D-5 Trekking di Nepal – Berani Melawan Ketakutan


Alam Chuile membangunkan saya pagi itu, juga suara-suara di dapur, walaupun pagi belum sepenuhnya mulai. Sebagaimana stereotype budaya setempat, pagi itu perempuan-perempuan telah mendominasi dapur, menjerang air dan melakukan persiapan pagi hari untuk keluarganya. Kesibukan itu membuat pikiran saya terbang ke keluarga. Genap dua hari saya tak dapat menghubungi keluarga karena WIFI tidak berfungsi. Sebersit kerinduan menyergap, semoga semuanya baik-baik saja.

DSC00112
The hidden sunrise from Chuile
DSC00151
Guesthouse in Chuile

Pagi yang merekah pelan membuat saya melangkah keluar kamar, ke halaman. Pak Ferry rupanya sudah bangun dan sedang menikmati pemandangan lembah. Sambil teringat insiden semalam soal lintah (baca: disini) saya menghampirinya. Sinar keemasan mentari menerangi langit Timur, menerangi puncak-puncak gunung bersalju itu, memberikan efek dramatis pada gunung favorit saya, Macchapucchare (6993MDPL) yang sering disebut Fish Tail karena bentuk puncaknya yang seperti ekor ikan. Sejak pertama kali menjejak Pokhara di tahun 2014, saya telah jatuh cinta dengan gunung ini dan mampu membuat saya ingin kembali ke Nepal.

Pada kesempatan itu, saya meminta maaf kepada Pak Ferry, karena kondisi saya yang selalu berjalan pelan sehingga waktunya tidak mencukupi untuk trekking ke Annapurna Base Camp. Namun sebelum saya menyelesaikan semua kalimat, Pak Ferry sudah memotongnya, “bukankah perjalanannya yang lebih penting daripada tujuannya? Jadi nikmati saja…”

“The journey itself, not destination”

Saya terdiam, teringat beberapa orang yang sering berkata negatif tentang Pak Ferry, tetapi mana ada orang sempurna? Dibalik ketidaksempurnaannya, saya kian melihat begitu banyak kebaikan humanis yang tidak perlu diumbar namun terlihat saat berjalan berhari-hari bersamanya. Betapa sering manusia memberi label kepada manusia lain, padahal mereka tak pernah tahu bagaimana perjalanan hidupnya. Ah, memang dari sebuah perjalanan, kita lebih mengenal pribadi rekan-rekan seperjalanan. Dan seakan menyelaraskan, keindahan pengertian dan pemahaman di benak pun mengikuti keindahan mentari yang meninggi menyinari puncak-puncak bersalju itu.

DSC00141
Mt Macchapuchhre with The Sun – from Chuile

 

Keberanian itu…

Hari itu, kami melanjutkan perjalanan ke Chhomrong, desa persimpangan menuju dan dari Annapurna Base Camp. Meninggalkan penginapan, perjalanan dimulai dengan turunan curam. Dan seperti biasa untuk turunan, Kedar dan saya melangkah cepat, sedikit berlari menuruni tangga-tangga batu meninggalkan Pak Ferry dan Dipak di belakang lalu menunggu di seberang jembatan gantung. Menit-menit berlalu akhirnya saya melihat Pak Ferry yang merasa jeri berjalan di jembatan gantung yang bergoyang-goyang. Tertegun, teringat bungsu saya, -ia juga memiliki phobia ketinggian-, yang pernah begitu ketakutan berjalan di jembatan gantung walau ia tak berhenti melangkah. Kepada mereka, saya kagum! Itulah makna keberanian yang sesungguhnya, berani memerangi ketakutan mereka sendiri, dengan susah payah, ngeri-ngeri sedap melawan diri sendiri.

DSC00183
Being brave is having that fear but finding a way through it
DSC00185
Never-ending stairs :

Dan setelahnya, giliran saya menjadi buntut karena di depan ada tangga-tangga tinggi lagi. Kali ini, saya setuju dengan Captain Haddock dalam serial komik Tintin, yang bersungut-sungut saat mendaki gunung, “Untuk apa naik gunung kalau nantinya harus turun lagi?” 😀

Tapi ada seribu satu alasan berhenti untuk mengambil nafas, salah satunya memotret pemandangan indah yang kali ini didominasi warna hijau seperti hutan, lembah, pepohonan dan lainnya. Berkali-kali dada terasa penuh menyaksikan pemandangan indah di depan mata. Pemilik Semesta memang sedang tersenyum saat menciptakan bumi Nepal. Tak bosan-bosan saya berhenti untuk menikmati pemandangan.

DSC00204
Green while trekking
DSC00226
Sometimes going down sometimes going up

Hingga suatu saat saya tersadarkan, Dipak sudah tak terlihat dalam jangkauan mata. Dimana dia? Saya mempercepat langkah, tetapi pemandu itu tetap tak terlihat. Saya bertanya dalam hati, apakah saya terlalu egois menikmati pemandangan hingga tidak memperhatikan irama langkah? Atau ‘kesibukan’ mengagumi keindahan alam hingga mengabaikan kehadiran orang lain? Ada rasa yang merayap naik menyadarkan jiwa, selama ini ego diri yang dimenangkan, bukan manusia lain di sekitar. Saya tak enak hati dan mencoba menyusulnya. Tak lama di sebuah tempat istirahat, terlihat Dipak duduk menunggu. Dimatanya sekilas tersirat  ketidaksabaran. Ah, saya harus berani mengaku salah!

Saya meminta maaf kepadanya yang langsung disambut senyum, no problem, katanya. Tetapi sejak itu, ia berjalan di belakang, membiarkan saya berjalan lebih dulu dalam jangkauan pandangan mata dan langkahnya. Baginya, lebih aman ia berjalan di belakang dan bisa menyusul kapan saja daripada harus menunggu saya.

Dan yang tak terduga pun terjadi, dari arah depan saya…

Saat itu, saya berjalan sambil mendengarkan musik untuk menambah semangat. Rasanya menyenangkan kepala dan badan bergoyang menyusuri punggung bukit yang dipenuhi hutan di bagian atas. Tiba-tiba, di suatu tempat sebelum tebing, alarm tubuh saya ‘berdering’ agar waspada. Diantara suara musik, alarm tubuh itu begitu kuat sehingga saya langsung mencabut head-set dari telinga. Dan terdengar dari arah atas,

Dug…. Dug… Dug… Dug… Dug… Dug…

Berikutnya saya terhenyak karena mendengar teriakan Dipak dari arah belakang.

“Riyantiiiiiiiiiiii… Stooooppp………………!”

Badan langsung mengejang, rasa dingin menerjang seluruh permukaan tubuh. Terdiam kaku. Sungguh saya tak tahu ada apa. Tak jelas, tak pasti. Tapi ada bahaya! Waspada! Detik berjalan sangat lambat. Saya kaku, tak bergerak.

Dalam sekejap, Dipak yang berlari kencang langsung menyusul dan berdiri di depan saya, bersikap menghadang sambil melihat ke atas. Antara bingung, kuatir dan rasa aman yang campur aduk, saya bertanya padanya, “What’s happened?

Falling logs…

Blasss… saya ngeri. Suara dug-dug-dug tadi adalah suara gelondong pohon yang entah sengaja ditebang atau rubuh di hutan tepat di bukit di atas kami. Gelondong kayu itu sepertinya menggelinding dari atas menuju kami yang berada di bawah. Masalahnya, kami tak dapat melihat gelondong kayu yang jatuh itu. Hanya suaranya saja yang terdengar mendekat.

Dipak mempelajari situasinya secara cepat di depan saya dan dalam sekejap ia mengajak lari. Tak perlu berpikir atau menunggu aba-aba lagi, langsung saja saya lari secepat mungkin meninggalkan tempat itu, hingga akhirnya suara mengerikan dug… dug… dug… dug… itu tertinggal di belakang.

after the falling logs
After the falling logs

Habis itu, rasanya saya tak mampu lagi berdiri tegak, hanya megap-megap mencari oksigen. Di usia boros ini, ditambah jarang (baca: tidak pernah) olahraga, lari sprint sesaat bisa membuat nafas tinggal satu atau dua. Ditambah kengerian membayangkan gelondong kayu jatuh dari atas. Walaupun akhirnya, -setelah kembali berjalan-, saya tidak pernah tahu apakah benar kayu-kayu itu terus menggelinding melampaui atau bisa berhenti sebelum jalur trekking kami tadi. Lalu apakah kayu itu jatuh karena ditebang atau rapuh, saya juga tak pernah tahu. Saya hanya mengangguk-angguk saat Dipak mengatakan segala sesuatu bisa terjadi saat berkegiatan di alam. Ah, sekali lagi, ia menyelamatkan saya dari situasi mendebarkan hati.

Dan setelah berjalan beberapa saat, saya sampai di sebuah pohon unik yang bentuk dan tempat tumbuhnya membuatnya berbeda. Pohon tanpa daun itu  tumbuh tepat di pinggir tebing di persimpangan jalur. Jika salah langkah saat berfoto, dipastikah akan langsung glundung ke bawah, disambut rangkaian tangga curam ke bawah yang tak habis-habis. Walaupun deg-degan, tetap saja saya bergaya di pohon itu. Mau coba juga?

Setelah melewati tangga-tangga curam itu, desa Chhomrong sudah tak jauh lagi dengan kondisi jalan yang Nepali flat, menanjak landai. Saya melangkah santai menikmati pemandangan indah yang terbentang di depan mata.

animals
Some animals I see during the trekking

 

Sendiri Berkontemplasi

Hingga suatu tempat, jalan saya tertutup oleh kerbau-kerbau yang sedang beristirahat. Saya agak ngeri berjalan diantara mereka yang besar dan hitam dengan tanduk melengkung tajam. Tapi entah mengapa terbersit di benak bahwa mereka juga makhluk seperti manusia, menghuni alam ini dan berhak beristirahat juga. Sebelum pikiran berpindah, mata ini melihat ke pagar batu di pinggir, sekitar 1 meter tinggi dan 30 cm lebarnya sehingga bisa dijejak diatasnya. Dan berjalan di atas pagar, -walaupun ngeri juga karena ada lembah di kanan-, sepertinya win-win solution. Para kerbau bisa tenang melanjutkan istirahat dan saya bisa santai melanjutkan perjalanan. Tetapi ah, seharusnya saya selfie saat berjalan di atas pagar itu, saya lupa! Lagi-lagi saya akui, God is always good, dalam memberi petunjuk, dalam segalanya.

Walaupun trip ini saya lakukan bersama Pak Ferry, kadang melakukan sepenggal perjalanan tetap sendirian. Inilah asiknya ‘solo-trip’. Walau banyak yang bertanya kepada saya, apa enaknya jalan sendiri tanpa kawan. Hmmm… entah ya, tetapi bagi saya, berjalan sendiri artinya berjalan bersamaNya secara intens dan membiarkan sejiwa dengan alam dalam harmoninya. Rasanya? Keluarbiasaan yang tak terjelaskan, ada takut namun keberanian menyeruak juga…

Dan benar saja, di depan mata alam menyuguhkan pemandangan luarbiasa. Sinar mentari yang menembus awan memberi kesan akan sinar Surga. Jika sebelumnya saya melangkah dalam hening mengingatNya, apa yang saya lihat ini seakan menjawab semua permintaan jiwa. Saya meluruh dalam syukur akan jawaban langsung! Kita tak pernah sendirian, Dia yang selalu mencintai kita, yang memperhatikan seakan berjalan bersama. Kesadaran yang memberikan kekuatan ini, sekali lagi membukakan arah jiwa, semua pasti mengarah kepadaNya.

Ray of light to the valley
Ray of light to the valley

Diingatkan akan keindahan tanah air saat melihat keindahan…

Rasa penuh syukur itu membuat saya duduk di batu istirahat. Beberapa menit kemudian dua orang paruh baya datang mendekat, ikut melepas lelah. Dari bahasanya saya mengenali mereka dari Korea. Saya menyapa dengan sepatah kata Korea yang saya bisa, Annyeonghaseyo… Sapa itu mengejutkan mereka dan langsung mengakrabkan kami semua. Dan dengan kalimat-kalimat pendek bahasa Inggris kami berkenalan dan bertukar cerita. Dan bahkan kalimat-kalimat selanjutnya dari dua pak tua membuat giliran saya sedikit ternganga. Dengan penuh keterpesonaan mereka bercerita tentang keindahan Gunung Rinjani karena mereka baru saja kembali dari sana sebelum ke Annapurna Base Camp. Tentu saja saya bangga karena kekaguman mereka sekaligus sangat malu karena saya belum pernah menjejak di Rinjani, walaupun sudah banyak tempat di Lombok sudah saya singgahi. Ah, pertemuan ini pastilah bermakna, karena tidak mungkin hanya sebuah kebetulan belaka.

Kami beranjak melangkah bersama menuju Chhomrong. Sebelum pertigaan, langkah kami terhenti, memberi jalan rombongan keledai dengan bunyi-bunyi khas klenengan yang tergantung di leher. Seakan tersihir bunyi klenengan yang ‘ngangeni’ itu, saya diam tanpa ekspresi melihat Dipak dan Kedar berdiri menanti di ujung seberang. Rasanya saya malah sedikit mellow karena akan berpisah dengan kedua Pak Tua Korea, entah kenapa. Saat keledai terakhir telah lewat, saya menoleh kepada mereka lalu mengucapkan salam perpisahan. Saya percaya, walaupun hanya sebentar saja, pertemuan dengan kedua orang itu, telah memberi warna dan makna dalam kehidupan saya. Siapa sangka ada orang asing yang mengingatkan tentang keindahan Gunung Rinjani di Indonesia di tengah-tengah pemandangan indah di kawasan Annapurna? Rasanya seperti dijewer dengan cinta…

Dan laksana kehidupan, mereka melanjutkan perjalanan mungkin menyampaikan pesan Semesta lainnya, sementara saya mengayunkan langkah ke penginapan dekat pertigaan. Jelang sore itu, pemandangan pegunungan Himalaya bertudung salju disembunyikan dari saya. Tampak awan gelap menyelimuti puncak-puncak gunung dan jalur menuju ABC tampak begitu kelam. Ah, semoga besok pagi saya diberi berkah agar bisa menyaksikan pemandangan indah.

Bersambung…

DSC00230
Heavy clouds on the way to ABC

WPC – A Serene Morning


Morning Serenity Above The Clouds

After so many considerations, finally I decided to stay in a hotel at the top of Raniban Hill, -which is located on outskirt of Pokhara city, Nepal-, during my first trip to Nepal a couple years ago. The main reason for me to stay there, was its advertising of the amazing view.

So I woke up early on my first morning at Raniban and walked out of my room to feel the morning serenity. Ignoring the cold November morning breeze, I was sure that I’d never regret to pay more for the panorama view. It was so breathtaking, made me jaw drop. The eastern view was the perfect shape of the sun above the bed of clouds with World Peace Stupa at the top of a hill and the flowing mist between the peak of hills.

Have I told that the northern side view, -exactly in front of  my room with the wide glass door-, was the beautiful snow-capped Himalaya range with the majestic Mt. Macchapuchhare or famous as Fish Tail?

The view locked me in gratitude, totally no regret at all.

Nepal – Trekking Hari Pertama Menuju Ulleri


Sungguh Dia tak bercanda, menjadikanku ringan, memampukan, dan atas ribuan tangga pun kuberjaya.

Matahari belum sepenuhnya terbit ketika kami meninggalkan hotel di Kathmandu menuju bandara. Sarapan yang hanya tertelan setengahnya tak lagi saya pikirkan. Terlambat terbang berarti terlambat sampai Pokhara dan terlambat memulai trekking. Padahal hari ini merupakan ujian ketangguhan fisik! Langsung di hari pertama trekking.

Tak sampai setengah jam kemudian saya sudah duduk manis di ruang tunggu bandara domestik yang penuh calon penumpang itu. Dan tanpa perlu menunggu lama, penerbangan kami menuju Pokhara akhirnya diberangkatkan. Tentu saja, setelah berselfie dengan latar belakang pesawat baling-baling ini, seorang pramugari berbusana tradisional yang dimodifikasi menyambut kami dalam penerbangan ke Pokhara yang memerlukan waktu hanya sekitar 30 menit. Dan Pemilik Kuasa berkenan melimpahkan berkat dengan menyibakkan awan-awan tebal lalu menampakkan jajaran Himalaya jelang akhir penerbangan. Pegunungan berselimut salju itu sedikit bersaput kabut, hati saya langsung melesak. Pemandangan seperti ini yang membuat saya selalu ingin kembali ke Nepal. Dalam beberapa saat ke depan, akankah kaki ini menjejak di rangkaian pegunungan yang sambung menyambung itu?

Himalaya

Menit-menit berlalu hingga kota Pokhara mulai tampak di bawah. Pesawat kecil kami menyentuh bumi Pokhara dengan mulus. Ah, setelah lebih dari dua tahun saya kembali lagi kesini…

Meninggalkan area bandara, kami menyusuri Phewa Lake yang menjadi icon dari kota Pokhara dan menyempatkan diri mengintip World Peace Stupa di puncak bukit yang langsung membuat saya tersenyum sendiri mengingat kenangan indah dua tahun lalu saat alam mempersembahkan keluarbiasaannya saat matahari terbit.

Di Pokhara, kami berhenti sebentar di hotel yang akan kami inapi sepulang trekking, -hanya untuk menitipkan barang-barang yang tak perlu dibawa ke gunung-, untuk kemudian dengan menggunakan jeep kami menuju Hille melalui Nayapul. Jalannya seperti di Puncak, meliuk-liuk mengikuti lereng bukit. Jelang Nayapul, karena di ujung bawah turunan terlihat antrian panjang kendaraan, dengan sigap sang pengemudi memutar arah dan memasuki jalan alternatif menuju Birethanti, tanpa lewat Nayapul.

Jalan yang diambil bukan jalan resmi melainkan jalan tanah yang berada di antara rumah-rumah penduduk. Namun dengan begitu kami bersentuhan langsung dengan kehidupan keras yang ada di Nepal. Negeri ini memang dikaruniai bentang alam yang amat indah, tetapi kehidupan masyarakatnya juga tak mudah. Mereka yang ada di pegunungan harus bekerja amat keras, memanggul semua barang-barang untuk dijual atau untuk dimiliki dengan kekuatan otot leher mereka. Bahkan sejak kecil mereka belajar!

Di Birethanti setelah melewati jembatan yang terbentang di atas Modi Khola, jeep berhenti. Dipak, pemandu kami, turun ke pos pemeriksaan ACAP (Annapurna Conservation Area Permit) dan kartu TIMS (Trekkers’ Information Management Systems). Melihat kesempatan yang hanya sekali, kami pun turun untuk foto-foto, termasuk mengamati peta trekking ke Annapurna yang terpampang di pinggir jalan. Selesai pemeriksaan TIMS can ACAP, perjalanan pun dilanjutkan kembali menuju Hille.

Jeep mulai menanjak di jalan tanah, di tempat sama para trekkers menapaki satu demi satu langkah kakinya. Sekali dua kali Jeep menyusul kelompok trekkers yang harus menepi sejenak di pinggir jalan membiarkan Jeep lewat. Saya tak menyangka dampak yang terjadi pada diri ini. Semakin sering saya melewati mereka, semakin saya merasa malu dan tidak nyaman. Kepada mereka, kepada alam, kepada diri sendiri, kepada Yang Maha Pengasih yang telah memberikan saya kaki dan tenaga. Siapakah saya ini hingga terus menerus membuat mereka harus menepi memberi jalan kepada saya? Bukankah tujuan saya pergi ke Nepal untuk trekking? Lalu apa bedanya mereka dan saya? Saya merasa tertohok sangat dalam dengan berbagai pertanyaan diri sendiri karena menggunakan kendaraan untuk menempuh jalan yang sama yang digunakan oleh trekker. Sebagaimana dalam setiap perjalanan, hikmah yang terserak mulai terlihat. Kita tinggal mengambilnya, jika kita mau…

Belum selesai dipermalukan rasa, jalan terlihat memburuk dengan tanah berlumpur di beberapa tempat. Kondisi ini membuat roda tidak mudah untuk mencengkeram. Saya memperhatikan sang pengemudi yang dengan tangkas mengemudikan jeep fourwheeldrive. Hingga suatu saat….

Di sebelah kiri mobil jurang cukup dalam dan sebelah kanan tebing cadas vertikal ke atas…

Sopir mengambil posisi agar jeep tidak terjebak pada tanah berlumpur itu, namun sayang roda tidak bisa menghindar dari terperosok ke dalam tanah gembur itu. Sang Pengemudi berusaha keras agar jeep bisa berpindah tempat, tetapi malang, kami justru terjebak di dalamnya lalu berhenti. Di kiri jurang dan di kanan tebing. Sang sopir berbicara singkat dengan Dipak yang kemudian langsung pindah ke belakang bersama Kedar. Pak Ferry terlihat kuatir hendak turun juga, namun saya bergeming tak tahu harus berbuat apa. Rasanya satu atau dua detik terlama dikepung kekuatiran mobil akan terguling ke jurang atau terhempas ke tebing. Sekali dua kali sang pengemudi mencoba lagi dan pada upaya ketiga akhirnya mobil terangkat juga dari jebakan lumpur itu. Huft!  Saya baru menyadari akan dalamnya jurang yang siap menelan jika mobil tak terkendali. Pantas saja Pak Ferry pias wajahnya karena ia duduk di sebelah kiri tepat di bibir jurang…

The View

Di Hille yang merupakan batas akhir perjalanan dengan jeep, kami semua turun dan berterima kasih dengan sang pengemudi. Inilah awal langkah kaki, yang saya awali dengan doa. Dalam setiap perjalanan, dimana pun, ketika kaki mulai melangkah, saya melebarkan hati untuk menyadarkan diri akan kehadiran Sang Pemilik Jiwa. Kesadaran yang begitu mudah teralihkan, padahal Dia yang selalu menjaga.

Jalan tanah terhampar di depan mata sedikit menanjak tetapi belum lama menapakinya, Dipak mengajak makan siang. Bagi saya yang terbiasa makan siang saat matahari telah tergelincir dari atas kepala, apalagi lebih sering melewatkannya saat sedang melakukan perjalanan, ajakan pemandu untuk makan disambut dengan setengah hati, Tetapi saya harus menurut kepadanya karena ia lebih mengenal medan. Bisa jadi di depan tidak ada lagi rumah makan yang lumayan. Pak Ferry menerima saja dan meminta rekomendasi makanan yang tentu saja serempak Dipak dan saya berseru, Dhal Bhat!

Dhal Bhat adalah makanan tradisional Nepal yang sangat dikenal oleh wisatawan, apalagi para trekker. Terdiri dari nasi (bhat), sup lentil, sayuran, kentang (aloo), lauk kari, kadang ditambahkan acar dan sejenis keripik (Papad). Karena terkenalnya makanan ini, di Nepal sering disebut Dal Bhat Power 24H! Mungkin memang bisa menjadi cadangan energi seharian terutama untuk trekkers.

Setelah makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan dan sampai di jembatan gantung (suspension bridge) yang pertama. Saya senang sekali karena akhirnya keinginan berfoto di jembatan gantung bisa terpenuhi, bahkan bisa menyeberanginya. Ini hadiah yang membahagiakan dari Yang Kuasa! Dengan sengaja saya melangkah dengan lebih kuat sehingga jembatan bergoyang, -yang mengingatkan kepada anak bungsu saya yang pasti jejeritan minta ampun karena senewen sehingga minta dipandu penuh cinta-. Kejahilan saya yang membahagiakan bisa membuat orang berwajah pias jejeritan minta ampun sampai pasrah.

Selepas jembatan, perjalanan semakin menanjak. Jalan yang dibuat berundak dengan tangga batu menyebabkan seakan saya naik tangga ratusan lantai. Dipak telah mengingatkan bahwa hari pertama ini kami akan langsung dihajar dengan kebengisan tangga yang seakan tak berujung. Lelah fisik memang dirasakan sekali, tetapi jika di samping kanan diantara pepohonan tiba-tiba terlihat air terjun yang gemericiknya menenangkan lalu indahnya perbukitan berhiaskan awan sambung menyambung, rasanya segala lelah itu menguap hilang.

Saya terus melangkah naik dan naik dan naik… benar-benar tak berujung. Tangga batu sepertinya berakhir diantara rumah penduduk, namun ternyata memberikan harapan palsu tangga akan selesai. Puncak tangga batu yang terlihat dari bawah itu berbelok dan merupakan awal dari tangga berikutnya. Rasanya, di awal masih senang, makin lama karena lelah mau marah, sampai akhirnya pasrah. Saya hanya bisa menghitung dalam berbagai bahasa yang saya bisa, satu, dua, tiga, empat, lima, atau dalam bahasa Nepali, ek, dui, tin, char, panch (bukankah mirip eka, dwi, tri, catur, panca?)

Neverending Stairs

Pemandangan bukit yang bisa mencapai ketinggian 3000an meter itu, -yang jika di Indonesia sudah disebut dengan gunung-, saling bersilangan membentuk bentang alam yang sangat cantik. Waktu berlalu cepat tanpa sadar, jembatan gantung yang tadi saya lewati sudah hilang dari pandangan dan sudah berada jauh di bawah. Saat itu pengukur ketinggian pada jam tangan menunjukkan angka 1540m, kami berhenti untuk istirahat lagi, kesekian kalinya. Tetapi ini sudah 500meter dari Birethanti yang berada di sekitar 1000mdpl. Luar biasa! Sebagai seorang yang tidak pernah mendaki gunung dimanapun, rasanya tak percaya, sayakah ini yang melakukannya? Ah, rasanya seperti menapaki awan, tak sadar telah ringan dibawa terbang.

It is not Downhill

Lalu sedang asik berfoto sambil menikmati pemandangan indah, Dipak berseru menunjuk sebuah tanaman yang tumbuh liar di dekat kaki saya, -yang kalau di Indonesia bisa jadi masalah tersendiri-. Aha, tumbuhan cannabis alias ganja! Pak Ferry dan saya terbahak bersama, tapi tidak berani posting ke media sosial.

Istirahat itu benar-benar membantu karena setelahnya serangkaian tangga yang tak berujung itu dimulai lagi. Dipak, pemandu kami dengan sabarnya terus mengatakan agar melangkah pelan, pasti sampai. Bahkan selagi istirahat, Pak Ferry sempat mencoba membawa duffel bag berat yang dibawa Kedar, -porter kami yang rupawan-, dengan cara Nepal yaitu dengan meletakkan tali pengikat di dahi dan mengangkatnya menggunakan otot leher. Satu kata darinya bernada compliment, Crazy!

Thikhedunga -sebuah desa yang sering disebut dalam itinerary Annapurna Base Camp via Poonhill-, telah kami lewati. Biasanya trekker bermalam disini jika mulai berjalan dari Nayapul, tetapi kami harus terus melangkah.

Di tengah jalan, pasukan keledai pun mulai menyambut kami. Rombongan hewan penolong manusia untuk membawa barang itu membawa keriuhan, suara klenengannya terdengar dari jauh. Saya ingin mengabadikannya, tetapi tak sadar saya berada di jalur jalannya. Ia mendatangi saya yang melihat dari jendela bidik kamera. Menyadari kesalahan melihat bibir keledai semakin dekat, saya langsung angkat kaki dari situ namun tidak menemukan jalan untuk menghindar. Tanpa pikir panjang, saya melompat  ke samping ke tempat aman, dekat Dipak yang terbahak menyaksikan saya seperti dikejar keledai.

Perjalanan melelahkan itu berlanjut lagi. Karena saya merupakan titik terlemah, sebagai pemandu Dipak sangat memperhatikan kekuatan yang tersisa dari saya dan memutuskan untuk berhenti di Ulleri, -bukan di Banthanti seperti rencana awalnya karena masih perlu satu jam jalan penuh tangga. Di Ulleri kami menginap di sebuah penginapan sederhana tetapi memiliki pemandangan luar biasa. Pilihan yang amat bagus.

Secangkir teh dengan daun mint menyambut saya di ruang makan. Rasanya luar biasa sekali bisa melonjorkan kaki dan menikmati pemandangan indah sambil minum teh.

Kenikmatan luar biasa ini saya lanjutkan sendiri di kamar. Ternyata saya bisa sampai hingga ke ketinggian ini dengan berjalan kaki. UndanganNya Dare To Dream memang luar biasa, saya dimampukan, saya dikayakan oleh pengalaman. Rasanya hanya satu kata untuk menggambarkan situasi yang saya alami di Ulleri. Perfect!

Nepal DTD Trip, Once Again, Namaste Kathmandu


Work in the invisible world at least as hard as you do in the visible – Rumi

Kembali ke ‘rumah’

Saya mendadak terbangun dari tidur, merasakan naiknya intensitas frekuensi dari dalam diri agar kesadaran terjaga. Dengan segenap upaya saya membuka kedua mata yang terasa lengket lalu menoleh ke jendela kanan. Gelapnya malam menghilangkan pemandangan yang seharusnya indah, yang pernah saya saksikan dengan mata kepala dan mata hati, dua tahun silam. Himalaya bertudung salju yang berjajar indah, seakan bersama semesta menyambut kedatangan sebuah hati. Namun kini, bulanpun malu tampil, malam tetap berhias pekat, seakan melempar sebuah tanya, siapkah saya kembali ke rumah, dengan apapun yang ada?

Tanpa diberitahu oleh pilot penerbangan pun, saya mengetahui dalam beberapa saat lagi kaki ini akan menjejak kembali di Kathmandu. Kelap-kelip lampu di tanah mulai satu per satu terlihat, yang semakin banyak, semakin mengelompok. Seperti rasa yang muncul di dalam hati ini. Sebuah rasa yang semakin membuncah. Saya kembali ke Nepal, tempat dua tahun lalu menjalani hari-hari penuh dengan keajaiban. Luar biasa, seperti kembali ke rumah.

Dan kali ini tetap saja dengan sejuta harap kepada Yang Maha Mengasihi agar berkenan melimpahkan anugerah yang sama…

Namaste

Akhirnya roda pesawat itu menjejak bumi yang dua tahun lebih dihajar gempa besar yang meluluhlantakkan banyak tempat itu. Saya menutup mata, memindahkan sejenak kenangan pahit dampak gempa di Nepal ke sebuah sudut hati yang terdalam. Menyimpannya agar diam disana lebih lama untuk bertransformasi kearah kebaikan. Kali ini, dalam perjalanan ini, tak boleh ada airmata duka karena bukankah perjalanan ini sebuah undangan yang luar biasa? Bukankah saya diijinkan memiliki impian dan dibuncahkan keberanian untuk menjalaninya? Ini sebuah perjalanan untuk mewujudkan impian… A Dare to Dream Trip!

Pesawat akhirnya berhenti dan bandara Tribhuvan International Airport pun menyambut penumpang. Satu per satu penumpang keluar menuruni tangga termasuk saya. Di ujung tangga, di bawah, saya merendahkan tubuh lalu menyentuhkan telapak tangan ke bumi Nepal.

Namaste, Nepal…

Lalu saya berdiri menunggu Pak Ferry kemudian berjalan perlahan kearah bus untuk menuju terminal kedatangan. Saya terdiam menggigit bibir karena potongan-potongan kenangan indah dua tahun lalu di Nepal menghajar benak tanpa jeda. Saya seakan hidup dalam kenangan melewati lorong yang sama dan mengikuti alur penumpang di bandara yang sama. Suasana yang sama. Hanya kali ini malam, dulu siang. Tetapi sejatinya memang tak banyak beda.

Di Bandara

Proses imigrasi yang sama walau kini bisa lebih cepat dengan bantuan terminal pintar yang mengambil foto wajah. Tetap dengan harga visa yang sama, 25USD untuk 15 hari. Wajah-wajah Nepal yang serupa dengan senyum yang segera menghias bibirnya. Masyarakat yang ramah! Dan kembali terdengar di telinga tutur bahasa yang dua tahun lalu terasa asing yang hingga kini pun masih terasa tak biasa di telinga. Ah, saya saja yang tak cepat belajar bahasa.

Sedikit letih akibat lamanya penerbangan, saya mengikuti alur penumpang dari sejak imigrasi hingga akhirnya pengambilan bagasi. Ditunggu satu saat dua saat, kedua ransel yang terbungkus plastik tak muncul juga hingga bagasi terakhir. Belum sempat pak Ferry dan saya diterpa bingung, sebuah sapa menggugah perhatian saya. Di belakang kami, sesosok tubuh besar menuturkan dalam bahasa Nepal sambil menggerakkan tubuh menjelaskan maksudnya. Ia menunjuk ke bawah, apakah ini yang dicari? Di kakinya, ransel kami yang terbungkus plastik tanpa kurang suatu apapun. Dan saya pun mengangguk memahami maksudnya. Seketika sebuah senyum menghias wajahnya. Kami juga. Ah, sebuah sambutan bahagia yang nyata.

Welcome to Nepal – menuju lorong VOA

 

Kami menenteng ransel yang kini menjadi sulit diangkat karena terbungkus erat plastik sambil menggendong daypack kami. Ini semua gara-gara tidak terjaminnya pengamanan bagasi di Jakarta. Sudah terlalu sering pejalan bertukar cerita tentang maling bagasi yang dibiarkan merajalela di bandara. Jangankan yang bernilai, makanan dan oleh-oleh dalam tas penuh pakaian kotor pun di-embat. Mana mungkin saya membiarkan peralatan trekking yang susah payah saya kumpulkan untuk hilang tak berbekas oleh manusia bejad di Jakarta? Jadi walaupun ransel ini menjadi susah diangkat, mitigasi ini jauh lebih baik.

Sambutan

Kemudian akhirnya kami sampai di depan pintu keluar. Mau tak mau saya tersenyum. Teringat betapa gila saya mencari nama sendiri diantara ratusan nama yang tertera pada kertas yang dibawa penjemput. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tetapi ini diantara ratusan pasang mata laki-laki yang melihat ke diri saya langsung di siang hari bolong itu. Nekad. Mengingat itu, saya cerita pengalaman itu secara sekilas  kepada Pak Ferry. Dia tersenyum lebar lalu mengajak melakukan hal yang sama lagi. Karena selain itu, apalagi yang bisa dilakukan?

Tetapi kali ini, terbaca nama saya pada sebuah kertas di dekat pintu. Ah, sebuah permulaan yang baik. Begitu cepat. Saya mendatangi mereka dengan senyum, seakan memberitahu jati diri tanpa perlu bicara. Seorang dari mereka memperkenalkan diri sebagai pemandu utama kami lalu mengalungkan bunga selamat datang kepada pak Ferry dan saya. Ah, begitu cantik penyambutan ini. Sebuah permintaan maaf sekaligus terima kasih secara otomatis keluar dari bibir saya karena mereka telah menunggu begitu lama di bandara karena tertundanya penerbangan kami. Tapi semua itu tak menjadi soal, karena tak lama kami telah berada di dalam jeep yang membawa ke hotel di kawasan Thamel, sebuah tempat terkenal untuk hang-out di Kathmandu.

Saya pun bertukar cerita kepada Dipak, tour & trekking guide kami, bahwa saya senang bisa kembali ke Nepal yang langsung disambut berbagai pertanyaannya mengenai perjalanan saya sebelumnya itu. Ah, bagaimana mungkin saya melupakan perjalanan penuh keluarbiasaan itu? Bisa tak habis-habis saya bercerita…

Tak ingin memonopoli dengan cerita perjalanan Nepal sebelumnya, pembicaraan saya alihkan dengan menunjukkan Kuil Pashupatinath yang saat itu kami lalui, kepada Pak Ferry yang tentu saja disambut dengan sangat antusias karena ia memiliki banyak kawan Hindu yang menanyakan mengenai Kuil Pashupatinath yang suci. Namun Kuil Pashupatinath pada malam hari hanya berhias temaram dan sedikit lampu walau tetap memendarkan kemagisan. Hanya sejumput harap untuk bisa mengunjungi kuil itu sekembalinya dari trekking…

Lalu setelah melalui beberapa turunan dan tanjakan perbukitan serta menembus jalan-jalan kecil di Kathmandu, saya menebak telah memasuki kawasan Thamel yang diwarnai oleh orang-orang yang mulai menutup tokonya. Kami memang datang terlambat. Sudah banyak toko yang menutup pintu tetapi Dipak mengatakan bahwa ada toko yang bisa buka sampai malam agar kita bisa membeli peralatan trekking yang kurang.

Pemeriksaan

Sesampai di hotel, kami disambut oleh Siddhartha, sang manajer dari perusahaan pemanduan trekking yang kami gunakan. Sambil menunggu proses check-in, seluruh peralatan trekking kami diverifikasi olehnya untuk memastikan bahwa trekking akan berjalan dengan aman. Mereka meminjamkan kami trekking pole, botol minum, tas besar tahan air, sleeping bags dan lain-lain. Oleh sebab itu sisanya perlu dipastikan kecukupannya, termasuk jaket, jas hujan, ransel, celana trekking, jumlah pakaian dan lain-lain. Bahkan sepatu yang digunakan juga diperiksa. Mungkin sebagian orang bisa merasa terganggu dengan proses verifikasi ini, tetapi saya mengambil sisi positif. Bukankah ini perjalanan ke alam yang telah mereka kenali? Bukankah mereka lebih paham? Bukankah kami berasal dari negara tropis yang tak pernah kenal salju? Bukankah kami tidak pernah menjajaki gunung-gunung di Himalaya ini? Apalagi saya yang sama sekali belum pernah mendaki gunung. Lalu apa salahnya belajar dari orang yang lebih ahli dan lebih memahami Himalaya?

Persiapan dari Jakarta membuahkan hasil karena seluruh peralatan trekking kami lulus verifikasi dan tentu saja kami tetap diajak belanja untuk menambah peralatan di toko yang masih buka. Pak Ferry berkenan melihat jaket-jaket dengan beragam merk dengan spesialisasi outdoor yang terkenal. Akhirnya beliau membeli satu jaket termal tahan air TNF seharga kurang dari 1 juta yang jika di mal terkenal di Jakarta dipatok harga sekitar 5 juta. Kapan lagi bisa beli dengan harga itu???

Pegunungan Himalaya Bertudung Salju

Kehadiran

Kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Keriuhan Thamel hanya menyisakan degup-degup musik dari tempat yang masih penuh pengunjung. Saya memilih kembali ke hotel karena sudah pernah menyusuri Thamel agar bisa menghemat energi untuk trekking keesokan harinya. Ya, besok kami memulai perjalanan itu.

Sendiri di kamar hotel membuat saya terpaku dalam hening, menyadari hadirnya diri, seutuh-utuhnya, di ‘rumah’, di bumi Nepal yang bagi saya selalu magis. Saya telah menempuh perjalanan dari pagi hingga malam hari hingga bisa berdiri di sini, di bumi tempat Himalaya sambung menyambung. Getarnya terasa langsung dalam jiwa. Esok hari, kaki ini mulai melangkah, satu demi satu, menapaki bukit, menuruni lembah.

Sepertinya saya masih tak percaya, tetapi udara yang saya hirup dan saya lepaskan adalah udara yang sama. Udara Himalaya.

Dan bagi saya hanya ada satu Himalaya di dunia. Himalaya yang itu.

Nepal DTD Trip, Memulai Perjalanan Dengan Kesabaran


I am perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness and beautiful in my own way, because God is on my side.

Minggu ketiga di bulan Januari 2017, tiga bulan sebelum tanggal keberangkatan, akhirnya saya memesan tiket pesawat setelah paspor pak Ferry, –my travel buddy-, selesai diperpanjang. Harga tiket sudah naik 200 ribu, tetapi masih jauh lebih murah daripada maskapai lain yang mematok harga hingga 7 juta pp. Nilai setengah dari maskapai lain itu memang menggiurkan tetapi jika di-blacklist karena suka delay, bagaimana ya? Pemikiran yang datang tiba-tiba itu langsung diabaikan karena tergerus harga yang sangat menggoda. Bukankah Malindo merupakan maskapai campuran dari Lion Group Malaysia? Dengan harapan manajemen Malaysia lebih baik dari Lion Indonesia, akhirnya saya memesan tiket untuk Jakarta – Kuala Lumpur – Kathmandu. Dan cerita perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness pun dimulai…

Expectation Vs. Reality

Dan dua bulan sebelum keberangkatan, datanglah email pemberitahuan dari maskapai yang grupnya itu sering dihinadina oleh para pejalan itu. Isinya jelas, penerbangan saya mengalami penjadwalan ulang. Mengutip sumpah serapah komik jaman muda dulu, seribu setan belang, saya mulai mengomel berkepanjangan. Bagaimana tidak, saya memilih penerbangan paling pagi dari Jakarta ke Kuala Lumpur lalu transit sebentar lalu terbang lagi ke Kathmandu sehingga bisa mendarat di Negeri di atas awan itu jelang sore. Itu memang tujuan saya, mengambil penerbangan ke Kathmandu sore hari, demi melihat jajaran pegunungan bertudung salju yang sangat indah. Dalam perjalanan pertama ke Nepal dua tahun lalu, saya duduk di jendela sebelah kanan menikmati keindahan itu. Tentu saja saya ingin mengalaminya lagi. Normal kan? Lagi pula sampai di Kathmandu sore akan lebih baik daripada malam, paling tidak bisa belanja melengkapi trekking gears.

Flight Reschedule

Tetapi memang dasar setan belang, semua bermula dari jadwal penerbangan Kuala Lumpur ke Kathmandu dimajukan semena-mena dan tidak dapat dikejar oleh penerbangan dari Jakarta. Akibatnya, secara sepihak seluruh penerbangan saya dimundurkan semua. Penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur dipindahkan ke tengah hari dan penerbangan ke Kathmandu dipindahkan ke sore hari yang otomatis sampai sana jam 8 malam! Bagaimana mau melihat pegunungan berpuncak salju pada malam hari? Lalu dengan memperhitungkan proses visa dan bagasi yang lama, apakah masih ada toko yang buka pada malam hari? Dan pastinya rencana jalan-jalan di obyek wisata Kathmandu berantakan semua! Dasar setan belang…!

Siang itu juga saya langsung berdiskusi dengan pak Ferry mencari solusi namun pertimbangan uang tetap menjadi primadona karena tidak mau rugi dua kali. Selama masih di tanggal yang sama hanya beda jam kelihatannya masih bisa diterima. Oh, I am perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness…

Selesai…?

Belum!

Beberapa minggu sebelum keberangkatan, saya masuk ke situs Traveloka dan mencoba mencetak ulang tiket dengan jadwal baru, namun hasilnya masih jadwal lama! Lhah, apa lagi ini??! Sampai saya harus memeriksa ke situs Malindo untuk memastikan kami terdaftar sebagai penumpang dalam penerbangan siang dari Jakarta – Kuala Lumpur – Kathmandu itu dan untung saja kami memang terdaftar dengan jadwal baru. Berbagai cara ditempuh tetap tidak bisa mencetak jadwal baru melalui Traveloka, lalu akhirnya saya nekad akan pergi pada hari keberangkatan menuju bandara berbekal informasi terkini di ponsel. Paling-paling berurusan dengan petugas pintu masuk yang mungkin mencegat saya masuk. Jadi harus siap-siap sabar!

Belum lagi soal packing ransel. Karena belum terbiasa menata di Osprey 36L, saya perlu waktu hingga seminggu karena banyak barang sesuai ceklist yang tidak bisa masuk. Hal remeh ini melelahkan fisik dan memerlukan pengorbanan untuk bisa meninggalkan barang-barang kesayangan yang tidak perlu dalam trip ini.

Dan akhirnya sampai juga di hari keberangkatan untuk perjalanan Dare To Dream ini! Bismillah…

Di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta saya menunggu Pak Ferry di depan pintu masuk. Saya merasa tidak pede karena sudah mengenakan pakaian trekking lengkap dengan carrier di punggung, daypack di depan dan sepatu trekking, hanya untuk mengirit tempat! Agak saltum di bandara Jakarta yang lebih cocok dengan pakaian casual atau business. Tapi tak lama kemudian datanglah travel buddy yang juga lengkap dengan pakaian trekking, ransel dan sepatunya. Dua orang saltum di bandara Soekarno-Hatta 😀

Berhasil melewati petugas depan yang tidak memperhatikan jam berangkat, kami langsung membungkus carrier dengan plastik agar aman sebagai bagasi. Lalu melangkah pasti menuju konter Malindo untuk check-in. Tapi ternyata kami ditolak karena terlalu awal! Duh… sistemnya pasti masih kuno sehingga tidak bisa check-in sebelum waktunya. Hallooooo… Malindo, sekarang sudah tahun 2017!

Check-in

Satu jam menunggu konter check-in buka, kami kembali berdiri di antrian konter. Satu orang dilayani lebih dari 15 menit. Lalu terlihat Sang Supervisor bolak-balik antar konter dengan muka kusut, memberikan tanda-tanda buruk. Apalagi petugasnya sering memanjangkan leher melihat ke konter sebelahnya, sambil bertanya-tanya. Adegan itu tak berkesudahan. Alamak! Dan akhirnya penumpang di depan konter selesai dan meninggalkan konter sambil bersungut-sungut mengomel. Di depan saya masih tiga orang dengan kecepatan proses yang tidak beda dengan sebelumnya! Sabar… tapi dimana Sabar??? Saya menggoyangkan kepala laksana boneka India sambil bertanya dalam hati, masih mau menggunakan maskapai ini? Rasanya saat itu saya melimpah rindu kepada maskapai apapun yang proses check-innya mudah dan cepat!

Ternyata kegaduhan sejak proses check-in yang lama itu rupanya berlanjut. Cepatnya imigrasi yang bertolak belakang dengan layanan check-in itu, membuat kami punya waktu untuk makan roti sejenak walaupun setelahnya tergopoh-gopoh juga ke pintu keberangkatan karena waktunya tak lama lagi. Namun, di ruang tunggu itu, kami menanti si pesawat yang tak kunjung tiba. Setelah memanjang-panjangkan leher, pesawat itu tak muncul juga. Dan dimulailah dramanya. Tapi supaya singkat, setelah ditunda sekali, ditunda dua kali, ditunda lagi…. dan lagi, hufft… akhirnya kami boarding juga. Ada kelegaan…

Selesai?

Belum!

Setelah sikut kiri, sikut kanan, tidak mau antri saat boarding, ditambah berebut ruang bagasi atas, akhirnya semua penumpang duduk di kursinya masing-masing. Sepuluh menit…, lima belas menit…, setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda pesawat bergerak. Tanpa ada pemberitahuan. Saya yang jatuh tertidur sampai bangun lagi, pesawat juga belum bergerak. Hedeeew… ada apa ini?

Dan setelah sekian lama, akhirnya pilot bicara meminta maaf dan bla-bla-bla…, lalu pesawatpun bergerak. Itu pun masih masuk antrian ketiga untuk dapat clearance terbang. Dan saat itu sudah 2 jam tertunda dari jadwal seharusnya, padahal waktu transit di Kuala Lumpur untuk penerbangan selanjutnya ke Kathmandu hanya beda 2 jam!

Tidaaaaakkkk…!

Di pesawat saya diskusi dengan Pak Ferry seandainya tidak bisa mengejar penerbangan ke Kathmandu, what’s next? Rupanya Pak Ferry sama seperti saya yang tidak terlalu menetapkan target. Dengan santai dia mengatakan untuk memotong jalur ABC tanpa lewat Poonhill. Saya setuju. Paling tidak saya bisa bersyukur lega karena travel buddy bisa sangat fleksibel (diluar sana lebih banyak orang yang kaku dan ngotot!)

Pasrah dengan penerbangan dengan jadwal suka-suka ini, saya mencoba tidur kembali selagi bisa dan menikmati makanan gratis yang ternyata rasanya lumayan. Ah, bukankah ada nilai-nilai yang patut disyukuri dalam setiap keadaan? Iya siiih, tetapi….

Singkat cerita… setelah mendarat di KLIA, pada saat pesawat baru saja berhenti dan membuka pintu di garbarata, pada jam itulah saya seharusnya terbang ke Kathmandu! Dalam hati saya hanya bisa menjerit galau, masih mau pakai maskapai ini? Oh, I am perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness…

Berbeda dengan terminal KLIA2 yang sudah familiar karena biasa menggunakan AirAsia, saya tak kenal dengan terminal KLIA yang sering digunakan oleh maskapai-maskapai non-budget. Saya tak tahu lokasi transfer dan gerbang-gerbangnya. Perlu waktu untuk membiasakan dan kali ini tidak ada waktu untuk membiasakan! Matek!

Antrian keluar dari pesawat terasa sangat lama sehingga ketika menjejak kaki di gedung terminal, Pak Ferry dan saya langsung tergopoh-gopoh lari menuju papan informasi untuk memeriksa gerbang keberangkatan dengan harap-harap cemas pesawat belum berangkat. Oh My God, help us…

Dan wow!!! PertolonganNya selalu datang tepat pada waktunya. Di papan jelas tercetak nomor penerbangan kami dengan status Boarding! Aha, baru kali ini saya suka dengan pesawat yang delay! 🙂

Boarding

Tak perlu perintah dua kali, Pak Ferry dan saya lari lagi menuju gerbang menggunakan feeling. Semoga benar! And God is on my side, jalurnya benar! Tapi di depan gerbang, saya tertahan, tidak boleh masuk. Aduh, botol minuman masih berisi air yang harus dibuang. Saya menoleh ke kiri kanan mencari tempat pembuangan air atau tempat sampah. Tidak ada sama sekali, sehingga dengan terpaksa saya lari lagi ke toilet untuk membuang air kemudian lari kembali ke gerbang untuk langsung boarding.

Hah…hah…hah…. Nafas rasanya mau putus…

Boarding berjalan lancar dan tempat duduk di sekitar saya lebih banyak kosong sehingga terasa agak lega. Tetapi menit demi menit berlalu, pesawat pun juga tak jelas kapan terbangnya. Ditambah dengan antrian clearance terbang. Aduh… masa’ pengalaman di Jakarta berulang? Ampuuun…

Hanya bisa berbekal sabar dan harap, akhirnya pesawat terbang juga meniti waktu, jam demi jam menuju Kathmandu. Saya lebih banyak tidur membayangkan jauh di sebelah kanan seharusnya mulai terlihat pegunungan tinggi berpuncak salju yang kini tak mungkin terlihat karena hanya kegelapan yang menghias jendela. Tapi bukankah saya telah menerima perubahan jadwal ini dengan segala konsekuensinya? Menyesali tak akan mengubah apapun. Saya menerima apapun yang terjadi…

Benar. Apapun yang terjadi, saya telah berani melangkah dalam perjalanan menuju impian yang mewujud.

Nepal – Sampai Kita Berjumpa Lagi, Himalaya…


Dalam postingan sebelumnya, ada peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi, tetapi bagaimanapun tetap terjadi. Banyak barang basah terkena air dalam perjalanan menuju bandara saat mau pulang ke tanah air. Untuk lengkapnya bisa dibaca di post ini cerita tentang Nagarkot

Dengan celana yang setengah basah dan ‘rempong’ dengan tas-tas dan barang yang juga basah, saya tergopoh-gopoh melangkah memasuki ruangan keberangkatan namun dicegat oleh seorang petugas karena salah terminal. Setengah jengkel dengan kebodohan diri sendiri, saya keluar lagi menyusuri pinggir bangunan untuk menuju ruang keberangkatan untuk Air Asia. Sebelum masuk saya masih sempat menoleh ke tempat drop-off. Mobilnya sudah tidak ada disana, tetapi rasa bersalah saya tak mau hilang. Semoga Tuhan memberi banyak keberkahan untuknya.

Setelah boarding pass dipegang di tangan, saya menarik nafas penuh kelegaan. Masih ada waktu untuk membereskan segala kekacauan yang sebenarnya tak perlu terjadi ini. Saya memutar pandangan dan menemukan sebuah bangku kosong yang sempurna untuk repacking.

I will be back...
I will be back…

Saya mencari handuk kecil yang selalu saya simpan di ransel dan tentu saja beberapa tas plastik. Kebiasaan menyisipkan beberapa tas plastik untuk sesuatu yang penting kini terlihat manfaatnya. Saya mengeringkan sebisa mungkin lalu memasukkan barang-barang yang terasa masih lembab ke dalam beberapa kantong plastik. Kemudian saya keluarkan daypack yang kering dari ransel untuk menggantikan tas tangan yang basah kuyup di bagian bawahnya.

Selagi sibuk dengan mengeringkan dan memindahkan barang, dua turis remaja perempuan berwajah Oriental mengambil tempat di sebelah saya untuk menata ulang kopernya. Namun lebih-lebih dari saya, mereka menghamparkan hampir semua barangnya lalu dipaksakan masuk ke dalam kopernya. Jika saja mereka mengerjakan dengan diam, tentu saja saya tak keberatan. Tetapi mereka melakukannya seakan di rumah sendiri dengan suara keras sambil tertawa-tawa. Dengan mood yang masih tak tentu, situasi saat itu sungguh menyebalkan. Tetapi bagaimana pun ruang saya duduk merupakan ruang publik, lebih baik saya memperpanjang sabar.

Saya masih mengeringkan barang-barang basah ketika melihat petugas dan anjing terlatihnya mendekati saya. Mereka mendekat secara khusus sampai pada jarak yang saya kira terlalu dekat ke barang-barang yang saya letakkan di sekitar. Tak perlu berpikir dua kali, -ketika saya melihat si anjing terlatih itu mengendus dari jarak tertentu-, saya langsung mendekatkan barang-barang yang agak tersebar. Damn… Darah mendesir kencang, pikiran saya langsung bekerja cepat, saat itu pastilah saya ditandai sebagai seseorang yang mungkin sedang melakukan pekerjaan haram, mungkin seperti kurir narkotik yang memindahtangankan dengan kedua perempuan muda yang ada di sebelah saya.

Bukankah anjing terlatih itu diarahkan untuk mendatangi dan mengendus di dekat barang-barang saya? Bukankah ada dua perempuan muda di sebelah yang juga sedang membongkar tasnya dengan menghamparkan barangnya dekat dengan barang-barang saya? Bukankah barang haram itu bisa dipindahtangankan dalam situasi seperti ini, dengan skenario seakan-akan sedang merapikan barang dalam koper? Bukankah saya dalam situasi yang sangat memungkinkan dituduh sebagai kurir barang haram? Bukankah bisa saja barang haram itu diletakkan di antara barang-barang saya dan barang orang lain yang terserak dan bisa dijadikan bukti kepemilikan? Saya bergidik terhadap kemungkinan itu… Hiiii…

Ada sesuatu yang berjalan tidak pada tempatnya… ada yang tak seimbang, ada yang tak sesuai…

Saat menunggu keberangkatan, sepenggal rasa bersalah masih bertengger di hati, ditambah dengan sejumput ingatan ketika si anjing mendengus dekat barang-barang saya. Rasanya terbeban. Saya mengingat seluruh kenangan yang menyenangkan sejak perjalanan dimulai agar beban bisa terangkat sedikit. Ketika melihat Everest dan barisan Himalaya, ketika bisa berlama-lama bertatapan dengan Dewi Kumari the Living Goddess di Kathmandu Durbar Square, ketika mendapat berkat Hariboddhi Ekadashi di Kuil Changu Narayan, saat mendapat sunrise luarbiasa di Pokhara, saat mendapat Khata dari Bhiksu di bawah pohon Boddhi di Lumbini, pagi yang indah di Nagarkot dan begitu banyak kemudahan di semua tempat yang saya datangi… dan di ujung akhir perjalanan semua berbalik arah. Kesalahan apa yang telah saya lakukan?

Ketika boarding, orang yang duduk di belakang kursi saya memasang dan menggunakan speaker dari music playernya, seakan di rumahnya sendiri dan seakan semua senang dengan lagunya. Saya tahu telah berada di ambang batas sabar sehingga saya sampaikan keluhan kepada pramugari yang bertugas karena saya telah membayar mahal untuk tempat duduk yang berada di quiet-zone yang seharusnya senyap agar bisa beristirahat. Bahkan kejengkelan dan ketidaksabaran saya masih bisa merangkak keluar.

Tribhuvan International Airport, Kathmandu
Tribhuvan International Airport, Kathmandu

Sebelum semuanya menjadi tak terkendali, lebih baik melakukan refleksi ke dalam, menenangkan diri, memohon bantuan kepadaNya.

Ketika pesawat bergerak perlahan untuk meninggalkan bumi Nepal, saya menoleh keluar jendela, ke langit yang biru, ke pegunungan yang berjejer. Dengan menempelkan tangan pada jendela, selarik bisikan berupa ucapan terima kasih keluar dari bibir. Dan seketika pula permintaan maaf mengalir keluar atas apapun kesalahan saya selama di bumi Nepal, membuat pandangan buram karena airmata menggenangi pelupuk mata…

Saya teringat kembali kepada dia, pengemudi yang pendiam dan selalu tersenyum terhadap apapun yang saya lakukan. Saya diserang ingatan betapa buruk perlakuan saya terhadapnya. Menganggapnya tidak mengerti, mengabaikan harkat kemanusiaannya bahwa setiap orang ingin dihargai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia diam, tetapi bukankah saat itu ada musik sayup serupa Om Mani Padme Hum yang memungkinkan dia mengemudi dengan pikiran yang meditatif? Atau mungkin ia memang pendiam dan juga pemalu, sebuah kombinasi sempurna untuk ‘tidak dianggap’ dan saya memperlakukannya tanpa perasaan. Lalu bukankah setelah itu ada air yang tiba-tiba menggenang? Saya bergidik sendiri, menyadari telah menjadi seburuk-buruknya manusia. Tak heran, jika semua ini terjadi.

Luruskan pikiranmu, begitu teguran Sang Maha Cinta untuk saya dengan tetap melimpahkan kasih sayang berupa air yang menggenangi tas. Dengan begitu banyak berkah yang saya terima selama perjalanan di Nepal mengapa saya mengakhirinya dengan mengabaikan nilai seorang manusia?

Lalu bukankah hanya air? Dan air hanya membasahi barang-barang tak penting? Bukankah bisa lebih mengerikan, bisa lebih buruk, tapi karena CintaNya, hanya ada air? Lalu bukankah bisa saja ada barang haram di antara barang-barang saya saat merapikan kembali? Tetapi yang terjadi sebuah teguran kasih sayang berupa dengusan anjing sebagai pengingat? Bukankah bisa terjadi yang lebih buruk dan lebih mengerikan? Tapi saya dihindarkan dari yang lebih buruk dan yang lebih mengerikan…

Air mata mengalir membasahi pipi, saya menggigit bibir menyadari kesalahan. Sebuah pembelajaran yang check-mate. Teguran yang keras, tetapi tersampaikan dengan sangat lembut dan tidak menyakitkan. Begitu indah, betapa Dia mencintai saya… Bahkan dalam salahpun saya masih dilimpahkan berkah kebaikan dan kasih sayang.

Dan Dia tak pernah putus memberi anugerahNya…

Can't take my eyes off of you, Himalaya
Can’t take my eyes off of you, Himalaya

Saya melihat keluar jendela melihat jelas barisan pegunungan Himalaya yang berpuncak salju berjejer seakan memberi salam perpisahan kepada saya yang terbang kembali menuju tanah air. Dan sang komandan dari barisan pegunungan cantik itu ada di sebelah kanan, terlihat sebagai puncak tertinggi, Sagarmatha yang agung. Everest!

Saya teringat ketika melakukan Everest experience mountain flight, saya hanya diberi kesempatan melihat setitik puncak dari jarak terdekatnya. Dan kini dalam perjalan pulang, siapa yang menyangka gunung tertinggi di dunia itu menampakkan keagungan dirinya di hadapan mata saya. Sagarmatha yang luar biasa indahnya, Everest…

I see you...
I see you…

Bahkan dalam salahpun saya masih diberikan anugerah terindah, di ujung akhir perjalanan di Nepal.

Sejuta rasa berkecamuk di dalam jiwa. Inilah pencucian jiwa. Saya telah menerima anugerah tak henti sejak berangkat dan saya nodai dengan keangkuhan diri, namun semuanya tak menghentikan dari limpahan anugerah. Alangkah tak beruntungnya saya jika tak bersyukur… Bukankah perjalanan ini diatur dariNya langsung? Bukankah susunan itinerary yang telah saya buat itu akhirnya tertinggal di Jakarta lalu digantikan semua dariNya? Bukankah tak banyak orang yang berkesempatan melihat pegunungan Himalaya dan juga Gunung Everest secara jelas?

Saya tetap manusia yang menyadari ketidakmampuan melepas kecantikan pegunungan bertudung salju itu. Saya tak ikhlas, tak rela melepas pandang. Saya memutar badan, lebih baik duduk dengan setengah bokong bertumpu pada satu kaki daripada harus kehilangan pandangan dari Himalaya. Mata saya lekat pada barisan itu. Gunung-gunung yang tampak berbaris gagah itu semakin mengecil, semakin tak terlihat, sampai akhirnya saat dataran India dengan sungai besarnya yang terlihat, mau tak mau, ikhlas saya melepasnya dalam bisikan, terima kasih Ya Allah, terima kasih Nepal, sampai kita berjumpa lagi, Himalaya…

Suatu saat saya pasti kembali, ini sebuah janji…

When will I see you again?
When will I see you again?
It's not a Goodbye, Just Au Revoir
It’s not a Goodbye, Just Au Revoir

<><><>

Dan enam bulan setelah perjalanan saya, sebuah gempa besar meluluhlantakkan Nepal. Saya terguncang hebat. Semua kenangan tempat-tempat indah dengan segenap keajaiban-keajaiban yang pernah mewarnai perjalanan saya itu bergerak bagai film di benak, silih berganti dengan tempat-tempat yang rusak dan yang luluh lantak. Tetapi sebagaimana pengalaman perjalanan saya, -bahkan dalam salah pun saya diberi anugerah-, demikian juga Nepal… Dalam titik rendah kehancurannya, Pemilik Semesta tak pernah sedikitpun meninggalkan ciptaanNya.

*

Baca rangkuman dan cerita seri perjalanan di Nepal : Nepal – Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Nepal – Nagarkot : Kisah Makhluk Ajaib dan Lembah Halimun


Setelah berjam-jam terkurung dalam mobil kecil dari Lumbini Ke Kathmandu, bersama Santa yang jeda bicaranya sedikit ditambah dengan gempitanya musik pop berbahasa Hindi, rasanya lega sekali berada di kendaraan lain yang membawa saya ke Nagarkot. Sebelumnya, Santa telah mengatakan bahwa ia tak memahami jalan ke Nagarkot sehingga ia akan digantikan oleh pengemudi lain yang lebih mengenal daerah itu. Tentu saja saya tak keberatan selama tujuan sampai di hotel bisa tercapai. Begitulah ceritanya hingga saya duduk di mobil Honda baru yang terasa mewah ini.

Wangi khas mobil baru yang tercium lekat di hidung menunjukkan mobil ini belum lama keluar dari dealer. Semuanya terasa masih brand new. Bisa jadi ini mobil pemiliknya, bukan untuk disewakan. Beruntunglah saya bisa mencobanya…

Early Bird and The Misty Valley
Early Bird and The Misty Valley

Cool but…

Kemudian datanglah laki-laki pengganti itu lalu menyalami saya selayaknya orang yang saling berkenalan. Ada senyum tipis di wajah Orientalnya. Wajah campuran yang umum terlihat di sekitar Nepal dan Tibet. Cool… Menarik, seperti magnet. Keren abis… *anakdansuamibawakatapel

Tak cuma sekali saya melirik mengamati caranya mengemudikan kendaraan di perbukitan menuju Nagarkot, terlihat sangat trampil namun santai. Bahkan saya mendengar musik meditatif yang menenangkan seperti Om Mani Padme Hum, dipasang dengan volume kecil tapi terdengar. Di langit luar bulan terlihat begitu terang, supermoon yang waktunya telah dekat, seakan menemani perjalanan saya menuju Club Himalaya Resort untuk menghabiskan malam terakhir perjalanan saya di Nepal. Berdua menembus malam di Lembah Kathmandu *katanenekberbahaya

Namun ada yang salah. Situasinya terlalu hening. Seperti pasangan yang ngambeg. Saya teringat Santa yang hampir tak pernah diam, sementara makhluk di sebelah saya ini terlalu pendiam. Jika ia tak mengemudi, mungkin saya pikir dia patung. Bahkan saya tak ingat namanya. Mungkin dia tadi menyebutkan, mungkin juga tidak, tapi yang pasti saya tak menyukai keheningan ini.

Saya ingin memecahkan keheningan ini dan melihat lampu-lampu desa di puncak bukit.

“Is that Nagarkot?“ sambil menunjukkan lampu-lampu di atas bukit

Kepalanya menggeleng, “No”

Di mobil seperti ada setan lewat karena begitu hening, kecuali suara sayup musik… sepi…

“So where is Nagarkot?”

Dia tersenyum dalam gelap, hanya menunjuk kearah yang berbeda, tanpa bicara, lalu wajahnya ke jalan lagi… Damn!

Karena melihat penampilannya yang rapi seperti pemilik mobil, saya iseng bertanya kepadanya lagi,

“Is this your own car?”

“No”

Entah benar atau tidak, sama nilai kemungkinannya. Kembali senyap.

Bisa jadi dia penganut fanatik ‘jangan ganggu pengemudi yang sedang mengemudikan kendaraan’. Baiklah, I do it my way. My Kejahilan 😀 Saya memutar tubuh lalu memandang langsung ke wajahnya. Bukan manusia jika intuisinya tak memberitahu ada mata yang memandangnya. Dan BERHASIL, ia jengah ditatap lalu menoleh dengan ekspresi stress berada di dekat perempuan 😀 Yang bisa sukses dilakukannya adalah menetralkan suasana. Tersenyum manis. LOL

“Where are you from”, tanyanya basa-basi

Ahaa, daripada diam seperti patung, lebih baik berbasa-basi. Saya memutar tubuh kembali menghadap  depan sambil menertawakan dirinya yang tak tahan diperhatikan seorang perempuan dan menjawab singkat seakan tak peduli, “Indonesia”

Dan hening lagi seperti di kuburan. Cape deh…

Saya mengalah padanya dan pada situasi serta tak berharap ada komunikasi yang lancar. Benar, dia hanya menjawab Yes atau No, walaupun selalu ada senyum di latar belakangnya.

“You drive so well, when and how did you learn to drive?”

“Yes”

Saya tak peduli dijawab demikian olehnya, tetapi kali ini benar-benar hmmm… apa yaa… makhluk di sebelah saya ini, -walaupun cool menarik seperti magnet-, something is very wrong with him… 😀

Walaupun bukan urusan saya, namun saya ingin tahu apa yang dia lakukan setelah menurunkan saya di Nagarkot karena dia akan kembali mengantar saya ke bandara keesokan harinya.

“Where do you stay tonight?” (belakangan baru sadar, pertanyaan ini bisa diartikan berbeda, kalau ia mengerti)

“Yes”

Gggggrrrrr…*siapsiapambilpacul

Saya mengerutkan kening, mencoba menyederhanakan kalimat saya.

“Here at Nagarkot?”, sambil memperagakan tidur.

“Yes”

“Where”

“Yes” Dia tersenyum, tanpa rasa salah…

Bruuuk… Saya seperti menabrak tembok. Whatever, saya menyerah. Makhluk laki-laki di sebelah saya ini sesungguhnya keren, tetapi sama sekali ga nyambung. Ya sudahlah, lebih baik saya mengambil langkah seperti dia, senyum terus sampai hotel. Senyum dibalas senyum sama dengan damai. 😀

Akhirnya sampai juga di Club Himalaya Resort dan dengan berbagai cara dia mengupayakan agar saya memahami bahwa dia akan menunggu besok pagi jam sembilan di tempat parkir. Sebenarnya saya sudah mengerti, tetapi saya membiarkan dia untuk berlama-lama berbahasa tubuh. Hahaha…

The Misty Valley, Nagarkot
The Misty Valley, Nagarkot

Lembah Halimun

Lelah karena berjam-jam melakukan perjalanan dari Lumbini dan ditambah keharusan menghadapi makhluk ajaib serta mengantri menunggu check-in yang lama, saya langsung terlelap begitu selesai membersihkan diri. Sebenarnya rencana awal adalah menikmati sunset di Nagarkot dan berjalan-jalan di lembah yang terkenal penuh dengan kabut itu. Tetapi apa daya, saya datang saat malam sudah datang dan Dia Yang Penuh Kasih Sayang telah menghapus rencana menikmati malam terakhir di Nepal dengan memberikan saya tidur yang amat nyenyak.

About Sunrise in Nagarkot
About Sunrise in Nagarkot

Esoknya saya terbangun sebelum matahari terbit lalu bergegas menyelesaikan kewajiban pribadi. Udara dingin terasa memeluk pagi. Saya menyibak gorden di jendela. Di luar masih gelap, tetapi saya tak mau melewatkan hari terakhir di Nepal begitu saja. Inilah tujuan saya menginap di Nagarkot, menyambut matahari pagi.

Tak lama terdengar suara kepak sayap burung-burung pagi yang telah meninggalkan sarang, mencari makan, yang suaranya datang dari teras balkon. Saya membuka pintu, udara dingin lembah langsung menerpa wajah. Jauh di horison, pegunungan Himalaya tampak kecil berjejer dengan puncaknya yang tertutup salju. Ufuk Timur mulai berpendar kuning keemasan, tanda Sang Surya beranjak bangun dari tidur. Lembah Nagarkot di hadapan berselimut halimun. Indah. Walau tak seluarbiasa sunrise di Raniban Retreat di Pokhara, keindahan Nagarkot ini tetap menimbulkan rasa haru. Indah dan rasanya berbeda.

Pelan-pelan pagi merekah menyibakkan halimun yang menyelimuti lembah. Sinar matahari sejenak memantulkan cahaya keemasan dari puncak-puncak gunung yang tertutup salju lalu berlomba dengan awan yang bergerak cepat hendak menyelimuti puncak-puncak itu. Pagi yang indah itu tak lama, tetapi birunya langit tetap mewarnai keindahan pagi di Nagarkot.

Saya menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar halaman hotel, menikmati pagi terakhir di bumi Nepal. Rasanya langkah ini adalah langkah menjauh dari bumi Nepal karena waktunya akan tiba dalam beberapa jam lagi. Dan waktu pun terus berjalan, tak peduli apapun, tanpa belas kasihan. Akhirnya datang juga waktu untuk melambaikan tangan kepada kamar di Nagarkot. Belum juga 24 jam, saya sudah harus meninggalkan tempat indah ini. Tepat jam 9, saya pun turun dari lobby menuju tempat parkir.

Dibanjur Air

Dia yang tidak-saya-ketahui-namanya, si makhluk ajaib, berdiri setengah bersandar di depan kap mobil. Tersenyum.

Setelah basa-basi menanyakan kabar, dia membukakan pintu untuk saya. Duh seperti tuan puteri. Teringat berbagai peristiwa komunikasi gagal di malam sebelumnya, saya tak berharap banyak. Seandainya nyambung tentunya sangat menyenangkan berkendara dengannya di pagi yang indah ini.

Pagi itu saya baru melihat keindahan lembah Nagarkot dengan hutan pinusnya yang cantik yang semalam sebelumnya hanya gelap menyelimuti. Keajaiban bertambah karena kali ini dia memulai pembicaraan.

“It’s beautiful…” katanya sambil menunjuk sinar matahari yang menyeruak lembut dari balik pohon-pohon pinus.

Bukannya menanggapi, saya hanya mengangguk tak memperhatikan karena sibuk mengambil foto-foto hutan. Rasanya malas memulai ‘pembicaraan’ tak berujung sehingga saya hanya melempar pertanyaan mudah dan bisa dijawab Yes atau No tanpa perlu berpanjang cerita. Tanpa disadari, saya sudah menjadi seperti dia semalam.

The Pines of Nagarkot
The Pines of Nagarkot

Dan… dalam waktu singkat, bandara Tribhuvan International Airport di Kathmandu sudah di depan mata. Saat bersiap-siap, saya mengangkat tas tangan yang diletakkan di kaki. Tapi… What! Ada air menggenangi tas tangan. Tak berpikir panjang, -karena didalamnya ada tas kamera-, saya langsung angkat tas tangan ke pangkuan yang serta merta membuat celana panjang saya basah. Secepat kilat saya keluarkan tas kamera dan tas kecil untuk paspor, uang dan tiket. Dan terlihatlah biang keroknya. Botol minum plastik yang masih tertutup tetapi isinya tinggal setengah. Pasti tutupnya tidak 100% menutup.

Saya tahu pada saat mencoba menyelamatkan tas tangan dari air yang menggenang dekat kaki, makhluk ajaib di sebelah saya itu tahu something wrong has happened tapi tidak tahu persisnya. Ia kesulitan bertanya. Mencoba memahaminya, saya menjelaskan dengan mengatakan Water! sambil menunjuk ke bawah. Tanpa melepas tangan dari kemudi, ia mencoba melihatnya dari tempat duduknya.

Di tempat drop-off bandara, saya memandangnya dengan perasaan bersalah. Air yang menggenang karpet mobil itu akan menimbulkan bau tak sedap jika tidak langsung dikeringkan dan divacum. Wangi baru dari mobil pasti akan sirna. Tetapi dia berkali-kali tersenyum sambil berkata, it’s Okay, no problem.

Dia, si makhluk ajaib, memiliki hati yang sungguh baik…

Saya turun dengan celana bagian paha basah kuyup dan kedua tangan terasa penuh memegang tas-tas kecil berisi barang penting yang basah terkena air. Dengan hati yang tak enak dan campur aduk ditambah rasa bersalah, saya memandang makhluk ajaib itu turun mengatasi masalah yang saya timbulkan. Tapi saya tak mampu berbuat lebih, karena harus bergegas menuju ruang keberangkatan.

Setelah begitu banyak anugerah berlimpah selama di Nepal ini, di hari terakhir ini rasanya saya dibanjur air (sedikit banyak dalam arti yang sebenarnya!). Dengan pakaian basah, tangan penuh barang setengah basah, saya melangkah ke dalam. Peristiwa ini, sepertinya sebuah tanda… Apa artinya belum bisa saya pahami sekarang, tetapi pasti ada maknanya. Dan tentu saja peristiwa itu bukanlah sebuah kebetulan…

*

Baca rangkuman dan seri perjalanan di Nepal : Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Nepal – Menapak Pagi di Kawasan Monastik Lumbini


Every morning we are born again. What we do today is what matters most – Buddha

Mengutip selarik kata bijaksana dari Sang Buddha di tempat kelahirannya membuat pikiran saya bekerja cukup dalam sambil melangkah meninggalkan kamar menuju lobby untuk check-out. Walaupun hanya bisa sepenggal pagi hari berada di Lumbini, saya akan memanfaatkan kesempatan baik ini semaksimal mungkin untuk berkeliling di kawasan Monastik Lumbini dan tentu saja mengunjungi Kuil Mayadevi, tempat kelahiran Sang Buddha karena setiap detik yang begitu berharga.

Setelah menitipkan ransel di hotel, saya berjalan kaki menuju gerbang Barat, tempat Santa menunggu. Ya memang masih ada Santa hari ini karena kemarin, akhirnya saya memutuskan untuk memperpanjang sewa mobil sampai ke Kathmandu yang tentu saja disambut Santa dengan senyum yang sangat lebar. Sambil berjalan saya menanyakan kabar istirahat malamnya yang langsung dipotong sambil menggerutu, banyak nyamuk di Terai. Saya terbahak mengingat gurauan yang absurd, Terai bukanlah wilayah Nepal…

Santa menghentikan langkah saya dan tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, ia menawar sebuah rickshaw serupa becak untuk berkeliling kawasan monastik Lumbini. Inisiatifnya ternyata tepat, dalam waktu singkat jika harus berkeliling di kawasan itu dengan berjalan kaki, yang akan didapat hanya kelelahan tanpa mengetahui tempat-tempat bagus di kawasan ini.

Gerah udara pagi Terai tetap terasa walaupun saya hanya duduk manis di becak ala Nepal ini. Saya menyaksikan sendiri betapa kawasan seluas ratusan hektar yang dikelilingi oleh jalan Vishnupura ini merupakan kawasan internasional. Negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha pastilah memiliki vihara di kawasan ini. Dan bentuknya? Pasti disesuaikan dengan ciri khas dari Negara-negara itu. Sebut saja Negara-negaranya, pasti ada…

Becak ala Nepal itu melewati jalan ‘tikus’ untuk sampai ke tengah kawasan melewati petak-petak tanah yang tak terpelihara. Ada sejumput rasa prihatin merambat di dalam hati. Untuk sebuah kawasan yang telah menorehkan tinta emas pada sejarah dunia dan sedikit banyak telah memberi warna perdamaian pada kemanusiaan, kawasan Lumbini ini sepertinya masih jauh dari kondisi yang seharusnya. Entah apa kabarnya dengan mega proyek pengembangan kawasan Lumbini yang telah di-gong-kan hampir empat puluh tahun lalu. Bahkan pencatatan Lumbini sebagai kawasan UNESCO World Heritage Site di tahun 1997 juga belum cukup mampu mengangkat kawasan itu nyaman terlihat di mata.

Dari balik rimbunnya petak-petak yang terabaikan itu saya sempat melihat puncak keemasan stupa Myanmar yang menyerupai Pagoda Shwedagon di Yangon, yang belakangan saya ketahui bernama Pagoda Lokamani. Tanpa masuk ke dalamnya, saya bisa membayangkan vihara Myanmar itu seperti bunga lotus yang hidup di air yang keruh.

From the mud of adversity grows the lotus of joy – Carolyn Marsden

Tepat setelah pagar batas dari vihara Myanmar itu, agak menjorok dari pinggir jalan saya menangkap dinding pagar keliling dengan ciri khas Kamboja seperti yang terlihat pada bangunan-bangunan candi di kompleks Angkor. Terlihat sepertinya masih dalam tahap penyelesaian akhir, ditambah dengan keberadaannya yang agak tersembunyi diantara petak-petak tanah yang terabaikan, membuat kompleks vihara Kamboja semakin tak terlihat. Entah mengapa pikiran saya melayang pada lembaran-lembaran uang yang tak kunjung terbang ke Lumbini.

The Royal Thai Monastery

Akhirnya becak à la Nepal berbelok memasuki kawasan vihara Thailand yang tentu saja didukung secara penuh oleh pemerintah Kerajaan Thailand. Walaupun bentuknya tak serupa, namun karena warna putihnya yang mencolok mata, bangunan vihara ini mengingatkan saya pada Wat Rong Khun (White Temple) di Chiang Rai. Pagi itu, bangunan vihara berlapis marmer berwarna putih terlihat sangat kontras dengan langit biru yang melatarinya. Walaupun ketika mendekat, tertangkap pula di mata saya beberapa bagian yang perlu direnovasi lagi. Ah, tetapi keadaan itu tak mengganggu kecantikan bangunan secara keseluruhan.

Royal Thai Monastery, Lumbini
Royal Thai Monastery, Lumbini

Becak pun terus dikayuh ke Utara menyusuri kolam buatan yang membelah kawasan Monastik menjadi dua bagian. Bagian Timur dari Kawasan Monastik Lumbini adalah vihara-vihara Buddha yang beraliran Theravada dan bagian Barat dari kolam buatan diidirikan vihara-vihara Buddha yang beraliran Mahayana dan Vajrayana.

Dan tepat di bagian Utara, -setelah menyeberang jalan Taulihawa-, terdapat World Peace Pagoda yang melengkapi World Peace Stupa (Shanti Stupa) yang ada di Pokhara. Keduanya, -merupakan bagian dari World Peace Pagoda di seluruh dunia-, didukung penuh oleh Nipponzan – Myohoji, salah satu aliran Buddha dari Jepang yang juga mendukung aliran anti kekerasan dari Mahatma Gandhi.

Setelah berputar di ujung kolam bagian Utara, saya memasuki kawasan vihara dengan aliran Mahayana. Terlihat bangunan cantik berbentuk stupa besar bergaya oriental yang sayangnya tidak diketahui namanya. Di dekatnya terdapat halaman yang tertata rapi namun sayangnya lagi-lagi tidak ada informasi asal Negaranya, walaupun orang lokal mengatakan vihara itu berasal dari Perancis.

Sebelum memasuki vihara yang ada disebelahnya, saya menyempatkan diri untuk menikmati kolam buatan yang terasa meneduhkan udara Terai yang gerah. Vihara modern di seberang kolam tampak seperti dipeluk kabut. Menenangkan sekali.

A Monastery near the pond, Lumbini
A Monastery near the pond, Lumbini

The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa

Setelah melepas alas kaki, saya memasuki vihara yang didukung oleh Yayasan Tara dari Jerman, sehingga public sering menyebutnya Vihara Jerman (rasanya saya hampir saja tak percaya bahwa umat Buddhist di Jerman cukup banyak hingga dapat mendanai pendirian dan pemeliharaan vihara yang tak kecil). Bangunan ini dipelihara dengan sangat cantik dengan taman-taman yang tertata dan benda-benda yang berhubungan dengan ritual diletakkan di seluruh penjuru arah sebagai penguat tata letak. Jika saja pengunjung disana dapat lebih menahan diri tak bersuara, keheningan suasana ditempat ini membuat suasana meditatif kian terasa. Tak lupa di depan bangunan utama terdapat kolam yang ditengahnya terdapat Buddha Kecil, dengan tangan kanan menunjuk ke atas dan tangan kiri menunjuk ke bawah (bumi).

The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa
The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa

Pada ruang dalamnya penuh dengan hiasan kehidupan Buddha yang dilukis baik pada dinding maupun pada langit-langitnya dengan warna-warna terang seperti merah dan kuning keemasan selain warna-warna biru muda yang meneduhkan.

Sekeluarnya dari vihara Jerman, saya menyusuri kolam buatan yang airnya sangat tenang sehingga menampilkan refleksi dari bangunan yang berada di pinggir kolam. Melewati sebuah bangunan bergaya Oriental dengan pagar tertutup tinggi, tak terasa langkah kaki membawa ke sebuah gedung berwarna putih pucat, yang sayangnya lagi-lagi tak memiliki petunjuk yang jelas. Sekelompok orang berwajah Hindustan tampak keluar dari gedung itu, entah usai beribadah atau sekedar melihat-lihat.

Monasteries near the ponc
Monasteries near the pond

Melewati sebuah gedung megah yang dari pagar hanya terlihat stupa besar dengan ciri khas Nepal, -memiliki mata seperti Bouddhanath dan Swayambhunath-, sang pengemudi becak ala Nepal telah menunggu kami untuk dikayuh kembali kearah vihara Zhong Hua dari China.

Vihara Zhong Hua

Saya melepas alas kaki untuk memasuki vihara berarsitektur China yang didominasi dengan warna merah ini. Dibandingkan dengan kuil atau vihara yang saya lihat sebelumnya, Vihara Zhong Hua ini sangat megah dan luas. Empat patung Dewa penjaga tampak gagah menghias area gerbang. Halaman bagian dalam tertata cantik yang mengarah ke gedung utama dengan Buddha berlapis emas yang duduk di altar. Secara keseluruhan seluruh bangunan yang ada di kompleks vihara ini dihubungkan dengan lorong terbuka beratap dengan pemandangan halaman taman yang cantik.

Zhong Hua Chinese Monastery, Lumbini
Zhong Hua Chinese Monastery, Lumbini

Vihara Korea

Tepat di depan Vihara Zhong Hua dari China berdirilah vihara Korea yang pada saat saya berkunjung sedang direnovasi. Melihat bangunannya, saya sampai berpikir di Lumbini tempat kelahiran Buddha yang mengajarkan kerendahhatian, entah kenapa saya merasa tetap saja ada upaya berlomba untuk menunjukkan vihara yang terbesar dan termegah. Jika sebuah negara sudah membangun vihara yang besar, ternyata ada negara lain yang membangunnya lebih besar, lebih megah. Lomba kedigdayaan? Entah…

Korean Monastery, Lumbini - under renovation
Korean Monastery, Lumbini – under renovation

Saya kembali berbecak menyusuri kanal di tengah untuk menuju Kuil Mayadevi, sejatinya tempat kelahiran Sang Buddha. Pengemudi becak ala Nepal itu menyelesaikan pekerjaannya di ujung kanal tempat nyalanya Api Perdamaian Abadi, Eternal Peace Flame, yang dinyalakan oleh Pangeran Gyanendra Bir Bikram Shah di tahun 1986. Dari posisi Api Perdamaian Abadi itu, saya melihat lurus ke Utara, terlihat samar warna putih Stupa dari World Peace Pagoda.

Berbalik badan menghadap arah Mayadevi temple, terhampar di depan mata jalan pelintasan panjang seakan membelah udara panas wilayah Terai. Terbayang gerah dipanggang oleh udara, tetapi sungguh dapat dimengerti, inilah wilayah yang begitu berharga bagi dunia, sejatinya seseorang yang telah mengubah warna dunia lahir di wilayah ini hingga tentu saja saya bersedia berjalan kaki untuk mencapainya walau panas sekalipun.

Sekitar 100 meter berjalan saya tiba di sebuah bundaran kecil yang ditengahnya terdapat patung Buddha kecil, dengan telunjuk kanan mengarah ke langit dan telunjuk kiri mengarah ke bumi, seperti kisah yang tertulis pada sutra mengenai tujuh langkah yang dilakukan oleh Buddha setelah kelahirannya.

Masih berselimutkan gerahnya udara pagi Terai, kaki terus melangkah menuju Mayadevi Temple, seakan mengetahui akan adanya keajaiban lain yang telah menunggu disana…  (baca kisahnya  Khata – Syal Putih dari Lumbini)

*

Ketinggalan cerita? coba cek disini – Rangkuman dan series cerita perjalanan di Nepal