WPC – Admiration of the Asian Heritages


Been to lots of historical temples in my country since I was kid, made me admiring of the heritage sites, especially temples. When I was in a temple as a kiddie tourist, my mind was full of imagination of the life of people, the communities, their culture and the kingdoms around that time, and the relationships between the kingdoms as well…

As time go by, I can’t help myself not to go to the heritage sites in neighboring countries. With the same curiosity and eagerness seeing the temples, finally I visited to the heritage sites of the related kingdoms in South East Asia. And there I was still imagining the life of people and their culture during the temples’ golden era.

From Indonesia, the Borobudur…

IMG_5394
A guy performs a Pradaksina, the rite of clockwise circumambulating in Borobudur, World Heritage Site in Indonesia

to Cambodia, the Angkor Wat…

IMG_0223e
Sunrise at Angkor Wat – World Heritage Site in Cambodia

Also Preah Vihear, a world heritage temple in Cambodia, near the border to Thailand…

P1020784
Preah Vihear, World Heritage Site in Cambodia

Then to Thailand, the kingdom of Ayutthaya

IMG_7391
Ayutthaya at Night, World Heritage Site in Thailand

Also Sukhothai in Thailand

IMG_6621
Sukhothai – World Heritage Site in Thailand

And to temples of Bagan in Myanmar…

IMG_3370a
Beautiful Heritage Site in Bagan, Myanmar

Then the unforgotten My Son Champa ruins in Central Vietnam

P1030780
My Son, Champa ruins – World Heritage Site in Vietnam

And recently, last week exactly… Wat Phou in Lao PDR

IMG_1172
Wat Phou Champasak, World Heritage Site in Lao PDR

In response to the Daily Post Weekly Photo Challenge with the topic of Admiration

Nepal: Bertabur Legenda di Patan Durbar Square


Mengunjunginya jelang sore, hanya sehari sebelum Haribodhini Ekadashi, -salah satu hari untuk upacara kepada Dewa Wisnu-, Patan Durbar Square dipenuhi oleh warga yang akan beribadah yang saat itu berpusat di bawah tenda di bagian depan. Tapi berada di tengah kota yang punya nama lain Lalitpur, yang artinya Kota yang Cantik ini, memang benar-benar mengesankan walaupun gempa besar berkekuatan 7.8 bulan April 2015, -beberapa bulan setelah perjalanan saya-, telah meluluhlantakkan sebagian besar bangunan utama bersejarah yang tercatat sebagai bagian dari UNESCO World Heritage Site di Lembah Kathmandu itu. Wajah cantik Patan berubah muram karena ribuan nyawa tercabut dalam sekejap dan banyak bangunan bersejarah warisan dunia yang tak ternilai harganya itu tak lagi berdiri di situ.

Patan Durbar Square in the afternoon
Patan Durbar Square in the afternoon

Patan memang merupakan kota kuno, konon sudah dikenal sejak Dinasti Kirat pada abad 3 SM dan dikembangkan oleh Dinasti Licchavi pada abad 6, kemudian dilanjutkan oleh Raja-Raja Malla. Bahkan konon Raja Ashoka dari India, -karena cintanya pada Buddha-, membangun stupa di empat arah mata angin, -simbol dari Dharma Chakra-, masing-masing di wilayah Pulchowk untuk arah Barat, di Ebahi Tol  untuk Timur, di Lagankhel  untuk Selatan dan Teta untuk Utara. Keberadaan semua stupa itu seakan memberi konfirmasi bahwa Patan merupakan salah satu kota tua di Lembah Kathmandu.

Saat saya menjejakkan kaki disitu, mentari jelang sore itu menyinari dengan cantiknya ke seluruh kawasan Patan Durbar Square yang berarsitektur Newari dan berpusat pada bangunan Istana Kerajaan serta berbagai kuil yang bersisian dengan Istana. Cukup membuat gerah, tetapi keindahannya tak mampu membuat saya berpaling dari berpanas-panas demi untuknya.

Kisah Jaya Wijaya dan soal Sati 

Kuil cantik yang disebut Chyasim Deval Krishna ini adalah bangunan pertama yang mengucapkan selamat datang kepada saya setibanya di Patan Durbar Square. Penuh kekaguman saya mengamati kuil yang didirikan puteri Raja Yognarendra Malla pada tahun 1723.  Bentuknya yang oktagonal dan mengerucut ke atas dengan kubah-kubah kecil di sisi simetrisnya, -serupa kuil-kuil Shikara di India-, terlihat sangat berbeda dibandingkan kuil-kuil tradisional yang bergaya Newari, apalagi seluruh kuil yang terdiri dari 3 lantai ini terbuat dari batu. Lantai pertamanya memiliki beranda berkolom lengkung yang mengelilingi kuil. Sungguh cantik!

Di depan kuil cantik ini, duduk dua patung singa penjaga yang dikenal dengan nama Jaya – Wijaya yang langsung mengingatkan saya pada kisah Mahabharata ketika Krishna membunuh Shishupal dengan Cakra Sudharsana-nya dalam acara Rajasuya Yudhistira, sebuah kisah yang memiliki makna dan sudut pandang bertingkat, yang mengajarkan untuk tidak langsung menghakimi secara hitam putih pada sebuah peristiwa.  Adakah yang ingat kaitannya?

Tapi sungguh memilukan! Upacara ritual tidak pernah dilakukan di kuil Krishna ini karena konon dilatari kisah tradisi heroik puluhan perempuan yang memilih melakukan sati atau bakar diri ketika berlangsung kremasi Raja Yognarendra yang mangkat. Mengetahui ini, walau mentari masih terang benderang, saat itu saya langsung bergidik.

Dan hanya beberapa langkah dari kuil Chyasim Deval Krishna, ada sebuah pelataran yang menjadi fondasi dari sebuah genta yang besar, yang disebut Genta Taleju (Taleju’s Bell) dan didirikan pada tahun 1736 oleh Raja Vishnu Malla. Dulu, genta ini dibunyikan saat rakyat ingin mengajukan keluhan kepada Raja, namun sekarang dibunyikan hanya setahun sekali saat festival penting. Dan konon…. saat gempa April lalu genta ini berdentang terus menerus. Bisa jadi karena bumi bergoyang, genta jadi berbunyi atau memang ada orang yang sengaja membunyikannya kan?

Di bagian lain, di sebelah Timur Patan Durbar Square, berdiri Royal Palace yang dindingnya terbuat dari batu bata merah dan bergaya arsitektur Newari serta memiliki pintu-pintu masuk yang berbeda untuk masuk ke halaman-halaman dalam, yang terdiri dari Sundari Chowk, Mul Chowk dan Keshavnarayan Chowk (Chowk adalah halaman dalam). Dan tak beda dengan bangunan serupa di Katmandu, bangunan-bangunan di kompleks Istana Raja yang rata-rata dibangun pada abad 17 ini, memiliki lantai-lantai yang bertingkat sehingga dapat memantau seluruh aktivitas di Durbar Square. Yang terbesar adalah Kuil Degu Taleju dengan lima lantai beratap tiga tingkat yang dihiasi oleh genta-genta kecil di sekeliling pinggiran atap yang berdenting terkena tiupan angin. Di bagian agak dalam berdiri Kuil Taleju yang atapnya menyerupai lingkaran dan juga dihiasi genta-genta kecil di sekeliling pinggiran atap. Entah kenapa, tiba-tiba saya terbayang kalau malam hari yang gelap dan sepi tanpa angin, tiba-tiba ada bebunyian genta-genta, waduuh…

Patan Royal Palace
Patan Royal Palace

Kuil-Kuil Historis Ratusan Tahun

Berseberangan dengan tembok Istana, berdiri kuil Hari Shankar yang kuno berusia lebih dari 300 tahun yang didirikan oleh putri Raja Yognarendra Malla. Kuil penuh ukiran ini merupakan tempat ibadah yang didedikasikan kepada dewa yang diwakili setengah Wisnu dan setengah Siwa. Yang menarik, struktur atap kuil diukir sangat indah walaupun, -menurut beberapa sumber-, penggambarannya berupa penyiksaan makhluk di berbagai tingkat neraka. Hiiii…. Saya cukup menyesal juga tidak memperhatikan dengan lebih teliti karena tidak merasa nyaman dengan mata-mata yang memandang.

Sepasang patung gajah yang sedang duduk menghadap Royal Palace menghiasinya sebagai penjaga gerbang kuil. Saya tak akan pernah lupa keindahan sinar mentari sore yang menerangi kolom-kolom kayu penuh ukiran itu dan tak mampu membayangkan bagaimana cara mengembalikan nilai historis ratusan tahun yang hilang dalam sekejap karena kuil ini telah runtuh, meninggalkan sang gajah di tempatnya.

Sedikit melangkah ke Utara, terdapat Vishnu temple yang dibangun pada akhir abad-16 dari batu bata kokoh berbentuk sikhara yang digunakan untuk melakukan pemujaan terhadap Narasimha, reinkarnasi ke empat Dewa Wisnu sebagai manusia berkepala singa yang membinasakan Hiranyakashipu. Di hadapannya berdiri sebuah kolom yang di puncaknya terdapat patung Raja Yognarendra Malla sedang bersimpuh menghadap Royal Palace dengan perlindungan Naga. Patung Raja tampak berkilau terpapar sinar mentari sore , indah sekali.

Tetapi dalam gonjang-ganjing lapisan tanah akibat gempa besar tahun lalu, Vishnu temple mampu tegar bertahan namun tidak demikian dengan patung Raja Yognarendra Malla yang jatuh tergeletak di permukaan tanah di depan Vishnu Temple.

Selemparan baru darinya, berdiri Kuil Char Narayan atau disebut juga dengan Kuil Jagannarayan yang cantik. Kuil dua lantai yang dibangun pada tahun 1565 ini merupakan kuil tertua di Durbar Square dan penuh ukiran rumit mahakarya perajin Newari. Waktu saya berkunjung ke tempat itu hanya sehari sebelum Haribodhini Ekadashi yang merupakan salah satu hari upacara untuk Dewa Wisnu, sehingga tak heran kuil Char Narayan ini ramai oleh umat yang akan beribadah.

Namun sayang sekali, karena banyak ditopang oleh kayu dengan dasar bata merah, kuil berusia 4,5 abad ini runtuh, rata dengan tanah saat gempa April tahun 2015 lalu. Walaupun nilai historis ratusan tahun hilang dalam sekejap, tetapi berita baik tentang kekuatan budaya Nepal datang dari kuil ini. Dua hari setelah runtuh seluruh benda berharga di dalamnya dapat diselamatkan, kemudian semua reruntuhan dibersihkan dalam seminggu serta sebulan setelah gempa di tempat yang sama telah dapat dilakukan upacara peribadatan (puja) walaupun hanya di tempat terbuka tanpa bangunan pelindung. Bukankah Yang Maha Kuasa menerima semua doa yang disampaikan dengan tulus?

Dari Mimpi Bertemu Dewa Lalu Meraih Kemenangan

Dan serupa dengan kuil Krishna kembarannya di dekat pintu masuk Durbar Square, di sebelah Kuil Char Narayan berdiri  Krishna Mandir, yang tepat di depannya terdapat Garuda sedang duduk bersimpuh di puncak sebuah kolom. Di tahun 1636 Raja Siddhi Narasimha Malla mendirikan kuil yang seluruhnya terbuat dari batu ini, konon berdasarkan mimpi melihat Dewa Krishna berdiri di lokasi tempat kuil berdiri saat ini. Dan tidak hanya itu, legenda tentang kecintaan dan kebaktian Sang Raja terhadap Dewa Krishna kian digaungkan. Sepuluh tahun sejak kuil berdiri, Raja Siddhi Narasimha Malla dapat memenangkan perang melawan kerajaan tetangga karena berseru memanggil nama Dewa Krishna untuk menghabisi musuhnya. Bagi mereka yang percaya, Dewa Krishna merupakan sosok tempat kemenangan selalu berpihak kepadanya.

Terlepas dari cerita itu, kuil yang eye-catching ini memiliki hiasan cerita Mahabharata dan Ramayana.  Di lantai pertama kuil berwarna abu-abu ini bisa dilihat kisah Mahabharata sedangkan cerita Ramayana ada di lantai dua. Dua lapis penjaga gerbang kuil tampak menghiasi bagian pintu masuk, sepasang diantaranya berbentuk singa. Hanya saja kalau mau datang ke kuil ini, perlu diperhatikan waktunya. Jika suka dengan keramaian dan festival, coba datangi saja ketika Janmashtami, yaitu saat peringatan kelahiran Dewa Krishna. Pasti tempat ini penuh dengan manusia yang melakukan persembahan dan perayaan.

Perjalanan menyusuri kuil belum berakhir. Di sebelah Krishna Mandir berdiri Kuil Vishwanath yang dijaga oleh sepasang gajah yang berdiri. Sebagai kuil yang didedikasikan kepada Dewa Siwa, kuil dua lantai ini memiliki lingga di ruang dalam yang hanya bisa disaksikan oleh penganut Hindu yang akan beribadah. Selain itu kuil yang dibangun oleh Raja Siddhinarasimha Malla pada awal abad-17 ini, dihiasi dengan ukiran rumit pada kayu-kayu penyangga yang bernuansa erotis seperti kuil-kuil Siwa di India. Saya malu tapi mau lihat… hihihi…

Dan tentu saja seperti juga Garuda menemani Kuil Dewa Wisnu, pasti ada Nandi yang menemani Kuil Dewa Siwa. Saya menemukan sang bhakta di bagian barat dari kuil, yang menurut mata saya bentuknya tidak serupa dengan yang saya lihat di Indonesia.

Tiga Jendela Emas di Kuil Bhimsen

Terletak pada wilayah ujung Durbar Square, kuil Bhimsen yang terdiri dari 3 lantai dan dijaga sepasang singa berambut ikal ini memiliki tiga jendela berlapis emas yang sangat indah. Mudah sekali ditemukan karena jendela yang saling berhubungan ini dapat dilihat pada dinding yang menghadap timur atau Istana. Kuil yang didirikan oleh Raja Srinivasa Malla tahun 1680 ini, didedikasikan kepada dewa yang mengatur urusan bisnis, perdagangan dan karya seni sesuai tradisi Newari. Uniknya, sesuai peruntukannya, tepat di depan kuil ini terhampar pasar yang menjual berbagai karya seni dan keperluan sehari-hari.

The Golden Windows of Bhimsen Temple
The Golden Windows of Bhimsen Temple

Bersebelahan dengan pasar tadi, masih di seberang kuil Bhimsen terdapat Manga hiti, sebuah tempat kuno pengambilan air yang masih berfungsi hingga kini, yang letaknya satu lantai lebih rendah dari permukaan tanah dan tepat berbatas dinding dengan Bangunan Istana yang kini digunakan sebagai Museum Patan. Penduduk sekitar dapat mengambilnya melalui tiga buah pancuran cantik berhias makara. Sambil beristirahat, saya menyaksikan penduduk lokal maupun turis mengambil air di Manga hiti dari salah satu dari dua buah bangunan yang disebut dengan Mani Mandap, yang terletak di awal tangga turun dan difungsikan untuk memantau proses pengambilan air. Sayang sekali kedua Mani Mandap tempat saya duduk beristirahat ini telah tak ada lagi di tempatnya, runtuh terkena gempa April lalu.

*

Tak sadar waktu berlalu sangat cepat, sore sudah datang dan saya harus melanjutkan kunjungan ke tempat wisata lainnya. Saya mempercepat langkah meninggalkan kawasan cantik itu menuju tempat parkir sambil melongok-longok mencari mobil sewaan saya. Ampuuun… Saya lupa mencatat pelat nomor mobilnya! 🙂

Nepal: Kalung Bunga Cinta di Haribodhini Ekadashi


Berada di Changu Narayan, salah satu kuil utama tempat perayaan Haribodhini Ekadashi dipusatkan, tepat pada tanggalnya, tanpa direncanakan, dan mendapat 3 guardian angels yang datang dan perginya tak berjejak untuk masuk ke pelataran tempat kuil berada, sepertinya bukanlah sebuah kebetulan belaka. Bagi saya, semua itu adalah upaya bicara Sang Pemilik Semesta. Hati saya disentuh untuk bisa membaca tanda agar percaya sepenuhnya campur tangan Dia Yang Maha Kuasa menjadikan perjalanan ini hadiah yang benar-benar penuh makna.

Kuil Changu Narayan, salah satu UNESCO World Heritage Site di lembah Kathmandu, merupakan kuil Hindu tertua aliran Vaishnav (Dewa Wisnu) yang paling dihormati di Nepal dan terletak sekitar 20km di Timur Kathmandu. Meski inskripsi bertahun 464 Masehi ditemukan di bawah bangunan utama, banyak yang percaya sejak abad 3 Masehi, kuil ini sudah disakralkan.

The Oldest Changu Narayan Temple
The Oldest Changu Narayan Temple

Dan sebagai kuil yang mengutamakan Dewa Wisnu, tak pelak perayaan Haribodhini Ekadashi dirayakan penuh kemeriahan di kuil beratap dua tingkat yang dibangun pada masa kekuasaan Raja Manadeva dan kemudian dipercantik oleh Raja-Raja Licchavi dan Malla. Perayaan Haribodhini Ekadashi sendiri, mohon maaf kalau informasi ini salah, merupakan perayaan untuk Dewa Wisnu, yang dilakukan pada tanggal sebelas (Ekadashi) di bulan Kartika, dan bisa berlangsung berhari-hari hingga purnama bulan. Sebagai akhir dari empat bulan Chaturmas, -periode larangan diselenggarakannya ritual pernikahan-, tentu saja datangnya Haribodhini Ekadashi ditunggu dan disambut gembira karena menandakan awal diperbolehkannya melakukan ritual membentuk lembaga cinta. Pernikahan.

Oleh sebab itu, berdiri di pelataran Changu Narayan saat Haribodhini Ekadashi, membuat hati ini bergetar penuh rasa syukur. Tak pernah ada rencana untuk datang tepat pada hari membahagiakan ini. Dan dapat hadir di sebuah perayaan besar di kuil yang dilindungi dunia internasional sebagai kawasan bersejarah merupakan momen luar biasa. Sepertinya semua telah diatur tepat pada waktunya oleh Dia Yang Maha Sempurna.

Dan mengikuti kaki melangkah ke sudut pelataran, kearah kuil Dewa Siwa dan Kuil Lakshmi, tak pelak lagi saya perlu meningkatkan waspada dan memperbanyak senyum selagi berjalan. Tidak hanya sekali  saya harus meminta maaf karena memotong antrian mereka yang ingin beribadah di Kuil utama demi mengabadikan momen menarik. Namun bukan masyarakat Nepal namanya, jika mereka tak memberi ruang dan membalas senyum penuh kehangatan.

Menjulang di tengah pelataran, bangunan utama berhiaskan pintu keemasan yang dipenuhi berbagai simbol tentang Dewa Wisnu atau dikenal sebagai Narayan, termasuk Chakra Sudarshana dan gada Kaumodaki di satu sisi serta terompet kerang Panchajanya Shankhya dan bunga lotus (padma) di sisi lainnya. Ukiran pada bagian atap lengkap dengan ukiran makhluk khayangan bertangan delapan dengan berbagai posisi yang sangat indah ditambah dengan genta-genta kecil sekeliling pinggir atap. Tak perlu lama untuk mencipta bayang, bila angin sedikit kencang berhembus dalam keheningan malam, bunyi genta yang berdenting itu tentu sangat mengguncangkan rasa.

Berada tak jauh dari pintu utama, tak heran udara sekitar terasa panas, bercampur asap dan bara yang datang dari hasil nyala api persembahan dan dupa yang telah tumpah berserakan di pelataran. Cinta dan pengabdian pada Narayan begitu kuatnya dan percaya Dewa tetap menerima persembahan mereka yang dilakukan dengan ikhlas, walau harus sedikit mengotori pelataran kuil.

Kileshwor, The Shiva Temple
Kileshwor, The Shiva Temple

Pemandangan serupa pun terjadi di kuil Kileshwor, kuil Dewa Siwa yang berada di sudut pelataran. Warna bunga oranye bercampur bubuk merah berada diantara nyala api persembahan dalam wadah-wadah kecil di sekeliling tempat pemujaan itu. Bukanlah sebuah kejutan di Nepal bila ada kuil Dewa Siwa di pelataran kuil Narayan, atau sebaliknya. Masyarakat Nepal memiliki rasa toleransi yang sangat besar, bahkan tidak hanya aliran dalam Hindu melainkan juga dengan agama yang lain.

Dan bagaimanapun proses menerima selalu silih berganti dengan memberi, demikian pula saya saat masih terkagum-kagum dengan ritual yang dilakukan oleh para bhakta, para pemuja. Seorang gadis meminta bantuan untuk diabadikan bersama kawan-kawannya berlatar belakang Changu Narayan. Ah rasanya tak ada yang berberat hati menolong gadis-gadis Nepal yang penuh senyum. Bukankah mereka bisa saja para ‘guardian angels’ yang tadi dikirim untuk mengawal saya masuk?

Keriuhan di depan pintu kuil menarik perhatian saya. Setelah memperhatikan, dalam sekejap terjawab sudah pertanyaan saya. Para pemuja Narayan mengantri untuk masuk sambil berharap mendapat bunga dari dalam kuil. Seorang petugas yang berjaga di pintu terlihat membawa senampan bunga dan membagikannya dengan tertib. Namun sejalan dengan waktu, umat yang datang semakin banyak, tak sebanding dengan bunga-bunga yang keluar. Hanya tunggu waktu pembagian bunga yang tadinya tertib itu menjadi pelemparan bunga khas selebriti terkenal. Tangan-tangan terjulur, bunga melayang dan dalam sekejap kalung bunga itu tertangkap oleh tangan-tangan dan ditarik kearah yang berbeda. Sejumput tergenggam di sebagian tangan tetapi lebih banyak sisanya jatuh terinjak sia-sia. Saya memalingkan pandangan, tak ingin berlama-lama melihat walau sempat mengabadikannya. Rasa tak nyaman terbersit keluar, tak ada yang indah saat nafsu mulai menguasai dalam sebuah perebutan hak. Langsung terlintas di benak sebuah nasihat bijak yang mengatakan dimana ada cinta, disana tidak ada cinta yang membutakan. Dan hal itu menenangkan saya.

The flowers are for all of us
The flowers are for all of us

Walaupun tak mudah untuk mengabadikan yang menjadi ciri khas Changu Narayan dari sudut yang baik tanpa mengganggu yang beribadah, saya tetap berupaya mengelilingi kuil indah ini saat Haribodhini Ekadashi. Beringsut saya melangkah menuju panggung batu yang di atasnya terdapat karya pahatan dari abad 9 Masehi yang dikenal sebagai Sridhar Vishnu, berbentuk Dewa Wisnu dengan 12 tangan dan Dewi Lakshmi di pangkuannya dan dikelilingi hiasan bersulur yang sangat indah. Sridhar Vishnu ini diletakkan di atas dudukan lebar yang tak terjangkau tangan, agar sentuhan-sentuhan cinta pemujanya tidak sampai merusak karya yang telah berusia lebih dari 11 abad itu.

Hanya selemparan batu, sebuah karya pahatan lainnya yang juga indah, Vishnu On Sesa Naga yang diletakkan di atas balok batu. Pahatan berusia berabad-abad ini menggambarkan Dewa Wisnu yang tengah berbaring di atas Ananta Sesa di  lautan kosmis. Saya tidak dapat melihatnya lebih jelas karena banyak bunga yang menutupinya dan pemuja yang tak henti memberi penghormatan padanya.

Hanya berjarak beberapa langkah terdapat kuil Chinnamasta yang juga berpintu keemasan dan dikelilingi begitu banyak wadah persembahan berisikan bunga dan dupa. Kuil ini dipersembahkan kepada Dewi Chinnamasta yang konon mengorbankan dirinya sendiri sebagai persembahan demi kelangsungan masyarakat manusia. Sebuah cinta yang luar biasa, yang memikirkan manfaat yang lebih baik dan lebih banyak untuk orang lain. Sungguh saya tersentuh dengan ceritanya tentang hidup yang bermakna.

Mendampingi bangunan kuil, terdapat patung gajah yang tampak belum tuntas. Seorang kawan Nepal mengatakan, konon saat pengerjaannya, patung gajah ini mengeluarkan cairan berwarna merah seperti darah sehingga pengerjaannya dihentikan. Sebuah cinta dalam wajah yang lain. Saya sekejap teringat sebuah wejangan seorang guru tentang mencintai. Sebelum kita bisa mencintai manusia hidup hendaklah kita mencintai dan memelihara benda-benda di semesta ini dalam waktu yang lama, untuk kemudian naik tingkat ke tingkat hewan dan setelahnya baru bisa memahami dan mencintai manusia.

Saya kembali menyusuri pinggir beranda Darmasala yang teduh dan melihat para lansia menempati tempat duduk yang disediakan. Inilah bentuk cinta yang lain, sebuah penghormatan. Bukankah para lansia itu juga masih memiliki hak untuk melakukan ritual di kuil utama, apalagi ketika Haribodhini Ekadashi. Bagitu indah dan nyaman menyaksikan para tetua bergembira bersama-sama.

Tak terasa, saya mendekat lagi ke pusat keramaian di kuil utama untuk mengabadikan Garuda, tetapi akses menujunya sangat terbatas. Tak nyaman hati untuk merebut hak dan waktu mereka yang ingin beribadah sehingga saya kembali berteduh di kuil Dewa Siwa sambil mengamati hiasan-hiasan Kuil Utama diantara bunga-bunga yang terus dilempar dari batas pintu kearah pengunjung. Jumlah bunga yang dilempar semakin banyak ke berbagai penjuru dan entah kenapa tidak lagi diperebutkan. Bisa jadi adanya kepastian yang membahagiakan bisa masuk ke dalam kuil melakukan persembahan.

The intricate carvings on roof and door of Changu Narayan
The intricate carvings on roof and door of Changu Narayan

Saat itulah seorang bapak mendekat dan memberi sebuah kalung bunga kepada saya, tanpa mengatakan apa-apa hanya berhias senyum. Tanpa melepas senyum di wajahnya beliau meminta saya mengalungkannya melalui gerakan tangannya. Setelah mengalungkan bunga dan berterima kasih kepadanya, beliau langsung melangkah pergi ditelan kepadatan pengunjung, meninggalkan saya yang terheran-heran. Pada saat Haribodhini Ekadashi, saya mendapat kalungan bunga di Changu Narayan dari seorang bapak yang penuh kasih sayang, tentu merupakan sebuah keluarbiasaan. Seakan tahu saya menyukai bunga, menyukai diri berkalung bunga, saya sungguh terhenyak dengan hal-hal yang tak terduga yang terjadi di kuil ini. Tadi pagi dengan guardian angels dan kini dengan kalungan bunga. Benar-benar saya berhujan anugerah kegembiraan dan kebahagiaan. Ah, ungkapan-ungkapan syukur saya bisikkan kepada Yang Maha Pengasih, yang telah mengatur segala sesuatu dengan indahnya.

Berkalung bunga Cinta, saya meneruskan perjalanan ke sudut lain pelataran kuil lagi-lagi bermodalkan senyum saat harus memotong antrian mereka yang ingin beribadah. Di sudut terdapat patung Wisnu di atas Garuda. Walau sangat kecil dan janganlah dibandingkan dengan Garuda Wisnu Kencana di Bali, pahatan batu yang sangat terkenal ini telah berusia lebih dari 13 abad sehingga diabadikan dalam lembaran uang 10 NPR. Sebagai salah satu mahakarya tertua, karya ini sangat dihormati di Nepal karena terlihat tak hentinya orang menghatur salam dan meletakkan bunga padanya.

The 7th Century Vishnu on Garuda
The 7th Century Vishnu on Garuda

Tak jauh dari situ di beranda bangunan yang mengelilingi pelataran kuil, diselenggarakan pertunjukan tentang kehidupan Krishna sebagai avatar ke 8 dari Sang Narayan, untuk memeriahkan Haribodhini Ekadashi. Pengunjung cukup banyak tertarik dengan pertunjukan yang menampilkan periode kehidupan Krishna, lengkap dengan serulingnya saat masih kecil hingga remaja dan periode selanjutnya yang telah memegang Cakra Sudarsana yang mampu menghabisi iblis-iblis yang digambarkan tergeletak kalah di bawah kakinya. Walaupun narasi disampaikan dalam bahasa Nepal yang tidak saya mengerti, namun terasa sekali kegembiraan menyelimuti beranda itu. Yang menyaksikan tidak hanya dari kalangan anak-anak dan remaja, kalangan tetuapun hadir seakan tersihir dengan narasi yang disampaikan ditambah dengan visualisasi kedewaan di tengah mereka. Satu cara yang ditempuh untuk memperkuat iman.

Krishna Life on Hariboddhini Ekadashi
Krishna Life on Hariboddhini Ekadashi

Selesai mengabadikan pertunjukan itu, kaki ini melangkah menuju sudut pelataran. Di sana terdapat Vaikuntha Vishnu, sebuah mahakarya abad 16 Masehi yang menggambarkan Dewa Wisnu bertangan banyak, -dengan Dewi Lakshmi duduk di pangkuan-, dan keduanya duduk di atas Garuda bertangan enam. Pahatan yang sangat indah. Tak heran jika kuil Changu Narayan bergelar sebagai World Heritage karena memang di kuil ini tersimpan banyak sekali mahakarya indah yang berusia berabad-abad.

The 500 Years of Vaikunta Vishnu
The 500 Years of Vaikunta Vishnu

Dan waktu jugalah yang menyantap kunjungan saya ke Changu Narayan yang penuh kenangan. Tak ingin rasanya meninggalkan kuil kuno ini, tetapi ada janji yang harus ditepati. Perlahan kaki melangkah menuju gerbang, kali ini tidak ada guardian angels yang mengantar melaluinya tetapi ada kalung bunga yang melingkar di leher. Dalam satu hari, di satu tempat, saya dapatkan dua keluarbiasaan Cinta… I am so blessed…

****

Gempa bumi berkekuatan 7,9 Skala Richter pada bulan April 2015 lalu telah meruntuhkan Kuil Lakshmi, Kuil Kileshwor yang berada di sudut dan sebagian bangunan yang mengelilinginya, sementara bangunan utama Changu Narayan mengalami kerusakan berat pada sudut-sudut kolom penyangganya. Semoga semua perbaikan berjalan lancar dan dapat mengembalikan keindahan Changu Narayan seperti semula. Amin.

Nepal: Bertemu Guardian Angels di Changu Narayan


Walaupun sejak awal saya merencanakan untuk menjejakkan kaki di kuil tertua yang merupakan salah satu dari tujuh lokasi World Heritage Site di Kathmandu, saya tidak pernah mengharuskan diri mencapainya. Kuil Changu Narayan yang terletak 20km sebelah timur Kathmandu ini bukan seperti kuil lainnya yang mudah dicapai dari jalan besar apalagi bagi saya yang melakukan solo-trip. Tetapi seperti biasa ketika melakukan solotrip, saya percaya setiap perjalanan ke dalam diri pribadi ini merupakan upaya pencucian jiwa, termasuk juga perjalanan ke Nepal ini, sehingga pintu-pintu kemudahan seakan terbuka untuk saya. Terbukti taksi mungil itu menawarkan harga yang terjangkau untuk perjalanan ke Changu Narayan, mau menunggu saya hingga selesai lalu mengantar saya ke Bhaktapur, tempat saya menghabiskan malam berikutnya. Sebuah awal yang baik.

View from Changu Narayan Temple
View from Changu Narayan Temple

Udara perbukitan di Lembah Kathmandu pagi hari itu bersih, sebersih langit biru yang berhias awan tipis. Jalan besar Araniko Highway dari Kathmandu itu sudah ditinggalkan beberapa waktu lalu dan taksi mungil yang saya tumpangi itu mulai menyusuri jalan Nagarkot yang menanjak tanpa kehilangan daya mesinnya. Sesekali saya bertemu dengan wisatawan berambut pirang yang berjalan kaki yang membuat saya tersipu malu. Sementara saya menaiki kendaraan, mereka yang berusia lebih dari saya justru memanfaatkan tubuh sehatnya untuk berjalan.

Jalan Nagarkot masih terbilang lumayan mulus dan cukup lebar untuk dilalui dua kendaraan bersisian tanpa harus turun ke bahu jalan. Namun hal itu tak berlangsung lama, pengemudi taksi yang tak muda lagi dengan tangkas membelokkan taksi ke jalan Changu Narayan, sebuah jalan yang makin menyempit  dan menanjak serta memberikan sensasi kengerian tersendiri. Jalan tanpa tepian itu memang terbuka memberi pemandangan indah sekaligus undangan musibah bagi yang tak waspada berkendara. Sekilas pemandangannya serupa dengan Puncak dengan setengah lebar jalannya dan tanpa pagar pengaman. Bila tak trampil, jurang dan lembah di bawah bisa langsung menerima tubuh yang melayang.

Di sebuah pertigaan tampak serombongan perempuan berpakaian merah yang berjalan kaki yang disusul rombongan lain yang serupa bahkan hingga menutupi jalan. Sambil menjalankan kendaraannya perlahan, pengemudi taksi menyapa orang yang ada di pinggir jalan. Saya tak mengerti apa yang dibicarakan namun kemudian sang pengemudi berbaik hati mengatakan kepada saya bahwa sedang ada festival Narayan di kuil dan di atas macet sekali.

Saya terhenyak, teringat ketika berada di Kathmandu Durbar Square saya menyaksikan festival untuk Sang Narayan. Festival pertama saya di Nepal. Lalu di Lalitpur atau Patan, saya juga melihat keramaian yang didedikasikan untuk Sang Narayan. Dan kini, di salah satu kuil utama, di Changu Narayan, ada festival untuk Sang Narayan? Ah, Cinta… saya merasa terberkati bisa menyaksikannya langsung.

Benar saja, tak lama kemudian lalu lintas semakin padat yang akhirnya tersendat. Semakin banyak orang berjalan kaki. Taksi mungil itu beringsut pelan hingga akhirnya terhenti total karena padatnya kendaraan di depan. Pengemudi taksi dengan trampilnya membanting ke kanan sehingga mendapat ruang gerak sedikit untuk maju sampai akhirnya benar-benar tidak ada ruang lagi dan ia bisa memarkir kendaraannya di pinggir jalan. Ia menyerah dan menyampaikan bahwa saya harus berjalan kaki hingga ke kuil.

Berada di antah berantah diantara orang-orang Nepal, saya cukup dibuat gamang. Saya bertanya apakah kuil masih jauh? Dia menggeleng. Sebuah gelengan yang tidak mampu meyakinkan saya. Bangsa Nepal terkenal sebagai bangsa yang kuat berjalan naik turun gunung. Sebuah gelengan itu artinya dekat, tetapi bisa saja berarti jauh atau cukup melelahkan bagi orang Indonesia yang terbiasa dimanjakan oleh ojek dan angkot.

Lots of People in the park area
Lots of People in the park area

Tiba-tiba mata saya menangkap dua atau tiga wisatawan berambut pirang di antara orang-orang Nepal itu. Saya memutuskan untuk turun sambil berbicara kepada pengemudi untuk bertemu nanti di mobil lalu cepat mengejar wisatawan tadi. Paling tidak saya berada dalam jangkauan orang-orang yang kemungkinan besar memahami bahasa Inggeris, sebuah trik hasil pembelajaran karena kesusahan komunikasi di Korea Selatan dulu. Apalagi saya yakin bahwa wajah Asia saya lebih menguntungkan daripada rambut pirangnya mereka, karena pendekatan cara Asia lebih bisa diterima.

Saya berjalan kaki bersama masyarakat lokal. Banyak mata memperhatikan saya yang terlihat berbeda dari perempuan lokal tetapi saya banyak melempar senyum dan bertukar sapa Namaste, sebuah pendekatan yang berbalas senyum dan pandangan ramah. Tak perlu mereka mengetahui kebangsaan saya, tapi terasa sekali masyarakat Nepal berbaik hati menyambut saya. Bukankah di sini pun Cinta membantu saya melebur menjadi serupa dengan mereka yang beringsut pelan di permukaan bumi ini?

Pengemudi taksi tadi benar, jalannya memang tidak jauh lagi, juga tidak terlalu melelahkan walaupun sedikit menanjak. Udara memang tak lagi sejuk, mungkin karena padatnya manusia yang menuju kuil serta matahari mulai meninggi. Tak lama berjalan, saya sampai pada tempat yang saya perkirakan merupakan lapangan parkir kendaraan. Berarti Kuil Changu Narayan sudah dekat.

Main Gate of Changu Narayan Village
Main Gate of Changu Narayan Village

Karena tak tahu arah menuju kuil, saya mengikuti saja orang lokal yang berjalan. Follow the crowd, pasti sampai, kata orang yang malas bertanya. Begitu padatnya, saya tak melihat tempat tiket masuk sehingga saya melangkah terus tanpa dosa. Sampai saat bahu saya disentuh oleh penjaga tiket yang lari meninggalkan tempatnya untuk mengejar saya yang belum membayar. Terperangah malu, sambil minta maaf karena sama sekali tidak melihatnya, saya membayar tiket masuk. Untung wajah penjaga tiket itu berubah manis, percaya atas kesungguhan saya yang tidak melihat tempat penjualan tiket masuk.

Momen melangkah melewati gerbang di dekat penjualan tiket itu mendenyutkan jantung. Sebuah awal perjalanan hati di wilayah Changu Narayan. Tempat yang pasti luar biasa karena ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site. Saya terus berjalan menembus desa yang mendirikan rumah-rumahnya sepanjang jalan menuju kuil. Di pinggir jalan setapak yang menanjak, dijual berbagai barang keperluan sehari-hari atau cinderamata. Dan ketika saya mendongak ke atas melihat dinding rumah penduduk. terlihat jagung-jagung dengan kulitnya dijemur di jendela tingkat atas rumah mereka langsung di bawah terik matahari hingga berwarna kecoklatan. Sebuah pemandangan yang jarang ada.

Dari beberapa rumah terdengar Om Mani Padme Hum, lagu meditatif yang umum terdengar dari rumah-rumah Buddhist Nepali. Toko lainnya menjual barang-barang cinderamata untuk para wisatawan, seperti topeng, lukisan, kalung, boneka dan hiasan dinding yang semuanya terlihat indah. Sambil mengambil foto, saya melihat juga sebagian orang sudah turun kembali. Bisa jadi mereka telah selesai memberikan persembahan di kuil.

Semakin ke atas kepadatan semakin terasa. Semakin sulit untuk berjalan di jalan setapak tapi saya terdesak mengikuti kerumunan. Berada diantara himpitan orang dengan bahasa yang tidak dikenal, baik pria maupun wanita membuat situasi benar-benar tidak nyaman. Dalam hati saya memohon ditunjukkan jalan yang sepertinya langsung dikabulkan berupa sedikit ruang gerak. Saya langsung keluar dari himpitan lalu berdiri menunggu di atas dudukan rendah menyaksikan manusia memadati gerbang kuil. Gerbang yang terlalu kecil untuk dilewati umat yang membludak, membuat saya kuatir terhadap kemungkinan terjadinya chaos. Sudah terlalu sering terjadi ketika sejumlah orang bersikap tak peduli, situasi berubah menjadi chaos yang tak terkendali. Dan itu artinya kekonyolan yang tak perlu karena bisa terjepit, terjebak atau terinjak. Saya menunggu dengan sabar,  mendahulukan orang-orang yang hendak beribadah sambil mengamati gelombang manusia yang tak henti memasuki gerbang kuil.

Saya berdiri tepat di depan gerbang kuil yang berbentuk lengkung batu, tak pernah mendapat giliran. Bagaimana mungkin saya menerobos kerumunan manusia yang tak berkurang kepadatannya itu?

Jangan pernah menyerah, Help is on the way. Dan kesabaran pun berbuah. Tiga dara yang entah datang dari mana datangnya tiba-tiba menyapa saya dalam bahasa Inggeris yang fasih, menanyakan apakah saya hendak masuk ke dalam kuil. Masih terperanjat karena tidak merasakan kehadirannya, saya mengangguk. Mereka lalu menyebar di kanan kiri dan di depan saya lalu membukakan jalan. Saya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya mengikuti perlindungan mereka. Mereka benar-benar menjaga di kiri kanan saya dalam terowongan gerbang yang penuh manusia itu. Pelan beringsut maju dan akhirnya saya sampai di pelataran kuil. Lega sekali rasanya bisa berada di udara terbuka lagi. Saya hendak berterima kasih kepada ketiga dara yang telah menolong saya dan mencari keberadaan mereka hingga kepala saya berputar. Namun seperti datangnya, saya tak lagi bisa menemukan mereka. Sepertinya mereka sudah kembali berbaur dengan lautan manusia. Bahkan saya belum sempat berterima kasih kepada mereka, the Guardian Angels.

Dalam sekejap, saya berjalan ke pinggir mencari ruang agar dapat mengunjungi hati yang mendapat berkat. Kasih Sayang yang dilimpahkan tidak main-main. Saya menggigit bibir menahan rasa, mata terasa panas. Saya mengerjapkan mata berkali-kali. Siapakah saya ini hingga Cinta harus turun tangan sendiri? Siapakah saya ini sampai saya mengalami hal yang luarbiasa ini? Sejak menjejakkan kaki di Nepal, begitu banyak keluarbiasaan yang saya alami. Malam luar biasa di Swayambunath, keluarbiasaan melihat jajaran Himalaya dalam mountain flight, menyaksikan puncak Mt. Everest yang agung dalam kebeningan kaca cockpit, berlama-lama berbahasa kalbu dan bertukar pandang dengan Dewi Kumari, mengalami sendiri keriuhan festival Narayan di Kathmandu dan di Lalitpur. Dan kini, mendapat ‘guardian angels’ di Changu Narayan. Setiap hari terjadi lagi dan lagi, seakan tak henti. Oh, I am so blessed. Begitu banyak rasa syukur tersampaikan yang rasanya takkan pernah cukup. Jiwa ini rasanya tenggelam dalam lautan berkat yang dilimpahkan. Hati terasa sesak dengan rasa syukur yang tak habis. Setiap sel rasanya bergetar mengucap deretan kata terima kasih Cinta.

Sejenak saya berada dalam ekstasi rasa itu dan perlahan digantikan dengan fakta yang ada di depan mata. Manusia yang tumpah ruah di pelataran kuil Changu Narayan. Cinta menyadarkan bahwa saya telah dihantarkan ke kuil Changu Narayan dan siap berkeliling dalam keajaiban.

Galeri

Meniti Misteri Pedang Suci di Candi Preah Khan


Satu cerita tentang perjalanan ke Candi Preah Khan, salah satu dari begitu banyak di Angkor Archaeological Park, Cambodia.

A Rhyme in My Heart

Entah sudah berapa kali saya mengunjungi kompleks Candi-candi Angkor di Cambodia, namun karena kecintaan yang dalam pada tumpukan batu yang tak jarang tampak tak beraturan itu, sepertinya saya selalu merasa amazed lalu menggunakan mesin waktu tepat di depan gerbang di tiap candi. Giliran kali ini adalah Candi Preah Khan yang letaknya sekitar 2kilometer di timur laut Angkor Thom.

Berbeda dengan kebanyakan orang, supir tuk-tuk menurunkan saya di sisi Barat candi dan menjemput kembali di sisi Timur. Dan mulailah saya menembus hutan Angkor yang sudah terbuka untuk sampai ke candi Preah Khan dan siap menyalakan mesin waktu.

Candi Preah Khan menyambut saya dengan pelintasan lebar dengan pilar-pilar setinggi 2meter berpahat Garuda di tiap sisinya yang menghias kiri kanan jalan, membuat pelintasan tampil memukau. Tergambar imajinasi para pendeta Buddha dengan gumaman doa disertai denting genta berjalan melaluinya di malam hari dengan obor yang menyala di tiap pilar, membuat candi Preah Khan tampil…

Lihat pos aslinya 1.314 kata lagi

Ke Sangiran: Belajar Menghargai Harta Karun Kita


Hingga saat ini telah ditemukan tidak kurang dari 100 individu fosil Homo erectus di Sangiran. Jumlah ini mewakili lebih dari setengah populasi Homo erectus di dunia…

Dari hasil penelitian genetika, khususnya Mitochondiral DNA, diketahui bahwa seluruh umat manusia yang ada sekarang ini berasal dari seorang wanita yang pernah hidup sekitar 200.000 tahun yang lalu di Afrika Timur ….

sangiran_whsItulah kalimat-kalimat yang menarik perhatian di Museum Manusia Purba Sangiran, Solo, Jawa Tengah. Dan semakin dalam memasuki ruangan-ruangannya, saya seperti dibawa mesin waktu ke ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, menelusuri kehidupan luar biasa yang pernah ada saat itu di Jawa, di Indonesia, di negara kita. Dan bukti-bukti adanya kehidupan jutaan tahun lalu itu masih ada, menjadi harta karun tak ternilai bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Ada di sini, di Indonesia!

Mungkin sama dengan Anda, bagi saya, Sangiran merupakan kata yang hanya ada ketika masih duduk di bangku sekolah dalam ilmu geografi kependudukan dan sejarah, dan setelah itu tenggelam kalah dari berbagai prioritas kehidupan lain yang lebih penting. Dan baru-baru ini seorang kawan yang datang jauh-jauh dari Philippines hanya untuk mendatangi Sangiran yang menyebabkan saya mencari tahu lebih jauh tentang Sangiran. Katanya santai, Sangiran adalah UNESCO World Heritage Site yang mudah dicapai dari Jogjakarta. Dan rasanya saya tertampar keras dengan pernyataan santainya itu, karena sebagai orang yang sudah menganggap Jogjakarta sebagai rumah kedua, tidak pernah sekalipun saya berkunjung ke Sangiran. Sedangkan badan dunia UNESCO dan masyarakat internasional mengakui dan mengesahkan Sangiran di Indonesia telah memenuhi persyaratan sebagai salah satu situs warisan dunia. Dan saya, sebagai warga negara Indonesia, bahkan belum pernah menginjakkan kaki di sana! Dan karena itulah saya langsung merencanakan mengunjungi Museum Manusia Purba Sangiran.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sangiran, sekitar 17km di Utara Solo menuju Purwodadi, tepatnya di desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe. Untuk mencapainya cukup mudah. Bila berkendara dari Jogja atau Solo, ambil jalan besar ke Utara menuju Purwodadi dan berbelok ke kanan pada pertigaan Kalijambe. Tidak perlu takut tersesat karena di pertigaan jalan besar itu terdapat gapura berbentuk kolom-kolom batu bertuliskan Situs Sangiran. Dari pertigaan itu jalan terus sepanjang 3-4 km hingga sampai ke Museum Manusia Purba. Untuk kendaraan umum, terdapat bus dari Solo menuju Purwodadi dan berhenti di pertigaan Kalijambe dan dilanjutkan dengan menggunakan ojek untuk ke Museum.

Museum dibuka hari Selasa sampai dengan Minggu, pk.08:00 – 16:00. Tutup setiap hari Senin. Harga tiket masuk untuk wisatawan Indonesia Rp. 5.000,- atau Rp 11.500,- untuk wisatawan asing. Hanya sekitar US$1,- untuk masuk, termasuk sangat murah dibandingkan museum-museum serupa di beberapa negara. Pemutaran film bisa dilakukan dengan harga Rp. 60.000,- per rombongan. Tempat parkir luas bisa menampung bus dan mobil cukup banyak, tersedia juga warung makan dan kios-kios penjual cinderamata dan kaos berbagai ukuran dan motif. Hanya saja diperlukan kejelian mata dalam memilih kualitas cinderamata/kaos dan tentu saja ketrampilan menawar. Sayang sekali saya tidak bisa memastikan apakah museum ini bisa diakses oleh para disable mengingat banyaknya tangga.

Tidak seperti di tempat-tempat lain yang bergelar World Heritage Site yang memperlihatkan simbol UNESCO dan gelar yang diraih secara lebih menyolok, Museum Manusia Purba Sangiran hanya meletakkan tanda gelar internasional yang diraih itu pada sebuah pohon beringin besar yang ada di depan penjual cinderamata/kaos. Sayang sekali sebenarnya karena simbol itu merupakan pengakuan dari sebuah badan dunia dan dunia internasional terhadap apa yang ada di bumi Indonesia. Tidak mudah sebuah tempat mendapatkan gelar World Heritage Site karena harus lolos melewati kriteria-kriteria yang rumit dan sudah standar di seluruh dunia. UNESCO sendiri menetapkan Sangiran sebagai World Heritage Site no 593 pada 5 Desember 1996 dengan sebutan Sangiran Early Man Site

Museum Manusia Purba Sangiran memiliki 3 Ruang pamer: Kekayaan Sangiran, Langkah-Langkah Kemanusiaan, dan Masa Keemasan Homo Erectus – 500.000 tahun yang lalu. Ketiga ruang pamer itu memiliki kekuatan masing-masing walaupun tidak jarang hal yang sama berulang di tempat yang lainnya.

Setelah pemeriksaan tiket masuk, pengunjung diarahkan ke kiri menyusuri selasar berkolom banyak di sisi-sisinya, secara tak sadar kita sebenarnya sedang berjalan di atas lapisan vulaknis paling tua, hasil aktivitas erupsi gunung Lawu purba yang telah mengeras selama 1.8 juta tahun.

Memasuki ruang pertama: Kekayaan Sangiran, di dalamnya terdapat penjelasan mengenai evolusi manusia, koleksi fosil fauna yang dimiliki seperti buaya, herbivora bertanduk besar, kudanil purba, dan gajah purba serta binatang-binatang laut seperti penyu dan kerang-kerangan. Juga penggambaran mengenai kehidupan sehari-hari Homo erectus di Sangiran. Yang menarik di ruang ini juga ditampilkan temuan-temuan terbaru setahun terakhir ini berupa rahang bawah, tulang panggul dan tulang paha dari gajah purba yang diperkirakan hidup 250.000 – 730.000 tahun yang lalu!

Kemudian, di ruang di sebelahnya dijelaskan mengenai type Homo erectus yang ada di Indonesia. Bahwa dalam waktu 1.5 juta tahun terjadi 3 tahap evolusi Homo erectus di Jawa., dua tingkat diantaranya terjadi di Sangiran (type arkaik 1.5- 1 juta tahun yang lalu; dan type tipikal 0.9 – 0.3 juta tahun yang lalu). Tipe termuda yaitu type progressif terdapat di Blora, Sragen dan Ngawi. Tidak itu saja, di tempat yang sama dipamerkan pula teknik-teknik yang dimiliki Homo erectus seperti alat pemangkasan dan pembuatan alat batu. Yang menarik untuk pelajar yang masih anak-anak adalah teknik rekonstruksi terhadap POPO, seekor kudanil dari Bukuran yang memiliki 119 buah fossil yang dirangkai menjadi kesatuan fosil hewan yang utuh.

Dan bagi yang belum mengetahui teori manusia berasal dari kera secara dalam, mungkin perlu datang ke museum ini dan mencari informasi mengenai Kera dan Manusia di ruang pertama ini. Penjelasan yang disampaikan sangat menarik.

Ruang pamer kedua: Langkah-langkah Kemanusiaan, mengisahkan teori dari Big Bang hingga Sangiran tercipta termasuk pengungkapan orang-orang yang memiliki teori terkait dengan perkembangan evolusi manusia. Homo erectus bukanlah manusia yang pertama (sebelumnya sudah ada genus Homo habilis (genus manusia) yang hanya tinggal di Afrika). Namun Homo erectuslah merupakan manusia pertama yang menjelajah dunia, tidak hanya sabana dan hutan terbuka di daerah tropis, juga di daerah sub-tropis di Eropa dan Asia, termasuk beradaptasi pada lingkungan laut dan mengembangkan teknologi pelayaran yang paling primitif agar bisa menyeberangi pulau.

Di ruang ini pula kita bisa mengenal para pionir dari Museum Sangiran ini. Dan tidak kalah menariknya penjelasan dalam bentuk audio visual mengenai terbentuknya pulau-pulau di Indonesia dalam kerangka waktu jutaan tahun yang lalu.

Salah satu yang mengejutkan, Raden Saleh, yang kita kenal sebagai maestro seni lukis Indonesia yang terkenal, ternyata dikenal juga sebagai kolektor balung buto (fosil hewan purba dari Sangiran) sehingga dikenal pula oleh para ilmuwan Eropa saat itu, karena koleksinya yang cukup lengkap.

Yang seru juga di dalam ruang ini, Homo erectus dikabarkan melakukan kanibalisme karena temuan fosil biasanya tanpa wajah dan dasar tengkorak, atau ditemukan banyak fosil tengkorak tetapi tidak disertai dengan anggota tubuh lainnya. Benarkah demikian? Lagi-lagi penjelasan yang disampaikan sangat menarik. Untuk pastinya, datang saja ke Museum ini…

Dan satu lagi, Homo erectus alias Pithecantropus yang berawal dari Afrika, mampu menjelajah daerah sabana, Asia Barat, India hingga Asia Tenggara dan tinggal di Jawa sekitar sejuta tahun lalu. Dan semuanya musnah sekitar 100.000 tahun lalu, lalu jika kita bukan dari Homo erectus, lalu dari manakah manusia Indonesia yang ada sekarang ini? Ternyata, jawabannya seru juga…

Di ruangan ini pula juga bisa dilihat bagaimana sebuah fosil itu ditemukan dalam keadaan lengkap atau dalam keadaan terlipat dalam goa-goa abadi. Tidak dilarang untuk berfoto seperti seorang ahli arkeologi bersama fossilnya.

Dalam ruang ketiga – Jaman keemasan Homo erectus sekitar 500.000 tahun yang lalu, digambarkan dalam 3 dimensi tentang kehidupan sehari-hari Homo erectus dan lingkungannya yang berupa sabana yang luas sepanjang horison. Dengan demikian pengunjung bisa memiliki bayangan bagaimana Homo erectus hidup dalam jamannya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sekeluar Museum kita bisa menikmati tempat-tempat istirahat yang nyaman dan berangin, sambil berfoto dengan latar belakang gedung museum yang cukup menarik bentuknya.

Karena keterbatasan waktu saya tidak sempat melihat menara pandang yang berjarak tidak jauh dari Museum. Dari Menara Pandang ini bisa disaksikan betapa luas Kubah Sangiran (Sangiran Dome) yang merupakan area yang ditetapkan sebagai situs arkeologis Sangiran di Indonesia.

Saya sudah menjejakkan kaki di sana dan kagum akan kekayaan fosil yang ada untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, Masyarakat internasional dan badan dunia telah mengakui harta karun yang ada di Indonesia ini, lalu kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menghargainya dan memelihara kehebatannya? Yuk berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran!