WPC – Name of the Bridges


Located strategically in the southern region of the Malay Peninsula in the bank of Strait of Malacca, which has been famous for centuries as a culture haven of various nations in the world, no wonder if Malacca was entitled as one of the UNESCO World Heritage city. Here tourists can see and interactively feel the cultures from the origin countries that gave colors such as Portuguese, British, Dutch, Chinese and its own Malay culture, which entirely formed a wonderful harmony.

Because of its fame, my husband and I took a weekend getaway to the beautiful Malacca some time ago. Of course we took the cruise along the river that divides the city, one of the ‘must have’ lovely things when travelling to Malacca. Even a Hollywood star Sean Connery once took several scenes here for the movie Entrapment.

Kp. Morten Bridge
Kp. Morten Bridge
Old Bus Station Bridge
Old Bus Station Bridge
Datuk Mohd Zin Bridge
Datuk Mohd Zin Bridge

The boat departed from Muara jetty, next to Quayside Heritage Centre. It is close to the Maritime Museum that is easily recognizable by Flor De La Mar, the big replica of a Portuguese ship . From here the boat took us upstream as far as Taman Rempah or Spice Garden jetty where the boat turned around and brought us back to Muara Jetty again.

Along the river we can see the heritage civic district at the foot of St Paul’s Hill, the residential and commercial district of Heeren Street and Jonker Street, past historic buildings, old warehouses, interesting mangrove stands, churches, and villages.

Do you see the name of the bridges in blue? (‘Jambatan’ means Bridge)

But the interesting part of taking the cruise was seeing the name of the bridges along the river that came from the various cultures. The names of Hang Tuah, Hang Jebat, or Datuk Mohd Zin surely came from the Malay history. How about Kampung Jawa or the village of Javanese? Or Kampung Morten, a ‘kampung’ or a village named after the British Land Commissioner, FJ Morten, who had contributed to the opening of the village? And Chan Koon Cheng bridge, we can easily identify the origin culture, although it is located in front of the church of St. Francis Xavier.

The cruise itself last about 45 minutes from 9:00 a.m – 12:00 a.m daily.
Admission Adult RM15 Child RM 7

Hang Tuah Bridge
Hang Tuah Bridge
Hang Jebat Bridge
Hang Jebat Bridge
The Chan Koon Cheng Bridge
The Chan Koon Cheng Bridge
Kp. Jawa Bridge
Kp. Jawa Bridge
Iklan

Laos, Negeri Tak Berbatas Laut


Rombongan turis Barat itu terlihat terhenyak ragu menyaksikan pesawat mungil ATR72 baling-baling yang akan mengangkut mereka. Keraguannya seperti menanti suara tokek berikutnya, mmmaju, mundur, mmmmaju, mundur, mmmm… Akhirnya terlepas sebuah tawa miris penuh kepasrahan, saling berpandangan, apa boleh buat…. mereka melangkah maju… (Hampir pasti keselamatan menjadi kata yang terus muncul dalam benaknya 🙂 )

Pha That Luang
Pha That Luang

Itulah yang terjadi pada rombongan tepat di depan saya ketika hendak boarding menuju Laos. Saya mungkin yang paling memahami mereka karena mengalami hal yang serupa dalam perjalanan sebelumnya di Burma, penuh imajinasi ngeri ketika akan boarding ke pesawat ATR72, yang ternyata salah 100%. Ternyata penerbangan Lao Airlines dengan ATR72 selama 2 jam itu cukup menyenangkan. Seluruh penumpang yang jumlahnya tidak lebih dari 25 itu dilayani oleh dua pramugari cantik berbusana khas Laos. Tampak di bawah jendela pesawat, pemandangan dataran rendah yang cukup membosankan pada awal-awal penerbangan dan menjelang akhir guratan pegunungan mulai menghiasi pemandangan.

Laos, atau secara resminya negara itu disebut dengan Lao People’s Democratic Republik (Lao PDR) merupakan salah satu anggota negara ASEAN yang tidak berbatas dengan laut. Vietnam menghadangnya dari sebelah Timur, Cambodia di sebelah selatan tenggara, Thailand di sebelah Barat dan tentu saja, Myanmar dan China membatasinya di sebalah Utara. Uniknya lagi, negara yang total jumlah penduduknya masih kalah dari Jakarta, hanya 6.6 juta jiwa, tapi sejumlah itu memiliki 49 etnis yang berbeda.

Ketika itu saya terbang menuju salah kota kecil di utara Laos, yaitu Luang Prabang, sebuah kota yang diyakini menjadi sentra budaya dan tradisi masyarakat Laos hingga kini. Kota yang terletak di pinggir Sungai Mekong yang terkenal kedahsyatannya saat musim penghujan itu, merupakan World Heritage City sejak tahun 1995. Inilah alasan utama saya untuk mengunjungi Luang Prabang, karena pastilah cantik nilai sejarah budayanya serta kehidupan sehari-harinya

Dan memang demikianlah yang terjadi di Luang Prabang.

Lanjutkan membaca “Laos, Negeri Tak Berbatas Laut”