Lebaran, Mengukur Jalan, Merajut Cinta


Siapa yang mampu menghalangi datangnya kebahagiaan cinta dalam libur panjang hari kemenangan saat satu keluarga mengukur jalan menuju serangkaian kota lebih dari sepuluh malam? Walau didalamnya bercampur rasa, antara tak ikhlas melepas Ramadhan mulia penuh berkah dan rasa bahagia hari kemenangan yang memenuhi sukma. Ditambah sepanjang perjalanan setiap harinya, memberi warna ceria. Rasanya seperti mengamini satu pepatah, the journey itself is the destination.

Menuju Cirebon Penuh Senyum Lebar

Tapi rencana tinggal rencana, yang awalnya niat berangkat setelah subuh, akhirnya jelang tengah hari, satu kendaraan berisi empat manusia ini baru meninggalkan kota Jakarta. Tetapi rasanya berkah senantiasa berlimpah, sehingga perjalanan hari pertama berjalan mulus tanpa jeda.

Dan seperti biasa, di saat hampir semua penghuni Jakarta kembali ke kampung halaman, di jalan-jalan bebas hambatan terlihat mobil konde, satu istilah untuk mobil dengan tambahan bagasi di atasnya. Dan mengulang masa balita anak-anak dulu, setiap mobil konde yang terlihat akan dihitung. Hanya sayangnya, jelang seratus hitungan, biasanya kemalasan menghampiri. Salah hitung akibat macet atau gara-gara mobil konde yang sama terhitung lebih dari sekali.

 

Namun siang itu, berada di belakang sebuah mobil Fortuner yang berkonde mampu menghangatkan suasana dan memberi senyum lebar. Bagasi koper dan teman-temannya itu tampak dibungkus dengan plastik biru tua yang mungkin tidak rapat sehingga angin masuk dengan leluasa. Akibatnya selubung biru itu terlihat menggembung dan berkibar-kibar. Sekilas seperti buntelan atau mungkin orang bisa menganggap mereka membawa kerupuk dalam jumlah besar. Persepsi absurd antara gembung berkibar konde bagasinya serta nilai mobil yang pasti tidak murah itu memang bisa menghangatkan suasana. 😀

Senyum lebar semakin terasa ketika memasuki kamar hotel di kota yang berjuluk kota udang itu. Terbelalak mata kami melihat kamar yang sangat luas, bahkan terlalu luas untuk ukuran dua manusia dewasa Indonesia. Entah strategi hotel agar tidak terlihat terlalu lapang atau memang sesuai dengan brand mereka, di kamar disediakan sofa yang berbentuk setengah lingkaran. Ah, sofa melengkung yang muat sepuluh manusia ini terasa memenuhi ruang. 😀

Dan terjadi lagi rencana tinggal rencana, awalnya ada keinginan untuk mengunjungi obyek-obyek wisata di Cirebon, namun semua tak terwujud hanya karena waktunya tak lagi tepat. Tapi bukankah selalu ada lain kali agar bisa kembali ke Cirebon?

Menuju Semarang Yang Dulu Menyesatkan Dunia

Kebahagiaan liburan tak kunjung berakhir. Kendaraan melintas mulus di jalan tol Palimanan – Kanci dan berlanjut ke jalan tol Pejagan – Pemalang dengan kondisi yang jauh lebih baik daripada tahun kemarin. Melewati jalan tol ini, teringat akan tagar Brexit dua tahun lalu yang menjadi trending topic. Entah apa yang ada dalam pikiran orang-orang Inggris atau dunia yang saat itu sedang memikirkan dampak keluarnya Inggris dari Uni-Eropa, karena manusia Indonesia menggunakan tagar yang sama #Brexit untuk problem pemudik saat keluar dari tol Brebes, yang maksudnya adalah Brebes Exit.

Tahun ini, Brexit (Brebes Exit) terlihat sudah jelas rambu-rambunya. Di perjalanan terlihat pula KM 300 berarti sudah 300 km meninggalkan Jakarta melalui jalan tol, bahkan jika diteruskan pemudik bisa sampai Surabaya dengan melalui beberapa tol fungsional. Sungguh infrastruktur Indonesia tidak kalah dengan negeri seberang, apalagi bisa berkendara dengan pemandangan alam yang indah.

 

Akhirnya setelah bangunan tua legendaris Lawang Sewu terlewati, menginaplah kami di kawasan Simpang Lima kota Semarang, sebuah kawasan untuk menikmati kuliner yang menggoyang lidah. Bahkan sang suami sampai tergoda makan, dan makan lagi, karena semua yang ditelan terasa cocok dilidahnya. Bahagia itu sederhana, karena hotel dengan harga sangat terjangkau berjarak sangat dekat dengan semua resto berselera.

Akhirnya Menginap di Hotel Impian

Di hari ketiga liburan, berjarak hanya dua jam dari Simpang Lima, akhirnya saya menjejakkan kaki di hotel impian selama sedasawarsa. Begitu lama saya mengumpulkan mimpi, cita dan dana untuk bisa merasakan bermalam di tengah kawasan perkebunan kopi itu.

Dengan sebuah bangunan peninggalan Belanda sebagai pusat, dibangunlah beberapa villa untuk disewa sehingga dapat membiayai perkebunan kopi dan mendukung penghidupan masyarakat sekitarnya. Semua eksterior ditata cantik dan berkelas, menyegarkan rasa dan mata yang memandang. Rasanya seperti terbang ke masa sebelum negara kita merdeka namun fasilitas terbarukan.

8
Mesastila – A View from the Restaurant

 

9
Mesastila – the Infinity Swimming Pool

Villa dengan ranjang megah bertiang empat dan berhiaskan kain krem berlipit menjadikan suasana seperti kamar raja. Sebuah buket bunga cantik dengan nota khusus menyambut saya sekeluarga. Ah, rasanya terbang mendapatkan layanan begitu prima. Tak mungkin rasanya bila saya tidak mencoba free-spa yang diberikan untuk merehat sejenak kekakuan otot pundak.

Di kamar mandi tersedia semangkuk penuh helai bunga mawar sebagai pengharum saat berendam. Keindahannya tak berhenti disana. Dari ruang beranjangsana yang berjendela selebar kamar, terpampang pemandangan alam dengan pepohonan rindang bersaput gunung Andong yang memanjakan mata. Suasana yang begitu tenang, melupakan fakta bahwa sejatinya tempat ini hanya selemparan batu dari jalan raya penghubung kota Jogja dan Ambarawa.

 

Kolam renang dengan model infinity berhiaskan hijaunya pepohonan menjadikannya seperti oase natura. Rumput dan taman yang terpelihara serta suasana tenang yang terjaga, membuat nyaman melakukan yoga. Bahkan makanan sehat yang tersedia di restoran juga terasa nikmat di lidah. Dan bagaimana bisa saya tidak berjalan kaki berkeliling area untuk melihat perkebunan dan membaui harumnya kopi? Sejuk pula!

Tiba Giliran Untuk Yang Suka Serba Modern

Liburan keluarga berarti semua anggota harus gembira. Bahkan juga saat melalui jalan tol yang hari-hari belakangan ini menjadi perbincangan di dunia maya, karena ada  kendaraan yang tak mampu menanjak hingga seorang polisi datang mengganjal roda. Padahal saat kami melaluinya siang itu, sungguh tak terasa curamnya. Bagi saya, masih banyak jalan lain yang lebih curam dan mengerikan.  Tapi entahlah, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam mobil yang viral itu…

 

Jadi selepas hotel impian bagi saya di malam sebelumnya, maka selanjutnya untuk suami dan anak-anak sebagai penyuka semua hal bernada modern. Sebuah hotel baru yang mencakar langit menjadi tempat persinggahan di kota Solo, tempat berbaurnya nilai modern dan tradisional. Keindahan kota Solo dan Gunung Merapi serta Gunung Merbabu bisa disaksikan dari ketinggian lantai kamar yang berjendela lebar. Bahkan kamar mandinya pun berjendela lebar dengan pemandangan kota. Hanya saja, saya tak pernah berpikir untuk melihat indahnya kota selagi tak berbusana. Anda pernah?

Jogja, Kota dan Rumah Kita

Setelah empat malam berkeliling berbagai kota, akhirnya sampai juga di Jogja, kota sekaligus rumah, tempat hati berada, tempat kembalinya rasa. Dan sebagaimana rumah, dimana pun terasa damai sempurna. Kembali ke tempat penginapan yang sama, ke suasana yang sama, ke rasa yang sama tapi waktu yang berbeda.

Back again to Jogja
Back again to Jogja
17
Beauty during morning walk at Jogja
16
The morning light through the leaves

Dan suara takbir sudah menggema dimana-mana saat sampai di Jogja, menandakan Ramadhan mulia penuh berkah telah beranjak. Ada rasa kehilangan dalam jiwa, tapi juga bercampur rasa bahagia. Jogja, bagi saya, tak pernah berubah wajah rasa, selalu sama, selalu penuh cinta.

Pada Jumat penuh berkah itu, ikatan silaturahmi semakin kuat terasa saat seluruh keluarga berkumpul saling berbagi rasa, hanya ada tawa bahagia sebagaimana Almarhum Bapak yang bijaksana selalu berkata. Kekuatan keluarga hendaklah selalu menjadi prioritas utama, walau secara fisik tersebar di berbagai kota dari Tasikmalaya, Jakarta hingga Madinah. Tapi akhirnya seluruh keluarga pun terjerat pada aturan Sang Waktu, hakim penuh disiplin yang tak kenal kecuali. Ada saat jumpa, ada juga saat berpisah. Dan tak bisa tidak, seluruh anggota keluarga berlaku sama, mencoba memperpanjang acara berpamitan. The Long Long Goodbye…

Borobudur Yang Memanjakan Mata

Meninggalkan Jogja yang penuh cinta tetap saja memedihkan rasa, walau tujuan selanjutnya adalah Borobudur yang sudah terkenal seantero dunia. Kali ini bukan ke Borobudurnya, melainkan sebuah tempat dengan pemandangan Borobudur yang diselimuti awan berkabut dan gunung-gunung tinggi di sekitarnya.

Walaupun tidak mudah ditemukan, hotel ini sangat menggoda. Dengan kamar berkelas ditambah kolam renang pribadi yang infinity, dijanjikan Candi Borobudur tampak jelas sebagai pemandangan kamar. Bonusnya adalah Gunung Merapi, Merbabu dan Sumbing yang ikut mendekorasi alam. Hotel tidak mengatakan bahwa berjuta bintang tampak menghias langit malam. Dan semuanya terhampar bagi kami meninggalkan kesan mendalam.

20
Infinity private pool – Borobudur and Mt. Merbabu
19
The Borobudur view with mist from our room

Esoknya, sejak sinar awal menghias langit Timur, saya telah terjaga. Gunung Merapi dan Merbabu anggun berjajar di depan mata. Dan tak jauh di Utara, Gunung Sumbing memperlihatkan keindahannya. Perlahan mentari terbit memancarkan hangatnya cahaya, menghalau kabut-kabut yang menghias lembah-lembah dengan Borobudur di puncak seakan singgasana. Lukisan yang sangat indah dari Sang Pencipta. Sejuta rasa mampu mengharu biru dan bersyukur melihat keagungan Semesta.

Ah, pemandangan luar biasa yang memanjakan mata dengan harga yang relatif terjangkau itu benar-benar pengalaman liburan dengan warna spesial. It’s totally worth it!

Purwokerto Yang Menghidupkan Nostalgia

Dari Borobudur yang mempesona kota berikutnya adalah Purwokerto. Bagi saya pribadi, Purwokerto selalu menghidupkan nostalgia sebab disini merupakan destinasi utama saat melakukan perjalanan darat bersama ayahbunda berdekade-dekade lalu. Bau khas rokok klobot, bunyi penjual sate sapi yang khas dan bangunan lama yang sekarang sulit ditemui mampu membuat saya merindu dan menggambar di benak secara jelas semua yang dirasa saat kecil dahulu. Indah!

Dan tak berlebihan jika di setiap jaraknya, setiap nama desanya, terasa begitu familiar di kepala, dengan bahasa yang ngapak-ngapak membuat tawa, selalu menghangatkan rasa. Tidak heran, leluhur saya memang mengakar disini.

Kembali ke Cirebon Sebelum Ke Jakarta

Lalu lintas tak dapat diduga, macet panjang menghias jalan sejak Purwokerto, tak pelak kami kembali ke kota Cirebon untuk melepas malam. Namun tak ada kebetulan. Desa-desa di pegunungan dengan pemandangan indah jadi dilalui tanpa rencana. Sawah hijau menghampar, mega berarak di puncak bukit. Bukankah ini berkah? Semua tidak akan terlihat jika perjalanan hari itu normal. Dan sungguh, hari berikutnya saat menuju Jakarta, perjalanan tambah dimudahkan dengan pembukaan jalur satu arah. Semuanya jalan serasa membuka.

Ketika kembali menjejak rumah, hanya ada rasa gembira dan bahagia, rasanya berkah tumpah ruah, tak bisa tidak, perjalanan ini seperti merajut Cinta sepenuh rasa.

Nepal – Overland (Again), Lumbini – Chitwan – Kathmandu


Gerbang Lumbini yang baru saja dilewati, -satu lagi destinasi yang berhasil ditandai-, kini semakin kecil tertinggal di belakang.  Tanpa sadar saya menyentuh Khata, -syal putih yang didapat dari Biksu di bawah pohon Boddhi di Kuil Mayadevi, Lumbini, tempat kelahiran Sang Buddha-;  yang kini melingkar di leher dan telah membuat saya sangat terharu.  Menyentuh kain halus yang kontras dengan blus biru saya ini terasa menenteramkan, seakan memastikan bahwa kebahagiaan akan terus menemani dalam perjalanan ini, kembali ke Kathmandu.

Begitu memasuki wilayah Siddharthanagar, mobil yang saya naiki, Hyundai Atoz mulai bersaing dengan  truk-truk besar. Udara Terai terasa semakin panas saat berada dalam antrian lambat kendaraan-kendaraan besar itu. Kebanyakan dari truk-truk itu mengarah ke India melalui Belahiya (Nepal) lalu masuk ke Sunauli (India) dan selanjutnya ke Gorakhpur, -kota terdekat dengan stasiun kereta-, atau ke kota-kota lain di India. Perbatasan yang buka 24 jam ini  juga sering dilalui turis yang melakukan perjalanan darat dari Varanasi, Sarnath atau Kushinagar menuju Lumbini, Kathmandu atau Pokhara, demikian pula sebaliknya. Saya diam-diam mencatat situasinya dalam hati, siapa tahu saya melakukan cross-border disini.

Namun belum bergerak jauh dari simpang perbatasan Nepal – India tadi, Santa menghentikan kendaraan di sebuah bukit lalu memberitahu bahwa hamparan dataran rendah yang sangat luas didepan mata itu adalah dataran India. Negara impian untuk didatangi kembali, yang menyimpan begitu banyak cerita namun belum sempat mendapat prioritas, terlihat jauh sekaligus dekat. Sepertinya hanya selemparan batu dari bukit ini…

Tetapi yang benar-benar selemparan batu adalah warung makan tanpa nama yang begitu mengundang. Matahari yang belum tegak diatas kepala sepertinya menertawakan saya yang terpaksa mengikuti kebiasaan penduduk Nepal untuk makan siang sebelum tengah hari. Tak berapa lama, sepiring Dal Bhat terhidang di meja yang langsung saya lahap dengan penuh syukur. Rejeki dari Pemilik Semesta berupa hidangan, apapun rasanya, tak boleh ditolak karena bukankah masih banyak manusia tak bisa makan di bumi ini…

Waktu berjalan lambat saat mobil meluncur kembali ke jalan yang berkelok menembus perbukitan. Kini pemandangan meranggas telah berubah warna dengan hijaunya pepohonan yang menyelimuti bukit-bukit. Hingga kami mendekati sebuah jalan yang dipisahkan oleh batuan gunung besar yang seakan dibelah secara rapi, -entah oleh alam atau teknologi-, walaupun saya lebih cenderung pada kemungkinan yang terakhir. Saya mengabadikan ‘batu segede gaban‘ yang terbelah dengan keren  itu sambil mengingat jalan-jalan tol di Jawa yang juga dipotong rapi dari gunung-gunung yang menghalangi pembangunan jalan walaupun rasanya tidak ada yang seperti di Nepal ini yang dipenuhi tumbuhan di atasnya.

Namanya overland itu, kecuali sendirian, yaaa perlu juga toleransi. Perjalanan yang tadinya diisi musik top40 kini berganti musik pop berbahasa Hindi. Walaupun ada yang menyenangkan, tapi entah kenapa langsung mengingatkan saya akan momen “cinta pohon atau tiang” dari film-film Bollywood. Santa kadang bernyanyi mengikuti musik yang membuat telinga rasanya gatal mendadak, tetapi demi sebuah perjalanan yang menyenangkan, saya melebarkan batas toleransi lagipula pemandangan di luar menarik hati. …. kya karoon hayee, Kuch Kuch Hota Hai…. 😀 😀 (artinya pas gak ya?)

Sekitar satu jam kemudian, mata saya menangkap rombongan perempuan dalam balutan sari merah yang sedang berjalan sambil ngobrol. Pasti ada kuil di sekitar sini yang sedang ramai dengan perayaan atau mungkin juga pasar rakyat. Bukankah ibu-ibu dimanapun tak jauh dari Sale dan diskonan?

Women around Narayangarh, Nepal
Women around Narayangarh, Nepal

Dan benarlah di depan ada sebuah jembatan panjang yang membentang di atas Sungai Seti Gandaki, yang suci dan telah memberi banyak manfaat bagi penduduk di sepanjang alirannya. Sungai yang mengarah ke Selatan ini merupakan gabungan dari Sungai Kali Gandaki dan Sungai Trishuli, sungai lainnya yang juga dianggap suci. Bukankah nama-nama sungainya bermakna dalam? Dan sebagaimana biasa, di bantaran sungai Seti Gandaki ini dibangun sebuah kuil yang didedikasikan untuk Dewi Durga, mendampingi kuil lain yang pasti ada di dekatnya yaitu Kuil Shiva, yang saat itu penuh hiasan merah. Selain itu dari atas jembatan, terlihat seperti ada pasar rakyat dengan begitu banyak kegembiraan bercampur dengan mereka yang melakukan puja.

Seti Gandaki River
Seti Gandaki River

Di ujung jembatan panjang tadi, sebuah kota yang disebut dengan Narayangarh atau Narayanghat menyambut kami. Keberadaan kota kecil yang terletak di pinggir sungai suci ini telah menjelaskan arti nama kotanya tanpa perlu berpanjang cerita. Ghar atau Ghat berarti sebuah tangga turun ke sungai untuk ritual bersuci. Dan Narayan, sudah tak asing bagi di kalangan Hindu, yang dikenal sebagai Yang Maha Kuasa. Entah kenapa, mengetahui nama kota yang dilewati dengan kedalaman maknanya, saya langsung teringat pada kota-kota yang namanya bermakna indah, Madinah atau al-Madīnah l-Munawwarah, bermakna kota cahaya penerang iman; Los Angeles adalah kota malaikat; atau Krung Thep alias Bangkok adalah kota para bidadari dan makhluk abadi dan masih banyak lainnya. Dan tak luput Las Vegas, yang paling terang, penuh cahaya terlihat dari langit. (tapi yang terakhir ini duniawi sekali ya… 😀 )

The City of Narayangarh, Nepal
The City of Narayangarh, Nepal

Melintasi Narayangarh ini mata saya menikmati situasi setiap sudut kotanya, dengan hotel, bank dengan ATM, toko-toko atau penarik becak seperti yang ada di Lumbini. Kota kecil ini hidup dan langsung saya tersadarkan, tentu saja hidup, sebab tak jauh dari tempat wisata terkenal, Taman Nasional Chitwan, yang terdaftar sebagai salah satu kawasan UNESCO World Heritage Site.

Dalam hitungan menit selepas Narayangarh terbentang jalan membelah kawasan hutan yang tertata. Di pinggirnya sempat terlihat gambar hewan mungkin kawasan konservasinya. Jantung ini berdegup lebih kuat, seandainya saya terbang, tak pernah saya alami ini. Memang saya tak bisa menapakinya langsung, atau berpelukan dengan gajah dan hewan-hewan disana tetapi saya diberi kesempatan untuk membaui sejenak harumnya udara Chitwan yang terkenal dan menyaksikan kawasan hutan pendukungnya. Lagi-lagi saya bersyukur telah berlimpah anugerah dari sebuah kegagalan tidak mendapat penerbangan. Jadi mengapa harus menyesal dengan satu rencana yang gagal?

The Forest in Chitwan National Park, Nepal
The Forest in Chitwan National Park, Nepal

Akhirnya di simpang tiga itu, saya melambaikan tangan kepada Chitwan National Park. Setiap pertemuan memiliki perpisahan. Walaupun sejenak, walaupun hanya membauinya saja, saya bersyukur berkesempatan, daripada tidak sama sekali. Dan kini waktunya meneruskan perjalanan dengan pemandangan lembah-lembah sempit, tebing tinggi dengan sungai kehijauan yang kondisinya tak jauh beda saat melakukan perjalanan dari Pokhara ke Lumbini kemarin. Beberapa kali mata saya juga menangkap bebatuan yang terlihat longgar, yang dalam sekejap bisa longsor menimpa kendaraan-kendaraan di bawahnya. Ngeri untuk membayangkan.

Beautiful Trishuli River, Way to Mugling, Nepal
Beautiful Trishuli River, Way to Mugling, Nepal

Hari beranjak sore, diantara lembah sempit, dengan cahaya langit luar biasa menerpa punggung bukit dan ditemani Sungai Trishuli yang mengalir kehijauan di bawah membuat hati tersenyum. Siapa yang tak kagum dengan lukisan alam yang indah terjadi di depan mata?

Kemudian kurang dari satu jam berikutnya, kami sampai di pertigaan Mugling yang menyatukan kendaraan dari Lumbini dan Chitwan dengan kendaraan dari Pokhara yang semuanya menuju Kathmandu. Walau tak sampai menimbulkan kemacetan seperti di pertigaan Jomin saat mudik jaman dulu, terasa sekali lalu lintas semakin padat. Kini bus-bus semakin terlihat. Jalan nasional Prithvi Highway yang menghubungkan Kathmandu dan Pokhara ini telah dilewati oleh jutaan turis yang bolak-balik antara kedua kota terkenal di Nepal ini.

Sekitar lima kilometer dari pertigaan Mugling, kami mampir sebentar di Kurintar, stasiun kereta gantung satu-satunya yang ada di Nepal yang berasal dari Austria dengan keamanan bergaransi 100%. Sebenarnya menaiki kereta gantung ini sangat menyenangkan, karena bergerak sepanjang 3 km lintasan kabel  antara Kurintar dan Kuil Manakamana dengan ketinggian 1300 mdpl di puncak bukit yang ditempuh dalam waktu 10 menit dengan pemandangan lembah cantik dengan Sungai Trishuli yang berkelok-kelok. Sayangnya saat saya berkunjung tempat itu sudah hampir tutup sementara antrian pengunjung masih mengular panjang. Selain itu ongkosnya tak murah juga, sekitar USD20 per turis. Mungkin lain kali.

Setelah menyeruput segelas kopi, perjalanan dilanjutkan kembali karena Kathmandu masih sekitar 3 jam di depan. Pemandangan masih cantik dengan semakin turunnya matahari. Namun padatnya lalu lintas yang bergerak tak henti, -walau di tengah cahaya lembut sunset-, telah membaurkan udara dengan debu. Tak mungkin berhenti barang sejenak di sepanjang jalan yang berpinggir jurang, lagi pula pastilah membuat kemacetan panjang jika dipaksakan.

Trishuli River and the Mountains
Trishuli River and the Mountains

Hari perlahan berganti wajah menjadi malam. Jalan-jalan masih berkelok dalam gelap kecuali ada penerangan dari kendaraan atau dari bangunan dan billboard di pinggir jalan. Hingga di suatu kelokan bukit, sebuah bundaran besar bercahaya terlihat di antara pepohonan. Saya tertarik mengamati bundaran besar itu, seakan magnet yang sangat kuat. Benda apakah itu… Mata saya terus mengikutinya sementara kendaraan bergerak tanpa henti. Saya terus menatap benda itu mencari tahu sampai akhirnya saya tertawa sendiri. Itu Bulan, satelitnya Bumi yang terlihat sangat besar. Supermoon. Belum pernah saya melihat Bulan sebesar itu saat terbit, benar-benar beruntung saya bisa menyaksikan cantiknya Bulan di langit Nepal. Tetapi saya tak beruntung mengabadikannya, mungkin Pemilik Semesta hanya mengijinkan mata dan pikiran saya untuk melihat dan merekam kecantikan alam itu tanpa bisa mengabadikannya. Sungguh sebuah malam yang luar biasa…

Akhirnya Alhamdulillah, setelah berjam-jam berkendara, sampai juga di kantor penyewaan mobil di Kathmandu. Saya berterima kasih kepada Santa untuk dua hari perjalanan darat yang luar biasa dari Pokhara – Lumbini hingga Kathmandu dan mobil Hyundai Atoz itu kini bisa parkir semalam untuk kembali besok ke Pokhara, sementara saya langsung berganti kendaraan dengan sebuah mobil Honda putih yang wangi barunya masih sangat gres. Aaargh, malam-malam terang bulan begini menuju ke sebuah resort di Nagarkot, dengan mobil keren baru, dengan pengemudi pengganti yang duduk di sebelah saya, yang… ‘keceh‘ dan menarik 100% serta ‘seksih’… Ampuuuunnnn… 😀 😀 😀

bersambung…

Baca Rangkuman dan seri perjalanan Nepal lainnya:

Nepal – Pokhara to Lumbini Overland


Sekali lagi saya menatap sendu ke barisan pegunungan berpuncak salju yang tampil tipis diantara awan tebal. Macchapuchhre dan Annapurna yang mempesona. Walau tampil tipis, ia tetap memperlihatkan diri pada hati yang meminta agar bisa membisikkan kata perpisahan. Sampai jumpa lagi pegunungan yang mempesona… Suatu waktu kita akan jumpa lagi…

Saya memperbaiki letak ransel di punggung lalu melangkah meninggalkan beranda kamar menuju lobby untuk menyelesaikan administrasi dan berterimakasih kepada para petugas hotel yang telah membuat saya betah seperti berada di rumah sendiri. Ganga menemani saya menuruni 500 anak tangga yang menjadi ciri khas Raniban Retreat menuju mobil yang akan membawa saya ke Lumbini. Sebuah hari dengan perjalanan panjang…

Sebenarnya Ganga mengupayakan tiket pesawat dari Pokhara ke Bhairawa atau sekarang dikenal dengan nama Siddhartanagar (yang artinya kota Siddharta), karena memang merupakan kota terdekat dari Lumbini, tempat kelahirannya Siddharta Gautama, Sang Buddha. Tetapi schedule pesawat ke kota itu memang seperti mengetahui akhir suara tokek, ada… tidak… ada… tidak… Singkat cerita, saya tidak mendapat tiket pesawat ke Bhairawa namun karena saya harus ke Lumbini maka by any means, bagaimanapun caranya saya akan sampai ke Lumbini. Sebagai pencinta fleksibilitas (baca: suka-suka hati) akhirnya saya memutuskan menyewa mobil daripada naik bus, walaupun untuk itu dompet terasa langsung tipis. Lagi pula saya suka sekali perjalanan darat.

Pengemudi mobil sewaan masih muda, seorang Nepal asli. Dia minta dipanggil Santa, walaupun tak terlihat sedikitpun ke‘Santa’annya. Tetapi berjam-jam berkendara bersama menempuh kurang lebih 200km, tentu saya harus berbaik-baik dengannya agar perjalanan terasa menyenangkan.

Harum pagi jelang berakhir ketika akhirnya tangan saya melambai kepada Ganga dan Raniban Retreat. Seperti menggambarkan perasaan saya yang campur aduk antara gembira menuju destinasi lain dan galau meninggalkan Pokhara dengan berbagai kenangan indah, kendaraan pun berguncang-guncang menuruni bukit di jalan yang tak rata. Dalam waktu beberapa menit keempat roda mobil Hyundai kecil itu sudah menyentuh hitamnya aspal di jalan Siddharta Rajmarg yang berkelok-kelok menyusuri pegunungan tinggi.

Pokhara – Butwal – Siddharthanagar – Lumbini

Dari cerita Santa, saya justru bersyukur tidak mendapat tiket pesawat ke Lumbini, karena perjalanan darat dari Pokhara ke Lumbini ini akan melalui begitu banyak pemandangan luar biasa, yang tidak akan bisa dinikmati bila naik pesawat. Siapa tak kenal pemandangan wilayah Tansen – Palpa dengan lembah-lembah tinggi nan sempit dengan air sungai yang hijau toska? Ah, saya ini benar-benar berlimpah anugerah dengan semua itinerary dariNya untuk setiap tahap perjalanan saya ke Nepal ini.

Duduk di sebelah Santa yang mengemudi, saya tak putus mengambil foto pemandangan yang luar biasa keren, dengan puncak Annapurna yang bersalju mengintip di antara lembah hijau yang tinggi dengan sungai kecil yang berkelok di dasar lembah. Bahkan Santa bersedia berhenti sejenak agar saya bisa berfoto dengan pemandangan menakjubkan itu.

1 hour drive from Pokhara, Bye Annapurna
1 hour drive from Pokhara to Lumbini, Bye Annapurna…

Setelah break makan siang di warung pinggir jalan, kami pun melanjutkan perjalanan. Berbeda dengan Kathmandu, lalu lintas sepanjang jalan ini tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Tetapi mobil tidak bisa melaju lebih kencang karena kondisi jalan yang berkelok-kelok sepanjang punggung bukit dengan tebing sangat tinggi di kiri dan jurang sangat dalam berada di kanan. Bahkan google maps pun memberikan waktu hampir enam jam untuk menempuh 200km itu. Tetapi saya tak pernah merasa bosan dengan enam jam duduk menikmati pemandangan alam. Sesekali Santa menyusul bus lokal yang melaju dan melihatnya saya semakin bersyukur telah mengambil keputusan menyewa mobil.

The Local Bus
The Local Bus

Santa mengemudi dengan kecepatan sedang, karena jalan yang tak berhenti berliku melipir gunung menyusuri Sungai Aadhi Khola di dasar jurang yang juga meliuk-liuk bagaikan ular besar melata di bumi. Pemandangan di bukit-bukit sekitar sangat cantik namun menggambarkan betapa infrastruktur jalan di Nepal masih sangat kurang. Bisa jadi karena Nepal merupakan landlocked country ditambah kondisi geografis penuh dengan lembah dan ngarai yang tinggi mengakibatkan semakin sulitnya distribusi barang. Tak heran bila ada jalan di Nepal yang termasuk kategori the most dangerous road in the world.

Road in Nepal
Road in Nepal

Setelah melewati beberapa desa, akhirnya kami menyeberang Sungai Kali Gandaki yang lebar dengan warna airnya yang hijau toska. Sungai yang bermula dari pegunungan Himalaya ini sering dimanfaatkan sebagai tempat wisata outdoor seperti kayaking dan olahraga air lainnya. Rasanya aneh juga ada sungai yang mengalir di bagian selatan dan utara pegunungan dengan nama yang sama.

Beautiful color of the river
Beautiful color of the river

Di desa-desa yang dilewati sepanjang jalan sering sekali saya lihat rombongan kaum perempuan bersari merah berjalan gembira menuju kuil untuk sebuah festival. Balutan merah yang menggambarkan kegembiraan, semangat dan keberuntungan tentu saja pantas digunakan dalam sebuah perayaan. Saya langsung teringat kehebohan festival yang saya alami di Changu Narayan dan juga di Kathmandu Durbar Square, semuanya seakan memastikan bahwa tiada hari tanpa festival di Nepal.

Tak terasa beberapa jam telah berlalu ketika Santa mengatakan sudah memasuki wilayah Tansen Palpa yang terkenal. Sayang untuk kesana, harus meninggalkan jalur utama yang tentunya akan memakan waktu untuk pergi pulang. Sang Waktu sepertinya memang belum mengizinkan saya untuk menjejak di Tansen Palpa. Saya hanya melempar pandang ke gapura Tansen – Palpa di persimpangan sambil berharap suatu saat saya akan mampir.

Tak lama setelahnya Santa melambatkan laju kendaraan karena ada antrian kendaraan di depan. Tak seperti antrian kendaraan di Indonesia yang bisa mencapai berkilo-kilometer, di depan hanya ada beberapa kendaraan. Santa memberitahu antrian terjadi karena kendaraan harus berjalan satu persatu di situ karena sering longsor.

Mendengar itu secara otomatis saya melihat tebing bukit yang ada di sebelah kiri. Karena tingginya saya sampai harus menempel pada jendela agak ke bawah untuk bisa melihat puncak bukit itu. Dan di depan tebing menjulang hampir lurus vertikal dengan bebatuan tak stabil di pinggir jalan yang hanya cukup dilewati sebuah kendaraan. Saya tak berani membayangkan bagaimana kondisi jurang yang ada di sebelah kanan. Bagi saya sendiri, inilah jalan yang masuk kategori the most dangerous road in the world. Sewaktu-waktu longsor dapat terjadi dan langsung menimbun kendaraan yang lewat di bawahnya. Sejumput rasa khawatir terbersit di dada yang secara otomatis mengucap doa dalam hati, menyaksikan kendaraan di depan berjalan pelan hingga sampai ke titik aman. Lalu datang giliran kami…

One by One, After Tansen - Palpa
One by One, After Tansen – Palpa

This is terrifying…

Luar biasanya, di dalam situasi mengerikan itu Sang Pemilik Semesta senantiasa memberikan keindahan di dalamnya. Sambil kendaraan berjalan perlahan saya melihat air terjun di sisi kiri, turun dari atas bukit tinggi itu. Sejenak saya teringat air terjun Lembah Anai yang cantik yang juga terletak di pinggir jalan. Volume Air Terjun ini tak cukup melimpah, hanya membasahi jalan untuk menyerap debu yang terbang. Kendaraan kami sampai di jalan yang sedikit rusak tepat di bawah tebing dengan batu-batu besar yang longgar. Guncangan kendaraan di bawah tebing itu benar-benar mendebarkan hati. Jika batu-batu besar itu longsor, tamatlah kami…

The Waterfalls next my window
The Waterfalls next my window

Pelan tapi pasti kendaraan maju pelan-pelan dan akhirnya sampai pada titik aman. Saya menarik nafas lega, demikian juga Santa. Lalu dia menghentikan kendaraan di Kuil Siddhababa yang ada di ujung jalan mengerikan itu. Memberi jeda untuk rehat sejenak terhadap rasa kuatir yang tadi sangat menekan. Dari kuil itu saya baru tahu situasi jurang di sebelah kanan yang sama mengerikannya. Di kiri tebing setinggi gunung, di kanan jurang… melewati jalan itu benar-benar memerlukan doa sepenuh hati.

The dangerous road before Butwal - Do you see the trucks?
The dangerous road before Butwal – Do you see the trucks?

Kuil Hindu Siddhababa yang baru saja dilewati merupakan penanda batas terdekat antara wilayah pegunungan dengan wilayah dataran rendah Terai yang panas. Sambil meninggalkan kuil itu, dengan gurauan khasnya, Santa mengatakan bahwa sekarang sudah meninggalkan Nepal. Baginya, Nepal identik dengan pegunungan tinggi dan dataran rendah Terai hanya bagian dari India, bukan Nepal. Saya terbahak mendengar gurauan absurd darinya…

Tak lama kemudian kami menembus sebuah kota. Karena sama sekali tidak ada tulisan latin yang bisa saya baca, saya mencari tahu melalui ponsel. Ternyata kami telah berada di Butwal, kota yang pernah menyandang sebagai kota terbaik di Nepal selama empat kali berturut-turut. Berada di Butwal, artinya Siddharthanagar hanya tinggal selemparan batu.

Lalu sesampainya di Siddharthanagar, -atau dulu disebut Bhairawa yang merupakan tempat mendarat jika tadi pagi saya terbang dari Pokhara-, pikiran saya mendadak melayang ke Varanasi, kota suci di India yang bisa ditempuh sekitar 8 jam berkendara dari kota ini. Siddharthanagar memang berbatas dengan India. Ah… pikiran ini selalu penuh dengan keinginan.

Santa melanjutkan perjalanan sepanjang 24 km kearah Barat, arah ke Lumbini, destinasi berikutnya. Dan rasanya seperti air segar mengguyur tubuh yang gerah ketika gerbang Lumbini terlewati. Dan ketika akhirnya mobil berhenti di hotel, -berlokasi di depan pintu gerbang Barat Taman Lumbini-, saya menatap setengah tak percaya ke Taman Lumbini yang gelap, pikiran saya terbang ke masa hampir dua ribu enam ratus tahun lalu…

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal