Nepal – Overland (Again), Lumbini – Chitwan – Kathmandu


Gerbang Lumbini yang baru saja dilewati, -satu lagi destinasi yang berhasil ditandai-, kini semakin kecil tertinggal di belakang.  Tanpa sadar saya menyentuh Khata, -syal putih yang didapat dari Biksu di bawah pohon Boddhi di Kuil Mayadevi, Lumbini, tempat kelahiran Sang Buddha-;  yang kini melingkar di leher dan telah membuat saya sangat terharu.  Menyentuh kain halus yang kontras dengan blus biru saya ini terasa menenteramkan, seakan memastikan bahwa kebahagiaan akan terus menemani dalam perjalanan ini, kembali ke Kathmandu.

Begitu memasuki wilayah Siddharthanagar, mobil yang saya naiki, Hyundai Atoz mulai bersaing dengan  truk-truk besar. Udara Terai terasa semakin panas saat berada dalam antrian lambat kendaraan-kendaraan besar itu. Kebanyakan dari truk-truk itu mengarah ke India melalui Belahiya (Nepal) lalu masuk ke Sunauli (India) dan selanjutnya ke Gorakhpur, -kota terdekat dengan stasiun kereta-, atau ke kota-kota lain di India. Perbatasan yang buka 24 jam ini  juga sering dilalui turis yang melakukan perjalanan darat dari Varanasi, Sarnath atau Kushinagar menuju Lumbini, Kathmandu atau Pokhara, demikian pula sebaliknya. Saya diam-diam mencatat situasinya dalam hati, siapa tahu saya melakukan cross-border disini.

Namun belum bergerak jauh dari simpang perbatasan Nepal – India tadi, Santa menghentikan kendaraan di sebuah bukit lalu memberitahu bahwa hamparan dataran rendah yang sangat luas didepan mata itu adalah dataran India. Negara impian untuk didatangi kembali, yang menyimpan begitu banyak cerita namun belum sempat mendapat prioritas, terlihat jauh sekaligus dekat. Sepertinya hanya selemparan batu dari bukit ini…

Tetapi yang benar-benar selemparan batu adalah warung makan tanpa nama yang begitu mengundang. Matahari yang belum tegak diatas kepala sepertinya menertawakan saya yang terpaksa mengikuti kebiasaan penduduk Nepal untuk makan siang sebelum tengah hari. Tak berapa lama, sepiring Dal Bhat terhidang di meja yang langsung saya lahap dengan penuh syukur. Rejeki dari Pemilik Semesta berupa hidangan, apapun rasanya, tak boleh ditolak karena bukankah masih banyak manusia tak bisa makan di bumi ini…

Waktu berjalan lambat saat mobil meluncur kembali ke jalan yang berkelok menembus perbukitan. Kini pemandangan meranggas telah berubah warna dengan hijaunya pepohonan yang menyelimuti bukit-bukit. Hingga kami mendekati sebuah jalan yang dipisahkan oleh batuan gunung besar yang seakan dibelah secara rapi, -entah oleh alam atau teknologi-, walaupun saya lebih cenderung pada kemungkinan yang terakhir. Saya mengabadikan ‘batu segede gaban‘ yang terbelah dengan keren  itu sambil mengingat jalan-jalan tol di Jawa yang juga dipotong rapi dari gunung-gunung yang menghalangi pembangunan jalan walaupun rasanya tidak ada yang seperti di Nepal ini yang dipenuhi tumbuhan di atasnya.

Namanya overland itu, kecuali sendirian, yaaa perlu juga toleransi. Perjalanan yang tadinya diisi musik top40 kini berganti musik pop berbahasa Hindi. Walaupun ada yang menyenangkan, tapi entah kenapa langsung mengingatkan saya akan momen “cinta pohon atau tiang” dari film-film Bollywood. Santa kadang bernyanyi mengikuti musik yang membuat telinga rasanya gatal mendadak, tetapi demi sebuah perjalanan yang menyenangkan, saya melebarkan batas toleransi lagipula pemandangan di luar menarik hati. …. kya karoon hayee, Kuch Kuch Hota Hai…. 😀 😀 (artinya pas gak ya?)

Sekitar satu jam kemudian, mata saya menangkap rombongan perempuan dalam balutan sari merah yang sedang berjalan sambil ngobrol. Pasti ada kuil di sekitar sini yang sedang ramai dengan perayaan atau mungkin juga pasar rakyat. Bukankah ibu-ibu dimanapun tak jauh dari Sale dan diskonan?

Women around Narayangarh, Nepal

Women around Narayangarh, Nepal

Dan benarlah di depan ada sebuah jembatan panjang yang membentang di atas Sungai Seti Gandaki, yang suci dan telah memberi banyak manfaat bagi penduduk di sepanjang alirannya. Sungai yang mengarah ke Selatan ini merupakan gabungan dari Sungai Kali Gandaki dan Sungai Trishuli, sungai lainnya yang juga dianggap suci. Bukankah nama-nama sungainya bermakna dalam? Dan sebagaimana biasa, di bantaran sungai Seti Gandaki ini dibangun sebuah kuil yang didedikasikan untuk Dewi Durga, mendampingi kuil lain yang pasti ada di dekatnya yaitu Kuil Shiva, yang saat itu penuh hiasan merah. Selain itu dari atas jembatan, terlihat seperti ada pasar rakyat dengan begitu banyak kegembiraan bercampur dengan mereka yang melakukan puja.

Seti Gandaki River

Seti Gandaki River

Di ujung jembatan panjang tadi, sebuah kota yang disebut dengan Narayangarh atau Narayanghat menyambut kami. Keberadaan kota kecil yang terletak di pinggir sungai suci ini telah menjelaskan arti nama kotanya tanpa perlu berpanjang cerita. Ghar atau Ghat berarti sebuah tangga turun ke sungai untuk ritual bersuci. Dan Narayan, sudah tak asing bagi di kalangan Hindu, yang dikenal sebagai Yang Maha Kuasa. Entah kenapa, mengetahui nama kota yang dilewati dengan kedalaman maknanya, saya langsung teringat pada kota-kota yang namanya bermakna indah, Madinah atau al-Madīnah l-Munawwarah, bermakna kota cahaya penerang iman; Los Angeles adalah kota malaikat; atau Krung Thep alias Bangkok adalah kota para bidadari dan makhluk abadi dan masih banyak lainnya. Dan tak luput Las Vegas, yang paling terang, penuh cahaya terlihat dari langit. (tapi yang terakhir ini duniawi sekali ya… 😀 )

The City of Narayangarh, Nepal

The City of Narayangarh, Nepal

Melintasi Narayangarh ini mata saya menikmati situasi setiap sudut kotanya, dengan hotel, bank dengan ATM, toko-toko atau penarik becak seperti yang ada di Lumbini. Kota kecil ini hidup dan langsung saya tersadarkan, tentu saja hidup, sebab tak jauh dari tempat wisata terkenal, Taman Nasional Chitwan, yang terdaftar sebagai salah satu kawasan UNESCO World Heritage Site.

Dalam hitungan menit selepas Narayangarh terbentang jalan membelah kawasan hutan yang tertata. Di pinggirnya sempat terlihat gambar hewan mungkin kawasan konservasinya. Jantung ini berdegup lebih kuat, seandainya saya terbang, tak pernah saya alami ini. Memang saya tak bisa menapakinya langsung, atau berpelukan dengan gajah dan hewan-hewan disana tetapi saya diberi kesempatan untuk membaui sejenak harumnya udara Chitwan yang terkenal dan menyaksikan kawasan hutan pendukungnya. Lagi-lagi saya bersyukur telah berlimpah anugerah dari sebuah kegagalan tidak mendapat penerbangan. Jadi mengapa harus menyesal dengan satu rencana yang gagal?

The Forest in Chitwan National Park, Nepal

The Forest in Chitwan National Park, Nepal

Akhirnya di simpang tiga itu, saya melambaikan tangan kepada Chitwan National Park. Setiap pertemuan memiliki perpisahan. Walaupun sejenak, walaupun hanya membauinya saja, saya bersyukur berkesempatan, daripada tidak sama sekali. Dan kini waktunya meneruskan perjalanan dengan pemandangan lembah-lembah sempit, tebing tinggi dengan sungai kehijauan yang kondisinya tak jauh beda saat melakukan perjalanan dari Pokhara ke Lumbini kemarin. Beberapa kali mata saya juga menangkap bebatuan yang terlihat longgar, yang dalam sekejap bisa longsor menimpa kendaraan-kendaraan di bawahnya. Ngeri untuk membayangkan.

Beautiful Trishuli River, Way to Mugling, Nepal

Beautiful Trishuli River, Way to Mugling, Nepal

Hari beranjak sore, diantara lembah sempit, dengan cahaya langit luar biasa menerpa punggung bukit dan ditemani Sungai Trishuli yang mengalir kehijauan di bawah membuat hati tersenyum. Siapa yang tak kagum dengan lukisan alam yang indah terjadi di depan mata?

Kemudian kurang dari satu jam berikutnya, kami sampai di pertigaan Mugling yang menyatukan kendaraan dari Lumbini dan Chitwan dengan kendaraan dari Pokhara yang semuanya menuju Kathmandu. Walau tak sampai menimbulkan kemacetan seperti di pertigaan Jomin saat mudik jaman dulu, terasa sekali lalu lintas semakin padat. Kini bus-bus semakin terlihat. Jalan nasional Prithvi Highway yang menghubungkan Kathmandu dan Pokhara ini telah dilewati oleh jutaan turis yang bolak-balik antara kedua kota terkenal di Nepal ini.

Sekitar lima kilometer dari pertigaan Mugling, kami mampir sebentar di Kurintar, stasiun kereta gantung satu-satunya yang ada di Nepal yang berasal dari Austria dengan keamanan bergaransi 100%. Sebenarnya menaiki kereta gantung ini sangat menyenangkan, karena bergerak sepanjang 3 km lintasan kabel  antara Kurintar dan Kuil Manakamana dengan ketinggian 1300 mdpl di puncak bukit yang ditempuh dalam waktu 10 menit dengan pemandangan lembah cantik dengan Sungai Trishuli yang berkelok-kelok. Sayangnya saat saya berkunjung tempat itu sudah hampir tutup sementara antrian pengunjung masih mengular panjang. Selain itu ongkosnya tak murah juga, sekitar USD20 per turis. Mungkin lain kali.

Setelah menyeruput segelas kopi, perjalanan dilanjutkan kembali karena Kathmandu masih sekitar 3 jam di depan. Pemandangan masih cantik dengan semakin turunnya matahari. Namun padatnya lalu lintas yang bergerak tak henti, -walau di tengah cahaya lembut sunset-, telah membaurkan udara dengan debu. Tak mungkin berhenti barang sejenak di sepanjang jalan yang berpinggir jurang, lagi pula pastilah membuat kemacetan panjang jika dipaksakan.

Trishuli River and the Mountains

Trishuli River and the Mountains

Hari perlahan berganti wajah menjadi malam. Jalan-jalan masih berkelok dalam gelap kecuali ada penerangan dari kendaraan atau dari bangunan dan billboard di pinggir jalan. Hingga di suatu kelokan bukit, sebuah bundaran besar bercahaya terlihat di antara pepohonan. Saya tertarik mengamati bundaran besar itu, seakan magnet yang sangat kuat. Benda apakah itu… Mata saya terus mengikutinya sementara kendaraan bergerak tanpa henti. Saya terus menatap benda itu mencari tahu sampai akhirnya saya tertawa sendiri. Itu Bulan, satelitnya Bumi yang terlihat sangat besar. Supermoon. Belum pernah saya melihat Bulan sebesar itu saat terbit, benar-benar beruntung saya bisa menyaksikan cantiknya Bulan di langit Nepal. Tetapi saya tak beruntung mengabadikannya, mungkin Pemilik Semesta hanya mengijinkan mata dan pikiran saya untuk melihat dan merekam kecantikan alam itu tanpa bisa mengabadikannya. Sungguh sebuah malam yang luar biasa…

Akhirnya Alhamdulillah, setelah berjam-jam berkendara, sampai juga di kantor penyewaan mobil di Kathmandu. Saya berterima kasih kepada Santa untuk dua hari perjalanan darat yang luar biasa dari Pokhara – Lumbini hingga Kathmandu dan mobil Hyundai Atoz itu kini bisa parkir semalam untuk kembali besok ke Pokhara, sementara saya langsung berganti kendaraan dengan sebuah mobil Honda putih yang wangi barunya masih sangat gres. Aaargh, malam-malam terang bulan begini menuju ke sebuah resort di Nagarkot, dengan mobil keren baru, dengan pengemudi pengganti yang duduk di sebelah saya, yang… ‘keceh‘ dan menarik 100% serta ‘seksih’… Ampuuuunnnn… 😀 😀 😀

bersambung…

Baca Rangkuman dan seri perjalanan Nepal lainnya:

Iklan

4 pemikiran pada “Nepal – Overland (Again), Lumbini – Chitwan – Kathmandu

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s