Batu-Batu Pembuat Takjub


Ada seorang teman sekolah yang mengatakan bahwa saya penyuka batu. Mendengar itu saya hanya bisa mengangkat alis, karena, -meskipun terdengar aneh-, saya tidak bisa mengabaikan kenyataan itu. Benar juga sih. Karena saya memang menyukai batu. Bukan batu-batu permata yang dulu pernah heboh, melainkan batu-batu yang memiliki makna, batu alam yang membuat takjub, atau batu-batu yang tersusun menjadi bangunan candi, batu-batu kecil yang berbentuk aneh. Ah, rasanya saya memang mudah tertarik oleh penampakan batu yang ‘menghebohkan’. Aneh juga ya?

Namun bagi mereka yang mengenal saya, atau mengikuti perjalanan saya melalui blog ini, tentu mengetahui bahwa saya sedikit ‘gila’ terhadap candi-candi Hindu/Buddha yang umumnya tersusun dari batu. Bahkan saya ‘kejar’ kegilaan saya akan batu itu sampai ke luar negeri. Meskipun, jujur deh, masih sangat banyak tempat di Indonesia yang belum saya kunjungi dan semuanya terkait dengan batu. ūüėÄ

Ketika berkesempatan pergi ke Jepang untuk pertama kalinya, di Osaka Castle saya terpaku di depan sebuah batu utuh yang amat besar, yang menjadi bagian dari dinding pelindung halaman dalam yang dikenal dengan nama Masugata Square. Batu yang disebut dengan Tako-ishi atau harafiahnya berarti Batu Gurita (karena ada gambar gurita di kiri bawahnya) memang luar biasa besar. Beratnya diperkirakan ¬†108 ton, berukuran panjang 11.7 meter dan tingginya 5.5 meter (atau lebih dari saya ditumpuk tiga ke atas ūüėÄ ). Satu batu utuh yang termasuk megalith dan terbesar di Osaka Castle ini bisa disaksikan tak jauh dari Gerbang Sakura.

Konon, dinding batu yang terbuat dari batu-batu amat besar ini dibuat pada awal periode Edo, yaitu sekitar tahun 1624 oleh Tadao Ikeda, Bangsawan besar dari Okayama yang diperintahkan oleh Shogun Tokugawa. Selain, Takoishi sebagai yang terbesar, tepat di sebelahnya terdapat batu yang merupakan ketiga terbesar di Osaka Castle, yang dikenal dengan nama Furisodeishi atau harafiahnya berarti batu lengan panjang kimono. Mungkin karena bentuknya seperti lengan kimono.

Saya sendiri belum sempat menelaah lebih lanjut tempat pembuatan Tako-ishi itu, apakah memang dibuat di Osaka atau di Okayama, tempatnya Tadao Ikeda menjabat. Jika benar di Okayama, saya tak pernah membayangkan pengirimannya. Padahal jarak Osaka ke Okayama itu sekitar 170 km. Lalu bagaimana pengirimannya pada masanya ya?

Stone1-Takoishi
Takoishi – The Largest Stonewall in Osaka Castle

– ¬ß –

Berbeda dengan batu yang ada di Jepang, dalam perjalanan saya ke Cambodia, -tentu saja selain Angkor Wat dan kuil-kuil lainnya yang mempesonakan-, saya juga terpesona dengan Reclining Buddha raksasa yang terbuat dari batu utuh yang berlokasi di kompleks Preah Ang Tom di Phnom Kulen, sekitar 50 km di utara kompleks percandian Angkor.

Dengan panjang sekitar 17 meter, Reclining Buddha dari abad ke-16 ini, dibangun di atas batu setinggi 8 meter sehingga saya harus menaiki tangga untuk mencapainya. Meskipun ukurannya kalah jauh dari Wat Pho di Bangkok atau bahkan Reclining Buddha di Mojokerto apalagi jika dibandingkan panjang patung-patung serupa di Myanmar, saya merasa amat unik dengan apa yang saya lihat di Preah Ang Tom ini.

Tidak seperti biasanya di negara-negara Buddhist yang pada umumnya Reclining Buddha dalam posisi Parinirvana (perjalanan menuju Nirvana setelah kematiannya) dibuat dengan kepala di sebelah kiri, Reclining Buddha yang ada di Phnom Kulen ini, kepala Sang Buddha berada di sebelah kanan. Terlebih lagi, konon sudah amat tua, hampir empat abad keberadaannya dan dibuat diatas batuan pegunungan! Bahkan setelah saya browsing, hanya ada tiga Reclining Buddha dalam posisi ini, dua di Thailand dan di Preah Ang Tom ini.

Stone2-PhnomKulen
Reclining Buddha at Phnom Kulen, Cambodia

– ¬ß –

Bicara soal usia batu, saya jadi teringat batu yang ditemui saat melakukan trekking ke Muktinath di kawasan Lower Mustang, Nepal. Tak jauh dari kuil Muktinath yang dipercaya oleh penganut Hindu Vaishnavas sebagai salah satu tempat yang paling sakral, terdapat sebuah patung Buddha sebagai penghormatan kepadan Guru Rinpoche yang konon pernah ke sana. Di bawahnya diberi hiasan batu-batu asli, yang diambil dari Sungai Kali Gandaki. Batu-batu asli ini namanya Shaligram.

Shaligram ini sangat khas. Meski kecil, tidak lebih besar dari telapak tangan-, batu ini luar biasa unik karena memiliki motif kerang yang terbentuk secara alamiah. Konon terbentuk sebagai fosil sejenis kerang yang ada sekitar ratusan juta tahun lalu!

Yang membuat saya terpesona adalah kenyataan bahwa batu kerang sebagai binatang laut yang sudah memfosil itu bisa ditemukan di dasar atau pinggir sungai Kali Gandaki yang berair tawar di sekitaran kawasan Himalaya yang tinggi gunungnya beribu-ribu meter ke atas. Mungkin saja, pikiran saya terlalu terbatas untuk bisa membayangkan yang terjadi di alam ini selama ratusan juta tahun yang lalu, ketika jaman es masih menutupi planet bumi tercinta ini. 

Menyaksikan sendiri fakta alam yang begitu dekat dan bisa dipegang, rasanya amat luar biasa. Namun sayang sekali, ada saja manusia-manusia yang tak bertanggung jawab yang mencungkilnya untuk dijadikan sesembahan.

DSC06048
Shaligram of Muktinath, Nepal

– ¬ß –

Batu-batu lain yang membuat saya takjub adalah batu-batu yang berdiri dalam posisi amat kritis. Salah satu batu yang membuat saya terkagum-kagum adalah The Golden Rock, yang ada di Myanmar, sekitar 5 Р6 jam perjalanan dengan bus dari Yangon. Hingga kini, Golden Rock menjadi tempat sakral bagi umat Buddha Myanmar sehingga banyak didatangi peziarah dari segala penjuru Myanmar.

Bagi saya, The Golden Rock bisa mewakili semua posisi batu yang disangga batu lainnya meskipun dengan posisi yang teramat kritis dan tetap dalam keseimbangan selama berabad-abad. Mungkin tingkat kekritisannya bisa dibandingkan dengan The Krishna’s Butter Ball yang ada di Mahablipuram, India (Semoga saya diberikan kesempatan untuk berkunjung kesana!) atau batu-batu lainnya yang serupa.

Di dekat Wat Phu, Laos Selatan, saya melihat celah sempit di bawah batu cadas (rocks) dan digunakan untuk tempat persembahyangan. Juga di Golden Rock, saya melihat banyak orang bersembahyang di bawah batu tersebut. Entah kenapa melihat semua itu, selalu terlintas di pikiran, bagaimana jika terjadi gempa bumi yang membuat posisi batu menjadi tak seimbang dan batu itu ‘glundung‘ jatuh ke bawah? Bukankah apapun bisa terjadi?

DSC07435
Critical Point of The Golden Rock, Myanmar

– ¬ß –

Tetapi, dari banyak tempat yang pernah saya kunjungi, mungkin Petra di Jordan menjadi juaranya terkait batu yang membuat saya terkagum-kagum. Kekaguman saya akan tingginya celah ngarai yang teramat sempit yang dikenal dengan nama The Siq, juga bentukan-bentukan alam serta olahan tangan dari bangsa Nabatean jaman dahulu terhadap kawasan berbatu cadas itu. Sang Pemilik Semesta telah menciptakan kawasan Petra begitu berbatu yang tanpa sentuhan manusia pun sudah begitu mempesonakan, namun bangsa Nabatean dengan kemampuan artistiknya membuatnya semakin menarik.

Menuju The Treasury, saya melewati daerah yang disebut dengan Djinn blocks. Isinya batu-batu yang berbentuk kubus, nyaris sempurna. Saat mengetahui namanya, konotasi saya langsung mengarah ke tempat-tempat jin (asal katanya ya memang itu kan), namun konon bentukan kubus itu merupakan tempat peristirahatan (tapi entah peristirahatan dalam artian makam atau memang tempat beristirahat dalam perjalanan karena ada juga yang mengartikan ‘tempat air’ yang biasanya menjadi tempat pemberhentian pengelana)

Tetapi tetap saja, batu-batuan di Petra ini, dalam kondisi aslinya atau telah menerima sentuhan manusia, tetap mempesona. Yang pasti, saya ingin kembali lagi kesana, menjelajah lebih lama, lebih santai…

DSC00469
Other angle of Djinn Blocks
DSC00466
Djinn Blocks, Petra
DSC00496
Elephant, Fish or Aliens?

– ¬ß –

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-20 bertema Stone agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

D6-Trekking Nepal – Di Simpang Jalan


Catatan. Meskipun perjalanannya ini terjadi tiga tahun lalu tapi rasanya sayang kalau tidak dilanjutkan cerita saat trekking di Nepal. Untuk mengingat kembali silakan baca kisah trekking hari -hari sebelumnya di tautan berikut ini: Dare to Dream Trip, Ke Kathmandu, Tangga-Tangga Uleri, Menuju Ghorepani, Poonhill, Didera Hujan Es, Gurung Hill dan Melawan Takut. Apalagi, tantangan menulis mingguan yang diangkat oleh Sahabat saya, Srei’s Notes, bertopik tentang Road alias Jalanan untuk minggu ini. 


 

Chhomrong, minggu ketiga April 2017

Mentari belum juga terbit namun saya telah keluar kamar penginapan yang langsung disambut udara dingin Himalaya. Meskipun sudah jauh di bawah Poonhill atau Deurali Pass yang berada di ketinggian 3100-an meter, berdiri pagi-pagi di Chhomrong yang berada di ketinggian 2170 meter ini tetap saja terasa dingin. Tetapi, pagi adalah waktu yang tepat untuk melihat keindahan Himalaya.

1
Annapurna South, Hiunchuli, Macchapucchre before sunrise
1a
Sunshine over Mt. Macchapucchre (Fish Tail)

Dan benarlah, ketika menatap ke arah pegunungan, saya yang pendaki abal-abal tapi nekad menjelajah di Himalaya disuguhi pemandangan alam yang spektakuler. Puncak Annapurna South (7219m) berjajar dengan Hiunchuli  (6441m) lalu terpisah oleh lembah dalam, gunung favorit saya, Macchapucchre (6993m) berdiri dengan gagahnya. Semua puncak dan punggungnya tertutup salju abadi yang memperlihatkan keindahannya.

Sinar mentari pagi mulai menerpa puncak ketiga gunung tinggi itu dan memberi warna keemasan pada salju abadi yang menyelimutinya. Bahkan sinar matahari yang melewati puncak Gunung Macchapucchre, -yang dikenal juga sebagai Fish Tail karena puncaknya yang menyerupai ekor ikan-, memberikan efek dramatis bergaris pada langit.  Pagi datang berkunjung dengan keajaiban yang membuat saya menarik nafas panjang, tak habis-habisnya mengucap syukur. Sang Pemilik Semesta telah memberikan kesempatan kepada saya berjalan di bumi yang indah ini. 

Setelah mengabadikan pemandangan indah ini, saya berjalan ke arah persimpangan desa tak jauh dari penginapan. Ternyata Pak Ferry, my travel buddy, sudah berada di sana terlebih dahulu. Langsung saja kami saling bergantian mengambilkan foto sebagai kenang-kenangan meskipun dengan wajah apa adanya (Di gunung siapa sih yang mau mandi dua kali sehari dan dandan cantik? ūüėÄ )

Rasanya mata tak ingin melepas pemandangan indah yang tak bisa dilihat di Indonesia ini, saya ingin berlama-lama meskipun tahu akan ada yang namanya perpisahan. Di sini, di desa Chhomrong ini merupakan tempat terakhir kami untuk merasa terdekat dengan rangkaian pegunungan Himalaya. Karena setelah ini, kami akan menjauh darinya. Ada sedikit rasa sesal mengapa cuti terlalu singkat dan mengapa saya tak mempersiapkan fisik yang lebih baik untuk trip ini. Tetapi, bagaimanapun semua harus dihadapi dan diterima.

Dengan pikiran yang masih menggantung kepada keindahan puncak bersalju itu, Pak Ferry dan saya berjalan pelan kembali ke penginapan, untuk sarapan dan packing. Sarapan yang serupa, roti dan selai ditambah kopi atau teh. Tetapi yang paling mengerutkan hati saat sarapan itu, ketika saya harus menyaksikan dua perempuan muda berpamitan dan melangkah gembira menuju Bamboo, desa berikutnya untuk menuju Annapurna Base Camp. Arah yang pastinya berbeda dengan tujuan saya hari ini. Meskipun mendoakan mereka untuk keberhasilannya, saya tak bisa mengingkari terselip sedikit rasa iri akan kemudaan dan semangat mereka.

Tak perlu lama kami semua telah siap, di simpang desa itu kami melanjutkan perjalanan. Bukan ke atas menuju Annapurna melainkan menuju pulang. Sedih? Tentu saja, karena harus melepas tujuan dan harapan. Tetapi saya juga meyakini, segala peristiwa memiliki alasan dibaliknya sehingga harus diterima dengan ikhlas. Dan bagi saya yang sebelumnya tak pernah mendaki gunung, apalagi sudah tak lagi muda dan tak pernah olahraga, bisa mencapai 3120 meter saja sudah luar biasa!

4
Clouds started to cover
4a
ABC or Home?

Sejenak saya menatap Annapurna, Hiunchuli dan Macchapuchhre dari jarak terdekat yang pernah saya jejaki sebelum akhirnya saya melepas pandang. Seakan tahu rasa apa yang tersembunyi di dalam hati, Semesta membantu mulai mengirim awan untuk menyelimuti puncak gunung-gunung itu. One day, saya akan kembali. Kemudian saya melangkah pergi menuju Landruk, pemberentian kami berikutnya.

Not the destination, but the journey…

Itu kata orang bijak, meskipun perlu keikhlasan yang amat tidak mudah. Tetapi ada banyak bantuan bagi orang yang mau bersungguh-sungguh. Saya merasakan bahwa alam memberikan suhu yang amat nyaman untuk berjalan. Sinar matahari tidak terik melainkan hangat. Ada berbagai kerindangan disana-sini dan tentu saja pemandangan bukit-bukit yang indah. Semuanya teramat sayang jika dilewatkan begitu saja hanya gara-gara terpaku pada tujuan Annapurna yang harus dilepas. Ah, saya belajar banyak dalam perjalanan ini, belajar untuk mengucap syukur pada setiap keindahan yang saya terima dalam setiap detik di depan mata, bukan yang telah lewat.

PerlindunganNya

Urutan trekking masih tetap sama seperti hari-hari sebelumnya, sang porter muda yang¬†handsome¬†yang namanya¬†Kedar, berada paling depan, lalu pak Ferry kemudian saya dan Dipak, –trekking guide-, semuanya dalam jangkauan jarak pandang. Dua yang terakhir lebih sering bertukar tempat terutama jika jalan menanjak meski tak lagi berat.¬†

Meski dalam melakukan trekking saya tidak sendirian, ¬†namun nyatanya saya lebih banyak berjalan tanpa banyak bicara (atau mungkin alasan saja untuk mengatur nafas ya ūüėÄ ) Tetapi, rasanya memang menyenangkan bisa berjalan “sendiri” meskipun sesungguhnya ada dalam kelompok. Rasanya seperti diberi waktu untuk kontemplasi.¬†

7
Forests

Entah telah berapa lama saya berjalan, hingga suatu saat saya berada di sepenggal jalan setapak yang amat sempit, dengan jurang di kiri dan tebing tanah bercampur batu di kanan. Trekking guide kami, Dipak, yang tadinya tak jauh di belakang saya, mendadak dari arah belakang berlari menuju saya dengan wajah was-was, dan belum sempat bertanya kepadanya, pada saat yang sama saya mengetahui dan mendengar apa yang dia cemaskan. Langkah kuda yang sedang berlari kencang sedang mendekat dari arah belakang!

Serta merta mata saya membelalak. What to do? 

Tidak ada ruang untuk mengalah membiarkan si kuda lewat. Pilih mana? Lari melebihi kecepatan kuda di jalur sempit atau lompat ke jurang? Semua pilihan yang tidak mungkin!

Sepersekian detik yang paling menakutkan.

Dipak mengambil keputusan lebih cepat daripada saya, Ia menyuruh saya untuk lompat ke kanan, ke arah tebing tanah bercampur batu itu. Tanpa pikir panjang, saya mengikuti sarannya, melompat ke kanan dengan trekking pole yang masih terikat di pergelangan dan mencari batu terkuat sebagai pegangan. Sebisa-bisanya saya bertengger memeluk tebing bumi. Detik-detik yang amat menegangkan bagi saya. Menunggu si kuda lewat.

Lalu tanpa rasa bersalah, si kuda berlari cepat dikendalikan oleh penunggangnya di jalan sempit itu, yang setelahnya membuat Dipak mengeluarkan serangkaian kata-kata Nepali dengan nada yang lumayan tinggi kepada penunggang kuda itu. Saya tak mengerti artinya, tetapi sepertinya ia meminta orang itu berhati-hati berkuda apalagi di jalur trekking yang bisa berakibat fatal.

Meskipun jengkel juga dengan si penunggang kuda, saya turun dari tebing tanah itu dengan tanah menempel di muka dan pakaian, masih terasa deg-degan bercampur lega dari sebuah peristiwa yang menegangkan. Jika tak segera melompat ke arah kanan untuk menyelamatkan diri, bisa jadi saya ditabrak dari belakang dan jatuh ke jurang. Hiiii…

Alhamdulillah, saya masih dilindungi olehNya.

Beberapa saat kemudian, setelah menepis debu dan tanah yang menempel serta berterima kasih kepada Dipak yang telah menyelamatkan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini dia berada tepat di belakang saya.

Tapi tak lama!

Mendadak ia bertanya kepada saya, apakah saya mampu berjalan sendirian karena ia harus menyusul Pak Ferry yang ada di depan. Ia juga mengatakan bahwa jalan yang akan saya tempuh landai.  Saya menganggukkan kepala lalu dalam sekejap ia berlari ke depan. Menyusul Pak Ferry.

Aduh, ada apa lagi di depan? 

Saya terus berjalan. Dipak benar, jalannya menanjak landai, teduh pula. Nyaman untuk berjalan meski matahari mulai tinggi. Lalu, di sebuah lengkung jalan yang menanjak, saya melihat Dipak menunggu di puncak tanjakan sementara saya masih di bawah. Baiklah, setelah dihajar tangga-tangga Ulleri, tanjakan ini sama sekali tidak ada apa-apanya. Tak lama, saya berhasil sampai di tempat Dipak menunggu dan terbelalak melihat apa yang ada di depan saya.

Sepenggal jalan longsor!

Di kiri longsoran ke bawah yang berakhir di sungai dan di sebelah kanan tebing yang longsor. Diantaranya hanya ada jalan setapak…

5
Trekking path across the landslide

Langsung saja saya mengerti mengapa tadi Dipak berlari mengejar Pak Ferry. Ia pasti bermaksud menolong Pak Ferry yang memiliki phobia ketinggian untuk mampu melewati jalan setapak longsor itu. Bagi orang yang phobia ketinggian, berjalan di jalan sempit yang di kirinya longsor jauh ke bawah dan berakhir di sungai, tentu tak mudah.

Sejenak saya melihat ke atas, ke arah tebing yang longsor itu. Meski kelihatannya sudah lama terjadi longsornya, saya tetap memperhitungkan segala kemungkinan. Longsor memang sering terjadi di Nepal, tetapi tebing longsor di depan saya ini bukan sepenuhnya tanah, melainkan batu-batu kecil, pasir dan kerikil. Ah, saya segera menggelengkan kepala, sebagai tindakan tak sadar untuk menghapus pikiran buruk yang muncul dan berawalan dengan kata bagaimana seandainya…

Meninggalkan longsoran di belakang, saya melanjutkan jalan. Melewati hutan, desa dan melangkahi jembatan kayu kecil di atas batu-batu sungai yang airnya sedikit. Meski sedikit, airnya bening dan dingin. Kebahagiaan berjalan di bagian pegunungan yang sudah lebih rendah. Meski udara terasa lebih hangat, tetapi air lebih mudah didapat. Ah, saya membayangkan mandi enak di pemberhentian berikutnya.

Sebelum sampai ke Landruk, -tempat menginap berikutnya-, kami harus melewati jembatan kayu gantung yang terlihat sudah rapuh. Untuk melewatinya saya harus mengukur kekuatan kayu landasannya apakah mampu menahan beban saya yang bongsor ini. Apalagi saya harus berhenti ditengah-tengah. Karena ada air terjun bertingkat yang tersembunyi yang hanya bisa dilihat dari tengah jembatan itu. Bukankah kita harus berani mengambil risiko?

Setelah membatalkan trekking lanjutan ke Annapurna Base Camp (ABC), perjalanan setiap harinya menjadi lebih nyaman karena tanpa target waktu. Termasuk hari itu yang memang tak lama. Setelah makan siang yang kenyang dan lama di tengah lembah, akhirnya kami sampai di Landruk jelang sore. Lumayan bisa beristirahat sore hari dan mandiiiii! Saya pun bisa santai meluruskan kaki yang pegal  sambil menunggu malam.

Ini namanya benar-benar liburan…¬†

 

(bersambung)

 

Let It Go, Let It Flow


Dalam setiap perjalanan, biasanya saya memiliki tempat yang meninggalkan kesan yang amat membekas. Meskipun kadang, saya tidak pernah tahu apa yang membuat saya begitu terkesan.

Seperti halnya pada perjalanan saya ke Namche Bazaar dua tahun lalu (duh, sudah dua tahun ya? Rasanya baru kemarin menanjak kelelahan… ). Saat pergi, -menuju Namche Bazaar-, saya menyempatkan diri berhenti di tengah jembatan dan mengagumi suara air yang menimpa bebatuan. Suara airnya meresap sampai ke hati. Saat itu, saya merasa agak berat meninggalkan tempat itu. Belum puas rasanya, tetapi waktu bukan sahabat saya waktu itu. Dasar trekker abal-abal yang ‘sok tau setengah mati’, saya ini perlu waktu berkali-kali lipat dari trekker pada umumnya untuk mencapai Namche Bazaar. Kebanyakan berhenti yang saya gunakan untuk foto-foto (padahal lebih utamanya untuk mengambil nafas ūüėÄ )

DSC01278
A Small Creek on the way to Namche Bazaar, Nepal

Nah kembali ke tempat tadi, akhirnya saya harus meninggalkannya demi tidak kemalaman sampai ke Namche Bazaar. Tapi saya mengingat tempat itu.

Perjalanan pendek ke Namche Bazaar tahun itu memang tanpa rencana, tanpa planning yang matang. Saat itu saya hanya begitu rindu Himalaya (sekali ke Himalaya, biasanya jadi kecanduan sih), sehingga ketika bisa mengambil cuti sebentar, tanpa pikir panjang saya langsung terbang ke Nepal.

Waktu saya memang terbatas sekali, sehingga saat sorenya mencapai Namche Bazaar, esok paginya saya harus turun kembali. Saya seperti seorang turis yang dibawa oleh tourleader, berhenti hanya untuk berfoto sejenak. Bahasa kerennya, pokoknya sudah sampai di situ. Praktis tidak ada kesan yang tertinggal dalam di tempat itu.

But the show must go on… Saya harus turun dan kembali ke Indonesia kan?

Di tengah jalan itu, saya berhenti lama di tengah jembatan hanya untuk menatap air, menikmati suara air. Gemerisiknya meninggalkan kesan begitu dalam.

Saya mungkin memang tidak memiliki kesan dalam di Namche Bazaar, tetapi saya memiliki kesan amat indah di sebuah tempat, di tengah jembatan tak jauh dari Namche. Di antara pepohonan yang rindang, suara airnya bagai musik di telinga,

Bisa jadi saya agak menyesal melakukan perjalanan ke Namche Bazaar ini yang dilakukan terburu-buru. Tetapi dengan menyaksikan air yang suaranya begitu menenteramkan, saya merasa bisa melepaskan penyesalan itu. Melihat airnya yang mengalir, saya terundang melepaskan semua masalah yang ada, sedikit sesal dan semua lelah yang dirasa. Saya melepaskannya dan membiarkannya pergi mengikuti alirannya. Yang kemudian saya rasakan adalah rasa terbebaskan…

(ah, tampaknya saya harus bongkar-bongkar lagi, karena rasanya saya pernah merekam suara air itu, mudah-mudahan saja tidak terhapus!)

Ada yang pernah punya pengalaman seperti saya?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-50 ini bertema All About Water agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Sepasang Mata Di Bouddhanath


Pertama kali ke Nepal tahun 2014 lalu, saya hanya sekejap berada di Bouddhanath, itu pun hanya malam hari. Rasanya seperti mengalami amnesia sementara, saya merasa pernah berada di sana namun hanya samar-samar. Lucunya, photo yang diambil tidak begitu bagus hasilnya, mungkin karena kurang cahaya. Oleh karena itu, saya telah berjanji akan kembali ke Bouddhanath dan menikmatinya lebih lama.

Saya memang kembali lagi ke Nepal untuk melakukan trekking tetapi kesempatan itu tidak bisa membuat saya kembali mendatangi Bouddhanath. Bagaimanapun semua memang ada waktunya dan tahun 2018 lalu akhirnya saya kembali menjejak di Bouddhanath.

Bouddhanath merupakan salah satu dari tempat suci Buddhist yang terbesar di Nepal dan bersama dengan kuil-kuil bersejarah lain di kawasan lembah Kathmandu, Bouddhanath mendapat gelar UNESCO World Heritage Site sejak tahun 1979 (itu artinya 12 tahun lebih dulu daripada penganugerahan pertama kali gelar yang sama ke Borobudur di Indonesia).

Dalam gempa besar tahun 2015 lalu yang meluluhlantakkan Nepal, Bouddhanath juga terkena dampaknya dan termasuk parah. Seluruh struktur utama yang paling suci, -konon merupakan tempat menyimpan relikui Buddha-, yang terletak di puncak lengkung stupa harus dipindahkan selama Stupa mengalami perbaikan. Meskipun hingga kini, banyak kuil-kuil lain di kawasan Lembah Kathmandu masih terus dalam proses restorasi sejak gempa terjadi, Bouddhanath termasuk salah satu tempat pertama yang diprioritaskan diperbaiki. Dan dalam waktu satu setengah tahun sejak gempa terjadi, Bouddhanath bisa dibuka kembali secara normal.

DSC03504
Bouddhanath with the lights

Meskipun berada sekitar 7km dari pusat kota, Bouddhanath tetap ramai dikunjungi oleh penganut Buddha dari segala penjuru Nepal dan juga dari negara-negara lain yang kebanyakan penduduknya beragama Buddha. Ditambah dengan para wisatawan mancanegara,  hampir semuanya, baik yang Buddhist maupun yang non-Buddhist, berjalan melakukan sirkumambulasi atau kadang juga disebut pradaksina yaitu berjalan mengelilingi Stupa searah jarum jam.

Hari pada saat saya kembali ke Nepal itu, dari bandara saya langsung menuju kawasan Bouddhanath yang letaknya tak begitu jauh dari bandara. Alasan itu juga yang saya gunakan untuk menginap di kawasan Bouddhanath, karena keesokan harinya saya akan terbang ke kota lain sehingga tak mau jauh-jauh dari bandara tetapi keinginan saya tetap tercapai. Jadilah saya menginap di Bouddhanath dan tidak tanggung-tanggung karena saya menginap dengan hotel yang menghadap Bouddhanath.

Saya hanya ingin menatap Stupa besar kebanggaan orang Nepal itu dengan santai.

Dan sejak matahari tenggelam hingga waktu makan malam tiba, saya sengaja mengambil tempat di pelataran luar hotel dan langsung menatap Buddhanath yang cantik berhiaskan lampu-lampu.

DSC03508
Bouddhanath at Night

Dari tempat duduk saya di pelataran hotel, saya menyaksikan bahwa diameter terjauh Bouddhanath hanya sekitar 100meter dengan tinggi hingga ke puncaknya sekitar 36meter. Bisa jadi tidak terlalu besar jika dibandingkan Borobudur ya, tetapi bangunan ini terkenal sekali di Nepal dan stupa ini mengisi langit Nepal di malam hari.

Tentu saja bagi saya, yang paling menarik dari Bouddhanath adalah Lukisan Mata yang mengisi empat sisi puncak stupa itu. Mata itu merupakan representasi mata Sang Buddha yang melihat ke segala penjuru dunia. Dan lukisan yang bentuknya seperti tanda tanya, sebenarnya merupakan karakter Nepali untuk angka 1, yang merupakan simbol dari Kesatuan (unity) dan Satu Jalan menuju pencerahan yakni melalui ajaran Sang Buddha. Lebih jauh lagi, di atas lukisan mata itu terdapat Mata Ketiga, -tersembunyi di balik rumbaian kain penutup-, merupakan simbol Kebajikan Sang Buddha.

DSC03503
The Buddha Eyes

Angin musim dingin hampir berakhir meskipun masih terasa sejuknya. Angin itu terasa kuat membuat ikatan bendera doa yang warna-warni itu berkibar-kibar. Konon dipercaya, kibaran bendera doa akibat angin itu akan menerbangkan doa dan mantra ke seluruh penjuru alam semesta. Ditambah orang-orang yang tidak berhenti melakukan sirkumambulasi (pradaksina) sambil merapal doa dan mantra, tentunya memperkuat getaran doa untuk sampai ke seluruh penjuru alam semesta. Ah, indahnya saya berada di tempat yang begitu sakral…

Saya puas menatap orang-orang yang mengelilingi Stupa, puas menyaksikan Stupa besar semalaman dan juga esok paginya. Rasa damai dengan getar nada mantra Avalokitesvara, Om Mani Padme Hum yang sayup terdengar di sekitar saya, membuat saya betah berlama-lama di tempat itu.

Menatap mata yang tergambar di Stupa di hadapan, membuat saya merenung. Bahkan dalam ajaran Buddha pun diajarkan bahwa ada Mata yang terus melihat ke seluruh penjuru dunia. Dan sepertinya mengerucut juga karena saya percaya Allah Yang Maha Kuasa yang juga Maha Melihat semua aktivitas kita.

Kita hanya perlu terus menyadarinya.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-40 ini bertema Eye(s) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Look At The Top of The World


Tahun 2014

Sudah lama sekali saya memelihara impian untuk melihat Himalaya, barisan pegunungan berpuncak salju abadi dengan Mt. Everest yang menyandang gelar sebagai gunung tertinggi di dunia. Awalnya saya tak tahu harus bagaimana untuk bisa melihat Himalaya, apakah dari India, China atau Nepal. Telah berulang kali saya browsing untuk ke Leh, Ladakh untuk bisa merealisasikan impian itu, tetapi tidak pernah terjadi. Tetapi akhirnya cerita seorang teman yang terlebih dahulu menjejak di sana, membuat bulat keputusan itu. Saya harus ke Nepal. Sendiri!

Dan November tahun itu juga, impian itu benar-benar mewujud. Sengaja saya memilih kursi jendela di sebelah kanan dalam penerbangan siang. Dan sekitar satu jam jelang sampai, perasaan itu langsung berkecamuk begitu hebatnya, saat mengetahui barisan awan putih di horison sesungguhnya adalah pegunungan Himalaya yang saya rindukan. Saya melihatnya langsung, meskipun kecil, jauh dan bercampur awan. Tetapi awan adalah awan, Himalaya bertudung salju itu ada di sana. Berjajar dengan indahnya. Penguasa Alam Semesta selalu baik.

1IMG_0004
Himalaya and the Clouds at the horizon

Demi melihat Himalaya dari dekat, saat itu saya menabung agar bisa mengambil Mountains Flight, sebuah penerbangan wisata menjajari pegunungan itu dari jarak terdekatnya. Pada harinya, siapa sangka, saya yang check-in sejak pagi ternyata disela oleh banyak turis yang menggunakan jasa tur sehingga akhirnya saya mendapat nomor kursi terakhir? Tapi ah, saya telah banyak belajar untuk bisa menerima setiap peristiwa yang terjadi dengan ikhlas tanpa ekspektasi berlebihan. Namun siapa sangka, kejadian itu merupakan anugerah? Saya mendapatkan nomor terakhir, dengan dua jendela di sebelah kiri dan dua jendela di sebelah kanan karena tempat duduk di sebelah kanan kosong.

Pagi itu saya duduk sendiri menatap keluar jendela ke arah pegunungan Himalaya yang terlihat sangat indah. Rasa syukur saya tak berhenti sepanjang penerbangan hingga berkali-kali saya menghapus airmata bahagia. Alhamdulillah, sungguh saya orang yang paling beruntung di dunia, Begitu banyak anugerah terlimpah buat saya.

Belum selesai mengucap syukur, saya dipanggil pramugari untuk bisa melihat Himalaya dari ruang cockpit. Dan saat itulah saya mendapat anugerah terbesar dalam perjalanan itu. Puncak Mt. Everest yang bersaput awan sesaat menampakkan diri, memperlihatkan setitik puncaknya. Hanya setitik! Oh, betapa saya beruntung karena menjadi satu-satunya dalam penerbangan itu yang melihatnya karena giliran orang lain setelah saya hanya bisa melihat Mt. Everest yang kembali tertutup awan.  

Bahkan setitik puncaknyapun, bagi saya sudah cukup. Itu adalah Mt. Everest, gunung tertinggi di dunia dan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Impian saya begitu lama sudah terealisasi.

Tetapi bisa jadi Semesta tidak menginginkan saya meninggalkan Nepal hanya dengan ingatan Setitik Puncak Gunung Everest. Dalam penerbangan pulang ke Jakarta, kali ini pegunungan Himalaya itu tampak bersih dari awan, dan tentunya Mt. Everest yang memperlihatkan puncak khasnya. Lagi-lagi Himalaya membuat saya terharu-biru. Akankah ada lagi perjalanan ke pegunungan bertudung salju itu untuk saya? Saat itu saya tak pernah tahu.

April 2015

Gempa besar melanda Nepal, termasuk longsoran yang melanda kawasan Everest. Hati saya mengerut dalam doa.

Tahun 2017

Siapa sangka, sekali lagi saya diberikan kesempatan melakukan perjalanan ke Nepal, melakukan trekking di Himalaya dan melakukan mountain flight dan saat itu Mt. Everest benar-benar menampilkan keindahannya. Dengan mata tak berkedip dan tangan menempel di jendela seakan ingin menyentuhnya langsung, saya menyaksikan gunung tertinggi di dunia itu dari pesawat kecil saya. Mungkin banyak orang bermimpi untuk bisa melihat Himalaya dan melihat Everest namun belum mendapatkan kesempatannya, sedangkan saya telah berulang kali dan semakin jelas. Sungguh saya telah banyak menerima anugerahNya. Rasanya bersyukur saja tak akan cukup.

5DSC00640
Everest View From the 2nd Mountain Flight

Dan saya tak pernah bermimpi sekalipun, dalam tahun itu juga, saya bisa menjejak Himalaya lagi. Lebih dekat lagi, bukan dari atas melainkan dari tanah pegunungan yang sama yang menyambung ke Gunung Everest itu, berada di Taman Nasionalnya. Saya berjalan seakan melata di kaki dan punggung bukit-bukitnya untuk menyaksikan langsung dari tanah yang sama. Begitu dekat.

Saya tak pernah tahu adakah kesempatan bagi saya untuk melihatnya lagi dari dekat. Impian itu tetap saya pelihara dalam jiwa sembari terus mengucap syukur atas semua kesempatan menyaksikan keindahan alamnya sejak berupa garis horison tak jelas, lalu setitik puncak, lalu Everest yang semakin jelas, semakin dekat. Terima kasih Ya Allah atas semua anugerah yang berlimpah tak henti.

620170924_082733
Mt. Everest from Everest viewpoint, on the way to Namche Bazaar

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-25 ini bertema A View from The Top agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Adakah Gema Cinta Rama Sita di Janakpur?


Konon dalam periode Ramayana, Raja Janak menguasai wilayah, -yang saat ini bernama Dhanusa di Nepal-. Putrinya, Sita, yang cantik jelita memilih Rama, -yang berhasil mengangkat busur Shiva-, sebagai suaminya dalam sayembara pernikahannya. Upacara pernikahannya konon berlangsung di Vivaha Mandap yang berada di sebelah Kuil Janaki, tak jauh dari tempat Rama melihat Sita untuk kali pertama.

Sejak pertama kali ke Nepal hampir lima tahun lalu, saya sudah menginginkan untuk menginjak Janakpur suatu saat nanti. Alasannya jelas, ada gema cinta di kota wilayah Nepal yang tak jauh dari perbatasan dengan India itu. Konon disanalah untuk kali pertama Rama dan Sita mendentingkan nada cinta dan tentu saja saya suka menelusuri semua yang berbau cinta.

Meskipun Janakpur bukan tempat prioritas untuk dikunjungi di Nepal, -biasanya turis berkunjung ke sekitaran Kathmandu, Pokhara, Lumbini, Chitwan dan trekking ke gunung-gunung tinggi Himalaya-, tetap saja saya menemukan satu dua turis saat berada di sana.

Di bulan cinta, akhirnya saya terbang dari Kathmandu ke Janakpur yang tidak lebih dari satu jam, meskipun delay hingga bisa menghasilkan 1 blogpost ūüėÄ Dan ketika turun dari pesawat ATR72 itu, saya disuguhi pemandangan yang tak biasa. Seseorang berseragam memegang senjata laras panjang tampak siaga di atap terminal sehingga menimbulkan sedikit rasa tak nyaman. Adakah situasi tak aman di kota lambang cinta dari Nepal ini?

Selepas itu, saya berjalan menuju terminal, tetapi jangan bayangkan masuk ke ruangan dingin ber-AC karena saya diminta berdiri diemperannya hingga bagasi datang. Lalu dari bawah pesawat pelan-pelan terlihat dua manusia menghela dan mendorong manual semua bagasi penumpang termasuk ransel saya! Urusan ransel selesai, saya tinggal mencari transportasi ke kota. Tidak ada pilihan lain, kecuali tuktuk karena itulah satu-satunya moda transportasi yang tersedia. Hebatnya, setelah harga disepakati dan saya naik… supir tuktuk berteriak-teriak menawarkan lagi kendaraannya untuk ke kota dan datanglah satu orang laki-laki yang bersedia duduk di samping supir tuktuk. Mendadak saya teringat lagu dan ingin menyanyi…. Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota, naik tuktuk istimewa kududuk dimuka, kududuk samping pak supir yang sedang bekerja, mengendarai tuktuk supaya baik jalannya…

DSC03807
Janaki Temple in Janakpur
DSC03541
Main Shrine in Janaki Temple

Kuil Janaki

Setelah rehat sejenak di penginapan menunggu panas mentari mereda, saya langsung berjalan kaki ke Kuil Janaki yang tak jauh dari tempat saya menginap.  Dan ketika saya melangkah ke halamannya, -tak terlihat tempat jual tiket-, saya seperti tak percaya berada di kuil Hindu yang termasuk dalam daftar Tentative UNESCO World Heritage Site itu. Arsitektur kuil begitu berbeda, tidak seperti yang pernah saya lihat pada bangunan-bangunan kuil di Nepal. Wiki memberitahu bahwa kuil Janaki ini bergaya Mughal Koiri Nepali, yang penuh warna dan kubah. Ini kuil Hindu lho…

Tidak heran, karena kuil yang terletak di distrik Dhanusa, Nepal ini, sangat lekat asosiasinya dalam sepenggal kisah epic Ramayana dan kini didedikasikan kepada Dewi Sita. Hal ini terjadi karena tahun 1657 ditemukan sebuah patung Sita oleh Sannyasi Shurkishordas, pendiri kota Janakpur.

DSC03574
Main Shrine of Janaki Temple
DSC03754
The marble in the Main Shrine

Uniknya, bila disebut bergaya Mughal, di wilayah itu sama sekali tidak tampak peninggalan-peninggalan Kekaisaran Mughal. Bisa jadi merupakan campuran gaya dengan Hindu Koiri Nepali, sehingga kuil ini merupakan landmark paling penting dalam arsitektur Koiri. Keseluruhan bangunan kuil berlantai tiga yang terdiri dari tembok batu dan marmer.

Kuil Janaki juga dikenal dengan nama Nau Lakha Mandir, yang secara harafiah berarti Sembilan Lakh atau Sembilan ratus ribu Rupees, sebagai pengingat nilai uang yang dikeluarkan Ratu Vrisha Bhanu dari Tikamgarh, India untuk mendirikan kuil di tahun 1910, bahkan di lokasi tempat Kuil sekarang ini berdiri,

Entah kenapa saya sedikit masygul karena kebersihan dan perawatan kuil ini tidak begitu terjaga. Kecantikan kuil ini sedikit terganggu oleh kabel-kabel listrik yang menghalangi façade-nya. Kabel yang mempercantik disaat malam, tetapi sungguh merusak foto dikala siang. Dengan melepas alas kaki dan berjalan di lantai yang tidak begitu bersih, saya mulai mengelilingi bagian dalam kuil. Terlihat banyak umat, laki-laki dan perempuan, tua dan muda bersemangat menuju altar. Dari sudut bagian dalam kuil itu, saya terus mengamati keindahannya. Lengkung-lengkungnya sangat menawan meskipun pewarnaan disana-sini terlihat kian memudar.

Di bagian dalam terdapat museum yang bisa dimasuki setelah membayar sejumlah kecil Rupees. Dan ada kisah-kisah Ramayana dalam bentuk diorama. Saya sudah asik membuat satu dua foto ketika tiba-tiba menyadari sebenarnya dilarang untuk mengabadikannya. Saya hanya berani bertanya di dalam hati, mungkin tidak diperbolehkan mengambil foto karena kesakralan tempat ini.

Selain diorama tersebut, banyak lukisan-lukisan dinding khas Hindustan yang kelihatannya mengambil tema Ramayana.  Indah dan penuh warna. Sayang sekali, saya hanya bisa menebak-nebak dari penggambarannya karena tidak ada informasi dalam bahasa Inggris. Saat melangkah ke balkon luar, pemandangan disana tidak kalah indahnya.

Saat keesokan harinya saya kembali ke kuil, saya melihat serombongan pemuja beriringan membawa benda-benda sakral dengan musik yang sangat riuh. Mendengar itu, saya kehilangan rasa romantisme yang tenang ala Rama dan Sita, yang terdengar malah suara yang riuh rendah penuh semangat. Saya hanya membayangkan, saat saya sedang jatuh cinta melihat keindahan wajah seseorang, tiba-tiba terdengar riuh rendah suara genderang dan pukulan-pukulan ritme lainnya, tentu rasa cinta itu langsung menyelinap pergi. Demikian juga saya yang kehilangan rasa, membuat saya pelan-pelan melipir memasuki Taman Janaki Mandap.

Janaki Mandap/Vivaha Mandap

Saya harus membeli tiket yang saya lupa berapa harganya, tetapi tidak seberapa. Dan ketika kaki menjejak Taman ini, saya tersadarkan di tempat inilah konon Rama terpesona melihat kecantikan Sita untuk kali pertama dan disini pulalah mereka berdua mengikat janji serta mengelilingi api suci, setelah Rama berhasil mengangkat busur Shiva yang sakti, yang menjadi syarat sayembara yang ditetapkan oleh Raja Janak, ayah Sita.

Cerita itu sudah lama berada di kepala, walaupun tamannya tak seindah yang dibayangkan, apa yang saya lihat cukup memanjakan rasa meskipun rasa masygul kembali menyerang. Bangunan Janaki Mandap terlihat modern, bahkan terlalu modern untuk ukuran kisah Ramayana, membuat saya kehilangan rasa untuk mengetahui lebih jauh. Sekali lagi saya merasakan benturan modernitas terhadap sesuatu yang melegenda ‚Äďyang menurut saya sakral-. Saya hanya berjalan mengelilingi, mengintip dari luar.

Gema cinta Rama dan Sita mungkin terdengar sayup disini, tetapi aura ibadah tetap terasa kental. Saya juga berbahagia, karena berkesempatan menyaksikan Sang Surya beranjak turun diantara pepohonan. Pepohonan yang sama yang memperindah Kuil Janaki yang ada di sebelah Mandap ini. Kehilangan rasa gema cinta Rama Sita, saya mendapat anugerah dari Sang Surya. Cinta ada dimana-mana rupanya.

Dan rupanya saya terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang gema cinta Rama Sita, karena dalam perjalanan pulang ke penginapan, langkah saya terhenti oleh rombongan pengantin yang sedang berjalan. Saya melihat pasangan pengantin yang berada dalam satu kerudung itu, saya mendoakan semoga mereka bahagia. Ah‚Ķ Gema cinta Rama Sita masih nyata adanya…

DSC03732
Facade of Janaki Temple
DSC03595
Janaki Temple from the Mandap
DSC03639
The Bride an The Groom

****

Sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-4 ini bertemakan Cinta (Love), agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

D-4 Trekking di Nepal ‚Äď Gurung Hill, Rumah Bumi dan Phobia


The earth has music for those who listen – William Shakespeare

Gurung Hill

Pagi yang cerah, -seakan-akan menggantikan cuaca buruk kemarin (baca ceritanya)-, menjanjikan sebuah keindahan. Dan sesuai janji Dipak, ia akan menunjukkan jalan ke Gurung Hill, -tempat melihat rangkaian puncak bersalju, yang jalannya tepat di depan penginapan. Dan saya sungguh berharap pagi ini bisa melihat pegunungan bersalju sebagai pengganti situasi berawan di Poon Hill sebelumnya (baca ceritanya)

Berbeda dengan jalan ke Poonhill, untuk sampai ke Gurung Hill, saya hanya menanjak sedikit untuk sampai ke sebuah tanah lapang yang menyuguhkan pemandangan pegunungan bersalju yang indah dan didominasi Gunung Dhaulagiri, 8146m.

gurunghill
The view in Gurung Hill
Gradation
Layers of Mountains

Mengingat kondisi habis hujan malam sebelumnya, Dipak meminta saya untuk tidak mendaki lebih dari tanah lapang namun ia membiarkan Pak Ferry dipandu Kedar ke atas. Mungkin ia tidak mau repot dengan perempuan kota melewati tempat becek penuh rintangan. Namun ia konsisten mendampingi di lapangan dan meyakinkan pemandangannya sama. Bedanya hanya ada tower dengan prayer-flags. Dan sebagai penikmat pinggir jurang, saya terpukau melihat pemandangan cantik sambil berjalan jauh ke pinggir sampai Dipak menarik saya menjauh dari tepi jurang yang dalam. Sebenarnya saya masih ingin maju karena posisinya tepat untuk memotret pegunungan berkabut dengan degradasi biru. Tetapi saya memahami concern-nya, bagaimana seandainya jatuh? Bergidik lalu saya mengubah fokus foto ke bunga rhododendron pink berlatar gunung berpuncak salju.

Rasanya waktu berjalan cepat karena tak lama kemudian Pak Ferry dan Kedar sudah terlihat di ujung tanah lapang. Untung saya tidak naik karena Pak Ferry juga menceritakan jalan yang tidak mudah dan becek. Dan sebelum meninggalkan Gurung Hill, sebuah foto persahabatan dibuat mengandalkan kamera yang diletakkan diatas ransel. Hasilnya? Jangan tanya gesture-nya, semuanya aneh.

deurali
Our guesthouse in Deurali

Setelahnya kami kembali ke penginapan bersiap melanjutkan perjalanan hari itu. Saya mencari wajah teman tunawicara namun tak terlihat batang hidungnya. Sampai bertemu lagi, Teman, suatu saat nanti. Lalu timbul sekelumit rasa dan keinginan untuk mengenang Deurali, sehingga saya membeli sebuah gelang biru di lapak depan penginapan. Sebuah pengingat. Memory. Lalu satu lagi foto persahabatan dibuat untuk mengingat pernah menjejak di Deurali. Seribu satu kesan telah terukir. Entah kapan saya kembali…

Jeri Pada Ketinggian

Seperti biasa, Pak Ferry dan Kedar berjalan di depan, Dipak dan saya di belakang. Tetapi yang tidak biasa adalah Pak Ferry berjalan sangat lambat karena jalanan menurun curam. Ia menapak sangat hati-hati sementara saya bisa melangkah cepat. Ternyata Pak Ferry memiliki sedikit masalah ketinggian hingga ia jeri melihat jalan di depannya curam ke bawah. Saya kaget juga karena Pak Ferry telah banyak naik-turun gunung di Indonesia. Walaupun saya penikmat pinggir jurang, kenyataan ini membuat saya berpikir, adakah manusia yang benar-benar bebas dari rasa jeri saat berada di ketinggian?

downhill
Down and down and down

Melihat kenyataan ini, Dipak memutuskan untuk menemani Pak Ferry berjalan dan menyuruh saya ke depan bersama Kedar. Saya telah belajar dari pengalaman sebelumnya ketika menuruni jalan-jalan curam dalam hujan es secara cepat. Dan selanjutnya begitulah, setiap turunan curam, saya berganti pasangan dengan Kedar, porter handsome calon bintang film, kata Pak Ferry. Kedar dengan beban berat di punggungnya selalu tersenyum lebar berjalan cepat bersama saya menuruni lembah. Saya melangkah tak lagi berpikir, hanya mengikuti irama kaki hingga rasanya begitu ringan terbang melayang.

Rumah Bumi

Turunan-turunan curam itu terhenti sejenak pada sebuah pelataran yang dipenuhi cairns, batu-batu yang ditumpuk keatas sebagai lambang keseimbangan. Namun bagi saya, pelataran cairns ini sebagai penanda. Entahlah, mungkin bagi pejalan lain tempat ini hanya berupa pelataran cairns biasa, namun bagi saya sampai di tempat ini seakan diberi pesan berada di tempat dan waktu yang tepat. Bukan hanya jalurnya melainkan waktunya juga tepat. Saya tersenyum sendiri menyaksikan kupu-kupu kuning kembali mendekat. Hati ini tercekat, meluruh bersama Semesta. I’m so blessed…

cairns-on-river
Cairns on the river

 Saat tea-break di Banthanti, kami semua terpesona akan ketrampilan kera-kera menuruni tebing vertikal. Jika saja Ibu pemilik tea-house itu tidak membuat keributan untuk mengusir kera, kami pun tidak menyadari kehadiran hewan-hewan itu di tebing. Bahkan mata yang awas pun harus teliti mencari kera diantara semak di tebing vertikal itu. Adakah yang mampu melawan hukum alam?

monkey
Can you find 2 monkeys here?
forests
The Forest

Setelah rehat menikmati teh hangat, perjalanan dilanjutkan melewati hutan eksotis karena batang-batang pohonnya telah kehilangan kulit. Jalan semakin mudah dengan tanjakan landai dan menghamparkan pemandangan luar biasa. Bukit-bukit penghubung dengan Himalaya itu berjajar indah dengan lembah-lembahnya yang membentuk huruf V. Sambil menggumamkan pujian kepada Pemilik Semesta, selintas terpikir, apakah Tuhan sedang tersenyum saat bumi Nepal terbentuk? Begitu indah sehingga mampu membasahkan mata.

Setelah makan siang kentang goreng di Tadapani, -karena sudah bosan dengan Dal Bhat atau mie-, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini jalannya kembali menanjak landai, -walaupun bagi orang Nepal jalan seperti itu dibilang datar-, sehingga saya tertinggal lagi oleh duo sekawan Pak Ferry dan Kedar. Hingga tiba di satu tempat yang terbuka, saya meminta Dipak untuk berhenti karena saya mendengar suara alam begitu indah. Saya mengamini kata Shakespeare, the earth has music for those who listen. Heningnya alam, hijaunya pepohonan, desir angin, keindahannya terasa seperti musik di telinga, begitu sempurna. Serta merta saya duduk menikmati musik alam dalam keheningan. Perjalanan ini luarbiasa, tanpa diminta, saya mendapat kesempatan untuk menyatu dan menikmati suara alam, tanpa kegaduhan manusia. Inilah Rumah Bumi bagi saya…

home2
Rumah Bumi – where the heart is…

Saya tak bisa berlama-lama di Rumah Bumi karena awan tebal mulai menggantung. Karena mengambil jalan potong, di jalan Dipak dan saya terhalang sebuah pagar besi yang menutupi jalan dan satu-satunya cara untuk melewatinya, dengan mengayunkan tubuh menumpu tiang pagar di sisi jurang. Sempat tergidik saat berpikir bagaimana Kedar dengan beban berat harus mengayun badan diatas jurang. Namun hoplaaa…  saya sukses mengayunkah tubuh yang berlebih ini.

Pak Ferry sudah santai di halaman sambil membaca buku ketika saya mencapai penginapan di desa Chuile yang menghadap lembah dengan sungai jauh di bawahnya. Indah sekali. Dan jahilnya, saya tergerak pamer gaya duduk di pinggir jurang dengan kaki menggantung di jurang yang bisa membuat orang yang phobia ketinggian, senewen. Tapiiiii… ternyata kejahilan itu langsung terbalas!

guesthouse-view
The view of our Guesthouse in Chuile

Law of Attraction

Kaki terasa begitu merdeka, terbebaskan dari sepatu setelah seharian berjalan. Dengan mengenakan sandal, saya ke halaman untuk menikmati kopi sambil melihat pemandangan. Tetapi sayang, berlama-lama menikmati pemandangan bukan rejeki saya sore itu, karena tidak lama kemudian gerimis turun yang semakin deras, membuat semuanya kembali ke kamar. Hujan es lagi! Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali istirahat atau mandi. Pilihan kedua menjadi prioritas karena dalam trekking mandi air hangat sungguh sebuah kemewahan.

Tapi yang terjadi sungguh tak terduga! Baru saja hendak menyabuni kaki ketika saya melihat sekilas ada yang aneh di antara jempol dan telunjuk kaki. Sesuatu yang membuntal gendut seperti tambahan jari. Dan sepersekian detik saya tersadar sepenuhnya, membuat saya menggigil ketakutan. 100% takut dan geli. Lintah!

intheedge
Showing off the shoes in the edge

Sepersekian detik itu, -ketika sadar saya terkena lintah-, tanpa pikir panjang, saya pukul, -entah dengan apa, pokoknya sedapatnya alat ditangan-, sambil jejeritan ketakutan di kamar mandi memukul-mukul si gendut itu hingga lepas. Suatu tindakan yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Tetapi jangan tanya boleh atau tidak, saya tidak berteori lagi, yang penting si gendut itu lepas. Dan setelah lepas, saya mengenakan pakaian secepat kilat lalu lompat-lompat kangguru kembali ke tempat tidur tanpa peduli lantai antara kamar mandi dan tempat tidur dipenuhi bercak darah.

Terduduk lemas gemetaran di tempat tidur, saya langsung membongkar ransel mencari Betadine, lalu menenangkan diri sejenak. Dan setelah membersihkan semua yang berceceran, saya terdiam lalu tersenyum sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala menyadari Pemilik Semesta mengajarkan segala sesuatu dengan caraNya sendiri. Sebuah ketakutan, keberanian atau keterpaksaan menghadapinya sendiri tanpa bantuan, hingga akhirnya sebuah pengertian akan sebuah kejadian.

Jika paham Law of Attraction, maka hati-hatilah dengan ketakutan Anda. Lintah ini contohnya. Sebagai perempuan kota, saya jarang sekali berkegiatan outdoor di Indonesia. Alasannya, karena amat sangat takut (atau lebih tepatnya geli) yang namanya lintah, ulat, cacing, kecoa dan sejenisnya. Anak saya saat balita pernah berbahagia sekali saat ia berlari mengejar ibunya sambil membawa daun berisi ulat yang gendut sementara saya jejeritan. Nah, sebelum trekking, saya google semua yang terkait lintah. Bahkan periode trekking pun disesuaikan supaya tidak dijalankan pada musim lintah. Dan saat trekking, -walau dengan sepatu waterproof-, sebisa mungkin saya menghindari genangan atau tempat yang becek atau lembab. Saya begitu paranoid karena ‚Äėkatanya‚Äô lintah bisa jatuh dari pepohonan, bisa masuk saat duduk istirahat, saat menginjak genangan atau tempat becek, bisa ke punggung, bisa menembus sepatu hingga menempel ke kaki, dan seterusnya. Ampun‚Ķ amit-amit banget dengan lintah‚Ķ Dan karena ketakutan itulah tanpa sadar saya terus menghadirkan lintah dalam benak. Dan demikianlah Law of Attraction berjalan. Si lintah benar-benar datang dan menempel pada jari saya, satu kejadian yang sama sekali saya takutkan.

Dan cerita tentang penghisap darah itu belum berakhir sampai situ. Setelah makan malam, Pak Ferry, Dipak dan saya ngobrol panjang lebar. Hingga suatu saat, saya melongok ke bawah mencari sandal. Saya terkejut karena, -walaupun temaram-, di bawah meja terlihat cukup banyak tetesan darah dari kaki saya. Pasti kelanjutan akibat si gendut lintah. Otomatis saya mengambil tissue untuk membersihkan lantai dan menekan pendarahan. Namun apa yang saya lakukan membuat kedua sahabat seperjalanan itu terkejut dan langsung sibuk seakan-akan saya terluka parah. Pak Ferry langsung ke kamarnya untuk mengambil peralatan P3K. Namun darah tetap menetes. Akhirnya Dipak mengambil alih. Sebenarnya saya segan seorang laki-laki Nepal memegang jempol kaki, rasanya tidak pantas sekali. Tetapi ia pemandu yang lebih berpengalaman. Saya menurut padanya. Entah apa yang dia lakukan, saya hanya diminta untuk menekan luka lalu melanjutkan obrolan. Hebatnya, tak lama kemudian pendarahannya berhenti. Saya sungguh berterimakasih kepada Dipak dan malam itu saya terpincang-pincang kembali ke kamar menopang mereka berdua sambil menambah gelar Dipak sebagai the leech doctor ūüėÄ

 

WPC – There’s No Place I’d Rather Be Than Home


DSC00279
A Himalayan view from my guesthouse in Chomrong, during trekking in Annapurna, Nepal

 

There’s no place like home
No place like home
There’s no place I’d rather be than home

(Beth Hart’s No Place Like Home)

*

But what is Home?

Home is not a place, it’s a feeling. It is not where we are from, it is where we belong. Home is where we love… Where our feet may leave, but not our hearts.

Home is where we can look ugly and still enjoy it ūüôā It is where you are loved, no matter what.

Home is where love resides, all memories are created, friends always belong and laughter never ends…

Home is where the heart is. Period.