Sejumput Malam di Makam Nabi Syu’aib


Sekembalinya dari Kawasan Wisata Laut Mati, -ceritanya bisa dibaca dalam tulisan Senja di Laut Mati, Terendah Di Muka Bumi sebelum ini-, tanpa perlu dikomando lagi seisi bus duduk dalam diam. Tak ada celoteh atau suara pemandu karena temaramnya lampu di dalam bus membuat kantuk menyerang. Apalagi jalan yang mulus tanpa kemacetan membuat perjalanan menjadi nyaman. Namun bisa jadi karena kami semua sudah lelah menjalani hari yang panjang sejak meninggalkan Jeddah pagi tadi lalu terbang ke Jordan, yang dilanjut dengan perjalanan ke Laut Mati dan kini yang dirindukan mungkin hanya pembaringan.

Demikian pula keadaan saya, dengan mata yang setengah mengantuk, kadang terbuka dan kadang terlelap, saya berusaha sebisanya mengikuti perjalanan. Rasanya sayang sekali jika terlelap di negeri yang baru pertama kali saya kunjungi.

Ketika melihat banyak lampu di luar jendela bus, saya berpikir sudah sampai di Amman. Ternyata dugaan saya salah. Saat itu kami masih sekitar tiga puluh menit lagi ke kota Amman. Saya hanya ingat bus berbelok lalu bergerak lagi untuk beberapa saat lalu akhirnya berhenti di sebuah tanjakan yang disusul dengan dinyalakannya sebagian lampu dalam bus.  Lalu suara pemandu terdengar memecah keheningan. Sayangnya saya tak mendengar jelas informasi yang disampaikan. Saya hanya melihat sebuah mesjid yang terlihat indah jika difoto dengan lampu kehijauan di menaranya. Rasanya tak banyak rumah ataupun toko di sekitarnya karena terlihat kegelapan menyelimuti. Masjid itupun terang karena lampu di halamannya. Seperti berada di tempat terpencil di perbukitan yang jauh dari pemukiman.

Prophet Syu’aib Mosque and Shrine, Jordan at night

Di dalam bus, -mungkin karena lelah-, tidak ada perempuan lain yang turun dari bus kecuali saya. Yang laki-laki pun bisa dihitung tak melebihi dari jumlah jari dalam satu tangan. Saya mengambil beberapa foto di halaman Masjid lalu mendekat ke sebuah pintu. Di situ baru saya memahami, betapa beruntungnya saya mengikuti hati untuk turun dari bus karena di dekat pintu tertulis dengan sangat jelas: Makam dan Masjid Nabi Syu’aib Alaihissalam. Bukankah kita sangat beruntung bisa menjejakkan kaki di tempat orang-orang sholeh berbaring di peristirahatan terakhirnya?

Entah kenapa, saya agak takut untuk mendekat. Rasanya aura kesholehannya tetap menguar dan meliputi seluruh ruangan itu. Saya menjadi begitu insecure berada di dekat makam orang yang selama hidupnya begitu sholeh dan menjadi utusan Allah kepada orang-orang Madyan dan Ashabul Aikah. Tanpa sadar saya mundur selangkah sambil menundukkan kepala, menyadari banyaknya khilaf yang dibuat hingga kini. Rasanya tak pantas untuk mendekat, seakan bisa menjadi noda atas kesucian auranya.

Terpampang jelas di depan mata, makam Nabi Syu’aib Alaihissalam yang terletak di tengah ruangan berlangit-langit tinggi dan lantainya berkarpet tebal, diselimuti dengan kain beludru berwarna hijau berhiaskan benang emas sebagai penutup yang indah. Lalu dari tempat saya berdiri, yang berjarak hanya beberapa langkah dari makam Nabi Syuáib Alaihissalam, saya mengangkat tangan dan melangitkan doa.

Makam Nabi Syu’aib, Jordan

Sebelum meninggalkan ruangan, saya membiarkan ingatan menari-nari, mengingat kisah hidup Nabi Syu’aib Alaihissalam. Sebagai orang yang diutus Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kaum Madyan dan Ashabul Aikah, tantangan yang dihadapi Nabi Syu’aib Alaihissalam sangatlah besar. Kaum Madyan merupakan kaum yang menguasai jalur perdagangan di wilayah sekitar Laut Mati sedangkan Ashabul Aikah merupakan sekelompok orang yang percaya kepada pepohonan bahkan mereka menyembahnya. Kaum Madyan terkenal sebagai pedagang yang ulet dan banyak diantara mereka yang sukses dan berlimpah kekayaan. Sayangnya, dalam menjalankan perdagangan, mereka seringkali tak jujur dan licik. Ketidakjujurannya terlihat saat bertransaksi jual beli, mereka suka mengurangi ukuran dan timbangan. Gandum yang seharusnya ditimbang 1 kilogram dikurangi dan dijual dengan harga untuk 1 kilogram, sehingga mereka mendapatkan keuntungan dari cara tak jujur tersebut. Selain itu, seperti juga Ashabul Aikah, Kaum Madyan lebih percaya pada hal-hal selainNya yang membuat mereka hidup berlimpah harta dan bisa menguasai jalur perdagangan.

Nabi Syu’aib mengetahui hal itu dan memperingatkan mereka akan hukuman atas perbuatan kaum Madyan dan Ashabul Aikah yang tidak benar itu. Namun, bukannya berterima kasih, mau memahami dan bertobat, mereka justru makin menentangnya. Bahkan mereka mengusir Nabi Syu’aib Alaihissalam dan semua pengikutnya untuk keluar dari kota itu. Ah, sepertinya saat itu mereka berpandangan sebagai mayoritas di kota itu dan jumlahnya lebih banyak maka apa yang mereka lakukan adalah benar. Lebih benar daripada Nabi Syu’aib Alaihissalam dan pengikutnya yang menjadi kelompok minoritas karena jumlahnya sedikit.

Bagaimanapun Kebenaran hanyalah milik Yang Maha Kuasa,

Lalu, terjadilah bencana di tempat kaum Madyan bermukim. Gempa hebat terjadi di tempat itu dan meluluhlantakkan pemukiman mereka hingga tak bersisa satupun. Kaum Madyan meregang nyawa terjebak di rumah mereka sendiri.

Sedangkan bencana yang menimpa Ashabul Aikah adalah serangan udara yang sangat panas dan membakar kulit. Tentunya sangat jauh lebih panas daripada gelombang panas yang sering terjadi belakangan ini di negeri-negeri jauh. Tidak ada lagi bangunan dan pohon yang dapat dijadikan tempat berteduh dari udara yang mematikan itu. Kemudian di langit muncul segerombolan awan hitam dan berat, awan yang membawa petir dengan suaranya yang sangat keras menggelegar. Mereka tak dapat lagi menghindarkan diri dari bencana yang mengerikan itu.

Tentu saja kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam yang diutus kepada mereka yang membuat kerusakan di muka bumi ini, dapat dibaca dalam Al Qurán. Tetapi mengingat kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam di depan makamnya di Jordan ini, tentu jauh berbeda rasanya. Gambar-gambar imajinasi mengenai kisah itu bergerak sendiri seperti menonton sebuah film di benak, menjadikan sebuah peringatan yang menyesakkan. Sebuah pembelajaran teramat penting yang dapat diambil dari kaum terdahulu.

Keheningan berada di depan Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam pecah saat datang pengunjung lain. Saya meninggalkan ruangan dan mengambil foto di halaman. Sayang sekali, Masjid Syu’aib yang ada di kompleks itu pintunya terkunci, padahal konon sangat indah. Pintu Masjid berada tak jauh dari bangunan kecil berkubah emas yang ada di tengah-tengah pelataran halaman dalam.

A nice place for taking the ablution, Mosque of Prophet Syuaib, Jordan

Tak banyak yang bisa diabadikan kecuali bangunan kecil berkubah emas tadi yang terbuka pada sebagian dindingnya yang tampaknya merupakan tempat mengambil air wudhu, terlihat dengan keran air dan tempat duduk batu yang melingkarinya.

Setelah puas mengambil foto yang tak seberapa, saya berbalik ke arah bus berhenti. Dalam beberapa saat saya akan meninggalkan salah satu tempat yang diklaim sebagai Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ini. Selain di Jordan di tempat saya berdiri ini, ada juga yang mengatakan bahwa makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di Galilea Hilir, Israel. Selain itu ada yang mengatakan makamnya ada di Guriyeh, Iran. Bahkan tak sedikit yang berpendapat makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di sebelah Barat Ka’bah, Mekkah. Sementara yang lain berpandangan makamnya ada di Jabal Nabi Syu’aib di Yaman. Mana yang benar? Wallahu a’lam bishawab.

Saya melangkah kembali ke dalam bus, lalu pintu-pintu bus ditutup. Roda bus mulai bergerak pelan meninggalkan kegelapan perbukitan di belakang, lampu-lampu dalam bus kembali temaram. Meski badan terasa lelah, saya merasa sangat beruntung dapat menjejak sebentar di tempat yang baru saja ditinggalkan dengan hikmah yang terserak begitu banyak. Dan kini, sepertinya saya menyerah pada dunia, hanya pembaringan yang saya rindukan…

From the courtyard of Prophet Syuaib Mosque

Senja di Laut Mati, Terendah di Muka Bumi


Katanya, belum pergi ke Jordan jika belum mengunjungi Petra dan Laut Mati, seakan-akan negeri Jordan itu hanya dikenal karena keberadaan dua tempat itu saja, bukan hal lainnya. Kenyataannya, selain Petra masih ada peninggalan sejarah di Jerash yang indah. Dan Laut Mati itu sesungguhnya tidak dikuasai seluruhnya oleh Jordan melainkan terbagi ke dalam dua kekuasaan, Jordan untuk bagian Timur dan Israel untuk bagian Baratnya. Jadi agak berlebihan juga sih dengan istilah belum ke Jordan jika belum menjejak Laut Mati dan Petra, karena Jordan tidak hanya itu!

Tapi bagaimanapun, karena kami sedang berada di Jordan, mengunjungi Laut Mati sepertinya menjadi agenda yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Jadi selepas kunjungan singkat ke Gua Ashabul Kahfi yang sudah saya tulis sebelumnya, kami semua duduk manis lagi dalam bus sekitar satu jam perjalanan dari kota Amman menuju Laut Mati.

Pinggir Kota Amman

Pemandangan kota Amman melalui jendela bus masih tak jauh berbeda, dengan bukit-bukit gundul serupa gurun berwarna kecoklatan dihiasi bangunan-bangunan kubus yang tumbuh tak beraturan. Jalan di depan mata  bisa dibilang sempurna dengan aspal mulus yang lebar. Kesan saya akan kota Amman bisa saja salah karena saya tidak mengunjungi pusat kota atau pusat bisnisnya. Rasanya tertanam di benak Amman bukanlah kota yang penuh gedung pencakar langit seperti kota-kota dunia lainnya. Ibukota Jordan ini sepertinya hanya menjadi kota tua yang berusia sembilan ribu tahun yang mewarisi sejarah panjang di bumi Timur Tengah.

Pemandangan menuju Laut Mati

Kesan saya bisa sangat salah. Seperti saat kita melihat seseorang lanjut usia yang renta. Meski terlihat tak memanjakan mata, usianya yang tua itu menyimpan banyak asam garam kehidupan. Demikian juga kota Amman, sejarahnya telah teramat panjang dan meninggalkan banyak jejak, dari sejak zaman Neolitikum, periode emasnya Kerajaan Ammon, peradaban Romawi, Byzantium, hingga Persia dan Ottoman. Bahkan alam pun meninggalkan jejaknya di sana dengan banyaknya gempa bumi dan bencana lainnya hingga sempat terabaikan sampai akhirnya ditemukan kembali di zaman modern.

Jika saja, saya memiliki waktu yang lebih panjang di Jordan, mungkin saya akan mendatangi lebih banyak jejak-jejak sejarah yang tertinggal karena pastilah semuanya menarik. Semenarik nama yang pernah disandang kota Amman. Siapa yang sangka nama Philadelphia yang memiliki makna kasih persaudaraan, -kini lebih dikenal sebagai nama kota di Pennsylvania, Amerika Serikat-, pernah disandang oleh kota Amman pada zaman dulu? 🙂 Hmmm… Amman memang bukan sekedar pintu gerbang untuk sampai ke Petra dan Laut Mati.

Menuju Tempat Terendah di Muka Bumi

Kota Amman sudah tertinggal di belakang namun saya masih terpaku melihat pemandangan keluar jendela yang menghilang cepat seirama kecepatan bus. Suara pemandu terdengar samar di antara deru bus namun ia tak bosan menyampaikan himbauan agar kami bersiap-siap menghadapi kemungkinan situasi tak nyaman pada raga. Perjalanan menuju Laut Mati memang bukan perjalanan biasa, karena Laut Mati merupakan tempat terendah di muka bumi. Tidak tanggung-tanggung, pantai Laut Mati itu berada sekitar 400 meter di bawah permukaan laut. Bisa jadi, akibat lokasinya itu, terjadi perbedaan tekanan udara yang mungkin berdampak pada tubuh.

Himbauan pemandu mengembalikan ingatan saya ketika trekking di Himalaya ke tempat-tempat dengan ketinggian di atas 3000 mdpl. Usia yang tidak lagi muda apalagi jarang berolahraga membuat saya mengalami situasi tak nyaman di tubuh. Entah karena perbedaan ketinggian atau memang karena kondisi tubuh yang sedang tidak begitu fit, saat itu saya hanya merasa cepat lelah. Pengalaman itu membuat saya cukup waspada terhadap perbedaan ketinggian tempat. Memang secara teori, makin tinggi sebuah tempat dari permukaan laut, maka tekanan udara di tempat itu makin kecil. Artinya semakin tipis kadar oksigen yang terkandung dalam lapisan udara itu. Sebaliknya semakin rendah sebuah tempat, maka tekanan udaranya akan semakin besar dan kadar oksigennya semakin banyak.

Nah, pantai Laut Mati yang berada 400 meter di bawah permukaan laut, secara teori memiliki tekanan udara lebih besar dari 1 ATM. Dari Google saya mendapatkan Laut Mati memiliki tekanan 1.09 ATM (sementara di ketinggian sekitar 3000 Meter di atas permukaan laut, tekanan udaranya mencapai 0.70 ATM). Membaca angka-angka yang terpampang, saya merasa lebih tenang karena situasi saya ketika berada di Himalaya jauh lebih buruk. Namun bagaimanapun alam tak boleh dianggap enteng.

Bus yang berbelok tajam ke arah kiri menyadarkan bahwa kami telah berkendara beberapa waktu lamanya. Matahari sudah makin condong ke Barat. Di kejauhan tampak sedikit bagian dari Laut Mati. Ah, melihat Laut Mati yang berada di kejauhan itu, saya membayangkan perjalanan masih lama.

Menyusuri Laut Mati dari bus
Some hotels and resorts at Dead Sea

Tapi berbeda dengan jalan sebelumnya yang datar dan lurus, kini bus bergerak menuruni jalan-jalan yang berliku, berbelok-belok seperti layaknya jalan di gunung. Tapi yang pasti hanya satu, berbelok atau lurus, semua jalan menurun tajam dengan sesekali melandai. Turunan-turunan yang tajam itu membuat saya terus berdoa memohon keselamatan karena terasa sekali rem bus bekerja tak henti. Mungkin saya terlalu terpengaruh terhadap berita tentang banyaknya bus di Indonesia yang seringkali masuk jurang atau kecelakaan karena remnya blong. Namun Alhamdulillah, di setiap jalan yang sesekali melandai itu mampu membuat saya menarik sedikit nafas lega.

Berpuluh menit kemudian, perjalanan dengan rasa was-was itu berakhir saat bus berbelok ke sebuah kawasan yang dikenal dengan Pantai Laut Mati. Begitu bus berhenti, tanpa diperintah lagi, kami semua turun dari bus dan menyebar mencari lokasi terbaik untuk berfoto.

Saya sendiri, ketika menjejak tanah, tidak merasakan perbedaan tekanan udara. Rasanya biasa saja, seperti di ruang terbuka dimanapun meskipun jam tangan saya menunjukkan elevasi -439 meter. Mungkin tidak akurat 100% tetapi tetap saja surprise juga melihat angka yang lumayan aneh di jam tangan itu 🙂

Dead Sea altitude at my watch

Berusaha memanfaatkan waktu yang sempit berada di Laut Mati, langsung saja saya menuruni berpuluh anak tangga agar bisa sampai ke tepi pantainya. Terlihat juga di kejauhan hotel dan resort mewah yang berada di pinggir Laut Mati tetapi sepertinya tetap saja harus menuruni banyak anak tangga untuk sampai ke pantainya, seperti di kawasan ini juga. Laut Mati yang sebenarnya danau itu tak memiliki ombak, hanya riak kecil. Saya berjongkok untuk melihat batuan yang ada di pantainya. Bukan kebanyakan pasir seperti umumnya pantai, melainkan batu-batu dan butiran garam yang mengkristal. Airnya sendiri menurut saya cenderung seperti minyak, sedikit lebih pekat atau kental dari air dan licin. Sungguh rasanya aneh saat terkena kulit tangan.

Selagi saya memperhatikan batuan kristal garam itu, datang tiga orang turis yang langsung menceburkan diri untuk berenang dan berfoto. Mau tidak mau saya turut tersenyum memperhatikan mereka yang tertawa lebar karena langsung mengapung tanpa perlu bantuan. Memang, kandungan garam di Laut Mati mencapai 33%, -sebuah angka yang ekstra tinggi dibandingkan dengan rata-rata kandungan garam di laut lainnya yang hanya 3%-, membuat manusia secara otomatis mengapung di Laut Mati.

What we see at Dead Sea Beach
The must taken pose on Dead Sea – floating

Sebuah pertanyaan nakal melintas di benak saat melihat mereka yang mengapung. Jika manusia selalu mengapung, tentunya di Laut Mati selalu aman, tidak pernah ada yang tenggelam. Apakah benar begitu? Pertanyaan itu membuat saya googling dan terkejut juga mendapatkan jawabannya. Ternyata ada kasus ‘tenggelam’ di Laut Mati. Tapi tenggelam di sini tidak seperti tenggelam di perairan biasa, melainkan celaka (yang mungkin menimbulkan kematian) karena kehabisan nafas di dalam air. Faktanya, manusia bisa dengan mudah membalikkan badan, atau dengan bantuan gerakan kaki menghentak dasar di perairan biasa, tetapi di Laut Mati dengan kadar garam 10 kali lipat dari perairan laut normal, hal itu sangat sulit dilakukan dan sangat melelahkan karena kondisi pekatnya perairan. Kondisi manusia yang mengapung dengan posisi tertelungkup sangat berisiko tinggi di Laut Mati. Maka dari itu, di Laut Mati disarankan orang berenang dengan posisi telentang yaitu wajah, dada dan perut menghadap atas.

Selain bisa langsung mengapungkan manusia, konon lumpur Laut Mati merupakan salah satu skincare terbaik. Bisa jadi karena kandungan mineralnya yang jauh lebih tinggi dari perairan biasa. Namun ketika melihat ada teman rombongan yang membeli berbotol-botol ramuan dari Laut Mati sebagai skincare, saya tetap tak tergoda. Selain mahal (mata uang Jordan itu bikin mules kalau dirupiahkan!), saya menggunakan satu rule, jika kulit semua orang lokalnya sebagus yang dipromosikan, mungkin boleh dipertimbangkan untuk dibeli. Tapi, hmm… by the way, yang bernyawa memang tidak bisa hidup di Laut Mati, namun bukan berarti perairan itu bersih dari makhluk yang pernah hidup lalu tidak bisa meninggalkan Laut Mati itu kan…? Lalu, buat skincare di wajah? 🙂

Pemikiran itu terbersit karena mengingat kisah dalam Al Quran tentang peristiwa yang menimpa kaum Nabi Luth Alaihissalam yang konon menempati kota Sodom. Peristiwa itu terjadi karena mereka telah terus menerus melakukan perbuatan maksiat dengan saling menyukai sesama jenisnya. Bahkan tiga orang tamu Nabi Luth Alaihissalam juga menjadi sasaran keinginan mereka padahal ketiga tamu yang berwajah rupawan itu adalah malaikat yang menyamar menjadi manusia.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Al Quran, Surat Hud, ayat 82)

Sejauh yang saya tahu, konon kota Sodom dan Gomorrah itu sudah dimusnahkan hingga tak ada lagi jejaknya. Tetapi tetap saja, ada begitu banyak alasan bagi negeri-negeri untuk bisa mem”bumi”kan kisah yang tertulis di Kitab Suci itu. Ada penelitian yang mengatakan kota Sodom itu berada di wilayah Jordan, ada juga yang mengatakan ada di wilayah Israel. Artinya semuanya ada di sekitar Laut Mati. Bisa jadi karena kisah Sodom dan Gomorrah ini berkategori keburukan, maka tidak banyak negeri yang mau mengklaimnya (Lain halnya kalau bersifat positif dan keren, pastinya banyak negara berlomba-lomba mengklaim). Yang pasti, jika kita membuka Google Map, di bagian Barat Daya Laut Mati, di wilayah Israel, ada tempat yang dinamakan Mt. Sodom yang tak jauh dari pilar garam yang disebut sebagai Statue of Lot Wife. Apakah itu berkaitan dengan peristiwa di Kitab Suci atau tidak, wallahualam.

Saya memang tidak berlama-lama di Pantai Laut Mati, tetapi merasakan berdiri di atas kaki sendiri di tempat yang konon berlatar kisah yang ada di kitab suci itu, memang berbeda. Selain indah, rasanya kita diingatkan tentang kisahnya, tentang konsekuensinya. Juga tentang kekuasaan Allah yang Maha Besar. Berdiri di tempat terendah di muka bumi, membukakan mata hati. Air di depan mata tampak seperti air biasa, padahal tidak. Permukaan air di depan mata dan tanah yang dipijak, seperti tanah biasa, padahal secara sains tempat ini tempat terdalam di muka bumi yang bisa dijejak oleh manusia secara normal. Tentunya tidak banyak manusia yang bisa merasakan berada di tempat yang “ter” di dunia, tentunya di sini maksudnya adalah yang paling rendah.

Apalagi saya bisa menikmati wajah sunset yang indah di Laut Mati. Warna kuning keemasan akibat matahari tenggelam itu sangat luar biasa. Tidak banyak orang yang bisa menikmati sunset dari tempat yang berada di 400 meter di bawah permukaan laut. Dan saya termasuk orang yang sangat beruntung dapat mengalaminya. I am so blessed…

Sunset at Dead Sea, Jordan

Menjejak Jordan, Mengintip Cave of Seven Sleepers


Lamat-lamat dalam hati saya mendaraskan doa dalam penerbangan menuju Amman yang baru saja meninggalkan bandara internasional King Abdul Azis, Jeddah. Tidak lain kecuali harapan bisa kembali lagi ke Tanah Suci. Sebuah rasa yang sejak dulu saya selalu skeptis kini benar-benar menguasai hati. Dulu, saya tak pernah mengerti mengapa orang berkali-kali mengerjakan umroh dan berhaji, bukankah ibadah itu cukup sekali saja? Kini, setelah mengalami sendiri, saya paham bahwa rasa ingin berada di Tanah Suci itu yang begitu intim, begitu personal, begitu menyenangkan, semua itu seperti minum di saat dahaga dengan damai memenuhi jiwa. 

Kesadaran berada di pesawat yang sedang mengangkasa, melahirkam setitik rasa tak rela meninggalkan bumi tempat Tanah Suci berada. Saya menarik nafas panjang, tanpa membuka mata pun saya memahami diri ini dihadapkan langsung oleh hukum kefanaan. Tidak pernah ada yang abadi, sebuah awal senantiasa memiliki akhir, sebuah perjumpaan senantiasa berujung pada perpisahan. Dan ini saatnya…

Bersamaan dengan rasa yang keluar, jauh di sudut jiwa, serangkaian kata bijak dari Jalaluddin Rumi terasa mendenting-denting di benak seakan mengingatkan. Bukankah perpisahan hanya untuk orang-orang yang mencintai dengan matanya? Bukankah untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak akan pernah ada kata perpisahan? Sekali lagi saya menarik nafas panjang, melepas dengan ikhlas, menyambut rasa yang memberi semangat baru.

Setelah dua jam penerbangan Saudi Arabian Airlines dengan pesawat A320 itu akhirnya bandara megah Internasional Queen Alia, kota Amman, Jordan menyambut kami semua. Sebagai bandara terbesar di Jordan, kemegahannya langsung terasa apalagi tak banyak orang berlalu lalang. Entahlah, bisa jadi kelengangannya lebih terasa karena saya baru datang dari Jeddah yang kerap didatangi manusia dari berbagai negara. 

Belum cukup lama mengagumi bandara megah kota Amman, kami sudah diarahkan segera keluar bangunan indah ini. Yah, seperti umumnya perjalanan yang diatur oleh sebuah agen, tidak ada istilah santai selepas imigrasi Jordan. Bersamaan dengan koper-koper yang dimasukkan ke dalam bagasi, kami pun segera menaiki bus untuk kemudian bergerak menuju tempat-tempat wisata di Jordan. 

Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Dari balik jendela bus, saya mengamati pemandangan gurun yang kering kecoklatan menghias perjalanan, yang sesekali disela oleh suara pemandu wisata. Kami memang menuju Gua Ashabul Kahfi yang terletak di Abu Alanda, dekat kawasan Raqim, sekitar 30 menit berkendara dari bandara. Konon, di sana merupakan tempat yang melatari kisah yang tertulis dalam kitab suci Al Quran. Kisah tentang Ashabul Kahfi atau dikenal juga The Seven Sleepers

Kawasan Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Meski masih diperdebatkan keakuratannya, gua Ashabul Kahfi atau tertulis di gerbang dengan nama Cave of Seven Sleepers yang berlokasi di Jordan ini tetap berhasil membuat saya kagum. Gerbangnya sendiri melengkung cantik, menandakan adanya campur tangan dari dunia modern. Saya tersenyum dalam hati, Jordan tidak sendirian mengklaim memiliki gua Ashabul Kahfi karena Turki pun melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari satu tempat (Ephesus, Afsin dan Tarsus). Bagaimanapun, saya sebagai pencinta segala sesuatu yang berbau sejarah kuno, bisa merasakan Ashabul Kahfi di Jordan ini begitu menguarkan rasa ancient. Rasanya hidung saya otomatis bergerak-gerak membaui batu-batunya, temboknya, suasananya, lalu membiarkan imajinasi menari lincah membayangkan tempat yang seakan terperangkap dalam waktu itu. 

Otomatis saya teringat perjalanan ke Lumbini, Nepal beberapa tahun lalu (baca tulisan saya tentang Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini). Lumbini yang dipercaya sebagai tempat lahir Sang Buddha lebih dari dua millenium lalu, memiliki situasi struktur bebatuan serupa dengan yang terhampar di Ashabul Kahfi ini. Rasanya tak jauh beda. Tanpa perlu mengetahui secara ilmiah, dari rupa bebatuannya saja sudah terasa goresan sejarah besar kehidupan berabad-abad lalu di tempat saya berpijak.  

Di depan mata terhampar kawasan selayaknya sebuah situs purbakala yang sedang diekskavasi, dengan jalan setapak yang lebarnya hanya bisa dilalui oleh manusia. Bisa jadi dulu tanah ini juga dijejaki oleh tentara Romawi yang mencari ketujuh pemuda yang menolak perintah Raja itu. Ada yang masih ingat kisah Ashabul Kahfi ini? 

Gate of Ashabul Kahfi area

Tertulis dalam kitab suci, Ashabul Kahfi atau Tujuh Pemuda Yang Tertidur merupakan kisah manis tentang kekuatan iman dari tujuh pemuda penganut agama samawi yang konon terjadi beberapa abad sebelum kedatangan Nabi Isa ‘Alaihissalam

Kala itu, penguasa (ada yang menyebutnya Raja Decius dan juga Gubernur Daqyanus) dikenal sebagai orang-orang yang dzalim dan penyembah berhala. Dengan kekuasaannya, mereka bisa memaksa siapapun dan dengan cara apapun untuk menanggalkan iman akan Dia Yang Maha Esa untuk kembali menyembah berhala. Tak heran, kemarahan penguasa langsung saja  berkobar ketika mengetahui ada tujuh pemuda yang menolak perintahnya, meski salah satu diantara tujuh orang itu adalah kerabatnya.. Akibatnya tidak tanggung-tanggung, hukuman mati atas ketujuh pemuda itu menanti apabila dalam waktu dua hari mereka tidak mau mengubah keyakinannya. 

>Ketujuh pemuda itu tetap menolak dan memutuskan melarikan diri dan bersembunyi dalam sebuah gua di kawasan pegunungan. Seperti juga kisahnya, nama ketujuh pemuda itupun senantiasa diperdebatkan, termasuk apakah ada anjing yang konon bernama Qithmir dan bertugas menjaga pintu gua. Apapun itu, nyatanya ketujuh pemuda terselamatkan dari hukuman yang keji itu. Dia, Pemilik Semesta ini menunjukkan kuasaNya dengan membuat mereka tertidur selama 300 tahun Masehi atau 309 tahun Hijriah. 

Terbangun karena rasa lapar, ketujuh pemuda ini menyangka terlelap hanya sehari. Namun, ketika salah satu pemuda itu pergi ke kota untuk mencari makanan, alangkah terkejutnya dia karena kota sudah sangat berbeda. Selain itu, uang peraknya sudah tidak berlaku untuk membayar. Serta merta seisi kota gempar mendengar ceritanya karena dia adalah salah satu dari tujuh pemuda yang telah menghilang selama tiga abad. Penduduk kota ingat betul akan kisah turun temurun tentang tujuh pemuda yang menghilang karena tidak ikhlas menjual agama kepada penguasa dzalim penyembah berhala. Dan hari itu, salah satu dari ketujuh pemuda itu berdiri di antara mereka.

Sontak saja, berita kembalinya ketujuh pemuda itu tersiar seantero negeri. Raja yang berkuasa saat itu dan penduduk negeri menyambut mereka dengan meriah dan meminta mereka tinggal di kota. Namun mereka menolak dan tetap memilih kembali ke gua. Konon, sesampainya di gua, mereka bersujud dan memohon agar Pemilik Segala Kuasa bisa menurunkan rahmatNya dan mengizinkan mereka meninggalkan dunia fana. Tak ada yang mustahil bagi Pemilik Semesta. 

Tubuh mereka dikuburkan di dalam gua, yang bisa disaksikan adanya tujuh makam batu di dalam gua. Namun kini semua tulang yang tersisa ditempatkan di salah satu makam batu, yang di satu bagiannya diberi kaca tembus pandang, agar kita bisa melihat ke dalamnya.

-o- 

Tampak depan Gua Ashabul Kahfi, pintunya rendah & ceruk gaya Romawi, di bagian atas ada reruntuhan bekas mihrab masjid
Tempat tidur sekaligus makam batu dalam gua
Hiasan dinding di dalam gua
Showcase of artefacts in the cave.

Dengan berhias ceruk khas Romawi di dekat pintu gua yang rendah, udara lembab gua yang minim sirkulasi langsung menyergap hidung ketika saya melangkah memasukinya. Gua itu tak luas, tapi cukup untuk dihuni tujuh orang. Ada bagian depan gua dan di bagian belakangnya dengan level yang lebih rendah merupakan kubur batunya. Saya mengintip ke lubang kaca, serupa tulang masih terkumpul di dalam sana dan sebuah showcase tampak diletakkan di sana untuk menyimpan segala macam artefak pendukung kisah. Entahlah, bisa jadi hanya tiruan, mungkin juga asli… Rasanya semua isi kisah terasa jumpalitan di benak. Otak ilmiah yang bertumbuk dengan kisah reliji ini bermuara pada selarik pemahaman, bisa jadi sebidang tempat ini memang terlipat dalam waktu. Wallahualam bissawab. Kebenaran hanyalah milik Allah.

Saya tidak lama berada dalam gua karena ingin melihat bagian luar yang juga terlihat menarik. Selain kucing cantik berbulu lebat yang sedang berjemur, yang terhampar hanyalah bebatuan belaka. Namun bukan sekedar bebatuan tanpa kisah karena awalnya dulu di atas gua konon dibangun sebuah gereja kecil. Bisa jadi demikian karena ada perkembangan kependudukan di wilayah yang kini masuk ke negeri Jordan itu. Tetapi pada akhirnya, seperti umumnya perjalanan waktu di negeri-negeri Timur Tengah, gereja kecil tadi dikonversi menjadi masjid. Menariknya, mihrab masjid tepat tepat di atas pintu depan untuk masuk ke gua, yang tentunya menghadap kiblat.

Meninggalkan bebatuan kuno itu, saya melangkah menuju Masjid Al Kahfi, yang didirikan di kawasan yang sama yang letaknya lebih atas. Kompleks Masjid itu sangat megah dan sangat kontras dengan lingkungan kuno Gua Ashabul Kahfi. Seperti bumi dan langit, yang satu menunjukkan modernitas, lainnya merujuk pada kekuatan alam. 

Setelah mendirikan shalat di Masjid itu, kami melangkah keluar menikmati sesaat waktu bebas untuk mengabadikan tempat bersejarah sekaligus tempat ibadah yang tak kalah indah. Sayangnya, lagi-lagi tak bisa lama, karena bus telah menunggu kami menuju persinggahan berikutnya…

Tempat terendah di muka bumi.

Masjid di atas kawasan Ashabul Kahfi
Pemandangan dari arah Masjid ke lembah