(Burma Trip – Shwedagon #3) Menikmati Malam di Shwedagon


Diamond di Puncak Shwedagon

Kaki saya telah keluar dari bangunan Inskripsi Shwedagon, melangkah menuju bangunan lainnya sambil mendengarkan cerita dari sang guide. (Jika belum mengikuti perjalanan saya di Shwedagon sebelumnya, baca dulu : Burma Trip – Shwedagon#2 : Melangkah Diantara Yang Cantik).

Saya memutari Pagoda Naungdawgyi searah jarum jam, sehingga mencapai Bangunan Shin Ajagona yang berada tepat di bagian selatan pagoda. Bangunan ini serupa dengan bangunan lainnya yang  memiliki khas Burma, berwarna hijau keemasan. Ajagona sendiri merupakan kisah seorang biksu dari Bagan, yang mencari ilmu untuk mendapatkan jimat batu filsuf. Dalam tahap akhir upayanya, Ajagona menceburkan gumpalan-gumpalan besi yang telah ia buat lama sebelumnya ke bejana cairan asam. Namun, alih-alih mendapatkan jimat, gumpalan-gumpalan itu tidak mengalami perubahan apapun. Merasa malu, ia mengakui kegagalannya dengan cara mempersembahkan kedua matanya sebagai tanda bakti kepada Raja dan seluruh rakyat Bagan yang telah mendukung upayanya sekian lama. Dalam kebutaannya, lalu ia membuang seluruh gumpalan logam itu ke sebuah jamban. Anehnya, dengan dibuang ke jamban, gumpalan logam itu berubah bentuk dan dipercaya telah menjadi jimat batu filsuf. Rupanya elemen akhir yang harus ditambahkan untuk menjadikan sebuah jimat bukanlah cairan asam melainkan kotoran. Dalam kebutaannya, Ajagona justru telah berhasil mendapatkan batu filsuf. Namun karena ia buta, Ajagona kemudian menyuruh seorang pemuda ke pasar untuk mendapatkan sepasang mata, baik sepasang mata domba atau sapi, agar Ajagona dapat kembali melihat. Namun sayangnya, di pasar si anak muda hanya bisa mendapatkan satu mata domba dan satu mata sapi. Tak putus asa Ajagona menggunakan mata yang diperoleh si anak muda tadi agar ia bisa kembali melihat. Akhir kisah, penglihatan Sang Biksu  bisa dikembalikan, tetapi matanya berbeda satu dengan yang lainnya dan karenanya ia terkenal dengan nama Ajagona, yang secara bebas diartikan Domba-Sapi. Kisahnya tidak berhenti disitu, dengan bekal batu filsuf yang dimilikinya, Sang Biksu berhasil membuat rakyat Bagan menjadi sejahtera dan makmur sehingga mampu membangun banyak pagoda. Sebuah cerita yang menarik, karena saya melihat sendiri banyak sekali pagoda yang tersisa masih berdiri dengan megahnya di Bagan, apalagi pada jamannya!

Genta Mahasaddhaghanta

Meninggalkan Bangunan Shin Ajagona, masih di area tenggara dari Pagoda Naungdawgyi, terdapat bangunan yang didalamnya terdapat sebuah genta atau lonceng raksasa yang disebut dengan Genta/Lonceng Raja Tharyarwady. Genta ini didonasikan oleh Raja Tharyarwady yang memerintah dari tahun 1838 – 1846, setelah kunjungannya ke Yangon. Genta raksasa yang ditempatkan pada tahun 1843 ini bernama Mahasaddhaghanta yang berarti Genta Besar Tiga Suara. Berbeda dengan Singu Bell yang juga menghiasi Shwedagon, genta Mahasaddhaghanta yang berbobot 42 ton ini merupakan genta terbesar kedua di Burma setelah Genta Mingun di Mandalay yang bobotnya 89 ton. Genta Raja Tharyarwady ini memiliki tinggi lebih dari 4 meter dan berdiameter sekitar 2 meter dengan ketebalan 37cm. Di permukaannya terdapat inskripsi dalam bahasa Pali dan Burma yang merupakan inskripsi paling panjang di Burma.

Pengunjung sering memanfaatkan area di dekat Genta ini sebagai tempat untuk bermeditasi. Bahkan ketika saya berkunjung ke sana, di dalam genta raksasa terdapat seseorang yang sedang bermeditasi. Secara logis, mungkin orang tersebut mencari keheningan luar biasa yang bisa didapatkan di dalam genta karena suara lebih teredam (Tetapi maaf ya…. mungkin karena didorong pikiran saya yang jahil karena kebanyakan nonton film Tom & Jerry, ketika melihat ada seseorang yang bermeditasi di balik sebuah Genta besar, di benak langsung tergambar adegan komik yang sungguh ‘iseng dan jahil’, ada orang iseng yang memukul Genta tersebut dengan keras sehingga orang didalamnya jadi berbayang 2, 3, atau 4 karena pantulan suara yang memekakkan telinga 😀 )

Rombongan Penyapu

Setelah foto-foto di Genta, guide saya tiba-tiba melangkah cepat ke depan sehingga saya ikutan mengejar langkahnya. Rupanya ia mengejar serombongan perempuan tua muda yang semuanya berkain dan membawa sapu. Lagi-lagi ia menjawab keheranan saya dengan penjelasan yang sangat logis, mereka adalah rombongan relawan yang bertugas menyapu pelataran Shwedagon. Secara periodik dalam sehari, pelataran Shwedagon senantiasa dibersihkan oleh oleh para relawan penyapu. Berbekal sapu, para relawan ini menyapu sesuai areanya dan sesuai periodenya. Di antara rombongan itu, terlihat banyak penyapu muda usia. Sungguh luar biasa melihat sifat-sifat kebaikan yang ditanamkan sejak usia muda, tulus ikhlas membersihkan tempat ibadah, bekerjasama dalam tim untuk sebuah hasil kebaikan bersama dan bekerja dengan gembira tanpa sebuah beban.

Meletakkan Lembaran emas

Buddha memang telah berakar dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Burma. Apabila seseorang sedang sakit pada bagian perutnya, maka ia akan berdoa pada Buddha untuk mengangkat penyakit dari perutnya dan dengan ia menempelkan gold-leaf (lembar emas) pada patung Sang Buddha, ia percaya Sang Buddha akan mengangkat penyakitnya itu. Demikian pula apabila ia mengalami stress kehidupan sehingga sakit kepala, hal yang sama akan dilakukan dengan cara menempelkan gold-leaf pada patung Buddha. Gold leaf, yang asli dari emas murni ini, dapat dibeli oleh semua kalangan hingga kalangan terbawah dengan harga yang terjangkau. Sehingga tidaklah heran bahwa di Burma semua yang terkait dengan Buddha biasanya berlapiskan emas.

Kemudian saya melanjutkan ke Bangunan Dua Pices Pasar Strand. Dinamakan demikian, karena seperti  juga Altar Barat, bangunan ini dibangun pada tahun 1914 dari hasil kontribusi harian pedagang-pedagang Pasar Strand lama sebesar 2 Pices (yang bernilai 1/32 Rupee, jika dirupiahkan sekarang sekitar 5 Rupiah). Buddha yang berada di dalamnya dipercaya akan kemurahan anugerahnya sehingga banyak pengunjung mendatanginya untuk meminta anugerahnya. Ritual yang dilakukan pengunjung setelah berdoa adalah dengan mengangkat batu yang ada di depannya. Bila terasa ringan, maka dipercaya orang tersebut akan menerima anugerah. Bangunan ini memiliki dekorasi Burma, seperti juga bangunan lain di Shwedagon, berpilar lapis emas dengan ukiran rumit di bagian atas yang benar-benar cantik.

Guide saya menjelaskan bahwa di Burma seluruh ornamen yang terkait dengan Stupa Buddha ditempatkan secara khusus. Demikian juga Payung Pelindung (atau dikenal dengan Hti) yang terpasang pada puncak stupa. Pagoda Shwedagon sendiri menyimpan payung-payung pelindung stupa yang lokasinya tak jauh dari Pagoda Naungdawgyi. Bentuk payung pelindung biasanya bersusun mengerucut ke atas, terbuat dari besi berlapis emas, ada bersusun 7 atau 9. Ditempat lain ada bahkan hingga 11 tingkat. Ketika masih dimanfaatkan, biasanya Hti berlapiskan emas, namun yang teronggok dalam penyimpanan, disana-sini sudah terkelupas lapis emasnya sehingga menampilkan onggokan besi yang suram.

Kemudian saya melangkah menuju area Altar Timur. Jika sebelumnya disebutkan beberapa tempat pemujaan terkait kekuatan non-fisik, maka di sini pun terdapat juga tempat pemujaan Bo Bo Aung (Bo Bo Aung’s shrine). Sebagai tokoh Utama di tempat ini, ia mendapatkan naskah kuno dalam seni okultisme dan berhasil mempraktekkan resepnya. Ia dipercaya mendapatkan kekuatan magis umur panjang jauh melebihi manusia lainnya. Bahkan bagi sebagian kaum di Burma, saat ini pun dia dipercaya masih hidup walaupun sangat jarang menampakkan dirinya. Katanya, ia hanya dapat disaksikan bagi mereka yang mengabdikan dirinya secara total untuk agama. Tentunya bukan saya, kalau begitu 🙂

Lepas dari Bo Bo Aung Shrine, tidak jauh dari situ terdapat Bangunan Daw Ngwe Zin, yang terkenal dengan nama bangunan Seribu Buddha karena sepanjang dindingnya terdapat 365 Buddha dalam posisi duduk. Sesuai namanya di dalam bangunan ini terdapat banyak patung Buddha, termasuk Buddha tidur dan Buddha yang bermahkota (atau dikenal sebagai Labhamuni – Yang Mendapatkan Kebijaksanaan). Selain itu, yang unik dalam bangunan ini adalah sandstone berbentuk silinder berlubang di tengahnya dengan tinggi sekitar 1.5 meter. Batuan itu tidak terdiri dari satu batuan utuh, melainkan 7 buah cincin silinder yang disusun berurutan ke atas. Sayang sekali saya tidak sempat menanyakan apa makna dari batu itu.

Dekor di langit-langit

Tak lama kemudian saya sampai ke Altar Timur, yang aslinya dibangun oleh salah satu isteri Raja Tharyarwady, dan kemudian hari direnovasi oleh U Kalagyi, penduduk Burma pada tahun 1869. Pada tahun 1895 Altar Timur ini dikenal sebagai pelataran pagoda terbaik dengan dekorasinya yang bercerita tentang kehidupan Sang Buddha. Sayangnya keindahan tempat ini hancur oleh kebakaran besar tahun 1931 dan bangunan yang sekarang ini dibangun pada tahun 1939 oleh U Myaing, seorang tuan tanah di Burma. Berbeda motif dekorasinya pada jaman dulu, dekorasi sekarang ini lebih didominasi dengan hiasan burung merak, simbol nasional Myanmar pada tahun 1920 dan 1930.

Di bagian depan atas dari Altar Timur terdapat Patung Buddha bermata Ruby, namun untuk menyaksikannya, pengunjung hanya bisa melihat dari televisi yang dipasang oleh pihak berwenang. Hal ini semata-mata untuk menjaga keberadaan batu mulia yang menghiasi mata patung tersebut.

Ruang berikutnya yang saya kunjungi adalah Ruang Dr. U Nyo, yang dibangun pada tahun 1938 oleh Saya Thant dari Mandalay. Ruang ini memiliki dekor rumit pada atap dan pada pilar yang berlapis emas berupa hiasan mosaik yang cantik. Pada dinding berhiaskan cerita tentang kehidupan Sang Buddha yang salah satunya mengambil adegan ketika seorang tokoh mengenali Pangeran Siddhartta yang akan menjadi Sang Buddha dan kesedihannya karena mengetahui bahwa ia tidak lagi hidup untuk melihat Kebuddhaan Sang Pangeran.

Setelah keluar dari ruang ini, sang guide yang menunggu di luar memberitahu bahwa saya sudah lengkap mengitari Shwedagon. Saya berterima kasih padanya sambil tersenyum terhadap gurauannya untuk menolak tawaran guide lain saat saya melanjutkan perjalanan dalam kesendirian karena sudah lengkapnya ia memberikan informasi mengenai Shwedagon. Kemudian masing-masing dari kami melanjutkan perjalanan dengan mengambil arah yang berbeda. Saya melihat ke Stupa Utama yang memantulkan kemilau matahari yang hampir tenggelam. Saya bergegas berjalan kearah Barat. Semoga saya masih bisa mengejar momen matahari tenggelam di Shwedagon.

Sunset at Shwedagon

Namun tampaknya dewi fortuna tidak memihak pada saya untuk mendapatkan sunset sempurna di Shwedagon. Tetapi kemilau keemasan sunset yang terpantul pada Stupa Utama, dan sejumput kecil matahari sunset yang bersembunyi di balik dedaunan dapat saya nikmati juga. Sejenak saya menikmati keindahan alam dan interaksinya dengan ciptaan manusia yang luar biasa hingga langit menjadi lebih gelap. Lampu-lampu dinyalakan dan pemandangan Shwedagon semakin luar biasa. Saya tak henti-hentinya memandang kemilau dari Stupa Utama, Stupa Naungdawgyi dan bangunan keemasan lainnya yang terang benderang. Sinar lampu memantul kehijauan dari warna tempat pemujaan yang putih, bercampur dengan kemilau keemasan dari banyak bangunan di Shwedagon memang terasa sangat kontras. Saya terus berjalan mengulangi putaran yang telah saya lakukan bersama guide tadi dan menikmati setiap langkah kaki yang seolah ingin menyerap semua titik keindahan Shwedagon.

Diamond Shwedagon

Sesuai anjuran guide sebelum berpisah tadi, saya berhenti pada sebuah titik di pelataran belakang dekat Genta Besar. Pada titik ini pengunjung dapat melihat keindahan berlian yang menghiasi puncak Shwedagon dengan warna-warna yang berbeda. Di sini berlian di puncak akan terlihat warna merah, kemudian mundur selangkah akan terlihat warna oranye dan mundur selangkah lagi akan terlihat warna hijau. Saya menikmati dalam pergerakan satu langkah maju dan mundur. Tidak banyak wisatawan yang mengerti hal ini, dan ketika saya bagikan informasi ini kepada wisatawan Perancis, mereka terpekik kegirangan seakan mendapat durian runtuh. O la la … Magnifique!

Sang Guide benar, saya beberapa kali didatangi guide lain yang menawarkan jasanya. Ada seorang yang sedikit mendesak agar melihat tempat pemujaan (shrine) yang berisikan patung Buddha bermata biru asli dari seorang biksu kulit putih yang telah meninggal. Tanpa mencari kebenarannya, saya langsung menjauh darinya… takut 🙂 ! Yang lain ada yang menceritakan tentang patung yang dikembalikan Inggeris agar penyakit aneh di suatu daerah di Inggeris bisa hilang karena patung tersebut diambil secara tidak sah dan cerita-cerita lainnya. Wah sepertinya mengingatkan pada cerita-cerita berbau supranatural di kampung halaman sendiri…

Kaki terasa lelah melangkah, saya duduk di pinggir sebuah aula. Tak terasa jam lokal yang ketinggalan 30 menit dari waktu Jakarta itu sudah menunjukkan waktu jelang tutup Shwedagon. Sebenarnya saya belum ingin meninggalkan Shwedagon yang cantik ini, tetapi perut memanggil minta diisi karena sejak pagi terlupakan dan masih harus menyimpan tenaga untuk ke Bago esok hari. Sejenak saya menatap Stupa Utama yang keemasan dan melantunkan larik-larik kata perpisahan kepadanya. Saya tidak tahu kapan lagi saya akan ke Shwedagon. Lagi-lagi saya teringat ayah saya di Jakarta, yang membuat akhirnya saya menjejakkan kaki di Shwedagon ini. Kita telah sama-sama menyaksikan Shwedagon Phaya. Satu milestone telah terlewati dan saya akan melanjutkan perjalanan.

Saya turuni ratusan anak tangga sambil melihat-lihat pedagang-pedagang yang sedang sibuk menutup dagangannya. Anak-anak kecil bermain diantara dagangan diiringi suara-suara orangtuanya yang dengan cinta menyuruhnya berhenti bermain. Saya tersenyum terhadap semuanya, saya telah memeluk aura Shwedagon dan menyimpannya di dalam sepenuh hati. Semoga senantiasa menerangi hati laksana kilau yang terpantul dari matahari yang tak pernah henti menyinari…

Iklan

7 pemikiran pada “(Burma Trip – Shwedagon #3) Menikmati Malam di Shwedagon

    • mantab deh ke Shwedagon, datengin siang menjelang sore sampai malam. Malem keren banget dgn lampu2nya. Menjawab pertanyaanmu, waktu itu saya naik taksi, krn ga berani naik bus malam-malam hehehe….

      Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s