Nepal – Pokhara to Lumbini Overland


Sekali lagi saya menatap sendu ke barisan pegunungan berpuncak salju yang tampil tipis diantara awan tebal. Macchapuchhre dan Annapurna yang mempesona. Walau tampil tipis, ia tetap memperlihatkan diri pada hati yang meminta agar bisa membisikkan kata perpisahan. Sampai jumpa lagi pegunungan yang mempesona… Suatu waktu kita akan jumpa lagi…

Saya memperbaiki letak ransel di punggung lalu melangkah meninggalkan beranda kamar menuju lobby untuk menyelesaikan administrasi dan berterimakasih kepada para petugas hotel yang telah membuat saya betah seperti berada di rumah sendiri. Ganga menemani saya menuruni 500 anak tangga yang menjadi ciri khas Raniban Retreat menuju mobil yang akan membawa saya ke Lumbini. Sebuah hari dengan perjalanan panjang…

Sebenarnya Ganga mengupayakan tiket pesawat dari Pokhara ke Bhairawa atau sekarang dikenal dengan nama Siddhartanagar (yang artinya kota Siddharta), karena memang merupakan kota terdekat dari Lumbini, tempat kelahirannya Siddharta Gautama, Sang Buddha. Tetapi schedule pesawat ke kota itu memang seperti mengetahui akhir suara tokek, ada… tidak… ada… tidak… Singkat cerita, saya tidak mendapat tiket pesawat ke Bhairawa namun karena saya harus ke Lumbini maka by any means, bagaimanapun caranya saya akan sampai ke Lumbini. Sebagai pencinta fleksibilitas (baca: suka-suka hati) akhirnya saya memutuskan menyewa mobil daripada naik bus, walaupun untuk itu dompet terasa langsung tipis. Lagi pula saya suka sekali perjalanan darat.

Pengemudi mobil sewaan masih muda, seorang Nepal asli. Dia minta dipanggil Santa, walaupun tak terlihat sedikitpun ke‘Santa’annya. Tetapi berjam-jam berkendara bersama menempuh kurang lebih 200km, tentu saya harus berbaik-baik dengannya agar perjalanan terasa menyenangkan.

Harum pagi jelang berakhir ketika akhirnya tangan saya melambai kepada Ganga dan Raniban Retreat. Seperti menggambarkan perasaan saya yang campur aduk antara gembira menuju destinasi lain dan galau meninggalkan Pokhara dengan berbagai kenangan indah, kendaraan pun berguncang-guncang menuruni bukit di jalan yang tak rata. Dalam waktu beberapa menit keempat roda mobil Hyundai kecil itu sudah menyentuh hitamnya aspal di jalan Siddharta Rajmarg yang berkelok-kelok menyusuri pegunungan tinggi.

Pokhara – Butwal – Siddharthanagar – Lumbini

Dari cerita Santa, saya justru bersyukur tidak mendapat tiket pesawat ke Lumbini, karena perjalanan darat dari Pokhara ke Lumbini ini akan melalui begitu banyak pemandangan luar biasa, yang tidak akan bisa dinikmati bila naik pesawat. Siapa tak kenal pemandangan wilayah Tansen – Palpa dengan lembah-lembah tinggi nan sempit dengan air sungai yang hijau toska? Ah, saya ini benar-benar berlimpah anugerah dengan semua itinerary dariNya untuk setiap tahap perjalanan saya ke Nepal ini.

Duduk di sebelah Santa yang mengemudi, saya tak putus mengambil foto pemandangan yang luar biasa keren, dengan puncak Annapurna yang bersalju mengintip di antara lembah hijau yang tinggi dengan sungai kecil yang berkelok di dasar lembah. Bahkan Santa bersedia berhenti sejenak agar saya bisa berfoto dengan pemandangan menakjubkan itu.

1 hour drive from Pokhara, Bye Annapurna

1 hour drive from Pokhara to Lumbini, Bye Annapurna…

Setelah break makan siang di warung pinggir jalan, kami pun melanjutkan perjalanan. Berbeda dengan Kathmandu, lalu lintas sepanjang jalan ini tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Tetapi mobil tidak bisa melaju lebih kencang karena kondisi jalan yang berkelok-kelok sepanjang punggung bukit dengan tebing sangat tinggi di kiri dan jurang sangat dalam berada di kanan. Bahkan google maps pun memberikan waktu hampir enam jam untuk menempuh 200km itu. Tetapi saya tak pernah merasa bosan dengan enam jam duduk menikmati pemandangan alam. Sesekali Santa menyusul bus lokal yang melaju dan melihatnya saya semakin bersyukur telah mengambil keputusan menyewa mobil.

The Local Bus

The Local Bus

Santa mengemudi dengan kecepatan sedang, karena jalan yang tak berhenti berliku melipir gunung menyusuri Sungai Aadhi Khola di dasar jurang yang juga meliuk-liuk bagaikan ular besar melata di bumi. Pemandangan di bukit-bukit sekitar sangat cantik namun menggambarkan betapa infrastruktur jalan di Nepal masih sangat kurang. Bisa jadi karena Nepal merupakan landlocked country ditambah kondisi geografis penuh dengan lembah dan ngarai yang tinggi mengakibatkan semakin sulitnya distribusi barang. Tak heran bila ada jalan di Nepal yang termasuk kategori the most dangerous road in the world.

Road in Nepal

Road in Nepal

Setelah melewati beberapa desa, akhirnya kami menyeberang Sungai Kali Gandaki yang lebar dengan warna airnya yang hijau toska. Sungai yang bermula dari pegunungan Himalaya ini sering dimanfaatkan sebagai tempat wisata outdoor seperti kayaking dan olahraga air lainnya. Rasanya aneh juga ada sungai yang mengalir di bagian selatan dan utara pegunungan dengan nama yang sama.

Beautiful color of the river

Beautiful color of the river

Di desa-desa yang dilewati sepanjang jalan sering sekali saya lihat rombongan kaum perempuan bersari merah berjalan gembira menuju kuil untuk sebuah festival. Balutan merah yang menggambarkan kegembiraan, semangat dan keberuntungan tentu saja pantas digunakan dalam sebuah perayaan. Saya langsung teringat kehebohan festival yang saya alami di Changu Narayan dan juga di Kathmandu Durbar Square, semuanya seakan memastikan bahwa tiada hari tanpa festival di Nepal.

Tak terasa beberapa jam telah berlalu ketika Santa mengatakan sudah memasuki wilayah Tansen Palpa yang terkenal. Sayang untuk kesana, harus meninggalkan jalur utama yang tentunya akan memakan waktu untuk pergi pulang. Sang Waktu sepertinya memang belum mengizinkan saya untuk menjejak di Tansen Palpa. Saya hanya melempar pandang ke gapura Tansen – Palpa di persimpangan sambil berharap suatu saat saya akan mampir.

Tak lama setelahnya Santa melambatkan laju kendaraan karena ada antrian kendaraan di depan. Tak seperti antrian kendaraan di Indonesia yang bisa mencapai berkilo-kilometer, di depan hanya ada beberapa kendaraan. Santa memberitahu antrian terjadi karena kendaraan harus berjalan satu persatu di situ karena sering longsor.

Mendengar itu secara otomatis saya melihat tebing bukit yang ada di sebelah kiri. Karena tingginya saya sampai harus menempel pada jendela agak ke bawah untuk bisa melihat puncak bukit itu. Dan di depan tebing menjulang hampir lurus vertikal dengan bebatuan tak stabil di pinggir jalan yang hanya cukup dilewati sebuah kendaraan. Saya tak berani membayangkan bagaimana kondisi jurang yang ada di sebelah kanan. Bagi saya sendiri, inilah jalan yang masuk kategori the most dangerous road in the world. Sewaktu-waktu longsor dapat terjadi dan langsung menimbun kendaraan yang lewat di bawahnya. Sejumput rasa khawatir terbersit di dada yang secara otomatis mengucap doa dalam hati, menyaksikan kendaraan di depan berjalan pelan hingga sampai ke titik aman. Lalu datang giliran kami…

One by One, After Tansen - Palpa

One by One, After Tansen – Palpa

This is terrifying…

Luar biasanya, di dalam situasi mengerikan itu Sang Pemilik Semesta senantiasa memberikan keindahan di dalamnya. Sambil kendaraan berjalan perlahan saya melihat air terjun di sisi kiri, turun dari atas bukit tinggi itu. Sejenak saya teringat air terjun Lembah Anai yang cantik yang juga terletak di pinggir jalan. Volume Air Terjun ini tak cukup melimpah, hanya membasahi jalan untuk menyerap debu yang terbang. Kendaraan kami sampai di jalan yang sedikit rusak tepat di bawah tebing dengan batu-batu besar yang longgar. Guncangan kendaraan di bawah tebing itu benar-benar mendebarkan hati. Jika batu-batu besar itu longsor, tamatlah kami…

The Waterfalls next my window

The Waterfalls next my window

Pelan tapi pasti kendaraan maju pelan-pelan dan akhirnya sampai pada titik aman. Saya menarik nafas lega, demikian juga Santa. Lalu dia menghentikan kendaraan di Kuil Siddhababa yang ada di ujung jalan mengerikan itu. Memberi jeda untuk rehat sejenak terhadap rasa kuatir yang tadi sangat menekan. Dari kuil itu saya baru tahu situasi jurang di sebelah kanan yang sama mengerikannya. Di kiri tebing setinggi gunung, di kanan jurang… melewati jalan itu benar-benar memerlukan doa sepenuh hati.

The dangerous road before Butwal - Do you see the trucks?

The dangerous road before Butwal – Do you see the trucks?

Kuil Hindu Siddhababa yang baru saja dilewati merupakan penanda batas terdekat antara wilayah pegunungan dengan wilayah dataran rendah Terai yang panas. Sambil meninggalkan kuil itu, dengan gurauan khasnya, Santa mengatakan bahwa sekarang sudah meninggalkan Nepal. Baginya, Nepal identik dengan pegunungan tinggi dan dataran rendah Terai hanya bagian dari India, bukan Nepal. Saya terbahak mendengar gurauan absurd darinya…

Tak lama kemudian kami menembus sebuah kota. Karena sama sekali tidak ada tulisan latin yang bisa saya baca, saya mencari tahu melalui ponsel. Ternyata kami telah berada di Butwal, kota yang pernah menyandang sebagai kota terbaik di Nepal selama empat kali berturut-turut. Berada di Butwal, artinya Siddharthanagar hanya tinggal selemparan batu.

Lalu sesampainya di Siddharthanagar, -atau dulu disebut Bhairawa yang merupakan tempat mendarat jika tadi pagi saya terbang dari Pokhara-, pikiran saya mendadak melayang ke Varanasi, kota suci di India yang bisa ditempuh sekitar 8 jam berkendara dari kota ini. Siddharthanagar memang berbatas dengan India. Ah… pikiran ini selalu penuh dengan keinginan.

Santa melanjutkan perjalanan sepanjang 24 km kearah Barat, arah ke Lumbini, destinasi berikutnya. Dan rasanya seperti air segar mengguyur tubuh yang gerah ketika gerbang Lumbini terlewati. Dan ketika akhirnya mobil berhenti di hotel, -berlokasi di depan pintu gerbang Barat Taman Lumbini-, saya menatap setengah tak percaya ke Taman Lumbini yang gelap, pikiran saya terbang ke masa hampir dua ribu enam ratus tahun lalu…

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal

Iklan

20 pemikiran pada “Nepal – Pokhara to Lumbini Overland

    • Mas Agustinus itu udah menapaki Annapurna circuit yang luar biasa. Saya juga baca sebelum pergi ke Nepal, dan baca lagi setelah balik dari Nepal, dan selalu baca lagi kalo kangen Nepal. Nepal itu beneran mengundang kerinduan lho… *pengenbaliknepal

      Suka

  1. Wah, sepertinya keputusan untuk mengambil jalan darat memang tepat. Di negara seperti Nepal dengan pemandangan alam yang luar biasa memang sebisa mungkin lebih baik melakukan perjalanan darat sih supaya bisa mendapat pengalaman yang seru dan berkesan. Mbak, saya penasaran sama Lumbini nih. Dulu pas mendarat di bandara Tribhuvan ada billboard yang kurang lebih berbunyi selamat datang di negeri dimana Buddha dilahirkan. Bener-bener terasa magis sebagai penyambutan wisatawan dari berbagai negara.

    Disukai oleh 1 orang

    • Bersyukur banget sy bisa overland ke Lumbini dr Pokhara. Sepotong jalan itu emang agak jarang dilalui oleh wisatawan kecuali emang benar2 kepengen ke Tansen-Palpa. Atau kalo ke Lumbini biasanya datang dari Kathmandu. Prihatin juga krn turis di Lumbini relatif sedikit utk ukuran world heritage selevel 2600tahun. Tapi Lumbini memang internasional area lho. Postingan berikutnya aku cerita soal ini. Kalo khusus tempat lahirnya Buddha (mayadevi temple) sudah aku post di https://ceritariyanti.wordpress.com/2016/01/30/nepal-khata-syal-putih-dari-lumbini/ emang tempat itu magissss banget. Sayang saya ga sempat ke tilaurakot/kapilavastu. Dan semoga ada lain kali hahaha…

      Suka

  2. Inilah salah satu sebab saya sangat suka perjalanan via darat, karena setiap sentimeter jalannya bisa ada cerita. Dulu di awal-awal ngeblog saya pernah juga bikin tulisan yang tentang jalan seperti ini, cuma itu masih antara Meulaboh dan Banda Aceh–itu juga sangat kaya dengan cerita, hehe. Senyam-senyum sendiri baca tulisan Mbak Riyanti yang ini, lengkap sekali, saya berasa ikutan di mobil itu menelusuri punggung-punggung bukit menuju Lumbini. Ya, Lumbini memang terlalu kaya akan cerita, karena di sanalah cerita sesungguhnya ada. Baiklah, mari menanti tulisan selanjutnya, haha.

    Disukai oleh 1 orang

    • Waaa trip Meulaboh Banda Aceh pasti keren banget ya Gar… kan kayak cerita perjalanan di Lombok juga atau hmmm Menjangan ya Gar? Pasti ada ribuan cerita.. hihihi. Soal Lumbini (tempat kelahiran Buddha) sudah aku post beberapa bulan lalu soalnya ga sabar hahaha…

      Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s