D-5 Trekking di Nepal – Berani Melawan Ketakutan


Alam Chuile membangunkan saya pagi itu, juga suara-suara di dapur, walaupun pagi belum sepenuhnya mulai. Sebagaimana stereotype budaya setempat, pagi itu perempuan-perempuan telah mendominasi dapur, menjerang air dan melakukan persiapan pagi hari untuk keluarganya. Kesibukan itu membuat pikiran saya terbang ke keluarga. Genap dua hari saya tak dapat menghubungi keluarga karena WIFI tidak berfungsi. Sebersit kerinduan menyergap, semoga semuanya baik-baik saja.

DSC00112
The hidden sunrise from Chuile
DSC00151
Guesthouse in Chuile

Pagi yang merekah pelan membuat saya melangkah keluar kamar, ke halaman. Pak Ferry rupanya sudah bangun dan sedang menikmati pemandangan lembah. Sambil teringat insiden semalam soal lintah (baca: disini) saya menghampirinya. Sinar keemasan mentari menerangi langit Timur, menerangi puncak-puncak gunung bersalju itu, memberikan efek dramatis pada gunung favorit saya, Macchapucchare (6993MDPL) yang sering disebut Fish Tail karena bentuk puncaknya yang seperti ekor ikan. Sejak pertama kali menjejak Pokhara di tahun 2014, saya telah jatuh cinta dengan gunung ini dan mampu membuat saya ingin kembali ke Nepal.

Pada kesempatan itu, saya meminta maaf kepada Pak Ferry, karena kondisi saya yang selalu berjalan pelan sehingga waktunya tidak mencukupi untuk trekking ke Annapurna Base Camp. Namun sebelum saya menyelesaikan semua kalimat, Pak Ferry sudah memotongnya, “bukankah perjalanannya yang lebih penting daripada tujuannya? Jadi nikmati saja…”

“The journey itself, not destination”

Saya terdiam, teringat beberapa orang yang sering berkata negatif tentang Pak Ferry, tetapi mana ada orang sempurna? Dibalik ketidaksempurnaannya, saya kian melihat begitu banyak kebaikan humanis yang tidak perlu diumbar namun terlihat saat berjalan berhari-hari bersamanya. Betapa sering manusia memberi label kepada manusia lain, padahal mereka tak pernah tahu bagaimana perjalanan hidupnya. Ah, memang dari sebuah perjalanan, kita lebih mengenal pribadi rekan-rekan seperjalanan. Dan seakan menyelaraskan, keindahan pengertian dan pemahaman di benak pun mengikuti keindahan mentari yang meninggi menyinari puncak-puncak bersalju itu.

DSC00141
Mt Macchapuchhre with The Sun – from Chuile

 

Keberanian itu…

Hari itu, kami melanjutkan perjalanan ke Chhomrong, desa persimpangan menuju dan dari Annapurna Base Camp. Meninggalkan penginapan, perjalanan dimulai dengan turunan curam. Dan seperti biasa untuk turunan, Kedar dan saya melangkah cepat, sedikit berlari menuruni tangga-tangga batu meninggalkan Pak Ferry dan Dipak di belakang lalu menunggu di seberang jembatan gantung. Menit-menit berlalu akhirnya saya melihat Pak Ferry yang merasa jeri berjalan di jembatan gantung yang bergoyang-goyang. Tertegun, teringat bungsu saya, -ia juga memiliki phobia ketinggian-, yang pernah begitu ketakutan berjalan di jembatan gantung walau ia tak berhenti melangkah. Kepada mereka, saya kagum! Itulah makna keberanian yang sesungguhnya, berani memerangi ketakutan mereka sendiri, dengan susah payah, ngeri-ngeri sedap melawan diri sendiri.

DSC00183
Being brave is having that fear but finding a way through it
DSC00185
Never-ending stairs :

Dan setelahnya, giliran saya menjadi buntut karena di depan ada tangga-tangga tinggi lagi. Kali ini, saya setuju dengan Captain Haddock dalam serial komik Tintin, yang bersungut-sungut saat mendaki gunung, “Untuk apa naik gunung kalau nantinya harus turun lagi?” 😀

Tapi ada seribu satu alasan berhenti untuk mengambil nafas, salah satunya memotret pemandangan indah yang kali ini didominasi warna hijau seperti hutan, lembah, pepohonan dan lainnya. Berkali-kali dada terasa penuh menyaksikan pemandangan indah di depan mata. Pemilik Semesta memang sedang tersenyum saat menciptakan bumi Nepal. Tak bosan-bosan saya berhenti untuk menikmati pemandangan.

DSC00204
Green while trekking
DSC00226
Sometimes going down sometimes going up

Hingga suatu saat saya tersadarkan, Dipak sudah tak terlihat dalam jangkauan mata. Dimana dia? Saya mempercepat langkah, tetapi pemandu itu tetap tak terlihat. Saya bertanya dalam hati, apakah saya terlalu egois menikmati pemandangan hingga tidak memperhatikan irama langkah? Atau ‘kesibukan’ mengagumi keindahan alam hingga mengabaikan kehadiran orang lain? Ada rasa yang merayap naik menyadarkan jiwa, selama ini ego diri yang dimenangkan, bukan manusia lain di sekitar. Saya tak enak hati dan mencoba menyusulnya. Tak lama di sebuah tempat istirahat, terlihat Dipak duduk menunggu. Dimatanya sekilas tersirat  ketidaksabaran. Ah, saya harus berani mengaku salah!

Saya meminta maaf kepadanya yang langsung disambut senyum, no problem, katanya. Tetapi sejak itu, ia berjalan di belakang, membiarkan saya berjalan lebih dulu dalam jangkauan pandangan mata dan langkahnya. Baginya, lebih aman ia berjalan di belakang dan bisa menyusul kapan saja daripada harus menunggu saya.

Dan yang tak terduga pun terjadi, dari arah depan saya…

Saat itu, saya berjalan sambil mendengarkan musik untuk menambah semangat. Rasanya menyenangkan kepala dan badan bergoyang menyusuri punggung bukit yang dipenuhi hutan di bagian atas. Tiba-tiba, di suatu tempat sebelum tebing, alarm tubuh saya ‘berdering’ agar waspada. Diantara suara musik, alarm tubuh itu begitu kuat sehingga saya langsung mencabut head-set dari telinga. Dan terdengar dari arah atas,

Dug…. Dug… Dug… Dug… Dug… Dug…

Berikutnya saya terhenyak karena mendengar teriakan Dipak dari arah belakang.

“Riyantiiiiiiiiiiii… Stooooppp………………!”

Badan langsung mengejang, rasa dingin menerjang seluruh permukaan tubuh. Terdiam kaku. Sungguh saya tak tahu ada apa. Tak jelas, tak pasti. Tapi ada bahaya! Waspada! Detik berjalan sangat lambat. Saya kaku, tak bergerak.

Dalam sekejap, Dipak yang berlari kencang langsung menyusul dan berdiri di depan saya, bersikap menghadang sambil melihat ke atas. Antara bingung, kuatir dan rasa aman yang campur aduk, saya bertanya padanya, “What’s happened?

Falling logs…

Blasss… saya ngeri. Suara dug-dug-dug tadi adalah suara gelondong pohon yang entah sengaja ditebang atau rubuh di hutan tepat di bukit di atas kami. Gelondong kayu itu sepertinya menggelinding dari atas menuju kami yang berada di bawah. Masalahnya, kami tak dapat melihat gelondong kayu yang jatuh itu. Hanya suaranya saja yang terdengar mendekat.

Dipak mempelajari situasinya secara cepat di depan saya dan dalam sekejap ia mengajak lari. Tak perlu berpikir atau menunggu aba-aba lagi, langsung saja saya lari secepat mungkin meninggalkan tempat itu, hingga akhirnya suara mengerikan dug… dug… dug… dug… itu tertinggal di belakang.

after the falling logs
After the falling logs

Habis itu, rasanya saya tak mampu lagi berdiri tegak, hanya megap-megap mencari oksigen. Di usia boros ini, ditambah jarang (baca: tidak pernah) olahraga, lari sprint sesaat bisa membuat nafas tinggal satu atau dua. Ditambah kengerian membayangkan gelondong kayu jatuh dari atas. Walaupun akhirnya, -setelah kembali berjalan-, saya tidak pernah tahu apakah benar kayu-kayu itu terus menggelinding melampaui atau bisa berhenti sebelum jalur trekking kami tadi. Lalu apakah kayu itu jatuh karena ditebang atau rapuh, saya juga tak pernah tahu. Saya hanya mengangguk-angguk saat Dipak mengatakan segala sesuatu bisa terjadi saat berkegiatan di alam. Ah, sekali lagi, ia menyelamatkan saya dari situasi mendebarkan hati.

Dan setelah berjalan beberapa saat, saya sampai di sebuah pohon unik yang bentuk dan tempat tumbuhnya membuatnya berbeda. Pohon tanpa daun itu  tumbuh tepat di pinggir tebing di persimpangan jalur. Jika salah langkah saat berfoto, dipastikah akan langsung glundung ke bawah, disambut rangkaian tangga curam ke bawah yang tak habis-habis. Walaupun deg-degan, tetap saja saya bergaya di pohon itu. Mau coba juga?

Setelah melewati tangga-tangga curam itu, desa Chhomrong sudah tak jauh lagi dengan kondisi jalan yang Nepali flat, menanjak landai. Saya melangkah santai menikmati pemandangan indah yang terbentang di depan mata.

animals
Some animals I see during the trekking

 

Sendiri Berkontemplasi

Hingga suatu tempat, jalan saya tertutup oleh kerbau-kerbau yang sedang beristirahat. Saya agak ngeri berjalan diantara mereka yang besar dan hitam dengan tanduk melengkung tajam. Tapi entah mengapa terbersit di benak bahwa mereka juga makhluk seperti manusia, menghuni alam ini dan berhak beristirahat juga. Sebelum pikiran berpindah, mata ini melihat ke pagar batu di pinggir, sekitar 1 meter tinggi dan 30 cm lebarnya sehingga bisa dijejak diatasnya. Dan berjalan di atas pagar, -walaupun ngeri juga karena ada lembah di kanan-, sepertinya win-win solution. Para kerbau bisa tenang melanjutkan istirahat dan saya bisa santai melanjutkan perjalanan. Tetapi ah, seharusnya saya selfie saat berjalan di atas pagar itu, saya lupa! Lagi-lagi saya akui, God is always good, dalam memberi petunjuk, dalam segalanya.

Walaupun trip ini saya lakukan bersama Pak Ferry, kadang melakukan sepenggal perjalanan tetap sendirian. Inilah asiknya ‘solo-trip’. Walau banyak yang bertanya kepada saya, apa enaknya jalan sendiri tanpa kawan. Hmmm… entah ya, tetapi bagi saya, berjalan sendiri artinya berjalan bersamaNya secara intens dan membiarkan sejiwa dengan alam dalam harmoninya. Rasanya? Keluarbiasaan yang tak terjelaskan, ada takut namun keberanian menyeruak juga…

Dan benar saja, di depan mata alam menyuguhkan pemandangan luarbiasa. Sinar mentari yang menembus awan memberi kesan akan sinar Surga. Jika sebelumnya saya melangkah dalam hening mengingatNya, apa yang saya lihat ini seakan menjawab semua permintaan jiwa. Saya meluruh dalam syukur akan jawaban langsung! Kita tak pernah sendirian, Dia yang selalu mencintai kita, yang memperhatikan seakan berjalan bersama. Kesadaran yang memberikan kekuatan ini, sekali lagi membukakan arah jiwa, semua pasti mengarah kepadaNya.

Ray of light to the valley
Ray of light to the valley

Diingatkan akan keindahan tanah air saat melihat keindahan…

Rasa penuh syukur itu membuat saya duduk di batu istirahat. Beberapa menit kemudian dua orang paruh baya datang mendekat, ikut melepas lelah. Dari bahasanya saya mengenali mereka dari Korea. Saya menyapa dengan sepatah kata Korea yang saya bisa, Annyeonghaseyo… Sapa itu mengejutkan mereka dan langsung mengakrabkan kami semua. Dan dengan kalimat-kalimat pendek bahasa Inggris kami berkenalan dan bertukar cerita. Dan bahkan kalimat-kalimat selanjutnya dari dua pak tua membuat giliran saya sedikit ternganga. Dengan penuh keterpesonaan mereka bercerita tentang keindahan Gunung Rinjani karena mereka baru saja kembali dari sana sebelum ke Annapurna Base Camp. Tentu saja saya bangga karena kekaguman mereka sekaligus sangat malu karena saya belum pernah menjejak di Rinjani, walaupun sudah banyak tempat di Lombok sudah saya singgahi. Ah, pertemuan ini pastilah bermakna, karena tidak mungkin hanya sebuah kebetulan belaka.

Kami beranjak melangkah bersama menuju Chhomrong. Sebelum pertigaan, langkah kami terhenti, memberi jalan rombongan keledai dengan bunyi-bunyi khas klenengan yang tergantung di leher. Seakan tersihir bunyi klenengan yang ‘ngangeni’ itu, saya diam tanpa ekspresi melihat Dipak dan Kedar berdiri menanti di ujung seberang. Rasanya saya malah sedikit mellow karena akan berpisah dengan kedua Pak Tua Korea, entah kenapa. Saat keledai terakhir telah lewat, saya menoleh kepada mereka lalu mengucapkan salam perpisahan. Saya percaya, walaupun hanya sebentar saja, pertemuan dengan kedua orang itu, telah memberi warna dan makna dalam kehidupan saya. Siapa sangka ada orang asing yang mengingatkan tentang keindahan Gunung Rinjani di Indonesia di tengah-tengah pemandangan indah di kawasan Annapurna? Rasanya seperti dijewer dengan cinta…

Dan laksana kehidupan, mereka melanjutkan perjalanan mungkin menyampaikan pesan Semesta lainnya, sementara saya mengayunkan langkah ke penginapan dekat pertigaan. Jelang sore itu, pemandangan pegunungan Himalaya bertudung salju disembunyikan dari saya. Tampak awan gelap menyelimuti puncak-puncak gunung dan jalur menuju ABC tampak begitu kelam. Ah, semoga besok pagi saya diberi berkah agar bisa menyaksikan pemandangan indah.

Bersambung…

DSC00230
Heavy clouds on the way to ABC
Iklan

Lebaran, Mengukur Jalan, Merajut Cinta


Siapa yang mampu menghalangi datangnya kebahagiaan cinta dalam libur panjang hari kemenangan saat satu keluarga mengukur jalan menuju serangkaian kota lebih dari sepuluh malam? Walau didalamnya bercampur rasa, antara tak ikhlas melepas Ramadhan mulia penuh berkah dan rasa bahagia hari kemenangan yang memenuhi sukma. Ditambah sepanjang perjalanan setiap harinya, memberi warna ceria. Rasanya seperti mengamini satu pepatah, the journey itself is the destination.

Menuju Cirebon Penuh Senyum Lebar

Tapi rencana tinggal rencana, yang awalnya niat berangkat setelah subuh, akhirnya jelang tengah hari, satu kendaraan berisi empat manusia ini baru meninggalkan kota Jakarta. Tetapi rasanya berkah senantiasa berlimpah, sehingga perjalanan hari pertama berjalan mulus tanpa jeda.

Dan seperti biasa, di saat hampir semua penghuni Jakarta kembali ke kampung halaman, di jalan-jalan bebas hambatan terlihat mobil konde, satu istilah untuk mobil dengan tambahan bagasi di atasnya. Dan mengulang masa balita anak-anak dulu, setiap mobil konde yang terlihat akan dihitung. Hanya sayangnya, jelang seratus hitungan, biasanya kemalasan menghampiri. Salah hitung akibat macet atau gara-gara mobil konde yang sama terhitung lebih dari sekali.

 

Namun siang itu, berada di belakang sebuah mobil Fortuner yang berkonde mampu menghangatkan suasana dan memberi senyum lebar. Bagasi koper dan teman-temannya itu tampak dibungkus dengan plastik biru tua yang mungkin tidak rapat sehingga angin masuk dengan leluasa. Akibatnya selubung biru itu terlihat menggembung dan berkibar-kibar. Sekilas seperti buntelan atau mungkin orang bisa menganggap mereka membawa kerupuk dalam jumlah besar. Persepsi absurd antara gembung berkibar konde bagasinya serta nilai mobil yang pasti tidak murah itu memang bisa menghangatkan suasana. 😀

Senyum lebar semakin terasa ketika memasuki kamar hotel di kota yang berjuluk kota udang itu. Terbelalak mata kami melihat kamar yang sangat luas, bahkan terlalu luas untuk ukuran dua manusia dewasa Indonesia. Entah strategi hotel agar tidak terlihat terlalu lapang atau memang sesuai dengan brand mereka, di kamar disediakan sofa yang berbentuk setengah lingkaran. Ah, sofa melengkung yang muat sepuluh manusia ini terasa memenuhi ruang. 😀

Dan terjadi lagi rencana tinggal rencana, awalnya ada keinginan untuk mengunjungi obyek-obyek wisata di Cirebon, namun semua tak terwujud hanya karena waktunya tak lagi tepat. Tapi bukankah selalu ada lain kali agar bisa kembali ke Cirebon?

Menuju Semarang Yang Dulu Menyesatkan Dunia

Kebahagiaan liburan tak kunjung berakhir. Kendaraan melintas mulus di jalan tol Palimanan – Kanci dan berlanjut ke jalan tol Pejagan – Pemalang dengan kondisi yang jauh lebih baik daripada tahun kemarin. Melewati jalan tol ini, teringat akan tagar Brexit dua tahun lalu yang menjadi trending topic. Entah apa yang ada dalam pikiran orang-orang Inggris atau dunia yang saat itu sedang memikirkan dampak keluarnya Inggris dari Uni-Eropa, karena manusia Indonesia menggunakan tagar yang sama #Brexit untuk problem pemudik saat keluar dari tol Brebes, yang maksudnya adalah Brebes Exit.

Tahun ini, Brexit (Brebes Exit) terlihat sudah jelas rambu-rambunya. Di perjalanan terlihat pula KM 300 berarti sudah 300 km meninggalkan Jakarta melalui jalan tol, bahkan jika diteruskan pemudik bisa sampai Surabaya dengan melalui beberapa tol fungsional. Sungguh infrastruktur Indonesia tidak kalah dengan negeri seberang, apalagi bisa berkendara dengan pemandangan alam yang indah.

 

Akhirnya setelah bangunan tua legendaris Lawang Sewu terlewati, menginaplah kami di kawasan Simpang Lima kota Semarang, sebuah kawasan untuk menikmati kuliner yang menggoyang lidah. Bahkan sang suami sampai tergoda makan, dan makan lagi, karena semua yang ditelan terasa cocok dilidahnya. Bahagia itu sederhana, karena hotel dengan harga sangat terjangkau berjarak sangat dekat dengan semua resto berselera.

Akhirnya Menginap di Hotel Impian

Di hari ketiga liburan, berjarak hanya dua jam dari Simpang Lima, akhirnya saya menjejakkan kaki di hotel impian selama sedasawarsa. Begitu lama saya mengumpulkan mimpi, cita dan dana untuk bisa merasakan bermalam di tengah kawasan perkebunan kopi itu.

Dengan sebuah bangunan peninggalan Belanda sebagai pusat, dibangunlah beberapa villa untuk disewa sehingga dapat membiayai perkebunan kopi dan mendukung penghidupan masyarakat sekitarnya. Semua eksterior ditata cantik dan berkelas, menyegarkan rasa dan mata yang memandang. Rasanya seperti terbang ke masa sebelum negara kita merdeka namun fasilitas terbarukan.

8
Mesastila – A View from the Restaurant

 

9
Mesastila – the Infinity Swimming Pool

Villa dengan ranjang megah bertiang empat dan berhiaskan kain krem berlipit menjadikan suasana seperti kamar raja. Sebuah buket bunga cantik dengan nota khusus menyambut saya sekeluarga. Ah, rasanya terbang mendapatkan layanan begitu prima. Tak mungkin rasanya bila saya tidak mencoba free-spa yang diberikan untuk merehat sejenak kekakuan otot pundak.

Di kamar mandi tersedia semangkuk penuh helai bunga mawar sebagai pengharum saat berendam. Keindahannya tak berhenti disana. Dari ruang beranjangsana yang berjendela selebar kamar, terpampang pemandangan alam dengan pepohonan rindang bersaput gunung Andong yang memanjakan mata. Suasana yang begitu tenang, melupakan fakta bahwa sejatinya tempat ini hanya selemparan batu dari jalan raya penghubung kota Jogja dan Ambarawa.

 

Kolam renang dengan model infinity berhiaskan hijaunya pepohonan menjadikannya seperti oase natura. Rumput dan taman yang terpelihara serta suasana tenang yang terjaga, membuat nyaman melakukan yoga. Bahkan makanan sehat yang tersedia di restoran juga terasa nikmat di lidah. Dan bagaimana bisa saya tidak berjalan kaki berkeliling area untuk melihat perkebunan dan membaui harumnya kopi? Sejuk pula!

Tiba Giliran Untuk Yang Suka Serba Modern

Liburan keluarga berarti semua anggota harus gembira. Bahkan juga saat melalui jalan tol yang hari-hari belakangan ini menjadi perbincangan di dunia maya, karena ada  kendaraan yang tak mampu menanjak hingga seorang polisi datang mengganjal roda. Padahal saat kami melaluinya siang itu, sungguh tak terasa curamnya. Bagi saya, masih banyak jalan lain yang lebih curam dan mengerikan.  Tapi entahlah, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam mobil yang viral itu…

 

Jadi selepas hotel impian bagi saya di malam sebelumnya, maka selanjutnya untuk suami dan anak-anak sebagai penyuka semua hal bernada modern. Sebuah hotel baru yang mencakar langit menjadi tempat persinggahan di kota Solo, tempat berbaurnya nilai modern dan tradisional. Keindahan kota Solo dan Gunung Merapi serta Gunung Merbabu bisa disaksikan dari ketinggian lantai kamar yang berjendela lebar. Bahkan kamar mandinya pun berjendela lebar dengan pemandangan kota. Hanya saja, saya tak pernah berpikir untuk melihat indahnya kota selagi tak berbusana. Anda pernah?

Jogja, Kota dan Rumah Kita

Setelah empat malam berkeliling berbagai kota, akhirnya sampai juga di Jogja, kota sekaligus rumah, tempat hati berada, tempat kembalinya rasa. Dan sebagaimana rumah, dimana pun terasa damai sempurna. Kembali ke tempat penginapan yang sama, ke suasana yang sama, ke rasa yang sama tapi waktu yang berbeda.

Back again to Jogja
Back again to Jogja
17
Beauty during morning walk at Jogja
16
The morning light through the leaves

Dan suara takbir sudah menggema dimana-mana saat sampai di Jogja, menandakan Ramadhan mulia penuh berkah telah beranjak. Ada rasa kehilangan dalam jiwa, tapi juga bercampur rasa bahagia. Jogja, bagi saya, tak pernah berubah wajah rasa, selalu sama, selalu penuh cinta.

Pada Jumat penuh berkah itu, ikatan silaturahmi semakin kuat terasa saat seluruh keluarga berkumpul saling berbagi rasa, hanya ada tawa bahagia sebagaimana Almarhum Bapak yang bijaksana selalu berkata. Kekuatan keluarga hendaklah selalu menjadi prioritas utama, walau secara fisik tersebar di berbagai kota dari Tasikmalaya, Jakarta hingga Madinah. Tapi akhirnya seluruh keluarga pun terjerat pada aturan Sang Waktu, hakim penuh disiplin yang tak kenal kecuali. Ada saat jumpa, ada juga saat berpisah. Dan tak bisa tidak, seluruh anggota keluarga berlaku sama, mencoba memperpanjang acara berpamitan. The Long Long Goodbye…

Borobudur Yang Memanjakan Mata

Meninggalkan Jogja yang penuh cinta tetap saja memedihkan rasa, walau tujuan selanjutnya adalah Borobudur yang sudah terkenal seantero dunia. Kali ini bukan ke Borobudurnya, melainkan sebuah tempat dengan pemandangan Borobudur yang diselimuti awan berkabut dan gunung-gunung tinggi di sekitarnya.

Walaupun tidak mudah ditemukan, hotel ini sangat menggoda. Dengan kamar berkelas ditambah kolam renang pribadi yang infinity, dijanjikan Candi Borobudur tampak jelas sebagai pemandangan kamar. Bonusnya adalah Gunung Merapi, Merbabu dan Sumbing yang ikut mendekorasi alam. Hotel tidak mengatakan bahwa berjuta bintang tampak menghias langit malam. Dan semuanya terhampar bagi kami meninggalkan kesan mendalam.

20
Infinity private pool – Borobudur and Mt. Merbabu
19
The Borobudur view with mist from our room

Esoknya, sejak sinar awal menghias langit Timur, saya telah terjaga. Gunung Merapi dan Merbabu anggun berjajar di depan mata. Dan tak jauh di Utara, Gunung Sumbing memperlihatkan keindahannya. Perlahan mentari terbit memancarkan hangatnya cahaya, menghalau kabut-kabut yang menghias lembah-lembah dengan Borobudur di puncak seakan singgasana. Lukisan yang sangat indah dari Sang Pencipta. Sejuta rasa mampu mengharu biru dan bersyukur melihat keagungan Semesta.

Ah, pemandangan luar biasa yang memanjakan mata dengan harga yang relatif terjangkau itu benar-benar pengalaman liburan dengan warna spesial. It’s totally worth it!

Purwokerto Yang Menghidupkan Nostalgia

Dari Borobudur yang mempesona kota berikutnya adalah Purwokerto. Bagi saya pribadi, Purwokerto selalu menghidupkan nostalgia sebab disini merupakan destinasi utama saat melakukan perjalanan darat bersama ayahbunda berdekade-dekade lalu. Bau khas rokok klobot, bunyi penjual sate sapi yang khas dan bangunan lama yang sekarang sulit ditemui mampu membuat saya merindu dan menggambar di benak secara jelas semua yang dirasa saat kecil dahulu. Indah!

Dan tak berlebihan jika di setiap jaraknya, setiap nama desanya, terasa begitu familiar di kepala, dengan bahasa yang ngapak-ngapak membuat tawa, selalu menghangatkan rasa. Tidak heran, leluhur saya memang mengakar disini.

Kembali ke Cirebon Sebelum Ke Jakarta

Lalu lintas tak dapat diduga, macet panjang menghias jalan sejak Purwokerto, tak pelak kami kembali ke kota Cirebon untuk melepas malam. Namun tak ada kebetulan. Desa-desa di pegunungan dengan pemandangan indah jadi dilalui tanpa rencana. Sawah hijau menghampar, mega berarak di puncak bukit. Bukankah ini berkah? Semua tidak akan terlihat jika perjalanan hari itu normal. Dan sungguh, hari berikutnya saat menuju Jakarta, perjalanan tambah dimudahkan dengan pembukaan jalur satu arah. Semuanya jalan serasa membuka.

Ketika kembali menjejak rumah, hanya ada rasa gembira dan bahagia, rasanya berkah tumpah ruah, tak bisa tidak, perjalanan ini seperti merajut Cinta sepenuh rasa.

Arigatou Gozaimasu Japan…


“It’s time to say beautiful goodbye to Shinkansen”, demikian kata saya pada kedua anak saya, -si kakak dan si adik-, sambil menempelkan telapak tangan secara cepat pada badan kereta berwarna putih itu sebagai sentuhan perpisahan saya saat melangkah keluar dari bullet train di Stasiun Shin-Osaka. Beberapa saat kemudian kereta berhidung panjang itu lembut meninggalkan kami yang berdiri melambaikan tangan perpisahan hingga kereta hilang dari pandangan.

“Gak mau pulang, Ma…” mereka merajuk. Ah, saya tahu semua hati tercinta, bahkan saya sendiri tak mampu membohongi diri, mereka juga saya, tak ingin liburan berakhir. Kami ingin tetap berada di Jepang. Selalu demikian, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menginjak kaki di Jepang.

Berat memang meninggalkan negeri indah ini, berapa lama pun kami berada disana.

View from Tokyo Metropolitan Gov. Building - Mode Gakuen Cocoon Tower
View from Tokyo Metropolitan Gov. Building – Mode Gakuen Cocoon Tower

Walaupun waktu kami saat menjelajah Jepang bukan waktu yang terbaik, bukan waktu ketika Sakura sedang mekar, bukan waktu ketika salju menutupi permukaan buminya, bukan waktu ketika daun-daun berubah menjadi warna-warni, melainkan ketika panas menyengat kulit, awan tebal menggantung di langit dan menurunkan hujan berkepanjangan yang memberi suasana sendu dan kelabu. Namun dalam waktu yang tidak tepat pun, pergi berwisata ke Jepang mampu memberikan kami kegembiraan…

Dimulai dari bandara Haneda yang bermandikan cahaya di seluruh permukaannya memantulkan terang hingga ke langit, yang terlihat sebelum pesawat menyentuh landasan lalu para penumpang langsung disambut oleh petugas-petugas imigrasi yang bekerja sigap dan cekatan. Hanya lima belas menit sejak memasuki antrian imigrasi, kami telah diberi izin untuk memasuki wilayah Jepang padahal kami termasuk penumpang yang paling akhir keluar dari pesawat.

A building in Sensoji Temple, Tokyo
A building in Sensoji Temple, Tokyo

Pada hari berikutnya wajah kami berhiaskan kekaguman berkeliling Tokyo, merasakan sendiri menaiki monorail, -yang di Jakarta tidak jelas kelanjutan proyeknya-, hingga merasakan sesaknya berada di keramaian para pekerja yang berpakaian senada berwarna gelap. Masyarakat yang katanya banyak bergantung pada teknologi robotik, kami lihat masih meluangkan waktu untuk berdoa dan memohon keberkahan di kuil-kuil yang tersebar di seantero Tokyo. Bahkan kuil Sensoji yang berlatarkan puncak Skytree di Asakusa pun tak henti padatnya oleh pengunjung lokal yang berdoa. Juga di Shibuya, -hanya hitungan langkah dari persimpangan jalan tersibuk di dunia-, masyarakat Jepang yang katanya begitu intim dengan teknologi tetap mendirikan sebuah memorial untuk Hachiko, seekor anjing yang melambangkan kesetiaan.

Kami begitu nyaman melangkahkan kaki pada terowongan-terowongan bawah tanah yang menyediakan travelator seperti di bandara ditambah semburan-semburan angin sejuk. Iri rasanya terhadap masyarakat Jepang yang pajaknya terwujud nyata dalam fasilitas publik yang hebat. Bahkan kami bisa mencapai lantai tertinggi gedung pemerintahan daerah agar dapat melihat seantero Tokyo. Tanpa dikenakan biaya sedikitpun alias gratis. Atau bisa menikmati bentuk-bentuk bangunan yang secara arsitektur nyaman dilihat, menarik untuk diabadikan. Sungguh iri, teringat bagaimana susahnya mengabadikan modernitas dan arsitektur gedung-gedung di Jakarta tanpa diikuti tatapan atau bahkan teguran penuh curiga dari petugas-petugas angkuh penjaga wibawa.

Inside Tokyo International Forum
Inside Tokyo International Forum

Perjalanan kami ke lokasi yang terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site di Nikko, sebelah utara Tokyo dipenuhi dengan kekaguman oleh semangat masyarakat Jepang untuk memelihara nilai bangunan sejarah. Kuil kuno itu dipelihara dalam lingkungan hutan yang terjaga tanpa mengurangi kenyamanan pengunjung mencapainya. Semuanya dengan cantik tertata, lengkap dengan petunjuk yang terlihat jelas termasuk akses untuk para disabilitas. Bahkan dengan semua petunjuk arah yang sudah jelas itu pun, apabila masih belum dimengerti juga, masyarakat Jepang mau membantu dengan senang hati hingga penanya memahami secara tuntas. Adakah yang tak menyenangkan daripada dilayani nomor satu?

Pagoda in Nikko
Pagoda in Nikko

Meskipun tujuh puluh satu tahun lalu, dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, hancur karena bom atom. Menyaksikan sisa-sisanya, memorialnya, sungguh memedihkan rasa. Kubah bangunan yang tinggal kerangka, sisa pakaian korban yang robek disana sini, pecahan kaca yang tertanam dalam meja jati yang keras akibat gelombang kejut, legamnya tempat makan terbuat dari besi, lelehan kuku manusia akibat panas tak terkira, bayang hitam tubuh manusia yang tertinggal pada batu karena langsung musnah, semuanya menunjukkan kengerian bencana yang diciptakan manusia demi sebuah kemenangan. Lalu siapakah yang menang ketika kisah pedih burung-burung kertas (paper cranes origami) terbang mengarungi dunia menyuarakan perdamaian dari seorang gadis kecil yang terpapar radiasi dari bom yang dijatuhkan?

Atomic Bomb Dome or Genbaku Dōmu, Hiroshima
Atomic Bomb Dome or Genbaku Dōmu, Hiroshima

Meskipun Negara cantik itu sering diluluhlantakkan oleh gempa bumi. Tokyo yang hancur lebur akibat gempa di tahun 1923, atau gempa besar serupa yang terjadi di Kobe dua puluh tahun lalu atau tsunami yang menyusul gempa terbesar sepanjang sejarah Jepang yang bermagnitudo 9 yang terjadi lima tahun lalu, semuanya tak mampu menjatuhkan Jepang dalam kehancuran melainkan mereka bangkit kembali. Seperti yang selalu digaungkan oleh orang bijak, bila jatuh delapan kali, bangkitlah sembilan kali. Menatap Kobe dari atas bukit, yang ada hanyalah kota yang cantik yang terus membangun seperti juga di Osaka yang memiliki Umeda Sky Building, tempat kami melihat kota Osaka dari ketinggian.

The Escalator at Umeda Sky Building, Osaka
The Escalator at Umeda Sky Building, Osaka

Dalam perjalanan kami menjadi saksi dari kegempitaan gedung-gedung yang menjulang tinggi di Osaka lalu menghitung langkah dalam lengkung rangkaian tori berwarna cerah di Fushimi Inari disambung dengan menyusuri hutan-hutan bambu yang terpelihara indah di Arashiyama untuk selanjutnya merehat sejenak di kuil dengan taman indah yang menerapkan teknik Shakkei, -menempatkan taman buatan bersisian dengan alam sekitarnya sehingga tercipta harmoni-.

The Torii of Fushimi Inari, Kyoto
The Torii of Fushimi Inari, Kyoto
Arashiyama Bamboo Grove, Kyoto
Arashiyama Bamboo Grove, Kyoto

Seakan Yang Maha Kuasa menciptakan Jepang dalam bahagia dan senyumNya hingga tercipta alam yang cantik, manusia-manusia yang siap menjaga alam serta mewariskan budaya dan sejarah dengan hormat. Kastil-kastil indah sebagai tempat penguasa sejarah berabad lalu di berbagai tempat tetap terpelihara dengan sangat baik, menimbulkan imajinasi tersendiri di kepala pengunjung.

Beautiful Matsumoto Castle
Beautiful Matsumoto Castle

Kemudian terbersit ungkapan syukur berbalut pertanyaan tak percaya, apakah doa-doa kami terkabulkan karena kerucut sempurna Gunung Fuji yang sakral tergambar indah di hadapan kami di pinggir danau Kawaguchiko? Bahkan dalam malam pekat itu pun kami bisa melihat kerlip cahaya lampu sepanjang punggung gunung menuju puncak bertabur ribuan bintang yang menghias angkasa. Limpahan rasa syukur menatapi keindahan itu. Luar biasa hadiah buat kami dalam perjalanan ini.

Fujisan at Summer, Lake Kawaguchiko
Fujisan at Summer, Lake Kawaguchiko

Keindahan Jepang bukan hanya ada di Tokyo, Kyoto maupun Osaka saja. Pegunungan dengan puncak berhias salju putih juga menjadi tujuan perjalanan kami bahkan pada musim panas sekalipun. Perjalanan menembus pegunungan yang sering disebut sebagai Alpine Route itu, membuat kami mendecak penuh kagum. Pembuatan jalan di bibir tebing berhias kolom-kolom beton memberikan hiasan cahaya di kala siang. Sungguh mengagumkan. Tatanan lingkungan yang terjaga dengan pembatasan akses kendaraan berbahan bakar fosil untuk menembus gunung melalui terowongan panjang berkilo-kilometer yang sudah ada sejak perang dunia kedua, membuat saya tersenyum dalam hati, mungkin bagi mereka terowongan MRT di sepanjang jalan Sudirman Jakarta yang kini sedang dikerjakan sangat tak berarti.

Dari ketinggian kami menyaksikan waduk dengan air berwarna turquoise yang keluar berkubik-kubik tak henti memendarkan pelangi ganda, bahkan memungkinkan untuk berjalan kaki di bibir waduk dengan pegunungan yang mengapit indah kemudian dilanjutkan dengan berwisata dengan bus di jalan berliku di wilayah hutan pinus yang senantiasa berselimutkan kabut. Sungguh indra penglihatan dan rasa dimanjakan sepenuhnya sebagai hadiah terindah dari Pemilik Semesta.

Sepuluh hari yang dipinjamkan oleh Pemilik Waktu kepada kami untuk menikmati Jepang terasa terbang secepat kilat, secepat mata memejam saat istirahat di atas futon dalam ruang-ruang tertutup ryokan ataupun hotel, selekas hidangan manis penutup makan malam yang menghilang tanpa bekas tertelan ke dalam perut, sekejap udara yang dihembuskan oleh kereta Shinkansen berhidung mancung yang kerap mengantar kami ke banyak kota di Jepang.

*

Awan gelap menggantung tebal di langit Osaka, satu persatu titik air jatuh membasahi bumi membuat suasana semakin kelabu, serupa air yang merabun pada kelopak mata, serupa suasana hati kami saat pesawat bergerak pelan meninggalkan terminal. Bahkan kesempatan menginap semalam di hotel berbintang pun tak menyurutkan kemuraman hati, tak ingin melepas keluarbiasaan negeri Sakura yang indah.

Namun bukanlah hidup jika tak berjalan maju… Suatu ketika kita akan kembali bersua…

Bagi kami, liburan ke Jepang kali ini, -meskipun bukan di waktu terbaiknya-, sungguh menorehkan kenangan bertinta emas di hati kami, secantik cinderamata yang dikemas hati-hati oleh tangan gemulai berkimono warna-warni. Seiring pesawat terbang memasuki awan, serasa kami turut membungkukkan tubuh, mengikuti tradisi Jepang yang biasa dilakukan disana sambil bergumam Arigatou gozaimasu…

WPC – Bali A Happy Place


Pura Ulun Danu Beratan, Bali
Pura Ulun Danu Beratan, Bali

Pura Ulun Danu Beratan, is a Hindu Balinese temple located at the edge of Lake Beratan, in Bedugul area, about 60 km from Denpasar. It is one of my favorite places to recharge my energy back. For me, going to Bali is not fully completed if I skip visiting Pura Ulun Danu. At the edge of Lake Beratan with its perfect cool temperature, I can recharge myself through watching the beautiful scenery with fog above the lake or just seeing a reflection of the floating-like temple on water. Ah, let love fill the atmosphere…

” Love is the master key that opens the gates of Happiness “

(Oliver Wendell Holmes)

 

You can find other wonderful contributions of this week’s photo challenge with Happy Place as the theme