Makna Hikmah Terserak di Perjalanan Korea


Ketika saya baru kembali dari Korea, seorang atasan menanyakan tentang perjalanan saya di Korea. Karena tahu beliau tidak berbasa-basi, saya yang masih gres dengan semua peristiwa yang dialami, menjawab dengan ringan bahwa ternyata di Korea Selatan yang maju itu tidak banyak orang bisa berbahasa Inggris sehingga banyak peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi hanya karena faktor bahasa. Dan Jleb! Saya takkan pernah lupa akan tanggapannya. Time is healing, yang tidak menyenangkan akan berubah menjadi momen-momen yang berkesan mendalam, kata beliau.

Bagaimana mungkin sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan menjadi memorable moments? Saat itu karena masih penuh dengan kesan tak nyaman selama di Korea, saya tak menerimanya begitu saja, tetapi karena menghormatinya, saya membiarkan hal itu mengendap di dalam hati.

*

Perjalanan ke Korea saat itu memang impulsif, karena masih tersisa cuti banyak (baca cerita lengkap alasan saya pergi ke Korea disini) dan mungkin juga karena trip ke Korea sebelumnya sempat dibatalkan. Saat saya ke Jepang sebelumnya di tahun yang sama, seharusnya lanjut ke Korea tetapi situasi politik di semenanjung Korea saat itu tidak mendukung sehingga trip itu dibatalkan. Padahal saat itu tiket sudah ditangan bahkan sudah memesan beberapa hotel. Pembatalan itu sepertinya berubah menjadi keingintahuan yang besar itu yang mungkin menjadi trigger keputusan untuk pergi ke Korea di musim gugur. Namun pada dasarnya saya tidak tahu apa-apa tentang Korea, saya bukan penggemar K-pop, K-drama, bukan juga penggemar kuliner Korea, tidak bisa baca Hangeul, tidak tahu banyak sejarah Korea. Hanya karena ada Samsung, LG dan cerita kondisi alamnya yang cantik. Itu saja!

Berbekal itu, saya mengurus sendiri pembuatan visa (baca soal pembuatan visa disini) yang sampai sekarang terus menjadi salah satu top-posting di blog ini, sampai akhirnya dengan sangat menyesal kolom komentar saya tutup karena menjurus yang aneh-aneh dan tidak mutu 😀 (Saya kan bukan agen tenaga kerja juga bukan agen pencari bakat untuk K-pop, juga bukan agen untuk operasi plastik kan… 😀 )

Ketika semua orang memulai perjalanan ke Korea dengan masuk melalui Seoul, saya justru masuk melalui Busan (baca:  Berkenalan dengan Busan disini). Mendarat pagi-pagi saat jam kerja normal belum dimulai merupakan masalah tersendiri. Apalagi saya tidak bisa baca karakter Hangeul yang mendominasi dimana-mana. Bertemu wajah tak bersahabat di hari pertama, bertanya pada seseorang tapi dijawab dengan gelengan atau muka lempeng. Bahkan untuk mencari lokasi hotel pun saya harus mengerahkan kreativitas. Kekuatiran dan kecemasan bisa survive di Korea mulai menemani di hari pertama perjalanan. Lalu apakah saya akan menyerah di hari pertama?

Namun bukankah jika kuatir dan cemas dipelihara terus, kita tidak akan pernah pergi kemana-mana? Saya mencoba mengatasinya, saya percaya masih ada orang baik di sekitar kita. Pergeseran titik pandang, -dari penerima negativeness menjadi pemberi positiveness-, terbukti benar. Saya menurunkan harapan tinggi tentang Korea dan memilih lebih percaya kepada orang lokal dan orang baik pun mulai muncul di hadapan (Baca disini saat Jelajah Busan). Saya bersyukur bisa merambah mengelilingi pantai Haeundae, ke Museum Seni Busan, ke Mal yang segede gaban, menikmati Jembatan Gwangan di kegelapan malam. Paling tidak masih ada pengalaman yang cukup menyenangkan.

Kemudian keesokan harinya saat akan berpindah kota, saya harus jujur bahwa keteledoran juga menjadi faktor mengapa banyak hal buruk terjadi pada saya. Jika saya teledor membaca peta sehingga salah stasiun dan kehilangan waktu, janganlah situasi eksternal yang disalahkan. Juga kalau teledor meletakkan tiket jangan salahkan faktor luar kan ya? Tetapi terlepas dari dua faktor itu, saya menyadari sepenuhnya memang perjalanan dari Busan ke Gyeongju itu penuh drama hanya karena faktor bahasa (baca cerita Menuju Gyeongju disini). Tetapi saya belum mau menyerah secepat itu…

Gyeongju, -kota cantik 1 jam berkendara dari Busan-, memiliki banyak tempat publik yang luar biasa walaupun bagi saya dihiasi rasa antara cemas, takut dan ingin tahu yang besar (baca cerita Ruang Publik Gyeongju disini). Sebagai solo-traveller perempuan, saya harus mampu mengatasi rasa gamang tidak mengenali siapapun dan juga tidak bisa berkomunikasi karena keterbatasan bahasa. Namun segala yang tidak menyenangkan itu bisa diseimbangkan ketika menjejak Bulguksa Temple. Sebuah keluarbiasaan bisa sampai di tempat World Heritage ini. Mungkin karena beberapa kejadian sebelumnya yang tidak menyenangkan, bisa sampai ke destinasi ini rasanya seperti mendapat durian runtuh, rasanya seperti mencium bau surga (baca cerita Bulguksa Temple). Tapi sayang, setelah meninggalkan Bulguksa, kembali saya berteman dengan sepi bersama benda-benda bersejarah yang berserakan disana hingga malam hari, paling tidak itulah hal yang saya dapat nikmati di Gyeongju (Baca disini: Malam di Gyeongju)

Tetapi ketidaknyamanan trip di Korea belumlah mencapai puncak. Ketika akan meninggalkan kota Gyeongju, begitu banyak rasa tak bersahabat menghampiri saya, tak ada yang bisa membantu menjawab pertanyaan saat saya ingin naik bus sampai akhirnya saya memilih taksi namun ternyata ditolak oleh sopir taksi dengan berbagai alasan. Tidak bisa naik kereta karena jadwalnya tidak cocok akhirnya saya menuju terminal bus, -satu-satunya lokasi yang saya tahu-, dengan berjalan kaki walau cukup jauh ditambah menggendong ransel berat. Saya tak berpikir jauh, setiap masalah yang ada di depan mata saya hadapi satu persatu. Meskipun pelan, saya tetap bergerak maju. Saya seakan sedang ujian, kesabaran dan kekuatan saya diuji, sejauh apa keseriusan saya untuk mencapai tujuan dan untuk Korea ini, ada sebuah tempat yang menjadi destinasi utama yang ingin saya capai, Kuil Haeinsa di tengah hutan taman Nasional Gayasan.

Sungguh, keberanian dan kekuatan saya diuji saat menuju dan sepulangnya dari Kuil Haeinsa. Di tengah jalan bus terjebak dalam kemacetan parah dan harus berhenti sebelum mencapai terminal Haeinsa dan mengharuskan saya turun di tempat yang bagi saya adalah in the middle of nowhere. Saya mengalami disorientasi, tanpa teman, tanpa orang yang bisa diajak bicara atau tanya, dan situasi antara pulang dan lanjut sama tak pastinya, apakah saya harus menyerah? Tetapi menangis tak akan menyelesaikan masalah (Baca disini Ujian dalam Perjalanan)

Dan bagai sebuah siklus kehidupan dengan roda di bawah kemudian berputar ke atas, perjalanan tak mudah ke Haeinsa itu terbayar dengan keindahan Kuil Haeinsa dengan begitu banyak simbol-simbol kehidupan (baca soal simbol-simbol kehidupan di Haeinsa Temple) dan tentu saja Mahakarya kayu ratusan tahun yang dijaga didalamnya (baca hebatnya Mahakarya Kayu). Tetapi ujian bagi saya rupanya belum berakhir karena kegembiraan bisa mencapai Haeinsa hanya terasa sekejap saja bagi saya, setelahnya saya kembali harus menapak perjalanan yang tak mudah.

Tanpa tahu arah terminal bus, dari Kuil Haeinsa saya mengikuti intuisi sendirian menuruni jalan setapak di tengah hutan Nasional dalam keremangan jelang gelap dan dinginnya udara pegunungan, hanya berpegang pada percaya dan yakin akan pertolonganNya. Saya seperti bergantung di ujung tali, airmata ini hampir pecah, tetapi saya tak boleh menyerah. Dua kali mencoba mencari bantuan, tak ada satu pun orang muncul di hadapan. Kali ketiga, bak malaikat penjaga, dua orang lanjut usia muncul di pintu sebuah kios memberi arah tempat bus kembali ke Daegu. Saya tahu saya boleh menangis penuh syukur saat itu karena lulus dari ujian. Setelahnya didepan mata saya hadir para sahabat seperjalanan tanpa perlu tahu nama-namanya.

Hari-hari selanjutnya perjalanan menjadi lebih mudah karena puncak ketidaknyamanan telah terlewati. Saya meneruskan perjalanan menuju Seoul dengan menggunakan KTX (baca disini: Kereta Super Cepat KTX). Bahkan waktupun bersahabat sehingga saya menyempatkan diri berjalan ke Hwaseong Fortress (baca disini Hwaseong Fortress).

Perjalanan tak mudah menuju ke Mt. Seorak (baca trip ke Seoraksan disini), -yang menjadi salah satu tujuan utama wisatawan Indonesia-, terasa manis ketika saya mendapat apresiasi dari seorang tour guide lokal yang membawa rombongan Indonesia karena berani ke Seoraksan sendiri tanpa mengerti bahasa Korea. Bagi saya, perjalanan ke Seoraksan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua kesulitan di Haeinsa. Bahkan di Seoraksan ini, Tuhan pun mengirimkan seorang sahabat seperjalanan tanpa perlu bicara, tanpa perlu bersalaman. Hanya sebuah anggukan dan senyum karena sama-sama menempuh perjalanan yang searah. Saya memungut hikmah, bahwa diantara wajah-wajah yang serupa, saya mendapatkan hati yang penuh senyum. Seorang saja cukup untuk menenteramkan hati.

Trip Korea yang penuh ketidaknyamanan ini membaik saat berjalan di Seoul, menjelajah hingga kaki lelah di istana-istananya yang cantik seperti Istana Deoksugung (baca: Istana Deoksugung) maupun Istana Changdeokgung (baca: Istana Changdeokgung). Bahkan lagi-lagi Tuhan mengirimkan sahabat seperjalanan untuk berbagi cerita di Secret Garden Istana Changdeokgung dalam rombongan berbahasa Korea dalam hujan musim gugur yang basah (baca Secret Garden). Dan malamnya kaki dibawa hingga kebatas lelahnya dengan menyusuri Cheonggyecheon Stream untuk menyaksikan festival Lentera (baca Lantern Festival disini).

Namun Yang Kuasa sepertinya menitip pesan penutup di akhir trip Korea dengan membiarkan saya berlari-lari di luasnya bandara Incheon di hari kepulangan karena ceroboh tak mengukur jarak Incheon dengan Seoul (baca hebohnya Lari di Incheon). Semuanya bukan kebetulan, saya dibiarkan untuk lari sehingga tak mengenali bandara Incheon di dalam waktu yang sangat pas agar tak tertinggal pesawat. Semua pasti ada alasannya…

Tetapi dasar manusia yang lebih banyak dan lebih cepat mengingat buruknya, demikian pula saya yang pulang ke tanah air, lebih banyak mengingat ketidaknyamanan daripada semua yang menyenangkan selama melakukan perjalanan ke Korea.

*

Waktu pun berjalan, time is healing.  Benar kata atasan saya. Setelah sekian lama, trip Korea ini berubah menjadi perjalanan yang memiliki memorable moments, yang sangat tidak menyenangkan pun menjadi sebuah keluarbiasaan yang selalu saya syukuri. Jika tidak ada semua faktor yang tidak menyenangkan itu, sejatinya saya tak akan memahami makna setiap detik kehidupan dariNya. Jadi janganlah takut jika mengalami hal yang tidak menyenangkan selama melakukan perjalanan karena sebagaimana hal menyenangkan, hal yang tidak menyenangkan pun akan memperkaya jiwa…

Korea – Incheon, What Incheon?


Incheon, bandara Seoul yang katanya megah itu…

Katanya?

Memang benar! Katanya…

Bagi penggemar Korea, mohon maaf dan jangan marah dulu karena saya memang tidak merasakan kemegahannya, karena ada ceritanya tersendiri…

*

Salah Mengartikan Peta

Berawal dari pulang jalan kaki pada malam sebelumnya. Dengan kaki yang rasanya sudah mau lepas dari tubuh karena jalan tak habis-habis serta naik turun tangga di area Myeongdong, saya memaksa diri untuk membaca jadwal bus bandara yang haltenya ada di depan Hotel Sejong. Dengan mata yang sudah lelah dan penerangan yang tidak terlalu terang, saya melihat route bus tersebut. Rute kembali ke Bandara lebih dekat dari pada datang dari bandara. Jadi sepertinya saya bisa lebih santai besok, apalagi pesawat akan terbang pada jam 09.35 waktu setempat.

Route Bus 6105 from Sejong Hotel - Myeongdong (dari Sejong.co.kr)
Route Bus 6105 from Sejong Hotel – Myeongdong (dari Sejong.co.kr)

30 Menit Yang Menyesatkan

Entah kenapa, sejak berada di Korea, saya memiliki persepsi untuk ke bandara Incheon hanya memerlukan waktu 30 menit dari pusat kota Seoul! Bahkan saya sangat meyakini hal itu sehingga tak memeriksa kembali melalui internet. Dan memang demikianlah jadinya, saya packing dengan santai dan sempat sarapan terlebih dahulu di hotel dengan enaknya lalu melangkah ke bus stop yang ada tepat di depan Hotel Sejong tepat sebelum jam 07.00.

Namun antrian sudah cukup banyak sehingga ketika saya tidak mendapat tempat di bus jam 07.00. Itu artinya saya harus menunggu bus berikutnya. Baiklah… saya masih ada waktu kan? Hanya 30 menit ke bandara…

Bukan 30 Melainkan 90!

Tidak berapa lama, bus berikutnya datang. Segera saya naik dan membayarnya lalu duduk di bagian kiri. Matahari muncul seakan memberi kehangatan pagi untuk semua warga Seoul di musim gugur ini. Setelah beberapa menit akhirnya bus berangkat meninggalkan wilayah Myeongdong. Saya menikmati pemandangan seantero Seoul yang belum puas saya jelajahi. Masih banyak destinasi indah di Seoul yang suatu saat nanti akan saya datangi kembali.

Selagi melewati Namdaemun, saya sempat melihat jam 07.35. Saat itu saya merasa bus berjalan lambat. Bukankah Namdaemun hanya berjarak 1 halte dari Myeongdong? Jalan memang lumayan padat tetapi belum sampai macet. Entah kenapa saya merasakan ada yang salah saat itu… Something is very wrong… dang-ding-dong…

Kemudian rasa aneh itu membawa saya untuk googling. Dan bagaikan disengat listrik, saya terkejut sekali membaca informasi bahwa perjalanan bus dari Myeongdong ke Incheon Airport rata-rata memerlukan waktu 1 jam 30 menit. 90 Menit! Haaaa…?? Tidaaaaakkk….

Rasa terkejut seketika berubah jadi senewen, cemas, kuatir, deg-degan tingkat teratas. Rasanya inilah kejadian paling dodol yang pernah saya lakukan. Tidak habis-habisnya saya mengomel ke diri sendiri. Betapa saya ceroboh, tidak aware, tidak check-and-recheck dan masih jutaan omelan ke diri sendiri.

Tetapi semua itu tidak cukup. Apa yang harus saya lakukan selain mengomel? Tidak Ada!

Jika pk. 07.35 masih di Namdaemun ya kira-kira pk. 09.00 kurang baru sampai di Incheon! Padahal belum check-in, belum kembalikan si Egg (pocket WIFI), belum antri imigrasi… Pesawat akan lepas landas pk. 09.35! Terbayang langsung di benak, saya ditinggal pesawat dan uang yang terbang melayang dua kali karena harus membeli tiket baru *slowmotion

Dan setiap halte tempat bus berhenti sejenak, saya semakin senewen, berdoa agar bisa lebih cepat. Di halte Seoul Station, please cepetan… Di halte Brown’s Suite tolong Ya Tuhan, jangan lamaaa… Di halte Chungjeongro Station, Ya Allah… kumohon keajaibanMu… dan berulang terus. Sungguh sebuah perjalanan bus yang rasanya paling lama dan tidak sampai-sampai…

Akhirnya bus berhenti di bandara Incheon, tapi saya harus kembali bersabar (walaupun rasanya sudah di tepi sabar) karena terhalang orang-orang yang duduk di depan saya yang juga ingin keluar dari bus. Saya sudah tak sempat lagi untuk melihat jam di tangan saya, yang penting adalah lari menuju layar besar yang memperlihatkan konter check-in Air Asia.

Wiki - Incheon International Airport - Departure Terminal
Wiki – Incheon International Airport – Departure Terminal

 Lari!!!

Saya lari ke bagian check-in counter dan menyerahkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Begitu melihat penerbangan saya, petugas perempuan itu tampak sangat sigap memproses. Hanya perlu sebentar lalu sambil menyerahkan boarding pass dan paspor, ia mengatakan dengan wajah cemas, Anda harus cepat, sepertinya sudah boarding, sambil menunjukkan arah keberangkatan. Ya Tuhan… dia saja cemas! Aku mohon keajaibanMu, bantu aku ya Allah…

Saya langsung mengambil boarding pass dan paspor darinya lalu lari sekuat tenaga menuju arah gerbang masuk. Tetapi saya harus mengembalikan pocket WIFI dulu, dan tidak seperti di Jepang yang tinggal memasukkan ke kotak pos, saya harus mengembalikan ke konternya lalu akan dikonfirmasi setelah diperiksa oleh petugas. Dan saya tidak tahu dimana konter pengembaliannya!

Berbekal pengetahuan bahwa loket itu ada di lantai yang sama untuk check-in, lagi-lagi saya memaksa diri untuk lari. Kemana? Yaa… Lari memutari seluruh konter check-in di lantai itu! Gedung terminal keberangkatan itu luas, tak beda dengan terminal di Hong Kong dan saya harus mencari loket pocket WIFI itu. Rasanya sudah kehabisan nafas tetapi saya tidak boleh menyerah. Saya masih lari dan benar-benar lari mengelilingi area check-in sambil mata membaca konter si Egg.

Setelah lengkap memutari area check-in satu putaran dan tidak ketemu, saya harus lari lagi dan kali ini Tuhan berkenan menjawab doa saya dengan menyembulkan loket itu tepat di depan mata. Ternyata tak jauh dari konter Air Asia tapi kepanikan itu membuat saya tak awas sehingga melewatinya. Sambil terengah-engah kelelahan, saya mengembalikan semua peralatan itu lalu menunggu dicheck kembali oleh petugas. Saya hanya menatap matanya. Begitu ia tersenyum dan mengangguk saya langsung melesat lagi, lari lagi, kali ini menuju pintu imigrasi.

Ya Tuhan… semoga antriannya tidak panjang… Ternyata… tetap panjang! Aduuuh…

Antrian ini tidak bisa disela, walaupun terengah-engah saya mencoba mengatur nafas dan beringsut maju pelan-pelan. Untung seluruh petugas bekerja dengan sangat efisien, jadi walaupun antrian panjang, prosesnya cepat.

Begitu paspor saya dicap, saya langsung mengambilnya dengan cepat diiringi ucapan terima kasih lalu melihat arah gerbang keberangkatan. Dan saya sudah tak berani lihat jam. Saya hanya punya satu tujuan, saya harus mencapai gate secepat mungkin dengan lari. Dengan ransel yang lumayan berat ditambah tas tangan, saya lari… dan lari… dan lari…*nafasmauputusrasanya

Rasanya tidak sampai-sampai… jauh sekali…

Fokus saya hanya satu, mencapai gate!

From Wiki - Duty Free Shops
From Wiki – Duty Free Shops

Dan saat lari, saya hanya melihat toko-toko sepanjang koridor tempat saya lari, terlihat melesat cepat ke belakang, artinya kecepatan lari saya lumayan. Sempat-sempatnya juga saya teringat pada film Home Alone ke sekian yang lari-lari di bandara. Inikah rasanya mengejar pesawat?

Rasanya sudah berkilo-kilometer saya lari sampai nafas mau putus rasanya. Ya Tuhan, tolong saya… beri kesempatan saya sampai di Gate pada waktunya.

Dan Tuhan Selalu Baik…

Gate sudah terlihat dan sudah sepi. Dengan ekor mata, saya melihat tujuan Kuala lumpur. Saya tak menghentikan kecepatan saya, terus sampai titik darah penghabisan! Saya tak mau menyerah.

From Wiki - The Gate of Incheon
From Wiki – The Gate of Incheon

Di ujung lorong, masih ada petugas tetapi di depan saya sudah tak ada orang sama sekali. Saya menarik nafas panjang. Alhamdulillah, Segala Puji bagiMu Yaa Allah… Allah Maha Baik…

Dan ketika saya menapak ke badan pesawat Air Asia itu, saya melihat sekilas pesawat telah penuh dengan penumpang. Di lorong dekat nomor tempat duduk, saya meminta maaf kepada orang yang telah duduk karena harus melalui mereka, kemudian saya duduk di kursi dengan keringat yang mengucur deras. Sambil mengeringkan keringat, saya sempat melihat ke arah pintu pesawat yang kemudian ditutup…

Saya langsung membuang pandang ke arah luar jendela, tak mau terlihat airmata yang mengembang… Terlambat sedikit saja, saya pasti ditinggal pesawat. Lagi-lagi ini berkat campur tangan Yang Maha Kuasa. Saya menggigit bibir, Korea Selatan, begitu banyak huru-hara dan ujian dalam trip ini, tetapi kasih sayangNya juga berlimpah teramat banyak…

*

Jadi jangan tanya bagaimana kemegahan Incheon yang katanya megah itu, karena jangankan mau menikmatinya, melihat dan memperhatikan saja saya tak sempat. Saya hanya bisa mencoba mengingat melalui foto-foto di internet walaupun saya pernah berada disana. Merasakan luasnya memang iya…

Jadi, pembelajarannya adalah check and recheck jarak bandara dan datanglah lebih awal…

Korea: Menapak Huwon, The Secret Garden


Walaupun belum puas berkeliling Istana Changdeokgung, tetapi waktu untuk mengikuti tour Huwon tinggal beberapa saat lagi sehingga saya bergegas menuju titik pertemuan di Hamnyangmun, gerbang masuk Huwon, the Secret Garden yang berada di belakang Istana Changdeokgung. Peraturan sangat ketat untuk Huwon, tak seorangpun diperkenankan memasuki kawasan Huwon bila tidak dalam rombongan yang memiliki pemandu resmi. Lagi-lagi karena kemalasan saya yang tidak mencari tahu jadwal tour berbahasa Inggeris sehingga saya tertinggal karena jadwalnya sudah terlewat. Walaupun begitu, saya nekad mengikuti rombongan berikutnya yang berbahasa Korea yang tidak saya mengerti. Daripada tidak bisa masuk sama sekali kan…?

Melewati gerbang Hamnyangmun, saya berjalan pelan di buntut rombongan sambil mengabadikan Huwon yang dikenal sebagai tempat istirahat raja-raja Dinasti Joseon dengan tamannya yang memiliki pohon raksasa berusia ratusan tahun. (Betapa bangsa Korea ini sangat menghargai pepohonan karena saya langsung teringat akan pohon pertama yang ditanam di Kuil Haeinsa yang telah tinggal sisa, -karena terkena petir-, masih tetap dipelihara dengan baik). Sambil melangkah, mata dan jiwa rasanya sangat dimanjakan oleh pemandangan dedaunan yang sedang berganti warna, rasanya seperti sedang melangkah di negeri dongeng.

Starting the tour, leaving the gate of Huwon
Starting the tour, leaving the gate of Huwon

Huwon, sejatinya berarti Taman Belakang, mengambil lahan seluas 32 hektar di belakang Istana Changdeokgung dan Istana Changgyeonggung yang berada disisinya. Namun siapa yang sangka, taman yang dibangun saat Raja Taejong berkuasa pada awalnya dikhususkan untuk keluarga kerajaan dan para perempuan Istana, kini menyimpan banyak cerita di sudut-sudutnya? Setiap pondok kecil, tempat-tetirah, kolam teratai dan pepohonan yang berjumlah 26.000 spesies, tampaknya hanya bisa berdiam diri selama ratusan tahun menyimpan rahasia para manusia yang pernah hidup di dekatnya.

Bahkan pernah suatu masa hanya Raja yang bisa memasukinya, hingga taman itu dinamakan Geumwon (Taman Terlarang). Jangan masyarakat biasa, petinggi-petinggi Istana hanya bisa memasukinya bila mendapat izin dari Raja sendiri. Waktu pun berjalan lambat hingga taman indah itu berganti nama menjadi Naewon yang berarti Taman Dalam, maksudnya mungkin taman dalam lingkungan Istana. Belakangan masyarakat Korea Selatan menamakannya dengan nama Biwon (Taman Rahasia) sesuai nama kantor yang ada di tempat itu pada abad-19. Namun hingga kini, taman itu dikembalikan dengan nama Huwon, -sesuai namanya semasa dinasti Joseon yang membangunnya-, walaupun untuk kepentingan pariwisata, Huwon diterjemahkan sebagai The Secret Garden.

Secret Garden in Autumn
Secret Garden in Autumn

Berjalan kaki di Secret Garden saat musim gugur memang seperti memasuki negeri dongeng yang banyak tergambar dalam lukisan. Indah. Mungkin karena dibangun mengikuti topografi alamnya dengan menekan sesedikit mungkin pembuatan taman buatan. Taman-taman yang lebih kecil dibuat lebih intim dengan tambahan kolam teratai seperti yang terlihat di Buyongji, Aeryeonji dan Gwallamji serta jeram kecil Ongnyucheon yang semuanya mengikuti aliran air yang ada di Secret Garden. Puncak Bukit Maebong yang berada di belakang Secret Garden menambah keharmonisan dengan alam sekitarnya. Siapa yang mau menolak merasakan sendiri sensasi rasa, -sebuah perjalanan waktu-, saat Secret Garden masih digunakan sebagai tempat menulis puisi-puisi indah, bermeditasi atau perjamuan kerajaan bahkan sampai latihan panah yang disaksikan Raja?

Tetapi walaupun keindahannya di depan mata, rasanya saya masih ingin mengetahui sesuatu yang terus mengganjal di pikiran. Apa yang rahasia? Apakah karena tersembunyi di belakang Istana hingga tak langsung terlihat? Ataukah ada kegiatan rahasia yang dilakukan di taman ini? Bisa jadi, karena ada sebuah bangunan yang didirikan sebagai tempat diskusi politik yang hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu yang dipercaya oleh Raja. Bukankah itu sesuatu yang rahasia? Masih ada alternatif lain. Bisa jadi karena aktivitas kalangan Istana yang tak pantas terlihat oleh mata masyarakat umum, seperti Raja yang memancing di Buyongji, atau Raja dan Permaisuri yang giat berkebun dan beternak ulat sutra. Atau mungkinkah ada kisah-kisah romantis yang terlarang di tempat ini yang tak pernah terungkap? Semua bisa terjadi… tetapi saya hanya mendengar desir angin dari antara pepohonan.

Buyongjeong Pavillion
Buyongjeong Pavillion

Buyongjeong

Saya tertinggal beberapa meter saat rombongan telah berhenti mendengarkan cerita si pemandu di dekat Kolam Buyongji dan Bangunan Juhamnnu, yang merupakan tempat belajar dan pelatihan diri dari anggota keluarga Istana. Perpustakaan kerajaan yang dikenal dengan nama Gyujanggak dan Seohyanggak juga didirikan di wilayah ini. Namun tak itu saja, di depan Yeonghwadang sering kali acara perjamuan kerajaan diselenggarakan, termasuk ujian Negara yang disaksikan oleh Raja! Entah apa rasanya mengerjakan ujian Negara disaksikan Raja.

Buyongjeong yang menghadap kolam teratai Buyongji dan berada di seberang Juhamnu memang sangat tepat digunakan sebagai tempat bermeditasi dari anggota keluarga kerajaan. Saya beruntung karena pondokan Buyongjeong sudah dibuka kembali setelah direstorasi selama setahun. Bangunan cantik dua lantai Juhamnu dibangun di bagian atas yang dapat dicapai setelah melalui gerbang Eosumun. Dan konon di tempat ini Raja sering membaca sambil melihat-lihat keadaan sekitar yang tentu saja indah. Jika musim gugur dihiasi dengan dedaunan penuh warna, musim dingin dengan salju putih yang memukau namum misterius dan tentu saat musim semi harum bunga menyerbak kemana-mana.

Two stories Juhamnu and the gate Eosomun
Two stories Juhamnu and the gate Eosomun
Yeonghwadang for the banquet
Yeonghwadang for the banquet

Berjalan sendiri di tempat yang indah seperti di Secret Garden ini, saya merasa ada yang kurang sehingga saya mendekati seseorang yang juga berjalan sendiri untuk berkenalan dan berbagi keindahan. Dia seorang female solo traveler yang menyenangkan dari  Philippines. Akhirnya saya bisa bicara banyak dengan seseorang di Seoul! Kami berdua, -sampai akhir perjalanan di Secret Garden- saling berbagi pujian keindahan dan bertukar cerita tanpa perlu menanyakan nama dan latar belakang. Sepertinya situasi kami sama, hanya merindukan orang lain agar bisa berkomunikasi normal. Saat itu hanya kami yang berbicara dalam bahasa Inggeris. Di Korea Selatan, jauh dari negeri sendiri, saya mendapat pembelajaran, betapa berharganya, -sebuah berkah luar biasa-, bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sama, untuk bisa saling memahami, walaupun tengah berada diantara kerumunan manusia.

Aeryeonjeong

Pemandangan pepohonan dengan daun warna-warni terus berlangsung sampai di area Aeryeonjeong yang dibangun saat Raja Sukjong berkuasa pada akhir abad-17. Aeryeonjeong sepertinya merupakan area memorial karena Putra Mahkota Hyomyeong, anak pertama dari Raja Sunjo, -yang berbakat luar biasa dan telah dipercaya mengurus tata Negara atas nama Raja Sunjo sejak usia 18 tahun-, hanya berkesempatan hidup sebentar, hingga berusia 22 tahun. Dengan bakatnya, ia telah membangun banyak fasilitas di wilayah ini. Melalui gerbang Bulromun yang terasa magis, saya menyaksikan tempat belajarnya yang dikenal dengan nama Uiduhap, yang dibangun sangat sederhana tanpa dekorasi dan merupakan satu-satunya bangunan yang menghadap Utara sehingga sangat tepat untuk membaca dan bermeditasi. Lengkap dengan kolam teratainya, dan tentu saja karena sedang musim gugur ini, keadaan sekitarnya begitu indah.

Alam yang sedang tampil indah di Secret Garden sepertinya masih mau mempercantik dirinya dengan menurunkan rintik hujan. Lengkap sudah, alam yang cantik, rintik hujan dan udara dingin. Sempurna.

Saya pun bergegas membeli payung di sebuah toko cinderamata lalu bersama teman perempuan Philippines itu, kami mengejar rombongan sambil menatap hujan. Seandainya bisa, kami ingin menari di bawah hujan di tengah Taman Rahasia ini…

Ongnyucheon

Tempat ini terkenal dengan kolam dengan jeram kecilnya yang indah terbuat dari batu pualam dengan beberapa pondokan menghiasi pinggirannya sehingga menjadikannya tempat terbaik untuk menulis puisi. Romantisnya sangat terasa, apalagi di saat hujan seperti ini. Dan sementara yang lain sibuk berfoto dengan pasangan masing-masing, saya memilih mengabadikan dedaunan merah, oranye, kuning yang tertimpa rintik hujan.

Saya terpukau dengan bentuk Gwallamjeong, sebuah pondokan yang dibangun di situ. Walaupun sekilas terlihat seperti umumnya bangunan tradisional Korea, namun jika diperhatikan lebih jauh, bagian dasarnya dibangun menyerupai bentuk kipas yang tentu saja jadi terasa berbeda, apalagi jika diperbolehkan duduk di tempat itu. Ah, pikiran saya terbang liar, siapa ya yang pernah duduk menitikkan air mata yang mengalir seperti aliran jeram di tempat itu?

Jongdeokjeong juga merupakan pondokan yang didirikan di wilayah Ongnyucheon. Dibangun dengan pilar-pilar kayu di enam sisi, pondokan paling tua ini terlihat cantik dengan bentuk atap dua tingkat khas Korea yang cantik. Apalagi dengan latar belakang cantik warna-warni musim gugur. Tak salah memang, perjalanan di Secret Garden ini mata dimanjakan dengan keindahan dan imajinasi bisa liar menari. Lagi-lagi saya bertanya dengan diri sendiri, adakah kisah cinta yang terjadi di sudut ini?

Walau pelan kaki melangkah, akhirnya saya sampai juga di ujung perjalanan. Saya akan mengucapkan selamat berpisah kepada Huwon, The Secret Garden yang membentuk harmoni dengan lingkungan alam sekitar, yang pastinya tak akan mudah hilang dari ingatan. Sudut-sudutnya yang diam menyimpan begitu banyak kisah rahasia. Indah, romantis sekaligus misterius.

Akses

  • Subway
    • Jongno 3 (sam)-ga Station (Line 1, 3 or 5), Exit 6. Jalan 10 menit, atau
    • Anguk Station (Line 3), Exit 3. Jalan lurus ke Timur selama 5 menit
  • Bus
    • 7025, 151, 162, 171, 172, 272 atau 601 turun di halte Istana Changdeokgung

Tutup : Setiap Senin

Jam Buka

  • Feb-Mei, Sep-Okt 09:00-18:00 / Jun-Ags 09:00-18:30 / Nov-Jan 09:00-17:30
  • Tiket terakhir dijual 1 jam sebelum tutup.
  • Akses Huwon, hanya melalui tur yang dipandu selama 90 menit, dijual secara terbatas maksimal untuk 100 orang (online 50 orang, sisanya dapat dibeli di tempat)

Harga Tiket

Dewasa                Istana 3,000 won / Huwon 5,000 won
Anak-anak          Istana 1,500 won / Huwon 2,500 won

Korea – Warna-Warni Istana Deoksugung


Sebenarnya masih ingin berlama-lama di balik selimut. Saya ini kan sedang liburan, bukan dikejar target destinasi. Apalagi pagi di awal bulan November di Seoul itu sungguh dingin. Walaupun katanya 11°C tetapi menurut saya rasanya lebih dingin dari 7°C di Tokyo yang pernah saya alami di musim semi. Rencananya hari ini saya akan mengelilingi Seoul walaupun sedikit menyesal karena hari ini diramalkan akan hujan. Mengingat akan hujan itulah yang membuat saya bergegas walaupun tahu hari telah terlambat untuk dimulai.

Akhirnya saya melambaikan tangan pada penginapan itu, berjanji akan kembali untuk mengambil ransel pada sore harinya. Kamarnya yang modern, nyaman untuk solo-traveler seperti saya, tidak gaduh dan lokasinya di seberang Exit Seoul Station membuat saya mudah kemana-mana. Hari ini saya akan mengunjungi Istana Deoksugung, satu diantara empat istana yang terkenal di Seoul.

Deoksugung dapat dicapai dengan mengendarai subway line 1 dari Seoul Station dan turun di City Hall, Exit-2. Petunjuk arah jelas dengan karakter latin selain karakter Hangeul. Seandainya seluruh destinasi wisata di luar kota Seoul juga sejelas ini, tentu perjalanan saya ke provinsi-provinsi di Korea Selatan tidak seheboh itu.

Prosesi Penggantian Penjaga Istana

Tak perlu lama berjalan dari Exit-2, saya sudah di depan gerbang Daehanmun. Ketika melihat sebuah drum berlukis indah di pelataran di depan gerbang, saya menjadi ragu untuk langsung menjelajahi ke dalam istana. Benarlah, petugas tiket membenarkan bahwa prosesi penggantian penjaga istana akan dimulai tepat pk 11.00 Tak mungkin dalam waktu kurang dari 1 jam saya menjelajah istana yang luas ini, sehingga saya memilih untuk menanti prosesi itu.

Prosesi penggantian penjaga Istana yang menyerupai prosesi  di Istana Buckingham di London itu diwujudkan kembali sejak tahun 1996 setelah melalui riset mendalam dan komprehensif oleh para ahli sejarah Korea. Memang segala sesuatu yang terjadi di balik tembok Istana atau yang berkaitan dengan Kerajaan selalu menarik perhatian kaum kebanyakan, bisa jadi karena tidak semua orang beruntung terlahir dalam kalangan Istana Kerajaan.

Seperti makan obat, prosesi itu memiliki jadwal tiga kali sehari (pk 11:00, 14:00 dan 15:30) dan berlangsung selama 30 menit serta selalu mengikuti aturan baku. Dimulai dengan iringan musik tradisional, pasukan penjaga berpakaian indah penuh warna-warni berjalan dalam barisan rapi lalu komandan pasukan pengganti menemui komandan pasukan yang sedang berjaga untuk saling bertukar password sebagai verifikasi dan memastikan keaslian penugasan. Kemudian dilanjutkan dengan penggantian posisi penjaga dan diakhiri dengan prosesi barisan. Bagi saya, tanpa mengerti prosedurnya, acara itu sudah sangat menarik karena keindahan warna pakaian tradisionalnya. Ada yang seperti Lee Min-ho gak yaaa? Hehehe…

Istana Deoksugung

Selesai prosesi di depan gerbang, saya pelan-pelan menyusuri jalan yang di pinggirnya tumbuh pepohonan maple yang sedang berganti warna dari hijau menjadi kuning. Kadang dedaunan itu gugur terbang terbawa angin. Indah…

Dan seperti kebanyakan nasib istana-istana yang menjadi saksi diam atas perubahan peta kekuasaan baik secara terhormat maupun secara paksa yang menyedihkan, demikian juga kisah dari Istana Deoksugung ini. Istana ini sebenarnya dibangun untuk digunakan sebagai kediaman Pangeran Wolsandaegun, kakak dari Raja terkenal Seongjong dari Dinasti Joseon di abad-16, dan bukan menjadi Istana utama Raja, namun sejarah bisa bercerita lain.

Melalui sebuah gerbang dalam, saya berjalan menuju Junghwajeon, -bangunan ruang tahta yang direkonstruksi pada tahun 1906 setelah terbakar di tahun 1904-, yang terlihat megah berdiri di tengah-tengah ruang terbuka. Jalan pelintasannya dibuat dengan indah dengan kolom-kolom kecil sepanjang jalan menuju ruang tahta. Di bagian depan terdapat prasasti batu berhias yang tampaknya sangat bernilai karena diberi pagar pelindung. Sejarah mencatat dua Raja keturunan Dinasti Joseon naik tahta di istana ini yang salah satunya adalah Raja Gwanghaegun yang mengganti nama istana ini menjadi Gyeongungung.

Ketika melihat ke dalam ruang tahta, -yang merupakan pusat diskusi politik yang hangat antara pejabat tinggi pemerintahan selama periode Daehanjeguk yang dideklarasikan oleh Raja Gojong dan membawa Korea ke abad 20-, terlihat dekorasi sepasang naga yang menghiasi kanopi di atas tahta. Hiasan berbentuk Naga yang terlihat juga di langit-langit merupakan hiasan khas dari Istana Deoksugung.

Bersebelahan dengan ruang tahta Junghwajeon adalah Hamnyeongjeon, wilayah pribadi Sang Raja dan Ratu yang sangat luas. Jadi berbeda dengan kaum kebanyakan yang hanya memiliki satu ruang tidur untuk suami isteri, Raja maupun Ratu memiliki bangunan pribadinya sendiri-sendiri. Dan tentu saja, walaupun berjabatan sebagai Ratu, tetap saja memiliki prosedur yang harus dilakukan agar bisa bertemu suaminya, Sang Raja. Jadi siapa bilang nyaman jadi Ratu atau Raja?

Hamnyeongjeon, private residential area
Hamnyeongjeon, private residential area

Jeonggwanheon, -terletak di atas bukit kecil di bagian belakang menghadap istana-, merupakan bangunan dengan campuran gaya Barat dan Korea yang pertama kali dibangun pada tahun 1900 oleh arsitek Rusia, A I Sabatin. Walaupun menurut saya, bangunan itu sedikit mengganggu harmoni arsitektur tradisional Korea secara keseluruhan, tetapi siapa yang bisa mengerti jalan pemikiran Raja yang berkuasa saat itu? Entah apa yang ada dalam pikiran Raja Gojong saat menghabiskan waktu luang di tempat ini yang memang merupakan kebiasaannya. Dibangun sebagai tempat rehat dan bersukacita, bangunan ini mungkin juga untuk melupakan peristiwa kematian permaisurinya, Ratu Min, yang terbunuh di usia 43 tahun yang akhirnya membuat Raja Gojong menyelamatkan diri ke Agwan Pacheon yang merupakan gedung Perwakilan Rusia. Ah, saya jadi membuka-buka sejarah dunia…

Jeonggwanheon, designed by Russian Architect
Jeonggwanheon, designed by Russian Architect

Singkat cerita, akibat pembunuhan Ratu Min, -Permaisuri Raja Gojong yang pro China dan Rusia namun sangat anti Jepang-, oleh pasukan Jepang di istana Gyeongbokgung pada tahun 1895, menyebabkan Raja Gojong melarikan diri dari Istananya melalui lorong bawah tanah ke Agwan Pacheon karena keselamatan dirinya terancam. Rusia yang saat itu di pihak yang berseberangan dengan Jepang, mendapat ‘keuntungan’ dari peristiwa pembunuhan itu. Raja Gojong dan Putra Mahkotanya menetap di Agwan Pacheon hingga akhirnya kembali ke Istana Deoksugung pada tahun 1897 untuk menyatakan Kekaisaran Korea.

Lantai batu Istana yang indah lagi-lagi menjadi saksi bisu saat Kaisar Gojong memilih tetap tinggal di Istana Deoksugung setelah dipaksa untuk menyerahkan tahta kepada putranya, -yang akhirnya menjadi Kaisar Sunjong dan dikenal sebagai Kaisar terakhir Korea-, karena desakan Jepang. Pada masa inilah istana ini berganti nama kembali, dari Gyeongungung menjadi Deoksugung, sebagai harapan umur panjang dari (orang-orang) yang berbudi luhur yang menempatinya.

Bangunan Bergaya Barat

Istana Deoksugung yang berusia 5 abad itu itu memang unik. Di dalam kawasan istana dibangun beberapa gedung modern bergaya Barat diantara bangunan-bangunan khas tradisional Korea yang terlihat saling berbenturan gaya, namun ternyata disitulah kekuatan utama istana ini, unik. Dalam posisi tertentu, kita bisa tak yakin berada di kawasan istana di Seoul.

Seokjojeon (yang kini menjadi galeri seni) merupakan bangunan gaya Barat yang dibangun di Deoksugung. Karena Won yang menipis, saya tak masuk ke dalamnya namun bangunan dengan taman cantik berair-mancur inilah yang membuat saya tak percaya dengan mata sendiri, saya ini sedang berada di Seoul atau di Eropa…

Seokjojeon - is it in Seoul or not?
Seokjojeon – is it in Seoul? 🙂

Saya bergegas keluar karena hendak melanjutkan ke istana lain, walau tak yakin bisa memenuhi semua target yang ingin saya kunjungi di Seoul. Daun-daun berwarna kuning itu masih berjatuhan melayang tertiup angin musim gugur, memberi kenangan tersendiri tentang sebuah istana di Seoul.

Seri cerita sebelumnya di Korea:

  1. Ada Bahasa Indonesia di Seoraksan
  2. Hwangseong Fortress: Menjadi Warisan Dunia Karena Sebuah Buku Tua
  3. Menuju Seoul Dengan ‘Shinkansen’-nya Korea
  4. Haeinsa Trip: Beautiful Life Lessons with Ups & Downs
  5. Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-abad
  6. Bercermin Diri dalam Harmoni Kuil Haeinsa

*****

Tambahan info

Buka 09:00 – 21:00 (terakhir pembelian tiket pk. 20:00)

Harga Ticket

  • Dewasa 1,000 won / lebih dari 10: 800 won
  • Remaja 500 won / lebih dari 10: 400 won
  • Gratis bagi anak 6 tahun kebawah, atau Lansia 65 tahun ke atas atau bagi yang mengenakan Hanbok atau setiap hari Budaya (Setiap hari Rabu terakhir setiap bulan)
  • Terusan 10.000 Won mencakup Istana Changdeokgung termasuk Huwon dan Secret Garden, Istana Changgyeonggung, Istana Deoksugung dan Istana Gyeongbokgung serta Jongmyo Shrine, yang dapat digunakan dalam waktu satu bulan setelah pembelian.

Jadwal Tutup

  • Setiap Senin: Istana Changdeokgung, Istana Deoksugung, Istana Changgyeonggung
  • Setiap Selasa: Istana Gyeongbokgung dan Jongmyo Shrine

WPC – Push The Boundaries


Your current safe boundaries were once unknown frontiers – Anonymous

Boundaries
Boundaries

The theme for this week’s photo challenge is Boundaries. And for this challenge, I selected a photo of my trip to Haeinsa Temple, a World Heritage Site in South Korea.

I could not forget the trip. The time I pushed the boundaries. I was on my solo trip, trapped in the traffic jam for long hours in the afternoon, then had to get off from the bus in the middle of nowhere, continued with a trekking through a National Park with limited English signs, with limited English spoken people there, running out of time before dark and in autumn season which the temperature was far cooler than my tropical country’s.

I posted a complete story about this experience in Bahasa Indonesia here (Haeinsa Trip)

Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-Abad


Jika ada produk dari kayu yang bertahan selama hampir satu millenium, masih dalam kondisi baik, bahkan masih bisa berfungsi hingga sekarang, tentu saja satu diantaranya adalah Tripitaka Koreana, yaitu puluhan ribu bilah kayu pencetak Tripitaka, -kumpulan ajaran agama Buddha-, yang dituliskan dalam karakter China yang paling lengkap, paling tua dan tanpa kesalahan yang dimiliki dunia saat ini. Sebuah mahakarya, yang kini bukan saja milik Korea Selatan semata, tetapi juga telah menjadi milik dunia. Oleh karena itu UNESCO memasukkan bilah-bilah kayu pencetak Tripitaka Koreana dan Barbagai Literatur Keagamaan Buddha ke dalam Memory Of The World, sejak 3 Agustus 2007.

Bahkan jauh sebelumnya di tahun 1995 UNESCO telah mendaftarkan bangunan kayu sederhana yang oleh orang lokal disebut sebagai sebagai Janggyeong Panjeon, artinya bangunan penyimpan Tripitaka Koreana sebagai World Heritage Site. Bangunan kayu dengan strukturnya yang sangat unik ini menempati permukaan tanah yang paling tinggi dari kompleks Kuil Haeinsa yang berada di Gayasan National Park, Korea Selatan. Penempatan bangunan yang tidak biasa di kuil-kuil Buddha, karena lebih tinggi daripada bangunan utama kuil, sepertinya menandakan betapa pentingnya makna yang terkandung di dalamnya.

Dan memang seperti itulah rasanya ketika saya berdiri di depan tangga menuju Janggyeong Panjeon. Walaupun damai dan ketenangan terasa meresap di kuil Haeinsa, tetap saja jantung ini sedikit berdetak lebih banyak ketika kaki menapaki tangga curam menuju Janggyong Panjeon, pelataran tertinggi dari kuil Haeinsa, tempat penyimpanan Tripitaka Koreana. Berdetak lebih banyak karena akan menyaksikan sebuah keluarbiasaan yang telah diakui dunia.

Under The Gate of Janggyeong Panjeon
Under The Gate of Janggyeong Panjeon

Saya melangkah pelan menaiki tangga mengikuti langkah orang-orang yang berada di depan saya. Di puncak tangga, di bawah gerbang Janggyeong Panjeon, saya berdiri diam menutup mata sejenak. Menyadari bahwa pengamanan di level ini sangat tinggi, tidak boleh ada kamera dan semua yang berhubungan dengan api, saya menyiapkan diri menyerap semua pemandangan sekuat-kuatnya dengan mata saya. Selangkah di depan ini saya bersama dunia menjadi saksi akan mahakarya kayu yang disimpan hampir satu millenium di bangunan kayu sangat sederhana.

Namun mata ini seakan tak percaya akan pemandangan yang ada di hadapan. Seluruh bangunan di Janggyeong Panjeon ini bisa dikatakan sangat sederhana dengan unsur terbanyak dari kayu tanpa hiasan. Semua jendela dan pintu berkisi-kisi, juga dari kayu. Tetapi rupanya inilah kelebihannya yang secara akurat memperhitungkan semua segi untuk mempertahankan asset berharga bilah-bilah cetakan kayu yang disimpannya. Lokasi kuil, tata letak, struktur bangunan, jendela dan pintu, semuanya telah dihitung sejak dari awal pembangunannya untuk mengatur ventilasi, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya sehingga dapat menjaga keutuhan Tripitaka Koreana selama berabad-abad.

Karena tidak diperkenankan untuk mengambil foto dan berhenti saat melewati sisi berpintu yang memperlihatkan rak-rak penyimpan bilah-bilah kayu cetakan, saya hanya menyerap keluarbiasaan ini dengan segala kemampuan mata yang dimiliki.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pelataran Janggyeong Panjeon terdiri dari empat bangunan yang menyerupai persegi panjang. Bangunan di utara, Beopbojeon (Ruang Dharma) dan Bangunan di selatan, Sudarajang (Ruang Sutra) sejajar membentuk sisi yang lebih panjang karena berfungsi sebagai tempat penyimpanan ke delapan puluh ribu cetakan kayu tersebut. Sedangkan dua ruang kecil di sebelah barat dan timur merupakan tempat penyimpanan ajaran-ajaran Buddha yang datang belakangan.

Petugas-petugas jaga ternyata berbaik hati kepada pengunjung yang ada sehingga bisa ‘mencuri-curi’ foto saat berada pada halaman tengah Janggyeong Panjeon. Tak mau melepaskan kesempatan itu, saya mengambil kamera saku dan mengambil beberapa foto dari sudut yang berbeda. Tetapi tetap tidak bisa mengambil deretan tempat simpanan bilah-bilah kayu cetakan tanpa diiringi teriakan teguran dari petugas jaga.

Can you see the printing woodblocks inside?
Can you see the printing woodblocks inside?

Dimana-mana terdapat alat pemadam api yang jaraknya relatif dekat dari tiap-tiap petugas jaga.  Ya, memang api merupakan musuh terbesar asset dunia ini. Dan walaupun dalam sejarahnya kompleks Kuil Haeinsa pernah terbakar berkali-kali karena perang dan serangan musuh, namun api tidak pernah merambat naik ke Janggyeong Panjeon.  Sepertinya para dewa pun menjaganya dengan berbagai cara.

Walaupun seluruh pengunjung tidak dapat berinteraksi langsung dengan bilah-bilah kayu Tripitaka Koreana yang disimpan berabad-abad yang hasil cetakannya tersebar ke seluruh penjuru negeri itu, rasa ingin tahu pengunjung bisa terpuaskan di jalan keluar dari Janggyeong Panjeon. Di situ terpajang contoh bilah kayu cetakan Tripitaka Koreana beserta segala informasinya.

A sample of the Printing Woodblocks - Can you see the image?
A sample of the Printing Woodblocks – Can you see the image?

Sungguh saya terkagum-kagum dengan pengetahuan orang Korea yang telah membuatnya. Sejarah mengisahkan bahwa Tripitaka Koreana yang asli buatan tahun 1087 musnah terbakar saat penyerangan kekaisaran Mongol tahun 1232, lalu Kaisar Gojong memerintahkan untuk pembuatannya kembali.

Konon, kayu yang digunakan untuk Tripitaka Koreana datang dari Daesa-ri, wilayah Namhae-gun di selatan semenanjung Korea karena pasang surut air lautnya sangat tinggi, sehingga mudah untuk mengirim dan merendam kayu. Kayu-kayu yang telah lama terendam melewati panas dan dinginnya air laut, menjadi lebih mudah diukir dan lebih awet terhadap serangan serangga.

Sambil menunggu alam merendam kayu, ada banyak pekerjaan pendahuluan yang harus dikerjakan oleh para pendeta. Mereka harus menuliskan 23 baris tulisan dengan 14 karakter per barisnya pada sehelai kertas dengan sangat cermat dan akurat. Tidak itu saja, para pendeta yang terlibat dalam penulisan ini harus rajin berlatih berhari-hari agar konsistensi gaya penulisan dari waktu ke waktu tetap terjaga.

Dan setelah sehelai kertas siap serta kayu telah tersedia, dimulailah pengerjaan pengukiran. Tentu saja, agar karakter dicetak dalam arah yang benar, sisi kertas yang sama harus ditempelkan ke bilah kayu kemudian dilapiskan minyak tumbuhan tertentu ke kertas sehingga hurufnya langsung terlihat jelas. Setelah itu kayu baru dapat diukir pada kedua belah sisi bilah kayu.

Lalu bagaimanakah caranya sehingga Tripitaka Koreana tersusun tanpa bisa ditelusuri jejak kesalahan yang terjadi? Rupanya setelah pengukiran selesai, langsung dilakukan proses validasi hasilnya dengan tulisan pada kertas original. Karakter yang salah dipotong dan dibetulkan, sementara karakter yang sudah benar, ternyata diukir ulang pada sepotong kayu terpisah dan ditempelkan kembali. Proses ini sangat rapi dan cermat, sehingga tidak pernah dapat ditelusuri proses koreksi yang sebenarnya yang pernah terjadi. Bagaimana mungkin membandingkan jika keduanya sama-sama dipotong dan ditempel ulang?

Untuk menghasilkan cetakan diperlukan lembar-lembar kertas dengan kualitas baik. Kemudian ujung bilah cetakan kayu dilumuri dengan tinta lalu selembar kertas ditempelkan langsung ke cetakan tersebut. Selanjutnya kertas tadi diangkat secara hati-hati dengan alat terbuat dari rambut yang dicelupkan pada lilin. Luar biasa sekali prosesnya. Dan konon karena dicetak pada kertas berkualitas sangat baik yang diproduksi selama periode Dinasti Goryeo itulah, menjadikan Tripitaka Koreana terkenal hingga ke seluruh negeri, hingga ke negeri-negeri jauh… hingga sekarang.

Dan waktu berjalan terus…

Sambil melangkah ke jalan keluar, saya masih membawa serta kekaguman terhadap bilah-bilah cetakan kayu yang bertahan melawan jaman. Saya berbalik badan menatap kembali ke empat bangunan luar biasa yang telah berabad-abad menyimpan harta milik dunia itu. Hati saya kembali terharu, bila semua negara berupaya keras menjaga harta dunia yang telah dibuat oleh para pendahulu kita, alangkah semakin kayanya dunia ini.

The Wooden "Scientific" Building
The Wooden “Scientific” Building

Bercermin Diri dalam Harmoni Kuil Haeinsa


AWAL PERJALANAN RASA. Saya berdiri diam di depan batu besar bersimbol UNESCO yang dihiasi aksara Hangul. Tidak perlu bisa membaca Hangul untuk bisa memahami saya sudah sampai pada tujuan, Haeinsa Temple. Ada rasa haru membuncah berhasil melakukan pencapaian setelah melewati berbagai hambatan emosi sepanjang perjalanan hingga sampai ke tempat saya berpijak ini. Melewati batu besar ini berarti saya memasuki sebuah perjalanan dalam rasa.

Logo UNESCO di antara karakter Hangul
Logo UNESCO di antara karakter Hangul

HANYA BAGI YANG MEMERLUKAN. Haeinsa Temple sesungguhnya bersembunyi dalam diam dan heningnya wilayah Taman Nasional Gayasan, di propinsi Gyeongsangnam-do, seakan tak peduli akan kunjungan para peziarah atau wisatawan. Juga seakan tak peduli dengan gelar yang disandangnya sebagai UNESCO World Heritage Site karena telah ratusan tahun menyimpan Tripitaka Koreana, bilah-bilah cetakan kayu berisikan ajaran Buddha. mungkin baginya, manusia yang datang berkunjunglah yang memerlukannya. Memerlukan keheningan dan kedamaian untuk bercermin diri dalam meniti hidup.

MELURUHKAN KEBURUKAN. Dan entah mengapa, segala sesuatu yang menyesakkan, segala kekuatiran, derita dan ketakutan seakan runtuh luluh, terlepas dan tak berani membonceng begitu kaki melangkah memasuki gerbang Haeinsa yang memang menjadi tujuan utama perjalanan saya ke Korea Selatan.

BATAS. Ucapan Selamat Datang tampaknya tersampaikan dalam keheningan Iljumun, Gerbang Satu Pilar yang merupakan gerbang pertama dalam wilayah kompleks Haeinsa Temple. Namun sepertinya lebih banyak orang yang memperhatikan sebuah karya seni berbentuk orang yang sedikit membungkuk daripada menyadari makna gerbang Iljumun. Dan Iljumun pun seperti tak peduli dengan apapun yang dilakukan mereka. Dalam diamnya, ia hanya membukakan rasa akan sebuah batas bagi mereka yang sadar dan seakan mempersilakan untuk melangkah di jalan setapak menuju gerbang kedua, Bonghwangmun atau yang lebih dikenal dengan Gerbang Empat Dewa Penjaga. Dan untuk melengkapi rasa yang hadir, di kiri kanan jalan setapak yang mendaki landai ini dipenuhi berbagai bendera putih bertuliskan untai kata filosofis yang sangat dalam, sebuah awalan untuk membersihkan taman pikiran.

Tanda Baru  dalam diam dan Sebuah Karya Seni
Tanda Baru dalam diam dan Sebuah Karya Seni
Iljumun, Gerbang Satu Pilar
Iljumun, Gerbang Satu Pilar

TUMBUH BERSAMA WAKTU. Langkah demi langkah diambil menuju Gerbang kedua, semua pengunjung termasuk saya seakan dibawa ke awal waktu pembangunan kuil Haeinsa oleh dua pendeta, Suneung dan Ijeong sekitar abad-8 sepulangnya dari Tiongkok. Pihak kerajaan mendukung pembangunan kuil setelah kedua pendeta tak henti berdoa untuk kesembuhan Sang Ratu dari penyakitnya yang tak terobati. Pengunjung pun diajak melihat sisa pohon di pinggir jalan setapak yang dipercaya menjadi saksi terakhir awal pembangunan kuil Haeinsa walau akhirnya tumbang pada tahun 1945 setelah tumbuh bersama waktu selama hampir 1200 tahun.

Saksi Terakhir Pembangunan Kuil Haeinsa yang tumbang tahun 1945
Saksi Terakhir Pembangunan Kuil Haeinsa yang tumbang tahun 1945

KESUNGGUHAN. Dan akhirnya ketika langkah kaki menjejak di Bonghwangmun, atau dikenal dengan gerbang Empat Dewa Penjaga, -berisikan lukisan Empat Dewa sebagai Penjaga arah mata angin-, para pengunjung seakan ditanya kembali akan niatnya berkunjung dan bersedia meluruhkan semua yang berbau keburukan. Dan bukankah di setiap gerbang milestone kehidupan kita seakan ditanya kembali niat kita?

TAMBAHAN BEKAL KEKUATAN. Selepas Bonghwangmun, siapapun yang berkehendak dapat memohon doa di Guksudan atau Hall of Mountain Spirit. Bangunan kecil ini berisikan patung Guksa-daesin, dewa pelindung ranah Haeinsa, yang dipercaya dapat memberikan pencerahan kepada manusia dan mencegahnya dari ketidakberuntungan serta memberikan berkat kepada semua orang agar mengikuti kebenaran hakiki. Dalam perjalanan rasa ini, sebuah analogi tergambarkan saat berada di antara dua gerbang milestone hidup yang masih memerlukan bekal kekuatan.

MENUJU GERBANG AKHIR. Perjalanan melalui pintu-pintu gerbang hampir berakhir. Di ujung jalan setapak terdapat tangga curam menuju Haetalmun atau dikenal sebagai Gerbang Surga, yang dipercaya sebagai simbol memasuki dunia kebenaran dan meninggalkan dunia yang penuh penderitaan, selaras dengan konsep Buddha.

MEMAKNAI PERJALANAN. Sesaat menengok ke belakang dari posisi saya berdiri, dari gerbang pertama Iljumun, lalu Bonghwangmun hingga gerbang ketiga Haetalmun, saya telah menapaki 33 anak tangga, yang konon simbol surga Trayastrimsa, tempat berdiamnya 33 dewa di puncak Gunung Sumeru. Sebuah nama yang membuat pikiran lain terbersit, walaupun saya memahami maksudnya adalah gunung imajiner Mt. Meru atau Mahameru dalam pemahaman Buddha, namun pikiran ini terbang ke puncak Mahameru yang indah di Jawa Timur, Indonesia, yang tentu saja merupakan sebuah perjalanan panjang, mendaki penuh lelah dari tempat-tempat yang rendah mencapai tempat-tempat tinggi. Bukankah hidup dipenuhi rasa syukur atas sebuah perjalanan dari sebuah titik kecil ke titik kecil lain yang begitu berdekatan?

MENJAGA KESEIMBANGAN. Gerbang Haetalmun di puncak tangga yang tinggi, curam dan fragile seakan mengingatkan saya agar senantiasa menjaga keseimbangan rasa namun tetap waspada dalam setiap langkah hidup, seperti juga di kawasan kuil Haeinsa. Laksana sebuah pengingat akan peristiwa bencana kebakaran hebat yang berkali-kali terjadi di kuil Haeinsa semasa Dinasti Joseon berkuasa, walaupun upaya menjaga, mengamankan dan memelihara sepenuhnya setia dilaksanakan.

Halaman Utama Haeinsa
Halaman Utama Haeinsa

PEMENUHAN JANJI. Rasanya saya benar-benar luruh melebur menjadi satu dengan Haeinsa dengan setiap langkah penuh keajaiban makna. Haeinsa, inikah yang engkau janjikan untuk setiap jiwa yang datang dengan rasa?

HARMONI. Langkah terasa ringan menapaki pelataran kuil. Sepertinya memang sesuai dengan makna Haeinsa yang dikenal sebagai Kuil Pencerminan di Laut tenang. Untuk mudahnya bagi non-Buddhist seperti saya, dalam kehidupan duniawi dengan semua penderitaan, penyakit dan delusi, bisa dianalogikan sebagai laut yang bergolak dan segala sesuatu yang harmoni diibaratkan sebagai laut yang tenang. Sebuah makna yang dapat dilihat dalam rasa.

HIDUP YANG BERJENJANG. Bahkan kompleks Kuil Haeinsa ini pun dibangun di atas permukaan tanah yang berjenjang dengan dua pelataran tempat aktivitas peribadatan dan kegiatan sehari-hari dari para penghuninya. Seperti juga kehidupan, memiliki jenjang-jenjang tersendiri. Bahkan dalam sebuah jenjang pun memiliki keindahan, seperti juga pemandangan hutan di pegunungan dengan keindahan musim gugur menyembul di antara bangunan kuil di pelataran pertama. Dan melalui tangga, saya menuju pelataran kuil yang lebih tinggi. Dan pelataran akhir ini penuh dengan pengunjung yang kebanyakan datang dari berbagai penjuru Korea, yang membuat saya tersenyum dalam rasa dengan penggambaran ini. Sangat manusiawi. Bukankah pada akhir perjalanan hidup kita semua akan berkerumun?

Pagoda Birotap
Pagoda Birotap

3 SAKSI DIAM YANG SETIA. Perlahan saya berjalan ke tengah pelataran tempat tegaknya tiang bendera yang konon menjadi saksi setia kuil dari abad ke abad. Didekatnya terdapat pagoda batu tiga tingkat yang dikenal sebagai Birotap (Pagoda Vairocana) yang dahulu tempat menyimpan patung Buddha. Tak jauh dari Pagoda Birotap berdiri Lampu Batu, simbol lampu kedamaian Buddha yang dibangun untuk memberikan penerangan ke pelataran. Dalam hidup yang sudah terjalani ini, bukankah kita semua memiliki saksi-saksi diam yang setia menemani?

SEDERHANA. Saya melewati bangunan termpat peribadatan Gwaneumjeon dan Gunghyeondang yang sederhana dan tidak bercat. Ciri khas yang kuat dari Haeinsa, sebuah kesederhanaan, tetapi tampil kontras dengan keindahan hutan yang menghias pegunungan di latar belakang. Kuat dan berprinsip.

Pemandangan Musim Gugur di antara Bangunan
Pemandangan Musim Gugur di antara Bangunan

PUNCAK, YANG UTAMA. Mata saya memandang tiga rangkaian anak tangga di kiri, tengah dan kanan untuk naik ke permukaan tanah yang lebih tinggi. Rasa membawa saya menapaki tangga di kanan, -karena memang sebenarnya tangga di tengah hanyalah untuk para pendeta dalam upacara khusus-, menuju bangunan utama kuil yang disebut Daejeokgwangjeon (Tempat Kedamaian dan Kebijaksanaan Yang Agung) yang didedikasikan untuk Buddha Vairocana, dan diapit oleh Shrine Daebirojeon di kiri dan Myeongbujeon di kanannya. Seakan terdengar bisik dari dalam kalbu akan simbol dari tiap kehidupan yang memiliki tempat tujuan akhir?

IBADAH DENGAN CINTA. Tetapi di sudut Daejeokgwangjeon tampak orang berkerumun menanti giliran beribadah ke dalam. Ah, tak patut rasanya mendahulukan keinginan saya daripada orang-orang yang berniat ibadah. Saya berpindah untuk menikmati lukisan sepanjang dinding dan bagian atap Daejeokgwangjeon, yang semuanya dikerjakan dengan kesabaran, ketelitian dan kecintaan melalui kondisi meditatif yang panjang.

Detail Sudut Atap Daejeokgwangjeon
Detail Sudut Atap Daejeokgwangjeon

MOMENT KEINDAHAN. Mengambil jeda untuk melepas lelah, saya duduk di belakang bangunan utama menikmati pemandangan alam di latar belakang. Karena tersembunyi di kawasan Gayasan National Park, kuil Haeinsa memiliki nilai tambah. Selain udaranya yang sejuk, kuil ini dikelilingi oleh indahnya warna-warni pepohonan khas musim gugur. Dan sebagai orang tropis yang jarang melihat perbedaan warna pohon, sungguh saya menikmati keindahan warna merah, kuning, hijau dalam nuansanya sendiri-sendiri yang menjadi kontras dengan warna homogen coklat kehitaman dari kuil. Seperti juga dalam fase hidup, saat jeda istirahat kita juga dapat menikmati moment indahnya hidup. Dan saat itu pun, walau dipenuhi pengunjung, Haeinsa tetap diliputi ketenangan yang terasa sampai ke dalam relung rasa.

Pepohonan dengan warna musim gugur di latar belakang
Pepohonan dengan warna musim gugur di latar belakang

MENAPAKI PUNCAK. Di puncak ketinggian kompleks Haeinsa, dari sisi Myeongbujeon, Sang Waktu telah menuntun saya melihat tempat penyimpanan Tripitaka Koreana di level teratas, yang paling terjaga. Lalu, setelahnya saya berjalan turun kembali ke arah Bangunan Utama Daejeokgwangjeon dari sisi kiri Daebirojeon, yang berisi dua patung kayu Buddha yang konon dipercaya dari abad-9 dan merupakan yang tertua di Korea. Semua dari kita memiliki langkah-langkah di puncak ketinggian yang tak terlupakan dan penuh kesan.

Sebuah Pameran Karya Seni Bernilai Filosofis
Sebuah Pameran Karya Seni Bernilai Filosofis
Lampion Jalur Meditasi
Lampion Jalur Meditasi

MELEPAS DERITA. Puncak ketinggian telah terlampaui dan saya turun kembali ke pelataran tempat Pagoda Birotap berada. Sebuah pameran seni filosofis sedang berlangsung di pelataran Haeinsa ini. Sekitar seribu kain persegi merah diikat menyerupai kantong berisikan batu tersusun rapi di atas tanah yang membentuk persegi panjang. Batu-batu yang diletakkan pengunjung kuil merupakan simbol dari beban penderitaan yang pernah dirasa sepanjang hidupnya. Sebuah interaksi pengunjung untuk melepaskan penderitaan di Haeinsa, dan menjelma menjadi orang baru setelahnya. Ibarat ringan setelah melepas beban, hidup terbuka menjadi tempat bersyukur dan berdoa. Dan kesempatan itu tersedia di pelataran berikutnya, pengunjung diarahkan melakukan meditasi berjalan melalui jalur yang dibatasi oleh lampion-lampion yang tergantung berwarna merah, hijau, ungu dan kuning. Siapapun, tanpa harus menjadi Buddhist, dapat menggantungkan harapan dan doa pada lampion-lampion itu.

MEMBAWA BAHAGIA. Hari semakin sore, pengunjung semakin berkurang. Akhir perjalanan sudah tercium auranya. Suasana sepi mulai terasa di pelataran depan bangunan tempat genta besar dan drum tabuh tergantung. Sambil menyisiri bagian luar dari lampion-lampion jalur doa, saya berjalan pelan menuju pintu keluar. Dan saat kaki melangkah meninggalkan gerbang surga terdengar pukulan tabuhan oleh pendeta, tanda kuil ditutup dari kunjungan orang luar. Dan bersamaan dengan itu, dari dalam jiwa sebuah ucapan terungkap keluar, Terima kasih atas suasana damai dan harmonimu, Haeinsa! Ah, Semoga semua makhluk berbahagia…

Hwaseong Fortress: Menjadi Warisan Dunia Karena Sebuah Buku Tua


Dari sebuah benteng yang dirancang untuk menjadi Ibukota

Disusun dan dibangun dengan perhitungan rinci tanpa cela

Namun perlahan terlupakan karena pergantian para penguasa

Lalu hancur total akibat Jepang menyerang juga Perang Korea

Dua ratus tahun setelahnya Hwaseong seakan tak pernah ada

Namun dari sebuah buku, Hwaseongseongyeokuigwe namanya

Para ahli bersatu padu bekerja sama membangun sebuah citra

Dan dalam dua tahun Hwaseong Fortress yang hilang kembali ada

Abad-18 Hwaseong hanya merupakan bagian dari Istana Raja

Abad-20 Hwaseong telah menjadi bagian dari Warisan Dunia

*

Menjelang sore pada musim gugur di Suwon, Korea Selatan…

Hwaseong Fortress, salah satu UNESCO World Heritage Site di Korea Selatan, berdiri dengan megah. Benteng atau Fortress ini pada awal pembangunannya merupakan bagian dari Istana Haenggung, tempat kediaman sementara para Kaisar dari Dinasti Joseon di luar kediaman resminya di ibukota negeri. Dan Kaisar Jeongjo-lah yang menginstruksikan pembangunan benteng pertahanan sepanjang 5.5km ini mengelilingi sebuah kota yang dirancang mandiri sebagai pengungkapan bakti Sang Kaisar kepada ayahnya, Putra Mahkota Sadosaeja. Selain mendirikan benteng, sepanjang pemerintahannya, Kaisar Jeongjo senantiasa berupaya berbakti dengan cara membersihkan nama ayahnya yang dibunuh oleh tangan kakeknya sendiri.

Hwaseong Fortress - Suwon
Hwaseong Fortress – Suwon

Kata “Hwaseong” sendiri sesungguhnya memiliki makna filosofis yang sangat dalam, karena berasal dari salah satu pengajaran Konfusianisme, Jangja. Dalam karakter China, Hwaseong merupakan tempat yang diperintah oleh seorang tokoh legenda yang bijak dan bermoral sempurna yakni Kaisar Yao. Beliau adalah kaisar legendaris dalam sejarah Cina kuno yang kebajikannya digunakan sebagai model untuk kaisar Cina pada masa-masa selanjutnya. Masa pemerintahan Kaisar Yao merupakan waktu yang paling damai dan makmur dalam sejarah Cina kuno. Dengan dilatarbelakangi oleh pemahaman filosofis yang dalam itu, pembangunan Hwaseong Fortress di Korea Selatan menjadi luar biasa.

Hingga kini Hwaseong Fortress menjadi benteng dengan struktur terhebat dan penuh perhitungan yang pernah dibuat di dunia. Memiliki empat gerbang di setiap arah mata angin. Janganmun di Utara, Paldamun di Selatan, Changnyongmun di Timur dan Hwaseomun di Barat. Bahkan katanya setiap lubang diantara batu batanya diukur dengan presisi sehingga dapat menembakkan senjata, panah atau tombak panjang.

Dan kehebatan Hwaseong Fortress tidak berhenti sampai disitu. Benteng ini bahkan menjadi pelopor perencanaan pembangunan kota di tingkat dunia, dilihat dari segi kelengkapan sarana dan prasarana serta perencanaan matang yang sistematis dibandingkan pembangunan kota yang serupa pada jamannya seperti Saint Petersburg di Rusia atau bahkan Washington DC di Amerika. Sebuah pemikiran yang sangat hebat dari Kaisar Jeongjo, orang yang menginstruksikan pembangunan Hwaseong Fortress ini.

Sejarah mengisahkan ketika Kaisar Jeongjo bertempat tinggal sementara di Istana Haenggung dalam rangka kunjungan ke wilayah Suwon, Sang Kaisar mulai menginstruksikan pembangunan Hwaseong Fortress termasuk kota di dalamnya. Pada awalnya Kaisar Jeongjo merencanakan Hwaseong menjadi ibukota kedua dari Dinasti Joseon. Untuk itu, Kaisar Jeongjo berencana akan pindah ke istana Haenggung, untuk menikmati kota Hwaseong-nya, setelah ia menyerahkan tahtanya kepada penerusnya. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Kaisar Jeongjo mangkat dalam usia yang relatif muda pada tahun 1800 menyebabkan Hwaseong perlahan-lahan terlupakan oleh peradaban.

Janganmun North Gate of Hwaseong Fortress, Suwon (means capital city and welfare of the people)
Janganmun North Gate of Hwaseong Fortress, Suwon (means capital city and welfare of the people)

Dan UNESCO pun mencatat Hwaseong Fortress dalam daftar World Heritage Site…

Sebenarnya Hwaseong Fortress masih relatif berumur muda, sekitar 200 tahun, jika dibandingkan dengan seribuan obyek lainnya yang bisa mencapai ribuan tahun, untuk tercatat dalam daftar UNESCO World Heritaga Site. Ditambah lagi sebagian besar struktur asli sudah hancur karena penyerangan Jepang dan akibat perang Korea. Lalu apa yang menyebabkan tempat itu bisa terdaftar sebagai World Heritage Site?

Dan karena sebuah buku kuno, Hwaseongseongyeokuigwe, sehingga Hwaseong Fortress dapat direkonstruksi kembali mengikuti struktur aslinya. Hwaseongseongyeokuigwe merupakan buku arsip yang terperinci mengenai pembangunan Hwaseong Fortress. Di dalam buku ini seluruhnya tersimpan baik penjelasan arsitektur dan prosedur teknis yang diterapkan, lengkap dengan gambar-gambar dan disain strukturnya, dimensi struktur, penggunaan dan sumber bahan baku yang digunakan dan hal-hal kecil lainnya. Sungguh menakjubkan berdasarkan satu buku kuno berumur ratusan tahun itu, pembangunan kembali benteng ke bentuk aslinya bisa dilakukan dengan sangat mudah.

Para insinyur dan ahli teknik masa kini benar-benar mengikuti semua petunjuk yang diberikan dalam buku Hwaseongseongyeokuigwe, yang dimulai dari menemukan jenis yang tepat untuk menghasilkan bentuk dan kualitas batu bata yang digunakan. Setelah batubata diproduksi dengan benar, kumpulan batu itu digunakan untuk membangun tembok benteng seperti yang dijelaskan dalam dokumen.

Hwaseong Fortress sepertinya merupakan kasus pertama kali dan satu-satunya hingga kini, sebuah monumen sejarah yang hancur total dibangun kembali hanya berdasarkan dokumen tertulis. Kelengkapan Hwaseongseongyeokuigwe, yang penuh informasi ilmiah yang sangat detail, membuat monumen ini memungkinkan memenangkan gelar sebagai UNESCO World Heritage Site.

*

Setelah membayar tiket masuk, rencana melihat Gukgung (Korean Traditional Archery) di dekat pintu masuk batal karena saat itu merupakan trip terakhir kereta kelilingHwaseong Fortress. Saya sedang malas mendaki berkilo-kilometer sehingga tawarannaik kereta keliling disambut gembira. Sebenarnya para penumpang diberikan informasi mengenai tempat-tempat menarik sepanjang perjalanan, tetapi sayangnya dalam bahasa Korea!

A corner in Hwaseong Fortress in Suwon. It's believed to have been constructed very scientifically — at Hwaseong Fortress.
A corner in Hwaseong Fortress in Suwon. It’s believed to have been constructed very scientifically — at Hwaseong Fortress.

Sudah beberapa gerbang dan tempat pemantauan benteng terlewati. Kereta masih menyusuri tembok benteng yang berdiri tegak, seakan angkuh terhadap kemungkinan serangan musuh. Kemudian berjalan perlahan mendaki bukit. Tampak seluruh permukaan tanah tertutup dengan rumput hijau yang terpelihara. Pemerintah Korea Selatan bersama warga sekitar bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap indah dan di sudut lain, tampak tembok benteng menjulang di balik rimbunnya rumput keladi yang berbunga.

Tak lama kemudian kereta memasuki wilayah dengan pepohonan berwarna khas musim gugur yang terhampar di depan mata. Merah, hijau, kuning keemasan dan jalanan yang sepi. Ketika kereta melewati perlahan sebuah pelataran dengan patung besar, terlontar keinginan untuk turun menikmati pemandangan. Dan ternyata kereta memang berhenti di situ, menurunkan semua penumpangnya dan kembali kosong. Dan memang trip terakhir kereta tidak termasuk kembali ke tempat awal sehingga saya harus berjalan kaki untuk kembali.

Setelah mengeksplorasi pelataran berisi patung besar Kaisar Jeongjo, saya menikmati jalan-jalan di sekitarnya dalam suasana musim gugur. Sebagai orang tropis, saya menikmati sekali pengalaman berjalan-jalan diantara pohon-pohon yang berwarna-warni dengan gugurnya dedaunan. Banyak juga warga lokal dari segala umur yang berjogging. Bahkan disediakan peralatan olahraga di area terbuka.

The Bronze Statue of King Jeongjo The Great
The Bronze Statue of King Jeongjo The Great
The Map & Pictures of Hwaseong Fortress on the Wall next to the Statue
The Map & Pictures of Hwaseong Fortress on the Wall next to the Statue
Public Park in Autumn inside the Hwaseong Fortress
Public Park in Autumn inside the Hwaseong Fortress

Belum ingin berpisah dengan indahnya suasana, saya bahkan mendaki ke puncak bukit. Dan sampai di atas, terhampar pemandangan yang jauh lebih indah dari kota Suwon, apalagi menjelang malam, lampu-lampu kota dinyalakan. Saya duduk menikmati malam. Seandainya Kaisar Jeongjo masih hidup, tentunya ia juga suka melihat pemandangan ini. Pemandangan lepas, udara dingin, sangat tepat untuk berpikir strategis memikirkan bangsa dan negara.

Malam merangkak pelan. Waktu juga yang memutuskan. Saya berjalan turun perlahan sambil melamunkan keluarbiasaan situs warisan dunia, Hwaseong Fortress ini. Yang tadinya hancur, dalam waktu dua tahun bisa kembali berdiri megah. Hanya karena sebuah buku tua. Saya belajar bahwa dari dokumentasi yang detil dan menyeluruh, apa yang hancur bisa kembalikan ke semula. Ah, rasa terima kasih tak terhingga untuk Kaisar Jeongjo!

A part of 5.5km of the Hwaseong Fortress
A part of 5.5km of the Hwaseong Fortress
Seojangdae (Western Command Post), built 1794 on the summit of Mt. Paldal
Seojangdae (Western Command Post), built 1794 on the summit of Mt. Paldal
Hwaseong Fortress at night
Hwaseong Fortress at night

*

Hwaseong Fortress dibuka setiap hari untuk umum, pk. 09.00 – 18.00 kecuali musim dingin dari pk. 09.00 – pk. 17.00 dengan harga tiket masuk 1000 Won (dewasa) dan 500 Won (anak-anak).