Aksen Lengkung Di Situs Warung Boto


Saat ke Jogja tahun lalu, -setelah urusan keluarga selesai-, bersama suami saya menyempatkan diri mengunjungi Situs Warungboto atau kadang disebut juga dengan Pesanggrahan Rejawinangun yang terletak di Jalan Veteran No.77, Warungboto, Umbulharjo, Jogja. Situs yang belakangan mulai terkenal sebagai salah satu destinasi di Jogja ini, -bisa jadi karena Putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu bersama Bobby Nasution melakukan foto pre-wedding di sini-, merupakan salah satu bangunan cagar budaya berupa sebuah pesanggrahan dan pemandian yang sekilas menyerupai Taman Sari. 

DSC00132
Situs Warungboto

Sayangnya saya berkunjung ke Situs Warungboto ini tepat tengah hari yang tentu saja keringat langsung deras mengucur dan panas menerpa kulit. Hebatnya lagi, di lokasi ini tidak ada tempat yang cukup rindang kecuali di dalam ruangan-ruangannya yang berada di tingkat atas. Sungguh, terik matahari ini membuat mood saya langsung jatuh ke level terendah. Mungkin akan lebih baik jika berkunjung ke sini pagi-pagi atau sore hari ketika matahari sudah tidak begitu gahar.

Gara-gara terik matahari itu, saya tidak ingin berlama-lama di sana dan hanya berada di sekitar kolam pemandian dan bangunan yang mengelilinginya. Itupun sebisa mungkin berdiri di bawah bayangan. Bisa jadi ada bangunan lain yang menarik berada di pelataran atas, tetapi uh, maaf seribu maaf, kali ini saya takluk oleh sinar matahari yang langsung membuat sakit kepala. Apalagi, di Situs Warungboto ini saya harus menaiki tangga-tangga untuk memasuki bangunan utama. Lengkap sudah, terik matahari dan tangga, dua hal yang tidak saya sukai dalam berwisata 😀

Situs Warungboto yang dindingnya menggunakan batu bata dan dilepo ini terdaftar dalam pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini, seperti juga Benteng Keliling Keraton atau Taman Sari-nya Keraton Yogyakarta, memiliki dinding yang amat tebal.  

Jadilah siang itu, pelan-pelan saya menaiki tangga untuk ke bagian yang tidak terpelihara dan kelihatannya masih asli. Lorong pintu-pintunya mempunyai aksen lengkung. Sayang sekali tangan-tangan tak bertanggung jawab telah mengotorinya dengan coretan grafiti yang merusak keindahan situs.

Kemudian tanpa tergesa saya melipir mengikuti bayangan untuk memasuki ruangan-ruangan yang ketinggian lantainya tidak sama (multi-level). Saya langsung merasa adem meski sedikit lembab. Entah kenapa rasanya déjà vu dengan situasi Taman Sari yang memang mirip. Dengan struktur yang berdinding tebal, -melalui pintu dan jendela layaknya dalam sebuah benteng-, saya bisa melihat ke arah kolam pemandian yang saling berhubungan yang konon airnya berasal dari sebuah mata air. Tiba-tiba saja saya teringat akan kisah-kisah jaman dulu yang selalu menjadikan sebuah mata air sebagai tempat yang suci dan sakral.

Saya turun lagi ke bawah menuju kolam pemandian dan memperhatikan bentuknya yang unik.

Kolam pertama berbentuk lingkaran dengan dinding melengkung seperti cawan atau mangkuk besar, yang memiliki diameter sekitar 4 meter dan di bagian tengahnya dibuat bentukan seperti helai-helai bunga yang merupakan tempat air yang memancar keluar (umbul). Konon, disanalah sumber mata airnya.

DSC00136
The Spring Pool

Kolam kedua berbentuk persegi panjang yang memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebarnya sekitar 4 meter dengan dinding kolam yang sedikit miring (tidak tegak). Mungkin dinding yang melengkung dan tidak tegak ini memang merupakan disain awal yang membuatnya berbeda dari kolam-kolam pemandian lainnya.

Menariknya, kedua kolam itu terhubung oleh sebuah bentukan terbuka yang menyerupai undakan simetris di kanan kiri dan juga memiliki dinding melengkung ke arah kolam kedua. Artistik.

Dari seberang pintu yang memiliki aksen lengkung, saya mengamati bentuk kedua kolam itu. Entah kenapa saya memiliki pemikiran yang agak melenceng saat mengamati bentuk kedua kolam dari ketinggian. Kolam yang melingkar lalu dihubungkan dengan sebuah bentukan yang agak panjang dan berakhir membuka pada kolam kedua itu, kok seperti sebuah gua garba (rahim) yang merupakan simbol dari awal terciptanya kemanusiaan dan kebudayaan. Entahlah, karena sama sekali tidak ada informasi mengenai makna bentuk kedua kolam itu.

DSC00132
Situs Warungboto
DSC00139
Two empty pools

Yang ada hanya sejarahnya, yang berdasarkan informasi di sebuah papan, Situs Warungboto merupakan sebuah tempat peristirahatan (petilasan) yang pembangunannya dimulai semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I dan dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Bisa jadi kondisi asli bangunan Situs Warungboto, masih seperti yang saya saksikan di tempat yang pertama kali saya datangi, meskipun hanya berupa reruntuhannya yang tidak terpelihara dengan menyisakan dinding tebal  yang tak bisa diragukan.

Konon, sejak tidak digunakan oleh pihak Kraton hingga tahun 1935, tempat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya karena terdapat sumber air. Namun setelah Indonesia merdeka, tempat ini seperti terlupakan. Bisa jadi karena letaknya jauh dari keraton atau sumber airnya sudah tak berfungsi lagi.

Apapun kondisinya kini, setelah mengalami pemugaran, Situs Warungboto menjadi lebih baik dan dapat dijadikan sebagai alternatif berkunjung di Jogja. Meskipun tidak sebesar Taman Sari, dengan kondisi sekarang ini rasanya situs Warungboto memiliki kemegahan dan kecantikannya sendiri.

DSC00126
Warungboto

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-8 ini bertema Curve agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

WPC – Place Where The Heart is


Trees and Ratu Boko Temple, Jogja
Sunset, Trees and Ratu Boko Temple, Jogja

Around two thousands years ago, a Roman philosopher, Gaius Plinius Secundus or known as Pliny the Elder, said short nice words but has deep meaning of a home,

“Home is where the heart is.”

It is not only a place where we’re back after working from day to day. It is more than that. Home is a place that makes us fully recharged and gives us peace. The place that is comforting because we know by heart.

Jogjakarta, or Jogja in short, or some say Yogyakarta, is my second hometown. The place I always be back, the place where I recharge, smell its sweet fragrance and feel its calm ambiance. I can watch sunrise at its beautiful beaches, or get lost into its old market, or wander around the labyrinth of traditional batik makers, visit the palaces and its squares, watch sunset on the hilly places and dine the gudeg, -Jogja’s traditional cuisine- which is offered in every corner of the city. Perhaps I do not know the people, but I can feel the same soul of Jogja in them.

And Ratu Boko’s palace is one of my favorite places in Jogja. Located on a small plateau not far from Prambanan temple, this palace is actually an archaeological site which has many heritage buildings. As a heritage lover I love to be there at different times, but watching sunset there is totally remarkable. From the highest point of this palace, I can see the amazing sunset and the panoramic view of Prambanan temple, and sometimes Mt. Merapi in the background if the weather is clear. Well, everyone knows about sunset, but sunset we watch from the place that is resided in our heart, surely evokes different feeling.

I can sit there in silence, do nothing, just listen to the nature’s voices, smell its calming fragrance, feel the encouraging delight ambiance, harmonize the love of people there and allow all the beauties to color the life. I am part of the amazing local.

Sunset at Ratu Boko, Jogja
Sunset at Ratu Boko, Jogja

Sendratari Mahakarya Borobudur 2014: Indah Tak Bergaram


Pada akhir pekan, sekitar seminggu setelah peringatan kemerdekaan tahun ini, saya meluangkan waktu untuk menyaksikan pertunjukan Sendratari Mahakarya Borobudur di pelataran panggung Aksobya, Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Magelang, Jawa Tengah. Pertunjukan sendratari dengan tema The Legend of Mahakarya Borobudur when History Comes to Life ini mengisahkan tentang pembangunan candi Borobudur yang merupakan sebuah Mahakarya bangsa Indonesia dan digelar untuk memperingati 200 tahun ditemukannya Candi terbesar di dunia itu. Saya memang meniatkan diri untuk menyaksikan pertunjukan itu, -selain menuruti rekomendasi seorang kawan yang sudah menyaksikan sebelumnya-, entah kenapa saya memiliki imajinasi tersendiri mengenai kehebatan pertunjukan itu.

Waktu pertunjukan disebutkan mulai pukul 7 malam dan saya harus menukarkan voucher tiket tanpa tahu pasti lokasi penukarannya sehingga saya merencanakan meninggalkan Jogjakarta pukul 4 sore supaya lebih leluasa sesampainya di sana. Tetapi lalu lintas Jogjakarta sore hari itu tak beda dengan Jakarta setiap hari, padat merayap nyaris tak bergerak, karena bersamaan dengan diselenggarakannya Festival Kesenian Yogyakarta. Setelah hampir satu jam terjebak, akhirnya saya terbebas dari kemacetan pusat kota dan bisa bergerak menuju Borobudu melalui jalur kabupaten.

Malam gelap sudah datang ketika memasuki kawasan Borobudur dan saya tak mengerti harus masuk darimana untuk menuju panggung Aksobya. Dan dalam kebingungan di dekat pagar utama, datang seseorang yang membantu menunjukkan arah tempat pertunjukan. Tanpa bermaksud promosi, saya harus masuk melalui gerbang hotel Manohara dan mengikuti kelip-kelip lampu yang ditunjukkan oleh petugas-petugas di sepanjang jalan yang gelap menuju acara. Dalam hati saya bersyukur bisa datang dengan kendaraan, namun bagaimana dengan pejalan kaki atau yang naik kendaraan umum? Apakah pertunjukan ini hanya dihadiri oleh orang-orang yang memiliki kendaraan?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Di dekat keramaian, saya turun dan berjalan ke arah sebuah meja panjang di bawah tenda yang tampaknya tempat penukaran voucher ke tiket asli. Setelah beberapa orang kulit putih yang dilayani, giliran saya kemudian untuk menyerahkan voucher kepada seorang perempuan manis di balik meja dan entah kenapa saya merasakan perubahan itu. Saya mendapatkan pelayanan yang berbeda dari sebelumnya, menjadi serba ramah, serba senyum lebar, serba mendahulukan dan memberi prioritas terhadap saya. Daaaannn…. saya terperangah ketika perempuan berwajah Indonesia itu mengajak saya bicara dalam bahasa Inggeris. Apakah karena nama depan saya yang berbau Eropa Selatan yang kadang sulit diucapkan oleh lidah Indonesia dan didukung wajah saya yang sering ditebak bukan asli Indonesia? Saya hanya tersenyum menerima semua cinderamata dan nomor tempat duduk yang diberikannya seraya berbisik halus tanpa bermaksud mempermainkannya, maturnuwun sanget mbak…

Kemudian pelan-pelan saya mengikuti karpet merah yang disediakan menuju tempat pertunjukan mengingat waktu yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tetapi para penerima tamu yang berkebaya anggun itu mengarahkan saya untuk menyantap hidangan ringan terlebih dahulu. Tak terduga ternyata tersedia hidangan ringan untuk mengganjal perut, walaupun saya sudah berbekal kue yang dibeli di Jogja. Ada nasi kucing, serabi, talas goreng, pisang goreng dengan minuman jahe yang hangat. Hidangan ringan yang tepat untuk mengawali pertunjukan malam di bawah langit.

Rupanya menikmati hidangan ringan ini juga merupakan bagian dari acara agar para tamu bisa saling berkenalan atau mempererat silaturahmi bagi mereka yang sudah saling mengenal. Sambil menyantap hidangan, saya memperhatikan para tamu yang hadir. Saya agak miris, karena tamu yang datang tidaklah berlimpah (dibandingkan dengan konser pertunjukan musik). Tamu asing yang menjadi sasaran acara ini juga tidak terlalu banyak. Apakah karena kurang promosi? Apakah karena berbenturan dengan berbagai festival lain di Indonesia? Yang jelas di Jogja sendiri sedang berlangsung Festival Kesenian Yogyakarta dan di Jember sedang berlangsung Jember Fashion Carnival yang sudah mempunyai nama di jagat internasional. Tidak mungkin karena kurang megahnya Borobudur, bukan?

Gending Jawa terdengar seakan memanggil tamu untuk segera menduduki tempat yang telah ditentukan tanpa bisa memilih. Saya duduk di baris ketiga sayap kanan tepat di sisi lorong tengah. Di depan saya sudah duduk beberapa orang warganegara asing dan beberapa tamu VIP dari jajaran dinas. Dan sekitar 25 meter ke depan, terhampar panggung Aksobya dengan latar belakang Candi Borobudur yang megah disinari lampu dari belakang. Terasa magis.

Dan akhirnya sekitar jam delapan malam, dua orang pembawa acara memecahkan kekosongan waktu menandakan pertunjukan segera dimulai. Saya berbisik dalam hati, semoga pertunjukan ini seindah dan semegah Borobudur.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Satu jam pertunjukan tari berlangsung cepat. Dikemas dalam bentuk sendratari, -yang konon gerakannya merupakan intepretasi atas tiga ajaran hidup yang ada dalam struktur candi, mulai kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu-, pertunjukan tari ini dibuka dengan memperlihatkan aspek-aspek kehidupan masyarakat yang saat itu banyak melakukan tindakan tak terpuji. Situasi itu membawa Rakai Panangkaran, -seorang tokoh spiritual pada masa tersebut-, menyampaikan amanat kepada Raja Smaratungga untuk mengajarkan kepada mereka jalan kehidupan yang baik dengan pembangunan sebuah candi yang berbentuk batu berundak dengan konsep ajaran kamadhatu, rupadathu dan arupadhatu. Keputusan penting yang diambil pada abad ke 8 itu diawali dengan penunjukan Guna Dharma sebagai pemimpin pembangunan Candi Borobudur. Dan sebagaimana sebuah proses pembangunan Mahakarya yang memakan waktu lama, dikisahkan pula situasi kehidupan masyarakat yang penuh suka duka, turun naik selaras dengan perjalanan waktu. Lalu dengan kemauan yang kuat dari Raja Smaratungga dan didukung kekuatan doa serta kekuatan masyarakat untuk tetap membangun Borobudur, pada akhirnya Candi Borobudur bisa tegak berdiri dengan megahnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Cerita yang sederhana di balik keanggunan Candi Borobudur yang berdiri di latar belakang. Saya ikuti pertunjukan yang ditarikan dengan puluhan penari ISI Surakarta. Beberapa adegan terasa berulang sehingga saya sempat seperti melihat pertunjukan dengan tombol rewind. Hanya ada satu adegan tarian yang diiringi bunyi-bunyian gemerincing di kaki dan tangan sehingga membuat atmosfir pertunjukan terasa dinamis. Ditambah dengan sebuah momen tiba-tiba lampu dinyalakan terang dan binatang-binatang ternak, bebek-bebek dan kambing serta penari yang berbusana rakyat petani berjalan mondar mandir di depan panggung dekat dengan para tamu, sebuah momen yang mengejutkan, menyegarkan dan membuat senyum tersungging di wajah para penonton.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saya menyaksikan pertunjukan ini dengan harapan yang tinggi. Pertunjukan Mahakarya Borobudur ini indah walaupun terasa kurang garam. Kekuatan kata Mahakarya yang digunakan dalam judul pertunjukan sepertinya melambungkan harapan para penonton, seakan-akan menjadikan pertunjukan ini sebuah mahakarya. Padahal yang Mahakarya adalah Borobudurnya, bukan pertunjukannya.

Pertunjukan ini memang cenderung kolosal, walaupun tidak sekolosal yang dibayangkan. Juga latar belakang Borobudur yang disinari lampu dari belakang memang membuat efek magis. Dan memang tidak dapat dipungkiri, yang membuat cantik itu Candi Borobudurnya, yang bagi saya selalu membuat saya penuh cinta kepadanya.

Imajinasi saya tentang pertunjukan di Borobudur yang akan membuat merinding karena kekuatan rasa sebuah pagelaran seni, tidak terjadi. Saya selalu membayangkan penari-penarinya muncul dari replika stupa-stupa Borobudur sehingga terasa menyatu dengan candi Borobudur yang megah. Seperti pertunjukan tari Apsara yang pernah dilakukan di pelataran Angkor Wat, Kamboja pada waktu malam yang terasa mistis, lengkap dengan lilin dan obor sepanjang jalan lorong-lorongnya.

Dan bagi saya, mungkin juga bagi penonton asing yang mencari makna di balik pertunjukan tari ini, sungguh sayang tidak tersedia buku acara atau lembaran buku acara yang bisa dibagikan, atau bahkan dijual mengenai tahapan-tahapan pertunjukan tari. Bukankah hal itu bisa menjadi lahan pemasukan dana bagi penyelenggara?

Walaupun demikian, saya sangat mengapresiasi pertunjukan ini sebagai upaya wisata malam di Candi Borobudur. Saya percaya bahwa seni pertunjukan di Indonesia bisa lebih meningkat karena Indonesia tidak akan pernah kekurangan kreativitas untuk menciptakan hal-hal baru yang lebih hebat.

Mengintip Puncak Merapi dari Balik Legenda Candi Sewu


Konon, suatu hari yang indah di bumi Mataram…
 
Seorang puteri raja yang cantik jelita, Roro Jonggrang namanya, tengah meratapi kematian ayahnya, Prabu Boko, yang gugur di tangan Sang Pangeran dari Kerajaan Pengging, kerajaan di sebelah wilayah kerajaan Boko.
 
Sementara itu, Bandung Bondowoso, nama Sang Pangeran yang terkenal sakti itu, tengah berupaya menaklukkan rasa gundahnya karena telah membunuh ayah dari Roro Jonggrang. Sebagai Pangeran, ia harus menjaga keutuhan wilayah kekuasaan kerajaannya, tetapi di sisi lain, ia tak sampai hati melihat penderitaan seorang puteri cantik. Untuk menebus rasa bersalahnya, sebagai laki-laki sejati ia berniat menikahi Roro Jonggrang sehingga ia bisa menjaga Sang Puteri seumur hidupnya.
 
Perasaan tulus ikhlas Bandung Bondowoso ingin memperisteri Roro Jonggrang, disambut Sang Puteri dengan perasaan campur aduk. Tentu saja Roro Jonggrang tidak mau menerima lamaran Bandung Bondowoso, pembunuh ayahnya. Tetapi sebagai seorang puteri, ia harus menggunakan cara-cara yang anggun untuk menolak lamaran tanpa terlihat sikap penolakannya. Setelah berpikir keras, Roro Jonggrang bersedia menerima lamaran dengan dua syarat, yakni Bandung Bondowoso harus membuat sebuah sumur Jalatunda dan seribu candi yang harus selesai dalam sehari semalam. Yakin akan kesaktiannya, Bandung Bondowoso menerima persyaratan itu.
 
Bandung Bondowoso dengan mudah menyelesaikan pembuatan sumur Jalatunda. Tak percaya persyaratan pertama telah selesai dan teringat ia harus bersanding dengan laki-laki pembunuh ayahnya, Roro Jonggrang berusaha memperdaya Bandung Bondowoso dengan memintanya memeriksa kekuatan dinding sumur. Ketika Bandung Bondowoso berada di dasar sumur, Roro Jonggrang bersama dayang dan pembantu istana berusaha mengubur hidup-hidup Bandung Bondowoso dengan timbunan tanah. Namun, karena kesaktiannya, ia berhasil keluar dari timbunan tanah itu. Bandung Bondowoso sempat marah karena tipu daya Roro Jonggrang, tetapi Sang Puteri berhasil memadamkan kemarahannya karena gerak gemulai, rayuan dan kecantikannya. Bandung Bondowoso pun luluh hatinya dan bermaksud menyelesaikan persyaratan ke dua.
 
Karena kesaktiannya, Bandung Bondowoso berhasil meminta bantuan para makhluk halus untuk membangun 1000 candi. Melihat pekerjaan membangun 1000 candi itu hampir rampung, Roro Jonggrang membangunkan para dayangnya dan perempuan desa untuk mulai menumbuk padi pada lesung dan membakar jerami pada sisi Timur seakan-akan pagi telah datang. Bahkan ayam-ayam pun terpedaya dan mulai berkokok melihat kegiatan pagi sudah berlangsung. Mengira bahwa sebentar lagi sang mentari akan terbit, para makhluk halus lari tunggang langgang meninggalkan pekerjaan yang sudah mencapai 999 candi sehingga Bandung Bondowoso dinyatakan gagal memenuhi syarat yang diajukan Roro Jonggrang. Mengetahui bahwa kegagalan itu sebagai akibat dari tipu muslihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso murka. Ia tak lagi percaya akan gerak gemulai dan kecantikan Roro Jonggrang. Dalam kemurkaannya ia mengutuk Rara Jonggrang menjadi batu, melengkapi menjadi candi yang ke seribu.
 
Itulah legenda asal muasal Candi Sewu yang konon merupakan 999 candi yang belum rampung, dan arca Durga di ruang utara candi Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan dikenal sebagai Candi Roro Jonggrang yang berarti gadis yang cantik semampai.
 
<><><> 
Candi Sewu - Candi utama
Candi Sewu – Candi utama

Legenda Roro Jonggrang yang sudah diceritakan sejak kecil itu kembali memenuhi benak ketika saya melangkah melalui pintu tak resmi Candi Sewu yang biasa digunakan bagi para petugas candi yang terletak di sebelah utara. Hanya ada seorang petugas yang ramah menyapa saya yang datang kepagian.  Mungkin terasa janggal melihat ada pengunjung yang datang pagi-pagi ke Candi yang juga jarang dikunjungi walaupun bersebelahan dengan Candi Prambanan. Tidak ada tiket masuk, tetapi saya tetap meletakkan beberapa lembar uang donasi pemeliharaan candi karena kecintaan saya kepada bebatuan peninggalan sejarah itu. Dan selanjutnya saya seakan lebur di dalam atmosfer candi.

Candi Sewu, hamparan batu yang terserak
Candi Sewu, hamparan batu yang terserak

Entah apa yang terbentuk dalam pikiran, ketika melihat reruntuhan batu candi, saya selalu merasa antusias. Demikian juga ketika saya melihat hamparan batu tak beraturan di depan mata ini. Menurut  legenda, inilah hasil kerja para makhluk halus yang lari tunggang langgang karena menganggap pagi sudah datang. Ribuan batu tak beraturan, hamparan candi yang belum sepenuhnya rampung. Candi Sewu, yang berarti seribu dalam bahasa Jawa, hanya menunjukkan hiperbolisme tutur bahasa Jawa sebagai pengganti kata banyak sekali. Walaupun menurut sumber yang bisa dipercaya, sebenarnya Candi Sewu hanya berjumlah 249 yang terdiri dari 1 Candi Utama, 8 Candi Pengapit dan 240 Candi Perwara dan semua disusun dalam posisi yang simetris dengan Candi Utama yang besar berada di tengah-tengah. Saya membayangkan tampak aerialnya dari udara, pasti luar biasa cantik. Ah, sepertinya saya harus meminjam baling-baling bambunya Doraemon untuk melihat keindahan ini…

Dan hmm… karena melalui pintu tak resmi, saya tak disambut oleh dua patung Dwarapala yang saling berhadapan menjaga candi di gerbang pelataran luar di tiap arah mata angin. Bahkan untuk menekankan betapa kuat ‘penjagaan’nya, antara pelataran luar dan pelataran dalampun dipisahkan dengan sepasang dwarapala yang memegang gada. Bagaimanapun nanti saya harus melewati dua Dwarapala yang ada di pelataran dalam untuk masuk ke Candi Utama.

Candi Sewu, yang belum selesai menurut legendanya
Candi Sewu, yang belum selesai menurut legendanya

Langkah saya pelan menapaki pelataran luar candi yang dibangun pada abad 8 atas perintah penguasa Mataram saat itu, Rakai Panangkaran dan Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Sebuah contoh nyata seorang penguasa yang mengedepankan toleransi kehidupan beragama rakyatnya. Candi Sewu memang merupakan candi Buddha yang saat itu digunakan untuk berbagai kegiatan peribadatan bagi masyarakat bumi Mataram yang beragama Buddha.

Dari pelataran luar saya bisa menikmati Gunung Merapi di kejauhan yang puncaknya seperti terbelah sebagai akibat kegiatan vulkaniknya yang frekuentif. Inilah enaknya berkunjung pada pagi hari, belum ada pengunjung lain dan kondisi langit bersih. Entah kenapa melihat Gunung Merapi, sehelai benang lamunan terbang memintal legenda Candi Sewu. Tak ingin berpikir jauh, segera saya mencabutnya dari taman pikiran dan kembali menikmati bangunan-bangunan batu yang berdiri megah.

Puncak Merapi dan Stupa Candi Sewu, diantara banyak legenda dan mitos
Puncak Merapi dan Stupa Candi Sewu, diantara banyak legenda dan mitos

Saya memandangi Candi Utama penuh kekaguman. Sungguh saya menyukai arsitektur candi utama karena bentuknya yang bersudut-sudut, atap seakan berlapis dan memiliki pembatas yang dibentuk indah setinggi sekitar 1 meter. Di abad ketika teknologi penggunaan semen belum ditemukan, rumus rumit matematis konstruksi dan ketahanan material belum dihitung, Candi Sewu dibangun hingga ketinggian sekitar 30 meter dan menariknya di tiap atap yang berjumlah 9 itu terdapat stupa pada puncaknya. Sungguh saat itu leluhur kita berada dalam sebuah peradaban yang membanggakan (dan pikiran saya terbang ke Candi Prambanan yang lebih tinggi daripada Candi Sewu dan berlokasi di kompleks sebelah, hingga kini di abad 21, kita masih kesulitan teknologi untuk melakukan pembersihan puncak-puncak Candi!)

Candi Sewu - Candi Utama dilihat dari sudut candi pengapit
Candi Sewu – Candi Utama dilihat dari sudut candi pengapit

Seakan telah mendapat izin dari dua Dwarapala bergada, saya menaiki tangga Timur Candi Utama yang berhiaskan makara menuju selasar Candi. Di ketinggian lantai ini, saya terpana menikmati lebih jelas keindahan puncak Merapi yang seakan terbelah. Pagi yang luar biasa! Lagi-lagi sejumput lamun terbang menggoda benak, teringat legenda kesaktiannya, apakah Bandung Bondowoso masih dalam kemurkaan abadinya sehingga membelah Puncak Merapi? Dan bukankah beredar pula mitos bagi pasangan yang belum menikah akan bubar jika berkunjung ke Candi Prambanan? Ah, nakalnya lompatan lamunan ini…

Gunung Merapi di antar Stupa Candi Sewu
Gunung Merapi di antar Stupa Candi Sewu

Sambil tersenyum mengusir lamunan, pelan saya melangkah ke ruang dalam Candi yang memiliki tempat untuk meletakkan benda-benda untuk peribadatan. Mungkin demi keamanan, benda-benda ini sudah diselamatkan terlebih dahulu ke museum dan meninggalkan relung kosong. Kemudian saya melangkah menyusuri Candi hingga ke sisi Barat.

Dari Pintu Ruang Dalam Candi Sewu
Dari Pintu Ruang Dalam Candi Sewu
Gunung Merapi diantara tiga Candi Pengapit di Candi Sewu
Gunung Merapi diantara tiga Candi Pengapit di Candi Sewu

Di balik keteduhan Candi karena tak terkena sinar matahari pagi, saya melihat pelataran yang juga dilengkapi oleh Candi Pendamping dan Candi Perwara dan ribuan reruntuhan batu yang masih belum tersusun. Candi Pendamping membelah jalan untuk mencapai pintu masuk dan  memiliki relief pada dinding berupa sosok laki-laki berbusana bangsawan yang sedang berdiri. Ratusan Candi Perwara terhampar di pelataran luar.

Siapakah Dia? - Relief di Candi Sewu
Siapakah Dia? – Relief di Candi Sewu
Candi Sewu - Relief di Candi Pengapit
Candi Sewu – Relief di Candi Pengapit
Hiasan-hiasan pada Candi Pengapit di Candi Sewu
Hiasan-hiasan pada Candi Pengapit di Candi Sewu

Saya menikmati setiap detiknya berada di Candi Sewu tanpa kehadiran pengunjung lain sambil menikmati pemandangan indah Gunung Merapi di kejauhan. Hamparan batu candi berserakan di pelataran membuat saya tersenyum sendiri. Bagi saya candi ini luar biasa berkesannya. Rapi sekaligus berantakan, Yin dan Yang, Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, kasih sayang dan kebencian… Sebuah harmoni.

Candi Sewu - Rapi dan Berserakan dalam Harmoni
Candi Sewu – Rapi dan Berserakan dalam Harmoni

Matahari pagi pelan-pelan mulai meninggi. Sayup-sayup terdengar suara bus-bus yang mulai berdatangan memenuhi tempat parkir Candi Prambanan yang letaknya bersisian dengan Candi Sewu. Ah, sebentar lagi pengunjung lain akan berdatangan memberi warna lain pada candi. Saya bangkit membereskan barang bawaan dan melangkah pulang bersama legenda Roro Jonggrang…

Ke Sangiran: Belajar Menghargai Harta Karun Kita


Hingga saat ini telah ditemukan tidak kurang dari 100 individu fosil Homo erectus di Sangiran. Jumlah ini mewakili lebih dari setengah populasi Homo erectus di dunia…

Dari hasil penelitian genetika, khususnya Mitochondiral DNA, diketahui bahwa seluruh umat manusia yang ada sekarang ini berasal dari seorang wanita yang pernah hidup sekitar 200.000 tahun yang lalu di Afrika Timur ….

sangiran_whsItulah kalimat-kalimat yang menarik perhatian di Museum Manusia Purba Sangiran, Solo, Jawa Tengah. Dan semakin dalam memasuki ruangan-ruangannya, saya seperti dibawa mesin waktu ke ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, menelusuri kehidupan luar biasa yang pernah ada saat itu di Jawa, di Indonesia, di negara kita. Dan bukti-bukti adanya kehidupan jutaan tahun lalu itu masih ada, menjadi harta karun tak ternilai bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Ada di sini, di Indonesia!

Mungkin sama dengan Anda, bagi saya, Sangiran merupakan kata yang hanya ada ketika masih duduk di bangku sekolah dalam ilmu geografi kependudukan dan sejarah, dan setelah itu tenggelam kalah dari berbagai prioritas kehidupan lain yang lebih penting. Dan baru-baru ini seorang kawan yang datang jauh-jauh dari Philippines hanya untuk mendatangi Sangiran yang menyebabkan saya mencari tahu lebih jauh tentang Sangiran. Katanya santai, Sangiran adalah UNESCO World Heritage Site yang mudah dicapai dari Jogjakarta. Dan rasanya saya tertampar keras dengan pernyataan santainya itu, karena sebagai orang yang sudah menganggap Jogjakarta sebagai rumah kedua, tidak pernah sekalipun saya berkunjung ke Sangiran. Sedangkan badan dunia UNESCO dan masyarakat internasional mengakui dan mengesahkan Sangiran di Indonesia telah memenuhi persyaratan sebagai salah satu situs warisan dunia. Dan saya, sebagai warga negara Indonesia, bahkan belum pernah menginjakkan kaki di sana! Dan karena itulah saya langsung merencanakan mengunjungi Museum Manusia Purba Sangiran.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sangiran, sekitar 17km di Utara Solo menuju Purwodadi, tepatnya di desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe. Untuk mencapainya cukup mudah. Bila berkendara dari Jogja atau Solo, ambil jalan besar ke Utara menuju Purwodadi dan berbelok ke kanan pada pertigaan Kalijambe. Tidak perlu takut tersesat karena di pertigaan jalan besar itu terdapat gapura berbentuk kolom-kolom batu bertuliskan Situs Sangiran. Dari pertigaan itu jalan terus sepanjang 3-4 km hingga sampai ke Museum Manusia Purba. Untuk kendaraan umum, terdapat bus dari Solo menuju Purwodadi dan berhenti di pertigaan Kalijambe dan dilanjutkan dengan menggunakan ojek untuk ke Museum.

Museum dibuka hari Selasa sampai dengan Minggu, pk.08:00 – 16:00. Tutup setiap hari Senin. Harga tiket masuk untuk wisatawan Indonesia Rp. 5.000,- atau Rp 11.500,- untuk wisatawan asing. Hanya sekitar US$1,- untuk masuk, termasuk sangat murah dibandingkan museum-museum serupa di beberapa negara. Pemutaran film bisa dilakukan dengan harga Rp. 60.000,- per rombongan. Tempat parkir luas bisa menampung bus dan mobil cukup banyak, tersedia juga warung makan dan kios-kios penjual cinderamata dan kaos berbagai ukuran dan motif. Hanya saja diperlukan kejelian mata dalam memilih kualitas cinderamata/kaos dan tentu saja ketrampilan menawar. Sayang sekali saya tidak bisa memastikan apakah museum ini bisa diakses oleh para disable mengingat banyaknya tangga.

Tidak seperti di tempat-tempat lain yang bergelar World Heritage Site yang memperlihatkan simbol UNESCO dan gelar yang diraih secara lebih menyolok, Museum Manusia Purba Sangiran hanya meletakkan tanda gelar internasional yang diraih itu pada sebuah pohon beringin besar yang ada di depan penjual cinderamata/kaos. Sayang sekali sebenarnya karena simbol itu merupakan pengakuan dari sebuah badan dunia dan dunia internasional terhadap apa yang ada di bumi Indonesia. Tidak mudah sebuah tempat mendapatkan gelar World Heritage Site karena harus lolos melewati kriteria-kriteria yang rumit dan sudah standar di seluruh dunia. UNESCO sendiri menetapkan Sangiran sebagai World Heritage Site no 593 pada 5 Desember 1996 dengan sebutan Sangiran Early Man Site

Museum Manusia Purba Sangiran memiliki 3 Ruang pamer: Kekayaan Sangiran, Langkah-Langkah Kemanusiaan, dan Masa Keemasan Homo Erectus – 500.000 tahun yang lalu. Ketiga ruang pamer itu memiliki kekuatan masing-masing walaupun tidak jarang hal yang sama berulang di tempat yang lainnya.

Setelah pemeriksaan tiket masuk, pengunjung diarahkan ke kiri menyusuri selasar berkolom banyak di sisi-sisinya, secara tak sadar kita sebenarnya sedang berjalan di atas lapisan vulaknis paling tua, hasil aktivitas erupsi gunung Lawu purba yang telah mengeras selama 1.8 juta tahun.

Memasuki ruang pertama: Kekayaan Sangiran, di dalamnya terdapat penjelasan mengenai evolusi manusia, koleksi fosil fauna yang dimiliki seperti buaya, herbivora bertanduk besar, kudanil purba, dan gajah purba serta binatang-binatang laut seperti penyu dan kerang-kerangan. Juga penggambaran mengenai kehidupan sehari-hari Homo erectus di Sangiran. Yang menarik di ruang ini juga ditampilkan temuan-temuan terbaru setahun terakhir ini berupa rahang bawah, tulang panggul dan tulang paha dari gajah purba yang diperkirakan hidup 250.000 – 730.000 tahun yang lalu!

Kemudian, di ruang di sebelahnya dijelaskan mengenai type Homo erectus yang ada di Indonesia. Bahwa dalam waktu 1.5 juta tahun terjadi 3 tahap evolusi Homo erectus di Jawa., dua tingkat diantaranya terjadi di Sangiran (type arkaik 1.5- 1 juta tahun yang lalu; dan type tipikal 0.9 – 0.3 juta tahun yang lalu). Tipe termuda yaitu type progressif terdapat di Blora, Sragen dan Ngawi. Tidak itu saja, di tempat yang sama dipamerkan pula teknik-teknik yang dimiliki Homo erectus seperti alat pemangkasan dan pembuatan alat batu. Yang menarik untuk pelajar yang masih anak-anak adalah teknik rekonstruksi terhadap POPO, seekor kudanil dari Bukuran yang memiliki 119 buah fossil yang dirangkai menjadi kesatuan fosil hewan yang utuh.

Dan bagi yang belum mengetahui teori manusia berasal dari kera secara dalam, mungkin perlu datang ke museum ini dan mencari informasi mengenai Kera dan Manusia di ruang pertama ini. Penjelasan yang disampaikan sangat menarik.

Ruang pamer kedua: Langkah-langkah Kemanusiaan, mengisahkan teori dari Big Bang hingga Sangiran tercipta termasuk pengungkapan orang-orang yang memiliki teori terkait dengan perkembangan evolusi manusia. Homo erectus bukanlah manusia yang pertama (sebelumnya sudah ada genus Homo habilis (genus manusia) yang hanya tinggal di Afrika). Namun Homo erectuslah merupakan manusia pertama yang menjelajah dunia, tidak hanya sabana dan hutan terbuka di daerah tropis, juga di daerah sub-tropis di Eropa dan Asia, termasuk beradaptasi pada lingkungan laut dan mengembangkan teknologi pelayaran yang paling primitif agar bisa menyeberangi pulau.

Di ruang ini pula kita bisa mengenal para pionir dari Museum Sangiran ini. Dan tidak kalah menariknya penjelasan dalam bentuk audio visual mengenai terbentuknya pulau-pulau di Indonesia dalam kerangka waktu jutaan tahun yang lalu.

Salah satu yang mengejutkan, Raden Saleh, yang kita kenal sebagai maestro seni lukis Indonesia yang terkenal, ternyata dikenal juga sebagai kolektor balung buto (fosil hewan purba dari Sangiran) sehingga dikenal pula oleh para ilmuwan Eropa saat itu, karena koleksinya yang cukup lengkap.

Yang seru juga di dalam ruang ini, Homo erectus dikabarkan melakukan kanibalisme karena temuan fosil biasanya tanpa wajah dan dasar tengkorak, atau ditemukan banyak fosil tengkorak tetapi tidak disertai dengan anggota tubuh lainnya. Benarkah demikian? Lagi-lagi penjelasan yang disampaikan sangat menarik. Untuk pastinya, datang saja ke Museum ini…

Dan satu lagi, Homo erectus alias Pithecantropus yang berawal dari Afrika, mampu menjelajah daerah sabana, Asia Barat, India hingga Asia Tenggara dan tinggal di Jawa sekitar sejuta tahun lalu. Dan semuanya musnah sekitar 100.000 tahun lalu, lalu jika kita bukan dari Homo erectus, lalu dari manakah manusia Indonesia yang ada sekarang ini? Ternyata, jawabannya seru juga…

Di ruangan ini pula juga bisa dilihat bagaimana sebuah fosil itu ditemukan dalam keadaan lengkap atau dalam keadaan terlipat dalam goa-goa abadi. Tidak dilarang untuk berfoto seperti seorang ahli arkeologi bersama fossilnya.

Dalam ruang ketiga – Jaman keemasan Homo erectus sekitar 500.000 tahun yang lalu, digambarkan dalam 3 dimensi tentang kehidupan sehari-hari Homo erectus dan lingkungannya yang berupa sabana yang luas sepanjang horison. Dengan demikian pengunjung bisa memiliki bayangan bagaimana Homo erectus hidup dalam jamannya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sekeluar Museum kita bisa menikmati tempat-tempat istirahat yang nyaman dan berangin, sambil berfoto dengan latar belakang gedung museum yang cukup menarik bentuknya.

Karena keterbatasan waktu saya tidak sempat melihat menara pandang yang berjarak tidak jauh dari Museum. Dari Menara Pandang ini bisa disaksikan betapa luas Kubah Sangiran (Sangiran Dome) yang merupakan area yang ditetapkan sebagai situs arkeologis Sangiran di Indonesia.

Saya sudah menjejakkan kaki di sana dan kagum akan kekayaan fosil yang ada untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, Masyarakat internasional dan badan dunia telah mengakui harta karun yang ada di Indonesia ini, lalu kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menghargainya dan memelihara kehebatannya? Yuk berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran!

Pesona Candi Banyunibo, Eksotik Berselimut Sepi


Candi Banyunibo

Apa rasanya mengunjungi sebuah Candi mungil yang berdiri menyendiri di tengah rimbunnya tebu dan persawahan serta perkebunan, tanpa banyak pengunjung lain? Ya, Candi yang mempesona dengan sebuah kesepian yang terasa menggigit, hanya ditemani semilir angin, penduduk dusunpun hanya lewat sekali-sekali.

Itulah suasana Candi Banyunibo, sebuah candi yang beratapkan stupa yang merupakan ciri khas Buddha dan dibangun sekitar abad ke-IX pada zaman kerajaan Mataran Kuno, yang berada tidak jauh dari kompleks Candi Ratu Boko. Terletak pada posisi GPS  S7.777930 – E110.493970, Altitude 183 meter, di dataran rendah di Desa Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lokasinya memang menyendiri, cenderung eksklusif, tersembunyi di daerah pertanian di balik rumpun tebu atau pohon-pohon pisang dengan latar belakang perbukitan Gunung Kidul di kejauhan arah selatan. Tapi pemandangan sepanjang perjalanan menuju area Candi memang sangat memanjakan mata. Jika tepat waktunya, sawah terbentang di kanan kiri dengan tanaman padi dan sayuran yang menghijau ditambah latar belakang bukit yang mempesona, apalagi datang kala mentari sore bersinar yang sudah tidak terlalu terik dan kering. Luar biasa.

Lanjutkan membaca “Pesona Candi Banyunibo, Eksotik Berselimut Sepi”

Candi Ijo, Mungil Mempesona


Dalam Lebaran tahun lalu, datang kesempatan tidak terduga untuk mendatangi Candi Ijo, di selatan Prambanan, Yogyakarta. Pada awalnya tidak ada rencana untuk melihat Candi Ijo, namun karena masih ada waktu sebelum mengejar pesona matahari tenggelam di Candi Ratu Boko, maka kendaraan diarahkan ke Candi Ijo.

Untuk sampai ke Candi Ijo, ikuti saja jalan menuju Candi Ratu Boko, sekitar 5 kilometer berbelok ke kanan jika berangkat dari Jogja menuju Solo saat sampai di perempatan besar Prambanan atau mengarah ke Wonosari. Jangan berhenti pada parkir bawah Candi Ratu Boko, teruskan saja seakan hendak ke pelataran Candi Ratu Boko. Kemudian ikuti arah ke Candi Ijo di sebuah perempatan dimana arah Candi Boko dan Candi Ijo saling berlawanan (Candi Ratu Boko ke kiri, sedangkan Candi Ijo ke kanan). Yang mungkin perlu diperhatikan adalah cukup sempitnya jalan menuju Candi Ijo, berbukit kapur, memiliki tanjakan yang cukup terjal.

Candi Ijo secara resmi terletak di Bukit Ijo, Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman Yogyakarta dengan koordinat GPS S7°47’2.2″ E110°30’44.2″. Ketika meninggalkan area Candi Ratu Boko, jalan mulai menanjak dan semakin tinggi. Walaupun namanya Bukit Hijau, namun dimana-mana terlihat pohon-pohon yang coklat kering. Mungkin karena desa itu termasuk daerah yang kurang subur ditambah pengaruh musim kemarau yang berkepanjangan. Walaupun demikian, semakin tinggi perjalanan, pemandangan indah semakin menjanjikan karena Candi Ijo berada di ketinggian sekitar 400-an meter di atas permukaan laut dengan pemandangan lepas ke sekitarnya.

Lanjutkan membaca “Candi Ijo, Mungil Mempesona”