Korea – Warna-Warni Istana Deoksugung


Sebenarnya masih ingin berlama-lama di balik selimut. Saya ini kan sedang liburan, bukan dikejar target destinasi. Apalagi pagi di awal bulan November di Seoul itu sungguh dingin. Walaupun katanya 11°C tetapi menurut saya rasanya lebih dingin dari 7°C di Tokyo yang pernah saya alami di musim semi. Rencananya hari ini saya akan mengelilingi Seoul walaupun sedikit menyesal karena hari ini diramalkan akan hujan. Mengingat akan hujan itulah yang membuat saya bergegas walaupun tahu hari telah terlambat untuk dimulai.

Akhirnya saya melambaikan tangan pada penginapan itu, berjanji akan kembali untuk mengambil ransel pada sore harinya. Kamarnya yang modern, nyaman untuk solo-traveler seperti saya, tidak gaduh dan lokasinya di seberang Exit Seoul Station membuat saya mudah kemana-mana. Hari ini saya akan mengunjungi Istana Deoksugung, satu diantara empat istana yang terkenal di Seoul.

Deoksugung dapat dicapai dengan mengendarai subway line 1 dari Seoul Station dan turun di City Hall, Exit-2. Petunjuk arah jelas dengan karakter latin selain karakter Hangeul. Seandainya seluruh destinasi wisata di luar kota Seoul juga sejelas ini, tentu perjalanan saya ke provinsi-provinsi di Korea Selatan tidak seheboh itu.

Prosesi Penggantian Penjaga Istana

Tak perlu lama berjalan dari Exit-2, saya sudah di depan gerbang Daehanmun. Ketika melihat sebuah drum berlukis indah di pelataran di depan gerbang, saya menjadi ragu untuk langsung menjelajahi ke dalam istana. Benarlah, petugas tiket membenarkan bahwa prosesi penggantian penjaga istana akan dimulai tepat pk 11.00 Tak mungkin dalam waktu kurang dari 1 jam saya menjelajah istana yang luas ini, sehingga saya memilih untuk menanti prosesi itu.

Prosesi penggantian penjaga Istana yang menyerupai prosesi  di Istana Buckingham di London itu diwujudkan kembali sejak tahun 1996 setelah melalui riset mendalam dan komprehensif oleh para ahli sejarah Korea. Memang segala sesuatu yang terjadi di balik tembok Istana atau yang berkaitan dengan Kerajaan selalu menarik perhatian kaum kebanyakan, bisa jadi karena tidak semua orang beruntung terlahir dalam kalangan Istana Kerajaan.

Seperti makan obat, prosesi itu memiliki jadwal tiga kali sehari (pk 11:00, 14:00 dan 15:30) dan berlangsung selama 30 menit serta selalu mengikuti aturan baku. Dimulai dengan iringan musik tradisional, pasukan penjaga berpakaian indah penuh warna-warni berjalan dalam barisan rapi lalu komandan pasukan pengganti menemui komandan pasukan yang sedang berjaga untuk saling bertukar password sebagai verifikasi dan memastikan keaslian penugasan. Kemudian dilanjutkan dengan penggantian posisi penjaga dan diakhiri dengan prosesi barisan. Bagi saya, tanpa mengerti prosedurnya, acara itu sudah sangat menarik karena keindahan warna pakaian tradisionalnya. Ada yang seperti Lee Min-ho gak yaaa? Hehehe…

Istana Deoksugung

Selesai prosesi di depan gerbang, saya pelan-pelan menyusuri jalan yang di pinggirnya tumbuh pepohonan maple yang sedang berganti warna dari hijau menjadi kuning. Kadang dedaunan itu gugur terbang terbawa angin. Indah…

Dan seperti kebanyakan nasib istana-istana yang menjadi saksi diam atas perubahan peta kekuasaan baik secara terhormat maupun secara paksa yang menyedihkan, demikian juga kisah dari Istana Deoksugung ini. Istana ini sebenarnya dibangun untuk digunakan sebagai kediaman Pangeran Wolsandaegun, kakak dari Raja terkenal Seongjong dari Dinasti Joseon di abad-16, dan bukan menjadi Istana utama Raja, namun sejarah bisa bercerita lain.

Melalui sebuah gerbang dalam, saya berjalan menuju Junghwajeon, -bangunan ruang tahta yang direkonstruksi pada tahun 1906 setelah terbakar di tahun 1904-, yang terlihat megah berdiri di tengah-tengah ruang terbuka. Jalan pelintasannya dibuat dengan indah dengan kolom-kolom kecil sepanjang jalan menuju ruang tahta. Di bagian depan terdapat prasasti batu berhias yang tampaknya sangat bernilai karena diberi pagar pelindung. Sejarah mencatat dua Raja keturunan Dinasti Joseon naik tahta di istana ini yang salah satunya adalah Raja Gwanghaegun yang mengganti nama istana ini menjadi Gyeongungung.

Ketika melihat ke dalam ruang tahta, -yang merupakan pusat diskusi politik yang hangat antara pejabat tinggi pemerintahan selama periode Daehanjeguk yang dideklarasikan oleh Raja Gojong dan membawa Korea ke abad 20-, terlihat dekorasi sepasang naga yang menghiasi kanopi di atas tahta. Hiasan berbentuk Naga yang terlihat juga di langit-langit merupakan hiasan khas dari Istana Deoksugung.

Bersebelahan dengan ruang tahta Junghwajeon adalah Hamnyeongjeon, wilayah pribadi Sang Raja dan Ratu yang sangat luas. Jadi berbeda dengan kaum kebanyakan yang hanya memiliki satu ruang tidur untuk suami isteri, Raja maupun Ratu memiliki bangunan pribadinya sendiri-sendiri. Dan tentu saja, walaupun berjabatan sebagai Ratu, tetap saja memiliki prosedur yang harus dilakukan agar bisa bertemu suaminya, Sang Raja. Jadi siapa bilang nyaman jadi Ratu atau Raja?

Hamnyeongjeon, private residential area
Hamnyeongjeon, private residential area

Jeonggwanheon, -terletak di atas bukit kecil di bagian belakang menghadap istana-, merupakan bangunan dengan campuran gaya Barat dan Korea yang pertama kali dibangun pada tahun 1900 oleh arsitek Rusia, A I Sabatin. Walaupun menurut saya, bangunan itu sedikit mengganggu harmoni arsitektur tradisional Korea secara keseluruhan, tetapi siapa yang bisa mengerti jalan pemikiran Raja yang berkuasa saat itu? Entah apa yang ada dalam pikiran Raja Gojong saat menghabiskan waktu luang di tempat ini yang memang merupakan kebiasaannya. Dibangun sebagai tempat rehat dan bersukacita, bangunan ini mungkin juga untuk melupakan peristiwa kematian permaisurinya, Ratu Min, yang terbunuh di usia 43 tahun yang akhirnya membuat Raja Gojong menyelamatkan diri ke Agwan Pacheon yang merupakan gedung Perwakilan Rusia. Ah, saya jadi membuka-buka sejarah dunia…

Jeonggwanheon, designed by Russian Architect
Jeonggwanheon, designed by Russian Architect

Singkat cerita, akibat pembunuhan Ratu Min, -Permaisuri Raja Gojong yang pro China dan Rusia namun sangat anti Jepang-, oleh pasukan Jepang di istana Gyeongbokgung pada tahun 1895, menyebabkan Raja Gojong melarikan diri dari Istananya melalui lorong bawah tanah ke Agwan Pacheon karena keselamatan dirinya terancam. Rusia yang saat itu di pihak yang berseberangan dengan Jepang, mendapat ‘keuntungan’ dari peristiwa pembunuhan itu. Raja Gojong dan Putra Mahkotanya menetap di Agwan Pacheon hingga akhirnya kembali ke Istana Deoksugung pada tahun 1897 untuk menyatakan Kekaisaran Korea.

Lantai batu Istana yang indah lagi-lagi menjadi saksi bisu saat Kaisar Gojong memilih tetap tinggal di Istana Deoksugung setelah dipaksa untuk menyerahkan tahta kepada putranya, -yang akhirnya menjadi Kaisar Sunjong dan dikenal sebagai Kaisar terakhir Korea-, karena desakan Jepang. Pada masa inilah istana ini berganti nama kembali, dari Gyeongungung menjadi Deoksugung, sebagai harapan umur panjang dari (orang-orang) yang berbudi luhur yang menempatinya.

Bangunan Bergaya Barat

Istana Deoksugung yang berusia 5 abad itu itu memang unik. Di dalam kawasan istana dibangun beberapa gedung modern bergaya Barat diantara bangunan-bangunan khas tradisional Korea yang terlihat saling berbenturan gaya, namun ternyata disitulah kekuatan utama istana ini, unik. Dalam posisi tertentu, kita bisa tak yakin berada di kawasan istana di Seoul.

Seokjojeon (yang kini menjadi galeri seni) merupakan bangunan gaya Barat yang dibangun di Deoksugung. Karena Won yang menipis, saya tak masuk ke dalamnya namun bangunan dengan taman cantik berair-mancur inilah yang membuat saya tak percaya dengan mata sendiri, saya ini sedang berada di Seoul atau di Eropa…

Seokjojeon - is it in Seoul or not?
Seokjojeon – is it in Seoul? 🙂

Saya bergegas keluar karena hendak melanjutkan ke istana lain, walau tak yakin bisa memenuhi semua target yang ingin saya kunjungi di Seoul. Daun-daun berwarna kuning itu masih berjatuhan melayang tertiup angin musim gugur, memberi kenangan tersendiri tentang sebuah istana di Seoul.

Seri cerita sebelumnya di Korea:

  1. Ada Bahasa Indonesia di Seoraksan
  2. Hwangseong Fortress: Menjadi Warisan Dunia Karena Sebuah Buku Tua
  3. Menuju Seoul Dengan ‘Shinkansen’-nya Korea
  4. Haeinsa Trip: Beautiful Life Lessons with Ups & Downs
  5. Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-abad
  6. Bercermin Diri dalam Harmoni Kuil Haeinsa

*****

Tambahan info

Buka 09:00 – 21:00 (terakhir pembelian tiket pk. 20:00)

Harga Ticket

  • Dewasa 1,000 won / lebih dari 10: 800 won
  • Remaja 500 won / lebih dari 10: 400 won
  • Gratis bagi anak 6 tahun kebawah, atau Lansia 65 tahun ke atas atau bagi yang mengenakan Hanbok atau setiap hari Budaya (Setiap hari Rabu terakhir setiap bulan)
  • Terusan 10.000 Won mencakup Istana Changdeokgung termasuk Huwon dan Secret Garden, Istana Changgyeonggung, Istana Deoksugung dan Istana Gyeongbokgung serta Jongmyo Shrine, yang dapat digunakan dalam waktu satu bulan setelah pembelian.

Jadwal Tutup

  • Setiap Senin: Istana Changdeokgung, Istana Deoksugung, Istana Changgyeonggung
  • Setiap Selasa: Istana Gyeongbokgung dan Jongmyo Shrine

Nepal: Menyapa Sore di Bhaktapur Durbar Square


Sebelum berangkat, seorang teman kantor yang pernah ke Nepal merekomendasikan untuk menginap di Bhaktapur minimal semalam, karena menurutnya saya pasti akan suka. Kenyataannya… bukan suka, melainkan suka banget, sangat teramat suka sekali! Hehe..

Bisa jadi karena suasana hati saat itu sedang bahagia level maksimum, -setelah mengalami keajaiban tak henti sejak dikawal guardian angels kemudian mendapat air suci serta sekalung bunga bersamaan dengan festival Haribodhi Ekadashi di kuil kuno Changu Narayan-, sehingga tak ada rasa keberatan ketika taksi berputar-putar tak jelas di lorong-lorong sempit Bhaktapur untuk mencapai penginapan. Saya memang menyerahkan sepenuhnya kepada pengemudi setengah baya itu untuk menemukan alamat penginapan walau seingat saya letaknya tak jauh dari Durbar Square ataupun Pottery Square. Saya hanya duduk manis penuh kekaguman menyaksikan semua keindahan arsitektur khas Nepal melintas silih berganti di hadapan mata saat mobil memasuki kawasan lama Bhaktapur. Kadang kepala saya berputar tak ingin melepas pandangan indah, tapi yang lebih indah memasuki wilayah pandang. Saya panik, ini kawasan luar biasa untuk dijelajahi. Lalu ketika akhirnya mobil berhenti di depan penginapan kecil, saya langsung keluar lalu berdiri menjejakkan kaki di bumi Bhaktapur. Bahagia, tak percaya.

Tak bisa tidak, semua keindahan itu harus menunggu urusan check-in dan lain-lainnya. Jelas sekali saya tak ingin berlama-lama di penginapan walaupun dengan penuh kesadaran saya harus mengurus kelanjutan perjalanan di Nepal. Kepada petugas penginapan itu, saya  minta bantuan pengurusan tiket penerbangan ke Pokhara untuk keesokan harinya karena saya ingin menikmati Bhaktapur lebih lama. Bahkan sambil menghubungi agen perjalanan, dia sigap memberikan penjelasan arah tempat wisata yang telah berabad berdiri dalam diam itu. Setelah semuanya selesai, segera saja saya mengawali perjalanan di kawasan kuno itu.

Bhaktapur Durbar Square From Western Gate
Bhaktapur Durbar Square From Western Gate

Bhaktapur, -atau dengan lidah lokal sering disebut dengan nama Bhadgaon atau Khwopa-, memiliki makna kotanya para bhakta, para pemuja. Bhaktapur yang terletak sekitar 13 km arah Timur Kathmandu modern itu, pernah menjadi ibukota Kerajaan Malla berabad-abad lampau.

Saat itu saya melangkah di lorong-lorong antara bangunan rumah hingga akhirnya muncul di Bhaktapur Durbar Square, sebuah kawasan yang menjadi bagian dari UNESCO World Heritage Sites di Nepal. Inilah lapangan terbuka yang sudah terhampar sejak berabad lalu dan berhadapan dengan istana yang terkenal dengan 55 jendelanya. Sejuk udara November memberi rasa berbeda. Tetapi entah kenapa saya ingin melewatkan istana Raja, -yang dulu menjadi pusat kekuasaan hingga saat ditaklukkan oleh Raja Prithvi Narayan Shah pada abad-18-, bisa jadi karena teringat Rupee yang kian menipis.

Saya melihat ke sisi yang lain. Jika sebagian masyarakat China percaya angka empat sebaiknya dihindari, tidak demikian dengan para pemuja di Bhaktapur. Di bagian barat Durbar Square terlihat empat kuil yang dikenal dengan nama Char Dham (Char berarti empat). Bagi penganut Hindu, ibadah ke kuil-kuil ini merupakan ziarah mini jika belum mampu pergi ke Kuil Char Dham yang asli di India Utara. Kuil Char Dham terdiri dari Kuil Gopinath yang bergaya tradisional Nepali penuh image Dewa Vishnu lengkap dengan Garudanya yang merupakan kuil terbesar dari kelompok Char Dham ini. Lalu Kuil Rameshwar dengan empat pilar beratap putih dekat gerbang Durbar Square serta kuil kecil Badrinath yang sakral untuk Dewa Vishnu dalam inkarnasinya sebagai Narayan. Kuil keempat adalah kuil Kedarnath yang didedikasikan untuk Dewa Shiva. Dalam gempa 2015 lalu hanya bagian atas kuil yang terbuat dari batu bata merah yang rusak walaupun kuil ini berhasil dibangun lagi setelah runtuh akibat gempa tahun 1934.

Masih di sekitar gerbang Barat, di depan sekolah terdapat Ugrachandi dan Bhairab, sebuah karya abad-17 yang menggambarkan Dewa Shiva dan Dewi Parwati. Namun dibalik keindahannya, terdapat kisah mengerikan yang membuat sakit perut. Sebagaimana penguasa-penguasa keblinger jaman dulu yang ingin hasil karya semasa kekuasaannya abadi, konon tangan pembuat Ugrachandi dan Bhairab sengaja dipotong agar ia tak dapat membuat duplikasinya! Whew…

Sore mulai menghias langit Barat saat saya menyusuri dinding Istana. Sayang sekali karena National Art Gallery saat itu sedang direnovasi, hingga saya hanya bisa mengabadikan Vishnu sebagai Narsingha di salah satu dekorasi gerbangnya. Namun apa yang lebih cantik melihat gerbang emas istana yang dikenal dengan sebutan Sun Dhoka (Golden Gate) berkilau tertimpa matahari sore? Dihiasi dewa-dewi Hindu di bagian atas, gerbang yang dibuat oleh Raja Bhupatindra Malla ini tampak sangat menonjol di dinding Istana. Detil hiasannya begitu mengagumkan, Garuda yang bertarung melawan Naga di puncak lengkung gerbang dan di bawahnya terpampang Dewi Taleju Bhawani berwajah empat bertangan ratusan sebagai dewi pelindung dinasti Malla. Melalui Sun Dhoka ini pengunjung bisa memasuki halaman dalam Istana 55 jendela.

Sun Dhoka - Garuda and the 4 faces Taleju Bhawani
Sun Dhoka – Garuda and the 4 faces Taleju Bhawani

Kemudian di depan Istana tampak menjulang kolom dengan Raja Bhupatindra Malla bersimpuh di puncaknya dengan tangan mengatup di depan dada menghadap Kuil Taleju yang ada di halaman dalam Istana. Sebuah monumen yang mengingatkan saya pada monumen serupa di Kathmandu dan Patan Durbar Square. Semua ukurannya sama, relatif kecil untuk ukuran seorang Raja bahkan saya harus menggunakan zoom untuk mengabadikannya dalam foto. Bisa jadi itulah makna sebuah kerendahhatian seorang penguasa, bukan dirinya yang diperbesar untuk dipuja-puja melainkan hal lain yang lebih berguna bagi banyak orang.

Bhupatindra Malla's Column, Bhaktapur
Bhupatindra Malla’s Column, Bhaktapur

Selemparan batu dari kolom Raja terdapat kuil Vatsala Durga. Kuil indah, saingannya Krishna Mandir di Patan ini didirikan oleh Raja Jagat Prakash Malla pada abad-17. Mengikuti aturan dan arsitektur kuil di India, kuil cantik ini sungguh memanjakan mata dengan hiasannya yang detil. Teringat saat matahari sore menerpa permukaan kuil, tak bosan-bosan saya mengabadikannya dari beberapa sudut. Keindahannya yang menjadi ikon Bhaktapur Durbar Square, -yang menjadi pusat pandangan mata wisatawan yang datang-, meluluhlantakkan hati saya karena kini keindahannya hanya tinggal kenangan sejak gempa April 2015 meruntuhkannya rata dengan tanah. *sedih

Dan di atas dua pelataran di dekatnya terdapat dua genta. Yang ukurannya lebih besar, Taleju Bell, didirikan oleh Raja Jaya Ranjit Malla pada abad-18 untuk mengingatkan waktu ibadah pagi dan sore di Kuil Taleju. Genta yang lebih kecil diletakkan di depan kuil Vatsala Durga yang dikenal sebagai Genta Menyalak (Barking Bell). Konon, genta kecil yang didirikan oleh Raja Bhupatindra Malla sebagai pembuktian mimpinya ini bila dibunyikan mampu membuat anjing-anjing menggonggong. Sempat terlintas di benak untuk membunyikannya tapi saya takut nanti anjing-anjing itu jadi fans mengikuti kemana saya pergi hehe..

Saya melanjutkan langkah menuju sebuah pendopo yang cukup lapang yang dikenal sebagai Chyasilin Mandap melengkapi kuil Vatsala Durga. Pendopo ini dijaga sepasang singa mengkilat yang dibuat dengan sangat indah, menjadi tempat istirahat saya ketika kaki sudah lelah menikmati Durbar Square.

Lions as the guardians of Chyasilin Mandap
Lions as the guardians of Chyasilin Mandap

Masih di sekitar Istana, di sudut tenggara berdiri Kuil Siddhi Lakshmi yang dibangun pada abad-17. Dihiasi dengan penjaga-penjaga yang berpasangan yang berbeda jenis, yang paling depan penjaga berwajah Oriental yang lucu dan memegang anak dan anjing, undakan berikutnya dijaga sepasang kuda berhias, lalu badak yang juga berhias, kemudian singa yang berwajah manusia dan entah apa lagi yang pastinya memiliki makna dalam karena seperti biasanya, setiap patung penjaga itu memiliki kisahnya tersendiri.

Dan akhirnya saya berdiri di depan dua patung singa yang tampak menyolok namun janggal di tengah-tengah lapangan terbuka itu. Bertangga tetapi tidak ada apa-apa di belakangnya. Ada yang mengatakan bahwa sebelumnya terdapat kuil indah di belakangnya tetapi telah rata dengan tanah akibat gempa bumi puluhan tahun atau berabad sebelumnya. Namun mungkin yang lebih masuk akal, kedua patung singa itu memang sengaja dibuat sebagai penjaga sebelum memasuki kawasan istana dari arah Timur. Saya tidak tahu kebenarannya, tapi yang jelas keduanya sangat menarik! Lagi pula singanya seksi hehe…

Bhaktapur Durbar Square from Eastern Gate
Bhaktapur Durbar Square from Eastern Gate

Di sebelah Utara patung singa terdapat kuil Fasidega yang memiliki pelataran tinggi yang luas dengan bangunan berwarna putih di atasnya. Kuil yang didedikasikan untuk Dewa Shiva ini, memiliki undakan bertingkat yang masing-masing dijaga oleh pasangan gajah, singa dan sapi yang sangat keren. Dan di bagian dalam bangunan puncak terdapat sebuah lingga sebagai lambang Dewa Shiva. Sayangnya, bangunan yang berwarna putih telah runtuh dalam gempa April 2015 meninggalkan pelataran dan patung-patung penjaganya. Konon sebelum runtuh, kuil Fasidega ini dapat terlihat dari kuil Changu Narayan karena puncak putihnya (tetapi yang jelas saya tidak dapat melihatnya saat berada di Changu Narayan, karena bangunan serupa Kuil Fasidega itu tidak hanya satu!)

Kaki melangkah terus menyusuri jalan-jalan di Bhaktapur ditemani sore yang manis. Tanpa terasa saya telah melewati Tadhunchen Bahal yang kini menjadi tempat tinggal Dewi Kumari dari Bhaktapur, the little princess, the living goddess. Kali ini saya melewatkan tempatnya, bisa jadi melewatkan kesempatan berpandang mata, berbahasa kalbu dengannya. Tetapi tak ada penyesalan karena saya telah melakukannya dengan Dewi Kumari di Kathmandu.

Pashupatinath Temple
Pashupatinath Temple – Can you see the erotic panels?

Saya kembali kearah istana menyusuri beranda lorong kayu yang berukir melengkung dan berhenti di depan sebuah kuil tua di sebelah selatan dari Kuil Vatsala Durga. Terkenal dengan nama Kuil Pashupatinath, -karena menjadi replika kuil di Pashupatinath itu-, berdiri dengan megahnya. Kuil yang didirikan oleh Raja Yaksha Malla pada abad-15 ini didedikasikan untuk Dewa Shiva yang diperkuat dengan kehadiran arca Nandi di sebelah Barat, sang bhakta yang menjadi kendaraan setia Dewa Shiva. Kuil Hindu megah yang tertua di kawasan ini bernuansa Tantra sehingga terlihat jelas panel-panel erotis tanpa harus memanjangkan leher dan membelalakkan mata. Panel erotis yang terpampang jelas di sekeliling kuil seakan memberi konfirmasi bahwa aktivitas seksual bukanlah hal yang tabu, bahkan konon lebih bersifat spiritual yang hakiki atas penyatuan jiwa manusia dengan alam semesta. Namun terlepas dari kebenarannya, faktanya adalah semua panel erotis berada di bagian luar kuil. Sebuah makna yang kebenarannya bisa diterima banyak orang, bahwa semua urusan keduniawian dan nafsu sudah seyogyanya ditanggalkan sebelum melakukan ibadah, sesederhana itu. Bukan begitu?

Nandi the Bull
Nandi the Bull

Langit Barat Bhaktapur semakin oranye, kembali saya melanjutkan langkah membiarkan diri ini get-lost diantara lorong-lorong sempit Bhaktapur. Alunan musik Om Mani Padme Hum terdengar samar dari dalam kios, berpadu harmonis dengan alunan Bhajan yang juga terdengar dari kios yang lain. Tak ada yang tersinggung bermuka garang, disini Hindu Buddha berdamping mesra, sama-sama mengalunkan musik puja dan puji, menawarkan damai bahagia…

Nepal: Suatu Malam di Swayambhunath


Alkisah Manjusri, seorang Boddhisattva yang terkenal akan Kebajikan dan Pengetahuannya, sedang dalam perjalanan menuju sebuah danau, -yang kini tempat itu terkenal dengan nama Swayambhu-, untuk melihat bunga teratai yang tumbuh indah ditengah-tengahnya. Ia melihat potensi pengembangan di sekeliling wilayah berbukit itu sehingga ia mengupayakan akses yang lebih mudah untuk masyarakat agar bisa mencapainya. Manjusri, dengan kesaktian spiritualnya kemudian memotong sebuah ngarai di Chovar. Air danau mengalir keluar lalu mengering serta meninggalkan lembah yang dikenal sebagai Lembah Kathmandu sekarang ini. Bunga teratai yang terlihat sebelumnya itu konon berubah bentuk menjadi sebuah bukit dan bunga itu menjadi Stupa di Swayambhunath. Sementara itu, Manjusri tetap menjalankan hidup kesehariannya di wilayah Swayambhu.  Karena terkanal akan welas asihnya, Manjusri membiarkan kutu-kutu tumbuh di rambutnya yang panjang. Konon, dengan berjalannya waktu, kutu-kutu itu bertransformasi menjadi kera-kera sakti yang tetap mendiami Swayambunath bagian barat laut hingga kini.

Itulah sekelumit kisah legenda tentang asal-usul Swayambhunath yang terkenal juga dengan nama Monkey Temple, yang kini menjadi salah satu kompleks peribadatan tertua di pinggir Barat Kathmandu.  Karena lokasinya di puncak bukit, banyak yang menyarankan saya untuk mengunjungi Swayambhunath pada malam hari untuk melihat keindahan lampu-lampu seantero lembah Kathmandu.

Setelah membeli tiket masuk seharga 200NRs di pintu Selatan, saya mengikuti Bivek, sang guide dadakan, yang berjalan menuju Kolam Perdamaian Dunia (World Peace Pond) yang di tengahnya terdapat patung Buddha berdiri diatas bunga teratai. Walaupun tidak seheboh Fontana di Trevi di Roma, turis disini juga melempar koin ke sebuah guci di dekat kaki Sang Buddha dengan tujuan agar permohonannya terkabul.

World Peace Pond
World Peace Pond – throw the coins here…

Hanya karena ingin berpartisipasi menambah jumlah koin di kolam, saya mengambil koin seadanya dari dalam dompet. Kemudian sambil melihat ke arah wajah patung Sang Buddha di temaramnya lampu, sesaat teringat akan orang-orang yang mengikuti jalannya, juga para biksu yang melakukan pindapatta, lalu orang-orang yang terlekat pada nafsu keinginannya, lalu ke orang-orang yang menderita, ke berbagai tempat terjadi perang, tempat-tempat menyedihkan. Ah, semoga semua makhluk berbahagia lalu saya lempar koin itu. Koin mendarat tepat pada bibir lubang guci lalu jatuh perlahan karena gaya gravitasinya ke bagian dalam guci bergabung bersama koin-koin lain, gerakannya a la slow motion.  Masuk! Rasa dingin langsung menjalar di sekujur tubuh. Tak percaya akan lemparan pertama yang berhasil masuk, saya melihat tangan sendiri. Saya bukan pelempar yang baik, bahkan bisa dikategorikan sebaliknya. Kok bisa?

Melihat koin saya masuk, Bivek yang sudah dua tiga kali mencoba dan tidak masuk, langsung berteriak, “Hei… Good to you… your wish will come true.” Saya tersenyum datar. Bagi seorang pelempar yang sangat buruk, masuk ke dalam guci di lemparan pertama adalah sebuah keajaiban. Apalagi, setelah itu Bivek mengatakan harapan baikmu yang menjadikannya masuk. Saya mengangkat bahu mengamini.

Tangga Selatan menuju puncak itu tak sebanyak 365 anak tangga di pintu timur, tetapi tetap saja membuat saya terengah kehabisan nafas. Benar-benar saya membenci tangga, teringat sempat hampir pingsan di tangga Bromo dulu, dan juga mata berkunang-kunang jelang gelap di tangga sempit menara Mesjid Banten. Tetapi saya tahu upaya melelahkan itu akan terbayar lunas dengan pemandangan indah di puncak bukit.

Night view over Kathmandu Valley
Night view over Kathmandu Valley

Dan tentu saja saya langsung tertarik pada magnet kuat Mata Kebajikan Sang Buddha, yang tergambar di tiap sisi dinding Stupa Utama. Sepasang mata yang tercerahkan dari kemelekatan dunia, sepasang mata yang akhirnya menjadi icon di seluruh Nepal.

Di tiap sisi dinding itu, tak hanya ada sepasang Mata. Sedikit di atas di antaranya, terdapat mata ketiga yang dipercaya ketika Sang Buddha sedang mengajar, -sinar kosmik yang berasal dari Mata Ketiga dan bertindak sebagai pembawa pesan kepada makhluk surgawi-, menyebabkan makhluk surgawi apabila tertarik dapat turun ke bumi untuk mendengarkan pengajaran Sang Buddha. Para makhluk yang sedang tersiksa di neraka dan para makhluk yang mendiami Dunia Bawah, tidak dapat datang ke bumi untuk mendengarkan ajaran Sang Buddha. Walaupun demikian sinar kosmik yang terpancar itu dapat mengurangi penderitaan mereka selama Sang Buddha mengajar. Selaini tu, di antara Mata Sang Buddha sedikit di bawahnya, terdapat hidung yang tergambar seperti tanda tanya dengan ulir yang lebih banyak. Bentuk ini merupakah karakter Nepali untuk menuliskan angka 1, sebagai simbol menyatukan semuanya untuk meraih pencerahan, melalui ajaran Buddha. Di atas kubah besar, di puncak terdapat tiga belas tingkatan yang menunjukkan bahwa setiap makhluk hidup harus menempuh tiga belas tahap perjalanan spiritual untuk mencapai tingkat kebuddhaan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Beberapa biksu berjubah merah maroon berjalan perlahan mengitari Stupa Besar menyempurnakan suasana damai di antara lantunan suara puji-pujian dari sebuah beranda, tetapi bukan Om Mani Padme Hum yang sering terdengar di kios-kios di Thamel. Walau tak sempat melihat, saya hanya bisa membayangkan sebelum fajar menyingsing ratusan umat menaiki  365 anak tangga dari sisi timur menuju puncak melalui lokasi yang disebut Vajra dan dua patung singa penjaga gerbang untuk mengitari Stupa searah jarum jam sambil melantunkan mantra-mantra.

Malam beranjak pelan di Swayambhunath, yang konon dibangun sejak abad 5 oleh Raja Vrsadeva dan diselesaikan oleh Raja Manadeva sekitar tahun 640, walaupun ada yang percaya bahwa Raja Ashoka pernah mengunjungi situs ini pada abad ke 3 dan memerintahkan untuk pembangunan kuil.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Yang menarik dari Swayambhunath ini bagi saya adalah toleransi antar agama. Seperti umumnya di bagian lainnya di Nepal, walaupun Swayambhunath merupakan tempat ibadah agama Buddha, tempat ini juga digunakan oleh penganut Hindu karena memang ada tempat pemujaan khusus bagi penganut Hindu. Bahkan Raja Pratap Malla yang beragama Hindu memberikan penghormatan di kuil ini dengan membangun tangga timur pada abad 17. Bahkan Bivek, guide dadakan saya itu juga memberi penghormatan di tempat-tempat Buddha.

Berada di ketinggian puncak bukit memang memungkinkan menikmati kelip-kelip lampu seantero lembah Kathmandu. Karena bepergian sendiri dan berada di tempat indah dalam suasana yang damai, pikiran ini terbang ke orang-orang terdekat yang sudah mendoakan keselamatan perjalanan saya. Sejumput doa terucapkan dalam hati untuk mereka semua. Salam penuh cinta dari Swayambhunath…

Prayer Flags, The Eye, The Stupa of Swayambhunath
Prayer Flags, The Eye, The Stupa of Swayambhunath

Ketentraman itu buyar seketika ketika terdengar gebrakan kayu berkali-kali. Saya mencari sumber suara dan mendadak saya diam tak bergeming sedikitpun melihat yang tampak di depan mata. Pertama hanya sedikit lalu semakin banyak dan semakin banyak… Berawal dari satu, dua, tiga lalu puluhan… ratusan… kera-kera dalam rombongan besarnya menuju tempat istirahatnya. Asli, baru sekali itu saya melihat kera dalam rombongan yang sangat besar. Sejak kecil saya tidak pernah menyukai kera, bagi saya kera itu bisa saja mendadak menjadi liar dan ganas. Dan rombongan kera itu, walaupun tertib lewat di hadapan, bisa saja menjadi chaos dan menyerang… dan gambaran itu sangat-sangat menakutkan!

Do you see two monkeys?
Do you see two monkeys?

Tetapi bukankah Nama lain Swayambhunath adalah Kuil Kera? Jadi saya harusnya heran kalau di sana saya menemui banyak kelinci kan…

Mengintip Puncak Merapi dari Balik Legenda Candi Sewu


Konon, suatu hari yang indah di bumi Mataram…
 
Seorang puteri raja yang cantik jelita, Roro Jonggrang namanya, tengah meratapi kematian ayahnya, Prabu Boko, yang gugur di tangan Sang Pangeran dari Kerajaan Pengging, kerajaan di sebelah wilayah kerajaan Boko.
 
Sementara itu, Bandung Bondowoso, nama Sang Pangeran yang terkenal sakti itu, tengah berupaya menaklukkan rasa gundahnya karena telah membunuh ayah dari Roro Jonggrang. Sebagai Pangeran, ia harus menjaga keutuhan wilayah kekuasaan kerajaannya, tetapi di sisi lain, ia tak sampai hati melihat penderitaan seorang puteri cantik. Untuk menebus rasa bersalahnya, sebagai laki-laki sejati ia berniat menikahi Roro Jonggrang sehingga ia bisa menjaga Sang Puteri seumur hidupnya.
 
Perasaan tulus ikhlas Bandung Bondowoso ingin memperisteri Roro Jonggrang, disambut Sang Puteri dengan perasaan campur aduk. Tentu saja Roro Jonggrang tidak mau menerima lamaran Bandung Bondowoso, pembunuh ayahnya. Tetapi sebagai seorang puteri, ia harus menggunakan cara-cara yang anggun untuk menolak lamaran tanpa terlihat sikap penolakannya. Setelah berpikir keras, Roro Jonggrang bersedia menerima lamaran dengan dua syarat, yakni Bandung Bondowoso harus membuat sebuah sumur Jalatunda dan seribu candi yang harus selesai dalam sehari semalam. Yakin akan kesaktiannya, Bandung Bondowoso menerima persyaratan itu.
 
Bandung Bondowoso dengan mudah menyelesaikan pembuatan sumur Jalatunda. Tak percaya persyaratan pertama telah selesai dan teringat ia harus bersanding dengan laki-laki pembunuh ayahnya, Roro Jonggrang berusaha memperdaya Bandung Bondowoso dengan memintanya memeriksa kekuatan dinding sumur. Ketika Bandung Bondowoso berada di dasar sumur, Roro Jonggrang bersama dayang dan pembantu istana berusaha mengubur hidup-hidup Bandung Bondowoso dengan timbunan tanah. Namun, karena kesaktiannya, ia berhasil keluar dari timbunan tanah itu. Bandung Bondowoso sempat marah karena tipu daya Roro Jonggrang, tetapi Sang Puteri berhasil memadamkan kemarahannya karena gerak gemulai, rayuan dan kecantikannya. Bandung Bondowoso pun luluh hatinya dan bermaksud menyelesaikan persyaratan ke dua.
 
Karena kesaktiannya, Bandung Bondowoso berhasil meminta bantuan para makhluk halus untuk membangun 1000 candi. Melihat pekerjaan membangun 1000 candi itu hampir rampung, Roro Jonggrang membangunkan para dayangnya dan perempuan desa untuk mulai menumbuk padi pada lesung dan membakar jerami pada sisi Timur seakan-akan pagi telah datang. Bahkan ayam-ayam pun terpedaya dan mulai berkokok melihat kegiatan pagi sudah berlangsung. Mengira bahwa sebentar lagi sang mentari akan terbit, para makhluk halus lari tunggang langgang meninggalkan pekerjaan yang sudah mencapai 999 candi sehingga Bandung Bondowoso dinyatakan gagal memenuhi syarat yang diajukan Roro Jonggrang. Mengetahui bahwa kegagalan itu sebagai akibat dari tipu muslihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso murka. Ia tak lagi percaya akan gerak gemulai dan kecantikan Roro Jonggrang. Dalam kemurkaannya ia mengutuk Rara Jonggrang menjadi batu, melengkapi menjadi candi yang ke seribu.
 
Itulah legenda asal muasal Candi Sewu yang konon merupakan 999 candi yang belum rampung, dan arca Durga di ruang utara candi Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan dikenal sebagai Candi Roro Jonggrang yang berarti gadis yang cantik semampai.
 
<><><> 
Candi Sewu - Candi utama
Candi Sewu – Candi utama

Legenda Roro Jonggrang yang sudah diceritakan sejak kecil itu kembali memenuhi benak ketika saya melangkah melalui pintu tak resmi Candi Sewu yang biasa digunakan bagi para petugas candi yang terletak di sebelah utara. Hanya ada seorang petugas yang ramah menyapa saya yang datang kepagian.  Mungkin terasa janggal melihat ada pengunjung yang datang pagi-pagi ke Candi yang juga jarang dikunjungi walaupun bersebelahan dengan Candi Prambanan. Tidak ada tiket masuk, tetapi saya tetap meletakkan beberapa lembar uang donasi pemeliharaan candi karena kecintaan saya kepada bebatuan peninggalan sejarah itu. Dan selanjutnya saya seakan lebur di dalam atmosfer candi.

Candi Sewu, hamparan batu yang terserak
Candi Sewu, hamparan batu yang terserak

Entah apa yang terbentuk dalam pikiran, ketika melihat reruntuhan batu candi, saya selalu merasa antusias. Demikian juga ketika saya melihat hamparan batu tak beraturan di depan mata ini. Menurut  legenda, inilah hasil kerja para makhluk halus yang lari tunggang langgang karena menganggap pagi sudah datang. Ribuan batu tak beraturan, hamparan candi yang belum sepenuhnya rampung. Candi Sewu, yang berarti seribu dalam bahasa Jawa, hanya menunjukkan hiperbolisme tutur bahasa Jawa sebagai pengganti kata banyak sekali. Walaupun menurut sumber yang bisa dipercaya, sebenarnya Candi Sewu hanya berjumlah 249 yang terdiri dari 1 Candi Utama, 8 Candi Pengapit dan 240 Candi Perwara dan semua disusun dalam posisi yang simetris dengan Candi Utama yang besar berada di tengah-tengah. Saya membayangkan tampak aerialnya dari udara, pasti luar biasa cantik. Ah, sepertinya saya harus meminjam baling-baling bambunya Doraemon untuk melihat keindahan ini…

Dan hmm… karena melalui pintu tak resmi, saya tak disambut oleh dua patung Dwarapala yang saling berhadapan menjaga candi di gerbang pelataran luar di tiap arah mata angin. Bahkan untuk menekankan betapa kuat ‘penjagaan’nya, antara pelataran luar dan pelataran dalampun dipisahkan dengan sepasang dwarapala yang memegang gada. Bagaimanapun nanti saya harus melewati dua Dwarapala yang ada di pelataran dalam untuk masuk ke Candi Utama.

Candi Sewu, yang belum selesai menurut legendanya
Candi Sewu, yang belum selesai menurut legendanya

Langkah saya pelan menapaki pelataran luar candi yang dibangun pada abad 8 atas perintah penguasa Mataram saat itu, Rakai Panangkaran dan Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Sebuah contoh nyata seorang penguasa yang mengedepankan toleransi kehidupan beragama rakyatnya. Candi Sewu memang merupakan candi Buddha yang saat itu digunakan untuk berbagai kegiatan peribadatan bagi masyarakat bumi Mataram yang beragama Buddha.

Dari pelataran luar saya bisa menikmati Gunung Merapi di kejauhan yang puncaknya seperti terbelah sebagai akibat kegiatan vulkaniknya yang frekuentif. Inilah enaknya berkunjung pada pagi hari, belum ada pengunjung lain dan kondisi langit bersih. Entah kenapa melihat Gunung Merapi, sehelai benang lamunan terbang memintal legenda Candi Sewu. Tak ingin berpikir jauh, segera saya mencabutnya dari taman pikiran dan kembali menikmati bangunan-bangunan batu yang berdiri megah.

Puncak Merapi dan Stupa Candi Sewu, diantara banyak legenda dan mitos
Puncak Merapi dan Stupa Candi Sewu, diantara banyak legenda dan mitos

Saya memandangi Candi Utama penuh kekaguman. Sungguh saya menyukai arsitektur candi utama karena bentuknya yang bersudut-sudut, atap seakan berlapis dan memiliki pembatas yang dibentuk indah setinggi sekitar 1 meter. Di abad ketika teknologi penggunaan semen belum ditemukan, rumus rumit matematis konstruksi dan ketahanan material belum dihitung, Candi Sewu dibangun hingga ketinggian sekitar 30 meter dan menariknya di tiap atap yang berjumlah 9 itu terdapat stupa pada puncaknya. Sungguh saat itu leluhur kita berada dalam sebuah peradaban yang membanggakan (dan pikiran saya terbang ke Candi Prambanan yang lebih tinggi daripada Candi Sewu dan berlokasi di kompleks sebelah, hingga kini di abad 21, kita masih kesulitan teknologi untuk melakukan pembersihan puncak-puncak Candi!)

Candi Sewu - Candi Utama dilihat dari sudut candi pengapit
Candi Sewu – Candi Utama dilihat dari sudut candi pengapit

Seakan telah mendapat izin dari dua Dwarapala bergada, saya menaiki tangga Timur Candi Utama yang berhiaskan makara menuju selasar Candi. Di ketinggian lantai ini, saya terpana menikmati lebih jelas keindahan puncak Merapi yang seakan terbelah. Pagi yang luar biasa! Lagi-lagi sejumput lamun terbang menggoda benak, teringat legenda kesaktiannya, apakah Bandung Bondowoso masih dalam kemurkaan abadinya sehingga membelah Puncak Merapi? Dan bukankah beredar pula mitos bagi pasangan yang belum menikah akan bubar jika berkunjung ke Candi Prambanan? Ah, nakalnya lompatan lamunan ini…

Gunung Merapi di antar Stupa Candi Sewu
Gunung Merapi di antar Stupa Candi Sewu

Sambil tersenyum mengusir lamunan, pelan saya melangkah ke ruang dalam Candi yang memiliki tempat untuk meletakkan benda-benda untuk peribadatan. Mungkin demi keamanan, benda-benda ini sudah diselamatkan terlebih dahulu ke museum dan meninggalkan relung kosong. Kemudian saya melangkah menyusuri Candi hingga ke sisi Barat.

Dari Pintu Ruang Dalam Candi Sewu
Dari Pintu Ruang Dalam Candi Sewu
Gunung Merapi diantara tiga Candi Pengapit di Candi Sewu
Gunung Merapi diantara tiga Candi Pengapit di Candi Sewu

Di balik keteduhan Candi karena tak terkena sinar matahari pagi, saya melihat pelataran yang juga dilengkapi oleh Candi Pendamping dan Candi Perwara dan ribuan reruntuhan batu yang masih belum tersusun. Candi Pendamping membelah jalan untuk mencapai pintu masuk dan  memiliki relief pada dinding berupa sosok laki-laki berbusana bangsawan yang sedang berdiri. Ratusan Candi Perwara terhampar di pelataran luar.

Siapakah Dia? - Relief di Candi Sewu
Siapakah Dia? – Relief di Candi Sewu
Candi Sewu - Relief di Candi Pengapit
Candi Sewu – Relief di Candi Pengapit
Hiasan-hiasan pada Candi Pengapit di Candi Sewu
Hiasan-hiasan pada Candi Pengapit di Candi Sewu

Saya menikmati setiap detiknya berada di Candi Sewu tanpa kehadiran pengunjung lain sambil menikmati pemandangan indah Gunung Merapi di kejauhan. Hamparan batu candi berserakan di pelataran membuat saya tersenyum sendiri. Bagi saya candi ini luar biasa berkesannya. Rapi sekaligus berantakan, Yin dan Yang, Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, kasih sayang dan kebencian… Sebuah harmoni.

Candi Sewu - Rapi dan Berserakan dalam Harmoni
Candi Sewu – Rapi dan Berserakan dalam Harmoni

Matahari pagi pelan-pelan mulai meninggi. Sayup-sayup terdengar suara bus-bus yang mulai berdatangan memenuhi tempat parkir Candi Prambanan yang letaknya bersisian dengan Candi Sewu. Ah, sebentar lagi pengunjung lain akan berdatangan memberi warna lain pada candi. Saya bangkit membereskan barang bawaan dan melangkah pulang bersama legenda Roro Jonggrang…

Ke Sangiran: Belajar Menghargai Harta Karun Kita


Hingga saat ini telah ditemukan tidak kurang dari 100 individu fosil Homo erectus di Sangiran. Jumlah ini mewakili lebih dari setengah populasi Homo erectus di dunia…

Dari hasil penelitian genetika, khususnya Mitochondiral DNA, diketahui bahwa seluruh umat manusia yang ada sekarang ini berasal dari seorang wanita yang pernah hidup sekitar 200.000 tahun yang lalu di Afrika Timur ….

sangiran_whsItulah kalimat-kalimat yang menarik perhatian di Museum Manusia Purba Sangiran, Solo, Jawa Tengah. Dan semakin dalam memasuki ruangan-ruangannya, saya seperti dibawa mesin waktu ke ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, menelusuri kehidupan luar biasa yang pernah ada saat itu di Jawa, di Indonesia, di negara kita. Dan bukti-bukti adanya kehidupan jutaan tahun lalu itu masih ada, menjadi harta karun tak ternilai bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Ada di sini, di Indonesia!

Mungkin sama dengan Anda, bagi saya, Sangiran merupakan kata yang hanya ada ketika masih duduk di bangku sekolah dalam ilmu geografi kependudukan dan sejarah, dan setelah itu tenggelam kalah dari berbagai prioritas kehidupan lain yang lebih penting. Dan baru-baru ini seorang kawan yang datang jauh-jauh dari Philippines hanya untuk mendatangi Sangiran yang menyebabkan saya mencari tahu lebih jauh tentang Sangiran. Katanya santai, Sangiran adalah UNESCO World Heritage Site yang mudah dicapai dari Jogjakarta. Dan rasanya saya tertampar keras dengan pernyataan santainya itu, karena sebagai orang yang sudah menganggap Jogjakarta sebagai rumah kedua, tidak pernah sekalipun saya berkunjung ke Sangiran. Sedangkan badan dunia UNESCO dan masyarakat internasional mengakui dan mengesahkan Sangiran di Indonesia telah memenuhi persyaratan sebagai salah satu situs warisan dunia. Dan saya, sebagai warga negara Indonesia, bahkan belum pernah menginjakkan kaki di sana! Dan karena itulah saya langsung merencanakan mengunjungi Museum Manusia Purba Sangiran.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sangiran, sekitar 17km di Utara Solo menuju Purwodadi, tepatnya di desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe. Untuk mencapainya cukup mudah. Bila berkendara dari Jogja atau Solo, ambil jalan besar ke Utara menuju Purwodadi dan berbelok ke kanan pada pertigaan Kalijambe. Tidak perlu takut tersesat karena di pertigaan jalan besar itu terdapat gapura berbentuk kolom-kolom batu bertuliskan Situs Sangiran. Dari pertigaan itu jalan terus sepanjang 3-4 km hingga sampai ke Museum Manusia Purba. Untuk kendaraan umum, terdapat bus dari Solo menuju Purwodadi dan berhenti di pertigaan Kalijambe dan dilanjutkan dengan menggunakan ojek untuk ke Museum.

Museum dibuka hari Selasa sampai dengan Minggu, pk.08:00 – 16:00. Tutup setiap hari Senin. Harga tiket masuk untuk wisatawan Indonesia Rp. 5.000,- atau Rp 11.500,- untuk wisatawan asing. Hanya sekitar US$1,- untuk masuk, termasuk sangat murah dibandingkan museum-museum serupa di beberapa negara. Pemutaran film bisa dilakukan dengan harga Rp. 60.000,- per rombongan. Tempat parkir luas bisa menampung bus dan mobil cukup banyak, tersedia juga warung makan dan kios-kios penjual cinderamata dan kaos berbagai ukuran dan motif. Hanya saja diperlukan kejelian mata dalam memilih kualitas cinderamata/kaos dan tentu saja ketrampilan menawar. Sayang sekali saya tidak bisa memastikan apakah museum ini bisa diakses oleh para disable mengingat banyaknya tangga.

Tidak seperti di tempat-tempat lain yang bergelar World Heritage Site yang memperlihatkan simbol UNESCO dan gelar yang diraih secara lebih menyolok, Museum Manusia Purba Sangiran hanya meletakkan tanda gelar internasional yang diraih itu pada sebuah pohon beringin besar yang ada di depan penjual cinderamata/kaos. Sayang sekali sebenarnya karena simbol itu merupakan pengakuan dari sebuah badan dunia dan dunia internasional terhadap apa yang ada di bumi Indonesia. Tidak mudah sebuah tempat mendapatkan gelar World Heritage Site karena harus lolos melewati kriteria-kriteria yang rumit dan sudah standar di seluruh dunia. UNESCO sendiri menetapkan Sangiran sebagai World Heritage Site no 593 pada 5 Desember 1996 dengan sebutan Sangiran Early Man Site

Museum Manusia Purba Sangiran memiliki 3 Ruang pamer: Kekayaan Sangiran, Langkah-Langkah Kemanusiaan, dan Masa Keemasan Homo Erectus – 500.000 tahun yang lalu. Ketiga ruang pamer itu memiliki kekuatan masing-masing walaupun tidak jarang hal yang sama berulang di tempat yang lainnya.

Setelah pemeriksaan tiket masuk, pengunjung diarahkan ke kiri menyusuri selasar berkolom banyak di sisi-sisinya, secara tak sadar kita sebenarnya sedang berjalan di atas lapisan vulaknis paling tua, hasil aktivitas erupsi gunung Lawu purba yang telah mengeras selama 1.8 juta tahun.

Memasuki ruang pertama: Kekayaan Sangiran, di dalamnya terdapat penjelasan mengenai evolusi manusia, koleksi fosil fauna yang dimiliki seperti buaya, herbivora bertanduk besar, kudanil purba, dan gajah purba serta binatang-binatang laut seperti penyu dan kerang-kerangan. Juga penggambaran mengenai kehidupan sehari-hari Homo erectus di Sangiran. Yang menarik di ruang ini juga ditampilkan temuan-temuan terbaru setahun terakhir ini berupa rahang bawah, tulang panggul dan tulang paha dari gajah purba yang diperkirakan hidup 250.000 – 730.000 tahun yang lalu!

Kemudian, di ruang di sebelahnya dijelaskan mengenai type Homo erectus yang ada di Indonesia. Bahwa dalam waktu 1.5 juta tahun terjadi 3 tahap evolusi Homo erectus di Jawa., dua tingkat diantaranya terjadi di Sangiran (type arkaik 1.5- 1 juta tahun yang lalu; dan type tipikal 0.9 – 0.3 juta tahun yang lalu). Tipe termuda yaitu type progressif terdapat di Blora, Sragen dan Ngawi. Tidak itu saja, di tempat yang sama dipamerkan pula teknik-teknik yang dimiliki Homo erectus seperti alat pemangkasan dan pembuatan alat batu. Yang menarik untuk pelajar yang masih anak-anak adalah teknik rekonstruksi terhadap POPO, seekor kudanil dari Bukuran yang memiliki 119 buah fossil yang dirangkai menjadi kesatuan fosil hewan yang utuh.

Dan bagi yang belum mengetahui teori manusia berasal dari kera secara dalam, mungkin perlu datang ke museum ini dan mencari informasi mengenai Kera dan Manusia di ruang pertama ini. Penjelasan yang disampaikan sangat menarik.

Ruang pamer kedua: Langkah-langkah Kemanusiaan, mengisahkan teori dari Big Bang hingga Sangiran tercipta termasuk pengungkapan orang-orang yang memiliki teori terkait dengan perkembangan evolusi manusia. Homo erectus bukanlah manusia yang pertama (sebelumnya sudah ada genus Homo habilis (genus manusia) yang hanya tinggal di Afrika). Namun Homo erectuslah merupakan manusia pertama yang menjelajah dunia, tidak hanya sabana dan hutan terbuka di daerah tropis, juga di daerah sub-tropis di Eropa dan Asia, termasuk beradaptasi pada lingkungan laut dan mengembangkan teknologi pelayaran yang paling primitif agar bisa menyeberangi pulau.

Di ruang ini pula kita bisa mengenal para pionir dari Museum Sangiran ini. Dan tidak kalah menariknya penjelasan dalam bentuk audio visual mengenai terbentuknya pulau-pulau di Indonesia dalam kerangka waktu jutaan tahun yang lalu.

Salah satu yang mengejutkan, Raden Saleh, yang kita kenal sebagai maestro seni lukis Indonesia yang terkenal, ternyata dikenal juga sebagai kolektor balung buto (fosil hewan purba dari Sangiran) sehingga dikenal pula oleh para ilmuwan Eropa saat itu, karena koleksinya yang cukup lengkap.

Yang seru juga di dalam ruang ini, Homo erectus dikabarkan melakukan kanibalisme karena temuan fosil biasanya tanpa wajah dan dasar tengkorak, atau ditemukan banyak fosil tengkorak tetapi tidak disertai dengan anggota tubuh lainnya. Benarkah demikian? Lagi-lagi penjelasan yang disampaikan sangat menarik. Untuk pastinya, datang saja ke Museum ini…

Dan satu lagi, Homo erectus alias Pithecantropus yang berawal dari Afrika, mampu menjelajah daerah sabana, Asia Barat, India hingga Asia Tenggara dan tinggal di Jawa sekitar sejuta tahun lalu. Dan semuanya musnah sekitar 100.000 tahun lalu, lalu jika kita bukan dari Homo erectus, lalu dari manakah manusia Indonesia yang ada sekarang ini? Ternyata, jawabannya seru juga…

Di ruangan ini pula juga bisa dilihat bagaimana sebuah fosil itu ditemukan dalam keadaan lengkap atau dalam keadaan terlipat dalam goa-goa abadi. Tidak dilarang untuk berfoto seperti seorang ahli arkeologi bersama fossilnya.

Dalam ruang ketiga – Jaman keemasan Homo erectus sekitar 500.000 tahun yang lalu, digambarkan dalam 3 dimensi tentang kehidupan sehari-hari Homo erectus dan lingkungannya yang berupa sabana yang luas sepanjang horison. Dengan demikian pengunjung bisa memiliki bayangan bagaimana Homo erectus hidup dalam jamannya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sekeluar Museum kita bisa menikmati tempat-tempat istirahat yang nyaman dan berangin, sambil berfoto dengan latar belakang gedung museum yang cukup menarik bentuknya.

Karena keterbatasan waktu saya tidak sempat melihat menara pandang yang berjarak tidak jauh dari Museum. Dari Menara Pandang ini bisa disaksikan betapa luas Kubah Sangiran (Sangiran Dome) yang merupakan area yang ditetapkan sebagai situs arkeologis Sangiran di Indonesia.

Saya sudah menjejakkan kaki di sana dan kagum akan kekayaan fosil yang ada untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, Masyarakat internasional dan badan dunia telah mengakui harta karun yang ada di Indonesia ini, lalu kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menghargainya dan memelihara kehebatannya? Yuk berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran!

Wisata di Mandalay, Kota Yang Tidak Bisa Lepas dari Pagoda


Mandalay Hill Pagoda
Mandalay Hill Pagoda

Jalan-jalan di kota Mandalay, memang tidak dapat dipisahkan dari berkunjung ke Pagoda-Pagoda. Pagoda memang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Burma. Tidak heran karena Buddha merupakan agama mayoritas di Burma, walaupun suara-suara azan terdengar dari hotel tempat saya menginap menandakan Islam juga diterima di Mandalay.  Dan setelah meninggalkan Atumashi Monastery (bisa di baca di bagian pertama), saya melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat yang masih berhubungan dengan Pagoda di dalam kota Mandalay. Dalam waktu singkat, masih menggunakan mobil Datsun Sunny-nya, Aung mengantar saya ke depan gerbang sebuah Pagoda yang teduh karena kerimbunan pepohonan.

Pagoda Maha Lokamarazein Kuthodaw

World's Biggest Book
World’s Biggest Book

Di depan gerbang masuk terdapat patung Raja Mindon dan bilah batu yang mendeskripsikan Pagoda ini, Maha Lokamarazein Kuthodaw atau singkatnya dikenal sebagai Pagoda Kuthodaw. Terkenal juga dengan sebutan The World’s Biggest Book.

Tahun 1859, sebagai bentuk kebajikan dari kalangan Istana, Raja Mindon membangun Pagoda, yang menyerupai Pagoda Shwezigon di Bagan ini, lengkap dengan 730 Stupa Putih kecil (disebut Dhamma Cetis atau Kyauksa gu) yang didalamnya terdapat sebidang batu marmer dua muka beraksara Pali. 729 Marmer berisikan Tripitaka, ajaran inti dari Buddha dan 1 Marmer menjelaskan sejarah penulisan ke 729 Marmer tersebut, sehingga diharapkan dapat lestari hingga 5 millenia setelah Tahun Buddha. Inilah yang menyebabkan Pagoda Kuthodaw ini disebut dengan The World’s Biggest Book. Konon Raja Mindon ketika memimpin upacara keagamaan Buddha, ia meminta sekelompok biksu untuk melantunkan semua isi buku tersebut non-stop, dan baru bisa diselesaikan dalam waktu 6 bulan.

Teak Door of Kuthodaw
Teak Door of Kuthodaw

Saya memasuki gerbang masuk Utama yang ada di Selatan melalui sebuah pintu jati berukir bunga, sulur daun dan nats (spirit pelindung). Warna merah keemasan bercampur hiasan mosaik terasa mendominasi Pagoda ini, termasuk lorong dalam (Saungdan) yang terbuka dengan deretan pilar. Menariknya, dunia anak-anak lebih sering memanfaatkan stupa-stupa itu untuk bermain petak umpet sehingga sering terdengar derai gelak tawa diantara alunan doa. Di halaman, tampak pohon kayu tua yang diperkirakan berusia ratusan tahun meranggas tapi tampak menarik sebagai latar depan dari stupa-stupa putih yang menjadi inti Pagoda ini.

Lanjutkan membaca “Wisata di Mandalay, Kota Yang Tidak Bisa Lepas dari Pagoda”

Bagan: Ketika Sang Waktu Bermimpi di Bumi Sejuta Pagoda


Mungkin di suatu masa tersembunyi,

Para bidadari menari dan menyanyi,

Membiarkan Sang Waktu terus bermimpi,

kala para Dewa Dewi tak henti memberi,

demi Bagan, berhiaskan permata diri

Hamparan Pagoda di Bagan
Hamparan Pagoda di Bagan

Bagan adalah destinasi selanjutnya di Myanmar/Burma yang saya kunjungi setelah Bago. Dengan menggunakan pesawat baling-baling  dan mendarat di lapangan terbang kota Nyaung Oo, mata ini mencari nama saya diantara penjemput, ternyata ada di paling belakang dan terluar (mungkin karena saya dijemput dokar, bukan mobil! dan seperti dimana-mana, dokar dianggap prioritas terendah!).  Dengan suka cita, saya mengikuti pemuda tanggung yang menjadi kusirnya. Yihaaaaa…. (dan dokar  belum meninggalkan bandara ketika saya dengar raungan di atas, ternyata pesawat ATR72 yang saya tumpangi tadi, sudah terbang lagi… persis seperti angkot, drop, take and leave!)

Memilih dokar sebagai transportasi di Bagan memang tidak salah. Disini waktu seakan tertidur. Saya bisa menikmati paparan angin pagi di wajah sambil melihat jalan bandara yang sepi.  Dengan bahasa Inggeris yang bisa dipahami, kusir dokar merekomendasikan untuk langsung ke area peninggalan sejarah daripada harus memutar ke kota lagi untuk check-in hotel. Saya setuju. Dan diantarlah saya ke bumi sejuta pagoda yang terhampar di Bagan ini, bermula dari jalan utama bagian utara kemudian mengelilingi area peninggalan hingga matahari hilang dari ufuk dan kembali ke hotel.

Shwezigon Paya

Shwezigon
Shwezigon

Pagoda Shwezigon dengan stupa keemasan di bagian tengah ini merupakan bangunan pertama yang dibangun di Burma pada tahun 1087. Pagoda cantik ini pada awalnya dibangun oleh Raja Anawrahta dan diselesaikan oleh Raja Kyanzitta. Ternyata pagoda ini merupakan prototype pembangunan Pagoda Shwedagon yang tersohor itu.

Selain terdapat bangunan pagoda dengan atap tradisional Burma yang khas, dalam kompleks Shwezigon juga terdapat candi batu bata yang masih tegak berdiri dan bangunan-bangunan lain berwarna putih, sehingga menimbulkan warna warni yang sangat kontras dengan langit biru.

Di bagian tenggara, terdapat patung 37 Nat (Spirit) yang dipercaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Burma. Dan sebagai salah satu pagoda yang tertua di Bagan, Shwezigon merupakan tempat diakuinya ke 37 Nat oleh Kerajaan Burma.

Lokasi Pagoda ini berada di sebelah kanan dari jalan Bagan – Nyaung Oo Utara, tepat setelah melewati stasiun bis. Jalan menuju Pagoda, di sepanjang lorong lebar pedagang kaki lima yang sangat ahli menjual tampak memenuhi pelataran. Dengan alasan gratis, Lanjutkan membaca “Bagan: Ketika Sang Waktu Bermimpi di Bumi Sejuta Pagoda”

Mengunjungi Bago, Peninggalan Kerajaan Burma


Naik Ojek, ‘Rampok’ ala ‘Tour Guide’, Patung Buddha Raksasa, Nikmatnya Makan siang kalau kelaparan merupakan bagian menyenangkan dari daytrip saya ke Bago, sekitar 80 km dari Yangon, yang biasa ditempuh dalam waktu 1 – 1.5 jam dengan kendaraan pribadi atau bus dengan melewati National Highway menuju Mandalay. Highway ini memotong waktu cukup banyak. Saya terkagum-kagum juga dengan jalan tol yang lebar ini. Wah, Burma yang terkena sanksi dari negara-negara Barat bisa membuat jalan tol. Hebatlah! di area ini cukup banyak obyek yang dapat dinikmati, lagi pula tidak terlalu jauh dari Yangon.

Di perjalanan dengan angkutan umum ini ketika sedang asik-asiknya tertidur, tiba-tiba kendaraan berhenti dan sopir membangunkan saya. Ia hanya mengatakan, Bago, Bago. Dengan nyawa yang belum terkumpul lengkap, saya sadar harus turun segera sebelum semua penumpang mendelik kepada saya. Saya mengucap terima kasih kepada sopir lalu turun dan saya ditinggal sendirian terkaget-kaget bangun tidur di tengah terik matahari siang, di pinggir jalan! Tidak ada orang di sekitar. This is awesome!!

Tidak mau gosong dipanggang matahari, saya menuju resto di lantai bawah Emperor hotel di pinggir seberang, untuk rehat sejenak. Semangat menjelajah terbangun setelah meneguk minuman ringan. Setelah membayar, dan bertanya untuk bisa ke area peninggalan sejarah, seorang pelayan mengantar saya ke seorang tukang ojek! Wow! Rupanya Tun-tun, si tukang ojek, sekaligus pemandu wisata di Bago ini, termasuk seorang spesialis. Beruntungnya saya! Dan mulailah petualangan saya di antara peninggalan-peninggalan kerajaan Burma… tentunya setelah deal dengan si tukang ojek.

Gila, ternyata pemandu saya ini sangat professional dan… komersial! Dia tahu sekali makna lembaran hijau berwajah Hamilton itu. Sebelum masuk ke Gerbang situs, dia bercerita banyak soal Lonely Planet dan turis asing yang menggunakan jasanya. Kemudian, dengan alasan hendak menjelaskan sejarah Bago seperti yang dijelaskan di buku Lonely Planet, dia menanyakan apakah saya membawa buku Lonely Planet karena hendak mempertontonkan sesuatu. Dan…. Lanjutkan membaca “Mengunjungi Bago, Peninggalan Kerajaan Burma”