D-5 Trekking di Nepal – Berani Melawan Ketakutan


Alam Chuile membangunkan saya pagi itu, juga suara-suara di dapur, walaupun pagi belum sepenuhnya mulai. Sebagaimana stereotype budaya setempat, pagi itu perempuan-perempuan telah mendominasi dapur, menjerang air dan melakukan persiapan pagi hari untuk keluarganya. Kesibukan itu membuat pikiran saya terbang ke keluarga. Genap dua hari saya tak dapat menghubungi keluarga karena WIFI tidak berfungsi. Sebersit kerinduan menyergap, semoga semuanya baik-baik saja.

DSC00112

The hidden sunrise from Chuile

DSC00151

Guesthouse in Chuile

Pagi yang merekah pelan membuat saya melangkah keluar kamar, ke halaman. Pak Ferry rupanya sudah bangun dan sedang menikmati pemandangan lembah. Sambil teringat insiden semalam soal lintah (baca: disini) saya menghampirinya. Sinar keemasan mentari menerangi langit Timur, menerangi puncak-puncak gunung bersalju itu, memberikan efek dramatis pada gunung favorit saya, Macchapucchare (6993MDPL) yang sering disebut Fish Tail karena bentuk puncaknya yang seperti ekor ikan. Sejak pertama kali menjejak Pokhara di tahun 2014, saya telah jatuh cinta dengan gunung ini dan mampu membuat saya ingin kembali ke Nepal.

Pada kesempatan itu, saya meminta maaf kepada Pak Ferry, karena kondisi saya yang selalu berjalan pelan sehingga waktunya tidak mencukupi untuk trekking ke Annapurna Base Camp. Namun sebelum saya menyelesaikan semua kalimat, Pak Ferry sudah memotongnya, “bukankah perjalanannya yang lebih penting daripada tujuannya? Jadi nikmati saja…”

“The journey itself, not destination”

Saya terdiam, teringat beberapa orang yang sering berkata negatif tentang Pak Ferry, tetapi mana ada orang sempurna? Dibalik ketidaksempurnaannya, saya kian melihat begitu banyak kebaikan humanis yang tidak perlu diumbar namun terlihat saat berjalan berhari-hari bersamanya. Betapa sering manusia memberi label kepada manusia lain, padahal mereka tak pernah tahu bagaimana perjalanan hidupnya. Ah, memang dari sebuah perjalanan, kita lebih mengenal pribadi rekan-rekan seperjalanan. Dan seakan menyelaraskan, keindahan pengertian dan pemahaman di benak pun mengikuti keindahan mentari yang meninggi menyinari puncak-puncak bersalju itu.

DSC00141

Mt Macchapuchhre with The Sun – from Chuile

 

Keberanian itu…

Hari itu, kami melanjutkan perjalanan ke Chhomrong, desa persimpangan menuju dan dari Annapurna Base Camp. Meninggalkan penginapan, perjalanan dimulai dengan turunan curam. Dan seperti biasa untuk turunan, Kedar dan saya melangkah cepat, sedikit berlari menuruni tangga-tangga batu meninggalkan Pak Ferry dan Dipak di belakang lalu menunggu di seberang jembatan gantung. Menit-menit berlalu akhirnya saya melihat Pak Ferry yang merasa jeri berjalan di jembatan gantung yang bergoyang-goyang. Tertegun, teringat bungsu saya, -ia juga memiliki phobia ketinggian-, yang pernah begitu ketakutan berjalan di jembatan gantung walau ia tak berhenti melangkah. Kepada mereka, saya kagum! Itulah makna keberanian yang sesungguhnya, berani memerangi ketakutan mereka sendiri, dengan susah payah, ngeri-ngeri sedap melawan diri sendiri.

DSC00183

Being brave is having that fear but finding a way through it

DSC00185

Never-ending stairs :

Dan setelahnya, giliran saya menjadi buntut karena di depan ada tangga-tangga tinggi lagi. Kali ini, saya setuju dengan Captain Haddock dalam serial komik Tintin, yang bersungut-sungut saat mendaki gunung, “Untuk apa naik gunung kalau nantinya harus turun lagi?” 😀

Tapi ada seribu satu alasan berhenti untuk mengambil nafas, salah satunya memotret pemandangan indah yang kali ini didominasi warna hijau seperti hutan, lembah, pepohonan dan lainnya. Berkali-kali dada terasa penuh menyaksikan pemandangan indah di depan mata. Pemilik Semesta memang sedang tersenyum saat menciptakan bumi Nepal. Tak bosan-bosan saya berhenti untuk menikmati pemandangan.

DSC00204

Green while trekking

DSC00226

Sometimes going down sometimes going up

Hingga suatu saat saya tersadarkan, Dipak sudah tak terlihat dalam jangkauan mata. Dimana dia? Saya mempercepat langkah, tetapi pemandu itu tetap tak terlihat. Saya bertanya dalam hati, apakah saya terlalu egois menikmati pemandangan hingga tidak memperhatikan irama langkah? Atau ‘kesibukan’ mengagumi keindahan alam hingga mengabaikan kehadiran orang lain? Ada rasa yang merayap naik menyadarkan jiwa, selama ini ego diri yang dimenangkan, bukan manusia lain di sekitar. Saya tak enak hati dan mencoba menyusulnya. Tak lama di sebuah tempat istirahat, terlihat Dipak duduk menunggu. Dimatanya sekilas tersirat  ketidaksabaran. Ah, saya harus berani mengaku salah!

Saya meminta maaf kepadanya yang langsung disambut senyum, no problem, katanya. Tetapi sejak itu, ia berjalan di belakang, membiarkan saya berjalan lebih dulu dalam jangkauan pandangan mata dan langkahnya. Baginya, lebih aman ia berjalan di belakang dan bisa menyusul kapan saja daripada harus menunggu saya.

Dan yang tak terduga pun terjadi, dari arah depan saya…

Saat itu, saya berjalan sambil mendengarkan musik untuk menambah semangat. Rasanya menyenangkan kepala dan badan bergoyang menyusuri punggung bukit yang dipenuhi hutan di bagian atas. Tiba-tiba, di suatu tempat sebelum tebing, alarm tubuh saya ‘berdering’ agar waspada. Diantara suara musik, alarm tubuh itu begitu kuat sehingga saya langsung mencabut head-set dari telinga. Dan terdengar dari arah atas,

Dug…. Dug… Dug… Dug… Dug… Dug…

Berikutnya saya terhenyak karena mendengar teriakan Dipak dari arah belakang.

“Riyantiiiiiiiiiiii… Stooooppp………………!”

Badan langsung mengejang, rasa dingin menerjang seluruh permukaan tubuh. Terdiam kaku. Sungguh saya tak tahu ada apa. Tak jelas, tak pasti. Tapi ada bahaya! Waspada! Detik berjalan sangat lambat. Saya kaku, tak bergerak.

Dalam sekejap, Dipak yang berlari kencang langsung menyusul dan berdiri di depan saya, bersikap menghadang sambil melihat ke atas. Antara bingung, kuatir dan rasa aman yang campur aduk, saya bertanya padanya, “What’s happened?

Falling logs…

Blasss… saya ngeri. Suara dug-dug-dug tadi adalah suara gelondong pohon yang entah sengaja ditebang atau rubuh di hutan tepat di bukit di atas kami. Gelondong kayu itu sepertinya menggelinding dari atas menuju kami yang berada di bawah. Masalahnya, kami tak dapat melihat gelondong kayu yang jatuh itu. Hanya suaranya saja yang terdengar mendekat.

Dipak mempelajari situasinya secara cepat di depan saya dan dalam sekejap ia mengajak lari. Tak perlu berpikir atau menunggu aba-aba lagi, langsung saja saya lari secepat mungkin meninggalkan tempat itu, hingga akhirnya suara mengerikan dug… dug… dug… dug… itu tertinggal di belakang.

after the falling logs

After the falling logs

Habis itu, rasanya saya tak mampu lagi berdiri tegak, hanya megap-megap mencari oksigen. Di usia boros ini, ditambah jarang (baca: tidak pernah) olahraga, lari sprint sesaat bisa membuat nafas tinggal satu atau dua. Ditambah kengerian membayangkan gelondong kayu jatuh dari atas. Walaupun akhirnya, -setelah kembali berjalan-, saya tidak pernah tahu apakah benar kayu-kayu itu terus menggelinding melampaui atau bisa berhenti sebelum jalur trekking kami tadi. Lalu apakah kayu itu jatuh karena ditebang atau rapuh, saya juga tak pernah tahu. Saya hanya mengangguk-angguk saat Dipak mengatakan segala sesuatu bisa terjadi saat berkegiatan di alam. Ah, sekali lagi, ia menyelamatkan saya dari situasi mendebarkan hati.

Dan setelah berjalan beberapa saat, saya sampai di sebuah pohon unik yang bentuk dan tempat tumbuhnya membuatnya berbeda. Pohon tanpa daun itu  tumbuh tepat di pinggir tebing di persimpangan jalur. Jika salah langkah saat berfoto, dipastikah akan langsung glundung ke bawah, disambut rangkaian tangga curam ke bawah yang tak habis-habis. Walaupun deg-degan, tetap saja saya bergaya di pohon itu. Mau coba juga?

Setelah melewati tangga-tangga curam itu, desa Chhomrong sudah tak jauh lagi dengan kondisi jalan yang Nepali flat, menanjak landai. Saya melangkah santai menikmati pemandangan indah yang terbentang di depan mata.

animals

Some animals I see during the trekking

 

Sendiri Berkontemplasi

Hingga suatu tempat, jalan saya tertutup oleh kerbau-kerbau yang sedang beristirahat. Saya agak ngeri berjalan diantara mereka yang besar dan hitam dengan tanduk melengkung tajam. Tapi entah mengapa terbersit di benak bahwa mereka juga makhluk seperti manusia, menghuni alam ini dan berhak beristirahat juga. Sebelum pikiran berpindah, mata ini melihat ke pagar batu di pinggir, sekitar 1 meter tinggi dan 30 cm lebarnya sehingga bisa dijejak diatasnya. Dan berjalan di atas pagar, -walaupun ngeri juga karena ada lembah di kanan-, sepertinya win-win solution. Para kerbau bisa tenang melanjutkan istirahat dan saya bisa santai melanjutkan perjalanan. Tetapi ah, seharusnya saya selfie saat berjalan di atas pagar itu, saya lupa! Lagi-lagi saya akui, God is always good, dalam memberi petunjuk, dalam segalanya.

Walaupun trip ini saya lakukan bersama Pak Ferry, kadang melakukan sepenggal perjalanan tetap sendirian. Inilah asiknya ‘solo-trip’. Walau banyak yang bertanya kepada saya, apa enaknya jalan sendiri tanpa kawan. Hmmm… entah ya, tetapi bagi saya, berjalan sendiri artinya berjalan bersamaNya secara intens dan membiarkan sejiwa dengan alam dalam harmoninya. Rasanya? Keluarbiasaan yang tak terjelaskan, ada takut namun keberanian menyeruak juga…

Dan benar saja, di depan mata alam menyuguhkan pemandangan luarbiasa. Sinar mentari yang menembus awan memberi kesan akan sinar Surga. Jika sebelumnya saya melangkah dalam hening mengingatNya, apa yang saya lihat ini seakan menjawab semua permintaan jiwa. Saya meluruh dalam syukur akan jawaban langsung! Kita tak pernah sendirian, Dia yang selalu mencintai kita, yang memperhatikan seakan berjalan bersama. Kesadaran yang memberikan kekuatan ini, sekali lagi membukakan arah jiwa, semua pasti mengarah kepadaNya.

Ray of light to the valley

Ray of light to the valley

Diingatkan akan keindahan tanah air saat melihat keindahan…

Rasa penuh syukur itu membuat saya duduk di batu istirahat. Beberapa menit kemudian dua orang paruh baya datang mendekat, ikut melepas lelah. Dari bahasanya saya mengenali mereka dari Korea. Saya menyapa dengan sepatah kata Korea yang saya bisa, Annyeonghaseyo… Sapa itu mengejutkan mereka dan langsung mengakrabkan kami semua. Dan dengan kalimat-kalimat pendek bahasa Inggris kami berkenalan dan bertukar cerita. Dan bahkan kalimat-kalimat selanjutnya dari dua pak tua membuat giliran saya sedikit ternganga. Dengan penuh keterpesonaan mereka bercerita tentang keindahan Gunung Rinjani karena mereka baru saja kembali dari sana sebelum ke Annapurna Base Camp. Tentu saja saya bangga karena kekaguman mereka sekaligus sangat malu karena saya belum pernah menjejak di Rinjani, walaupun sudah banyak tempat di Lombok sudah saya singgahi. Ah, pertemuan ini pastilah bermakna, karena tidak mungkin hanya sebuah kebetulan belaka.

Kami beranjak melangkah bersama menuju Chhomrong. Sebelum pertigaan, langkah kami terhenti, memberi jalan rombongan keledai dengan bunyi-bunyi khas klenengan yang tergantung di leher. Seakan tersihir bunyi klenengan yang ‘ngangeni’ itu, saya diam tanpa ekspresi melihat Dipak dan Kedar berdiri menanti di ujung seberang. Rasanya saya malah sedikit mellow karena akan berpisah dengan kedua Pak Tua Korea, entah kenapa. Saat keledai terakhir telah lewat, saya menoleh kepada mereka lalu mengucapkan salam perpisahan. Saya percaya, walaupun hanya sebentar saja, pertemuan dengan kedua orang itu, telah memberi warna dan makna dalam kehidupan saya. Siapa sangka ada orang asing yang mengingatkan tentang keindahan Gunung Rinjani di Indonesia di tengah-tengah pemandangan indah di kawasan Annapurna? Rasanya seperti dijewer dengan cinta…

Dan laksana kehidupan, mereka melanjutkan perjalanan mungkin menyampaikan pesan Semesta lainnya, sementara saya mengayunkan langkah ke penginapan dekat pertigaan. Jelang sore itu, pemandangan pegunungan Himalaya bertudung salju disembunyikan dari saya. Tampak awan gelap menyelimuti puncak-puncak gunung dan jalur menuju ABC tampak begitu kelam. Ah, semoga besok pagi saya diberi berkah agar bisa menyaksikan pemandangan indah.

Bersambung…

DSC00230

Heavy clouds on the way to ABC

Iklan

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.