Luang Prabang: Temple Tour (Part-2)


Jika dalam cerita Temple Tour di Luang Prabang part-1 saya menggunakan tuk-tuk agar bisa mengunjungi sebagian besar vihara dan kuil yang letaknya agak berjauhan sebelum malam datang menjelang, maka untuk bagian kedua ini, saya hanya berjalan kaki karena memang letaknya saling berdekatan yaitu di pusat kota tua Luang Prabang atau lebih ke wilayah semenanjung).

Main Building of Wat Xieng Thong

Main Building of Wat Xieng Thong

1. Wat Xieng Thong

Wat Xieng Thong merupakan salah satu kuil Buddha yang tertua dan terindah di Luang Prabang, karena tepi atap berjenjangnya yang merendah dengan dekorasi dinding interior dan eksterior yang sangat artistik. Tidak salah memang jika Wat Xieng Thong, yang berarti Kuil Kota Emas, dijadikan sebagai referensi kompleks peribadatan dengan arsitektur klasik gaya Luang Prabang.

Kompleks kuil Buddha yang cantik dan terletak di sisi pertemuan Sungai Mekong dan Sungai Nam Khan ini, dibangun sekitar tahun 1559 – 1560 oleh Raja Laos yang bernama Setthathirath dan merupakan kuil tempat semua Raja Laos ditahbiskan. Kedekatan Wat Xieng Thong dengan kalangan istana terus berlangsung karena hingga tahun 1975 kuil ini tetap dikelola oleh keluarga istana.

Ada legenda yang melatari kuil Xieng Thong ini, bermula dari cerita dua orang pertapa yang menetapkan kuil ini sebagai batas kota, dengan titik acuan sebuah pohon flamboyan berbunga merah yang tumbuh di dekat kuil dan hingga sekarang kita dapat melihat lukisan pohon flamboyan yang penuh sejarah ini pada bidang dinding bagian belakang bangunan utama. Konon, lokasi kuil ini dibangun bertetangga dengan rumah dua ekor naga yang dipercaya menjadi penguasa wilayah pertemuan dua sungai yang ada di Luang Prabang.

Saya melangkahkan kaki mendekati bangunan utama memiliki pintu kayu berukir berlapis emas yang menggambarkan kehidupan Sang Buddha. Plafonnya penuh dengan lukisan yang menceritakan tentang roda dharma, yaitu siklus kehidupan sesuai ajaran Buddha dan reinkarnasi. Sedangkan dinding bagian luar menceritakan legenda-legenda Laos dalam bentuk hiasan mosaik kaca. Hiasan mosaik yang indah ini yang menjadi ciri khas dari kuil-kuil di Luang Prabang. Di dalamnya kolom-kolom berdekorasi cantik. Hanya ada satu kata untuk itu: Indah.

Di dalam kompleks peribadatan ini, tak jauh dari bangunan utama, terdapat bangunan yang biasa disebut dengan Library, dan berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan dan mempelajari Kitab Tripitaka. Sebuah bangunan lain di dekatnya difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan semacam bedug (Tabuh), penanda waktu dalam proses ritual agama Buddha.

Langkah kaki saya berlanjut ke sebelah bangunan utama. Disitu terdapat bangunan kecil, -yang ternyata suci-, yang dinding luarnya juga berhiaskan mosaik. Bangunan kecil ini, dikenal sebagai Ruang Merah, dan di dalamnya terdapat patung Buddha berbaring yang ukurannya tidak besar tetapi terkenal suci karena dipercaya sudah ada sejak pembangunan Kuil.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selepas menyaksikan Ruang Merah, kaki saya melangkah ke dekat gerbang Timur. Disitu terdapat sebuah bangunan yang pintu dan jendelanya memiliki ukiran yang sangat indah. Berwarna merah keemasan. Setelah mengambil foto pintu dan jendela yang berukir indah itu, saya kemudian melongok ke dalam dan mulai melangkah untuk melihat lebih dekat. Tidak ada orang satu pun, hanya barang-barang. Bentuknya seperti kendaraan berkepala Naga, guci-guci dan tempat pelindungnya dari berbagai ukuran, yang semuanya berlapis keemasan, serta patung-patung Buddha berdiri seperti di Wat Visoun. Semakin besar ukurannya, semakin rumit ukirannya dan semakin indah. Entah kenapa, saya merasa dalan ruangan itu udaranya semakin dingin dan terasa lembab, dan tiba-tiba seakan terhenyak, saya menyadari fungsi semua barang dalam ruangan. Pastilah semua ini dipakai untuk mengarak dalam upacara penguburan kalangan kerajaan! Hiiii… saya tahu mengapa saya hanya sendirian disitu…

Selain terkenal karena keindahannya, Wat Xieng Thong memiliki sejarah yang menarik. Kuil ini selamat dari pembumihangusan Luang Prabang pada tahun 1887 ketika terjadi perang Haw. Konon, karena Đèo Văn Tri, salah satu tokoh terkenal Haw, pernah menjadi biksu di kuil ini dan menjadikannya sebagai markas kekuatannya selama perang berlangsung.

Kuil cantik ini dibuka setiap hari dari pk 06.00 pagi hingga pk 18.00. Tiket masuk 20,000 kip.  Pengunjung dapat memasuki melalui 2 pintu masuk yang tersedia, dari arah Sungai Mekong dan dari lorong kecil yang ada di jalan utama kota Luang Prabang.

2. Wat Pak Khan

Meninggalkan Wat Xieng Thong, saya menuju kompleks kuil yang berada di dekat sungai. Jelas sekali bangunan ini terlihat tua namun tetap terpelihara cukup baik. Sesuai namanya, yang berarti kuil di ujung sungai Nam Khan, memang menunjukkan lokasi yang sesungguhnya. Kuil Pak Khan ini memang berada di tepi ujung sungai Nam Khan, ujung kota tua Luang Prabang.

Karena berdekatan dengan sungai, kuil ini teduh. Sepertinya atmosfir kesejukan dari Sungai Nam Khan terangkat hingga ke kuil ini.

Melihat gaya arsitekturnya, kuil ini tampaknya dibangun pada jaman awal pembangunan kuil-kuil tua di Luang Prabang. Wat Pak Khan lebih menyerupai Wat Visoun atau Wat That Luang karena tidak memiliki beranda sisi dan tepi atapnya tidak merendah. Selain itu, jika dilihat lebih dalam, pada bagian muka di atas pintu depan tidak ada hiasan atap, yang menjadi ciri khas dari bangunan kuil gaya Luang Prabang. Dan pada jendela-jendelanya terdapat kisi-kisi kayu berulir, yang juga ada pada Wat Visoun.

Tidak ada ketentuan tiket masuk di kompleks kuil ini, mungkin karena saya tidak melihatnya atau memang tidak ada, karena jarang turis mengunjunginya. Namun saya menyukai keteduhan dan atmosfer sungai yang merebak naik ke kompleks Wat Pak Khan ini.

3. Wat Khili

Kembali ke jalan utama Luang Prabang, kaki saya melangkah ke kompleks Wat Khili yang berada di pinggir jalan. Bernama resmi Wat Souvanna Khili atau berarti Vihara Gunung Emas, kuil ini konon, dibangun oleh Pangeran Chao Kham Sattha dengan tujuan untuk membawa rasa persahabatan dengan penguasa Luang Prabang saat itu, karena sebenarnya wat ini berasal dari wilayah Xieng Khuang (seperti halnya Wat Xieng Thong).

Dan seperti dengan Wat Xieng Thong, pada bidang muka bagian atas pintu depan juga dipenuhi dengan dekorasi mosaik yang menceritakan tentang Pohon Kehidupan. Saya membayangkan betapa tekunnya para biksu yang melakukan proses pengerjaan dekorasi kuil ini.

Kompleks kuil ini cukup unik karena didalamnya terdapat gedung dua tingkat dari beton bergaya kolonial namun  beratapkan tradisional Laos. Kemungkinan gedung ini dibangun dalam masa kolonial Perancis sehingga pengaruh arsitekturnya ditambahkan namun tidak ingin kehilangan nilai-nilai tradisional Laos yang diungkapkan dalam bentuk atap tradisionalnya. Aneh, tetapi tetap menarik.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

4. Wat Si Boun Houang

Menyusuri jalan raya Luang Prabang, sampailah saya pada Wat Si Boun Houang yang berbentuk umum seperti wat lainnya di Luang Prabang. Bagi saya, tidak ada yang spesifik dari kuil yang juga mengambil gaya yang sama. Atap tradisionalnya berjenjang dua, dan memiliki hiasan atap tengah (dok so faa) yang klasik.

Konon kuil ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Sotika Kuman pada pertengahan abad 18. Wat Si Boun Houang memiliki empat kolom pada beranda depan. Bagian atas pintu depan berhiaskan Dharmachakra atau Roda Kehidupan, yang menekankan pada kekuatan Dharma dan proses reinkarnasi dalam siklus kehidupan.

5. Wat Siri Mungkhun

Saya melanjutkan menyusuri kuil-kuil di sepanjang jalan raya di Luang Prabang dan sampailah saya di Wat Siri Mungkhun. Kuil kecil ini lebih sering dilewati begitu saja daripada dikunjungi secara khusus oleh turis, mungkin karena ukurannya yang tidak besar dan tidak ada yang spesifik. Saya pun hampir melanjutkan perjalanan tanpa mampir ke kuil ini. Namun entah kenapa saya masuk juga ke halamannya.

Atap tradisionalnya berjenjang dua, uniknya tanpa dilengkapi hiasan tengah (Dok So Faa) namun memiliki hiasan sudut berbentuk naga yang klasik. Berandanya berkolom empat dengan hiasan keemasan. Wat Siri Mungkhun memiliki beranda samping, namun hanya ada satu yaitu pada sisi kanan.

Saya melihat salah satu keunikan dari kuil ini yang terdapat di bagian depan beranda. Kuil memiliki sepasang patung penjaga kuil yang berwujud hewan mitos, yang saya lihat lebih menyerupai singa.

6. Ban Phon Heuang

Melanjutkan perjalanan ke arah Barat, saya melewati Ban Phon Heuang. Tempat ini menarik karena tanpa harus memasuki halaman tempat ibadah, -hanya dari luar pagar, di area trotoar jalan raya-, terlihat penataan tanaman yang baik di tempat ini sehingga terasa berbeda dengan kebanyakan kuil lain di Luang Prabang yang halamannya disemen.

Di tengah-tengah halaman terdapat bangunan mungil berisikan patung Buddha keemasan dalam posisi duduk. Warna Buddha yang keemasan dengan kombinasi tanaman yang dibiarkan tumbuh memberikan komposisi yang menarik hati. Berbagai tanaman hias seperti Bougainvillea, bunga kamboja, palem tumbuh dengan indah, memberi kesejukan dan warna tersendiri pada tempat ibadah ini.

Bagi turis yang berjalan di sepanjang jalan raya di Luang Prabang, biasanya berhenti sejenak, menoleh untuk menikmati Ban Phon Heuang.

7. Wat Sop Sickharam

Kuil berikutnya yang saya kunjungi adalah Wat Sop Sickharam atau biasa disebut dengan Wat Sop. Biasanya pengunjung mendatangi kuil ini karena berhenti pada Stupa yang terletak di depan. Memang Stupa Wat Sop Sickharam ini lebih menarik perhatian karena berada sangat dekat dengan jalan raya, dan juga berwarna hijau bercampur emas yang membuatnya sangat ‘eye-catching’. Puncaknya yang meruncing tinggi membuat wisatawan menghentikan langkah untuk mengambil gambar stupa cantik ini.

Bangunan utamanya sendiri berada di samping stupa, terlihat sangat sederhana dibandingkan dengan kecantikan Stupa di halaman depan. Memiliki atap tradisional khas Luang Prabang, tepinya merendah dan berjenjang dua. Dan tidak berbeda dengan kuil yang lain, Wat Sop juga memiliki beranda.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

8. Wat Sene or Wat Sene Souk Haram

Kuil yang terakhir saya kunjungi sepanjang jalan raya di Luang Prabang ini adalah Wat Sene Souk Haram atau lebih dikenal dengan Wat Sene. Kuil ini merupakan salah satu yang tercantik karena warnanya yang merah keemasan yang tentu saja sangat ‘eye-catching’ bagi para pejalan ataupun yang melintas di jalan raya. Menurut sejarah, kuil ini dibangun pada tahun 1714 dan direstorasi kembali pada tahun 1957 saat perayaan peringatan 2500 tahun Buddha.

Kuil dengan gaya Thailand yang memiliki bidang muka berwarna merah keemasan ini mempunyai nama yang unik. Dinamakan Wat Sene, karena bermula dari donasi awal untuk memulai pembangunan kuil sebesar 100.000 Kip (atau disebut dengan Sene dalam bahasa Laos). Sejak itulah kuil ini disebut dengan Wat Sene.

Di dalam kompleks ini, selain bangunan utama, terdapat pula bangunan yang lebih kecil sebagai tempat untuk Patung Buddha berdiri, dan juga sebuah semacam bedug (Tabuh) dan Genta yang kesemuanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses ritual agama Buddha

Wat Sene ini termasuk kuil yang besar di Luang Prabang karena mampu menampung perahu  panjang yang paling menarik perhatian, juga yang terbesar, yang digunakan pada perayaan tahunan Suang Heua, sebuah festival air yang terkenal di Laos.

***

Saya mengakhiri temple tour ini di Wat Sene karena penginapan saya sudah terlihat dan itu tandanya saya harus segera packing untuk pindah ke kota lain. Saya masih meninggalkan banyak destinasi di Laos, khususnya Luang Prabang, untuk dikunjungi di lain kesempatan. Selalu… bukankah dengan demikian jadi ada seribu satu alasan agar bisa datang lagi ke Luang Prabang?

Iklan

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s