melihat dengan cahaya headlamp. Setelah menggantung kantong peralatan mandi, membuka lapisan-lapisan pakaian secara cepat, saya langsung duduk di kloset. Tak peduli dengan suara-suara ajaib yang menyertai keluar serta hawa dingin yang menyeruak dari sela-sela toilet serta dinginnya air seperti es saat membersihkan, saya hanya ingin pemberontakan isi perut ini cepat selesai lalu melanjutkan tidur di balik selimut hangat. Namun rasa sakit melilit di perut ini membuat saya harus sedikit berlama-lama dalam kegelapan, membuat hantu-hantu Nepal sepertinya terbahak senang melihat saya menderita.

Acara ke toilet dalam kegelapan selesai juga akhirnya walaupun yaa… begitulah. Dengan tertatih saya kembali ke kamar dan langsung masuk ke balik selimut. Mencoba tidur kembali meskipun masih terasa sisa-sisa pemberontakan dari dalam perut. Dan rasanya baru terlelap sebentar, saya harus bangun lagi karena pemberontakan dari dalam perut kembali tak tertahankan. Berulang! Sekitar dua jam dari kali yang pertama saya kembali berada di toilet yang sama, kembali menderita dengan ‘keharuman’ bekas saya juga. Uh! Saya menyumpah-nyumpah nafsu minum dua cangkir susu coklat sebelum tidur. Walaupun hangat dan enak, jika tahu akan begini, tidak akan saya minum setegukpun!

Berteman Sakit Menuju Poonhill

Setelah kembali ke kamar dan menegak imodium, rasanya baru tertidur sesaat, Dipak sudah mengetuk kamar, membangunkan, agar bersiap-siap berangkat ke Poonhill menyaksikan matahari terbit. Dengan malas saya menjawab, lalu terhuyung dengan mata panda menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka. Mandi? Lupakan dulu!

Mengenakan down jacket karena udara dingin terasa menggigit, saya merasa suara-suara gila dari dalam perut sudah berkurang banyak walaupun belum hilang sepenuhnya. Imodium itu bekerja cepat, berhasil membentengi kebocoran tapi menyisakan rasa tak enak dalam perut. Saya kemudian cerita kepada Dipak mengenai masalah perut ini. Keprihatinan tampak menghias wajahnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya karena saya merupakan titik terlemah dalam rombongan dan kini harus ditambah dengan penyakit yang menggerus daya tahan.

Steep stonestairs on the way to Poonhill
Steep stone stairs on the way to Poonhill

Perjalanan menuju Poonhill dalam kegelapan itu dimulai dengan tanjakan tajam kemudian berlanjut dengan tangga-tangga lagi. Diterangi cahaya dari headlamp, berkali-kali saya menepi memberi jalan rombongan lain yang menyusul sambil mengambil kesempatan mengatur nafas. Suara-suara mereka dalam berbagai bahasa yang tadinya terdengar di belakang sekarang semakin menghilang menandakan mereka telah jauh di depan. Saya menyesalkan latihan fisik yang tetap saja terasa tidak cukup, karena tanjakan-tanjakan tanpa jeda itu rasanya terus menertawakan saya hingga semburat cahaya menghias arah Timur. Fisik benar-benar terasa diuji, tidak mudah trekking dengan kondisi perut melilit. Konsentrasi buyar blasss, bingung menentukan prioritas antara perut dan mengatur nafas.

Dipak masih menemani walau kadang ia berjalan di depan lalu menanti dengan sisa kesabarannya. Untuk kesekian kalinya, saya berhenti, tak mau memaksakan diri. Saya pernah blackout di tangga Bromo ketika memaksa diri naik saat tidak sehat, dan rasanya tak ingin mengulang kejadian itu, karena saat ini tak ada suami yang mendampingi. Saya hanya menuruti alarm tubuh, berhenti pada saat harus berhenti.

A Lovely Memorial
A Lovely Memorial

Langit semakin terang walaupun awan tebal menutupi jajaran Himalaya. Melihat awan-awan itu saya ge-er seakan alam turut iba terhadap saya. Tak mau menyerah begitu saja, saya mencoba memotret keadaan sekitar yang berawan namun menyembunyikan keindahan. Di sebuah tempat memorial saya membaca dan ikut mendoakan dia yang telah pergi. Sebuah ‘pembenaran’ untuk berhenti dan mengatur nafas, tetapi sesungguhnya, jauh di dalam diri terjadi pertempuran sengit antara menyerah pulang atau melanjutkan bersama ketidaknyamanan perut. Saya cenderung memilih yang terakhir karena perjalanan ini telah dimulai dan harus diselesaikan. Dan kecenderungan itu mendapat dukunga karena beberapa meter di atas terlihat Pak Ferry melambai sambil memberi tanda di tempatnya pemandangannya jauh lebih indah.

Akhirnya sampai juga saya di tempat Pak Ferry tadi melambai, yang tak jauh lagi dari puncak Poonhill.. Semua senang saya akhirnya menjejak tempat itu, sementara saya tak merasa gembira, entah kenapa. Orang-orang yang tadi menyusul saya kini telah turun dari puncak Poonhill. Saya tergelak dalam hati, sementara saya belum sampai ke Poonhill, mereka sudah turun.

A Glimpse of Mt. Dhaulagiri
A Glimpse of Mt. Dhaulagiri
The Beautiful Annapurna
The Beautiful Annapurna

 

Poonhill – 3210mdpl

Momen matahari terbit, -yang sayangnya sejak awal sudah tertutup awan-, memang sudah lewat ketika akhirnya saya sampai juga di puncak Poonhill. Semua sahabat menyalami atas pencapaian ini. Menjejak 3210 meter di atas permukaan laut, di ketinggian tertinggi sepanjang hidup yang saya capai dengan kaki sendiri, -tanpa pernah sekali pun mendaki gunung dimanapun-, di sini,  di bumi Nepal tempat  gunung-gunung tinggi dunia bersemayam. Saya berdiri di tempat itu dengan seribu satu rasa. Yang pasti sedikit sekali rasa bangga, banyak malunya karena untuk mencapainya lebih banyak rasa lelah, rasa mual hendak muntah, sakit melilit dan ingin tidur… Ah, saya tak ingin berpikir lebih jauh soal sakit ini.

No view at Poonhill
No view at Poonhill
Mountain Map
The mountains we should see at Poonhill

Teh hangat yang tersedia sangat membantu menghangatkan tubuh. Sambil duduk menghadap pemandangan putih yang seharusnya indah, saya hanya bisa tersenyum lebar melihat warna putih yang menghiasi pandang. Apa yang indah dari pegunungan Himalaya yang tertutup kabut dan awan tebal? Dua gadis pejalan duduk bersila berbicara keras kepada alam, memohon awan menyibak dan memperlihatkan keindahan gunung. Ah, semua orang disini pasti berharap sama, termasuk saya.

Saya duduk dalam diam, berharap sejenak bisa melihat gunung berpuncak salju di Poonhill. Tak mungkin berlama-lama disitu karena jika perut memburuk, toilet tidak menyediakan air. Sejumput doa untuk melihat keindahan alam itu terucap dalam hati, sambil meringis merasakan perut yang kembali melilit.

Dalam hitungan menit setelah doa yang terucap itu, awan-awan sedikit menyibak membuat lubang dan memperlihatkan puncak gunung bersalju yang disembunyikan dibaliknya. Saya benar-benar terkesima dengan apa yang terpampang di depan mata. Pemandangan indah itu hanya sesaat tak sempat diabadikan. Kedua gadis langsung berteriak memohon agar awan kian menyibak hingga menampakkan seluruh gunung. Rasa tak enak di badan langsung menghilang. Ini hadiah! Saya meremang, merasakan berada dalam pusaran anugerah yang datang tiba-tiba itu. Saya tahu, ini hanya sesaat, hanya sebagai tanda Kebaikan dari Pemilik Semesta dengan hikmah yang terserak.  Hanya sesaat saja, sehingga ketika awan kembali menutupinya, saya hanya bisa meluruh meraba-raba memaknai hikmah dari yang terjadi.

Saya merasa ditegur dengan keras. Bukankah ketika sampai di Puncak Poonhill, saya tak banyak bersyukur pada tubuh yang telah bekerja keras? Saya yang berharap tinggi untuk melihat pemandangan terbaik di Poonhill padahal sepanjang perjalanan banyak keindahan lainnya. Seperti di pelataran di bawah Puncak Poonhill, -tempat Pak Ferry sebelumnya melambai-, juga indah bahkan jauh lebih indah dan lebih lama memperlihatkan pegunungan bersalju dibandingkan puncak Poonhill. Saya juga mengabaikan keindahan kabut yang menari-nari di lembah-lembah.

Above the clouds
Above the clouds
Serene morning on the way to Poonhill
Serene morning on the way to Poonhill

Saya hanya berfokus memanjakan pada melilitnya perut, bukan pada keindahan yang terpampang sepanjang perjalanan. Saya telah lalai. Tetapi karena Kasih SayangNya, alam pun berbaik hati memperlihatkan apa yang seharusnya dilihat di Poonhill walaupun sekejap, -sebagai pengingat-, bahwa sesungguhnya ketika manusia meminta akan dijawab langsung.

Sambil mengerjap-ngerjapkan panasnya mata, saya paham arahnya. Perjalanan ini selalu memperkaya jiwa. Lagi-lagi diingatkan bahwa destinasi perjalanan bukanlah segalanya. Saya terdiam, menyadari kelalaian dan ikhlas menerima apapun yang akan terjadi dalam hari-hari ke depan ini.

Menit-menit berlalu dan waktu juga yang membuat kami akhirnya memutuskan turun. Kali ini saya menikmati perjalanan turun yang terasa sangat cepat untuk sampai ke hotel. Entah kenapa perasaan saya berdesir kencang saat melihat tumpukan-tumpukan batu yang disusun rapi di beberapa tempat. Ketika sampai hotel saya googling mengenai tumpukan batu ini, -yang pernah juga saya lihat di Angkor Wat, Jepang, Laos, dll.-, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Cairns,

Cairns represent a trail marker that guides one through uncertain areas in life.
They provide guidance, hope, balance, continuity and confidence on the journey down the path of life – (John P Kraemer)

P1050683
Found many cairns on the way to Poonhill

 

Di Simpang Perjalanan

Sambil mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan, di hotel pikiran saya berkecamuk. Membaca wajah Dipak sepanjang perjalanan Poonhill pulang pergi, sepertinya ada keraguan khususnya terhadap kekuatan saya untuk pergi ke Annapurna Base Camp, apalagi itinerary yang disusun sangat ketat. Ketika ada kesempatan, saya langsung menanyakan kepadanya dan ia meminta saya untuk melihat perkembangan perjalanan hingga ke Chhomrong walaupun sempat ia mengatakan bahwa perjalanan ke depan tidak bisa dibilang mudah. Saya tersenyum mendengar jawaban tak langsungnya yang tidak merekomendasi saya untuk ke ABC.

Namun bersamaan dengan itu, perasaan saya berdesir halus merambat jiwa. Saya teringat pada tumpukan batu (cairns) yang sejak pagi menarik perhatian mata dan terus menari-nari di benak. Dipak tak tahu mengenai hal ini, tidak ada seorangpun yang tahu undangan untuk melakukan perjalanan ke ABC ini. Tumpukan batu itu sepertinya penanda agar tetap yakin dan percaya.

Ini adalah perjalanan saya dan akan sampai ke sana, bagaimanapun caranya.

Dari jendela lebar di hotel Sunny Ghorepani, saya melempar pandang ke arah pegunungan yang tertutup awan. Perjalanan ini sudah dimulai dan saya hanya perlu percaya saja.

Seperti dulu, seperti yang sudah-sudah…

(bersambung)

—-

Masih ada kejadian seru lagi di cerita berikutnya, semoga saja gak ada prioritas lain yang menyalip 😀

WPC – We Want To See The Scenery Too


Buffaloes blocked the trekking way

I was on my trekking to Chomrong in Annapurna Area, Nepal, when the buffaloes blocked the way, again. It was not the first time that buffaloes blocked the trekking path. They were resting and sitting on the middle of the trail, enjoying the warm sunshine. They’re cheeky, looked at me for a while and seemed to say to me, “We want to see the scenery too…”

WPC – A Serene Morning


Morning Serenity Above The Clouds

After so many considerations, finally I decided to stay in a hotel at the top of Raniban Hill, -which is located on outskirt of Pokhara city, Nepal-, during my first trip to Nepal a couple years ago. The main reason for me to stay there, was its advertising of the amazing view.

So I woke up early on my first morning at Raniban and walked out of my room to feel the morning serenity. Ignoring the cold November morning breeze, I was sure that I’d never regret to pay more for the panorama view. It was so breathtaking, made me jaw drop. The eastern view was the perfect shape of the sun above the bed of clouds with World Peace Stupa at the top of a hill and the flowing mist between the peak of hills.

Have I told that the northern side view, -exactly in front of  my room with the wide glass door-, was the beautiful snow-capped Himalaya range with the majestic Mt. Macchapuchhare or famous as Fish Tail?

The view locked me in gratitude, totally no regret at all.