Kisah Raja Gajah Di Gua Saddan


Salah satu gua yang saya kunjungi selama di Hpa’an, Myanmar adalah gua Saddan atau kadang disebut juga Mahar Saddan. Gua ini merupakan gua terbesar di Kayin State dan nomor 5 terbesar di Myanmar. Tidak heran, karena Hpa’An merupakan kawasan wisata yang terkenal karena pemandangan alamnya yang unik akibat bentukan bukit-bukit karst. Dan namanya gua di Myanmar, biasanya digunakan juga sebagai tempat ibadah sehingga kita harus lepas sepatu, bahkan saat menjelajah gua yang sepanjang 800 meter yang juga dihuni oleh kelelawar dan segala macam makhluk hidup penghuni gua. Terbayang kan bagaimana jalan di dalam gua tanpa alas kaki?

Gua Saddan, -artinya gajah dalam bahasa lokal-, dinamai demikian karena ternyata memiliki kisah penuh makna dibaliknya. Tentu saja seperti yang biasa terjadi  di negara mayoritas Buddhist ini, kisahnya selalu dikaitkan dengan kehidupan Buddha atau pengikut utamanya.

DSC07835
The Hole drilled by Sonuttara, Saddan Cave, Hpa’an, Myanmar
DSC07855
The Hole of Saddan Cave, Hpa’an, Myanmar

Alkisah di tempat ini berkuasalah Raja Gajah Chaddanta Jataka, yang dipercaya merupakan satu dari kehidupan Buddha sebelumnya. Gajah Chaddanta merupakan salah satu ras yang paling langka dan dianggap oleh banyak orang sebagai kelas gajah tertinggi. Gajah-gajah ini memiliki penampilan yang amat unik, dengan tubuh yang berwarna putih murni disertai kaki dan wajah berwarna merah tua dan memiliki dengan enam gading. Disebutkan pula Raja Gajah Chaddanta memiliki dua ratu gajah, yang masing-masing bernama Mahasubhadda dan Chullasubhadda.

Suatu hari, Raja Gajah Chanddanta ingin memberikan bunga kepada para ratu gajah, namun tanpa diketahui Sang Raja, dalam bunga yang diberikan kepada Chullasubhadda terdapat semut merah, yang akhirnya menggigit Ratu Gajah itu. Oleh karena gigitan semut merah itu, Chullasubhadda terkejut dan bergerak, akibatnya seluruh daun kering, ranting dan semut merah yang berasal dari pohon semuanya menimpa Chullasubhadda. Berbeda dengan yang dialami oleh Chullasubhadda, bunga-bunga indah dan serbuk sari dari bunga memenuhi Mahasubhadda, Ratu Gajah yang lain. Melihat perbedaan itu, Chullasubhadda menjadi sangat marah dan bersumpah untuk membalas dendam pada Raja Gajah Chaddanta.

Waktu berlalu tanpa kejadian berarti yang menimpa Raja Gajah Chaddanta. Namun setelah Chullasubhadda meninggal, dia bereinkarnasi menjadi seorang putri raja yang akhirnya dipinang oleh seorang Raja dan iapun menjadi seorang ratu. Takdir berjalan sesuai waktunya sehingga pada suatu hari Sang Ratu mengajukan permohonan yang tidak biasa. Ia menginginkan gading Raja Gajah Chaddanta. Karena cintanya, Sang Raja mengirim Pembantu Utamanya yang bernama Thaw Note Ta Ra atau Sonuttara untuk mencari gading tersebut. Karena ia sangat patuh kepada Rajanya, Sonuttara berangkat sendiri dan mencari Gajah Chaddanta. Ia sendiri memerlukan waktu hingga tujuh tahun untuk menemukan Raja Gajah Chaddanta.

Setelah menemukannya, Sonuttara menyusun rencana dengan menggali lubang di sebelah gua yang didiami oleh Chaddanta. Lubang galian itu dikamuflasekan dengan cara menutupinya dengan ranting-ranting dan daun kering serta cabang-cabang kecil lainnya. Kemudian Sonuttara bersembunyi di dalam lubang dan menunggu.

Hingga suatu saat, Raja Gajah Chaddanta menerobos lubang yang dibuat oleh Sonuttara sehingga tanpa ragu Sonuttara langung memanah Raja Gajah Chaddanta dengan anak panah yang beracun. Sambil menahan sakit akibat racun anak panah, Raja Gajah Chaddanta mencari orang yang memanahnya dan ketika ia menemukan Sonuttara, Raja Gajah Chaddanta pun mengangkat Sonuttara dengan belalainya. Kemudian Raja Gajah itu bertanya mengapa Sonuttara melakukan hal keji ini. Ditanya demikian, Sonuttara menjelaskan ia harus mematuhi perintah Rajanya, karena Sang Raja ingin sekali memenuhi permintaan Sang Ratu.

Sambil tercenung, Raja Gajah Chaddanta menyadari bahwa hal ini merupakan bentuk nyata dari sumpah Chullasubhadda atas insiden semasa hidupnya dulu. Raja Gajah Chaddanta memahami bahwa waktunya telah tiba untuk mati. Ia pun rela memberikan gadingnya kepada Sonuttara untuk kemudian menyerahkannya kepada Raja dan Ratu.

Duh, saya jadi ikut melow dengan akhir ceritanya…

Bisa jadi karena saya selalu terkesan pada kisah-kisah orang yang menerima semua akibat perbuatannya dengan ikhlas dan rela. Meskipun tidak sengaja atau tidak berniat (tetapi bukankah semua peristiwa terjadi bukan karena kebetulan?). Bagi saya sih pembelajarannya, sebaiknya kita tidak berlaku tak adil kepada orang lain dan berbuat sebaik mungkin, meskipun kita tak pernah bisa menyenangkan semua orang.

Selain itu, pelajaran penting lainnya sih hanya satu yaitu jangan menyakiti hati perempuan di luar batasnya, ketika ia patah dan bersumpah pasti akan terjadi ! 🙂

Anyway, menjelajahi gua Saddan tetap menyenangkan meskipun harus telanjang kaki sepanjang perjalanan yang kadang-kadang menginjak juga yang lembut-lembut atau kerikil yang tajam-tajam. Saya tidak mau berpikir lebih jauh tentang apa itu….

DSC07860
The end of Saddan Cave, Myanmar

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-43 ini bertema Lubang agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Myanmar – Mereka Yang Bersilang Jalan


7

One of the great things about travel is that you find out how many good, kind people there are – Edith Wharton

Matahari telah tinggi saat saya meninggalkan penginapan di Golden Rock menuju terminal truk dan saya cukup kaget mengetahui ternyata rute truk dari Golden Rock tidak melulu ke Kinpun! Uh, betapa naïve-nya saya! Mana dimana-mana tulisannya meliuk-liuk seperti cacing, saya hanya bisa berdiri pasrah melihat orang lalu lalang. Bisa jadi karena akhir pekan, suasana terminal bisa dibilang padat. Seketika saya melipir mengamati situasi dan Alhamdulillah, mata ini menangkap orang yang kelihatannya merupakan pengatur perjalanan truk. Semoga ia bisa membantu saya.

Saya mendatanginya lalu bertanya, “Kinpun?”

Seperti pria Myanmar lainnya, ia mengenakan longjyi lalu sekilas memperhatikan saya dan menyimpulkan saya turis. Tak banyak kata, ia menunjuk tempat truk yang ke Kinpun dan meminta saya berjalan memutar supaya bisa naik tangga. Untunglah, truk sudah hampir penuh dan saya masih bisa duduk menyempil di pinggir bersebelahan dengan ibu-ibu berbadan besar.

Tak lama, dimulailah perjalanan menuruni gunung. Kali ini terasa lebih mengerikan dibandingkan ketika berangkat, mungkin karena gravitasi sehingga kendaraan terasa lebih cepat, atau bisa juga karena jurang dan tikungan seperti huruf U itu lebih terlihat saat jalan menurun. Saya hanya bisa berdoa semoga rem truk berfungsi baik dan cepat sampai ke Kinpun karena saya lebih sering tergencet oleh ibu-ibu sebelah saat truk berbelok di tikungan…dan saya teringat ayam penyet! 😀

Perjalanan menuju Kinpun lebih cepat daripada ketika berangkat, tapi jangan harap berhenti di terminal truk seperti saat berangkat. Itu masih beberapa ratus meter! Jadi saya harus clingak-clinguk mencari tempat bus parkir. Asli, bus kalau sedang dicari tak pernah nampak hidungnya! Saya jalan lurus saja padahal tak tahu arah. Jika tersesat ya balik lagi! Lagi-lagi saya tersenyum sendiri, siap menerima semua kejutan yang terjadi hari ini.

Rupanya kedua kaki ini mengarahkan tepat menuju terminal bus dan ternyata memang ada bus yang siap berangkat. Dan pastinya lewat Kyaikto. Horeee! Sambil membeli tiket ke Kyaikto, saya mencoba peruntungan tiket bus lanjutan ke Hpa’an. Ternyata petugas tiket bisa mengaturnya. Tambah horeee… Tidak ragu saya langsung naik ke bus yang termasuk kategori bus scania (double deck) yang lumayan bagus.

kinpuntokyaikto-e
Scania Bus (Double Deck) from Kinpun to Kyaikto

Perjalanan dari Kinpun menuju Kyaikto tidak sampai 1 jam. Kenek bus memberitahu saya saat harus turun di Kyaikto! Benar-benar turun di pinggir jalan, -bukan di halte atau terminal-, dan harus menunggu bus yang lewat untuk ke Hpa’an. Mau komplain? Tidak! Ini seru!!!

Di tempat saya diturunkan itu, -katakanlah halte dadakan-, ada seorang anak muda yang melayani penumpang yang diturunkan seperti saya ini. Selain saya, ada 3 orang lainnya yang merupakan orang lokal dan mereka berceloteh dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Tiba-tiba anak muda itu menyodorkan kursi kepada saya untuk duduk. Aduh, saya terharu dengan pelayanannya.

Tetapi pelayanan itu masih harus dibuktikan dengan adanya bus ke Hpa’an, kan? Mata saya tak mau lepas dari si anak muda, satu-satunya orang yang tahu saya sudah bayar transportasi untuk ke Hpa’an. Dan apa yang saya takutkan terjadi juga. Setelah ketiga orang lokal itu mendapat busnya, si anak muda pun ikut kabur naik motornya. What? Lalu saya gimanaaaaa..?

Bahkan saya tak sempat berdiri untuk mengejarnya. Alih-alih ngomel berkepanjangan, secara intuitif saya mencoba sabar dan mengamati situasi. Tiiiing! Saya tersadar beberapa kali mengalami hal serupa ini dalam hidup, sebuah situasi ‘chaos’ lalu diikuti oleh “kunci penjelasan”. Hanya dengan duduk diam mengamati situasi setelah chaos terjadi. Menunggu “sang kunci” datang. Satu, dua, tiga menit berlalu, rasanya lama sekali, seperti menunggu kekasih datang! Dan menit ke lima, kesabaran saya berbuah hasil, si anak muda datang kembali bersama motornya.

Ketika ia sudah memarkir motor, saya langsung mendatanginya dan mengingatkan bahwa saya belum mendapat bus ke Hpa’an. Ia mengangguk memahami dan saya membayangkan dia bicara, don’t worry, the bus will come  😀

Entah berapa lama saya menunggu di bawah pohon di depan sebuah kios, akhirnya dengan tergopoh-gopoh dia mendatangi dan meminta saya bersiap-siap. Saya langsung berdiri menyambar ransel lalu mengejar dia yang secepat kilat sudah berada di tengah jalan! Untung tidak ada lalu lintas sehingga saya bisa langsung menyeberang.

Bus jenis scania itu berhenti di pinggir seberang, pemuda tadi bertransaksi dengan orang yang sepertinya kenek bus. Sambil melambaikan tangan mengucapkan terima kasih, saya naik ke dalam bus, berdiri di depan menghadap para penumpang hanya untuk melihat tidak ada satupun kursi yang kosong! Celaka! Bagaimana ini? Apakah saya harus duduk di bangku ‘baso’, seperti yang sering terjadi di Myanmar?

Kenek yang tadi bertransaksi dengan si pemuda, berbicara tak jelas dalam bahasa Myanmar dan setengah memaksa saya untuk berjalan lebih ke dalam lalu ia membuka lipatan yang ada di bagian luar lengan kursi lorong. Itu dia bangku ‘baso’-nya! Bukan seperti bangku baso yang ada di Indonesia yang terbuat dari plastik dan tidak nyaman, bangku ‘baso’ di bus ini empuk. Jadi sambil memeluk ransel, sekarang saya bisa duduk enak dan nyaman di tengah. Sebagai turis, -apalagi mengenakan topi genit-, saya tahu saya sedang menjadi pusat rasa ingin tahu dari banyak penumpang lain, tapi dengan santainya saya mengabadikan situasi tempat duduk yang menurut saya hanya ada di Myanmar! Hehehe…

Bus berjalan lagi melewati desa demi desa, satu persatu penumpang naik dan mengisi tempat duduk tambahan di depan saya. Lalu setelah beberapa lama, penumpang di belakang saya hendak turun dan seluruh penumpang kursi tengah yang duduk sepanjang lorong harus berdiri memberi jalan. Baiklah, harus bagaimana lagi?

Tapi percayalah, sebagai traveler kita selalu mendapat kebaikan dari orang-orang lokal. Sebagai orang asing, -dianggap sebagai tamu sesuai adat ketimuran-, saya dicarikan tempat duduk yang bukan di kursi tambahan. Meskipun saya sendiri tidak masalah duduk di kursi tambahan, namun sepertinya mereka ingin memberikan yang terbaik. Penumpang yang lebih muda diminta mengalah untuk duduk di kursi tambahan itu. Tidak ada yang protes, semua senang, apalagi saya. Tapi saya ditempatkan di sebelah laki-laki muda.

Saya ragu-ragu untuk mendudukinya mengingat adat dan tradisi yang berlaku, karena di Myanmar biasanya perempuan dan pria yang tidak saling kenal duduk terpisah lorong dan tidak bersebelahan. Tetapi sang pemuda sepertinya tidak keberatan, ia sedikit bergerak memberikan keleluasaan untuk saya. Saya tersenyum padanya sambil mengatakan terima kasih.

Bus bergerak lagi. Di barisan belakang ada seorang isteri yang kelihatannya mabuk. Tak henti-hentinya ia berusaha mengeluarkan angin dari dalam tubuhnya dan sekali-sekali memuntahkan isi perutnya. Baunya ya… seperti biasa, menyebar ke seluruh bus. Mau complain? Duh, rasanya mendadak di hadapan muncul Guru Tak Kasat Mata memberi wejangan tentang pembuktian compassion kepada yang sedang menderita! 😀

Sambil mengisi waktu, saya melihat-lihat kembali foto-foto yang ada di kamera dan senyum-senyum sendiri mengingat setiap peristiwanya. Pemuda di sebelah saya sepertinya mengintip juga lalu membuka pembicaraan yang akhirnya kami ngobrol panjang lebar. Juga ibu-ibu yang ada di seberang lorong. Wah saya punya teman ngobrol banyak. Semuanya ingin tahu, mengapa saya melakukan perjalanan sendiri, sudah kemana saja, soal keluarga, dimana mereka, dan banyak lagi. Wajah mereka semakin cerah dengan mata berbinar ketika mereka tahu saya mengunjungi Myanmar bukan yang pertama. Rasanya bukan mereka saja yang gembira karena saya juga gembira bercerita tentang pengalaman saat kunjungan pertama dan melihat perkembangannya yang baik pada kunjungan kali ini. Siapa sih yang tidak senang mendengar kisah perkembangan yang baik?

Dan bahkan pemuda tidak diketahui namanya itu, juga memberitahu saya untuk mencari tahu lokasi terdekat dengan hostel untuk turun dari bus karena bus tidak akan masuk ke terminal Hpa’an. Ia juga membantu saya mencarinya melalui google maps-nya. Dan 5 menit sebelum berhenti, saya mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang menjadi teman baru selama perjalanan ke Hpa’an dan berjalan mendekat ke pengemudi. Lagi-lagi saya turun di pinggir jalan. Semoga google-maps benar!

Saya berdiri sejenak menunggu bus berlalu dan berpikir, ini kiri atau kanan? Sambil melakukan positioning arah saya melihat sekitarnya dan voilaaa…! Itu dia hostel boutique yang cantik, tempat saya menginap di Hpa’an.

Tak sampai 80meter berjalan, saya memasuki hostel dan disambut oleh perempuan bertubuh kecil yang bicaranya cepat, dan tidak begitu ramah. Ah, rupanya dia yang ditandai oleh beberapa tamu yang memiliki kesan yang sama, bicara cepat, efisien, informatif namun tidak begitu ramah. Bagi saya, dia seorang perempuan yang sedang bekerja untuk hidupnya dengan muka datar, tak perlu basa-basi. Itu pilihannya. Namun jika saya boleh memilih, kelihatannya resepsionis yang berdiri di sebelahnya lebih menyimpan perhatian. Dari sorot matanya, saya tahu dia bisa diandalkan.

*

Di hostel kecil yang cantik ini saya memesan kamar privat yang mungil dan bercitarasa tinggi meskipun jendelanya kecil dan pemandangannya secuil sungai. Semua sudah sempurna, lagi pula hanya sehari di sini dan lebih banyak keluar. Saya membersihkan diri sejenak lalu menatap keluar jendela. Matahari masih terang benderang sehingga punya banyak waktu untuk mengunjungi beberapa tempat wisata Hpa’an.

Saya merebahkan diri sejenak, bersyukur telah sampai di Hpa’an sambil berpikir mau kemana dan mengingat kembali orang-orang yang telah bersilang jalan dalam kehidupan saya hari itu. Tapi merebahkan diri itu tindakan salah besar karena udara sejuk dari AC mendinginkan badan yang membuat saya tertidur lelap… Ampun!

Keikhlasan Dalam Lemari Kaca di Sudut Sepi Pagoda


Pagoda Phaung Daw Oo memang terkenal di Danau Inle, Myanmar. Hampir semua turis yang menyempatkan diri mengelilingi Danau Inle, biasanya berhenti di Pagoda ini. Termasuk saya, yang tidak hanya mengunjungi Pagoda  pinggir danau yang hingga kini menyimpan 5 buah Buddha Image berlapis emas, tetapi juga sempat-sempatnya mengambil uang melalui ATM di sini (kebayang kan, di Myanmar, lalu kota  pinggir danau itu hanya kota kecil, dan untuk sampai ke Pagoda harus menyeberangi danau besar itu sampai ke desa, nah itu lokasi ATM-nya!)

DSC08379
Phaung Daw Oo Pagoda, Inle Lake, Myanmar

Ketika hampir semua pengunjung berada di tengah Pagoda yang menyimpan Buddha Image dalam bentuk batu berlapis emas gold leaf yang ditempelkan oleh para pria, saya malah melipir ke sisi yang sepi dan agak remang setelah selesai mengelilingi bagian tengah. Para pengunjung, -lebih banyak yang beribadah daripada sekedar berkunjung seperti saya-, tampak memusatkan pandangan ke lima buah batu lapis emas yang dipercaya sebagai Buddha Image, yang bagi saya pribadi bentuknya seperti kanak-kanak yang menggemaskan dan lucu (maaf). Baru di tempat ini saya melihat Buddha Image yang berbeda, sama sekali tidak sama dengan Buddha Image yang umumnya duduk bersila, berdiri, berjalan atau berbaring.

Tapi ada hal yang menarik lainnya di Pagoda ini…

Di sudut sepi yang saya datangi ini terdapat sebuah lemari kaca yang kelihatannya tak menarik dan sedikit kusam. Namun ketika saya mendekat untuk melihat lebih jelas ke dalamnya, mengamati isi di balik kacanya, saya terperanjat. Oh, lemari berkaca kusam itu berisikan uang dan perhiasan.

Lemari penyimpan uang-uang dan perhiasan persembahan dari pengunjung di seluruh dunia.

Ada juga uang Thailand sebesar 20 Bath, dan di baliknya ada lembar US Dollar sebesar $100! Di sekitarnya ada uang Korea sebesar 1000 Won, juga lembar uang Vietnam sebesar 50.000 Dong, lembar Euro yang tidak terlihat nominalnya, uang Afrika, dan tentu saja lembaran-lembaran uang Myanmar dengan nominal 100, 200 dan 500.

Saya juga melihat kalung mutiara, cincin batu permata, perhiasan telinga dan jam tangan serta nota-nota pengantar semua benda dan uang itu. Ah, indah sekali.

DSC08388
Money from the World
DSC08387
Different Bank Notes

Dan ada uang Rupiah! Wow!

Saya sempat melihat lembaran Rp. 1.000,- dan lembaran Rp. 20.000,- Bisa jadi, pengunjung yang melihat akan berpikir, betapa orang Indonesia itu kaya dan baik hati, mau mendonasikan uangnya dengan nilai yang sangat besar, yang angka nolnya berbaris panjang.

Tetapi entah bagaimana, tiba-tiba saya merasa dicubit dari dalam diri. Ini adalah lemari persembahan! Jangan dilihat dari nilai nominalnya, bukan kuantitasnya, bukan banyaknya, bukan nilai duniawinya… melainkan apa yang ada di balik semuanya.

Keikhlasan.

Tersadarkan bahwa saya sama sekali tak boleh menilai atas apapun yang ada di dalam lemari kaca itu. Sepotong berlian atau batu permata terindah sekalipun, atau uang atau benda tua yang paling lusuh yang dipersembahkan kepadaNya, hanya Dia yang memiliki keputusan bernilai atau tidak, dan bukan atas benda-bendanya

Apa jadinya bila benda-benda itu diselimuti dengan kesombongan ‘ingin diperlihatkan’ atau ‘ingin terlihat berbeda’ terhadap manusia lain oleh orang yang memberikan? Lalu apa jadinya, bila benda itu merupakan satu-satunya yang dimiliki oleh pemberinya dan dipersembahkan laksana jiwanya sendiri  yang dipersembahkan kepadaNya?

Your greatness is not what you have, it’s what you give

Namun, bukankah benda-benda material itu bersifat relatif bagi manusia satu dengan manusia yang lainnya? Selembar uang atau sebentuk perhiasan bagi seseorang bisa begitu sangat berharga, namun bagi orang lainnya mungkin hanya sekedar lewat untuk sesuatu hal yang tidak bermanfaat. Dan ketika benda-benda material itu dijadikan pemberian, apalagi sebagai sebuah persembahan, sesungguhnya ada hal yang menyelimuti pemberian itu.

Dan sesungguhnya kita sama sekali tidak memiliki kewenangan untuk menilai hubungan manusia lain dengan TuhanNya.

***


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-26 ini bertema Money agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Blue Sky Over The Stupas


Blue Sky over the Stupas on Shwedagon

Rasanya saya tidak akan lupa momen itu. Momen berakhirnya perjalanan di Myanmar karena sesaat lagi saya harus meninggalkan tempat ini menuju bandara internasional Yangon untuk kembali ke tanah air. Saya ingin memeluk momen indah ini selagi bisa, sampai saatnya tiba untuk melepaskannya…

Meskipun masih banyak tempat menarik di Yangon yang belum sempat saya kunjungi tujuh tahun lalu, tetap saja saya memilih Shwedagon sebagai tempat mengakhiri perjalanan di Myanmar kali ini.

Tujuh tahun lalu saya ke Myanmar, saya menjadikan Shwedagon sebagai destinasi utama, menjadi alasan untuk datang ke Myanmar. Jika ingin tahu alasan utamanya bisa buka link ini. Dan kini, setelah kepergiannya, rasanya saya ingin memeluk kenangan itu selamanya, sepanjang saya bisa untuk berada di tempat yang mampu membahagiakannya.

Bisa jadi saya halu, kata anak-anak jaman now. Biar sajalah, karena bagi saya pribadi melakukan sebuah perjalanan bukanlah untuk berkompetisi dengan orang lain. Saya melakukan perjalanan karena ingin merajut tempat-tempat yang saya kunjungi menjadi rangkaian momen yang indah penuh makna dalam hidup. Juga saat ini, saat memeluk momen untuk mengakhiri sebuah perjalanan.

Ketika dulu, tujuh tahun lalu, saya penuh haru tapi penuh semangat bisa menjejak di tempat saya berdiri ini, kini saya juga diliputi haru namun berat untuk melepas. Sebuah rasa haru yang saling bertolak belakang berada di tempat yang sama.

Dan saat itulah, saya melihat ke puncak-puncak stupa keemasan dengan latar langit biru.

Seketika itu juga saya terperangah, memberikan kesadaran bahwa apa yang saya rasakan dulu dan apa yang saya rasakan sekarang semuanya relatif, namun yang pasti saya tetap sama. Berada di dalam naungan cinta tanpa syarat Sang Pemberi Hidup. Lalu mengapa harus merasa berat?

Ah, sambil tersenyum dengan kesadaran yang membahagiakan itu, saya melangkah ringan meninggalkan tempat itu.

*

By the way, since I’ve uploaded a picture of holy place in Myanmar and today is Vesak Day, let me wish for those who celebrate

Happy Vesak Day

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,

May all beings be well, may all beings be happy and may all beings be free from suffering


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-19 ini bertema Blue Sky agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Myanmar Trip: My Pre-Water Festival Menu


Terus terang, saya bukanlah pencinta kuliner, karena saya termasuk kategori picky kelas berat alias sangat pemilih dalam hal makanan. Untuk daging-dagingan, saya hanya makan daging ayam dan sapi meskipun sekarang karena pertimbangan kesehatan saya semakin jarang makan daging sapi. Untuk makanan laut, saya masih bisa makan ikan, kepiting dan udang. Saya tidak memakan jeroan dari hewan apapun, bahkan saya tidak makan kambing, kelinci, kerang, cumi, gurita. Jadi sedikit kan variasi makanannya? Tapi saya tetap menikmati makanan meskipun dengan menu yang itu-itu saja dan tetap gendut 😀

Nah apalagi ketika melakukan perjalanan. Saya yang pemilih ini cenderung menon-aktifkan keinginan mau makan dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk menikmati obyek-obyek wisatanya. Kadang saya baru tersadarkan karena waktu makan sudah jauh terlewati atau bahkan bisa digabung dengan waktu makan berikutnya. Jadi ketika ada ajakan teman melakukan acara kuliner atau wisata kuliner, saya hanya bisa tersenyum kecut karena itu bukan saya banget.

Kata seorang sahabat, kebiasaan ‘picky’ itu karena saya tidak mau melihat sisi lain dari makanan selain untuk dimakan dan juga tidak mau memperluas variasi makanan yang masuk ke perut itu.  Mungkin ada benarnya juga sih…

Jadi saya perlu belajar makan…

Oleh sebab itu, ketika ke Danau Inle, Myanmar, saya meluangkan waktu untuk dinner makanan lokal di hotel bertepatan dengan promosi Pre-Water Festival yang ada saat itu. Water Festival merupakan perayaan menyambut tahun baru yang biasa dilakukan di negara-negara Buddhist di kawasan Asia Tenggara, sama seperti Songkran di Thailand.

Tetapi sebelum memesan, saya berperang dalam hati bagaimana jika tidak cocok rasanya, apakah lebih baik saya memesan nasi goreng atau mie goreng seperti biasanya atau makanan  lainnya yang sudah saya kenal? Tetapi kapan lagi bisa punya kesempatan menikmati satu set makanan lokal yang tidak datang setiap hari? Namun setelah beberapa saat, akhirnya saya memenangkan pilihan yang berbeda dari biasanya. Bukankah saya harus berani keluar dari comfort zone? 😀

Menunya kedengarannya hebat dan saya membayangkannya juga keren.

Rissoler Lotus Root

Makanan ini merupakan hidangan pembuka. Ketika disajikan di depan saya, entah mengapa saya membayangkan gorengan bakwan yang crunchy banget. Dan dengan setinggi harapan menggigit makanan yang akan menerbitkan air liur, saya mencobanya. Tapi garingnya tidak sesuai kenyataan, rasanya juga B-aja. Saya seharusnya cepat menyadari bahwa yang saya makan itu adalah akar bunga lotus!

Myanmar2
The Starter – Risoller Lotus Root

 

Atar Tagu Nwae Ma Achin Hinn

Makanan berikutnya yang susah diucapkan itu datang berupa sup daun akasia dan ikan. Dan lidah saya yang picky ini bisa menerima santapan berkuah yang sedikit asam. Kombinasi rasa asam dan ikan menetralkan rasa daun akasia yang terasa asing pada lidah. Belakangan saya baru tahu bahwa daun akasia itu ternyata bagus untuk mengatur kadar gula. Duh, makanan herbal dong…

Mya Nandar Myanmar Curry & Fried Morning Glory – The Course

Saya mungkin terbiasa terpesona dengan besar atau hebohnya saat hidangan utama disajikan, sehingga saya menunggu dengan debar tersendiri saat hidangan utama belum datang. Dan ketika saatnya datang, saya tetap terperangah…

Myanmar3
Pre Water Festival Menu

Hidangan utama itu datang dalam mangkuk kecil berisikan ikan rebus dan potongan nangka dengan saus kari. Saus karinya enak, meskipun B-aja. Ikannya juga cukup menarik rasanya, meskipun jumlahnya sedikit. Dan saat menggigit nangka, saya jadi teringat makan gudeg-gudegan, istilah saya akan gudeg yang belum masuk kategori gudeg.

Hidangan utama didampingi dengan mangkuk keripik berisi tumis kangkung. Saat melihat tumis kangkung, saya langsung tersenyum lebar tersadarkan, karena saat membaca menu Fried Morning Glory, saya sama sekali tidak sadar nama itu merupakan nama lain dari kangkung. Namanya keren yaa…?

Tangyuan & Fried Ice Cream Rolls

Sebagai penutup saya mendapatkan bola-bola Tangyuan dalam kuah apel, yang lagi-lagi bagi saya B-aja. Mungkin memang lidah saya yang tidak pandai menyesuaikan diri sehingga nilainya selalu B-aja.

Dan untuk menghadiahkan diri sendiri berhasil makan makanan lokal apapun rasanya, saya memesan minuman Banana Lassi dan tambahan makanan penutup: Es Krim Goreng Gulung, yang bagi saya paling juara enaknya malam itu. Untuk mendapatkan es krim goreng gulung ini, saya harus menyaksikan demo pembuatannya dan memang es krim itu dipanaskan sehingga keras dan ketika waktunya tepat, penyajinya langsung menggulung es-krim itu. Rasanya dengan lelehan coklat tentunya sangat lezat. Es krim mana sih yang tidak lezat?

Sepanjang jalan menuju kamar, rasa es krim goreng gulung dan banana lassi sepertinya masih tertinggal di mulut. Ah, kalau sudah begini, kapan bisa menambah variasi makanan?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-17 ini bertemakan Food agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Ke Myanmar Lagi Setelah Tujuh Tahun


Saat roda pesawat menyentuh mulus landasan bandara Internasional Yangon, saya menarik nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rasanya tak percaya bahwa setelah 7 tahun akhirnya saya kembali lagi ke Myanmar, negeri yang terkenal dengan sebutan The Golden Land. Bandara yang dulu terkesan tak ramah dan seram, kini bagai perempuan cantik yang menarik hati dengan begitu banyak toko-toko merek Internasional.

Jika 7 tahun lalu saya harus datang menggunakan visa, kini sebagai pemegang paspor Indonesia, saya bisa melenggang dengan visa exemption dari Pemerintahan Myanmar. Jika dulu saya ketar-ketir dengan kecukupan bank notes US Dollar terbaru yang harus licin yang saya bawa karena ATM internasional tidak ada, kini saya bisa menarik uang kyat melalui ATM, bahkan sampai di tempat terpencil pun ada ATM! Jika dulu sinyal ponsel lebih banyak hilang, kini saya bisa terus exist dimana-mana hingga ke tempat terpencil. Dan yang paling membahagiakan, jika dulu saya hanya mendapat sedikit hotel yang bisa dibooking online kini Myanmar tak beda dengan Negara-negara lainnya. Jika dulu saya bingung untuk bisa booking pesawat domestik di Myanmar, kini saya memiliki kemudahan untuk memilih transportasi bus atau pesawat untuk pindah kota. Tujuh tahun untuk keterbukaan sebuah Negara, perubahan ini patut diacungi jempol.

Kemudahan itu juga termasuk pemesanan tiket bus sehingga saya bisa dengan cepat dari bandara ke stasiun bus dan langsung menuju Kinpun, desa terdekat untuk sampai ke Golden Rock. Saya telah menghitung waktu perjalanan bahwa saya bisa mencapai Golden Rock sebelum sunset dan betapa membahagiakan saya bisa mendapatkan sunset yang indah di Golden Rock! Bahkan keesokan harinya saya juga bisa mendapatkan pemandangan indah perbukitan yang berlapis-lapis ditimpa sinar mentari pagi.

DSC07452
Sunset at Golden Rock, Myanmar

Perjalanan saya pagi itu berlanjut ke kota kecil Hpa’an di Kayin State dengan menggunakan bus dan sempat berkenalan dengan penduduk lokal seperjalanan bus. Mereka dengan ramahnya dan dengan bahasa Inggeris yang fasih menunjukkan tempat saya harus turun agar tak jauh berjalan kaki dari hostel saya menginap. Membahagiakan sekali rasanya mendapatkan bantuan dari mereka.

Di hostel kecil di Hpa’an itu, lagi-lagi saya mendapatkan kemudahan. Setelah rehat sejenak di kamar hostel yang ber-AC sambil menunggu meredupnya terik mentari, saya berkeliling tempat-tempat wisata di Hpa’an dengan motortaxi. Hpa’an, kota kecil pinggir sungai Than Lyin yang berada di kawasan perbukitan karst memang merupakan surga bagi penggemar wisata gua. Karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat mengunjungi Gua Kaw Gon yang luar biasa cantik karena dipenuhi dengan tatahan ribuan Buddha kecil di sepanjang dinding dan atap gua, juga Gua Yathae Pyan yang banyak stalaktit dan stalagmit, Gua Kaw Ka Thaung yang menyimpan relik Buddha dan tentunya gua terbesar Mahar Saddan yang terkenal dengan stalagtit dan stalagmitnya dan berujung pada danau kecil di ujung keluarnya. Bahkan di hari pertama saya sempat mengunjungi sebuah monastery berpemandangan indah pada saat senja. Refleksi monastery dan perbukitannya terlihat sangat menawan di danau kecil.

Perjalanan selanjutnya menuju kota Mawlamyine atau dulu dikenal dengan Moulmein, di Mon State, yang mengharubiru rasa. Sesungguhnya perjalanan ke Mawlamyine inilah yang membuat saya kembali ke Myanmar setelah tujuh tahun. Dengan apapun saya akan menempuhnya, saya akan sampai pada Mawlamyine meskipun hal ini tidak akan mudah.

Sebuah perjalanan menapak tilas tidak akan pernah mudah karena dipenuhi kenangan dan cinta. Setiap langkah saya seperti melepaskan helai bunga doa untuknya. Meskipun menginap di tempat terbaik di kota ini, saya tahu akan berteman dengan airmata dan menghabiskan waktu berbicara dengan jiwa.

Namun jiwa pejalannya yang ada pada saya mengajak melangkah ke tempat-tempat baru. Di kota ini saya melihat bagaimana Myanmar berusaha memiliki bangunan Buddha Tidur terbesar di dunia (meskipun kini dikalahkan oleh China yang mengubah bukit menjadi Sleeping Buddha). Bangunan Buddha Tidur yang saya lihat ini juga masih dalam tahap pembangunan, entah kapan selesainya.

DSC08118
Win Sein Taw Ya Pagoda, Mawlamyine, Myanmar

Selepasnya, saya diajak oleh sopir tuktuk untuk mengunjungi beberapa masjid, termasuk menyempatkan ziarah kubur kepada seorang ulama yang dimakamkan disana. Pengalaman mengunjungi perkampungan muslim dengan melihat beberapa masjid di kota Mawlamyine melengkapi keindahan hari saya. Seakan saya dibukakan mata bahwa saya tidak boleh menyamaratakan keadaan Muslim di Myanmar. Di kota ini, di Negara bagian Mon ini, toleransi antar agama berjalan dengan sangat baik. Buktinya amat jelas, saat berjalan kaki di pagi hari, saya mendapati tiga masjid yang tak berjauhan lokasinya. Bahkan belakangan saya menyesal, karena tahu disana ada lebih banyak masjid daripada rumah ibadah lain, yang tidak sempat saya lihat.

Bagaimanapun perjalanan harus dilanjutkan, pada malam harinya saya kembali ke Yangon dengan menggunakan bus malam yang menyimpan cerita untuk bersikap berani di baliknya. Kota Yangon dengan segala kebaikan dan keburukannya, tidak jauh beda dengan Jakarta, kota tempat saya dibesarkan dan hidup didalamnya. Sebagai perempuan yang pergi sendiri, antenna kewaspadaan saya harus terus berfungsi dengan baik, kelengahan sedikit saja bisa berakibat tak baik. Meskipun diatas segalanya, Dia Yang Maha Melindungi yang menjaga saya selamanya.

Hari itu, kota Yangon bukan menjadi kota destinasi, melainkan kota transit karena saya harus terbang ke Heho untuk sampai ke Danau Inle yang terkenal. Tujuh tahun lalu, saya tidak sempat ke Danau Inle dan tahun ini, Inle menjadi tujuan destinasi saya untuk menikmati liburan kali ini. Benar-benar beristirahat.

Dua malam saya habiskan di Danau Inle untuk berleha-leha dan berwisata sekitar danau, ke tempat-tempat pembuatan kain, tempat pembuatan perahu, tempat kerajinan tangan dan lain-lain. Bahkan di tempat itu, yang jauh dari kota, saya sempat menarik ATM. Ah, Myanmar memang sekarang lebih mudah.

DSC08571
Inle Lake one-leg rowing fisherman during Sunset

Menikmati sunrise dan sunset di Danau Inle merupakan pengalaman indah yang saya alami. Bagaimana mungkin saya mengabaikan nelayan-nelayan yang mencari ikan di danau dengan mendayung memakai satu kakinya? Bagaimana mungkin saya mengabaikan bunga-bunga matahari dan lotus yang terhampar dan mekar dengan indahnya di pinggiran danau? Keindahan luar biasa Danau Inle membuat saya berjanji akan mendatangi lagi suatu saat nanti.

Meskipun beristirahat total, -ini cara mengisi liburan saya yang sangat berbeda dari biasanya-, tetap saja ada satu tempat yang membangkitkan semangat. Dengan melakukan perjalanan sekitar 1 jam dengan perahu, saya sampai pada reruntuhan bangunan dari Abad ke-11. Meskipun terpapar terik matahari dan sedikit mendaki, saya bisa menikmati kawasan Bagan dalam ukuran mini.

Perjalanan saya di Myanmar mendekati akhir. Saya harus kembali ke Yangon, dengan berkendara bus selama 11 jam. Sebuah perjalanan panjang yang menghabiskan hari, namun bagi saya tetap saja ada kisah-kisah menyenangkan dan menghangatkan hati melalui sentuhan hati dengan orang-orang lokal yang baik dan ramah.

Malam terakhir di Yangon, dalam keadaan badan yang lelah, justru saya mendapat pengalaman ‘perkenalan’ sampai akhirnya saya minta penggantian kamar. Meskipun saya tidak mau berpikir aneh-aneh, tetapi demi istirahat enak, lebih baik saya pindah ke kamar lain. Bukankah mengganggu bila lampu tiba-tiba meredup lalu terang kembali dan berulang serta bunyi-bunyian keras tanpa alasan yang jelas?

Tetapi bagaimana mungkin saya meninggalkan Yangon tanpa mampir ke Shwedagon yang megah? Dan tetap saja beberapa jam disana sudah mampu memberi sentuhan hangat ke dalam jiwa, sampai akhirnya waktu juga yang memaksa saya meninggalkan Yangon.

Setelah tujuh tahun, Myanmar telah banyak berdandan cantik disana-sini menyambut tamu-tamu yang semakin banyak berdatangan. Meskipun kali ini saya mendatangi tempat-tempat yang belum saya datangi sebelumnya, -kecuali Yangon-, saya merasakan sekali perubahan kearah yang lebih baik itu, dan tentu saja sangat menggembirakan.

Ah, karena post ini merupakan rangkuman perjalanan, doakan saja saya bisa menulis perjalanan seru waktu disana ya. Siapa yang baru-baru ini ke Myanmar juga? Boleh dong cerita-cerita… 🙂

WPC – Ascend To The Top


I was blessed having the chance to see a rare event in the main temple of Maha Lokamarazein Kuthodaw Pagoda in Mandalay, Myanmar, during my visit to this temple which is famous as The World’s Biggest Book Temple. I could see a brave guy who climbed to top of Main Stupa without adequate safety equipment or perhaps I could say, without any safety equipment at all. He could climb to the peak of the Stupa only in 1 minute. Living as a local with Buddhism since born, he did it because of his love to The Buddha. Having the chance to clean the top of the Stupa is a honor task.

 

IMG_3805

In response to Daily Post Weekly Photo Challenge with Ascend as keyword

WPC – The Shiny Ananda


Ananda Phaya, Bagan, Myanmar

Ananda Phaya is one of the holiest and the most beautiful Buddhist temples in Bagan, Myanmar. It’s built on 1105 by King Kyanzittha of Pagan Dynasty. This temple houses four 10 meter high standing Buddhas, each one facing the cardinal direction of East, North, West and South. Although the Buddhas were made of teak wood, those gold-plated Buddhas are so shiny.

I love visiting this famous temple. Although Bagan is hot enough but I felt cool in the temple. The guide told to me that the King killed the architects after building completion to keep the cool uniqueness of the temple in secret. This so-called power-abusing story behind the most admiring temple in Bagan, for me, just added a long list of contradict stories in religious places all over the world.

Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power (Abraham Lincoln)