Taman Burung, Santainya Kita Penjaranya Mereka


Give your stress wings and let it fly away – Terri Guiletmets

Taman Burung di Taman Mini Indonesia Indah merupakan salah satu tempat saya melarikan diri di akhir minggu di kala kepenatan hidup sehari-hari dirasa terlalu menekan. Tetapi bisa jadi karena saya penggemar merak dan saya hanya tahu di Taman Burung itulah saya bisa melihat merak yang hidup (meskipun kadangkala otak kartun saya yang sering tidak berperikebinatangan ini tak jarang membayangkan mencabut bulu merak dalam keadaan hidup saat saya sedang jengkel banget! Sadis ya… )

Tetapi di Taman Burung itu tidak hanya ada merak. Masih banyak jenis burung lain yang sangat menarik. Saya bersyukur sekali hidup di Indonesia yang memang sangat kaya dengan begitu banyak variasi jenis burung. Tanpa perlu menghafal nama-nama latin yang sulit dari Kingdom Animalia berkelas Aves ini, paling sedikit kita hanya perlu duduk diam mensyukuri dan menikmati keindahan keberagaman makhluk ciptaan Tuhan ini.

Jadi, beberapa waktu lalu, bersama suami, saya berangkat ke Taman Mini, hanya untuk menikmati merak yang berjalan bebas hilir mudik.

DSC06660
Peacock

Dan tetap saja pikiran ‘gila’ saya mengamati keindahan bulunya dan membayangkan seandainya satu bulunya bisa saya bawa pulang ke rumah!

Tidak hanya itu, segera setelah pintu masuk, kita dapat berfoto bersama burung Kakaktua berbulu hitam, burung Nuri (macaw) yang berbulu biru dengan dada kuning dan burung Enggang. Saya sempat berfoto dengan mereka dan merasakan cakar-cakarnya menekan permukaan kulit lengan. Rasanya geli menggemaskan ketika mereka berjalan di lengan saya! Bahkan jam tangan saya pun disangka makanan dan dipatuk-patuk (untung saja saat itu saya menggunakan jam tangan outdoor yang tahan banting).

Selepas merasakan dijelajahi cakar-cakar burung, saya santai berjalan dan menyaksikan si burung botak yang kelihatannya ringkih sedang berjalan juga. Melihatnya, mengingatkan saya akan burung serupa, –yang termasuk keluarga bangau ini-, yang pernah saya lihat di Danau Tonle Sap di Kamboja. Namun jika diperhatikan secara seksama, mukanya terlihat tidak bersahabat dan terkesan galak 😀 Akhirnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pelan-pelan saya bergerak menjauhinya pada saat ia terlihat mendekati saya, alias kabur pelan-pelan…

Langkah saya membawa ke sangkar burung hantu yang sedang bertengger tak bergeming. Saya harus memutar otak untuk memotretnya karena jeruji sangkarnya dibuat sangat rapat dan dia bertengger cukup tinggi. Burung hantu memiliki bentuk wajah yang menurut saya sangat eksotis, gelap dan misterius. Kemampuan dirinya untuk bertengger diam untuk waktu yang cukup lama tak mengherankan. Benar-benar ‘tekun’ untuk berdiam diri. Tak aneh, jika dalam fabel biasanya ia menjadi menjadi sumber pengetahuan.

DSC06654
Owl

Langkah kaki membawa saya ke wilayah si merak. Dia sibuk hilir mudik mematuk-matuk sesuatu. Mungkin berharap ada makanan tersebar di sekitar dirinya. Ah, kelihatannya dia sedang enggan memekarkan ekornya yang cantik itu. Ya sudahlah, saya juga tidak berharap banyak kepadanya sehingga saya meneruskan langkah.

Di sekitarnya banyak burung yang sepertinya masih keluarga si merak. Mereka bergerak bebas, ada juga yang berada di kandangnya. Seperti umumnya merak, ada yang memiliki bulu berwarna biru kehitaman yang sangat menarik dan sepertinya glossy. Tak jauh dari situ, ada seekor burung juga masih keluarga si merak yang sedang menyembunyikan kepalanya. Ah, ia seperti hanya seonggok daging tak berbentuk dengan bulu yang indah. Bisa jadi dia malu terhadap saya! 🙂

Selesai tersenyum-senyum melihat lagak si merak, saya melanjutkan langkah ke sebuah sangkar besar. Dan mendadak saya merasa stress yang dirasakan seminggu bekerja ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang diterima makhluk di depan saya ini.

Elang!

Bertengger dengan gagah, mata tajamnya berkedip sesekali, selaras gerak kepalanya yang mencari bunyi-bunyian dari shutter kamera. Saya sungguh tidak tega. Saya mengenal elang sebagai burung yang mampu terbang sangat tinggi dan jauh. Dan kini ia terpenjara dalam sangkarnya yang tidak sebanding dengan kualitas kemampuan seekor elang. Ia tak bebas lagi terbang tinggi. Tanpa salah, ia menjadi tak beda seperti seorang penjahat yang terpenjara. Hanya untuk menyenangkan hati dan memuaskan rasa ingin tahu manusia-manusia seperti saya.

Kenyataan di hadapan ini membukakan mata, bahwa saya selama ini memiliki andil tak langsung memenjarakan si gagah elang, alih-alih membiarkannya bebas terbang di alam. Bagaimana rasanya kalau kita terpenjara meskipun tak bersalah? Saya menggigit bibir memikirkan keadilan baginya. Dan dalam sekejap mata, saya pun disergap oleh sebuah pemahaman. Sebuah keikhlasan.

Si gagah elang telah menerima takdirnya mengorbankan kehidupan bebasnya untuk begitu banyak manusia. Rasanya saya tertampar sangat keras menyadarinya. Sebuah pertanyaan terasa menggaung di telinga hati. Seberapa besar pengorbanan kenikmatanmu untuk manusia lain? Apakah seluruh sisa hidupmu?

DSC06680
Eagle

Saya mendadak kehilangan mood untuk berjalan-jalan lebih jauh. Mendadak saya ingin mengakhiri kunjungan ke Taman Burung ini tetapi pintu keluar masih jauh di depan. Saya mempercepat langkah menuju danau buatan, yang di dekatnya terlihat seekor pelikan dan angsa hitam yang sedang bermain air mendinginkan tubuh.

Di dekatnya, dalam gua buatan yang memiliki terowongan, terdapat burung-burung dengan bulu warna-warni. Sepertinya mereka dijadikan obyek foto bagi pengunjung.

Sambil bergerak menuju pintu keluar saya melihat burung-burung besar seperti kasuari. Melihat burung-burung ini hanya bisa bergerak hingga ke batas pagar-pagarnya, saya semakin gundah, apalagi ia menyelipkan kepalanya diantara besi pagar untuk menoleh ke kiri dan ke kanan, entah mengapa.

Saya menarik nafas setelah melewati pintu keluar. Baru kali ini, saya meninggalkan Taman Burung dengan berbagai rasa yang saling bertentangan. Mereka, -ciptaan Tuhan yang juga mendiami bumi ini-, dengan ikhlas menerima takdirnya untuk kehilangan kehidupan bebasnya, untuk hidup terpenjara demi ‘kelanjutan’ kehidupan manusia yang semakin berpengetahuan yang mengembangkan peradaban. Dari Taman Burung kali ini saya menerima sebuah pembelajaran tentang keikhlasan dan pengorbanan dari makhluk yang tunduk pada hukumNya.

Lalu bagaimana dengan kita…?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-24 ini bertema Animalia agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Main Ke Rumah Si Pitung Di Marunda


 

Rumah Si Pitung

Siapa orang Betawi yang tidak kenal si Pitung? Dialah Sang Legenda Robin Hood dari Betawi pada akhir abad 19 yang telah berhasil mempermalukan Kepala Polisi Batavia dan meresahkan pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera pada masanya.

Selama delapan tahun, 1886 – 1894, Si Pitung melakukan aksi perampokan uang dan emas permata yang bernilai tinggi terhadap saudagar-saudagar kaya yang dinilainya bersekutu dengan Belanda lalu konon ia membagikan rampasannya kepada orang-orang miskin, namun selalu berhasil lolos dari kejaran polisi. Sempat sekali tertangkap, tapi seperti belut, dengan mudahnya Si Pitung yang bernama asli Salihun ini melarikan diri dari penjara Meester Cornelis di tahun 1891. Dan tidak tanggung-tanggung Sang Jawara ini mempermalukan Pemerintah Hindia Belanda karena ia bisa hilir mudik dengan kereta api tepat di depan hidung Sang Kepala Polisi. Dan bukannya mereda, Si Pitung bahkan berhasil membinasakan Demang Kebayoran yang memusuhi petani-petani serta tak henti-hentinya meresahkan pemerintah kolonial saat itu.

Tak terbayangkan gusar dan marahnya Penasehat Pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera yang bernama Snouck Hurgronje kepada Kepala Polisi Batavia, Schout Hijne, yang selalu gagal menangkap satu orang Bumiputera yang bernama Si Pitung ini. Pelecehan jabatan yang dilakukan Si Pitung terhadap Schout Hijne ini membuat Sang Kepala Polisi menghalalkan segala cara untuk menangkapnya, termasuk mendatangi dukun untuk mencari penawar jimat keberuntungan Si Pitung. Tindakan ini makin membuat Snouck Hurgronje hilang akal karena yang dilakukan Sang Kepala Polisi dianggap sangat memalukan dan tidak terpelajar. Tetapi kegagalan terus menyelimuti penguasa saat itu, karena ketika menggerebek rumah Si Pitung di Rawa Belong, mereka hanya menemukan uang 2.5 sen pada tiang bambu. Bahkan kabar kematiannya tetap tak jelas, apalagi keberadaan makamnya.

Dan legenda jawara itu tetap memenuhi pikiran masyarakat Betawi dengan penuh kebanggaan

*

Museum Rumah Si Pitung

Sebenarnya sudah lama saya ingin ‘main’ ke rumah Si Pitung, tetapi baru empat hari jelang puasa niat mengenal legenda Sang Robin Hood Betawi itu bisa terlaksana. Saya sengaja mengambil cuti untuk main ke rumah Sang Legenda yang kini menjadi museum di Marunda. Sebuah pertanyaan menari-nari di benak sepanjang perjalanan, rumah masa kecilnya di Rawa Belong (dekat Palmerah) dan konon makamnya ada di Sukabumi Utara, yang tak jauh dari Rawa Belong. Lalu mengapa museumnya ada di Marunda yang sangat jauh? Saya tak punya jawaban pasti, kecuali hanya untuk menenangkan pikiran. Sebagai buronan kelas kakap, sewajarnya ia tak pernah menetap dan selalu berpindah…

Untuk mencapai rumah Si Pitung di Marunda atau House of Si Pitung di Google Maps, saya menggunakan aplikasi Travi untuk membantu perjalanan dengan bus TransJakarta. Saya naik bus Transjakarta Koridor 1 menuju Kota lalu turun untuk transit di Monas, dan menunggu bus Koridor 2 yang menuju Pulo Gadung. Setelah melewati sekian banyak halte, saya turun di Cempaka Timur. Tanpa keluar dari area bayar, saya menyusuri jembatan penghubung ke Cempaka Mas 2 untuk lanjut dengan bus TransJakarta Koridor 10 menuju Tanjung Priok dan turun di halte Enggano. Di Halte TransJakarta Enggano ini saya harus menunggu agak lama bus ukuran ¾  jurusan Marunda, dan turun di Pertigaan Rumah Si Pitung. Dari sini saya harus jalan kaki lagi sekitar 200 meter untuk sampai ke Rumah Si Pitung. Meskipun jauh banget, perjalanan dengan bus TransJakarta sangat mudah dan murah, hanya Rp 3.500,- atau sekali tap, tanpa tersesat.

Perjalanan panjang dan lama, -yang kalau naik mobil pribadi bisa sampai Bandung itu saat tol Cikampek bebas macet-, membuahkan hasil meskipun cuaca agak kurang bersahabat. Udara pantai utara Jakarta yang panas membuat keringat mengalir dengan cepat, meskipun ada kolam-kolam bakau yang mampu meredam sedikit panas. Setelah membayar Rp. 3.000 untuk tiket masuk, akhirnya saya bisa berdiri di halaman Rumah Si Pitung, Legenda Jawara terkenal dari Betawi.

Rumahnya yang kini jadi museum tak beda dengan rumah-rumah Betawi pesisir pada umumnya yang berbentuk rumah panggung. Saat saya berkunjung sama sekali tak ada orang, bisa jadi karena saya datang pada hari kerja dan bukan akhir minggu.

Saya menaiki tangga sempit itu dengan hati-hati dan langsung terkejut ketika sampai di anak tangga paling atas. Di sudut teras depan, sebuah patung tak berwajah mengenakan pakaian jawara. Meskipun tak berwajah, saya merasa tak nyaman dengan patung setinggi manusia itu. Ah, saya mungkin lebih terbiasa dengan manekin yang benar-benar terlihat sebagai patung daripada sesuatu berbentuk tubuh manusia tapi tak berwajah. Hitam lagi… Meskipun siang, tetap serem ‘kan?

Kemudian saya melangkah masuk ke ruang tamu melalui pintu yang ketinggiannya rendah. Panas matahari di luar rasanya terjebak di dalam sini, membuat saya seperti kehabisan nafas. Tanpa angin meskipun jendela terbuka. Gerah! Di dalam ruang ini terdapat seperangkat kursi tamu lengkap dengan toples-toplesnya, menggenapi yang ada di teras depan. Lukisan Si Pitung bersama seorang perempuan dan sebuah lampu teplok menghiasi dinding. Sebenarnya ruangan ini bagus, tetapi pengelolanya tak memiliki rasa estetika sama sekali karena kabel listrik yang putih bersama stopkontaknya tidak disembunyikan dan terlihat sangat jelas, merusak penataan warna kayu yang telah dibuat senada.

Lalu ruang berikutnya adalah kamar tidur Si Pitung yang berisi ranjang berkelambu. Saya hanya bisa mengambil foto dari batas pintu karena ada pembatas akses. Jika dalam beberapa sumber dikatakan Si Pitung melajang seumur hidupnya untuk mempertahankan kekuatan jawaranya, maka kondisi kamar yang memiliki ranjang double bertiang dan berkelambu serta meja rias perempuan, menjadikannya bertolak-belakang. Apalagi di lukisan pada ruang sebelumnya terdapat penggambaran Si Pitung bersama seorang perempuan. Adakah yang tahu kisah cinta Si Pitung ini? Siapakah perempuan pendamping legenda Betawi ini?

Saya masih melangkah terus ke belakang. Rasanya saya menjadi pemilik rumah karena menjadi satu-satunya pengunjung saat itu. Ruang berikutnya adalah ruang makan dengan seperangkat meja makan dengan kendi dan lampu gantung berhias. Melihat kendi itu, tergambar dalam benak jawara-jawara meminum air yang mengucur langsung dari kendi ke mulutnya tanpa menggunakan gelas. Kadang kala untuk menyegarkan wajah juga.

Kemudian di sudut ruang terdapat lemari bercermin dengan tikar di hadapannya dan sebuah kayu permainan congklak. Sepertinya bayangan Si Pitung bermain congklak terasa absurd pada benak saya, seharusnya perempuan muda yang melakukan permainan ini. Adakah perempuan-perempuan muda atau anak-anak di sekeliling Jawara Betawi ini? Atau benda ini hanya sekedar benda budaya yang tak terkait dengan Si Pitung? Entahlah… karena tak ada informasi pendukung di sekitar benda ini.

Di sudut seberangnya terdapat bale-bale dengan setumpuk peti yang entah untuk apa kegunaannya. Bisa jadi sebagai tempat menyimpan sementara harta rampasan sebelum dibagikan kepada yang membutuhkan. Selain itu juga terdapat satu set rebana dan alat musik tradisional Betawi. Sayangnya tidak ada penjelasan sama sekali, kecuali larangan-larangan. Bisa jadi pengelola menganggap semua pengunjung sudah tahu mengenai Si Pitung dan budaya Betawi. Padahal di luar negeri untuk museum spesifik seperti ini, selalu disertai informasi yang lengkap, jika perlu ditambahkan hal-hal lain yang bisa mengundang pengunjung datang lagi. Informasi yang ada justru membuat saya bertanya-tanya, -karena diinformasikan peti-peti itu adalah koleksi seseorang-, lalu hubungannya apa dengan sejarah Si Pitung?

Dapur dan Peralatan Masak

Ruang berikutnya adalah dapur dengan sebuah bale-bale dan seperangkat peralatan masak diletakkan diatasnya. Bukankah akan menarik bila dipresentasikan bagaimana cara memasak secara tradisional pada abad 19 itu? Belum tentu semua anak millenial jaman now bisa mengetahui nama-nama alat masak tradisional itu. Tetapi sayang, tidak ada informasi pendukungnya.

Di arah belakang terdapat pintu menuju teras belakang yang tersedia juga sebuah bale-bale yang kelihatannya enak sekali untuk bersantai tidur-tiduran sambil minum kopi. Sekali lagi, sayang tak ada informasi pendukung yang menjelaskan. Jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesia saja tidak ada. Selain itu, lagi-lagi si kabel putih merusak semua pemandangan. Mungkin memang museum ini tidak ditujukan untuk pasar turis asing. Sayang ya?

Saya kembali ke teras depan, menikmati sedikit angin di situ. Menatap ke luar, seakan-akan ke halaman tetangga, tetapi apa daya, terlihat kabel-kabel listrik bergantungan tak beraturan. Gemas rasanya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditata dengan lebih baik.

Balkon di Teras Depan

Mentari semakin terik, saya turun mencari tempat teduh di halaman sambil menikmati Rumah Jawara Betawi ini. Seekor kucing tiba-tiba datang melingkari kaki saya, ingin bermanja-manja rupanya. Hati ini miris, masyarakat Indonesia belum banyak yang mencintai museum. Bahkan bisa jadi pengelolanya pun masih beranggapan museum adalah tempat membuang benda-benda tua yang tidak diperlukan lagi, yang tak jauh beda dengan gudang. Tanpa perlu informasi pendukung, meskipun sebenarnya banyak cerita sejarah berada di balik benda-benda berharga yang dipamerkan itu. Ah, jika manusia belum mencintai sejarahnya, bagaimana ia bisa menghargai masa depan bangsanya?

Saya meninggalkan museum Rumah Si Pitung dengan perasaan sedikit masygul. Apalagi bus TransJakarta melewati saya begitu saja tanpa berhenti di halte yang sama tempat saya turun sebelumnya. Kali ini karena tak tahan panas untuk menunggu lagi, langsung saja saya mengorder babang Ojol untuk kembali ke halte Enggano. Meskipun setelah itu saya agak menyesal karena rupanya babang Ojol itu nekad menerobos sempitnya jalan di antara truk-truk peti kemas segede gaban tanpa peduli saya yang senewen tak terbiasa dan terus komat-kamit berdoa. Saya hanya membayangkan wajah suami yang ngomel karena saya nekad naik ojek diantara truk-truk peti kemas itu. Bisa-bisa ijin jalan-jalan ditarik… uugh..

Weekly Photo Challenge – Off Season in Flower Park


On Sunday early morning off school holiday season I visited Taman Bunga Nusantara, the national flower park in Cipanas, Puncak, around 2 hours drive from Jakarta. The atmosphere was good, mountain view with cool temperature, not crowded and full of flowers. Here we can see flowers all year round, no need to wait for the spring to see beautiful flowers.

No need to wait for Spring to see flowers
No need to wait for Spring to see flowers

Flowers in the green house
Flowers in the green house

Beautiful flowers all year round
Beautiful flowers all year round

In this 23 hectare park, we can enjoy various stylish gardens like French garden, Japanese garden, Balinese garden, Mediteranian garden, rose garden, green house, maze garden, flowerbeds and many more. We can walk to enjoy the gardens or hop on the Dotto trains which provided by the management.

I saw the beautiful maze garden from the tower. (Have you ever trapped in a maze garden?)

Labirynth or Maze Garden
Labirynth or Maze Garden

Taman Bunga Nusantara or the National Flower Park is a must destination for flower lovers. Open daily (Mon – Fri 08:00-17:00, Sat-Sun, Public Holiday 08:00-17:30), The admission adult IDR30,000 and Dotto Trains IDR40.000,- (included entry ticket)

The Entrance
The Entrance

*

The other beautiful Off Season posts of Weekly Photo Challenge

Jangan Bawa Kamera ke Wisata Alam Mangrove Angke


Sudah lama saya berkeinginan untuk pergi ke tempat wisata ini. Mangrove! Rasanya nama itu eksotis sekali. Apalagi ditambahkan dengan kata-kata di depannya ‘wisata alam’. Wah yang langsung terbayang adalah menjelajah alam. Dan berikutnya diikuti oleh Angke Kapuk. Berarti di Jakarta dan dekat…

Yang Indah dari Wisata Alam Mangrove
Yang Indah dari Wisata Alam Mangrove

100% benar, Wisata Alam Mangrove itu memang berada di Jakarta tepatnya di Angke, Kapuk atau sekarang lebih dikenal dengan nama Pantai Indah Kapuk. Berada di sekitar perumahan Pantai Indah Kapuk, tempat wisata ini merupakan salah satu kawasan konservasi hutan bakau (mangrove) yang dikelola oleh pihak swasta. Sangat mudah mencapainya, apalagi membawa kendaraan pribadi. Patokan utama lokasi ini di belakang kompleks Kantor Pusat Yayasan Buddha Tzu Chi, yang dari kejauhan sudah terlihat karena segede gaban gedenya…(klik disini untuk petunjuk arahnya)

Sebenarnya, mungkin saya saja yang sudah ketinggalan jaman karena kelihatannya semua orang sudah pergi ke tempat ini, sudah membicarakannya dan mungkin sudah lewat masa happening-nya tetapi, walaupun numpang lahir di Jakarta, saya sama sekali belum pernah menjejakkan kaki ke tempat wisata ini sebelumnya. Oleh karena itu, daripada tidak sama sekali, tak salah kiranya saya melancong ke sini.

And finally, akhir pekan pertengahan bulan lalu, saya sampai juga di wisata alam Mangrove itu.  Rencana berangkat pagi-pagi hanya tinggal rencana, karena acara rindu bantal dan guling lebih kuat daripada bangun menjelajah. Tidak heran sampai di sana, jelang tengah hari dan wow…. panasnya 😀 😀

Sekarang ini suhu udara Jakarta panas, apalagi harus berada di Jakarta Utara, di pantai dan jelang tengah hari! Sungguh pemilihan waktu yang sangat ‘tepat’ bagi saya yang tidak tahan heat stroke. Topi pun tidak menolong, payung juga tidak, karena udara pengap tak mengalir. Tetapi seperti kebanyakan dari kita yang masih melihat positifnya, saya pun melakukan hal itu. Untung saja! Ya, untung saja masih ada hutan bakau yang memberikan sedikit keteduhan!

Hari itu saya beruntung karena tepat ada yang meninggalkan tempat parkir yang beratap, kalau tidak  mobil pasti akan terpanggang oleh terik matahari Jakarta yang bisa menjadikannya oven. Mobil dihargai Rp. 10,000 sekali masuk dan tidak dihitung lamanya ia mengendap. Seandainya si mobil tidak berada di bawah atap, bisa jadi saya langsung membatalkan dan langsung pulang karena tidak mungkin saya menyimpan kamera dan barang-barang berharga lainnya dalam ‘oven’ itu.

Dilarang bawa kamera kecuali bayar 1juta
Dilarang bawa kamera kecuali bayar 1juta

Kamera DSLR atau kamera saku digital dari yang mahal sampai murah pun tidak diperbolehkan dibawa masuk ke area wisata alam mangrove ini. Kamera yang diperbolehkan masuk adalah segala macam HP, Ipad, Iphone, IPod, Tab yang berkamera dan lain-lain sejenisnya.

Saya bertanya kepada petugas yang menjaga, mengapa kamera tidak diperbolehkan masuk sedangkan ponsel terkini dengan segala macam kehebatannya setara dengan kamera justru diperbolehkan masuk. Jawaban absurd diberikan karena ketakutan mereka terhadap tuntutan para photographer pre-wed di sana, sebab mereka dibebankan biaya untuk mengambil foto di lokasi itu. Dan alasan lain ditambahkan untuk memperkuat argumentasi mereka bahwa kamera digital memiliki fungsi utamanya membuat foto, sedangkan ponsel, untuk alat komunikasi bukan membuat foto. Hmm… Baiklah…

Masih penasaran karena tidak tega meninggalkan si kamera bongsor itu di mobil dan di sana pun tidak disediakan tempat penitipan, saya bertanya lagi ke petugas jaga, berapa harga masuk untuk si bongsor hanya untuk ditenteng tapi tidak digunakan? Jawabannya dengan nada yang mulai meninggi sambil menunjukkan apa yang tertera di papan, -pokoknya untuk masuk, dipakai atau tidak, yaa SATU JUTA Rupiah-! Atau kira-kira seharga 100 mobil untuk masuk atau sekitar 40 makhluk yang bernama manusia untuk masuk ke kawasan itu. Dan jangan salah ya, itu berlaku untuk semua kamera digital, kamera saku atau DSLR, dari yang murahan atau mahal.

Ah tempat wisata kok ada ya sebuah sikap generalisasi antara photographer professional yang mendapat uang dari hasil fotonya, dengan photographer amatiran yang hanya sebagai hobby!

Oh ya, sempat saya tanyakan juga sebenarnya siapa pemilik tanah ini? Hmmm… kata petugas yang jaga, tanah kawasan ini milik departemen kehutanan tetapi pengelolaannya diserahkan ke swasta. Langsung saya paham seribu persen, soal uang dan tentu saja orientasinya yang berbasis keuntungan.

Semua itu, termasuk udara panas menyengat melengkapi mood-killer yang menyerang. Tetapi saya tidak boleh menyerah pada suasana hati yang mudah berubah. Saya ikuti aturan yang ditetapkan dan menjelajah juga di bawah kerindangan, walau tidak seluruhnya teduh.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saya melewati tempat-tempat penanaman bakau yang sebagian besar dipenuhi oleh nama organisasi kepemudaan, kemasyarakatan, sosial dan lain-lain yang mungkin juga sekalian promosi kepentingan. Ada sebagian yang sudah rusak, ciri khas bahwa pemeliharaan berkesinambungan lebih sering dilupakan ketika membuat hal-hal baru. Saya juga melewati tempat-tempat bermalam yang disewakan, restoran dan lainnya.

Seekor biawak tampak menghindar ke balik semak-semak mendengar langkah kaki manusia. Tadinya saya hendak berhenti di kafe untuk mendinginkan tubuh sejenak tetapi akhirnya batal, teringat orientasi pengelolaan kawasan ini. Jadi pasti mahal.

Selain berjalan-jalan di sekitar kawasan hutan, pengunjung bisa juga menyewa perahu keliling kawasan, atau menaiki jembatan gantung yang seru atau hanya sekedar duduk-duduk mengobrol dengan kawan-kawan. Tempat ini bagus juga untuk seseorang yang ingin menyendiri sebentar atau yang ingin bersantai membaca buku di luar ruang atau bahkan yang sedang galau dengan kejombloannya hehe…

Hiii... ada hewan serupa ular air
Hiii… ada hewan serupa ular air

Bagaimanapun sebagai pengunjung kita wajib menjaga lingkungan dan waspada saat berjalan di lingkungan alam. Selain sampah plastik yang masih terlihat, sempat juga terlihat hewan seperti ular air bergerak-gerak dalam air serta kayu-kayu jalan setapak yang beberapa sudah patah. Semakin jauh berjalan ke ujung desa, semakin terdengar riuh pembangunan. Ah, kawasan ini juga tak bisa menghindar dari proses reklamasi laut yang terus menerus dilakukan. Dan satu lagi, jangan bawa kamera ke sini… mahal!

Banten Lama: Menguak Peradaban Empat Abad Silam


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pertengahan Maret 2014 lalu saya menyempatkan jalan-jalan seharian ke kawasan Banten Lama, salah satu Tentative List of UNESCO World Heritage Site yang diajukan Indonesia sejak tahun 1995. Dan ketika sampai di kawasan tersebut, perasaan saya miris sekali menyaksikan kondisi kawasan yang pernah menjadi destinasi para pengarung samudera dan penjelajah dunia. Bagaimana dunia akan mengetahuinya jika kita sendiri tidak memeliharanya dan cenderung mengabaikan tempat bersejarah itu?

Sejarah tak dapat ditutupi bahwa pada abad 16 Banten Lama telah terukir sebagai kawasan yang riuh dengan kehidupan internasional di bumi Nusantara tercinta ini. Telah berabad lamanya tertinggal catatan-catatan pengelana China, budaya dan pengaruh dari syiar Islam yang datang dari jazirah Arab, peninggalan hasil usaha pedagang-pedagang Persia, Goa, negeri-negeri Eropa, berbagai ragam arsitektur bangunan, implementasi pengelolaan sumber daya air dan dari temuan-temuan di situs yang terdiri dari keramik, koin, perhiasan dan lain-lain yang berasal dari berbagai negara di dunia pada saat itu, kesemuanya memberikan bukti yang jelas nyata. Dan bukankah ada nama Belanda yang tertulis di buku-buku pelajaran sejarah Indonesia, Cornelis de Hautman, yang memimpin pendaratan Belanda di kawasan Banten di tahun 1596? Dan siapa sangka, ternyata pertempuran hebat di Sunda Kelapa yang akhirnya dimenangkan oleh Fatahillah itu memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah Banten Lama. Dan bahkan jika dirunut ke belakang maka Sunan Gunung Jati di Cirebon, Kerajaan Demak, hingga Sunan Ampel di Jawa Timur juga memiliki keterkaitan yang lekat dengan Banten. Bagi saya pribadi, jalan-jalan kali ini sungguh membukakan wajah Indonesia yang penuh kejayaan 4 abad silam.

Peninggalan-peninggalan Kejayaan Masa Lalu

Untuk menikmati seluruh peninggalan kejayaan masa lalu satu per satu tidak mungkin diselesaikan dalam satu hari karena terseraknya obyek di kawasan Banten Lama. Apalagi bila ditambah niat melakukan ziarah syiar Islam di Banten, tentu memakan waktu lebih lama. Namun kali ini saya dapat mengunjungi dan menikmati sebagian besar dari peninggalan sejarah yang luar biasa ini.

1. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Saya mengawali jalan-jalan kali ini di museum yang menjadi gerbang utama untuk menelusuri jejak kejayaan masa lalu Banten Lama. Dengan harga tiket senilai uang logam Rupiah terbesar alias Rp. 1000,- kita bisa mendapatkan banyak informasi mengenai kehidupan Banten pada jaman dahulu kala dengan berbagai koleksi artefak yang ditemukan di situs-situs sekitar Banten Lama. Terdapat koleksi perhiasan, senjata, keramik, saluran pengelolaan air, bahkan patung Nandi sebagai kendaraan Dewa Syiwa dan lain-lain. Di depan Museum ini diperagakan pula Ki Amuk, meriam besar yang dipergunakan ketika terjadi pertempuran dengan Belanda. Selain itu diperagakan pula peralatan penggilingan tebu, batu-batu hiasan Kraton Surosowan dan nisan-nisan makam Cina.

2. Jembatan Rante

Jembatan yang telah kehilangan rantai, tiang besi dan kayu yang dapat diangkat ini, pada jaman dulu merupakan tempat pemeriksaan pajak terhadap barang dagangan di perahu-perahu yang akan masuk ke Banten. Lolos urusan perpajakan, petugas akan menarik rantai yang mengikat papan kayu sebagai landasan penyeberangan jembatan sehingga perahu bisa lewat melanjutkan perjalanan. Jembatan Rante ini dapat dicapai dengan berjalan kaki karena lokasinya sekitar 300meter dari Kraton Surosowan menuju Mesjid Agung Banten dan berada di belakang kios-kios penjual cinderamata. Sayang sekali, kondisi kanal tidak tertata apik, air yang tak jernih dengan tumbuhan enceng gondok disana sini serta sampah yang terserak di pinggir kanal membuat jembatan Rante seakan kehilangan nilai historisnya.

3. Masjid Agung Banten

Mesjid yang dibangun oleh Sultan Muhammad Hasanuddin sebagai Sultan Banten I pada pertengahan abad 16 ini merupakan salah satu mesjid yang bercirikan arsitektur Jawa Kuno dan memiliki Menara setinggi 24m yang berdiri anggun di halaman Mesjid, yang dari pintu pertama atau kedua Menara pemandangan indah sekitar hingga ke pantai laut Jawa dapat terlihat. Selain dikunjungi oleh orang-orang yang beribadah, mesjid ini juga didatangi oleh pengunjung yang menziarahi makam-makam para ahli syiar Islam yang terdapat pada kompleks mesjid dan seantero Banten.

4. Kraton Surosowan

Tepat di seberang Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama terdapat Kraton Surosowan yang kini tinggal reruntuhan dinding dan batu-batu fondasi yang terbuat dari bata merah. Apa yang tertinggal dapat menggambarkan betapa megah kraton pada masanya, yang merupakan pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya dan seluruh sendi kehidupan dalam masyarakat Banten. Kraton yang luasnya tiga kali lapangan bola ini merupakan tempat tinggal para Sultan sekaligus tempat berinteraksi dengan rakyatnya. Di bagian tengah reruntuhan Kraton ini terdapat kolam pemandian Ratu Dhenok dan Pancuran Emas yang sering dijadikan tempat melakukan ritual kungkum bagi sebagian orang yang percaya akan mendapatkan kekuatan dari para leluhur (walaupun airnya tak lagi bening, penuh lumut kehijauan dengan botol plastik yang dibuang disana sini). Juga di sudut-sudut Kraton yang berbentuk seperti relung gua, sering dijadikan tempat bersemedi mencari wangsit. Berada dalam lingkungan Kraton Surosowan yang penuh sejarah ini, sepertinya kita dibawa ke dunia lain sambil menerka-nerka bagaimana bentuk Kraton pada masanya.

5. Watu Gilang

Merupakan lempeng batu persegi panjang yang menjadi tempat pentahbisan Sultan-sultan Banten jaman dulu sekaligus tempat memberikan pengumuman dari Kraton untuk rakyat. Watu Gilang saat ini telah berada dalam naungan sebuah pergola berpagar setelah lama sebelumnya tergeletak terabaikan begitu saja di lapangan terbuka terkena panas hujan. Kondisi ini lebih baik walau tetap menyedihkan, karena lingkungan sekitarnya tidak tertata rapi dan terkesan kumuh sehingga obyek ini seperti kehilangan aura sakral penuh karismatik dari apa yang pernah terjadi di atas batu itu. Dan apabila Watu Gilang disejajarkan tingkatnya dengan sebuah Tahta Kesultanan, sepertinya kita telah berkhianat terhadap akar budaya sendiri ketika benda bersejarah itu terserak diantara kekumuhan kios-kios pedagang, berhiaskan sampah dan kotoran-kotoran binatang yang bebas berkeliaran, dan dijadikan tempat mencari wangsit.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

6. Kraton Kaibon

Kraton Kaibon merupakan istana Ratu Aisyah, ibunda dari Sultan Syaifudin, yang kini tinggal tersisa gapura, reruntuhan dinding dan batu-batu fondasi karena dihancurkan Belanda pada masa kolonial sehingga menyimpan imajinasi akan kehebatan dan keindahan Kraton pada jaman dahulu. Sayangnya, rerumputan yang tertata cukup baik mengundang kambing-kambing berkeliaran dan meninggalkan kotoran-kotorannya sembarangan di tempat yang bersejarah ini. Dan ketika hujan lebat turun, tak jarang Kraton Kaibon ini tergenang cukup tinggi, alam menunjukkan dayanya merusak secara perlahan tapi pasti struktur bangunan yang menjadi salah satu icon peradaban empat abad silam.

7. Pelabuhan nelayan Karangantu

Pelabuhan tradisional sejak abad 16 ini tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang dijunjungnya dengan memelihara perahu-perahu nelayan yang dimiliki secara turun temurun. Walaupun tak bisa menandingi metropolis-nya Banten jaman dulu dan cakupannya yang lebih kecil daripada pelabuhan Sunda Kelapa, perahu-perahu yang ada cukup membawa kenangan akan hebatnya kehidupan komunitas maritim di wilayah Banten Lama.

8. Kerkhof

Bekas pemakaman Belanda yang berada di sisi Benteng Speelwijk ini meninggalkan satu atau dua bangunan makam yang cukup menarik. Jika didekati, tulisan indah berukir jaman Belanda masih terlihat di salah satu bangunan makam yang sayangnya tempat ini terbengkalai diantara rumput ilalang yang tinggi. Pemandu saya memperlihatkan betapa bagusnya kualitas besi orisinal yang digunakan untuk pagar asli yang masih tersisa. Dengan getir beliau bercerita di balik kisah besi orisinal itu. Ketika pintu jeruji dengan kualitas besi yang sangat bagus di bangunan kecil dekat gerbang, hilang dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab, seluruh satpam yang menjaga kawasan obyek wisata Banten Lama terkena sanksi oleh pejabat dinasnya (dan respons otomatis muncul dari dalam hati saya, apakah juga ada sanksi yang berlaku untuk pejabat dinasnya?)

9. Benteng Speelwijk

Benteng yang tadinya berada di dekat pantai dan sekarang sudah menjorok ke tengah daratan karena pendangkalan laut ini, hanya tinggal tembok keliling yang masih terlihat kokoh dan sebagian bastion. Ketika berada di dalam Benteng, entah saya harus getir atau tersenyum. Karena tempat terbuka di bagian tengah telah berubah menjadi lapangan bola lengkap dengan tiang gawangnya. Serasa di stadion! Bagaimana pun ketika masuk ke dalam ruang bekas gudang senjata, saya kembali merasa memasuki sebuah benteng militer yang selalu bercirikan tembok kokoh, lorong-lorong gelap, disana-sini terkena bom. Udara langsung terasa lembab sepanjang lorong gelap menuju gudang senjata tersebut. Sesekali terdengar suara burung walet yang sengaja mencari kegelapan. Dan tentu saja, jangan lupa bawa senter untuk memasuki ruang dalam benteng ini.

10. Vihara Avalokitesvara.

Vihara yang namanya diambil dari seorang Boddhisatva yang dikenal sebagai Dewi Welas Asih (Kwan Im) ini, konon dibangun atas perintah Syarif Hidayatullah sebagai bentuk nyata atas kehidupan beragama yang harmonis pada masa itu dan kini menjadi salah satu vihara tertua di Indonesia. Patung Avalokitesvara yang konon berasal dari Dinasti Ming, terdapat di altar utama yang ada di depan, yang di sisi kiri kanannya terdapat ruang-ruang yang lebih kecil untuk ibadah. Di bagian belakang terdapat dharmasala yang dihubungkan oleh koridor cantik berhiaskan kissah legenda ular putih. Legenda Mbah Banten yang sakti penjaga sumber mata air yang dipercaya membawa kemujaraban menjadi legenda lokal yang ada di vihara ini. Banyak yang meminta air mujarab ini, tidak hanya dari golongan orang yang beribadah di vihara ini melainkan juga yang datang dari jauh dengan latar belakang yang berbeda.

11. Rumah Pecinan Kuno

Tidak jauh arah selatan dari Vihara, terdapat sebuah rumah kuno yang tinggal satu-satunya masih berdiri kokoh dan lengkap, yang dikenal sebagai Rumah Pecinan Kuno. Pada masa keemasannya, rumah-rumah dengan arsitektur China berdiri di sepanjang jalan dengan gaya yang sama. Daerah itu memang dikenal dengan daerah Pecinan yang dikhususkan bagi para keturunan China untuk berdagang. Saya membayangkan cantiknya lampion-lampion berwarna merah tergantung di langit-langit sepanjang selasar seakan tak peduli dengan kesibukan orang-orang berpakaian khas China yang lalu lalang menawarkan dagangan.

12. Masjid Pecinan Tinggi

Tak jauh dari Rumah Pecinan Kuno, setelah melewati rel kereta api, di sebelah kanan jalan terdapat Mesjid Pecinan Tinggi yang hanya tersisa Menara dan Mihrab-nya. Sungguh luar biasa menyaksikan Menara yang masih tegak berdiri yang konon didirikan pertama kali oleh Syarif Hidayatullah dan dilanjutkan oleh Maulana Hasanuddin serta menjadi mesjid yang lebih tua daripada Mesjid Agung Banten. Sungguh sayang, karena keterbatasan dana Menara dan Mihrab tampak terbengkalai terkena coretan vandalisme, bangunan terlihat sedikit miring, mungkin karena akibat banjir, tanah secara perlahan tertekan karena tak mampu menahan beban berat dari Menara.

13. Danau Tasikardi dan Pengindelan Abang

Dalam perjalanan pulang melalui Serang Barat, setelah menyaksikan pemandangan hamparan sawah yang menghijau yang menenangkan jiwa, di pinggir jalan saya melihat Pengindelan Abang, sebuah bangunan rumah penyaringan air yang berasal dari Danau Tasikardi, danau buatan berjarak 200meter. Hati saya miris sekali melihat coret-coret vandalis menghiasi seluruh bangunan Pengindelan Abang. Sungguh perbuatan yang sama sekali tidak menghargai kehebatan pengelolaan sumber daya air empat abad silam di Banten.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Akses Menuju Banten Lama

Seperti biasa, tak banyak informasi lengkap mengenai akses ke Kawasan Banten Lama, termasuk dari web resmi pariwisata Banten. Informasi justru didapat dari para Travel Bloggers yang suka berbagi cerita.

Untuk tujuan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, dari Jakarta bisa melalui Jalan Tol JakartaMerak, keluar di Serang Timur (sekitar km72) dan ikuti rambu petunjuk jalan hingga perempatan besar. Disitu, sebenarnya arah Banten Lama berbelok ke kanan, namun karena ada pengaturan lalu lintas, maka harus memutar mengikuti arah lalu lintas terlebih dahulu, sampai bertemu kembali dengan RS Sari Asih Serang diujung awal perempatan tadi. Berbeloklah ke kiri di depan RS Sari Asih itu, ikuti jalan (yang agak paralel dengan jalan tol) dan ikuti rambu petunjuk Banten Lama. Setelah beberapa saat di sebuah pertigaan, berbeloklah ke kiri mengikuti petunjuk arah Banten Lama untuk masuk ke Jl. Ayip Usman. Ikuti jalan Ayip Usman tersebut hingga mentok dan berbeloklah ke kanan, memasuki Jalan Banten lama (atau dikenal dengan Jalan Kasemen) yang di beberapa tempat rusak. Setelah melewati penjual kayu-kayu glondongan, ikuti terus jalan ini (di Google Map ditandai dengan Jl. Samaun Bakri, Jl. Kalanggaran – Sukadana)

Setelah berkilo-kilometer, menjelang sebuah jembatan besi yang besar (dan jembatan lama ada di sebelah kirinya), di kiri jalan terlihat sudut reruntuhan Kraton Kaibon. Seberangi jembatan hingga bertemu pertigaan dengan Mesjid Al Munawaroh di kanan. Berbeloklah ke kiri (ikuti jalan yang agak bergelombang) hingga bertemu dengan kompleks reruntuhan Kraton Surosowan. Di pertigaan sebenarnya dilarang jalan terus, tetapi bila Anda akan mengunjungi museum, maka ambillah jalan yang lurus itu sekitar 300m Anda akan sampai di tempat tujuan Anda.

Untuk ke Benteng Speelwijk, Kerkhoff dan Vihara Avalokitesvara, dari Museum Anda harus kembali ke jalan utama dan berbelok ke kiriketika mentok di depan Mesjid Al Munawaroh tadi, ikuti jalan sampai bertemu dengan jembatan dan pelabuhan Karangantu yang merupakan tempat bersandarnya perahu-perahu (mirip pelabuhan Sunda Kelapa). Berbeloklah ke kiri sebelum jembatan, lalu menyusuri tepian sungai dan ikuti jalan sekitar 500m, hingga terlihat sisi luar Benteng Speelwijk. Disini, bisa terlihat Bekas Pemakaman Belanda (Kerkhof). Untuk mencapai pintu masuk Benteng, kelilingilah benteng terlebih dahulu dengan kendaraan Anda. Diujung jalan Anda akan menemukan Benteng Speelwijk di sebelah kanan dan Vihara Avalokitesvara di sebelah kiri.

Untuk mencapai Rumah Pecinan Kuno, kembalilah ke jalan utama tanpa berbalik arah ke pelabuhan, dan sekitar 100 – 200 meter kita akan menemui Rumah Pecinan Kuno yang tinggal satu-satunya, dan ikuti jalan sekitar 200meter lagi akan sampai pada Mesjid Pecinan Tinggi.

Dengan mengikuti jalan tersebut menuju Kramatwatu (Akses Tol Serang Barat), maka di kanan kiri jalan terlihat pemandangan sawah-sawah yang saat saya lewati sedang siap panen. Di kejauhan tampak kumpulan pepohonan yang melingkari Danau Tasikardi. Dan sekitar 200meter sebelum Danau Tasikardi itu, kita akan melihat Pengindelan Abang tepat di pinggir jalan.

Jika kita lanjutkan perjalanan, tak lama kemudian kita akan menyeberangi jalan tol merak yang ada di bawah jembatan dan setelah berbelok kekiri di persimpangan lampu lalu lintas, kita akan sampai ke akses tol untuk kembali ke Jakarta melalui Gerbang Serang Barat.

Dan… walaupun bisa dicapai dengan menggunakan bus umum, saya tidak melihat banyak angkutan umum untuk mencapai tempat-tempat wisata tersebut. Menurut saya, akan lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi.

Waktu Terbaik

Kawasan Banten Lama dapat dikunjungi sepanjang waktu, kecuali musim hujan. 2 Jam waktu yang diperlukan agar sampai ke Banten lama dari Jakarta dengan kendaraan pribadi melalui jalan tol. Tentunya agak lebih lama bila menggunakan kendaraan umum. Karena saya menyukai hal-hal yang berbau heritage, saya memerlukan waktu hingga 6 jam untuk menikmati sebagian besar obyek wisata yang ada di kawasan tersebut, termasuk makan siang dan foto-foto santai.

Pagi hari atau sore hari merupakan waktu terbaik untuk menikmati obyek-obyek wisata yang berada di tempat terbuka (seperti Kraton Surosowan, Kraton Kaibon, Benteng Speelwijk) mengingat terik matahari yang terasa membakar kulit.

Jika Anda termasuk orang yang menyukai wisata reliji (ziarah syiar Islam) maka waktu yang diperlukan untuk mengelilinginya akan lebih lama lagi, karena banyak sekali tempat-tempat yang berhubungan dengan ziarah ini. Hanya saja yang perlu diperhatikan pada saat perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW, kawasan Mesjid Agung Banten sangat penuh dikunjungi para peziarah, sehingga tidak nyaman untuk sekedar berwisata.

Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 2)


Belum baca cerita bagian pertamanya? Baca dulu…

Masih di lantai basement yang sama, ada ruangan yang diubah atmosfirnya menjadi Batavia Tempo Doeloe, lengkap dengan Rel dan gambar Trem, Sepeda Onthel, kayu-kayu peninggalan benteng yang ditemukan saat renovasi gedung, lampu-lampu yang digunakan dan lain-lain. Juga diperlihatkan Replika Jam Utama yang dahulu berada di depan gedung ini. Saat ini Jam Utama sudah tidak ada, digantikan dengan bundaran untuk akses udara pada terowongan bawah tanah antara Stasiun Kota/Beos, Museum dan Halte TransJakarta. Bahkan sebagian dari rel trem asli diperlihatkan di bagian ini. Menurut cerita, rel trem ini tidak pernah dibongkar dan masih ada di tempat aslinya berada hingga kini, namun telah tertutup aspal jalan.

Tidak berhenti di situ, rasa atmosfir Tempo Doeloe masih bisa dinikmati dengan menggunakan lift yang interior lapisan kayunya masih tetap orisinal namun mesinnya telah dimodernisasi. Suasana dalam lift cukup mendukung atmosfir tempo doeloe.

Di lantai 2, yang langsung terlihat adalah keindahan Kaca Patri yang terpampang langsung di depan tangga Utama, tepat di hadapan Ruang Rapat Pimpinan. Motif stained glass ini luar biasa indahnya, dengan motif tentang keindahan Negeri Belanda dengan empat musimnya, yang masing-masing musim diwakili kisahnya dengan sepotong kaca patri.

Lanjutkan membaca “Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 2)”

Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 1)


Ternyata masih banyak tujuan wisata yang menarik dan murah meriah untuk mengisi liburan akhir pekan di seputaran Jakarta selain jalan-jalan ke Mal. Salah satunya adalah Museum Bank Mandiri yang terletak di kawasan kota tua Jakarta, tepatnya di jl. Lapangan Stasiun No 1, di seberang stasiun kereta api Kota (Beos).

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk sampai ke museum ini. Pengguna angkutan umum dengan moda KRL/Commuter Line bisa berhenti di stasiun kereta api Kota/Beos. Lalu keluar melalui pintu kiri, menyusuri trotoar dan turun ke terowongan bawah tanah. Ikuti petunjuk arah Museum Bank Mandiri. Bagi pengguna bus TransJakarta (Bus Way) caranya tidak jauh berbeda. Turun di tujuan akhir Kota (Beos), lalu turun ke terowongan bawah tanah dan ikuti arah ke Museum ini. Bagi pengguna kendaraan pribadi, kendaraan dapat diparkir di halaman Museum, walaupun sangat terbatas tempatnya. Seputaran museum ini dikenal sebagai tempat yang padat lalu lintasnya, sehingga selain diperlukan pemahaman arah dan orientasi jalan, perlu juga kesabaran menghadapi kemacetan lalu lintas.

Menurut sejarah, pada awalnya gedung ini merupakan gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorij Batavia, sebuah perusahaan dagang milik Belanda, yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. Dibangun pada tahun 1929 dengan rancangan arsitek Belanda JJJ de Bruyn, A P Smits dan C van de Linde. Dibuka secara resmi pada tanggal 14 Januari 1933 oleh CJ Karel Van Aalst, Presiden NHM saat itu. Tahun 1960, NHM dinasionalisasi menjadi Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) urusan Ekspor Impor yang kemudian pada tahun 1968 berganti nama menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim). Tahun 1999 Bank Exim, BDN, BBD dan Bapindo dimerger menjadi Bank Mandiri.

Museum ini buka hari Selasa hingga Minggu, 09.00-16.00, Hari Senin/Libur Nasional tutup. Tiket masuk Lanjutkan membaca “Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 1)”

Candi Warisan Dunia di Batujaya, Karawang


Candi Jiwa, Batujaya, Karawang

Walaupun 5 bulan lalu Harian Kompas telah memberitakan adanya Candi di daerah Batujaya, Karawang dan lokasinya cukup terjangkau dari Jakarta, namun karena 1001 alasan kesibukan professional, maka akhirnya minggu lalu bisa mengunjungi situs percandian Batujaya ini.

Sebelumnya hanya sempat googling untuk mencari petunjuk arah yang aman menuju Batujaya dengan kendaraan pribadi. Ternyata cukup mudah, ambil jalan tol Cikampek, keluar di Gate Karawang Barat/Rengasdengklok km46, lalu ikuti petunjuk arah Candi Jiwa, Batujaya. Tol Keluar Karawang Barat ini setelah Bekasi, Cibitung dan Cikarang. Sebenarnya rute ini memutar jauh, tetapi mudah diikuti, karena menurut peta Jawa keluaran Periplus, ada jalan yang lebih singkat melalui Cikarang atau bagi yang mengenal Bekasi dan sekitarnya, mungkin bisa melalui Babelan. Sebenarnya Kompleks candi ini berada di dua desa, Desa Segaran Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakis Jaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Berangkat santai dari Jakarta sampai di gerbang tol Karawang Barat sekitar jam 10.00. Tidak jauh dari gerbang tol, di kiri jalan, ada petunjuk arah, kecil tapi cukup terlihat – Candi Jiwa, Batujaya 50km (CMIIW).  Selanjutnya, melewati beberapa bangunan besar dan megah, lalu menaiki jalan layang, hingga bertemu pertigaan cukup besar (mungkin jalan lama Pantura) dan berbelok ke kiri. Mengikuti lalu lintas beberapa saat, hingga ada petunjuk arah Candi Jiwa Batujaya di median jalan di sebuah perempatan kecil, yang menunjuk ke kanan. Sebenarnya rute menuju Candi Jiwa ini melalui Rengasdengklok. Jadi cari petunjuk ke kota Rengasdengklok.

Di perempatan tadi banyak Angkot berhenti, yang membuat lalu lintas tersendat. Perlu kesabaran sedikit. Mengikuti jalan, kita ketemu jalan yang bercabang, pilih yang kanan (lurus), tetap ikuti petunjuk arah Candi Batujaya. Sekitar jam 11.00  sampai di Rengasdengklok, ditandai dengan adanya pasar tradisional yang macet. Jalan terus, hingga bertemu dengan pertigaan cukup besar, berbelok ke kanan (sesuai petunjuk arah) dan melewati kios-kios yang banyak menjual petasan. Mungkin untuk keperluan perayaan di Vihara yang terletak tidak jauh dari situ. Di perempatan, sebelum jembatan, berbelok ke kiri menyusuri sungai kecil sepanjang 15 – 20 km untuk sampai ke Batujaya. Udara panas tengah hari, membuat banyak anak terjun dan berenang di sungai itu. Kelihatannya asik sekali.

Lanjutkan membaca “Candi Warisan Dunia di Batujaya, Karawang”