D-5 Trekking di Nepal – Berani Melawan Ketakutan


Alam Chuile membangunkan saya pagi itu, juga suara-suara di dapur, walaupun pagi belum sepenuhnya mulai. Sebagaimana stereotype budaya setempat, pagi itu perempuan-perempuan telah mendominasi dapur, menjerang air dan melakukan persiapan pagi hari untuk keluarganya. Kesibukan itu membuat pikiran saya terbang ke keluarga. Genap dua hari saya tak dapat menghubungi keluarga karena WIFI tidak berfungsi. Sebersit kerinduan menyergap, semoga semuanya baik-baik saja.

DSC00112
The hidden sunrise from Chuile
DSC00151
Guesthouse in Chuile

Pagi yang merekah pelan membuat saya melangkah keluar kamar, ke halaman. Pak Ferry rupanya sudah bangun dan sedang menikmati pemandangan lembah. Sambil teringat insiden semalam soal lintah (baca: disini) saya menghampirinya. Sinar keemasan mentari menerangi langit Timur, menerangi puncak-puncak gunung bersalju itu, memberikan efek dramatis pada gunung favorit saya, Macchapucchare (6993MDPL) yang sering disebut Fish Tail karena bentuk puncaknya yang seperti ekor ikan. Sejak pertama kali menjejak Pokhara di tahun 2014, saya telah jatuh cinta dengan gunung ini dan mampu membuat saya ingin kembali ke Nepal.

Pada kesempatan itu, saya meminta maaf kepada Pak Ferry, karena kondisi saya yang selalu berjalan pelan sehingga waktunya tidak mencukupi untuk trekking ke Annapurna Base Camp. Namun sebelum saya menyelesaikan semua kalimat, Pak Ferry sudah memotongnya, “bukankah perjalanannya yang lebih penting daripada tujuannya? Jadi nikmati saja…”

“The journey itself, not destination”

Saya terdiam, teringat beberapa orang yang sering berkata negatif tentang Pak Ferry, tetapi mana ada orang sempurna? Dibalik ketidaksempurnaannya, saya kian melihat begitu banyak kebaikan humanis yang tidak perlu diumbar namun terlihat saat berjalan berhari-hari bersamanya. Betapa sering manusia memberi label kepada manusia lain, padahal mereka tak pernah tahu bagaimana perjalanan hidupnya. Ah, memang dari sebuah perjalanan, kita lebih mengenal pribadi rekan-rekan seperjalanan. Dan seakan menyelaraskan, keindahan pengertian dan pemahaman di benak pun mengikuti keindahan mentari yang meninggi menyinari puncak-puncak bersalju itu.

DSC00141
Mt Macchapuchhre with The Sun – from Chuile

 

Keberanian itu…

Hari itu, kami melanjutkan perjalanan ke Chhomrong, desa persimpangan menuju dan dari Annapurna Base Camp. Meninggalkan penginapan, perjalanan dimulai dengan turunan curam. Dan seperti biasa untuk turunan, Kedar dan saya melangkah cepat, sedikit berlari menuruni tangga-tangga batu meninggalkan Pak Ferry dan Dipak di belakang lalu menunggu di seberang jembatan gantung. Menit-menit berlalu akhirnya saya melihat Pak Ferry yang merasa jeri berjalan di jembatan gantung yang bergoyang-goyang. Tertegun, teringat bungsu saya, -ia juga memiliki phobia ketinggian-, yang pernah begitu ketakutan berjalan di jembatan gantung walau ia tak berhenti melangkah. Kepada mereka, saya kagum! Itulah makna keberanian yang sesungguhnya, berani memerangi ketakutan mereka sendiri, dengan susah payah, ngeri-ngeri sedap melawan diri sendiri.

DSC00183
Being brave is having that fear but finding a way through it
DSC00185
Never-ending stairs :

Dan setelahnya, giliran saya menjadi buntut karena di depan ada tangga-tangga tinggi lagi. Kali ini, saya setuju dengan Captain Haddock dalam serial komik Tintin, yang bersungut-sungut saat mendaki gunung, “Untuk apa naik gunung kalau nantinya harus turun lagi?” 😀

Tapi ada seribu satu alasan berhenti untuk mengambil nafas, salah satunya memotret pemandangan indah yang kali ini didominasi warna hijau seperti hutan, lembah, pepohonan dan lainnya. Berkali-kali dada terasa penuh menyaksikan pemandangan indah di depan mata. Pemilik Semesta memang sedang tersenyum saat menciptakan bumi Nepal. Tak bosan-bosan saya berhenti untuk menikmati pemandangan.

DSC00204
Green while trekking
DSC00226
Sometimes going down sometimes going up

Hingga suatu saat saya tersadarkan, Dipak sudah tak terlihat dalam jangkauan mata. Dimana dia? Saya mempercepat langkah, tetapi pemandu itu tetap tak terlihat. Saya bertanya dalam hati, apakah saya terlalu egois menikmati pemandangan hingga tidak memperhatikan irama langkah? Atau ‘kesibukan’ mengagumi keindahan alam hingga mengabaikan kehadiran orang lain? Ada rasa yang merayap naik menyadarkan jiwa, selama ini ego diri yang dimenangkan, bukan manusia lain di sekitar. Saya tak enak hati dan mencoba menyusulnya. Tak lama di sebuah tempat istirahat, terlihat Dipak duduk menunggu. Dimatanya sekilas tersirat  ketidaksabaran. Ah, saya harus berani mengaku salah!

Saya meminta maaf kepadanya yang langsung disambut senyum, no problem, katanya. Tetapi sejak itu, ia berjalan di belakang, membiarkan saya berjalan lebih dulu dalam jangkauan pandangan mata dan langkahnya. Baginya, lebih aman ia berjalan di belakang dan bisa menyusul kapan saja daripada harus menunggu saya.

Dan yang tak terduga pun terjadi, dari arah depan saya…

Saat itu, saya berjalan sambil mendengarkan musik untuk menambah semangat. Rasanya menyenangkan kepala dan badan bergoyang menyusuri punggung bukit yang dipenuhi hutan di bagian atas. Tiba-tiba, di suatu tempat sebelum tebing, alarm tubuh saya ‘berdering’ agar waspada. Diantara suara musik, alarm tubuh itu begitu kuat sehingga saya langsung mencabut head-set dari telinga. Dan terdengar dari arah atas,

Dug…. Dug… Dug… Dug… Dug… Dug…

Berikutnya saya terhenyak karena mendengar teriakan Dipak dari arah belakang.

“Riyantiiiiiiiiiiii… Stooooppp………………!”

Badan langsung mengejang, rasa dingin menerjang seluruh permukaan tubuh. Terdiam kaku. Sungguh saya tak tahu ada apa. Tak jelas, tak pasti. Tapi ada bahaya! Waspada! Detik berjalan sangat lambat. Saya kaku, tak bergerak.

Dalam sekejap, Dipak yang berlari kencang langsung menyusul dan berdiri di depan saya, bersikap menghadang sambil melihat ke atas. Antara bingung, kuatir dan rasa aman yang campur aduk, saya bertanya padanya, “What’s happened?

Falling logs…

Blasss… saya ngeri. Suara dug-dug-dug tadi adalah suara gelondong pohon yang entah sengaja ditebang atau rubuh di hutan tepat di bukit di atas kami. Gelondong kayu itu sepertinya menggelinding dari atas menuju kami yang berada di bawah. Masalahnya, kami tak dapat melihat gelondong kayu yang jatuh itu. Hanya suaranya saja yang terdengar mendekat.

Dipak mempelajari situasinya secara cepat di depan saya dan dalam sekejap ia mengajak lari. Tak perlu berpikir atau menunggu aba-aba lagi, langsung saja saya lari secepat mungkin meninggalkan tempat itu, hingga akhirnya suara mengerikan dug… dug… dug… dug… itu tertinggal di belakang.

after the falling logs
After the falling logs

Habis itu, rasanya saya tak mampu lagi berdiri tegak, hanya megap-megap mencari oksigen. Di usia boros ini, ditambah jarang (baca: tidak pernah) olahraga, lari sprint sesaat bisa membuat nafas tinggal satu atau dua. Ditambah kengerian membayangkan gelondong kayu jatuh dari atas. Walaupun akhirnya, -setelah kembali berjalan-, saya tidak pernah tahu apakah benar kayu-kayu itu terus menggelinding melampaui atau bisa berhenti sebelum jalur trekking kami tadi. Lalu apakah kayu itu jatuh karena ditebang atau rapuh, saya juga tak pernah tahu. Saya hanya mengangguk-angguk saat Dipak mengatakan segala sesuatu bisa terjadi saat berkegiatan di alam. Ah, sekali lagi, ia menyelamatkan saya dari situasi mendebarkan hati.

Dan setelah berjalan beberapa saat, saya sampai di sebuah pohon unik yang bentuk dan tempat tumbuhnya membuatnya berbeda. Pohon tanpa daun itu  tumbuh tepat di pinggir tebing di persimpangan jalur. Jika salah langkah saat berfoto, dipastikah akan langsung glundung ke bawah, disambut rangkaian tangga curam ke bawah yang tak habis-habis. Walaupun deg-degan, tetap saja saya bergaya di pohon itu. Mau coba juga?

Setelah melewati tangga-tangga curam itu, desa Chhomrong sudah tak jauh lagi dengan kondisi jalan yang Nepali flat, menanjak landai. Saya melangkah santai menikmati pemandangan indah yang terbentang di depan mata.

animals
Some animals I see during the trekking

 

Sendiri Berkontemplasi

Hingga suatu tempat, jalan saya tertutup oleh kerbau-kerbau yang sedang beristirahat. Saya agak ngeri berjalan diantara mereka yang besar dan hitam dengan tanduk melengkung tajam. Tapi entah mengapa terbersit di benak bahwa mereka juga makhluk seperti manusia, menghuni alam ini dan berhak beristirahat juga. Sebelum pikiran berpindah, mata ini melihat ke pagar batu di pinggir, sekitar 1 meter tinggi dan 30 cm lebarnya sehingga bisa dijejak diatasnya. Dan berjalan di atas pagar, -walaupun ngeri juga karena ada lembah di kanan-, sepertinya win-win solution. Para kerbau bisa tenang melanjutkan istirahat dan saya bisa santai melanjutkan perjalanan. Tetapi ah, seharusnya saya selfie saat berjalan di atas pagar itu, saya lupa! Lagi-lagi saya akui, God is always good, dalam memberi petunjuk, dalam segalanya.

Walaupun trip ini saya lakukan bersama Pak Ferry, kadang melakukan sepenggal perjalanan tetap sendirian. Inilah asiknya ‘solo-trip’. Walau banyak yang bertanya kepada saya, apa enaknya jalan sendiri tanpa kawan. Hmmm… entah ya, tetapi bagi saya, berjalan sendiri artinya berjalan bersamaNya secara intens dan membiarkan sejiwa dengan alam dalam harmoninya. Rasanya? Keluarbiasaan yang tak terjelaskan, ada takut namun keberanian menyeruak juga…

Dan benar saja, di depan mata alam menyuguhkan pemandangan luarbiasa. Sinar mentari yang menembus awan memberi kesan akan sinar Surga. Jika sebelumnya saya melangkah dalam hening mengingatNya, apa yang saya lihat ini seakan menjawab semua permintaan jiwa. Saya meluruh dalam syukur akan jawaban langsung! Kita tak pernah sendirian, Dia yang selalu mencintai kita, yang memperhatikan seakan berjalan bersama. Kesadaran yang memberikan kekuatan ini, sekali lagi membukakan arah jiwa, semua pasti mengarah kepadaNya.

Ray of light to the valley
Ray of light to the valley

Diingatkan akan keindahan tanah air saat melihat keindahan…

Rasa penuh syukur itu membuat saya duduk di batu istirahat. Beberapa menit kemudian dua orang paruh baya datang mendekat, ikut melepas lelah. Dari bahasanya saya mengenali mereka dari Korea. Saya menyapa dengan sepatah kata Korea yang saya bisa, Annyeonghaseyo… Sapa itu mengejutkan mereka dan langsung mengakrabkan kami semua. Dan dengan kalimat-kalimat pendek bahasa Inggris kami berkenalan dan bertukar cerita. Dan bahkan kalimat-kalimat selanjutnya dari dua pak tua membuat giliran saya sedikit ternganga. Dengan penuh keterpesonaan mereka bercerita tentang keindahan Gunung Rinjani karena mereka baru saja kembali dari sana sebelum ke Annapurna Base Camp. Tentu saja saya bangga karena kekaguman mereka sekaligus sangat malu karena saya belum pernah menjejak di Rinjani, walaupun sudah banyak tempat di Lombok sudah saya singgahi. Ah, pertemuan ini pastilah bermakna, karena tidak mungkin hanya sebuah kebetulan belaka.

Kami beranjak melangkah bersama menuju Chhomrong. Sebelum pertigaan, langkah kami terhenti, memberi jalan rombongan keledai dengan bunyi-bunyi khas klenengan yang tergantung di leher. Seakan tersihir bunyi klenengan yang ‘ngangeni’ itu, saya diam tanpa ekspresi melihat Dipak dan Kedar berdiri menanti di ujung seberang. Rasanya saya malah sedikit mellow karena akan berpisah dengan kedua Pak Tua Korea, entah kenapa. Saat keledai terakhir telah lewat, saya menoleh kepada mereka lalu mengucapkan salam perpisahan. Saya percaya, walaupun hanya sebentar saja, pertemuan dengan kedua orang itu, telah memberi warna dan makna dalam kehidupan saya. Siapa sangka ada orang asing yang mengingatkan tentang keindahan Gunung Rinjani di Indonesia di tengah-tengah pemandangan indah di kawasan Annapurna? Rasanya seperti dijewer dengan cinta…

Dan laksana kehidupan, mereka melanjutkan perjalanan mungkin menyampaikan pesan Semesta lainnya, sementara saya mengayunkan langkah ke penginapan dekat pertigaan. Jelang sore itu, pemandangan pegunungan Himalaya bertudung salju disembunyikan dari saya. Tampak awan gelap menyelimuti puncak-puncak gunung dan jalur menuju ABC tampak begitu kelam. Ah, semoga besok pagi saya diberi berkah agar bisa menyaksikan pemandangan indah.

Bersambung…

DSC00230
Heavy clouds on the way to ABC

D-4 Trekking di Nepal – Gurung Hill, Rumah Bumi dan Phobia


The earth has music for those who listen – William Shakespeare

Gurung Hill

Pagi yang cerah, -seakan-akan menggantikan cuaca buruk kemarin (baca ceritanya)-, menjanjikan sebuah keindahan. Dan sesuai janji Dipak, ia akan menunjukkan jalan ke Gurung Hill, -tempat melihat rangkaian puncak bersalju, yang jalannya tepat di depan penginapan. Dan saya sungguh berharap pagi ini bisa melihat pegunungan bersalju sebagai pengganti situasi berawan di Poon Hill sebelumnya (baca ceritanya)

Berbeda dengan jalan ke Poonhill, untuk sampai ke Gurung Hill, saya hanya menanjak sedikit untuk sampai ke sebuah tanah lapang yang menyuguhkan pemandangan pegunungan bersalju yang indah dan didominasi Gunung Dhaulagiri, 8146m.

gurunghill
The view in Gurung Hill
Gradation
Layers of Mountains

Mengingat kondisi habis hujan malam sebelumnya, Dipak meminta saya untuk tidak mendaki lebih dari tanah lapang namun ia membiarkan Pak Ferry dipandu Kedar ke atas. Mungkin ia tidak mau repot dengan perempuan kota melewati tempat becek penuh rintangan. Namun ia konsisten mendampingi di lapangan dan meyakinkan pemandangannya sama. Bedanya hanya ada tower dengan prayer-flags. Dan sebagai penikmat pinggir jurang, saya terpukau melihat pemandangan cantik sambil berjalan jauh ke pinggir sampai Dipak menarik saya menjauh dari tepi jurang yang dalam. Sebenarnya saya masih ingin maju karena posisinya tepat untuk memotret pegunungan berkabut dengan degradasi biru. Tetapi saya memahami concern-nya, bagaimana seandainya jatuh? Bergidik lalu saya mengubah fokus foto ke bunga rhododendron pink berlatar gunung berpuncak salju.

Rasanya waktu berjalan cepat karena tak lama kemudian Pak Ferry dan Kedar sudah terlihat di ujung tanah lapang. Untung saya tidak naik karena Pak Ferry juga menceritakan jalan yang tidak mudah dan becek. Dan sebelum meninggalkan Gurung Hill, sebuah foto persahabatan dibuat mengandalkan kamera yang diletakkan diatas ransel. Hasilnya? Jangan tanya gesture-nya, semuanya aneh.

deurali
Our guesthouse in Deurali

Setelahnya kami kembali ke penginapan bersiap melanjutkan perjalanan hari itu. Saya mencari wajah teman tunawicara namun tak terlihat batang hidungnya. Sampai bertemu lagi, Teman, suatu saat nanti. Lalu timbul sekelumit rasa dan keinginan untuk mengenang Deurali, sehingga saya membeli sebuah gelang biru di lapak depan penginapan. Sebuah pengingat. Memory. Lalu satu lagi foto persahabatan dibuat untuk mengingat pernah menjejak di Deurali. Seribu satu kesan telah terukir. Entah kapan saya kembali…

Jeri Pada Ketinggian

Seperti biasa, Pak Ferry dan Kedar berjalan di depan, Dipak dan saya di belakang. Tetapi yang tidak biasa adalah Pak Ferry berjalan sangat lambat karena jalanan menurun curam. Ia menapak sangat hati-hati sementara saya bisa melangkah cepat. Ternyata Pak Ferry memiliki sedikit masalah ketinggian hingga ia jeri melihat jalan di depannya curam ke bawah. Saya kaget juga karena Pak Ferry telah banyak naik-turun gunung di Indonesia. Walaupun saya penikmat pinggir jurang, kenyataan ini membuat saya berpikir, adakah manusia yang benar-benar bebas dari rasa jeri saat berada di ketinggian?

downhill
Down and down and down

Melihat kenyataan ini, Dipak memutuskan untuk menemani Pak Ferry berjalan dan menyuruh saya ke depan bersama Kedar. Saya telah belajar dari pengalaman sebelumnya ketika menuruni jalan-jalan curam dalam hujan es secara cepat. Dan selanjutnya begitulah, setiap turunan curam, saya berganti pasangan dengan Kedar, porter handsome calon bintang film, kata Pak Ferry. Kedar dengan beban berat di punggungnya selalu tersenyum lebar berjalan cepat bersama saya menuruni lembah. Saya melangkah tak lagi berpikir, hanya mengikuti irama kaki hingga rasanya begitu ringan terbang melayang.

Rumah Bumi

Turunan-turunan curam itu terhenti sejenak pada sebuah pelataran yang dipenuhi cairns, batu-batu yang ditumpuk keatas sebagai lambang keseimbangan. Namun bagi saya, pelataran cairns ini sebagai penanda. Entahlah, mungkin bagi pejalan lain tempat ini hanya berupa pelataran cairns biasa, namun bagi saya sampai di tempat ini seakan diberi pesan berada di tempat dan waktu yang tepat. Bukan hanya jalurnya melainkan waktunya juga tepat. Saya tersenyum sendiri menyaksikan kupu-kupu kuning kembali mendekat. Hati ini tercekat, meluruh bersama Semesta. I’m so blessed…

cairns-on-river
Cairns on the river

 Saat tea-break di Banthanti, kami semua terpesona akan ketrampilan kera-kera menuruni tebing vertikal. Jika saja Ibu pemilik tea-house itu tidak membuat keributan untuk mengusir kera, kami pun tidak menyadari kehadiran hewan-hewan itu di tebing. Bahkan mata yang awas pun harus teliti mencari kera diantara semak di tebing vertikal itu. Adakah yang mampu melawan hukum alam?

monkey
Can you find 2 monkeys here?
forests
The Forest

Setelah rehat menikmati teh hangat, perjalanan dilanjutkan melewati hutan eksotis karena batang-batang pohonnya telah kehilangan kulit. Jalan semakin mudah dengan tanjakan landai dan menghamparkan pemandangan luar biasa. Bukit-bukit penghubung dengan Himalaya itu berjajar indah dengan lembah-lembahnya yang membentuk huruf V. Sambil menggumamkan pujian kepada Pemilik Semesta, selintas terpikir, apakah Tuhan sedang tersenyum saat bumi Nepal terbentuk? Begitu indah sehingga mampu membasahkan mata.

Setelah makan siang kentang goreng di Tadapani, -karena sudah bosan dengan Dal Bhat atau mie-, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini jalannya kembali menanjak landai, -walaupun bagi orang Nepal jalan seperti itu dibilang datar-, sehingga saya tertinggal lagi oleh duo sekawan Pak Ferry dan Kedar. Hingga tiba di satu tempat yang terbuka, saya meminta Dipak untuk berhenti karena saya mendengar suara alam begitu indah. Saya mengamini kata Shakespeare, the earth has music for those who listen. Heningnya alam, hijaunya pepohonan, desir angin, keindahannya terasa seperti musik di telinga, begitu sempurna. Serta merta saya duduk menikmati musik alam dalam keheningan. Perjalanan ini luarbiasa, tanpa diminta, saya mendapat kesempatan untuk menyatu dan menikmati suara alam, tanpa kegaduhan manusia. Inilah Rumah Bumi bagi saya…

home2
Rumah Bumi – where the heart is…

Saya tak bisa berlama-lama di Rumah Bumi karena awan tebal mulai menggantung. Karena mengambil jalan potong, di jalan Dipak dan saya terhalang sebuah pagar besi yang menutupi jalan dan satu-satunya cara untuk melewatinya, dengan mengayunkan tubuh menumpu tiang pagar di sisi jurang. Sempat tergidik saat berpikir bagaimana Kedar dengan beban berat harus mengayun badan diatas jurang. Namun hoplaaa…  saya sukses mengayunkah tubuh yang berlebih ini.

Pak Ferry sudah santai di halaman sambil membaca buku ketika saya mencapai penginapan di desa Chuile yang menghadap lembah dengan sungai jauh di bawahnya. Indah sekali. Dan jahilnya, saya tergerak pamer gaya duduk di pinggir jurang dengan kaki menggantung di jurang yang bisa membuat orang yang phobia ketinggian, senewen. Tapiiiii… ternyata kejahilan itu langsung terbalas!

guesthouse-view
The view of our Guesthouse in Chuile

Law of Attraction

Kaki terasa begitu merdeka, terbebaskan dari sepatu setelah seharian berjalan. Dengan mengenakan sandal, saya ke halaman untuk menikmati kopi sambil melihat pemandangan. Tetapi sayang, berlama-lama menikmati pemandangan bukan rejeki saya sore itu, karena tidak lama kemudian gerimis turun yang semakin deras, membuat semuanya kembali ke kamar. Hujan es lagi! Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali istirahat atau mandi. Pilihan kedua menjadi prioritas karena dalam trekking mandi air hangat sungguh sebuah kemewahan.

Tapi yang terjadi sungguh tak terduga! Baru saja hendak menyabuni kaki ketika saya melihat sekilas ada yang aneh di antara jempol dan telunjuk kaki. Sesuatu yang membuntal gendut seperti tambahan jari. Dan sepersekian detik saya tersadar sepenuhnya, membuat saya menggigil ketakutan. 100% takut dan geli. Lintah!

intheedge
Showing off the shoes in the edge

Sepersekian detik itu, -ketika sadar saya terkena lintah-, tanpa pikir panjang, saya pukul, -entah dengan apa, pokoknya sedapatnya alat ditangan-, sambil jejeritan ketakutan di kamar mandi memukul-mukul si gendut itu hingga lepas. Suatu tindakan yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Tetapi jangan tanya boleh atau tidak, saya tidak berteori lagi, yang penting si gendut itu lepas. Dan setelah lepas, saya mengenakan pakaian secepat kilat lalu lompat-lompat kangguru kembali ke tempat tidur tanpa peduli lantai antara kamar mandi dan tempat tidur dipenuhi bercak darah.

Terduduk lemas gemetaran di tempat tidur, saya langsung membongkar ransel mencari Betadine, lalu menenangkan diri sejenak. Dan setelah membersihkan semua yang berceceran, saya terdiam lalu tersenyum sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala menyadari Pemilik Semesta mengajarkan segala sesuatu dengan caraNya sendiri. Sebuah ketakutan, keberanian atau keterpaksaan menghadapinya sendiri tanpa bantuan, hingga akhirnya sebuah pengertian akan sebuah kejadian.

Jika paham Law of Attraction, maka hati-hatilah dengan ketakutan Anda. Lintah ini contohnya. Sebagai perempuan kota, saya jarang sekali berkegiatan outdoor di Indonesia. Alasannya, karena amat sangat takut (atau lebih tepatnya geli) yang namanya lintah, ulat, cacing, kecoa dan sejenisnya. Anak saya saat balita pernah berbahagia sekali saat ia berlari mengejar ibunya sambil membawa daun berisi ulat yang gendut sementara saya jejeritan. Nah, sebelum trekking, saya google semua yang terkait lintah. Bahkan periode trekking pun disesuaikan supaya tidak dijalankan pada musim lintah. Dan saat trekking, -walau dengan sepatu waterproof-, sebisa mungkin saya menghindari genangan atau tempat yang becek atau lembab. Saya begitu paranoid karena ‘katanya’ lintah bisa jatuh dari pepohonan, bisa masuk saat duduk istirahat, saat menginjak genangan atau tempat becek, bisa ke punggung, bisa menembus sepatu hingga menempel ke kaki, dan seterusnya. Ampun… amit-amit banget dengan lintah… Dan karena ketakutan itulah tanpa sadar saya terus menghadirkan lintah dalam benak. Dan demikianlah Law of Attraction berjalan. Si lintah benar-benar datang dan menempel pada jari saya, satu kejadian yang sama sekali saya takutkan.

Dan cerita tentang penghisap darah itu belum berakhir sampai situ. Setelah makan malam, Pak Ferry, Dipak dan saya ngobrol panjang lebar. Hingga suatu saat, saya melongok ke bawah mencari sandal. Saya terkejut karena, -walaupun temaram-, di bawah meja terlihat cukup banyak tetesan darah dari kaki saya. Pasti kelanjutan akibat si gendut lintah. Otomatis saya mengambil tissue untuk membersihkan lantai dan menekan pendarahan. Namun apa yang saya lakukan membuat kedua sahabat seperjalanan itu terkejut dan langsung sibuk seakan-akan saya terluka parah. Pak Ferry langsung ke kamarnya untuk mengambil peralatan P3K. Namun darah tetap menetes. Akhirnya Dipak mengambil alih. Sebenarnya saya segan seorang laki-laki Nepal memegang jempol kaki, rasanya tidak pantas sekali. Tetapi ia pemandu yang lebih berpengalaman. Saya menurut padanya. Entah apa yang dia lakukan, saya hanya diminta untuk menekan luka lalu melanjutkan obrolan. Hebatnya, tak lama kemudian pendarahannya berhenti. Saya sungguh berterimakasih kepada Dipak dan malam itu saya terpincang-pincang kembali ke kamar menopang mereka berdua sambil menambah gelar Dipak sebagai the leech doctor 😀

 

D-3 Trekking di Nepal – Dihajar Hujan Es


There are no mistakes or failures, only lessons –  Denis Waitley

Setiap langkah trekking membawa saya pada berbagai pembelajaran. Setiap hari bertambah pengalaman yang memperkaya rasa, tentang kekuatan diri, tentang warna orang-orang yang menolong, tentang tanggung jawab, keberanian, juga pembelajaran dari alam, dan tentu saja kebaikan hati.

Menghargai Kekuatan Diri Manusia

Penginapan bertingkat itu sudah sepi ditinggalkan para trekker sejak pagi menyisakan kami yang merupakan rombongan terakhir. Sedikit sendu saya melangkah menuju halaman, meninggalkan tempat yang mengukir kenangan tak terlupa tentang sebuah pemberontakan isi perut (baca cerita soal itu). Saya hanya perlu belajar lebih mengenal diri sendiri. Tidak ada kesalahan atau kenangan buruk, semua akan menjadi cerita indah sebagaimana saya juga siap menerima cerita-cerita lain di tempat baru di hari ketiga trekking ini.

Sambil menunggu Dipak menyelesaikan administrasi, di halaman saya menyaksikan Pak Ferry mencoba menjadi porter seperti Kedar, dengan meletakkan pusat tali yang mengikat tas bagasi besar yang sangat berat itu di kepalanya. Berhasil, bahkan pak Ferry juga berhasil berjalan dari ujung ke ujung halaman. Sebenarnya saya kuatir akan kekuatan leher dan kepalanya. Jika ada apa-apa dengannya, bagaimana saya harus cerita kepada keluarganya?

Try to be a porter
my friend tried to be a porter (photo credit to Pak Ferry’s)

Saya tak menyadari kehadiran Dipak yang tersenyum lebar menyaksikan unjuk kekuatan di halaman itu. Pak Ferry yang mukanya memerah akibat mengangkat tas bagasi, mengakui beratnya tas untuk dibawa orang normal apalagi dengan menggunakan kekuatan otot leher. Ah, sebagai perempuan satu-satunya dalam rombongan kecil, saya menggeleng-gelengkan kepala sambil mencoba memahami apakah semua laki-laki itu perlu kesempatan untuk bisa unjuk kekuatan fisik? 😀

Namun, pertunjukan sesaat itu membuat saya semakin menghargai pekerjaan Kedar, porter kami untuk trekking kali ini. Dia, yang menurut Dipak berasal dari keluarga tak mampu, hanya bisa mengandalkan kekuatan fisiknya untuk berjalan membawa beban mengikuti alur gunung dengan pakaian dan sepatu seadanya, hanya untuk mendapat sedikit uang. Banyak trekker tak ingin menggunakan jasa porter karena merasa tak memerlukannya, padahal dengan menggunakan jasa porter, trekker telah membantu secara langsung sebuah kehidupan di Nepal.

Ketiga sahabat seperjalanan mulai melangkah pergi, saya sejenak menoleh ke belakang, membisikkan kata perpisahan pada tempat yang menjadi saksi diam keindahan Himalaya. Entah kapan saya bisa kembali lagi ke tempat ini.

Dalam beberapa saat kami berjalan mendekati batas desa karena bangunan semakin jarang dan  akhirnya terlihat sebuah gapura. Saya kembali berfoto disitu. Kali ini untuk meninggalkan Ghorepani.

Our Porter waiting in the Ghorepani's Gate
Our Porter waiting in the Ghorepani’s Gate – See You Again…

 Sebuah Tanggung Jawab

 “Where is your trekking pole?”, tanya Dipak mengejutkan setelah berjalan santai sekitar sepuluh menit.

Rasanya seperti ketahuan menyontek saat ujian, saya langsung berdiri diam membeku. Trekking pole merupakan benda pinjaman dari agen trekking dan menjadi tanggung jawab saya selama trekking. Kini benda itu tidak di tangan padahal saya biasa menggunakannya selama berjalan. Untungnya otak masih cukup bagus untuk mengingat tempat terakhir saya meletakkannya. Pasti di sudut kamar. Merasa bersalah, saya katakan tempatnya sambil balik arah untuk mengambilnya tetapi Dipak mencegah. Ia akan mengambilnya dan meminta saya berjalan terus karena ia bisa menyusul. Rasanya saya terjun bebas ke jurang, malu dan tak enak hati, ini benar-benar sebuah keteledoran!

Sambil mengutuk diri, saya terus berjalan menuju rindangnya hutan rhododendron yang berdaun hijau karena musim bunga sudah berlalu. Terlintas di benak anjuran untuk forest bathing, -bukan mandi di tengah hutan-, melainkan menikmati jalan-jalan di hutan yang katanya bisa menurunkan stress. Mungkin benar karena memang nyaman jalan-jalan di hutan. Tapi untuk situasi saya  saat ini? Ugh…

Belum lama berjalan di hutan, Dipak sudah menyusul lalu menyerahkan trekking pole yang tertinggal itu. Malu ditambah rasa bersalah, saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Rasanya seperti menghujam ke inti bumi. Ironis sekali, berada di dalam hutan rindang yang katanya bisa menurunkan stress tapi saya menerima barang, -yang merupakan tanggung jawab saya-, dari seseorang yang bersedia mengambilnya kembali hanya karena saya LUPA! Sepertinya guilty feeling itu menaikkan stress.

A Horse in tranquility
A Horse in tranquility

Kegembiraan trekking

Bagaimanapun semua sudah terjadi dan saya harus meneruskan perjalanan menuju perbukitan yang lebih terbuka. Kami bertemu dengan tiga trekkers yang datang dari arah berlawanan, yang meminta kepastian arah menuju Ghorepani. Wajah mereka bahagia karena jalurnya menurun, berlawanan dengan jalur kami yang masih terus menanjak walaupun lebih landai daripada hari sebelumnya. Dua sahabat seperjalanan, Pak Ferry dan Kedar, terlihat gembira untuk berlomba mencapai puncak bukit, entah siapa yang menang. Saya sendiri, seperti biasa, menjadi buntut. Di sisi kanan, Dipak duduk di batu tampak bahagia bisa menelepon. Bahagia itu memang sederhana…

The trekking path
The trekking path

Sambil mengatur napas karena jalannya menanjak, saya mengerahkan daya untuk merekam suasana sekitar yang menenteramkan ke dalam jiwa. Alam itu sangat indah. Saya melihat Dipak yang sudah menyusul lalu berteriak menyemangati dari puncak bukit. Last Ukalo, katanya, yang berarti tanjakan terakhir. Yeeiy…

Akhirnya di puncak bukit itu saya mendapati Pak Ferry tidur dengan buku menutupi wajahnya. Bahagianya! Kedar dan Dipak mengobrol sambil mengunyah kurma dari Pak Ferry dan membuang bijinya ke semak-semak sekitar. Mungkin sekian tahun lagi akan tumbuh pohon kurma di pegunungan Himalaya 😀

Dihajar Badai dan Hujan Es

Rehat bubar karena kabut turun dengan cepat. Segera saja Kedar dan Pak Ferry tancap gas meninggalkan saya yang menyempatkan mengambil foto kabut menyelimuti kawasan dengan jurang di kanan dan tebing di kiri. Dipak meminta saya bergegas melihat cuaca yang mulai tidak bersahabat. Rasa kuatir di wajahnya membuat saya mematuhinya, mempercepat langkah ke Deurali.

Guntur menggelegar, mengikuti kilat yang datang terlebih dahulu. Jeda diantara keduanya masih cukup jauh, walaupun saya tetap harus waspada berjalan dengan tebalnya kabut. Namun selaras dengan waktu, kilat dan guntur pun semakin sempit jedanya dan semakin sering terdengar dan akhirnya hujan pun jatuh. Cukup deras! Di depan mata hutan kembali menghadang. Aduh…

Walaupun jalannya lebih landai, beberapa kali saya hampir jatuh tersandung akar-akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah. Untung trekking pole cukup kuat menopang saya walaupun di beberapa tempat yang terjal Dipak sampai harus mengulurkan tangan untuk membantu. Dasar saya orang kota, -yang tidak terbiasa jalan di hutan, kehujanan, dingin lagi-, beberapa kali saya ‘telmi’ untuk menapakkan kaki terutama di turunan terjal. Sepertinya saya terlalu banyak berpikir, padahal kaki sudah mengarah yang benar tetapi pikiran saya menghentikannya. Kaki dan pikiran tidak seirama. Pelan-pelan saya mencoba menyelaraskan pikiran dengan irama kaki. Saya belajar untuk mempercayakan keselamatan tubuh kepada irama kaki dan hei… langkah menjadi lebih ringan. Ah, kadangkala alam membiarkan saya belajar pada waktu yang aneh. Hujan-hujan begini, di hutan lagi…

Jas hujan yang menutupi setengah badan, membasahi bagian bawah celana trekking yang baru saja saya ganti di Ghorepani. Untungnya, kaki dalam sepatu tetap kering. Saya teringat saat membeli sepatu beberapa waktu sebelumnya. Penjual sepatu itu menyarankan yang waterproof walaupun tidak keren dan sedikit mahal. Tak sadar saya tersenyum dalam hujan, berterima kasih pada penjual sepatu karena saat ini terbukti ucapannya.

Di hutan yang agak terbuka saya baru tersadar, sebenarnya yang menerpa kami di menit-menit terakhir adalah hujan es, bukan hujan biasa. Ya benar, hujan es! Butiran-butiran es itu terasa saat jatuh di jas hujan. Dalam keadaan itu, saya berhenti sejenak sambil mengangkat lengan ke atas dan menyaksikan butiran es itu jatuh di lengan dan bergulir. Walaupun cukup kedinginan, saya terpesona. HUJAN ES! Dipak tertawa melihat saya seperti anak kecil yang baru pertama kali merasakan nikmatnya mandi hujan.

Deurali Yang Hangat

Tak sampai satu jam, rumah pertama di Deurali, destinasi kami, sudah terlihat. Dan kami berhenti di sebuah penginapan sederhana di tengah desa yang di pintunya berdiri Pak Ferry dan Kedar. Selama kurang dari dua puluh empat jam ke depan, penginapan sederhana ini akan menjadi tempat persinggahan kami.

Penginapan di Deurali ini berpusat di sekitar tungku. Saya meriung bersama sahabat seperjalanan di depan tungku menghangatkan badan. Sepatu, kaos kaki juga berjejer rapi di lantai dekat tungku. Kakek pemilik rumah tampak nyenyak tertidur di pembaringan depan tungku. Saya sedikit iri padanya, bisa terus tidur tanpa terganggu oleh kehadiran kami. Rasanya pasti hangat dan nyaman.

Saat meriung itulah kami berbagi cerita saat melewati hujan es. Ternyata Pak Ferry melewati badai hujan es sendirian. Kedar ternyata tidak dapat dikejar olehnya. Masih beruntung ia berpengalaman menjelajah gunung-gunung di Indonesia dan terus berjalan menembus hutan karena jalan setapak cukup jelas terlihat. Saya menggeleng-gelengkan kepala membayangkan saya sendirian menembus hutan dan kedinginan… hiiii…

Di penginapan sederhana itu, saya juga bertukar ‘sapa’ dengan seorang kerabat pemilik rumah. Walau ia tunawicara, ia sangat baik terhadap saya. Di saat seluruh sahabat seperjalanan harus bergantian charging ponsel di tempat yang terbatas, ia memberi saya secara personal tempat lain yang lebih banyak. Ia tersenyum lebar melihat kegembiraan saya saat ponsel aktif kembali. Tunarungu bukan berarti kehilangan kebaikan, kan?

*

Cuaca hari itu tetap sendu hingga malam, jadi kami hanya bertukar cerita di depan tungku sampai jelang waktu tidur. Di kamar, sebelum terlelap saya merenung hari yang sungguh luar biasa, pengalaman diterpa hujan es, berteman dan ditolong oleh orang-orang luar biasa. Setiap detiknya yang penuh dengan keluarbiasaan. Di tempat-tempat sederhana ini, saya terus diperkenalkan dengan indahnya hidup. Walau jauh dari rumah dan keluarga, di ketinggian pegunungan Himalaya yang dingin, saya aman berada di dalam sebuah rumah yang hangat dengan orang-orang yang memiliki kepribadian hangat. Dia memang tak pernah meninggalkan saya dalam kesendirian, selalu melimpahkan berjuta kebahagiaan…

(bersambung)

WPC – The Place I Left My Heart


Ranibanretreat

Frequently I have difficulties to say goodbye to the city when I have to move on to another city during my travelling, especially when the time comes to go back to my home country and I don’t know when I can visit there again. But among those memorable cities, only a few cities on which I totally left my heart. No matter what, I will do my best to make time to visit these cities again, at least once in a year (last year I did twice 🙂 )

Some of you who follow my blog, will know that I have left my heart on the cities of Nepal. I have a lot of unforgettable memories on my first trip to Nepal four years ago which made me falling in love with Nepal.

One of those memories was in Raniban Retreat, in Pokhara, at the hotel’s rooftop where I can see 360 degree panorama view of the snow-capped Annapurna Range, Phewa Lake, the city of Pokhara and the stunning sunrise above the sea of clouds over the hill with the World Peace Pagoda on top of it. The breathtaking view I can see just standing in one spot! Well, that view had changed me, because for the first time, I extended my stay there. I know the hotel’s rooftop will be my favorite place to recharge my energy. It’s the place where I can just do nothing, just enjoying the view like heaven on earth and feel blessed.

 

p1010641
Morning has broken – the sun over World Peace Pagoda and sea of clouds
p1010627
Phewa Lake and City of Pokhara

WPC – There’s No Place I’d Rather Be Than Home


DSC00279
A Himalayan view from my guesthouse in Chomrong, during trekking in Annapurna, Nepal

 

There’s no place like home
No place like home
There’s no place I’d rather be than home

(Beth Hart’s No Place Like Home)

*

But what is Home?

Home is not a place, it’s a feeling. It is not where we are from, it is where we belong. Home is where we love… Where our feet may leave, but not our hearts.

Home is where we can look ugly and still enjoy it 🙂 It is where you are loved, no matter what.

Home is where love resides, all memories are created, friends always belong and laughter never ends…

Home is where the heart is. Period.

Nepal – Berteman Sakit, Menjejak Poonhill


Melanjutkan kisah trekking di Nepal (kisah sebelumnya bisa dibaca disini)

Dingin masih menusuk tulang walaupun selimut tebal sudah menutup badan yang berlapis pakaian. Suara-suara riuh itu terdengar lagi, terdengar dekat dan tidak bisa diabaikan. Mau tidak mau saya membuka mata dan menemukan kegelapan dimana-mana. Suara itu tidak jauh, bahkan dekat sekali… Dari balik selimut… Dari perut saya! Seketika itu juga terasa perut yang memberontak minta isinya segera dikeluarkan. Duh tengah malam begini? Gelap lagi!

Akibat Memenangkan Nafsu

Sambil meraba-raba headlamp dan kantong peralatan mandi, semakin terasa yang di dalam perut tak dapat ditahan lagi. Harus cepat. Aduh, mengapa kunci pintu guesthouse ini sulit sekali dibuka pada saat harus bergegas? Saya tak peduli untuk menguncinya kembali dari luar, terlalu sulit. Saya hanya menutupnya lalu setengah berlari kearah toilet yang untungnya tidak jauh dari kamar sambil membiasakan mata melihat dengan cahaya headlamp. Setelah menggantung kantong peralatan mandi, membuka lapisan-lapisan pakaian secara cepat, saya langsung duduk di kloset. Tak peduli dengan suara-suara ajaib yang menyertai keluar serta hawa dingin yang menyeruak dari sela-sela toilet serta dinginnya air seperti es saat membersihkan, saya hanya ingin pemberontakan isi perut ini cepat selesai lalu melanjutkan tidur di balik selimut hangat. Namun rasa sakit melilit di perut ini membuat saya harus sedikit berlama-lama dalam kegelapan, membuat hantu-hantu Nepal sepertinya terbahak senang melihat saya menderita.

Acara ke toilet dalam kegelapan selesai juga akhirnya walaupun yaa… begitulah. Dengan tertatih saya kembali ke kamar dan langsung masuk ke balik selimut. Mencoba tidur kembali meskipun masih terasa sisa-sisa pemberontakan dari dalam perut. Dan rasanya baru terlelap sebentar, saya harus bangun lagi karena pemberontakan dari dalam perut kembali tak tertahankan. Berulang! Sekitar dua jam dari kali yang pertama saya kembali berada di toilet yang sama, kembali menderita dengan ‘keharuman’ bekas saya juga. Uh! Saya menyumpah-nyumpah nafsu minum dua cangkir susu coklat sebelum tidur. Walaupun hangat dan enak, jika tahu akan begini, tidak akan saya minum setegukpun!

Berteman Sakit Menuju Poonhill

Setelah kembali ke kamar dan menegak imodium, rasanya baru tertidur sesaat, Dipak sudah mengetuk kamar, membangunkan, agar bersiap-siap berangkat ke Poonhill menyaksikan matahari terbit. Dengan malas saya menjawab, lalu terhuyung dengan mata panda menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka. Mandi? Lupakan dulu!

Mengenakan down jacket karena udara dingin terasa menggigit, saya merasa suara-suara gila dari dalam perut sudah berkurang banyak walaupun belum hilang sepenuhnya. Imodium itu bekerja cepat, berhasil membentengi kebocoran tapi menyisakan rasa tak enak dalam perut. Saya kemudian cerita kepada Dipak mengenai masalah perut ini. Keprihatinan tampak menghias wajahnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya karena saya merupakan titik terlemah dalam rombongan dan kini harus ditambah dengan penyakit yang menggerus daya tahan.

Steep stonestairs on the way to Poonhill
Steep stone stairs on the way to Poonhill

Perjalanan menuju Poonhill dalam kegelapan itu dimulai dengan tanjakan tajam kemudian berlanjut dengan tangga-tangga lagi. Diterangi cahaya dari headlamp, berkali-kali saya menepi memberi jalan rombongan lain yang menyusul sambil mengambil kesempatan mengatur nafas. Suara-suara mereka dalam berbagai bahasa yang tadinya terdengar di belakang sekarang semakin menghilang menandakan mereka telah jauh di depan. Saya menyesalkan latihan fisik yang tetap saja terasa tidak cukup, karena tanjakan-tanjakan tanpa jeda itu rasanya terus menertawakan saya hingga semburat cahaya menghias arah Timur. Fisik benar-benar terasa diuji, tidak mudah trekking dengan kondisi perut melilit. Konsentrasi buyar blasss, bingung menentukan prioritas antara perut dan mengatur nafas.

Dipak masih menemani walau kadang ia berjalan di depan lalu menanti dengan sisa kesabarannya. Untuk kesekian kalinya, saya berhenti, tak mau memaksakan diri. Saya pernah blackout di tangga Bromo ketika memaksa diri naik saat tidak sehat, dan rasanya tak ingin mengulang kejadian itu, karena saat ini tak ada suami yang mendampingi. Saya hanya menuruti alarm tubuh, berhenti pada saat harus berhenti.

A Lovely Memorial
A Lovely Memorial

Langit semakin terang walaupun awan tebal menutupi jajaran Himalaya. Melihat awan-awan itu saya ge-er seakan alam turut iba terhadap saya. Tak mau menyerah begitu saja, saya mencoba memotret keadaan sekitar yang berawan namun menyembunyikan keindahan. Di sebuah tempat memorial saya membaca dan ikut mendoakan dia yang telah pergi. Sebuah ‘pembenaran’ untuk berhenti dan mengatur nafas, tetapi sesungguhnya, jauh di dalam diri terjadi pertempuran sengit antara menyerah pulang atau melanjutkan bersama ketidaknyamanan perut. Saya cenderung memilih yang terakhir karena perjalanan ini telah dimulai dan harus diselesaikan. Dan kecenderungan itu mendapat dukunga karena beberapa meter di atas terlihat Pak Ferry melambai sambil memberi tanda di tempatnya pemandangannya jauh lebih indah.

Akhirnya sampai juga saya di tempat Pak Ferry tadi melambai, yang tak jauh lagi dari puncak Poonhill.. Semua senang saya akhirnya menjejak tempat itu, sementara saya tak merasa gembira, entah kenapa. Orang-orang yang tadi menyusul saya kini telah turun dari puncak Poonhill. Saya tergelak dalam hati, sementara saya belum sampai ke Poonhill, mereka sudah turun.

A Glimpse of Mt. Dhaulagiri
A Glimpse of Mt. Dhaulagiri
The Beautiful Annapurna
The Beautiful Annapurna

 

Poonhill – 3210mdpl

Momen matahari terbit, -yang sayangnya sejak awal sudah tertutup awan-, memang sudah lewat ketika akhirnya saya sampai juga di puncak Poonhill. Semua sahabat menyalami atas pencapaian ini. Menjejak 3210 meter di atas permukaan laut, di ketinggian tertinggi sepanjang hidup yang saya capai dengan kaki sendiri, -tanpa pernah sekali pun mendaki gunung dimanapun-, di sini,  di bumi Nepal tempat  gunung-gunung tinggi dunia bersemayam. Saya berdiri di tempat itu dengan seribu satu rasa. Yang pasti sedikit sekali rasa bangga, banyak malunya karena untuk mencapainya lebih banyak rasa lelah, rasa mual hendak muntah, sakit melilit dan ingin tidur… Ah, saya tak ingin berpikir lebih jauh soal sakit ini.

No view at Poonhill
No view at Poonhill
Mountain Map
The mountains we should see at Poonhill

Teh hangat yang tersedia sangat membantu menghangatkan tubuh. Sambil duduk menghadap pemandangan putih yang seharusnya indah, saya hanya bisa tersenyum lebar melihat warna putih yang menghiasi pandang. Apa yang indah dari pegunungan Himalaya yang tertutup kabut dan awan tebal? Dua gadis pejalan duduk bersila berbicara keras kepada alam, memohon awan menyibak dan memperlihatkan keindahan gunung. Ah, semua orang disini pasti berharap sama, termasuk saya.

Saya duduk dalam diam, berharap sejenak bisa melihat gunung berpuncak salju di Poonhill. Tak mungkin berlama-lama disitu karena jika perut memburuk, toilet tidak menyediakan air. Sejumput doa untuk melihat keindahan alam itu terucap dalam hati, sambil meringis merasakan perut yang kembali melilit.

Dalam hitungan menit setelah doa yang terucap itu, awan-awan sedikit menyibak membuat lubang dan memperlihatkan puncak gunung bersalju yang disembunyikan dibaliknya. Saya benar-benar terkesima dengan apa yang terpampang di depan mata. Pemandangan indah itu hanya sesaat tak sempat diabadikan. Kedua gadis langsung berteriak memohon agar awan kian menyibak hingga menampakkan seluruh gunung. Rasa tak enak di badan langsung menghilang. Ini hadiah! Saya meremang, merasakan berada dalam pusaran anugerah yang datang tiba-tiba itu. Saya tahu, ini hanya sesaat, hanya sebagai tanda Kebaikan dari Pemilik Semesta dengan hikmah yang terserak.  Hanya sesaat saja, sehingga ketika awan kembali menutupinya, saya hanya bisa meluruh meraba-raba memaknai hikmah dari yang terjadi.

Saya merasa ditegur dengan keras. Bukankah ketika sampai di Puncak Poonhill, saya tak banyak bersyukur pada tubuh yang telah bekerja keras? Saya yang berharap tinggi untuk melihat pemandangan terbaik di Poonhill padahal sepanjang perjalanan banyak keindahan lainnya. Seperti di pelataran di bawah Puncak Poonhill, -tempat Pak Ferry sebelumnya melambai-, juga indah bahkan jauh lebih indah dan lebih lama memperlihatkan pegunungan bersalju dibandingkan puncak Poonhill. Saya juga mengabaikan keindahan kabut yang menari-nari di lembah-lembah.

Above the clouds
Above the clouds
Serene morning on the way to Poonhill
Serene morning on the way to Poonhill

Saya hanya berfokus memanjakan pada melilitnya perut, bukan pada keindahan yang terpampang sepanjang perjalanan. Saya telah lalai. Tetapi karena Kasih SayangNya, alam pun berbaik hati memperlihatkan apa yang seharusnya dilihat di Poonhill walaupun sekejap, -sebagai pengingat-, bahwa sesungguhnya ketika manusia meminta akan dijawab langsung.

Sambil mengerjap-ngerjapkan panasnya mata, saya paham arahnya. Perjalanan ini selalu memperkaya jiwa. Lagi-lagi diingatkan bahwa destinasi perjalanan bukanlah segalanya. Saya terdiam, menyadari kelalaian dan ikhlas menerima apapun yang akan terjadi dalam hari-hari ke depan ini.

Menit-menit berlalu dan waktu juga yang membuat kami akhirnya memutuskan turun. Kali ini saya menikmati perjalanan turun yang terasa sangat cepat untuk sampai ke hotel. Entah kenapa perasaan saya berdesir kencang saat melihat tumpukan-tumpukan batu yang disusun rapi di beberapa tempat. Ketika sampai hotel saya googling mengenai tumpukan batu ini, -yang pernah juga saya lihat di Angkor Wat, Jepang, Laos, dll.-, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Cairns,

Cairns represent a trail marker that guides one through uncertain areas in life.
They provide guidance, hope, balance, continuity and confidence on the journey down the path of life – (John P Kraemer)

P1050683
Found many cairns on the way to Poonhill

 

Di Simpang Perjalanan

Sambil mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan, di hotel pikiran saya berkecamuk. Membaca wajah Dipak sepanjang perjalanan Poonhill pulang pergi, sepertinya ada keraguan khususnya terhadap kekuatan saya untuk pergi ke Annapurna Base Camp, apalagi itinerary yang disusun sangat ketat. Ketika ada kesempatan, saya langsung menanyakan kepadanya dan ia meminta saya untuk melihat perkembangan perjalanan hingga ke Chhomrong walaupun sempat ia mengatakan bahwa perjalanan ke depan tidak bisa dibilang mudah. Saya tersenyum mendengar jawaban tak langsungnya yang tidak merekomendasi saya untuk ke ABC.

Namun bersamaan dengan itu, perasaan saya berdesir halus merambat jiwa. Saya teringat pada tumpukan batu (cairns) yang sejak pagi menarik perhatian mata dan terus menari-nari di benak. Dipak tak tahu mengenai hal ini, tidak ada seorangpun yang tahu undangan untuk melakukan perjalanan ke ABC ini. Tumpukan batu itu sepertinya penanda agar tetap yakin dan percaya.

Ini adalah perjalanan saya dan akan sampai ke sana, bagaimanapun caranya.

Dari jendela lebar di hotel Sunny Ghorepani, saya melempar pandang ke arah pegunungan yang tertutup awan. Perjalanan ini sudah dimulai dan saya hanya perlu percaya saja.

Seperti dulu, seperti yang sudah-sudah…

(bersambung)

—-

Masih ada kejadian seru lagi di cerita berikutnya, semoga saja gak ada prioritas lain yang menyalip 😀

WPC – My Favorites, My Memorable Moments


View from Annapurna Base Camp

A lot of memorable moments were happened in the year of 2017, but my favorite was the time I stood on Annapurna Base Camp, Nepal with the massif majestic snow capped mountains around me. I felt so small, so blessed with the experience. Feel the magic around me, so I just opened my heart, my soul to it. It’s totally a dream-come-true travel in my life although previously I thought that walking in the wilderness of Himalaya was beyond me. It seemed a wake-up call of me to be more outdoor…

“Life is meant for spectacular adventures, let your feet wander, your eyes marvel and your soul ignite”

WPC – We Want To See The Scenery Too


Buffaloes blocked the trekking way

I was on my trekking to Chomrong in Annapurna Area, Nepal, when the buffaloes blocked the way, again. It was not the first time that buffaloes blocked the trekking path. They were resting and sitting on the middle of the trail, enjoying the warm sunshine. They’re cheeky, looked at me for a while and seemed to say to me, “We want to see the scenery too…”